Renungan Diri: Kata-Kata Bukan Ajaran! Kata-Kata Harus Disampaikan Mereka Yang Telah Cerah

Pencerahan Master Ibarat Nyawa

buku tantra yoga

Cover Buku Tantra Yoga

Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu: Saha vīryam karavāvahai;Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai.Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

Let us Learn Together, Study Together, Nurture Eachother, Fill Eachother, and Work Together with Great Enthusiasm, Great Spirit.

Kebenaran setiap ajaran, setiap kita suci akan terungkapkan, bila seseorang sudah terbebaskan dari kesombongan intelektual dan melepaskan pendapat-pendapat kaku. Mahamudra 12

Mau tak mau, saya harus memperhalus bahasa Tilopa. Kasihan, orang tua. Salah ngomong sedikit bisa kena cekal. Padahal, Tilopa benar.

Yang tidak bisa menerima Siddhartha siapa? Yang ingin membunuh Muhammad siapa? Yang menyalibkan Yesus siapa? Yang menghujat Krishna siapa? Tanpa kecuali, mereka semua adalah para ahli kitab. Para intelektual. Mereka-mereka yang sudah memiliki konsep. Mereka-mereka yang sudah kaku, keras, alot.

Lalu siapa pula yang bisa langsung menerima para Buddha, para nabi, para mesias, para avatar? Mereka-mereka yang polos, berhati tulus, tidak berkepentingan dengan konsep-konsep baku. Amrapali, Khadija, Maria Magdalena, Radha. Incidentally, mereka semua adalah wanita, tidak sombong, tidak memiliki ijazah dari universitas, bahkan tidak memperoleh pengakuan dari masyarakat. Mereka tidak peduli. Mereka tidak takut mengungkapkan kebenaran.

Sebelum kita melangkah Iebih jauh, saya harus memberi peringatan. Jangan menjadi pembanding. Jangan membandingkan Tilopa dan lagu yang dinyanyikannya dengan konsep-konsep yang anda percayai. Mau menyanyi bersama dia, silakan. Tidak mau, silakan juga. Tetapi jangan memaksa dia untuk menerima prosa anda. Konsep-konsep anda semua dalam bentuk prosa. Dan Tilopa sudah melewati alam prosa. Bahasa dia sudah lain, berbeda. Saya ulangi, mau menemani dia, silakan. Tidak mau, biarkan dia menyanyi sendiri. He is harmless. Dia tidak melakukan pemaksaan. Dia tidak ngapa-ngapain koq. Leave him alone!

 

“Absorbed in Mahamudra, you are free from the prison of samsara.” Berada dalam Mahamudra, engkau terbebaskan dari samsara.

Berada dalarn keadaan yang satu itu, engkau terbebaskan dari kelahiran dan kematian yang tak berkesudahan. Karena kelahiran dan kematian sepenuhnya melibatkan mind, bila mind sudah terlampaui, maka kelahiran dan kematian pun terlampaui.

 

“Poised in Mahamudra, guilt and negativity are consumed:” Berada dalam keadaan yang seimbang itu, rasa bersalah dan segala macam negativitas pun hilang.

Pikiran negatif, prasangka dan praduga, kekhawatiran dan kecemasan — semua terbakar habis. Mahamudra dan keseimbangan jiwa yang engkau peroleh dari keadaan itu akan membebaskanmu dari segala macam gejolak.

Saat ini, cara kita menyelesaikan masalah sungguh kolot. Kita menyelesaikannya satu per satu. Tilopa sedang menegur kita, ”Sampai kapan, bung? Kapan habisnya? Selesai satu, muncul sepuluh!”

Sekaligus saja dibakar habis…. Dan untuk itu, hanya ada satu cara — Mahamudra. Tingkatkan kesadaranmu dan masalah-masalahmu akan terselesaikan sekarang. Saat ini juga! Karena masalah-masalah kita berkaitan dengan badan, dengan pikiran, dengan rasa. Bila kesadaran badaniah, mental dan emosional terlampaui, masalah-masalah pun akan ikut terlampaui. So simple!

 

And as master of Mahamudra you are the light of the Doctrine.” Setelah mencapai Mabamudra, keadaan tertinggi itu, engkau menjadi cahaya bagi ajaran ini.

Berarti apa? Sebelum mencapai keadaan tertinggi, kita tidak bisa membagi cahaya. Mau membagi apa? Kita sendiri belum memilikinya. Mau berpura-pura? Silakan. Asal tahu saja bahwa apa yang kita sampaikan hanyalah kata-kata. Tak berjiwa.

Ada yang menarik: Dari uraian sebelumnya, mungkin anda merasakan  bahwa Tilopa anti-dogma, anti-doktrin. Sekarang dia bicara tentang cahaya yang menerangi doktrin. Sungguh inkosisten; apa maksud dia?

Tilopa tidak menerima, juga tidak melepaskan. Pada saat yang sama, dia juga melepaskan, sekaligus menerima. Sebelum menyelami Tilopa Iebih dalam, saya harus mengingatkan kembali: Tilopa adalah Tilopa. Jangan membandingkan dia dengan A, B, C.

Ketika seorang Master masih hidup, ajarannya pun masih hidup. Masih dinamis. Masih berkembang. Masih terbuka terhadap kritik, saran, penyesuaian serta penyempurnaan. Seorang Master menerangi ajarannya dengan Pelita Pencerahan yang berada di dalam dirinya.

Setelah Sang Master tidak ada, dan bila mayoritas pengikut belum tercerahkan, belum memiliki Pelita Pencerahan, terjadilah kebingungan. Karena tidak sadar, tidak tahu, mereka akan mati-matian mempertahankan pelita yang sudah mati. Mereka menjadi fanatik!

Kita lupa bahwa seorang Master datang untuk menunjukkan jalan. Kita lupa bahwa ajaran mereka bagaikan peta. Harus dipelajari dan dijalani. Tidak hanya disembah-sembah dan dipuja-puja. Yang lebih aneh Iagi, bila ada orang yang mau membuka peta itu, mau mempelajarinya, kita berang: “Eh, ada urusan apa kamu membuka peta itu? Nanti malah rusak. Taruh kembali, jangan dipegang.” Lucu yah!

Tilopa sedang menjelaskan sesuatu yang luar biasa….. Kata-kata bukanlah ajaran. Untuk menjadi ajaran, kata-kata haruslah diterangi oleh pencerahan si penyampainya. Pencerahan seorang Master, seorang Mursyid bagaikan nyawa. Kata-kata plus nyawa sama dengan ajaran.

Bila anda berwawasan luas, tidak fanatik terhadap suatu ajaran, dan masih bisa berpikir dengan kepala dingin, anda akan melihat persamaan dalam setiap ajaran. Setiap Master, setiap Guru, setiap Mursyid sedang menyampaikan hal yang sama. Cara penyampaian mereka bisa berbeda. Tekanan mereka pada hal-hal tertentu bisa berbeda. Tetapi inti ajaran mereka sama. Dan memang harus sama, karena berasal dari sumber yang sama. And yet, setiap kali, ada saja yang mengulanginya. Kenapa? Yang kita anggap pengulangan sesungguhnya adalah proses pemberian nyawa. Para Master, para Guru, para Mursyid memberi nyawa kepada ajaran-ajaran lama.

Saya memberi contoh: Di meja saya ada sebuah pelita. Bagi saya pelita ini sungguh bermakna dan mengingatkan saya bahwa tanpa pencerahan, apa pun yang saya sampaikan tak bermakna. Besok-besok, bila saya sudah mati mungkin ada yang meniru. Dan saya yakin mayoritas akan menirunya tanpa memahami makna. Adanya pelita di atas meja bisa menjadi ritus baru. Pelita yang sama, di atas meja yang sama pula, selama saya masih hidup, sarat dengan makna. Setelah saya mati, entah apa yang terjadi.

Saat ini saya masih bisa blak-blakan. Setelah saya mati, kata-kata pun bisa diedit seenaknya. anand krishna bisa diperhalus, dipercantik, diperlembut, tetapi ya bukan anand krishna lagi. Pengebiirian semacam itu memang tak terhindari. Bila Si Gila sudah tidak ada, para murid yang masih “waras” biasanya akan mencari aman. Daripada terjadi masalah, ya sudah, ajaran Si Gila disesuaikan sedikit.

Persis seperti apa yang terjadi terhadap karya-karya Osho. Ceramah-ccrarnahnya, baik dalam bahasa Hindu maupun bahasa Inggris, dikumpulkan menjadi 600 jilid buku. Kira-kira 270-an dalam bahasa Inggris, dan 300-an dalarn bahasa Hindi. Sekarang yang masih diterbitkan secara utuh tinggal 30-40 judul saja. Yang Iain sudah diedit habis-habisan. Padahal saya masih punya salinan surat yang ditandatangani oleh Osho, bahwa buku-bukunya tidak boleh diedit seenaknya. Ketika masih hidup, Osho terlibat sepenuhnya dalam proses penerbitan. Ukuran buku, ilustrasi sampul — dia memperhatikan setiap detail Sekarang, ya begitulah…..

Saya beruntung masih memiliki koleksi asli, belum dikebiri. Nanti, entah kapan, koleksi itu akan menjadi collector’s item!!! Orang akan memburunya, walau belum tentu akan membacanya. .

Bayangkan, dalam Zaman modern ini masih terjadi upaya-upaya pengebirian. Pencekalan dan larangan terhadap sebuah karya. Apalagi seratus tahun yang lalu, seribu tahun yang lalu………

Oleh karena itu, dari zaman ke zaman datanglah seorang master, seorang guru, seorang Mursyid untuk “menghidupkan” kembali pelita yang sudah hampir mati.

Kemudian, bila mereka mengatakan sesuatu yang belum pernah kita dengar, ada yang mengatakan, “Wah, dia sangat orisinil. Hebat dia!” Ada yang mengomentari, “Sesat dia. Ajarannya tidak sesuai dengan apa yang saya pelajari selama ini.”

Dua-duanya tidak tahu bahwa kesimpulan mereka disebabkan oleh pengebirian yang terjadi terhadap ajaran setiap master, setiap guru, setiap mursyid.

Bahwa mereka belum pernah mendengar tidak berarti belum pernah diucapkan, disampaikan. Pernah disampaikan, tetapi sekarang hilang. Maka penyampaian ulang itu terasa baru!

Dalam Bhagavad Gita, Krishna sangat jujur. Dia tidak mengklaim orisinalitas. Nabi Muhammad juga sungguh jujur; dia menerima semua di Timur Tengah. Dia tidak membedakan para nabi terdahulu dengan keislaman dirinya. Siddhartha Gautama pun demikian. Yesus juga mengaku bahwa kedatangan dia untuk menggenapi apa yang sudah tertulis. Apa yang sudah pernah difirmankan. There is no conflict!

Lalu yang berkonflik itu siapa? Para pengikut, anda dan saya. Yang berkonflik adalah kita-kita

Kenapa? Karena belum cerah — so simple!

Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2001). Tantra Yoga. Jakarta: Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama)

Om, Sarve bhavantu sukhinaḥ; Sarve santu nirāmayāḥ; Sarve bhadrāṇi paśyantu; Mā kashchit duḥkha bhāgbhavet; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

May all be prosperous and happy. May all be free from illness. May all see what is spiritually uplifting. May no one suffer. Om peace, peace, peace

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/

 

Banner utk di web

oec2elearning-banner

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s