Sifat Bawaan Ilahi dan Syaitani dalam Diri #Bhagavad Gita

Berdasarkan samskara atau “hikmah bawaan” dari pengalaman-pengalaman di masa lalu, adalah dua Kecenderungan atau Karakter utama yang menjadi “pilihan alami” setiap manusia: SIFAT DAIVI dan  SIFAT ASURI atau DAITYA.

Daiva berarti “Yang Berkilau, Bercahaya”. Karakter Daiva adalah Sura, “Selaras dengan Alam, dengan Kodrat manusia”. Sementara itu Daitya atau Asura adalah Karakter yang “Tidak Selaras dengan Kodrat Manusia, dengan Alam”.

Karakter Daivi atau Sura membantu kita dalam hal peningkatan kesadaran. Karakter Daitya atau Asuri menahan kita ke bawah, membuat kita terikat dengan dunia benda. Dikutip dari Kata Pengantar Percakapan ke Enam Belas dari buku dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

Buku Bhagavad Gita

Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu; Saha vīryam karavāvahai; Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga Hyang Tunggal senantiasa melindungi kita; menjernihkan pikiran kita: semoga kita dapat berkarya bersama dengan penuh semangat; semoga apa yang kita pelajari mencerahkan dan tidak menyebabkan permusuhan; Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

“Sesungguhnya hanya ada dua macam makhluk di dunia ini; mereka yang bersifat dasar mulia, Daivi atau Ilahi, dan yang tidak mulia, Asuri utau syaitani. Tentang mereka yang bersifat dasar mulia, Daivi atau Ilahi sudah Ku-jelaskan secara rinci; sekarang dengarlah tentang mereka yang tidak mulia, Asuri atau syaitani, Wahai Partha (Arjuna, Putra Prtha, sebutan lain bagi Kunti, Ibu Arjuna).” Bhagavad Gita 16:6

 

Asura, Daitya atau Syaitan perlu dikenal – sehingga kita dapat menghindarinya. Negativitas perlu diketahui, sehingga kita dapat meninggalkannya. Sampah dan kotoran adalah fakta, realita – keberadaannya mesti diakui, supaya kita dapat rnembakar, atau mendaur-ulangnya menjadi energi, yang dapat digunakan kembali.

 

ASURA, DAITYA, ATAU SYAITAN BUKANLAH “KATA AKHIR” – Syaitan bisa berkembang menjadi Super Syaitan, atau mengalami proses daur ulang menjadi Energi yang Mulia, menjadi Sura, Deva.

Jika seseorang yang lahir dengan sifat-sifat syaitani dibiarkan tumbuh sendiri, atau tumbuh di tengah lingkungan yang justru menunjang ke-syaitan-an dirinya — maka jadilah dia Super Syaitan!

Umumnya memang demikian.

Mereka, yang dalam masa kehidupan sebelumnya, bersifat syaitani; dan saldo atau balance-carried forward-nya adalah sifat-dasar tersebut ; maka kelahiran berikutnya hampir dapat dipastikan di tengah masyarakat yang bersifat sama, syaitani.

 

MASIH ADAKAH HARAPAN BAGI MEREKA? Ada, masyarakat dengan sifat-sifat syaitani memang mesti punah. Mereka mesti didaur-ulang secara kolektif pula. Sementara itu, individu-individu yang mendapatkan berkah berupa bimbingan dari seorang Pemandu Rohani, bisa saja memperbaiki dirinya, tanpa menunggu proses daur-ulang kolektif bagi masyarakatnya, yang kadang membutuhkan waktu beribu-ribu tahun.

Kembali pada ayat…….

Uraian tentang sifat-sifat syaitani berikut adalah dalam rangka mengenal sifat-sifat syaitani. Supaya,jika kita memilikinya, bisa cepat-cepat mendaur-ulangnya.

 

“Mereka yang bersifat tidak mulia, asuri atau syaitani, tidak dapat memilah antara tindakan mulia dan tepat dengan yang tidak mulia dan tidak tepat. Mereka tidak tahu kapan mesti bertindak, dan kapan tidak bertindak. Tiada kesucian, kemuliaan; perilaku baik, dan kejujuran di dalam diri mereka.” Bhagavad Gita 16:7

 

Ketepatan dalam hal bertindak — itulah yang utama. Bagi seorang ibu yang mencintai, menyayangi anaknya, adalah tepat jika ia membiarkan anaknya tumbuh mandiri. Jika ia memanjakannya secara berlebihan dan selalu melindunginya; maka ia bertindak tidak tepat. Ia berperilaku syaitani.

 

BAGI SEORANG PEMIMPIN melayani rakyat adalah tindakan yang tepat. Jika ia mementingkan partai, kroni, serta keluarganya dan menomorduakan rakyat, maka ia bertindak tidak tepat.

Seorang pengusaha mesti mencari uang dengan cara-cara yang wajar ; itulah tindakan yang tepat. Namun jika ia menghalalkan segala cara untuk menimbun harta di atas timbunan penderitaan dan isak tangis orang lain — maka ia bertindak tidak tepat.

Tindakan yang tidak tepat, tidak pada tempatnya adalah ketika seorang kesatria yang harus membela bangsa dan negaranya meletakkan senjata dan menyerah pada musuh. Sebaliknya, jika ia menggunakan senjata untuk membidik sesama anak bangsa demi kepentingannya sendiri — maka ia bertindak tidak tepat pula.

 

TIDAK ADA SALAHNYA kita menyemproti nyamuk—nyamuk yang mengganggu dan dapat menimbulkan penyakit. Jika kita membiarkan kurir demam berdarah berkeliaran bebas — maka kita bertindak tidak tepat. Namun, jika kita membunuh hewan untuk dikonsumsi demi kesenangan atau kenikmatan cecapan, maka kita bertindak tidak tepat.

Bagi seorang petapa atau biarawan, meditasi selama berjam-jam adalah tepat. Bagi seorang kepala rumah tangga pemerintahan, atau sebagainya — yang secukupnya saja. Tidak perlu meniru petapa.

Dikutip dari buku: (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

 

Om, Sarve bhavantu sukhinaḥ; Sarve santu nirāmayāḥ; Sarve bhadrāṇi paśyantu; Mā kashchit duḥkha bhāgbhavet; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga semua makmur, bahagia dan bebas dari penyakit. Semoga semua mengalami peningkatan kesadaran, dan bebas dari penderitaan. Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/

 

Merendahkan Maupun Iri adalah Melecehkan Gusti yang Bersemayam dalam Diri Semua Orang

lni punyaku, itu bukan; ini milikku, itu bukan; seperti inilah aku, aku lain dari kamu, inilah pikiranku, seperti inilah perasaanku—kamu lain; ini putraku, takhtaku, mahkotaku, hartaku—sedang yang itu, adalah punyamu, milikmu.

Segala pengalaman saling bertentangan tercipta oleh dualitas aku dan kamu. Itulah benihnya, benih pertentangan. Benih perpecahan. Selama benih perpecahan dualitas masih ada; selama citta atau benih-benih pikiran dan perasaan masih memiliki muatan atau potensi perpecahan, kita akan selalu terombang-ambing di tengah lautan samsara, kita akan selalu mengulangi pengalaman kelahiran dan kematian secara berulang-ulang.

……………

Selama masih berkesadaran jasmani murni, dualitas tidak bisa dilampaui. Dualitas baru bisa dilampaui, baru bisa “mulai” dilampaui pada tataran energi. Energi yang ada di dalam diri saya, yang menghidupi, menggerakkan diri saya adalah sama dengan energi yang ada di dalam dan menggerakkan Anda. Sebatas ini dulu. Landasan energi ini penting. Tidak perlu membahas filsafat yang tinggi. Sederhana dulu.

Dengan memahami hal ini, kita baru bisa mengapresiasi ungkapan Tat Tvam Asi, Itulah Kau; That Thou Art, That You Are! Dan itu pula Aku. That I am. Kemudian, kedua tangan kita, dengan sendirinya, akan mengambil sikap.

…………..

Namaste, Namaskara, Salam; Tat Tvam Asi, Itulah Engkau—dan pada-Mu Hyang bersemayam di dalam setiap makhluk, kuucapkan salam-hormatku, salam-kasihku. Penjelasan Yoga Sutra Patanjali I.33 dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2015). Yoga Sutra Patanjali Bagi Orang Modern, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Berikut penjelasan Bhagavad Gita 16:18 bahwa Merendahkan Orang Lain ataupun Iri sama dengan Melecehkan Tuhan:

Buku Bhagavad Gita

Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu; Saha vīryam karavāvahai; Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga Hyang Tunggal senantiasa melindungi kita; menjernihkan pikiran kita: semoga kita dapat berkarya bersama dengan penuh semangat; semoga apa yang kita pelajari mencerahkan dan tidak menyebabkan permusuhan; Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

“Terkendali oleh keangkuhan, kekerasan, kesombongan, nafsu, amarah dan sebagainya, mereka sesungguhnya melecehkan Aku yang bersemayam dalam diri mereka dan diri setiap arang.” Bhagavad Gita 16:18

 

Pelecehan terjadi, karena kita menaruh rasa iri terhadap orang lain, cemburu, atau menganggapnya lebih rendah. Semua ini muncul dari delusi bahwasanya “lain”-nya seseorang adalah sebuah realita.

 

PADAHAL YANG “LAIN” ITU TIDAK ADA – Sang Jiwa Agung, lewat percikan-percikan yang tak pernah terpisahkan dari-Nya sedang menerangi setiap makhluk. Sinar suci yang sama menerangi setiap orang.

Di tingkat wahana-badan, memang banyak jenis, beragarn kendaraan. Sepintas, pengemudi setiap kendaraan pun tampak beda. Keturunan Cina jelas beda dari keturunan Afrika. Orang Asia tidak memiliki warna kulit yang sama seperti orang Eropa. Namun, aliran kehidupan, listrik Ilahi yang menghidupi setiap pengemudi adalah satu dan sama.

 

PERLOMBAAN DAN PERTARUNGAN terjadi karena kebodohan diri. Baru-baru saja terungkap suatu berita yang cukup sensasional. Namun, kemudian berita itu “hilang”. Beritanya tentang dua kelompok pemain yang berbeda — tapi, sesungguhnya dibayar oleh sekelompok pengusaha yang sama. Para pemain di dalarn kelompok-kelompok itu dibiarkan berlomba dan bertarung hingga berdarah-darah. Para penonton dihibur – atau, lebih tepatnya dikibuli — dengan tontonan penuh kekerasan.

Para penjudi di luar arena pun bertarung, ada yang menjagokan pemain “A”, ada yang berharap pada pernain “B”. Dualitas di luar tampak sedemikian nyata dan jelas. Namun, di balik itu, sang sutradara adalah satu. Sekelompok pengusaha itulah yang sebenarnya memegang kendali.

Siapa pun yang menang, siapa pun yang kalah — para investor selalu menang, selalu untung, tidak pernah rugi.

 

SEPERTI ITULAH PERMAINAN SEMESTA – Bedanya, bagi Jiwa Agung, untung-rugi bukanlah tujuan-Nya mengadakan pagelaran kehidupan ini. Bukanlah tujuan-Nya untuk mencari keuntungan. Segala-galanya adalah milik-Nya, mau cari untung apa dan dari siapa lagi?

Krsna jelas dan tegas bila perlombaan bukanlah tujuan hidup. Setiap orang unik adanya. Setiap percikan Jiwa adalah unik. Ia sedang mengumpulkan pengalaman tenentu.

Setiap wahana-badan pun unik, tidak ada yang rnenjadi pembandingnya. Jadi, jika kita berlomba-lomba untuk mengejar tahta atau harta saja, maka kita sama sekali tidak memahami Jiwa dan permainan-Nya.

BERMAIN, YA UNTUK BERMAIN – Bukan untuk menang atau kalah. Dalam perrnainan ini, setiap orang sudah pasti sukses, jika ia bermain dengan semangat bermain, bukan untuk mengalahkan orang lain.

Setiap orang ditakdirkan sebagai pemenang.

Setiap kendaraan di Sirkuit Ilahi ini adalah unik dan luar biasa, dahsyat!

Menganggap rendah orang lain, meremehkan perannya, melecehkan dirinya — adalah sama dengan merendahkan, meremehkan, dan melecehkan Sang Jiwa Agung, yang atas kehendak-Nya, Pagelaran Kolosal ini sedang digelar.

Bagi Sang Jiwa Agung, arena permainan ini adalah – bukan saja milik-Nya – tetapi Dia Sendiri. Segala perlengkapan di dalam alam adalah Dia. Pemain adalah Dia. Semuanya Dia, Dia, Dia.

Ketika “kita” — dalam kebodohan kita — “melecehkan” orang lain; maka sesungguhnya kita “seolah” melecehkan Dia. Kenapa “seolah”? Karena sesungguhnya Ia tidak bisa dilecehkan. Tindakan menghina atau meremehkan orang lain adalah persis sama seperti meludahi langit. Ludah itu akan jatuh kembali. Dengan cara itu, kita hanyalah meludahi diri.

Dikutip dari buku: (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

 

Om, Sarve bhavantu sukhinaḥ; Sarve santu nirāmayāḥ; Sarve bhadrāṇi paśyantu; Mā kashchit duḥkha bhāgbhavet; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga semua makmur, bahagia dan bebas dari penyakit. Semoga semua mengalami peningkatan kesadaran, dan bebas dari penderitaan. Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/

 

Jangan Menggadaikan Kemuliaan Jiwa demi Kenikmatan Indra #BhagavadGita

AMBISI, HARAPAN, EKSPEKTASI – sebutan apa pun yang kita benkan kepada ‘cara berpikir’ seperti ini, sekalipun dibungkus rapi dengan kertas sampul positive thinking — landasannya adalah lobha, keserakahan. Dan keserakahan membawa bencana. Keserakahan membuat kita menjadi keras, kaku, alot, dan berdarah-dingin. Kita akan menghalalkan segala cara untuk memperkaya diri, untuk mendapatkan kedudukan, pujian, penghargaan, apa saja.

LALU, APAKAH AMBISI ITU TIDAK BOLEH? Perkaranya bukanlah boleh atau tidak. Perkaranya adalah bahwa ambisi adalah cocok bagi mereka yang bersifat syaitani; mereka yang belum mengenal nilai-nilai hidup dan kehidupan yang lcbih tinggi, mereka yang masih bodoh.

Ambisi tidak bisa tidak membuat diri kita menjadi serakah. Kenapa? Karena ambisi adalah opsi bagi mereka yang belum cukup percaya diri. Ambisi adalah “pikiran dan khayalan seorang anak kecil”: Aku mau jadi gede, mau jadi besar, mau jadi tinggi seperti papi. Aku mau jadi cantik seperti mami. Aku mau jadi guru, aku mau jadi perawat, aku mau jadi presiden, pilot, preman, pengusaha, pemabuk, penjudi, atau salah satu dari sekian banyak pe-pe- yang lain. Ini adalah ambisi.

Silakan menoleh ke belakang, apakah kita menjadi presiden? Berapa banyak anak di antara jutaan atau ratusan juta anak yang berambisi untuk menjadi presiden, dan akhirnya rnenjadi presiden? Penjelasan Bhagavad Gita 16:13 dari buku: (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

Berikut tanggapan Bhagavad Gita 16:14 tentang afirmasi para motivator masa kini:

Buku Bhagavad Gita

Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu; Saha vīryam karavāvahai; Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga Hyang Tunggal senantiasa melindungi kita; menjernihkan pikiran kita: semoga kita dapat berkarya bersama dengan penuh semangat; semoga apa yang kita pelajari mencerahkan dan tidak menyebabkan permusuhan; Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

“Lawan yang satu telah kutaklukkan, yang lain pun akan kutaklukkan. Aku menguasai segala-galanya. Aku memiliki kekuasaan tertinggi. Segala-galanya tersedia untuk kunikmati. Aku memiliki segala kekuatan. Aku sakti, aku berhasil, aku bahagia.” Bhagavad Gita 16:14

 

Kurang lebih afirmasi-afirmasi seperti inilah yang diajarkan para motivator sejak awal abad ke-20, dengan sedikit improvisasi dalam tata-bahasa dan gaya penyampaian.

 

BAGI KRSNA, PERNYATAAN-PERNYATAAN SEPERTI INI adalah bersifat syaitani. Semuanya memengaruhi niat kita, sehingga kita menjadi sombong; “Aku sudah mencapai ketinggian langit kesekian, kau baru langit kesekian.” Siapa yang dapat membuktikan klaim-klaim sepertl itu?

Khayalan syaitani adalah imajinasi, khayalan yang tidak dltindaklanjuti dengan karya nyata. Seseorang yang melamun terus bahwa dirinya adalah kaya, kaya, kaya raya — tidak menjadi kaya. Ia hanya menipu dirinya sendiri.

Kesadaran Jiwa adalah kekayaan sejati.

Berada di jalan raya kehidupan, hanyalah seorang pengemudi yang fully alert, jaga, sadar — yang akan mencapai mjuannya dengan selamat. Jagalah kesadaran diri!

Dalam keseharian hidup, dalam pekerjaaan dan usaha kita, kesadaran diri berarti percaya diri. Berkarya dengan penuh percaya diri. Bekerja keras sesuai dengan potensi dan keahlian diri. Itulah yang membawa keberhasilan. Bukan ambisi, bukan afirmasi-afirmasi belaka. Selanjutnya…

 

MENAKLUKKAN ORANG LAIN MUDAH – taklukkan diri sendiri! Memamerkan kesaktian adalah mudah. Jika kita memang sakti, maka gunakanlah kesaktian kita, kekayaan kita, kecerdasan dan kepintaran kita untuk memperbaiki hidup kita sendiri, dan hidup mereka yang berada di sekitar kita. Tidak perlu membual, just do it!

Hola terpengaruh oleh Si Angong, sehingga tidak meditasi lagi. Bahkan ia pun mencak-mencak di Facebook; “Untuk apa meditasi segala? Dulu, gara-gara meditasi dan kegiatan di padepokan, saya tidak bisa keija sepefti sekarang. Penghasilan minim. Setiap sore aku ke padepokan untuk meditasi. Sekarang, lihat aku bekerja siang malam. Dalam waktu kurang dari 1 tahun sudah bisa ganti mobil.”

Tahun depannya, ia diserang berbagai macam penyakit. Ia memang memiliki kecenderungan untuk “jatuh sakit” seperti itu. Penyakitnya – semua — tanpa kecuali adalah terkait dengan stres. Sebab itu, meditasi justru memoderasi kegiatan dan pola hidupnya yang tidak disadari Hola.

Sekarang, ia sudah tidak bisa bekerja lagi. Jangankan mobil baru yang dibanggakamiya, tabungannya pun sudah hampir habis untuk mengobati diri. Sebelumnya, selama meditasi rutin, ia tidak pernah mengalami guncangan kesehatan seperti yang sedang dialaminya saat ini. Dulu, barangkali penghasilan tidak seberapa; tetapi sehat, masih bisa bekeija; masih punya mobil, dan masih juga punya tabungan. Sekarang? Ludes semua.

 

JANGAN IKUT MENJADI ANGONG, BODOH, BERSAMA SI ANGONG – Jangan menggadaikan kemuliaan Jiwa demi kenikmatan indra!

Mereka yang sedang berjualan kekayaan dan kebahagiaan bualan – para Angong — merayu Anda, “He, inilah cara instan untuk menjadi kaya, menjadi bahagia!” Instan? Mereka sendiri sedang banting tulang untuk menjual “komoditas” mereka. Instan? Tidak.

Berhentilah berkhayal — berkaryalah!

Kerja nyata dengan penuh kesadaran — itulah pengalaman yang dibutuhkan oleh Jiwa. Jika hanya berkhayal saja, maka sesungguhnya Jiwa tidak mernbutuhkan kendaraan badan dan indra.

Dikutip dari buku: (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

 

Om, Sarve bhavantu sukhinaḥ; Sarve santu nirāmayāḥ; Sarve bhadrāṇi paśyantu; Mā kashchit duḥkha bhāgbhavet; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga semua makmur, bahagia dan bebas dari penyakit. Semoga semua mengalami peningkatan kesadaran, dan bebas dari penderitaan. Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/

 

4 Ciri Utama Para Bijak #BhagavadGita

Jiwa mesti tetap sadar akan hakikat dirinya sebagai Percikan Jiwa Agung; dan bahwasanya Panggung Kehidupan ini, pergelaran ini, digelar baginya. Silakan menonton, menyaksikan pergelaran, dan menikmati. Tidak perlu lari ke mana-mana karena seluruh alam semesta adalah panggung pergelaran. Tidak bisa ke mana-mana, selama masih berbadan, bahkan kendati sudah meninggalkan badan ini, selama masih berbadan-halus, Jiwa masih tetap berada di tengah pergelaran.

Jadi, nikmati pergelaran dengan penuh kesadaran akan hakikat diri sebagai Jiwa, jangan terjebak dalam permainan. Untuk itulah dianjurkan upaya terus-menerus, upaya mengingat-ingat jati diri secara terus-menerus, sembari melakoni Samyama. Penjelasan Yoga Sutra Patanjali III.36 diikutip dari buku (Krishna, Anand. (2015). Yoga Sutra Patanjali Bagi Orang Modern, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Berikut penjelasan Bhagavad Gita 18:54 tentang ciri-ciri sifat mulia para bijak yang berkesadaran Jiwa:

 

Buku Bhagavad Gita

Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu; Saha vīryam karavāvahai; Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga Hyang Tunggal senantiasa melindungi kita; menjernihkan pikiran kita: semoga kita dapat berkarya bersama dengan penuh semangat; semoga apa yang kita pelajari mencerahkan dan tidak menyebabkan permusuhan; Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

“Berada dalam Kesadaran Brahman, seseorang senantiasa ceria, tidak lagi berduka dan tidak mengejar sesuatu. Ia bersikap sama terhadap semua makhluk. Demikian, sesungguhnya ia telah ber-bhakti pada-Ku.” Bhagavad Gita 18:54

Tidak berarti seseorang yang telah mencapai kesadaran tertinggi itu meninggalkan pekerjaannya. Tidak. Ia masih tetap berkarya di tengah keramaian pasar dunia, namun terjadi perubahan nyata dalam sikapnya.

 

PERTAMAI IA MENJADI CERIA — Keceriaan bukanlah cengengesan. Keceriaan bukanlah rasa bahagia yang dibuat-buat. Keceriaan adalah hasil dari kesadaran tertinggi, di mana ia mulai mengapresiasi keindahan jagad-raya. Keceriaannya adalah keceriaan polos, tulus, lugu. Keceriaan seorang anak kecil yang sedang mengamati dan menikmati warna-wari dunia.

 

KEDUA: IA TIDAK LAGI BERDUKA – Ini erat kaitannya dengan keceriaan. Jika ia hanya berada dalam keadaan suka, maka ketika keadaan berubah, ia akan berduka.

Keadaan suka, sebab itu, tidaklah sama dengan keceriaan. Keceriaan melampaui suka dan duka. Suka dan duka tergantung pada keadaan di luar diri. Keceriaan adalah sikap hidup yang muncul dari kesadaran diri.

Brahman, sebagaimana telah kita bahas sebelumnya, memiliki tiga sifat utama, yaitu Sad atau Kebenaran Hakiki; Cit atau Kesadaran Murni; dan Ananda atau Kebahagiaan Sejati. Keceriaan bersumber dari ketiganya itu. Namun, secara spesifik, keceriaan adalah ungkapan dari Ananda. Jadi, berasal dari dalam diri, bukan dari sesuatu di luar diri.

 

KETIGA: IA TIDAK MENGEJAR SESUATU – Ia tetap berkarya, dan berkarya secara efisien. Ia tidak malas, namun, ia berkarya sebagai ungkapan keceriaan dirinya. Ia tidak berkarya untuk mengejar kekayaan, kedudukan, ketenaran, dan sebagainya.

Alangkah baiknya, jika para pemimpin, pengusaha, pendidik, pekerja, kita semua bersemangat dernikian! Sehingga tidak ada urusan sikut-menyikut, tidak ada perlombaan, tidak ada praduga dan prasangka. Semua orang berkarya sepenuh hati sesuai peran serta kapasitasnya. Inilah keadaan yang dapat menciptakan masyarakat yang ideal dan sejahtera dalam arti kata sebenarnya, sesungguhnya.

 

KEEMPAT: BERSIKAP SAMA TERHADAP SEMUA – Berarti, tidak pilih kasih. Tidak pandang bulu; tidak tebang pilih. Ia tidak menganggap orang lain rendah karena kepercayaannya beda, rasnya lain, bahasanya beda, dan sebagainya dan seterusnya.

Bersikap sama tidak berarti kita tidak adil. Bersikap sama berarti kita bersikap adil dengan menggunakan tolok ukur dan timbangan yang sama buat semua.

Berarti, kita tidak hanya bersuara lantang ketika seorang pengusaha ditindak karena memperbudak buruhnya, dan membisu seribu bahasa ketika saudara kita sendiri memparbudak staf, atau menipu rekan bisnisnya.

 

DEMIKJAN, DENGAN DIBEKALI KEEMPAT SIFAT MULIA INI – ketika seseorang yang telah mencapai kesadaran tertinggi masih tetap berkarya juga; maka, sesungguhnya ia pun sedang berdoa.

Tidak sama dengan “berdoa sambil bekerja”.

Keadaan ini menjadikan doa sebagai warna dasar setiap pekerjaan. Jadi, pekerjaan itu sendiri berubah menjadi doa.

Inilah semangat panembahan, semangat bhakti.

Bagi seseorang yang berkarya dengan semangat bhakti — tiada lagi dosa, tiada lagi keraguan, kekhawatiran, atau kegelisahan.

Dikutip dari buku: (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

 

Om, Sarve bhavantu sukhinaḥ; Sarve santu nirāmayāḥ; Sarve bhadrāṇi paśyantu; Mā kashchit duḥkha bhāgbhavet; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga semua makmur, bahagia dan bebas dari penyakit. Semoga semua mengalami peningkatan kesadaran, dan bebas dari penderitaan. Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/

 

Banner 4

4 Kondisi Duka Derita dalam Kehidupan Kita #YogaSutraPatanjali

Klesa atau duka-derita bukanlah benda, bukan pula keadaan di luar diri, tapi pengalaman-diri. Klesa atau Duka-Derita adalah “sesuatu yang kita alami”. Jadi, amat sangat subjektif, personal.

Kadang kita “merasa” panas, kegerahan—pengalaman kegerahan ini adalah sangat riil bagi kita. Tapi sebaliknya, di dalam ruangan yang sama, ada juga seseorang yang memakai baju hangat. Ia tidak kegerahan, malah kedinginan. Suhu di luar (suhu di ruang) sama, keadaan sama. Ia kedinginan, kita—Anda dan saya—kepanasan,kegerahan.

Berarti apa? Klesa atau Duka-Derita disebabkan oleh “keadaan-diri kita masing-masing, “pengalaman-diri” kita masing-masing. Bukan karena keadaan di luar diri…………..

Dengan berkembangnya samadhi, berakhirlah klesa secara berangsur, bertahap—mengikuti laju perkembangan samadhi. Jika laju perkembangan samadhi amat sangat pelan, berakhirnya klesa atau duka-derita pun pelan, slow. Jika perkembangan samadhi pesat, berakhirnya duka-derita pun pesat. Yoga Sutra Patanjali II.2 Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2015). Yoga Sutra Patanjali Bagi Orang Modern, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

Berikut penjelasan Yoga Sutra Patanjali mengenai 4 kondisi klesa atau duka-derita:

Buku Yoga Sutra Patanjali

Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu: Saha vīryam karavāvahai;Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai.Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga Hyang Tunggal senantiasa melindungi kita; menjernihkan pikiran kita: semoga kita dapat berkarya bersama dengan penuh semangat; semoga apa yang kita pelajari mencerahkan dan tidak menyebabkan permusuhan; Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

Avidya, kebodohan atau ketidaktahuan adalah dasar, landasan, atau sebab utama segala sebab lainnya yang menyebabkan klesa atau duka-derita (Sebab-sebab lain yang dimaksud adalah asmita atau ke-‘aku’-an; raga dan dvesa atau ketertarikan dan ketaktertarikan, suka dan tak suka; dan, abhinivesa atau keinginan untuk mempertahankan sesuatu), terlepas dari apakah duka-derita itu dalam keadaan dormant atau tidak aktif; dalam proses sedang berkurang, Iewat; sudah teratasi tapi bisa datang kembali, bisa terasa Iagi sewaktu-waktu; atau sepenuhnya aktif dan sedang meluas, berkembang, bertambah.” Yoga Sutra Patanjali II.4

Tentang Avidya, Kebodohan atau Ketidaktahuan sebagai Sebab Utama di balik sebab-sebab lain sudah kita bahas sebelumnya. Adalah penggalan kedua, paruh kedua sutra ini yang sangat penting, di mana Patanjali menjelaskan “sifat” klesa, sifat duka-derita.

 

PERTAMA: PRASUPTA ATAU DORMAN. Jika diterjemahkan secara letterlijk, Prasupta berarti “Tertidur”—dalam keadaan tidur. Ini adalah keadaan yang dicapai, dapat dicapai oleh seorang Yogi. Segala duka-derita di dalam dirinya sudah tertidur.

Dalam hal ini, keadaan seorang Yogi adalah sama seperti keadaan seorang Ibu dengan anaknya yang sudah kenyang, sudah Ielah bermain, dan tertidur. Sekarang, sang Ibu boleh melakukan aktivitas yang lain. Ia tidak lagi terganggu oleh urusan anak.

Atau, keadaan seorang raja yang telah berhasil menaklukkan musuh-musuhnya. Sekarang, ia boleh santai. Para musuh sudah dilucuti senjatanya. Mereka dalam keadaan lemah. Mereka tidak dalam posisi untuk menyerang lagi atau menyebabkan gangguan lain.

Kendati demikian, tidak berarti seorang Yogi boleh hidup tanpa kepedulian. Tidak. Sama sekali tidak. Anak yang sedang tidur bisa terjaga sewaktu-waktu. Musuh yang tertaklukkan pun bisa menyusun strategi dan menyerang balik.

Seorang Yogi yang sudah berhasil keluar, berhasil bebas dari lingkaran klesa atau duka-derita masih harus selalu eling selalu waspada.

Seorang Yogi boleh merasa tidak terpengaruh ketika kehilangan suatu benda yang sangat disayanginya. Ia tidak tenggelam—tidak larut dalam klesa atau duka-derita. Tapi, bagaimanajika ia kehilangan mata pencariannya? Bagaimana jika kehilangan seseorang yang sangat disayanginya? Bagaimana jika kehilangan salah satu anggota badannya? Salah satu indranya? Saat itu, klesa atau duka-derita yang sudah tertidur, sudah prasupta, bisa terjaga kembali!

Intinya: Selalu Eling, Selalu Waspada!

 

KEDUA: TANU ATAU DALAM PROSES SEDANG TERATASI. Dengan kata lain, sedang berkurang. Pengaruhnya mulai melemah.

Saat “baru” terjadi sesuatu yang tidak sesuai dengan harapan atau kemauan kita, rasa sakitnya luar biasa. Tetapi setelah beberapa lama, rasa sakit pun mulai berkurang. Kemudian, bisa saja berakhir tanpa meninggalkan bekas.

Keadaan ini adalah keadaan umum. Seperti inilah keadaan kita semua. Suka-cita maupun duka-derita, keduanya tidak permanen.

 

KETIGA: VICCHINNA ATAU SUDAH TERATASI SEPENUHNYA. Jika keadaan kedua sebelumnya masih dalam proses, dalam keadaan ketiga ini proses sudah berhasil. Duka-derita sudah teratasi—sudah teratasi untuk “saat tertentu”. Implikasinya adalah sewaktu-waktu ia masih bisa muncul kembali.

Berikut contoh untuk memudahkan pemahaman kita. Ada kala kita disakiti seseorang. Kemudian—setelah menderita selama berhari-hari, berminggu-minggu, atau berbulan-bulan—duka itu mulai melemah, hingga suatu ketika tidak terasa lagi. Tidak mengganggu lagi. Terlupakan.

Tapi, beberapa lama kemudian, tiba-tiba tanpa sengaja kita berpapasan dengan orang yang menyakiti kita. Apa yang terjadi? Pengalaman klesa dan duka—yang sebelumnya terasa sudah lewat, sudah terlupakan—muncul kembali, terasa kembali. Bahkan, bisa jadi perasaan yang “baru” muncul itu memiliki kekuatan yang lebih dahsyat dibandingkan dengan yang lalu.

Keadaan ini pun umum. Kita semua mengalaminya dari waktu ke waktu.

 

KEEMPAT: UDARANAM ATAU MASIH AKTIF, masih terasa, bahkan sedang bertambah. Ini pun keadaan umum. Sesuatu yang baru terjadi atau pengalaman duka yang amat sangat dahsyat, yang mampu menghanyutkan segala pengalaman lainnya.

Demikianlah sifat klesa atau duka-derita. Sangat penting bagi setiap praktisi Yoga untuk memahami sifat-sifat ini supaya dapat rnenjaga diri, mengawasi diri. Saat baru mengalami salah satu keadaan di antaranya, jangan sampai kita berpikir sudah bisa melampaui segala duka-derita. Jangan cepat-cepat menyimpulkan, “Aku sudah cerah, sudah mencapai samadhi.”

Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2015). Yoga Sutra Patanjali Bagi Orang Modern, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Om, Sarve bhavantu sukhinaḥ; Sarve santu nirāmayāḥ; Sarve bhadrāṇi paśyantu; Mā kashchit duḥkha bhāgbhavet; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga semua makmur, bahagia dan bebas dari penyakit. Semoga semua mengalami peningkatan kesadaran, dan bebas dari penderitaan. Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/

 

Tempat yang Kondusif untuk Hunian dan Laku Spiritual #BhagavadGita

Pengaruh lingkungan jauh lebih kuat daripada kehendak manusia. Demikian kata Parahansa Yogananda. Dan demikianlah adanya. Tidak perlu sombong, tidak perlu arogan. Pernyataan-pernyataan seperti “Aku sudah mencapai titik di mana tidak ada lagi yang menggoyahkan imanku” hanya akan menjatuhkan Anda.

Berjaga-jagalah terhadap lingkungan Anda, terhadap persahabatan Anda. Apakah mereka menunjang kehendakmu? Itulah sebabnya mereka yang telah berkehendak untuk berfokus pada Kasih Allah saja sebaiknya tinggal di dalam suatu komunitas di mana setiap orang memiliki kehendak yang sama. Di mana setiap orang berfokus pada Kasih Allah. Sehingga tidak lagi terjadi tarik-menarik energi antara kekuatan kehendak dan pengaruh lingkungan. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2012). Sanyas Dharma Mastering the Art of Science of Discipleship Sebuah Panduan bagi Penggiat Dan Perkumpulan Spiritual. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

Defisiensi energi karena tinggal di kota besar. Defisiensi atau kekurangan energi juga membuat kita takut dengan tempat-tempat yang sempit. Kita tidak bisa tinggal dalam apartemen yang sempit dan kecil. Dinding-dinding apartemen terasa mencekik. Banyak orang-orang yang tinggal di kota-kota besar mengalami defisiensi energi, dan defisiensi itu sedemikian parahnya sehingga tidak terdeteksi sama sekali. Kemudian mereka mencari penyelesaian lewat tarik-menarik energi…….

Tembok-tembok, dinding-dinding dalam apartemen itu tidak memenjarakan mereka. Adalah emosi mereka sendiri yang memenjarakan mereka – emosi yang mengakibatkan depresi, stres dan merampas keberanian mereka, semangat mereka, rasa percaya diri mereka. Praanayaama atau latihan-latihan pernapasan dari tradisi Yoga adalah solusi yang paling efektif dan cepat. Namun latihan-latihan tersebut perlu dilakukan secara terartur setiap hari, walau untuk 10 menit saja. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2007). Fear Management, Mengelola Ketakutan, Memacu Evolusi Diri. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Berikut penjelasan Bhagavad Gita 18:52 mengapa kita lebih menyukai tempat-tempat yang lebih tenang dan damai………..

Buku Bhagavad Gita

Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu; Saha vīryam karavāvahai; Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga Hyang Tunggal senantiasa melindungi kita; menjernihkan pikiran kita: semoga kita dapat berkarya bersama dengan penuh semangat; semoga apa yang kita pelajari mencerahkan dan tidak menyebabkan permusuhan; Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

“Ia senantiasa menarik diri ke tempat yang sepi; makan secukupnya; mengupayakan pengendalian badan, indra, ucapan serta pikiran; memusatkan seluruh kesadarannya pada diri yang sejati (melakoni Dhyana Yoga); dan berlindung pada Vairagya, melepaskan segala keterikatan duniawi.” Bhagavad Gita 18:52

Sifat-sifat ini pun “datang dengan sendirinya”. Jika kita sudah berkesadaran Jiwa, kita tidak akan pernah menikmati pergaulan dengan mereka yang masih berkesadaran Jasmani murni, mereka yang hanya memikirkan materi.

 

BUKAN KARENA SOMBONG – Tapi karena urusannya sudah beda. Seorang pilot yang sedang membawa pesawat super canggih tidak berurusan lagi dengan rambu-rambu lalu lintas di darat. Ia mesti menaati rambu-rambu lain.

Seorang mahasiswa tidak lagi berurusan dengan ujian nasional SD. Ia sudah melewatinya. Dalam hal ini, tidak ada rasa sombong atau angkuh, “Aku sudah mahasiswa, kau masih SD? Kasihan!”

Ucapan seperti itu tidak masuk akal. Seorang mahasiswa sudah melewati masa SD. Tidak ada yang perlu disombongkan.

Mencari tempat yang sepi, baik untuk hunian maupun untuk laku spiritual, meditasi dan sebagainya — ini pun bukan karena sombong dan untuk membuktikan, “aku lebih hebat!” Tidak. Ini adalah murni soal pilihan, dan kesukaan – preferensi.

 

JIKA KITA MASIH BEKERJA di sekitar Bundaran HI di Jakarta, maka lebih baik mencari apartemen di sekitar HI. Tidak perlu buang waktu dalam perjalanan.

Sebaliknya, jika kita sudah pensiun — maka tinggal di apartemen yang sumpek dan di tengah keramaian Jakarta adalah pilihan yang tidak tepat. Lebih baik menjual apartemen yang sumpek itu, dan dengan uang yang kita peroleh, mencari tempat di pinggiran kota. Bisa lebih luas, lebih tenang, lebih sehat; dan di atas segalanya, lebih kondusif untuk Sadhana? atau Laku S iritual.

Kemudian, tentang pengendalian diri, makan secukupnya dan lain sebagainya — semua ini adalah urusan self-awareness, kesadaran diri.

 

SEORANG DEWASA TANPA KESADARAN DIRI merusak badannya dengan berbagai jenis makanan yang tidak sehat. Enak di mulut, tidak baik bagi kesehatan. Mau bilang apa? Lagi-lagi ini pun merupakan pilihan — kembali pada kesadaran diri masing-masing.

Tidak mau mengendalikan ucapan, tindakan, dan pikiran – apa bisa? Mau marah-marah, meledak-ledak di tempat kerja? Apakah kita akan tetap dipekerjakan?

Pengendalian diri adalah penting. Tingkat pengendalian beda dari orang ke orang. Itu pun pilihan. Ada yang memilih untuk makan sayur-mayur saja. Ada yang menambah telur dan susu dalam dietnya. Ada yang bangun jam 3 pagi, ada yang bangun jam 5 pagi. Silakan mempraktekkan pengendalian diri sesuai dengan kebutuhan Jiwa, sesuai dengan apa yang dibutuhkan demi pengembangan diri.

Dikutip dari buku: (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

 

Om, Sarve bhavantu sukhinaḥ; Sarve santu nirāmayāḥ; Sarve bhadrāṇi paśyantu; Mā kashchit duḥkha bhāgbhavet; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga semua makmur, bahagia dan bebas dari penyakit. Semoga semua mengalami peningkatan kesadaran, dan bebas dari penderitaan. Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/

 

Keluar dari Lingkaran Lahir Mati Tak Berujung Pangkal #BhagavadGita

Para bijak memahami kematian sebagai bagian dari proses, dari siklus kehidupan. Mati, lahir, mati, lahir – demikian siklus, roda kehidupan berputar terus.

Seperti berlari di dalam stadion berbentuk bulat, bundar. Kita berbulat-bulat, berbundar-bundar, berlari bulat, berlari bundar terus. Berputar-putar terus. Tidak ada ujung. Tidak ada pangkal.

Untuk keluar dari Lingkaran Penciptaan ini — satu-satunya jalan adalah “berhenti dan keluar dari lingkaran”. Jangan berputar terus!

Berikut penjelasan Bhagavad Gita 8:16 tentang kelahiran ulang:

Buku Bhagavad Gita

Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu; Saha vīryam karavāvahai; Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga Hyang Tunggal senantiasa melindungi kita; menjernihkan pikiran kita: semoga kita dapat berkarya bersama dengan penuh semangat; semoga apa yang kita pelajari mencerahkan dan tidak menyebabkan permusuhan; Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

“Kaunteya (Arjuna, Putra Kunti), dari Alam Penciptaan Sang Pencipta Brahma atau Brahmaloka hingga alam-alam lain di bawahnya – semua mengalami kelahiran ulang. Adalah seseorang yang telah mencapai-Ku saja yang tidak mengalami kelahiran ulang.” Bhagavad Gita 8:16

 

Alam-alam dunia, surga, neraka, dan sekian banyak alam lainnya — ada yang mirip dengan alam kita, sejenis, ada juga yang beda — semuanya adalah bagian dari ciptaan Sang Pencipta, Brahma. Pencipta sendiri, Brahma sendiri, kendati bertugas untuk waktu yang sangat lama, tetaplah tidak abadi. Semuanya rnengalami kelahiran dan kematian berulang-ulang.

 

TUGAS PENCIPTAAN, PEMELIHARAAN, PEMUSNAHAN atau pendauran-ulang — semuanya, tanpa kecuali terjadi atas kehendak-Nya. Kendati, semua itu bukan tugas-Nya. Bukanlah Dia, bukanlah Sang Jiwa Agung yang turun tangan “Sendiri” untuk melaksanakannya. Para dewa, para para malaikat, para petugas yang ditentukan-Nya, melaksanakan tugas-tugas ini sesuai dengan Kehendak-Nya.

Jika tujuan kita berbuat baik, beramal-saleh, berdana-punia, berdoa, dan sebagainya adalah sekadar untuk mencapai surga, mendapatkan jatah kapling di sana, maka itulah yang akan terjadi. Singgah di surga sebentar – dan, sebentar itu bisa beberapa bentar dalam takaran waktu dan ruang yang berbeda — menikmati apa saja yang kita inginkan. Kemudian, ceplokl Digoreng lagi di atas wajan dunia atau alam sejenis untuk melanjutkan perjalanan.

 

HUKUM KEHIDUPAN BER-“BENTUK” BULAT seperti berlari di dalam stadion berbentuk bulat, bundar. Kita berbulat-bulat, berbundar-bundar, berlari bulat, berlari bundar terus. Berputar-putar terus. Tidak ada ujung. Tidak ada pangkal.

Untuk keluar dari Lingkaran Penciptaan ini — satu-satunya jalan adalah “berhenti dan keluar dari lingkaran”. Jangan berputar terus! Pemahaman ini tentunya beda dari pemahaman lain yang melihat kehidupan ini sebagai garis linear — garis horizontal dari titik kelahiran hingga titik kematian; atau vertikal — dari titik dunia hingga titik surga atau neraka.

Pemahaman linear berhenti di surga atau neraka. Jiwa-Jiwa dengan pemahaman seperti itu, terhenti evolusi batinnya. Mereka “hanya” menjadi pajangan di dinding-dinding neraka atau surga selama beberapa saat, sesuai dengan debet-kredit karma mereka, hasil perbuatan mereka selama hidup di dunia. Selama belum muncul kesadaran bahwa surga dan neraka bukanlah tujuan, dan bahwasanya Jiwa mesti berevolusi, selama itu pula Jiwa akan tetap berhalusinasi. Ketika kesadaran akan Evolusi Jiwa muncul, kemudian, ceplok! Digoreng lagi di atas wajan dunia.

Intinya, yang berpaham linear maupun yang berpaham lingkaran — dua-duanya diceplok lagi! Hanya saja, paham linear rnembuat Jiwa berhalusinasi bila ia sudah rnencapai tujuan. Surga dianggapnya sebagai tujuan hidup. Pelayanan dan para pelayan di sana dianggapnya kenikmatan yang luar biasa dan tak terhingga. Padahal, pelayan-pelayan itu pun, para manajer, dan petugas di sana pun adalah sama, Jiwa-Jiwa yang sedang berhalusinasi sudah sampai di tujuan.

Sementara itu berputar-putar terus,

 

AKHIRNYA KITA AKAN CAPAI, pasti capai, berhenti, dan tersadarkan! Aha, temyata saya berputar dalam lingkaran. Saat pernberhentian itu adalah saat meditasi, hidup meditatif. Kemudian, kita bisa langsung memutuskan untuk keluar dari lingkaran, dan bingo!

Keluar dari lingkaran ciptaan, Lingkaran Sang Pencipta — berarti memasuki alam Jiwa Agung, Alam Batin. Alam Jiwa Agung adalah Alam Maha-Luas dan Tak-Terbatas. Inilah Alam Krsna. Inilah alam Anda dan alam saya yang sesungguhnya. Berada di dalam Alam Maha Bebas ini, kita menyatu dengan-Nya. Kita, tidak sekadar meraih, tetapi “menjadi” kebebasan mutlak!

Nirvana atau Moksa — Kebebasan Mutlak — bukanlah sekadar pengalaman. Pengalaman bisa berlalu. Saat ini bebas, saat berikutnya budak lagi. Bukan, Nirvana atau Moksa bukanlah pengalaman sepeni itu. Nirvana atau Moksa adalah Kebebasan Mutlak yang sesungguhnya merupakan sifat hakiki setiap Jiwa, setiap batin. Itulah Dia!

Dikutip dari buku: (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

 

Om, Sarve bhavantu sukhinaḥ; Sarve santu nirāmayāḥ; Sarve bhadrāṇi paśyantu; Mā kashchit duḥkha bhāgbhavet; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga semua makmur, bahagia dan bebas dari penyakit. Semoga semua mengalami peningkatan kesadaran, dan bebas dari penderitaan. Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/