Betapa Siapkah Kita?

Oleh Bapak Anand Krishna

 

Limane Aneh Ngisiang Tampul, Ane Anehan Ngisi Pedang. Satu tangan memegang tiang, satu lagi memegang pedang (Kearifan Lokal Bali)

Tangan yang memegang tiang adalah untuk menjaga stabilitas diri. Dan tiang yang dimaksud bukanlah tiang dari beton atau baja.

Tiang yang dimaksud adalah Tiang Dharma. Kebajikan Luhur, Hukum yang Bersifat Sanatana, atau Wiwitan – Langgeng, Abadi, tak pernah usang karena waktu.

Kemudian, Pedang yang dimaksud adalah Pedang Virya, Keberanian, Semangat, dan di atas segalanya Integritas Diri, sekaligus percaya pada Integritas tersebut – Percaya Diri.

Demikian nasihat para leluhur kita: supaya perilaku kita berlandaskan Dharma, dan kita selalu siap untuk menghadapi segala macam tantangan dengan penuh semangat, antusiasme, keberanian, percaya diri.

Gabungan dari Dharma dan Virya inilah keunikan kita. Banyak orang kuat, berotot, bersemangat dan berani pula – tapi tidak mempunyai integritas diri. Sebab, landaan Dharmanya tidak ada. Banyak tangan berpedang sekitar kita, tapi tanpa landasan Dharma, tangan-tangan itu tidak membawa kedamaian, malah menyebabkan kekacauan.

Mereka yang memahami Mahabharata tahu persis bila kehadiran Krishna di tengah medan Kurukshtra bukanlah untuk memenangkan Pendawa, tapi untuk mmenegakkan Dharma. Kebetulan saja di antara pihak-pihak yang berseteru saat itu Pendawa masih agak lumayan berpegang pada Dharma. Ya, agak lumayan, tidak sepenuhnya. Tapi jika dibandingkan dengan pihak lawan, para Kurawa, Pendawa masih lebih memihak Dharma.

Bagaimana menyikapi peribahasa ini dalam keseharian hidup kita? Kita hanya berpedang saja, atau juga berdiri landasan, panggung Dharma? Pedang bukanlah yang terbuat dari baja saja, seperti yang digunakan oleh para satria dan samurai masa lalu.

Lidah kita bisa berperan sebagai pedang. Kata-kata keras yang keluar dari mulut kita bisa lebih ampuh dari pedang tertajam.

Tulian kita bisa membakar, bisa juga melumpuhkan semangat orang. Pertanyaannya: Apakah suara keras itu, apakah tulisan-tulisan itu berlandaskan Dharma atau tidak? Apakah bertujuan menegakkan, mengukuhkan dharma, atau sekedar kepentingan diri saja.

………………..

Bhagavad Gita menjelaskan bahwa dalam hal berdoa, beryajna – menghaturkan persembahan – dan  berupacara apa pun, jika landasannya bukan Dharma, maka hasilanya tidak akan sesuai dengan Dharma.

Dan tanpa Dharma, pedang kata-kata, pedang kepercayaan, pedang upacara semuanya sia-sia.

Silakan baca lampiran terlampir:

Sumber: Majalah Craddha Edisi ke 85 Nopember Desember 2018

Advertisements

Quantum Entanglement dalam Temu Hati Bersama Bapak Anand Krishna

 

Temu Hati & Meditasi Bersama Anand Krishna:

Cukupkah Berpikir Positif untuk Bahagia?

Minggu 4 November 2018 di Hotel Chanti Semarang.

200-an orang memenuhi seluruh kursi yang disediakan di Ruang Pertemuan Lantai 5 Hotel Chanti, Semarang. Tidak ada yang meninggalkan ruangan, semuanya terpana, tersentuh dan sekali-sekali tertawa dan bertepuk tangan dengan gemuruh, bersemangat mengikuti acara Temu Hati dengan Bapak Anand Krishna. Seperti tersihir, dan ketika sesi Latihan Meditasi semua patuh mengikuti instruksi Bapak Anand Krishna, beberapa nampak mengalir air mata saat diminta membayangkan salah satu peristiwa duka yang selama ini tependam. Dikeluarkan dengan ekspresi teriakan 3 kali, terasa lega dan kemudian tubuh berdendang mengikuti irama lagu yang bersemangat.

Semua tanya jawab terasa membuka pikiran semua peserta. Luar biasa. Hebat. Pengaruh yang merasuk ke dalam diri yang tidak bisa tertutupi oleh berbagai kesibukan dunia. Benih-benih kesadaran sudah ditanam, yang hanya menunggu waktu untuk bersemi, tumbuh dan berkembang.

Bagi kami pribadi yang telah lebih dari 14 tahun ikut di Anand Ashram, tetap saja mendengarkan langsung Ceramah Bapak Anand Krishna adalah sebuah kemewahan batin. Fokus semua peserta bukan pada kesadaran fisik di mana semua peserta memang berbeda-beda kondisinya. Bukan pula fokus pada mind, di mana mind semua peserta juga beraneka ragam sesuai kehidupan yang dialaminya. Khusus pada saat mendengarkan ceramah Bapak Anand Krishna, fokus semua peserta pada Kesadaran Jiwa. Menyatu dengan pandangan Bapak Anand Krishna. Berupaya mencapai frekuensi Ceramah yang disampaikan beliau. Kalau saja mencapai satu frekuensi dalam satu saat yang singkat saja, maka seperti penjelasan Ceramah dapat terjadi Quantum Entanglement, dua buah entitas yang telah tergabung, pada saat berada dimana pun, dipisahkan dalam jarak berapa pun. Begitu salah satu bergetar, maka entitas yang lain langsung ikut bergetar seketika, real time, lebih cepat dari kecepatan cahaya.

Bagi kami pribadi itulah pentingnya bertemu langsung dengan seorang Master. Letakkan semua masalah, semua mind, semua penampilan apa pun dan masuk ke tempat pertemuandengan mempersiapkan diri mendengarkan Ceramah dan berupaya memahami, agar berada satu frekuensi dengan seorang Master. Dan pengaruhnya akan terasa luar biasa, bisa mengubah cara pandang kita terhadap kehidupan.

 

Berpikir Positif Saja Tidak Cukup

Pada waktu pacaran, cewek bicara, cowok mendengar. Setelah kawin, cowok bicara, cewek mendengar. Setelah 2 tahun kawin, cowok bicara, cewek bicara, tetangga yang mendengar.

Masing-masing menjadi ahli sejarah, cewek bicara kau sudah berubah seperti dulu. Cowok bicara dari dulu kau tidak berubah. Yang satu berubah yang lain tidak berubah ya timbul masalah, tidak bisa diselesaikan dengan cara berpikir positif.

Berpikir positif seperti pembantu yang menyembunyikan kotoran di bawah karpet. Nampak positif, tapi masalah ditunda tidak diselesaikan. Dan masalah yang dipending bukan hanya tidak menyelesaikan masalah, tapi masalahnya menjadi berbunga, bertambah masalahnya.

Bapak Anand Krishna menyampaikan kisahnya saat beliau dalam kondisi kritis di tahun 90-an yang berakhir selamat dan diberi bonus usia sudah lebih dari 18 tahun pada saat ini.

Pada waktu waktu itu pengobatan belum maju, karena beliau menderita leukemia, harus ditransfusi darah dan steroid hanya sekedar untuk berjalan ke toilet. Kalau itu dilakuakn terus-menerus akan ada resikonya. Menurut dokter saat itu, hanya bisa operasi sumsum tulang belakang di Amerika atau Belanda. Saat bertanya berapa besar kemungkinan berhasilnya katanya 50-50 tergantung Tuhan.

Silakan baca buku Soul Quest. Beliau bertemu seorang Lhama, Petapa Tibet di Himalaya yang mengatakan inilah tempat yang baik untuk mati. Tempat di Himalaya yang sangat indah tempat berawalnya Sungai Sindhu, sungai yang mengalir ke wilayah leluhur beliau.

Setelah seminggu berada di sana disuruh pulang, jangan mati di Himalaya sang lhama tidak akan bisa mengirim jenazahnya ke Indonesia, merepotkan saja. Beliau pulang ke Indonesia dan dicheck HB beliau 1.7. Beliau minta ditransfusi darah sekali saja, dan sang dokter tidak berkenan dilakukan di kliniknya, jadi dilakukan di Rumah Sakit. Dan beliau sembuh.

Magic adalah kejadian yang bisa mengubah mindset, dan dengan mindset yang berubah penyakit pun sembuh. Hadapi masalah, bukan dengan berpikir positif, menyembunyikan masalah di bawah karpet.

 

Hadapi Masalah, Jangan Melarikan Diri, Hadapi Tantangan Hidup dengan Senyuman.

Banyak peristiwa yang hanya diselesaikan dengan Hi and Bye.

Bapak Anand Krishna menyampaikan kisah tentang seorang yang bertapa, dewa dan lampu ajaib. Intinya kita itu jarang bersyukur. Beliau mengingatkan kisah Dale carnegie tentang seseorang yang mengeluh tidak bisa membeli sepatu, sapai dia bertemu seseorang yang tidak punya kaki.

 

Four Noble Truths, 4 Kebenaran Mulia:

  1. Dukkha, ketahui problem.
  2. Samudaya, alasan penyebab.
  3. Nirodha, dapat diselesaikan.
  4. Magga, jalan untuk menyelesaikan.

 

Pendapat Atisha, ilmu digunakan untuk melihat problem apa adanya. Misalnya sakit gigi pada hari Saptu atau minggu, perhatikan rasa sakit 4-5 jam, akan terasa berkurang sampai dibawa ke dokter saat hari kerja.

Misalkan sakit jantung, ditulis buku harian apa yang dimakan dan dirasakan selama 6 bulan. Setelah itu kita tahu sebab-sebanya dan itu berarti 50% problem telah teratasi.

Moral Problem. Suputra dan Mutra.

Economical Problem dan Psychological Problem. Menangis di jalan atau di hotel bintang lima. Sama-sama menangis hanya beda gaya.

Spiritual Problem. Kebahagiaan dari Berbagi dan Mencintai Tetangga.

 

Solusi oleh Peradaban Kita:

Bapak Anand Krishna menyampaikan sejarah peradaban Sindhu, dan tentang Gunung Meru yang tercatat di kitab-kitab zaman dahulu (seperti Srimad Bhagavatam dll. yang pernah kami baca) yang adalah Gunung yang berada di Danau Toba yang letusannya 2,000 kali lipat dari letusan Gunung Krakatau yang telah menyebabkan wilayahnya tertutup awan gelap selama 40 tahun sehingga dikenal sebagai Tamasik, Temasek, gelap.

Solusinya bagaimana?

Ini baru lebih kurang separuh Ceramah yang dapat kami ketengahkan saat ini, masih ada lainnya. Akan tetapi tidak perlu khawatir. Pada waktunya semua Ceramah Bapak Anand Krishna akan dapat kita pelajari, kita putar berulang-ulang di Youtube…….

Ngerti Sakdurunge Winarah, Mengerti Apa Yang Akan Terjadi

Mengerti Apa yang Akan Terjadi

Seorang Petani Mangga menanam benih unggul Pohon Mangga Madu, dia mengerti 6 tahun lagi pohon mangga itu akan berbuah banyak yang lezat dengan ketinggian berapa meter dan lebar kerindangan daunnya sekitar berapa meter. Sang Petani tahu apa yang akan terjadi, kita orang awam tidak. Demikian pula kita telah menanam benih karma dan bila kita tenang, hening, atau lewat mimpi kita bisa mengetahui apa yang akan terjadi pada diri kita. Hanya kalau dibumbui misteri ramalan yang akan terjadi akan menarik perhatian masyarakat. Magic adalah bila kita dapat mengubah hasil karma buruk menjadi hasil yang baik.

Penglihatan Bapak Anand Krishna

Indonesia Baru yang kulihat ialah Indonesia buatan Putera-Puterinya sendiri. Indonesia yang dibuat oleh Orang-Orang Indonesia sendiri, dengan kesadaran “keindonesiaannya”. Bangunan Indonesia Baru tidak menggunakan bahan baku asing. Bahan baku impor. Bila ada pernak-pernik dari luar negeri, itu hanyalah sebagai pemanis. Tidak lebih dari itu. Kekuatan Indonesia Baru datang dari dalam tubuhnya sendiri. Jiwa Indonesia Baru tidak membutuhkan dorongan dari luar untuk menumbuhkembangkan semangat yang dibutuhkan untuk membangun, mencipta, dan bertahan menghadapi segala tantangan. Semangat Gotong Royong – itulah yang menjadi modal dasar bagi Indonesia Baru. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2005). Indonesia  Baru. Jakarta: One Earth Media)

 

Hukum Karma

Hukum Karma adalah Hukum Perbuatan, Hukum Tindakan. Dalam bahasa fisika, hukum ini disebut “Hukum Aksi Reaksi”. Setiap aksi sudah pasti menyebabkan reaksi yang setimpal. Inilah Hukum Sebab Akibat.

Dan, Hukum ini bersifat Universal. Berlaku sama bagi setiap orang, bahkan setiap makhluk hidup. Hukum ini tidak tergantung pada akidah agama tertentu. Ia tidak bersandar pada dogma maupun doktrin tertentu. Mau percaya atau tidak, hukum ini tetap berlaku bagi semua. Dan, berlaku sama.

Setiap orang, lelaki maupun perempuan mesti tunduk pada Hukum Universal ini. Hukum ini berlaku bagi individu, maupun bagi kelompok. Dikutip dari Karma Negara (Artikel Bapak Anand Krishna di Radar Bali, Senin 24 September 2007)

Mengapa Ramalan Bisa Jadi Kenyataan? Apakah Kita Seperti Robot yang Terprogram?

Kepastian itu sangat mekanis. Kepastian membuat manusia menjadi mesin, persis seperti robot. Kepastian membuat anda menjadi komputer. Program yang diberikan dapat menentukan setiap tindakan, setiap ucapan, bahkan setiap pikiran dan setiap perasaan dalam diri anda. Komputerisasi umat manusia sudah terjadi sejak ribuan tahun yang lalu.

Mereka yang berkuasa, mereka yang menjadi pemimpin, mereka yang berada pada pucuk pemerintahan telah melakukan programming. Tentu saja, programming ini harus menguntungkan mereka, anda hidup dalam ketidaksadaran. Sepertinya dibawah pengaruh hipnotis massa. Tindakan, ucapan, pikiran bahkan perasaan anda pun sesuai dengan programming yang telah diberikan kepada anda.

Anda tidak bebas! Mungkin sudah merdeka, tetapi hanya memproklamasikan kemerdekaan tidak membebaskan diri anda! Anda telah diperbudak selama ribuan tahun dan saat ini pun anda masih diperbudak. Anda diperbudak oleh berbagai tradisi, peraturan dan konsep yang sudah kadaluwarsa, sudah usang. Mereka yang memprogram anda tidak menginginkan kebebasan anda. Kenapa? Karena begitu anda bebas, anda tidak dapat dikuasai. Untuk menguasai anda, kepatuhan anda sangat dibutuhkan; kepastian anda sangat dibutuhkan. Anda harus statis. Dan dengan menggunakan dalil stabilitas, anda telah dilatih dan dipaksa untuk jalan atau lari ditempat. Itu sebabnya, manusia dapat diramalkan. Manusia yang sudah diperbudak oleh masyarakat, dapat diramalkan. Suatu masyarakat yang terbelenggu oleh berbagai tradisi dan peraturan yang sudah dapat diramalkan. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (1998). Tetap Waras di Jaman Edan, Visi Ronggowarsito Bagi Orang Modern. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Kita Bisa Tahu Apa yang Akan Terjadi 10 Tahun yang akan datang

Apa yang akan terjadi pada diri saya atau suatu keadaan sekitar saya, itu pun sudah merupakan rencana yang sudah ada dalam bawah sadar kita (Kalau kita mengatakan itu bawah sadar). Saya tidak mengatakan itu bagian dari bawah sadar tapi dari chit, seed of thought, benih-benih pikiran kita.

Itupun sudah kita rencanakan, jadi tidak ada yang beda sebetulnya. Cuma ada yang tependam tidak cepat keluar dan ada yang cepat keluar. Jadi apa yang akan terjadi 10 tahun yang akan datang, sudah ada blue print-nya. Misal kita mau tanam pohon buah mangga maka setelah beberapa tahun berbuah. Seorang petani tahu bahwa pohon ini berbuahnya kapan, pohon yang satu lagi berbuah kapan? Tapi kalau kita bukan petani maka kita nggak tahu. Kita pikir kok lama sekali, apakah akan berbuah atau tidak? Begitu juga apa yang akan terjadi 10-15 tahun dari sekarang, bijinya sudah ditanam entah sepuluh tahun sebelumnya.

Tapi bagaimana bisa terlihat dalam mimpi? Kita berada dalam masyarakat yang kalau sesuatu dibungkus mistis akan menarik. Seperti melihat awan, wah itu seperti ada gambar Shiva, bagi orang lain itu gambar Kwan Im, bagi orang ketiga itu Buddha. Tergantung pada proyeksi dari pikiran kita. Kita bisa melihat apa pun dan kemudian berita itu dimunculkan dan kita menjadi heboh. Kita melihat bulan seperti melihat kelinci. Tapi, bagi Orang China itu bukan kelinci, itu adalah wanita cantik. Dewi Bulan. Bagi orang India itu adalah laki-laki, Chandra. Jadi tergantung persepsi kita. Tapi kita punya kebiasaan dibungkus dengan mistisisme, padahal semuanya sudah diatur.

Justru the real magic, menurut Aleister Crowley, magic itu suatu kemampuan untuk mengubah sesuatu atau kondisi hati kita. Itulah real magic. Begitu juga kalau kita sudah tanam sesuatu sebelumnya, dan kita sudah tahu akan berbuah mangga. Karma yang hasilnya kita sudah tahu pasti jelek atau bagus, kalau kita mampu mengubah itu. Dari buruk menjadi bagus, itu real magic, kekuatan pikiran yang benar.

Kita mimpi sesuatu, bisa merupakan bagian dari sampah-sampah dalam diri kita yang keluar, atau bisa suatu berita bahwa ini bisa terjadi. Kita bisa melihat rambu-rambu ini bila bisa terjadi padamu. Misalkan mulai sekarang saya mesti membawa mobil dengan lebih berhati-hati, agar mimpi yang saya lihat tidak terjadi.

Bagaimana bila kita sudah melihat tanda buruk yang akan terjadi bagaimana cara mengatasinya? Apabila mind kita terpengaruh mimpi kecelakaan peswat, ganti flight. Apa yang kita perhatikan dengan pikiran kita, itu terjadi. Itulah kekuatan pikiran. Apa yang kita bahas ini kekuatan pikiran bukan spiritual. New Age itu apa? kekuatan pikiran. Mereka belum bicara sesuatu yang lain. Mimpi juga bagian dari kekuatan pikiran. Lucid dreaming, kita bisa merencanakan sesuatu lewat pikiran. Saya pernah menulis, sebelum tidur pikirkan saya akan pergi ke suatu tempat, lakukan beberapa kali sampai mungkin hari ke 7 roh ini bisa jalan-jalan ke suatu tempat tertentu. Bisa diatur.

Kalau ditarik ke karma pembahasan akan panjang. Karma terjadi pada dasarnya dalam kenyataan dan mental/emosional. Istilah karma adalah perbuatan. Mungkin saya berpikir jelek akan dirimu, mungkin vibrasi itu akan diterima, oleh mind mu, brainmu. Kamu akan berpikir tentang saya yang jelek juga. Itu bisa terjadi itu tapi sebatas pikiran. Kalau saya menonjok kamu itu adalah physical. Dan kamu meresponnya dengan physical. Hukum karma adalah physical law.

Begitu ada pikiran yang jelek, Patanjali mengatakan pikirlah yang berlawanan untuk menghindari akibat buruk. Oleh karena itu dimunculkan simbol-simbol. Kebanyakan, apa yang tepikir oleh kita adalah jangan=jangan akan terjadi begini. Jangan-jangan ada rintangan, jangan-jangan ada problem. Sehingga dimunculkan simbol Ganesha untuk mengenyahkan segala macam rintangan. Sangat mudah kalau tiba-tiba kita punya pikiran kalau begini jangan-jangan akan begini. Kemudan untuk mengimbangi pikiran itu yang sudah diulangi dalam pikiran berkali-kali kita harus mengimbangi dengan pikiran yang berlawanan.

Daripada susah-susah, kau punya Ganesha, lihat patung Ganesha. Dan itu lebih powerful daripada pikiran yang harus diulang-ulang. Positif thinking kita tidak bisa sekuat negatif thinking. Negatif thinking naturally muncul, positif thinking harus kita upayakan. Banjir dari negatif thinking ini tidak cukup diatasi dengan positif thinking. Solusinya lihat gambar Ganesha.

Jadi Ganesha dibawa ke mana-mana. Itulah yang dikerjakan mereka. Obama membawa gambar Hanuman di kantong dia. Setiap ada masalah dia keluarkan gambar Hanuman. Dia share.

Mau dengan Kwan Im, Ganesha, Narasimha mau apa. Begitu ada pikiran jelek langsung visual. Di kantor-kantor di mana-mana jangan kasih pajangan macam-macam. Taruh visual yang bisa memberi semangat. Di China, Kwankung, Macan, Kura-Kura karena perisainya. Mahisasura Mardini, Durga di tempat kita.

Kalau kita mimpi hal yang tidak sesuai dengan keinginan kita kita dapat mengatasi dengan cara demikian. Dream yang visual harus diatasi dengan visual. Visual mimpi dilawan dengan suara tidak berhasil.

Bagaimana kalau mimpi yang mengarahkan kita? Kembali ke Hanuman atau Ganesha, tolong saya dibantu. Tapi harus visual karena kita harus main dengan kecepatan cahaya. Hati-hati dengan televisi, dengan youtube, dengan apa yang kita lihat. Karena kecepatannya adalah kecepatan cahaya. Bisa menciptakan situasi yang baik atau kalau tidak kita bisa menjadi peragu-ragu, pemalas.

Sumber: Video Youtube, Membaca Mimpi & Cara Mengatasi Pikiran Negatif oleh Bapak Anand Krishna

Sapi yang Menangis di Tempat Pemotongan Hewan

Emosi pada Binatang

Para ilmuwan semakin percaya bahwa hewan pun merasakan emosi seperti manusia. Sukacita, kesedihan, kemarahan, kecemburuan dan cinta memainkan peran penting dalam kehidupan mereka.

Ada 3 komponen emosi yang dipelajari: fisiologis (respon tubuh/fisik), perilaku (apa yang ditunjukkan kepada makhluk lain), dan respon psikologis (apa yang dirasakan). Emosi berbeda dari sensasi, yang hanya merupakan konsekuensi fisik (misalnya panas), dan dari perasaan, yang hanya mengacu pada keadaan internal tanpa referensi untuk reaksi eksternal.

Hal tersebut diperkuat bahwa mamalia memiliki struktur otak yang mirip dengan manusia, dan cara kerja otak mereka mirip dengan cara kerja otak manusia.

Sumber: onekindplanet.org/animal-behaviour

 

Jadi Vegetarian Jadi Sehat Inpirasi dari Danau Toba, video youtube oleh Bapak Anand Krishna

Leluhur kita ketika akan memberikan sesuatu sebagai persembahan kepada kekuatan-kekuatan alam, mereka mencari sesuatu yang paling berharga. Bila mereka punya hewan ternak, misalkan kerbau, maka mereka mmempersembahkan kerbau. Kemudian terjadi pemahaman baru, revolusi dalam cara pandang, bahwa binatang itu juga ada nyawanya, punya kehidupan. Kita tidak boleh mengambil kehidupan dan mempersembahkannya. Sejak 3.000 tahun Sebelum Masehi, Krishna menyampaikan bunga, buah-buahan, dedaunan, rempah-rempah bahkan air pun dapat dijadikan persembahan. Tidak perlu menyembelih binatang.

Juga ada pemahaman bahwa pemahaman bahwa penyembelihan hewan itu simbolik. Yang kita sembelih adalah sifat hewani kita. Akan tetapi hewan itu juga punya kebaikan.

Dari Jurnal Psychology Today disampaikan bahwa sapi itu mempunyai inteligen tinggi, punya emotion, bisa merasakan duka, derita seperti manusia. Silakan lihat di tempat penjagalan sapi. Mereka, sapi atau kerbau menangis. Sapi-sapi yang dibawa dari Bali, selama 28-30 jam, sepanjang perjalanan berdiri bercampur kotoran dan air kencing.  Saat diturunkan sapi-sapi seperti gila, stress.

Di Kebun-Kebun Binatang banyak temuan tentang monyet yang bunuh diri. Padahal kalau monyet ditempatkan di tempat terbuka tidak akan bunuh diri. Ada juga ikan dimasukkan toples kecil nampak stress bolak-balik berenang dan kemudian melompat ke luar toples. Ikan Arwana pun bila di dekatnya ada orang yang stress berat dia pun ikut stress. Tentang inteligensia banyak kisah anjing yang setia menunggui makam majikannya.

Binatang mempunyai raa cinta, seperti para gembala di India yang betul-betul menyayangi sapi, memelihara dengan baik untuk diperah susunya. Anak-anak para gembala sejak kecil sudah kenal sapi dan sering mengelus-elusnya. Begitu anak dari gembala mendekati sapi, putting sapi itumengeluarkan air susu. Rasa cinta terhadap anak kecil.

Apakah hewan dapat merasakan stress seperti yang dihadapi manusia? Sekarang banyak anjing menderita sakit leukimia. Padahal dulu di tahun 70-an tidak pernah terjadi. Dan, itu terjadi pada anjing piaraan. Anjing tidur di sofa, pakai AC, diberi jaket akan stress, tidak akan menerima hal itu, protes tapi dia tidak bisa bicara. Untuk mengubah genetika dengan lingkungan kebiasaan manusia perlu waktu. Orang yang tidak biasa kena AC saja begitu dalam ruang ber AC langsung batuk-batuk, pusing, panas-dingin.

Mungkin 10 tahun yang akan datang, akan ditemukan berbagai penyakit karena konsumsi daging hewan.

Sumber: Jadi Vegetarian Jadi Sehat Inpirasi dari Danau Toba, video youtube oleh Bapak Anand Krishna

Pengaruh Konsumsi Daging terhadap Kesadaran

Bila ingin merasakan Kehadiran Yang Maha Hadir, Maha Hidup dan Maha Ada – maka belajarlah untuk menghormati segala sesuatu di sekitarmu. Benda-benda yang selama ini, karena cara pandang yang keliru, kau anggap mati, sesungguhnya tidak mati. Semuanya hidup.

Pedoman Pertama bagi pembangkitan energi di dalam diri adalah: Makanlah untuk bertahan hidup. Janganlah hidup untuk menikmati makanan saja. Hindari makan daging supaya hewan di dalam dirimu mati kelaparan. Sifat kehidupan yang memasuki tubuh kita lewat mulut, mempengaruhi sifat diri kita. Sesuai dengan istilah yang kita gunakan baginya, tumbuh-tumbuhan memiliki sifat utama, yaitu growth, bertumbuh. Bila tumbuh-tumbuhan yang kita konsumsi, maka kemanusiaan di dalam diri kita pun ikut bertumbuh. Sebaliknya, sifat utama hewan adalah kehewaniannya. Dengan mengkonsumsi dagingnya, kita tidak sekadar mengalami pertumbuhan, tetapi pertumbuhan kehewanian di dalam diri.

Pedoman Kedua: Jangan lupa berdoa sebelum, sambil dan sesudah makan. Doa sebagai ucapan terima kasih, doa untuk mensyukuri apa yang telah diberikan kepada kita. Awam melahirkan anak. Anak yang bisa hidup selama lima puluh tahun, seratus tahun, akhirnya mati juga. Para nabi, avatar, buddha, mesias melahirkan “kesadaran” yang menuntun umat manusia selama berabad-abad dan tidak pernah mati. Kesadaran yang mereka lahirkan berada dalam diri manusia melekat untuk selamanya. Menjadi bagian kesadaran kolektif manusia untuk selamanya. Bedanya awam menggunakan energi itu as it is, begitu saja. Para maestro mengolahnya terlebih dahulu. Energi yang kita gunakan mirip susu. Energi yang mereka gunakan sudah berupa mentega.

Pedoman Ketiga: Pengendalian diri. Kepadatan mempengaruhi getaran. Makin padat makin kurang bergetar. Kepadatan “ruang” sungguh minim sekali sehinga getarannya sungguh dahsyat, hampir tak terdeteksi oleh otak kita yang relatif padat. Bila kita ingin berkesadaran luas, tidak sempit, maka getaran tubuh kita, pikiran serta perasaan kita harus diperdahsyat. Sementara ini, umumnya kita masih bergetar dengan kecepatan tanah. Badan kita terbuat dari tanah. Sperma dari ayah dan ovum dari ibu, dua-duanya berasal dari makanan yang mereka dapatkan dari bumi. Ketergantungan kita sendiri pada bumi dan hasil bumi pun masih sangat kuat. Itulah sebabnya kita masih berpikiran picik, masih berkesadaran rendah, pandangan kita belum jernih. Bagaimana mempercepat getaran kita? Bagaimana memperluas kesadaran kita? Dengan menari, menyanyi, merayakan hidup ini. Keceriaanmu membebaskan dirimu dari belenggu-belenggu yang mengikat jiwamu. Jiwa ceria adalah jiwa yang bebas. Sebaliknya kemurunganmu membebani jiwamu. Keceriaan meringankan jiwamu.

Pedoman Keempat: Keceriaan, rayakan hidupmu! Latihan-latihan yang diberikan sangat membantu. Kebiasaan-kebiasaan kita menciptakan pola-pola energi tertentu. Dan, itu hanya dapat diubah dengan latihan. Tidak bisa dengan pengetahuan atau pemahaman belaka. Air seni dan air besar yang kita keluarkan memiliki substansi, dua-duanya mewakili elemen tanah – tidak heran bila kita sangat peka terhadapnya. Sementara itu, energi yang kotor sudah mewakili elemen-elemen yang lebih ringan, api dan angin, makanya kita belum cukup peka terhadapnya. Jangan khawatir, dengan bertambahnya kepekaan diri, pembuangan energi, pikiran serta perasaan “kotor” akan menjadi sangat alami, sealami pembuangan air seni dan air besar……… dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2006). Sexual Quotient, Melampaui Kamasutra Memasuki Tantra. One Earth Media)

Kepergian Seorang Sahabat dan Misteri Kematian

Hal Yang Paling Menakjubkan tentang Kematian

Pada suatu ketika Brahma bertanya Kepada Resi Narada, hal apa yang paling menakjubkan yang ia lihat di bumi. Narada menjawab, hal yang paling menakjubkan yang aku lihat adalah: orang yang sekarat sedang menangisi yang sudah mati. Mereka yang setiap saat sedang mendekati kematian, sedang menangisi mereka yang sudah mati. Seakan-akan tangisan mereka akan menghidupkan kembali yang sudah mati ataupun mencegah kematian mereka sendiri. Dikutip dari buku (Das, Sai. (2012). Sai Anand Gita Kidung Mulia Kebahagiaan Sejati. Koperasi Global Anand Krishna Indonesia)

Kita sering melihat sahabat kita sedang sakit, bahkan ada yang meninggal dan kita merasa bersedih, akan tetapi, anehnya kita merasa bersyukur bahwa kita tetap sehat dan tidak meninggal, bukankah hal ini terasa sangat aneh, karena sakit dan meninggal adalah proses kehidupan yang harus kita lalui.

Mengapa kita tidak seperti Pangeran Siddharta, yang setelah melihat orang sakit, sekarat, dan meninggal, menjadi sadar bahwa itu adalah sebuah proses yang harus dilalui dan Sang Pangeran meninggalkan istana mencari rahasia bagaimana agar kita bisa meninggal dengan tersenyum tanpa rasa duka.

Kepergian Seorang Sahabat

Siang kemarin, kami melihat seekor kupu-kupu masuk kamar belakang terbang berputar dalam kamar sebentar dan kemudian ke luar, entah ke mana. Kami membangunkan istri menyampaikan hal itu. Agak aneh, walau banyak pohon di pekarangan kami akan tetapi sudah lama kami tidak melihat kupu-kupu. Kami ingat penjelasan tentang kupu-kupu dari Video Youtube Mengungkap Rahasia Candi Cetho dan Sukuh, Seks, Siklus Kelahiran dan Kematian oleh Bapak Anand Krishna.

Adalah sahabat kami di Anand Ashram, Manggala Devi (Lina Pandiangan) istri sahabat David Purba, baru saja pergi melanjutkan perjalanan. Sadgati, semoga Beliau akan memperoleh peningkatan kesadaran di kehidupan mendatang ataupun mencapai moksha.

Perahu badan menjadi penting karena penumpang jiwa yang bersemayam di dalamnya. Perahu adalah sarana, perahu dibuat bagi penumpang, bukan sebaliknya. Ketika badan menjadi hambatan bagi perkembangan jiwa, maka kita mesti me- “let go”nya. Bye-bye badan…itulah kematian. Badan yang sudah rusak, badan yang sudah tidak sesuai dengan kebutuhan adalah badan yang tidak berguna. Sebab itu, keterikatan dengan badan adalah tindakan yang bodoh. Dikutip dari buku (Das, Sai. (2012). Swami Sri Sathya Sai Baba Sebuah Tafsir. Koperasi Global Anand Krishna)

Diantara sekian banyak ketidakpastian dalam hidup ini, mungkin hanya “kematian” yang merupakan satu-satunya kepastian. Aneh, selama ini kita sibuk mengejar ketidakpastian. Dan tidak pernah mempersiapkan diri untuk sesuatu yang sudah “pasti”.

Sesungguhnya, mempersiapkan masyarakat untuk “menerima” kematian adalah tugas agama dan para praktisi keagamaan. Tugas ini sudah lama terlupakan, karena para praktisi keagamaan pun tidak sepenuhnya memahami proses kematian. Lalu, penjelasan apa yang dapat mereka berikan?

Yang dapat mereka lakukan hanyalah menteror manusia, mengintimidasi dan menakut-nakutinya dengan ancaman api neraka atau alam kubur yang sunyi sepi. Ada pula yang memberi harapan akan surga yang serba wah. Kendati, harapan itu pun tidak “gratis”. Ada embel-embelnya: kamu harus berbuat ini dan itu. Dan “berbuat ini itu” biasanya selalu dikaitkan dengan kemajuan masing-masing kelompok agama.

Kebaikan hati dinilai dari berapa seringnya anda mengunjungi tempat ibadah, berapa besar sumbangan yang anda berikan, dan isi berapa banyak buku yang telah anda telan. Tidak ada yang memperhatian “perkembangan diri” manusia. Perkembangan “rasa” dalam diri manusia tidak diperhatikan sama sekali. Itu sebabnya, hidup kita masih kering, keras, dan kaku. Tidak ada kelembutan. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2002). Kematian, Panduan Untuk Menghadapinya Dengan Senyuman. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama)

Mengungkap Rahasia Candi Cetho dan Sukuh, Seks, Siklus Kelahiran dan Kematian

Video Youtube oleh Bapak Anand Krishna

Fungsi Candi Sukuh ini sebenarnya apa?

Melihat dari artefak-artefak yang ada, yang tadinya tidak diketahui posisinya di mana dan kemudian di pajang seperti sekarang, dari bentuk candinya seperti sekarang, ini adalah semacam laboratorium. Jadi bukan suatu candi yang digunakan untuk ritual saja. Mereka mempelajari sesuatu, yang barangkali sekarang ini disebut tabu atau apa, karena seks kematian dan kelahiran ini sangat erat kaitannya. Untuk memahami apa yang terjadi dengan soul. Apa yang terjadi pada roh, setelah dia meninggalkan badan.

Karena kita, leluhur kita bahkan sampai sekarang pun. Lebih dari 1.5 milyar orang di seluruh dunia percaya bahwa hidup ini bukan linier, tapi cyclic. Kalau kita bicara recycle, apa yang terjadi dengan roh? Apa dia akan digantung dimana saja. Roh kita ini meninggalkan badan dan kemudian roh ini mencari badan baru. Mencari badan yang baru yang masih berada dalam kandungan. Jadi setelah kematian badan ini dan masuk ke badan baru yang masih dalam kandungan. Dalam proses entering a new body, seks memainkan peranan yang penting. Leluhur kita berupaya memahami what happen? Kalau kita percaya pada Tuhan dan Tuhan menciptakan manusia. Kenapa Dia haruis menciptakan seks untuk kelahiran. Kenapa nggak tiba-tiba dari atas turun hujan. Sekali setahun turun 100 ribu orang. Kenapa diciptakan seks. Hal-hal seperti ini yang mereka berupaya untuk memahami.

Dan artefak-artefak ini mengingatkan tentang Garuda Purana. Garuda purana bicara tentang orang yang mati dan setelah mati ke mana? Garuda purana bicara tentang kondisi mental kita, saat kita mau mati badan hampir terlepaskan. Seluruh energi kita, prana kita terpusat pada mind kita. Dan mind ini masih berfungsi. Dan mind ini menjalankan semacam film. Untuk memperlihatkan seluruh hidup kita. Di situ akan terjadi penyesalan. Karena itu orang bicara Garuda Purana seakan membaca surga neraka. Sebetulnya tidak, dia bicara tentang the state of mind.

“Oh saya tidak melakukan ini, seandainya melakukan ini betapa bagusnya. Nanti kalau saya lahir kembali saya akan melakukan ini, ini, ini. Jadi di situ ada orang yang mengalami neraka, ada orang mengalami surga. Dalam bahasa Tibet disebut Bardo, transisi. Dalam masa transisi yang berjalan hanya selama beberapa menit. Soul ini mengalami surga dan neraka.

Dan soul setelah keluar dari badan, ada 2 kemungkinan. Akan tertarik pada suatu kondisi dia akan lahir kembali, atau goes to next level. Di sini kalau kita melihat dari bentuk. Ini menunjukkan seperti piramid, tapi piramid tanpa kerucutnya. Seperti suatu stasiun, suatu keadaan. Soul ini akan menuju ke tempat lain. Leluhur kita tahu bahwa mind itu dikendalikan oleh moon (bulan). Jadi ketika soul itu keluar dari badan, dengan sendirinya dia akan menuju bulan.

Jadi sebelum orang mati, dia sudah diberitahu tentang kondisi kondisi apa yang akan dialami. Dan di sini seperti komik di atas batu. Jadi dia diberitahu inilah yang akan kau alami. Dan di atas sana tadinya ada lingga.

Candi Sukuh dan Candi Cetho saling terkait dan mewakili perjalanan soul dari kematian hingga lahir kembali atau moksha, bebas dari siklus kelahiran dan kematian.

Candi Cetho akan membuat soul naik kelas, mohsha. Soul akan ke bulan oke, tapi kalau dia dibawa ke Candi Cetho, dengan upacara-upacara tertentu. Dari sana soul tidak kembali. Dan moksha itu bebas dari satu sistem, pergi ke next system. Apa yang yang terjadi? Tidak ada seorang pun yang mengetahuinya. Oleh karena itu di Jawa ada kepercayaan bahwa salah satu raja terakhir hilang di Lawu. Raja ini menghilang dan tidak kembali. Tidak secara fisik hilang tapi prinsip-prinsipnya, rasa takut harus diatasi.

Rasa takut ini harus di atasi. Ada 2 kemungkinan, bila kau akan kembali ke bulan terus jalan-jalan sebentar (yang pergi mind kita bukan badan kita) ke Sukuh, Kalau ke Sukuh akan kembali. Kalau sampai ke Cetho nggak kembali. Pengetahuan nenek moyang kita tentang soul sudah begitu advance.

Soul ini dalam tradisi yang kita lihat, Candi Cetho dan Sukuh ini, ada satu hal yang menarik. Bahwa ini adalah salah satu kearifan lokal. Dan setelah meninggalkan badan pun, soul ini masih punya option. Apakah dia akan ke bulan dan kembali. Atau dia tidak kembali, moksha.

Menurut teks-teks kuno, pilihan ini terjadi sebelum soul melepaskan badan. Tapi di sini setelah melepaskan badan. Kita mesti memelajari.

Gunung lawu dikaitkan dengan Sabdapalon, ada yang mengatakan agama asli akan kembali. Tapi kalau kita baca jelas sekali bahwa buddhi yang akan kembali, Inteligensia yang akan kembali, bukan agama tertentu.

Tadi saya melihat begitu banyak kupu-kupu. Kupu-kupu adalah soul yang baru lepas, beberapa jam dari badan dapat menjadi kupu-kupu. Setelah beberapa jam kemudian mereka akan tinggalkan badan sebagai kupu-kupu. Dan melanjutkan perjalanan. Jangan sekali-kali membunuh kupu-kupu. Jangan dipajang, kalau punya pajangan kupu-kupu tolong diperabukan. Dibacakan doa. Kupu-kupu yang dataang ke rumah kita adalah keluarga kita.

Sumber Video Youtube Mengungkap Rahasia Candi Cetho dan Sukuh, Seks, Siklus Kelahiran dan Kematian oleh Bapak Anand Krishna.

Sekedar Tumbuh, Atau…… oleh Bapak Anand Krishna

Lakar Punyane Tumbuh Ngamenekang, Lakar Akahe Tumbuh Nganuunang, Batang Tumbuhnya ke Atas, Akar Tumbuhnya ke Bawah

Peribahasa ini umumnya digunakan untuk mengingatkan kita, bahwa pertumbuhan manusia tidak seragam.

Namun kita perlu memahami peribahasa ini secara holistik – secara lebih dalam, secara lebih luas. Adakah pohon lebat, pohon besar yang akarnya tidak kuat? Baik pertumbuhan ke atas maupun ke bawah pasti tak hanya saling mendukung, melainkan saling bergantung.

…………..

Ke atas tidak berpucuk, ke bawah tidak berurat, di tengah-tengah digerek kumbang

………….

Sekarang kita kaitkan kedua peribahasa ini dengan kondisi di zaman now – kondisi manusia penghuni bumi ini.

Pertanyaannya: Adakah kita sedang ber-Tumbuh secara sempurna atau sedang binasa secara holistik?

Dan adakah kemungkinan lain, yaitu tidak bertumbuh, tapi tidak binasa juga?

……….

Jika jumlah mall, tempat hiburan, hotel dan lain sebagainya dijadikan tolok ukur, maka jelas kita sedang bertumbuh.

Tapi jika kebahagiaan yang dijadikan tolok ukur: Apakah kita lebih bahagia daripada orangtua kita? Dari kakek dan nenek kita?

Maka jawabannya sudah pasti: “Belum Tentu.”

Pembangunan fisik, jumlah mall, tempat hiburan dan lain sebagainya adalah terlihat secara kasat mata. Namun semua itu tidak bertahan lama, jika akarnya tidak kuat.

Apa yang menjadi Akar Kita?

………….

Silakan baca Tautan terlampir:

 

Sumber, Artikel Bapak Anand Krishna: Lakar Punyane Tumbuh Ngamenekang, Lakar Akahe Tumbuh Nganuunang, Batang Tumbuhnya ke Atas, Akar Tumbuhnya ke Bawah

Majalah Craddha Edisi ke-84, Tahun XVIII, September-Oktober 2018

Besi Setumpul Apapun, Jika Diasah Akan Menjadi Tajam

Seorang rascal yang dalam bahasa Indonesia disebut kurang ajar berarti masih ada harapan. Masih bisa diajari. Asal, syaratnya adalah kalau diasah.  Tanpa proses itu, seorang bodoh tetap bodoh, si tumpul tetap tumpul, dan yang kurang ajar tetap kurang ajar.

Persoalannya, si tumpul mau tidak diasah? Si bodoh mau nggak diproses, diolah sehingga menjadi pintar, dan si kurang ajar mau nggak diajari sesuatu?

Intinya ketumpulan kita, kebodohan kita, kekurangajaran kita, sesungguhnya, tidak menjadi soal, tidak menjadi problem yang berat-berat banget. Semuanya bisa dibalikkan, asal ada kemauan dalam diri kita sendiri. Kemauan untuk menjadi pintar, tidak tumpul lagi, tidak bodoh lagi. Dan, ada kerelaan untuk diri kita diolah, diproses, diolah.

……………..

Kami orang Bali, kita – Anda saya – sudah Hindu, maka sudah mengetahui segala sesuatu. Tidak heran kalau ada yang merasa tidak perlu membaca Bhagavad Gita, karena doeloe sudah pernah baca. Doeloe kapan? Waktu masih kuliah, baca sekali sudah cukup.

Kalau Bapak Bangsa kita perlu membacanya beberapa kali, Gandhi, Sang Mahatma membacanya setiap kali menghadapi persoalan, untuk mendapatkan inspirasi. Tokoh-tokoh Barat seperti Ralph Waldo Emersondan Henry David Thoreau pun mengaku membaca Gita berulang kali untuk mendapatkan pencerahan dari hari ke hari.

Tapi mereka adalah Orang Barat yang tidak mengerti, kita orang Timur, orang Bali, Hindu pula – kita lebih mengerti. Jadi tidak heranlah mereka membaca Bhagavad Gita berulang kali, kita mah sekali saja, sudah mengerti, sudah paham.

Lalu bagaimana dengan Gandhi?

……………..

Inilah tantangan yang dihadapi oleh tokoh-tokoh kita di Bali, di Indonsia: Bagaimanamengasah diri saya dan Anda, diri kita yang masih bodohmasih tumpul – supaya jadi tajam.

Silakan ikuti Artikel Bapak Anand Krishna berikut:

 

Sumber, artikel: Puntul-puntulan Besi yen Sanghi Dadi Mangan oleh Bapak Anand Krishna

Media Hindu Edisi 175 September 2018