Refleksi: Tahu Perbuatan Jelek, Mengapa Kita Keukeuh Melakoninya?

Kebiasaan Jelek Hampir Selalu Menaklukkan Pengetahuan tentang Kebenaran

Seorang teman saya sangat cerdas, sehingga pasti tahu bahwa merokok itu membahayakan kesehatan. Dia pasti sudah membaca berbagai peringatan diberbagai media masa, bahkan di bungkus rokok pun ada peringatan tentang kesehatan. Tetapi mengapa dia tetap merokok? Kebiasaan jelek hampir selalu menaklukkan pengetahuan tentang kebenaran.

Sebuah kebiasaan yang diulang terus menerus membuat synap-synap syaraf otak hampir permanen, dan akhirnya pikiran bawah sadar menjadi terpola. Kemudian untuk mengubahnya menjadi perjuangan yang sangat berat.

Dalam bahasa meditasi, inilah yang disebut mind synap-synap baru yang hampir permanen, sehingga manusia bertindak sesuai dengan conditioning yang ia peroleh. la diperbudak oleh conditioning tersebut dan tidak bebas lagi untuk mengekspresikan dirinya. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2001). Medis dan Meditasi, Dialog Anand Krishna dengan Dr. B. Setiawan. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Bukan hanya rokok yang membuat seseorang kecanduan dan sulit melepaskan pengaruhnya. Ketidaksadaran, ketidakpedulian terhadap semua kebiasaan-kebiasaan rendah, ketidakpedulian kita pada kebaikan dan kemuliaan, telah menjadi kebiasaan kita.

 

Kebiasaan Panjat Pinang dalam Acara 17 Agustusan

“Nurut sejarahnya, panjat pinang itu asal muasalnya emang permainan untuk hiburan dalam moment-moment tertentu di Belanda sana, dek! Namanya deklimmast yang artinya panjat tiang! Nah, waktu mereka ngejajah kita, dikenalkanlah permainan itu! Mereka terhibur dengan adanya orang-orang pribumi berebutan hadiah dan rela saling injak tersebut! Jadi, permainan ini cara mereka melecehkan kita kaum pribumi waktu itu, dek! Soal ini ada di Museum Tropen Belanda! Maka mbak nggak bisa ikutan sukacita nonton panjat pinang ini, sebab mbak tau sejarah dan alurnya!”. Dikutip dari artikel  http://www.harianfokus.com/2017/08/19/panjat-pinang/

Tanpa kita sadari, Kita terbiasa senang dengan kegagalan, penderitaan, aib orang lain. Penonton bersorak sorai jika ada pemanjat pinang berkali kali jatuh terpeleset, itulah yang menarik. Apalagi jika ada konflik, ada yang menarik kaki orang yang sudah hampir mencapai atas. Kepuasan kita ada pada kegagalan orang lain. Pola pikir yang demikiankah yang ada dalam benak kita? Bila yang terjadi demikian, maka pengetahuan tentang anjuran dan larangan masih akan dikalahkan kebiasaan kelek kita yang mendarah daging. Mind-set kita harus kita ubah dan kemudia diparkatekkan dalam kehidupan nyata.

Barangkali kita lupa kita diajari daftar panjang mana perbuatan yang baik dan mana yang tidak baik yang dilarang agama atau keyakinan kita. Akan tetapi praktek di kehidupan nyata, pengetahuan tentang mana yang baik dan mana yang buruk (Do and Don’t) kalah dengan kebiasaan.

Untuk Mengubah Diri Harus Dimulai dari Mengubah Pikiran dan Tindak Lanjut Berikutnya

Intelejensia manusia menuntutnya untuk berpikir terus. Dan, ia pun menemukan “satuan-satuan pikiran-nya” thoughts. Satuan-satuan pikiran inilah yang mengkristal dan menjadi mind. Ternyata, segalanya bermula dari pikiran. Kita melihat sesuatu, ada ketertarikan, dan timbul keinginan untuk memperolehnya. Kemudian, keinginan itu yang ditindaklanjuti menjadi perbuatan atau tindakan.

Jika dilihat dari belakang, dirumuskan dari yang paling bawah – maka Pikiran itulah yang menimbulkan Keinginan. Kemudian, Keinginan mendorong adanya Perbuatan atau Tindakan. Dan, Perbuatan atau Tindakan itulah yang mementukan Pengalaman – Pengalaman Hidup.

Kehidupan = Pengalaman + Pengalaman + Pengalaman. Pengalaman = Perbuatan + Perbuatan + Perbuatan. Perbuatan = Keinginan + Keinginan + Keinginan. Keinginan = Pikiran + Pikiran + Pikiran. Komponen Terkecil dalam Bangunan Hidup kita adalah “Pikiran” Thoughts. Sesungguhnya, hidup kita adalah cerminan pikiran kita. Pikirkan sesuatu yang baik, maka kau akan menginginkan hal-hal yang baik. Kau akan berbuat baik. Alhasil, pengalaman-pengalaman hidupmu baik pula. Dan, hidupmu “menjadi” baik. Dikutip dari buku (Krishna, Anand.  (2007). Panca Aksara Membangkitkan Keagamaan dalam Diri Manusia. Pustaka Bali Post)

 

Perbuatan yang diulang-ulang akan menjadi kebiasaan. Kebiasaan akan mengubah sifat atau karakter diri kita. Karakter diri akan menentukan destiny, nasib kehidupan kita.

Untuk mengubah kebiasaan yang kita sadari tidak baik, kita harus mulai dari mengubah pikiran kita. Kemudian dari pikiran yang benar tersebut kita praktekkan dalam kehidupan nyata sampai menjadi kebiasaan, mengubah karakter dan mengubah “nasib” kita.

Kalau kita hanya paham dari buku atau kata-kata bijak tanpa ditindaklanjuti dengan perbuatan nyata, mungkin seperti “masturbasi”, “onani pikiran”, tidak nyata, puas dari khayalan.

 

Dialog Spiritual Bersama Anand Krishna: Adat, Kebiasaan & Budaya mewujudkan Character Building

Awalnya dari perhatikan pikiran, pikiran akan menjadi keinginan, keinginan akan menjadi tindakan, tindakan akan menjadi kebiasaan, kebiasaan akan menjadi karakter, karakter akan menjadi destiny, jalan hidupmu.

Persis demikian, ada yang bicara tenbtang karakter building, tapi tidak tahu mulai dari mana? Biasanya dibuat daftar mana yang boleh mana yang tidak do and don’t. Hal demikian tidak akan membentuk karakter building, karena karakter adalah akibat yang sebab awalnya adalah pikiran.

Mengubah sifat atau karakter harus mulai dari pikiran. Inilah yang membuat misalnya di pendidikan kita frustasi sendiri. Textbook sudah bagus, pengajaraan sudah bagus kok masyarakat tidak berubah? Mengapa? Karena tidak menyentuh thoughts, pikiran.

Untuk mengubah pikiran mau tidak mau harus lewat meditasi. Meditasi membuat kita memperhatikan dan merenungkan setiap gerak kata bibir, pikiran yang akan dikeluarkan. Kita “pause”, berhenti sejenak dulu untuk memperhatikan pikiran sebelum bertindak. Sehingga kita memperoleh pikiran yang jernih baru bertindak.

Silakan lihat Video Youtube: Dialog Spiritual Bersama Anand Krishna: Adat, Kebiasaan & Budaya mewujudkan Character Building

Advertisements

Refleksi: Non Dualitas, Yang Ada Hanya Tuhan, Tidak Ada Selain Diri Nya

Untuk membebaskan diri dari dualitas suka-duka; saat ini senang, sesaat lagi gelisah; untuk meraih kebahagiaan sejati – kita mesti mencabut rasa doership dari akar-akarnya. Aku bukan pelaku. Sebab itu apa pun hasil dari laku yang “terjadi” lewat badan ini, bukan pula milikku. Aku adalah Jiwa, percikan Jiwa Agung. Alam benda adalah penjabaran dari kekuasaan-Nya. Semuanya milik Dia, Dia, Dia, dan hanya Dia. Penjelasan Bhagavad Gita 5:8 dikutip dari buku: (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia lewat #BhagavadGitaIndonesia

Silakan baca Catatan: Refleksi: Keluar dari Siklus Lahir Mati Tak Berkesudahan

https://gitakehidupansepasangpejalan.wordpress.com/2018/06/11/refleksi-keluar-dari-siklus-lahir-mati-tak-berkesudahan/

Pada saat memahami aku bukan pelaku, maka kita mulai masuk, Advaita, Non-Dualitas Yang Ada hanya Gusti Pangeran, atau apa pun disebutnya Tidak Ada Tuhan Lain.

Yang Ada Hanya Tuhan (Sang Penari)  sedangkan Alam Semesta termasuk Kita adalah tarian-Nya

Tuhan sering disebut sebagai Nataraja – Raja para Penari, Sang Penari Teragung, Sang Penari. Tuhan juga adalah Leeladhari, Sang Pemain Teragung. Dan seluruh dunia ciptaannya adalah Leela, ‘permainan’ Tuhan.

Tarian apa pun tidak dapat dipisahkan dari sang penari. Tarian ada karena ada penari. Tidak ada tarian tanpa sang penari, karena hal itu sangatlah mustahil. Tarian berhubungan  dengan sang penari seperti sinar mentari dan sang matahari. Tak akan ada sinar mentari tanpa sang matahari. Tak ada cahaya rembulan tanpa sang bulan.

Penari tidak pernah dapat dipisahkan dari tariannya. Barang manufaktur dan produk memiliki identitas terpisah dari pabriknya. Perpisahan ‘terjadi’ saat proses manufaktur atau produksi telah selesai. Namun, seorang penari tidak pernah dapat dipisahkan dari tariannya. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2009). “The Gospel Of Michael Jackson”. Anand Krishna Global Co-operation)

Beda Murid dengan Sadguru tentang Advaita, Keikaan Tunggal, Non-Dualitas

Dilihat dari sudut pandang advaita, atau keikaan tunggal – sesungguhnya, seorang siswa dan seorang Sadguru – dua-duanya sama. Dua-duanya adalah wujud dari pengetahuan sejati itu sendiri. Dua-duanya berasal dari Sat, Kebenaran sejati; Chit, Kesadaran Murni; dan Anand, Kebahagiaan Kekal Abadi.

Seorang Sadguru menyadari asal-usulnya. Seorang siswa tidak. Ketidaksadaran seorang siswa disebabkan oleh timbunan agyanam atau ketidaktahuan karena kelahiran dan kematian berulang-ulang sehingga ia terpengaruh oleh berbagai macam pengalaman, keinginan-keinginan yang tak terpenuhi, dan lain sebagainya. Seorang sadguru juga mengalami semuanya itu, tapi dia tidak pernah lupa akan asal-usul, atau jati dirinya. Maka, ia menyatakan diri sebagai Shuddha Chaitanya – Kesadaran Murni dan Suci yang Tak Tercemarkan. Ibarat awan gelap apa pun tidak mencemari langit, pengalaman-pengalaman dari sekian banyak masa kelahiran tidak mencemari Kesadaran Diri seorang Sadguru. Karena itulah ia disebut Sadguru. Sebaliknya, seorang siswa melupakan asal-usul, atau jati dirinya. Pengalaman-pengalaman dari sekian banyak masa kelahiran sebelumnya membuat dia berpikir seolah dirinya adalah jiwa yang serba terbatas. Ia menganggap dirinya hina, dina, dan tidak berdaya.

Beberapa contoh anggapan-anggapan keliru adalah: pertama, aku hanyalah makhluk biasa, jiwa yang tak berdaya. Kedua, aku adalah badan ini, badan inilah jati diriku. Ketiga, Tuhan, dunia, dan jiwa adalah tiga entitas yang beda. Keempat, Aku bukan Tuhan. Kelima, ketidaktahuan bahwa badan bukanlah jiwa. Keenam, ketidaktahuan bahwa Tuhan, dunia, dan jiwa adalah satu.

Seorang Sadguru mesti mengingatkan siswanya bahwa dia adalah wujud Ilahi juga, persis sama seperti dirinya. Ketidaktahuan menciptakan dualitas. Terpengaruh oleh dualitas yang ilusif itu, seorang siswa beranggapan bahwa dirinya tidak hanya terpisah dari Tuhan, tetapi juga dari dunia, dari orang lain. Perpisahan itulah yang menyebabkan pengalaman suka-duka, dan lain sebagainya. Dikutip dari buku (Das, Sai. (2010). Shri Sai Satcharita. Anand Krishna Global Co-Operation Indonesia)

 4 Cara Pandang Manusia tentang Dualitas

4 orang Maharesi, yakni: Sanaka, Sananda, Sanatana, dan SanatKumara. Keempat “orang” yang disebut Maharesi itu adalah mewakili jenis pikiran manusia, empat cara pandang yang saling terkait, namun beda.

Sanaka mewakili cara pandang Dvaita atau Dualitas, bahwasanya ciptaan dan penciptaan adalah berbeda.

Sananda adalah cara pandang Visistadvaita, bahwasanya walaupun beda, ada hubungan antara Ciptaan dengan Hyang Maha Mencipta.

Sanatana adalah cara pandang Advaita atau Non-Dualitas bahwasanya Ciptaan dan Hyang Maha Mencipta tiada perbedaan apa-apa. Sementara itu yang terakhir,

Sanat-Kumara adalah cara pandang yang membenarkan ketiga-tiga cara pandang sebelumnya. Ya, tiga-tiganya benar – Tergantung pada tingkat kesadaran manusia dan juga waktu, tempat, dan situasi, dimana cara pandang yang satu bisa lebih applicable, lebih relevan daripada cara pandang lainnya.

Misalnya, saat kita ingin menasehati anak, dibutuhkan cara pandang kedua. Orangtua dan anak adalah beda, sehingga ada yang menerima nasehat dan ada yang memberinya. Namun, ketika anak itu sudah dewasa, sudah mengambil seluruh tanggung jawab dan menjadi kepala keluarga, maka cara pandang ketiga yang berlaku. Sementara itu, cara pandang pertama dibutuhkan ketika kita menghadapi seorang pekerja atau pembantu. Ini bukan diskriminasi, tetapi justru meletakkan peran masing-masing pada tempatnya dan secara proporsional. Penjelasan Bhagavad Gita 10:6 dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia lewat #BhagavadGitaIndonesia

Melakoni Dualitas dengan Penuh Kesadaran

Dualitas ini tidak bisa langsung terlampaui. Bahkan, setelah terlampaui pun—ketika kita “turun lagi dari Keheningan atau Kasunyatan meditasi, dan berpijak lagi pada bumi”—maka dualitas murni atau visistadvaita tetaplah dibutuhkan untuk menjalani hidup ini. Menjalani hidup dengan penuh kesadaran.

………….

PERTAMA, DUALITAS BERLANDASKAN VITARKA atau Pertimbangan yang matang, penilaian yang cakap, dan penyimpulan yang tepat. Jadi, bukan sembarang dualitas.

Hendak bekerja sama dengan seseorang, jelas ada faktor dualitas yang bekerja, maka itu gunakan vitarka. Jangan asal bekerja sama. Memaksa diri untuk bekerja sama demi kepentingan pendek di depan mata; tanpa perhitungan, bukanlah keputusan yang sadar; bukanlah kerja sama yang baik. Kerja sama mesti dijalin dengan mempertimbangkan segala aspek, termasuk kemungkinan-kemungkinan terburuk.

KEDUA KESADARAN DUALITAS BERDASARKAN VICARA atau Perenungan yang dalam, perenungan yang tepat. Perenungan bukanlah berkhayal. Perenungan tidak sama dengan melamun. Perenungan adalah “berpikir dengan hati dengan nurani dengan sanubari”. Itulah vicara………..

KETIGA, ANANDA ATAU KEBAHAGIAAN SEJATI. Kembali pada analogi “kerja sama” dengan seseorang—apakah kerja sama itu membahagiakan semata karena kebersamaan yang terjadi, atau karena hal lain, kepentingan lain, tujuan lain…………….

KEEMPAT, ASMITA atau Dualitas berlandaskan Kesadaran Sejati, kesadaran akan kesejatian diri.

Berarti Tat Tvam Asi—Dualitas berlandaskan kesadaran bila Aku adalah Kamu, dan Kamu adalah Aku. Dualitas berdasarkan kesadaran bila sesungguhnya Jiwa yang menerangimu dan yang menerangiku bersumber dari Hyang Tunggal, Tat atau Hyang Satu Itu! “Itu”-lah hakikat diriku, dan “Itu” pula hakikat dirimu. Dalam kesadaran Tat—Itu—kita semua satu dan sama adanya.  Jika aku menyakitimu, sesungguhnya aku menyakiti diriku sendiri.

Kerja sama yang dijalin atas kesadaran seperti ini—walau masih dualitas—bisa disebut sustainable, bisa bertahan. Tidak bisa disebut “langgeng nan abadi” karena semua relasi juga adalah berlandaskan fisik, materi, kebendaan, dan terjadi di alam benda. Namun setidaknya, relasi seperti itu dapat menunjang evolusi jiwa. Misalnya, relasi sepertii itu dengan seorang Pemandu Rohani dan mereka yang sama-sama sedang melakoni Yoga sangat membantu. Silakan baca lengkap dalam buku (Krishna, Anand. (2015). Yoga Sutra Patanjali Bagi Orang Modern, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Refleksi: Keluar dari Siklus Lahir Mati Tak Berkesudahan

Mengembangkan Jiwa lewat Reinkarnasi

Dunia ini ibarat pusat rehabilitasi, dimana setiap jiwa sedang mengalami program pembersihan, pelurusan, atau apa saja sebutannya. Keberadaan kita di dunia ini semata untuk menjalani program yang paling cocok bagi pembersihan dan pengembangan jiwa.

Kecocokan program pun sudah dipastikan oleh Keberadaan dengan melahirkan kita dalam keluarga tertentu, di negara tertentu, ditambah dengan berbagai kemudahan lainnya, termasuk lingkungan kita, para sahabat, anggota keluarga dan kerabat kita, maupun lawan atau musuh kita. Berbagai rintangan, tantangan, kesulitan, dan persoalan yang kita hadapi dimaksudkan demi pembersihan jiwa dan pengembangan jiwa kita sendiri. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2006). Five Steps To Awareness, 40 Kebiasaan Orang Yang Tercerahkan, karya terakhir Mahaguru Shankara “Saadhanaa Panchakam”, Saduran & Ulasan dalam Bahasa Indonesia. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Ada tiga unsur utama yang mengaktifkan komputer manusia.  Pertama, badan kasat kita. Ini bagaikan hardware. Kedua, ego kita. Ini bagaikan software dan tentu saja, ketiga, kesadaran yang merupakan aliran listriknya. Badan kita bisa rusak, berhenti bekerja. Namun software-nya tidak ikut rusak. Ego kita masih utuh, masih dapat berfungsi. Software yang sama dapat digunakan, dengan menggunakan hardware baru. Tidak ada memori yang hilang, tidak ada program yang terhapus. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (1998). Reinkarnasi, Hidup Tak Pernah Berakhir. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Silakan baca Catatan terkait:

https://gitakehidupansepasangpejalan.wordpress.com/2018/06/04/refleksi-lahir-tumbuh-tua-dan-mati-bag-1-evolusi-dan-hukum-karma/

https://gitakehidupansepasangpejalan.wordpress.com/2018/06/05/refleksi-lahir-tumbuh-tua-dan-mati-bag-2-reinkarnasi-dan-memori-evolusi/

Kehidupan Kita Saat Ini adalah Balance-Carried Forward (Hasil Neraca) dari Kehidupan Masa Lalu

Semua Hutang-Piutang pada Kehidupan Sebelumnya disimpan dalam flash disk kehidupan, dan muncul pada Kehidupan Kita saat ini

Dalam video youtube Kamasutra Part 2: From Passion to Compassion by Anand Krishna disampaikan tentang hubunganketerikatan dengan keluarga:

Hubungan, keterikatan dengan keluarga atau orang lain, menurut pandangan Veda, pandangan Yoga berdasarkan kredit dan debit. Partner kamu saat ini bisa saja ayah atau ibumu di kehidupan masa lalu. Dan sekarang dia adalah partner-mu. Dan apabila kita menelusuri hal demikian, maka hanya ada 20 orang yang benar-benar dekat. Dengan 20 orang ini kita terus bertemu. Peran  berubah tetapi hubungan tetap.” Silakan lihat video youtube Kamasutra Part 2: From Passion to Compassion by Anand Krishna

Dalam episode kehidupan saat ini, kita mempunyai hubungan dengan sekitar 20 orang. Terutama ayah, ibu saudara dan sebagainya. Setiap hubungan pasti membuahkan hutang-piutang perbuatan, ada yang perbuatan baik dan ada perbuatan buruk. Misalkan kita punya hutang (banyak perbuatan buruk) terhadap salah satu keluarga kita, maka kita akan lahir lagi untuk melunasi hutang tersebut. Demikian juga sebaliknya jika kita berbuat baik dengan salah satu anggota keluarga, maka kita akan lahir lagi untuk menerima hasil pengembalian dari anggota keluarga tersebut.

Hutang-piutang harus tetap diselesaikan oleh orang yang bersangkutan dalam episode kelahiran berikutnya, akan tetapi peran orang tersebut bisa berubah, misalkan tadinya anak sekarang menjadi suami atau saudaranya. Intinya dalam kehidupan mendatang kita akan bertemu dengan orang-orang yang mempunyai kaitan hutang-piutang dengan kita namun dengan peran yang berbeda.

Meloncat dari Cengkeraman Mind yang Membuat Kita Berkali-kali Lahir Kembali

Bila kita berbuat baik dengan 20-an orang tersebut, kita akan lahir kembali untuk menerima buah akibat kebaikan. Bila kita berbuat jahat terhadap 20-an orang terkait, maka kita akan lahir kembali untuk menerima buah akibat kejahatan kita. Segala perbuatan baik atau jahat disimpan dalam flash disk yang berisi mind kita yang akan muncul kembali pada saat kita dilahirkan. Bagaimana keluar dari cengkeraman mind dalam flash disk tersebut?

Untuk keluar dari cengkeraman mind dan ketidaktahuan, kita harus melampaui keterikatan. Dan hal ini tidak sesulit yang Anda bayangkan. Keterikatan kita dengan dunia umumnya hanya dengan sekitar 20-an orang di sekitar kita. Kadang-kadang, malah kurang dari 20 orang. Tetapi, untuk mengurus  20-an orang di sekitar saja kita sudah ngos-ngosan, setengah mati. Kanapa? Karena ketidaktahuan yang tak berawal dan tak berakhir. Lalu mungkinkah kita keluar dari cengkeramannya? Mungkin, asal Anda meloncat keluar.” Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2001). Atma Bodha Menggapai Kebenaran Sejati Kesadaran Murni dan Kebahagiaan Kekal. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Cara Meloncat dari Siklus menurut Bhagavad Gita: Aku bukan Pelaku (Doership)

Masalah timbul akibat ke-“aku”-an terkait dengan doership — aku telah berbuat ini, aku telah berbuat itu. Aku telah melakukan ini, aku telah melakukan itu.

Seorang panembah sadar bila badan dan indra yang melakukan sesuatu hanyalah alat. Alat badan tak akan pernah bergerak jika tidak digerakkan oleh otak. Otak adalah komandan badan. Sebab itu, ketika otak mengalami gangguan, apalagi stroke, badan sulit digerakkan, atau sulit diatur gerakannya.

Otak sendiri bukanlah segala-galanya. la digerakkan oleh mind. Dan mind yang memberi kesan “aku” pun, sebenarnya hanyalah salah satu gelombang di dalam lautan Sang Aku Sejati, Sang Jiwa Agung.

Reasoning seperti ini, analisis seperti ini, pembedahan seperti ini, mesti dilakukannya purna-waktu oleh seorang panembah. Ia mesti selalu mengingat-ingatkan dirinya, bila Sang Jiwa Agung yang sesungguhnya Maha Menggerakkan, Maha Berbuat. Aku kecil ini, aku-“ku”, dan aku- “mu” hanyalah ikan-ikan kecil, gelombang-gelombang di dalam lautan Sang Aku Agung.

Kesadaran seperti ini mengantar kita pada penyerahan diri di mana kita sadar sesadar-sadarnya bila Hyang Maha Ada hanyalah Dia. Dialah segala-galanya. Dialah semua! Seorang panembah berkesadaran seperti itulah yang disayangi Krsna. Seorang panembah seperti itulah yang bertindak sesuai dengan kodratnya. Penjelasan Bhagavad Gita 12:16 dikutip dari buku: (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia lewat #BhagavadGitaIndonesia

 

 Berkarya, Melayani Tanpa Pamrih

“Ia yang tekun menjalani Yoga, berkarya tanpa pamrih, hendaknya memahami kebenaran-diri dan dalam keadaan apa pun – selagi melihat, mendengar, menyentuh atau mencium sesuatu; bahkan saat makan, berjalan, tidur dan bernapas – selalu mengingat, ‘Aku tidak berbuat sesuatu.’” Bhagavad Gita 5:8

Rasa kepemilikan atau possesiveness, dan keterikatan muncul dari doership, rasa “melakukan.”

Doership, berarti “Aku” melakukan – Kemudian, karena “aku” melakukan, maka muncullah keterikatan dengan hasil dari pekerjaan-“ku”. Muncul rasa kepemilikan terhadap benda-benda, harta-kekayaan yang semuanya  “ku” –peroleh karena kerja-keras“ku”, jerih-payah“ku”.

Ketika badan, indra gugusan pikiran serta perasaan, inteligensia, dan sebagainya berkomplot, bersama-sama mengaku sebagai doer, yang berbuat, pelaku – maka, bersama-sama pula mereka  mengikat diri dengan dunia benda, dengan hasil dari pekerjaan mereka.

Padahal, materi sebagai hasil perbuatan-“ku” senantiasa berubah, senantiasa berpindah tangan. Tidak langgeng, tidak abadi. Maka, segala kenikmatan yang kita peroleh darinya tidak abadi pula. Apa yang masih ada di dalam genggaman kita saat ini, sesaat lagi akan berada di genggaman orang lain, inilah yang menyebabkan suka-duka.

Untuk membebaskan diri dari dualitas suka-duka; saat ini senang, sesaat lagi gelisah; untuk meraih kebahagiaan sejati – kita mesti mencabut rasa doership dari akar-akarnya. Aku bukan pelaku. Sebab itu apa pun hasil dari laku yang “terjadi” lewat badan ini, bukan pula milikku.

Aku adalah Jiwa, percikan Jiwa Agung. Alam benda adalah penjabaran dari kekuasaan-Nya. Semuanya milik Dia, Dia, Dia, dan hanya Dia. Penjelasan Bhagavad Gita 5:8 dikutip dari buku: (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia lewat #BhagavadGitaIndonesia

Refleksi: Memahami Karakter Bawaan Kita Modal Menuju Kebahagiaan

Ada tiga unsur utama yang mengaktifkan komputer manusia………  Pertama, badan kasat kita. Ini bagaikan hardware. Kedua, ego kita. Ini bagaikan software dan tentu saja, ketiga, kesadaran yang merupakan aliran listriknya.

Badan kita bisa rusak, berhenti bekerja. Namun software-nya tidak ikut rusak. Ego kita masih utuh, masih dapat berfungsi. Software yang sama dapat digunakan, dengan menggunakan hardware baru. Tidak ada memori yang hilang, tidak ada program yang terhapus. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (1998). Reinkarnasi, Hidup Tak Pernah Berakhir. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Silakan baca Catatan: Refleksi: Lahir, Tumbuh, Tua, dan Mati Bag 2 Reinkarnasi dan Memori Evolusi 

https://gitakehidupansepasangpejalan.wordpress.com/2018/06/05/refleksi-lahir-tumbuh-tua-dan-mati-bag-2-reinkarnasi-dan-memori-evolusi/

 

Karakter yang Kita Miliki Saat Lahir Adalah Balance-Carried Forward (Hasil Neraca) dari Masa Kehidupan Sebelumnya

Hasil Karakter pada Kehidupan Sebelumnya disimpan dalam Flash Disk Kehidupan kita menjadi Karakter Bawaan pada Saat Kelahiran Kita

Krsna sedang menjelaskan karakter atau kecenderungan mereka yang lahir dengan dan dalam kesadaran. Sejak lahir, mereka sudah memiliki kecenderungan-kecenderungan ini sebagai balance-carried forward dari masa kehidupan sebelumnya. Mereka sedang melanjutkan perjalanan. Mereka tidak perlu lagi mengembangkan karakter, kecenderungan, atau “sifat-sifat bawaan” tersebut—mereka hanya mesti memelihara dan mempertahankannya. Sebuah pekerjaan berat juga, tidak mudah. Tapi, setidaknya mereka tidak lagi membuang waktu untuk mengembangkan sernua itu.

Tidak demikian dengan kita, yang kemungkinan besar, tidak memilikj saldo seperti ini dari masa kehidupan sebelumnya. Berarti kita mesti bekerja keras untuk mengembangkannya. Penjelasan Bhagavad Gita 16:1 dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia via #BhagavadGitaIndonesia

Karakter Bawan Mulia

“Cekatan (penuh energi, penuh semangat), tabah dan pemaaf, teguh dalam keyakinannya, bersih badan dan pikiran; tidak bermusuhan dengan siapa pun juga; dan tanpa keangkuhan — demikian, semuanya ini adalah kecenderungan-kecenderungan lahiriah mereka, yang lahir dengan sifat bawaan atau karakter dasar Daivi, Ilahi, Mulia, Wahai Bharata (Arjuna, Keturunan Raja Bharat).” Bhagavad Gita 16:3

Mereka yang lahir dengan kecenderungan, karakter, atau sifat bawaan, sifat dasar Daivi atau Mulia adalah, yang telah menjalani masa kehidupan sebelumnya dalam Kesadaran Ilahi. Atau, setidaknya sudah berada dalam “proses” untuk mencapai Kesadaran Ilahi. Mungkin, saat itu mereka hampir mencapainya — sementara kendaraan badan sudah tidak menunjang perjalanan selanjutnya. Jiwa meninggalkan kendaraan tersebut dan menggunakan kendaraan badan yang baru. Kelahiran demikian adalah sebuah “berkah”, dalam pengertian ada balance-carried forward berupa hikmah sebagai hasil pencapaian dari masa kehidupan sebelumnya — sekarang tinggal dilanjutkan. Penjelasan Bhagavad Gita 16:3 dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia via #BhagavadGitaIndonesia

 

Pertemuan Orang dengan Karakter Mulia dengan Guru Pemandu Rohani

Lalu, apakah mereka yang tidak lahir dengan Sifat Daivi atau Ilahi perlu khawatir? Tidak juga, mereka bisa mengupayakan sejak saat ini juga. Jika mereka berhasil mengubah kebiasaan-kebiasaan syaitani, maka tidak ada lagi kelahiran kembali — mereka pun menjadi Jiwa yang bebas sekarang dan saat ini juga…………..

Ada kalanya, seorang yang lahir dengan Sifat Bawaan Daivi atau Ilahi pun “lupa” akan sifat bawaannya. Ini bisa disebabkan oleh pendidikan, pengaruh lingkungan, atau berbagai faktor lain. Termasuk, pengalaman-pengalaman dahsyat dalam kehidupan ini, yang membuatnya lupa-ingatan sementara. Arjuna adalah korban lupa ingatan atau amnesia sementara. Pengalaman tinggal dalam pengasingan selama belasan tahun dan saat ini menghadapi perang dahsyat — semuanya membingungkan Arjuna, sehingga ia lupa, lupa akan hakikat jati dirinya. Namun, amnesia macam ini tidak pemah bertahan lama.

Alam kebendaan tidak mampu memperbudak seseorang yang lahir dengan Sifat Bawaan Daivi atau Ilahi. Seseorang yang lahir dengan Sifat Bawaan Daivi atau Ilahi, tidak selamanya menderita amnesia, atau lupa-ingatan tentang hakikat dirinya.

Sebab itu, pertemuan dengan seorang Krsna, seorang Sadguru atau Pemandu Rohani, adalah berkah Ilahi. Hujan berkah ini turun bagi mereka semua yang siap untuk menerimanya. Dan Jiwa terguyur oleh siraman rohani yang dapat membantunya bangkit dari tidur panjang. Apa yang sebelumnya terlupakan, teringat kembali. Apa yang sebelumnya tertutup, terbuka kembali. Apa yang sebelumnya gelap, menjadi terang-benderang. Penjelasan Bhagavad Gita 16:5 dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia via #BhagavadGitaIndonesia

 

Karakter Bawan Syaitani

Mereka yang dalam kehidupan sebelumnya penuh kejahatan akan lahir dengan sifat bawan jahat.

Mereka, yang dalam masa kehidupan sebelumnya, bersifat syaitani; dan saldo atau balance-carried forward-nya adalah sifat-dasar tersebut ; maka kelahiran berikutnya hampir dapat dipastikan di tengah masyarakat yang bersifat sama, syaitani.

Masih adakah harapan bagi mereka? Ada, masyarakat dengan sifat-sifat syaitani memang mesti punah. Mereka mesti didaur-ulang secara kolektif pula. Sementara itu, individu-individu yang mendapatkan berkah berupa bimbingan dari seorang Pemandu Rohani, bisa saja memperbaiki dirinya, tanpa menunggu proses daur-ulang kolektif bagi masyarakatnya, yang kadang membutuhkan waktu beribu-ribu tahun. Penjelasan Bhagavad Gita 16:6 dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia via #BhagavadGitaIndonesia

Meraih Berkah atau Anugerah Gusti

“Untuk memberkahi mereka, ‘Aku’ yang bersemayam di dalam sanubari mereka, melenyapkan gelap-ketidaktahuan, dengan menyalakan Pelita Pengetahuan Sejati.” Bhagavad Gita 10:11

Ayat ini mengandung makna yang luar biasa. Makna anugerah, arti berkah yang sesungguhnya. Rezeki, jodoh, kekuasaan, pangkat, pujian, makian dan lain-lain – semuanya adalah hasil perbuatan kita sendiri. Semuanya materi. Dari rezeki yang berlimpah hingga relasi dengan suami, istri, anak, orang tua – semuanya adalah konsekuensi dari karma kita sendiri, perbuatan kita sendiri. Entah karma sekarang di masa kehidupan ini, atau hasil akumulasi dari beberapa masa kehidupan sebelumnya.

Semua terjadi karena perbuatan kita, ulah kita. Semuanya terjadi atas kehendak-Nya pula, dalam pengertian Hukum Sebab Akibat atau Karma pun ada kehendak-Nya.

Berkah atau Anugerah Gusti Pangeran adalah ketika gelap-kebodohan, ketidaktahuan, ketidaksadaraan kita sirna; dan sanubari kita, nurani kita menjadi terang-benderang. Berkah adalah ketika kita mampu memilah mana tindakan yang tepat, mana yang tidak tepat. Berkah adalah ketika cahaya kesadaran yang telah menerangi hidup – mulai memancarkan sinarnya dan menerangi setiap orang yang berinteraksi dengan kita.

Tentunya, tidak setiap orang akan ikut tercerahkan bersama. Tapi setidaknya pencerahan-diri kita akan membuat mereka gerah dengan kegelapan-diri mereka. setidaknya mereka akan terhantui oleh cahaya kesadaran yang terpancar dari diri kita. Dan pada suatu ketika, mereka mulai berupaya untuk menerangi dirinya. Inilah berkah, inilah Siklus atau Lingkaran Anugerah.

Bersyukurlah pada Gusti Pangeran atas segala rezeki dan materi lainnya, termasuk pasangan, anak, segala yang kita miliki. Tetapi jangan berhenti. Raih pula berkah-Nya.

Baca ulang beberapa ayat sebelumnya – Krsna sudah menjelaskan secara panjang lebar,bagaimana kita dapat meraihnya. Penjelasan Bhagavad Gita 10:11 dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia via #BhagavadGitaIndonesia

Refleksi: Warisan Insting Hewani Dalam Diri dari Seks Menuju Kasih

Genom adalah semacam otobiografi untuk species kita yang merekam kejadian-kejadian penting sesuai dengan keadaan sebenarnya. Genom adalah catatan, dalam bahasa genetis, tentang semua nasib yang pernah dialaminya dan temuan-temuan yang telah diraihnya, yang kemudian menjadi simpul-simpul sejarah species  kita serta nenek moyangnya sejak pertama kehidupan di jagad raya.

Silakan baca Catatan: https://gitakehidupansepasangpejalan.wordpress.com/2018/06/05/refleksi-lahir-tumbuh-tua-dan-mati-bag-2-reinkarnasi-dan-memori-evolusi/

Insting Dasar Manusia

Institusinya ada di otak. Lembaga yang mengendalikannya adalah bagian otak yang disebut Lymbic. Bagian ini yang menciptakan gairah atau drive. Dorongan nafsu serta keinginan untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan dasar kita, insting-insting hewani kita, berasal dari Lymbic. Saat ini, hidup kita masih didominasi oleh insting-insting hewani. Seolah kita hidup semata-mata untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan tersebut. Berarti kita baru beda penampilan dari binatang. Insting kita masih sama. Mereka memiliki insting hewani dan berpenampilan seperti hewan. Kita memiliki insting hewani, tapi berpenampilan seperti manusia.

……………..

Bila kita hidup semata-mata untuk memenuhi kebutuhan insting, maka sesungguhnya kita masih animal, binatang. Taruhlah binatang plus, karena kita sudah berbadan seperti manusia. Juga karena kita sudah memiliki mind yang cukup berkembang, mind yang dapat menciptakan. Kita mampu menghiasi, memoles insting-insting kita. Kita bisa mengelabui orang lain. Sehingga binatang di dalam diri kita menjadi lebih buas, lebih bengis dan lebih ganas dari binatang beneran. Kebuasan binatang masih terbatas, kebuasan kita tak terbatas karena ketakterbatasan kemampuan mind kita. Dengan Lymbic yang masih hewani pun, kita tetap berkembang. Hasilnya: Animal Plus, Binatang Plus. Perkembangan diri kita masih belum holistik, belum menyeluruh. Hewan di dalam diri barangkali menjadi sedikit lebih jinak, tetapi belum menjelma menjadi manusia. Hanya segelintir saja di antara kita yang berhasil memanusiakan dirinya.

……………

Manusia memiliki bagian otak yang disebut Neo Cortex. Neo berarti “baru”, dan bagian ini memang “baru” dimiliki oleh hewan “jenis manusia”. Setidaknya dalam bentuk yang jauh lebih sempurna dari hewan. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2005). Otak Para Pemimpin Kita, Dialog Carut-Marutnya Keadaan Bangsa. One Earth Media) #SpiritualIndonesia lewat #OtakParaPemimpinKita

Tanpa perkembangan Neo-Cortex, manusia tidak sadar tentang hal-hal yang tepat dan tidak tepat, yang baik dan tidak baik bagi dirinya. Dalam keadaan seperti itu, ia tak akan mampu memahami kebutuhan insting yang diterimanya dari Bagian Limbic lewat Jaringan Saraf Otonom. Bila insting mengirimkan pesan “lapar”, maka ia bisa saja makan berlebihan, sehingga merusak kesehatannya sendiri. Begitu pula dengan hal-hal lain yang sesungguhnya merupakan kebutuhan dasar dan harus dipenuhinya secara cerdas dan berimbang dengan penuh kesadaran, misalnya memilih makanan yang baik bagi kesehatannya sehingga tidak makan apa saja secara sembarangan. Dengan kata lain, mesti ada kerja sama yang baik antara Bagian Lymbic dan Neo-Cortex. Jadi Lymbic memberitahu kebutuhan, sedangkan Neo-Cortex menentukan bagaimana dan dengan cara apa memenuhi kebutuhan itu supaya menunjang kesehatan dan kehidupan, bukan merusak atau mematikannya. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2010). Neospirituality & Neuroscience, Puncak Evolusi Kemanusiaan. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Video Youtube: Being Human 1/3: Compassion & Discretion (by Anand Krishna)

Banyak orang yang hidup tapi hatinya mati. Tidak ada perbedaan apa pun antara kita dengan binatang buas kalau tidak ada kasih dalam hati kita. Kita lahir tanpa rasa kasih. Jam berapa pun, lapar sedikit langsung nangis. Tidak sadar ibu baru tidur karena seharian bekerja. Padahal tidak lapar banget, cuma lapar sedikit langsung menangis. Kasih harus dikembangkan. Silakan lihat Video Youtube: Being Human 1/3: Compassion & Discretion (by Anand Krishna)

Menjinakkan Insting Hewani

Manusia pun tak luput dari sifat-sifat hewani. Bahkan kebutuhan akan makan, minum, tidur, seks dan sebagainya masih merupakan sifat-sifat hewani. Sifat-sifat yang kita miliki bersama hewan. Berarti ada sifat-sifat hewani yang “masih dibutuhkan demi keberlangsungan hidup”. Hanya saja, perlu dijinakkan, dikendalikan. Dan yang menjinakkan adalah diri kita sendiri. Yang mengendalikan adalah kesadaran diri pula. Jadi sesungguhnya, setiap orang harus menjadi Gopal atau Gopi. Harus menjaga dan memelihara kejinakan “sapi”nya. Krishna sendiri disebut Gopal – Pelindung Sapi. Dalam tradisi Hindu, sapi dianggap sebagai hewan yang paling jinak, dan kejinakan itu dilindungi Krishna. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2001). Narada Bhakti Sutra, Menggapai Cinta Tak Bersyarat dan Tak Terbatas. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Menghindari Pemicu Insting Hewani

Beda orang, beda isting hewani yang tersisa, dan beda pula stimulus yang dapat membangkitkan keliaran dalam dirinya. Kelemahan adalah kelemahan. Apakah itu kecanduan, ketergantungan pada obat-obatan, seks, makanan, rokok atau apa saja. Seseorang yang kelemahannya makan berlebihan tidak perlu mengkritik orang lain yang kelemahannya menelan pil ekstase. Dengan penuh kesadaran, keadaan, tempat, atau individu yang dapat memancing insting hewani dalam diri perlu dihindari. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2000). Shangrila, Mengecap Sorga di Dunia. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Dari Nafsu Birahi menuju Birahi Terhadap Alam Semesta

Kebutuhan akan makan, minum, tidur, seks dan sebagainya masih merupakan sifat-sifat hewani. Berikut bagaimana mendayagunakan energi seks guna peningkatan kesadaran.

Kita belum pernah merasakan kepuasan yang sempurna, dalam seks. Sewaktu masih punya energi, kita sibuk mencari uang. Seks hanya menjadi kebutuhan biologis. Kita tidak pernah meningkatkan kesadaran kita. Pulang dari kantor, lelah, makan, main cinta dan tidur. Setelah lanjut usia, kita mengeluh tidak ada cinta dalam hidup kita. Salah kita sendiri, kita tidak pernah meningkatkan kesadaran kita. Sampai tua pun, kita masih melirik ke arah setiap wanita yang mengangkat tangannya. Kita ingin mencari lihat ketiaknya, mencuri lihat tali kutangnya. Apa yang terjadi pada diri kita? Sampai tua pun, kesadaran kita masih tetap berada dibawah pusar. Keinginan seks harus disalurkan. Selambat-lambatnya dalam usia 40 tahun, Anda sudah harus mencapai titik klimaks dalam kehidupan seks.

Napsu atau passion hendaknya tidak selalu dikaitkan dengan seks. Obsesi dengan harta atau kekayaan, dengan nama atau ketenaran atau kekayaan, dengan nama atau ketenaran dan dengan jabatan atau kedudukan semuanya adalah passion, napsu. Semuanya ini terjadi apabila kita belum mengalami peningkatan kesadaran. Mereka yang terobsesi oleh seks, oleh harta, oleh nama, oleh jabatan tidak akan pernah mengalami cinta dalam kehidupan. Mereka belum tahu cinta itu apa. Mereka belum punya cinta dalam diri mereka. Dari seks, dari birahi ke cinta dan dari cinta ke kasih, peningkatan kesadaran ini yang dibutuhkan oleh dunia kita saat ini. Kasih atau compassion adalah birahi terhadap alam semesta. Bila napsu birahi terhadap seorang dapat ditingkatkan menjadi birahi terdapat alam semesta, Anda adalah seorang pengasih. Dikutip dari buku (Krishna, Anand). (2004). Jalan Kesempurnaan melalui Kamasutra. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

Mengendalikan Keinginan Seks

Sperma dalam diri seorang pria dan sel telur dalam diri seorang wanita adalah liquid energy. Inilah energi yang paling murni dan paling dahsyat. Energi ini pula yang membuat manusia menjadi kreatif. Seni adalah ungkapannya yang paling sempurna. Maka, janganlah memboroskan energi ini. Hal ini tidak berarti kau mesti menghentikan seluruh kegiatan seks. Silakan melakukan, tetapi tidak berlebihan.

Bagaimana Mengendalikan Keinginan Seks? Itu adalah pertanyaan yang paling sering diajukan kepada saya. “Bagaimana mengendalikan keinginan yang meluap-luap?” Jawaban saya, “Jangan dikendalikan, tidak perlu dikendalikan.” Instead, try to understand its nature. Lebih baik pahami sifat energi yang meluap-luap itu. Sifatnya: Kreatif. Sekarang, salurkan energi itu untuk melakukan sesuatu yang jauh lebih kreatif dan lebih bermanfaat. Dengan sendirinya ia tak akan meluap-luap dan mengganggumu lagi. Energi seks yang sedang meluap-luap itu berupa cairan. Mengikuti sifat dan kodrat cairan, ia akan mencari tempat yang lebih rendah. Ia keluar lewat alat kelamin. Bagaimana jika kita berhasil mengubah energi tersebut menjadi uap? Mengikuti sifat dan kodrat gas, ia akan menguap ke atas. la akan membuka blokade-blokade dalam otakmu. Otak akan mengalami revitalisasi. la menjadi lebih aktif, lebih awas. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2001). Youth Challenges And Empowerment. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Refleksi: Budaya dan Karma Kolektif Bangsa

Leluhur Bangsa Pernah Memeluk Berbagai Agama dan Rekaman itu Terwariskan pada Kita

Genom manusia adalah semacam otobiografi yang tertulis dengan sendirinya – berupa sebuah catatan, dalam bahasa genetis, tentang semua nasib yang pernah dialaminya dan temuan-temuan yang telah diraihnya, yang kemudian menjadi simpul-simpul sejarah species  kita serta nenek moyangnya sejak pertama kehidupan di jagad raya.

Silakan baca Catatan terkait: https://gitakehidupansepasangpejalan.wordpress.com/2018/06/05/refleksi-lahir-tumbuh-tua-dan-mati-bag-2-reinkarnasi-dan-memori-evolusi/

Demikian pula bangsa kita pernah mengalami Zaman Sriwijaya, Zaman Majapahit. Zaman dahulu dan zaman sekarang adalah suatu rangkaian yang tidak bisa dipisahkan.

Kita perlu mengkoreksi klasifikasi sejarah yang mengkotak-kotakkan Sejarah Bangsa Kita menjadi Zaman Pra Hindu, Zaman Hindu, Zaman Islam, Zaman Penjajahan dan seterusnya. Genetik kita pada saat ini ada kaitannya dengan semua kejadian masa lalu, tidak dapat dipisah-pisahkan atas dasar kepercayaan yang dianut pada beberapa masa. Leluhur kita pernah memeluk Hindu, Buddha atau keyakinan lainnya dan pengalaman tersebut telah terwariskan kepada kita.

Masa Lalu Terkait Masa Kini dan Masa Depan

Apa yang disebut “masa lalu” tidak terputuskan dari “masa kini”. Apa yang disebut “masa depan” juga terkait dengan “masa kini”, walau tidak atau belum nampak; bukan karena ia belum ada, tetapi karena kita belum bisa melihat sejauh itu. Coba perhatikan. Dapatkah kita memisahkan masa lalu dari masa kini? Apakah kita ada masa depan tanpa masa kini? Apakah kita dapat menciptakan garis pemisah yang jelas dan tegas antara masa kecil dan masa remaja; antara masa remaja dan masa di mana kita menjadi lebih dewasa, lebih matang, kemudian menua? Dengan berlalunya masa kecil, apakah kekanakan di dalam diri kita ikut berlalu juga? Tidak. Kekanakan itu masih ada di dalam diri kita. Keinginan untuk bermain masih ada. Permainannya sudah beda; alat mainnya lain, tetapi keinginannya sama. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2007). The Gita Of Management, Panduan bagi eksekutif muda berwawasan modern. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

Budaya Bangsa Kita Berbeda dengan Budaya Bangsa lain

Kita paham bahwa masing-masing orang berbeda, karena masing-masing orang mempunyai sejarah pengalaman pribadi yang berbeda. Demikian juga Bangsa Kita berbeda dengan Bangsa Lain karena pengalaman bangsa kita berbeda dengan pengalaman bangsa lain.

 

Budaya adalah Tulang Punggung Bangsa.

Budaya inilah yang memberi ciri khas pada suatu Bangsa. Apa yang membedakan Manusia Indonesia dari Manusia India dan Indo-Cina? Padahal, semuanya berada dalam satu wilayah peradaban yang sama: The Indus Valley Civilization, Wilayah peradaban Sindhu? Budaya. Budaya-lah yang membedakan Bangsa India dari Bangsa Indonesia, Bangsa Indonesia dari Bangsa-Bangsa Indo-Cina, entah itu Cambodia, Thailand, Vietnam atau Burma.

Boleh jadi ada kemiripan antara Budaya kita dengan Budaya-Budaya lain yang disebut diatas. Kemiripan itu wajar, karena kita semua masih berada dalam satu wilayah peradaban yang sama. Namun, kemiripan itu tidaklah membuat kita photo-copy dari bangsa-bangsa lain. Dikutip dari Orasi Budaya Anand Krishna pada Konggres Kebudayaan Bali, 30 Nopember 2007.

 

Budaya itu Apa?

Budi dan Daya….. Budi atau Buddhi dalam Bahasa Sanskrit, berarti Pikiran yang Sudah Diolah, Pikiran yang Jernih, Mind yang telah Tercerahkan. Itulah arti Buddhi. Daya berarti Upaya atau Kegiatan, bisa juga diartikan sebagai “Perilaku”. Namun, Daya bukanlah Upaya biasa. Daya bukanlah Kegiatan sembarang. Daya bukanlah Perilaku apa saja.  Daya adalah penggalan dari kata Hridaya dalam bahasa Sanskrit; berarti Hati. Bukan Hati-Jantung, bukan pula Hati-Liver, tetapi Hati Nurani. Dalam bahasa asing, “Psyche”.   Berarti, Upaya, Tindakan, atau Perilaku yang sesuai dengan Hati Nurani itulah Daya. Maka, Budaya berarti: Upaya, Tindakan, atau Perilaku yang dituntun oleh Pikiran yang Jernih dan sesuai dengan Kata Hati-Nurani.

Unggulan-unggulan dari adat atau kebiasaan yang bersifat luhur dan universal adalah Nilai-Nilai Budaya yang mesti dilestarikan, bahkan dikembangkan lebih lanjut, dikembangbiakkan. Nilai-nilai inilah yang mestinya disebut Culture, sesuatu yang dapat dan mesti di-cultivate – dibesarkan, dimajukan.

Dalam bahasa Sanskrit, nilai-nilai luhur tersebut adalah Samskaar.  Maka, bahasa yang telah mengalami proses penyempurnaan dan penghalusan disebut Sanskrit. Kebiasaan-kebiasaan yang sesuai dengan nilai-nilai luhur membentuk Samskriti masyarakat dan bangsa. Samskriti inilah Kebudayaan.

 

Budaya Sebagai Perekat Bangsa

Nilai-Nilai Budaya adalah Perekat yang sangat kuat untuk mempersatukan suatu Bangsa. Hal ini disadari betul oleh para founding fathers bangsa kita, maka mereka membangun negara diatas landasan kebudayaan.

Adat Jawa barangkali beda dengan Adat Minang, pun demikian dengan adat-adat lain – namun Unggulan-Unggulan dari setiap adat atau kebiasaan itu Satu dan Sama. Dan, para founding fathers kita mengumpulkan Unggulan-Unggulan itu – maka terkumpulah Lima Unggulan yang bersifat Universal dan ada dalam setiap adat di setiap daerah dan setiap pulau. Lima Unggulan ini yang kemudian dikenal sebagai Lima Butir Pancasila, yakni Ketuhanan, Kemanusiaan, Kebangsaan, Kedaulatan Rakyat, dan Keadilan serta Kesejahteraan Sosial.

Pancasila memang digali oleh Bung Karno, kemudian dijabarkan lebih lanjut oleh para pemikir seperti Dewantara, Sanoesi Pane dan lain-lain – tetapi, sebagaimana diakui oleh sang penggali sendiri, sila-sila itu sudah ada sejak zaman dahulu. Bung Karno tidak menciptakan Pancasila, beliau hanyalah menggalinya dari budaya kita sendiri. Dikutip dari Orasi Budaya Anand Krishna pada Konggres Kebudayaan Bali, 30 Nopember 2007.

 

Virus yang Merusak Program DNA Manusia Indonesia

DNA kita akarnya begitu panjang bahkan sampai ke awal kehidupan, amuba. Dan kehidupan nenek moyang kita dipengaruhi oleh lingkungan hutan rimba yang subur dengan bermacam tanaman. Adalah hal yang disayangkan, bila budaya bangsa kita disusupi dengan budaya luar yang intoleran. Ketidak selarasan dengan DNA membuat bangsa kita gamang, seakan tercerabut dari akarnya. Bangsa yang maju adalah bangsa yang menghargai budayanya, bisa dilihat India, China, Jepang, Korea.

Dalam Jangka Jayabaya ditulis adanya “zaman jaran makan sambel”, kuda yang doyan sambal. Kuda sebetulnya tidak doyan sambal. Tapi, pada zaman tersebut ada kuda yang menjadi doyan sambal. Saat ini beberapa anak bangsa mudah ngamuk, gampang lepas kendali, sulit diatur, dan merasa benar sendiri. Saya yakin bahwa kita sebenarnya bukanlah bangsa yang suka “sambal kekerasan”. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2005). Jangka Jayabaya, Saatnya Bertindak Tanpa Rasa Takut dan Meraih Kejayaan. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Upaya-upaya Devide et Impera Modern terhadap kesatuan bangsa adalah seperti dengan memasukkan virus untuk merusak seluruh program DNA manusia Indonesia. Ibaratnya Hard disk di DNA kita disusupi virus-virus dan semua data-data penting tentang kemampuan membangun peradaban yang adiluhung seperti yang terjadi di masa silam “terancam hilang” karena terkorup Virus Ketidakhormatan terhadap Budaya dan Jatidiri Bangsa. Dengan menjunjung budaya asing sebenarnya bangsa kita telah mulai terjajah. Demikian awal sebuah bangsa terjajah.

Karma Individu & Karma Kolektif: Ketika Karma Menjadi Dharma

Dalam Video Youtube berbahasa Indonesia: Karma Individu & Karma Kolektif: Ketika Karma Menjadi Dharma disampaikan bahwa Karma Individu terhadap diri kita harus kita maafkan. Akan tetapi Karma Kolektif terhadap Bangsa kita harus kita selesaikan. Berjuang menyampaikan dan menegakkan Kebenaran Kolektif adalah Dharma. Silakan lihat Video Youtube: Karma Individu & Karma Kolektif: Ketika Karma Menjadi Dharma oleh Bapak Anand Krishna.