Melakoni Nasehat Guru Pemandu

Dalam buku (Krishna, Anand. (2000). Masnawi Buku Kesatu, Bersama Jalaludin Rumi Menggapai Langit Biru Tak Berbingkai. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama) disampaikan perumpamaan:

Seperti seekor keledai yang tergiur oleh rerumputan dan berhenti di pinggir jalan, begitu pula kenikmatan duniawi bisa menyibukkanmu, sampai lupa menempuh perjalanan yang harus kau tempuh. Pada saat-saat seperti itu, hanya seorang pemandu yang bisa menyadarkan dirimu”.

Banyak orang berupaya untuk mendekatkan diri dengan Tuhan lewat ritus-ritus keagamaan.” kata Nabi Muhammad kepada Ali, sambil menasihatinya, “Dekatkan dirimu dengan para pengabdi Allah yang terpilih dan bijak, maka kau akan lebih awal sampai di tujuan.”

Nabi Muhammad melanjutkan, “Ali, engkau adalah seorang Pemberani yang bernyali. Kendati demikian, jangan terlalu percaya pada ‘nyali’. Turutilah nasihat seorang Pemandu yang bisa menemanimu dalam perjalanan ini. Turuti nasihat seorang Pemandu, sebagaimana Musa menuruti nasihat Khidir.”

………………

Anggur tua dinilai lebih tinggi. Begitu pula dengan para Pir. Carilah seorang Pir yang sangat tua. Tua karena kebenaran, karena kesadaran, bukan karena waktu. Jika kamu sudah menemukannya, jadikan dia Pemandumu. Dengan adanya seorang Pemandu, perjalananmu akan menjadi lebih nyaman dan terarah. Ingat, perjalanan ini baru pertama kali kamu tempuh. jangan sok berani. Indahkan panduan Sang Pemandu!

Tangan seorang Pir bagaikan Tangan Tuhan. Jangan meragukan hal ini. Jangan kira ada yang pernah sampai di tujuan tanpa bantuan para Pir. Kalaupun ada yang berjalan sendiri dan sampai di tujuan, hal itu disebabkan oleh doa para Pir yang senantiasa melindungi dirinya.”Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2000). Masnawi Buku Kesatu, Bersama Jalaludin Rumi Menggapai Langit Biru Tak Berbingkai. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama)

Bantuan Para Pemandu menurut Bhagavad Gita

“Partha (Putra Prtha – sebutan lain bagi Kunti, Ibu Arjuna), seseorang yang pikirannya terkendali lewat pola hidup berlandaskan Yoga; meditasi yang teratur; dan kesadarannya senantiasa terpusatkan pada Tuhan, pada Jiwa Agung – maka niscaya ia mencapai kemuliaan-Nya yang tak terhingga.” Bhagavad Gita 8:8

Bagi Krsna – dan memang demikian adanya – Yoga, meditasi, dan laku spiritual atau sadhana lainnya bukanlah sekadar pelajaran, tetapi sesuatu yang mesti dihayati dan dilakoni sepanjang masa. Bukan seperti buku pelajaran, sudah selesai ya sudah — dibuang saja. Dulu, saya mengoleksi novel-novel misteri oleh beberapa penulis asing terkenal di masa 1970-an. Sekarang, belasan buku yang dulu saya anggap sangat baik itu, sudah tidak memiliki daya tarik lagi.

YOGA, MEDITASI, LAKU SPIRITUAL BUKAN SEPERTI ITU – Bukan sekali dibaca, sekali dipelajari — selesai. Tapi, mesti diulang-ulang — dihayati, dan dilakoni dalam keseharian hidup. Seperti yang telah kita baca sebelumnya, Krsna menyebutnya Abhyasa — dilakoni secara terus-menerus, secara intensif dan repetitif. Dengan cara itulah kita baru memperoleh manfaatnya.

Hal lain yang penting adalah…..

Kehadiran seorang Sadguru – Walau semuanya dapat dipelajari secara otodidak – istilah yang sedang trend dan trendy, padahal seringkali memberi angin pada ego – sesungguhnya tidak ada, saya ulangi, tidak ada pengganti bagi belajar di bawah bimbingan seorang Pemandu Rohani. Bukan sekadar guru, tetapi Sadguru – Guru Sejati yang tidak berfungsi sebagai guru di sekolah atau ahli kitab – tapi sebagai guide, pemandu.

Selain itu, juga dibutuhkan suasana asram (ashram), padepokan tempat kita bisa berinteraksi dengan support group yang terdiri dari orang-orang sehati, para pencari kebenaran.

Ashram adalah transit point antara alam ini, dunia ini dan alam roh, spirit, dunia sana. Namun, ada dunia lain di luar ashram, yang sisa-sianya ada juga di ashram, sebagai residu; kotoran, debu dan pasir di bawah sandal kita sendiri yang terbawa ke ashram. Ego kita, kepicikan kita, iri hati dan kecemburuan kita, pun cinta monyet, ketertarikan semu, keterikatan, dan sebagainya – inilah debu dan kotoran yang dimaksud. Sebab itu, idealnya ketika memasuki ashram, kita melepaskan als kaki ego, mind, dan meninggalkan sampah-sampah itu diluar.

Masukilah ashram tanpa beban lama – Tinggalkan segala beban dan kotoran di pintu luar, pintu masuk. Kendati demikian, ada saja daki badan yang tetap terbawa. Untuk mengurusi itu pun mesti abhyasa! Membersihkan diri dari hari ke hari. Kita tidak bisa bersikap, “Kemarin baru mandi, harin ini tidak perlu!”

Abhyasa berarti bukan sekadar mandi setiap hari, tapi setiap kali kita merasakan kebutuhamya, barangkali 2 atau 3 kali sehari. Tidak perlu tinggal di kamar mandi juga. Kamar mandi adalah kamar untuk mandi, bukan untuk tidur dan tinggal.

Mandi 2 — 3 kali sehari dalam konteks ini adalah melakukan….

MEDITASI, PERENUNGAN BATIN, Membaca buku-buku yang dapat membantu dalam hal perkembangan Jiwa; berdoa dengan cara yang paling tulus, berdoa dengan dan dari hati terdalam, dan dalam bahasa kasih sejati, bukan karena takut. Biarlah airmata yang keluar adalah karena cinta, karena rindu Sang Kekasih, bukan untuk merengek-rengek supaya dapat jatah kapling di surga.

Surga Gusti Pangeran tidak di atas sana, tidak setelah kematian saja. Surga Pangeran ada di sini, dunia ini! Hiduplah dalam surga-Nya sekarang dan saat ini juga. Kenapa mesti menunggu kematian dulu?

Wejangan Krsna jelas sekali — seseorang yang melakoni hidupnya seperti itu, sesungguhnya sudah tinggal di dalam istana-Nya, surga-Nya! Ia sudah melakoni Yoga. Dan, sekali sudah berada di dalam istana-Nya, maka pertemuan pun bisa terjadi setiap saat, tinggal tunggu Waktu, sabar sedikit!

 

Para Pir para Wali, para Nabi—apa pun sebutannya—adalah wakil Keberadaan di atas bumi, seperti para Duta Besar yang mewakili negerinya. Dia berperan sebagai penghubung antara negeri yang mengut us dan negeri di mana dia ditempatkan.

Setelah menyelesaikan masa baktinya, seorang Duta Besar akan pulang ke negerinya, dan digantikan oleh Duta Besar yang baru. Demikian, berjalan terus. Kecuali, terjadi konflik dan pemutusan hubungan  diplomatik.

Untungnya, Tuhan tidak pemah memutuskan “hubungan” dengan dunia kita.  Itu sebabnya, dari jaman ke jaman, ada saja utusan yang Dia kirimkan. Jika anda alergi terhadap istilah “nabi” dan hanya ingin menggunakan untuk pribadi-pribadi tertentu, tidak apa. Gunakan istilah “wali”, “pir”, “pemandu”, “pelayan”, “petugas”—apa saja! Tidak menjadi soal.

Negara-Negara Persemakmuran (The Commonwealth Countries), bekas jajahan Inggris tidak mengenal istilah “Duta Besar” di antara mereka. Mereka menggunakan istilah “High Commissioner”. Tidak menjadi soal. High Commissioner atau Ambassa dor  atau Duta Besar atau apa saja, ketahuilah bahwa yang mereka wakili, satu dan sama.

Sering kali, seorang Duta Besar tidak akan turun tangan sendiri untuk memberi informasi tentang negerinya. Dia akan menggunakan media cetak dan media elektronik untuk menyampaikan berbagai informasi. Lalu berkat informasi yang dia sampaikan itu, anda tertarik untuk mengunjungi negerinya. Langsung membeli tiket dan jalan sendiri.

Tampaknya, anda tidak menggunakan jasa kedutaan. Apalagi kalau negeri itu tidak mengharuskan anda memiliki visa. Tetapi, sesungguhnya ketertarikan anda terhadap negeri itu sudah membuktikan adanya “tangan” Sang Duta Besar yang sedang bekerja di balik layar. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia via #BhagavadGitaIndonesia

 

Latihan meditasi dan yoga adalah penyiapan lahan, nasehat Guru Pemandu adalah benih-benih Pohon Kebenaran

Demikian yang kami catat dalam salah satu nasehat berharga.

Kalau kita hanya latihan meditasi dan yoga tetapi tidak menanam benih yang baik, maka bisa jadi benih tidak baik yang terbawa angin yang akan tumbuh subur. Rahwana adalaah seorang meditator. Tapi benih yang ditanam bukan benih kebaikan.

Hanya menanam benih setiap hari lewat nasihat para bijak tanpa penyiapan lahan juga tidak akan berkembang menjadi pohon yang subur.

Advertisements

Pemicu Kecil Membangkitkan Ego yang Membawa Perselisihan Besar

Ego mirip hewan dalam diri

Setiap kali ada yang memuji atau memaki, anjing ego di dalam diri kita mendapatkan makanan, dan ia mulai menggonggong. Ya betul, bukan saja setiap kali dipuji, tetapi setiap kali dimaki. Kutipan dari Nietzsche semestinya ditambah satu alenia lagi: “setiap kali jatuh satu tingkat”. Jadi setiap naik maupun turun tingkat, anjing ego selalu menggonggong. Diberi makan ia memperoleh energi dan menggonggong girang, tidak diberi makan, ia menggonggong kelaparan. Dipuji atau dicaci, dimaki, ego menggonggong.

Adalah di bagian bawah otak yang biasa disebut medulla oblongata. Untuk diketahui, medulla adalah bagian otak yang disebut reptilian brain—berbagai jenis hewan, termasuk jenis-jenis tertentu ikan, cicak, dan buaya, memilikinya. Jadi, medulla bukanlah bagian otak yang biasa disebut neo-cortex, atau bagian otak yang memanusiakan hewan.

Berarti, ego bukanlah sifat atau sikap manusiawi. Manusia mewarisinya melalui evolusi panjang selama ratusan juta tahun. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2012). Sanyas Dharma Mastering the Art of Science of Discipleship Sebuah Panduan bagi Penggiat Dan Perkumpulan Spiritual. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Youtube Video a Course in Spirituality Part 1: Enlightement and Guru by Swami Anand Krishna

Kita hidup dalam periode waktu, dimana kita hanya membutuhkan pemicu kecil, untuk menjadi egoistis. Di waktu dahulu tidak demikian. Saat ini kita hanya membutuhkan sedikit pemicu, seseorang memujimu dan kamu menggembung, seseorang bicara tentang sesuatu dan kamu mengempis. Keduanya adalah ego based. Ketika kamu menggembung atau mengempis keduanya adalah ego. Kamu mengempis egomu terlukai. Kamu menggembung karena kau merasa senang.

Para motivator menggembungkan ego kita. Dan apakah dunia kita menjadi lebih baik? Tidak! Lihat situasi di Eropa, bom, tembakan. Demikian juga dalam dunia seluruhnya. Dunia tidak menjadi tempat yang lebih baik karena dengan hanya pemicu kecil, ego kita menggembung atau mengempis dan keduanya berbahaya.

Mengikuti 2 cara ini, kalian tidak akan ke mana-mana. Master saya selalu mengingatkan kita dengan menggunakan kata moksha. Biasanya kita mengaitkan moksha terkait saat kematian, terbebaskan dari samsara, dari siklus kematian dan kelahiran.

Moksha tidak demikian. Moksha bisa kau mulai here dan now. Moksha berarti bebas dari keterikatan, bebas dari ego, bebas dari kebencian, dari iri, bebas dari segala sesuatu, yang mengikat kita dengan dunia ini.

Guru Nanak, saat bicara tentang bhakti, ia memanggil dirinya dasanudas, pelayan dari pelayan, pelayan dari devoti Tuhan.

Silakan simak Youtube Video a Course in Spirituality Part 1: Enlightement and Guru by Swami Anand Krishna

Tidak terjebak dalam dualitas dalam Bhagavad Gita

“Ia tidak terikat dengan sesuatu, di mana pun ia berada, dan dalam keadaan apa pun. Ia tidak terjebak dalam dualitas menyenangkan dan tidak menyenangkan. Ia tidak tersanjung (ketika dipuji), pun tidak gusar (ketika dicaci); Kesadaran Jiwanya sungguh tak tergoyahkan lagi.” Bhagavad Gita 2:57

Kṛṣṇa tidak menganjurkan agar kita menolak kebahagiaan, pengalaman-pengalaman yang menyenangkan dan sebagainya, ia hanya menganjurkan agar kita jangan sampai lupa daratan. Setiap Pengalaman Dalam hidup ini hanya bersifat sementara. Dalam keadaan duka, jangan sampai kecewa, dan menciptakan trauma bagi diri sendiri. Terimalah apa adanya. Demikianlah kehidupan ini, jangan terikat pada pengalaman apa pun. Semuanya hanya ada untuk sesaat.

Dalam percakapan-percakapan selanjutnya, Kṛṣṇa akan menjelaskan bahwa sesungguhnya semua pengalaman itu adalah menyangkut fisik, badan, indra. Jiwa tidak terpengaruh olehnya. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia via #BhagavadGitaIndonesia

Ooh Ternyata Kita Masih Dipertimbangkan Hewan, Persepsi Kita Masih Hewani

Selama melihat dengan persepsi (pashyati) kita masih dipertimbangkan hewan (pashu)

Kita melihat, mempersepsikan (pashyati) segala sesuatu punah karena kita masih berada dalam taraf pashu, hewan. Bhagavad Gita mengajak kita melampaui persepsi. Mengapa demikian? Silakan memperhatikan youtube video oleh Swami Anand Krishna terkait di bawah:

Berikut salah satu contoh melampaui persepsi (pashyati) dalam Bhagavad Gita:

“Ia yang melihat Hyang Maha Kuasa dan Tak Pernah Punah, di balik segala sesuatu yang mengalami kepunahan, baik hidup dan bergerak, maupun yang (tampak) tidak hidup dan tidak bergerak, sesungguhnya telah mengetahui kebenaran sebagaimana adanya.” Bhagavad Gita 13:27

Apa yang biasa terlihat oleh kita adalah sekadar “dampak” dari perubahan. Kelahiran, kematian, kelahiran kembali, dan kematian lagi – semuanya sekadar “dampak” dari perubahan. Kita tidak mampu melihat Ia yang berada di balik perubahan-perubahan itu…..

IA HYANG TAK BERUBAH, TAK PUNAH – Banyak pujangga yang berhenti pada tahap melihat perubahan saja. Bagi mereka perubahan itulah kebenaran mutlak. Mereka melihat perubahan sebagai satu-satunya hukum yang tak pernah berubah.

Pun demikian dengan kepunahan. Banyak pujangga yang hanya melihat sebatas kebendaan, dimana tidak ada satupun benda yang langgeng, semuanya punah.

Adapun kepercayaan dan filsafat yang berkembang di atas landasan tersebut, menolak adanya sesuatu “yang tidak pernah berubah dan tidak pernah punah”. Mereka hanya menerima “hukum perubahan” sebagai hukum yang tidak terelakkan, tidak pernah punah. DEMIKIAN, PEMAHAMAN MEREKA MENJADI PINCANG – Di satu pihak, mereka menolak adanya sesuatu yang tidak pernah berubah dan punah; di pihak lain, mereka pun percaya pada hukum perubahan yang mereka yakini tidak pernah berubah.

Ada pula kepercayaan-kepercayaan yang berlandaskan paham ateisme, dan menolak adanya Tuhan, tetapi menerima “hukum kecelakaan” sebagai cikal-bakal semesta.

Krsna menafikan “hukum kecelakaan yang tidak inteligen” tersebut. Ia menjelaskan bahwa di balik segalanya adalah Super Intelligence. Perhatikan Mini Super Computer yang kita miliki — badan kita. Perhatikan kinerja setiap organ. Mungkinkah semuanya itu hasil dari hukum kecelakaan, ataupun kebetulan semata?

Kebetulan saja manusia tercipta dengan badan dan otak yang mampu menciptakan komputer super termodern. Apa mungkin??? Krsna mengatakan bahwa….

PENCIPTAAN BUKANLAH KECELAKAAN, bukan kebetulan. Ada rencana inteligen, sangat inteligen, di baliknya. Dan jika ada rencana yang inteligen, maka mesti ada pula Super Inteligensia yang merencanakan. Super Inteligensia inilah Hyang Maha Kuasa. Mau disebut Tuhan, atau apa saja – silakan!

Bagi Krsna, seseorang yang memahami hal ini adalah orang yang betul memahami. Seseorang yang dapat melihat hal ini adalah yang betul melihat. Mereka yang tidak memahami dan melihat hal ini, belum cukup paham, belum cukup pula penglihatannya. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia via #BhagavadGitaIndonesia

Video Youtube by Swami Anand Krishna: God and humanbeing go beyond perception

Dalam bahasa Sanskrit setiap kata interconnected, berhubungan. Animal (bahasa Inggris) datang dari bahasa Latin animus. Animus berarti hidup. Bukan hanya animal, kita juga hidup. Tanaman, pohon pun hidup. Gunung, laut, sungai mereka hidup juga. Sehingga bila kamu memilih menggunakan kata animus dari Latin, semuanya adalah animal, hewan, semua benda adalah animal, hewan. Apa pun juga di dunia adalah animal.

Dalam Sanskrit segalanya mempunyai kata. Kata untuk animal, sapi, kucing, anjing, kuda, semuanya dipertimbangkan sebagai pashu. Dan pashu adalah akar kata dari pashyati, dalam bahasa Inggris, perception, persepsi. Jadi seorang yang percaya kepada persepsi, adalah pashu.

Saya melihat hal yang sama dan kalian melihat hal yang sama. Saya melihat statue, kau melihat statue, patung sebagai sapi. Saya mempersepsikan sebagai kendaraan Lord Shiva. Persepsi kalian adalah sapi, persepsi saya adalah Nandi.

Sehingga apabila kita percaya pada superficial things, apa yang dilihat oleh mata kita, apabila kita hanya percaya itu, maka kalian pashu, animal. Apabila kalian ingin menjadi human being, kalian harus penetrasi lebih dalam, apa itu. Kamu harus melihat inti dari segala sesuatu. Jangan percaya kepada sesuatu yang di luar. Yang di luar mungkin tampak jelek, bisa tampak sangat baik. Pergi ke dalam.

Gunakan viveka kalian, bukan mind lagi. Mind berdasar pada data  bank. Kalian mendapat data bank dari banyak inkarnasi, sehingga kalian menetapkan dari data bank untuk menentukan sesuatu itu apa. Tapi apabila kalian tidak menggunakan data bank, kalian tidak menggunakan mind. Kalian mengubah, transform, kepada buddhi. Dan kalian mulai menggunakan viveka, faculty of discretion. Dan kemudian satu tambah satu tidak selalu dua. Satu tambah satu bisa sebelas atau yang lain.

Kalian tahu teknologi digital kita. Mereka hanya berlaku pada 2 digit. Mereka tak dapat bekerja pada 3, 4, 5 digit. Setiap pagi bila kamu di sini, kau tinggal di sini, kita berdoa, chanting di atas, om karam bindhu sanyuktam. Kita tetap harus menemukan teknologi, bukan internet, tapi inner net. Bekerja bukan pada 2 digit tapi dalam single, digit tunggal. Om karam bindu sanyuktam hanya satu digit, saat kalian menemukan teknologi,  fisika, spirituality, kimia,  seni, semua dikombinasikan. Dan inilah tujuan semuanya dari yoga. Menemukan inner net ini. Akses inner net ini. Mulai bekerja dalam 1 digit.

Kalau kalian bekerja dalam satu digit, apa artinya? Otak kalian tidak bekerja lagi. Karena mind selalu bekerja dalam 2 digit. Paling tidak 2 digit. Harus ada ide yang berkonflik. Dan kemudian mind berjalan. Apabila kamu hanya punya satu digit, mind akan istirahat, mind tidak bekerja. Dan inteligen, viveka yang bekerja. Fakultas untuk memilah bekerja.

Sekali lagi, pashu, pashyati, kalian hanya percaya pada persepsi. Dan kita tidak lebih baik dari pada animal. Kita harus menggunakan inteligen kita, kita pergi melampaui mind. Transform the mind. Dan solusi bagaimana men-transform adalah meditasi, tidak ada solusi yang lain.

Silakan simak secara lengkap Video Youtube by Swami Anand Krishna: God and humanbeing go beyond perception

 

Beberapa contoh kata persepsi, pashyati dalam Bhagavad Gita

Menganggap aku sebagai badan, kita merasa berdosa, menganggap aku sebagai  jiwa, itu hanya kesalahan yang bisa diperbaiki. Mobilku yang penyok, tapi aku tidak penyok.

“Mereka yang tidak memahami hal ini (tentang lima unsur penyebab karma); menganggap Jiwa sebagai pelaku. Pandangan mereka tidak tepat, karena pemahaman yang tidak tepat pula.” Bhagavad Gita 18:16

Nah, di sini Krsna jelas sekali. “Jiwa” bukanlah pelaku. Jiwa adalah “aku” yang sejati. Dan Aku adalah saksi bukan pelaku. Kendaraan badan, indra, gugusan pikiran serta perasaan — semuanya bukanlah diriku yang sejati. Diriku yang sejati adalah Jiwa. Aku tidak ikut rusak ketika kendaraan mengalami kerusakan. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia via #BhagavadGitaIndonesia

………………

“Ia yang melihat setiap tindakan di manapun adalah disebabkan oleh alam atau Prakrti; sementara Sang Jiwa sesungguhnya tidak berbuat apa-apa – adalah yang telah melihat sebenarnya.” Bhagavad Gita 13:29

KETIKA KITA MENGIDENTIFIKASIKAN DIRI dengan alam benda, atau dengan peralatan elektronik dalam analogi sebelumnya — kita mengalami suka dan duka, kita mengalami kelahiran dan kematian.

Ketika kita mengidentifikasikan diri dengan “tindakan” dan “ kejadian” yang terjadi — maka kita mengalami pasang surut. Emosi kita bergejolak, pikiran menjadi kacau. Ada awal, ada akhir. Perubahan menjadi satu-satunya hukum yang masuk akal. Kita tidak mampu melihat Sang Jiwa —Listrik — Hyang Abadi. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia via #BhagavadGitaIndonesia

Kesalahpahaman tentang Mitos Here and Now

Tidak ada garis pemisah masa kini dengan masa lalu, masa kini dengan masa depan

Apa yang disebut “masa lalu” tidak terputuskan dari “masa kini”. Apa yang disebut “masa depan” juga terkait dengan “masa kini”, walau tidak atau belum nampak; bukan karena ia belum ada, tetapi karena kita belum bisa melihat sejauh itu. Coba perhatikan. Dapatkah kita memisahkan masa lalu dari masa kini? Apakah kita ada masa depan tanpa masa kini?

Apakah kita dapat menciptakan garis pemisah yang jelas dan tegas antara masa kecil dan masa remaja; antara masa remaja dan masa di mana kita menjadi lebih dewasa, lebih matang, kemudian menua? Dengan berlalunya masa kecil, apakah kekanakan di dalam diri kita ikut berlalu juga? Tidak. Kekanakan itu masih ada di dalam diri kita. Keinginan untuk bermain masih ada. Permainannya sudah beda; alat mainnya lain, tetapi keinginannya sama.

Masa kecil yang kita anggap sudah berlalu itu sesungguhnya tidak pernah berlalu. Ia hanya mengendap. Kemudian, yang muncul di permukaan adalah masa lain. Masa depan yang tidak atau belum nampak itu pun sesungguhnya tidak muncul pada suatu saat tertentu. Kita semua sedang menuju ke masa depan; masa depan kita sedang dalam proses “menjadi”. It is a happening. Ya, masa depan tidak terjadi pada saat tertentu, tetapi adalah proses menjadi dari saat ke saat.

Saat ini saya “merasa” hidup dalam masa kini. Apa betul demikian? Tidak juga. Ketika saya menulis kata-kata ini, untuk sesaat itu saja, untuk seberapa detik itu saja saya berada dalam masa kini; sesaat kemudian, seperberapa detik kemudian, masa itu berlalu sudah. Kendati demikian, apa yang kita lakukan saat ini menentukan apa yang dapat terjadi pada diri kita sesaat kemudian. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2007). The Gita Of Management, Panduan bagi eksekutif muda berwawasan modern. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Setiap saat badan kita berubah, ada sel mati dan ada sel tumbuh, badan “masa kini” selalu berubah

“Masa kecil, dewasa, pun masa tua adalah ‘kejadian-kejadian’ yang terjadi pada badan yang dihuni Jiwa. Kemudian, setelah meninggalkan badan lama, Jiwa memperoleh badan baru. Para bijak tidak pernah meragukan hal ini atau terbingungkan olehnya.” Bhagavad Gita 2:13

Lagi-lagi Krsna berbicara tentang perubahan, tentang Hukum Fisika. Di manakah “badan seorang bayi” yang sekarang telah “menjadi” kita?

PENAMBAHAN USIA TERJADI PADA BADAN – Dan, setiap penambahan membawa perubahan pada badan kita. Badan kita waktu kecil lain dari badan kita sekarang. Sel-sel dalam tubuh kita ketika masih kecil, sudah mutasi semuanya. Sudah mati. Setiap 5 hingga 7 tahun, sel-sel tubuh berubah total.

Berarti, sejak kelahiran hingga ketika usia 40 tahun saja, kita sudah mengalami kematian 5 hingga 8 kali. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia via #BhagavadGitaIndonesia

Video Youtube Swami Anand Krishna: Satisfaction And General Well Being Part 2 The Here and Now Myth, Keeping the Child within Alive

Heraclitus, seorang filosuf Yunani berbicara bahwa kau tidak dapat berdiri pada air yang sama dua kali. Air bergerak, air mengalir, kamu tidak dapat memberhentikan sungai. Kamu meletakkan kaki di air dan kamu tidak dapat merasakan air yang sama. Selalu air yang berbeda yang lewat di kaki kita. Sehingga tidak ada sesuatu seperti yang didefinisikan dalam new age book, sebagai present moment.

Sekarang saya berbicara, apakah saya berada pada present? Tidak! Pada saat kalian mendengarkan saya ada selang waktu yang sangat kecil. Jadi saat saya bicara dan kalian mendengarkan ada selang waktunya. Jadi tidak present moment anymore. Dan, saat saya bicara saya sedang melangkah ke future, masa depan. Saat kau sedang mendengarkan, kau sedang melangkah ke future. Bagaimana kita bisa hidup dalam present moment. Tidak ada orang yang dapat melakukannya. Hanya sebah ungkapan tanpa pemahaman. Apakah present moment , tentang here and now. Apa yang here and now adalah hidupmu sekarang. Dan itu adalah tidak a present moment. Terbentuk oleh berapa trilyun moment, apabila kamu hidup sampai 126 tahun.

Present moment adalah bukan present moment perse. Tapi tentang kehidupan saat ini episode kehidupan saat ini. Jangan fokus pada satu titik kehidupan tapi fokus pada hidup keseluruhan. Komplit keseluruhan paket. Tentu kamu dapat membagi keidupan ini dalam beberapa fase. Tapi kamu tidak dapat hidup pada saat ini di sini perse dan melupakan segalanya.

Semuanya ada kontinuitas. Dapatkah kamu memisahkan ini hidup anak-anak, ini hidup dewasa dan ini hidup orang tua? Tidak bisa. Meskipun setua saya kadang ada sikap anak-anak dalam diri saya. Dan saat saya melihat sifat anak-anak saya akan mati, saya akan membeli boneka anak-anak. Dan kamu akan demikian juga saat menjadi tua, apabila kamu mau hidup lama. Beli boneka, lakukan hal yang aneh.

Jaga anak-anak hidup. Dan saat melihat saya, kalian harus sadar bahwa ada orang tua dalam diri kalian yang menunggu kalian. Orang bijak ada di sana. Yang muda harus sadar bahwa ada yang tua di dalam dirinya. Yang tua harus sadar ada yang muda dalam dirinya. Semuanya kontinuitas.

Dalam penemuan mutakhir, otak kalian belum sempurna sebelum mencapai usia 32 tahun. Sebelum usia mencapai 32, keputusan apapun kemungkinan 40 % akan gagal. Ini yang disebut hukum kemungkinan, hukum kesempatan. Dimana quantum mechanic datang bermain. Apabila semuanya konsisten maka kamu tidak dapat berubah. Fakta bahwa kita berubah tiap hari berterima kasih pada quantum mechanics. Yang artinya tidak ada konsistensi dalam hidup.

Pertimbangkan semua episode. Hari ini mungkin tidak meuaskan, tapi kau dapat meyakinkan apa yang kau lakukan hari ini adalah untuk kebaikan secara umum. Sehingga walaupun kamu tidak puas hari ini kau sudah menanam benih yang baik. Pada suatu saat akan menerima panen yang baik.

Silakan simak video youtube lengkap, Swami Anand Krishna: Satisfaction And General Well Being Part 2 The Here and Now Myth, Keeping the Child within Alive

Masih banyak hal yang penting ditemukan di sana……..

Termasuk bagaimana memelihara sifay anak dalam diri orang tua agar awet usianya…….

Menyelesaikan Hutang Piutang #Karma dengan 20 Orang Terdekat

Hutang mesti dilunasi, jangan berbuat buruk

Kita berhutang terhadap leluhur, orang tua, guru, dan sesama makhluk, seringkali kita lalai melunasi hutang itu. Lagi-lagi, kadang sengaja, kadang tidak. Namun, kesalahan adalah kesalahan. Kelalaian adalah Kelalaian. Hutang adalah hutang, dan mesti dilunasi. Dikutip dari buku (Das, Sai. (2010). Shri Sai Satcharita. Anand Krishna Global Co-Operation Indonesia)

Kita sering mendengar saat melawat orang yang meninggal, agar orang yang mempunyai hutang-piutang dengan orang yang meninggal menghubungi famili untuk menyelesaikan hutang-piutangnya. Adalah hal yang baik untuk menyelesaikan hutang-piutang terkait harta atau uang, tapi bagaimana dengan hutang-piutang perbuatan (hutang-piutang karma) dari yang sudah meninggal?

 

Hubungan dengan 20 orang terdekat

Dalam video youtube Kamasutra Part 2: From Passion to Compassion by Swami Anand Krishna disampaikan tentang hubunganketerikatan dengan keluarga:

“Hubungan, keterikatan dengan keluarga atau orang lain, menurut pandangan Veda, pandangan Yoga berdasarkan kredit dan debit. Partner kamu saat ini bisa saja ayah atau ibumu di kehidupan masa lalu. Dan sekarang dia adalah partner-mu. Dan apabila kita menelusuri hal demikian, maka hanya ada 20 orang yang benar-benar dekat. Dengan 20 orang ini kita terus bertemu. Peran  berubah tetapi hubungan tetap.” Dikutip dari video youtube Kamasutra Part 2: From Passion to Compassion by Swami Anand Krishna

Dalam episode kehidupan saat ini kita mempunyai hubungan dengan sekitar 20 orang. Terutama ayah, ibu saudara dan sebagainya. Setiap hubungan pasti membuahkan hutang-piutang perbuatan, ada yang perbuatan baik dan ada perbuatan buruk. Misalkan kita punya hutang (banyak perbuatan buruk) terhadap salah satu keluarga kita, maka kita akan lahir lagi untuk melunasi hutang tersebut. Demikian juga sebaliknya jika kita berbuat baik dengan salah satu anggota keluarga, maka kita akan lahir lagi untuk menerima hasil pengembalian dari anggota keluarga tersebut.

Hutang-piutang harus tetap diselesaikan oleh orang yang bersangkutan dalam episode kelahiran berikutnya, akan tetapi peran orang tersebut bisa berubah, misalkan tadinya anak sekarang menjadi suami atau saudaranya. Intinya dalam kehidupan mendatang kita akan bertemu dengan orang-orang yang mempunyai kaitan hutang-piutang dengan kita namun dengan peran yang berbeda. Oleh karena itu jangan membuat karma buruk. Kalau seseorang memanggil sister atau brother dengan teman seperjalanan spiritual, semoga saja dalam kelahiran yang akan datang bisa menjadi saudara sehingga peningkatan kesadaran dalam keluarga sudah lebih kondusif.

Lahir dalam keluarga yang sama

Dalam video youtube Reincarnation: A Secret Revealed by Swami Anand Krishna disampaikan:

“Berdasar impressi terakhir, dalam waktu terakhir dari kehidupan kita menghadapi pemutaran seperti televisi. Film lama, tape lama, kita mengalami seperti menemukan film diri kita. Dan hanya membutuhkan beberapa menit. Kadang-kadang hanya beberapa detik dalam 1 menit.

Pada waktu itu secara klinis kita sudah dinyatakan mati. Secara fisik kita sudah mati. Pada waktu itu pemutaran kembali film berjalan. Dan pemutaran kembali tetap berjalan karena mesin tetap berjalan. Mesin tetap berjalan tetap ada sisa napas tertinggal. Seperti fan. Walau dimatikan tetap ada listrik yang mengalir, dan baling-baling fan tetap bergerak sampai waktunya berhenti. Sehingga walau otak kita sudah tidak berfungsi, tetap ada energi tertinggal. Dan menggunakan energi yang ada mind (bukan brain) memutar kehidupan selama hidup.

Bukan semua impresi tetapi impresi utama. Impresi utama, memori utama akan kembali. Berdasarkan itu,  sebelum gelap total, Soul (jiwa) mempunyai program: Untuk kehidupan ke depan aku akan mencari orangtua semacam itu. Pada waktu itu dalam waktu 1 menit. Dalam detik-detik terakhir, tapi Anda bisa merasakan sangat lama. Anda seakan-akan hidup kembali selama kehidupmu.

Tapi sebetulnya sangat-sangat singkat waktunya. Dan ada kebingungan waktu. Oke dalam kehidupan ke depan aku akan hidup dalam semacam keluarga itu. Apabil soul tetap berupaya ke keluarga tersebut, dia akan segera lahir kembali di keluarga tersebut.” Dikutip dari video youtube Reincarnation: A Secret Revealed by Swami Anand Krishna

 

Lahir di tempat yang menjadi obsesi sebelum kematian

“Tapi apabila soul terikat pada situasi yang berbeda. Kebanyakan dari orang Barat, datang ke bali tahun 1960-an sampai tahun 1970-an. Mereka jatuh cinta pada Bali. Dan itulah pikiran terakhir sebelum mati. Apakah mereka dari Belanda, Jerman, atau US, pikiran terakhir adalah Bali. Dan mereka lahir di Bali. Sehingga banyak yang lahir setelah tahun 1970-an, mereka adalah orang Barat murni di kehidupan sebelumnya”. Dikutip dari video youtube Reincarnation: A Secret Revealed by Swami Anand Krishna

 

Lampaui Like dan Dislike

“Anda harus sangat-sangat berhati-hati. Itulah sebabnya dalam Bhagavad Gita Krishna mengatakan: Apa saja yang kau ingat selama hidup akan datang lagi ingatan tersebut saat kau akan mati. Ketika kamu sangat menyukai sesuatu kamu harus sangat berhati-hati. Mengapa kamu menyukai hal tersebut. Atau mengapa kamu tidak menyukai sesuatu.

Itulah sebabnya Krishna berkata lampauilah like dan dislike. Dan apabila kau melampui like dan dislike, Dan kau fokus pada soul enhancement, peningkatan Jiwa. Progres dari pada soul. Meditasi adalah tentang hal tersebut.

Dan progres soul dimulai dari motto one earth sky one human kind. Apakah kamu Barat atau Bali, India, China, Eropa, tidak masalah. Soul tidak terikat dengan geografi tertentu. Soul ingin memperkaya dirinya sendiri.

Jadi jangan mempunyai keinginan untuk lahir dalam negera tertentu. Punyalah keinginan untuk peningkatan Jiwa.” Dikutip dari video youtube Reincarnation: A Secret Revealed by Swami Anand Krishna

 

Agar kita tidak lahir kembali maka:

Tidak mengharapkan imbalan dari dunia

Kita semua “warga surga yang sedang berkunjung ke dunia”. Fitrah kita bukanlah sebagai warga dunia, tetapi sebagai duta Allah yang sedang berkunjung di dunia atas perintah-Nya. Jika kita tidak menyadari hal itu, maka kita menjadi warga dunia. Diingatkan supaya kita meniru para rasul, para nabi, dan tidak mengharapkan “upah” dari manusia. Sesungguhnya inilah yang membedakan kita dari para rasul dan khalifatullah. Kita mengharapkan imbalan dari dunia, dan harapan itu membuat kita menjadi “warga dunia”. Kita menjadi budak dunia. Sementara para rasul dan khalifatullah tetap mempertahankan kewarganegaraan mereka. Mereka tetap menjadi warga surga yang sedang berkunjung ke dunia. Mereka mempertahankan status mereka sebagai “tamu”. Salah satu nasehat Bapak Anand Krishna tentang Tamu Dunia

Berkarya Tanpa Keinginan Duniawi

“Seseorang yang berkarya tanpa keinginan duniawi dan harapan akan imbalan, telah tersucikan seluruh karma, seluruh perbuatannya, oleh api kebijaksanaan sejati. Para pandit, mereka yang berpengetahuan pun menyebutnya seorang bijak.” Bhagavad Gita 4:19

Kuncinya adalah berkarya tanpa pamrih.Ketika seseorang berkarya dengan semangat demikian,maka sesungguhnya ia ‘tidak berkarya’, karena ia tidak tersentuh oleh konsekuensi dari perbuatannya. Itulah Akarma-karma.

Barangkali ada yang bertanya: Sejahat apakah konsekuensi perbuatan manusia? Sehingga seseorang dianggap bijak, jika ia terbebaskan dari konsekuensi perbuatannya.

Bukan soal jahat atau tidak jahat. Persoalannya ialah setiap perbuatan rnembawa hasil, dan hasilnya ada yang baik, ada juga yang kurang baik atau tidak baik. Tidak ada perbuatan yang menghasilkan kebaikan saja. Pun, tidak ada perbuatan yang 100% jelek. Dalam tindakan yang baik pun pasti ada setitik, dua titik ketidakbaikan. Dan, dalam perbuatan jahat pun, pasti ada sedikit kebaikan.

Kita kembali ke medan perang… Kita berada kembali di Kuruksetra. Perang ini adalah antara kekuatan Dharma dan Adharma, Kebajikan dan Kebatilan. Kubu yang disebut bajik, baik — jelas adalah Pandava. Dan, kubu yang disebut batil adalah Kaurava.

Tapi, apakah di antara Pandava, bahkan di dalam diri para saudara berlima itu tidak ada kebatilan sama sekali? Tidak ada kesalahan di dalam diri mereka? Siapa menyuruh Yudhisthira untuk main judi? Siapa menyuruhnya untuk mempertaruhkan kerajaan, bahkan istrinya?

Tindakan macam apakah itu?

Namun, kebaikan para Pandava jauh melebihi kesalahan dan kebatilan mereka. Mereka adalah yang terbaik di antara kubu-kubu yang ada. Maka, Krsna berpihak pada mereka.

Sebaliknya, Kaurava pun tidak 100% jahat. Ada sifat-sifat kesatriaan di dalam diri mereka, namun sifat-sifat itu tenggelam karena sifat-sifat batil, tidak baik yang jauh melebihinya. Sebab itu Kaurava tetaplah dianggap pihak yang batil, tidak baik.

Nah, dalam keadaan seperti ini — di mana tidak ada kebaikan 100% dan tiada pula kejahatan 100%, maka setiap orang yang berbuat baik, sebaik-baiknya, tetap saja memiliki sisi negatif, walau sedikit saja.

Tapi, jangan lupa konsekuensi kejahatan sesedikit apa pun; negativitas sekecil apa pun – ibarat nila. Setetes saja sudah cukup untuk rnerusak secawan susu mumi. Jadi kita mesti selalu waspada.

Bagaimana membebaskan diri dari setetes, dua tetes nila konsekuensi kebatilan itu? Bagaimana menyucikan diri? Bagaimana menetralisir dampak negatif dari karma kita?

Krsna menjawab: DENGAN KESADARAN SEJATI. .. Berkarya dengan penuh kesadaran, bahwa sesungguhnya Jiwa tidak tersentuh oleh akibat atau konsekuensi dari perbuatan apa pun. Ini sisi lain dari filsafat spiritual.

Sisi yang lebih umum adalah berkaryalah dengan penuh kesadaran bahwa sesungguhnya Tuhan Hyang Berkarya, kita hanyalah alat-Nya. Namun, dari sisi lain, Jiwa sesungguhnya tidak berkarya, adalah badan, indra, dan dan mind atau gugusan pikiran serta perasaan yang berkarya. Kembali pada niat di balik pekerjaan — kedua-dua konsep ini mampu membebaskan kita dari dampak negatif perbuatan baik kita. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia via #BhagavadGitaIndonesia

Pelayanan Pasca Kematian bagi Mereka yang Kita Cintai

By Anand Krishna

Raditya 8 Desember 2017 edisi 245

 

Brahma Satyam; Jagad Mithya; Jivo Brahmaiva Naparah;

Brahman saja yang Langgeng Abadi; Ialah Kebenaran Sejati; Alam Semesta dengan segala isinya; adalah untuk sesaat saja; Sesungguhnya Jiva dan Brahman; adalah sama tiada berbeda.

Intisari Vedanta sebagaimana disarikan oleh Adi Shankara.

 

Seorang anak yang merasa menyia-nyiakan orangtuanya, tidak melayani mereka ketika masih hidup, sekarang menyesal. Pada hari kematian sang ayah ia membeli makanan kesukaannya untuk dipersembahkan di atas altar. Demikian seorang pembaca Raditya edisi bulan lalu bercerita dan minta pendapat saya.

Niat yang baik, tapi tidak tepat waktu. Membeli makanan kesukaan ayah, ibu, atau siapa saja, saat mereka masih hidup – adalah tepat waktu. Tapi, sekarang? Jelas sudah tidak tepat waktu. Kendati – dan semoga tidak terjadi demikian – katakan sukshma sharira, soul, atau badan halus sang ayah masih dalam keadaan limbo, gelisah, belum bisa melanjutkan perjalanan – maka apakah menghaturkan makanan seperti itu membantu? Tidak, sebab sukshma sharira, badan halus, atau roh tidak memiliki badan kasar yang butuh makanan. Mereka sudah tidak memiliki sistem yang butuh bahan bakar berupa makanan.

Prana atau Energi Kehidupan yang masih rnelekat sedikit juga tidak membutuhkan oksigen sebagaimana dibutuhkannya saat masih melekat secara sempuma dengan badan kasat atau sthula sharira. Sukshma sharira atau badan halus terdiri dari gugusan pikiran dan perasaan atau mind dengan segala isinya. Adapun isi utama berupa vasana atau obsesi-obsesi, keinginan-keinginan yang belum terpenuhi selama hidupnya; dan samskar, segala macam impresi, pengalaman, atau informasi atau catatan ibarat pasangan yang tak terpisahkan dengan kemungkinan masih banyak lagi anak-pinaknya. Misal, khayalan, harapan, halusinasi, imaginasi, impian, dan sebagainya, dan seterusnya.

Untuk membantu dan menenangkan sukshma sharira yang masih dalam keadaan limbo, gelisah belum dapat meneruskan perjalanannya, adalah makanan bagi gugusan pikiran dan perasaan, atau mind yang dibutuhkan. Dan bukan pula sembarang makanan yang dibutuhkan. Bukan sembarang pikiran dan perasan yang dapat dihaturkan untuk membantunya. Badan halus atau sukshma sharira yang telah terbebani oleh berbagai pikiran dan peraaan yang tak berguna, sehingga perjalanannya terganggu, mesti diberi makanan berupa pikiran dan perasaan yang berguna.

Semestinya pemberian makanan seperti itu, sudah dilakukan sejak diketahui bahwa badan halus, atau sukshma sharira mulai meninggalkan badan kasar atau sthula sharira. Kita memiliki tradisi membacakan percakapan kedelapan belas dari Bhagavad Gita saat seorang sudah diketahui akan meninggalkan badan kasarnya.

Dalam tradisi Tibet juga ada yang disebut Buku Kematian yang pernah saya ulas dan diterbitkan oleh  Gramedia Pustaka Utama), yang mulai dibacakan saat itu hingga beberapa hari setelah kematian.

Tradisi yang berasal dari budaya dan peradaban Sindhu – Shintuh, Hindu, Indus, lndo, Hindia, atau apa pun sebutannya – juga ditemukan dalam peradaban Mesir kuno dan tradisi-tradisi Iain di kemudian hari yang terpengaruh oieh budaya Mesir. Shrimad Bhagavatam bercerita tentang Raja Parikshit atau Parikesit Sebagaimana dikenalnya dalam dunia pewayangan di Nusantara.

Cucu Arjuna, ia adalah seorang raja yang bijak, tetapi tetap saja terjadi kesalahan olehnya. Dalam keadaan tak sadar diri ia menghina seorang resi yang sedang bermeditasi. Lalu kemudian putra sang resi yang mengetahui hal itu mengingatkannya, “Wahai Raja, sadarkah kau bahwa dalam tujuh hari mendatang kau akan meninggalkan dunia fana ini. Segala apa yang kau miliki, kerajaanmu, harta kekayaanmu – semuanya akan kau tinggalkan disini. Sadarkah kau akan kesia-siaanmu?”

Konon, saat terjadi perang Bharatayudha di medan perang Kurukshetra, Parikshit masih belum lahir. Masihdalam kandungan ibunya, dan terkena dampak radiasi dari perang nuklir tunggal yang pemah terjadi dalam sejarah umat manusia setama 5.000-an tahun terakhir.

Saat itu ia terselamatkan oleh intervensi Krishna yang melakukan rekayasa genetika padanya dalam kandungan. Namun, rekayasa tersebut tidak bisa menegasikan dampak radiasi yang terjadi secara kolektif pada setiap warga bumi, setiap orang yang berada di planet bumi. Secara kolektif usia menurun dari 125 tahun menjadi 60 tahun. Demikian dahsyatnya dampak perang nuklir satu-satunya yang tercatat dalam sejarah manusia.

Perang nuklir tunggal, sebab apa yang terjadi pada tahun 1945 adalah pemboman sepihak oleh tentara sekutu.

Ada sebuah catatan sejarah dari kehidupan dan karya JR Oppenheimer (1904-1967) Bapak Bom Atom di masa modern. Saat memberi ceramah di Rochester University, seorang mahasiswa pernah bertanya padanya: “was the bomb exploded at Alamogardo durung Manhattan Project the first one to be detonated?” – apakah bom yang meledak di Alomogardo, dalam Proyek Manhattan (yang dipimpin oleh Oppenheimer) merupakan yang untuk pertama kalinya? Oppenheimer menjawab: “Well – yes. In modern time of course – Ya di masa modern ini tentunya. (Sumber Doomsday 1999 A.D. (1982) oleh Charles Berlitz hal 129).

Oppenheimer diketahui sebagai pengagum ajaran Krishna dalam Bhagavad Gita. Tidak hanya saat ledakan bom yang dimaksud, ia juga mengutip Gita dalam obituarinya untuk Presiden Rosevelt. Tercatat bahwa ia pun sering menghadiahi teman-temannya dengan Bhagavad Gita, pun ia sendiri mendalami bahasa Sanskrit sejak belasan tahun sebelum kutipan-kutipannya dari Gita. Ia menyebut Gita sebagai salah satu di antara beberapa buku penting yang memengaruhi hidupnya.

Dari seluruh, catatan-catatan itu, tidaklah mengherankan bila ia mengetahui sejarah dan latar belakang Gita, ia tahu tentang Brahmastra, sebagaimana bom atom disebut dalam mahabharata, epos yang merupakan induk dari Bhagavad Gita. Maka jawaban yang diprakarsainya merupakan yang pertama di masa modern – bukan yang pertama dalam sejarah umat manusia.

Saatnya kita mesti kembali pada Parikshit yang sedang menghadapi suatu keniscayaan hidup, yakni kematian. Jika kita berada dalam posisi yang sama dengan Parikshit, apa yang akan kita lakukan? Mengurung diri dalam kamar, menangisi nasib, dan menghabiskan sisa hidup dengan  beraduh-aduh? Mencari dokter, tabib. sinshe – mereka yang mengangap dirinya scebagai penyembuh, tak peduli dari aliran manapun dia? Mencari notaris untuk membuat surat warisan? Apa yang akan kita lakukan?

Ketika saya bertanya demikian dalam suatu pertemuan, seorang peserta menjawab, “Saya akan menghabiskan seluruh uang saya untuk keliling dunia?” Seberapa dunia yang dapat dikelilinginya dalam waktu seminggu, ya satu minggu saja?

Ada yang Mengaku, “Selama ini saya menahan-nahan diri untuk tidak mengonsumsi alkohol,  pergi ke tempat-tempat gituan…… “ Dia beretorika bahwa sisa hidupnya akan dihabiskan berdugem ria di tempat-tempat gituan.

Boleh saja berwacana seperti itu. Pertanyaannya apa bisa? Dalam keadaan sakit sedikit saja, kadang kita tidak memiliki selera makan dan minum. Disuguhi apa saja kita menolak. Apalagi kalau sudah tahu akan mati dalam waktu tujuh hari.

Tidak demikian Parikshit, ia tidak menutup diri. Ia tidak beraduh-aduh. Ia tidak menghibur diri, pun tidak tenggelam dalam duka. Ia melakukan introspeksi diri, “Apa yang menyebabkan keangkuhan?mana kesia-siaan diri dapat menyelimuti dan menutupi kesadaran diri. Bagaimana jalan keluarnya? Bagaimana memastikan supaya orang tidak terbawa oleh kesia-siaan diri dan senantiasa hidup dalam kesadaran diri.

Banyak pertanyaan yang muncul, dan ia sangat beruntung. Datanglah Resi Shuka putra Begavan Vyasa, penulis mahabharata, Srimad Bhagavatam sekaligus yang mengumpulkan Veda, untuk menjawab pertanyaan-pertanyaannya.

Ia Tersadarkan, Ia Tercerahkan! Satu-satunya cara untuk mengatasi keangkuhan, keserakahan, amarah, iri dan sebagainya – adalah dengan senantiasa mengenang Nama-Nya – dalam pengertian, senantiasa  mengingat bila segala sesuatudalam alam ini hanyalah semar-semar, bayang-bayang, mithya.

Hanyalah Dia, Sang Brahman yang merupakan kebenaran sejati. Satyam. Dua kesimpulan awal ini – Brahma Satyam, Jagat Mithya – umumnya dapat diterima oleh siapa saja.

Adapun kesimpulan ketiga dari Shankara: Jioa Brahmaiva Naparah – Sesungguhnya Jivatma, sejatinya diri kita. tiadalah beda dari Sang Brahman, Kebenaran Sejati itu – yang tidak bisa diterima oleh semua tradisi. Bahkan oleh mereka yang sama-sama merasa bersumber dari Vedanta – intisari ajaran Veda – pun kesimpulan ini kadang tidak bisa diterima. Dalam sekian banyak tradisi Brahman adalah Brahman dan Jivatma adalah Jivatma – gelombang adalah gelombang, laut adalah laut. Bulan adalah bulan, rembulan adalah rembulan. Baik, kjta tidak akan membahas hal itu.

Kembali pada apa yang dilakukkan oleh Parikshit….. menjelang kematiannya yang merupakan suatu keniscayaan, ia menggunakan seluruh waktu umuk mengembangkan bhakti dalam diri. Untuk berbakti pada ishta-nya, pada pujaan hatinya. pada la yang pernah menyelamatkan dirinya dari radiasi. ketika ia masih dalam kandungan, dalam keadaan tidak berdaya. Dia tidak ber-bhakri untuk mendapatkan perpanjangan hidup. Dia ber-bhakti untuk mangatasi kelahiran dan kematian yang tidak berkesudahan. Bahkan, barangkali itu pun tak terpikirkan olehnya. Tiada permohonan untuk moksha alau nirvana. Ia ber-bhakti karena bhakti itu sendiri, karena cinta. Demikian, ia terbebaskan dari segala duka-derita. Ia mencapai kelanggengan abadi yangsemestinyamenjadi akhir dari setiap kehidupan dari setiap makhluk.

Kembali pada bagian awal tulisan ini: Seorang anak yang merasa menyia-nyiakan orangtuanya, tidak melayani mereka ketika masih hidup, sekarang menyesal. Pada hari kematian sang ayah ia memberi makanan kesukaannya untuk dipersembahkan di atas altar…….

Boleh saja, tetapi tidak membantu. Lebih baik bagikan makanan kepada mereka yang tidak mampu, melakukan seva, mengayah. Dan, yang tidak kalah penting adalah membacakan Bhagavad Gita, Shrimad Bhagavatam atau kitab suci lainnya dengan niat untuk membantu sang ayah dalam perjalanannya. Path, atau membaca secara berulang-ulang – jadikan hal ini sebagai suatu kebiasaan – sesuatu yang dilakukan setiap hari. Lakukan bagi mereka yang sudah berpulang, lakukan bagi mereka yang sedang gelisah dan belum bisa melanjutkan perjalanannya, dan di atas segalanya, lakukan bagi diri sendiri, bagi diri kita sendiri – sebab barangkali hari ini, atau hari esok, hari lusa adalah hari nketujuh Parikshit.

Hari Bol! *Humanis/Spiritual, Penulis lebih dari 170 buku, Pendiri Anand Ashram (www.anandkrishna.org)

Memilih yang Pahit demi Kemuliaan Diri #BhagavadGitaIndonesia

Preya, menyenangkan dan Shreya, mulia

Bhagavad Gita memberitahu kita, dalam setiap pekerjaan pilihannya dua: preya, menyenangkan, awalnya manis tapi akhirnya pahit karena memang racun; atau shreya yang mulia, awalnya pahit seperti obat, tapi akhirnya manis seperti nectar, amrita. Preya mengikat kita dengan dunia tapi memberi kesan palsu seolah puas. Shreya memberi kesan “tidak enak” padahal mulia dan bebas dari keterikatan. Pilihan ditangan kita.

 

Krsna menggunakan istilah Shreya, yang berarti “Lebih Mulia” – bukan lebih baik, atau di atas yang lain. Dengan menggunakan istilah shreya, Krsna sedang membandingkan satu kegiatan dengan kegiatan lain dengan menggunakan tolok ukur atau timbangan shreya dan preya – yang memuliakan dan yang sekadar menyenangkan.

Jadi, batu timbangannya bukanlah berat-ringan, dalam konteks lebih baik dan kurang baik, atas dan bawah, tetapi dalam konteks, mana yang mulia dan mana yang tidak.

Laku yang hanya menyenangkan, perbuatan yang hanya memuaskan indra jelas tidak memuliakan. Sebab itu, terlebih dahulu raihlah pengetahuan sejati tentang mana yang memuliakan dan mana yang tidak. Penjelasan Bhagavad Gita 12:12 dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia via #BhagavadGitaIndonesia

 

Membedakan apa yang tepat dan apa yang tidak tepat

Tujuan Bhagavad Gita adalah meningkatkan kesadaran kita sehingga kita dapat membedakan antara apa yang tepat bagi kita dan apa yang tidak tepat. Bhagavad Gita sedang berbicara dengan kita dalam “keadaan jaga”, dan memberi kita kesempatan seluas-luasnya untuk menganalisa, menimbang, dan memahami dengan betul sebelum menerima. Bhagavad Gita merubah sifat mind yang terkondisi dan bekerja secara mekanis tanpa pilihan,  menjadi buddhi yang bebas dari conditioning dan bisa memilih, dan memilah.

 

Kembali pada contoh tentang makanan, ketika melihat makanan yang kita sukai, renungkan adakah makanan itu bermanfaat bagi kesehatan badan atau hanya nikmat dan lezat di lidah, tapi berbahaya bagi kesehatan.

Pun demikian ketika mendengar musik dengan menggunakan earphone jenis super. Demi kenikmatan sesaat, kita sedang merusak jaringan syaraf kita sendiri, yang dapat membahayakan otak. Sekaligus, kita tidak mampu lagi untuk menikmati suara-suara alam yang halus, suara air, dan suara angin. Telinga kita sudah terbiasa dengan suara keras, ia sudah tidak peka terhadap suara-suara lembut. Tidak ada lagi kenikmatan alami baginya. Siapkah kita untuk menghadapi konsekuensi itu? Penjelasan Bhagavad Gita 15:10 dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia via #BhagavadGitaIndonesia

Pengendalian Diri

“Tiada buddhi, tiada inteligensia dalam diri yang tak terkendali, tiada pula keseimbangan diri serta kesadaran; dan tanpa keseimbangan, tanpa kesadaran, tiada kedamaian, ketenangan, ketenteraman. Lalu, bagaimana pula meraih kebahagiaan  sejati tanpa kedamaian?” Bhagavad Gita 2:66

Berkembangnya buddhi, kesadaran untuk memilah antara yang tepat bagi kita dan tidak tepat, adalah mengikuti pengendalian diri secara proporsional. Makin Mampu Mengendalikan Diri makin berkembangnya buddhi, kesadaran diri – makin meditatifnya seseorang. Makin seimbangnya dia dalam keadaan suka maupun duka. Kemudian, dalam keadaan meditatif itulah muncul kedamaian, kebahagiaan sejati. Perhatikan, betapa pentingnya pengendalian diri.

Pengendalian Diri, Berarti Bebas dari Perbudakan – Selama ini kita diperbudak oleh badan, indra, hawa-nafsu, keinginan-keinginan, pikiran yang liar, perasaan yang bergejolak, dan sebagainya. Sebab itu, jelaslah hidup kita tidak tenang. Batin kita tidak tenteram. Tidak ada pula kedamaian dan kebahagiaan. Jadi, kuncinya adalah Pengendalian Diri. Dengan mengendalikan diri, kita sesungguhnya mengambil alih kekuasaan atas diri sendiri. Pengendalian Diri adalah semacam Proklamasi Kemerdekaan, sekaligus Pengukuhan Kesadaran-Diri; Penemuan Jati-Diri; Mengenal Diri sebagai Jiwa, percikan Jiwa Agung, Gusti Pangeran, Tuhan.

“Ketika gugusan pikiran serta perasaan terbawa oleh indra, dan berada di bawah kendalinya; maka sirnalah akal-sehat dan segala kebijaksanaan serta kesadaran. Persis seperti perahu yang hanyut terbawa oleh angin kencang.” Bhagavad Gita 2:67 dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia via #BhagavadGitaIndonesia

 

Satisfaction and General Wellbeing Part 1 Diabetes and Karela

Apa yang dimaksud dengan yang memuaskan? Memuaskan terhadap apa? Terhadap tubuh, fisik kita? Terhadap pikiran kita? Apa yang memuaskan tubuh kita belum tentu memuaskan pikiran kita. Bahkan dalam tubuh yang sama, apa yang memuaskan lidah kita, kita ingin makan sesuatu yang kita anggap lezat, tapi tidak baik bagi kolesterol, tidak baik untuk sistem kita. Lidah adalah bagian dari tubuh. Lidah ingin mengecap sesuatu yang dirasa lezat. Tapi tidak memuaskan terhadap tubuh kita. Sehingga kita harus paham memuaskan dalam tingkat apa?

Dan konflik ini selalu berjalan. Dalam diri kita apa yang dianggap memuaskan bagi kita mungkin tidak memuaskan pada tingkat yang lain. Sehingga kita harus mencari keseimbangan, apa yang bagus bagi general well being, diri kita. Ini yang penting. Tidak begitu memuaskan, tapi bagus bagi diri kita? Dan itu mungkin tidak memuaskan di awalnya.

Bapak Anand Krishna bercerita saat dia berusia sekitar duapuluhan dan bekerja di Jepang. Beliau bersama bossnya diundang seorang Jepang yang menghidangkan masakan mie Jepang. Mie Jepang di Jepang rasanya berbeda tidak seperti di Bali atau di Barat. Beliau biasa makan mie China versi Indonesia, yang kalau di China juga rasanya berbeda. Beliau tidak bisa makan mie Jepang tersebut, bahkan baunya saja tidak kuat. Boss beliau melihat ke arahnya, dan berbisik dalam bahasa daerah beliau, bahwa tahu beliau tidak dapat makan makanan tersebut, tapi kalau tidak makan tuan rumah akan kecewa. Beliau langsung makan tanpa merasakan apa pun dan satu mangkuk habis.

Hal yang baik mungkin tidak memuaskan di awalnya

Beliau sekarang setiap pagi minum jus pare (bitter gourd, karela). Sangat pahit, tapi beliau tahu bagus untuk diabetes beliau tanpa pengobatan medis. Tidak memuaskan memang, beliau harus menutup hidung saat menuangnya. Beliau diajari Ma Upasana. Pertama kali Ma Upasana memberikan sepererempat gelas. Oke, hari berikutnya tambah sedikit. Sekarang sudah mencapai tiga perempat gelas. Beliau tidak punya pilihan, atau balik ke obat medis, yang beliau tidak suka. Dalam usia beliau adalah hal bagus diabetes beliau dapat dikontrol dengan jus pare. Memang tidak memuaskan tapi bagus terhadap kesehatan tubuh beliau.

Dalam satu titik kehidupan kita, kita harus betul-betul memilih, manakah bagus bagi diri kita. Dan apa yang baik bagi diri kita bukan peristiwa satu hari. Mungkin tidak memuaskan pada hari ini, tapi dalam perjalanan selanjutnya baik bagi kesehatan kita. Kita dapat mempraktekkan aturan ini dalam setiap aspek kehidupan kita. Bukan hanya tentang kesehatan tapi dalam hubungan manusia, dalam banyak hal lain.

Beliau memberi contoh seorang Barat yang jatuh cinta dengan seorang dari Timur. Mereka betul-betul sama-sama manusia, tapi dalam tingkat apa? Dalam tingkat Jiwa kita semua satu. Darah kita juga tidak banyak tipenya. Makan Timur dapat dimakan orang Barat dan sebaliknya. Tempat tinggal Barat juga bisa menjadi tempat tinggal orang Timur dan sebaliknya. Tapi bagaimana tentang cultural shock? Bagaimana menanganinya? Akan makan waktu lama. Ini adalah masalah satu kehidupan.

Silakan simak video youtube lengkap: Satisfaction and General Wellbeing Part 1 Diabetes and Karela by Swami Anand Krishna.