Menghadapi Pasang Surut Kehidupan dengan BerKarakter

Pandangan Swami Vivekananda tentang Kekuatan Karakter

Pada saat kita berdiri di tepi pantai kita mendengar suara gelombang laut yang besar memecah pantai. Kita tahu bahwa gelombang besar itu terdiri dari jutaan gelombang kecil yang tidak dapat kita dengar suaranya. Demikian pula denyut jantung yang kita rasakan adalah suara dari banyak sekali pekerjaan organ. Karya-karya besar merupakan total dari sejumlah pekerjaan kecil-kecil. Jika kita ingin melihat karakter seorang seseorang jangan melihat penampilannya yang luar biasa. (Orang yang bodoh  bisa menjadi pahlawan pada saat dan kondisi tertentu). Perhatikan seseorang dalam tindakannya sehari-hari, orang yang hebat karakternya selalu baik di mana pun dia berada.

Karma, tindakan berpengaruh pada manusia. Manusia menarik semua kekuatan alam semesta yang datang dalam gelombang yang besar. Baik dan buruk, sengsara dan bahagia semua berlari ke arahnya. Dia memiliki kekuatan untuk menarik dan membuang apa saja yang datang kepadanya. Kecenderungan-kecenderungan tindakan dia dalam menghadapi semua masalah itulah karakter dia.

Semua tindakan yang kita lihat di dunia, hanyalah wujud dari pemikiran, manifestasi dari kehendak manusia. Mesin, alat, kota, kapal atau perang, hanyalah manifestasi dari kehendak manusia. Dan itu dicirikan oleh Karma. Seperti halnya Karma, begitu juga manifestasi kehendak. Orang-orang yang luar biasa hebat, yang dihasilkan oleh dunia adalah para pekerja yang luar biasa, berjiwa besar yang cukup kuat untuk menjungkir-balikkan dunia. Mereka memperolehnya dengan kerja keras abad demi abad. Orang-orang yang luar biasa itu akan menjadi Buddha atau Yesus. Jutaan tukang kayu seperti Joseph, jutaan raja kecil seperti ayah Siddharta telah ada di dunia. Jika hanya karena warisan genetika bagaimana menjelaskan jurang yang lebar antara tukang kayu dan putranya yang bernama Yesus , antara raja dan putranya yang bernama Buddha. Darimana datangnya akumulasi kekuatan mereka? Pikiran mereka telah eksis selama berabad-abad dan selalu berkembang bahkan sampai hari ini.

Semua ini ditentukan oleh Karma, Tindakan. Tidak ada yang bisa memperoleh apa-apa kecuali dia menghasilkannya. Seorang manusia berjuang seumur hidupnya demi kekayaan, mungkin dengan menipu ribuan orang. Tapi akhirnya dia menemukan bahwa dia tidak pantas menjadi kaya. Hidupnya terganggu dan bermasalah. Orang bodoh dapat membeli semua buku di dunia, dan mereka akan ada di perpustakaannya, tapi ia hanya bisa membaca apa yang layak untuknya. Karma kita menentukan apa yang layak kita dapatkan.

Sumber: Complete Works of Swami Vivekananda Volume 1 karma yoga effect on character

Orang yang hebat seperti Yesus dan Budddha telah melampaui mind.  Mind mempunyai sifat tidak pernah tenang, selalu bergejolak. Pada orang yang hebat mind sudah tidak eksis lagi. Dia seakan-akan telah lahir kembali sebagai Buddha, Yang Terjaga. Setiap tindakannya selalu tepat, demikianlah Karakter mereka.

Mind yang Selalu Bergejolak Membuat Karakter Tidak Mantap

Orang Yang Telah Bisa Melampaui Mind Mempunyai Karakter yang Mantap dan Pantas Diteladani.

…………………

Keberadaan mind tergantung pada paham dualisme. Dualitas adalah Iandasan mind. Tidak ada mind tanpa dualitas. Mind selalu membedakan antara kepentingan diri dan kepentingan orang lain. Ia akan menugaskan pancaindera dan badan untuk berbuat apa saja yang menguntungkan bagi dirinya.

Mind menciptakan konlik. Mind tidak pernah tenang, tidak bisa tenang. Ia selalu bergejolak. Gejolak mind berkurang ketika ia mulai terserap oleh inteligen. Demikian, secara pelahan tetapi pasti mind seolah mengalami kematian dan inteligen makin berkembang.

Ketika mind mengalami kematian sempurna, maka terjadilah keadaan yang disebut the state of no-mind – keadaan di mana mind sudah tidak eksis lagi. Saat itu, manusia seolah lahir kembali sebagai Buddha atau The Awakened One!

Inilah keadaan yang secara metaforis disebut Kerajaan Allah oleh Yesus: “… jika seorang tidak dilahirkan kembali, ia tidak dapat  melihat Kerajaan Allah.” Perjanjian Baru, Yohanes 3:3

Buddha bukanlah nama orang, tetapi nama keadaan. Buddha adalah pencapaian jiwa tertinggi, yang dapat dicapai ketika ia masih berbadan. Hendaknya istilah “Buddha” tidak selalu dikaitkan dengan agama tertentu. Istilah ini bersifat sangat generik, segenerik istilah “manusia”, “air”, atau “dunia”.

Seorang disebut Buddha karena ia telah terjaga dari tidur panjang yang disebabkan oleh hypnosis massal. Ia sudah tidak lagi terpengaruh oleh pendapat-pendapat orang tentang dirinya, karena ia telah mengenal dirinya. Ia telah menemukan potensi dirinya, jadi ia tidak bingung. Ia tidak ragu. Ia menjalani hidupnya tanpa kebimbangan.

Ketika mind mengalami kematian sempurna, maka terjadilah keadaan yang disebut the state of no-mind – keadaan di mana mind sudah tidak eksis lagi. Saat itu, manusia seolah lahir kembali sebagai Buddha atau The Awakened One! Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2012). Neo Spiritual HYPNOTHERAPY, Seni Pemusatan Diri Untuk Bebas Dari Pengaruh Hipnosis Massal. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Menghadapi Pasang-Surut Kehidupan dengan BerKarakter

Intinya adalah apa yang kita alami tidak sesuai dengan keinginan kita, sehingga muncul rasa kecewa. Seringnya kita kecewa membuat karakter kita tidak mantap.

Kita dapat mengharapkan sesuatu pada anak kita, pasangan kita tapi mereka mungkin mempunyai harapan yang berbeda dengan kita. Saya ingin dia memperhatikan saya, itu keinginan saya. Bagaimana dengan keinginan dia? Akan selalu ada konflik, tak ada dua mind, pikiran yang sama. Bisa kecewa pada pekerjaan, pada pasangan, pada anak. Sekalipun dalam satu pikiran kita saja, banyak konflik yang terjadi.

Walaupun orang yang satu ranjang dengan kita, selalu saja berbeda sehingga timbullah kekecewaan. Walaupun pasangan yang terbaik selalu ada kekecewaan dan tidak ada akhirnya.

Konsekuensi hidup kita memang demikian. Semua terjadi bila kita fokus pada aku dan pikiranku. Selalu ada stress, ketegangan.

Cara mengatasinya bisa  satu per satu selesaikan setiap hari. Percayalah banyak orang melakukan hal demikian. Selesaikan stress satu hari dengan minum, nonton film atau lari dari masalah atau kadang menghadapi masalah.

 

Ada cara Kedua adalah hidup secara spiritual. Semua masalah tetap ada tidak perlu menjadi pengembara. Kita bisa hidup spiritual di rumah dengan memperluas visi kita. Memperluas visi kita bahwa kita adalah human being, kita adalah manusia. Planet ini lebih dari 6 milyar mendekati 7 milyar manusia. Kita tidaklah unik.

Tubuh kita tidak unik. Masalah kita tidak unik,itulah cara hidup. Cara melihat hidup secara spiritual.

Saya gundah tidak dapat memakai sepatu sampai saya melihat orang tanpa kaki.”

Kita melihat sesuatu dengan lebih jernih. Kita naik melampaui masalah kita. Masalah tetap ada. Tapi saya bukan satu-satunya orang yang menghadapi masalah ini.

Kemudian, pada waktu kita melihat masalah kita kita bisa membantu masalah orang yang mengalami hal sama. Kita melihat orang lain lebih susah, dan kita berubah. Sangat damai, very peaceful.

Kita menghadapi masalah dan kita melihat dengan pandangan lebih baik. Tidak pergi ke hutan. Tidak duduk 4 jam. Spiritual tidak berarti melakukan yoga 18 jam sehari atau jadi pengembara. Tapi mempunyai perspektif spiritual. Ini merupakan usaha yang panjang. Saya harus melihat dengan pandangan yang lebuh besar. Perspektif yang lebih luas.

Silakan simak video youtube: How to Deal with Life Disappointments (by Anand Krishna)

Advertisements

Sabda Sang Guru 7 Pancha Yajna Kewajiban Untuk Berbagi Bagian ke 5

oleh Bapak Anand Krishna

Sumber Media Hindu Edisi 174 Agustus 2018

Ringkasan Tri Hita Karana dan Pancha Yajna

Faktor pertama dari Tri Hita Karana, Parahyangan mencakup dua yajna yakni Brahma atau Rishi Yajna dan Dewa Yajna. Hubungan kita dengan wujud-wujud kehidupan yang lebih tinggi, bahkan Yang Tertinggi.

Brahma Yajna: Menjunjung tinggi nilai-nilai luhur nan mulia, nilai-nilai yang mengukuhkan, mempersatukan tidak memecah belah.

Dewa Yajna: menyadari adanya kemuliaan dalam segala wujud kehidupantermasuk binatang, serangga, burung, ikan, bebatuan, gunung, pohon, tumbuh-tumbuhan, laut dan ebagainya. Kita melakoninya dengan merubah cara pandang kita terhadap alam semesta, yang adalah Vishvarupa, Wujud Cosmis Sang Paramatma, Sang Kesadaran Agung, Hyang Maha Sadar, Hyang Sejati, Hyang Widhi.

…………………

Faktor kedua dari Tri Hita Karana, Pawongan terkait hubungan kita dengan sesama manusia, termasuk leluhur, Yajna ke 3 Pitru Yajna dan Yajna ke 4 Manushya Yajna

Pitru Yajna: Belajar dari pengalaman leluhur. Apa yang menjadi kekuatan mereka, apa yang mesti ditiru dilestarikan. Dan, apa yang menjadi kelemahan mereka, apa yang mesti ditinggalkan, tidak diteruskan.

Matru Devo Bhava, Pitru Devo Bhava: Jika kita tidak menghormati melayani kedua orang tua kita, kelak janganlah mengharapkan anak-anak kita akan mengurusi kita. Ingat Hukum Karma. Kita menuai hasil dari apa yang kita tanam.

Manushya Jayna: Manasa Seva adalah Madhava Seva. Melayani Sesama sama dengan Melayani Tuhan.

…………………..

Faktor ketiga dari Tri Hita Karana, Palemahan. Yajna ke 5. Hubungan kita dengan wujud-wujud kehidupan yang lebih lemah dari kita. Sehingga kita perlu melindungi mereka demi kelestarian alam supaya tidak ada mata rantai yang terputus. Untuk menghindari dampak negatif terhadap kehidupan.

 

Dari Nafsu Birahi Menuju Kasih

Tiga Hal Utama tentang Cinta Kasih oleh Swami Vivekananda

Seorang maharaja tua bertemu dengan seorang rishi di hutan. Sang maharaja sangat senang dan memohon sang rishi datang ke istana untuk menerima beberapa hadiah. Pada awalnya sang rishi menolak tetapi karena maharaja bersikeras akhirnya sang rishi menyetujuinya. Ketika sang rishi tiba di istana, dia melihat dan mendengar sang maharaja sedang berdoa, “Tuhan, beri saya lebih banyak ‘kekayaan, wilayah kekuasaan, kesehatan dan anak keturunan’.” Sang rishi kemudian bergegas ke luar meninggalkan istana. Sang maharaja berkata, “Rishi belum menerima hadiah dari saya, mengapa pergi?” sang rishi menjawab, “Saya tidak memohon kepada para pengemis. Ternyata Paduka berdoa mengemis pada Tuhan.” Cinta Kasih selalu memberi.

Bagi sang maharaja kekayaan, wilayah kekuasaan dan sebagainya lebih penting daripada Tuhan. Tuhan hanya sebagai alat, sarana pemberi kepuasan terhadap keinginannya. Seharusnya bukan demikian, Cinta Kasih adalah tujuan bukan sarana.

Seorang perempuan lemah melihat seekor harimau mendekati anaknya. Perempuan itu segera mengambil putranya dan menyelamatkannya. Padahal di lain waktu, saat melihat anjing menggonggong di jalan dia takut dan menghindarinya. Cinta Kasih tidak mengenal rasa takut.

Seseorang jatuh cinta pada seorang wanita. Akan tetapi wanita itu meninggal dan dia mencari penggantinya. Itu bukan Cinta Kasih tapi materialisme. Jika seorang pria dan wanita benar-benar saling mengasihi mereka akan memperoleh semua kekuatan yang diperoleh oleh para yogi. Karena cinta kasih itu sendiri adalah Tuhan, dan Tuhan ada di mana-mana.

Anda paham bahwa istri Anda (percikan) Tuhan, anak Anda (percikan) Tuhan. Tapi bisakah Anda mengasihi? Mungkin seseorang mempunyai cinta kasih sampai mati terhadap pasangannya, tapi melihat orang yang dicintainya mencium orang lain dia ingin membunuhnya. Ketika kita mencintai seseorang, apakah demi dia atau demi ego Anda?

Sumber: Complete Works of Swami Vivekananda Volume 6 Lectures and Discources Divine Love

Dari Nafsu Menuju Kasih oleh Bapak Anand Krishna

Kamasutra mengimplikasikan bahwa hawa nafsu atau hasrat harus dikendalikan, ditata dan diatur secara memadai. Karena nafsu adalah energi, dan hasrat ialah energi.

Ada pepatah lama dalam bahasa Sansekerta, “Pemborosan Energi ialah Pemborosan Hidup.” Dikatakan juga bahwa, ” Energi ialah Kehidupan, dan Kehidupan ialah Energi.” Kita semua memiliki sekecil-kecilnya energi itu di dalam diri kita, dengannya kita hidup dan membuat anak. Energi seksual inilah yang memastikan kelanjutan kehidupan.

Jadi hawa nafsu, hasrat dan seks semuanya saling terkait. Mereka semua ialah manifestasi energi. Inilah energi yang menciptakan. Energi yang sama berada di balik kreatifitas kita di bidang lainnya, dan kemampuan untuk menganalisis.

Apa yang terjadi jika energi ini hanya digunakan untuk aktivitas seksual, misalnya bercinta, masturbasi, dll? Kita tak tersisa lagi energi untuk mengekspresikan kreatifitas kita pada bidang lainnya. Kita bisa jadi tetap produktif, tapi tak lagi kreatif. Sama halnya, kita dapat tetap berpikir, tapi tak dapat berpikir mendalam, menganalisis dan memilah-milah.

Di sisi lain, filsuf sibuk berfilosofi tentang hidup, sehingga tak tersisa lagi energi untuk sungguh-sungguh hidup, menikmati dan merayakan hidup.

Saya pernah bertemu dengan beberapa politisi yang begitu larut dalam politik sehingga tak tersisa energi untuk hal lainnya. Kasus ini terjadi juga dengan para profesional di bidang lainnya.

Inilah sebabnya kenapa para leluhur menasehati kita untuk mengatur kama secara efektif dan efisien. Tak ada larangan untuk memakai kama untuk aktivitas seksual. Kalau kamu mau menjadi Caligula, maka gunakan seluruh energimu untuk itu. Tak masalah. Kendati demikian, kalau kamu ingin menjadi kreatif di bidang lainnya, maka moderasi dalam aktivitas seksual akan bermanfaat.

Sama halnya, kalau kamu ingin menjadi kaya raya, maka kamu bisa mengarahkan seluruh energimu untuk mencari uang. Jangan pikirkan hal lainnya.

Hidup menawarkan pilihan yang tak berbatas. Hidup semuanya tentang pilihan-pilihan. Seorang filsuf bisa berfilosofi tentang tak memilih. Tapi itupun sebuah pilihan. Tak memilih sama juga dengan lebih memilih satu hal ketimbang yang lainnya.

Kita harus, oleh sebab itu, berpikir mendalam sebelum membuat pilihan. Kita harus menganalisis semua pilihan yang kita miliki, sebelum menetapkan satu pilihan di antara mereka. Ini juga alasan kenapa para murid dinasehati untuk menarik diri dari kegiatan seksual. Sepanjang tahun-tahun di sekolahan, mereka perlu memfokuskan energi mereka pada begitu banyak aktivitas lainnya sehingga konsentrasi atas seks tak ada gunanya.

Itu semua, kendati demikian, ialah sekedar pedoman perilaku. Bagaimana kita menggunakan energi kita – bagaimana kita memakai kama – sepenuhnya menjadi keputusan kita. Kita ialah tuan atas diri kita sendiri.

Ada sebuah fenomena berbunganya kama, ketika nafsu berubah menjadi kasih. Ini ialah sebuah fenomena universal. Kita semua dapat mengalaminya. Kita semua memiliki potensi untuk mendaki tingkatan yang lebih tinggi dari nafsu dan menggapai kasih.

Nafsu dan kasih, keduanya ialah manifestasi kama. Ketika kamu terobsesi dengan kemakmuran personal, kemakmuran keluarga, komunitasmu, lembagamu, ini mu dan itu mu – maka kamu menjadi penuh nafsu. Nafsu selalu egois dan mementingkan diri sendiri. Ia tak tahu bahasa tanpa pamrih.

Kasih, di sisi lain, tahu bahasa tanpa pamrih. Ia dapat berkarya untuk keuntungan semua, untuk kemakmuran semua, untuk kebaikan semua, untuk kemajuan dan pertumbuhan semua. Kasih ialah ketika kita sungguh memahami semangat di balik kata-kata, “Satu untuk Semua, Semua untuk Satu.”

Di antara nafsu dan kasih ialah tangga cinta. Dalam nafsu, kamu ialah kamu, dan aku ialah aku. Nafsu itu individualistik. Cinta ialah persaudaraan, persahabatan dan kebersamaan. Cinta ialah persatuan kamu dan aku. Cinta ialah perjumpaan individualitas kita yang tadinya berjarak. Cinta ialah di mana kita bertemu. Cinta ialah di mana aku untuk kamu, dan kamu untuk aku.

Mari kita ringkas:

  • Nafsu ialah Kamu ialah Kamu, dan Aku adalah Aku, Nafsu ialah mengambil, mengambil, dan mengambil.
  • Cinta (Barter) ialah Kamu dan Aku. Ini saling memberi dan menerima.
  • Kasih ialah Semua, Semua, Semua. Ini adalah memberi, memberi, memberi.

Pada tingkatan nafsu, kama telah memproduksi para Alexander yang haus kekuasaan, para Mahmud dari Ghazna, para Genghis Khan, para Napoleon dan para Hitler.

level cinta, kita menjumpai para Mahtma Gandhi, para Martin Luther King dan para Mandela. Ini di mana kita peduli pada sesama.

Pada tingkatan kasih, kita bersua denga para Krishna, para Buddha, para Yesus, para Muhammad, dan makhluk spiritual lainnya. Ini ialah tahapan pelayanan tanpa pamrih.

Dikutip dari Artikel Bapak Anand Krishna : Dari Nafsu Menuju Kasih http://www.aumkar.org/ind/?p=199

Kasih Sadguru kepada Murid

 

  1. Guru Ikut Memikul Beban Murid

Swami Vivekananda: Adalah lebih mudah menjadi Jivanmukta (bebas dari segala keterikatan dalam kehidupan ini) daripada menjadi seorang Acharya (dalam pengertian Sadguru atau Pemandu Spiritual – ak). Sebab yang pertama (Jivanmukta – ak) memahami dunia ini sebagai mimpi dan tidak mempedulikannya; sementara, seorang Acharya memahami dunia ini sebagai mimpi, namun tetap peduli dan berkarya. Acharya harus menanggung beban murid; dan itulah alasan mengapa banyak penyakit muncul di dalam tubuh Acharya yang kuat.  Sumber: Complete Works of Swami Vivekananda Volume 5 Notes from Lectures and Discources on Bhakti Yoga

Bapak Anand Krishna: Memenggal kepala-ego dan meletakkannya di bawah kaki sang guru juga berarti menyerahkan segala beban kepadanya. Iman kita belum cukup kuat. Kita masih ragu-ragu, bimbang… maka, sesungguhnya kita belum pantas menyebut diri murid. Kita baru pelajar biasa. Sang murshid, sang guru siap sedia mengambil-alih seluruh bebanmu, asal kau siap menyerahkannya kepada dia. Justru tugas dia… Dia bagaikan perahu yang dapat mengantarmu ke seberang sana. Bila kau sudah berada di dalam perahu, untuk apa lagi menyiksa dirimu dengan buntalan berat di atas kepala? Turunkan buntalan itu dari kepala, letakkan di bawah. Perahumu, gurumu, murshidmu siap menerima tambahan beban itu. Bahkan, ia sudah menerimanya… walau berada di atas kepala, sesungguhnya beban itu sudah membebani gurumu. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2004). Bhaja Govindam Nyanyian Kebijaksanaan Sang Mahaguru Shankara. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

  1. Guru Dikehendaki Keberadaan untuk Membantu Murid Melampaui Maya

Seorang “Murid”, dalam pemahaman bahasa Sindhi, bahasa ibuku, adalah seorang yang memiliki “murad” atau keinginan tunggal yang sungguh-sungguh untuk mencapai kesadaran tertinggi. Silakan menyebut kesadaran tertinggi itu kesadaran murni, atau jika lebih suka dengan penggunaan istilah Gusti, atau Tuhan, maka gunakanlah istilah itu. Keinginan untuk menyadari kehadiran Gusti, Sang Pangeran, Hyang Maha Tinggi, atau Tuhan di dalam diri itulah keinginan tunggal yang dimaksud. Bila kita masih menginginkan sesuatu dari Tuhan, dan bukan Tuhan itu sendiri yang kita inginkan, maka kita belum menjadi murid. Murad kita, keinginan kita, masih belum sungguh-sungguh. Kita masih menginginkan manfaat dari Tuhan. Kita masih ingin memanfaatkan Tuhan. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2010). The Ultimate Learning Pembelajaran Untuk Berkesadaran. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

Maya atau Ilusi mempunyai kekuatan untuk: 1. menyembunyikan sifat dasar yang sejati dan 2. menimbulkan kesan yang keliru sehingga yang tidak nyata tampak sebagai nyata. Kedua hal tersebut membuat Brahman (Tuhan) yang Tunggal dan Esa tampak sebagai: Jiwa, Isvara (Tuhan), dan Alam Semesta; tiga hal yang sesungguhnya hanya satu! Kita baru bisa mengerti tentang Maya, Ilusi (belum mengalami, mempraktekkan Non-Dualitas dalam kehidupan sehari-hari). Seperti disebutkan dalam Bhagavad Gita: “Di antara beribu-ribu orang, belum tentu seorang pun berupaya untuk mencapai kesempurnaan diri. dan, di antara mereka yang sedang berupaya, belum tentu seorang yang memahami kebenaran-Ku.” Bhagavad Gita 7:3

Seorang Guru datang dalam hidup kita bukan karena kehendaknya, tetapi karena dikehendaki-Nya. Kedatangan Seorang murshid atau seorang guru dalam hidup kita “terjadi” karena dikehendaki oleh-Nya. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2006). Kidung Agung Melagukan Cinta Bersama Raja Salomo. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

  1. Seorang Master Berupaya Membebaskan Muridnya dari Ilusi dan Kebodohan

Berikut Dialog Sai Baba dengan R.K. Karanjia, jurnalis senior Blitz News Magazine pada bulan September 1976 (Sumber: http:www.saibaba.ws/articles2/blitz.htm):

Tanya: Dan apa yang Baba katakan nampaknya tidak banyak perbedaan atau dikotomi antara Tuhan dan manusia. Apakah saya benar?

Baba: Kita semua memiliki sesuatu dari Tuhan, percikan mulia di dalam diri kita. Semua manusia adalah mulia seperti Diri-Ku sendiri, tapi Jiwa yang mewujud lewat daging dan tulang (tubuh, ak) manusia. Satu-satunya perbedaan adalah bahwa mereka tidak menyadari kemuliaan ini. Mereka datang dalam penjara karma ini (lahir di dunia ini, ak) karena kesalahan-kesalahan dari banyak masa lalu kehidupan. (Sementara, ak) Aku telah mengambil bentuk fana ini atas kehendak bebas-Ku sendiri. Mereka terikat dengan tubuh sementara, Aku bebas dari perbudakan seperti itu. Perbedaan utamanya adalah bahwa mereka didorong kemari dan ke sana oleh keinginan, sementara Aku tidak memiliki keinginan, kecuali yang tertinggi, yaitu membuat mereka bebas dari segala keinginan. Sumber: Artikel Bapak Anand KrishnaGuru Shisya Parampara Sesuatu yang Unik dalam Budaya Hindu”, Majalah Bali Raditya 30 Desember 2017

 

Rishi Shuka adalah orang suci, sebelum meninggalkan raga, beliau berjanji kepada semua muridnya bahwa beliau akan terus menerus menjaga kehidupan dan memandu mereka sampai lepas dari siklus kehidupan dan kematian. Beliau mulai mendikte “catatan” (disebut Shuka Nadi) kepada seorang muridnya. Ada instruksi-instruksi yang diberikan kepada setiap murid, pada saat-saat kehidupan tertentu, ketika mereka benar-benar membutuhkannya. Koleksi beliau sangat besar, beliau telah memberikan catatan untuk 100.000 muridnya. Sumber: (Krishna, Anand. (2004). Soul Quest, Pengembaraan Jiwa dari Kematian Menuju Keabadian. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

 

  1. Kasih Guru terhadap Murid

Adalah sebuah berkah yang luar biasa bila kita mendengar bahwa apabila seseorang betul-betul berhasrat ingin moksha, maka Keberadaan menganggap dia sudah tidak cocok lagi dengan permainan dunia, kemudian Keberadaan akan menggerakkan Guru untuk menemui dirinya. Jadi bukan seseorang yang mencari Guru, tetapi Guru mengikuti Kehendak Keberadaan bertemu dengannya.

Bulan bisa mengalami gerhana, matahari bisa mengalami gerhana tapi kasih Guru tidak mengalami pasang surut. Guru akan melindungi murid seperti kelopak mata melindungi mata.

Bahkan kalau seorang Guru meninggal, Beliau akan tetap membimbingnya. Kalaupun Guru dan Murid sudah meninggal dalam kehidupan berikutnya sang murid tetap akan dipandu……………….

Refleksi: Belajar Pandangan Buddha tentang Sengsara dan Bahagia lewat Bapak Anand Krishna

Kita pernah mengalami sakit, sudah mengalami masa tua (bagi yang usianya sebaya saya), sering melihat orang sakit, orang yang sedang sekarat mendekati ajal dan bahkan  takziah ke orang yang sudah meninggal. Akan tetapi mengapa pengaruhnya tidak sebesar pengaruh hal yang sama terhadap Pangeran Siddharta?

Siddharta sejak kecil berada dalam istana yang tertutup sehingga Beliau tidak dapat melihat penderitaaan yang dialami oleh masyarakat. Pada waktu ada kesempatan Beliau melihat di luar istana dan kemudian berbicara dengan teman sekaligus kusir keretanya.

Apakah saya akan menjadi tua, rambut memutih dan kekuatan saya melemah? Apakah saya akan mengalami sakit? Apakah saya juga mengalami kematian? Konfirmasi dari teman Beliau membuat Beliau berpikir. Aku masih muda, tapi suatu kali saya akan menjadi tua, mengalami sakit, sekarat dan bahkan meninggal. Apakah kita akan terus-menerus melakukan pengulangan demikian berkali-kali. Bukankah hal demikian itu membuat kita merasa sengsara?

Pasti ada suatu hal yang sederhana yang menyebabkan kita sengsara. Bila aku tahu penyebabnya, maka aku akan menemukan solusinya. Buddha menganalisa sampai makan waktu sekitar 6 tahun.

Bapak Anand Krishna sedang berbicara dengan semua peserta satsang, ada yang bahagia, ada yang biasa  dan sebagainya. Akan tetapi bila pada saat itu datang kabar berita orang yang kita kasihi meninggal dunia, maka akan muncul duka. Boleh jadi orang yang kita kasihi meninggal kemarin sore atau 1 hari yang lalu. Akan tetapi sebelum mendengar berita kita biasa saja. Begitu mendengar kita baru merasa sengsara. Ini pasti ada sebabnya.

Bapak Anand Krishna menyampaikan ada pasangan yang berbahagia dan salah satunya selingkuh. Keadaan tetap seperti biasa sampai dia mendengar perselingkuhan itu, sesudah itu baru merasa sengsara.

Buddha menganalisa dan kesimpulannya adalah “mind” yang membuat kita sengsara.

Bapak Anand Krishna mulai di dalam satsang dengan pembukaan: Banyak alasan yang membuat kita sengsara dan hanya ada satu alasan yang membuat kita bahagia. Kalaun kita sudah menemukan alasan yang membuat kita bahagia, maka pertanyaan itu tidak akan muncul.

Mengapa Buddha menyampaikan bahwa meditasi akan membuat bahagia?

Meditasi membuat kita dapat mengelola mind?

Buddha telah menemukannya, Bapak Anand Krishna telah membuktikannya dengan mengalaminya, oleh karena itu Beliau menyampaikan satsang ini. Silakan para pemirsa mencobanya……

Silakan simak Video Youtube Understanding the Mind of Buddha: Suffering and Happiness by Anand Krishna

Melepaskan Keterikatan dengan Latihan Pengaturan Napas

Fokus atau Konsentrasi Membuat Kita Sukses

Swami Vivekananda: Perbedaan utama manusia dan hewan adalah fokus atau konsentrasi. Kesuksesan dalam pekerjaan adalah hasil dari fokus atau konsentrasi. Prestasi yang tinggi dalam bidang musik, seni dan lain-lain adalah hasil fokus atau konsentrasi. Hewan sulit melakukan konsentrasi. Para pelatih hewan menemukan bahwa hewan terus-menerus lupa apa yang dikatakan kepadanya. Sulit bagi hewan memfokuskan perhatiannya (Kita paham bahwa monyet itu sangat liar dan kita mempunyai istilah pikiran liar kita seperti monyet, selalu berpindah-pindah fokus, penulis). Bahkan perbedaan orang yang sukses dan yang tidak sukses adalah perbedaan tingkat konsentrasi.

Kita semua fokus atau terkonsentrasi pada hal-hal yang kita sukai. Ibu sangat mencintai wajah anak kecilnya, wajah itu dianggap wajah paling indah di dunia, pikiran ibu terkonsentrasi pada anak kecilnya. Kita semua memusatkan pikiran kita pada hal-hal yang kita sukai. Ketika mendengar musik yang indah, telinga kita memperhatikan, memusatkan pendengaran pada musik tersebut. Seorang workaholic terfokus pada pekerjaannya sepanjang waktu. (Bukan hanya hal yang menyenangkan, pikiran kita juga fokus atau terkonsentrasi pada masalah-masalah yang tidak kita sukai, penulis)

 

Konsentrasi Mengakibatkan Keterikatan

Masalah besar yang timbul akibat konsentrasi adalah bahwa kita tidak bisa mengendalikan pikiran kita. Obyek konsentrasi kita seolah-olah menarik pikiran kita dan memegangnya dengan erat. Kita mendengar nada merdu atau melihat lukisan yang indah dan pikiran kita dipegang oleh obyek konsentrasi dan kita tidak bisa melepaskan perhatian darinya.

Jika saya (Swami Vivekananda) menyampaikan pembicaraan yang Anda sukai, pikiran Anda menjadi terkonsentrasi pada apa yang saya bicarakan. Saya mengambil pikiran Anda dan Anda fokus pada pembicaraan saya dan melupakan diri Anda sendiri. Perhatian kita dipegang oleh berbagai hal, dan tidak memikirkan diri kita sendiri.

Pertanyaannya adalah apakah konsentrasi ini dapat dikembangkan dan bisakah kita menjadi Master, Tuan dari pikiran kita sendiri. Kita konntrasi pada suatu hal tapi tetap bisa mengendalikan diri, bukan terkendali atau pikiran kita terpegang oleh obyek konsentrasi. Bahaya dari pengembangan kekuatan konsentrasi adalah bahaya memusatkan pikiran pada obyek dan kita tidak bisa melepaskannya sesuka hati kita. Keadaan keterikataan ini menimbulkan penderitaan yang besar. Hampir semua penderitaan kita disebabkan oleh pemusatan pikiran kita pada hal tertentu dan kita tidak dapat melepaskannya. Jadi kita harus belajar tidak hanya berfokus pada suatu hal yang kita sukai secara eksklusif, tetapi juga bagaimana cara melepaskan keterikatan tersebut. Keduanya harus dikembangkan bersama agar aman bagi diri kita.

Sumber: Complete Works of Swami Vivekananda Volume 6 Lecture n Discourses Concentration

Berikut Latihan Meditasi di Anand Ashram untuk melepaskaan keterikatan dengan latihan pernapasan seperti disampaikan dalam buku panduan (Krishna, Anand. (2016). Ananda’s Neo Self Empowerment, Seni Memberdaya Diri bagi Orang Modern, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Kita tidak akan menyampaikan cara latihan dengan detail, silakan ikuti latihan di Anand Ashram.

 

Melepaskan Keterikatan lewat Latihan Bernapas dengan Benar

Jadilah Penguasa Mind (Gugusan Pikiran dan Perasaan) daripada dikuasai aleh Mind.” – Petuah Jepang –

Ia yang berhasil menguasai Mind (Gugusan Pikiran dan Perasaan)-nya, sesungguhnya telah menguasai semesta.” – Guru Nanak, Mistik –

…………..

KONSENTRASI DAN MEDITASI adalah dua kata yang berbeda. Sebagai teknik, keduanya berbeda, sehingga hasil akhir yang akan dicapai pun berbeda. Mengacaukan pemahaman dan terapan keduanya akan menghambat pertumbuhan hasil pencapaian pelatihan meditasi.

Konsentrasi adalah pemusatan perhatian dan pikiran pada sesuatu objek, baik abstrak maupun konkret. Meditasi adalah sebaliknya, membebaskan pikiran clari upaya pemusatan.

DENGAN KATA SEDERHANA, membuyarkan pikiran dari tugasnya berpikir. Lazim dikenal dengan istilah relaks, bebas dari ketegangan berpikir. Pikiran pun perlu dikendurkan, bahkan lepas dari aktivitas berpikir.

Sumber: Buku Panduan (Krishna, Anand. (2016). Ananda’s Neo Self Empowerment, Seni Memberdaya Diri bagi Orang Modern, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

…………..

Keterikatan kita (fokus, konsentrasi kita) pada hal-hal yang menjengkelkan, yang tidak menyenangkan, hal yang menyedihkan sering membuat kita stress dan bahkan bisa menyebabkan berbagai penyakit. Sebaliknya fokus atau konsentrasi kita pada hal-hal yang menyenangkan membuat keterikatan, dan kita sulit untuk melepaskannya.

Dari pengalaman kami, pada waktu kita sedang stress (keterikatan erat dengan hal yang tidak kita sukai) dengan melakukan latihan napas yang benar, fokus perhatian kita beralih pada napas yang masuk dan keluar dan kita bisa terlepaskan dari keterikatan terhadap hal yang membuat kita stress. Demikian juga keterikatan kita terhadap obyek-obyek tertentu, dengan memindahkan perhatian pada napas yang masuk dan keluar kita bisa melepaskan diri dari tarikan obyek tersebut.

Dengan memperhatikan napas, dari pengalamaan kami, ternyata pikiran kita menjadi jernih dan kita bisa menemukan solusi bagi permasalahan yang membuat kita stress. Juga kita bisa menyadari bahwa kita tidak boleh terikat dengan obyek yang menyita pikiran kita.

Untuk masalah keterikatan terhadap trauma yang membuat emosi kita terpendam, kita bisa mencari akarnya. Kita akan menemukan bahwa pemendaman emosi merupakan masalah utama kita. Pemendaman emosi itulah yang menyebabkan stres dan mengakibatkan berbagai macam penyakit. Kita ingin marah; kita ingin rnenjerit, kita ingin teriak, tetapi menahan diri. Kita memaksa untuk menahan diri. Karena tidaklah sopan bagi seseorang untuk marah-marah, berteriak, atau menjerit. Setidaknya demikian yang telah diajarkan kepada kira. “memaksa” berarti menutup outlet, menutup saluran untuk membuang sampah berupa emosi yang terpendam. Latihan Voice Culturing merupakan solusi bagi permalahaan ini.

Pengalaman kami yang mempunyai kebiasaan batuk karena alergi terhadap seuatu, bila kami berada di kamar sendirian, dengan memperhatikan napas yang teratur, rasa gatal di leher pun bisa mereda.

Intinya, pada waktu kita menyadari adanya keterikatan, kita “pause” sejenak, melakukan pernapasan dengan benar dan kita akan mendapatkan kejernihan pengendalian pikiran kembali.

Ooh! Ternyata Kita Hidup dalam Dunia Maya, Ilusi! Betulkah Demikian?

 

Keinginan Manusia Sulit Terpenuhi

Swami Vivekananda (1863-1902) mengatakan bahwa kita tidak perlu kembali ke zaman prasejarah, karena adalah fakta pada saat ini mirip seperti dua ribu tahun yang lalu. Kita tidak menemukan kepuasan dari keinginan yang tidak terbatas. Tidak ada akhir dari keinginan kita. Ketika kita berupaya memenuhi keinginan, kesulitan itu datang.

Bahkan pikiran yang sederhana di masa lalu yang hanya ingin beberapa hal, tidak dapat terpenuhi. Saat ini ketika kemajuan zaman meningkat dengan pesat, keinginan tetap tidak dapat terpenuhi juga. Kita berjuang menyempurnakan sarana pemenuhan keinginan, akan tetapi besaran keinginan meningkat juga.

Swami Vivekananda kemudian menjelaskan bahwa untuk memenuhi keinginan yang tidak bisa diperoleh tersebut manusia minta bantuan kekuatan lain. Selanjutnya Swami Vivekananda mennyampaikan perkembangan Wujud Pembantu Pemenuhan Keinginan tersebut mulai dari dewa sampai dengan Tuhan. Kita bisa bicara besar, menjadi filsuf, akan tetapi ketika pukulan kehidupan datang kita tetap minta bantuan dari kekuatan dari luar. Di akhir tulisan Swami Vivekananda menyinggung tentang Maya atau Ilusi. Untuk melepaskan diri dari jerat maya perlu dibantu orang kuat yang telah keluar dari jerat maya.

Sumber: Complete Works of Swami Vivekananda Volume 1 Lecture n Discourses Soul n God

 

Maya atau Ilusi

Kita baru bisa memahami (belum mengalami, mempraktekkan dalam kehidupan sehari-hari) Maya, ilusi yang mempunyai kekuatan untuk:

  1. menyembunyikan sifat dasar yang sejati dan
  2. menimbulkan kesan yang keliru sehingga yang tidak nyata tampak sebagai nyata.

Kedua hal tersebut membuat Brahman (Tuhan) yang Tunggal dan Esa tampak sebagai: Jiwa, Isvara (Tuhan), dan Alam Semesta; tiga hal yang sesungguhnya hanya satu!

Kemampuan maya terpendam, tetapi bila menjadi nyata, ia akan mengambil wujud manas, pikiran. Pada waktu itulah benih pohon yang besar (yaitu alam semesta) mulai bertunas, menumbuhkan daun dorongan mental (vasana) dan kesimpulan mental (sankalpa). Jadi, seluruh dunia objektif ini hanya berkembang biak dari manas. Maya, ilusi-lah yang menimbulkan khayal adanya Jiwa, Isvara (Tuhan), dan Alam Semesta.

Dari uraian di atas kita lanjutkan dengan pemahaman dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia via #BhagavadGitaIndonesia

Sangat Sulit Melampaui Maya, Ilusi, Hijab

“Di antara beribu-ribu orang, belum tentu seorang pun berupaya untuk mencapai kesempurnaan diri. dan, di antara mereka yang sedang berupaya, belum tentu seorang yang memahami kebenaran-Ku.” Bhagavad Gita 7:3

Kesempurnaan diri adalah kesempurnaan dalan Jnana (Pengetahuan Sejati yang mesti dialami sendiri) dan Vijnana (ilmu, dalam pengertian sains, mengajarkan kita untuk menerjemahkan pengetahuan sejati yang kita peroleh, telah kita alami ke dalam bahasa keseharian hidup). Banyak di antara kita yang sudah merasa puas dengan apa yang kita baca dalam kitab-kitab tebal, seperti yang ada di tangan kita saat ini. Hanyalah segelintir saja yang berupaya untuk memperoleh pengalaman pribadi.

Dan di antara segelintir yang sedang berusaha demikian pun, belum tentu satu orang yang mencapai kesempurnaan, dalam pengertian memahami kebenaran-Nya – Kebenaran Jiwa Agung.

Pengamatan Krsna merupakan tantangan bagi siapa saja – Tantangan bagi setiap orang yang menganggap dirinya berketuhanan, berkeyakinan, berkepercayaan, dan sebagainya. Adakah kita memuja-muja Tuhan, menyembah Tuhan untuk mendekatkan diri dengan-Nya, atau justru untuk menjauhkan diri dari-Nya?

Setiap doa untuk hal-hal bersifat duniawi – untuk mendapatkan rezeki, pekerjaan, jodoh, anak dan sebagainya – tidak mendekatkan diri kita dengan Tuhan. Dikutip dari buku dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia via #BhagavadGitaIndonesia

Berarti pada uraian Swami Vivekananda tentang keinginan yang sulit terpenuhi, bila kita berdoa untuk hal-hal duniawi tersebut kita telah terjerat semakin dalam dalam maya, ilusi.

 

4 Macam Panembah Mulia

“Adalah empat jenis panembah mulia yang memuja-Ku, Bharatarsaba (Arjuna, Banteng Dinasti Bharata) – seorang yang sedang mengejar dunia benda; seorang yang sedang menderita; seorang pencari pengetahuan sejati; dan seorang bijak.” Bhagavd Gita 7:16

Mereka yang sedang mengejar harta-benda; mereka yang sedang mengejar kekuasaan duniawi – kemudian menyisihkan waktu untuk berdoa, menyisihkan sebagian dari penghasilannya untuk beramal saleh – mereka pun panembah yang sudah berbuat baik. mereka pun mulia adanya. Apa yang mereka lakukan adalah kemuliaan, perbuatan yang mulia.

Kelompok Kedua adalah mereka yang sedang menderita, barangkali sakit, barangkali stres, barangkali miskin – atau ada penderitaan lain. Mereka berdoa supaya bisa bebas dari penderitaan. Bagi Krsna, mereka pun telah berbuat mulia. Mereka pun panembah. Mereka tidak mengetuk pintu seseorang yang zalim atau bersekongkol dengan pihak yang berada dalam kubu adharma. Mereka tidak mencari jalan pintas atau jalan adharma untuk mengakhiri penderitaan.

Kelompok Ketiga adalah para pencari pengetahuan sejati, kebenaran sejati. Termasuk kita semua yang sedang membaca tulisan ini – kemungkinan besar – berada dalaam kelompok ketiga ini. Anda membeli buku ini dengan tujuan tersebut. Anda tidak membelinya untuk menjadi kaya-raya dalam sekejap. Anda tidak membelinya untuk mendapatkan voucher untuk masuk surga. Tidak. Anda membeli dan sedang membacanya untuk mengenal diri, untuk meraih pengetahuan sejati.

Namun, di atasnya adalah Kelompok Keempat, kelompok yang bijak.

“Di antaranya seorang bijak adalah yang utama, terbaik – karena ia senantiasa menyadari hakikat dirinya, mengidentifikasikan dirinya dengan Jiwa, dengan-Ku; dan, memiliki semangat manembah, devosi. Seorang bijak yang menyadari hakikat-Ku, amat sangat mengasihi-Ku, dan Aku pun sangat mengasihinya.” Bhagavad Gita 7:17

“Semuanya memang mulia (keempat jenis panembah tersebut sama-sama mulia). Kendali demikian, seorang bijak yang sesungguhnya adalah diri-Ku sendiri; demikian pendapat-Ku. Seorang Panembah yang gugusan pikiran serta perasaannya; intelegensia dan kesadarannya selalu terpusatkan pada-Ku, larut di dalam-Ku, dan mencapai-Ku, yang mana adalah tujuan tertinggi.” Bhagavad Gita 7:18 Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia via #BhagavadGitaIndonesia

 

Kedekatan dengan Sang Sutradara untuk Mengakhiri Maya, Ilusi

“Ketika seorang bijak menyadari segala sesuatu sebagai perwujudan-Ku, perwujudan Tuhan; kemudian dengan kesadaran demikian, ia memuja-Ku – maka ketahuilah bahwa ia telah mencapai ujung kelahiran dan kematiannya. Inilah kehidupannya yang terakhir. Seorang seperti itu sungguh sukar ditemukan.” Bhagavad Gita 7:19

………….

“Maya – Kekuatan yang bersifat ilusif memberi kesan “ada” padahal “tidak ada”. Maya memang diciptakan untuk memfasilitasi pertunjukan-Nya di atas panggung dunia ini. Seperti halnya para penyelenggara pertunjukan modern menggunakan sound system, lighting, dan berbagai peralatan mutakhir lainnya untuk memeriahkan pertunjukan – pun demikian Tuhan menggunakan maya untuk menciptakan berbagai ilusi!

…………..

SANG SUTRADARA MENJELASKAN HAL ITU kepada seorang sohib, seorang yang dipercayainya, dicintainya, disayanginya. Ia tidak akan membuka semua kartunya di depan siapa saja. Tidak. Demikian pula dengan Krsna dalam Gita. Ia menjelaskan hal-hal yang terjadi di belakang panggung. Ia menjelaskan cara kerja alam semesta kepada Arjuna yang memang layak untuk mendengarkannya.

………….

UNTUK KELUAR DARI ILUSI ITU. Untuk mengetahui ihwal di balik panggung, kelayakan Arjuna hanyalah satu. Yaitu, “kedekatan”nya dengan Krsna. Hubungannya dengan Krsna. Inilah kelayakan Arjuna. Dekatilah Sang Sutradara – dan Ia akan membuka, mengungkapkan segala rahasia, sebagaimana yang terjadi antara Krsna dan Arjuna.

Dengan memuja-muji pertunjukan-Nya, dengan mengagumi ilusi-Nya – kita menjadi penonton yang baik. Namun hanyalah dengan cara bersahabat dengan-Nya – maka, Ia akan mengajak kita ke ruang rahasia-Nya.

Bersahabatlah dengan-Nya! Dan, landasan bagi persahabatan adalah cinta-kasih, cinta-kasih yang tulus. Inilah kelayakan Arjuna yang mana mesti menjadi kelayakan diri kita juga. Lima huruf dalam kata “Cinta” atau “Kasih” mengandung semua huruf dari semua kata. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia via #BhagavadGitaIndonesia

Untuk lebih detailnya silakan baca ulang Percakapan Ketujuh Jnana Vijnana Yoga.