Wejangan Anand Krishna: Ajari Bangkit Lagi Setelah Jatuh! Sejak Dini

Melihat keadaan Arjuna yang sangat menyedihkan, penuh kegelisahan hati, dengan air mata bercucuran, serta kepala menunduk ke bawah; Madhusudana (Krsna, Sang Penakluk Raksasa Madhu) berkata demikian:” Bhagavad Gita 2:1

Sri Bhagavan (Krsna Hyang Maha Berkah) bersabda: “Dalam keadaan genting dan ditengah krisis seperti ini, Arjuna, dari manakah munculnya kelemahan hatimu, yang sungguh tidak pantas bagi seorang kesatria, tidak mulia, tidak terpuji, dan sangat memalukan.” Bhagavad Gita 2:2

https://bhagavadgita.or.id/

 

Inilah kondisi kita kebanyakan. Dalam keadaan gelisah kita melemah. Semestinya kita memiliki energi untuk menghadapi persoalan, tapi kebanyakan kita melemah. Apa yang salah? Dari pendidikan kita sejak awal, sejak dini. Kita tidak diajarkan, untuk bangkit kembali ketika kita jatuh.

Kebanyakan di antara kita, begitu kita jatuh ada yang cepat-cepat membantu. Masih kecil juga, begitu jatuh langsung kita dibantu dibangkitkan. Semestinya dibiarkan, ada anak yang menangis sedikit saja, orang tua sudah merasa gelisah. Segala keinginan dipenuhi. Ini adalah kesalahan. Jadi anak ini tidak dididik untuk menghadapi tantangan. Dari kecil semuanya terpenuhi.

Sekarang kita melihat, anak-anak muda sudah memiliki motor, sudah memiliki hand phone. Jadi sudah konsumtif, dia belum tahu cara untuk mencari uang. Tapi sudah dibelikan hand phone. Dia belum tahu mencari uang, tapi sudah merokok. Itu menghamburkan, membakar uang. Dan kadang-kadang orang tua melihat juga, tidak menegur. Kita memanjakan anak-anak kita. Dengan dimanjakan begitu, nanti dalam hidup, kalau mereka menghadapi suatu tantangan, menhadapi suatu persoalan melemah.

Seperti halnya yang dialami oleh Arjuna. Untung di situ ada Krishna yang mengingatkan, kamu menghadapi tantangan kok begitu lemah, kamu seorang satria. Kita tidak setiap kali mendapatkan, suatu teguran atau atau suatu upadesh, sustu wacana, seperti yang diterima oleh Arjuna dari Krishna.

Kita punya masalah kita cari dukun. Banyak di antara kita kan? Cari dukun, orang sakit, jatuh sakit, sesuatu yang normal, ada dokter untuk apa? Tapi begitu cari dukun, dia akan beritahu ini karena energi negatif, karena ini karena itu.

Sakit ya sakit, namanya mobil kalau rusak bagaimana? Cari Pak Kadek Yasa. Cari bengkel. Tapi saya terheran-heran ketika beberapa hari yang lalu, saya ketemu dengan orang mobilnya rusak cari dukun. Kenapa mobil saya ini sering rusak? Kamu beli mobil second hand tahun 1990-an sudah hampir 20 tahun mobil itu, kalau nggak rusak mau gimana?

Badan pun demikian, saya punya masalah lutut saya bicara dengan dokter Suartika, mengatakan ya ini usia, dan saya bisa terima sudah 62-63 gimana lagi? Sudah lumayan bisa duduk di sini bersama kalian semua.

Kita melemah, karena dari kecil kita tidak diajarkan untuk menerima kondisi yang sedang berubah-ubah. Ini adalah kelemahan Arjuna. Untung Arjuna punya Krishna yang mengingatkan dia.

 

“Janganlah menjadi seorang pengecut, wahai Partha (Putra Prtha – sebutan lain bagi Kunti, Ibu Arjuna); sikap yang demikian sungguh tidaklah cocok bagimu. Bebaskan dirimu dari kelemahan hati. Bangkitlah Parantapa, engkau yang selama ini telah menaklukkan banyak musuh di medan perang.” Bhagavad Gita 2:3

https://bhagavadgita.or.id/

 

Kadang-kadang, kondisi seorang Arjuna ini agak lain, menghadapi satu keadaan musuh yang bisa ditaklukkan, dia semangat. Tapi begitu melihat musuh itu berat, susah ditaklukkan dia ngeper, takut. Ketakutan dia.

Kita juga demikian, maka harus diingatkan, dulu kau juga pernah menghadapi kondisi seperti ini. Dulu kamu pernah bangkit, sekarang kenapa tidak bangkit? Kalau kalian pernah punya pengalaman jatuh bangun dalam usaha, dalam pekerjaan, ingat pengalaman-pengalaman itu. Dulu juga pernah jatuh, bangun lagi. Sekarang jatuh lagi, pasti bisa bangun lagi. Kita harus membangkitkan Krishna dalam diri kita. Dalam diri setiap orang ada Krishna.

Cuma kita mau mendengar petuah-Nya, atau kita tetap lemah. Tetap menjadi pengecut. Tergantung pada diri kita.

 

“Wahai Madhusudana (Krsna Penakluk Raksasa Madhu), bagaimana aku bisa mengangkat senjata melawan mereka, untuk memushi mereka berdua yang sangat kuhormati?” Bhagavad Gita 2:4

https://bhagavadgita.or.id/

 

Sebetulnya bukan urusan hormat, urusan takut. Bhisma adalah kakeknya yang sakti, Drona adalah gurunya. Arjuna pasti juga berpikir kalau ada jurus yang disembunyikan oleh guru, dan nanti di medan perang akan dikeluarkan. Saya mati konyol.

Jadi dia sedang takut tapi rasa takut itu dia bungkus. Bungkus rapi dengan bagaimana saya dapat membunuh guru. Bagaimana ini, bagaimana itu. Ketika sedang judi, main judi kakaknya, dan kalah dan istri mereka dipermalukan. Saat mereka semua, Arjuna, Bhima, semuanya bersemangat maunya kita harus balas dendam.

Dan sekarang urusannya bukan balas dendam sebetulnya. Urusannya bagi Krishna adalah urusan di medan perang itu adalah urusan dharma melawan adharma. Kebetulan Pandava berada di pihak dharma, Kaurava berada di pihak adharma. Sehingga Krishna berada di pihak Pandava. Cara Kaurava memerintah, sangat menyiksa, sangat merugikan masyarakat semuanya merasa tertindas. Dan itu sebabnya Krishna menginginkan bahwa akan terjadi peralihan kekuasaan. Kaurava harus habis, harus menyingkir, dan Pandava yang berkuasa.

 

“Daripada membunuh guru, dan orangtua yang sepatutnya kuhormati, lebih baik hidup sebagai pengemis dengan peminta-minta; kenikmatan dunia apa yang akan kuperoleh dengan membunuh mereka? Kenikmatan duniawi yang ternoda oleh darah mereka – itu saja.” Bhagavad Gita 2:5

https://bhagavadgita.or.id/

 

Pintar, kadang-kadang, kita juga seperti itu. Lagi takut tidak mau menghadapi situasi, tapi ngeles kita. Arjuna juga sedang ngeles. Daripada begitu lebih baik saya menjadi pengemis. Nggak mungkin jadi pengemis, basa-basi, masih ada mertua indah. Tidak akan ada yang membiarkan dia menjadi pengemis. Jadi dia sedang ngeles. Daripada begini, lebih baik begitu, daripada begitu, lebih baik begini.

 

https://www.akcjoglosemar.org/wp/

https://www.anandkrishna.org/

Advertisements

Wejangan Anand Krishna: Jangan Serahkan Nasib Kita Pada Suara Tokek

“Kebaikan apa yang kuperoleh  dengan membunuh keluarga dan kerabatku sendiri, wahai Kesava (Krsna yang Berambut Indah)? Untuk apa kekayaan, kedudukan, dan kemenangan hasil pembunuhan? Tidak, semua itu tidak kuinginkan.”

“Kemenangan menjadi berarti ketika dinikmati bersama mereka yang kita cintai. Kenikmatan apa yang akan kuperoleh dengan membunuh mereka yang adalah saudaraku sendiri.”

“Lebih baik gugur terbunuh oleh mereka, daripada membunuh mereka. Wahai Madhusudana (Krsna Penakluk Raksasa Madhu), tak dapat kubunuh keluarga dan kerabatku sendiri, demiharta, kekuasaan, kedudukan, dan kenikmatan semu di dunia fana ini.” Bhagavad Gita1:31-35

https://bhagavadgita.or.id/

 

Terdengarnya baik, tapi Arjuna lupa, bahwa dia berada di medan perang itu bukan untuk kepentingan dirinya. Kaurava ini telah berbuat tidak baik terhadap seluruh negara. Mereka harus binasa di zaman itu. Begitu caranya untuk menggulingkan kerajaan zaman dulu ya begitu. Kalau sekarang caranya demokrasi. Jangan pilih orag yang tidak bisa mengurus, pilih orang yang bisa mengurus.

Kades juga begitu. Apa pun begitu Gubernur begitu. Kita pilih pakai otak sediri. Kita memilih. Tapi kita nggak bisa ngeles seperti Arjuna. Arjuna sedang ngeles, dia tidak mau melakukan tugasnya. Dan dia memberikan alasan alasan yang tidak tepat.

 

“Selain dosa, apa yang akan kuraih dari pembunuhan masal ini? Kebahagiaan apa pula yang akan kuperoleh dengan membunuh mereka? Keserakahan telah menguasai pikiran mereka, sehingga mereka siap perang.”

“Namun, kita masih bisa berpikir jernih, untuk apa menjadi sebab kehancuran diri? Perang mengakhiri peradaban. Kaum pria mati terbunuh, dan banyak perempuan menjadi wanita jalang. Hancur-lebur eluruh tatanan masyarakat.” Bhagavad Gita 1:36-41

“Bukanlah satu generasi saja yang menderita akibat perang; ikut sengsara pula generasi mendatang yang tidak bersalah. Seperti itulah yang kudengar, Janardana (Krsna Penggerak Setiap Manusia). Dan, ikut hancur warisan budaya, tradisi dan segala yang mulia dan berharga.”

“hidup di dunia penuh kekacauan seperti itu sama seperti hidup di neraka; Sayang, walau sadar akan segala akibat ini, kita tetap siap untuk berperang. Lebih baik mati terbunuh tanpa perlawanan, daripada melawan mereka, wahai Krsna.” Bhagavad Gita 1:42-46

“demikian, setelah mengucapka kata-kata seperti itu, Arjuna melepaskan senjatanya, dan duduk dibagian belakang keretanya.” Bhagavad Gita 1:47

https://bhagavadgita.or.id/

 

Terdengarnya Arjuna mengatakan sesuatu yang baik. Tetapi tidak baik, kenapa? Karena dia seorang satria. Seorang satria tugasnya adalah membela negara, kalau seorang satria bilang saya tidak mau berperang dan dia melepaskan senjatanya, siapa mau bela negara?

Kalau seorang bisnismen bilang saya tidak mau mengambil keuntungan, mau makan apa? Harus mengambil keuntungan yang wajar, jangan kita ambil keuntungan tapi tidak wajar.

Saya sering ketemu orang sumpah “sungguh mati”. Nggak usah “sungguh mati-sungguh mati”, semua orang tahu seorang pengusaha harus ada keuntungan. Kalau kita rugi, kenapa jual? Kadang kadang mengenai bisnis, mau nggak mau harus dijual. Itu resiko bisnis. Tapi nggak usah sungguh mati dan sumpah-sumpahan.

Biasa-biasa saja. Jadi hari ini kita bicara tentang mengamati segala hal termasuk makanan, hubungan dengan keluarga.

Tapi mengamati dan mengambil keputusan juga jangan lama-lama. Orang mau beli barang, “tunggu dulu saya mau meditasi”. Nggak bisa juga begitu.

Ada orang-orang ngambil keputusan lama sekali. Kereta sudah berlalu.

Ada cerita di India yang relnya terpanjang seluruh dunia. Kemana mana dulu pakai kereta. Pesawat itu untuk orang-orang kaya. Sekarang pun kereta masih sangat polpuler. Kereta itu berhenti di stasiun cuma 2-3 menit. Kita harus lari-lari naik, kalau mau ke toilet sebentar kereta sudah kewat.

Ada satu orang mau kereta ke toilet sebentar. Padahal di kereta juga ada toilet. Zaman dulu toilet di kereta bau bukan main. Sudah naik tinggal dua menit ke toilet. Saat datang lagi kereta sudah lewat. Ada kereta lain. Dia duduk dia pikir itu kereta dia. Sebentar lagi ada orang naik. Sudah biasa bertanya, kamu mau ke mana? Coba naik pesawat kamu mau ke mana? Tidak demikian, ke Singapura ya Singapura.

Kebetulan orang ini tanya, “kamu mau ke mana?”

“Saya mau ke Bombay.”

“Waduh science ini sudah hebat. Kursi itu ke Bombay kursi ini ke New Delhi. Dia maunya ke New Delhi.

“Ini kehebatan teknologi!”

Jadi jangan begitu juga, ambil keputusan yang benar. Jangan kereta sudah lewat, ambil keputusan apa pun tidak ada gunanya.

Jadi Arjuna mengambil keputusan yang salah. Dia licik.

“Sekarang dalam keadaan perang saya belum tentu menang. Karena di sana pasukannya lebih banyak. (Dia lupa ada backing Krishna). Kalau saya mati gugur gimana? Lebih bagus nggak usah perang masih ada mertua indah.”

Drupada punya kerajaan. Cari 1 kabupaten dapatlah. Pemikiran arjuna itu licik. Bukannya dia rasa iba, cinta. Dia ketakutan menghadapi dan pakai firasatlah.

Kita juga banyakan begitu. Kalau sudah takut menghadapi situasi, “wah firasatnya nggak bagus, ada tokek lagi.”

Ada tokek? Masak tokek menetukan nasib Anda? Kan kacau banget. Ada kucing, anjing, masak kucing, anjing, tokek menentukan nasib kita?

Kita harus mengamati situasi, tidak boleh takut menghadapi sesuatu. Tapi mikir juga jangan lama-lama. Dan jangan membungkus rasa takut dengan rasa iba, dan jangan takut menghadapi stress.

Bab 1 Vishada, kegundahan hai. Galau. Jangan takut sama kegalauan. Dari kegelisahan itu pun kita dapat keluar dapat sukses.

Sumber: Video Youtube oleh Guruji Anand Krishna, Bhagavad Gita Dalam Kehidupan Sehari-hari Percakapan 01.

Link:

https://www.akcjoglosemar.org/wp/

https://www.anandkrishna.org/

 

Wejangan Anand Krishna: Jangan Ngeper Kemudian Ngeles Seperti Arjuna

“Dan Arjuna pun melihat bahwa di antara pasukan Kaurava, begitu banyak wajah yang ia kenal baik, di antara mereka ada para kawan, kerabat, dan para sahabat; juga para sepuh yang sudah lanjut usia. Maka timbul rasa iba di dalam hati Arjuna.”

“Melihat mereka, kakiku melemah, bibirku gemetar, kulit terasa terbakar; senjata pun terlepaskan dari tanganku;”

“Pikiranku kacau, wahai Krsna, Aku tak mampu berdiri tegak;” Bhagavad Gita 1:26-30

https://bhagavadgita.or.id/

Guruji Anand Krishna menyampaikan:

Ini Arjuna lagi ngapain? Dia lagi ngeles, dia memberikan alasan yang bukan-bukan. Kalau timbul rasa iba, rasa kasihan, apakah kita merasakan kaki melemah, bibir gemetar, dan seluruh tubuh menggigil. Merasa kasihan ya merasa kasihan, tidak ada kejadian demikian. Maka Krishna diam, “Licik orang ini. Dia ini sebenarnya takut menghadapi kenyataan. Di sana ada Kaurava yang lebih banyak pasukannya. Di sini pasukan sedikit.”

Arjuna lupa di sini ada Krishna.  Kehadiran Krishna itu akan membantu dia.

Kita pun kadang-kadang begitu saat melihat situasi, kita merasa nggak mampu mengatasi situasi itu. Dalam bahasa Betawi kita ngeper, takut, fearful, terus kita memberikan alasan-alasan kaki melemah, bibir gemetar. Mana ada rasa haru, kasihan bibir gemetar. Anda melihat orang miskin di jalan, kemudian bibir gemetar? Nggak ada!

 

“Munculnya firasat-firasat buruk mengganggu hatiku….”  Bhagavad Gita 1:30

https://bhagavadgita.or.id/

 

Firasat buruk? Kita bisa menciptakan firasat buruk. Kalau mau pergi ke mana, kemudian kita melihat kucing yang hitam ada yang memotong jalan, harus balik ke rumah lagi. Nggak ada rasionya. Kucing lewat ya kucing lewat. Ada firasat buruk, ada energi negatif, ada ini ada itu.

Nah begitu Anda percaya pada hal-hal gituan. Pasti ada orang-orang mengambil kesempatan. Anda pergi ke seorang dukun, “Pak saya ini sakit-sakitan, sepertinya di rumah saya ada energi negatif.” “Baiklah berarti kamu sudah percaya kepada energi negatif?”

“Ya betul!”

Kita percaya pada reinkarnasi kan? Kalau kita mati terus lahir kembali. Tapi nggak demikian, kita kadang-kadang dibohongi, leluhur lagi minta ini minta itu.

Leluhurnya sudah lahir kembali. Sudah jadi cucu kamu. Kasih makan sama cucu sudah beres kan. Tapi kita begitu.

Ada seorang Sultan punya 9 menteri yang berkuasa. Di antaranya ada 2-3 orang Hindu. Mereka selalu ingin menyudutkan orang-orang minoritas ini. Sekali waktu Sultan bersama Menteri Birbal. Para menteri lain berkata, “Birbal itu kan percaya reinkarnasi percaya macam-macam. Suruh dia pakai kekuatan, ketemu dengan Ayahanda Sultan yang baru meninggal.”

Sultan Akbar masih kecil dan para menteri melanjutkan, “Mungkin Ayahanda Sultan butuh sesuatu.”

“Bagaimana ketemu dengan Bapak, Bapak sudah meninggal, dikuburkan?

Akbar masih muda terbawa oleh hasutan, “Birbal kamu kan percaya meditasi, yoga, kamu kan orang hebat. Cari tahu dong Bapak saya butuh sesuatu nggak?

Ramai-ramai semua orang berkata, “Ya Birbal harus ditanam di bawah. Dikuburkan supaya dia bisa ketemu dengan Ayahanda Sultan.”

Birbal pikir, “Wah ini celaka.”

Tapi dia pinter, menolak juga nggak benar. Boleh, saya butuh persiapan diri, karena Ayah Baginda ini kan seorang besar. Kalau saya ke sana harus ada persiapan. Harus puasa dulu harus apa dulu. Biar saya bertemu Ayah Baginda dalam keadaan suci. Saya butuh waktu seminggu. Nanti saya boleh ditanam. Dia bicara dengan orang-orang di sana yang mendukung dia. Tolong bikin terowongan dari bawah. Setelah dikuburkan dia keluar dari terowongan. Seminggu dia di rumah istirahat total. Tidak ketemu siapa-siapa.

Seminggu kemudian dia datang ke Baginda lapor, orang pada heran sudah mati dikubur kok hidup lagi.

“Lapor Baginda Ayahanda Baginda di sana kurang teman, dia minta minta menteri ini, ini, ini, tolong bisa dikirim ke sana. Untuk menemani Ayahanda Baginda.

Kenapa dia bisa punya otak seperti itu? Karena orangnya vegetarian. Kalau makan daging otaknya nggak berjalan. Coba kurangi makan dsging pelan-pelan. Otak Anda akan berjalan lebih jernih.

Pertama tama kalau punya nazar, sesangi, kalau anak saya kawin saya mau babi guling. Kalau terjadi ambil babi diguling gulingi. Nggak usah dibakar nggak usah disembelih, diguling gulingi aja. Kalian tidak paham leluhur kita inginnya mainin babi diguling gulingin bukan di sembelih. Selesai nazarnya, selesai kaulnya.

Bayangkan Vishnu datang sebagai Matsya Avatar, salah satu Avatar adalah Varaha Avatar itu adalah babi hutan. Masa Vishnu kita penggal. Pikirkan jangan ikuti saya.

Yang menjamin sorga dan neraka adalah karma kalian. Bukan karena ikut saya. Ikut saya nggak ke surga, nggak ikut nggak ke neraka. Akan tetapi perbuatan kalian, karma kalian juga tidak mengantar ke surga atau neraka. Dalam Hindu itu surga atau neraka cuma transit. Deperture mau ke Eropa transit ke Singapura 1 jam. Setelah itu lahir kembali. Lha lahir kembali, kalau pingin lahir lebih bagus cobalah mulai sekarang jangan membunuh.

Karena urusan apa pun, makan enak di lidah itu cuma 1 menit. Setelah itu esoknya jadi apa? Coba Anda makan sayur sayur coba lihat besok toiletnya, bersih lho warnanya. Coba kalau makan binatang warnanya itu coklat item. Dan baunya bukan main. Coba pikirkan nggak usah ikut saya, yang baik seperti apa?

Karena jangan-jangan kita nanti jadi babi dalam kehidupan berikutnya. Disembelih mau nggak? Coba pikirkan jangan ikuti saya.

Jadi firasat firasat buruk itu cuma ngeles, nggak ada firasat buruk. Semuanya itu berjalan sebagaimana adanya. Alam berjalan apa adanya. Kita berjalan, mau sakit ya kita sakit. Mau jadi orang suci, tidak suci, mau flu juga flu. Ada jaminan semua berdasar karma kita.

Kita berbuat baik, kita menanam benih yang baik, hasilnya pasti baik. tidak ada kemungkinan menanam buah asem munculnya buah apel. Benihnya buah asem ya munculnya buah asem.

Sumber: Video Youtube oleh Guruji Anand Krishna, Bhagavad Gita Dalam Kehidupan Sehari-hari Percakapan 01.

https://www.akcjoglosemar.org/wp/

https://www.anandkrishna.org/

 

Wejangan Anand Krishna: Jangan Terbawa Emosi! Pelajari Situasi dan Kondisi!

Arjuna yang sudah siap untuk perang, berkata kepada Sri Krishna: “Antarlah aku ke garis terdepan, Krishna. Ingin kulihat dari dekat siapa saja yang berada di pihak Kaurava.”

Sanjaya berkata: “Sesuai keinginan Arjuna, Krishna mengantarnya ke garis terdepan, mengambil posisi di tengah kedua pasukan.”

“Lihatlah, Arjuna, pasukan Kaurava.” Bhagavad Gita 1:20-25

https://bhagavadgita.or.id/

 

Guruji Anand Krishna menyampaikan:

Ini pelajaran yang penting sekali.

Jangan terbawa oleh emosi. Kita harus mempelajari situasi dan kondisi. Dalam rumah tangga, dalam bisnis kalau ada orang yang mengatakan sesuatu kita cepat percaya. Kita harus mengamati seperti Arjuna mengamati. Mau perang mengamati dulu.

Perang juga terjadi dalam diri kita. Antara pikiran kita yang kacau dan hal-hal yang baik dalam diri kita, selalu terjadi perang. Setiap saat terjadi konflik, terjadi perang. Tunggu dulu jangan cepat-cepat mengambil senjata. Jangan cepat-cepat melawan.

Kita pikirkan degan matang apa yang sedang terjadi. Termasuk penyakit penyakit kita. Banyak sekali penyakit karena pikiran. Kita sakit kepala cepat-cepat minum obat. Sekarang diketahui bahwa obat-obat yang kelihatannya tidak masalah, kalau minum obat setiap sakit kepala, ada efek sampingnya.

Banyak orang di Bali menderita penyakit seperti liver. Dalam usia tertentu menderita liver membesar bisa dipahami. Kenapa anak-anak muda di Bali berpenyakit liver? Kemarin ada anak umur 12 tahun tekanan darah tinggi. Masalahnya di mana? Cepat-cepat memberikan obat pada anak itu tidak akan membantu. Seumur hidup obat itu akan ditambah terus. Dikasih obat 2-3 hari menurun, besok-besok dia minta dosis lebih tinggi. Saya tidak yakin dia bisa hidup sampai usia 45 tahun.

Mati di tangan Tuhan, tapi kita tidak mau mati sakit-sakitan. Tekanan darah tinggi itu mengantar ke stroke. Mari kita mengamati musuh kita apa?

Misalnya di Bali banyak orang menderita liver, banyak orang menderita kidney, ginjal. Kurang minum air putih. Banyak orang sepanjang hari minum teh. Teh itu maksimal 1-2 cangkir. Jangan lebih dari itu. Itu pun teh jangan dimasak sampai merah sekali. Di tea bag ada peraturannya tapi kita tidak pernah membaca. Dicelup tidak boleh lebih dari 2 menit. Setelah 2 menit dicelup, kantongnya dibuang. Teh sehat, kalau kebanyakan nggak sehat juga. Begitu juga makanan kita. Kebanyakan makanan di Bali membawa penyakit. Kadang-kadang baru 50 tahun sudah nggak bisa kerja. Duduk-duduk di wantilan, kalau punya wantilan. Kalau tidak ya duduk-duduk di depan pintu.

Kadang-kadang orang belum tua kelihatan tua sekali, buka pintu cuma duduk di pintu. Kenapa terjadi begitu? Karena kita tidak mengamati makanan kita. Makanan kita itu kebanyakan gorengan. Gorengan itu menyerang liver. Dan menyebabkan terlalu banyak toxic. Terlalu banyak racun yang dikelola oleh kidney, ginjal. Kidney bekerja terlalu keras sampai usia 55 tahun sudah jebol.

Seperti sparepart mobil, kalau dipakai tidak teratur, dipaksa cepat rusak. Begitu juga dengan liver kita, kidney kita. Semua organ organ tubuh itu seperti mesin. Kalau nggak dijaga, dirawat akan rusak.

Berhenti makan gorengan. Gorengan ini bahaya sekali. Apalagi gorengan yang dibeli di pinggir jalan. Setiap ada odalan di pura di mana, di luar begitu banyak jual gorengan. Dan kita cepat-cepat beli gorengan. Minyak itu, minyak yang mereka pakai, mereka dapat dengan harga murah. Dari restoran-restoran bsar. Restoran-restoran besar itu kalau pakai minyak sekali dibuang. Daripada dibuang, mereka bisa jual kepada tukang-tukang gorengan. Itu minyak bekas. Minyak itu kalau sudah dipakai 2 kali. Kemungkinan bisa kena kanker bertambah.

Mulai sekarang mau odalan, mau apa berhenti beli gorengan di jalan.

Bhagavad gita ini bukan kisah yang terjadi 5.000 tahun yang lalu. Pelajaran untuk kita semua . kita mengamati, observe.

Mengamati makanan kita itu penyebab utama dari segala macam penyakit. Berhenti makan gorengan dari luar. Kalau ingin makan gorengan goreng sendiri. Kalau punya uang sdikit, jangan pakai minyak goreng biasa. Pakai minyak goreng olive oil, zaitun. Itupun nggak boleh sampai minyaknya berasap. Minyak itu kalau sudah berasap minyak apa saja menjadi beracun. Lebih bagus cuma ditumis jangan digoreng.

Sayur jangan sampai menjadi hitam. Kita mengamati. Mati pasti kita semua mati. Tapi mati dengan kualitas hidup yang bagus. Sampai hari terakhir kita bisa bekerja.  Jangan mati sakit-sakitan. Dulu di tahun 70 an saya melihat di Bali ibu-ibu membuat minyak goreng sendiri dari kelapa. Itu kebiasaan yang bagus. Minyak kelapa itu bagus asal jangan sampai jadi asap. Paling bagus kalau bikin sendiri.

Coba beli santan di supermarket atau buat santan sendiri.  Saya suka pudding dari solo kalau pakai santan dari luar pudding itu nggak jadi. Jadi santan di luar itu sudah pakai macam-macam. Tulisannya tidak ada. Santan di luar kalau ditaruh dua hari di luar tidak ruak berarti ada bahan pengawet. Kalau nggak ada bahan pengawet dia akan rusak.

Yang penting mengamati apa yang cocok bagi kita. Minyak dikurangi.

  1. Mengurangi gorengan.
  2. Gunakan minyak goreng olive oil, zaitun.
  3. Menumis lebih baik daripada menggoreng.
  4. Memasak sayur jangan sampai berwarna hitam.
  5. Membuat minyak goreng sendiri dari kelapa.
  6. Membuat santan sendiri tanpa pengawet.
  7. Mengurangi cabe atau sambel.

Jadi mengamati. “Antarlah aku ke garis terdepan, Krishna. Ingin kulihat dari dekat siapa saja yang berada di pihak Kaurava.”

Makanan, pekerjaan, mau kerjasama dengan orang pelajari dulu. Di keluarga juga begitu, anak mau kawin. Pelajari. Tunggu dulu jangan cepat cepat ambil keputusan.

Sumber: Video Youtube oleh Guruji Anand Krishna, Bhagavad Gita Dalam Kehidupan Sehari-hari Percakapan 01.

Link:

https://www.akcjoglosemar.org/wp/

https://www.anandkrishna.org/

Wejangan Anand Krishna: Bhakti, Tundukkan Ego! Jauhi Arogansi!

“Kekuatan pasukan kita di bawah pimpinan Bhisma, jauh melebihi kekuatan mereka di bawah pimpinan Bhima.” Bhagavad Gita 1:10

https://bhagavadgita.or.id/

 

Guruji Anand Krishna menyampaikan:

Di sini Duryodhana membuat kesalahan fatal. Kita tidak boleh membuat kesalahan fatal. Dia mengatakankekuatan Kaurava lebih kuat dari Pandava. Pasukan Kaurava dipimpin Bhisma yang tersohor kekuatannya. Pasukan Pandava dipimpin Bhima yang masih ingusan, cucu Bhisma.

Dia melupakan apa?

Di sana bukan hanya Bhima yang ada. Di sana ada Krishna.

Kita juga, dalam hidup kita, libatkan Krishna, libatkan Tuhan, libatkan Sang Hyang Widhi. Kekuatan seberapa pun menjadi kekuatan yang tidak terbatas. Duryodana lupa di pihak sana ada Krishna.

Jangan takut, jangan takut menghadapi orang yang kuat, asal Anda memiliki anugerah dari Sang Hyang Widhi. Untuk memperoleh anugerah itu kita berada pada Jalur Dharma. Pada jalur yang benar.

Saya memberikan contoh kadang kita berpikir bhakti itu adalah menyanyi bhajan, kidung-kidung. Bukan! Bukan cuma itu, penyerahan diri pada Tuhan, pada Kehendak Sang Hyang Widhi, seperti yang dilakukan oleh Pandava.

Masih ingat cerita kala Arjuna dan Duryodhana mohon dukungan pada Krishna di Dvarka?

Dvarka, itu memiliki pintu gerbang yang tidak terhitung banyaknya. Dikatakan ada sembilan, tapi sesungguhnya jauh lebih banyak daripada itu. Siapa pun yang  ingin bertemu dengan Krishna bisa masuk dari pintu mana pun. Dan dia bisa masuk ke pekarangan di sana.

Ketika Duryodhana dan Arjuna ke sana minta dukungan. Krishna sedang tidur siang berbaring. Duryodhana datang dan duduk dekat kepalanya. Duryodhana dan Arjuna bermusuhan. Arjuna menganggap lebih muda, biarlah kakakku yang duduk. Arjuna duduk dekat kaki Krishna. Padahal juga ada kursi lain.

Kalau Krishna bangun dia akan lihat siapa dulu? Arjuna.

Cerita ini punya makna yang luar biasa. Kalau kita menundukkan kepala, Sang Hyang Widhi akan melihat kita. Kalau kita arogan, sombong, duduk di atas kepalanya Sang Hyang Widhi, kita nggak terlihat. Inilah Bhakti. Tundukkan ego, meluluhkan ego.

Selama kita punya ego, kita nggak terlihat. Walaupun dekat. Sudah sembahyang, sudah puja-puji macam-macam, tetap saja persoalan begitu banyak dalam hidup kita. Karena kita egois. Kalau kita menundukkan kepala, berada dekat kaki Sang Krishna, begitu Dia bangun dia melihat Arjuna, “Hai Arjuna apa kabar?”

Duryodhana berpikir, Arjuna kurang ajar, sekarang Arjuna akan ditanya akan minta apa? Cepat-cepat dia berkata, “Krishna yang datang duluan saya lho?”

“Oh kamu juga datang ya? Apa kabar?”

“Saya datang ke sini akan minta dukungan saya akan perang lawan Arjuna.”

Krishna mengatakan, “Saya dalam keadaan yang sulit. Kalian dua-duanya masih keluarga saya. Sekarang bagaimana saya akan membelah diri saya. Begini deh kita bagi jadi dua. Balatentara saya lengkap dengan senjata dan saya sendiri tanpa senjata. Mau pilih yang mana?”

Duyodhana licik, “Begini Krishna saya juga tidak mau menyusahkan Anda. Sudah bala tentaranya saja untuk saya.” Dalam hati rasain lu Arjuna dapat Krishna tanpa senjata.

Arjuna senang sekali, “Terima kasih Kakak Duryodhana. Dan terima kasih Krishna saya hanya butuh kamu saya tidak butuh apa-apa.

Begitu juga dalam hidup kita, kalau kita butuh apa-apa malah rugi. Kita butuh Krishna, butuh Sang Hyang Widhi, butuh Tuhan semuanya selesai. Inilah bhakti menundukkan kepala. Tidak menjadi egois. Mementingkan Tuhan daripada yang lain-lain. Semua yang lain-lain akan ada di sini. Tidak akan kebawa ke mana-mana. Mati dengan tangan kosong. Mau di ngaben dikubur tangan kita kosong.

Yang penting adalah bhakti pada Tuhan. Dan coba lihat dalam hidup kita. Makanan seorang Hindu, dia tidak makan, dia menerima lungsuran, prsasad. Persembahkan makanan itu kepada Tuhan. Sambil memasak coba nyanyikan sesuatu seperti bhajan, kidung, atau baca mantra salah satu sloka dari Bhagavad Gita atau dari mana. Mantra yang gampang, jangan pindah-pindah kalau bisa.

Salah satu mantra yang ishtanya cocok dengan Anda. Misalnya lebih dekat dengan Shiva, mantra Om Nama Shivaya. Kalau dekat dengan Ganesha mantra Om Gam Ganapataye Namaha.  Dekat dengan Krishna ada mantranya. Sambil masak sambil makan, maka makanan yang kita makan itu bukan makanan, tapi lungsuran yang sudah diberkati, dianugerahi oleh Tuhan. Biasakan diri demikian.

Ibu saya punya kebiasaan dalam Hindu yang sudah ribuan tahun. Setiap hari, sebelum makan, sebelum masak sisihkan nasi, segenggam nasi, beras, sesuai kemampuan, sesendok pun oke. Masukan dalam suatu tempat dan kalau sudah banyak, dimasak berikan pada orang yang tidak mampu.

Atau yang saya lakukan atau sering ibu saya lakukan setiap hari keluarkan beras untuk burung-burung atau binatang. Taruh di mana ada burung. Jadi ada berkah dalam makanan Anda. Makanan yang kita makan setiap hari bukan hanya makanan, tapi sudah menjadi lungsuran.

Sumber: Video Youtube oleh Guruji Anand Krishna, Bhagavad Gita Dalam Kehidupan Sehari-hari Percakapan 01.

Link:

https://www.akcjoglosemar.org/wp/

https://www.anandkrishna.org/

 

 

Wejangan Anand Krishna: Jangan Ladeni Orang Yang Memunculkan Amarah

Sanjaya menjawab:

“Setelah memeriksa pasukan Pandava, Duryodhana menghampiri Gurunya; dan, berkata: Lihatlah pasukan Pandava yang dipimpin oleh Putra Drupada salah seorang siswamu yang lincah.” Bhagavad Gita 1:2-3

https://bhagavadgita.or.id/

 

(Dalam Penjelasan buku Bhagavad Gita 1:2-3 disampaikan oleh Guruji Anand Krishna, dalam ilmu komunikasi modern yang banyak dipengaruhi oleh Hypnosis atai NLP, cara-cara seperti ini sering digunakan untuk membakar emosi seseorang. Dengan menyebut Drupada, ia mengingatkan Guru Drona akan penghinaan yang pernah dialami Drona oleh Drupada).

Guruji Anand Krishna menyampaikan:

Duryodana memainkan siasat, dia memunculkan amarah seorang Guru.

Dalam hidup kita, juga terjadi semacam itu. Banyak orang yang kerjaannya senang melihat kita susah dan susah melihat kita senang.

Hei kamu tahu nggak kemarin suami kamu, nggak usah-nggak usah. Makin bilang nggak usah semakin penasaran kita. Kemarin suami kamu lagi jalan-jalan di mall. Sama siapa? Nggak usahlah. Banyak orang-orang yang memunculkan amarah kita dengan cara seperti itu.

Duryodana juga seperti itu. Dia memunculkan amarah Dronacharya agar dia bisa melawan dengan penuh semangat. Bisa membunuh para Pandava.

Jadi jangan sampai terjebak kalau ada yang ingin memunculkan amarah. Kalaupun suami berjalan-jalan di mall jangan membuat orang ini penasaran. Makin penasaran makin dia menjadi-jadi. Mau urusan berantem sama suami itu urusan nanti.

O ya dia sedang berjalan-jalan dengan saudara sepupunya.

Diamkan dulu orang yang memunculkan amarah. Jangan diladeni. Dalam pelajaran hidup kita ini adalah hal yang penting sekali. Jangan meladeni orang yang memunculkan amarah.

Sumber: Video Youtube oleh Guruji Anand Krishna, Bhagavad Gita Dalam Kehidupan Sehari-hari Percakapan 01.

Link: https://bhagavadgita.or.id/

https://www.anandkrishna.org/

 

 

Wejangan Anand Krishna: Keterikatan Sumber Perselisihan Dalam Kehidupan Sehari-Hari

“Berkumpul dan siap bertempur di Padang Dharma Kurukshetra, wahai Sanjaya, apa yang dilakukan putraku dan putra Pandu?” Bhagavad Gita 1:1

https://bhagavadgita.or.id/

 

Guruji Anand Krishna menyampaikan:

Dalam satu sloka ini (Bhagavad Gita 1:1) kita sudah menemukan sebabnya kenapa terjadi Perang Bharatayuda. Karena keterikatan (Moha) dan kebutaan batin sang raja yang namanya sudah baik. Dhrtarashtra berpengetahuan luas, berpenglihatan jauh. Tapi karena pergaulan yang salah.

…………..

Setiap nama dalam tradisi Hindu itu punya maknanya. Jangan sembarangan memberikan nama. Karena suka dengan bintang film diberikan nama bintang film, karena suka dengan sepak bola diberikan nama pemain bola.

Dhrtarashtra berarti ia yang berpandangan, berwawasan luas. Ia yang bisa lihat jauh tapi ia seorang buta. Dan sebetulnya, ia bukan seorang yang jahat. Ia tahu dirinya buta biarlah adiknya, Pandu yang menjadi raja. Ia rela, ia adalah seorang yang baik pada awalnya.

Mengapa terjadi perubahan, karena dia tidak mau memarahi anak-anaknya yang berbuat adharma. Karena lingkungannya sangat tidak baik. Dia sangat dipengaruhi oleh adik iparnya, Shakuni. Shakuni mempengaruhi Dhrtarashtra sampai membiarkan perang terjadi.

Dia bukan hanya buta matanya, tapi batinnya juga buta.

Seorang raja tidak boleh berkata bagaimana putraku dan putra Pandu? Bagi seorang raja mereka semua adalah rakyatnya. Apa kata dalam bahasa kita? Moha, keterikatan. Kalau kita terikat dengan keluarga masih oke, tapi seorang raja, ia harus ada di atas keterikatan. Ia tidak boleh pilih kasih.

Seotang Kelian, Kepala Desa, dia juga raja, raja kecil. Dia juga tidak boleh pilih kasih, ini keluarga saya, ini teman saya, ini sahabat saya.

Begitu juga kalau kalian menjadi pemimpin perusahaan. Buka warung pun itu juga perusahaan, punya 2 atau 3 orang yang membantu perusahaan itu. Tidak boleh pilih kasih. Tidak boleh ada keterikatan.

Seorang raja yang berpandangan ini putraku, ini putra adikku jadilah berantem. Putraku harus mendapatkan lebih banyak dari putra adikku.

Sudahkah kita tidak terpengaruh Keterikatan (Moha)? Sudahkah kita tidak pilih kasih? Inilah sumber perang Bharatayuda dalam kehidupan kita sehari-hari.

Sumber: Video Youtube oleh Guruji Anand Krishna, Bhagavad Gita Dalam Kehidupan Sehari-hari Percakapan 01.

Link:

https://www.anandkrishna.org/