Menghadapi Kematian dengan Tersenyum #SpiritualIndonesia

Hidup yang diawali dengan sebuah tangisan, harus diakhiri dengan sebuah senyuman. Ketika engkau masih bayi, orang-orang disekitarmu tetap tersenyum walaupun engkau terus menangis. Ketika engkau mati, orang-orang disekitarmu akan meratapi kehilangan ini, namun engkau semestinya tersenyum dalam damai dan mengundurkan diri dengan tenang. Dikutip dari buku (Das, Sai. (2012). Sai Anand Gita Kidung Mulia Kebahagiaan Sejati. Koperasi Global Anand Krishna Indonesia)

Krsna meyakinkan kita bahwa jika kesadaran kita terpusatkan pada Sang Aku Sejati, pada Sang Jiwa Agung, maka kita tidak perlu mati dengan cara yang mengenaskan itu. Kita bisa mati sambil tersenyum, “Terima kasih peranku sudah selesai!” Penjelasan Bhagavad Gita 7:14 dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia lewat #BhagavadGitaIndonesia

Kematian adalah Keniscayaan

Takut mati bukanlah bagian dari Fear of Unknown. Kematian, sebagaimana kelahiran jua, adalah bagian dari hidup ini, bagian dari kehidupan di dunia. kita semua tahu persis bahwa setiap yang lahir sudah pasti mati. Dalam hal ini ada “pengetahuan”, dan ada “kepastian”. Kematian bukanlah sesuatu yang bisa disebut unknown – tidak diketahui. Kematian adalah sesuatu yang sudah jelas-jelas known – diketahui, dan dapat dipastikan kejadiannya. Sebab itu, “takut mati” adalah bagian dari lapisan kesadaran pertama, lapisan fisik. Ya, takut menghadapi apa yang terjadi “setelah” kematian itu baru Fear of Unknown. Ini yang disebut The Ultimate Fear – The Ultimate Fear tentang The Ultimate Unknown, The Ultimate Mystery. Dikutip dari (Krishna, Anand. (2007). Fear Management, Mengelola Ketakutan, Memacu Evolusi Diri. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama) #SpiritualIndonesia lewat FearManagementIndonesia

Keyakinan kita bisa membuat kita cemas akan kematian

Siklus Kehidupan. Siklus atau cycle bersifat circle, bulatan. Jika Anda memahami kehidupan sebagai garis datar, entah horizontal atau vertikal, maka Anda tidak bisa tidak bersedih hati atas kematian orang yang Anda sayangi, karena kehidupan sudah berlalu. Tidak ada kemungkinan bagi Anda untuk bertemu dengannya lagi.

Pertanyaannya: Apa iya demikian?

Jika kita memperhatikan alam, lingkungan sekitar kita, atau jika kita memahami hukum-hukum kebendaan, antara lain sebagaimana terungkap dalam Ilmu Fisika, maka kita sudah pasti memahami pula bila sesungguhnya kematian adalah mitos. Perubahan adalah abadi. Materi berubah bentuk terus.

Jika kita memahami rumusan Einstein tentang relativitas, maka sesungguhnya materi adalah energi dalam bentuk lain. Dan, energi itu sendiri tidak pernah hilang, selalu ada, hanya berubah bentuk. Inilah sebab para bijak yang memahami kehidupan sebagai siklus, tidak akan berduka atau bersedih hati bagi mereka, yang sesungguhnya sedang menjalani proses perubahan wujud. Penjelasan Bhagavad Gita 2:12 dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)  #SpiritualIndonesia lewat #BhagavadGitaIndonesia

 

Yang mengaktifkan komputer manusia ini adalah juga tiga unsur utama. Saya mengatakan tiga unsur utama, karena sebenarnya masih banyak unsur lain, tetapi yang utama adalah tiga.

Pertama, badan kasat kita. Ini bagaikan hardware.

Kedua, Ego kita. Ini bagaikan software dan tentu saja,

Ketiga, kesadaran yang merupakan aliran listriknya. Badan kita sewaktu-waktu bisa rusak, bisa berhenti bekerja. Namun software-nya tidak ikut rusak. Ego kita masih utuh, masih dapat berfungsi. Software yang sama dapat digunakan, dengan menggunakan hardware baru. Tidak ada memori yang hilang, tidak ada program yang terhapus. Ego kita, yang merupakan software masih dapat digunakan.

……………..

Yang lahir kembali itu siapa? Bukan badan kita, karena badan kita sudah menjadi bangkai, sudah dikubur atau dibakar. Badan sudah musnah. Badan tidak mengalami kelahiran kembali. Badan mengalami proses daur ulang dalam bentuk lain. Dari tanah datangnya, ia kembali ke tanah, untuk selanjutnya datang lagi dan kembali lagi, demikian seterusnya………. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (1998). Reinkarnasi, Hidup Tak Pernah Berakhir. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Saat ajal tiba akhir satu episode kehidupan

Saat ajal tiba – ini adalah closing scene atau adegan akhir dalam salah satu episode kehidupan kita. Tentunya, adegan akhir ini menjadi awal dari episode baru. Akhir adegan dalam episode ini, mengantar kita pada adegan pembukaan dalam episode berikutnya.

……………

Jika sepanjang hidup yang terpikir adalah dunia benda saja, maka saat ajal tiba, sesaat sebelumnya, kita tidak bisa, tidak mungkin, mengalihkan kesadaran pada-Nya. Saat itu yang terpikir adalah rumah, kerabat, keluarga; istana, yang telah kita bangun dan ‘belum cukup’ menikmatinya; perusahaan, yang kita tidak yakin akan dikelola dengan baik oleh ahli waris kita — dan sebagainya, dan seterusnya.

Pikiran terakhir, kesadaran terakhir saat mengembuskan napas terakhir — sama sekali tidak ada kaitannya dengan segala ritus yang kita lakukan sepanjang hidup, segala amal-saleh atau dana-punia. Jika semuanya itu kita lakukan untuk pamer, dan bukan sebagai persembahan kepada-Nya_

Pemusatan kesadaran pada-Nya mesti dilakukan mulai sekarang dan saat ini juga – sehingga saat ajal tiba kesadaran kita tidak ke mana-mana; tetap terpusatkan pada-Nya. Penjelasan Bhagavad Gita 8:5 dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)  #SpiritualIndonesia lewat #BhagavadGitaIndonesia

 

Menghadapi kematian tanpa rasa cemas

Yang paling menakjubkan adalah kita semua menyaksikan kematian, tapi kita tidak percaya itu akan terjadi pada diri kita?

Selama kita masih berusia 30-40 tahun. Bahkan kadang-kadang sampai 50 tahun, kita hampir tidak percaya bahwa kita akan mati. Kita masih mengejar ini, itu?

Dengan menyadari kematian adalah keniscayaan, kita mempunyai kesadaran baru. Bagaimana kita dapat memanfaatkan sisa hidup yang kita miliki. Apa yang ingin kita lakukan besok lakukan hari ini. Apa yang kita rencana lakukan hari ini lakukan sekarang juga. Kita seharusnya bekerja dengan semangat itu?

Sampai detik terakhir apa pun yang kita lakukan akan menjadi benih bagi kehidupan selanjutnya?

Memahami kematian harus dilakukan sebelum usia 36-38 pada waktu energi masih puncak. Setelah energi mulai menurun kita sulit mengubah keyakinan kita tentang kematian?

Silakan simak video Youtube: Kematian menghadapi tanpa rasa cemas oleh Swami Anand Krishna

Advertisements

Guru Pemandu yang Sistematis dan Mudah Diakses, Mengapa? #SpiritualIndonesia

Belajar bisa dari mana saja

Semesta ini bagaikan unversitas terbuka, dimana Anda sedang menjalani program, sedang mempelajari seni kehidupan. Bukan hanya mereka yang menyenangkan hati Anda, tetapi juga mereka yang melukai jiwa Anda, yang mencaci Anda, yang memaki Anda, sebenarnya diutus oleh Kebenaran untuk menguji kesiapan diri Anda.

Pasangan Anda, istri Anda, suami Anda, orang tua dan anak dan cucu Anda, atasan dan bawahan Anda, mereka semua adalah dosen-dosen pengajar. Mereka yang melacurkan diri demi kepingan emas dan mereka yang melacurkan jiwa demi ketenaran dan kedudukan, mereka semua adalah guru Anda. Anjing jalanan dan cacing-cacing di got, lembah yang dalam, bukit yang tinggi dan lautan yang luas, semuanya sedang mengajarkan sesuatu. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2001). Menyelami Samudra Kebijaksanaan Sufi. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama) #SpiritualIndonesia lewat SufiIndonesia

Ego kadang membuat kita yakin bahwa kita bisa belajar sendiri, autodidak, bisa berenang mengarungi samudera kehidupan sendiri. Tapi kebanyakan dari kita perlu instruktur, pembimbing. Untuk sekolah di TK pun kita butuh Guru. Apalagi di Jalan Spiritual.

 

Bertemu seorang Master dalam Perjalanan Hidup

Dalam perjalanan ini, apabila Anda bertemu dengan seseorang yang sudah bebas, anggaplah itu sebagai kejutan yang menyenangkan, sesuatu yang indah. Itu adalah nasib baik Anda. Barangkali pertemuan semacam ini Anda anggap sebagai pertemuan dengan seorang Guru.

Anggaplah ini sesuka Anda, tetapi pahamilah implikasi dari pertemuan ini dengan benar. Keberadaan orang yang telah bebas seperti itu hanya untuk menegaskan keyakinan Anda terhadap kebebasan. Kebebasan yang total seperti itu tidak mustahil, bisa terjadi! Yakinilah!

Keyakinan ini menyuntik Anda dengan energi baru. Anda lebih bersemangat. Pertemuan dengan orang yang bebas akan membangkitkan jiwa Anda. Mereka yang telah bebas, tidak terikat sama sekali, tidak tergantung pada siapa pun. Mereka hendaknya disebut “Master“.

Master berarti orang yang memiliki “Mastery” atas dirinya sendiri. Orang yang memerintah, mengatur dirinya sendiri. Orang yang bertanggung jawab, yang datang bukan untuk menimbulkan kekacauan, tetapi untuk menciptakan ketentraman.

Bernasib-baiklah suatu bangsa, berjayalah suatu kebudayaan, di mana orang-orang seperti itu ada. Master seperti mereka tidak diperjual-belikan, mereka tidak dapat diperoleh dari pasar. Mereka tidak membutuhkan propaganda ataupun promosi.

Para Master tidak dapat dipaksakan kehadirannya dalam kehidupan Anda. Begitu Anda siap, la akan muncul dalam kehidupan Anda. Para Master tidak datang dari mana-mana, mereka tidak pergi ke mana-mana. Master seperti ini merupakan suatu kejadian dalam hidup Anda.

Apabila Anda menemukan seorang Master seperti itu dalam kehidupan Anda, peristiwa itu mungkin saja peristiwa yang terbesar dan terpenting dalam hidup Anda.

Para Master tidak senang disebut Master. Mereka lebih senang dipanggil sahabat. Para Master tidak pernah menciptakan jarak antar dirinya dan Anda. Para Master merupakan keharuman bunga yang menyerbaki kehidupan Anda.

Sekali lagi, Anda tidak dapat mencarinya. Anda tidak dapat memperoleh alamatnya dari iklan-iklan koran. Anda harus sabar menanti, dan la akan terjadi, akan muncul dalam kehidupan Anda!

Jika Anda bertemu dengan seorang Master, hidup Anda akan segera berubah. Suatu ruangan yang gelap selama 40 tahun dapat menjadi terang dalam sekejap oleh sebatang lilin, tidak memerlukan 40 tahun untuk meneranginya.

Pertemuan Anda dengan seorang Master akan membuat Anda gembira; hari pertemuan menjadi hari perayaan! Anda akan menari dan menyanyi karena kegirangan. Anda baru akan tahu bahwa seorang Master tidak pernah memperbudak orang lain. la telah menguasai dirinya; ia tidak ingin menguasai Anda. Pertemuan dengan seorang Master justru akan mempercepat kebebasan Anda, mempermudah proses ketidaktergantungan Anda. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2001). Mengikuti Irama Kehidupan Tao Teh Ching Bagi Orang Modern. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Master yang accessible, mudah diakses atau sulit diakses?

Lapisan kesadaran manusia itu berlapis-lapis sehingga ada orang yang cocok dengan Master tertentu?

Tapi, ada juga Master yang semacam reader digest, yang mengumpulkan yang terbaik dari segala tradisi dan inti ajaran itu diberikan kepada muridnya, sehingga muridnya tidak perlu kemana-mana?

Tidak semua perjalanan hidup kita lancar, kita memerlukan seorang guide?

Ego kadang membuat kita yakin bahwa kita bisa belajar sendiri, bisa berenang sendiri. Tapi kebanyakan dari kita perlu instruktur. Di TK pun kita butuh Guru. Apalagi di Jalan Spiritual?

Tapi Guru bukan penyelamat kita. Mereka hanya menunjukkan jalan. Kita yang melakukan?

Guru yang mengingatkan setiap saat tidak ada yang bisa menyelamatkan diri kita kecuali kita sendiri?

Silakan simak:
Video Youtube: Bersama para Guru Spiritual oleh Swami Anand Krishna

Sibuk Meraih Kenikmatan Duniawi Sampai Maut Menjemput #BhagavadGita

Dunia ini penuh dengan orang-orang bodoh. Mereka hidup tanpa mengetahui arah. Mereka tidak tahu tujuan hidup itu apa. Mereka pikir makan, minum, tidur, seks, kekuasaan, harta-benda, itulah kehidupan. Mereka “tampak”bahagia, tapi sesungguhnya hampa. Mereka kosong.

Hingga usia 35-40 tahun, mungkin mereka tidak mengerti arti kebahagiaan, dan menerjemahkan “kenyamanan” sebagai “kebahagiaan”. Setelah usia 35-40 tahun, umumnya mereka  baru tersadarkan bahwa kenyamanan tidak sama dengan kebahagiaan. Namun, saat itu pun mereka masih belum tahu cara untuk meraih kebahagiaan sejati.

Adalah suatu berkah jika seorang yang sudah berusia 35-40 tahun masih sempat tersadarkan akan kesalahannya, dan mulai mencari kebahagiaan sejati. Biasanya, mereka hidup sebagai layangan yang putus – tanpa arah – bergantung pada arus angin. Demikian satu masa kehidupan tersia-siakan.

Dibutuhkan energi yang luar biasa untuk menarik diri dari pengaruh maya. Dan, energi sedahsyat itu adalah energi seorang pemuda, seorang pemudi di bawah usia 30-35 tahun. Energi semasa itu, energi hingga usia itu adalah energi keberanian, kepahlawanan. Energi yang membuat seorang berani mengambil resiko itu, tidak bertahan lama. Gunakan energi itu sekarang, dan saat ini juga, sebelum ia meredup! Penjelasan Bhagavad Gita 7:15 dikutip dari buku: (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

 

Apakah yang demikian itu terjadi karena pada umumnya kita semua dibawah pengaruh rajas yang dinamis dan agresif? Silakan simak penjelasan Bhagavad Gita 14:22 di bawah ini:

Cover Buku Bhagavad Gita

Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu; Saha vīryam karavāvahai; Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga Hyang Tunggal senantiasa melindungi kita; menjernihkan pikiran kita: semoga kita dapat berkarya bersama dengan penuh semangat; semoga apa yang kita pelajari mencerahkan dan tidak menyebabkan permusuhan; Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

“Wahai Bharatarsabha (Arjuna, Banteng Dinasti Bharat), ketika sifat Rajas berkuasa, seseorang menjadi serakah; dan, segala aktivitasnya hanyalah bertujuan untuk meraih kenikmatan duniawi. Sebab itu, ia pun gelisah ketika keinginan-keinginannya tidak terpenuhi.” Bhagavad Gita 14:12

 

Kekuasaan Rajas adalah yang paling umum. Rata-rata, kita semua, hampir sepanjang hari, berada di bawah pengaruhnya.

SEPANJANG HARI KITA AKTIF BEKERJA – Namun, tujuan kita hampir selalu untuk menghasilkan materi “saja”. Jarang sekali kita memikirkan apakah pekerjaan itu mulia atau tidak? Apakah pekerjaan itu hanya menguntungkan kita semata atau juga adalah baik bagi orang-orang di sekitar kita? Apakah kita mencari keuntungan di atas penderitaan orang lain?

Kemudian, ketika keinginan dan harapan kita untuk meraih keuntungan sebesar dan sebanyak mungkin tidak tercapai, kita rnenjadi gelisah. Kegelisahan semacam itu memang wajar, lazim, dan alami — karena kesenangan sesaat yang kita kejar selalu bergandengan dengannya.

SELAMA KITA MENGEJAR “SUKA”, maka “duka” yang adalah kembarannya, menanti di luar pintu kehidupan kita. Begitu “suka” keluar, masuklah “duka”. Demikian mereka bergantian mengunjungi kita. Para pengunjung setia!

Inilah keadaan orang yang berada di bawah pengaruh rajas. Ketika berhasil, ia bersuka-cita. Ketika gagal, ia berduka. Kadang senang, kadang susah. Ia selalu terombang-ambing dalam lautan samsara — pengulangan yang tidak pernah berhenti.

Samsara “pengulangan” adalah sebab kesengsaraan. Awalnya barangkali menyenangkan, tapi akhirnya selalu membosankan, mengecewakan dan menggelisahkan.

 

HAL INI BISA DIRASAKAN OLEH PARA JET-SETTERS – Awalnya, mereka menikmati perjalanan ke mana-mana. Hidup mereka hampir sepenuhnya di pesawat terbang. Baru pulang, besok berangkat lagi. Sayangnya, saya tidak pernah bertemu dengan seorang jet-setter “sejati” yang “akhirnya” tidak mengeluh, “Untuk apa semuanya ini? saya punya segala-galanya. Rumah di Jakarta, apartemen di Inggris, kantor di New York, kastil di Perancis. Tapi kapan saya menikmatinya?”

Adalah para pegawai mereka yang menikmati semuanya itu. Mereka sendiri tidak punya waktu lagi untuk menikmatinya.

Di usia uzur, ketika Dewa Yama, Malaikat Maut sudah menunggu di luar pintu, mereka masih sibuk memikirkan, “Bagaimana dengan kerajaan yang telah kubangun? Apakah anakku dapat mempertahankannya? Apakah para direktur dan CEO akan tetap setia? Apa yang akan terjadi dengan perusahaan-perusahaan yang kubangun dengan jerih payah, cucuran keringat dan darah?”

 

JIWA YANG TERGANGGU oleh pikiran-pikiran seperti itu, lupa akan jati dirinya sebagai Jiwa Merdeka — Ia “mengalami kematian” dalam keadaan terguncang. Kemudian, setelah pengalaman kematian itu, ia mengejar lagi pengalaman kelahiran ulang. Dan dalam pengalaman hidup berikutnya pun, ia masih tetap mengejar hal yang sama. Inilah Samsara.

Lagi-lagi ia mencari pengalaman suka dari timbunan harta. Awalnya ia bahagia, namun akhirnya, ia kembali gelisah. Demikian seterusnya dari satu masa kehidupan ke masa kehidupan berikutnya. Apa tidak membosankan? Badan dan perangkat indra yang baru tidak memiliki memori dari masa lalu. Gugusan pikiran dan perasaan memilikinya, tapi lupa. Namun, Jiwa tidak lupa. Ia mengalami kegelisahan yang luar biasa, tapi karena keterikatannya dengan pengalaman-pengalaman tertentu, ia “merasa” tidak berdaya untuk berulangkali lahir dan mati. Demikianlah keadaan kita saat ini.

Dikutip dari buku: (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

 

Om, Sarve bhavantu sukhinaḥ; Sarve santu nirāmayāḥ; Sarve bhadrāṇi paśyantu; Mā kashchit duḥkha bhāgbhavet; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga semua makmur, bahagia dan bebas dari penyakit. Semoga semua mengalami peningkatan kesadaran, dan bebas dari penderitaan. Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/

 

Kita adalah Penonton bukan Pemeran Film #BhagavadGita

Saat kita sedang menonton film atau membaca novel – ada adegan-adegan yang  bisa menghanyutkan kesadaran kita. Jika kita mengidentifikasikan diri dengan adegan-adegan  itu, dengan para pemeran, maka, bisa tertawa sendiri, menangis, mengalami suka dan duka oleh karenanya. Padahal, semua itu “tidak terjadi” pada diri kita. Penjelasan Bhagavad Gita 9:3 dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

 

Kita terhanyut oleh ide-ide sang sutradara film atau sang penulis novel, dan kita bisa merasa suka dan duka karenanya. Padahal identitas sebenarnya kita bukan pemeran dalam film atau novel. Itu hanyalah “maya” yang dibuat sang sutradara film atau sang penulis novel.

Kita adalah penonton film atau pembaca novel, itulah jati diri kita.

Jangan-jangan sekarang pun kita terjebak dalam “maya” buatan Sang Sutradara Agung. Jangan-jangan diri sejati kita bukan pemeran atau pelaku dalam sandiwara “dunia” ini????

Silakan simak penjelasan Bhagavad Gita 9:4 berikut ini:

Cover Buku Bhagavad Gita

Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu; Saha vīryam karavāvahai; Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga Hyang Tunggal senantiasa melindungi kita; menjernihkan pikiran kita: semoga kita dapat berkarya bersama dengan penuh semangat; semoga apa yang kita pelajari mencerahkan dan tidak menyebabkan permusuhan; Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

“Kuliputi alam semesta dalam keilahian serta kemuliaan-Ku yang tak-nyata. Semua makhluk bagaikan ide-ide yang berada di dalam diri-Ku. Sebab itu, sesungguhnya Aku tidak berada di dalam diri mereka.” Bhagavad Gita 9:4

Isa mengatakan bahwa kerajaan Gusti Pangeran ada di dalam diri kita. Atau, lebih tepatnya, diri kita adalah kerajaan-Nya. Alam semesta adalah kerajaan-Nya. Ada pula yang rnengatakan bahwa bukti-bukti kehadiran-Nya bertebaran, ada di mana-mana!

 

INI PULA MAKSUD KRSNA – Aku ada di mana-mana, Aku meliputi segalanya, semuanya berada di dalam diri-Ku yang Tak Terlihat, Tak Nyata. Namun, Aku tidak berada di dalam diri mereka.

Ia Hyang Tak-Nyata, Tak-Terlihat pula…..

Sementara itu, makhluk-makhluk — semuanya, tanpa kecuali — merupakan “ide-ide” yang menjadi nyata. Untuk memahami hal ini, kita kaitkan dengan ide-ide yang ada di dalam otak kita….

Jika kita membedah otak, apakah ide-ide itu dapat ditemukan? Tidak. Tapi, ide-ide itu ada, mereka “berbentuk ide” — ada sebagai ide. Sesungguhnya ide-ide itu bcrada di dalam gugusan pikiran dan perasaan, yang disebut “mind”. Lagi-lagi “mind” pun tidak bisa ditemukan saat otak dibedah. Tapi sekarang, hampir semua ilmuwan berpandangan progresif setuju bahwa mind itu ada. Mind bukan otak. Otak adalah alat yang digunakan oleh mind. Otak bukan mind. Mind adalah pengendali otak. Tak terlihat, tapi ada. Keberadaannya diketahui karena kinerja otak.

 

JANGAN, JANGAN MENYERAH! Jangan cepat-cepat menyimpulkan, “ini terlalu tinggi”. Kesimpulan demikian pun adalah sebuah ide, “ide yang keliru”. Tukarlah ide yang keliru itu dengan ide lain, “aku sedang berupaya untuk memahami hal ini.”

Otak rnanusia dikendalikan oleh mind, oleh gugusan pikiran dan perasaan. Otak terlihat, mind tidak. Tapi otak bekerja karena adanya mind.

Dari otak dan mind manusia — sekarang beralih ke otak dan mind Gusti Pangeran.

Kita semua, jagad raya ini adalah gugusan ide-ide yang ada di dalam mind Gusti Pangeran, Mind Supra.

 

ANDA, SAYA, KITA SEMUA HANYALAH IDE – Bukan saja badan kita, tapi Jiwa pun sebuah ide. Jiwa Individu bergerak karena digerakkan oleh Mind Supra Gusti Pangeran Sang Jiwa Agung. Ketika kita—makhluk-makhluk sejagad ini — diproyeksikan di atas layar alam semesta atau Prakrti, maka muncullah berbagai macam gambar yang seolah-olah bergerak sendiri. Padahal semuanya adalah proyeksi.

 

Kita adalah penonton film atau pembaca novel, itulah jati diri kita

 

“Dalam keadaan ‘diri’ atau batin terkendali seperti itu, Jiwa menyadari dirinya sebagai Jiwa; Demikian, ia mengalami kebahagiaan, kepuasan tak terhingga.” Bhagavad Gita 6:20

Dalam keadaan citta atau batin tenang — Jiwa menyadari dirinya sebagai Jiwa. Ia bukan badan; ia bukan energi; ia bukan gugusan pikiran serta perasaan; ia bukan inteligensia; ia bukan ini, dan bukan juga itu. Ia adalah Jiwa, percikan Sang Jiwa Agung. Maka saat itu ia mengalami kebahagiaan tak terhingga. Sebelum menggapai ………

………………..

JIWA ADALAH PENONTON – Mereka yang sedang beraksi di atas panggung adalah badan, gugusan pikiran serta perasaan, indra, inteligensia.

Dirinya sedang menonton!

Maka adegan apa saja dapat menghibur dirinya. Terjadinya kematian di atas panggung, mengikuti skenario Sang Sutradara atau Penulis Naskah, tidak mencelakakan dirinya.

Terjadinya banjir, badai, topan — tidak mengganggu kenikmatan yang diperolehnya sebagai penonton. Jiwa yang demikian itu — Jiwa yang menyadari perannya, sifat aslinya sebagai Jiwa —terbebaskan dari segala duka. Bahkan dari segala dualitas suka dan duka. Ia meraih kebahagiaan tertinggi!

Ia seperti seseorang yang sedang bermain game. Gambar-gambar yang muncul di monitor atau layar teve adalah proyeksi dari console yang pengendalinya ada di tangan dia sendiri. Penjelasan Bhagavad Gita 6:20 dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

Dikutip dari buku: (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

Setelah memahami hal demikian apakah kita biarkan saja adharma merajalela? Tidak juga, kita mencontoh Arjuna, memahami Bhagavad Gita dan tetap menegakkan dharma……

Om, Sarve bhavantu sukhinaḥ; Sarve santu nirāmayāḥ; Sarve bhadrāṇi paśyantu; Mā kashchit duḥkha bhāgbhavet; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga semua makmur, bahagia dan bebas dari penyakit. Semoga semua mengalami peningkatan kesadaran, dan bebas dari penderitaan. Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/

 

Berkarya Tanpa Pamrih untuk Melayani Sesama #BhagavadGita

Gita bukanlah buku yang bisa tamat. Gita adalah Panduan Hidup yang memandu kita selama kita masih hidup, atau lebih tepatnya, selama kehidupan sendiri masih ada.

Percakapan Kedelapanbelas ini adalah tentang Kebebasan Mutlak. Sesungguhnya, kebahagiaan sejati adalah hasil dari kebebasan. Jiwa-Jiwa yang masih diperbudak oleh hawa nafsu, indra, dan sebagainya – masih belum bebas, sehingga tidak pernah menikmati Kebahagiaan Sejati.

Lewat percakapan ini, pesan Krsna menjadi makin jelas. Jadilah bebas, jadilah bahagia….. itulah Kebenaran Perjalanan Hidup, itulah Kesadaran Tertinggi yang mesti digapai: Sat-Cit-Ananda. Dikutip dari Kata pengantar Percakapan Kedelapanbelas buku Bhagavad Gita.

 

Berikut penjelasan Bhagavad Gita 18:1 dan 18:2 tentang samyas memisahkan diri dari urusan duniawi dan tyaga, melepaskan hasil:

Buku Bhagavad Gita

Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu; Saha vīryam karavāvahai; Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga Hyang Tunggal senantiasa melindungi kita; menjernihkan pikiran kita: semoga kita dapat berkarya bersama dengan penuh semangat; semoga apa yang kita pelajari mencerahkan dan tidak menyebabkan permusuhan; Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

PERTAMA TENTANG SAMNYAS – Dalam tradisi yang sudah berjalan selama ribuan tahun di wilayah peradaban Sindhu, Shin-tuh, Hindu, Hindia, Indies, Indo — samnyas adalah salah satu tahap dalam kehidupan manusia. Sesuai dengan pedoman kemasyarakatan di wilayah peradaban ini, usia di atas 60an tahun adalah untuk memasuki samnyas, untuk memisahkan diri dari segala urusan duniawi, menarik diri dari keramaian, tinggal di tempat yang jauh dari kota untuk melakukan praktek-praktek spiritual. Nah, saat perang Bharata- Yuddha, usia Arjuna maupun Krsna sudah sekitar 70an tahun.

Adakah Arjuna ingin mendapatkan konfirmasi dari Krsna, “Bukankah dalam usia kita ini, lebih cocok bila kita memasuki samnyas — tahap kehidupan terakhir di mana urusan dunia sudah terlewatkan?”

Krsna memahami maksud Arjuna. Untuk terakhir kalinya dalam bab ini, Krsna berupaya untuk menegaskan peran Arjuna sebagai seorang kesatria. Sekaligus, Ia pun menjelaskan arti lain tentang tyaga dan samnyas. Sebuah terobosan baru oleh Krsna, sebuah definisi baru yang masih relevan hingga hari ini — 5.000an tahun setelah perang Bharata-Yuddha. Penjelasan Bhagavad Gita 18:1 dikutip dari buku: (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

 

 

Sri Bhagavan (Krsna Hyang Maha Berkah) bersabda:

“Para Resi menjelaskan samnyas sebagai pelepasan diri dari segala perbuatan yang termotivasi oleh keinginan untuk meraih imbalan, memperoleh sesuatu; dan, tyaga, sebagaimana dijelaskan oleh para bijak, adalah menyerahkan, melepaskan segala pahala, seluruh hasil dari setiap perbuatan.” Bhagavad Gita 18:2

Ini adalah terobosan baru…..

 

KRSNA TIDAK MENJELASKAN SAMNYAS sebagai penarikan diri dari keramaian dunia. Jika kita berperan sebagai Arjuna, di mana urusannya adalah membela kebajikan dan keadilan — maka tidak ada masa pensiun. Sebab itu, samnyas dijelaskan bukan sebagai penarikan diri dari keramaian dunia; segala urusan dunia; maupun dari segala perbuatan. Tapi, sebagai pelepasan atau penarikan diri dari segala perbuatan yang termotivasi oleh keinginan untuk meraih imbalan.

Di usia uzur pun, jika memang peran kita menuntutnya, maka kita mesti tetap berkarya, berjuang. Arjuna belum menyelesaikan perannya. Ia mesti berjuang. Pun demikian dengan mayoritas kita hingga saat ini.

Tidak semua orang mesti menjadi petapa dan tinggal di tengah hutan. Tidak semua orang mesti menyepi. Tidak semua orang mesti menarik diri dari keramaian.

Arjuna termasuk mereka yang mesti menjalani samnyas dengan pemahaman baru ini. Dan sesungguhnya kita pun demikian. “Kemungkinan besar” demikian!

 

BERKARYALAH TANPA MEMIKIRKAN HASIL, tanpa motivasi yang berlandaskan pada keinginan untuk menjadi super kaya, super tenar, dan super apa saja!

Berkaryalah dengan semangat melayani sesama.

Dengan berkarya seperti itu, sesungguhnya kita pun sudah memasuki samnyas. Kita sudah tidak lagi memikirkan kepentingan diri. Kita sudah tidak berdagang sapi, tidak terlibat dalam transaksi, “lu jual, gue beli.”

Kendati demikian, setiap laku, setiap perbuatan, setiap karma tidak bisa dilepaskan dari konsekuensinya, tiada sebab tanpa akibat, tiada aksi tanpa reaksi.

Karya baik menghasilkan kebaikan, dan karya buruk menghasilkan keburukan. Nah, “Hasil Baik” pun dapat menjadi kepala ular dalam perrnainan ular tangga dan mematuk kita. Kita bisa menjadi “besar kepala” karena kebesaran hasil dari pekerjaan-“ku”, dari jerih payah-“ku”.

 

SEBAB ITU, RENOUNCE THE FRUIT – Lepaskan buah karyamu. Semua itu karena Gusti, semua karena anugerah Gusti. Apa yang dapat kuperbuat tanpa kehendak dan restu Gusti?

Kita berkarya demi kebaikan itu sendiri.

Ya sudah, janganlah merasa tersanjung ketika seorang memuji kita. Menerima pujian orang pun sudah cukup untuk membesarkan ego kita, ingat kepala ular. Serahkan seluruh hasil dari perbuatan kita kepada Gusti Hyang Maha Kuasa!

Nah, renouncing the fruit inilah tyaga.

Berbuat baik, dan segala hasil dari perbuatan itu dipersembahkan kepada Gusti Pangeran. Ini adalah sikap mental, supaya kita tidak menjadi sombong. Ini adalah sikap hidup, attitude: “Engkaulah Hyang Menggerakkan tanganku untuk berbuat, maka hasil perbuatan pun kuserahkan kepada-Mu.”

Dikutip dari buku: (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

 

Om, Sarve bhavantu sukhinaḥ; Sarve santu nirāmayāḥ; Sarve bhadrāṇi paśyantu; Mā kashchit duḥkha bhāgbhavet; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga semua makmur, bahagia dan bebas dari penyakit. Semoga semua mengalami peningkatan kesadaran, dan bebas dari penderitaan. Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/

 

Gampang Tergoda untuk Mengulangi Kebiasaan Buruk Masa Lalu #Yoga #Patanjali

Kadang-kadang kita sudah merasa melangkah ke arah kesadaran. Kita sudah berbuat baik. Sebelum bertindak kita ingat golden rules, kalau saya melakukan ini terhadap orang lain, apakah saya suka bila orang lain melakukan hal ini terhadap saya?

Akan tetapi dalam kenyataannya, kadang-kadang kita mudah terseret kembali ke kebiasaan lama kita.

Ayat Patanjali I.18 dan I.19 akan menjelaskan mengapa kita mudah terseret kepada kebiasaan lama. Dan, bahkan obsesi untuk melakukan kebiasaan lama akan membuat kita lahir kembali……

Buku Yoga Sutra Patanjali

Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu: Saha vīryam karavāvahai;Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai.Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga Hyang Tunggal senantiasa melindungi kita; menjernihkan pikiran kita: semoga kita dapat berkarya bersama dengan penuh semangat; semoga apa yang kita pelajari mencerahkan dan tidak menyebabkan permusuhan; Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

Kesan-kesan dari masa lalu ini boleh diumpamakan sebagai file yang sudah di-delete, tapi belum musnah, masih ada di hard-disk, masih bisa di-retrieve. Retrievable file ini, walau tidak “se”-berbahaya file memori yang masih terpakai, tapi tidak aman-aman pula.

 

CONTOH LAIN. Hola sudah lama lepas, sudah bersih dari rokok, shabu, ganja, dan sebagainya. Tetapi, ketika ia mencium aroma tembakau atau daun ganja yang terbakar, “Wah aromanya sedap sekali!”

Berarti, ia masih memiliki retrievable file tentang memori sedapnya aroma tembakau dan ganja.

Sebaliknya, Bola yang memang tidak pernah dan tidak suka merokok, saat mencium aroma yang sama, memberikan komentar berbeda, “Bau apa ini, apa yang terbakar?!”

Hola dan Bola mencium aroma yang sama. Namun, komentar mereka sesuai clengan purva samskara mereka masing-masing. Hola punya pengalaman sebagai “pemakai” pada masa lalu, maka aroma itu diterjemahkannya sebagai “sedap”. Bola tidak punya pengalaman rnasa lalu, maka ia menerjemahkannya sebagai “bau bakar”—bahkan, “bakar apa” pun tidak bisa ditentukannya.

Dalam hal ini, Hola dengan bekas residu atau sisa impresi masa lalu “berpotensi” untuk tergoda dan mulai merokok lagi, “memakai” lagi. Sebaliknya, Bola yang tidak memiliki seperti itu, relatif lebih aman.

 

CELAKANYA, DALAM HAL KEBENDAAN, tidak seorang pun di antara kita yang bisa menyebut dirinya Bola, yang bisa menganggap berada dalam wilayah aman. Kita semua Hola. Kita semua belum aman. Wujud kita beda, jenis residu kita beda; tapi tidak ada seorang pun di antara kita yang tidak memiliki residu atau sesa dari purva samskara—impresi-impresi dari berbagai pengalaman pada masa lalu.

Ada yang memiliki kesan dan impresi merokok; ada yang memiliki kesan menyabu; ada yang punya pengalaman dengan scotch; ada yang pernah termabukkan, tergila-gila oleh harta; ada yang oleh takhta; ada yang oleh wanlta, pria, atau di antaranya; ada yang masih memiliki kesan berkeluarga pada masa lalu, sebaliknya, ada ‘pula yang punya kesan melarikan diri dari tanggung jawab dan menyepi di hutan.

Intinya, tidak seorang pun bisa menyebut dirinya sudah behas seperti Bola, dan berada dalam wilayah aman. Kita semua Hola, masih dalam zona bahaya, danger zone! Jadi, sudah melakoni hidup berkesadaran selama berapa tahun pun, kita mesti tetap menjaga diri.

Kita mesti tetap berniat kuat, dan berupaya terus-menerus untuk mengeliminasi kesan-kesan dari masa lalu tersebut. Retrievable files mesti dihapus untuk selamanya.

 

RETRIEVABLE FILES PURVA SAMSKARA hanya membutuhkan trigger kecil, pemicu berkekuatan rendah di luar, untuk muncul kembali ke permukaan.

Jadi, selain mengeliminasi files dari masa lalu, kita pun mesti pintar-pintar menjalani, melewati masa kini tanpa meninggalkan residu. Kita mesti hidup tanpa menyisakan sampah-kesan. Kalau tidak, maka sepanjang usia kita akan tersibukkan oleh upaya penghapusan files masa lalu, sembari menambah files masa kini yang kelak akan menantang dan mengganggu kita lagi.

Untuk itulah adanya teknik-teknik dalam Yoga, yang akan kita dalami sepanjang perjalanan kita lewat sutra-sutra ini. Pun, di bagian akhir buku ini, ada beberapa saran yang sudah teruji dan terbukti manfaatnya, dan dapat membantu Anda.

Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2015). Yoga Sutra Patanjali Bagi Orang Modern, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

………………

Kalau files yang harus dieliminasi belum tereliminasi maka kita pun akan lahir kembali.

“Kendati sudah videha, tidak berbadan, dan (elemen-elemen yang menciptakan badan pun sudah terurai serta) menyatu kembali dengan prakrti atau alam-benda—kehendak kuat untuk tetap hidup di dunia-benda bisa tersisa, dan menyebabkan terjadinya kelahiran ulang.” Yoga Sutra Patanjali I.19

 

Kehendak itu muncul dari purva samskara, dari residu kesan-kesan sepanjang hidup yang masih ada dalam gugusan pikiran serta perasaan.

 

BERARTI, SAAT KEMATIAN, hanya elemen-elemen alami kebendaan murni, seperti air, api, tanah, udara, dan subtansi eter dalam ruang saja yang terurai. Elemen-elemen halus, seperti mind, manah atau gugusan pikiran serta perasaan; ego atau ahamkara, dan sebagainya belum terurai. Mereka masih mengkristal, masih utuh—dan mereka inilah yang kemudian mencari badan baru untuk mengalami kehidupan-ulang.

Keadaan tersebut adalah keadaian umum. Biasanya demikian. Tidak selalu. Jika semasa hidup seseorang sudah bebas dari residu kesan dan pesan masa lalu, pun tiada lagi sesuatu yang dapat mengikat dirinya dengan alam benda, maka saat kematian fisik, bukan saja elemen-elemen alami seperti tanah, air, dan sebagainya yang terurai—mind, ego, intelek, semua ikut terurai. Tiada lagi sesuatu yang mengkristal.

Tiada kesan dan pesan; tiada ingatan atau obsesi; tiada niat untuk “berada” kembali di alam benda ini—maka, Jiwa Individu atau Jivatma menyatu dengan Sang Jiwa Agung, Paramatma.

Bagaimana mencapai keadaan itu?

Selesaikan semua pekerjaan sekarang, saat ini, dalam kehidupan ini juga. Jangan menyisakan pekerjaan rumah. Jangan menyisakan sesuatu yang bisa menjadi benih, bisa menjadi citta yang rentan terhadap vrtti, gejolak, fluktuasi, modifikasi; dan dapat memulai serangkaian pengalaman-pengalaman baru.

Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2015). Yoga Sutra Patanjali Bagi Orang Modern, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Om, Sarve bhavantu sukhinaḥ; Sarve santu nirāmayāḥ; Sarve bhadrāṇi paśyantu; Mā kashchit duḥkha bhāgbhavet; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga semua makmur, bahagia dan bebas dari penyakit. Semoga semua mengalami peningkatan kesadaran, dan bebas dari penderitaan. Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/

 

Semangat Manembah: dari Dualitas Menuju Kemanunggalan #BhagavadGita

Brahma Produk Dualitas demikian juga kita, tapi Brahma mencipta dengan semangat panembahan.

 

“Manusia terikat oleh dan karena perbuatannya sendiri, kecuali jika ia berbuat dengan semangat manembah. Sebab itu, Kaunteya (Arjuna, Putra Kunti), laksanakanlah tugasmu dengan baik, tanpa keterikatan, dan dengan semangat manembah.” Bhagavad Gita 3:9

Buku Bhagavad Gita

Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu; Saha vīryam karavāvahai; Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga Hyang Tunggal senantiasa melindungi kita; menjernihkan pikiran kita: semoga kita dapat berkarya bersama dengan penuh semangat; semoga apa yang kita pelajari mencerahkan dan tidak menyebabkan permusuhan; Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

Setiap pekerjaan sudah pasti memiliki konsekuensi. Ada yang berkonsekuensi baik, ada yang kurang baik, dan ada yang tidak baik. Sehlngga, klta semua tldak bisa bebas dan konsekuensi perbuatan kita rnasing-masing, kecuali…. Dan “kecuali” ini adalah “kecuali yang membebaskan kita dari segala konsekuensi”, yakni………

 

BERBUAT DENGAN SEMANGAT MANEMBAH – Haturkan segala pekerjaanmu sebagai persembahan pada Gusti Pangeran. Bertindaklah karena cintamu, kasihmu pada-Nya.

Dengan cara itu;

Pertama, perbuatan kita menjadi baik dan tepat dengan sendirinya. Apakah kita mau menghaturkan sesuatu yang tidak baik kepada Hyang kita cintai? Mustahil.

Kedua, kita menjadi efisien. Tidak membuang waktu. Ingat saat kita berpacaran, bagaimana menjadi tepat waktu. Pertemuan dengan si doi menjadi urusan utama, prioritas utama.

Berpacaranlah dengan Gusti Pangeran. Pacar-pacar Iain akan meninggalkan kita, cinta kita hanyalah berlanjut selama satu atau beberapa musim saja. Sementara itu, cinta Gusti Pangeran ibarat arak yang tambah lama, tambah memabukkan.

Ketiga, ketika kita betul-betul mencintai seseorang, kita tidak mengharapkan sesuatu. Keinginan kita adalah untuk memberi saja. Barangkali kaum Adam sulit rnemahami hal ini. Kaum Hawa lebih memahaminya. Sebab itu, dalam hal menjalin hubungan dengan Gusti, jadilah seperti seorang perempuan, memberi, memberi, dan memberi.

Inilah cinta sejati. Inilah berkarya tanpa keterikatan pada hasil, tanpa pamrih. Inilah Karma Yoga. Dan, ini pula bhakti — panembahan yang sesungguhnya.

 

“Prajapati Brahma – Sang Pencipta dan Penguasa makhluk-makhluk ciptaannya – menciptakan umat manusia dengan semangat persembahan dan pesannya ialah, “Berkembanglah dengan cara yang sama (berkarya dengan semangat persembahan) dan raihlah segala kenikmatan yang kau dambakan.” Bhagavad Gita 3:10

 

Penciptaan terjadi ketika Hyang Tunggal berkehendak untuk “menjadi banyak”. Selama masih tunggal, tanpa dualitas, penciptaan tidak mungkin. Berarti,

 

BRAHMA, SANG PENCIPTA ADALAH PRODUK DUALITAS – Anda dan saya, kita semua adalah produk dualitas pula. Kita lahir, hidup berkarya, dan mati dalam kesadaran dualitas. Kemanunggalan adalah hakikat kita, ya, tapi, saat ini kita tidak manunggal lagi. Saat ini kita terpisah, atau setidaknya “merasa” berpisah dari Hyang Tunggal. Maka kita mesti mengupayakannya kembali.

 

BAGAIMANA CARANYA? Sang Pencipta telah memberikan clue, isyarat. Yaitu, dengan berkarya dengan semangat pesembahan. Ia mengatakan kepada makhluk-makhluk ciptaannya, kepada manusia, “Aku pun demikian. Aku pun menciptakan semua dengan semangat persembahan, dengan semangat melayani.”

 

Dengan cara itulah, kita baru bisa mengikis ego kita, tidak membiarkannya meraja. Idam na mama – bukan aku, bukan ego-ku, bukan indra, bukan gugusan pikiran dan perasaan, bukan intelegensia – aku adalah Jiwa, percikan Sang Jiwa Agung. Segala apa yang terjadi lewat badan, indra, dan lainnya adalah persembahan pada-Nya.

Selain membebaskan kita dari ego, keangkuhan, semangat manembah juga memastikan bahwa apa pun yang kita perbuat adalah yang terbaik. Persembahan yang dihaturkan kepada Sang Kekasih Agung, Gusti Pangeran, mestilah yang terbaik.

Dikutip dari buku: (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

 

Om, Sarve bhavantu sukhinaḥ; Sarve santu nirāmayāḥ; Sarve bhadrāṇi paśyantu; Mā kashchit duḥkha bhāgbhavet; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga semua makmur, bahagia dan bebas dari penyakit. Semoga semua mengalami peningkatan kesadaran, dan bebas dari penderitaan. Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/