Ooh! Ternyata Kita Hidup dalam Dunia Maya, Ilusi! Betulkah Demikian?

 

Keinginan Manusia Sulit Terpenuhi

Swami Vivekananda (1863-1902) mengatakan bahwa kita tidak perlu kembali ke zaman prasejarah, karena adalah fakta pada saat ini mirip seperti dua ribu tahun yang lalu. Kita tidak menemukan kepuasan dari keinginan yang tidak terbatas. Tidak ada akhir dari keinginan kita. Ketika kita berupaya memenuhi keinginan, kesulitan itu datang.

Bahkan pikiran yang sederhana di masa lalu yang hanya ingin beberapa hal, tidak dapat terpenuhi. Saat ini ketika kemajuan zaman meningkat dengan pesat, keinginan tetap tidak dapat terpenuhi juga. Kita berjuang menyempurnakan sarana pemenuhan keinginan, akan tetapi besaran keinginan meningkat juga.

Swami Vivekananda kemudian menjelaskan bahwa untuk memenuhi keinginan yang tidak bisa diperoleh tersebut manusia minta bantuan kekuatan lain. Selanjutnya Swami Vivekananda mennyampaikan perkembangan Wujud Pembantu Pemenuhan Keinginan tersebut mulai dari dewa sampai dengan Tuhan. Kita bisa bicara besar, menjadi filsuf, akan tetapi ketika pukulan kehidupan datang kita tetap minta bantuan dari kekuatan dari luar. Di akhir tulisan Swami Vivekananda menyinggung tentang Maya atau Ilusi. Untuk melepaskan diri dari jerat maya perlu dibantu orang kuat yang telah keluar dari jerat maya.

Sumber: Complete Works of Swami Vivekananda Volume 1 Lecture n Discourses Soul n God

 

Maya atau Ilusi

Kita baru bisa memahami (belum mengalami, mempraktekkan dalam kehidupan sehari-hari) Maya, ilusi yang mempunyai kekuatan untuk:

  1. menyembunyikan sifat dasar yang sejati dan
  2. menimbulkan kesan yang keliru sehingga yang tidak nyata tampak sebagai nyata.

Kedua hal tersebut membuat Brahman (Tuhan) yang Tunggal dan Esa tampak sebagai: Jiwa, Isvara (Tuhan), dan Alam Semesta; tiga hal yang sesungguhnya hanya satu!

Kemampuan maya terpendam, tetapi bila menjadi nyata, ia akan mengambil wujud manas, pikiran. Pada waktu itulah benih pohon yang besar (yaitu alam semesta) mulai bertunas, menumbuhkan daun dorongan mental (vasana) dan kesimpulan mental (sankalpa). Jadi, seluruh dunia objektif ini hanya berkembang biak dari manas. Maya, ilusi-lah yang menimbulkan khayal adanya Jiwa, Isvara (Tuhan), dan Alam Semesta.

Dari uraian di atas kita lanjutkan dengan pemahaman dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia via #BhagavadGitaIndonesia

Sangat Sulit Melampaui Maya, Ilusi, Hijab

“Di antara beribu-ribu orang, belum tentu seorang pun berupaya untuk mencapai kesempurnaan diri. dan, di antara mereka yang sedang berupaya, belum tentu seorang yang memahami kebenaran-Ku.” Bhagavad Gita 7:3

Kesempurnaan diri adalah kesempurnaan dalan Jnana (Pengetahuan Sejati yang mesti dialami sendiri) dan Vijnana (ilmu, dalam pengertian sains, mengajarkan kita untuk menerjemahkan pengetahuan sejati yang kita peroleh, telah kita alami ke dalam bahasa keseharian hidup). Banyak di antara kita yang sudah merasa puas dengan apa yang kita baca dalam kitab-kitab tebal, seperti yang ada di tangan kita saat ini. Hanyalah segelintir saja yang berupaya untuk memperoleh pengalaman pribadi.

Dan di antara segelintir yang sedang berusaha demikian pun, belum tentu satu orang yang mencapai kesempurnaan, dalam pengertian memahami kebenaran-Nya – Kebenaran Jiwa Agung.

Pengamatan Krsna merupakan tantangan bagi siapa saja – Tantangan bagi setiap orang yang menganggap dirinya berketuhanan, berkeyakinan, berkepercayaan, dan sebagainya. Adakah kita memuja-muja Tuhan, menyembah Tuhan untuk mendekatkan diri dengan-Nya, atau justru untuk menjauhkan diri dari-Nya?

Setiap doa untuk hal-hal bersifat duniawi – untuk mendapatkan rezeki, pekerjaan, jodoh, anak dan sebagainya – tidak mendekatkan diri kita dengan Tuhan. Dikutip dari buku dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia via #BhagavadGitaIndonesia

Berarti pada uraian Swami Vivekananda tentang keinginan yang sulit terpenuhi, bila kita berdoa untuk hal-hal duniawi tersebut kita telah terjerat semakin dalam dalam maya, ilusi.

 

4 Macam Panembah Mulia

“Adalah empat jenis panembah mulia yang memuja-Ku, Bharatarsaba (Arjuna, Banteng Dinasti Bharata) – seorang yang sedang mengejar dunia benda; seorang yang sedang menderita; seorang pencari pengetahuan sejati; dan seorang bijak.” Bhagavd Gita 7:16

Mereka yang sedang mengejar harta-benda; mereka yang sedang mengejar kekuasaan duniawi – kemudian menyisihkan waktu untuk berdoa, menyisihkan sebagian dari penghasilannya untuk beramal saleh – mereka pun panembah yang sudah berbuat baik. mereka pun mulia adanya. Apa yang mereka lakukan adalah kemuliaan, perbuatan yang mulia.

Kelompok Kedua adalah mereka yang sedang menderita, barangkali sakit, barangkali stres, barangkali miskin – atau ada penderitaan lain. Mereka berdoa supaya bisa bebas dari penderitaan. Bagi Krsna, mereka pun telah berbuat mulia. Mereka pun panembah. Mereka tidak mengetuk pintu seseorang yang zalim atau bersekongkol dengan pihak yang berada dalam kubu adharma. Mereka tidak mencari jalan pintas atau jalan adharma untuk mengakhiri penderitaan.

Kelompok Ketiga adalah para pencari pengetahuan sejati, kebenaran sejati. Termasuk kita semua yang sedang membaca tulisan ini – kemungkinan besar – berada dalaam kelompok ketiga ini. Anda membeli buku ini dengan tujuan tersebut. Anda tidak membelinya untuk menjadi kaya-raya dalam sekejap. Anda tidak membelinya untuk mendapatkan voucher untuk masuk surga. Tidak. Anda membeli dan sedang membacanya untuk mengenal diri, untuk meraih pengetahuan sejati.

Namun, di atasnya adalah Kelompok Keempat, kelompok yang bijak.

“Di antaranya seorang bijak adalah yang utama, terbaik – karena ia senantiasa menyadari hakikat dirinya, mengidentifikasikan dirinya dengan Jiwa, dengan-Ku; dan, memiliki semangat manembah, devosi. Seorang bijak yang menyadari hakikat-Ku, amat sangat mengasihi-Ku, dan Aku pun sangat mengasihinya.” Bhagavad Gita 7:17

“Semuanya memang mulia (keempat jenis panembah tersebut sama-sama mulia). Kendali demikian, seorang bijak yang sesungguhnya adalah diri-Ku sendiri; demikian pendapat-Ku. Seorang Panembah yang gugusan pikiran serta perasaannya; intelegensia dan kesadarannya selalu terpusatkan pada-Ku, larut di dalam-Ku, dan mencapai-Ku, yang mana adalah tujuan tertinggi.” Bhagavad Gita 7:18 Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia via #BhagavadGitaIndonesia

 

Kedekatan dengan Sang Sutradara untuk Mengakhiri Maya, Ilusi

“Ketika seorang bijak menyadari segala sesuatu sebagai perwujudan-Ku, perwujudan Tuhan; kemudian dengan kesadaran demikian, ia memuja-Ku – maka ketahuilah bahwa ia telah mencapai ujung kelahiran dan kematiannya. Inilah kehidupannya yang terakhir. Seorang seperti itu sungguh sukar ditemukan.” Bhagavad Gita 7:19

………….

“Maya – Kekuatan yang bersifat ilusif memberi kesan “ada” padahal “tidak ada”. Maya memang diciptakan untuk memfasilitasi pertunjukan-Nya di atas panggung dunia ini. Seperti halnya para penyelenggara pertunjukan modern menggunakan sound system, lighting, dan berbagai peralatan mutakhir lainnya untuk memeriahkan pertunjukan – pun demikian Tuhan menggunakan maya untuk menciptakan berbagai ilusi!

…………..

SANG SUTRADARA MENJELASKAN HAL ITU kepada seorang sohib, seorang yang dipercayainya, dicintainya, disayanginya. Ia tidak akan membuka semua kartunya di depan siapa saja. Tidak. Demikian pula dengan Krsna dalam Gita. Ia menjelaskan hal-hal yang terjadi di belakang panggung. Ia menjelaskan cara kerja alam semesta kepada Arjuna yang memang layak untuk mendengarkannya.

………….

UNTUK KELUAR DARI ILUSI ITU. Untuk mengetahui ihwal di balik panggung, kelayakan Arjuna hanyalah satu. Yaitu, “kedekatan”nya dengan Krsna. Hubungannya dengan Krsna. Inilah kelayakan Arjuna. Dekatilah Sang Sutradara – dan Ia akan membuka, mengungkapkan segala rahasia, sebagaimana yang terjadi antara Krsna dan Arjuna.

Dengan memuja-muji pertunjukan-Nya, dengan mengagumi ilusi-Nya – kita menjadi penonton yang baik. Namun hanyalah dengan cara bersahabat dengan-Nya – maka, Ia akan mengajak kita ke ruang rahasia-Nya.

Bersahabatlah dengan-Nya! Dan, landasan bagi persahabatan adalah cinta-kasih, cinta-kasih yang tulus. Inilah kelayakan Arjuna yang mana mesti menjadi kelayakan diri kita juga. Lima huruf dalam kata “Cinta” atau “Kasih” mengandung semua huruf dari semua kata. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia via #BhagavadGitaIndonesia

Untuk lebih detailnya silakan baca ulang Percakapan Ketujuh Jnana Vijnana Yoga.

Advertisements

Mengapa Sinkron dengan Kejahatan atau Kebaikan? Bagaimana Sinkron dengan Guru?

Semua Pikiran di Alam Semesta yang Satu Frekuensi dengan Pikiran Kita Akan Mempengaruhi

Ketika seseorang melakukan tindakan jahat, mereka menjadi semakin jahat. Dan, ketika seseorang mulai berbuat baik, mereka menjadi lebih kuat untuk melakukan kebaikan. Setiap tindakan kita akan membawa pengaruh penguatan intensitasnya. Dalam ilmu fisika, ketika saya melakukan tindakan tertentu, pikiran saya akan berada dalam getaran tertentu. Semua pikiran yang mempunyai frekuensi yang sama akan terpengaruh oleh pikiran saya. Ketika sebuah alat musik dibunyikan, maka alat musik lainnya yang mempunyai frekuensi sama pada ruangan yang sama akan bergetar. Jadi semua pikiran yang sama frekuensinya akan terpengaruh oleh getaran pikiran yang sama. Tentu saja pengaruh ini akan bervariasi karena ada faktor-faktor lainnya. Akan tetapi pikiran selalu terbuka untuk getaran kasih.

Seandainya saya melakukan tindakan jahat, pikiran saya berada pada frekuensi tertentu dan semua pikiran di alam semesta yang mempunyai frekuensi sama akan terpengaruh oleh getaran pikiran saya. Demikian juga apabila saya melakukan tindakan baik, pikiran saya berada pada frekuensi yang lain dan akan mempengaruhi pikiran yang satu frekuensi dengan pikiran saya.

Mengikuti analogi tersebut, sangat mungkin seperti gelombang cahaya dari bintang yang berjalan selama jutaan tahun sebelum mencapai obyek, maka gelombang pikiran mungkin juga berjalan ratusan tahun sebelum bertemu dengan obyek yang satu frekuensi dengannya.

Oleh karena itu, sangat mungkin bahwa atmosfir kita ini penuh dengan getaran pikiran, baik dan jahat. Setiap pikiran yang diproyeksikan dari setiap otak bergetar terus, sampai bertemu dengan obyek yang selaras frekuensinya yang menerimanya. Pikiran yang terbuka untuk menerima getaran batin ini akan segera mengambilnya, semacam intuisi.

Jadi, ketika seseorang melakukan tindakan jahat, dia telah menghasilkan frekuensi tertentu dan semua pikiran yang selaras frekensinya di atmosfir, akan berjuang masuk ke dalam pikirannya. Itulah sebabnya, seorang pelaku kejahatan pada umumnya akan terus melakukan banyak kejahatan.

Demikian juga yang terjadi dengan pelaku kebaikan, dia akan membuka diri untuk semua getaran baik yang ada di atmosfir dan tindakan baiknya akan menjadi lebih intensif.

Oleh karena itu kita menerima dua pengaruh dalam melakukan kejahatan: pertama kita membuka diri terhadap semua pengaruh jahat di sekitar kita; dan kedua kita akan mempengaruhi orang lain, mungkin ratusan tahun kemudian. Dalam melakukan kejahatan kita melukai diri sendiri dan juga orang lain. Demikian juga yang terjadi bila kita melakukan kebaikan, kita akan berbuat baik bagi diri sendiri dan orang lain juga. Semua kekuatan baik dan jahat juga akan menarik kekuatan yang sama dari luar.

Sumber: Complete Works of Swami Vivekananda Volume 1 Karma Yoga Non Attachment

Bagaimana Cara Mensikronkan Diri dengan Mereka yang Berkesadaran Tinggi

Sumber: Video Youtube: Law of Synchronization by Anand Krishna

Sadar atau tidak sadar otak kita mencatat, meregister segala sesuatu. Jarang yang menggunakan kapasitas otaknya sampai 10% kebanyakan hanya 6-7%. Sisa kapasitas otak tersebut digunakan sebagai gudang memori. Semua kejadian yang kita alami selama 5.000 tahun atau misalnya kita sudah berkali-kali lahir dalam berbagai wujud sebanyak 40-50 atau 60 kali, semua kejadian tersebut disimpan dalam otak. Oleh karena itu kita mempunyai memori pengalaman hidup yang banyak sekali dalam berbagai wujud dan dalam berbagai keadaan.

Salah satu memori dari ruang simpanan tersebut kadang naik ke permukaan karena dipicu oleh hal tertentu. Para Yogi menggunakan hal itu sebagai alat sinkronisasi dengan level kesadaran yang lebih tinggi. Misalnya kita tertarik dengan kera, maka memori tentang kera dalam simpanan kita sedang naik ke permukaan. Para Yogi memberikan kita kisah-kisah tentang Hanuman, Kera Ilahi. Tubuh, mental emosional yang kita simpan boleh saja berupa kera akan tetapi kita bisa mensinkronkan Jiwa Kera dalam diri dengan Kera Ilahi, Hanuman.

Itulah sebabnya dalam kitab-kitab seperti “Pancatantra” berbagai “Katha” yang berkisah tentang binatang dapat meningkatkan kesadaran Jiwa anak-anak kecil. Misal kita tertarik dengan gajah, berarti memori gajah dalam diri sedang naik ke permukaan. Kisah tentang Gajah Ilahi, Ganesha dapat meningkatkan kesadaran Jiwa kita. Gajah terkait dengan sifat bijaksana.

Pada kisah-kisah Srimad Bhagavatam kita bisa meningkatkan kesadaran kita dengan Idola kita apakah Sri Krishna, ataukah tokoh idola yang lain. Buddha menggunakan kisah-kisah “Jataka” untuk meningkatkan kesadaran Jiwa para pembacanya. Ada juga kisah sufi tentang Musa, Khidir, dan sebagainya.

Sumber: Video Youtube: Law of Synchronization by Anand Krishna

 

Selaras dengan penjelasan Swami Vivekananda di atas, pada saat kita melakukan kejahatan, kita menurunkan kesadaran dan satu frekuensi dengan mereka yang berkesadaran rendah.

Bagaimana cara mensinkronkan diri kita dengan Istha Deva, Dewa Idola, Wujud Gusti sebagai Dewa yang menjadi idola kita? Bagaimana cara mensinkronkan diri dengan Guru Kita? Tulisan di atas mungkin bisa dipakai sebagai masukan.

Reinkarnasi: Bagaimana Jiwa Memilih Orangtua Dalam Kehidupan Ini

Penjelasan Reinkarnasi oleh Swami Vivekananda

Seluruh alam semesta terikat oleh hukum sebab-akibat. Tidak mungkin ada apa pun, fakta apa pun – baik di dalam diri maupun di luar diri – yang tidak ada penyebabnya. Selanjutnya, penyebab penderitaan adalah diri kita sendiri. Saya sangat senang ke luar dari ruangan menembus tembok, tapi saya tidak bisa. Saya sangat senang tidak akan sakit, tapi saya tak dapat mencegah datangnya sakit. Saya sangat senang tidak mati, tapi saya harus mati pada waktunya nanti. Saya senang akan jutaan hal, tapi saya tidak dapat melakukannya. Kita menderita bila keinginan tidak tercapai. Ketika kita tidak terpenuhi keinginannya kita akan menderita. Siapa penyebab keinginan? Saya sendiri. Oleh karena itu saya sendiri penyebab semua penderitaan yang saya hadapi.

Penderitaan dimulai dengan kelahiran anak yang lemah dan tak berdaya memasuki dunia. Tanda kehidupan pertama adalah menangis. Sekarang, bagaimana kita bisa menjawab penyebab penderitaan di awal kelahiran? Pasti ada penyebabnya di masa lalu.

Untuk memahami reinkarnasi, pertama-tama kita harus tahu bahwa di alam semesta ini tidak ada sesuatu yang bisa dihasilkan dari ketiadaan. Jika ada Jiwa manusia, maka dia tidak bisa dihasilkan dari ketiadaan. Jika sesuatu dapat dihasilkan dari ketiadaan, maka sesuatu akan lenyap menjadi tidak ada. Yang memiliki awal pasti memiliki akhir. Oleh karena itu, sebagai Jiwa kita tidak memiliki awal, Jiwa kita telah ada sepanjang waktu.

Anak lahir dengan seikat penyebab. Kita melihat banyak hal dari anak yang tidak dapat dijelaskan selain kita mengakui dia memiliki pengalaman masa lalu. Misalnya takut akan kematian, sejumlah kecenderungan bawaan, siapa yang mengajari bayi menyusu pada ibunya? Dari mana dia memperoleh pengetahuan ini? Kita tahu bahwa tidak mungkin ada pengetahuan tanpa pengalaman.

Naluri anak? Tidak ada naluri yang terpisah dari kebiasaan. Semua yang ada di diri kita adalah hasil dari kebiasaan, dan kebiasaan adalah hasil dari pengalaman. Tidak mungkin ada pengetahuan kecuali  dari pengalaman. Bayi pasti punya pengalaman juga. Bayi tidak masuk ke dunia dengan “tabula rasa”, pikiran yang kosong. Bayi telah dilengkapi dengan bundel pengetahuan. Tidak mungkin bayi yang pikirannya kosong langsung bisa menyusu dan memiliki sifat bawaan tertentu. Melalui transmisi warisan bawaan orangtua? Kita memahami trasmisi fisik tapi transmisi mental? Kita tidak memahami transmisi mental.

Apa yang menyebabkan saya terlahir dengan orangtua yang memberikan sifat bawaan tertentu? Pasti ada penyebabnya. Apa yang membuat saya datang kembali? Pasti ada penyebabnya. Apa yang membuat Jiwa saya masuk ke dalam tubuh orangtua tertentu? Pasti ada penyebabnya. Inilah yang disebut Karma, atau, dalam bahasa Inggris hukum sebab-akibat.

Sumber: Complete Works of Swami Vivekananda Volume 9 Lectures and Discourses First Step Towards Jnana

Penjelasan Bapak Anand Krishna tentang Bagaimana Jiwa mencari Orangtua

Sumber: Video Youtube Reincarnation: A Secret Revealed by Anand Krishna

Tidak setiap jiwa , kebanyakan dari kita pada waktu kematian kita memasuki terowongan. Terowongan yang sangat gelap. Dan berdasar impressi terakhir, dalam waktu terakhir dari kehidupan kita menghadapi pemutaran seperti televisi. Film lama, tape lama, kita mengalami seperti menemukan film diri kita. Dan hanya membutuhkan beberapa menit. Kadang-kadang hanya beberapa detik dalam 1 menit.

Pada waktu itu secara klinis kita sudah dinyatakan mati. Secara fisik kita sudah mati. Pada waktu itu pemutaran kembali film berjalan. Dan pemutaran kembali tetap berjalan karena mesin tetap berjalan. Mesin tetap berjalan tetap ada sisa napas tertinggal. Seperti fan. Walau dimatikan tetap ada listrik yang mengalir, dan baling-baling fan tetap bergerak sampai waktunya berhenti. Sehingga walau otak kita sudah tidak berfungsi, tetap ada energi tertinggal. Dan menggunakan energi yang ada mind (bukan brain) memutar kehidupan selama hidup. Bukan semua impresi tetapi impresi utama. Impresi utama, memori utama akan kembali.

Berdasarkan itu,  sebelum gelap total, Soul (jiwa) mempunyai program: Untuk kehidupan ke depan aku akan mencari orangtua semacam itu. Pada waktu itu dalam waktu 1 menit. Dalam detik-detik terakhir, tapi Anda bisa merasakan sangat lama. Anda seakan-akan hidup kembali selama kehidupmu. Tapi sebetulnya sangat-sangat singkat waktunya. Dan ada kebingungan waktu. Oke dalam kehidupan ke depan aku akan hidup dalam semacam keluarga itu. Apabil soul tetap berupaya ke keluarga tersebut, dia akan segera lahir kembali di keluarga tersebut.

Tapi apabila soul terikat pada situasi yang berbeda. Kebanyakan dari orang Barat, datang ke Bali tahun 1960-an sampai tahun 1970-an. Mereka jatuh cinta pada Bali. Dan itulah pikiran terakhir sebelum mati. Apakah mereka dari Belanda, Jerman, atau US, pikiran terakhir adalah Bali. Dan mereka lahir di Bali. Sehingga banyak yang lahir setelah tahun 1970-an, mereka adalah orang Barat murni di kehidupan sebelumnya.

Dan mereka sekarang agak bingung, karena Bali yang dilihat pada waktu itu, sangat berbeda dengan  Bali saat ini. Sekarang total berbeda dengan Bali dalam pikiran mereka. Dan tidak hanya itu mereka melihat pandangan yang cerah dari Bali. Dan karena mereka lahir di Bali mereka melihat gambar sepenuhnya. Ternyata ada yang bright side ada yang dark side, anyway. Sehingga mereka sadar ini bukan Bali yang dalam visi mereka. Mereka bingung dan ini yang membuat kebingungan dalam masyarakat Bali. Mereka melupakan nilai masyarakat Bali. Mereka belum tahu nilai semacam dan mereka tidak dapat melakukan nilai-nilai Barat juga.

Anda harus sangat-sangat berhati-hati. Itulah sebabnya dalam Bhagavad Gita Krishna mengatakan: Apa saja yang kau ingat selama hidup akan datang lagi ingatan tersebut saat kau akan mati. Ketika kamu sangat menyukai sesuatu kamu harus sangat berhati-hati. Mengapa kamu menyukai hal tersebut. Atau mengapa kamu tidak menyukai sesuatu. Itulah sebabnya Krishna berkata lampauilah like dan dislike. Dan apabila kau melampui like dan dislike, Dan kau fokus pada soul enhancement, peningkatan Jiwa. Progres dari pada soul. Meditasi adalah tentang hal tersebut.

Dan progres soul dimulai dari motto one earth sky one human kind. Apakah kamu Barat atau Bali, India, China, Eropa, tidak masalah. Soul tidak terikat dengan geografi tertentu. Soul ingin memperkaya dirinya sendiri.

Jadi jangan mempunyai keinginan untuk lahir dalam negera tertentu. Punyalah keinginan untuk peningkatan Jiwa. Apabila kamu punya keinginan untuk lahir di Bali. Yang mungkin tidak meningkatkan Jiwamu, satu masa kehidupan bisa terbuang sia-sia. Lampauilah like dan dislike. Datang ke Bali dan nikmati Bali. Balik ke negeramu nikmati negeramu. Ada yang baik ada yang jelek. Semua negara seperti itu. Tidak ada negara yang semuanya baik. Tidak ada negara yang semuanya jelek. Sehingga nikmati, tapi jangan terikat dengan suatu tempat. Ini dasar ajaran Yoga. Yoga Sutra Patanjali  menyampaikan, jangan terikat pada sesuatu. Saat anda terikat pada sesuatu maka anda akan kecewa.

Jadi banyak waktu kita tidak memilih orangtua. Tapi kita memilih situasi, daripada  memilih orangtua yang pasti. Ayah kamu mungkin adalah anak kamu dalam kehidupan sebelumnya. Siapa yang jadi ibumu mungkin pacar perempuanmu dalam kehidupan sebelumnya.

Tetapi kebanyakan setelah tiga menit itu, kita berada dalam kegelapan total. Kita tidak ingat sesuatu sama sekali. Anda kembali ingat pada memori setelah berumur 6-7 bulan dalam kandungan. Inilah waktunya soul masuk ke dalam kandungan ibu secara total sempurna. Jadi banyak waktu yang tidak terbawa sepanjang waktu dari 1 bulan sampai 7 bulan. Bisa saja dalam kandungan, kita berpikir, saya merasa tidak nyaman dan ingin meninggalkan kandungan.

Berdasar para yogi, soul berada dalam kandungan secara lengkap setelah 7 bulan. Dan kemudian ingin keluar. Saat bayi menendang perut ibu sebenarnya dia ingin keluar. 3 bulan hanya dalam kegelapan. Kita tidak makan apa-apa kecuali menyedot darah ibu. Kita semua drakula. Kita semua vampir. Kita minum darah sebelum lahir dan minum susu setelah lahir.

Selama 2-3 bulan ini sangat kritis setelah 7 bulan. Antara 7-9 bulan jiwa mengingat semuanya. Dan pada waktu itu telah memutuskan rencana masa depan. Saya telah mengerjakan ini ini dan ini dalam kehidupan yang lalu. Dan saya akan membuat koreksi. Apabil berbuat salah atau salah kalkulasi, kehidupan masa lalu ku tidak kondusif. Dengan perkembangan jiwaku, saya harus memikirkan sesuatu yang lain. Sehingga dalam dua bulan itu kita membuat keputusan lagi. Oke, saya telah memilih keluarga yang salah. Sekarang saya sadar. Bahwa keinginan itu tidak bagus bagi saya. Dengan memilih keluarga yang salah saya akan melakukan ini ini dan ini. Kemudian kita mengoreksi master plan. Mengoreksi blue print.

Ketika kamu lahir kau melupakan semua itu. Banyak waktu kita lupa. Begitu banyak terlibat dengan dunia. Kita melupakan semuanya.

Dikutip dari video youtube Reincarnation: A Secret Revealed by Anand Krishna

Bhakti Hanuman pada Guru, Renungan Vivekananda tentang Ishta Devata

Hanuman Bhakta Sri Rama

Swami Vivekananda: Ada cerita tentang Hanuman, seorang bhakta yang merupakan seorang pemuja agung Rama. Sama seperti orang Kristen memuja Kristus sebagai inkarnasi Tuhan, maka umat Hindu menyembah banyak inkarnasi Tuhan. Menurut mereka, Tuhan datang sembilan kali di dunia dan akan datang sekali lagi. Ketika dia datang sebagai Rama, Hanuman adalah pemuja agungnya. Hanuman hidup sangat lama dan merupakan seorang Yogi yang luar biasa.

Selama masa hidup Hanuman, Rama datang kembali sebagai Krishna. Hanuman seorang Yogi yang hebat, tahu bahwa Tuhan yang sama telah datang kembali sebagai Krishna. Hanuman datang dan melayani Krishna, tetapi dia berkata kepada Krishna, “Saya ingin melihat wujud Rama dari Paduka.” Krishna berkata, “Semua wujud itu adalah wujud-Ku. Akulah Krishna, akulah Rama. Semua wujud ini adalah wujud-Ku.” Hanuman berkata, “Hamba tahu itu, tetapi wujud Rama adalah untuk hamba.”

Hanuman menghormati semua wujud Tuhan akan tetapi dia adalah pemuja Rama.

Sumber: Complete Works of Swami Vivekananda Volume 9 Lectures and Discourses Bhakti Yoga

Bapak Anand Krishna dalam buku The Hanuman Factor berkisah tentang Kalung Sita

Ada sebuah legenda yang indah tentang kepulangan Sri Rama ke Ayodhya. Semua penduduk negeri bersuka cita. Mereka menyalakan lentera-lentera serta mendekorasi rumah-rumah mereka, pasar-pasar serta jalan-jalan mereka. Rama dan Sita pun menyebarkan berbagai bingkisan kepada para rakyat, dan Hanuman berdiri di samping memberi pengawalan. Ketika sampai pada giliran untuk memberi bingkisan kepada Hanuman, maka Sita pun melepaskan kalungnya yang beruntaikan permata, berlian dan batu mulia lainnya dan menghadiahkannya kepada Hanuman.

Hanuman, disebutkan, langsung menggigit setiap permata, berlian dan batu-batu mulia yang  menguntai membentuk kalung tersebut. Lakshmana, adik Rama, merasa sangat terganggu dengan apa yang dilihatnya tersebut. Ia pun berbisik kepada Hanuman, “Hanuman, apa yang kamu lakukan? Itu namanya kamu tidak menghargai hadiah yang telah diberikan kepadamu. Tidakkah kau tahu bahwa hadiah tersebut begitu berharga dan begitu istimewa? Itu adalah kalung kesukaan ibu Sita. Hanuman menjawab, “Tuan, maafkan hamba jika hamba telah berbuat kurang ajar. Memang hamba ini hanya seekor kera dan tidak tahu tentang sopan santun manusia. Hamba hanya sedang mencoba merasakan dan membaui aroma Sri Rama di dalam permata, berlian serta batu-batu mulia ini.”

Lakshmana pun tertawa terkekeh-kekeh, “Tapi, itu kan…” Sejurus kemudian, Sri Rama pun menyela percakapan mereka berdua, “Lakshmana, Hanuman; tidak tepat saatnya jika kalian bercakap dengan cara berbisik seperti itu. Bagilah percakapan kalian di sini. Lakshmana pun menjelaskan percakapan yang terjadi antara Hanuman dengan dirinya. Sri Rama pun melihat kepada Hanuman dan berkata, “Jadi, apakah engkau menemukan yang kamu cari? Apakah kamu bisa merasakan aroma dari Sri Rama-mu?

Hanuman pun menjawab dengan kedua tangannya terlipat di depan dada memberi penghormatan, “Gusti, maafkan kera yang hina dina ini. Mungkin, panca-indera hamba sudah tidak berfungsi sebagaimana seharusnya. Mereka mungkin telah melemah.” “Ya,” Rama ingin Hanuman agar lebih jelas dalam jawabannya, “jadi kamu dapat mencium aroma Gusti-mu itu atau tidak di dalam batu-batu mulia tersebut? Maka Hanuman pun terpaksa menjawab, “Maafkan hamba, Gusti, tetapi tidak. Hamba tidak dapat mencium aroma-Mu.”

 

Kemarahan Lakshmana

Mendengar kata-kata Hanuman tersebut, Lakshmana pun langsung naik pitam, “Hanuman, kamu telah melanggar batas-batas sopan santun. Kamu sangat sombong. Yang kamu pegang itu adalah batu. Walaupun itu adalah batu-batu mulia, batu tetaplah batu. Bagaimana kamu dapat mencium dan merasakan aroma Gusti kita di dalam batu-batu tersebut?” “Iya, Tuan. Hamba juga berpendapat demikian. Batu adalah batu, dan hamba tidak akan menggunakan batu yang tidak beraromakan Gusti,” jawab Hanuman.

Wajah Lakshmana pun berubah menjadi merah karena kemarahan, “Ya, ya, ya, batu tetaplah batu. Dan kera tetaplah kera. Bagaimana kamu tahu nilai batu tersebut? Apakah kamu hendak mengatakan bahwa kalung yang telah diberikan oleh Ibu Sita kepadamu dengan penuh cinta itu tidak ada gunanya buat kamu?” “Bahkan tubuh ini, tuanku, tidak berguna jika ia sudah tidak beraromakan Gusti,”jawaban Hanuman tersebut membuat Laksmana begitu marah yang membuat dia hampir langsung membunuh Hanuman saat itu juga.

Hanuman,” Lakshmana setengah berteriak, “kamu telah membuktikan ketidaklayakanmu dan kesombonganmu. Tubuhmu yang hina itu tidak akan pernah bisa memiliki aroma Sri Rama. Gusti kita telah berbuat baik kepadamu selama ini. Namun, kebaikan itu bukan berarti memberikanmu hak untuk menempatkanmu sejajar dengannya.”

Hanuman pun memohon ampun kepada Lakshmana, “Memang hamba ini adalah makhluk yang hina dina, tuanku. Ampunilah kekurang-ajaran hamba. Hamba ini adalah butiran debu di kakimu, tuanku.” Rama pun menyela, “Tidak, tidak, tidak, Hanuman. Aku tahu apa dan siapa kamu sebenarnya. Tunjukkanlah kepada Laksmana bahwa tubuhmu memang benar-benar beraromakan Gustimu. Hanuman, ini perintah!”

Maka Hanuman pun, dikatakan, menyobek dadanya sendiri. Di sana, tepat di tengah-tengah dada Hanuman, terdapat dengan jelas gambar Sri Rama. Dan aroma kasturi kesukaan Rama pun tersebebar ke segala penjuru. Terjemahan dari buku (Krishna, Anand. (2010). The Hanuman Factor, Life Lessons from the Most Successful Spiritual CEO. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

Guru Rama adalah Ishta Devata bagi Hanuman

Ishta Devata adalah istilah untuk Wujud Tuhan yang dipuja. Banyak wujud Tuhan dan seorang bhakta memilih satu wujud sebagai fokus untuk pengabdian. Ishta Devata bukan hanya berupa wujud Tuhan tetapi juga bisa seseorang yang telah tercerahkan. Guru pun bisa menjadi Ishta Devata bagi muridnya.

Swami Vivekananda menulis bahwa hanya mendengar ceramah, kisah dan diskusi – membuat Battle of Waterloo di otak, hanya perang ide-ide yang tidak dicerna. Ambillah Ishta Anda, dan biarkan seluruh jiwa difokuskan untuk itu. Kita harus menghormati semua wujud Tuhan, tetapi fokus pada Ishta Devata seperti Hanuman fokus pada Sri Rama. Bisakah kita?

Ada beberapa cerita Swami Vivekananda tentang Ishta Devata, yang akan disampaikan dalam kesempatan lain.

Mengikuti Buku atau Guru Pemandu? Sebuah Renungan dari Swami Vivekananda

Kehadiran Seorang Pemandu

Swami Vivekananda: Jiwa hanya bisa menerima dorongan batin dari Jiwa lain, bukan dari yang lain. Kita dapat mempelajari buku sepanjang hidup kita, kita mungkin menjadi sangat intelektual, tetapi pada akhirnya kita menemukan bahwa kita belum berkembang sama sekali secara rohani. Tidaklah benar bahwa intelektual yang tinggi selalu berjalan seiring dengan perkembangan spiritual. Dalam mempelajari buku, kita kadang-kadang tertipu untuk berpikir bahwa dengan demikian kita dibantu secara rohani; tetapi jika kita menganalisis pengaruh studi terhadap buku-buku tentang diri kita sendiri, kita akan menemukan bahwa paling tidak hanya akal kita yang memperoleh keuntungan dari studi semacam itu, dan bukan semangat batin kita. Ketidakcukupan buku-buku untuk mempercepat pertumbuhan rohani adalah alasan mengapa, meskipun hampir setiap orang dapat berbicara luar biasa tentang hal-hal rohani, ketika menyangkut tindakan spiritual, kita mendapati diri kita sangat kurang. Untuk mempercepat semangat, dorongan harus datang dari Jiwa lain.

Sumber: Complete Works of Swami Vivekananda Volume 3 Bhakti Yoga The Need of Guru

Bapak Anand Krishna: Kita juga bisa memperoleh panduan lewat kitab-kitab suci, ceramah-ceramah para suci dan lain sebagainya. Kendati demikian, kehadiran seorang guru pribadi dalam hidup tak tertandingi oleh panduan lain jenis mana pun jua. Kitab-kitab suci pun menjadi lebih bermakna, ketika seorang guru menjelaskan kepada kita bukan secara lisan, tetapi lewat tindakan nyata, perbuatan, dan kehidupannya sendiri.

………………

“Kehadiran seorang Guru” dalam hidup memudahkan perjalanan hidup. Ia adalah seorang pemandu yang pernah mengalami apa yang sedang kita alami saat ini. Sungguh sulit mencapai kesadaran diri tanpa seorang pemandu. Ia memudahkan pencarian kita. Aneh, untuk segala sesuatu yang bersifat kebendaan, kita tidak segan-segan minta bantuan dari orang lain. Tapi, untuk perjalanan ruhani kita menolak kehadiran seorang Guru. Kita pikir bisa menempuh tanpa pemandu. Sesungguhnya bukanlah sekedar bantuan atau pemandu sembarang yang dibutuhkan dalam perjalanan ruhani. Kita membutuhkan seorang guru yang sudah melewati setiap perjalanan hidup. Sehingga ia memahami kesulitan-kesulitan yang sedang kita hadapi, dan dapat menawarkan jalan keluar. Seorang Guru memandu setiap langkah kita hingga mencapai tujuan kita dengan selamat. Memang kita mesti berjalan sendiri. Ia tidak bisa berjalan untuk kita. Tapi, panduan yang diberikannya sungguh sangat bermanfaat. Dikutip dari buku (Das, Sai. (2010). Shri Sai Satcharita. Anand Krishna Global Co-Operation Indonesia)

 

Transmisi Energi Lewat Guru, Shaktipaat

Swami Vivekananda: Jiwa yang memberikan transmisi tersebut disebut Guru; sedangkan orang yang memperoleh transmisi disebut Shishya, Murid. Untuk menyampaikan transmisi semacam itu kepada orang lain, pertama-tama, Jiwa dari mana transmisi berasal tersebut harus memiliki kekuatan memancarkannya; dan Jiwa yang yang memperoleh transmisi harus mampu menerimanya. Benih harus menjadi benih hidup, dan ladang harus siap dibajak; dan ketika kedua kondisi ini dipenuhi, pertumbuhan spiritual yang luar biasa terjadi.

Sumber: Complete Works of Swami Vivekananda Volume 3 Bhakti Yoga The Need of Guru

Bapak Anand Krishna: Dalam tradisi kuno, ini yang disebut Shaktipaat. DaIam tradisi Zen dikaitkan dengan transmisi-transmisi ajaran, transmisi kesadaran dari sang guru kepada siswa yang siap. Shaktipaat bukanlah sebuah ritual, tetapi suatu “kejadian” yang hanya terjadi bila guru dan siswa berada dalam gelombang yang sama; ketika keduanya sedang bergetar bersama. Kemudian, seorang guru tidak lagi membutuhkan kertas dan pena, atau media tulisan untuk menyampaikan pemikirannya. Sang siswa pun tidak membutuhkan sepasang telinga maupun mata untuk mendengarkan wejangan guru atau membaca tulisannya. Sungguh setajam apa pun pendengaran seorang siswa, sejernih apa pun penglihatannya, secerdas apa pun otaknya, sehebat apa pun pemahaman serta penangkapannya, dan semahir apa pun seorang guru menyampaikan apa yang hendak disampaikannya, ketika pikiran diterjemahkan menjadi ucapan atau tindakan, terjadilah “penurunan” kualitas; penurunan derajat; penurunan intensitas; penurunan kedahsyatan yang hanya ada dalam pikiran yang masih berupa electric impulse.

Seorang guru menyadari keterbatasan itu, maka ia menciptakan keadaan di mana para siswa bisa bertahan dengan penuh kesabaran untuk “kejadian” itu. Apa pun yang telah disampaikannya lewat wejangan dan tulisan tidak berarti dibanding apa yang ingin disampaikannya lewat transmisi energi, lewat shaktipaat. Kendati demikian, shaktipaat tidak dapat dipaksakan. Memang dapat dipercepat dengan mempersiapkan diri kita supaya bergetar pada gelombang yang sama dengan sang guru, tapi cara untuk mempersiapkan diri itu pun diperoleh dari sang guru, karena ternyata kesadaran kita tidak perlu tinggi untuk berada di gelombang yang sama dengan sang guru. Kesadaran itu justru meningkat setelah berada di gelombang yang sama. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2005). Neo Psychic Awareness. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Shaktipaat dari Seorang Master

Selama kesadaran Anda masih berada pada salah satu dari 3 lapisan chakra terbawah, energi diri Anda bersifat cairan. Dan mengikuti sifat dasarnya, cairan akan selalu mencari dataran rendah. Libido seks, napsu birahi, membuktikan bahwa kesadaran Anda masih berada pada lapisan-lapisan chakra terbawah. Energi Anda masih dalam bentuk cairan dan masih mencari penyaluran lewat hubungan seks, masturbasi dan lain sebagainya. Selama kesadaran Anda masih berada pada lapisan-lapisan chakra terbawah, yang terjadi adalah Virya Paat. Energi yang keluar (Paat) dari diri Anda masih bentuk cairan-cairan, itulah arti kata Virya. Ejakulasi Seksual itulah Virya Paat.

Sebaliknya, peningkatan chakra atau peningkatan kesadaran akan mengubah sifat energi. Cairan Virya akan menjadi uap. Dan mengikuti sifat dasar uap, ia pun akan naik ke atas. Berada pada tingkat Kesadaran (Chakra) Teratas, pada tingkat Kesadaran Murni apabila seorang master mengalami “orgasme spiritual” kejadian itu disebut Shakti Paat. Energi yang keluar (Paat) berupa Kekuatan Murni atau Shakti. Ejakulasi Spiritual itulah Shakti Paat.

………….

Seorang Master tidak akan melakukan sesuatu apa pun untuk terjadinya Shakti Paat. Tidak ada latihan untuk itu. Yang dibutuhkan justru kesiapan diri seorang Murid. Yang diperlukan adalah reseptivitas dan keterbukaan seorang Murid. Kesadaran Murni dari diri seorang Master, seorang Murshid mengalir terus menerus, 24 jam sehari. Berhadapan dengan seorang Master sudah cukup. Asal saja, ia seorang master seperti Yesus dan Anda seorang Murid seperti Petrus. Asal saja, ia seorang Buddha dan Anda seorang Anand. Asal saja, ia seorang Muhammad dan Anda seorang Ali. Asal saja, ia seorang Krishna dan Anda seorang Arjuna. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2002). Semedi 2, Meditasi untuk Peningkatan Kesadaran. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Kesiapan Murid

Persis sama seperti yang dikatakan oleh Siddhartha Gotama, Sang Buddha “Apabila ada yang bertanya, Meditasi itu apa? Jangan dijawab. Yang bertanya ‘meditasi itu apa, tujuannya apa’ adalah orang yang berjiwa dagang.” la sedang melakukan transaksi jual beli. la tidak akan pernah bisa menyelami alam meditasi. Menjelaskan cahaya itu apa kepada seorang buta tidak akan membantu. Kita justru mencelakakan dia. Penjelasan kita akan membangkitkan “ego” dalam dia. “Apabila ada yang bertanya, Meditasi itu bagaimana?”, maka jangan menunda jawabanmu. Jelaskan caranya.” Demikian pesan Sang Buddha kepada Anand, salah seorang murid Beliau. Apabila seorang buta menyadari kebutaannya, dan minta agar disembuhkan segeralah layani dia.

Kesiapan seorang calon murid pun akan diujinya lewat proses yang panjang dan melelahkan. Kesabarannya, ketekunannya  semuanya akan diuji terlebih dahulu. Masa tunggu ini bisa seminggu, dua minggu setahun, dua tahun bahkan belasan tahun. Banyak calon murid yang drop out, karena mereka tidak sabar menanti. Banyak yang bahkan kehilangan gairah mereka untuk menekuni bidang spiritual. Satu per satu, mereka “gugur”. Memang demikian kehendak seorang master.  Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2001). Hidup Sehat Dan Seimbang Cara Sufi. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Mengikuti Perintah Guru atau Orangtua? Sebuah Renungan dari Swami Vivekananda

Swami Vivekananda:Kerabat terdekat saya adalah Guru saya; selanjutnya, ibu saya; lalu ayah saya. Penghormatan pertama saya adalah kepada Guru. Jika ayah saya berkata, “Lakukan ini”, dan Guru saya berkata, “Jangan lakukan ini”, saya tidak melakukannya. Guru membebaskan Jiwa saya. Ayah dan ibu memberi saya tubuh ini; tetapi Guru memberi saya kelahiran kembali di dalam Jiwa.”

Bapak Anand Krishna:Bagi Maria, kesadaran identik dengan Guru. Bagi dia, pencerahan identik dengan Yesus yang dicintainya. Di balik kejadian itu ia tidak melihat andil dirinya sama sekali. Ia tidak merasa melakukan sesuatu yang luar biasa untuk memperoleh pencerahan itu. Apa yang terjadi atas dirinya semata-mata karena “berkah”, karena rahmat, karena anugerah Sang Guru! Kelak, Nanak pun mengatakan hal yang sama. Bertahun-tahun setelah kejadian: Ik Omkaar, Sadguru Prasaad – Hyang Tunggal Itu kutemui berkat rahmat Guruku!” Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2007). Mawar Mistik, Ulasan Injil Maria Magdalena. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Tulisan ini bersumber pada: The Complete Works of Swami Vivekananda/Volume 8/Lectures And Discourses/Discipleship dilengkapi quotes dari Buku-Buku Bapak Anand Krishna. Swami Vivekananda adalah murid dari Sri Ramakrishna.

Guru Membagikan Cahaya kepada Muridnya

Ada beberapa Jiwa yang luar biasa, yang sudah bebas dan yang lahir demi kebaikan dunia, untuk membantu dunia. Mereka sudah bebas; mereka tidak peduli dengan keselamatan mereka sendiri – mereka ingin membantu orang lain.

Mereka ibarat lampu pertama yang menyalakan lampu-lampu lain. Benar, cahaya ada pada semua orang, tetapi pada kebanyakan orang masih tersembunyi. Jiwa-Jiwa Agung bersinar terang dari awal. Mereka yang berhubungan dengan Jiwa-Jiwa Agung menjadi menyala. Lampu pertama tidak kehilangan apapun; namun ia membagikan cahayanya ke lampu lain. Lampu pertama adalah Guru, dan lampu yang menyala darinya adalah murid-muridnya.

Pertama-tama Anda harus menemukan seorang Guru Sejati, dan Anda harus ingat bahwa ia bukan hanya seorang manusia. Anda melihat tubuh seorang Guru; tetapi Guru yang sebenarnya tidak tubuh fisiknya; dia bukan manusia fisik – dia tidak seperti yang tampak di mata Anda. Mungkin Guru akan datang kepada Anda sebagai manusia, dan Anda akan menerima kekuatan darinya. Terkadang dia akan datang dalam mimpi dan memberikan berkah. Kekuatan Guru dapat mendatangi kita dalam banyak cara. Tetapi bagi kita manusia biasa, guru harus datang secara fisik, dan kita harus mempersiapan diri sampai dia datang.

Menghadiri Ceramah, membaca Buku, berdebat tentang Tuhan dan Jiwa, Agama dan keselamatan bukan spiritualitas (menurut Bapak Anand Krishna itu hanya kegiatan mental-emosional), karena spiritualitas tidak ada dalam buku atau teori atau filsafat. Bukan dalam pembelajaran atau penalaran, tetapi dalam pertumbuhan batin yang sebenarnya. Keledai dapat membawa seluruh buku perpustakaan. Ketika cahaya sejati datang, tidak akan ada lagi pembelajaran dari buku. Orang yang tidak bisa menulis bisa sangat religius, dan orang dengan semua perpustakaan dunia di kepalanya mungkin gagal. Belajar bukanlah kondisi pertumbuhan rohani; Sentuhan Guru, pengiriman energi spiritual, akan mempercepat pertumbuhan Anda.

Guru mengajari saya dan menuntun saya ke dalam terang. Seorang Guru haruslah seorang yang dikenal, telah benar-benar menyadari kebenaran Ilahi, telah berkesadaran Jiwa. Seorang pembicara belaka tidak bisa menjadi Guru. Seorang Guru sejati akan memberi tahu muridnya, “Pergilah dan jangan berbuat dosa lagi, Go and sin ni more!”

Saya telah melihat orang-orang seperti itu dalam kehidupan ini. Saya telah membaca Alkitab dan semua buku semacam itu; Mereka sangat indah. Tetapi kekuatan hidup tidak dapat Anda temukan di buku-buku. Kekuatan yang dapat mengubah hidup hanya dapat ditemukan dalam Jiwa-Jiwa yang diterangi yang hidup, lampu-lampu yang bersinar yang muncul di antara kita dari waktu ke waktu. Mereka sendiri cocok untuk menjadi Guru. Kamu dan aku hanya omong kosong – bicara, bukan guru. Kita lebih mengganggu dunia dengan berbicara, membuat getaran yang buruk. Kami berharap dan berdoa dan berjuang terus, dan saatnya akan tiba ketika kita akan tiba pada kebenaran, dan kita tidak perlu berbicara.

Seorang Guru berusia enam belas tahun mengajar seorang pria usia delapan puluh. Diam adalah metode guru; dan keraguan muridnya lenyap selamanya. Itulah Guru. Bayangkan, jika Anda menemukan orang seperti itu, keyakinan dan cinta bagaimana yang harus Anda miliki terhadap orang itu! Mengapa? Dia adalah wujud Tuhan Sendiri, tidak kurang dari itu! Itulah sebabnya murid-murid Kristus memperlakukan Dia sebagai Tuhan. Sujud kepada Guru adalah sujud kepada-Nya. Yang bisa diketahui manusia hanyalah Tuhan yang hidup, Tuhan yang berwujud manusia. Sampai dia sendiri menyadari Tuhan, bagaimana dia bisa mengenal Tuhan?

Sumber: The Complete Works of Swami Vivekananda/Volume 8/Lectures And Discourses/Discipleship

Seorang guru datang dalam hidup kita bukan karena kehendaknya, tetapi karena dikehendaki-Nya. Kedatangan Seorang murshid atau seorang guru dalam hidup kita “terjadi” karena dikehendaki oleh-Nya. Itulah kenapa kita sujud kepadanya, karena sesungguhnya dengan sujud kepadanya kita sedang sujud kepada-Nya. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2006). Kidung Agung Melagukan Cinta Bersama Raja Salomo. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Menjadi Murid

Seorang “Murid”, dalam pemahaman bahasa Sindhi, bahasa ibuku, adalah seorang yang memiliki “murad” atau keinginan tunggal yang sungguh-sungguh untuk mencapai kesadaran tertinggi. Silakan menyebut kesadaran tertinggi itu kesadaran murni, atau jika lebih suka dengan penggunaan istilah Gusti, atau Tuhan, maka gunakanlah istilah itu. Keinginan untuk menyadari kehadiran Gusti, Sang Pangeran, Hyang Maha Tinggi, atau Tuhan di dalam diri itulah keinginan tunggal yang dimaksud. Bila kita masih menginginkan sesuatu dari Tuhan, dan bukan Tuhan itu sendiri yang kita inginkan, maka kita belum menjadi murid. Murad kita, keinginan kita, masih belum sungguh-sungguh. Kita masih menginginkan manfaat dari Tuhan. Kita masih ingin memanfaatkan Tuhan.

Apakah kesadaran kita sudah mencapai tingkat tempat kita bisa mengatakan bahwa hanya Dia Hyang Mahatinggi? Jika kita belum menganggapnya Hyang Mahatinggi, kita tak akan pernah memiliki murad atau keinginan tunggal untuk memiliki kehadiranNya dalam keseharian hidup kita. Bila kita belum menyadariNya sebagai Hyang Mahatinggi, kita akan menyejajarkan keinginan kita untuk menyadari kehadiranNya dengan keinginan-keinginan lain. Dan, itulah saat tercipta ilusi Dia sangat jauh. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2010). The Ultimate Learning Pembelajaran Untuk Berkesadaran. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Memenggal kepala-ego dan meletakkannya di bawah kaki sang guru juga berarti menyerahkan segala beban kepadanya. Iman kita belum cukup kuat. Kita masih ragu-ragu, bimbang… maka, sesungguhnya kita belum pantas menyebut diri murid. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2004). Bhaja Govindam Nyanyian Kebijaksanaan Sang Mahaguru Shankara. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Menurut Swami Vivekananda adalah tidak mudah menjadi Murid; diperlukan persiapan; banyak syarat yangharus dipenuhi. 4 (Empat) Syarat Utama ditetapkan oleh Vedanta.

  1. Pertama adalah bahwa Murid yang ingin mengetahui kebenaran harus bebas dari keinginan untuk memperoleh dunia baik untuk saat ini ataupun untuk kehidupan yang akan datang.
  2. Kedua adalah bahwa Murid harus mampu mengendalikan indra internal dan ek
  3. Ketiga adalah bahwa Murid harus Trust kepada Guru.
  4. Murid bisa membedakan antara yang nyata dan yang tidak nyata. Hanya ada satu hal yang nyata – T Sepanjang waktu pikiran harus fokus kepada-Nya, dipersembahkan kepada-Nya. Tuhan itu ada, yang lain tidak ada, yang lain datang dan pergi. Keinginan apa pun terhadap dunia adalah ilusi, karena dunia tidak nyata.

Ini adalah 4 syarat menjadi murid yang harus dipenuhi; tanpa memenuhi mereka, dia tidak akan dapat bersentuhan dengan Guru Sejati. Dan bahkan jika dia cukup beruntung untuk menemukannya, dia tidak akan dipercepat oleh kekuatan Guru. Tidak ada kompromi dari syarat ini. Dengan pemenuhan syarat-syarat ini – dengan semua persiapan ini – teratai hati sang murid akan terbuka, dan “lebah” akan datang. Kemudian Sang Murid tahu bahwa Guru berada di dalam dirinya sendiri. Dia terbuka.

Sumber: The Complete Works of Swami Vivekananda/Volume 8/Lectures And Discourses/Discipleship

Refleksi: Mengingat Tuhan dalam Setiap Tindakan

Nasehat Kitab Suci

Kitab suci yang tebal dari penganut Sikh (dan bisa diperluas dengan seluruh kitab yang disucikan) memuat 3 kata:

  1. Selalu Ingat Tuhan;
  2. Melakukan sesuatu sebagai persembahan kepada Tuhan bukan demi pamrih pribadi;
  3. Sebagai alat Tuhan untuk berbagi berkah.

Demikianlah salah satu nasehat Bapak Anand Krishna di tahun 2014.

Selalu Ingat Tuhan

Kita terpesona oleh dunia benda, oleh bayangan Hyang Mahamenawan. Memang, bayangan-Nya saja sudah penuh pesona. Tapi alangkah tidak beruntungnya kita jika kita berhenti pada bayangan. Betapa meruginya kita jika kita tidak menatap Ia Hyang Terbayang lewat dunia benda ini. Ambisi dan keinginan kita sungguh tidak berarti, karena semuanya terkait dengan bayang-bayang. Kita mengejar bayangan keluarga, kekuasaan, kekayaan, kedudukan, ketenaran, dan sebagainya. Keinginan kita sungguh sangat miskin. Ambisi kita adalah ambisi para pengemis.

Ia adalah Hyang Terdekat, kerabat yang tak pernah berpisah, sementara kita masih menempatkan keluarga sejajar denganNya. Sungguh sangat tidak masuk akal. Silakan melayani keluarga. Silakan mencintai kawan dan kerabat. Tapi jangan mengharapkan sesuatu dari mereka semua, karena dinding kekeluargaan pun bisa retak. Persahabatan dapat berakhir. Kemudian, kau akan kecewa sendiri.

Bila kita masih menginginkan sesuatu dari Tuhan, dan bukan Tuhan itu sendiri yang kita inginkan, maka kita belum menjadi murid. Murad kita, keinginan kita, masih belum sungguh-sungguh. Kita masih menginginkan manfaat dari Tuhan. Kita masih ingin memanfaatkan Tuhan. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2010). The Ultimate Learning Pembelajaran Untuk Berkesadaran. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Brahmapanam brahma havir brhamagnau brahmana hutam, brahmaiva tena gantavyam brahma-karma-samadhina. “Persembahan adalah Brahman – Gusti Pangeran, Sang Jiwa Agung, Tuhan Hyang Maha Esa; tindakan mempersembahkan pun Dia; dan Dia pula yang mempersembahkan kepada Api Hyang Menyucikan, yang adalah Dia juga. Demikian, seseorang yang melihat-Nya dalam setiap perbuatan, niscaya mencapai-Nya.” Bhagavad Gita 4:24

Ayat ini dibaca sebelum melakukan apa saja… Umumnya, sebelum makan. Tapi, sesungguhnya kita bisa, dan memang semestinya, kita mengucapkannya sebelum melakukan apa saja.Apakah kesadaran kita sudah mencapai tingkat tempat kita bisa mengatakan bahwa hanya Dia Hyang Mahatinggi? Jika kita belum menganggapnya Hyang Mahatinggi, kita tak akan pernah memiliki murad atau keinginan tunggal untuk memiliki kehadiran-Nya dalam keseharian hidup kita. Bila kita belum menyadari-Nya sebagai Hyang Mahatinggi, kita akan menyejajarkan keinginan kita untuk menyadari kehadiran-Nya dengan keinginan-keinginan lain. Dan, itulah saat tercipta ilusi Dia sangat jauh. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia via #BhagavadGitaIndonesia

 

Melakukan Segala Sesuatu Sebagai Persembahan Tuhan Tanpa Pamrih/Keterikatan

“Berkaryalah dengan Kesadaran Jiwa, kemanunggalan diri dengan semesta, wahai Dhananjaya (Arjuna, Penakluk Kebendaan). Berkaryalah tanpa keterikatan pada hasil, tanpa memikirkan keberhasilan maupun kegagalan. Keseimbangan diri seperti itulah yang disebut Yoga.” Bhagavad Gita 2:48

“Manusia terikat oleh dan karena perbuatannya sendiri, kecuali jika ia berbuat dengan semangat manembah. Sebab itu, Kaunteya (Arjuna, Putra Kunti), laksanakanlah tugasmu dengan baik, tanpa keterikatan, dan dengan semangat manembah.” Bhagavad Gita 3:9

Setiap pekerjaan sudah pasti memiliki konsekuensi. Ada yang berkonsekuensi baik, ada yang kurang baik, dan ada yang tidak baik. Sehingga, kita semua tidak bisa bebas dan konsekuensi perbuatan kita rnasing-masing, kecuali….

Dan “kecuali” ini adalah “kecuali yang membebaskan kita dari segala konsekuensi”, yakni……… berbuat dengan semangat manembah – Haturkan segala pekerjaanmu sebagai persembahan pada Gusti Pangeran. Bertindaklah karena cintamu, kasihmu pada-Nya. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia via #BhagavadGitaIndonesia

 

Alat Tuhan Berbagi Berkah

Ada 3 Range Manusia:

Range pertama, range hewani, instink dan naluri hewani yang bekerja. Bila Anda mati-matian mengejar nama, kedudukan, harta dan sebagainya. Bila napsu Anda selalu membara dan Anda merasa haus terus, sehingga dapat melakukan seks dengan siapa saja. Bila Anda tidak peduli terhadap kenyamanan orang dan bisa mengorbankannya demi kenyamanan diri……..

Range kedua, range insani, bebas dari instink dan naluri hewani. Bisa jadi Anda masih mencari nama, kedudukan, harta dan sebagainya, tetapi Anda tidak mati-matian mengejarnya. Anda tidak akan mengorbankan kepentingan orang demi kepentingan pribadi. Napsu yang bersifat egois di dalam diri Anda berubah menjadi cinta yang siap berbagi…………

Range ketiga, range ilahi, Anda mengikuti nurani, intuisi. Anda ntidak mengejar ataupun mencari nama, kedudukan dan harta, karena Anda sadar bahwa hal-hal itu tak ada yang langgeng. Cinta Anda sudah berubah menjadi kasih, di mana Anda akan memberi dan memberi. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2003). Rahasia Alam Alam Rahasia. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

Tanaman dan Hewan berbagi berkah

Lebah membuat madu berlebihan yang jauh melebihi kebutuhan dirinya? Bahkan menjaga kemurnian madunya sebagai persembahan kepada manusia? Ayam bertelur sebutir setiap hari, dan tidak semuanya dipergunakan untuk meneruskan kelangsungan jenisnya. Sapi juga memproduksi susu melebihi kebutuhan untuk anak-anaknya.

Padi di sawah menghasilkan butir-butir gabah yang jauh melebihi kepentingan untuk mempertahankan kelangsungan kehidupan kelompoknya. Pohon mangga juga menghasilkan buah mangga yang jauh lebih banyak dari yang diperlukan untuk mengembangkan jenisnya. Pohon singkong memberikan pucuk daunnya untuk dimakan manusia, akar ubinya pun juga dipersembahkan, mereka menumbuhkan singkong generasi baru dari sisa batang yang dibuang.

Matahari selalu berbagi sinar yang menghidupi manusia. Air membasahi dan menghidupi semua makhluk. Bumi memberi tempat bagi kehidupan semua makhluk.

Sifat alami alam adalah penuh kasih terhadap makhluk lainnya. Lebih banyak memberi kepada makhluk lainnya. Egolah yang membuat manusia hanya mementingkan dirinya sendiri saja.