Menjadi Anggada atau Hanuman?

Kami dan istri setiap hari sehabis sadhana pagi, biasa membaca 1 ayat dari 3 buku:

  1. (Krishna, (2009). “The Gospel Of Mahamaya. Anand Krishna Global Co-operation)
  2. (Krishna, Anand. (2002). Renungan Harian Penunjang Meditasi. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama)
  3. (Krishna, Anand. (2002). A Date with Life, satu mutiara setiap hari. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama)

Ayat-ayat tersebut kami  gunakan sebagai pedoman dalam menjalani kehidupan sepanjang hari itu.

Pada tanggal 4 Maret 2018, dalam buku Renungan Harian Penunjang Meditasi tertulis:

Tanpa Kehendak Allah, selembar daun pun tidak akan bergerak. Apabila kamu menghadapi musibah, jangan menyalahkan siapa pun juga.

Allah adalah Sebab Utama di balik segala kejadian. Lalu, siapa yang harus disalahkan? Sesungguhnya musibah itu sendiri merupakan proses pembersihan. Kayu gelondongan sedang dipahat menjadi patung yang bernilai berlipat-lipat. Biarkan diri Anda dipahat oleh Sang Pemahat Agung.

Merenungkan Mutiara tersebut kami menjadi speechless, terdiam dan merenung lama……. Sang Pemahat Agung sedang memahat diri kita………….. rasa sakit saat dipahat adalah demi kebaikan diri kita sendiri……….

 

Raama-doota, Utusan Sri Rama

Adalah seorang utusan Tuhan, kepercayaan Tuhan. Semua ini adalah Permainan Tuhan. Masing-masing dari kita sejatinya tengah memainkan peran dalam panggung kolosal yang digelar Tuhan. Kita semua diberi peran yang disesuaikan dengan watak serta sifat kita. Jika saya diberi peran penjahat dan saya menolaknya, maka saya harus bekerja keras untuk mengolah watak serta sifat saya. Demikianlah aturan mainnya.

Menjadi seorang Raama-doota, atau utusan Rama memiliki implikasi lain yang jauh lebih dalam. Rama adalah Ia yang bersemayam dalam semua makhluk, Sang Penghuni Sejati. Rama bersemayam dalam “Rumah Jiwa kita”. Rama adalah identitas sejati kita. Namun karena tidak menyadari hal ini, maka kita dengan salah menganggap “identitas teater” kita sebagai identitas sejati kita.

Sebagai seorang Raama-doota, atau seorang utusan Rama, kita harus belajar untuk memproyeksikan identitas sejati kita—Rama, sang pahlawan; Rama, sang pemberani; Rama, yang adil; Rama, sang Manusia Ideal. Kesadaran akan identitas ini adalah kekuatan. Terjemahan bebas dari buku (Krishna, Anand. (2010). The Hanuman Factor, Life Lessons from the Most Successful Spiritual CEO. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

Cover Buku Sindhu Samskriti

Kisah Hewan Ilahi guna Peningkatan Kesadaran

Disadari dalam diri kita masih ada sifat monyet yang pikirannya kacau meloncat-loncat. Demikianlah leluhur kita dari Peradaban Sindhu, Peradaban yang membentang dari Sungai Indus sampai batas Astraleya, Australia, memberi kita kisah dengan idola hewan karena dalam diri kita masih ada sifat-sifat kehewanian. Kita pernah mengalami evolusi lewat berbagai hewan.

Sadar atau tidak sadar otak kita mencatat, meregister segala sesuatu. Jarang yang menggunakan kapasitas otaknya sampai 10% kebanyakan hanya 6-7%. Sisa kapasitas otak tersebut digunakan sebagai gudang memori. Semua kejadian yang kita alami selama 5.000 tahun atau misalnya kita sudah berkali-kali lahir dalam berbagai wujud sebanyak 40-50 atau 60 kali, semua kejadian tersebut disimpan dalam otak. Oleh karena itu kita mempunyai memori pengalaman hidup yang banyak sekali dalam berbagai wujud dan dalam berbagai keadaan.

Salah satu memori dari ruang simpanan tersebut kadang naik ke permukaan karena dipicu oleh hal tertentu. Para Yogi menggunakan hal itu sebagai alat sinkronisasi dengan level kesadaran yang lebih tinggi. Misalnya kita tertarik dengan kera, maka memori tentang kera dalam simpanan kita sedang naik ke permukaan. Para Yogi memberikan kita kisah-kisah tentang Hanuman, Kera Ilahi. Tubuh, mental emosional yang kita simpan boleh saja berupa kera akan tetapi kita bisa mensinkronkan Jiwa Kera dalam diri dengan Kera Ilahi, Hanuman.

Itulah sebabnya dalam kitab-kitab seperti “Pancatantra” berbagai “Katha” yang berkisah tentang binatang dapat meningkatkan kesadaran Jiwa anak-anak kecil. Misal kita tertarik dengan gajah, berarti memori gajah dalam diri sedang naik ke permukaan. Kisah tentang Gajah Ilahi, Ganesha dapat meningkatkan kesadaran Jiwa kita.

Silakan simak video youtube: Law Of Synchronization by Anand Krishna

Menjadi Angad (Anggada) atau Hanuman

Demikianlah sifat monyet dalam diri masih terasa. Selama dekat dengan Sri Rama kita aman-aman saja akan tetapi ketika kita hidup nyata di dunia, menjadi Utusan Sri Rama di dunia maka terjadi dua kemungkinan menjadi Angad (Anggada) atau Hanuman.

Adalah hal yang nyata, hidup kami mulai bermakna ketika ada seorang yang sangat kami hormati yang dapat mengubah diri kami dari hidup terombang-ambing di samudera kehidupan menjadi lebih tenang. Sebagai rasa terima kasih telah menikmati secercah kebahagiaan maka kami memulai berbagi keceriaan. Tidak usah memikir menjadi Utusan Sri Rama, ikut sharing menebarkan kebahagiaan yang kami peroleh dari Beliau bagi kami sudah sangat bermakna. Entah Beliau setuju atau tidak, kami berupaya memposisikan diri sebagai Utusan Beliau.

Ada sebuah kisah nyata, kami mengundang Beliau untuk memberikan kuliah di depan para mahasiswa. Datanglah salah seorang tokoh yang berpengaruh dalam perguruan tinggi swasta tersebut jauh lebih cepat dari yang semestinya karena kesalahan informasi. Bingung juga kami harus bagaimana? Ada kesalahan fatal kami yang berkali-kali kontak ke teman kami yang bersama Beliau. Acara sendiri berjalan sukses menurut kami.

Esoknya kami membaca status Beliau di Media Sosial, Jadilah Hanuman bukan Angad (Anggada). Angad adalah Utusan Sri Rama ke Dunia Alengka. Dia terpesona dengan kemegahan dan kegemerlapan Istana Alengka dan lupa diri bahwa dia sebenarnya adalah Utusan Ilahi untuk menyampaikan kebenaran. Ravana, Raja Dunia Alengka bisa mempengaruhi Angad sehingga melupakan tugasnya.

Lain Angad, lain Hanuman. Hanuman selalu ingat bahwa dirinya adalah Utusan Sri Rama untuk menyampaikan Kebenaran pada Dunia Alengka.

Walau sampai sekarang kami masih saja babak-belur di Dunia, setidaknya Nasehat Beliau selalu terpatri berupayalah menjadi Hanuman bukan Angad…………………

Namaste! kami menghormati Gusti dalam diri para pembaca……

 

Advertisements

Amarah yang Diunggah dalam Status di Media Sosial

(Beberapa tanya jawab dalam Workshop Astabrata oleh Bapak Anand Krishna 25 Februari 2018 di Jogja)

Seorang peserta Workshop Astabrata Jogja, 25 Februari 2018 bertanya tentang kondisinya yang berada di tengah orgganisasi perusahaan, ditekan dari atas dan bawah. Berusaha kreatif tapi bila atasan tidak berkenan akan dipinggirkan, sedangkan mencari nafkah itu penting bagi kelangsungan hidup keluarganya.

Pada penjelasan tentang diperlukannya pemimpin yang kreatif, disampaikan bahwa amarah itu adalah sumber kreatif dalam diri. Latihan dalam workshop ini adalah bagaimana cara mengubah energi amarah dengan mengeluarkan hal-hal yang tidak perlu, dan menyimpan energi kreatif yang dihasilkan.

Gandhi marah sekali saat dikeluarkan dari kereta yang hanya dikhususkan bagi orang kulit putih di Afrika Selatan. Kemarahan Gandhi ditransformasikan menjadi tindakan kreatif Melawan Kesewenang-wenangan Penjajah dengan cara tanpa kekerasan, Ahimsa.

Orang yang tidak bisa marah tidak bisa menjadi pemimpin? Bisa menjadi CEO, pelaksana, eksekutif tapi tidak bisa kreatif. Amarah tidak harus dikeluarkan sebagai marah-marah yang menghabiskan energi, tetapi diubah menjadi energi kreatif.

Dalam sebuah perusahaan bisa dikatakan ada 2 kelompok dan bagaimana kita memberdayakan potensi 2 kelompok tersebut. Pertama kelompok “Cook”, juru masak ahli menerapkan aturan dan menjalankannya. Dan kedua kelompok “Chef” yang kreatif. Misalkan ada orang-orang yang tugasnya di garmen hanya membuat kraag, ada yang khusus pasang kancing, selama bertahun-tahun ini adalah Juru Masak, “Cook”. Kelompok yang kreatif juga diperlukan untuk inovasi dan lain-lain.

Sekarang kalau setiap amarah diumbar lewat media sosial, tidak akan ada pemimpin yang lahir dengan kreatifitas tinggi, energi amarah sudah diboroskan percuma di medsos.

Teman kita bertanya bagaimana dia bisa melakukan hal yang kreatif kalau ada keterbatasan dari pihak atasan? Terlalu kreatif tapi tidak cocok dengan atasan malah dipinggirkan.

Khusus kepada teman tersebut, Bapak Anand Krishna menyampaikan, selama belum memperoleh air jernih, maka air keruh pun perlu dipertahankan.  Bapak Anand mengibaratkan teman tersebut bekerja pada air yang keruh. Tapi bagaimana pun air keruh tetap menghidupi keluarga yang kita bertanggung jawa terhadap kehidupan mereka.

Dalam kondisi tersebut kita tidak bisa melakukan apa-apa. Kita bukan pengambil keputusan. Jadi ya dijalani saja, sampai suatu kali dapat air yang jernih baru air keruh ditinggalkan.

Kaitan Astabrata dan Desha Kala Patra

Dalam workshop Astabrata di Jogja 25 Februari 2018 ada seorang peserta yang bertanya, kapan seorang pemimpin yang berpedoman pada bumi yang rela dinjak-injak dan kapan menggunakan pedoman pada air yang selalu berupaya menembus rintangan. Air pada waktu ketemu batu cadas tetap mengalir mencari celah melewati rintangan tersebut…..

Kita mengetahui astabrata adalah 8 pedoman yang diberikan oleh Guru Vasishtha kepada calon pemimpin, murid bernama Sri Rama. Pedoman tersebut masih sangat relevan dengan kehidupan masa kini. Yang penting adalah menghormati kebijaksanaan para leluhur kita, leluhur yang hidup pada wilayah Sindhu yang membentang dari Persia sampai perbatasan Australia. Sebuah pedoman pun perlu dikemas disesuaikan dengan kondisi saat ini. Pedoman dari alam itu bersifat abadi, penerapannya disesuaikan dengan kondisi dan situasi masa kini.

Demikian pula pedoman kapan sebagai bumi dan kapan sebagai air, leluhur kita mengenal istilah Desha Kala Patra. Pemakaian pedoman tersebut tergantung pada desha, kala, patra.

Desha, tempat kita berada. Desha sendiri sebenarnya adalah perpaduan dari dua kata: Deha, atau “badan” dan ashraya, atau “memelihara/mendukung”. Maka, desha adalah yang “memelihara/mendukung tubuh” kita. Kata desa dalam bahasa Indonesia berasal dari desha dalam bahasa Sanskerta/Kawi.

Berikutnya, Kala, atau waktu, berkaitan dengan saat ini, masa ini. Bukan dengan masa lalu ataupun masa depan. Kala adalah “saat ini,” di sini dan sekarang.

Terakhir, Patra berkaitan dengan “peran,” meskipun lebih sering diterjemahkan sebagai “konteks,” yang sebenarnya tidak pas. Desha, kala dan patra – ketiganya adalah kontekstual, bukan hanya patra.

Ada saatnya seorang pemimpin dalam keadaan tidak dapat bergerak, misalkan kondisi ekonomi dunia dan nasional dalam keadaan tertekan. Maka bisa bertahan seperti bumi yang tetap eksis walau diinjak-injak sudah bagus sekali. Pada kondisi demikian bertahan adalah saat yang paling tepat. Sambil menunggu adanya celah dan pemimpin tersebut bisa berpedoman sebagai air……………….

 

Belajar Unlearning

Seorang peserta bertanya tentang unlearn, bagaimana melakukan melakukan hal tersebut.

Bapak Anand Krishna menyampaikan sebelumnya tentang bagaimana kita yang sudah terkondisi oleh kebiasaan masa lalu dan bisa mengubah dengan unlearn, melepaskan pengetahun yang telah kita lakukan untuk mencapai kondisi yang lebih baik.

Bapak Anand Krishna memberikan contoh.

Kita telah terkondisi, marah, tidak puas tetapi ditahan dan diakumulasi, tidak diubah menjadi jalan keluar yang kreatif. Kita mulai dari pemberontakan PKI Madiun 1948, Peristiwa G-30-S 1966, peristiwa 1998, tindakan kita terkondisi dan diulang-ulang sehingga berdarah-darah setiap lebih kurang 30 tahun. Perlu unlearn terhadap pengetahuan kita.

Kita sudah dipecah-belah antara Jawa dan Sunda. Sekarang sudah hidup di Jakarta, akan tetapi cari pembantu tidak mau dari sunda/betawi harus dari desa jawa udik sana. Ini perlu unlearn, deconditioning. Latihan meditasi bisa membuat deconditioning……

Silakan tunggu video lengkap Bapak Anand Krishna tentang workshop ini…….

https://www.youtube.com/user/Anandkrishnaindo

Cukupkah Kita Hanya Mendalami Buku Tanpa Bertemu Dengan Seorang Master?

Anandam (semoga kita semua berada dalam keadaan ananda), teman-teman pembaca kutipan-kutipan buku Swami Anand Krshna.

Buku-buku adalah wujud mind dari penulisnya. Akan tetapi apakah persepsi kita terhadap pandangan dalam buku tersebut sudah sesuai dengan persepsi penulisnya?

Persepsi kita dibentuk bank data dalam banyak inkarnasi, selama kita memahami dengan persepsi kita kita disebut masih pashu, hewan. Pashyati adalah kata sanskrit untuk persepsi. Bagaimana meningkatkan persepsi kita sehingga kita tidak berada dalam ranah mind tapi masuk ranah inteligensia atau buddhi?

Bertemu dan bertatap muka dengan seorang Master adalah hal yang penting! Apalagi kalau mengikuti  latihan racikan Sang Master!

Silakan baca Catatan berikut:

Resonansi antara mind kita dengan mind Master

Dalam hukum fisika dikenal adanya peristiwa resonansi. Dua benda dapat beresonansi bila mereka bergetar pada frekuensi yang sama atau bergetar pada kelipatan frekuensinya. Bagaimana caranya agar pikiran kita dapat beresonansi dengan manusia yang telah berkembang pribadinya secara utuh, Manusia Sempurna, Insan Kamil sehingga kesadaran kita dapat meningkat dengan terjadinya quantum leap kesadaran? Dalam buku “Neo Psyhic Awareness”, Anand Krishna, Gramedia Pustaka Utama, 2005 disampaikan……… Hanya orang-orang yang pribadinya sudah berkembang secara utuh yang dapat membantu kita untuk mengembangkan diri kita secara utuh. Berada dekat orang-orang seperti itu, kadang kita tidak perlu menunggu untuk disapa, untuk diajak bicara atau mendengar. Bila electric impulse dalam diri kita bergetar pada gelombang yang sama dengan manusia utuh itu, tanpa ucapan pun kita dapat menangkap pemikirannya……. Dalam tradisi kuno, ini yang disebut Shaktipaat. DaIam tradisi Zen dikaitkan dengan transmisi-transmisi ajaran, transmisi kesadaran dari sang guru kepada siswa yang siap. Shaktipaat bukanlah sebuah ritual, tetapi suatu “kejadian” yang hanya terjadi bila guru dan siswa berada dalam gelombang yang sama; ketika keduanya sedang bergetar bersama. Kemudian, seorang guru tidak lagi membutuhkan kertas dan pena, atau media tulisan untuk menyampaikan pemikirannya. Sang siswa pun tidak membutuhkan sepasang telinga maupun mata untuk mendengarkan wejangan guru atau membaca tulisannya. Sungguh setajam apa pun pendengaran seorang siswa, sejernih apa pun penglihatannya, secerdas apa pun otaknya, sehebat apa pun pemahaman serta penangkapannya, dan semahir apa pun seorang guru menyampaikan apa yang hendak disampaikannya, ketika pikiran diterjemahkan menjadi ucapan atau tindakan, terjadilah “penurunan” kualitas; penurunan derajat; penurunan intensitas; penurunan kedahsyatan yang hanya ada dalam pikiran yang masih berupa electric impulse………

Dikutip dari Tautan:

https://triwidodo.wordpress.com/2012/05/31/menyelaraskan-frekuensi-pikiran-kita-dengan-kejernihan-pikiran-manusia-sempurna-al-insan-kamil/

 

Selama melihat dengan persepsi (pashyati) kita masih dipertimbangkan hewan (pashu)

Dalam Sanskrit segalanya mempunyai kata. Kata untuk animal, sapi, kucing, anjing, kuda, semuanya dipertimbangkan sebagai pashu. Dan pashu adalah akar kata dari pashyati, dalam bahasa Inggris, perception, persepsi. Jadi seorang yang percaya kepada persepsi, adalah pashu.

Gunakan viveka kalian, bukan mind lagi. Mind berdasar pada data  bank. Kalian mendapat data bank dari banyak inkarnasi, sehingga kalian menetapkan dari data bank untuk menentukan sesuatu itu apa. Tapi apabila kalian tidak menggunakan data bank, kalian tidak menggunakan mind. Kalian mengubah, transform, kepada buddhi. Dan kalian mulai menggunakan viveka, faculty of discretion.

Sekali lagi, pashu, pashyati, kalian hanya percaya pada persepsi. Dan kita tidak lebih baik dari pada animal. Kita harus menggunakan inteligen kita, kita pergi melampaui mind. Transform the mind. Dan solusi bagaimana men-transform adalah meditasi, tidak ada solusi yang lain.

Silakan simak secara lengkap Video Youtube by Swami Anand Krishna: God and humanbeing go beyond perception.

Dikutip dari Tautan:

https://gitakehidupansepasangpejalan.wordpress.com/2017/12/22/ooh-ternyata-kita-masih-dipertimbangkan-hewan-persepsi-kita-masih-hewani/

 

Kesempatan bertemu Swami Anand Krishna dalam

Program Workshop Liberating Karmic Binding:

 

Banyak sekali kejadian-kejadian dalam hidup, hubungan-hubungan yang menyakitkan, dan persoalan-persoalan yang disebabkan oleh Karma. Itulah sebabnya berbagai metode dari healing ke hypnosis yang kita pelajari dan lakukan TIDAK BISA juga mengatasinya.

Ini hanya dapat teratasi dengan cara mengetahui cara kerja dan seluk-beluk Karma, sehingga kita dapat mengubah apa yg bisa & mesti diubah, serta tanpa beban menghadapi apa yg memang tdk dpt diubah.

Apa itu sesungguhnya Karma? Apakah Hukuman atau justru Kesempatan untuk memperbaiki keadaan?

Bagaimana menghadapi tantangan hidup seberat apapun?

Bagaimana mengubah apa yg selama ini Anda keluhkan “sudah nasib” atau “sudah takdir”

Bagaimana merancang ulang hidup Anda menuju Kebahagiaan Sejati, Keberhasilan dan Kesejahteraan Sampurna.

Testimoni peserta LKB:

Ibu Farhah Lampung

“Tadinya sy gak percaya juga, kayaknya pas ikut program cuma gitu-gitu aja… Tapi anehnya begitu selesai program,pas saya balik ke Lampung, saya heran anak saya yang nomer satu biasanya sering gak akur sama saya, sering kalau dikasih tahu bantah dan semaunya sendiri, tapi sekarang jadi baik-baik aja hubungan kami. Malah lebih nurut dan bisa akrab lagi dg saya.”

 

Nia Jakarta:

“Pas ikut program gak ngarep gimana-gimana sih, ya paling sama bos & teman kerja saya bisa lebih kondusif lah iklim kerjanya. Saya gak ngira setelah ikut program di hari ketiga bos saya yang biasanya ketus sama saya, gak biasanya malah mempersilakan saya untuk duduk rapat sama dianya malah dikasih bangku segala, & makan makan siang bareng.”

 

Wisma Pojok Indah Jl.Kubus No. 15, Pojok Tiyasan Condong Catur, Depok, Sleman, Jogjakarta

*_Check-in:_*

Jumat, 23 Feb 2018 pukul 14.00 WIB

*_Check-out:_*

Minggu, 25 Feb 2018 pukul 08.00 WIB (setelah sarapan)

 

*Investasi Rp 1,800,000 (termasuk konsumsi & akomodasi)*

Pengulangan:

IDR         800,000 (tmsk konsumsi & akomodasi)

 

Registrasi:

Atik 0852-1308-7909

Ardi 0856-4120-3811

 

Atau program Workshop Astabrata

Astabrata adalah nasihat Guru Vasishtha kepada murid Sri Rama bagaimana memimpin sebuah kerajaan. Nasihat tersebut tetap relevan sampai dengan masa kini. Tentu saja dengan kemajuan zaman, kemasan isi nya disesuaikan dengan kondisi masa kini. Kita semua adalah pemimpin kerajaan, paling tidak kerajaan rumah tangga kita sendiri dan kerajaan diri kita sendiri……..

Bhakti Para Gopi, Pelayan dari Pelayan Tuhan

Udhava, salah seorang sahabat Krishna, menganggap diri seorang Gyaani, seseorang yang sudah berkesadaran. Berpengetahuan tinggi, sejati dan berpengalaman pribadi. Udhava sudah bisa melihat Kebenaran di balik wujud Krishna. Dia tidak terikat dengan wujud dan sifat, dengan rupa dan nama. Yang penting baginya adalah zat ilahi.

Melihat para Gopi di Brindavan menangisi Krishna, karena rindu terpisah dari wujud Sang Avatar, dia merasa kasihan. Dia menegur mereka, “Sadarkah kalian bahwa Krishna adalah Avatar? Penjelmaan Ilahi? Lalu apa yang kalian tangisi? Berusahalah untuk melihat yang ada di balik wujud dia dan wujud setiap makhluk. Berusahalah untuk melihat Kebenaran Sejati itu. Kebenaran yang ada di mana-mana. Di sini, di sana. , …”

Para Gopi seolah tidak memahami maksud Udhava. Mereka malah mengerumuni dia, “Katakan Udhava, apa kabar Sri Krishna? Apakah dia pun merindukan kami? Merindukan lorong-lorong sempit Vrindavan, tepi sungai Yamuna dan sapi-sapi yang ditinggalkannya?”

Udhava belum sempat jawab, dan datanglah kelompok lain yang langsung mengeluh, “Udhava, Sri Krishna sungguh seorang penipu. Berjanji akan kembali dalam dua hari, tapi sudah bertahun-tahun, dia tidak pernah kcmbali.”

Keluhan mereka memang pada tempatnya. Ketika meninggalkan Vrindavan, Krishna betul berjanji, “Pagi ini saya berangkat. Siang nanti juga sampai di Mathura. Besok seharian di sana. Lusa, kembali ke sini lagi.”

Saat itu, Krishna baru berusia belasan tahun. Dia diundang oleh Paman Kamsa untuk menghadiri pesta raya di Mathura. Sang paman sesungguhnya ingin membunuhnya. Firasat para gopi sangat kuat, “Tidak Krishna, kamu hanya membohongi kami. Kamu tidak akan kembali. Setelah membunuh Kamsa dan membebaskan kedua orangtuamu, kamu pasti ikut mereka.”

Krishna berjanji, “Ikut siapa? Betul, mereka orangtuaku. But, I belong to this place. Ayah dan Ibu Yashoda yang memeliharaku selama ini juga orangtuaku. Kalian semua pun di sini. Aku mau ke mana? Tidak, aku tidak akan ke mana-mana.

“Pagi ini aku berangkat. Siang nanti juga sampai di Mathura. Besok seharian di sana. Lusa, kembali ke sini lagi.” Sebuah janji yang tidak pernah ditepati. Dan percaya atau tidak, sampai hari ini warga Vrindavan tidak pernah menggunakan istilah “lusa”. Lima ribu tahun berlalu sudah, warga Vrindavan masih menagih janji Sang Avatar. Mereka masih menunggu “lusa”. Masih rnenunggu kedatangan Sri Krishna. Matematika mereka sederhana sekali. Krishna belum datang. Berarti lusa belum datang.

Bagaimana menyadarkan orang-orang seperti itu? Udhava bingung. Dan makin yakin bahwa para Gopi masih berkesadaran rendah sekali. Masih berkesadaran lahiriah. Belum bisa melampaui wujud dan sosok Sri Krishna. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2001). Narada Bhakti Sutra, Menggapai Cinta Tak Bersyarat dan Tak Terbatas. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

A course in spirituality part 2 laughter yoga and ananda video Youtube by Swami Anand Krishna

Saya akan cerita tentang laki-laki sikh yang pergi ke ashram Osho, dan dia diberikan pekerjaan sebagai penjaga gerbang. Dengan turban sikh, dan jenggot, orang mau masuk gerbang agak takut sedikit padanya. Osho berkata kamu sebagai penjaga gerbang. Kalau kamu tidak senang pada seseorang tendang saja keluar. Tahun demi tahun berlalu dan dia tetap menjadi penjaga gerbang.

Kemudian Osho berkata pada waktu satsang, semua harus menghentikan pekerjaan dan menghadiri satsang. Osho sedang bercanda, dan tawa penjaga gerbang adalah tawa yang paling menular. Ketika dia tertawa setiap orang mulai ketawa. Bisa bayangkan 10.000 orang tertawa bareng.

Kita pernah tertawa bersama 5.000 orang di Monas dan kita dapat masalah. Dan orang-orang pada takut, apa yang mereka kerjakan. Orang dapat takut karena tertawa karena tidak natural, tidak alami. Orang biasanya punya wajah yang panjang. Ini 5.000 orang tertawa. Mereka merasa diserang. Mengapa orang-orang ini tertawa.

Orang sikh ini tertawa yang sangat menular. Tapi setelah beberapa waktu, saat Osho datang dia mulai tertawa. Orang bertanya mengapa tertawa? Master datang, jawabnya. Apakah Master bercanda, kalaupun bercanda, tapi candaan itu belum disampaikan. Dan orang lapor pada Osho bahwa penjaga gerbang sudah tertawa sebelum Master menyampaikan canda.

Osho menjawab, mengapa kamu tanya saya? Tanyalah pada dia. Mengapa dia tertawa keras sebelum saya menyampaikan canda. Apakah dia ingin meditasi atau mengerjakan yang lain? Agar mokhsa? Orang-orang kemudian bertanya pada dia. Apakah kamu tidak ingin meditasi, latihan atau yang lain? Yoga, terapi, atau yang lain? Kamu hanya menjaga gerbang, Osho sudah datang dan kau sudah diberitahu, bahwa kau tidak harus di gerbang selamanya. Kau punya kesempatan ikut kursus-kursus karena kau telah menghabiskan waktu banyak tahun melayani gerbang, mengapa kau tidak melakukan meditasi.?

Dia menjawab, untuk apa? Kerja untuk moksha, untuk nirvana, itu dapat menunggu. Sekarang Master di sini biarlah saya ketawa untuk dia. Kalau dia tidak ada biarlah saya kerja untuk moksha untuk nirvana. Moksha dan nirvana dapat menunggu, saya dapat menundanya………. INILAH BHAKTI.

 

A course in spirituality part 3 this is love video youtube by Swami Anand Krishna

Gopi adalah orang yang sederhana. Mereka mendengarkan Uddhava. Dan kemudian menjawab, Udhava teman saya, cendikiawan, apa yang kau ketahui tentang bhakti? Apa yang kaunketahui tentang cinta? Ini bukan untuk kamu. Kamu tidak dapat membudakkan diri. Dan bhakti adalah membudakkan diri dengan sukarela. Dasanudas, saya adalah pelayan dari pelayan. Saya melayani pelayan Tuhan.

Bagaimana kau dapat melakoninya? Semakin cendekia kau, semakin kau meditasi dan yoga, berupaya berdiri dengan kepala di bawah. Kau merasa dapat mencapai moksha. Kau tidak mengerti bahasa ini. Bahasa ini bukan untukmu. Kamu tidak dapat memahami. Cinta adalah terlalu berharga, terlalu mahal.

Apabila kamu ingin belajar cinta. Apabila kamu ingin bisnis di sini. Kamu tidak dapat menggunakan euro, tidak dapat menggunakan dollars. Kamu tidak dapat menggunakan swiss frank. Mereka tidak dapat menggunakan british pounds. Mata uang yang diakui adalah kepalamu. Kamu harus memenggal kepalamu. Dan menyerahkannya kepada kekasihmu. Hanya dengan demikian kau dapat memperoleh cinta sebagai kembalian. Apa yang kau ketahui tentang cinta?………………… INI ADALAH BHAKTI.

Uddhava kau bilang kau mempunyai keluarga dan kau berupaya seimbang. Berdoa saat kamu berdoa. Hadir di tengah keluarga. Kau dapat berdoa sekian kali sehari. Setiap waktu 15 menit. Kau bersujud selama 15 menit dan kemudian hidup seperti biasanya (masih ada ego). Di sini setiap saat, setiap detik, kita bersujud (egoless, tanpa ego). Kita tidak punya waktu untuk berdiri.

Sangat-sangat dalam artinya. Tidak berarti kau berhenti makan berhenti bicara. Apa pun yang kau kerjakan dalam hidup ini. Dengan spirit, bukan saya bukan saya bukan saya (tidak ada ego), idam na mama semua persembahan…….

 

Kembali ke buku Narada Bhakti Sutra

Bagi seorang Udhava, patung dan wujud seorang Avatar – kedua-duanya – adalah berhala yang harus, dilampaui, dilewati. Dia mendesak para Gopi untuk melihat Kebenaran dari sisi yang satu itu, “Kalian tidak bisa melihat Kebenaran di balik wujud? Tidak bisa merasakan Kebenaran Yang Satu itu?”

“Kebenaran apa yang kau bicarakan, Udhava?” para Gopi bertanya kembali. “Kebenaran apa yang harus kami rasakan? Krishna adalah kebenaran hidup kami. Apa pula maksudmu dengan Kebenaran di balik wujud? Udhava, kami sudah tidak dapat berpikir lagi. Tidak dapat merasakan sesuatu lagi. Yang terpikir dan terasa hanyalah Krishna, Krishna, Krishna……..”

Udhava baru menyadari kesalahannya. Dia salah menilai kesadaran para Gopi. Untuk mencapai kesadaran kasih, memang segala sesuatu di luar kasih harus “dilepaskan”. Dan Udhava masih berada pada tingkat “pelepasan” itu.

Sebaliknya, para Gopi telah mencapai kesadaran kasih. Sudah tidak perlu melepaskan apa-apa lagi.karena memang tidak ada yang bisa dilepaskan. Tidak ada yang bisa melepaskan. Bagi para Gopi, yang ada hanyalah kasih, kasih dan kasih. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2001). Narada Bhakti Sutra, Menggapai Cinta Tak Bersyarat dan Tak Terbatas. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Melakoni Nasehat Guru Pemandu

Dalam buku (Krishna, Anand. (2000). Masnawi Buku Kesatu, Bersama Jalaludin Rumi Menggapai Langit Biru Tak Berbingkai. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama) disampaikan perumpamaan:

Seperti seekor keledai yang tergiur oleh rerumputan dan berhenti di pinggir jalan, begitu pula kenikmatan duniawi bisa menyibukkanmu, sampai lupa menempuh perjalanan yang harus kau tempuh. Pada saat-saat seperti itu, hanya seorang pemandu yang bisa menyadarkan dirimu”.

Banyak orang berupaya untuk mendekatkan diri dengan Tuhan lewat ritus-ritus keagamaan.” kata Nabi Muhammad kepada Ali, sambil menasihatinya, “Dekatkan dirimu dengan para pengabdi Allah yang terpilih dan bijak, maka kau akan lebih awal sampai di tujuan.”

Nabi Muhammad melanjutkan, “Ali, engkau adalah seorang Pemberani yang bernyali. Kendati demikian, jangan terlalu percaya pada ‘nyali’. Turutilah nasihat seorang Pemandu yang bisa menemanimu dalam perjalanan ini. Turuti nasihat seorang Pemandu, sebagaimana Musa menuruti nasihat Khidir.”

………………

Anggur tua dinilai lebih tinggi. Begitu pula dengan para Pir. Carilah seorang Pir yang sangat tua. Tua karena kebenaran, karena kesadaran, bukan karena waktu. Jika kamu sudah menemukannya, jadikan dia Pemandumu. Dengan adanya seorang Pemandu, perjalananmu akan menjadi lebih nyaman dan terarah. Ingat, perjalanan ini baru pertama kali kamu tempuh. jangan sok berani. Indahkan panduan Sang Pemandu!

Tangan seorang Pir bagaikan Tangan Tuhan. Jangan meragukan hal ini. Jangan kira ada yang pernah sampai di tujuan tanpa bantuan para Pir. Kalaupun ada yang berjalan sendiri dan sampai di tujuan, hal itu disebabkan oleh doa para Pir yang senantiasa melindungi dirinya.”Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2000). Masnawi Buku Kesatu, Bersama Jalaludin Rumi Menggapai Langit Biru Tak Berbingkai. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama)

Bantuan Para Pemandu menurut Bhagavad Gita

“Partha (Putra Prtha – sebutan lain bagi Kunti, Ibu Arjuna), seseorang yang pikirannya terkendali lewat pola hidup berlandaskan Yoga; meditasi yang teratur; dan kesadarannya senantiasa terpusatkan pada Tuhan, pada Jiwa Agung – maka niscaya ia mencapai kemuliaan-Nya yang tak terhingga.” Bhagavad Gita 8:8

Bagi Krsna – dan memang demikian adanya – Yoga, meditasi, dan laku spiritual atau sadhana lainnya bukanlah sekadar pelajaran, tetapi sesuatu yang mesti dihayati dan dilakoni sepanjang masa. Bukan seperti buku pelajaran, sudah selesai ya sudah — dibuang saja. Dulu, saya mengoleksi novel-novel misteri oleh beberapa penulis asing terkenal di masa 1970-an. Sekarang, belasan buku yang dulu saya anggap sangat baik itu, sudah tidak memiliki daya tarik lagi.

YOGA, MEDITASI, LAKU SPIRITUAL BUKAN SEPERTI ITU – Bukan sekali dibaca, sekali dipelajari — selesai. Tapi, mesti diulang-ulang — dihayati, dan dilakoni dalam keseharian hidup. Seperti yang telah kita baca sebelumnya, Krsna menyebutnya Abhyasa — dilakoni secara terus-menerus, secara intensif dan repetitif. Dengan cara itulah kita baru memperoleh manfaatnya.

Hal lain yang penting adalah…..

Kehadiran seorang Sadguru – Walau semuanya dapat dipelajari secara otodidak – istilah yang sedang trend dan trendy, padahal seringkali memberi angin pada ego – sesungguhnya tidak ada, saya ulangi, tidak ada pengganti bagi belajar di bawah bimbingan seorang Pemandu Rohani. Bukan sekadar guru, tetapi Sadguru – Guru Sejati yang tidak berfungsi sebagai guru di sekolah atau ahli kitab – tapi sebagai guide, pemandu.

Selain itu, juga dibutuhkan suasana asram (ashram), padepokan tempat kita bisa berinteraksi dengan support group yang terdiri dari orang-orang sehati, para pencari kebenaran.

Ashram adalah transit point antara alam ini, dunia ini dan alam roh, spirit, dunia sana. Namun, ada dunia lain di luar ashram, yang sisa-sianya ada juga di ashram, sebagai residu; kotoran, debu dan pasir di bawah sandal kita sendiri yang terbawa ke ashram. Ego kita, kepicikan kita, iri hati dan kecemburuan kita, pun cinta monyet, ketertarikan semu, keterikatan, dan sebagainya – inilah debu dan kotoran yang dimaksud. Sebab itu, idealnya ketika memasuki ashram, kita melepaskan als kaki ego, mind, dan meninggalkan sampah-sampah itu diluar.

Masukilah ashram tanpa beban lama – Tinggalkan segala beban dan kotoran di pintu luar, pintu masuk. Kendati demikian, ada saja daki badan yang tetap terbawa. Untuk mengurusi itu pun mesti abhyasa! Membersihkan diri dari hari ke hari. Kita tidak bisa bersikap, “Kemarin baru mandi, harin ini tidak perlu!”

Abhyasa berarti bukan sekadar mandi setiap hari, tapi setiap kali kita merasakan kebutuhamya, barangkali 2 atau 3 kali sehari. Tidak perlu tinggal di kamar mandi juga. Kamar mandi adalah kamar untuk mandi, bukan untuk tidur dan tinggal.

Mandi 2 — 3 kali sehari dalam konteks ini adalah melakukan….

MEDITASI, PERENUNGAN BATIN, Membaca buku-buku yang dapat membantu dalam hal perkembangan Jiwa; berdoa dengan cara yang paling tulus, berdoa dengan dan dari hati terdalam, dan dalam bahasa kasih sejati, bukan karena takut. Biarlah airmata yang keluar adalah karena cinta, karena rindu Sang Kekasih, bukan untuk merengek-rengek supaya dapat jatah kapling di surga.

Surga Gusti Pangeran tidak di atas sana, tidak setelah kematian saja. Surga Pangeran ada di sini, dunia ini! Hiduplah dalam surga-Nya sekarang dan saat ini juga. Kenapa mesti menunggu kematian dulu?

Wejangan Krsna jelas sekali — seseorang yang melakoni hidupnya seperti itu, sesungguhnya sudah tinggal di dalam istana-Nya, surga-Nya! Ia sudah melakoni Yoga. Dan, sekali sudah berada di dalam istana-Nya, maka pertemuan pun bisa terjadi setiap saat, tinggal tunggu Waktu, sabar sedikit!

 

Para Pir para Wali, para Nabi—apa pun sebutannya—adalah wakil Keberadaan di atas bumi, seperti para Duta Besar yang mewakili negerinya. Dia berperan sebagai penghubung antara negeri yang mengut us dan negeri di mana dia ditempatkan.

Setelah menyelesaikan masa baktinya, seorang Duta Besar akan pulang ke negerinya, dan digantikan oleh Duta Besar yang baru. Demikian, berjalan terus. Kecuali, terjadi konflik dan pemutusan hubungan  diplomatik.

Untungnya, Tuhan tidak pemah memutuskan “hubungan” dengan dunia kita.  Itu sebabnya, dari jaman ke jaman, ada saja utusan yang Dia kirimkan. Jika anda alergi terhadap istilah “nabi” dan hanya ingin menggunakan untuk pribadi-pribadi tertentu, tidak apa. Gunakan istilah “wali”, “pir”, “pemandu”, “pelayan”, “petugas”—apa saja! Tidak menjadi soal.

Negara-Negara Persemakmuran (The Commonwealth Countries), bekas jajahan Inggris tidak mengenal istilah “Duta Besar” di antara mereka. Mereka menggunakan istilah “High Commissioner”. Tidak menjadi soal. High Commissioner atau Ambassa dor  atau Duta Besar atau apa saja, ketahuilah bahwa yang mereka wakili, satu dan sama.

Sering kali, seorang Duta Besar tidak akan turun tangan sendiri untuk memberi informasi tentang negerinya. Dia akan menggunakan media cetak dan media elektronik untuk menyampaikan berbagai informasi. Lalu berkat informasi yang dia sampaikan itu, anda tertarik untuk mengunjungi negerinya. Langsung membeli tiket dan jalan sendiri.

Tampaknya, anda tidak menggunakan jasa kedutaan. Apalagi kalau negeri itu tidak mengharuskan anda memiliki visa. Tetapi, sesungguhnya ketertarikan anda terhadap negeri itu sudah membuktikan adanya “tangan” Sang Duta Besar yang sedang bekerja di balik layar. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia via #BhagavadGitaIndonesia

 

Latihan meditasi dan yoga adalah penyiapan lahan, nasehat Guru Pemandu adalah benih-benih Pohon Kebenaran

Demikian yang kami catat dalam salah satu nasehat berharga.

Kalau kita hanya latihan meditasi dan yoga tetapi tidak menanam benih yang baik, maka bisa jadi benih tidak baik yang terbawa angin yang akan tumbuh subur. Rahwana adalaah seorang meditator. Tapi benih yang ditanam bukan benih kebaikan.

Hanya menanam benih setiap hari lewat nasihat para bijak tanpa penyiapan lahan juga tidak akan berkembang menjadi pohon yang subur.

Pemicu Kecil Membangkitkan Ego yang Membawa Perselisihan Besar

Ego mirip hewan dalam diri

Setiap kali ada yang memuji atau memaki, anjing ego di dalam diri kita mendapatkan makanan, dan ia mulai menggonggong. Ya betul, bukan saja setiap kali dipuji, tetapi setiap kali dimaki. Kutipan dari Nietzsche semestinya ditambah satu alenia lagi: “setiap kali jatuh satu tingkat”. Jadi setiap naik maupun turun tingkat, anjing ego selalu menggonggong. Diberi makan ia memperoleh energi dan menggonggong girang, tidak diberi makan, ia menggonggong kelaparan. Dipuji atau dicaci, dimaki, ego menggonggong.

Adalah di bagian bawah otak yang biasa disebut medulla oblongata. Untuk diketahui, medulla adalah bagian otak yang disebut reptilian brain—berbagai jenis hewan, termasuk jenis-jenis tertentu ikan, cicak, dan buaya, memilikinya. Jadi, medulla bukanlah bagian otak yang biasa disebut neo-cortex, atau bagian otak yang memanusiakan hewan.

Berarti, ego bukanlah sifat atau sikap manusiawi. Manusia mewarisinya melalui evolusi panjang selama ratusan juta tahun. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2012). Sanyas Dharma Mastering the Art of Science of Discipleship Sebuah Panduan bagi Penggiat Dan Perkumpulan Spiritual. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Youtube Video a Course in Spirituality Part 1: Enlightement and Guru by Swami Anand Krishna

Kita hidup dalam periode waktu, dimana kita hanya membutuhkan pemicu kecil, untuk menjadi egoistis. Di waktu dahulu tidak demikian. Saat ini kita hanya membutuhkan sedikit pemicu, seseorang memujimu dan kamu menggembung, seseorang bicara tentang sesuatu dan kamu mengempis. Keduanya adalah ego based. Ketika kamu menggembung atau mengempis keduanya adalah ego. Kamu mengempis egomu terlukai. Kamu menggembung karena kau merasa senang.

Para motivator menggembungkan ego kita. Dan apakah dunia kita menjadi lebih baik? Tidak! Lihat situasi di Eropa, bom, tembakan. Demikian juga dalam dunia seluruhnya. Dunia tidak menjadi tempat yang lebih baik karena dengan hanya pemicu kecil, ego kita menggembung atau mengempis dan keduanya berbahaya.

Mengikuti 2 cara ini, kalian tidak akan ke mana-mana. Master saya selalu mengingatkan kita dengan menggunakan kata moksha. Biasanya kita mengaitkan moksha terkait saat kematian, terbebaskan dari samsara, dari siklus kematian dan kelahiran.

Moksha tidak demikian. Moksha bisa kau mulai here dan now. Moksha berarti bebas dari keterikatan, bebas dari ego, bebas dari kebencian, dari iri, bebas dari segala sesuatu, yang mengikat kita dengan dunia ini.

Guru Nanak, saat bicara tentang bhakti, ia memanggil dirinya dasanudas, pelayan dari pelayan, pelayan dari devoti Tuhan.

Silakan simak Youtube Video a Course in Spirituality Part 1: Enlightement and Guru by Swami Anand Krishna

Tidak terjebak dalam dualitas dalam Bhagavad Gita

“Ia tidak terikat dengan sesuatu, di mana pun ia berada, dan dalam keadaan apa pun. Ia tidak terjebak dalam dualitas menyenangkan dan tidak menyenangkan. Ia tidak tersanjung (ketika dipuji), pun tidak gusar (ketika dicaci); Kesadaran Jiwanya sungguh tak tergoyahkan lagi.” Bhagavad Gita 2:57

Kṛṣṇa tidak menganjurkan agar kita menolak kebahagiaan, pengalaman-pengalaman yang menyenangkan dan sebagainya, ia hanya menganjurkan agar kita jangan sampai lupa daratan. Setiap Pengalaman Dalam hidup ini hanya bersifat sementara. Dalam keadaan duka, jangan sampai kecewa, dan menciptakan trauma bagi diri sendiri. Terimalah apa adanya. Demikianlah kehidupan ini, jangan terikat pada pengalaman apa pun. Semuanya hanya ada untuk sesaat.

Dalam percakapan-percakapan selanjutnya, Kṛṣṇa akan menjelaskan bahwa sesungguhnya semua pengalaman itu adalah menyangkut fisik, badan, indra. Jiwa tidak terpengaruh olehnya. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia via #BhagavadGitaIndonesia

Ooh Ternyata Kita Masih Dipertimbangkan Hewan, Persepsi Kita Masih Hewani

Selama melihat dengan persepsi (pashyati) kita masih dipertimbangkan hewan (pashu)

Kita melihat, mempersepsikan (pashyati) segala sesuatu punah karena kita masih berada dalam taraf pashu, hewan. Bhagavad Gita mengajak kita melampaui persepsi. Mengapa demikian? Silakan memperhatikan youtube video oleh Swami Anand Krishna terkait di bawah:

Berikut salah satu contoh melampaui persepsi (pashyati) dalam Bhagavad Gita:

“Ia yang melihat Hyang Maha Kuasa dan Tak Pernah Punah, di balik segala sesuatu yang mengalami kepunahan, baik hidup dan bergerak, maupun yang (tampak) tidak hidup dan tidak bergerak, sesungguhnya telah mengetahui kebenaran sebagaimana adanya.” Bhagavad Gita 13:27

Apa yang biasa terlihat oleh kita adalah sekadar “dampak” dari perubahan. Kelahiran, kematian, kelahiran kembali, dan kematian lagi – semuanya sekadar “dampak” dari perubahan. Kita tidak mampu melihat Ia yang berada di balik perubahan-perubahan itu…..

IA HYANG TAK BERUBAH, TAK PUNAH – Banyak pujangga yang berhenti pada tahap melihat perubahan saja. Bagi mereka perubahan itulah kebenaran mutlak. Mereka melihat perubahan sebagai satu-satunya hukum yang tak pernah berubah.

Pun demikian dengan kepunahan. Banyak pujangga yang hanya melihat sebatas kebendaan, dimana tidak ada satupun benda yang langgeng, semuanya punah.

Adapun kepercayaan dan filsafat yang berkembang di atas landasan tersebut, menolak adanya sesuatu “yang tidak pernah berubah dan tidak pernah punah”. Mereka hanya menerima “hukum perubahan” sebagai hukum yang tidak terelakkan, tidak pernah punah. DEMIKIAN, PEMAHAMAN MEREKA MENJADI PINCANG – Di satu pihak, mereka menolak adanya sesuatu yang tidak pernah berubah dan punah; di pihak lain, mereka pun percaya pada hukum perubahan yang mereka yakini tidak pernah berubah.

Ada pula kepercayaan-kepercayaan yang berlandaskan paham ateisme, dan menolak adanya Tuhan, tetapi menerima “hukum kecelakaan” sebagai cikal-bakal semesta.

Krsna menafikan “hukum kecelakaan yang tidak inteligen” tersebut. Ia menjelaskan bahwa di balik segalanya adalah Super Intelligence. Perhatikan Mini Super Computer yang kita miliki — badan kita. Perhatikan kinerja setiap organ. Mungkinkah semuanya itu hasil dari hukum kecelakaan, ataupun kebetulan semata?

Kebetulan saja manusia tercipta dengan badan dan otak yang mampu menciptakan komputer super termodern. Apa mungkin??? Krsna mengatakan bahwa….

PENCIPTAAN BUKANLAH KECELAKAAN, bukan kebetulan. Ada rencana inteligen, sangat inteligen, di baliknya. Dan jika ada rencana yang inteligen, maka mesti ada pula Super Inteligensia yang merencanakan. Super Inteligensia inilah Hyang Maha Kuasa. Mau disebut Tuhan, atau apa saja – silakan!

Bagi Krsna, seseorang yang memahami hal ini adalah orang yang betul memahami. Seseorang yang dapat melihat hal ini adalah yang betul melihat. Mereka yang tidak memahami dan melihat hal ini, belum cukup paham, belum cukup pula penglihatannya. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia via #BhagavadGitaIndonesia

Video Youtube by Swami Anand Krishna: God and humanbeing go beyond perception

Dalam bahasa Sanskrit setiap kata interconnected, berhubungan. Animal (bahasa Inggris) datang dari bahasa Latin animus. Animus berarti hidup. Bukan hanya animal, kita juga hidup. Tanaman, pohon pun hidup. Gunung, laut, sungai mereka hidup juga. Sehingga bila kamu memilih menggunakan kata animus dari Latin, semuanya adalah animal, hewan, semua benda adalah animal, hewan. Apa pun juga di dunia adalah animal.

Dalam Sanskrit segalanya mempunyai kata. Kata untuk animal, sapi, kucing, anjing, kuda, semuanya dipertimbangkan sebagai pashu. Dan pashu adalah akar kata dari pashyati, dalam bahasa Inggris, perception, persepsi. Jadi seorang yang percaya kepada persepsi, adalah pashu.

Saya melihat hal yang sama dan kalian melihat hal yang sama. Saya melihat statue, kau melihat statue, patung sebagai sapi. Saya mempersepsikan sebagai kendaraan Lord Shiva. Persepsi kalian adalah sapi, persepsi saya adalah Nandi.

Sehingga apabila kita percaya pada superficial things, apa yang dilihat oleh mata kita, apabila kita hanya percaya itu, maka kalian pashu, animal. Apabila kalian ingin menjadi human being, kalian harus penetrasi lebih dalam, apa itu. Kamu harus melihat inti dari segala sesuatu. Jangan percaya kepada sesuatu yang di luar. Yang di luar mungkin tampak jelek, bisa tampak sangat baik. Pergi ke dalam.

Gunakan viveka kalian, bukan mind lagi. Mind berdasar pada data  bank. Kalian mendapat data bank dari banyak inkarnasi, sehingga kalian menetapkan dari data bank untuk menentukan sesuatu itu apa. Tapi apabila kalian tidak menggunakan data bank, kalian tidak menggunakan mind. Kalian mengubah, transform, kepada buddhi. Dan kalian mulai menggunakan viveka, faculty of discretion. Dan kemudian satu tambah satu tidak selalu dua. Satu tambah satu bisa sebelas atau yang lain.

Kalian tahu teknologi digital kita. Mereka hanya berlaku pada 2 digit. Mereka tak dapat bekerja pada 3, 4, 5 digit. Setiap pagi bila kamu di sini, kau tinggal di sini, kita berdoa, chanting di atas, om karam bindhu sanyuktam. Kita tetap harus menemukan teknologi, bukan internet, tapi inner net. Bekerja bukan pada 2 digit tapi dalam single, digit tunggal. Om karam bindu sanyuktam hanya satu digit, saat kalian menemukan teknologi,  fisika, spirituality, kimia,  seni, semua dikombinasikan. Dan inilah tujuan semuanya dari yoga. Menemukan inner net ini. Akses inner net ini. Mulai bekerja dalam 1 digit.

Kalau kalian bekerja dalam satu digit, apa artinya? Otak kalian tidak bekerja lagi. Karena mind selalu bekerja dalam 2 digit. Paling tidak 2 digit. Harus ada ide yang berkonflik. Dan kemudian mind berjalan. Apabila kamu hanya punya satu digit, mind akan istirahat, mind tidak bekerja. Dan inteligen, viveka yang bekerja. Fakultas untuk memilah bekerja.

Sekali lagi, pashu, pashyati, kalian hanya percaya pada persepsi. Dan kita tidak lebih baik dari pada animal. Kita harus menggunakan inteligen kita, kita pergi melampaui mind. Transform the mind. Dan solusi bagaimana men-transform adalah meditasi, tidak ada solusi yang lain.

Silakan simak secara lengkap Video Youtube by Swami Anand Krishna: God and humanbeing go beyond perception

 

Beberapa contoh kata persepsi, pashyati dalam Bhagavad Gita

Menganggap aku sebagai badan, kita merasa berdosa, menganggap aku sebagai  jiwa, itu hanya kesalahan yang bisa diperbaiki. Mobilku yang penyok, tapi aku tidak penyok.

“Mereka yang tidak memahami hal ini (tentang lima unsur penyebab karma); menganggap Jiwa sebagai pelaku. Pandangan mereka tidak tepat, karena pemahaman yang tidak tepat pula.” Bhagavad Gita 18:16

Nah, di sini Krsna jelas sekali. “Jiwa” bukanlah pelaku. Jiwa adalah “aku” yang sejati. Dan Aku adalah saksi bukan pelaku. Kendaraan badan, indra, gugusan pikiran serta perasaan — semuanya bukanlah diriku yang sejati. Diriku yang sejati adalah Jiwa. Aku tidak ikut rusak ketika kendaraan mengalami kerusakan. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia via #BhagavadGitaIndonesia

………………

“Ia yang melihat setiap tindakan di manapun adalah disebabkan oleh alam atau Prakrti; sementara Sang Jiwa sesungguhnya tidak berbuat apa-apa – adalah yang telah melihat sebenarnya.” Bhagavad Gita 13:29

KETIKA KITA MENGIDENTIFIKASIKAN DIRI dengan alam benda, atau dengan peralatan elektronik dalam analogi sebelumnya — kita mengalami suka dan duka, kita mengalami kelahiran dan kematian.

Ketika kita mengidentifikasikan diri dengan “tindakan” dan “ kejadian” yang terjadi — maka kita mengalami pasang surut. Emosi kita bergejolak, pikiran menjadi kacau. Ada awal, ada akhir. Perubahan menjadi satu-satunya hukum yang masuk akal. Kita tidak mampu melihat Sang Jiwa —Listrik — Hyang Abadi. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia via #BhagavadGitaIndonesia