Makes Love Not War, Motto Kaum Muda tahun 60-an, Visi Benar! Misi? #SpiritualIndonesia

Mendambakan Kebebasan dan Keselamatan

“Hati manusia menjerit, meminta bantuan. Jiwa manusia mendambakan kebebasan, keselamatan. Tetapi kita tidak mendengar jeritannya. Kita tidak memahami dambaannya. Lalu apabila ada yang mendengar dan memahaminya, kita malah menganggapnya gila. Kita menjauhi dia.” Yang menjerit dan meminta bantuan bukanlah hati orang lain. Yang mendambakan kebebasan dan keselamatan bukanlah jiwa orang lain. Yang menjerit adalah hati kita sendiri. Yang mendambakan kebebasan adalah jiwa kita sendiri. Sangat ironis, tetapi memang begitulah adanya. Kita tidak mendengarkan suara hati kita sendiri. Kita tidak memahami kebutuhan jiwa kita sendiri. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (1999). Bersama Kahlil Gibran Menyelami ABC Kehidupan. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama) #SpiritualIndonesia

Makes Love Not War

Menyimak video youtube: Freedom : Living Responsibly (by Swami Anand Krishna) memori kami kembali teringat saat pertengahan tahun enampuluhan, waktu itu generasi Hippies merebak, dengan lagu-lagunya seperti #San Fransisco dari #Scott Mc Kenzie.

If you’re going to San Francisco……. Be sure to wear

Some flowers in your hair…….. If you’re going to San Francisco

You’re gonna meet……… Some gentle people there!

Lagu-lagu mereka sangat indah lirik mereka pun mengena di hati.

Tanggapan dari Swami Anand Krishna dalam video terkait, Visi-nya benar, Misi-nya tidak! Hidup bebas tidak seperti hidup para Hippies, meskipun para Hippies sebetulnya mereka benar.

Berbeda dengan generasi pertama Hippies seperti #The Beatles, yang lagu-lagunya tetap indah dan mempengaruhi banyak kaum muda.

 

Kebebasan yang Kebablasan

Cara berpikir bebas namun kacau dan mengacaukan – itulah kebebasan yang kebablasan. Kebebasan yang bertanggungjawab tidak akan menimbulkan kekacauan. Kekacauan, anarki, chaos – timbul dari kebebasan tanpa arah, kebebasan yang tidak bertanggungjawab, kebebasan yang kebablasan. Kebebasan di negara kita saat ini sudah kebablasan. Setiap orang seolah bebas untuk melakukan apa saja. Para penjahat, perusak, pembunuh berdarah dingin berkeliaran bebas. Para pembela mereka mendapatkan liputan bebas dari media massa. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2005). Indonesia  Baru. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama) #SpiritualIndonesia

 

Kebebasan merupakan kebutuhan dasar manusia

Setiap manusia, setiap mahluk hidup mendambakan kebebasan. “Mendambakan”-karena sesungguhnya ia tidak bebas. Kebebasan anda sangat tidak bermakna. Kebebasan anda sangat terbatas. Anda belum bebas sepenuhnya. Begitu banyak ranjau yang dipasang oleh masyarakat. Begitu banyak rambu-rambu yang harus anda perhatikan-ini tidak boleh, itu tidak boleh-sehingga anda tidak pernah hidup sepenuhnya.

…………………

                Anda harus membebaskan diri dari ketidakwarasan yang tengah merajalela dan menguasai pikiran manusia. Proklamasikan kemerdekaan dari keterikatan-keterikatan yang mengerdilkan jiwa anda! Tanpa kebebasan, hidup anda akan kehilangan makna. Kebebasan harus disertai oleh Kesadaran. Kebebasan macam itulah yang dimaksudkan oleh Kahlil Gibran.

Sadar, bebas dan hidup. Perhatikan urutan ini. Anda harus mulai dari kesadaran. Sadar dulu, baru memproklamasikan kemerdekaan. Kemerdekaan, kebebasan tanpa kesadaran tidak akan tahan lama. Kesadaran adalah bekal awal. Tanpa bekal itu, kemerdekaan yang anda proklamasikan tidak bermakna sama sekali. Sewaktu-waktu, jiwa anda bisa dijajah kembali. Dulu penjajahnya lain, sekarang penjajahnya lain. Budak tetap budak. Sekali lagi, sadarilah kemampuan diri, potensi diri-keilahian dan kemuliaan diri. Setelah menyadarinya, baru memproklamasikan kemerdekaan. Baru membebaskan diri dari segala sesuatu yang mengikat diri anda, yang merantai jiwa anda. Kemudian anda baru hidup. Anda baru bisa menikmati hidup ini. Anda baru bisa merayakan kehidupan anda! Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (1999). Bersama Kahlil Gibran Menyelami ABC Kehidupan. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama) #SpiritualIndonesia

 

Freedom : Living Responsibly (by Swami Anand Krishna)

Kaidah emas: Jangan lakukan kepada mereka hal yang tidak kau sukai dilakukan mereka kepadamu?

Kau tidak dapat bebas mengemudi seenaknya sendiri di jalan! Mengemudi dengan tidak berhati-hati akan menurunkan kebebasan pengemudi lain?

Hidup bebas tidak seperti hidup para Hippies. Meskipun para Hippies sebetulnya mereka benar. Visinya benar, misinya tidak. Missi yang salah?

Dalam tradisi yoga ada kata dharma. Dharma sangat sulit dipahami dalam bahasa lain?

Walau kadang dharma diterjemahkan dengan kebenaran akan tetapi kebenaran terhadap siapa?

Dharma bukan kebenaran terhadap kitab, bukan terhadap saya, tapi apakah yang benar terhadap dunia seutuhnya?

Dharma adalah hidup sangat bertanggungjawab?

Pada saat anda hidup bertanggung jawab, anda tidak akan melukai sebuah pohon?

Anda tidak dapat melukai sebuah jiwa?

Anda tidak dapat membuat masalah dengan seseorang?

Pada saat yang sama anda tidak membuat masalah dengan anda sendiri?

Adalah saat hidup bertanggung jawab dimana meditasi datang?

Siapa yang akan menjadi polisi? Apakah ada kitab, institusi yang memandu anda? Tidak?

Meditasi itu sendiri yang akan memandu anda?

Anda akan hidup sangat sadar? Bahwa hidup anda adalah berkah?

Silakan simak video Youtube: Living Responsibly (by Swami Anand Krishna)

Advertisements

Dementia, Alzheimer dan Pengaruh Melihat Layar Monitor 7 Jam Sehari #SpiritualIndonesia

Lebih dari 90% otak dipakai untuk menyimpan informasi

Sesungguhnya, saat ini pun otak kita sudah bekerja, sudah berfungi 100%. Memang, baru sebagian kecil dari kapasitasnya yang digunakan sehari-hari. Sisanya cuma untuk menyimpan data-data lama. Makin besar persentase yang digunakan dalam keseharian, walau hampir tak pernah melebihi 10%, membuat manusia makin cerdas, inteligen, makin sharp, makin tajam. Manusia seperti itulah yang menolak perbudakan. Manusia seperti itulah yang berkeinginan untuk hidup bebas merdeka. Manusia seperti itulah yang tidak mau lagi dikuasai oleh tradisi lama yang sudah usang, oleh doktrin dan dogma yang sudah tidak sesuai dengan martabat dan kesadaran manusia masa kini.  Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2005). Neo Psychic Awareness. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

Menciptakan space dalam otak agar lebih cerdas

Mungkinkah kita menggunakan lebih besar persentase otak untuk keseharian? Mungkin, sangat mungkin, tetapi untuk itu kita harus menciptakan space. Persis seperti komputer, memori harus dibersihkan dulu. Program-program yang tidak terpakai harus di-delete, dihapus….. Ciptakan “ruang”! Saat ini jiwa kita penuh; pikiran kita penuh; otak kita penuh; hati kita penuh. Ya, penuh dengan memori lama, data yang sudah tidak dibutuhkan lagi. Beban pada jiwa kita sudah melampaui batas. Dalam keadaan seperti itu, bagaimana mengisinya dengan sesuatu yang baru?  Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2005). Neo Psychic Awareness. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Kita tidak menciptakan space tapi malah menjejali otak dengan informasi berlebihan…..

Masyarakat Indonesia Nonton TV Lima Jam Sehari

Sumber: metrotvnews.com 22 Mei 2014

Metrotvnews.com, Jakarta: Televisi (TV)masih menjadi media paling banyak dikonsumsi masyakarat Indonesia. Inilah fakta terbaru yang diungkapkan lembaga penelitian Nielsen. Televisi memimpin raihan konsumen dengan penetrasi sebesar 95% di Jawa, dan 97% di luar Jawa.

Fakta menarik lainnya yang ditemukan Nielsen adalah rata-rata masyarakat Indonesia menonton TV lima jam per hari. Tepatnya, 5 jam 1 menit untuk masyarakat di pulau Jawa, dan 5 jam 12 menit untuk masyarakat di luar Jawa.

Otak masyarakat Indonesia dipenuhi dengan berbagai informasi dari televisi.

Pada tahun 2014 rata-rata masyarakat Indonesia melihat sumber cahaya dari televisi selama 5 jam sehari.

 

Berapa Lama Orang Indonesia Akses Internet dalam Sehari?

Sumber: tekno.liputan6.com 11 Januari 2017

Liputan6.com, Jakarta – Tak dimungkiri, internet sudah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Indonesia saat ini. Kehadiran 4G dan penetrasi smartphone yang kian cepat secara tak langsung ikut memengaruhi aktivitas internet di Indonesia.

Lantas, berapa lama waktu yang dihabiskan oleh seseorang untuk mengakses internet setiap hari? Berdasarkan data yang dirilis Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII), sebagian besar responden mengaku mengakses internet lebih dari enam jam setiap hari.

Ada sekitar 55,39 persen dari total responden yang setiap hari mengakses internet lebih dari enam jam. Sementara responden lain lebih bervariasi, mulai dari 2 sampai 6 jam sehari.

Otak masyarakat Indonesia dipenuhi dengan berbagai informasi dari internet.

Pada tahun 2017 rata-rata orang Indonesia melihat sumber cahaya dari hp android dan komputer selama 6 jam sehari.

 

Pemicu utama penyakit syaraf dalam abad ini: melihat sumber cahaya.

Dementia adalah suatu penyakit yang mulai ngepop?

Tahap berikutnya adalah alzheimer?

Semua sakit-sakit tersebut berkaitan dengan syaraf-syaraf kita?

Kita tahu kita semua punya potensi menderita dari kanker tetapi kita tidak semua orang meninggal dari kanker?

Tidak semua orang menderita sakit kanker, hanya sekian persen orang menderita kanker?

Demikian juga, potensi sakit syaraf ada tetapi ada pemicu-pemicu yang membuat keadaan semakin jelek.

Dan pemicu utama dalam abad ini adalah melihat sumber cahaya?

Belum pernah ada dalam sejarah manusia, kita lama sekali melihat sumber dari cahaya?

Berjam-jam melihat monitor hp, ipad, komputer, televisi?

Apabila kamu sebaya saya 60, 50 oke 40-an, ketika kamu anak-anak, berapa kali kamu ke teater melihat bioskop?

Apabila Anda 40-an anda melihat televisi tapi ketika saya lahir saya belum melihat televisi. Televisi dimulai tahun 1965? Hanya di Jakarta dan kota besar dan dari jam 6 sampai jam 9? Televisi hitam-putih, dan sudah wowww?

Sampai tahun 1971, televisi mulai dari jam 4 sampai 9 atau 10 malam. Terakhir adalah dunia dalam berita dan hanya ada satu channel. Tidak membutuhkan remote control?

Pada waktu itu walau kita pergi ke teater yang disebut bioskop, cinema kita pergi sekali seminggu?

Kadang kita tidak melihat sekali seminggu tapi sekali setiap bulan?

Sekarang kita bisa melihat 3, 4, 5 movie dalam sehari lewat youtube?

Apa yang terjadi?

Apa yang terjadi ketika kamu melihat sesuatu?

Gambar-gambar dari monitor ini direkam dan diprint di atas otak kita?

Kita kehilangan kesempatan mentransformasi mind menjadi buddhi?

Transformasi mind tidak mungkin terjadi sampai Anda membebaskan diri dari file yang tidak diinginkan ini?

Apabila tidak, seperti saat ini akan lebih buruk lagi?

Semakin banyak orang yang menderita dementia, alzheimer dan banyak penyakit yang berkaitan dengan otak?

Karena stress? ya!

Kalau pun tidak stress silakan menonton tivi selama 7-8 jam sehari?

Bekerja dengan monitor 7-8 jam sehari tanpa interval yang memadai?

Akan menderita sakit yang sama?

Meditasi hanya dapat menolong Anda asal Anda membuat kebiasaan tidak baik ini?

Apabila Anda tidak membuang kebiasaan ini, meditasi, yoga tidak akan bermanfaat?

 

Silakan simak video youtube dari Swami Anand Krisna: Dementia, Alzheimer & Parkinson: Shun Bad Habits, Meditate Your Way to Health

Hidup Tanpa Rasa Kecewa? Mungkinkah? #SpiritualIndonesia

Kita dapat mengharapkan sesuatu pada anak kita, pasangan kita, tapi mereka mungkin mempunyai harapan yang berbeda dengan kita

Mind kita dan mind mereka tidak sama.

Mind kita dibentuk oleh informasi yang kita peroleh dari luar. Pendidikan di sekolah, pelajaran dari orangtua, pengetahuan tentang agama – semuanya itu telah membentuk mind kita. Kemudian, konflik antara mind yang satu dan mind yang lain tidak bisa dihindari, karena memang bahan baku setiap mind itu lain. Sumber dari buku (Krishna, Anand. (2002). Menemukan Jati Diri I Ching Bagi Orang Moderen. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama) #SpiritualIndonesia

Seorang anak manusia lahir dengan genetik bawaan dari orang tuanya dan kemudian mind-nya dipengaruhi oleh orang tua, pendidikan di sekolah, dan lingkungan. Beda orang tua, beda pendidikan dan beda lingkungan akan menyebabkan mind yang berbeda atau pandangan tentang kebenaran yang tidak sama.

Mengharapkan orang lain sesuai dengan keinginan kita membuat kecewa.

 

Memahami perbedaan mind, meningkatkan kesadaran ke tingkat inteligensia

Mind bersifat “khas”, pribadi. Cara berpikir Anda dan cara berpikir saya berbeda. Tidak bisa 100% sama. Sebaliknya intelegensia bersifat universal.misalnya: apa yang Anda anggap indah dan apa yang saya anggap indah mungkin berbeda.

Definisi kita tentang keindahan mungkin bertolak belakang, karena definisi adalah produk mind, produk pikiran. Tetapi, ketertarikan kita pada keindahan bersifat universal. Anda suka yang indah-indah. saya pun menyukai keindahan. Nah, menyukai keindahan ini berasal dari intelegensia. Anda ingin bahagia, saya ingin bahagia, kita semua ingin bahagia.

Proporsi mind dan intelegensia dalam diri setiap manusia bisa berubah-ubah. Bisa turun-naik. Bila proporsi mind naik, intelegensia akan turun. Bila intelegensia bertambah, mind berkurang. Bila proporsi mind mengalami kenaikan, manusia menjadi ego-sentris. Dia akan mengutamakan kebahagiaan diri, kesenangan diri, kenyamanan diri, kepentingan diri. Mind hidup dalam dualitas. Bagi mind, Anda adalah Anda, saya adalah saya. Sebaliknya, intelegensia bersifat universal. Seorang ber-“intelegensia” akan memikirkan kebahagiaan umum, kesenangan dan kenyamanan umum, kepentingan umum. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2001). Atma Bodha Menggapai Kebenaran Sejati Kesadaran Murni dan Kebahagiaan Kekal. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Bukan hanya konflik dengan orang lain, mind kita sendiri bergejolak penuh konflik

Keberadaan mind tergantung pada paham dualisme. Dualitas adalah Iandasan mind. Tidak ada mind tanpa dualitas. Mind selalu membedakan antara kepentingan diri dan kepentingan orang lain. Ia akan menugaskan pancaindera dan badan untuk berbuat apa saja yang menguntungkan bagi dirinya.

Mind menciptakan konfiik. Mind tidak pernah tenang, tidak bisa tenang. Ia selalu bergejolak. Gejolak mind berkurang ketika ia mulai terserap oleh inteligen. Demikian, secara pelahan tetapi pasti mind seolah mengalami kematian dan inteligen makin berkembang.

Ketika mind mengalami kematian sempurna, maka terjadilah keadaan yang disebut the state of no-mind – keadaan di mana mind sudah tidak eksis lagi. Saat itu, manusia seolah lahir kembali sebagai Buddha atau The Awakened One!

Inilah keadaan yang secara metaforis disebut Kerajaan Allah oleh Yesus: “… jika seorang tidak dilahirkan kembali, ia tidak daat  melihat Kerajaan Allah.” Perjanjian Baru, Yohanes 3:3

Buddha bukanlah nama orang, tetapi nama keadaan. Buddha adalah pencapaian jiwa tertinggi, yang dapat dicapai ketika ia masih berbadan. Hendaknya istilah “Buddha” tidak selalu dikaitkan dengan agama tertentu. Istilah ini bersifat sangat generik, segenerik istilah “manusia”, “air”, atau “dunia”.

Seorang disebut Buddha karena ia telah terjaga dari tidur panjang yang disebabkan oleh hypnosis massal. Ia sudah tidak lagi terpengaruh oleh pendapat-pendapat orang tentang dirinya, karena ia telah mengenal dirinya. Ia telah menemukan potensi dirinya, jadi ia tidak bingung. Ia tidak ragu. Ia menjalani hidupnya tanpa kebimbangan. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2012). Neo Spiritual HYPNOTHERAPY, Seni Pemusatan Diri Untuk Bebas Dari Pengaruh Hipnosis Massal. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

How to deal with life disappointment?

Kita dapat mengharapkan sesuatu pada anak kita, pasangan kita tapi mereka mungkin mempunyai harapan yang berbeda dengan kita?

Saya ingin dia memperhatikan saya itu keinginan saya. Bagaimana dengan keinginan dia?

Akan selalu ada konflik, tak ada dua mind, pikiran yang sama. Sekalipun dalam satu pikiran kita saja, banyak konflik yang terjadi?

Walaupun orang yang satu ranjang dengan kita, selalu saja berbeda sehingga timbullah kekecewaan?

Bisa kecewa pada pekerjaan, pada pasangan, pada anak?

Walaupun pasangan yang terbaik selalu ada kekecewaan dan tidak ada akhirnya?

Konsekuensi hidup kita demikian. Semua terjadi bila kita konsentrasi pada aku dan pikiranku. Selalu ada stress, ketegangan?

Cara mengatasinya bisa  satu per satu selesaikan setiap hari. Percayalah banyak orang melakukan hal demikian. Selesaikan stress satu hari dengan minum, nonton film atau lari dari masalah atau kadang menghadapi masalah?

 

Cara Kedua adalah hidup secara spiritual?

Semua masalah tetap ada tidak perlu menjadi pengembara? Kita bisa hidup spiritual di rumah dengan memperluas visi kita?

Memperluas visi kita bahwa kita adalah human being, kita adalah manusia. Planet ini lebih dari 6 milyar mendekati 7 milyar manusia. Kita tidak unik?

Itukah hidup secara spiritual?

Tubuh kita tidak unik? Masalah kita tidak unik,itulah cara hidup? Cara melihat hidup secara spiritual?

 

“Saya gundah tidak dapat memakai sepatu sampai saya melihat orang tanpa kaki.”

Kita melihat sesuatu lebih jernih?

Kita naik melampaui masalah kita. Masalah tetap ada. Saya bukan satu-satunya orang yang menghadapi masalah ini?

Kemudian, pada waktu kita melihat masalah kita kita bisa membantu masalah orang yang mengalami hal sama. Kita melihat orang lain lebih susah, dan kita berubah. Sangat damai, very peaceful?

Kita menghadapi masalah. Kita melihat dengan pandangan lebih baik. Tidak pergi ke hutan. Tidak duduk 4 jam. Spiritual tidak berarti melakukan yoga 18 jam sehari atau jadi pengembara?

Tapi mempunyai perspektif spiritual. Ini merupakan usaha yang panjang. Saya harus melihat dengan pandangan yang lebuh besar. Perspekif yang lebih luas?

Silakan simak video youtube: How to Deal with Life Disappointments (by Swami Anand Krishna)

Appo Deepo Bhava, Apakah Kita Perlu Guru? #SpiritualIndonesia

Appo Deepo Bhava, Jadilah cahaya untuk dirimu sendiri! Jadilah guru bagi dirimu sendiri. Apakah artinya kita tidak perlu guru?

 

Pemandu membuat lebih cepat sampai tujuan

Anggur tua dinilai lebih tinggi. Begitu pula dengan para Pir. Carilah seorang Pir yang sangat tua. Tua karena kcbenaran, karena kesadaran, bukan karena waktu. Jika kamu sudah menemukannya, jadikan dia Pemandumu. Dengan adanya seorang Pemandu, perjalananmu akan menjadi lebih nyaman dan terarah. Ingat, perjalanan ini baru pertama kali kamu tempuh. jangan sok berani. Indahkan panduan Sang Pemandu!

Bagi seorang murshid, murid adalah sahabat. Murshid “tahu diri” betul. Pada dasamya, tidak ada perbedaan antara mereka. Seorang murid adalah masa lalu seorang murshid. Dan seorang murshid adalah masa depan seorang murid. Beda “kesadaran” sedikit. Itu saja.

Yang seringkali “lupa daratan” adalah para murid. Disebut “sahabat”, mereka menjadi sombong. “Sekarang aku bisa jalan sendiri. ”—pikir dia. Ternyata apa? Baru berjalan sebentar sudah babak-belur. Tetapi karena kesombongannya, karena keangkuhannya, dia tidak akan mengaku salah. Walaupun sudah “tersesat”, dia akan tetap melanjutkan perjalanannya.

Rumi menasihati mereka:

Seperti seekor keledai yang tergiur oleh rerumputan dan berhenti di pinggir jalan, begitu pula kenikmatan duniawi bisa menyibukkanmu, sampai lupa menempuh perjalanan yang harus kau tempuh. Pada saat-saat seperti itu, hanya seorang pemandu yang bisa menyadarkan dirimu.

“Banyak orang berupaya untuk mendekatkan diri dengan Tuhan lewat ritus-ritus keagamaan.” kata Nabi Muhammad kepada Ali, sambil menasihatinya, “Dekatkan dirimu dengan para pengabdi Allah yang terpilih dan bijak, maka kau akan lebih awal sampai di tujuan.” Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2000). Masnawi Buku Kesatu, Bersama Jalaludin Rumi Menggapai Langit Biru Tak Berbingkai. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama) #SpiritualIndonesia

Ia yang telah tercerahkan mengetahui dan menunjukkan setiap kelemahan dan kekurangan kita

Perjalanan panjang menuju sumber memang penuh tantangan, kebuasan nafsu, keliaran panca indera, keterikatan pikiran, ketidakseimbangan rasa, semuanya itu sangat mengganggu. Maka, pikiran manusia memang mesti dialihkan dari segala sesuatu yang tidak menunjang evolusinya, kepada sesuatu yang menunjangnya.

Untuk itu, kita membutuhkan seorang pemandu, seorang yang tahu persis tentang tantangan-tantangan dalam perjalanan. Guru adalah pemandu itu. Alangkah beruntungnya kami sehingga memperoleh seorang guru seperti Sai Baba!

Apa yang mesti dipikirkan lagi? Apa yang mesti diragukan? Hendaknya kita tidak bimbang, dan berserah diri kepadanya. Ikutilah petunjuk-Nya, turuti nasihatNya. Hendaknya kita tidak bermalas-malasan. Gunakanlah seluruh tenagamu untuk melanjutkan perjalanan bersama Sang Guru. Sungguh sangat beruntungnya kami sehingga bertemu dengan Baginda Baba.

Ia yang telah tercerahkan, terjaga, dan mengetahui setiap kelemahan dan kekurangan kami, sehingga dapat menunjukkannya kepada kami. Selanjutnya, tentu kami sendiri yang mesti memperbaikinya.

Kita juga bisa memperoleh panduan lewat kitab-kitab suci, ceramah-ceramah para suci dan lain sebagainya. Kendati demikian, kehadiran seorang guru pribadi dalam hidup tak tertandingi oleh panduan lain jenis mana pun jua.

Kitab-kitab suci pun menjadi lebih bermakna, ketika seorang guru menjelaskan kepada kita bukan secara lisan, tetapi lewat tindakan nyata, perbuatan, dan kehidupannya sendiri. Ya, kehidupan seorang guru merupakan tafsir yang paling jelas terhadap ajaran-ajaran suci tersebut. Dikutip dari buku (Das, Sai. (2010). Shri Sai Satcharita. Anand Krishna Global Co-Operation Indonesia) #SpiritualIndonesia

Sadguru menunjukkan jalan, tapi kita mesti berjalan sendiri

Ibarat burung di dalam sangkar. Ia tidak sadar bila dirinya terperangkap. Ia puas dengan keadaan di dalam sangkar. Badan, pikiran, dan perasaan kita itulah sangkar jiwa, sangkar kita.

Adalah orang Sadguru yang membuat kita sadar akan keadaan kita. Kehadiran seorang Guru dalam hidup adalah berkah Allah. Dengan berkah itu pula, kemudian mata batin kita terbuka. Dan, kita menyadari keadaan kita yang sesungguhnya.

Setelah itu, kita baru berupaya untuk membebaskan diri dari sangkar. Nah, soal upaya hal tersebut sepenuhnya tergantung pada diri kita. Tidak seorang pun dapat berupaya untuk kita. Kita mesti berupaya sendiri. Sadguru menunjukkan jalan, selanjutnya kita mesti berjalan sendiri. Seorang pemandu bisa mendampingi kita, tapi kita tetaplah mesti berjalan sendiri. Dikutip dari buku (Das, Sai. (2010). Shri Sai Satcharita. Anand Krishna Global Co-Operation Indonesia) #SpiritualIndonesia

 

Appo Devo Bhava

Jadilah cahaya untuk dirimu sendiri. Berarti jadilah guru bagi dirimu sendiri. Apakah artinya kita tidak perlu guru?

Di Barat, banyak sekali distorsi dari pesan yang lengkap. Mereka belajar Buddha bagian per bagian?

Apabila kita melihat di internet, facebook, atau instagram. Banyak sekali quotation yang tidak disampaikan oleh yang bersangkutan. Mereka hanya memuat Buddha mengatakan demikian?

Buddha memang mengatakan appo deepo bhava tetapi mereka hanya melihat dari satu baris tidak melihat sesuatu yang lengkap?

Kapan Buddha menyampaikan hal tersebut? Saat Buddha mendekati akhir hayat, para muridnya saat ingin memperoleh pesan dari Buddha?

Buddha menyampaikan, Jadi saya tidak akan hidup lebih lama, jadilah cahaya bagi dirimu sendiri?

Ada 2 aspek ucapan appo deepo bhava, seorang guru sudah mau meninggal?

  1. Lihat saya sudah menunjukkan jalan. Silakan berjalan sendiri?
  2. Yoga atau meditasi adalah untuk dilakoni selamanya, sehingga appo deepo bhava adalah untuk selamanya. Dalam setiap fase kehidupan, dalam setiap langkah?

Ada dua kelompok teman-teman di lingkungan kita?

  1. Mereka yang memujimu, walau ada hal yang tidak diperlukan. Atau kala membaca buku dari para motivator, dengan kata-kata berbunga yang selalu memujimu dari para motivator?
  2. Mereka yang menghujatmu, tidak senang denganmu apa pun yang kau perbuat, mereka selalu mengkritikmu?

Tidak ada kelompok ketiga yang mengatakan kamu akan menghadapi masalah-masalah demikian, kamu memiliki kelemahan dan ada solusi, jalan keluar dari masalah tersebut?

  1. Kelompok ketiga yang hilang ini adalah mentor atau guru. Guru tidak memujujimu selamanya, tidak menghujatmu. Guru menunjukkan kesulitan-kesulitan dan bagaimana mengatasinya?

Setelah guru memberikan semuanya, bagaimana cara mengatasi masalah-masalah baru mengatakan appo deeppo bhava. Jadilah cahaya bagi dirimu sendiri. Lihat, saya sudah memberikan semuanya padamu sekarang appo deeppo bhava?

Ada satu istilah lain samasati. Samasati atau ingatan yang benar?

Ingatan benar yang bagaimana? Ingatan yang benar apa yang telah kusampaikan kepadamu. Ikuti petunjukku, apabila kamu bertanya tunjukkan jalan kepadaku. Jalanlah sendiri tidak dapat aku menjalankan kamu, aku sudah memberikan caranya..

Sebelum memilih guru, perlu kamu perhatikan: Apakah dia menghidupi pesannya? Apakah dia melakoni appo deepo bhava? Apakah dia menunjukkan agar kamu menjadi cahaya bagi dirimu sendiri tapi juga menunjukkan kelemahanmu? Pilih guru yang menghidupi melakoni pesannya, bukan hanya motivator?

Silakan simak video Youtube: Appo Deepo Bhava (Be a Light unto Yourself ) by Swami Anand Krishna

Viveka: Kemampuan Memilah Ibarat Buddha dalam Proses #SpiritualIndonesia

Yang Mulia atau Yang Menyenangkan Indra?

Krsna menggunakan istilah Sreya, yang berarti “Lebih Mulia” – bukan lebih baik, atau di atas yang lain. Dengan menggunakan istilah sreya, Krsna sedang membandingkan satu kegiatandengan kegiatan lain dengan menggunakan tolok ukur atau timbangan sreya dan preya – yang memuliakan dan yang sekadar menyenangkan.

Jadi, batu timbangannya bukanlah berat-ringan, dalam konteks lebih baik dan kurang baik, atas dan bawah, tetapi dalam konteks, mana yang mulia dan mana yang tidak.

Laku yang hanya menyenangkan, perbuatan yang hanya memuaskan indra jelas tidak memuliakan. Sebab itu, terlebih dahulu raihlah pengetahuan sejati tentang mana yang memuliakan dan mana yang tidak.

Berarti, jangan “asal berkarya” – jangan asal “berbuat”. Jangan asal “makan”. Jangan asal “hidup”. Berkaryalah dengan penuh kesadaran bahwa karya tersebut memuliakan. Bahwa karya tersebut tidak hanya memuaskan diri atau indra saja, tetapi juga bermanfaat bagi kehidupan secara utuh, bagi lingkungan, bagi masyarakat. Penjelasan Bhagavad Gita 12:12 dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia lewat #BhagavadGitaIndonesia

Kemampuan untuk memilah

PREREQUISITE ATAU SYARAT UTAMA ADALAH VIVEKA—kemampuan untuk memilah, untuk menentukan mana yang mulia dan baik bagi diri kita, bagi evolusi kita, bagi Jiwa—dan mana yang sekadar menyenangkan dan terasa nikmat bagi tubuh dan indra.

Viveka membuat kita sadar akan kebutuhan Jiwa, yaitu Kebahagiaan Sejati yang bersumber pada Kesadaran Jiwa itu sendiri. Patanjali tidak menolak kenyamanan tubuh, kenikmatan indra dalam takaran moderat, tidak berlebihan, tidak kekurangan. Silakan mengurusi badan dan indra, tetapi dalam kerangka besar kebutuhan Jiwa; dalam rangka mewujudkan misi Jiwa.

Kenyamanan tubuh dan kenikmatan indra tidak boleh berdiri sendiri. Semua itu mesti demi terwujudnya Kesadaran Jiwa dan tercapainya Kebahagiaan Sejati. Penjelasan Yoga Sutra Patanjali II.15 dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2015). Yoga Sutra Patanjali Bagi Orang Modern, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama) #SpiritualIndonesia lewat #YogaIndonesia

 

Sarana yang dnnaksud adalah Viveka—Fakultas untuk Memilah antara tindakan yang tepat dan yang tidak tepat; tindakan yang membantu kita mencapai tujuan dan yang tidak membantu tindakan yang menunjang evolusi kita dan yang tidak.

Sebagalmana telah saya Jelaskan secara panjang lebar dalam Spiritual Hypnotherapy, Viveka adalah sarana sebelum terjadinya transformasi total mind, manah, atau gugusan pikiran serta perasaan; sampai mind berubah total menjadi buddhi atau inteligensi. Viveka adalah bagian dari mind yang sudah mulai bereformasi, tapi masih belum bertransformasi total.

…………………..

Viveka bisa dianalogikan sebagai kurir pembawa berita baik, bahwasanya perkembangan buddhi, transformasi-total mind atau manah, gugusan pikiran serta perasaan, tinggal selangkah lagi.

Berada di tahap kelima, mind sudah mengalami transformasi total, sudah menjadi buddhi. Bahkan bukan itu saja, buddhi sudah menjalankan, melaksanakan tugasnya dengan baik. Berarti, manah atau mind sudah tidak berkuasa. Indra dan badan sudah terkendali. Berada di tahap ini, hidup kita sudah berada pada jalur yang benar. Penjelasan Yoga Sutra Patanjali II.27 dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2015). Yoga Sutra Patanjali Bagi Orang Modern, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama) #SpiritualIndonesia lewat #YogaIndonesia

Viveka ibarat Buddha dalam proses

Jalan menuju kemuliaan dan jalan menuju kepuasan indera yang bersifat sementara, inilah dua jalan yang terbuka bagi manusia. Mereka yang inteligen, berakal budi memilih jalan menuju kemuliaan. Mereka yang bodoh memilih jalan kepuasan indera, kenikmatan, dan kesenangan sesaat.

Viveka memberi kita kemampuan untuk memilah. Kemampuan inilah yang kelak mengantar kita pada Bodhichitta. Viveka ibarat Buddha dalam proses. Adalah sangat penting bahwa dalam perjalanan menuju kesadaran Buddha, atau Bodichitta, kita sadar akan apa yang tepat bagi kita, dan apa yang tidak tepat.

Viveka adalah buah meditasi. Viveka tidak dapat diperoleh dari buku. Buku, tulisan, serta pengalaman orang lain hanyalah sebatas untuk menyemangati kita. Buku menjelaskan pengalaman para penulis yang memilih shreya atau kemuliaan dan meraih Bodhichitta. Buku juga bercerita tentang mereka yang memilih preya, atau kesenangan sesaat dan meraih penderitaan.

Mengapa preya tidak pernah memuaskan? Karena, jiwa kita abadi. Ia sedang mencari keabadian. Ia hendak meraih kebahagiaan abadi atau aananda. Sementara itu jalan preya hanyalah mengantar dia pada kesenangan, kebahagiaan, dan kenikmatan sesaat.

Adalah viveka yang mengenal aananda. Sebelum viveka berkembang, kita tidak pernah mengenal aananda. Mind atau maanas hanya mengenal kebahagiaan dan kesenangan sesaat. Ia tidak bisa menjangkau sesuatu yang bersifat langgeng dan abadi karena dirinya sendiri tidak abadi. Ia hanyalah merekam dan menikmati pengalaman-pengalaman jiwa yang bersifat luaran, dan senantiasa berubah-ubah. Untuk menemukan aananda, para Buddha selalu mengajak kita untuk menoleh ke dalam diri sendiri.

Selama masih dalam proses, viveka adalah pemandu kita. Viveka ini ibarat kepompong yang kelak akan berubah menjadi kupu-kupu. Proses ini bisa memakan waktu yang cukup lama, tetapi bisa juga terjadi dalam waktu yang relatif singkat.

Usia fisik manusia tidak menentukan cepat-lambatnya pertumbuhan viveka dan transformasi selanjutnya menjadi buddhi. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2012). Neo Spiritual HYPNOTHERAPY, Seni Pemusatan Diri Untuk Bebas Dari Pengaruh Hipnosis Massal. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama) #SpiritualIndonesia #HypnotheraphyIndonesia

 

Being Human 2/3 Pleasant or Good

Program dasar dari neocortex adalah untuk mencerna semua informasi yang kita peroleh sepanjang usia sepanjang hari dan memprosesnya menjadi 2 kategori: Shreya dan Preya?

Preya adalah segala sesuatu yang menyenangkan panca indra. Apa pun juga asal menyenangkan panca indra itu adalah preya. Mungkin tidak baik, mungkin tidak benar, asal panca indra saya puas itu adalah preya?

Shreya selangkah lebih lanjut, apakah yang saya lakukan tepat?

Shreya bukan sesuatu yang menyenangkan tapi sesuatu yang tepat?

Upanayanam: sebelum masuk sekolah diinisiasi dengan doa Gayatri: “Wahai Sumber segala cahaya, jernihkan lah pikiranku sehingga aku bisa tahu tindakan yang tepat dan tidak tepat”?

Doa yang dihayati tersebut, membantu kita memperoleh tuntunan mana yang tepat dan mana yang tidak tepat?

Tanpa dimaknai dan dihayati doa tersebut walau diucapkan berkali-kali tidak akan bermanfaat?

Silakan simak video youtube:

Being Human 2/3 : Pleasant vs Good (by Swami Anand Krishna)

Neo Cortex: Jembatan dari Insting Hewani menuju Keilahian Diri #SpiritualIndonesia

Tanpa Neo-Cortex Manusia Tidak Jauh Beda dengan Binatang?

Bila kita hidup semata-mata untuk memenuhi kebutuhan insting, maka sesungguhnya kita masih animal, binatang. Taruhlah binatang plus, karena kita sudah berbadan seperti manusia. Juga karena kita sudah memiliki mind yang cukup berkembang, mind yang dapat menciptakan. Kita mampu menghiasi, memoles insting-insting kita. Kita bisa mengelabui orang lain. Sehingga binatang di dalam diri kita menjadi lebih buas, lebih bengis dan lebih ganas dari binatang beneran. Kebuasan binatang masih terbatas, kebuasan kita tak terbatas karena ketakterbatasan kemampuan mind kita.

Manusia juga merupakan satu-satunya jenis makhluk yang hidup di bumi ini dan mampu berkembang terus. Pohon Kenari sepuluh juta tahun yang lalu seperti itu, sekarang pun sama. Tidak terjadi perubahan apa. Anjing pun demikian, dari dulu begitu, sekarang pun sama. Lain halnya dengan manusia. Dulu la hanya bisa membuat kapak dari batu. Sekarang bisa membuat pesawat tempur. Dulu la tinggal di dalam gua, sekarang di dalam rumah. Dulu rumahnya biasa, sekarang mewah. Species manusia berkembang terus, berevolusi terus.

Dengan Lymbic yang masih hewani pun, kita tetap berkembang. Hasilnya: Animal Plus, Binatang Plus. Perkembangan diri kita masih belum holistik, belum menyeluruh. Hewan di dalam diri barangkali menjadi sedikit lebih jinak, tetapi belum menjelma menjadi manusia. Hanya segelintir saja di antara kita yang berhasil memanusiakan dirinya.

……………

Manusia memiliki bagian otak yang disebut Neo Cortex. Neo berarti “baru”, dan bagian ini memang “baru” dimiliki oleh hewan “jenis manusia”. Setidaknya dalam bentuk yang jauh lebih sempurna dari hewan. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2005). Otak Para Pemimpin Kita, Dialog Carut-Marutnya Keadaan Bangsa. One Earth Media) #SpiritualIndonesia lewat #OtakParaPemimpinKita

Neo-cortex terkait chakra ke-4 jembatan penghubung tiga chakra bawah dengan tiga chakra atas

Menurut filsafat Yoga, seperti yang dijabarkan oleh Patanjali dan lainnya, ada tujuh lapis kesadaran, digambarkan sebagai chakra atau roda. Tiga chakra pertama adalah kebutuhan dasar, makan/minum, seks, dan tidur. Ini adalah kebutuhan yang dilakukan oleh hewan juga.

Cakra keempat adalah cinta yang membedakan kita dari dunia hewan. Tentu saja, ini menjadi lapisan pertama kesadaran manusia. Lapisan ini berhubungan dengan bagian otak neo-cortex, sedangkan tiga lapisan pertama berhubungan dengan bagian otak yang mengatur anggota tubuh.

Tiga lapisan terakhir adalah lapisan pemurnian, perluasan pandangan, dan pencerahan. Lapisan-lapisan ini membawa kita menuju Yang Maha Kuasa, menuju Keilahian. Jadi, menurut yoga, kita semua menuju ke arah yang sama, Tuhan. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2009). Si Goblok, Catatan Perjalanan Orang Gila. Koperasi Global Anand Krishna)

Neo-cortex untuk memahami tindakan yang tepat dan tidak tepat

Tanpa perkembangan Neo-Cortex, manusia tidak sadar tentang hal-hal yang tepat dan tidak tepat, yang baik dan tidak baik bagi dirinya.

Dalam keadaan seperti itu, ia tak akan mampu memahami kebutuhan insting yang diterimanya dari Bagian Limbic lewat Jaringan Saraf Otonom. Bila insting mengirimkan pesan “lapar”, maka ia bisa saja makan berlebihan, sehingga merusak kesehatannya sendiri.

Begitu pula dengan hal-hal lain yang sesungguhnya merupakan kebutuhan dasar dan harus dipenuhinya secara cerdas dan berimbang dengan penuh kesadaran, misalnya memilih makanan yang baik bagi kesehatannya sehingga tidak makan apa saja secara sembarangan.

Dengan kata lain, mesti ada kerja sama yang baik antara Bagian Limbic dan Neo-Cortex. Tanpa kerja sama seperti itu, manusia akan mencelakakan dirinya.

Hal ini tidak terkait dengan tubuh atau kesehatan raganya saja, tetapi juga dengan pikiran dan lapisan-lapisan kesadarannya yang lain.

Jadi Limbic memberitahu kebutuhan, sedangkan Neo-Cortex menentukan bagaimana dan dengan cara apa memenuhi kebutuhan itu supaya menunjang kesehatan dan kehidupan, bukan merusak atau mematikannya. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2010). Neospirituality & Neuroscience, Puncak Evolusi Kemanusiaan. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

Menjadi Manusia: Kasih dan Memilah antara Tindakan Tepat dan Tidak Tepat

Banyak orang yang hidup tapi hatinya mati?

Tidak ada perbedaan apa pun antara kita dengan binatang buas kalau tidak ada kasih dalam hati kita?

Kita lahir tanpa rasa kasih?

Jam berapa pun, lapar sedikit langsung nangis. Tidak sadar ibu baru tidur karena seharian bekerja?

Padahal tidak lapar banget, cuma lapar sedikit langsung menangis?

Kasih harus dikembangkan?

Semua organ manusia adalah 1 unit, ginjal, hati adalah 1 unit tapi neo-cortex seperti hard-disk tambahan? Mengapa?

Tidak semua binatang memilikinya?

Neocortex untuk mengembangkan viveka?

Untuk memilah mana yang tepat dan mana yang tidak tepat?

Jembatan yang menghubungkan insting hewani dengan keilahian diri?

Jembatan yang membuat kita sadar akan keilahian, kemuliaan.

Mau cari uang bisa tanpa viveka? Nggak usah peduli! Cari uang dengan cara apa pun?

Silakan simak video Youtube: Being Human 1/3: Compassion & Discretion (by Swami Anand Krishna)

Melampaui Dualitas? Lampaui dulu Permusuhan dan Persahabatan! #SpiritualIndonesia

Melampaui permusuhan dapat diterima nalar, tapi melampaui permusuhan dan persahabatan perlu sebuah perenungan. Dan dengan melampaui keduanya, dualitas akan terlampaui?

 

Dualitas tidak bisa terlampaui saat kita dalam kesadaran jasmani?

Segala pengalaman saling bertentangan tercipta oleh dualitas aku dan kamu. Itulah benihnya, benih pertentangan. Benih perpecahan. Selama benih perpecahan dualitas masih ada; selama citta atau benih-benih pikiran dan perasaan masih memiliki muatan atau potensi perpecahan, kita akan selalu terombang-ambing di tengah lautan samsara, kita akan selalu mengulangi pengalaman kelahiran dan kematian secara berulang-ulang.

MAITRI, PERSAHABATAN; KARUNA, KASIH; DAN MUDITA, KECERIAAN adalah penawar segala konflik. Memang itulah solusinya. Tetapi, menerjemahkan solusi itu dalam keseharian hidup tidaklah mudah.

Selama belasan, bahkan puluhan tahun, kita ber-“slogan” One Earth, One Sky, One Humankind—Satu Bumi, Satu Langit, Satu Umat Manusia. Syarat pertama Maitri atau Persahabatan sudah terpenuhi, setidaknya demikian anggapan kita. Tetapi saat menghadapi kenyataan di sekitar kita, di mana si sipit dan si belo dan si bule lebih berhasil dibandingkan dengan kita, maka terlupakanlah slogan yang telah kita ulangi selama bertahun-tahun ini. Muncul rasa iri, cemburu. Kenapa mereka lebih berhasil dibanding kita?

“Love is the Only Solution”—Cinta-Kasih adalah satu-satunya solusi. Syarat kedua Karuna pun rasanya terpenuhi. Tetapi, saat mempraktikkannya? Bagaimana menyikapi seseorang yang tidak memahami bahasa kasih? Apakah mesti mengasihi nyamuk demam berdarah atau anjing gila?

Dengan bekal slogan “Be Joyful and Share Your Joy with Others”—Jadilah Ceria dan Bagilah Keceriaanmu dengan Siapa Saja—rasanya syarat ketiga tentang Mudita terpenuhi. Ya, terpenuhi sebatas slogan. Praktiknya? Apa bisa murni ceria dan berbagi keceriaan ketika orang yang dibagi keceriaan malah menyerang balik?

SANGAT SULIT MEMPRAKTIKKAN KETIGA LAKU TERSEBUT tanpa terlebih dahulu membebaskan diri dari “pengaruh dualitas”—Upeksa. Untuk itu, kita mesti menembus kesadaran jasmani.

Selama masih berkesadaran jasmani murni, dualitas tidak bisa dilampaui. Dualitas baru bisa dilampaui, baru bisa “mulai” dilampaui pada tataran energi. Energi yang ada di dalam diri saya, yang menghidupi, menggerakkan diri saya adalah sama dengan energi yang ada di dalam dan menggerakkan Anda. Sebatas ini dulu. Landasan energi ini penting. Tidak perlu membahas filsafat yang tinggi. Sederhana dulu. Penjelasan Yoga Sutra Patanjali I.33 dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2015). Yoga Sutra Patanjali Bagi Orang Modern, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama) #SpiritualIndonesia lewat #YogaIndonesia

 

Niat Bersahabat

“Berkat Samyama (dharana atau kontemplasi; dhyana atau meditasi; dan menyadari atau memusatkan kesadaran) pada maitri, kemitraan, persahabatan, atau kebersamaan, dan sebagainya, seseorang meraih kenikmatan yang terkait dengannya.” Yoga Sutra Patanjali III.24

Samyama pada kemitraan, pada kebersamaan berarti, niat kita, hati sanubari kita sudah bebas dari permusuhan, dari perpecahan, dari pertikaian. Maka tentu niat seperti itu sendiri menjadi kekuatan kita.

ADA YANG MENYALAHARTIKAN SUTRA INI, seolah jika niat kita sudah untuk bersahabat, maka tiada seorang pun yang akan memusuhi kita. Bukan, pengertiannya bukanlah seperti itu.

Jika pengertiannya demikian, lalu bagaimana menjelaskan penyaliban Yesus, penembakan Gandhi, pengasingan Pandava, dan sebagainya? Apakah niat mereka tidak benar?

Sebenarnya apa pun niat Anda, jika berhadapan dengan orang-orang yang memang bersifat asuri atau syaitani, maka apa yang terjadi pada Gandhi bisa juga terjadi pada Anda.

ARTI SUTRA INI ADALAH KESUNGGUHAN NIAT ANDA menjadi kekuatan Anda. Sehingga digantung di atas salib pun, Isa masih tetap bisa memaafkan mereka yang menggantungnya. Sehingga saat mengembuskan napas terakhir, Gandhi masih bisa mengucapkan nama la Hyang Bersemayam dalam diri setiap makhluk. Kekuatan inilah yang dimaksud. Kemudian, kekuatan ini pula yang membebaskan kita dari rasa dendam sehingga tidak ada keinginan untuk membalas dendam yang dapat menjadi benih baru. Penjelasan Yoga Sutra Patanjali III.24 dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2015). Yoga Sutra Patanjali Bagi Orang Modern, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama) #SpiritualIndonesia lewat #YogaIndonesia

Kembangkan sikap bersahabat dengan semua makhluk

Buddha, Krishna, semua Avatar semua Master mengatakan para praktisi yoga dan spiritual seeker harus melampaui persahabatan dan permusuhan?

Perasaan feeling good datang berpasangan?

Saat dewi keberuntungan pergi muncul dewi ketidakberuntungan?

Ketika Anda  bersahabat dengan seseorang atau satu kelompok, maka Anda pasti tidak nyaman berhubungan dengan mereka yang berada di luar kelompok?

Bila Anda mengatakan “saya mencintai makanan ini. Ini makan terbaik.” Itu artinya makanan yang lain, selain makanan itu, adalah tidak terbaik. Bisa baik, bisa jelek, tapi tidak yang terbaik?

Jangan membuat a friend? Jangan membuat an enemy? Saat kau membuat a friend, kamu membuat an enemy?

Kembangkan attitude, sikap bersahabat, sehingga Buddha yang akan datang disebut Buddha Maitreya, sahabat alam semesta?

Ketika Anda melakukan friendship sebagai attitude maka kau bebas dari dualitas, Anda bersikap bersahabat dengan semua makhluk?

Silakan simak video youtube:

What is Friendship? 1 of 2 (by Swami Anand Krishna)

 

What is Friendship? 2 of 2 (by Swami Anand Krishna)