Menyelesaikan Hutang Piutang #Karma dengan 20 Orang Terdekat

Hutang mesti dilunasi, jangan berbuat buruk

Kita berhutang terhadap leluhur, orang tua, guru, dan sesama makhluk, seringkali kita lalai melunasi hutang itu. Lagi-lagi, kadang sengaja, kadang tidak. Namun, kesalahan adalah kesalahan. Kelalaian adalah Kelalaian. Hutang adalah hutang, dan mesti dilunasi. Dikutip dari buku (Das, Sai. (2010). Shri Sai Satcharita. Anand Krishna Global Co-Operation Indonesia)

Kita sering mendengar saat melawat orang yang meninggal, agar orang yang mempunyai hutang-piutang dengan orang yang meninggal menghubungi famili untuk menyelesaikan hutang-piutangnya. Adalah hal yang baik untuk menyelesaikan hutang-piutang terkait harta atau uang, tapi bagaimana dengan hutang-piutang perbuatan (hutang-piutang karma) dari yang sudah meninggal?

 

Hubungan dengan 20 orang terdekat

Dalam video youtube Kamasutra Part 2: From Passion to Compassion by Swami Anand Krishna disampaikan tentang hubunganketerikatan dengan keluarga:

“Hubungan, keterikatan dengan keluarga atau orang lain, menurut pandangan Veda, pandangan Yoga berdasarkan kredit dan debit. Partner kamu saat ini bisa saja ayah atau ibumu di kehidupan masa lalu. Dan sekarang dia adalah partner-mu. Dan apabila kita menelusuri hal demikian, maka hanya ada 20 orang yang benar-benar dekat. Dengan 20 orang ini kita terus bertemu. Peran  berubah tetapi hubungan tetap.” Dikutip dari video youtube Kamasutra Part 2: From Passion to Compassion by Swami Anand Krishna

Dalam episode kehidupan saat ini kita mempunyai hubungan dengan sekitar 20 orang. Terutama ayah, ibu saudara dan sebagainya. Setiap hubungan pasti membuahkan hutang-piutang perbuatan, ada yang perbuatan baik dan ada perbuatan buruk. Misalkan kita punya hutang (banyak perbuatan buruk) terhadap salah satu keluarga kita, maka kita akan lahir lagi untuk melunasi hutang tersebut. Demikian juga sebaliknya jika kita berbuat baik dengan salah satu anggota keluarga, maka kita akan lahir lagi untuk menerima hasil pengembalian dari anggota keluarga tersebut.

Hutang-piutang harus tetap diselesaikan oleh orang yang bersangkutan dalam episode kelahiran berikutnya, akan tetapi peran orang tersebut bisa berubah, misalkan tadinya anak sekarang menjadi suami atau saudaranya. Intinya dalam kehidupan mendatang kita akan bertemu dengan orang-orang yang mempunyai kaitan hutang-piutang dengan kita namun dengan peran yang berbeda. Oleh karena itu jangan membuat karma buruk. Kalau seseorang memanggil sister atau brother dengan teman seperjalanan spiritual, semoga saja dalam kelahiran yang akan datang bisa menjadi saudara sehingga peningkatan kesadaran dalam keluarga sudah lebih kondusif.

Lahir dalam keluarga yang sama

Dalam video youtube Reincarnation: A Secret Revealed by Swami Anand Krishna disampaikan:

“Berdasar impressi terakhir, dalam waktu terakhir dari kehidupan kita menghadapi pemutaran seperti televisi. Film lama, tape lama, kita mengalami seperti menemukan film diri kita. Dan hanya membutuhkan beberapa menit. Kadang-kadang hanya beberapa detik dalam 1 menit.

Pada waktu itu secara klinis kita sudah dinyatakan mati. Secara fisik kita sudah mati. Pada waktu itu pemutaran kembali film berjalan. Dan pemutaran kembali tetap berjalan karena mesin tetap berjalan. Mesin tetap berjalan tetap ada sisa napas tertinggal. Seperti fan. Walau dimatikan tetap ada listrik yang mengalir, dan baling-baling fan tetap bergerak sampai waktunya berhenti. Sehingga walau otak kita sudah tidak berfungsi, tetap ada energi tertinggal. Dan menggunakan energi yang ada mind (bukan brain) memutar kehidupan selama hidup.

Bukan semua impresi tetapi impresi utama. Impresi utama, memori utama akan kembali. Berdasarkan itu,  sebelum gelap total, Soul (jiwa) mempunyai program: Untuk kehidupan ke depan aku akan mencari orangtua semacam itu. Pada waktu itu dalam waktu 1 menit. Dalam detik-detik terakhir, tapi Anda bisa merasakan sangat lama. Anda seakan-akan hidup kembali selama kehidupmu.

Tapi sebetulnya sangat-sangat singkat waktunya. Dan ada kebingungan waktu. Oke dalam kehidupan ke depan aku akan hidup dalam semacam keluarga itu. Apabil soul tetap berupaya ke keluarga tersebut, dia akan segera lahir kembali di keluarga tersebut.” Dikutip dari video youtube Reincarnation: A Secret Revealed by Swami Anand Krishna

 

Lahir di tempat yang menjadi obsesi sebelum kematian

“Tapi apabila soul terikat pada situasi yang berbeda. Kebanyakan dari orang Barat, datang ke bali tahun 1960-an sampai tahun 1970-an. Mereka jatuh cinta pada Bali. Dan itulah pikiran terakhir sebelum mati. Apakah mereka dari Belanda, Jerman, atau US, pikiran terakhir adalah Bali. Dan mereka lahir di Bali. Sehingga banyak yang lahir setelah tahun 1970-an, mereka adalah orang Barat murni di kehidupan sebelumnya”. Dikutip dari video youtube Reincarnation: A Secret Revealed by Swami Anand Krishna

 

Lampaui Like dan Dislike

“Anda harus sangat-sangat berhati-hati. Itulah sebabnya dalam Bhagavad Gita Krishna mengatakan: Apa saja yang kau ingat selama hidup akan datang lagi ingatan tersebut saat kau akan mati. Ketika kamu sangat menyukai sesuatu kamu harus sangat berhati-hati. Mengapa kamu menyukai hal tersebut. Atau mengapa kamu tidak menyukai sesuatu.

Itulah sebabnya Krishna berkata lampauilah like dan dislike. Dan apabila kau melampui like dan dislike, Dan kau fokus pada soul enhancement, peningkatan Jiwa. Progres dari pada soul. Meditasi adalah tentang hal tersebut.

Dan progres soul dimulai dari motto one earth sky one human kind. Apakah kamu Barat atau Bali, India, China, Eropa, tidak masalah. Soul tidak terikat dengan geografi tertentu. Soul ingin memperkaya dirinya sendiri.

Jadi jangan mempunyai keinginan untuk lahir dalam negera tertentu. Punyalah keinginan untuk peningkatan Jiwa.” Dikutip dari video youtube Reincarnation: A Secret Revealed by Swami Anand Krishna

 

Agar kita tidak lahir kembali maka:

Tidak mengharapkan imbalan dari dunia

Kita semua “warga surga yang sedang berkunjung ke dunia”. Fitrah kita bukanlah sebagai warga dunia, tetapi sebagai duta Allah yang sedang berkunjung di dunia atas perintah-Nya. Jika kita tidak menyadari hal itu, maka kita menjadi warga dunia. Diingatkan supaya kita meniru para rasul, para nabi, dan tidak mengharapkan “upah” dari manusia. Sesungguhnya inilah yang membedakan kita dari para rasul dan khalifatullah. Kita mengharapkan imbalan dari dunia, dan harapan itu membuat kita menjadi “warga dunia”. Kita menjadi budak dunia. Sementara para rasul dan khalifatullah tetap mempertahankan kewarganegaraan mereka. Mereka tetap menjadi warga surga yang sedang berkunjung ke dunia. Mereka mempertahankan status mereka sebagai “tamu”. Salah satu nasehat Bapak Anand Krishna tentang Tamu Dunia

Berkarya Tanpa Keinginan Duniawi

“Seseorang yang berkarya tanpa keinginan duniawi dan harapan akan imbalan, telah tersucikan seluruh karma, seluruh perbuatannya, oleh api kebijaksanaan sejati. Para pandit, mereka yang berpengetahuan pun menyebutnya seorang bijak.” Bhagavad Gita 4:19

Kuncinya adalah berkarya tanpa pamrih.Ketika seseorang berkarya dengan semangat demikian,maka sesungguhnya ia ‘tidak berkarya’, karena ia tidak tersentuh oleh konsekuensi dari perbuatannya. Itulah Akarma-karma.

Barangkali ada yang bertanya: Sejahat apakah konsekuensi perbuatan manusia? Sehingga seseorang dianggap bijak, jika ia terbebaskan dari konsekuensi perbuatannya.

Bukan soal jahat atau tidak jahat. Persoalannya ialah setiap perbuatan rnembawa hasil, dan hasilnya ada yang baik, ada juga yang kurang baik atau tidak baik. Tidak ada perbuatan yang menghasilkan kebaikan saja. Pun, tidak ada perbuatan yang 100% jelek. Dalam tindakan yang baik pun pasti ada setitik, dua titik ketidakbaikan. Dan, dalam perbuatan jahat pun, pasti ada sedikit kebaikan.

Kita kembali ke medan perang… Kita berada kembali di Kuruksetra. Perang ini adalah antara kekuatan Dharma dan Adharma, Kebajikan dan Kebatilan. Kubu yang disebut bajik, baik — jelas adalah Pandava. Dan, kubu yang disebut batil adalah Kaurava.

Tapi, apakah di antara Pandava, bahkan di dalam diri para saudara berlima itu tidak ada kebatilan sama sekali? Tidak ada kesalahan di dalam diri mereka? Siapa menyuruh Yudhisthira untuk main judi? Siapa menyuruhnya untuk mempertaruhkan kerajaan, bahkan istrinya?

Tindakan macam apakah itu?

Namun, kebaikan para Pandava jauh melebihi kesalahan dan kebatilan mereka. Mereka adalah yang terbaik di antara kubu-kubu yang ada. Maka, Krsna berpihak pada mereka.

Sebaliknya, Kaurava pun tidak 100% jahat. Ada sifat-sifat kesatriaan di dalam diri mereka, namun sifat-sifat itu tenggelam karena sifat-sifat batil, tidak baik yang jauh melebihinya. Sebab itu Kaurava tetaplah dianggap pihak yang batil, tidak baik.

Nah, dalam keadaan seperti ini — di mana tidak ada kebaikan 100% dan tiada pula kejahatan 100%, maka setiap orang yang berbuat baik, sebaik-baiknya, tetap saja memiliki sisi negatif, walau sedikit saja.

Tapi, jangan lupa konsekuensi kejahatan sesedikit apa pun; negativitas sekecil apa pun – ibarat nila. Setetes saja sudah cukup untuk rnerusak secawan susu mumi. Jadi kita mesti selalu waspada.

Bagaimana membebaskan diri dari setetes, dua tetes nila konsekuensi kebatilan itu? Bagaimana menyucikan diri? Bagaimana menetralisir dampak negatif dari karma kita?

Krsna menjawab: DENGAN KESADARAN SEJATI. .. Berkarya dengan penuh kesadaran, bahwa sesungguhnya Jiwa tidak tersentuh oleh akibat atau konsekuensi dari perbuatan apa pun. Ini sisi lain dari filsafat spiritual.

Sisi yang lebih umum adalah berkaryalah dengan penuh kesadaran bahwa sesungguhnya Tuhan Hyang Berkarya, kita hanyalah alat-Nya. Namun, dari sisi lain, Jiwa sesungguhnya tidak berkarya, adalah badan, indra, dan dan mind atau gugusan pikiran serta perasaan yang berkarya. Kembali pada niat di balik pekerjaan — kedua-dua konsep ini mampu membebaskan kita dari dampak negatif perbuatan baik kita. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia via #BhagavadGitaIndonesia

Advertisements

Pelayanan Pasca Kematian bagi Mereka yang Kita Cintai

By Anand Krishna

Raditya 8 Desember 2017 edisi 245

 

Brahma Satyam; Jagad Mithya; Jivo Brahmaiva Naparah;

Brahman saja yang Langgeng Abadi; Ialah Kebenaran Sejati; Alam Semesta dengan segala isinya; adalah untuk sesaat saja; Sesungguhnya Jiva dan Brahman; adalah sama tiada berbeda.

Intisari Vedanta sebagaimana disarikan oleh Adi Shankara.

 

Seorang anak yang merasa menyia-nyiakan orangtuanya, tidak melayani mereka ketika masih hidup, sekarang menyesal. Pada hari kematian sang ayah ia membeli makanan kesukaannya untuk dipersembahkan di atas altar. Demikian seorang pembaca Raditya edisi bulan lalu bercerita dan minta pendapat saya.

Niat yang baik, tapi tidak tepat waktu. Membeli makanan kesukaan ayah, ibu, atau siapa saja, saat mereka masih hidup – adalah tepat waktu. Tapi, sekarang? Jelas sudah tidak tepat waktu. Kendati – dan semoga tidak terjadi demikian – katakan sukshma sharira, soul, atau badan halus sang ayah masih dalam keadaan limbo, gelisah, belum bisa melanjutkan perjalanan – maka apakah menghaturkan makanan seperti itu membantu? Tidak, sebab sukshma sharira, badan halus, atau roh tidak memiliki badan kasar yang butuh makanan. Mereka sudah tidak memiliki sistem yang butuh bahan bakar berupa makanan.

Prana atau Energi Kehidupan yang masih rnelekat sedikit juga tidak membutuhkan oksigen sebagaimana dibutuhkannya saat masih melekat secara sempuma dengan badan kasat atau sthula sharira. Sukshma sharira atau badan halus terdiri dari gugusan pikiran dan perasaan atau mind dengan segala isinya. Adapun isi utama berupa vasana atau obsesi-obsesi, keinginan-keinginan yang belum terpenuhi selama hidupnya; dan samskar, segala macam impresi, pengalaman, atau informasi atau catatan ibarat pasangan yang tak terpisahkan dengan kemungkinan masih banyak lagi anak-pinaknya. Misal, khayalan, harapan, halusinasi, imaginasi, impian, dan sebagainya, dan seterusnya.

Untuk membantu dan menenangkan sukshma sharira yang masih dalam keadaan limbo, gelisah belum dapat meneruskan perjalanannya, adalah makanan bagi gugusan pikiran dan perasaan, atau mind yang dibutuhkan. Dan bukan pula sembarang makanan yang dibutuhkan. Bukan sembarang pikiran dan perasan yang dapat dihaturkan untuk membantunya. Badan halus atau sukshma sharira yang telah terbebani oleh berbagai pikiran dan peraaan yang tak berguna, sehingga perjalanannya terganggu, mesti diberi makanan berupa pikiran dan perasaan yang berguna.

Semestinya pemberian makanan seperti itu, sudah dilakukan sejak diketahui bahwa badan halus, atau sukshma sharira mulai meninggalkan badan kasar atau sthula sharira. Kita memiliki tradisi membacakan percakapan kedelapan belas dari Bhagavad Gita saat seorang sudah diketahui akan meninggalkan badan kasarnya.

Dalam tradisi Tibet juga ada yang disebut Buku Kematian yang pernah saya ulas dan diterbitkan oleh  Gramedia Pustaka Utama), yang mulai dibacakan saat itu hingga beberapa hari setelah kematian.

Tradisi yang berasal dari budaya dan peradaban Sindhu – Shintuh, Hindu, Indus, lndo, Hindia, atau apa pun sebutannya – juga ditemukan dalam peradaban Mesir kuno dan tradisi-tradisi Iain di kemudian hari yang terpengaruh oieh budaya Mesir. Shrimad Bhagavatam bercerita tentang Raja Parikshit atau Parikesit Sebagaimana dikenalnya dalam dunia pewayangan di Nusantara.

Cucu Arjuna, ia adalah seorang raja yang bijak, tetapi tetap saja terjadi kesalahan olehnya. Dalam keadaan tak sadar diri ia menghina seorang resi yang sedang bermeditasi. Lalu kemudian putra sang resi yang mengetahui hal itu mengingatkannya, “Wahai Raja, sadarkah kau bahwa dalam tujuh hari mendatang kau akan meninggalkan dunia fana ini. Segala apa yang kau miliki, kerajaanmu, harta kekayaanmu – semuanya akan kau tinggalkan disini. Sadarkah kau akan kesia-siaanmu?”

Konon, saat terjadi perang Bharatayudha di medan perang Kurukshetra, Parikshit masih belum lahir. Masihdalam kandungan ibunya, dan terkena dampak radiasi dari perang nuklir tunggal yang pemah terjadi dalam sejarah umat manusia setama 5.000-an tahun terakhir.

Saat itu ia terselamatkan oleh intervensi Krishna yang melakukan rekayasa genetika padanya dalam kandungan. Namun, rekayasa tersebut tidak bisa menegasikan dampak radiasi yang terjadi secara kolektif pada setiap warga bumi, setiap orang yang berada di planet bumi. Secara kolektif usia menurun dari 125 tahun menjadi 60 tahun. Demikian dahsyatnya dampak perang nuklir satu-satunya yang tercatat dalam sejarah manusia.

Perang nuklir tunggal, sebab apa yang terjadi pada tahun 1945 adalah pemboman sepihak oleh tentara sekutu.

Ada sebuah catatan sejarah dari kehidupan dan karya JR Oppenheimer (1904-1967) Bapak Bom Atom di masa modern. Saat memberi ceramah di Rochester University, seorang mahasiswa pernah bertanya padanya: “was the bomb exploded at Alamogardo durung Manhattan Project the first one to be detonated?” – apakah bom yang meledak di Alomogardo, dalam Proyek Manhattan (yang dipimpin oleh Oppenheimer) merupakan yang untuk pertama kalinya? Oppenheimer menjawab: “Well – yes. In modern time of course – Ya di masa modern ini tentunya. (Sumber Doomsday 1999 A.D. (1982) oleh Charles Berlitz hal 129).

Oppenheimer diketahui sebagai pengagum ajaran Krishna dalam Bhagavad Gita. Tidak hanya saat ledakan bom yang dimaksud, ia juga mengutip Gita dalam obituarinya untuk Presiden Rosevelt. Tercatat bahwa ia pun sering menghadiahi teman-temannya dengan Bhagavad Gita, pun ia sendiri mendalami bahasa Sanskrit sejak belasan tahun sebelum kutipan-kutipannya dari Gita. Ia menyebut Gita sebagai salah satu di antara beberapa buku penting yang memengaruhi hidupnya.

Dari seluruh, catatan-catatan itu, tidaklah mengherankan bila ia mengetahui sejarah dan latar belakang Gita, ia tahu tentang Brahmastra, sebagaimana bom atom disebut dalam mahabharata, epos yang merupakan induk dari Bhagavad Gita. Maka jawaban yang diprakarsainya merupakan yang pertama di masa modern – bukan yang pertama dalam sejarah umat manusia.

Saatnya kita mesti kembali pada Parikshit yang sedang menghadapi suatu keniscayaan hidup, yakni kematian. Jika kita berada dalam posisi yang sama dengan Parikshit, apa yang akan kita lakukan? Mengurung diri dalam kamar, menangisi nasib, dan menghabiskan sisa hidup dengan  beraduh-aduh? Mencari dokter, tabib. sinshe – mereka yang mengangap dirinya scebagai penyembuh, tak peduli dari aliran manapun dia? Mencari notaris untuk membuat surat warisan? Apa yang akan kita lakukan?

Ketika saya bertanya demikian dalam suatu pertemuan, seorang peserta menjawab, “Saya akan menghabiskan seluruh uang saya untuk keliling dunia?” Seberapa dunia yang dapat dikelilinginya dalam waktu seminggu, ya satu minggu saja?

Ada yang Mengaku, “Selama ini saya menahan-nahan diri untuk tidak mengonsumsi alkohol,  pergi ke tempat-tempat gituan…… “ Dia beretorika bahwa sisa hidupnya akan dihabiskan berdugem ria di tempat-tempat gituan.

Boleh saja berwacana seperti itu. Pertanyaannya apa bisa? Dalam keadaan sakit sedikit saja, kadang kita tidak memiliki selera makan dan minum. Disuguhi apa saja kita menolak. Apalagi kalau sudah tahu akan mati dalam waktu tujuh hari.

Tidak demikian Parikshit, ia tidak menutup diri. Ia tidak beraduh-aduh. Ia tidak menghibur diri, pun tidak tenggelam dalam duka. Ia melakukan introspeksi diri, “Apa yang menyebabkan keangkuhan?mana kesia-siaan diri dapat menyelimuti dan menutupi kesadaran diri. Bagaimana jalan keluarnya? Bagaimana memastikan supaya orang tidak terbawa oleh kesia-siaan diri dan senantiasa hidup dalam kesadaran diri.

Banyak pertanyaan yang muncul, dan ia sangat beruntung. Datanglah Resi Shuka putra Begavan Vyasa, penulis mahabharata, Srimad Bhagavatam sekaligus yang mengumpulkan Veda, untuk menjawab pertanyaan-pertanyaannya.

Ia Tersadarkan, Ia Tercerahkan! Satu-satunya cara untuk mengatasi keangkuhan, keserakahan, amarah, iri dan sebagainya – adalah dengan senantiasa mengenang Nama-Nya – dalam pengertian, senantiasa  mengingat bila segala sesuatudalam alam ini hanyalah semar-semar, bayang-bayang, mithya.

Hanyalah Dia, Sang Brahman yang merupakan kebenaran sejati. Satyam. Dua kesimpulan awal ini – Brahma Satyam, Jagat Mithya – umumnya dapat diterima oleh siapa saja.

Adapun kesimpulan ketiga dari Shankara: Jioa Brahmaiva Naparah – Sesungguhnya Jivatma, sejatinya diri kita. tiadalah beda dari Sang Brahman, Kebenaran Sejati itu – yang tidak bisa diterima oleh semua tradisi. Bahkan oleh mereka yang sama-sama merasa bersumber dari Vedanta – intisari ajaran Veda – pun kesimpulan ini kadang tidak bisa diterima. Dalam sekian banyak tradisi Brahman adalah Brahman dan Jivatma adalah Jivatma – gelombang adalah gelombang, laut adalah laut. Bulan adalah bulan, rembulan adalah rembulan. Baik, kjta tidak akan membahas hal itu.

Kembali pada apa yang dilakukkan oleh Parikshit….. menjelang kematiannya yang merupakan suatu keniscayaan, ia menggunakan seluruh waktu umuk mengembangkan bhakti dalam diri. Untuk berbakti pada ishta-nya, pada pujaan hatinya. pada la yang pernah menyelamatkan dirinya dari radiasi. ketika ia masih dalam kandungan, dalam keadaan tidak berdaya. Dia tidak ber-bhakri untuk mendapatkan perpanjangan hidup. Dia ber-bhakti untuk mangatasi kelahiran dan kematian yang tidak berkesudahan. Bahkan, barangkali itu pun tak terpikirkan olehnya. Tiada permohonan untuk moksha alau nirvana. Ia ber-bhakti karena bhakti itu sendiri, karena cinta. Demikian, ia terbebaskan dari segala duka-derita. Ia mencapai kelanggengan abadi yangsemestinyamenjadi akhir dari setiap kehidupan dari setiap makhluk.

Kembali pada bagian awal tulisan ini: Seorang anak yang merasa menyia-nyiakan orangtuanya, tidak melayani mereka ketika masih hidup, sekarang menyesal. Pada hari kematian sang ayah ia memberi makanan kesukaannya untuk dipersembahkan di atas altar…….

Boleh saja, tetapi tidak membantu. Lebih baik bagikan makanan kepada mereka yang tidak mampu, melakukan seva, mengayah. Dan, yang tidak kalah penting adalah membacakan Bhagavad Gita, Shrimad Bhagavatam atau kitab suci lainnya dengan niat untuk membantu sang ayah dalam perjalanannya. Path, atau membaca secara berulang-ulang – jadikan hal ini sebagai suatu kebiasaan – sesuatu yang dilakukan setiap hari. Lakukan bagi mereka yang sudah berpulang, lakukan bagi mereka yang sedang gelisah dan belum bisa melanjutkan perjalanannya, dan di atas segalanya, lakukan bagi diri sendiri, bagi diri kita sendiri – sebab barangkali hari ini, atau hari esok, hari lusa adalah hari nketujuh Parikshit.

Hari Bol! *Humanis/Spiritual, Penulis lebih dari 170 buku, Pendiri Anand Ashram (www.anandkrishna.org)

Memilih yang Pahit demi Kemuliaan Diri #BhagavadGitaIndonesia

Preya, menyenangkan dan Shreya, mulia

Bhagavad Gita memberitahu kita, dalam setiap pekerjaan pilihannya dua: preya, menyenangkan, awalnya manis tapi akhirnya pahit karena memang racun; atau shreya yang mulia, awalnya pahit seperti obat, tapi akhirnya manis seperti nectar, amrita. Preya mengikat kita dengan dunia tapi memberi kesan palsu seolah puas. Shreya memberi kesan “tidak enak” padahal mulia dan bebas dari keterikatan. Pilihan ditangan kita.

 

Krsna menggunakan istilah Shreya, yang berarti “Lebih Mulia” – bukan lebih baik, atau di atas yang lain. Dengan menggunakan istilah shreya, Krsna sedang membandingkan satu kegiatan dengan kegiatan lain dengan menggunakan tolok ukur atau timbangan shreya dan preya – yang memuliakan dan yang sekadar menyenangkan.

Jadi, batu timbangannya bukanlah berat-ringan, dalam konteks lebih baik dan kurang baik, atas dan bawah, tetapi dalam konteks, mana yang mulia dan mana yang tidak.

Laku yang hanya menyenangkan, perbuatan yang hanya memuaskan indra jelas tidak memuliakan. Sebab itu, terlebih dahulu raihlah pengetahuan sejati tentang mana yang memuliakan dan mana yang tidak. Penjelasan Bhagavad Gita 12:12 dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia via #BhagavadGitaIndonesia

 

Membedakan apa yang tepat dan apa yang tidak tepat

Tujuan Bhagavad Gita adalah meningkatkan kesadaran kita sehingga kita dapat membedakan antara apa yang tepat bagi kita dan apa yang tidak tepat. Bhagavad Gita sedang berbicara dengan kita dalam “keadaan jaga”, dan memberi kita kesempatan seluas-luasnya untuk menganalisa, menimbang, dan memahami dengan betul sebelum menerima. Bhagavad Gita merubah sifat mind yang terkondisi dan bekerja secara mekanis tanpa pilihan,  menjadi buddhi yang bebas dari conditioning dan bisa memilih, dan memilah.

 

Kembali pada contoh tentang makanan, ketika melihat makanan yang kita sukai, renungkan adakah makanan itu bermanfaat bagi kesehatan badan atau hanya nikmat dan lezat di lidah, tapi berbahaya bagi kesehatan.

Pun demikian ketika mendengar musik dengan menggunakan earphone jenis super. Demi kenikmatan sesaat, kita sedang merusak jaringan syaraf kita sendiri, yang dapat membahayakan otak. Sekaligus, kita tidak mampu lagi untuk menikmati suara-suara alam yang halus, suara air, dan suara angin. Telinga kita sudah terbiasa dengan suara keras, ia sudah tidak peka terhadap suara-suara lembut. Tidak ada lagi kenikmatan alami baginya. Siapkah kita untuk menghadapi konsekuensi itu? Penjelasan Bhagavad Gita 15:10 dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia via #BhagavadGitaIndonesia

Pengendalian Diri

“Tiada buddhi, tiada inteligensia dalam diri yang tak terkendali, tiada pula keseimbangan diri serta kesadaran; dan tanpa keseimbangan, tanpa kesadaran, tiada kedamaian, ketenangan, ketenteraman. Lalu, bagaimana pula meraih kebahagiaan  sejati tanpa kedamaian?” Bhagavad Gita 2:66

Berkembangnya buddhi, kesadaran untuk memilah antara yang tepat bagi kita dan tidak tepat, adalah mengikuti pengendalian diri secara proporsional. Makin Mampu Mengendalikan Diri makin berkembangnya buddhi, kesadaran diri – makin meditatifnya seseorang. Makin seimbangnya dia dalam keadaan suka maupun duka. Kemudian, dalam keadaan meditatif itulah muncul kedamaian, kebahagiaan sejati. Perhatikan, betapa pentingnya pengendalian diri.

Pengendalian Diri, Berarti Bebas dari Perbudakan – Selama ini kita diperbudak oleh badan, indra, hawa-nafsu, keinginan-keinginan, pikiran yang liar, perasaan yang bergejolak, dan sebagainya. Sebab itu, jelaslah hidup kita tidak tenang. Batin kita tidak tenteram. Tidak ada pula kedamaian dan kebahagiaan. Jadi, kuncinya adalah Pengendalian Diri. Dengan mengendalikan diri, kita sesungguhnya mengambil alih kekuasaan atas diri sendiri. Pengendalian Diri adalah semacam Proklamasi Kemerdekaan, sekaligus Pengukuhan Kesadaran-Diri; Penemuan Jati-Diri; Mengenal Diri sebagai Jiwa, percikan Jiwa Agung, Gusti Pangeran, Tuhan.

“Ketika gugusan pikiran serta perasaan terbawa oleh indra, dan berada di bawah kendalinya; maka sirnalah akal-sehat dan segala kebijaksanaan serta kesadaran. Persis seperti perahu yang hanyut terbawa oleh angin kencang.” Bhagavad Gita 2:67 dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia via #BhagavadGitaIndonesia

 

Satisfaction and General Wellbeing Part 1 Diabetes and Karela

Apa yang dimaksud dengan yang memuaskan? Memuaskan terhadap apa? Terhadap tubuh, fisik kita? Terhadap pikiran kita? Apa yang memuaskan tubuh kita belum tentu memuaskan pikiran kita. Bahkan dalam tubuh yang sama, apa yang memuaskan lidah kita, kita ingin makan sesuatu yang kita anggap lezat, tapi tidak baik bagi kolesterol, tidak baik untuk sistem kita. Lidah adalah bagian dari tubuh. Lidah ingin mengecap sesuatu yang dirasa lezat. Tapi tidak memuaskan terhadap tubuh kita. Sehingga kita harus paham memuaskan dalam tingkat apa?

Dan konflik ini selalu berjalan. Dalam diri kita apa yang dianggap memuaskan bagi kita mungkin tidak memuaskan pada tingkat yang lain. Sehingga kita harus mencari keseimbangan, apa yang bagus bagi general well being, diri kita. Ini yang penting. Tidak begitu memuaskan, tapi bagus bagi diri kita? Dan itu mungkin tidak memuaskan di awalnya.

Bapak Anand Krishna bercerita saat dia berusia sekitar duapuluhan dan bekerja di Jepang. Beliau bersama bossnya diundang seorang Jepang yang menghidangkan masakan mie Jepang. Mie Jepang di Jepang rasanya berbeda tidak seperti di Bali atau di Barat. Beliau biasa makan mie China versi Indonesia, yang kalau di China juga rasanya berbeda. Beliau tidak bisa makan mie Jepang tersebut, bahkan baunya saja tidak kuat. Boss beliau melihat ke arahnya, dan berbisik dalam bahasa daerah beliau, bahwa tahu beliau tidak dapat makan makanan tersebut, tapi kalau tidak makan tuan rumah akan kecewa. Beliau langsung makan tanpa merasakan apa pun dan satu mangkuk habis.

Hal yang baik mungkin tidak memuaskan di awalnya

Beliau sekarang setiap pagi minum jus pare (bitter gourd, karela). Sangat pahit, tapi beliau tahu bagus untuk diabetes beliau tanpa pengobatan medis. Tidak memuaskan memang, beliau harus menutup hidung saat menuangnya. Beliau diajari Ma Upasana. Pertama kali Ma Upasana memberikan sepererempat gelas. Oke, hari berikutnya tambah sedikit. Sekarang sudah mencapai tiga perempat gelas. Beliau tidak punya pilihan, atau balik ke obat medis, yang beliau tidak suka. Dalam usia beliau adalah hal bagus diabetes beliau dapat dikontrol dengan jus pare. Memang tidak memuaskan tapi bagus terhadap kesehatan tubuh beliau.

Dalam satu titik kehidupan kita, kita harus betul-betul memilih, manakah bagus bagi diri kita. Dan apa yang baik bagi diri kita bukan peristiwa satu hari. Mungkin tidak memuaskan pada hari ini, tapi dalam perjalanan selanjutnya baik bagi kesehatan kita. Kita dapat mempraktekkan aturan ini dalam setiap aspek kehidupan kita. Bukan hanya tentang kesehatan tapi dalam hubungan manusia, dalam banyak hal lain.

Beliau memberi contoh seorang Barat yang jatuh cinta dengan seorang dari Timur. Mereka betul-betul sama-sama manusia, tapi dalam tingkat apa? Dalam tingkat Jiwa kita semua satu. Darah kita juga tidak banyak tipenya. Makan Timur dapat dimakan orang Barat dan sebaliknya. Tempat tinggal Barat juga bisa menjadi tempat tinggal orang Timur dan sebaliknya. Tapi bagaimana tentang cultural shock? Bagaimana menanganinya? Akan makan waktu lama. Ini adalah masalah satu kehidupan.

Silakan simak video youtube lengkap: Satisfaction and General Wellbeing Part 1 Diabetes and Karela by Swami Anand Krishna.

Roh Gentayangan: Untuk Black Magic VS Doa Agar Melanjutkan Perjalanan?

Tentang Roh Gentayangan

Kenapa banyak orang mengaku melihat hantu sekitar tengah malam? Apa mereka baru keluar dari kuburan pada saat itu? Tentu saja tidak. Hantu adalah roh manusia yang gentayangan. Mereka mati dalam ketidaksadaran, masih banyak obsesi dan keinginan, termasuk keinginan untuk menikmati yang bukan-bukan setelah kematian. Keinginan-keinginan itulah yang membebani jiwa mereka dan memperlambat evolusi berikutnya. Ditambah dengan pemahaman yang keliru tentang kematian, mereka bisa “terjebak” dalam satu masa selama berhari-hari, berminggu-minggu, berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2004). Bhaja Govindam Nyanyian Kebijaksanaan Sang Mahaguru Shankara. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

Sekian banyak roh yang gentayangan karena satu atau lain hal. Dan, mereka gentayangan sepanjang “hari manusia”, dan bukan di jam-jam tertentu saja. Kita tidak merasakan kehadiran mereka, karena napas kita terlalu cepat. Bila kita bernapas di atas 4 siklus per menit (biasanya 15-18 siklus per menit). Kita tidak dapat merasakan kehadiran mereka.kehadiran mereka dirasakan saat napas kita berkurang dari 4 siklus. Dengan itu, kita baru merasakan energi mereka. Untuk berkomunikasi dengan mereka, harus di bawah 1 siklus per menit. Kemudian dengan cara-cara tertentu, seseorang bisa dengan mudah berkomunikasi dengan mereka. Ada kalanya saat terjaga di tengah malam, siklus napas kita berkurang secara alami, maka energi mereka pun langsung terasa. Itu sebabnya banyak tradisi menganjurkan doa dan sebagainya pada saat-saat seperti itu. Dengan berdoa atau melakukan apa saja, siklus napas kita akan langsung bertambah, dan kita pindah gelombang. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2004). Bhaja Govindam Nyanyian Kebijaksanaan Sang Mahaguru Shankara. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Untuk berkomunikasi dengan roh-roh yang gentayangan, anda harus membuka diri, mengundang mereka. Mereka tidak bisa berkomunikasi tanpa undangan. Dan, mereka harus berkomunikasi lewat pikiran…. lewat mind. Mereka tidak bisa menyusupi badan anda. Apa yang disebut ”kesurupan” bukanlah fenomena fisik. Tidak ada roh yang bisa memasuki badan orang yang masih hidup. Roh hanya berinteraksi lewat gelombang pikiran. Kemudian otak anda merekam dialog itu dan anda merasa mendengarnya. Seseorang bahkan bisa bertindak sesuai dengan apa yang didengarnya, lagi-lagi itu bukanlah karena dia tersusupi, tetapi karena dia memang ”ingin” melakukan apa yang diperintahkan kepadanya. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2004). Bhaja Govindam Nyanyian Kebijaksanaan Sang Mahaguru Shankara. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Walau tak berbadan, roh masih bisa mendengar, masih bisa melihat, mencium. Bahkan bisa merasakan panas dan dingin. Semua itu karena sisa-sisa pancaindra yang pernah dimilikinya. Sebelum itu pun lenyap dan penderitaannya bertambah, gunakan apa yang tersisa dalam dirinya untuk melampaui penderitaannya.

Irama dan nada tertentu ditambah syair yang memiliki arti, dapat dengan mudah mempengaruhi roh-roh gentayangan. Sebab itu dalam hampir semua tradisi ada hari-hari tertentu di mana mereka yang masih hidup mendoakan mereka yang sudah meninggal. Adalah keliru bila dianggap yang masih hidup “berdoa” kepada mereka. Mereka tidak berdoa, tetapi mendoakan. Dan apa salahnya mendoakan mereka yang sudah mendahului kita? Terasa lucu bila ada larangan untuk mendoakan. Perkara berdoa dan mendoakan haruslah masalah pribadi. Bagaimana seseorang bisa menilai doa orang lain, bila ia tidak mampu mengabulkan doanya? Bukankah Yang Maha Mampu mengabulkan doa hanyalah DIA saja? Gusti Allah, maafkan kekhilafan kami. Kekhilafan kami yang terbiasa menilai sesama makhluk-Mu. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2004). Bhaja Govindam Nyanyian Kebijaksanaan Sang Mahaguru Shankara. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

Mendoakan roh gentayangan agar sadar dan meneruskan perjalanan

Dalam buku Bhaja Govindam dikisahkan bahwa Gokarna menyanyikan kemuliaan dan keagungan Keberadaan selama sebelas hari. Pada hari kesebelas Dhundhakari (roh gentayangan, pengutip buku) menyadari adanya huku alam yang tidak bisa ditawar. Hukum alam berjalan rapi sekali. Kalau kita melakukan kejahatan dan lolos dari hukuman, jangan kaget  kalau pada suatu saat nanti kita kena hukuman, atas tindakan kejahatan yang dituduhkan kepada kita, dan tidak kita lakukan. Bila perkara utang-piutang seperti ini kita pahami dengan betul, kita tidak akan selalu mengeluh. Kita akan berpuas dengan apa yang kita peroleh. Untuk apa menyalahkan mereka, untuk apa mengutuk mereka? Segalanya terjadi karena kesalahan sendiri. Kesadaran itu kemudian menjadikan dia tenang dan membebaskan rohnya dari “masa” yang telah menjeratnya selama ini. Dia tidak gentayangan lagi. Dia meneruskan perjalanannya…… Sumber dari buku (Krishna, Anand. (2004). Bhaja Govindam Nyanyian Kebijaksanaan Sang Mahaguru Shankara. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

Black Magic: Mengungkap Rahasia Ilmu Hitam dan Cara Menghindarinya oleh Swami Anand Krishna

Sepertinya di Barat itu tidak ada atau kurang ada tentang guna-guna atau melihat setan, sedangkan orang Asia lebih bisa melihat hal tersebut. Persoalannya adalah demokrasi dan monopoli. Selama ini di Eropa, di Barat, persoalan-persoalan black magic itu diselesaikan oleh institusi tertentu. Dan dalam institusi itu ada profesi yang namanya exorcist yang berhak menangani kasus itu.

Pengaruh-pengaruh dari energi negatif di sekitar bisa mempengaruhi kita, ketika kita dalam keadaan tertentu, jadi tidak selalu demikian. Misalkan orang yang tidak senang musik dissco pergi ke tempat disco, akan merasa tidak nyaman. Karena energi-energi yang ada tidak cocok dengan dirinya. Ini sama dengan energi negatif.

Banyak sekali energi-energi di sekitar kita yang tidak menunjang kita. Di setiap tempat, di setiap rumah, di setiap kebun, di setiap jengkal tanah di mana pun juga pasti ada roh-roh yang sedang menunggu kelahiran kembali. Itu bagi mereka yang percaya pada reinkarnasi, bagi yang tidak percaya sebut saja roh gentayangan.

Roh-roh gentayanagn ini entah sedang menunggu reinkarnasi atau tidak, mereka bisa gentayangan karena keterikatan mereka dengan dunia benda, dengan harta benda, keluarga, relasi, atau apa pun yang mereka tinggalkan. Sekarang roh-roh tersebut tidak dapat menyapa mereka. Mereka tidak dapat menyentuh apa yang mereka sentuh. Mereka tidak dapat berkomunikasi dengan orang-orang yang mereka cintai. Pada hal mereka sangat terikat. Hal ini menjadikan mereka gentayangan. Kalau ada orang yang dapat komunikasi dengan mereka. Dan bisa memberikan harapan kepada mereka, bisa menjadi medium, bisa menjadi channel, untuk berkomunikasi dengan orang-orang yang mereka tinggalkan, mereka akan senang. Tetapi hal tersebut tidak membantu mereka, mereka tidak melanjutkan perjalanannya. Mereka akan tetap gentayangan, sehingga berarti kita menahan perjalanan mereka. Roh-roh, gentayangan seperti ini kadang mereka bisa marah, apalagi kalau kita sudah sering-sering panggil mereka dan kini tidak dihubungi lagi.

Ada banyak istilah  dari roh gentayangan, dan semuanya ini merupakan gumpalan-gumpalan energi. Yang memiliki emosi dan pikiran. Seseorang bisa kontak lewat pikiran, dan bisa menyuruh mereka untuk melakukan sesuatu. Kalau ada orang ingin melakukan sesuatu terhadap orang lain. Dia minta bantuan gumpalan-gumpalan energi. Kadang-kadang ada orang atau dukun yang bisa paham, ini adalah gumpalan energinya siapa. Ada yang tidak bisa melihat siapa tapi bisa melihat gumpalan energi. Dia mengarahkan energi itu ke orang lain, saya misalnya. Saya sendiri dalam keadaan apa? Kalau pikiran saya lagi lemah, dalam keadaan gelisah, stress berat, langsung masuk. Kegelisahan orang, stress membuka diri vulnerable terhadap energi-energi negatif, karena sudah berada dalam keadaan nengatif.

Tertawa menciptakan energi yang luar biasa, sehingga dapat menjadi tameng terhadap energi negatif. Tapi bagaimana bisa tertawa seperti itu bila stress kita berlebihan. Di situ kita perlu latihan-latihan meditasi yang bisa membuat kita dalam suatu frekuensi, dimana energi negatif tidak dapat mempengaruhi kita.

Ada yang menarik, untuk menghindari efek black magic ini, katanya kalau kita percaya akan semakin mudah terserang? Problemnya adalah yang memisahkan percaya dan tidak percaya itu sangat tipis. Orang yang menolak untuk percaya, sebenarnya percaya tapi dia menolak. Ini yang sering terjadi. Orang yang mengatakan tidak percaya tapi di balik benak, pikiran dia ada kepercayaan yang sangat halus sekali, hanya dia menolaknya. Dia berada dalam kearaguan. Dan keraguan itu sendiri adalah salah satu pintu masuk untuk menarik energi negatif. Urusannya di luar percaya atau tidak percaya tapi adalah kondisi negatif diri seseorang. Kondisi negatif yang membuka pintu, jadi bukan masalah percaya atau tidak percaya. Kalau sudah percaya dan kondisinya negatif  maka akan membuka pintu lebih lebar.

Apakah meditasi bisa menjamin kita tidak terkena black magic?

Dalam keadaan penuh kasih, black magic akan kembali kepada pengirimnya?

Mengapa orang menguburkan jasad orang yang mati?

Mengapa memperabukan jasad?

Silakan ikuti video youtube lengkap dalam bahasa Indonesia: Black Magic: Mengungkap Rahasia Ilmu Hitam dan Cara Menghindarinya oleh Swami Anand Krishna

Kamasutra: dari Passion ke Compassion lewat Cinta #SpiritualIndonesia

Jalan Kesempurnaan melalui Kamasutra

Ada kesan umum yang salah kaprah bahwa seakan-akan Kamasutra adalah literatur pornografi, dan hanya itu. Kesan itu lebih kuat lagi karena film atau buku-buku murahan dalam tema yang sama yang memanipulasi postur-postur senggama. Buku ini lain Penulis menampilkannya dalam keutuhannya sebagai jalan menuju kesempurnaan manusia: melalui seks, menuju cinta, sampai pada kasih, bahkan Anda dapat melanjutkannya sampai pada Kesadaran Kosmos. Seks adalah tahapan atau etape pertama yang amat penting, dan karena itu tidak perlu dihindari atau ditolak. Penolakan terhadapnya hanya akan menghasilkan kerugian besar, kalau bukan membuat kita terobsesi olehnya, dan menjadi mandeg dalam petualangan kita mencari kesejatian diri. Dikutip dari buku (Krishna, Anand). (2004). Jalan Kesempurnaan melalui Kamasutra. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

Tidak usah melepaskan yang duniawi untuk mencapai kesadaran rohani

Kama berarti keinginan; sedangkan Sutra berarti formula, cara atau metode. Kamasutra tidak semata-mata bicara tentang kepuasan keinginan raga saja. Buku ini bicara tentang manusia seutuhnya, termasuk kepuasan yang didambakan oleh manusia – bukan kepuasan fisik saja, tetapi juga kepuasan mental, emosional, intelektual dan spiritual. Kamasutra

Menurut ajaran-ajaran Tantra, Anda tidak usah melepaskan yang duniawi untuk mencapai kesadaran rohani. Yang duniawi dan rohani bisa jalan bersama. Dunia merupakan anak tangga yang dapat mengantar Anda ke puncak kesadaran rohani. Bagaimana Anda dapat meninggalkan dunia ini? Seorang yang dapat mencapai kesadaran spiritual adalah seorang yang sudah puas dengan segala sesuatu yang bersifat duniawi. Kalau belum puas, kalau masih ada obsesi terhadap benda-benda duniawi, Anda tidak akan berhasil meningkatkan kesadaran Anda. Dikutip dari buku (Krishna, Anand). (2004). Jalan Kesempurnaan melalui Kamasutra. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Passion dan Compassion

Napsu atau passion hendaknya tidak selalu dikaitkan  dengan seks. Obsesi dengan harta atau kekayaan, dengan nama atau ketenaran dan dengan jabatan atau kedudukan semuanya adalah passion , napsu. Semuanya ini terjadi apabila kita belum mengalami peningkatan kesadaran. Mereka yang terobsesi oleh seks, oleh harta, oleh nama, oleh jabatan tidak akan mengalami cinta dalam kehidupan. Mereka belum tahu cinta itu apa.

Kasih atau compassion adalah birahi terhadap alam semesta. Bila napsu seseorang dapat ditingkatkan menjadi birahi terhadap alam semesta, Anda adalah seorang pengasih. Compassion berarti passion terhadap alam semesta, terhadap Tuhan, terhadap yang abstrak, Yang Tak dapat dijelaskan. Apabila Anda mengasihi setiap makhluk – segala sesuatu yang ada dalam alam ini – apabila Anda mengasihi alam semesta ini, Anda adalah seorang buddha, seorang mesias. Dikutip dari buku (Krishna, Anand). (2004). Jalan Kesempurnaan melalui Kamasutra. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

Kamasutra Part 1: Turning the Sexual Energy to Kundalini

Apa yang kita pahami sebagaai cinta adalah murni keterikatan, infatuasi. Masalahnya adalah bahwa kita tidak pernah mengalami pengalaman cinta, sehingga apa yang kita punyai dalam kehidupan, kita menyalahartikan sebagai cinta. Cinta tidak dapat bekerja dengan keterikatan, tidak bisa berjalan bersama. Dan cinta tidak bisa kepada seeorang. Cinta kamu adalah kepada semua orang.

Cinta tidak ada kaitan dengan perbuatan seks. Seks adalah hal yang lain dan kamu tidak melawan seks. Cinta hanya dapat mekar ketika energi seks, sexual energy berubah, menguap.

Sexual energy hanya ada pada svadishtana chakra. Biasanya diterjemahkan dalam bahasa Inggris sebagai pusat seks. Terjemahan yang total salah. Sva berarti self, sthan adalah tempat. Chakra kedua bukan pusat seks, tetapi tempat energi berada.

Dan apa yang terjadi saat ini? Energi ini dalam bentuk liquid, cairan. Sehingga ketika energi ini tumpah, akan menuju ke bawah. Itu adalah ketika kamu pikir seksi. Arah alami dari energi dalam bentuk cairan.

Kamasutra menyampaikan ada kemungkinan yang lain. Kita tidak berkata tentang orientasi seksual. Kamu bisa homoseksual, bisa heteroseksual, tau yang lainnya, kita tidak bicara tentang orientasi. Kita bicara tentang mengubah arah energi ke kundalini shakti atau power.

Kundalini berarti potensial. Dalam tradisi yoga, saat kamu dilahirkan, keluar dari perut ibumu, kamu sudah diregister berdasar konstelasi bintang, dan impresi yang kamu bawa, tidak ada anak yang lahir tabula rasa. Anak lahir dengan impresi dari banyak kehidupan sebelumnya.

Berdasarkan semua kalkulasi ini, ada sistem jyotish yang disalah terjemahkan sebagai astrologi. Jyoti adalah light, ish adalah God, light of god. Potensial bukan untuk find God, tapi untuk become God. Kundalini adalh bagian dari Jyoti. Dan potensi itu hanya dapat ditemukan, ketika liquid energy berubah menjadi uap. Kamasutra menyampaikan kepadamu, bagaimana melakukan hal itu.

Silakan simak video youtube by Swami Anand Krishna: Kamasutra Part 1: Turning the Sexual Energy to Kundalini

Kamasutra Part 2: From Passion to Compassion

Setelah kamu sudah cukup melakukan aktivitas seks, dan kamu puas, what next? Apakah saya dapat menggunakan energi itu untuk melakukan sesuatu? Bisakah kamu menggunakan energi tersebut untuk tujuan yang lebih tinggi. Dan, ketika kamu menggunakan energi yang sama untuk melakukan hal yang lain, maka cinta akan mekar. Sebelum itu hanyalah passion, tidak ada cinta (dan itu juga tidak bermasalah, semua orang mempunyai passion). Tapi apabila kamu ingin mengubah passsion ke love….

Perjalanan adalah dari passion ke compassion lewat love. Passion adalah mengambil, mengambil dan mengambil. Mengharapkan sesuatu dari orang lain kamu angggap mencintai. Love adalah give and take, transaksi. Belum cukup bagus. Compassion adalah memberi, memberi dan memberi.

Ada kisah Jesus sedang pergi dengan beberapa murid ketika seseorang mencacimaki. Jesus menoleh tersenyum dan memberkati. Salah satu murid berkata, kamu tidak harus demikian, bisa terus jalan saja tidak perlu tersenyum dan memberi berkat. Jesus berkata, lihat dalam kantong saya hanya ada 1 mata uang. Mereka memberi saya sesuatu, saya harus memberi mereka gantian. Dan ketika saya melihat kantongku, saya hanya melihat mata uang tersebut. Mata uang senyuman. Mata uang berkat. Maka, saya tidak dapat memberikan yang lain.

Kisah yang indah, mata uang apa yang kita miliki? Hubungan, keterikatan dengan keluarga atau orang lain, menurut pandangan Veda, pandangan Yoga berdasarkan kredit dan debit. Partner kamu saat ini bisa saja ayah atau ibumu di kehidupan masa lalu. Dan sekarang dia adalah partner mu. Dan apabila kita menelusuri hal demikian, maka hanya ada 20 orang yang benar-benar dekat. Dengan 20 orang ini kita terus bertemu. Peran  berubah tetapi hubungan tetap.

Kamu diberi disket game terus kamu mainkan, dan kamu merasa ini adalah free will. Hari ini menang, besok kalah. Katakan kamu main catur dengan komputer. Minimum ada 60.000 kemungkinan. Dan semuanya sudah didesign permainan itu. Setiap hari berbeda dan kamu merasa kamu belajar. Kita berpikir itu adalaah free will. Nyatanya yang disebut free will adalah terbatas kepada kemungkinan-kemungkinan tertentu. Kita hanya bergerak dari satu kemungkinan ke kemungkinan yang lain.

Dan, Kundalini adalah bagaimana kita membuang disket permainan ini. Kundalini adalah meloncat ke hal yang tidak terketahui dengan kemungkinan yang tidak terbatas. Kita creating dan programming permainan kita sendiri. Saat kau bangkit dalam love, kamu menuju compassion. Tiba-tiba kau memiliki banyak kemungkinan. Dan kemudian quantum mechanics bekerja.

Ya inilah hidup yang penuh dengan berbagai kemungkian. Dan ini adalah tentang kundalini. Sekali lagi ini bukan kutukan terhadap kebiasaan tertentu, hanya tentang seberapa jauh kau akan pergi.

Silakan simak video youtube by Swami Anand Krishna: Kamasutra Part 2: From Passion to Compassion

Mati Sajroning Ngaurip, Lampaui Kesadaran Badaniah selagi Masih Hidup #SpiritualIndonesia

Padamnya Api Nafsu selagi Masih Hidup

Kebebasan yang disebutnya Nirvaana, atau Padamnya Api Napsu yang Menyebabkan Penderitaan. Pun Nirvaana itu haruslah terjadi selagi kita masih hidup. Paripoorna atau Mahaa-Nirvaana, Nirvana Sampurna yang terjadi saat kematian itu – hanyalah bersifat simbolik. Semacam pengukuhan dari semesta yang diperoleh setelah kita mengalaminya terlebih dahulu dalam hidup ini. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2007). Vedaanta, Harapan Bagi Masa Depan. Pustaka Bali Post)

 

Bebas dari Dualitas

“Tetapi, mereka yang berperilaku mulia, tanpa cela, dan bebas dari dualitas (yang disebabkan oleh kesukaan pada sesuatu); dan memuja-Ku dengan hati yang teguh, sesungguhnya telah mencapai akhir dari siklus kelahiran dan kematiannya.” Bhagavad Gita 7:28

Siklus kelahiran-kematian adalah produk dualitas. Produk utama. Produk-produk lain adalah produk sekunder siklus tersebut. Sekadar by-products. Ketika seseorang terbebaskan dari kebingungan yang tercipta oleh dualitas — maka barulah ia dapat berperilaku mulia. Hal ini perlu dipahami….

PERBUATAN MULIA TANPA CELA tidak sama dengan perbuatan baik. Perbuatan baik ada kebalikannya, yaitu perbuatan jelek, tidak baik. Perbuatan baik masih merupakan bagian dari dualitas. Ada baik, ada buruk. Perbuatan mulia yang dimaksud di sini tidak memiliki kebalikannya. Perbuatan mulia yang dimaksud melampaui baik-buruk.

……………

Melampaui baik—buruk adalah kemuliaan, dan perilaku yang mulia adalah perilaku berlandaskan nilai-nilai kemanusiaan yang universal. Landasannya bukanlah tradisi. Landasannya adalah: “Berbuatlah terhadap orang lain, sebagaimana kamu menghendaki orang lain berbuat terhadapmu.”

………………

Bagi Krsna, hanyalah seorang yang berperilaku mulia, yang memahami inti spiritualitas. Hanyalah ia yang dapat menyembah-Nya dengan penuh keteguhan hati – tanpa ragu, tanpa kebimbangan sedikit pun. Lampaui dualitas; berperilaku mulia; menyembah Sang Jiwa Agung dengan segenap Jiwa dan raga; dan, keluar dari siklus kelahiran dan kematian. Inilah roadmap untuk mencapai moksa, nirvana — Kebebasan Mutlak! Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia via #BhagavadGitaIndonesia

Padamnya Nafsu, Bebas dari Dualitas, Melampaui Kesadaran Badaniah dan Near Death Experience

Tidak ada sesuatu apa pun yang mati. Kita selalu mengatakan demikian, roh tidak mati. Tetapi kalau kita memahami kematian sebagai titik akhir, musnah, punah, tidak ada sesuatu pun yang punah. Karena pada dasarnya kalau ditelusuri semua materi yang berubah bentuk akhirnya menjadi atom.  Dan atom ini sampai sekarang indestructible. Tidak bisa dipunahkan. Dia berubah terus , kecuali, bumi kita punah total, kita boleh mengatakan atom-atom yang ada di seluruh planet ini punah. Tetapi punah dari sudut pandang kita. Mungkin dia berpindah ke tempat lain.

Fenomena yang disebut near death experience itu adalah ketika seseorang melampaui kesadaran badaniah. Apa yang terjadi? Seperti dalam cerita tadi, orang mau masuk ke tempat operasi, mau dibelah badannya, akan ada pembedahan besar, jantungnya. Waktu itu dia diberikan anestesi. Dan dalam keadaan anestesi itu apa yang dimatikan? Kesadaran badaniyahnya, supaya tidak merasa sakit. Ketika kesadaran badaniyah terlampaui, maka seseorang bisa melihat sesuatu yang bukan badannya. Dia bisa melihat pikirannya sendiri. Melihat perasannya sendiri.

Karena tidak ada distraction-nya. Dan di situ dia mendapatkan suatu cakrawala yang baru. Yang lebih luas daripada tubuh ini. Di situ dia merasakan wow. Karena saya telah berada dalam tubuh ini selama enampuluhan tahun. Begitu saya mengalami suatu pengalaman, dimana kesadaran tubuh terlampaui. Tentu saja Anda merasa wow.

Dalam setiap kebijakan-kebijakan kearifan lokal, di seluruh Timur. Ada istilah belajarlah untuk mati selagi kau masih hidup. Tradisi tersebut mengingatkan lampauilah kesadaran badaniah selagi kau masih hidup. Sehingga bagi orang-orang yang melakukan meditasi, death experience adalah nothing. Bisa dirasakan setiap hari. Dalam keadaan meditaitif  dia bisa melampau kesadaran badaniahnya. Karena pada waktu itu kelihatannya seperti death, karena kita mengidentifikasikan kelahiran dan kematian dengan badan ini.

Ketika kesadaran badaniah terlampaui. Sepertinya saya berada di lantai atas dari gedung. Sekarang di high level saya bisa melihat jembataan kecil di depan itu. Dan kalau ada orang turun dari jembatan. Saya bisa meramalkan bahwa 1.5 menit lagi dia akan sampai ke sini dia memakai baju warna (biru). Kala saya berada di lantai atas. Saya bisa melihat jalan di luar. Maya kira-kira dalam 3 menit lagi ada orang datang ke sini.

Saya hanya berada dalam tingkat yang berbeda. Ketika kita berada dalam tingkat kesadaran yang lebih tinggi, seseorang bisa melihat lebih luas. Ini near death experience. Tetapi yang paling penting adalah, setelah melihat suatu gambaran yang lebih luas. Apakah mempengaruhi hidup kita? Apakah cara pandang terhadap hidup itu meluas juga? Atau kita tetap kembali pada cara berpikir yang picik, yang berperasaan picik dalam pandang yang sangat sempit?

Magic

Segala sesuatu yang bisa membuatmu berubah adalah magic. Sehingga bila kamu mendapatkan transformasi dari mind, suatu pengalaman tertentu. Bisa membuat kita lebih sadar, bisa membuat kita lebih melihat gambaran yang luas. Saya bertemu dengan seseorang, dan jika pertemuan itu bisa menginspirasi saya. Menjadi lebih baik, itu magic. Jadi magic itu bukan seperti black magic.

Magic yang benar membawa perubahan, menuju sesuatu yang lebih baik, sesuatu yang lebih tinggi lagi. Sehingga Near Death Experience adalah death of old self, selagi kau masih hidup kau mengalami kematian, kematian yang mematikan segala sesuatu yang lama yang tidak berguna.

Mistik zaman selarang ini nggak ada yang serius banget. Mistik jaman sekarang. Mereka akan berusaha meyakinkan kamu, bahwa mereka lebih tahu daripada kamu. Pemahaman mistik adalah seseorang yang mengaku, alam semesta adalah misterius, kalau mistik-mistik sekarang adalah orang tahu semuanya.

Tidak perlu hipnosis. Tidak perlu brain washing. Lakukan dialog. Kamu boleh bantah saya. Saya boleh bantah kamu. Dan saya tidak memaksa kamu menyetujui pemahaman saya. Itulah magic.

Silakan simak video youtube: Near Death Experience oleh Swami Anand Krishna (dalam bahasa Indonesia)

 

Cara Melampaui Kesadaran Badaniah

Inilah “Kesadaran Tertinggi” yang dapat kita capai selama masih “berbadan”. Kita hanya memikirkan Dia. Kita hanya merasakan Dia… namun semua itu juga tidak menghentikan perjalanan kita. Kita tidak lari dari kenyataan hidup. Kita masih tetap melanjutkan perjalanan hidup kita. Kita masih tetap makan, minum, tidur, dan berkarya seperti biasa – hanya saja setiap tindakan kita, ucapan serta pikiran kita terwarnai oleh Warna Dia! Keadaan ini disebut Fana Fi Allah, Fana dalam Kesadaran Ilahi, dalam Cinta, dalam Kasih. Inilah Nirvana, Moksha –  Kebebasan Mutlak. Badan memang tidak bebas, masih harus patuh pada Hukum Fisika, Hukum Dunia. Tapi, jiwa kita sudah bebas! Dan, Jiwa yang bebas boleh tetap berada dalam badan yang mau tak mau masih harus patuh pada hukum-hukum dunia. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2005). Ishq Mohabbat Dari Nafsu Berahi Menuju Cinta Hakiki. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

Nirvana adalah suatu keadaan pikiran yang sudah tidak liar lagi, perasaan atau emosi pun tidak berjungkat-jungkit lagi. Nirvana adalah “pemadaman api pikiran serta perasaan”. Tiada lagi gejolak di dalam diri. Bhagavad Gita 6:15

Nirvana adalah Kebebasan Mutlak – Moksa. Nirvana adalah kedamaian sejati yang merupakan “rasa terdalam” – bukan rasa “emosi”. Dan, rasa terdalam itu bersumber dari Ia Hyang adalah Wujud Kebahagiaan Sejati – Sang Jiwa Agung.

“Pemusatan pikiran pada-Ku” adalah pemusatan diri pada diri – pada Sumber Kebahagiaan Sejati yang ada di dalam diri. kedamaian Sejati “Nirvana” pun bukanlah sesuatu yang asing dan ada di lapisan langit tertinggi.

Nirvana adalah Keadaan Alami “Setiap Diri” – Keadaan alami Anda dan saya, keadaan tanpa keterikatan, tidak ada belenggu, tidak ada perbedaan. Nirvana adalah kebebasan Jiwa. Sementara dunia luar adalah kebalikannya.

Dunia Luar adalah Samsara – Alam pengulangan yang menyengsarakan. Betapa bodohnya  kita yang terjebak dalam roda pengulangan Samsara! Sudah tergilas sekali di bawah rodanya, tetap tidak sadar. Tetap tidak menyingkir, dan menghindari penggilasan diri di bawah rodanya terus-menerus – inilah Samsara. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia via #BhagavadGitaIndonesia

Menyelami Bhagavad Gita Menuju Sukses Sejati

Pandangan para Pemikir dan Pemimpin Dunia tentang Bhagavad Gita

Saya sering, bahkan sudah lima kali membaca kitab Bhagavad-Gita dari A sarnpai Z. Saya kagum di situ Saudara-Saudara, Bhagavad-Gitia ternyata bukan kitab klenik.Ternyata bukan kitab untuk duduk di dalam kamar bersemadi hanutupi babahan howo songo hamandeng pucuk ing grono (menutupi lubang yang sembilan, melihat ujung hidung). Tidak Saudara-saudara. Tetapi Bhagavad-Gita adalah dalam bahasa asing “Evangelie van De Daad” (Kitab yang dijabarkan dalam kegiatan sehari-hari) – Gita adalah nyanyian perbuatan, nyanyian amal, nyanyian fi’il. Soekarno – Bapak Bangsa Indonesia/Presidan Ri Pertama

 

Ketika saya membaca Bhagavad-Gita dan merenungkan bagaimana Tuhan menciptakan alam semesta, segala sesuatu yang lain menjadi sangat tidak berarti. Albert Einstein – Saintis

 

Setiap kali keraguan menghantui diriku, setiap kali kekecewaan menatap wajahku, dan aku tidak melihat setitik pun terang harapan, aku berpaling pada Bhagavad-Gita dan menemukan ayat yang dapat menghiburku, dan langsung saja di tengah duka sepedih apa pun, aku tersenyum kembali. Mereka yang melakukan perenungan terhadap Gita akan selalu menemukan makna baru dan keceriaan baru setiap hari. Mahatma Gandhi – Tokoh Perjuangan Tanpa Kekerasan/Ahimsa

Bhagavad-Gita adalah kitab suci bagi seluruh umat manusia. Bahkan bukan sekadar kitab, ia adalah sesuatu yang hidup, dengan pesan baru bagi setiap zaman, dan arti baru bagi setiap peradaban. Sri Aurobindo Filsuf/Rohaniwan India

 

Bahwasanya manusia ibarat pohon yang terbalik (akarnya di atas dan ranting-rantingnya di bawah) merupakan pendapat umum di masa lalu. Terkait dengan konsep yang ada dalam Veda ini, Plato menjelaskannya dalam Timaeus di mana ia mengatakan…. ”Lihat, kita bukanlah tanaman duniawi, tetapi tumbuhan surgawi.” Hal ini menjadi sangat jelas dengan apa yang dikatakan oleh Krsna dalam Bab Kelimabelas Bhagavad-Gita. Carl Jung – Bapak Psikologi Modern

 

Bhagavad-Gita memberi landasan spiritual bagi keberadaan umat manusia. Ia adalah panggilan (bagi seluruh umat manusia) untuk berkarya dan memurnikan kewajibannya di dunia dengan tetap memperhatikan tujuan spiritual semesta yang jauh lebih penting dan mulia. Jawaharlal Nehru — Perdana Menteri India

Saya berhutang pada Bhagavad-Gita…. Membaca buku awal peradaban manusia itu, saya seolah mendengar sebuah pesan dari kerajaan di masa lalu — kerajaan yang besar tapi tenang dan damai Pesan yang disampaikan di masa lalu itu masih mampu menjawab perlanyaan-pertanyaan masa kini. Ralph Waldo Emerson – Salah Seorang Bapak Bangsa Amerika Serikat

 

Kehebatan Bhagavad-Gita terletak pada kemampuanya untuk menjelaskan kebijakan hidup dengan sangat indah, sehingga filsafat pun berbunga menjadi kepercayaan (yang hidup). Herman Hesse – Penulis/Filsuf Jerman

 

Untuk memahami pesan Bhagavad-Gitia yang begitu mulia dan halus, jiwa kita harus berada pada gelombang yang sama dengannya. Rudolph Steiner – Filsuf Barat

 

Bhagavad-Gita menjelaskan evolusi batin manusia dengan sangat jelas dan sistematis, evolusi batin yang dapat mengangkat derajat manusia. Ia adalah intisari dari filsafat perenial yang paling jelas dan Iengkap; karena itu, ia penting bagi seluruh umat manusia, bukan bagi India saja. Adolf Huxley – Filsuf Barat

 

Cara untuk menggapai kesempurnaan hidup dengan bekerja tanpa pamrih — itulah yang dijelaskan oleh Krishna dalam Bhagavad-Gita. Vivekananda – Pujangga besar India yang banyak mengilhami para Founding Fathers Republik Indonesia

 

Kitab Bhagavad-Gita ini boleh dipandang sebagai riwayat kehidupan Korawa dan Pandawa, atau perjalanan manusia menuju ke arah Sempurna. Sebagai ilmu, kitab Bhagavad-Gita menguraikan perjalanan kalbu manusia menuju ke arah Kesempurnaan. Di situlah terjadi pertempuran antar Jiwa dengan Keangkaramurkaannva. dr. Radjimmwedyoningrat — Salah satu Pendiri Boedi Oetomo dan salah satu Founding Fathers Republik Indonesia

Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia via #BhagavadGitaIndonesia

Menyelami Bhagavad Gita Menuju Sukses Sejati

Seperti yang dikatakan oleh Bung Karno, Bhagavad-Gita adalah suatu buku, dimana apa pun yang tertulis disana adalah “applicable” dalam kehidupan sehari-hari.

Coba kita bayangkan mungkin kamu belum lahir, tapi kalau saya melihat ke belakang, 50 tahun yang lalu apa yang applicable pada waktu itu, sekarang tidak applicable. 30 tahun yang lalu, kita masih pakai komputer dengan dos dll, sekarang sudah tidak applicable. Bhagavad-Gita ini menurut Bung Karno applicable dalam segala zaman.

Dalam kurun waktu 20-30 tahun terakhir saya mulai menulis, barangkali sebelum tahun 75-76 tetapi mulai dipublikasikan tahun 97-98. Bhagavad Gita Bagi Orang Modern terbitan Gramedia. Kalau kita melihat tahun 98 berarti sudah berapa tahun. 30 tahun yang lalu, kondisi komputer kita seperti apa? Sekarang seperti apa? Bukan Cuma hardware komputer tetapi bagaimana cara berpikir manusia dengan teknologi. Cara berpikir manusia berubah. Sehingga saya merasa dari waktu ke waktu harus ada pemahaman baru dari Bhagavad Gita.

Ma Archana sebagai pewawancara menanyakan makna Bhagavad Gita 2:40. Tiada upaya yang tersia-sia ; pun tiada tantangan yang tidak teratasi. Dengan menjalankan dharma, berkarya dengan tujuan luhur; niscayalah seseorang terbebaskan dari rasa takut, khawatir dan cemas.

Swami Anand Krishna menjawab dengan mempersilakan membaca ayat sebelumnya Bhagavad Gita 2:39. Demikian apa yang kau dengarkan, adalah kebijaksanaan. Ajaran luhur dari sudut pandang samkhya, yaitu buddhi yoga.

Di sini persoalannya adalah buddhi. Intelegensia ini yang menjadi keyword-nya. Jadi berkarya itu tidak asal berkarya tapi work smart. Berkarya dengan penuh kebijakan dengan mengetahui goal saya apa. Jadi tidak asal bekerja saja. Menggunakan faculty of discrimination, saya melakukan satu pekerjaan itu what is my end goal. Dan dalam Bhagavad Gita yang menjadi menarik sekali, bahwa 3.000 tahun sebelum masehi, dia sudah berbicara tentang transpersonal psychology. Yang sekarang baru dibicarakan. Jadi kalau kita bekerja untuk diri sendiri, saya mau memperkaya diri, memiliki mobil mewah mau memiliki perusahaan yang bagus, atau memiliki istri yang cantik, suami yang tampan, atau apa. Semuanya adalah personal goal. Untuk personal goal kita tidak butuh banyak energi. Bhagavad Gita mengatakan bahwa manusia itu tidak bisa hidup sendiri. Apabila kamu hanya bekerja dengan tujuan personal saja. Kita tidak akan pernah bisa bahagia. Ini adalah konsep yang tidak bisa dipahami selama berabad-abad.

Kalau kita bekerja karena personal goal, biasanya kita membenarkan segala bentuk, segala macam cara bagaimana mencapainya. Bagaimana untuk mencapai personal goal itu kita bisa membenarkan berbagai tipu muslihat. Begitu kita bicara kolektif goal, kita bicara kolektif goal tentang kebersamaan. Jadi kalau Bung Karno mengatakan gotong royong misalnya. Itu nggak bisa personal. Dan begitu kita bicara kolektif goal, kita bicara tentang kebahagiaan bersama. Kesejahteraan bersama. Keadilan untuk semua. Begitu kita bicara tentang kolektiviti, bekerjanya juga harus secara kolektif. Dan ketika kita bekerja secara kolektif, satu plus satu sudah bukan dua lagi. Bisa seberapa pun juga. Tergantung pada kolektivitas ini, niat, dari kolektivitas ini. Bisa relatif sekai dan bisa tak terbatas. Disitu dalam kebahagiaan semua, ada kebahagiaan saya. Dalam kedamaian semua ada kedamian saya. Inklusif.

Kita melihat dari kegagalan pemahaman yang terdahulu. Ego based psychology. Dengan mempertahankan ego kita, lihat apa yang kita lakukan terhadap dunia ini. Dunia ini menjadi sangat individualistik, tidak apa saya mencemari lingkungan, asal saya dapat meningkatkan growth rate, angka pertumbuhan yang bagus. Lingkungan tercemarkan no problem, karena, nanti 50 tahun kemudian saya baru merasakan dampaknya.

Dan itu yang menyebabakan soal global warming, climate change. Saya pernah, percaya bahwa climete change, global warming itu keniscayaan tidak bisa di hindari. Dari dulu juga perah terjadi. Tetapi at what rate? Dulu untuk mencapai kehancuran seperti sekarang, membutuhkan waktu ribuan tahun. Puluhan ribu tahun, dari zaman es ke zaman es yang berikutnya. Sekarang pesat sekali karena industrialisasi, yang tidak inteligen. Tidak menggunakan kata budhi tadi.

Swami Anand Krishna memberikan contoh beberapa orang yang berbuat baik terhadap masyarakat selamat dari penjarahan (silakan simak video dalam bahasa Indonesia tersebut).

Pertanyaan Ma Archana berikutnya, Bhagavad Gita 2:69 Malam bagi makhluk makhluk yang belum menyadari jati dirinya adalah saat para bijak yang sadar akan jati-dirinya, berada dalam keadaan jaga. Dan siang bagi makhluk-makhluk yang belum menyadari diri, adalah malam bagi para bijak.

Malam adalah waktu yang paling tenang. Untuk orang melakukan praktek-praktek spiritual. Meditasi. Semua sudah tidur. Itu bisa jam 10, 11, 12. Dalam tradisi yang kita pelajari ada tradisi di Timur agar berdoa pada malam hari. Atau meditasi pada malam hari. Zikir atau japa pada malam hari. Karena itu adalah waktu yang paling tenang. Malam bagi orang-orang biasa untuk tidur. Orang yang pada mencari jati-dirinya, spiritual, malam adalah waktu yang paling tepat.

Tetapi ada makna yang lain, malam bagi kita semua yang masih duniawi, kita semua menikmati malam itu dengan cara lain, para spiritualis menikmati dengan cara lain. Kita menikmati siang dengan cara lain, para spiritualis menikmati siang dengan cara lain. Kita mengejar harta. Seorang spiritualis tidak mengejar harta. Dia berkarya untuk mengumpulkan cukup, seperti Kabir mengatakan supaya keluargaku juga tidak kelaparan. Dan setiap orang yang datang ke rumahku. Tanpa janji juga tidak akan kelaparan.

Ini adalah konsep. Kita sedang mengejar harta mati-matian, dia mengunmpulkan cukup untuk kebaikan semua. Apa yang kita spend dalam ignorance dia spend dalam light. Kita pikir kita sedang hidup dalam keadaan cerah. Tidak kita tertidur. Kita mencari uang dalam keadaan tidur. Kita menikmati segala sesuatu dalam keadaan tidur. Kita tidak ingat bahwa akhir dari segalanya adalah kematian. Ujung-ujungnya kematian. Adakah sesuatu yang bermakna yang kita lakukan?

Bhagavad Gita jelas sekali, kriterianya apa? Kamu tidak mengharapkan imbalan dari bekerja. Bahkan kamu tidak mengharapkan balasan ucapan terima kasih. Kalau kita masih mengharapkan, jangankan mengharapkan imbalan, uang atau sebagainya, mengharapkan ucapa terima kasih pun itu harapan. Tanpa pamrih. Terus, apakah kita harus menolak, misalnya apakah kita kerja nggak mau digaji. Itu sangat berbeda. Ketika kita bekerja, konsep Bhagavad Gita ini tidak laku di sana. Jadi kalau saya mengabdi di perusahaan itu, bagaimana mengabdi, kamu digaji. Jika kita menganggap persahaan itu adalah milik bersama, sipemilik pun mempunyai pemahaman yang sama. Perusahaan ini milik setiap orang. Dan biarkan saya bekerja sebaik sesuai kemampuan saya. Saya bekerja keras demi kesejaheraan bersama, maka menjadi Bhagavad Gita.

Silakan simak video youtube dalam bahasa Indonesia: Menyelami Bhagavad Gita Menuju Sukses Sejati by Swami Anand Krishna