Mati Sajroning Ngaurip, Lampaui Kesadaran Badaniah selagi Masih Hidup #SpiritualIndonesia

Padamnya Api Nafsu selagi Masih Hidup

Kebebasan yang disebutnya Nirvaana, atau Padamnya Api Napsu yang Menyebabkan Penderitaan. Pun Nirvaana itu haruslah terjadi selagi kita masih hidup. Paripoorna atau Mahaa-Nirvaana, Nirvana Sampurna yang terjadi saat kematian itu – hanyalah bersifat simbolik. Semacam pengukuhan dari semesta yang diperoleh setelah kita mengalaminya terlebih dahulu dalam hidup ini. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2007). Vedaanta, Harapan Bagi Masa Depan. Pustaka Bali Post)

 

Bebas dari Dualitas

“Tetapi, mereka yang berperilaku mulia, tanpa cela, dan bebas dari dualitas (yang disebabkan oleh kesukaan pada sesuatu); dan memuja-Ku dengan hati yang teguh, sesungguhnya telah mencapai akhir dari siklus kelahiran dan kematiannya.” Bhagavad Gita 7:28

Siklus kelahiran-kematian adalah produk dualitas. Produk utama. Produk-produk lain adalah produk sekunder siklus tersebut. Sekadar by-products. Ketika seseorang terbebaskan dari kebingungan yang tercipta oleh dualitas — maka barulah ia dapat berperilaku mulia. Hal ini perlu dipahami….

PERBUATAN MULIA TANPA CELA tidak sama dengan perbuatan baik. Perbuatan baik ada kebalikannya, yaitu perbuatan jelek, tidak baik. Perbuatan baik masih merupakan bagian dari dualitas. Ada baik, ada buruk. Perbuatan mulia yang dimaksud di sini tidak memiliki kebalikannya. Perbuatan mulia yang dimaksud melampaui baik-buruk.

……………

Melampaui baik—buruk adalah kemuliaan, dan perilaku yang mulia adalah perilaku berlandaskan nilai-nilai kemanusiaan yang universal. Landasannya bukanlah tradisi. Landasannya adalah: “Berbuatlah terhadap orang lain, sebagaimana kamu menghendaki orang lain berbuat terhadapmu.”

………………

Bagi Krsna, hanyalah seorang yang berperilaku mulia, yang memahami inti spiritualitas. Hanyalah ia yang dapat menyembah-Nya dengan penuh keteguhan hati – tanpa ragu, tanpa kebimbangan sedikit pun. Lampaui dualitas; berperilaku mulia; menyembah Sang Jiwa Agung dengan segenap Jiwa dan raga; dan, keluar dari siklus kelahiran dan kematian. Inilah roadmap untuk mencapai moksa, nirvana — Kebebasan Mutlak! Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia via #BhagavadGitaIndonesia

Padamnya Nafsu, Bebas dari Dualitas, Melampaui Kesadaran Badaniah dan Near Death Experience

Tidak ada sesuatu apa pun yang mati. Kita selalu mengatakan demikian, roh tidak mati. Tetapi kalau kita memahami kematian sebagai titik akhir, musnah, punah, tidak ada sesuatu pun yang punah. Karena pada dasarnya kalau ditelusuri semua materi yang berubah bentuk akhirnya menjadi atom.  Dan atom ini sampai sekarang indestructible. Tidak bisa dipunahkan. Dia berubah terus , kecuali, bumi kita punah total, kita boleh mengatakan atom-atom yang ada di seluruh planet ini punah. Tetapi punah dari sudut pandang kita. Mungkin dia berpindah ke tempat lain.

Fenomena yang disebut near death experience itu adalah ketika seseorang melampaui kesadaran badaniah. Apa yang terjadi? Seperti dalam cerita tadi, orang mau masuk ke tempat operasi, mau dibelah badannya, akan ada pembedahan besar, jantungnya. Waktu itu dia diberikan anestesi. Dan dalam keadaan anestesi itu apa yang dimatikan? Kesadaran badaniyahnya, supaya tidak merasa sakit. Ketika kesadaran badaniyah terlampaui, maka seseorang bisa melihat sesuatu yang bukan badannya. Dia bisa melihat pikirannya sendiri. Melihat perasannya sendiri.

Karena tidak ada distraction-nya. Dan di situ dia mendapatkan suatu cakrawala yang baru. Yang lebih luas daripada tubuh ini. Di situ dia merasakan wow. Karena saya telah berada dalam tubuh ini selama enampuluhan tahun. Begitu saya mengalami suatu pengalaman, dimana kesadaran tubuh terlampaui. Tentu saja Anda merasa wow.

Dalam setiap kebijakan-kebijakan kearifan lokal, di seluruh Timur. Ada istilah belajarlah untuk mati selagi kau masih hidup. Tradisi tersebut mengingatkan lampauilah kesadaran badaniah selagi kau masih hidup. Sehingga bagi orang-orang yang melakukan meditasi, death experience adalah nothing. Bisa dirasakan setiap hari. Dalam keadaan meditaitif  dia bisa melampau kesadaran badaniahnya. Karena pada waktu itu kelihatannya seperti death, karena kita mengidentifikasikan kelahiran dan kematian dengan badan ini.

Ketika kesadaran badaniah terlampaui. Sepertinya saya berada di lantai atas dari gedung. Sekarang di high level saya bisa melihat jembataan kecil di depan itu. Dan kalau ada orang turun dari jembatan. Saya bisa meramalkan bahwa 1.5 menit lagi dia akan sampai ke sini dia memakai baju warna (biru). Kala saya berada di lantai atas. Saya bisa melihat jalan di luar. Maya kira-kira dalam 3 menit lagi ada orang datang ke sini.

Saya hanya berada dalam tingkat yang berbeda. Ketika kita berada dalam tingkat kesadaran yang lebih tinggi, seseorang bisa melihat lebih luas. Ini near death experience. Tetapi yang paling penting adalah, setelah melihat suatu gambaran yang lebih luas. Apakah mempengaruhi hidup kita? Apakah cara pandang terhadap hidup itu meluas juga? Atau kita tetap kembali pada cara berpikir yang picik, yang berperasaan picik dalam pandang yang sangat sempit?

Magic

Segala sesuatu yang bisa membuatmu berubah adalah magic. Sehingga bila kamu mendapatkan transformasi dari mind, suatu pengalaman tertentu. Bisa membuat kita lebih sadar, bisa membuat kita lebih melihat gambaran yang luas. Saya bertemu dengan seseorang, dan jika pertemuan itu bisa menginspirasi saya. Menjadi lebih baik, itu magic. Jadi magic itu bukan seperti black magic.

Magic yang benar membawa perubahan, menuju sesuatu yang lebih baik, sesuatu yang lebih tinggi lagi. Sehingga Near Death Experience adalah death of old self, selagi kau masih hidup kau mengalami kematian, kematian yang mematikan segala sesuatu yang lama yang tidak berguna.

Mistik zaman selarang ini nggak ada yang serius banget. Mistik jaman sekarang. Mereka akan berusaha meyakinkan kamu, bahwa mereka lebih tahu daripada kamu. Pemahaman mistik adalah seseorang yang mengaku, alam semesta adalah misterius, kalau mistik-mistik sekarang adalah orang tahu semuanya.

Tidak perlu hipnosis. Tidak perlu brain washing. Lakukan dialog. Kamu boleh bantah saya. Saya boleh bantah kamu. Dan saya tidak memaksa kamu menyetujui pemahaman saya. Itulah magic.

Silakan simak video youtube: Near Death Experience oleh Swami Anand Krishna (dalam bahasa Indonesia)

 

Cara Melampaui Kesadaran Badaniah

Inilah “Kesadaran Tertinggi” yang dapat kita capai selama masih “berbadan”. Kita hanya memikirkan Dia. Kita hanya merasakan Dia… namun semua itu juga tidak menghentikan perjalanan kita. Kita tidak lari dari kenyataan hidup. Kita masih tetap melanjutkan perjalanan hidup kita. Kita masih tetap makan, minum, tidur, dan berkarya seperti biasa – hanya saja setiap tindakan kita, ucapan serta pikiran kita terwarnai oleh Warna Dia! Keadaan ini disebut Fana Fi Allah, Fana dalam Kesadaran Ilahi, dalam Cinta, dalam Kasih. Inilah Nirvana, Moksha –  Kebebasan Mutlak. Badan memang tidak bebas, masih harus patuh pada Hukum Fisika, Hukum Dunia. Tapi, jiwa kita sudah bebas! Dan, Jiwa yang bebas boleh tetap berada dalam badan yang mau tak mau masih harus patuh pada hukum-hukum dunia. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2005). Ishq Mohabbat Dari Nafsu Berahi Menuju Cinta Hakiki. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

Nirvana adalah suatu keadaan pikiran yang sudah tidak liar lagi, perasaan atau emosi pun tidak berjungkat-jungkit lagi. Nirvana adalah “pemadaman api pikiran serta perasaan”. Tiada lagi gejolak di dalam diri. Bhagavad Gita 6:15

Nirvana adalah Kebebasan Mutlak – Moksa. Nirvana adalah kedamaian sejati yang merupakan “rasa terdalam” – bukan rasa “emosi”. Dan, rasa terdalam itu bersumber dari Ia Hyang adalah Wujud Kebahagiaan Sejati – Sang Jiwa Agung.

“Pemusatan pikiran pada-Ku” adalah pemusatan diri pada diri – pada Sumber Kebahagiaan Sejati yang ada di dalam diri. kedamaian Sejati “Nirvana” pun bukanlah sesuatu yang asing dan ada di lapisan langit tertinggi.

Nirvana adalah Keadaan Alami “Setiap Diri” – Keadaan alami Anda dan saya, keadaan tanpa keterikatan, tidak ada belenggu, tidak ada perbedaan. Nirvana adalah kebebasan Jiwa. Sementara dunia luar adalah kebalikannya.

Dunia Luar adalah Samsara – Alam pengulangan yang menyengsarakan. Betapa bodohnya  kita yang terjebak dalam roda pengulangan Samsara! Sudah tergilas sekali di bawah rodanya, tetap tidak sadar. Tetap tidak menyingkir, dan menghindari penggilasan diri di bawah rodanya terus-menerus – inilah Samsara. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia via #BhagavadGitaIndonesia

Advertisements

Menyelami Bhagavad Gita Menuju Sukses Sejati

Pandangan para Pemikir dan Pemimpin Dunia tentang Bhagavad Gita

Saya sering, bahkan sudah lima kali membaca kitab Bhagavad-Gita dari A sarnpai Z. Saya kagum di situ Saudara-Saudara, Bhagavad-Gitia ternyata bukan kitab klenik.Ternyata bukan kitab untuk duduk di dalam kamar bersemadi hanutupi babahan howo songo hamandeng pucuk ing grono (menutupi lubang yang sembilan, melihat ujung hidung). Tidak Saudara-saudara. Tetapi Bhagavad-Gita adalah dalam bahasa asing “Evangelie van De Daad” (Kitab yang dijabarkan dalam kegiatan sehari-hari) – Gita adalah nyanyian perbuatan, nyanyian amal, nyanyian fi’il. Soekarno – Bapak Bangsa Indonesia/Presidan Ri Pertama

 

Ketika saya membaca Bhagavad-Gita dan merenungkan bagaimana Tuhan menciptakan alam semesta, segala sesuatu yang lain menjadi sangat tidak berarti. Albert Einstein – Saintis

 

Setiap kali keraguan menghantui diriku, setiap kali kekecewaan menatap wajahku, dan aku tidak melihat setitik pun terang harapan, aku berpaling pada Bhagavad-Gita dan menemukan ayat yang dapat menghiburku, dan langsung saja di tengah duka sepedih apa pun, aku tersenyum kembali. Mereka yang melakukan perenungan terhadap Gita akan selalu menemukan makna baru dan keceriaan baru setiap hari. Mahatma Gandhi – Tokoh Perjuangan Tanpa Kekerasan/Ahimsa

Bhagavad-Gita adalah kitab suci bagi seluruh umat manusia. Bahkan bukan sekadar kitab, ia adalah sesuatu yang hidup, dengan pesan baru bagi setiap zaman, dan arti baru bagi setiap peradaban. Sri Aurobindo Filsuf/Rohaniwan India

 

Bahwasanya manusia ibarat pohon yang terbalik (akarnya di atas dan ranting-rantingnya di bawah) merupakan pendapat umum di masa lalu. Terkait dengan konsep yang ada dalam Veda ini, Plato menjelaskannya dalam Timaeus di mana ia mengatakan…. ”Lihat, kita bukanlah tanaman duniawi, tetapi tumbuhan surgawi.” Hal ini menjadi sangat jelas dengan apa yang dikatakan oleh Krsna dalam Bab Kelimabelas Bhagavad-Gita. Carl Jung – Bapak Psikologi Modern

 

Bhagavad-Gita memberi landasan spiritual bagi keberadaan umat manusia. Ia adalah panggilan (bagi seluruh umat manusia) untuk berkarya dan memurnikan kewajibannya di dunia dengan tetap memperhatikan tujuan spiritual semesta yang jauh lebih penting dan mulia. Jawaharlal Nehru — Perdana Menteri India

Saya berhutang pada Bhagavad-Gita…. Membaca buku awal peradaban manusia itu, saya seolah mendengar sebuah pesan dari kerajaan di masa lalu — kerajaan yang besar tapi tenang dan damai Pesan yang disampaikan di masa lalu itu masih mampu menjawab perlanyaan-pertanyaan masa kini. Ralph Waldo Emerson – Salah Seorang Bapak Bangsa Amerika Serikat

 

Kehebatan Bhagavad-Gita terletak pada kemampuanya untuk menjelaskan kebijakan hidup dengan sangat indah, sehingga filsafat pun berbunga menjadi kepercayaan (yang hidup). Herman Hesse – Penulis/Filsuf Jerman

 

Untuk memahami pesan Bhagavad-Gitia yang begitu mulia dan halus, jiwa kita harus berada pada gelombang yang sama dengannya. Rudolph Steiner – Filsuf Barat

 

Bhagavad-Gita menjelaskan evolusi batin manusia dengan sangat jelas dan sistematis, evolusi batin yang dapat mengangkat derajat manusia. Ia adalah intisari dari filsafat perenial yang paling jelas dan Iengkap; karena itu, ia penting bagi seluruh umat manusia, bukan bagi India saja. Adolf Huxley – Filsuf Barat

 

Cara untuk menggapai kesempurnaan hidup dengan bekerja tanpa pamrih — itulah yang dijelaskan oleh Krishna dalam Bhagavad-Gita. Vivekananda – Pujangga besar India yang banyak mengilhami para Founding Fathers Republik Indonesia

 

Kitab Bhagavad-Gita ini boleh dipandang sebagai riwayat kehidupan Korawa dan Pandawa, atau perjalanan manusia menuju ke arah Sempurna. Sebagai ilmu, kitab Bhagavad-Gita menguraikan perjalanan kalbu manusia menuju ke arah Kesempurnaan. Di situlah terjadi pertempuran antar Jiwa dengan Keangkaramurkaannva. dr. Radjimmwedyoningrat — Salah satu Pendiri Boedi Oetomo dan salah satu Founding Fathers Republik Indonesia

Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia via #BhagavadGitaIndonesia

Menyelami Bhagavad Gita Menuju Sukses Sejati

Seperti yang dikatakan oleh Bung Karno, Bhagavad-Gita adalah suatu buku, dimana apa pun yang tertulis disana adalah “applicable” dalam kehidupan sehari-hari.

Coba kita bayangkan mungkin kamu belum lahir, tapi kalau saya melihat ke belakang, 50 tahun yang lalu apa yang applicable pada waktu itu, sekarang tidak applicable. 30 tahun yang lalu, kita masih pakai komputer dengan dos dll, sekarang sudah tidak applicable. Bhagavad-Gita ini menurut Bung Karno applicable dalam segala zaman.

Dalam kurun waktu 20-30 tahun terakhir saya mulai menulis, barangkali sebelum tahun 75-76 tetapi mulai dipublikasikan tahun 97-98. Bhagavad Gita Bagi Orang Modern terbitan Gramedia. Kalau kita melihat tahun 98 berarti sudah berapa tahun. 30 tahun yang lalu, kondisi komputer kita seperti apa? Sekarang seperti apa? Bukan Cuma hardware komputer tetapi bagaimana cara berpikir manusia dengan teknologi. Cara berpikir manusia berubah. Sehingga saya merasa dari waktu ke waktu harus ada pemahaman baru dari Bhagavad Gita.

Ma Archana sebagai pewawancara menanyakan makna Bhagavad Gita 2:40. Tiada upaya yang tersia-sia ; pun tiada tantangan yang tidak teratasi. Dengan menjalankan dharma, berkarya dengan tujuan luhur; niscayalah seseorang terbebaskan dari rasa takut, khawatir dan cemas.

Swami Anand Krishna menjawab dengan mempersilakan membaca ayat sebelumnya Bhagavad Gita 2:39. Demikian apa yang kau dengarkan, adalah kebijaksanaan. Ajaran luhur dari sudut pandang samkhya, yaitu buddhi yoga.

Di sini persoalannya adalah buddhi. Intelegensia ini yang menjadi keyword-nya. Jadi berkarya itu tidak asal berkarya tapi work smart. Berkarya dengan penuh kebijakan dengan mengetahui goal saya apa. Jadi tidak asal bekerja saja. Menggunakan faculty of discrimination, saya melakukan satu pekerjaan itu what is my end goal. Dan dalam Bhagavad Gita yang menjadi menarik sekali, bahwa 3.000 tahun sebelum masehi, dia sudah berbicara tentang transpersonal psychology. Yang sekarang baru dibicarakan. Jadi kalau kita bekerja untuk diri sendiri, saya mau memperkaya diri, memiliki mobil mewah mau memiliki perusahaan yang bagus, atau memiliki istri yang cantik, suami yang tampan, atau apa. Semuanya adalah personal goal. Untuk personal goal kita tidak butuh banyak energi. Bhagavad Gita mengatakan bahwa manusia itu tidak bisa hidup sendiri. Apabila kamu hanya bekerja dengan tujuan personal saja. Kita tidak akan pernah bisa bahagia. Ini adalah konsep yang tidak bisa dipahami selama berabad-abad.

Kalau kita bekerja karena personal goal, biasanya kita membenarkan segala bentuk, segala macam cara bagaimana mencapainya. Bagaimana untuk mencapai personal goal itu kita bisa membenarkan berbagai tipu muslihat. Begitu kita bicara kolektif goal, kita bicara kolektif goal tentang kebersamaan. Jadi kalau Bung Karno mengatakan gotong royong misalnya. Itu nggak bisa personal. Dan begitu kita bicara kolektif goal, kita bicara tentang kebahagiaan bersama. Kesejahteraan bersama. Keadilan untuk semua. Begitu kita bicara tentang kolektiviti, bekerjanya juga harus secara kolektif. Dan ketika kita bekerja secara kolektif, satu plus satu sudah bukan dua lagi. Bisa seberapa pun juga. Tergantung pada kolektivitas ini, niat, dari kolektivitas ini. Bisa relatif sekai dan bisa tak terbatas. Disitu dalam kebahagiaan semua, ada kebahagiaan saya. Dalam kedamaian semua ada kedamian saya. Inklusif.

Kita melihat dari kegagalan pemahaman yang terdahulu. Ego based psychology. Dengan mempertahankan ego kita, lihat apa yang kita lakukan terhadap dunia ini. Dunia ini menjadi sangat individualistik, tidak apa saya mencemari lingkungan, asal saya dapat meningkatkan growth rate, angka pertumbuhan yang bagus. Lingkungan tercemarkan no problem, karena, nanti 50 tahun kemudian saya baru merasakan dampaknya.

Dan itu yang menyebabakan soal global warming, climate change. Saya pernah, percaya bahwa climete change, global warming itu keniscayaan tidak bisa di hindari. Dari dulu juga perah terjadi. Tetapi at what rate? Dulu untuk mencapai kehancuran seperti sekarang, membutuhkan waktu ribuan tahun. Puluhan ribu tahun, dari zaman es ke zaman es yang berikutnya. Sekarang pesat sekali karena industrialisasi, yang tidak inteligen. Tidak menggunakan kata budhi tadi.

Swami Anand Krishna memberikan contoh beberapa orang yang berbuat baik terhadap masyarakat selamat dari penjarahan (silakan simak video dalam bahasa Indonesia tersebut).

Pertanyaan Ma Archana berikutnya, Bhagavad Gita 2:69 Malam bagi makhluk makhluk yang belum menyadari jati dirinya adalah saat para bijak yang sadar akan jati-dirinya, berada dalam keadaan jaga. Dan siang bagi makhluk-makhluk yang belum menyadari diri, adalah malam bagi para bijak.

Malam adalah waktu yang paling tenang. Untuk orang melakukan praktek-praktek spiritual. Meditasi. Semua sudah tidur. Itu bisa jam 10, 11, 12. Dalam tradisi yang kita pelajari ada tradisi di Timur agar berdoa pada malam hari. Atau meditasi pada malam hari. Zikir atau japa pada malam hari. Karena itu adalah waktu yang paling tenang. Malam bagi orang-orang biasa untuk tidur. Orang yang pada mencari jati-dirinya, spiritual, malam adalah waktu yang paling tepat.

Tetapi ada makna yang lain, malam bagi kita semua yang masih duniawi, kita semua menikmati malam itu dengan cara lain, para spiritualis menikmati dengan cara lain. Kita menikmati siang dengan cara lain, para spiritualis menikmati siang dengan cara lain. Kita mengejar harta. Seorang spiritualis tidak mengejar harta. Dia berkarya untuk mengumpulkan cukup, seperti Kabir mengatakan supaya keluargaku juga tidak kelaparan. Dan setiap orang yang datang ke rumahku. Tanpa janji juga tidak akan kelaparan.

Ini adalah konsep. Kita sedang mengejar harta mati-matian, dia mengunmpulkan cukup untuk kebaikan semua. Apa yang kita spend dalam ignorance dia spend dalam light. Kita pikir kita sedang hidup dalam keadaan cerah. Tidak kita tertidur. Kita mencari uang dalam keadaan tidur. Kita menikmati segala sesuatu dalam keadaan tidur. Kita tidak ingat bahwa akhir dari segalanya adalah kematian. Ujung-ujungnya kematian. Adakah sesuatu yang bermakna yang kita lakukan?

Bhagavad Gita jelas sekali, kriterianya apa? Kamu tidak mengharapkan imbalan dari bekerja. Bahkan kamu tidak mengharapkan balasan ucapan terima kasih. Kalau kita masih mengharapkan, jangankan mengharapkan imbalan, uang atau sebagainya, mengharapkan ucapa terima kasih pun itu harapan. Tanpa pamrih. Terus, apakah kita harus menolak, misalnya apakah kita kerja nggak mau digaji. Itu sangat berbeda. Ketika kita bekerja, konsep Bhagavad Gita ini tidak laku di sana. Jadi kalau saya mengabdi di perusahaan itu, bagaimana mengabdi, kamu digaji. Jika kita menganggap persahaan itu adalah milik bersama, sipemilik pun mempunyai pemahaman yang sama. Perusahaan ini milik setiap orang. Dan biarkan saya bekerja sebaik sesuai kemampuan saya. Saya bekerja keras demi kesejaheraan bersama, maka menjadi Bhagavad Gita.

Silakan simak video youtube dalam bahasa Indonesia: Menyelami Bhagavad Gita Menuju Sukses Sejati by Swami Anand Krishna

Karma Yoga Berkarya Bukan untuk Kepentingan Pribadi

Karma Yoga atau Nishkaama Karma adalah Berkarya dengan Motif Transpersonal

Berkarya dengan Motif Transpersonal berarti tidak berkarya demi kepentingan diri saja. Berarti, berkarya demi kepentingan yang melampaui kepentingan diri – demi kepentingan sesama makhluk, bukan sesama manusia saja – demi kepentingan semesata dan bukan kepentingan dunia saja.

Inti Karma Yoga adalah melakukan setiap pekerjaan dengan semangat persembahan kepada Ia Hyang Bersemayam di dalam diri setiap makhluk…

Bagi Dr. Masters, Karma Yoga itu sudah bersifat transpersonal. Jika tidak bersifat transpersonal, maka tidak perlu menambah kata yoga. Yoga mempersatukan kita dengan semesta. Jika suatu pekerjaan atau karma tidak mempersatukan kita dengan semesta – maka cukuplah disebut karma saja. Karma biasa. Tidak pakai “yoga”.  Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2011). Karma Yoga bagi Orang Moderen, Etos Kerja Transpersonal untuk Zaman Baru. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama) #KarmaYogaIndonesia

 

Karma Yoga dan Karma Biasa

Apapun yang kita lakukan, setiap tindakan, setiap perbuatan, baik maupun tidak atau kurang baik – semuanya disebut karma. Namun, tidak setiap karma bersifat nishkaama, atau transpersonal. Sebab itu tidak setiap karma bisa disebut Karma-Yoga.

Karma-Yoga adalah tindakan-tindakan yang mengantar kita ke tingkat kesadaran tinggi – dimana setiap perbuatan menjadi persembahan sebagaimana dikatakan Dr. Masters diatas.

Karma biasa sepenuhnya bergantung pada hukum aksi-reaksi. Karma macam itu bersifat mekanis, dan dapat diprediksi, diramalkan. Kau berbuat baik padaku, maka aku pun berbuat baik padamu. Kau berbuat jahat, maka janganlah mengharapkan kebaikan dariku. Lingkaran tindakan semacam ini menjerat kita dalam hukum karma. Kita seolah berjalan di tempat, tidak ada kemajuan sama sekali. Sementara itu, Karma-Yoga tidak bersifat reaktif.

Ada yang berbuat jahat terhadap Anda, dan Anda tidak membalasnya dengan kejahatan. Anda berhenti sejenak dan merenungkan, “Apakah perbuatanku akan menyelesaikan perkara?” Kemudian, Anda memutuskan untuk tidak membalas kejahatan dengan kejahatan. Maka dengan sendirinya Anda terbebaskan dari lingkaran aksi-reaksi. Anda memutuskan mata rantai yang dapat menjerat dan membelenggu Anda. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2011). Karma Yoga bagi Orang Moderen, Etos Kerja Transpersonal untuk Zaman Baru. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama) #KarmaYogaIndonesia

Setiap perbuatan yang dilakukan dengan kesadaran akan kehadiran Allah di dalam diri sesama itulah Karma-Yoga

Setiap tindakan yang dilakukan untuk memuliakan Allah yang bersemayam di dalam diri setiap makhluk itulah Karma-Yoga.

Perbuatan-perbuatan untuk mengagungkan ego (glorification of the personal ego) bukan Karma-Yoga. Perbuatan-perbuatan seperti itu adalah tindakan biasa, karma biasa, dengan konsekuensi biasa sesuai dengan hukum alam yang berlaku. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2011). Karma Yoga bagi Orang Moderen, Etos Kerja Transpersonal untuk Zaman Baru. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama) #KarmaYogaIndonesia

 

Karma Yoga Mengubah Kesadaran Pribadi yang Sempit Menjadi Kesadaran Ilahi yang Luas

Karma-Yoga tidak hanya mengubah kesadaran-diri berlandaskan ego pribadi dengan kesadaran ilahi – tetapi mengembangkannya secara terus-menerus hingga kehadiran Allah dapat dirasakan setiap saat dan di setiap tempat. Hingga kita mencapai kesadaran kosmis…. Hingga kita menyatu denganNya…. Itulah Yoga!

Karma Yoga atau Transpersonal Way of Action adalah jalan raya yang mengantar kita ke gerbangNya… ke gerbang ilahi yang sesungguhnya berada dimana-mana. Setiap makhluk, setiap bentuk kehidupan memiliki gerbang yang sama. Setiap wujud adalah wujudNya. Menemukan gerbangNya berarti menemukan Dia di dalam diri setiap manusia, setiap wujud kehidupan.

Kiranya kesadaran inilah yang dapat merubah keadaan dunia menjadi lebih baik. Kesadaran inilah yang dapat merevolusi dunia kita. Kesadaran inilah yang dapat mengganti landasan kita bermasyarakat – dari keserakahan menjadi kebersamaan. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2011). Karma Yoga bagi Orang Moderen, Etos Kerja Transpersonal untuk Zaman Baru. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama) #KarmaYogaIndonesia

 

Karma Yoga, Working Purposely: Video Youtube by Swami Anand Krishna

Beda antara Tujuan Hidup dan Harapan/Pamrih

Dalam bahasa Sanskrit Tujuan dan Harapan/Pamrih adalah fenomena yang berbeda. Tujuan Tidak ada kaitan dengan pamrih dan harapan. Menurut para rishi, para bijak sejak ribuan tahun yang lalu, tujuan hidup adalah Ananda, Bliss, Kebahagiaan Abadi.

Tetapi, kita tidak mengharapkan Ananda, kita mengharapkan sesuatu /mempunyai pamrih bagi kepentingan ego pribadi.

Pada video ini Swami Anand Krishna membandingkan 2 video clips yang berbeda yang terjadi di luar negeri:

Pada video kedua tersebut kita dapat melihat seorang polisi, yang tidak membawa senapan dan pistol dan hanya memegang satu tongkat. Apabila ada orang yang tidak benar dia hanya memukul pakai tongkat. Polisi ini tidak terlalu tua tidak terlalu muda. Dia berdiri di tepi jalan. Dan kemudian menunggu saatnya tiba untuk menghentikan lalu lintas, membantu anjing menyeberang jalan.

 

Contoh dari Karma Yoga

Bagaimana tentang polisi tersebut? Apakah keuntungan polisi tersebut dari membantu anjing menyeberang jalan? Ia tidak memperoleh apa-apa.  Ia bahkan tidak sadar bahwa seseorang mengambil video apa yang telah dikerjakannya. Ia tidak melihat kamera. Seseorang mengambil video dari belakang. Ia tidak sadar akan sesuatu. Mungkin ia tidak punya facebook, twitter. Mungkin dia tidak pernah tahu apa yang telah direkam. Ini adalah kemanusiaan. Humanis, tidak ada orang yang melihatmu. Tidak ada orang yang memujimu, tapi kamu melakukan sesuatu yang kau pikir kau kerjakan sebagai seorang manusia.

 

Bisakah kita mengaplikasikan Karama Yoga dalam Bisnis?

Ya, kita dapat mengaplikasikan karma yoga dalam bidang bisnis. Dapat diaplikasikan, mungkin dilaksanakan, tapi kamu harus sangat kaya raya, sehingga kamu dapat melaksanakannya. Tindakan lainnya dengan menutupi keserakahan kita. Ini adalah paling tidak yang dapat kita kerjakan. Kita tutup keserakahan kita kita, dan kita tidak mengharapkan keuntungan terlalu besar. Cukup baik untuk menjalanakan ekonomi agar tetap berjalan, dengan tingkah laku yang benar. Karena keserakahan akan merusak ekonomi secara keseluruhan, membuat seseorang sangat kaya dan seseorang sangat miskin.

Silakan simak video youtube bya Swami Anand Krishna: Karma Yoga, Working Purposely

Anak Kecil Kita Kirim ke Day Care, Giliran Lansia Kita Dikirimnya ke Panti Jompo? #SpiritualIndonesia

Pendidikan bukanlah tujuan, Tujuan akhir Pendidikan adalah Karakter

Yang terbaik dalam diri anak-anak adalah kemanusiaan mereka. Ya, kita harus senantiasa ingat bahwa yang terbaik dalam diri anak, yang terbaik dari seorang anak manusia – dari dalam diri setiap orang — adalah kemanusiaan kita. Apakah kita menghargainya, apakah kita menaruh sikap hormat pada baju manusia yang kita pakai; atau kenyataannya justru meremehkan dan melecehkannya?

Jangan salah paham, saya tidak mengatakan mendidik seorang anak, seorang siswa di bidang sains dan seni tidaklah penting, tidak sama sekali. Kemampuan di bidang itu juga dibutuhkan, tapi jangan sampai kita lupa, bahwa jika seorang anak tumbuh menjadi seorang dokter, pengacara, insinyur, politisi, sebagai anggota parlemen — apa pun itu — tanpa kemanusiaan, tanpa rasa yang mendalam, rasa hormat mendalam bagi nilai-nilai kemanusiaan, bagi hak, dan bagi martabat kemanusiaan — maka ia hanya akan menjadi seorang monster, yang meneror lingkungannya untuk kepentingannya sendiri. Tidak lebih.

Kiranya, jangan sampai kita salah memahami “yang terbaik” yang ada dalam diri anak hanya sebatas keahlian tertentu atau sekedar potensi saja. Yang terbaik dari dalam diri anak adalah sisi manusiawi dalam dirinya, kemanusiaan. Ini sangat, sangatlah penting — untuk diingat. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2016). Bringing the Best in the Child, Memunculkan yang Terbaik dalam Diri Anak, Kuta: Anand Krishna Global Cooperation)

Membina Keluarga

Dalam sebuah dialog interaktif di TVRI Swami Anand Krishna pernah menyampaikan:

Keluarga berasal dari dua kata Kula dan warga. Kula itu marga. Seperti di Batak ada Pangabean, Panjaitan. Nah marga ini kula yang berkaitan dengan warga saya yang barangkali agamanya sama, pekerjaannya barangkali sama. Ada satu garis keturunan. Tetapi ketika kita berbicara warga, bisa berarti warga sedesa.

Begitu kita berbicara warga maka ada interaksi dengan orang-orang yang banyak perbedaannya. Kalau kita berbicara dengan orang-orang di Indonesia mayoritas beragama Islam, Kristen, Katholik. Kita berinteraksi dengan orang-orang yang ada perbedaan. Bagaimana kita mengharmoniskan seluruh interaksi ini?

Ketika ada perkawinan barangkali satu kula masuk ke kula yang lain, dan disitu ada perbedaan. Terjadi interaksi,ada take and give. Bagaimana kita mengakomodir perbedaan, kalau itu terjadi maka akan harmonis. Di situ dibutuhkan pengertian dan penyesuaian.

Dalam basis manusia keluarga, seolah-olah manusia yang terlibat sangat terbatas. Ada Bapak, ibu, anak.  Sekarang lebih rumit sekali karena perubahan yang terjadi cepat sekali. Jaman saya tidak ada play station sehingga anak-anak harus berinteraksi sejak kecil dengan anank-anak yang status sosialnya berbeda, dan barangkali dari marga lain. Sudah terjadi interaksi sejak kecil. Dan sekarang sebatas jam sekolah dan saat mau masuk sekolah sehingga dia tidak berinteraksi lebih sering masuk kamar dan kutak-kutik dengan gadget, jadi tidak punya kesempatan melihat perbedaan sehingga penyesuaiannya tidak terjadi.

Dalam Uphanisad ada Maatrudevo bava, anggaplah ibumu sebagai Tuhan karena kita menegenal dunia ini lewat ibu. Selama 9 bulan kita berada dalam kandungannya. Dan sekarang sudah terbukti dalam medis-biologispun sudah terbukti bahwa dalam DNA kita kromosom X itu adalah perempuan, dan kita mewarisi dari ibu kita. Kromosom X yang memberi energi. Kalau kita tidak mempunyai kromosom X maka kita tidak akan bergerak. Mati kita. Dalam tradisi hindu wanita disebut shakti. nama lain dari energi.

Apakah kita masih menganggap Ibu sebagai Tuhan, karena bertambah terus mereka yang mengirimkan Ibu mereka ke Panti Jompo?

Saya kira disitu harus kembali konsep dasar keluarga besar. Sekarang ini kita mengikuti konsep barat. Dan keluarga kita semakin sempit, makin sempit apalagi di Bali jangan sampai ada apartement itu akan mengacaukan kita lagi.

Dalam memberdayakan anaknya sebagai manusia yang berguna bagi masyarakat peran orang tua sangat penting. Untuk mencapai itu apakah orang tua bisa mencontohkan jejak dan memberikan peneladanan dan keteladanan. Kalau tidak bisa ya kita tidak bisa mengharapkan apa-apa.

 

Relation and Commitment video by Swami Anand Krishna

Ini fenomena anak yang tidak komitmen terhadap kasih orangtua, mereka mengirimkan orangtua mereka ke Panti Jompo?

Ada buku bagus “Being Mortal” oleh seorang Neurosurgent yang menjadi best seller dalam beberapa waktu di Newyork Time. Disebutkan bahwa 80 % dari orang Barat, meninggal di rumah sakit, dengan kualitas hidup yang menyedihkan. Kuantitas, umur diperpanjang, tetapi tingkat kualitas hidup berkurang sangat signifikan di rumah sakit. Ini adalah fenomena di Barat sampai beberapa tahun yang lalu. Sekarang Asia mengikuti mereka. Banyak orang mati di rumah sakit dari pada di rumah dengan kualitas hidup yang sangat menyedihkan. Bagaimana mengenai perawatan kesehatan? Anda punya perawatan kesehatan terbaik, perawat terbaik, medis terbaik. Tapi apabila Anda bertanya kepada para orang tua tersebut, apakah mereka bahagia di sana? Apakah mereka tidak membutuhkan tetap bahagia sampai akhir hidup mereka? Mereka tidak bahagia!!! Fenomena ini datang ke negeri kita juga?

Sementara itu, ada banyak eksperimen, salah satunya di Belanda, Amsterdam. Yang mereka lakukan adalah mereka memberikan kepada para orang tua di panti jompo tersebut, pekerjaan untuk merawat anak kecil, kindergarten. Dan terjadi keajaiban, mereka bahagia.

Ada keindahan di sana, akan tetapi juga ada tragedi?

Misalkan saya mempunyai orang tua dan menempatkan mereka ke Panti Kompo. Dan, saya serta istri saya bekerja, mempunyai 2 anak. Dan 2 anak kecil ini tidak tahu bagaimana saya memeliharanya, sehingga saya menempatkan di day care, tempat penitipan anak. Kemudian kedua orangtua bekerja di tempat penitipan anak,  merawat anak saya. Tragedi?

Keluarga telah broken, dan Anda bisa membayar apa saja. Tapi hasilnya demikian. Itulah sebabnya, sebagian orang yang tidak tertarik memproduksi anak. Karena mereka paham setelah tua mereka akan dikirim anak mereka ke panti Jompo? Jadi mengapa kita harus punya anak? Tidak dibutuhkan. Konsep ini, konsep dari non commital, menimbulkan malapetaka dalam sosial kemasyarakatan kita. Dan, apa yang terjadi di Eropa apa yang terjadi di Bali?

Dan, spiritual melihat dari kehidupan secara total. Bukan hanya tentang meditasi, tidak hanya kepala di bawah kaki di atas. Bukan melihat asana yoga. Tapi melihat kehidupan yang berharga. Mempersiapkan hidup sebagai satu kesatuan, totalitas.

Kita semua hidup dimana kita apapun itu akan memoengaruhi kita. Apa pun yang terjadi di Erpa, saya akan terpengaruh? Kita semua terpengaruh, karena kita semua satu keluarga.

Kita semua nampaknya mempunyai perbedaan. Saya kelihatan coklat, kau kelihatan kekuningan atau yang lain lebih putih. Hidung dan mata saya berbdeda, tapi dalam level soul, Jiwa kita satu. Tapi perbedaan yang nampak ada, adalah bagaimana membawa mereka bersama. Ini adalah di mana spiritual hadir. Ini adalah dimana yoga hadir. Meditasi hadir. Melihat hidup sebagai satu unit keseluruhan.

Silakan simak video youtube: Relation and Commitment by Swami Anand Krishna

Meninggal dengan Irama Beraduh-Aduh atau Puji Syukur?

Pertanyaan apakah “Tujuan Hidup?” muncul dari pikiran orang-orang yang telah mencoba segalanya tetapi tidak puas. Bila orang masih berjuang untuk hidup, mencari makanan dan minuman. Berkeinginan rumah baik, kendaraan bagus dan seterusnya, mereka tidak akan mempunyai pikiran demikian?

Saat mengeluarkan kendaraan dari Garasi Rahim Ibu, kita sudah tahu tujuan kita, yaitu Pertemuan Agung dengan Sang Kekasih. Tapi setelah itu kita lupa. Nah, penyakit lupa inilah yang perlu diobati. Gita adalah obat itu. Gita mengingatkan kita akan tujuan hidup kita. Itu saja. Dikutip dari Penjelasan Bhagavad Gita 10:10

Berikut adalah kutipan-kutipan penjelasan Tujuan Hidup dari Bhagavad Gita dan garis besar penjelasan Swami Anand Krishna dalam video youtube: Do You Know Life Purpose?

 

Madhu mewakili kenikmatan yang kita peroleh dari dunia benda, dari indra

Madhusūdana, Penakluk Raksasa Madhu. Memahami setiap peran Kṛṣṇa adalah penting. Sebab, Kṛṣṇa mewakili solusi, jawaban atas segala persoalan dan tantangan hidup yang dihadapi Arjuna. Dan, Arjuna mewakili diri kita – diri Anda dan diri saya.

Madhu berarti “Madu”. Bayangkan seorang raksasa bernama Madhu. Madhu, madu adalah sesuatu yang menyenangkan, nikmat, manis – sulit bagi manusia untuk menaklukkan sesuatu yang nikmat. Mudah membebaskan diri dari keadaan yang tidak menyenangkan. Tapi, membebaskan diri dari keadaan yang menyenangkan! Coba Anda pikirkan.

Madhu mewakili kenikmatan yang kita peroleh dari dunia benda, dari indra. Terbawa oleh suatu kenikmatan yang mereka tawarkan – kita sering kali lupa akan tujuan hidup kita. Menaklukkan Madhu berarti melampaui kenikmatan sesaat demi tujuan yang lebih tinggi. Madhusudana adalah seruan bagi Arjuna untuk mengingat tujuan hidup yang jauh lebih tinggi dari kenikmatan-kenikmatan sesaat yang bersifat rendahan. Penjelasan Bhagavad Gita 2:1 dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia via #BhagavadGitaIndonesia

Anak dan pekerjaan duniawi hanyalah sarana bukan tujuan

Anak, pekerjaan-pekerjaan duniawi, yang sesungguhnya hanyalah sarana untuk meraih kesadaran diri, kita jadikan tujuan. Sementara itu, tujuan hidup sendiri terlupakan – sedemikian bingungnya diri kita saat ini. Jangan lupa tujuan – penemuan jati diri, hidup berkesadaran 24/7 dalam kasih, saling sayang-menyayangi, saling menghormati, saling peduli – tanpa keterikatan. Penjelasan Bhagavad Gita 2:72 dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia via #BhagavadGitaIndonesia

 

Biasakan Berbagi Berkah

Nikmati segala kenyamanan, namun dengan penuh kesadaran bahwa kenyamanan yang Anda peroleh dari harta benda dan keuasaan tidak sama dengan kebahagiaan. Maka, berjuanglah pula untuk meraih kebahagiaan sejati dengan cara “mengenal diri”—mengenal Hakikat Diri, Hakikat Jiwa, hubungan Jiwa dengan Jiwa-Jiwa lain, hubungan Jiwa-Jiwa dengan sang Jiwa Agung.

Kembangkan sifat panembahan, belajarlah, biasakanlah diri untuk berbagi berkah. Inilah jalan menuju kebahagiaan sejati. Jangan menjadi bodoh, jangan terbawa oleh Maya! Lewati Maya, gunakan Maya untuk menembusnya, gunakan harta-benda dan kekuasaan untuk berbagi berkah! Di balik tirai Maya adalah Mayapati—the Lord of Maya—Sang Jiwa Agung. Penjelasan Bhagavad Gita 7:15 dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia via #BhagavadGitaIndonesia

 

Hidup Berkesadaran

Perjalanan batin adalah hidup berkesadaran, yang tidak mementingkan kepentingan diri, keluarga maupun kelompok tertentu. Tapi, memperhatikan kepentingan tetangga, masyarakat, sesama warga dunia, yang dengan sendirinya kepentingan diri ikut terurusi. Itu saja. Jadi, tidak ada alasan bagi kita untuk menunda peralihan kesadaran seperti itu, tentunya jika kita ingin meraih kebahagiaan sejati, yang disebut tujuan hidup tertinggi oleh Krsna.

Jika sekadar mau senang-senang, hepi-hepi saja, ya, silakan mengejar kenikmatan indra saja. Buatlah indra-indra makin gemuk, hingga berjalan dan bernapas pun menj adi susah. Dan, saat ajal tiba, ‘aduh-aduh’ — bahkan sebelumnya, saat mulai menua pun, aduh-aduh sudah menjadi satu-satunya irama hidup kita, mantra kita.

Irama Aduh atau Irama Puji Syukur – pilihan di tangan kita. Untuk Irama Aduh, kita tidak perlu berbuat apa pun. Di tengah segala harta-benda yang kita miliki, di tengah segala kenikmatan dan kenyamanan yang kita miliki – saat ini pun sudah terdengar. Sesungguhnya satu-satunya irama yang mengiringi hidup kita saat ini adalah Irama Aduh. So, kencangkan tali pinggang, rileks, biarlah pesawat hidup menuju Segi Tiga Bermuda untuk diisap dan dilempar kembali – mati-lahir, mati-Iahir!

Tapi, jika kita ingin mengubah Irama Hidup kita menjadi lrama Puji-Syukur, maka kita mesti menerima undangan Krsna. Pesawat jet-Nya siap mengantar kita ke Alam Ilahi nan indah yang tak pernah terbayangkan sebelumnya. Penjelasan Bhagavad Gita 9:33 dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia via #BhagavadGitaIndonesia

 

 

Do You Know Your Life Purpose? – by Swami Anand Krishna

Pertanyaan apakah “Tujuan Hidup?” muncul dari pikiran orang-orang yang telah mencoba segalanya tetapi tidak puas. Bila orang masih berjuang untuk hidup, makanan dan minuman. Berkeinginan rumah baik, kendaraan bagus dan seterusnya, mereka tidak akan mempunyai pikiran demikian?

Seharusnya orang kaya yang banyak mengalami pasang dan surut akan berpikir tentang “Tujuan Hidup” tersebut? Tapi, jika orang kaya sejak lahir, hanya punya satu pengalaman hidup semacam. Tidak akan memiliki pikiran demikian juga, karena semuanya berjalan lancar. Pikiran seperti ini muncul saat terjadi hambatan, masalah, keruwetan?

Orang yang memiliki masalah besar dalam kehidupan memiliki kesempatan untuk memunculkan pertanyaan tersebut? Ya, kemungkinan muncul pasti lebih besar.

Tapi mind research, penilitian mind, bisa membuat kita kembali kepada pola kebiasaan yang lama.

Saya tidak puas dengan pasangan saya, ini kenyataan, apakah saya harus mengulanginya? Hanya kalau dia mengejar pertanyaan mengapa saya harus mengulanginya? Maka pertanyaan tersebut muncul. Pada waktu kamu mengejar pertanyaan tersebut dia naik ke next level, tingkat yang lebih tinggi.

Tetapi apabila kamu tidak mengejar pertanyaan dan mengikuti mind mari kita coba kesempatan kedua. Siapa tahu kesempatan kedua lebih baik, maka kamu akan mencari partner kedua siapa tahu lebih baik. Maka kita mengulangi lagi hal yang hampir sama. Ritualistik……

Kita itu ritualistik. Terbiasa mengulangi. Kita menyukai ritual. Kita menyukai pola lama yang sama. Karena sudah familiar kita tidak mau mencoba sesutu baru yang tidak diketahui. Itulah sebabnya orang mereka tak mau berpikir apa tujuan hidupnya. Mereka bahkan tak tahu bahwa hal demikian ada.

Tidakkah lucu? Kita berbuat salah tapi karena kita senang ritual lama, kita mengulangi dan tidak mau mencoba hal yang baru? Karena mind kita di-hacked, otak kita di-hacked. Seperti kita diberi peringatan pada bungkus rokok. Mereka membacanya tetapi mereka tetap merokok.

Kita adiktif terhadap pola tertentu. Apakah itu rokok, obat-obatan atau suatu pengalaman. Apabila kamu adiktif terhadap sesuatu, maka kamu tidak dapat meningkat ke next level, level berikutnya. Krishna selalu mengulangi dalam Bhagavad Gita, suka dan tidak suka. Kedua-duanya dapat menghentikan evolusimu. Apabila kamu menyenangi pengalamanmu. Kamu ingin mengulanginya. Kalau kamu tidak myukainya, kamu akan berupaya menghindarinya. Artinya kamu mengikuti pola yang sama. Kelihatannya melakukan hal berbeda tetap sebetulnya sama?

Menurut pengalaman saya bukan menemukan apa tujuan hidupmu? Tapi apa yang membuat hidupmu bertujuan atau terarah?

Silakan simak video Youtube: Do You Know Life Purpose by Swami Anand Krishna

Pengaruh Musik Terhadap Kehidupan Janin dalam Kandungan

Pengaruh musik terhadap alam semesta

Getaran-getaran yang keluar dari lagu dapat mengubah dirimu dalam sekejap. Setiap sel dalam tubuh kita sedang bergetar. Getaran di dalam diri kita memahami bahasa lagu. Ia sudah pasti memberi respon, asal lagunya indah. Jangankan manusia yang otaknya sudah cukup berkembang, arak dan anggurpun memberi respon terhadap lagu. Produsen mempercepat proses fermentasi menggunakan gelombang radio. Lagu atau musik tertentu menjadi sarana yang kuat untuk mengantar kita ke alam meditasi.  Alam meditasi berarti alam di dalam diri. Dan, di alam sana yang ada hanyalah getaran. Semua organ di dalam tubuh dapat diredusir menjadi gelombang, getaran. Maka, organ-organ tubuh sangat responsif terhadap getaran. Karena itu, lewat musik kita bisa mudah memasuki alam meditasi.

Lagu atau musik tertentu menjadi sarana paling tepat untuk mengantar kita ke alam meditasi. Alam meditasi berarti alam dalam diri. Dan, di dalam sana yang ada hanyalah getaran. Semua organ di dalam tubuh dapat diredusir menjadi gelombang, getaran, maka organ-organ tubuh sangat responsif terhadap getaran. Karena itu, lewat musik kita bisa mudah memasuki alam meditasi. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2006). Kidung Agung Melagukan Cinta Bersama Raja Salomo. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Manfaat Mendengarkan Musik Selama Hamil Bagi Perkembangan si Kecil

Sumber: http://health.detik.com/read/2014/03/24/195901/2535374/1299/

Musik bisa mengubah suasana hati seseorang tak terkecuali bagi ibu hamil. Bahkan, dikatakan dengan mendengarkan musik yang menenangkan, baik pikiran bayi atau si ibu akan merasa damai.

Manfaat mendengarkan musik saat ibu sedang mengandung:

  1. Meningkatkan kemampuan mendengar anak. Saat mendengar musik yang “ditransfer” ibu, bayi bisa merasakan suara dan bereaksi terhadap suara tersebut.
  2. Meningkatkan respons gerak bayi. Bayi memang senang bereaksi dan bergerak terhadap beberapa suara. Dengan rutin mendengarkan berbagai jenis musik, bayi bisa memiliki aneka gerakan yang ia laukan sebagai bentuk respons mendengarnya.
  3. Membantu membentuk kepribadian. Rutin mendengar musik ‘melo’ maka anak akan terbiasa untuk tenang dan kalem. Sebaliknya, jika Anda gemar mendengarkan musik berirama cepat, bayi cenderung lebih ceria dan lebih aktif.
  4. Membantu bayi tertidur setelah ia lahir. Jika terbiasa mendengar musik yang lembut saat di kandungan, ketika lahir dan diputarkan musik lembut akan membuat bayi lebih mudah terlelap karena ia teringat dengan masa-masa di kandungan.

 

Musik dapat menangani berbagai masalah

Musik bisa menjadi obat bagi tubuh dan jiwa. Musik dapat mempengaruhi suasana hati, fisik dan spiritual, juga dapat menangani berbagai masalah, dari nyeri kronis, hipertensi, kecemasan sampai penyakit-penyakit mental.

Menyanyi secara medis dapat menjadi terapi bagi orang-orang yang depresi. Pada saat menyanyi, suara akan menggetarkan tengkorak kita, sehingga otak seakan-akan dipijat dan melepaskan hormon serotonin yang merupakan anti depresan alami didalam tubuh kita. Sebab itu setelah menyanyi kita merasa enak, lega dan rileks. Musik dapat mempengaruhi denyut nadi, tekanan darah dan pernapasan. Misalnya lagu yang temponya agak pelan denyut jantung dan pernapasan akan menyesuaikan dengan tempo musik tersebut. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2005). Self Empowerment, Seni Memberdaya Diri Bagi Para Pendidik Dan Pemimpin, Mengajar Tanpa Dihajar Stress, Berkarja Tanpa Beban Stress. One Earth Media)

 

Alam semesta itu bergetar dengan berirama

Segala sesuatu dalam alam ini sedang bergetar, sedang menari. Rasakan tiupan angin, dengarkan suara air, perhatikan kibaran api semuanya berirama, bergetar, sedang menari. Dan tarian semesta ini begitu indah, begitu harmonis! Molekul-molekul dalam atom pun sedang menari, sedang bergetar. Tidak ada sesuatu apa pun yang statis. Tarian mampu mempersatukan Anda dengan Semesta. Jadilah gelombang yang sedang menari dalam lautan kehidupan. Jangan berpisah dari lautan kehidupan. Sadarilah kesatuan dan persatuan Anda dengan lautan kehidupan. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2002). Semedi 2, Meditasi untuk Peningkatan Kesadaran. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

Musik mempengaruhi watak manusia

Jenis musik yang kita sukai bisa menjelaskan sifat kita, karakter kita, watak kita. Sitar, vina, harpa dan biola masuk dalam satu kategori. Alat-alat itu bisa mendatarkan gelombang otak, dan menenangkan diri manusia. Para penggemar musik sitar, tak akan pernah mengangkat senapan untuk membunuh orang. Musik gendang, drum dan alat-alat lain sejenis bisa membangkitkan semangat. Bagus, bila diimbangi dengan sitar dan alat sejenis. Bila tidak, akan membangkitkan nafsu dan gairah yang berlebihan. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2001). Narada Bhakti Sutra, Menggapai Cinta Tak Bersyarat dan Tak Terbatas. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Irama Kehidupan: Video Youtube Bersama Swami Anand Krishna

Ma Archana sedang bertanya kepada Swami Anand Krishna mengenai: video yang berisi tentang seorang ibu-ibu hamil, 8 bulan tapi kena stroke, sehingga terjadi brain death, bahkan otaknya sudah mati tidak berfungsi. Diperkirakan bahwa bayi dalam kandungannya pasti mati. Ternyata ada janin kembar, yang walau ibunya mengalami brain death, janin nya tetap hidup. Ternyata para dokter bisa mempertahankan bayi kembar di dalam kandungan ini. Pada hal ibunya sudah meninggal. Para dokter semua sepakat untuk menggantikan kasih sayang ibu dengan musik, tiap hari dokter dokter pada main musik. Apakah itu bisa menggantikan kasih sayang. Nah fenomena-fenomena ini yang dibahas oleh Swami Anand Krishna.

AK: Dalam klip itu ada 2 hal penting:

Pertama, sang ibu meninggal, brain death tapi badan masih ada. Dan masih ada energi. Sehingga lewat energi itu. Anak itu juga mendapatkan nutrisi. Pasti makanan dan segalanya didapatkan bayi. Jadi ada satu sistem dalam seseorang yang berlanjut terus walaupun sudah brain death. Dan ini yang terjadi juga misalnya kalau orang sudah meninggal dan dia badannya ditaruh untuk berapa lama. Sebetulnya energinya masih ada.

Arc: sampai berapa lama energi itu masih berlangsung?

AK: Wow. Bisa sampai 500 tahun, sampai badan itu punah. Tergantung bagaimana menggunakan energi itu. Dalam kasus ini, energi ini diberikan support system lagi. Tentu ada support system medis yang untuk mempertahankan energi itu sampai pada tingkat tertentu. Kalau tidak ada support system, maka dalam 500 tahun itu energi akan berkurang sedikit demi sedikit, sampai badan itu punah. Misalnya kalau orang itu ditanam di kubur. Kalau badan sudah punah energi akan kambali ke asal. Badan itu sudah tidak memeiliki energi lagi.

Dalam fenomena video clip itu, mereka menggunakan energi dari badan ini, jadi badan ini jangan dianggap sebagai kasih sayang keibuan. Ini adalah masalah teknis murni. Seandainya anak ini lahir dalam bulan ke 7 dia juga akan dimasukkan ke dalam inkubator. Itu kan juga artificial. Badan ini kelihatannya organik. Tapi dalam kondisi ini badan ini menjadi semacam inkubator.

Sebagai pembangkit listrik seperti di Afrika dan tempat lain, tidakmenggunakan life support pun jasad ini bisa digunakan untuk zombie? Dan itu fakta, karena badan ini kalau dia masih punya sdikit energi? Siapa pun yang bisa mengerti soal teknik ini, dia bsa menggunakan energi tambahan dari dirinya, untuk menggerakkan badan ini? Jadi voodoo dan segalanya itu bisa terjadi?

Ada ucapan indah dalam Bhagavad Gita: Krishna mengatakan di antara, semua sciences. Di antara semua arts. Tuhan adalah musik. Kau dapat melihat pernyataan ini? Di antara kalau kita itu menganggap Tuhan itu maha tahu, maha seni, maha apa maha apa, Krishna mengatakan ya semua itu oke, tapi di antara segala-galanya, puncak dari semua pengetahuan, puncak dari semua seni adalah musik. Samaveda. Dan semua alam semesta ini adalah musik.

Kita harus menciptakan agar hidup kita lebih berirama. Jadi kembali ke fenomena kedua anak kembar ini, mereka bertahan dan lahir sebagai bayi yang sehat. Berkat rasa kasih dari rasa kemanusiaan dari dokter. Dan juga musiknya memainkan peranan yang penting?

Dan saya yakin bahwa, termasuk jasad sang ibu ini, yang bisa bertahan berbulan-bulan. Jasad bisa bertahan dalam kondisi demikian, bukan karena semata mata karena ventilator atau life support. Musik tersebut juga mempengaruhi. Musik yang dimainkan oleh para dokter, punya dampak yang sangat sangat penting bagi, jasad itu sendiri. Untuk bertahan.

Musik itu sudah ada dalam diri kita. Bagaimana mengekspresikannya keluar? Jadi selama ini kita menekan musik itu. Dengan pikiran kita dengan prosa, konflik batin? Bagaimana kita memberikan channel agar musik itu keluar. Kita butuh pemicu dari luar. Musik dari luar itu sesungguhnya hanyalah pemicu, begitu dalam diri kita terpicu, akan keluar.

Kalau kita mau perang pemicunya harus marching band yang keras. Kalau kita mau tenang pemicunya adalah sitar gitar harpa.

 

Silakan simak video youtube: Irama Kehidupan bersama Swami Anand Krishna

Sebagian Wilayah Kota Besar Tidak Kondusif bagi Peningkatan Kesadaran? #SpiritualIndonesia

Energi Kota-Kota Besar Tidak Kondusif bagi Pengembangan Spiritual?

Di Singapura dan beberapa kota besar di Thailand, satu dari setiap sepuluh orang yang Anda temui di jalan adalah penderita sakit jiwa—dari ringan hingga berat, yang semestinya sudah dirawat di rumah sakit. Keadaan itu bertambah buruk.

Saya pernah berdiskusi dengan seorang psikiater yang amat sangat terkenal, berdasarkan pengalamannya sendiri, ia menjelaskan: “Di kota-kota besar kita, seperti Jakarta, Surabaya, Medan, dan sebagainya, jumlah penderita sakit jiwa sudah mencapai empat orang di antara sepuluh. Itu pun hitungan yang sangat konservatif. Banyak di antara mereka, bahkan tidak tahu jika sudah termasuk golongan penderita kejiwaan tingkat ringan yang, sewaktu-waktu, bisa berubah tingkat.”

Dengan Sedikit Pemicu dari Luar—misaInya, suatu pengalaman yang terjadi secara tiba-tiba dan di luar dugaan—seseorang bisa kehilangan keseimbangan diri dalam sekejap. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2016). Soul Awareness, Menyingkap Rahasia Roh dan Reinkarnasi, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

Defisiensi energi karena tinggal di kota besar

Defisiensi atau kekurangan energi juga membuat kita takut dengan tempat-tempat yang sempit. Kita tidak bisa tinggal dalam apartemen yang sempit dan kecil. Dinding-dinding apartemen terasa mencekik. Banyak orang-orang yang tinggal di kota-kota besar mengalami defisiensi energi, dan defisiensi itu sedemikian parahnya sehingga tidak terdeteksi sama sekali. Kemudian mereka mencari penyelesaian lewat tarik-menarik energi.

Solusi mengatasi defisiensi energi kota besar

Tembok-tembok, dinding-dinding dalam apartemen itu tidak memenjarakan mereka. Adalah emosi mereka sendiri yang memenjarakan mereka – emosi yang mengakibatkan depresi, stres dan merampas keberanian mereka, semangat mereka, rasa percaya diri mereka. Praanayaama atau latihan-latihan pernapasan dari tradisi Yoga adalah solusi yang paling efektif dan cepat. Namun latihan-latihan tersebut perlu dilakukan secara terartur setiap hari, walau untuk 10 menit saja. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2007). Fear Management, Mengelola Ketakutan, Memacu Evolusi Diri. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Pranayama atau Pengaturan Energi Kehidupan Lewat Napas, Solusi bagi Peningkatan Kesadaran

Tujuannya sama, yaitu melenyapkan segala kakacauan dari citta, dari benih-benih perasaan dan pikiran. Mengatasi segala halangan dalam penjernihan citta—itulah tujuannya. Tujuan ini, hendaknya, tidak pernah terlupakan.

Pranayama bukanlah sekadar latihan pernapasan untuk mengatasi berbagai penyakit dari flu biasa hingga kankerganas. Bukan, bukan hanya untuk menenangkan diri ataumengatasi emosi. Panayama adalah Pengaturan Energi Kehidupan atau Prana lewat berbagai latihan pernapasan. Satu di antaranya yang paling populer dan merupakan dasar, fondasi bagi latihan-latihan lainnya dijelaskan dalam sutra ini.

Dengan mengatur pembuangan napas, kemudian pause berhenti sebentar (sesaat), dan membiarkan penarikan napas terjadi lagi, lalu berhenti sejenak (sesaat saja), buang lagi, berarti kita tidak hanya mengatur napas, tapi mengatur prana, energi kehidupan—supaya CO2 berupa Api-Berahi atau Kamagni tidak berlebihan. Inilah tujuannya.

Sehingga Patanjali pun, dengan penuh keyakinan, mengatakan, “Jika belum bisa menumbuhkembangkan Kasih, Persahabatan, Keceriaan, dan sebagainya, maka lakukan pengolahan prana lewat pengaturan napas.”

Patanjali adalah Saintis Jiwa, the Soul-Scientist, the Scientist of the Soul. Bukan Ahli Jiwa dalam pengertian Psikolog atau Psikiater. Para psikolog dan psikiater yang belum mendalami, belum mengambil spesialisasi “Transpersonal” untuk melepas manah atau gugusan pikiran dan perasaan, ego, dan sebagainya, masih berkutat dengan lapisan-lapisan kesadaran yang justru terkendali oleh manah dan ego, oleh nafsu, oleh berahi. Hanya segelintir—yang telah mendalami Transpersonal Psychology—yang memasuki wilayah Jiwa atau Soul.

Begitu kita melampaui “personal” atau Pribadi—pikiran pribadi, perasaan pribadi, ego pribadi, keinginan dan obsesi pribadi, singkatnya segala pengalaman dan segala sesuatu yang bersifat pribadi atau personal—barulah kita memasuki Wilayah Jiwa atau Soul, yang individualitasnya, personalnya justru merupakan ilusi. Soul atau Jiwa lndividu hanyalah sebuah sebutan, seperti ombak, seperti sinar matahari. Padahal, sesungguhnya ombak tidak terpisahkan dari lautan. Sinar tidak terpisahkan dari matahari. Individual Soul atau Jivatma tidak terpisahkan dari Supreme Soul, Supreme Being, atau Paramatma, Sang Jiwa Agung.

Saat terjadi pause atau “penghentian napas sesaat” setelah pembuangan atau pengembusan napas itulah, individualitas terlepaskan, mind dan ego terlepas, dan Jiwa menyatu dengan Sang Jiwa Agung. Untuk itu, ada latihan Anuloma Viloma atau Alternate Nostril Breathing yang merupakan penjabaran dari apa yang disarankan oleh Patanjali dalam sutra ini. Latihan ini, bersama dengan latihan-latihan penunjang lainnya diberikan di bagian akhir ulasan kita. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2015). Yoga Sutra Patanjali Bagi Orang Modern, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Conducive Place For Spiritual Practices

Gravitasi itu tidak uniform di mana mana? Ada tempat tempat dimana tarikan gravity kurang, ada tempat dimana tarikan gravity lebih? Sesuatu yang scientific ini sangat dipahami dalam yoga, sehingga kita harus hati-hati?

20 tahun yang lalu, Swami Anand Krishna pernah bicara dengan teman di Jakarta, bahwa sebagian tempat di jakarta, energi tidak cukup positif, kondusif untuk membantu kita dalam pengembangan spiritual kita?

Sebagian Bali pun sekarang sudah menjadi demikian? Kalau kamu hanya ingin membuat uang dan sosialisasi kemudian kamu dapat hidup di mana saja? Sebagian kota Denpasar tidak kondusif bagi pegembangan spiritual? Sebagian tempat di ubud juga demikian dan sekarang kondusivitasnya bisa diukur?

Shiva menjadi ikon quantum mechanics? Ketika shiva menari, dimana ada bayangannya menjadi gelap dan ada tempat yang terang? Shiva Nataraja, Master Penari? Shiva dipahami sebagai Dewa Perusak, sebenarnya bukan perusak tapi pendaur ulang? Simbolnya adalah lingga dan yoni? Simbol kreativitas? Shiva sebagai pendaur ulang, Dia tidak merusak tanpa tujuan? Mendaur ulang yang lama dan membawa yang baru?

Salah satu aspek Shiva adalah Rudra, kemarahan. Kemarahan itu diperlukan karena hanya dengan kemarahan itu perusakan dilaksanakan, yang lama harus mati harus dihancurkan? Mind kamu baik atau jelek. Saat kamu menjadi buddha mind mu harus mati? Mind harus reinkarnasi menjadi buddhi, Kesadaran inteligensia?

Ketika energi menari, sebagian dari energi gelap dan sebagian terang? Kita harus hati-hati saat tinggal di suatu kota? Menurut science hanya 3% dari alam semesta yang kondusif bagi pengembangan spiritual? 97% adalah dark material? Dark tidak membantu kamu?

 

Cahaya Terang seorang Master

Awalnya kita harus dekat dengan terang, setelah menjadi master kemudian ke manapun pergi adalah cahaya terang? Tetapi sebelum hal itu terjadi, kita harus waspada tidak masuk daerah gelap? Masuk ke dalam daerah hitam seperti masuk ke black hole langsung hilang? Awalnya kita harus pergi ke tempat yang terang?

 

Sadhana Spiritual

Semua sadhana, semua latihan spiritual sangat penting? Sebagai awal? Yoga dilakukan untuk mengembangkan kesadaran?