Pengaruh Jiwa dan Materi dalam Diri Kita #BhagavadGita

Dalam diri kita ada benih dari Jiwa Agung yang berada dalam tubuh yang berasal Alam Benda. Tubuh kita adalah medan laga atau ruang kerja bagi Jiwa. Persoalannya adalah ketika benih ini bertunas, berkembang, dan menjadi “sesuatu” — maka, apakah sesuatu itu mengidentifikasikan dirinya dengan Alam Kebendaan, Rahim yang melahirkannya, yakni Materi, atau dengan benih Jiwa Agung atau Spirit, Roh? Peran alam kebendaan dan benih Jiwa — dua-duanya sama pentingnya. Tidak ada keraguan atau dua pendapat dalam hal itu. Persoalannya bukanlah mana yang lebih penting. Dua-duanya penting. Persoalannya adalah identifikasi apa yang dapat membahagiakan kita, dengan alam atau dengan Jiwa?

Berikut penjelasan tentang hal tersebut dalam buku Bhagavad Gita dan Yoga Sutra Patanjali:

Buku Bhagavad Gita

Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu; Saha vīryam karavāvahai; Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga Hyang Tunggal senantiasa melindungi kita; menjernihkan pikiran kita: semoga kita dapat berkarya bersama dengan penuh semangat; semoga apa yang kita pelajari mencerahkan dan tidak menyebabkan permusuhan; Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

Dalam buku Yoga Sutra Patanjali I.4 disampaikan penjelasan:

Ketika benih belum membuahi indung telur, ia tetaplah benih. Saat itu Ia tetaplah Purusa, Cahaya Matahari yang Tak Terpisahkan dari Matahari dan menerangi Alam Kebendaan, atau Semesta sebagaimana kita mengenalnya; sebagaimana kita mengartikan istilah “semesta”.

Nah, “di luar saat itu”, ketika benih sudah memasuki indung telur; ketika benih bersama indung telur sudah dalam proses membentuk janin, maka Sang Purusa, Sang Saksi dalam salah satu Wujud-Nya sebagai Jiwa Individu mulai mengidentifikasikan dirinya dengan janin. Kelak, ia pun akan mengidentifikasikan dirinya dengan setiap pembelahan yang terjadi pada janin.

Dari Sudut Pandang yang Beda, ketika riak atau “benih-ketertarikan” kita pada sesuatu—entah seseorang atau salah satu benda di Alam Benda ini—tidak berlanjut, tidak berbuah, tidak “bertunas”, maka tidak terjadi apa-apa.

Tetapi, ketika “benih-ketertarikan” itu bertunas, maka timbullah keterikatan pada “tunas” dan perubahan-perubahan lain yang terus terjadi pada tunas tersebut. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2015). Yoga Sutra Patanjali Bagi Orang Modern, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

Dalam penjelasan Bhagavad Gita 14:4 disampaikan:

Sifat utama Sang Jiwa Agung adalah sebagai Saksi, sebagai Hyang sedang menikmati pertunjukan dan tidak terpengaruh oleh adegan mana pun. Inilah potensi Jiwa-Individu, potensi diri kita semua, yang masih mesti dikembangkan, jika kita ingin menikmati pertunjukan dunia.

Adanya Pandava dan Kaurava dl antara kita – sebagaimana telah, dan masih akan dijelaskan secara panjang lebar, adalah karena ketertarikan indra kita dengan sifat-sifat kebendaan tertentu. Benih Jiwa Agung tidak dapat disalahkan untuk itu. Adalah ketertarikan indra dan keterikatannya yang mesti diurusi.

Berikut penjelasan Bhagavad Gita 14:3 tentang pengaruh Jiwa dan Materi dalam diri kita:

 

“Wahai, Bharata (Arjuna, keturunan Raja Bharat), Alam adalah Maha Brahma, Rahim Agung dimana Ku-letakkan Benih Kehidupan. Demikian, pertemuan antara Alam Benda dan Jiwa mewujudkan segala sesuatu.” Bhagavad Gita 14:3

 

Alam Semesta, Medan Laga atau Ksetra adalah ruang kerja bagi Sang Jiwa. Dalam ayat ini, Krsna menyebutnya Rahim Agung, tempat Sang Jiwa Agung meletakkan benih-Nya. Supaya kita tidak salah mengerti — Prakrti, Alam Benda, Alam Raya; Ksetra, Medan-Laga; Maha Yoni atau Maha Brahma, Rahim Agung yang Melahirkan Semesta – adalah sebutan bagi Prinsip Feminin yang satu dan sama. Sementara itu,

 

PRINSIP MASKULIN ADALAH……. Purusa atau Gugusan Jiwa; Paramatma atau Sang Jiwa Agung; Ksetrajna, Yang Mengenal dan Menguasai Medan-laga. Benih, yang dimaksud dalam ayat ini adalah Gugusan Jiwa atau Purusa; yang terdiri dari Jiwa-Jiwa Individu atau Jivatma. Jadi, sesungguhnya Jiviatma atau Jiwa Individu tidak terpisah dari Purusa atau Gugusan Jiwa; dan Purusa atau Gugusan Jiwa pun tidak terpisah dari Paramatma atau Jiwa Agung. Sebagaimana Cahaya Matahari di dalam ruang kerja kita, rumah kita, tidak terpisah dari Sinar Matahari, dan Sinar Matahari tidak terpisah dari Matahari.

Pertemuan antara Prakrti Alam Kebendaan dan benih Jiwa Agung atau Purusa itulah yang “menyebabkan” terjadinya alam sernesta.

 

TANTANGANNYA IALAH ketika benih ini bertunas, berkembang, dan menjadi “sesuatu” — maka, apakah sesuatu itu mengidentifikasikan dirinya dengan Alam Kebendaan, Rahim yang melahirkannya, yakni Materi, atau dengan benih Jiwa Agung atau Spirit, Roh? Peran alam kebendaan dan benih Jiwa — dua-duanya sama pentingnya. Tidak ada keraguan atau dua pendapat dalam hal itu. Persoalannya bukanlah mana yang lebih penting. Dua-duanya penting.

Persoalannya adalah identifikasi apa yang dapat membahagiakan kita, dengan alam atau dengan Jiwa? Dan jawabannya jelas adalah identifikasi dengan Jiwa. Karena Jiwa tidak hanya bersifat abadi, tetapi juga tidak pernah berubah. Sehingga dapat menghasilkan kebahagiaan yang langgeng.

Sementara, Alam Benda berubah terus. Jika kita fokus pada perubahan-perubahan yang terjadi, maka emosi kita, pikiran kita — semuanya ikut mengalami perubahan-perubahan yang kadang mernbuat kita bahagia, kadang larut dalam lautan kesedihan dan kepedihan.

 

Berikut penjelasan Bhagavad Gita 14:5 untuk menghadapi pengaruh Jiwa dan Materi dalam diri:

Bukan saja sifat Agresif (Rajas) dan Malas (Tamas), tetapi sifat Tenang (Sattva) pun mengikat Jiwa dengan badan. Berarti, seluruh sifat, segala sesuatu yang berasal dari alam kebendaan memiliki kemampuan untuk mengikat Jiwa.

Jiwa tidak pernah punah – ia kekal abadi adanya. Namun, karena keterikatannya dengan badan, indra, dan alam kebendaan, ia “merasakan” pengalaman kelahiran, kematian, dan perubahan-perubahan lainnya.

Alam benda tidak bisa mengikat Jiwa, kecuali ia “bersedia” untuk diikat. Berarti, keterikatan Jiwa dengan alam benda tidak bisa terjadi kecuali seizin Jiwa itu sendiri.

………………..

Ketiga sifat ini kita miliki – kita semua memilikinya. Adalah penting bahwa kita memahami ketiga-tiganya, dan memanfaatkannya dalam keseharian hidup kita. Namun tidak terikat dengan satu sifat di antaranya – dan senantiasa menyadari hakikat kita sebabagi Jiwa yang bebas, merdeka.

Dikutip dari buku: (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

 

Om, Sarve bhavantu sukhinaḥ; Sarve santu nirāmayāḥ; Sarve bhadrāṇi paśyantu; Mā kashchit duḥkha bhāgbhavet; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga semua makmur, bahagia dan bebas dari penyakit. Semoga semua mengalami peningkatan kesadaran, dan bebas dari penderitaan. Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/

 

Memuja Dewa Agar Segera Memperoleh Apa Yang Diinginkan #BhagavadGita

“Seperti apa pun bentuk kepercayaannya seorang panembah (walau, ia sedang mengejar kenikmatan duniawi dan memuja para dewa atau kekuatan-kekuatan alam) – jika ia teguh dalam keyakinannya, maka Ku-kukuhkan keyakinannya itu.” Bhagavad Gita 7:21 dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

Berikut penjelasan Bhagavad Gita 4:12 tentang mereka yang menginginkan hasil cepat dari perbuatan mereka. Untuk itu mereka memuja para dewa:

Buku Bhagavad Gita

Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu; Saha vīryam karavāvahai; Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga Hyang Tunggal senantiasa melindungi kita; menjernihkan pikiran kita: semoga kita dapat berkarya bersama dengan penuh semangat; semoga apa yang kita pelajari mencerahkan dan tidak menyebabkan permusuhan; Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

“Makhluk-makhluk sedunia, yang menginginkan hasil cepat dariperbuatan mereka, umumnya memuja para dewa – kekuatan-kekuatan alam; dengan cara itu, mereka segera memperoleh apa yang mereka inginkan.” Bhagavad Gita 4:12

Banyak jalan yang ditempuh manusia. Salah satu adalah jalan yang ditempuh oleh mayoritas umum. Mereka menginginkan hasil cepat dari perbuatan mereka. Untuk itu…..

 

MEREKA MEMUJA PARA DEWA – Para Dewa adalah kekuatan-kekuatan alam. Para dewa – mereka yang berkilau — juga adalah orang-orang sukses di dunia ini.

Adalah salah bila dewa diterjernahkan sebagai Tuhan — kemudian, menyimpulkan bahwa leluhur kita politeis dan memuja banyak Tuhan. Tuhannya bukan satu……..

Anggapan keliru berdasarkan ketidaktahuan ini, tidak saja terjadi di negeri kita, tapi juga di kampung Parnan Sam. Beberapa waktu yang lalu ketika Congress di sana mengundang seorang Rohaniwan Hindu dan mempersilakan membuka sesi dengan doa dalam bahasa Sanskrit, maka beberapa kelompok fanatik di sana langsung menyerang, “Kampung kita dibangun di atas landasan monoteisme, bahwasanya Tuhan adalah Hyang Tunggal. Untuk apa mengundang seorang pendeta yang menganut Paham Politeisme, bahwa Tuhan itu banyak.”

Mereka patut dikasihani, karena tidak memahami ajaran-ajaran lain di luar ajaran dan kepercayaan mereka sendiri.

Dewa, sekali lagi, bukanlah Tuhan. Dewa adalah julukan bagi kekuatan-kekuatan alam; Energi Listrik, Energi Air, Energi Angin, dan lain sebagainya. Dan, dewa juga adalah……

 

JULUKAN BAGI ORANG—ORANG YANG SUKSES. Hingga hari ini pun, banyak anak diberi nama Dewa atau Dewi. Jika Dewa adalah Tuhan, maka jelas tidak akan digunakan sebagai nama untuk manusia.

Pasangan Dewa adalah Dewi. Jadi, masih berjender. Sayang sekali, mereka yang fanatik terhadap kepercayaannya sendiri dan menganggap seluruh kepercayaan-kepercayaan lain sebagai sampah — selalu berupaya keras untuk menampilkan kepercayaan mereka lebih superior dari kepercayaan-kepercayaan lain.

“Kami percaya sama satu Tuhan. Mereka punya banyak Tuhan. Kami percaya Tuhan tidak berwujud. Mereka percaya Tuhan berwujud dan beranak-pinak pula.” Tudingan-tudingan seperti ini hanyalah membuktikan betapa minimnya pengetahuan para penuding.

Kembali pada pemujaan para Dewa dan Dewi…..

 

JANGANKAN DEWA DAN DEWI DARI ALAM LAIN, umumnya kita semua memuja pula Dewa-Dewi yang sealam dengan kita.

Pernah menyaksikan bagaimana para pejabat menunduk dan mencium tangan seorang pejabat yang lebih tinggi? Pernah menyaksikan bagaimana para pegawai biasa “menghormati pengawasnya secara berlebihan? Itu baru pengawas, jika mereka menghadapi bos, pemilik perusahaan, adegannya sudah beda lagi.

Ini merupakan satu ekstrem.

Ada sisi lain juga, yaitu…….

 

ADAT BERSUNGKEM PADA ORANGTUA ATAU YANG DIPERTUAKAN – Adat macam ini tidak ada di belahan dunia lain. Lalu, apakah kita mesti meninggalkan adat kita untuk menyesuaikan diri dengan adat asing? Barangkali ada yang lebih suka dengan adat asing. Silakan. Tapi, jika ada yang masih mau mempertahankan adatnya sendiri, tradisinya sendiri, budayanya sendiri — ya, kita pun mesti menghormati pilihan mereka.

Apakah salah bersungkem pada orangtua atau yang dipertuakan? Apakah salah menghormati mereka dengan cara itu?

Kembali pada pemujaan Dewa…….

 

INTINYA, PARA DEWA ADA DI MANA-MANA di sekitar kita. Jika kita menginginkan hasil cepat, maka mesti menghormati mereka. Silakan menggunakan istilah menghormati jika tidak suka dengan istilah memuja.

Menghormati dan memuja para Dewa-Dewi membawa hasil cepat. Bos senang, naik pangkat, naik gaji, fasilitas ditambahkan. As simple as that, sederhana. Kiranya kita dapat memahami hal ini.

Dikutip dari buku: (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

Om, Sarve bhavantu sukhinaḥ; Sarve santu nirāmayāḥ; Sarve bhadrāṇi paśyantu; Mā kashchit duḥkha bhāgbhavet; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga semua makmur, bahagia dan bebas dari penyakit. Semoga semua mengalami peningkatan kesadaran, dan bebas dari penderitaan. Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/

 

Kita Produk Dualitas! Bagaimana Mencapai Kemanunggalan, Tauhid? #BhagavadGita

Brahma, Sang Pencipta adalah Produk Dualitas – Anda dan saya, kita semua adalah produk dualitas pula. Kita lahir, hidup berkarya, dan mati dalam kesadaran dualitas. Kemanunggalan adalah hakikat kita, ya, tapi, saat ini kita tidak manunggal lagi. Saat ini kita terpisah, atau setidaknya “merasa” berpisah dari Hyang Tunggal. Maka kita mesti mengupayakannya kembali.

Bagaimana caranya? Sang Pencipta telah memberikan clue, isyarat. Yaitu, dengan berkarya dengan semangat pesembahan. Ia mengatakan kepada makhluk-makhluk ciptaannya, kepada manusia, “Aku pun demikian. Aku pun menciptakan semua dengan semangat persembahan, dengan semangat melayani.”

Dengan cara itulah, kita baru bisa mengikis ego kita, tidak membiarkannya meraja. Idam na mama – bukan aku, bukan ego-ku, bukan indra, bukan gugusan pikiran dan perasaan, bukan intelegensia – aku adalah Jiwa, percikan Sang Jiwa Agung. Segala apa yang terjadi lewat badan, indra, dan lainnya adalah persembahan pada-Nya. Penjelasan Bhagavad Gita 3:10 dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

Berkarya bagi-Nya, berkarya untuk-Nya – berarti berkarya demi kepentingan semua makhluk yang adalah percikan-Nya. Tidak berkarya demi kepentingan diri saja.

Berarti, sebagai pengusaha, politisi, atau profesional dalam bidang apa pun – kita tidak mencari keuntungan dengan merugikan orang lai. Kejujuran dalam hal berusaha, kebijaksanaan dalam hal memimpin organisasi apa saja, termasuk pemerintahan, berempati dalam hal menjalankan profesi kita masing-masing – dengan bekerja seperti ini pun, kita dapat mencapai kesempurnaan diri – demikian janji Krsna. Penjelasan Bhagavad Gita 12:10 dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

Berikut penjelasan Bhagavad Gita 12:3-4 tentang melayani semua makhluk:

Buku Bhagavad Gita

Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu; Saha vīryam karavāvahai; Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga Hyang Tunggal senantiasa melindungi kita; menjernihkan pikiran kita: semoga kita dapat berkarya bersama dengan penuh semangat; semoga apa yang kita pelajari mencerahkan dan tidak menyebabkan permusuhan; Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

“Mereka yang telah mengendalikan diri, bersikap sama dengan setiap makhluk; dan senantiasa mengupayakan kesejahteraan bagi mereka semua dengan penuh kesadaran bahwa semuanya adalah percikan-percikan nyata dari Hyang Melampaui Segala Wujud dan Gugusan Pikiran serta Perasaan, Hyang Maha Ada, Tak Pernah Punah, Tak-Terjelaskan, Abadi, Tak-Tergoyahkan, dan Tak-Berubah – akhirnya menyatu dengan-Ku.”

 

“Dua ayat ini mesti digabung, dan ayat keempat diterjemahkan terlebih dahulu, supaya esensi, makna yang tersirat, inti dari kedua ayat ini tidak hilang.

“Intinya: Mereka yang senantiasa berkarya demi kesejahteraan sesama makhluk pun menyatu dengan-Nya. Mereka pun mengalami kemanunggalan yang sama, asal….

“Ya, di sini Krsna memberikan syarat.

“Seorang aktivis sosial bisa mengalami kemanunggalan yang sama, persis seperti yang dialami oleh oleh seorang panembah, asal ia melayani dengan semangat manembah.

“Guru saya selalu mengingatkan, ‘Yang membedakan seorang panembah dengan aktivis sosial adalah semangatnya. Seorang panembah melayani dengan semangat mengabdi kepada Ia Hyang Bersemayam sekaligus meliputi Jagad Raya. Seorang aktivis sosial melayani dengan semangat membantu sesama. Kegiatan mereka sama tapi niat dibaliknya beda. Sebab itu hasilnya pun beda.’

“Seorang Aktivis Sosial meraih penghargaan dari dunia, dari masyarakat, dari pemerintah, dari lembaga-lembaga sosial, institusi-institusi kepercayaan, perusahaan-perusahaan besar, dan lain sebagainya.

“Seorang panembah mendapatkan penghargaan dari Gusti Pangeran, berupa ‘kemanunggalan’ dengan-Nya.

“Krsna juga menjelaskan beberapa sifat Tuhan yang mesti melandasi semangat pelayanan, pengabdian, dan panembahan kita:

“Sesama Makhluk adalah ‘Wujud Nyata’ dari Ia Hyang:

  1. Melampaui Gugusan Pikiran dan Perasaan. Kita tidak dapat menjelaskan-Nya lewat pikiran, lewat logika, intelek dan rasio.
  2. Maha Ada. Ada di mana-mana. Tidak ada satu pun tempat di mana Ia tidak ada. Apa mungkin? Ya, mungkin. Perhatikan space, ruang alam semesta. Ia adalah ‘ibarat’ Ruang Abadi itu, Hyang Ada di mana-mana’
  3. Tidak Pernah Punah. Keluarkan segala isi alam dari Ruang Semesta, seperti mengeluarkan perabot dari ruangan. Tanpa perabot pun, ruang tetap ada.
  4. Tak Terjelaskan. Kita dapat menjelaskan ‘isi’ alam semesta, galaksi, multiverse, apa saja – tapi sebatas itu saja, sebatas isi yang berwujud saja. Hyang Tak Berwujud dan menopang semuanya tidak dapat dijelaskan, karena Ia…
  5. Abadi. Isi atau wujud berubah-ubah – Ruang yang menopangnya tidak berubah. Yang berubah – datang dan pergi adalah awan. Perubahan itu memberi kesan seolah langit sedang berubah, padahal tidak. Langit tidak pernah berubah. Dan Ia adalah Maha Langit di atas langit ada langit… Langit abadi yang Melampaui segala langit.
  6. Tak Tergoyahkan. Pola awan yang berubah-ubah tidak mempengaruhi langit. Ia tak tergoyahkan oleh segala macam guncangan dan perubahan.
  7. Melampaui segala wujud. Sebab, semua wujud terkesan sebagai wujud karena Dia. Awan tidak bisa bereksistensi tanpa langit. Ada langit maka wan pun ada. Awan berubah, tapi langit tetap sama.
  8. Tak Berubah.

Sifat-sifat ini mesti dikembangkan di dalam diri seorang panembah, barulah ia manunggal dengan-Nya. Atau manunggal dulu dan sifat-sifat ini akan mewarnai hidupnya.

Jadilah Panembah dan Anda menjadi Aktivis Spiritual, bukan sekadar Aktivis. Atau jadilah seorang Aktivis Spiritual dan Anda akan manunggal. Demikian kiranya nasihat Krsna.

Dalam satu kalimat: mengembangkan sifat-sifat tersebut di atas berarti: Menghadapi segala keadaan dan tantangan dengan penuh kesadaran bila semuanya ibarat awan yang sedang berlalu.”

 

Dikutip dari buku: (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

 

Catatan:

Perhatikan bagaimana Anda menghadapi tantangan-tantangan di luar. Apakah Anda masih beraduh-aduh? Jika ya, apakah sebatas beraduh—aduh saja? Apakah Anda selalu berupaya menghindari persoalan, menghindari masalah dengan bersembunyi di balik dalih positive thinking “Oh semua oke, tidak ada persoalan, yang ada hanya tantangan.”

Menemukan Sumber Kasih di dalam diri adalah maksud dan tujuan meditasi, the purpose. Ya, the purpose, maksud dan tujuan tunggal. Penemuan itulah yang kemudian memunculkan rasa bahagia yang langgeng, abadi, tidak terpengaruh oleh pasang-surut, panas-dingin, dan pengalaman-pengalaman lain yang saling bertentangan. Dari buku Soul Awareness

 

 

Om, Sarve bhavantu sukhinaḥ; Sarve santu nirāmayāḥ; Sarve bhadrāṇi paśyantu; Mā kashchit duḥkha bhāgbhavet; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga semua makmur, bahagia dan bebas dari penyakit. Semoga semua mengalami peningkatan kesadaran, dan bebas dari penderitaan. Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/

 

Risiko Krsna dalam Perang Melebihi Arjuna? Apa Rahasia Ketenangan Krsna? #BhagavadGita

Krsna adalah sosok yang berada dalam keadaan ini. Ia berada di tengah medan perang. Bukan angin biasa lagi. Sesungguhnya ia sedang berada di tengah angin ribut. Arjuna pun sama. Tapi Krsna tidak terganggu, sedangkan Arjuna terganggu.

Risiko Arjuna adalah “kalah” dan/atau mati, gugur di medan perang. Risiko Krsna melebihi risiko Arjuna. Bukan saja risiko mati, gugur di medan perang. Jika pun ia selamat, maka ia akan menghadapi kubu Kaurava yang tetap berkuasa di anak-benua Hindia, tempat kerajaannya — Dvaraka atau Dvaravati — adalah salah satu negara-bagian. Bayangkan, Krsna yang berpihak pada Pandava itu akan diperlakukan seperti apa? Yang jelas, ia akan dianggap tidak setia, pembangkang, pengkhianat……..

Dari sudut pandang manusia, risiko Krsna tidak kurang dari risiko Arjuna. Tapi keadaan batin mereka berbeda! Krsna adalah seorang Yogi, Yogiraja — Raja para Yogi. Arjuna masih belum. Penjelasan Bhagavad Gita 6:21 dikutip dari buku: (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

Silakan ikuti penjelasan Bhagavad Gita 6:20 tentang keadaan batin Krsna berikut:

Buku Bhagavad Gita

Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu; Saha vīryam karavāvahai; Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga Hyang Tunggal senantiasa melindungi kita; menjernihkan pikiran kita: semoga kita dapat berkarya bersama dengan penuh semangat; semoga apa yang kita pelajari mencerahkan dan tidak menyebabkan permusuhan; Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

“Dalam keadaan ‘diri’ atau batin terkendali seperti itu, Jiwa menyadari dirinya sebagai Jiwa; Demikian, ia mengalami kebahagiaan, kepuasan tak terhingga.” Bhagavad Gita 6:20

Dalam keadaan citta atau batin tenang — Jiwa menyadari dirinya sebagai Jiwa. Ia bukan badan; ia bukan energi; ia bukan gugusan pikiran serta perasaan; ia bukan inteligensia; ia bukan ini, dan bukan juga itu. Ia adalah Jiwa, percikan Sang Jiwa Agung. Maka saat itu ia mengalami kebahagiaan tak terhingga. Sebelum menggapai ………

 

KESADARAN JIWA, keadaannya persis seperti seorang putra raja yang diculik oleh gerombolan perampok. Ia dibesarkan oleh mereka. Maka, ia memiliki identitas palsu. Identitas palsu sebagai putra perampok, sebagai perampok. Indentitas palsu ini karena “pergaulannya” dengan gerombolan perampok. Karena keberadaannya di tengah mereka. Karena terlupakannya identitas asli yang sebenamya.

Menjalani peran palsu ini — peran yang sesungguhnya bukanlah peran dia — terjadi konflik batin dalam diri sang pangeran. Dia tidak puas dengan perannya sebagai perampok.

Ketika ia diculik, usianya baru 3 — 4 tahun. Ia masih balita. Sebab itu, ia pun tidak mengingat persis “masa lalunya” — identitas aslinya. Tapi, bagaimanapun juga — rekaman tentang kehidupan di istana sebagai pangeran, tidak pernah hilang juga. Rekaman itu masih ada. Walau buyar dan tidak jelas, ia masih melihat gambar-gambar, bayang-bayang dari masa lalunya — baik dalam keadaan jaga, maupun tidur — dalam mimpi.

 

IA TIDAK MENYADARI SEBAB KEGELISAHANNYA — Tapi ia tetap gelisah. Kehidupan perampok bukanlah kehidupannya. Ia tidak puas dengan pola-hidup yang sedang dijalaninya.

Kemudian, suatu ketika seorang menteri yang bijak menemukan si pangeran yang hilang itu. Ia mengenal tanda-tanda yang ada di badannya. Sekarang, Anda boleh menambahkan faktor DNA Test. Jelas dia bukan putra perampok. Dia seorang pangeran.

Maka, kesadaran baru yang sesungguhnya adalah kesadaran awalnya, kesejatian dirinya, seketika membahagiakan sang pangeran. Ia tidak perlu merampok lagi. Ia seorang pangeran. Mereka, yang selama ini dirampoknya, adalah warganya, rakyatnya.

Kebahagiaan sejati, kedamaian batin, keceriaan Jiwa yang dialami oleh pangeran dalam kisah ini – seperti itulah pengalaman kita ketika sadar akan diri kita sebagai Jiwa.

 

JIWA ADALAH PENONTON – Mereka yang sedang beraksi di atas panggung adalah badan, gugusan pikiran serta perasaan, indra, inteligensia.

Dirinya sedang menonton!

Maka adegan apa saja dapat menghibur dirinya. Terjadinya kematian di atas panggung, mengikuti skenario Sang Sutradara atau Penulis Naskah, tidak mencelakakan dirinya.

Terjadinya banjir, badai, topan — tidak mengganggu kenikmatan yang diperolehnya sebagai penonton. Jiwa yang demikian itu — Jiwa yang menyadari perannya, sifat aslinya sebagai Jiwa —terbebaskan dari segala duka. Bahkan dari segala dualitas suka dan duka. Ia meraih kebahagiaan tertinggi!

Ia seperti seseorang yang sedang bermain game. Gambar-gambar yang muncul di monitor atau layar teve adalah proyeksi dari console yang pengendalinya ada di tangan dia sendiri.

 

“Ketika Jiwa mengalami kebahagiaan tertinggi yang (berasal dari dirinya sendiri, dan) melampaui segala kenikmatan indra, bahkan segala kenikmatan yang dapat diperolehnya lewat intelek, maka ia akan berpegang teguh pada kebenaran, dan tak tergoyahkan lagi oleh tantangan seberat apa pun!” Bhagavad Gita 6:21

Ketika sang pangeran dalam kisah sebelumnya telah menemukan jati dirinya, maka ia tidak akan pernah membiarkan kesadaran itu “terlupakan lagi”.

Ia tidak akan pernah meninggalkan atau melepaskan “kebenaran” dirinya sebagai pangeran. Ia bukanlah seorang perampok.

 

SEORANG YOGi YANG SUDAH MENYADARI dirinya sebagai Jiwa, tak akan terperangkap oleh identitas-identitas palsu rekaan badan, indra, gugusan pikiran serta perasaan, maupun inteligensia.

Jiwa yang sudah merasakan kebahagiaan tertinggi ibarat pangeran yang “sudah kembali ke istananya”. Ia tidak tertarik lagi dengan kenikmatan-kenikmatan indra yang diperolehnya dalam “kesadaran palsu” sebagai perampok.

Ia tidak merampok lagi, karena menyadari dirinya sebagai pangeran. Jika kita sadar bahwa panggung sandiwara adalah untuk menghibur, maka kita akan menikmati segala pertunjukan di atas panggung — tapi tidak mengidentifikasikan diri dengan cerita di atas panggung.

Kita penonton! Tidak perlu membawa pulang panggung atau peran di atas panggung. Nikmati — dan kembalilah ke istana — ke tempat asal kita!

Dikutip dari buku: (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

Om, Sarve bhavantu sukhinaḥ; Sarve santu nirāmayāḥ; Sarve bhadrāṇi paśyantu; Mā kashchit duḥkha bhāgbhavet; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga semua makmur, bahagia dan bebas dari penyakit. Semoga semua mengalami peningkatan kesadaran, dan bebas dari penderitaan. Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/

 

Tanpa Percikan Keinginan, Tidak Mendambakan Yang Bukan Miliknya #BhagavadGita

buku-bhagavad-gita-rumah-mewah-dan-mobil

Engkau Hyang Maha Membebaskan, bebaskanlah diriku dari rasa kepemilikan, keangkuhan, keserakahan, kebodohan, ketaksadaran, kebencian. Bebaskan diriku dari perbudakan pada panca indera. Bebaskan diriku dari keinginan akan kenyamanan dan kenikmatan jasmani. Bebaskan diriku dari segala macam belenggu yang telah menjatuhkan derajatku, menjadi hamba dunia. Dikutip dari buku (Krishna, Anand.  (2007). Panca Aksara Membangkitkan Keagamaan dalam Diri Manusia. Pustaka Bali Post)

……………………

Yesus benar-benar mengatakan bahwa kedatangan Dia adalah untuk sesuatu yang jauh lebih berarti. la datang untuk memisahkan kita dari segala sesuatu yang membelenggu diri kita selama ini. Yang harus kita tinggalkan bukan isteri, bukan keluarga, tetapi rasa kepemilikan kita, keterikatan kita terhadap mereka.

Nikmatilah dunia ini. Berkeluargalah, jika Anda inginkan. Tetapi jangan terikat pada sesuatu. Sadarlah bahwa semuanya itu hanya temporer. Jangan mengembangkan rasa kepemilikan terhadap benda-benda duniawi, karena semua itu tidak kekal. Nikmati semuanya, tanpa keterikatan, tanpa rasa kepemilikan. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2004). Sabda Pencerahan, Ulasan Khotbah Yesus Di Atas Bukit Bagi Orang Modern. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

………………

Di bawah ini penjelasan Bhagavad Gita 6:10 agar kita tidak mendambakan kepemilikan materi:

cover-buku-bhagavad-gita

Buku Bhagavad Gita

Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu; Saha vīryam karavāvahai; Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga Hyang Tunggal senantiasa melindungi kita; menjernihkan pikiran kita: semoga kita dapat berkarya bersama dengan penuh semangat; semoga apa yang kita pelajari mencerahkan dan tidak menyebabkan permusuhan; Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

Yogi yunjita satatam atmanam rahasi sthitah, ekaki yata-cittatma nirasir aparigrahah

“Hendaknya seorang Yogi senantiasa memusatkan kesadarannya pada ‘diri’ sendiri; menguasai pikiran serta perasaannya; bebas dari segala keinginan, tidak mengharapkan sesuatu apa pun; bebas pula dari (rasa) kepemilikan.” Bhagavad Gita 6:10

 

Ayat ini termasuk salah satu yang sering disalahterjemahkan, “hidup menyendiri di tempat yang sunyi, sepi.”

Arti sesungguhnya adalah:

 

BERFOKUS PADA….. Satatam = Selalu; Atmanam = Sang Diri (jiwa Individu atau Jivatma); Rahasi = Rahasia; Sthitah = Berada; Ekaki = Sendiri.

Tidak ada anjuran untuk meninggalkan keramaian dunia dan masuk hutan, menyepi di sana. Walau pun itu merupakan suatu pilihan, dan tidak ada yang salah pula dengan pilihan itu.

Tempat rahasia itu adalah Hati-Psikis – Pusat Kesadaran di antara kedua puting – tempat Sang Jiwa bersemayam. Itulah Pusat Jiwa, Hati-Nurani, Sanubari.

 

Ayat ini mengajak kita untuk:

“KEMBALI KE PUSAT DIRI” – Mengalihkan fokus dari luar ke dalam diri. Ayat ini menjelaskan cara untuk melakoni meditasi 24/7 – 24 jam sehari dan 7 hari setiap minggu – berarti setiap hari, setiap jam, setiap detik.

Kemudian, nirasir dan aparigrahah – biasa diterjemahkan “tanpa keinginan” dan “bebas dari keserakahan” atau “tanpa kepemilikan”. Nirasir, memang sulit diterjemahkan. Ini menyangkut sikap mental. Memang terjemahan terdekatnya adalah “tanpa keinginan dan/atau harapan”, walau hal itu tidak sepenuhnya menjelaskan makna dari kata nirasir.

 

NIRASIR BERARTI, “TANPA ADANYA PERCIKAN-PERCIKAN YANG DAPAT MENIMBULKAN KEINGINAN”. Ketika Anda bertemu dengan seorang pria tampan atau wanita cantik – maka “keinginan”, gairah, atau nafsu tidak serta-merta muncul begitu saja. Awalnya adalah percikan-percikan perasaan nano-nano yang muncul. Ada “dag-dig-dug” yang bahkan tidak dapat dibahasakan, apa makna “dag-dig-dug”?

Sementara itu,

APARIGRAHAH BERARTI “TIDAK MENDAMBAKAN SESUATU YANG BUKAN MENJADI MILIKNYA”. Lalu, apa yang menjadi milik “Diri” kita yang sejati?

Ego, yang ingin memiliki – sesungguhnya tidak bisa memiliki sesuatu apa pun. Apa saja yang dianggap sebagai miliknya, akan tertinggal semua di sini.

Sementara itu “Diri” yang sejati sadar akan kesejatian dirinya, dan kesejatian setiap diri, termasuk kesejatian setiap benda. Semuanya adalah percikan Ilahi yang sama, maka apa yang mesti dimiliki?

 

SEMUANYA TERSEDIA BAGI JIWA untuk dimanfaatkan sebagaimana mestinya, tidak perlu dimiliki. Jadi dalam konteks ayat ini, terjemahan yang lebih cocok ialah “bebas dari rasa kepemilikan”.

Rasa kepemilikan membuat kita kecewa dan berduka. Saat mesti meninggalkan semuanya, kita merasa kehilangan apa yang sebelumnya kita anggap sebagai milik kita. Supaya tidak kecewa, kita mesti membebaskan diri dari rasa kepemilikan. Manfaatkan dunia, dunia benda, kebendaan – manfaatkan semua tanpa rasa kepemilikan.

Lagi-lagi – jika ayat ini diterjemahkan sebagai anjuran untuk mencari tempat yang sunyi dan sepi, jauh dari keramaian – silakan. Namun, tempat rahasia yang dimaksud bisa juga salah satu kamar di rumah kita – yang dijadikan  sebagai tempat meditasi, pemujaan, sembahyang, berdia diri untuk berbagai sadhana atau laku spiritual lainnya.

Dikutip dari buku: (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

Catatan:

Mempertahankan keseimbangan diri, kedamaian diri di tengah masyarakat yang bergejolak itulah meditasi. Dan bila anda sudah bisa mempertahankan keseimbangan diri, kota atau hutan tidak menjadi soal. Dari buku Tantra Yoga

Sudahkah kita memulai latihan meditasi?

 

Om, Sarve bhavantu sukhinaḥ; Sarve santu nirāmayāḥ; Sarve bhadrāṇi paśyantu; Mā kashchit duḥkha bhāgbhavet; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga semua makmur, bahagia dan bebas dari penyakit. Semoga semua mengalami peningkatan kesadaran, dan bebas dari penderitaan. Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/

 

oec1elearning-banner

16711992_612132385641135_3392780409612035997_n

Kekalahan Ego adalah Kemenangan Kesadaran Jiwa #BhagavadGita

buku-bhagavad-gita-sujud-shashankasana-pjlsan

 

“Seorang bijak yang tidak lagi terpengaruh, tidak lagi tergoda oleh berbagai keinginan; bebas dari hawa-nafsu dan tidak mengejar, mendambakan, mengharap-harapkan sesuatu; tidak pula terjebak dalam rasa kepemilikan dan permainan ego, ke-‘aku’-an yang ilusif – meraih kedamaian sejati.” Bhagavad Gita 2:71

Tidak lagi mengharap-harapkan, tidak lagi mengejar-ngejar, tidak lagi memburu sesuatu – berarti tidak ada lagi obsesi dalam dirinya. Ia sudah melewati semuanya. Ia sudah mencoba semuanya. Ia sudah merasakan semuanya dan menyadari bahwa kebahagiaan yang diperoleh dari dunia tidak abadi, tidak langgeng. Kesadaran itu sendiri sudah cukup untuk membuatnya menjadi tenang. Penjelasan Bhagavad Gita 2:71 dikutip dari buku Dikutip dari buku: (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

Berikut penjelasan Bhagavad Gita 18:65 tentang teknik membebaskan diri dari ego…..

Buku Bhagavad Gita

Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu; Saha vīryam karavāvahai; Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga Hyang Tunggal senantiasa melindungi kita; menjernihkan pikiran kita: semoga kita dapat berkarya bersama dengan penuh semangat; semoga apa yang kita pelajari mencerahkan dan tidak menyebabkan permusuhan; Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

“Pusatkanlah segenap pikiran serta perasaan pada-Ku; Berbaktilah pada-Ku dengan menundukkan kepala-egomu. Demikian, niscayalah engkau mencapai-Ku. Aku berjanji padamu, karena kau sangat Ku-sayangi.” Bhagavad Gita 18:65

cover-buku-bhagavad-gita

“Aku, Aku, Aku,…..” Permainannya memang adalah antara aku-ego dan Sang Aku Sejati, Sang Jiwa Agung.  Nasihat Krsna untuk berserah diri bukanlah berserah diri pada sosok Krsna—tetapi berserah diri pada Aku-Sejati yang kebetulan saat itu sedang mewujud sepenuhnya dalam diri Krsna.

 

BERSERAH DIRI DENGAN MELEPASKAN EGO adalah latihan, upaya, teknik, untuk merealisir Sang Aku Sejati.  Krsna adalah Cermin—dengan berserah diri kepada-Nya, Arjuna menemukan dirinya yang sejati. Arjuna melihat dirinya.

Berserah diri memang merupakan kekalahan ego—namun kekalahan yang memenangkan Kesadaran Jiwa yang Hakiki. Ibarat kali yang kotor, ego penuh daki menyatu dan lenyap dalam laut Kesadaran Jiwa yang luas. Ia kalah dalam pengertian identitasnya sebagai kali, hilang, lenyap. Ia menang karena telah menyatu dengan laut.

Bersujud adalah tehnik, latihan untuk membebaskan diri dari kekuasaan ego, melepaskan diri dari jeratan setan, dari iblis pikiran dan perasaan-perasaan yang liar.

 

“Serahkan segala kewajibanmu pada-Ku (Hyang Bersemayam dalam diri setiap makhluk), berlindunglah pada-Ku; dan akan Ku-bebaskan dirimu dari segala dosa-cela dan rasa takut yang muncul dari kekhawatiran akan perbuutan tercela. Jangan khawatir, janganlah bersusah-hati!” Bhagavad Gita 18:66

 

“Menyerahkan segala kewajiban” dalam pengertian “melepaskan segala dharma” …. .. Ayat ini sering membingungkan. Seorang berjiwa lemah yang melarikan diri dari tantangan hidup untuk menjadi petapa pun menggunakan ayat ini untuk membenarkan tindakannya.

 

“LEPASKAN SEGALA KEWAJIBANMU” – Alasan yang “terasa” kuat sekali bagi mereka yang tidak berani menghadapi kenyataan-kenyataan hidup, dan melarikan diri untuk menyepi di tengah hutan.

Apakah itu maksud Krsna?

Sama sekali tidak. Krsna justru mengajak Arjuna untuk berperang, untuk menghadapi kenyataan hidup. Bukan untuk melarikan diri, dan menjadi petapa.

“Menyerahkan segala kewajiban pada-Ku” berarti “membiarkan Sang Aku Sejati untuk memegang kendali”. Berarti, menyerahkan ego yang membingungkan, melemahkan, dan menyesatkan. Berarti bertindak sesuai dengan tuntutan Jiwa yang hendak mengalami berbagai pengalaman hidup.

Biarlah Jiwa yang adalah percikan dari Sang Jiwa Agung itu, berkuasa. Biarlah Ia menjadi sandaranmu, karena sesungguhnya tiada kekuasaan lain di luar kekuasaan-Nya. Tiada penopang lain kecuali Dia.

TAK SEORANG PUN DAPAT MEMBANTU KITA – hanyalah Dia, Dia, dan Dia saja. Ketika kita “merasa” terbantu, dibantu oleh seseorang — sesungguhnya adalah kekuasaan Dia yang bekerja lewat orang itu. Ketika keadaan “terasa” menguntungkan dan membela – maka keuntungan dan pembelaan itu pun dari Dia.

Sebaliknya, ketika hidup “terasa” penuh tantangan maka tantangan-tantangan itu pun berasal dari Dia. Itulah pengalaman yang sedang dicari oleh Jiwa. Kita tidak dapat menghindarinya.

 

ADA KALANYA DHARMA MEMBINGUNGKAN. .. Apa kewajibanku, apa yang mesti kulakukan, tindakan mana yang tepat — sangat membingungkan. Ada dharma, ada adharma — ada tindakan yang tepat, ada yang tidak tepat.

Jika kita tetap saja menggunakan gugusan pikiran dan perasaan untuk memilah dan menentukan mana yang tepat dan mana yang tidak tepat — maka kita akan selalu was-was, cemas, khawatir, takut, bimbang, ragu. Sebab itu, serahkanlah ego kita, mind kita kepada-Nya — kepada Jiwa yang adalah percikan Jiwa Agung — dan biarlah Ia menentukan mana yang tepat dan mana yang tidak. Biarlah Ia menerangi inteligensia kita dan memandu setiap gerak kita.

Hiduplah sesuai dengan kehendak-Nya. Jadilah selaras dengan kehendak-Nya. Demikian kita terbebaskan dari segala kekhawatiran!

Dikutip dari buku: (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

Catatan:

Apa yang dapat membahagiakan? Bila harta benda, sanak-saudara, tak dapat memberi kebahagiaan, apa yang harus kulakukan? Hanya dua pilihan. Masuk ke dalam alam depresi berat atau memasuki alam meditasi dan menemukan sumber segala kebahagiaan dalam diri. Bhaja Govindam

Sudahkah kita mulai latihan meditasi?

 

Om, Sarve bhavantu sukhinaḥ; Sarve santu nirāmayāḥ; Sarve bhadrāṇi paśyantu; Mā kashchit duḥkha bhāgbhavet; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga semua makmur, bahagia dan bebas dari penyakit. Semoga semua mengalami peningkatan kesadaran, dan bebas dari penderitaan. Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/

 

oec1elearning-banner

16711992_612132385641135_3392780409612035997_n

Tidak Terpengaruh Keadaan di Luar? Mungkinkah? #BhagavadGita

buku-bhagavad-gita-gandhi-jesus-martin-luther-john-lennon

Kita perhatikan Gandhi dan Jesus, Martin Luther King, Jr. dan, bahkan, John Lennon dari kelompok Beatles, mereka semua adalah pelaku meditasi. Mereka tidak berhasil membuat setiap orang senang, tetapi cukup berhasil membahagiakan banyak orang. Mereka tidak pernah memikirkan kepentingan diri saja.

Itulah ciri khas seorang meditator, seseorang yang telah meraih kesadaran diri, kesadaran rohani, kesadaran jiwa—yang amat sangat mudah terdeteksi.

Ciri lain yang mudah terdeteksi adalah bahwa seorang meditator tidak mudah terpengaruh oleh keadaan-keadaan di luar, dan tidak mudah pula terpengaruh oleh perkataan orang lain. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2016). Soul Awareness, Menyingkap Rahasia Roh dan Reinkarnasi, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

cover-buku-soul-awareness

Silakan simak penjelasan Bhagavad Gita 9:14 tentang Kesadaran Jiwa:

 

Buku Bhagavad Gita

Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu; Saha vīryam karavāvahai; Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga Hyang Tunggal senantiasa melindungi kita; menjernihkan pikiran kita: semoga kita dapat berkarya bersama dengan penuh semangat; semoga apa yang kita pelajari mencerahkan dan tidak menyebabkan permusuhan; Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

“Demikian mereka senantiasa memuliakan Aku; berupaya untuk menyadari kehadiran-Ku di mana-mana; dan selalu berlindung pada-Ku dengan keyakinan yang teguh. Sesungguhnya, mereka telah bersatu dengan-Ku dalam meditasi, puja-bakti, dan panembahan mereka, yang sepenuhnya terpusatkan pada-Ku.” Bhagavad Gita 9:14

 

“Apa yang kita inginkan dari dan dalam hidup ini? Jika kita menginginkan Ananda atau Kebahagiaan Sejati – maka tidak ada jalan lain, metode lain kecuali satu – yaitu, berkesadaran Jiwa. Jiwa adalah kekal, karena ia tidak pernah berpisah dari Jiwa Agung. Perpisahan adalah ilusif, khayalan, imaginer, yang kemudian merosotkan kesadaran kita dan mengalihkannya ke badan dan indra.

cover-buku-bhagavad-gita

SEBAGIAN DIANTARA KITA MENGAGUNG-AGUNGKAN EMOSI – bahwasanya, jika emosi kita ditingkatkan maka, apa pun yang kita kehendaki akan terjadi. Bisa, tapi jangan lupa, sifat emosi adalah naik-turun, pasang-surut, kadang panas, kadang dingin. Mustahil kita bisa mempertahankan emosi di suatu level, suatu tingkat tertentu untuk selamanya.

Dapatkah kita mempertahankan air pada 100 derajat celcius? Mustahil. Begitu mencapai 100 derajat celcius, air langsung menguap, mulai menguap. Emosi memiliki korelasi dengan air. Emosi dikendalikan oleh elemen air di dalam diri kita. Pun demikian di luar diri kita, di alam sekitar kita. Air laut, air sungai – semuanya adalah pusat-pusat emosi di dunia ini. Jika terjadi tsunami, maka alasannya bukanlah sekadar “fenomena” alam; dalam pengertian, “itu adalah sesuatu yang lumrah.” Tidak, tidak lumrah. Dapat dihindari.

Pasang-surutnya air laut adalah lumrah, namun memasangnya sedemikian rupa hingga menyebabkan musibah, bencana – tidak lumrah. Saat itu laut, air sedang mengamuk. Tentunya kita telah mengundang amukannya karena ulah kita sendiri.

 

DEMIKIAN PULA DENGAN EMOSI MANUSIA – Makin tinggi, jatuhnya pun makin hebat, makin dahsyat – makin menyakitkan!

Level emosi yang tinggi, yang dikaitkan dengan kebahagiaan atau keceriaan, sesungguhnya hanyalah kesenangan sesaat. Emosi tidak pernah dan tidak bisa menghasilkan kebahagiaan sejati. Emosi tidak dapat, tidak mampu menggapainya. Adalah kesadaran Jiwa, yang berasal dari sanubari terdalam atau bhava ‘saja’ yang dapat membahagiakan Jiwa.

“Memuliakan-Nya” berarti senantiasa memuliakan Kesadaran Jiwa, Jiwa Agung; serta menempatkan-Nya di atas kebutuhan-kebutuhan raga, indra dan sebagainya. Kebutuhan-kebutuhan tersebut perlu dipenuhi. Kebutuhan indra, badan – semuanya mesti diladeni dengan moderasi. Tidak berlebihan, tidak kekurangan – berkecukupan. Namun jangan lupa, terpenuhinya kebutuhan-kebutuhan itu, Jiwa tidak ikut bahagia. Kebahagiaan Jiwa datang dari kesadaran akan hakikat dirinya.

 

JIKA KITA MEMILIKI TABUNGAN, atau, jika penghasilan kita memadai, maka ketika kendaraan kita rusak, kita akan menukarnya dengan kendaraan baru. Tukar-tambah, atau bahkan kendaraan yang sudah lama dan rusak itu dibiarkan di garasi untuk menjadi rongsokan. Tidak menjadi soal.

Tetapi jika penghasilan kita tidak cukup, tabungan kita tidak cukup—maka rusaknya kendaraan bisa membuat senewen. Kita stres berat. Tabungan dan penghasilan yang dimaksud di sini adalah “Kesadaran Jiwa.”

Tanpa Kesadaran Jiwa – badan yang satu ini; indra yang berjumlah lima ditambah indra-indra persepsi yang berjumlah lima pula; gugusan pikiran dan perasaan, keberhasilan akademis dan profesional – semuanya menjadi “segala-gala”nya. Jika ada yang hilang, maka kita kehilangan segala-galanya.

Kesadaran Jiwa membuat kita tidak merasa kehilangan sesuatu apa pun, walau kita menyaksikan tubuh menjadi debu, menjadi abu! Saat itu pun kita masih bisa menyanyi girang dan bersuka cita, “Aku abadi, aku abadi. Sivoham, So ham!” Saat itu, kita baru menyanyikan Bhajan, baru mengagungkan kemuliaan-Nya dalam pengertian yang sesungguhnya.

Dikutip dari buku: (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

 

Catatan:

Apa yang dapat membahagiakan? Bila harta benda, sanak-saudara, tak dapat memberi kebahagiaan, apa yang harus kulakukan? Hanya dua pilihan. Masuk ke dalam alam depresi berat atau memasuki alam meditasi dan menemukan sumber segala kebahagiaan dalam diri. Bhaja Govindam

Sudahkah kita mulai latihan meditasi?

Om, Sarve bhavantu sukhinaḥ; Sarve santu nirāmayāḥ; Sarve bhadrāṇi paśyantu; Mā kashchit duḥkha bhāgbhavet; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga semua makmur, bahagia dan bebas dari penyakit. Semoga semua mengalami peningkatan kesadaran, dan bebas dari penderitaan. Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/

 

oec1elearning-banner

16711992_612132385641135_3392780409612035997_n