Wejangan Anand Krishna: Melayani Gusti dalam Wujud Anak, Suami, Istri

“Wahai Dhananjaya (Arjuna, Penakluk Kebendaan), (ketahuilah) tiada karma, tiada perbuatan yang dapat membelenggu seseorang yang senantiasa berkarya dalam yoga, tanpa pamrih, dan dengan semangat melayani; keraguannya teratasi sudah oleh Pengetahuan Sejati; dan dirinya terkendali.” Bhagavad Gita 4:41

https://bhagavadgita.or.id/

 

Tercipta belenggu, tercipta keterikatan, ketika saya melayani suami saya karena dia adalah suami saya. Saya melayani istri saya karena dia adalah istri saya. Saya,,aku. Saya memberikan uang, memberikan pendidikan kepada anak-anak saya karena mereka adalah anak-anakku. Aku ini yang menciptakan keterikatan.

Sehingga nomer satu adalah bukan keluarga sebetulnya, tapi aku. Karena dia adalah suamiku, dia adalah istriku, dia adalah anakku, maka aku memperhatikan. Kalau belum jadi istri, nggak diperhatikan. Belum jadi suami, nggak diperhatikan. Anak kita sekarang, kalau lahir di rumah orang lain, tidak diperhatikan juga. Ini yang menciptakan keterikatan.

Apa yang sedang Krishna katakan, apakah kita tidak melayani orang tua tidak melayani suami, istri, anak. Tidak. Tetapi layani mereka semua karena mereka adalah makhluk-makhluk Gusti, Sang Hyang Widhi, Tuhan yang sama.

Jadi cuma mengubah cara melihat kondisi. Tetap melayani orangtua, tetap melayani anak, tetap melayani keluarga, tetap melakukan semuanya. Tapi bukan karena mereka adalah milikku. Begitu kita bebas dari aku, aku, aku ini, kita akan bahagia, anak kita akan bahagia, bapak kita, ibu kita di rumah akan bahagia.

Dari kecil anak-anak kita diajarkan mathru devo bhava, anggaplah ibumu sebagai Tuhan. Pithru devo bhava, anggaplah ayahmu sebagai Tuhan. Acharya devo bhava anggaplah para guru yang mengajarkan ilmu dan sebagainya sebagai Tuhan. Sebagai wujud dari Gusti. Wujud dari Hyang Widhi, Yang Nyata, Yang Mulia.

Maksudnya apa? Jauh melebihi hubungan keluarga kita sekarang. Jauh melebihi, Krishna mengatakan hubungan keluarga kalau berdasarkan aku, aku, aku kita menciptakan keterikatan dan kita juga melayani tanpa mengharapkan sesuatu. Anak-anak sedang besar, menjadi besar. Waktu masih kecil, dimarahi diapa masih oke kan, begitu sudah jadi dewasa, tentu tidak oke lagi. cara kita berhadapan dengan seorang anak yang masih kecil dan anak yang besar, bagaimana kita memperlakukan, dua halyang berbeda.

Tapi kalau dari awal, sebelum anak itu dewasa, kita sudah menganggap bahwa semua, segala sesuatu dalam hidup saya ada suami, ada istri, ada anak, ada pembantu, ada supir, ada mertua, ada orang tua, ada adik, ada kakak, semuanya adalah wujud dari sinar suci yang sama. Hyang Widhi yang sama. Tuhan yang sama. Hubungan kita akan menjadi lebih baik.

Jauh melebihi hubungan kita yang sekarang ini yang selalu panas dingin. Hubungan suami istri kan selalu panas dingin kan? Nggak selalu panas, nggak selalu dingin, jadi mati tidak, hidup tidak. Setengah-setengah. Kadang berantem kadang ini, kadang begitu. Anak kalau sudah besar kita mengharapkan sesuatu kalau anak tidak patuh juga sedih. Nggak bisa ngomong. Sama suami masih bisa berantem. Zaman sekarang sama istri masih bisa berantem. Sama anak, nggak bisa ya. Anak akan berontak.

Sama suami istri masih cekcok, masih kadang-kadang masih bisa. Tapi sama anak, sudah tutup mulut kita. Kenapa bisa demikian? Karena aku, aku, aku ini. Ini adalah anakku, suamiku, kalau dari awal kita mengubah sikap kita. Aku sedang melayani Tuhan Sang Hyang Widhi, dalam wujud anak, dalam wujud suami, dalam wujud istri, dalam wujud saudara. Dalam wujud orang tua. Dalam wujud mertua. Dalam wujud teman, kerabat, kawan, maka cara pandang kita dengan diubah begitu, hubungan kita akan menjadi jauh lebih mesra.

Krishna mengatakan tidak akan membelenggu, seperti itu ketika kita melayani anak dengan pemikiran dia adalah anakku kita menciptakan keterikatan. Tapi melayani anak, melayani suami, melayani istri karena semuanya ini adalah wujud dari Hyang Widhi yang sama, tidak ada keterikatan lagi. Kita bebas dari keterikatan.

Tetap di rumah,tetap bersuami, tetap beristri. Di Bali ada tradisi yang indah sekali tradisi Sulinggih di Bali. Seorang Sulinggih itu bebas dari keterikatan, demikian secara budaya Bali begitu. Walaupun seorang Sulinggih tetap hidup bersama istri. Apa sebutannya Pedande istri, tetap hidup sama istri. Tapi tanpa keterikatan, seorang Sulinggih sedang mempraktekkan, apa yang dikatakan oleh Krishna.

Tetapi Krishna mengatakan, bukan cuma Sulinggih, tapi kita semua semestinya mempraktekkan, seperti itu. Sepertinya dengan cara begitu, dan hanya dengan cara begitu, kita bisa bebas dari segala macam kekacauan dalam hubungan kita. Di rumah tangga, di masyarakat. Dengan semangat melayani keraguanmu juga akan bebas, oleh Pengetahuan sejati. Apapun yang sedang terjadi, dalam hidup kita.

Ada pelajaran dan kita tidak memahami dan kita beraduh-aduh. Saya juga pun demikian, kalau sedang menjalani suatu masa yang penuh dengan gejolak. Kita juga kadang-kadang beraduh-aduh. Semua orang demikian, tapi setelah berlalu pengalaman itu, kita baru tahu, kita baru sadar, pengalaman itu pun memiliki suatu pelajaran.

Sebetulnya, alam semesta sudah mengajarkan kepada kita. Kalau kena flu, masuk angin, parah, menunjukkan apa? Bahwa badan kita ini butuh istirahat. Kalau kita memberikan istirahatyang cukup, dia sembuh dengan sendirinya. Lagi sakit perut, lagi sakit apa pun juga.

Sebetulnya, awal mula dari penyakit, itu darimana? Dari makanan, asupan. Dan makanan bukan yang cuma lewat mulut. Lewat kuping, lewat mata. Kita mendengar gossip melulu kita mencari persoalan. Ada orang sedang menjelek-jelekkan, kita. Kita tidak mendengar, tidak ada yang memberitahu, oke-oke kan? Tapi begitu diberitahu, si anu lagi bicarain kamu, langsung kita…… jadi apa yang kita terima lewat, pancaindra kita, lewat mata melihat, sesuatu yang tidak beres. Mendengar sesuatu, memakan sesuatu tapi kesehatan fisik sangat terganggu. Pikiran juga makanan memperparah situasi.

Sumber: Video Youtube Bersama Anand Krishna Bhagavad Gita Sehari-Hari Ayat 04:41-42 Cara Membebaskan Diri dari Kekacauan dalam Hubungan Rumah Tangga

https://www.youtube.com/watch?v=9Kxkoqb4vdY

 

https://www.akcjoglosemar.org/wp/

https://www.anandkrishna.org/

 

Advertisements

Wejangan Anand Krishna: Mengendalikan Indra dan Mencapai Kedamaian Abadi dengan Pengetahuan Sejati

“Di alam benda, di dunia ini, tiada penyuci lain yang dapat menandingi (api) Pengetahuan Sejati. Seorang yang mencapai kesempurnaan dalam (Karma) Yoga, menemukan Sumber Pengetahuan Sejati itu di dalam dirinya sendiri.” Bhagavad Gita 4:38

https://bhagavadgita.or.id/

 

 

“Ia yang teguh dalam keyakinannya, meraih Pengetahuan Sejati; dengan Pengetahuan Sejati, ia mengendalikan indranya. Dan dengan Pengetahuan Sejati pula ia mencapai kedamaian abadi.” Bhagavad Gita 4:39

https://bhagavadgita.or.id/

 

Tidak ada sesuatu yang bisa membersihkan diri kita.  Api itu adalah yang membersihkan. Apa pun yang kita masukkan ke dalam api, dia membakar habis, akhirnya yan gtersisa adalah abu. Apa pun dia mendaur ulang. Pengetahuan Sejati juga begitu. Begitu kita tahu, hidup di dunia ini sementara, kita tidak akan merasa berlebihan sedih. Berlebihan senang kalau mendapatkan rejeki.

Saya waktu itu pernah cerita, baru jual tanah, dapat berapa ratus juta, langsung bagi-bagi beli motor, bag isini bagi sana. Menjual tanah karena butuh uang, begitu jual tanah dia sudah bagi-bagi, habis. Inilah kondisi kita. Kita tidak sadar bahwa hidup di dunia ini sementara.

Punya uang nikmati, bantu orang lain, punya uang lakukan sesuatu yang berguna. Dan kalau tidak punya uang kerja keras lagi. Tidak perlu beraduh-aduh. Ini Pengetahuan Sejati. Kalau tidak punya uang berarti harus kerja lebih keras. Harus kerjacerdas. Dimana kesalahan saya. Kenapa saya tidak mendapatkan keuntungan, padahal orang lain kerja yang sama,dia punya keuntungan. Pasti ada kesalahan saya. Kesalahan saya, dimana, mencari tahu. Dalam hidup kita juga begitu. Kalau setiap hari istri cekcok cari tahu. Kalau suami main serong cari tahu. Persoalan saya di mana?

Bukan Pengetahuan Sejati baca Veda sepanjang hari, Veda mengajak kita, untuk menghadapi kenyataan hidupini. Dengan penuh kesadaran, jadi tidak ada penyuci yang sesuatu yang membakar habis, dosa-dosa kita, kebodohan kita dan dengan Pengetahuan Sejati itu, setelah kita meraih Pengetahuan Sejati, kita bisa mengendalikan indra.

Kalau ada orang lagi marah-marah, coba pikirkan. Jangan marah-marah dulu, kondisi ini seperti apa, kalau saya marah kembali akan membuat cerita ini lebih baik, atau lebih jelek. Kadang-kadang marah dibutuhkan, kebanyakan tidak dibutuhkan. Jadi kita harus berpikir kembali. Dan kalau kita dimarahi, kita juga harus berpikir kembali.

Saya sering mengatakan, di Jawa ada satu kata. Nesu. Kalau orang dimarahin itu dia tidak marah kembali, tapi dia tersinggung begitu. Dan dia memendam rasa tersinggung itu. Nggak tahu di Bali ada istilah itu nggak, tapi di Bali orangnya ad abegitu. Orang yang nesu itu di Bali banya kjuga. Gen nya sama, genetiknya sama, dan orang nesu itu dari mukanya dapat kelihatan, mukanya itu sudah cemberut, kesel bukan main. Tapi nggak bicara apa-apa dia. Ngambul. Nah ini kita belum berpengetahuan.

Kita harus mencari tahu di diri sendiri. Saya sih ngambul nesu, tapi orang yang memarahi saya, dia juga ngambul dan nesu. Ini kok nggak ngerti-ngerti. Setiap kali kesalahannya sama saja. Kadang-kadang saya suruh Upasana tolong deh, sampaikan kepada orang ini, dia bilang nggak males deh saya sekarang, saya suda hsampaikan berulang kali, nggak ada perubahan. Sudah males. Terpaksa sayaharus menyampaikan, dan saya cari tahu,kenapa kamu begitu. Karena orang wajahnya kelihatan orang nesu. Ngambul. Dari wajahnya kelihatan, jadi kalau lagi dimarahi kita harus introspeksi diri kenapa saya kena marahterus. Orang yang memarahi juga harus introspeksi diri, jangan-jangan apa yang saya sampaikan, nggak jelas. Sehingga orang itu berbuat salah. Ini PengetahuanSejati. Dua-duanya harus introspeksidiri. Dan setelah itu kita bisa mengendalikan indra kita, mengendalikan mulut, mengendalikan aksi, mengendalikan perbuatan, kalau kita sudah bisa mengendalikan diri maka terciptalah kedamaian dalam diri kita.

 

“(Sebaliknya) mereka yang bodoh, tidak berpengetahuan; tidak pula berkeyakinan; dan senantiasa ragu – niscaya akan binasa. Baginya tiada kebahagiaan di dunia ini, maupun di alam setelah kematian.” Bhagavad Gita 4:40

https://bhagavadgita.or.id/

 

Ini orang-orang yang bodoh,orang-orang yang ragu-ragu terus, ada orang pergi ke restoran, dia membaca menunya seperti membaca Bagavad Gita. Terus dia membaca, ada teman di sebelahnya, mau makan apa ya makan apa ya. Seperti mau terjadi sesuatu apa ya, luar biasa. Nah ini ragu-ragu. Ragu-ragu terus. Saya pernah ketemu, dan saya pernah juga cerita berulang kali, ada keluarga di dalam keluarga besar saya, mau beli barang apa pun juga, selalu janji kalau saya nggak suka, akan saya ganti, tukar.

Pulang ke rumah, begitu dia beli tas pulang ke rumah, yang terjadi seperti arisan. Dia panggil keluarganya, panggil tetangganya. Ini saya baru beli tas bagus nggak, bagus nggak? Ada 20 orang, 20 otak kan ya, yang satu bilang kurangnya ini, ini warnanya kurang, talinya kurang bagus, lebih ragu-ragu lagi. Dia pergi ke toko besoknya, mau tukar, di toko 2 jam. Hanya tukar.

Istri telpon, lama sekali bicara, suami sedang menunggu. Shakila, suaminya Hola, shakila siapa tadi ditelpo nku. Tahu siapa? Apa jawabannya, salah sambung. Salah sambung bisa ngobrol sejam. Kalau nggak salah sambung, ini orang-orang yang bodoh.

 

Sumber: Video Youtube Bersama Anand Krishna Bhagavad Gita Sehari-Hari Ayat 04:32-40 Raihlah Pengetahuan Sejati Tentang Diri Dan Akhiri Segala Keraguan

https://www.youtube.com/watch?v=yc6A892e-34

https://www.akcjoglosemar.org/wp/

https://www.anandkrishna.org/

 

Wejangan Anand Krishna: Segala Karma Dibakar Habis Api Pengetahuan Sejati? Apa itu Pengetahuan Sejati?

Pengetahuan Sejati berarti apa? Pengetahuan tentang diri sendiri. Kita berada di dunia ini untuk apa, urusannya apa. Apa cuma lahir makan minum beristri punya anak, kemudian ujung-ujungnya mati. Apakah itu saja yang menjadi tujuan dari hidup ini.

Silakan baca: https://gitakehidupansepasangpejalan.wordpress.com/2019/03/17/wejangan-anand-krishna-lahir-dewasa-berkeluarga-tua-dan-mati-hidup-demikian-saja/

 

“Ketahuilah hal ini dengan mendatangi mereka yang mengetahui kebenaran; bertanyalah dengan penuh ketulusan hati; layani mereka dengan penuh keikhlasan; dan mereka akan mengajarkan, mengungkapkan kebenaran itu padamu.” Bhagavad Gita 4:34

https://bhagavadgita.or.id/

 

Bagaimana kita tahu kebenaran, dulu kita punya beberapa Pedande, yang saya pribadi kenal. Mungkin sekarang, juga banyak Pedande seperti itu. Tapi saya masih ingat, ketika pertama kali, Pedande Made Gunung, beliau mulai muncul di tivi. Masih ingat kan, waktu itu banyak orang tidak setuju, masa sulinggih mau muncul di tivi,ceramah. Tapi beliau berani mengungkapkan, dan ini akhirnya membawa hasil. Banyak sekali orang tercerahkan oleh beliau.

Banyak sekali orang tercerahkan oleh Pedande Sebali. Setiap kali ada acara apa dimana, harus membela kebenaran, beliau akan muncul kegaris terdepan. Banyak orang mengkritik dia. Kok seorang sulinggih, ada acara membela apa, membela hak-hak orang kecil, membela hak-hak umat lain. Beliau tetap berada di barist erdepan. Inilah orang-orang yang mengenal kebenaran, megetahui kebenaran, bergurulah kepada orang-orang seperti itu.

Saya tidak pernah ketemu tapi saya dengar Pedande Sidemen jugaseperti itu. Jad idi sini,sudah perhatikan, kita memberikan nama jalan, tempat yang begitu kecil. Jalan ini adalah jalan Pedande Sidemen. Jalan kesini adalah jalan Pedande Made Gunung. Jalan ke situ adalah jalan Pedande Sebali. Untuk mengenang jasamereka, bahwa mereka pernah, mengajarkan Pengetahuan Sejati. Lewat buku Pedande Sidemen banyak menulis buku, lewat Pengetahuan Sejati. Mereka-mereka mengenal, mereka-mereka bukan cuma paham, mereka-mereka menjalankan, apa yang dikatakan oleh Krishna di sini. Itu juga yang dilakukan oleh Abhyasa, Vyaas, mengumpulkan Veda, menulis mahabharata, menulis begitu banyak, pustaka suci lainnya. Untuk menyebarkan Pengetahuan Sejati. Dan nanti dijelaskan kenapa, PengetahuanSejati itu penting dalam hidup kita.

 

“Wahai Pandava (Arjuna, Putra Pandu), setelah meraih Pengetahuan Sejati dan tercerahkan, kau tak akan bingung lagi. Kau akan merasakan kesatuan, kemanunggalan dengan semua makhluk, dan selanjutnya melihat semua di dalam diri-Ku.” Bhagavad Gita 4:35

https://bhagavadgita.or.id/

 

“Walau kau seorang yang paling berdosa, paling khilaf di antara semua yang berdosa dan khilaf; kau dapat melampaui (lautan) segala dosa-kekhilafan dengan menggunakan perahu Pengetahuan Sejati.”  Bhagavad Gita 4:36

https://bhagavadgita.or.id/

 

Pengetahuan Sejati ini bagaikan perahu. Kita sedang menjalani hidup ini, hidup ini disebut samsara, lautan samsara. Dengan Pengetahuan Sejati, kita bisa melewatinya, tanpa kebingungan tanpa rasa bingung. Kita tidak akan bingung lagi. Terjadi sesuatu, kita bingung, kita bingung bahwa kenapa saya sudah berdoa, sudah sembahyang, sudah ke Pura, sudah ketempat ibadah, kok saya masih menderita.

Tapi kalau kita tahu, bahwa penderitaan itu disebabkan oleh karma kita sendiri, bukan Sang Hyang Widhi, yang menyebabkan kita menderita. Kalau kita tahu kita tidak akan bingung. Kita tidak akan mengaduh-aduh.

Saya barusan baca tentang pengalaman, seseorang yang luar biasa, dia adalah seseorang yang betul-betul menjalankan semua apapun yang ditulis, apapun yang disarankan oleh Gurunya. Dia mengikuti semua petunjuk itu. Punya anak, anaknya autis, dan anak autis ini kadang-kadang dengan usia anak-anak itu bisa menjadi lebih baik sedikit. Tapi ini dengan usia tambah parah. Tambah menjadi tak terkendali anak itu. Ada orang datang ke rumahnya, dan dia mengatakan saya betul-betul merasa sangat sedih, melihat kondisimu, kau melakukan meditasi, kau mempraktekkan yoga, kau membantu orang secara tulus. Membantu orang secara tulus.

Dia bilang jangan, don’t be sorry about me, jangan merasa kasihan terhadap saya. Karena dari dulu saya minta kepada Guru saya, saya minta kepada istha saya, tolong ajarkan saya, bagaimana mencintai orang tanpa kepentingan diri. Tanpa embel-embel apapun. Tanpa mengharapkan sesuatu. Sekarang Tuhan, Ishta saya, Guru saya, telah memberikan kesempatan kepada saya lewat anak ini, untuk melayani seseorang tanpa mengharapkan sesuatu. Saya tahus aya tidak bisa harapkan apa-apa dari anak ini. Dan ini adalah kesempatan yang diberikan kepada saya.

Lihat cara pandang, betapa luar biasanya cara pandang seperti itu. Apa pun yang terjadi, demi kebaikan kita sendiri. Kalau saya sedang menderita, karena karma saya. Kalau saya kena flu, karena kemarin-kemarin saya tidak menjaga kesehatan dan selanjutnya, saya harus menjaga kesehatan. Jadi semua pengalaman itu memberikan pelajaran.

Jadi walaupun kau seorang yang berdosa, sudah mengalami penderitaan, karena karma kita sendiri. Kita bisa melampaui semua, penderitaan itu, dengan Pengetahuan Sejati. Dengan kesadaran, apa yang sedang terjadi, memang harus terjadi dan saya harus belajar dari pengalaman ini.

 

“Sebagaimana api membara membakar habis kayu menjadi abu; pun demikian Arjuna, api Pengetahuan Sejati, membakar habis (akibat dari) segala karma, segala perbuatan.” Bhagavad Gita 4:37

https://bhagavadgita.or.id/

 

Dengan memiliki pengetahuan tentang karma, apapun yang terjadi karena karma. Ini adalah kesempatan saya untuk belajar, maka segala macam karma-karma yang jelek itu, akan terbakar habis.

Tapi kalau kita mengeluh terus, saya membaca ceritera yang menarik sekali. Cerita dari China, cerita rakyat. Saya nggak tahu, Upasana pernah dengar atau tidak. Tapi semacam role play, ini bagus sekali ceritanya. Seorang ratu, dia ingin mencari jodoh mencari istri untuk anaknya. Pangeran yang sudah berusia cukup.untuk kawin, maka ada perlombaan.

Perlombaannya apa? Sekian banyak perempuan-perempuan itu ditaruh dalam suatu palace, istana. Semua punya kamar yang bagus sekali, indah. Dan zaman dulu, matras itu tidak tebal seperti sekarang. Masih ingat matras zaman dulu yang terbuat dari kapas, tipis-tipis. Zaman dulu di istana pun matrasnya tipis seperti itu. Tapi kalau di istana, matrasnya bisa berlapis-lapis. Kalau orang miskin cuma satu lapis. Kalau di istana, di tiap ranjang bisa punya matras sampai 20 matras.

Maka dia menaruh sebutir kacang, kacang sebesar apa pun bayangkan, ia taruh di bawah matras. Matras yang paling atas. Dan di atasnya dia taruh 20 matras. Dan setiap perempuan ini, harus tidur di atas matras itu dan esoknya ditanya kamu tidurnya seperti apa. Yang lain bilang saya tidur nyenyak. Nggak terasalah mau terasa bagaimana? Semuanya gagal, yang satu mengeluh, saya nggak bisa tidur, ternyata ada sesuatu di bawah matras. Ada sesuatu di bawah matrasi itu saya tidak bisa tidur. Dia terpilih.

Nah ini coba bayangkan, orang terpilih karena dia komplain. Tetapi dari segi ratu. Perempuan ini yang bisa merasakan ada kacang sedikit di bawahnya. Dan dia tidak bisa tidur. Berarti badan dia mulus sekali. Badan dia begitu halus, lembut ada kacang di bawah matras, 20 lapis, dia tetap bisa merasakan. Dia patut menjadi istri dari anak saya.

Kita juga begitu, kadang-kadang kita melihat hal-hal dikaitkan dengan sini, kita sendiri memiliki banyak kekhilafan, dan kita melihat kekhilafan dalam diri orang lain. Kita menikmati itu. Kita menikmati melihat keburukan dalam diri orang lain. Si Ratu ini juga tukang komplain, dia juga mencari menantu yang tukang komplain juga. Kebanyakan kita begitu. Harus hati-hati.

Krishna mengatakan dengan cara itu kita nggak bisa melanjutkan perjalanan, dan kebanyakan orang seperti itu. Tubuh kita mulus sekali, satu kacang pun bisa kita rasakan, dan kita menikmati. Kita tidak melihat ke dalam diri kita sendiri. Krishna mengatakan dengan Pengetahuan Sejati, semua dosa kekhilafanmu akan terbakar habis, karena tidak akan ada dosa lagi. Kalau sudah punya Pengetahuan Sejati, dosa nggak ada lagi, mau diapakan lagi kita nggak akan berbuat salah lagi. Kalau sudah ada Pengetahuan Sejati kita tidak akan komplain tentang kacang dibawah matras itu.

Sumber: Video Youtube Bersama Anand Krishna Bhagavad Gita Sehari-Hari Ayat 04:32-40 Raihlah Pengetahuan Sejati Tentang Diri Dan Akhiri Segala Keraguan

https://www.youtube.com/watch?v=yc6A892e-34

https://www.akcjoglosemar.org/wp/

https://www.anandkrishna.org/

 

Wejangan Anand Krishna: Lahir, Dewasa, Berkeluarga, Tua Dan Mati? Hidup Demikian Saja?

“Demikian, banyak sekali cara panembahan yang dijelaskan oleh Brahma, Sang Pencipta (lewat Veda). Ketahuilah bila semuanya itu menyangkut  perbuatan nyata (dengan semangat panembahan). Dengan pemahaman dan penghayatan akan hal ini, niscaya kau terbebaskan  (dari segala duka dan dosa-kekhilafan).” Bhagavad Gita 4:32

https://bhagavadgita.or.id/

 

Di sini Krishna menjelaskan, apa sebetulnya upacara itu, yajna itu, persembahan itu. Persembahan itu bukan cuma menghaturkan persembahan dalam bentuk bunga atau apa. Tidak. Ini adalah simbolik sekali di sini Krishna jelas-jelas mengatakan cara panembahan itu dengan kerja nyata.

Ini simbolik untuk mengingatkan kita, tapi setelah itu kerja nyatanya yang penting. Jadi banyak cara, untuk melakukan, menghaturkan persembahan, tapi ujung-ujungnya semua cara itu menyangkut kerja nyata.

Tidak bisa kita cukup menghaturkan persembahan dalam bentuk bunga, atau upacara lainnya, kemudian kita menutup mata terhadap orang yang sengsara, orang yang sedang berduka, keluarga yang sakit, tetangga yang sedang kena musibah. Kalau kita menutup mata terhadap semua itu, dan cuma melakukan persembahan dengan cara begini, ini salah. Ini keliru. Dan di sini Krishna menjelaskan lebih lanjut, persembahan yang paling penting itu menjelaskan apa sebetulnya.

 

“Wahai Parantapa (Arjuna, Penakluk Musuh), sesungguhnya persembahan berupa Pengetahuan Sejati – manembah dengan cara berbagi Pengetahuan Sejati adalah lebih mulia daripada persembahan berupa harta-benda,materi. Akhir dari segala perbuatan adalah Pengetahuan Sejati.” Bhagavad Gita 4:33

https://bhagavadgita.or.id/

 

Bagaimana kita memberikan pengetahuan kepada orang-orang lain, tapi bukan hanya pengetahuan, biasa. Pengetahuan Sejati berarti apa? Pengetahuan tentang diri sendiri. Kita berada di dunia ini untuk apa, urusannya apa. Apa cuma lahir makan minum beristri punya anak, kemudian ujung-ujungnya mati. Apakah itu saja yang menjadi tujuan dari hidup ini.

Orang punya uang juga mati, orang tidak punya uang juga mati. Orang punya uang banyak juga kadang-kadang mati di rumah sakit, tidak ada seorang pun yang menjenguk. Keluarga pun melupakan.

Ada orang baru-baru ini saya dengar, saya pernah kenal dia dulu. Sudah hampir tiga setengah tahun dia dalam kondisi koma. Tiga setengah tahun, dan ketika ditanya, saya tanya sama keluarganya, saya tanya bagaimana kondisinya, dia pertama agak nggak mau jawab, dia agak mengelak. Tapi saya tahu anaknya sendiri, sudah tiga setengah bulan tidak menjenguk dia. Banyak alasan, lagi sibuk, lagi ini, lagi travelling keluar negeri. Tentu kan tidak tiga bulan travelling terus kan, pasti pulang ke negerinya dua tiga hari. Tidak ada dorongan untuk menjenguk orang tua yang sudah membesarkan dia, dan selama 3 bulan dia tidak menjenguk orang tuanya. Saya tidak mau sebut nama, tapi salah satu pejabat tinggi di negeri ini. Kita semua tahu namanya. Saya ketemu dengan asprinya, setelah beliau meninggal. Dia bilang enam bulan terakhir, tidak seorang pun anaknya menjenguk, anak-anak yang dia besarkan.

Dia punya banyak persoalan karena anak-anak itu, dia menghadapi banyak persoalan, anak-anak yang berbuat, yang menghadapinya orang tua. Tapi dalam jelang masa kehidupannya yang sudah senja, satu dari sekian banyak anak pun, tidak ada yang menjenguk.

Inilah kondisi kita. Dan ini bisa terjadi pada siapapun. Krishna mengatakan, Pengetahuan Sejati dan dalam Sara Samuccaya juga Vyaas mengatakan, Vararuci yang kemudian mengumpulkan ajaran-ajaran dari Vyaas itu, Abhyasa, dalam pustaka suci Sara Samuccaya, dan berdana punya yang paling tinggi itu berupa Pengetahuan Sejati.

Entah lewat buku, entah lewat bicara, menyampaikan kepada orang, memberikan sedikit pencerahan. Sekarang kita banyak sekali, video di youtube dan sebagainya, berbagi video ini juga berdana punya. Jangan bagi, forward message-message pesan yang nggak berguna. Berbagi sesuatu yang berguna. Dia mau dengar, tidak mau dengar bukan urusan kita.

Kita juga tidak usah menegur dia, atau apa tapi kita tetap berbagi. Berbagi lewat buku, berbagi lewat apa pun. Kemarin kita adakan upacara Metatah, dan upayanam. Bukan cuma upacara, tapi kita berusaha menjelaskan, makna dari upacara itu. Nanti mungkin ada orang tua yang anaknya ikut. Saya lihat ada dr Suartika ada Dian, ada Kadek Yasa, atau anaknya sendiri ikut, nanti bisa direkam sedikit pengalamannya. Apa yang mereka peroleh dari acara kemarin itu. Ini juga merupakan penyebaran pengetahuan. Bukan cuma acara selesai, selesai. Kemarin juga saya jelaskan, kita memberikan sertifikat itu untuk apa, bukan untuk show-show-an. Bukan untuk pamer bukan. Tapi untuk mengingatkan diri. Dibingkai, taruh di kamar anak. Biar anak sendiri yang memilih bingkainya. Sehingga mengingatkan, bahwa saya pernah mengikuti upacara ini, dan makna dari upacara ini apa.

Semuanya ini dalam rangka berdana punya lewat pengetahuan. Dan berdana punya lewat pengetahuan itu, derajatnya sama dan lebih tinggi malah. Dari persembahan dalam bentuk apapun juga. Ini bukan kata-kata kita. Kata-kata Krishna.

 

Sumber: Video Youtube Bersama Anand Krishna Bhagavad Gita Sehari-Hari Ayat 04:32-40 Raihlah Pengetahuan Sejati Tentang Diri Dan Akhiri Segala Keraguan

https://www.youtube.com/watch?v=yc6A892e-34

https://www.akcjoglosemar.org/wp/

https://www.anandkrishna.org/

Wejangan Anand Krishna: Sulit Mati, Tarik Ulur Kematian, Mengapa?

“Ada pula yang mengendalikan makanannya, dan mempersembahkan prana – hidup mereka – untuk melestarikan kehidupan, menunjang kehidupan umum. Sungguh mereka semua yang sedang menyembah, menghaturkan persembahan dengan berbagai cara itu, memahami arti panembahan, dan oleh karenanya terbebaskan dari segala dosa-kekhilafan.” Bhagavad Gita 4:30

https://bhagavadgita.or.id/

 

Kalau kita bisa berhenti makan daging. Peternakan itu tidak punya bisnis, kita akan membantu dalam pencemaran lingkungan. Dalam global warming. Karena begitu banyak kontribusi dari peternakan terhadap global warming. Lingkungan kita rusak. Air yang dimakan oleh binatang-binatang yang diternak, sengaja untuk disembelih.

Banyak sekali melestarikan hidup melestarikan kehidupan. Selama kita masih ingat bahwa hidup ini bukan untuk kepentingan diri saja. Tapi saya harus berkontribusi terhadap orang lain, masyarakat, maka Krishna mengatakan memahami arti panembahan itu, offering yang sesungguhnya itulah banten yang sesungguhnya. Banten yang sekarang kita gunakan, persembahan yang kita haturkan, di atas altar, lilin kita nyalakan, dupa kita bakar, semua persembahan itu simbolik, persembahan yang sesungguhnya adalah bagaimanan membantu sesama manusia. Saya mengatakan melayani kemanusiaan dan melayani kemanusiaan itu adalah kita harus bertindak sebagai manusia.

Tadi saya bicara soal rabies. Kalau ada anjing gila, kadang-kadang kemudian dibawa oleh pemerintah atau apa dan dijarumin, biardia mati. Anjing menggigit orang dianggap anjing gila dan dibunuh. Kita menyembelih begitu banyak binatang, kita makan binatang, kita merusak lingkungan, coba, seharusnya diapain. Tapi jangan kuatir, anjing perlu disuntikin agar dia mati. Kita sedang membunuh diri. Dengan memberikan asupan yang tidak benar untuk tubuh kita. Tidak sehat untuk diri kita. Kita sedang merusak kesehatan kita sendiri. Jangan tunggu sampai saya perkirakan dalam waktu 10 tahun mendatang, 5-10 tahun mendatang dokter-dokter di Indonesia pun akan mengajurkan, jangan makan daging. Tapi selama 10 tahun ini kalau Anda masih sehat, terima kasih Tuhan, kalau jatuh sakit, baru dokter mengatakan jangan makan daging. Terserah pilihan di tangan kita. Jangan percaya sama saya.

 

“Wahai Kurusattama (Arjuna, yang terbaik dalam Dinasti Kuru), ia yang menikmati apa saja yang tersisa dari persembahannya, sesungguhnya menikmati Amrta – kehidupan langgeng, dan mencapai Brahman Hyang Kekal Abadi. Sebaliknya bagi mereka yangtidak melakukan persembahan, tiada suatu (kenikmatan) apa pun di dunia ini, apalagi di alam lain (setelah menyelesaikan masa kehidupan di alam benda ini).” Bhagavad Gita 4:31  

https://bhagavadgita.or.id/

 

Tidak ada kebahagiaan yang kekal abadi. Kalau kita cari uang untuk diri-sendiri. Banyak orang saya ketemu. Usia sudah 78 tahun, 79 tahun, dia bilang sekarang stress saya sekarang paling hebat itu adalah saya punya begitu banyak uang, anak-anak saya semuanya tida kada yang beres. Ini uang akan saya tinggalkan, nggak sampai 5 tahun akan mereka habiskan semuanya.

Stress berat, apakah kita mau seperti itu? Punya uang nikmati nggak usah foya-foya di Kuta nggak usah dugeman di sana. Tapi gunakan uang itu untuk sesuatu yang baik sesuatu yang berharga. Jangan sampai mau mati juga, nggak tenang. Mau mati nggak jadi mati, ingat rumahnya, jadi mati pun nggak bisa. Tarik ulur-tarik ulur, banyak orang seperti itu. Jangan sampai seperti itu. Untuk itu hidup tenang, matinya pasti tenang. Guru saya selalu mengingatkan, kalau mau fotonya bagus, senyumlah selalu. Kalau disini Baloma lagi foto. Kalau nggak senyum tiba-tiba keluar fotonya. Sekarang sih diedit oleh dia. Yang bagus dipilih. Kalau nggak bagus nggak dipilih.

Dulu ingat nggak, masih pakai roll fotonya. Kan mahal kan satu roll 36 foto. Ada bonusnya satu dua foto, kalau rusak ya rusak. Kalau sekarang nggak, dia jepret 100 foto tinggal dia yang cari. Kalau dia lagi sentimen dengan Anda.

Istri-istri harus jaga-jaga. Suaminya fotograper tuh. Kalau dia lagi marah, istrinya masak nggak benar, you know what they do? Ambil jepret cepat-cepat 100 foto, kan nggak bayar dia, yang nggak suka delete kan, cari foto yang paling jelek, pasti ada. Jepret 100 foto. Pasti ada yang satu paling jelek, mata lagi begini atau lagi begini. Lagi ngantuk begini. Masukin diinstagram. Jadi viral besok pagi, gimana saya dapat istri yang jereng nggak ngerti apa-apa. Kelihatannya setengah gila, kalau nggak diceraiin gimana? Bisa jadi untuk menceraikan istri.

Lihat dia (Baloma) sudah mulai beraksi tuh. Jad ikalau fotonya mau bagus, senyumlah selalu. Maka fotonya pasti bangus. Kalau sekali-sekali nggaksenyum, kita lagi cemberut, fotonya nggak akan bagus. Tapi jangan juga pakaisenyuman plastik, ada orang yang senyumannya plastik. Senyum terus (giginya dibuka) senyumnya begitu karena saya juga lagi gemuk. Sepuluh hari terakhir saya makannya terlalu banyak, jadi tersenyum begini matanya seperti mata sipit. Dari mata besar jadi mata sipit. Tiba-tiba satu garis. Jadi hati-hati. Jadikan hidup ini sebagai persembahan, sehingga hidupnya tenang hidupnya bahagia, matinya juga damai. Terima kasih.

 

Sumber: Video Youtube Bersama Anand Krishna Bhagavad Gita Sehari-Hari Ayat 04:26-31 Layani Tuhan dengan Melayani Kemanusiaan dan Masyarakat


https://www.youtube.com/watch?v=NVTsF18fB1M&t=4s

https://www.akcjoglosemar.org/wp/

https://www.anandkrishna.org/

Wejangan Anand Krishna: Layani Tuhan dengan Melayani Kemanusiaan dan Masyarakat

“Sebagian orang menyembah dengan cara menghaturkan hartanya; sebagian dengan bertapa; sebagian melakoni Yoga; sebagian dengan mengikuti berbagai laku spiritual secara ketat; dan sebagian lagi dengan mempersembahkan pengetahuan yang diperolehnya lewat pendalaman-pendalaman kitab suci pada Api Suci Kebijaksanaan Abadi.” Bhagavad Gita 4:28

https://bhagavadgita.or.id/

 

Apapun yang kita pelajari, dari kitab-kitab suci dari kepercayaan masing-masing, harus dipersembahkan, dihaturkan, diekspresikan lewat kerja nyata kebijaksanaan. Kita baca kita belajar, jadilah jujur, apakah cukup kita belajar saja? Kita harus mempraktekkan kejujuran. Setelah kita praktekkan baru ada gunanya, kalau nggak Cuma belajar saja nggak berguna.

 

“Ada pula yang menghaturkan persembahan dengan cara pengaturan prana atau energi kehidupan lewat napas – napas yang masuk dan napas yang keluar. Dengan cara itu, mereka mengatur hidup mereka (dan membuatnya layak untuk dipersembahkan).” Bhagavad Gita 4:29

https://bhagavadgita.or.id/

 

Kita sekarang di sini belajar kan, kita belajar untuk tarik napas pelang-pelan, buang napas pranayam, dalam yoga juga, meditasi juga. Kenapa kita mengatur napas itu? Supaya hidup kita sehat, dan kita bisa berbagi kesehatan. Kita sakit, kita sendiri menderita, tapi bukan kita saja yang sengsara, orang-orang sekitar kita. Coba pergi ke rumahsakit-rumah sakit, pergi ke klas dimana orang-orang yang tidak punya uang, tidak begitu beruntung mereka, sedang diobati. Dan lihat keluarga mereka, keluarga mereka yang menunggui mereka di sana. Tidak punya uang, tidak cukup uang, penderitaan yang luar biasa.

Kita mengatur napas untuk apa? Supaya kita menjadi sehat dan bisa berbagi sesuatu. Apa pun yang kita belajar di sini bagikan kepada orang lain. Kalau orang itu mau belajar,ajak ke sini. Coba jadikan ini sebagai suatu pemahaman yang betul. Tahu bahwa rasa bahagia, itu faktor utama untuk kesehatan. Kalau Anda bisa merasa bahagia, 50% persoalan Anda selesai. Nggak akan dihantui oleh stress dan sebagainya. Bahagia.

Dan nanti mungkin Archana masih ingat, orang itu paling bahagia, ketika dia membantu orang lain. Ada hormon yang keluar, saya lupa, hormon apa itu. Ada hormon tertentu yang keluar. Serotonin? Ketika kita membantu orang.

Setelah kita menjadi sehat dan berbagi kesehatan, kebahagiaan yang Anda peroleh, itu akan menambah kesehatan Anda. Akan membuat Anda lebih sehat lagi. Dan kebahagiaan yang Anda peroleh itu, adalah ketika membantu orang yang tidak memahami soal kesehatan dan tidak punya uang.

Kalau Anda punya uang, karena di sini juga butuh uang untuk maintenance dan sebagainya. Ada orang butuh program seperti ini nggak bisa bayar, Anda punya rejeki, bayarin. Kalau tidak punya rejeki, tidak bisa bayarin, orang itu nggak bisa bayar, bicara dengan pengurus di sini. Sampaikan kepada ibu Harumini yang jadi fasilitator, ini ada teman kita dan dia nggak bisa bayar atau semampunya berapa, jangan sampai ada satu pun orang, yang datang ke center ini, dan dia tidak bisa mengikuti program karena dia nggak bisa bayar. Jangan sampai terjadi begitu.

Mahasiswa yang belum punya penghasilan, kalau dari keluarga kaya silakan. Harus ada cross subsidy. Bisa dibayarin silakan,tidak bisa dibayarin jangan tolak. Bicarakan langsung dengan ibu Harumini, atau siapa pun di sini yang pengurus. Ini ada kasus begini, cari tahu dulu kalau dia betul-betul nggak bisa bayar, ada kebahagiaan yang kita peroleh, dan dari waktu ke waktu, kalau ada acara seva bhakti sosial ikut dalam acara-acara seperti itu, setiap minggu kita ada pelayanan di Krobokan. Tapi kadang-kadang suka dibatalkan oleh pihak Krobokan karena ada acara lain mereka. Ada kegiatan lain juga Seva dan ibu-ibu yang punya waktu, dan tidak mengganggu jadwal pada hari kerja, punya waktu, tidak mengganggu jadwal, bicarakan dengan ibu Harumini, Sukmawati, ada 2 orang, bicarakan sama mereka tanya, kira-kira perlu bantuan apa di sekolah. Membantu di boarding, ada sekolah ada 150-an anak, ada 20-an anak yang tinggal di situ, di asrama. Hal-hal kecil, hal-hal menjaga anak-anak, anak-anak juga saptu minggu di asrama, menjaga membantu.

Saya melihat di Thailand, anak-anak tinggal di asrama, 300-an anak, 2 jam lebih dari Bangkok, dan masih agak terpencil, masih seperti kampung. Anak-anak, di asrama belajar, ibu-ibu yang tidak punya pekerjaan, ataupun kalau mereka punya pekerjaan, seminggu sekali mereka datang ke asrama, untuk membantu. Ada seorang ibu datang membantu apa, setrika baju seragam anak. Ada ibu yang bantu untuk cuci baju. Jadi nggak ada yang dikirim ke laundry. Semua dicuci di sana. Ada yang bantu untuk urusan lain. Ada juga yang bantu di dapur. Masak juga ada yang bantu. Dengan cara begitu, kita mengembangkan rasa empati. Dan Anda memperoleh kebahagiaan dari situ. Yang bisa menyehatkan Anda. Jadi anggap tempat ini sebagai unit gawat darurat. Sudah jatuh sakit, mau ke mana bawa dulu ke unit gawat darurat. Sembuh dulu. Setelah sembuh layani masyarakat.

Sejak kemarin, kemarin ulang tahun kita yang ke 29. Ada yanghadir saya lihat. Kita punya motto sekarang, motto pelayanan, kita punya visi. visinya One Earth One Sky One Humankind, Satu Bumi Satu Langit Satu Umat Manusia. Satu kemanusiaan. Missinya apa, bagaimana mencapai itu, bagaimana mengekspresikan mewujudkan, dengan cara inner peace, damai, kedamaian dalam hati, dalam diri sendiri. Setelah itu communal love, cintailah masyarakat, setelah damai dengan diri sendiri. Baru cintanya cinta yang asli. Kalau nggak palsu. Dan setelah itu global harmony. Kita bisa menciptakan kedamaian harmony dalam lingkupan yang lebih luas lagi. Bahkan sampai global. Sampai seluruh dunia.

Tapi kemarin kita menciptakan satu motto, motto baru, lebih dipertegas lagi. Serve the Almighty layanilah Tuhan Yang Maha Kuasa, Maha Esa, Gusti, Sang Hyang Widhi, apa pun sebutan-Nya. Layanilah Tuhan dengan melayani, serve the Almighty by serving humanity and sosiety. Dengan melayani kemanusiaan dan masyarakat. Saya tidak mengatakan dengan melayani, umat manusia, tidak. Dulu sering saya mengatakan, dengan melayani living beings. Melayani semua makhluk hidup. Tapi kemarin saya meralat, melayani kemanusiaan.

Kira kira ngerti bedanya antara melayani sesama dengan melayani kemanusiaan. Melayani kemanusiaan berarti melayani nilai-nilai luhur kemanusiaan. Melayani niai-nilai luhur kemanusiaan yang ada dalam diri kita. Apa nilai-nilai luhur itu?

Kalau ada  anjing yang berpenyakitan, dia kena rabies atau apa, nggak bisa diobati, atau kena penyakit apa, atau kalau ada binatang buas, yang makan manusia, kan dulu banyak. Kita masih tinggal di kampung. Suka ada babi, babi hutan. Mereka suka datang, ke kampung mereka merusak kampung itu. Melukai orang-orang makanya terus ada orang-orang yang memburu babi, jadi zaman dulu babi ngggak diternak, tidak ada peternakan babi untuk babinya dimakan. Nggak ada dulu. Karena ada babi-babi yang merusak desa kita, banyak babi kemudian diburu. Terus memburu juga tidak setiap hari memburu 1 babi zaman dulu.

Bukan memburu untuk sengaja, baca sejarah. Bagaimana terjadi awalnya. Memburu kemudian mereka ambil dagingnya, dimasak bersama-sama satu keluarga besar atau satu desa. Mereka makan bersama. Belum tentu, dan saya sampai tahun 70-an tidak melihat, ada rumah makan babi guling. Nggak ada zaman dulu babi guling. Nggak dijual, orang kalau makan babi guling itu kalau ada odalan. Baru ada babi guling. Nggak seperti sekarang, jual babi guling.

Di Solo dulu saya sering menceritakan makan nasi liwet, ayamnya sedikit Cuma berapa suwir. Sekarang nggak, dada mentok. Mau makan sate, dulu makan sate, satu, dua. Beli sepuluh sate lima orang yang makan. Sekarang saya pergi ke Solo, sekali waktu, orang tukang sate datang, nggak bilang lagi berapa makan sate, biasanya kan piring 10 tusuk.ini nggak, tanya pakai bahasa Jawa kamu, hari ini bawa berapa banyak sate. Ada 1.000 tuan. Ya sudah beli semuanya. Satu orang bisa makan 300 sate. Seribu siapa yang makan, kalian makan berapa makan saja dulu. 300 dia makan, sisanya taruh satu jam lagi makan lagi. Kita belum selesai ngobrol. Kalau nggak berpenyakitan, mau gimana lagi.

Jadi zaman dulu kita nggak membunuh binatang dengan cara begitu. Membuat hidup kita ini layak, kesehatan kita layak untuk bisa membantu orang. Sekarang nggak, kita tidak sehat masuk rumah sakit, keluar dari rumah sakit, sudah sehat, ayo makan steak dulu. Belum sampai rumah sudah sakit lagi.

Hampir di seluruh dunia sekarang, kalau kena kanker, pertama-tama disuruh jangan makan daging, karena daging itu adalah makanan bagi sel-sel kanker.

Orang kena kanker pertama-tama disuruh jangan makan gula pasir. Gula pasir adalah makanan untuk sel-sel kanker. Tapi di sini nggak, orang sakit tetap makan gula, tetap makan apa.

Saya mau makan satu kue saja, ada polisi sekitar saya, nggak boleh makan itu. Satu sudah cukup. Hari ini saya takjub, dulu saya Cuma punya satu polisi yang selalu mengikuti saya. Saya tidak akan sebut namanya. Hari ini dalam satu hari saya mendapatkan dua orang polisi baru, dan dua-duanya wanita. Di sekolah mau minum kopi, polisi. Disini dikasih kue sama Widja, polisi. Dan dua polisi baru hari ini. Tanpa saya gaji, tanpa saya bayar apa-apa, di sekolah ada satu polisi di sini ada satu polisi, oke fine ini juga nasib, tetapi itulah betul, itu yang betul. Jadilah polisi bagi diri sendiri. Perhatikan makanan , perhatikan tempat dimana Anda bekerja. Nggak ada asap rokok. Asap rokok itu sangat sangat jahat untuk kesehatan kita.

Sumber: Video Youtube Bersama Anand Krishna Bhagavad Gita Sehari-Hari Ayat 04:26-31 Layani Tuhan dengan Melayani Kemanusiaan dan Masyarakat

https://www.youtube.com/watch?v=NVTsF18fB1M&t=4s

https://www.akcjoglosemar.org/wp/

https://www.anandkrishna.org/

 

Wejangan Anand Krishna: Mengikuti Kemauan Panca Indra atau Mengendalikan Diri?

“Sebagian mempersembahkan indra pendengaran dan sebagainya ke dalam Api Suci Pengendalian Diri; sebagian lagi mempersembahkan suara dan pemicu-pemicu lainnya ke dalam Api Indra yang membara.” Bhagavad Gita 4:26

https://bhagavadgita.or.id/

 

Ada orang yang mengikuti kemauan panca indra , ikuti saja tidak peduli dengan konsekuensinya. Mulut mencari makanan yang lezat, yang enak dia mengikuti kemauan mulut. Tapi apa yang dimaukan, yang dianggap enak oleh mulut belum tentu sehat. Tetapi kita tidak peduli. Banyak orang seperti itu. Tidak peduli apa yang saya makan. Itu bisa merusak kesehatan kita. Kita mengikuti kemauan.

Ada juga yang mengendalikan diri. Mau makan sesuatu, tapi dia juga tahu makanan itu tidak baik bagi kesehatan saya, makanya menghindari. Ada orang begini, ada orang begitu.

Pendengaran juga begitu, mendengar suara-suara, mendengar gosip, mendengar hal-hal yang tidak ada kaitannya dengan kita, menyebarkan stress.

Pagi-pagi bangun tidur banyak orang sekarang…. bangun tidur apa yang kita lakukan, buka hp melihat whatsup. Banyak seperti itu. Itu adalah penyebab utama stress. Di zaman sekarang begitu bangun tidur, melihat whatsup. Kalau ada orang yang mati atau apa, pasti ditelpon. Berarti nggak ada sesuatu yang amat sangat serius. Yang tidak bisa menunggu sejam dua jam.

Lakukan sesuatu yang lain dulu, tapi nggak ini berarti kita tidak bisa mengendalikan diri. Pendengaran begitu, penglihatan begitu. Kita melihat memperhatikan begitu banyak hal, yang sebetulnya tidak perlu diperhatikan. Sebetulnya tidak perlu dilihat, tapi tetap melihat menonton misalnya.

Menonton youtube menonton apa. Ada orang yang seharian bisa di youtube terus. Bicara apa pun di film ini begini di film itu begitu, kapan waktunya lihat film. Tidak pernah tidur malamnya. Kemudian kalau sakit, kita mencari-cari alasan kita sakit karena ini karena itu, padahal kita merusak kesehatan kita sendiri. Jadi ada orang tidak mengendalikan diri ada orang yang mengendalikan diri. Beragam kebiasaannya.

 

“Sebagian lagi mempersembahkan seluruh kegiatan indra; dan bahkan seluruh tindakan Prana, atau hidupnya ke dalam api Yoga Pengendalian Diri, yang dinyalakan oleh Pengetahuan Sejati.” Bhagavad Gita 4:27

https://bhagavadgita.or.id/

 

Ada juga orang-orang yang melakukan persembahan, yajna dalam bahasa Sanskrit. Yajna itu bukan hanya ritual kepercayaan. Persembahan adalah offering. Apa yang kita serahkan, apa yang kita berikan kepada masyarakat, apa yang kita berikan kepada orang-orang sekitar kita.

Kalau kita tahu, kalau kita sadar, kesehatan yang kita miliki. Di sini kita melakukan kegiatan agar menjadi sehat. Kesehatan yang kita miliki apakah untuk kita sendiri saja, atau kita harus berbagi kesehatan itu dengan orang lain.

Kitaharus berbagi apa yang bisa kita bagikan. Ini adalah Pengetahuan Sejati. Bahwa apapun yang kita miliki bukan untuk saya pribadi saja. Bukan untuk keluarga saja. Tapi saya juga harus berbagi dengan masyarakat. Ini adalah persembahan, yajna yang sesungguhnya. Dan itu akan terjadi kalau kita mengetahui, kita meraih, memperoleh Pengetahuan Sejati. Bahwa sebetulnya kita semua interconnected. Saling terkait.

Zaman dulu saya masihingat, di Bali juga khususnya sampai tahun70-an gitu, kapan-kapan saya ketemu dengan orang, ada orang Bali saya lagi bertemu, terus saya bertemu, didaerah Sanur begitu, ada ibu Upasana waktu itu, sampai zaman itu sampai tahun 90-an ya, ketemu dengan orang-orang berusia 40 tahun, 35, 40-45 tahun begitu. Saya baru bertemu dengan orang Tabanan terus tiba-tiba orang datang dari Singaraja, Negara, saya saling memperkenalkan. Lagi bicara 3-4orang begitu. Nggak sampai 15 menit, bisa tercipta hubungan keluarga. Yang tinggal di Negara tanya kamu gimana kenal sama ini kenal sama itu. O ya kenal, ternyata orang itu kawin sama orang di kampungnya. Datang sebagai orang asing, saling tidak kenal. Satu dari Negara, satu dari Tabanan, dalam15 menit tercipta hubungan, luar biasa kan. Ada bagusnya.

Ada jeleknya. Apa yang tercipta itu kalaukita menarik keatas lagi, bukan antara Tabanan dan Singaraja. Tapi kita semua adalah percikan-percikan dari kemuliaan yang sama. Dari Gusti yang sama.Tuhan yang sama. Sang Hyang Widhi atau apapun sebutan-Nya. Seperti matahari sinarnya banyak sekali. Tapi sumbernya matahari, kita semua juga begitu.

Kalau kita menarik ke situ kita akan menjadi peduli terhadap masyarakat. Tapi kalau kita berhenti pada hubungan fisik, hubungan mental-emosional, kita malah akan menciptakan konflik-konflik baru. Tiba-tiba habis15menit, saya melihat menonton, menyaksikan sendiri. 15 menit pertama, ada hubungan enak sekali. Ditambah lagi 15 menit. Extension 15 menit. Musuhan! Dari tidak kenal sampai kenal sampai musuhan. Kenapa? Karena besan dia terus ininya dia apa, diapain oleh siapa, ternyata yang dariTabanan, berpihak pada kelompok ini, yang dari Negara berpihak pada kelompok itu. Luar biasa lho. Tadinya orang asing, sekarang orang kenalan, relasi 15 menit lagi musuhan.

Karena kenapa, karena tidak memiliki Pengetahuan Sejati. Guru sya selalu mengatakan banyak sekali pergaulan kita itu, sebetulnya cuma butuh dua kata. Hi dan Bye. Ada orang-orang yang kita harus kenal baik. Tapi kalau cuma mau cari sensasi aja, banyak orang yang hubungan itu cuma cari sensasi. Perlu teman gosip.

Beberapa waktu yang lalu saya melihat sekarang di Jepang. Robot-robot ini yang sudah nggak dipakai banyak robot dan karena banyak orang Jepang juga memelihara robot sebagai binatang piaraan. Jadi nggak lagi ada kucing atau apa, tapi kucing robot. Sudah ada programmingnya. Kalau majikannya datang terus tiba-tiba bisa mencium, terus ada sensornya dia akan gonggong, terus setiap beberapa menit gonggong. Terus kalau dia lapar ada bunyi juga. Harus dicharge baterainya. Luar biasa.

Jadi sekarang apa yang terjadi, generasi pertama, robot-robot ini yang mati. Disebut mati karena sudah rusak. Terus dia mendonasikan organnya. Jadi robot-robot yang mati ini, kalau ada parts ada sparepartsnya masih bagus, diambil dan istilahnya donasi organ. Terus robot-robot yang rusak ini diambil oleh manufakturnya. Yang menciptakan robot itu. Dikumpulkan semua organ yang bisa didonasikan, diambil. Yang sisa dikasih kain, dengan cara Jepang, ada labelnya, namanya dan nama orang tuanya, majikannya. Dan ada cerita semasa hidupnya, ada anjing untuk menjaga rumah. Semasa hidup saya telah mengabdi menjaga rumah. Dibawa keTemple, ke Pura, dan disembahyangi. Terus kalau mau ambil foto silakan ambil foto. Seperti kita kalau taruh foto keluarga, ada foto bapak dan ibu saya di situ. Nah ini robot yang sudah mati, sudah dimakamkan, dingabenkan, ditaruh fotonya. Saya pernah punya robot.

Bagus tapi tidak bagus. Kalau bagusnya adalah kita semasa hidup kita, peduli terhadap semua. Bukan cuma terhadap robot saja. Tidak bagusnya itu, kita menciptakan hubungan-hubungan baru yang tidak berguna sebetulnya. Oke sampai dono rmasih oke kan, ada spreparts yang mau dipakai. Tapi sampai taruh foto, kita menciptakan suatu ketergantungan, baru. Nah Krishna mengatakan sekian banyak orang, yang menyembah, yang melakukan yajna, melakukan persembahan, offering dengan berbagai cara.

Sumber: Video Youtube Bersama Anand Krishna Bhagavad Gita Sehari-Hari Ayat 04:26-31 Layani Tuhan dengan Melayani Kemanusiaan dan Masyarakat

https://www.youtube.com/watch?v=NVTsF18fB1M&t=4s

https://www.akcjoglosemar.org/wp/

https://www.anandkrishna.org/