Sibuk Meraih Kenikmatan Duniawi Sampai Maut Menjemput #BhagavadGita

Dunia ini penuh dengan orang-orang bodoh. Mereka hidup tanpa mengetahui arah. Mereka tidak tahu tujuan hidup itu apa. Mereka pikir makan, minum, tidur, seks, kekuasaan, harta-benda, itulah kehidupan. Mereka “tampak”bahagia, tapi sesungguhnya hampa. Mereka kosong.

Hingga usia 35-40 tahun, mungkin mereka tidak mengerti arti kebahagiaan, dan menerjemahkan “kenyamanan” sebagai “kebahagiaan”. Setelah usia 35-40 tahun, umumnya mereka  baru tersadarkan bahwa kenyamanan tidak sama dengan kebahagiaan. Namun, saat itu pun mereka masih belum tahu cara untuk meraih kebahagiaan sejati.

Adalah suatu berkah jika seorang yang sudah berusia 35-40 tahun masih sempat tersadarkan akan kesalahannya, dan mulai mencari kebahagiaan sejati. Biasanya, mereka hidup sebagai layangan yang putus – tanpa arah – bergantung pada arus angin. Demikian satu masa kehidupan tersia-siakan.

Dibutuhkan energi yang luar biasa untuk menarik diri dari pengaruh maya. Dan, energi sedahsyat itu adalah energi seorang pemuda, seorang pemudi di bawah usia 30-35 tahun. Energi semasa itu, energi hingga usia itu adalah energi keberanian, kepahlawanan. Energi yang membuat seorang berani mengambil resiko itu, tidak bertahan lama. Gunakan energi itu sekarang, dan saat ini juga, sebelum ia meredup! Penjelasan Bhagavad Gita 7:15 dikutip dari buku: (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

 

Apakah yang demikian itu terjadi karena pada umumnya kita semua dibawah pengaruh rajas yang dinamis dan agresif? Silakan simak penjelasan Bhagavad Gita 14:22 di bawah ini:

Cover Buku Bhagavad Gita

Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu; Saha vīryam karavāvahai; Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga Hyang Tunggal senantiasa melindungi kita; menjernihkan pikiran kita: semoga kita dapat berkarya bersama dengan penuh semangat; semoga apa yang kita pelajari mencerahkan dan tidak menyebabkan permusuhan; Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

“Wahai Bharatarsabha (Arjuna, Banteng Dinasti Bharat), ketika sifat Rajas berkuasa, seseorang menjadi serakah; dan, segala aktivitasnya hanyalah bertujuan untuk meraih kenikmatan duniawi. Sebab itu, ia pun gelisah ketika keinginan-keinginannya tidak terpenuhi.” Bhagavad Gita 14:12

 

Kekuasaan Rajas adalah yang paling umum. Rata-rata, kita semua, hampir sepanjang hari, berada di bawah pengaruhnya.

SEPANJANG HARI KITA AKTIF BEKERJA – Namun, tujuan kita hampir selalu untuk menghasilkan materi “saja”. Jarang sekali kita memikirkan apakah pekerjaan itu mulia atau tidak? Apakah pekerjaan itu hanya menguntungkan kita semata atau juga adalah baik bagi orang-orang di sekitar kita? Apakah kita mencari keuntungan di atas penderitaan orang lain?

Kemudian, ketika keinginan dan harapan kita untuk meraih keuntungan sebesar dan sebanyak mungkin tidak tercapai, kita rnenjadi gelisah. Kegelisahan semacam itu memang wajar, lazim, dan alami — karena kesenangan sesaat yang kita kejar selalu bergandengan dengannya.

SELAMA KITA MENGEJAR “SUKA”, maka “duka” yang adalah kembarannya, menanti di luar pintu kehidupan kita. Begitu “suka” keluar, masuklah “duka”. Demikian mereka bergantian mengunjungi kita. Para pengunjung setia!

Inilah keadaan orang yang berada di bawah pengaruh rajas. Ketika berhasil, ia bersuka-cita. Ketika gagal, ia berduka. Kadang senang, kadang susah. Ia selalu terombang-ambing dalam lautan samsara — pengulangan yang tidak pernah berhenti.

Samsara “pengulangan” adalah sebab kesengsaraan. Awalnya barangkali menyenangkan, tapi akhirnya selalu membosankan, mengecewakan dan menggelisahkan.

 

HAL INI BISA DIRASAKAN OLEH PARA JET-SETTERS – Awalnya, mereka menikmati perjalanan ke mana-mana. Hidup mereka hampir sepenuhnya di pesawat terbang. Baru pulang, besok berangkat lagi. Sayangnya, saya tidak pernah bertemu dengan seorang jet-setter “sejati” yang “akhirnya” tidak mengeluh, “Untuk apa semuanya ini? saya punya segala-galanya. Rumah di Jakarta, apartemen di Inggris, kantor di New York, kastil di Perancis. Tapi kapan saya menikmatinya?”

Adalah para pegawai mereka yang menikmati semuanya itu. Mereka sendiri tidak punya waktu lagi untuk menikmatinya.

Di usia uzur, ketika Dewa Yama, Malaikat Maut sudah menunggu di luar pintu, mereka masih sibuk memikirkan, “Bagaimana dengan kerajaan yang telah kubangun? Apakah anakku dapat mempertahankannya? Apakah para direktur dan CEO akan tetap setia? Apa yang akan terjadi dengan perusahaan-perusahaan yang kubangun dengan jerih payah, cucuran keringat dan darah?”

 

JIWA YANG TERGANGGU oleh pikiran-pikiran seperti itu, lupa akan jati dirinya sebagai Jiwa Merdeka — Ia “mengalami kematian” dalam keadaan terguncang. Kemudian, setelah pengalaman kematian itu, ia mengejar lagi pengalaman kelahiran ulang. Dan dalam pengalaman hidup berikutnya pun, ia masih tetap mengejar hal yang sama. Inilah Samsara.

Lagi-lagi ia mencari pengalaman suka dari timbunan harta. Awalnya ia bahagia, namun akhirnya, ia kembali gelisah. Demikian seterusnya dari satu masa kehidupan ke masa kehidupan berikutnya. Apa tidak membosankan? Badan dan perangkat indra yang baru tidak memiliki memori dari masa lalu. Gugusan pikiran dan perasaan memilikinya, tapi lupa. Namun, Jiwa tidak lupa. Ia mengalami kegelisahan yang luar biasa, tapi karena keterikatannya dengan pengalaman-pengalaman tertentu, ia “merasa” tidak berdaya untuk berulangkali lahir dan mati. Demikianlah keadaan kita saat ini.

Dikutip dari buku: (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

 

Om, Sarve bhavantu sukhinaḥ; Sarve santu nirāmayāḥ; Sarve bhadrāṇi paśyantu; Mā kashchit duḥkha bhāgbhavet; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga semua makmur, bahagia dan bebas dari penyakit. Semoga semua mengalami peningkatan kesadaran, dan bebas dari penderitaan. Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/

 

Kita adalah Penonton bukan Pemeran Film #BhagavadGita

Saat kita sedang menonton film atau membaca novel – ada adegan-adegan yang  bisa menghanyutkan kesadaran kita. Jika kita mengidentifikasikan diri dengan adegan-adegan  itu, dengan para pemeran, maka, bisa tertawa sendiri, menangis, mengalami suka dan duka oleh karenanya. Padahal, semua itu “tidak terjadi” pada diri kita. Penjelasan Bhagavad Gita 9:3 dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

 

Kita terhanyut oleh ide-ide sang sutradara film atau sang penulis novel, dan kita bisa merasa suka dan duka karenanya. Padahal identitas sebenarnya kita bukan pemeran dalam film atau novel. Itu hanyalah “maya” yang dibuat sang sutradara film atau sang penulis novel.

Kita adalah penonton film atau pembaca novel, itulah jati diri kita.

Jangan-jangan sekarang pun kita terjebak dalam “maya” buatan Sang Sutradara Agung. Jangan-jangan diri sejati kita bukan pemeran atau pelaku dalam sandiwara “dunia” ini????

Silakan simak penjelasan Bhagavad Gita 9:4 berikut ini:

Cover Buku Bhagavad Gita

Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu; Saha vīryam karavāvahai; Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga Hyang Tunggal senantiasa melindungi kita; menjernihkan pikiran kita: semoga kita dapat berkarya bersama dengan penuh semangat; semoga apa yang kita pelajari mencerahkan dan tidak menyebabkan permusuhan; Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

“Kuliputi alam semesta dalam keilahian serta kemuliaan-Ku yang tak-nyata. Semua makhluk bagaikan ide-ide yang berada di dalam diri-Ku. Sebab itu, sesungguhnya Aku tidak berada di dalam diri mereka.” Bhagavad Gita 9:4

Isa mengatakan bahwa kerajaan Gusti Pangeran ada di dalam diri kita. Atau, lebih tepatnya, diri kita adalah kerajaan-Nya. Alam semesta adalah kerajaan-Nya. Ada pula yang rnengatakan bahwa bukti-bukti kehadiran-Nya bertebaran, ada di mana-mana!

 

INI PULA MAKSUD KRSNA – Aku ada di mana-mana, Aku meliputi segalanya, semuanya berada di dalam diri-Ku yang Tak Terlihat, Tak Nyata. Namun, Aku tidak berada di dalam diri mereka.

Ia Hyang Tak-Nyata, Tak-Terlihat pula…..

Sementara itu, makhluk-makhluk — semuanya, tanpa kecuali — merupakan “ide-ide” yang menjadi nyata. Untuk memahami hal ini, kita kaitkan dengan ide-ide yang ada di dalam otak kita….

Jika kita membedah otak, apakah ide-ide itu dapat ditemukan? Tidak. Tapi, ide-ide itu ada, mereka “berbentuk ide” — ada sebagai ide. Sesungguhnya ide-ide itu bcrada di dalam gugusan pikiran dan perasaan, yang disebut “mind”. Lagi-lagi “mind” pun tidak bisa ditemukan saat otak dibedah. Tapi sekarang, hampir semua ilmuwan berpandangan progresif setuju bahwa mind itu ada. Mind bukan otak. Otak adalah alat yang digunakan oleh mind. Otak bukan mind. Mind adalah pengendali otak. Tak terlihat, tapi ada. Keberadaannya diketahui karena kinerja otak.

 

JANGAN, JANGAN MENYERAH! Jangan cepat-cepat menyimpulkan, “ini terlalu tinggi”. Kesimpulan demikian pun adalah sebuah ide, “ide yang keliru”. Tukarlah ide yang keliru itu dengan ide lain, “aku sedang berupaya untuk memahami hal ini.”

Otak rnanusia dikendalikan oleh mind, oleh gugusan pikiran dan perasaan. Otak terlihat, mind tidak. Tapi otak bekerja karena adanya mind.

Dari otak dan mind manusia — sekarang beralih ke otak dan mind Gusti Pangeran.

Kita semua, jagad raya ini adalah gugusan ide-ide yang ada di dalam mind Gusti Pangeran, Mind Supra.

 

ANDA, SAYA, KITA SEMUA HANYALAH IDE – Bukan saja badan kita, tapi Jiwa pun sebuah ide. Jiwa Individu bergerak karena digerakkan oleh Mind Supra Gusti Pangeran Sang Jiwa Agung. Ketika kita—makhluk-makhluk sejagad ini — diproyeksikan di atas layar alam semesta atau Prakrti, maka muncullah berbagai macam gambar yang seolah-olah bergerak sendiri. Padahal semuanya adalah proyeksi.

 

Kita adalah penonton film atau pembaca novel, itulah jati diri kita

 

“Dalam keadaan ‘diri’ atau batin terkendali seperti itu, Jiwa menyadari dirinya sebagai Jiwa; Demikian, ia mengalami kebahagiaan, kepuasan tak terhingga.” Bhagavad Gita 6:20

Dalam keadaan citta atau batin tenang — Jiwa menyadari dirinya sebagai Jiwa. Ia bukan badan; ia bukan energi; ia bukan gugusan pikiran serta perasaan; ia bukan inteligensia; ia bukan ini, dan bukan juga itu. Ia adalah Jiwa, percikan Sang Jiwa Agung. Maka saat itu ia mengalami kebahagiaan tak terhingga. Sebelum menggapai ………

………………..

JIWA ADALAH PENONTON – Mereka yang sedang beraksi di atas panggung adalah badan, gugusan pikiran serta perasaan, indra, inteligensia.

Dirinya sedang menonton!

Maka adegan apa saja dapat menghibur dirinya. Terjadinya kematian di atas panggung, mengikuti skenario Sang Sutradara atau Penulis Naskah, tidak mencelakakan dirinya.

Terjadinya banjir, badai, topan — tidak mengganggu kenikmatan yang diperolehnya sebagai penonton. Jiwa yang demikian itu — Jiwa yang menyadari perannya, sifat aslinya sebagai Jiwa —terbebaskan dari segala duka. Bahkan dari segala dualitas suka dan duka. Ia meraih kebahagiaan tertinggi!

Ia seperti seseorang yang sedang bermain game. Gambar-gambar yang muncul di monitor atau layar teve adalah proyeksi dari console yang pengendalinya ada di tangan dia sendiri. Penjelasan Bhagavad Gita 6:20 dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

Dikutip dari buku: (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

Setelah memahami hal demikian apakah kita biarkan saja adharma merajalela? Tidak juga, kita mencontoh Arjuna, memahami Bhagavad Gita dan tetap menegakkan dharma……

Om, Sarve bhavantu sukhinaḥ; Sarve santu nirāmayāḥ; Sarve bhadrāṇi paśyantu; Mā kashchit duḥkha bhāgbhavet; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga semua makmur, bahagia dan bebas dari penyakit. Semoga semua mengalami peningkatan kesadaran, dan bebas dari penderitaan. Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/

 

Berkarya Tanpa Pamrih untuk Melayani Sesama #BhagavadGita

Gita bukanlah buku yang bisa tamat. Gita adalah Panduan Hidup yang memandu kita selama kita masih hidup, atau lebih tepatnya, selama kehidupan sendiri masih ada.

Percakapan Kedelapanbelas ini adalah tentang Kebebasan Mutlak. Sesungguhnya, kebahagiaan sejati adalah hasil dari kebebasan. Jiwa-Jiwa yang masih diperbudak oleh hawa nafsu, indra, dan sebagainya – masih belum bebas, sehingga tidak pernah menikmati Kebahagiaan Sejati.

Lewat percakapan ini, pesan Krsna menjadi makin jelas. Jadilah bebas, jadilah bahagia….. itulah Kebenaran Perjalanan Hidup, itulah Kesadaran Tertinggi yang mesti digapai: Sat-Cit-Ananda. Dikutip dari Kata pengantar Percakapan Kedelapanbelas buku Bhagavad Gita.

 

Berikut penjelasan Bhagavad Gita 18:1 dan 18:2 tentang samyas memisahkan diri dari urusan duniawi dan tyaga, melepaskan hasil:

Buku Bhagavad Gita

Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu; Saha vīryam karavāvahai; Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga Hyang Tunggal senantiasa melindungi kita; menjernihkan pikiran kita: semoga kita dapat berkarya bersama dengan penuh semangat; semoga apa yang kita pelajari mencerahkan dan tidak menyebabkan permusuhan; Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

PERTAMA TENTANG SAMNYAS – Dalam tradisi yang sudah berjalan selama ribuan tahun di wilayah peradaban Sindhu, Shin-tuh, Hindu, Hindia, Indies, Indo — samnyas adalah salah satu tahap dalam kehidupan manusia. Sesuai dengan pedoman kemasyarakatan di wilayah peradaban ini, usia di atas 60an tahun adalah untuk memasuki samnyas, untuk memisahkan diri dari segala urusan duniawi, menarik diri dari keramaian, tinggal di tempat yang jauh dari kota untuk melakukan praktek-praktek spiritual. Nah, saat perang Bharata- Yuddha, usia Arjuna maupun Krsna sudah sekitar 70an tahun.

Adakah Arjuna ingin mendapatkan konfirmasi dari Krsna, “Bukankah dalam usia kita ini, lebih cocok bila kita memasuki samnyas — tahap kehidupan terakhir di mana urusan dunia sudah terlewatkan?”

Krsna memahami maksud Arjuna. Untuk terakhir kalinya dalam bab ini, Krsna berupaya untuk menegaskan peran Arjuna sebagai seorang kesatria. Sekaligus, Ia pun menjelaskan arti lain tentang tyaga dan samnyas. Sebuah terobosan baru oleh Krsna, sebuah definisi baru yang masih relevan hingga hari ini — 5.000an tahun setelah perang Bharata-Yuddha. Penjelasan Bhagavad Gita 18:1 dikutip dari buku: (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

 

 

Sri Bhagavan (Krsna Hyang Maha Berkah) bersabda:

“Para Resi menjelaskan samnyas sebagai pelepasan diri dari segala perbuatan yang termotivasi oleh keinginan untuk meraih imbalan, memperoleh sesuatu; dan, tyaga, sebagaimana dijelaskan oleh para bijak, adalah menyerahkan, melepaskan segala pahala, seluruh hasil dari setiap perbuatan.” Bhagavad Gita 18:2

Ini adalah terobosan baru…..

 

KRSNA TIDAK MENJELASKAN SAMNYAS sebagai penarikan diri dari keramaian dunia. Jika kita berperan sebagai Arjuna, di mana urusannya adalah membela kebajikan dan keadilan — maka tidak ada masa pensiun. Sebab itu, samnyas dijelaskan bukan sebagai penarikan diri dari keramaian dunia; segala urusan dunia; maupun dari segala perbuatan. Tapi, sebagai pelepasan atau penarikan diri dari segala perbuatan yang termotivasi oleh keinginan untuk meraih imbalan.

Di usia uzur pun, jika memang peran kita menuntutnya, maka kita mesti tetap berkarya, berjuang. Arjuna belum menyelesaikan perannya. Ia mesti berjuang. Pun demikian dengan mayoritas kita hingga saat ini.

Tidak semua orang mesti menjadi petapa dan tinggal di tengah hutan. Tidak semua orang mesti menyepi. Tidak semua orang mesti menarik diri dari keramaian.

Arjuna termasuk mereka yang mesti menjalani samnyas dengan pemahaman baru ini. Dan sesungguhnya kita pun demikian. “Kemungkinan besar” demikian!

 

BERKARYALAH TANPA MEMIKIRKAN HASIL, tanpa motivasi yang berlandaskan pada keinginan untuk menjadi super kaya, super tenar, dan super apa saja!

Berkaryalah dengan semangat melayani sesama.

Dengan berkarya seperti itu, sesungguhnya kita pun sudah memasuki samnyas. Kita sudah tidak lagi memikirkan kepentingan diri. Kita sudah tidak berdagang sapi, tidak terlibat dalam transaksi, “lu jual, gue beli.”

Kendati demikian, setiap laku, setiap perbuatan, setiap karma tidak bisa dilepaskan dari konsekuensinya, tiada sebab tanpa akibat, tiada aksi tanpa reaksi.

Karya baik menghasilkan kebaikan, dan karya buruk menghasilkan keburukan. Nah, “Hasil Baik” pun dapat menjadi kepala ular dalam perrnainan ular tangga dan mematuk kita. Kita bisa menjadi “besar kepala” karena kebesaran hasil dari pekerjaan-“ku”, dari jerih payah-“ku”.

 

SEBAB ITU, RENOUNCE THE FRUIT – Lepaskan buah karyamu. Semua itu karena Gusti, semua karena anugerah Gusti. Apa yang dapat kuperbuat tanpa kehendak dan restu Gusti?

Kita berkarya demi kebaikan itu sendiri.

Ya sudah, janganlah merasa tersanjung ketika seorang memuji kita. Menerima pujian orang pun sudah cukup untuk membesarkan ego kita, ingat kepala ular. Serahkan seluruh hasil dari perbuatan kita kepada Gusti Hyang Maha Kuasa!

Nah, renouncing the fruit inilah tyaga.

Berbuat baik, dan segala hasil dari perbuatan itu dipersembahkan kepada Gusti Pangeran. Ini adalah sikap mental, supaya kita tidak menjadi sombong. Ini adalah sikap hidup, attitude: “Engkaulah Hyang Menggerakkan tanganku untuk berbuat, maka hasil perbuatan pun kuserahkan kepada-Mu.”

Dikutip dari buku: (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

 

Om, Sarve bhavantu sukhinaḥ; Sarve santu nirāmayāḥ; Sarve bhadrāṇi paśyantu; Mā kashchit duḥkha bhāgbhavet; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga semua makmur, bahagia dan bebas dari penyakit. Semoga semua mengalami peningkatan kesadaran, dan bebas dari penderitaan. Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/

 

Semangat Manembah: dari Dualitas Menuju Kemanunggalan #BhagavadGita

Brahma Produk Dualitas demikian juga kita, tapi Brahma mencipta dengan semangat panembahan.

 

“Manusia terikat oleh dan karena perbuatannya sendiri, kecuali jika ia berbuat dengan semangat manembah. Sebab itu, Kaunteya (Arjuna, Putra Kunti), laksanakanlah tugasmu dengan baik, tanpa keterikatan, dan dengan semangat manembah.” Bhagavad Gita 3:9

Buku Bhagavad Gita

Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu; Saha vīryam karavāvahai; Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga Hyang Tunggal senantiasa melindungi kita; menjernihkan pikiran kita: semoga kita dapat berkarya bersama dengan penuh semangat; semoga apa yang kita pelajari mencerahkan dan tidak menyebabkan permusuhan; Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

Setiap pekerjaan sudah pasti memiliki konsekuensi. Ada yang berkonsekuensi baik, ada yang kurang baik, dan ada yang tidak baik. Sehlngga, klta semua tldak bisa bebas dan konsekuensi perbuatan kita rnasing-masing, kecuali…. Dan “kecuali” ini adalah “kecuali yang membebaskan kita dari segala konsekuensi”, yakni………

 

BERBUAT DENGAN SEMANGAT MANEMBAH – Haturkan segala pekerjaanmu sebagai persembahan pada Gusti Pangeran. Bertindaklah karena cintamu, kasihmu pada-Nya.

Dengan cara itu;

Pertama, perbuatan kita menjadi baik dan tepat dengan sendirinya. Apakah kita mau menghaturkan sesuatu yang tidak baik kepada Hyang kita cintai? Mustahil.

Kedua, kita menjadi efisien. Tidak membuang waktu. Ingat saat kita berpacaran, bagaimana menjadi tepat waktu. Pertemuan dengan si doi menjadi urusan utama, prioritas utama.

Berpacaranlah dengan Gusti Pangeran. Pacar-pacar Iain akan meninggalkan kita, cinta kita hanyalah berlanjut selama satu atau beberapa musim saja. Sementara itu, cinta Gusti Pangeran ibarat arak yang tambah lama, tambah memabukkan.

Ketiga, ketika kita betul-betul mencintai seseorang, kita tidak mengharapkan sesuatu. Keinginan kita adalah untuk memberi saja. Barangkali kaum Adam sulit rnemahami hal ini. Kaum Hawa lebih memahaminya. Sebab itu, dalam hal menjalin hubungan dengan Gusti, jadilah seperti seorang perempuan, memberi, memberi, dan memberi.

Inilah cinta sejati. Inilah berkarya tanpa keterikatan pada hasil, tanpa pamrih. Inilah Karma Yoga. Dan, ini pula bhakti — panembahan yang sesungguhnya.

 

“Prajapati Brahma – Sang Pencipta dan Penguasa makhluk-makhluk ciptaannya – menciptakan umat manusia dengan semangat persembahan dan pesannya ialah, “Berkembanglah dengan cara yang sama (berkarya dengan semangat persembahan) dan raihlah segala kenikmatan yang kau dambakan.” Bhagavad Gita 3:10

 

Penciptaan terjadi ketika Hyang Tunggal berkehendak untuk “menjadi banyak”. Selama masih tunggal, tanpa dualitas, penciptaan tidak mungkin. Berarti,

 

BRAHMA, SANG PENCIPTA ADALAH PRODUK DUALITAS – Anda dan saya, kita semua adalah produk dualitas pula. Kita lahir, hidup berkarya, dan mati dalam kesadaran dualitas. Kemanunggalan adalah hakikat kita, ya, tapi, saat ini kita tidak manunggal lagi. Saat ini kita terpisah, atau setidaknya “merasa” berpisah dari Hyang Tunggal. Maka kita mesti mengupayakannya kembali.

 

BAGAIMANA CARANYA? Sang Pencipta telah memberikan clue, isyarat. Yaitu, dengan berkarya dengan semangat pesembahan. Ia mengatakan kepada makhluk-makhluk ciptaannya, kepada manusia, “Aku pun demikian. Aku pun menciptakan semua dengan semangat persembahan, dengan semangat melayani.”

 

Dengan cara itulah, kita baru bisa mengikis ego kita, tidak membiarkannya meraja. Idam na mama – bukan aku, bukan ego-ku, bukan indra, bukan gugusan pikiran dan perasaan, bukan intelegensia – aku adalah Jiwa, percikan Sang Jiwa Agung. Segala apa yang terjadi lewat badan, indra, dan lainnya adalah persembahan pada-Nya.

Selain membebaskan kita dari ego, keangkuhan, semangat manembah juga memastikan bahwa apa pun yang kita perbuat adalah yang terbaik. Persembahan yang dihaturkan kepada Sang Kekasih Agung, Gusti Pangeran, mestilah yang terbaik.

Dikutip dari buku: (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

 

Om, Sarve bhavantu sukhinaḥ; Sarve santu nirāmayāḥ; Sarve bhadrāṇi paśyantu; Mā kashchit duḥkha bhāgbhavet; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga semua makmur, bahagia dan bebas dari penyakit. Semoga semua mengalami peningkatan kesadaran, dan bebas dari penderitaan. Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/

 

Aku Bukan Doership, Pelaku: Apa pun Hasil lewat Badan ini Bukan Milikku #BhagavadGita

Hubungan Tuhan dengan alam bukan seperti pabrik dengan produk tetapi antara penari dan tarian

Tarian apa pun tidak dapat dipisahkan dari sang penari. Tarian ada karena ada penari. Tidak ada tarian tanpa sang penari, karena hal itu sangatlah mustahil. Tarian berhubungan  dengan sang penari seperti sinar mentari dan sang matahari. Tak akan ada sinar mentari tanpa sang matahari. Tak ada cahaya rembulan tanpa sang bulan. Poin ini sangatlah penting. Sungguh, jauh lebih penting daripada sepintas kedengarannya.

Tuhan bukanlah “pabrik” yang terpisah dari barang-barang “buatan pabrik”. Seorang pembangun gedung itu terpisah dari gedung hasil buatannya. Produksi barang dan produsennya merupakan elemen yang terpisah.  Penari tidak pernah dapat dipisahkan dari tariannya. Barang manufaktur dan produk memiliki identitas terpisah dari pabriknya. Perpisahan “terjadi” saat proses manufaktur atau produksi telah selesai. Namun, seorang penari tidak pernah dapat dipisahkan dari tariannya.” Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2009). “The Gospel Of Michael Jackson”. Anand Krishna Global Co-operation)

Konsep Michael (Jackson, pencatat) tentang penciptaan ini persis sama dengan konsep para bijak pada masa lalu. Tuhan sering disebut sebagai Nataraja – Raja para Penari, Sang Penari Teragung, Sang Penari. Tuhan juga adalah Leeladhari, Sang Pemain Teragung. Dan seluruh dunia ciptaannya adalah Leela, “permainan” Tuhan.

Karena seluruh penciptaan sejatinya adalah tarian dari  Sang Penari Teragung, berarti kita bagian dari tarian tersebut. Kita semua sesungguhnya sedang berdansa, menari bersama dengan sang pencipta. Kita bernyanyi dan bergerak bersama Tuhan. Kita berpaduan suara dengan Tuhan. Peran kita sesungguhnya dalam permainan keberadaan ini adalah sebagai tim sorak-sorai.

 

Kita bukan pelaku, yang melakukan adalah Dia, kita sekadar alat-Nya

Berikut Penjelasan Bhagavad Gita 12:16 tentang berkarya tanpa ke-aku-an dan Penjelasan Bhagavad Gita 5:8 tentang tiadanya doership, rasa melakukan dan possesiveness, rasa memiliki, karena kita bukan pelaku.

Cover Buku Bhagavad Gita

Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu; Saha vīryam karavāvahai; Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga Hyang Tunggal senantiasa melindungi kita; menjernihkan pikiran kita: semoga kita dapat berkarya bersama dengan penuh semangat; semoga apa yang kita pelajari mencerahkan dan tidak menyebabkan permusuhan; Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

“Ia yang tidak menginginkan sesuatu, berhati suci tanpa kemunafikan; cerdas, cermat—penuh kebijaksanaan, bebas dari keberpihakan dan kegelisahan – seorang panembah yang berkarya tanpa ke- ‘aku’ an seperti itulah yang sangat Ku-sayangi.” Bhagavad Gita 12:16

……………

Yang terakhir dalam ayat ini adalah tentang ke-“aku”-an terkait dengan doership — aku telah berbuat ini, aku telah berbuat itu. Aku telah melakukan ini, aku telah melakukan itu.

Seorang panembah sadar bila badan dan indra yang melakukan sesuatu hanyalah alat. Alat badan tak akan pernah bergerak jika tidak digerakkan oleh otak. Otak adalah komandan badan. Sebab itu, ketika otak mengalami gangguan, apalagi stroke, badan sulit digerakkan, atau sulit diatur gerakannya.

Otak sendiri bukanlah segala-galanya. la digerakkan oleh mind. Dan mind yang memberi kesan “aku” pun, sebenarnya hanyalah salah satu gelombang di dalam lautan Sang Aku Sejati, Sang Jiwa Agung.

 

REAS0NING SEPERTI INI, analisis seperti ini, pembedahan seperti ini, mesti dilakukannya purna-waktu oleh seorang panembah. Ia mesti selalu mengingat-ingatkan dirinya, bila Sang Jiwa Agung yang sesungguhnya Maha Menggerakkan, Maha Berbuat. Aku kecil ini, aku-“ku”, dan aku- “mu” hanyalah ikan-ikan kecil, gelombang-gelombang di dalam lautan Sang Aku Agung.

Kesadaran seperti ini mengantar kita pada penyerahan diri di mana kita sadar sesadar-sadarnya bila Hyang Maha Ada hanyalah Dia. Dialah segala-galanya. Dialah semua!

Seorang panembah berkesadaran seperti itulah yang disayangi Krsna. Seorang panembah seperti itulah yang bertindak sesuai dengan kodratnya. Dikutip dari buku: (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

 

“Ia yang tekun menjalani Yoga, berkarya tanpa pamrih, hendaknya memahami kebenaran-diri dan dalam keadaan apa pun – selagi melihat, mendengar, menyentuh atau mencium sesuatu; bahkan saat makan, berjalan, tidur dan bernapas – selalu mengingat, ‘Aku tidak berbuat sesuatu.’” Bhagavad Gita 5:8

 

Rasa kepemilikan atau possesiveness, dan keterikatan muncul dari doership, rasa “melakukan.”

Doership, berarti “Aku” melakukan – Kemudian, karena “aku” melakukan, maka muncullah keterikatan dengan hasil dari pekerjaan-“ku”. Muncul rasa kepemilikan terhadap benda-benda, harta-kekayaan yang semuanya  “ku” –peroleh karena kerja-keras“ku”, jerih-payah“ku”.

Ketika badan, indra gugusan pikiran serta perasaan, inteligensia, dan sebagainya berkomplot, bersama-sama mengaku sebagai doer, yang berbuat, pelaku – maka, bersama-sama pula mereka  mengikat diri dengan dunia benda, dengan hasil dari pekerjaan mereka.

Padahal, materi sebagai hasil perbuatan-“ku” senantiasa berubah, senantiasa berpindah tangan. Tidak langgeng, tidak abadi. Maka, segala kenikmatan yang kita peroleh darinya tidak abadi pula. Apa yang masih ada di dalam genggaman kita saat ini, sesaat lagi akan berada di genggaman orang lain, inilah yang menyebabkan suka-duka.

Untuk membebaskan diri dari dualitas suka-duka; saat ini senang, sesaat lagi gelisah; untuk meraih kebahagiaan sejati – kita mesti mencabut rasa doership dari akar-akarnya. Aku bukan pelaku. Sebab itu apa pun hasil dari laku yang “terjadi” lewat badan ini, bukan pula milikku.

Aku adalah Jiwa, percikan Jiwa Agung. Alam benda adalah penjabaran dari kekuasaan-Nya. Semuanya milik Dia, Dia, Dia, dan hanya Dia.

Dikutip dari buku: (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

Om, Sarve bhavantu sukhinaḥ; Sarve santu nirāmayāḥ; Sarve bhadrāṇi paśyantu; Mā kashchit duḥkha bhāgbhavet; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga semua makmur, bahagia dan bebas dari penyakit. Semoga semua mengalami peningkatan kesadaran, dan bebas dari penderitaan. Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/

 

 

 

Penuh Kebencian, Jahat, Kejam akan Lahir Kembali lewat Rahim Syaitani #BhagavadGita

Bisa saja pelaku adharma yang penuh rasa benci, jahat dan kejam berbuat zalim terhadap orang-orang atau rakyat yang tidak bersalah bisa lolos dari penjara, karena kekuasaan dan kelicinan geng-nya. Akan tetapi hukuman oleh Dharma terhadap dirinya atau keluarganya akan membuat dia menderita hingga akhir hayatnya seperti penjelasan Bhagavad Gita 11:34. Dan, bukan hanya hukuman oleh Dharma dalam kehidupan ini, akan tetapi dia juga akan lahir berulang-ulang lewat rahim yang tidak mulia seperti penjelasan Bhagavad Gita 19:20.

……………

Badan dan indra selalu menagih pengulangan atas rangsangan-rangsangan yang dinikmatinya, sehingga Jiwa Individu pun terjebak dalam kejar-mengejar. Ia menjadi budak badan dan indra. Ia menjadi pelayan mereka. Sebab, saat badan dan indra menikmati suatu rangsangan atau sensasi, sesungguhnya rasa nikmat itu sendiri terasa oleh Jiwa. Jiwa me-“rasa”-kan berbagai pengalaman hasil interaksi tersebut.

Demikian, jika tuntutan-tuntutan indra tidak terpenuhi, masih terasa — umumnya selalu demikian — maka setelah meninggalkan badan yang sudah tidak berguna, rusak, mati, Jiwa mencari badan Iain, seperangkat indra lain untuk memenuhi hasratnya untuk mengalami pengalaman-pengalaman yang sama.

Sesuai dengan pengalaman yang dikehendakinya, Jiwa memilih rahim seorang perempuan yang bersifat tenang, agresif, atau malas.

Adakalanya, seorang perempuan yang tampak tenang dan sabar— sesungguhnya tidaklah tenang maupun sabar. Ia terpaksa menenang-nenangkan dan menyabar-nyabarkan diri karena ‘takut’ — maka rahimnya bukanlah lahan tenang dan sabar — rahimnya adalah lahan yang tercemar berat oleh rasa takut.

Sering juga rahim seperti itu tercemar oleh virus-virus dendam, benci dan sebagainya berdasarkan “pengalaman pemilik rahim” yang membuatnya berada dalam keadaan yang mencekam. Inilah rahim-rahim yang disebut tidak mulia.

 

JIWA YANG “LAHIR” lewat rahim seperti itu adalah Jiwa yang memang sudah berada dalam jangkauan frekuensinya. Ia memang sedang mengejar pengalaman-pengalaman seperti itu, maka ia tertarik dengan rahim tersebut.

Jiwa yang tenang ingin meningkatkan ketenangannya akan mencari rahim seorang wanita yang sungguh-sungguh tenang, walau, dalam keseharian hidupnya, wanita tersebut tampak sangat aktif. Pun demikian dengan Jiwa yang sedang mencari, mengejar pengalaman-pengalaman yang dinamis, ia akan mencari rahim seorang ibu yang bersifat dinamis pula. Penjelasan Bhagavad Gita 13:21 dikutip dari buku: (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

Berikut penjelasan tentang mereka yang penuh rasa benci; berkecenderungan pada perbuatan yang tidak mulia; kejam, dan telah merendahkan martabatnya sebagai manusia, yang akan lahir berulang-ulang di dunia ini lewat rahim-rahim yang tidak mulia seperti penjelasan Bhagavad Gita 16:19 di bawah ini:

Cover Buku Bhagavad Gita

Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu; Saha vīryam karavāvahai; Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga Hyang Tunggal senantiasa melindungi kita; menjernihkan pikiran kita: semoga kita dapat berkarya bersama dengan penuh semangat; semoga apa yang kita pelajari mencerahkan dan tidak menyebabkan permusuhan; Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

“Mereka yang penuh rasa benci; berkecenderungan pada perbuatan yang tidak mulia; kejam, dan telah merendahkan martabatnya sebagai manusia, lahir berulang-ulang di dunia ini lewat rahim-rahim yang tidak mulia pula.” Bhagavad Gita 16:19

 

Setiap orang mesti menanggung konsekuensi dari perbuatannya sendiri. Jika kita terlibat dalam perbuatan-perbuatan yang merendahkan martabat kita sebagai manusia, maka dalam kelahiran berikutnya kita Iahir dalam keluarga yang kurang-lebih sama dengan cara pandang kita.

 

SEPANJANG USIA KITA MEMBENCI; kita menyia-nyiakan hidup untuk memperkarakan orang; setiap  orang kita anggap berdosa kecuali diri sendiri dan mereka yang sepaham dengan kita; bergaul dengan mereka yang hanya berjubah manusia; bersahabat dengan mereka yang tidak sadar akan nilai-nilai kemanusiaan – alhasil, dalam kelahiran berikutnya, kita memperoleh lingkungan, keluarga, dan persahabatan yang sama.

Krsna menyebut………

 

“RAHIM-RAHIM” SYAITANI ATAU ASURI YONI – Barangkali kita belum terbiasa mendengar istilah ini. Rahim syaitani adalah rahim milik mereka yang mengandung akibat urusan nafsu belaka. Atau karena “kecelakaan”. Mereka tidak menginginkan keturunan tetapi telanjur hamil. Dorongan “nafsu birahi” saat bersanggama menyebabkan lahan rahim “menarik” roh-roh — gugusan pikiran dan perasaan — yang sejenis, yang sepenuhnya terkendali oleh hawa nafsu.

Saat sepasang anak manusia bersanggama, urusannya mestilah cinta, ya cinta. Bukan nafsu. Dan janganlah menyalahtafsirkan nafsu sebagai cinta untuk membela-diri.

 

CINTA ADALAH SABAR, CINTA BISA MENUNGGU – Cinta tidak “terbawa” oleh nafsu. Ia tidak pernah hanyut dalam nafsu. Terjadinya “kecelakaan” hanyalah membuktikan bila saat itu adalah nafsu birahi yang berkuasa sepenuhnya.

Saat sanggama, pikiran dan perasaan sepasang anak manusia yang saling mencintai —mengundang roh yang selaras dengan mereka. Sebab itu, mereka yang bersifat syaitani mengundang syaitan. Mereka yang bersifat mulia — mengundang kemuliaan.

Ungkapan umum “anak yang baru lahir, kan tidak bersalah” adalah ungkapan keliru yang menunjukkan bila kita belum memahami seluk-beluk kehidupan. Anak yang baru lahir adalah lahir untuk melanjutkan perjalanannya. Jika ia berada di jalur mulia, maka jalur itu pula yang ditempuhnya. Jika ia berada di jalur yang tidak mulia, maka ketidakmuliaan yang akan dikejarnya.

Tentang hubungan intim pra-nikah ataupun kelahiran di luar nikah, aborsi, dan lain sebagainya – persoalannya bukanlah salah atau tidak salah, bukanlah dosa dan pahala. Persoalannya adalah tanggung-jawab. Kita tidak bisa melepaskan diri dari tanggung-jawab, dari konsekuensi perbuatan kita sendiri.

Dikutip dari buku: (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

Om, Sarve bhavantu sukhinaḥ; Sarve santu nirāmayāḥ; Sarve bhadrāṇi paśyantu; Mā kashchit duḥkha bhāgbhavet; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga semua makmur, bahagia dan bebas dari penyakit. Semoga semua mengalami peningkatan kesadaran, dan bebas dari penderitaan. Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/

 

Hukuman bagi Pelaku Adharma Penderitaan sampai Akhir Hayatnya #BhagavadGita

Dalam Dhammapada 9:125 Buddha jelas sekali bahwa jika seorang pelaku kejahatan berupaya mencelakakan orang yang tidak bersalah, maka ia sendiri yang akan celaka. Lalu apa yang kita lihat selama ini dan di sekitar kita? Seolah pelaku kejahatan bisa merajalela, dan mereka yang tidak bersalah bisa seenaknya dianiaya.

Untuk itu Buddha menjelaskan dalam ayat 119 bahwa ada juga perbuatan-perbuatan jahat yang “belum matang”. Ketika buah kejahatan itu matang, maka ia jatuh sendiri. Tinggal tunggu waktu. Dikutip dari cuplikan materi neo interfaith studies oleh Bapak Anand Krishna pada program online One Earth College of Higher Learning (http://www.oneearthcollege.com/id/).

Dalam Bhagavad Gita pun dijelaskan bahwa mungkin saja pelaku adharma yang berbuat zalim terhadap orang-orang atau rakyat yang tidak bersalah bisa lolos dari penjara, karena kekuasaan dan kelicinan geng-nya. Akan tetapi hukuman oleh Dharma terhadap dirinya atau keluarganya tidak hanya membuat dia menderita hingga akhir hayatnya, tetapi juga setelah meninggalkan dunia ini.

Silakan simak penjelasan Bhagavad Gita 11:34 di bawah ini:

Cover Buku Bhagavad Gita

Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu; Saha vīryam karavāvahai; Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga Hyang Tunggal senantiasa melindungi kita; menjernihkan pikiran kita: semoga kita dapat berkarya bersama dengan penuh semangat; semoga apa yang kita pelajari mencerahkan dan tidak menyebabkan permusuhan; Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

“Bunuhlah Drona, Bhisma, Jayadratha, Karna, dan para kesatria lainnya, yang mana sesungguhnya telah binasa semuanya oleh-Ku. Jangan takut! Berperanglah, lawanlah mereka, kau pasti berhasil menaklukkan lawan-lawanmu semua.” Bhagavad Gita 11:34

 

Krsna Sangat Spesifik. Dia tahu bahwa Arjuna bukan saja enggan, tapi juga menaruh rasa takut terhadap nama-nama yang disebutnya. Drona adalah gurunya, guru yang mengajarkan seni perang kepadanya, “Bagaimana jika ia memiliki beberapa jurus yang dirahasiakannya, yang tidak diajarkan kepadaku?”

 

BISMA ADALAH EYANG – Seorang Kesatria Agung, selama itu tidak tertaklukkan oleh siapa pun. Record-nya berkualitas sterling — cemerlang.

Arjuna pun sesungguhnya gentar sejak awal percakapan ini, “Apa iya aku mampu menaklukkannya?”

Pun demikian dengan Karna dan Jayadratha, dua-duanya kesatria par excellence. Dua-duanya memiliki track record yang hampir sama dengan Bhisma.

Maka, Krsna mesti berulangkali mengingatkan Arjuna, bahwa mereka yang berada di pihak Kaurava telah menunjukkan posisi mereka dengan jelas. Sebaik-baiknya para kesatria tersebut, mereka semua, tanpa kecuali telah menentukan posisi mereka di pihak adharma. Sebab itu:

 

“JANGAN TAKUT! Siapa pun yang melawan dharma akan binasa oleh kekuatan dharma itu sendiri.”

Para penguasa zalim selalu lupa bahwa kekuasaan dan kewenangan yang mereka salahgunakan akan berbalik menghantam, menghancurkan, dan memusnahkan mereka sendiri.

Mabuk akan kekuasaan, mereka pikir bahwa lawan mereka bukan apa-apa, “Siapa dia? Kekuatannya seberapa sih? Siapa pendukungnya? Massanya seberapa? Ah, mereka adalah bangsat-bangsat yang dapat kubinasakan tanpa senjata sekalipun.”

Kekuasaan membuat mereka menjadi buta. Mereka tidak mampu melihat bila yang mereka lawan bukanlah “bangsat” — tapi dharma.

Seekor bangsat atau semut yang berpihak pada dharma mampu menaklukkan seekor gajah yang berpihak pada adharma. Para penguasa zalim tidak memahami urusan dharma-adharma.

Banyak di antara kita yang punya pengalaman menghadapi oknum penyidik di kepolisian atau kejaksaan yang korup dan dengan sombong bisa mengatakan, “Ini wewenang kami”. Pun demikian dengan para hakim dan pejabat lain yang sama-sama korup. Mereka telah dibutakan oleh kekuasaan yang tidak langgeng, tidak untuk selamanya.

 

AKHIRNYA, MEREKA BINASA karena dan oleh kebutaan mereka sendiri. Kadang mereka tidak sadar bahwa ketika dharma bertindak, ia bisa menggunakan senjata apa saja. Banyak senjata di tangan dharma.

Para pejabat korup yang memiliki anak yang autis, penderita penyakit lain, pencandu, pemabuk, penderita HIV, dan sebagainya – telah dijatuhi hukuman seumur hidup oleh dharma! Penyakit anak-anak mereka adalah disebabkan oleh uang haram hasil korupsi, hasil jarahan, yang mereka gunakan untuk membiayai kehidupan mereka. Dan tentunya disebabkan oleh karma anak-anak itu pula yang memilih mereka sebagai orang-tua.

Dharma tidak selalu memenjarakan para penguasa zalim. Penjara adalah urusan peradilan dunia. Hukuman penjara adalah hukuman ringan jika dibanding dengan hukuman dharma yang tidak hanya membuat seseorang menderita hingga akhir hayatnya, tetapi juga setelah meninggalkan dunia ini. .

Hukuman dharma bukanlah hukum korup yang bisa dikompromikan. Tidak ada sin laundering, pencucian dosa lewat ziarah, amal-saleh, dan sebagainya. Setiap penderitaan yang disebabkan oleh seorang penguasa zalim mesti dipertanggung jawabkan olehnya sendiri. Dengan membangun tempat-tempat ibadah sekalipun, ia tidak bisa terhindar dari akibat perbuatannya, akibat kezalimannya.

Dikutip dari buku: (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

Om, Sarve bhavantu sukhinaḥ; Sarve santu nirāmayāḥ; Sarve bhadrāṇi paśyantu; Mā kashchit duḥkha bhāgbhavet; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga semua makmur, bahagia dan bebas dari penyakit. Semoga semua mengalami peningkatan kesadaran, dan bebas dari penderitaan. Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/