Mutiara Bhagavatam: Memprogram Kelahiran Anak Saleh dengan Hidup Berkesadaran

buku-bhagavatam-parikshit-dalam-kandungan

Kalau ditelusuri lagi, dibedah lagi, dikerucutkan lagi—di antara kawan, kerabat, dan keluarga—, pengaruh yang paling berbahaya adalah dari anak kita sendiri. Coba dipikirkan, saat anak kita lahir, kesadaran kita seperti apa? Maunya enak, dapatnya anak? Kecelakaan? Atau memang mengharapkan anak dengan karakter tertentu?

Banyak di antara kita bahkan tidak tahu jika kita bisa mengundang jiwa untuk lahir lewat kita.Tentu mengundang jiwa yang kurang lebih berada pada frekuensi yang sama dengan kita. Jadi, bisa diprogram.

Oke, sekarang kita tahu. Tetapi, sudah terlanjur punya anak yang lahir tanpa programming. Jiwa yang menempati raga anak kita adalah atas undangan sengaja atau tidak sengaja dari kita sencliri, yang kita lontarkan beberapa tahun lalu, ketika kesadaran kita masih rendah. Ketika urusan kita masih sebatas makan, minum, tidur, dan seks. Jelas, jiwa yang kita undang pun urusannya kurang lebih sama, frekuensinya kurang lebih sama seperti frekuensi kita saat mengundangnya. Apa jadinya? Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2016). Soul Awareness, Menyingkap Rahasia Roh dan Reinkarnasi, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

Belajar dari Srimad Bhagavatam

Parikshit adalah putra Abhimanyu, seorang pahlawan perang dan putra Arjuna. Ibu Abhimanyu adalah Subhadra, saudari Krishna. Ibu Parikshit adalah Uttari putri Raja Virata. Sewaktu dalam kandungan Parikshit diselamatkan Krishna dari senjata Ashvattama. Jelas Parikshit adalah putra pilihan yang sangat pantas berperan dalam Kisah Ilahi, Srimad Bhagavatam yang dikenal dunia sampai dengan saat ini.

Rishi Kasyapha adalah putra Brahmarishi Marici, cucu dari Brahma. Diti istri Kasyapa adalah putri Daksha Prajapati, cucu dari Brahma. Anak keturunan Rishi Kasyapha dari para saudari Diti adalah para dewa. Hanya karena kealpaan Diti yang berhubungan suami istri di saat yang seharusnya dipakai pemujaan, lahirlah Hiranyaksha dan Hiranyakashipu, sepasang raksasa yang menggegerkan dunia. Nantinya, Hiranyakashipu kawin dengan istri yang baik dan menurunkan Prahlada yang bijak.

Mungkin ada yang berkata, itu adalah skenario Gusti, agar ada cerita untuk dijadikan hikmah. Mungkin saja, akan tetapi tidak harus Diti dan Kasyapa yang mempunyai putra raksasa. Bila Diti dan Kasyapa sadar mungkin mereka akan menurunkan para dewa dan akan ada pasangan lain yang menurunkan sepasang raksasa.

Pilihan di tangan kita. Kita belajar untuk berdoa sebelum berhubungan suami istri, atau sekadar menuruti hawa nafsu di sebarang tempat, di sebarang waktu. Orang yang bermusuhan dengan kita karena karma masa lalu, pasti lahir. Tetapi tidak perlu lahir sebagai anak kita kan? Ini pilihan kita.

Mendiang ibu saya bercerita sebelum berhubungan suami-istri mereka memasang foto Bung Karno, dan waktu itu biasa karena idola rakyat adalah Bung Karno….. dan lahirlah kami, hehehe…… versi orangtua dengan genetika bawaan mereka yang mengalir pada diri kami…. Demikian pula istri kami, mertua sudah punya putra empat dan ingin memperoleh seorang putri. Mereka berdoa dan lahirlah istri kami, anak hasil pemujaan.

 

Belajar dari Bhagavatam

Kita gelisah, jiwa yang menempati badan anak kita pun gelisah, “Nyokap dan bokapku kok tiba-tiba jadi begini? Pakai meditasi segala! Dulu masih normal, masih oke, sekarang…….”

Nah, terjadilah tarik-menarik antara Anda dan sang anak. Biasanya orangtualah yang mengalah, “Mau bagaimana, anak sendiri!” Padahal, sikap mengalah seperti itu bisa membahayakan anaknya sendiri. Setidaknya tidak mengedukasi anak.

Semestinya para orangtua yang sudah berada pada jalur meditatif lebih agresif mendorong anak-anaknya—yang lahir ketika mereka masih berada pada jalur nonmeditatif—supaya ikut berpindah jalur juga…….. Tetapi tidak, kita tidak selalu melakukan hal itu, banyak pertirnbangan kita, “Anak kan tidak bisa dipaksa, mereka pun punya pilihan sendiri. Mereka kan lahir lewat kita, bukan dari kita, seperti kata Kahlil Gibran!”

Ya, betul. Tidak bisa dipaksa, dan sesungguhnya tidak perlu dipaksa. Namun, kita mesti menunaikan kewajiban kita sebagai orangtua. Setidaknya memberitahu tentang pilihan meditatif yang terbuka bagi dirinya, pilihan yang bisa membahagiakan dirinya. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2016). Soul Awareness, Menyingkap Rahasia Roh dan Reinkarnasi, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

cover-buku-soul-awareness

Kami mulai mengenal Anand Ashram saat usia 50 tahun dan istri 47 tahun, sehingga pada saat itu anak-anak kami sudah besar…… Walau terlambat, beruntunglah kami bisa belajar kehidupan dari Anand Ashram dan mulai mempelajari Srimad Bhagavatam.

Rishi Kapila yang mengajarkan Samkhya adalah putra dari Rishi Kardama Putra Brahma dan Devahuti Putri Svayambhu Manu. Pasangan yang sempurna dan selalu berada dalam kesadaran. Bagaimana dengan kita yang pada waktu membuat anak belum berkesadaran?

Dhruva mempunyai ayah yang merupakan anak keturunan Svayambhu Manu dan ibu Suruchi yang bijak. Akan tetapi sang ayah lebih memperhatikan ibu tirinya yang lebih cantik dan lebih muda. Justru hal tersebut membuat Dhruva kecil sadar dan bangkit untuk mencari bagaimana cara memusnahkan segala kegelisahan, kekecewaan

Vena mempunyai ayah anak keturunan Dhruva, sedangkan ibu anak Mrithyu, Kematian. Vena mempunyai warisan dua genetika yang berseberangan, akan tetapi genetika dari sang ibu lebih dominan sehingga dunia menjadi sangat memprihatinkan karena dikuasai Raja Lalim Vena. Maharaja Prithu adalah intervensi Narayana untuk memperbaiki Bumi yang porak poranda akibat Vena. Di saat itu para brahmana sudah menguasai teknologi untuk melahirkan Prithu dari jasad Vena yang mempunyai dua genetika yang berseberangan.

 

Hubungan Darah, Hubungan Air dan Hubungan Roh

Darah dan daging ibu dan bapak yang melahirkan kita menuntut tanggungjawab terhadap darah dan daging. Bagaimana pun juga, kata orang, “hubungan darah tetaplah hubungan darah. Daging sendiri tetaplah daging sendiri”. Atau, ada juga pepatah, “bagaimanapun juga darah lebih kental dari air”.

Tetapi Yesus justru mengatakan, “kau harus lahir kembali dari roh dan air”. Apa maksudnya? Hubungan darah/daging adalah hubungan awal kita dengan dunia ini, dimana keluarga- “ku” menjadi lebih penting dari keluarga-“mu”. Karena bagaimanapun jua aku memiliki hubungan darah/daging dengan keluarga-“ku”. Ini adalah hubungan berdasarkan ego-biasa. Yesus mengajak kita untuk meningkatkan ego kita menjadi kesadaran murni yang luar biasa.” Pesan Bapak Anand Krishna yang sempat kami catat.

Sadar dalam diri ada genetika yang kondusif maupun yang tidak bagi peningkatan kesadaran. Mengubah diri menjadi lebih baik adalah karakter anak yang berbhakti.

Selanjutnya sadar bahwa semua manusia bahkan semua makhluk pada dasarnya hidup karena air. Elemen alami yang membentuk kita semua adalah air, api, tanah, udara dan ruang.

Semoga kita semua sampai pada tingkat kesadaran bahwa roh kita adalah Sumbernya Satu. Karena menempati tubuh dan sejarah pengalaman yang berbeda, kita mempunyai karakter yang berbeda. Silakan ikuti Kisah Maharaja Prithu dan Raja Puranjana dalam Kisah Srimad Bhagavatam……..

 

Catatan:

Jika Roh atau Jiwa tidak lagi menyinari tubuh, tubuh tanpa roh itu disebut jasad. Raga tanpa Jiwa adalah mayat. Kemudian, matahari, angin, api, air, tanah, semua menjadi tidak berarti. Sementara itu, untuk kita ingat kembali, Roh atau Jiwa tidak pernah terputus dari Sumber Utama—atau lebih tepatnya, Sumber Tunggal Seluruh Energi dan Segala-galanya, yaitu Sang Jiwa Agung. Dari buku Soul Awareness.

Sudahkah kita mulai latihan meditasi, olah batin, merenungkan diri?

Memprihatinkan: Kecanduan Televisi dan Internet di Indonesia

gita-kehidupan-internetan

Tarik-Menarik Energi Teriadi Setiap Saat!

“Jika acara televisi lebih kuat daripada saya, maka saya pun tertarik pada acara tersebut. Kita boleh mengaku, ‘Saya tidak lagi diperbudak oleh televisi. Saya memilih sendiri tontonan saya, sesuai dengan keinginan saya sendiri.’ ]adi? Berarti: Diperbudak oleh keinginan dan keinginan itulah yang mendorong kita untuk menonton sesuai dengan yang kita inginkan. Sama saja. Kita menarik energi dari tontonan itu…………

                “Ada objek di luar diri yang menarik kita dan ada ketertarikan di dalam diri kita, maka terjadilah interaksi. Tidak ada tontonan yang dapat memaksa kita untuk menontonnya jika tidak ada keinginan di dalam diri kita. Karena itu, para hipnotis dari James Braid hingga Milton Errickson dan Richard Bandler, semuanya mengatakan bahwa seorang tidak dapat dihipnosis di luar kemauannya.” (Krishna, Anand. (2012). Neo Spiritual HYPNOTHERAPY, Seni Pemusatan Diri Untuk Bebas Dari Pengaruh Hipnosis Massal. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Sudah banyak tulisan yang membahas bagaimana acara televisi memperbudak dan mempengaruhi diri kita. Bukan hanya acara televisi, akan tetapi smartphone yang terhubung dengan internet pun telah memperbudak diri kita. Telah mengubah gaya hidup kita.

Berikut data yang diperoleh dari http://bgr.com/2014/05/29/smartphone-computer-usage-study-chart/

Di Amerika Serikat, orang menghabiskan rata-rata 444 menit setiap hari melihat layar, atau 7,4 jam per hari. 147 menit dihabiskan menonton TV, 103 menit di depan komputer, 151 menit pada smartphone dan 43 menit dengan tablet.

Memprihatinkan sekali. Dan, yang paling tinggi adalah pemirsa di Indonesia. Di bagian paling atas daftar adalah Indonesia, di mana orang menghabiskan rata-rata 540 menit, atau 9 jam setiap hari, menonton televisi, komputer, smartphone dan tablet.

gita-kehidupan-daftar-pemirsa-internet

Gangguan Kejiwaan akibat kebanyakan internetan

 

Saat ini, web sudah betul-betul menjadi jala perangkap. Kita bisa terperangkap dalam web, dalam jala pengetahuan  yang tidak berujung, tidak berpangkal, dan—di atas segalanya—tidak berguna. Kita sudah tidak lagi menggunakan web, tetapi digunakan, dimanfaatkan oleh web. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2016). Soul Awareness, Menyingkap Rahasia Roh dan Reinkarnasi, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

Internetan dan online sepanjang hari adalah hal yang menyenangkan dan bisa bikin ketagihan. Namun hati-hati, ternyata jika seseorang terlalu sering internetan dan online, akan memunculkan risiko gangguan kejiwaan. Inilah beberapa gangguan jiwa yang bisa terjadi akibat terlalu sering online:

Sumber: https://www.mindtalk.com/channel/ohternyata/post/suka-internetan-hati-hati-5-gangguan-jiwa-karena-510973796073923413.html

 

  1. OCPD ( Obsessive-Compulsive Personality Disorder). Gangguan yang bisa terjadi jika seseorang terlalu sering mengakses internet. Gangguan ini membuat seseorang sulit berpikir rasional. Orang yang terkena gangguan OCPD akan menganggap dirinya paling cerdas di dunia maya, sedangkan orang lain bodoh.
  2. Munchausen Syndrome. Gangguan jiwa yang satu ini dalam dunia psikologis bernama Munchausen Syndrome. Gangguan ini membuat seseorang mau membuat kebohongan tentang dirinya demi mendapat simpati dan rasa kasihan dari orang lain di dunia maya. Tindakan ini sebenarnya dampak dari haus perhatian dan kasih sayang.
  3. Asperger Syndrome. Pernah bertemu dengan orang yang sangat bawel, cerewet dan sangat aktif di dunia maya? Namun saat bertemu langsung dengan orangnya, dia sangat-sangat pendiam. Hal yang sama bisa terjadi pada orang yang sangat kasar dan suka memaki orang di internet, padahal di dunia nyata, dia sangat pemalu.
  4. Intermittent Explosive Disorder. Gangguan ini bisa membuat seseorang marah atau berkobar emosinya karena hal-hal yang remeh. Biasanya, orang yang terkena gangguan ini mudah marah hanya karena status sepele temannya.
  5. Low Forum Frustation Tolerance. Orang yang mengalami gangguan ini sangat ingin dirinya dianggap penting dan apa yang dia lakukan harus mendapatkan hasil seperti perkiraannya. Maka dia akan melakukan banyak hal agar orang lain mengakui kehebatan dirinya di internet. Contohnya adalah bila seseorang memposting foto yang dianggap bagus dan bisa menjaring banyak like, maka dia akan mengecek postingan fotonya setiap sekian menit sekali, hanya untuk memastikan bagaimana respon orang atau like yang diberikan pada fotonya.

 

Pesan Bapak Anand Krishna (sekitar 4 tahun lalu) yang masih kami ingat:

Mereka yang menghabiskan waktu 4 jam sehari di depan televisi, atau 2 jam non-stop di depan televisi, sama artinya menyediakan diri untuk diperbudak. Rasa diskriminasi untuk memilah informasi menurun karena dibombardir dengan segala macam informasi yang diberikan acara televisi.

Browsing internet untuk alasan apapun selama lebih dari 4 jam sehari; menghabiskan lebih dari 2 jam di media sosial seperti Facebook, Twitter, dan sebagainya juga membuat kita menyediakan diri untuk perbudakan. Pencipta Facebook, Twitter, dan sebagainya mungkin tidak menyadari hal ini. Mereka bahkan mungkin tidak memiliki firasat bahwa ciptaan mereka telah mempengaruhi gaya hidup umat manusia.

Para meditator menyadari kesia-siaan semua ini – namun mereka tidak berhenti menggunakan semua fasilitas ini. Hanya meditator yang benar-benar dapat menggunakan Facebook dan Twitter dan sebagainya – sedangkan sebagian besar “digunakan”!

Meditasi membuat mereka tidak kecanduan. Menjadi bebas dari kecanduan tersebut, mereka tidak bisa diperbudak. Mari kita bertanya pada diri sendiri, kita kecanduan atau tidak?

 

Memanfaatkan Sosmed untuk berbagi kesadaran

Para murid yang belum matang, belum siap, hanya meniru kata-kata Sang Murshid. Mereka tidak memahami maknanya. Kemudian dengan “modal kata-kata bijak” itu mereka berdagang di pasar dunia. Mereka mengumpulkan orang dan berpidato panjang lebar.

Tanpa memahami kata-kata itu, tak seorang pun memperoleh keuntungan dari pidato mereka. Dan untuk memahami kata-kata tersebut, yang dibutuhkan hanya satu: Anugerah Allah!

Jangan bosan “bercermin diri” pada Sang Murshid sampai memahami arti setiap kata yang diucapkan-Nya. Jangan lupa bahwa yang sedang bicara di balik cermin adalah “Dia”. Demikian, pada suatu ketika anda sendiri akan menjadi cermin. Cermin tidak pernah membesar-besarkan diri. Cermin tidak pernah bicara. Dia bisu. Dan karena dia bisu, dia diam, maka yang “Ada” di baliknya mulai berbicara.

Selama Anda masih memiliki keinginan untuk tampil sebagai Guru, Master atau Murshid, Anda belum bisu. Anda masih terlalu berisik. Anda masih belum menjadi cermin. Dan Dia pun belum bisa menjadikan Anda sebagai alat-Nya. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2002). Masnawi Buku Kelima, Bersama Jalaluddin Rumi Menemukan Kebenaran Sejati. Jakarta:Gramedia Pustaka Utama)

Sosial media merupakan alat komunikasi yang sangat praktis, karena tidak membutuhkan waktu dan biaya yang mahal. Pengetahuan yang kita share cepat menjadi viral dan tetap dapat dibaca bahkan di masa depan.

Yang perlu diperhatikan pada waktu share adalah jangan sampai kita menjadi angkuh karena merasa lebih dulu paham. Demikian juga bagaimana caranya agar pembaca tidak menjadi angkuh karena sudah merasa paham.  Kesadaran tidak terkait pemahaman, akan tetapi yang lebih penting adalah praktek di kehidupan nyata.

Itulah sebabnya seperti contoh dalam setiap buku Bapak Anand Krishna selalu dilengkapi latihan meditasi. Agar bukan hanya membaca dan memahami. Pemahaman sebagai pemicu dan kemudian dipraktekkan di kehidupan nyata. Sesuai saran Beliau agar di setiap postingan juga perlu ada seruan untuk meditasi. Agar pembaca berkenan mengubah gaya hidup dan melakoni setiap tindakan dengan penuh kesadaran. Apabila hanya sebatas pemahaman, apabila di masa tua terkena stroke, kita tidak meninggalkan kebaikan bagi diri kita sendiri…….

Bagi kami pribadi, yang menyebarkan pengetahuan adalah Bapak Anand Krishna, kami hanya salah satu alatnya. Sebelum memposting, kami selalu berdoa, yang berbagi penuh kasih adalah Beliau, dengan energi Beliau, kebijaksanaan Beliau…………….

Mutiara #Bhagavatam: Menghadapi Orang yang Sengaja Menyakiti Hati Kita

Queen Suruci told Dhruva Maharaja: "My dear child, you do not deserve to sit on the throne or on the lap of the King. Surely you are also the son of the King, but because you did not take your birth from my womb, you are not qualified to sit on your father's lap."When Dhruva heard these harsh words from his stepmother he felt great anger and began to breath heavily. He left the palace and went to his mother. When he reached his mother, Queen Suniti, he was crying and his lips were trembling in anger.-Quoted portion from Srimad Bhagavatam 4.8.11

Kemampuan untuk menerima ketidakadilan.

Mereka yang hendak memasuki alam meditasi harus menghadapi segala rintangan dengan kesadaran ini: “Dalam sekian banyak masa kehidupan sebelumnya, aku telah berpaling dari hal-hal panting dan terikat pada hal-hal sepele yang tidak berarti…….. aku telah berkelana melewati segala bentuk kehidupan………. mengamuk tanpa alasan, dan bersalah atas kemunduran diri.

Sekarang, walau tidak berbuat salah aku masih harus bertanggung jawab atas perbuatanku yang lalu. Baik manusia maupun malaikat tak dapat memastikan kapan aku menerima ganjaran dari perbuatanku sendiri.  Aku menerima segalanya dengan lapang dada, dan tanpa keluh kesah akan ketidakadilan.”

Menurut kitab-kitab suci, “Bila menghadapi musibah, janganlah engkau berkeluh kesah, karena apa pun yang teriadi bukanlah tanpa alasan.” Dengan pemahaman seperti itu, kau menjadi tenang dan dengan mudah memasuki alam meditasi. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2005). Bodhidharma, Kata Awal Adalah Kata Akhir. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama Jakarta)

 

Bisakah kita meniru Dhruva?

Pada saat menyusun tulisan Dhruva: Kegigihan Anak Menuju Gusti Pangeran, Penghapus Segala Kesedihan #SrimadBhagavatam yang segera kami upload, saya dan istri sempat berbagi insight dari apa yang kami berdua baca dan alami di kehidupan nyata. Berikut ini adalah sebagian dari insight yang kami perbincangkan.

Istilah “menyakiti kita” mengungkapkan bahwa ego kita tersakiti, kita masih berada dalam kesadaran ego. Dan, tentu saja dia yang sengaja menyakiti kita pun masih belum lepas dari ego. Yang namanya ego tentu saja bisa ada yang menyanjung dan ada yang menyakiti. Dan, mungkin saja ini terjadi dalam sebuah persaudaraan spiritual dimana yang menyakiti dan yang disakiti masih berkutat dengan ego, sebelum kesadaran mereka meningkat.

Dhruva seorang anak kecil usia 5 tahun melihat adik tirinya dipangku ayahandanya, dia pun ingin dipangku di paha ayah sebelahnya. Sebuah keinginan yang wajar bagi seorang anak kecil. Akan tetapi sang ibu tiri melarangnya dan mengatakan bahwa Dhruva tidak beruntung karena tidak dilahirkan oleh ibu tirinya yang disayangi ayahandanya. Dhruva diminta berdoa agar di kelahiran berikutnya bisa lahir lewat ibu tirinya yang cantik jelita sehingga bisa dipangku sang ayahanda.

Dhruva sakit hati dan curhat kepada sang ibu yang memberi nasehat bahwa ibu tirinya sedang menanam benih ketidakbaikan dan dia akan menuai buah tindakannya pada suatu saat nanti. Sang ibu mengatakan hanya ada Gusti Pangeran, Narayana yang bisa menhapus segala penderitaan. Penderitaan apa pun juga.

Dhruva melakukan tapa keras dan dibimbing Rishi Narada sehingga bisa bertemu Narayana, dan memperoleh berkah kehidupan yang tiada tara. Dhruva menjadi sadar tidak ada gunanya membalas sakit hatinya kepada ibu tirinya.

Justru ucapan ibu tirinya yang menyakitkan menjadi pemicu Dhruva untuk memperoleh berkah yang luar biasa.

Bisakah kita menjadi Dhruva? Yang mampu menerima ketidakadilan? Ya, itulah salah satu topik pembicaraan saya dan istri.

cover-buku-bodhidharma

Tidak ada sesuatu yang terjadi di luar pengawasan Gusti Pangeran

Alam ini sepenuhnya berada di bawah pengawasan-Nya. Nah, implikasi dari pemahaman ini jauh melebihi bayangan kita. Jika semuanya berada di bawah pengawasan-Nya, Roda Samsara, Alam Semesta pun berputar karena dan atas kehendak-Nya – maka, tidak ada lagi sesuatu yang bisa disebut kecelakaan…

Tidak ada pula kebetulan – Kebetulan saya berada di tempat yang salah, maka saya terlibat dalam buku tembak antara dua geng – dan ikut kena tembakan. Saya luka. ‘Tidak ada kebetulan seperti itu. Ingat, Dia adaalah Hyang Maha Mengawasi – sang Pengawas Agung.

Pengalaman suka dan duka terjadi karena perbuataan kita sendiri. Karena keterikataan kita sendiri. Ya, kita bertanggung jawab sepenuhnya atas apa yang menimpa diri kita. Dia- Gusti Pangeran – senantiasa mengawasi supaya semuanya berjalan lancar sesuai dengan hukum-hukum alam yang ada atas kehendak-Nya pula!

Saya dan istri biasa tukar pikiran setelah memperoleh insight dari membaca atau menyadari sesuatu. Kalau sudah bicara tentang orang yang menyakiti kita berdua, kita tertawa. Ya itulah masa lalu kita, suka menyakiti dan sekarang menerima hal yang sama……. Sekarang, walau tidak berbuat salah aku masih harus bertanggung jawab atas perbuatanku yang lalu. Baik manusia maupun malaikat tak dapat memastikan kapan aku menerima ganjaran dari perbuatanku sendiri.  Aku menerima segalanya dengan lapang dada, dan tanpa keluh kesah akan ketidakadilan. Kutipan dari buku Bodhidharma.

Kita mesti belajar dari Dhruva.

buku-bhagavad-gita-membaca-gita

Perseteruan dua kelompok sejak dahulu kala

Dalam literatur Purana — Srimad Bhagavatam misalnya — kita membaca kisah tentang seorang anak kecil, seorang pangeran bernama Dhruva. Melihat ayahnya — sang raja ; lebih menyayangi seorang saudara dari ibu yang beda, Dhruva sedih. Tapi, kesedihan itu tidak dijadikannya bibit untuk memusuhi saudaranya. Ia tidak meneruskan kepedihan hatinya ke generasi berikut. Ia tidak membiarkan benih kesedihan itu bertunas menjadi kebencian.

 

IA MENCARI ALASAN KESEDIHANNYA DI DALAM DIRI – Ia melakukan perenungan, dan ia menemukan jawabannya — bahwa kesedihannya disebabkan oleh pikiran. Pikirannya sendiri. Barangkali sang ayah menyayangi semua anaknya. Barangkali ia tidak pilih kasih. Barangkali kesedihan kita disebabkan oleh persepsi kita sendiri, maka Dhruva tercerahkan!

Tanpa kesadaran, tanpa pencerahan, kisah ini dapat berubah menjadi asal-usul dari perseteruan antara dua kabilah, dua suku, dua bangsa besar — atau bahkan beberapa bangsa besar. Jika ada yang menarik garis historis ke belakang hingga Dhruva, yang dipersepsikan sebagai pihak yang dizalimi; dan ada yang menganggap dirinya sebagai keturunan saudara seayah, lain ibu, yang merasa “Kitalah yang terpilih, bukan keturunan Dhruva!” — maka teljadilah perseteruan yang tak kunjung berakhir. Dikutip dari Penjelasan Bhagavad Gita 9:16 buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

Seandainya Dhruva tidak tercerahkan, mungkin sampai kini masih ada 2 kelompok, 2 bangsa: Kabilah Anak Keturunan Dhruva vs Kabilah Anak Keturunan Uttama, saudara tirinya yang saling bermusuhan selama berabad-abad.

Krsna mengajak kita untuk mempersembahkan seluruh pengalaman-pengalaman seperti ini ke dalam api suci kesadaran diri, pengetahuan sejati. Supaya dapat diambil hikmahnya saja.

Catatan:

Meditasi, Perenungan Batin, Membaca buku-buku yang dapat membantu dalam hal perkembangan Jiwa; berdoa dengan cara yang paling tulus, berdoa dengan dan dari hati terdalam, dan dalam bahasa kasih sejati, bukan karena takut. Penjelasan Bhagavad Gita 8:8

Sudahkah kita melakukan tindakan-tindakan tersebut?

Mutiara Bhagavatam: Meneliti Keangkuhan Diri

buku-bhagavatam-daksha-yg-angkuh

Berperanglah Melawan Nafsu. Melawan keangkuhan sendiri. Marilah menjadi contoh bagi masyarakat sekitar kita. Apabila kita sadar, sudah melek, tapi tetap tidak berperang melawan kelemahan-kelemahan kita, maka apa gunanya kesadaran kita? Mereka yang belum sadar dapat dimaafkan, tetapi apabila kita yang sadar mengabaikan kewajiban kita, maka kita tidak dapat dimaafkan. Dikutip dari Penjelasan Bhagavad Gita 2:34 dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

 

Banyak sekali kisah-kisah dalam Srimad Bhagavatam sebagai pemicu peningkatan kesadaran. Saat menyusun kisah-kisah, kita lengkapi dengan mutiara Quotation dari Buku-Buku Bapak Anand Krishna agar nuansa Bhakti merebak, memenuhi kisah suci tersebut. Mulai terasa kesadaran dalam diri muncul, ternyata kami masih jauh dari tujuan spiritual. Dan sedikit demi sedikit kami mulai mengubahnya, semoga Bunda ilahi memberkati.

Berikut kami mulai menulis pengalaman pribadi saat menyusun kisah-kisah tersebut:

 

Dalam suatu kesempatan seorang teman bertanya kepada Bapak Anand Krshna, bagaimana caranya agar dia terhindar dari keangkuhan, misalnya karena sudah merasa melakukan diet vegetarian dan menjadi angkuh.

Diet vegetarian memang penting, terkait dengan sifat kasih dalam diri. Bapak Anand Krishna memberi contoh misalnya dalam seminar tentang para pencinta binatang. Dilakukan di hotel berbintang di daerah pariwisata. Akan tetapi dalam menu makan seminar tersebut dihidangkan daging, ayam dan sebagainya.

Mereka memang betul-betul pencinta binatang, akan tetapi mereka tidak peduli dengan binatang yang disembelih dan dihidangkan di meja makannya. Berarti mereka pencinta binatang tertentu dan tidak peduli binatang yang lainnya. Bila demikian wajar saja mereka bisa mencintai orang yang dikasihinya tetapi tidak peduli dengan selain yang dikasihinya. Kalau sudah demikian, bagaimana mereka masih bisa merasa mengasihi sesama?

Kedua kali adalah penting sekali kita waspada agar kita tidak angkuh. Kebetulan kami sedang memperbaiki tulisan tentang kisah Daksha yang angkuh pada kisah-kisah Srimad Bhagavatam. Dan……tiba-tiba datang pikiran……. ya kami masih angkuh. Kami jadi malu pernah berbicara dengan Bapak Anand Krishna dengan nuansa keangkuhan yang pasti terasa bagi beliau……Dan sikap angkuh jauh dari spiritual. Angkuh adalah salah satu bentuk ego, dihasilkan oleh mind……… mind pun masih merajai diri kami.

Kami diingatkan bahwa pada waktu mengutip, agar pembaca tidak hanya memahami, akan tetapi mempraktekkan pemahamannya dalam kehidupan keseharian. Kalau kita sudah merasakan peningkatan kesadaran karena latihan meditasi, maka kita perlu menyeru para pembaca mulai melakukan latihan meditasi. Bapak Anand Krishna memberi contoh bahwa di setiap bukunya hampir selalu ada petunjuk tentang latihan meditasi.

Kami menulis di bawah kisah Daksha yang angkuh catatan kecil:

“Mari kita merenungkan, adakah keangkuhan dalam diri kita? Keelokan wajah kita? Kekayaan, kedudukan, kecerdasan, kesucian? Banyak sekali keangkuhan dalam diri….. Beruntunglah Daksha karena keangkuhannya dipenggal Mahadeva. Kapan keangkuhan kita bisa dipenggal? Atau kapan kita memenggal keangkuhan diri sendiri?

“Meditasi akan membantu kita mengenali keangkuhan diri. Sudahkah kita latihan meditasi dengan rutin?”

 

Tiba-tiba kami sadar akan keangkuhan diri….. banyak keangkuhan dalam diri. Kelebihan dalam bidang tertentu membuat kami terasa angkuh. Padahal dalam buku Yoga Sutra Patanjali disebutkan bahkan memiliki siddhi (kekuatan alam) pun kalau kesadaran kita masih keluar bisa berbahaya. Kalau kesadaran terfokus pada penitian ke dalam diri baru siddhi bermanfaat. Punya kekuatan alami pun bisa membuat angkuh, sedangkan kami mempunyai kelebihan sedikit sudah menjadi angkuh.

Ya, nyata-nyata ada keangkuhan dalam diri…… sedih dan frustasi…… malu terhadap Bapak Anand Krishna….. mungkin kita banyak membaca mantra-mantra tertentu sehingga urusan kita banyak dibantu alam semesta. Akan tetapi kalau keberuntungan tersebut membuat kita angkuh, kita jauh dari spiritual. Mendapatkan pertolongan alam kok hanya untuk meningkatkan ego…….

Sedih……..

Kami ingat kutipan Masnawi yang akan kami upload tentang “Usir Kemunafikan, Arogansi baru Dualitas? Kisah Tukang Kebun #Masnawi”

Yang harus diberantas pertama-tama adalah “kemunafikan”. Jujur dulu, be yourself. Jangan meniru orang. Jadilah diri sendiri……. Jelas masih ada kemunafikan dalam diri…..

Setelah berhasil mengusir “darvish palsu kemunafikan” dari dalam diri, jangan terlena. jangan duduk diam. Langkah berikutnya adalah mengusir  “arogansi”, Bung Kesombongan, Saudara Keangkuhan.

Terakhir, baru mengatasi dualitas……

Tetapi sebuah tulisan tidak boleh membuat para pembaca semakin tidak percaya diri, karena penulisnya mengalami hal demikian. Sebuah tulisan harus uplifting. Itulah yang kita lihat pada buku-buku Bapak Anand Krishna. Kisah-kisah yang disusun Bhagavan Vyaasa juga selalu membuat uplifting, memberi semangat untuk meningkatkan kesadaran.

Berikut nasihat dalam Bhagavad Gita yang perlu kita lakoni:

“Jadikan Sri Krsna – Sang Sais Agung – sebagai sais Kereta Kehidupan kita, maka tidak ada lagi kekalahan, tidak ada lagi kegagalan. Saat ini, kita menempatkan nafsu berahi kita, keserakahan kita, keangkuhan kita, dan lain sebagainya, pada posisi sais. Itu sebabnya kita mengalami kegagalan, kekalahan.

“Apabila kita menempatkan Akal Sehat dan Pikiran Jernih, dan Hati yang Bersih pada posisi sais, hidup akan berubah menjadi suatu lagu yang indah. Hidup kita dapat menjadi suatu Perayaan.” Dikutip dari Mahabharata Roman Kehidupan dari buku buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

Sembuhkan Luka Batin Sebelum Ajal Menjemput!

buku bhagavad gita candi prambanan

Badan dan indra selalu menagih pengulangan atas rangsangan-rangsangan yang dinikmatinya, sehingga Jiwa Individu pun terjebak dalam kejar-mengejar. Ia menjadi budak badan dan indra. Ia menjadi pelayan mereka. Demikian, jika tuntutan-tuntutan indra tidak terpenuhi, masih terasa — umumnya selalu demikian — maka setelah meninggalkan badan yang sudah tidak berguna, rusak, mati, Jiwa mencari badan Iain, seperangkat indra lain untuk memenuhi hasratnya untuk mengalami pengalaman-pengalaman yang sama. Sesuai dengan pengalaman yang dikehendakinya, Jiwa memilih rahim seorang perempuan yang sesuai dengan hasrat yang dimilikinya.” Penjelasan Bhagavad Gita 13:21 dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

 

Luka fisik membutuhkan waktu dan perhatian guna mencapai kesembuhan

Namanya saja orang sudah tua, usia sudah di atas 62 tahun sehingga kadang-kadang bekerja tidak fokus atau salah estimasi. Pada suatu hari saat memotong kayu untuk keperluan agnihotra, kuku jempol tangan kiri terkena sabit. Dokter melakukan pengobatan dengan mencabut kuku jempol dan menjahit  bekas luka dengan 3 jahitan.

Luka dibungkus perban dan setiap 3 hari sekali kontrol ganti perban, diberi obat penghilang rasa sakit dan antibiotik serta tidak boleh kena air. Cukup repot, karena tugas sehari-hari adalah mencuci. Tumpukan pakaian biasa bolehlah pakai mesin cuci, akan tetapi pakaian dalam dan pakaian yang halus tetap dicuci pakai tangan. Mandi pun cukup repot, satu tangan harus di atas dan pakai shower.

Okelah cukup waspada terhadap air, akan tetapi tangan selalu dipergunakan setiap saat. Pernah pada saat ganti persneling mobil jempol terantuk yang akhirnya memperlama penyembuhan. Setelah 10 hari perban di lepas. Tetap harus tetap waspada karena diperkirakan perlu waktu 3 bulan sampai kuku tumbuh kembali seperti semula.

 

Bagaimana dengan luka batin?

Luka fisik memerlukan waktu dan perhatian untuk sembuh, bagaimana dengan luka batin? Saya merenungkan kisah bagaimana Bambang Ekalaya (versi Jawa komik R.A. Kosasih), Eklavya (versi aslinya) yang diminta memotong jempolnya oleh Drona, karena telah belajar tanpa sepengetahuan Drona. Rasa sakit hati, luka batin tersebut mungkin masih terbawa saat dia perang melawan Pandawa di Bharatayuda. Setiap melihat jempolnya yang terpotong dia mungkin masih teringat peristiwa tersebut, bahkan mungkin masih terbawa saat di menghadapi ajalnya.

Tidak harus luka fisik menjadi luka batin. Salah satu murid Bodhidharma, Shen Guang memotong lengan kirinya, dengan penuh kesungguhan dan akhirnya diterima menjadi murid Sang Suhu. Luka fisik bisa juga menjadi pemberi semangat menuju cita-cita.

Mengapa kita mengalami luka batin? Karena kita ingin segala sesuatu berjalan seperti harapan kita dan yang terjadi ternyata justru menyakitkan diri kita. Orang yang kita hormati dan cintai justru menyakiti kita. Mengapa sakit hati? Karena dalam hati kita berkeinginan orang tersebut berbuat kepada kita seperti apa yang kita perbuat terhadapnya.

“Badan dan indra selalu menagih pengulangan atas rangsangan-rangsangan yang dinikmatinya, sehingga Jiwa Individu pun terjebak dalam kejar-mengejar. Ia menjadi budak badan dan indra. Ia menjadi pelayan mereka. Demikian, jika tuntutan-tuntutan indra tidak terpenuhi, masih terasa — umumnya selalu demikian — maka setelah meninggalkan badan yang sudah tidak berguna, rusak, mati, Jiwa mencari badan Iain, seperangkat indra lain untuk memenuhi hasratnya untuk mengalami pengalaman-pengalaman yang sama. Sesuai dengan pengalaman yang dikehendakinya, Jiwa memilih rahim seorang perempuan yang sesuai dengan hasrat yang dimilikinya.” Penjelasan Bhagavad Gita 13:21

Luka batin yang tidak tersembuhkan saat ajal tiba, akan dibawa ke kelahiran baru. Jadi sebaiknya kita menerima apa pun yang terjadi, agar tidak membawa luka batin ke kehidupan selanjutnya? Misalkan kita kecewa dengan pasangan kita, maka di kehidupan yang berikutnya kita ingin memperoleh pasangan tanpa kelemahan seperti yang dimiliki pasangan kita. Atau kita malah ingin membalas tindakan menyakitkan yang pernah dilakukannya……

 

Tidak gampang mengalahkan keinginan

buku bhagavad gita candi durga mahisasuramardini

Dikisahkan tentang Mahisasura yang menguasai tiga alam. Para dewa dan para ksatria mencoba menaklukkan Asura yang berkepala kerbau tersebut. Akan tetapi setiap kepala asura tersebut terpenggal, muncul kepala lain, seperti kepala gajah, kepala harimau, pokoknya setiap kepala dipotong, akan tumbuh kepala baru, sehingga dia tidak pernah mati. Sulit sekali ditaklukkan.

Mahisasura adalah lambang dari obsesi, keinginan (kama, nafsu) dan kemarahan (krodha). Kama dan krodha lebih tangguh daripada musuh yang terlihat mata. Mahisasura selalu berubah wujud, seperti keinginan yang berubah wujud dan berkembang biak sangat cepat. Jika kita memenggalnya sebagai kerbau dia akan mewujud sebagai gajah. Bila kita membunuh sebagai gajah dia akan mengambil bentuk yang lain, sehingga manusia sulit mengalahkannya. Energi kita akan habis untuk melawannya. Keinginan satu dipotong akan berubah wujud menjadi keinginan lainnya. Kecuali kita dapat memotong sampai ke akar-akarnya, ke sumbernya, atau menaklukkan esensinya. Keinginan adalah bukan wujud luar dari tindakan tetapi adalah kecenderungan yang dalam. Bahkan seseorang yang nampaknya tidak bertindak apa-apa bisa saja menyimpan keinginan yang dalam. Kekotoran dari kama dan krodha  dapat dihapus dengan karma yoga, melayani tanpa kepentingan pribadi, selfless service. Kama dan krodha dapat dihapus oleh upasana, kedekatan dengan Yang Maha Kuasa.

Dikisahkan yang dapat menaklukkan Mahisasura adalah Bunda Ilahi, Durga Mahisamardini seperti gambaran, ikon yang berada pada Candi Prambanan (Para Brahman). Sang Dewi menaklukkan Mahisa sura yang berada di bawah kakinya. Pada akhirnya hanyalah Dia yang dapat membantu kita menaklukkan keinginan.

 

Jadilah Bhakta Yang “Nrimo”

Bagaimana ciri-ciri seorang Bhakta? Bagaimana mengenalinya? Gampang…… Bhagavad Gita menjelaskan bahwa dalam keadaan suka maupun duka – ia tetap sama. Ketenangannya kebahagiaannya, keceriaannya – tidak terganggu. Ia bebas dari rasa takut. la tidak akan menutup-nutupi Kebenaran. la akan mengungkapkannya demi Kebenaran itu sendiri. la menerima setiap tantangan hidup….. la bersikap “nrimo” – nrimo yang dinamis, tidak pasif, tidak statis. Pun tidak pesimis. Menerima, bukan karena merasa tidak berdaya; ikhlas, bukan karena memang dia tidak dapat berbuat sesuatu, tetapi karena ia memahami kinerja alam. Ia menerima kehendak Ilahi sebagaimana Isa menerimanya diatas kayu salib. Ia berserah diri pada Kehendak Ilahi, sebagaimana Muhammad memaknai Islam sebagai penyerahan diri pada-Nya…….

Banyak yang berprasangka bahwa sikap “nrimo” membuat orang menjadi malas. Sama sekali tidak. Sikap itu justru menyuntiki manusia dengan semangat, dengan energi. Terimalah setiap tantangan, dan hadapilah! Seorang Bhakta selalu penuh semangat. Badan boleh dalam keadaan sakit dan tidak berdaya – jiwanya tak pernah berhenti berkarya. la akan tetap membakar semangat setiap orang yang mendekatinya……..” dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2007). Vedaanta, Harapan Bagi Masa Depan. Pustaka Bali Post)

 

Mari kita berupaya menyelesaikan keinginan selagi masih hidup. Ajal tidak menghentikan keinginan. Kita akan mencari tubuh baru, lahir lagi untuk menyelesaiakan keinginan yang belum selesai. Luka batin kita upayakan sembuh selagi masih hidup.  Untuk menaklukkan keinginan kita perlu bantuan Bunda Ilahi, Bunda Gayatri, Ibu Alam Semesta.  Kita juga belajar hidup nrimo, nrimo yang dinamis, yang menerima setiap tantangan dan menghadapinya.

Stroke Dapat Menyerang di Usia Berapa Saja. Sudahkah Kita Mempersiapkannya?

buku sai anand gita stroke

WhatsApp (WA) telah merambah semua aspek kehidupan kita

Sebagaimana halnya semua alat (pergaulan modern), WA bisa mendatangkan kebaikan dan bisa juga merugikan kita. WA bisa digunakan untuk mempermudah kehidupan kita, akan tetapi bisa juga membuat kita ketagihan dan tanpa terasa waktu kita habis digerogoti WA. Bisa membuat kita gembira tapi bisa membuat uring-uringan juga. Kita bisa menjadi komunitas WA yang mengalami suka dan duka yang demikian sampai kita berbaring tanpa daya.

Teman-teman seangkatan saya dan istri sudah berusia 60 tahunan, rata-rata sudah pensiun, punya banyak waktu dan juga banyak keinginan untuk mengungkapkan atau mengekspresikan diri. Saya pribadi sudah dimasukkan grup WA alumni SMA seangkatan satu kelas ( yang satu sekolahan tidak ikut, alumni SMP tidak ikut); alumni mahasiswa Jurusan tertentu seangkatan; alumni pensiunan kantor; anggota komunitas dari yang kelas umum sampai kelas khusus; dan Lovely Family (Grup WA ide istri untuk berkomunikasi dengan anak-anak).

Dalam WA, chatting memuat di antaranya: sekedar komunikasi, berbagi cerita atau video lucu, tausyiah, kisah Bung Karno, mutiara kehidupan, olah raga dan sebagainya, dilengkapi undangan kumpul-kumpul bersama.

Mengenai berbagi kisah/tausyiah di WA ini kadang menjemukan karena dalam 1 hari kita bisa memperoleh banyak kisah yang sama dari berbagai grup yang belum tentu menarik bagi anggota komunitas WA. Saya sementara ini tetap konsisten hanya mengisi chatting untuk mengucapkan selamat ulang tahun, ikut berdukacita dan hal-hal yang saya anggap penting.

Mengenai berbagi, saya lebih memilih media sosial Facebook, itupun hanya sekadar upload di lapak “wall” pribadi. Bagi yang mampir ingin baca silakan, bagi yang ingin tanya jawab via inbox okay, semuanya merupakan bagian dari motto Anand Ashram “be happy and share your joy to others”. Kami tahu diri hanya ngetag wall istri, kalau ngetag orang lain, maka lapak teman hanya berisi tag saya…. hehehe, karena hampir setiap hari upload.

Bagaimanapun saya berupaya mempraktekkan intisari dharma: “Apa yang kau tidak sukai bagi dirimu sendiri, janganlah sekali-kali engkau berbuat seperti itu terhadap orang lain.” Atau “Janganlah memperlakukan orang lain, dengan cara yang tidak menyenangkan bagi dirimu sendiri.” Seperti nasehat Bapak Anand Krishna lewat buku Sara Samuccaya dan berbagai buku lainnya. Hal tersebut dikenal sebagaai Golden Rule, kaaidah Emas. Kembali tujuan kita hidup di dunia ini apa? Sekadar happy-happy yang tidak selamanya happy?

Saya juga tidak keluar dari grup, siapa tahu ini bagian dari penyelesaikan utang-piutang karma lewat dunia maya. Di zaman dahulu untuk menyelesaikan karma, mungkin kita harus lahir lagi, menemui orang terkait dan risiko membuat karma baru dalam kelahiran baru selalu terbuka, sehingga karma-karma tak pernah terselesaikan.

Itu hanya alasan untuk jarang sekali ikut temu muka dengan teman-teman WA!?!? Ya bisa saja hehehe.

Ada teman yang selalu men-share WA tentang Tuhan, tetapi Tuhan versinya apakah Tuhan Yang Maha Kuasa atau Tuhan yang hanya mengabulkan permintaannya belaka?

“Urusan kita dengan Tuhan pun bukanlah urusan cinta, bukanlah urusan kasih – tetapi perkara materi murni. Kita berdoa, kita menjalankan ritus-ritus keagamaan, bahkan kita beragama – hanya karena Tuhan adalah Hyang Maha Memberi segala apa yang kita butuhkan, Hyang Maha Mendengar segala macam keluhan kita, Hyang Maha Memenuhi segala macam keinginan kita, Hyang Maha Menyelesaikan segala macam perkara kita.

“Barangkali kita tidak akan berurusan dengan Tuhan bila Ia adalah Hyang Maha Menegur dan Maha Menjewer kuping ketika kita berbuat salah. Kita lebih suka dengan atribut-atribut Tuhan seperti Hyang Maha Mengasihi dan Maha Menyayangi. Jelas, kita tidak mau ditegur dan dijewer kuping kita.

“Berarti, Tuhan yang Membahagiakan kita adalah Tuhan yang Memenuhi segala macam kebutuhan, bahkan keinginan materi kita. Dan, tidak pernah menegur, apalagi menghakimi dan menghukum kita. Keberagamaan kita sepenuhnya, 100 persen adalah urusan materi murni!” dikutip dari artikel Bapak Anand Krishna pada Radar Bali, Senin 26 November 2007

 

Menengok teman stroke

Saya harus angkat topi saat salah satu grup WA “ngeshare” tentang salah seorang anggota alumni yang stroke. Langsung 2 orang datang dari Jakarta ke kota ke tempat dia berada. Dalam jangka waktu tak lama kembali 2 orang sudah foto bersama teman tersebut. Ada juga punya ide “mari kita temu muka dulu di Jakarta baru dibahas apa yang akan kita lakukan terhadap teman yang sedang menerima musibah tersebut.

Saya berpikir, mungkin Pangeran Siddharta akan happy melihat pelajaran yang diberikan Beliau telah diteladani Grup WA.

“Konon Pangeran Sidharta Gautama sangat peka dalam memandang kehidupan. Saat melihat orang sakit, dia sadar bahwa dia pun dapat mengalami sakit dan semua orang juga dapat mengalami sakit. Suka atau tidak suka, keadaan sakit akan mendatangi semua manusia. Kemudian kala Sang Pangeran melihat orang tua yang sedang sekarat, dia pun sadar bahwa pada suatu saat dia pun akan mengalami hal yang sama, demikian juga semua orang akan mengalami hal tersebut, mengalami saat-saat sang maut datang menjemput. Selanjutnya saat Pangeran Sidharta melihat orang mati, kembali dia sadar bahwa setiap orang akan mengalami kematian, termasuk dirinya juga mengalami hal sama. Sang pangeran juga melihat orang yang ketakutan saat maut menjemput, akan tetapi ada satu-dua orang yang tersenyum saat maut menjemputnya. Peristiwa itu menghunjam ke dalam dirinya, sehingga sang pangeran meninggalakn istana untuk mencari solusi bagi penderitaan yang dialami manusia.”

 

“Kita pun juga pernah mengalami hal yang sama, kita sudah melihat penderitaan orang yang sakit. Kita sudah pernah melihat orang dekat kita, mendekati kematian dalam keadaan berbaring di rumah sakit dengan berbagai selang infus dengan grafik komputer yang menunjukkan bahwa dia dalam keadaan kritis. Kita juga beberapa kali takziah mendatangi upacara pemakaman orang-orang dekat. Akan tetapi mengapa hati kita tidak terketuk seperti Pangeran Sidharta?”

Saya haqqul yakin teman-teman WA yang telah dan akan menengok teman yang menderita stroke tidak pernah berpikir “Alhamdulillah, Puji Tuhan, Berkah Gusti saya tidak mengalami hal yang demikian.”

Kemungkinan terjadi stroke itu banyak jalannya. Ibu saya dan mertua saya kemungkinan besar karena minum obat yang dosisnya terlalu keras. Ada yang lain karena pas darah tinggi jatuh di kamar mandi. Ada yang kurang tidur. Ada yang makan sate, durian, udang dan sebagainya.

Boleh jadi kita lebih sehat, tetapi hanya saat ini, hanya masalah waktu, kejadian demikian dapat menimpa kita kapan saja. Sang Kala, Tuan Waktu selalu mengkonsumsi waktu kita semua, setiap saat. Semua terkalahkan oleh Sang Kala. Akan datang saatnya kita berbaring tanpa daya di atas tempat tidur. Hanya masalah waktu saja……..

“Ketika kita hendak pergi ke bioskop, atau sekedar jalan-jalan sore, kita bersiap-siap dengan memakai sepatu kita. Saat ingin berkunjung ke kota lain, pakaian pun kita persiapkan dan masukkan ke dalam tas. Namun persiapan apa yang sudah kau lakukan untuk perjalanan terakhirmu, perjalanan menuju kematian?”

“Hidup yang diawali dengan sebuah tangisan, harus diakhiri dengan sebuah senyuman. Ketika engkau masih bayi, orang-orang disekitarmu tetap tersenyum walaupun engkau terus menangis. Ketika engkau mati, orang-orang disekitarmu akan meratapi kehilangan ini, namun engkau semestinya tersenyum dalam damai dan mengundurkan diri dengan tenang.” (Das, Sai. (2012). Sai Anand Gita Kidung Mulia Kebahagiaan Sejati. Koperasi Global Anand Krishna Indonesia)

buku Sai_Anand_Gita

Pentingnya Membuka Diri bagi Manusia Indonesia yang Lahir Setelah Tahun 1970

buku ishq ibaadat

Cover Buku Ishq Ibaadat

Merenungkan perjalanan hidup masa lalu

Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu: Saha vīryam karavāvahai;Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai.Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

Om, May we all be protected; May we all be nourished; May we work together with great energy; May our intelect be sharpened; Let there be no Animosity amongst us; Peace to One and All.

 

Merenungkan perjalanan hidup

Saat bepergian dengan istri menengok anak di Boston, saya merenung ulang, mengapa telah terjadi perubahan pandangan hidup yang sangat besar dalam diri saya? Mungkin tugas belajar di University of Manitoba, Canada 1985-1987 telah mempengaruhi diri saya. Apakah tugas belajar yang hampir serupa juga akan mempengaruhi diri anak saya 30 tahun sesudahnya, yang saat ini sedang tugas belajar di Boston University? Who knows? Itu sejarah pribadi dirinya…..

Pertemuan dengan para mahasiswa dari berbagai negara di Canada waktu itu membuat saya merenung. Kalau saya lahir di Amerika, India atau China apakah agama yang saya anut masih sama? Kalau untuk masuk surga harus dengan kriteria yang sama, apakah adil? Ada orang yang berkeyakinan agama tertentu sejak kecil, dan  ada yang sampai tua bahkan mengenal agama yang dapat menyelamatkan pun tidak, mengapa mereka ada yang akan masuk surga yang abadi, dan ada yang akan merasakan neraka selama-lamanya?

Sepulang dari tugas belajar, saya juga pernah bertanya pada beberapa teman yang dekat, yang bisa diajak berbicara dari hati ke hati. Ada anak dari keluarga berada, lahir di keluarga yang harmonis, paham bahasa kitab suci; di lain pihak ada anak lain yang lahir di tempat lokalisasi dan tidak tahu siapa ayahnya dan tidak mengenal pendidikan agama. Mengapa anak yang satu akhirnya masuk surga, sedangkan anak yang lain, yang takdirnya berlainan harus masuk neraka? Bukan salah si anak untuk lahir di keluarga harmonis atau keluarga nggak jelas, tetapi mengapa yang satu akan abadi di surga sedang yang lain abadi di neraka?

Pengalaman tersebut pernah saya tulis dalam: https://gitakehidupansepasangpejalan.wordpress.com/2014/10/05/interfaith-perkawinan-bagian-6-perjalanan-dari-aku-menjadi-kita-dari-pasangan-hidup-menjadi-sahabat-dalam-tugas-suci/

 

Kemungkinan besar pertanyaan-pertanyaan dalam diri tersebut, membuat saya membuka diri untuk membaca buku-buku tentang spiritual, bagaimana menghormati semua agama dan kepercayaan serta membuat menyimak banyak artikel tentang adanya reinkarnasi. Tanpa saya sadari saya telah berani membuka diri, yang tadinya saya batasi sendiri, bahwa saya tidak perlu memahami hal-hal yang tidak sesuai dengan kepercayaan saya. Bukankah saya sejatinya adalah manusia yang berhak berpikir bebas dan tidak perlu mengungkung diri dalam pandangan-pandangan lama?

 

Perlunya membuka diri

Pada tahun 2004 saya mulai datang ke latihan meditasi Anand Ashram di Anand Krishna Center Semarang dan selanjutnya banyak membaca buku-buku karya Bapak Anand Krishna.

Setahun kemudian, saya membaca buku Ishq Ibaadat yang menjelaskan pentingnya membuka diri. Setelah itu saya semakin meyakini kebenaran buku-buku Tulisan Bapak Anand Krishna dan buku-buku tersebut saya jadikan panduan hidup saya.

…….

“Tanpa membuka diri, kita tidak dapat belajar. Mau kita tampung di mana pelajaran yang kita peroleh? Membuka diri tidak berarti membuka otak. Tanpa dibuka pun sesungguhnya otak kita sudah terbuka. Keterbukaan otak terhadap apa saja tidak menjamin penerimaan. Otak bisa terbuka, dan bisa tidak menerima. Kemudian, ia pun dapat membenarkan tindakannya sebagai hasil ketajaman atau kecerdasannya yang membuat dia makin kritis.

“Karena menganggap kurang logis dan tidak masuk akal, otak kita bisa menolak apa saja, termasuk apa yang sesungguhnya amat penting bagi ‘diri’ kita-kita, bagi perkembangan jiwa kita, bagi evolusi batin kita.

“Membuka diri berarti membuka jiwa. Bila jiwa terbuka, otak, hati, semuanya serentak ikut terbuka. Tidak perlu membuka satu per satu.

“Kita bisa membuka jiwa cukup dengan niat: Aku membuka diri terhadap segala sesuatu yang dapat mengembangkan jiwaku, meningkatkan kesadaranku. Ketika berhadapan dengan sesuatu yang baru, ulangi niat itu dalam hati: Aku membuka diri terhadap segala sesuatu yang dapat mengembangkan jiwaku, meningkatkan kesadaranku….. dan lihat akibatnya.

Saat melihat, atau menemukan sesuatu yang baru, ulangi niat itu. Dengan hanya berniat untuk mengulangi niat saja, sesungguhnya kita sudah melangkah ke dalam keterbukaan diri….. cobalah!” Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2005). Ishq Ibaadat, Bila Cinta Berubah Menjadi Ibadah. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

Bukan hanya buku-buku, terhadap nasihat orang pun kita harus membuka diri.

“Orang bijak mendengarkan pendapat orang lain. Jangan sombong, bukalah dirimu, terimalah nasihat yang benar. Untuk mendengarkan pendapat orang lain, nasihat orang lain, anda harus membuka diri—dan membuka diri sepenuhnya. Tidak bisa setengah-setengah.” Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2002). Menemukan Jati Diri I Ching Bagi Orang Moderen. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

buku i ching

Cover Buku I Ching

 

Belajar Spiritualitas

“Spiritualitas adalah Hal Baru Baik bagi Manusia Barat, maupun bagi……

“Manusia Indonesia Modern. Ketika saya mengatakan ‘Manusia Indonesia Modern’, khususnya dalam konteks ini, maksud saya adalah manusia-manusia Indonesia kelahiran setelah tahun 1970-an. (Berarti semua anak-anak saya termasuk kategori Manusia Indonesia Modern, penulis). Manusia-manusia modern ini tidak memperoleh pendidikan spiritual, bahkan pendidikan budi pekerti atau universal human values pun tidak.

“Mereka memperoleh ajaran agama sesuai dengan agama yang dianut orangtuanya. Dan, pelajaran agama, seperti yang kita semua ketahui, hanya menyentuh akidah, sejarah, Dan segala-sesuatu yang terkait dengan salah satu agama saja. Baik, saya tidak mengatakan tidak baik. Tetapi hal itu berakibat Manusia Indonesia Modern sulit mengapresiasi ajaran dari agama-agama lain, karena ia memang tidak tahu.

buku sanyas dharma

Cover Buku Sanyas Dharma

“Pendidikan spiritual justru memperkaya pendidikan agama. Selain menjalani agamanya, jika seseorang memiliki pengetahuan tentang nilai-nilai luhur yang terkandung dalam ajaran-ajaran agama lain, ia menjadi seorang spiritualis. Ia bisa melihat esensi setiap agama, yang sesungguhnya sama. Setiap agama menjunjung tinggi nilai-nilai universal, nilai-nilai kemanusiaan yang bersifat universal.

“Tidak ada upaya mencampuradukkan agama. Agama tidak bisa dicampur aduk. Pendidikan spiritual bukanlah pendidikan tentang akidah dan ritual keagamaan yang adalah porsi pendidikan agama. Pendidikan spiritual adalah pendidikan budi pekerti, sebagaimana dicetuskan oleh Bapak Pendidikan Nasional kita, Ki Hajar Dewantara. Sayangnya cetusan Beliau itu terlupakan selama beberapa dasawarsa terakhir.

“Nah, untuk Pendidikan Budi Pekerti pun kita membutuhkan guru, lalu? Apa salahnya dengan Guru Spiritual?” Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2012). Sanyas Dharma Mastering the Art of Science of Discipleship Sebuah Panduan bagi Penggiat Dan Perkumpulan Spiritual. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Om, Sarve bhavantu sukhinaḥ; Sarve santu nirāmayāḥ; Sarve bhadrāṇi paśyantu; Mā kashchit duḥkha bhāgbhavet; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

May all be prosperous, happy and ever free from illness. May all experiences spiritual upliftment, and never ever suffer. Peace to One and All.

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/

 

Banner 4