Renungan di Akhir Tahun 2018, Menghayati Kepergian Para Sahabat

Ucapkan Nama-Nya Ketika Maut Datang Menjemput

Ketika musibah menimpa dirimu, sebut nama-Nya dan katakan, “O Tuhan, kasihku, sayangku!” Ketika maut datang menjemputmu, ucapkan asma-Nya, dan katakan, “O Tuhan, kasihku, sayangku aku merasakan kehadiran-Mu! Aku melihat wujud-Mu. Kau berada di sampingku. Aku milikmu, bukan milik dunia ini….”

Cukup, jangan menambah sesuatu apa pun. Hanya mengucapkan “O Tuhan, kasihku, sayangku” – sudah cukup. Ia Maha Tahu. Ia tahu persis, apa yang kita butuhkan. Renungan Harian untuk 22 Desember, Bersama Vivekananda Sang Swami.

Sumber: (Krishna, Anand. (2002). Renungan Harian Penunjang Meditasi. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama)

 

“Kauteya (Arjuna, Putra Kunti), di bawah pengawasan-Ku, roda Samsara semesta berputar terus, menyebabkan munculnya makhluk-makhluk bernyawa, bergerak; maupun benda-benda yang tidak bergerak.”Bhagavad Gita 9:10

Alam ini sepenuhnya berada di bawah pengawasan-Nya. Nah, implikasi dari pemahaman ini jauh melebihi bayangan kita. Jika semuanya berada di bawah pengawasan-Nya, Roda Samsara, Alam Semesta pun berputar karena dan atas kehendak-Nya – maka, tidak ada lagi sesuatu yang bisa disebut kecelakaan…

Tidak ada pula kebetulan – Kebetulan saya berada di tempat yang salah, maka saya terlibat dalam buku tembak antara dua geng – dan ikut kena tembakan. Saya luka. ‘Tidak ada kebetulan seperti itu. Ingat, Dia adaalah Hyang Maha Mengawasi – sang Pengawas Agung.

Pengalaman suka dan duka terjadi karena perbuataan kita sendiri. Karena keterikataan kita sendiri. Ya, kita bertanggung jawab sepenuhnya atas apa yang menimpa diri kita. Dia- Gusti Pangeran – senantiasa mengawasi supaya semuanya berjalan lancar sesuai dengan hukum-hukum alam yang ada atas kehendak-Nya pula!

Sumber: (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

 

 

Meninggalnya 2 Sahabat dan 1 Saudara di Bulan Desember

Pertama,

Pada tanggal 10 Desember 2018, setelah menderita kanker usus selama 1.5 tahun seorang sahabat meninggalkan dunia. Apakah mengirimkan energi divya usada jarak jauh membantunya? Siapakah kita yang merasa dapat membantunya? Keberhasilan hanyalah tindakan yang selaras dengan Kehendak-Nya. Yang penting adalah Kehendak-Nya.

Dalam Bhagavad Gita disampaikan Karma Yoga, berkarma tanpa pamrih pribadi, yang penting bukan hasilnya. Bukan pula kita acuh, karena berpikir itu kan buah karma dia? Bukan begitu, tapi tindakan dharma apakah yang dapat kita lakukan? Perhatikan sewaktu Guruji menengok, itulah yang perlu diteladani.

Karma itu seperti kartu-kartu dari kayu tipis yang diberdirikan melingkar. Karena kita menjatuhkan satu kartu di sebelah kita, kartu yang kita jatuhkan akan menjatuhkan kartu sebelahnya juga sampai akhirnya kartu terakhir akan menjatuhkan kita. Kalau kami sepasang orang tua harus pergi ke Semarang atau Temanggung atau Pati, seseorang di kehidupan masa lalu pernah bertindak yang serupa kepada kami. Lakoni saja.

 

Pada tanggal 11 Desember, saya dan istri datang ke rumah duka di Temanggung, berangkat setelah mengadakan Terapi Divya Usadha bersama beberapa teman di Alun-Alun Kidul Jogja. Pertimbangan efisiensi dan waktu tidak mungkin menunggu teman-teman Jogja yang masih melakukan pelayanan di Taman Pintar, sehingga kami berdua langsung berangkat ke rumah duka. Siang hari selesai memberikan penghormatan terakhir, pulang ke Solo lewat jalan pintas Kopeng Salatiga yang berkelok-kelok melintasi lereng perbukitan dengan naik turun yang membuat kita perlu waspada.

Usia sudah 64 tahun istri 61 tahun, kami berdua berangkat dari Solo pk. 04.30, mengemudi Solo-Jogja yang di Aplikasi Waze tertulis 1.5 jam kami tempuh lebih dari 2 jam, karena di Klaten Jalan Utama ditutup persiapan Car Frre Day. Perjalanan dari Jogja ke Temanggung yang diperkirakan 2.5 jam kita tempuh dalam 3.5 jam karena berhenti di Rumah Makan, sarapan dan ganti baju. Perjalanan dari pulang dari Temanggung ke Solo diperkirakan 3 jam kita tempuh dalam waktu 4 jam.

Sampai Solo istirahat dan rencana esok tidak ke mana-mana. Apakah rencana kita dapat dilaksanakan, bisa asal sesuai dengan Kehendak Gusti. Dan Gusti berkehendak lain.

 

Kedua,

Pagi hari 12 Desember, sehabis keluar rumah sebentar kita mau istirahat, keponakan perempuan menelpon bahwa ayahnya, kakak kandung saya meninggal di Jogja. Dia dan ibunya dalam perjalanan ke Jogja dan tidak tahu nanti cara membawa Jenazah dari Jogja. Kita berdua langsung dalam hujan lebat ke Jogja.

Di Jogja itulah saya mengenal kebaikan kakak dari cerita-cerita para tetangganya. Sebagai gambaran yang tidak bisa dipahami orang awam seperti kami. Kakak kami yang pernah menjabat di imigrasi, bisa menghidupi istrinya dengan layak, deposito keluarga, uang kontrakan rumah di Jakarta, dan sebagian pensiun untuk keluarganya. Dia hidup sederhana di Jogja di kost sederhana bersama para mahasiswa di tempat biasa jauh dari elit. Tetapi semua tetangganya mengatakan dia orang baik. Saya baru sadar itu mungkin caranya dia melepaskan diri dari keterikatan yang telah dlakoninya selama 7 tahun.

Pk. 05.00 pagi kakak masih subuhan bersama, pk. 09.00 merasa pusing dan diantar temannya ke Puskesmas. Pk. 11.00 ditawari makan teman-temannya, menolak dengan kedua tangan ditangkupkan di depan dada, mengucakan terima kasih-terima kasih. Pk 13.00 meninggal dengan tersenyum. Saya masih menyimpan foto kakak saya sedang tersenyum di akhir hayatnya yang dikirim anak ibu kost-nya.

Bisakah kita meninggal dengan tersenyum? Harus dibuktikan lebih dahulu.

Haruskah kita meninggal dengan tersenyum? Tidak juga, bagi para Master yang penting adalah apa yang kita lakukan setiap saat. Cara kematian kita skenario Dia, nggak usah dipikirkan. Banyak Master dan Orang Suci meninggal denga cara mengenaskan.

Guruji juga menyampaikan:

Hidup yang diawali dengan sebuah tangisan, harus diakhiri dengan sebuah senyuman. Ketika engkau masih bayi, orang-orang disekitarmu tetap tersenyum walaupun engkau terus menangis. Ketika engkau mati, orang-orang disekitarmu akan meratapi kehilangan ini, namun engkau semestinya tersenyum dalam damai dan mengundurkan diri dengan tenang.

Sumber: (Das, Sai. (2012). Sai Anand Gita Kidung Mulia Kebahagiaan Sejati. Koperasi Global Anand Krishna Indonesia)

Silakan juga lihat Video Guruji: Bhagavad Gita and Yoga in Modern Times by Anand Krishna, beliau di akhir video bertanya, bisakah kita tersenyum di akhir episode kehidupan ini?

 

Ketiga,

Flash back ke tanggal 2 Desember 2018, teman-teman Joglosemar diundang salah seorang teman yang tinggal di Karanggede Boyolali. Di tempat tersebut kita latihan Emotion Culturing Bersama dan sahabat tersesebut menyampaikan bahwa penyumbatan jantung yang sudah dialaminya sudah berat tinggal 37 %. Pasang Ring sudah tidak membantu, harus Bypass. Rencana tanggal 17 Desember masuk Rumah Sakit dan 19 Desember operasi.

Pada tanggal 19 Desember 2018 pagi karena salah makan, perut rasanya sakit tak tertahankan. Kami ke dokter 24 jam memperoleh obat dan pulang ke rumah dengan masih sakit. Seorang keponakan mengerti pijat syaraf bekerja dan akhirnya saya bisa tidur pulas. Pada waktu dipijat itulah kami mendengar kabar duka sahabat yang selesai dioperasi dibawa ke ICU dalam keadaan tidak stabil dan akhirnya meninggal.

Masih ada kisah satu lagi, kakak istri saya sakit, punggung dan tengkuknya seperti menerima beban puluhan kilo. Kami dan istri ke rumahnya pada tinggal 3 Desember sekitar jam 4 pagi dan kemudian mengantar ke Rumah Sakit, ternyata darah tinggi 184/114. Setelah diberi obat kami antar pulang dan selesai?

Belum, esoknya masih pagi-pagi kami diminta mengantar ke rumah sakit dadanya sesak napas. Kami masih berpikir, bahwa obat yang diberikan terlampau keras, akan tetapi keluarganya minta diantar ke dokter kalau perlu rawat inap yang nggak apa-apa.

Dokter jaga mengatakan langsung masuk ICU, jantung. Setahu saya kakak istri tidak pernah sakit jantung, ke rumah sakit juga masih bisa jalan dan kedua tangan juga masih bisa diangkat ke atas. Tapi baca di internet kan tidak sah. Dokter lebih paham.

7 hari di ICU dan pada waktu itu kondisinya justru naik-turun, teman-temannya begitu banyak dan emosinya terpengaruh. Pada waktu Sahabat dan kakak saya meninggal, dia tidak diberi tahu. Pada hal setiap hari kami dan istri menyempatkan menengok. Sekarang kakak kami sudah keluar dari rumah sakit dan recovery, pemulihan di tempat kami.

Pada tanggal 20 Desember saya bangun merasa sehat dan bertanya pada istri apakah mau menemani ke Pati. Pukul 04.00 kami berangkat bersama istri. Selesai pemakaman sahabat pada pk 12.30 kami pulang ke Solo bersama satu sahabat kami yang tinggal di Jogja.

Karena pulang setelah sampai Purwodadi, Aplikasi Waze dimatikan dan ternyata kita salah jalan telah mencapai Masaran jurusan Sragen, Solo sudah lewat. Kembali kita balik masuk tol dan akhirnya sampai rumah pk 17.00. bagi kami seusia 64 tahun terasa sekali capeknya.

Malamnya perut di sebelah kanan terasa sakit. Keponakan datang memijat syaraf dan sakit berkurang. Keesokan harinya kami berpikir haruskah ke rumah sakit bagaimana bila dokter jaga bilang langsung masuk ICU. 3 tahun yang lalu, kami pernah diminta operasi batu ginjal, padahal saya tidak pernah merasa sakit. Bahkan sampai sekarang juga tidak apa-apa tidak dioperasi. Apalagi di tempat sakit itu posisi adalah posisi empedu, jangan-jangan seperti kakak istri datang ke rumah sakit, begitu diperiksa diminta masuk ICU.sepula

Kami melihat sendiri sepulang dari Pati, ketika kakak istri control ke rumah sakit, pulangnya bawa obat banyak sekali, sehari mungkin ada belasan macam? Seperti anak SMP mempunyai banyak Guru yang ahli di masing-masing mata pelajaran dan semuanya  memberikan PR yang banyak yang membuat kita bertanya apakah si murid mampu mencernanya.

Pada waktu sakit tersebut, kami baru menyadari pesan Guruji untuk rajin melakukan sadhana, apakah latihan napas, membaca afirmasi atau mantra. Ternyata pada waktu sakit sulit sekali melakukan hal tersebut dengan penuh penghayatan.

Obat maag dokter 24 jam tetap diminum dan seharian menggeletak di tempat tidur, makan pun tidak enak. Karena makan sangat sedikit, datanglah rasa sakit dari jari-jari tangan kram. Kami ingat pada waktu puasa sering otot-otot kram. Sudah digosok counterpain, tetap kram juga. Sakit sekali. Kami ingat google di hp. Kami cari kejang otot. Salah satu penyebab kejang otot adalah kurang ion, semacam dehidrasi. Jadilah saya minum pocari sweat 350 ml. Malam itu saya tidur nyenyak dan bangun pagi telah hilang rasa kram. Sewaktu muda makan banyak dan banyak mineral atau ion di tubuh. Setelah tua makan lebih sedikit dan sering kurang ion. Tidak baik juga kebanyakan minuman penambah ion karena kandungan gula dalam minuman.

 

Aku Menerima Setiap Keadaan

Merenungkan apa yang terjadi yang begitu banyak di akhir bulan Desember, masih banyak yang tidak bisa ditulis. Tapi saya teringat afirmasi dalam AIM Yoga.

Sekarang afirmasi tersebut bukan hanya diafirmasi tapi harus dilakoni dalam keadaan kehidupan sehari-hari.

  1. Aku tidak memikirkan masa lalu, tidak pula mengkhawatirkan masa depan – aku hidup dalam mmasa kini.
  2. Aku membuka diri terhadap segala kemungkinan.
  3. Aku menerima setiap keadaan.
  4. Dalam keadaan suka dan duka, panas dan dingin, aku tetap seimbang.
  5. Berada di atas atau di bawah aku tetap seimbang.
  6. Seberapa pun tinggi sepak terjangku, kakiku berpijak di atas bumi.

Terima kasih Guruji Anand Krishna.

Advertisements

Refleksi 8 Windu: Dari Kakek, Para Pujangga ke Bapak Anand Krishna

Kronologis Kehidupan Menurut Tembang Jawa

Menjelang usia 8 Windu, 64 tahun, terbersit dalam diri kisah perjalanan kehidupan yang telah kami alami. Adalah kakek , ayah ibu kami R. Darmowijoto pensiunan seorang mantri guru yang ngefans pada Pujangga Ronggowarsito dan Mangkunegara IV. Setiap hari beliau menyanyikan tembang-tembang mereka dan kadang menceritakan kisah Ronggowarsito kepada kami. Kami tinggal serumah dengan Kakek. Nenek kami sudah meninggal jauh sebelum kami lahir. Mertua Kakek adalah seorang Ajidan Kraton, sehingga dalam darah kami mengalir genetik warisan mereka.

Dalam perjalanan hidup, akhirnya kami mengetahui bahwa Berbagai Tembang Jawa mengungkapkan kronologis kehidupan setiap orang. Diawali Tembang “Maskumambang”, emas yang “kumambang”, terapung, saat manusia berwujud janin yang terapung dalam air ketuban. Kedua “Mijil” berarti keluar dari rahim sang ibu, di saat kelahiran. Dilanjutkan “Kinanti”, di-“kanthi”, digandeng tangannya diajari berjalan menapak kehidupan. Kemudian “Sinom”, menjadi “nom-noman”, remaja usia belasan. Setelah itu “Asmaradhana”, gelora asmara sewaktu dewasa, dalam rangka mencari pasangan. Selanjutnya memasuki “Gambuh” gabungan, membentuk rumah tangga untuk membuat anak keturunan. Selanjutnya “Durma”, aktif berdharma bhakti bagi negara dann keluarga sebagai pahlawan. Diteruskan  “Dhandhanggula”, mengolah “gula”, menikmati manisan kehidupan. Kemudian sudah saatnya “Pangkur”, mungkur, undur diri dari keduniawian. Diteruskan “Megatruh”, persiapan “megat” ruh, memisahkan ruh dari badan. Akhirnya “Pocung”, dipocong ditutupi kain kafan.

Kebanyakan manusia, sudah “sepuh”, tua tetapi tak mau “mungkur”, tak berkeinginan mengundurkan diri dari jabatannya. Tidak bisa mempercayai generasi muda, karena masih ingin memperpanjang “Dhandhanggula”, menikmati manisnya kekuasaannya. Semestinya di usia sepuh menyanyikan lagu “Pocung” yang berirama penuh canda ria, menunggu panggilan Yang Maha Kuasa.

Ki Ageng Suryomentaram

Dalam kehidupan batin, adalah buku-buku Ki Ageng Suryamentaram yang mempengaruhi mindset kami. Ki Ageng menyebut ada 4 dimensi kesadaran manusia:

  1. Tukang Catat adalah kesadaran dimensi 1 yang hidup seperti tumbuh-tumbuhan, yang tidak dapat bereaksi (bergerak) terhadap tindakan luar yang dilakukan pada dirinya. Manusia mencatat hal-hal di luar diri melalui inderanya dan mencatat hal-hal didalam diri melalui rasanya.
  2. Kesadaran dimensi 2, seperti hewan adalah kesadaran manusia yang menganggap catatan-catatan (kumpulan informasi) sebagai dirinya. Catatan-catatan yang jumlahnya jutaan ini hidup seperti halnya hewan, kalau diberi makan berupa perhatian akan semakin kuat, kalau tidak diberi perhatian akan mati. Hewan hanya bertindak alami, bereaksi fight or flight, berkelahi atau lari, kalau diri (catatan-catatan) nya diganggu.
  3. Kesadaran dimensi 3, yang menganggap Kramadangsa (nama kita sendiri) sebagai diri, yaitu ketika manusia menggunakan pikirannya untuk menanggapi atau bertindak terhadap hal yang berkaitan dengan dirinya.
  4. Kesadaran dimensi 4, yaitu manusia yang menyadari bahwa dirinya bukan Kramadangsa tetapi Pengawas, Saksi dari setiap kejadian yang dialaminya. Setelah menyadari bahwa diri ini bukannya kumpulan catatan-catatan dan pikiran, bukan yang bertindak atas nama Kramadangsa (nama kita sendiri) maka manusia menjadi sadar, bahwa dirinya bukan Kramadangsa tetapi Saksi, dan manusia tersebut mencapai derajat Manusia Universal yang merasa damai ketika bertemu manusia dan makhluk lainnya.

Bagi kami pribadi, yang hanya belajar kehidupan batin lewat buku-buku, masih banyak sekali pertanyaan-pertanyaan yang belum terjawab. Kami merasa butuh Guru Pemandu yang hidup, yang bisa menjawab seluruh pertanyaan tentang kehidupan. Demikianlah akhirnya di usia 50-an kami masuk Anand Ashram dan berkenalan dengan Bapak Anand Krishna. Berikut adalah Catatan Para Pujangga idola kakek saya (idola masyarakat Jawa waktu itu) dalam buku-buku Bapak Anand krishna.

Pujangga Ronggowarsito dan Kesadaran Jiwa

Dalam buku “Tetap Waras di Jaman Edan” disampaikan bahwa …….. “Wiku” sebenarnya bukan pendeta. “Wiku” berasal dari kata Bhikshu, Bhikku ia yang tidak memiliki sesuatu apa pun. Namun demikian, ia bukan seorang pengemis. Seorang Wiku telah melepaskan dirinya dari keterikatan-keterikatan duniawi, tidak terikat pada sesuatu apa pun. Bisa saja ia memiliki rumah dan kendaraan dan keluarga dan usaha, tetapi semuanya itu tidak dapat mengikat dia.

Pujangga Ronggowarsito juga memberikan ciri-ciri yang lain : Pertama tentang kesadaran Wiku. “Memuji ngesthi sawiji” dapat diterjemahkan sebagai “berdoa menginginkan Yang Satu” atau “berdoa pada Yang Satu” atau “Memuja, memuji Yang Satu”. Sang Wiku ini tidak akan mengidentitaskan dirinya dengan satu kelompok, apakah itu kelompok cendikiawan atau non cendikiawan, kelompok agama atau non-agama, kelompok Islam atau Hindu Atau Kristen atau Budha atau Katolik. Ia tidak terikat pada satu kelompok. Ia menyadari Keberadaan Yang Satu itu, entah kita memanggilnya Allah atau Buddha, Yehovah atau Ishwara. Ia Satu Ada-Nya. Sang Wiku menyadari hal itu. Dia tidak akan meneriakkan yel-yel, slogan-slogan yang berbau kelompokisme. Ia telah mencapai pencerahan. Ia sadar akan kesatuan Tuhan dan persatuan antarmanusia. Yang kelak akan memimpin bangsa, yang dapat memimpin bangsa, yang dapat mengantar memasuki milenia ketiga dengan rasa bangga adalah seorang Wiku seperti itu.

Dia juga digambarkan sebagai seorang “Majenun” terobsesi. Apa pula yang menjadi obsesinya? Menyatu dengan Tuhan, senantiasa berada pada tingkat kesadaran tertinggi itulah obsesinya. Tentang tindakan Wiku. “Galiben tudang-tuding” berarti “mundar-mandir ke sana ke mari, sambil menunjukkan jari telunjuknya. Ia sangat menggerahkan. Ia sangat provokatif. Ia harus membangunkan kita. Ia harus menunjukkan kesalahan-kesalahan yang kita lakukan selama ini. Senang atau tidak, ia akan membangunkan kita dari tidur. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (1998). Tetap Waras di Jaman Edan, Visi Ronggowarsito Bagi Orang Modern. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Pujangga Sri Mangkunegara IV dan Tingkat Kesadaran Manusia

Sri Mangkunegara IV menjelaskan tentang tingkat kesadaran: Pertama, Bhoutik atau kesadaran fisik, jasmani. Apabila kesadaran kita hanya mencapai tingkat ini, kita akan selalu mementingkan materi. Kita tidak bisa melepaskan diri kita sepenuhnya dari tarikan-tarikan hawa nafsu. Kita masih terobsesi oleh keduniawian. Kedua, Daivik atau kesadaran psikis, enersi. Tingkat ini lebih tinggi daripada tingkat sebelumnya. Berada pada tingkat ini, seseorang mulai melihat persamaan antara segala sesuatu yang kelihatannya berbeda. Bentuk fisik kita berbeda, tetapi proses pernapasan kita sama. Bumi di mana kita berpijak juga sama.  Alam ini satu dan sama. Yang terakhir adalah kesadaran Adhyatmika. Lapisan kesadaran ini akan membuat kita semakin dekat dengan Tuhan, dengan alam semesta. Tingkat ini hanya dapat dirasakan, tidak dapat dijelaskan.Menurut Sri Mangkunagoro, sruning brata kataman wahyu dyatmika: dengan latihan-latihan tertentu, Anda akan menerima wahyu yang berasal dari kesadaran Adhyatmika. Berarti, Anda akan dituntun oleh kesadaran Anda sendiri……..

Sri Mangkunegara IV juga menjelaskan beberapa sembah, laku persembahan:

Sembah Raga. Sembah Raga merupakan persembahan yang dilakukan oleh raga, untuk melampaui raga itu sendiri, untuk melampaui kesadaran jasmani. Apabila Sembah Raga belum bisa juga mengantar Anda ke tahap ketenteraman jiwa, ketahuilah bahwa ada sesuatu yang tidak beres. Cara Anda melakukannya sudah salah. Atau mungkin Sembah Raga yang Anda lakukan, sudah bukan Sembah Raga lagi, tetapi sudah menjadi olah raga.

Sembah Cipta. Sembah Kalbu atau Sembah Cipta, tidak perlu dan bahkan tidak dapat dipamerkan. Kasih tidak dapat dipamerkan, tidak perlu dipamerkan. Kasih merupakan suatu sifat yang melengket dengan jiwa kita. Menurut Sri Bhagavan, orang seperti itu menjadi narapati. Narapati adalah julukan bagi seorang penguasa, bagi seorang raja. Namun yang dikuasainya apa? Bukan sesuatu di luar dirinya. Yang dikuasai adalah dirinya sendiri. Nara berarti manusia. Pati berarti raja, penguasa atau  pengendali. Yang dimaksudkan adalah pengendalian diri.

Sembah Jiwa. Sembah Jiwa berarti menyadari sepenuhnya bahwa Sukma dan Hyang Sukma hanya terlihat berbeda, dan pada hakikatnya tidak berbeda. Selama penglihatan Anda masih terfokuskan pada benda-benda duniawi yang disinari oleh rembulan, selama itu pula Anda belum memahami esensi agama. Begitu Anda melihat ke atas, begitu Anda melihat Bulan, Anda akan sadar bahwa benda-benda duniawi ini tidak akan terlihat , tidak berguna sama sekali , apabila tidak disadari oleh rembulan yang merupakan bagian Bulan yang tak terpisahkan. Kesimpulannya, dalam persembahan ini, Anda masih harus berusaha. Penglihatan Anda masih sempit dan datar harus ditingkatkan. Anda harus melihat ke atas untuk melihat sumber cahaya. Kesadaran Anda harus ditingkatkan.

Sembah Rasa. Sembah Rasa (rasa terdalam) merupakan hasil akhir perjalanan spiritual kita. Sembah Rasa sudah bukan merupakan proses lagi, tetapi hasil suatu proses, the ultimate experience, the outcome. Kesadaran raga dapat dilewati oleh kesadaran cipta. Kesadaran cipta dapat dilampaui oleh kesadaran jiwa. Tetapi dalam kesadaran jiwa itu, rasa masih ada. Ketenangan, ketenteraman, kesentosaan, kedamaian, semuanya ini merupakan rasa. Pada tingkat Sembah Rasa, rasa pun terlampaui. Bedanya proses ini terjadi sendiri. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (1999). Wedhatama Bagi Orang Modern. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

Teman Melakoni Sisa Hidup

Pada saat mencari pasangan, kami dan istri belum mengetahui tentang spiritualitas. Baru di usia 50-an mulai belajar hal tersebut. Bagaimanapun, kami yakin pada Tuhan. Kami selalu melakukan shalat istikharoh, “Ya Allah, bila dia baik bagiku, bagi keluargaku, bagi masa depanku, bagi agamaku dan demikian pula aku baginya, maka dekatkanlah kami. akan tetapi bila tidak demikian, jauhkanlah kami dan berkahilah kami.”

Istri kami selalu berdoa sesuai ajaran Jawa. “Duh Suksma Sejati panuntun saha guru kawulo ingkang sejati, kulo nyuwun sih paduka, mugi kaparengno nindakaken kewajibaning wanito ingkang sejati, kanti kekasih paduko inggih jodo kawulo ingkang sejati satuhu.” Wahai Suksma Sejati, Pemandu serta Guru kami yang Sejati, kami mohon kasih-Mu, semoga direstui menjalankan kewajiban wanita yang Sejati, dengan Kekasih-Mu yang Sejati, jodoh kami yang sejati, Amin.” Agak aneh juga kala istri saya memberitahukan bahwa dia ingin suaminya adalah Kekasih Gusti. Saya sendiri merasa biasa-biasa tidak saleh, tidak alim sekali, moderat saja. Baru setelah kami berdua bertemu Guru, kami berupaya menjadi kekasih Gusti. Walau sampai saat ini masih saja babak-belur……….

Apakah kami menjadi suami-istri karena doa-doa kami berdua? Dulu pernah kami berpendapat seperti itu. Akan tetapi dalam perjalanan hidup, kami tahu bahwa orang-orang dengan doa yang sama hasil yang diperoleh bisa berbeda. Mungkin saja ada kaitan dengan tindakan neraca debet-kredit masa lalu. Bukankah dalam kehidupan ini kita dipertemukan dengan orang-orang yang mempunyai kaitan hutang-piutang dengan kita?

Perjalanan Kehidupan

Perjalanan spiritual adalah perjalanan dari dan diatas segala perjalanan, satu-satunya perjalanan yang berharga untuk dilakukan. Perjalanan spiritual adalah perjalanan dari yang terbatas menuju yang tak terbatas. Asato – maa Sadgamaya, Tamaso – ma Jyotirgamaya, Mrityor – maa Amritamgamaya. Perjalanan ini adalah dari asat, ketidakbenaran, saya memilih untuk menafsirkannya sebagai “kebenaran rendah”, menuju Kebenaran Sejati, sat; dari tamas atau kegelapan menuju terang Jyoti. Dan dari kematian atau mrityu menuju kehidupan Abadi, Amrita. Makna yang terkandung dalam doa yang sangat penting ini adalah: Ya Tuhan, bimbinglah kami dari kegelapan khayalan, kebencian, dan ketidaksadaran yang mengerikan ini menuju Kehidupan Abadi, Kebenaran, Kasih, dan Kebijaksanaan. Dikutip dari buku (Das, Sai. (2012). Sai Anand Gita Kidung Mulia Kebahagiaan Sejati. Koperasi Global Anand Krishna Indonesia)

Refleksi: Memanfaatkan Waktu Sebelum Kematian Menjemput

Bapak Anand Krishna pernah bercerita: Tentang seseorang yang mempunyai talenta dan semangat yang luar biasa. Sejak kecil dia ingin mengubah dunia, akan tetapi sampai mendekati puncak karirnya, dunia tidak dapat berubah seperti yang dikehendakinya.

Oleh karena itu sampai masa purna tugasnya, dia hanya  ingin mengubah masyarakat di tempat dia tinggal. Akan tetapi banyak faktor yang mempengaruhi, dan pengaruh dia kalah besar dengan pengaruh banyak hal sehingga dia tidak mampu mengubah masyarakat sekelilingnya.

Akhirnya dia hanya ingin mengubah keluarga, bahwa yang penting baginya adalah bisa mengubah keluarganya sesuai dengan apa yang dikehendakinya.

Akan tetapi ternyata masing-masing anggota keluarga adalah individu yang mempunyai pandangan pribadi yang tidak sepenuhnya dapat dipengaruhi olehnya. Sehingga mendekati akhir hayatnya dia baru sadar bahwa  yang dapat diubah olehnya hanyalah dirinya sendiri. Itupun memerlukankan perjuangan yang tidak kalah serunya.

Sebagai refleksi, kami jujur bahwa kami bukan seseorang yang mempunyai talenta dan semangat luar biasa. Adalah suatu berkah Gusti pada usia 50 tahun kami mulai mengenal Anand Ashram. Sudah terlambat? Iya . Tapi lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali. Sekarang usia mendekati 8 Windu, Fisik sudah tidak prima lagi, apa yang harus kami kerjakan sebelum menghembuskan napas yang terakhir?

Menghadapi Kematian Tanpa Rasa Cemas

Yang paling menakjubkan adalah kita semua menyaksikan kematian, tapi kita tidak percaya itu akan terjadi pada diri kita? Selama kita masih berusia 30-40 tahun. Bahkan kadang-kadang sampai 50 tahun, kita hampir tidak percaya bahwa kita akan mati. Kita masih mengejar ini dan itu?

Waktu adalah Kala. Kala juga berarti kematian. Kematian dan waktu adalah suatu keniscayaan. Kematian terjadi dalam waktu. Dia bukan faktor yang konsisten. Kematian juga berakhir. Kematian adalah berakhirnya satu episode dan akan berlanjut kemudian. Dalam pemahaman yoga, hidup adalah siklus. Kematian adalah bagian dari siklus. Sampai detik terakhir apa pun yang kita lakukan akan menjadi benih bagi kehidupan selanjutnya.

Dengan menyadari kematian adalah keniscayaan, kita mempunyai kesadaran baru. Bagaimana kita dapat memanfaatkan sisa hidup yang kita miliki. Apa yang ingin kita lakukan besok lakukan hari ini. Apa yang kita rencana lakukan hari ini lakukan sekarang juga. Kita seharusnya bekerja dengan semangat itu? Sampai detik terakhir apa pun yang kita lakukan akan menjadi benih bagi kehidupan selanjutnya?

Memahami kematian harus dilakukan sebelum usia 36-38 pada waktu energi masih puncak. Setelah energi mulai menurun kita sulit mengubah keyakinan kita tentang kematian?

Silakan simak video Youtube: Kematian menghadapi tanpa rasa cemas oleh Anand Krishna

 

Mulai Menulis di Blog dengan Promosi Tulisan di Face Book

Menulis di Face Book seperti halnya tulisan di koran, apa yang tertulis dibaca pembaca dan kemudian hilang tak ada bekasnya. Lain menulis di Blog, kita dapat membuat arsip dan mereka yang tertarik dapat membaca Catatan-Catatan lainnya di Blog. Kami mulai menulis di Blog pada Tahun 2008 dan yang mengajari membuat Blog adalah anak sulung kami yang pada waktu itu masih kuliah di ITB.

Pada mulanya istri kami minta kami membuat catatan berharga yang kita peroleh dari Anand Ashram sebagai warisan bagi anak-anak kami saat kita berdua meninggalkan dunia nanti. Akan tetapi dalam perkembangannya, Catatan-Catatan yang kami tulis di blog tersebut kami peruntukkan bagi para pembaca. Sambil menulis kami mengingat kembali pelajaran-pelajaran yang berharga yang kami peroleh di Anand Ashram.

Kami sengaja tidak membuat blog khusus dengan membayar domain nama blog. Sebagai orang yang sudah tua kami sering lupa membayar, dan begitu lupa domain situs akan hilang. Oleh karena itu, kami menggunakan triwidodo.wordpress.com bukan triwidodo.com. Blog tersebut tidak tergantung pembayaran, ada yang mau pasang iklan, tidak masalah yang penting blog tersebut masih eksis selama wordpress.com masih ada.

Berikut adalah 3 Blog dan statistik pembaca pada Bulan Mei 2018.

Renungan Triwidodo Satu Bumi Satu Langit Satu Umat manusia di https://triwidodo.wordpress.com/ berisi 1.132 post dimulai Desember 2007, pada bulan Mei 2018, rata-rata pembaca blog di atas 400 pembaca per hari. Jumlah Follower 66. Jumlah Viewer 1.439.921.

Kisah Spiritual Tak Lekang Zaman di https://kisahspiritualtaklekangzaman.wordpress.com/ ada 477 post dimulai Juli 2013, pada bulan Mei 2018, rata-rata pembaca blog di atas 200 pembaca per hari. Jumlah Follower 30. Jumlah Viewer 400.212.

Gita Kehidupan Sepasang Pejalan di https://gitakehidupansepasangpejalan.wordpress.com/ ada 832 post dimulai september 2014, pada bulan Mei 2018, rata-rata pembaca blog di atas  120 pembaca per hari. Jumlah Follower 44. Jumlah Viewer 122.222.

 

Mengapa Mengutip dari Buku-Buku Bapak Anand Krishna?

Dalam perkembangan diri kita saat belajar di Anand Ashram, kita paham bahwa apa yang kita hadapi saat ini adalah akumulasi dari konsekuensi pilihan hidup di masa lalu. Ternyata menggunakan akal-pikiran, mind kita, kita mengalami pasang-surut, suka-duka yang tidak ada habisnya.

Bahkan setelah mulai memahami tentang Hukum Sebab-Akibat, Reinkarnasi dan sebagainya, sisa hidup yang harus kita jalani masih membuat kita babak-belur. Berarti memang di masa lalu kita hidup tidak dalam kesadaran.

Alinea-alinea yang penting dalam buku-buku Bapak Anand Krishna kami catat dan kami kumpulkan menjadi semacam ensiklopedia quote Bapak Anand Krishna yang mencapai 1.320 halaman, kemudian karena sudah tidak efisien, kami mempunyai kutipan pemahaman-pemahaman penting pada setiap buku Bapak Anand Krishna. Kutipan yang pokok adalah Bhagavad Gita dan Yoga Sutra Patanjali.

Bapak Anand Krishna pernah memberi nasihat, yang membuat kita salah adalah karena kita masih menggunakan pikiran kita, yang terbukti dalam banyak kehidupan telah membuat kita babak-belur.

Karena Trust pada Bapak Anand Krishna, selama 14 tahun di Anand Ashram, kita mencoba membuang mind kami dan menggunakan mind Bapak Anand Krishna.

Buku-buku dan Video Youtube adalah mind tertulis Bapak Anand Krishna yang dapat kita pelajari.

Sadguru adalah Wujud Kesadaran Kita, karena Kesadaran Kita Baru Berupa Benih

Perbincangan ini, dialog antara Krsna dan Arjuna ini, terjadi pada dua strata, dua level, dua alam. Di alam benda, Krsna adalah sais kereta perang dan Arjuna adalah seorang ksatria yang duduk di belakang sais.

Dalam alam batin, Krsna adalah kesadaran Arjuna sendiri yang sedang berdialog dengan pikirannya. Dialog ini merupakan dialog transformatif. Tidak ada yang kalah atau menang dalam dialog ini. Pikiran tidak terkalahkan oleh kesadaran. Pikiran, sepenuhnya berubah menjadi kesadaran.

Kesadaran bukanlah sesuatu di luar pikiran. Kesadaran adalah benih-benih yang belum bertunas.

Sementara itu, pikiran adalah alang-alang yang seolah mencegah penunasan benih-benih itu. Sulit memang menjalankan proses ini – bagaimana pikiran kemudian bertransformasi menjadi kesadaran. Namun, jika kita memperhatikan tanda-tanda-Nya, tanda-tanda kehadiran-Nya di alam sekitar kita, maka kita dapat memahami proses metamorfosa ini lewat pengalaman seekor kepompong yang menjijikkan, yang mengalami ‘transformasi total’, dan ‘menjadi’ kupu-kupu yang indah! Penjelasan Bhagavad Gita 9:19 dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia lewat #BhagavadGitaIndonesia

Dengan tertatih-tatih, kita mencoba mengurangi mind diri kita. Adalah Berkah Guru yang membuat kita  masih berada di Anand Ashram…….

Menjadi Anggada atau Hanuman?

Kami dan istri setiap hari sehabis sadhana pagi, biasa membaca 1 ayat dari 3 buku:

  1. (Krishna, (2009). “The Gospel Of Mahamaya. Anand Krishna Global Co-operation)
  2. (Krishna, Anand. (2002). Renungan Harian Penunjang Meditasi. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama)
  3. (Krishna, Anand. (2002). A Date with Life, satu mutiara setiap hari. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama)

Ayat-ayat tersebut kami  gunakan sebagai pedoman dalam menjalani kehidupan sepanjang hari itu.

Pada tanggal 4 Maret 2018, dalam buku Renungan Harian Penunjang Meditasi tertulis:

Tanpa Kehendak Allah, selembar daun pun tidak akan bergerak. Apabila kamu menghadapi musibah, jangan menyalahkan siapa pun juga.

Allah adalah Sebab Utama di balik segala kejadian. Lalu, siapa yang harus disalahkan? Sesungguhnya musibah itu sendiri merupakan proses pembersihan. Kayu gelondongan sedang dipahat menjadi patung yang bernilai berlipat-lipat. Biarkan diri Anda dipahat oleh Sang Pemahat Agung.

Merenungkan Mutiara tersebut kami menjadi speechless, terdiam dan merenung lama……. Sang Pemahat Agung sedang memahat diri kita………….. rasa sakit saat dipahat adalah demi kebaikan diri kita sendiri……….

 

Raama-doota, Utusan Sri Rama

Adalah seorang utusan Tuhan, kepercayaan Tuhan. Semua ini adalah Permainan Tuhan. Masing-masing dari kita sejatinya tengah memainkan peran dalam panggung kolosal yang digelar Tuhan. Kita semua diberi peran yang disesuaikan dengan watak serta sifat kita. Jika saya diberi peran penjahat dan saya menolaknya, maka saya harus bekerja keras untuk mengolah watak serta sifat saya. Demikianlah aturan mainnya.

Menjadi seorang Raama-doota, atau utusan Rama memiliki implikasi lain yang jauh lebih dalam. Rama adalah Ia yang bersemayam dalam semua makhluk, Sang Penghuni Sejati. Rama bersemayam dalam “Rumah Jiwa kita”. Rama adalah identitas sejati kita. Namun karena tidak menyadari hal ini, maka kita dengan salah menganggap “identitas teater” kita sebagai identitas sejati kita.

Sebagai seorang Raama-doota, atau seorang utusan Rama, kita harus belajar untuk memproyeksikan identitas sejati kita—Rama, sang pahlawan; Rama, sang pemberani; Rama, yang adil; Rama, sang Manusia Ideal. Kesadaran akan identitas ini adalah kekuatan. Terjemahan bebas dari buku (Krishna, Anand. (2010). The Hanuman Factor, Life Lessons from the Most Successful Spiritual CEO. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

Cover Buku Sindhu Samskriti

Kisah Hewan Ilahi guna Peningkatan Kesadaran

Disadari dalam diri kita masih ada sifat monyet yang pikirannya kacau meloncat-loncat. Demikianlah leluhur kita dari Peradaban Sindhu, Peradaban yang membentang dari Sungai Indus sampai batas Astraleya, Australia, memberi kita kisah dengan idola hewan karena dalam diri kita masih ada sifat-sifat kehewanian. Kita pernah mengalami evolusi lewat berbagai hewan.

Sadar atau tidak sadar otak kita mencatat, meregister segala sesuatu. Jarang yang menggunakan kapasitas otaknya sampai 10% kebanyakan hanya 6-7%. Sisa kapasitas otak tersebut digunakan sebagai gudang memori. Semua kejadian yang kita alami selama 5.000 tahun atau misalnya kita sudah berkali-kali lahir dalam berbagai wujud sebanyak 40-50 atau 60 kali, semua kejadian tersebut disimpan dalam otak. Oleh karena itu kita mempunyai memori pengalaman hidup yang banyak sekali dalam berbagai wujud dan dalam berbagai keadaan.

Salah satu memori dari ruang simpanan tersebut kadang naik ke permukaan karena dipicu oleh hal tertentu. Para Yogi menggunakan hal itu sebagai alat sinkronisasi dengan level kesadaran yang lebih tinggi. Misalnya kita tertarik dengan kera, maka memori tentang kera dalam simpanan kita sedang naik ke permukaan. Para Yogi memberikan kita kisah-kisah tentang Hanuman, Kera Ilahi. Tubuh, mental emosional yang kita simpan boleh saja berupa kera akan tetapi kita bisa mensinkronkan Jiwa Kera dalam diri dengan Kera Ilahi, Hanuman.

Itulah sebabnya dalam kitab-kitab seperti “Pancatantra” berbagai “Katha” yang berkisah tentang binatang dapat meningkatkan kesadaran Jiwa anak-anak kecil. Misal kita tertarik dengan gajah, berarti memori gajah dalam diri sedang naik ke permukaan. Kisah tentang Gajah Ilahi, Ganesha dapat meningkatkan kesadaran Jiwa kita.

Silakan simak video youtube: Law Of Synchronization by Anand Krishna

Menjadi Angad (Anggada) atau Hanuman

Demikianlah sifat monyet dalam diri masih terasa. Selama dekat dengan Sri Rama kita aman-aman saja akan tetapi ketika kita hidup nyata di dunia, menjadi Utusan Sri Rama di dunia maka terjadi dua kemungkinan menjadi Angad (Anggada) atau Hanuman.

Adalah hal yang nyata, hidup kami mulai bermakna ketika ada seorang yang sangat kami hormati yang dapat mengubah diri kami dari hidup terombang-ambing di samudera kehidupan menjadi lebih tenang. Sebagai rasa terima kasih telah menikmati secercah kebahagiaan maka kami memulai berbagi keceriaan. Tidak usah memikir menjadi Utusan Sri Rama, ikut sharing menebarkan kebahagiaan yang kami peroleh dari Beliau bagi kami sudah sangat bermakna. Entah Beliau setuju atau tidak, kami berupaya memposisikan diri sebagai Utusan Beliau.

Ada sebuah kisah nyata, kami mengundang Beliau untuk memberikan kuliah di depan para mahasiswa. Datanglah salah seorang tokoh yang berpengaruh dalam perguruan tinggi swasta tersebut jauh lebih cepat dari yang semestinya karena kesalahan informasi. Bingung juga kami harus bagaimana? Ada kesalahan fatal kami yang berkali-kali kontak ke teman kami yang bersama Beliau. Acara sendiri berjalan sukses menurut kami.

Esoknya kami membaca status Beliau di Media Sosial, Jadilah Hanuman bukan Angad (Anggada). Angad adalah Utusan Sri Rama ke Dunia Alengka. Dia terpesona dengan kemegahan dan kegemerlapan Istana Alengka dan lupa diri bahwa dia sebenarnya adalah Utusan Ilahi untuk menyampaikan kebenaran. Ravana, Raja Dunia Alengka bisa mempengaruhi Angad sehingga melupakan tugasnya.

Lain Angad, lain Hanuman. Hanuman selalu ingat bahwa dirinya adalah Utusan Sri Rama untuk menyampaikan Kebenaran pada Dunia Alengka.

Walau sampai sekarang kami masih saja babak-belur di Dunia, setidaknya Nasehat Beliau selalu terpatri berupayalah menjadi Hanuman bukan Angad…………………

Namaste! kami menghormati Gusti dalam diri para pembaca……

 

Mutiara Bhagavatam: Memprogram Kelahiran Anak Saleh dengan Hidup Berkesadaran

buku-bhagavatam-parikshit-dalam-kandungan

Kalau ditelusuri lagi, dibedah lagi, dikerucutkan lagi—di antara kawan, kerabat, dan keluarga—, pengaruh yang paling berbahaya adalah dari anak kita sendiri. Coba dipikirkan, saat anak kita lahir, kesadaran kita seperti apa? Maunya enak, dapatnya anak? Kecelakaan? Atau memang mengharapkan anak dengan karakter tertentu?

Banyak di antara kita bahkan tidak tahu jika kita bisa mengundang jiwa untuk lahir lewat kita.Tentu mengundang jiwa yang kurang lebih berada pada frekuensi yang sama dengan kita. Jadi, bisa diprogram.

Oke, sekarang kita tahu. Tetapi, sudah terlanjur punya anak yang lahir tanpa programming. Jiwa yang menempati raga anak kita adalah atas undangan sengaja atau tidak sengaja dari kita sencliri, yang kita lontarkan beberapa tahun lalu, ketika kesadaran kita masih rendah. Ketika urusan kita masih sebatas makan, minum, tidur, dan seks. Jelas, jiwa yang kita undang pun urusannya kurang lebih sama, frekuensinya kurang lebih sama seperti frekuensi kita saat mengundangnya. Apa jadinya? Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2016). Soul Awareness, Menyingkap Rahasia Roh dan Reinkarnasi, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

Belajar dari Srimad Bhagavatam

Parikshit adalah putra Abhimanyu, seorang pahlawan perang dan putra Arjuna. Ibu Abhimanyu adalah Subhadra, saudari Krishna. Ibu Parikshit adalah Uttari putri Raja Virata. Sewaktu dalam kandungan Parikshit diselamatkan Krishna dari senjata Ashvattama. Jelas Parikshit adalah putra pilihan yang sangat pantas berperan dalam Kisah Ilahi, Srimad Bhagavatam yang dikenal dunia sampai dengan saat ini.

Rishi Kasyapha adalah putra Brahmarishi Marici, cucu dari Brahma. Diti istri Kasyapa adalah putri Daksha Prajapati, cucu dari Brahma. Anak keturunan Rishi Kasyapha dari para saudari Diti adalah para dewa. Hanya karena kealpaan Diti yang berhubungan suami istri di saat yang seharusnya dipakai pemujaan, lahirlah Hiranyaksha dan Hiranyakashipu, sepasang raksasa yang menggegerkan dunia. Nantinya, Hiranyakashipu kawin dengan istri yang baik dan menurunkan Prahlada yang bijak.

Mungkin ada yang berkata, itu adalah skenario Gusti, agar ada cerita untuk dijadikan hikmah. Mungkin saja, akan tetapi tidak harus Diti dan Kasyapa yang mempunyai putra raksasa. Bila Diti dan Kasyapa sadar mungkin mereka akan menurunkan para dewa dan akan ada pasangan lain yang menurunkan sepasang raksasa.

Pilihan di tangan kita. Kita belajar untuk berdoa sebelum berhubungan suami istri, atau sekadar menuruti hawa nafsu di sebarang tempat, di sebarang waktu. Orang yang bermusuhan dengan kita karena karma masa lalu, pasti lahir. Tetapi tidak perlu lahir sebagai anak kita kan? Ini pilihan kita.

Mendiang ibu saya bercerita sebelum berhubungan suami-istri mereka memasang foto Bung Karno, dan waktu itu biasa karena idola rakyat adalah Bung Karno….. dan lahirlah kami, hehehe…… versi orangtua dengan genetika bawaan mereka yang mengalir pada diri kami…. Demikian pula istri kami, mertua sudah punya putra empat dan ingin memperoleh seorang putri. Mereka berdoa dan lahirlah istri kami, anak hasil pemujaan.

 

Belajar dari Bhagavatam

Kita gelisah, jiwa yang menempati badan anak kita pun gelisah, “Nyokap dan bokapku kok tiba-tiba jadi begini? Pakai meditasi segala! Dulu masih normal, masih oke, sekarang…….”

Nah, terjadilah tarik-menarik antara Anda dan sang anak. Biasanya orangtualah yang mengalah, “Mau bagaimana, anak sendiri!” Padahal, sikap mengalah seperti itu bisa membahayakan anaknya sendiri. Setidaknya tidak mengedukasi anak.

Semestinya para orangtua yang sudah berada pada jalur meditatif lebih agresif mendorong anak-anaknya—yang lahir ketika mereka masih berada pada jalur nonmeditatif—supaya ikut berpindah jalur juga…….. Tetapi tidak, kita tidak selalu melakukan hal itu, banyak pertirnbangan kita, “Anak kan tidak bisa dipaksa, mereka pun punya pilihan sendiri. Mereka kan lahir lewat kita, bukan dari kita, seperti kata Kahlil Gibran!”

Ya, betul. Tidak bisa dipaksa, dan sesungguhnya tidak perlu dipaksa. Namun, kita mesti menunaikan kewajiban kita sebagai orangtua. Setidaknya memberitahu tentang pilihan meditatif yang terbuka bagi dirinya, pilihan yang bisa membahagiakan dirinya. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2016). Soul Awareness, Menyingkap Rahasia Roh dan Reinkarnasi, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

cover-buku-soul-awareness

Kami mulai mengenal Anand Ashram saat usia 50 tahun dan istri 47 tahun, sehingga pada saat itu anak-anak kami sudah besar…… Walau terlambat, beruntunglah kami bisa belajar kehidupan dari Anand Ashram dan mulai mempelajari Srimad Bhagavatam.

Rishi Kapila yang mengajarkan Samkhya adalah putra dari Rishi Kardama Putra Brahma dan Devahuti Putri Svayambhu Manu. Pasangan yang sempurna dan selalu berada dalam kesadaran. Bagaimana dengan kita yang pada waktu membuat anak belum berkesadaran?

Dhruva mempunyai ayah yang merupakan anak keturunan Svayambhu Manu dan ibu Suruchi yang bijak. Akan tetapi sang ayah lebih memperhatikan ibu tirinya yang lebih cantik dan lebih muda. Justru hal tersebut membuat Dhruva kecil sadar dan bangkit untuk mencari bagaimana cara memusnahkan segala kegelisahan, kekecewaan

Vena mempunyai ayah anak keturunan Dhruva, sedangkan ibu anak Mrithyu, Kematian. Vena mempunyai warisan dua genetika yang berseberangan, akan tetapi genetika dari sang ibu lebih dominan sehingga dunia menjadi sangat memprihatinkan karena dikuasai Raja Lalim Vena. Maharaja Prithu adalah intervensi Narayana untuk memperbaiki Bumi yang porak poranda akibat Vena. Di saat itu para brahmana sudah menguasai teknologi untuk melahirkan Prithu dari jasad Vena yang mempunyai dua genetika yang berseberangan.

 

Hubungan Darah, Hubungan Air dan Hubungan Roh

Darah dan daging ibu dan bapak yang melahirkan kita menuntut tanggungjawab terhadap darah dan daging. Bagaimana pun juga, kata orang, “hubungan darah tetaplah hubungan darah. Daging sendiri tetaplah daging sendiri”. Atau, ada juga pepatah, “bagaimanapun juga darah lebih kental dari air”.

Tetapi Yesus justru mengatakan, “kau harus lahir kembali dari roh dan air”. Apa maksudnya? Hubungan darah/daging adalah hubungan awal kita dengan dunia ini, dimana keluarga- “ku” menjadi lebih penting dari keluarga-“mu”. Karena bagaimanapun jua aku memiliki hubungan darah/daging dengan keluarga-“ku”. Ini adalah hubungan berdasarkan ego-biasa. Yesus mengajak kita untuk meningkatkan ego kita menjadi kesadaran murni yang luar biasa.” Pesan Bapak Anand Krishna yang sempat kami catat.

Sadar dalam diri ada genetika yang kondusif maupun yang tidak bagi peningkatan kesadaran. Mengubah diri menjadi lebih baik adalah karakter anak yang berbhakti.

Selanjutnya sadar bahwa semua manusia bahkan semua makhluk pada dasarnya hidup karena air. Elemen alami yang membentuk kita semua adalah air, api, tanah, udara dan ruang.

Semoga kita semua sampai pada tingkat kesadaran bahwa roh kita adalah Sumbernya Satu. Karena menempati tubuh dan sejarah pengalaman yang berbeda, kita mempunyai karakter yang berbeda. Silakan ikuti Kisah Maharaja Prithu dan Raja Puranjana dalam Kisah Srimad Bhagavatam……..

 

Catatan:

Jika Roh atau Jiwa tidak lagi menyinari tubuh, tubuh tanpa roh itu disebut jasad. Raga tanpa Jiwa adalah mayat. Kemudian, matahari, angin, api, air, tanah, semua menjadi tidak berarti. Sementara itu, untuk kita ingat kembali, Roh atau Jiwa tidak pernah terputus dari Sumber Utama—atau lebih tepatnya, Sumber Tunggal Seluruh Energi dan Segala-galanya, yaitu Sang Jiwa Agung. Dari buku Soul Awareness.

Sudahkah kita mulai latihan meditasi, olah batin, merenungkan diri?

Memprihatinkan: Kecanduan Televisi dan Internet di Indonesia

gita-kehidupan-internetan

Tarik-Menarik Energi Teriadi Setiap Saat!

“Jika acara televisi lebih kuat daripada saya, maka saya pun tertarik pada acara tersebut. Kita boleh mengaku, ‘Saya tidak lagi diperbudak oleh televisi. Saya memilih sendiri tontonan saya, sesuai dengan keinginan saya sendiri.’ ]adi? Berarti: Diperbudak oleh keinginan dan keinginan itulah yang mendorong kita untuk menonton sesuai dengan yang kita inginkan. Sama saja. Kita menarik energi dari tontonan itu…………

                “Ada objek di luar diri yang menarik kita dan ada ketertarikan di dalam diri kita, maka terjadilah interaksi. Tidak ada tontonan yang dapat memaksa kita untuk menontonnya jika tidak ada keinginan di dalam diri kita. Karena itu, para hipnotis dari James Braid hingga Milton Errickson dan Richard Bandler, semuanya mengatakan bahwa seorang tidak dapat dihipnosis di luar kemauannya.” (Krishna, Anand. (2012). Neo Spiritual HYPNOTHERAPY, Seni Pemusatan Diri Untuk Bebas Dari Pengaruh Hipnosis Massal. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Sudah banyak tulisan yang membahas bagaimana acara televisi memperbudak dan mempengaruhi diri kita. Bukan hanya acara televisi, akan tetapi smartphone yang terhubung dengan internet pun telah memperbudak diri kita. Telah mengubah gaya hidup kita.

Berikut data yang diperoleh dari http://bgr.com/2014/05/29/smartphone-computer-usage-study-chart/

Di Amerika Serikat, orang menghabiskan rata-rata 444 menit setiap hari melihat layar, atau 7,4 jam per hari. 147 menit dihabiskan menonton TV, 103 menit di depan komputer, 151 menit pada smartphone dan 43 menit dengan tablet.

Memprihatinkan sekali. Dan, yang paling tinggi adalah pemirsa di Indonesia. Di bagian paling atas daftar adalah Indonesia, di mana orang menghabiskan rata-rata 540 menit, atau 9 jam setiap hari, menonton televisi, komputer, smartphone dan tablet.

gita-kehidupan-daftar-pemirsa-internet

Gangguan Kejiwaan akibat kebanyakan internetan

 

Saat ini, web sudah betul-betul menjadi jala perangkap. Kita bisa terperangkap dalam web, dalam jala pengetahuan  yang tidak berujung, tidak berpangkal, dan—di atas segalanya—tidak berguna. Kita sudah tidak lagi menggunakan web, tetapi digunakan, dimanfaatkan oleh web. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2016). Soul Awareness, Menyingkap Rahasia Roh dan Reinkarnasi, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

Internetan dan online sepanjang hari adalah hal yang menyenangkan dan bisa bikin ketagihan. Namun hati-hati, ternyata jika seseorang terlalu sering internetan dan online, akan memunculkan risiko gangguan kejiwaan. Inilah beberapa gangguan jiwa yang bisa terjadi akibat terlalu sering online:

Sumber: https://www.mindtalk.com/channel/ohternyata/post/suka-internetan-hati-hati-5-gangguan-jiwa-karena-510973796073923413.html

 

  1. OCPD ( Obsessive-Compulsive Personality Disorder). Gangguan yang bisa terjadi jika seseorang terlalu sering mengakses internet. Gangguan ini membuat seseorang sulit berpikir rasional. Orang yang terkena gangguan OCPD akan menganggap dirinya paling cerdas di dunia maya, sedangkan orang lain bodoh.
  2. Munchausen Syndrome. Gangguan jiwa yang satu ini dalam dunia psikologis bernama Munchausen Syndrome. Gangguan ini membuat seseorang mau membuat kebohongan tentang dirinya demi mendapat simpati dan rasa kasihan dari orang lain di dunia maya. Tindakan ini sebenarnya dampak dari haus perhatian dan kasih sayang.
  3. Asperger Syndrome. Pernah bertemu dengan orang yang sangat bawel, cerewet dan sangat aktif di dunia maya? Namun saat bertemu langsung dengan orangnya, dia sangat-sangat pendiam. Hal yang sama bisa terjadi pada orang yang sangat kasar dan suka memaki orang di internet, padahal di dunia nyata, dia sangat pemalu.
  4. Intermittent Explosive Disorder. Gangguan ini bisa membuat seseorang marah atau berkobar emosinya karena hal-hal yang remeh. Biasanya, orang yang terkena gangguan ini mudah marah hanya karena status sepele temannya.
  5. Low Forum Frustation Tolerance. Orang yang mengalami gangguan ini sangat ingin dirinya dianggap penting dan apa yang dia lakukan harus mendapatkan hasil seperti perkiraannya. Maka dia akan melakukan banyak hal agar orang lain mengakui kehebatan dirinya di internet. Contohnya adalah bila seseorang memposting foto yang dianggap bagus dan bisa menjaring banyak like, maka dia akan mengecek postingan fotonya setiap sekian menit sekali, hanya untuk memastikan bagaimana respon orang atau like yang diberikan pada fotonya.

 

Pesan Bapak Anand Krishna (sekitar 4 tahun lalu) yang masih kami ingat:

Mereka yang menghabiskan waktu 4 jam sehari di depan televisi, atau 2 jam non-stop di depan televisi, sama artinya menyediakan diri untuk diperbudak. Rasa diskriminasi untuk memilah informasi menurun karena dibombardir dengan segala macam informasi yang diberikan acara televisi.

Browsing internet untuk alasan apapun selama lebih dari 4 jam sehari; menghabiskan lebih dari 2 jam di media sosial seperti Facebook, Twitter, dan sebagainya juga membuat kita menyediakan diri untuk perbudakan. Pencipta Facebook, Twitter, dan sebagainya mungkin tidak menyadari hal ini. Mereka bahkan mungkin tidak memiliki firasat bahwa ciptaan mereka telah mempengaruhi gaya hidup umat manusia.

Para meditator menyadari kesia-siaan semua ini – namun mereka tidak berhenti menggunakan semua fasilitas ini. Hanya meditator yang benar-benar dapat menggunakan Facebook dan Twitter dan sebagainya – sedangkan sebagian besar “digunakan”!

Meditasi membuat mereka tidak kecanduan. Menjadi bebas dari kecanduan tersebut, mereka tidak bisa diperbudak. Mari kita bertanya pada diri sendiri, kita kecanduan atau tidak?

 

Memanfaatkan Sosmed untuk berbagi kesadaran

Para murid yang belum matang, belum siap, hanya meniru kata-kata Sang Murshid. Mereka tidak memahami maknanya. Kemudian dengan “modal kata-kata bijak” itu mereka berdagang di pasar dunia. Mereka mengumpulkan orang dan berpidato panjang lebar.

Tanpa memahami kata-kata itu, tak seorang pun memperoleh keuntungan dari pidato mereka. Dan untuk memahami kata-kata tersebut, yang dibutuhkan hanya satu: Anugerah Allah!

Jangan bosan “bercermin diri” pada Sang Murshid sampai memahami arti setiap kata yang diucapkan-Nya. Jangan lupa bahwa yang sedang bicara di balik cermin adalah “Dia”. Demikian, pada suatu ketika anda sendiri akan menjadi cermin. Cermin tidak pernah membesar-besarkan diri. Cermin tidak pernah bicara. Dia bisu. Dan karena dia bisu, dia diam, maka yang “Ada” di baliknya mulai berbicara.

Selama Anda masih memiliki keinginan untuk tampil sebagai Guru, Master atau Murshid, Anda belum bisu. Anda masih terlalu berisik. Anda masih belum menjadi cermin. Dan Dia pun belum bisa menjadikan Anda sebagai alat-Nya. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2002). Masnawi Buku Kelima, Bersama Jalaluddin Rumi Menemukan Kebenaran Sejati. Jakarta:Gramedia Pustaka Utama)

Sosial media merupakan alat komunikasi yang sangat praktis, karena tidak membutuhkan waktu dan biaya yang mahal. Pengetahuan yang kita share cepat menjadi viral dan tetap dapat dibaca bahkan di masa depan.

Yang perlu diperhatikan pada waktu share adalah jangan sampai kita menjadi angkuh karena merasa lebih dulu paham. Demikian juga bagaimana caranya agar pembaca tidak menjadi angkuh karena sudah merasa paham.  Kesadaran tidak terkait pemahaman, akan tetapi yang lebih penting adalah praktek di kehidupan nyata.

Itulah sebabnya seperti contoh dalam setiap buku Bapak Anand Krishna selalu dilengkapi latihan meditasi. Agar bukan hanya membaca dan memahami. Pemahaman sebagai pemicu dan kemudian dipraktekkan di kehidupan nyata. Sesuai saran Beliau agar di setiap postingan juga perlu ada seruan untuk meditasi. Agar pembaca berkenan mengubah gaya hidup dan melakoni setiap tindakan dengan penuh kesadaran. Apabila hanya sebatas pemahaman, apabila di masa tua terkena stroke, kita tidak meninggalkan kebaikan bagi diri kita sendiri…….

Bagi kami pribadi, yang menyebarkan pengetahuan adalah Bapak Anand Krishna, kami hanya salah satu alatnya. Sebelum memposting, kami selalu berdoa, yang berbagi penuh kasih adalah Beliau, dengan energi Beliau, kebijaksanaan Beliau…………….

Mutiara #Bhagavatam: Menghadapi Orang yang Sengaja Menyakiti Hati Kita

Queen Suruci told Dhruva Maharaja: "My dear child, you do not deserve to sit on the throne or on the lap of the King. Surely you are also the son of the King, but because you did not take your birth from my womb, you are not qualified to sit on your father's lap."When Dhruva heard these harsh words from his stepmother he felt great anger and began to breath heavily. He left the palace and went to his mother. When he reached his mother, Queen Suniti, he was crying and his lips were trembling in anger.-Quoted portion from Srimad Bhagavatam 4.8.11

Kemampuan untuk menerima ketidakadilan.

Mereka yang hendak memasuki alam meditasi harus menghadapi segala rintangan dengan kesadaran ini: “Dalam sekian banyak masa kehidupan sebelumnya, aku telah berpaling dari hal-hal panting dan terikat pada hal-hal sepele yang tidak berarti…….. aku telah berkelana melewati segala bentuk kehidupan………. mengamuk tanpa alasan, dan bersalah atas kemunduran diri.

Sekarang, walau tidak berbuat salah aku masih harus bertanggung jawab atas perbuatanku yang lalu. Baik manusia maupun malaikat tak dapat memastikan kapan aku menerima ganjaran dari perbuatanku sendiri.  Aku menerima segalanya dengan lapang dada, dan tanpa keluh kesah akan ketidakadilan.”

Menurut kitab-kitab suci, “Bila menghadapi musibah, janganlah engkau berkeluh kesah, karena apa pun yang teriadi bukanlah tanpa alasan.” Dengan pemahaman seperti itu, kau menjadi tenang dan dengan mudah memasuki alam meditasi. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2005). Bodhidharma, Kata Awal Adalah Kata Akhir. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama Jakarta)

 

Bisakah kita meniru Dhruva?

Pada saat menyusun tulisan Dhruva: Kegigihan Anak Menuju Gusti Pangeran, Penghapus Segala Kesedihan #SrimadBhagavatam yang segera kami upload, saya dan istri sempat berbagi insight dari apa yang kami berdua baca dan alami di kehidupan nyata. Berikut ini adalah sebagian dari insight yang kami perbincangkan.

Istilah “menyakiti kita” mengungkapkan bahwa ego kita tersakiti, kita masih berada dalam kesadaran ego. Dan, tentu saja dia yang sengaja menyakiti kita pun masih belum lepas dari ego. Yang namanya ego tentu saja bisa ada yang menyanjung dan ada yang menyakiti. Dan, mungkin saja ini terjadi dalam sebuah persaudaraan spiritual dimana yang menyakiti dan yang disakiti masih berkutat dengan ego, sebelum kesadaran mereka meningkat.

Dhruva seorang anak kecil usia 5 tahun melihat adik tirinya dipangku ayahandanya, dia pun ingin dipangku di paha ayah sebelahnya. Sebuah keinginan yang wajar bagi seorang anak kecil. Akan tetapi sang ibu tiri melarangnya dan mengatakan bahwa Dhruva tidak beruntung karena tidak dilahirkan oleh ibu tirinya yang disayangi ayahandanya. Dhruva diminta berdoa agar di kelahiran berikutnya bisa lahir lewat ibu tirinya yang cantik jelita sehingga bisa dipangku sang ayahanda.

Dhruva sakit hati dan curhat kepada sang ibu yang memberi nasehat bahwa ibu tirinya sedang menanam benih ketidakbaikan dan dia akan menuai buah tindakannya pada suatu saat nanti. Sang ibu mengatakan hanya ada Gusti Pangeran, Narayana yang bisa menhapus segala penderitaan. Penderitaan apa pun juga.

Dhruva melakukan tapa keras dan dibimbing Rishi Narada sehingga bisa bertemu Narayana, dan memperoleh berkah kehidupan yang tiada tara. Dhruva menjadi sadar tidak ada gunanya membalas sakit hatinya kepada ibu tirinya.

Justru ucapan ibu tirinya yang menyakitkan menjadi pemicu Dhruva untuk memperoleh berkah yang luar biasa.

Bisakah kita menjadi Dhruva? Yang mampu menerima ketidakadilan? Ya, itulah salah satu topik pembicaraan saya dan istri.

cover-buku-bodhidharma

Tidak ada sesuatu yang terjadi di luar pengawasan Gusti Pangeran

Alam ini sepenuhnya berada di bawah pengawasan-Nya. Nah, implikasi dari pemahaman ini jauh melebihi bayangan kita. Jika semuanya berada di bawah pengawasan-Nya, Roda Samsara, Alam Semesta pun berputar karena dan atas kehendak-Nya – maka, tidak ada lagi sesuatu yang bisa disebut kecelakaan…

Tidak ada pula kebetulan – Kebetulan saya berada di tempat yang salah, maka saya terlibat dalam buku tembak antara dua geng – dan ikut kena tembakan. Saya luka. ‘Tidak ada kebetulan seperti itu. Ingat, Dia adaalah Hyang Maha Mengawasi – sang Pengawas Agung.

Pengalaman suka dan duka terjadi karena perbuataan kita sendiri. Karena keterikataan kita sendiri. Ya, kita bertanggung jawab sepenuhnya atas apa yang menimpa diri kita. Dia- Gusti Pangeran – senantiasa mengawasi supaya semuanya berjalan lancar sesuai dengan hukum-hukum alam yang ada atas kehendak-Nya pula!

Saya dan istri biasa tukar pikiran setelah memperoleh insight dari membaca atau menyadari sesuatu. Kalau sudah bicara tentang orang yang menyakiti kita berdua, kita tertawa. Ya itulah masa lalu kita, suka menyakiti dan sekarang menerima hal yang sama……. Sekarang, walau tidak berbuat salah aku masih harus bertanggung jawab atas perbuatanku yang lalu. Baik manusia maupun malaikat tak dapat memastikan kapan aku menerima ganjaran dari perbuatanku sendiri.  Aku menerima segalanya dengan lapang dada, dan tanpa keluh kesah akan ketidakadilan. Kutipan dari buku Bodhidharma.

Kita mesti belajar dari Dhruva.

buku-bhagavad-gita-membaca-gita

Perseteruan dua kelompok sejak dahulu kala

Dalam literatur Purana — Srimad Bhagavatam misalnya — kita membaca kisah tentang seorang anak kecil, seorang pangeran bernama Dhruva. Melihat ayahnya — sang raja ; lebih menyayangi seorang saudara dari ibu yang beda, Dhruva sedih. Tapi, kesedihan itu tidak dijadikannya bibit untuk memusuhi saudaranya. Ia tidak meneruskan kepedihan hatinya ke generasi berikut. Ia tidak membiarkan benih kesedihan itu bertunas menjadi kebencian.

 

IA MENCARI ALASAN KESEDIHANNYA DI DALAM DIRI – Ia melakukan perenungan, dan ia menemukan jawabannya — bahwa kesedihannya disebabkan oleh pikiran. Pikirannya sendiri. Barangkali sang ayah menyayangi semua anaknya. Barangkali ia tidak pilih kasih. Barangkali kesedihan kita disebabkan oleh persepsi kita sendiri, maka Dhruva tercerahkan!

Tanpa kesadaran, tanpa pencerahan, kisah ini dapat berubah menjadi asal-usul dari perseteruan antara dua kabilah, dua suku, dua bangsa besar — atau bahkan beberapa bangsa besar. Jika ada yang menarik garis historis ke belakang hingga Dhruva, yang dipersepsikan sebagai pihak yang dizalimi; dan ada yang menganggap dirinya sebagai keturunan saudara seayah, lain ibu, yang merasa “Kitalah yang terpilih, bukan keturunan Dhruva!” — maka teljadilah perseteruan yang tak kunjung berakhir. Dikutip dari Penjelasan Bhagavad Gita 9:16 buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

Seandainya Dhruva tidak tercerahkan, mungkin sampai kini masih ada 2 kelompok, 2 bangsa: Kabilah Anak Keturunan Dhruva vs Kabilah Anak Keturunan Uttama, saudara tirinya yang saling bermusuhan selama berabad-abad.

Krsna mengajak kita untuk mempersembahkan seluruh pengalaman-pengalaman seperti ini ke dalam api suci kesadaran diri, pengetahuan sejati. Supaya dapat diambil hikmahnya saja.

Catatan:

Meditasi, Perenungan Batin, Membaca buku-buku yang dapat membantu dalam hal perkembangan Jiwa; berdoa dengan cara yang paling tulus, berdoa dengan dan dari hati terdalam, dan dalam bahasa kasih sejati, bukan karena takut. Penjelasan Bhagavad Gita 8:8

Sudahkah kita melakukan tindakan-tindakan tersebut?