Mutiara Bhagavatam: Anak Sebagai Persembahan Mulia Bagi Umat Manusia

Dalam kisah-kisah Srimad Bhagavatam, kita telah memperoleh pelajaran bahwa kala berhubungan suami istri semata-mata berdasar nafsu dan melanggar etika suci bisa melahirkan asura, raksasa, seperti dalam kisah kelahiran Hiranyaksha dan Hiranyakashipu.

Kemudian kita sudah belajar untuk berdoa sebelum melakukan hubungan suami istri, supaya ruh yang masuk ke dalam benih di rahim istri adalah calon anak saleh. Jangan sampai ruh yang masuk menjadi calon anak, adalah musuh yang menuntut hutang karma karena tindakan masa lalu kita. Orang yang akan membalas kebaikan maupun keburukan akibat tindakan masa lalu kita selalu dekat dengan kita, selalu berinteraksi dengan kita. Tetapi semoga orang yang lahir untuk menuntut balas kepada kita tidak menjadi putra kita.

Kali ini kita memperoleh mutiara Bhagavatam bagaimana memohon kepada Gusti agar anak kita menjadi persembahan mulia bagi umat manusia. Sebenarnya bukan hanya tindakan membuat anak, akan tetapi semua tindakan yang kita lakukan seharusnya bermuara sebagai persembahan kepada umat manusia.

 

Menulis karena profesi

Ada yang menulis karena profesinya. Dia mencari nafkah lewat tulisannya. Kelompok penulis yang satu ini akan selalu mencari sensasi. Ia harus menciptakan sesuatu yang dapat diterima atau ditolak oleh massa. Baik penerimaan, maupun penolakan oleh massa, akan membawakan penghasilan bagi dirinya….. Sama sekali tidak berarti bahwa mereka ini adalah penulis kelas rendah. Tidak. Mereka adalah penulis profesional. Mereka adalah kuli tinta. Dan hampir seluruh masyarakat penulis kita berada dalam kelompok ini. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (1999). Wedhatama Bagi Orang Modern. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

Menulis karena senang menulis

Kelompok kedua adalah kelompok para sastrawan. Mereka menulis karena mereka senang menulis. Mereka tidak selalu mementingkan penghasilan yang dapat diraih dari tulisan-tulisan mereka. Mereka lebih mementingkan kepuasan batin. Alhasil, kadang-kadang mereka sangat provokatif. Kadang-kadang bahsa mereka sangat pedas, sangat pahit. Mereka tidak peduli. Anda menolak mereka atau mereka atau menerima mereka, itu urusan Anda. Mereka sudah puas dengan menyampaikan apa yang ingin disampaikan. Selanjutnya, terserah Anda. Mereka bisa dibilang sebagai kelompok pemberani. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (1999). Wedhatama Bagi Orang Modern. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

Menulis karena ingin berbagi rasa

Kelompok terakhir adalah kelompok mereka yang menulis karena ingin berbagi rasa. Mereka ingin menyampaikan sesuatu. Tulisan mereka ditujukan kepada sekelompok orang yang cukup reseptif. Tulisan mereka bukan tulisan populer. Tulisan mereka untuk kalangan tertentu. Menurut Sri Mangkunagoro sendiri, tulisannya ini diperuntukkan bagi para siwi – para siswa atau shishya. Kata ini sangat penting. Shishya berarti “ia yang telah menundukkan kepala atau shish-nya.” Menundukkan kepala berarti melepaskan keangkuhan, mengakui ketidaktahuannya dan berkeinginan untuk belajar. Kelompok terakhir ini persis sama seperti  kelompok sebelumnya, kelompok sastrawan. Mereka tidak menulis karena ingin meraih penghasilan ataupun pengakuan, tetapi karena memperoleh kebahagiaan atau kepuasan batin dari upayanya. Bedanya hanya satu: kelompok ketiga ini juga tidak semata-mata menulis semata-mata untuk memperoleh kepuasan batin , tetapi untuk berbagi rasa dengan orang lain. Mereka ingin menyampaikan sesuatu yang berguna bagi masyarakat. Mereka ingin membagi apa yang mereka peroleh dari kehidupan ini. Sri Mangkunagoro berada dalam kelompok ini. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (1999). Wedhatama Bagi Orang Modern. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Buah Karya, Anak

Buah karya bukan hanya berupa tulisan atau lembaga yang berkembang. Bhagavan Vyaasa penulis Mahabharata dan Srimad Bhagavatam bukan hanya tulisannya saja yang bermanfaat bagi umat manusia. Akan tetapi Sang Bhagavan juga menghasilkan buah karya yang lain, yang berwujud putranya. Rishi Suka, Guru Parikshit dan para brahmana adalah buah karya, putra dari Rishi Vyassa yang meningkatkan kesadaran umat manusia. Buah pikiran para bijak adalah anak hasil pikiran dan kesadaran mereka. Demikian juga seorang putra yang bijak adalah hasil buah karya orang tua juga. Demikian juga para murid adalah “anak” para Guru yang membimbingnya.

Dikisahkan dalam Srimad Bhagavatam Raja Nabhi adalah seorang raja bijaksana. Dia belum berputra dan dia memohon kepada Gusti Pangeran untuk memberinya putra. Dalam acara ritual yang diadakan para brahmana, Gusti Pangeran, Narayana berkenan hadir dan Raja Nabhi mohon agar Narayana sudi berkenan lahir sebagai putranya.

Para brahmana yang menyelenggarakan upacara merasa sangat malu. Bertemu Gusti Pangeran mestinya yang diminta adalah moksa. Mengapa sang raja minta Gusti Pangeran lahir sebagai putranya?

Para brahmana tidak sadar, bahwa memohon dirinya agar moksa adalah benar, akan tetapi masih banyak sekali umat manusia yang belum moksa yang membutuhkan pembimbing dan pemandu agar mencapai moksa. Raja Nabhi bukan raja yang berpikiran sempit agar dia mempunyai putra yang hebat.

Jauh dari hal demikian, sang raja memikirkan umat manusia. Setelah nantinya, dia menobatkan pengganti dia akan melakoni vanaprastha fokus pada Gusti Pangeran. Tetapi bagaimana umat manusia yang ditinggalkannya? Oleh karena itulah dia mohon Narayana lahir sebagai putranya. Agar ada generasi penerus yang bermanfaat bagi umat manusia. Agar Gusti Narayana mewujud untuk membimbing umat manusia yang ditinggalkannya. Para Guru meninggalkan buku karyanya, lembaga ashram, dan para muridnya demi kasihnya kepada umat manusia…..

 

Berkarya dengan semangat persembahan

Penciptaan terjadi ketika Hyang Tunggal berkehendak untuk ‘menjadi banyak’. Selama masih tunggal, tanpa dualitas, penciptaan tidak mungkin.

Berarti, Brahma, Sang Pencipta adalah Produk Dualitas – Anda dan saya, kita semua adalah produk dualitas pula. Kita lahir, hidup berkarya, dan mati dalam kesadaran dualitas.kemanunggalan adalah hakikat kita, ya, tapi, saat ini kita tidak manunggal lagi. Saat ini kita terpisah, atau setidaknya ‘merasa’ berpisah dari Hyang Tunggal. Maka kita mesti mengupayakannya kembali.

Bagaimana caranya? Sang Pencipta telah memberikan clue, isyarat. Yaitu, dengan berkarya dengan semangat pesembahan. Ia mengatakan kepada makhluk-makhluk ciptaannya, kepada manusia, ‘Aku pun demikian. Aku pun menciptakan semua dengan semangat persembahan, dengan semangat melayani.

Dengan cara itulah, kita baru bisa mengikis ego kita, tidak membiarkannya meraja. Idam na mama – bukan aku, bukan ego-ku, bukan indra, bukan gugusan pikiran dan perasaan, bukan intelegensia – aku adalah Jiwa, percikan Sang Jiwa Agung. Segala apa yang terjadi lewat badan, indra, dan lainnya adalah persembahan pada-Nya.

Selain membebaskan kita dari ego, keangkuhan, semangat manembah juga memastikan bahwa apa pun yang kita perbuat adalah yang terbaik. Persembahan yang dihaturkan kepada Sang Kekasih Agung, Gusti Pangeran, mestilah yang terbaik. Penjelasan Bhagavad Gita 3:10 dikutip buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma).

 

Rishi Kardama bersama Devahuti melahirkan putra Rishi Kapila yang membawa ilmu samkhya yang bermanfaat bagi umat manusia. Para Rishi menciptakan Maharaja Prithu untuk memperbaiki dunia yang rusak akibat kelaliman Raja Vena.

Semoga  para orangtua membuat generasi penerus dengan semangat persembahan. Dan semoga melakukan tindakan apa saja dengan semangat persembahan.

Bagaimana dengan kita? Sudahkah kita semua bertindak mulia sehingga pantas menjadi persembahan orangtua dan leluhur kita kepada alam semesta? Dan, warisan genetik dari mereka tidak sia-sia. Sudahkah kita  bertindak mulia sehingga pantas menjadi persembahan Guru kepada alam semesta? Dan, bimbingan Guru tidak sia-sia…….

 

Catatan:

“Melaksanakan setiap tugas kita, setiap pekerjaan kita dengan semangat panembahan” – itulah Karma-Yoga. Berarti tidak ada perpisahan antara tugas, kewajiban, pekerjaan, usaha, karir, dan latihan-latihan olah-batin. Tidak perlu meninggalkan keluarga untuk bermeditasi di dalam gua. Tidak perlu meinggalkan pekerjaan untuk bertapa-brata di tengah hutan. Kita dapat berkarya secara meditatif – dengan penuh perhatian dan kewaspadaan. Kita dapat mengabdi kepada Gusti Pangeran sambil berkarya, sambil menjalankan tugas kewajiban kita. Dari buku Karma Yoga

Sudahkah kita melakukan setiap pekerjaan dengan semangat panembahan?

Mutiara #Bhagavatam: Menunggu Giliran Kedatangan Utusan Dewa Yama

buku-bhagavatam-menghadap-yama

 

Pandangan jernih seorang Yogi

Seorang pemain film sebaik apa pun, jika persepsi kita tentang dia adalah “jelek”, maka kita hanya melihat kejelekannya. Sebaliknya, jika persepsi kita “baik”, maka seorang penari sejelek apa pun kita anggap baik.

Adalah seorang Yogi saja yang dapat melihat things as they are. Intuisi yang telah bekerja, tidak membuatnya memiliki indra keenam, ketujuh, atau keberapa—istilah-istilah seperti itu sungguh sangat tidak tepat, tiada satu pun yang memiliki indra keenam. Maket tubuh kita sudah ditentukan oleh keberadaan—pancaindra. Titik.

Seorang non-yogi tidak mampu melihat sesuatu tanpa intervensi persepsi yang sudah terbentuk. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2015). Yoga Sutra Patanjali Bagi Orang Modern, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Setiap orang lahir dengan genetik tertentu yang merupakan warisan dari orang tuanya. Kemudian dia memperoleh pelajaran dari orangtua, pendidikan dan lingkungan secara repetitif dan intensif.  Sehingga kebenaran yang dipunyainya adalah kebenaran dengan kerangka pengalaman dia. Apabila dia lahir di negeri berbeda, diasuh orang tua berbeda, pendidikan dan lingkungan yang berbeda, maka pandangan kebenaran yang dimilikinya juga berbeda. Persoalannya adalah bagaimana caranya meningkatkan kesadaran agar bisa melihat sesuatu dengan jernih tanpa dibebani persepsi yang telah terpola akibat conditioning masa lalu kita?

 

Belajar dari kisah-kisah Srimad Bhagavatam

Para pelaku kisah di Srimad Bhagavatam adalah para bhakta, panembah Gusti. Sehingga setelah paruh baya (bhaya pada kisah Puranjana dalam Srimad Bhagavatam berarti Cemas, Kecemasan) mereka melakukan vanaprastha, meninggalkan kerajaan dan pergi ke hutan, fokus pada Gusti menjelang datangnya kematian. Awam mulai cemas, setelah usia paruh baya, takut kematian mendekat, sedangkan para bhakta justru mulai fokus pada Gusti Pangeran.

Dalam kisah Ajamila, seorang brahmana yang taat, sebelum meninggal, hidupnya keluar dari rel dharma. Ajamila masih mempunyai anak kecil di usia 80-an. Pada saat para bhakta fokus pada Gusti Pangeran, Ajamila terfokus pada anak kecilnya. Akan tetapi, pada akhirnya Ajamila dengan dramatis kembali menjadi bhakta, panembah Gusti sampai maut datang menjemput.

Kami menulis Note, Catatan ini untuk mengingatkan diri kami sendiri, dan juga para pembaca murni yang tanpa melakoni sadhana, laku olah batin, yang merasa dengan memahami kisah-kisah Ilahi kita sudah lebih paham dan lebih cerah. Kisah Ilahi ini memang penuh hikmah, akan tetapi kadang otak kita bekerja terlalu cepat dan memudahkan permasalahan.

Misalkan kita tahu Korawa pasti kalah melawan Pandawa yang dibantu Krishna. Akan tetapi bila kita mengalami sendiri di zaman itu, belum tentu kita berpihak kepada Pandawa. Pandawa diasingkan selama 13 tahun. Bagaimana rasanya 13 tahun dikuasai Pemerintahan Korawa? Masihkah kita bertahan dalam kebaikan ketika adharma merajalela?

Kita membaca di Srimad Bhagavatam, saat dunia dikuasai Raja Vena keadaan kacau balau dan akhirnya Vena mati dan diganti Maharaja Prithu. Mungkin hanya 2 halaman tulisan dan sekali baca paham. Akan tetapi bagaimana kalau kita menjadi rakyat Vena dan mengalami kondisi adharma selama puluhan tahun? Sejak kita nikah sampai anak besar, mungkin sampai punya cucu, negara dalam keadaan kacau. Mungkinkah kita masih bertahan dalam kebaikan?

Sehingga adanya syarat untuk melakukan spiritual, kita harus hidup mandiri, mempunyai penghasilan tetap baru memperdalam spiritual, masuk logika. Mereka yang belum bekerja, masih menggantungkan kehidupan kita pada orangtua, mungkin merasa sudah bisa spiritual dengan mengabaikan dunia. Padahal kerja dan hidup mandiri, memperoleh penghasilan tetap itu sendiri sudah merupakan perjuangan tersendiri, tidak bisa disederhanakan.

Berikut ini catatan untuk introspeksi diri, sudahkah kita spiritual? Sampai tingkat kesadaran yang mana? Agar tidak menyederhanakan permasalahan……

 

Karakter spiritual sejak dini

Karakteristik para pemandu rohani sudah bisa dideteksi sejak usia dini. Baru-baru ini kami melakukan penelitian kecil-kecilan dengan melibatkan lebih dari 300 responden di Jakarta, Yogyakarta, Solo, Semarang, dan Bali.

Walau penelitian itu dilakukan di kota-kota tersebut, mereka yang terlibat sebagai responden mewakili Indonesia selengkapnya. Ada orang Bugis, ada Betawi, ada Batak, ada yang berasal dari Flores, Aceh, Minang, KaIimantan…. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak ada satu pun orang yang pada usia 5 hingga 10 tahun memikirkan spiritualitas. Tidak seorang pun.

Keadaan itu sudah cukup untuk membuktikan bahwa para Sadguru atau Pemandu Sejati memang bukan run of the millproduct, bukan produk pabrikan.

Seorang Pemandu Sejati, seorang Sadguru sudah menunjukkan sifat-sifat rohani sejak usia dini. Ia sudah memiliki visi yang jelas tentang apa yang hendak dilakukannya selama perlawatannya di dunia ini. Ia sudah mengantongi blueprint yang jelas tentang dunia yang akan dibangunnya. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2016). Soul Awareness, Menyingkap Rahasia Roh dan Reinkarnasi, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Sesuai penjelasan di atas, jelas kita belum memikirkan hal spiritual pada waktu kecil. Penjelasan di bawah memperjelas kondisi kita saat ini.

cover-buku-soul-awareness

Introspeksi Diri

Saya masih ingat pengalaman seorang yogi, seorang Samnyasi, yaitu Svami Ranganathananda dari Ordo Sri Ramakrishna yang berkunjung ke Indonesia sekitar akhir tahun 1950-an—awal 1960-an.

Sebagaimana kita tahu, Bung Karno, Bapak Bangsa kita, Bapak Republik Indonesia Modern, amat sangat mengagumi pandangan-pandangan Svami Vivekananda, murid Sri Ramakrishna. Maka beliau mengundang sang Svami ke istana. Menurut catatan-catatan dan jurnal sang Svami yang masih tersimpan rapi di pusat dokumentasi Ordo Ramakrishna, pertemuan dengan Bung Karno bukanlah sekali saja, tapi beberapa kali.

Saat itu, Bung Kamo menawarkan segala fasilitas dan bantuan supaya Ordo Ramakrishna membuka cabang di Indonesia. Sang Svami tidak langsung menerima tawaran itu dengan alasan beliau masih ingin mengunjungi Surabaya, pulau Bali, dan beberapa kota lain untuk memahami tabiat dan kebutuhan Manusia Indonesia, sebelum memutuskan membuka cabang.

Setelah berkeliling Indonesia selama beberapa bulan, ia memutuskan untuk menangguhkan pembukaan cabang hingga suatu waktu yang tepat. Pandangannya itu pun disampaikannya kepada Bung Karno.

Setelah pulang ke India, para svami lain dari Ordo Ramakrishna  mengkritisi keputusannya, “Seorang kepala negara bersedia memfasilitasi dan membantu, dan Svami, kamu menolak!?! Nggak salah?”

Sang Svami menjawab dengan tenang. By the way, cerita ini saya dengar dari seorang Svami Senior, Svami Tapasyananda sebelum beliau wafat. Kernbali pada jawaban Sang Svami, “Saya sudah berkeliling Indonesia, dan saya belum juga menemukan benih, bibit seorang samnyasi. Jika saya menemukan satu bibit saja, saya akan menerima tawaran Bapak Presiden. Tanpa bibit asli Indonesia, benih yang berasal dari Bumi Indonenesia, sekadar membuka cabang saja tidak berguna.” Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2015). Yoga Sutra Patanjali Bagi Orang Modern, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Dari kutipan buku di atas, maka kami pribadi memang jelas masuk dalam kriteria belum mengenal spiritual sejak dini. Walau menurut pandangan umum, karakter kami tidak jelek-jelek amat, tetapi kami sadar bahwa kami belum spiritual.

Kesadaran mulai muncul saat kami dan istri bergabung dengan Anand Ashram di usia setengah baya di tahun 2004. Selanjutnya, di tahun 2008, saat mempelajari buku Sanyas Dharma, kami baru lebih memahami tujuan hidup. Kami mulai intensif melakukan sadhana, baru sekitar tahun 2015 setelah mengikuti program Yoga sadhana. Tentu saja energi di usia 60-an tahun sudah tinggal sisa. Ditambah berbagai penyakit mulai berdatangan.

cover-buku-yoga-patanjali

Belajarlah Melakoni Spiritual Sebelum Usia 35 tahun

Hingga usia 35-40 tahun, mungkin mereka tidak mengerti arti kebahagiaan, dan menerjemahkan “kenyamanan” sebagai “kebahagiaan”. Setelah usia 35-40 tahun, umumnya mereka  baru tersadarkan bahwa Kenyamanan tidak sama dengan Kebahagiaan. Namun, saat itu pun mereka masih belum tahu cara untuk meraih kebahagiaan sejati. Adalah suatu berkah jika seorang yang sudah berusia 35-40 tahun masih sempat tersadarkan akan kesalahannya, dan mulai mencari kebahagiaan sejati. Biasanya, mereka hidup sebagai layangan yang putus – tanpa arah – bergantung pada arus angin. Demikian satu masa kehidupan tersia-siakan.

Dibutuhkan energi yang luar biasa untuk menarik diri dari pengaruh maya. Dan, energi sedahsyat itu adalah energi seorang pemuda, seorang pemudi di bawah usia 30-35 tahun. Energi semasa itu, energi hingga usia itu adalah energi keberanian, kepahlawanan. Energi yang membuat seorang berani mengambil resiko itu, tidak bertahan lama. Gunakan energi itu sekarang, dan saat ini juga, sebelum ia meredup! Dikutip dari buku: (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

Seorang sahabat yang ingin teman-teman aktif hadir di kelas Selasa Ananda’s Neo Self Empowerment di Jogja, sampai bilang takut kalau yang datang hari Jumat kalah dengan yang hari Selasa karena pada hari Selasa diputarkan video tentang penjelasan Bapak Anand Krishna yang tidak keluar di youtube.

Kami berdua berupaya, tetapi jujur memang kami mepunyai keterbatasan. Kami berdua yang berusia sekitar 60-an memang harus fit kedua-duanya. Salah satu nggak fit kami nggak bisa pergi. Juga kenyataan bahwa setiap pergi ke Jogja esoknya perlu recovery 1 hari karena pulang sudah malam dan menyetir kendaraan sendiri.

Yang kami syukuri adalah dengan adanya video youtube dan buku-buku Bapak Anand Krishna yang masih banyak yang perlu dipelajari dan dipraktekkan. Itu saja persiapan kami menunggu giliran kedatangan utusan Giam Lo Ong, Dewa Yama.

Istri kami setiap membersihkan rumput/tanaman di sela-sela paving atau menggosok paving dari lumut ataupun pekerjaan rumah lainnya, selalu melakukannya sambil merenung. Dan, kadang kami menghentikan pekerjaan cuci baju atau lainnya untuk mendalami perenungan yang kita peroleh.

Misalnya perenungan tentang seseorang yang menjadi dambaan setiap orang. Menjadi Pemimpin selama 2 periode. Punya 2 anak yang mestinya sukses. Kekayaan materinya sudah berlimpah. Mengapa dari berita di dunia maya masih belum juga tampak bahagia?

Tidak semua perenungan kami tulis. Belum tentu juga disampaikan pada waktu study circle seminggu sekali di Solo yang terbuka bagi para pembaca buku. Akan tetapi study circle tersebut bagi kami pribadi terasa sangat bermanfaat. Membahas Soul Awareness sekitar 2 bab sekali pertemuan memberikan tambahan pencerahan yang tadinya belum diperoleh. Ada hal-hal yang hanya kami berdua pahami yang juga belum tentu benar sebelum mendapat pengetahuan dari Guru.

16507904_607845372736503_4157403851028120712_n

Mutiara #Bhagavatam: Belajar dari Leluhur Bagaimana Memilih Pemimpin dengan Bijak

 

buku-bhagavatam-vena-vs-prithu-memilih-pemimpin

Kesalahan memilih pemimpin membuat rakyat terkena bencana

“Kepada para penduduk dan penguasa Negara Lanka, Hanuman muncul dalam wujud raksasanya yang menakutkan. Hal tersebut merupakan peringatan bagi mereka, ‘Kembalikanlah Sita kepada Sri Rama. Rahwana, sadarilah kesalahanmu. Kamu tidak berhak atas Sita.’ Mereka tidak mengindahkan peringatan ini, maka ketika meninggalkan Lanka, Hanuman pun membakar seluruh kota.

“Orang sering bertanya, ‘Mengapa Hanuman melakukan itu? Mengapa menghukum orang-orang yang tidak bersalah, penduduk Lanka, atas kesalahan yang dilakukan oleh penguasa mereka?’

“Hal ini adalah sesuatu yang sangat sulit dihindari. Kita memilih pemimpin kita, kita memilih penguasa kita, kita memilih presiden dan perdana menteri kita, kita memilih anggota parlemen kita, dan kita bahkan memilih para diktator kita. Mereka berada di posisi mereka karena kita juga.Bagaimana kita memilih diktator kita? Mereka tetap berkuasa selama kita terang-terangan takut kepada mereka, atau takut kehilangan sesuatu.” Terjemahan bebas dari kutipan (Krishna, Anand. (2010). The Hanuman Factor, Life Lessons from the Most Successful Spiritual CEO. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

Dalam kisah Srimad Bhagavatam disampaikan bahwa para brahmana dan pejabat kerajaan melihat kerajaan kacau, banyak perampok di mana-mana karena menghilangnya Raja Anga. Raja Anga mengasingkan diri ke hutan karena kecewa berat dengan tindakan Vena sang putra mahkota. Akhirnya para pejabat sepakat memilih Vena menjadi raja pengganti.

Ini adalah kesalahan terbesar. Vena menjadi raja lalim dan menggunakan kekuasaannya dengan semena-mena. Seluruh rakyat kerajaan menderita selama bertahun-tahun. Bunda Bumi sangat menderita menanggung kezaliman Penguasa Vena. Keputusan para pejabat yang memilih Vena adalah keputusan kolektif seluruh rakyat, sehingga seluruh rakyat menerima bencana sesuai andil mereka masing-masing.

Akhirnya para pejabat dan para brahmana membunuh Vena dan merekayasa kelahiran Raja Prithu yang bijak. Tindakan yang mengatasnamakan rakyat tersebut berhasil dan Maharaja Prithu menjadi raja yang bijak dan seluruh rakyat menerima berkahnya. Keputusan memilih Maharaja Prithu pun merupakan keputusan kolektif seluruh masyarakat, sehingga semuanya menerima berkahnya. Tidak ada tindakan seorang rakyat pun yang lepas dari penglihatan Sang Pengawas Agung. Gusti Allah ora sare!

 

Jangan jadikan nasib rakyat sebagai taruhan dalam berjudi di saat pemilihan demi  keuntungan pribadi

Rakyat yang memilih seorang pemimpin yang salah, mesti memikul hasil dari kesalahannya sendiri. Ramai-ramai memilih seorang pemimpin hanya karena ‘cakep’, atau ‘imut-imut sih’, membuktikan bila kita ‘belum cukup cakep’ dalam hal memilih. Lebih parah lagi, ketika kita memilih seorang pemimpin karena tergiur oleh nasi bungkus atau t-shirt. Ada nasi bungkus seharga 5 ribu, ada yang harganya 5 triliun – memilih karena janji keuntungan pribadi adalah kesalahan yang sudah pasti mengundang akibat buruk.

Kemudian, di bawah kepemimpinan seorang pemimpin seperti itu, jika kita menderita, gunung meletus, jumlah kecelakaan meningkat, atau tingkat kejahatan makin tinggi – maka, janganlah menyalahkan sang pemimpin saja. Siapa suruh memilihnya? Siapa yang memilihnya? Sekarang, nikmatilah hasil pilihan yang salah.

Sang Pengawas Agung menyaksikan semua, mengawasi semua. Sudah berulang-kali, Ia pun memberi peringatan. “Kalian sudah salah, lihat apa yang terjadi!” Tapi, kita budeg, tidak mendengar peringatannya. Maka, jika terjadi hal-hal yang lebih parah lagi, janganlah meyalahkan Sang Pengawas. Penjelasan Bhagavad Gita 9:10 dikutip buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

cover-buku-bhagavad-gita

Gusti Allah ora sare, semua tindakan kita orang-per orang tidak lepas dari penglihatan-Nya. Semua menerima akibat akibat tindakannya sendiri. Kesalahan memilih pemimpin oleh seseorang akan datang akibat bagi orang tersebut.

 

Hukum Alam berjalan sangat tepat, setiap tindakan membuahkan akibat

“Kehidupan di dunia ini adalah bagian dari suatu Matriks Kehidupan yang sangat precise – presisinya sungguh luar biasa. Dengan merusak lingkungan, mencemari sumber air, dan sebagainya, kita tidak hanya mencelakakan planet bumi dan penghuninya—termasuk kita sendiri – ,tetapi juga mengganggu Matriks Kehidupan tersebut.

“Meletusnya gunung, terjadinya tsunami, dan sebagainya bukanlah fenomena alam semata. Amukan alam dapat dihindari, atau setidaknya dapat diminimalkan, jika kita bekerja sama dengan alam, jika kita merawat bumi ini dengan penuh kasih. Apalagi mengingat posisi kita yang tinggal di wilayah ring of fire atau cincin api.

“Letupan-letupan emosi kita, awalnya hanya memengaruhi hidup kita, relasi kita, dan orang lain yang berurusan dengan kita. Tetapi lambat laun, ketika letupan-letupan emosi itu berubah menjadi letupan kolektif, terjadilah bencana alam! Setiap tindakan dan perbuatan kita memengaruhi alam sekitar kita. Ketika suatu masyarakat bertindak salah secara kolektif, maka konsekuensinya mesti ditanggung secara kolektif pula.” Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2015). Yoga Sutra Patanjali Bagi Orang Modern, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Keputusan seorang pemimpin dan para wakil rakyat yang tidak selaras dengan alam adalah merupakan kesalahan kolektif. Karena kitalah yang telah memilih mereka.

 

Berjuanglah demi penegakan dharma

“Hidup adalah sebuah perjuangan. Berjuanglah terus-menerus demi penegakan dharma, demi hancurnya adharma. Kita tidak di sini untuk saling jarah-menjarah, atau saling rampas-merampas. Kita tidak mewarisi budaya kekerasan dan barbar seperti itu.

“Jangan berjuang untuk tujuan-tujuan kecil yang tidak berguna. Jangan berjuang untuk memperoleh kursi yang dalam beberapa tahun saja menjadi kadaluarsa. Jangan berjuang untuk memperoleh suara yang tidak cerdas.

“Berjuanglah untuk tujuan besar untuk sesuatu yang mulia. Berjuanglah untuk memperoleh tempat di hati manusia, ya manusia, bukan di hati raksasa. Berjuanglah untuk mencerdaskan sesama anak manusia, supaya mereka memahami arti suara mereka, supaya mereka dapat menggunakan hak suara mereka sesuai dengan tuntutan dharma.

“Perjuangan kita adalah perjuangan sepanjang hidup. Perjuangan kita adalah perjuangan abadi untuk melayani manusia, bumi ini dengan seluruh isinya, bahkan alam semesta. Janganlah mengharapkan pujian dari siapa pun jua. Janganlah menjadikan pujian sebagai pemicu untuk berkarya lebih lanjut. Berkaryalah terus menerus walau dicaci, dimaki, ditolak…….. Berkaryalah karena keyakinan pada apa yang mesti kita kerjakan. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2008). Be The Change, Mahatma Gandhi’s Top 10 Fundamentals For Changing The World. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

cover-buku-be-the-change

Berjuanglah sesuai kemampuan dan tidak usah menunggu menjadi pimpinan baru berjuang. Tidak perlu diketahui orang banyak, biarlah Gusti yang tahu kita ikut berjuang menegakkan dharma sesuai kemampuan dan kelebihan kita. Bagaimana pun pilihlah pemimpin yang sesuai dengan hati nurani kita……..

Catatan:

Perjalanan batin adalah hidup berkesadaran, yang tidak mementingkan kepentingan diri, keluarga maupun kelompok tertentu. Tapi, memperhatikan kepentingan tetangga, masyarakat, sesama warga dunia, yang dengan sendirinya kepentingan diri ikut terurusi. Itu saja. Jadi, tidak ada alasan bagi kita untuk menunda peralihan kesadaran seperti itu, tentunya jika kita ingin meraih kebahagiaan sejati, yang disebut tujuan hidup tertinggi oleh Krsna. Penjelasan Bhagavad Gita 9:33

Sudahkah kita mulai melakukan perlananan batin, mulai latihan olah batin, meditasi?

Identitas Diri: Hasil Mind Memisahkan, Inteligensia Mempersatukan! Anand Krishna’s Sindhi Mehfil Solo

img-20161106-wa0023

Antara mind dan inteligensia

Ada mind, ada intelegensia…….. Mind bersifat “khas”, pribadi. Cara berpikir Anda dan cara berpikir saya berbeda. Tidak bisa 100% sama. Sebaliknya intelegensia bersifat universal. Misalnya: apa yang Anda anggap indah dan apa yang saya anggap indah mungkin berbeda. Definisi kita tentang keindahan mungkin bertolak belakang, karena definisi adalah produk mind, produk pikiran. Tetapi, ketertarikan kita pada keindahan bersifat universal. Menyukai keindahan ini berasal dari intelegensia.

Anda ingin bahagia, saya ingin bahagia, kita semua ingin bahagia. Nah, keinginan untuk hidup bahagia berasal dari intelegensia. Bila Anda menemukan kebahagiaan dari “A” dan saya menemukan dari “B”, perbedaan itu disebabkan oleh mind.

Proporsi mind dan intelegensia dalam diri setiap manusia bisa berubah-ubah. Bisa turun-naik. Bila proporsi mind naik, intelegensia akan turun. Bila intelegensia bertambah, mind berkurang. Bila proporsi mind mengalami kenaikan, manusia menjadi ego-sentris. Dia akan mengutamakan kebahagiaan, kesenangan, kenyamanan, kepentingan diri. Sebaliknya, intelegensia bersifat universal, memikirkan kebahagiaan, kenyamanan, kepentingan umum.

Bangsa kita saat ini sedang mengalami krisis intelegensia, krisis “budhi”, krisis kesadaran. Ada yang berintelegensia tinggi dan bisa menerima perbedaan, tetapi ada juga yang berintelegensia sangat rendah, sehingga tidak bisa menerima perbedaan. Mereka yang berintelegensia rendah ingin menyeragamkan segala sesuatu. Akibatnya, kita berada di ambang disintegrasi. Jalan keluarnya hanya satu: yang berintelegensia rendah meningkatkan intelegensia diri. Atau yang berintelegensia tinggi turun ke bawah.

Mind atau mano selalu melihat dualitas; intelegensia atau budhi selalu melihat kesatuan. Sebetulnya, buddhi juga melihat perbedaan, tapi ia melihat kesatuan di balik perbedaan. Sementara mind hanya melihat perbedaan. Budhi melihat isi; mano melihat kulit. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2001). Atma Bodha Menggapai Kebenaran Sejati Kesadaran Murni dan Kebahagiaan Kekal. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

buku-atmabodha

Berikut pesan Bapak Anand Krishna………

Foto-foto oleh Ko Tunggul Setiawan

Lebih dari 50 orang sedang merayakan bersama Pesta Sindhi Mehfil dengan menari dan menyanyi di Anand Krishna Information Center Solo pada Saptu Malam tanggal 5 November 2016. Di ujung perayaan, para peserta retret Soul Awareness ditambah beberapa tamu undangan duduk dan menyimak Bapak Anand Krishna yang membuka pesan dengan sebuah Puisi Kabir:

Walau tidak ingat kata-kata yang tepat, namun kira-kira intinya, berada dalam merah-Nya, semua menjadi terasa merah, diri kita pun menjadi merah. Merah juga dapat berarti kemuliaan. Sehingga, berada dalam kemuliaan-Nya, semuanya menjadi mulia, diri kita pun larut dalam kemuliaan-Nya. Demikian cuplikan dari buku (Krishna, Anand. (2005). Jalur Sutra Cinta, Dikumpulkan dan Diterjemahkan oleh Rabindranath Tagore,  Saduran dan Ulasan dalam Bahasa Indonesia oleh Anand Krishna. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Identitas kita saat larut dalam Kemuliaan-Nya adalah Mulia juga.

img-20161106-wa0022

Identitas yang sama bagi semua orang (hasil Inteligensia)

Identitas kita yang sama adalah Prana, Energi Kehidupan. Semua ini adalah Permainan Energi…. Kita semua berada dalam kolam, atau, barangkali lebih tepat disebut Lautan Energi.

Kondisi Kita adalah seperti Ikan-Ikan di kolam, kali, sungai, ataupun Iaut. Ada air kehidupan di dalam diri setiap ikan, dan ada kolam air kehidupan di tempat ia berada. Ada air kehidupan di dalamnya, dan ada air kehidupan di luarnya. Ada energi di dalam diri kita, dan ada energi di luar diri kita. Setiap di antara kita mengandung, atau bahkan terbuat, terdiri atas energi—sekaligus diliputi energi.

Energi di luar sama penting dengan energi di dalam diri. Persis seperti air kehidupan di dalam ikan. Kendati berair, memiliki air “dalam”, ia tidak bisa bertahan hidup tanpa air “luar”—tanpa kolam air kehidupan di luar.

Kita semua mempunyai energi, Prana yang sama. Walaupun seseorang lahir cacat, dia pun juga mempunyai Prana. Yang tidak mempunyai Prana sudah mati. Interaksi Prana dalam diri dan Prana di luar diri penting. Coba kita menghisap Prana lewat hidung, kemudian tidak kita keluarkan, maka kita akan mati. Jadi Prana itulah identitas yang mempersatukan.

Bahkan bagi kita yang lahir di Wilayah Peradaban Sindhu, kita mempunya  DNA yang hampir sama, walau wujud kita bisa berbeda. Ada yang gemuk, ada yang kurus, ada yang mancung ada yang pesek.

Identitas aku anak siapa, dari suku bangsa apa, dengan agama/keyakinan apa, alumni mana, profesi apa, tinggal di komplek elit mana, semuanya kita peroleh setelah kelahiran kita. Identitas perolehan dari mind. Pada waktu lahir tidak ada cap di pantat kita terkait identitas-identitas tersebut.

Semuanya adalah identitas palsu, ilusi. Identitas yang mempersatukan kita adalah energi, Prana. Semua identitas dunia kita dapatkan setelah kita hidup. Yang kita bawa sejak lahir hanyalah Prana. Tanpa Prana kita tidak hidup.

Prana itulah yang membuat kita hidup, saat mati prana meninggalkan tubuh kita dan tubuh mengalami pembusukan kembali menjadi elemen alami. Sebenarnya atom pun tidak pernah punah, atom pada abu kremasi kita atau atom pada sisa tubuh kita pun masih berupa atom yang pada suatu kali berpindah ke makhluk lain. Pada waktu kita bernapas pun, kita menarik atom dan mengeluarkan atom dan bertukar atom dengan makhluk-makhluk lain di alam semesta.

Masih saja merupakan misteri, mengapa atom yang dalam keadaan bergerak melompat-lompat dan bervibrasi bisa terikat dalam tubuh kita.

 

Pengaruh Pergaulan

Boleh saja kita rajin meditasi, akan tetapi dengan pergaulan yang tidak menunjang, kesadaran kita akan menurun. Untuk mempertahankan identitas yang mempersatukan kita perlu memiliki pergaulan yang baik.

Bapak Anand Krishna bercerita tentang seorang Dokter Ashram di Rishikesh di tepi Sungai Gangga. Dia sudah berusia sekitar 45 tahun. Saat lulus ditanya oleh Sang Guru, apakah sudah bekerja dan dijawab belum. Kemudian diminta Sang Guru untuk menjadi dokter ashram dan sekarang sudah berjalan 20 tahun.

Apakah ada rasa takut kerja di ashram melayani 2.000 orang sendirian dengan gaji yang amat minim. Tidak! Menurutnya Tidak! Baginya tinggal di ashram sudah cukup. Tinggal di luar identitas dirinya bisa terkecoh dengan identitas-identitas palsu yang tidak membahagiakan.

Ada juga seorang psikolog Barat yang meninggalkan pekerjaannya untuk bekerja di ashram di Rishikesh. Dia pun tidak merasakan fear, cemas meninggalkan pekerjaannya di negerinya dan masuk ashram. “Selama ini saya merasa sudah menjadi ahli psikologi tetapi ternyata saya keliru tentang identitas saya. Ternyata selama ini adalah ego. Identitas sejati berada di atas ego yang hanya memikirkan diri sendiri. Tadinya saya merasa sudah tahu semuanya, ternyata sebelum masuk ashram saya telah salah memilih identitas pribadi saya. Sekarang justru saya takut keluar ashram, takut terpengaruh pergaulan yang tidak menunjang lagi.”

Foto-Foto Ko Tunggul Setiawan

Puasa Navaratri Perayaan bagi Tubuh Pikiran dan Jiwa

buku-soul-awareness-navrati

Puasa saat terjadinya perubahan alam

Kita mengenal puasa yang dilakukan pada saat terjadi perubahan alam yang mempunyai pengaruh yang besar bagi tubuh, pikiran (mind) dan jiwa. Misalnya puasa saat bulan purnama ditambah puasa sehari sebelum dan sesudahnya. Pada saat bulan purnama, air laut mengalami pasang, karena gaya tarik bulan sangat kuat. Demikian pula cairan dalam tubuh kita seperti darah juga mengalami pasang, sehingga tekanan darah ikut naik. Itulah sebabnya pada saat bulan purnama jangan makan durian atau kambing yang menambah tensi tetapi lebih baik berpuasa.

Di Jawa juga dikenal puasa weton, puasa saat kombinasi bulan dan matahari mempengaruhi kelahiran kita, misalnya orang yang lahir Minggu Wage, maka dia puasa setiap Minggu Wage ditambah puasa sehari sebelum dan sesudahnya. Hari Minggu (sun, sunday) adalah nama hari berdasar pembagian kondisi Matahari dan pasaran Wage adalah nama pasaran berdasarkan pembagian kondisi Bulan. Nama hari berdasarkan pembagian kalender sistem matahari, solar dan nama pasaran berdasarkan pembagian kalender sistem bulan, lunar.

Bukan hanya matahari dan bulan, sebenarnya ada 9 “planet astrologi” yang mempengaruhi diri kita.

Puasa Navaratri dilakukan saat perubahan musim dari Musim Gugur ke Musim Dingin di belahan Bumi Utara. Ada yang melakukan juga pada saat perubahan musim dari Musim Semi ke Musim Panas. Hanya saja perayaan yang belakangan kurang begitu terkenal. Untuk tahun ini puasa Navaratri dilakukan mulai tanggal 1 Oktober-9 Oktober 2016. Selama 9 malam (nava ratri) kita mengundang Bunda Ilahi, Shakti dalam wujud, Lakshmi, Durga dan Sarasvati.

 

Puasa tidak makan garam, nasi, sereal, biji-bijian menjaga keseimbangan elemen-elemen alami

“Apa yang terjadi bila kita mengalami ketidakseimbangan elemen-elemen alami, atau bila salah satu elemen menonjol sekali?

“Bila elemen api melebihi kebutuhan kita dan kebutuhan setiap orang berbeda, kita menderita penyakit kama, hawa nafsu yang membara. Kita harus berhati-hati dengan makanan yang mengandung elemen api. Daging, bawang-bawangan dan segala sesuatu yang sangat pedas, manis, asin dan asam.

“Bila elemen angin melebihi kebutuhan kita, muncul penyakit kedua yaitu krodha atau amarah. Latihan Pavanamuktasana dapat membantu kita.

“Bila elemen tanah melebihi kebutuhan kita, muncul penyakit yang ketiga lobha, keserakahan. Lantai di rumah dilapisi karpet atau diganti dengan kayu.

“Cairan dalam diri anda, darah, sperma, sumsum menyebabkan keterikatan. Bahkan air liur dapat menyebabkan keterikatan. Berjemur di bawah matahari pagi akan membantu terjadinya keseimbangan elemen air dalam diri.

“Bila elemen ruang melebihi kebutuhan kita muncullah penyakit ahamkara atau ego, keakuan. Bukan hanya para ilmuwan, para rohaniwan pun bisa kelebihan unsur ini. Karena itu mereka harus lebih banyak berbuat dari pada berbicara.” Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2003). Rahasia Alam Alam Rahasia. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Dari penjelasan pada buku (Krishna, Anand. (2016). Soul Awareness, Menyingkap Rahasia Roh dan Reinkarnasi, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama) disampaikan:

“Sifat Tejas atau Api berasal dari makanan yang mengandung elemen atau unsur api, seperti biji-bijian, serealia yang banyak mengandung karbohidrat, gula/pemanis. Bahkan sayur-mayur pun ada yang lebih banyak mengandung unsur api, misalnya bawang-bawangan dan sebagainya. Jika kita lebih banyak mengonsumsi segala sesuatu yang mengandung tejas jelas unsur api di dalam diri kita akan berlebihan…………

“Buah-buahan segar umumnya mengandung ojas. Namun jika sudah diolah, diawetkan, ditambah lagi dengan cairan gula dan sebagainya, buah yang sama bisa berubah sifat dari ojas menjadi tejas.

“Secara umum, banyak di antara kita yang didominasi oleh Prana. Energi jenis inilah yang menjadi sumber utama bahan bakar untuk menggerakkan tubuh dan sebagainya. Jelas, karena kita memperolehnya setiap saat lewat pernapasan. Lagi-lagi secara umum, yang membedakan sifat energi di dalam diri saya dan sifat energi di dalam diri Anda adalah proporsi tejas dan ojas, atau unsur api dan air, yang ikut memengaruhi persentase prana atau unsur angin/udara. Proporsi Ketiganya Bukanlah Harga Mati. Kita bisa mengatur proporsi mereka dengan mengubah diet kita secara cerdas, dan sesuai dengan kebutuhan kita. Berarti, persentase atau proporsi kandungan setiap unsur energi bisa dikurangi dan ditambah, sesuka dan semau kita. Itu adalah berkah. Itu menunjukkan bahwa sesungguhnya kita bisa mengendalikan hidup kita. Kita bisa menentukan sikap dalam menanggapi sebuah situasi, keadaan, maupun tantangan.”

 

Garam membuat retensi air pada tubuh dan kelebihan elemen air dalam tubuh membuat ketidakseimbangan sehingga keterikatan akan semakin kuat. Puasa garam akan mengurangi keterikatan.

Nasi, sereal membuat kita kebanyakan tejas, unsur api akan berlebihan. Puasa nasi, sereal dan mengkonsumsi buah-buahan mengubah pola makan yang terbiasa kita jalankan.

 

Puasa – Perayaan untuk Tubuh, Pikiran (Mind), dan Jiwa

Puasa memberikan kesempatan pada tubuh dan pikiran (mind) keluar dari pola kebiasaan. Saat kita mengikuti pola tertentu adalah tanda kita sudah disiplin. Akan tetapi disiplin dalam makan juga bisa menjebak kita. Misalnya kita tebelenggu oleh masakan yang banyak garam dan rasa tertentu, dan apabila disediakan makanan yang tidak kita sukai mental-emosional kita menjadi kurang puas.

Indera kita bisa teradiksi, nagih dengan jenis makanan tertentu karena telah menjadi pola yang baku. Orang boleh bilang teradiksi narkoba ataupun rokok mengakibatkan kita menjadi budaknya. Tetapi teradiksi dengan makanan tertentu pun membuat kita menjadi budak juga.

Dari pengalaman saat melakoni puasa Navaratri, di waktu-waktu menjelang sembilan hari makan nasi terasa nagih, dan berbuka puasa nasi terasa sangat lezat. Tubuh kita memang sudah teradiksi dengan nasi.

Puasa memberikan kesempatan pada tubuh dan pikiran untuk keluar dari pola lama yang nampak memanjakan tubuh dan pikiran.

 

Kisah Devi Mahatmyam, Bunda Ilahi sebagai latar belakang Festival Navaratri

Ketiga aspek  Bunda Ilahi dapat dikaitkan dengan tiga sifat dasar makhluk hidup yaitu Satvik, Rajas dan Tamas. Sifat satvik, rajas dan tamas harus dikendalikan dan dilampaui.

Madhu-Kaitabha merupakan wujud kasar dari karakter rendah (asura) manusia, ego palsu yang membuat orang lupa akan jatidirinya. Mempercayai ego palsu termasuk kemalasan untuk berupaya menemukan jatidiri (Sifat Tamas). Madhu Kaithaba muncul kala Kesadaran Vishnu di dalam diri sedang tidur.

Mahishasura adalah simbol dari obsesi (kama, nafsu) asura dalam diri yang bertindak penuh kemarahan (krodha) bila obsesinya tidak tercapai. Apabila obsesi tersebut tercapai justru membuatnya menjadi semakin serakah (lobha). Mahishasura merupakan kejahatan yang bersifat dinamis (Sifat Rajas).

Shumbha dan Nishumbha adalah asura dengan jenis jauh lebih halus, dia adalah raja, sangat kaya, sangat berbudaya, tetapi sangat angkuh. Dia memiliki dominasi atas semua  kebaikan dan ia memiliki seluruh kekayaan dunia. Segala sesuatu yang diinginkan, semua yang terbaik dimiliki oleh dia yang tak terkalahkan dan dia memerintah sejumlah besar panglima. Salah satu panglimanya adalah kejahatan yang disebut Rakthabija yang disamakan dengan karakter jahat yang disebabkan genetik bawaan manusia. Setelah terjadi transformasi dengan mengubah karakter maka kehancuran terakhir dari Shumbha dan Nishumbha baru mungkin terlaksana. Ego yang halus adalah penghalang terakhir hubungan antara manusia dengan Tuhan. Selama masih ada ego masih terjadi dualitas dalam diri.

https://kisahspiritualtaklekangzaman.wordpress.com/2013/10/09/sifat-feminin-energi-dalam-diri-dan-festival-navaratri/

Ketiga sifat manusia yang digambarkan sebagai para asura tersebut semuanya dikalahkan oleh Bunda Ilahi dalam wujud Lakshmi, Sarasvati dan Durga.

Selama 9 hari melakukan puasa Navaratri kita menghormati Bunda Ilahi. Masyarakat telah merayakan festival Navaratri sejak zaman dahulu sebagai penghormatan kepada Bunda Ilahi. Durga, Laksmi dan Sarasvati adalah tiga bentuk shakti, energi yang mewakili tiga jenis potensi dalam diri kita.

Durga memberikan kepada kita energi fisik, mental, dan spiritual; Lakshmi melimpahkan energi pada kita berbagai kesejahteraan, bukan hanya uang, tetapi kekayaan intelektual, kekayaan karakter, dan lain-lain; Sarasvati melimpahkan pada kita energi kecerdasan, kemampuan intelektual dan kekuatan memilah. Selamat berpuasa bagi yang melakukannya.

Ada yang tidak boleh ditinggalkan dalam berpuasa Navaratri, yaitu melakukan good karma, berbuat baik bagi kepentingan umum, dan melakoni sadhana, laku spiritual dengan disiplin. Bunda Ilahi mengasihi mereka yang melakoni hal-hal tersebut.

 

 

 

Mengapa dari orangtua yang sama sifat anak anak berbeda? Tanya Jawab Talk Show Soul Awareness

Intisari pertanyaan dan tanggapan pada Talk show Soul Awareness Gramedia Matraman 18 September 2016

14292534_10209532271655165_6206164625911010070_n

Foto Talk Show Soul Awareness oleh Selamet Jr

 

Pertanyaan 1:

Bila seseorang sudah berobsesi menemukan diri sejati, mestinya lahir lagi dengan sifat yang lebih baik. Bagaimana cara menemukan jatidiri?

 

Tanggapan:

Bapak Anand Krishna: berobsesi atau sekadar berkeinginan? Ada kisah tentang Shirdi Baba yang  tinggi dan kuat ingin membuktikan muridnya yang sudah merasa terobsesi untuk mencari Kebenaran. Sang murid dibawa ke sumur, kakinya dipegang dan kepalanya dimasukkan dalam air sumur sehingga sulit bernapas. Sang murid berupaya untuk mengangkat kepalanya dari air sambil megap-megap. Sang Guru kemudian bertanya, “Apakah sebelum kau mati kehabisan napas kau masih berobsesi menemukan Kebenaran?

Sang murid menjawab, “Tidak Guru, saya bingung, mengapa Guru bertindak demikian, sehingga saya kesulitan bernapas!”

Sang Guru berkata, “Ya artinya sebelum kau mati kau tidak berobsesi mencari Kebenaran, kau bingung dan ingin hidup, mengapa saya dibegitukan?!?!”

Itu adalah contoh seseorang yang belum obsesi, baru sekadar berkeinginan.

Kemudian, sebenarnya bukan mencari jati diri tapi menemukan. Ada seorang ibu yang sudah memakai kalung  untuk berpesta dan kemudian mencari-cari di kotak perhiasan, mengapa kalungnya tidak ditemukan? Kadang seorang pelupa sudah memakai kacamata masih mencari kacamata dengan mengobrak-abrik tempat tidurnya atau mencarinya di depan tivi. Demikian pula jatidiri sudah ada hanya kita belum discover, belum menemukan kembali. Jatidiri bukan dicari tetapi ditemukan kembali dengan cara meniti ke dalam diri.

Ini juga sekaligus menjawab pertanyaan lain tentang manfaat Guru. Bila saja ibu yang sedang mencari kalung atau orang yang mencari kacamata mau bercermin, maka dia akan tahu bahwa kalungnya sudah digantungkan di lehernya ataupun kacamatanya sudah dipakai. Guru dapat diibaratkan seperti cermin.

 

Pertanyaan 2:

Bila seseorang lahir kembali, semestinya dia akan lahir dengan sifat yang lebih baik dari sebelumnya. Akan tetapi mengapa justru nampaknya masyarakat sekarang justru lebih parah dari generasi sebelumnya?

 

Tanggapan:

Bapak Anand Krishna: Para scientist sudah mulai berkesimpulan bahwa berat bumi ini konstan. Beda sedikit akan mengacaukan kesetimbangan dan bumi akan hancur. Walau pun ada bangunan gedung-gedung baru pencakar langit, akan tetapi bahan bangunannya diambil dari perut bumi juga. Sehingga berat tetap sama. Katakanlah ada binatang dinosaurus musnah, akan tetapi ada juga batu meteorit yang menambah beban bumi. Hanya recycling. Berat bumi tetap. Bukan hanya berat akan tetapi penduduk bumi pun diperkirakan tetap. Dengan adanya hewan-hewan yang mati, bila tidak berevolusi menjadi hewan yang lain, mereka berevolusi menjadi manusia-manusia. Sehingga manusia-manusia yang masih baru tersebut relatif masih membawa sifat kehewanian yang sangat besar.

Silakan baca ulang: https://gitakehidupansepasangpejalan.wordpress.com/2016/08/14/yang-sadar-jumlahnya-bertambah-yang-tidak-sadar-meningkat-lebih-banyak-terkait-evolusi/

 

 

Pertanyaan 3:

Tentang genetik. Mengapa anak-anak yang lahir dari orangtua yang sama, sifatnya bisa berbeda?

 

Tanggapan:

Bapak Anand Krishna: banyak “mind” yang ingin lahir kembali untuk meneruskan evolusi atau menyelesaikan obsesinya. Genetik dari ayah termasuk dari leluhurya digabung dengan genetik dari ibu termasuk genetik dari leluhurnya dicampur aduk, kemudian diambil (katakan segenggam) dan kombinasi genetika yang akan menjadi bayi itu sesuai dengan “mind” yang akan lahir. Sehingga setiap anak yang lahir berbeda kombinasi genetik, berbeda “mind” yang akan lahir.

Itulah mengapa memilih menantu memperhatikan bibit (genetik), bobot dan bebet. Bibit (genetik) dari keluarga akan berpengaruh.

Ibu Maya: Pada waktu konsepsi, pembuahan, kondisi ayah dan ibunya akan berpengaruh pada sang anak. Dosha, atau perbandingan sifat air, api dan angin pada kedua orangtua berbeda. Bila terjadi ketidakseimbangan unsur tersebut maka akan berpengaruh pada anak yang akan lahir. Mungkin saja pas anak pertama semua unsur seimbang dan anak kedua unsur apinya tidak seimbang dan seterusnya. Sehingga anak yang lahir akan beda sifatnya.

 

Pertanyaan 4:

Ada orang yang percaya nabi, ada yang percaya avatar, sebenarnya yang benar itu bagaimana?

 

Tanggapan:

Scientist sudah sampai pada kesimpulan bahwa apa yang kita yakini sebagai asumsi itulah yang akan menjadi hasil dari penelitian kita. Ada beberapa maket/model/mandala untuk mencapai Kebenaran seperti ada beberapa maket/model para scientist untuk membuktikan kebenaran asumsi mereka. Silakan pilih model yang sesuai dengan diri kita.

 

Pertanyaan 5 dan yang lain-lain-nya:

Bagaimana bila “mind” kita terkena virus? Apakah kita lahir bisa menghapus virus tersebut? Dan lain-lain………

 

Tanggapan:

Pada waktu lahir maka sifat genetik yang alam akan terbawa. Berita baiknya sifat genetik hanya sebesar kira-kira 30% yang berpengaruh. Ada faktor lingkungan dan yang lain sekitar 70%. Jadi dengan pendidikan (itulah makna pendidikan yang benar) kita dapat mengubah sifat tidak baik dalaam diri. Anak lahir tidak tabula rasa, bersih, kosong, dia membawa sifat genetik bawaan. Jadi pendidikan mestinya orang per orang. Guru harus tahu sifat 16-17 muridnya. Home schooling akan membantu.

Misalkan anak yang selalu merusak mainan, diminta memperbaiki mainan yang dirusaknya. Bisa jadi dia setelah besar akan menjadi insinyur yang baik….. hahaha……

 

Masalah kerasukan:

Kebanyakan oleh halusinasi. Kalau setiap anak selalu melihat film Harry Porter setiap hari. Pada saat stress bisa berhalusinasi. Bapak Anand Krishna menceritakan dalam salah satu bukunya seluruh pekerja pabrik yang berlokasi di tanjung Priok pada hari tertentu salah satu kerasukan dan semuanya kerasukan. Pada saat hari akan kerasukan, sang penjaga diberitahu agar sepatunya diberi kotoran yang bau dan setiap orang yang masuk pabrik diminta mencium baunya. Ternyata hari itu tak ada yang kerasukan. Pada saat seseorang merasa depresi, halusinasi dapat mempengaruhi orang tersebut.

Seseorang yang katanya digendam oleh orang ganteng, sebetulnya terpengaruh oleh kegantengan dan dapat dipengaruhi untuk mengambil atamnya. Seseorang yang serakah ingin cepat kaya dengan instan dapat diminta menukar uang asli dengan uang amerika latin.

Silakan simak kutipan Bapak Anand Krishna berikut:

“Ketika seseorang ‘terhipnosis’ oleh seorang asing yang mengajaknya ke ATM atau bank dimana dia menyimpan perhiasannya dan kemudian ‘tertipu dalam keadaan tidak sadar’ atau ‘dalam keadaan antara sadar dan tidak sadar’, hendaknya kita tidak menerima cerita itu mentah-mentah. Keadaan ini hypnosis tidak dapat dipaksakan dalam tahap apa pun (saat dihypnosis) tanpa sepengetahuan dan seizin yang bersangkutan. Sesungguhnya, dalam hal ini hypnosis malah lebih menguntungkan dari pada ilmu medis karena banyak sekali obat keras yang dapat digunakan untuk tujuan kriminal tanpa sepengetahuan dan seizin dari yang bersangkutan. Terlebih lagi, saya juga sudah membuktikan bahwa tidak seorang pun dapat dipengaruhi kecuali hal itu diinginkannya sendiri secara sukarela, maka hypnosis tidak dapat digunakan sebagai sarana untuk sesuatu yang bersifat asusila, sebagaimana banyak orang menganggapnya. Orang itu tertipu oleh keserakahannya sendiri. Dia boleh mengaku, boleh tidak. Dia boleh membohongi orang lain, tapi tidak bisa membohongi diri sendiri. Ia tertipu oleh benih-benih keserakahan yang sudah ada di dalam dirinya.” (Krishna, Anand. (2012). Neo Spiritual HYPNOTHERAPY, Seni Pemusatan Diri Untuk Bebas Dari Pengaruh Hipnosis Massal. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

Ibu Archana: Pastlife Regression penting saat orang ingin mengetahui mengapa dia selalu bertindak sesuatu yang sebenarnya bisa kita perbaiki. Ada komunitas pastlife yang setiap bertemu memanggil temannya sesuai dengan hasil pastlifenya. Sehingga, Hai Wilhelmina apa kabar? Ya, selamat malam Kaisar Wu. Pastlife bukan untuk hal seperti demikian.

Ada jokes. Istri betul-betul jenuh dengan suaminya yang selalu berselingkuh. Akan tetapi suaminya sangat baik, kemana pun dia minta pergi, malam-malam saat capek pun sang suami dengan senang hati akan mengantarnya ke mana pun. Setelah di pastlife ternyata suaminya adalah sopirnya di masa lalu yang ingin membalas kebaikannya. Pantas siap mengantarnya ke mana saja dalam keadaan apa pun…… wkwkwkwk……..

Belajar dari Kisah Dramatis Beberapa Selebrities yang Diunggah Alam Semesta

buku-bhagavad-gita-shakuni-di-masa-jaya-plus-tulisan

Kisah Kehidupan Selebrities yang diunggah Alam Semesta

Seorang motivator publik terkenal terbuka lembaran kisah kehidupannya setelah sekian lama sukses dan menjadi panutan masyarakat. Seorang yang dikenal media sebagai Guru Spiritual yang hidup gemerlap di tengah para artis cantik tertangkap saat sedang pesta narkoba.

Kadang-kadang alam seakan-akan sengaja memberikan pembelajaran kepada masyarakat lewat kisah nyata para selebrities. Sebetulnya bukan hanya para selebrities, kita semua pun juga mengalami hal yang sama walau tidak dipermalukan alam di depan publik. Maukah kita belajar dan memperbaiki kehidupan kita?

 

Belajar dari Dhammapada

Dhammapada 22:306 menjelaskan apa yang dapat mencelakakan diri, yaitu kebohongan. Mengingkari perbuatan keji, dan berbohong untuk menutupinya – inilah pertanda orang yang sedang mencelakakan dirinya.  Kita tidak dapat membohongi Keberadaan Yang Maha Mencatat setiap kegiatan. Perbuatan keji untuk mencelakakan orang lain adalah serangan terhadap Keberadaan. Dan, begitu kita menyerang Keberadaan yang adalah Kasunyatan Abadi, maka perbuatan keji dan kebohongan akan bergaung kembali. Tidak ada yang menghukum kita kecuali perbuatan kita sendiri. Ada kalanya benih perbuatan keji itu belum tumbuh menjadi pohon, maka sepertinya lama sekali baru berbuah. Ada kalanya Keberadaan membiarkannya tumbuh malah diberi air hujan dan difasilitasi pertumbuhannya, supaya pada saatnya dapat ditebang karena ilalang memang tidak berguna dan malah mencelakakan pertumbuhan tanaman lainnya. Catatan Bapak Anand Krishna tentang Dhammapada yang terasa “klop” dengan kehidupan dunia.

 

Buah Karma yang belum matang

Dalam Dhammapada 9:125 Buddha jelas sekali bahwa jika seorang pelaku kejahatan berupaya mencelakakan orang yang tidak bersalah, maka ia sendiri yang akan celaka. Lalu apa yang kita lihat selama ini dan di sekitar kita? Seolah pelaku kejahatan bisa merajalela, dan mereka yang tidak bersalah bisa seenaknya dianiaya. Untuk itu Buddha menjelaskan dalam ayat 119 bahwa ada juga perbuatan-perbuatan jahat yang “belum matang”. Ketika buah kejahatan itu matang, maka ia jatuh sendiri. Tinggal tunggu waktu. Catatan Bapak Anand Krishna tentang Dhammapada.

 

Hukuman Bagi Tindakan Adharma

Banyak di antara kita yang punya pengalaman menghadapi oknum penyidik di kepolisian atau kejaksaan yang korup dan dengan sombong bisa mengatakan, “Ini wewenang kami”. Pun demikian dengan para hakim dan pejabat lain yang sama-sama korup. Mereka telah dibutakan oleh kekuasaan yang tidak langgeng, tidak untuk selamanya. AKHIRNYA, MEREKA BINASA karena dan oleh kebutaan mereka sendiri. Kadang mereka tidak sadar bahwa ketika dharma bertindak, ia bisa menggunakan senjata apa saja. Banyak senjata di tangan dharma.

Para pejabat korup yang memiliki anak yang autis, penderita penyakit lain, pencandu, pemabuk, penderita HIV, dan sebagainya – telah dijatuhi hukuman seumur hidup oleh dharma! Penyakit anak-anak mereka adalah disebabkan oleh uang haram hasil korupsi, hasil jarahan, yang mereka gunakan untuk membiayai kehidupan mereka. Dan tentunya disebabkan oleh karma anak-anak itu pula yang memilih mereka sebagai orang-tua.

Dharma tidak selalu memenjarakan para penguasa zalim. Penjara adalah urusan peradilan dunia. Hukuman penjara adalah hukuman ringan jika dibanding dengan hukuman dharma yang tidak hanya membuat seseorang menderita hingga akhir hayatnya, tetapi juga setelah meninggalkan dunia ini. Hukuman dharma bukanlah hukum korup yang bisa dikompromikan. Tidak ada sin laundering, pencucian dosa lewat ziarah, amal-saleh, dan sebagainya. Setiap penderitaan yang disebabkan oleh seorang penguasa zalim mesti dipertanggung jawabkan olehnya sendiri……. dikutip dari penjelasan Bhagavad Gita 11:34 dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

 

Mari kita merenungkan sejarah kehidupan kita sendiri, bukan hanya para selebrities, bukan hanya oknum Penyidik dan Hakim yang tidak jujur, kita pun juga mungkin pernah angkuh, arogan saat kita sedang berkuasa. Bentuk hukuman adharma bukan hanya anak cacat, tetapi penderitaan yang dirasakan perih sampai maut datang menjemput. Dan, itu bisa berupa apa saja……

Mari kita cari jalan keluar, bagaimana sebaiknya……..

 

Apakah kepada mereka yang berbuat salah sudah diberi kesempatan untuk bertobat?

Pasti! Alam akan memperingatkan dalam beberapa tahap sebelum memberikan pukulan telak.

Alam memperingatkan manusia seperti simbol 4 tangan Vishnu. Pertama kali, tangan memberi “blessing”, memaafkan kesalahan awal yang telah diperbuatnya. Kedua kali, tangan memegang terompet kulit kerang, setelah kita terus melakukan kesalahan, alam memberi peringatan dengan teguran keras. Ketiga kali, tangan memegang chakra, Alam memberi semacam tenggat waktu untuk memperbaiki perbuatan yang salah. Keempat kali, tangan membawa gada, begitu semua peringatan sudah dilaksanakan, masih “ndhendheng”, bebal, maka gada yang berbicara.

Silakan renungkan kisah berikut:

https://kisahspiritualtaklekangzaman.wordpress.com/2016/09/08/cara-vishnu-sang-pemelihara-alam-memperingatkan-kita/

 

Masihkah ada jalan keluar bagi kita yang telah bertindak jahat di masa lalu?

Kesalahan bisa diperbaiki, hukuman bisa diperingan.

Sebagaimana seorang presiden, seorang kepala negara, seorang raja memiliki hak prerogatif untuk memberi pengampunan total — demikian pula Tuhan. Ia memiliki hak prerogatif untuk menghapus segala macam dosa-dosa kita. Asal — lagi-lagi ini menurut pendapat saya, dan berdasarkan pengalaman saya pribadi – kita insaf, kita bertobat. Dan, tidak lagi mengulangi kesalaha-kesalahan yang sama. Bukan hanya keringanan, walaupun tidak sering terjadi – tetapi Tuhan bisa mengampuni kita secara total. Dalam hal ini, peranan Tuhan bisa dibandingkan dengan peranan Presiden suatu negara. Presiden mempunyai wewenang penuh untuk mengampuni seseorang, walau ia telah mengalami kekalahan dalam sidang-sidang pengadilan sebelumnya. Namun, harus ingat, Presiden hanya mengambil keputusan jika ia yakin orang yang bersalah itu benar-benar insaf, telah menyadari akan kesalahannya, tidak akan berbuat lagi. Sebelum mengambil keputusan, Bapak Presiden memperhatikan pula latar belakang dan hal lain-lain yang bersangkutan dengan orang itu. Kita bisa tersesat, begitu sadar akan kesalahan kita dan kita mohon kepada-Nya agar diampuni, Ia pasti mengarahkan kita kembali ke jalan yang benar. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

Silakan renungkan kisah berikut:

https://kisahspiritualtaklekangzaman.wordpress.com/2016/09/10/sri-krishna-sais-agung-kereta-kehidupan-kita-pembawa-chakra-dan-bunga-wijaya-kusuma/