Refleksi: Beda Keinginan dan Kehendak terhadap Kesuksesan Kita

Sebuah Pertanyaan Sederhana: apakah kita punya Kehendak Kuat atau sekadar Keinginan? Dan kehidupan yang kita alami saat ini adalah jawaban yang telah kita buat atas pertanyaan tersebut di masa lalu…..

Berkehendak Kuat

Berkehendak yang kuat tentang apa yang sungguh-sungguh diinginkan, itulah langkah pertama menuju kebahagiaan dalam hidup. Para astrolog di wilayah peradaban Sindhu atau Hindia selalu menasihati supaya kita betul-betul memusatkan seluruh pikiran/kesadaran kita pada apa yang kita hendaki. Itulah satu-satunya cara untuk mewujudkan kehendak menjadi kenyataan dalam hidup.

Dalam hal ini, keberhasilan seseorang sangat tergantung pada: Harapan, Kesabaran, dan Keteguhan Hati. Keberhasilan kita melatih diri dalam ketiga hal ini memastikan keberhasilan kita dalam hidup. Kemudian, kesehatan, kekayaan, ketenaran, dan kebahagiaan semuanya menjadi milik kita. Dikutip dari (Krishna, Anand. (2010). Spiritual Astrology, The Ancient Art of Self Empowerment, Bhakti Seva(The Blissful Prophet), Terjemahan Bebas, Re-editing, dan Catatan Oleh  Anand Krishna. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama) #SpiritualIndonesia #AstrologiIndonesia

Kehendak, Will Power dalam Buku Total Success

Rumusan Napoleon Hill dimulai dari Keyakinan. Itulah butir pertama rumusan Sang Maestro. Kendati demikian, ia pun sadar bahwa 98 % orang memang tidak yakin. Mereka tidak percaya pada apa yang mereka lakukan. Mereka tidak percaya pada keberhasilan apa yangmereka kerjakan. Mereka tidak percaya pada pekerjaan mereka. Itulah sebabnya hanya 2 % orang yang meraih keberhasilan sejati. Sisanya dalam keadaan limbo, kaya tapi tidak berhasil. Atau, tidak kaya dan tidak berhasil.

Kendati demikian, jangan putus asa. Hill meyakinakn kita bahwa “kurang percaya diri”, “kurang yakin” adalah penyakit yang dapat disembuhkan………….

Will Power bukan sekadar keinginan, tetapi niat yang kuat; kekuatan kehendak. Kekuatan niat atau Will Power jauh melebihi kekuatan keinginan. Keinginan tidak membutuhkan terlalu banyak energi. Dengan energi selemah apa pun kita masih tetap bisa berkeinginan. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2009). Total Success Meraih Keberhasilan Sejati. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

Kehendak Kuat

“Sebaliknya Arjuna, ia yang berkehendak kuat dan telah berhasil mengendalikan seluruh indra; kemudian menggunakan indra-indra yang sama sebagai alat, dan berkarya dengan semangat Yoga tanpa keterikatan (pada hasil, atau berkarya tanpa pamrih) adalah manusia yang sungguh sangat terpuji.” Bhagavad Gita 3:7

Kehendak yang kuat adalah gugusan pikiran dan perasaan, atau mind, yang sudah tidak bergejolak. Mind yang sudah dewasa, matang. Tidak lagi merengek-rengek melihat mainan yang baru. Mind yang demikian itulah yang bisa berkehendak yang kuat. Mind seperti itu sudah berubah menjadi buddhi, intelegensia, atau mind yang berkesadaran. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia lewat #BhagavadGitaIndonesia

 

Video Youtube: Beda Keinginan vs Kehendak oleh Bapak Anand Krishna

Apakah will dan desire itu sama? Dalam bahasa indonesia will adalah kehendak, desire adalah keinginan.

Pengertian will dalam bahasa sanskrit orang yang punya will langsung menerapkan will nya, menjadi kerja nyata dia tidak akan bertanya lagi.

Kalau masih desire pasti gagal deh. Will tidak punya keraguan. Tidak bisa disamakan dengan desire. Desire pekerjaan belum pas tapi dia ingin jadi kaya raya.

………………

Apa maksudnya, ada divine will with divine intervention. Keberadaan menginginkan dia seperti itu. Dan dia digunakan sebagai alat Keberadaan?

Buddha sendiri mempunyai will power untuk menjadi buddha. “Saya tidak akan bergerak. Kalau ini terakhir sekali saya duduk saya tidak akan meninggalkan pohon ini. Tidak. Saya ingin cerah.”

Silakan simak video youtube: Beda Keinginan vs Kehendak oleh Bapak Anand Krishna

Roh dalam diri manusia – kesadaran, atau “aku” dalam diri setiap insan hanya akan terpicu jika ada strong will power, kehendak, yang sangat kuat

Dengan menggunakan badan dan indra, kita tidak mungkin merasakan kemanunggalan diri dengan-Nya. Ada kalanya, badan kita indra malah menolak keberadaan Tuhan karena mereka tidak bisa menggapai-Nya. Untuk menggapai kesadaran kosmis, doa mesti, terlebih dahulu, memicu roh dalam diri manusia, supaya terungkap. Supaya mulai berkarya. Kemudian, mempersatukan roh itu dengan Roh Agung, dengan Sumber Tunggal, Allah Bapa, Tuhan.

Nah, roh dalam diri manusia – kesadaran, atau “aku” dalam diri setiap insan hanya akan terpicu jika ada strong will power, kehendak, yang sangat kuat. Siapa yang mesti berkehendak atau berkeinginan kuat? Manusia sendiri, “aku” dalam diri setiap insan, atau kesadaran “ku” sendiri. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2010). A New Christ, Jesus: The Man and His Works, Wallace D Wattles. Re-editing, Terjemahan Bebas, dan Catatan Anand Krishna oleh Anand Krishna. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama) #SpiritualIndonesia lewat #ANewChristIndonesia

Guru Sejati membantu murid menggunakan will power karena kasih

Para Guru sejati, Para Sad Guru, Para Murshid karena “kasih” mereka bukan karena bayaran, menggunakan will power mereka untuk membantu terciptanya keseimbangan dalam diri para murid.

Kaamaha Shantih….Shantih, Shaantih, Shantih ….Sekali tercipta, sang guru kemudian membantu para siswa untuk menggunakan will power mereka sendiri untuk memeliharanya. Kadang berada di padepokan sang guru, berhadapan dengannya saja sudah cukup- will power dalam diri kita terstimuli dengan sangat mudah kita dapat meneruskan perjalanan batin kita. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2003). Rahasia Alam Alam Rahasia. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama) #SpiritualIndonesia

Advertisements

Refleksi: Menghormati Perbedaan dan Kesetaraan Manusia

Komputer Manusia, Hardware, Software dan Aliran Listrik

Bayangkan seperangkat Komputer. Ada hardware: CPU, monitor dan lain sebagainya. Ada pula software: disket, CD-Rom dan sebagainya. Kecuali kedua unsur tersebut, masih ada satu unsur lain yang dibutuhkan, untuk mengakrifkan komputer ini, yaitu aliran listrik: energi.

Yang mengaktifkan komputer manusia ini adalah juga tiga unsur utama. Saya mengatakan tiga unsur utama, karena sebenarnya masih banyak unsur lain, tetapi yang utama adalah tiga. Pertama, badan kasat kita. Ini bagaikan hardware. Kedua, ego kita. Ini bagaikan software dan tentu saja, ketiga, kesadaran yang merupakan aliran listriknya.

Badan kita sewaktu-waktu bisa rusak, bisa berhenti bekerja. Namun software-nya tidak ikut rusak. Ego kita masih utuh, masih dapat berfungsi. Software yang sama dapat digunakan, dengan menggunakan hardware baru. Tidak ada memori yang hilang, tidak ada program yang terhapus. Ego kita, yang merupakan software, masih dapat digunakan. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (1998). Reinkarnasi, Hidup Tak Pernah Berakhir. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama

Mind kita dibentuk oleh informasi yang kita peroleh dari luar. Pendidikan di sekolah, pelajaran dari orangtua, pengetahuan tentang agama – semuanya itu telah membentuk mind kita. Mind bisa dikatakan berdasar pada data  bank. Kita mendapat data bank dari banyak inkarnasi.

Oleh karena itu, kita bisa paham bahwa setiap orang lahir membawa Mind dari kehidupan sebelumnya, lewat warisan sifat genetik orangtuanya. Kemudian dalam hidup ini, sejak kecil dia mendapat “pelajaran” tentang kebenaran dari orangtua, pendidikan dan lingkungan. Jadi kebenaran bagi setiap orang adalah kebenaran sesuai persepsi dari pengalaman yang dimilikinya. Setiap orang memiliki pemahaman kebenaran seuai mind yang dimilikinya.

 

Otobiografi Species Manusia

Dalam buku Genom, Kisah Species Manusia oleh Matt Ridley terbitan Gramedia 2005, disebutkan bahwa Genom Manusia – seperangkat lengkap gen manusia – hadir dalam paket berisi dua puluh tiga pasangan kromosom yang terpisah-pisah. Penulis Buku tersebut membayangkan genom manusia sebagai semacam otobiografi yang tertulis dengan sendirinya – berupa sebuah catatan, dalam bahasa genetis, tentang semua nasib yang pernah dialaminya dan temuan-temuan yang telah diraihnya, yang kemudian menjadi simpul-simpul sejarah species  kita serta nenek moyang kita sejak pertama kehidupan di jagad raya. Genom telah menjadi semacam otobiografi untuk species kita yang merekam kejadian-kejadian penting sesuai dengan keadaan sebenarnya. Kalau genom dibayangkan sebagai buku, maka buku ini berisi 23 Bab, tiap Bab berisi beberapa ribu Gen. Buku ini berisi 1 Milyar kata, atau kira-kira 5.000 buku dengan tebal 400-an halaman.

Dalam DNA kita terdapat catatan pengalaman leluhur-leluhur kita. Zaman dulu dan zaman sekarang ini adalah satu rangkaian yang tidak bisa dipisahkan. Perilaku manusia saat dewasa terkait erat dengan perilaku dia sewaktu kecilnya. Perilaku seseorang saat ini terkait dengan perilaku para leluhurnya. Sebuah kontinuitas yang melekat. Kearifan kita sudah ada sejak zaman dahulu. Kita perlu mengkoreksi klasifikasi sejarah yang mengkotak-kotakkan Sejarah Bangsa menjadi Zaman Pra Hindu, Zaman Hindu, Zaman Islam, Zaman Penjajahan dan seterusnya. Genetik kita saat ini ada kaitannya dengan masa lalu, tidak dapat dipisah-pisahkan atas dasar kepercayaan yang dianut pada beberapa masa. Walaupun para leluhur kita dikatakan penganut animisme dan dinamisme, hal tersebut adalah bagian dari evolusi dan kita harus menghormatinya.

 

Keunikan Diri Manusia

Bapak Anand Krishna dalam artikel Secangkir Kopi Kesadaran dari The Torchbearers Newsletter 1/2008. Dalam artikel tersebut disampaikan……. Keunikan setiap orang merupakan akibat dari perbuatannya di masa lalu yang telah berubah menjadi sifatnya. Obsesi dari masa lalu; ingatan atau memori dari masa lalu; hubungan atau relasi dari masa lalu – semuanya itu membentuk pribadi yang unik. Oleh karena itu setiap orang memang unik adanya. Cara dia menempuh perjalanan hidup; cara dia merespon terhadap tantangan hidup – semuanya unik. Keunikan manusia ini terjamin sepenuhnya oleh hukum karma, hukum evolusi, dan hukum-hukum lainnya. Tapi keunikan ini pula yang menciptakan ego pribadi. Ego dalam pengertian “aku”. Selama kita masih berada dalam wilayah hukum karma, keunikan kita adalah jati diri kita. Keunikan ini diterima oleh para psikolog modern sehingga mereka akan selalu menganjurkan supaya kita tidak melepaskan ego kita. Ego yang unik ini adalah jati diri kita. Ada kalanya, ego ini bersifat liar – maka diciptakanlah syariat  atau dharma untuk menjinakkan  ego-ego yang masih liar dan berbisa. Keunikan manusia adalah sangat manusiawi. Tetapi, itu bukanlah monopoli manusia saja. Hewan pun unik. Tanaman dan pepohonan adalah unik. Bukit, gunung, kali sungai – semuanya unik.

Walau Unik, Kita Semua Esensinya Sama

Kita semua “terbuat” dari zat yang sama, substansi kita sama Roh. Namun, ketika “keluar” dari Roh, kita memperoleh kemampuan untuk berpikir secara terpisah. Kemampuan itu memberi kebebasan, sekaligus membuka kemungkinan bagi terjadinya kesalahan. Jika kita tidak menyadari hubungan kita dengan sumber, dengan Roh, dengan Allah Bapa, maka terjadilah kesalahan. Awalnya, pikiran kita yang salah, kemudian perbuatan. Tanpa kesadaran akan hubungan kita dengan sumber, dengan Roh, pandangan kita menjadi terbatas, sempit. Kita tidak bisa melihat kebenaran secara utuh sehingga kesimpulan kita sudah pasti salah. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2010). A New Christ, Jesus: The Man and His Works, Wallace D Wattles. Re-editing, Terjemahan Bebas, dan Catatan Anand Krishna oleh Anand Krishna. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Inilah Masalah utama kita: Apabila kita mengidentifikasikan diri dengan Mind, kita merasa beragam, bhinneka, berbeda. Apabila kita mengidentifikasikan diri sebagai Pemilik Mind maka kita paham bahwa esensi kita adalah sama.

Keberagaman, Kebhinnekaan adalah Kebenaran Luar

“Pengetahuan yang membuat seseorang melihat perpisahan antara satu makhluk dengan yang lain; seolah setiap makhluk berada sendiri-sendiri – adalah Pengetahuan Rajasika.” Bhagavad Gita 18:21

Keberagaman, kebhinekaan adalah “kebenaran-luar” — kulit dari Kebenaran Mutlak yang satu adanya. Jika kita menganggap kebenaran luar itu sebagai sesuatu yang mutlak, maka terciptalah perpisahan. Semestinya, keberagaman dan kebhinekaan luaran diterima sebagai ungkapan dari Hyang Tunggal, bukan sebagai faktor pemisah.

PERHATIKAN JUS BUAH JERUK, atau buah apa saja….. Ketika belum diperas, belum menjadi jus — kulit setiap buah jeruk tampak beda. Ada yang tampak dekil, ada yang tampak segar. Jika kita memilih 3 buah saja untuk dibuatkan jus, rasanya mustahil kita bisa menemukannya yang ber-“penampilan” persis sama. Ya, 3 buah saja tidak bisa persis sama. Tetapi ketika tiga-tiganya diperas; maka jusnya sama. Esensinya sama. Khasiatnya sama. Rasa jeruk yang kita nikmati adalah sama.

Demikian pula dengan wujud-wujud keberadaan yang tampak beda – bhinneka – namun esensinya adalah satu, sama. Esensinya adalah Tunggal!

MEREKA YANG TIDAK DAPAT MELIHAT ESENSI dan hanya memperhatikan perbedaan kulit adalah berpengetahuan Rajas. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia lewat #BhagavadGitaIndonesia

 

Hubungan Darah, Hubungan Air dan Hubungan Roh

Bapak Anand Krishna pernah menyampaikan: Darah dan daging ibu dan bapak yang melahirkan kita menuntut tanggungjawab terhadap darah dan daging. Bagaimana pun juga, kata orang, “hubungan darah tetaplah hubungan darah. Daging sendiri tetaplah daging sendiri”. Atau, ada juga pepatah, “bagaimanapun juga darah lebih kental dari air”. Tetapi Yesus justru mengatakan, “kau harus lahir kembali dari roh dan air”. Apa maksudnya? Hubungan darah/daging adalah hubungan awal kita dengan dunia ini, dimana keluarga- “ku” menjadi lebih penting dari keluarga-“mu”. Karena bagaimanapun jua aku memiliki hubungan darah/daging dengan keluarga-“ku”. Ini adalah hubungan berdasarkan ego-biasa. Yesus mengajak kita untuk meningkatkan ego kita menjadi kesadaran murni yang luar biasa.

Refleksi: Manipulasi Pikiran, Ampuh Tapi Rawan Penyalahgunaan

Manipulasi Pikiran

Bapak Anand Krishna pernah menulis di Harian Kompas 15 Agustus 2009 (9 tahun yang lalu)……..Dalam sejarah modern, adalah Adolf Hitler (1889-1945) adalah yang pertama kali menggunakan mind manipulation atau manipulasi pikiran sebagai senjata. Ibarat komputer, mind atau ”gugusan pikiran” manusia dapat dimanipulasi, dapat di-hack, bahkan dapat disusupi virus untuk merusak seluruh jaringannya.

Dalam otobiografinya (Mein Kampf), Hitler menulis, ”Teknik propaganda secanggih apa pun tak akan berhasil bila terdapat hal yang terpenting tidak diperhatikan, yaitu, membatasi kata-kata dan memperbanyak pengulangan.”

Kemungkinan besar, Hitler telah mempelajari penemuan Pavlov, ilmuwan asal Rusia dan peraih hadiah Nobel 1904 untuk psikologi dan ilmu medis. Melalui teorinya tentang conditioned reflex atau involuntary reflex action, sang ilmuwan membuktikan, ”perilaku manusia dapat diatur atau dikondisikan” sesuai ”proses pembelajaran yang diperolehnya”……..

Ketika seekor anjing diberi makanan, ia mengeluarkan air liur. Ini disebut refleks yang lazim atau unconditioned reflex. Ia tak perlu menjalani proses pembelajaran.Namun, pada saat yang sama bila dibunyikan lonceng, terjadilah proses pembelajaran. Anjing itu mulai ”mengaitkan” bunyi lonceng dengan makanan dan air liurnya. Setelah beberapa kali mengalami kejadian serupa, maka saat mendengar bunyi lonceng, air liurnya keluar sendiri meski tidak diberi makanan. Ini disebut conditioned reflex, refleks tak lazim. Keluarnya air liur itu tidak lazim, tidak ada makanan. Namun, ia tetap mengeluarkan air liur.

Pembelajaran ini harus diulang beberapa kali agar ”keterkaitan” yang dihendaki tertanam dalam gugusan pikiran atau mind hewan, atau… manusia! Maka, tak salah bila Adolf Hitler menganjurkan “pengulangan”. Dalam ilmu psikologi dan neurologi modern, pengulangan atau repetition juga dikaitkan dengan intensity. Apa yang hendak ditanam harus terus diulangi secara intensif. Demikian bila seekor anjing dapat mengeluarkan air liur yang sesungguhnya tak lazim, manusia pun dapat dikondisikan, dipengaruhi untuk berbuat sesuatu di luar kemauannya………

Pengulangan tidak dapat mengubah kebohongan menjadi kebenaran. Tetapi pengulangan dapat membuat orang percaya pada kebohongan. Hitler membuktikan keabsahan sebuah pepatah lama dari Tibet, Bila diulangi terus-menerus, kebohongan pun akan dipercayai orang……..

Pengulangan Program Secara Repetitive dan Intensive

Kita telah paham bahwa sinap-sinap saraf dalam otak manusia mengantar muatan informasi dari satu sel ke sel yang lain. Jika kita membombardirnya dengan muatan informasi yang melemahkan jiwa manusia, informasi itu pula yang diteruskannya dari sel ke sel bahkan dari orangtua ke anaknya. Sebaliknya, jika kita membombardirnya dengan muatan informasi yang memberdayakan jiwa, informasi itu pula yang diteruskannya.

Membombardir, pengulangan yang intensif secara terus menerus, adalah cara yang sama, ilmu yang sama, metode yang sama yang dapat diterapkan untuk merusak maupun memperbaiki mental kita. Pilihan berada di tangan kita. Jika kita melakukannya sendiri, maka pasti demi kebaikan diri sendiri. Jika kita membiarkan orang lain atau pihak lain melakukannya, maka itu adalah demi kepentingan mereka. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2010). Neospirituality & Neuroscience, Puncak Evolusi Kemanusiaan. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

Programming Pada Anak Kecil (Pendidikan Anak Sejak Kecil Sangat Berpengaruh)

Pakar hypnotherapy  Bapak Adi W Gunawan dalam salah satu talkshow bersama Bapak Anand Krishna menyatakan bahwa sampai usia 2 tahun gelombang pikiran anak berada dalam keadaan “delta” yang sangat reseptif sehingga apa pun yang diakatakan oleh orang tua akan dipercayainya. Kemudian dari usia 2 tahun sampai 6 tahun gelombang pikiran seorang anak berada dalam keadaan “alpha”, sehingga sifat reseptifnya juga sangat besar, sehingga kembali pesan yang disampaikan orang tua dan lingkungan diterima sang anak dan menjadi kebenaran baginya.

………………….

Ketika kita masih kanak-kanak, di bawah usia lima tahun, hal-hal yang diajarkan oleh orang tua atau masyarakat menjadi bagian dari Neo-Cortex. Apa saja yang diamati atau sekadar dilihat oleh seorang anak dalam usia itu akan terekam dengan sendirinya. Kemudian antara usia 5 hingga 12 tahun terjadi muatan-muatan baru lewat sistem pendidikan. Hingga usia 12 tahun disebut Golden Years, Usia Emas, karena banyak sekali muatan ditambahkan pada Neo-Cortex yang kelak digunakan hingga akhir hayat. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2010). Neospirituality & Neuroscience, Puncak Evolusi Kemanusiaan. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Programming Pada Masyarakat yang Biasa Menerima Kebenaran Siap Saji (Masyarakat yang Tidak Kritis)

Kebiasaan menerima “kebenaran siap-saji” dapat disalahgunakan oleh penguasa, oleh imam agama apa saja. Kemudian, manusia menjadi robot. Ia dapat “disetel”, dapat “diprogram”, dapat diarahkan untuk berbuat sesuai dengan program yang diberikan kepadanya. Ini yang dilakukan oleh “para otak teroris”. Mereka memprogram otak-otak yang masih segar, dan mematikan kemampuannya untuk ber-ijtihad. Kemudian, dengan sangat mudah mereka memasukkan program versi mereka. Dan terciptalah sekian banyak pelaku bom bunuh diri yang siap membunuh siapa saja yang menurut programming mereka bertentangan dengan apa yang mereka anggap “satu-satunya kebenaran”. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2005). Dari Syari’at Menuju Mohabbat, Sebuah Dialog. One Earth Media)

Masalah Bangsa Kita adalah Masalah Conditioning, Masalah Programming

Ada yang menanyakan kepada saya, “Bapak bicara soal agama melulu. Seolah-olah, masalah terbesar yang sedang dihadapi oleh bangsa kita adalah agama.” Tidak, masalah terbesar yang dihadapi oleh bangsa kita bukan masalah agama. Tetapi masalah conditioning, masalah programming. Dan, masalah ini pula yang dihadapi oleh setiap bangsa, oleh seluruh umat manusia.  Kita sudah terkondisi, terprogram untuk mempercayai hal-hal tertentu. Padahal kepercayaan harus berkembang sesuai dengan kesadaran kita. Jika terjadi peningkatan kesadaran , maka kepercayaan pun harus ditingkatkan.

Seorang anak kecil mempercayai ibunya. Menjelang usia remaja, ia mulai mempercayai para sahabatnya, pacarnya. Kalau sudah bekerja, ia akan mulai mempercayai rekan kerjanya. Bersama usia dan pengalaman hidup , kepercayaan dia pun berkembang terus. Ia bahkan mulai mempercayai berita di koran. Ia akan mempercayai siaran radio dan televisi. Kepercayaan yang berkembang terus ini sangat indah. Kepercayaan yang berkembang terus itu membuktikan bahwa kesadaran anda sedang meningkat. Sampai pada suatu ketika, anda akan mempercayai Keberadaan. Pada saat itu, kepercayaan anda baru bisa disebut “spiritual”.

Seorang anak kecil di bawah usia lima tahun memperoleh conditioning dari orang tua, mendapatkan programming dari masyarakat. Lalu, berdasarkan conditioning dan programming yang diperolehnya ia menjadi Hindu atau Muslim atau Kristen atau Katolik atau buddhis, atau entah apa. Ia mulai melihat Kebenaran dari satu sisi, dan seumur hidup ia melihat Kebenaran dari satu sisi saja. Kebiasaan dia melihat Kebenaran dari satu sisi ini yang berbahaya. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2002). Menemukan Jati Diri I Ching Bagi Orang Moderen. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

Membombardir dengan Informasi yang Baik

Bila kita sadar dan membombardir diri dengan informasi yang baik, yang memberdayakan jiwa, kita mempunyai kesempatan untuk memperbaiki genetik. Perbaikan karakter bangsa dimulai dari diri sendiri, dan diturunkan kepada anak keturunannya. Kemudian seorang yang sadar, mulai menyebarkan “virus kesadaran”- nya kepada lingkungannya. Pada gilirannya setiap orang yang telah sadar dalam lingkungannya tersebut akan menyebarkan virus kesadaran ke lingkungan mereka. Dan evolusi manusia akan berkembang semakin cepat………. Seorang Guru telah membangkitkan benih kesadaran dalam setiap murid dan sahabat-sahabatnya lewat pertemuan langsung, buku-buku karyanya, lewat  jejaring masyarakat maupun jejaring di dunia maya. Benih kesadaran tersebut sudah ada dalam diri kita, tinggal ditumbuh-kembangkan saja……

Refleksi: Kehidupan Kita adalah Akumulasi dari Pilihan Kita Sendiri

Salah Identifikasi Diri Mengakibatkan Hukum Karma

Badan ini ibarat kereta. Kesadaran Diri, “Aku Sejati”, “Self”, “Atma” adalah pemilik kereta. Intelejensia adalah sais kereta. Mind atau pikiran adalah tali pengendali. Kelima indera adalah kuda yang menarik kereta. Pemicu di luar adalah jalan yang dilewati kereta ini.

Pikiran yang lemah, atau kacau membuat kelima indera lepas kendali, dan kecelakaan pun tak terhindari lagi. Bagaimana bisa mencapai tujuan? Karena kecelakaan-kecelakaan yang terjadi inilah, maka ‘aku’ atau atma mesti berulangkali mengalami kelahiran dan kematian. Dan, tidak mencapai tujuannya.

Tapi, jika intelejensia mengendalikan pikiran, dan pikiran mengendalikan kelima indera, maka badan ini akan mengantar kita kepada tujuan, yaitu penemuan jatidiri. Itulah Kesadaran Ilahi, itulah Brahma Gyaan. Dikutip dari buku (Das, Sai. (2010). Shri Sai Satcharita. Anand Krishna Global Co-Operation Indonesia)

Salah Identifikasi tentang Diri Mengkibatkan Kita Terkena Hukum Sebab-Akibat, Hukum Karma. Menganggap tubuh, badan, body (kereta) sebagai diri membuat kita ingin memuaskan panca indra. Menganggap pikiran (tali pengendali) sebagai diri membuat kita ingin mengulangi hal yang menyenangkan dan menambah porsinya, menghindari hal yang tidak menyenangkan dan cuek dengan sesuatu yang tidak ada kaitan dengan diri kita. Itu adalah sifat pikiran (mind) yang hanya benar bagi diri kita sendiri. Menganggap Pemilik Tubuh dan Pikiran (pemilik kereta) sebagai diri, maka sebelum bertindak kita akan memiliki pandangan jernih: Kalau aku tidak senang dibegitukan orang lain maka saya tidak akan membegitukan orang lain.

Tindakan Yang Berakibat Karma dan Yang Tidak

Apa yang terjadi ketika kita melihat bunga-bunga yang indah di taman. Mata telah menikmati keindahan itu – luar biasa, indah! Puji Tuhan Hyang Maha Indah, karena keindahan-Nya lah maka alam menjadi indah. Jika kita berhenti di situ, maka tidak ada tindakan apa-apa. Indra mata telah berfungsi sesuai dengan sifatnya – melihat. Gugusan pikiran serta perasaan telah melaksanakan tugasnya pula dengan mengapresiasi keindahan. Perkara selesai. Ini adalah skenario pertama, sesuai dengan apa yang Krsna katakan, “Mata yang telah melihat keindahan itu sekarang akan mengejar keindahan di mana-mana. Gugusan pikiran serta perasaan yang telah menikmati dan mengapresiasi keindahan pun demikian. Dan, selama urusan mengejar adalah untuk menikmati dan mengapresiasi – maka tidak terjadi apa yang disebut karma atau tindakan.”

Tapi, ada skenario Kedua – Setelah mengapresiasi keindahan bunga itu, kita bertindak untuk memetiknya, membawa pulang, dan menaruhnya di dalam vas bunga. Nah, di sini sudah terjadi tindakan. Sudah ada karma. Dan setiap karma, setiap tindakan ada konsekuensinya. Vas bunga yang Anda letakkan di ruang tidur pribadi Anda, di ruang keluarga, atau ruang tamu berdampak beda. Konsekuensinya lain, beda.

Di ruang tidur pribadi, keindahan bunga akan diapresiasi oleh Anda, dan barangkali pasangan Anda. Di ruang keluarga, seluruh keluarga akan menikmatinya. Dan, di ruang tamu, bukan saja Anda, pasangan Anda, dan keluarga Anda – tapi para tamu pun ikut menikmatinya.

Masih ada Skenario Ketiga – bunga yang Anda petik itu dipersembahkan di kuil, di vihara, ditempat-tempat ibadah yang memiliki tradisi mempersembahkan bunga. Konsekuensinya beda lagi. Bunga yang Anda petik bukanlah untuk kepentingan diri, keluarga, dan para tamu Anda, tapi untuk dipersembahkan. Dalam hal ini, tindakan Anda menjadi sebuah yajna, offering, persembahan. Sekarang jika kita simpulkan…

Dalam skenario pertama tidak terjadi tindakan – tidak ada karma. Mata menikmati, meneruskan informasi kepada gugusan pikiran dan perasaan lewat otak – perkara selesai.tidak ada konsekuensi lain, selain kenikmatan, rasa senang. Karma terjadi dalam skenario kedua dan ketiga. Penjelasan Bhagavad Gita 3:28 dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia via #BhagavadGitaIndonesia

 

Antara Shreya (yang memuliakan) dan Preya (yang menyenangkan)

Dalam hidup ini kita memang selalu berhadapan dengan dua pilihan tersebut, shreya atau preya yang memuliakan, atau yang menyenangkan.

Seorang pencari jatidiri hendaknya memilih shreya, atau yang memuliakan. Dan, tidak memilih preya, yang menyenangkan. Preya, yang menyenangkan, adalah pilihan mereka yang masih sepenuhnya berada dalam alam kebendaan. Para bijak selalu memilih “yang memuliakan”. Mereka yang tidak bijak memilih “yang menyenangkan” karena keserakahan dan keterikatan mereka dengan dunia benda. Dikutip dari buku (Das, Sai. (2010). Shri Sai Satcharita. Anand Krishna Global Co-Operation Indonesia)

Video Youtube Being Human 2/3 Pleasant vs Good oleh Bapak Anand Krishna

Program dasar dari neo-cortex adalah untuk mencerna semua informasi yang kita peroleh sepanjang hari atau hidup dan memprosesnya yang kemudian dapat dibagi menjadi 2 kategori: Shreya dan Preya.

Preya adalah segala sesuatu yang menyenangkan panca indra. Apa pun juga asal menyenangkan panca indra itu adalah preya. Mungkin tidak baik, mungkin tidak benar. Asal panca indra saya puas itu adalah preya. Salah? Tidak juga. Preya juga dibutuhkan.

Tapi shreya selangkah lebih lanjut. Bukan sesuatu yang menyenangkan tapi sesuatu yang tepat. Apa yang tepat bagi saya dan rasanya apa yang saya akan lakukan. Apabila hanya ingin merasa baik tidak perlu shreya. Shreya adalah pilihan untuk apa neo-cortex diletakkan pada diri kita. Untuk mendapatkan shreya ini tindakan tepat apa yang saya lakukan? Silakan ikuti Penjelasan lengkap pada: Video Youtube Being Human 2/3 Pleasant vs Good oleh Bapak Anand Krishna

Manusia memiliki bagian otak yang disebut Neo Cortex. Neo berarti “baru”, dan bagian ini memang “baru” dimiliki oleh hewan “jenis manusia”. Setidaknya dalam bentuk yang jauh lebih sempurna dari hewan. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2005). Otak Para Pemimpin Kita, Dialog Carut-Marutnya Keadaan Bangsa. One Earth Media)

Tanpa perkembangan Neo-Cortex, manusia tidak sadar tentang hal-hal yang tepat dan tidak tepat, yang baik dan tidak baik bagi dirinya. Dalam keadaan seperti itu, ia tak akan mampu memahami kebutuhan insting yang diterimanya dari Bagian Limbic lewat Jaringan Saraf Otonom. Bila insting mengirimkan pesan “lapar”, maka ia bisa saja makan berlebihan, sehingga merusak kesehatannya sendiri.

Begitu pula dengan hal-hal lain yang sesungguhnya merupakan kebutuhan dasar dan harus dipenuhinya secara cerdas dan berimbang dengan penuh kesadaran, misalnya memilih makanan yang baik bagi kesehatannya sehingga tidak makan apa saja secara sembarangan. Dengan kata lain, mesti ada kerja sama yang baik antara Bagian Limbic dan Neo-Cortex. Tanpa kerja sama seperti itu, manusia akan mencelakakan dirinya.

Hal ini tidak terkait dengan tubuh atau kesehatan raganya saja, tetapi juga dengan pikiran dan lapisan-lapisan kesadarannya yang lain. Jadi Limbic memberitahu kebutuhan, sedangkan Neo-Cortex menentukan bagaimana dan dengan cara apa memenuhi kebutuhan itu supaya menunjang kesehatan dan kehidupan, bukan merusak atau mematikannya. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2010). Neospirituality & Neuroscience, Puncak Evolusi Kemanusiaan. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Mengapa Kita Memilih Preya (yang menyenangkan)?

Bila disuruh memilih antara “yang baik” dan “yang nikmat” biasanya manusia akan memilih “yang nikmat”. Itu sebabnya, seorang anak harus diberi iming-iming kenikmatan permen, “nasinya dihabiskan dulu”, kalau sudah habis, mama berikan permen”. Permen kenikmatan sesungguhnya hanyalah iming-iming. Tidak penting. Yang penting adalah nasi. Bila masih kecil, pemberian iming-iming masih bisa dipahami. Celakanya, kita semua sudah kebablasan. Sudah dewasa, sudah bukan anak-anak lagi, tetapi masih membutuhkan iming-iming “permen kenikmatan”. Kemudian, demi “permen kenikmatan” kita akan melakukan apa saja. Jangankan nasi, batu pun kita makan. Asal mendapatkan permen. Demi “permen kenikmatan”, kita tega mengorbankan kepentingan orang lain. Kitabersedia memanipulasi apa saja. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2002). Masnawi Buku Kelima, Bersama Jalaluddin Rumi Menemukan Kebenaran Sejati. Jakarta:Gramedia Pustaka Utama)

Setiap orang selalu dihadapkan pada pilihan sebelum melakukan sesuatu: 1. melakukannya, 2. tidak melakukannya, 3. atau mengambil pilihan lainnya. Oleh karena itu seseorang harus bertanggungjawab dengan apa pun yang telah dipilihnya. Bahkan jalan kehidupannya ditentukan oleh dirinya sendiri dari akumulasi pilihan-pilihan yang telah dilakukannya.

Refleksi: Salah Pergaulan, Pemicu Tindakan Syaitani dari Dalam Diri

4 Pengawal Gerbang Kebebasan

Pengawal pertama adalah Shaanti, damai. Ia yang sudah damai dapat merasakan kedamaian di dalam dirinya dan dapat pula mendamaikan.

Pengawal Gerbang Kebebasan kedua adalah Aatma Vichaarana. Aatma Vicharana berarti “menganalisa diri”, introspeksi diri, mawas diri, setiap upaya untuk mengenal diri dapat disebut Aatma Vichaarana.

Pengawal Gerbang Kebebasan ketiga adalah Santhosa, kepuasan. Bukan memuaskan diri, tetapi memang puas. Santhosa bukanlah kepuasan yang disebabkan oleh sesuatu.

Pengawal keempat Gerbang Kebebasan adalah Sadhusanga atau Satsanga berarti “Pergaulan dengan mereka yang baik”. Tidak perlu bermusuhan dengan dengan mereka yang kurang baik, tetapi kita juga perlu menghindari pergaulan yang tidak menunjang kesadaran…… dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2003). Rahasia Alam Alam Rahasia. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

Pergaulan Dapat Merintangi Perjalanan Manusia

Paling tidak ada dua hal, “harta dan keluarga” yang paling mengikat dan merintangi perjalanan manusia. Harta mewakili segala macam kepemilikan kita, baik kepemilikan materi dan kepemilikan non-materi. Keluarga mewakili segala macam hubungan kita, pergaulan kita. Kita sekarang membicarakan tentang pergaulan. Kita harus hati-hati dalam berhubungan atau bergaul dengan mereka yang belum sadar.

Salah Gaul Mencelakakan Diri

Mereka yang tidak sadar bila badan hanyalah sebuah kendaraan; dan indra, gugusan pikiran serta perasaan dan lainnya hanyalah sekadar perlengkapan kendaraan; dan bahwasanya mereka adalah percikan Jiwa Agung — hidup dalam kesia-siaan.

CELAKANYA, HIDUP DALAM KESIA-SIAAN tidak hanya merugikan diri saja; tidak hanya merugikan yang bersangkutan saja; tapi setiap orang yang berhubungan dengannya. Persis seperti kecelakaan kendaraan beruntun di jalan bebas hambatan.

Atau, seperti seseorang yang bergaul dengan pemakai narkoba. Dirinya bukan pemakai. Ia pun tidak tahu-menahu bila teman yang duduk di dalam mobilnya sedang mengantongi beberapa butir ekstasi. Maka, saat tertangkap, dia ikut dijatuhi hukuman yang sama sebagai pengedar narkoba — karena “kendaraannya dipakai untuk berdagang, mengedar narkoba.”

Lagi-lagi, ayat ini kembali mengingatkan kita akan betapa pentingnya pergaulan. Pergaulan yang salah bisa mencelakakan diri kita.

KEBIASAAN-KEBIASAAN ASURI ATAU SYAITANI TIDAK BERASAL DARI LUAR – sisa-sisa sampah syaitani masih ada di dalam diri kita, namun sudah mengendap. Adalah pergaulan syaitani di luar yang memunculkan sifat-sifat syaitani kita ke permukaan. Sisa-sisa yang tidak seberapa mendapatkan angin segar, hidup baru, dan berkembang biak kembali.

Pemicu utama bagi sifat syaitani adalah pergaulan yang tidak menunjang perkembangan Jiwa, dan justru mengalihkan perhatian kita sepenuhnya pada badan dan indra. Penjelasan Bhagavad Gita 9:12 dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia via #BhagavadGitaIndonesia

Kesan Masa Lalu walau Sudah Di-Delete Masih Bisa Di-Retrieve

Kesan-kesan dari masa lalu ini boleh diumpamakan sebagai file yang sudah di-delete, tapi belum musnah, masih ada di hard-disk, masih bisa di-retrieve. Retrievable file ini, walau tidak “se”-berbahaya file memori yang masih terpakai, tapi tidak aman-aman pula.

CELAKANYA, DALAM HAL KEBENDAAN, tidak seorang pun di antara kita yang bisa menganggap berada dalam wilayah aman. Kita semua belum aman. Wujud kita beda, jenis residu kita beda; tapi tidak ada seorang pun di antara kita yang tidak memiliki residu atau sesa dari purva samskara—impresi-impresi dari berbagai pengalaman pada masa lalu.

Ada yang memiliki kesan dan impresi merokok; ada yang memiliki kesan menyabu; ada yang punya pengalaman dengan scotch; ada yang pernah termabukkan, tergila-gila oleh harta; ada yang oleh takhta; ada yang oleh wanlta, pria, atau di antaranya; ada yang masih memiliki kesan berkeluarga pada masa lalu, sebaliknya, ada ‘pula yang punya kesan melarikan diri dari tanggung jawab dan menyepi di hutan.

Intinya, tidak seorang pun bisa menyebut dirinya sudah behas dan berada dalam wilayah aman. Kita semua masih dalam zona bahaya, danger zone! Jadi, sudah melakoni hidup berkesadaran selama berapa tahun pun, kita mesti tetap menjaga diri. Kita mesti tetap berniat kuat, dan berupaya terus-menerus untuk mengeliminasi kesan-kesan dari masa lalu tersebut. Retrievable files mesti dihapus untuk selamanya.

RETRIEVABLE FILES PURVA SAMSKARA hanya membutuhkan trigger kecil, pemicu berkekuatan rendah di luar, untuk muncul kembali ke permukaan. Jadi, selain mengeliminasi files dari masa lalu, kita pun mesti pintar-pintar menjalani, melewati masa kini tanpa meninggalkan residu. Kita mesti hidup tanpa menyisakan sampah-kesan. Kalau tidak, maka sepanjang usia kita akan tersibukkan oleh upaya penghapusan files masa lalu, sembari menambah files masa kini yang kelak akan menantang dan mengganggu kita lagi.

Untuk itulah adanya teknik-teknik dalam Yoga, yang akan kita dalami sepanjang perjalanan kita lewat sutra-sutra ini. Pun, di bagian akhir buku ini, ada beberapa saran yang sudah teruji dan terbukti manfaatnya, dan dapat membantu Anda. Penjelasan Patanjali I.18 dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2015). Yoga Sutra Patanjali Bagi Orang Modern, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Pentingnya Melakukan Bhajan (Nada Yoga) dengan Seorang Master

Dengan makan, minum, dan bergaul dengan orang baik, kita ikut terinduksi menjadi baik. Jika melakukannya dengan orang yang tidak bermoral, kita juga akan terinduksi dan ikut menjadi orang yang tidak bermoral. Mengapa bisa demikian? Napas kita bisa secara otomatis menjadi selaras dengan orang-orang yang berada di sekitar kita. Apalagi jika orang-orang itu kita anggap sebagai sahabat. Dalam keadaan napas kita selaras, maka kita dapat saling mempengaruhi.

Hal yang sama (penyelarasan napas) terjadi ketika kita bernyanyi bersama. Kemudian, muatan pada lirik lagu pun mempengaruhi jiwa kita. Lagu-lagu rohani yang dinyanyikan bersama menginduksi kita untuk bersama-sama memasuki alam rohani. Lagu-lagu disco mengantar kita kealam disco.  Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2012). Neo Spiritual HYPNOTHERAPY, Seni Pemusatan Diri Untuk Bebas Dari Pengaruh Hipnosis Massal. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Refleksi: Ego, Warisan Bawaan Insting Hewani

5 Penyebab Kita Gelisah

Dalam Tantra, kita mengenal istilah Klesha, yang berarti “kegelisahan”, “penderitaan”. Apa saja yang membuat manusia gelisah, menderita klesha. Dan menurut Tantra, ada lima penyebab klesha, yaitu:

Pertama, Avidya atau ketidaktahuan. Kita tidak tahu bahwa api bisa membakar. Lalu memasukkan tangan ke dalam api. Maka tangan kita terbakar, luka. Dan kita pun menderita, gelisah.

Kedua, Asmita atau ego, keangkuhan. Kita menganggap diri sudah hebat, sempurna. Selalu benar. Kemudian ada yang menegur, “Jangan sombonglah. Lihat tuh kesempurnaan ada di mana-mana. Bukan kamu saja yang hebat. Kebenaran pun bukan monopoli seseorang.” Ego kita terusik. Kita tidak bisa menerima kenyataan dan oleh karena itu, kita gelisah, menderita.

Ketiga, Raga atau keterikatan. Sudah terlalu sering kita membicarakan keterikatan. Keterikatan pada apa saja, siapa saja hanya menghasilkan kegelisahan, penderitaan.

Keempat, Dvesha. Yang satu ini agak sulit diterjemahkan. Dvesha berarti non affirmation. Tidak mengiyakan Keberadaan. Kebalikan sikap nrimo. Dvesha berati tidak mengalir bersama kehidupan. Menentang arus kehidupan. Menentang keberadaan. Dvesha berasal dari suku kata “Dvi” dwi, dualitas. Salah satu kamus Sanskerta-Inggris menerjemahkan dvesha sebagai “kebencian”. Bisa. Kendati bukan sekedar kebencian. Kebencian muncul dari penolakan. Kita tidak menyukai sesuatu, maka kita membencinya. Ada alasan untuk tidak menyukai. Dan alasan itu disebabkan oleh double vision, oleh mata batin yang “sakit”, sehingga “satu” tampak “dua”. Ada yang kehilangan pasangan, pacar, dan dia tidak bisa menerima kenyataan. Maka dia gelisah, menderita. Sikap menentang, menolak dan tidak menerima itulah Dvesha.

Kelima, Abhinivesha, yang dalam bahasa Inggris diterjemahkan sebagai clinging to life. Ini salah. Seharusnya adalah clinging to body atau lebih tepat lagi clinging to body consciusness. Bila anda cling, berpegang teguh pada life atau kehidupan, anda tidak akan gelisah, tidak akan menderita, karena Kehidupan adalah Keberadaan. Berpegang teguh pada Kehidupan berarti menerima Kehidupan secara utuh. Menerima suka dan duka sebagai bunga-bunga Kehidupan. Demikian anda akan selalu bahagia. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2001). Tantra Yoga. Jakarta: Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama)

Youtube Video a Course in Spirituality Part 1: Enlightement and Guru by Anand Krishna

Kita hidup dalam periode waktu, dimana kita hanya membutuhkan pemicu kecil, untuk menjadi egoistis. Di waktu dahulu tidak demikian. Saat ini kita hanya membutuhkan sedikit pemicu, seseorang memujimu dan kamu mengembang. Seseorang bicara tentang sesuatu dan kamu menjadi kempis. Keduanya adalah ego based. Ketika kamu mengmbang atau mengempis keduanya adalah ego. Kamu mengempis egomu terlukai. Kamu mengembang karena kau merasa senang. Sehingga bila kau mengikuti 2 cara ini, kamu tidak akan ke mana-mana.

Master saya selalu mengingatkan kita. Sebuah instruksi. Diberikan kepada kita. Saat kau bicara. Di publik. Selalu gunakan kata moksha. Biasanya kita mengaitkan moksha terkait saat kematian. Kau terbebaskan dari samsara. Siklus kematian dan kelahiran.

Tapi moksha tidak demikian. Moksha adalah saat kau mulai here dan now. Moksha bebas dari keterikatan, bebas dari ego. Bebas dari kebencian. Dari iri, bebas dari segala sesuatu. Yang mengikat kita dengan dunia ini. Tidak harus kamu melepaskan diri dan menjadi seorang pendeta. Kalau itu pilihanmu oke………..

Silakan ikuti penjelasan lengkap pada: Youtube Video a Course in Spirituality Part 1: Enlightement and Guru by Anand Krishna

Ego Bukan Sikap Manusiawi, Kita Mewarisinya Melalui Evolusi Panjang

Setiap kali ada yang memuji atau memaki, anjing ego di dalam diri kita mendapatkan makanan, dan ia mulai menggonggong. Ya betul, bukan saja setiap kali dipuji, tetapi setiap kali dimaki. Kutipan dari Nietzsche semestinya ditambah satu alenia lagi: “setiap kali jatuh satu tingkat”. Jadi setiap naik maupun turun tingkat, anjing ego selalu menggonggong. Diberi makan ia memperoleh energi dan menggonggong girang, tidak diberi makan, ia menggonggong kelaparan. Dipuji atau dicaci, dimaki, ego menggonggong.

Adalah di bagian bawah otak yang biasa disebut medulla oblongata. Untuk diketahui, medulla adalah bagian otak yang disebut reptilian brain—berbagai jenis hewan, termasuk jenis-jenis tertentu ikan, cicak, dan buaya, memilikinya. Jadi, medulla bukanlah bagian otak yang biasa disebut neo-cortex, atau bagian otak yang memanusiakan hewan.

Berarti, ego bukanlah sifat atau sikap manusiawi. Manusia mewarisinya melalui evolusi panjang selama ratusan juta tahun. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2012). Sanyas Dharma Mastering the Art of Science of Discipleship Sebuah Panduan bagi Penggiat Dan Perkumpulan Spiritual. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Sujud, Latihan Membebaskan Diri dari Kekuasaan Ego

Bersujud adalah tehnik, latihan untuk membebaskan diri dari kekuasaan ego, melepaskan diri dari jeratan setan, dari iblis pikiran dan perasaan-perasaan yang liar. Penjelasan Bhagavad Gita 18:5 dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia via #BhagavadGitaIndonesia

 

Sembah sujud bukanlah sekadar gerak badan yang bisa diatur sekian kali setiap saat, sekian kali setiap hari atau setiap minggu. Sembah sujud seperti itu menjadi mekanis. Kita melakukannya karena takut sanksi; ingin mendapatkan sesuatu dari yang disujudi, atau karena tekanan lainnya.

SEMBAH SUJUD MESTI “TERJADI” – Terjadi sendiri, ketika kita menyadari keterbatasan ego, badan, pikiran, dan lain-lain, yang selama ini kita sujudi, kita hormati, kita sayangi sepanjang hidup, dan dari satu masa kehidupan ke masa kehidupan berikutnya.

Sembah Sujud “terjadi” ketika kita kagum menyaksikan kemuliaan, kebenaran, dan keagungan Sang Jiwa Agung, “Wow! Betapa Hebat-Nya Kau, dan ternyata keberadaanku sepenuhnya bergantung pada-Mu, Wahai Hyang Maha Ada!”

Saat itu, kepala ego kita tidak bisa tegak lagi. Akan menunduk dengan sendirinya. Sembah sujud yang terjadi saat itulah sembah sujud yang berarti, sembah sujud yang membebaskan kita dari kekuasaan ego, setan-ego, iblis-ego.

Sembah sujud “gerak badan” yang kita lakukan selama ini tidak membebaskan kita dari ego, justru membesarkan ego, “Lihat, lihat, aku sudah sujud sekian kali, kamu sudah belum?” Sembah sujud jenis itu tidak membantu dalam hal peningkatan kesadaran.

“Lihat, kepalaku sudah botak karena bersujud sekian kali setiap hari. Mana botakmu?” Sembah sujud untuk mengejar kebotakan bukanlah sembah sujud yang sebenarnya. Penjelasan Bhagavad Gita 11;39 dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia via #BhagavadGitaIndonesia