Melakoni Nasehat Guru Pemandu

Dalam buku (Krishna, Anand. (2000). Masnawi Buku Kesatu, Bersama Jalaludin Rumi Menggapai Langit Biru Tak Berbingkai. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama) disampaikan perumpamaan:

Seperti seekor keledai yang tergiur oleh rerumputan dan berhenti di pinggir jalan, begitu pula kenikmatan duniawi bisa menyibukkanmu, sampai lupa menempuh perjalanan yang harus kau tempuh. Pada saat-saat seperti itu, hanya seorang pemandu yang bisa menyadarkan dirimu”.

Banyak orang berupaya untuk mendekatkan diri dengan Tuhan lewat ritus-ritus keagamaan.” kata Nabi Muhammad kepada Ali, sambil menasihatinya, “Dekatkan dirimu dengan para pengabdi Allah yang terpilih dan bijak, maka kau akan lebih awal sampai di tujuan.”

Nabi Muhammad melanjutkan, “Ali, engkau adalah seorang Pemberani yang bernyali. Kendati demikian, jangan terlalu percaya pada ‘nyali’. Turutilah nasihat seorang Pemandu yang bisa menemanimu dalam perjalanan ini. Turuti nasihat seorang Pemandu, sebagaimana Musa menuruti nasihat Khidir.”

………………

Anggur tua dinilai lebih tinggi. Begitu pula dengan para Pir. Carilah seorang Pir yang sangat tua. Tua karena kebenaran, karena kesadaran, bukan karena waktu. Jika kamu sudah menemukannya, jadikan dia Pemandumu. Dengan adanya seorang Pemandu, perjalananmu akan menjadi lebih nyaman dan terarah. Ingat, perjalanan ini baru pertama kali kamu tempuh. jangan sok berani. Indahkan panduan Sang Pemandu!

Tangan seorang Pir bagaikan Tangan Tuhan. Jangan meragukan hal ini. Jangan kira ada yang pernah sampai di tujuan tanpa bantuan para Pir. Kalaupun ada yang berjalan sendiri dan sampai di tujuan, hal itu disebabkan oleh doa para Pir yang senantiasa melindungi dirinya.”Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2000). Masnawi Buku Kesatu, Bersama Jalaludin Rumi Menggapai Langit Biru Tak Berbingkai. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama)

Bantuan Para Pemandu menurut Bhagavad Gita

“Partha (Putra Prtha – sebutan lain bagi Kunti, Ibu Arjuna), seseorang yang pikirannya terkendali lewat pola hidup berlandaskan Yoga; meditasi yang teratur; dan kesadarannya senantiasa terpusatkan pada Tuhan, pada Jiwa Agung – maka niscaya ia mencapai kemuliaan-Nya yang tak terhingga.” Bhagavad Gita 8:8

Bagi Krsna – dan memang demikian adanya – Yoga, meditasi, dan laku spiritual atau sadhana lainnya bukanlah sekadar pelajaran, tetapi sesuatu yang mesti dihayati dan dilakoni sepanjang masa. Bukan seperti buku pelajaran, sudah selesai ya sudah — dibuang saja. Dulu, saya mengoleksi novel-novel misteri oleh beberapa penulis asing terkenal di masa 1970-an. Sekarang, belasan buku yang dulu saya anggap sangat baik itu, sudah tidak memiliki daya tarik lagi.

YOGA, MEDITASI, LAKU SPIRITUAL BUKAN SEPERTI ITU – Bukan sekali dibaca, sekali dipelajari — selesai. Tapi, mesti diulang-ulang — dihayati, dan dilakoni dalam keseharian hidup. Seperti yang telah kita baca sebelumnya, Krsna menyebutnya Abhyasa — dilakoni secara terus-menerus, secara intensif dan repetitif. Dengan cara itulah kita baru memperoleh manfaatnya.

Hal lain yang penting adalah…..

Kehadiran seorang Sadguru – Walau semuanya dapat dipelajari secara otodidak – istilah yang sedang trend dan trendy, padahal seringkali memberi angin pada ego – sesungguhnya tidak ada, saya ulangi, tidak ada pengganti bagi belajar di bawah bimbingan seorang Pemandu Rohani. Bukan sekadar guru, tetapi Sadguru – Guru Sejati yang tidak berfungsi sebagai guru di sekolah atau ahli kitab – tapi sebagai guide, pemandu.

Selain itu, juga dibutuhkan suasana asram (ashram), padepokan tempat kita bisa berinteraksi dengan support group yang terdiri dari orang-orang sehati, para pencari kebenaran.

Ashram adalah transit point antara alam ini, dunia ini dan alam roh, spirit, dunia sana. Namun, ada dunia lain di luar ashram, yang sisa-sianya ada juga di ashram, sebagai residu; kotoran, debu dan pasir di bawah sandal kita sendiri yang terbawa ke ashram. Ego kita, kepicikan kita, iri hati dan kecemburuan kita, pun cinta monyet, ketertarikan semu, keterikatan, dan sebagainya – inilah debu dan kotoran yang dimaksud. Sebab itu, idealnya ketika memasuki ashram, kita melepaskan als kaki ego, mind, dan meninggalkan sampah-sampah itu diluar.

Masukilah ashram tanpa beban lama – Tinggalkan segala beban dan kotoran di pintu luar, pintu masuk. Kendati demikian, ada saja daki badan yang tetap terbawa. Untuk mengurusi itu pun mesti abhyasa! Membersihkan diri dari hari ke hari. Kita tidak bisa bersikap, “Kemarin baru mandi, harin ini tidak perlu!”

Abhyasa berarti bukan sekadar mandi setiap hari, tapi setiap kali kita merasakan kebutuhamya, barangkali 2 atau 3 kali sehari. Tidak perlu tinggal di kamar mandi juga. Kamar mandi adalah kamar untuk mandi, bukan untuk tidur dan tinggal.

Mandi 2 — 3 kali sehari dalam konteks ini adalah melakukan….

MEDITASI, PERENUNGAN BATIN, Membaca buku-buku yang dapat membantu dalam hal perkembangan Jiwa; berdoa dengan cara yang paling tulus, berdoa dengan dan dari hati terdalam, dan dalam bahasa kasih sejati, bukan karena takut. Biarlah airmata yang keluar adalah karena cinta, karena rindu Sang Kekasih, bukan untuk merengek-rengek supaya dapat jatah kapling di surga.

Surga Gusti Pangeran tidak di atas sana, tidak setelah kematian saja. Surga Pangeran ada di sini, dunia ini! Hiduplah dalam surga-Nya sekarang dan saat ini juga. Kenapa mesti menunggu kematian dulu?

Wejangan Krsna jelas sekali — seseorang yang melakoni hidupnya seperti itu, sesungguhnya sudah tinggal di dalam istana-Nya, surga-Nya! Ia sudah melakoni Yoga. Dan, sekali sudah berada di dalam istana-Nya, maka pertemuan pun bisa terjadi setiap saat, tinggal tunggu Waktu, sabar sedikit!

 

Para Pir para Wali, para Nabi—apa pun sebutannya—adalah wakil Keberadaan di atas bumi, seperti para Duta Besar yang mewakili negerinya. Dia berperan sebagai penghubung antara negeri yang mengut us dan negeri di mana dia ditempatkan.

Setelah menyelesaikan masa baktinya, seorang Duta Besar akan pulang ke negerinya, dan digantikan oleh Duta Besar yang baru. Demikian, berjalan terus. Kecuali, terjadi konflik dan pemutusan hubungan  diplomatik.

Untungnya, Tuhan tidak pemah memutuskan “hubungan” dengan dunia kita.  Itu sebabnya, dari jaman ke jaman, ada saja utusan yang Dia kirimkan. Jika anda alergi terhadap istilah “nabi” dan hanya ingin menggunakan untuk pribadi-pribadi tertentu, tidak apa. Gunakan istilah “wali”, “pir”, “pemandu”, “pelayan”, “petugas”—apa saja! Tidak menjadi soal.

Negara-Negara Persemakmuran (The Commonwealth Countries), bekas jajahan Inggris tidak mengenal istilah “Duta Besar” di antara mereka. Mereka menggunakan istilah “High Commissioner”. Tidak menjadi soal. High Commissioner atau Ambassa dor  atau Duta Besar atau apa saja, ketahuilah bahwa yang mereka wakili, satu dan sama.

Sering kali, seorang Duta Besar tidak akan turun tangan sendiri untuk memberi informasi tentang negerinya. Dia akan menggunakan media cetak dan media elektronik untuk menyampaikan berbagai informasi. Lalu berkat informasi yang dia sampaikan itu, anda tertarik untuk mengunjungi negerinya. Langsung membeli tiket dan jalan sendiri.

Tampaknya, anda tidak menggunakan jasa kedutaan. Apalagi kalau negeri itu tidak mengharuskan anda memiliki visa. Tetapi, sesungguhnya ketertarikan anda terhadap negeri itu sudah membuktikan adanya “tangan” Sang Duta Besar yang sedang bekerja di balik layar. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia via #BhagavadGitaIndonesia

 

Latihan meditasi dan yoga adalah penyiapan lahan, nasehat Guru Pemandu adalah benih-benih Pohon Kebenaran

Demikian yang kami catat dalam salah satu nasehat berharga.

Kalau kita hanya latihan meditasi dan yoga tetapi tidak menanam benih yang baik, maka bisa jadi benih tidak baik yang terbawa angin yang akan tumbuh subur. Rahwana adalaah seorang meditator. Tapi benih yang ditanam bukan benih kebaikan.

Hanya menanam benih setiap hari lewat nasihat para bijak tanpa penyiapan lahan juga tidak akan berkembang menjadi pohon yang subur.

Advertisements

Pelayanan Pasca Kematian bagi Mereka yang Kita Cintai

By Anand Krishna

Raditya 8 Desember 2017 edisi 245

 

Brahma Satyam; Jagad Mithya; Jivo Brahmaiva Naparah;

Brahman saja yang Langgeng Abadi; Ialah Kebenaran Sejati; Alam Semesta dengan segala isinya; adalah untuk sesaat saja; Sesungguhnya Jiva dan Brahman; adalah sama tiada berbeda.

Intisari Vedanta sebagaimana disarikan oleh Adi Shankara.

 

Seorang anak yang merasa menyia-nyiakan orangtuanya, tidak melayani mereka ketika masih hidup, sekarang menyesal. Pada hari kematian sang ayah ia membeli makanan kesukaannya untuk dipersembahkan di atas altar. Demikian seorang pembaca Raditya edisi bulan lalu bercerita dan minta pendapat saya.

Niat yang baik, tapi tidak tepat waktu. Membeli makanan kesukaan ayah, ibu, atau siapa saja, saat mereka masih hidup – adalah tepat waktu. Tapi, sekarang? Jelas sudah tidak tepat waktu. Kendati – dan semoga tidak terjadi demikian – katakan sukshma sharira, soul, atau badan halus sang ayah masih dalam keadaan limbo, gelisah, belum bisa melanjutkan perjalanan – maka apakah menghaturkan makanan seperti itu membantu? Tidak, sebab sukshma sharira, badan halus, atau roh tidak memiliki badan kasar yang butuh makanan. Mereka sudah tidak memiliki sistem yang butuh bahan bakar berupa makanan.

Prana atau Energi Kehidupan yang masih rnelekat sedikit juga tidak membutuhkan oksigen sebagaimana dibutuhkannya saat masih melekat secara sempuma dengan badan kasat atau sthula sharira. Sukshma sharira atau badan halus terdiri dari gugusan pikiran dan perasaan atau mind dengan segala isinya. Adapun isi utama berupa vasana atau obsesi-obsesi, keinginan-keinginan yang belum terpenuhi selama hidupnya; dan samskar, segala macam impresi, pengalaman, atau informasi atau catatan ibarat pasangan yang tak terpisahkan dengan kemungkinan masih banyak lagi anak-pinaknya. Misal, khayalan, harapan, halusinasi, imaginasi, impian, dan sebagainya, dan seterusnya.

Untuk membantu dan menenangkan sukshma sharira yang masih dalam keadaan limbo, gelisah belum dapat meneruskan perjalanannya, adalah makanan bagi gugusan pikiran dan perasaan, atau mind yang dibutuhkan. Dan bukan pula sembarang makanan yang dibutuhkan. Bukan sembarang pikiran dan perasan yang dapat dihaturkan untuk membantunya. Badan halus atau sukshma sharira yang telah terbebani oleh berbagai pikiran dan peraaan yang tak berguna, sehingga perjalanannya terganggu, mesti diberi makanan berupa pikiran dan perasaan yang berguna.

Semestinya pemberian makanan seperti itu, sudah dilakukan sejak diketahui bahwa badan halus, atau sukshma sharira mulai meninggalkan badan kasar atau sthula sharira. Kita memiliki tradisi membacakan percakapan kedelapan belas dari Bhagavad Gita saat seorang sudah diketahui akan meninggalkan badan kasarnya.

Dalam tradisi Tibet juga ada yang disebut Buku Kematian yang pernah saya ulas dan diterbitkan oleh  Gramedia Pustaka Utama), yang mulai dibacakan saat itu hingga beberapa hari setelah kematian.

Tradisi yang berasal dari budaya dan peradaban Sindhu – Shintuh, Hindu, Indus, lndo, Hindia, atau apa pun sebutannya – juga ditemukan dalam peradaban Mesir kuno dan tradisi-tradisi Iain di kemudian hari yang terpengaruh oieh budaya Mesir. Shrimad Bhagavatam bercerita tentang Raja Parikshit atau Parikesit Sebagaimana dikenalnya dalam dunia pewayangan di Nusantara.

Cucu Arjuna, ia adalah seorang raja yang bijak, tetapi tetap saja terjadi kesalahan olehnya. Dalam keadaan tak sadar diri ia menghina seorang resi yang sedang bermeditasi. Lalu kemudian putra sang resi yang mengetahui hal itu mengingatkannya, “Wahai Raja, sadarkah kau bahwa dalam tujuh hari mendatang kau akan meninggalkan dunia fana ini. Segala apa yang kau miliki, kerajaanmu, harta kekayaanmu – semuanya akan kau tinggalkan disini. Sadarkah kau akan kesia-siaanmu?”

Konon, saat terjadi perang Bharatayudha di medan perang Kurukshetra, Parikshit masih belum lahir. Masihdalam kandungan ibunya, dan terkena dampak radiasi dari perang nuklir tunggal yang pemah terjadi dalam sejarah umat manusia setama 5.000-an tahun terakhir.

Saat itu ia terselamatkan oleh intervensi Krishna yang melakukan rekayasa genetika padanya dalam kandungan. Namun, rekayasa tersebut tidak bisa menegasikan dampak radiasi yang terjadi secara kolektif pada setiap warga bumi, setiap orang yang berada di planet bumi. Secara kolektif usia menurun dari 125 tahun menjadi 60 tahun. Demikian dahsyatnya dampak perang nuklir satu-satunya yang tercatat dalam sejarah manusia.

Perang nuklir tunggal, sebab apa yang terjadi pada tahun 1945 adalah pemboman sepihak oleh tentara sekutu.

Ada sebuah catatan sejarah dari kehidupan dan karya JR Oppenheimer (1904-1967) Bapak Bom Atom di masa modern. Saat memberi ceramah di Rochester University, seorang mahasiswa pernah bertanya padanya: “was the bomb exploded at Alamogardo durung Manhattan Project the first one to be detonated?” – apakah bom yang meledak di Alomogardo, dalam Proyek Manhattan (yang dipimpin oleh Oppenheimer) merupakan yang untuk pertama kalinya? Oppenheimer menjawab: “Well – yes. In modern time of course – Ya di masa modern ini tentunya. (Sumber Doomsday 1999 A.D. (1982) oleh Charles Berlitz hal 129).

Oppenheimer diketahui sebagai pengagum ajaran Krishna dalam Bhagavad Gita. Tidak hanya saat ledakan bom yang dimaksud, ia juga mengutip Gita dalam obituarinya untuk Presiden Rosevelt. Tercatat bahwa ia pun sering menghadiahi teman-temannya dengan Bhagavad Gita, pun ia sendiri mendalami bahasa Sanskrit sejak belasan tahun sebelum kutipan-kutipannya dari Gita. Ia menyebut Gita sebagai salah satu di antara beberapa buku penting yang memengaruhi hidupnya.

Dari seluruh, catatan-catatan itu, tidaklah mengherankan bila ia mengetahui sejarah dan latar belakang Gita, ia tahu tentang Brahmastra, sebagaimana bom atom disebut dalam mahabharata, epos yang merupakan induk dari Bhagavad Gita. Maka jawaban yang diprakarsainya merupakan yang pertama di masa modern – bukan yang pertama dalam sejarah umat manusia.

Saatnya kita mesti kembali pada Parikshit yang sedang menghadapi suatu keniscayaan hidup, yakni kematian. Jika kita berada dalam posisi yang sama dengan Parikshit, apa yang akan kita lakukan? Mengurung diri dalam kamar, menangisi nasib, dan menghabiskan sisa hidup dengan  beraduh-aduh? Mencari dokter, tabib. sinshe – mereka yang mengangap dirinya scebagai penyembuh, tak peduli dari aliran manapun dia? Mencari notaris untuk membuat surat warisan? Apa yang akan kita lakukan?

Ketika saya bertanya demikian dalam suatu pertemuan, seorang peserta menjawab, “Saya akan menghabiskan seluruh uang saya untuk keliling dunia?” Seberapa dunia yang dapat dikelilinginya dalam waktu seminggu, ya satu minggu saja?

Ada yang Mengaku, “Selama ini saya menahan-nahan diri untuk tidak mengonsumsi alkohol,  pergi ke tempat-tempat gituan…… “ Dia beretorika bahwa sisa hidupnya akan dihabiskan berdugem ria di tempat-tempat gituan.

Boleh saja berwacana seperti itu. Pertanyaannya apa bisa? Dalam keadaan sakit sedikit saja, kadang kita tidak memiliki selera makan dan minum. Disuguhi apa saja kita menolak. Apalagi kalau sudah tahu akan mati dalam waktu tujuh hari.

Tidak demikian Parikshit, ia tidak menutup diri. Ia tidak beraduh-aduh. Ia tidak menghibur diri, pun tidak tenggelam dalam duka. Ia melakukan introspeksi diri, “Apa yang menyebabkan keangkuhan?mana kesia-siaan diri dapat menyelimuti dan menutupi kesadaran diri. Bagaimana jalan keluarnya? Bagaimana memastikan supaya orang tidak terbawa oleh kesia-siaan diri dan senantiasa hidup dalam kesadaran diri.

Banyak pertanyaan yang muncul, dan ia sangat beruntung. Datanglah Resi Shuka putra Begavan Vyasa, penulis mahabharata, Srimad Bhagavatam sekaligus yang mengumpulkan Veda, untuk menjawab pertanyaan-pertanyaannya.

Ia Tersadarkan, Ia Tercerahkan! Satu-satunya cara untuk mengatasi keangkuhan, keserakahan, amarah, iri dan sebagainya – adalah dengan senantiasa mengenang Nama-Nya – dalam pengertian, senantiasa  mengingat bila segala sesuatudalam alam ini hanyalah semar-semar, bayang-bayang, mithya.

Hanyalah Dia, Sang Brahman yang merupakan kebenaran sejati. Satyam. Dua kesimpulan awal ini – Brahma Satyam, Jagat Mithya – umumnya dapat diterima oleh siapa saja.

Adapun kesimpulan ketiga dari Shankara: Jioa Brahmaiva Naparah – Sesungguhnya Jivatma, sejatinya diri kita. tiadalah beda dari Sang Brahman, Kebenaran Sejati itu – yang tidak bisa diterima oleh semua tradisi. Bahkan oleh mereka yang sama-sama merasa bersumber dari Vedanta – intisari ajaran Veda – pun kesimpulan ini kadang tidak bisa diterima. Dalam sekian banyak tradisi Brahman adalah Brahman dan Jivatma adalah Jivatma – gelombang adalah gelombang, laut adalah laut. Bulan adalah bulan, rembulan adalah rembulan. Baik, kjta tidak akan membahas hal itu.

Kembali pada apa yang dilakukkan oleh Parikshit….. menjelang kematiannya yang merupakan suatu keniscayaan, ia menggunakan seluruh waktu umuk mengembangkan bhakti dalam diri. Untuk berbakti pada ishta-nya, pada pujaan hatinya. pada la yang pernah menyelamatkan dirinya dari radiasi. ketika ia masih dalam kandungan, dalam keadaan tidak berdaya. Dia tidak ber-bhakri untuk mendapatkan perpanjangan hidup. Dia ber-bhakti untuk mangatasi kelahiran dan kematian yang tidak berkesudahan. Bahkan, barangkali itu pun tak terpikirkan olehnya. Tiada permohonan untuk moksha alau nirvana. Ia ber-bhakti karena bhakti itu sendiri, karena cinta. Demikian, ia terbebaskan dari segala duka-derita. Ia mencapai kelanggengan abadi yangsemestinyamenjadi akhir dari setiap kehidupan dari setiap makhluk.

Kembali pada bagian awal tulisan ini: Seorang anak yang merasa menyia-nyiakan orangtuanya, tidak melayani mereka ketika masih hidup, sekarang menyesal. Pada hari kematian sang ayah ia memberi makanan kesukaannya untuk dipersembahkan di atas altar…….

Boleh saja, tetapi tidak membantu. Lebih baik bagikan makanan kepada mereka yang tidak mampu, melakukan seva, mengayah. Dan, yang tidak kalah penting adalah membacakan Bhagavad Gita, Shrimad Bhagavatam atau kitab suci lainnya dengan niat untuk membantu sang ayah dalam perjalanannya. Path, atau membaca secara berulang-ulang – jadikan hal ini sebagai suatu kebiasaan – sesuatu yang dilakukan setiap hari. Lakukan bagi mereka yang sudah berpulang, lakukan bagi mereka yang sedang gelisah dan belum bisa melanjutkan perjalanannya, dan di atas segalanya, lakukan bagi diri sendiri, bagi diri kita sendiri – sebab barangkali hari ini, atau hari esok, hari lusa adalah hari nketujuh Parikshit.

Hari Bol! *Humanis/Spiritual, Penulis lebih dari 170 buku, Pendiri Anand Ashram (www.anandkrishna.org)

Roh Gentayangan: Untuk Black Magic VS Doa Agar Melanjutkan Perjalanan?

Tentang Roh Gentayangan

Kenapa banyak orang mengaku melihat hantu sekitar tengah malam? Apa mereka baru keluar dari kuburan pada saat itu? Tentu saja tidak. Hantu adalah roh manusia yang gentayangan. Mereka mati dalam ketidaksadaran, masih banyak obsesi dan keinginan, termasuk keinginan untuk menikmati yang bukan-bukan setelah kematian. Keinginan-keinginan itulah yang membebani jiwa mereka dan memperlambat evolusi berikutnya. Ditambah dengan pemahaman yang keliru tentang kematian, mereka bisa “terjebak” dalam satu masa selama berhari-hari, berminggu-minggu, berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2004). Bhaja Govindam Nyanyian Kebijaksanaan Sang Mahaguru Shankara. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

Sekian banyak roh yang gentayangan karena satu atau lain hal. Dan, mereka gentayangan sepanjang “hari manusia”, dan bukan di jam-jam tertentu saja. Kita tidak merasakan kehadiran mereka, karena napas kita terlalu cepat. Bila kita bernapas di atas 4 siklus per menit (biasanya 15-18 siklus per menit). Kita tidak dapat merasakan kehadiran mereka.kehadiran mereka dirasakan saat napas kita berkurang dari 4 siklus. Dengan itu, kita baru merasakan energi mereka. Untuk berkomunikasi dengan mereka, harus di bawah 1 siklus per menit. Kemudian dengan cara-cara tertentu, seseorang bisa dengan mudah berkomunikasi dengan mereka. Ada kalanya saat terjaga di tengah malam, siklus napas kita berkurang secara alami, maka energi mereka pun langsung terasa. Itu sebabnya banyak tradisi menganjurkan doa dan sebagainya pada saat-saat seperti itu. Dengan berdoa atau melakukan apa saja, siklus napas kita akan langsung bertambah, dan kita pindah gelombang. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2004). Bhaja Govindam Nyanyian Kebijaksanaan Sang Mahaguru Shankara. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Untuk berkomunikasi dengan roh-roh yang gentayangan, anda harus membuka diri, mengundang mereka. Mereka tidak bisa berkomunikasi tanpa undangan. Dan, mereka harus berkomunikasi lewat pikiran…. lewat mind. Mereka tidak bisa menyusupi badan anda. Apa yang disebut ”kesurupan” bukanlah fenomena fisik. Tidak ada roh yang bisa memasuki badan orang yang masih hidup. Roh hanya berinteraksi lewat gelombang pikiran. Kemudian otak anda merekam dialog itu dan anda merasa mendengarnya. Seseorang bahkan bisa bertindak sesuai dengan apa yang didengarnya, lagi-lagi itu bukanlah karena dia tersusupi, tetapi karena dia memang ”ingin” melakukan apa yang diperintahkan kepadanya. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2004). Bhaja Govindam Nyanyian Kebijaksanaan Sang Mahaguru Shankara. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Walau tak berbadan, roh masih bisa mendengar, masih bisa melihat, mencium. Bahkan bisa merasakan panas dan dingin. Semua itu karena sisa-sisa pancaindra yang pernah dimilikinya. Sebelum itu pun lenyap dan penderitaannya bertambah, gunakan apa yang tersisa dalam dirinya untuk melampaui penderitaannya.

Irama dan nada tertentu ditambah syair yang memiliki arti, dapat dengan mudah mempengaruhi roh-roh gentayangan. Sebab itu dalam hampir semua tradisi ada hari-hari tertentu di mana mereka yang masih hidup mendoakan mereka yang sudah meninggal. Adalah keliru bila dianggap yang masih hidup “berdoa” kepada mereka. Mereka tidak berdoa, tetapi mendoakan. Dan apa salahnya mendoakan mereka yang sudah mendahului kita? Terasa lucu bila ada larangan untuk mendoakan. Perkara berdoa dan mendoakan haruslah masalah pribadi. Bagaimana seseorang bisa menilai doa orang lain, bila ia tidak mampu mengabulkan doanya? Bukankah Yang Maha Mampu mengabulkan doa hanyalah DIA saja? Gusti Allah, maafkan kekhilafan kami. Kekhilafan kami yang terbiasa menilai sesama makhluk-Mu. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2004). Bhaja Govindam Nyanyian Kebijaksanaan Sang Mahaguru Shankara. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

Mendoakan roh gentayangan agar sadar dan meneruskan perjalanan

Dalam buku Bhaja Govindam dikisahkan bahwa Gokarna menyanyikan kemuliaan dan keagungan Keberadaan selama sebelas hari. Pada hari kesebelas Dhundhakari (roh gentayangan, pengutip buku) menyadari adanya huku alam yang tidak bisa ditawar. Hukum alam berjalan rapi sekali. Kalau kita melakukan kejahatan dan lolos dari hukuman, jangan kaget  kalau pada suatu saat nanti kita kena hukuman, atas tindakan kejahatan yang dituduhkan kepada kita, dan tidak kita lakukan. Bila perkara utang-piutang seperti ini kita pahami dengan betul, kita tidak akan selalu mengeluh. Kita akan berpuas dengan apa yang kita peroleh. Untuk apa menyalahkan mereka, untuk apa mengutuk mereka? Segalanya terjadi karena kesalahan sendiri. Kesadaran itu kemudian menjadikan dia tenang dan membebaskan rohnya dari “masa” yang telah menjeratnya selama ini. Dia tidak gentayangan lagi. Dia meneruskan perjalanannya…… Sumber dari buku (Krishna, Anand. (2004). Bhaja Govindam Nyanyian Kebijaksanaan Sang Mahaguru Shankara. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

Black Magic: Mengungkap Rahasia Ilmu Hitam dan Cara Menghindarinya oleh Swami Anand Krishna

Sepertinya di Barat itu tidak ada atau kurang ada tentang guna-guna atau melihat setan, sedangkan orang Asia lebih bisa melihat hal tersebut. Persoalannya adalah demokrasi dan monopoli. Selama ini di Eropa, di Barat, persoalan-persoalan black magic itu diselesaikan oleh institusi tertentu. Dan dalam institusi itu ada profesi yang namanya exorcist yang berhak menangani kasus itu.

Pengaruh-pengaruh dari energi negatif di sekitar bisa mempengaruhi kita, ketika kita dalam keadaan tertentu, jadi tidak selalu demikian. Misalkan orang yang tidak senang musik dissco pergi ke tempat disco, akan merasa tidak nyaman. Karena energi-energi yang ada tidak cocok dengan dirinya. Ini sama dengan energi negatif.

Banyak sekali energi-energi di sekitar kita yang tidak menunjang kita. Di setiap tempat, di setiap rumah, di setiap kebun, di setiap jengkal tanah di mana pun juga pasti ada roh-roh yang sedang menunggu kelahiran kembali. Itu bagi mereka yang percaya pada reinkarnasi, bagi yang tidak percaya sebut saja roh gentayangan.

Roh-roh gentayanagn ini entah sedang menunggu reinkarnasi atau tidak, mereka bisa gentayangan karena keterikatan mereka dengan dunia benda, dengan harta benda, keluarga, relasi, atau apa pun yang mereka tinggalkan. Sekarang roh-roh tersebut tidak dapat menyapa mereka. Mereka tidak dapat menyentuh apa yang mereka sentuh. Mereka tidak dapat berkomunikasi dengan orang-orang yang mereka cintai. Pada hal mereka sangat terikat. Hal ini menjadikan mereka gentayangan. Kalau ada orang yang dapat komunikasi dengan mereka. Dan bisa memberikan harapan kepada mereka, bisa menjadi medium, bisa menjadi channel, untuk berkomunikasi dengan orang-orang yang mereka tinggalkan, mereka akan senang. Tetapi hal tersebut tidak membantu mereka, mereka tidak melanjutkan perjalanannya. Mereka akan tetap gentayangan, sehingga berarti kita menahan perjalanan mereka. Roh-roh, gentayangan seperti ini kadang mereka bisa marah, apalagi kalau kita sudah sering-sering panggil mereka dan kini tidak dihubungi lagi.

Ada banyak istilah  dari roh gentayangan, dan semuanya ini merupakan gumpalan-gumpalan energi. Yang memiliki emosi dan pikiran. Seseorang bisa kontak lewat pikiran, dan bisa menyuruh mereka untuk melakukan sesuatu. Kalau ada orang ingin melakukan sesuatu terhadap orang lain. Dia minta bantuan gumpalan-gumpalan energi. Kadang-kadang ada orang atau dukun yang bisa paham, ini adalah gumpalan energinya siapa. Ada yang tidak bisa melihat siapa tapi bisa melihat gumpalan energi. Dia mengarahkan energi itu ke orang lain, saya misalnya. Saya sendiri dalam keadaan apa? Kalau pikiran saya lagi lemah, dalam keadaan gelisah, stress berat, langsung masuk. Kegelisahan orang, stress membuka diri vulnerable terhadap energi-energi negatif, karena sudah berada dalam keadaan nengatif.

Tertawa menciptakan energi yang luar biasa, sehingga dapat menjadi tameng terhadap energi negatif. Tapi bagaimana bisa tertawa seperti itu bila stress kita berlebihan. Di situ kita perlu latihan-latihan meditasi yang bisa membuat kita dalam suatu frekuensi, dimana energi negatif tidak dapat mempengaruhi kita.

Ada yang menarik, untuk menghindari efek black magic ini, katanya kalau kita percaya akan semakin mudah terserang? Problemnya adalah yang memisahkan percaya dan tidak percaya itu sangat tipis. Orang yang menolak untuk percaya, sebenarnya percaya tapi dia menolak. Ini yang sering terjadi. Orang yang mengatakan tidak percaya tapi di balik benak, pikiran dia ada kepercayaan yang sangat halus sekali, hanya dia menolaknya. Dia berada dalam kearaguan. Dan keraguan itu sendiri adalah salah satu pintu masuk untuk menarik energi negatif. Urusannya di luar percaya atau tidak percaya tapi adalah kondisi negatif diri seseorang. Kondisi negatif yang membuka pintu, jadi bukan masalah percaya atau tidak percaya. Kalau sudah percaya dan kondisinya negatif  maka akan membuka pintu lebih lebar.

Apakah meditasi bisa menjamin kita tidak terkena black magic?

Dalam keadaan penuh kasih, black magic akan kembali kepada pengirimnya?

Mengapa orang menguburkan jasad orang yang mati?

Mengapa memperabukan jasad?

Silakan ikuti video youtube lengkap dalam bahasa Indonesia: Black Magic: Mengungkap Rahasia Ilmu Hitam dan Cara Menghindarinya oleh Swami Anand Krishna

Anak Kecil Kita Kirim ke Day Care, Giliran Lansia Kita Dikirimnya ke Panti Jompo? #SpiritualIndonesia

Pendidikan bukanlah tujuan, Tujuan akhir Pendidikan adalah Karakter

Yang terbaik dalam diri anak-anak adalah kemanusiaan mereka. Ya, kita harus senantiasa ingat bahwa yang terbaik dalam diri anak, yang terbaik dari seorang anak manusia – dari dalam diri setiap orang — adalah kemanusiaan kita. Apakah kita menghargainya, apakah kita menaruh sikap hormat pada baju manusia yang kita pakai; atau kenyataannya justru meremehkan dan melecehkannya?

Jangan salah paham, saya tidak mengatakan mendidik seorang anak, seorang siswa di bidang sains dan seni tidaklah penting, tidak sama sekali. Kemampuan di bidang itu juga dibutuhkan, tapi jangan sampai kita lupa, bahwa jika seorang anak tumbuh menjadi seorang dokter, pengacara, insinyur, politisi, sebagai anggota parlemen — apa pun itu — tanpa kemanusiaan, tanpa rasa yang mendalam, rasa hormat mendalam bagi nilai-nilai kemanusiaan, bagi hak, dan bagi martabat kemanusiaan — maka ia hanya akan menjadi seorang monster, yang meneror lingkungannya untuk kepentingannya sendiri. Tidak lebih.

Kiranya, jangan sampai kita salah memahami “yang terbaik” yang ada dalam diri anak hanya sebatas keahlian tertentu atau sekedar potensi saja. Yang terbaik dari dalam diri anak adalah sisi manusiawi dalam dirinya, kemanusiaan. Ini sangat, sangatlah penting — untuk diingat. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2016). Bringing the Best in the Child, Memunculkan yang Terbaik dalam Diri Anak, Kuta: Anand Krishna Global Cooperation)

Membina Keluarga

Dalam sebuah dialog interaktif di TVRI Swami Anand Krishna pernah menyampaikan:

Keluarga berasal dari dua kata Kula dan warga. Kula itu marga. Seperti di Batak ada Pangabean, Panjaitan. Nah marga ini kula yang berkaitan dengan warga saya yang barangkali agamanya sama, pekerjaannya barangkali sama. Ada satu garis keturunan. Tetapi ketika kita berbicara warga, bisa berarti warga sedesa.

Begitu kita berbicara warga maka ada interaksi dengan orang-orang yang banyak perbedaannya. Kalau kita berbicara dengan orang-orang di Indonesia mayoritas beragama Islam, Kristen, Katholik. Kita berinteraksi dengan orang-orang yang ada perbedaan. Bagaimana kita mengharmoniskan seluruh interaksi ini?

Ketika ada perkawinan barangkali satu kula masuk ke kula yang lain, dan disitu ada perbedaan. Terjadi interaksi,ada take and give. Bagaimana kita mengakomodir perbedaan, kalau itu terjadi maka akan harmonis. Di situ dibutuhkan pengertian dan penyesuaian.

Dalam basis manusia keluarga, seolah-olah manusia yang terlibat sangat terbatas. Ada Bapak, ibu, anak.  Sekarang lebih rumit sekali karena perubahan yang terjadi cepat sekali. Jaman saya tidak ada play station sehingga anak-anak harus berinteraksi sejak kecil dengan anank-anak yang status sosialnya berbeda, dan barangkali dari marga lain. Sudah terjadi interaksi sejak kecil. Dan sekarang sebatas jam sekolah dan saat mau masuk sekolah sehingga dia tidak berinteraksi lebih sering masuk kamar dan kutak-kutik dengan gadget, jadi tidak punya kesempatan melihat perbedaan sehingga penyesuaiannya tidak terjadi.

Dalam Uphanisad ada Maatrudevo bava, anggaplah ibumu sebagai Tuhan karena kita menegenal dunia ini lewat ibu. Selama 9 bulan kita berada dalam kandungannya. Dan sekarang sudah terbukti dalam medis-biologispun sudah terbukti bahwa dalam DNA kita kromosom X itu adalah perempuan, dan kita mewarisi dari ibu kita. Kromosom X yang memberi energi. Kalau kita tidak mempunyai kromosom X maka kita tidak akan bergerak. Mati kita. Dalam tradisi hindu wanita disebut shakti. nama lain dari energi.

Apakah kita masih menganggap Ibu sebagai Tuhan, karena bertambah terus mereka yang mengirimkan Ibu mereka ke Panti Jompo?

Saya kira disitu harus kembali konsep dasar keluarga besar. Sekarang ini kita mengikuti konsep barat. Dan keluarga kita semakin sempit, makin sempit apalagi di Bali jangan sampai ada apartement itu akan mengacaukan kita lagi.

Dalam memberdayakan anaknya sebagai manusia yang berguna bagi masyarakat peran orang tua sangat penting. Untuk mencapai itu apakah orang tua bisa mencontohkan jejak dan memberikan peneladanan dan keteladanan. Kalau tidak bisa ya kita tidak bisa mengharapkan apa-apa.

 

Relation and Commitment video by Swami Anand Krishna

Ini fenomena anak yang tidak komitmen terhadap kasih orangtua, mereka mengirimkan orangtua mereka ke Panti Jompo?

Ada buku bagus “Being Mortal” oleh seorang Neurosurgent yang menjadi best seller dalam beberapa waktu di Newyork Time. Disebutkan bahwa 80 % dari orang Barat, meninggal di rumah sakit, dengan kualitas hidup yang menyedihkan. Kuantitas, umur diperpanjang, tetapi tingkat kualitas hidup berkurang sangat signifikan di rumah sakit. Ini adalah fenomena di Barat sampai beberapa tahun yang lalu. Sekarang Asia mengikuti mereka. Banyak orang mati di rumah sakit dari pada di rumah dengan kualitas hidup yang sangat menyedihkan. Bagaimana mengenai perawatan kesehatan? Anda punya perawatan kesehatan terbaik, perawat terbaik, medis terbaik. Tapi apabila Anda bertanya kepada para orang tua tersebut, apakah mereka bahagia di sana? Apakah mereka tidak membutuhkan tetap bahagia sampai akhir hidup mereka? Mereka tidak bahagia!!! Fenomena ini datang ke negeri kita juga?

Sementara itu, ada banyak eksperimen, salah satunya di Belanda, Amsterdam. Yang mereka lakukan adalah mereka memberikan kepada para orang tua di panti jompo tersebut, pekerjaan untuk merawat anak kecil, kindergarten. Dan terjadi keajaiban, mereka bahagia.

Ada keindahan di sana, akan tetapi juga ada tragedi?

Misalkan saya mempunyai orang tua dan menempatkan mereka ke Panti Kompo. Dan, saya serta istri saya bekerja, mempunyai 2 anak. Dan 2 anak kecil ini tidak tahu bagaimana saya memeliharanya, sehingga saya menempatkan di day care, tempat penitipan anak. Kemudian kedua orangtua bekerja di tempat penitipan anak,  merawat anak saya. Tragedi?

Keluarga telah broken, dan Anda bisa membayar apa saja. Tapi hasilnya demikian. Itulah sebabnya, sebagian orang yang tidak tertarik memproduksi anak. Karena mereka paham setelah tua mereka akan dikirim anak mereka ke panti Jompo? Jadi mengapa kita harus punya anak? Tidak dibutuhkan. Konsep ini, konsep dari non commital, menimbulkan malapetaka dalam sosial kemasyarakatan kita. Dan, apa yang terjadi di Eropa apa yang terjadi di Bali?

Dan, spiritual melihat dari kehidupan secara total. Bukan hanya tentang meditasi, tidak hanya kepala di bawah kaki di atas. Bukan melihat asana yoga. Tapi melihat kehidupan yang berharga. Mempersiapkan hidup sebagai satu kesatuan, totalitas.

Kita semua hidup dimana kita apapun itu akan memoengaruhi kita. Apa pun yang terjadi di Erpa, saya akan terpengaruh? Kita semua terpengaruh, karena kita semua satu keluarga.

Kita semua nampaknya mempunyai perbedaan. Saya kelihatan coklat, kau kelihatan kekuningan atau yang lain lebih putih. Hidung dan mata saya berbdeda, tapi dalam level soul, Jiwa kita satu. Tapi perbedaan yang nampak ada, adalah bagaimana membawa mereka bersama. Ini adalah di mana spiritual hadir. Ini adalah dimana yoga hadir. Meditasi hadir. Melihat hidup sebagai satu unit keseluruhan.

Silakan simak video youtube: Relation and Commitment by Swami Anand Krishna

Meninggal dengan Irama Beraduh-Aduh atau Puji Syukur?

Pertanyaan apakah “Tujuan Hidup?” muncul dari pikiran orang-orang yang telah mencoba segalanya tetapi tidak puas. Bila orang masih berjuang untuk hidup, mencari makanan dan minuman. Berkeinginan rumah baik, kendaraan bagus dan seterusnya, mereka tidak akan mempunyai pikiran demikian?

Saat mengeluarkan kendaraan dari Garasi Rahim Ibu, kita sudah tahu tujuan kita, yaitu Pertemuan Agung dengan Sang Kekasih. Tapi setelah itu kita lupa. Nah, penyakit lupa inilah yang perlu diobati. Gita adalah obat itu. Gita mengingatkan kita akan tujuan hidup kita. Itu saja. Dikutip dari Penjelasan Bhagavad Gita 10:10

Berikut adalah kutipan-kutipan penjelasan Tujuan Hidup dari Bhagavad Gita dan garis besar penjelasan Swami Anand Krishna dalam video youtube: Do You Know Life Purpose?

 

Madhu mewakili kenikmatan yang kita peroleh dari dunia benda, dari indra

Madhusūdana, Penakluk Raksasa Madhu. Memahami setiap peran Kṛṣṇa adalah penting. Sebab, Kṛṣṇa mewakili solusi, jawaban atas segala persoalan dan tantangan hidup yang dihadapi Arjuna. Dan, Arjuna mewakili diri kita – diri Anda dan diri saya.

Madhu berarti “Madu”. Bayangkan seorang raksasa bernama Madhu. Madhu, madu adalah sesuatu yang menyenangkan, nikmat, manis – sulit bagi manusia untuk menaklukkan sesuatu yang nikmat. Mudah membebaskan diri dari keadaan yang tidak menyenangkan. Tapi, membebaskan diri dari keadaan yang menyenangkan! Coba Anda pikirkan.

Madhu mewakili kenikmatan yang kita peroleh dari dunia benda, dari indra. Terbawa oleh suatu kenikmatan yang mereka tawarkan – kita sering kali lupa akan tujuan hidup kita. Menaklukkan Madhu berarti melampaui kenikmatan sesaat demi tujuan yang lebih tinggi. Madhusudana adalah seruan bagi Arjuna untuk mengingat tujuan hidup yang jauh lebih tinggi dari kenikmatan-kenikmatan sesaat yang bersifat rendahan. Penjelasan Bhagavad Gita 2:1 dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia via #BhagavadGitaIndonesia

Anak dan pekerjaan duniawi hanyalah sarana bukan tujuan

Anak, pekerjaan-pekerjaan duniawi, yang sesungguhnya hanyalah sarana untuk meraih kesadaran diri, kita jadikan tujuan. Sementara itu, tujuan hidup sendiri terlupakan – sedemikian bingungnya diri kita saat ini. Jangan lupa tujuan – penemuan jati diri, hidup berkesadaran 24/7 dalam kasih, saling sayang-menyayangi, saling menghormati, saling peduli – tanpa keterikatan. Penjelasan Bhagavad Gita 2:72 dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia via #BhagavadGitaIndonesia

 

Biasakan Berbagi Berkah

Nikmati segala kenyamanan, namun dengan penuh kesadaran bahwa kenyamanan yang Anda peroleh dari harta benda dan keuasaan tidak sama dengan kebahagiaan. Maka, berjuanglah pula untuk meraih kebahagiaan sejati dengan cara “mengenal diri”—mengenal Hakikat Diri, Hakikat Jiwa, hubungan Jiwa dengan Jiwa-Jiwa lain, hubungan Jiwa-Jiwa dengan sang Jiwa Agung.

Kembangkan sifat panembahan, belajarlah, biasakanlah diri untuk berbagi berkah. Inilah jalan menuju kebahagiaan sejati. Jangan menjadi bodoh, jangan terbawa oleh Maya! Lewati Maya, gunakan Maya untuk menembusnya, gunakan harta-benda dan kekuasaan untuk berbagi berkah! Di balik tirai Maya adalah Mayapati—the Lord of Maya—Sang Jiwa Agung. Penjelasan Bhagavad Gita 7:15 dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia via #BhagavadGitaIndonesia

 

Hidup Berkesadaran

Perjalanan batin adalah hidup berkesadaran, yang tidak mementingkan kepentingan diri, keluarga maupun kelompok tertentu. Tapi, memperhatikan kepentingan tetangga, masyarakat, sesama warga dunia, yang dengan sendirinya kepentingan diri ikut terurusi. Itu saja. Jadi, tidak ada alasan bagi kita untuk menunda peralihan kesadaran seperti itu, tentunya jika kita ingin meraih kebahagiaan sejati, yang disebut tujuan hidup tertinggi oleh Krsna.

Jika sekadar mau senang-senang, hepi-hepi saja, ya, silakan mengejar kenikmatan indra saja. Buatlah indra-indra makin gemuk, hingga berjalan dan bernapas pun menj adi susah. Dan, saat ajal tiba, ‘aduh-aduh’ — bahkan sebelumnya, saat mulai menua pun, aduh-aduh sudah menjadi satu-satunya irama hidup kita, mantra kita.

Irama Aduh atau Irama Puji Syukur – pilihan di tangan kita. Untuk Irama Aduh, kita tidak perlu berbuat apa pun. Di tengah segala harta-benda yang kita miliki, di tengah segala kenikmatan dan kenyamanan yang kita miliki – saat ini pun sudah terdengar. Sesungguhnya satu-satunya irama yang mengiringi hidup kita saat ini adalah Irama Aduh. So, kencangkan tali pinggang, rileks, biarlah pesawat hidup menuju Segi Tiga Bermuda untuk diisap dan dilempar kembali – mati-lahir, mati-Iahir!

Tapi, jika kita ingin mengubah Irama Hidup kita menjadi lrama Puji-Syukur, maka kita mesti menerima undangan Krsna. Pesawat jet-Nya siap mengantar kita ke Alam Ilahi nan indah yang tak pernah terbayangkan sebelumnya. Penjelasan Bhagavad Gita 9:33 dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia via #BhagavadGitaIndonesia

 

 

Do You Know Your Life Purpose? – by Swami Anand Krishna

Pertanyaan apakah “Tujuan Hidup?” muncul dari pikiran orang-orang yang telah mencoba segalanya tetapi tidak puas. Bila orang masih berjuang untuk hidup, makanan dan minuman. Berkeinginan rumah baik, kendaraan bagus dan seterusnya, mereka tidak akan mempunyai pikiran demikian?

Seharusnya orang kaya yang banyak mengalami pasang dan surut akan berpikir tentang “Tujuan Hidup” tersebut? Tapi, jika orang kaya sejak lahir, hanya punya satu pengalaman hidup semacam. Tidak akan memiliki pikiran demikian juga, karena semuanya berjalan lancar. Pikiran seperti ini muncul saat terjadi hambatan, masalah, keruwetan?

Orang yang memiliki masalah besar dalam kehidupan memiliki kesempatan untuk memunculkan pertanyaan tersebut? Ya, kemungkinan muncul pasti lebih besar.

Tapi mind research, penilitian mind, bisa membuat kita kembali kepada pola kebiasaan yang lama.

Saya tidak puas dengan pasangan saya, ini kenyataan, apakah saya harus mengulanginya? Hanya kalau dia mengejar pertanyaan mengapa saya harus mengulanginya? Maka pertanyaan tersebut muncul. Pada waktu kamu mengejar pertanyaan tersebut dia naik ke next level, tingkat yang lebih tinggi.

Tetapi apabila kamu tidak mengejar pertanyaan dan mengikuti mind mari kita coba kesempatan kedua. Siapa tahu kesempatan kedua lebih baik, maka kamu akan mencari partner kedua siapa tahu lebih baik. Maka kita mengulangi lagi hal yang hampir sama. Ritualistik……

Kita itu ritualistik. Terbiasa mengulangi. Kita menyukai ritual. Kita menyukai pola lama yang sama. Karena sudah familiar kita tidak mau mencoba sesutu baru yang tidak diketahui. Itulah sebabnya orang mereka tak mau berpikir apa tujuan hidupnya. Mereka bahkan tak tahu bahwa hal demikian ada.

Tidakkah lucu? Kita berbuat salah tapi karena kita senang ritual lama, kita mengulangi dan tidak mau mencoba hal yang baru? Karena mind kita di-hacked, otak kita di-hacked. Seperti kita diberi peringatan pada bungkus rokok. Mereka membacanya tetapi mereka tetap merokok.

Kita adiktif terhadap pola tertentu. Apakah itu rokok, obat-obatan atau suatu pengalaman. Apabila kamu adiktif terhadap sesuatu, maka kamu tidak dapat meningkat ke next level, level berikutnya. Krishna selalu mengulangi dalam Bhagavad Gita, suka dan tidak suka. Kedua-duanya dapat menghentikan evolusimu. Apabila kamu menyenangi pengalamanmu. Kamu ingin mengulanginya. Kalau kamu tidak myukainya, kamu akan berupaya menghindarinya. Artinya kamu mengikuti pola yang sama. Kelihatannya melakukan hal berbeda tetap sebetulnya sama?

Menurut pengalaman saya bukan menemukan apa tujuan hidupmu? Tapi apa yang membuat hidupmu bertujuan atau terarah?

Silakan simak video Youtube: Do You Know Life Purpose by Swami Anand Krishna

Pengaruh Musik Terhadap Kehidupan Janin dalam Kandungan

Pengaruh musik terhadap alam semesta

Getaran-getaran yang keluar dari lagu dapat mengubah dirimu dalam sekejap. Setiap sel dalam tubuh kita sedang bergetar. Getaran di dalam diri kita memahami bahasa lagu. Ia sudah pasti memberi respon, asal lagunya indah. Jangankan manusia yang otaknya sudah cukup berkembang, arak dan anggurpun memberi respon terhadap lagu. Produsen mempercepat proses fermentasi menggunakan gelombang radio. Lagu atau musik tertentu menjadi sarana yang kuat untuk mengantar kita ke alam meditasi.  Alam meditasi berarti alam di dalam diri. Dan, di alam sana yang ada hanyalah getaran. Semua organ di dalam tubuh dapat diredusir menjadi gelombang, getaran. Maka, organ-organ tubuh sangat responsif terhadap getaran. Karena itu, lewat musik kita bisa mudah memasuki alam meditasi.

Lagu atau musik tertentu menjadi sarana paling tepat untuk mengantar kita ke alam meditasi. Alam meditasi berarti alam dalam diri. Dan, di dalam sana yang ada hanyalah getaran. Semua organ di dalam tubuh dapat diredusir menjadi gelombang, getaran, maka organ-organ tubuh sangat responsif terhadap getaran. Karena itu, lewat musik kita bisa mudah memasuki alam meditasi. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2006). Kidung Agung Melagukan Cinta Bersama Raja Salomo. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Manfaat Mendengarkan Musik Selama Hamil Bagi Perkembangan si Kecil

Sumber: http://health.detik.com/read/2014/03/24/195901/2535374/1299/

Musik bisa mengubah suasana hati seseorang tak terkecuali bagi ibu hamil. Bahkan, dikatakan dengan mendengarkan musik yang menenangkan, baik pikiran bayi atau si ibu akan merasa damai.

Manfaat mendengarkan musik saat ibu sedang mengandung:

  1. Meningkatkan kemampuan mendengar anak. Saat mendengar musik yang “ditransfer” ibu, bayi bisa merasakan suara dan bereaksi terhadap suara tersebut.
  2. Meningkatkan respons gerak bayi. Bayi memang senang bereaksi dan bergerak terhadap beberapa suara. Dengan rutin mendengarkan berbagai jenis musik, bayi bisa memiliki aneka gerakan yang ia laukan sebagai bentuk respons mendengarnya.
  3. Membantu membentuk kepribadian. Rutin mendengar musik ‘melo’ maka anak akan terbiasa untuk tenang dan kalem. Sebaliknya, jika Anda gemar mendengarkan musik berirama cepat, bayi cenderung lebih ceria dan lebih aktif.
  4. Membantu bayi tertidur setelah ia lahir. Jika terbiasa mendengar musik yang lembut saat di kandungan, ketika lahir dan diputarkan musik lembut akan membuat bayi lebih mudah terlelap karena ia teringat dengan masa-masa di kandungan.

 

Musik dapat menangani berbagai masalah

Musik bisa menjadi obat bagi tubuh dan jiwa. Musik dapat mempengaruhi suasana hati, fisik dan spiritual, juga dapat menangani berbagai masalah, dari nyeri kronis, hipertensi, kecemasan sampai penyakit-penyakit mental.

Menyanyi secara medis dapat menjadi terapi bagi orang-orang yang depresi. Pada saat menyanyi, suara akan menggetarkan tengkorak kita, sehingga otak seakan-akan dipijat dan melepaskan hormon serotonin yang merupakan anti depresan alami didalam tubuh kita. Sebab itu setelah menyanyi kita merasa enak, lega dan rileks. Musik dapat mempengaruhi denyut nadi, tekanan darah dan pernapasan. Misalnya lagu yang temponya agak pelan denyut jantung dan pernapasan akan menyesuaikan dengan tempo musik tersebut. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2005). Self Empowerment, Seni Memberdaya Diri Bagi Para Pendidik Dan Pemimpin, Mengajar Tanpa Dihajar Stress, Berkarja Tanpa Beban Stress. One Earth Media)

 

Alam semesta itu bergetar dengan berirama

Segala sesuatu dalam alam ini sedang bergetar, sedang menari. Rasakan tiupan angin, dengarkan suara air, perhatikan kibaran api semuanya berirama, bergetar, sedang menari. Dan tarian semesta ini begitu indah, begitu harmonis! Molekul-molekul dalam atom pun sedang menari, sedang bergetar. Tidak ada sesuatu apa pun yang statis. Tarian mampu mempersatukan Anda dengan Semesta. Jadilah gelombang yang sedang menari dalam lautan kehidupan. Jangan berpisah dari lautan kehidupan. Sadarilah kesatuan dan persatuan Anda dengan lautan kehidupan. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2002). Semedi 2, Meditasi untuk Peningkatan Kesadaran. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

Musik mempengaruhi watak manusia

Jenis musik yang kita sukai bisa menjelaskan sifat kita, karakter kita, watak kita. Sitar, vina, harpa dan biola masuk dalam satu kategori. Alat-alat itu bisa mendatarkan gelombang otak, dan menenangkan diri manusia. Para penggemar musik sitar, tak akan pernah mengangkat senapan untuk membunuh orang. Musik gendang, drum dan alat-alat lain sejenis bisa membangkitkan semangat. Bagus, bila diimbangi dengan sitar dan alat sejenis. Bila tidak, akan membangkitkan nafsu dan gairah yang berlebihan. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2001). Narada Bhakti Sutra, Menggapai Cinta Tak Bersyarat dan Tak Terbatas. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Irama Kehidupan: Video Youtube Bersama Swami Anand Krishna

Ma Archana sedang bertanya kepada Swami Anand Krishna mengenai: video yang berisi tentang seorang ibu-ibu hamil, 8 bulan tapi kena stroke, sehingga terjadi brain death, bahkan otaknya sudah mati tidak berfungsi. Diperkirakan bahwa bayi dalam kandungannya pasti mati. Ternyata ada janin kembar, yang walau ibunya mengalami brain death, janin nya tetap hidup. Ternyata para dokter bisa mempertahankan bayi kembar di dalam kandungan ini. Pada hal ibunya sudah meninggal. Para dokter semua sepakat untuk menggantikan kasih sayang ibu dengan musik, tiap hari dokter dokter pada main musik. Apakah itu bisa menggantikan kasih sayang. Nah fenomena-fenomena ini yang dibahas oleh Swami Anand Krishna.

AK: Dalam klip itu ada 2 hal penting:

Pertama, sang ibu meninggal, brain death tapi badan masih ada. Dan masih ada energi. Sehingga lewat energi itu. Anak itu juga mendapatkan nutrisi. Pasti makanan dan segalanya didapatkan bayi. Jadi ada satu sistem dalam seseorang yang berlanjut terus walaupun sudah brain death. Dan ini yang terjadi juga misalnya kalau orang sudah meninggal dan dia badannya ditaruh untuk berapa lama. Sebetulnya energinya masih ada.

Arc: sampai berapa lama energi itu masih berlangsung?

AK: Wow. Bisa sampai 500 tahun, sampai badan itu punah. Tergantung bagaimana menggunakan energi itu. Dalam kasus ini, energi ini diberikan support system lagi. Tentu ada support system medis yang untuk mempertahankan energi itu sampai pada tingkat tertentu. Kalau tidak ada support system, maka dalam 500 tahun itu energi akan berkurang sedikit demi sedikit, sampai badan itu punah. Misalnya kalau orang itu ditanam di kubur. Kalau badan sudah punah energi akan kambali ke asal. Badan itu sudah tidak memeiliki energi lagi.

Dalam fenomena video clip itu, mereka menggunakan energi dari badan ini, jadi badan ini jangan dianggap sebagai kasih sayang keibuan. Ini adalah masalah teknis murni. Seandainya anak ini lahir dalam bulan ke 7 dia juga akan dimasukkan ke dalam inkubator. Itu kan juga artificial. Badan ini kelihatannya organik. Tapi dalam kondisi ini badan ini menjadi semacam inkubator.

Sebagai pembangkit listrik seperti di Afrika dan tempat lain, tidakmenggunakan life support pun jasad ini bisa digunakan untuk zombie? Dan itu fakta, karena badan ini kalau dia masih punya sdikit energi? Siapa pun yang bisa mengerti soal teknik ini, dia bsa menggunakan energi tambahan dari dirinya, untuk menggerakkan badan ini? Jadi voodoo dan segalanya itu bisa terjadi?

Ada ucapan indah dalam Bhagavad Gita: Krishna mengatakan di antara, semua sciences. Di antara semua arts. Tuhan adalah musik. Kau dapat melihat pernyataan ini? Di antara kalau kita itu menganggap Tuhan itu maha tahu, maha seni, maha apa maha apa, Krishna mengatakan ya semua itu oke, tapi di antara segala-galanya, puncak dari semua pengetahuan, puncak dari semua seni adalah musik. Samaveda. Dan semua alam semesta ini adalah musik.

Kita harus menciptakan agar hidup kita lebih berirama. Jadi kembali ke fenomena kedua anak kembar ini, mereka bertahan dan lahir sebagai bayi yang sehat. Berkat rasa kasih dari rasa kemanusiaan dari dokter. Dan juga musiknya memainkan peranan yang penting?

Dan saya yakin bahwa, termasuk jasad sang ibu ini, yang bisa bertahan berbulan-bulan. Jasad bisa bertahan dalam kondisi demikian, bukan karena semata mata karena ventilator atau life support. Musik tersebut juga mempengaruhi. Musik yang dimainkan oleh para dokter, punya dampak yang sangat sangat penting bagi, jasad itu sendiri. Untuk bertahan.

Musik itu sudah ada dalam diri kita. Bagaimana mengekspresikannya keluar? Jadi selama ini kita menekan musik itu. Dengan pikiran kita dengan prosa, konflik batin? Bagaimana kita memberikan channel agar musik itu keluar. Kita butuh pemicu dari luar. Musik dari luar itu sesungguhnya hanyalah pemicu, begitu dalam diri kita terpicu, akan keluar.

Kalau kita mau perang pemicunya harus marching band yang keras. Kalau kita mau tenang pemicunya adalah sitar gitar harpa.

 

Silakan simak video youtube: Irama Kehidupan bersama Swami Anand Krishna

Membangkitkan Kembali Budaya Spiritual #Temu Hati 2 Master

Makna Salam Om Svastyastu

Pada tanggal 25 dan 26 April 2017 di Anand Ashram Ubud, semua peserta yang hadir mendengarkan dharma talk oleh Yang Mulia Bhikku Sanghasena dari Mahabodhi International Meditation Center India dan Guruji Anand Krishna dari Anand Ashram Indonesia.

Pada saat dhamma talk, Bapak Anand Krishna juga menjelaskan tentang salam Om Svastyastu, ucapan selamat di Bali.

Svastika adalah kebijakan kuno masyarakat di masa lalu yang simbolnya ditemukan pada peninggalan kebudayaan kuno Mohenjodaro dan Harappa di Sindh sekarang wilayah Pakistan, sekitar 4.000 tahun yang lalu (dan dengan penemuan terbaru ternyata sekitar 12.000 tahun yang lalu). Simbol tersebut menjelaskan adanya 4 hal utama yang membahagiakan manusia:

  1. Melakukan Dharma, kebajikan. Bila kita melakukan kebajikan kita akan merasa bahagia. Sebaliknya bila melakukan kebatilan, maka kita akan merasa cemas dan tidak merasa bahagia.
  2. Mempunyai Artha, apa pun yang membuat hidup berati, bermakna, maka itulah Artha, termasuk money, uang. Kalau sekadar uang belaka itu dan kegunaannya tidak bermakna bagi banyak orang, maka itu bukan Artha, itu sekadar fulus.
  3. Terpenuhi Kama, keinginannya. Seseorang bahagia bila keinginannya terpenuhi, dia memperoleh kepuasan, contentment, psychological factor. Sampai suatu saat dia sadar bahwa keinginan duniawi tidak membahagiakan karena segala sesuatu yang bersifat duniawi bersifat sementara, temporer.
  4. Mencapai Moksa, kebebasan. Selama kita terbelenggu maka kita belum bebas, dan kita belum bahagia.

 

Jadi pada saat kita mengucapkan salam Om Svatyastu, kita mendokan orang yang kita temui: “Semoga Bapak, Ibu, Saudara, Saudari makmur dengan memperoleh 4 hal utama: dharma, artha, kama dan moksa.

Demikian disampaikan Bapak Anand Krishna saat menjelaskan tentang simbol svastika yang dipasang di dinding hall Anand Ashram Ubud.

 

Guru membangkitkan sifat keilahian dalam diri

Bhikku Sanghasena dalam salah satu butir dhamma talk menyampaikan tentang potensi kebuddhaan (kita menyebutnya potensi keilahian) dalam diri kita semua. Menurut Bhante, kita semua adalah Buddha hanya buddha yang masih tidur. Wake up! Bangun! Agar kebuddhaan dalam diri bangkit, terjaga dari tidur lelap diperlukan Guru, Master untuk mengetok kepala kita agar bangun, bangkit. Bila tidur kita terlalu lelap, dibutuhkan seorang Master seperti Bodhidharma yang kuat dan perkasa untuk mengetok kepala kita agar bangun, bangkit.

Usia seorang guru terbatas, akan tetapi organisasi spiritual yang telah dibangunnya harus tetap jalan. Dibutuhkan orang-orang yang penuh dedikasi untuk melanjutkan perjalanan organisasi.

 

Kelestarian Lembaga Spiritual untuk melayani masyarakat

Di India banyak organisasi spiritual seperti ashram yang masih berjalan setelah berdiri ratusan tahun lalu.

Bhikku Sanghasena mengakui ada perbedaan kondisi di lingkungan di India dan Indonesia. Akan tetapi telah hubungan cultural dan spiritual antara India dan Indonesia sejak zaman dahulu. Contohnya, saat ini Beliau datang darii Himalaya, Mountains of God datang ke Bali Island of Gods…….. Semua hadirin tertawa keras……..

Nampaknya Bapak Anand Krishna mengharapkan kita semua belajar dari Bhante, terutama dalam hal bagaimana mengelola organisasi Mahabodhi agar tetap lestari.

Bapak Anand Krishna bertemu Bhikku Sanghasena pada tahun 1991 di Ladakh, Leh. Pada tahun 1992, Bhante mengumpulkan anak-anak kecil dari tempat-tempat terpencil di Gurun Ladakh untuk dikumpulkan dan dididik di Ladakh.  Dimulai dengan 25 anak-anak yang  belajar, bermain, dan hidup bersama di satu kamar yang besar. Sambil berjalannya waktu tanah tandus yang kalau musim dingin tertutup salju itu dilakukan penghijauan, dan sekarang sudah menjadi kompleks Mahabodhi yang asri, lengkap dengan sekolahan, rumah sakit, panti jompo dan bangunan kelengkapan spiritual lainnya. Bahkan sudah ada cabangnya di beberapa tempat di India.

Salah seorang pendamping Bhante adalah Sister Tsewang Dolma, salah satu dari 25 murid awal tersebut. Selesai sekolah di Ladakh, dia melanjutkan ke Universitas di Bangalore dan setelah lulus kembali ke Ladakh mengabdikan diri di Mahabodhi. Sekarang dia menjadi principal, kepala sekolah di Mahabodhi, Ladakh. Demikian juga di antara 25 anak murid awal tersebut adalah Sister Kunzang Dechen yang juga mendampingi Bhante ke Bali. Dia sekarang mengabdikan diri di Mahabhodi sebagai seorang Instruktur Yoga.

Pada saat ini ada 500 murid dan 350 di antaranya tinggal di asrama di Ladakh. Bhante mengatakan bahwa mereka mempelajari tradisi mana pun yang menunjang peningkatan kesadaran.

 

Bagaimanakah dengan kita?

Apakah tujuan hidup kita? Kebanyakan tujuan kita adalah keberhasilan duniawi yang bersifat pribadi. Kemudian pengalaman kita membuktikan bahwa kebahagiaan duniawi hanya bersifat sementara, temporer.

Di India, seperti halnya contoh dua orang pendamping Bhante yang datang ke Bali, setiap ashram selalu ada orang-orang yang tahu tujuan hidupnya. Tujuan hidupnya adalah untuk menuju Tuhan dan untuk itulah mereka memerlukan seorang Master, seorang Guru. Setelah bertemu Guru, mereka berhenti memimpikan dunia yang bersifat sementara. Mereka menjadi tangan-tangan Guru dalam melayani masyarakat dan lingkungan.

Bila kita baca Srimad Bhagavatam yang ditulis Bhagavan Vyaasa, kita akan membaca contoh perjalanan hidup para panembah Gusti. Ada tokoh-tokoh seperti Rishi Kapila yang sejak kecil sudah langsung fokus pada Gusti. Ada yang sejak kecil sudah sadar, terjaga seperti Dhruva atau Prahlada, yang kemudian menjadi raja dan berkeluarga dan setelah itu menlakukan Vanaprastha, meninggalkan istana sampai menjadi Sanyasin yang berfokus penuh pada Gusti.

Banyak pula brahmana seperti Rishi Kardama yang menjadi Grihasthya, perumah-tangga untuk mengikuti perintah Brahma berkembang-biak di dunia dan setelah putra-putrinya mandiri, mereka fokus pada Gusti menjalani Vanaprastha untuk kemudian menjadi Sanyasin.

Ada pula seperti Rishi Narada yang tidak berkeluarga dan berbagi pengetahuan ilahi serta selalu memuja Gusti Narayana.

Di India contoh-contoh kehidupan para panembah Gusti masih diteladani. Sejak kecil sudah belajar di ashram, dan setelah mereka menjadi dewasa banyak yang menjadi pemimpin yang bijaksana. Ada budaya untuk melakukan karma yoga, melayani sesama, bukan hanya kepetingan pribadi dan kelompok. Tujuan akhir adalah Gusti Pangeran.

Mencari artha, uang, kedudukan dan apa saja yang kita perbuat di dunia ini adalah untuk dharma, menggunakan kama, semua keinginan, obsesi dan harapan apa pun diarahkan menuju moksa. Mungkin tradisi demikian sudah hilang dari negeri kita. Kenapa tidak mulai dari sekarang?

Para Master usianya terbatas akan tetapi organisasi yang dibentuknya tetap melayani masyarakat sampai ratusan tahun…….. Semoga….