Membangkitkan Kembali Budaya Spiritual #Temu Hati 2 Master

Makna Salam Om Svastyastu

Pada tanggal 25 dan 26 April 2017 di Anand Ashram Ubud, semua peserta yang hadir mendengarkan dharma talk oleh Yang Mulia Bhikku Sanghasena dari Mahabodhi International Meditation Center India dan Guruji Anand Krishna dari Anand Ashram Indonesia.

Pada saat dhamma talk, Bapak Anand Krishna juga menjelaskan tentang salam Om Svastyastu, ucapan selamat di Bali.

Svastika adalah kebijakan kuno masyarakat di masa lalu yang simbolnya ditemukan pada peninggalan kebudayaan kuno Mohenjodaro dan Harappa di Sindh sekarang wilayah Pakistan, sekitar 4.000 tahun yang lalu (dan dengan penemuan terbaru ternyata sekitar 12.000 tahun yang lalu). Simbol tersebut menjelaskan adanya 4 hal utama yang membahagiakan manusia:

  1. Melakukan Dharma, kebajikan. Bila kita melakukan kebajikan kita akan merasa bahagia. Sebaliknya bila melakukan kebatilan, maka kita akan merasa cemas dan tidak merasa bahagia.
  2. Mempunyai Artha, apa pun yang membuat hidup berati, bermakna, maka itulah Artha, termasuk money, uang. Kalau sekadar uang belaka itu dan kegunaannya tidak bermakna bagi banyak orang, maka itu bukan Artha, itu sekadar fulus.
  3. Terpenuhi Kama, keinginannya. Seseorang bahagia bila keinginannya terpenuhi, dia memperoleh kepuasan, contentment, psychological factor. Sampai suatu saat dia sadar bahwa keinginan duniawi tidak membahagiakan karena segala sesuatu yang bersifat duniawi bersifat sementara, temporer.
  4. Mencapai Moksa, kebebasan. Selama kita terbelenggu maka kita belum bebas, dan kita belum bahagia.

 

Jadi pada saat kita mengucapkan salam Om Svatyastu, kita mendokan orang yang kita temui: “Semoga Bapak, Ibu, Saudara, Saudari makmur dengan memperoleh 4 hal utama: dharma, artha, kama dan moksa.

Demikian disampaikan Bapak Anand Krishna saat menjelaskan tentang simbol svastika yang dipasang di dinding hall Anand Ashram Ubud.

 

Guru membangkitkan sifat keilahian dalam diri

Bhikku Sanghasena dalam salah satu butir dhamma talk menyampaikan tentang potensi kebuddhaan (kita menyebutnya potensi keilahian) dalam diri kita semua. Menurut Bhante, kita semua adalah Buddha hanya buddha yang masih tidur. Wake up! Bangun! Agar kebuddhaan dalam diri bangkit, terjaga dari tidur lelap diperlukan Guru, Master untuk mengetok kepala kita agar bangun, bangkit. Bila tidur kita terlalu lelap, dibutuhkan seorang Master seperti Bodhidharma yang kuat dan perkasa untuk mengetok kepala kita agar bangun, bangkit.

Usia seorang guru terbatas, akan tetapi organisasi spiritual yang telah dibangunnya harus tetap jalan. Dibutuhkan orang-orang yang penuh dedikasi untuk melanjutkan perjalanan organisasi.

 

Kelestarian Lembaga Spiritual untuk melayani masyarakat

Di India banyak organisasi spiritual seperti ashram yang masih berjalan setelah berdiri ratusan tahun lalu.

Bhikku Sanghasena mengakui ada perbedaan kondisi di lingkungan di India dan Indonesia. Akan tetapi telah hubungan cultural dan spiritual antara India dan Indonesia sejak zaman dahulu. Contohnya, saat ini Beliau datang darii Himalaya, Mountains of God datang ke Bali Island of Gods…….. Semua hadirin tertawa keras……..

Nampaknya Bapak Anand Krishna mengharapkan kita semua belajar dari Bhante, terutama dalam hal bagaimana mengelola organisasi Mahabodhi agar tetap lestari.

Bapak Anand Krishna bertemu Bhikku Sanghasena pada tahun 1991 di Ladakh, Leh. Pada tahun 1992, Bhante mengumpulkan anak-anak kecil dari tempat-tempat terpencil di Gurun Ladakh untuk dikumpulkan dan dididik di Ladakh.  Dimulai dengan 25 anak-anak yang  belajar, bermain, dan hidup bersama di satu kamar yang besar. Sambil berjalannya waktu tanah tandus yang kalau musim dingin tertutup salju itu dilakukan penghijauan, dan sekarang sudah menjadi kompleks Mahabodhi yang asri, lengkap dengan sekolahan, rumah sakit, panti jompo dan bangunan kelengkapan spiritual lainnya. Bahkan sudah ada cabangnya di beberapa tempat di India.

Salah seorang pendamping Bhante adalah Sister Tsewang Dolma, salah satu dari 25 murid awal tersebut. Selesai sekolah di Ladakh, dia melanjutkan ke Universitas di Bangalore dan setelah lulus kembali ke Ladakh mengabdikan diri di Mahabodhi. Sekarang dia menjadi principal, kepala sekolah di Mahabodhi, Ladakh. Demikian juga di antara 25 anak murid awal tersebut adalah Sister Kunzang Dechen yang juga mendampingi Bhante ke Bali. Dia sekarang mengabdikan diri di Mahabhodi sebagai seorang Instruktur Yoga.

Pada saat ini ada 500 murid dan 350 di antaranya tinggal di asrama di Ladakh. Bhante mengatakan bahwa mereka mempelajari tradisi mana pun yang menunjang peningkatan kesadaran.

 

Bagaimanakah dengan kita?

Apakah tujuan hidup kita? Kebanyakan tujuan kita adalah keberhasilan duniawi yang bersifat pribadi. Kemudian pengalaman kita membuktikan bahwa kebahagiaan duniawi hanya bersifat sementara, temporer.

Di India, seperti halnya contoh dua orang pendamping Bhante yang datang ke Bali, setiap ashram selalu ada orang-orang yang tahu tujuan hidupnya. Tujuan hidupnya adalah untuk menuju Tuhan dan untuk itulah mereka memerlukan seorang Master, seorang Guru. Setelah bertemu Guru, mereka berhenti memimpikan dunia yang bersifat sementara. Mereka menjadi tangan-tangan Guru dalam melayani masyarakat dan lingkungan.

Bila kita baca Srimad Bhagavatam yang ditulis Bhagavan Vyaasa, kita akan membaca contoh perjalanan hidup para panembah Gusti. Ada tokoh-tokoh seperti Rishi Kapila yang sejak kecil sudah langsung fokus pada Gusti. Ada yang sejak kecil sudah sadar, terjaga seperti Dhruva atau Prahlada, yang kemudian menjadi raja dan berkeluarga dan setelah itu menlakukan Vanaprastha, meninggalkan istana sampai menjadi Sanyasin yang berfokus penuh pada Gusti.

Banyak pula brahmana seperti Rishi Kardama yang menjadi Grihasthya, perumah-tangga untuk mengikuti perintah Brahma berkembang-biak di dunia dan setelah putra-putrinya mandiri, mereka fokus pada Gusti menjalani Vanaprastha untuk kemudian menjadi Sanyasin.

Ada pula seperti Rishi Narada yang tidak berkeluarga dan berbagi pengetahuan ilahi serta selalu memuja Gusti Narayana.

Di India contoh-contoh kehidupan para panembah Gusti masih diteladani. Sejak kecil sudah belajar di ashram, dan setelah mereka menjadi dewasa banyak yang menjadi pemimpin yang bijaksana. Ada budaya untuk melakukan karma yoga, melayani sesama, bukan hanya kepetingan pribadi dan kelompok. Tujuan akhir adalah Gusti Pangeran.

Mencari artha, uang, kedudukan dan apa saja yang kita perbuat di dunia ini adalah untuk dharma, menggunakan kama, semua keinginan, obsesi dan harapan apa pun diarahkan menuju moksa. Mungkin tradisi demikian sudah hilang dari negeri kita. Kenapa tidak mulai dari sekarang?

Para Master usianya terbatas akan tetapi organisasi yang dibentuknya tetap melayani masyarakat sampai ratusan tahun…….. Semoga….

Ketidakpastian dalam Kehidupan, Kisah 2 Master

Kisah Bhikku Sanghasena

Setelah menikmati Bhajan/Kirtan dalam acara Ananda Nada Yoga pada tanggal 26 April 2017 di Anand Ashram Ubud, semua peserta bhajan mendengarkan dharma talk oleh Yang Mulia Bhikku Sanghasena dari Mahabodhi International Meditation Center India dan Guruji Anand Krishna dari Anand Ashram Indonesia.

Bhikku Sanghasena sangat terkesan dengan bhajan penuh devosi di Anand Ashram Ubud. Terlampau banyak meditasi dan bicara akan nampak terlalu serius. Mendengarkan bhajan memicu rasa devosi yang sangat dalam. Bhante mengundang Guruji Anand Krishna dan para sahabat termasuk para penyanyi Bhajan untuk mengajari mereka bhajan di Himalaya. Bhante (demikian Bhikku dipanggil) memulai pembicaraan dengan Good Evening dengan sepenuh hati. Kalau banyak orang bicara good evening dengan basa-basi, Bhante berkata betul-betul evening yang good bukan hanya lip service, tetapi betul-betul malam yang good bahkan excellent. Sangat up-lifting kata Bhante…….

Melihat keindahan Anand Ashram Ubud dengan berbagai warna dan ornamen yang sangat indah dengan pohon-pohon di luar yang hijau Bhante bertanya, apakah ada yang tidak bahagia. Kalau seperti saat ini, dengan kondisi dan suasana demikian masih tidak bahagia maka dia dijamin tidak akan bahagia selamanya. Dan semua peserta bhajan tertawa berderai derai…..

Mereka yang tidak berbahagia tubuhnya di sini akan tetapi pikirannya memikirkan masalah di rumah sebelum saat ini, atau pada masa lalu atau mengkhawatirkan, cemas akan masalah yang akan dihadapi di masa depan.

Bhante mulai cerita tentang seorang profesional muda yang sukses dan ternama. Karena kesuksesan dan kesibukannya jadwal agenda esok hari, minggu depan sudah terorganisasi dengan baik. Bahkan agenda bulan depan pun sudah tertata, jam berapa pergi ke acara apa.

Dengan mengalahkan banyak acara dia dapat menemui Master Krishnamurti di India. Dalam kesempatan yang sangat langka tersebut sang profesional muda ternama bertanya, “Master, Seni Kehidupan itu yang bagaimana?”

Krishnamurti mulai bertanya apakah sang profesional percaya dengan Tuhan? Dia menjawab percaya dengan sepenuh hati. Sang Master kembali bertanya, apa yang akan dilakukan bila enam bulan lagi dia meninggal dunia. Dia menjawab akan banyak agenda dia yang akan di-cancel, dibatalkan. Sang Master kembali bertanya, bila besok jam 5 sore dia meninggal apa yang akan dilakukannya, dia menjawab, dia akan berbagi kemakmuran kepada mereka yang membutuhkan. Kalau waktu tinggal 2 jam lagi untuk hidup apa yang dilakukannya? Dia menjawab saya akan bermeditasi dan hanya mengingat Tuhan.

Sang Master berkata, “Itulah Seni Kehidupan, bagaimana kita tetap berkarya dengan ketidakpastian esok hari dan kematian kita kapan? Semua peserta bertepuk tangan meriah dengan kisah nyata yang menyentuh hati…….

 

Giliran Bapak Anand Krishna berkisah…….

Pada suatu hari, seorang pemuka masyarakat mendatangi Raja Yudistira, ”Kedatanganku untuk memohon bantuan Baginda…”

”Dengan senang hati,” Sang Raja yang biasanya sopan, memotong kalimat sang pemuka masyarakat, “tetapi maafkan saya, hari ini saya harus segera meninggalkan istana karena hari sudah malam. Kiranya Bapak bisa kembali besok pagi. Aku berjanji akan melayani Bapak yang kumuliakan sebatas kemampuanku.”

Sang pemuka masyarakat puas dengan janji itu. Ia yakin Raja Yudistira pasti menepati janjinya.

Akan tetapi Bhima, adik Yudistira cepat-cepat pergi ke alun-alun di tengah kota, dan membunyikan genta yang biasanya hanya dibunyikan untuk mengumpulkan massa jika ada pengumuman penting.

Yudistira pun mendengar suara genta dan ingin tahu, ada apa gerangan Bhima mengumpulkan masyarakat malam-malam. Sepenting apakah pengumuman Bhima?

Bhima berkata, “Hari ini aku bertemu dengan seseorang yang telah menguasai waktu. Kebetulan orang itu warga kita. Kita semua patut bangga.”

Beberapa saat kemudian, Yudistira datang menegur Bhima, ”Apa-apaan kamu, Bhima? Janganlah membohongi rakyat. Siapa yang dapat menguasai waktu?”

“Baginda sendiri,” jawab Bhima.

“Maksudmu?” tanya sang raja.

“Tadi Baginda Raja berjanji akan melayani tokoh masyarakat yang membutuhkan bantuan…”

“Ya, ya, dan….”

“Melayaninya besok… berarti Baginda yakin tidak akan terjadi apa-apa antara saat ini dan besok pagi, dan Baginda dapat menepati janji.”

Yudistira menyadari kesalahannya. Saat itu juga ia mendatangi rumah pemuka masyarakat itu, dan memenuhi segala kebutuhannya…………….

Bapak Anand Krishna melanjutkan kisahnya:

Dalam kehidupan itu, ada yang namanya ketidak pastian. Itulah sebabnya Guru Nanak berkata apa yang dapat dikerjakan hari ini, kerjakan sekarang. Apa yang dapat dkerjakan besok kerjakan hari ini……..

Alkisah ada seorang raja yang memanggil seorang Master, seorang bijak. Sang raja bertanya Kebenaran itu Apa? Sang Bijak menjawab aku akan mengatakannya nanti.

Setelah beberapa bulan sang raja sedang merayakan kelahiran putra pertamanya. Seluruh masyarakat berbahagia dan diundanglah sang bijak datang. Sang Raja menagih janjinya apakah sebenarnya Kebenaran itu? Sang Bijak menjawab bahwa jawabannya akan membuat sang raja tidak senang. Sang raja tetap ngotot agar Sang Bijak tetap mengatakannya karena dia sedang berbahagaia dengan kelahiran putranya.

Sang Bijak berkata bahwa kebenaran itu adalah bahwa pada saat kematian tidak ada seorang pun yang menemani kita. Anak dan istri kita juga tidak menemani kita. Dan kita tidak tahu, kapan kita akan mati?

Sang raja termenung lama, kebahagiaan akan kelahiran putranya tersengat oleh lebah kesadaran bahwa dia tidak tahu kapan kematian akan menimpanya. Pada saat dia mati, kebahagiaan akan kelahiran putranya menjadi tidak berarti……….

Guruji Anand Krishna mengingatkan para peserta tentang ketidakpastian kehidupan. Berbuatlah seakan-akan besok jam 5 sore kita akan meninggal………….

Masih ada beberapa catatan dhamma talk dari Bhante Sanghasena dan Guruji Anand Krishna selama 2 hari tanggal 25 dan 26 April 2017 yang sedang kami ingat-ingat kembali…..

Mutiara Bhagavatam: Anak Sebagai Persembahan Mulia Bagi Umat Manusia

Dalam kisah-kisah Srimad Bhagavatam, kita telah memperoleh pelajaran bahwa kala berhubungan suami istri semata-mata berdasar nafsu dan melanggar etika suci bisa melahirkan asura, raksasa, seperti dalam kisah kelahiran Hiranyaksha dan Hiranyakashipu.

Kemudian kita sudah belajar untuk berdoa sebelum melakukan hubungan suami istri, supaya ruh yang masuk ke dalam benih di rahim istri adalah calon anak saleh. Jangan sampai ruh yang masuk menjadi calon anak, adalah musuh yang menuntut hutang karma karena tindakan masa lalu kita. Orang yang akan membalas kebaikan maupun keburukan akibat tindakan masa lalu kita selalu dekat dengan kita, selalu berinteraksi dengan kita. Tetapi semoga orang yang lahir untuk menuntut balas kepada kita tidak menjadi putra kita.

Kali ini kita memperoleh mutiara Bhagavatam bagaimana memohon kepada Gusti agar anak kita menjadi persembahan mulia bagi umat manusia. Sebenarnya bukan hanya tindakan membuat anak, akan tetapi semua tindakan yang kita lakukan seharusnya bermuara sebagai persembahan kepada umat manusia.

 

Menulis karena profesi

Ada yang menulis karena profesinya. Dia mencari nafkah lewat tulisannya. Kelompok penulis yang satu ini akan selalu mencari sensasi. Ia harus menciptakan sesuatu yang dapat diterima atau ditolak oleh massa. Baik penerimaan, maupun penolakan oleh massa, akan membawakan penghasilan bagi dirinya….. Sama sekali tidak berarti bahwa mereka ini adalah penulis kelas rendah. Tidak. Mereka adalah penulis profesional. Mereka adalah kuli tinta. Dan hampir seluruh masyarakat penulis kita berada dalam kelompok ini. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (1999). Wedhatama Bagi Orang Modern. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

Menulis karena senang menulis

Kelompok kedua adalah kelompok para sastrawan. Mereka menulis karena mereka senang menulis. Mereka tidak selalu mementingkan penghasilan yang dapat diraih dari tulisan-tulisan mereka. Mereka lebih mementingkan kepuasan batin. Alhasil, kadang-kadang mereka sangat provokatif. Kadang-kadang bahsa mereka sangat pedas, sangat pahit. Mereka tidak peduli. Anda menolak mereka atau mereka atau menerima mereka, itu urusan Anda. Mereka sudah puas dengan menyampaikan apa yang ingin disampaikan. Selanjutnya, terserah Anda. Mereka bisa dibilang sebagai kelompok pemberani. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (1999). Wedhatama Bagi Orang Modern. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

Menulis karena ingin berbagi rasa

Kelompok terakhir adalah kelompok mereka yang menulis karena ingin berbagi rasa. Mereka ingin menyampaikan sesuatu. Tulisan mereka ditujukan kepada sekelompok orang yang cukup reseptif. Tulisan mereka bukan tulisan populer. Tulisan mereka untuk kalangan tertentu. Menurut Sri Mangkunagoro sendiri, tulisannya ini diperuntukkan bagi para siwi – para siswa atau shishya. Kata ini sangat penting. Shishya berarti “ia yang telah menundukkan kepala atau shish-nya.” Menundukkan kepala berarti melepaskan keangkuhan, mengakui ketidaktahuannya dan berkeinginan untuk belajar. Kelompok terakhir ini persis sama seperti  kelompok sebelumnya, kelompok sastrawan. Mereka tidak menulis karena ingin meraih penghasilan ataupun pengakuan, tetapi karena memperoleh kebahagiaan atau kepuasan batin dari upayanya. Bedanya hanya satu: kelompok ketiga ini juga tidak semata-mata menulis semata-mata untuk memperoleh kepuasan batin , tetapi untuk berbagi rasa dengan orang lain. Mereka ingin menyampaikan sesuatu yang berguna bagi masyarakat. Mereka ingin membagi apa yang mereka peroleh dari kehidupan ini. Sri Mangkunagoro berada dalam kelompok ini. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (1999). Wedhatama Bagi Orang Modern. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Buah Karya, Anak

Buah karya bukan hanya berupa tulisan atau lembaga yang berkembang. Bhagavan Vyaasa penulis Mahabharata dan Srimad Bhagavatam bukan hanya tulisannya saja yang bermanfaat bagi umat manusia. Akan tetapi Sang Bhagavan juga menghasilkan buah karya yang lain, yang berwujud putranya. Rishi Suka, Guru Parikshit dan para brahmana adalah buah karya, putra dari Rishi Vyassa yang meningkatkan kesadaran umat manusia. Buah pikiran para bijak adalah anak hasil pikiran dan kesadaran mereka. Demikian juga seorang putra yang bijak adalah hasil buah karya orang tua juga. Demikian juga para murid adalah “anak” para Guru yang membimbingnya.

Dikisahkan dalam Srimad Bhagavatam Raja Nabhi adalah seorang raja bijaksana. Dia belum berputra dan dia memohon kepada Gusti Pangeran untuk memberinya putra. Dalam acara ritual yang diadakan para brahmana, Gusti Pangeran, Narayana berkenan hadir dan Raja Nabhi mohon agar Narayana sudi berkenan lahir sebagai putranya.

Para brahmana yang menyelenggarakan upacara merasa sangat malu. Bertemu Gusti Pangeran mestinya yang diminta adalah moksa. Mengapa sang raja minta Gusti Pangeran lahir sebagai putranya?

Para brahmana tidak sadar, bahwa memohon dirinya agar moksa adalah benar, akan tetapi masih banyak sekali umat manusia yang belum moksa yang membutuhkan pembimbing dan pemandu agar mencapai moksa. Raja Nabhi bukan raja yang berpikiran sempit agar dia mempunyai putra yang hebat.

Jauh dari hal demikian, sang raja memikirkan umat manusia. Setelah nantinya, dia menobatkan pengganti dia akan melakoni vanaprastha fokus pada Gusti Pangeran. Tetapi bagaimana umat manusia yang ditinggalkannya? Oleh karena itulah dia mohon Narayana lahir sebagai putranya. Agar ada generasi penerus yang bermanfaat bagi umat manusia. Agar Gusti Narayana mewujud untuk membimbing umat manusia yang ditinggalkannya. Para Guru meninggalkan buku karyanya, lembaga ashram, dan para muridnya demi kasihnya kepada umat manusia…..

 

Berkarya dengan semangat persembahan

Penciptaan terjadi ketika Hyang Tunggal berkehendak untuk ‘menjadi banyak’. Selama masih tunggal, tanpa dualitas, penciptaan tidak mungkin.

Berarti, Brahma, Sang Pencipta adalah Produk Dualitas – Anda dan saya, kita semua adalah produk dualitas pula. Kita lahir, hidup berkarya, dan mati dalam kesadaran dualitas.kemanunggalan adalah hakikat kita, ya, tapi, saat ini kita tidak manunggal lagi. Saat ini kita terpisah, atau setidaknya ‘merasa’ berpisah dari Hyang Tunggal. Maka kita mesti mengupayakannya kembali.

Bagaimana caranya? Sang Pencipta telah memberikan clue, isyarat. Yaitu, dengan berkarya dengan semangat pesembahan. Ia mengatakan kepada makhluk-makhluk ciptaannya, kepada manusia, ‘Aku pun demikian. Aku pun menciptakan semua dengan semangat persembahan, dengan semangat melayani.

Dengan cara itulah, kita baru bisa mengikis ego kita, tidak membiarkannya meraja. Idam na mama – bukan aku, bukan ego-ku, bukan indra, bukan gugusan pikiran dan perasaan, bukan intelegensia – aku adalah Jiwa, percikan Sang Jiwa Agung. Segala apa yang terjadi lewat badan, indra, dan lainnya adalah persembahan pada-Nya.

Selain membebaskan kita dari ego, keangkuhan, semangat manembah juga memastikan bahwa apa pun yang kita perbuat adalah yang terbaik. Persembahan yang dihaturkan kepada Sang Kekasih Agung, Gusti Pangeran, mestilah yang terbaik. Penjelasan Bhagavad Gita 3:10 dikutip buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma).

 

Rishi Kardama bersama Devahuti melahirkan putra Rishi Kapila yang membawa ilmu samkhya yang bermanfaat bagi umat manusia. Para Rishi menciptakan Maharaja Prithu untuk memperbaiki dunia yang rusak akibat kelaliman Raja Vena.

Semoga  para orangtua membuat generasi penerus dengan semangat persembahan. Dan semoga melakukan tindakan apa saja dengan semangat persembahan.

Bagaimana dengan kita? Sudahkah kita semua bertindak mulia sehingga pantas menjadi persembahan orangtua dan leluhur kita kepada alam semesta? Dan, warisan genetik dari mereka tidak sia-sia. Sudahkah kita  bertindak mulia sehingga pantas menjadi persembahan Guru kepada alam semesta? Dan, bimbingan Guru tidak sia-sia…….

 

Catatan:

“Melaksanakan setiap tugas kita, setiap pekerjaan kita dengan semangat panembahan” – itulah Karma-Yoga. Berarti tidak ada perpisahan antara tugas, kewajiban, pekerjaan, usaha, karir, dan latihan-latihan olah-batin. Tidak perlu meninggalkan keluarga untuk bermeditasi di dalam gua. Tidak perlu meinggalkan pekerjaan untuk bertapa-brata di tengah hutan. Kita dapat berkarya secara meditatif – dengan penuh perhatian dan kewaspadaan. Kita dapat mengabdi kepada Gusti Pangeran sambil berkarya, sambil menjalankan tugas kewajiban kita. Dari buku Karma Yoga

Sudahkah kita melakukan setiap pekerjaan dengan semangat panembahan?

Mutiara #Bhagavatam: Menunggu Giliran Kedatangan Utusan Dewa Yama

buku-bhagavatam-menghadap-yama

 

Pandangan jernih seorang Yogi

Seorang pemain film sebaik apa pun, jika persepsi kita tentang dia adalah “jelek”, maka kita hanya melihat kejelekannya. Sebaliknya, jika persepsi kita “baik”, maka seorang penari sejelek apa pun kita anggap baik.

Adalah seorang Yogi saja yang dapat melihat things as they are. Intuisi yang telah bekerja, tidak membuatnya memiliki indra keenam, ketujuh, atau keberapa—istilah-istilah seperti itu sungguh sangat tidak tepat, tiada satu pun yang memiliki indra keenam. Maket tubuh kita sudah ditentukan oleh keberadaan—pancaindra. Titik.

Seorang non-yogi tidak mampu melihat sesuatu tanpa intervensi persepsi yang sudah terbentuk. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2015). Yoga Sutra Patanjali Bagi Orang Modern, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Setiap orang lahir dengan genetik tertentu yang merupakan warisan dari orang tuanya. Kemudian dia memperoleh pelajaran dari orangtua, pendidikan dan lingkungan secara repetitif dan intensif.  Sehingga kebenaran yang dipunyainya adalah kebenaran dengan kerangka pengalaman dia. Apabila dia lahir di negeri berbeda, diasuh orang tua berbeda, pendidikan dan lingkungan yang berbeda, maka pandangan kebenaran yang dimilikinya juga berbeda. Persoalannya adalah bagaimana caranya meningkatkan kesadaran agar bisa melihat sesuatu dengan jernih tanpa dibebani persepsi yang telah terpola akibat conditioning masa lalu kita?

 

Belajar dari kisah-kisah Srimad Bhagavatam

Para pelaku kisah di Srimad Bhagavatam adalah para bhakta, panembah Gusti. Sehingga setelah paruh baya (bhaya pada kisah Puranjana dalam Srimad Bhagavatam berarti Cemas, Kecemasan) mereka melakukan vanaprastha, meninggalkan kerajaan dan pergi ke hutan, fokus pada Gusti menjelang datangnya kematian. Awam mulai cemas, setelah usia paruh baya, takut kematian mendekat, sedangkan para bhakta justru mulai fokus pada Gusti Pangeran.

Dalam kisah Ajamila, seorang brahmana yang taat, sebelum meninggal, hidupnya keluar dari rel dharma. Ajamila masih mempunyai anak kecil di usia 80-an. Pada saat para bhakta fokus pada Gusti Pangeran, Ajamila terfokus pada anak kecilnya. Akan tetapi, pada akhirnya Ajamila dengan dramatis kembali menjadi bhakta, panembah Gusti sampai maut datang menjemput.

Kami menulis Note, Catatan ini untuk mengingatkan diri kami sendiri, dan juga para pembaca murni yang tanpa melakoni sadhana, laku olah batin, yang merasa dengan memahami kisah-kisah Ilahi kita sudah lebih paham dan lebih cerah. Kisah Ilahi ini memang penuh hikmah, akan tetapi kadang otak kita bekerja terlalu cepat dan memudahkan permasalahan.

Misalkan kita tahu Korawa pasti kalah melawan Pandawa yang dibantu Krishna. Akan tetapi bila kita mengalami sendiri di zaman itu, belum tentu kita berpihak kepada Pandawa. Pandawa diasingkan selama 13 tahun. Bagaimana rasanya 13 tahun dikuasai Pemerintahan Korawa? Masihkah kita bertahan dalam kebaikan ketika adharma merajalela?

Kita membaca di Srimad Bhagavatam, saat dunia dikuasai Raja Vena keadaan kacau balau dan akhirnya Vena mati dan diganti Maharaja Prithu. Mungkin hanya 2 halaman tulisan dan sekali baca paham. Akan tetapi bagaimana kalau kita menjadi rakyat Vena dan mengalami kondisi adharma selama puluhan tahun? Sejak kita nikah sampai anak besar, mungkin sampai punya cucu, negara dalam keadaan kacau. Mungkinkah kita masih bertahan dalam kebaikan?

Sehingga adanya syarat untuk melakukan spiritual, kita harus hidup mandiri, mempunyai penghasilan tetap baru memperdalam spiritual, masuk logika. Mereka yang belum bekerja, masih menggantungkan kehidupan kita pada orangtua, mungkin merasa sudah bisa spiritual dengan mengabaikan dunia. Padahal kerja dan hidup mandiri, memperoleh penghasilan tetap itu sendiri sudah merupakan perjuangan tersendiri, tidak bisa disederhanakan.

Berikut ini catatan untuk introspeksi diri, sudahkah kita spiritual? Sampai tingkat kesadaran yang mana? Agar tidak menyederhanakan permasalahan……

 

Karakter spiritual sejak dini

Karakteristik para pemandu rohani sudah bisa dideteksi sejak usia dini. Baru-baru ini kami melakukan penelitian kecil-kecilan dengan melibatkan lebih dari 300 responden di Jakarta, Yogyakarta, Solo, Semarang, dan Bali.

Walau penelitian itu dilakukan di kota-kota tersebut, mereka yang terlibat sebagai responden mewakili Indonesia selengkapnya. Ada orang Bugis, ada Betawi, ada Batak, ada yang berasal dari Flores, Aceh, Minang, KaIimantan…. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak ada satu pun orang yang pada usia 5 hingga 10 tahun memikirkan spiritualitas. Tidak seorang pun.

Keadaan itu sudah cukup untuk membuktikan bahwa para Sadguru atau Pemandu Sejati memang bukan run of the millproduct, bukan produk pabrikan.

Seorang Pemandu Sejati, seorang Sadguru sudah menunjukkan sifat-sifat rohani sejak usia dini. Ia sudah memiliki visi yang jelas tentang apa yang hendak dilakukannya selama perlawatannya di dunia ini. Ia sudah mengantongi blueprint yang jelas tentang dunia yang akan dibangunnya. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2016). Soul Awareness, Menyingkap Rahasia Roh dan Reinkarnasi, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Sesuai penjelasan di atas, jelas kita belum memikirkan hal spiritual pada waktu kecil. Penjelasan di bawah memperjelas kondisi kita saat ini.

cover-buku-soul-awareness

Introspeksi Diri

Saya masih ingat pengalaman seorang yogi, seorang Samnyasi, yaitu Svami Ranganathananda dari Ordo Sri Ramakrishna yang berkunjung ke Indonesia sekitar akhir tahun 1950-an—awal 1960-an.

Sebagaimana kita tahu, Bung Karno, Bapak Bangsa kita, Bapak Republik Indonesia Modern, amat sangat mengagumi pandangan-pandangan Svami Vivekananda, murid Sri Ramakrishna. Maka beliau mengundang sang Svami ke istana. Menurut catatan-catatan dan jurnal sang Svami yang masih tersimpan rapi di pusat dokumentasi Ordo Ramakrishna, pertemuan dengan Bung Karno bukanlah sekali saja, tapi beberapa kali.

Saat itu, Bung Kamo menawarkan segala fasilitas dan bantuan supaya Ordo Ramakrishna membuka cabang di Indonesia. Sang Svami tidak langsung menerima tawaran itu dengan alasan beliau masih ingin mengunjungi Surabaya, pulau Bali, dan beberapa kota lain untuk memahami tabiat dan kebutuhan Manusia Indonesia, sebelum memutuskan membuka cabang.

Setelah berkeliling Indonesia selama beberapa bulan, ia memutuskan untuk menangguhkan pembukaan cabang hingga suatu waktu yang tepat. Pandangannya itu pun disampaikannya kepada Bung Karno.

Setelah pulang ke India, para svami lain dari Ordo Ramakrishna  mengkritisi keputusannya, “Seorang kepala negara bersedia memfasilitasi dan membantu, dan Svami, kamu menolak!?! Nggak salah?”

Sang Svami menjawab dengan tenang. By the way, cerita ini saya dengar dari seorang Svami Senior, Svami Tapasyananda sebelum beliau wafat. Kernbali pada jawaban Sang Svami, “Saya sudah berkeliling Indonesia, dan saya belum juga menemukan benih, bibit seorang samnyasi. Jika saya menemukan satu bibit saja, saya akan menerima tawaran Bapak Presiden. Tanpa bibit asli Indonesia, benih yang berasal dari Bumi Indonenesia, sekadar membuka cabang saja tidak berguna.” Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2015). Yoga Sutra Patanjali Bagi Orang Modern, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Dari kutipan buku di atas, maka kami pribadi memang jelas masuk dalam kriteria belum mengenal spiritual sejak dini. Walau menurut pandangan umum, karakter kami tidak jelek-jelek amat, tetapi kami sadar bahwa kami belum spiritual.

Kesadaran mulai muncul saat kami dan istri bergabung dengan Anand Ashram di usia setengah baya di tahun 2004. Selanjutnya, di tahun 2008, saat mempelajari buku Sanyas Dharma, kami baru lebih memahami tujuan hidup. Kami mulai intensif melakukan sadhana, baru sekitar tahun 2015 setelah mengikuti program Yoga sadhana. Tentu saja energi di usia 60-an tahun sudah tinggal sisa. Ditambah berbagai penyakit mulai berdatangan.

cover-buku-yoga-patanjali

Belajarlah Melakoni Spiritual Sebelum Usia 35 tahun

Hingga usia 35-40 tahun, mungkin mereka tidak mengerti arti kebahagiaan, dan menerjemahkan “kenyamanan” sebagai “kebahagiaan”. Setelah usia 35-40 tahun, umumnya mereka  baru tersadarkan bahwa Kenyamanan tidak sama dengan Kebahagiaan. Namun, saat itu pun mereka masih belum tahu cara untuk meraih kebahagiaan sejati. Adalah suatu berkah jika seorang yang sudah berusia 35-40 tahun masih sempat tersadarkan akan kesalahannya, dan mulai mencari kebahagiaan sejati. Biasanya, mereka hidup sebagai layangan yang putus – tanpa arah – bergantung pada arus angin. Demikian satu masa kehidupan tersia-siakan.

Dibutuhkan energi yang luar biasa untuk menarik diri dari pengaruh maya. Dan, energi sedahsyat itu adalah energi seorang pemuda, seorang pemudi di bawah usia 30-35 tahun. Energi semasa itu, energi hingga usia itu adalah energi keberanian, kepahlawanan. Energi yang membuat seorang berani mengambil resiko itu, tidak bertahan lama. Gunakan energi itu sekarang, dan saat ini juga, sebelum ia meredup! Dikutip dari buku: (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

Seorang sahabat yang ingin teman-teman aktif hadir di kelas Selasa Ananda’s Neo Self Empowerment di Jogja, sampai bilang takut kalau yang datang hari Jumat kalah dengan yang hari Selasa karena pada hari Selasa diputarkan video tentang penjelasan Bapak Anand Krishna yang tidak keluar di youtube.

Kami berdua berupaya, tetapi jujur memang kami mepunyai keterbatasan. Kami berdua yang berusia sekitar 60-an memang harus fit kedua-duanya. Salah satu nggak fit kami nggak bisa pergi. Juga kenyataan bahwa setiap pergi ke Jogja esoknya perlu recovery 1 hari karena pulang sudah malam dan menyetir kendaraan sendiri.

Yang kami syukuri adalah dengan adanya video youtube dan buku-buku Bapak Anand Krishna yang masih banyak yang perlu dipelajari dan dipraktekkan. Itu saja persiapan kami menunggu giliran kedatangan utusan Giam Lo Ong, Dewa Yama.

Istri kami setiap membersihkan rumput/tanaman di sela-sela paving atau menggosok paving dari lumut ataupun pekerjaan rumah lainnya, selalu melakukannya sambil merenung. Dan, kadang kami menghentikan pekerjaan cuci baju atau lainnya untuk mendalami perenungan yang kita peroleh.

Misalnya perenungan tentang seseorang yang menjadi dambaan setiap orang. Menjadi Pemimpin selama 2 periode. Punya 2 anak yang mestinya sukses. Kekayaan materinya sudah berlimpah. Mengapa dari berita di dunia maya masih belum juga tampak bahagia?

Tidak semua perenungan kami tulis. Belum tentu juga disampaikan pada waktu study circle seminggu sekali di Solo yang terbuka bagi para pembaca buku. Akan tetapi study circle tersebut bagi kami pribadi terasa sangat bermanfaat. Membahas Soul Awareness sekitar 2 bab sekali pertemuan memberikan tambahan pencerahan yang tadinya belum diperoleh. Ada hal-hal yang hanya kami berdua pahami yang juga belum tentu benar sebelum mendapat pengetahuan dari Guru.

16507904_607845372736503_4157403851028120712_n

Mutiara #Bhagavatam: Belajar dari Leluhur Bagaimana Memilih Pemimpin dengan Bijak

 

buku-bhagavatam-vena-vs-prithu-memilih-pemimpin

Kesalahan memilih pemimpin membuat rakyat terkena bencana

“Kepada para penduduk dan penguasa Negara Lanka, Hanuman muncul dalam wujud raksasanya yang menakutkan. Hal tersebut merupakan peringatan bagi mereka, ‘Kembalikanlah Sita kepada Sri Rama. Rahwana, sadarilah kesalahanmu. Kamu tidak berhak atas Sita.’ Mereka tidak mengindahkan peringatan ini, maka ketika meninggalkan Lanka, Hanuman pun membakar seluruh kota.

“Orang sering bertanya, ‘Mengapa Hanuman melakukan itu? Mengapa menghukum orang-orang yang tidak bersalah, penduduk Lanka, atas kesalahan yang dilakukan oleh penguasa mereka?’

“Hal ini adalah sesuatu yang sangat sulit dihindari. Kita memilih pemimpin kita, kita memilih penguasa kita, kita memilih presiden dan perdana menteri kita, kita memilih anggota parlemen kita, dan kita bahkan memilih para diktator kita. Mereka berada di posisi mereka karena kita juga.Bagaimana kita memilih diktator kita? Mereka tetap berkuasa selama kita terang-terangan takut kepada mereka, atau takut kehilangan sesuatu.” Terjemahan bebas dari kutipan (Krishna, Anand. (2010). The Hanuman Factor, Life Lessons from the Most Successful Spiritual CEO. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

Dalam kisah Srimad Bhagavatam disampaikan bahwa para brahmana dan pejabat kerajaan melihat kerajaan kacau, banyak perampok di mana-mana karena menghilangnya Raja Anga. Raja Anga mengasingkan diri ke hutan karena kecewa berat dengan tindakan Vena sang putra mahkota. Akhirnya para pejabat sepakat memilih Vena menjadi raja pengganti.

Ini adalah kesalahan terbesar. Vena menjadi raja lalim dan menggunakan kekuasaannya dengan semena-mena. Seluruh rakyat kerajaan menderita selama bertahun-tahun. Bunda Bumi sangat menderita menanggung kezaliman Penguasa Vena. Keputusan para pejabat yang memilih Vena adalah keputusan kolektif seluruh rakyat, sehingga seluruh rakyat menerima bencana sesuai andil mereka masing-masing.

Akhirnya para pejabat dan para brahmana membunuh Vena dan merekayasa kelahiran Raja Prithu yang bijak. Tindakan yang mengatasnamakan rakyat tersebut berhasil dan Maharaja Prithu menjadi raja yang bijak dan seluruh rakyat menerima berkahnya. Keputusan memilih Maharaja Prithu pun merupakan keputusan kolektif seluruh masyarakat, sehingga semuanya menerima berkahnya. Tidak ada tindakan seorang rakyat pun yang lepas dari penglihatan Sang Pengawas Agung. Gusti Allah ora sare!

 

Jangan jadikan nasib rakyat sebagai taruhan dalam berjudi di saat pemilihan demi  keuntungan pribadi

Rakyat yang memilih seorang pemimpin yang salah, mesti memikul hasil dari kesalahannya sendiri. Ramai-ramai memilih seorang pemimpin hanya karena ‘cakep’, atau ‘imut-imut sih’, membuktikan bila kita ‘belum cukup cakep’ dalam hal memilih. Lebih parah lagi, ketika kita memilih seorang pemimpin karena tergiur oleh nasi bungkus atau t-shirt. Ada nasi bungkus seharga 5 ribu, ada yang harganya 5 triliun – memilih karena janji keuntungan pribadi adalah kesalahan yang sudah pasti mengundang akibat buruk.

Kemudian, di bawah kepemimpinan seorang pemimpin seperti itu, jika kita menderita, gunung meletus, jumlah kecelakaan meningkat, atau tingkat kejahatan makin tinggi – maka, janganlah menyalahkan sang pemimpin saja. Siapa suruh memilihnya? Siapa yang memilihnya? Sekarang, nikmatilah hasil pilihan yang salah.

Sang Pengawas Agung menyaksikan semua, mengawasi semua. Sudah berulang-kali, Ia pun memberi peringatan. “Kalian sudah salah, lihat apa yang terjadi!” Tapi, kita budeg, tidak mendengar peringatannya. Maka, jika terjadi hal-hal yang lebih parah lagi, janganlah meyalahkan Sang Pengawas. Penjelasan Bhagavad Gita 9:10 dikutip buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

cover-buku-bhagavad-gita

Gusti Allah ora sare, semua tindakan kita orang-per orang tidak lepas dari penglihatan-Nya. Semua menerima akibat akibat tindakannya sendiri. Kesalahan memilih pemimpin oleh seseorang akan datang akibat bagi orang tersebut.

 

Hukum Alam berjalan sangat tepat, setiap tindakan membuahkan akibat

“Kehidupan di dunia ini adalah bagian dari suatu Matriks Kehidupan yang sangat precise – presisinya sungguh luar biasa. Dengan merusak lingkungan, mencemari sumber air, dan sebagainya, kita tidak hanya mencelakakan planet bumi dan penghuninya—termasuk kita sendiri – ,tetapi juga mengganggu Matriks Kehidupan tersebut.

“Meletusnya gunung, terjadinya tsunami, dan sebagainya bukanlah fenomena alam semata. Amukan alam dapat dihindari, atau setidaknya dapat diminimalkan, jika kita bekerja sama dengan alam, jika kita merawat bumi ini dengan penuh kasih. Apalagi mengingat posisi kita yang tinggal di wilayah ring of fire atau cincin api.

“Letupan-letupan emosi kita, awalnya hanya memengaruhi hidup kita, relasi kita, dan orang lain yang berurusan dengan kita. Tetapi lambat laun, ketika letupan-letupan emosi itu berubah menjadi letupan kolektif, terjadilah bencana alam! Setiap tindakan dan perbuatan kita memengaruhi alam sekitar kita. Ketika suatu masyarakat bertindak salah secara kolektif, maka konsekuensinya mesti ditanggung secara kolektif pula.” Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2015). Yoga Sutra Patanjali Bagi Orang Modern, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Keputusan seorang pemimpin dan para wakil rakyat yang tidak selaras dengan alam adalah merupakan kesalahan kolektif. Karena kitalah yang telah memilih mereka.

 

Berjuanglah demi penegakan dharma

“Hidup adalah sebuah perjuangan. Berjuanglah terus-menerus demi penegakan dharma, demi hancurnya adharma. Kita tidak di sini untuk saling jarah-menjarah, atau saling rampas-merampas. Kita tidak mewarisi budaya kekerasan dan barbar seperti itu.

“Jangan berjuang untuk tujuan-tujuan kecil yang tidak berguna. Jangan berjuang untuk memperoleh kursi yang dalam beberapa tahun saja menjadi kadaluarsa. Jangan berjuang untuk memperoleh suara yang tidak cerdas.

“Berjuanglah untuk tujuan besar untuk sesuatu yang mulia. Berjuanglah untuk memperoleh tempat di hati manusia, ya manusia, bukan di hati raksasa. Berjuanglah untuk mencerdaskan sesama anak manusia, supaya mereka memahami arti suara mereka, supaya mereka dapat menggunakan hak suara mereka sesuai dengan tuntutan dharma.

“Perjuangan kita adalah perjuangan sepanjang hidup. Perjuangan kita adalah perjuangan abadi untuk melayani manusia, bumi ini dengan seluruh isinya, bahkan alam semesta. Janganlah mengharapkan pujian dari siapa pun jua. Janganlah menjadikan pujian sebagai pemicu untuk berkarya lebih lanjut. Berkaryalah terus menerus walau dicaci, dimaki, ditolak…….. Berkaryalah karena keyakinan pada apa yang mesti kita kerjakan. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2008). Be The Change, Mahatma Gandhi’s Top 10 Fundamentals For Changing The World. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

cover-buku-be-the-change

Berjuanglah sesuai kemampuan dan tidak usah menunggu menjadi pimpinan baru berjuang. Tidak perlu diketahui orang banyak, biarlah Gusti yang tahu kita ikut berjuang menegakkan dharma sesuai kemampuan dan kelebihan kita. Bagaimana pun pilihlah pemimpin yang sesuai dengan hati nurani kita……..

Catatan:

Perjalanan batin adalah hidup berkesadaran, yang tidak mementingkan kepentingan diri, keluarga maupun kelompok tertentu. Tapi, memperhatikan kepentingan tetangga, masyarakat, sesama warga dunia, yang dengan sendirinya kepentingan diri ikut terurusi. Itu saja. Jadi, tidak ada alasan bagi kita untuk menunda peralihan kesadaran seperti itu, tentunya jika kita ingin meraih kebahagiaan sejati, yang disebut tujuan hidup tertinggi oleh Krsna. Penjelasan Bhagavad Gita 9:33

Sudahkah kita mulai melakukan perlananan batin, mulai latihan olah batin, meditasi?

Identitas Diri: Hasil Mind Memisahkan, Inteligensia Mempersatukan! Anand Krishna’s Sindhi Mehfil Solo

img-20161106-wa0023

Antara mind dan inteligensia

Ada mind, ada intelegensia…….. Mind bersifat “khas”, pribadi. Cara berpikir Anda dan cara berpikir saya berbeda. Tidak bisa 100% sama. Sebaliknya intelegensia bersifat universal. Misalnya: apa yang Anda anggap indah dan apa yang saya anggap indah mungkin berbeda. Definisi kita tentang keindahan mungkin bertolak belakang, karena definisi adalah produk mind, produk pikiran. Tetapi, ketertarikan kita pada keindahan bersifat universal. Menyukai keindahan ini berasal dari intelegensia.

Anda ingin bahagia, saya ingin bahagia, kita semua ingin bahagia. Nah, keinginan untuk hidup bahagia berasal dari intelegensia. Bila Anda menemukan kebahagiaan dari “A” dan saya menemukan dari “B”, perbedaan itu disebabkan oleh mind.

Proporsi mind dan intelegensia dalam diri setiap manusia bisa berubah-ubah. Bisa turun-naik. Bila proporsi mind naik, intelegensia akan turun. Bila intelegensia bertambah, mind berkurang. Bila proporsi mind mengalami kenaikan, manusia menjadi ego-sentris. Dia akan mengutamakan kebahagiaan, kesenangan, kenyamanan, kepentingan diri. Sebaliknya, intelegensia bersifat universal, memikirkan kebahagiaan, kenyamanan, kepentingan umum.

Bangsa kita saat ini sedang mengalami krisis intelegensia, krisis “budhi”, krisis kesadaran. Ada yang berintelegensia tinggi dan bisa menerima perbedaan, tetapi ada juga yang berintelegensia sangat rendah, sehingga tidak bisa menerima perbedaan. Mereka yang berintelegensia rendah ingin menyeragamkan segala sesuatu. Akibatnya, kita berada di ambang disintegrasi. Jalan keluarnya hanya satu: yang berintelegensia rendah meningkatkan intelegensia diri. Atau yang berintelegensia tinggi turun ke bawah.

Mind atau mano selalu melihat dualitas; intelegensia atau budhi selalu melihat kesatuan. Sebetulnya, buddhi juga melihat perbedaan, tapi ia melihat kesatuan di balik perbedaan. Sementara mind hanya melihat perbedaan. Budhi melihat isi; mano melihat kulit. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2001). Atma Bodha Menggapai Kebenaran Sejati Kesadaran Murni dan Kebahagiaan Kekal. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

buku-atmabodha

Berikut pesan Bapak Anand Krishna………

Foto-foto oleh Ko Tunggul Setiawan

Lebih dari 50 orang sedang merayakan bersama Pesta Sindhi Mehfil dengan menari dan menyanyi di Anand Krishna Information Center Solo pada Saptu Malam tanggal 5 November 2016. Di ujung perayaan, para peserta retret Soul Awareness ditambah beberapa tamu undangan duduk dan menyimak Bapak Anand Krishna yang membuka pesan dengan sebuah Puisi Kabir:

Walau tidak ingat kata-kata yang tepat, namun kira-kira intinya, berada dalam merah-Nya, semua menjadi terasa merah, diri kita pun menjadi merah. Merah juga dapat berarti kemuliaan. Sehingga, berada dalam kemuliaan-Nya, semuanya menjadi mulia, diri kita pun larut dalam kemuliaan-Nya. Demikian cuplikan dari buku (Krishna, Anand. (2005). Jalur Sutra Cinta, Dikumpulkan dan Diterjemahkan oleh Rabindranath Tagore,  Saduran dan Ulasan dalam Bahasa Indonesia oleh Anand Krishna. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Identitas kita saat larut dalam Kemuliaan-Nya adalah Mulia juga.

img-20161106-wa0022

Identitas yang sama bagi semua orang (hasil Inteligensia)

Identitas kita yang sama adalah Prana, Energi Kehidupan. Semua ini adalah Permainan Energi…. Kita semua berada dalam kolam, atau, barangkali lebih tepat disebut Lautan Energi.

Kondisi Kita adalah seperti Ikan-Ikan di kolam, kali, sungai, ataupun Iaut. Ada air kehidupan di dalam diri setiap ikan, dan ada kolam air kehidupan di tempat ia berada. Ada air kehidupan di dalamnya, dan ada air kehidupan di luarnya. Ada energi di dalam diri kita, dan ada energi di luar diri kita. Setiap di antara kita mengandung, atau bahkan terbuat, terdiri atas energi—sekaligus diliputi energi.

Energi di luar sama penting dengan energi di dalam diri. Persis seperti air kehidupan di dalam ikan. Kendati berair, memiliki air “dalam”, ia tidak bisa bertahan hidup tanpa air “luar”—tanpa kolam air kehidupan di luar.

Kita semua mempunyai energi, Prana yang sama. Walaupun seseorang lahir cacat, dia pun juga mempunyai Prana. Yang tidak mempunyai Prana sudah mati. Interaksi Prana dalam diri dan Prana di luar diri penting. Coba kita menghisap Prana lewat hidung, kemudian tidak kita keluarkan, maka kita akan mati. Jadi Prana itulah identitas yang mempersatukan.

Bahkan bagi kita yang lahir di Wilayah Peradaban Sindhu, kita mempunya  DNA yang hampir sama, walau wujud kita bisa berbeda. Ada yang gemuk, ada yang kurus, ada yang mancung ada yang pesek.

Identitas aku anak siapa, dari suku bangsa apa, dengan agama/keyakinan apa, alumni mana, profesi apa, tinggal di komplek elit mana, semuanya kita peroleh setelah kelahiran kita. Identitas perolehan dari mind. Pada waktu lahir tidak ada cap di pantat kita terkait identitas-identitas tersebut.

Semuanya adalah identitas palsu, ilusi. Identitas yang mempersatukan kita adalah energi, Prana. Semua identitas dunia kita dapatkan setelah kita hidup. Yang kita bawa sejak lahir hanyalah Prana. Tanpa Prana kita tidak hidup.

Prana itulah yang membuat kita hidup, saat mati prana meninggalkan tubuh kita dan tubuh mengalami pembusukan kembali menjadi elemen alami. Sebenarnya atom pun tidak pernah punah, atom pada abu kremasi kita atau atom pada sisa tubuh kita pun masih berupa atom yang pada suatu kali berpindah ke makhluk lain. Pada waktu kita bernapas pun, kita menarik atom dan mengeluarkan atom dan bertukar atom dengan makhluk-makhluk lain di alam semesta.

Masih saja merupakan misteri, mengapa atom yang dalam keadaan bergerak melompat-lompat dan bervibrasi bisa terikat dalam tubuh kita.

 

Pengaruh Pergaulan

Boleh saja kita rajin meditasi, akan tetapi dengan pergaulan yang tidak menunjang, kesadaran kita akan menurun. Untuk mempertahankan identitas yang mempersatukan kita perlu memiliki pergaulan yang baik.

Bapak Anand Krishna bercerita tentang seorang Dokter Ashram di Rishikesh di tepi Sungai Gangga. Dia sudah berusia sekitar 45 tahun. Saat lulus ditanya oleh Sang Guru, apakah sudah bekerja dan dijawab belum. Kemudian diminta Sang Guru untuk menjadi dokter ashram dan sekarang sudah berjalan 20 tahun.

Apakah ada rasa takut kerja di ashram melayani 2.000 orang sendirian dengan gaji yang amat minim. Tidak! Menurutnya Tidak! Baginya tinggal di ashram sudah cukup. Tinggal di luar identitas dirinya bisa terkecoh dengan identitas-identitas palsu yang tidak membahagiakan.

Ada juga seorang psikolog Barat yang meninggalkan pekerjaannya untuk bekerja di ashram di Rishikesh. Dia pun tidak merasakan fear, cemas meninggalkan pekerjaannya di negerinya dan masuk ashram. “Selama ini saya merasa sudah menjadi ahli psikologi tetapi ternyata saya keliru tentang identitas saya. Ternyata selama ini adalah ego. Identitas sejati berada di atas ego yang hanya memikirkan diri sendiri. Tadinya saya merasa sudah tahu semuanya, ternyata sebelum masuk ashram saya telah salah memilih identitas pribadi saya. Sekarang justru saya takut keluar ashram, takut terpengaruh pergaulan yang tidak menunjang lagi.”

Foto-Foto Ko Tunggul Setiawan

Puasa Navaratri Perayaan bagi Tubuh Pikiran dan Jiwa

buku-soul-awareness-navrati

Puasa saat terjadinya perubahan alam

Kita mengenal puasa yang dilakukan pada saat terjadi perubahan alam yang mempunyai pengaruh yang besar bagi tubuh, pikiran (mind) dan jiwa. Misalnya puasa saat bulan purnama ditambah puasa sehari sebelum dan sesudahnya. Pada saat bulan purnama, air laut mengalami pasang, karena gaya tarik bulan sangat kuat. Demikian pula cairan dalam tubuh kita seperti darah juga mengalami pasang, sehingga tekanan darah ikut naik. Itulah sebabnya pada saat bulan purnama jangan makan durian atau kambing yang menambah tensi tetapi lebih baik berpuasa.

Di Jawa juga dikenal puasa weton, puasa saat kombinasi bulan dan matahari mempengaruhi kelahiran kita, misalnya orang yang lahir Minggu Wage, maka dia puasa setiap Minggu Wage ditambah puasa sehari sebelum dan sesudahnya. Hari Minggu (sun, sunday) adalah nama hari berdasar pembagian kondisi Matahari dan pasaran Wage adalah nama pasaran berdasarkan pembagian kondisi Bulan. Nama hari berdasarkan pembagian kalender sistem matahari, solar dan nama pasaran berdasarkan pembagian kalender sistem bulan, lunar.

Bukan hanya matahari dan bulan, sebenarnya ada 9 “planet astrologi” yang mempengaruhi diri kita.

Puasa Navaratri dilakukan saat perubahan musim dari Musim Gugur ke Musim Dingin di belahan Bumi Utara. Ada yang melakukan juga pada saat perubahan musim dari Musim Semi ke Musim Panas. Hanya saja perayaan yang belakangan kurang begitu terkenal. Untuk tahun ini puasa Navaratri dilakukan mulai tanggal 1 Oktober-9 Oktober 2016. Selama 9 malam (nava ratri) kita mengundang Bunda Ilahi, Shakti dalam wujud, Lakshmi, Durga dan Sarasvati.

 

Puasa tidak makan garam, nasi, sereal, biji-bijian menjaga keseimbangan elemen-elemen alami

“Apa yang terjadi bila kita mengalami ketidakseimbangan elemen-elemen alami, atau bila salah satu elemen menonjol sekali?

“Bila elemen api melebihi kebutuhan kita dan kebutuhan setiap orang berbeda, kita menderita penyakit kama, hawa nafsu yang membara. Kita harus berhati-hati dengan makanan yang mengandung elemen api. Daging, bawang-bawangan dan segala sesuatu yang sangat pedas, manis, asin dan asam.

“Bila elemen angin melebihi kebutuhan kita, muncul penyakit kedua yaitu krodha atau amarah. Latihan Pavanamuktasana dapat membantu kita.

“Bila elemen tanah melebihi kebutuhan kita, muncul penyakit yang ketiga lobha, keserakahan. Lantai di rumah dilapisi karpet atau diganti dengan kayu.

“Cairan dalam diri anda, darah, sperma, sumsum menyebabkan keterikatan. Bahkan air liur dapat menyebabkan keterikatan. Berjemur di bawah matahari pagi akan membantu terjadinya keseimbangan elemen air dalam diri.

“Bila elemen ruang melebihi kebutuhan kita muncullah penyakit ahamkara atau ego, keakuan. Bukan hanya para ilmuwan, para rohaniwan pun bisa kelebihan unsur ini. Karena itu mereka harus lebih banyak berbuat dari pada berbicara.” Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2003). Rahasia Alam Alam Rahasia. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Dari penjelasan pada buku (Krishna, Anand. (2016). Soul Awareness, Menyingkap Rahasia Roh dan Reinkarnasi, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama) disampaikan:

“Sifat Tejas atau Api berasal dari makanan yang mengandung elemen atau unsur api, seperti biji-bijian, serealia yang banyak mengandung karbohidrat, gula/pemanis. Bahkan sayur-mayur pun ada yang lebih banyak mengandung unsur api, misalnya bawang-bawangan dan sebagainya. Jika kita lebih banyak mengonsumsi segala sesuatu yang mengandung tejas jelas unsur api di dalam diri kita akan berlebihan…………

“Buah-buahan segar umumnya mengandung ojas. Namun jika sudah diolah, diawetkan, ditambah lagi dengan cairan gula dan sebagainya, buah yang sama bisa berubah sifat dari ojas menjadi tejas.

“Secara umum, banyak di antara kita yang didominasi oleh Prana. Energi jenis inilah yang menjadi sumber utama bahan bakar untuk menggerakkan tubuh dan sebagainya. Jelas, karena kita memperolehnya setiap saat lewat pernapasan. Lagi-lagi secara umum, yang membedakan sifat energi di dalam diri saya dan sifat energi di dalam diri Anda adalah proporsi tejas dan ojas, atau unsur api dan air, yang ikut memengaruhi persentase prana atau unsur angin/udara. Proporsi Ketiganya Bukanlah Harga Mati. Kita bisa mengatur proporsi mereka dengan mengubah diet kita secara cerdas, dan sesuai dengan kebutuhan kita. Berarti, persentase atau proporsi kandungan setiap unsur energi bisa dikurangi dan ditambah, sesuka dan semau kita. Itu adalah berkah. Itu menunjukkan bahwa sesungguhnya kita bisa mengendalikan hidup kita. Kita bisa menentukan sikap dalam menanggapi sebuah situasi, keadaan, maupun tantangan.”

 

Garam membuat retensi air pada tubuh dan kelebihan elemen air dalam tubuh membuat ketidakseimbangan sehingga keterikatan akan semakin kuat. Puasa garam akan mengurangi keterikatan.

Nasi, sereal membuat kita kebanyakan tejas, unsur api akan berlebihan. Puasa nasi, sereal dan mengkonsumsi buah-buahan mengubah pola makan yang terbiasa kita jalankan.

 

Puasa – Perayaan untuk Tubuh, Pikiran (Mind), dan Jiwa

Puasa memberikan kesempatan pada tubuh dan pikiran (mind) keluar dari pola kebiasaan. Saat kita mengikuti pola tertentu adalah tanda kita sudah disiplin. Akan tetapi disiplin dalam makan juga bisa menjebak kita. Misalnya kita tebelenggu oleh masakan yang banyak garam dan rasa tertentu, dan apabila disediakan makanan yang tidak kita sukai mental-emosional kita menjadi kurang puas.

Indera kita bisa teradiksi, nagih dengan jenis makanan tertentu karena telah menjadi pola yang baku. Orang boleh bilang teradiksi narkoba ataupun rokok mengakibatkan kita menjadi budaknya. Tetapi teradiksi dengan makanan tertentu pun membuat kita menjadi budak juga.

Dari pengalaman saat melakoni puasa Navaratri, di waktu-waktu menjelang sembilan hari makan nasi terasa nagih, dan berbuka puasa nasi terasa sangat lezat. Tubuh kita memang sudah teradiksi dengan nasi.

Puasa memberikan kesempatan pada tubuh dan pikiran untuk keluar dari pola lama yang nampak memanjakan tubuh dan pikiran.

 

Kisah Devi Mahatmyam, Bunda Ilahi sebagai latar belakang Festival Navaratri

Ketiga aspek  Bunda Ilahi dapat dikaitkan dengan tiga sifat dasar makhluk hidup yaitu Satvik, Rajas dan Tamas. Sifat satvik, rajas dan tamas harus dikendalikan dan dilampaui.

Madhu-Kaitabha merupakan wujud kasar dari karakter rendah (asura) manusia, ego palsu yang membuat orang lupa akan jatidirinya. Mempercayai ego palsu termasuk kemalasan untuk berupaya menemukan jatidiri (Sifat Tamas). Madhu Kaithaba muncul kala Kesadaran Vishnu di dalam diri sedang tidur.

Mahishasura adalah simbol dari obsesi (kama, nafsu) asura dalam diri yang bertindak penuh kemarahan (krodha) bila obsesinya tidak tercapai. Apabila obsesi tersebut tercapai justru membuatnya menjadi semakin serakah (lobha). Mahishasura merupakan kejahatan yang bersifat dinamis (Sifat Rajas).

Shumbha dan Nishumbha adalah asura dengan jenis jauh lebih halus, dia adalah raja, sangat kaya, sangat berbudaya, tetapi sangat angkuh. Dia memiliki dominasi atas semua  kebaikan dan ia memiliki seluruh kekayaan dunia. Segala sesuatu yang diinginkan, semua yang terbaik dimiliki oleh dia yang tak terkalahkan dan dia memerintah sejumlah besar panglima. Salah satu panglimanya adalah kejahatan yang disebut Rakthabija yang disamakan dengan karakter jahat yang disebabkan genetik bawaan manusia. Setelah terjadi transformasi dengan mengubah karakter maka kehancuran terakhir dari Shumbha dan Nishumbha baru mungkin terlaksana. Ego yang halus adalah penghalang terakhir hubungan antara manusia dengan Tuhan. Selama masih ada ego masih terjadi dualitas dalam diri.

https://kisahspiritualtaklekangzaman.wordpress.com/2013/10/09/sifat-feminin-energi-dalam-diri-dan-festival-navaratri/

Ketiga sifat manusia yang digambarkan sebagai para asura tersebut semuanya dikalahkan oleh Bunda Ilahi dalam wujud Lakshmi, Sarasvati dan Durga.

Selama 9 hari melakukan puasa Navaratri kita menghormati Bunda Ilahi. Masyarakat telah merayakan festival Navaratri sejak zaman dahulu sebagai penghormatan kepada Bunda Ilahi. Durga, Laksmi dan Sarasvati adalah tiga bentuk shakti, energi yang mewakili tiga jenis potensi dalam diri kita.

Durga memberikan kepada kita energi fisik, mental, dan spiritual; Lakshmi melimpahkan energi pada kita berbagai kesejahteraan, bukan hanya uang, tetapi kekayaan intelektual, kekayaan karakter, dan lain-lain; Sarasvati melimpahkan pada kita energi kecerdasan, kemampuan intelektual dan kekuatan memilah. Selamat berpuasa bagi yang melakukannya.

Ada yang tidak boleh ditinggalkan dalam berpuasa Navaratri, yaitu melakukan good karma, berbuat baik bagi kepentingan umum, dan melakoni sadhana, laku spiritual dengan disiplin. Bunda Ilahi mengasihi mereka yang melakoni hal-hal tersebut.