Keluar Siklus #Reinkarnasi Tak Berkesudahan dengan Buddhi Inteligensia

Inteligensia atau Buddhi, fakultas untuk memilah—kehilangan kemampuannya karena kabut dualitas yang bersifat ilusif.

 

PERSIS SEPERTI MATA MANUSIA YANG TERGANGGU PENGLIHATANNYA karena keadaan yang berkabut. Buddhi atau inteligensia tidak pernah hilang. Selalu ada. Dalam keadaan kabut pun tetap ada. Namun, karena kabut, kemampuannya bisa menurun secara drastis. Keadaan ini bukanlah permanen. Jika sudah tidak ada kabut, inteligensia bekerja kembali sesuai dengan fungsinya untuk memilah dan menentukan apa yang tepat bagi indra, badan, maupun gugusan pikiran serta perasaan. Apa yang tidak tepat, tentunya mesti dihindari.

Seorang bijak, seorang Yogi yang berkarya tanpa pamrih sudah keluar dari kabut, inteligensianya sudah berfungsi normal, sudah bisa dimanfaatkan sepenuhnya dan sesuai dengan fungsinya.

Gunakanlah inteligensia untuk mempertahankan kesadaran kita, supaya tidak ada lagi kabut yang mengganggu!

 

TIDAK TERGANGGU OLEH KABUT DUALITAS berarti, tidak “kegirangan” ketika mendapatkan pengalaman-pengalaman menyenangkan. Pun, tidak tenggelam dalam kenistaan, ketika menghadapi tantangan.

Hadapilah suka dan duka, semua pengalaman yang bertentangan dengan kondisi pikiran serta perasaan yang seimbang, tidak menjadi kacau karena pengalaman-pengalaman tersebut.

Sudah pasti suka dan duka menimbulkan sensasi yang beda. Itu tidak bisa dihindari. Asal, kita tidak larut, tidak terbawa oleh arus.

Umumnya, pengalaman suka membuat kita menjadi sombong. Keberhasilan mernbuat otak kita masuk angin. Dan, pengalaman duka mengempiskan hati kita. Kembang-kempis seperti inilah, yang mesti dihindari,

Tidak menjadi ciut dan putus asa karena pengalaman duka, dan tidak kemasukan angin ego karena pengalaman suka. Bhagavad Gita 5:20 dikutip dari buku: (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

 

Berikut penjelasan dalam buku karya leluhur Nusantara, Dvipantara Jnana Sastra tentang bagaimana menggunakan Buddhi atau Intelegensia untuk melepaskan diri dari jerat mind. Mind inilah yang menciptakan keterikatan, keserakahan, keinginan, kemarahan, iri, dan berbagai kualitas serupa — semuanya menyebabkan kita terlahir kembali.

Buku Dvipantara Jnana Sastra

Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu: Saha vīryam karavāvahai;Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai.Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga Hyang Tunggal senantiasa melindungi kita; menjernihkan pikiran kita: semoga kita dapat berkarya bersama dengan penuh semangat; semoga apa yang kita pelajari mencerahkan dan tidak menyebabkan permusuhan; Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

Pratyahara atau Penarikan Diri berarti menarik indra dari objek-objek indrawi, dengan upaya dan mind yang tenang” Vrhaspati Tattva 54

 

INI BISA DIRAIH dengan menggunakan buddhi atau inteligensia, mind yang telah bertransformasi dan mampu mentransformasi.

Antahkarana kita atau Realitas Batin, Sebab Batin dari segala sesuatu terkait fungsi tubuh kita — dikatakan bekerja dengan empat alat yang sangat efisien, yaitu:

Manah atau Mind; Ahamkara atau Ego, keakuan; Citta atau Inti, Esensi dari Mind, dan Buddhi atau Inteligensia.

Saat ini, dalam kebanyakan kasus, Mind atau Manah dan Ahamkara atau Ego memegang kendali indra-indra kita, kehidupan kita, dan segala fungsi diri kita.

Ini menciptakan keterikatan, keserakahan, keinginan, kemarahan, iri, dan berbagai kualitas serupa — semuanya menyebabkan kita terlahir kembali.

Gagasannya adalah meletakkan Buddhi dan Citta sebagai pemegang kendali. Ini adalah kudeta spiritual yang harus kita lakukan. Semua laku spiritual, termasuk yang disarankan di sini, menyiapkan kita untuk kudeta ini, untuk “peralihan kekuasan” ini.

Berkuasanya Mind dan Ego menjadikan kita sebagai budak indra. Dengan Inteligensia dan Mind halus yang berkuasa, kita terbebaskan dari perbudakan tersebut. Kemudian kita bisa menggunakan indra-indra kita tanpa diperbudak mereka.

Tapi, bagaimana caranya?

Ayat berikutnya menjelaskan……

 

“Senantiasa atentif akan keadaan yang bebas dari dualitas; konstan atau bebas dari perubahan apa pun; senantiasa damai; dan, tidak tergerak, dalam artian tidak terpengaruh oleh segala perubahan di luar diri — inilah yang disebut Dhyana atau Meditasi.” Vrhaspati Tattva 55

 

MEDITASI ADALAH ATENTIVENESS, SIKAP ATENTIF. Seorang ibu yang berasal dari keluarga biasa yang berpegang teguh prinsip-prinsip dan nilai-nilai Peradaban Lembah Sindhu, Shintu, Hindu, Indies, Indo, mengajarkan anaknya untuk senantiasa sadar sejak masa kanak-kanak, “Makanlah dengan atentif, belajarlah dengan atentif……”

Dengan kata lain, meditasi tidak pernah dipisahkan dari kegiatan sehari-hari. Hanyalah ketika kita tidak mendapatkan pendidikan awal semacam itu, pendidikan berbasis nilai sedari awal, barulah kita perlu menyisihkan beberapa jam untuk berlatih meditasi.

 

MEDITASI MEMBUNUH MIND YANG TER-CONDITIONING, inilah tahap paling awal. Selanjutnya, ia membangkitkan Buddhi, Inteligensia.

Ketika kita mulai hidup secara atentif, sesungguhnya kita hidup secara meditatif, hidup secara inteligen. Berbagai metode meditasi adalah baik adanya, selama mereka mampu menuntun kita pada tujuan di atas, yaitu hidup meditatif 24 jam sehari, 7 hari seminggu.

Kita harus memahami bahwa semua metode tersebut bukanlah akhir. Metode-metode meditasi bukanlah tujuan, bukanlah akhir. Entah kita menghabiskan beberapa jam sehari atau beberapa menit setiap hari dalam laku tersebut, tidaklah penting. Yang penting adalah melakoni meditasi. Jika kita bisa mencapai itu dengan sebuah metode tertentu — entah seliar atau tidak konvensional — maka itulah metode yang tepat bagi kita. Jika kita bisa mencapai tujuan hidup meditatif dengan mula-mula menyisihkan setengah jam untuk melakoni metode tertentu, maka mari kita sisihkan setengah jam, atau berapa pun waktu yang dibutuhkan.

Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2016). Dvipantara Jnana Sastra, Jakarta: Centre for Vedic and Dharmic Studies)

Catatan:

Ada mentega dalam susu, walaupun tidak tampak, belum tampak, tapi ia memang di sana. Dengan mengaduk susu, mentega yang tak tampak “menjadi” tampak. Namun, fenomena munculnya mentega ini tidak membuktikan bahwa mentega tidak eksis sebelum “proses pengadukan”. Upaya Manusia, usaha keras manusia — dalam konteks ini adalah sadhana spiritual, meditasi, dan lain-lain — dapat diibaratkan seperti proses mengaduk. Dengan mengaduk susu manah atau mind — buddhi atau inteligensia bermanifestasi. Dengan menggali jauh ke dalam buddhi atau inteligensia, lapisan-lapisan kesadaran yang lebih tinggi ditemukan, dan akhimya menuntun pada Paramatma atau Hyang Tunggal — mentega dari mentega, esensi pokok. Dari buku Dvipantara Jnana Sastra

Sudahkah kita mulai latihan meditasi atau sadhana spiritual?

Om, Sarve bhavantu sukhinaḥ; Sarve santu nirāmayāḥ; Sarve bhadrāṇi paśyantu; Mā kashchit duḥkha bhāgbhavet; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga semua makmur, bahagia dan bebas dari penyakit. Semoga semua mengalami peningkatan kesadaran, dan bebas dari penderitaan. Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/

 

Tidak Ingin Berulang Kali Lahir Kembali? Berkaryalah Tanpa Pamrih! #YogaSutraPatanjali

buku-yoga-sutra-patanjali-sepi-ing-pamrih

Sepi ing Pamrih Rame ing Gawe, Giat Berkarya tanpa Menanam Benih Kelahiran Kembali

Patanjali menekankan bahwa dhyana atau meditasi bukanlah duduk diam dan menjauhkan diri dari keramaian. Meditasi adalah “gaya kerja”—working style. Bekerja secara meditatif, hidup secara meditatif, itulah yang dimaksud. Bekerja dengan cara itulah yang tidak menyisakan residu, tidak ada ampas—tidak ada sesuatu tersisa yang bisa menjadi citta, bisa menjadi benih pikiran dan perasaan.

Bekerja secara meditatif, berarti bekerja tanpa ke-“aku”-an, bekerja tanpa pamrih, tanpa kepentingan diri. Penjelasan Yoga Sutra Patanjali IV.6

…………..

Sebaik-baik perbuatan kita, karma kita, jika masih ada setitik pun pamrih di baliknya, maka memunculkan vasana, obsesi, atau setidaknya keinginan untuk menikmati hasil dari perbuatan baik. Inilah yang kemudian—pada masa kehidupan berikutnya—-menjadi modal bawaan. Inilah modal kebiasaan dan kecenderungan; atau sifat bawaan.

Demikianlah, setiap karma—baik, buruk, atau di antaranya menghasilkan vasana, residu. Kecuali karma tanpa pamrih, Niskama Karma. Penjelasan Yoga Sutra Patanjali IV.8

……………..

Hidup cara Yogi berarti berkarya tanpa pamrih, berbagi berkah dengan mereka yang kurang beruntung. Hidup cara nonYogi berarti memikirkan diri sendiri saja, kepentingan diri, dan mengharapkan imbalan dari setiap perbuatan—mengharapkan kenikmatan atau kaveling di surga pun termasuk pamrih.

Pilihan ada di tangan kita.

Hidup sebagai Yogi berarti hidup tanpa ampas, tanpa residu, tanpa vasana, tanpa benih yang bisa menyebabkan kelahiran ulang. Atau hidup sebagai Non-Yogi, dan mengulangi pengalaman masa lalu. Meninggalkan residu, vasana, yang mempertahankan ke-aku-an diri sebagai manah, mind, gugusan pikiran serta perasaan, yang kemudian memunculkan citta sebagai benih untuk kelahiran ulang. Penjelasan Yoga Sutra Patanjali IV.8

 

Berikut penjelasan Yoga Sutra Patanjali I.19 tentang berkarya tanpa pamrih agar tidak terjadi kelahiran ulang:

Buku Yoga Sutra Patanjali

Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu: Saha vīryam karavāvahai;Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai.Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga Hyang Tunggal senantiasa melindungi kita; menjernihkan pikiran kita: semoga kita dapat berkarya bersama dengan penuh semangat; semoga apa yang kita pelajari mencerahkan dan tidak menyebabkan permusuhan; Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

“Kendati sudah videha, tidak berbadan, dan (elemen-elemen yang menciptakan badan pun sudah terurai serta) menyatu kembali dengan prakrti atau alam-benda—kehendak kuat untuk tetap hidup di dunia-benda bisa tersisa, dan menyebabkan terjadinya kelahiran ulang.” Yoga Sutra Patanjali I.19

 

Kehendak itu muncul dari purva samskara, dari residu kesan-kesan sepanjang hidup yang masih ada dalam gugusan pikiran serta perasaan.

 

BERARTI, SAAT KEMATIAN, hanya elemen-elemen alami kebendaan murni, sepeni air, api, tanah, udara, dan subtansi eter dalam ruang saja yang terurai. Elemen-elemen halus, seperti mind, manah atau gugusan pikiran serta perasaan; ego atau ahamkara, dan sebagainya belum terurai. Mereka masih mengkristal, masih utuh—dan mereka inilah yang kemudian mencari badan baru untuk mengalami kehidupan-ulang.

Keadaan tersebut adalah keadaian umum. Biasanya demikian. Tidak selalu. Jika semasa hidup seseorang sudah bebas dari residu kesan dan pesan masa lalu, pun tiada lagi sesuatu yang dapat mengikat dirinya dengan alam benda, maka saat kematian fisik, bukan saja elemen-elemen alami seperti tanah, air, dan sebagainya yang terurai—mind, ego, intelek, semua ikut terurai. Tiada lagi sesuatu yang mengkristal.

Tiada kesan dan pesan; tiada ingatan atau obsesi; tiada niat untuk “berada” kembali di alam benda ini—maka, Jiwa Individu atau Jivatma menyatu dengan Sang Jiwa Agung, Paramatma.

Bagaimana mencapai keadaan itu?

Selesaikan semua pekerjaan sekarang, saat ini, dalam kehidupan ini juga. Jangan menyisakan pekerjaan rumah. Jangan menyisakan sesuatu yang bisa menjadi benih, bisa menjadi citta yang rentan terhadap vrtti, gejolak, fluktuasi, modifikasi; dan dapat memulai serangkaian pengalaman-pengalaman baru.

Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2015). Yoga Sutra Patanjali Bagi Orang Modern, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Catatan:

“Melaksanakan setiap tugas kita, setiap pekerjaan kita dengan semangat panembahan” – itulah Karma-Yoga. Berarti tidak ada perpisahan antara tugas, kewajiban, pekerjaan, usaha, karir, dan latihan-latihan olah-batin. Tidak perlu meninggalkan keluarga untuk bermeditasi di dalam gua. Tidak perlu meinggalkan pekerjaan untuk bertapa-brata di tengah hutan. Kita dapat berkarya secara meditatif – dengan penuh perhatian dan kewaspadaan. Kita dapat mengabdi kepada Gusti Pangeran sambil berkarya, sambil menjalankan tugas kewajiban kita. Dari buku Karma Yoga

Sudahkah kita melakukan setiap pekerjaan dengan semangat panembahan?

 

Om, Sarve bhavantu sukhinaḥ; Sarve santu nirāmayāḥ; Sarve bhadrāṇi paśyantu; Mā kashchit duḥkha bhāgbhavet; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga semua makmur, bahagia dan bebas dari penyakit. Semoga semua mengalami peningkatan kesadaran, dan bebas dari penderitaan. Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/

 

 

Bersihkan Kerak Jiwa agar Bertemu Maitreya Mitra Alam Semesta #Zen

 

 

buku-zen-maitreya

Manusia hidup di tengah hutan lebat simbol. Di mana-mana ada simbol. Dari logo perusahaan hingga merek kendaraan dan nomor penerbangan, semuanya menggunakan simbol. Kadang, simbol juga bisa berupa angka atau warna. Sesungguhnya hidup kita pun bisa “menjadi” simbol.

Seorang pemersatu seperti Gajah Mada menjadi simbol persatuan. Para pelaku aksi terorisme menjadi simbol kejahatan. Gandhi menjadi simbol Ahimsa, tanpa kekerasan. Mother Theresa menjadi simbol pengabdian. Muhammad menjadi simbol iman dan keberanian. Buddha menjadi simbol kedamaian. Masih banyak simbol-simbol lain. Kehidupan manusia tidak dapat dipisahkan dari simbol. Begitu pula dengan rumah kita, tempat di mana kita tinggal. Dan, kantor kita, tempat di mana kita bekerja.

Intinya: Simbol bersifat sangat pribadi. Satu simbol yang sama bisa memiliki makna yang berbeda bagi Anda dan bagi saya. Maka, kita harus menggunakan simbol sesuai dengan mindset kita, dengan persepsi kita tentang makna di balik simbol itu. Kecuali, kita berhasil mengubah mindset dan menerima sebuah simbol lengkap dengan makna universal yang telah melekat dengannya. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2005). Fengshui Awareness Rahasia Ilmu Kuno bagi  Manusia Modern. One Earth Media)

Berikut adalah simbol, mindset dalam Zen tentang Maitreya. Setelah pikiran terkendalikan, setelah kasunyatan tercapai, setelah keheningan diperoleh, lantas apa? Dia kembali lagi ke dunia, ke pasar dunia ini. Sekarang dia bahagia, dia menikmati perjalanan hidup………..

Buku Zen Bagi Orang Modern

Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu: Saha vīryam karavāvahai;Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai.Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga Hyang Tunggal senantiasa melindungi kita; menjernihkan pikiran kita: semoga kita dapat berkarya bersama dengan penuh semangat; semoga apa yang kita pelajari mencerahkan dan tidak menyebabkan permusuhan; Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

Mengunjungi Pasar Dunia

Setelah pikiran terkendalikan, setelah kasunyatan tercapai, setelah keheningan diperoleh, lantas apa? Haruskah Anda duduk diam atau menyendiri? Tidak, Anda kembali lagi ke dunia, ke pasar dunia ini. Sekarang Anda bahagia, Anda menikmati perjalanan hidup. Dan siapa pun yang bertemu dengan Anda, ikut merasa bahagia, ikut menikmati kehidupan.

Ia yang telah mencapai ke-Buddha-an, ia yang sudah mencapai kesadaran murni, tidak digambarkan sebagai seorang pendeta atau pastor atau ulama yang berparas muka serius. Justru sebaliknya, seorang Buddha, seorang Kristus, seorang Nabi adalah pribadi-pribadi yang murah senyum. Apabila sedang ketawa, ia akan ketawa sepenuhnya, terbahak-bahak.

Cina memiliki latar belakang budaya yang sangat tinggi, sangat indah. Seorang Buddha yang menunda masuk ke alam Nirvana digambarkan sebagai Mi-Le, atau Maitreya—Mitra Dunia, Sahabat, Teman Alam Semesta. Ia berbadan besar. Perutnya buncit, keluar. Perut buncit ini sangat bermakna—yang berarti bahwa apabila sedang ketawa, ia ketawa sepenuhnya, dari perut. Kita tidak selalu demikian. Ketawa kita pun sering kali palsu. Tawa kita tidak keluar dari perut, tidak sepenuhnya.

Dengan tangannya yang satu, ia memegang botol arak. Mabuknya lain dari mabuk kita. Arak pengalaman hidup yang ia miliki memang memabukkan—mabuk kesadaran. Tangan yang satu lagi memegang tongkat dan segala sesuatu yang ia rniliki dibungkus dan diikat pada tongkat itu. Kepemilikan dia sangat minim. Ia tidak perlu lemari, tidak perlu brankas untuk menyirnpannya. Untuk mempertahankan kehidupan ini, tentu ada beberapa hal pokok yang masih harus kita miliki. Seorang Buddha Maitreya pun masih harus memiliki beberapa bahan pokok, demi kelangsungan’ hidup. Apalagi Ia telah memilih untuk berada kembali di Pasar Dunia. Ia tahu persis apa yang dibutuhkan selama dalam pelawatannya. Ia siap untuk itu. Ia telah membekali clirinya.

Anda akan berjumpa dengan dia ,di tengah-tengah keramaian dunia. Mungkin Ia sedang makan hamburger di McDonald’s atau sedang nonton film Titanic. Ia tidak akan menjauhkan diri dari keramaian. Keberadaan—Nya di tengah keramaian dunia merupakan anugerah, kurnia, blessing.

Siapa pun yang bertemu dengannya akan ikut memperoleh pencerahan. Ia menyebarkan virus kesadaran. Kehadiran Dia dalam hidup Anda akan membantu terjadinya peningkatan kesadaran dalarn diri Anda. Ia tidak melakukan sesuatu. Ia tidak perlu menunjukkan mukjizat. Keberadaan Dia merupakan mukjizat. Hanya melihat Dia saja sudah cukup, Anda akan tersentuh oleh Kasih-Nya.

Seorang Maitreya adalah seorang Avalokiteshvara—Ia yang mendengar jeritan kita. Ia menunda Nirvana demi kita, demi saya dan demi Anda. Keberadaan Dia di tengah Anda merupakan suatu kejadian yang langka, amat sangat langka. Bukan sesuatu yang dapat terulang lagi setiap saat. Apabila Anda bertemu dengan seorang Maitreya, dengan seorang Avalokiteshvara, dengan seorang Mitra Alam Semesta, dengan seseorang Yang Mendengarkan Jeritan Makhluk-Makhluk Hidup, berbahagialah, bergembira-rialah! Sentuhan kasih Dia, senyuman Dia dapat mengantar Anda ke Puncak Bukit Kesadaran Murni.

Ada yang menanyakan, bagaimana kita bisa mengenali seorang Maitreya, seorang Buddha, seorang Avalokiteshvara, seorang Kristus, seorang Nabi? Ia mengutip saya, “Menurut Pak Krishna sendiri, Dia mungkin sedang makan burger di McDonald’s, mungkin sedang nonton film Titanic. Ia begitu sederhana. Kalau begitu, kan sulit sekali mengenalinya?!”

Ada satu cara—cara yang paling gampang—atau mungkin satu-satunya cara: Bersihkan kerak dan karat jiwamu—apabila jiwamu tidak berkarat, apabila hatimu bersih, kau tidak perlu mencari-Nya. Ia akan menarik kamu. Ia bagaikan magnet. Ia bisa menarik kamu. Syaratnya hanya satu: bersihkan kotoran yang menutupi jiwamu, hatimu.

Dan untuk membersihkan jiwa itu, tidak terlalu banyak yang harus kau kerjakan. Membersihkan jiwa dalam konteks ini hanya berarti menjadi reseptif. Membersihkan hati berarti membuka diri. Lepaskan prasangka, praduga dan kebimbanganmu. Ia akan menarik kamu. Nuranimu akan mengenali-Nya. Jangan meragukan hal ini. Yakinilah suara hati nurani sendiri.

Seorang Maitreya tidak takut dengan hiruk-piruknya dunia. Ia telah memilih untuk kembali mengunjungi pasar dunia. Ia tidak akan melarikan diri. Keedanan dunia ini tidak bisa mempengaruhi kewarasan-Nya. Dunia akan menganggap—Nya edan, tetapi Ia tidak peduli.

Bukalah dirimu, jiwamu—jadilah reseptif, terbuka—mungkin saat ini kau sedang berhadapan dengan seorang Maitreya, seorang Mitra Dunia!

Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (1998). Zen Bagi Orang Modern. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Catatan:

Mungkin kita pernah baca beberapa buku tentang Zen, tentang Samadhi, tentang rasa bahagia yang merupakan hasil akhir meditasi yang tidak dapat dijelaskan lewat kata-kata. Lantas kita anggap sudah cukup dan kita menganggap sudah menguasai Zen. Anda boleh baca tentang “madu tawon Rengreng”, tetapi sebelum mencicipinya, Anda tidak akan pernah tahu rasa manisnya seperti apa. Memperoleh pengetahuan tentang “madu tawon Rengreng” tidak berguna sama sekali, apabila Anda belum pernah mencicipinya. Dari buku Zen Bagi Orang Modern

Sudahkah kita mulai Latihan Meditasi?

Om, Sarve bhavantu sukhinaḥ; Sarve santu nirāmayāḥ; Sarve bhadrāṇi paśyantu; Mā kashchit duḥkha bhāgbhavet; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga semua makmur, bahagia dan bebas dari penyakit. Semoga semua mengalami peningkatan kesadaran, dan bebas dari penderitaan. Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/

 

 

5 Berkah Alam Semesta bagi Kehidupan Manusia #Meditasi #Yoga

buku-life-workbook-meditasi-di-alam

Pada saat latihan meditasi untuk menenteramkan pikiran liar, kita membuat pengalihan energi dengan cara memperhatikan napas masuk dan napas yang keluar. Dengan sebagian energi pikiran yang terpecah pada memperhatikan napas, pikiran mulai tenang. Setelah beberapa lama pikiran kita beri tugas pula untuk memperhatikan kembung dan kempisnya perut.

Kemudian, setelah lebih tenang, saat menarik napas kita ucapkan dalam hati, “Aku mendapatkan berkah dari semesta” lalu saat membuang napas kita ucapkan, “Dan aku berbagi berkah dengan sesama dengan semua.” Dalam keadaan tenang muncul rasa bahagia yang datang dari dalam diri………... Sumber buku (Krishna, Anand. (2016). Soul Awareness, Menyingkap Rahasia Roh dan Reinkarnasi, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Setelah mendapatkan berkah kita perlu berbagi berkah. Apa sajakah 5 berkah dari alam semesta? Leluhur kita menyebut “berkah” tersebut sebagai hutang berkah (rina) yang harus kita bayar.

Silakan simak penjelasan buku Life Workbook tentang Rina, hutang kita pada alam semesta:

Buku Life Workbook

cover-buku-life-workbook

Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu: Saha vīryam karavāvahai;Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai.Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga Hyang Tunggal senantiasa melindungi kita; menjernihkan pikiran kita: semoga kita dapat berkarya bersama dengan penuh semangat; semoga apa yang kita pelajari mencerahkan dan tidak menyebabkan permusuhan; Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

Interaksi atau hubungan dengan dunia tidak dapat dihindari. Para bijak jaman dulu mengaitkan interaksi atau hubungan tersebut dengan “utang” yang harus dibayar. Jika tidak, kita dikenakan bunga. Kita harus membayar lebih baik lagi.

Adalah 5 macam hutang atau Rina yang disebut :

Pertama: Deva Rina, yaitu utang terhadap Dewa. Yang dimaksud dengan Dewa adalah Kemuliaan, Kesadaran, Pencerahan, karena kata “dewa” sendiri berasal dari “divya”, yang berarti “yang mulai, yang terang, yang berasal dari cahaya”. Elemen-elemen alami seperti api, air, angin, tanah dan ruang juga disebut dewa. Api bersifat membakar. Ia membakar habis segala macam sampah. Air membersihkan. Angin sangat ringan dan dapat menyusup kemana-mana. Ia juga memberi kehidupan. Tanah menopang beban kita semua. Dan tanpa ruang kita tidak dapat eksis. Kekosongan, kehampaan, kesendirian, space atau apa pun sebutannya, menciptakan peluang untuk diisi.

Belajar dari sifat-sifat alami itu adalah utang pertama yang harus dibayar. Belajarlah untuk membakar sampah pikiran , gejolak emosi dan sifat-sifat yang tidak menunjang evolusi batin kita. Belajarlah untuk menjaga kebersihan  kebersihan pikiran, perasaan dan sebagainya. Belajarlah untuk hidup sederhana, ringan dan tidak menjadi beban pada siapa pun jua. Belajarlah untuk membantu, untuk melayani.

Bumi dieksploitasi; isi perutnya dijarah, namun ia tetap mernberi. Kita menginjak-injaknya; ia tidak berkeluh-kesah.

Terakhir, jadilah seperti ruang. Ya, ruang kosong yang selalu akomodatif. Tidak hanya perabot yang baru dibeli, tetapi mebel lama pun diterimanya. Dan semua itu tidak mempengaruhi kekosongannya. Terimalah suka dan duka secara saksama.

Deva Rina juga berarti utang terhadap kemuliaan di dalam diri dan di luar diri. Buatlah sebuah diary pribadi; setiap sore lakukan dialog dengan diary itu, “Apakah aku melakukan sesuatu yang mulia sepanjang hari ini? Apakah aku membantu, melayani tanpa mengharapkan imbalan?”

Banyak hal saya lakukan semata untuk kenikmatan sesaat; itu pun bagi diri sendiri. Makan, minum, tidur, seks — semua itu hanya menyenangkan bagi diri sendiri. Sepanjang hari, saya hanya melayani diri sendiri… lebih tepat lagi, “badan” saya saja. Saya tidak tahu apakah itu juga pengalaman Anda. Marilah bertanya, “Adakah aku memperhatikan kebutuhan jiwaku?” Kebutuhan badan, kebutuhan jiwa, kebutuhan diri, kebutuhan tetangga, kebutuhan negara, kebutuhan dunia — semuanya — harus diperhatikan dan dilayani dengan baik. Itulah kemuliaan. Itulah utang terhadap kemuliaan yang harus dihayar.

 

Kedua: Pitra Rina, utang terhadap leluhur, atau barangkali lebih cepat “utang terhadap keluarga”. Saya mengartikannya demikian, karena keluarga adalah kontinuitas dari leluhur, dan leluhur adalah keluarga.

Banyak orang meninggalkan keluarga dan menjadi petapa. Mereka mengaku tidak terikat lagi dengan keluarga, tetapi menciptakan keterikatan baru pada institusi yang mereka pimpin, pada orang-orang di sekitarnya yang dianggapnya sebagai “murid”.

Dengan meninggalkan rumah, kita tidak dapat memutuskan hubungan dengan dunia. Hubungan kita dengan dunia tidak pernah putus. Jika kita tidak menyelesaikan utang kita terhadap keluarga, kita akan dituntut untuk menyelesaikannya terhadap keluarga yang lebih besar — dunia ini.

Para mesias dan buddha juga meninggalkan rumah, tetapi lain mereka, Iain kita. Kita melarikan diri dari tugas dan tanggung jawab, sementara mereka memikul tugas dan tanggung jawab yang lebih besar, lebih berat.

Kita melalaikan tugas dan tanggung jawab terhadap “satu keluarga”. Mereka mengambil-alih tugas dan tanggung jawab “keluarga besar umat manusia”.

Dalam salah satu tradisi di India, seorang petapa dilarang untuk “buka mulut” tentang apa yang diinginkannya, tetapi tidak ada Iarangan bagi lirikan, maka ia menggunakan kedua matanya untuk meminta apa yang diinginkannya. Ia akan melirik pada apa yang diinginkannya, dan sinyal itu sudah cukup bagi para muridnya. Mereka akan langsung menyediakan apa yang dia lirik itu. Repot sekali bila Anda harus menjamu seorang petapa seperti itu. Anda harus menyuguhinya dengan berbagai macam sajian, kemudian menunggu isyaratnya. Menunggu lirikan matanya, apa yang dimauinya.

Kembali pada tugas dan kewajiban terhadap keluarga, Pitra Rina: apa yang kita lakukan itu adalah tugas kita, kewajiban kita, utang kita. Kita sedang melunasi sesuatu. Janganlah mengharapkan apa-apa dari pekerjaan kita, maka kita akan terbebaskan dari rasa kecewa. Kita tak akan pernah kecewa.

Jadilah seorang pelayan. Layanilah keluarga Anda sebagaimana orangtua Anda pernah melayani Anda. Semangat pelayanan inilah yang semestinya berada di balik pelunasan Pitra Rina.

Janganlah mengharapkan sesuatu dari anak-anak Anda. Di usia senja Anda, jika mereka masih mau melayani Anda, bersyukurlah untuk itu, tetapi janganlah sekali-kali mengharapkan sesuatu dari mereka.

 

Ketiga: Rishi Rina, utang terhadap para bijak, atau terhadap kebijaksanaan itu sendiri.

Cara kita melunasi setiap utang haruslah bijak. Cara kita menangani setiap persoalan harus bijak. Cara kita melayani hidup harus bijak. Dan nilai kebijakan tertinggi adalah : “Aku senang, kau pun harus senang. Aku bahagia, kau pun mesiti bahagia. Berarti, aku tidak dapat mengabaikan kepentinganmu demi kepentingan diri.”

Tentu saja, kita tidak dapat membuat senang atau membahagiakan setiap orang. Mau berbuat apa saja, pasti ada yang senang, ada yang tidak, tetapi setidaknya kita tidak mencelakakan orang Iain. Inilah sikap bijak.

Komitmen kita terhadap non-violence atau non-injury, tidak melakukan kekerasan, tidak menyakiti dengan sengaja adalah kebijaksanaan.

Pelunasan utang yang satu ini menuntut kewaspadaan kita setiap saat. Kita juga harus sadar bahwa no man is an island. Kita tidak bisa hidup seperti pulau terpisah. Interaksi antar manusia tidak dapat dihindari, maka kita harus mengernbangkan sikap gotong-royong, bantu-membantu, bahu-membahu.

 

Keempat: Nara Rina, utang terhadap sesama manusia. Kita tidak dapat berdiri sendiri. Apa yang saya lakukan berdampak terhadap Anda, dan sebaliknya. Semacam ripple effect, efek riak, satu kerikil yang saya lemparkan ke sungai berdampak hingga tepi sungai itu, Walau kita tidak melihatnya.

Para resi jaman dahulu melangkah lebih jauh lagi, “Pencerahan yang diperoleh seorang manusia, kesadaran seorang manusia, juga berdampak terhadap seluruh umat manusia di jamannya.”

Seorang manusia yang tersadarkan dapat menyelamatkan seluruh umat manusia! Siddhartha seorang diri dapat menjadi cahaya bagi seluruh dunia. Isa seorang diri dapat mengubah sejarah peradaban manusia. Muhammad seorang diri mengantar dunia ke era baru.

Karena itu, melayani sesama manusia menjadi suatu keharusan. Adalah tugas, kewajiban serta tanggungjawab kita untuk memperhatikan sesama manusia. Jika Tetangga tidak bisa tidur karena lapar, energinya yang terganggu itu sudah pasti mempengaruhi pola energi di rumah kita.

Sebab itu, melayani sesama manusia tidak perlu dikait-kaitkan dengan agama dan kepercayaan. Melayani sesama manusia adalah kewajiban; dan mutlak sifatnya. Penggunaan istilah “membantu” pun sesungguhnya tidak tepat. Saya tidak dapat membantu; memangnya siapakah diriku? Saya hanya dapat melayani. Dengan melayani orang lain, sesungguhnya kita melayani diri. Nah, di sini boleh menggunakan istilah “membantu”… kita membantu diri sendiri.

 

Kelima: Bhuta Rina, utang terhadap lingkungan. Jauh sebelum ilmuwan modern mulai memperhatikan lingkungan, flora dan fauna, jauh sebelum mereka mencetak istilah baru eco system, para bijak sudah memaparkan, menjelaskan hubungan manusia dengan lingkungannya.

Sekadar menjaga kebersihan lingkungan saja tidak cukup, kita harus melestarikan alam. Merawat flora dan fauna. Jaman dulu, manusia tidak bisa seenaknya menebang pohon. Adat menentukan usia pohon yang dapat ditebang.  Itu pun untuk keperluan tertentu. Ketentuan adat berlaku, Walau puhon itu berada di atas tanah kita sendiri. Kita memiliki tugas, kewajiban serta tanggungjawab terhadap kelstarian alam. Jangan mencemari air dan udara. Berhati-hatilah dengan penggunaan energi. Jangan mengeksploitasi bumi seenaknya. Gunakan ruang yang tersedia, juga tanah yang tersebuda secara bijak.

Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2007). Life Workbook Melangkah dalam Pencerahan, Kendala dalam Perjalanan, dan Cara Mengatasinya. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Om, Sarve bhavantu sukhinaḥ; Sarve santu nirāmayāḥ; Sarve bhadrāṇi paśyantu; Mā kashchit duḥkha bhāgbhavet; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga semua makmur, bahagia dan bebas dari penyakit. Semoga semua mengalami peningkatan kesadaran, dan bebas dari penderitaan. Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/

 

oec1elearning-banner

16711992_612132385641135_3392780409612035997_n

Sanyas, Fokus Melayani Tuhan Bukanlah Pilihan Hidup Semua Orang

 

buku-sanyas-dharma-sanyas-bukan-utk-semua-orang

Seks adalah Insting Dasar Kedua setelah Pertahanan Diri. Sebab itu, sekali-kali jika merasa tergoda, tidak perlu menyalahkan diri. Tidak perlu menghakimi atau menghukum diri. Sifat dari godaan itu mesti dipahami dan tidak ditindaklanjuti menjadi suatu kegiatan, itu saja.

Intinya: Sadarilah godaan itu sebagai godaan, dan biarkanlah lewat dengan sendirinya. Jangan diteruskan menjadi suatu kegiatan. Saat merasa tergoda, Anda mesti bersikap tenang, pindahkan fokus Anda pada Tuhan, pada tujuan Anda menjadi seorang sanyasi. Maka, tidak lama kemudian, energi yang menggoda itu, energi yang hendak menyeret kesadaran Anda ke bawah itu, akan berpindah haluan dan mengalir ke atas lagi. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2012). Sanyas Dharma Mastering the Art of Science of Discipleship Sebuah Panduan bagi Penggiat Dan Perkumpulan Spiritual. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Berikut penjelasan buku Sanyas Dharma bahwa sanyas bukanlah pilihan hidup untuk semua orang.

cover-buku-sanyas-dharma

Buku Sanyas Dharma

Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu: Saha vīryam karavāvahai;Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai.Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga Hyang Tunggal senantiasa melindungi kita; menjernihkan pikiran kita: semoga kita dapat berkarya bersama dengan penuh semangat; semoga apa yang kita pelajari mencerahkan dan tidak menyebabkan permusuhan; Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

Beranakcuculah dan Bertambah Banyak!

Insting seks dibutuhkan untuk hal itu. Sebab itu pula insting seks adalah sesuatu yang alami. Maka tepatlah jika Kristus mengatakan: “Orang yang sanggup menerima pengajaran ini, biarlah ia menerimanya.” Sanyas memang bukan untuk semua orang. Apa jadinya dunia ini jika setiap orang menjadi sanyasi.

Jika kita mempelajari sejarah gerakan-gerakan sanyas, maka keberhasilan Siddharta Gautama, Sang Buddha, mesti diakui. Ia berhasil mengajak ratusan ribu orang untuk menjadi bikshu dan bikshuni, para sanyasi pria dan wanita yang secara sukarela meninggalkan segala kenyamanan duniawi untuk hidup sebagai fakir miskin.

Hingga beberapa abad setelah Buddha wafat, jumlah bikshu dan bikshuni di wilayah peradaban Hindia bertambah terus. Akibatnya, pusat peradabannya saat ini, yakni anak benua India, the India Subcontinent, justru melemah. Tatanan sosial mengalami ketidakseimbangan yang tidak sehat, tidak wajar, tidak lazim. Dan selama lebih dari seribu tahun India dikuasai oleh kekuatan-kekuatan asing.

 

Tidak, Sanyas bukanlah Pilihan Hidup untuk Semua Orang

Sanyas adalah pilihan hidup buat mereka yang betul-betul sudah memutuskan untuk melayani Tuhan dengan segenap jiwa dan raga. Untuk melayani Tuhan yang bersemayam dalam tiap diri setiap makhluk.

Buat mayoritas, jalan hidup “beranak cucu dan bertambah” itulah yang tepat. Itulah pola hidup, jalan hidup, buat mayoritas. Sesungguhnya mayoritas tidak bisa tidak menjalani hidup demikian. Alam mendorong mereka untuk beranakcucu dan bertambah.

Hanya segelintir sanyasi yang kemudian mengartikan “beranakcucu dan bertambah” secara spiritual. Seorang sanyasi tidak perlu beranakcucu lagi. Setiap anak di dunia adalah anaknya. Setiap cucu adalah cucunya.dan setiap keluarga yang mengalami penambahan jumlah anggotanya, adalah keluarganya. Semesta menjadi rumahnya. Kemanapun ia bepergian, sesungguhnya ia hanyalah mengelilingi rumahnya sendiri.

Berikutnya adalah nasihat Swami Kriyananda bagi mereka yang sudah atau akan berkeluarga:

 

Bertahanlah dengan Seorang Pasangan

Dengan cara itu Anda dapat mempraktekkan pengendalian diri. Anda dapat mengupayakannya bersama-sama dengan pasangan Anda. Tentunya jika pasangan Anda memiliki pandangan serupa terhadap hidup dan kehidupan, jika pasangan Anda juga  ingin menempuh perjalanan spiritual, jika ia pun berkehendak yang sama kuatnya untuk meniti jalan ke dalam diri. Kemudian bersama-sama pula Anda dapat mengurangi frekuensi hubungan seks, dan lebih banyak menggunakan energy Anda untuk hal-hal yang bernilai lebih tinggi.

Inilah yang disebut Platonic Love. Sekarang platonic love diartikan sebagai hubungan cinta yang tidak melibatkan fisik. Tidak demikian. Plato tidak mengatakan demikian. Plato tidak menyarankan agar nafsu birahi ditekan atau dikekang. Ia menyarankan pengendalian diri secara berangsur, secara perlahan, tetapi pasti, hingga suatu ketika hubungan seks tidak memiliki arti lagi. Anda tidak menginginkannya lagi.

Jika seorang guru seperti Osho atau Kriyananda memperbolehkan para neo-sanyasi di ashram mereka untuk berkeluarga, maka alasannya adalah seperti yang telah dijelaskan di atas.

Sesungguhnya pemudaran nafsu birahi itu pun sudah diatur oleh alam. Tentu jika Anda tidak berganti-ganti pasangan. Jika Anda berganti-ganti pasangan, dan setiap saat memberi pemicu baru, api nafsu Anda akan berkobar terus.

 

Perhatikan Pasangan-Pasangan yang sudah Berkeluarga Cukup Lama…..

Dengan sendirinya, secara alami, keinginan seksual mereka berkurang. Energi yang tadinya terboroskan untuk berhubungan seks kapan saja dan di mana saja, mulai terpakai untuk hal-hal lain. Seorang istri yang sudah menjadi ibu menggunakannya untuk membesarkan putra-putrinya, untuk menata rumahnya, dan sebagainya, dan seterusnya. Dan seorang suami yang sudah menjadi ayah mulai memikirkan kariernya, pekerjaannya, tabungannya, dan seterusnya.

Demikianlah, energi yang terpakai untuk berhubungan seks saja, mulai terpakai untuk hal-hal lain, kendati semuanya itu masih dalam rangka meningkatkan ego, “Buat anakku, buat keluargaku, buat masa depanku, buat masa depan mereka.”

Seorang sanyasi sajalah yang tidak berpikir demikian. Ia tidak memikirkan keluarga kecil, ia memikirkan keluarga dunia.

 

Bagi para perumah tangga setelah usia 60 berubahlah……..

Masa Vanaprastha selambat-lambatnya pada usia 60 tahun, para orangtua yang telah menyelesaikan tugas dan kewajiban terhadap anak-anak mereka, mesti meninggalkan rumah untuk bermukim di vana, wana, atau hutan untuk selanjutnya ‘sepenuhnya’ mendalami laku spiritual. Ya, dalam masa Vanaprastha, laku spiritual menjadi full time job. Tidak lagi mengurusi dunia dan kebendaan, tetapi mengurusi diri, mengurusi jiwa, dan melayani sesama manusia, sesama makhluk secara purnawaktu.

“Para Vanaprasthi atau pelaku Vanaprastha Ashram boleh juga bergabung dengan salah satu ashram dalam arti padepokan yang di masa lalu berada di tengah hutan.

Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2012). Sanyas Dharma Mastering the Art of Science of Discipleship Sebuah Panduan bagi Penggiat Dan Perkumpulan Spiritual. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Om, Sarve bhavantu sukhinaḥ; Sarve santu nirāmayāḥ; Sarve bhadrāṇi paśyantu; Mā kashchit duḥkha bhāgbhavet; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga semua makmur, bahagia dan bebas dari penyakit. Semoga semua mengalami peningkatan kesadaran, dan bebas dari penderitaan. Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/

 

Banner utk di web

oec3Elearning-Banner-2 (1)

Cara Mengarungi Samudera Kehidupan Belajar dari #HanumanFactor

buku-hanuman-terbang-samudera

Hanuman, dengan memiliki Prabhu Mudrikaa atau “cincin Tuhan”, mewakili sosok manusia yang ideal yang memiliki kemanusiaan, pikiran manusia, hati manusia, serta perasaan-perasaan manusiawi.

Dengan harta yang tak ternilai harganya ini, Hanuman, sang manusia ideal, sudah siap untuk mengarungi samudera samsara, samudera kehidupan. Sesaat kemudian, sebuah pikiran pun muncul, “Bagaimana jika aku kehilangan cincin ini?” Maka, ia pun menyimpan cincin tersebut di dalam mulutnya.

buku-the-hanuman-factor

Cover Buku The Hanuman Factor

Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu; Saha vīryam karavāvahai; Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga Hyang Tunggal senantiasa melindungi kita; menjernihkan pikiran kita: semoga kita dapat berkarya bersama dengan penuh semangat; semoga apa yang kita pelajari mencerahkan dan tidak menyebabkan permusuhan; Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

“Dengan cincin Sri Rama terkunci dengan aman di dalam mulutmu; Tidak heran jika engkau dapat menyeberangi samudera dalam sekejap.” Hanuman Chalisa 19

 

Dengan cincin Sri Rama terkunci dengan aman di dalam mulutmu…

Sebelum berangkat untuk menjalankan misi menemukan Sita, Hanuman memohon kepada Rama untuk memberikan “surat mandat”. “Gusti, bagaimana Bunda Suci dapat mengenali hamba? Dia belum pernah melihat saya sebelumnya. Hamba mesti memiliki sesuatu dari Gusti yang dapat hamba tunjukkan kepada Bunda, sesuatu yang sangat pribadi. Setelah melihat itu, beliau tidak akan ragu lagi bahwa hamba ini adalah utusan Gusti.”

Pemikiran yang sangat cerdas.

Seorang utusan meminta surat mandat yang membuktikan bahwa dia benar-benar seorang utusan. Apakah Hanuman meminta sesuatu yang berlebihan? Tidak, karena ini seperti seorang pegawai yang meminta surat kepegawaiannya.

 

Mari kita merenungkan hal ini:

Surat mandat apa yang kita miliki sebagai manusia? Jenis surat kepegawaian apa yang kita bawa?

Surat mandat yang paling penting adalah kemanusiaan kita. Dan surat kepegawaian kita tertulis pada lapisan kesadaran mental emosional kita. Surat mandat kita adalah kemampuan kita untuk mengekspresikan kemanusian kita, perasaan-perasaan manusiawi kita.

Ketika kita melupakan hal ini, maka kita pun tersesat dalam keramaian dunia yang menggila ini. Kita tidak bisa menunaikan tugas kita, betapa pun sederhananya tugas kita.

Lapisan kesadaran mental/emosional yang kehilangan sisi kemanusiaannya serta perasaan-perasaan manusiawinya akan menjadi tidak manusiawi. Dan manusia yang bertingkah-laku tidak manusiawi telah kehilangan surat mandat kemanusiaanya.

Mudrikaa, yang diterjemahkan sebagai “cincin” di sini, juga bisa bermakna “tanda”, “stempel”, “isyarat” atau “tingkah laku”. Inilah surat mandat yang diberikan oleh Sri Rama kepada Hanuman. Bible mengatakan bahwa kita diciptakan berdasarkan citra Tuhan. Ramayana menguatkan keterangan ini. Hanuman, dengan memiliki Prabhu Mudrikaa atau “cincin Tuhan”, mewakili sosok manusia yang ideal yang memiliki kemanusiaan, pikiran manusia, hati manusia, serta perasaan-perasaan manusiawi.

Dengan harta yang tak ternilai harganya ini, Hanuman, sang manusia ideal, sudah siap untuk mengarungi samudera samsara, samudera kehidupan. Sesaat kemudian, sebuah pikiran pun muncul, “Bagaimana jika aku kehilangan cincin ini?” Maka, ia pun menyimpan cincin tersebut di dalam mulutnya.

 

Waktunya untuk merenung kembali

Apa pesan yang disampaikan dari kisah di atas?

Kisah di atas adalah tentang sebuah pesan yang sangat jelas untuk bertindak, dan untuk tidak membuang-buang energi membicarakan tindakan. Dengan menyimpan cincin tersebut di dalam mulutnya, Hanuman menutup rapat mulutnya. Ia tidak membuka mulut sampai ia tiba di Lanka dan bertemu Sita.

Hal ini penting sekali untuk diingat, yakni pelajaran untuk menyimpan rahasia. Ketika Anda menjalani sebuah misi penting, janganlah membicarakan mengenai pro dan kontra serta tetek bengek mengenai misi yang Anda emban dengan siapa pun.  Pembicaraan semacam itu hanya membuktikan ketidak-siapan dan ketidak-percayaan diri Anda. Dan kegagalan Anda sudah hampir bisa dipastikan. Apa gunanya menjalankan misi Anda kalau demikian?

Dengan menutup rapat mulutnya, Hanuman membuktikan kesiap-sediaan, kepercayaan diri, serta kebulatan tekadnya untuk menjalankan misinya. Hanuman, oh Manusia Ideal, kemenanganmu adalah sesuatu yang pasti!

Secara spiritual, dengan menyimpan cincin Tuhan di dalam mulut sama dengan “mengingat Tuhan” atau “merapalkan nama Tuhan”. Namun kita harus ingat bahwa Hanuman tidak “hanya” melakukan itu saja. Ia juga bekerja, bertindak dan terbang secepat angin.

 

Ia tidak meninggalkan kewajiban-kewajibannya

Ia tidak menyepi di hutan untuk merapalkan nama Tuhan. Ia tidak mengurung diri di dalam kamar untuk melakukan hal tersebut. Ia tidak memasuki rumah ibadah buatan manusia untuk berdoa. Ia merapalkan nama Tuhan, ia berdoa sembari menjalankan kewajibannya. Ia tidak menyisihkan waktu khusus untuk berdoa, meditasi, atau membaca mantra. Ia hidup secara meditatif dan menjadikan hidupnya sebagai ibadah.

 

Tidak heran jika engkau dapat menyeberangi samudera dalam sekejap.

Samudera di sini bukanlah Samudera Hindia, Pasifik atau Atlantik, tetapi Samudera Kehidupan. Ini adalah pengingat kita untuk melakukan yang terbaik, dan menyerahkan hasilnya kepada Keberadaan, kepada Tuhan, kepada Allah, kepada Bapa di Surga, kepada Adhi Buddha, atau Tao, kepada Brahman…

Kita semua tengah berupaya untuk mencapai pantai seberang, yang dengan sekejap dapat diarungi oleh Hanuman. Rahasia yang dimiliki Hanuman adalah “Cincin Tuhan”.

 

Hiduplah sedemikian rupa sehingga menjadi berkah bagi sesama manusia.

Hiduplah secara manusiawi maka Anda pun akan menjadi seorang manusia yang sukses, yang berhasil. Hal ini sudah dijamin, Anda tidak akan bisa salah.

Menyeberangi samudera samsara—yang secara harfiah bermakna “pengulangan” yang pada kata ini sering ditambah dengan kata “penderitaan”—artinya melampaui konflik-konflik internal, kekhawatiran, dan di atas semua itu, keraguan. Hal-hal inilah yang merupakan penghalang yang ada di jalan kita menuju sukses, menuju keberhasilan.

Kita mengalami permasalahan, gejolak serta naik turun kehidupan yang sama secara berulang-ulang. Apa yang disampaikan oleh para motivator zaman sekarang untuk menghadapi tantangan sejatinya hanyalah pengulangan dari permasalahan-permasalahan yang sama. Kita tidak menghadapi tantangan-tantangan yang baru. Kita menghadapi permasalahan lama yang sama dalam wujud yang berbeda. Inilah mengapa kita frustrasi. Inilah mengapa mereka yang tidak mampu mengatasi frustrasi semacam itu akhirnya memutuskan untuk bunuh diri.

 

Kita terus menerus melakukan kesalahan yang sama

Dan, kita terus terjerembab di lubang yang sama. Inilah samsara, pengulangan yang penuh penderitaan, dan membuat kita sangat frustrasi. Jika hal ini tidak berakhir, maka kita tidak akan bisa berkembang, kita tidak bisa maju. Berbuat kesalahan adalah sesuatu yang tidak diinginkan, tetapi membuat kesalahan yang sama adalah sesuatu yang sangat disesalkan. Kita tidak maju selangkah pun selama bertahun-tahun. Kita hanya berjalan, bahkan lari di tempat. Kita melakukan banyak aktifitas dan dinamis, namun kita tidak kemana-mana.

 

Terbanglah, kawan…

Mari kita terbang bersama Hanuman dan mari kita lampaui kemandegan ini. Mari kita tinggalkan tanah gersang yang lama untuk menemukan tanah-tanah baru, padang-padang rumput yang baru. Tidak ada jaminan bahwa kita tidak akan jatuh atau bahwa kita tidak akan membuat kesalahan. Tetapi kita tidak akan terjerembab di lubang kesalahan yang sama, kita akan jatuh di lubang kesalahan yang baru. Kesalahan-kesalahan baru tersebut justru akan memperkaya jiwa kita. Kita akan memperoleh pengalaman-pengalaman baru. Hal ini sangat penting bagi pertumbuhan kita, kemajuan kita dan evolusi kita.

Dikutip dari Terjemahan (Krishna, Anand. (2010). The Hanuman Factor, Life Lessons from the Most Successful Spiritual CEO. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Om, Sarve bhavantu sukhinaḥ; Sarve santu nirāmayāḥ; Sarve bhadrāṇi paśyantu; Mā kashchit duḥkha bhāgbhavet; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga semua makmur, bahagia dan bebas dari penyakit. Semoga semua mengalami peningkatan kesadaran, dan bebas dari penderitaan. Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/

 

banner-utk-di-web

oec4elearning-banner

Mengaku Melihat Hantu Menjelang Tengah Malam? Mengapa?

buku-bhaja-govindam-hantu

“Aneh,” pikir dia, “ada keanehan sekitar sini. Maka ia memejamkan mata, duduk bersila, dan mulai berupaya untuk mengurangi siklus napasnya… Maka terdengarlah suara rintihan dan tangisan….. Biasanya suara-suara itu baru terdengar menjelang tengah malam.

Kenapa banyak orang mengaku melihat hantu sekitar tengah malam? Apa merekabaru keluar dari kuburan pada saat itu? Tentu saja tidak. Hantu adalah roh manusia yang gentayangan. Mereka mati dalam ketidaksadaran, masih banyak obsesi dan keinginan, termasuk keinginan untuk menikmati yang bukan-bukan setelah kematian. Keinginan-keinginan itulah yang membebani jiwa mereka dan memperlambat evolusi berikutnya. Ditambah dengan pemahaman yang keliru tentang kematian, mereka bisa “terjebak” dalam satu masa selama berhari-hari, berminggu-minggu, berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun.

Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2004). Bhaja Govindam Nyanyian Kebijaksanaan Sang Mahaguru Shankara. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

…………….

Cover Buku Bhaja Govindam

Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu: Saha vīryam karavāvahai;Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai.Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga Hyang Tunggal senantiasa melindungi kita; menjernihkan pikiran kita: semoga kita dapat berkarya bersama dengan penuh semangat; semoga apa yang kita pelajari mencerahkan dan tidak menyebabkan permusuhan; Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

Sekian banyak roh yang gentayangan karena satu atau lain hal. Dan, mereka gentayangan sepanjang “hari manusia”, dan bukan di jam-jam tertentu saja. Kita tidak merasakan kehadiran mereka, karena napas kita terlalu cepat. Bila kita bernapas di atas 4 siklus per menit (biasanya 15-18 siklus per menit). Kita tidak dapat merasakan kehadiran mereka.kehadiran mereka dirasakan saat napas kita berkurang dari 4 siklus. Dengan itu, kita baru merasakan energi mereka. Untuk berkomunikasi dengan mereka, harus di bawah 1 siklus per menit. Kemudian dengan cara-cara tertentu, seseorang bisa dengan mudah berkomunikasi dengan mereka.

Ada kalanya saat terjaga di tengah malam, siklus napas kita berkurang secara alami, maka energi mereka pun langsung terasa. Itu sebabnya banyak tradisi menganjurkan doa dan sebagainya pada saat-saat seperti itu. Dengan berdoa atau melakukan apa saja, siklus napas kita akan langsung bertambah, dan kita pindah gelombang. Maka yang “gentayangan” tak terasa lagi kehadirannya. Padahal di gelombang lain, mereka tetap ada. Mereka tidak ke mana-mana.

So, Gokarna mendengar suara rintihan, jeritan dan tangisan. Dia mengenali suara itu sebagai suara Dhundhakari. Ia berusaha untuk bicara dengan Dhundhakari, dengan menggunakan gelombang pikiran saja, tanpa suara, “Dhundhakari, kaukah itu?”

Untuk berkomunikasi dengan roh-roh yang gentayangan, anda harus membuka diri, mengundang mereka. Mereka tidak bisa berkonikasi tanpa undangan. Dan, mereka hanya berkomunikasi lewat pikiran……. Mereka tidak bisa menyusupi badan Anda. Apa yang disebut “kesurupan” bukanlah fenomena fisik. Tidak ada roh yang bisa 1 memasuki badan orang yang masih hidup. Roh hanya berinteraksi lewat gelombang pikiran. Kemudian otak Anda merekam dialog itu dan Anda merasa mendengarnya. Seseorang bahkan bisa bertindak sesuai dengan apa yang didengarnya, lagi-lagi itu bukanlah karena dia tersusupi, tetapi karena memang “ingin” melakukan apa yang diperintahkan kepadanya.

Celakanya, sejak lahir, keinginan untuk membunuh pun sudah ada dalam otak manusia. Percaya atau tidak percaya sama teori Darwin somehow kita mewarisi insting hewani seperti itu dari evolusi panjang. Itu sebabnya, lewat meditasi kitajustru membersihkan otak. Deconditioning dalam bahasa meditasi, dan detoksifikasi dalam bahasa media—dua-duanya sama dan untuk memperbaiki kualitas otak. Kualitas otak tidak bisa diperbaiki dengan apa yang disebut “optimalisasi” otak. Tidak bisa dengan sekadar membaca buku atau diberi perintah, “Janganlah kau membunuh”.

Keinginan untuk membunuh dan perangkat otak yang dapat mewujudkan keinginan itu harus diolah sedemikian rupa, sehingga keinginan untuk membunuh lenyap, dan perangkat lunak otak pun bersih dari program bunuh-membunuh. Kemudian, pemicu-pemicu dari luar pun tak mampu memicu kita untuk melakukan pembunuhan.

Bagaimana seseorang bisa menjadi teroris? Karena insting-insting hewani di dalam dirinya dipertahankan. Tidak ada upaya untuk membersihkannya. Kisah-kisah yang disuguhkan kepadanya lebih banyak bercerita tentang permusuhan, pertengkaran dan kebencian antar kelompok, “Mereka adalah penjahat, dari dulu juga demikian. Coba buka bukumu, baca, ada kan cerita tentang kejahatan mereka.”

Oleh karena itu bisa saja seseorang bersumpah bahwa dia tidak terlibat dalam aksi teror. Mungkin dia pun tidak sadar bahwa pendidikan yang diberikannya kepada anak-anak kecil di asramanya sudah cukup untuk mencetak teroris.

Pembunuhan hanyalah puncak dari kekerasan. Memaksakan kehendak diri sudah merupakan kekerasan. Menganggap diri benar dan semuanya salah pun adalah kekerasan.

Dari teror dan teroris, kita harus kembali ke rumah hantu dalam kisah ini…. “Dhundhakari, Dhundhakari, kaukah itu?” Gokarna berusaha untuk membuka dialog dengan hantu yang sudah hampir dapat dipastikan sebagai roh Dhundhakari.

“Ya, ya, Gokarna, Saudaraku…. Aku Dhundhakari. Saudaramu yang bodoh, tolol, tidak sadar…”

Dhundhakari memang sejak dulu ingin berkomunikasi dengan manusia yang masih hidup, tetapi tidak bisa. Karena memang tidak ada yang membuka diri untuk berkomunikasi dengannya.

Banyak paranormal dan dukun mengaku bisa berkomunikasi dengan roh, padahal mereka hanya membohongi klien mereka. Bila betul-betul berhadapan dengan roh, bisa jadi mereka ngompol.

Dhundhakari bercerita panjang lebar tentang kejadian-kejadian yang menimpa dirinya, ”…. aku sadar semuanya juga karena ulahku sendiri. Karena ketidaksadaran diriku. Gokarna, bantulah aku…… bagaimana mengakhiri penderitaan ini? Sepertinya aku harus melewati masa ini, tetapi tidak bisa…… tidak mampu. Apa yang harus kubuat? Aku sudah mati atau masih hidup—itu pun tidak kuketahui. Aku berusaha bicara, tak ada yang mendengarku. Kemudian, bila aku merintih, tiba-tiba mereka mendengar. Lalu, aku merintih lebih kcras lagi, supaya mereka bisa menolongku, tetapi mereka malah lari, menjauhiku. Penderitaan ini sungguh sangat berat bagiku, Gokarna.”

Gokarna merasa kasihan, tetapi apa yang harus dia lakukan? Bagaimana membantunya? Dhundhakari sudah mati, sudah tidak berbadan…. Jelas sudah tidak dapat melakukan sesuatu yang bisa dilakukannya saat masih berbadan. Lalu apa yang harus Gokarna lakukan?

“Bisa Gokarna, kau bisa membantu dia.” Keberadaan membisiki Gokarna.

Suara itu pun dikenali Gokarna. Dari kelembutannya, ia sudah tahu siapa pembicaranya. “Apa yang dapat kulakukan?”

“Walau tak berbadan, roh masih bisa mendengar, masih bisa melihat, mencium. Bahkan bisa merasakan panas dan dingin. Semua itu karena sisa-sisa pancaindra yang pernah dimilikinya. Sebelum itu pun lenyap dan penderitaannya bertambah, gunakan apa yang tersisa dalam dirinya unruk melampaui penderitaannya.”

Tidak perlu pcnjelasan lebih lanjut. Gokarna memahami maksud Sang Keberadaan. Maka sclama sebelas hari, nonstop ia menyanyikan keagungan dan kemuliaan Keberadaan bagi Dhundhakari.

Irama dan nada tertentu ditambah syair yang memiliki arti, dapat dengan mudah mempengaruhi roh-roh gentayangan. Sebab itu dalam hampir semua tradisi ada hari-hari tertentu di mana mereka yang masih hidup mendoakan mereka yang sudah meninggal. Adalah keliru bila dianggap yang masih hidup mendoakan mereka. Mereka tidak berdoa, tetapi mendoakan. Dan apa salahnya mendoakan mereka yang sudah mendahului kita? Terasa lucu bila ada larangan untuk mendoakan. Perkara berdoa dan mendoakan haruslah masalah pribadi. Bagaimana seseorang bisa menilai doa orang lain, bila ia tidak mampu mengabulkan doanya? Bukankah Yang Maha Mampu mengabulkan doa hanyalah DIA saja? Gusti Allah, maafkan kekhilafan kami. Kekhilafan kami yang terbiasa menilai sesama makhluk-Mu.

Sampaikan pesan Anda lewat prosa dan sampaikan pula lewat puisi, lewat syair, lewat lagu—kemudian amati pengaruhnya, hasilnya……..

Yang disampaikan lewat puisi, lewat syair dan lewat lagu lebih “masuk”! yang diampaikan lewat prosa acap kali menjadi  bahan pembahasan saja.

Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2004). Bhaja Govindam Nyanyian Kebijaksanaan Sang Mahaguru Shankara. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Om, Sarve bhavantu sukhinaḥ; Sarve santu nirāmayāḥ; Sarve bhadrāṇi paśyantu; Mā kashchit duḥkha bhāgbhavet; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga semua makmur, bahagia dan bebas dari penyakit. Semoga semua mengalami peningkatan kesadaran, dan bebas dari penderitaan. Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/

 

Banner 4