Ooh Ternyata Kita Masih Dipertimbangkan Hewan, Persepsi Kita Masih Hewani

Selama melihat dengan persepsi (pashyati) kita masih dipertimbangkan hewan (pashu)

Kita melihat, mempersepsikan (pashyati) segala sesuatu punah karena kita masih berada dalam taraf pashu, hewan. Bhagavad Gita mengajak kita melampaui persepsi. Mengapa demikian? Silakan memperhatikan youtube video oleh Swami Anand Krishna terkait di bawah:

Berikut salah satu contoh melampaui persepsi (pashyati) dalam Bhagavad Gita:

“Ia yang melihat Hyang Maha Kuasa dan Tak Pernah Punah, di balik segala sesuatu yang mengalami kepunahan, baik hidup dan bergerak, maupun yang (tampak) tidak hidup dan tidak bergerak, sesungguhnya telah mengetahui kebenaran sebagaimana adanya.” Bhagavad Gita 13:27

Apa yang biasa terlihat oleh kita adalah sekadar “dampak” dari perubahan. Kelahiran, kematian, kelahiran kembali, dan kematian lagi – semuanya sekadar “dampak” dari perubahan. Kita tidak mampu melihat Ia yang berada di balik perubahan-perubahan itu…..

IA HYANG TAK BERUBAH, TAK PUNAH – Banyak pujangga yang berhenti pada tahap melihat perubahan saja. Bagi mereka perubahan itulah kebenaran mutlak. Mereka melihat perubahan sebagai satu-satunya hukum yang tak pernah berubah.

Pun demikian dengan kepunahan. Banyak pujangga yang hanya melihat sebatas kebendaan, dimana tidak ada satupun benda yang langgeng, semuanya punah.

Adapun kepercayaan dan filsafat yang berkembang di atas landasan tersebut, menolak adanya sesuatu “yang tidak pernah berubah dan tidak pernah punah”. Mereka hanya menerima “hukum perubahan” sebagai hukum yang tidak terelakkan, tidak pernah punah. DEMIKIAN, PEMAHAMAN MEREKA MENJADI PINCANG – Di satu pihak, mereka menolak adanya sesuatu yang tidak pernah berubah dan punah; di pihak lain, mereka pun percaya pada hukum perubahan yang mereka yakini tidak pernah berubah.

Ada pula kepercayaan-kepercayaan yang berlandaskan paham ateisme, dan menolak adanya Tuhan, tetapi menerima “hukum kecelakaan” sebagai cikal-bakal semesta.

Krsna menafikan “hukum kecelakaan yang tidak inteligen” tersebut. Ia menjelaskan bahwa di balik segalanya adalah Super Intelligence. Perhatikan Mini Super Computer yang kita miliki — badan kita. Perhatikan kinerja setiap organ. Mungkinkah semuanya itu hasil dari hukum kecelakaan, ataupun kebetulan semata?

Kebetulan saja manusia tercipta dengan badan dan otak yang mampu menciptakan komputer super termodern. Apa mungkin??? Krsna mengatakan bahwa….

PENCIPTAAN BUKANLAH KECELAKAAN, bukan kebetulan. Ada rencana inteligen, sangat inteligen, di baliknya. Dan jika ada rencana yang inteligen, maka mesti ada pula Super Inteligensia yang merencanakan. Super Inteligensia inilah Hyang Maha Kuasa. Mau disebut Tuhan, atau apa saja – silakan!

Bagi Krsna, seseorang yang memahami hal ini adalah orang yang betul memahami. Seseorang yang dapat melihat hal ini adalah yang betul melihat. Mereka yang tidak memahami dan melihat hal ini, belum cukup paham, belum cukup pula penglihatannya. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia via #BhagavadGitaIndonesia

Video Youtube by Swami Anand Krishna: God and humanbeing go beyond perception

Dalam bahasa Sanskrit setiap kata interconnected, berhubungan. Animal (bahasa Inggris) datang dari bahasa Latin animus. Animus berarti hidup. Bukan hanya animal, kita juga hidup. Tanaman, pohon pun hidup. Gunung, laut, sungai mereka hidup juga. Sehingga bila kamu memilih menggunakan kata animus dari Latin, semuanya adalah animal, hewan, semua benda adalah animal, hewan. Apa pun juga di dunia adalah animal.

Dalam Sanskrit segalanya mempunyai kata. Kata untuk animal, sapi, kucing, anjing, kuda, semuanya dipertimbangkan sebagai pashu. Dan pashu adalah akar kata dari pashyati, dalam bahasa Inggris, perception, persepsi. Jadi seorang yang percaya kepada persepsi, adalah pashu.

Saya melihat hal yang sama dan kalian melihat hal yang sama. Saya melihat statue, kau melihat statue, patung sebagai sapi. Saya mempersepsikan sebagai kendaraan Lord Shiva. Persepsi kalian adalah sapi, persepsi saya adalah Nandi.

Sehingga apabila kita percaya pada superficial things, apa yang dilihat oleh mata kita, apabila kita hanya percaya itu, maka kalian pashu, animal. Apabila kalian ingin menjadi human being, kalian harus penetrasi lebih dalam, apa itu. Kamu harus melihat inti dari segala sesuatu. Jangan percaya kepada sesuatu yang di luar. Yang di luar mungkin tampak jelek, bisa tampak sangat baik. Pergi ke dalam.

Gunakan viveka kalian, bukan mind lagi. Mind berdasar pada data  bank. Kalian mendapat data bank dari banyak inkarnasi, sehingga kalian menetapkan dari data bank untuk menentukan sesuatu itu apa. Tapi apabila kalian tidak menggunakan data bank, kalian tidak menggunakan mind. Kalian mengubah, transform, kepada buddhi. Dan kalian mulai menggunakan viveka, faculty of discretion. Dan kemudian satu tambah satu tidak selalu dua. Satu tambah satu bisa sebelas atau yang lain.

Kalian tahu teknologi digital kita. Mereka hanya berlaku pada 2 digit. Mereka tak dapat bekerja pada 3, 4, 5 digit. Setiap pagi bila kamu di sini, kau tinggal di sini, kita berdoa, chanting di atas, om karam bindhu sanyuktam. Kita tetap harus menemukan teknologi, bukan internet, tapi inner net. Bekerja bukan pada 2 digit tapi dalam single, digit tunggal. Om karam bindu sanyuktam hanya satu digit, saat kalian menemukan teknologi,  fisika, spirituality, kimia,  seni, semua dikombinasikan. Dan inilah tujuan semuanya dari yoga. Menemukan inner net ini. Akses inner net ini. Mulai bekerja dalam 1 digit.

Kalau kalian bekerja dalam satu digit, apa artinya? Otak kalian tidak bekerja lagi. Karena mind selalu bekerja dalam 2 digit. Paling tidak 2 digit. Harus ada ide yang berkonflik. Dan kemudian mind berjalan. Apabila kamu hanya punya satu digit, mind akan istirahat, mind tidak bekerja. Dan inteligen, viveka yang bekerja. Fakultas untuk memilah bekerja.

Sekali lagi, pashu, pashyati, kalian hanya percaya pada persepsi. Dan kita tidak lebih baik dari pada animal. Kita harus menggunakan inteligen kita, kita pergi melampaui mind. Transform the mind. Dan solusi bagaimana men-transform adalah meditasi, tidak ada solusi yang lain.

Silakan simak secara lengkap Video Youtube by Swami Anand Krishna: God and humanbeing go beyond perception

 

Beberapa contoh kata persepsi, pashyati dalam Bhagavad Gita

Menganggap aku sebagai badan, kita merasa berdosa, menganggap aku sebagai  jiwa, itu hanya kesalahan yang bisa diperbaiki. Mobilku yang penyok, tapi aku tidak penyok.

“Mereka yang tidak memahami hal ini (tentang lima unsur penyebab karma); menganggap Jiwa sebagai pelaku. Pandangan mereka tidak tepat, karena pemahaman yang tidak tepat pula.” Bhagavad Gita 18:16

Nah, di sini Krsna jelas sekali. “Jiwa” bukanlah pelaku. Jiwa adalah “aku” yang sejati. Dan Aku adalah saksi bukan pelaku. Kendaraan badan, indra, gugusan pikiran serta perasaan — semuanya bukanlah diriku yang sejati. Diriku yang sejati adalah Jiwa. Aku tidak ikut rusak ketika kendaraan mengalami kerusakan. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia via #BhagavadGitaIndonesia

………………

“Ia yang melihat setiap tindakan di manapun adalah disebabkan oleh alam atau Prakrti; sementara Sang Jiwa sesungguhnya tidak berbuat apa-apa – adalah yang telah melihat sebenarnya.” Bhagavad Gita 13:29

KETIKA KITA MENGIDENTIFIKASIKAN DIRI dengan alam benda, atau dengan peralatan elektronik dalam analogi sebelumnya — kita mengalami suka dan duka, kita mengalami kelahiran dan kematian.

Ketika kita mengidentifikasikan diri dengan “tindakan” dan “ kejadian” yang terjadi — maka kita mengalami pasang surut. Emosi kita bergejolak, pikiran menjadi kacau. Ada awal, ada akhir. Perubahan menjadi satu-satunya hukum yang masuk akal. Kita tidak mampu melihat Sang Jiwa —Listrik — Hyang Abadi. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia via #BhagavadGitaIndonesia

Advertisements

Kesalahpahaman tentang Mitos Here and Now

Tidak ada garis pemisah masa kini dengan masa lalu, masa kini dengan masa depan

Apa yang disebut “masa lalu” tidak terputuskan dari “masa kini”. Apa yang disebut “masa depan” juga terkait dengan “masa kini”, walau tidak atau belum nampak; bukan karena ia belum ada, tetapi karena kita belum bisa melihat sejauh itu. Coba perhatikan. Dapatkah kita memisahkan masa lalu dari masa kini? Apakah kita ada masa depan tanpa masa kini?

Apakah kita dapat menciptakan garis pemisah yang jelas dan tegas antara masa kecil dan masa remaja; antara masa remaja dan masa di mana kita menjadi lebih dewasa, lebih matang, kemudian menua? Dengan berlalunya masa kecil, apakah kekanakan di dalam diri kita ikut berlalu juga? Tidak. Kekanakan itu masih ada di dalam diri kita. Keinginan untuk bermain masih ada. Permainannya sudah beda; alat mainnya lain, tetapi keinginannya sama.

Masa kecil yang kita anggap sudah berlalu itu sesungguhnya tidak pernah berlalu. Ia hanya mengendap. Kemudian, yang muncul di permukaan adalah masa lain. Masa depan yang tidak atau belum nampak itu pun sesungguhnya tidak muncul pada suatu saat tertentu. Kita semua sedang menuju ke masa depan; masa depan kita sedang dalam proses “menjadi”. It is a happening. Ya, masa depan tidak terjadi pada saat tertentu, tetapi adalah proses menjadi dari saat ke saat.

Saat ini saya “merasa” hidup dalam masa kini. Apa betul demikian? Tidak juga. Ketika saya menulis kata-kata ini, untuk sesaat itu saja, untuk seberapa detik itu saja saya berada dalam masa kini; sesaat kemudian, seperberapa detik kemudian, masa itu berlalu sudah. Kendati demikian, apa yang kita lakukan saat ini menentukan apa yang dapat terjadi pada diri kita sesaat kemudian. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2007). The Gita Of Management, Panduan bagi eksekutif muda berwawasan modern. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Setiap saat badan kita berubah, ada sel mati dan ada sel tumbuh, badan “masa kini” selalu berubah

“Masa kecil, dewasa, pun masa tua adalah ‘kejadian-kejadian’ yang terjadi pada badan yang dihuni Jiwa. Kemudian, setelah meninggalkan badan lama, Jiwa memperoleh badan baru. Para bijak tidak pernah meragukan hal ini atau terbingungkan olehnya.” Bhagavad Gita 2:13

Lagi-lagi Krsna berbicara tentang perubahan, tentang Hukum Fisika. Di manakah “badan seorang bayi” yang sekarang telah “menjadi” kita?

PENAMBAHAN USIA TERJADI PADA BADAN – Dan, setiap penambahan membawa perubahan pada badan kita. Badan kita waktu kecil lain dari badan kita sekarang. Sel-sel dalam tubuh kita ketika masih kecil, sudah mutasi semuanya. Sudah mati. Setiap 5 hingga 7 tahun, sel-sel tubuh berubah total.

Berarti, sejak kelahiran hingga ketika usia 40 tahun saja, kita sudah mengalami kematian 5 hingga 8 kali. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia via #BhagavadGitaIndonesia

Video Youtube Swami Anand Krishna: Satisfaction And General Well Being Part 2 The Here and Now Myth, Keeping the Child within Alive

Heraclitus, seorang filosuf Yunani berbicara bahwa kau tidak dapat berdiri pada air yang sama dua kali. Air bergerak, air mengalir, kamu tidak dapat memberhentikan sungai. Kamu meletakkan kaki di air dan kamu tidak dapat merasakan air yang sama. Selalu air yang berbeda yang lewat di kaki kita. Sehingga tidak ada sesuatu seperti yang didefinisikan dalam new age book, sebagai present moment.

Sekarang saya berbicara, apakah saya berada pada present? Tidak! Pada saat kalian mendengarkan saya ada selang waktu yang sangat kecil. Jadi saat saya bicara dan kalian mendengarkan ada selang waktunya. Jadi tidak present moment anymore. Dan, saat saya bicara saya sedang melangkah ke future, masa depan. Saat kau sedang mendengarkan, kau sedang melangkah ke future. Bagaimana kita bisa hidup dalam present moment. Tidak ada orang yang dapat melakukannya. Hanya sebah ungkapan tanpa pemahaman. Apakah present moment , tentang here and now. Apa yang here and now adalah hidupmu sekarang. Dan itu adalah tidak a present moment. Terbentuk oleh berapa trilyun moment, apabila kamu hidup sampai 126 tahun.

Present moment adalah bukan present moment perse. Tapi tentang kehidupan saat ini episode kehidupan saat ini. Jangan fokus pada satu titik kehidupan tapi fokus pada hidup keseluruhan. Komplit keseluruhan paket. Tentu kamu dapat membagi keidupan ini dalam beberapa fase. Tapi kamu tidak dapat hidup pada saat ini di sini perse dan melupakan segalanya.

Semuanya ada kontinuitas. Dapatkah kamu memisahkan ini hidup anak-anak, ini hidup dewasa dan ini hidup orang tua? Tidak bisa. Meskipun setua saya kadang ada sikap anak-anak dalam diri saya. Dan saat saya melihat sifat anak-anak saya akan mati, saya akan membeli boneka anak-anak. Dan kamu akan demikian juga saat menjadi tua, apabila kamu mau hidup lama. Beli boneka, lakukan hal yang aneh.

Jaga anak-anak hidup. Dan saat melihat saya, kalian harus sadar bahwa ada orang tua dalam diri kalian yang menunggu kalian. Orang bijak ada di sana. Yang muda harus sadar bahwa ada yang tua di dalam dirinya. Yang tua harus sadar ada yang muda dalam dirinya. Semuanya kontinuitas.

Dalam penemuan mutakhir, otak kalian belum sempurna sebelum mencapai usia 32 tahun. Sebelum usia mencapai 32, keputusan apapun kemungkinan 40 % akan gagal. Ini yang disebut hukum kemungkinan, hukum kesempatan. Dimana quantum mechanic datang bermain. Apabila semuanya konsisten maka kamu tidak dapat berubah. Fakta bahwa kita berubah tiap hari berterima kasih pada quantum mechanics. Yang artinya tidak ada konsistensi dalam hidup.

Pertimbangkan semua episode. Hari ini mungkin tidak meuaskan, tapi kau dapat meyakinkan apa yang kau lakukan hari ini adalah untuk kebaikan secara umum. Sehingga walaupun kamu tidak puas hari ini kau sudah menanam benih yang baik. Pada suatu saat akan menerima panen yang baik.

Silakan simak video youtube lengkap, Swami Anand Krishna: Satisfaction And General Well Being Part 2 The Here and Now Myth, Keeping the Child within Alive

Masih banyak hal yang penting ditemukan di sana……..

Termasuk bagaimana memelihara sifay anak dalam diri orang tua agar awet usianya…….

Menyelami Bhagavad Gita Menuju Sukses Sejati

Pandangan para Pemikir dan Pemimpin Dunia tentang Bhagavad Gita

Saya sering, bahkan sudah lima kali membaca kitab Bhagavad-Gita dari A sarnpai Z. Saya kagum di situ Saudara-Saudara, Bhagavad-Gitia ternyata bukan kitab klenik.Ternyata bukan kitab untuk duduk di dalam kamar bersemadi hanutupi babahan howo songo hamandeng pucuk ing grono (menutupi lubang yang sembilan, melihat ujung hidung). Tidak Saudara-saudara. Tetapi Bhagavad-Gita adalah dalam bahasa asing “Evangelie van De Daad” (Kitab yang dijabarkan dalam kegiatan sehari-hari) – Gita adalah nyanyian perbuatan, nyanyian amal, nyanyian fi’il. Soekarno – Bapak Bangsa Indonesia/Presidan Ri Pertama

 

Ketika saya membaca Bhagavad-Gita dan merenungkan bagaimana Tuhan menciptakan alam semesta, segala sesuatu yang lain menjadi sangat tidak berarti. Albert Einstein – Saintis

 

Setiap kali keraguan menghantui diriku, setiap kali kekecewaan menatap wajahku, dan aku tidak melihat setitik pun terang harapan, aku berpaling pada Bhagavad-Gita dan menemukan ayat yang dapat menghiburku, dan langsung saja di tengah duka sepedih apa pun, aku tersenyum kembali. Mereka yang melakukan perenungan terhadap Gita akan selalu menemukan makna baru dan keceriaan baru setiap hari. Mahatma Gandhi – Tokoh Perjuangan Tanpa Kekerasan/Ahimsa

Bhagavad-Gita adalah kitab suci bagi seluruh umat manusia. Bahkan bukan sekadar kitab, ia adalah sesuatu yang hidup, dengan pesan baru bagi setiap zaman, dan arti baru bagi setiap peradaban. Sri Aurobindo Filsuf/Rohaniwan India

 

Bahwasanya manusia ibarat pohon yang terbalik (akarnya di atas dan ranting-rantingnya di bawah) merupakan pendapat umum di masa lalu. Terkait dengan konsep yang ada dalam Veda ini, Plato menjelaskannya dalam Timaeus di mana ia mengatakan…. ”Lihat, kita bukanlah tanaman duniawi, tetapi tumbuhan surgawi.” Hal ini menjadi sangat jelas dengan apa yang dikatakan oleh Krsna dalam Bab Kelimabelas Bhagavad-Gita. Carl Jung – Bapak Psikologi Modern

 

Bhagavad-Gita memberi landasan spiritual bagi keberadaan umat manusia. Ia adalah panggilan (bagi seluruh umat manusia) untuk berkarya dan memurnikan kewajibannya di dunia dengan tetap memperhatikan tujuan spiritual semesta yang jauh lebih penting dan mulia. Jawaharlal Nehru — Perdana Menteri India

Saya berhutang pada Bhagavad-Gita…. Membaca buku awal peradaban manusia itu, saya seolah mendengar sebuah pesan dari kerajaan di masa lalu — kerajaan yang besar tapi tenang dan damai Pesan yang disampaikan di masa lalu itu masih mampu menjawab perlanyaan-pertanyaan masa kini. Ralph Waldo Emerson – Salah Seorang Bapak Bangsa Amerika Serikat

 

Kehebatan Bhagavad-Gita terletak pada kemampuanya untuk menjelaskan kebijakan hidup dengan sangat indah, sehingga filsafat pun berbunga menjadi kepercayaan (yang hidup). Herman Hesse – Penulis/Filsuf Jerman

 

Untuk memahami pesan Bhagavad-Gitia yang begitu mulia dan halus, jiwa kita harus berada pada gelombang yang sama dengannya. Rudolph Steiner – Filsuf Barat

 

Bhagavad-Gita menjelaskan evolusi batin manusia dengan sangat jelas dan sistematis, evolusi batin yang dapat mengangkat derajat manusia. Ia adalah intisari dari filsafat perenial yang paling jelas dan Iengkap; karena itu, ia penting bagi seluruh umat manusia, bukan bagi India saja. Adolf Huxley – Filsuf Barat

 

Cara untuk menggapai kesempurnaan hidup dengan bekerja tanpa pamrih — itulah yang dijelaskan oleh Krishna dalam Bhagavad-Gita. Vivekananda – Pujangga besar India yang banyak mengilhami para Founding Fathers Republik Indonesia

 

Kitab Bhagavad-Gita ini boleh dipandang sebagai riwayat kehidupan Korawa dan Pandawa, atau perjalanan manusia menuju ke arah Sempurna. Sebagai ilmu, kitab Bhagavad-Gita menguraikan perjalanan kalbu manusia menuju ke arah Kesempurnaan. Di situlah terjadi pertempuran antar Jiwa dengan Keangkaramurkaannva. dr. Radjimmwedyoningrat — Salah satu Pendiri Boedi Oetomo dan salah satu Founding Fathers Republik Indonesia

Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia via #BhagavadGitaIndonesia

Menyelami Bhagavad Gita Menuju Sukses Sejati

Seperti yang dikatakan oleh Bung Karno, Bhagavad-Gita adalah suatu buku, dimana apa pun yang tertulis disana adalah “applicable” dalam kehidupan sehari-hari.

Coba kita bayangkan mungkin kamu belum lahir, tapi kalau saya melihat ke belakang, 50 tahun yang lalu apa yang applicable pada waktu itu, sekarang tidak applicable. 30 tahun yang lalu, kita masih pakai komputer dengan dos dll, sekarang sudah tidak applicable. Bhagavad-Gita ini menurut Bung Karno applicable dalam segala zaman.

Dalam kurun waktu 20-30 tahun terakhir saya mulai menulis, barangkali sebelum tahun 75-76 tetapi mulai dipublikasikan tahun 97-98. Bhagavad Gita Bagi Orang Modern terbitan Gramedia. Kalau kita melihat tahun 98 berarti sudah berapa tahun. 30 tahun yang lalu, kondisi komputer kita seperti apa? Sekarang seperti apa? Bukan Cuma hardware komputer tetapi bagaimana cara berpikir manusia dengan teknologi. Cara berpikir manusia berubah. Sehingga saya merasa dari waktu ke waktu harus ada pemahaman baru dari Bhagavad Gita.

Ma Archana sebagai pewawancara menanyakan makna Bhagavad Gita 2:40. Tiada upaya yang tersia-sia ; pun tiada tantangan yang tidak teratasi. Dengan menjalankan dharma, berkarya dengan tujuan luhur; niscayalah seseorang terbebaskan dari rasa takut, khawatir dan cemas.

Swami Anand Krishna menjawab dengan mempersilakan membaca ayat sebelumnya Bhagavad Gita 2:39. Demikian apa yang kau dengarkan, adalah kebijaksanaan. Ajaran luhur dari sudut pandang samkhya, yaitu buddhi yoga.

Di sini persoalannya adalah buddhi. Intelegensia ini yang menjadi keyword-nya. Jadi berkarya itu tidak asal berkarya tapi work smart. Berkarya dengan penuh kebijakan dengan mengetahui goal saya apa. Jadi tidak asal bekerja saja. Menggunakan faculty of discrimination, saya melakukan satu pekerjaan itu what is my end goal. Dan dalam Bhagavad Gita yang menjadi menarik sekali, bahwa 3.000 tahun sebelum masehi, dia sudah berbicara tentang transpersonal psychology. Yang sekarang baru dibicarakan. Jadi kalau kita bekerja untuk diri sendiri, saya mau memperkaya diri, memiliki mobil mewah mau memiliki perusahaan yang bagus, atau memiliki istri yang cantik, suami yang tampan, atau apa. Semuanya adalah personal goal. Untuk personal goal kita tidak butuh banyak energi. Bhagavad Gita mengatakan bahwa manusia itu tidak bisa hidup sendiri. Apabila kamu hanya bekerja dengan tujuan personal saja. Kita tidak akan pernah bisa bahagia. Ini adalah konsep yang tidak bisa dipahami selama berabad-abad.

Kalau kita bekerja karena personal goal, biasanya kita membenarkan segala bentuk, segala macam cara bagaimana mencapainya. Bagaimana untuk mencapai personal goal itu kita bisa membenarkan berbagai tipu muslihat. Begitu kita bicara kolektif goal, kita bicara kolektif goal tentang kebersamaan. Jadi kalau Bung Karno mengatakan gotong royong misalnya. Itu nggak bisa personal. Dan begitu kita bicara kolektif goal, kita bicara tentang kebahagiaan bersama. Kesejahteraan bersama. Keadilan untuk semua. Begitu kita bicara tentang kolektiviti, bekerjanya juga harus secara kolektif. Dan ketika kita bekerja secara kolektif, satu plus satu sudah bukan dua lagi. Bisa seberapa pun juga. Tergantung pada kolektivitas ini, niat, dari kolektivitas ini. Bisa relatif sekai dan bisa tak terbatas. Disitu dalam kebahagiaan semua, ada kebahagiaan saya. Dalam kedamaian semua ada kedamian saya. Inklusif.

Kita melihat dari kegagalan pemahaman yang terdahulu. Ego based psychology. Dengan mempertahankan ego kita, lihat apa yang kita lakukan terhadap dunia ini. Dunia ini menjadi sangat individualistik, tidak apa saya mencemari lingkungan, asal saya dapat meningkatkan growth rate, angka pertumbuhan yang bagus. Lingkungan tercemarkan no problem, karena, nanti 50 tahun kemudian saya baru merasakan dampaknya.

Dan itu yang menyebabakan soal global warming, climate change. Saya pernah, percaya bahwa climete change, global warming itu keniscayaan tidak bisa di hindari. Dari dulu juga perah terjadi. Tetapi at what rate? Dulu untuk mencapai kehancuran seperti sekarang, membutuhkan waktu ribuan tahun. Puluhan ribu tahun, dari zaman es ke zaman es yang berikutnya. Sekarang pesat sekali karena industrialisasi, yang tidak inteligen. Tidak menggunakan kata budhi tadi.

Swami Anand Krishna memberikan contoh beberapa orang yang berbuat baik terhadap masyarakat selamat dari penjarahan (silakan simak video dalam bahasa Indonesia tersebut).

Pertanyaan Ma Archana berikutnya, Bhagavad Gita 2:69 Malam bagi makhluk makhluk yang belum menyadari jati dirinya adalah saat para bijak yang sadar akan jati-dirinya, berada dalam keadaan jaga. Dan siang bagi makhluk-makhluk yang belum menyadari diri, adalah malam bagi para bijak.

Malam adalah waktu yang paling tenang. Untuk orang melakukan praktek-praktek spiritual. Meditasi. Semua sudah tidur. Itu bisa jam 10, 11, 12. Dalam tradisi yang kita pelajari ada tradisi di Timur agar berdoa pada malam hari. Atau meditasi pada malam hari. Zikir atau japa pada malam hari. Karena itu adalah waktu yang paling tenang. Malam bagi orang-orang biasa untuk tidur. Orang yang pada mencari jati-dirinya, spiritual, malam adalah waktu yang paling tepat.

Tetapi ada makna yang lain, malam bagi kita semua yang masih duniawi, kita semua menikmati malam itu dengan cara lain, para spiritualis menikmati dengan cara lain. Kita menikmati siang dengan cara lain, para spiritualis menikmati siang dengan cara lain. Kita mengejar harta. Seorang spiritualis tidak mengejar harta. Dia berkarya untuk mengumpulkan cukup, seperti Kabir mengatakan supaya keluargaku juga tidak kelaparan. Dan setiap orang yang datang ke rumahku. Tanpa janji juga tidak akan kelaparan.

Ini adalah konsep. Kita sedang mengejar harta mati-matian, dia mengunmpulkan cukup untuk kebaikan semua. Apa yang kita spend dalam ignorance dia spend dalam light. Kita pikir kita sedang hidup dalam keadaan cerah. Tidak kita tertidur. Kita mencari uang dalam keadaan tidur. Kita menikmati segala sesuatu dalam keadaan tidur. Kita tidak ingat bahwa akhir dari segalanya adalah kematian. Ujung-ujungnya kematian. Adakah sesuatu yang bermakna yang kita lakukan?

Bhagavad Gita jelas sekali, kriterianya apa? Kamu tidak mengharapkan imbalan dari bekerja. Bahkan kamu tidak mengharapkan balasan ucapan terima kasih. Kalau kita masih mengharapkan, jangankan mengharapkan imbalan, uang atau sebagainya, mengharapkan ucapa terima kasih pun itu harapan. Tanpa pamrih. Terus, apakah kita harus menolak, misalnya apakah kita kerja nggak mau digaji. Itu sangat berbeda. Ketika kita bekerja, konsep Bhagavad Gita ini tidak laku di sana. Jadi kalau saya mengabdi di perusahaan itu, bagaimana mengabdi, kamu digaji. Jika kita menganggap persahaan itu adalah milik bersama, sipemilik pun mempunyai pemahaman yang sama. Perusahaan ini milik setiap orang. Dan biarkan saya bekerja sebaik sesuai kemampuan saya. Saya bekerja keras demi kesejaheraan bersama, maka menjadi Bhagavad Gita.

Silakan simak video youtube dalam bahasa Indonesia: Menyelami Bhagavad Gita Menuju Sukses Sejati by Swami Anand Krishna

Karma Yoga Berkarya Bukan untuk Kepentingan Pribadi

Karma Yoga atau Nishkaama Karma adalah Berkarya dengan Motif Transpersonal

Berkarya dengan Motif Transpersonal berarti tidak berkarya demi kepentingan diri saja. Berarti, berkarya demi kepentingan yang melampaui kepentingan diri – demi kepentingan sesama makhluk, bukan sesama manusia saja – demi kepentingan semesata dan bukan kepentingan dunia saja.

Inti Karma Yoga adalah melakukan setiap pekerjaan dengan semangat persembahan kepada Ia Hyang Bersemayam di dalam diri setiap makhluk…

Bagi Dr. Masters, Karma Yoga itu sudah bersifat transpersonal. Jika tidak bersifat transpersonal, maka tidak perlu menambah kata yoga. Yoga mempersatukan kita dengan semesta. Jika suatu pekerjaan atau karma tidak mempersatukan kita dengan semesta – maka cukuplah disebut karma saja. Karma biasa. Tidak pakai “yoga”.  Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2011). Karma Yoga bagi Orang Moderen, Etos Kerja Transpersonal untuk Zaman Baru. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama) #KarmaYogaIndonesia

 

Karma Yoga dan Karma Biasa

Apapun yang kita lakukan, setiap tindakan, setiap perbuatan, baik maupun tidak atau kurang baik – semuanya disebut karma. Namun, tidak setiap karma bersifat nishkaama, atau transpersonal. Sebab itu tidak setiap karma bisa disebut Karma-Yoga.

Karma-Yoga adalah tindakan-tindakan yang mengantar kita ke tingkat kesadaran tinggi – dimana setiap perbuatan menjadi persembahan sebagaimana dikatakan Dr. Masters diatas.

Karma biasa sepenuhnya bergantung pada hukum aksi-reaksi. Karma macam itu bersifat mekanis, dan dapat diprediksi, diramalkan. Kau berbuat baik padaku, maka aku pun berbuat baik padamu. Kau berbuat jahat, maka janganlah mengharapkan kebaikan dariku. Lingkaran tindakan semacam ini menjerat kita dalam hukum karma. Kita seolah berjalan di tempat, tidak ada kemajuan sama sekali. Sementara itu, Karma-Yoga tidak bersifat reaktif.

Ada yang berbuat jahat terhadap Anda, dan Anda tidak membalasnya dengan kejahatan. Anda berhenti sejenak dan merenungkan, “Apakah perbuatanku akan menyelesaikan perkara?” Kemudian, Anda memutuskan untuk tidak membalas kejahatan dengan kejahatan. Maka dengan sendirinya Anda terbebaskan dari lingkaran aksi-reaksi. Anda memutuskan mata rantai yang dapat menjerat dan membelenggu Anda. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2011). Karma Yoga bagi Orang Moderen, Etos Kerja Transpersonal untuk Zaman Baru. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama) #KarmaYogaIndonesia

Setiap perbuatan yang dilakukan dengan kesadaran akan kehadiran Allah di dalam diri sesama itulah Karma-Yoga

Setiap tindakan yang dilakukan untuk memuliakan Allah yang bersemayam di dalam diri setiap makhluk itulah Karma-Yoga.

Perbuatan-perbuatan untuk mengagungkan ego (glorification of the personal ego) bukan Karma-Yoga. Perbuatan-perbuatan seperti itu adalah tindakan biasa, karma biasa, dengan konsekuensi biasa sesuai dengan hukum alam yang berlaku. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2011). Karma Yoga bagi Orang Moderen, Etos Kerja Transpersonal untuk Zaman Baru. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama) #KarmaYogaIndonesia

 

Karma Yoga Mengubah Kesadaran Pribadi yang Sempit Menjadi Kesadaran Ilahi yang Luas

Karma-Yoga tidak hanya mengubah kesadaran-diri berlandaskan ego pribadi dengan kesadaran ilahi – tetapi mengembangkannya secara terus-menerus hingga kehadiran Allah dapat dirasakan setiap saat dan di setiap tempat. Hingga kita mencapai kesadaran kosmis…. Hingga kita menyatu denganNya…. Itulah Yoga!

Karma Yoga atau Transpersonal Way of Action adalah jalan raya yang mengantar kita ke gerbangNya… ke gerbang ilahi yang sesungguhnya berada dimana-mana. Setiap makhluk, setiap bentuk kehidupan memiliki gerbang yang sama. Setiap wujud adalah wujudNya. Menemukan gerbangNya berarti menemukan Dia di dalam diri setiap manusia, setiap wujud kehidupan.

Kiranya kesadaran inilah yang dapat merubah keadaan dunia menjadi lebih baik. Kesadaran inilah yang dapat merevolusi dunia kita. Kesadaran inilah yang dapat mengganti landasan kita bermasyarakat – dari keserakahan menjadi kebersamaan. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2011). Karma Yoga bagi Orang Moderen, Etos Kerja Transpersonal untuk Zaman Baru. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama) #KarmaYogaIndonesia

 

Karma Yoga, Working Purposely: Video Youtube by Swami Anand Krishna

Beda antara Tujuan Hidup dan Harapan/Pamrih

Dalam bahasa Sanskrit Tujuan dan Harapan/Pamrih adalah fenomena yang berbeda. Tujuan Tidak ada kaitan dengan pamrih dan harapan. Menurut para rishi, para bijak sejak ribuan tahun yang lalu, tujuan hidup adalah Ananda, Bliss, Kebahagiaan Abadi.

Tetapi, kita tidak mengharapkan Ananda, kita mengharapkan sesuatu /mempunyai pamrih bagi kepentingan ego pribadi.

Pada video ini Swami Anand Krishna membandingkan 2 video clips yang berbeda yang terjadi di luar negeri:

Pada video kedua tersebut kita dapat melihat seorang polisi, yang tidak membawa senapan dan pistol dan hanya memegang satu tongkat. Apabila ada orang yang tidak benar dia hanya memukul pakai tongkat. Polisi ini tidak terlalu tua tidak terlalu muda. Dia berdiri di tepi jalan. Dan kemudian menunggu saatnya tiba untuk menghentikan lalu lintas, membantu anjing menyeberang jalan.

 

Contoh dari Karma Yoga

Bagaimana tentang polisi tersebut? Apakah keuntungan polisi tersebut dari membantu anjing menyeberang jalan? Ia tidak memperoleh apa-apa.  Ia bahkan tidak sadar bahwa seseorang mengambil video apa yang telah dikerjakannya. Ia tidak melihat kamera. Seseorang mengambil video dari belakang. Ia tidak sadar akan sesuatu. Mungkin ia tidak punya facebook, twitter. Mungkin dia tidak pernah tahu apa yang telah direkam. Ini adalah kemanusiaan. Humanis, tidak ada orang yang melihatmu. Tidak ada orang yang memujimu, tapi kamu melakukan sesuatu yang kau pikir kau kerjakan sebagai seorang manusia.

 

Bisakah kita mengaplikasikan Karama Yoga dalam Bisnis?

Ya, kita dapat mengaplikasikan karma yoga dalam bidang bisnis. Dapat diaplikasikan, mungkin dilaksanakan, tapi kamu harus sangat kaya raya, sehingga kamu dapat melaksanakannya. Tindakan lainnya dengan menutupi keserakahan kita. Ini adalah paling tidak yang dapat kita kerjakan. Kita tutup keserakahan kita kita, dan kita tidak mengharapkan keuntungan terlalu besar. Cukup baik untuk menjalanakan ekonomi agar tetap berjalan, dengan tingkah laku yang benar. Karena keserakahan akan merusak ekonomi secara keseluruhan, membuat seseorang sangat kaya dan seseorang sangat miskin.

Silakan simak video youtube bya Swami Anand Krishna: Karma Yoga, Working Purposely

Sebagian Wilayah Kota Besar Tidak Kondusif bagi Peningkatan Kesadaran? #SpiritualIndonesia

Energi Kota-Kota Besar Tidak Kondusif bagi Pengembangan Spiritual?

Di Singapura dan beberapa kota besar di Thailand, satu dari setiap sepuluh orang yang Anda temui di jalan adalah penderita sakit jiwa—dari ringan hingga berat, yang semestinya sudah dirawat di rumah sakit. Keadaan itu bertambah buruk.

Saya pernah berdiskusi dengan seorang psikiater yang amat sangat terkenal, berdasarkan pengalamannya sendiri, ia menjelaskan: “Di kota-kota besar kita, seperti Jakarta, Surabaya, Medan, dan sebagainya, jumlah penderita sakit jiwa sudah mencapai empat orang di antara sepuluh. Itu pun hitungan yang sangat konservatif. Banyak di antara mereka, bahkan tidak tahu jika sudah termasuk golongan penderita kejiwaan tingkat ringan yang, sewaktu-waktu, bisa berubah tingkat.”

Dengan Sedikit Pemicu dari Luar—misaInya, suatu pengalaman yang terjadi secara tiba-tiba dan di luar dugaan—seseorang bisa kehilangan keseimbangan diri dalam sekejap. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2016). Soul Awareness, Menyingkap Rahasia Roh dan Reinkarnasi, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

Defisiensi energi karena tinggal di kota besar

Defisiensi atau kekurangan energi juga membuat kita takut dengan tempat-tempat yang sempit. Kita tidak bisa tinggal dalam apartemen yang sempit dan kecil. Dinding-dinding apartemen terasa mencekik. Banyak orang-orang yang tinggal di kota-kota besar mengalami defisiensi energi, dan defisiensi itu sedemikian parahnya sehingga tidak terdeteksi sama sekali. Kemudian mereka mencari penyelesaian lewat tarik-menarik energi.

Solusi mengatasi defisiensi energi kota besar

Tembok-tembok, dinding-dinding dalam apartemen itu tidak memenjarakan mereka. Adalah emosi mereka sendiri yang memenjarakan mereka – emosi yang mengakibatkan depresi, stres dan merampas keberanian mereka, semangat mereka, rasa percaya diri mereka. Praanayaama atau latihan-latihan pernapasan dari tradisi Yoga adalah solusi yang paling efektif dan cepat. Namun latihan-latihan tersebut perlu dilakukan secara terartur setiap hari, walau untuk 10 menit saja. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2007). Fear Management, Mengelola Ketakutan, Memacu Evolusi Diri. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Pranayama atau Pengaturan Energi Kehidupan Lewat Napas, Solusi bagi Peningkatan Kesadaran

Tujuannya sama, yaitu melenyapkan segala kakacauan dari citta, dari benih-benih perasaan dan pikiran. Mengatasi segala halangan dalam penjernihan citta—itulah tujuannya. Tujuan ini, hendaknya, tidak pernah terlupakan.

Pranayama bukanlah sekadar latihan pernapasan untuk mengatasi berbagai penyakit dari flu biasa hingga kankerganas. Bukan, bukan hanya untuk menenangkan diri ataumengatasi emosi. Panayama adalah Pengaturan Energi Kehidupan atau Prana lewat berbagai latihan pernapasan. Satu di antaranya yang paling populer dan merupakan dasar, fondasi bagi latihan-latihan lainnya dijelaskan dalam sutra ini.

Dengan mengatur pembuangan napas, kemudian pause berhenti sebentar (sesaat), dan membiarkan penarikan napas terjadi lagi, lalu berhenti sejenak (sesaat saja), buang lagi, berarti kita tidak hanya mengatur napas, tapi mengatur prana, energi kehidupan—supaya CO2 berupa Api-Berahi atau Kamagni tidak berlebihan. Inilah tujuannya.

Sehingga Patanjali pun, dengan penuh keyakinan, mengatakan, “Jika belum bisa menumbuhkembangkan Kasih, Persahabatan, Keceriaan, dan sebagainya, maka lakukan pengolahan prana lewat pengaturan napas.”

Patanjali adalah Saintis Jiwa, the Soul-Scientist, the Scientist of the Soul. Bukan Ahli Jiwa dalam pengertian Psikolog atau Psikiater. Para psikolog dan psikiater yang belum mendalami, belum mengambil spesialisasi “Transpersonal” untuk melepas manah atau gugusan pikiran dan perasaan, ego, dan sebagainya, masih berkutat dengan lapisan-lapisan kesadaran yang justru terkendali oleh manah dan ego, oleh nafsu, oleh berahi. Hanya segelintir—yang telah mendalami Transpersonal Psychology—yang memasuki wilayah Jiwa atau Soul.

Begitu kita melampaui “personal” atau Pribadi—pikiran pribadi, perasaan pribadi, ego pribadi, keinginan dan obsesi pribadi, singkatnya segala pengalaman dan segala sesuatu yang bersifat pribadi atau personal—barulah kita memasuki Wilayah Jiwa atau Soul, yang individualitasnya, personalnya justru merupakan ilusi. Soul atau Jiwa lndividu hanyalah sebuah sebutan, seperti ombak, seperti sinar matahari. Padahal, sesungguhnya ombak tidak terpisahkan dari lautan. Sinar tidak terpisahkan dari matahari. Individual Soul atau Jivatma tidak terpisahkan dari Supreme Soul, Supreme Being, atau Paramatma, Sang Jiwa Agung.

Saat terjadi pause atau “penghentian napas sesaat” setelah pembuangan atau pengembusan napas itulah, individualitas terlepaskan, mind dan ego terlepas, dan Jiwa menyatu dengan Sang Jiwa Agung. Untuk itu, ada latihan Anuloma Viloma atau Alternate Nostril Breathing yang merupakan penjabaran dari apa yang disarankan oleh Patanjali dalam sutra ini. Latihan ini, bersama dengan latihan-latihan penunjang lainnya diberikan di bagian akhir ulasan kita. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2015). Yoga Sutra Patanjali Bagi Orang Modern, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Conducive Place For Spiritual Practices

Gravitasi itu tidak uniform di mana mana? Ada tempat tempat dimana tarikan gravity kurang, ada tempat dimana tarikan gravity lebih? Sesuatu yang scientific ini sangat dipahami dalam yoga, sehingga kita harus hati-hati?

20 tahun yang lalu, Swami Anand Krishna pernah bicara dengan teman di Jakarta, bahwa sebagian tempat di jakarta, energi tidak cukup positif, kondusif untuk membantu kita dalam pengembangan spiritual kita?

Sebagian Bali pun sekarang sudah menjadi demikian? Kalau kamu hanya ingin membuat uang dan sosialisasi kemudian kamu dapat hidup di mana saja? Sebagian kota Denpasar tidak kondusif bagi pegembangan spiritual? Sebagian tempat di ubud juga demikian dan sekarang kondusivitasnya bisa diukur?

Shiva menjadi ikon quantum mechanics? Ketika shiva menari, dimana ada bayangannya menjadi gelap dan ada tempat yang terang? Shiva Nataraja, Master Penari? Shiva dipahami sebagai Dewa Perusak, sebenarnya bukan perusak tapi pendaur ulang? Simbolnya adalah lingga dan yoni? Simbol kreativitas? Shiva sebagai pendaur ulang, Dia tidak merusak tanpa tujuan? Mendaur ulang yang lama dan membawa yang baru?

Salah satu aspek Shiva adalah Rudra, kemarahan. Kemarahan itu diperlukan karena hanya dengan kemarahan itu perusakan dilaksanakan, yang lama harus mati harus dihancurkan? Mind kamu baik atau jelek. Saat kamu menjadi buddha mind mu harus mati? Mind harus reinkarnasi menjadi buddhi, Kesadaran inteligensia?

Ketika energi menari, sebagian dari energi gelap dan sebagian terang? Kita harus hati-hati saat tinggal di suatu kota? Menurut science hanya 3% dari alam semesta yang kondusif bagi pengembangan spiritual? 97% adalah dark material? Dark tidak membantu kamu?

 

Cahaya Terang seorang Master

Awalnya kita harus dekat dengan terang, setelah menjadi master kemudian ke manapun pergi adalah cahaya terang? Tetapi sebelum hal itu terjadi, kita harus waspada tidak masuk daerah gelap? Masuk ke dalam daerah hitam seperti masuk ke black hole langsung hilang? Awalnya kita harus pergi ke tempat yang terang?

 

Sadhana Spiritual

Semua sadhana, semua latihan spiritual sangat penting? Sebagai awal? Yoga dilakukan untuk mengembangkan kesadaran?

Bhajan: Kata Bisa Lewat Prosa, Rasa Hati Terdalam Harus Lewat Lagu #SpiritualIndonesia

Antara Pujangga dan tembang, lagu

Musik, lagu, segala suatu yang lembut yang indah dapat menyentuh hati anda. Seorang pujangga selalu berusaha untuk berdialog dengan hati anda, untuk berkomunikasi lewat rasa. Seorang ilmuwan, seorang cendikiawan, seorang ahli matematika tidak akan melakukan hal itu, ia akan berkomunikasi lewat prosa, tidak lewat puisi. Sebaliknya, apabila seorang pujangga sedang berkomunikasi dengan anda, prosa dia pun akan mengandung puisi. Yang sedang bicara adalah hati dia. Yang sedang diajak bicara adalah hati anda. Demikian terjadilah hubungan dari hati ke hati. Apabila rasa berkembang, pikiran-pikiran yang kacau akan hilang dengan sendirinya. Penjernihan jiwa pun terjadi dengan sendirinya. Menyelami tembang ini merupakan suatu meditasi. Apa yang dapat anda alami dalam alam meditasi juga dapat anda alami lewat tembang ini, lewat kata-kata Sang Pujangga ini. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (1998). Tetap Waras di Jaman Edan, Visi Ronggowarsito Bagi Orang Modern. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama) #SpiritualIndonesia lewat #JamanEdan

 

Kata-kata bisa disampaikan lewat prosa, rasa haruslah disampaikan lewat syair, lewat lagu, nyanyian harus berasal dari hati

Bila anda ingin belajar dari seorang Guru, dia harus turun ke tingkat anda. Dia harus menggunakan bahasa anda. Bisa terjadi dialog, komunikasi. Tetapi tak akan terjadi “komuni”. “Komuni” merupakan fenomena “dari hati ke hati”. Dan itu terjadi, bila kata-kata sudah terlampaui. Dialog dan komunikasi sudah berhenti.

Kita membutuhkan sentuhan Sang Guru. Jiwa, hati, batin kita harus tersentuh olehnya. Kepala disentuh, pundak dan dahi disentuh, tetapi bila hati tak tersentuh, maka hubungan kita dengan Sang Guru masih sebatas hubungan lahiriah. Masih hubungan antara dua badan. Ingat, kata-kata hanya menyentuh pikiran. Kata-kata tidak bisa menyentuh hati. Tilopa menyadari hal itu dan mencari jalan tengah. Dia tetap menggunakan kata-kata, tetapi menyanyikannya, melagukan. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2001). Tantra Yoga. Jakarta: Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama) #SpiritualIndonesia lewat #TantraYogaIndonesia

Lagu seorang Panembah

Dengan setiap napas yang kau tarik, ucapkan nama-Nya. Dan, dengan setiap napas yang kau embuskan, pujilah kebesaran dan kemuliaan-Nya. Seorang panembah mengubah irama napasnya menjadi irama ilahi. Seluruh hidupnya menjadi sebuah lagu indah yang menyanyikan keagungan-Nya.

Bagi seorang panembah sejati tiada lagi perpisahan antara jam kerja, jam libur, jam keluarga, setiap menit, setiap detik adalah saat untuk menyembah. Seorang panembah mengubah seluruh hidupnya menjadi suatu persembahan. Ia melakukan segala sesuatu dengan semangat panembahan, persembahan. Ia menjalani hidup dengan penuh kesadaran.

Panembahan bukanlah pekerjaan mereka yang belum sadar. Mereka yang belum, atau tidak sadar, tidak dapat menjalani hidup seperti itu. Mereka masih menghitung untung-rugi, sementara seorang Panembah sudah tidak peduli akan hal itu.

Para panembah bukan penyanyi profesional. Lagu dan nyanyian adalah ungkapan dari panembahan mereka, bukan profesi mereka. Chaitanya menyadari betul hal tersebut, maka ia ingin bebas dari segala macam syarat dan ketentuan. Ia ingin menyembah secara bebas, tanpa ketergantungan pada sesuatu di luar diri. Ia ingin menyembah dengan cara yang paling sederhana, “hanya dengan mengucapkan nama-Nya.” Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2010). The Ultimate Learning Pembelajaran Untuk Berkesadaran. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama) #SpiritualIndonesia lewat #UltimateLearningIndonesia

 

Significance of bhajan 3 benefits of kirtan in daily life

Ketika kita menyanyikan Om Namo Bhagavate Vasudeva. Bhagavate salah satu nama Tuhan. Bhagavan. Buddhist juga memanggil Buddha Bhagavate Bhagavate berarti the blessed one. The blessed one, yang diberkati yang juga mampu sharing memberkati kalian?

Apabila kamu mampu sharing blessings, berkatmu. Kamu dapat disebut bhagavan. Tuhan tidak hanya monopoli seseorang di langit. Siapa pun juga yang bisa share blessingsnya, dimana hidupnya merupakan blessings bisa disebut Bhagavan? Itu sebabnya banyak guru disebut bhagavan?

Dalam nyanyian ini kita memuliakan Bhagavan. Dan juga kehidupan kita juga merupakan blessings, berkat. Vasudev, caretaker, penjaga, kita harus juga menjadi caretaker dunia ini. Kita mulai dengan garden kita, caretaker garden, take care of the plants, pohon-pohon. Take care segala sesuatu?

Krishna adalah figur kontroversial. Ia menari, menyanyi, tapi pada kesempatan berikutnya berada dalam medan perang Kurukshetra. Menyuruh Arjuna pergi dan bertarung melawan musuh. Arjuna bingung. Panglima komando bingung, mengapa saya harus bertarung melawan sepupu saya? Musuh Arjuna adalah sepupunya?

Krishna berkata, lihat saya di sini bukan karena ini perang keluarga. Saya di sini menegakkan dharma, menegakkan kebenaran, keadilan. Dan sepupumu bukan pada keadilan yang benar, bukan pada sisi dharma? Sehingga saya tidak peduli apakah dia sepupu atau apa? Kamu harus menegakkan dharma dan saya tidak membantumu Arjuna. Jangan salah mengerti. Saya di sini menegakkan dharma tidak membantu kamu?

Kala kamu menyanyi, kamu memanggil Vasudeva, kamu tahu personality lengkap dari Krishna. Seseorang yang penuh lagu penuh tari. Radha menyanyi, dia menari dia mainkan seruling. Tapi pada saat yang sama dia juga menegakkan dharma, dia juga berada pada sisi kebenaran keadilan?

Sehingga saat m menyebut om namo bhagavate vasudeva, kamu menyerah, bersujud. Kamu menyapa Tuhan. Tuhan yang komplit, yang total?

Meditasi tidak hanya duduk diam selama 18 jam sehari dan 20 hari terus menerus tanpa henti.

Buddha berjalan vihar. Vihar adalah jalan-jalan, bepergian, mengembara. Ia tidak pernah berada di satu tempat, dan ia bicara setiap malam?

Meditasi harus 24/7 bukan 18 jam sehari. Dan untuk mencapainya, kita harus latihan meditasi? Melakoni sebagai Vasudeva, menjaga planet, menjaga sekitar, menjaga masyarakat. Kerjakan sesuatu?

Tangan yang membantu lebih baik daripada bibir yang berda. Pergi dan layani apapun kapasitas yang kaumiliki?

Master saya membuat point: saat kita melayani masyarakat paling tidak 4 jam seminggu. Melayani dimana kamu tidak dibayar. Datangi orang-orang tua, ke sekolah, ajari mereka. Datang ke penjara ke rumah sakit. Kerjakan sesuatu layani, kamu dapat melayani komunitasmu lebih dahulu?

Om Namo Bhagavate Vasudeva dan  kamu membuat hidupmu berharga?

Dengan mengetahui bahwa Tuhan adalah Narayana. Tuhan dalam setiap nara, setiap manusia, dalam semua makhluk hidup. Tuhan tidak di surga tidak di altar. Tuhan di mana mana di dalam dirimu, di luar dirimu Sehinggga saat kita menyanyi kita harus mengingat hal ini. Itulah sebabnya menimbulkan bhava.

Bhava adalah perasaan terdalam bukan emosi. Rasa terdalam, bhav, devosi adalah saat rasa terdalam di sana dan tha rythim, irama dan ra melodi. Melodi, irama musik alat musik

Sekarang terbuktikan mereka bagus dalam timwork. Mereka eksekutif dari perusahaan besar, karena pengaruh daripada kirtan dapat memimpin organisasi dalam cara yang lebih baik?

Dengan menyanyi bersama kalian mencoba berhubungan dengan seluruh alam. Bukan hanya dengan grup tertentu. Sehingga kamu dapat bekerja memimpin dalam segala keadaan. Sehingga bukan hanya untuk spiritualmu tapi menspiritualkan seluruh kehidupanmu. Kehidupanmu sehari hari. Itu adalah makna dari kirtan?

Silakan simak video Youtube: Significance of Bhajan 3 Benefits of Kirtan in Daily Life by Swami Anand Krishna

Bhajan Penghubung Jiwa Kita dengan Gusti Hyang Maha Tinggi #SpiritualIndonesia

 

Bhajan! — bernyanyilah

Wahai manusia, wahai pikiran, bernyanyilah! Jalani kehidupan dengan penuh lagu, penuh irama. Bernyanyilah sepanjang hidupmu!

Cara Swami menjinakkan pikiran yang seperti monyet ini sangat musikal. Bhajan, sebagaimana yang disarankan dan diajarkan oleh Swami bukanlah sekedar lagu pujian, namun adalah meditasi dalam musik. Adalah memasuki keadaan pikiran yang meditatif melalui musik.

Sekarang, untuk memasuki keadaan pikiran yang meditatif ini, penting sekali kita untuk BERHENTI MENJALANI HIDUP SEPERTI PROSA!

Kehidupan ini penuh dengan lika-liku, tikungan, tinggi, rendah, naik Dan turun. Kehidupan bukan garis lurus. Kehidupan itu seperti puisi. Tidak seperti prosa. Musik Dan lagu cocok untuk kehidupan. Prosa hanyalah bagian kecil kehidupan manusia. Prosa tidak dapat mewarnai keseluruhan hidup manusia.

Secara alamiah pikiran kita yang seperti monyet ini juga tertarik akan lagu, musik, dan tarian. Pada dasarnya, jauh lebih mudah menjinakkan pikiran dengan musik daripada melalui visualiasi mental dan perenungan intelektual. Begitu pikiran yang seperti monyet ini terjinakkan, visualisasi mental dan perenungan intelektual menjadi mudah.

Pikiran yang jinak adalah pikiran yang bisa berpikir, berefleksi dan bisa membuat keputusan yang cerdas. Pikiran yang jinak adalah pikiran yang mengalami transformasi total. Dikutip dari buku (Das, Sai. (2012). Sai Anand Gita Kidung Mulia Kebahagiaan Sejati. Koperasi Global Anand Krishna Indonesia) #Spiritual Indonesia lewat #SaiAnandGitaIndonesia

Menjinakkan pikiran melalui Bhajan

Pesan kedua Baba “bhajare” mengajak kita untuk menjinakkan, mentransformasi pikiran melalui bhajan lagu, musik dan tarian.Jadi, bukan hanya lirik, melodi, dan koordinasi antara berbagai alat musik dan penyanyi. Lagi dan lagi Swami mengingatkan kita bahwa bhajan harus mampu memberi semangat, harus mengangkat kita. Letupan emosi tidak akan mengangkat hakikat kita yang terdalam; bahkan tidak akan bisa menyentuhnya. Letupan emosi hanya akan menjauhkan kita dari perasaan yang terdalam dari cinta. Letupan emosi tidaklah spiritual. Cinta dan devosi bukanlah emosi. Cinta adalah rasa terdalam, jauh lebih dalam dari emosi yang terdalam. Dan devosi, bhakti, adalah buah dari cinta yang sudah matang.

Bhajan adalah jalan yang menghubungkan jiwa kita dengan Dia Hyang Mahatinggi. Pada ujung jalan satunya adalah sang jiwa, diujung lain adalah Dia Hyang Mahatinggi, Entah kita mau menapaki jalan tersebut atau tidak, tetap saja kita semua sama-sama terhubung.

Bhajan harus bisa mengangkat dan memberi semangat. Jadi, bukan hanya lirik, melodi, dan koordinasi antara berbagai alat musik dan penyanyi. Lagi dan lagi Swami rnengingatkan kita bahwa bbajan harus mampu memberi semangat, harus mengangkat kita.

Nyanyikan lagu kepasrahan, penyerahan diri, bhakti dan cinta. Keluhan tidaklah untuk dinyanyikan. Jangan jadikan keluh-kesah rnenjadi puisi. Tidak akan membantu. Ubahlah keluh-kesah menjadi lagu Pujian dan rasa syukur, “O Tuhan, Engkau telah memilihku untuk melalui pengalaman ini demi peningkatan jiwaku, aku bersyukur padaMu, Ya Tuhan.”

Bhajan yang menyemangati dan mengangkat, akan membawa kita ke dalam alam pikiran meditatif. Maka kemudian musik menjadi meditasi. Dikutip dari buku (Das, Sai. (2012). Sai Anand Gita Kidung Mulia Kebahagiaan Sejati. Koperasi Global Anand Krishna Indonesia) #Spiritual Indonesia lewat #SaiAnandGitaIndonesia

Aku adalah Saama Veda

Sri Krishna dalam Bhagavad Gita berkata bahwa diantara sains, seni dan berbagai cabang ilmu pengetahuan — Dia adalah Saamaveda, yaitu: MUSIK 3-IN-1 YANG MENCAKUP SAINS – SENI – PENGETAHUAN

Banyak cara dapat dilakukan untuk mengalami Tuhan, namun cara yang paling mudah adalah melalui musik, melalui lagu — melalui musik yang menyemangati dan mengangkat; melalui lagu yang penuh rasa.

Swami sering berkata bahwa Tuhan berada di tempat di mana para penyembah menyanyikan Kemuliaan-Nya. Tidak berarti juga bahwa Tuhan tidak berada di tempat di mana kemuliaan-Nya tidak dinyanyikan, atau tempat di mana para panembah menampakkan raut wajah yang kuyu dan menyanyikan lagu-lagu melankolis.

Dia Hyang Maha Ada sudah pasti ada di mana-mana dan setiap saat. Adalah karena keterbatasan kita sendiri yang membuat kita tidak bisa merasakan kehadiran-Nya di mana-mana dan setiap saat. Dan bhajan yang mengangkat semangat adalah cara yang paling gampang untuk melampaui keterbatasan tersebut.

Bhajan yang memberikan semangat dan mengangkat membuat kita merasa hidup, karena hidup ini sesungguhnya musical. Kita tinggal di alam semesta yang bergetar secara harmonis. Dengarkanlah kicauan burung. Dengarkan suara angin sepoi-sepoi. Dengarkan irama musik dari air sungai yang mengalir dan menari-nari. Semuanya adalah musik dan semuanya harmonis…

 

Bhajan adalah jalan yang menghubungkan jiwa kita dengan Dia Hyang Mahatinggi. Pada ujung jalan satunya adalah sang jiwa, di ujung lain adalah Dia Hyang Mahatinggi. Entah kita mau menapaki jalan tersebut atau tidak, tetap saja kita semua sama-sama terhubung.

Jika kita tidak menapaki jalan tersebut, maka hubungan ini hanya menjadi sebuah potensi saja, tidak terealisasi. Bila kita menjalaninya, maka potensi tersebut akan terealisasi. Pilihan ada di tangan kita — Tuhan memberikan kita kebebasan penuh untuk menentukan keinginan kita.

Bhajan Swami dimaksudkan untuk dinyanyikan sebagai sankeertan — nyanyian para panembah, nyanyian yang dilakukan secara bersama-sama. Dalam kata-kata beliau sendiri: “Samyak—keertanam Sankeertanam – Bhajan yang dinyanyikan secara bersama-sama oleh para panembah adalab bhajan yang terbaik.”

Ada perbedaan yang sangat besar antara Keertanam dengan Sankeertanam. Keertanam adalah urusan pribadi, dinyanyikan sendiri agar doa dan harapan pribadinya terkabul. Sankeertanam bertujuan untuk kesejahteraan selurub jagat raya. Sankeertanam dijelaskan pula sebagai bhajan Saamaajika (nyanyian berkelompok). Metode menyanyikan bhajan seperti ini pertama kali dipelopori oleh Guru Nanak, pendiri agama Sikh. Sankeertanam bertujuan untuk memperlihatkan kesatuan dalam keberagaman. Ketika seluruh peserta bergabung bernyunyi serempak dalam satu suara, inilah Sankeertana.

Dari sudut pandang dunia usaha, korporasi, teamwork yang baik, sehat dan saling mengisi adalah sankeertan. Ketidakharmonisan sebagai hasil teamwork yang jelek, bukan sankeertan. Dikutip dari buku (Das, Sai. (2012). Sai Anand Gita Kidung Mulia Kebahagiaan Sejati. Koperasi Global Anand Krishna Indonesia) #Spiritual Indonesia lewat #SaiAnandGitaIndonesia

 

Significance of bhajan 1 what is there in the name

Bhajan dapat solo, sendirian? Sepanjang membawa keluar devosi dari dalam diri kita? Saat kita bicara kirtan, kirtan adalah grup devosional singing? Apa yang kita lakukan di sini (ashram) adalah kirtan? Semua yang datang terlibat? Diperlengkapi dengan booklet sehingga bisa dikuti kata-katanya? Penting untuk memahami arti dari setiap kata?

kebanyakan adalah nama-nama, nama dari Tuhan, bunda ilahi? Kalian bisa menyebutnya bapa di surga atau bunda ilahi? Semua adalah nama dan nama tergantung pada atribut, sifat, lambang?

Sri Krishna dalam Bhagavad Gita menyampaikan, dari semua pengetahuan, dari semua veda, Aku adalah Sama Veda, pengetahuan tentang musik?

Ketika kamu menyanyi di tempat umum, kamu harus menghormati orang? Kamu harus yakin bahwa nyanyianmu dapat membangkitkan rasa devosi? Sehingga dalam konteks tersebut penyanyi harus artis? Tidak harus Michael Jackson Madonna, tetapi kamu harus menguasai, master atas alat musik, atas nyanyian?

Bagian-bagian dari otak terpengaruh oleh macam-macam musik? Apabila kamu bermin drum, apabila kamu bermain dengan tepat dapat mempengaruhi heart region , chakra hati? Ketika kamu main musik tali senar, kebanyakan sitar, gitar, harpa akan mempengaruhi otak? Setiap instrument musik berpengaruh pada tiap bagian dari otak? Dari otak kemudian didistribusikan ke seluruh tubuh?

Ketika kamu menyanyikannya dengan penuh devosi dan memahami artinya, apabila kamu menyebut Vasudev maka ia adalah  nama yang diberikan kepada Krishna?

Kita harus tahu inner significance, makna batin saat menyebut Vasudev? Vasu adalah caretaker, penjaga dari seluruh universe, earth ataupun caretaker dari rumahmu, dari dirimu juga, keluargamu juga, teman, komunitas, negara, dunia? Ia adalah caretaker dari situasi apa pun? Ia adalah penjaga soul, jiwa?

Silakan simak video Youtube: Significance of bhajan 1 what is there in the name