Hanuman Penjaga Gerbang Batas Pikiran, Gerbang Tanpa Pintu, Gateless Gate

Gerbang Batas Alam Pikiran

Identifikasi apa yang dapat membahagiakan kita, dengan alam atau dengan Jiwa? Dan jawabannya jelas adalah identifikasi dengan Jiwa. Karena Jiwa tidak hanya bersifat abadi, tetapi juga tidak pernah berubah. Sehingga dapat menghasilkan kebahagiaan yang langgeng.

Sementara, Alam Benda berubah terus. Jika kita fokus pada perubahan-perubahan yang terjadi, maka emosi kita, pikiran kita — semuanya ikut mengalami perubahan-perubahan yang kadang membuat kita bahagia, kadang larut dalam lautan kesedihan dan kepedihan. Penjelasan Bhagavad Gita 14:3 dikutip dari buku: (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

Mengapa takut melompat? Keterikatan pada keluarga, pada dunia dan sebagainya? Pikiran, ego menahan kita agar takut melompat? Berikut penjelasan Hanuman Chalisa 21 tentang gateless gate, gerbang tanpa pintu…..

Buku The Hanuman Factor

Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu; Saha vīryam karavāvahai; Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga Hyang Tunggal senantiasa melindungi kita; menjernihkan pikiran kita: semoga kita dapat berkarya bersama dengan penuh semangat; semoga apa yang kita pelajari mencerahkan dan tidak menyebabkan permusuhan; Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

Rama Dwaare Tuma Rakhawaare, Hota na Aaagyaa binu Paisaare. Hanuman Chalisa 21

Sri Rama adalah Gerbang, dan engkau adalah Penjaga Gerbang; tak ada seorang pun yang dapat melaluinya tanpa ijin darimu

Sri Rama adalah Gerbang, dan engkau (Hanuman) adalah Penjaga Gerbang;

 

Tradisi Shinto

Dalam tradisi Shinto dari Jepang, sebuah gerbang yang terbuat dari kayu melambangkan spiritualitas. Itu memang hanya sebuah gerbang, tanpa pintu. Gapura ini disebut gerbang tanpa pintu. Tidak ada pagar, tidak ada batas, tidak ada apa-apa. Namun, setiap pejalan spiritual harus melewatinya. Apa yang dilambangkan dari hal ini?

Di satu sisi dari gerbang tersebut, ada langit luas membentang. Di sisi lain, di seberang gerbang tersebut, juga ada langit luas yang sama. Ada keluasan di sisi sebelah sini, dan ada keluasan pula di sisi yang satunya. Apa yang ada di sini, juga ada di sana. Dan, apa yang ada di sana, juga ada di sini. Lantas apa gunanya pintu?

Gerbang tanpa pintu ini, melambangkan batasan-batasan ciptaan pikiran kita sendiri. Sesungguhnya, gerbang tanpa pintu ini adalah pikiran kita, atau ciptaan pikiran kita sendiri, apa pun itu wujudnya.

 

Ketika kita memahami hal ini, maka kita memahami Tuhan.

Saat di mana kita berhasil dalam memecahkan teka-teki kehidupan ini, maka kita akan berhadap-hadapan langsung dengan Tuhan.

Hanuman berdiri di sana sebagai penjaga gerbang, penjaga dari gerbang tanpa pintu. Penampakan Hanuman—seekor kera yang sangat besar mirip monster—membuat kita takut. Kita gentar untuk mendekati gerbang tanpa pintu tersebut dan berpikir, “saya tidak akan diijinkan masuk.”

Pemikiran semacam itu, rasa takut yang tak berdasar seperti itu adalah refleksi dari pikiran kita yang penuh rasa takut.

 

Pikiran manusia selalu takut akan kekosongan.

Ketika ia menganggur, ia merasa sangat tidak nyaman. Ia akan berusaha mencari sesuatu untuk dilakukan. Berapa lama kita bisa duduk diam tanpa melakukan apa pun? Semua gadget, pertunjukkan dan hiburan, sejatinya diciptakan oleh rasa takut, dalam rasa takut. Kita selalu berupaya mengisi kekosongan kita dengan sesuatu, dengan apa saja.

Semakin penakut mind (pikiran), maka semakin licik, dan semakin intelektual pikiran tersebut. Ia akan selalu mencari alasan untuk menghindari berjalan memasuki gergang tak berpintu menuju  yang tak dikenal, “Untuk apa? Mengapa saya mesti memasuki gerbang itu, toh Tuhan ada di mana-mana? Tuhan ada di sini, di sana, di mana-mana—gerbang itu membatasi gerak-gerik Tuhan. Mengapa Tuhan mesti dibatasi dengan gerbang atau di balik gerbang itu? Mengapa tidak di sini saja, di luar gerbang?”

 

Gerbang tanpa pintu

Gerbang tanpa pintu sejatinya merupakan sebuah sarana untuk membebaskan kita dari rasa takut yang kita rasakan dan untuk mempersiapkan kita untuk terjun ke dalam yang tak dikenal.

Identifikasi yang saya lakukan terhadap tempat tertentu—kitab suci tertentu, agama tertentu, atau Nabi tertentu, Buddha tertentu, Mesias tertentu, Avatar tertentu, dengan Tuhan—lahir dari perasaan takut. Saya mencoba menjelaskan yang tak terjelaskan sebelum melompat. Saya harus melompat ke dalam sesuatu. Saya tidak bisa melompat ke dalam yang tak dikenal.

Jadi, semua penjelasan kita, semua upaya kita, semua percobaan yang kita lakukan untuk mengungkap misteri tentang Tuhan, untuk melakukan demistifikasi terhadap Tuhan, sejatinya lahir dari rasa takut.

Bagaimana jika saya mengidentikkan semua tempat, semua kitab suci, semua agama, semua Nabi, semua Buddha, semua Mesias, semua Avatar dengan Tuhan? Sama saja, saya tetap berupaya menjelaskan yang tak terjelaskan. Saya masih memikir-mikir dan membutuhkan waktu sebelum memutuskan untu melompat. Hal tersebut sama saja seperti upaya untuk menyelamatkan diri. Kita “berpikir” bahwa akan lebih mudah bagi kita jika kita melompat dengan memahami konsep ini. Jika memang Tuhan ada di mana-mana, maka pastilah saya melompat kedalam Tuhan. Saya tidak perlu takut.

 

Kehilangan Tuhan karena rasa takut

Inilah penyebab kita telah kehilangan dan melewatkan Tuhan selama ini dan dalam semua masa kehidupan yang telah kita lalui. Karena bahkan pun setelah menciptakan semua konsep, kita tetap takut untuk “Melompat ke dalam Yang tak dikenal”. Kita hanya berani melompat ke dalam konsep ciptaan kita sendiri.

Kita mungkin menggambarkan surga yang terang benderang ada di balik gerbang tanpa pintu tersebut atau kita menggambar neraka yang penuh penderitaan—intinya kita ingin punya sesuatu untuk dipegang sebelum kita melompat. Di dalam ketidaksadaran kita, kita lupa bahwa gambar-gambar tersebut adalah ciptaan kita sendiri.

Tidak hanya gambaran indah tentang surga, tetapi juga gambaran menakutkan tentang neraka pun juga merupakan ciptaan pikiran kita sendiri untuk membuat yang tidak dikenal menjadi dikenal.

Mereka yang menggambar neraka dengan api serta siksaan abadinya dan mereka yang menggambarnya dengan lebih wajar dengan warna-warna penyucian dan purgatory, sejatinya sama-sama takut. Perbedaannya terletak pada tingkat rasa takut yang mereka rasakan. Kelompok yang kedua mungkin tahu akan hal ini dan merasa lega akan “fakta bahwa semua itu adalah ciptaan mereka sendiri”, dan rasa takut mereka tidaklah seburuk kelompok yang pertama. Ini tidak lain adalah upaya menghibur diri. Ini juga tidak akan membantu.

 

Hanuman berdiri di samping gerbang tanpa pintu tersebut,

yang kiranya akan mengarahkan kita ke tempat tinggal Sri Rama. Ia tidak sedang menghentikan kita juga tidak sedang mengundang kita. Namun, ia tampak sedang mengamati gerak-gerik kita, tidak hanya gerak-gerik fisik, tetapi juga gerak mental dan emosional.

Ketika melihatnya, maka awan hitam keraguan pun terbentuk di langit pikiran kita, “Hanuman? Ah, tidak mungkin. Kalau dia Hanuman, maka pastilah pintu tersebut menuju kediaman Sri Rama. Bagaimana bisa? Rama adalah Sang Penghuni Sejati, tidakkah Ia menghuni dan bersemayam di setiap hati? Mengapa lantas Ia memiliki tempat tinggal seperti ini? Tidak, tidak. Ini pasti ilusi. Rama adalah Tuhan, energi murni, abstrak, tak terjelaskan, dan tak berwujud. Perwujudan-perwujudan ini tidaklah nyata. Mereka semua palsu. Biarkan aku lari dari sini sebelum aku tertipu oleh perwujudan-perwujudan tersebut.

 

Maka, kita pun lari.

Dan sejak itu pun kita terus melarikan diri, tanpa menyadari bahwa apa yang kita lihat di luar sejatinya adalah proyeksi dari apa yang ada di dalam diri kita.

Gerbang tanapa pintu di luar diri adalah proyeksi dari keberadaan kita sendiri. Hanuman yang berdiri di samping gerbang tersebut adalah kesadaran diri kita, yang selalu waspada, senantiasa mengawasi. Rama adalah jati diri kita.

Pikiran, ego adalah yang selalu ragu-ragu, “Masuk, Jangan, Masuk, Jangan.. Lompat, jangan, lompat, jangan, lompat, jangan…”

Jika pikiran memutuskan untuk melarikan diri, maka selesailah sudah. Tetapi jika pikiran tidak lari, tetapi justru memfokuskan diri pada Hanuman, maka keajaiban pun terjadi. Pikiran pun akan lenyap, dan “Kesadaran Hanuman” lah yang tersisa. Tiba-tiba kita mendapati diri kita berperan sebagai Hanuman. Kita menjadi penjaga pintu. Terjadi lompatan kuantum dari mind (pikiran) menjadi kesadaran. Bagaimana itu bisa terjadi?

Dikutip dari terjemahan buku (Krishna, Anand. (2010). The Hanuman Factor, Life Lessons from the Most Successful Spiritual CEO. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Om, Sarve bhavantu sukhinaḥ; Sarve santu nirāmayāḥ; Sarve bhadrāṇi paśyantu; Mā kashchit duḥkha bhāgbhavet; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga semua makmur, bahagia dan bebas dari penyakit. Semoga semua mengalami peningkatan kesadaran, dan bebas dari penderitaan. Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/

 

 

Renungan Diri: Bhakti, Pengabdian Belajar dari Hanuman #TheHanumanFactor

Bhakti, yang biasa diterjemahkan sebagai berbakti, mengabdi, atau memuja – sesungguhnya, memiliki makna yang jauh lebih dalam. Bhakti adalah semua itu plus dengan penuh kasih. Landasannya adalah kasih, kasih yang tak bersyarat dan tak terbatas.

Seorang anak bisa saja berbakti pada orangtuanya dengan harapan terselubung untuk mendapatkan warisan. Atau, rnendapatkan lebih banyak dari saudara-saudaranya. Karena, toh saudara-saudaranya tidak mengunjungi orangtua sesering dirinya, walau ia tidak mengungkapkan hal itu. Niat saja sudah cukup untuk menodai baktinya. Ia belum berbhakti.

Seorang hamba, seorang pengabdi pun sama. Ia bisa berhamba, mau mengabdi karena digaji, atau seperti para abdi-dalem di keraton-keraton kita. Gaji mereka tidak seberapa, tapi mereka puas dengan kedudukan mereka sebagai abdi-dalem. Mereka pun mengabdi demi posisi itu, demi gelar itu, demi penghargaan itu, demi identitas itu. Bagi kita, identitas “abdi-dalem” mungkin tidak berarti apa-apa. Tapi bagi mereka sangat berarti. Bagi mereka, identitas itu adalah jauh lebih berharga daripada uang jutaan per bulan. Jadi, di balik pengabdian dan penghambaan, mereka pun masih ada pamrih.

Pengabdian dan penghambaan kita pada Gusti Pangeran pun sama. Ada yang mengharapkan rezeki dari Gusti, ada yang mengharapkan kehorrnatan dari masyarakat, “Dia seorang saleh, dia begini, dia begitu………

BHAKTI MESTI BERLANDASKAN CINTA-KASIH tanpa batas dan tanpa syarat. Ditambah lagi dengan kata ananya – berarti, dengan segenap jiwa, raga, perasaan, pikiran, intelegensia, semuanya terpusatkan. Dengan kesadaran tunggal. Termasuk, ia tidak lagi memisahkan profesi, pekerjaan, kewajiban terhadap keluarga, masyarakat, lingkungan, dan lainnya – dari bhaktinya, dari pemujaannya.

Hidup dia telah berubah menjadi aksi-bhakti. Ia menginterpretasikan bhakti lewat hidupnya. Ia menerjemahkan bhakti dalam bahasa tindakan nyata. Dan, ia melakukan semua ini karena ia melihat Wajah Gusti Pangeran di mana-mana. Baginya melayani sesama makhluk adalah ungkapan cintanya bagi Gusti Pangeran. Penjelasan Bhagavad Gita 9:30 dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

Berikut adalah wujud Bhakti, Pengabdian dalam diri Hanuman:

Buku The Hanuman Factor

Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu; Saha vīryam karavāvahai; Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga Hyang Tunggal senantiasa melindungi kita; menjernihkan pikiran kita: semoga kita dapat berkarya bersama dengan penuh semangat; semoga apa yang kita pelajari mencerahkan dan tidak menyebabkan permusuhan; Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

Hridaya Basahu Sura Bhoopa—Bersemayamlah di Hati ini Selamanya, Wahai Yang Teragung di antara semuanya!

Ini adalah permintaan yang ditujukan kepada Hanuman, yang adalah perwujuan dari pengabdian. Karena perannya di dalam Ramayana, kisah tentang Rama, sangatlah penting. Berikut ini adalah signifikansi spiritual dari kisah Ramayana:

 

“Sita melambangkan jiwa manusia. Rahwana, Dunia, menawannya karena keterikatannya yang salah terhadap keduniawian, yang dilambangkan oleh sang kijang emas. Maka, ia pun terpisah dari Rama, Sang Jiwa Tertinggi. Dan ia pun ditawan di Lanka, kota keterikatan mental dan emosional. Hanya melalui pengabdian Hanuman dan cincin kedisiplinan yang dikirimkan oleh Rama untuk memeriksa gejolak dari pikiran, maka Sita mampu mendapatkan kembali apa yang telah hilang.

Namun, sebelum pertemuan agung, Sita mesti menjalani ritual penyucian untuk membersihkan jiwanya. Setelah terbersihkan, maka jiwa pun bersatu kembali dengan Tuhan!”

 

Ada banyak karakter dalam kisah Ramayana, setiap karakter sama-sama penting. Namun tiga karakter, Rama, Sita dan Hanuman menjadi karakter yang paling berpengaruh. Semua karakter yang lain sesungguhnya menjadi bagian dari ketiga tokoh ini. Mereka datang dan pergi di sekitar ketiga karakter ini.

Kita dapat menempatkan diri kita dalam peran apa saja dari peran-peran yang ada dalam kisah ini. Kita bisa memilih salah satu dari trio karakter ini, atau salah satu dari yang datang dan pergi di sekitar trio karakter tersebut.

Pilihlah Rama, jika Anda bersedia untuk mengambil semua jenis resiko dan tanggung jawab. Pilihlah Sita jika Anda membutuhkan bahu Rama untuk bersandar. Pilihlah Hanuman jika Anda ingin bermain aman. Anda tidak mungkin salah. Anda tidak mungkin gagal. Karena Hanuman adalah CEO yang paling sukses di ranah spiritualitas, di alam kebatinan.

Penyatuan Terakhir dengan Yang Maha Tinggi adalah tujuan dari semua bentuk kehidupan. Inilah misi hidup kita. Hanuman telah menyelesaikan misi tersebut. Dan ia menunjukkan jalannya kepada kita. Sesungguhnya Hanuman adalah jalan itu sendiri. Karena ia mewakili pengabdian; yang adalah jalan yang paling pasti dan yang paling aman menuju Tuhan.

Ia adalah pembimbing yang paling agung.

Ia terlahir untuk membimbing kita kembali kepada Tuhan, sebuah tugas yang dipercayakan oleh sang Bunda kepadanya. Rama dapat terpisah dari Sita, tetapi tidak dari Hanuman. Setelah bertemu untuk pertama kalinya, sesungguhnya Rama dan Hanuman telah menyatu. Pertemuan mereka adalah penyatuan paripurna, penyatuan ilahi; yoga.

Janganlah memberi atribut apa pun pada Yoga Ram-Hanuman ini. Yoga mereka adalah yoga sejati, yoga sebenarnya—Penyatuan. Titik.

Anda akan menemukan bhakti atau pengabdian dalam yoga mereka. Anda akan menemukan raja atau meditasi di dalam penyatuan mereka. Anda akan menemukan gyaana atau kebijaksanaan di dalam pertemuan mereka. Dan Anda akan menemukan karma atau karya tanpa pamrih di dalam hubungan mereka. Keempat cabang yoga menemukan pemenuhannya di dalam penyatuan Rama dan Hanuman.

Maka dari itu, jadilah seorang Hanuman, seorang yogi sejati.

Bermeditasilah dan temukan Rama di dalam diri Anda, dan mengabdilah kepadanya. Kembangkan kebijaksanaan untuk menemukan Rama yang ada di luar diri, di segala penjuru. Berkaryalah tanpa pamrih untuk mewujudkan pertemuan diri sejati di dalam diri dengan diri sejati di luar diri. Karena ketika dan di mana “yang di dalam” bertemu dengan “yang di luar”, maka saat itulah dan di sanalah TUHAN berada.

Dikutip dari Terjemahan (Krishna, Anand. (2010). The Hanuman Factor, Life Lessons from the Most Successful Spiritual CEO. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Om, Sarve bhavantu sukhinaḥ; Sarve santu nirāmayāḥ; Sarve bhadrāṇi paśyantu; Mā kashchit duḥkha bhāgbhavet; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga semua makmur, bahagia dan bebas dari penyakit. Semoga semua mengalami peningkatan kesadaran, dan bebas dari penderitaan. Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/

 

Neo-Cortex: Jembatan dari Insting Hewani menuju Kesadaran Ilahi

Limbic dan Neo-Cortex

Ibarat Super Komputer yang Mahacanggih, ke dua bagian utama otak kita bekerja sesuai dengai fungsinya masing-masing. Bagian Limbic memuat basic programming, yaitu program dasar untuk menjalankan komputer. Inilah insting insting hewani, atau lebih tepat disebut insting-insting dasar kehidupan. Sedangkan bagiai Neo-Cortex memuat program/aplikasi yang dibutuhkan manusia. Muatan pada bagian ini dapat ditambah, dikurangi, dihapus, diperbaiki, atau di-“manipulasi”.

Ketika kita masih kanak-kanak, di bawah usia lima tahun, hal-hal yang diajarkan oleh orang tua atau masyarakat menjadi bagian dari Neo-Cortex. Apa saja yang diamati atau sekadar dilihat oleh seorang anak dalam usia itu akan terekam dengan sendirinya.

Kemudian antara usia 5 hingga 12 tahun terjadi muatan-muatan baru lewat sistem pendidikan. Oleh karena itu, hingga usia 12 tahun disebut Golden Years, Usia Emas, karena banyak sekali muatan ditambahkan pada Neo-Cortex yang kelak digunakan hingga akhir hayat. (Krishna, Anand. (2010). Neospirituality & Neuroscience, Puncak Evolusi Kemanusiaan. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

Bisakah kita hidup tanpa pengembangan neo-cortex? Bisa!

Dalam Video Youtube Being Human 1/3 : Pleasant vs Good (by Swami Anand Krishna) disampaikan bahwa kita bisa hidup tanpa neo-cortex. Saat lapar langsung makan, ketika ingin seks langsung main seks, waktu mencari uang nggak usah peduli bagaimana caranya. Itu semua bisa dilakukan tanpa pengembangan neo-cortex, hanya menggunakan limbic saja.

Neo-cortex adalah jembatan yang menghubungkan dari kita yang ber-insting hewani menuju kita yang ber-kesadaran ilahi.

Neo-cortex seperti halnya hard-disk tambahan yang ditambahkan kepada otak kita. Setelah lahir, baru berkembang neo-cortex kita. Dalam video tersebut disampaikan bahwa pada saaat lahir kita belum mengenal kasih. Sewaktu bayi, lapar sedikit, nggak lapar banget kita menangis. Kita nggak sadar ibu kita tidur nyenyak karena bekerja keras seharian mengurusi kita. Karena neo-cortex bayi belum berkembang. Kasih harus dikembangkan dengan cara melakukan berulang-ulang sampai menjadi kebiasaan sehingga pada suatu saat terbentuk karakter kasih dalam diri.

Neo-cortex berguna untuk mengembangkan viveka, kemampuan memilah mana yang tepat dan mana yang tidak tepat. Mana yang preya, hanya menyenangkan indra atau shreya yang mulia.

 

Viveka membuat sadar akan Kebutuhan Jiwa yaitu Kebahagiaan Abadi

Viveka membuat kita sadar akan kebutuhan Jiwa, yaitu Kebahagiaan Sejati yang bersumber pada Kesadaran Jiwa itu sendiri. Patanjali tidak menolak kenyamanan tubuh, kenikmatan indra dalam takaran moderat, tidak berlebihan, tidak kekurangan. Silakan mengurusi badan dan indra, tetapi dalam kerangka besar kebutuhan Jiwa; dalam rangka mewujudkan misi Jiwa.

Kenyamanan tubuh dan kenikmatan indra tidak boleh berdiri sendiri. Semua itu mesti demi terwujudnya Kesadaran Jiwa dan tercapainya Kebahagiaan Sejati.

SEGALA PERSOALAN YANG KITA HADAPI SAAT INI disebabkan oleh perpisahan badan dan indra dari Jiwa. Sedemikian sibuknya kita melayani badan dan indra sehingga Jiwa terlupakan. Inilah tragedi masa kini. Penjelasan Yoga Sutra Patanjali II.15 dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2015). Yoga Sutra Patanjali Bagi Orang Modern, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

Segala penderitaan yang sedang kita alami saat ini, disebabkan oleh kurangnya viveka, kurangnya akal sehat; dan perkembangan buddhi atau inteligensia yang belum optimal, belum sempurna pada masa lalu. Hasilnya, penderitaan, duka-derita dalam hidup ini. Penjelasan Yoga Sutra Patanjali II.17 dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2015). Yoga Sutra Patanjali Bagi Orang Modern, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

Evaluasi Diri mana yang lebih dominan, Limbic Kita atau Neo-Cortex kita?

Coba perhatikan pikiran kita, apakah lebih banyak berpikir tentang aku dan milikku? Pada waktu kita berdoa apakah doa kita mohon tentang keberhasilanku, milikku, keluargaku? Mengapa kita diajari mendoakan kebahagiaan semua makhluk? Itu semua berkaitan dengan pengaruh Limbic atau pengaruh Neo-Cortex yang lebih dominan.

Pada waktu kita berbicara di muka umum, kita perlu jujur, apakah kita karena ada keangkuhan karena kita ingin dianggap lebih paham daripada yang lain? Atau apakah kita menyampaikan dengan penuh kasih guna menyampaikan kebenaran yang perlu diketahui orang banyak? Kembali Limbic atau Neo-Cortex yang lebih dominan?

 

Viveka adalah Buah dari Meditasi

Jalan menuju kemuliaan dan jalan menuju kepuasan indera yang bersifat sementara, inilah dua jalan yang terbuka bagi manusia. Mereka yang inteligen, berakal budi memilih jalan menuju kemuliaan. Mereka yang bodoh memilih jalan kepuasan indera, kenikmatan, dan kesenangan sesaat. Viveka memberi kita kemampuan untuk memilah. Kemampuan inilah yang kelak mengantar kita pada Bodhichitta. Viveka ibarat Buddha dalam proses.

Adalah sangat penting bahwa dalam perjalanan menuju kesadaran Buddha, atau Bodichitta, kita sadar akan apa yang tepat bagi kita, dan apa yang tidak tepat.

Viveka adalah buah meditasi. Viveka tidak dapat diperoleh dari buku. Buku, tulisan, serta pengalaman orang lain hanyalah sebatas untuk menyemangati kita.

Buku menjelaskan pengalaman para penulis yang memilih shreya atau kemuliaan dan meraih Bodhichitta. Buku juga bercerita tentang mereka yang memilih preya, atau kesenangan sesaat dan meraih penderitaan.

Mengapa preya tidak pernah memuaskan? Karena, jiwa kita abadi. Ia sedang mencari keabadian. Ia hendak meraih kebahagiaan abadi atau aananda. Sementara itu jalan preya hanyalah mengantar dia pada kesenangan, kebahagiaan, dan kenikmatan sesaat.

Adalah viveka yang mengenal aananda. Sebelum viveka berkembang, kita tidak pernah mengenal aananda. Mind atau maanas hanya mengenal kebahagiaan dan kesenangan sesaat. Ia tidak bisa menjangkau sesuatu yang bersifat langgeng dan abadi karena dirinya sendiri tidak abadi. Ia hanyalah merekam dan menikmati pengalaman-pengalaman jiwa yang bersifat luaran, dan senantiasa berubah-ubah.

Untuk menemukan aananda, para Buddha selalu mengajak kita untuk menoleh ke dalam diri sendiri. (Krishna, Anand. (2012). Neo Spiritual HYPNOTHERAPY, Seni Pemusatan Diri Untuk Bebas Dari Pengaruh Hipnosis Massal. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Sumber:

https://www.youtube.com/watch?v=aTOXeusf0I4&t=178s

https://gitakehidupansepasangpejalan.wordpress.com/2014/12/27/renungan-diri-super-computer-otak-manusia-dan-pentingnya-program-pendidikan-anak/

Keluar Siklus #Reinkarnasi Tak Berkesudahan dengan Buddhi Inteligensia

Inteligensia atau Buddhi, fakultas untuk memilah—kehilangan kemampuannya karena kabut dualitas yang bersifat ilusif.

 

PERSIS SEPERTI MATA MANUSIA YANG TERGANGGU PENGLIHATANNYA karena keadaan yang berkabut. Buddhi atau inteligensia tidak pernah hilang. Selalu ada. Dalam keadaan kabut pun tetap ada. Namun, karena kabut, kemampuannya bisa menurun secara drastis. Keadaan ini bukanlah permanen. Jika sudah tidak ada kabut, inteligensia bekerja kembali sesuai dengan fungsinya untuk memilah dan menentukan apa yang tepat bagi indra, badan, maupun gugusan pikiran serta perasaan. Apa yang tidak tepat, tentunya mesti dihindari.

Seorang bijak, seorang Yogi yang berkarya tanpa pamrih sudah keluar dari kabut, inteligensianya sudah berfungsi normal, sudah bisa dimanfaatkan sepenuhnya dan sesuai dengan fungsinya.

Gunakanlah inteligensia untuk mempertahankan kesadaran kita, supaya tidak ada lagi kabut yang mengganggu!

 

TIDAK TERGANGGU OLEH KABUT DUALITAS berarti, tidak “kegirangan” ketika mendapatkan pengalaman-pengalaman menyenangkan. Pun, tidak tenggelam dalam kenistaan, ketika menghadapi tantangan.

Hadapilah suka dan duka, semua pengalaman yang bertentangan dengan kondisi pikiran serta perasaan yang seimbang, tidak menjadi kacau karena pengalaman-pengalaman tersebut.

Sudah pasti suka dan duka menimbulkan sensasi yang beda. Itu tidak bisa dihindari. Asal, kita tidak larut, tidak terbawa oleh arus.

Umumnya, pengalaman suka membuat kita menjadi sombong. Keberhasilan mernbuat otak kita masuk angin. Dan, pengalaman duka mengempiskan hati kita. Kembang-kempis seperti inilah, yang mesti dihindari,

Tidak menjadi ciut dan putus asa karena pengalaman duka, dan tidak kemasukan angin ego karena pengalaman suka. Bhagavad Gita 5:20 dikutip dari buku: (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

 

Berikut penjelasan dalam buku karya leluhur Nusantara, Dvipantara Jnana Sastra tentang bagaimana menggunakan Buddhi atau Intelegensia untuk melepaskan diri dari jerat mind. Mind inilah yang menciptakan keterikatan, keserakahan, keinginan, kemarahan, iri, dan berbagai kualitas serupa — semuanya menyebabkan kita terlahir kembali.

Buku Dvipantara Jnana Sastra

Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu: Saha vīryam karavāvahai;Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai.Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga Hyang Tunggal senantiasa melindungi kita; menjernihkan pikiran kita: semoga kita dapat berkarya bersama dengan penuh semangat; semoga apa yang kita pelajari mencerahkan dan tidak menyebabkan permusuhan; Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

Pratyahara atau Penarikan Diri berarti menarik indra dari objek-objek indrawi, dengan upaya dan mind yang tenang” Vrhaspati Tattva 54

 

INI BISA DIRAIH dengan menggunakan buddhi atau inteligensia, mind yang telah bertransformasi dan mampu mentransformasi.

Antahkarana kita atau Realitas Batin, Sebab Batin dari segala sesuatu terkait fungsi tubuh kita — dikatakan bekerja dengan empat alat yang sangat efisien, yaitu:

Manah atau Mind; Ahamkara atau Ego, keakuan; Citta atau Inti, Esensi dari Mind, dan Buddhi atau Inteligensia.

Saat ini, dalam kebanyakan kasus, Mind atau Manah dan Ahamkara atau Ego memegang kendali indra-indra kita, kehidupan kita, dan segala fungsi diri kita.

Ini menciptakan keterikatan, keserakahan, keinginan, kemarahan, iri, dan berbagai kualitas serupa — semuanya menyebabkan kita terlahir kembali.

Gagasannya adalah meletakkan Buddhi dan Citta sebagai pemegang kendali. Ini adalah kudeta spiritual yang harus kita lakukan. Semua laku spiritual, termasuk yang disarankan di sini, menyiapkan kita untuk kudeta ini, untuk “peralihan kekuasan” ini.

Berkuasanya Mind dan Ego menjadikan kita sebagai budak indra. Dengan Inteligensia dan Mind halus yang berkuasa, kita terbebaskan dari perbudakan tersebut. Kemudian kita bisa menggunakan indra-indra kita tanpa diperbudak mereka.

Tapi, bagaimana caranya?

Ayat berikutnya menjelaskan……

 

“Senantiasa atentif akan keadaan yang bebas dari dualitas; konstan atau bebas dari perubahan apa pun; senantiasa damai; dan, tidak tergerak, dalam artian tidak terpengaruh oleh segala perubahan di luar diri — inilah yang disebut Dhyana atau Meditasi.” Vrhaspati Tattva 55

 

MEDITASI ADALAH ATENTIVENESS, SIKAP ATENTIF. Seorang ibu yang berasal dari keluarga biasa yang berpegang teguh prinsip-prinsip dan nilai-nilai Peradaban Lembah Sindhu, Shintu, Hindu, Indies, Indo, mengajarkan anaknya untuk senantiasa sadar sejak masa kanak-kanak, “Makanlah dengan atentif, belajarlah dengan atentif……”

Dengan kata lain, meditasi tidak pernah dipisahkan dari kegiatan sehari-hari. Hanyalah ketika kita tidak mendapatkan pendidikan awal semacam itu, pendidikan berbasis nilai sedari awal, barulah kita perlu menyisihkan beberapa jam untuk berlatih meditasi.

 

MEDITASI MEMBUNUH MIND YANG TER-CONDITIONING, inilah tahap paling awal. Selanjutnya, ia membangkitkan Buddhi, Inteligensia.

Ketika kita mulai hidup secara atentif, sesungguhnya kita hidup secara meditatif, hidup secara inteligen. Berbagai metode meditasi adalah baik adanya, selama mereka mampu menuntun kita pada tujuan di atas, yaitu hidup meditatif 24 jam sehari, 7 hari seminggu.

Kita harus memahami bahwa semua metode tersebut bukanlah akhir. Metode-metode meditasi bukanlah tujuan, bukanlah akhir. Entah kita menghabiskan beberapa jam sehari atau beberapa menit setiap hari dalam laku tersebut, tidaklah penting. Yang penting adalah melakoni meditasi. Jika kita bisa mencapai itu dengan sebuah metode tertentu — entah seliar atau tidak konvensional — maka itulah metode yang tepat bagi kita. Jika kita bisa mencapai tujuan hidup meditatif dengan mula-mula menyisihkan setengah jam untuk melakoni metode tertentu, maka mari kita sisihkan setengah jam, atau berapa pun waktu yang dibutuhkan.

Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2016). Dvipantara Jnana Sastra, Jakarta: Centre for Vedic and Dharmic Studies)

Catatan:

Ada mentega dalam susu, walaupun tidak tampak, belum tampak, tapi ia memang di sana. Dengan mengaduk susu, mentega yang tak tampak “menjadi” tampak. Namun, fenomena munculnya mentega ini tidak membuktikan bahwa mentega tidak eksis sebelum “proses pengadukan”. Upaya Manusia, usaha keras manusia — dalam konteks ini adalah sadhana spiritual, meditasi, dan lain-lain — dapat diibaratkan seperti proses mengaduk. Dengan mengaduk susu manah atau mind — buddhi atau inteligensia bermanifestasi. Dengan menggali jauh ke dalam buddhi atau inteligensia, lapisan-lapisan kesadaran yang lebih tinggi ditemukan, dan akhimya menuntun pada Paramatma atau Hyang Tunggal — mentega dari mentega, esensi pokok. Dari buku Dvipantara Jnana Sastra

Sudahkah kita mulai latihan meditasi atau sadhana spiritual?

Om, Sarve bhavantu sukhinaḥ; Sarve santu nirāmayāḥ; Sarve bhadrāṇi paśyantu; Mā kashchit duḥkha bhāgbhavet; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga semua makmur, bahagia dan bebas dari penyakit. Semoga semua mengalami peningkatan kesadaran, dan bebas dari penderitaan. Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/

 

Tidak Ingin Berulang Kali Lahir Kembali? Berkaryalah Tanpa Pamrih! #YogaSutraPatanjali

buku-yoga-sutra-patanjali-sepi-ing-pamrih

Sepi ing Pamrih Rame ing Gawe, Giat Berkarya tanpa Menanam Benih Kelahiran Kembali

Patanjali menekankan bahwa dhyana atau meditasi bukanlah duduk diam dan menjauhkan diri dari keramaian. Meditasi adalah “gaya kerja”—working style. Bekerja secara meditatif, hidup secara meditatif, itulah yang dimaksud. Bekerja dengan cara itulah yang tidak menyisakan residu, tidak ada ampas—tidak ada sesuatu tersisa yang bisa menjadi citta, bisa menjadi benih pikiran dan perasaan.

Bekerja secara meditatif, berarti bekerja tanpa ke-“aku”-an, bekerja tanpa pamrih, tanpa kepentingan diri. Penjelasan Yoga Sutra Patanjali IV.6

…………..

Sebaik-baik perbuatan kita, karma kita, jika masih ada setitik pun pamrih di baliknya, maka memunculkan vasana, obsesi, atau setidaknya keinginan untuk menikmati hasil dari perbuatan baik. Inilah yang kemudian—pada masa kehidupan berikutnya—-menjadi modal bawaan. Inilah modal kebiasaan dan kecenderungan; atau sifat bawaan.

Demikianlah, setiap karma—baik, buruk, atau di antaranya menghasilkan vasana, residu. Kecuali karma tanpa pamrih, Niskama Karma. Penjelasan Yoga Sutra Patanjali IV.8

……………..

Hidup cara Yogi berarti berkarya tanpa pamrih, berbagi berkah dengan mereka yang kurang beruntung. Hidup cara nonYogi berarti memikirkan diri sendiri saja, kepentingan diri, dan mengharapkan imbalan dari setiap perbuatan—mengharapkan kenikmatan atau kaveling di surga pun termasuk pamrih.

Pilihan ada di tangan kita.

Hidup sebagai Yogi berarti hidup tanpa ampas, tanpa residu, tanpa vasana, tanpa benih yang bisa menyebabkan kelahiran ulang. Atau hidup sebagai Non-Yogi, dan mengulangi pengalaman masa lalu. Meninggalkan residu, vasana, yang mempertahankan ke-aku-an diri sebagai manah, mind, gugusan pikiran serta perasaan, yang kemudian memunculkan citta sebagai benih untuk kelahiran ulang. Penjelasan Yoga Sutra Patanjali IV.8

 

Berikut penjelasan Yoga Sutra Patanjali I.19 tentang berkarya tanpa pamrih agar tidak terjadi kelahiran ulang:

Buku Yoga Sutra Patanjali

Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu: Saha vīryam karavāvahai;Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai.Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga Hyang Tunggal senantiasa melindungi kita; menjernihkan pikiran kita: semoga kita dapat berkarya bersama dengan penuh semangat; semoga apa yang kita pelajari mencerahkan dan tidak menyebabkan permusuhan; Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

“Kendati sudah videha, tidak berbadan, dan (elemen-elemen yang menciptakan badan pun sudah terurai serta) menyatu kembali dengan prakrti atau alam-benda—kehendak kuat untuk tetap hidup di dunia-benda bisa tersisa, dan menyebabkan terjadinya kelahiran ulang.” Yoga Sutra Patanjali I.19

 

Kehendak itu muncul dari purva samskara, dari residu kesan-kesan sepanjang hidup yang masih ada dalam gugusan pikiran serta perasaan.

 

BERARTI, SAAT KEMATIAN, hanya elemen-elemen alami kebendaan murni, sepeni air, api, tanah, udara, dan subtansi eter dalam ruang saja yang terurai. Elemen-elemen halus, seperti mind, manah atau gugusan pikiran serta perasaan; ego atau ahamkara, dan sebagainya belum terurai. Mereka masih mengkristal, masih utuh—dan mereka inilah yang kemudian mencari badan baru untuk mengalami kehidupan-ulang.

Keadaan tersebut adalah keadaian umum. Biasanya demikian. Tidak selalu. Jika semasa hidup seseorang sudah bebas dari residu kesan dan pesan masa lalu, pun tiada lagi sesuatu yang dapat mengikat dirinya dengan alam benda, maka saat kematian fisik, bukan saja elemen-elemen alami seperti tanah, air, dan sebagainya yang terurai—mind, ego, intelek, semua ikut terurai. Tiada lagi sesuatu yang mengkristal.

Tiada kesan dan pesan; tiada ingatan atau obsesi; tiada niat untuk “berada” kembali di alam benda ini—maka, Jiwa Individu atau Jivatma menyatu dengan Sang Jiwa Agung, Paramatma.

Bagaimana mencapai keadaan itu?

Selesaikan semua pekerjaan sekarang, saat ini, dalam kehidupan ini juga. Jangan menyisakan pekerjaan rumah. Jangan menyisakan sesuatu yang bisa menjadi benih, bisa menjadi citta yang rentan terhadap vrtti, gejolak, fluktuasi, modifikasi; dan dapat memulai serangkaian pengalaman-pengalaman baru.

Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2015). Yoga Sutra Patanjali Bagi Orang Modern, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Catatan:

“Melaksanakan setiap tugas kita, setiap pekerjaan kita dengan semangat panembahan” – itulah Karma-Yoga. Berarti tidak ada perpisahan antara tugas, kewajiban, pekerjaan, usaha, karir, dan latihan-latihan olah-batin. Tidak perlu meninggalkan keluarga untuk bermeditasi di dalam gua. Tidak perlu meinggalkan pekerjaan untuk bertapa-brata di tengah hutan. Kita dapat berkarya secara meditatif – dengan penuh perhatian dan kewaspadaan. Kita dapat mengabdi kepada Gusti Pangeran sambil berkarya, sambil menjalankan tugas kewajiban kita. Dari buku Karma Yoga

Sudahkah kita melakukan setiap pekerjaan dengan semangat panembahan?

 

Om, Sarve bhavantu sukhinaḥ; Sarve santu nirāmayāḥ; Sarve bhadrāṇi paśyantu; Mā kashchit duḥkha bhāgbhavet; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga semua makmur, bahagia dan bebas dari penyakit. Semoga semua mengalami peningkatan kesadaran, dan bebas dari penderitaan. Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/

 

 

Bersihkan Kerak Jiwa agar Bertemu Maitreya Mitra Alam Semesta #Zen

 

 

buku-zen-maitreya

Manusia hidup di tengah hutan lebat simbol. Di mana-mana ada simbol. Dari logo perusahaan hingga merek kendaraan dan nomor penerbangan, semuanya menggunakan simbol. Kadang, simbol juga bisa berupa angka atau warna. Sesungguhnya hidup kita pun bisa “menjadi” simbol.

Seorang pemersatu seperti Gajah Mada menjadi simbol persatuan. Para pelaku aksi terorisme menjadi simbol kejahatan. Gandhi menjadi simbol Ahimsa, tanpa kekerasan. Mother Theresa menjadi simbol pengabdian. Muhammad menjadi simbol iman dan keberanian. Buddha menjadi simbol kedamaian. Masih banyak simbol-simbol lain. Kehidupan manusia tidak dapat dipisahkan dari simbol. Begitu pula dengan rumah kita, tempat di mana kita tinggal. Dan, kantor kita, tempat di mana kita bekerja.

Intinya: Simbol bersifat sangat pribadi. Satu simbol yang sama bisa memiliki makna yang berbeda bagi Anda dan bagi saya. Maka, kita harus menggunakan simbol sesuai dengan mindset kita, dengan persepsi kita tentang makna di balik simbol itu. Kecuali, kita berhasil mengubah mindset dan menerima sebuah simbol lengkap dengan makna universal yang telah melekat dengannya. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2005). Fengshui Awareness Rahasia Ilmu Kuno bagi  Manusia Modern. One Earth Media)

Berikut adalah simbol, mindset dalam Zen tentang Maitreya. Setelah pikiran terkendalikan, setelah kasunyatan tercapai, setelah keheningan diperoleh, lantas apa? Dia kembali lagi ke dunia, ke pasar dunia ini. Sekarang dia bahagia, dia menikmati perjalanan hidup………..

Buku Zen Bagi Orang Modern

Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu: Saha vīryam karavāvahai;Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai.Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga Hyang Tunggal senantiasa melindungi kita; menjernihkan pikiran kita: semoga kita dapat berkarya bersama dengan penuh semangat; semoga apa yang kita pelajari mencerahkan dan tidak menyebabkan permusuhan; Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

Mengunjungi Pasar Dunia

Setelah pikiran terkendalikan, setelah kasunyatan tercapai, setelah keheningan diperoleh, lantas apa? Haruskah Anda duduk diam atau menyendiri? Tidak, Anda kembali lagi ke dunia, ke pasar dunia ini. Sekarang Anda bahagia, Anda menikmati perjalanan hidup. Dan siapa pun yang bertemu dengan Anda, ikut merasa bahagia, ikut menikmati kehidupan.

Ia yang telah mencapai ke-Buddha-an, ia yang sudah mencapai kesadaran murni, tidak digambarkan sebagai seorang pendeta atau pastor atau ulama yang berparas muka serius. Justru sebaliknya, seorang Buddha, seorang Kristus, seorang Nabi adalah pribadi-pribadi yang murah senyum. Apabila sedang ketawa, ia akan ketawa sepenuhnya, terbahak-bahak.

Cina memiliki latar belakang budaya yang sangat tinggi, sangat indah. Seorang Buddha yang menunda masuk ke alam Nirvana digambarkan sebagai Mi-Le, atau Maitreya—Mitra Dunia, Sahabat, Teman Alam Semesta. Ia berbadan besar. Perutnya buncit, keluar. Perut buncit ini sangat bermakna—yang berarti bahwa apabila sedang ketawa, ia ketawa sepenuhnya, dari perut. Kita tidak selalu demikian. Ketawa kita pun sering kali palsu. Tawa kita tidak keluar dari perut, tidak sepenuhnya.

Dengan tangannya yang satu, ia memegang botol arak. Mabuknya lain dari mabuk kita. Arak pengalaman hidup yang ia miliki memang memabukkan—mabuk kesadaran. Tangan yang satu lagi memegang tongkat dan segala sesuatu yang ia rniliki dibungkus dan diikat pada tongkat itu. Kepemilikan dia sangat minim. Ia tidak perlu lemari, tidak perlu brankas untuk menyirnpannya. Untuk mempertahankan kehidupan ini, tentu ada beberapa hal pokok yang masih harus kita miliki. Seorang Buddha Maitreya pun masih harus memiliki beberapa bahan pokok, demi kelangsungan’ hidup. Apalagi Ia telah memilih untuk berada kembali di Pasar Dunia. Ia tahu persis apa yang dibutuhkan selama dalam pelawatannya. Ia siap untuk itu. Ia telah membekali clirinya.

Anda akan berjumpa dengan dia ,di tengah-tengah keramaian dunia. Mungkin Ia sedang makan hamburger di McDonald’s atau sedang nonton film Titanic. Ia tidak akan menjauhkan diri dari keramaian. Keberadaan—Nya di tengah keramaian dunia merupakan anugerah, kurnia, blessing.

Siapa pun yang bertemu dengannya akan ikut memperoleh pencerahan. Ia menyebarkan virus kesadaran. Kehadiran Dia dalam hidup Anda akan membantu terjadinya peningkatan kesadaran dalarn diri Anda. Ia tidak melakukan sesuatu. Ia tidak perlu menunjukkan mukjizat. Keberadaan Dia merupakan mukjizat. Hanya melihat Dia saja sudah cukup, Anda akan tersentuh oleh Kasih-Nya.

Seorang Maitreya adalah seorang Avalokiteshvara—Ia yang mendengar jeritan kita. Ia menunda Nirvana demi kita, demi saya dan demi Anda. Keberadaan Dia di tengah Anda merupakan suatu kejadian yang langka, amat sangat langka. Bukan sesuatu yang dapat terulang lagi setiap saat. Apabila Anda bertemu dengan seorang Maitreya, dengan seorang Avalokiteshvara, dengan seorang Mitra Alam Semesta, dengan seseorang Yang Mendengarkan Jeritan Makhluk-Makhluk Hidup, berbahagialah, bergembira-rialah! Sentuhan kasih Dia, senyuman Dia dapat mengantar Anda ke Puncak Bukit Kesadaran Murni.

Ada yang menanyakan, bagaimana kita bisa mengenali seorang Maitreya, seorang Buddha, seorang Avalokiteshvara, seorang Kristus, seorang Nabi? Ia mengutip saya, “Menurut Pak Krishna sendiri, Dia mungkin sedang makan burger di McDonald’s, mungkin sedang nonton film Titanic. Ia begitu sederhana. Kalau begitu, kan sulit sekali mengenalinya?!”

Ada satu cara—cara yang paling gampang—atau mungkin satu-satunya cara: Bersihkan kerak dan karat jiwamu—apabila jiwamu tidak berkarat, apabila hatimu bersih, kau tidak perlu mencari-Nya. Ia akan menarik kamu. Ia bagaikan magnet. Ia bisa menarik kamu. Syaratnya hanya satu: bersihkan kotoran yang menutupi jiwamu, hatimu.

Dan untuk membersihkan jiwa itu, tidak terlalu banyak yang harus kau kerjakan. Membersihkan jiwa dalam konteks ini hanya berarti menjadi reseptif. Membersihkan hati berarti membuka diri. Lepaskan prasangka, praduga dan kebimbanganmu. Ia akan menarik kamu. Nuranimu akan mengenali-Nya. Jangan meragukan hal ini. Yakinilah suara hati nurani sendiri.

Seorang Maitreya tidak takut dengan hiruk-piruknya dunia. Ia telah memilih untuk kembali mengunjungi pasar dunia. Ia tidak akan melarikan diri. Keedanan dunia ini tidak bisa mempengaruhi kewarasan-Nya. Dunia akan menganggap—Nya edan, tetapi Ia tidak peduli.

Bukalah dirimu, jiwamu—jadilah reseptif, terbuka—mungkin saat ini kau sedang berhadapan dengan seorang Maitreya, seorang Mitra Dunia!

Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (1998). Zen Bagi Orang Modern. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Catatan:

Mungkin kita pernah baca beberapa buku tentang Zen, tentang Samadhi, tentang rasa bahagia yang merupakan hasil akhir meditasi yang tidak dapat dijelaskan lewat kata-kata. Lantas kita anggap sudah cukup dan kita menganggap sudah menguasai Zen. Anda boleh baca tentang “madu tawon Rengreng”, tetapi sebelum mencicipinya, Anda tidak akan pernah tahu rasa manisnya seperti apa. Memperoleh pengetahuan tentang “madu tawon Rengreng” tidak berguna sama sekali, apabila Anda belum pernah mencicipinya. Dari buku Zen Bagi Orang Modern

Sudahkah kita mulai Latihan Meditasi?

Om, Sarve bhavantu sukhinaḥ; Sarve santu nirāmayāḥ; Sarve bhadrāṇi paśyantu; Mā kashchit duḥkha bhāgbhavet; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga semua makmur, bahagia dan bebas dari penyakit. Semoga semua mengalami peningkatan kesadaran, dan bebas dari penderitaan. Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/

 

 

5 Berkah Alam Semesta bagi Kehidupan Manusia #Meditasi #Yoga

buku-life-workbook-meditasi-di-alam

Pada saat latihan meditasi untuk menenteramkan pikiran liar, kita membuat pengalihan energi dengan cara memperhatikan napas masuk dan napas yang keluar. Dengan sebagian energi pikiran yang terpecah pada memperhatikan napas, pikiran mulai tenang. Setelah beberapa lama pikiran kita beri tugas pula untuk memperhatikan kembung dan kempisnya perut.

Kemudian, setelah lebih tenang, saat menarik napas kita ucapkan dalam hati, “Aku mendapatkan berkah dari semesta” lalu saat membuang napas kita ucapkan, “Dan aku berbagi berkah dengan sesama dengan semua.” Dalam keadaan tenang muncul rasa bahagia yang datang dari dalam diri………... Sumber buku (Krishna, Anand. (2016). Soul Awareness, Menyingkap Rahasia Roh dan Reinkarnasi, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Setelah mendapatkan berkah kita perlu berbagi berkah. Apa sajakah 5 berkah dari alam semesta? Leluhur kita menyebut “berkah” tersebut sebagai hutang berkah (rina) yang harus kita bayar.

Silakan simak penjelasan buku Life Workbook tentang Rina, hutang kita pada alam semesta:

Buku Life Workbook

cover-buku-life-workbook

Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu: Saha vīryam karavāvahai;Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai.Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga Hyang Tunggal senantiasa melindungi kita; menjernihkan pikiran kita: semoga kita dapat berkarya bersama dengan penuh semangat; semoga apa yang kita pelajari mencerahkan dan tidak menyebabkan permusuhan; Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

Interaksi atau hubungan dengan dunia tidak dapat dihindari. Para bijak jaman dulu mengaitkan interaksi atau hubungan tersebut dengan “utang” yang harus dibayar. Jika tidak, kita dikenakan bunga. Kita harus membayar lebih baik lagi.

Adalah 5 macam hutang atau Rina yang disebut :

Pertama: Deva Rina, yaitu utang terhadap Dewa. Yang dimaksud dengan Dewa adalah Kemuliaan, Kesadaran, Pencerahan, karena kata “dewa” sendiri berasal dari “divya”, yang berarti “yang mulai, yang terang, yang berasal dari cahaya”. Elemen-elemen alami seperti api, air, angin, tanah dan ruang juga disebut dewa. Api bersifat membakar. Ia membakar habis segala macam sampah. Air membersihkan. Angin sangat ringan dan dapat menyusup kemana-mana. Ia juga memberi kehidupan. Tanah menopang beban kita semua. Dan tanpa ruang kita tidak dapat eksis. Kekosongan, kehampaan, kesendirian, space atau apa pun sebutannya, menciptakan peluang untuk diisi.

Belajar dari sifat-sifat alami itu adalah utang pertama yang harus dibayar. Belajarlah untuk membakar sampah pikiran , gejolak emosi dan sifat-sifat yang tidak menunjang evolusi batin kita. Belajarlah untuk menjaga kebersihan  kebersihan pikiran, perasaan dan sebagainya. Belajarlah untuk hidup sederhana, ringan dan tidak menjadi beban pada siapa pun jua. Belajarlah untuk membantu, untuk melayani.

Bumi dieksploitasi; isi perutnya dijarah, namun ia tetap mernberi. Kita menginjak-injaknya; ia tidak berkeluh-kesah.

Terakhir, jadilah seperti ruang. Ya, ruang kosong yang selalu akomodatif. Tidak hanya perabot yang baru dibeli, tetapi mebel lama pun diterimanya. Dan semua itu tidak mempengaruhi kekosongannya. Terimalah suka dan duka secara saksama.

Deva Rina juga berarti utang terhadap kemuliaan di dalam diri dan di luar diri. Buatlah sebuah diary pribadi; setiap sore lakukan dialog dengan diary itu, “Apakah aku melakukan sesuatu yang mulia sepanjang hari ini? Apakah aku membantu, melayani tanpa mengharapkan imbalan?”

Banyak hal saya lakukan semata untuk kenikmatan sesaat; itu pun bagi diri sendiri. Makan, minum, tidur, seks — semua itu hanya menyenangkan bagi diri sendiri. Sepanjang hari, saya hanya melayani diri sendiri… lebih tepat lagi, “badan” saya saja. Saya tidak tahu apakah itu juga pengalaman Anda. Marilah bertanya, “Adakah aku memperhatikan kebutuhan jiwaku?” Kebutuhan badan, kebutuhan jiwa, kebutuhan diri, kebutuhan tetangga, kebutuhan negara, kebutuhan dunia — semuanya — harus diperhatikan dan dilayani dengan baik. Itulah kemuliaan. Itulah utang terhadap kemuliaan yang harus dihayar.

 

Kedua: Pitra Rina, utang terhadap leluhur, atau barangkali lebih cepat “utang terhadap keluarga”. Saya mengartikannya demikian, karena keluarga adalah kontinuitas dari leluhur, dan leluhur adalah keluarga.

Banyak orang meninggalkan keluarga dan menjadi petapa. Mereka mengaku tidak terikat lagi dengan keluarga, tetapi menciptakan keterikatan baru pada institusi yang mereka pimpin, pada orang-orang di sekitarnya yang dianggapnya sebagai “murid”.

Dengan meninggalkan rumah, kita tidak dapat memutuskan hubungan dengan dunia. Hubungan kita dengan dunia tidak pernah putus. Jika kita tidak menyelesaikan utang kita terhadap keluarga, kita akan dituntut untuk menyelesaikannya terhadap keluarga yang lebih besar — dunia ini.

Para mesias dan buddha juga meninggalkan rumah, tetapi lain mereka, Iain kita. Kita melarikan diri dari tugas dan tanggung jawab, sementara mereka memikul tugas dan tanggung jawab yang lebih besar, lebih berat.

Kita melalaikan tugas dan tanggung jawab terhadap “satu keluarga”. Mereka mengambil-alih tugas dan tanggung jawab “keluarga besar umat manusia”.

Dalam salah satu tradisi di India, seorang petapa dilarang untuk “buka mulut” tentang apa yang diinginkannya, tetapi tidak ada Iarangan bagi lirikan, maka ia menggunakan kedua matanya untuk meminta apa yang diinginkannya. Ia akan melirik pada apa yang diinginkannya, dan sinyal itu sudah cukup bagi para muridnya. Mereka akan langsung menyediakan apa yang dia lirik itu. Repot sekali bila Anda harus menjamu seorang petapa seperti itu. Anda harus menyuguhinya dengan berbagai macam sajian, kemudian menunggu isyaratnya. Menunggu lirikan matanya, apa yang dimauinya.

Kembali pada tugas dan kewajiban terhadap keluarga, Pitra Rina: apa yang kita lakukan itu adalah tugas kita, kewajiban kita, utang kita. Kita sedang melunasi sesuatu. Janganlah mengharapkan apa-apa dari pekerjaan kita, maka kita akan terbebaskan dari rasa kecewa. Kita tak akan pernah kecewa.

Jadilah seorang pelayan. Layanilah keluarga Anda sebagaimana orangtua Anda pernah melayani Anda. Semangat pelayanan inilah yang semestinya berada di balik pelunasan Pitra Rina.

Janganlah mengharapkan sesuatu dari anak-anak Anda. Di usia senja Anda, jika mereka masih mau melayani Anda, bersyukurlah untuk itu, tetapi janganlah sekali-kali mengharapkan sesuatu dari mereka.

 

Ketiga: Rishi Rina, utang terhadap para bijak, atau terhadap kebijaksanaan itu sendiri.

Cara kita melunasi setiap utang haruslah bijak. Cara kita menangani setiap persoalan harus bijak. Cara kita melayani hidup harus bijak. Dan nilai kebijakan tertinggi adalah : “Aku senang, kau pun harus senang. Aku bahagia, kau pun mesiti bahagia. Berarti, aku tidak dapat mengabaikan kepentinganmu demi kepentingan diri.”

Tentu saja, kita tidak dapat membuat senang atau membahagiakan setiap orang. Mau berbuat apa saja, pasti ada yang senang, ada yang tidak, tetapi setidaknya kita tidak mencelakakan orang Iain. Inilah sikap bijak.

Komitmen kita terhadap non-violence atau non-injury, tidak melakukan kekerasan, tidak menyakiti dengan sengaja adalah kebijaksanaan.

Pelunasan utang yang satu ini menuntut kewaspadaan kita setiap saat. Kita juga harus sadar bahwa no man is an island. Kita tidak bisa hidup seperti pulau terpisah. Interaksi antar manusia tidak dapat dihindari, maka kita harus mengernbangkan sikap gotong-royong, bantu-membantu, bahu-membahu.

 

Keempat: Nara Rina, utang terhadap sesama manusia. Kita tidak dapat berdiri sendiri. Apa yang saya lakukan berdampak terhadap Anda, dan sebaliknya. Semacam ripple effect, efek riak, satu kerikil yang saya lemparkan ke sungai berdampak hingga tepi sungai itu, Walau kita tidak melihatnya.

Para resi jaman dahulu melangkah lebih jauh lagi, “Pencerahan yang diperoleh seorang manusia, kesadaran seorang manusia, juga berdampak terhadap seluruh umat manusia di jamannya.”

Seorang manusia yang tersadarkan dapat menyelamatkan seluruh umat manusia! Siddhartha seorang diri dapat menjadi cahaya bagi seluruh dunia. Isa seorang diri dapat mengubah sejarah peradaban manusia. Muhammad seorang diri mengantar dunia ke era baru.

Karena itu, melayani sesama manusia menjadi suatu keharusan. Adalah tugas, kewajiban serta tanggungjawab kita untuk memperhatikan sesama manusia. Jika Tetangga tidak bisa tidur karena lapar, energinya yang terganggu itu sudah pasti mempengaruhi pola energi di rumah kita.

Sebab itu, melayani sesama manusia tidak perlu dikait-kaitkan dengan agama dan kepercayaan. Melayani sesama manusia adalah kewajiban; dan mutlak sifatnya. Penggunaan istilah “membantu” pun sesungguhnya tidak tepat. Saya tidak dapat membantu; memangnya siapakah diriku? Saya hanya dapat melayani. Dengan melayani orang lain, sesungguhnya kita melayani diri. Nah, di sini boleh menggunakan istilah “membantu”… kita membantu diri sendiri.

 

Kelima: Bhuta Rina, utang terhadap lingkungan. Jauh sebelum ilmuwan modern mulai memperhatikan lingkungan, flora dan fauna, jauh sebelum mereka mencetak istilah baru eco system, para bijak sudah memaparkan, menjelaskan hubungan manusia dengan lingkungannya.

Sekadar menjaga kebersihan lingkungan saja tidak cukup, kita harus melestarikan alam. Merawat flora dan fauna. Jaman dulu, manusia tidak bisa seenaknya menebang pohon. Adat menentukan usia pohon yang dapat ditebang.  Itu pun untuk keperluan tertentu. Ketentuan adat berlaku, Walau puhon itu berada di atas tanah kita sendiri. Kita memiliki tugas, kewajiban serta tanggungjawab terhadap kelstarian alam. Jangan mencemari air dan udara. Berhati-hatilah dengan penggunaan energi. Jangan mengeksploitasi bumi seenaknya. Gunakan ruang yang tersedia, juga tanah yang tersebuda secara bijak.

Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2007). Life Workbook Melangkah dalam Pencerahan, Kendala dalam Perjalanan, dan Cara Mengatasinya. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Om, Sarve bhavantu sukhinaḥ; Sarve santu nirāmayāḥ; Sarve bhadrāṇi paśyantu; Mā kashchit duḥkha bhāgbhavet; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga semua makmur, bahagia dan bebas dari penyakit. Semoga semua mengalami peningkatan kesadaran, dan bebas dari penderitaan. Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/

 

oec1elearning-banner

16711992_612132385641135_3392780409612035997_n