Menghadapi Kematian dengan Tersenyum #SpiritualIndonesia

Hidup yang diawali dengan sebuah tangisan, harus diakhiri dengan sebuah senyuman. Ketika engkau masih bayi, orang-orang disekitarmu tetap tersenyum walaupun engkau terus menangis. Ketika engkau mati, orang-orang disekitarmu akan meratapi kehilangan ini, namun engkau semestinya tersenyum dalam damai dan mengundurkan diri dengan tenang. Dikutip dari buku (Das, Sai. (2012). Sai Anand Gita Kidung Mulia Kebahagiaan Sejati. Koperasi Global Anand Krishna Indonesia)

Krsna meyakinkan kita bahwa jika kesadaran kita terpusatkan pada Sang Aku Sejati, pada Sang Jiwa Agung, maka kita tidak perlu mati dengan cara yang mengenaskan itu. Kita bisa mati sambil tersenyum, “Terima kasih peranku sudah selesai!” Penjelasan Bhagavad Gita 7:14 dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia lewat #BhagavadGitaIndonesia

Kematian adalah Keniscayaan

Takut mati bukanlah bagian dari Fear of Unknown. Kematian, sebagaimana kelahiran jua, adalah bagian dari hidup ini, bagian dari kehidupan di dunia. kita semua tahu persis bahwa setiap yang lahir sudah pasti mati. Dalam hal ini ada “pengetahuan”, dan ada “kepastian”. Kematian bukanlah sesuatu yang bisa disebut unknown – tidak diketahui. Kematian adalah sesuatu yang sudah jelas-jelas known – diketahui, dan dapat dipastikan kejadiannya. Sebab itu, “takut mati” adalah bagian dari lapisan kesadaran pertama, lapisan fisik. Ya, takut menghadapi apa yang terjadi “setelah” kematian itu baru Fear of Unknown. Ini yang disebut The Ultimate Fear – The Ultimate Fear tentang The Ultimate Unknown, The Ultimate Mystery. Dikutip dari (Krishna, Anand. (2007). Fear Management, Mengelola Ketakutan, Memacu Evolusi Diri. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama) #SpiritualIndonesia lewat FearManagementIndonesia

Keyakinan kita bisa membuat kita cemas akan kematian

Siklus Kehidupan. Siklus atau cycle bersifat circle, bulatan. Jika Anda memahami kehidupan sebagai garis datar, entah horizontal atau vertikal, maka Anda tidak bisa tidak bersedih hati atas kematian orang yang Anda sayangi, karena kehidupan sudah berlalu. Tidak ada kemungkinan bagi Anda untuk bertemu dengannya lagi.

Pertanyaannya: Apa iya demikian?

Jika kita memperhatikan alam, lingkungan sekitar kita, atau jika kita memahami hukum-hukum kebendaan, antara lain sebagaimana terungkap dalam Ilmu Fisika, maka kita sudah pasti memahami pula bila sesungguhnya kematian adalah mitos. Perubahan adalah abadi. Materi berubah bentuk terus.

Jika kita memahami rumusan Einstein tentang relativitas, maka sesungguhnya materi adalah energi dalam bentuk lain. Dan, energi itu sendiri tidak pernah hilang, selalu ada, hanya berubah bentuk. Inilah sebab para bijak yang memahami kehidupan sebagai siklus, tidak akan berduka atau bersedih hati bagi mereka, yang sesungguhnya sedang menjalani proses perubahan wujud. Penjelasan Bhagavad Gita 2:12 dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)  #SpiritualIndonesia lewat #BhagavadGitaIndonesia

 

Yang mengaktifkan komputer manusia ini adalah juga tiga unsur utama. Saya mengatakan tiga unsur utama, karena sebenarnya masih banyak unsur lain, tetapi yang utama adalah tiga.

Pertama, badan kasat kita. Ini bagaikan hardware.

Kedua, Ego kita. Ini bagaikan software dan tentu saja,

Ketiga, kesadaran yang merupakan aliran listriknya. Badan kita sewaktu-waktu bisa rusak, bisa berhenti bekerja. Namun software-nya tidak ikut rusak. Ego kita masih utuh, masih dapat berfungsi. Software yang sama dapat digunakan, dengan menggunakan hardware baru. Tidak ada memori yang hilang, tidak ada program yang terhapus. Ego kita, yang merupakan software masih dapat digunakan.

……………..

Yang lahir kembali itu siapa? Bukan badan kita, karena badan kita sudah menjadi bangkai, sudah dikubur atau dibakar. Badan sudah musnah. Badan tidak mengalami kelahiran kembali. Badan mengalami proses daur ulang dalam bentuk lain. Dari tanah datangnya, ia kembali ke tanah, untuk selanjutnya datang lagi dan kembali lagi, demikian seterusnya………. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (1998). Reinkarnasi, Hidup Tak Pernah Berakhir. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Saat ajal tiba akhir satu episode kehidupan

Saat ajal tiba – ini adalah closing scene atau adegan akhir dalam salah satu episode kehidupan kita. Tentunya, adegan akhir ini menjadi awal dari episode baru. Akhir adegan dalam episode ini, mengantar kita pada adegan pembukaan dalam episode berikutnya.

……………

Jika sepanjang hidup yang terpikir adalah dunia benda saja, maka saat ajal tiba, sesaat sebelumnya, kita tidak bisa, tidak mungkin, mengalihkan kesadaran pada-Nya. Saat itu yang terpikir adalah rumah, kerabat, keluarga; istana, yang telah kita bangun dan ‘belum cukup’ menikmatinya; perusahaan, yang kita tidak yakin akan dikelola dengan baik oleh ahli waris kita — dan sebagainya, dan seterusnya.

Pikiran terakhir, kesadaran terakhir saat mengembuskan napas terakhir — sama sekali tidak ada kaitannya dengan segala ritus yang kita lakukan sepanjang hidup, segala amal-saleh atau dana-punia. Jika semuanya itu kita lakukan untuk pamer, dan bukan sebagai persembahan kepada-Nya_

Pemusatan kesadaran pada-Nya mesti dilakukan mulai sekarang dan saat ini juga – sehingga saat ajal tiba kesadaran kita tidak ke mana-mana; tetap terpusatkan pada-Nya. Penjelasan Bhagavad Gita 8:5 dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)  #SpiritualIndonesia lewat #BhagavadGitaIndonesia

 

Menghadapi kematian tanpa rasa cemas

Yang paling menakjubkan adalah kita semua menyaksikan kematian, tapi kita tidak percaya itu akan terjadi pada diri kita?

Selama kita masih berusia 30-40 tahun. Bahkan kadang-kadang sampai 50 tahun, kita hampir tidak percaya bahwa kita akan mati. Kita masih mengejar ini, itu?

Dengan menyadari kematian adalah keniscayaan, kita mempunyai kesadaran baru. Bagaimana kita dapat memanfaatkan sisa hidup yang kita miliki. Apa yang ingin kita lakukan besok lakukan hari ini. Apa yang kita rencana lakukan hari ini lakukan sekarang juga. Kita seharusnya bekerja dengan semangat itu?

Sampai detik terakhir apa pun yang kita lakukan akan menjadi benih bagi kehidupan selanjutnya?

Memahami kematian harus dilakukan sebelum usia 36-38 pada waktu energi masih puncak. Setelah energi mulai menurun kita sulit mengubah keyakinan kita tentang kematian?

Silakan simak video Youtube: Kematian menghadapi tanpa rasa cemas oleh Swami Anand Krishna

Advertisements

Guru Pemandu yang Sistematis dan Mudah Diakses, Mengapa? #SpiritualIndonesia

Belajar bisa dari mana saja

Semesta ini bagaikan unversitas terbuka, dimana Anda sedang menjalani program, sedang mempelajari seni kehidupan. Bukan hanya mereka yang menyenangkan hati Anda, tetapi juga mereka yang melukai jiwa Anda, yang mencaci Anda, yang memaki Anda, sebenarnya diutus oleh Kebenaran untuk menguji kesiapan diri Anda.

Pasangan Anda, istri Anda, suami Anda, orang tua dan anak dan cucu Anda, atasan dan bawahan Anda, mereka semua adalah dosen-dosen pengajar. Mereka yang melacurkan diri demi kepingan emas dan mereka yang melacurkan jiwa demi ketenaran dan kedudukan, mereka semua adalah guru Anda. Anjing jalanan dan cacing-cacing di got, lembah yang dalam, bukit yang tinggi dan lautan yang luas, semuanya sedang mengajarkan sesuatu. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2001). Menyelami Samudra Kebijaksanaan Sufi. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama) #SpiritualIndonesia lewat SufiIndonesia

Ego kadang membuat kita yakin bahwa kita bisa belajar sendiri, autodidak, bisa berenang mengarungi samudera kehidupan sendiri. Tapi kebanyakan dari kita perlu instruktur, pembimbing. Untuk sekolah di TK pun kita butuh Guru. Apalagi di Jalan Spiritual.

 

Bertemu seorang Master dalam Perjalanan Hidup

Dalam perjalanan ini, apabila Anda bertemu dengan seseorang yang sudah bebas, anggaplah itu sebagai kejutan yang menyenangkan, sesuatu yang indah. Itu adalah nasib baik Anda. Barangkali pertemuan semacam ini Anda anggap sebagai pertemuan dengan seorang Guru.

Anggaplah ini sesuka Anda, tetapi pahamilah implikasi dari pertemuan ini dengan benar. Keberadaan orang yang telah bebas seperti itu hanya untuk menegaskan keyakinan Anda terhadap kebebasan. Kebebasan yang total seperti itu tidak mustahil, bisa terjadi! Yakinilah!

Keyakinan ini menyuntik Anda dengan energi baru. Anda lebih bersemangat. Pertemuan dengan orang yang bebas akan membangkitkan jiwa Anda. Mereka yang telah bebas, tidak terikat sama sekali, tidak tergantung pada siapa pun. Mereka hendaknya disebut “Master“.

Master berarti orang yang memiliki “Mastery” atas dirinya sendiri. Orang yang memerintah, mengatur dirinya sendiri. Orang yang bertanggung jawab, yang datang bukan untuk menimbulkan kekacauan, tetapi untuk menciptakan ketentraman.

Bernasib-baiklah suatu bangsa, berjayalah suatu kebudayaan, di mana orang-orang seperti itu ada. Master seperti mereka tidak diperjual-belikan, mereka tidak dapat diperoleh dari pasar. Mereka tidak membutuhkan propaganda ataupun promosi.

Para Master tidak dapat dipaksakan kehadirannya dalam kehidupan Anda. Begitu Anda siap, la akan muncul dalam kehidupan Anda. Para Master tidak datang dari mana-mana, mereka tidak pergi ke mana-mana. Master seperti ini merupakan suatu kejadian dalam hidup Anda.

Apabila Anda menemukan seorang Master seperti itu dalam kehidupan Anda, peristiwa itu mungkin saja peristiwa yang terbesar dan terpenting dalam hidup Anda.

Para Master tidak senang disebut Master. Mereka lebih senang dipanggil sahabat. Para Master tidak pernah menciptakan jarak antar dirinya dan Anda. Para Master merupakan keharuman bunga yang menyerbaki kehidupan Anda.

Sekali lagi, Anda tidak dapat mencarinya. Anda tidak dapat memperoleh alamatnya dari iklan-iklan koran. Anda harus sabar menanti, dan la akan terjadi, akan muncul dalam kehidupan Anda!

Jika Anda bertemu dengan seorang Master, hidup Anda akan segera berubah. Suatu ruangan yang gelap selama 40 tahun dapat menjadi terang dalam sekejap oleh sebatang lilin, tidak memerlukan 40 tahun untuk meneranginya.

Pertemuan Anda dengan seorang Master akan membuat Anda gembira; hari pertemuan menjadi hari perayaan! Anda akan menari dan menyanyi karena kegirangan. Anda baru akan tahu bahwa seorang Master tidak pernah memperbudak orang lain. la telah menguasai dirinya; ia tidak ingin menguasai Anda. Pertemuan dengan seorang Master justru akan mempercepat kebebasan Anda, mempermudah proses ketidaktergantungan Anda. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2001). Mengikuti Irama Kehidupan Tao Teh Ching Bagi Orang Modern. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Master yang accessible, mudah diakses atau sulit diakses?

Lapisan kesadaran manusia itu berlapis-lapis sehingga ada orang yang cocok dengan Master tertentu?

Tapi, ada juga Master yang semacam reader digest, yang mengumpulkan yang terbaik dari segala tradisi dan inti ajaran itu diberikan kepada muridnya, sehingga muridnya tidak perlu kemana-mana?

Tidak semua perjalanan hidup kita lancar, kita memerlukan seorang guide?

Ego kadang membuat kita yakin bahwa kita bisa belajar sendiri, bisa berenang sendiri. Tapi kebanyakan dari kita perlu instruktur. Di TK pun kita butuh Guru. Apalagi di Jalan Spiritual?

Tapi Guru bukan penyelamat kita. Mereka hanya menunjukkan jalan. Kita yang melakukan?

Guru yang mengingatkan setiap saat tidak ada yang bisa menyelamatkan diri kita kecuali kita sendiri?

Silakan simak:
Video Youtube: Bersama para Guru Spiritual oleh Swami Anand Krishna

Hanuman Penjaga Gerbang Batas Pikiran, Gerbang Tanpa Pintu, Gateless Gate

Gerbang Batas Alam Pikiran

Identifikasi apa yang dapat membahagiakan kita, dengan alam atau dengan Jiwa? Dan jawabannya jelas adalah identifikasi dengan Jiwa. Karena Jiwa tidak hanya bersifat abadi, tetapi juga tidak pernah berubah. Sehingga dapat menghasilkan kebahagiaan yang langgeng.

Sementara, Alam Benda berubah terus. Jika kita fokus pada perubahan-perubahan yang terjadi, maka emosi kita, pikiran kita — semuanya ikut mengalami perubahan-perubahan yang kadang membuat kita bahagia, kadang larut dalam lautan kesedihan dan kepedihan. Penjelasan Bhagavad Gita 14:3 dikutip dari buku: (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

Mengapa takut melompat? Keterikatan pada keluarga, pada dunia dan sebagainya? Pikiran, ego menahan kita agar takut melompat? Berikut penjelasan Hanuman Chalisa 21 tentang gateless gate, gerbang tanpa pintu…..

Buku The Hanuman Factor

Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu; Saha vīryam karavāvahai; Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga Hyang Tunggal senantiasa melindungi kita; menjernihkan pikiran kita: semoga kita dapat berkarya bersama dengan penuh semangat; semoga apa yang kita pelajari mencerahkan dan tidak menyebabkan permusuhan; Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

Rama Dwaare Tuma Rakhawaare, Hota na Aaagyaa binu Paisaare. Hanuman Chalisa 21

Sri Rama adalah Gerbang, dan engkau adalah Penjaga Gerbang; tak ada seorang pun yang dapat melaluinya tanpa ijin darimu

Sri Rama adalah Gerbang, dan engkau (Hanuman) adalah Penjaga Gerbang;

 

Tradisi Shinto

Dalam tradisi Shinto dari Jepang, sebuah gerbang yang terbuat dari kayu melambangkan spiritualitas. Itu memang hanya sebuah gerbang, tanpa pintu. Gapura ini disebut gerbang tanpa pintu. Tidak ada pagar, tidak ada batas, tidak ada apa-apa. Namun, setiap pejalan spiritual harus melewatinya. Apa yang dilambangkan dari hal ini?

Di satu sisi dari gerbang tersebut, ada langit luas membentang. Di sisi lain, di seberang gerbang tersebut, juga ada langit luas yang sama. Ada keluasan di sisi sebelah sini, dan ada keluasan pula di sisi yang satunya. Apa yang ada di sini, juga ada di sana. Dan, apa yang ada di sana, juga ada di sini. Lantas apa gunanya pintu?

Gerbang tanpa pintu ini, melambangkan batasan-batasan ciptaan pikiran kita sendiri. Sesungguhnya, gerbang tanpa pintu ini adalah pikiran kita, atau ciptaan pikiran kita sendiri, apa pun itu wujudnya.

 

Ketika kita memahami hal ini, maka kita memahami Tuhan.

Saat di mana kita berhasil dalam memecahkan teka-teki kehidupan ini, maka kita akan berhadap-hadapan langsung dengan Tuhan.

Hanuman berdiri di sana sebagai penjaga gerbang, penjaga dari gerbang tanpa pintu. Penampakan Hanuman—seekor kera yang sangat besar mirip monster—membuat kita takut. Kita gentar untuk mendekati gerbang tanpa pintu tersebut dan berpikir, “saya tidak akan diijinkan masuk.”

Pemikiran semacam itu, rasa takut yang tak berdasar seperti itu adalah refleksi dari pikiran kita yang penuh rasa takut.

 

Pikiran manusia selalu takut akan kekosongan.

Ketika ia menganggur, ia merasa sangat tidak nyaman. Ia akan berusaha mencari sesuatu untuk dilakukan. Berapa lama kita bisa duduk diam tanpa melakukan apa pun? Semua gadget, pertunjukkan dan hiburan, sejatinya diciptakan oleh rasa takut, dalam rasa takut. Kita selalu berupaya mengisi kekosongan kita dengan sesuatu, dengan apa saja.

Semakin penakut mind (pikiran), maka semakin licik, dan semakin intelektual pikiran tersebut. Ia akan selalu mencari alasan untuk menghindari berjalan memasuki gergang tak berpintu menuju  yang tak dikenal, “Untuk apa? Mengapa saya mesti memasuki gerbang itu, toh Tuhan ada di mana-mana? Tuhan ada di sini, di sana, di mana-mana—gerbang itu membatasi gerak-gerik Tuhan. Mengapa Tuhan mesti dibatasi dengan gerbang atau di balik gerbang itu? Mengapa tidak di sini saja, di luar gerbang?”

 

Gerbang tanpa pintu

Gerbang tanpa pintu sejatinya merupakan sebuah sarana untuk membebaskan kita dari rasa takut yang kita rasakan dan untuk mempersiapkan kita untuk terjun ke dalam yang tak dikenal.

Identifikasi yang saya lakukan terhadap tempat tertentu—kitab suci tertentu, agama tertentu, atau Nabi tertentu, Buddha tertentu, Mesias tertentu, Avatar tertentu, dengan Tuhan—lahir dari perasaan takut. Saya mencoba menjelaskan yang tak terjelaskan sebelum melompat. Saya harus melompat ke dalam sesuatu. Saya tidak bisa melompat ke dalam yang tak dikenal.

Jadi, semua penjelasan kita, semua upaya kita, semua percobaan yang kita lakukan untuk mengungkap misteri tentang Tuhan, untuk melakukan demistifikasi terhadap Tuhan, sejatinya lahir dari rasa takut.

Bagaimana jika saya mengidentikkan semua tempat, semua kitab suci, semua agama, semua Nabi, semua Buddha, semua Mesias, semua Avatar dengan Tuhan? Sama saja, saya tetap berupaya menjelaskan yang tak terjelaskan. Saya masih memikir-mikir dan membutuhkan waktu sebelum memutuskan untu melompat. Hal tersebut sama saja seperti upaya untuk menyelamatkan diri. Kita “berpikir” bahwa akan lebih mudah bagi kita jika kita melompat dengan memahami konsep ini. Jika memang Tuhan ada di mana-mana, maka pastilah saya melompat kedalam Tuhan. Saya tidak perlu takut.

 

Kehilangan Tuhan karena rasa takut

Inilah penyebab kita telah kehilangan dan melewatkan Tuhan selama ini dan dalam semua masa kehidupan yang telah kita lalui. Karena bahkan pun setelah menciptakan semua konsep, kita tetap takut untuk “Melompat ke dalam Yang tak dikenal”. Kita hanya berani melompat ke dalam konsep ciptaan kita sendiri.

Kita mungkin menggambarkan surga yang terang benderang ada di balik gerbang tanpa pintu tersebut atau kita menggambar neraka yang penuh penderitaan—intinya kita ingin punya sesuatu untuk dipegang sebelum kita melompat. Di dalam ketidaksadaran kita, kita lupa bahwa gambar-gambar tersebut adalah ciptaan kita sendiri.

Tidak hanya gambaran indah tentang surga, tetapi juga gambaran menakutkan tentang neraka pun juga merupakan ciptaan pikiran kita sendiri untuk membuat yang tidak dikenal menjadi dikenal.

Mereka yang menggambar neraka dengan api serta siksaan abadinya dan mereka yang menggambarnya dengan lebih wajar dengan warna-warna penyucian dan purgatory, sejatinya sama-sama takut. Perbedaannya terletak pada tingkat rasa takut yang mereka rasakan. Kelompok yang kedua mungkin tahu akan hal ini dan merasa lega akan “fakta bahwa semua itu adalah ciptaan mereka sendiri”, dan rasa takut mereka tidaklah seburuk kelompok yang pertama. Ini tidak lain adalah upaya menghibur diri. Ini juga tidak akan membantu.

 

Hanuman berdiri di samping gerbang tanpa pintu tersebut,

yang kiranya akan mengarahkan kita ke tempat tinggal Sri Rama. Ia tidak sedang menghentikan kita juga tidak sedang mengundang kita. Namun, ia tampak sedang mengamati gerak-gerik kita, tidak hanya gerak-gerik fisik, tetapi juga gerak mental dan emosional.

Ketika melihatnya, maka awan hitam keraguan pun terbentuk di langit pikiran kita, “Hanuman? Ah, tidak mungkin. Kalau dia Hanuman, maka pastilah pintu tersebut menuju kediaman Sri Rama. Bagaimana bisa? Rama adalah Sang Penghuni Sejati, tidakkah Ia menghuni dan bersemayam di setiap hati? Mengapa lantas Ia memiliki tempat tinggal seperti ini? Tidak, tidak. Ini pasti ilusi. Rama adalah Tuhan, energi murni, abstrak, tak terjelaskan, dan tak berwujud. Perwujudan-perwujudan ini tidaklah nyata. Mereka semua palsu. Biarkan aku lari dari sini sebelum aku tertipu oleh perwujudan-perwujudan tersebut.

 

Maka, kita pun lari.

Dan sejak itu pun kita terus melarikan diri, tanpa menyadari bahwa apa yang kita lihat di luar sejatinya adalah proyeksi dari apa yang ada di dalam diri kita.

Gerbang tanapa pintu di luar diri adalah proyeksi dari keberadaan kita sendiri. Hanuman yang berdiri di samping gerbang tersebut adalah kesadaran diri kita, yang selalu waspada, senantiasa mengawasi. Rama adalah jati diri kita.

Pikiran, ego adalah yang selalu ragu-ragu, “Masuk, Jangan, Masuk, Jangan.. Lompat, jangan, lompat, jangan, lompat, jangan…”

Jika pikiran memutuskan untuk melarikan diri, maka selesailah sudah. Tetapi jika pikiran tidak lari, tetapi justru memfokuskan diri pada Hanuman, maka keajaiban pun terjadi. Pikiran pun akan lenyap, dan “Kesadaran Hanuman” lah yang tersisa. Tiba-tiba kita mendapati diri kita berperan sebagai Hanuman. Kita menjadi penjaga pintu. Terjadi lompatan kuantum dari mind (pikiran) menjadi kesadaran. Bagaimana itu bisa terjadi?

Dikutip dari terjemahan buku (Krishna, Anand. (2010). The Hanuman Factor, Life Lessons from the Most Successful Spiritual CEO. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Om, Sarve bhavantu sukhinaḥ; Sarve santu nirāmayāḥ; Sarve bhadrāṇi paśyantu; Mā kashchit duḥkha bhāgbhavet; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga semua makmur, bahagia dan bebas dari penyakit. Semoga semua mengalami peningkatan kesadaran, dan bebas dari penderitaan. Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/

 

 

Renungan Diri: Bhakti, Pengabdian Belajar dari Hanuman #TheHanumanFactor

Bhakti, yang biasa diterjemahkan sebagai berbakti, mengabdi, atau memuja – sesungguhnya, memiliki makna yang jauh lebih dalam. Bhakti adalah semua itu plus dengan penuh kasih. Landasannya adalah kasih, kasih yang tak bersyarat dan tak terbatas.

Seorang anak bisa saja berbakti pada orangtuanya dengan harapan terselubung untuk mendapatkan warisan. Atau, rnendapatkan lebih banyak dari saudara-saudaranya. Karena, toh saudara-saudaranya tidak mengunjungi orangtua sesering dirinya, walau ia tidak mengungkapkan hal itu. Niat saja sudah cukup untuk menodai baktinya. Ia belum berbhakti.

Seorang hamba, seorang pengabdi pun sama. Ia bisa berhamba, mau mengabdi karena digaji, atau seperti para abdi-dalem di keraton-keraton kita. Gaji mereka tidak seberapa, tapi mereka puas dengan kedudukan mereka sebagai abdi-dalem. Mereka pun mengabdi demi posisi itu, demi gelar itu, demi penghargaan itu, demi identitas itu. Bagi kita, identitas “abdi-dalem” mungkin tidak berarti apa-apa. Tapi bagi mereka sangat berarti. Bagi mereka, identitas itu adalah jauh lebih berharga daripada uang jutaan per bulan. Jadi, di balik pengabdian dan penghambaan, mereka pun masih ada pamrih.

Pengabdian dan penghambaan kita pada Gusti Pangeran pun sama. Ada yang mengharapkan rezeki dari Gusti, ada yang mengharapkan kehorrnatan dari masyarakat, “Dia seorang saleh, dia begini, dia begitu………

BHAKTI MESTI BERLANDASKAN CINTA-KASIH tanpa batas dan tanpa syarat. Ditambah lagi dengan kata ananya – berarti, dengan segenap jiwa, raga, perasaan, pikiran, intelegensia, semuanya terpusatkan. Dengan kesadaran tunggal. Termasuk, ia tidak lagi memisahkan profesi, pekerjaan, kewajiban terhadap keluarga, masyarakat, lingkungan, dan lainnya – dari bhaktinya, dari pemujaannya.

Hidup dia telah berubah menjadi aksi-bhakti. Ia menginterpretasikan bhakti lewat hidupnya. Ia menerjemahkan bhakti dalam bahasa tindakan nyata. Dan, ia melakukan semua ini karena ia melihat Wajah Gusti Pangeran di mana-mana. Baginya melayani sesama makhluk adalah ungkapan cintanya bagi Gusti Pangeran. Penjelasan Bhagavad Gita 9:30 dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

Berikut adalah wujud Bhakti, Pengabdian dalam diri Hanuman:

Buku The Hanuman Factor

Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu; Saha vīryam karavāvahai; Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga Hyang Tunggal senantiasa melindungi kita; menjernihkan pikiran kita: semoga kita dapat berkarya bersama dengan penuh semangat; semoga apa yang kita pelajari mencerahkan dan tidak menyebabkan permusuhan; Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

Hridaya Basahu Sura Bhoopa—Bersemayamlah di Hati ini Selamanya, Wahai Yang Teragung di antara semuanya!

Ini adalah permintaan yang ditujukan kepada Hanuman, yang adalah perwujuan dari pengabdian. Karena perannya di dalam Ramayana, kisah tentang Rama, sangatlah penting. Berikut ini adalah signifikansi spiritual dari kisah Ramayana:

 

“Sita melambangkan jiwa manusia. Rahwana, Dunia, menawannya karena keterikatannya yang salah terhadap keduniawian, yang dilambangkan oleh sang kijang emas. Maka, ia pun terpisah dari Rama, Sang Jiwa Tertinggi. Dan ia pun ditawan di Lanka, kota keterikatan mental dan emosional. Hanya melalui pengabdian Hanuman dan cincin kedisiplinan yang dikirimkan oleh Rama untuk memeriksa gejolak dari pikiran, maka Sita mampu mendapatkan kembali apa yang telah hilang.

Namun, sebelum pertemuan agung, Sita mesti menjalani ritual penyucian untuk membersihkan jiwanya. Setelah terbersihkan, maka jiwa pun bersatu kembali dengan Tuhan!”

 

Ada banyak karakter dalam kisah Ramayana, setiap karakter sama-sama penting. Namun tiga karakter, Rama, Sita dan Hanuman menjadi karakter yang paling berpengaruh. Semua karakter yang lain sesungguhnya menjadi bagian dari ketiga tokoh ini. Mereka datang dan pergi di sekitar ketiga karakter ini.

Kita dapat menempatkan diri kita dalam peran apa saja dari peran-peran yang ada dalam kisah ini. Kita bisa memilih salah satu dari trio karakter ini, atau salah satu dari yang datang dan pergi di sekitar trio karakter tersebut.

Pilihlah Rama, jika Anda bersedia untuk mengambil semua jenis resiko dan tanggung jawab. Pilihlah Sita jika Anda membutuhkan bahu Rama untuk bersandar. Pilihlah Hanuman jika Anda ingin bermain aman. Anda tidak mungkin salah. Anda tidak mungkin gagal. Karena Hanuman adalah CEO yang paling sukses di ranah spiritualitas, di alam kebatinan.

Penyatuan Terakhir dengan Yang Maha Tinggi adalah tujuan dari semua bentuk kehidupan. Inilah misi hidup kita. Hanuman telah menyelesaikan misi tersebut. Dan ia menunjukkan jalannya kepada kita. Sesungguhnya Hanuman adalah jalan itu sendiri. Karena ia mewakili pengabdian; yang adalah jalan yang paling pasti dan yang paling aman menuju Tuhan.

Ia adalah pembimbing yang paling agung.

Ia terlahir untuk membimbing kita kembali kepada Tuhan, sebuah tugas yang dipercayakan oleh sang Bunda kepadanya. Rama dapat terpisah dari Sita, tetapi tidak dari Hanuman. Setelah bertemu untuk pertama kalinya, sesungguhnya Rama dan Hanuman telah menyatu. Pertemuan mereka adalah penyatuan paripurna, penyatuan ilahi; yoga.

Janganlah memberi atribut apa pun pada Yoga Ram-Hanuman ini. Yoga mereka adalah yoga sejati, yoga sebenarnya—Penyatuan. Titik.

Anda akan menemukan bhakti atau pengabdian dalam yoga mereka. Anda akan menemukan raja atau meditasi di dalam penyatuan mereka. Anda akan menemukan gyaana atau kebijaksanaan di dalam pertemuan mereka. Dan Anda akan menemukan karma atau karya tanpa pamrih di dalam hubungan mereka. Keempat cabang yoga menemukan pemenuhannya di dalam penyatuan Rama dan Hanuman.

Maka dari itu, jadilah seorang Hanuman, seorang yogi sejati.

Bermeditasilah dan temukan Rama di dalam diri Anda, dan mengabdilah kepadanya. Kembangkan kebijaksanaan untuk menemukan Rama yang ada di luar diri, di segala penjuru. Berkaryalah tanpa pamrih untuk mewujudkan pertemuan diri sejati di dalam diri dengan diri sejati di luar diri. Karena ketika dan di mana “yang di dalam” bertemu dengan “yang di luar”, maka saat itulah dan di sanalah TUHAN berada.

Dikutip dari Terjemahan (Krishna, Anand. (2010). The Hanuman Factor, Life Lessons from the Most Successful Spiritual CEO. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Om, Sarve bhavantu sukhinaḥ; Sarve santu nirāmayāḥ; Sarve bhadrāṇi paśyantu; Mā kashchit duḥkha bhāgbhavet; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga semua makmur, bahagia dan bebas dari penyakit. Semoga semua mengalami peningkatan kesadaran, dan bebas dari penderitaan. Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/

 

Neo-Cortex: Jembatan dari Insting Hewani menuju Kesadaran Ilahi

Limbic dan Neo-Cortex

Ibarat Super Komputer yang Mahacanggih, ke dua bagian utama otak kita bekerja sesuai dengai fungsinya masing-masing. Bagian Limbic memuat basic programming, yaitu program dasar untuk menjalankan komputer. Inilah insting insting hewani, atau lebih tepat disebut insting-insting dasar kehidupan. Sedangkan bagiai Neo-Cortex memuat program/aplikasi yang dibutuhkan manusia. Muatan pada bagian ini dapat ditambah, dikurangi, dihapus, diperbaiki, atau di-“manipulasi”.

Ketika kita masih kanak-kanak, di bawah usia lima tahun, hal-hal yang diajarkan oleh orang tua atau masyarakat menjadi bagian dari Neo-Cortex. Apa saja yang diamati atau sekadar dilihat oleh seorang anak dalam usia itu akan terekam dengan sendirinya.

Kemudian antara usia 5 hingga 12 tahun terjadi muatan-muatan baru lewat sistem pendidikan. Oleh karena itu, hingga usia 12 tahun disebut Golden Years, Usia Emas, karena banyak sekali muatan ditambahkan pada Neo-Cortex yang kelak digunakan hingga akhir hayat. (Krishna, Anand. (2010). Neospirituality & Neuroscience, Puncak Evolusi Kemanusiaan. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

Bisakah kita hidup tanpa pengembangan neo-cortex? Bisa!

Dalam Video Youtube Being Human 1/3 : Pleasant vs Good (by Swami Anand Krishna) disampaikan bahwa kita bisa hidup tanpa neo-cortex. Saat lapar langsung makan, ketika ingin seks langsung main seks, waktu mencari uang nggak usah peduli bagaimana caranya. Itu semua bisa dilakukan tanpa pengembangan neo-cortex, hanya menggunakan limbic saja.

Neo-cortex adalah jembatan yang menghubungkan dari kita yang ber-insting hewani menuju kita yang ber-kesadaran ilahi.

Neo-cortex seperti halnya hard-disk tambahan yang ditambahkan kepada otak kita. Setelah lahir, baru berkembang neo-cortex kita. Dalam video tersebut disampaikan bahwa pada saaat lahir kita belum mengenal kasih. Sewaktu bayi, lapar sedikit, nggak lapar banget kita menangis. Kita nggak sadar ibu kita tidur nyenyak karena bekerja keras seharian mengurusi kita. Karena neo-cortex bayi belum berkembang. Kasih harus dikembangkan dengan cara melakukan berulang-ulang sampai menjadi kebiasaan sehingga pada suatu saat terbentuk karakter kasih dalam diri.

Neo-cortex berguna untuk mengembangkan viveka, kemampuan memilah mana yang tepat dan mana yang tidak tepat. Mana yang preya, hanya menyenangkan indra atau shreya yang mulia.

 

Viveka membuat sadar akan Kebutuhan Jiwa yaitu Kebahagiaan Abadi

Viveka membuat kita sadar akan kebutuhan Jiwa, yaitu Kebahagiaan Sejati yang bersumber pada Kesadaran Jiwa itu sendiri. Patanjali tidak menolak kenyamanan tubuh, kenikmatan indra dalam takaran moderat, tidak berlebihan, tidak kekurangan. Silakan mengurusi badan dan indra, tetapi dalam kerangka besar kebutuhan Jiwa; dalam rangka mewujudkan misi Jiwa.

Kenyamanan tubuh dan kenikmatan indra tidak boleh berdiri sendiri. Semua itu mesti demi terwujudnya Kesadaran Jiwa dan tercapainya Kebahagiaan Sejati.

SEGALA PERSOALAN YANG KITA HADAPI SAAT INI disebabkan oleh perpisahan badan dan indra dari Jiwa. Sedemikian sibuknya kita melayani badan dan indra sehingga Jiwa terlupakan. Inilah tragedi masa kini. Penjelasan Yoga Sutra Patanjali II.15 dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2015). Yoga Sutra Patanjali Bagi Orang Modern, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

Segala penderitaan yang sedang kita alami saat ini, disebabkan oleh kurangnya viveka, kurangnya akal sehat; dan perkembangan buddhi atau inteligensia yang belum optimal, belum sempurna pada masa lalu. Hasilnya, penderitaan, duka-derita dalam hidup ini. Penjelasan Yoga Sutra Patanjali II.17 dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2015). Yoga Sutra Patanjali Bagi Orang Modern, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

Evaluasi Diri mana yang lebih dominan, Limbic Kita atau Neo-Cortex kita?

Coba perhatikan pikiran kita, apakah lebih banyak berpikir tentang aku dan milikku? Pada waktu kita berdoa apakah doa kita mohon tentang keberhasilanku, milikku, keluargaku? Mengapa kita diajari mendoakan kebahagiaan semua makhluk? Itu semua berkaitan dengan pengaruh Limbic atau pengaruh Neo-Cortex yang lebih dominan.

Pada waktu kita berbicara di muka umum, kita perlu jujur, apakah kita karena ada keangkuhan karena kita ingin dianggap lebih paham daripada yang lain? Atau apakah kita menyampaikan dengan penuh kasih guna menyampaikan kebenaran yang perlu diketahui orang banyak? Kembali Limbic atau Neo-Cortex yang lebih dominan?

 

Viveka adalah Buah dari Meditasi

Jalan menuju kemuliaan dan jalan menuju kepuasan indera yang bersifat sementara, inilah dua jalan yang terbuka bagi manusia. Mereka yang inteligen, berakal budi memilih jalan menuju kemuliaan. Mereka yang bodoh memilih jalan kepuasan indera, kenikmatan, dan kesenangan sesaat. Viveka memberi kita kemampuan untuk memilah. Kemampuan inilah yang kelak mengantar kita pada Bodhichitta. Viveka ibarat Buddha dalam proses.

Adalah sangat penting bahwa dalam perjalanan menuju kesadaran Buddha, atau Bodichitta, kita sadar akan apa yang tepat bagi kita, dan apa yang tidak tepat.

Viveka adalah buah meditasi. Viveka tidak dapat diperoleh dari buku. Buku, tulisan, serta pengalaman orang lain hanyalah sebatas untuk menyemangati kita.

Buku menjelaskan pengalaman para penulis yang memilih shreya atau kemuliaan dan meraih Bodhichitta. Buku juga bercerita tentang mereka yang memilih preya, atau kesenangan sesaat dan meraih penderitaan.

Mengapa preya tidak pernah memuaskan? Karena, jiwa kita abadi. Ia sedang mencari keabadian. Ia hendak meraih kebahagiaan abadi atau aananda. Sementara itu jalan preya hanyalah mengantar dia pada kesenangan, kebahagiaan, dan kenikmatan sesaat.

Adalah viveka yang mengenal aananda. Sebelum viveka berkembang, kita tidak pernah mengenal aananda. Mind atau maanas hanya mengenal kebahagiaan dan kesenangan sesaat. Ia tidak bisa menjangkau sesuatu yang bersifat langgeng dan abadi karena dirinya sendiri tidak abadi. Ia hanyalah merekam dan menikmati pengalaman-pengalaman jiwa yang bersifat luaran, dan senantiasa berubah-ubah.

Untuk menemukan aananda, para Buddha selalu mengajak kita untuk menoleh ke dalam diri sendiri. (Krishna, Anand. (2012). Neo Spiritual HYPNOTHERAPY, Seni Pemusatan Diri Untuk Bebas Dari Pengaruh Hipnosis Massal. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Sumber:

https://www.youtube.com/watch?v=aTOXeusf0I4&t=178s

https://gitakehidupansepasangpejalan.wordpress.com/2014/12/27/renungan-diri-super-computer-otak-manusia-dan-pentingnya-program-pendidikan-anak/

Keluar Siklus #Reinkarnasi Tak Berkesudahan dengan Buddhi Inteligensia

Inteligensia atau Buddhi, fakultas untuk memilah—kehilangan kemampuannya karena kabut dualitas yang bersifat ilusif.

 

PERSIS SEPERTI MATA MANUSIA YANG TERGANGGU PENGLIHATANNYA karena keadaan yang berkabut. Buddhi atau inteligensia tidak pernah hilang. Selalu ada. Dalam keadaan kabut pun tetap ada. Namun, karena kabut, kemampuannya bisa menurun secara drastis. Keadaan ini bukanlah permanen. Jika sudah tidak ada kabut, inteligensia bekerja kembali sesuai dengan fungsinya untuk memilah dan menentukan apa yang tepat bagi indra, badan, maupun gugusan pikiran serta perasaan. Apa yang tidak tepat, tentunya mesti dihindari.

Seorang bijak, seorang Yogi yang berkarya tanpa pamrih sudah keluar dari kabut, inteligensianya sudah berfungsi normal, sudah bisa dimanfaatkan sepenuhnya dan sesuai dengan fungsinya.

Gunakanlah inteligensia untuk mempertahankan kesadaran kita, supaya tidak ada lagi kabut yang mengganggu!

 

TIDAK TERGANGGU OLEH KABUT DUALITAS berarti, tidak “kegirangan” ketika mendapatkan pengalaman-pengalaman menyenangkan. Pun, tidak tenggelam dalam kenistaan, ketika menghadapi tantangan.

Hadapilah suka dan duka, semua pengalaman yang bertentangan dengan kondisi pikiran serta perasaan yang seimbang, tidak menjadi kacau karena pengalaman-pengalaman tersebut.

Sudah pasti suka dan duka menimbulkan sensasi yang beda. Itu tidak bisa dihindari. Asal, kita tidak larut, tidak terbawa oleh arus.

Umumnya, pengalaman suka membuat kita menjadi sombong. Keberhasilan mernbuat otak kita masuk angin. Dan, pengalaman duka mengempiskan hati kita. Kembang-kempis seperti inilah, yang mesti dihindari,

Tidak menjadi ciut dan putus asa karena pengalaman duka, dan tidak kemasukan angin ego karena pengalaman suka. Bhagavad Gita 5:20 dikutip dari buku: (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

 

Berikut penjelasan dalam buku karya leluhur Nusantara, Dvipantara Jnana Sastra tentang bagaimana menggunakan Buddhi atau Intelegensia untuk melepaskan diri dari jerat mind. Mind inilah yang menciptakan keterikatan, keserakahan, keinginan, kemarahan, iri, dan berbagai kualitas serupa — semuanya menyebabkan kita terlahir kembali.

Buku Dvipantara Jnana Sastra

Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu: Saha vīryam karavāvahai;Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai.Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga Hyang Tunggal senantiasa melindungi kita; menjernihkan pikiran kita: semoga kita dapat berkarya bersama dengan penuh semangat; semoga apa yang kita pelajari mencerahkan dan tidak menyebabkan permusuhan; Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

Pratyahara atau Penarikan Diri berarti menarik indra dari objek-objek indrawi, dengan upaya dan mind yang tenang” Vrhaspati Tattva 54

 

INI BISA DIRAIH dengan menggunakan buddhi atau inteligensia, mind yang telah bertransformasi dan mampu mentransformasi.

Antahkarana kita atau Realitas Batin, Sebab Batin dari segala sesuatu terkait fungsi tubuh kita — dikatakan bekerja dengan empat alat yang sangat efisien, yaitu:

Manah atau Mind; Ahamkara atau Ego, keakuan; Citta atau Inti, Esensi dari Mind, dan Buddhi atau Inteligensia.

Saat ini, dalam kebanyakan kasus, Mind atau Manah dan Ahamkara atau Ego memegang kendali indra-indra kita, kehidupan kita, dan segala fungsi diri kita.

Ini menciptakan keterikatan, keserakahan, keinginan, kemarahan, iri, dan berbagai kualitas serupa — semuanya menyebabkan kita terlahir kembali.

Gagasannya adalah meletakkan Buddhi dan Citta sebagai pemegang kendali. Ini adalah kudeta spiritual yang harus kita lakukan. Semua laku spiritual, termasuk yang disarankan di sini, menyiapkan kita untuk kudeta ini, untuk “peralihan kekuasan” ini.

Berkuasanya Mind dan Ego menjadikan kita sebagai budak indra. Dengan Inteligensia dan Mind halus yang berkuasa, kita terbebaskan dari perbudakan tersebut. Kemudian kita bisa menggunakan indra-indra kita tanpa diperbudak mereka.

Tapi, bagaimana caranya?

Ayat berikutnya menjelaskan……

 

“Senantiasa atentif akan keadaan yang bebas dari dualitas; konstan atau bebas dari perubahan apa pun; senantiasa damai; dan, tidak tergerak, dalam artian tidak terpengaruh oleh segala perubahan di luar diri — inilah yang disebut Dhyana atau Meditasi.” Vrhaspati Tattva 55

 

MEDITASI ADALAH ATENTIVENESS, SIKAP ATENTIF. Seorang ibu yang berasal dari keluarga biasa yang berpegang teguh prinsip-prinsip dan nilai-nilai Peradaban Lembah Sindhu, Shintu, Hindu, Indies, Indo, mengajarkan anaknya untuk senantiasa sadar sejak masa kanak-kanak, “Makanlah dengan atentif, belajarlah dengan atentif……”

Dengan kata lain, meditasi tidak pernah dipisahkan dari kegiatan sehari-hari. Hanyalah ketika kita tidak mendapatkan pendidikan awal semacam itu, pendidikan berbasis nilai sedari awal, barulah kita perlu menyisihkan beberapa jam untuk berlatih meditasi.

 

MEDITASI MEMBUNUH MIND YANG TER-CONDITIONING, inilah tahap paling awal. Selanjutnya, ia membangkitkan Buddhi, Inteligensia.

Ketika kita mulai hidup secara atentif, sesungguhnya kita hidup secara meditatif, hidup secara inteligen. Berbagai metode meditasi adalah baik adanya, selama mereka mampu menuntun kita pada tujuan di atas, yaitu hidup meditatif 24 jam sehari, 7 hari seminggu.

Kita harus memahami bahwa semua metode tersebut bukanlah akhir. Metode-metode meditasi bukanlah tujuan, bukanlah akhir. Entah kita menghabiskan beberapa jam sehari atau beberapa menit setiap hari dalam laku tersebut, tidaklah penting. Yang penting adalah melakoni meditasi. Jika kita bisa mencapai itu dengan sebuah metode tertentu — entah seliar atau tidak konvensional — maka itulah metode yang tepat bagi kita. Jika kita bisa mencapai tujuan hidup meditatif dengan mula-mula menyisihkan setengah jam untuk melakoni metode tertentu, maka mari kita sisihkan setengah jam, atau berapa pun waktu yang dibutuhkan.

Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2016). Dvipantara Jnana Sastra, Jakarta: Centre for Vedic and Dharmic Studies)

Catatan:

Ada mentega dalam susu, walaupun tidak tampak, belum tampak, tapi ia memang di sana. Dengan mengaduk susu, mentega yang tak tampak “menjadi” tampak. Namun, fenomena munculnya mentega ini tidak membuktikan bahwa mentega tidak eksis sebelum “proses pengadukan”. Upaya Manusia, usaha keras manusia — dalam konteks ini adalah sadhana spiritual, meditasi, dan lain-lain — dapat diibaratkan seperti proses mengaduk. Dengan mengaduk susu manah atau mind — buddhi atau inteligensia bermanifestasi. Dengan menggali jauh ke dalam buddhi atau inteligensia, lapisan-lapisan kesadaran yang lebih tinggi ditemukan, dan akhimya menuntun pada Paramatma atau Hyang Tunggal — mentega dari mentega, esensi pokok. Dari buku Dvipantara Jnana Sastra

Sudahkah kita mulai latihan meditasi atau sadhana spiritual?

Om, Sarve bhavantu sukhinaḥ; Sarve santu nirāmayāḥ; Sarve bhadrāṇi paśyantu; Mā kashchit duḥkha bhāgbhavet; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga semua makmur, bahagia dan bebas dari penyakit. Semoga semua mengalami peningkatan kesadaran, dan bebas dari penderitaan. Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/

 

Tidak Ingin Berulang Kali Lahir Kembali? Berkaryalah Tanpa Pamrih! #YogaSutraPatanjali

buku-yoga-sutra-patanjali-sepi-ing-pamrih

Sepi ing Pamrih Rame ing Gawe, Giat Berkarya tanpa Menanam Benih Kelahiran Kembali

Patanjali menekankan bahwa dhyana atau meditasi bukanlah duduk diam dan menjauhkan diri dari keramaian. Meditasi adalah “gaya kerja”—working style. Bekerja secara meditatif, hidup secara meditatif, itulah yang dimaksud. Bekerja dengan cara itulah yang tidak menyisakan residu, tidak ada ampas—tidak ada sesuatu tersisa yang bisa menjadi citta, bisa menjadi benih pikiran dan perasaan.

Bekerja secara meditatif, berarti bekerja tanpa ke-“aku”-an, bekerja tanpa pamrih, tanpa kepentingan diri. Penjelasan Yoga Sutra Patanjali IV.6

…………..

Sebaik-baik perbuatan kita, karma kita, jika masih ada setitik pun pamrih di baliknya, maka memunculkan vasana, obsesi, atau setidaknya keinginan untuk menikmati hasil dari perbuatan baik. Inilah yang kemudian—pada masa kehidupan berikutnya—-menjadi modal bawaan. Inilah modal kebiasaan dan kecenderungan; atau sifat bawaan.

Demikianlah, setiap karma—baik, buruk, atau di antaranya menghasilkan vasana, residu. Kecuali karma tanpa pamrih, Niskama Karma. Penjelasan Yoga Sutra Patanjali IV.8

……………..

Hidup cara Yogi berarti berkarya tanpa pamrih, berbagi berkah dengan mereka yang kurang beruntung. Hidup cara nonYogi berarti memikirkan diri sendiri saja, kepentingan diri, dan mengharapkan imbalan dari setiap perbuatan—mengharapkan kenikmatan atau kaveling di surga pun termasuk pamrih.

Pilihan ada di tangan kita.

Hidup sebagai Yogi berarti hidup tanpa ampas, tanpa residu, tanpa vasana, tanpa benih yang bisa menyebabkan kelahiran ulang. Atau hidup sebagai Non-Yogi, dan mengulangi pengalaman masa lalu. Meninggalkan residu, vasana, yang mempertahankan ke-aku-an diri sebagai manah, mind, gugusan pikiran serta perasaan, yang kemudian memunculkan citta sebagai benih untuk kelahiran ulang. Penjelasan Yoga Sutra Patanjali IV.8

 

Berikut penjelasan Yoga Sutra Patanjali I.19 tentang berkarya tanpa pamrih agar tidak terjadi kelahiran ulang:

Buku Yoga Sutra Patanjali

Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu: Saha vīryam karavāvahai;Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai.Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga Hyang Tunggal senantiasa melindungi kita; menjernihkan pikiran kita: semoga kita dapat berkarya bersama dengan penuh semangat; semoga apa yang kita pelajari mencerahkan dan tidak menyebabkan permusuhan; Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

“Kendati sudah videha, tidak berbadan, dan (elemen-elemen yang menciptakan badan pun sudah terurai serta) menyatu kembali dengan prakrti atau alam-benda—kehendak kuat untuk tetap hidup di dunia-benda bisa tersisa, dan menyebabkan terjadinya kelahiran ulang.” Yoga Sutra Patanjali I.19

 

Kehendak itu muncul dari purva samskara, dari residu kesan-kesan sepanjang hidup yang masih ada dalam gugusan pikiran serta perasaan.

 

BERARTI, SAAT KEMATIAN, hanya elemen-elemen alami kebendaan murni, sepeni air, api, tanah, udara, dan subtansi eter dalam ruang saja yang terurai. Elemen-elemen halus, seperti mind, manah atau gugusan pikiran serta perasaan; ego atau ahamkara, dan sebagainya belum terurai. Mereka masih mengkristal, masih utuh—dan mereka inilah yang kemudian mencari badan baru untuk mengalami kehidupan-ulang.

Keadaan tersebut adalah keadaian umum. Biasanya demikian. Tidak selalu. Jika semasa hidup seseorang sudah bebas dari residu kesan dan pesan masa lalu, pun tiada lagi sesuatu yang dapat mengikat dirinya dengan alam benda, maka saat kematian fisik, bukan saja elemen-elemen alami seperti tanah, air, dan sebagainya yang terurai—mind, ego, intelek, semua ikut terurai. Tiada lagi sesuatu yang mengkristal.

Tiada kesan dan pesan; tiada ingatan atau obsesi; tiada niat untuk “berada” kembali di alam benda ini—maka, Jiwa Individu atau Jivatma menyatu dengan Sang Jiwa Agung, Paramatma.

Bagaimana mencapai keadaan itu?

Selesaikan semua pekerjaan sekarang, saat ini, dalam kehidupan ini juga. Jangan menyisakan pekerjaan rumah. Jangan menyisakan sesuatu yang bisa menjadi benih, bisa menjadi citta yang rentan terhadap vrtti, gejolak, fluktuasi, modifikasi; dan dapat memulai serangkaian pengalaman-pengalaman baru.

Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2015). Yoga Sutra Patanjali Bagi Orang Modern, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Catatan:

“Melaksanakan setiap tugas kita, setiap pekerjaan kita dengan semangat panembahan” – itulah Karma-Yoga. Berarti tidak ada perpisahan antara tugas, kewajiban, pekerjaan, usaha, karir, dan latihan-latihan olah-batin. Tidak perlu meninggalkan keluarga untuk bermeditasi di dalam gua. Tidak perlu meinggalkan pekerjaan untuk bertapa-brata di tengah hutan. Kita dapat berkarya secara meditatif – dengan penuh perhatian dan kewaspadaan. Kita dapat mengabdi kepada Gusti Pangeran sambil berkarya, sambil menjalankan tugas kewajiban kita. Dari buku Karma Yoga

Sudahkah kita melakukan setiap pekerjaan dengan semangat panembahan?

 

Om, Sarve bhavantu sukhinaḥ; Sarve santu nirāmayāḥ; Sarve bhadrāṇi paśyantu; Mā kashchit duḥkha bhāgbhavet; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga semua makmur, bahagia dan bebas dari penyakit. Semoga semua mengalami peningkatan kesadaran, dan bebas dari penderitaan. Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/