Puisi Kabir: Membebaskan Diri dari Maya, Ilusi Dunia

buku Jalur Sutra Cinta

Cover buku Jalur Sutra Cinta

5

Katakan kawan,

Bagaimana membebaskan diri dari Maya, dari ilusi dunia?

Tali pengikat sudah kulepaskan,

tapi bajuku tetap ada.

Ketika baju pun kulepaskan,

lipatannya masih membekas.

Aku tetap juga tidak bebas

Saat kulepaskan nafsu,

kulihat amarah masih tersisa.

Dan, saat amarah terlepaskan,

keserakahan masih tetap ada.

Bebas dari keserakahan,

aku tetap terjerat oleh keangkuhan.

Pada suatu ketika, pikiran pun terbebas dari Maya;

Namun, ia tetap tidak bebas dari nama dan rupa.

Wahai Jiwa Tenang yang kucintai,

Jalan menuju-Nya sungguh jarang ditemui.

Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2005). Jalur Sutra Cinta, Dikumpulkan dan Diterjemahkan oleh Rabindranath Tagore, Saduran dan Ulasan dalam Bahasa Indonesia oleh Anand Krishna. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama) halamn 22

 

3

Kawan, cari Dia, kenali Dia,

pahami Dia selagi kau masih hidup.

Karena kebebasan mutlak hanya dapat diperoleh dalam hidup.

Kebebasan apa yang kau harapkan setelah kematian,

bila selagi hidup kau masih belum bebas dari keterikatan?

Pertemuan dengan-Nya setelah badan sirna,

hanyalah sebuah mimpi, khayalan belaka.

Bila kau menemukan-Nya di sini, sekarang juga,

kau pasti menemukan-Nya di sana.

Bila tidak, hanya maut yang akan kau temui di sana.

Pertemuanmu di sini, menjamin pertemuanmu di sana.

Hiduplah dalam Kebenaran,

kenali Penuntunmu, ikuti Petunjuk-Nya!

Jiwa yang senantiasa mencari akan menemukan-Nya.

“Aku mengabdi kepada Jiwa Pencari yang tak pernah berputus asa,”

demikian Kabir berkata.

Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2005). Jalur Sutra Cinta, Dikumpulkan dan Diterjemahkan oleh Rabindranath Tagore, Saduran dan Ulasan dalam Bahasa Indonesia oleh Anand Krishna. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama) halamn 19-20

Advertisements