Om: Selaras dengan Semesta Hilangkan Segala Rintangan #YogaSutraPatanjali

Entah kita menerimanya atau tidak; entah kita menyadarinya atau tidak; entah kita mengetahui tentang ini atau tidak — sesungguhnya, adalah Om ini yang, dalam alam meditasi, membawa kita ke alam lain dan juga membawa kita kembali ke alam ini. Dan, adalah Om ini pula yang bisa membebaskan kita dari kelahiran dan kematian berulang. Adalah Om ini yang bisa membebaskan kita!

 

“Omkara ini juga dikenal sebagai Agni, Api — api teragung yang bisa membakar habis identitas-jiwa rendah, mind, dan juga kesadaran-badan.

“Demikian setelah menggunakan Api untuk membakar semuanya, seseorang membakar benih kelahiran di masa depan.” Tattva Sang Hyang Mahajnana 65

BERARTI, DEMIKIANLAH SESEORANG MENCAPAI PEMBEBASAN dari samsara, dari penyebab kelahiran kembali.

Nah, ini tidak bisa dipahami secara filosofis. Om haruslah melampaui mind kita, bahkan inteligensia kita, untuk bisa menuntun kita melampaui mereka.

Jadi, mencoba untuk memahami Om adalah upaya yang sia-sia. Seseorang harus “melakoni”-nya untuk terangkat. Seseorang harus mengalarninya sendiri. Ini bukanlah bahan diskusi, walaupun ya, jika kita tertarik untuk mendiskusikannya maka bisa terus mendiskusikannya sampai bermasa-masa kehidupan tanpa beranjak ke mana-mana.

 

“Sesungguhnya Omkara adalah ucapan teragung, tersuci di antara yang suci. Sebagai yang terhalus, Omkara menuntun pada nirvana — padamnya api nafsu.” Tattva Sang Hyang Mahajnana 66

SEDEMIKIAN DAHSYATNYA KEPERKASAAN API OMKARA, sehingga semua api lain – api nafsu, keserakahan, keterikatan, kemarahan, ego, dan lain-lain —terpadamkan olehnya.

Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2015). Dvipantara Yoga Sastra, Jakarta: Centre for Vedic and Dharmic Studies)

Berikut manfaat pengulangan Om untuk mengatasi segala rintangan dalam buku Yoga Sutra Patanjali:

Buku Yoga Sutra Patanjali

Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu: Saha vīryam karavāvahai;Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai.Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga Hyang Tunggal senantiasa melindungi kita; menjernihkan pikiran kita: semoga kita dapat berkarya bersama dengan penuh semangat; semoga apa yang kita pelajari mencerahkan dan tidak menyebabkan permusuhan; Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

“Rintangan-rintangan yang mengacaukan citta atau benih-pikiran adalah Vyadhi atau Penyakit; Styana atau Ketumpulan (Mental); Samsaya atau Kebimbangan, Keragu-raguan; Pramada atau Sifat Tidak Peduli, Kecerobohan yang muncul dari ego, mementingkan diri sendiri saja; Alasya atau Kemalasan; Avirati atau Keterlibatan dengan segala Kenikmatan Indra; Bhranti-Dharsana atau Pandangan yang Terkondisi/Salah, Kebingungan, Ilusi; Alabdha-Bhumikatva atau Tidak Membumi, tidak Realistis; dan Anavasthitatvani atau Ketidakstabilan.” Yoga Sutra Patanjali I.30

Itulah daftar panjang rintangan yang dihadapi setiap sadhaka, setiap pelaku spiritual. Bahkan, sesungguhnya dalam keseharian hidup pun, rintangan-rintangan seperti itu selalu muncul. Dalam hal ini, adalah sangat penting bahwa kita memahami maksud PatanjaIi.

SETIAP RINTANGAN TERSEBUT ADALAH TERKAIT DENGAN DIRI KITA SENDlRl. Berarti, tiada satu pun rintangan berarti dari luar diri. Tiada satu pun rintangan yang disebabkan oleh keadaan di luar.

Ya, kadang keadaan menguntungkan. Jalan kita mulus. Kadang, keadaan tidak menguntungkan, dan kesadaran-diri pun mesti menghadapi “tantangan” of-road. Bagi Patanjali, tantangan-tantangan eksternal tersebut tidak bisa disebut tantangan. Tantangan eksternal relatif mudah dihadapi. Adalah rintangan-rintangan yang disebabkan oleh diri kita sendiri yang agak sulit diatasi. Unluk itu solusi yang ditawarkan oleh Patanjali, barangkali terdengar terlalu simplistic, sangat sederhana.

“MASA IYA, DENGAN PENGULANGAN OM SAJA SEMUA ITU BISA TERATASI?” Bisa, sangat bisa. Bahkan, tiada solusi lain.

Ingat, Patanjali adalah seorang Saintis Jiwa. Ia tidak Asbun—tidak Asal Bunyi, tidak Asal Bicara. Solusi yang ditawarkan pun sangat ilmiah.

Om atau Resonansi yang tercipta dengan mengulangi Om secara terus-menerus dapat menyelaraskan lapisan-lapisan kesadaran kita dengan semesta. Pun, elemen-elemen di dalam tubuh ikut terselaraskan dengan elemen-elernen alam. Bayangkan, renungkan apa yang terjadi saat itu? Kita mendapatkan tambahan kekuatan dari semesta. Energi kita, kemampuan kita berlipat ganda dalam sekejap!

Selain itu, segala sesuatu di dalam alam ini, bahkan alam semesta ini terungkap, terciptakan dari Suara Awal. Jadi, tak terbayangkan betapa dahsyat resonansi Suara Awal tersebut. Tak terbayangkan betapa Kreatif Suara Awal tersebut sehingga dampak dari resonansi awal itu masih tetap terasa, masih tetap menciptakan galaksi-galaksi baru!

Maka, tidaklah keliru jika Patanjali menganjurkan pemanfaatan resonansi dari Om. Cobalah, dan buktikan sendiri!

Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2015). Yoga Sutra Patanjali Bagi Orang Modern, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

Catatan:

Setiap getaran yang dikeluarkan oleh Om atau Aum dapat membantu kita dalam hal penyelarasan diri dengan semesta, bahkan dengan Ia Hyang berada di balik semesta, Hyang Mahakuasa. Kenapa bisa yakin sedemikian rupa? Silakan diuji, dicoba. Ucapkan dengan cara yang betul sebanyak 21 kali setiap pagi antara jam 04.00-07.00 selama 3 bulan saja. Anda pasti merasakan tidak hanya fisik Anda menjadi lebih sehat; pikiran pun Iebih tajam, lebih jernih; dan, perasaan lebih tenang.

Om, Sarve bhavantu sukhinaḥ; Sarve santu nirāmayāḥ; Sarve bhadrāṇi paśyantu; Mā kashchit duḥkha bhāgbhavet; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga semua makmur, bahagia dan bebas dari penyakit. Semoga semua mengalami peningkatan kesadaran, dan bebas dari penderitaan. Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/

 

Keluar Siklus #Reinkarnasi Tak Berkesudahan dengan Buddhi Inteligensia

Inteligensia atau Buddhi, fakultas untuk memilah—kehilangan kemampuannya karena kabut dualitas yang bersifat ilusif.

 

PERSIS SEPERTI MATA MANUSIA YANG TERGANGGU PENGLIHATANNYA karena keadaan yang berkabut. Buddhi atau inteligensia tidak pernah hilang. Selalu ada. Dalam keadaan kabut pun tetap ada. Namun, karena kabut, kemampuannya bisa menurun secara drastis. Keadaan ini bukanlah permanen. Jika sudah tidak ada kabut, inteligensia bekerja kembali sesuai dengan fungsinya untuk memilah dan menentukan apa yang tepat bagi indra, badan, maupun gugusan pikiran serta perasaan. Apa yang tidak tepat, tentunya mesti dihindari.

Seorang bijak, seorang Yogi yang berkarya tanpa pamrih sudah keluar dari kabut, inteligensianya sudah berfungsi normal, sudah bisa dimanfaatkan sepenuhnya dan sesuai dengan fungsinya.

Gunakanlah inteligensia untuk mempertahankan kesadaran kita, supaya tidak ada lagi kabut yang mengganggu!

 

TIDAK TERGANGGU OLEH KABUT DUALITAS berarti, tidak “kegirangan” ketika mendapatkan pengalaman-pengalaman menyenangkan. Pun, tidak tenggelam dalam kenistaan, ketika menghadapi tantangan.

Hadapilah suka dan duka, semua pengalaman yang bertentangan dengan kondisi pikiran serta perasaan yang seimbang, tidak menjadi kacau karena pengalaman-pengalaman tersebut.

Sudah pasti suka dan duka menimbulkan sensasi yang beda. Itu tidak bisa dihindari. Asal, kita tidak larut, tidak terbawa oleh arus.

Umumnya, pengalaman suka membuat kita menjadi sombong. Keberhasilan mernbuat otak kita masuk angin. Dan, pengalaman duka mengempiskan hati kita. Kembang-kempis seperti inilah, yang mesti dihindari,

Tidak menjadi ciut dan putus asa karena pengalaman duka, dan tidak kemasukan angin ego karena pengalaman suka. Bhagavad Gita 5:20 dikutip dari buku: (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

 

Berikut penjelasan dalam buku karya leluhur Nusantara, Dvipantara Jnana Sastra tentang bagaimana menggunakan Buddhi atau Intelegensia untuk melepaskan diri dari jerat mind. Mind inilah yang menciptakan keterikatan, keserakahan, keinginan, kemarahan, iri, dan berbagai kualitas serupa — semuanya menyebabkan kita terlahir kembali.

Buku Dvipantara Jnana Sastra

Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu: Saha vīryam karavāvahai;Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai.Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga Hyang Tunggal senantiasa melindungi kita; menjernihkan pikiran kita: semoga kita dapat berkarya bersama dengan penuh semangat; semoga apa yang kita pelajari mencerahkan dan tidak menyebabkan permusuhan; Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

Pratyahara atau Penarikan Diri berarti menarik indra dari objek-objek indrawi, dengan upaya dan mind yang tenang” Vrhaspati Tattva 54

 

INI BISA DIRAIH dengan menggunakan buddhi atau inteligensia, mind yang telah bertransformasi dan mampu mentransformasi.

Antahkarana kita atau Realitas Batin, Sebab Batin dari segala sesuatu terkait fungsi tubuh kita — dikatakan bekerja dengan empat alat yang sangat efisien, yaitu:

Manah atau Mind; Ahamkara atau Ego, keakuan; Citta atau Inti, Esensi dari Mind, dan Buddhi atau Inteligensia.

Saat ini, dalam kebanyakan kasus, Mind atau Manah dan Ahamkara atau Ego memegang kendali indra-indra kita, kehidupan kita, dan segala fungsi diri kita.

Ini menciptakan keterikatan, keserakahan, keinginan, kemarahan, iri, dan berbagai kualitas serupa — semuanya menyebabkan kita terlahir kembali.

Gagasannya adalah meletakkan Buddhi dan Citta sebagai pemegang kendali. Ini adalah kudeta spiritual yang harus kita lakukan. Semua laku spiritual, termasuk yang disarankan di sini, menyiapkan kita untuk kudeta ini, untuk “peralihan kekuasan” ini.

Berkuasanya Mind dan Ego menjadikan kita sebagai budak indra. Dengan Inteligensia dan Mind halus yang berkuasa, kita terbebaskan dari perbudakan tersebut. Kemudian kita bisa menggunakan indra-indra kita tanpa diperbudak mereka.

Tapi, bagaimana caranya?

Ayat berikutnya menjelaskan……

 

“Senantiasa atentif akan keadaan yang bebas dari dualitas; konstan atau bebas dari perubahan apa pun; senantiasa damai; dan, tidak tergerak, dalam artian tidak terpengaruh oleh segala perubahan di luar diri — inilah yang disebut Dhyana atau Meditasi.” Vrhaspati Tattva 55

 

MEDITASI ADALAH ATENTIVENESS, SIKAP ATENTIF. Seorang ibu yang berasal dari keluarga biasa yang berpegang teguh prinsip-prinsip dan nilai-nilai Peradaban Lembah Sindhu, Shintu, Hindu, Indies, Indo, mengajarkan anaknya untuk senantiasa sadar sejak masa kanak-kanak, “Makanlah dengan atentif, belajarlah dengan atentif……”

Dengan kata lain, meditasi tidak pernah dipisahkan dari kegiatan sehari-hari. Hanyalah ketika kita tidak mendapatkan pendidikan awal semacam itu, pendidikan berbasis nilai sedari awal, barulah kita perlu menyisihkan beberapa jam untuk berlatih meditasi.

 

MEDITASI MEMBUNUH MIND YANG TER-CONDITIONING, inilah tahap paling awal. Selanjutnya, ia membangkitkan Buddhi, Inteligensia.

Ketika kita mulai hidup secara atentif, sesungguhnya kita hidup secara meditatif, hidup secara inteligen. Berbagai metode meditasi adalah baik adanya, selama mereka mampu menuntun kita pada tujuan di atas, yaitu hidup meditatif 24 jam sehari, 7 hari seminggu.

Kita harus memahami bahwa semua metode tersebut bukanlah akhir. Metode-metode meditasi bukanlah tujuan, bukanlah akhir. Entah kita menghabiskan beberapa jam sehari atau beberapa menit setiap hari dalam laku tersebut, tidaklah penting. Yang penting adalah melakoni meditasi. Jika kita bisa mencapai itu dengan sebuah metode tertentu — entah seliar atau tidak konvensional — maka itulah metode yang tepat bagi kita. Jika kita bisa mencapai tujuan hidup meditatif dengan mula-mula menyisihkan setengah jam untuk melakoni metode tertentu, maka mari kita sisihkan setengah jam, atau berapa pun waktu yang dibutuhkan.

Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2016). Dvipantara Jnana Sastra, Jakarta: Centre for Vedic and Dharmic Studies)

Catatan:

Ada mentega dalam susu, walaupun tidak tampak, belum tampak, tapi ia memang di sana. Dengan mengaduk susu, mentega yang tak tampak “menjadi” tampak. Namun, fenomena munculnya mentega ini tidak membuktikan bahwa mentega tidak eksis sebelum “proses pengadukan”. Upaya Manusia, usaha keras manusia — dalam konteks ini adalah sadhana spiritual, meditasi, dan lain-lain — dapat diibaratkan seperti proses mengaduk. Dengan mengaduk susu manah atau mind — buddhi atau inteligensia bermanifestasi. Dengan menggali jauh ke dalam buddhi atau inteligensia, lapisan-lapisan kesadaran yang lebih tinggi ditemukan, dan akhimya menuntun pada Paramatma atau Hyang Tunggal — mentega dari mentega, esensi pokok. Dari buku Dvipantara Jnana Sastra

Sudahkah kita mulai latihan meditasi atau sadhana spiritual?

Om, Sarve bhavantu sukhinaḥ; Sarve santu nirāmayāḥ; Sarve bhadrāṇi paśyantu; Mā kashchit duḥkha bhāgbhavet; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga semua makmur, bahagia dan bebas dari penyakit. Semoga semua mengalami peningkatan kesadaran, dan bebas dari penderitaan. Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/

 

Pengaruh Jiwa dan Materi dalam Diri Kita #BhagavadGita

Dalam diri kita ada benih dari Jiwa Agung yang berada dalam tubuh yang berasal Alam Benda. Tubuh kita adalah medan laga atau ruang kerja bagi Jiwa. Persoalannya adalah ketika benih ini bertunas, berkembang, dan menjadi “sesuatu” — maka, apakah sesuatu itu mengidentifikasikan dirinya dengan Alam Kebendaan, Rahim yang melahirkannya, yakni Materi, atau dengan benih Jiwa Agung atau Spirit, Roh? Peran alam kebendaan dan benih Jiwa — dua-duanya sama pentingnya. Tidak ada keraguan atau dua pendapat dalam hal itu. Persoalannya bukanlah mana yang lebih penting. Dua-duanya penting. Persoalannya adalah identifikasi apa yang dapat membahagiakan kita, dengan alam atau dengan Jiwa?

Berikut penjelasan tentang hal tersebut dalam buku Bhagavad Gita dan Yoga Sutra Patanjali:

Buku Bhagavad Gita

Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu; Saha vīryam karavāvahai; Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga Hyang Tunggal senantiasa melindungi kita; menjernihkan pikiran kita: semoga kita dapat berkarya bersama dengan penuh semangat; semoga apa yang kita pelajari mencerahkan dan tidak menyebabkan permusuhan; Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

Dalam buku Yoga Sutra Patanjali I.4 disampaikan penjelasan:

Ketika benih belum membuahi indung telur, ia tetaplah benih. Saat itu Ia tetaplah Purusa, Cahaya Matahari yang Tak Terpisahkan dari Matahari dan menerangi Alam Kebendaan, atau Semesta sebagaimana kita mengenalnya; sebagaimana kita mengartikan istilah “semesta”.

Nah, “di luar saat itu”, ketika benih sudah memasuki indung telur; ketika benih bersama indung telur sudah dalam proses membentuk janin, maka Sang Purusa, Sang Saksi dalam salah satu Wujud-Nya sebagai Jiwa Individu mulai mengidentifikasikan dirinya dengan janin. Kelak, ia pun akan mengidentifikasikan dirinya dengan setiap pembelahan yang terjadi pada janin.

Dari Sudut Pandang yang Beda, ketika riak atau “benih-ketertarikan” kita pada sesuatu—entah seseorang atau salah satu benda di Alam Benda ini—tidak berlanjut, tidak berbuah, tidak “bertunas”, maka tidak terjadi apa-apa.

Tetapi, ketika “benih-ketertarikan” itu bertunas, maka timbullah keterikatan pada “tunas” dan perubahan-perubahan lain yang terus terjadi pada tunas tersebut. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2015). Yoga Sutra Patanjali Bagi Orang Modern, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

Dalam penjelasan Bhagavad Gita 14:4 disampaikan:

Sifat utama Sang Jiwa Agung adalah sebagai Saksi, sebagai Hyang sedang menikmati pertunjukan dan tidak terpengaruh oleh adegan mana pun. Inilah potensi Jiwa-Individu, potensi diri kita semua, yang masih mesti dikembangkan, jika kita ingin menikmati pertunjukan dunia.

Adanya Pandava dan Kaurava dl antara kita – sebagaimana telah, dan masih akan dijelaskan secara panjang lebar, adalah karena ketertarikan indra kita dengan sifat-sifat kebendaan tertentu. Benih Jiwa Agung tidak dapat disalahkan untuk itu. Adalah ketertarikan indra dan keterikatannya yang mesti diurusi.

Berikut penjelasan Bhagavad Gita 14:3 tentang pengaruh Jiwa dan Materi dalam diri kita:

 

“Wahai, Bharata (Arjuna, keturunan Raja Bharat), Alam adalah Maha Brahma, Rahim Agung dimana Ku-letakkan Benih Kehidupan. Demikian, pertemuan antara Alam Benda dan Jiwa mewujudkan segala sesuatu.” Bhagavad Gita 14:3

 

Alam Semesta, Medan Laga atau Ksetra adalah ruang kerja bagi Sang Jiwa. Dalam ayat ini, Krsna menyebutnya Rahim Agung, tempat Sang Jiwa Agung meletakkan benih-Nya. Supaya kita tidak salah mengerti — Prakrti, Alam Benda, Alam Raya; Ksetra, Medan-Laga; Maha Yoni atau Maha Brahma, Rahim Agung yang Melahirkan Semesta – adalah sebutan bagi Prinsip Feminin yang satu dan sama. Sementara itu,

 

PRINSIP MASKULIN ADALAH……. Purusa atau Gugusan Jiwa; Paramatma atau Sang Jiwa Agung; Ksetrajna, Yang Mengenal dan Menguasai Medan-laga. Benih, yang dimaksud dalam ayat ini adalah Gugusan Jiwa atau Purusa; yang terdiri dari Jiwa-Jiwa Individu atau Jivatma. Jadi, sesungguhnya Jiviatma atau Jiwa Individu tidak terpisah dari Purusa atau Gugusan Jiwa; dan Purusa atau Gugusan Jiwa pun tidak terpisah dari Paramatma atau Jiwa Agung. Sebagaimana Cahaya Matahari di dalam ruang kerja kita, rumah kita, tidak terpisah dari Sinar Matahari, dan Sinar Matahari tidak terpisah dari Matahari.

Pertemuan antara Prakrti Alam Kebendaan dan benih Jiwa Agung atau Purusa itulah yang “menyebabkan” terjadinya alam sernesta.

 

TANTANGANNYA IALAH ketika benih ini bertunas, berkembang, dan menjadi “sesuatu” — maka, apakah sesuatu itu mengidentifikasikan dirinya dengan Alam Kebendaan, Rahim yang melahirkannya, yakni Materi, atau dengan benih Jiwa Agung atau Spirit, Roh? Peran alam kebendaan dan benih Jiwa — dua-duanya sama pentingnya. Tidak ada keraguan atau dua pendapat dalam hal itu. Persoalannya bukanlah mana yang lebih penting. Dua-duanya penting.

Persoalannya adalah identifikasi apa yang dapat membahagiakan kita, dengan alam atau dengan Jiwa? Dan jawabannya jelas adalah identifikasi dengan Jiwa. Karena Jiwa tidak hanya bersifat abadi, tetapi juga tidak pernah berubah. Sehingga dapat menghasilkan kebahagiaan yang langgeng.

Sementara, Alam Benda berubah terus. Jika kita fokus pada perubahan-perubahan yang terjadi, maka emosi kita, pikiran kita — semuanya ikut mengalami perubahan-perubahan yang kadang mernbuat kita bahagia, kadang larut dalam lautan kesedihan dan kepedihan.

 

Berikut penjelasan Bhagavad Gita 14:5 untuk menghadapi pengaruh Jiwa dan Materi dalam diri:

Bukan saja sifat Agresif (Rajas) dan Malas (Tamas), tetapi sifat Tenang (Sattva) pun mengikat Jiwa dengan badan. Berarti, seluruh sifat, segala sesuatu yang berasal dari alam kebendaan memiliki kemampuan untuk mengikat Jiwa.

Jiwa tidak pernah punah – ia kekal abadi adanya. Namun, karena keterikatannya dengan badan, indra, dan alam kebendaan, ia “merasakan” pengalaman kelahiran, kematian, dan perubahan-perubahan lainnya.

Alam benda tidak bisa mengikat Jiwa, kecuali ia “bersedia” untuk diikat. Berarti, keterikatan Jiwa dengan alam benda tidak bisa terjadi kecuali seizin Jiwa itu sendiri.

………………..

Ketiga sifat ini kita miliki – kita semua memilikinya. Adalah penting bahwa kita memahami ketiga-tiganya, dan memanfaatkannya dalam keseharian hidup kita. Namun tidak terikat dengan satu sifat di antaranya – dan senantiasa menyadari hakikat kita sebabagi Jiwa yang bebas, merdeka.

Dikutip dari buku: (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

 

Om, Sarve bhavantu sukhinaḥ; Sarve santu nirāmayāḥ; Sarve bhadrāṇi paśyantu; Mā kashchit duḥkha bhāgbhavet; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga semua makmur, bahagia dan bebas dari penyakit. Semoga semua mengalami peningkatan kesadaran, dan bebas dari penderitaan. Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/

 

Memuja Dewa Agar Segera Memperoleh Apa Yang Diinginkan #BhagavadGita

“Seperti apa pun bentuk kepercayaannya seorang panembah (walau, ia sedang mengejar kenikmatan duniawi dan memuja para dewa atau kekuatan-kekuatan alam) – jika ia teguh dalam keyakinannya, maka Ku-kukuhkan keyakinannya itu.” Bhagavad Gita 7:21 dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

Berikut penjelasan Bhagavad Gita 4:12 tentang mereka yang menginginkan hasil cepat dari perbuatan mereka. Untuk itu mereka memuja para dewa:

Buku Bhagavad Gita

Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu; Saha vīryam karavāvahai; Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga Hyang Tunggal senantiasa melindungi kita; menjernihkan pikiran kita: semoga kita dapat berkarya bersama dengan penuh semangat; semoga apa yang kita pelajari mencerahkan dan tidak menyebabkan permusuhan; Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

“Makhluk-makhluk sedunia, yang menginginkan hasil cepat dariperbuatan mereka, umumnya memuja para dewa – kekuatan-kekuatan alam; dengan cara itu, mereka segera memperoleh apa yang mereka inginkan.” Bhagavad Gita 4:12

Banyak jalan yang ditempuh manusia. Salah satu adalah jalan yang ditempuh oleh mayoritas umum. Mereka menginginkan hasil cepat dari perbuatan mereka. Untuk itu…..

 

MEREKA MEMUJA PARA DEWA – Para Dewa adalah kekuatan-kekuatan alam. Para dewa – mereka yang berkilau — juga adalah orang-orang sukses di dunia ini.

Adalah salah bila dewa diterjernahkan sebagai Tuhan — kemudian, menyimpulkan bahwa leluhur kita politeis dan memuja banyak Tuhan. Tuhannya bukan satu……..

Anggapan keliru berdasarkan ketidaktahuan ini, tidak saja terjadi di negeri kita, tapi juga di kampung Parnan Sam. Beberapa waktu yang lalu ketika Congress di sana mengundang seorang Rohaniwan Hindu dan mempersilakan membuka sesi dengan doa dalam bahasa Sanskrit, maka beberapa kelompok fanatik di sana langsung menyerang, “Kampung kita dibangun di atas landasan monoteisme, bahwasanya Tuhan adalah Hyang Tunggal. Untuk apa mengundang seorang pendeta yang menganut Paham Politeisme, bahwa Tuhan itu banyak.”

Mereka patut dikasihani, karena tidak memahami ajaran-ajaran lain di luar ajaran dan kepercayaan mereka sendiri.

Dewa, sekali lagi, bukanlah Tuhan. Dewa adalah julukan bagi kekuatan-kekuatan alam; Energi Listrik, Energi Air, Energi Angin, dan lain sebagainya. Dan, dewa juga adalah……

 

JULUKAN BAGI ORANG—ORANG YANG SUKSES. Hingga hari ini pun, banyak anak diberi nama Dewa atau Dewi. Jika Dewa adalah Tuhan, maka jelas tidak akan digunakan sebagai nama untuk manusia.

Pasangan Dewa adalah Dewi. Jadi, masih berjender. Sayang sekali, mereka yang fanatik terhadap kepercayaannya sendiri dan menganggap seluruh kepercayaan-kepercayaan lain sebagai sampah — selalu berupaya keras untuk menampilkan kepercayaan mereka lebih superior dari kepercayaan-kepercayaan lain.

“Kami percaya sama satu Tuhan. Mereka punya banyak Tuhan. Kami percaya Tuhan tidak berwujud. Mereka percaya Tuhan berwujud dan beranak-pinak pula.” Tudingan-tudingan seperti ini hanyalah membuktikan betapa minimnya pengetahuan para penuding.

Kembali pada pemujaan para Dewa dan Dewi…..

 

JANGANKAN DEWA DAN DEWI DARI ALAM LAIN, umumnya kita semua memuja pula Dewa-Dewi yang sealam dengan kita.

Pernah menyaksikan bagaimana para pejabat menunduk dan mencium tangan seorang pejabat yang lebih tinggi? Pernah menyaksikan bagaimana para pegawai biasa “menghormati pengawasnya secara berlebihan? Itu baru pengawas, jika mereka menghadapi bos, pemilik perusahaan, adegannya sudah beda lagi.

Ini merupakan satu ekstrem.

Ada sisi lain juga, yaitu…….

 

ADAT BERSUNGKEM PADA ORANGTUA ATAU YANG DIPERTUAKAN – Adat macam ini tidak ada di belahan dunia lain. Lalu, apakah kita mesti meninggalkan adat kita untuk menyesuaikan diri dengan adat asing? Barangkali ada yang lebih suka dengan adat asing. Silakan. Tapi, jika ada yang masih mau mempertahankan adatnya sendiri, tradisinya sendiri, budayanya sendiri — ya, kita pun mesti menghormati pilihan mereka.

Apakah salah bersungkem pada orangtua atau yang dipertuakan? Apakah salah menghormati mereka dengan cara itu?

Kembali pada pemujaan Dewa…….

 

INTINYA, PARA DEWA ADA DI MANA-MANA di sekitar kita. Jika kita menginginkan hasil cepat, maka mesti menghormati mereka. Silakan menggunakan istilah menghormati jika tidak suka dengan istilah memuja.

Menghormati dan memuja para Dewa-Dewi membawa hasil cepat. Bos senang, naik pangkat, naik gaji, fasilitas ditambahkan. As simple as that, sederhana. Kiranya kita dapat memahami hal ini.

Dikutip dari buku: (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

Om, Sarve bhavantu sukhinaḥ; Sarve santu nirāmayāḥ; Sarve bhadrāṇi paśyantu; Mā kashchit duḥkha bhāgbhavet; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga semua makmur, bahagia dan bebas dari penyakit. Semoga semua mengalami peningkatan kesadaran, dan bebas dari penderitaan. Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/

 

Kita Produk Dualitas! Bagaimana Mencapai Kemanunggalan, Tauhid? #BhagavadGita

Brahma, Sang Pencipta adalah Produk Dualitas – Anda dan saya, kita semua adalah produk dualitas pula. Kita lahir, hidup berkarya, dan mati dalam kesadaran dualitas. Kemanunggalan adalah hakikat kita, ya, tapi, saat ini kita tidak manunggal lagi. Saat ini kita terpisah, atau setidaknya “merasa” berpisah dari Hyang Tunggal. Maka kita mesti mengupayakannya kembali.

Bagaimana caranya? Sang Pencipta telah memberikan clue, isyarat. Yaitu, dengan berkarya dengan semangat pesembahan. Ia mengatakan kepada makhluk-makhluk ciptaannya, kepada manusia, “Aku pun demikian. Aku pun menciptakan semua dengan semangat persembahan, dengan semangat melayani.”

Dengan cara itulah, kita baru bisa mengikis ego kita, tidak membiarkannya meraja. Idam na mama – bukan aku, bukan ego-ku, bukan indra, bukan gugusan pikiran dan perasaan, bukan intelegensia – aku adalah Jiwa, percikan Sang Jiwa Agung. Segala apa yang terjadi lewat badan, indra, dan lainnya adalah persembahan pada-Nya. Penjelasan Bhagavad Gita 3:10 dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

Berkarya bagi-Nya, berkarya untuk-Nya – berarti berkarya demi kepentingan semua makhluk yang adalah percikan-Nya. Tidak berkarya demi kepentingan diri saja.

Berarti, sebagai pengusaha, politisi, atau profesional dalam bidang apa pun – kita tidak mencari keuntungan dengan merugikan orang lai. Kejujuran dalam hal berusaha, kebijaksanaan dalam hal memimpin organisasi apa saja, termasuk pemerintahan, berempati dalam hal menjalankan profesi kita masing-masing – dengan bekerja seperti ini pun, kita dapat mencapai kesempurnaan diri – demikian janji Krsna. Penjelasan Bhagavad Gita 12:10 dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

Berikut penjelasan Bhagavad Gita 12:3-4 tentang melayani semua makhluk:

Buku Bhagavad Gita

Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu; Saha vīryam karavāvahai; Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga Hyang Tunggal senantiasa melindungi kita; menjernihkan pikiran kita: semoga kita dapat berkarya bersama dengan penuh semangat; semoga apa yang kita pelajari mencerahkan dan tidak menyebabkan permusuhan; Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

“Mereka yang telah mengendalikan diri, bersikap sama dengan setiap makhluk; dan senantiasa mengupayakan kesejahteraan bagi mereka semua dengan penuh kesadaran bahwa semuanya adalah percikan-percikan nyata dari Hyang Melampaui Segala Wujud dan Gugusan Pikiran serta Perasaan, Hyang Maha Ada, Tak Pernah Punah, Tak-Terjelaskan, Abadi, Tak-Tergoyahkan, dan Tak-Berubah – akhirnya menyatu dengan-Ku.”

 

“Dua ayat ini mesti digabung, dan ayat keempat diterjemahkan terlebih dahulu, supaya esensi, makna yang tersirat, inti dari kedua ayat ini tidak hilang.

“Intinya: Mereka yang senantiasa berkarya demi kesejahteraan sesama makhluk pun menyatu dengan-Nya. Mereka pun mengalami kemanunggalan yang sama, asal….

“Ya, di sini Krsna memberikan syarat.

“Seorang aktivis sosial bisa mengalami kemanunggalan yang sama, persis seperti yang dialami oleh oleh seorang panembah, asal ia melayani dengan semangat manembah.

“Guru saya selalu mengingatkan, ‘Yang membedakan seorang panembah dengan aktivis sosial adalah semangatnya. Seorang panembah melayani dengan semangat mengabdi kepada Ia Hyang Bersemayam sekaligus meliputi Jagad Raya. Seorang aktivis sosial melayani dengan semangat membantu sesama. Kegiatan mereka sama tapi niat dibaliknya beda. Sebab itu hasilnya pun beda.’

“Seorang Aktivis Sosial meraih penghargaan dari dunia, dari masyarakat, dari pemerintah, dari lembaga-lembaga sosial, institusi-institusi kepercayaan, perusahaan-perusahaan besar, dan lain sebagainya.

“Seorang panembah mendapatkan penghargaan dari Gusti Pangeran, berupa ‘kemanunggalan’ dengan-Nya.

“Krsna juga menjelaskan beberapa sifat Tuhan yang mesti melandasi semangat pelayanan, pengabdian, dan panembahan kita:

“Sesama Makhluk adalah ‘Wujud Nyata’ dari Ia Hyang:

  1. Melampaui Gugusan Pikiran dan Perasaan. Kita tidak dapat menjelaskan-Nya lewat pikiran, lewat logika, intelek dan rasio.
  2. Maha Ada. Ada di mana-mana. Tidak ada satu pun tempat di mana Ia tidak ada. Apa mungkin? Ya, mungkin. Perhatikan space, ruang alam semesta. Ia adalah ‘ibarat’ Ruang Abadi itu, Hyang Ada di mana-mana’
  3. Tidak Pernah Punah. Keluarkan segala isi alam dari Ruang Semesta, seperti mengeluarkan perabot dari ruangan. Tanpa perabot pun, ruang tetap ada.
  4. Tak Terjelaskan. Kita dapat menjelaskan ‘isi’ alam semesta, galaksi, multiverse, apa saja – tapi sebatas itu saja, sebatas isi yang berwujud saja. Hyang Tak Berwujud dan menopang semuanya tidak dapat dijelaskan, karena Ia…
  5. Abadi. Isi atau wujud berubah-ubah – Ruang yang menopangnya tidak berubah. Yang berubah – datang dan pergi adalah awan. Perubahan itu memberi kesan seolah langit sedang berubah, padahal tidak. Langit tidak pernah berubah. Dan Ia adalah Maha Langit di atas langit ada langit… Langit abadi yang Melampaui segala langit.
  6. Tak Tergoyahkan. Pola awan yang berubah-ubah tidak mempengaruhi langit. Ia tak tergoyahkan oleh segala macam guncangan dan perubahan.
  7. Melampaui segala wujud. Sebab, semua wujud terkesan sebagai wujud karena Dia. Awan tidak bisa bereksistensi tanpa langit. Ada langit maka wan pun ada. Awan berubah, tapi langit tetap sama.
  8. Tak Berubah.

Sifat-sifat ini mesti dikembangkan di dalam diri seorang panembah, barulah ia manunggal dengan-Nya. Atau manunggal dulu dan sifat-sifat ini akan mewarnai hidupnya.

Jadilah Panembah dan Anda menjadi Aktivis Spiritual, bukan sekadar Aktivis. Atau jadilah seorang Aktivis Spiritual dan Anda akan manunggal. Demikian kiranya nasihat Krsna.

Dalam satu kalimat: mengembangkan sifat-sifat tersebut di atas berarti: Menghadapi segala keadaan dan tantangan dengan penuh kesadaran bila semuanya ibarat awan yang sedang berlalu.”

 

Dikutip dari buku: (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

 

Catatan:

Perhatikan bagaimana Anda menghadapi tantangan-tantangan di luar. Apakah Anda masih beraduh-aduh? Jika ya, apakah sebatas beraduh—aduh saja? Apakah Anda selalu berupaya menghindari persoalan, menghindari masalah dengan bersembunyi di balik dalih positive thinking “Oh semua oke, tidak ada persoalan, yang ada hanya tantangan.”

Menemukan Sumber Kasih di dalam diri adalah maksud dan tujuan meditasi, the purpose. Ya, the purpose, maksud dan tujuan tunggal. Penemuan itulah yang kemudian memunculkan rasa bahagia yang langgeng, abadi, tidak terpengaruh oleh pasang-surut, panas-dingin, dan pengalaman-pengalaman lain yang saling bertentangan. Dari buku Soul Awareness

 

 

Om, Sarve bhavantu sukhinaḥ; Sarve santu nirāmayāḥ; Sarve bhadrāṇi paśyantu; Mā kashchit duḥkha bhāgbhavet; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga semua makmur, bahagia dan bebas dari penyakit. Semoga semua mengalami peningkatan kesadaran, dan bebas dari penderitaan. Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/

 

Mengendalikan Mind untuk Mengendalikan Nafsu! Berikut Latihannya #Meditasi

Sebelum mengendalikan hawa nafsu kendalikan dulu pikiran dan perasaan

Krsna menjelaskan tahapan-tahapan dalam meditasi. Sebelum mengendalikan hawa nafsu – keinginan-keinginan duniawi dan kenikmatan indra — gugusan pikiran serta perasaan mesti terkendali terlebih dahulu.

Banyak kisah, banyak cerita tentang kegagalan mereka yang sudah berusaha mati-matian, tapi tetap gagal mengendalikan hawa nafsu, mengatasi godaan indra, dan sebagainya. Sebabnya adalah, gugusan pikiran serta perasaan mereka (mind) belum terkendali.

Para rahib yang menjadi pedofil; para pemimpin yang tidak mampu mengendalikan hawa-nafsu; para pendeta dan tokoh masyarakat yang terlibat dalam tindakan-tindakan asosial; para politisi, pejabat, dan wakil rakyat korup yang tergiur oleh gratifikasi seks – banyak cerita, banyak kisah. Karena belum meditatif, mereka tidak bisa melaksanakan tugas mereka dengan baik.

Mind dulu — gugusan pikiran dan perasaan dulu — setelah itu terkendali, barulah mengurusi badan, indra, keinginan-keinginan, hawa-nafsu, dan lain-lain.

Mereka yang tidak memahami hal ini, dan tidak bisa mengendalikan hawa-nafsunya, nafsu-birahinya — memproyeksikan ketidakmampuannya di atas Kanvas Kehidupan. Ia berpikir setiap orang adalah sama seperti dirinya. Bahwasanya, tidak seorang pun mampu mengendalikan syahwatnya.

Ini adalah cara berpikir yang keliru.

Karena saya lemah, tidak berarti setiap orang lemah. Nafsu bisa dikendalikan, tapi mesti mengikuti tahapannya — secara urut, teratur. Mind dulu, baru passion — gugusan pikiran dan perasaan dulu, baru nafsu. Penjelasan Bhagavad Gita 6:24 dikutip dari buku: (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

Persoalannya adalah bagaimana cara mengendalikan mind?

 

Mengendalikan Mind yang Cenderung Liar

Gugusan Pikiran serta Perasaan atau Mind Ibarat Seekor Kera. Ia memang tidak bisa duduk diam. Mustahil Anda bisa mendisiplinkan seekor kera untuk duduk diam selama 10 menit saja. Ya, jika Anda melatihnya untuk menari dan meniru gerak-gerik Anda—seperti yang dilakukan oleh para pelatih topeng monyet—ia akan melakukannya dengan senang hati asal ada imbalannyal

Jadi, istilah-istilah atau frasa-rasa seperti “mengosongkan pikiran”, “jangan memikirkan sesuatu”, dan sebagainya, muncul dari mereka yang sesungguhnya tidak mengetahui cara kerja mind.

Mustahil mengosongkan pikiran, lebih mudah menyibukkannya. Menyibukkannya sedemikian rupa hingga ia kewalahan. Ia capek, lelah,dan “menjadi” diam secara alami.

Itulah sebab kita memberikan tugas memperhatikan napas kepada mind. Hingga, pada suatu saat ia kelelahan sendiri. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2016). Soul Awareness, Menyingkap Rahasia Roh dan Reinkarnasi, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Membudayakan Pikiran & Peningkatan Kesadaran (Mind Culturing & Self Awareness Meditation)

MIND DAN NAPAS ibarat dua ujung batang bambu. Pegang yang satu, dan yang kedua terpegang dengan sendirinya. Setiap orang yang hendak memasuki alam meditasi dengan mengosongkan pikiran, ibarat memegang bambu dari sisi mind atau gugusan pikiran dan perasaan. Hal ini sangat sulit, karena sebagaimana kita lihat sebelumnya, mind tidak segampang itu terpegang, apalagi dikosongkan.

 

LEBIH MUDAH BEKERJA DENGAN NAPAS. Semakin perlahan napas, semakin jernih kita dapat rnelihat apa saja yang ada di dalam mind atau gugusan pikiran dan perasaan.

Setiap pikiran, setiap perasaan—setiap thought dan emotion—mulai terdeteksi sebagai satuan. Demikian pula dengan unit-unit Iain berupa obsesi, khayalan, impian, imajinasi, dan sebagainya.

Demikian, terciptalah jurang-jurang keciI—spasi-spasi kecil—antara satu pikiran, satu perasaan, dengan pikiran yang lain, pcrasaan yang lain.

 

DAN MIND MULAI MELEMAH. Tidak terjadi kristalisasi pikiran dan perasaan—itulah saat meditasi terjadi, dan mind mulai bertransformasi menjadi buddhi, inteligensi, kesadaran.

Selanjutnya, seperti seorang petani yang sudah menanam benih, sudah memupuki dan mengairi sawahnya dengan baik, musim pun sudah berpihak padanya, maka tinggal menunggu panen saja.

Tinggal rnenunggu quantum leap yang dapat terjadi setiap saat. Kita memasuki alam kesadaran murni, dan clapat merasakan rasa terdalam, rasa di atas segala rasa, rasa yang bukanlah sama seperti perasaan atau emosi—yakni ananda, bliss, kebahagiaan sejati, langgeng, abadi.

 

DALAM LATIHAN BERIKUT, walaupun berfokus pada transformasi mind (Lapisan Ketiga dan Keempat), kita tetap mengolah lapisan pertama terkait dengan fisik, dan lapisan kedua terkait dengan prana atau aliran kehidupan.

Sekali lagi, kesehatan bagi kita adalah kesehatan total, sempurna, holistis, sehingga setiap lapisan kesadaran harus diolah. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2016). Ananda’s Neo Self Empowerment, Seni Memberdaya Diri bagi Orang Modern, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Mereka yang sudah terbiasa latihan Ananda’s Neo Self Empowerment di Anand Ashram sudah memahami bagaimana cara melakukan latihan ini. Tinggal melakukan latihan secara rutin agar mind bisa terkendalikan  dan hasilnya sungguh dahsyat. Demikian menurut pengalaman kami……

Risiko Krsna dalam Perang Melebihi Arjuna? Apa Rahasia Ketenangan Krsna? #BhagavadGita

Krsna adalah sosok yang berada dalam keadaan ini. Ia berada di tengah medan perang. Bukan angin biasa lagi. Sesungguhnya ia sedang berada di tengah angin ribut. Arjuna pun sama. Tapi Krsna tidak terganggu, sedangkan Arjuna terganggu.

Risiko Arjuna adalah “kalah” dan/atau mati, gugur di medan perang. Risiko Krsna melebihi risiko Arjuna. Bukan saja risiko mati, gugur di medan perang. Jika pun ia selamat, maka ia akan menghadapi kubu Kaurava yang tetap berkuasa di anak-benua Hindia, tempat kerajaannya — Dvaraka atau Dvaravati — adalah salah satu negara-bagian. Bayangkan, Krsna yang berpihak pada Pandava itu akan diperlakukan seperti apa? Yang jelas, ia akan dianggap tidak setia, pembangkang, pengkhianat……..

Dari sudut pandang manusia, risiko Krsna tidak kurang dari risiko Arjuna. Tapi keadaan batin mereka berbeda! Krsna adalah seorang Yogi, Yogiraja — Raja para Yogi. Arjuna masih belum. Penjelasan Bhagavad Gita 6:21 dikutip dari buku: (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

Silakan ikuti penjelasan Bhagavad Gita 6:20 tentang keadaan batin Krsna berikut:

Buku Bhagavad Gita

Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu; Saha vīryam karavāvahai; Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga Hyang Tunggal senantiasa melindungi kita; menjernihkan pikiran kita: semoga kita dapat berkarya bersama dengan penuh semangat; semoga apa yang kita pelajari mencerahkan dan tidak menyebabkan permusuhan; Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

“Dalam keadaan ‘diri’ atau batin terkendali seperti itu, Jiwa menyadari dirinya sebagai Jiwa; Demikian, ia mengalami kebahagiaan, kepuasan tak terhingga.” Bhagavad Gita 6:20

Dalam keadaan citta atau batin tenang — Jiwa menyadari dirinya sebagai Jiwa. Ia bukan badan; ia bukan energi; ia bukan gugusan pikiran serta perasaan; ia bukan inteligensia; ia bukan ini, dan bukan juga itu. Ia adalah Jiwa, percikan Sang Jiwa Agung. Maka saat itu ia mengalami kebahagiaan tak terhingga. Sebelum menggapai ………

 

KESADARAN JIWA, keadaannya persis seperti seorang putra raja yang diculik oleh gerombolan perampok. Ia dibesarkan oleh mereka. Maka, ia memiliki identitas palsu. Identitas palsu sebagai putra perampok, sebagai perampok. Indentitas palsu ini karena “pergaulannya” dengan gerombolan perampok. Karena keberadaannya di tengah mereka. Karena terlupakannya identitas asli yang sebenamya.

Menjalani peran palsu ini — peran yang sesungguhnya bukanlah peran dia — terjadi konflik batin dalam diri sang pangeran. Dia tidak puas dengan perannya sebagai perampok.

Ketika ia diculik, usianya baru 3 — 4 tahun. Ia masih balita. Sebab itu, ia pun tidak mengingat persis “masa lalunya” — identitas aslinya. Tapi, bagaimanapun juga — rekaman tentang kehidupan di istana sebagai pangeran, tidak pernah hilang juga. Rekaman itu masih ada. Walau buyar dan tidak jelas, ia masih melihat gambar-gambar, bayang-bayang dari masa lalunya — baik dalam keadaan jaga, maupun tidur — dalam mimpi.

 

IA TIDAK MENYADARI SEBAB KEGELISAHANNYA — Tapi ia tetap gelisah. Kehidupan perampok bukanlah kehidupannya. Ia tidak puas dengan pola-hidup yang sedang dijalaninya.

Kemudian, suatu ketika seorang menteri yang bijak menemukan si pangeran yang hilang itu. Ia mengenal tanda-tanda yang ada di badannya. Sekarang, Anda boleh menambahkan faktor DNA Test. Jelas dia bukan putra perampok. Dia seorang pangeran.

Maka, kesadaran baru yang sesungguhnya adalah kesadaran awalnya, kesejatian dirinya, seketika membahagiakan sang pangeran. Ia tidak perlu merampok lagi. Ia seorang pangeran. Mereka, yang selama ini dirampoknya, adalah warganya, rakyatnya.

Kebahagiaan sejati, kedamaian batin, keceriaan Jiwa yang dialami oleh pangeran dalam kisah ini – seperti itulah pengalaman kita ketika sadar akan diri kita sebagai Jiwa.

 

JIWA ADALAH PENONTON – Mereka yang sedang beraksi di atas panggung adalah badan, gugusan pikiran serta perasaan, indra, inteligensia.

Dirinya sedang menonton!

Maka adegan apa saja dapat menghibur dirinya. Terjadinya kematian di atas panggung, mengikuti skenario Sang Sutradara atau Penulis Naskah, tidak mencelakakan dirinya.

Terjadinya banjir, badai, topan — tidak mengganggu kenikmatan yang diperolehnya sebagai penonton. Jiwa yang demikian itu — Jiwa yang menyadari perannya, sifat aslinya sebagai Jiwa —terbebaskan dari segala duka. Bahkan dari segala dualitas suka dan duka. Ia meraih kebahagiaan tertinggi!

Ia seperti seseorang yang sedang bermain game. Gambar-gambar yang muncul di monitor atau layar teve adalah proyeksi dari console yang pengendalinya ada di tangan dia sendiri.

 

“Ketika Jiwa mengalami kebahagiaan tertinggi yang (berasal dari dirinya sendiri, dan) melampaui segala kenikmatan indra, bahkan segala kenikmatan yang dapat diperolehnya lewat intelek, maka ia akan berpegang teguh pada kebenaran, dan tak tergoyahkan lagi oleh tantangan seberat apa pun!” Bhagavad Gita 6:21

Ketika sang pangeran dalam kisah sebelumnya telah menemukan jati dirinya, maka ia tidak akan pernah membiarkan kesadaran itu “terlupakan lagi”.

Ia tidak akan pernah meninggalkan atau melepaskan “kebenaran” dirinya sebagai pangeran. Ia bukanlah seorang perampok.

 

SEORANG YOGi YANG SUDAH MENYADARI dirinya sebagai Jiwa, tak akan terperangkap oleh identitas-identitas palsu rekaan badan, indra, gugusan pikiran serta perasaan, maupun inteligensia.

Jiwa yang sudah merasakan kebahagiaan tertinggi ibarat pangeran yang “sudah kembali ke istananya”. Ia tidak tertarik lagi dengan kenikmatan-kenikmatan indra yang diperolehnya dalam “kesadaran palsu” sebagai perampok.

Ia tidak merampok lagi, karena menyadari dirinya sebagai pangeran. Jika kita sadar bahwa panggung sandiwara adalah untuk menghibur, maka kita akan menikmati segala pertunjukan di atas panggung — tapi tidak mengidentifikasikan diri dengan cerita di atas panggung.

Kita penonton! Tidak perlu membawa pulang panggung atau peran di atas panggung. Nikmati — dan kembalilah ke istana — ke tempat asal kita!

Dikutip dari buku: (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

Om, Sarve bhavantu sukhinaḥ; Sarve santu nirāmayāḥ; Sarve bhadrāṇi paśyantu; Mā kashchit duḥkha bhāgbhavet; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga semua makmur, bahagia dan bebas dari penyakit. Semoga semua mengalami peningkatan kesadaran, dan bebas dari penderitaan. Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/