Melakoni Nasehat Guru Pemandu

Dalam buku (Krishna, Anand. (2000). Masnawi Buku Kesatu, Bersama Jalaludin Rumi Menggapai Langit Biru Tak Berbingkai. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama) disampaikan perumpamaan:

Seperti seekor keledai yang tergiur oleh rerumputan dan berhenti di pinggir jalan, begitu pula kenikmatan duniawi bisa menyibukkanmu, sampai lupa menempuh perjalanan yang harus kau tempuh. Pada saat-saat seperti itu, hanya seorang pemandu yang bisa menyadarkan dirimu”.

Banyak orang berupaya untuk mendekatkan diri dengan Tuhan lewat ritus-ritus keagamaan.” kata Nabi Muhammad kepada Ali, sambil menasihatinya, “Dekatkan dirimu dengan para pengabdi Allah yang terpilih dan bijak, maka kau akan lebih awal sampai di tujuan.”

Nabi Muhammad melanjutkan, “Ali, engkau adalah seorang Pemberani yang bernyali. Kendati demikian, jangan terlalu percaya pada ‘nyali’. Turutilah nasihat seorang Pemandu yang bisa menemanimu dalam perjalanan ini. Turuti nasihat seorang Pemandu, sebagaimana Musa menuruti nasihat Khidir.”

………………

Anggur tua dinilai lebih tinggi. Begitu pula dengan para Pir. Carilah seorang Pir yang sangat tua. Tua karena kebenaran, karena kesadaran, bukan karena waktu. Jika kamu sudah menemukannya, jadikan dia Pemandumu. Dengan adanya seorang Pemandu, perjalananmu akan menjadi lebih nyaman dan terarah. Ingat, perjalanan ini baru pertama kali kamu tempuh. jangan sok berani. Indahkan panduan Sang Pemandu!

Tangan seorang Pir bagaikan Tangan Tuhan. Jangan meragukan hal ini. Jangan kira ada yang pernah sampai di tujuan tanpa bantuan para Pir. Kalaupun ada yang berjalan sendiri dan sampai di tujuan, hal itu disebabkan oleh doa para Pir yang senantiasa melindungi dirinya.”Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2000). Masnawi Buku Kesatu, Bersama Jalaludin Rumi Menggapai Langit Biru Tak Berbingkai. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama)

Bantuan Para Pemandu menurut Bhagavad Gita

“Partha (Putra Prtha – sebutan lain bagi Kunti, Ibu Arjuna), seseorang yang pikirannya terkendali lewat pola hidup berlandaskan Yoga; meditasi yang teratur; dan kesadarannya senantiasa terpusatkan pada Tuhan, pada Jiwa Agung – maka niscaya ia mencapai kemuliaan-Nya yang tak terhingga.” Bhagavad Gita 8:8

Bagi Krsna – dan memang demikian adanya – Yoga, meditasi, dan laku spiritual atau sadhana lainnya bukanlah sekadar pelajaran, tetapi sesuatu yang mesti dihayati dan dilakoni sepanjang masa. Bukan seperti buku pelajaran, sudah selesai ya sudah — dibuang saja. Dulu, saya mengoleksi novel-novel misteri oleh beberapa penulis asing terkenal di masa 1970-an. Sekarang, belasan buku yang dulu saya anggap sangat baik itu, sudah tidak memiliki daya tarik lagi.

YOGA, MEDITASI, LAKU SPIRITUAL BUKAN SEPERTI ITU – Bukan sekali dibaca, sekali dipelajari — selesai. Tapi, mesti diulang-ulang — dihayati, dan dilakoni dalam keseharian hidup. Seperti yang telah kita baca sebelumnya, Krsna menyebutnya Abhyasa — dilakoni secara terus-menerus, secara intensif dan repetitif. Dengan cara itulah kita baru memperoleh manfaatnya.

Hal lain yang penting adalah…..

Kehadiran seorang Sadguru – Walau semuanya dapat dipelajari secara otodidak – istilah yang sedang trend dan trendy, padahal seringkali memberi angin pada ego – sesungguhnya tidak ada, saya ulangi, tidak ada pengganti bagi belajar di bawah bimbingan seorang Pemandu Rohani. Bukan sekadar guru, tetapi Sadguru – Guru Sejati yang tidak berfungsi sebagai guru di sekolah atau ahli kitab – tapi sebagai guide, pemandu.

Selain itu, juga dibutuhkan suasana asram (ashram), padepokan tempat kita bisa berinteraksi dengan support group yang terdiri dari orang-orang sehati, para pencari kebenaran.

Ashram adalah transit point antara alam ini, dunia ini dan alam roh, spirit, dunia sana. Namun, ada dunia lain di luar ashram, yang sisa-sianya ada juga di ashram, sebagai residu; kotoran, debu dan pasir di bawah sandal kita sendiri yang terbawa ke ashram. Ego kita, kepicikan kita, iri hati dan kecemburuan kita, pun cinta monyet, ketertarikan semu, keterikatan, dan sebagainya – inilah debu dan kotoran yang dimaksud. Sebab itu, idealnya ketika memasuki ashram, kita melepaskan als kaki ego, mind, dan meninggalkan sampah-sampah itu diluar.

Masukilah ashram tanpa beban lama – Tinggalkan segala beban dan kotoran di pintu luar, pintu masuk. Kendati demikian, ada saja daki badan yang tetap terbawa. Untuk mengurusi itu pun mesti abhyasa! Membersihkan diri dari hari ke hari. Kita tidak bisa bersikap, “Kemarin baru mandi, harin ini tidak perlu!”

Abhyasa berarti bukan sekadar mandi setiap hari, tapi setiap kali kita merasakan kebutuhamya, barangkali 2 atau 3 kali sehari. Tidak perlu tinggal di kamar mandi juga. Kamar mandi adalah kamar untuk mandi, bukan untuk tidur dan tinggal.

Mandi 2 — 3 kali sehari dalam konteks ini adalah melakukan….

MEDITASI, PERENUNGAN BATIN, Membaca buku-buku yang dapat membantu dalam hal perkembangan Jiwa; berdoa dengan cara yang paling tulus, berdoa dengan dan dari hati terdalam, dan dalam bahasa kasih sejati, bukan karena takut. Biarlah airmata yang keluar adalah karena cinta, karena rindu Sang Kekasih, bukan untuk merengek-rengek supaya dapat jatah kapling di surga.

Surga Gusti Pangeran tidak di atas sana, tidak setelah kematian saja. Surga Pangeran ada di sini, dunia ini! Hiduplah dalam surga-Nya sekarang dan saat ini juga. Kenapa mesti menunggu kematian dulu?

Wejangan Krsna jelas sekali — seseorang yang melakoni hidupnya seperti itu, sesungguhnya sudah tinggal di dalam istana-Nya, surga-Nya! Ia sudah melakoni Yoga. Dan, sekali sudah berada di dalam istana-Nya, maka pertemuan pun bisa terjadi setiap saat, tinggal tunggu Waktu, sabar sedikit!

 

Para Pir para Wali, para Nabi—apa pun sebutannya—adalah wakil Keberadaan di atas bumi, seperti para Duta Besar yang mewakili negerinya. Dia berperan sebagai penghubung antara negeri yang mengut us dan negeri di mana dia ditempatkan.

Setelah menyelesaikan masa baktinya, seorang Duta Besar akan pulang ke negerinya, dan digantikan oleh Duta Besar yang baru. Demikian, berjalan terus. Kecuali, terjadi konflik dan pemutusan hubungan  diplomatik.

Untungnya, Tuhan tidak pemah memutuskan “hubungan” dengan dunia kita.  Itu sebabnya, dari jaman ke jaman, ada saja utusan yang Dia kirimkan. Jika anda alergi terhadap istilah “nabi” dan hanya ingin menggunakan untuk pribadi-pribadi tertentu, tidak apa. Gunakan istilah “wali”, “pir”, “pemandu”, “pelayan”, “petugas”—apa saja! Tidak menjadi soal.

Negara-Negara Persemakmuran (The Commonwealth Countries), bekas jajahan Inggris tidak mengenal istilah “Duta Besar” di antara mereka. Mereka menggunakan istilah “High Commissioner”. Tidak menjadi soal. High Commissioner atau Ambassa dor  atau Duta Besar atau apa saja, ketahuilah bahwa yang mereka wakili, satu dan sama.

Sering kali, seorang Duta Besar tidak akan turun tangan sendiri untuk memberi informasi tentang negerinya. Dia akan menggunakan media cetak dan media elektronik untuk menyampaikan berbagai informasi. Lalu berkat informasi yang dia sampaikan itu, anda tertarik untuk mengunjungi negerinya. Langsung membeli tiket dan jalan sendiri.

Tampaknya, anda tidak menggunakan jasa kedutaan. Apalagi kalau negeri itu tidak mengharuskan anda memiliki visa. Tetapi, sesungguhnya ketertarikan anda terhadap negeri itu sudah membuktikan adanya “tangan” Sang Duta Besar yang sedang bekerja di balik layar. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia via #BhagavadGitaIndonesia

 

Latihan meditasi dan yoga adalah penyiapan lahan, nasehat Guru Pemandu adalah benih-benih Pohon Kebenaran

Demikian yang kami catat dalam salah satu nasehat berharga.

Kalau kita hanya latihan meditasi dan yoga tetapi tidak menanam benih yang baik, maka bisa jadi benih tidak baik yang terbawa angin yang akan tumbuh subur. Rahwana adalaah seorang meditator. Tapi benih yang ditanam bukan benih kebaikan.

Hanya menanam benih setiap hari lewat nasihat para bijak tanpa penyiapan lahan juga tidak akan berkembang menjadi pohon yang subur.

Advertisements

Ooh Ternyata Kita Masih Dipertimbangkan Hewan, Persepsi Kita Masih Hewani

Selama melihat dengan persepsi (pashyati) kita masih dipertimbangkan hewan (pashu)

Kita melihat, mempersepsikan (pashyati) segala sesuatu punah karena kita masih berada dalam taraf pashu, hewan. Bhagavad Gita mengajak kita melampaui persepsi. Mengapa demikian? Silakan memperhatikan youtube video oleh Swami Anand Krishna terkait di bawah:

Berikut salah satu contoh melampaui persepsi (pashyati) dalam Bhagavad Gita:

“Ia yang melihat Hyang Maha Kuasa dan Tak Pernah Punah, di balik segala sesuatu yang mengalami kepunahan, baik hidup dan bergerak, maupun yang (tampak) tidak hidup dan tidak bergerak, sesungguhnya telah mengetahui kebenaran sebagaimana adanya.” Bhagavad Gita 13:27

Apa yang biasa terlihat oleh kita adalah sekadar “dampak” dari perubahan. Kelahiran, kematian, kelahiran kembali, dan kematian lagi – semuanya sekadar “dampak” dari perubahan. Kita tidak mampu melihat Ia yang berada di balik perubahan-perubahan itu…..

IA HYANG TAK BERUBAH, TAK PUNAH – Banyak pujangga yang berhenti pada tahap melihat perubahan saja. Bagi mereka perubahan itulah kebenaran mutlak. Mereka melihat perubahan sebagai satu-satunya hukum yang tak pernah berubah.

Pun demikian dengan kepunahan. Banyak pujangga yang hanya melihat sebatas kebendaan, dimana tidak ada satupun benda yang langgeng, semuanya punah.

Adapun kepercayaan dan filsafat yang berkembang di atas landasan tersebut, menolak adanya sesuatu “yang tidak pernah berubah dan tidak pernah punah”. Mereka hanya menerima “hukum perubahan” sebagai hukum yang tidak terelakkan, tidak pernah punah. DEMIKIAN, PEMAHAMAN MEREKA MENJADI PINCANG – Di satu pihak, mereka menolak adanya sesuatu yang tidak pernah berubah dan punah; di pihak lain, mereka pun percaya pada hukum perubahan yang mereka yakini tidak pernah berubah.

Ada pula kepercayaan-kepercayaan yang berlandaskan paham ateisme, dan menolak adanya Tuhan, tetapi menerima “hukum kecelakaan” sebagai cikal-bakal semesta.

Krsna menafikan “hukum kecelakaan yang tidak inteligen” tersebut. Ia menjelaskan bahwa di balik segalanya adalah Super Intelligence. Perhatikan Mini Super Computer yang kita miliki — badan kita. Perhatikan kinerja setiap organ. Mungkinkah semuanya itu hasil dari hukum kecelakaan, ataupun kebetulan semata?

Kebetulan saja manusia tercipta dengan badan dan otak yang mampu menciptakan komputer super termodern. Apa mungkin??? Krsna mengatakan bahwa….

PENCIPTAAN BUKANLAH KECELAKAAN, bukan kebetulan. Ada rencana inteligen, sangat inteligen, di baliknya. Dan jika ada rencana yang inteligen, maka mesti ada pula Super Inteligensia yang merencanakan. Super Inteligensia inilah Hyang Maha Kuasa. Mau disebut Tuhan, atau apa saja – silakan!

Bagi Krsna, seseorang yang memahami hal ini adalah orang yang betul memahami. Seseorang yang dapat melihat hal ini adalah yang betul melihat. Mereka yang tidak memahami dan melihat hal ini, belum cukup paham, belum cukup pula penglihatannya. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia via #BhagavadGitaIndonesia

Video Youtube by Swami Anand Krishna: God and humanbeing go beyond perception

Dalam bahasa Sanskrit setiap kata interconnected, berhubungan. Animal (bahasa Inggris) datang dari bahasa Latin animus. Animus berarti hidup. Bukan hanya animal, kita juga hidup. Tanaman, pohon pun hidup. Gunung, laut, sungai mereka hidup juga. Sehingga bila kamu memilih menggunakan kata animus dari Latin, semuanya adalah animal, hewan, semua benda adalah animal, hewan. Apa pun juga di dunia adalah animal.

Dalam Sanskrit segalanya mempunyai kata. Kata untuk animal, sapi, kucing, anjing, kuda, semuanya dipertimbangkan sebagai pashu. Dan pashu adalah akar kata dari pashyati, dalam bahasa Inggris, perception, persepsi. Jadi seorang yang percaya kepada persepsi, adalah pashu.

Saya melihat hal yang sama dan kalian melihat hal yang sama. Saya melihat statue, kau melihat statue, patung sebagai sapi. Saya mempersepsikan sebagai kendaraan Lord Shiva. Persepsi kalian adalah sapi, persepsi saya adalah Nandi.

Sehingga apabila kita percaya pada superficial things, apa yang dilihat oleh mata kita, apabila kita hanya percaya itu, maka kalian pashu, animal. Apabila kalian ingin menjadi human being, kalian harus penetrasi lebih dalam, apa itu. Kamu harus melihat inti dari segala sesuatu. Jangan percaya kepada sesuatu yang di luar. Yang di luar mungkin tampak jelek, bisa tampak sangat baik. Pergi ke dalam.

Gunakan viveka kalian, bukan mind lagi. Mind berdasar pada data  bank. Kalian mendapat data bank dari banyak inkarnasi, sehingga kalian menetapkan dari data bank untuk menentukan sesuatu itu apa. Tapi apabila kalian tidak menggunakan data bank, kalian tidak menggunakan mind. Kalian mengubah, transform, kepada buddhi. Dan kalian mulai menggunakan viveka, faculty of discretion. Dan kemudian satu tambah satu tidak selalu dua. Satu tambah satu bisa sebelas atau yang lain.

Kalian tahu teknologi digital kita. Mereka hanya berlaku pada 2 digit. Mereka tak dapat bekerja pada 3, 4, 5 digit. Setiap pagi bila kamu di sini, kau tinggal di sini, kita berdoa, chanting di atas, om karam bindhu sanyuktam. Kita tetap harus menemukan teknologi, bukan internet, tapi inner net. Bekerja bukan pada 2 digit tapi dalam single, digit tunggal. Om karam bindu sanyuktam hanya satu digit, saat kalian menemukan teknologi,  fisika, spirituality, kimia,  seni, semua dikombinasikan. Dan inilah tujuan semuanya dari yoga. Menemukan inner net ini. Akses inner net ini. Mulai bekerja dalam 1 digit.

Kalau kalian bekerja dalam satu digit, apa artinya? Otak kalian tidak bekerja lagi. Karena mind selalu bekerja dalam 2 digit. Paling tidak 2 digit. Harus ada ide yang berkonflik. Dan kemudian mind berjalan. Apabila kamu hanya punya satu digit, mind akan istirahat, mind tidak bekerja. Dan inteligen, viveka yang bekerja. Fakultas untuk memilah bekerja.

Sekali lagi, pashu, pashyati, kalian hanya percaya pada persepsi. Dan kita tidak lebih baik dari pada animal. Kita harus menggunakan inteligen kita, kita pergi melampaui mind. Transform the mind. Dan solusi bagaimana men-transform adalah meditasi, tidak ada solusi yang lain.

Silakan simak secara lengkap Video Youtube by Swami Anand Krishna: God and humanbeing go beyond perception

 

Beberapa contoh kata persepsi, pashyati dalam Bhagavad Gita

Menganggap aku sebagai badan, kita merasa berdosa, menganggap aku sebagai  jiwa, itu hanya kesalahan yang bisa diperbaiki. Mobilku yang penyok, tapi aku tidak penyok.

“Mereka yang tidak memahami hal ini (tentang lima unsur penyebab karma); menganggap Jiwa sebagai pelaku. Pandangan mereka tidak tepat, karena pemahaman yang tidak tepat pula.” Bhagavad Gita 18:16

Nah, di sini Krsna jelas sekali. “Jiwa” bukanlah pelaku. Jiwa adalah “aku” yang sejati. Dan Aku adalah saksi bukan pelaku. Kendaraan badan, indra, gugusan pikiran serta perasaan — semuanya bukanlah diriku yang sejati. Diriku yang sejati adalah Jiwa. Aku tidak ikut rusak ketika kendaraan mengalami kerusakan. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia via #BhagavadGitaIndonesia

………………

“Ia yang melihat setiap tindakan di manapun adalah disebabkan oleh alam atau Prakrti; sementara Sang Jiwa sesungguhnya tidak berbuat apa-apa – adalah yang telah melihat sebenarnya.” Bhagavad Gita 13:29

KETIKA KITA MENGIDENTIFIKASIKAN DIRI dengan alam benda, atau dengan peralatan elektronik dalam analogi sebelumnya — kita mengalami suka dan duka, kita mengalami kelahiran dan kematian.

Ketika kita mengidentifikasikan diri dengan “tindakan” dan “ kejadian” yang terjadi — maka kita mengalami pasang surut. Emosi kita bergejolak, pikiran menjadi kacau. Ada awal, ada akhir. Perubahan menjadi satu-satunya hukum yang masuk akal. Kita tidak mampu melihat Sang Jiwa —Listrik — Hyang Abadi. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia via #BhagavadGitaIndonesia

Kesalahpahaman tentang Mitos Here and Now

Tidak ada garis pemisah masa kini dengan masa lalu, masa kini dengan masa depan

Apa yang disebut “masa lalu” tidak terputuskan dari “masa kini”. Apa yang disebut “masa depan” juga terkait dengan “masa kini”, walau tidak atau belum nampak; bukan karena ia belum ada, tetapi karena kita belum bisa melihat sejauh itu. Coba perhatikan. Dapatkah kita memisahkan masa lalu dari masa kini? Apakah kita ada masa depan tanpa masa kini?

Apakah kita dapat menciptakan garis pemisah yang jelas dan tegas antara masa kecil dan masa remaja; antara masa remaja dan masa di mana kita menjadi lebih dewasa, lebih matang, kemudian menua? Dengan berlalunya masa kecil, apakah kekanakan di dalam diri kita ikut berlalu juga? Tidak. Kekanakan itu masih ada di dalam diri kita. Keinginan untuk bermain masih ada. Permainannya sudah beda; alat mainnya lain, tetapi keinginannya sama.

Masa kecil yang kita anggap sudah berlalu itu sesungguhnya tidak pernah berlalu. Ia hanya mengendap. Kemudian, yang muncul di permukaan adalah masa lain. Masa depan yang tidak atau belum nampak itu pun sesungguhnya tidak muncul pada suatu saat tertentu. Kita semua sedang menuju ke masa depan; masa depan kita sedang dalam proses “menjadi”. It is a happening. Ya, masa depan tidak terjadi pada saat tertentu, tetapi adalah proses menjadi dari saat ke saat.

Saat ini saya “merasa” hidup dalam masa kini. Apa betul demikian? Tidak juga. Ketika saya menulis kata-kata ini, untuk sesaat itu saja, untuk seberapa detik itu saja saya berada dalam masa kini; sesaat kemudian, seperberapa detik kemudian, masa itu berlalu sudah. Kendati demikian, apa yang kita lakukan saat ini menentukan apa yang dapat terjadi pada diri kita sesaat kemudian. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2007). The Gita Of Management, Panduan bagi eksekutif muda berwawasan modern. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Setiap saat badan kita berubah, ada sel mati dan ada sel tumbuh, badan “masa kini” selalu berubah

“Masa kecil, dewasa, pun masa tua adalah ‘kejadian-kejadian’ yang terjadi pada badan yang dihuni Jiwa. Kemudian, setelah meninggalkan badan lama, Jiwa memperoleh badan baru. Para bijak tidak pernah meragukan hal ini atau terbingungkan olehnya.” Bhagavad Gita 2:13

Lagi-lagi Krsna berbicara tentang perubahan, tentang Hukum Fisika. Di manakah “badan seorang bayi” yang sekarang telah “menjadi” kita?

PENAMBAHAN USIA TERJADI PADA BADAN – Dan, setiap penambahan membawa perubahan pada badan kita. Badan kita waktu kecil lain dari badan kita sekarang. Sel-sel dalam tubuh kita ketika masih kecil, sudah mutasi semuanya. Sudah mati. Setiap 5 hingga 7 tahun, sel-sel tubuh berubah total.

Berarti, sejak kelahiran hingga ketika usia 40 tahun saja, kita sudah mengalami kematian 5 hingga 8 kali. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia via #BhagavadGitaIndonesia

Video Youtube Swami Anand Krishna: Satisfaction And General Well Being Part 2 The Here and Now Myth, Keeping the Child within Alive

Heraclitus, seorang filosuf Yunani berbicara bahwa kau tidak dapat berdiri pada air yang sama dua kali. Air bergerak, air mengalir, kamu tidak dapat memberhentikan sungai. Kamu meletakkan kaki di air dan kamu tidak dapat merasakan air yang sama. Selalu air yang berbeda yang lewat di kaki kita. Sehingga tidak ada sesuatu seperti yang didefinisikan dalam new age book, sebagai present moment.

Sekarang saya berbicara, apakah saya berada pada present? Tidak! Pada saat kalian mendengarkan saya ada selang waktu yang sangat kecil. Jadi saat saya bicara dan kalian mendengarkan ada selang waktunya. Jadi tidak present moment anymore. Dan, saat saya bicara saya sedang melangkah ke future, masa depan. Saat kau sedang mendengarkan, kau sedang melangkah ke future. Bagaimana kita bisa hidup dalam present moment. Tidak ada orang yang dapat melakukannya. Hanya sebah ungkapan tanpa pemahaman. Apakah present moment , tentang here and now. Apa yang here and now adalah hidupmu sekarang. Dan itu adalah tidak a present moment. Terbentuk oleh berapa trilyun moment, apabila kamu hidup sampai 126 tahun.

Present moment adalah bukan present moment perse. Tapi tentang kehidupan saat ini episode kehidupan saat ini. Jangan fokus pada satu titik kehidupan tapi fokus pada hidup keseluruhan. Komplit keseluruhan paket. Tentu kamu dapat membagi keidupan ini dalam beberapa fase. Tapi kamu tidak dapat hidup pada saat ini di sini perse dan melupakan segalanya.

Semuanya ada kontinuitas. Dapatkah kamu memisahkan ini hidup anak-anak, ini hidup dewasa dan ini hidup orang tua? Tidak bisa. Meskipun setua saya kadang ada sikap anak-anak dalam diri saya. Dan saat saya melihat sifat anak-anak saya akan mati, saya akan membeli boneka anak-anak. Dan kamu akan demikian juga saat menjadi tua, apabila kamu mau hidup lama. Beli boneka, lakukan hal yang aneh.

Jaga anak-anak hidup. Dan saat melihat saya, kalian harus sadar bahwa ada orang tua dalam diri kalian yang menunggu kalian. Orang bijak ada di sana. Yang muda harus sadar bahwa ada yang tua di dalam dirinya. Yang tua harus sadar ada yang muda dalam dirinya. Semuanya kontinuitas.

Dalam penemuan mutakhir, otak kalian belum sempurna sebelum mencapai usia 32 tahun. Sebelum usia mencapai 32, keputusan apapun kemungkinan 40 % akan gagal. Ini yang disebut hukum kemungkinan, hukum kesempatan. Dimana quantum mechanic datang bermain. Apabila semuanya konsisten maka kamu tidak dapat berubah. Fakta bahwa kita berubah tiap hari berterima kasih pada quantum mechanics. Yang artinya tidak ada konsistensi dalam hidup.

Pertimbangkan semua episode. Hari ini mungkin tidak meuaskan, tapi kau dapat meyakinkan apa yang kau lakukan hari ini adalah untuk kebaikan secara umum. Sehingga walaupun kamu tidak puas hari ini kau sudah menanam benih yang baik. Pada suatu saat akan menerima panen yang baik.

Silakan simak video youtube lengkap, Swami Anand Krishna: Satisfaction And General Well Being Part 2 The Here and Now Myth, Keeping the Child within Alive

Masih banyak hal yang penting ditemukan di sana……..

Termasuk bagaimana memelihara sifay anak dalam diri orang tua agar awet usianya…….

Roh Gentayangan: Untuk Black Magic VS Doa Agar Melanjutkan Perjalanan?

Tentang Roh Gentayangan

Kenapa banyak orang mengaku melihat hantu sekitar tengah malam? Apa mereka baru keluar dari kuburan pada saat itu? Tentu saja tidak. Hantu adalah roh manusia yang gentayangan. Mereka mati dalam ketidaksadaran, masih banyak obsesi dan keinginan, termasuk keinginan untuk menikmati yang bukan-bukan setelah kematian. Keinginan-keinginan itulah yang membebani jiwa mereka dan memperlambat evolusi berikutnya. Ditambah dengan pemahaman yang keliru tentang kematian, mereka bisa “terjebak” dalam satu masa selama berhari-hari, berminggu-minggu, berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2004). Bhaja Govindam Nyanyian Kebijaksanaan Sang Mahaguru Shankara. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

Sekian banyak roh yang gentayangan karena satu atau lain hal. Dan, mereka gentayangan sepanjang “hari manusia”, dan bukan di jam-jam tertentu saja. Kita tidak merasakan kehadiran mereka, karena napas kita terlalu cepat. Bila kita bernapas di atas 4 siklus per menit (biasanya 15-18 siklus per menit). Kita tidak dapat merasakan kehadiran mereka.kehadiran mereka dirasakan saat napas kita berkurang dari 4 siklus. Dengan itu, kita baru merasakan energi mereka. Untuk berkomunikasi dengan mereka, harus di bawah 1 siklus per menit. Kemudian dengan cara-cara tertentu, seseorang bisa dengan mudah berkomunikasi dengan mereka. Ada kalanya saat terjaga di tengah malam, siklus napas kita berkurang secara alami, maka energi mereka pun langsung terasa. Itu sebabnya banyak tradisi menganjurkan doa dan sebagainya pada saat-saat seperti itu. Dengan berdoa atau melakukan apa saja, siklus napas kita akan langsung bertambah, dan kita pindah gelombang. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2004). Bhaja Govindam Nyanyian Kebijaksanaan Sang Mahaguru Shankara. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Untuk berkomunikasi dengan roh-roh yang gentayangan, anda harus membuka diri, mengundang mereka. Mereka tidak bisa berkomunikasi tanpa undangan. Dan, mereka harus berkomunikasi lewat pikiran…. lewat mind. Mereka tidak bisa menyusupi badan anda. Apa yang disebut ”kesurupan” bukanlah fenomena fisik. Tidak ada roh yang bisa memasuki badan orang yang masih hidup. Roh hanya berinteraksi lewat gelombang pikiran. Kemudian otak anda merekam dialog itu dan anda merasa mendengarnya. Seseorang bahkan bisa bertindak sesuai dengan apa yang didengarnya, lagi-lagi itu bukanlah karena dia tersusupi, tetapi karena dia memang ”ingin” melakukan apa yang diperintahkan kepadanya. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2004). Bhaja Govindam Nyanyian Kebijaksanaan Sang Mahaguru Shankara. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Walau tak berbadan, roh masih bisa mendengar, masih bisa melihat, mencium. Bahkan bisa merasakan panas dan dingin. Semua itu karena sisa-sisa pancaindra yang pernah dimilikinya. Sebelum itu pun lenyap dan penderitaannya bertambah, gunakan apa yang tersisa dalam dirinya untuk melampaui penderitaannya.

Irama dan nada tertentu ditambah syair yang memiliki arti, dapat dengan mudah mempengaruhi roh-roh gentayangan. Sebab itu dalam hampir semua tradisi ada hari-hari tertentu di mana mereka yang masih hidup mendoakan mereka yang sudah meninggal. Adalah keliru bila dianggap yang masih hidup “berdoa” kepada mereka. Mereka tidak berdoa, tetapi mendoakan. Dan apa salahnya mendoakan mereka yang sudah mendahului kita? Terasa lucu bila ada larangan untuk mendoakan. Perkara berdoa dan mendoakan haruslah masalah pribadi. Bagaimana seseorang bisa menilai doa orang lain, bila ia tidak mampu mengabulkan doanya? Bukankah Yang Maha Mampu mengabulkan doa hanyalah DIA saja? Gusti Allah, maafkan kekhilafan kami. Kekhilafan kami yang terbiasa menilai sesama makhluk-Mu. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2004). Bhaja Govindam Nyanyian Kebijaksanaan Sang Mahaguru Shankara. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

Mendoakan roh gentayangan agar sadar dan meneruskan perjalanan

Dalam buku Bhaja Govindam dikisahkan bahwa Gokarna menyanyikan kemuliaan dan keagungan Keberadaan selama sebelas hari. Pada hari kesebelas Dhundhakari (roh gentayangan, pengutip buku) menyadari adanya huku alam yang tidak bisa ditawar. Hukum alam berjalan rapi sekali. Kalau kita melakukan kejahatan dan lolos dari hukuman, jangan kaget  kalau pada suatu saat nanti kita kena hukuman, atas tindakan kejahatan yang dituduhkan kepada kita, dan tidak kita lakukan. Bila perkara utang-piutang seperti ini kita pahami dengan betul, kita tidak akan selalu mengeluh. Kita akan berpuas dengan apa yang kita peroleh. Untuk apa menyalahkan mereka, untuk apa mengutuk mereka? Segalanya terjadi karena kesalahan sendiri. Kesadaran itu kemudian menjadikan dia tenang dan membebaskan rohnya dari “masa” yang telah menjeratnya selama ini. Dia tidak gentayangan lagi. Dia meneruskan perjalanannya…… Sumber dari buku (Krishna, Anand. (2004). Bhaja Govindam Nyanyian Kebijaksanaan Sang Mahaguru Shankara. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

Black Magic: Mengungkap Rahasia Ilmu Hitam dan Cara Menghindarinya oleh Swami Anand Krishna

Sepertinya di Barat itu tidak ada atau kurang ada tentang guna-guna atau melihat setan, sedangkan orang Asia lebih bisa melihat hal tersebut. Persoalannya adalah demokrasi dan monopoli. Selama ini di Eropa, di Barat, persoalan-persoalan black magic itu diselesaikan oleh institusi tertentu. Dan dalam institusi itu ada profesi yang namanya exorcist yang berhak menangani kasus itu.

Pengaruh-pengaruh dari energi negatif di sekitar bisa mempengaruhi kita, ketika kita dalam keadaan tertentu, jadi tidak selalu demikian. Misalkan orang yang tidak senang musik dissco pergi ke tempat disco, akan merasa tidak nyaman. Karena energi-energi yang ada tidak cocok dengan dirinya. Ini sama dengan energi negatif.

Banyak sekali energi-energi di sekitar kita yang tidak menunjang kita. Di setiap tempat, di setiap rumah, di setiap kebun, di setiap jengkal tanah di mana pun juga pasti ada roh-roh yang sedang menunggu kelahiran kembali. Itu bagi mereka yang percaya pada reinkarnasi, bagi yang tidak percaya sebut saja roh gentayangan.

Roh-roh gentayanagn ini entah sedang menunggu reinkarnasi atau tidak, mereka bisa gentayangan karena keterikatan mereka dengan dunia benda, dengan harta benda, keluarga, relasi, atau apa pun yang mereka tinggalkan. Sekarang roh-roh tersebut tidak dapat menyapa mereka. Mereka tidak dapat menyentuh apa yang mereka sentuh. Mereka tidak dapat berkomunikasi dengan orang-orang yang mereka cintai. Pada hal mereka sangat terikat. Hal ini menjadikan mereka gentayangan. Kalau ada orang yang dapat komunikasi dengan mereka. Dan bisa memberikan harapan kepada mereka, bisa menjadi medium, bisa menjadi channel, untuk berkomunikasi dengan orang-orang yang mereka tinggalkan, mereka akan senang. Tetapi hal tersebut tidak membantu mereka, mereka tidak melanjutkan perjalanannya. Mereka akan tetap gentayangan, sehingga berarti kita menahan perjalanan mereka. Roh-roh, gentayangan seperti ini kadang mereka bisa marah, apalagi kalau kita sudah sering-sering panggil mereka dan kini tidak dihubungi lagi.

Ada banyak istilah  dari roh gentayangan, dan semuanya ini merupakan gumpalan-gumpalan energi. Yang memiliki emosi dan pikiran. Seseorang bisa kontak lewat pikiran, dan bisa menyuruh mereka untuk melakukan sesuatu. Kalau ada orang ingin melakukan sesuatu terhadap orang lain. Dia minta bantuan gumpalan-gumpalan energi. Kadang-kadang ada orang atau dukun yang bisa paham, ini adalah gumpalan energinya siapa. Ada yang tidak bisa melihat siapa tapi bisa melihat gumpalan energi. Dia mengarahkan energi itu ke orang lain, saya misalnya. Saya sendiri dalam keadaan apa? Kalau pikiran saya lagi lemah, dalam keadaan gelisah, stress berat, langsung masuk. Kegelisahan orang, stress membuka diri vulnerable terhadap energi-energi negatif, karena sudah berada dalam keadaan nengatif.

Tertawa menciptakan energi yang luar biasa, sehingga dapat menjadi tameng terhadap energi negatif. Tapi bagaimana bisa tertawa seperti itu bila stress kita berlebihan. Di situ kita perlu latihan-latihan meditasi yang bisa membuat kita dalam suatu frekuensi, dimana energi negatif tidak dapat mempengaruhi kita.

Ada yang menarik, untuk menghindari efek black magic ini, katanya kalau kita percaya akan semakin mudah terserang? Problemnya adalah yang memisahkan percaya dan tidak percaya itu sangat tipis. Orang yang menolak untuk percaya, sebenarnya percaya tapi dia menolak. Ini yang sering terjadi. Orang yang mengatakan tidak percaya tapi di balik benak, pikiran dia ada kepercayaan yang sangat halus sekali, hanya dia menolaknya. Dia berada dalam kearaguan. Dan keraguan itu sendiri adalah salah satu pintu masuk untuk menarik energi negatif. Urusannya di luar percaya atau tidak percaya tapi adalah kondisi negatif diri seseorang. Kondisi negatif yang membuka pintu, jadi bukan masalah percaya atau tidak percaya. Kalau sudah percaya dan kondisinya negatif  maka akan membuka pintu lebih lebar.

Apakah meditasi bisa menjamin kita tidak terkena black magic?

Dalam keadaan penuh kasih, black magic akan kembali kepada pengirimnya?

Mengapa orang menguburkan jasad orang yang mati?

Mengapa memperabukan jasad?

Silakan ikuti video youtube lengkap dalam bahasa Indonesia: Black Magic: Mengungkap Rahasia Ilmu Hitam dan Cara Menghindarinya oleh Swami Anand Krishna

Mati Sajroning Ngaurip, Lampaui Kesadaran Badaniah selagi Masih Hidup #SpiritualIndonesia

Padamnya Api Nafsu selagi Masih Hidup

Kebebasan yang disebutnya Nirvaana, atau Padamnya Api Napsu yang Menyebabkan Penderitaan. Pun Nirvaana itu haruslah terjadi selagi kita masih hidup. Paripoorna atau Mahaa-Nirvaana, Nirvana Sampurna yang terjadi saat kematian itu – hanyalah bersifat simbolik. Semacam pengukuhan dari semesta yang diperoleh setelah kita mengalaminya terlebih dahulu dalam hidup ini. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2007). Vedaanta, Harapan Bagi Masa Depan. Pustaka Bali Post)

 

Bebas dari Dualitas

“Tetapi, mereka yang berperilaku mulia, tanpa cela, dan bebas dari dualitas (yang disebabkan oleh kesukaan pada sesuatu); dan memuja-Ku dengan hati yang teguh, sesungguhnya telah mencapai akhir dari siklus kelahiran dan kematiannya.” Bhagavad Gita 7:28

Siklus kelahiran-kematian adalah produk dualitas. Produk utama. Produk-produk lain adalah produk sekunder siklus tersebut. Sekadar by-products. Ketika seseorang terbebaskan dari kebingungan yang tercipta oleh dualitas — maka barulah ia dapat berperilaku mulia. Hal ini perlu dipahami….

PERBUATAN MULIA TANPA CELA tidak sama dengan perbuatan baik. Perbuatan baik ada kebalikannya, yaitu perbuatan jelek, tidak baik. Perbuatan baik masih merupakan bagian dari dualitas. Ada baik, ada buruk. Perbuatan mulia yang dimaksud di sini tidak memiliki kebalikannya. Perbuatan mulia yang dimaksud melampaui baik-buruk.

……………

Melampaui baik—buruk adalah kemuliaan, dan perilaku yang mulia adalah perilaku berlandaskan nilai-nilai kemanusiaan yang universal. Landasannya bukanlah tradisi. Landasannya adalah: “Berbuatlah terhadap orang lain, sebagaimana kamu menghendaki orang lain berbuat terhadapmu.”

………………

Bagi Krsna, hanyalah seorang yang berperilaku mulia, yang memahami inti spiritualitas. Hanyalah ia yang dapat menyembah-Nya dengan penuh keteguhan hati – tanpa ragu, tanpa kebimbangan sedikit pun. Lampaui dualitas; berperilaku mulia; menyembah Sang Jiwa Agung dengan segenap Jiwa dan raga; dan, keluar dari siklus kelahiran dan kematian. Inilah roadmap untuk mencapai moksa, nirvana — Kebebasan Mutlak! Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia via #BhagavadGitaIndonesia

Padamnya Nafsu, Bebas dari Dualitas, Melampaui Kesadaran Badaniah dan Near Death Experience

Tidak ada sesuatu apa pun yang mati. Kita selalu mengatakan demikian, roh tidak mati. Tetapi kalau kita memahami kematian sebagai titik akhir, musnah, punah, tidak ada sesuatu pun yang punah. Karena pada dasarnya kalau ditelusuri semua materi yang berubah bentuk akhirnya menjadi atom.  Dan atom ini sampai sekarang indestructible. Tidak bisa dipunahkan. Dia berubah terus , kecuali, bumi kita punah total, kita boleh mengatakan atom-atom yang ada di seluruh planet ini punah. Tetapi punah dari sudut pandang kita. Mungkin dia berpindah ke tempat lain.

Fenomena yang disebut near death experience itu adalah ketika seseorang melampaui kesadaran badaniah. Apa yang terjadi? Seperti dalam cerita tadi, orang mau masuk ke tempat operasi, mau dibelah badannya, akan ada pembedahan besar, jantungnya. Waktu itu dia diberikan anestesi. Dan dalam keadaan anestesi itu apa yang dimatikan? Kesadaran badaniyahnya, supaya tidak merasa sakit. Ketika kesadaran badaniyah terlampaui, maka seseorang bisa melihat sesuatu yang bukan badannya. Dia bisa melihat pikirannya sendiri. Melihat perasannya sendiri.

Karena tidak ada distraction-nya. Dan di situ dia mendapatkan suatu cakrawala yang baru. Yang lebih luas daripada tubuh ini. Di situ dia merasakan wow. Karena saya telah berada dalam tubuh ini selama enampuluhan tahun. Begitu saya mengalami suatu pengalaman, dimana kesadaran tubuh terlampaui. Tentu saja Anda merasa wow.

Dalam setiap kebijakan-kebijakan kearifan lokal, di seluruh Timur. Ada istilah belajarlah untuk mati selagi kau masih hidup. Tradisi tersebut mengingatkan lampauilah kesadaran badaniah selagi kau masih hidup. Sehingga bagi orang-orang yang melakukan meditasi, death experience adalah nothing. Bisa dirasakan setiap hari. Dalam keadaan meditaitif  dia bisa melampau kesadaran badaniahnya. Karena pada waktu itu kelihatannya seperti death, karena kita mengidentifikasikan kelahiran dan kematian dengan badan ini.

Ketika kesadaran badaniah terlampaui. Sepertinya saya berada di lantai atas dari gedung. Sekarang di high level saya bisa melihat jembataan kecil di depan itu. Dan kalau ada orang turun dari jembatan. Saya bisa meramalkan bahwa 1.5 menit lagi dia akan sampai ke sini dia memakai baju warna (biru). Kala saya berada di lantai atas. Saya bisa melihat jalan di luar. Maya kira-kira dalam 3 menit lagi ada orang datang ke sini.

Saya hanya berada dalam tingkat yang berbeda. Ketika kita berada dalam tingkat kesadaran yang lebih tinggi, seseorang bisa melihat lebih luas. Ini near death experience. Tetapi yang paling penting adalah, setelah melihat suatu gambaran yang lebih luas. Apakah mempengaruhi hidup kita? Apakah cara pandang terhadap hidup itu meluas juga? Atau kita tetap kembali pada cara berpikir yang picik, yang berperasaan picik dalam pandang yang sangat sempit?

Magic

Segala sesuatu yang bisa membuatmu berubah adalah magic. Sehingga bila kamu mendapatkan transformasi dari mind, suatu pengalaman tertentu. Bisa membuat kita lebih sadar, bisa membuat kita lebih melihat gambaran yang luas. Saya bertemu dengan seseorang, dan jika pertemuan itu bisa menginspirasi saya. Menjadi lebih baik, itu magic. Jadi magic itu bukan seperti black magic.

Magic yang benar membawa perubahan, menuju sesuatu yang lebih baik, sesuatu yang lebih tinggi lagi. Sehingga Near Death Experience adalah death of old self, selagi kau masih hidup kau mengalami kematian, kematian yang mematikan segala sesuatu yang lama yang tidak berguna.

Mistik zaman selarang ini nggak ada yang serius banget. Mistik jaman sekarang. Mereka akan berusaha meyakinkan kamu, bahwa mereka lebih tahu daripada kamu. Pemahaman mistik adalah seseorang yang mengaku, alam semesta adalah misterius, kalau mistik-mistik sekarang adalah orang tahu semuanya.

Tidak perlu hipnosis. Tidak perlu brain washing. Lakukan dialog. Kamu boleh bantah saya. Saya boleh bantah kamu. Dan saya tidak memaksa kamu menyetujui pemahaman saya. Itulah magic.

Silakan simak video youtube: Near Death Experience oleh Swami Anand Krishna (dalam bahasa Indonesia)

 

Cara Melampaui Kesadaran Badaniah

Inilah “Kesadaran Tertinggi” yang dapat kita capai selama masih “berbadan”. Kita hanya memikirkan Dia. Kita hanya merasakan Dia… namun semua itu juga tidak menghentikan perjalanan kita. Kita tidak lari dari kenyataan hidup. Kita masih tetap melanjutkan perjalanan hidup kita. Kita masih tetap makan, minum, tidur, dan berkarya seperti biasa – hanya saja setiap tindakan kita, ucapan serta pikiran kita terwarnai oleh Warna Dia! Keadaan ini disebut Fana Fi Allah, Fana dalam Kesadaran Ilahi, dalam Cinta, dalam Kasih. Inilah Nirvana, Moksha –  Kebebasan Mutlak. Badan memang tidak bebas, masih harus patuh pada Hukum Fisika, Hukum Dunia. Tapi, jiwa kita sudah bebas! Dan, Jiwa yang bebas boleh tetap berada dalam badan yang mau tak mau masih harus patuh pada hukum-hukum dunia. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2005). Ishq Mohabbat Dari Nafsu Berahi Menuju Cinta Hakiki. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

Nirvana adalah suatu keadaan pikiran yang sudah tidak liar lagi, perasaan atau emosi pun tidak berjungkat-jungkit lagi. Nirvana adalah “pemadaman api pikiran serta perasaan”. Tiada lagi gejolak di dalam diri. Bhagavad Gita 6:15

Nirvana adalah Kebebasan Mutlak – Moksa. Nirvana adalah kedamaian sejati yang merupakan “rasa terdalam” – bukan rasa “emosi”. Dan, rasa terdalam itu bersumber dari Ia Hyang adalah Wujud Kebahagiaan Sejati – Sang Jiwa Agung.

“Pemusatan pikiran pada-Ku” adalah pemusatan diri pada diri – pada Sumber Kebahagiaan Sejati yang ada di dalam diri. kedamaian Sejati “Nirvana” pun bukanlah sesuatu yang asing dan ada di lapisan langit tertinggi.

Nirvana adalah Keadaan Alami “Setiap Diri” – Keadaan alami Anda dan saya, keadaan tanpa keterikatan, tidak ada belenggu, tidak ada perbedaan. Nirvana adalah kebebasan Jiwa. Sementara dunia luar adalah kebalikannya.

Dunia Luar adalah Samsara – Alam pengulangan yang menyengsarakan. Betapa bodohnya  kita yang terjebak dalam roda pengulangan Samsara! Sudah tergilas sekali di bawah rodanya, tetap tidak sadar. Tetap tidak menyingkir, dan menghindari penggilasan diri di bawah rodanya terus-menerus – inilah Samsara. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia via #BhagavadGitaIndonesia

Menyelami Bhagavad Gita Menuju Sukses Sejati

Pandangan para Pemikir dan Pemimpin Dunia tentang Bhagavad Gita

Saya sering, bahkan sudah lima kali membaca kitab Bhagavad-Gita dari A sarnpai Z. Saya kagum di situ Saudara-Saudara, Bhagavad-Gitia ternyata bukan kitab klenik.Ternyata bukan kitab untuk duduk di dalam kamar bersemadi hanutupi babahan howo songo hamandeng pucuk ing grono (menutupi lubang yang sembilan, melihat ujung hidung). Tidak Saudara-saudara. Tetapi Bhagavad-Gita adalah dalam bahasa asing “Evangelie van De Daad” (Kitab yang dijabarkan dalam kegiatan sehari-hari) – Gita adalah nyanyian perbuatan, nyanyian amal, nyanyian fi’il. Soekarno – Bapak Bangsa Indonesia/Presidan Ri Pertama

 

Ketika saya membaca Bhagavad-Gita dan merenungkan bagaimana Tuhan menciptakan alam semesta, segala sesuatu yang lain menjadi sangat tidak berarti. Albert Einstein – Saintis

 

Setiap kali keraguan menghantui diriku, setiap kali kekecewaan menatap wajahku, dan aku tidak melihat setitik pun terang harapan, aku berpaling pada Bhagavad-Gita dan menemukan ayat yang dapat menghiburku, dan langsung saja di tengah duka sepedih apa pun, aku tersenyum kembali. Mereka yang melakukan perenungan terhadap Gita akan selalu menemukan makna baru dan keceriaan baru setiap hari. Mahatma Gandhi – Tokoh Perjuangan Tanpa Kekerasan/Ahimsa

Bhagavad-Gita adalah kitab suci bagi seluruh umat manusia. Bahkan bukan sekadar kitab, ia adalah sesuatu yang hidup, dengan pesan baru bagi setiap zaman, dan arti baru bagi setiap peradaban. Sri Aurobindo Filsuf/Rohaniwan India

 

Bahwasanya manusia ibarat pohon yang terbalik (akarnya di atas dan ranting-rantingnya di bawah) merupakan pendapat umum di masa lalu. Terkait dengan konsep yang ada dalam Veda ini, Plato menjelaskannya dalam Timaeus di mana ia mengatakan…. ”Lihat, kita bukanlah tanaman duniawi, tetapi tumbuhan surgawi.” Hal ini menjadi sangat jelas dengan apa yang dikatakan oleh Krsna dalam Bab Kelimabelas Bhagavad-Gita. Carl Jung – Bapak Psikologi Modern

 

Bhagavad-Gita memberi landasan spiritual bagi keberadaan umat manusia. Ia adalah panggilan (bagi seluruh umat manusia) untuk berkarya dan memurnikan kewajibannya di dunia dengan tetap memperhatikan tujuan spiritual semesta yang jauh lebih penting dan mulia. Jawaharlal Nehru — Perdana Menteri India

Saya berhutang pada Bhagavad-Gita…. Membaca buku awal peradaban manusia itu, saya seolah mendengar sebuah pesan dari kerajaan di masa lalu — kerajaan yang besar tapi tenang dan damai Pesan yang disampaikan di masa lalu itu masih mampu menjawab perlanyaan-pertanyaan masa kini. Ralph Waldo Emerson – Salah Seorang Bapak Bangsa Amerika Serikat

 

Kehebatan Bhagavad-Gita terletak pada kemampuanya untuk menjelaskan kebijakan hidup dengan sangat indah, sehingga filsafat pun berbunga menjadi kepercayaan (yang hidup). Herman Hesse – Penulis/Filsuf Jerman

 

Untuk memahami pesan Bhagavad-Gitia yang begitu mulia dan halus, jiwa kita harus berada pada gelombang yang sama dengannya. Rudolph Steiner – Filsuf Barat

 

Bhagavad-Gita menjelaskan evolusi batin manusia dengan sangat jelas dan sistematis, evolusi batin yang dapat mengangkat derajat manusia. Ia adalah intisari dari filsafat perenial yang paling jelas dan Iengkap; karena itu, ia penting bagi seluruh umat manusia, bukan bagi India saja. Adolf Huxley – Filsuf Barat

 

Cara untuk menggapai kesempurnaan hidup dengan bekerja tanpa pamrih — itulah yang dijelaskan oleh Krishna dalam Bhagavad-Gita. Vivekananda – Pujangga besar India yang banyak mengilhami para Founding Fathers Republik Indonesia

 

Kitab Bhagavad-Gita ini boleh dipandang sebagai riwayat kehidupan Korawa dan Pandawa, atau perjalanan manusia menuju ke arah Sempurna. Sebagai ilmu, kitab Bhagavad-Gita menguraikan perjalanan kalbu manusia menuju ke arah Kesempurnaan. Di situlah terjadi pertempuran antar Jiwa dengan Keangkaramurkaannva. dr. Radjimmwedyoningrat — Salah satu Pendiri Boedi Oetomo dan salah satu Founding Fathers Republik Indonesia

Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia via #BhagavadGitaIndonesia

Menyelami Bhagavad Gita Menuju Sukses Sejati

Seperti yang dikatakan oleh Bung Karno, Bhagavad-Gita adalah suatu buku, dimana apa pun yang tertulis disana adalah “applicable” dalam kehidupan sehari-hari.

Coba kita bayangkan mungkin kamu belum lahir, tapi kalau saya melihat ke belakang, 50 tahun yang lalu apa yang applicable pada waktu itu, sekarang tidak applicable. 30 tahun yang lalu, kita masih pakai komputer dengan dos dll, sekarang sudah tidak applicable. Bhagavad-Gita ini menurut Bung Karno applicable dalam segala zaman.

Dalam kurun waktu 20-30 tahun terakhir saya mulai menulis, barangkali sebelum tahun 75-76 tetapi mulai dipublikasikan tahun 97-98. Bhagavad Gita Bagi Orang Modern terbitan Gramedia. Kalau kita melihat tahun 98 berarti sudah berapa tahun. 30 tahun yang lalu, kondisi komputer kita seperti apa? Sekarang seperti apa? Bukan Cuma hardware komputer tetapi bagaimana cara berpikir manusia dengan teknologi. Cara berpikir manusia berubah. Sehingga saya merasa dari waktu ke waktu harus ada pemahaman baru dari Bhagavad Gita.

Ma Archana sebagai pewawancara menanyakan makna Bhagavad Gita 2:40. Tiada upaya yang tersia-sia ; pun tiada tantangan yang tidak teratasi. Dengan menjalankan dharma, berkarya dengan tujuan luhur; niscayalah seseorang terbebaskan dari rasa takut, khawatir dan cemas.

Swami Anand Krishna menjawab dengan mempersilakan membaca ayat sebelumnya Bhagavad Gita 2:39. Demikian apa yang kau dengarkan, adalah kebijaksanaan. Ajaran luhur dari sudut pandang samkhya, yaitu buddhi yoga.

Di sini persoalannya adalah buddhi. Intelegensia ini yang menjadi keyword-nya. Jadi berkarya itu tidak asal berkarya tapi work smart. Berkarya dengan penuh kebijakan dengan mengetahui goal saya apa. Jadi tidak asal bekerja saja. Menggunakan faculty of discrimination, saya melakukan satu pekerjaan itu what is my end goal. Dan dalam Bhagavad Gita yang menjadi menarik sekali, bahwa 3.000 tahun sebelum masehi, dia sudah berbicara tentang transpersonal psychology. Yang sekarang baru dibicarakan. Jadi kalau kita bekerja untuk diri sendiri, saya mau memperkaya diri, memiliki mobil mewah mau memiliki perusahaan yang bagus, atau memiliki istri yang cantik, suami yang tampan, atau apa. Semuanya adalah personal goal. Untuk personal goal kita tidak butuh banyak energi. Bhagavad Gita mengatakan bahwa manusia itu tidak bisa hidup sendiri. Apabila kamu hanya bekerja dengan tujuan personal saja. Kita tidak akan pernah bisa bahagia. Ini adalah konsep yang tidak bisa dipahami selama berabad-abad.

Kalau kita bekerja karena personal goal, biasanya kita membenarkan segala bentuk, segala macam cara bagaimana mencapainya. Bagaimana untuk mencapai personal goal itu kita bisa membenarkan berbagai tipu muslihat. Begitu kita bicara kolektif goal, kita bicara kolektif goal tentang kebersamaan. Jadi kalau Bung Karno mengatakan gotong royong misalnya. Itu nggak bisa personal. Dan begitu kita bicara kolektif goal, kita bicara tentang kebahagiaan bersama. Kesejahteraan bersama. Keadilan untuk semua. Begitu kita bicara tentang kolektiviti, bekerjanya juga harus secara kolektif. Dan ketika kita bekerja secara kolektif, satu plus satu sudah bukan dua lagi. Bisa seberapa pun juga. Tergantung pada kolektivitas ini, niat, dari kolektivitas ini. Bisa relatif sekai dan bisa tak terbatas. Disitu dalam kebahagiaan semua, ada kebahagiaan saya. Dalam kedamaian semua ada kedamian saya. Inklusif.

Kita melihat dari kegagalan pemahaman yang terdahulu. Ego based psychology. Dengan mempertahankan ego kita, lihat apa yang kita lakukan terhadap dunia ini. Dunia ini menjadi sangat individualistik, tidak apa saya mencemari lingkungan, asal saya dapat meningkatkan growth rate, angka pertumbuhan yang bagus. Lingkungan tercemarkan no problem, karena, nanti 50 tahun kemudian saya baru merasakan dampaknya.

Dan itu yang menyebabakan soal global warming, climate change. Saya pernah, percaya bahwa climete change, global warming itu keniscayaan tidak bisa di hindari. Dari dulu juga perah terjadi. Tetapi at what rate? Dulu untuk mencapai kehancuran seperti sekarang, membutuhkan waktu ribuan tahun. Puluhan ribu tahun, dari zaman es ke zaman es yang berikutnya. Sekarang pesat sekali karena industrialisasi, yang tidak inteligen. Tidak menggunakan kata budhi tadi.

Swami Anand Krishna memberikan contoh beberapa orang yang berbuat baik terhadap masyarakat selamat dari penjarahan (silakan simak video dalam bahasa Indonesia tersebut).

Pertanyaan Ma Archana berikutnya, Bhagavad Gita 2:69 Malam bagi makhluk makhluk yang belum menyadari jati dirinya adalah saat para bijak yang sadar akan jati-dirinya, berada dalam keadaan jaga. Dan siang bagi makhluk-makhluk yang belum menyadari diri, adalah malam bagi para bijak.

Malam adalah waktu yang paling tenang. Untuk orang melakukan praktek-praktek spiritual. Meditasi. Semua sudah tidur. Itu bisa jam 10, 11, 12. Dalam tradisi yang kita pelajari ada tradisi di Timur agar berdoa pada malam hari. Atau meditasi pada malam hari. Zikir atau japa pada malam hari. Karena itu adalah waktu yang paling tenang. Malam bagi orang-orang biasa untuk tidur. Orang yang pada mencari jati-dirinya, spiritual, malam adalah waktu yang paling tepat.

Tetapi ada makna yang lain, malam bagi kita semua yang masih duniawi, kita semua menikmati malam itu dengan cara lain, para spiritualis menikmati dengan cara lain. Kita menikmati siang dengan cara lain, para spiritualis menikmati siang dengan cara lain. Kita mengejar harta. Seorang spiritualis tidak mengejar harta. Dia berkarya untuk mengumpulkan cukup, seperti Kabir mengatakan supaya keluargaku juga tidak kelaparan. Dan setiap orang yang datang ke rumahku. Tanpa janji juga tidak akan kelaparan.

Ini adalah konsep. Kita sedang mengejar harta mati-matian, dia mengunmpulkan cukup untuk kebaikan semua. Apa yang kita spend dalam ignorance dia spend dalam light. Kita pikir kita sedang hidup dalam keadaan cerah. Tidak kita tertidur. Kita mencari uang dalam keadaan tidur. Kita menikmati segala sesuatu dalam keadaan tidur. Kita tidak ingat bahwa akhir dari segalanya adalah kematian. Ujung-ujungnya kematian. Adakah sesuatu yang bermakna yang kita lakukan?

Bhagavad Gita jelas sekali, kriterianya apa? Kamu tidak mengharapkan imbalan dari bekerja. Bahkan kamu tidak mengharapkan balasan ucapan terima kasih. Kalau kita masih mengharapkan, jangankan mengharapkan imbalan, uang atau sebagainya, mengharapkan ucapa terima kasih pun itu harapan. Tanpa pamrih. Terus, apakah kita harus menolak, misalnya apakah kita kerja nggak mau digaji. Itu sangat berbeda. Ketika kita bekerja, konsep Bhagavad Gita ini tidak laku di sana. Jadi kalau saya mengabdi di perusahaan itu, bagaimana mengabdi, kamu digaji. Jika kita menganggap persahaan itu adalah milik bersama, sipemilik pun mempunyai pemahaman yang sama. Perusahaan ini milik setiap orang. Dan biarkan saya bekerja sebaik sesuai kemampuan saya. Saya bekerja keras demi kesejaheraan bersama, maka menjadi Bhagavad Gita.

Silakan simak video youtube dalam bahasa Indonesia: Menyelami Bhagavad Gita Menuju Sukses Sejati by Swami Anand Krishna

Karma Yoga Berkarya Bukan untuk Kepentingan Pribadi

Karma Yoga atau Nishkaama Karma adalah Berkarya dengan Motif Transpersonal

Berkarya dengan Motif Transpersonal berarti tidak berkarya demi kepentingan diri saja. Berarti, berkarya demi kepentingan yang melampaui kepentingan diri – demi kepentingan sesama makhluk, bukan sesama manusia saja – demi kepentingan semesata dan bukan kepentingan dunia saja.

Inti Karma Yoga adalah melakukan setiap pekerjaan dengan semangat persembahan kepada Ia Hyang Bersemayam di dalam diri setiap makhluk…

Bagi Dr. Masters, Karma Yoga itu sudah bersifat transpersonal. Jika tidak bersifat transpersonal, maka tidak perlu menambah kata yoga. Yoga mempersatukan kita dengan semesta. Jika suatu pekerjaan atau karma tidak mempersatukan kita dengan semesta – maka cukuplah disebut karma saja. Karma biasa. Tidak pakai “yoga”.  Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2011). Karma Yoga bagi Orang Moderen, Etos Kerja Transpersonal untuk Zaman Baru. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama) #KarmaYogaIndonesia

 

Karma Yoga dan Karma Biasa

Apapun yang kita lakukan, setiap tindakan, setiap perbuatan, baik maupun tidak atau kurang baik – semuanya disebut karma. Namun, tidak setiap karma bersifat nishkaama, atau transpersonal. Sebab itu tidak setiap karma bisa disebut Karma-Yoga.

Karma-Yoga adalah tindakan-tindakan yang mengantar kita ke tingkat kesadaran tinggi – dimana setiap perbuatan menjadi persembahan sebagaimana dikatakan Dr. Masters diatas.

Karma biasa sepenuhnya bergantung pada hukum aksi-reaksi. Karma macam itu bersifat mekanis, dan dapat diprediksi, diramalkan. Kau berbuat baik padaku, maka aku pun berbuat baik padamu. Kau berbuat jahat, maka janganlah mengharapkan kebaikan dariku. Lingkaran tindakan semacam ini menjerat kita dalam hukum karma. Kita seolah berjalan di tempat, tidak ada kemajuan sama sekali. Sementara itu, Karma-Yoga tidak bersifat reaktif.

Ada yang berbuat jahat terhadap Anda, dan Anda tidak membalasnya dengan kejahatan. Anda berhenti sejenak dan merenungkan, “Apakah perbuatanku akan menyelesaikan perkara?” Kemudian, Anda memutuskan untuk tidak membalas kejahatan dengan kejahatan. Maka dengan sendirinya Anda terbebaskan dari lingkaran aksi-reaksi. Anda memutuskan mata rantai yang dapat menjerat dan membelenggu Anda. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2011). Karma Yoga bagi Orang Moderen, Etos Kerja Transpersonal untuk Zaman Baru. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama) #KarmaYogaIndonesia

Setiap perbuatan yang dilakukan dengan kesadaran akan kehadiran Allah di dalam diri sesama itulah Karma-Yoga

Setiap tindakan yang dilakukan untuk memuliakan Allah yang bersemayam di dalam diri setiap makhluk itulah Karma-Yoga.

Perbuatan-perbuatan untuk mengagungkan ego (glorification of the personal ego) bukan Karma-Yoga. Perbuatan-perbuatan seperti itu adalah tindakan biasa, karma biasa, dengan konsekuensi biasa sesuai dengan hukum alam yang berlaku. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2011). Karma Yoga bagi Orang Moderen, Etos Kerja Transpersonal untuk Zaman Baru. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama) #KarmaYogaIndonesia

 

Karma Yoga Mengubah Kesadaran Pribadi yang Sempit Menjadi Kesadaran Ilahi yang Luas

Karma-Yoga tidak hanya mengubah kesadaran-diri berlandaskan ego pribadi dengan kesadaran ilahi – tetapi mengembangkannya secara terus-menerus hingga kehadiran Allah dapat dirasakan setiap saat dan di setiap tempat. Hingga kita mencapai kesadaran kosmis…. Hingga kita menyatu denganNya…. Itulah Yoga!

Karma Yoga atau Transpersonal Way of Action adalah jalan raya yang mengantar kita ke gerbangNya… ke gerbang ilahi yang sesungguhnya berada dimana-mana. Setiap makhluk, setiap bentuk kehidupan memiliki gerbang yang sama. Setiap wujud adalah wujudNya. Menemukan gerbangNya berarti menemukan Dia di dalam diri setiap manusia, setiap wujud kehidupan.

Kiranya kesadaran inilah yang dapat merubah keadaan dunia menjadi lebih baik. Kesadaran inilah yang dapat merevolusi dunia kita. Kesadaran inilah yang dapat mengganti landasan kita bermasyarakat – dari keserakahan menjadi kebersamaan. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2011). Karma Yoga bagi Orang Moderen, Etos Kerja Transpersonal untuk Zaman Baru. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama) #KarmaYogaIndonesia

 

Karma Yoga, Working Purposely: Video Youtube by Swami Anand Krishna

Beda antara Tujuan Hidup dan Harapan/Pamrih

Dalam bahasa Sanskrit Tujuan dan Harapan/Pamrih adalah fenomena yang berbeda. Tujuan Tidak ada kaitan dengan pamrih dan harapan. Menurut para rishi, para bijak sejak ribuan tahun yang lalu, tujuan hidup adalah Ananda, Bliss, Kebahagiaan Abadi.

Tetapi, kita tidak mengharapkan Ananda, kita mengharapkan sesuatu /mempunyai pamrih bagi kepentingan ego pribadi.

Pada video ini Swami Anand Krishna membandingkan 2 video clips yang berbeda yang terjadi di luar negeri:

Pada video kedua tersebut kita dapat melihat seorang polisi, yang tidak membawa senapan dan pistol dan hanya memegang satu tongkat. Apabila ada orang yang tidak benar dia hanya memukul pakai tongkat. Polisi ini tidak terlalu tua tidak terlalu muda. Dia berdiri di tepi jalan. Dan kemudian menunggu saatnya tiba untuk menghentikan lalu lintas, membantu anjing menyeberang jalan.

 

Contoh dari Karma Yoga

Bagaimana tentang polisi tersebut? Apakah keuntungan polisi tersebut dari membantu anjing menyeberang jalan? Ia tidak memperoleh apa-apa.  Ia bahkan tidak sadar bahwa seseorang mengambil video apa yang telah dikerjakannya. Ia tidak melihat kamera. Seseorang mengambil video dari belakang. Ia tidak sadar akan sesuatu. Mungkin ia tidak punya facebook, twitter. Mungkin dia tidak pernah tahu apa yang telah direkam. Ini adalah kemanusiaan. Humanis, tidak ada orang yang melihatmu. Tidak ada orang yang memujimu, tapi kamu melakukan sesuatu yang kau pikir kau kerjakan sebagai seorang manusia.

 

Bisakah kita mengaplikasikan Karama Yoga dalam Bisnis?

Ya, kita dapat mengaplikasikan karma yoga dalam bidang bisnis. Dapat diaplikasikan, mungkin dilaksanakan, tapi kamu harus sangat kaya raya, sehingga kamu dapat melaksanakannya. Tindakan lainnya dengan menutupi keserakahan kita. Ini adalah paling tidak yang dapat kita kerjakan. Kita tutup keserakahan kita kita, dan kita tidak mengharapkan keuntungan terlalu besar. Cukup baik untuk menjalanakan ekonomi agar tetap berjalan, dengan tingkah laku yang benar. Karena keserakahan akan merusak ekonomi secara keseluruhan, membuat seseorang sangat kaya dan seseorang sangat miskin.

Silakan simak video youtube bya Swami Anand Krishna: Karma Yoga, Working Purposely