Melepaskan Keterikatan dengan Latihan Pengaturan Napas

Fokus atau Konsentrasi Membuat Kita Sukses

Swami Vivekananda: Perbedaan utama manusia dan hewan adalah fokus atau konsentrasi. Kesuksesan dalam pekerjaan adalah hasil dari fokus atau konsentrasi. Prestasi yang tinggi dalam bidang musik, seni dan lain-lain adalah hasil fokus atau konsentrasi. Hewan sulit melakukan konsentrasi. Para pelatih hewan menemukan bahwa hewan terus-menerus lupa apa yang dikatakan kepadanya. Sulit bagi hewan memfokuskan perhatiannya (Kita paham bahwa monyet itu sangat liar dan kita mempunyai istilah pikiran liar kita seperti monyet, selalu berpindah-pindah fokus, penulis). Bahkan perbedaan orang yang sukses dan yang tidak sukses adalah perbedaan tingkat konsentrasi.

Kita semua fokus atau terkonsentrasi pada hal-hal yang kita sukai. Ibu sangat mencintai wajah anak kecilnya, wajah itu dianggap wajah paling indah di dunia, pikiran ibu terkonsentrasi pada anak kecilnya. Kita semua memusatkan pikiran kita pada hal-hal yang kita sukai. Ketika mendengar musik yang indah, telinga kita memperhatikan, memusatkan pendengaran pada musik tersebut. Seorang workaholic terfokus pada pekerjaannya sepanjang waktu. (Bukan hanya hal yang menyenangkan, pikiran kita juga fokus atau terkonsentrasi pada masalah-masalah yang tidak kita sukai, penulis)

 

Konsentrasi Mengakibatkan Keterikatan

Masalah besar yang timbul akibat konsentrasi adalah bahwa kita tidak bisa mengendalikan pikiran kita. Obyek konsentrasi kita seolah-olah menarik pikiran kita dan memegangnya dengan erat. Kita mendengar nada merdu atau melihat lukisan yang indah dan pikiran kita dipegang oleh obyek konsentrasi dan kita tidak bisa melepaskan perhatian darinya.

Jika saya (Swami Vivekananda) menyampaikan pembicaraan yang Anda sukai, pikiran Anda menjadi terkonsentrasi pada apa yang saya bicarakan. Saya mengambil pikiran Anda dan Anda fokus pada pembicaraan saya dan melupakan diri Anda sendiri. Perhatian kita dipegang oleh berbagai hal, dan tidak memikirkan diri kita sendiri.

Pertanyaannya adalah apakah konsentrasi ini dapat dikembangkan dan bisakah kita menjadi Master, Tuan dari pikiran kita sendiri. Kita konntrasi pada suatu hal tapi tetap bisa mengendalikan diri, bukan terkendali atau pikiran kita terpegang oleh obyek konsentrasi. Bahaya dari pengembangan kekuatan konsentrasi adalah bahaya memusatkan pikiran pada obyek dan kita tidak bisa melepaskannya sesuka hati kita. Keadaan keterikataan ini menimbulkan penderitaan yang besar. Hampir semua penderitaan kita disebabkan oleh pemusatan pikiran kita pada hal tertentu dan kita tidak dapat melepaskannya. Jadi kita harus belajar tidak hanya berfokus pada suatu hal yang kita sukai secara eksklusif, tetapi juga bagaimana cara melepaskan keterikatan tersebut. Keduanya harus dikembangkan bersama agar aman bagi diri kita.

Sumber: Complete Works of Swami Vivekananda Volume 6 Lecture n Discourses Concentration

Berikut Latihan Meditasi di Anand Ashram untuk melepaskaan keterikatan dengan latihan pernapasan seperti disampaikan dalam buku panduan (Krishna, Anand. (2016). Ananda’s Neo Self Empowerment, Seni Memberdaya Diri bagi Orang Modern, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Kita tidak akan menyampaikan cara latihan dengan detail, silakan ikuti latihan di Anand Ashram.

 

Melepaskan Keterikatan lewat Latihan Bernapas dengan Benar

Jadilah Penguasa Mind (Gugusan Pikiran dan Perasaan) daripada dikuasai aleh Mind.” – Petuah Jepang –

Ia yang berhasil menguasai Mind (Gugusan Pikiran dan Perasaan)-nya, sesungguhnya telah menguasai semesta.” – Guru Nanak, Mistik –

…………..

KONSENTRASI DAN MEDITASI adalah dua kata yang berbeda. Sebagai teknik, keduanya berbeda, sehingga hasil akhir yang akan dicapai pun berbeda. Mengacaukan pemahaman dan terapan keduanya akan menghambat pertumbuhan hasil pencapaian pelatihan meditasi.

Konsentrasi adalah pemusatan perhatian dan pikiran pada sesuatu objek, baik abstrak maupun konkret. Meditasi adalah sebaliknya, membebaskan pikiran clari upaya pemusatan.

DENGAN KATA SEDERHANA, membuyarkan pikiran dari tugasnya berpikir. Lazim dikenal dengan istilah relaks, bebas dari ketegangan berpikir. Pikiran pun perlu dikendurkan, bahkan lepas dari aktivitas berpikir.

Sumber: Buku Panduan (Krishna, Anand. (2016). Ananda’s Neo Self Empowerment, Seni Memberdaya Diri bagi Orang Modern, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

…………..

Keterikatan kita (fokus, konsentrasi kita) pada hal-hal yang menjengkelkan, yang tidak menyenangkan, hal yang menyedihkan sering membuat kita stress dan bahkan bisa menyebabkan berbagai penyakit. Sebaliknya fokus atau konsentrasi kita pada hal-hal yang menyenangkan membuat keterikatan, dan kita sulit untuk melepaskannya.

Dari pengalaman kami, pada waktu kita sedang stress (keterikatan erat dengan hal yang tidak kita sukai) dengan melakukan latihan napas yang benar, fokus perhatian kita beralih pada napas yang masuk dan keluar dan kita bisa terlepaskan dari keterikatan terhadap hal yang membuat kita stress. Demikian juga keterikatan kita terhadap obyek-obyek tertentu, dengan memindahkan perhatian pada napas yang masuk dan keluar kita bisa melepaskan diri dari tarikan obyek tersebut.

Dengan memperhatikan napas, dari pengalamaan kami, ternyata pikiran kita menjadi jernih dan kita bisa menemukan solusi bagi permasalahan yang membuat kita stress. Juga kita bisa menyadari bahwa kita tidak boleh terikat dengan obyek yang menyita pikiran kita.

Untuk masalah keterikatan terhadap trauma yang membuat emosi kita terpendam, kita bisa mencari akarnya. Kita akan menemukan bahwa pemendaman emosi merupakan masalah utama kita. Pemendaman emosi itulah yang menyebabkan stres dan mengakibatkan berbagai macam penyakit. Kita ingin marah; kita ingin rnenjerit, kita ingin teriak, tetapi menahan diri. Kita memaksa untuk menahan diri. Karena tidaklah sopan bagi seseorang untuk marah-marah, berteriak, atau menjerit. Setidaknya demikian yang telah diajarkan kepada kira. “memaksa” berarti menutup outlet, menutup saluran untuk membuang sampah berupa emosi yang terpendam. Latihan Voice Culturing merupakan solusi bagi permalahaan ini.

Pengalaman kami yang mempunyai kebiasaan batuk karena alergi terhadap seuatu, bila kami berada di kamar sendirian, dengan memperhatikan napas yang teratur, rasa gatal di leher pun bisa mereda.

Intinya, pada waktu kita menyadari adanya keterikatan, kita “pause” sejenak, melakukan pernapasan dengan benar dan kita akan mendapatkan kejernihan pengendalian pikiran kembali.

Advertisements

Melepaskan Kemarahan dengan Aman lewat Latihan #Meditasi #AnandAshram

Emosi jangan dipendam

Dalam keadaan stres berat kita menjadi tegang, kemudian nervous, gugup, kehilangan percaya diri. Apabila kita cari akarnya, kita akan menemukan bahwa pemendaman emosi merupakan masalah utama kita. Pemendaman emosi itulah yang menyebabkan stres dan mengakibatkan berbagai macam penyakit.

Kita ingin marah; kita ingin menjerit, kita ingin teriak, tetapi menahan diri. Kita memaksa untuk menahan diri. Kenapa? Karena tidaklah sopan bagi seseorang untuk marah-marah, berteriak, atau menjerit. Setidaknya demikian yang telah diajarkan kepada kira.

“Memaksa” berarti menutup outlet, menutup saluran untuk membuang sampah berupa emosi yang terpendam. *Sumber: (Krishna, Anand. (2016). Ananda’s Neo Self Empowerment, Seni Memberdaya Diri bagi Orang Modern, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Pengaruh Menahan Marah terhadap Kesehatan:

*Sumber: http://breaktime.co.id/health/healthy-and-happy/5-efek-negatif-menahan-marah-wah-apa-saja-ya.html

 

  1. Ledakan kemarahan dapat menempatkan jantung kita dalam risiko besar. Pada umumnya penderita serangan jantung disebabkan oleh ledakan kemarahan. Serangan jantung terjadi akibat seseorang menekan rasa marah untuk tidak mengungkapkannya dan berusaha keras untuk mengendalikan hal itu.
  2. Kemarahan dapat meningkatkan risiko terserang stroke. Sebuah studi menunjukkan bahwa ada risiko mengalami stroke tiga kali lebih tinggi yang terjadi, akibat pembekuan darah ke otak atau pendarahan di dalam otak setelah selama dua jam menahan marah.
  3. Melemahkan sistem kekebalan tubuh Anda. Apakah Anda pernah merasa lebih sering sakit ketika Anda marah setiap saat? Ya, memang benar. Kemarahan yang berlebihan dapat melemahkan sistem kekebalan tubuh.
  4. Kemarahan dapat menyebabkan depresi. Terdapat hubungan yang jelas antara depresi, marah, gelisah, stres, dan penyakit jantung, demikian menurut Philip Binkley, professor of medicine di divisi kedokteran jantung Ohio State University. Ternyata, terbukti bahwa menahan amarah dapat menyebabkan depresi.
  5. Marah dapat mempersingkat hidup Anda. Efek ini merupakan kesimpulan dari beberapa efek negatif akibat menahan marah. Jika terlalu sering menahan marah akan menimbulkan tingkat stres yang tinggi. Sehingga dapat melemahkan sistem kekebalan tubuh dan menyebabkan mudah terserang penyakit.

 

Latihan Voice Culturing & Theraphy for Releasing Tension

“Memaksa” berarti menutup outlet, menutup saluran untuk membuang sampah berupa emosi yang terpendam.

Memaksakan diri untuk tidak marah, tidak berteriak, dan tidak menjerit; memaksa diri untuk selalu tampil mengesankan dengan senyum palsu, walau hati sedang membara, bukanlah solusi yang tepat.

Energi emosi yang terpendam bisa menjadi bom waktu berakibat fatal. Solusinya juga bukan marah-marah, berteriak histeris, atau menjerit-jerit tidak keruan—dengan cara itu kita menambah persoalan, bukan menyelesaikannya.

Kita harus punya outlet atau saluran ke luar yang lain. Kita harus dapat mengeluarkan segala sesuatu yang terpendam lewat jalur lain.

 

Latihan Voice Culturing dalam buku Ananda’s Neo Self Empowerment menawarkan jalur alternatif.

Kita tetap mengeluarkan emosi yang terpendam; tetap mengeluarkan kegelisahan, kekesalan, kekecewaan, dan segala yang membebani kita—tapi, tanpa ditujukan kepada orang tertentu.

Dengan demikian, persoalan selesai. Tidak ada lagi emosi yang terpendam, pun kita tidak menambah persoalan dengan marah-marah pada seseorang, menjerit, dan meneriakinya.

 

Dalam latihan ini, kita akan menembus berbagai sub-lapisan mental/emosional sehingga apa saja yang terpendam akan keluar.

Sub-lapisan yang dimaksud, antara lain terkait dengan memori-mcmori masa lalu dan keinginan-keinginan yang tak tercapai.

Maka, ada kalanya seseorang menjadi histeris. Namun tidak perlu khawatir, seorang pembimbing dapat menenangkannya kembali dengan sangat mudah.

Karena itu, latihan ini harus dilakukan di bawah bimbingan seorang instruktur/pembimbing yang sudah mendapatkan training memadai dari Ashram, training khusus untuk para fasilitator. Jangan melakukannya sendiri. *Sumber: (Krishna, Anand. (2016). Ananda’s Neo Self Empowerment, Seni Memberdaya Diri bagi Orang Modern, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Mengendalikan Mind untuk Mengendalikan Nafsu! Berikut Latihannya #Meditasi

Sebelum mengendalikan hawa nafsu kendalikan dulu pikiran dan perasaan

Krsna menjelaskan tahapan-tahapan dalam meditasi. Sebelum mengendalikan hawa nafsu – keinginan-keinginan duniawi dan kenikmatan indra — gugusan pikiran serta perasaan mesti terkendali terlebih dahulu.

Banyak kisah, banyak cerita tentang kegagalan mereka yang sudah berusaha mati-matian, tapi tetap gagal mengendalikan hawa nafsu, mengatasi godaan indra, dan sebagainya. Sebabnya adalah, gugusan pikiran serta perasaan mereka (mind) belum terkendali.

Para rahib yang menjadi pedofil; para pemimpin yang tidak mampu mengendalikan hawa-nafsu; para pendeta dan tokoh masyarakat yang terlibat dalam tindakan-tindakan asosial; para politisi, pejabat, dan wakil rakyat korup yang tergiur oleh gratifikasi seks – banyak cerita, banyak kisah. Karena belum meditatif, mereka tidak bisa melaksanakan tugas mereka dengan baik.

Mind dulu — gugusan pikiran dan perasaan dulu — setelah itu terkendali, barulah mengurusi badan, indra, keinginan-keinginan, hawa-nafsu, dan lain-lain.

Mereka yang tidak memahami hal ini, dan tidak bisa mengendalikan hawa-nafsunya, nafsu-birahinya — memproyeksikan ketidakmampuannya di atas Kanvas Kehidupan. Ia berpikir setiap orang adalah sama seperti dirinya. Bahwasanya, tidak seorang pun mampu mengendalikan syahwatnya.

Ini adalah cara berpikir yang keliru.

Karena saya lemah, tidak berarti setiap orang lemah. Nafsu bisa dikendalikan, tapi mesti mengikuti tahapannya — secara urut, teratur. Mind dulu, baru passion — gugusan pikiran dan perasaan dulu, baru nafsu. Penjelasan Bhagavad Gita 6:24 dikutip dari buku: (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

Persoalannya adalah bagaimana cara mengendalikan mind?

 

Mengendalikan Mind yang Cenderung Liar

Gugusan Pikiran serta Perasaan atau Mind Ibarat Seekor Kera. Ia memang tidak bisa duduk diam. Mustahil Anda bisa mendisiplinkan seekor kera untuk duduk diam selama 10 menit saja. Ya, jika Anda melatihnya untuk menari dan meniru gerak-gerik Anda—seperti yang dilakukan oleh para pelatih topeng monyet—ia akan melakukannya dengan senang hati asal ada imbalannyal

Jadi, istilah-istilah atau frasa-rasa seperti “mengosongkan pikiran”, “jangan memikirkan sesuatu”, dan sebagainya, muncul dari mereka yang sesungguhnya tidak mengetahui cara kerja mind.

Mustahil mengosongkan pikiran, lebih mudah menyibukkannya. Menyibukkannya sedemikian rupa hingga ia kewalahan. Ia capek, lelah,dan “menjadi” diam secara alami.

Itulah sebab kita memberikan tugas memperhatikan napas kepada mind. Hingga, pada suatu saat ia kelelahan sendiri. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2016). Soul Awareness, Menyingkap Rahasia Roh dan Reinkarnasi, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Membudayakan Pikiran & Peningkatan Kesadaran (Mind Culturing & Self Awareness Meditation)

MIND DAN NAPAS ibarat dua ujung batang bambu. Pegang yang satu, dan yang kedua terpegang dengan sendirinya. Setiap orang yang hendak memasuki alam meditasi dengan mengosongkan pikiran, ibarat memegang bambu dari sisi mind atau gugusan pikiran dan perasaan. Hal ini sangat sulit, karena sebagaimana kita lihat sebelumnya, mind tidak segampang itu terpegang, apalagi dikosongkan.

 

LEBIH MUDAH BEKERJA DENGAN NAPAS. Semakin perlahan napas, semakin jernih kita dapat rnelihat apa saja yang ada di dalam mind atau gugusan pikiran dan perasaan.

Setiap pikiran, setiap perasaan—setiap thought dan emotion—mulai terdeteksi sebagai satuan. Demikian pula dengan unit-unit Iain berupa obsesi, khayalan, impian, imajinasi, dan sebagainya.

Demikian, terciptalah jurang-jurang keciI—spasi-spasi kecil—antara satu pikiran, satu perasaan, dengan pikiran yang lain, pcrasaan yang lain.

 

DAN MIND MULAI MELEMAH. Tidak terjadi kristalisasi pikiran dan perasaan—itulah saat meditasi terjadi, dan mind mulai bertransformasi menjadi buddhi, inteligensi, kesadaran.

Selanjutnya, seperti seorang petani yang sudah menanam benih, sudah memupuki dan mengairi sawahnya dengan baik, musim pun sudah berpihak padanya, maka tinggal menunggu panen saja.

Tinggal rnenunggu quantum leap yang dapat terjadi setiap saat. Kita memasuki alam kesadaran murni, dan clapat merasakan rasa terdalam, rasa di atas segala rasa, rasa yang bukanlah sama seperti perasaan atau emosi—yakni ananda, bliss, kebahagiaan sejati, langgeng, abadi.

 

DALAM LATIHAN BERIKUT, walaupun berfokus pada transformasi mind (Lapisan Ketiga dan Keempat), kita tetap mengolah lapisan pertama terkait dengan fisik, dan lapisan kedua terkait dengan prana atau aliran kehidupan.

Sekali lagi, kesehatan bagi kita adalah kesehatan total, sempurna, holistis, sehingga setiap lapisan kesadaran harus diolah. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2016). Ananda’s Neo Self Empowerment, Seni Memberdaya Diri bagi Orang Modern, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Mereka yang sudah terbiasa latihan Ananda’s Neo Self Empowerment di Anand Ashram sudah memahami bagaimana cara melakukan latihan ini. Tinggal melakukan latihan secara rutin agar mind bisa terkendalikan  dan hasilnya sungguh dahsyat. Demikian menurut pengalaman kami……

Mengelola Kemarahan lewat Latihan Meditasi di Anand Ashram #Meditasi #Yoga

buku-meditasi-gadis-marah

Saat seseorang marah, ia mengaktifkan beberapa kelenjar dalam tubuhnya. Hal ini menyebabkan terjadinya kelimpahan adrenalin dan beberapa hormon stres yang lain, dengan efek-efek yang nyata pada fisik Anda. Wajah menjadi merah, tekanan darah semakin tinggi, nada suara kita menjadi tinggi, pernafasan kita menjadi cepat, detak jantung tidak teratur dan otot-otot kaki maupun tangan mulai tegang. Seluruh tubuh kita merasakan perubahan semacam ini. Apabila seseorang sering marah, keadaan itu akan berulang terus dan pada akhirnya dapat menimbulkan masalah-masalah kesehatan yang serius. Situasi seperti ini dapat menyebabkan timbulnya penyakit-penyakit seperti tekanan darah tinggi, stroke, penyakit jantung, maag, dan lain sebagainya. Karena itu, demi kebaikan Anda sendiri, hendaknya Anda mengendalikan emosi kemarahan ini.  Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2002). Bersama J.P Vaswani, Hidup Damai & Ceria. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

Kadang kita tidak menyukai suasana tertentu seperti yang kita harapkan, misalnya seseorang menyakiti kita baik sengaja maupun tanpa menyadari kata-katanya menyakiti kita. Kadang-kadang kita sedang tertekan oleh banyak masalah, ada seseorang yang perkataannya menyulut api kemarahan kita.

Marah sesungguhnya adalah ungkapan perasaan tidak senang yang tidak terkontrol oleh kita. Biasanya kemarahan terungkap tanpa dipikirkan kita terlebih dahulu. Tembak langsung. Yang lebih parah adalah karakter kita yang mudah tersinggung atau dikenal dengan istilah sumbu pendek.

 

Latihan Memperbaiki Pola Napas dan Emotion Culturing

Dengan napas panjang yang terlatih, pola napas kita akan tenang dan kita tidak menjadi “emosian”. Seseorang yang mudah marah akan nampak dari pernapasannya yang cepat, pendek dan sering kacau.

10 menit setiap pagi latihan napas seperti yang dilatih di Anand Ashram ternyata mengubah karakter kita menjadi tidak emosian.

Rajin latihan Emotion Culturing dari program Anand Ashram membuat kita sadar, tidak ada gunanya kita marah yang tak terkendali yang membuat kita menyesal kemudian. Kadang-kadang kita memang perlu marah tetapi dengan penuh kesadaran. Kita bisa belajar dari marahnya pembimbing rohani yang bijak kepada kita demi kebaikan diri kita agar tidak mengulangi kesalahan.

cover-buku-damai-ceria

Latihan Voice Culturing

Ada tiga cara untuk menangani kemarahan. Yang pertama adalah dengan cara mengekspresikannya. Para ahli ilmu berpendapat bahwa ini adalah cara yang terbaik. Dengan menyatakan atau mengekspresikan kemarahan, kita membagi beban pikiran kita dengan orang lain dan karena beban atau sebagian beban itu terangkat dari kita, kita lalu merasakan ketenteraman. Pendapat itu memang benar, namun keadaan semacam ini tidak langgeng. Kita tidak pernah bebas dari kegelisahan. Pada akhirnya, kemarahan menjadi kebiasaan dan Anda menjadi budak amarah. Anda menjadi budaknya dan amarah adalah atasan yang kejam. Saya pernah mendengar tentang seorang ibu yang membakar anaknya hanya karena marah. Cara kedua adalah dengan menahan atau menekan kemarahan. Ini pun tidak bagus, karena menekan kemarahan hanya memaksanya untuk menjadi bagian dari alam bawah sadar kita, dan dapat membahayakan kita. Cara ketiga (menangani kemarahan) dan cara yang benar adalah dengan memaaf kan. Maafkan dan bebaskan diri Anda dari kegelisahan! Setiap malam sebelum tidur, renungkan kembali sejenak kejadian-kejadian sepanjang hari yang telah Anda lalui. Apakah ada seseorang yang menipu Anda? Apakah ada yang menyinggung perasaan atau menghina Anda? Kalau ada, ucapkan namanya dan katakan, “Sdr. X, saya maafkan Anda.” Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2002). Bersama J.P Vaswani, Hidup Damai & Ceria. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Latihan Katarsis dalam Voice Culturing Program Anand Ashram sangat membantu dalam memuntahkan kemarahan dalam bentuk yang tidak merusak pergaulan sosial. Setelah kemarahan di dalam diri dipicu dan dikeluarkan pada waktu latihan, maka diri kita merasa lega. Dan masalah emosi sudah terselesaikan dengan sendirinya, sehingga kita dapat menyelesaikan permasalahan dengan bijak.

 

Program Latihan di Anand Krishna Joglosemar di Jogja

16507904_607845372736503_4157403851028120712_n