Sepenggal Jalur Sutra Bag 11 Hemis Gompa, Atisha, Isa dan Lama Pemandu Bapak Anand Krishna

11-22 Mei 2008

1 himalaya

 

Meniup terompet di Biara Thiksey

 

Thiksey Gompa

 “Ia yang bijak, melewati kehidupan ini, sambil menikmati perjalanannya. Akan tetapi tidak lupa akan jati dirinya. la tidak terikat pada apa pun juga. la yang bijak tidak akan meninggalkan dunia. la tidak akan masuk hutan dan menjadi seorang pertapa. Atau hidup sangat ketat dalam lingkungan ashram, pesantren atau biara. Hidup di tengah keramaian dunia, menikmati segala pemberian alam semesta, tetapi tidak terikat pada apa pun juga. la tidak akan pernah lupa jati dirinya. la tidak akan pernah lupa bahwa ia hanyalah seorang musafir yang sedang melewati kehidupannya. Dengan sendirinya, ia tidak akan menghimpun harta kekayaan dan menambah bebannya. Perjalanannya masih panjang, ia akan menikmati segalanya, tanpa berkeinginan untuk memilikinya.”   (Krishna, Anand. (2001). Mengikuti Irama Kehidupan Tao Teh Ching Bagi Orang Modern. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Bagaikan kafilah musafir, rombongan menikmati perjalanan, mengalami pengalaman yang sangat berharga bagi Jiwa dan berjalan terus. Pagi itu rombongan sarapan pukul 05.00, berangkat pagi-pagi sekali menuju Biara Thiksey. Biara Thiksey terletak di ketinggian 3.600 m di atas permukaan laut dan berjarak sekitar 20 km dari Leh. Merupakan tempat Thiksey Rinpoche, pemimpin Sekolah Gelug di Ladakh. Pada abad ke 15 Tsongkhapa penemu Sekolah Gelug mengirim 6 muridnya ke Tibet mengajarkan ajaran baru Gelugpa.

Di salah satu ruang seorang Bhiksu membaca mantra dan memukul semacam gong yang diikuti oleh dua orang bhiksu memakai topi khas Tibet dengan jambul seperti topi Romawi kuno  yang terbuat dari kulit domba warna kuning, meniup terompet diatas Biara. Bunyinya terdengar sampai perkampungan di bawah bukit. Kemudian rombongan mengikuti atau lebih tepatnya menyaksikan acara ritual berdoa dan sarapan bersama para bhiksu pelajar. Ritual makan di tempat meditasi dilakukan dengan tertib.

Foto-foto Thiksey

1 leh thiksey gompa terompet1 leh thiksey gompa

Biara Hemis (Hemis Gompa)

“Ini adalah tanah yang suci. Getaran di sini sangat kuat – spiritual, getaran-getaran Ilahi. Atisha pernah berada di sini. Ia menghabiskan beberapa waktudi biara ini, seperti halnya dengan Sang Juru Selamat. Mereka berdua mencintai tempat ini. Gedung-gedung di biara ini telah  berubah, tapi biara ini tak berubah.” (Krishna, Anand. (2004). Soul Quest, Pengembaraan Jiwa dari Kematian Menuju Keabadian. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Perjalanan dilanjutkan ke Biaara paling terkenal di Ladakh, Biara Hemis. Biara Hemis adalah Biara buddhist Tibet dari garis Drukpa yang terletak sekitar 45 km dari Leh. Biara dibangun pada tahun 1.672 oleh Raja Ladakh Senge Namgyal. Sebagai penghormatan kepada Padmashambhava yang pernah memberikan ajaran di Hemis, setiap awal Juni di Biara tersebut diadakan perayaan khusus.

Pada tahun 1894, buku perjalanan Jurnalis Nicolas Notovitch mengklaim bahwa Hemis adalah awal dari ajaran Saint Issa. Jesus dikatakan melakukan perjalanan ke India, selama waktu-waktunya yang hilang tak terjelaskan, antara 12 tahun sampai 29 tahunan. Menurut Notovtich, penjelasan telah tersedia di Perpustakaan Hemis, dan ditunjukkan kepadanya ketika dia menyembuhkan luka kecelakaan di sana.

Bapak Anand Krishna berjalan naik dan masuk ke Biara. Mahima langsung bersujud di tanah dan berangkulan dengan Ma Upasana dan menangis berdua setiba di Biara Hemis. Inilah Biara di mana Bapak Anand Krishna bertemu Lama yang menyembuhkan penyakitnya dan menyuruh pulang ke Indonesia untuk menyelesaikan Karma Bhoominya. Ketenangan dan energi luar biasa terpancar di Biara yang terletak di ketinggian pegunungan Himalaya.

Rombongan menyaksikan acara ritual di Biara dan setelah selesai dilanjutkan dengan acara Bapak Anand Krishna bersama rombongan. Setelah berdoa dan membaca mantra, keluar suara Guruji yang sangat mengharukan, bahwa masyarakat Indonesia itu egonya sangat besar, rasa jealousnya juga tinggi dan seluruh rombongan menangis.

Mengingat peristiwa tersebut, saya sadar bahwa Bapak Anand Krishna sudah memahami apa yang akan terjadi yang akan datang. Terlalu banyak rekayasa yang mudah dipahami bagi orang yang mau berpikir jernih. Demikianlah yang dialami oleh Bapak Anand Krishna.

Foto-foto Biara Hemis

1 biara hemis rombongan1 leh hemis 11 leh hemis gompa1 leh hemis 31 leh hemis gompa 21 leh hemis tempat Guruji menginap

Mahabodhi International Meditation Centre

Selesai dari Biara Hemis perjalanan dilanjutkan ke Mahabodhi International Meditation Centre. Bapak Anand Krishna pernah memutuskan menjadi Bhiksu di organisasi ini dan diinisiasi oleh Ven. Bikkhu Sanghasena dengan nama Anomadassi sebelum ketemu Lama Pemandu Beliau di Biara Hemis. Meditation Centre yang luas ini mempunyai beberapa program yang dalam 17 tahun terakhir berkembang sangat pesat. Ada program Meditasi, Program Pendidikan, Program Kesehatan dengan Rumah Sakit dan Klinik Berjalan, Pendidikan Bhiksuni, Program Lansia, Program Remaja, Program Lingkungan dan lain-lain. Desember 2005, ketika ikut rombongan ke Varanassi kita juga sempat melakukan peninjauan ke Mahabodhi Temple dan melihat sekelompok anak muda menari dalam lingkaran menyanyikan lagu-lagu cinta tanah air seperti kegiatan Pesta Rakyat. Pada waktu itu juga sempat melakukan doa di Birla Temple di New Delhi yang juga merupakan kegiatan Mahabodhi International Meditation Centre dengan nuansa ritual spiritual. Di Sore hari rombongan melihat Shanti Stupa di puncak bukit di Leh yang didirikan oleh pemerintah Jepang. Selanjutnya ke Vihara Shankar.

Foto-foto di Mahabodhi

1 leh mahabodhi 11 leh mahabodhi 2

Khardongla Pass

“Sungai yang tidak pernah berhenti, terus menerus mengalir saja. Seseorang berhenti mengalir karena terikat pada sesuatu, karena berkeinginan untuk memilikinya. Orang bijak menganggap dirinya pengembara. la melewati hidup ini tanpa membebani siapa pun juga. Demi keuntungan pribadi, jangan sampai menyusahkan sesama. Keuntungan seberapa pun yang diraih, toh akan tertinggal di sini juga. Perlu dihayati hidup sebagai seorang pengembara…… Anggaplah diri sebagai seorang pengembara. Keberadaan di sini hanya untuk sesaat, sementara saja. Melakoni hidup dengan penuh kesadaran, tidak cari musuh, tidak membuat masalah dengan selalu waspada.”  (Krishna, Anand. (2002). Menemukan Jati Diri I Ching Bagi Orang Moderen. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

Pagi harinya, perjalanan dilanjutkan ke Khardongla Pass yang merupakan Pass tertinggi di dunia dengan ketinggian 6.127 m yang telah dicatat dalam Guinees Book of World Records. Persiapan matang perlu dilakukan karena di ketinggian tersebut oksigen sangat tipis dan bisa membuat kepala pusing. Khardongla Pass ini merupakan jalan yang harus dilewati ke Nubra yang bisa diteruskan ke China. Stelah China menguasai Tibet, Jalan dari China ke India ini ditutup.

Kita mengenal perjalanan ke Barat oleh Bhiksu Tong Sam Cong. Jalan yang dilalui melalui Khardongla Pass, Fotula Pass dan Zojila Pass menuju Kashmir. Hal itu bermula ketika Kaisar Li Sin Min mengutus Bhiksu Tong Sam Cong untuk mengambil Kitab Suci Tripitaka dari India melalui “Jalan Sutra Utara”. Jalan tersebut demikian melegenda, hingga melahirkan kisah klasik See Yu, yang melalui tayangan televisi demikian terkenal sebagai serial film “Kera Sakti”. Bhiksu Tong Sam Cong melakukan perjalanan dari Chang’An, Anxi, Tashkent, Samarkand, Leh, Tibet, Bodhgaya, terus ke India Selatan sampai ke Kancipuram. Kemudian kembali ke Utara ke Kashmir, Kashgar, dan Anxi untuk kembali ke Chang’An. Perjalanan bhiksu Thong Sam Cong yang digambarkan menaiki kuda putih ini dilakukan selama 16 tahun dari tahun 627 sampai dengan tahun 643.

Foto-foto Khardungla

1 leh khardungla 11 leh khardungla 3

Wanita yang diberkahi

“Dunia ini ibarat pusat rehabilitasi, dimana setiap jiwa sedang mengalami program pembersihan, pelurusan, atau apa saja sebutannya. Keberadaan kita di dunia ini semata untuk menjalani program yang paling cocok bagi pembersihan dan pengembangan jiwa. Kecocokan program pun sudah dipastikan oleh Keberadaan dengan melahirkan kita dalam keluarga tertentu, di negara tertentu, ditambah dengan berbagai kemudahan lainnya, termasuk lingkungan kita, para sahabat, anggota keluarga dan kerabat kita, maupun lawan atau musuh kita. Berbagai rintangan, tantangan, kesulitan, dan persoalan yang kita hadapi dimaksudkan demi pembersihan jiwa dan pengembangan jiwa kita sendiri.”  (Krishna, Anand. (2006). Five Steps To Awareness, 40 Kebiasaan Orang Yang Tercerahkan, karya terakhir Mahaguru Shankara “Saadhanaa Panchakam”, Saduran & Ulasan dalam Bahasa Indonesia. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

Pernah saya tulis dalam salah satu Note dari banyak Notes yang dimuat dalam buku Neoman NeoVision, terbitan One Earth Media tahun 2005 yang menceritakan tentang almarhumah Eyang Srini yang ditulis Bapak Anand Krishna dalam Soul Quest sebagai Ibu Sri, seorang ibu atau bunda untuk semua, khususnya para pengikut, teman-teman dan mereka yang bersimpati padanya.

Dalam Soul Quest dituliskan bahwa beliau berasal dari keluarga Kraton, namun ia memilih tinggal di luar Kraton sebagai rakyat biasa. Ia seorang wanita yang diberkahi – sesuatu yang mistik. Ia jarang bicara, tetapi kalau bicara ucapannya penuh wibawa, seolah kekuatan yang lebih besar sedang berbicara lewat dirinya. Sebelum ibunda Bapak Anand Krishna mengandung beliau, Ayah Bapak Anand Krishna mendapat kesempatan bertemu dengan Eyang Srini. …. Ya, ya.. saya restui. Anda menginginkan seorang anak, seorang putra. Tuhan akan memberikannya kepada anda. Tak usah kuatir. Tunggu sebentar dan ia masuk ke ruang pribadinya.  Tidak lama kemudian seorang pengikut Eyang Srini keluar dan memberikan sebuah apel untuk ibunda Bapak Anand Krishna dan Sang Ayah diminta memberi makan ikan di Bengawan Solo dengan nasi kuning…..

Saat saya masih mahasiswa, Eyang Srini masih hidup dan Ibu saya juga sering minta tolong kepada Eyang Srini terutama saat saya ujian. Kadang-kadang saya diminta makan selat, masakan khas Solo. Kami ingat adiknya ibu kami yang akan mendapat PHK di Jakarta disuwunkan, dimohonkan  berkah dan lolos dari PHK. Ternyata Istri kami saya mempunyai hubungan kekerabatan dengan Eyang Srini. Ibu istri saya juga sering memohon berkah. Dan yang penting, ketika kami berdua akan menikah yang memberikan tanggal yang baik bagi perkawinan adalah Eyang Srini sendiri. Yang mendampingi kami berdua dalam Upacara Temu Penganten adalah adik Eyang Srini sendiri. Tanggal yang dipilihkan Wanita Suci pembawa berkah ini adalah 19 Mei 1984. Kami terkadang masih datang ke makamnya yang dibuat dengan bangunan indah di luar Kota Solo dan dimana terdapat foto beliau yang dipajang di atas makamnya. Bangunan ini dibuat sebagai penghargaan terhadap Eyang Srini yang pernah menjadi pejuang ikut Tentara Pelajar.

Dua puluh empat tahun kemudian, pada tanggal 19 Mei 2008, kami berdua diajak Keberadaan mengikuti Guruji ke Biara Hemis. Biara yang berkaitan dengan Padmasambhava, pembawa Buddha dari India ke Tibet. Biara yang berkaitan dengan Gusti Yesus yang pernah berada di Himalaya dan Guru Atisha penyebar ajaran Bodhicitta di Tibet yang belajar di Sumatera selama 12 tahun. Biara yang berkaitan dengan sembuhnya Bapak Anand Krishna yang sembuh dari penyakit Leukemia dan mendapatkan pencerahan.

Bagi kami berdua ini merupakan hal yang luar biasa, tanggal yang dipilih seorang wanita suci pembawa berkah terbukti setelah duapuluh empat tahun kemudian. Tidak ada sesuatu yang bersifat kebetulan. Angka keluarga kami adalah warisan dari keluarga mertua kami yaitu 248. Setiap kami melakukan kebenaran, selalu saja ada mobil lewat di depan kami bernomor 248. Angka perkawinan telah menginjak ke 24 pada tahun 2008 dihitung dari tahun 84. Mobil yang dinaiki istri dalam perjalanan ini bernomor JK10. 4820. JK10 adalah nomor Jammu Kashmir untuk daerah Ladakh. Tanggal lahir istri 17-11-1957 bila dijumlah adalah 8-2-4. Sebelum mendapatkan nama Jalan Dworowati bernomor  33, jalan tersebut dinamakan Sidokare dan diberi almarhum ayah mertua nomor 248. menurut beliau Pujangga Ronggowarsito senang mempunyai nama orong-orong yang genap, 248.  Kebetulan kakek kami adalah seorang pensiunan Mantri Sekolah penggemar berat Ronggowarsito dan kami sebagai cucu tersayangnya sudah diajari memahami tulisan Sang Pujangga sejak kecil. Terima kasih Gusti. Terima kasih Bapak Anand Krishna, terima kasih teman-teman semua.

eyang srini 1

Foto Eyang Srini

Ulang Tahun Perkawinan ke 24 di Leh Ladakh Himalaya

Happy Wedding Anniversary to Triwidodo & Rosita.

May your relation sthrengthen into a lasting bond of friendship.

Leh, Ladakh 19th May 2008

From Spiritual Journey Members 11th – 22nd  May 2008.

Ditandangani Bapak Anand Krishna dan 17 teman seperjalanan, di lembar pertama buku hadiah Guruji dan teman-teman seperjalanan, The Fifth Gospel, karya Fida Hassnain dan Dahan Levi, Dastgir Publications 1988.

 

Keesokan harinya rombongan melakukan penerbangan dari Leh menuju New Delhi. Di Delhi ziarah ke makam Hazrat Inayat Khan, Bahai Temple, Birla Temple dan sight seeing di New Delhi.

Keesokan harinya pulang menuju Jakarta. Selesai.

Sepenggal Jalur Sutra Bag 10 Leh-Ladakh, Naropa, Atisha dan Vihara Buddha di Himalaya

1 leh likir monastery foto dengan bhiksu

Foto bersama di Likir Gonpa

Bahasa Sanskerta

“Ya .. Seperti dalam bahasa Sanskerta, saya harus terus mengacu bahasa Sanskerta, karena bahasa Sanskerta sebenarnya bukan bahasa lisan akan tetapi bahasa program. Bahasa yang dibuat untuk berhubungan dengan para dewa. Dewa dimaknai dengan frekuensi yang lebih tinggi, energi yang lebih tinggi. Dan, masing-masing frekuensi telah memperoleh namanya. Kadang-kadang kita mengekspresikan mereka sebagai makhluk-makhluk surgawi, akan tetapi ini adalah nama-nama frekuensi.

Ada seorang dari Lembaga Sanskerta di USA yang melakukan penelitian dengan wakil NASA. Anda (Kali Ma) sudah tahu kan?

Ketika berbicara bahasa Sanskerta, setiap huruf bahasa Sanskerta, terhubung ke beberapa bagian otak kita. Jadi, ketika Anda berbicara seperti to atau khe, kalimat apapun dari bahasa Sanskerta, maka suara tersebut merangsang bagian tertentu dari otak Anda. Dan, juga menggunakan masing-masing dari setiap bagian dari mulut Anda …

Jadi, ketika Anda menggunakan bahasa itu, karena sekali Anda menggunakan mulut Anda dalam totalitas, otak Anda dirangsang dan sekali otak dirangsang, seluruh tubuh dirangsang. Sebenarnya Sanskerta sangat diperlukan, setidaknya dengan membaca mantra, Anda tidak perlu belajar bahasa Sanskerta sebenarnya. Hanya beberapa mantra dasar, seperti Gayatri disebut Maha Mantra itu sudah cukup (mengembangkan otak Anda).”  Terjemahan bebas dari Conversation Anand Krishna – Kali Ma in Speaker Radio.

 

Rombongan meninggalkan Kargil menuju jurusan Leh, ibukota Ladakh. Keyakinan masyarakat Kargil tentang kebhinnekaan, dibuktikan dengan adanya Vihara Buddhis di tengah perkampungan Muslim di daerah Mulbek. Suasananya nampak tenang-tenteram. Di Mulbek, rombongan berhenti di Vihara Chamba dengan pahatan Buddha Maitreya di bukit batu setinggi 9 meter. Menurut para rinpoche Tibet, pahatan tersebut sebenarnya adalah Avalokiteshvara karena bertangan empat. Di dalam vihara tersebut terdapat foto adik Dalai Lama.

1 leh mulbek

Pahatan setinggi 9 m di Mulbek

1 leh adik dalai lama di mulbek

Foto Adik Dalai Lama

 

Di perjalanan rombongan juga bertemu dengan kelompok banyak jurang yang berwarna-warni. Ada biru, merah, hijau coklat, kuning, karena batuan yang terlihat berbeda struktur dan asalnya.

Dalam perjalanan rombongan melewati Fotula Pass 4.108 m yang dipenuhi salju. Sebelumnya perjalanan melalui Namikala Pass 3.828 m. Dinamakan Namikala, pillar to the sky, pilar ke langit karena sangat tinggi. Rombongan sempat berfoto sebentar di kedua pass tersebut dan para pengemudi meneriakkan mantra-mantra di puncak terbuka. Memang di daerah pass selalu dipenuhi salju. Suasana yang dingin, putih bersih,  oksigen yang tipis, membuat pikiran tenang, tidak suka bicara dan hanya ingat kebesaran alam. Melalui beberapa pass yang selalu berselimut salju itulah maka Jalan dari Kargil ke Leh hanya dibuka selama 6 bulan dan pada waktu musim dingin ditutup.

Begitulah beratnya perjalanan di Himalaya. Kita bisa membayangkan betapa berat para Guru menyebarkan dharma di sana.

1 leh Namikala 12198 ft

Berfoto di Namikila

1 leh fotula pass

Berfoto di Fotula

 

Guru Atisha, Himalaya, Sumatera dan Bahasa Sanskerta

Mulai sekitar abad ke-3, Buddhisme mulai tumbuh dan menyebar ke luar India, menyesuaikan diri dengan budaya lokal dan kondisi yang berbeda-beda dari berbagai negara. Pada abad ke-8, Guru Rinpoche atau Padmasambhava yang disebut Orang Tibet sebagai Buddha Kedua melakukan perjalanan ke Himalaya. Selanjutnya Agama Buddha berkembang di Tanah Salju tersebut.

Pada waktu itu, Raja Lalitaditya-Muktapida (sekitar tahun 725 dan 756) menjadi penguasa Ladakh yang berada di bawah kekuasaan Kerajaan Tibet. Sang raja menerima pengungsi para pemahat yang melarikan diri dari India Utara dan dipekerjakan untuk membangun vihara-vihara. Pahatan Buddha Avalokiteshvara (karena bertangan empat) yang dikenal Buddha Maitreya setinggi 9 m di Mulbek, sebagai gerbang dari Srinagar ke Leh juga dikaitkan dengan Raja Lalitaditya.

Sayangnya penerus Lalitaditya tidak dapat mempertahankan persatuan, sehingga terjadi kekacauan politik dan perselisihan internal sehingga pada tahun 1337 jatuh ke tangan Dinasti Muslim.

Di Tibet juga terjadi kekacauan politik, sehingga Tibet dikuasai Raja Langdarma (863-906 M) yang menekan umat Buddhist, sehingga umat Buddhist sebagian lari ke luar dan guru-guru Buddhist kembali ke India Utara. Setelah itu Tibet terpecah, Yumten anak Langdarma menjadi Raja Tibet Timur dan keponakannya Yeshe Od Guge menjadi Raja Tibet Barat. Ladakh menjadi daerah kekuasaan Tibet Barat dan dikelola oleh bangsawan dinasti Tibet Barat.

Raja Yeshe Od Guge merasa sedih melihat sedikitnya umat tersisa dan ajaran yang tidak dijalankan dengan benar. Banyak buku dalam bahasa Sanskerta, akan tetapi tidak ada yang mengetahui bahasanya. Sang raja mengirim 21 pemuda untuk belajar bahasa Sanskerta ke India sambil mencermati Guru dari India yang bisa diminta bantuan memurnikan ajaran Buddhis di Himalaya. Dari 21 pemuda yang dikirim hampir semuanya meninggal dalam perjalanan dan hanya tertinggal 2 pemuda Rinchen-Zangpo dan Legshay yang sudah menguasai bahasa Sanskerta. Dua pemuda tersebut menyampaikan kepada raja bahwa Guru Atisha yang pulang dari berguru di Svarna Dvipa (Sumatera) cocok mengajar di Tibet. Rinchen Zangpo dikenal sebagai Penterjemah Besar yang mendirikan Vihara Lamayuru dan Alchi di Ladakh Himalaya.

1 leh perjalanan ke Leh kering

Jalan ke Leh sewaktu kering, karena sebagian salju meleleh. Pada zaman dahulu di musim dingin tertutup salju

 

Dikisahkan Atisha saat di Bodhgaya saat sedang sedang ritual mengelilingi stupa mendengar suara, “Jika ingin meraih pencerahan dengan cepat berlatihlah Bodhicitta.” Pada saat itu Guru Besar yang memahami ajaran Bodhicitta adalah Dharmakirti Svarnadvippi dari Svarnadvippa. Atisha bersama 125 bhiksu segera berangkat ke Sumatera naik perahu mengatasi samudera dan badai di perjalanan. Atisha belajar pada Dharmakirti selama 12 tahun. Ia kembali ke India diusia 45 tahun dan menghabiskan waktu di Perguruan Tinggi Vikramashila.

Sangat berat mengundang Guru Atisha karena ia masih bekerja di Perguruan Tinggi Vikramashila dan jarang bertemu dengan orang luar. Rombongan pertama dengan bekal emas yang banyak berupaya mengundang Atisha tetapi gagal. Rimbongan kedua sang raja sendiri memimpin rombongan akan tetapi sang raja justru ditawan musuhnya di perbatasan dan dipenjara. Keponakan sang raja berupaya membebaskan sang raja dengan membayar emas, akan tetapi sang raja minta uang tersebut untuk menundang Guru Atisha ke Tibet. Sang keponakan akhirnya berhasil meyakinkan kepala Vihara dan diberi waktu 3 tahun bagi Atisha untuk mengajar di Tibet.

Walau Buddha Dharma pernah dibawa ke Tibet beberapa abad sebelumnya, lewat Guru Rinpoche Padmasambhava dan beberapa guru lainnya, namun kemekaran awal ini menderita kelayuan yang hebat karena tekanan kekacauan politik di Tibet.

Ratnakara, ketua Vihara Vikramashila berkata kepadaa rombongan dari Tibet, “Bukannya aku tidak mengetahui kondisi Tibet yang memprihatinkan, akan tetapi Atisha adalah salah satu guru kami yang sangat cerdas, khususnya dalam hal Bodhicitta. Jika ia tidak tinggal di India, tak ada harapan bagi ajaran-ajaran Buddha untuk lestari di tanah kelahirannya sendiri.” Oleh karena itu dia hanya mengizinkan Atisha mengajar selama 3 tahun saja.

Dikisahkan bahwa beberapa malam sebelumnya Atisha bertemu “Bunda” Tara yang menampakkan diri dan berkata bahwa Atisha akan berhasil menyebarkan dharma di Tibet, membawa berkah bagi Tibet. Dan, Bunda Tara mengatakan bahwa bila dia di India usianya akan mencapai 92 tahun, sedangkan bila di Tibet usianya 72 tahun.

Demikian, di usianya ke-53 tahun, Atisha melakukan perjalanan panjang ke Tanah Salju. Di jalan, penerjemah Sanskerta Gyatsonseng jatuh sakit dan meninggal. Atisha prihatin karena penterjemahnya meninggal, akan tetapi Nagtso berkata walau bahasa Sanskerta tidak bagus tapi bisa berkembang dan siap melayani Atisha.

Di Nepal, rombongan bertemu penerjemah Marpa (1012-1099 M), yang sedang dalam perjalanannya ke India untuk yang ketiga kalinya. Atisha mengundangnya untuk menjadi penerjemahnya, tapi Marpa menolak karena Gurunya (Naropa) ingin dia mengunjungi India tiga kali dan dia harus melakukan perjalanan terakhir. Dalam silsilah Kagyu (Karmapa) disebutkan urutan dari Tilopa, Naropa, Marpa, Milarepa dan Gampopa.

Rombongan juga bertemu Rinchen-Zangpo, penerjemah yang sudah lanjut usia, tapi ia juga tidak bisa membantu karena sudah sangat tua. Dan, Atisha mengandalkan penterjemah Nagtso.

1 leh tongkat asli rinchen zangpo

Tongkat Asli Rinchen Zangpo di Vihara Alchi

Setelah Atisha berada di Ngari, Pusat Kerajaan Tibet Barat selama 3 tahun, ia berangkat bersama penerjemah Nagtso untuk kembali ke India. Namun, perang yang berkecamuk di perbatasan Nepal menghalangi perjalanan mereka. Nagtso kemudian menulis surat kepada Kepala Vihara Vikramashila bahwa mereka tak bisa pulang ke India. Sebagai gantinya, Atisha mengirimkan sebuah buku Pelita Bagi Jalan Menuju Pencerahan. Mereka juga meminta izin untuk tetap tinggal di Tibet sampai akhir hayatnya. Selanjutnya, mereka kemudian kembali ke Ngari.

Total, Atisha menghabiskan 17 tahun di Himalaya; 3 tahun di Ngari, 9 tahun di Nyetang dekat Lhasa, dan 5 tahun di berbagai tempat lainnya sampai kematiannya pada tahun 1054 M di usia 72 tahun.

Mengenai Ladakh, setelah kemerdekaan India pada tahu 1947 dan berdirinya Pakistan, maka terjadilah pertikaian di daerah Kashmir dan Ladakh. Resolusi PBB menghentikan perselisihan dengan memberikan Wilayah Baltistan, Gilgit dan Hunza ke Pakistan dan Ladakh ke India.

Budaya Buddhis yang pernah meluas ke Mongolia sekarang didorong ke sudut terpencil di Himalaya. Tibet pun sudah dikuasai China. Ladakh kini adalah Rumah Buddhisme Tibet dan mewakili sebagian besar budaya Tibet. Pada tahun 1995, Pemerintah India menyetujui pembentukan Otonomi Ladakh, yang memberikan Ladakh untuk mengelola kegiatan administratif dan keuangan untuk mengembangkan budaya mereka.

Sumber Wikipedia dan Situs http://www.berzinarchives.com

 

Lamayuru Gonpa dan Kisah Naropa

“Beberapa hari sebelum meninggalkan badan kasat, Naropa berkata: My Mind is the Perfect Buddha; My Word is the Perfect Dharma; My Body is the Perfect Sangha… Pikiranku, kesadaranku, inilah Buddha. Inilah pencerahan.

“Kata-kata yang kuucapkan, itulah Kebijakan. Kebaikan sejati. Badanku, inilah padepokanku. Peguyubanku. Tempat para Bikshu, para pencari berkumpul untuk “menemukan” Kebenaran. Kasunyatan Abadi…

“Tiga permata, tiga anak tangga yang mengantar Anda pada kesempurnaan, ada di sini. Mau mencarinya di mana lagi? Permata Pertama, Buddha, Kesadaran. Permata Kedua, Dharma, Kebijakan. Permata ketiga, Sangha, Kebersamaan.

“Tiga-tiganya mewujud dalam diri seorang Naropa. Dalam diri seorang mursyid, seorang master, seorang guru. Anda mau mencarinya dimana lagi?”  (Krishna, Anand. (2001). Tantra Yoga. Jakarta: Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama)

 

Akhirnya rombongan berhenti di Vihara Lamayuru. Vihara dalam bahasa Ladakh adalah gonpa. Lamayuru adalah vihara buddhist Tibet di Kargil, Ladakh Barat di ketinggian 3.510 m berjarak 127 km dari Leh. Vihara yang ditemukan oleh Lama Ringzhen Zangpo yang mempunyai silsilah dari Guru Tilopa dan muridnya Naropa. Lamayuru adalah vihara terbesar dan tertua di Ladakh yang dihuni sekitar 150 bhiksu.

Dikisahkan pada saat Buddha Sakyamuni hidup, daerah tersebut merupakan sebuah danau. Madyantika seorang arahat murid Buddha mengunjungi tempat tersebut membuat persembahan kepada Naga dan membuat celah di dasar danau sehingga menjadi daratan. Madyantika meramalkan bahwa di masa depan ajaran Sutra dan Tantra akan berkembang di tempat tersebut.

Dikisahkan bahwa Mahasiddha Naropa (1016-1100) murid Tilopa mengunjungi tempat tersebut. Ia menghabiskan waktu yang lama dengan retret yang ketat di sebuah gua di sana, sehingga tempat tersebut berubah tempat menjadi tanah suci. Gua tersebut masih ada, dan merupakan bagian dari temple utama Vihara Lamayuru. Pada tahun 1038 penerjemah besar Rinchen Zangpo (958-1055) yang membangun lima temple di Lamayuru. Rinchen Zanpo adalah pemuda yang menyampaikan kepada Raja Tibet bahwa Guru yang cocok untuk memurnikan ajaran Buddhis di Tibet adalah Atisha.

Foto-foto di Lamayuru

1 leh lamayuru gonpa1 leh lamayuru1 leh makan siang lamayuru

Ulektopo

Kemudian rombongan melanjutkan perjalanan ke Uletokpo. Uletokpo merupakan tempat camping yang indah untuk memperhatikan bintang-bintang di langit. Penginapan terdiri dari tenda-tenda permanent dengan dua tempat tidur, tanpa lampu di dalam tenda, penerangan dengan lilin. Untuk mandi dan ke toilet harus berjalan ke luar tenda dan disediakan banyak kamar mandi berjajar. Karena udaranya dingin maka disediakan selimut yang sangat tebal. Di samping tempat camping mengalir sungai Indus. Suara gemericik air tidak pernah berhenti, mengalir di saluran kecil di pinggir lokasi camping.

Foto di Ulektopo

1 leh ulektopo camping

Alchi Gonpa

Keesokan paginya perjalanan diteruskan ke Vihara Alchi. Alchi adalah desa di Ladakh yang terletak di tepi sungai Indus. Alchi adalah vihara tertua di Ladakh yang terkenal karena lukisan-lukisan dari abad 11. Vihara didirikan oleh Penterjemah Besar Rinchen Zangpo. Lukisan dinding di Vihara Alchi adalah beberapa lukisan yang bertahan di Ladakh dan merefleksikan artistik dan spiritual dari raja Buddha dan Hindu di Kashmir pada waktu itu. Rinchen Zangpo mengajak para seniman dari Kashmir melukis di vihara di Ladakh ini. Di semua vihara memotret dengan blitz dilarang, karena dapat merusakkan lukisan. Banyak lukisan mandala di vihara-vihara di daerah Ladakh. Lukisan lingkaran pada mandala menggambarkan kesempurnaan Sang Pencipta. Titik pusat lingkaran memberi makna tujuan. Segi empat melambangkan kekuatan, kesatuan dan bumi, simbol kestabilan dan melambangkan empat arah, empat unsur dan empat musim. Segitiga adalah Trinitas Suci, mind/body and soul, ibu/ayah dan anak, waktu lampau/saat ini dan yang akan datang.

Foto di Alchi Gonpa

1 leh orang-orang Tibet foto bersama alchi

Likir Gonpa dan Aliran Kadampa dari silsilah Atisha

Perjalanan dilanjutkan ke Vihara Likir. Rumah-rumah di desa Likir dibuat sekitar 200 tahun yang lalu. Kata Likir berasal dari Klu-kkhyil. Klu-kkhyil Gonpa digunakan oleh Bhiksu sekte bertopi kuning. Nama Klu-kkhyl berarti belitan ular seperti bentuk bukit sekeliling vihara. Ditemukan oleh Lama Lhawang Chosje pada tahun 1028. Beliau mengajarkan aliran Kadampa yang merupakan ajaran yang diberikan oleh Yang Mulia Atisha. Pada tahun 1470 ajaran Kadampa dikonversikan menjadi ajaran Gelukpa oleh Tsong Khapa sebagai lanjutan dari aliran Kadampa.  Vihara ini mempunyai koleksi seni Buddhist dan patung raksasa di depan Vihara setinggi 25 m. Perjalanan dilanjutkan ke Leh. Rombongan menginap di Spic and Span Hotel.

Foto di Likir Gonpa

1 leh likir monastery foto bersama1 leh likir foto bersama

Hinayana Mahayana dan Vajrayana

“Ada tiga prinsip yang perlu diperhatikan. Ya, hanya tiga prinsip, yaitu :

“Pertama : Kesadaran. Dan yang bisa menghasilkan kesadaran hanyalah ‘meditasi’. Meditasi berarti ‘mengurus diri’. Sebelum diri sendiri terurus, jangan mengurus orang lain. Dalam ajaran Sang Buddha, prinsip ini disebut Hinayana sesuatu yang mendasar sekali. Secara harfiah, Hinayana berarti ‘wahana kecil’. Dalam hal ini, harus diartikan sebagai ‘langkah awal’, yang paling utama.

“Kedua : Kasih Sayang. Setelah melampaui mind lewat meditasi, baru berbagai rasa. Kasih sayang merupakan buah meditasi. Tanpa meditasi, kasih sayang tidak akan pernah tumbuh. Tanpa meditasi, yang tumbuh hanyalah napsu birahi, paling banter cinta. Kasih tidak akan pernah tumbuh. Seorang yang belum meditatif, belum kenal kasih. Ini yang disebut Mahayana kesadaran yang meluas. Secara harfiah, Mahayana berarti ‘wahana besar’. Saya mengartikannya sebagai ‘langkah yang lebih besar’.

“Ketiga : Kebijakan. Dengan hati yang mengasihi, kita menjadi bijak dengan sendirinya. Sentuhan kasih membebaskan anda dari rasa benci, dengki dan iri. Ini yang disebut Vajrayana puncak kesadaran. Secara harfiah, Vajrayana berarti ‘wahana yang kukuh’, kukuh bagaikan senjata ‘Vajra’, dahsyat bagaikan petir.”  (Krishna, Anand. (2003). Atisha, Melampaui Meditasi untuk Hidup Meditatif. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Hal ini selaras dengan Misi Anand Ashram: Inner Peace, Communal Love and Global Harmony.

Sepenggal Jalur Sutra Bag 9 Kargil, Pelancong Kashmir dan Tamu Dunia

1 jalan di himalaya

Foto perjalanan ke Kargil

Tamu Kashmir dan Tamu Dunia

“Seorang tamu seperti Sariputra akan dipercayai penuh oleh manajemen hotel. Mereka yakin bahwa ia tidak akan mencuri handuk dalam kamar mandi.  Tidak akan mencuri asbak dari ruangan tamu. Tidak akan merusak penutup kloset. Ia dipercayai akan menjaga keutuhan dan keindahan kamar yang disewanya.

“Tinggal di Hotel Bumi ini, jadilah seorang tamu seperti Sariputra. Sadar sepenuhnya dan bertindak sesuai dengan kesadarannya, maka anda tidak perlu dibelenggu dengan rantai peraturan dan hukum.” (Krishna, Anand. (2000). Ah Mereguk Keindahan Tak Terkatakan Pragyaa-Paaramitaa Hridaya Sutra Bagi Orang Modern. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama Jakarta)

Bagi mereka yang bijak, hidup di dunia bagaikan seorang tamu, seorang pelancong. Merenungkan perjalanan ke Kashmir, saya sadar kita ingin “meng-alami” Kashmir. Seseorang bisa baca buku dan menulis tentang Kashmir, akan tetapi mereka yang pernah ke Kashmir, bisa lebih “merasakan” Kashmir. Jiwa kita memang ingin mengalami hal yang baru, pengalaman di Kashmir. Kita sekarang bisa membayangkan bagaimana Gusti Yesus dengan rombongan kafilah datang ke Kashmir. Betapa berat perjalanan waktu itu. Bhiksu Tong Sam Cong untuk mencari kitab Tripitaka juga melewati jalan yang berat tersebut. Banyak orang suci ke Vihara Hemis lewat jalur yang sangat berat. Semestinya ada “sesuatu” yang sangat berharga yang dicari mereka dengan melalui perjalanan yang sangat berat.

Bapak Anand Krishna dalam materi Neo Interfaith Studies pada program online One Earth College of Higher Learning (http://www.oneearthcollege.com/id/) menyampaikan:

“Asy Syu’araa berulang-ulang mengingatkan supaya kita meniru para rasul, para nabi, dan tidak mengharapkan ‘upah’ dari manusia (antara lain seperti dalam ayat 180). Sesungguhnya inilah yang membedakan kita dari para rasul dan khalifatullah. Kita mengharapkan imbalan dari dunia, dan harapan itu membuat kita menjadi ‘warga dunia’. Kita menjadi budak dunia. Sementara para rasul dan khalifatullah tetap mempertahankan kewarganegaraan mereka. Mereka tetap menjadi warga surga yang sedang berkunjung ke dunia. Mereka mempertahankan status mereka sebagai ‘tamu’.

“Apa arti ibadah atau ritual hajj? Hajj adalah peringatan, untuk mengingatkan kita bahwa fitrah kita bukanlah sebagai warga dunia, tetapi sebagai duta Allah yang sedang berkunjung di dunia atas perintahNya. Jika kita tidak menyadari hal itu, maka kita menjadi warga dunia yang sedang berkunjung ke bait Allah sebagai tamuNya. Apakah Allah membedakan antara warga atau tamu? Bukankah kita semua adalah ciptaan-Nya? Ya betul. Dia tidak membedakan. Kita sendiri yang menentukan kedudukan kita. Kita sendiri yang memilih, dan menempatkan diri sebagai pengunjung/tamu di dunia atau sebagai warga tetap.”

Kedua kutipan dari Bapak Anand Krishna tersebut menyadarkan kita bahwa seharusnya kita berada di dunia sebagai tamu. Para Nabi, para Suci, para Mesias adalah para Duta Besar dari Kerajaan Allah yang berniat memanggil kita untuk kembali ke Kerajaan-Nya.

Sewaktu “melancong” ke Kashmir, saya dan rombongan menjadi sadar bahwa kita ingin “merasakan”, “mengalami” Kashmir. Tetapi kita tidak ingin menetap di Kashmir, tidak ingin mencari masalah dengan melanggar hukum di Kasmir, kita ingin selamat dan merasakan kebahagiaan di Kashmir. Seandainya saja kita ke dunia sebagai “pelancong” yang menikmati pengalaman dunia, tidak membuat masalah di dunia, selamat dari dunia maka hidup kita akan penuh kebahagiaan. Kita hanya menjadi “tamu dunia.”

 

Perjalananke Kargil

Kota Kargil, setingkat Kabupaten di Indonesia, hanya 204 km dari Srinagar dan berjarak 234 km dari Leh. Semestinya dari Sonmarg ke Kargil yang hanya 117 km dapat ditempuh dalam waktu singkat. Tetapi kita tidak boleh mengharapkan perjalanan dari Srinagar ke Kargil dan kemudian dari Kargil ke Leh seperti perjalanan dari Semarang ke Cirebon dan dari Cirebon ke Jakarta, selanjutnya dari Sonmarg ke Kargil seperti dari Pekalongan ke Cirebon.

Baru sekitar 3 km perjalanan dari Sonmarg, semua kendaraan berhenti menunggu konvoi tentara India yang baru saja selesai latihan militer di Pegunungan Himalaya. Menurut pengemudi, memang jalan “Border Road” berada di bawah komando militer dan kadang-kadang ditutup sementara untuk keperluan militer. Lebih dari dua jam rombongan menunggu. Seperti kata Bapak Anand Krishna perjalanan di Himalaya memang sulit di prediksi, yang penting berjalan sampai di tujuan, karena banyak hambatan di jalan.

1 kargil menunggu rombongan militer

Menunggu Konvoi Tentara India

Bukankah hidup ini juga kadang sulit diprediksi? Kapankah kita sampai di tujuan spiritual? Yang penting kita sudah mulai berjalan mengarah tujuan. Jangan serius-serius amat. Nikmati permainan. Kami ingat gurauan teman saya, kenapa sombong memakai mercy, Jakarta-Cileduk tetap makan waktu dua jam juga. Otak boleh jago, tetapi hambatan macet di dunia membuat perjalanan spiritual lambat juga. Perjalanan, pengalaman, ‘rasa’ memang lebih penting dari tujuan.

Selepas Sonmarg, nuansa Tiber sudah terasa, banyak rumah-rumah di bukit dan banyak bendera warna-warni diikat tali menghiasi tepi jalan. Bendera tersebut dikaitkan dengan doa dan kesehatan. Urutan bendera adalah biru, putih, merah, hijau, dan kuning. Biru melambangkan langit dan ruang, putih melambangkan udara dan angin, merah melambangkan api, hijau melambangkan air, dan kuning melambangkan bumi. Menurut pengobatan Tibe,t kesehatan dan keselarasan dihasilkan oleh keseimbangan elemen tersebut.

1 kargil bendera doa Buddha Tibet

Bendera khas Buddhist Tibet, bendera doa dan kesehatan

Perjalanan sekitar 2 jam sampailah kita ke Amarnath.  Ada tulisan di tepi jalan Wecome to the  Land of Amarnath. Setiap bulan Juni pada waktu musim panas ramai para penziarah datang ke Gua Amarnath untuk melihat lingga yang terbentuk alami dari es. Goa ini dikelilingi oleh pegunungan bersalju hampir sepanjang tahun. Pada waktu yang singkat di musim panas, goa tersebut terbuka untuk para penziarah.

1 kargil amarnath cave lingga es juni listsbuzz com

Foto Lingga terbentuk dari es, sumber listsbuzz com

 

Rombongan tidak belok menuju goa Amarnath dan meneruskan perjalanan ke Kargil.

Tulisan-tulisan Peringatan di tepi jalan sangat bermakna dan meminta kita mengendarai dengan hati-hati. Semua Papan Peringatan tersebut dibuat oleh BRO, Border Road Organisation India.

  • Mountain are pleasure if you drive leisure
  • Slow drive long life
  • Darling I like you but not so fast
  • Time is money but life is precious
  • Somebody is waiting for you Drive slow
  • Dalam bahasa Jawa Alon-Alon Waton Kelakon

1 kargil alon alon asal kelakon

Foto papan Peringatan di Pinggir Jalan di lereng Himalaya

Kadang-kadang rombongan berhenti sebentar menunggu excavator sedang membersihkan longsoran tebing. Pekerjaan mulia yang penuh kesigapan. Banyak manusia yang tidak kita sadari  telah berbuat baik untuk kita, bahwa dia sesungguhnya telah melancarkan perjalanan kita.

1 kargil buldozer pembersih salju

Berpapasan dengan excavator pembersih salju

 

Sekitar pukul 14.30 rombongan beristirahat di tempat yang datar dan makan siang. Makan yang terdiri roti sandwich, pisang, mangga dan orange juice terasa nikmat. Tetapi kita makan di balik batu karang untuk berlindung dari angin yang cukup kencang.

1 kargil makan sembunyi di balik tebing angin kencang

Selfie sebelum makan siang

 

Dekat ke arah Kota Kargil sepanjang beberapa ratus meter jalan sejajar dengan Sungai Suru yang merupakan anak Sungai Indus. Sebelumnya di Sonmarg ada sungai Sindh (Nallah Sind) yang merupakan anak sungai Jhelum yang akan bermuara di Sungai Indus juga. Sungai Indus juga sering disebut Sungai Sindhu.

Sepanjang perjalanan dari Srinagar ke Leh terdapat kabel line untuk komunikasi militer yang berjarak sekitar 50 m dari jalan raya. Beberapa kabel jatuh ke tanah dan segera diperbaiki oleh militer. Jembatan yang dilewati terbuat dari rangka baja Bailey yang merupakan jembatan darurat tentara yang dibangun zeni angkatan darat.

Rombongan menginap di Kargil, kota kecil yang selama musim dingin terputus aksesnya 6-7 bulan. Pipa air minum pada musim dingin juga membeku kecuali pipa distribusi yang besar, dan penduduk mendapatkan air dari truck-truck tanki. Di Kargil sudah ada perkebunan apel dan apricot.

1 kargil foto bersama

Foto bersama di Kargil

 

1 kargil nampak rumah-rumah di tepi sungai ruru anak s indus

Foto di Kargil, nampak di belakang Sungai Suru, anak sungai Indus

1 kargil bendung Kargil untuk apricot

Kargil Barrage untuk irigasi perkebunan apel dan apricot

 

Tuhan yang Bergoyang

Ingat teman-teman Ashram bernyanyi,

 

Achyutam Keshavam Krishna Damodharam

Rama Narayanam Janaki Vallabham

Kata siapa tak terlihat wajah Allah

Kau butuhkan Sepasang mata Mustafa

Kata siapaa tak terdengar nyanyian-Nya

Kau butuhkan sepasang telinga Radha

Kata siapa Dia tak pernah menari

Kau butuh merayu-Nya seperti gopi

Kata siapa Allah tak pernah bercanda

Kau tak pernah bersahabat dengan Dia

Kata siapa kehadiran-Nya tak terasa

Kau butuh merasakannya dengan cinta…….

 

Kalau di Srinagar kita sering mendengar ucapan “Shukriya”, terima kasih, di Kargil dan Leh masyarakat sering mengucapkan “Jhulay”, salam.

Dalam buku (Krishna, Anand. (2008).Christ of Kasmiris. Anand Krishna Global Cooperation) disampaikan bahwa Jind Pir atau Zindah Pir yang dimuliakan orang Sindhi sebagai penyelamat pernah muncul sebagai Uderoral atau Jhulelal yang menyelamatkan rakyat dari kekejaman penguasa setempat.

Masyarakat Sindhi juga menganggap Jhulelal sebagai perwujudan Hyang Ilahi yang dicintai mereka. Jhulelal juga berarti Gusti yang Bergoyang, yang senantiasa menari dan bernyanyi membahagiakan para panembahnya.

Orang Sindh saling menyapa dengan Salam “Jhulelal”, sambil tangannya menangkup bernamaste kepalanya bergoyang. “Bergoyanglah, rayakan kehidupan bersama Gusti!” Orang di Tibet, di Leh Ladakh termasuk Kargil menyapa kita dengan “Jhulay”, bergoyanglah, rayakan kehidupan! Tidak perlu saling menanyakan kabar atau cuaca, bergoyanglah!

Silakan menikmati: SANAM MARVI — LAL MERI PAT RAKHIYO BHALA JHOLE LALAN

Di https://www.youtube.com/watch?v=sP7HcYpRTEU

Sepenggal Jalur Sutra Bag 8 Sonmarg Pengemudi Lereng Terjal Himalaya dan Lereng Terjal Kehidupan

 

1 sonmarg menembus bukit, melewati bibir jurang

Perjalanan melintasi Himalaya

Pengemudi Lereng Terjal Himalaya di Sepenggal Jalur Sutra

“Ibarat kendaraan yang dikendalikan oleh seorang pengemudi yang cakap, awas, dan sadar. Perjalanan hidup menjadi sesuatu yang menyenangkan. Perjalanaan hidup menjadi sebuah perayaan – piknik, wisata tamasya. Kendaraan badan dan indra pun melewati segala pengalaman tanpa terganggu oleh sesuatu. Saat itu, kita seolah memiliki kendaraan yang dilengkapi dengan pengatur cuaca; sehingga, sepanans atau sedingin apa pun cuaca di luar, kita tidak terpengaruh olehnya.

“Pengatur cuaca yang dimaksud  ialah Pengetahuan Sejati tentang Paramatma, Brahman, atau Sang Jiwa Agung. Jiwa menyadari bila dirinya hanyalah percikan dari Sang Jiwa Agung. Ia tidak memiliki eksistensi di luar Sang Jiwa Agung. Kesadaran itu, Pengetahuan Sejati itulah pengatur cuaca yang dimaksud.” (Krishna, Anand. (2014).” Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

Pagi hari sehabis sarapan di house-boat, rombongan naik shikara menuju jalan besar. Di Jalan sudah berjajar 5 Innova berwarna abu-abu metalik semua. Pelat nomor yang tadinya JK01 untuk Srinagar sekarang JK10 untuk Ladakh yang beribukota di Leh. Semua kendaraan di India merupakan hasil kerjasama perusahaan Luar Negeri dengan perusahaan Dalam Negeri. Innova Shree-Toyota, Sedan Maruti-Suzuki, Truck Ashok-Leyland, Sepeda Motor Hero-Honda, Excavator Tata-Hitachi. Bapak Anand Krishna berada di mobil paling depan, istri kami di mobil kedua dan saya berada di mobil ketiga bersama Pak Yudanegara, Koh Wito dan Pak Harjadi. Para pengemudi mobil kali ini khusus didatangkan dari Leh Ladakh yang biasa perjalanan melintasi pegunungan Himalaya.

Kalau pengemudi mobil yang saya tumpangi di Srinagar bernama Moh. Ayub dengan rambut ikal dan seorang muslim yang taat, kali ini pengemudi mobil yang saya tumpangi minta dipanggil dengan nama Gilson. Saya tahu namanya sulit dieja yaitu Gwyltsan, beragama Buddha dan di mobilnya ada foto Rinpoche Ladakh. Gilson yang bisa berbahasa Inggris tersebut selalu memulai perjalanan dengan membaca mantra. Mantaphs!

1 sonmarg bersama pengemudi di Kashmir

Foto bersama dengan pengemudi di Kashmir

Jalan di tepi lereng terjal Himalaya benar-benar berbahaya. Ada kisah-kisah tentang kendaraan yang jatuh ke jurang yang sangat dalam yang tidak mungkin dievakuasi, sehingga hanya bisa didoakan saja. Dalam kondisi yang membutuhkan kewaspadaan purna-waktu-perjalanan dan nyawa adalah taruhannya, maka pengemudi dan penumpang selalu mengingat Tuhan, Gusti pangeran Hyang Maha Kuasa.

Truck-truck yang lewat hampir semua bernada spiritual, bertuliskan Ya Allah, Om Nama Shiva, tidak ada yang slengekan atau bergambarkan perempuan setengah telanjang. Di belakang bak mereka tertulis please horn, kalau mau mendahului silahkan klakson. Para pengemudi truck saat sadar bahwa mobil di belakangnya akan mendahului, mereka selalu mencari badan jalan yang agak lebar menepi ke kiri yang dekat tebing jurang, dan memberikan jalan bagi mereka yang mau menyiap lewat lajur kanan yang lebih aman. Apabila mobil kita akan berpapasan dengan truck, maka truck tersebut juga akan berhenti di badan jalan yang agak lebar dan memberi kesempatan kita berpapasan dengan aman. Bahkan truck tentara pun berhenti di tempat badan jalan yang lebar memberi jalan bagi mobil yang berpapasan atau mendahuluinya.

Saya ingat teori bahwa di tempat yang tinggi, oksigen lebih tipis, pembicaraan kita otomatis berkurang, dan kondisi otak lebih tenang. Akan tetapi walau penumpang mobil tidak banyak bicara, bukan karena oksigen yang tipis, melainkan para penumpang sering menahan napas saat lewat jalur yang berbahaya. Beberapa kali rombongan melewati memorial, tanda ada kendaraan atau truck yang jatuh ke jurang. Memang jalan sangat licin karena banyaknya salju yang mencair kena sengatan sang surya.

 

Pengemudi Lereng Terjal di Jalan Kehidupan

Saya ingat selalu pesan Bapak Anand Krishna: “Hidup ini seperti mengendarai mobil. Kalian bisa sangat waspada selama berjam-jam, tetapi satu detik ketidakwaspadaan, kengantukan, dapat membuat kendaraan lepas kendali dan kecelakaan tak bisa dihindari! Satu detik ketidakwaspadaan dapat menaklukkan kesadaran berjam-jam, berhari-hari, bertahun-tahun, bahkan beberapa masa kehidupan. Inilah efek dari Kekuatan Ilusi dari Tuhan.” Berikut ini juga juga pesan beliau di buku seperti yang saya kutip berikut:

“Perjalanan spiritual adalah penuh tantangan, jangan tergesa-gesa dan berhati-hatilah selalu. Jalan ini memiliki banyak cabang menuju egosentrisme, yang dapat kau salah pahami sebagai spiritualitas. Latihan-latihan yang dilakukan pun bisa memberi kesan yang salah, seolah kita sudah atau sedang berkembang secara spiritual, padahal kita hanya mengembangkan ego kita saja.”  (Krishna, Anand. (2012). Sanyas Dharma Mastering the Art of Science of Discipleship Sebuah Panduan bagi Penggiat Dan Perkumpulan Spiritual. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Seperti perjalanan lewat sepenggal Jalur Sutra, demikian pula perjalanan kehidupan ini. Memakai mobil dan pengemudi handal pun terasa menegangkan apalagi perjalanan para suci, para santo pada zaman dahulu. Mereka berjalan dan naik kuda selama berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan jarang bertemu manusia dan hanya bertemu tebing, sungai, bukit, lembah, salju, matahari, awan dan angin. Maka mau tidak mau mereka akan berkawan dengan alam dan menyelaraskan diri dengan alam. Jalur Sutra membentang dari China ke Laut Tengah dan Timur Tengah dan cabangnya dari Yarkand ke Leh dan Kashmir. Konvoi lima buah kendaraan dari rombongan ibarat beberapa ekor semut kecil yang mengarungi pegunungan luas. Mengapa masih juga banyak manusia yang angkuh, padahal mereka terlalu kecil dibanding bumi. Bumi pun ibarat debu dibanding luasnya alam semesta yang mempunyai jutaan matahari.

1 sonmarg berfoto di depan hotel

1 sonmarg foto berdua di depan hotel

Berfoto di depan hotel

Tepi Sungai Sindhu

“Di Sindh, juga ada cerita tentang Nabi Khidir. Sindh merupakan satu provinsi di seluruh anak benua, dimana Islam dan Hindu dapat bersatu secara luar biasa melebihi tempat-tempat lain di India. Ada banyak orang Hindu yang menjadi murid dari seorang Rahib Muslim atau Fakir Sufi, dan sebaliknya.

“Faktanya, para Rahib Sufi dihormati oleh para pemeluk dari kedua agama tersebut. Namun demikian menariknya, masing-masing dari kepercayaantersebut bisa menggunakan nama yang berbeda untuk orang suci yang sama. Contohnya, Nabi Khidir bagi Muslim disebut Jind Pir, Yang Maha Hidup, oleh orang-orang Hindu. Dalam bahasa Urdu, Jind Pir adalah Zindah Pir, yang memiliki makna sama.

“Jind Pir dimuliakan oleh orang-orang Hindhu Sindh sebagai Sang Penyelamat, yang pernah muncul dalam balutan darah dan daging, sebagai Uderoral atau Jhulelal dan menyelamatkan mereka dari kekejaman penguasa setempat yang kebetulan beragama Islam. Maka, seorang Santo (insan suci—pent) dianggap telah melampaui perbedaan agama—tidak berfihak pada satu agama tertentu tapi berfihak pada kebenaran dan keadilan.

“Tempat-tempat ibadah yang dipersembahkan bagi Nabi Khidir dan Uderoral—terdapat di banyak tempat di tepian Sungai Sindhu Yang Agung. Faktanya, tempat ibadah yang utama terletak di sebuah pulau di Sindhu dekat Bakhar, terkadang dibaca Bakkar. Di tempat tersebut, Muslim dan Hindu sama-sama memujanya dengan menggunakan cahaya dan dengan memberi makan orang-orang miskin.

“Mereka juga mempunyai tradisi yang indah, yaitu mengapungkan sebuah perahu kecil yang membawa lampu yang dinyalakan di kolam atau sungai. Dalam perlambangannya, Nabi Khidir atau Uderoral biasanya ditampilkan sebagai orang tua dengan ciri seorang Sufi Fakir—Seorang Pengelana tanpa kepemilikan, namun memiliki seluruh semesta—berpakaian hijau-hijau dan berjalan di atas air dengan menaiki seekor ikan.”  Terjemahan bebas dari buku (Krishna, Anand. (2008).Christ of Kasmiris. Anand Krishna Global Cooperation)

Akhirnya rombongan sampai di Sonmarg. Sambil menunggu persiapan kamar, beberapa teman naik kuda ke Gunung. Banyak kuda pony yang dipersiapkan untuk keperluan pariwisata. Beberapa teman lainnya melihat-lihat ke belakang hotel, di mana ada hamparan lepas dan 200 m di belakang halaman hotel mengalir Sungai Sindh. Hotel di Sonmarg memang baru tetapi peralatannya sederhana, kuncinya hanya berupa gembok dan gerendel. Roomboy-nya ramah dan berbeda dengan di New Delhi yang setelah mengantar koper sengaja berdiri beberapa lama menunggu tip, di Sonmarg mereka tidak mengharapkan sesuatu, walaupun tamu hotel tetap tahu diri.

Sonmarg berjarak 87 km dari Srinagar, merupakan tujuan wisata yang populer terletak di ketinggian 2.800 m di atas permukaan air laut. Sungai Sind merupakan anak sungai terbesar Sungai Jhelum yang melewati Kashmir menuju Pakistan. Sonmarg merupakan “Pass”, “Puncak” (titik tertinggi jalan sebelum menurun lagi) di  jalur sutra ke India selalin Fotula Pass dan Zojila Pass. Dari zaman dahulu sampai kini tempat-tempat tersebut merupakan daerah strategis militer India.

1 sonmarg Tentara India menjaga perbatasan dg Pakistan

Foto militer India menjaga perbatasan dengan Pakistan

Satsang di alam terbuka di tepi Sungai Sindh

Sore hari Bapak Anand Krishna mengumpulkan teman-teman di belakang hotel. Ma Archana diminta menyanyi. Bapak Anand Krishna bercerita tentang Sungai Sindh, dimana para penyair mengungkapkan bahwa Sungai Sindh itu kadang nampak kemudian hilang masuk ke dalam tanah dan muncul lagi di Pakistan dan menghilang lagi sebelum bertemu di laut. Menurut legenda Nabi Khidir sering muncul dari sungai Sindh.

1 sonmarg satsang di tepi sungai Sindhu

Foto Satsang di tepi Sungai Sindhu

Burung-burung gagak beterbangan dan sebagian hinggap di pagar kawat berduri. Sedikit air masih mengalir di Sungai Sindh dan bergemericik melewati bebatuan. Bapak Anand Krishna mengingatkan perlunya tulisan yang ngepop. Penulis harus tahu lagu pop. Penulis yang hanya senang lagu nostalgia, maka para pembacanya hanya mereka yang sezaman dengan lagu tersebut. Bahan dasar yang disajikan bisa jadi sama dengan yang dulu, akan tetapi perlu penyajian dengan bahasa gaul untuk menarik minat masyarakat umum.

Saya ingat Gusti Mangkunegara IV dan Raden Ngabei Ronggowarsito dan para pujangga zaman dulu memberi pesan lewat tembang ‘mocopat’. Pada zaman dahulu tembang tersebut adalah lagu pop. Saya ingat kakek saya yang mantri guru dan pecinta Ronggowarsito, selalu menyanyikan pesan pujangga dengan melagukan tembang mocopat.

Pada saat satsang saya bertanya apakah para pujangga zaman dahulu juga membaca/mendengar Bhagavad Gita? Bapak Anand Krishna menjawab pasti.

6 tahun setelah perjalanan ke Kashmir dan bertanya tentang Bhagavad Gita, saya baru tahu bahwa para pemimpin Budi Utomo yang berdiri di tahun 1908 juga memahami Bhagavad Gita. Saya pernah membaca artikel “Bhagawad Gita” yang dikutip dari buku “Susunan Karangan Dr. Radjiman Wedyadiningrat pada Peringatan 17 Agustus 1952”, Percetakan Kanisius – Jogjakarta 4994/52. Mereka juga berbagi Gita, hanya kepada orang-orang tertentu, terutama di Teosofi. Kita perlu berhati-hati dalam berbagi.

Berikut kutipan penjelasan Gita:

“Seseorang sudah memiliki tentang ‘ nilai-nilai spiritual sesuai dengan kepercayaan’-nya – kemudian ia ingin mencocok-cocokan ajaran Krsna dengan nilai-nilai tersebut. Belum tentu cocok! Berbagi Gita, atau ajaran suci mana pun dengan orang yang sudah punya persepsi, sudah tertutup bagi pandangan-pandangan lain adalah percuma. Kita akan membuang waktu saja.

“Persis seperti yang dikatakaan oleh Isa; ‘Jangan memberi mutiara kawanan babi’. Mereka tidak mengerti nilainya. Malah jika mutiara itu ditelannya, maka akan keselek. Dan, bisa jadi mereka menyerang balik, karena Anda dianggap ‘kurang ajar, memberi makanan kok sekeras itu, sampai aku keselek.’

“Barangkali kita menggunakan dalil, ‘Tapi bukankah, justru mereka yang paling butuh ajaran-ajaran spiritual? Jika tidak boleh berbagi dengan mereka, apa jadinya dengan mereka?’ ‘Don’t play God!’ Kita siapa? Adakah kita diberi tugas untuk menyelamatkan semua orang? Tidak. Tidak perlu ge-er. Berbagilah dengan mereka yang butuh. Banyak kok. Kita bisa menghabiskan seluruh usia kita untuk berbagi dengan segelintir dari mereka yang butuh. Melayani segelintir saja kita sudah kewalahan.

“Biarlah mereka yang masih sepenuhnya berada dalam kesadaran jasmani – mengembangkan mental, emosional, dan intelegensia dulu. Setelah itu baru Gita! Step by step. Tidak perlu terburu-buru.

“Having said that, saya perlu meningatkan – ‘kita semua, tanpa kecuali’, yang lahir di ‘wilayah peradaban’ yang menjunjung tinggi nilai-nilai luhur sebagaimana dikemukakan dalam Gita – sesungguhnya lahir dengan Aplikasi-Gita pre-installed. Sungguh sangat naif, sangat bodoh jika kita tidak memanfaatkan aplikasi yang sangat berguna dan ‘dahsyat’ ini.” (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

1 sungai sindhu mengalir ke Pakistan

 

1 sonmarg sungai sindhu

Foto di tepi sungai Sindhu

Sepenggal Jalur Sutra di Himalaya Bag 7 Satsang di atas Danau Dal Kashmir

1 satsang teman-teman di atas dermaga

Di atas dermaga house-boat

Selera terhadap makanan tertentu, keterikatan yang sulit ditaklukkan

Bhagavad Gita 7:27: “Bharata (Arjuna, keturunan Raja Bharat), ilusi dualitas – suka-duka, senang-susah, dan sebagainya, yang timbul dari kesukaan dan ketidaksukaan (pada objek-objek dan pengalaman-pengalaman duniawi), sungguh membingungkan semua makhluk di alam benda ini.”

“Kita menginginkan apa yang menarik bagi indra; dan tidak menginginkan atau malah membenci apa yang tidak menarik bagi indra. Inilah yang menyebabkan ilusi dan membingungkan kita semua.

“Kita, atau, lebih tepatnya indra pengecapan kita sudah terbiasa dengan masakan tertentu – Rawon Surabaya – bepergian ke Inggris pun kita mencari Rawon Surabaya di London. Sekalipun kita menemukan Restoran Indonesia yang menawarkan rawon itu – janganlah berharap kita akan puas dengan cara masak dan pe-bumbu-an yang sudah disesuaikan dengan orang barat, atau orang Indonesia yang sudah lama tinggal di barat.

“Indra pengecapan – mulut, lidah – tidak merasakan kelezatan yang sama seperti yang dirasakannya di Surabaya, dan mengeluh, “Rawon apaan ini?” demikian , kita “menyebabkan” kekecewaan bagi diri sendiri.

“Siapa suruh cari rawon di London? Jiwa telah mengantar badan dan indra ke London, supaya ia melewati, mengalami sesuatu yang baru. Jika memang tetap mau ber-rawon-ria, maka Jiwa tidak akan ‘menyebabkan’perlawatan ke London!

“Ini penting untuk dipahami! Setiap pengalaman baru terjadi atas kehendak Jiwa. Ia ingin mencoba sesuatu yang baru. Saat itu jika badan dan indra tidak selaras dengan kehendaknya, maka terjadilah konflik. Kita merasa susah, gelisah, kecewa. Awalnya, memang sulit menyelaraskan badan dan indra, perasaan dan pikiran, dengan kehendak Jiwa. Tidak semudah penjelasan yang tertulis ini. Namun, tidak ada jalan lain.

“Ya, tidak ada jalan lain untuk keluar dari penderitaan, dari kebingungan ini – kecuali dengan cara menyelaraskan hidup dengan kehendak Jiwa. Lagi-lagi, untuk itu – tiada jalan lain kecuali meniti jalan ke dalam diri. kemudian menembus lapisan-lapisan fisik, indra, pikiran dan perasaan – dan memasuki wilayah Jiwa.

“Dari matter ke non-matter, atau lebih tepatnya dari alam benda ke alam jiwa. Yakinlah, ketahuilah, ingatlah selalu bahwa intidari alam benda adalah Jiwa. Jika kita tidak puas dengan keadaan kita saat ini – maka untuk mengubah keadaan pun tidak aada jalan lain kecuali dengan cara mengubahnya d panel-kontrol Jiwa.”  (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

Sangat sulit membebaskan diri dari keterikatan terhadap selera lidah. Keterikatan yang cukup  berat, itulah sebabnya konon sebelum meninggal banyak orang yang meminta masakan tertentu. Organ pengecap di lidah mungkin hanya merupakan sebuah ilusi, karena hidup pun hanya ilusi, maya. Akan tetapi pengaruhnya dapat menghidupkan perekonomian. Semua Rumah Makan baik tingkat Warteg sampai yang berkelas Internasional, keberlangsungan kehidupannya tergantung dari organ lidah manusia.

Pada waktu itu Pak Marhento berkata bahwa seandainya semua orang bisa melepaskan keterikatan terhadap selera yang tertanam di bawah sadar, semua warung akan tutup dan perekonomian akan melambat. Ada benarnya, bila orang tidak mempunyai keterikatan terhadap rasa dan selera lidah, maka Rumah-Rumah Makan Mbok Berek, Suharti, Ponyo, Gumati, KFC, Pizza dan lain-lain akan gulung tikar. Selanjutnya, iklan Biskuit Roma, Coklat, Susu berbagai merek akan berantakan semua. Problemnya adalah kita terus mengikuti kemauan indra atau kemauan Jiwa?

Pada waktu ikut perjalanan Napak Tilas Buddha di akhir tahun 2006, makan masakan India sangat sulit bagi saya. Istri memang lebih mudah menyesuaikan. Piring besar masakan Thali di depan mata hanya yogurt yang 100% habis. Akan tetapi pada tahun 2008 di atas danau Dal, dalam house-boat makanan yang disiapkan Moh Asyik, tukang masaknya sesuai selera. Apakah karena masakan yang British style, atau sudah ada perubahan dalam diri, kenyataannya memang berbeda.

Saat menulis ulang pengalaman perjalanan ini, mungkin sudah ada perubahan lagi. Saya dan istri sudah makan vegetarian. Dalam perjalanan ke luar kota, menu utamanya, tahu, tempe dan sayur. Kami sudah mulai menyadari apakah cara makan kami, kepuasan makan, kami peroleh dengan menyakiti makhluk lain? Walaupun demikian, pikiran kami belum 100 % lembut. Disebutkan bahwa perubahan sel-sel otak memerlukan waktu 7 bahkan 14 tahun. Itulah sebabnya Hitler yang vegetarian pun masih ganas, kala potensi kekejaman dalam dirinya terpicu lagi.

1 satsang shikara

Naik Shikara

Satsang di atas danau Dal

“Terpengaruh oleh budaya asing yang selalu memisahkan materi dan spiritual, seolah keduanya adalah dua entitas yang berbeda, maka kita pun menciptakan kaidah-kaidah tentang apa dan siapa saja yang boleh disembah. Padahal di dalam budaya kita ada tradisi sungkem kepada orangtua, dan siapa saja yang kita pertuakan.

“Leluhur kita juga menghormati segala sesuatu di dalam alam ini, pepohonan bebatuan, bukit, gunung, kali, sungai, laut, semuanya. Maka tidaklah heran bila kita juga bersungkem pada seorang guru spiritual yang tidak hanya kita hormati, tapi kita anggap sebagai berkah dari Hyang Widhi, dari Hyang menentukan Segalanya.

“Berada dalam lingkup seorang guru spiritual disebut Satsang, pergaulan yang baik, tepat dan benar. Satsang juga berarti pergaulan dengan mereka yang menunjang peningkatan kesadaran.

“Sebaliknya, kusang adalah pergaulang yang tidak baik, tidak tepat, tidak benar, dan tidak menunjang kesadaran manusia. Seorang panembah akan selalu menghindari kusang, Ia akan selalu mencari Satsang.”  (Das, Sai. (2010). Shri Sai Satcharita. Anand Krishna Global Co-Operation Indonesia)

Kami rombongan enam orang tinggal di house-boat “Firdaus” yang terpisah dua unit house-boat dari tiga house-boat yang lain. Tiga house-boat yang lain terhubungkan dengan satu dermaga. Bagi rombongan kami, walau terpisah hanya dua house-boat untuk berkumpul dengan Bapak Anand Krishna dan teman-teman yang lain, kami harus naik shikara, perahu dayung khas Danau Dal. Membayar shikara untuk jarak dekat hanya sekitar Rp. 20.000, tetapi pada waktu malam hari menunggu shikara yang lewat perlu waktu puluhan menit.

 

Pada hari kedua tinggal di house-boat, kami diberi tahu bahwa semalam ada satsang dan bahkan dijemput dengan shikara dan dikatakan kami berenam sudah tidur kecapaian. Baru terpisah dua  house-boat saja, kami sudah melalaikan adanya Bapak Anand Krishna, apalagi kalau jaraknya jauh dan lama tidak ke Ashram. Kontak dengan dunia, bagi kami memang memerosotkan kesadaran, sehingga kami perlu datang rutin ke Ashram, ke satsang, penting bagi kami untuk mempertahankan kesadaran.

Oleh karena itu pada malam kedua, kami semua makan malam dengan cepat dan segera naik shikara berkumpul dengan teman-teman lainnya. Memang kami berenam harus menunggu, karena teman-teman lain sedang makan malam dan kami berkesempatan menyaksikan pemandangan malam hari yang indah di Danau Dal.

Bapak Anand Krishna minta kami semua sharing. Saya pada waktu itu bertanya, di India kita mudah berkomunikasi karena banyak orang bisa berbahasa Inggris. Mungkin lain di Jepang atau di China. Dikisahkan  Bodhidharma lama menghadap tembok, untuk mempelajari bahasa China. Menyampaikan pesan spiritual lewat penterjemah sangat riskan. Bukan hanya masalah penguasaan bahasa, akan tetapi tingkat kesadaran penerjemah akan sangat berpengaruh. Boleh jadi sang penerjemah menguasai bahasa asing, akan tetapi bila kesadarannya masih tingkat fisik, maka terjemahannya bernuansa fisik pula. Kita sangat bersyukur, buku-buku dan penjelasan Bapak Anand Krishna dalam bahasa Indonesia sehingga kami lebih mudah memahami. Walaupun hal tersebut tidak mengurangi keharusan kita untuk menguasai bahasa internasional, bahasa Inggris.

Bapak Anand Krishna menanggapi bahwa Bahasa itu memang penting, beliau menyitir ucapan Baba, seorang pilot itu harus menurunkan posisi dirinya mencapai penumpang untuk mengangkatnya menuju tujuan.

Mas Zembry, sharing tentang kita datang untuk merasakan dan mengalami. Bapak Anand Krishna menanggapi  memang demikianlah sebenarnya. Belajar bisa dari internet, tetapi proses pengalaman harus dialami secara pribadi. Bapak Anand Krishna menjelaskan tentang Rozabal, tentang jalan yang bernama Isamarg, tentang perkampungan yang disebut Isabagh di Kashmir yang erat kaitannya dengan Isa.

Ma Archana membacakan tulisan Kata Pengantar oleh Prof. Fida Hassnain yang membuat rombongan berbahagia. Menurut Guruji, Prof. Fida Hassnain menulis terlampau tinggi dan bisa terjadi pemaknaan atau persepsi yang menyulut kontroversi di Indonesia.

Bapak Anand Krishna menyampaikan bahwa Energi Kashmir memang luar biasa. Banyak tempat-tempat Ziarah Orang-Orang Suci. Mengalami energi ini penting bagi para komandan. Dalam pikiran saya, semua orang memang komandan, komandan di kantornya, baik setingkat komandan batalion, ataupun setara komandan regu. Di rumah pun setiap orang adalah komandan rumah tangga. Dan setiap komandan memerlukan energi untuk mengelola pengikutnya.

Tentang pengalaman di Kashmir, dalam Catatan Perjalanan yang kami tulis pada tahun 2015 ini, ada salah satu komentar teman seperjalanan saya Pak Dokter Sudi Martana, “Sebagaimana raga dan mind seseorang yang seumur hidupnya ‘berfoya-foya’ dengan seks, daging, alkohol, rokok, dan lain-lain; dapat dirasakan dengan mudah oleh ‘siapapun’. Maka seseorang yang puluhan tahun berada dalam kemurnian, Bliss, Aanand, Raga & Mind nya pun dapat dirasakan kemurnian Aanand nya. Relik ‘sangat berharga’, apalagi bagi yang belum bisa berdekatan langsung dengan Ia yang dalam state kemurnian yang sama yang ‘masih hidup’. Kemampuan kita untuk menyerap ‘bau’ dari Relik atau bahkan raga & mind seorang murni yang ‘masih hidup’ sangat mirip pohon. Jika diri kita sudah memiliki lingkar pohon yang ‘tua’, maka daya serap juga tinggi.” Belakangan saya diberitahu Pak Sudi Martana bahwa itu adalah statement Bapak Anand Krishna.

Mengenai Semar, beliau menyinggung sedikit tentang Sapta Rshi. Menurut kepercayaan Hindu, masing-masing “Kota” mempunyai Pelindung, dan Semar adalah Pelindung di Indonesia.

Dari internet kita peroleh informasi bahwa di bawah The Highest Creative Intelegent terdapat Sapta Rshi yang pekerjaan mereka memberikan bantuan kepada Jiwa-Jiwa agar dapat kembali ke sumbernya. Disebutkan bahwa seorang Sapta Rshi mempunyai pekerja 144.000 Rishi. Ketujuh Rshi ini berbeda-beda karena perolehan sumbernya berbeda dan sebagian Rishi telah diganti karena yang bersangkutan telah melanjutkan perjalanannya.

Dalam salah satu celetukan, saya mendengar bahwa Pak Tri akan menerjemahkan Christ of Kasmiris. Saya terhenyak, saya bisa berbahasa Inggris walau jauh dari “fluently”. Akan tetapi menerjemahkan buku spiritual itu bukan hanya segi bahasa tetapi juga bagaimana menghayati nuansa buku tersebut. Apalagi terjemahan saya amburadul. Walau pernah belajar di Canada, akan tetapi bagi seorang engineer yang penting adalah perhitungan, bahasa kurang-kurang sedikit bisa dimaafkan. Kalau keakuratan perhitungan tidak bisa dimaafkan.

Dengan minta bantuan teman saya bisa menerjemahkan, akan tetapi saat mendalami buku, saya juga sadar bahwa buku Christ of Kasmiri memang pada saat ini lebih baik dibaca oleh orang-orang Indonesia yang bisa berbahasa Inggris. Kalau diterjemahkan kemudian dengan persepsi yang keliru bisa saja menjadi kontroversial.

Terus “mengapa Pak Tri”, apa hubungannya dengan terjemahan Christ of Kasmiris? Setelah 7 tahun berlalu, saat menulis Catatan Perjalanan Ruhani “Sepenggal Jalan Sutra di Kashmir”, saya baru ‘ngeh’ bahwa catatan  saya sedikit banyak memakai terjemahan buku Christ of Kasmiris. Tujuh tahun sebelumnya saya sudah diberitahu, dan kini menjadi kenyataan. Dan dalam hal-hal seperti itu terus terang saya dan istri sering mengalaminya. Kisah-kisah ‘keajaiban’ seperti dalam buku Sri Sai Satcharita memang dpat dimengerti.

Saya memang penah menulis tentang perjalanan ke Kashmir tahun 2008, akan tetapi tulisan tersebut belum ada nuansa bhakti, dan juga belum ada kutipan Chris of Kasmiris dan The Fifth Gospel dari Prof. Fida Hassnain. Saat ini, untuk memberi nuansa Bhakti, saya selalu mengambil kutipan (quotation) dari buku-buku Bapak Anand Krishna. Sambil mengutip sambil belajar menghayati kutipan tersebut. Saya memang berharap bahwa kutipan-kutipan tersebut dapat menjadi semacam benih-benih kesadaran yang ditanam dalam diri saya. Semoga pada suatu saat dapat berkembang dan berbuah.

Mengenai pentingnya pengalaman di tempat-tempat suci, saat menulis catatan ini, tiba-tiba ada “test contact” dari Pak Sudi Martana. Setelah basa-basi saya bilang mau menulis komentar Pak Sudi dalam FB terhadap Catatan Perjalanan Ke Kashmir. Pak Sudi bilang bahwa itu bukan pikiran Pak Sudi, itu adalah penjelasan Bapak Anand Krishna. Tidak ada sesuatu yang bersifat kebetulan dan saya menerima pengetahuan yang tak pernah terpikirkan sebelumnya. Ziarah ke makam Budha, Relik Buddha atau para suci lainnya mempunyai pengaruh. “Sebagaimana raga dan mind seseorang yang seumur hidupnya ‘berfoya-foya’ dengan seks, daging, alkohol, rokok, dan lain-lain; dapat dirasakan dengan mudah oleh ‘siapapun’. Maka seseorang yang puluhan tahun berada dalam kemurnian, Bliss, Aanand, Raga & Mind nya pun dapat di rasakan kemurnian Aanand nya. Relik ‘sangat berharga’, apalagi bagi yang belum bisa berdekatan langsung dengan Ia yang dalam state kemurnian yang sama yang ‘masih hidup’. Kemampuan kita untuk menyerap ‘bau’ dari Relik atau bahkan raga & mind seorang murni yang ‘masih hidup’ sangat mirip pohon. Jika diri kita sudah memiliki lingkar pohon yang ‘tua’, maka daya serap juga tinggi.”

 

Bapak Anand Krishna tentang Krishnamurti dan Osho

Krishnamurti dan Osho adalah tokoh-tokoh spiritual yang handal, malang melintang dalam dunia spiritual. Nama putera Bunda Bumi ini sangat harum semerbak, pengikutnya menyebar ke seluruh planet ini, dan tulisan-tulisannya banyak digunakan sebagai rujukan. Enam atau tujuh bulan sebelum meninggalkan dunia, mereka terserang depresi. Ternyata pengetahuan, usaha keras nampaknya sulit juga mengubah dunia. Kesadaran manusia cenderung menurun. Krishnamurti meninggal karena penyakit Kanker. Osho di akhir hayatnya mengubah-ubah panggilan. Pertama agar dipanggil Rajnees saja kemudian Osho Rajnees, dan terakhir Osho saja.

Laughing Meditation oleh sebagian orang dijelaskan dengan berbagai teori. Padahal setelah kita berupaya sekuat tenaga dan hasilnya belum memuaskan, sudah hopeless, maka yang kita punyai tinggal tertawa. Dan tertawa itu membuat kita tetap sehat.

Mengapa depresi dapat menyerang mereka yang sudah berkesadaran tinggi, Bapak Anand Krishna menambahkan bahwa itu hanya sebagai alasan untuk meninggalkan dunia. Seseorang yang meninggal dengan kecewa akan lahir lagi, dan Master yang akan lahir lagi merupakan berkah bagi dunia.

Dalam hati kami semua terbersit kekhawatiran, Bapak Anand Krishna sudah all-out, ratusan judul buku , ratusan artikel dalam bahasa Inggris dan bahasa Indonesia, ribuan satsang, vihar, jalan kemana-mana. Kita semua perlu all-out agar Bapak Anand Krishna berbahagia. Semoga Bunda Bumi melancarkan pekerjaannya. Semoga Bunda Alam Semesta mengawal tugas pilihannya. Menyelesaikan Karma Bhoomi-nya. .

Pak Marhento menanyakan tentang kita di dunia ini untuk menyelesaikan karma kita. Kemudia kita mendengar tentang quantum-leap yang dalam sekejap langsung meningkatkan kesadaran kita. Apakah karma dapat dilampaui? Bapak Anand Krishna menjelaskan bahwa kita harus menyelesaikan karma kita. Dan penyelesaian karma di dunia ini memakan waktu l;ama. Akan tetapi penyelesaian karma di alam lain waktunya bisa saja sangat singkat. Mungkin saja lewat mimpi pun dapat menyelesaikan karma kita dengan cepat.

Kita merasa bahwa kita ini belum tahu apa-apa. Seandainya kita berangkat sendiri ke Kashmir, kita sudah balik-kucing, melihat banyaknya militer di Airport Srinagar dengan senjata siap tembak. Kita pun tidak tahu tempat mana yang penting untuk didatangi. Tanpa penjelasan Bapak Anand Krishna, kita buta.

1 gulmarg gondola

Gondola di Gulmarg

1 gulmarg berdua

Gulmarg di atas bukit

Perjalanan ke Gulmarg

Gulmarg berjarak 52 km dari Srinagar. Taman tersebut berada di ketinggian 2690 m dan pada bulan Mei sebagian masih tertutup salju, temperatur antara 10 sampai 25 derajat Celcius. Sedangkan pada Bulan Januari temperatur berkisar antara -4 sampai 5 derajat Celcius.

Tempat tersebut aslinya bernama Gaurimarg, tempat Dewi Parvati, istri Mahadeva. Gauri adalah nama lain Parvati dan Marg adalah padang rumput. Sebuah temple yang didedikasikan kepada Mahadeva masih ada di tempat tersebut. Nama asli Gaurimarg diubah menjadi Gulmarg oleh Raja Muslim Yousuf Shah Chak. Gulmarg, telah menjadi resor untuk raja-raja seperti Yousuf Shah Chak dan Jahangir. Gulmarg sendiri berarti tempat mawar.

Di Gulmarg beberapa teman naik Gondola menikmati pemandangan yang indah.

 

Meninggalkan Srinagar

Pada pagi hari rombongan berangkat meninggalkan Srinagar untuk memasuki sepenggal Jalur Sutra, jalur yang berada di lereng Pengunungan Himalaya. Keluar kota Srinagar, rombongan mobil harus melambatkan mobilnya, karena di depan kita terdapat beberapa penggembala sedang menggiring ratusan domba di tengah jalan.

1 hazrat bal menunggu domba menepi

Menunggu domba-domba menepi

Saat menulis catatan ini, saya tersenyum, rombongan kita waktu itu juga seperti rombongan domba-domba yang sedang digembala oleh Sang Penggembala. Saya kemudian teringat Materi Bapak Anand Krishna dalam Neo Interfaith Studies pada program online One Earth College of Higher Learning (http://www.oneearthcollege.com/id/)

“Dalam Mazmur 23, Nabi Daud bernyanyi, ‘Tuhan adalah gembalaku…’ Kita sudah sering mendengar bahkan menyanyikan lagu ini, tapi apakah kita memahami implikasi dari lagu ini? Menyatakan Tuhan sebagai gembala berarti menyatakan diri sebagai domba. Berarti menerimaNya sebagai penuntun tunggal. Tidak mencari tuntunan lain diluarnya. Tidak menyangsikan ketika Ia mengajak kita melewati lembah kekelaman, karena hanyalah Ia Hyang Mahamengetahui apa yang ada di balik lembah itu. Lagu ini adalah lagu seorang pengabdi, seorang yang telah berhamba pada Gusti Allah, seorang panembah, seorang bhakta. Lagu ini adalah lagu seorang yang telah menafikan egonya, dan jiwanya telah bersujud, hatinya telah berserah pada Gusti. Tidak mudah menyanyikan lagu ini, tapi selama kita belum menguasai irama dan lirik lagu ini, maka hidup pun menjadi sulit. Lagu yang tidak mudah dinyanyikan ini sesungguhnya memudahkan hidup. Ketika ego tertaklukan maka lagu ini tidak hanya mudah, malah menjadi satu-satunya madah agung, gita jiwa, nyanyian ilahi.”

“Ketika melewati lembah kekelaman memang pikiran-rendah yang selalu ragu, bimbang dan menyangsikan muncul lagi. Ia hendak mengacaukan kita. Tapi, seorang panembah tidak pernah kacau. Tetaplah ia berjalan bersama Sang Gembala Agung, tanpa memikirkan tujuan. Karena ia jelas sejelas-jelasnya bila rumah Sang Gembala adalah rumahnya. Ia tidak ragu, tidak takut karena ia sadar sesadar-sadarnya bila Sang Gembala tidak pernah salah. Ia akan sampai di tujuan, dan bersamanya setiap domba akan ikut sampai di tujuan, ini adalah urusan keyakinan yang timbul dari rasa kasih yang terdalam. Dimana ada Gembala disana ada domba – inilah keyakinan yang membebaskan. Inilah panembahan yang mengantar kita pada kemerdekaan jiwa.”

1 hazrat bal domba dan pengawal para domba jl menuju Himalaaya

Domba dan Gembala

Sepenggal Jalur Sutra di Himalaya Bag 6 Relik Rambut Nabi SAW dan Takhta Sulaiman di Kashmir

Mei 2008

1 hazrat bal dipenuhi burung dara

Foto pagar Hazratbal

1 hazrat bal di depan gerbang

Foto di depan gerbang Hazratbal

Hazratbal tempat Relik Rambut Nabi Muhammad SAW

Berikut terjemahan bebas dari buku (Krishna, Anand. (2008).Christ of Kasmiris. Anand Krishna Global Cooperation)

“Diantara tempat-tempat yang kunjungi di Kashmir salah satunya adalah sebuah mesjid yang bernama Hazratbal. Ini bukanlah masjid biasa. Ini sebuah tempat suci yang di dalamnya terdapat sebuah barang peningggalan yang dipercayai penduduk Kashmir sebagai rambut Nabi Muhammad, Salam dan Solawat bagi-Nya.

Nama dari tempat suci itu berasal dari bahasa Persia Hazrat, yang makna harfiahnya ‘Kehadiran’. Kata ini selalu dikaitkan dengan seorang Insan Suci—seorang Insan Tuhan. Dan sama persis dengan ‘bal’ dalam kata Rozabal, kata dalam bahasa Kashmir ini berarti ‘tempat’. Jadi, Hazratbal adalah sebuah tempat dimana Kehadiran Sang Nabi dapat dirasakan.

“Moi-e-Muqqadas atau ‘Rambut Suci’ yang terletak di dalam rumah suci tersebut merupakan berkah tersendiri—tidak hanya Muslim di Kashmir, atau di India—tapi bagi semua orang Kashmir dan India.

“Menurut kepercayaan umum, barang peninggalan tersebut pertama kali dibawa ke India pada tahun 1635 oleh Syed Abdullah, yang diyakini sebagai keturunan Sang Nabi. Ia meninggalkan Medinah untuk menetap di Bijapur, dekat  dengan Hyderabad (India Selatan). Ketika ia meninggal, putranya, Syed Hamid, mewarisi barang peninggalan tersebut.

“Sayangnya, ketika Dinasti Mughal menguasai wilayah itu, Syed Hamid dilucuti hak-hak warisnya. Sehingga ia tak lagi dapat menjaga benda peninggalan tersebut, dan ia pun menjualnya pada seorang usahawan kaya dari Kashmir bernama Khwaja Nuruddin Ishbari.

“Itu bukanlah penjualan biasa. Hamid tidak menjual benda peninggalan tersebut kepada sembarang orang. Ia melakukan pelelangan untuk mendapat harga yang lebih baik. Pemilik, atau lebih tepatnya penjaga, yang baru dari benda peninggalan tersebut di pilih secara seksama oleh Hamid karena kesalehannya.

“Transaksi Suci tersebut berlangsung ketika India tengah bergejolak. Masa-masa kestabilan politis yang didasarkan pada toleransi agama telah dirusak oleh para fanatik. Orang-orang fanatik ini, yang disebut sebagai orang-orang puritan, sama sekali tidak menghargai benda-benda peninggalan bersejarah dan tempat-tempat suci. Pada masa itu mereka menyebut diri mereka sebagai pengikut Hambali, sekarang mereka dikenal sebagai pengikut mazhab Wahabbi.

“Benda peninggalan itu, Bilal sampaikan kepada kami, diperlihatkan kepada publik hanya pada acara-acara tertentu… Jadi kita tak bisa melihatnya saat itu… Hmm, itu tidak perlu… Orang bisa merasakan “Kehadiran” Sang Nabi tanpa harus melihat benda peninggalan tersebut. Apakah seorang Aungrazeb akan menghukum kami dengan tuduhan pelecehan agama, kemusyrikan atau kemurtadan? Mungkin tiga-tiganya sekaligus… Siapa yang peduli? Jika menjadi saksi terhadap Kehadiran Sang Nabi, Salam dan Selawat bagiNya, adalah sesuatu yang salah—lantas apa yang benar di dunia ini? Apa yang benar dalam hidup ini?

“Dinding Masjid yang dipahat dengan indah itu menjadi saksi atas Yang Satu, Yang Maha Indah adanya. Suasana yang penuh kedamaian tersebut merupakan perwujudan nyata dari Yang Satu, Yang Maha Damai adanya. Pengalaman kami tidak sama dengan pengalaman  saudara-saudara kami yang menjadi teroris pengebom Bali serta para pendukung mereka, banyak dari mereka, setahuku, punya kesempatan untuk mengunjungi Hazratbal.

“Mereka pernah di sini, di tempat suci ini—tapi tak terjadi apa-apa pada mereka. Hati mereka tetap tertutup. Jiwa mereka tetap kering. Dan mereka gagal merasakan Kehadiran Sang Nabi, Salam dan Selawat BagiNya, sebagaimana yang dapat kami rasakan. Kasihan sekali.”  Terjemahan bebas dari buku (Krishna, Anand. (2008).Christ of Kasmiris. Anand Krishna Global Cooperation)

Dari Masjid Shah-i-Hamdan rombongan menuju Masjid Hasratbal yang menyimpan relik rambut Nabi Muhammad. Rombongan sempat melihat ruangan di kiri mimbar yang tertutup jeruji besi. Relik Nabi tersebut hanya dikeluarkan setahun sekali pada salah satu acara keagamaan. Di masjid tersebut juga ada gambar silsilah dari keturunan nabi dan bekas kitab Al Qur’an dalam tulisan besar dalam lembaran sebesar koran yang nampak terbakar pada zaman dahulu. Di dalam masjid ada batas perempuan boleh masuk dan kami melihat dua ibu-ibu menangis sambil bersujud di depan pintu pembatas. Di halaman masjid ratusan burung dara berkumpul dan banyak wisatawan yang berfoto bersama mereka.

Penjelasan Bapak Anand Krishna yang saya kutib dari buku Christ of Kasmiri tersebut sudah sangat jelas.

1 hazrat bal bersama burung dara di pelataran masjid

Foto Burung-burung dara di pelataran Hazratbal

Memerlukan waktu lama agar burung dara tidak takut dengan manusia. Di Semarang, lebih dari 4 tahun setiap pagi saya selalu memberi makan burung-burung gereja di atas pagar tembok, tapi mereka tetap takut dengan saya. Demikian pula di Solo, sudah 3 tahun setiap pagi saya menebar beras di halaman belakang dan nampak burung-burung tersebut menunggu saya. Bila setelah beberapa hari keluar kota, dan pagi-pagi berada di halaman belakang, burung-burung gereja mencuit-cuit seakan-akan minta saya menebarkan segenggam beras. Tapi mereka masih takut bila didekati. Mereka bertengger di atas atas memperhatikan orang-orang yang di bawah.

Saya dan istri sudah mulai makan vegetarian, akan tetapi menurut penjelasan (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma), baru bahan bakar tubuh yang bersih dari kekejaman membunuh makhluk lain. Setelah berhenti makan daging – setelah menjadi vegetarian, kita mesti menunggu 7 tahun, waktu yang dibutuhkan untuk mengganti setiap sel di dalam tubuh. Namun demikian, sel otak kita tetap tidak mengalami perubahan. Sel otak yang mati tidak diganti dengan sel baru. Sebab itu, otak mesti dijaga ‘diisi’ dengan pikiran-pikiran yang menunjang kesadaraan. Nah, untuk semua itu dibutuhkan minmal 7 tahun. Dan, jika pengaruhnya masih besar, masih tersisa, maka masa 7 tahun kedua.  Itulah sebabnya Hitler yang vegetarian pun masih ganas. Anjing-anjing sudah tidak menggonggong kala saya dan istri lewat di jalan, mungkin mereka sudah merasakan bahwa yang lewat bukan pemakan hewan, akan tetapi burung yang lebih peka masih takut. Otak saya, pikiran saya belum lembut. Beberapa minggu terakhir saat menebarkan beras segenggam bagi burung, saya jadikan afirmasi: “Yang diberi makan wujud Tuhan, makananpun  wujud Tuhan, yang menggerakkan seseorang menebar beras pun Tuhan. Ida Na Mama, bukan Aku.”

Kesucian Tempat Ziarah di Kashmir

“Apakah yang ada di Rozabal itu benar-benar makam Jesus… Mungkin Yuzu Asaph bukan Yesus… Bagaimana dengan benda peninggalan di Hazratbal? Bagaimana kita bisa membuktikan bahwa itu benar-benar rambut dari Nabi Muhammad?

“Pertanyaan-pertanyaan seperti itu tidak relevan—setidaknya bagiku. Di dua tempat tersebut, Aku dan orang-orang yang menemaniku, semua dari kami benar-benar tersentuh olah Yang Suci. Sekarang, apa kesucian itu? Bagaimana kita menjelaskan makna kesucian? Apakah kesucian itu berjenis kelamin laki-laki atau perempuan? Apa sumber dari kesucian itu sendiri? Apakah kita bisa menjelaskan apa Kesucian itu? Kita mungkin bisa menjelaskan dan mendefinisikan kata ‘Baik’ atau ‘Buruk’—tapi Kesucian melampaui semua penjelasan dan definisi. Yang Suci melampaui semua kemungkinan. Yang suci adalah Sebuah pengalaman Yang Sangat, Sangat Murni dan Suci—atau justru Kemurnian Itu Sendiri. Sekarang jangan bertanya padaku apa Kemurnian itu… Aku bisa menjelaskan bersih itu seperti apa, dan tidak bersih itu apa. Tapi aku tak pernah bisa menjelaskan apa itu Kemurnian.

“Apa yang kami alami di Rozabal dan Hazratbal adalah Yang Termurni dari Semua Pengalaman. Kami tersentuh oleh Yang Suci. Kita merasakan KehadiranNya. Apakah itu Yuzu Asaph yang memicu pengalaman tersebut dalam diri kami, atau Yesus atau Isa atau Muhammad—hal itu tidaklah penting. Karena Sentuhan itu Nyata adanya… Dan jika ada Kenyataan dalam Dunia Yang Tidak Nyata ini; dan jika Kenyataan tersebut bisa dirasakan—maka kami telah merasakannya.

“Aku ingin terus menerus menulis tentang pengalaman-pengalamanku—Namun aku tak dapat melakukannya. Melampaui hal ini, pengalaman sudah tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata….”  (Krishna, Anand. (2008).Christ of Kasmiris. Anand Krishna Global Cooperation)

Shankaracharya Temple alias Takht i Sulaiman dan Nishat Bagh

Pada tahun 960 SM, Sulaiman menobatkan dirinya sendiri sebagai raja Israel. Pesawat ruang angkasanya mendarat di sebuah bukit kecil di Srinagar, Kashmir, yang sekarang dikenal sebagai Takht-i- Sulaiman, atau tahta Sulaiman. Kashmir disebut sebagai Bagh-i-Sulaiman atau Taman Sulaiman. Kalimat di atas merupakan terjemahan bebas dari kutipan dalam kronologi sejarah yang berkaitan dengan Yahudi dan Kashmir dalam buku (Fida Hassnain, Daham Levi. (2007). New Evidence from the Tibetan, Sanskrit, Arabic, Persian and Urdu Sources About the Historical Life of Jesus Christ After the Crucifixion. Blue Dolphin Publishing)

Kronologi yang rinci tersebut di mulai saat 3300 SM Bangsa Kanaan menguasai Tanah Suci. Dan 3500 SM Lahirnya budaya Sumeria. Kronologi yang terdiri dari 11 halaman tersebut juga memuat 1446 SM Musa kembali ke Mesir. 1440 SM Musa memulai perjalanannya menuju padang gurun bersama para pengikutnya untuk menyembah Yahweh. 1365 SM Para perompak Israel menguasai Palestina. 1230 SM Israel bergabung dengan bangsa Kanaan untuk melawan Mesir.

334 SM Aleksander menaklukkan Syria. 332 SM Aleksander menganeksasi Mesir. 331 SM Aleksander mengalahkan Persia.

Juga memuat semua kejadian-kejadian penting secara rinci dan kronologi diakhiri di tahun 1984 M Untuk pertama kalinya, Elizabeth Clare Prophet menyampaikan secara serempak kesaksian dari Nicolas Notovitch, Swami Ahbedananda, Nicolas Roerich dan Madam Elisaberth, dalam bukunya  yang berjudul ‘Tahun-tahun yang hilang dalam kehidupan Yesus’.

Takht i Sulaiman (Tahta Salomo) adalah sebuah kuil besar yang terletak di atas sebuah bukit di dekat Danau Dal di Srinagar, Kashmir. Nama tempat tersebut diganti menjadi Sankarachariya Temple oleh Maharaja Hindu pada tahun 1848.

Di tepi Danau Dal naik ke bukit setinggi 304 m berdiri Shankaracharya Temple yang juga terkenal dengan bukit Takht-i-Sulaiman. Peninggalan-peninggalan dari berbagai kebudayaan tersebut ramai dikunjungi Wisatawan dan para Penziarah. Tiba dijalan masuk penumpang harus keluar mobil dan setelah diperiksa baru boleh naik mobil lagi. Sampai di tempat parkir, banyak sekali polisi dan militer berjaga-jaga. Memotret dilarang dan camera dikumpulkan dijaga kami berdua dan beberapa teman yang tidak naik tangga. Bagaimana bisa naik tangga kalau asam urat sedang kambuh.

1 hazrat bal pintu masuk shankaracharya temple takht i Sulaiman

Foto tempat masuk Takht i Sulaiman?Shankaracharya Temple

Dari Shankaracharya temple perjalanan di lanjutkan ke Nishat Bagh. Taman yang indah, dengan air mancur yang keluar dengan tenaga alam. Taman itu diperuntukkan untuk permaisuri dan para putri raja. Beberapa teman berfoto dengan memakai baju tradisional Kashmir. Hari itu perjalanan selesai dan dilanjutkan pulang ke house-boat.

1 hazrat bal srinagar

Foto di Nishat Bagh

Sepenggal Jalur Sutra di Himalaya Bag. 5 Masjid-Masjid di Srinagar dan Akhir Hayat Musa AS di Kashmir

Mei 2008

1 hazrat bal arsitektur bangunan Kashmir

Foto Arsitektur Bangunan di sekitar Rozabal

Ziarah ke Masjid Jamia di Kashmir

“Kesadaran Musa dan Kesadaran Muhammad dan Kesadaran Yesus tidak berbeda. Tidak ada yang kelasnya lebih rendah atau lebih tinggi. Apabila bahasa mereka berbeda, apabila cara penyampaiaan mereka berbeda, hal itu disebabkan karena tingkat kesadaran para pendengar mereka.

Anda mungkin seorang doktor, seorang professor, tetapi sewaktu berdialog dengan seorang anak yang masih duduk di bangku SD, Anda harus menyederhanakan bahasa Anda. Cara Anda bicara dengan pembantu clan dengan presiden pun sangat berbeda.

Perbedaan yang terlihat antara Taurat, Injil dan Al-Quran, tidak akan terlihat lagi, apabila Anda menemukan esensinya. Selama Anda masih bergulat pada tingkat syariat, pada tingkat ‘peraturan’ agama, kulit agama, ya, Anda hanya melihat perbedaan saja. Tetapi begitu Anda memasuki esensi agama, begitu Anda menemukan nilai spiritual yang terkandung dalam agama itu, perbedaaan akan lenyap seketika.”  (Krishna, Anand. (1999). Telaga Pencerahan Di Tengah Gurun Kehidupan. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

1 Hazrat bal masjid tiang kayu pinus

Foto Masjid dengan Pilar Kayu Pinus

Dari Rozabal, rombongan ziarah ke Masjid Jamia, masjid dengan arsitektur kayu dengan 370 pilar yang terbuat dari batang pohon pinus utuh dengan bentuk bangunan cincin segi-empat dengan taman di tengahnya. Sangat jarang masjid berbentuk demikian, ada yang komentar seperti Hindu Temple di Nepal. Sebuah ide yang berani pada zaman dahulu membangun mesjid yang dari luar hanya kelihatan masjid dari bentuk gerbangnya saja. Masjid Jamia dibangun oleh Sultan Sikander pada tahun 1400 Masehi. Dari taman luas di tengah masjid kelihatan benteng peninggalan Kerajaan Srinagar megah di atas bukit yang disebut Benteng Hari Parbat.

1 Hazrat Bal di luar masjid kayu pinus nampak burung dan benteng Srinagar di puncak bukit

Di Taman dalam Masjid Jamia nampak benteng Hari Parbat di bawah burung yang sedang terbang

Dari Masjid Jamia, rombongan pergi ke Benteng hari Parbat Bekas Peninggalan Kerajaan di Srinagar. Beberapa teman naik melihat benteng dengan naik bukit. Benteng tersebut dibangun atas perintah Sultan Akbar, Kaisar Mughal, berdiri di atas sebuah bukit yang penting bagi umat Hindu (Hari Parbat). Umat Hindu percaya Bunda Parvati melempar batu kepada Asura Jalobhava yang bersembunyi di bawah danau. Batu tersebut membesar menjadi bukit Hari Parbat. Di dalam benteng tersebut terdapat lokasi kuil Maqdoom Sahib. Benteng tersebut pertama sekali dibangun oleh Kaisar Mughal Akbar di 1590. Benteng tersebut kemudian direhabilitasi dan dibangun baru pada tahun 1808 di bawah pemerintahan Shah Shuja Durrani.

1 hazrat bal lorong di Kashmir

Lorong-lorong di Kota Srinagar

Masjid Pertama di Kashmir

1 hazrat bal masjid pertama Kashmir, perhatikan burung dara

Foto Masjid Shah-i-Hamdan nampak burung-burung dara di pelataran

“Mandir terdiri dari dua kata. Kata pertama adalah ‘man’ – singkatan dari ‘manas’ atau pikiran, mind. Kata kedua adalah ‘dir’ – singkatan dari ‘dvar’ atau ‘pintu’ atau ‘menembus’. Jika makna ini dihayati, maka perannya menjadi jelas. Mandir, masjid, girja-garh dan tempat-tempat ibadah setiap agama bertujuan sama. Bagaimana membantu kita menembus pikiran – melampaui mind. Peran ini sudah terlupakan. Dan tempat-tempat ibadah pun kehilangan kegunaanya. Jika peran ini dikembalikan, tempat-tempat ibadah kita bisa menjadi sarana meditasi. Arca-arca di dalam mandir mengingatkan kita akan kehadiran-Nya di mana-mana. Jika Ia meliputi segala sesuatu, batu pun diliputi oleh-Nya. Air dan angin pun Ia liputi. Sungai, laut dan hutan pun berada di dalam-Nya. Kesadaran demikian bisa meningkatkan rasa tanggung jawab kita, kepedulian kita terhadap lingkungan, terhadap flora dan fauna.”  (Krishna, Anand. (2000). Shambala, Fajar Pencerahan di Lembah Kesadaran. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Selanjutnya, rombongan melihat masjid pertama di Kashmir Masjid Shah-i-Hamdan dengan arsitektur kayu yang indah terletak di samping kanan sungai Jhelum yang mengalir ke Pakistan. Pasukan Alexander Yang Agungdi pada abad ke 3 SM menolak menyeberangi Sungai Jhelum di daerah Sind, dan Alexander pulang ke Persia. Dibangun oleh Sultan Sikander pada tahun 1395 Masjid tersebut didedikasikan kepada Mir Sayyid Ali Hamdani, orang suci dari Hamdani, Persia. Mesjid terbakar pada tahun 1480 dan 1731 dan direkontruksi oleh Sultan Hasan Shah setelah kebakaran yang kedua. Rombongan berjalan ke belakang masjid dan beristirahat di bawah pohon chinar yang daunnya mirip Mapple leaf  yang kebetulan tersedia tempat duduk yang terbuat dari beton. Seorang anak kecil bersedia difoto bersama Bapak Anand Krishna dan Ibu Rani, dan teman-teman seperti anak kecil tersebut, minta difoto bersama Bapak Anand Krishna. Tempat duduk tersebut berada di tepi sungai Jhelum. Dan kelihatan ada bangunan di bawah, yang zaman dahulu mungkin dipakai sebagai tempat berwudhu.

1 hazrat bal di belakang masjid di tepi sungai Jhelum

Foto Anak Perempuan yang minta foto dengan Bapak Anand Krishna dan Ibu Rani

Rombongan melihat ada batu bata dengan simbol segi enam bintang Daud, seal dari nabi Sulaiman pada dinding masjid tersebut. Sedangkan pada dinding di dalam Masjid terlihat simbol bulan sabit dan bintang. Semoga batu bata tersebut masih lestari dan tidak perlu dibuang dan diganti batu bata dengan simbol lain. Manusia memang ingin selalu membuat dirinya atau diri kelompoknya menonjol sehingga bangunan yang ada pun kalau bisa simbol lama ditutup dengan simbol baru. Mungkin saja peninggalan dengan simbol Bintang Daud pun bisa jadi pernah menutupi simbol yang lebih lama lagi.  Saya menghormati Prof Fida Hassnain yang melihat dari adat tradisi masyarakat Kashmir yang ada, dan kita bisa menggali pengaruh budaya apa saja yang pernah ada di Kashmir.

Sebelum mengisahkan perjalanan ke Hazratbal tempat Relik Rambut Nabi Muhammad SAW, izinkan saya mengutip penjelasan Prof. Fida Hassnain tentang Nabi Musa AS di Kashmir. Penjelasan tersebut penting untuk melengkapi bahwa Kashmir banyak dipengaruhi oleh Para Suci seperti Shankaracharya, Kaum Yahudi dengan Para Suci mereka, Para Sufi, dan beberapa Kelompok Muslim Garis Keras. Budaya Kashmir lah yang membuat Kashmir tidak tercerai-berai.

 

Akhir Hayat Nabi Musa AS di Kashmir

Berikut adalah terjemahan bebas yang saya kutip dari buku: (Fida Hassnain, Daham Levi. (2007). New Evidence from the Tibetan, Sanskrit, Arabic, Persian and Urdu Sources About the Historical Life of Jesus Christ After the Crucifixion. Blue Dolphin Publishing)

“Tidak ada yang diketahui mengenai Makam Musa, kecuali bahwa ia dimakamkan di Lembah Moab dekat Bethpeor, terletak jauh di wilayah Timur. Dipercaya bahwa Musa dimakamkan di bukit Nabu ketika ia melihat ke lembah Lolab dan Bandipur di Kashmir. Beberapa benda bersejarah ada di sana untuk menunjukkan bahwa Musa datang ke Kashmir. Beberapa kota dan perbukitan diberi nama seperti namanya. Juga disebutkan bahwa Musa datang ke Kashmir di akhir masa hidupnya.77  Ia dimakamkan di bukit Nabu di Bandipur. Makamnya diziarahi banyak dari orang-orang Kashmir yang saleh.78 Menurut beberapa pihak, Musa datang ke Kashmir untuk mengajarkan firman Tuhan kepada penduduknya.79 Kaum Yahudi percaya bahwa Musa menghilang dan pergi menuju Tanah Terjanji, jauh di Timur.80 Mengejutkan bahwa lima tempat yang disebutkan berkaitan dengan Tanah Terjanji adalah: Bethpeor, Hesbun, Pisgah, gunung Nabu dan lembah Moab, benar-benar ada di Kashmir bahkan sampai hari ini. Menurut para sarjana Barat, semua tempat ini masih belum ditemukan. Tetapi peta keluaran Lembaga Survei India mengungkap bahwa semua tempat tersebut bisa jadi berada di wilayah Bandipur. Bethpeor dulunya dikenal dengan nama Behatpur di Kashmir  dan sekarang dikenal dengan nama Bandipur.81

Heshbun dikenal sebagai Hashba, Pisgah dikenal sebagai Pish, Moab dikenal sebagai Mowu dan Nabu dikenal sebagai Nabo atau puncak-Nil.82 Semua tempat yang disebut di atas benar-benar ada di wilayah dimana makam Musa berada.

Musa adalah seorang Nabi dan dia diperintahkan oleh Tuhan untuk tidak memasuki Palestina dan untuk meninggal dunia di bukit Nabo.83 ‘Pergilah kamu, ke gunung Nabo dan matilah di sana, tapi kamu tidak boleh masuk ke tanah yang Aku berikan pada Anak-anak Israel’. Ia harus mematuhi perintah itu dan ia pun pergi menuju Kashmir. Orang-orang mempercayainya dan makamnya diketahui berada di kuil ‘Sang Nabi dari Kitab Suci’.84

Dengan demikian, tidaklah aneh bahwa banyak nama tempat yang disebutkan dalam Taurat dan Bible juga ada di Kashmir. Kita perhatikan daftar yang menunjukkan keberadaan dari pemukiman-pemukiman sebagai berikut: Ashma-Ashma; Ashar-Ashew; Astera-Astore; Babal-Babel; Balpor-         Balpura; Benatpore-Bandipor; Karan-Karan; Mattan-Mattan; Nabo-Nabo; Haroon-Harwan; Pisgah-       Pis; Ur-Uri; Golgotha-Gilgit

Kaum Yahudi memegang teguh hal-hal tersebut dalam peribadatan, doa rutin, usaha belajar yang intensif dan peraturan mengenai makanan, yang disebut Kashrut. Mereka kukuh dalam menerapkan pemisahan antara pria dan wanita dalam sinagog. Mereka juga tidak mengijinkan musik dalam upacara-upacara keagamaan. Sama halnya dengan penduduk Kashmir yang giat dalam belajar, melaksanakan doa rutin, menerapkan peraturan mengenai makanan dan pemisahan antara lelaki dan perempuan ketika menjalankan ritual ibadat. Tidak ada alat musik yang dimainkan saat upacara-upacara keagamaan.”  (Fida Hassnain, Daham Levi. (2007). New Evidence from the Tibetan, Sanskrit, Arabic, Persian and Urdu Sources About the Historical Life of Jesus Christ After the Crucifixion. Blue Dolphin Publishing)