Drs. I Nyoman Warta: Tat Tvam Asi, Vasudeva Kutumbakam dan Tri Hita Karana

hari bakti 2

Drs. I Nyoman Warta, M.Hum mewakili Umat Hindu dalam simposium Road to Global Harmony. Dosen Sekolah Tinggi Hindu Dharma Jawa Tengah dan UGM Yogyakarta ini menyampaikan bahwa dalam Hindu ada istilah Tat Tvam Asi (kamu adalah aku – aku adalah kamu) , Vasudeva Kutumbakan (kita semua bersaudara), dan Tri Hita Karana (keselarasan antara manusia dengan Tuhan, sesama manusia, serta manusia dengan lingkungan alam).

 

Semua orang, setiap helai daun tidak ada yang sama persis karena masing-masing mempunyai pengalaman hidup yang berbeda. Akan tetapi bila kita duduk diam sejenak dan bertanya pada diri kita sendiri, “Siapakah aku ini?” Tidak lama kemudian, batin kita akan menjawab. Pakaianku bukan aku, aku bukan pakaian; rumahku bukan aku, aku bukan rumah; badanku bukan aku, aku bukan badan; pikiranku bukan aku, aku bukan pikiran…….. Kita akan sadar bahwa badan kasar ini hanya ibarat pakaian yang kita pakai. Kita juga bukan pikiran. Pikiran adalah sekadar alat yang kita perlukan untuk kegiatan sehari-hari di alam fisik ini. Aku beragama ini, aku berasal dari suku ini hanyalah olah pikiran. Kita bukan badan kasar; bukan juga pikiran; dan bukan intelek. Itulah Kita Sebenarnya! Itulah Anda! Tat Twam Asi! Itulah Kau!……… Pengenalan diri dan kemarahan tidak dapat berada bersama, sebagaimana gelap dan terang tidak dapat bereksistensi bersama……….

 

Sri Sultan HB X memberikan ilustrasi keyakinan yang berbeda-beda seperti cahaya putih yang jatuh di atas prisma pengalaman manusia. Cahaya putih menyebar ke dalam tradisi, ajaran dan agama yang tak terhitung alirannya yang membawa karakteristik khas sesuai akar budayanya masing-masing.

 

Alissa Wahid menegaskan bahwa sebaik-baiknya manusia ialah orang yang memberi manfaat bagi orang-orang di sekitarnya. Dunia saat ini seperti desa yang besar, global village, semakin mengecil, dan keterikatan semakin erat. Kita tidak bisa hidup sendiri, hidup dalam satu kelompok dan merasa yang paling benar. Yang demikian itu orang zaman dahulu yang belum bisa menyesuaikan dengan kemajuan zaman.

 

Bhiku Sasana Bodhi Tera mengibaratkan apapun sungainya, dari mana pun asal sumber alirannya, ketika sampai di laut hanya ada satu rasa. Hanya ada rasa garam, rasa asin. Dari agama yang berbeda, dari keyakinan yang beraneka-macam itu, kebenaran sejati sesungguhnya hanya ada satu rasa. Yaitu rasa kebebasan, kemahardikaan.

 

Romo Aloysius Budi Purnomo mengungkapkan bahwa dalam kehidupan antar-umat beragama diperlukan toleransi. Tidak sekedar pemaknaan lisan, tapi lebih pada laku. Janganlah merasa paling benar. Tidak ada agama yang mengajarkan kekerasan.

 

YP Sukiyanto dari Penghayat Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Mahaesa mengetengahkan bahwa ada yang senang air sirup, ada yang senang es teh, ada yang senang jeruk hangat, ada yang senang air putih. Bukankah intinya sama-sama sebagai pelepas dahaga?

 

Prof. Dr. Irwan Abdullah dari Lemhanas menyampaikan bahwa Bangsa Indonesia harus bertumpu pada prinsip-prinsip general, karena kepulauaan Nusantara terdiri atas 17.500 pulau, lebih dari 512 bahasa, beragam agama, keyakinan, kepercayaan. Untuk itu harus ditegakkan kebebasan (Hak Asasi Manusia), kesetaraan warga dan bangsa tanpa memandang etnis, agama, dan lain-lain, serta toleransi, agar kehidupan yang harmoni bisa diwujudkan.

 

Wenshe Adjie Chandra mengibaratkan bahwa jari-jari tangan kita memang berbeda-beda agar jari-jari tersebut bisa bekerja sama. Bila semua sama, bahkan kerjasama akan kurang maksimal.

 

Prof. Dr. Muhammad A.S. Hikam menggarisbawahi bahwa kegelapan tidak bisa menghilangkan kegelapan, kebencian tidak mungkin menghilangkan kebencian. Yang bisa menghilangkan kegelapan hanyalah cahaya. Dan yang bisa menghilangkan kebencian adalah cinta kasih.

 

Drs. I Nyoman Warta, M.Hum menegaskan bahwa walaupun fisik setiap orang tidak ada yang sama, pikiran setiap orang berbeda, akan tetapi kita bukan fisik; bukan juga pikiran. Itulah Kita Sebenarnya! Itulah Anda! Tat Twam Asi! Itulah Kau!

 

Bapak Anand Krishna menyampaikan dalam buku “Bhagavad Gita Bagi Orang Modern, Menyelami Misteri Kehidupan”, Anand Krishna, Gramedia Pustaka Utama  2002……..  “jalan manapun yang kau tempuh akan mencapai pada-Ku. Bahkan di Rigveda jauh sebelum Bhagavad Gita muncul dinyatakan bahwa Kebenaran itu satu, dan para bijak menyebutnya dengan berbagai nama.”

hari bakti 7

Bapak Anand Krishna juga menyampaikan bahwa pemahaman istilah “Hindu” dalam konteks budaya/peradaban kuno, prasejarah, dan antrapologi tidaklah terkait dengan agama, tapi dengan suatu wilayah geografis dari pegunungan Hindu Kush, sekarang di Pakistan dan Afghanistan, hingga perbatasan kepulauan Nusantara, termasuk sebagian Filipina. Dalam buku “Surat Cinta Bagi Anak Bangsa”, Anand Krishna, One Earth Media, 2006 beliau menyampaikan……… “Manusia Indonesia tidaklah jahiliyah. Sebelum terpengaruh oleh agama-agama besar dunia, kita sudah berbudaya. Sudah beradab. Kita berada dalam satu wilayah peradaban yang sangat besar. Peradaban, yang oleh para sejarawan Cina disebut Shintu distorsi dari Sindhu. Distorsi dari kata Sindhu, Sungai Berbadan Lebar seperti Laut atau Sindhu. Sungai ini masih dikenal dengan sebutan yang sama, dan berada dalam wilayah Pakistan dan India. Sejarawan Arab mendistorsinya lebih lanjut, sehingga Shintu menjadi Hindu. Dalam bahasa latin, dan bahasa-bahasa Eropa lainnya, ia menjadi Indies, Indische, India, Indo…..… kita sendiri, di zaman pejajahan masih menyebut diri Hindia, Hindia Belanda. Dutch-Indies, Hindia yang waktu itu berada dalam “cengkeraman” Belanda untuk membedakan dari British-Indies, yaitu India atau Hindia daratan yang berada dalam “cengkeraman” Inggris. Agama-agama, budaya dan peradaban di dalam wilayah luas yang dikelilingi oleh Samudera Hindia ini tidak pernah mengenal keseragaman. Tidak ada upaya dari siapa dari siapa pun di dalam wilayah ini untuk menyeragamkannya. Semboyan Bhinneka Tunggal Ika mencerminkan kearifan lokal kita. Istilah Hindu dimulai dikaitkan dengan agama “tertentu” di jaman Mogul kurang lebih limaratus tahun yang lalu. Dinasti Islam ini pernah menguasai sebagian besar wilayah India, termasuk apa yang sekarang menjadi negara Pakistan dan Bangladesh. Bahkan, Dinasti Mogul yang beragama Islam itu pula yang menyebut wilayahnya Hindustan, Tanah Hindu! Jelas, saat itu Hindu belum dikaitkan dengan agama tertentu. Ya, dikaitkan dengan wilayah peradaban tertentu. Dengan budaya tertentu. Dvipantara atau Kepulauan Nusantara sebagian besar Indo-Cina Thailand, Cambodia, Vietnam berada dalam wilayah tersebut……..”

 

Dalam buku “Tsunami, Membaca Ayat Ayat Allah dari Tragedi Tsunami”, Anand Krishna dan teman-teman, One Earth Media, 2006 Bapak Anand Krishna menyampaikan………. “Ketika Rasulullah, Nabi Muhammad masih ada, ada satu kelompok di Sindh, di Pakistan yang mengirimkan seseorang bernama Baba Ratan untuk belajar dari Nabi. Dan ajaran Nabi itu dibawa ke Sindh, sekarang salah satu wilayah di Pakistan, pada saat Nabi masih hidup. Maka, umumnya orang-orang Sindhi pun sering menerjemahkan hadis yang sangat populer tentang menuntut ilmu hingga Shin, sebagai pengakuan Sang Nabi terhadap kebesaran Peradaban Mohen Jo Daro yang ada di Sindh dan wilayah sekitarnya. Yang dimaksudnya dengan Shin, kata mereka, bukanlah Cina, tapi Sindh……… Pikir-pikir, menuntut ilmu hingga negeri Cina tidak masuk akal juga, karena saat Nabi masih ada di tengah kita, orang-orang Cina justru sibuk perang. Jadi, barangkali Shin itu bukan Cina, tetapi negeri di seberang sungai Sindhu, karena sudah terjalinnya hubungan antara Nabi dan Sindh lewat Baba Ratan………”

 

Berikut ini pandangan Bapak Anand Krishna tentang Hindu yang kami ambil dari blog kami……. http://triwidodo.wordpress.com/2012/09/10/bangkitlah-bali-demi-keutuhan-nkri/

……….”Kita tidak mengimpor budaya itu dari India. Kita memiliki budaya yang mirip dan sama. Budaya itu adalah dari wilayah peradaban yang luas sekali dari Gandhahar hingga ke Australia seluruh wilayah peradaban ini memiliki budaya yang sama. Seperti yang dikatakan oleh Swami Vivekananda kalau saya tidak bisa menghormati agama-agama lain maka saya belum beragama Hindu, belum orang Hindu. Budaya ini yang menyejukkan bagi seluruh umat manusia.

 

“Menjawab pertanyaan seorang peserta tentang bangsa ini harus mulai darimana dan apa yang harus kita lakukan untuk memotivasi kebangkitan bangsa, Pak Anand menjawab………. Mulai dari mana? kita harus memulai dari diri sendiri. Ini yang agak sulit. Karena kita mempunyai mitos dan berfikir kalau kita mempunyai kekuasaan baru kita bisa mempengaruhi orang-orang. Pertama-tama ini adalah mitos yang harus kita gugurkan dahulu. Mahatma Gandhi tidak mempunyai kekuasaan, Nabi Muhammad, Nabi Isa, Swami Vivekananda tidak mempunyai kekuasaan. Semua orang-orang ini tidak mempunyai kekuasaan. Mereka muncul dengan kesadaran mereka dan setelah itu baru orang mendengar mereka. Bekal yang kita butuhkan adalah rasa bangga terhadap kebudayaan kita sendiri. Untuk itu penting sekali kita mempelajari sejarah. Pemda setempat perlu membiayai orang-orang tertentu untuk menulis ulang lembaran-lembaran sejarah kita. Karena banyak lembaran-lembaran sejarah kita yang hilang atau bahkan sengaja dihilangkan. Misalnya kita tidak tahu apa yang terjadi dengan Majapahit dan Sriwijaya. Itu baru 400 tahun yang lalu. Saya kira tidak ada di seluruh dunia ini, dimana sejarah 500 tahun tidak utuh, tidak ada, bahkan peninggalannya tidak ada dan Trowulan itu juga berandai-andai. Saya rasa ada konspirasi yang sangat teratur untuk membuat kita lupa akan sejarah kita dan karena kita lupa akan sejarah, kita seakan dipisahkan dari akar kita. Seperti kembang dalam pot ini kita akan mengalami disintegrasi dan layu…….

 

…….. “Dalam buku-buku sejarah kita dituliskan, masa Hindu, masa Buddha dan masa apa, seolah-olah masa itu masa yang tidak berbudaya. Barangkali pemerintah harus dengan serius menangani kata “peninggalan masa Hindu”. Apakah tidak ada lagi orang Hindu di negara ini? Kenapa harus mengatakan peninggalan? Di India tidak ada istilah peninggalan Hindu, peninggalan Islam. Taj Mahal adalah peninggalan Dinasty Mogul saya kira cara berpikir kita harus lebih dewasa, harus lebih matang. Leluhur saya mungkin mempunyai kepercayaan lain dengan saya tetapi kita tidak bisa menafikan leluhur kita. Dengan penafian seperti itu, keterpurukan yang terjadi di Indonesia terjadi karena kita melupakan leluhur kita, sejarah bangsa kita dan kita harus mulai dari lingkup yang paling kecil yaitu keluarga kita…….”

Cinta Kasih dalam Agama Menurut Prof. Dr. Muhammad AS Hikam

hari bakti 1

“Kini kalau menuntut semua harus sama, itu pandangan jadul. Menciptakan insan kebangsaan, brotherly love, communal love, konkretisasinya ada di Indonesia Raya (NKRI). Yang tak setuju, silakan pindah saja ke tempat lain seperti di Saudi Arabia, London, Washington, ataupun kota di negara lain.” Demikian salah satu petikan dari sambutan Prof. Dr. Muhammad A.S. Hikam, MA., APU dalam simposium Road to Global Harmony. Simposium digelar di Pendopo Agung Taman Siswa Yogyakarta pada tanggal 1 September 2012. Simposium ini diselenggarakan oleh Yayasan Anand Ashram (berafiliasi dengan PBB, 2006), Anand Krishna Centre JogLoSemar, IWAG – Peace, One Earth Integral Foundation, Koperasi Global Anand Krishna, Forum Kebangkitan Jiwa (FKJ), Astra, SKH Kedaulatan Rakyat, Koran Merapi, Radar Jogja, Minggu Pagi, dan KR Grup.

 

Beliau adalah seorang Mantan Menteri yang “berani” dalam mengungkapkan kebenaran tanpa tedeng aling-aling. Walaupun demikian sebagai seorang Profesor pandangan beliau sangat jernih dan selalu berpegang kepada undang-undang dan peraturan negara, dan bukan kepada partai/kelompok tertentu. Di sela-sela simposium kami mendengar sendiri kala beliau diminta pendapatnya oleh seorang wartawan via hp. Sang wartawan bertanya apa pendapat beliau tentang seorang ketua DPR yang menyatakan bahwa masyarakat harus memilih pemimpin yang seiman. “Mau pilih yang bercanda atau serius mas? Kalau yang bercanda yang muslim memilih Jokowi dan yang non-muslim memilih Ahok…….. Bila yang serius, Tidak ada ketentuan di Undang-Undang Dasar atau peraturan perundangan lainnya untuk memilih pemimpin yang seiman. Bila seseorang digaji dan mendapat fasilitas dari suatu kelompok maka wajar dia mengungkapkan pendapat kelompok tersebut. Tapi bila dia seorang pejabat pemerintah yang digaji dan nmendapat fasilitas dari rakyat, maka dia harus berbicara sesuai undang-undang. Memang saat ini jarang pejabat yang mempunyai karakter kenegarawanan”……. akan tetapi beliau juga menentang seorang presiden dijatuhkan dengan cara-cara pemaksaan. “Kita mempunyai preseden yang nggak baik tentang penggantian presiden. Nyatanya pengganti Gus Dur juga tidak membawa reformasi semakin jaya.”…… Pria kelahiran Tuban pendukung Gus Dur ini memang berani seperti Gus Dur, akan tetapi beliau mengaku ada hal yang tidak bisa ditirunya dari seorang Gus Dur, yaitu melihat bahwa semua orang itu baik. Kebaikan hati seorang Gus Dur itulah yang membuat Gus Dur nampak kadang diperdaya oleh musuh-musuh maupun teman-teman Gus Dur sendiri.

 

Prof. Dr. Muhammad A.S. Hikam, MA., APU dengan rendah hati mengawali sambutannya,  “Karena sekarang menjadi dosen, dan pernah sekolah mungkin itulah saya diminta berbicara tentang Communal Love dari sudut pandang pendidikan. Tapi saya tidak berani mengklaim diri sebagai seorang pakar, apalagi di Taman Siswa, pusatnya pendidikan.”……… Beliau mengutip Jalaluddin Rumi, seorang Sufi berkebangsaan Iran yang selalu mengungkapkan tentang cinta dan kasih sayang, “Tugas manusia bukan untuk mencari atau memburu cinta, tugas manusia ialah berusaha menyingkirkan apa yang menghalangi tumbuhnya cinta.” Beliau juga menyitir pendapat Pendeta Kristen, Marthin Luther King Jr. Pejuang HAM anti kekerasan dan persamaan hak politik anti diskriminasi ras, “Kegelapan tidak bisa menghilangkan kegelapan. Kebencian tidak mungkin menghilangkan kebencian. Yang bisa menghilangkan kegelapan hanyalah cahaya. Dan hanya cinta yang bisa menghilangkan kebencian.” Menurut Pak Hikam, tulisan itu terpahat di pagar Monumen Marthin Luther King Jr di Washington DC yang diresmikan pada tahun 2011. Kedua tokoh, Rumi dan Luther King Jr, menurut Pak Hikam, sangat concern seperti Pak Anand Krishna terhadap Communal Love dan persaudaraan antar iman.

 

Menristek pada era Gus Dur ini mengungkapkan bahwa ibarat komputer, manusia sudah punya software bawaan. Tapi oleh manusia embedded program itu malah digonta-ganti. Kasih sayang ditutupinya sendiri. Kemudian sibuk mencari di mana-mana. Virus-virus yang menutupi Love tersebut harus dihilangkan. Dalam Al Quran dikatakan juga kalau manusia itu diciptakan dalam bayangan Tuhan itu sendiri. Embedded program, sifat ketuhanan ialah cinta. Kalau manusia mencari-cari cinta, maka itu sangat salah. Akibatnya terjadi kekerasan, diskriminasi rasial, di Solo, di Sampang, semoga itu tidak terjadi di Jogja…….”

 

Menurut Prof. Hikam brotherly love sangat penting, caranya lewat proses pendidikan. Dalam pengertiannya yang sangat luas baik formal, sekolah, pesantren, dan lain sebagainya maupun informal dan juga nonformal. Intinya bagaimana mendidik anak sejak dari kecil sampai dewasa terus-menerus. Untuk menghilangkan virus-virus tersebut. Beliau mengingatkan, “Kita perlu mencintai antar anak bangsa. Salah satu problem utama di negara ini, dalam demokrasi dianggap apa-apa boleh, termasuk membenci sesama anak bangsa. Padahal tanpa ada kasih sayang, ajaran bisa ditafsirkan secara keliru.” Beliau juga mengutip pendapat Gus Dur bahwa Indonesia butuh Islam yang ramah bukan Islam yang marah. Karena penafsiran lain juga punya status epistemilogis yang sama……… Selama kita masih di dunia, kita tidak akan memiliki kebenaran dengan huruf K besar.” Prof. Hikam berpendapat bahwa the only solution is Love, itulah pesan utama Rumi, Luther King Jr, dan Pak Anand.

 

Pendidikan multikultur di Indonesia tak boleh sekadar konsep, tapi harus dipraktekkan. Intinya ada 3 hal:

  1. Merayakan perbedaan.
  2. Perbedaan bukan masalah.
  3. Perbedaan itu esensial dalam kehidupan kita.

hari bakti 6

Bapak Anand Krishna akan sependapat dengan pandangan Prof. Hikam yang menyitir Rumi dan Martin Luther King Jr mengenai landasan cinta dan kasih sayang dalam mengungkapkan kebenaran. Bapak Anand Krishna telah menulis pandangan Rumi dalam 5 buah buku yang menjadi best seller di Indonesia. Pak Anand mengungkapkan bahwa tanpa kasih sayang manusia akan berjiwa kering. Justru sifat feminin dari kasih tersebut melembutkan manusia. Dalam buku “Masnawi Buku Kesatu, Bersama Jalaludin Rumi Menggapai Langit Biru Tak Berbingkai”, Anand Krishna, Gramedia Pustaka Utama,2001 Pak Anand menyampaikan……. “Untuk apa menyirami padang pasir? Percuma. Begitu pula dengan manusia yang berjiwa kering, keras, kaku – siraman kasih seberapa pun tidak akan membantu. Seorang pria berjiwa kering ibarat padang pasir yang gersang. Sebelum disirami air, dia membutuhkan penanganan khusus. Dan hanya keberadaan yang dapat menangani manusia yang berjiwa kering. Lain perkara jika keberadaan memilih ‘sesuatu’ atau ‘seseorang’ sebagai alat dan menggunakannya untuk menangani kasus-kasus seperti itu……… Wanita tidak lemah, tetapi lembut. Seperti kelembutan bunga. Bagaimana anda menangani sekuntum bunga? Dengan cara yang sama pula anda harus menangani seorang wanita. Sesungguhnya, dia memberi anda kesempatan untuk menjadi ‘lebih’ lembut. Hubungan anda dengan seorang wanita, entah dia pasangan anda, ibu anda, saudara anda, kekasih anda atau siapapun dia, merupakan Rahmat Allah. Lewat hubungan itu, Allah sedang ‘melembutkan’ jiwa anda. Lewat hubungan dengan wanita-wanita disekitar anda, Allah sedang mengguyuri jiwa anda, menyirami jiwa anda dengan Air Kasih. Dengan kelembutan kasih. Allah sedang mengangkat derajat anda. Allah sedang meningkatkan kesadaran anda………”

 

Rumi mengajak kita semua untuk menjadi “pencinta” Ilahi yang penuh kasih sayang. Dalam buku “Masnawi Buku Kedua Bersama Jalaluddin Rumi Memasuki Pintu Gerbang Kebenaran”, Anand Krishna, Gramedia Pustaka Utama, 2000 disampaikan………

“Anda pikir anda ‘bisa’ menyumbang, ‘bisa’ beramal-saleh, ‘bisa’ berderma? Tidak, anda tidak ‘bisa’ melakukan semua itu, jika tidak ‘diberi’ kesempatan oleh, Tuhan. Sementara ini, anda belum ‘memperoleh’ kesempatan untuk berderma, untuk beramal saleh, untuk menyumbang. Jangan kaget, jangan tersinggung-lakukan introspeksi diri. Anda berderma untuk apa? Menyumbang untuk apa? Beramal-saleh untuk apa? Jika untuk ‘menagih’ surga, anda hanyalah seorang penagih hutang. Jika untuk ‘memperoleh’ ganjaran dan pahala, maka hubungan anda dengan Allah, dengan ‘Apa’ pun sebutan anda bagi “Dia”-hanyalah hubungan antara ‘peminjam’ dan ‘penagih’. Anda tidak lebih baik daripada para penagih hutang yang mendatangi Shaykh dan mendesak dia untuk melunasi pinjamannya. Pikirkan! Jika anda menyumbang, berderma, dan beramal-saleh bukan karena kewajiban, bukan pula untuk mendapatkan (menagih) imbalan ; ketahuilah bahwa Allah telah ‘memberikan’ kesempatan itu kepada anda! Berbahagialah bahwa di antara sekian banyak penagih hutang, pemberi pinjaman dan rentenir, anda dipilih untuk menjadi ‘pencinta’! Para penagih hutang mendapatkan kembali hutang mereka. Itu saja. Tidak lebih, tidak kurang. Demikian pula keadaan anda, jika anda berdagang dengan Allah. Apa yang anda berikan ‘dengan nama’ Dia akan diberikan kembali kepada anda. Tidak lebih, tidak kurang. Terserah anda-apa mau anda? Hubungan seperti apa yang anda inginkan dengan Tuhan? Hubungan antara kekasih dan yang dikasihi, atau hubungan antara peminjam dan penagih?” (Krishna, Anand. (2000). Masnawi Buku Kedua Bersama Jalaluddin Rumi Memasuki Pintu Gerbang Kebenaran. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

Bapak Anand Krishna juga mengambil teladan Dr. Martin Luther King Jr yang penuh kasih tanpa kekerasan dalam memperjuangkan kebenaran.

“ Ahimsa, Do Not Act Violently, Do Not Cause Injury, Jangan Menggunakan Kekerasan, Jangan Menyakiti. Dikatakan Martin Luther King, Jr., seperti yang dipahami beliau dari ajaran Mahatma Gandhi. ‘Senjata kita hanya satu, senjata kasih!’ Ahimsa juga berarti menghormati orang lain. Jika sudah membuat janji untuk bertemu jam 10 pagi, lima menit sebelumnya kita sudah berada di tempat pertemuan. Jangan sampai orang lain menunggu. Itu pun kekerasan. Melihat orang lain menderita, para radikal merasa bahagia. Ahimsa berarti merasakan penderitaan orang lain siapa pun orang lain itu. Ahimsa berarti memutuskan untuk tidak menambah penderitaan seorang pun, karena sudah cukup penderitaan di dunia ini. Ahimsa juga berarti tidak menyiksa diri; tidak mengintimidasi siapa pun dengan kehendak membakar diri jika keinginan kita tidak dikabulkan, atau membakar bendera negara lain, karena pemerintahnya tidak bertindak sesuai dengan keinginan kita. Kita juga harus ingat bahwa ahimsa bukanlah pekerjaan para pengecut. Seorang pengecut bertindak karena takut. Ia tidak memiliki keberanian…….. Dalam bahasa Gandhi, Kau harus memiliki kemampuan dan kekuatan untuk membalas, tetapi memutuskan untuk tidak membalas itulah ahimsa.” (Krishna, Anand. (2007). Life Workbook Melangkah dalam Pencerahan, Kendala dalam Perjalanan, dan Cara Mengatasinya. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

“Inilah yang menyebabkan saya mengagumi Martin King Luther. Walaupun dia mengagumi Gandhi. Luther King akan turun ke jalan dan menyampaikan pendapatnya secara jelas. Dia akan membiarkan dirinya dipenjarakan. Namun dia tidak akan melawan balik atau membalas dendam. Itulah cara yang menurut saya baik. Kita menyampaikan pendapat kita dengan jelas, berfokus kepada kesadaran  dan kita membuat masyarakat mengerti  mengapa kita melakukan hal-hal tersebut. Inilah yang saya coba lakukan… berusaha menggabungkan dua manusia besar tersebut. Gandhi dan Martin Luther King. Inilah yang diperlukan oleh Indonesia dalam misi untuk menumbuhkan kesadaran bahwa kita adalah sebuah bangsa yang besar. Dahulu kala kita mengekspor rempah-rempah ke Madagaskar dan Afrika dengan menggunakan armada kapal sendiri. Menghilang ke manakah keagungan tersebut? Keagungan tersebut masihlah ada dalam diri kita. Mengapa kita harus mengadopsi suatu hal yang tidak sesuai dengan negara ini? Saat ini saya melihat sebagian orang Indonesia mengadopsi nilai-nilai barat, yang sebenarnya cukup baik juga . Saya tidak ada masalah dengan perihal tersebut. Namun, mungkin tidak semua budaya barat sesuai dengan negara ini. Di lain pihak, sebagian dari masyarakat Indonesia mengadaptasi cara hidup Arab. Hal ini akan menciptakan dua masyarakat dalam satu negara yang tidak baik karena akan mengundang konflik, pertengkaran, dan perang di negara kita.” (Krishna, Anand. (2008). Think In These Things, Hal Hal Yang Mesti Dipikirkan Seorang Anak Bangsa. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

YP Sukiyanto, Penghayat Kepercayaan terhadap Tuhan YME: Sumber Keresahan dan Sumber Ketenteraman

YP Sukiyanto kepercayaan

YP Sukiyanto mewakili Penghayat Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Mahaesa dalam simposium Road to Global Harmony. Simposium digelar di Pendopo Agung Taman Siswa Yogyakarta pada tanggal 1 September 2012. Simposium ini diselenggarakan oleh Yayasan Anand Ashram (berafiliasi dengan PBB, 2006), Anand Krishna Centre JogLoSemar, IWAG – Peace, One Earth Integral Foundation, Koperasi Global Anand Krishna, Forum Kebangkitan Jiwa (FKJ), Astra, SKH Kedaulatan Rakyat, Koran Merapi, Radar Jogja, Minggu Pagi, dan KR Grup.

 

YP Sukiyanto Pendiri Paguyuban Kekadang Liman Seto Pusat Blora, Ketua Hubungan Antar Agama dan Kepercayaan, mengungkapkan dengan sebuah gambar ilustrasi yang menunjukkan sumber keresahan manusia. Diantaranya adalah egois, merasa lebih dari yang lain, tergesa-gesa, tidak sabaran, tidak tahan penderitaan, terlalu yakin, menganggap sepele, tak mengerti, tidak menguasai masalah, berontak dan sikap lemah. Beliau juga menyatakan bahwa sumber ketenteraman hati adalah hakikat diam, bakti, kasih dan damai di dalam hati. Beliau datang dari Blora dengan rombongan yang berpakaian seragam rapi, celana hitam, baju putih dan jas hitam.

Dalam hati kami merenung dalam-dalam….. Penghayat Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Mahaesa, benar-benar nyata ada di Indonesia, akan tetapi menyaksikan berita dari dunia maya status keberadaannya memprihatinkan. Kami ingat nasehat seorang sahabat yang meng-quote Uskup Desmon Tutu, pemimpin agama yang bersama Nelson Mandela bahu-membahu memperjuangkan kemerdekaan Afrika Selatan. Terjemahan bebasnya adalah……. Jika Anda netral dalam situasi ketidakadilan, Anda sudah memihak pada sang penindas. Jika seekor gajah menginjak ekor seekor tikus dan Anda mengatakan netral, maka sang tikus tidak akan memperoleh keadilan. Atas dasar itulah tulisan ini dibuat……

Kami ingat tulisan Romo Sindhunata…….. Di mana-mana politik memang tak bisa terpisahkan dari kebohongan. Kebenaran sulit menjadi kriteria politik karena politik memang tidak berkenaan dengan kebenaran, tetapi dengan naluri mempertahankan dan memperbesar kekuasaan. Politik bergerak sedemikian rupa sehingga mendepak kebenaran. Politik menjadi sekadar upaya mempertahankan kekuasaan malah cenderung jadi permainan. Hakikatnya adalah “Who get What, When, How”. Machiavelli lebih realistis lagi, menurut dia seorang penguasa boleh mengingkari janjinya apabila janji itu ternyata merugikannya dan apabila tiada lagi alasan untuk tetap berpegang teguh pada janjinya…….

 

Mau tidak mau kebenaran selalu bersinggungan dengan politik yang sulit menerapkan kebenaran. Kebenaran pandangan Penghayat Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Mahaesa yang mendasarkan pada nurani secara generik tanpa terperangkap pada formulasi agama tertentu justru sering tersudutkan. Romo Budi pernah mengingatkan bahwa sebenarnya di negara ini, semua agama adalah impor. Begitu pula dengan kelenteng. Justru yang beridentitas Indonesia hanyalah kejawen. Karena itu, janganlah kita merasa paling benar…….. Benar juga pandangan Romo Budi, ada yang senang air sirup, ada yang senang es teh, ada yang senang jeruk hangat, ada yang senang air putih. Bukankah intinya sama-sama sebagai pelepas dahaga? Mungkin “pelepas dahaga” itulah nama Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Mahaesa. Benar juga pandangan Romo Budi, mari kita melihat sejarah, pada tahun berapa agama resmi masuk Nusantara. Bahkan dibandingkan dengan umur agama resmi pun budaya asal Nusantara jauh lebih tua. Dalam DNA manusia Indonesia masih terwaris budaya asal tersebut, sehingga Islamnya warga Indonesia adalah Islam model Indonesia, Kristen/Katholik cara Indonesia, Buddha/Hindu ala Indonesia……… ada tradisi “mudik”, “nyekar”, “sungkem”, “mutih”, “mengheningkan cipta”, “slametan”, “nyewu”(seribu hari), “haul” (kol-kolan), “padusan”, “grebek”, “ngabuburit”, salat yang sering bolong dan sebagainya…..

 

Sejarah panjang perjalanan bangsa justru mengugkapkan bahwa “agama asli” bersikap sangat ramah, inklusif, dan toleran terhadap agama-agama pendatang. Lalu mengapa yang menjadi “tolok ukur” justru agama-agama pendatang, dan bukan pada keyakinan tradisional yang memang jarang mendefinisikan atau membuat pembakuan keyakinan? Dalam lintas sejarah terungkap bahwa agama-agama pendatang selalu disambut dengan ramah, bukan dianggap sebagai musuh dan ancaman, sebaliknya dihargai, diadaptasi dan diterima untuk menghiasai mozaik keyakinan asli yang menyangga dan mendasarinya. Sejarah membuktikan justru ekstrimisme yang membahayakan persatuan nasional sering tumbuh subur dalam agama-agama resmi, bukan kepercayaan tradisional.

 

Kami mendasarkan tulisan ini pada artikel Eksistensi “Agama Asli Indonesia” Dan Perkembangannya Dari Masa Ke Masa, tulisan dari K.P. Sena Adiningrat yang sumbernya kami ambil dari blog kami…….

http://triwidodo.wordpress.com/2010/03/29/eksistensi-%E2%80%9Cagama-asli-indonesia%E2%80%9D-dan-perkembangannya-dari-masa-ke-masa/

 

Undang-undang Nomor 1/PNPS/1965 tentang Pencegahan dan Penyalahgunaan/ Penodaan Agama − bertujuan untuk menjaga dan melindungi keluhuran nilai-nilai agama – akan tetapi pada kenyataannya justru mengandung diskriminasi terhadap agama-agama yang tidak resmi, khususnya penghayat kepercayaan terhadap Tuhan Yang Mahaesa. Penjelasan Undang-undang ini jelas-jelas merendahkan eksistensi aliran kepercayaan karena berbunyi: Terhadap badan/aliran kebatinan, Pemerintah berusaha menyalurkan kearah pandangan yang sehat dan ke arah Ketuhanan Yang Maha Esa……. Jadi mereka dianggap pandangannya tidak sehat. Apakah moral dan kelakuan mereka jauh lebih jelek daripada umat yang beragama resmi? Permasalahannya adalah tindakan para Penghayat Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Mahaesa mudah dianggap sebagai delik penodaan agama. Siapakah yang harus menentukan standarisasi tafsir agama, atau siapakah yang berhak menentukan salah atau benar suatu keyakinan? Masalahnya kriteria penodaan agama dalam undang-undang ini didominasi oleh agama-agama yang diakui pemerintah.

 

Kami kutip tulisan K.P. Sena Adiningrat…….  “Religion”. Kata religi berasal dari bahasa Latin religio yang akar katanya religare yang berarti “mengikat”. Jadi, arti “religio” disini adalah way of life lengkap dengan peraturan-peraturannya tentang kebaktian dan kewajibannya, sebagai alat untuk mengikat seseorang atau sekelompok orang dalam relasinya dengan Tuhan, sesama manusia dan alam semesta. Sedangkan dalam bahasa-bahasa Semitik di Timur Tengah, “agama” disebut dalam bahasa Arab “Dîn”, yang sering dimaknai sebagai lembaga ilahi yang memimpin manusia untuk mencapai keselamatan dunia dan akhirat. Kata Arab dîn ternyata cognate dengan bahasa-bahasa semitik: danu (Akkadia), den (Ibrani), dîn/dîna (Aramaik/Suryani) yang berarti “religion”, “cult”. Jadi istilah agama adalah sesuatu yang netral, yang membawa umatnya kepada Tuhan. Apakah Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Mahaesa tidak membawa umatnya kepada Tuhan?

 

Prof. Dr. Purbatjaraka mencatat bahwa jauh sebelum kedatangan Hindu/Buddha Nusantara sudah mempunyai keyakinan mengenai Tuhan Yang Maha Esa, dan menyembah-Nya menurut tatacaranya sendiri. Kebebasan beragama yang bersumber pada kesadaran holistic spirituality ini hilang pada masa Demak dan Pajang, ketika prinsip negara nasional digantikan dengan prinsip “negara agama” (theokrasi). Bukti bahwa prinsip “Negara agama” yang intoleran dan rawan memecah belah Nusantara itu, antara lain ditunjukkan dengan “pengadilan atas keyakinan yang berbeda” berdasarkan tafsir tunggal sebuah (aliran) agama. Kasus hukuman mati atas Syekh Siti Jenar pada zaman kerajaan Demak bercorak “imperialisme doktriner” yang kurang memberi tempat pada keyakinan iman yang berbeda-beda……… Mataram mulai menyadari kegagalan ideologi agama, dan mencoba mengembalikan “spirit Majapahit”, namun gagal dan kalah cepat dengan kekuatan kolonialisme dan imperialisme Barat. Salah satu indikator kebebasan beragama yang mulai dirintis dan dikembalikan oleh Mataram adalah diampuninya Haji Mutamakin yang mengajarkan ajaran Manunggaling Kawula-Gusti berdasarkan “Serat Dewa Ruci”. Sinuhun Paku Buwana II tampaknya tidak suka kepada para ulama yang berusaha mengadili keyakinan Mutamakin, sehingga Mutamakin dibebaskan dari tuduhan mengajarkan ajaran sesat. Paham yang berbeda tersebut akhirnya boleh berkembang. Hal ini menunjukkan bahwa negara secara bijak mengambil jarak dari soal-soal yang termasuk dalam ”ruang privat” warganegara.

 

K.P. Sena Adiningrat mengakhiri artikelnya dengan kalimat……. Bercermin dari “kaca benggala” sejarah di atas, patut dipertanyakan apakah beberapa kasus pengadilan atas keyakinan seseorang atau sekelompok orang a la Syeh Siti Jenar ini akan terus berlangsung, gara-gara negara terlalu turut campur dalam menentukan sesat tidaknya sebuah aliran agama, seperti tersirat dan tersurat dari Pasal 1 Undang-undang Nomor 1 Tahun 1965? Kita perlu merenungkan artikel K.P. Adiningrat untuk introspeksi diri agar kita tidak terlalu jauh dalam menganggap benar pendapat kita pribadi………

hari bakti 7

Dalam simposium tersebut juga dicanangkan Piagam Keselarasan Global (Charter for Global Harmony).Para Pencinta Perdamaian dari berbagai bangsa di dunia secara bersama-sama membidani kelahiran Piagam tersebut. Mereka berasal dari berbagai latar belakang akademis dan profesi, dan memeluk agama dan kepercayaan yang berbeda-beda, serta memiliki ideologi, pandangan dan aspirasi politik yang beragam pula. Namun perbedaan tersebut tidak menjadi penghalang bagi mereka untuk menggagas piagam ini serta bergotongroyong demi terwujudnya Keselarasan Global (Global Harmony).

Piagam ini merupakan Pedoman (road map) untuk mencapai dan mewujudkan Keselarasan Global (Global Harmony). Patut diakui bahwa semua agama, sistem kepercayaan, keyakinan (termasuk ateisme), tradisi-tradisi spiritual dan filsafat tanpa kecuali mengedepankan keselarasan sebagai jiwa dari semua sistem sosial.

“Hukum dan peraturan apa pun tidak akan pernah mampu membantu manusia mewujudkan hal ini, kecuali terlebih dahulu ada kedamaian dalam hati setiap insan. Jadi, pertama dan utama setiap individu harus berdamai, mengalami dan merasakan kedamaian dengan dirinya sendiri. Kedamaian Batin setiap individu (Inner Peace) niscaya otomatis mewujud sebagai Kasih yang Mengikat Masyarakat Majemuk dalam Persaudaraan (Communal Love), baik sebagai satu komunitas bangsa maupun dengan bangsa-bangsa lain di dunia. Pada gilirannya Kasih yang Mengikat Masyarakat Majemuk dalam Persaudaraan (Communal Love) ini yang mengantar kita mencapai Keselarasan Global (Global Harmony). Piagam ini, kami menyerukan kepada masyarakat dunia untuk menyisihkan waktu sekurangkurangya 20 menit setiap hari untuk bermeditasi, menggunakan teknik yang cocok atau sesuai dengan tradisi/sistem kepercayaan masing-masing. Sebab, hanya dengan menoleh ke dalam diri dan meditasi manusia dapat mencecap Kedamaian Batin (InnerPeace). Berbarengan dengan latihan pemberdayaan diri lewat meditasi, piagam tersebut juga mengajak semua manusia untuk melakukan pelayanan sosial tanpa pamrih minimal 2 jam dalam seminggu atau 8 jam setiap bulan. Layanan sosial tersebut hendaknya tidak ditujukan kepada sebuah kelompok tertentu.” Sumber www.charterforglobalharmony.org.

WS Adjie Chandra: Umat Khonghucu Mendukung Keharmonisan Global

hari bakti 3

Pada sesi Global Harmony, WS Adjie Chandra, Ketua Yayasan Tri Pusaka dari perwakilan Kong Hu Chu berbagi 3 ayat penting. Pertama, kita bisa harmonis walaupun tidak sama, jangan sama tapi tidak harmonis. Kedua, di empat penjuru angin sesungguhnya kita semua bersaudara. Ketiga, kalau kita ingin maju bantulah orang lain untuk maju, kalau kita ingin tegak bantulah orang lain untuk tegak.

 

Khonghucu mendukung keharmonisan global. Caranya dirumuskan lewat 8 agenda. Antara lain rajin belajar, praktek dalam kehidupan, bermanfaat bagi sesama, mencapai kesuksesan diri, membina diri, membereskan rumah tangga, mengatur masyakarat dan bernegara, serta menciptakan kedamaian di dunia. Fondasinya ada 3 prinsip. Pertama, manusia tidak lepas dari jalan suci Tuhan. Manusia tidak bisa hidup tanpa Tuhan. Kedua, manusia harus belajar mengenal sesama orang lain. Ketiga, Manusia harus merawat alam semesta dan memperhatikan lingkungan sekitar.

 

Dalam keluarganya sendiri, Wenshe Adjie Chandra mempraktekkan kerukunan beragama. Beliau adalah 5 bersaudara, dan masing-masing ada yang beragama Kristen, Katolik, dan Muslim. Mereka menjadi tokoh-tokoh di kelompoknya. Walau pun berbeda agama, akan tetapi saat sembahyangan untuk arwah orang tua, mereka semua bisa berdoa bersama. “Ibarat jari kita 5, bentuknya beda-beda sehingga bisa berfungsi dengan baik. Kalau sama malah tidak bisa melakukan apapun.”

 

Sehari-hari Bapak Wenshe Adjie Chandra ini sangat sibuk. Agendanya sangat padat, akan tetapi beliau tidak pernah mengeluh. Bahkan diundang diskusi lokal oleh Anand Krishna Center Joglosemar di Jogja pun beliau datang sendiri naik kereta. Pernah pada suatu hari kami datang ke kelenteng beliau dan melihat banyak sekali orang yang sudah tua hadir di kelenteng. Komentar beliau, “kami mulai dari nol kebanyakan umat adalah yang tua-tua, sisa umat Khonghucu zaman dahulu. Sedang generasi muda baru lahir setelah Gus Dur menyatakan Khonghucu adalah sebuah agama. Putra-putri penganut Konghucu di sekolah harus memilih agama Buddha, Katholik, Kristen Protestan atau Islam. Gus Dur begitu dekat di mata pengurus MATAKIN (Majelis Tinggi Agama Konghucu Indonesia) Surakarta ini.

 

Majelis Tinggi Agama Khonghucu (MATAKIN) Xs. Tjhie Tjay Ing mengeluhkan saat ini di Indonesia hanya memiliki 8 Pendeta Agama Khonghucu. Itupun 3 Pendeta diantaranya berada di Kota Solo. Pendeta sebanyak itu tentu tidak bisa melayani Umat Khonghucu di Indonesia. MATAKIN Mendesak Pemerintah agar Memperhatikan masalah Pendidikan Agama Khonghucu di Indonesia,

 

Untuk memberikan ilustrasi beratnya perjuangan agama “baru” di Indonesia, berikut ini kami kutip dari forum tanya-jawab program Neo Interfaith Studies dari One Earth College of Higher Learning (oneearthcollege.com) di mana penulis sebagai koordinator program.

 

Pada zaman kolonial, agama Buddha dan Khonghucu dan Tao ditekan sehingga didirikanlah Kelenteng Tridharma. Pada tahun 1966, Pemberontakan G30S PKI terjadi dan Presiden Soeharto pada waktu itu mencurigai keterlibatan RRC dalam pemberontakan komunis. Kemudian keluarlah kebijakan diskriminatif terhadap semua budaya dan tradisi Tionghoa. Semua kebudayaan China dilarang. Barongsai dilarang. Liong dilarang. Sekolah Mandarin ditutup. Imlek pun dilarang. Akhirnya dicari cara bagaimana supaya kelenteng bisa tetap berjalan walaupun agama Tao dan Konghucu tidak diakui. Dari pihak agama Buddha menawarkan “Bagaimana kalau menumpang saja dulu di Buddha.”

 

Akhirnya kelenteng diubah secara legal di atas kertas menjadi “vihara”. Syaratnya mudah saja, asal ada Dharmasala yang ada patung Buddhanya di bangunan. Makanya kalau kita sekarang ke kelenteng manapun, pasti ada sebuah ruangan khusus untuk Buddha. Di atas kertas namanya vihara, tapi kegiatan kelenteng jalan terus. Itulah sejarahnya kenapa di Indonesia sampai sekarang ada Vihara Tridharma.

 

Akan tetapi sebagai akibatnya pada waktu Agama Khonghucu diresmikan, maka pengikutnya tinggal yang tua-tua yang lebih merasakan pentingnya acara ritual, menjelang Dewa Kematian menghampiri mereka. Anak-anak mereka mengambil agama Buddha, Kristen atau Katholik dan bahkan Islam di sekolahnya.

 

Salah seorang peserta program neo interfaith studies bertanya…….. Sebagai keturunan Cina, saya dibesarkan di lingkungan Tridharma, an ecletic blend of Konfusian, Tao, and Buddhism. Yang menarik adalah pendekatan masyarakat Cina, dan ini jelas banget di berbagai film dan karya sastra mereka. “If you want to be a government official, learn Confucius”. “If you want to be a heretic (kadang2 di film, bahkan dibilang, jika anda mau jadi dewa), learn Tao”. “If you want to be a Buddha, learn Buddhism.” Saya pribadi agak heran juga, kenapa begitu ya? Membaca ulasan-ulasan di OE College, sepertinya tidak seperti itu pemahamannya, di OE College pemahaman agama menjadi dalam dan kita justru memahami esensi dari semua agama dan ternyata esensi dari semua agama tidak jauh berbeda satu dengan lainnya………

 

Salah seorang peserta diskusi di forum tersebut mengunggah komentar seorang Kaskuser: Taoisme, Nabinya Lao Zi, kitabnya Tao De Cing. Ajarannya mengajarkan bagaimana manusia hidup selaras dengan Tao, mencapai kesempurnaan bla bla bla…. Kenyataan: Gak ada yang baca Tao De Cing, umat biasanya hanya memuja dewa dewi………. Khonghucu, mengajarkan bagaimana manusia hidup di masyarakat, bertanggungjawab secara sosial, punya etika, dan lain-lain. Kitabnya ada. Kenyataan: Gak ada yangg baca kitabnya, orang ngikut tradisi saja, sembahyang ke kelenteng bakar dupa ke Khonghucu…….. Buddha, mengajarkan cara mencapai kesempurnaan dan kebahagiaan sejati, kitabnya banyak sekali. Kenyataan: Umat berkata: “Oh dewa baru! Mari kita taruh patungnya di kelenteng bersama Lao Zi dan Konghucu!”…….

 

Tanggapan dari Fasilitator Diskusi……… Tridharma sendiri merupakan gabungan antara Confucius, Tao dan Buddhist. Mereka bukan bergabung, cuma karena situasi di Indonesia itu membuat mereka disebut Tridarma, dan ajarannya berbeda namun tetap saling menghormati…… fasilitator tersebut kemudian menjelaskan sejarah vihara Tridharma. Fasilitator tersebut juga mengikuti pandangan Bapak Anand Krishna yang menghormati ketiga-tiga ajaran dan memahami bahwa esensinya ada persamaan dalam setiap keyakinan…….. perbedaannya pun tetap ada dan fasilitator tersebut mengambil contoh dari internet bagaimana ketiga ajaran memandang “seorang pengendara mobil yang mabuk”……..

Pengikut Confucius (Khonghucu) berfokus pada etika, mengatakan sangat malu karena orang tersebut telah menyimpang dari tugasnya, untuk keluarganya dan untuk reputasinya, orang yang tidak bersalah bisa tertabrak olehnya, dia menyalahi hukum negara…….

Pengikut Buddhist (Buddha) berfokus pada kasih dan kemelekatan membuat samsara, mengatakan dia kurang sifat kasih pada makhluk lain. Orang yang mabuk tersebut menderita, karena dia terikat dengan minuman keras dan tak dapat melepaskan keterikatannya……..

Pengikut Tao yang berfokus pada keselarasan dengan alam paham bahwa kejahatan yang diakibatkan oleh mengendarai mobil dalam keadaan mabuk itu adalah cara untuk memaksakan kebahagiaan pada diri sendiri (bagi pemabuk). Penggunaan alkohol untuk memaksakan kebahagiaan akan gagal, karena kita telah memaksa alam untuk membuat kita bahagia……..

hari bakti 7

Bapak Anand Krishna “menyadarkan” bahwa “kebenaran” tidak dapat “dibenarkan” melalui sistem demokrasi. Ajaran para nabi/orang suci bila dilakukan pemilihan secara demokratis tidak akan menang dengan jumlah suara orang yang belum sadar. Para nabi/orang suci berpegang pada kebenaran walau ditekan suara mayoritas penguasa……..

“Demokrasi berdasarkan ‘suara terbanyak’, tidak cocok untukmu. Landasannya adalah ‘pendapat mayoritas’ yang bisa berarti kekerasan dan penindasan terhadap kelompok-kelompok minoritas. Kelompok yang memperoleh suara terbanyak akan selalu menang. Sistem Demokrasi bagi negara ini, harus berdasarkan kesadaran – kesadaran bahwa warga keturunan Cina dan Arab, India dan Barat memiliki hak yang sama sebagaimana dimiliki oleh mereka yang berasal dari Jawa dan dari Sumatra, dan dari Sulawesi atau daerah-daerah lain. Sekecil-kecilnya kelompok mereka – mereka tetap merupakan bagian tubuh Ibumu. Aku Ibu mereka semua. Aku Ibu kalian semua. (Ibu yang dimaksud adalah Ibu Pertiwi, penulis). Sistem Demokrasi yang aku dambakan bagi negara ini, akan memperhatikan kepentingan setiap kelompok, setiap insan. Dalam demokrasi berdasar kesadaran, yang berkuasa akan mendengar setiap suara. sebaliknya, yang mengeluarkan suara akan selalu berada di atas kepentingan-kepentingan pribadi dan kelompok.” (Krishna, Anand. (1998). Reformasi, Gugatan Seorang “Ibu”. Jakarta: Grasindo)

Kebebasan dan Kesetaraan Agama di Indonesia Menurut Lemhanas

hari bakti 7

Bangsa Indonesia harus bertumpu pada prinsip-prinsip general, inklusif, meliputi semua golongan. Tiga kata kunci agar tercapai sebuah Bangsa yang Beradab adalah Kebebasan, Kesetaraan dan Toleransi. Demikian pandangan Prof. Dr. Irwan Abdullah mewakili Lemhanas sebagai keynote speaker dalam simposium Road to Global Harmony. Simposium yang digelar di Pendopo Agung Taman Siswa Yogyakarta pada tanggal 1 September 2012 ini diselenggarakan oleh Yayasan Anand Ashram (berafiliasi dengan PBB, 2006), Anand Krishna Centre JogLoSemar, IWAG – Peace, One Earth Integral Foundation, Koperasi Global Anand Krishna, Forum Kebangkitan Jiwa (FKJ), Astra, SKH Kedaulatan Rakyat, Koran Merapi, Radar Jogja, Minggu Pagi, dan KR Grup.

Sebelum keynote speaker dari Lemhanas tersebut, Ketua Yayasan Anand Ashram, dr. Sayoga menyampaikan bahwa tanggal 1 September 2005 dicanangkan oleh Menteri Pertahanan (Menhan) Republik Indonesia (RI) saat itu, Prof. Juwono Sudarsono, Ph.D sebagai Hari Bhakti bagi Ibu Pertiwi. Pada waktu itu di Aula Dwi Warna, Gedung Lemhanas, Jakarta digelar Simposium kebangsaan Bagimu Ibu Pertiwi. Hadir pula Gubernur Lemhanas saat itu, Bapak Muladi; Gubernur DKI Jakarta saat itu, Bapak Sutiyoso; dan almarhum Gus Dur.

 

Prof. Dr. Irwan Abdullah adalah Guru Besar di Center for Religious and Cultural Studies (CRCS) UGM, Doktor alumnus Fakultas Antropologi Sosial, Universitas Amsterdam. Beliau mengapresiasi Hari Bhakti bagi Ibu Pertiwi yang dirayakan dengan simposium Road to Global Interfaith Harmony. “Ini memang menjadi isu sentral bagi Lemhanas. Sehingga lewat acara ini kita dapat memberi masukan kepada pemerintah, dalam hal ini Presiden Republik Indonesia. Yakni demi membangun ketahanan nasional.” Bangsa Indonesia harus bertumpu pada prinsip-prinsip general, karena kepulauaan Nusantara terdiri atas 17.500 pulau dan 512 bahasa lebih. Kita pun memiliki beragam agama, keyakinan, dan kepercayaan. Kebudayaan kita dari Sabang sampai Merauke juga beragam. “Sehingga apa yang hari ini bersifat lokal harus ditempatkan dalam konteks global harmoni. Inilah potensi, kekuatan kultural Indonesia. Jadi kultur itu harus didamaikan dengan struktur negara, sosial, ekonomi, dan seterusnya, sehingga bisa hidup di satu lingkungan yang harmoni.”

 

Masyarakat sudah mempraktekkannya. Ada petuah Melayu untuk mendamaikan kultur dan struktur. Terutama dalam hal kepemimpinan (leadership). Pemimpin ialah orang yang didahulukan selangkah, ditinggikan seranting, dan dimuliakan sekuku. Artinya pemimpin harus dekat dengan kita. Revitalisasi budaya lokal, kearifan leluhur menjadi penting. Di Jawa sendiri, ada falsafah kepemimpinan. Dari Tamansiswa, dulu Ki Hadjar Dewantara sudah mengingatkan pada Ing Ngarso Sung Tulodho, Ing Madyo Mbangun Karso, dan Tut Wuri Handayani.

 

Untuk membangun Indonesia yang berkeadaban ada 3 syarat. Pertama, freedom (kebebasan). Bahkan masyarakat di pulau terpencil pun harus memiliki kebebasan Hak Asasi Manusia (HAM). Kedua, kesetaraan. Etnisitas jangan dibedakan. Kesetaraan warga dan bangsa harus sama. Tanpa memandang etnis, agama, dan seterusnya. Ini yang menjamin kesesuian dan keserasian. Ketiga, toleransi. Tanpa toleransi kehidupan yang harmoni tidak bisa diwujudkan…….. Kita perlu merenungkan 3 syarat menurut Prof Irwan Abdullah: Kebebasan, kesetaraan dan toleransi. Betulkah golongan minoritas memperoleh Kebebasan. Apakah mereka mendapatkan Kesetaraan? Dan apakah ada Toleransi terhadap mereka yang berbeda?

 

Di akhir sambutan, beliau menandaskan dibutuhkan perjuangan dan komitmen bersama untuk mewujudkanya. Global harmony memang harus dimulai dari Inner Peace. Dari hati para pribadi demi membangun keserasian sosial. Lemhanas sangat berterimakasih atas acara ini, dan akan mensosialisasikan hasilnya ke seluruh Indonesia. Semoga simposium ini dapat melahirkan pikiran yang matang dan berguna, untuk Indonesia yang berkeadaban serta berkontribusi dalam global harmoni.

hari bakti 6

Sejalan dengan pandangan Lemhanas mengenai  general dan kultural yang dapat mempersatukan bangsa, Bapak Anand Krishna juga memikirkan apa yang bisa menjadi perekat persatuan dan kesatuan bangsa. Dalam buku “Indonesia Jaya, Segemilang Apapun Masa Lalu-Mu, Masa Depan-Mu Lebih Cemerlang”,  Anand Krishna, One Earth Media, 2005 beliau menyampaikan………..

“Adakah agama-agama kita yang beragam itu dapat dijadikan perekat? Ternyata tidak. Konflik antar agama, walau diberi nama apa, tetaplah konflik ‘antar agama’. Walau dicarikan alasan apa, konflik itu jelas-jelas menggunakan agama sebagai dasar untuk berkonflik. Agama-agama pun masih membutuhkan perekat. Ya, agama-agama pun masih membutuhkan perekat. Bahkan, dalam satu agama yang sama pun, kita masih membutuhkan perekat. Dialog, pertemuan, konferensi, persatuan, asosiasi, federasi… kita sudah mencoba semuanya. Konflik tetap … tak terhindari…….

“Bila kita masih ingin hidup ‘utuh’ sebagai Orang Indonesia, kita harus menerima ‘keutuhan’ bangsa serta budaya kita. Kita harus kembali pada  mitos-mitos yang telah menjadi ‘akar budaya’ kita  budaya Nusantara yang ‘mengutuhkan’! Budaya Nusantara yang masih mampu mempersatukan kita dan menyuntiki kita dengan semangat baru untuk menghadapi dan memecahkan setiap persoalan bangsa.

“Bersatu Kita Utuh, Bercerai Kita Runtuh! “United We Stand, Divided We Fall!”  Entah sudah berapa kali kita mendengar pepatah itu. Entah sudah berapa kali pula kita memperoleh bukti nyata keutuhan dan keruntuhan bangsa dari sejarah kita sendiri… namun kita tetap juga tidak mau belajar. Tidak mau insyaf. Tidak mau sadar. Ketaksadaran kita ini sangat berbahaya. Berbahaya bagi bangsa dan negara. Sebab itu, siapa saja yang merasa cukup sadar, secuil apapun kesadaran serta kepeduliannya terhadap negara dan bangsa, harus berbicara.

“Saya pernah dengar kata-kata bijak seorang pujangga: ‘Ketaksadaran, Kebatilan akan merajalela bila mereka yang sadar dan baik memilih tidak berbicara.’ Saatnya, kita tidak hanya berbicara, tetapi melawan ketaksadaran. Dengan cara apa? Dengan ‘menghadirkan kesadaran’. Bagaimana melawan kegelapan? Dengan menghadirkan cahaya, sebuah pelita pun sudah cukup. Bagaimana melawan ketaksadaran. Dengan menjadi sadar dan menyebarluaskan kesadaran.

“Kita perlu memperhatikan lubang-lubang dari perekat persatuan dan kesatuan bangsa.

…….. Lubang Pertama dari perekat persatuan dan kesatuan bangsa adalah bahwa kita telah kehilangan perekat untuk mempertahankan kesatuan serta persatuan kita.. Perekat ini adalah “semangat berbangsa“. Tidak cukup mengucapkan “Aku Bangga Jadi Orang Indonesia”, kita harus menemukan alasan yang cukup kuat untuk itu. Dan, Allhamdulillah kita telah menemukan alasan itu. Ibu kita, ibu yang mengandung dan melahirkan kita. lbu Pertiwi – Budaya Asal Nusantara. Itulah alasan terkuat bagiku untuk merasa bangga sebagai Orang Indonesia. Budaya yang “memberi kita peluang” untuk berkembang terus mengikuti perkembangan jaman dan kemajuan dunia. Budaya Asal berdasarkan pada nilai-nilai luhur yang tidak pernah usang karena jaman. Budaya kita bukanlah budaya yang berdasarkan tradisi-tradisi, ungkapan-ungkapan atau perilaku seseorang atau beberapa orang saja, yang barangkali sangat relevan di jaman-jaman tertentu, tetapi tidak relevan lagi di jaman kita. Budaya kita tidak berdasarkan pada sesuatu yang sudah mati, tetapi berdasarkan kehidupan itu sendiri. Budaya adalah Energi. Jiwa dan semangat di balik kita bernegara dan berbangsa. Selama ini bila kita menggunakan ungkapan “kembali pada Budaya Asal” yang dimaksud tentunya bukanlah hidup di masa lalu. Kita tidak bisa melakukan hal itu. Kembali pada Budaya Asal hanya berarti kita tidak melupakan Ibu Pertiwi, tidak melupakan Budaya Asal kita. Maksudnya: Boleh merantau jauh untuk mencari nafkah, tetapi tidak lupa dengan kampung halaman.

………. Lubang Kedua dari perekat persatuan dan kesatuan bangsa adalah upaya-upaya ‘penjajahan’ yang dilakukan oleh berbagai pihak dalam berbagai bidang – sosial, budaya, ekonomi dan lain-lain. Jangan terbawa oleh isu-isu, oleh cerita-cerita yang sengaja disebarkan untuk memecah-belah kita seperti apa yang dulu dilakukan oleh Belanda dengan menciptakan mitos-mitos seputar cerita Ajisaka. Penyalahgunaan cerita-cerita rakyat dan pemutarbalikan fakta seperti ini tidak hanya dilakukan oleh Belanda, sebelumnya pun pernah terjadi. Ketika tokoh-tokoh dalam cerita wayang ditampilkan “seolah sudah meninggalkan agama lama” dan menerima agama lain. Padahal, apa yang disebut “agama lama” itu bukanlah agama, tetapi budaya asal kita. Kita sengaja dipisahkan dari akar budaya, supaya dapat dibabat habis. Tanpa akar budaya itu, tanpa jati diri itu, kehilangan ke-“khas”-an kita. Kita tidak lagi memiliki ciri khas. Sekali lagi, kita boleh beragama apa saja – tidak menjadi soal. Budaya kita satu, sama, dan Kesatuan itu yang harus kita junjung bersama. Dalam setiap kesempatan ingatkan setiap anak bangsa, diingatkan akan Budaya Asalnya yang sangat tinggi dan indah. Biarlah Budaya Asal itu menjadi perekat.

………… Lubang Ketiga dari perekat persatuan dan kesatuan bangsa adalah Fanatisme Agama. Agama harus disikapi sebagai kebutuhan batin untuk menumbuh kembangkan sifat-sifat lahir yang ‘penuh kasih’ dan ‘suka damai’. Ajaran agama harus dicerna dan dilihat relevansinya dengan keadaan kita saat ini. Semoga kita tidak lupa peringatan Nabi bahwa agama diturunkan untuk memfasilitasi hidup manusia, bukan untuk mempersulitnya. Selama berabad-abad kita hidup berdampingan dengan saudara-saudara kita yang beragama lain, berkepercayaan lain, kemudian segelintir orang menghasut dan kita pun terhasut. Segelintir orang datang untuk mengacaukan kita supaya dapat dijajah kita tidak cukup sadar untuk memahami agenda mereka.

………. Lubang keempat dari perekat persatuan dan kesatuan bangsa adalah ketergantungan kita pada kekuatan-kekuatan di luar. Tidak tergantung pada kekuatan-kekuatan di luar, sehingga kita tidak terjebak dalam skenario politik buatan mereka. Tidak setiap negara yang memberi bantuan kepada kita setulus apa yang terlihat di muka. Banyak di antara mereka memiliki agenda-agenda terselubung yang hanya menunggu realisasinya dengan menggunakan kaki tangan mereka di dalam negeri, para putra-putri bangsa yang rela menggadaikan kehormatan Ibu Pertiwi demi kepingan emas, kekuasaan atau janji surga.” (Krishna, Anand. (2005). Indonesia Jaya, Segemilang Apapun Masa Lalu-Mu, Masa Depan-Mu Lebih Cemerlang. One Earth Media)

Sri Sultan HB X: Kerukunan Beragama Menuju Global Harmony

hari bakti 5

Dalam simposium Road to Global Harmony di Pendopo Agung Taman Siswa Yogyakarta pada tanggal 1 September 2012, Sri Sultan HB X memberikan pandangan beliau yang pantas kita simak. Seorang Raja dan Gubernur yang paling dihormati masyarakat Yogyakarta dan sangat dihormati oleh seluruh masyarakat Indonesia memberikan pandangannya yang jernih dan bijak mengenai kondisi Indonesia saat ini. Kami merencanakan ada tulisan berseri mengenai pandangan para tokoh dari berbagai agama dan para pakar yang hadir dalam acara tersebut dan dimulai dari pandangan Sri Sultan HBX.

 

Simposium ini diselenggarakan oleh Yayasan Anand Ashram (berafiliasi dengan PBB, 2006), Anand Krishna Centre JogLoSemar, IWAG – Peace, One Earth Integral Foundation, Koperasi Global Anand Krishna, Forum Kebangkitan Jiwa (FKJ), Astra, SKH Kedaulatan Rakyat, Koran Merapi, Radar Jogja, Minggu Pagi, dan KR Grup.

 

Berikut pandangan Sri Sultan HB X:

 

Agama ditujukan untuk membuat manusia berbuat baik, akan tetapi dari fakta yang terjadi juga menjadi timbulnya faktor kerusuhan. Untuk mengeliminasi atau minimal untuk mereduksi diperlukan dialog antar agama dan antar iman.

 

Menurut istilah peneliti Interfidei Yogyakarta Zuly Qodir, agama seperti pedang bermata dua. Selain menawarkan keteduhan, hidup damai, menjunjung nilai-nilai universal keadilan dan kebenaran tapi juga tak jarang menjadi pemicu munculnya kekerasan.

 

Dari banyaknya peristiwa terjadinya kekerasan, seakan-akan membenarkan pernyataan bahwa agama memang pendukung kekerasan. Agama yang diharapkan menjadi tempat berlindung malah berlaku kasar dan bahkan telengas. Suka atau tidak suka kita hidup dalam masyarakat pluralitas, beragam.

 

Sri Sultan HB X menyitir Al Qur’an……  “Kami telah menciptakan kamu semua dari satu pria dan satu wanita, dan menjadikan kamu pelbagai bangsa dan suku, agar supaya kamu saling mengenal.” Realitas yang sama juga ditegaskan Al-Quran, “Bagimu agamamu, bagiku agamaku.”

 

 

Sebelumnya Dr. Sayoga, Ketua Yayasan Anand Ashram (berafiliasi dengan PBB, 2006) menyampaikan bahwa acara semacam ini rutin diadakan setiap tanggal 1 Sepetember. Pada tahun 2005, Menteri Pertahanan (Menhan) Republik Indonesia (RI) saat itu, Prof. Juwono Sudarsono, Ph.D menyatakan bahwa tanggal 1 September dicanangkan oleh sebagai Hari Bhakti bagi Ibu Pertiwi. Demikian pernyataan beliau yang diungkapkan di  Gedung Lemhanas, Jakarta. Hadir pula Bapak Muladi (Gubernur Lemhanas saat itu) ; Bapak Sutiyoso (Gubernur Dki saat itu); dan almarhum Gus Dur.

 

Simposium ini urgen diselenggarakan karena kerukunan beragama dan kebebasan berkeyakinan selama ini hanya menjadi sebuah rhetoric alias kata-kata manis belaka. Tapi faktanya, setiap saat, kapan saja, di mana pun kelompok-kelompok agama dan kepercayaan bisa disulut dan dikonfrontir lewat konflik yang berujung pada pertumpahan darah. Dalam 2000 tahun terakhir, telah terjadi 3000-an kali perang atas nama agama dan kepercayaan. Pada konteks Indonesia, Data Setara Institute menunjukkan serangan atas nama agama naik dari 135 kasus pada 2007 menjadi 216 kasus pada 2010 dan 244 kasus pada 2011.

hari bakti 6

Berikut pandangan Bapak Anand Krishna tentang agama…….

“Kita menghormati semua agama. Di sini kita terlibat dalam suatu eksperimen yang dapat meningkatkan kesadaran kita berbangsa, yang dapat meningkatkan kesadaran sosial, moral dan spiritual bangsa Indonesia. Dan yang bisa mempersatukan Indonesia  hanyalah peningkatan kesadaran manusia Indonesia. Sekali lagi, saya tidak mencampur-adukkan agama. Hanya mereka yang belum sadar akan apa yang sedang terjadi disini yang mengkritik kita.  Saya tidak akan pernah menyarankan Anda pindah agama. Siapa saya ini? Saya bukan tokoh agama. Saya ingin bicara dengan roh Anda, dengan jiwa Anda, bukan dengan badan Anda saja, bukan dengan atribut-atribut yang Anda peroleh karena kelahiran Anda. Apa agama yang Anda anut tidak menjadi masalah bagi saya.  Agama Anda adalah atribut yang Anda peroleh karena kelahiran Anda. Saya ingin berdialog dengan jiwa Anda. Saya ingin menggugah kesadaran Anda.”  (Krishna, Anand). (2004). Jalan Kesempurnaan melalui Kamasutra. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Romo Aloysius Budi Purnomo: Kerukunan Umat Beragama dan Laku Toleransi

romo budi

Romo Aloysius Budi Purnomo, Pr mewakili Umat Katholik memberikan pandangan tentang kerukunan beragama dalam simposium Road to Global Harmony. Simposium yang digelar di Pendopo Agung Taman Siswa Yogyakarta pada tanggal 1 September 2012 ini diselenggarakan oleh Yayasan Anand Ashram (berafiliasi dengan PBB, 2006), Anand Krishna Centre JogLoSemar, IWAG – Peace, One Earth Integral Foundation, Koperasi Global Anand Krishna, Forum Kebangkitan Jiwa (FKJ), Astra, SKH Kedaulatan Rakyat, Koran Merapi, Radar Jogja, Minggu Pagi, dan KR Grup.

 

Romo Aloysius Budi Purnomo, Pr adalah Alumnus Magister Teologi Wedhabhakti Universitas Sanata Dharma (USD) Yogyakarta, lahir di Wonogiri tahun 1968 itu, dan dikenal piawai memainkan saksofon. Alat musik tiup itu menjadi sarana untuk menjalankan tugas perutusannya dalam berbagai kegiatan yang mengusung visi-misi kemanusiaan dan kebangsaan. Dalam simposium Romo Budi menunjukkan beberapa foto kerja nyata beliau dalam berhubungan dengan umat lainnya. Foto-foto tersebut sudah menunjukkan bahwa beliau sangat menghormati dan selalu bekerjasama dengan umat lain. Dalam surat-surat kabar yang terbit di Semarang, kita sering membaca kegiatan beliau.

 

Sebagai Ketua Komisi Hubungan Antaragama dan Kepercayaan Keuskupan Agung Semarang (KAS), beliau dikenal sebagai budayawan interreligius ini merasa punya tanggungjawab moral untuk sebuah komitmen terhadap perbedaan iman, agama, keyakinan, dan budaya, yang bisa saling memperkaya. Dia juga berharap bisa merangkul dan berdialog dengan semua kalangan, termasuk kelompok-kelompok yang seringkali dicap radikal oleh masyarakat.

 

Romo Budi bergerak melalui jalur budaya dan kesenian. Beliau pernah bekerjasama dengan Emha Ainun Najib (Cak Nun) dengan gamelan Kyai Kanjeng-nya untuk membuat sebuah pertunjukkan bersama dengan Gereja Isa Almasih Pringgading, bersinergi dengan Masjid Baiturahman Semarang. Beliau juga meminta mahasiswa praktik berkunjung ke masjid atau klenteng. Komunikasinya dengan para tokoh-tokoh agama tersebut masih berlanjut sampai sekarang. Selama tiga tahun terakhir beliau terus mengadakan kaderisasi orang muda Katolik untuk gerakan dialog dan persaudaraan sejati. Mereka diajak bersilaturahmi ke Ponpes Kyai Pandanaran di Yogyakarta. Beliau juga pernah mengajak muda-mudi Katholik live in di Pondok Pesantren sehingga mereka bisa saling belajar.

 

Romo Budi juga pernah membuat acara week end lintas Agama di Kerep, Ambarawa pada tahun 2010 bersama Alisa Wahid, putri Gus Dur. Pemuda-pemuda berbeda keyakinan ditempatkan dalam kamar tidur yang sama, demikian juga dengan pemudi-pemudinya. Para pemuda dengan berbagai iman bukannya bersitegang, malahan cair bercanda sepanjang malam dan malah kentut bersahut-sahutan. Begitu akrabnya mereka.

 

Selain Romo YB Mangunwijaya atau Romo Mangun, tokoh lintas iman seperti Gus Dur memang menjadi salah satu yang dikagumi beliau. Bersama Jaringan Kaum Muda Lintas Agama pernah menggelar refleksi satu tahun meninggalnya Gus Dur di kawasan Tugu Muda Semarang. Sosok Gus Dur serupa cahaya bagi keagamaan dan keberagaman masyarakat Indonesia. Romo Budi juga menjadi salah satu deklarator Gerakan Pluralisme dan Humanisme Gus Dur.

 

Dalam kehidupan antarumat beragama, beliau mengingatkan pentingnya arti toleransi. Tidak sekedar pemaknaan lisan, tapi lebih pada laku. Di negara ini, lanjutnya, semua agama impor. Begitu pula dengan kelenteng. Justru yang beridentitas Indonesia hanyalah kejawen. Karena itu, janganlah merasa paling benar. Tidak ada agama yang mengajarkan kekerasan. Orang boleh fanatik, tapi jangan berlebihan. Jangan fanatik untuk menghantam agama lain.

 

 

Demikian pula Bapak Anand Krishna yang membuat model prototipe masyarakat Indonesia yang bisa bekerjasama dengan mengapresiasi semua agama. Bhikku Sanghasena dari Mahabodhi International Meditation Centre, Ladakh, India  dengan spontan mengucapkan, “Wonderful!”,  saat melihat kebersamaan di Anand Ashram di mana banyak orang, dari anak kecil sampai dewasa, berbeda profesi, berbeda suku, berbeda ras, berbeda agama dapat bekerja bersama, meningkatkan kesadaran dalam suasana bahagia…… Di Anand Ashram semua kalangan dari berbagai suku, berbagai agama berbagai profesi dapat bekerjasama. Dan itulah impian Bapak Anand Krishna mengenai Indonesia. Dari pengalaman beliau mengikuti kegiatan Inter Religious Dialogue, yang berskala internasional pun yang namanya dialog hanya diskusi dan duduk bersama. Akan tetapi di Anand Ashram, semua orang dari berbagai agama dan berbagai suku benar-benar bekerjasama melakukan pelayanan, seperti Pelayanan Medical Camp dan Pelayanan Pusat Pemulihan Stress dan Trauma Keliling (PPSTK), Pesta Rakyat, Club Tawa Ceria, Free Healing dan lain-lain.

 

Bhikku Sanghasena berbicara, mengapa tidak ada kedamaian? Karena ada “division”, ada pembagian, ada pengkotak-kotakan. Karena ada pembagian maka timbullah friksi, muncullah perkelahian. Pembagian, pengkotak-kotakan sudah terjadi menyeluruh dalam setiap kehidupan manusia, pembagian negara, agama, ras, warna kulit, geografi dan sebagainya. Semua orang menginginkan kedamaian, kebahagiaan, kemakmuran, betul demikian semuanya…… akan tetapi hanya kedamaian, kebahagiaan dan kemakmuran bagi kelompoknya. Kelompok Amerika hanya memperjuangkan bagi Amerika, demikian pula Eropa, Asia ataupun suatu agama hanya memperjuangkan kedamaian, kebahagiaan dan kesejahteraan bagi umat seagamanya saja. Dan selalu kita hanya memikirkan kelompok kita dan mengabaikan kelompok lain di luar kita, itulah sebabnya tidak pernah tercapai perdamaian……. Terlalu banyak pengkotak-kotakan dalam kehidupan, pada hal secara fundamental kita itu sama-sama manusia…… Harus ada transformasi, atau perubahan sikap mental, perubahan “attitude”. Itulah yang dilakukan di Anand Ashram menurut Sang Bhikku.

hari bakti 7

Bapak Anand Krishna juga menerjemahkan makna “baik terhadap tetangga” dalam Bible, beliau menyampaikan:

“Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu. Dan hukum yang kedua ialah: Kasihilah sesamamu manusia (tetanggamu) seperti dirimu sendiri. Tidak ada hukum lain yang lebih utama daripada kedua hukum ini.” (Markus 12 : 30-31).  Adalah dalam konteks kesetaraan pula ketika Yesus berperan supaya kita mencintai tetangga, atau sesama manusia, sebagaimana mencintai diri. Apa arti mencintai tetangga, atau sesama manusia? Seandainya saya hendak makan siang bersama istri saya, di atas meja makan hanyalah tersedia sepotong kue pai dan sisa roti yang sudah kering. Kemudian saya ambil pai untuk diri saya dan menyisakan roti kering untuk istri, yang konon saya cintai, apakah dengan cinta seperti ini saya dapat mencintai tetangga saya? Jelas tidak. Jika saya mencintai istri saya, saya akan menginginkan kue itu untuk dia sebagaimana saya inginkan untuk diri saya. Jika saya mencintai tetangga saya, segala kenikmatan yang saya inginkan untuk diri saya akan saya inginkan untuk dia pula. Jika saya mencintaimu, apa yang saya upayakan untuk diri saya akan saya upayakan pula untuk dirimu. Apa yang saya upayakan bagi anak-anak saya akan saya upayakan pula bagi anak-anakmu. Saya tidak akan membiarkan dirimu dizalimi sebagaimana saya tidak akan membiarkan diri saya dizalimi. Saya tidak akan menerima ketidakadilan terhadap mereka yang kaucintai, sebagaimana saya tidak menerima ketidakadilan terhadap mereka yang saya cintai.” (Krishna, Anand. (2010). A New Christ, Jesus: The Man and His Works, Wallace D Wattles. Re-editing, Terjemahan Bebas, dan Catatan Anand Krishna oleh Anand Krishna. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)