DMT dan Keberanian Mistis Sejati Ibu Srini Bebas dari Perbudakan Duniawi

Bagian Kedua Kisah Ibu Srini

Intimidasi Membuat Rasio Kolektif Kita Tidak Rasional

Sekelompok ilmuwan menempatkan 5 ekor monyet dalam kandang tempat mereka juga meletakkan tangga dan beberapa pisang di atas tangga itu. Tidak lama kemudian, salah satu monyet melihat pisang di atas tangga dan mulai memanjat untuk mengambilnya. Ketika monyet itu sudah hampir sampai di atas, para ilmuwan mengguyuri kelima monyct itu dengan air dingin. Monyet yang sedang memanjat kaget, dan terlempar ke bawah. Setelah itu, ia tidak berani memanjat lagi.

Tapi, seekor monyet yang lain memberanikan diri dan mulai memanjat tangga. Sekali lagi, mereka diguyur dengan air dingin. Dan, monyet-monyet itu sepertinya “tercerahkan”: “Kalau ada yang naik tangga untuk mengambil pisang, kita semua akan diguyur air dingin”. Maka, tidak satu pun berani memanjat lagi. Mereka melihat pisang yang ada di atas tangga dengan penuh harapan, tetapi hanya itu. Hanya melihat, mereka tidak berani memanjat untuk mengambilnya.

Para ilmuwan mengubah pola mereka. Mereka mengganti seekor monyet dengan monyet baru. Tidak lama kemudian, monyet baru itu melihat buah pisang di atas tangga dan mulai mendekati tangga. Baru mau memanjat, empat ekor penghuni lama menyerangnya. Monyet baru itu bingung. Ia tidak tahu alasan dirinya diserang, namun selanjutnya ia tidak berani mendekati tangga lagi.

Para ilmuwan melanjutkan pola baru mereka. Sekarang, seekor monyet diganti dengan monyet baru. Monyet baru yang kedua ini pun melihat buah pisang di atas tangga dan mendekati tangga. Tidak hanya tiga ekor monyet lama yang menyerangnya, monyet baru sebelumnya pun ikut menyerangnya.

Demikian, selanjutnya monyet ketiga, keempat, dan kelima pun diganti dengan monyet-monyet baru. Monyet-monyet baru itu tidak pernah diguyur air saat memanjat. Mereka tidak punya pengalaman terlempar jatuh dari atas. Tidak pernah basah. Kendati demikian, mereka tidak pernah memanjat lagi. Bahkan, setiap kali ada seekor monyet yang berusaha untuk memanjat, empat ekor lainnya menyerang dia.

Inilah Pengaruh Teror Massa. Para ilmuwan tersebut berhasil meneror monyet-monyet di dalam kandang, sehingga mereka tidak berani memanjat tangga. Mereka berhasil mempengaruhi kesadaran kolektif monyet—monyet di dalam kandang itu, yang kemudian menjadi takut terhadap sesuatu yang  “tidak pernah terjadi pada diri mereka”.

Saatnya Anda bertanya pada diri sendiri: “Apakah saya pernah atau telah menjadi korban pengaruh teror serupa? Apakah kesadaran saya pun terpengaruh oleh intimidasi massal yang dilakukan oleh pihak, lembaga, institusi tertentu?” Jika Anda jujur pada diri sendiri dan menjawab “ya”, jawaban “ya” inilah yang menjadi kendala dalam pembangkitan Jiwa mistik di dalam diri Anda. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2015). Kearifan Mistisisme, Panduan untuk Menyelaraskan Diri dengan Semesta dan Menyerap Suara Yang Maha Ada, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Mistisisme, spiritualitas, atau apa saja sebutannya, adalah bagian yang tak terpisahkan dari kesadaran manusia. Saat ini jika bagian kesadaran tersebut tidak, atau belum, berkembang, maka alasannya adalah “pihak-pihak tertentu tidak menginginkannya.”

Ibu Srini Berjiwa Merdeka. Jiwa merdeka adalah berita buruk bagi mereka yang ingin memperbudak Anda. Jiwa merdeka adalah berbahaya bagi mereka yang ingin menguasai Anda. Sebab itu, diciptakanlah berbagai macam peraturan dan sangsi yang tidak masuk akal, supaya Anda takut, tetap tinggal di dalarn “kandang” dan tidak rnemikirkan buah pisang “Kemerdekaan Jiwa”. Inilah dasar dari segala konspirasi massal yang dilakukan oleh pihak-pihak yang tidak menghargai kemanusiaan manusia. Mereka tidak menghargai hak asasi manusia. Mereka menggunakan hukum dan peraturan untuk menguasai, memperbudak, dan melestarikan kekuasaan mereka.

Ibu Srini berani dengan halus menolak lamaran Raja Besar PB X di Zaman Belanda demi tugas kelahirannya di dunia untuk berbhakti pada masyarakat. Ini adalah sebuah keputusan yang sangt berani. Apabila Beliau menjadi istri raja Beliau, hanya akan berbhakti pada Keluarga Raja dan tergantung kebijakan Sang Raja. Tentu Beliau sudah “mendengarkan” Kehendak (Dhawuh) Gusti sebelum bertindak. Seperti penjelasan Ibu Endang keponakan Beliau, Beliau tidak punya ego pribadi, semuanya hanyalah melakoni Kehendak Gusti.

Ibu Srini bahkan berani menggunduli kepalanya, memotong habis mahkota rambutnya agar tidak terikat dengan duniawi yang hanya merupakan sebuah ilusi. Ini sebuah kejadian yang sulit dipahami oleh masyarakat saat itu. Tidak masuk akal pikiran orang biasa sampai pada tindakan ini. Tentu telah dipikir mmasak-masak dan sebuah kepercayaan diri yang luar biasa untuk bberani berbeda dengan masyarakat biasa.

Pada tanggal 30 Oktober 1945 Ibu Srini memperoleh Ilham, “Bahwa kemerdekaan Bangsa Indonesia yang sesungguhnya akan lambat tercapainya selama hanya putra-putranya sajalah yang berjuang. Hendaknya putri-putrinyapun ikut bersama-sama mempertahankannya.” Ini juga sebuah hal yang baru di zaman Belanda, biasanya istri hanya istilahnya, Suwarga nunut, Neraka katut, mulia atau tidak mulia tergantung suami.

Di hari itu juga, Ibu Srini mendirikan LPI (Laskar Putri Indonesia). Awalnya yang tergabung sebagai anggota hanya terdiri dari kerabatnya sendiri. Di antaranya adalah adiknya sendiri, Sarwenten dan keponakan-keponakannya, seperti Prasasti, Pramani, Dartijah, Siti Mujani, Sri Suwarni, dan Mastuti. Mereka adalah putri-putri yang masih memiliki “darah” keraton. Karena rata-rata masih duduk di bangku SMP dan belum akrab dengan organisasi, mereka perlu pendidikan khusus.

Karena kendala itu, Ibu Srini juga mengajak para pria. Mereka yang dipercaya adalah Ibnoe Oemar (adik laki-laki Srini), R.Ng. Prodjosoepono (ayah Prasasti), R.Ng. Prodjowasito, dan R. Mangunsardjono. Namun, kian hari para anggota bertambah. Dalam waktu dekat, LPI berhasil merekrut sebanyak 120 orang. Dan, para perempuan lain yang tertarik terus menyusul.

Dalam LPI, pendidikan ketentaraan yang diberikan standar TNI. Karena pelatihnya memang dari sana. Pelatih pertamanya adalah R.M.P Brodjosasmojo. Dia merupakan anggota perwira Keurkorps Keraton Surakarta.

Selain pendidikan ketentaraan, LPI juga menyediakan pendidikan umum lainnya. Di antaranya yang diajarkan adalah Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, Ilmu Jiwa, Ilmu Jiwa Masyarakat, Kesehatan, Tata Negara, Ekonomi, Politik Ekonomi, Budi Pekerti, Sejarah Pergerakan Nasional, Pengetahuan Umum, dan P.P.P.K.

Tapi karena beberapa faktor, organisasi ini dibubarkan pada tanggal 27 Oktober 1948 oleh Jenderal Mayor Gatot Soebroto sebagai Gubernur Militer Surakarta. Salah satu faktor pentingnya adalah pidato Bung Hatta. Sebagai wakil presiden, dia berharap para pelajar yang ikut berjuang untuk segera kembali ke bangku sekolah. Karena pendidikan bagi dia lebih penting dan masa perjuangan—dalam artian perang—sudah hampir selesai. Dari itu, banyak orang tua memaksa putri-putrinya yang ikut LPI supaya keluar dan kembali melanjutkan sekolah.

Pada waktu Zaman Clash, Belanda datang lagi mendompleng Inggris untuk menaklukkan Yogyakarta, Ibu Srini yang sudah tidak lagi keluar rumah, melakukan long march dengan berjalan kaki ke Jogja beserta para anggota Laskar putri untuk membantu para gerilya merebut kota Jogja.

Dalam long march tersebut Ibu Srini selalu tidur di makam leluhur ditemani kedua adiknya. Beliau tidur di 3 makam leluhur dalam perjalanan ke Jogja. Ibu Srini tetap berjalan ketika pesawat Mustang (cocor merah) Belanda terbang rendah di persawahan desa mencari pasukan gerilyawan TNI. Ibu Srini memilih Makam Imogiri sebabagi markas walau sudah ditawari rumah oleh kerabatnya di sana..

Kaitan Keberanian dengan DMT

Latihan-latihan meditasi menstimuli kelenjar pineal yang dapat membuat rileksasi yang luar biasa dengan keluarnya zat melatonin. Dalam kaitannya dengan spiritualitas atau ketuhanan produksi melatonin tersebut tidak cukup, dan ternyata ada zat yang disebut Dimethyltrypamine atau DMT.seperti halnya dengan melatonin, DMT juga diciptakan sendiri oleh tubuh manusia. DMT adalah prana dalam bentuk cairan, dalam bentuk kristal-kristal kecil. Prana adalah life force yang antara lain termasuk DMT. Orang yang memiliki suplai DMT tidak pernah tergoda oleh janji palsu. Mereka tidak bisa diperbudak.

Dalam keadaan tertentu produksi DMT bisa mencapai tingkat maksimal. Keadaan tertentu itu pertama pada saat kelahiran. Kedua pengalaman stres yang luar biasa termasuk ketika seseorang mengalami near death experience, sakit keras, koma atau kecelakaan, ketika ia sudah berada di ambang kematian. Ketiga saat kematian.

Dalam keadaan meditatif, seseorang memiliki rasa empati terhadap sesama makhluk hidup. Dan semua tindakannya diwarnai rasa empati.

Tritunggal DMT, Core Aura dan Spiritualitas. DMT adalah fenomena fisik. Ia merupakan zat kimia. Aura, adalah energi yang terkandung di dalamnya. Pengalaman spiritual adalah keaaan ‘mistis’ seseorang yang sedang mengalami ‘suntikan alami’ DMT. Ini semacam tritunggal – ada satu, ada tiga-tiganya. Untuk mengetahui lebih detail silakan baca buku (Krishna, Anand. (2015). Kearifan Mistisisme, Panduan untuk Menyelaraskan Diri dengan Semesta dan Menyerap Suara Yang Maha Ada, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Laku Ibu Srini: tidak makan garam; kalau makan sering hanya tahu putih dikukus dan cabe; sering melakukan Puasa Mutih; Puasa Ngebleng, berada di dalam kamar selama satu minggu hanya minum air putih yang menurut Ibu Endang tidak tahu diminum Beliau atau tidak; Puasa Ngebleng tanpa lampu juga sering disebut Puasa Pati Geni, hanya berdoa, membaca mantra dan mematikan api nafsu; laku tersebut dapat memicu keluarnya DMT dan nampak pada aura dan tindakan Beliau yang penuh empati terhadap sesama. Terasa ada benang merahnya dengan Puasa Nyepi di Bali.

Keberanian Ibu Srini: menggunduli mahkota rambut Beliau; tidak menikah dan menolak kenyamanan sebagai istri Penguasa; mendirikan Laskar Putri Indonesi; melakukan long march ke Jogja adalah bukti nyata spiritualitas Beliau yang berani melawan perbudakan adat kebiasaan. Tritunggal DMT, Core Aura dan Spiritualitas ada dalam diri Ibu Srini.

……………….

Intinya: Mesti Ada yang Berani untuk mengambil langkah pertarna dan mengatakan “tidak” terhadap kebohongan, kepalsuan, kekejaman, dan sebagainya. Pemberani itu adalah seseorang yang memiliki niat kuat untuk membangkitkan Jiwa mistik di dalam dirinya. Munculkan niat itu… dan dalam sekejap berkah ilahi pun turun. Anda diguyur dengan DMT untuk memupuk, memperkuat, dan melipatgandakan niat Anda.

Selama Anda masih menjadi konformis, lagi-lagi guyuran DMT tidak pernah terjadi. Anda akan selalu hidup di bawah bayang-bayang orang lain. Di bawah bayang-bayang kelompok mayoritas, kendati kelompok tersebut membohongi, mencelakakan, melecehkan, dan memperkosa hak-hak Anda. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2015). Kearifan Mistisisme, Panduan untuk Menyelaraskan Diri dengan Semesta dan Menyerap Suara Yang Maha Ada, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Ibu Endang Sumirasmi keponakan Ibu Srini

 

Dua tahun menjelang kepergian Beliau, Beliau minta dibelikan mobil Colt dan Beliau sering bepergian ke Jakarta, Sragen dan tempat-tempat lainnya. Istilah kami di Solo sudah mulai pamit-pamit (minta izin akan bepergian).

Beliau menyiapkan makam untuk diri Beliau dan selesai tahun 1988. Sesudah itu tidak ada renovasi lagi. Beliau berpulang pada tahun 1909 dalam usia 79 tahun.

Sebelum Berpulang Beliau memanggil para keponakan perempuan dan berpesan bahwa yang dihadapi mereka akan berat, sebagai istri dan ibu dari anak dan nenek dari cucu dan seterusnya. Beliau berpesan agar menjaga kesucian. Beliau mengatakan bahwa Beliau lebih ringan, begitu berpulang urusan sudah selesai karena tidak punya suami, anak dan cucu.

Ibu Srini wafat pada tanggal 14 September 1989 dimakamkan di Hastana Pepe, Gedongan, Colomadu.

Silakan baca Catatan Ibu Srini Bagian 1

https://gitakehidupansepasangpejalan.wordpress.com/2018/09/11/bhakti-ibu-srini-panembahan-sejati-tanpa-pamrih-pribadi/

 

 

Advertisements

Bhakti Ibu Srini, Panembahan Sejati Tanpa Pamrih Pribadi

Bagian Pertama Kisah Ibu Srini

Menjalankan Kehendak Gusti bukan Kehendak Pribadi

“Manusia terikat oleh dan karena perbuatannya sendiri, kecuali jika ia berbuat dengan semangat manembah. Sebab itu, Kaunteya (Arjuna, Putra Kunti), laksanakanlah tugasmu dengan baik, tanpa keterikatan, dan dengan semangat manembah.” Bhagavad Gita 3:9

Ketika kita betul-betul mencintai seseorang, kita tidak mengharapkan sesuatu. Keinginan kita adalah untuk memberi saja. Barangkali kaum Adam sulit rnemahami hal ini. Kaum Hawa lebih memahaminya. Sebab itu, dalam hal menjalin hubungan dengan Gusti, jadilah seperti seorang perempuan, memberi, memberi, dan memberi. Inilah cinta sejati. Inilah berkarya tanpa keterikatan pada hasil, tanpa pamrih. Inilah Karma Yoga. Dan, ini pula bhakti — panembahan yang sesungguhnya. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia lewat #BhagavadGitaIndonesia

Catatan mengenai Ibu Srini direncanakan dalam 2 buah Tulisan. Bagian Pertama tentang Bhakti Ibu Srini terhadap masyarakat. Dan, Bagian kedua tentang Keberanian Ibu Srini melawan belenggu kebiasaan masyarakat  yang tidak kondusif.

 

Doa Seorang Ayah di Tepian Bengawan Solo

Seorang ayah berdoa di tepian sungai Bengawan Solo agar “Pemilik Ciptaan” memberkahinya dengan seorang putra untuk melanjutkan garis keluarga. Ayah tersebut sudah mempunyai satu putri berusia sekita 15 tahun akan tetapi belum memiliki adik. Ayah tersebut bersama istrinya baru saja menghadap Ibu Srini. Ibu Srini berasal dari keluarga Kraton, namun ia memilih tinggal di luar Kraton sebagai rakyat biasa. Ia seorang wanita yang diberkahi – sesuatu yang mistik. Ia jarang bicara, tetapi kalau bicara ucapannya penuh wibawa, seolah kekuatan yang lebih besar sedang berbicara lewat dirinya.

Ibu Srini menemui pasangan suami istri tersebut dan berkata, “Ya, ya.. saya restui. Anda menginginkan seorang anak, seorang putra. Tuhan akan memberikannya kepada anda. Tak usah kuatir. Tunggu sebentar.” Dan, Beliau masuk ke ruang pribadinya.  Tidak lama kemudian seorang pengikut Ibu Srini keluar dan memberikan sebuah apel untuk Sang Istri dan Sang Ayah diminta memberi makan ikan di Bengawan Solo dengan nasi kuning…..

Tidak berapa lama sang istri hamil dan akhirnya melahirkan seorang putra yang sekarang dikenal dengan nama Anand Krishna. Silakan baca (Krishna, Anand. (2004). Soul Quest, Pengembaraan Jiwa dari Kematian Menuju Keabadian. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama) dalam buku tersebut ditulis sebagai Ibu Sri.

 

Hampir semua komunitas India yang menguasai perdagangan tekstil di Solo sering datang ke tempat Ibu Srini. Semua orang Solo mengenal Ibu Srini dan setiap hari banyak sekali orang yang datang mohon bantuan doa dari Ibu Srini. Orangtua kami dan orangtua istri kami juga sering menghadap Ibu Srini. Kebiasaannya adalah kepada mereka yang mohon didoakan diminta makan sesuatu. Kami ingat pada waktu kami lulus SMA dan iku test di UGM Yogyakarta, ibu saya berkata Ibu Srini dhawuh kami agar makan Selat Solo. Begitu juga saat kami akan ujian pendadaran ibu kami selain berdoa setiap hari juga menghadap Ibu Srini dan kami juga diminta makan Selat Solo. Dan, memang sukses. Demikian pula saat istri kami masih anak-anak saat pergi ke suatu makam, dirinya merasa dikelilingi banyak ular dipimpin raja ular. Kejadian tersebut berjalan berhari-hari. Yang melihat hanya istri kami dan orang lain tidak dapat melihat kejadian tersebut. Mertua kami cemas dan menghadap Ibu Srini dan istri kami diminta makan bakmi. Dan setelah itu tidak ada lagi ular yang mengelilingi dirinya.

Ibu Srini yang memberikan tanggal perkawinan kami 19 Mei 1984, dan minta adiknya Bapak Ibnoe Oemar dan Istrinya menjadi pengiring kami berdua dalam acara temu Pengantin di Rumah Jalan Dworowati 33 Solo. 24 tahun kemudian, persis pada tanggal 19 Mei 2008, kami berdua diajak Keberadaan mengikuti Guruji ke Biara Hemis.

Silakan baca Tautan: https://gitakehidupansepasangpejalan.wordpress.com/2015/02/06/sepenggal-jalur-sutra-bag-11-hemis-gompa-atisha-isa-dan-lama-pemandu-bapak-anand-krishna/

 

Hidup Untuk Melayani Masyarakat

Ilmu Astrologi yang berkembang di wilayah peradaban Sindhu atau Hindia tidaklah berdasarkan takhayul. Tapi, berdasarkan pengetahuan para ahli mereka tentang ruang angkasa, sebagai hasil penelitian selama ribuan tahun. Dari penelitian-penelitian ilmiah itu pula mereka dapat menyimpulkan bila kehidupan di bumi sangat terpengaruh oleh keadaan di ruang angkasa. Konstelasi perbintangan saat kelahiran tidak hanya menentukan sifat dasar manusia, tetapi juga memengaruhinya sepanjang hidup.

(Catatan: “Sifat dasar” di sini tidak berarti harga mati. Ia ibarat kain blacu yang biasa digunakan untuk batik tulis. Kita memang tidak bisa mengubah tenunan kain itu. Tapi, dengan mengetahui sifat kain, kita bisa menentukan bahan celup, dan tulis yang sesuai. Kita juga bisa menentukan corak sesuai dengan selera kita. Pada akhirnya, harga kain itu bisa meningkat beberapa kali lipat karena tambahan-tambahan” yang kita lakukan-a.k). Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2010). Spiritual Astrology, The Ancient Art of Self Empowerment, Bhakti Seva(The Blissful Prophet), Terjemahan Bebas, Re-editing, dan Catatan Oleh  Anand Krishna. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

Seorang anak lahir pada hari dan jam tertentu, dan dipengaruhi oleh bintang tertentu, karena karma dia pada masa yang lalu. Ilmu astrologi dapat menjelaskan pengaruh dari masa lalu, dan kemungkinan apa yang dapat terjadi pada masa mendatang. Namun yang menguasai betul ilmu itu, hanyalah segelintir manusia.

Apabila kita menyadari sepenuhnya bahwa perbuatan kita pada masa lalu telah menentukan masa kini, maka dengan perbuatan kita pada masa kini, kita dapat merancang masa depan, sesuai dengan keinginan kita. Apalagi seorang manusia juga memiliki akses terhadap kekuatan-kekuatan spiritual, yang tidak terpengaruh oleh bintang dan planet.

Seorang bijak akan berhasil menaklukkan bintang-bintang yang mempengaruhi hidupnya. Caranya mudah, ia harus mengalihkan kesadarannya dari ciptaan, ke Sang Pencipta. Pengalihan kesadaran semacam itu – peningkatan kesadaran seperti itu – akan membebaskan dia dari pengaruh-pengaruh duniawi (Pengaruh bintang, ramalan dan lain sebagainya masih bersifat sangat duniawi, bukan spiritual sama sekali). Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2002). Otobiografi Paramhansa Yogananda, Meniti Kehidupan bersama para Yogi, Fakir dan Mistik. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Ibu Srini lahir pada hari Minggu Kliwon 1 Nopember 1910. Putri dari Pasangan R.Ng. Atmosoepono III (Ayah) R. Ay. Palinten (Ibu). Ibu Srini keturunan ke 7 Raja PB I.

Dalam Primbon Jawa digambarkan bahwa watak orang yang lahir Minggu Kliwon adalah orang-orang yang suka menyendiri, suka dengan sepi, tapi banyak temannya karena dermawan dan selalu memberi.

Ibu Srini Putri Sulung dari 5 bersaudara. Adik-adik Beliau adalah Ibu Soehari Swonopranoto, Bp. Ibnoe Oemar, Bp. Doellah Ibnoe Ngoesman, Ibu Sarwenten. Dari 5 bersaudara yang berkeluarga ada 2 orang yaitu adik perempuan no 2 yang menjadi istri seorang bupati dan adik laki-laki no 3. Adik-adik lainnya tidak berkeluarga dan hidup layaknya auliya. Hanya adik laki-laki no 2 yang mempunyai putra dan putri, dan salah satu putri tersebut adalah Ibu Endang Sumirasmi, teman SMP istri kami.

Adalah bukan suatu kebetulan bahwa kami dan istri dipertemukan dengan Ibu Endang Sumirasmi di sebuah pesta pernikahan pada tanggal 9/9/2018 dan kami berdua dengan istri duduk di samping Ibu Endang yang merupakan keponakan Ibu Srini. Adalah berkah Guruji dan perkenan mendiang Ibu Srini yang mempertemukan kami.

Kami menyampaikan bahwa baru saja pada hari Selasa tanggal 4/9/2018 Guruji beserta rombongan berkunjung ke makam Ibu Srini.

Ibu Endang menyampaikan bahwa di makam  Budhe (Ibu Endang memanggil Ibu Srini sebagai Budhe) tidak ada aura mencekam, semuanya penuh kedamaian. Ibu Endang menyampaikan bahwa sedang dibuat video tentang Ibu Srini dan apabila sudah selesai akan mengontak kami.

Dengan berkah Guruji dan perkenan Ibu Srini kami memperoleh video tersebut di Youtube yang baru dirilis pada tanggal 19 Agustus 2018. Kami sudah konfirmasi ke Ibu Endang dan Ibu Endang memverifikasi itulah video yang dimaksud.

 

Keluhuran Budi Ibu Srini

Ibu Srini sejak usia 12 tahun memiliki anugerah kemampuan menerima isyarat, ilham, ‘dhawuh’, atau petunjuk dari Yang Maha Esa.

Pada tahun 1926 (usia 16 tahun) mulai menyampaikan hasil petunjuk Allah kepada kerabat dan masyarakat melalui “sarana” sebagai mediumnya.

Adalah Raja Sri Sultan PB X (lahir 29 November 1866-wafat 22 Februari 1939, memerintah pada tahun 1893-1939, sumber Wikipedia) melamar Eyang Srini untuk dijadikan istrinya.

Ibu Srini menolak dengan halus dan menyatakan bahwa dirinya hanya akan melayani masyarakat dan tidak akan mencari kemukten (kemuliaan pribadi) sebagai istri raja.

Banyak sekali orang yang datang mohon bantuan Ibu Srini. Kami ingat bahwa ibu kami pernah dimintai tolong adiknya untuk mohon bantuan saat ada pengurangan karyawan di kantornya di Jakarta agar tidak ikut dirumahkan. Dengan petunjuk Ibu Srini paman saya tersebut tidak termasuk karyawan yang dirumahkan.

Tidak semua permohonan terkabulkan, ada juga famili istri kami yang ingin ikut tugas belajar di luar negeri, tetapi di minta memakai sapu tangan ijo (hijau). Kata orang itu sasmita (tanda) tidak akan diterima. Ijo-ijo, bocah bodo longa-longo koyo kebo, artinya orang yang bodoh tidak akan berhasil.

Ibu Srini bukan hanya membantu banyak orang yang datang yang membutuhkan pertolongan akan tetapi Beliau memahami tentang herbal, semua empon-empon, bumbu dapur dari herbal. Ibu Srini memahami dan mengetahui khasiatnya.

Ibu Endang Sumirasmi, salah satu keponakan Ibu Srini menyampaikan bahwa Permadi SH pernah datang dan berbicara dengan Eyang Srini dan menulisnya di Majalah Femina. Ketika disampaikan kepada Eyang Srini beliau berkata, bahwa dia tidak mengenal orang yang datang kepadanya. Apa yang menjadi pertanyaan tamu yang butuh bantuan Beliau menjawabnya.

Menurut Ibu Endang, Ibu Srini sampai dia tidak punya keterikatan terhadap dunia dan hanya menyampaikan kehendak Gusti lewat tindakan Beliau.

 

Upaya Melepaskan Keterikatan Duniawi

Mulailah dengan Puasa. Itulah password yang anda butuhkan untuk memasuki alam rahasia. Akan tetapi puasa yang saya maksud bukanlah puasa biasa. Puasa yang saya maksud ialah puasa pengendalian diri, puasa untuk mengatasi kelemahan diri. Puasa yang saya anjurkan ialah puasa seumur hidup sejak saat ini. Janganlah anda makan berlebihan. Jangan pula menahan lapar mati-matian. Isilah perutmu dengan 70 persen cairan, sisa 30 persen dengan makanan padat. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2003). Rahasia Alam Alam Rahasia. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Tujuan puasa adalah untuk membiarkan nafas atau energi kehidupan mengalir leluasa ke seluruh tubuh, lewat setiap urat, setiap syaraf. Dalam keadaan puasa, urat urat dan jaringan syaraf kita menjadi lebih reseptif terhadap energi kehidupan, terhadap nafas. Tidak ada blokade blokade lagi, sehingga energi bisa melewatinya dengan lebih leluasa.  Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2001). Hidup Sehat Dan Seimbang Cara Sufi. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Badan butuh istirahat, dan itu antara lain bisa dipenuhi dengan puasa. Kendati demikian, puasa bukanlah kebutuhan badan saja. Energi yang dibutuhkan oleh badan dan diperolehnya lewat makanan dana minuman digunakan pula oleh otak untuk berpikir, dan oleh jiwa untuk merasakan sesuatu. Karena itu, saat badan berpuasa, pikiran dan perasaan pun ikut berpuasa. Manusia mendengar dengan sepasang telinga, melihat dengan mata, mencium dengan hidung, dan merasakan dengan kulitnya. Bagi telinga, apa yang terdengar itulah makanan dan minuman. Bagi mata, apa yang dilihatnya itulah makanan dan minuman. Bagi hidung, apa yang tercium adalah makanan dan minuman. Dan, bagi kulit apa yang dirasakannya itulah makanan dan minuman. Setiap indra yang melakukan kegiatan makanan dan minum juga membutuhkan puasa. Setiap indra membutuhkan istirahat. Mereka membutuhkan waktu untuk mencerna dengan baik apa yang telah diterimanya. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2006). Five Steps To Awareness, 40 Kebiasaan Orang Yang Tercerahkan, karya terakhir Mahaguru Shankara “Saadhanaa Panchakam”, Saduran & Ulasan dalam Bahasa Indonesia. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Puasa Navaratri

Puasa Navaratri dilakukan sekitar 9 hari sebagai penghormatan terhadap energi feminin dalam diri. Kecenderungan manusia adalah terjebak dalam pola tertentu. Pola makan tertentu sebenarnya adalah tanda disiplin dari diri, akan tetapi pola yang membelenggu juga merupakan kelemahan. Saat terlibat dalam makanan kita sering lupa bahwa seharusnya kita makan untuk hidup dan bukan sebaliknya. Tubuh mempunyai kapasitas tertentu, akan tetapi indra kita selalu craving, sangat butuh untuk dipenuhi. Puasa memberi kesempatan pada tubuh untuk keluar dari pola lama yang membelenggu dan memberi arah yang baru. Puasa Navaratri dikaitkan untuk membawa mind kita ke sumbernya. Untuk tahun 2018 dilakukan sekitar tanggal 9 Oktober 2018.

Silakan baca Tautan:

https://gitakehidupansepasangpejalan.wordpress.com/2015/10/14/renungan-diri-puasa-navaratri-menaklukkan-ego-nafsu-dan-keangkuhan/

https://gitakehidupansepasangpejalan.wordpress.com/2016/10/02/puasa-navaratri-perayaan-bagi-tubuh-pikiran-dan-jiwa/

Puasa Navaratri selama lebih kurang 9 hari tidak makan garam, nasi, sereal, biji-bijian menjaga keseimbangan elemen-elemen alami. Garam membuat retensi air pada tubuh dan kelebihan elemen air dalam tubuh membuat ketidakseimbangan sehingga keterikatan akan semakin kuat. Puasa garam akan mengurangi keterikatan. Nasi, sereal membuat kita kebanyakan tejas, unsur api akan berlebihan. Puasa nasi, sereal dan mengkonsumsi buah-buahan mengubah pola makan yang terbiasa kita jalankan.

Kami dan teman-teman merasakan betapa beratnya menjalankan puasa tersebut. Akan tetapi disampaikan oleh Ibu Endang Sumirasmi bahwa Ibu Srini sudah tidak makan garam selama 15 tahun. Kalau makan sering hanya tahu putih dikukus dan cabe.

Bukan hanya puasa makanan Ibu Srini melakukan puasa penampilan. Beliau memotong habis rambutnya, untuk menyatakan bahwa dia tidak ingin mencari kemuliaan di dunia. Beliau hanya mengikuti Kehendak Gusti untuk membantu masyarakat yang datang membutuhkan pertalongan kepada Beliau.

Kita dapat melihat bahwa Beliau menolak dengan halus lamaran seorang Raja Besar yang berkuasa pada Zaman Belanda. Itu adalah pilihan hidup Beliau.

Ibu Srini sering melakukan Puasa Mutih, selama 1 minggu hanya makan nasi putih dan air putih. Para keponakannya ikut puasa mutih selama 3 hari.

Beliau juga sering puasa ngebleng, berada di dalaam kamar selama satu minggu hanya minum air putih. Ibu Endang pun tidak tahu apakah air putih tersebut diminum Beliau atau tidak. Pada waktu puasa ngebleng yang boleh masuk hanya Ibu Endang dan Ibundanya.

Silakan ikuti Kisah Ibu Srini Lanjutan tentang Keberanian Ibu Srini melawan belenggu kebiasaan masyarakat  yang tidak kondusif dalam Tulisan: DMT dan Keberanian IBu Srini Lepas dari Belenggu Perbudakan Masyarakat.

Ini membuktikan Ibu Srini adalah seorang Mistis Sejati:

Refleksi: Bertindak Tanpa Konsekuensi Karma?

Setiap Pekerjaan Ada Konsekuensinya, Kehendak Bebas Kita Terbatas?

Setiap pekerjaan sudah pasti memiliki konsekuensi. Ada yang berkonsekuensi baik, ada yang kurang baik, dan ada yang tidak baik. Sehingga, kita semua tidak bisa bebas dan konsekuensi perbuatan kita masing-masing.

Para filsuf masih berdebat tentang adanya free will atau kehendak bebas. Krsna menjelaskannya dengan sebuah keniscayaan. Kehendak, yang tampaknya bebas, sesungguhnya tidak bebas-bebas banget. Sebebas-bebasnya kehendak manusia, masih tetap terbatas.

Berkaryalah sesuai dengan kebebasan yang kita miliki. Tapi ingat, sebebas apa pun kehendak kita, tetaplah kita tidak bisa mengubah diri menjadi pesawat terbang atau menjadi Orang Utan kembali. Kita tidak bisa mengubah fisik kita melewati batas-batas tertentu. Kita bisa mengubah jender, tapi tidak bisa menjadi sesuatu lain yang bukan manusia. Kemanusiaan adalah batas kehendak bebas. Kita bisa mengasah kemanusiaan diri atau membiarkannya merosot hingga tingkat terbawah. Tetapi, tetap dalam kerangka besar kemanusiaan. Mau “bersifat” binatang — monggo, kehendak bebas! Tapi, kita tidak bisa mengubah fisik menjadi kucing atau anjing. Penjelasan Bhagavad Gita 9:8 dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia via #BhagavadGitaIndonesia

Kamu diberi disket game terus kamu mainkan, dan kamu merasa ini adalah free will. Hari ini menang, besok kalah. Katakan kamu main catur dengan komputer. Minimum ada 60.000 kemungkinan. Dan semuanya sudah didesign permainan itu. Setiap hari berbeda dan kamu merasa kamu belajar. Kita berpikir itu adalah free will. Nyatanya yang disebut free will adalah terbatas kepada kemungkinan-kemungkinan tertentu. Kita hanya bergerak dari satu kemungkinan ke kemungkinan yang lain. Sumber: Video youtube by Anand Krishna: Kamasutra Part 2: From Passion to Compassion

 

Kita semua senantiasa terdorong untuk berbuat sesuatu

“Tak seorang pun bisa hidup tanpa berbuat sesuatu. Setiap orang senantiasa terdorong  untuk berbuat berdasarkan sifat dan kodrat alaminya.” Bhagavad Gita 3:5

Badan manusia adalah bagian dari alam semesta, terbuat dari elemen-elemen alami. Lewat badan kita dan badan makhluk-makhluk  lainnya, alam benda hendak mengungkapkan keberadaannya. Maka, tiada kemungkinan bahwa badan yang  terbuat dari materi kebendaan ini bisa duduk diam, tanpa berbuat sesuatu. Kita semua, seolah tidak berdaya untuk senantiasa bekerja, bertindak, berbuat. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia via #BhagavadGitaIndonesia

 

Setiap Perbuatan Pasti Memiliki Konsekuensi, Kecuali Berbuat Dengan Semangat Manembah

“Manusia terikat oleh dan karena perbuatannya sendiri, kecuali jika ia berbuat dengan semangat manembah. Sebab itu, Kaunteya (Arjuna, Putra Kunti), laksanakanlah tugasmu dengan baik, tanpa keterikatan, dan dengan semangat manembah.” Bhagavad Gita 3:9

Setiap pekerjaan sudah pasti memiliki konsekuensi. Ada yang berkonsekuensi baik, ada yang kurang baik, dan ada yang tidak baik. Sehingga, kita semua tidak bisa bebas dan konsekuensi perbuatan kita rnasing-masing, kecuali….

Dan “kecuali” ini adalah “kecuali yang membebaskan kita dari segala konsekuensi”, yakni……… berbuat dengan semangat manembah – Haturkan segala pekerjaanmu sebagai persembahan pada Gusti Pangeran. Bertindaklah karena cintamu, kasihmu pada-Nya. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia via #BhagavadGitaIndonesia

 

“Hendaknya seseorang mengetahui kebenaran tentang karma, perbuatan; tentang akarma, tidak berbuat, dan, tentang vikarma, perbuatan jahat yang menyengsarakan, dan mesti dihindari. Memang sungguh sulit memahami kinerja karma, rahasia karma.” Bhagavad Gita 4:17

Sungguh sulit, tapi tidak mustahil. Rahasia, tapi masih bisa terungkap jika kita mau tahu tentangnya.

Kapan mesti berbuat – Kapan tidak berbuat, dan kapan menghindari perbuatan-perbuatan yang tercela dan hanya menyengsarakan. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia via #BhagavadGitaIndonesia

 

“(Namun), seseorang yang bahagia karena “Diri”-nya; puas dengan “diri”-Nya sendiri; dan, seluruh kesadarannya terpusatkan pada Diri-Hakiki (yang adalah percikan Jiwa Agung), sesungguhnya tidak berkewajiban untuk berbuat apa pun.” Bhagavad Gita 3:17

“Diri” yang dimaksud adalah Diri-Sejati, Aku-Sejati, hakikat kita sebagai persikan Ilahi. Jika seseorang telah memahami, telah menyadari hal ini, maka tiada lagi tugas, kewajiban dan tanggung jawab baginya.

Karya dan Hukum Karya atau Karma berlaku bagi mereka, bagi kita yang masih belum bebas sepenuhnya dari identitas palsu jasmani. Kita masih menganggap diri kita  badan ini, gugusan pikiran dan perasaan ini. Maka, segala hubungan jasmani, segala tugas dan tanggung jawab jasmani masih berlaku. Kita mesti melakoninya dengan baik. tidak bisa menghindarinya. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia via #BhagavadGitaIndonesia

 

“Berkaryalah dengan Kesadaran Jiwa, kemanunggalan diri dengan semesta, wahai Dhananjaya (Arjuna, Penakluk Kebendaan). Berkaryalah tanpa keterikatan pada hasil, tanpa memikirkan keberhasilan maupun kegagalan. Keseimbangan diri seperti itulah yang disebut Yoga.” Bhagavad Gita 2:48

Kṛṣṇa mengingatkan Arjuna akan sifatnya. Arjuna bukanlah seorang materialis. Sebab itu, ia mendapat julukan Dhananjaya, Penakluk Kebendaan, Penakluk Harta-Kekayaan, berarti ia telah melampaui benda dan kebendaan, dalam pengertian, ia dapat menikmati dunia-benda tanpa keterikatan, maupun ketergantungan.

 

“Ia yang melihat akarma dalam karma, tidak berbuat saat berbuat; dan karma dalam akarma, berbuat saat tidak berbuat; adalah searang bijak, seorang Yogi, yang telah mencapai kesempurnaan dalam Yoga. Ia telah ber-karma, berkarya secara sempurna.” Bhagavad Gita 4:18

Dalam tradisi Tua yang berkembang di Cina, konsep ini disebut Wu- Wei. Bekerja tapi tidak bekerja. Tidak bekerja tapi bekerja. Semuanya kembali pada kesadaran kita. Jika kita berkarya tanpa keterikatan, tanpa mengharapkan imbalan — walau, imbalan sudah pasti ada, setiap sebab ada akibatnya — maka pikiran kita tenang, rileks. Saat itu, walau kita sedang berbuat, keadaan batin kita seolah tidak berbuat apa-apa.

Berkarya dengan semangat pelayanan, dan penuh kesadaran — itulah maksud Krsna.

…………….

Inilah rahasia berbuat, tapi tidak berbuat – Tidak ada rasa capek dan lelah. Tidak ada keluh-kesah. Tidak ada stres. Setiap pekerjaan menjadi nikmat. Semuanya enjoyable! Hidup menjadi perayaan, ringan, enak, nyaman. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia via #BhagavadGitaIndonesia

Bangkitnya Kundalini, Bangkit dalam Kasih, Melayani Tanpa Keterikatan

Kamu diberi disket game terus kamu mainkan, dan kamu merasa ini adalah free will. Katakan kamu main catur dengan komputer. Minimum ada 60.000 kemungkinan. Dan semuanya sudah didesign permainan itu. Kita berpikir itu adalah free will. Nyatanya yang disebut free will adalah terbatas kepada kemungkinan-kemungkinan tertentu. Kundalini adalah bagaimana kita membuang disket permainan ini. Kundalini adalah meloncat ke hal yang tidak terketahui dengan kemungkinan yang tidak terbatas. Kita creating dan programming permainan kita sendiri. Saat kau bangkit dalam love, kamu menuju compassion. Tiba-tiba kau memiliki banyak kemungkinan. Dan kemudian quantum mechanics bekerja. Sumber: Video youtube by Anand Krishna: Kamasutra Part 2: From Passion to Compassion

Refleksi: Tahu Perbuatan Jelek, Mengapa Kita Keukeuh Melakoninya?

Kebiasaan Jelek Hampir Selalu Menaklukkan Pengetahuan tentang Kebenaran

Seorang teman saya sangat cerdas, sehingga pasti tahu bahwa merokok itu membahayakan kesehatan. Dia pasti sudah membaca berbagai peringatan diberbagai media masa, bahkan di bungkus rokok pun ada peringatan tentang kesehatan. Tetapi mengapa dia tetap merokok? Kebiasaan jelek hampir selalu menaklukkan pengetahuan tentang kebenaran.

Sebuah kebiasaan yang diulang terus menerus membuat synap-synap syaraf otak hampir permanen, dan akhirnya pikiran bawah sadar menjadi terpola. Kemudian untuk mengubahnya menjadi perjuangan yang sangat berat.

Dalam bahasa meditasi, inilah yang disebut mind synap-synap baru yang hampir permanen, sehingga manusia bertindak sesuai dengan conditioning yang ia peroleh. la diperbudak oleh conditioning tersebut dan tidak bebas lagi untuk mengekspresikan dirinya. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2001). Medis dan Meditasi, Dialog Anand Krishna dengan Dr. B. Setiawan. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Bukan hanya rokok yang membuat seseorang kecanduan dan sulit melepaskan pengaruhnya. Ketidaksadaran, ketidakpedulian terhadap semua kebiasaan-kebiasaan rendah, ketidakpedulian kita pada kebaikan dan kemuliaan, telah menjadi kebiasaan kita.

 

Kebiasaan Panjat Pinang dalam Acara 17 Agustusan

“Nurut sejarahnya, panjat pinang itu asal muasalnya emang permainan untuk hiburan dalam moment-moment tertentu di Belanda sana, dek! Namanya deklimmast yang artinya panjat tiang! Nah, waktu mereka ngejajah kita, dikenalkanlah permainan itu! Mereka terhibur dengan adanya orang-orang pribumi berebutan hadiah dan rela saling injak tersebut! Jadi, permainan ini cara mereka melecehkan kita kaum pribumi waktu itu, dek! Soal ini ada di Museum Tropen Belanda! Maka mbak nggak bisa ikutan sukacita nonton panjat pinang ini, sebab mbak tau sejarah dan alurnya!”. Dikutip dari artikel  http://www.harianfokus.com/2017/08/19/panjat-pinang/

Tanpa kita sadari, Kita terbiasa senang dengan kegagalan, penderitaan, aib orang lain. Penonton bersorak sorai jika ada pemanjat pinang berkali kali jatuh terpeleset, itulah yang menarik. Apalagi jika ada konflik, ada yang menarik kaki orang yang sudah hampir mencapai atas. Kepuasan kita ada pada kegagalan orang lain. Pola pikir yang demikiankah yang ada dalam benak kita? Bila yang terjadi demikian, maka pengetahuan tentang anjuran dan larangan masih akan dikalahkan kebiasaan kelek kita yang mendarah daging. Mind-set kita harus kita ubah dan kemudia diparkatekkan dalam kehidupan nyata.

Barangkali kita lupa kita diajari daftar panjang mana perbuatan yang baik dan mana yang tidak baik yang dilarang agama atau keyakinan kita. Akan tetapi praktek di kehidupan nyata, pengetahuan tentang mana yang baik dan mana yang buruk (Do and Don’t) kalah dengan kebiasaan.

Untuk Mengubah Diri Harus Dimulai dari Mengubah Pikiran dan Tindak Lanjut Berikutnya

Intelejensia manusia menuntutnya untuk berpikir terus. Dan, ia pun menemukan “satuan-satuan pikiran-nya” thoughts. Satuan-satuan pikiran inilah yang mengkristal dan menjadi mind. Ternyata, segalanya bermula dari pikiran. Kita melihat sesuatu, ada ketertarikan, dan timbul keinginan untuk memperolehnya. Kemudian, keinginan itu yang ditindaklanjuti menjadi perbuatan atau tindakan.

Jika dilihat dari belakang, dirumuskan dari yang paling bawah – maka Pikiran itulah yang menimbulkan Keinginan. Kemudian, Keinginan mendorong adanya Perbuatan atau Tindakan. Dan, Perbuatan atau Tindakan itulah yang mementukan Pengalaman – Pengalaman Hidup.

Kehidupan = Pengalaman + Pengalaman + Pengalaman. Pengalaman = Perbuatan + Perbuatan + Perbuatan. Perbuatan = Keinginan + Keinginan + Keinginan. Keinginan = Pikiran + Pikiran + Pikiran. Komponen Terkecil dalam Bangunan Hidup kita adalah “Pikiran” Thoughts. Sesungguhnya, hidup kita adalah cerminan pikiran kita. Pikirkan sesuatu yang baik, maka kau akan menginginkan hal-hal yang baik. Kau akan berbuat baik. Alhasil, pengalaman-pengalaman hidupmu baik pula. Dan, hidupmu “menjadi” baik. Dikutip dari buku (Krishna, Anand.  (2007). Panca Aksara Membangkitkan Keagamaan dalam Diri Manusia. Pustaka Bali Post)

 

Perbuatan yang diulang-ulang akan menjadi kebiasaan. Kebiasaan akan mengubah sifat atau karakter diri kita. Karakter diri akan menentukan destiny, nasib kehidupan kita.

Untuk mengubah kebiasaan yang kita sadari tidak baik, kita harus mulai dari mengubah pikiran kita. Kemudian dari pikiran yang benar tersebut kita praktekkan dalam kehidupan nyata sampai menjadi kebiasaan, mengubah karakter dan mengubah “nasib” kita.

Kalau kita hanya paham dari buku atau kata-kata bijak tanpa ditindaklanjuti dengan perbuatan nyata, mungkin seperti “masturbasi”, “onani pikiran”, tidak nyata, puas dari khayalan.

 

Dialog Spiritual Bersama Anand Krishna: Adat, Kebiasaan & Budaya mewujudkan Character Building

Awalnya dari perhatikan pikiran, pikiran akan menjadi keinginan, keinginan akan menjadi tindakan, tindakan akan menjadi kebiasaan, kebiasaan akan menjadi karakter, karakter akan menjadi destiny, jalan hidupmu.

Persis demikian, ada yang bicara tenbtang karakter building, tapi tidak tahu mulai dari mana? Biasanya dibuat daftar mana yang boleh mana yang tidak do and don’t. Hal demikian tidak akan membentuk karakter building, karena karakter adalah akibat yang sebab awalnya adalah pikiran.

Mengubah sifat atau karakter harus mulai dari pikiran. Inilah yang membuat misalnya di pendidikan kita frustasi sendiri. Textbook sudah bagus, pengajaraan sudah bagus kok masyarakat tidak berubah? Mengapa? Karena tidak menyentuh thoughts, pikiran.

Untuk mengubah pikiran mau tidak mau harus lewat meditasi. Meditasi membuat kita memperhatikan dan merenungkan setiap gerak kata bibir, pikiran yang akan dikeluarkan. Kita “pause”, berhenti sejenak dulu untuk memperhatikan pikiran sebelum bertindak. Sehingga kita memperoleh pikiran yang jernih baru bertindak.

Silakan lihat Video Youtube: Dialog Spiritual Bersama Anand Krishna: Adat, Kebiasaan & Budaya mewujudkan Character Building

Refleksi: Sang Kala, Demi Masa Semua Orang Merugi

Akulah Sang Kala

“Di antara Daitya, Danava, atau raksasa, Akulah Prahlada, panembah yang teguh dalam keyakinannya; di antara segala perhitungan, Akulah Sang Kala, waktu; di antara hewan, Akulah Raja Rimba atau Singa; dan, di antara burung, Akulah Burung Garuda.” Bhagavad Gita 10:30

…………….

Kemudian, Sang Kala – Waktu. Semua perhitungan, semua kejadian, semua event terjadi dalam waktu. Waktu adalah Kalkulator Alam. Kita tidak bisa melawan kalkulator itu. Waktu adalah Komputer Semesta. Kita semua berupa virtual reality — realitas virtual — yang di-generate oleh Komputer tersebut. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #BhagavadGitaIndonesia #SpiritualIndonesia

Bisakah kita mengatur waktu?

Kita semua berada di bawah kendali ruang dan waktu. Bila tidak ada ruang dan waktu, tidak ada alam semesta dan tidak ada kita. Ruang dan waktu jauh melebihi kita. Bisakah kita mengendalikan otoritas yang berada di atas kita?

Ibarat bekerja, maka kita punya peran, tugas dan kewajiban dan hak-hak. Akan tetapi yang menentukan adalah Chairman of the Board, Komisaris Perusahaan, Pimpinan Tertinggi. Paling banter kita menjadi eksekutif. Bisakah kita mengatur Chairman of the board? Yang bisa kita lakukan dalah mengatur tingkah laku kita menyesuaikan dengan aturan Chairman of the Board.

Bisakah kita mengatur waktu? Tidak bisa, yang bisa kita lakukan adalah mengatur kehidupan diri kita menyesuaikan dengan waktu. Bukan mengelola waktu tapi mengelola diri sehingga produktif.

Sumber video yutube: Time Management Realitas atau Mitos oleh Bapak Anand Krishna

Kita Hidup Bersama Kalachakra, Para Bijak Berputar Bersama Dharmachakra

Umumnya, kita berputar bersama Kalachakra Roda Sang Kala, Waktu. Dialah pengendali hidup kita. Keberadaan kita tergantung padanya, pada waktu dan ruang. Karena itu, apa yang kita sebut dan pahami sebagai Tuhan, jangan-jangan Sang Kala…………..

Para bijak, mereka yang sudah memperoleh pencerahan dan melampaui Kalachakra, berputar bersama Dharmachakra, Yang Melampaui Waktu, Wujud, Ruang, Pikiran, Perasaan dan segala bentuk kegiatan. Seperti apa putaran mereka tak dapat dijelaskan, karena penjelasan hanya dapat diberikan dalam konteks waktu dan ruang. Pun mereka bebas dari segala macam dosa, tak tercemarkan, karena sampah waktu (Kalachakra)tak dapat menyentuh mereka.

Berada dalam Kalachakra, setiap orang berputar demi dirinya. Hukum Karma, Sebab-Akibat, Aksi-Reaksi masih mengikat dirinya. Berada dalam Dharmachakra, manusia tidak lagi berputar demi dirinya. Hukum Karma sudah tidak mengikat dirinya. Ia berputar demi Dharma, demi putaran itu sendiri.

Bumi kita berputar demi Dharma, demi putaran itu sendiri. Untung, ia tidak berputar demi kita, demi manusia. Kita menganiayanya, kita melecehkannya, kita memperkosanya, tetapi ia tidak berhenti berputar. Bayangkan, apa yang terjadi pada ia mulai berpikir, “Umat manusia sudah keterlaluan, brengsek bener mereka. Untuk apa berputar bagi mereka? Berhenti sejenak ah’ aku sudah celaka biar mereka pun ikut celaka, tahu rasa!” Tapi tidak, ia tak pernah “berpikir” demikian. Ia tetap bertindak sesuai dengan  Dharma. Ia tidak pernah lalai. Kita merampoknya, mencemarinya, tetapi ia tetap memaafkan dan memberi. Matahari terbit dan terbenam demi Dharma. Hukum gravitasi bekerja sesuai dengan Dharma. Bayangkan apa yang terjadi bila hukum tersebut “berhenti berlaku” selama satu menit saja terpental ke mana kita semua?! Begitu pula dengan hukum-hukum alam lainnya. Hukum Karma atau Sebab-Akibat, Aksi-Reaksi pun bekerja sesuai dengan Dharma.

Hukum alam hanya berlaku dalam Kalachakra, dalam Roda Sang Kala, Waktu Agung. Dalam  Dharmachakra, hukum-hukum alam ada tapi tidak berlaku. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2005). Bodhidharma, Kata Awal Adalah Kata Akhir. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama Jakarta)

Cara Melampaui Sang Kala, Melampaui Kesadaran Badaniah

Inilah “Kesadaran Tertinggi” yang dapat kita capai selama masih “berbadan”. Kita hanya memikirkan Dia. Kita hanya merasakan Dia… namun semua itu juga tidak menghentikan perjalanan kita. Kita tidak lari dari kenyataan hidup. Kita masih tetap melanjutkan perjalanan hidup kita. Kita masih tetap makan, minum, tidur, dan berkarya seperti biasa – hanya saja setiap tindakan kita, ucapan serta pikiran kita terwarnai oleh Warna Dia! Keadaan ini disebut Fana Fi Allah, Fana dalam Kesadaran Ilahi, dalam Cinta, dalam Kasih. Inilah Nirvana, Moksha –  Kebebasan Mutlak. Badan memang tidak bebas, masih harus patuh pada Hukum Fisika, Hukum Dunia. Tapi, jiwa kita sudah bebas! Dan, Jiwa yang bebas boleh tetap berada dalam badan yang mau tak mau masih harus patuh pada hukum-hukum dunia. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2005). Ishq Mohabbat Dari Nafsu Berahi Menuju Cinta Hakiki. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

Melampaui Roda Waktu, Roda Sang Kala

 Krsna tidak menghendaki roda jagad berhenti berputar. Jika setiap orang mengenal-Nya, dan tidak terpengaruh, tidak terbingungkan oleh ketiga sifat alam benda tersebut, maka dunia ini tidak ada ceritanya lagi. Jagad raya tidak punya kisah lagi. Roda Sang Kala pun berhenti berputar.

Sebab itu, pengetahuan ini memang dimaksudkan bagi segelintir orang – supaya roda Sang Kala berputar dan sinetron Jagad Raya berjalan terus. Itu pun kehendak-Nya. Jika Anda, yang sedang membaca renungan ini, kemudian ditarik-Nya ke belakang Layar dan didudukkan di atas kursi sutradara atau dalang, maka itu pun atas kehendak-Nya. Tentunya, Ia pun tidak gegabah. Tidak semua orang memiliki kemampuan sebagai sutradara atau dalang. Untuk meraih kedudukan itu, kita mesti memiliki kelayakan! Sisanya memang mesti hidup dalam maya –delusi, ilusi, kebingungan – persis seperti kebingungan, keinginan untuk mengetahui lanjutan cerita dari episode sinetron yang sedang ditonton; “Berlanjut …. Minggu depan, di channel yang sama waktu yang sama! Penjelasan Bhagavad Gita 7:13 dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #BhagavadGitaIndonesia #SpiritualIndonesia

 

Bebas dari Dualitas

“Tetapi, mereka yang berperilaku mulia, tanpa cela, dan bebas dari dualitas (yang disebabkan oleh kesukaan pada sesuatu); dan memuja-Ku dengan hati yang teguh, sesungguhnya telah mencapai akhir dari siklus kelahiran dan kematiannya.” Bhagavad Gita 7:28

Siklus kelahiran-kematian adalah produk dualitas. Produk utama. Produk-produk lain adalah produk sekunder siklus tersebut. Sekadar by-products. Ketika seseorang terbebaskan dari kebingungan yang tercipta oleh dualitas — maka barulah ia dapat berperilaku mulia. Hal ini perlu dipahami….

PERBUATAN MULIA TANPA CELA tidak sama dengan perbuatan baik. Perbuatan baik ada kebalikannya, yaitu perbuatan jelek, tidak baik. Perbuatan baik masih merupakan bagian dari dualitas. Ada baik, ada buruk. Perbuatan mulia yang dimaksud di sini tidak memiliki kebalikannya. Perbuatan mulia yang dimaksud melampaui baik-buruk.

……………

Melampaui baik—buruk adalah kemuliaan, dan perilaku yang mulia adalah perilaku berlandaskan nilai-nilai kemanusiaan yang universal. Landasannya bukanlah tradisi. Landasannya adalah: “Berbuatlah terhadap orang lain, sebagaimana kamu menghendaki orang lain berbuat terhadapmu.”

………………

Bagi Krsna, hanyalah seorang yang berperilaku mulia, yang memahami inti spiritualitas. Hanyalah ia yang dapat menyembah-Nya dengan penuh keteguhan hati – tanpa ragu, tanpa kebimbangan sedikit pun. Lampaui dualitas; berperilaku mulia; menyembah Sang Jiwa Agung dengan segenap Jiwa dan raga; dan, keluar dari siklus kelahiran dan kematian. Inilah roadmap untuk mencapai moksa, nirvana — Kebebasan Mutlak! Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia via #BhagavadGitaIndonesia

Refleksi: Benah Diri, Be the Change, Memberdaya Diri

Dari beberapa Catatan tentang Refleksi dalam Kehidupan kita belajar memahami dan kemudian mulai mengubah diri, membenahi diri guna memberdaya diri:

 

Jalan Kehidupan kita ditentukan oleh diri kita sendiri dari akumulasi pilihan-pilihan yang telah kita lakukan

Setiap orang selalu dihadapkan pada pilihan sebelum melakukan sesuatu: 1. melakukannya, 2. tidak melakukannya, 3. atau mengambil pilihan lainnya. Oleh karena itu seseorang harus bertanggungjawab dengan apa pun yang telah dipilihnya. Bahkan jalan kehidupannya ditentukan oleh dirinya sendiri dari akumulasi pilihan-pilihan yang telah dilakukannya.

Silakan baca: https://gitakehidupansepasangpejalan.wordpress.com/2018/05/17/refleksi-kehidupan-kita-adalah-akumulasi-dari-pilihan-kita-sendiri/

 

Ego Bukan Sikap Manusiawi, Kita Mewarisinya Melalui Evolusi Panjang

Setiap kali ada yang memuji atau memaki, anjing ego di dalam diri kita mendapatkan makanan, dan ia mulai menggonggong. Ya betul, bukan saja setiap kali dipuji, tetapi setiap kali dimaki.

Adalah di bagian bawah otak yang biasa disebut medulla oblongata. Untuk diketahui, medulla adalah bagian otak yang disebut reptilian brain—berbagai jenis hewan, termasuk jenis-jenis tertentu ikan, cicak, dan buaya, memilikinya. Jadi, medulla bukanlah bagian otak yang biasa disebut neo-cortex, atau bagian otak yang memanusiakan hewan. Berarti, ego bukanlah sifat atau sikap manusiawi. Manusia mewarisinya melalui evolusi panjang selama ratusan juta tahun.

Silakan baca: https://gitakehidupansepasangpejalan.wordpress.com/2018/05/15/refleksi-ego-warisan-bawaan-insting-hewani/

 

Berhati-hati dengan Pergaulan

Kesan-kesan dari masa lalu ini boleh diumpamakan sebagai file yang sudah di-delete, tapi belum musnah, masih ada di hard-disk, masih bisa di-retrieve. Retrievable file ini, walau tidak “se”-berbahaya file memori yang masih terpakai, tapi tidak aman-aman pula. Retrievable Files hanya membutuhkan trigger kecil, pemicu berkekuatan rendah di luar, untuk muncul kembali ke permukaan.

Kita memerlukan Satsang, Pergaulan dengan mereka yang baik”. Tidak perlu bermusuhan dengan dengan mereka yang kurang baik, tetapi kita juga perlu menghindari pergaulan yang tidak menunjang kesadaran. Pergaulan yang tidak menunjang kesadaran dapat memicu retrievable files ini.

Silakan baca: https://gitakehidupansepasangpejalan.wordpress.com/2018/05/16/refleksi-salah-pergaulan-pemicu-tindakan-syaitani-dari-dalam-diri/

 

Kehendak yang Kuat untuk Melakoni

Napoleon Hill sadar bahwa 98 % orang memang tidak yakin. Mereka tidak percaya pada apa yang mereka lakukan. Mereka tidak percaya pada keberhasilan apa yang mereka kerjakan. Mereka tidak percaya pada pekerjaan mereka. Itulah sebabnya hanya 2 % orang yang meraih keberhasilan sejati. Sisanya dalam keadaan limbo, kaya tapi tidak berhasil. Atau, tidak kaya dan tidak berhasil. Kendati demikian, jangan putus asa. Hill meyakinakn kita bahwa “kurang percaya diri”, “kurang yakin” adalah penyakit yang dapat disembuhkan

Silakan baca: https://gitakehidupansepasangpejalan.wordpress.com/2018/05/20/refleksi-beda-keinginan-dan-kehendak-terhadap-kesuksesan-kita/

 

Semua buku-buku karya Bapak Anand Krishna memang merupakan alat untuk Benah Diri, untuk Memberdaya Diri, Memperbaiki Diri. Demikian juga semua latihan Meditasi, Yoga dll di Anand Ashram bertujuan untuk Memberdaya Diri.

Kali ini kami pilih beberapa Kutipan dari buku Be the Change dan silakan baca buku lengkapnya untuk lebih mendalaminya.

Judul : Be The CHANGE, Mahatma Gandhi’s Top 10 Fundamentals for Changing the World

Pengarang : Anand Krishna

Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama, Cetakan : 2008

Tebal : 102 halaman

 

Butir # 1 Change Yourself

Kau sendiri mesti menjadi perubahan seperti yang kauinginkan terjadi dalam dunia. Perubahan mesti dimulai dari diri sendiri. Jangan mengharapkan perubahan dari dunia luar. Jangan menunda perubahan diri hingga dunia berbeda. Coba perhatikan, dunia ini senantiasa berubah. Kalau kita tidak ikut berubah, kita menciptakan konflik antara diri kita dan dunia ini.

Butir # 2 You Are in Control

Tak seorang pun dapat menyakitiku bila aku tidak mengizinkannya. Bila ingin menjadi seorang pemimpin, jangan memelihara virus sakit hati. Terlebih lagi jangan sampai penyakit itu dijadikan pemicu dan motivasi untuk maju ke depan. Bila kita merasa bisa disakiti, kita sungguh lemah. Perasaan itu saja sudah membuktikan bahwa kita tidak layak untuk menjadi pemimpin.

Butir # 3 Forgive and Let It Go

Seorang lemah tidak dapat memaafkan. Kemampuan untuk memaafkan hanya ada pada mereka yang kuat…. Bila pencungkilan mata dibalas dengan mencungkil mata, seluruh dunia akan menjadi buta. Memaafkan berarti tidak membenci para pelaku kejahatan. Bujuklah mereka, berilah kesempatan untuk mengubah diri. Namun bila mereka tidak memanfaatkan kesempatan itu, tidak mau mengubah diri dan tetap menggunakan kekerasan, kewajiban kita lah untuk memastikan mereka dikarantina beberapa waktu.

Butir # 4 Without Action You Aren’t Going Anywhere

Satu ons tindakan lebih baik daripada berton-ton dakwah. Bicara memang mudah. Melakoni sesuatu memang tidak mudah, tetapi apa arti sesuatu yang hanya dibicarakan, dan tidak dikerjakan, tidak dilakoni? Bundelan buku di atas seekor keledai, kata Imam Ghazali, tak mampu mengubah keledai itu menjadi seorang cendekiawan.

Butir # 5 Take Care of This Moment

Aku tak ingin melihat apa yang dapat terjadi di masa depan. Aku peduli pada masa kini. Tuhan tidak memberiku kendali terhadap apa yang dapat terjadi sesaat lagi. Seperti inilah kejujuran seorang Gandhi. Ia tidak mengaku dapat melihat masa depan. Ia tidak mengaku memperoleh bisikan dari siapa-siapa. Ia mengaku dirinya orang biasa, tidak lebih penting darpada orang yang derajatnya paling rendah, paling hina dan dina. Gandhi tidak ragu, tidak bimbang, tidak bingung, karena ia hidup dalam kekinian. Ia bisa bertindak sesuai dengan nuraninya karena tidak menghitung laba-rugi.

Butir # 6 Everyone Is Human

Aku hanyalah seorang manusia biasa yang dapat berbuat salah seperti orang lain juga. Namun, harus kutambahkan bahwa aku memiliki kerendahan hati untuk mengakui kesalahanku dan memperbaikinya.

Butir # 7 Persist

Butir # 8 See the Good in People and Help Them

Butir # 9 Be Congruent, Be Authentic, Be Your True Self

Butir # 10 Continue to Grow and Evolve

Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2008). Be The Change, Mahatma Gandhi’s Top 10 Fundamentals For Changing The World. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Silakan ikut Program Pemberdayaan Diri di Anand Ashram:

Pemicu Kecil Membangkitkan Ego yang Membawa Perselisihan Besar

Ego mirip hewan dalam diri

Setiap kali ada yang memuji atau memaki, anjing ego di dalam diri kita mendapatkan makanan, dan ia mulai menggonggong. Ya betul, bukan saja setiap kali dipuji, tetapi setiap kali dimaki. Kutipan dari Nietzsche semestinya ditambah satu alenia lagi: “setiap kali jatuh satu tingkat”. Jadi setiap naik maupun turun tingkat, anjing ego selalu menggonggong. Diberi makan ia memperoleh energi dan menggonggong girang, tidak diberi makan, ia menggonggong kelaparan. Dipuji atau dicaci, dimaki, ego menggonggong.

Adalah di bagian bawah otak yang biasa disebut medulla oblongata. Untuk diketahui, medulla adalah bagian otak yang disebut reptilian brain—berbagai jenis hewan, termasuk jenis-jenis tertentu ikan, cicak, dan buaya, memilikinya. Jadi, medulla bukanlah bagian otak yang biasa disebut neo-cortex, atau bagian otak yang memanusiakan hewan.

Berarti, ego bukanlah sifat atau sikap manusiawi. Manusia mewarisinya melalui evolusi panjang selama ratusan juta tahun. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2012). Sanyas Dharma Mastering the Art of Science of Discipleship Sebuah Panduan bagi Penggiat Dan Perkumpulan Spiritual. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Youtube Video a Course in Spirituality Part 1: Enlightement and Guru by Swami Anand Krishna

Kita hidup dalam periode waktu, dimana kita hanya membutuhkan pemicu kecil, untuk menjadi egoistis. Di waktu dahulu tidak demikian. Saat ini kita hanya membutuhkan sedikit pemicu, seseorang memujimu dan kamu menggembung, seseorang bicara tentang sesuatu dan kamu mengempis. Keduanya adalah ego based. Ketika kamu menggembung atau mengempis keduanya adalah ego. Kamu mengempis egomu terlukai. Kamu menggembung karena kau merasa senang.

Para motivator menggembungkan ego kita. Dan apakah dunia kita menjadi lebih baik? Tidak! Lihat situasi di Eropa, bom, tembakan. Demikian juga dalam dunia seluruhnya. Dunia tidak menjadi tempat yang lebih baik karena dengan hanya pemicu kecil, ego kita menggembung atau mengempis dan keduanya berbahaya.

Mengikuti 2 cara ini, kalian tidak akan ke mana-mana. Master saya selalu mengingatkan kita dengan menggunakan kata moksha. Biasanya kita mengaitkan moksha terkait saat kematian, terbebaskan dari samsara, dari siklus kematian dan kelahiran.

Moksha tidak demikian. Moksha bisa kau mulai here dan now. Moksha berarti bebas dari keterikatan, bebas dari ego, bebas dari kebencian, dari iri, bebas dari segala sesuatu, yang mengikat kita dengan dunia ini.

Guru Nanak, saat bicara tentang bhakti, ia memanggil dirinya dasanudas, pelayan dari pelayan, pelayan dari devoti Tuhan.

Silakan simak Youtube Video a Course in Spirituality Part 1: Enlightement and Guru by Swami Anand Krishna

Tidak terjebak dalam dualitas dalam Bhagavad Gita

“Ia tidak terikat dengan sesuatu, di mana pun ia berada, dan dalam keadaan apa pun. Ia tidak terjebak dalam dualitas menyenangkan dan tidak menyenangkan. Ia tidak tersanjung (ketika dipuji), pun tidak gusar (ketika dicaci); Kesadaran Jiwanya sungguh tak tergoyahkan lagi.” Bhagavad Gita 2:57

Kṛṣṇa tidak menganjurkan agar kita menolak kebahagiaan, pengalaman-pengalaman yang menyenangkan dan sebagainya, ia hanya menganjurkan agar kita jangan sampai lupa daratan. Setiap Pengalaman Dalam hidup ini hanya bersifat sementara. Dalam keadaan duka, jangan sampai kecewa, dan menciptakan trauma bagi diri sendiri. Terimalah apa adanya. Demikianlah kehidupan ini, jangan terikat pada pengalaman apa pun. Semuanya hanya ada untuk sesaat.

Dalam percakapan-percakapan selanjutnya, Kṛṣṇa akan menjelaskan bahwa sesungguhnya semua pengalaman itu adalah menyangkut fisik, badan, indra. Jiwa tidak terpengaruh olehnya. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia via #BhagavadGitaIndonesia