Refleksi: Tahu Perbuatan Jelek, Mengapa Kita Keukeuh Melakoninya?

Kebiasaan Jelek Hampir Selalu Menaklukkan Pengetahuan tentang Kebenaran

Seorang teman saya sangat cerdas, sehingga pasti tahu bahwa merokok itu membahayakan kesehatan. Dia pasti sudah membaca berbagai peringatan diberbagai media masa, bahkan di bungkus rokok pun ada peringatan tentang kesehatan. Tetapi mengapa dia tetap merokok? Kebiasaan jelek hampir selalu menaklukkan pengetahuan tentang kebenaran.

Sebuah kebiasaan yang diulang terus menerus membuat synap-synap syaraf otak hampir permanen, dan akhirnya pikiran bawah sadar menjadi terpola. Kemudian untuk mengubahnya menjadi perjuangan yang sangat berat.

Dalam bahasa meditasi, inilah yang disebut mind synap-synap baru yang hampir permanen, sehingga manusia bertindak sesuai dengan conditioning yang ia peroleh. la diperbudak oleh conditioning tersebut dan tidak bebas lagi untuk mengekspresikan dirinya. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2001). Medis dan Meditasi, Dialog Anand Krishna dengan Dr. B. Setiawan. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Bukan hanya rokok yang membuat seseorang kecanduan dan sulit melepaskan pengaruhnya. Ketidaksadaran, ketidakpedulian terhadap semua kebiasaan-kebiasaan rendah, ketidakpedulian kita pada kebaikan dan kemuliaan, telah menjadi kebiasaan kita.

 

Kebiasaan Panjat Pinang dalam Acara 17 Agustusan

“Nurut sejarahnya, panjat pinang itu asal muasalnya emang permainan untuk hiburan dalam moment-moment tertentu di Belanda sana, dek! Namanya deklimmast yang artinya panjat tiang! Nah, waktu mereka ngejajah kita, dikenalkanlah permainan itu! Mereka terhibur dengan adanya orang-orang pribumi berebutan hadiah dan rela saling injak tersebut! Jadi, permainan ini cara mereka melecehkan kita kaum pribumi waktu itu, dek! Soal ini ada di Museum Tropen Belanda! Maka mbak nggak bisa ikutan sukacita nonton panjat pinang ini, sebab mbak tau sejarah dan alurnya!”. Dikutip dari artikel  http://www.harianfokus.com/2017/08/19/panjat-pinang/

Tanpa kita sadari, Kita terbiasa senang dengan kegagalan, penderitaan, aib orang lain. Penonton bersorak sorai jika ada pemanjat pinang berkali kali jatuh terpeleset, itulah yang menarik. Apalagi jika ada konflik, ada yang menarik kaki orang yang sudah hampir mencapai atas. Kepuasan kita ada pada kegagalan orang lain. Pola pikir yang demikiankah yang ada dalam benak kita? Bila yang terjadi demikian, maka pengetahuan tentang anjuran dan larangan masih akan dikalahkan kebiasaan kelek kita yang mendarah daging. Mind-set kita harus kita ubah dan kemudia diparkatekkan dalam kehidupan nyata.

Barangkali kita lupa kita diajari daftar panjang mana perbuatan yang baik dan mana yang tidak baik yang dilarang agama atau keyakinan kita. Akan tetapi praktek di kehidupan nyata, pengetahuan tentang mana yang baik dan mana yang buruk (Do and Don’t) kalah dengan kebiasaan.

Untuk Mengubah Diri Harus Dimulai dari Mengubah Pikiran dan Tindak Lanjut Berikutnya

Intelejensia manusia menuntutnya untuk berpikir terus. Dan, ia pun menemukan “satuan-satuan pikiran-nya” thoughts. Satuan-satuan pikiran inilah yang mengkristal dan menjadi mind. Ternyata, segalanya bermula dari pikiran. Kita melihat sesuatu, ada ketertarikan, dan timbul keinginan untuk memperolehnya. Kemudian, keinginan itu yang ditindaklanjuti menjadi perbuatan atau tindakan.

Jika dilihat dari belakang, dirumuskan dari yang paling bawah – maka Pikiran itulah yang menimbulkan Keinginan. Kemudian, Keinginan mendorong adanya Perbuatan atau Tindakan. Dan, Perbuatan atau Tindakan itulah yang mementukan Pengalaman – Pengalaman Hidup.

Kehidupan = Pengalaman + Pengalaman + Pengalaman. Pengalaman = Perbuatan + Perbuatan + Perbuatan. Perbuatan = Keinginan + Keinginan + Keinginan. Keinginan = Pikiran + Pikiran + Pikiran. Komponen Terkecil dalam Bangunan Hidup kita adalah “Pikiran” Thoughts. Sesungguhnya, hidup kita adalah cerminan pikiran kita. Pikirkan sesuatu yang baik, maka kau akan menginginkan hal-hal yang baik. Kau akan berbuat baik. Alhasil, pengalaman-pengalaman hidupmu baik pula. Dan, hidupmu “menjadi” baik. Dikutip dari buku (Krishna, Anand.  (2007). Panca Aksara Membangkitkan Keagamaan dalam Diri Manusia. Pustaka Bali Post)

 

Perbuatan yang diulang-ulang akan menjadi kebiasaan. Kebiasaan akan mengubah sifat atau karakter diri kita. Karakter diri akan menentukan destiny, nasib kehidupan kita.

Untuk mengubah kebiasaan yang kita sadari tidak baik, kita harus mulai dari mengubah pikiran kita. Kemudian dari pikiran yang benar tersebut kita praktekkan dalam kehidupan nyata sampai menjadi kebiasaan, mengubah karakter dan mengubah “nasib” kita.

Kalau kita hanya paham dari buku atau kata-kata bijak tanpa ditindaklanjuti dengan perbuatan nyata, mungkin seperti “masturbasi”, “onani pikiran”, tidak nyata, puas dari khayalan.

 

Dialog Spiritual Bersama Anand Krishna: Adat, Kebiasaan & Budaya mewujudkan Character Building

Awalnya dari perhatikan pikiran, pikiran akan menjadi keinginan, keinginan akan menjadi tindakan, tindakan akan menjadi kebiasaan, kebiasaan akan menjadi karakter, karakter akan menjadi destiny, jalan hidupmu.

Persis demikian, ada yang bicara tenbtang karakter building, tapi tidak tahu mulai dari mana? Biasanya dibuat daftar mana yang boleh mana yang tidak do and don’t. Hal demikian tidak akan membentuk karakter building, karena karakter adalah akibat yang sebab awalnya adalah pikiran.

Mengubah sifat atau karakter harus mulai dari pikiran. Inilah yang membuat misalnya di pendidikan kita frustasi sendiri. Textbook sudah bagus, pengajaraan sudah bagus kok masyarakat tidak berubah? Mengapa? Karena tidak menyentuh thoughts, pikiran.

Untuk mengubah pikiran mau tidak mau harus lewat meditasi. Meditasi membuat kita memperhatikan dan merenungkan setiap gerak kata bibir, pikiran yang akan dikeluarkan. Kita “pause”, berhenti sejenak dulu untuk memperhatikan pikiran sebelum bertindak. Sehingga kita memperoleh pikiran yang jernih baru bertindak.

Silakan lihat Video Youtube: Dialog Spiritual Bersama Anand Krishna: Adat, Kebiasaan & Budaya mewujudkan Character Building

Advertisements

Refleksi: Sang Kala, Demi Masa Semua Orang Merugi

Akulah Sang Kala

“Di antara Daitya, Danava, atau raksasa, Akulah Prahlada, panembah yang teguh dalam keyakinannya; di antara segala perhitungan, Akulah Sang Kala, waktu; di antara hewan, Akulah Raja Rimba atau Singa; dan, di antara burung, Akulah Burung Garuda.” Bhagavad Gita 10:30

…………….

Kemudian, Sang Kala – Waktu. Semua perhitungan, semua kejadian, semua event terjadi dalam waktu. Waktu adalah Kalkulator Alam. Kita tidak bisa melawan kalkulator itu. Waktu adalah Komputer Semesta. Kita semua berupa virtual reality — realitas virtual — yang di-generate oleh Komputer tersebut. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #BhagavadGitaIndonesia #SpiritualIndonesia

Bisakah kita mengatur waktu?

Kita semua berada di bawah kendali ruang dan waktu. Bila tidak ada ruang dan waktu, tidak ada alam semesta dan tidak ada kita. Ruang dan waktu jauh melebihi kita. Bisakah kita mengendalikan otoritas yang berada di atas kita?

Ibarat bekerja, maka kita punya peran, tugas dan kewajiban dan hak-hak. Akan tetapi yang menentukan adalah Chairman of the Board, Komisaris Perusahaan, Pimpinan Tertinggi. Paling banter kita menjadi eksekutif. Bisakah kita mengatur Chairman of the board? Yang bisa kita lakukan dalah mengatur tingkah laku kita menyesuaikan dengan aturan Chairman of the Board.

Bisakah kita mengatur waktu? Tidak bisa, yang bisa kita lakukan adalah mengatur kehidupan diri kita menyesuaikan dengan waktu. Bukan mengelola waktu tapi mengelola diri sehingga produktif.

Sumber video yutube: Time Management Realitas atau Mitos oleh Bapak Anand Krishna

Kita Hidup Bersama Kalachakra, Para Bijak Berputar Bersama Dharmachakra

Umumnya, kita berputar bersama Kalachakra Roda Sang Kala, Waktu. Dialah pengendali hidup kita. Keberadaan kita tergantung padanya, pada waktu dan ruang. Karena itu, apa yang kita sebut dan pahami sebagai Tuhan, jangan-jangan Sang Kala…………..

Para bijak, mereka yang sudah memperoleh pencerahan dan melampaui Kalachakra, berputar bersama Dharmachakra, Yang Melampaui Waktu, Wujud, Ruang, Pikiran, Perasaan dan segala bentuk kegiatan. Seperti apa putaran mereka tak dapat dijelaskan, karena penjelasan hanya dapat diberikan dalam konteks waktu dan ruang. Pun mereka bebas dari segala macam dosa, tak tercemarkan, karena sampah waktu (Kalachakra)tak dapat menyentuh mereka.

Berada dalam Kalachakra, setiap orang berputar demi dirinya. Hukum Karma, Sebab-Akibat, Aksi-Reaksi masih mengikat dirinya. Berada dalam Dharmachakra, manusia tidak lagi berputar demi dirinya. Hukum Karma sudah tidak mengikat dirinya. Ia berputar demi Dharma, demi putaran itu sendiri.

Bumi kita berputar demi Dharma, demi putaran itu sendiri. Untung, ia tidak berputar demi kita, demi manusia. Kita menganiayanya, kita melecehkannya, kita memperkosanya, tetapi ia tidak berhenti berputar. Bayangkan, apa yang terjadi pada ia mulai berpikir, “Umat manusia sudah keterlaluan, brengsek bener mereka. Untuk apa berputar bagi mereka? Berhenti sejenak ah’ aku sudah celaka biar mereka pun ikut celaka, tahu rasa!” Tapi tidak, ia tak pernah “berpikir” demikian. Ia tetap bertindak sesuai dengan  Dharma. Ia tidak pernah lalai. Kita merampoknya, mencemarinya, tetapi ia tetap memaafkan dan memberi. Matahari terbit dan terbenam demi Dharma. Hukum gravitasi bekerja sesuai dengan Dharma. Bayangkan apa yang terjadi bila hukum tersebut “berhenti berlaku” selama satu menit saja terpental ke mana kita semua?! Begitu pula dengan hukum-hukum alam lainnya. Hukum Karma atau Sebab-Akibat, Aksi-Reaksi pun bekerja sesuai dengan Dharma.

Hukum alam hanya berlaku dalam Kalachakra, dalam Roda Sang Kala, Waktu Agung. Dalam  Dharmachakra, hukum-hukum alam ada tapi tidak berlaku. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2005). Bodhidharma, Kata Awal Adalah Kata Akhir. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama Jakarta)

Cara Melampaui Sang Kala, Melampaui Kesadaran Badaniah

Inilah “Kesadaran Tertinggi” yang dapat kita capai selama masih “berbadan”. Kita hanya memikirkan Dia. Kita hanya merasakan Dia… namun semua itu juga tidak menghentikan perjalanan kita. Kita tidak lari dari kenyataan hidup. Kita masih tetap melanjutkan perjalanan hidup kita. Kita masih tetap makan, minum, tidur, dan berkarya seperti biasa – hanya saja setiap tindakan kita, ucapan serta pikiran kita terwarnai oleh Warna Dia! Keadaan ini disebut Fana Fi Allah, Fana dalam Kesadaran Ilahi, dalam Cinta, dalam Kasih. Inilah Nirvana, Moksha –  Kebebasan Mutlak. Badan memang tidak bebas, masih harus patuh pada Hukum Fisika, Hukum Dunia. Tapi, jiwa kita sudah bebas! Dan, Jiwa yang bebas boleh tetap berada dalam badan yang mau tak mau masih harus patuh pada hukum-hukum dunia. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2005). Ishq Mohabbat Dari Nafsu Berahi Menuju Cinta Hakiki. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

Melampaui Roda Waktu, Roda Sang Kala

 Krsna tidak menghendaki roda jagad berhenti berputar. Jika setiap orang mengenal-Nya, dan tidak terpengaruh, tidak terbingungkan oleh ketiga sifat alam benda tersebut, maka dunia ini tidak ada ceritanya lagi. Jagad raya tidak punya kisah lagi. Roda Sang Kala pun berhenti berputar.

Sebab itu, pengetahuan ini memang dimaksudkan bagi segelintir orang – supaya roda Sang Kala berputar dan sinetron Jagad Raya berjalan terus. Itu pun kehendak-Nya. Jika Anda, yang sedang membaca renungan ini, kemudian ditarik-Nya ke belakang Layar dan didudukkan di atas kursi sutradara atau dalang, maka itu pun atas kehendak-Nya. Tentunya, Ia pun tidak gegabah. Tidak semua orang memiliki kemampuan sebagai sutradara atau dalang. Untuk meraih kedudukan itu, kita mesti memiliki kelayakan! Sisanya memang mesti hidup dalam maya –delusi, ilusi, kebingungan – persis seperti kebingungan, keinginan untuk mengetahui lanjutan cerita dari episode sinetron yang sedang ditonton; “Berlanjut …. Minggu depan, di channel yang sama waktu yang sama! Penjelasan Bhagavad Gita 7:13 dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #BhagavadGitaIndonesia #SpiritualIndonesia

 

Bebas dari Dualitas

“Tetapi, mereka yang berperilaku mulia, tanpa cela, dan bebas dari dualitas (yang disebabkan oleh kesukaan pada sesuatu); dan memuja-Ku dengan hati yang teguh, sesungguhnya telah mencapai akhir dari siklus kelahiran dan kematiannya.” Bhagavad Gita 7:28

Siklus kelahiran-kematian adalah produk dualitas. Produk utama. Produk-produk lain adalah produk sekunder siklus tersebut. Sekadar by-products. Ketika seseorang terbebaskan dari kebingungan yang tercipta oleh dualitas — maka barulah ia dapat berperilaku mulia. Hal ini perlu dipahami….

PERBUATAN MULIA TANPA CELA tidak sama dengan perbuatan baik. Perbuatan baik ada kebalikannya, yaitu perbuatan jelek, tidak baik. Perbuatan baik masih merupakan bagian dari dualitas. Ada baik, ada buruk. Perbuatan mulia yang dimaksud di sini tidak memiliki kebalikannya. Perbuatan mulia yang dimaksud melampaui baik-buruk.

……………

Melampaui baik—buruk adalah kemuliaan, dan perilaku yang mulia adalah perilaku berlandaskan nilai-nilai kemanusiaan yang universal. Landasannya bukanlah tradisi. Landasannya adalah: “Berbuatlah terhadap orang lain, sebagaimana kamu menghendaki orang lain berbuat terhadapmu.”

………………

Bagi Krsna, hanyalah seorang yang berperilaku mulia, yang memahami inti spiritualitas. Hanyalah ia yang dapat menyembah-Nya dengan penuh keteguhan hati – tanpa ragu, tanpa kebimbangan sedikit pun. Lampaui dualitas; berperilaku mulia; menyembah Sang Jiwa Agung dengan segenap Jiwa dan raga; dan, keluar dari siklus kelahiran dan kematian. Inilah roadmap untuk mencapai moksa, nirvana — Kebebasan Mutlak! Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia via #BhagavadGitaIndonesia

Refleksi: Benah Diri, Be the Change, Memberdaya Diri

Dari beberapa Catatan tentang Refleksi dalam Kehidupan kita belajar memahami dan kemudian mulai mengubah diri, membenahi diri guna memberdaya diri:

 

Jalan Kehidupan kita ditentukan oleh diri kita sendiri dari akumulasi pilihan-pilihan yang telah kita lakukan

Setiap orang selalu dihadapkan pada pilihan sebelum melakukan sesuatu: 1. melakukannya, 2. tidak melakukannya, 3. atau mengambil pilihan lainnya. Oleh karena itu seseorang harus bertanggungjawab dengan apa pun yang telah dipilihnya. Bahkan jalan kehidupannya ditentukan oleh dirinya sendiri dari akumulasi pilihan-pilihan yang telah dilakukannya.

Silakan baca: https://gitakehidupansepasangpejalan.wordpress.com/2018/05/17/refleksi-kehidupan-kita-adalah-akumulasi-dari-pilihan-kita-sendiri/

 

Ego Bukan Sikap Manusiawi, Kita Mewarisinya Melalui Evolusi Panjang

Setiap kali ada yang memuji atau memaki, anjing ego di dalam diri kita mendapatkan makanan, dan ia mulai menggonggong. Ya betul, bukan saja setiap kali dipuji, tetapi setiap kali dimaki.

Adalah di bagian bawah otak yang biasa disebut medulla oblongata. Untuk diketahui, medulla adalah bagian otak yang disebut reptilian brain—berbagai jenis hewan, termasuk jenis-jenis tertentu ikan, cicak, dan buaya, memilikinya. Jadi, medulla bukanlah bagian otak yang biasa disebut neo-cortex, atau bagian otak yang memanusiakan hewan. Berarti, ego bukanlah sifat atau sikap manusiawi. Manusia mewarisinya melalui evolusi panjang selama ratusan juta tahun.

Silakan baca: https://gitakehidupansepasangpejalan.wordpress.com/2018/05/15/refleksi-ego-warisan-bawaan-insting-hewani/

 

Berhati-hati dengan Pergaulan

Kesan-kesan dari masa lalu ini boleh diumpamakan sebagai file yang sudah di-delete, tapi belum musnah, masih ada di hard-disk, masih bisa di-retrieve. Retrievable file ini, walau tidak “se”-berbahaya file memori yang masih terpakai, tapi tidak aman-aman pula. Retrievable Files hanya membutuhkan trigger kecil, pemicu berkekuatan rendah di luar, untuk muncul kembali ke permukaan.

Kita memerlukan Satsang, Pergaulan dengan mereka yang baik”. Tidak perlu bermusuhan dengan dengan mereka yang kurang baik, tetapi kita juga perlu menghindari pergaulan yang tidak menunjang kesadaran. Pergaulan yang tidak menunjang kesadaran dapat memicu retrievable files ini.

Silakan baca: https://gitakehidupansepasangpejalan.wordpress.com/2018/05/16/refleksi-salah-pergaulan-pemicu-tindakan-syaitani-dari-dalam-diri/

 

Kehendak yang Kuat untuk Melakoni

Napoleon Hill sadar bahwa 98 % orang memang tidak yakin. Mereka tidak percaya pada apa yang mereka lakukan. Mereka tidak percaya pada keberhasilan apa yang mereka kerjakan. Mereka tidak percaya pada pekerjaan mereka. Itulah sebabnya hanya 2 % orang yang meraih keberhasilan sejati. Sisanya dalam keadaan limbo, kaya tapi tidak berhasil. Atau, tidak kaya dan tidak berhasil. Kendati demikian, jangan putus asa. Hill meyakinakn kita bahwa “kurang percaya diri”, “kurang yakin” adalah penyakit yang dapat disembuhkan

Silakan baca: https://gitakehidupansepasangpejalan.wordpress.com/2018/05/20/refleksi-beda-keinginan-dan-kehendak-terhadap-kesuksesan-kita/

 

Semua buku-buku karya Bapak Anand Krishna memang merupakan alat untuk Benah Diri, untuk Memberdaya Diri, Memperbaiki Diri. Demikian juga semua latihan Meditasi, Yoga dll di Anand Ashram bertujuan untuk Memberdaya Diri.

Kali ini kami pilih beberapa Kutipan dari buku Be the Change dan silakan baca buku lengkapnya untuk lebih mendalaminya.

Judul : Be The CHANGE, Mahatma Gandhi’s Top 10 Fundamentals for Changing the World

Pengarang : Anand Krishna

Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama, Cetakan : 2008

Tebal : 102 halaman

 

Butir # 1 Change Yourself

Kau sendiri mesti menjadi perubahan seperti yang kauinginkan terjadi dalam dunia. Perubahan mesti dimulai dari diri sendiri. Jangan mengharapkan perubahan dari dunia luar. Jangan menunda perubahan diri hingga dunia berbeda. Coba perhatikan, dunia ini senantiasa berubah. Kalau kita tidak ikut berubah, kita menciptakan konflik antara diri kita dan dunia ini.

Butir # 2 You Are in Control

Tak seorang pun dapat menyakitiku bila aku tidak mengizinkannya. Bila ingin menjadi seorang pemimpin, jangan memelihara virus sakit hati. Terlebih lagi jangan sampai penyakit itu dijadikan pemicu dan motivasi untuk maju ke depan. Bila kita merasa bisa disakiti, kita sungguh lemah. Perasaan itu saja sudah membuktikan bahwa kita tidak layak untuk menjadi pemimpin.

Butir # 3 Forgive and Let It Go

Seorang lemah tidak dapat memaafkan. Kemampuan untuk memaafkan hanya ada pada mereka yang kuat…. Bila pencungkilan mata dibalas dengan mencungkil mata, seluruh dunia akan menjadi buta. Memaafkan berarti tidak membenci para pelaku kejahatan. Bujuklah mereka, berilah kesempatan untuk mengubah diri. Namun bila mereka tidak memanfaatkan kesempatan itu, tidak mau mengubah diri dan tetap menggunakan kekerasan, kewajiban kita lah untuk memastikan mereka dikarantina beberapa waktu.

Butir # 4 Without Action You Aren’t Going Anywhere

Satu ons tindakan lebih baik daripada berton-ton dakwah. Bicara memang mudah. Melakoni sesuatu memang tidak mudah, tetapi apa arti sesuatu yang hanya dibicarakan, dan tidak dikerjakan, tidak dilakoni? Bundelan buku di atas seekor keledai, kata Imam Ghazali, tak mampu mengubah keledai itu menjadi seorang cendekiawan.

Butir # 5 Take Care of This Moment

Aku tak ingin melihat apa yang dapat terjadi di masa depan. Aku peduli pada masa kini. Tuhan tidak memberiku kendali terhadap apa yang dapat terjadi sesaat lagi. Seperti inilah kejujuran seorang Gandhi. Ia tidak mengaku dapat melihat masa depan. Ia tidak mengaku memperoleh bisikan dari siapa-siapa. Ia mengaku dirinya orang biasa, tidak lebih penting darpada orang yang derajatnya paling rendah, paling hina dan dina. Gandhi tidak ragu, tidak bimbang, tidak bingung, karena ia hidup dalam kekinian. Ia bisa bertindak sesuai dengan nuraninya karena tidak menghitung laba-rugi.

Butir # 6 Everyone Is Human

Aku hanyalah seorang manusia biasa yang dapat berbuat salah seperti orang lain juga. Namun, harus kutambahkan bahwa aku memiliki kerendahan hati untuk mengakui kesalahanku dan memperbaikinya.

Butir # 7 Persist

Butir # 8 See the Good in People and Help Them

Butir # 9 Be Congruent, Be Authentic, Be Your True Self

Butir # 10 Continue to Grow and Evolve

Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2008). Be The Change, Mahatma Gandhi’s Top 10 Fundamentals For Changing The World. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Silakan ikut Program Pemberdayaan Diri di Anand Ashram:

Pemicu Kecil Membangkitkan Ego yang Membawa Perselisihan Besar

Ego mirip hewan dalam diri

Setiap kali ada yang memuji atau memaki, anjing ego di dalam diri kita mendapatkan makanan, dan ia mulai menggonggong. Ya betul, bukan saja setiap kali dipuji, tetapi setiap kali dimaki. Kutipan dari Nietzsche semestinya ditambah satu alenia lagi: “setiap kali jatuh satu tingkat”. Jadi setiap naik maupun turun tingkat, anjing ego selalu menggonggong. Diberi makan ia memperoleh energi dan menggonggong girang, tidak diberi makan, ia menggonggong kelaparan. Dipuji atau dicaci, dimaki, ego menggonggong.

Adalah di bagian bawah otak yang biasa disebut medulla oblongata. Untuk diketahui, medulla adalah bagian otak yang disebut reptilian brain—berbagai jenis hewan, termasuk jenis-jenis tertentu ikan, cicak, dan buaya, memilikinya. Jadi, medulla bukanlah bagian otak yang biasa disebut neo-cortex, atau bagian otak yang memanusiakan hewan.

Berarti, ego bukanlah sifat atau sikap manusiawi. Manusia mewarisinya melalui evolusi panjang selama ratusan juta tahun. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2012). Sanyas Dharma Mastering the Art of Science of Discipleship Sebuah Panduan bagi Penggiat Dan Perkumpulan Spiritual. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Youtube Video a Course in Spirituality Part 1: Enlightement and Guru by Swami Anand Krishna

Kita hidup dalam periode waktu, dimana kita hanya membutuhkan pemicu kecil, untuk menjadi egoistis. Di waktu dahulu tidak demikian. Saat ini kita hanya membutuhkan sedikit pemicu, seseorang memujimu dan kamu menggembung, seseorang bicara tentang sesuatu dan kamu mengempis. Keduanya adalah ego based. Ketika kamu menggembung atau mengempis keduanya adalah ego. Kamu mengempis egomu terlukai. Kamu menggembung karena kau merasa senang.

Para motivator menggembungkan ego kita. Dan apakah dunia kita menjadi lebih baik? Tidak! Lihat situasi di Eropa, bom, tembakan. Demikian juga dalam dunia seluruhnya. Dunia tidak menjadi tempat yang lebih baik karena dengan hanya pemicu kecil, ego kita menggembung atau mengempis dan keduanya berbahaya.

Mengikuti 2 cara ini, kalian tidak akan ke mana-mana. Master saya selalu mengingatkan kita dengan menggunakan kata moksha. Biasanya kita mengaitkan moksha terkait saat kematian, terbebaskan dari samsara, dari siklus kematian dan kelahiran.

Moksha tidak demikian. Moksha bisa kau mulai here dan now. Moksha berarti bebas dari keterikatan, bebas dari ego, bebas dari kebencian, dari iri, bebas dari segala sesuatu, yang mengikat kita dengan dunia ini.

Guru Nanak, saat bicara tentang bhakti, ia memanggil dirinya dasanudas, pelayan dari pelayan, pelayan dari devoti Tuhan.

Silakan simak Youtube Video a Course in Spirituality Part 1: Enlightement and Guru by Swami Anand Krishna

Tidak terjebak dalam dualitas dalam Bhagavad Gita

“Ia tidak terikat dengan sesuatu, di mana pun ia berada, dan dalam keadaan apa pun. Ia tidak terjebak dalam dualitas menyenangkan dan tidak menyenangkan. Ia tidak tersanjung (ketika dipuji), pun tidak gusar (ketika dicaci); Kesadaran Jiwanya sungguh tak tergoyahkan lagi.” Bhagavad Gita 2:57

Kṛṣṇa tidak menganjurkan agar kita menolak kebahagiaan, pengalaman-pengalaman yang menyenangkan dan sebagainya, ia hanya menganjurkan agar kita jangan sampai lupa daratan. Setiap Pengalaman Dalam hidup ini hanya bersifat sementara. Dalam keadaan duka, jangan sampai kecewa, dan menciptakan trauma bagi diri sendiri. Terimalah apa adanya. Demikianlah kehidupan ini, jangan terikat pada pengalaman apa pun. Semuanya hanya ada untuk sesaat.

Dalam percakapan-percakapan selanjutnya, Kṛṣṇa akan menjelaskan bahwa sesungguhnya semua pengalaman itu adalah menyangkut fisik, badan, indra. Jiwa tidak terpengaruh olehnya. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia via #BhagavadGitaIndonesia

Menyelesaikan Hutang Piutang #Karma dengan 20 Orang Terdekat

Hutang mesti dilunasi, jangan berbuat buruk

Kita berhutang terhadap leluhur, orang tua, guru, dan sesama makhluk, seringkali kita lalai melunasi hutang itu. Lagi-lagi, kadang sengaja, kadang tidak. Namun, kesalahan adalah kesalahan. Kelalaian adalah Kelalaian. Hutang adalah hutang, dan mesti dilunasi. Dikutip dari buku (Das, Sai. (2010). Shri Sai Satcharita. Anand Krishna Global Co-Operation Indonesia)

Kita sering mendengar saat melawat orang yang meninggal, agar orang yang mempunyai hutang-piutang dengan orang yang meninggal menghubungi famili untuk menyelesaikan hutang-piutangnya. Adalah hal yang baik untuk menyelesaikan hutang-piutang terkait harta atau uang, tapi bagaimana dengan hutang-piutang perbuatan (hutang-piutang karma) dari yang sudah meninggal?

 

Hubungan dengan 20 orang terdekat

Dalam video youtube Kamasutra Part 2: From Passion to Compassion by Swami Anand Krishna disampaikan tentang hubunganketerikatan dengan keluarga:

“Hubungan, keterikatan dengan keluarga atau orang lain, menurut pandangan Veda, pandangan Yoga berdasarkan kredit dan debit. Partner kamu saat ini bisa saja ayah atau ibumu di kehidupan masa lalu. Dan sekarang dia adalah partner-mu. Dan apabila kita menelusuri hal demikian, maka hanya ada 20 orang yang benar-benar dekat. Dengan 20 orang ini kita terus bertemu. Peran  berubah tetapi hubungan tetap.” Dikutip dari video youtube Kamasutra Part 2: From Passion to Compassion by Swami Anand Krishna

Dalam episode kehidupan saat ini kita mempunyai hubungan dengan sekitar 20 orang. Terutama ayah, ibu saudara dan sebagainya. Setiap hubungan pasti membuahkan hutang-piutang perbuatan, ada yang perbuatan baik dan ada perbuatan buruk. Misalkan kita punya hutang (banyak perbuatan buruk) terhadap salah satu keluarga kita, maka kita akan lahir lagi untuk melunasi hutang tersebut. Demikian juga sebaliknya jika kita berbuat baik dengan salah satu anggota keluarga, maka kita akan lahir lagi untuk menerima hasil pengembalian dari anggota keluarga tersebut.

Hutang-piutang harus tetap diselesaikan oleh orang yang bersangkutan dalam episode kelahiran berikutnya, akan tetapi peran orang tersebut bisa berubah, misalkan tadinya anak sekarang menjadi suami atau saudaranya. Intinya dalam kehidupan mendatang kita akan bertemu dengan orang-orang yang mempunyai kaitan hutang-piutang dengan kita namun dengan peran yang berbeda. Oleh karena itu jangan membuat karma buruk. Kalau seseorang memanggil sister atau brother dengan teman seperjalanan spiritual, semoga saja dalam kelahiran yang akan datang bisa menjadi saudara sehingga peningkatan kesadaran dalam keluarga sudah lebih kondusif.

Lahir dalam keluarga yang sama

Dalam video youtube Reincarnation: A Secret Revealed by Swami Anand Krishna disampaikan:

“Berdasar impressi terakhir, dalam waktu terakhir dari kehidupan kita menghadapi pemutaran seperti televisi. Film lama, tape lama, kita mengalami seperti menemukan film diri kita. Dan hanya membutuhkan beberapa menit. Kadang-kadang hanya beberapa detik dalam 1 menit.

Pada waktu itu secara klinis kita sudah dinyatakan mati. Secara fisik kita sudah mati. Pada waktu itu pemutaran kembali film berjalan. Dan pemutaran kembali tetap berjalan karena mesin tetap berjalan. Mesin tetap berjalan tetap ada sisa napas tertinggal. Seperti fan. Walau dimatikan tetap ada listrik yang mengalir, dan baling-baling fan tetap bergerak sampai waktunya berhenti. Sehingga walau otak kita sudah tidak berfungsi, tetap ada energi tertinggal. Dan menggunakan energi yang ada mind (bukan brain) memutar kehidupan selama hidup.

Bukan semua impresi tetapi impresi utama. Impresi utama, memori utama akan kembali. Berdasarkan itu,  sebelum gelap total, Soul (jiwa) mempunyai program: Untuk kehidupan ke depan aku akan mencari orangtua semacam itu. Pada waktu itu dalam waktu 1 menit. Dalam detik-detik terakhir, tapi Anda bisa merasakan sangat lama. Anda seakan-akan hidup kembali selama kehidupmu.

Tapi sebetulnya sangat-sangat singkat waktunya. Dan ada kebingungan waktu. Oke dalam kehidupan ke depan aku akan hidup dalam semacam keluarga itu. Apabil soul tetap berupaya ke keluarga tersebut, dia akan segera lahir kembali di keluarga tersebut.” Dikutip dari video youtube Reincarnation: A Secret Revealed by Swami Anand Krishna

 

Lahir di tempat yang menjadi obsesi sebelum kematian

“Tapi apabila soul terikat pada situasi yang berbeda. Kebanyakan dari orang Barat, datang ke bali tahun 1960-an sampai tahun 1970-an. Mereka jatuh cinta pada Bali. Dan itulah pikiran terakhir sebelum mati. Apakah mereka dari Belanda, Jerman, atau US, pikiran terakhir adalah Bali. Dan mereka lahir di Bali. Sehingga banyak yang lahir setelah tahun 1970-an, mereka adalah orang Barat murni di kehidupan sebelumnya”. Dikutip dari video youtube Reincarnation: A Secret Revealed by Swami Anand Krishna

 

Lampaui Like dan Dislike

“Anda harus sangat-sangat berhati-hati. Itulah sebabnya dalam Bhagavad Gita Krishna mengatakan: Apa saja yang kau ingat selama hidup akan datang lagi ingatan tersebut saat kau akan mati. Ketika kamu sangat menyukai sesuatu kamu harus sangat berhati-hati. Mengapa kamu menyukai hal tersebut. Atau mengapa kamu tidak menyukai sesuatu.

Itulah sebabnya Krishna berkata lampauilah like dan dislike. Dan apabila kau melampui like dan dislike, Dan kau fokus pada soul enhancement, peningkatan Jiwa. Progres dari pada soul. Meditasi adalah tentang hal tersebut.

Dan progres soul dimulai dari motto one earth sky one human kind. Apakah kamu Barat atau Bali, India, China, Eropa, tidak masalah. Soul tidak terikat dengan geografi tertentu. Soul ingin memperkaya dirinya sendiri.

Jadi jangan mempunyai keinginan untuk lahir dalam negera tertentu. Punyalah keinginan untuk peningkatan Jiwa.” Dikutip dari video youtube Reincarnation: A Secret Revealed by Swami Anand Krishna

 

Agar kita tidak lahir kembali maka:

Tidak mengharapkan imbalan dari dunia

Kita semua “warga surga yang sedang berkunjung ke dunia”. Fitrah kita bukanlah sebagai warga dunia, tetapi sebagai duta Allah yang sedang berkunjung di dunia atas perintah-Nya. Jika kita tidak menyadari hal itu, maka kita menjadi warga dunia. Diingatkan supaya kita meniru para rasul, para nabi, dan tidak mengharapkan “upah” dari manusia. Sesungguhnya inilah yang membedakan kita dari para rasul dan khalifatullah. Kita mengharapkan imbalan dari dunia, dan harapan itu membuat kita menjadi “warga dunia”. Kita menjadi budak dunia. Sementara para rasul dan khalifatullah tetap mempertahankan kewarganegaraan mereka. Mereka tetap menjadi warga surga yang sedang berkunjung ke dunia. Mereka mempertahankan status mereka sebagai “tamu”. Salah satu nasehat Bapak Anand Krishna tentang Tamu Dunia

Berkarya Tanpa Keinginan Duniawi

“Seseorang yang berkarya tanpa keinginan duniawi dan harapan akan imbalan, telah tersucikan seluruh karma, seluruh perbuatannya, oleh api kebijaksanaan sejati. Para pandit, mereka yang berpengetahuan pun menyebutnya seorang bijak.” Bhagavad Gita 4:19

Kuncinya adalah berkarya tanpa pamrih.Ketika seseorang berkarya dengan semangat demikian,maka sesungguhnya ia ‘tidak berkarya’, karena ia tidak tersentuh oleh konsekuensi dari perbuatannya. Itulah Akarma-karma.

Barangkali ada yang bertanya: Sejahat apakah konsekuensi perbuatan manusia? Sehingga seseorang dianggap bijak, jika ia terbebaskan dari konsekuensi perbuatannya.

Bukan soal jahat atau tidak jahat. Persoalannya ialah setiap perbuatan rnembawa hasil, dan hasilnya ada yang baik, ada juga yang kurang baik atau tidak baik. Tidak ada perbuatan yang menghasilkan kebaikan saja. Pun, tidak ada perbuatan yang 100% jelek. Dalam tindakan yang baik pun pasti ada setitik, dua titik ketidakbaikan. Dan, dalam perbuatan jahat pun, pasti ada sedikit kebaikan.

Kita kembali ke medan perang… Kita berada kembali di Kuruksetra. Perang ini adalah antara kekuatan Dharma dan Adharma, Kebajikan dan Kebatilan. Kubu yang disebut bajik, baik — jelas adalah Pandava. Dan, kubu yang disebut batil adalah Kaurava.

Tapi, apakah di antara Pandava, bahkan di dalam diri para saudara berlima itu tidak ada kebatilan sama sekali? Tidak ada kesalahan di dalam diri mereka? Siapa menyuruh Yudhisthira untuk main judi? Siapa menyuruhnya untuk mempertaruhkan kerajaan, bahkan istrinya?

Tindakan macam apakah itu?

Namun, kebaikan para Pandava jauh melebihi kesalahan dan kebatilan mereka. Mereka adalah yang terbaik di antara kubu-kubu yang ada. Maka, Krsna berpihak pada mereka.

Sebaliknya, Kaurava pun tidak 100% jahat. Ada sifat-sifat kesatriaan di dalam diri mereka, namun sifat-sifat itu tenggelam karena sifat-sifat batil, tidak baik yang jauh melebihinya. Sebab itu Kaurava tetaplah dianggap pihak yang batil, tidak baik.

Nah, dalam keadaan seperti ini — di mana tidak ada kebaikan 100% dan tiada pula kejahatan 100%, maka setiap orang yang berbuat baik, sebaik-baiknya, tetap saja memiliki sisi negatif, walau sedikit saja.

Tapi, jangan lupa konsekuensi kejahatan sesedikit apa pun; negativitas sekecil apa pun – ibarat nila. Setetes saja sudah cukup untuk rnerusak secawan susu mumi. Jadi kita mesti selalu waspada.

Bagaimana membebaskan diri dari setetes, dua tetes nila konsekuensi kebatilan itu? Bagaimana menyucikan diri? Bagaimana menetralisir dampak negatif dari karma kita?

Krsna menjawab: DENGAN KESADARAN SEJATI. .. Berkarya dengan penuh kesadaran, bahwa sesungguhnya Jiwa tidak tersentuh oleh akibat atau konsekuensi dari perbuatan apa pun. Ini sisi lain dari filsafat spiritual.

Sisi yang lebih umum adalah berkaryalah dengan penuh kesadaran bahwa sesungguhnya Tuhan Hyang Berkarya, kita hanyalah alat-Nya. Namun, dari sisi lain, Jiwa sesungguhnya tidak berkarya, adalah badan, indra, dan dan mind atau gugusan pikiran serta perasaan yang berkarya. Kembali pada niat di balik pekerjaan — kedua-dua konsep ini mampu membebaskan kita dari dampak negatif perbuatan baik kita. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia via #BhagavadGitaIndonesia

Memilih yang Pahit demi Kemuliaan Diri #BhagavadGitaIndonesia

Preya, menyenangkan dan Shreya, mulia

Bhagavad Gita memberitahu kita, dalam setiap pekerjaan pilihannya dua: preya, menyenangkan, awalnya manis tapi akhirnya pahit karena memang racun; atau shreya yang mulia, awalnya pahit seperti obat, tapi akhirnya manis seperti nectar, amrita. Preya mengikat kita dengan dunia tapi memberi kesan palsu seolah puas. Shreya memberi kesan “tidak enak” padahal mulia dan bebas dari keterikatan. Pilihan ditangan kita.

 

Krsna menggunakan istilah Shreya, yang berarti “Lebih Mulia” – bukan lebih baik, atau di atas yang lain. Dengan menggunakan istilah shreya, Krsna sedang membandingkan satu kegiatan dengan kegiatan lain dengan menggunakan tolok ukur atau timbangan shreya dan preya – yang memuliakan dan yang sekadar menyenangkan.

Jadi, batu timbangannya bukanlah berat-ringan, dalam konteks lebih baik dan kurang baik, atas dan bawah, tetapi dalam konteks, mana yang mulia dan mana yang tidak.

Laku yang hanya menyenangkan, perbuatan yang hanya memuaskan indra jelas tidak memuliakan. Sebab itu, terlebih dahulu raihlah pengetahuan sejati tentang mana yang memuliakan dan mana yang tidak. Penjelasan Bhagavad Gita 12:12 dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia via #BhagavadGitaIndonesia

 

Membedakan apa yang tepat dan apa yang tidak tepat

Tujuan Bhagavad Gita adalah meningkatkan kesadaran kita sehingga kita dapat membedakan antara apa yang tepat bagi kita dan apa yang tidak tepat. Bhagavad Gita sedang berbicara dengan kita dalam “keadaan jaga”, dan memberi kita kesempatan seluas-luasnya untuk menganalisa, menimbang, dan memahami dengan betul sebelum menerima. Bhagavad Gita merubah sifat mind yang terkondisi dan bekerja secara mekanis tanpa pilihan,  menjadi buddhi yang bebas dari conditioning dan bisa memilih, dan memilah.

 

Kembali pada contoh tentang makanan, ketika melihat makanan yang kita sukai, renungkan adakah makanan itu bermanfaat bagi kesehatan badan atau hanya nikmat dan lezat di lidah, tapi berbahaya bagi kesehatan.

Pun demikian ketika mendengar musik dengan menggunakan earphone jenis super. Demi kenikmatan sesaat, kita sedang merusak jaringan syaraf kita sendiri, yang dapat membahayakan otak. Sekaligus, kita tidak mampu lagi untuk menikmati suara-suara alam yang halus, suara air, dan suara angin. Telinga kita sudah terbiasa dengan suara keras, ia sudah tidak peka terhadap suara-suara lembut. Tidak ada lagi kenikmatan alami baginya. Siapkah kita untuk menghadapi konsekuensi itu? Penjelasan Bhagavad Gita 15:10 dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia via #BhagavadGitaIndonesia

Pengendalian Diri

“Tiada buddhi, tiada inteligensia dalam diri yang tak terkendali, tiada pula keseimbangan diri serta kesadaran; dan tanpa keseimbangan, tanpa kesadaran, tiada kedamaian, ketenangan, ketenteraman. Lalu, bagaimana pula meraih kebahagiaan  sejati tanpa kedamaian?” Bhagavad Gita 2:66

Berkembangnya buddhi, kesadaran untuk memilah antara yang tepat bagi kita dan tidak tepat, adalah mengikuti pengendalian diri secara proporsional. Makin Mampu Mengendalikan Diri makin berkembangnya buddhi, kesadaran diri – makin meditatifnya seseorang. Makin seimbangnya dia dalam keadaan suka maupun duka. Kemudian, dalam keadaan meditatif itulah muncul kedamaian, kebahagiaan sejati. Perhatikan, betapa pentingnya pengendalian diri.

Pengendalian Diri, Berarti Bebas dari Perbudakan – Selama ini kita diperbudak oleh badan, indra, hawa-nafsu, keinginan-keinginan, pikiran yang liar, perasaan yang bergejolak, dan sebagainya. Sebab itu, jelaslah hidup kita tidak tenang. Batin kita tidak tenteram. Tidak ada pula kedamaian dan kebahagiaan. Jadi, kuncinya adalah Pengendalian Diri. Dengan mengendalikan diri, kita sesungguhnya mengambil alih kekuasaan atas diri sendiri. Pengendalian Diri adalah semacam Proklamasi Kemerdekaan, sekaligus Pengukuhan Kesadaran-Diri; Penemuan Jati-Diri; Mengenal Diri sebagai Jiwa, percikan Jiwa Agung, Gusti Pangeran, Tuhan.

“Ketika gugusan pikiran serta perasaan terbawa oleh indra, dan berada di bawah kendalinya; maka sirnalah akal-sehat dan segala kebijaksanaan serta kesadaran. Persis seperti perahu yang hanyut terbawa oleh angin kencang.” Bhagavad Gita 2:67 dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia via #BhagavadGitaIndonesia

 

Satisfaction and General Wellbeing Part 1 Diabetes and Karela

Apa yang dimaksud dengan yang memuaskan? Memuaskan terhadap apa? Terhadap tubuh, fisik kita? Terhadap pikiran kita? Apa yang memuaskan tubuh kita belum tentu memuaskan pikiran kita. Bahkan dalam tubuh yang sama, apa yang memuaskan lidah kita, kita ingin makan sesuatu yang kita anggap lezat, tapi tidak baik bagi kolesterol, tidak baik untuk sistem kita. Lidah adalah bagian dari tubuh. Lidah ingin mengecap sesuatu yang dirasa lezat. Tapi tidak memuaskan terhadap tubuh kita. Sehingga kita harus paham memuaskan dalam tingkat apa?

Dan konflik ini selalu berjalan. Dalam diri kita apa yang dianggap memuaskan bagi kita mungkin tidak memuaskan pada tingkat yang lain. Sehingga kita harus mencari keseimbangan, apa yang bagus bagi general well being, diri kita. Ini yang penting. Tidak begitu memuaskan, tapi bagus bagi diri kita? Dan itu mungkin tidak memuaskan di awalnya.

Bapak Anand Krishna bercerita saat dia berusia sekitar duapuluhan dan bekerja di Jepang. Beliau bersama bossnya diundang seorang Jepang yang menghidangkan masakan mie Jepang. Mie Jepang di Jepang rasanya berbeda tidak seperti di Bali atau di Barat. Beliau biasa makan mie China versi Indonesia, yang kalau di China juga rasanya berbeda. Beliau tidak bisa makan mie Jepang tersebut, bahkan baunya saja tidak kuat. Boss beliau melihat ke arahnya, dan berbisik dalam bahasa daerah beliau, bahwa tahu beliau tidak dapat makan makanan tersebut, tapi kalau tidak makan tuan rumah akan kecewa. Beliau langsung makan tanpa merasakan apa pun dan satu mangkuk habis.

Hal yang baik mungkin tidak memuaskan di awalnya

Beliau sekarang setiap pagi minum jus pare (bitter gourd, karela). Sangat pahit, tapi beliau tahu bagus untuk diabetes beliau tanpa pengobatan medis. Tidak memuaskan memang, beliau harus menutup hidung saat menuangnya. Beliau diajari Ma Upasana. Pertama kali Ma Upasana memberikan sepererempat gelas. Oke, hari berikutnya tambah sedikit. Sekarang sudah mencapai tiga perempat gelas. Beliau tidak punya pilihan, atau balik ke obat medis, yang beliau tidak suka. Dalam usia beliau adalah hal bagus diabetes beliau dapat dikontrol dengan jus pare. Memang tidak memuaskan tapi bagus terhadap kesehatan tubuh beliau.

Dalam satu titik kehidupan kita, kita harus betul-betul memilih, manakah bagus bagi diri kita. Dan apa yang baik bagi diri kita bukan peristiwa satu hari. Mungkin tidak memuaskan pada hari ini, tapi dalam perjalanan selanjutnya baik bagi kesehatan kita. Kita dapat mempraktekkan aturan ini dalam setiap aspek kehidupan kita. Bukan hanya tentang kesehatan tapi dalam hubungan manusia, dalam banyak hal lain.

Beliau memberi contoh seorang Barat yang jatuh cinta dengan seorang dari Timur. Mereka betul-betul sama-sama manusia, tapi dalam tingkat apa? Dalam tingkat Jiwa kita semua satu. Darah kita juga tidak banyak tipenya. Makan Timur dapat dimakan orang Barat dan sebaliknya. Tempat tinggal Barat juga bisa menjadi tempat tinggal orang Timur dan sebaliknya. Tapi bagaimana tentang cultural shock? Bagaimana menanganinya? Akan makan waktu lama. Ini adalah masalah satu kehidupan.

Silakan simak video youtube lengkap: Satisfaction and General Wellbeing Part 1 Diabetes and Karela by Swami Anand Krishna.

Kamasutra: dari Passion ke Compassion lewat Cinta #SpiritualIndonesia

Jalan Kesempurnaan melalui Kamasutra

Ada kesan umum yang salah kaprah bahwa seakan-akan Kamasutra adalah literatur pornografi, dan hanya itu. Kesan itu lebih kuat lagi karena film atau buku-buku murahan dalam tema yang sama yang memanipulasi postur-postur senggama. Buku ini lain Penulis menampilkannya dalam keutuhannya sebagai jalan menuju kesempurnaan manusia: melalui seks, menuju cinta, sampai pada kasih, bahkan Anda dapat melanjutkannya sampai pada Kesadaran Kosmos. Seks adalah tahapan atau etape pertama yang amat penting, dan karena itu tidak perlu dihindari atau ditolak. Penolakan terhadapnya hanya akan menghasilkan kerugian besar, kalau bukan membuat kita terobsesi olehnya, dan menjadi mandeg dalam petualangan kita mencari kesejatian diri. Dikutip dari buku (Krishna, Anand). (2004). Jalan Kesempurnaan melalui Kamasutra. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

Tidak usah melepaskan yang duniawi untuk mencapai kesadaran rohani

Kama berarti keinginan; sedangkan Sutra berarti formula, cara atau metode. Kamasutra tidak semata-mata bicara tentang kepuasan keinginan raga saja. Buku ini bicara tentang manusia seutuhnya, termasuk kepuasan yang didambakan oleh manusia – bukan kepuasan fisik saja, tetapi juga kepuasan mental, emosional, intelektual dan spiritual. Kamasutra

Menurut ajaran-ajaran Tantra, Anda tidak usah melepaskan yang duniawi untuk mencapai kesadaran rohani. Yang duniawi dan rohani bisa jalan bersama. Dunia merupakan anak tangga yang dapat mengantar Anda ke puncak kesadaran rohani. Bagaimana Anda dapat meninggalkan dunia ini? Seorang yang dapat mencapai kesadaran spiritual adalah seorang yang sudah puas dengan segala sesuatu yang bersifat duniawi. Kalau belum puas, kalau masih ada obsesi terhadap benda-benda duniawi, Anda tidak akan berhasil meningkatkan kesadaran Anda. Dikutip dari buku (Krishna, Anand). (2004). Jalan Kesempurnaan melalui Kamasutra. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Passion dan Compassion

Napsu atau passion hendaknya tidak selalu dikaitkan  dengan seks. Obsesi dengan harta atau kekayaan, dengan nama atau ketenaran dan dengan jabatan atau kedudukan semuanya adalah passion , napsu. Semuanya ini terjadi apabila kita belum mengalami peningkatan kesadaran. Mereka yang terobsesi oleh seks, oleh harta, oleh nama, oleh jabatan tidak akan mengalami cinta dalam kehidupan. Mereka belum tahu cinta itu apa.

Kasih atau compassion adalah birahi terhadap alam semesta. Bila napsu seseorang dapat ditingkatkan menjadi birahi terhadap alam semesta, Anda adalah seorang pengasih. Compassion berarti passion terhadap alam semesta, terhadap Tuhan, terhadap yang abstrak, Yang Tak dapat dijelaskan. Apabila Anda mengasihi setiap makhluk – segala sesuatu yang ada dalam alam ini – apabila Anda mengasihi alam semesta ini, Anda adalah seorang buddha, seorang mesias. Dikutip dari buku (Krishna, Anand). (2004). Jalan Kesempurnaan melalui Kamasutra. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

Kamasutra Part 1: Turning the Sexual Energy to Kundalini

Apa yang kita pahami sebagaai cinta adalah murni keterikatan, infatuasi. Masalahnya adalah bahwa kita tidak pernah mengalami pengalaman cinta, sehingga apa yang kita punyai dalam kehidupan, kita menyalahartikan sebagai cinta. Cinta tidak dapat bekerja dengan keterikatan, tidak bisa berjalan bersama. Dan cinta tidak bisa kepada seeorang. Cinta kamu adalah kepada semua orang.

Cinta tidak ada kaitan dengan perbuatan seks. Seks adalah hal yang lain dan kamu tidak melawan seks. Cinta hanya dapat mekar ketika energi seks, sexual energy berubah, menguap.

Sexual energy hanya ada pada svadishtana chakra. Biasanya diterjemahkan dalam bahasa Inggris sebagai pusat seks. Terjemahan yang total salah. Sva berarti self, sthan adalah tempat. Chakra kedua bukan pusat seks, tetapi tempat energi berada.

Dan apa yang terjadi saat ini? Energi ini dalam bentuk liquid, cairan. Sehingga ketika energi ini tumpah, akan menuju ke bawah. Itu adalah ketika kamu pikir seksi. Arah alami dari energi dalam bentuk cairan.

Kamasutra menyampaikan ada kemungkinan yang lain. Kita tidak berkata tentang orientasi seksual. Kamu bisa homoseksual, bisa heteroseksual, tau yang lainnya, kita tidak bicara tentang orientasi. Kita bicara tentang mengubah arah energi ke kundalini shakti atau power.

Kundalini berarti potensial. Dalam tradisi yoga, saat kamu dilahirkan, keluar dari perut ibumu, kamu sudah diregister berdasar konstelasi bintang, dan impresi yang kamu bawa, tidak ada anak yang lahir tabula rasa. Anak lahir dengan impresi dari banyak kehidupan sebelumnya.

Berdasarkan semua kalkulasi ini, ada sistem jyotish yang disalah terjemahkan sebagai astrologi. Jyoti adalah light, ish adalah God, light of god. Potensial bukan untuk find God, tapi untuk become God. Kundalini adalh bagian dari Jyoti. Dan potensi itu hanya dapat ditemukan, ketika liquid energy berubah menjadi uap. Kamasutra menyampaikan kepadamu, bagaimana melakukan hal itu.

Silakan simak video youtube by Swami Anand Krishna: Kamasutra Part 1: Turning the Sexual Energy to Kundalini

Kamasutra Part 2: From Passion to Compassion

Setelah kamu sudah cukup melakukan aktivitas seks, dan kamu puas, what next? Apakah saya dapat menggunakan energi itu untuk melakukan sesuatu? Bisakah kamu menggunakan energi tersebut untuk tujuan yang lebih tinggi. Dan, ketika kamu menggunakan energi yang sama untuk melakukan hal yang lain, maka cinta akan mekar. Sebelum itu hanyalah passion, tidak ada cinta (dan itu juga tidak bermasalah, semua orang mempunyai passion). Tapi apabila kamu ingin mengubah passsion ke love….

Perjalanan adalah dari passion ke compassion lewat love. Passion adalah mengambil, mengambil dan mengambil. Mengharapkan sesuatu dari orang lain kamu angggap mencintai. Love adalah give and take, transaksi. Belum cukup bagus. Compassion adalah memberi, memberi dan memberi.

Ada kisah Jesus sedang pergi dengan beberapa murid ketika seseorang mencacimaki. Jesus menoleh tersenyum dan memberkati. Salah satu murid berkata, kamu tidak harus demikian, bisa terus jalan saja tidak perlu tersenyum dan memberi berkat. Jesus berkata, lihat dalam kantong saya hanya ada 1 mata uang. Mereka memberi saya sesuatu, saya harus memberi mereka gantian. Dan ketika saya melihat kantongku, saya hanya melihat mata uang tersebut. Mata uang senyuman. Mata uang berkat. Maka, saya tidak dapat memberikan yang lain.

Kisah yang indah, mata uang apa yang kita miliki? Hubungan, keterikatan dengan keluarga atau orang lain, menurut pandangan Veda, pandangan Yoga berdasarkan kredit dan debit. Partner kamu saat ini bisa saja ayah atau ibumu di kehidupan masa lalu. Dan sekarang dia adalah partner mu. Dan apabila kita menelusuri hal demikian, maka hanya ada 20 orang yang benar-benar dekat. Dengan 20 orang ini kita terus bertemu. Peran  berubah tetapi hubungan tetap.

Kamu diberi disket game terus kamu mainkan, dan kamu merasa ini adalah free will. Hari ini menang, besok kalah. Katakan kamu main catur dengan komputer. Minimum ada 60.000 kemungkinan. Dan semuanya sudah didesign permainan itu. Setiap hari berbeda dan kamu merasa kamu belajar. Kita berpikir itu adalaah free will. Nyatanya yang disebut free will adalah terbatas kepada kemungkinan-kemungkinan tertentu. Kita hanya bergerak dari satu kemungkinan ke kemungkinan yang lain.

Dan, Kundalini adalah bagaimana kita membuang disket permainan ini. Kundalini adalah meloncat ke hal yang tidak terketahui dengan kemungkinan yang tidak terbatas. Kita creating dan programming permainan kita sendiri. Saat kau bangkit dalam love, kamu menuju compassion. Tiba-tiba kau memiliki banyak kemungkinan. Dan kemudian quantum mechanics bekerja.

Ya inilah hidup yang penuh dengan berbagai kemungkian. Dan ini adalah tentang kundalini. Sekali lagi ini bukan kutukan terhadap kebiasaan tertentu, hanya tentang seberapa jauh kau akan pergi.

Silakan simak video youtube by Swami Anand Krishna: Kamasutra Part 2: From Passion to Compassion