Pemicu Kecil Membangkitkan Ego yang Membawa Perselisihan Besar

Ego mirip hewan dalam diri

Setiap kali ada yang memuji atau memaki, anjing ego di dalam diri kita mendapatkan makanan, dan ia mulai menggonggong. Ya betul, bukan saja setiap kali dipuji, tetapi setiap kali dimaki. Kutipan dari Nietzsche semestinya ditambah satu alenia lagi: “setiap kali jatuh satu tingkat”. Jadi setiap naik maupun turun tingkat, anjing ego selalu menggonggong. Diberi makan ia memperoleh energi dan menggonggong girang, tidak diberi makan, ia menggonggong kelaparan. Dipuji atau dicaci, dimaki, ego menggonggong.

Adalah di bagian bawah otak yang biasa disebut medulla oblongata. Untuk diketahui, medulla adalah bagian otak yang disebut reptilian brain—berbagai jenis hewan, termasuk jenis-jenis tertentu ikan, cicak, dan buaya, memilikinya. Jadi, medulla bukanlah bagian otak yang biasa disebut neo-cortex, atau bagian otak yang memanusiakan hewan.

Berarti, ego bukanlah sifat atau sikap manusiawi. Manusia mewarisinya melalui evolusi panjang selama ratusan juta tahun. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2012). Sanyas Dharma Mastering the Art of Science of Discipleship Sebuah Panduan bagi Penggiat Dan Perkumpulan Spiritual. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Youtube Video a Course in Spirituality Part 1: Enlightement and Guru by Swami Anand Krishna

Kita hidup dalam periode waktu, dimana kita hanya membutuhkan pemicu kecil, untuk menjadi egoistis. Di waktu dahulu tidak demikian. Saat ini kita hanya membutuhkan sedikit pemicu, seseorang memujimu dan kamu menggembung, seseorang bicara tentang sesuatu dan kamu mengempis. Keduanya adalah ego based. Ketika kamu menggembung atau mengempis keduanya adalah ego. Kamu mengempis egomu terlukai. Kamu menggembung karena kau merasa senang.

Para motivator menggembungkan ego kita. Dan apakah dunia kita menjadi lebih baik? Tidak! Lihat situasi di Eropa, bom, tembakan. Demikian juga dalam dunia seluruhnya. Dunia tidak menjadi tempat yang lebih baik karena dengan hanya pemicu kecil, ego kita menggembung atau mengempis dan keduanya berbahaya.

Mengikuti 2 cara ini, kalian tidak akan ke mana-mana. Master saya selalu mengingatkan kita dengan menggunakan kata moksha. Biasanya kita mengaitkan moksha terkait saat kematian, terbebaskan dari samsara, dari siklus kematian dan kelahiran.

Moksha tidak demikian. Moksha bisa kau mulai here dan now. Moksha berarti bebas dari keterikatan, bebas dari ego, bebas dari kebencian, dari iri, bebas dari segala sesuatu, yang mengikat kita dengan dunia ini.

Guru Nanak, saat bicara tentang bhakti, ia memanggil dirinya dasanudas, pelayan dari pelayan, pelayan dari devoti Tuhan.

Silakan simak Youtube Video a Course in Spirituality Part 1: Enlightement and Guru by Swami Anand Krishna

Tidak terjebak dalam dualitas dalam Bhagavad Gita

“Ia tidak terikat dengan sesuatu, di mana pun ia berada, dan dalam keadaan apa pun. Ia tidak terjebak dalam dualitas menyenangkan dan tidak menyenangkan. Ia tidak tersanjung (ketika dipuji), pun tidak gusar (ketika dicaci); Kesadaran Jiwanya sungguh tak tergoyahkan lagi.” Bhagavad Gita 2:57

Kṛṣṇa tidak menganjurkan agar kita menolak kebahagiaan, pengalaman-pengalaman yang menyenangkan dan sebagainya, ia hanya menganjurkan agar kita jangan sampai lupa daratan. Setiap Pengalaman Dalam hidup ini hanya bersifat sementara. Dalam keadaan duka, jangan sampai kecewa, dan menciptakan trauma bagi diri sendiri. Terimalah apa adanya. Demikianlah kehidupan ini, jangan terikat pada pengalaman apa pun. Semuanya hanya ada untuk sesaat.

Dalam percakapan-percakapan selanjutnya, Kṛṣṇa akan menjelaskan bahwa sesungguhnya semua pengalaman itu adalah menyangkut fisik, badan, indra. Jiwa tidak terpengaruh olehnya. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia via #BhagavadGitaIndonesia

Advertisements

Menyelesaikan Hutang Piutang #Karma dengan 20 Orang Terdekat

Hutang mesti dilunasi, jangan berbuat buruk

Kita berhutang terhadap leluhur, orang tua, guru, dan sesama makhluk, seringkali kita lalai melunasi hutang itu. Lagi-lagi, kadang sengaja, kadang tidak. Namun, kesalahan adalah kesalahan. Kelalaian adalah Kelalaian. Hutang adalah hutang, dan mesti dilunasi. Dikutip dari buku (Das, Sai. (2010). Shri Sai Satcharita. Anand Krishna Global Co-Operation Indonesia)

Kita sering mendengar saat melawat orang yang meninggal, agar orang yang mempunyai hutang-piutang dengan orang yang meninggal menghubungi famili untuk menyelesaikan hutang-piutangnya. Adalah hal yang baik untuk menyelesaikan hutang-piutang terkait harta atau uang, tapi bagaimana dengan hutang-piutang perbuatan (hutang-piutang karma) dari yang sudah meninggal?

 

Hubungan dengan 20 orang terdekat

Dalam video youtube Kamasutra Part 2: From Passion to Compassion by Swami Anand Krishna disampaikan tentang hubunganketerikatan dengan keluarga:

“Hubungan, keterikatan dengan keluarga atau orang lain, menurut pandangan Veda, pandangan Yoga berdasarkan kredit dan debit. Partner kamu saat ini bisa saja ayah atau ibumu di kehidupan masa lalu. Dan sekarang dia adalah partner-mu. Dan apabila kita menelusuri hal demikian, maka hanya ada 20 orang yang benar-benar dekat. Dengan 20 orang ini kita terus bertemu. Peran  berubah tetapi hubungan tetap.” Dikutip dari video youtube Kamasutra Part 2: From Passion to Compassion by Swami Anand Krishna

Dalam episode kehidupan saat ini kita mempunyai hubungan dengan sekitar 20 orang. Terutama ayah, ibu saudara dan sebagainya. Setiap hubungan pasti membuahkan hutang-piutang perbuatan, ada yang perbuatan baik dan ada perbuatan buruk. Misalkan kita punya hutang (banyak perbuatan buruk) terhadap salah satu keluarga kita, maka kita akan lahir lagi untuk melunasi hutang tersebut. Demikian juga sebaliknya jika kita berbuat baik dengan salah satu anggota keluarga, maka kita akan lahir lagi untuk menerima hasil pengembalian dari anggota keluarga tersebut.

Hutang-piutang harus tetap diselesaikan oleh orang yang bersangkutan dalam episode kelahiran berikutnya, akan tetapi peran orang tersebut bisa berubah, misalkan tadinya anak sekarang menjadi suami atau saudaranya. Intinya dalam kehidupan mendatang kita akan bertemu dengan orang-orang yang mempunyai kaitan hutang-piutang dengan kita namun dengan peran yang berbeda. Oleh karena itu jangan membuat karma buruk. Kalau seseorang memanggil sister atau brother dengan teman seperjalanan spiritual, semoga saja dalam kelahiran yang akan datang bisa menjadi saudara sehingga peningkatan kesadaran dalam keluarga sudah lebih kondusif.

Lahir dalam keluarga yang sama

Dalam video youtube Reincarnation: A Secret Revealed by Swami Anand Krishna disampaikan:

“Berdasar impressi terakhir, dalam waktu terakhir dari kehidupan kita menghadapi pemutaran seperti televisi. Film lama, tape lama, kita mengalami seperti menemukan film diri kita. Dan hanya membutuhkan beberapa menit. Kadang-kadang hanya beberapa detik dalam 1 menit.

Pada waktu itu secara klinis kita sudah dinyatakan mati. Secara fisik kita sudah mati. Pada waktu itu pemutaran kembali film berjalan. Dan pemutaran kembali tetap berjalan karena mesin tetap berjalan. Mesin tetap berjalan tetap ada sisa napas tertinggal. Seperti fan. Walau dimatikan tetap ada listrik yang mengalir, dan baling-baling fan tetap bergerak sampai waktunya berhenti. Sehingga walau otak kita sudah tidak berfungsi, tetap ada energi tertinggal. Dan menggunakan energi yang ada mind (bukan brain) memutar kehidupan selama hidup.

Bukan semua impresi tetapi impresi utama. Impresi utama, memori utama akan kembali. Berdasarkan itu,  sebelum gelap total, Soul (jiwa) mempunyai program: Untuk kehidupan ke depan aku akan mencari orangtua semacam itu. Pada waktu itu dalam waktu 1 menit. Dalam detik-detik terakhir, tapi Anda bisa merasakan sangat lama. Anda seakan-akan hidup kembali selama kehidupmu.

Tapi sebetulnya sangat-sangat singkat waktunya. Dan ada kebingungan waktu. Oke dalam kehidupan ke depan aku akan hidup dalam semacam keluarga itu. Apabil soul tetap berupaya ke keluarga tersebut, dia akan segera lahir kembali di keluarga tersebut.” Dikutip dari video youtube Reincarnation: A Secret Revealed by Swami Anand Krishna

 

Lahir di tempat yang menjadi obsesi sebelum kematian

“Tapi apabila soul terikat pada situasi yang berbeda. Kebanyakan dari orang Barat, datang ke bali tahun 1960-an sampai tahun 1970-an. Mereka jatuh cinta pada Bali. Dan itulah pikiran terakhir sebelum mati. Apakah mereka dari Belanda, Jerman, atau US, pikiran terakhir adalah Bali. Dan mereka lahir di Bali. Sehingga banyak yang lahir setelah tahun 1970-an, mereka adalah orang Barat murni di kehidupan sebelumnya”. Dikutip dari video youtube Reincarnation: A Secret Revealed by Swami Anand Krishna

 

Lampaui Like dan Dislike

“Anda harus sangat-sangat berhati-hati. Itulah sebabnya dalam Bhagavad Gita Krishna mengatakan: Apa saja yang kau ingat selama hidup akan datang lagi ingatan tersebut saat kau akan mati. Ketika kamu sangat menyukai sesuatu kamu harus sangat berhati-hati. Mengapa kamu menyukai hal tersebut. Atau mengapa kamu tidak menyukai sesuatu.

Itulah sebabnya Krishna berkata lampauilah like dan dislike. Dan apabila kau melampui like dan dislike, Dan kau fokus pada soul enhancement, peningkatan Jiwa. Progres dari pada soul. Meditasi adalah tentang hal tersebut.

Dan progres soul dimulai dari motto one earth sky one human kind. Apakah kamu Barat atau Bali, India, China, Eropa, tidak masalah. Soul tidak terikat dengan geografi tertentu. Soul ingin memperkaya dirinya sendiri.

Jadi jangan mempunyai keinginan untuk lahir dalam negera tertentu. Punyalah keinginan untuk peningkatan Jiwa.” Dikutip dari video youtube Reincarnation: A Secret Revealed by Swami Anand Krishna

 

Agar kita tidak lahir kembali maka:

Tidak mengharapkan imbalan dari dunia

Kita semua “warga surga yang sedang berkunjung ke dunia”. Fitrah kita bukanlah sebagai warga dunia, tetapi sebagai duta Allah yang sedang berkunjung di dunia atas perintah-Nya. Jika kita tidak menyadari hal itu, maka kita menjadi warga dunia. Diingatkan supaya kita meniru para rasul, para nabi, dan tidak mengharapkan “upah” dari manusia. Sesungguhnya inilah yang membedakan kita dari para rasul dan khalifatullah. Kita mengharapkan imbalan dari dunia, dan harapan itu membuat kita menjadi “warga dunia”. Kita menjadi budak dunia. Sementara para rasul dan khalifatullah tetap mempertahankan kewarganegaraan mereka. Mereka tetap menjadi warga surga yang sedang berkunjung ke dunia. Mereka mempertahankan status mereka sebagai “tamu”. Salah satu nasehat Bapak Anand Krishna tentang Tamu Dunia

Berkarya Tanpa Keinginan Duniawi

“Seseorang yang berkarya tanpa keinginan duniawi dan harapan akan imbalan, telah tersucikan seluruh karma, seluruh perbuatannya, oleh api kebijaksanaan sejati. Para pandit, mereka yang berpengetahuan pun menyebutnya seorang bijak.” Bhagavad Gita 4:19

Kuncinya adalah berkarya tanpa pamrih.Ketika seseorang berkarya dengan semangat demikian,maka sesungguhnya ia ‘tidak berkarya’, karena ia tidak tersentuh oleh konsekuensi dari perbuatannya. Itulah Akarma-karma.

Barangkali ada yang bertanya: Sejahat apakah konsekuensi perbuatan manusia? Sehingga seseorang dianggap bijak, jika ia terbebaskan dari konsekuensi perbuatannya.

Bukan soal jahat atau tidak jahat. Persoalannya ialah setiap perbuatan rnembawa hasil, dan hasilnya ada yang baik, ada juga yang kurang baik atau tidak baik. Tidak ada perbuatan yang menghasilkan kebaikan saja. Pun, tidak ada perbuatan yang 100% jelek. Dalam tindakan yang baik pun pasti ada setitik, dua titik ketidakbaikan. Dan, dalam perbuatan jahat pun, pasti ada sedikit kebaikan.

Kita kembali ke medan perang… Kita berada kembali di Kuruksetra. Perang ini adalah antara kekuatan Dharma dan Adharma, Kebajikan dan Kebatilan. Kubu yang disebut bajik, baik — jelas adalah Pandava. Dan, kubu yang disebut batil adalah Kaurava.

Tapi, apakah di antara Pandava, bahkan di dalam diri para saudara berlima itu tidak ada kebatilan sama sekali? Tidak ada kesalahan di dalam diri mereka? Siapa menyuruh Yudhisthira untuk main judi? Siapa menyuruhnya untuk mempertaruhkan kerajaan, bahkan istrinya?

Tindakan macam apakah itu?

Namun, kebaikan para Pandava jauh melebihi kesalahan dan kebatilan mereka. Mereka adalah yang terbaik di antara kubu-kubu yang ada. Maka, Krsna berpihak pada mereka.

Sebaliknya, Kaurava pun tidak 100% jahat. Ada sifat-sifat kesatriaan di dalam diri mereka, namun sifat-sifat itu tenggelam karena sifat-sifat batil, tidak baik yang jauh melebihinya. Sebab itu Kaurava tetaplah dianggap pihak yang batil, tidak baik.

Nah, dalam keadaan seperti ini — di mana tidak ada kebaikan 100% dan tiada pula kejahatan 100%, maka setiap orang yang berbuat baik, sebaik-baiknya, tetap saja memiliki sisi negatif, walau sedikit saja.

Tapi, jangan lupa konsekuensi kejahatan sesedikit apa pun; negativitas sekecil apa pun – ibarat nila. Setetes saja sudah cukup untuk rnerusak secawan susu mumi. Jadi kita mesti selalu waspada.

Bagaimana membebaskan diri dari setetes, dua tetes nila konsekuensi kebatilan itu? Bagaimana menyucikan diri? Bagaimana menetralisir dampak negatif dari karma kita?

Krsna menjawab: DENGAN KESADARAN SEJATI. .. Berkarya dengan penuh kesadaran, bahwa sesungguhnya Jiwa tidak tersentuh oleh akibat atau konsekuensi dari perbuatan apa pun. Ini sisi lain dari filsafat spiritual.

Sisi yang lebih umum adalah berkaryalah dengan penuh kesadaran bahwa sesungguhnya Tuhan Hyang Berkarya, kita hanyalah alat-Nya. Namun, dari sisi lain, Jiwa sesungguhnya tidak berkarya, adalah badan, indra, dan dan mind atau gugusan pikiran serta perasaan yang berkarya. Kembali pada niat di balik pekerjaan — kedua-dua konsep ini mampu membebaskan kita dari dampak negatif perbuatan baik kita. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia via #BhagavadGitaIndonesia

Memilih yang Pahit demi Kemuliaan Diri #BhagavadGitaIndonesia

Preya, menyenangkan dan Shreya, mulia

Bhagavad Gita memberitahu kita, dalam setiap pekerjaan pilihannya dua: preya, menyenangkan, awalnya manis tapi akhirnya pahit karena memang racun; atau shreya yang mulia, awalnya pahit seperti obat, tapi akhirnya manis seperti nectar, amrita. Preya mengikat kita dengan dunia tapi memberi kesan palsu seolah puas. Shreya memberi kesan “tidak enak” padahal mulia dan bebas dari keterikatan. Pilihan ditangan kita.

 

Krsna menggunakan istilah Shreya, yang berarti “Lebih Mulia” – bukan lebih baik, atau di atas yang lain. Dengan menggunakan istilah shreya, Krsna sedang membandingkan satu kegiatan dengan kegiatan lain dengan menggunakan tolok ukur atau timbangan shreya dan preya – yang memuliakan dan yang sekadar menyenangkan.

Jadi, batu timbangannya bukanlah berat-ringan, dalam konteks lebih baik dan kurang baik, atas dan bawah, tetapi dalam konteks, mana yang mulia dan mana yang tidak.

Laku yang hanya menyenangkan, perbuatan yang hanya memuaskan indra jelas tidak memuliakan. Sebab itu, terlebih dahulu raihlah pengetahuan sejati tentang mana yang memuliakan dan mana yang tidak. Penjelasan Bhagavad Gita 12:12 dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia via #BhagavadGitaIndonesia

 

Membedakan apa yang tepat dan apa yang tidak tepat

Tujuan Bhagavad Gita adalah meningkatkan kesadaran kita sehingga kita dapat membedakan antara apa yang tepat bagi kita dan apa yang tidak tepat. Bhagavad Gita sedang berbicara dengan kita dalam “keadaan jaga”, dan memberi kita kesempatan seluas-luasnya untuk menganalisa, menimbang, dan memahami dengan betul sebelum menerima. Bhagavad Gita merubah sifat mind yang terkondisi dan bekerja secara mekanis tanpa pilihan,  menjadi buddhi yang bebas dari conditioning dan bisa memilih, dan memilah.

 

Kembali pada contoh tentang makanan, ketika melihat makanan yang kita sukai, renungkan adakah makanan itu bermanfaat bagi kesehatan badan atau hanya nikmat dan lezat di lidah, tapi berbahaya bagi kesehatan.

Pun demikian ketika mendengar musik dengan menggunakan earphone jenis super. Demi kenikmatan sesaat, kita sedang merusak jaringan syaraf kita sendiri, yang dapat membahayakan otak. Sekaligus, kita tidak mampu lagi untuk menikmati suara-suara alam yang halus, suara air, dan suara angin. Telinga kita sudah terbiasa dengan suara keras, ia sudah tidak peka terhadap suara-suara lembut. Tidak ada lagi kenikmatan alami baginya. Siapkah kita untuk menghadapi konsekuensi itu? Penjelasan Bhagavad Gita 15:10 dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia via #BhagavadGitaIndonesia

Pengendalian Diri

“Tiada buddhi, tiada inteligensia dalam diri yang tak terkendali, tiada pula keseimbangan diri serta kesadaran; dan tanpa keseimbangan, tanpa kesadaran, tiada kedamaian, ketenangan, ketenteraman. Lalu, bagaimana pula meraih kebahagiaan  sejati tanpa kedamaian?” Bhagavad Gita 2:66

Berkembangnya buddhi, kesadaran untuk memilah antara yang tepat bagi kita dan tidak tepat, adalah mengikuti pengendalian diri secara proporsional. Makin Mampu Mengendalikan Diri makin berkembangnya buddhi, kesadaran diri – makin meditatifnya seseorang. Makin seimbangnya dia dalam keadaan suka maupun duka. Kemudian, dalam keadaan meditatif itulah muncul kedamaian, kebahagiaan sejati. Perhatikan, betapa pentingnya pengendalian diri.

Pengendalian Diri, Berarti Bebas dari Perbudakan – Selama ini kita diperbudak oleh badan, indra, hawa-nafsu, keinginan-keinginan, pikiran yang liar, perasaan yang bergejolak, dan sebagainya. Sebab itu, jelaslah hidup kita tidak tenang. Batin kita tidak tenteram. Tidak ada pula kedamaian dan kebahagiaan. Jadi, kuncinya adalah Pengendalian Diri. Dengan mengendalikan diri, kita sesungguhnya mengambil alih kekuasaan atas diri sendiri. Pengendalian Diri adalah semacam Proklamasi Kemerdekaan, sekaligus Pengukuhan Kesadaran-Diri; Penemuan Jati-Diri; Mengenal Diri sebagai Jiwa, percikan Jiwa Agung, Gusti Pangeran, Tuhan.

“Ketika gugusan pikiran serta perasaan terbawa oleh indra, dan berada di bawah kendalinya; maka sirnalah akal-sehat dan segala kebijaksanaan serta kesadaran. Persis seperti perahu yang hanyut terbawa oleh angin kencang.” Bhagavad Gita 2:67 dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia via #BhagavadGitaIndonesia

 

Satisfaction and General Wellbeing Part 1 Diabetes and Karela

Apa yang dimaksud dengan yang memuaskan? Memuaskan terhadap apa? Terhadap tubuh, fisik kita? Terhadap pikiran kita? Apa yang memuaskan tubuh kita belum tentu memuaskan pikiran kita. Bahkan dalam tubuh yang sama, apa yang memuaskan lidah kita, kita ingin makan sesuatu yang kita anggap lezat, tapi tidak baik bagi kolesterol, tidak baik untuk sistem kita. Lidah adalah bagian dari tubuh. Lidah ingin mengecap sesuatu yang dirasa lezat. Tapi tidak memuaskan terhadap tubuh kita. Sehingga kita harus paham memuaskan dalam tingkat apa?

Dan konflik ini selalu berjalan. Dalam diri kita apa yang dianggap memuaskan bagi kita mungkin tidak memuaskan pada tingkat yang lain. Sehingga kita harus mencari keseimbangan, apa yang bagus bagi general well being, diri kita. Ini yang penting. Tidak begitu memuaskan, tapi bagus bagi diri kita? Dan itu mungkin tidak memuaskan di awalnya.

Bapak Anand Krishna bercerita saat dia berusia sekitar duapuluhan dan bekerja di Jepang. Beliau bersama bossnya diundang seorang Jepang yang menghidangkan masakan mie Jepang. Mie Jepang di Jepang rasanya berbeda tidak seperti di Bali atau di Barat. Beliau biasa makan mie China versi Indonesia, yang kalau di China juga rasanya berbeda. Beliau tidak bisa makan mie Jepang tersebut, bahkan baunya saja tidak kuat. Boss beliau melihat ke arahnya, dan berbisik dalam bahasa daerah beliau, bahwa tahu beliau tidak dapat makan makanan tersebut, tapi kalau tidak makan tuan rumah akan kecewa. Beliau langsung makan tanpa merasakan apa pun dan satu mangkuk habis.

Hal yang baik mungkin tidak memuaskan di awalnya

Beliau sekarang setiap pagi minum jus pare (bitter gourd, karela). Sangat pahit, tapi beliau tahu bagus untuk diabetes beliau tanpa pengobatan medis. Tidak memuaskan memang, beliau harus menutup hidung saat menuangnya. Beliau diajari Ma Upasana. Pertama kali Ma Upasana memberikan sepererempat gelas. Oke, hari berikutnya tambah sedikit. Sekarang sudah mencapai tiga perempat gelas. Beliau tidak punya pilihan, atau balik ke obat medis, yang beliau tidak suka. Dalam usia beliau adalah hal bagus diabetes beliau dapat dikontrol dengan jus pare. Memang tidak memuaskan tapi bagus terhadap kesehatan tubuh beliau.

Dalam satu titik kehidupan kita, kita harus betul-betul memilih, manakah bagus bagi diri kita. Dan apa yang baik bagi diri kita bukan peristiwa satu hari. Mungkin tidak memuaskan pada hari ini, tapi dalam perjalanan selanjutnya baik bagi kesehatan kita. Kita dapat mempraktekkan aturan ini dalam setiap aspek kehidupan kita. Bukan hanya tentang kesehatan tapi dalam hubungan manusia, dalam banyak hal lain.

Beliau memberi contoh seorang Barat yang jatuh cinta dengan seorang dari Timur. Mereka betul-betul sama-sama manusia, tapi dalam tingkat apa? Dalam tingkat Jiwa kita semua satu. Darah kita juga tidak banyak tipenya. Makan Timur dapat dimakan orang Barat dan sebaliknya. Tempat tinggal Barat juga bisa menjadi tempat tinggal orang Timur dan sebaliknya. Tapi bagaimana tentang cultural shock? Bagaimana menanganinya? Akan makan waktu lama. Ini adalah masalah satu kehidupan.

Silakan simak video youtube lengkap: Satisfaction and General Wellbeing Part 1 Diabetes and Karela by Swami Anand Krishna.

Kamasutra: dari Passion ke Compassion lewat Cinta #SpiritualIndonesia

Jalan Kesempurnaan melalui Kamasutra

Ada kesan umum yang salah kaprah bahwa seakan-akan Kamasutra adalah literatur pornografi, dan hanya itu. Kesan itu lebih kuat lagi karena film atau buku-buku murahan dalam tema yang sama yang memanipulasi postur-postur senggama. Buku ini lain Penulis menampilkannya dalam keutuhannya sebagai jalan menuju kesempurnaan manusia: melalui seks, menuju cinta, sampai pada kasih, bahkan Anda dapat melanjutkannya sampai pada Kesadaran Kosmos. Seks adalah tahapan atau etape pertama yang amat penting, dan karena itu tidak perlu dihindari atau ditolak. Penolakan terhadapnya hanya akan menghasilkan kerugian besar, kalau bukan membuat kita terobsesi olehnya, dan menjadi mandeg dalam petualangan kita mencari kesejatian diri. Dikutip dari buku (Krishna, Anand). (2004). Jalan Kesempurnaan melalui Kamasutra. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

Tidak usah melepaskan yang duniawi untuk mencapai kesadaran rohani

Kama berarti keinginan; sedangkan Sutra berarti formula, cara atau metode. Kamasutra tidak semata-mata bicara tentang kepuasan keinginan raga saja. Buku ini bicara tentang manusia seutuhnya, termasuk kepuasan yang didambakan oleh manusia – bukan kepuasan fisik saja, tetapi juga kepuasan mental, emosional, intelektual dan spiritual. Kamasutra

Menurut ajaran-ajaran Tantra, Anda tidak usah melepaskan yang duniawi untuk mencapai kesadaran rohani. Yang duniawi dan rohani bisa jalan bersama. Dunia merupakan anak tangga yang dapat mengantar Anda ke puncak kesadaran rohani. Bagaimana Anda dapat meninggalkan dunia ini? Seorang yang dapat mencapai kesadaran spiritual adalah seorang yang sudah puas dengan segala sesuatu yang bersifat duniawi. Kalau belum puas, kalau masih ada obsesi terhadap benda-benda duniawi, Anda tidak akan berhasil meningkatkan kesadaran Anda. Dikutip dari buku (Krishna, Anand). (2004). Jalan Kesempurnaan melalui Kamasutra. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Passion dan Compassion

Napsu atau passion hendaknya tidak selalu dikaitkan  dengan seks. Obsesi dengan harta atau kekayaan, dengan nama atau ketenaran dan dengan jabatan atau kedudukan semuanya adalah passion , napsu. Semuanya ini terjadi apabila kita belum mengalami peningkatan kesadaran. Mereka yang terobsesi oleh seks, oleh harta, oleh nama, oleh jabatan tidak akan mengalami cinta dalam kehidupan. Mereka belum tahu cinta itu apa.

Kasih atau compassion adalah birahi terhadap alam semesta. Bila napsu seseorang dapat ditingkatkan menjadi birahi terhadap alam semesta, Anda adalah seorang pengasih. Compassion berarti passion terhadap alam semesta, terhadap Tuhan, terhadap yang abstrak, Yang Tak dapat dijelaskan. Apabila Anda mengasihi setiap makhluk – segala sesuatu yang ada dalam alam ini – apabila Anda mengasihi alam semesta ini, Anda adalah seorang buddha, seorang mesias. Dikutip dari buku (Krishna, Anand). (2004). Jalan Kesempurnaan melalui Kamasutra. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

Kamasutra Part 1: Turning the Sexual Energy to Kundalini

Apa yang kita pahami sebagaai cinta adalah murni keterikatan, infatuasi. Masalahnya adalah bahwa kita tidak pernah mengalami pengalaman cinta, sehingga apa yang kita punyai dalam kehidupan, kita menyalahartikan sebagai cinta. Cinta tidak dapat bekerja dengan keterikatan, tidak bisa berjalan bersama. Dan cinta tidak bisa kepada seeorang. Cinta kamu adalah kepada semua orang.

Cinta tidak ada kaitan dengan perbuatan seks. Seks adalah hal yang lain dan kamu tidak melawan seks. Cinta hanya dapat mekar ketika energi seks, sexual energy berubah, menguap.

Sexual energy hanya ada pada svadishtana chakra. Biasanya diterjemahkan dalam bahasa Inggris sebagai pusat seks. Terjemahan yang total salah. Sva berarti self, sthan adalah tempat. Chakra kedua bukan pusat seks, tetapi tempat energi berada.

Dan apa yang terjadi saat ini? Energi ini dalam bentuk liquid, cairan. Sehingga ketika energi ini tumpah, akan menuju ke bawah. Itu adalah ketika kamu pikir seksi. Arah alami dari energi dalam bentuk cairan.

Kamasutra menyampaikan ada kemungkinan yang lain. Kita tidak berkata tentang orientasi seksual. Kamu bisa homoseksual, bisa heteroseksual, tau yang lainnya, kita tidak bicara tentang orientasi. Kita bicara tentang mengubah arah energi ke kundalini shakti atau power.

Kundalini berarti potensial. Dalam tradisi yoga, saat kamu dilahirkan, keluar dari perut ibumu, kamu sudah diregister berdasar konstelasi bintang, dan impresi yang kamu bawa, tidak ada anak yang lahir tabula rasa. Anak lahir dengan impresi dari banyak kehidupan sebelumnya.

Berdasarkan semua kalkulasi ini, ada sistem jyotish yang disalah terjemahkan sebagai astrologi. Jyoti adalah light, ish adalah God, light of god. Potensial bukan untuk find God, tapi untuk become God. Kundalini adalh bagian dari Jyoti. Dan potensi itu hanya dapat ditemukan, ketika liquid energy berubah menjadi uap. Kamasutra menyampaikan kepadamu, bagaimana melakukan hal itu.

Silakan simak video youtube by Swami Anand Krishna: Kamasutra Part 1: Turning the Sexual Energy to Kundalini

Kamasutra Part 2: From Passion to Compassion

Setelah kamu sudah cukup melakukan aktivitas seks, dan kamu puas, what next? Apakah saya dapat menggunakan energi itu untuk melakukan sesuatu? Bisakah kamu menggunakan energi tersebut untuk tujuan yang lebih tinggi. Dan, ketika kamu menggunakan energi yang sama untuk melakukan hal yang lain, maka cinta akan mekar. Sebelum itu hanyalah passion, tidak ada cinta (dan itu juga tidak bermasalah, semua orang mempunyai passion). Tapi apabila kamu ingin mengubah passsion ke love….

Perjalanan adalah dari passion ke compassion lewat love. Passion adalah mengambil, mengambil dan mengambil. Mengharapkan sesuatu dari orang lain kamu angggap mencintai. Love adalah give and take, transaksi. Belum cukup bagus. Compassion adalah memberi, memberi dan memberi.

Ada kisah Jesus sedang pergi dengan beberapa murid ketika seseorang mencacimaki. Jesus menoleh tersenyum dan memberkati. Salah satu murid berkata, kamu tidak harus demikian, bisa terus jalan saja tidak perlu tersenyum dan memberi berkat. Jesus berkata, lihat dalam kantong saya hanya ada 1 mata uang. Mereka memberi saya sesuatu, saya harus memberi mereka gantian. Dan ketika saya melihat kantongku, saya hanya melihat mata uang tersebut. Mata uang senyuman. Mata uang berkat. Maka, saya tidak dapat memberikan yang lain.

Kisah yang indah, mata uang apa yang kita miliki? Hubungan, keterikatan dengan keluarga atau orang lain, menurut pandangan Veda, pandangan Yoga berdasarkan kredit dan debit. Partner kamu saat ini bisa saja ayah atau ibumu di kehidupan masa lalu. Dan sekarang dia adalah partner mu. Dan apabila kita menelusuri hal demikian, maka hanya ada 20 orang yang benar-benar dekat. Dengan 20 orang ini kita terus bertemu. Peran  berubah tetapi hubungan tetap.

Kamu diberi disket game terus kamu mainkan, dan kamu merasa ini adalah free will. Hari ini menang, besok kalah. Katakan kamu main catur dengan komputer. Minimum ada 60.000 kemungkinan. Dan semuanya sudah didesign permainan itu. Setiap hari berbeda dan kamu merasa kamu belajar. Kita berpikir itu adalaah free will. Nyatanya yang disebut free will adalah terbatas kepada kemungkinan-kemungkinan tertentu. Kita hanya bergerak dari satu kemungkinan ke kemungkinan yang lain.

Dan, Kundalini adalah bagaimana kita membuang disket permainan ini. Kundalini adalah meloncat ke hal yang tidak terketahui dengan kemungkinan yang tidak terbatas. Kita creating dan programming permainan kita sendiri. Saat kau bangkit dalam love, kamu menuju compassion. Tiba-tiba kau memiliki banyak kemungkinan. Dan kemudian quantum mechanics bekerja.

Ya inilah hidup yang penuh dengan berbagai kemungkian. Dan ini adalah tentang kundalini. Sekali lagi ini bukan kutukan terhadap kebiasaan tertentu, hanya tentang seberapa jauh kau akan pergi.

Silakan simak video youtube by Swami Anand Krishna: Kamasutra Part 2: From Passion to Compassion

Mati Sajroning Ngaurip, Lampaui Kesadaran Badaniah selagi Masih Hidup #SpiritualIndonesia

Padamnya Api Nafsu selagi Masih Hidup

Kebebasan yang disebutnya Nirvaana, atau Padamnya Api Napsu yang Menyebabkan Penderitaan. Pun Nirvaana itu haruslah terjadi selagi kita masih hidup. Paripoorna atau Mahaa-Nirvaana, Nirvana Sampurna yang terjadi saat kematian itu – hanyalah bersifat simbolik. Semacam pengukuhan dari semesta yang diperoleh setelah kita mengalaminya terlebih dahulu dalam hidup ini. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2007). Vedaanta, Harapan Bagi Masa Depan. Pustaka Bali Post)

 

Bebas dari Dualitas

“Tetapi, mereka yang berperilaku mulia, tanpa cela, dan bebas dari dualitas (yang disebabkan oleh kesukaan pada sesuatu); dan memuja-Ku dengan hati yang teguh, sesungguhnya telah mencapai akhir dari siklus kelahiran dan kematiannya.” Bhagavad Gita 7:28

Siklus kelahiran-kematian adalah produk dualitas. Produk utama. Produk-produk lain adalah produk sekunder siklus tersebut. Sekadar by-products. Ketika seseorang terbebaskan dari kebingungan yang tercipta oleh dualitas — maka barulah ia dapat berperilaku mulia. Hal ini perlu dipahami….

PERBUATAN MULIA TANPA CELA tidak sama dengan perbuatan baik. Perbuatan baik ada kebalikannya, yaitu perbuatan jelek, tidak baik. Perbuatan baik masih merupakan bagian dari dualitas. Ada baik, ada buruk. Perbuatan mulia yang dimaksud di sini tidak memiliki kebalikannya. Perbuatan mulia yang dimaksud melampaui baik-buruk.

……………

Melampaui baik—buruk adalah kemuliaan, dan perilaku yang mulia adalah perilaku berlandaskan nilai-nilai kemanusiaan yang universal. Landasannya bukanlah tradisi. Landasannya adalah: “Berbuatlah terhadap orang lain, sebagaimana kamu menghendaki orang lain berbuat terhadapmu.”

………………

Bagi Krsna, hanyalah seorang yang berperilaku mulia, yang memahami inti spiritualitas. Hanyalah ia yang dapat menyembah-Nya dengan penuh keteguhan hati – tanpa ragu, tanpa kebimbangan sedikit pun. Lampaui dualitas; berperilaku mulia; menyembah Sang Jiwa Agung dengan segenap Jiwa dan raga; dan, keluar dari siklus kelahiran dan kematian. Inilah roadmap untuk mencapai moksa, nirvana — Kebebasan Mutlak! Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia via #BhagavadGitaIndonesia

Padamnya Nafsu, Bebas dari Dualitas, Melampaui Kesadaran Badaniah dan Near Death Experience

Tidak ada sesuatu apa pun yang mati. Kita selalu mengatakan demikian, roh tidak mati. Tetapi kalau kita memahami kematian sebagai titik akhir, musnah, punah, tidak ada sesuatu pun yang punah. Karena pada dasarnya kalau ditelusuri semua materi yang berubah bentuk akhirnya menjadi atom.  Dan atom ini sampai sekarang indestructible. Tidak bisa dipunahkan. Dia berubah terus , kecuali, bumi kita punah total, kita boleh mengatakan atom-atom yang ada di seluruh planet ini punah. Tetapi punah dari sudut pandang kita. Mungkin dia berpindah ke tempat lain.

Fenomena yang disebut near death experience itu adalah ketika seseorang melampaui kesadaran badaniah. Apa yang terjadi? Seperti dalam cerita tadi, orang mau masuk ke tempat operasi, mau dibelah badannya, akan ada pembedahan besar, jantungnya. Waktu itu dia diberikan anestesi. Dan dalam keadaan anestesi itu apa yang dimatikan? Kesadaran badaniyahnya, supaya tidak merasa sakit. Ketika kesadaran badaniyah terlampaui, maka seseorang bisa melihat sesuatu yang bukan badannya. Dia bisa melihat pikirannya sendiri. Melihat perasannya sendiri.

Karena tidak ada distraction-nya. Dan di situ dia mendapatkan suatu cakrawala yang baru. Yang lebih luas daripada tubuh ini. Di situ dia merasakan wow. Karena saya telah berada dalam tubuh ini selama enampuluhan tahun. Begitu saya mengalami suatu pengalaman, dimana kesadaran tubuh terlampaui. Tentu saja Anda merasa wow.

Dalam setiap kebijakan-kebijakan kearifan lokal, di seluruh Timur. Ada istilah belajarlah untuk mati selagi kau masih hidup. Tradisi tersebut mengingatkan lampauilah kesadaran badaniah selagi kau masih hidup. Sehingga bagi orang-orang yang melakukan meditasi, death experience adalah nothing. Bisa dirasakan setiap hari. Dalam keadaan meditaitif  dia bisa melampau kesadaran badaniahnya. Karena pada waktu itu kelihatannya seperti death, karena kita mengidentifikasikan kelahiran dan kematian dengan badan ini.

Ketika kesadaran badaniah terlampaui. Sepertinya saya berada di lantai atas dari gedung. Sekarang di high level saya bisa melihat jembataan kecil di depan itu. Dan kalau ada orang turun dari jembatan. Saya bisa meramalkan bahwa 1.5 menit lagi dia akan sampai ke sini dia memakai baju warna (biru). Kala saya berada di lantai atas. Saya bisa melihat jalan di luar. Maya kira-kira dalam 3 menit lagi ada orang datang ke sini.

Saya hanya berada dalam tingkat yang berbeda. Ketika kita berada dalam tingkat kesadaran yang lebih tinggi, seseorang bisa melihat lebih luas. Ini near death experience. Tetapi yang paling penting adalah, setelah melihat suatu gambaran yang lebih luas. Apakah mempengaruhi hidup kita? Apakah cara pandang terhadap hidup itu meluas juga? Atau kita tetap kembali pada cara berpikir yang picik, yang berperasaan picik dalam pandang yang sangat sempit?

Magic

Segala sesuatu yang bisa membuatmu berubah adalah magic. Sehingga bila kamu mendapatkan transformasi dari mind, suatu pengalaman tertentu. Bisa membuat kita lebih sadar, bisa membuat kita lebih melihat gambaran yang luas. Saya bertemu dengan seseorang, dan jika pertemuan itu bisa menginspirasi saya. Menjadi lebih baik, itu magic. Jadi magic itu bukan seperti black magic.

Magic yang benar membawa perubahan, menuju sesuatu yang lebih baik, sesuatu yang lebih tinggi lagi. Sehingga Near Death Experience adalah death of old self, selagi kau masih hidup kau mengalami kematian, kematian yang mematikan segala sesuatu yang lama yang tidak berguna.

Mistik zaman selarang ini nggak ada yang serius banget. Mistik jaman sekarang. Mereka akan berusaha meyakinkan kamu, bahwa mereka lebih tahu daripada kamu. Pemahaman mistik adalah seseorang yang mengaku, alam semesta adalah misterius, kalau mistik-mistik sekarang adalah orang tahu semuanya.

Tidak perlu hipnosis. Tidak perlu brain washing. Lakukan dialog. Kamu boleh bantah saya. Saya boleh bantah kamu. Dan saya tidak memaksa kamu menyetujui pemahaman saya. Itulah magic.

Silakan simak video youtube: Near Death Experience oleh Swami Anand Krishna (dalam bahasa Indonesia)

 

Cara Melampaui Kesadaran Badaniah

Inilah “Kesadaran Tertinggi” yang dapat kita capai selama masih “berbadan”. Kita hanya memikirkan Dia. Kita hanya merasakan Dia… namun semua itu juga tidak menghentikan perjalanan kita. Kita tidak lari dari kenyataan hidup. Kita masih tetap melanjutkan perjalanan hidup kita. Kita masih tetap makan, minum, tidur, dan berkarya seperti biasa – hanya saja setiap tindakan kita, ucapan serta pikiran kita terwarnai oleh Warna Dia! Keadaan ini disebut Fana Fi Allah, Fana dalam Kesadaran Ilahi, dalam Cinta, dalam Kasih. Inilah Nirvana, Moksha –  Kebebasan Mutlak. Badan memang tidak bebas, masih harus patuh pada Hukum Fisika, Hukum Dunia. Tapi, jiwa kita sudah bebas! Dan, Jiwa yang bebas boleh tetap berada dalam badan yang mau tak mau masih harus patuh pada hukum-hukum dunia. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2005). Ishq Mohabbat Dari Nafsu Berahi Menuju Cinta Hakiki. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

Nirvana adalah suatu keadaan pikiran yang sudah tidak liar lagi, perasaan atau emosi pun tidak berjungkat-jungkit lagi. Nirvana adalah “pemadaman api pikiran serta perasaan”. Tiada lagi gejolak di dalam diri. Bhagavad Gita 6:15

Nirvana adalah Kebebasan Mutlak – Moksa. Nirvana adalah kedamaian sejati yang merupakan “rasa terdalam” – bukan rasa “emosi”. Dan, rasa terdalam itu bersumber dari Ia Hyang adalah Wujud Kebahagiaan Sejati – Sang Jiwa Agung.

“Pemusatan pikiran pada-Ku” adalah pemusatan diri pada diri – pada Sumber Kebahagiaan Sejati yang ada di dalam diri. kedamaian Sejati “Nirvana” pun bukanlah sesuatu yang asing dan ada di lapisan langit tertinggi.

Nirvana adalah Keadaan Alami “Setiap Diri” – Keadaan alami Anda dan saya, keadaan tanpa keterikatan, tidak ada belenggu, tidak ada perbedaan. Nirvana adalah kebebasan Jiwa. Sementara dunia luar adalah kebalikannya.

Dunia Luar adalah Samsara – Alam pengulangan yang menyengsarakan. Betapa bodohnya  kita yang terjebak dalam roda pengulangan Samsara! Sudah tergilas sekali di bawah rodanya, tetap tidak sadar. Tetap tidak menyingkir, dan menghindari penggilasan diri di bawah rodanya terus-menerus – inilah Samsara. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia via #BhagavadGitaIndonesia

Afirmasi Bersama Makan Sayur dan Buah Lebih Banyak

EDUKASI NUTRISI LEWAT DRAMA INTERAKTIF AFIRMASI BERSAMA “SAYA MAKAN SAYUR DAN BUAH LEBIH BANYAK”

Oleh Tim OEIEF

Taman Pintar sebagai tempat wisata edukatif dari waktu ke waktu diisi dengan kegiatan edukasi yang inovatif dan positif. Misalnya Wahana PAUD Timur dan Barat baru saja selesai diperbaharui oleh Sarihusada untuk menyesuiakan dengan perkembangan zaman dan teknologi.

Oleh karena itu tak heran Taman Pintar dikunjungi oleh lebih dari satu juta wisatawan setiap tahunnya, ujarRahman (AgusBudiRahmanto), pengelola dari Taman Pintar.

Endah Prasetioningtias, Community & Public Relations Manager, PT Sarihusada Generasi Mahardhika mengungkapkan, Sarihusada berkerja sama dengan One Earth Integral Education Foundationdan Anand Ashram Foundation (berafiliasi dengan PBB)memberikan edukasi nutrisi Sarihusada-OneEarth, pada orangtua dan anak, setiap hari Minggu jam 10.00 di PAUD Taman Pintar. Program edukasi yang dilakukan sejak tahun 2011, selain memberikan edukasi nutrisi seimbang dan holistik, mengintegrasikan dengan nilai-nilai budaya Nusantara seperti pengendalian diri, mengembangkan kasih sayang & meningkatkan kemampuan memilah serta latihan pemberdayaan diri guna membentuk anak berkelas dunia.

Sebagai bagian dari keberlanjutan program edukasi Sarihusada One Earth dan mengkampayekan makan buah dan sayur lebih banyak,secara gencar, sebanyak 200 anak PAUD, orangtuanya serta guru PAUDnya baik yang pernah maupun yang belum pernah mengikuti program edukasi Nutrisi Sarihusada OneEarth diundang untuk ikut acara Afirmasi Bersama “Saya Makan Buah dan Sayur Lebih Banyak” di Taman Pintar. Acara yang dilakukan pada tanggal26 Februari 2017 Jam 09.30 11.00 di Ruang Pitagoras, Gedung Oval ini dimotori oleh One EarthIntegral Education Foundation dan Anand Ashram Foundation (berafiliasi dengan PBB) yang didukung oleh Sarihusada, Taman Pintar serta Dinas Kesehatan Kota Yogjakarta.

Pada acara Drama “Kolosal” 300-an peserta yang terdiri Anak PAUD, Orang Tua, Guru PAUD dan fasilitator edukasi nutrisi Sarihusada One Earth terlibat dalam gerak dan lagu, mewarnai dan menempel kertas bergambar buah dan sayur,yang diakhiri dengan melakukan afirmasi bersama “saya makan sayur dan buah lebih banyak”. Sebagai puncak acara semua peserta makan buah dan sayur bersama yang disediakan.

Drama ini adalah upaya bersama, secara menyenangkan untuk meningkatkan pengetahuan dan pemahaman yang mendalam bahwa kita semua perlu makan buah dan sayur lebih banyak, ungkap Dr Suriastini selaku Direktur One Earth Integral Education Foundation. Mengingat Hasil Survey Diet Total (SDT) terakhir yang dilakukan oleh Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan,Kementerian Kesehatan RI menunjukkan konsumsi buah dan sayur masyarakat Indonesia per hari masih sangat rendah. Rerata asupan buah masyarakat Indonesia hanya 33,5 gram per hari dan sayuran hanya 57,1 gram per hari(Kementrian Kesehatan,2016). Jika dibandingkan dengan ketentuan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), konsumsi buah dan sayur masyarakat Indonesia, hanya seperempat dari ketentuan minimum WHO. Konsumsi Buah dan sayur Indonesia termasuk yangpaling rendah di antara Negara Tetangga Asean.

Lebih jauh, Dr. Suriastini menuturkan, acara dimaksudkan juga untuk memunculkan niat yang kuat dari anak dan orangtua untuk mengubah perilaku, yaitu makan buah dan sayur lebih banyak bagi kesehatan, kemajuan dan perkembangan anak yang holistik di masa depan.Terkait ini, Afirmasi Bersama memegang peranan penting, ungkapSuriastini. Afirmasi adalah sesuatu yang kita yakini akan terjadi, merupakan salah satu cara memberdayakan pikiran untuk mengubah perilaku. Mengucapkan Afirmasi “Saya Makan Buah dan Sayur Lebih Banyak” secara rutin, membantu mewudujkan prilaku makan buah dan sayur lebih banyak dalam kehidupan sehari-hari.

Sementara itu, dr. Riska Novriana dari Dinas Kesehatan Kota Yogjakarta mengapresiasi kegiatan Afirmasi Bersama ini. Menginagat buah dan sayuran merupakan komponen penting dalam menu makanan sehat, sebagai sumber vitamin, mineral, serat dan antioxidant bagi tubuh.

Penurunan konsumsi buah dan sayur berkorelasi dengan keadaan kesehatan yang buruk dan peningkatan resiko terkena penyakit tidak menular tertentu seperti penyakit jantung dan kanker.

Hasil Riset kesehatan dasar yang terakhir menunjukkan,masyarakat Indonesia yang mengkonsumsi sayuran dan buah setiap hari hanya 10,7%.

Contact: Suriastini (0811266309), Mira (081805844014)

Daging Membuat Kita Terobsesi Makanan dan Terikat Pada Materi, Dunia Benda

buku-bhagavad-gita

Pilihan makanan menunjukan sifat dasar kita, Orang yang tenang, agresif, malas beda kesukaan

Memaksa diri untuk mengendalikan nafsu bukanlah solusi. Nafsu adalah sifat kebendaan,  sebagaimana benda-benda duniawi yang dapat memicunya. Badan kita pun adalah benda — materi. Sebab itu, nafsu mesti dipahami, disadari, diberi makan secukupnya. Persis seperti mengisi tanki mobil secukupnya. Jangan diisi terus hingga meluber. Jangan pula tangki mobil dibiarkan kosong. Jika kita melakukan hal itu, maka mobil atau kendaraaan badan tidak bisa digunakan lagi. Tempuhlah jalan tengah, tidak ekstrem kanan, tidak pula ekstrem kiri.

Dalam penjelasan Bhagavad Gita 17:6 tersebut mereka yang bersifat tamasika, malas suka puasa ekstrem dengan memaksa diri. Mereka yang bersifat rajasika, agresif makan melebihi takaran. Sedangkan mereka yang bersifat sattvika, tenang mengisi perut dengan cara jalan tengah. Bagaimana pula dengan sifat makanan yang ekstrem pedas, asin, manis dan sebagainya? Silakan simak penjelasan Bhagavad Gita 17:7-8 berikut:

 

Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu; Saha vīryam karavāvahai; Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga Hyang Tunggal senantiasa melindungi kita; menjernihkan pikiran kita: semoga kita dapat berkarya bersama dengan penuh semangat; semoga apa yang kita pelajari mencerahkan dan tidak menyebabkan permusuhan; Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

“Makanan yang disukai pun berdasarkan sifat masing-masing ketiga kelompok manusia tersebut. Demikian dengan persembahan, tapa brata dan berderma (semuanya dapat dibagi dalam tiga kelompok). Dengarlah sekarang, perbedaan di antaranya.” Bhagavad Gita 17:7

 

Jangan heran bila seseorang suka sekali dengan rasa pedas, ekstrem asin, ekstrem manis, atau daging; sementara orang lain tidak menyukai semua itu.

 

PILIHAN MAKANAN KITA tergantung pada sifat kita masing-masing. Bahkan cara kita melakoni kepercayaan dan spiritualitas pun beda — sesuai dengan sifat kita. Pun demikian dengan kegiatan-kegiatan amal saleh, berderma, atau berdana-punia. Walau tindakannya sama, atau mirip; niat di baliknya bisa beda total, sehingga hasil, akibat, atau konsekuensinya pun beda.

 

“Makanan yang menunjang kehidupan, kemuliaan, kekuatan, kesehatan, kebahagiaan, dan kepuasan adalah yang mengandung banyak jus atau cairan dan berlemak lembut (baik), mudah mengenyangkan (mengandung banyak serat), lezat, enak rasanya, dan tidak membebani pencernaan, sangat disukui mereka yang bersifat Sattvika.” Bhagavad Gita 17:8

 

Kecenderungan para Sattvika ini dapat ditiru. Dengan mengubah pola makan dan meniru mereka, kita pun dapat mengubah sifat kita. Makanan adalah bahan baku bagi energi yang kita butuhkan untuk menjalani hidup. Makanan para Sattvika ibarat bensin, bahan bakar tanpa timbal — bensin murni.

 

MAKANAN YANG JUICY, BERSERAT – dan walaupun mengandung lemak atau minyak, bersifat lembut, dalam pengertian mengandung minyak esensial, lemak baik bagi kesehatan. Misalnya mentega murni yang dibuat 100% dari susu murni, bukan dari lemak hewan; minyak zaitun, dan sebagainya. Kendati demikian moderasi adalah kata kunci bagi diet Sattvika. Tidak berarti kita mengonsumsi mentega 4x sehari. Secukupnya saja, sesuai dengan kebutuhan tubuh.

Makanan berserat, dalam hal ini, adalah sayur-mayur.

Jelas bukan daging. Konsumsi daging adalah pilihan kelompok lain, bukan pilihan kelompok Sattvika, karena menyangkut “pembunuhan” sesama makhluk demi kepuasan pencecapan.

Mudah mengenyangkan, tidak membuat kita kembung, menyegarkan, menyehatkan, dan menunjang kemuliaan, dalam hal ini, dapat diartikan sebagai penunjang inteligensia, kejernihan pikiran, dan sebagainya.

 

DAGING MEMBUAT KITA TEROBSESI dengan makanan, seolah kita hidup untuk makan, bukan sebaliknya. Daging juga membuat kita terikat pada dunia benda. Kita melihat dunia ini sebagai satu-satunya kenyataan. Padahal barangkali dunia benda lebih tepat disebut virtual reality, kenyataan virtual — bukan kebenaran.

Kejadian-kejadian di dunia ini, dan di dalam hidup kita ibarat permainan, game multi media. Teknologi modern membuat para pemain dalam game se-riil pemain asli. They look so real, yes real, tapi sebatas virtually real!

Makanan yang menunjang inteligensia membuat kita sadar akan hal ini. Kita bisa memilah, mana kebenaran, mana kepalsuan. Sebaliknya, jenis makanan yang tidak menunjang inteligensia, membuat kita buta terhadap kebenaran hakiki. Kita menganggap kenyataan virtual sebagai kebenaran hakiki.

Dikutip dari buku: (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

Om, Sarve bhavantu sukhinaḥ; Sarve santu nirāmayāḥ; Sarve bhadrāṇi paśyantu; Mā kashchit duḥkha bhāgbhavet; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga semua makmur, bahagia dan bebas dari penyakit. Semoga semua mengalami peningkatan kesadaran, dan bebas dari penderitaan. Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/

 

Banner utk di web

oec3Elearning-Banner-2 (1)