Afirmasi Bersama Makan Sayur dan Buah Lebih Banyak

EDUKASI NUTRISI LEWAT DRAMA INTERAKTIF AFIRMASI BERSAMA “SAYA MAKAN SAYUR DAN BUAH LEBIH BANYAK”

Oleh Tim OEIEF

Taman Pintar sebagai tempat wisata edukatif dari waktu ke waktu diisi dengan kegiatan edukasi yang inovatif dan positif. Misalnya Wahana PAUD Timur dan Barat baru saja selesai diperbaharui oleh Sarihusada untuk menyesuiakan dengan perkembangan zaman dan teknologi.

Oleh karena itu tak heran Taman Pintar dikunjungi oleh lebih dari satu juta wisatawan setiap tahunnya, ujarRahman (AgusBudiRahmanto), pengelola dari Taman Pintar.

Endah Prasetioningtias, Community & Public Relations Manager, PT Sarihusada Generasi Mahardhika mengungkapkan, Sarihusada berkerja sama dengan One Earth Integral Education Foundationdan Anand Ashram Foundation (berafiliasi dengan PBB)memberikan edukasi nutrisi Sarihusada-OneEarth, pada orangtua dan anak, setiap hari Minggu jam 10.00 di PAUD Taman Pintar. Program edukasi yang dilakukan sejak tahun 2011, selain memberikan edukasi nutrisi seimbang dan holistik, mengintegrasikan dengan nilai-nilai budaya Nusantara seperti pengendalian diri, mengembangkan kasih sayang & meningkatkan kemampuan memilah serta latihan pemberdayaan diri guna membentuk anak berkelas dunia.

Sebagai bagian dari keberlanjutan program edukasi Sarihusada One Earth dan mengkampayekan makan buah dan sayur lebih banyak,secara gencar, sebanyak 200 anak PAUD, orangtuanya serta guru PAUDnya baik yang pernah maupun yang belum pernah mengikuti program edukasi Nutrisi Sarihusada OneEarth diundang untuk ikut acara Afirmasi Bersama “Saya Makan Buah dan Sayur Lebih Banyak” di Taman Pintar. Acara yang dilakukan pada tanggal26 Februari 2017 Jam 09.30 11.00 di Ruang Pitagoras, Gedung Oval ini dimotori oleh One EarthIntegral Education Foundation dan Anand Ashram Foundation (berafiliasi dengan PBB) yang didukung oleh Sarihusada, Taman Pintar serta Dinas Kesehatan Kota Yogjakarta.

Pada acara Drama “Kolosal” 300-an peserta yang terdiri Anak PAUD, Orang Tua, Guru PAUD dan fasilitator edukasi nutrisi Sarihusada One Earth terlibat dalam gerak dan lagu, mewarnai dan menempel kertas bergambar buah dan sayur,yang diakhiri dengan melakukan afirmasi bersama “saya makan sayur dan buah lebih banyak”. Sebagai puncak acara semua peserta makan buah dan sayur bersama yang disediakan.

Drama ini adalah upaya bersama, secara menyenangkan untuk meningkatkan pengetahuan dan pemahaman yang mendalam bahwa kita semua perlu makan buah dan sayur lebih banyak, ungkap Dr Suriastini selaku Direktur One Earth Integral Education Foundation. Mengingat Hasil Survey Diet Total (SDT) terakhir yang dilakukan oleh Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan,Kementerian Kesehatan RI menunjukkan konsumsi buah dan sayur masyarakat Indonesia per hari masih sangat rendah. Rerata asupan buah masyarakat Indonesia hanya 33,5 gram per hari dan sayuran hanya 57,1 gram per hari(Kementrian Kesehatan,2016). Jika dibandingkan dengan ketentuan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), konsumsi buah dan sayur masyarakat Indonesia, hanya seperempat dari ketentuan minimum WHO. Konsumsi Buah dan sayur Indonesia termasuk yangpaling rendah di antara Negara Tetangga Asean.

Lebih jauh, Dr. Suriastini menuturkan, acara dimaksudkan juga untuk memunculkan niat yang kuat dari anak dan orangtua untuk mengubah perilaku, yaitu makan buah dan sayur lebih banyak bagi kesehatan, kemajuan dan perkembangan anak yang holistik di masa depan.Terkait ini, Afirmasi Bersama memegang peranan penting, ungkapSuriastini. Afirmasi adalah sesuatu yang kita yakini akan terjadi, merupakan salah satu cara memberdayakan pikiran untuk mengubah perilaku. Mengucapkan Afirmasi “Saya Makan Buah dan Sayur Lebih Banyak” secara rutin, membantu mewudujkan prilaku makan buah dan sayur lebih banyak dalam kehidupan sehari-hari.

Sementara itu, dr. Riska Novriana dari Dinas Kesehatan Kota Yogjakarta mengapresiasi kegiatan Afirmasi Bersama ini. Menginagat buah dan sayuran merupakan komponen penting dalam menu makanan sehat, sebagai sumber vitamin, mineral, serat dan antioxidant bagi tubuh.

Penurunan konsumsi buah dan sayur berkorelasi dengan keadaan kesehatan yang buruk dan peningkatan resiko terkena penyakit tidak menular tertentu seperti penyakit jantung dan kanker.

Hasil Riset kesehatan dasar yang terakhir menunjukkan,masyarakat Indonesia yang mengkonsumsi sayuran dan buah setiap hari hanya 10,7%.

Contact: Suriastini (0811266309), Mira (081805844014)

Daging Membuat Kita Terobsesi Makanan dan Terikat Pada Materi, Dunia Benda

buku-bhagavad-gita

Pilihan makanan menunjukan sifat dasar kita, Orang yang tenang, agresif, malas beda kesukaan

Memaksa diri untuk mengendalikan nafsu bukanlah solusi. Nafsu adalah sifat kebendaan,  sebagaimana benda-benda duniawi yang dapat memicunya. Badan kita pun adalah benda — materi. Sebab itu, nafsu mesti dipahami, disadari, diberi makan secukupnya. Persis seperti mengisi tanki mobil secukupnya. Jangan diisi terus hingga meluber. Jangan pula tangki mobil dibiarkan kosong. Jika kita melakukan hal itu, maka mobil atau kendaraaan badan tidak bisa digunakan lagi. Tempuhlah jalan tengah, tidak ekstrem kanan, tidak pula ekstrem kiri.

Dalam penjelasan Bhagavad Gita 17:6 tersebut mereka yang bersifat tamasika, malas suka puasa ekstrem dengan memaksa diri. Mereka yang bersifat rajasika, agresif makan melebihi takaran. Sedangkan mereka yang bersifat sattvika, tenang mengisi perut dengan cara jalan tengah. Bagaimana pula dengan sifat makanan yang ekstrem pedas, asin, manis dan sebagainya? Silakan simak penjelasan Bhagavad Gita 17:7-8 berikut:

 

Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu; Saha vīryam karavāvahai; Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga Hyang Tunggal senantiasa melindungi kita; menjernihkan pikiran kita: semoga kita dapat berkarya bersama dengan penuh semangat; semoga apa yang kita pelajari mencerahkan dan tidak menyebabkan permusuhan; Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

“Makanan yang disukai pun berdasarkan sifat masing-masing ketiga kelompok manusia tersebut. Demikian dengan persembahan, tapa brata dan berderma (semuanya dapat dibagi dalam tiga kelompok). Dengarlah sekarang, perbedaan di antaranya.” Bhagavad Gita 17:7

 

Jangan heran bila seseorang suka sekali dengan rasa pedas, ekstrem asin, ekstrem manis, atau daging; sementara orang lain tidak menyukai semua itu.

 

PILIHAN MAKANAN KITA tergantung pada sifat kita masing-masing. Bahkan cara kita melakoni kepercayaan dan spiritualitas pun beda — sesuai dengan sifat kita. Pun demikian dengan kegiatan-kegiatan amal saleh, berderma, atau berdana-punia. Walau tindakannya sama, atau mirip; niat di baliknya bisa beda total, sehingga hasil, akibat, atau konsekuensinya pun beda.

 

“Makanan yang menunjang kehidupan, kemuliaan, kekuatan, kesehatan, kebahagiaan, dan kepuasan adalah yang mengandung banyak jus atau cairan dan berlemak lembut (baik), mudah mengenyangkan (mengandung banyak serat), lezat, enak rasanya, dan tidak membebani pencernaan, sangat disukui mereka yang bersifat Sattvika.” Bhagavad Gita 17:8

 

Kecenderungan para Sattvika ini dapat ditiru. Dengan mengubah pola makan dan meniru mereka, kita pun dapat mengubah sifat kita. Makanan adalah bahan baku bagi energi yang kita butuhkan untuk menjalani hidup. Makanan para Sattvika ibarat bensin, bahan bakar tanpa timbal — bensin murni.

 

MAKANAN YANG JUICY, BERSERAT – dan walaupun mengandung lemak atau minyak, bersifat lembut, dalam pengertian mengandung minyak esensial, lemak baik bagi kesehatan. Misalnya mentega murni yang dibuat 100% dari susu murni, bukan dari lemak hewan; minyak zaitun, dan sebagainya. Kendati demikian moderasi adalah kata kunci bagi diet Sattvika. Tidak berarti kita mengonsumsi mentega 4x sehari. Secukupnya saja, sesuai dengan kebutuhan tubuh.

Makanan berserat, dalam hal ini, adalah sayur-mayur.

Jelas bukan daging. Konsumsi daging adalah pilihan kelompok lain, bukan pilihan kelompok Sattvika, karena menyangkut “pembunuhan” sesama makhluk demi kepuasan pencecapan.

Mudah mengenyangkan, tidak membuat kita kembung, menyegarkan, menyehatkan, dan menunjang kemuliaan, dalam hal ini, dapat diartikan sebagai penunjang inteligensia, kejernihan pikiran, dan sebagainya.

 

DAGING MEMBUAT KITA TEROBSESI dengan makanan, seolah kita hidup untuk makan, bukan sebaliknya. Daging juga membuat kita terikat pada dunia benda. Kita melihat dunia ini sebagai satu-satunya kenyataan. Padahal barangkali dunia benda lebih tepat disebut virtual reality, kenyataan virtual — bukan kebenaran.

Kejadian-kejadian di dunia ini, dan di dalam hidup kita ibarat permainan, game multi media. Teknologi modern membuat para pemain dalam game se-riil pemain asli. They look so real, yes real, tapi sebatas virtually real!

Makanan yang menunjang inteligensia membuat kita sadar akan hal ini. Kita bisa memilah, mana kebenaran, mana kepalsuan. Sebaliknya, jenis makanan yang tidak menunjang inteligensia, membuat kita buta terhadap kebenaran hakiki. Kita menganggap kenyataan virtual sebagai kebenaran hakiki.

Dikutip dari buku: (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

Om, Sarve bhavantu sukhinaḥ; Sarve santu nirāmayāḥ; Sarve bhadrāṇi paśyantu; Mā kashchit duḥkha bhāgbhavet; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga semua makmur, bahagia dan bebas dari penyakit. Semoga semua mengalami peningkatan kesadaran, dan bebas dari penderitaan. Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/

 

Banner utk di web

oec3Elearning-Banner-2 (1)

Anak Kegemukan Karena Suka Makan Ayam? Informasi Ilmiah, Bhagavad Gita, Sufi? #Vegetarian

buku bhagavad gita

Cover Buku Bhagavad Gita

Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu: Saha vīryam karavāvahai;Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai.Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

Om, May we all be protected; May we all be nourished; May we work together with great energy; May our intelect be sharpened; Let there be no Animosity amongst us; Peace to One and All.

 

Diskusi pendek sebelum Jalan sehat

Menyemarakkan jalan sehat masyarakat Kelurahan Kratonan memperingati hari jadi Kota Sala ke 21, pada hari Minggu 20 Maret 2016, saya dan istri bertemu para tetangga sesama lansia. Ada informasi penting, yang entah benar atau salah, saya merasa perlu share…..

Para lansia suka bercerita masa lalunya, hehehe. Ada yang sekarang sudah berusia 77 tahun, lahir tahun 1939 yang berbagi kiat hidup sehat: jaga pola makan (jangan terlalu banyak, kurangi daging), jaga pola hidup (tidur awal dan bangun awal membuat tubuh sehat dan pikiran jernih) dan jaga pola pikir (jangan terbawa kesedihan) kata beliau yang rupanya seorang pendeta. Kita diberkati hidup, maka hidup kita harus memberkati sesama.

Selagi ngobrol, seorang tetangga dengan penampilan muslim yang taat menimpali diskusi tentang mengapa anak-anak kecil sekarang banyak yang gemuk. Sambil tertawa dia bercerita, ada ayam-ayam yang sejak menetas sudah dikasih hormon penggemuk sampai saat dipotong pada usia 40 hari. Bila pengaruh hormon adalah 1 tahun atau 360 hari, maka sesudah masuk tubuh anak kita, daging dengan hormon tersebut masih sempat menggemukkan anak kita selama 320 hari.

buku bhagavad gita child-obesity-300x231

Obesitas pada anak

 

Jangan keburu menanggapi pernyataan yang belum tentu benar tersebut dahulu. Selanjutnya, diskusi sebelum jalan sehat tersebut, membuat saya membuka internet mencari pengaruh hormon pada daging ayam terhadap pemangsa ayam. Saya juga tidak tahu benar atau salahnya informasi terkait, tetapi judul pada blog ini terlalu menarik:

https://sehatgampang.wordpress.com/2009/02/18/cowok-suka-paha-atau-sayap-ayam-cenderung-feminim/

Kecenderungan tersebut terjadi karena dua bagian tubuh ayam potong itu mengandung hormon kewanitaan (insulin X). Hormon kewanitaan tersebut disuntikkan ke tubuh ayam melalui paha atau bagian sayap untuk memacu pertumbuhan. Karena itu, hormon tersebut banyak menumpuk di bagian tubuh itu. Artikel tersebut menyemarakkan LGBT, salah satu sebab menjadi gay?

Seorang dokter hewan telah membantah kebenaran informasi ini “Tidak Benar, Broiler Disuntik Hormon” pada blog:

http://www.poultryindonesia.com/news/opini/node1304/

Di situs internet lain ditulis bahwa perbedaan ayam kampung dan ayam negri terletak pada kandungan air dan lemak. Ayam kampung lebih sedikit kandungan lemaknya. Tulisan tersebut menyarankan hindari konsumsi kulit dan lemak saat “memangsa” ayam. Pada hewan dan manusia berbagai racun tubuh dapat terakumulasi di antaranya pada kulit dan lemak.

Mohon maaf atas kekasaran tulisan saya. Kalau buaya makan manusia disebut memangsa manusia, dan khusus kali ini manusia yang mengkonsumsi hewan, sengaja saya tulis “memangsa” hewan, agar saya pribadi ingat setiap kali makan daging saya juga menjadi pemangsa hewan yang sebelumnya hidup dan punya nyawa.

Kadang bahasa kita terlalu halus sehingga kita tidak merasa bersalah pada waktu melakukannya, misalnya: “penyalahgunaan anggaran”. Kalau bahasa salah seorang Gubernur yang baru ngetop adalah “maling”, sehingga yang merasa melakukan merasa sangat tersinggung. Entah, kita masih punya nurani atau tidak, dikatakan apa saja terus saja melakukan.

Saya ingat sewaktu saya baru masuk Anand Ashram, saya mendengar, memperoleh uang itu hanya dengan cara mencuri, merampok atau mengemis. Dan hampir semalaman saya merenung bahwa semua tindakan yang saya lakukan itu masuk kategori mencuri, merampok atau mengemis. Betul juga, karena saya membayangkan hasilnya dahulu, baru berpikir dan bertindak dengan tiga cara tersebut. Baru setelah beberapa tahun berada di Anand Ashram, saya sadar, lakukan tindakan apa pun sebagai persembahan, jangan memikirkan hasilnya. Banyak faktor yang tidak kita ketahui yang mempengaruhi hasilnya.

 

Restoran Vegetarian di Solo

Pada waktu saya bersama istri makan di Restoran Vegetarian  di Solo, 3 hari sebelum jalan sehat, saya diberi buku 103 halaman tentang pola makan vegan oleh pengurus rumah makan. Hehehe, menurut pemahaman saya, tidak ada sesuatu yang terjadi secara kebetulan di dunia ini……

Dituliskan di sana: “Ketika kita makan hidangan vegan, kita tidak perlu khawatir tentang penyakit apa yang menyebabkan kematian dari hidangan itu. Itu membuat suasana makan penuh kegembiraan!”

Ada yang perlu dikhawatirkan. Zat-zat antibiotik serta obat-obatan lainnya termasuk steroid dan hormon pertumbuhan ditambahkan ke pakan hewan atau disuntikkan secara langsung ke binatang. Telah dilaporkan bahwa orang yang memangsa binatang itu akan menyerap obat-obat itu ke dalam tubuh mereka. Ada kemungkinan antibiotik dalam daging akan mengurangi kemanjuran antibiotik bagi manusia.

 

Penjelasan Bhagavad Gita

Bukan pula suatu kebetulan bila 4 hari sebelumnya istri saya membacakan penjelasan Bhagavad Gita 10:26 pada saya.

Pertikaian dan kekacauan yang terjadi selama ini, disebabkan oleh pemahaman kita yang keliru tentang bentuk-bentuk kehidupan yang lain. Sedemikian arogannya kita sehingga kita menempatkan jenis kita, manusia, di atas segala-galanya. Dan, demi kepuasan indra, kita membenarkan pembunuhan, perburuan, penyembelihan binatang-binatang yang lazimnya kita ayomi; merusak hutan dengan segala macam konsekuensinya; menyebabkan bencana alam, dan lain sebagainya.

Seolah manusia adalah ciptaan-Nya yang tertinggi, dan dia bisa berbuat apa saja. Seolah Tuhan yang disembah sebagaai Maha Mencipta memiliki preferensi. Sehingga, manusia diperbolehkan untuk membunuh hewan dan melahap dagingnya, sementara jika hewa membunuh manusia dan memangsanya, maka disebut buas.

Seekor hewan buas saja belum tentu memburu, dan memangsa 200 hewan sepanjang hidupnya. Ia tidak akan memburu sebelum menghabiskan buruan sebelumnya. Ia hanya memburu dalam keadaan lapar.

Bagaimana dengan kita? Saya pernah membaca, rata-rata orang Indonesia mengonsumsi 6.000 ekorayam sepanjang hidupnya. Entah berapa ekor domba, kambing, sapi, dan ikan, udang segala! Berapa banyak telur kampung yang masih bisa menetasdan mengandung kehidupan.

Kita tidak merasa bersalah, karena seolah—lagi-lagi—Tuhan telah mengizinkan kita, “Wahai manusia, lihat binatang-binatang itu—semuanya telah Ku-ciptakan untuk kaulahap, untuk kaujadikan santapanmu!” renungakn sejenak, apakah akal sehat kitarasa empatidi dalam diri kita, dapat membenarkan ulah Tuhan seperti itu?apakah Tuhan bisa menyerukandemikian? Atau, adakah khayalan itu produk pikiran kita sendiri?

Dikutip dari (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

1 gemuk di usia 30-an

Sejak kecil makan sederhana sampai usia 30-an (generasi yang lahir th 50-an di usia 30-an)

 

1 gemuk di usia 45-an

Kebanyakan makan ayam dan makanan berlemak di usia 45-an

 

1 gemuk setelah vegan 60-an

Kembali kecil setelah mulai vegetarian dan menua di usia 60-an

Artikel Lama Tentang Kisah-Kisah Hewan pada Relief Borobudur

Jika Tak Mau Dilukai, Jangan Melukai Orang Lain

https://kisahspiritualtaklekangzaman.wordpress.com/2013/10/15/kisah-bodhisattva-rusa-sarabha-dan-raja-yang-berhenti-berburu-dan-menyembelih-hewan/

“Kemanusiaan adalah percikan kasih Gusti Pangeran yang ada di dalam diri setiap manusia. Apakah kau sudah bertindak sesuai dengan kodratmu sebagai manusia? Jika kita sudah bertindak sesuai dengan kodrat kita sebagai manusia, maka kita sudah menjalani kehendakNya. Apa arti kemanusiaan bagi kita? Kemanusiaan adalah kesadaran bahwa apa yang kau inginkan bagi dirimu juga diinginkan oleh orang lain bagi dirinya. Jika kau ingin bahagia, maka orang lain pun ingin bahagia. Jika kau ingin sehat, maka orang lain pun ingin sehat. Jika kau ingin aman, maka orang lain pun ingin aman. Jika kau tidak mau dilukai, maka orang lain pun demikian. Jika kau tidak mau ditipu, maka orang lain pun tidak mau ditipu. Jika kau tidak mau disembelih, dimasak, dan disajikan di atas piring; jika kau tidak mau dagingmu dijual dengan harga kiloan; jika kau tidak mau jeroanmu dipanggang atau digoreng; maka janganlah engkau menyembelih sesama makhlukNya. Menyembelih sesama makhluk hidup bukanlah tindakan yang memuliakan. Bagaimana kau bisa mengagungkan Hyang Maha Agung dengan mengorbankan ciptaanNya?” (Krishna, Anand. (2013). Alpha & Omega Japji bagi Orang Modern. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

buku alpha omega

Cover Buku Alpha Omega

Pengaruh Konsumsi Daging terhadap Karakter Manusia

https://kisahspiritualtaklekangzaman.wordpress.com/2013/09/29/pengaruh-konsumsi-daging-terhadap-karakter-manusia-kisah-kera-dan-pemburu-pada-relief-borobudur/

“Dari segi spiritual, mengkonsumsi daging akan mempengaruhi sifat dan watak manusia. la akan mewarisi watak binatang yang dimakan dagingnya itu.” (Krishna, Anand. (2001). Hidup Sehat Dan Seimbang Cara Sufi. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

“Dari sudut pandang mistik, mengkonsumsi daging akan mempengaruhi pernafasan kita, dan selanjutnya memblokir sentra sentra psikis dalam diri kita, yang sebenarnya berfungsi sebagai ‘jaringan tanpa kabel’. Sentra sentra psikis atau chakra inilah yang membantu terjadinya peningkatan kesadaran dalam diri kita, dan menghubungkan kita dengan alam semesta. Untuk itu dianjurkan tidak makan daging. Dari sudut pandang moral, hati seorang pemakan daging akan menjadi keras. Hati yang seharusnya lembut dan diberikan oleh Allah untuk mengasihi sesama makhluk bukan hanya sesama manusia akan kehilangan kelembutan atau rasa kasihnya.” (Krishna, Anand. (2001). Hidup Sehat Dan Seimbang Cara Sufi. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

buku sehat seimbang sufi

Cover Buku Sehat Seimbang Cara Sufi

 

“Kelemahan kita dalam hal pengendalian hawa nafsu, obsesi kita terhadap daging, membuat kita licik Kita menjadi cendekiawan. Kita mulai berdalil bukankah tumbuh tumbuhan itu pun memiliki kehidupan? Betul, kehidupan mengalir lewat tumbuh tumbuhan pula. Namun tumbuh-tumbuhan tidak memiliki mind. Dan oleh karena itu, mengkonsumsi sayur sayuran, buah buahan tidak akan mempengaruhi watak kita, mind kita. Tidak demikian dengan mengkonsumsi daging. Masih ada lagi yang berdalil hewan yang disembelih dan dimakan itu, sesungguhnya mengalami peningkatan dalam evolusi mereka. Dengan mengkonsumsi daging hewan, sebenarnya kita membantu terjadinya peningkatan evolusi mereka. Anda boleh memberikan seribu satu macam dalil. Dalil tinggal dalil. Yang jelas, mengkonsumsi daging tidak akan membantu manusia dalam hal peningkatan kesadaran. Terjadi evolusi dalam diri hewan hewan itu atau tidak, yang jelas mengkonsumsi daging tidak membantu evolusi spiritual manusia. Walaupun demikian, hendaknya seorang vegetarian tidak menganggap rendah mereka yang masih mengkonsumsi daging. Keangkuhan Anda, arogansi Anda justru akan menjatuhkan Anda lagi, dan akan menjadi rintangan bagi perkembangan spiritual.” (Krishna, Anand. (2001). Hidup Sehat Dan Seimbang Cara Sufi. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Om, Sarve bhavantu sukhinaḥ; Sarve santu nirāmayāḥ; Sarve bhadrāṇi paśyantu; Mā kashchit duḥkha bhāgbhavet; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

May all be prosperous, happy and ever free from illness. May all experiences spiritual upliftment, and never ever suffer. Peace to One and All.

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/

 

Banner utk di web

oec2elearning-banner

Renungan Diri: Alam Tidak Terpisah, Sistem Pendidikan Mengajarkan Perpisahan Meracuni Otak Anak?

buku neo spirituality

Cover Buku Neospirituality Neoscience

Let us Learn Together, Study Together, Nurture Eachother, Fill Eachother, and Work Together with Great Enthusiasm, Great Spirit.

 

Manipulasi Neo-Cortex

Ibarat Super Komputer yang Mahacanggih, kedua bagian utama otak kita bekerja sesuai dengan fungsinya masing-masing. Bagian Limbic memuat basic programming, yaitu program dasar untuk menjalankan komputer. Inilah insting-insting hewani, atau lebih tepat disebut insting-insting dasar kehiclupan. Sedangkan bagian Neo-Cortex memuat program/aplikasi yang dibutuhkan manusia. Muatan pada bagian ini dapat ditambah, dikurangi, dihapus, diperbaiki, atau di “manipulasi”.

Ketika kita masih kanak-kanak, di bawah usia lima tahun, hal-hal yang diajarkan oleh orangtua atau masyarakat menjadi bagian dari Neo-Cortex. Apa saja yang diamati atau sekadar dilihat oleh seorang anak dalam usia itu akan terekam dengan sendirinya.

Kemudian antara usia 5 hingga 12 tahun terjadi muatan-muatan baru lewat sistem pendidikan. Oleh karena itu, hingga usia 12 tahun disebut Golden Years, Usia Emas, karena banyak sekali muatan ditambahkan pada Neo-Cortex yang kelak digunakan hingga akhir hayat.

Pengertian “manipulasi” di sini hendaknya tidak dikaitkan dengan sesuatu yang bersifat negatif atau jelek karena manipulasi bisa juga untuk sesuatu yang baik. Dan sesungguhnya kita semua telah mengalami “manipulasi” serupa ketika masih berusia di bawah 12 tahun.

 

Manipulasi Positif

Adalah pendidikan yang bersifat menambah dan memperluas wawasan. Pendidikan yang membebaskan dan memajukan. Pendidikan yang berlandaskan budi pekerti seperti yang pernah kita peroleh tempo doeloe. Pendidikan yang berdasarkan pada nilai-nilai kemanusiaan yang bersifat universal. Ajaran yang menciptakan kedamaian dalam hati, mengembangkan cinta dalam diri dan menunjang keharmonisan dengan alam dan antara sesama makhluk hidup inilah yang disebut manipulasi positif.

Secara singkat, tiga kalimat  bawah ini menjelaskan muatan manipulasi positif dalam otak manusia:

  1. Heart that Beats for World Peace: Hati (bukan jantung, tetapi psikis/jiwa) yang Berdetak untuk Kedamaian Dunia. Bukan sekadar kedamaian diri, bukan pula kedamaian keluarga atau kelompok tertentu. Bukan kedamaian golongan atau umat tertentu, tetapi kedamaian dunia.
  2. Life that Expresses Love: Hidup yang Mengekspresikan Cinta-Kasih. Bukan cinta terhadap sesuatu, atau seseorang atau sekeIompok orang saja. Bukan pula cinta terhadap dunia, tata surya, atau bahkan alam semesta, tetapi cinta saja, titik. Berarti, siapa pun jua yang berhubungan dengan kita menerima luapan cinta kita, kasih kita. Siapa pun dia, termasuk mereka yang barangkali tidak setuju dengan kita atau bahkan menjelek-jelekkan atau memusuhi kita.
  3. Thoughts, Speech and Words, which are Harmonious: Pikiran, Ucapan, dan Tindakan yang Selaras. Berarti yang kita ucapkan dan yang kita lakukan sesuai dengan pikiran kita. ttidak berpura-pura, tidak munafik. Kita tidak menipu orang dengan memperlihatkan wajah palsu atau senyuman plastik. Ini juga berarti bila pikiran, ucapan, dan tindakan kita selaras dengan alam semesta. Kita tidak mencelakakan siapa pun, termasuk lingkungan hidup, dengan pikiran, ucapan, serta tindakan kita.

 

Peace, Love, and Harmony—Kedamaian, Kasih-Sayang (Cinta Sejati), dan Keselarasan (Harmoni)—inilah tolok ukur manipulasi yang positif dan berguna bagi hidup.

 

Manipulasi Negatif

Sungguh patut disayangkan bahwa saat ini lebih banyak manipulasi negatif yang terjadi/dilakukan terhadap otak anak-anak kita. Hal ini dilakukan secara sengaja maupun tidak sengaja karena kcbodohan dan ketidaktahuan. Sistem pendidikan yang mengajarkan perpisahan, entah karena agama, suku, ras, bahasa, status sosial, warna kulit dan sebagainya memberi muatan negatif pada otak anak-anak kita. Pendidikan yang memisahkan adalah pendidikan yang tidak sesuai dengan kinerja alam. Karena alam ini tidak terpisah-pisah. Alam merupakan satu kesatuan.

 

Anthony de Mello (1931-1987), seorang rohaniwan sejati, pernah berkelakar, “Suatu ketika saya berada dalam pesawat dan saat itu kami sedang melintasi perbatasan Amerika Serikat dengan Kanada. Kemudian terdengar suara pilot dari cockpit, ‘Bila Anda melihat lewat jendela sebelah kiri, saat ini kita sedang berada persis di atas perbatasan Amerika Serikat dan Kanada.“ Kemudian Romo Tony (demikian panggilan akrab beliau) melanjutkan, “Saya pun berusaha melihat ke bawah lewat jendela. Ternyata saya tidak melihat perbatasan itu.”

Perbatasan adalah buatan manusia. Bila kita berada di darat, kita bisa melihat perbatasan. Barangkali ada Pos Imigrasi dan Bea Cukai buatan manusia. Namun dari ketinggian, batas tersebut tak terlihat lagi. Apa maksudnya? Pendidikan yang memecah-belah adalah pendidikan yang bermuatan negatif. Bila anak-anak kita diberi pendidikan seperti itu maka celakalah mereka. Dan celakalah masa depan bangsa, maupun dunia.

Sayangnya, pendidikan seperti inilah yang saat ini diperoleh anak-anak kita. Pendidikan yang melemahkan dan merusak kemanusiaan diajarkan melalui nilai-nilai yang sempit. Bukannya memahami diri sebagai sesama manusia, anak-anak kita saat ini justru memperoleh pelajaran yang memisahkan mereka, sesama anak bangsa, atas dasar agama dan sebagainya.

Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2010). Neospirituality & Neuroscience, Puncak Evolusi Kemanusiaan. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

May all be prosperous and happy. May all be free from illness. May all see what is spiritually uplifting. May no one suffer. Om peace, peace, peace

Tautan terkait sebelumnya: https://gitakehidupansepasangpejalan.wordpress.com/2016/02/04/renungan-diri-otak-alat-sempurna-evolusi-mental-guna-peningkatan-kesadaran-spiritual/

 

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/

 

Banner utk di web

oec3Elearning-Banner-2 (1)

Renungan #Gita: Tanpa Transformasi Kesadaran Seperti Ekor Anjing Walau Diluruskan Bengkok Lagi

buku bhagavad ekor anjing bengkok

Kesadaran kita seperti ekor anjing ditarik dengan kekuatan apa pun setelah dilepas bengkok kembali

Pada Bhagavad Gita 7:16 disebutkan adanya 4 jenis panembah mulia:

  1. Mereka yang sedang mengejar harta-benda; mereka yang sedang mengejar kekuasaan duniawi tapi menyisihkan waktu untuk berdoa, menyisihkan sebagian dari penghasilannya untuk beramal saleh.
  2. Mereka yang sedang menderita, barangkali sakit, barangkali stres, barangkali miskin – atau ada penderitaan lain. Mereka berdoa supaya bisa bebas dari penderitaan. Dan, mereka tidak mencari jalan pintas atau jalan adharma.
  3. Para pencari pengetahuan sejati, kebenaran sejati.
  4. Mereka yang bukan saja berpengetahuan dan berkesadaran hakiki, tetapi juga penuh kasih.

Bagaimanakah kondisi kita saat ini dan bagaimana caranya mencapai kelompok keempat yang paling mulia? Kesadaran kita diibaratkan seperti ekor anjing yang bengkok. Setelah diluruskan akan kembali bengkok lagi, kecuali lewat transformasi??

Berikut adalah lanjutan penjelasan Bhagavad Gita 7:18 tentang hal tersebut:

 

Bhagavad Gita 7:18

“Semuanya memang mulia (keempat jenis panembah tersebut sama-sama mulia). Kendali demikian, seorang bijak yang sesungguhnya adalah diri-Ku sendiri; demikian pendapat-Ku. Seorang Panembah yang gugusan pikiran serta perasaannya; intelegensia dan kesadarannya selalu terpusatkan pada-Ku, larut di dalam-Ku, dan mencapai-Ku, yang mana adalah tujuan tertinggi.”

 

“Tujuan tertinggi manusia, tujuan utama hidupnya adaalah ‘mengenal diri’. jika itu tercapai, maka selesailah urusannya di atas panggung sandiwara kehidupan!

“Para suci seperti Ramakrishna dan Osho; Anthony de Mello dan Vivekananda – tidak berusia panjang. Isa dan Siddharta menarik diri di usia muda dan tidak lagi menjadi bagian dari keramaian. Kita melihat mereka dan berandai-andai, ‘Seandainya mereka hidup lebih lama, maka lebih banyak orang akan tercerahkan oleh mereka!

“Tidak, tidak demikian. Pertama, mereka tidak mencerahkan ‘kita’.

“Tidak ada orang yang bisa mencerahkan orang lain.kita tercerahkanoleh upaya dan kerja keras kita sendiri. Para suci hanyalah mengingatkan kita untuk mengolah diri.

“Kedua – lihat saja Buddha, sai Baba, Krishnamurti, Mother Teresa, dan lainnya yang berusia panjang. Hasilnya apa? Dunia ini, seperti yang pernah dikatakan oleh Ramakrishna, adalah bengkok seperti ekor anjing. Mau ditarik dengan kekuatan seberapa pun, jika dilepas – ia akan bengkok kembali.

“Para suci yang menunda keberangkatannya karena dorongan kasih – sudah berbuat banyak. Sudahlah. Sekarang, tergantung pada diri kita masing-masing – mau tetap menjadi ekor anjing atau sesuatu yang lain.

“Reformasi bersifat sementara – reformasi tidak bisa meluruskan ekor anjing, ia tetap saja bengkok. Adalah transformasi yang dibutuhkan untuk mengubah ekor menjadi sesuatu yang lain, sehingga tidak bengkok lagi.

buku bhagavad gita

“Upayakan transformasi!

“Upayakan transformasi total, menyeluruh – sehingga kita menjadi lurus –sehingga Jiwa mengenal hakikatnya sebagai percikan Jiwa Agung Hyang Ilahi!

“Ketika tujuan kita tercapai, maka hidup kita baru memiliki makna. Kemudian, pengalaman-pengalaman hidup pun menjadi bermakna, memiliki arti!

“Tanpa mengenal diri, hidup ini sia-sia. Kita mengumpulkan harta-benda, mengejar ketenaran, membangun rumah tangga – semuanya tertinggal di sini. Saat ajal tiba, kita hanya bisa beraduh-aduh saja. Kesia-siaan hidup seperti inilah yang dirasakan oleh mayoritas – sehingga mereka mesti “lahir kembali” untuk mencari makna kehidupan. Namun sayang, beribu-ribu kali sayang, dalam masa kehidupan berikut pun, hanyalah kesia-siaan saja yang dialaminya.

“Sebab itu, sekarang dan saat ini juga, ketika kita tahu dan sadar akan hal ini – upayakanlah transformasi diri total – upayakan kesadaran diri dan kenalilah diri Anda sebagai percikan Jiwa Agung yang tak pernah terpisahkan!

“Kitab-kitab suci kita – semua tanpa kecuali, mengingatkan kita akan hal yang sama, “Kita semua adalah putra-putri Gusti Pangeran; Gusti Pangeran dan kita semua satu adanya; tiada yang memisahkan kita dari-Nya!”

“Kita sibuk memuja-muja kitab suci tanpa menyelami isinya. Kita sibuk membaca tanpa memahami artinya – sedemikian bengkoknya kesadaran kita saat ini!” (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/

 

Tautan Terkait:

https://gitakehidupansepasangpejalan.wordpress.com/2014/11/19/renungan-gita-sudahkah-kita-termasuk-4-kategori-panembah-mulia/

sdok56elearning-banner

Renungan Diri: We Live a Half Life, Baru Hidup “Luaran” Belum dengan Inti Kehidupan “Dalaman”

buku atmabodha

Cover Buku Atma Bodha

Tulisan Adi Shankara pada abad 8 “diterjemahkan” Bapak Anand Krishna

“Alam Semesta bukanlah Brahman.

Di luar Brahman tak ada sesuatu.

Selain Brahman, apa pun yang terlihat

hanyalah khayalan belaka.”  Atma Bodha 63 (Krishna, Anand. (2001). Atma Bodha Menggapai Kebenaran Sejati Kesadaran Murni dan Kebahagiaan Kekal. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

“Shankara sungguh ‘membingungkan’. Alam ini bukan Brahman, tetapi di luar Brahman tak ada sesuatu. Kemudian, apakah alam ‘dapat’ berada di luar-Nya? Adakah sesuatu yang ‘bisa’ berada di luar Brahman?

“Sementara ini kita hidup di ‘lingkar luar kehidupan’. Shankara sedang mengajak kita untuk meniti jalan ke dalam diri. Untuk menemukan Inti Kehidupan, Air Kehidupan – apa pun sebutannya.

“Dan, ‘Keterikatan’ kita pada lingkar luar menjadi kendala atau penghalang. Baru mengambil satu-dua langkah ke dalam, kita mundur lagi. Dan, seringkali kemunduran itu kita anggap kemajuan. Repot!

“Maka, Shankara harus membebaskan kita dari keterikatan dulu, ‘Alam Semesta bukanlah Brahman…’ Brahman ‘ada’ di dalam sana…. Tidak berarti, Brahman tidak ada di luar sana. Brahman ada di luar dan di dalam. Seorang Insan Kaamil, seorang Manusia Sempurna adalah Ia yang menyadari Kehadiran, Keberadaan Allah di mana-mana. Di luar dan di dalam.

“Selama ini, we live a half life….. Hidup – setengah-setengah, belum sepenuhnya, karena kesadaran kita sepenuhnya berada di lingkar luar. Kita hidup dengan Brahman ‘luaran’ dan belum hidup dengan Brahman ‘dalaman’.

‘Setelah menemukan Air Kehidupan di dalam diri, dan bertatap muka dengan Brahman di sana, anda boleh keluar-masuk sesuka anda. But in the beginning, kesadaran harus dialihkan dari ‘lingkar luar’ ke pusat di dalam’.

“Jalan ‘berjenjang’ ini seringkali dianggap dua jalan yang berbeda. Penolakan terhadap Jagat, terhadap Alam Raya disebut jalan Negatif. Dan, penemuan Brahman atau Inti Kehidupan di dalam disebut Jalur Positif.

“Sesungguhnya positif tidak terpisah dari negatif. Hal ini sudah sering kita bahas. Yin dan Yang tak terpisahkan. Maskulin dan feminin, Shiva dan Shakti satu adanya.

“Lagi-lagi, ‘sesungguhnya’ para master terpaksa menggunakan istilah luar-dalam, positif-negatif, dan sebagainya. ‘Terpaksa’, karena kepedulian mereka terhadap kita yang masih angong ini, masih belum memahami ‘bahasa kesatuan’, masih hidup dalam dualitas, masih mengejar bayang-bayang, sehingga para Shankara harus berteriak sekuat tenaga, ‘he, yang kamu kejar itu bayangan belaka. Kejarlah Dia Yang Terbayang —Sang Brahman!’ (Krishna, Anand. (2001). Atma Bodha Menggapai Kebenaran Sejati Kesadaran Murni dan Kebahagiaan Kekal. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

“Seusai ‘mengejar’ Brahman, kita baru sadar bahwa yang kita kejar itu tak lain adalah ‘Aku’. Di luar ‘Sang Aku’ tak ada sesuatu.

“Berbagai latihan saya berikan di ashram, semata-mata karena yang datang ke sana masih senang main kejar-kejaran, masih menikmati permainan ciluk-ba. Kemudian, datanglah suatu saat di mana mereka sadar bahwa yang dikejar sesungguhnya tak perlu dikejar. Saat itu, mereka naik kelas dan masuk ke dalam kelompok lain. The next step, di mana kami mulai ‘merayakan’ Kehadiran Brahman—ditandai dengan nyanyian dan tarian.

“Saat ini we ‘have’ nothing to celebrate. Tangan kita masih kosong. Mau merayakan apa?

“Sesaat lagi, kita sadar: ‘Ah, kekosongan…..’ ‘Kekosongan inilah yang kumiliki.’ Kemudian, anda mulai menari dan menyanyi. Mulai hidup dan merayakan kehidupan.

“Bila anda pernah menyanyi dan menari bersama seorang Murshid, anda tahu persis apa yang terjadi saat itu. Anda ‘ketularan’ kesadaran Sang Guru. Dalam bahasa Zen, hal itu disebut Transmissian of Lamp. Anda menyatu dengan ‘Kekosongan’,  dengan ‘Kasunyatan’ yang diwakili oleh Sang Master. Dalam bahasa yoga disebut Shaktipaat. Energi Kehidupan mengalir ke luar dari dirinya dan memasuki diri anda….

“Bila sudah bertahun-tahun ‘hidup’ bersama seorang Murshid dan anda belum ketularan ‘kesadaran’-nya….. ya, jangan menyalahkan dia. Dia siap sedia menularkan kesadarannya. Bahkan, sebenarnya proses penularan itu berjalan sendiri, tannpa diketahuinya. Anda tidak tertular, karena kekebalan mind anda sendiri. Mind menutup jiwa anda, membungkus rapat batin anda, menyelimuti diri anda. Anda tidak terbuka. Lampaui mind, dan ‘kehadiran’ seorang master pun sudah cukup. Tidak perlu bekerja keras. Cukup mendekati dia. Dan, anda akan ketularan kesadarannya.

 

“Apa yang terlihat dan terdengar, semuanya Brahman.

Tak ada sesuatu di luar-Nya.

Ia yang menyadari hal ini, menemukan Sumber Kebenaran,

Kesadaran dan Kebahagiaan Sejati.

Sumber yang Satu Adanya, tak ada duanya.” Atma Bodha 64 (Krishna, Anand. (2001). Atma Bodha Menggapai Kebenaran Sejati Kesadaran Murni dan Kebahagiaan Kekal. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama) Link: http://www.booksindonesia.com

 

“Inilah kesadaran yang dicapai oleh para nabi dari ‘setiap’ tradisi, sehingga mereka bisa berkata bahwa Wajah Allah ada di mana-mana. Kerajaan Allah ada di mana-mana. Di atas langit sana. Di bumi sini. Di dalam diri anda diri saya. Di dalam diri semua.”

Tautan terkait:

https://gitakehidupansepasangpejalan.wordpress.com/2015/08/31/renungan-gita-keikaan-oneness-tiada-dia-lain-kecuali-dia-menurut-einstein-dan-sri-krishna/

https://gitakehidupansepasangpejalan.wordpress.com/2015/08/26/renungan-diri-ia-berada-dalam-yesus-kok-bisa-dalam-yudas-ia-dalam-rama-juga-ravana/

https://gitakehidupansepasangpejalan.wordpress.com/2015/08/28/renungan-gita-memuja-tuhan-aniaya-sesama-cium-tangan-pejabat-alam-yang-dia-urus-diinjak/

Renungan #Gita: Moderasi, Tali Senar Gitar Kehidupan Tak Terlalu Longgar Tak Terlalu Kencang

buku bhagavad gita sitar kehidupan

Ilustrasi memainkan Sitar, musik kehidupan

Bhagavad Gita 6:16

“Arjuna, Yoga bukanlah untuk mereka yang makan secara berlebihan, dan bukan juga bagi mereka yang memaksa diri untuk berpuasa; bukan untuk mereka yang tidur terlalu lama; dan bukan pula mereka yang memaksa diri untuk tetap berada dalam keadaan jaga.” Bhagavad Gita 6:16

 

“Intinya adaalah moderasi. Siddharta menjadi kering, kurus, karena memaksa diri untuk berpuasa – diingatkan oleh keberadaan bahwa alat musik sitar – semacam gitar – hanyalah mengeluarkan suara yang diinginkan, jika tali senarnya tidak terlalu ketat, dan tidak terlalu longgar.

“DISIPLIN DALAM YOGA BUKANLAH UNTUK DIPAKSAKAN. Bahkan, sesuatu yang dipaksakan menjadi peraturan, hukum, bukan disiplin lagi. Dalam pengertian Yoga, disiplin adalah bersifat swa-disiplin, self-discipline, mendisiplinkan diri (baca juga ulasan “Yoga Sutra Patanjali ” oleh penulis – Ed).

“Ketika kita memaksa diri – mengikuti tradisi, hukum adat, kepercayaan turun-temurun — untuk berpuasa atau melalukan ritus lainnya, maka pikiran kita bukannya terkendali, malah menjadi liar. Padahal, tujuan disiplin-diri adalah pengendalian pikiran.

“MEMAKSA DIRI UNTUK MELAKUKAN SESUATU membuat gugusan pikiran dan perasaan — mind – memberontak. Orang yang memaksa diri untuk berpuasa, walau tidak diakuinya, hanyalah memikirkan makan sepanjang hari. Orang yang dipaksa untuk melakukan zikir atau japa, hanyalah jari-jarinya yang sibuk dengan biji tasbih atau japamala, ganitri – hatinya entah di mana!” (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

buku bhagavad gita

Cover Buku Bhagavad Gita

“Disuruh, dipaksa, atau memaksa diri begadang dan melakukan latihan tertentu, tidak membantu pula. Apa pun yang kita lakukan, mestilah atas kemauan sendiri, atas keinginan diri, atas kehendak diri. Bukan karena disuruh, dipaksa. Puasa, japa, dan zikir – semuanya berguna dan bermanfaat, asal kita melakukannya atas kesadaran-diri, bukan sebagai kewajiban yang dipaksakan.

“KITA MESTI MENCINTAI APA YANG KITA LAKUKAN. Landasan bagi Yoga, bagi laku atau pelatihan apa pun persis sama. Kita mesti mencintainya. Dan untuk itu, jagalah moderasi. Jangan ekstrem-ekstreman.

“Hola mengikuti saran seorang motivator dan memaksa diri untuk mengucapkan ‘I love you’ kepada istrinya – secara teratur 3 kali sehari. Persis seperti makan obat. Pasalnya, ia ingin mempertahankan perkawinannya yang sudah mulai retak. Setelah beberapa hari demikian, Tante Holi, istri Hola, mulai curiga, ‘Ada. apa dengan suamiku? Dulu tidak seperti itu!’

Maka, ia pun menegurnya, ‘Hola kau sinting, I love you, I love you — tiga kali sehari — kau pikir kau dapat meracuniku dengan pembasmi virus perceraian?’

Intinya,

BE NATURAL! Jangan memaksa diri untuk melakukan sesuatu. Jangan mempertahankan suatu keadaan, jika perubahan sudah menjadi takdir!

Be moderate, be natural — itulah Yoga.” (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) Link: http://www.booksindonesia.com