Bersihkan Kerak Jiwa agar Bertemu Maitreya Mitra Alam Semesta #Zen

 

 

buku-zen-maitreya

Manusia hidup di tengah hutan lebat simbol. Di mana-mana ada simbol. Dari logo perusahaan hingga merek kendaraan dan nomor penerbangan, semuanya menggunakan simbol. Kadang, simbol juga bisa berupa angka atau warna. Sesungguhnya hidup kita pun bisa “menjadi” simbol.

Seorang pemersatu seperti Gajah Mada menjadi simbol persatuan. Para pelaku aksi terorisme menjadi simbol kejahatan. Gandhi menjadi simbol Ahimsa, tanpa kekerasan. Mother Theresa menjadi simbol pengabdian. Muhammad menjadi simbol iman dan keberanian. Buddha menjadi simbol kedamaian. Masih banyak simbol-simbol lain. Kehidupan manusia tidak dapat dipisahkan dari simbol. Begitu pula dengan rumah kita, tempat di mana kita tinggal. Dan, kantor kita, tempat di mana kita bekerja.

Intinya: Simbol bersifat sangat pribadi. Satu simbol yang sama bisa memiliki makna yang berbeda bagi Anda dan bagi saya. Maka, kita harus menggunakan simbol sesuai dengan mindset kita, dengan persepsi kita tentang makna di balik simbol itu. Kecuali, kita berhasil mengubah mindset dan menerima sebuah simbol lengkap dengan makna universal yang telah melekat dengannya. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2005). Fengshui Awareness Rahasia Ilmu Kuno bagi  Manusia Modern. One Earth Media)

Berikut adalah simbol, mindset dalam Zen tentang Maitreya. Setelah pikiran terkendalikan, setelah kasunyatan tercapai, setelah keheningan diperoleh, lantas apa? Dia kembali lagi ke dunia, ke pasar dunia ini. Sekarang dia bahagia, dia menikmati perjalanan hidup………..

Buku Zen Bagi Orang Modern

Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu: Saha vīryam karavāvahai;Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai.Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga Hyang Tunggal senantiasa melindungi kita; menjernihkan pikiran kita: semoga kita dapat berkarya bersama dengan penuh semangat; semoga apa yang kita pelajari mencerahkan dan tidak menyebabkan permusuhan; Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

Mengunjungi Pasar Dunia

Setelah pikiran terkendalikan, setelah kasunyatan tercapai, setelah keheningan diperoleh, lantas apa? Haruskah Anda duduk diam atau menyendiri? Tidak, Anda kembali lagi ke dunia, ke pasar dunia ini. Sekarang Anda bahagia, Anda menikmati perjalanan hidup. Dan siapa pun yang bertemu dengan Anda, ikut merasa bahagia, ikut menikmati kehidupan.

Ia yang telah mencapai ke-Buddha-an, ia yang sudah mencapai kesadaran murni, tidak digambarkan sebagai seorang pendeta atau pastor atau ulama yang berparas muka serius. Justru sebaliknya, seorang Buddha, seorang Kristus, seorang Nabi adalah pribadi-pribadi yang murah senyum. Apabila sedang ketawa, ia akan ketawa sepenuhnya, terbahak-bahak.

Cina memiliki latar belakang budaya yang sangat tinggi, sangat indah. Seorang Buddha yang menunda masuk ke alam Nirvana digambarkan sebagai Mi-Le, atau Maitreya—Mitra Dunia, Sahabat, Teman Alam Semesta. Ia berbadan besar. Perutnya buncit, keluar. Perut buncit ini sangat bermakna—yang berarti bahwa apabila sedang ketawa, ia ketawa sepenuhnya, dari perut. Kita tidak selalu demikian. Ketawa kita pun sering kali palsu. Tawa kita tidak keluar dari perut, tidak sepenuhnya.

Dengan tangannya yang satu, ia memegang botol arak. Mabuknya lain dari mabuk kita. Arak pengalaman hidup yang ia miliki memang memabukkan—mabuk kesadaran. Tangan yang satu lagi memegang tongkat dan segala sesuatu yang ia rniliki dibungkus dan diikat pada tongkat itu. Kepemilikan dia sangat minim. Ia tidak perlu lemari, tidak perlu brankas untuk menyirnpannya. Untuk mempertahankan kehidupan ini, tentu ada beberapa hal pokok yang masih harus kita miliki. Seorang Buddha Maitreya pun masih harus memiliki beberapa bahan pokok, demi kelangsungan’ hidup. Apalagi Ia telah memilih untuk berada kembali di Pasar Dunia. Ia tahu persis apa yang dibutuhkan selama dalam pelawatannya. Ia siap untuk itu. Ia telah membekali clirinya.

Anda akan berjumpa dengan dia ,di tengah-tengah keramaian dunia. Mungkin Ia sedang makan hamburger di McDonald’s atau sedang nonton film Titanic. Ia tidak akan menjauhkan diri dari keramaian. Keberadaan—Nya di tengah keramaian dunia merupakan anugerah, kurnia, blessing.

Siapa pun yang bertemu dengannya akan ikut memperoleh pencerahan. Ia menyebarkan virus kesadaran. Kehadiran Dia dalam hidup Anda akan membantu terjadinya peningkatan kesadaran dalarn diri Anda. Ia tidak melakukan sesuatu. Ia tidak perlu menunjukkan mukjizat. Keberadaan Dia merupakan mukjizat. Hanya melihat Dia saja sudah cukup, Anda akan tersentuh oleh Kasih-Nya.

Seorang Maitreya adalah seorang Avalokiteshvara—Ia yang mendengar jeritan kita. Ia menunda Nirvana demi kita, demi saya dan demi Anda. Keberadaan Dia di tengah Anda merupakan suatu kejadian yang langka, amat sangat langka. Bukan sesuatu yang dapat terulang lagi setiap saat. Apabila Anda bertemu dengan seorang Maitreya, dengan seorang Avalokiteshvara, dengan seorang Mitra Alam Semesta, dengan seseorang Yang Mendengarkan Jeritan Makhluk-Makhluk Hidup, berbahagialah, bergembira-rialah! Sentuhan kasih Dia, senyuman Dia dapat mengantar Anda ke Puncak Bukit Kesadaran Murni.

Ada yang menanyakan, bagaimana kita bisa mengenali seorang Maitreya, seorang Buddha, seorang Avalokiteshvara, seorang Kristus, seorang Nabi? Ia mengutip saya, “Menurut Pak Krishna sendiri, Dia mungkin sedang makan burger di McDonald’s, mungkin sedang nonton film Titanic. Ia begitu sederhana. Kalau begitu, kan sulit sekali mengenalinya?!”

Ada satu cara—cara yang paling gampang—atau mungkin satu-satunya cara: Bersihkan kerak dan karat jiwamu—apabila jiwamu tidak berkarat, apabila hatimu bersih, kau tidak perlu mencari-Nya. Ia akan menarik kamu. Ia bagaikan magnet. Ia bisa menarik kamu. Syaratnya hanya satu: bersihkan kotoran yang menutupi jiwamu, hatimu.

Dan untuk membersihkan jiwa itu, tidak terlalu banyak yang harus kau kerjakan. Membersihkan jiwa dalam konteks ini hanya berarti menjadi reseptif. Membersihkan hati berarti membuka diri. Lepaskan prasangka, praduga dan kebimbanganmu. Ia akan menarik kamu. Nuranimu akan mengenali-Nya. Jangan meragukan hal ini. Yakinilah suara hati nurani sendiri.

Seorang Maitreya tidak takut dengan hiruk-piruknya dunia. Ia telah memilih untuk kembali mengunjungi pasar dunia. Ia tidak akan melarikan diri. Keedanan dunia ini tidak bisa mempengaruhi kewarasan-Nya. Dunia akan menganggap—Nya edan, tetapi Ia tidak peduli.

Bukalah dirimu, jiwamu—jadilah reseptif, terbuka—mungkin saat ini kau sedang berhadapan dengan seorang Maitreya, seorang Mitra Dunia!

Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (1998). Zen Bagi Orang Modern. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Catatan:

Mungkin kita pernah baca beberapa buku tentang Zen, tentang Samadhi, tentang rasa bahagia yang merupakan hasil akhir meditasi yang tidak dapat dijelaskan lewat kata-kata. Lantas kita anggap sudah cukup dan kita menganggap sudah menguasai Zen. Anda boleh baca tentang “madu tawon Rengreng”, tetapi sebelum mencicipinya, Anda tidak akan pernah tahu rasa manisnya seperti apa. Memperoleh pengetahuan tentang “madu tawon Rengreng” tidak berguna sama sekali, apabila Anda belum pernah mencicipinya. Dari buku Zen Bagi Orang Modern

Sudahkah kita mulai Latihan Meditasi?

Om, Sarve bhavantu sukhinaḥ; Sarve santu nirāmayāḥ; Sarve bhadrāṇi paśyantu; Mā kashchit duḥkha bhāgbhavet; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga semua makmur, bahagia dan bebas dari penyakit. Semoga semua mengalami peningkatan kesadaran, dan bebas dari penderitaan. Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/

 

 

Advertisements

Apa yang Berubah antara Sebelum dan Sesudah Pencerahan?

buku-dvipantara-jnana-sastra-anekdot-zen

Mengikuti Guru yang sedang naik Gunung atau yang sudah turun Gunung?

Di tahun 2008 sekitar empat tahun mengikuti Anand Ashram, penulis pernah meng-upload tulisan tentang “mengikuti Guru yang sedang naik gunung atau yang sudah menuruni gunung”?

Mereka yang sedang naik gunung, pandangannya terfokus ke puncak, kurang begitu peduli dengan lingkungan sekitar.

Mereka mengerti tentang hukum alam dan menjelaskan secara gamblang persoalan di alam ini. Mereka yang mengerti hukum alam tersebut disebut Resi.

Mereka yang sudah turun gunung, melihat keadaan di bawah dengan pandangan yang lebih jelas.Mereka melihat ketidakadilan dengan jelas. Mereka disebut Bhagawan, Maitreya.

Nabi Muhammad, Gusti Yesus adalah nasionalis sejati, walau jelas spiritualis, perhatikan ajaran kemasyarakatan mereka. Krishna tidak duduk diam menjadi Resi di puncak Gunung, beliau ditengah masyarakat membimbing Arjuna menegakkan keadilan.

Kalau banyak orang mengikuti Guru yang sedang naik ke puncak, maka kedamaian yang diperoleh masih semu. Kedamaian itu dimanfaatkan oleh mereka yang mendapatkan keuntungan dari kedamaian semu tersebut. Mungkin negeri kita sudah terpecah-belah tapi kita belum sampai ke puncak juga.

Berikut ini pandangan leluhur kita dalam buku Vrhaspati Tattva tentang perubahan dalam diri antara sebelum dan sesudah mencapai pencerahan……..

buku-dvipantara-jnana-sastra

Cover Buku Dvipantara Jnana Sastra

Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu: Saha vīryam karavāvahai;Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai.Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga Hyang Tunggal senantiasa melindungi kita; menjernihkan pikiran kita: semoga kita dapat berkarya bersama dengan penuh semangat; semoga apa yang kita pelajari mencerahkan dan tidak menyebabkan permusuhan; Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

“Dengarkanlah Saptanga atau Tujuh Bagian diri (yang dibersihkan dan dimurnikan) — yaitu: Tanah, Air, Cahaya, Eter, Buddhi atau Inteligensia, dan Manah atau Mind.” Vrhaspati Tattva 62

 

SEMUA INI ADALAH ELEMEN-ELEMEN ATAU BAHAN BAKU dari tubuh fisik kita. Pertama-tama, elemen dasar ini dibersihkan dan dimurnikan – menjadikan kita sehat secara holistic. Bukan sekadar kesehatan fisik, tetapi juga ketajaman Buddhi atau Inteligensia, dan kemampuan mengendalikan mind atau Manah.

Berikutnya,

 

“Konon dikatakan ada Tujuh Api atau Saptagni (yang disebabkan oleh berbagai fakultas atau aspek diri kita) — api yang membaui; api yang mencecap; api yang melihat; api yang menyentuh; api yang mendengar; api yang berpikir; dan api yang mengetahui.” Vrhaspati Tattva 63

 

SESUNGGUHNYA MASING-MASING DARI TUJUH ASPEK DARI “DIRI” KITA INI merupakan tujuh fungsi dari tubuh materi. Sesungguhnya ada beberapa fungsi lain, baik yang tidak volunter seperti berdetaknya jantung, dan volunter seperti makan, dan lain-lain — namun, tujuh fungsi ini adalah yang terkait langsung dengan Trsna atau Craving, perasaan mendambakan yang paling intens. Setidaknya, dianggap demikian dalam model ini. Oleh karenanya, tujuh ini disebutkan mendapatkan manfaat dari laku spiritual seorang sadhaka sebagaimana dijelaskan di atas.

 

“Suara, sentuhan, wujud, rasa, bau, pikiran, dan pengetahuan (demikian, dibersihkan dari segala kotoran sehingga sadhaka atau pencari spiritual dapat menikmati semua itu yang sudah dimurnikan, dan,) sekarang disebut sebagai Saptamrta atau Tujuh Abadi.” Vrhaspati Tattva 64

 

ADA SEBUAH ANEKDOT ZEN YANG INDAH UNTUK MENJELASKAN HAL INI….. Seorang pemula bertanya pada Master, “Master, Master, apa yang Anda lakukan sebelum pencerahan? Maksud saya hidup macam apa yang Anda jalani sebelumnya?”

Sang Master menjawab, “Yah, saya bekerja di ladang, menanam kentang, menikmati the setelah bekerja keras seharian — seperti itu.”

Sang pemula merasa itu lucu, “Tapi, Master, itukah yang masih Anda lakukan.”

“Lalu, memangnya apa yang kau pikir terjadi setelah pencerahan? Apakah scorang Buddha, seorang insan tercerahkan menjadi bertanduk?”

Tidak, para Buddha tidak jadi bertanduk.

Mereka tetap sebagaimana adanya – setidaknya secara eksternal. Transformasinya terjadi secara internal. Minum teh sebelum dan sesudah pencerahan adalah dua hal yang berbeda. Menanam kentang sebelum pencerahan adalah sebuah tindakan egois demi keuntungan pribadi. Menanam kentang setelah pencerahan adalah sebuah tindakan persembahan – seperti menjadi bidan bagi Bunda Pertiwi, dan berbagi berkah-Nya dengan semua.

 

JIKA KITA MEMAHAMI CERITA ZEN INI, kita juga memahami makna tersirat dari ayat ini.

Api yang membara telah padam sekarang. Tiada lagi craving, mengidam-idamkan ini dan itu. Sekarang mereka menjadi penampung amrta, ambrosia kehidupan abadi yang siap dibagikan kepada semua orang.

Seorang Buddha, seorang insan tercerahkan melakukan segala hal yang kita lakukan – tetapi dengan — mind yang berbeda, mind yang telah ditransformasikan, dengan perspektif yang berbeda; dan, mungkin untuk sebuah alasan yang sama sekali berbeda pula.

Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2016). Dvipantara Jnana Sastra, Jakarta: Centre for Vedic and Dharmic Studies)

Om, Sarve bhavantu sukhinaḥ; Sarve santu nirāmayāḥ; Sarve bhadrāṇi paśyantu; Mā kashchit duḥkha bhāgbhavet; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga semua makmur, bahagia dan bebas dari penyakit. Semoga semua mengalami peningkatan kesadaran, dan bebas dari penderitaan. Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/

 

banner-utk-di-web

oec4elearning-banner

Renungan Zen: Meneriakkan Nama-Nya Ribuan Kali Tak Membantu, Harus Mengalami-Nya!

buku zen 8 keheningan

Ilustrasi Keheningan

“Ada yang menghadap Sang Buddha. Ia adalah seorang cendekiawan, dan seorang cendekiawan cenderung arogan. Ia ingin menunjukkan kepandaiannya. Sebelum menghadap seorang Buddha, apabila Anda tidak melepaskan arogansi diri, tindakan Anda tidak akan bermanfaat sama sekali. Arogansi dan ego membuat diri Anda tertutup. Buddha akan menghujani Anda dengan kurnia-Nya, Ia akan mengguyuri Anda dengan kasih-Nya, tetapi Anda tidak akan merasakan apa pun.

“Itulah sebab utama kegagalan para cendekiawan. Dengan segala macam ilmu yang mereka kuasai, mereka tidak akan pemah bisa mengenal seorang Buddha. Mereka akan selalu menolak seorang Kristus. Mereka tidak dapat memahami seorang Nabi. Seorang Buddha akan melewati Anda dan Anda tidak akan mengenal-Nya. Seorang Kristus berada begitu dekat, Anda melewati-Nya. Seorang Nabi berada di tengah Anda, tetap juga Anda tolak.

“Cendekiawan yang menghadap Sang Buddha mewakili arogansi kita, ego kita—mewakili para cendekiawan segala zaman. Ia pernah dengar bahwa pengalaman terakhir meditasi—kebahagiaan yang Anda peroleh dari pengalaman itu—tidak dapat dijelaskan lewat kata-kata. Ia tidak pernah berupaya untuk memperoleh pengalaman pribadi. Mungkin ia pernah baca tencang pengalaman itu. Sekarang ia menginginkan jalan pintas: ‘Buddha jelaskan kepada saya sesuatu yang tidak dapat dijelaskan lewat kata-kata.’

“Buddha tersenyum. Senyuman Buddha penuh dengan makna. Ia menepuk pundak sang penanya dan menjawab: ‘Untuk itu, pertanyaanmu seharusnya juga tidak menggunakan kata-kata.’

“Mungkin kita pernah baca beberapa buku tentang Zen, tentang Samadhi, tentang rasa bahagia yang merupakan hasil akhir meditasi yang tidak dapat dijelaskan lewat kata-kata. Lantas kita anggap sudah cukup dan kita menganggap sudah menguasai Zen. Anda boleh baca tentang ‘madu tawon Rengreng’, tetapi sebelum mencicipinya, Anda tidak akan pernah tahu rasa manisnya seperti apa. Memperoleh pengetahuan tentang ‘madu tawon Rengreng’ tidak berguna sama sekali, apabila Anda belum pernah mencicipinya.

“Kita boleh-boleh saja membanggakan diri sebagai ahli kitab, sebagai cendekiawan, sebagai teolog, tetapi tanpa adanya pengalaman pribadi dengan Tuhan, kita tidak akan pernah bisa memahami esensi agama. Saya ulangi: tanpa adanya pengalaman pribadi dengan Tuhan, bukan tentang Tuhan, tetapi dengan Tuhan. Meneriakkan Nama-Nya ribuan kali setiap hari tidak akan membantu. Kita harus menyelami-Nya, mengalami-Nya dalam kehidupan sehari-hari.

“Gambar ini seharusnya tidak dikomentari. Anda yang telah mengalami ‘rasa yang tak dapat dijelaskan itu’ sudah tidak membutuhkan penjelasan. Anda yang menutup diri terhadap ‘rasa’ tersebut tidak membutuhkan penjelasan juga. Tetapi ada satu lapisan lagi—di antara kedua lapisan masyarakat tadi, masih ada satu lapisan yang mungkin akan memperoleh sedikit manfaat dari penjelasan tentang ‘apa yang tidak dapat dijelaskan’.”

buku zen

Cover Buku Zen

“Ada cerita menarik tentang pencerahan Sang Buddha Gautama. Pencerahan bukan sesuatu yang luar biasa—sesungguhnya pencerahan merupakan hal yang paling ‘biasa’. Justru tidak adanya kesadaran dalam diri kita merupakan suatu hal yang luar biasa, sesuatu yang sangat ganjil. Apabila Anda menyadari hakikat diri, Anda akan kaget sendiri: ‘Ah—demikianlah adanya!’ Ternyata yang Anda kejar-kejar selama ini tidak pernah hilang. Anda harus mengejarnya ke mana-mana, sampai capai—sampai tidak ada yang dapat dikejar lagi—dan pada saat itu timbul pencerahan, ‘Ah!’

“Begitu pula dengan Sang Buddha Gautama: ‘Ah!’ Ia menjadi diam, tenang, tenteram, puas dengan apa adanya. Apa yang harus dikejar lagi? Apa yang harus dikerjakan lagi? Ia menjadi hening. Menurut legenda, dan legenda ini indah sekali, para malaikat, para dewa di kahyangan menjadi gelisah. Kenapa tidak? Pencerahan melahirkan seorang Buddha. Sebelum pencerahan itu, Ia hanya seorang pangeran bernama Siddhartha dari keluarga Gautama. Ia harus berbagi rasa dengan masyarakat luas. Apabila Ia menghanyutkan diri dalam Kasunyatan, maka dunia ini tidak akan diperkaya dengan kehadiran seorang Buddha. Sang Buddha harus berbicara, harus berbagi rasa, harus menularkan pencerahan-Nya. Buddha berarti ‘Ia yang telah Terjaga—Ia yang telah Sadar’. Kesadaran-Nya harus dimanfaatkan oleh orang banyak.

“Para malaikat dan para dewa ramai-ramai mendatangi ‘Ia yang telah Terjaga’, Sang Buddha. Mereka memaksa Buddha unruk mulai bicara, menyampaikan pengalaman-Nya demi kepentingan masyarakat luas. Sang Buddha menolak, ‘Apa yang harus saya sampaikan? Saya hanya menemukan diri sendiri, hanya menemukan Kasunyatan—itu saja. Tidak ada sesuatu yang harus saya sampaikan.’

“Para dewa tidak akan menerima penolakan Beliau. Mereka memaksa terus. Sang Buddha pun tetap pada pendirian-Nya: ‘Setiap makhluk dalam alam ini, bahkan setiap benda, sedang dalam perjalanan menuju ke-Buddha-an. Mereka yang sudah terjaga, dan tengah berjalan dengan penuh kesadaran, tidak membutuhkan kata-kata saya. Mereka yang masih tertidur pulas tidak akan mendengar saya. Apa gunanya saya bicara? Apa yang harus saya sampaikan? Kepada siapa harus saya sampaikan?’

“Rombongan para dewa dan para malaikat itu rupanya diketuai oleh Jiwa Mulia yang memiliki visi sangat luas: ‘Bhagavan, di antara kedua kelompok tadi, di antara mereka yang sudah terjaga dan mereka yang masih tertidur pulas, masih ada saru kelompok yang mungkin sudah terjaga, tetapi masih malas-malasan, masih enggan meninggalkan ranjang mereka. Berbicaralah demi mereka. Kata-katamu akan membangunkan mereka.’ (Krishna, Anand. (1998). Zen Bagi Orang Modern. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

“Dan Buddha tidak memiliki alasan lagi untuk tidak bicara. Seorang Buddha bicara untuk dan demi kelompok yang satu ini. Kelompok yang sudah terjaga, tetapi masih malas-malasan. Buddha akan membuat mereka gerah. Buddha akan membangunkan mereka. Itu sebabnya, seorang Buddha akan selalu dicaci, dimaki.

“Seorang anak sedang dibangunkan oleh ibunya. Sudah subuh dan ia harus bangun, harus mandi, harus ke sekolah. Anak ini masih malas-malasan. Seorang ibu tahu, betapa sulitnya membangunkan anak, setiap pagi. Tentu saja, ada juga anak-anak yang gampang terbangun.

“Dalam setiap kasus, memang ada kekecualian.

“Persis seperti seorang ibu, kadang seorang Buddha harus manis, harus merayu, tetapi kadang-kadang harus marah. Namun apa pun yang Ia lakukan, itu demi kebaikan kita, demi kebaikan putra-putri-nya.

“Kembali ke gambar kita yang kedelapan ini —kekosongan, keheningan, kasunyatan. Tetapi kekosongan yang satu ini bukan kehampaan. Kasunyatan juga merupakan kesempurnaan, kekosongan yang sangat berisi. Anda harus mengalaminya:” (Krishna, Anand. (1998). Zen Bagi Orang Modern. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama) Link: http://www.booksindonesia.com

Renungan Zen: Mencari Sapi yang Hilang, Berupaya Menemukan Pikiran Jernih

buku zen 1 mencari sapi yang hilang

Ilustrasi mencari sapi yang hilang

“Seorang gembala kehilangan sapinya. Cerita ini sangat indah, sangat manis. Ia kehilangan sesuatu yang sangat mendasar dan sangat penting baginya. Tanpa sapi itu, ia bukan seorang gembala lagi. Kepribadiannya, profesinya, karirnya tergantung pada sapi yang hilang. Ia menyadari hal itu sepenuhnya dan mulai mencari. Satu hal yang harus kita perhatikan dalam cerita ini adalah ‘kesadaran’ sang gembala. Ia sadar bahwa ia kehilangan sesuatu yang sangat penting.

“Dalam arti kata lain, cerita ini ada, karena adanya kesadaran. Apabila sang gembala tidak sadar, cerita ini tidak akan ada. Kesadaran merupakan landasan utama bagi cerita ini.

“Di tengah krisis, tidak jarang kita kehilangan kesadaran. Pikiran kita tidak jernih lagi. Keputusan-keputusan yang kita ambil tanpa perenungan sebelumnya, sehingga keadaan semakin parah. Justru dalam keadaan kritis, yang dituntut adalah kesadaran tinggi. Jangan cari jalan pintas. Yang terjadi selama ini justru sebaliknya. Kita ingin cepat-cepat keluar dari permasalahan yang sedang kita hadapi. Langkah-langkah yang kita tempuh tidak tepat, dan masalah kita bukannya terselesaikan, malah bertambah. Kita semakin tidak percaya diri dan oleh karenanya tidak pula dipercayai oleh orang lain.

“Sang gembala sapi dalam cerita ini tidak hanya sadar akan kehilangan sesuatu yang amat sangat penting. Ia sadar pula bahwa sapi yang hilang karena ulahnya sendiri. Bagaimana sapi itu bisa hilang, bagaimana ia bisa lolos dari kandang? Mungkin ia lupa mengikatnya. Mungkin ia ketiduran. Ia kehilangan sapi itu, karena kurangnya kesadaran.

“Selama ini kita bertindak tanpa kesadaran. Tetapi, untuk menyadari hal itu pun, dibutuhkan sedikit kesadaran. Harus tersisakan sedikit kesadaran, sehingga kita dapat menyadari ketidaksadaran kita. Sang gembala sapi dalam cerita ini masih memiliki kesadaraan. Ia masih memiliki sedikit kesadaran. Ia sadar bahwa ia telah kehilangan sapinya.

“Apakah Anda sadar bahwa Anda telah kehilangan pikiran yang jernih? Apabila ya, ketahulah bahwa penyakit Anda sudah terobati lima puluh persen. Langkah-langkah yang telah kita tempuh selama ini, keputusan-keputusan yang kita ambil selama ini – semuanya menunjukkan bahwa kita sudah kehilangan pikiran yang jernih. Tetapi jangan khawatir, apabila Anda sadar bahwa telah kehilangan pikiran jernih, ketahuilah bahwa  Anda masih dalam keadaan sadar. Kesadaran Anda pada tongkat yang sangat rendah. Tetapi bagaimana pun juga, Anda masih sadar.” (Krishna, Anand. (1998). Zen Bagi Orang Modern. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

buku zen

Cover Buku Zen Bagi Orang Modern

“Jadikanlah kesadaran ini modal awal Anda. Mulailah dari awal. Pada saat Anda memulai permainan hidup ini, modal kesadaran Anda juga sangat minim. Sekarang Anda berada pada titik yang sama. Perjalanan panjang yang kita tempuh selama ini hanya berhasil mengantar kita ke titik permulaan. Selama ini, ternyata kita hanya berlari di tempat. Tetapi tidak apa, yang penting adalah kesadaran kita. Asal kita sadar bahwa apa yangkita bangga-banggakan selama ini hanya merupakan ‘Istana bayangan’. Apa yang kita kejar selama ini hanyalah ilusi air di tengah padang pasir; fatamorgana!”

“Kesadaran semacam ini dapat dijadikan modal awal kembali. Dibekali dengan modal awal ini, berusahalah kembali! Jangan menagisi nasib. Jangan malas-malasan. Mari kita mencari sapi yang hilang itu. Niscaya Anda akan menemukannya. Mari kita menjernihkan kembali pikiran kita. Apa yang terjadi? Di mana letak kesalahan kita selama ini? Apa yang menyebabkan terjadinya krisis ini? Renungkan sejenak!” (Krishna, Anand. (1998). Zen Bagi Orang Modern. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Silakan baca buku untuk mengikuti latihan meditasi untuk menjernihkan pikiran…….

Catatan terkait:

https://gitakehidupansepasangpejalan.wordpress.com/2015/04/26/renungan-zen-menemukan-jejak-sapi-menyadari-kesalahan-dan-mencari-solusi/

 

https://gitakehidupansepasangpejalan.wordpress.com/2015/05/11/renungan-zen-menjinakkan-sapi-mengendalikan-keliaran-pikiran-kita/

Renungan Zen: Menjinakkan Sapi, Mengendalikan Keliaran Pikiran Kita

zen menjinakkan sapi

Ilustrasi Sapi Liar

Dalam buku (Krishna, Anand. (1998). Zen Bagi Orang Modern. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama) disampaikan urut-urutan Melangkah dalam Zen:

  1. Mencari Sapi yang Hilang
  2. Menemukan Jejak Sapi
  3. Melihat Ekor Sapi
  4. Menjinakkan Sapi
  5. Terjinakkannya Sapi
  6. Pulang ke Rumah
  7. Menikmati Ketenangan
  8. Keheningan
  9. Kembali ke Sumber
  10. Mengunjungi Pasar Dunia

 

Menjinakkan Sapi

“Dalam gambar ini Sang Gembala akhirnya menemukan sapi yang hilang. Ia pikir dengan sangat mudah, sapi itu akan ditangkap lagi dan dibawa pulang. Rupanya tidak demikian. Sapi ini sudah terlanjur menjadi liar. Selama begitu lama, ia berkeliaran di hutan. Tanpa kendali, tanpa ada yang mengawasinya. Sekarang ia sudah menjadi liar. Tidak gampang menjinakkan kembali sapi liar ini. Sang Gembala harus menggunakan  seluruh tenaganya. Akhirnya ia berhasil.

“Sapi liar merupakan metafor bagi pikiran kita yang kacau. Pikiran kita yang tak terkendalikan, ibarat sapi liar, harus dikendalikan, harus dijinakkan. Pencerahan berarti menyadari keliaran pikiran kita. Selama Anda masih belum menyadari keliaran pikiran, Anda belum cerah.

“Dan setelah menyadari keliaran pikiran, harus ada upaya untuk menjinakkannya. Bayangkan seekor sapi liar dilepaskan di tengah pasar. Amukannya akan mengacaukan seluruh pasar. Apabila kita menempatkan seseorang yang belum dapat mengendalikan pikirannya pada posisi penting, kita akan mengacaukan seluruh tatanan masyarakat. Ia akan mencelakakan dirinya dan mencelakakan orang lain.” (Krishna, Anand. (1998). Zen Bagi Orang Modern. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

buku zen

Cover Buku Zen Bagi Orang Modern

“Kadang-kadang kita tidak dapat memilah antara keliaran dan keberanian. Keliaran bukan keberanian. Tusuk kanan-tusuk kiri – melukai orang yang tidak bersalah – bukanlah keberanian. Perhatikan, apa yang kita lakukan sekaraang ini: ada yang mengkritik saja, kita tidak dapat menerima. Tiba-tiba sang pengkritik menghilang. Entah lenyap ke mana – ditelan bumi atau menguap ke langit. Keliaran kita telah membuat kita buas. Ternyata, kita masih bersifat hewani. Malah sebenarnya hewan pun tidak selalu buas. Hewan pun ada yang jinak. Yang buas pun dapat dijinakkan. Seekor harimau pun tidak membunuh, apabila tidak lapar. Kita lebih buas daripada hewan yang terbuas. Kita dapat melakukan apa saja, demi kepentingan diri atau kelompok. Menyadari keliaran pikiran dan menjinakkan pikiran merupakan hasil pencerahan.

…….

“Sang Gembala dalam gambar ini sudah sadar akan keliaran sapinya. Berada pada etape ini, hendaknya kita menyadari betapa liarnya pikiran kita. Dengan adanya kesadaran itu, mari kita berupaya menjinakkan pikiran kita.”  (Krishna, Anand. (1998). Zen Bagi Orang Modern. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Terkait: https://gitakehidupansepasangpejalan.wordpress.com/2015/04/26/renungan-zen-menemukan-jejak-sapi-menyadari-kesalahan-dan-mencari-solusi/

 

Dalam buku:  (Krishna, Anand. (1998). Zen Bagi Orang Modern. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama) diberikan latihan pada setiap etape penjelasan tentang langkah Zen. Silakan membaca dari buku aslinya.

Renungan Zen: Menemukan Jejak Sapi, Menyadari Kesalahan dan Mencari Solusi

buku zen

Cover Buku Zen Bagi Orang Modern

“Sang Gembala telah menemukan jejak sapi itu. Jejaknya Nampak begitu jelas, di atas tanah basah yang dilewatinya.

“Begitu Anda sadar bahwa apa pun yang terjadi memang terjadi karena ulah Anda sendiri, pikiran Anda akan semakin jernih. Dan semakin jernih pikiran Anda, semakin cepat masalah Anda terselesaikan.

“Jejak sapi yang terlihat ibarat kesalahan-kesalahan Anda yang sekarang terlihat jelas. Apa yang terjadi? Pikiran kita selama ini melayang-layang entah ke mana saja? Pikiran kita begitu liar, begitu tak terkendali, sehingga akhirnya yang susah kita sendiri juga.”  (Krishna, Anand. (1998). Zen Bagi Orang Modern. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama) halaman 29

buku zen menemukan jejak sapi

Ilustrasi Menemukan Jejak Sapi

“Menemukan jejak sapi ibarat menyadari kesalahan dan kelemahan kita. Itu saja tidak cukup, belum cukup. Anda masih harus memperbaiki kesalahan-kesalahan itu.

“Seorang Buddha, seorang Mesias, seorang Nabi datang untuk menunjukkan kesalahan-kesalahan kita. Ada yang menolak mereka, mencaci-maki mereka, membunuh mereka. Ada pula yang memuja-muja mereka. Kedua kelompok ini salah, baik yang menolak, maupun yang memuja. Hanya mendengarkan mereka tidak cukup. Pahamilah kata-kata mereka, belajarlah dari pengalaman mereka, tingkatkan kesadaran Anda dan bertindaklah sesuai suara hati nurani Anda.

“Menemukan jejak sapi juga dapat diartikan sebagai pertemuan dengan mereka yang telah Terjaga, mereka yang telah mencapai Pencerahan. Demikian, perjalanan Anda menjadi semakin gampang. Sekarang tinggal mengikuti jejak dan pada suatu saat sampailah Anda pada tempat di mana sapi itu berada.

“Apa yang terjadi selama ini? Begitu kita menemukan jejak, kita berhenti. Kita tempatkan kitab-kitab suci yang mengandung ajaran-ajaran luhur para Buddha, para Mesias, para Nabi di atas panggung yang sangat tinggi. Kita menyembah kitab-kitab itu. Ada pula di antara kita yang menjadikan kitab-kitab itu bahan diskusi. Ada lagi yang menjadikan pembacaan kitab sebagai perlombaan. Yang selalu terlupakan oleh kita adalah mengikuti petunjuk kitab-kitab itu.

“Ada yang mengedarkan video dengan judul ‘Jejak Sang Mesias’, lantas yang diceritakan adalah tempat-tempat yang pernah dikunjungi oleh para Nabi. Pembuatan video ini hanya mencerminkankemerosotan kesadaran kita. Kita hanya mementingkan lokasi-lokasi geografis yang pernah dikunjungi oleh para Nabi. Kita lupa esensi ajaran mereka. Pembuatan video-video semacam itu, penulisan buku-buku dan penyelenggaraan seminar-seminar dengan tujuan demikian, hanya membuktikan betapa jauhnya kita dari esensi agama.”  (Krishna, Anand. (1998). Zen Bagi Orang Modern. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

“Ada yang mengatakan kepada saya bahwa ia ingin mengikuti jejak Sang Nabi, melakukan perjalanan suci sebanyak sekian kali. Ia lupa akan esensi ke-Nabi-an Sang Nabi. Yang diingat hanyalah perjalanan fisik yang dilakukan oleh Beliau. Masyarakat kita semakin sakit.

“Di tengah krisis, bukannya menghadapi krisis itu dan mencari jalan keluar, kita malah mengadakan ziarah ke tempat-tempat yang kita anggap suci. Coba renungkan sejenak, bukankah perjalanan-perjalanan semacam itu pun merupakan bentuk dari pelarian? Kita mengharapkan intervensi dari kekuatan yang lebih tinggi.

“Kalau kemalangan menimpa, dengan sangat mudah kita menyatakan bahwa kita sedang dicoba oleh Allah. Kita melepaskan tanggung jawab. Kita membodohi diri sendiri. Kita pengecut!

“Akuilah kesalahanmu, kelemahanmu, kecerobohanmu selama ini. Masalah yang sedang kau hadapi saat ini, sepenuhnya karena ulahmu sendiri. Kau telah mengundang malapetaka ini. Sekarang, kau sendiri tidak tenang. Sadarlah”  (Krishna, Anand. (1998). Zen Bagi Orang Modern. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama) halaman 30-33