Risiko Krsna dalam Perang Melebihi Arjuna? Apa Rahasia Ketenangan Krsna? #BhagavadGita

Krsna adalah sosok yang berada dalam keadaan ini. Ia berada di tengah medan perang. Bukan angin biasa lagi. Sesungguhnya ia sedang berada di tengah angin ribut. Arjuna pun sama. Tapi Krsna tidak terganggu, sedangkan Arjuna terganggu.

Risiko Arjuna adalah “kalah” dan/atau mati, gugur di medan perang. Risiko Krsna melebihi risiko Arjuna. Bukan saja risiko mati, gugur di medan perang. Jika pun ia selamat, maka ia akan menghadapi kubu Kaurava yang tetap berkuasa di anak-benua Hindia, tempat kerajaannya — Dvaraka atau Dvaravati — adalah salah satu negara-bagian. Bayangkan, Krsna yang berpihak pada Pandava itu akan diperlakukan seperti apa? Yang jelas, ia akan dianggap tidak setia, pembangkang, pengkhianat……..

Dari sudut pandang manusia, risiko Krsna tidak kurang dari risiko Arjuna. Tapi keadaan batin mereka berbeda! Krsna adalah seorang Yogi, Yogiraja — Raja para Yogi. Arjuna masih belum. Penjelasan Bhagavad Gita 6:21 dikutip dari buku: (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

Silakan ikuti penjelasan Bhagavad Gita 6:20 tentang keadaan batin Krsna berikut:

Buku Bhagavad Gita

Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu; Saha vīryam karavāvahai; Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga Hyang Tunggal senantiasa melindungi kita; menjernihkan pikiran kita: semoga kita dapat berkarya bersama dengan penuh semangat; semoga apa yang kita pelajari mencerahkan dan tidak menyebabkan permusuhan; Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

“Dalam keadaan ‘diri’ atau batin terkendali seperti itu, Jiwa menyadari dirinya sebagai Jiwa; Demikian, ia mengalami kebahagiaan, kepuasan tak terhingga.” Bhagavad Gita 6:20

Dalam keadaan citta atau batin tenang — Jiwa menyadari dirinya sebagai Jiwa. Ia bukan badan; ia bukan energi; ia bukan gugusan pikiran serta perasaan; ia bukan inteligensia; ia bukan ini, dan bukan juga itu. Ia adalah Jiwa, percikan Sang Jiwa Agung. Maka saat itu ia mengalami kebahagiaan tak terhingga. Sebelum menggapai ………

 

KESADARAN JIWA, keadaannya persis seperti seorang putra raja yang diculik oleh gerombolan perampok. Ia dibesarkan oleh mereka. Maka, ia memiliki identitas palsu. Identitas palsu sebagai putra perampok, sebagai perampok. Indentitas palsu ini karena “pergaulannya” dengan gerombolan perampok. Karena keberadaannya di tengah mereka. Karena terlupakannya identitas asli yang sebenamya.

Menjalani peran palsu ini — peran yang sesungguhnya bukanlah peran dia — terjadi konflik batin dalam diri sang pangeran. Dia tidak puas dengan perannya sebagai perampok.

Ketika ia diculik, usianya baru 3 — 4 tahun. Ia masih balita. Sebab itu, ia pun tidak mengingat persis “masa lalunya” — identitas aslinya. Tapi, bagaimanapun juga — rekaman tentang kehidupan di istana sebagai pangeran, tidak pernah hilang juga. Rekaman itu masih ada. Walau buyar dan tidak jelas, ia masih melihat gambar-gambar, bayang-bayang dari masa lalunya — baik dalam keadaan jaga, maupun tidur — dalam mimpi.

 

IA TIDAK MENYADARI SEBAB KEGELISAHANNYA — Tapi ia tetap gelisah. Kehidupan perampok bukanlah kehidupannya. Ia tidak puas dengan pola-hidup yang sedang dijalaninya.

Kemudian, suatu ketika seorang menteri yang bijak menemukan si pangeran yang hilang itu. Ia mengenal tanda-tanda yang ada di badannya. Sekarang, Anda boleh menambahkan faktor DNA Test. Jelas dia bukan putra perampok. Dia seorang pangeran.

Maka, kesadaran baru yang sesungguhnya adalah kesadaran awalnya, kesejatian dirinya, seketika membahagiakan sang pangeran. Ia tidak perlu merampok lagi. Ia seorang pangeran. Mereka, yang selama ini dirampoknya, adalah warganya, rakyatnya.

Kebahagiaan sejati, kedamaian batin, keceriaan Jiwa yang dialami oleh pangeran dalam kisah ini – seperti itulah pengalaman kita ketika sadar akan diri kita sebagai Jiwa.

 

JIWA ADALAH PENONTON – Mereka yang sedang beraksi di atas panggung adalah badan, gugusan pikiran serta perasaan, indra, inteligensia.

Dirinya sedang menonton!

Maka adegan apa saja dapat menghibur dirinya. Terjadinya kematian di atas panggung, mengikuti skenario Sang Sutradara atau Penulis Naskah, tidak mencelakakan dirinya.

Terjadinya banjir, badai, topan — tidak mengganggu kenikmatan yang diperolehnya sebagai penonton. Jiwa yang demikian itu — Jiwa yang menyadari perannya, sifat aslinya sebagai Jiwa —terbebaskan dari segala duka. Bahkan dari segala dualitas suka dan duka. Ia meraih kebahagiaan tertinggi!

Ia seperti seseorang yang sedang bermain game. Gambar-gambar yang muncul di monitor atau layar teve adalah proyeksi dari console yang pengendalinya ada di tangan dia sendiri.

 

“Ketika Jiwa mengalami kebahagiaan tertinggi yang (berasal dari dirinya sendiri, dan) melampaui segala kenikmatan indra, bahkan segala kenikmatan yang dapat diperolehnya lewat intelek, maka ia akan berpegang teguh pada kebenaran, dan tak tergoyahkan lagi oleh tantangan seberat apa pun!” Bhagavad Gita 6:21

Ketika sang pangeran dalam kisah sebelumnya telah menemukan jati dirinya, maka ia tidak akan pernah membiarkan kesadaran itu “terlupakan lagi”.

Ia tidak akan pernah meninggalkan atau melepaskan “kebenaran” dirinya sebagai pangeran. Ia bukanlah seorang perampok.

 

SEORANG YOGi YANG SUDAH MENYADARI dirinya sebagai Jiwa, tak akan terperangkap oleh identitas-identitas palsu rekaan badan, indra, gugusan pikiran serta perasaan, maupun inteligensia.

Jiwa yang sudah merasakan kebahagiaan tertinggi ibarat pangeran yang “sudah kembali ke istananya”. Ia tidak tertarik lagi dengan kenikmatan-kenikmatan indra yang diperolehnya dalam “kesadaran palsu” sebagai perampok.

Ia tidak merampok lagi, karena menyadari dirinya sebagai pangeran. Jika kita sadar bahwa panggung sandiwara adalah untuk menghibur, maka kita akan menikmati segala pertunjukan di atas panggung — tapi tidak mengidentifikasikan diri dengan cerita di atas panggung.

Kita penonton! Tidak perlu membawa pulang panggung atau peran di atas panggung. Nikmati — dan kembalilah ke istana — ke tempat asal kita!

Dikutip dari buku: (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

Om, Sarve bhavantu sukhinaḥ; Sarve santu nirāmayāḥ; Sarve bhadrāṇi paśyantu; Mā kashchit duḥkha bhāgbhavet; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga semua makmur, bahagia dan bebas dari penyakit. Semoga semua mengalami peningkatan kesadaran, dan bebas dari penderitaan. Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/

 

Melihat Apa Adanya Tanpa Pengaruh Persepsi Sebelumnya #YogaSutraPatanjali

buku-yoga-sutra-patanjali-shakuni-persepsi-wajah-licik

Sudah sekian lama kami menuliskan pandangan kami bahwa setiap orang lahir dengan genetik tertentu yang merupakan warisan dari orang tuanya. Kemudian dia memperoleh pelajaran dari orangtua, pendidikan dan lingkungan secara repetitif dan intensif.  Sehingga kebenaran yang dipunyainya adalah kebenaran dengan kerangka pengalaman dia. Apabila dia lahir di negeri berbeda, diasuh orang tua berbeda, pendidikan dan lingkungan yang berbeda, maka pandangan kebenaran yang dimilikinya juga berbeda. Itulah sebabnya kita harus mengapresiasi pendapat orang lain, yang melihat kebenaran dari sisi yang berbeda.

Rupanya, yang demikian itu pemahaman seorang non-yogi yang tidak mampu melihat sesuatu tanpa intervensi persepsi yang sudah terbentuk. Seorang pemain film sebaik apa pun, jika persepsi kita tentang dia adalah “jelek”, maka kita hanya melihat kejelekannya. Sebaliknya, jika persepsi kita “baik”, maka seorang penari sejelek apa pun kila anggap baik. Adalah seorang Yogi saja yang dapat melihat things as they are.

Silakan simak penjelasan mengenai hal tersebut dalam Yoga Sutra Patanjali III.37 berikut:

 

Cover buku Yoga Sutra Patanjali

buku-yoga-sutra-patanjali

Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu: Saha vīryam karavāvahai;Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai.Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga Hyang Tunggal senantiasa melindungi kita; menjernihkan pikiran kita: semoga kita dapat berkarya bersama dengan penuh semangat; semoga apa yang kita pelajari mencerahkan dan tidak menyebabkan permusuhan; Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

“Demikian, terciptalah, muncullah kemampuan untuk mendengar, menyentuh, melihat, mencecap, dan mencium secara intuitif.” Yoga Sutra Patanjali III.37

 

Pendengaran, penglihatan, perabaan, pencecapan, dan penciuman kita saat ini—indra-indra persepsi kita saat ini—masih tetap bekerja secara subjektif. Kesukaan dan ketaksukaan kita; ketertarikan dan ketidaktertarikan kita masih bersifat subjektif berdasarkan pengalaman-pengalaman sebelumnya, berdasarkan memori sebelumnya.

 

SEORANG NON-YOGI TlDAK MAMPU MELIHAT SESUATU TANPA INTERVENSI PERSEPSI yang sudah terbentuk.

Seorang pemain film sebaik apa pun, jika persepsi kita tentang dia adalah “jelek”, maka kita hanya melihat kejelekannya. Sebaliknya, jika persepsi kita “baik”, maka seorang penari sejelek apa pun kila anggap baik.

Adalah seorang Yogi saja yang dapat melihat things as they are. Intuisi yang telah bekerja, tidak membuatnya memiliki indra keenam, ketujuh, atau keberapa—istilah-istilah seperti itu sungguh sangat tidak tepat, tiada satu pun yang memiliki indra keenam. Maket tubuh kita sudah ditentukan oleh keberadaan—pancaindra. Titik.

Intuisi membuat indra-indra persepsi, sebagaimana diuraikan dalam sutra ini, mulai berpersepsi secara jernih. Persepsi-jernih tanpa intervensi memori masa lalu dan sebagainya, membuat seorang Yogi bebas dari segala macam prejudice dan favoritisme. Tiada yang dibencinya, tiada pula yang membuatnya tertarik. Ia memahami sifat alam benda, dan memahami pula sifat badannya, sifat pancaindranya, yang sama-sama adalah bagian dari alam benda.

 

MELIHAT, MENDENGAR, DAN SEBAGAINYA “SECARA INTUITIF” berarti melihat apa yang ada di balik yang terlihat oleh mata, mendengar apa yang ada di balik yang terdengar oleh telinga, dan seterusnya.

Demikian, penglihatan, pendengaran, dan sebagainya dalam diri seorang Yogi menjadi semakin halus. Di balik apa yang terlihat, ternyata ada unsur-unsur kebendaan yang amat, sangat terbatas, dan sedang mengalami kepunahan. Berapa banyak elemen, kimia-kimia apa saja yang ada di dalam diri, dalam badan manusia, tetap dapat dihitung. Banyak sel, triliunan, namun masih terhitung juga. DNA kita semua temyata 99,99% mirip.

Lebih dalam lagi, ternyata di balik perbedaan yang tipis itu, di balik kebendaan yang tampak beda itu, sesungguhnya tiada perbedaan Jivatma atau Jiwa Individu yang menerangi tubuh saya, tubuh Anda, bahkan cacing-cacing di selokan—semua adalah sama-sama percikan, bagian dari Sang Purusa, Gugusan Jiwa yang satu, sama, tunggal. Kemudian, Sang Purusa pun, adalah sekadar Cahaya Sang Jiwa Agung.

 

BERARTI, MELIHAT DAN SEBAGAINYA “SECARA INTUITIF” bukanlah menjadi peramal, “Aku bisa membaca pikiranmu.” Tidak, walau itu pun “bisa” terjadi. Tapi, bukan itu tujuan Patanjali memberikan rumusan-rumusan ini.

Menjadi intuitif berarti “melihat benda sebagai benda; Jiwa sebagai Jiwa.” Menjadi intuitif, berarti tidak terbingungkan oleh penglihatan, pendengaran, dan sebagainya; dan tidak bertindak dalam kebingungan.

Demikian maksud Patanjali.

Sutra ini adalah penegasan terhadap sutra Sebelumnya.

Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2015). Yoga Sutra Patanjali Bagi Orang Modern, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Catatan:

(kita perlu ingat semuanya ini tentang Bab III Samyama: 1. dharana atau kontemplasi; 2. dhyana atau meditasi dan 3. menyadari atau memusatkan kesadaran). Sudahkah kita mulai rutin melakukan meditasi? Sudahkah kita berupaya berlatih meditasi dengan cara yang benar sesuai petunjuk Yoga Sutra Patanjali? Atau sudahkah kita mencari informasi bagaimana cara meditasi yang benar. Tanpa semua itu pengetahuan apakah bisa bermanfaat?

Om, Sarve bhavantu sukhinaḥ; Sarve santu nirāmayāḥ; Sarve bhadrāṇi paśyantu; Mā kashchit duḥkha bhāgbhavet; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga semua makmur, bahagia dan bebas dari penyakit. Semoga semua mengalami peningkatan kesadaran, dan bebas dari penderitaan. Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/

 

banner-utk-di-web

oec4elearning-banner

Mengetahui Pertanda Kematian 9 Bulan Menjelang Ajal #YogaSutraPatanjali

buku-yoga-sutra-patanjali-mengetahui-pertanda-kematian

“Berkat Samyama (dharana atau kontemplasi; dhyana atau meditasi; dan menyadari atau memusatkan kesadaran pada) hasil karma baik yang sudah terwujud, aktif dan berjalan, maupun yang belum aktif, belum berjalan atau belum terwujud, seseorang dapat meraih kemampuan untuk memahami pertanda-pertanda alam terkait dengan akhir dari perlawatannya di dunia ini (berarti, meraih pengetahuan tentang kematiannya).” Yoga Sutra Patanjali III.23

Pemahaman tentang Hukum Karma atau Hukum Konsekuensi dari setiap perbuatan sangat mudah dipahami sebagai hukum alam yang tak terelakkan. Persis seperti Hukum Aksi-Reaksi dalam Ilmu Fisika.  Setiap aksi menghasilkan reaksi yang setimpal. Demikian pula, setiap akibat ada sebabnya.

buku-yoga-sutra-patanjali

Cover buku Yoga Sutra Patanjali

Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu: Saha vīryam karavāvahai;Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai.Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga Hyang Tunggal senantiasa melindungi kita; menjernihkan pikiran kita: semoga kita dapat berkarya bersama dengan penuh semangat; semoga apa yang kita pelajari mencerahkan dan tidak menyebabkan permusuhan; Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

NAMUN MEMAHAMI KINERJA HUKUM INI SECARA PERSIS adalah sangat sulit. Banyak faktor yang bekerja, dan setiap faktor menjadi teka-teki yang mesti dipahami.

Ada empat jenis Karma yang memengaruhi kehidupan kita semua. Pertama: Samcita Karma, yaitu karma yang terakumulasi dari masa-masa kehidupan sebelumnya. Ini ibarat saldo kita. Kita semua memiliki saldo ini. Bedanya dengan saldo tabungan di bank dunia adalah bahwa makin besar, makin tinggi, makin banyak saldo-karma, berarti makin repot kehidupan kita. Banyak utang-piutang yang mesti diselesaikan.

Kedua: Prarabdha Karma, ini ibarat saldo yang sudah atau sedang tercairkan. Segala suka duka yang sedang kita alami “saat ini”, mayoritas adalah hasil dari prarabdha karma.

Ketiga: Agami Karma, atau saldo yang belum dicairkan, atau dicairkan pada masa mendatang. Ada kala sebagian dan keseluruhan dari agami karma adalah berupa bilyet-giro yang sudah kita terbitkan, sudah kita tanda tangani, tinggal tunggu waktu pencairannya.

Keempat: Kriyamana Karma, atau karma-karma ringan yang sebab dan akibatnya tidak terpisahkan oleh jarak yang sangat panjang atau jauh. Misalnya, jika kita makan terlalu banyak sudah pasti kita merasa kekenyangan dan tidak enak, bahkan bisa mual, enek, dan sebagainya.

 

NAH, DUA MACAM KARMA YANG DIMAKSUD DALAM SUTRA INI adalah Prarabdha dan Agami.

Patanjali menyebutnya: Sopa Kramam Karma atau Hasil Karma yang sedang berjalan atau Prarabdha. Dan, Nirupa Kramam, yang belum terwujud, atau Agami.

Berarti, mengetahui keseluruhan saldo atau keseluruhan Samcita Karma—karma-karma yang terakumulasi sangat sulit.

Mudah-mudahan jumlah Prarabdha dan Agami adalah sama dengan keseluruhan saldo Samcita—sehingga tidak ada lagi saldo utang-piutang yang tersisa untuk diurusi dalam masa kehidupan yang lain; atau yang menyebabkan terjadinya kelahiran ulang.

Namun, seandainya pun hal itu belum terjadi, maka dengan mengetahui:

 

PRARABDHA DAN AGAMI KARMA, setidaknya seseorang bisa menyelesaikan apa saja yang menjadi tanggungannya dengan baik.

Misalnya, ada yang menyakiti Anda, tentu saat itu  Anda merintih kesakitan, sedih, kecewa. Apalagi jika orang yang menyakiti adalah teman Anda sendiri, atau anggota keluarga Anda sendiri.

Saat itu, jika Anda sadar bahwa penderitaan Anda disebabkan oleh ulah Anda sendiri pada masa lalu, karena Anda pun pernah menyakiti seseorang dengan cara yang sama, maka Anda tidak akan tenggelam dalam duka. Anda akan bangkit kembali tanpa rasa dendam, tanpa keinginan untuk membalas.

Hal kedua yang disampaikan lewat sutra ini adalah:

 

PENGETAHUAN TENTANG KEMATIAN lewat pertanda-pertanda alam. Tentu pertanda yang paling jelas adalah yang Anda terima lewat badan Anda sendiri.

Tapi sebelum beranjak lebih jauh membahas hal ini, perlu kita ingat bahwa Patanjali sedang berbicara dengan para Yogi, para praktisi Yoga. Ini mesti jelas dan selalu diingat.

Jadi, jika kita tidak melakoni Yoga dan hanya membaca buku ini, hasilnya adalah nol besar. Nihil. Kita tidak akan mampu membaca pertanda-pertanda alam, walau telah disampaikan berulang-ulang.

KITA PERNAH MEMBAHAS HAL INI DI BUKU LAIN. Proses kematian mirip sekali dengan proses kelahiran. Sebagaimana kelahiran membutuhkan waktu sekitar sembilan bulan, kematian pun sama. Ya, proses kematian pun terjadi selama sembilan bulan. Seorang Yogi bisa mengetahui hal ini. Ia bisa merasakan proses prana atau aliran kehidupan menarik diri dari setiap anggota badan secara bertahap, satu per satu.

Awalnya bagian kaki akan terasa rnelemah, melemah secara merata. Bukan lemah karena sakit, tapi lemah karena aliran kehidupan sudah mulai berpamitan.

Proses ini berjalan hingga +/- 9 bulan—walau seorang Yogi bisa juga memilih untuk mempercepatnya. Lagi-lagi, semua ini berlaku bagi para Yogi.

PROF. DR. RAGHU VIRA, SEORANG PECINTA BUDAYA DVIPANTARA atau Nusantara yang pernah berkunjung ke Indonesia sekitar tahun 1950-an adalah seorang Yogi seperti itu.

Ia mendirikan Pusat Studi Kebijakan-Kebijakan Kuno yang berasal dari wilayah peradaban kita, dan berhasil menemukan serta mengulas kembali ratusan naskah kuno bersama timnya.

Dari Kepulauan Nusantara saja beliau mengumpulkan, mengedit ulang, dan menerbitkan tujuh naskah yang rnengandung nilai-nilai spiritual. Enam di antaranya adalah dalam bahasa Sanskrit, ditulis oleh pujangga asli Nusantara. Luar biasa!

Kembali pada Sang Profesor.

Dunia mengenalnya sebagai scholar, ccndekiawan. Sesungguhnya hal itu hanya kulit luar. Jiwa Sang Profesor adalah Jiwa Yogi.

Beberapa bulan sebelum wafat dalam suatu kecelakaan maut, beliau membagi seluruh pekerjaannya di institut kepada anak, menantu, dan beberapa rekannya. Bukan karena pilih kasih, tapi karena kemampuan masing-masing. Mereka adalah personel-personel yang sepenuhnya terlibat dalam misi beliau. Demikian, setelah kecelakaan maut itu kinerja institut yang beliau dirikan tidak rnengalami gangguan apa pun.

Masih banyak Yogi lain, sama seperti Prof. Dr. Raghu Vira, termasuk Ayah saya sendiri, seorang pelaku Yoga yang sangat tekun. Beliau pun “diberi pengetahuan” tentang kematiannya. Kita sudah membaca ini, dan hal-hal lain tentang beliau dalam buku-buku sebelumnya, antara lain Haqq Maujud, Cakrawala Sufi, dan Kematian.

Patanjali tidak memberikan harapan palsu. Saya bisa menjadi saksi atas keabsahan apa yang disampaikannya lewat sutra-sutra ini.

Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2015). Yoga Sutra Patanjali Bagi Orang Modern, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Semoga Catatan ini memberikan semangat kepada kita untuk melakoni petunjuk pada Buku Bhagavad Gita dan Yoga Sutra Patanjali dalam kehidupan sehari-hari.

Om, Sarve bhavantu sukhinaḥ; Sarve santu nirāmayāḥ; Sarve bhadrāṇi paśyantu; Mā kashchit duḥkha bhāgbhavet; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga semua makmur, bahagia dan bebas dari penyakit. Semoga semua mengalami peningkatan kesadaran, dan bebas dari penderitaan. Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/

 

banner-utk-di-web

oec4elearning-banner

Renungan #Gita: Tindakan yang Melebihi Pendalaman Kitab, Tapa-Brata, Amal Saleh, Dana Punia?

buku bhagavad gita

Cover Buku Bhagavad Gita

Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu; Saha vīryam karavāvahai; Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

Let us Learn Together, Study Together, Nurture Eachother, Fill Eachother, and Work Together with Great Enthusiasm, Great Spirit. Om, Peace, Peace, Peace

 

“Dengan mengetahui kedua jalur ini, tiada seorang pun Yogi yang terbimbangkan lagi; sebab itu, Partha (Putra Prtha — sebutan lain bagi Kunti, Ibu Arjuna), beradalah dalam kesadaran Yoga setiap saat. ” Bhagavad Gita 8:27

 

Seruan Krsna jelas sekali, “Jadilah seorang Yogi!” Gita adalah iklan-abadi untuk mempromosikan Yoga.

Inti dari Gita…….

BUKANLAH PENGHAFALAN AYAT-AYAT – Apalagi melombakannya seperti yang sering terjadi. Kita tidak perlu latah. Jika orang lain mengadakan lomba pembacaan ayat, maka kita pun ikutan, kita pun menyelenggarakan acara serupa. Untuk apa? Untuk menghabiskan dana? Itukah maksud Krsna? Itukah maksud Gita? Adakan Pesta-Gita-Gita Utsava atau Gita Yajna – semacam carnival, di mana kita dapat membahas, menghayati, berekspresi dengan Yoga. Hidup dalam Yoga. Dan, mempelajari pesan-pesan Gita.

Jangan memenuhi lapangan tempat Pesta-Pora Gita diadakan, dengan stall-stall, kedai-kedai yang menjual minuman dan makanan, seperti yang sering terjadi. Cukup 1-2 kedai untuk itu. Selebilmya, kedai-kedai menjual berbagai tafsir atas Gita. Koleksi saya yang amat sangat terbatas saja, setidaknya terdiri atas puluhan tafsir dan terjemahan. Kedai-kedai yang menjual CD/DVD, peralatan/perlengkapan Puja/ Yoga, dan sebagainya.

Di atas segalanya, setiap penunggu kedai mesti bisa menjelaskan tentang apa yang ditawarkannya — bagaimana dapat membantu seorang seeker, seorang pencari. Bukan sekadar menjual saja!

KEMBALI PADA AYAT – Berada dalam kesadaran Yoga berarti berada dalam keadaan Samadhi. Itulah ciri seorang Yogi. Tapi, jika Samadhi — keseimbangan diri — ditafsirkan sebagai “semedi”; duduk rapi bersila “saja”, maka bukanlah Yogi seperti itu yang dimaksud.

Beradalah dalam Samadhi senantiasa, jadilah seorang Yogi. Berani, senantiasa berupaya mempertahankan keseimbangan diri, kesadaran diri — sama dalam suka dan duka.

“Yoga-Yukta — berkelengkapan Yoga,” bersama Yoga; dalam Yoga, atau mengupayakan hidup dalam Yoga – jadilah Yoga-Yukta, biarlah Yoga mewarnai seluruh hidupmu!” Demikian nasihat Krsna.

 

Bhagavad Gita 8:28

“Demikian, seorang Yogi yang sadar akan Kebenaran Mutlak, niscaya mencapai Keadaan Tertinggi melebihi apa yang dapat dicapai lewat pendalaman kitab-kitab suci, tapa-brata, dan beramal saleh, atau berdana punia.” Bhagavad Gita 8:28

Bhagavad Gita 8:28

 

Gita adalah sebuah revolusi. Pesannya sangat revolusioner. Jika kita membacanya sekali saja, dan menghayatinya — maka jadilah kita seorang seperti Vivekananda, seperti Gandhi, seperti Soekarno!

JIKA GITA TIDAK MEMBAKAR SEMANGAT KITA – Dan, malah memisahkan kita dan kenyataan hidup, membuat kita menarik diri dari keramaian dunia dan menyepi di tengah hutan, maka kita belum membaca Gita, belum menghayatinya!

Gita mengajak kita untuk menjelajahi ruang semesta bebas dari segala macam sekat, tapi setelah itu Gita pun berseru supaya kebebasan yang kita raih itu digunakan untuk berkarya secara bebas.

Kebenaran Mutlak adalah Kebebasan Mutlak.

Menyadari kebenaran adalah menjadi bebas. Inilah tingkat Kesadaran Tertinggi yang tidak tercapai oleh tindakan lain mana pun. Setelah mencapai tingkat tertinggi inilah, manusia baru memahami kemanusiaan sekaligus keilahian dirinya. Kemanusiaannya membuat dia berempati dengan sesama makhluk sejagad raya. Keilahiannya mmembebaskan dia dari segala keterikatan.

Dikutip dari buku: (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

Om, Sarve bhavantu sukhinaḥ; Sarve santu nirāmayāḥ; Sarve bhadrāṇi paśyantu; Mā kashchit duḥkha bhāgbhavet; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

May all be prosperous and happy. May all be free from illness. May all see what is spiritually uplifting. May no one suffer. Om peace, peace, peace

Tautan terkait sebelumnya:

https://gitakehidupansepasangpejalan.wordpress.com/2016/02/05/renungan-gita-jalur-terang-dan-gelap-kebebasan-dan-kelahiran-kembali-abadi-adanya-apa-mau-kita/

 

 

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/

 

Banner utk di web

oec3Elearning-Banner-2 (1)