Gampang Tergoda untuk Mengulangi Kebiasaan Buruk Masa Lalu #Yoga #Patanjali

Kadang-kadang kita sudah merasa melangkah ke arah kesadaran. Kita sudah berbuat baik. Sebelum bertindak kita ingat golden rules, kalau saya melakukan ini terhadap orang lain, apakah saya suka bila orang lain melakukan hal ini terhadap saya?

Akan tetapi dalam kenyataannya, kadang-kadang kita mudah terseret kembali ke kebiasaan lama kita.

Ayat Patanjali I.18 dan I.19 akan menjelaskan mengapa kita mudah terseret kepada kebiasaan lama. Dan, bahkan obsesi untuk melakukan kebiasaan lama akan membuat kita lahir kembali……

Buku Yoga Sutra Patanjali

Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu: Saha vīryam karavāvahai;Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai.Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga Hyang Tunggal senantiasa melindungi kita; menjernihkan pikiran kita: semoga kita dapat berkarya bersama dengan penuh semangat; semoga apa yang kita pelajari mencerahkan dan tidak menyebabkan permusuhan; Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

Kesan-kesan dari masa lalu ini boleh diumpamakan sebagai file yang sudah di-delete, tapi belum musnah, masih ada di hard-disk, masih bisa di-retrieve. Retrievable file ini, walau tidak “se”-berbahaya file memori yang masih terpakai, tapi tidak aman-aman pula.

 

CONTOH LAIN. Hola sudah lama lepas, sudah bersih dari rokok, shabu, ganja, dan sebagainya. Tetapi, ketika ia mencium aroma tembakau atau daun ganja yang terbakar, “Wah aromanya sedap sekali!”

Berarti, ia masih memiliki retrievable file tentang memori sedapnya aroma tembakau dan ganja.

Sebaliknya, Bola yang memang tidak pernah dan tidak suka merokok, saat mencium aroma yang sama, memberikan komentar berbeda, “Bau apa ini, apa yang terbakar?!”

Hola dan Bola mencium aroma yang sama. Namun, komentar mereka sesuai clengan purva samskara mereka masing-masing. Hola punya pengalaman sebagai “pemakai” pada masa lalu, maka aroma itu diterjemahkannya sebagai “sedap”. Bola tidak punya pengalaman rnasa lalu, maka ia menerjemahkannya sebagai “bau bakar”—bahkan, “bakar apa” pun tidak bisa ditentukannya.

Dalam hal ini, Hola dengan bekas residu atau sisa impresi masa lalu “berpotensi” untuk tergoda dan mulai merokok lagi, “memakai” lagi. Sebaliknya, Bola yang tidak memiliki seperti itu, relatif lebih aman.

 

CELAKANYA, DALAM HAL KEBENDAAN, tidak seorang pun di antara kita yang bisa menyebut dirinya Bola, yang bisa menganggap berada dalam wilayah aman. Kita semua Hola. Kita semua belum aman. Wujud kita beda, jenis residu kita beda; tapi tidak ada seorang pun di antara kita yang tidak memiliki residu atau sesa dari purva samskara—impresi-impresi dari berbagai pengalaman pada masa lalu.

Ada yang memiliki kesan dan impresi merokok; ada yang memiliki kesan menyabu; ada yang punya pengalaman dengan scotch; ada yang pernah termabukkan, tergila-gila oleh harta; ada yang oleh takhta; ada yang oleh wanlta, pria, atau di antaranya; ada yang masih memiliki kesan berkeluarga pada masa lalu, sebaliknya, ada ‘pula yang punya kesan melarikan diri dari tanggung jawab dan menyepi di hutan.

Intinya, tidak seorang pun bisa menyebut dirinya sudah behas seperti Bola, dan berada dalam wilayah aman. Kita semua Hola, masih dalam zona bahaya, danger zone! Jadi, sudah melakoni hidup berkesadaran selama berapa tahun pun, kita mesti tetap menjaga diri.

Kita mesti tetap berniat kuat, dan berupaya terus-menerus untuk mengeliminasi kesan-kesan dari masa lalu tersebut. Retrievable files mesti dihapus untuk selamanya.

 

RETRIEVABLE FILES PURVA SAMSKARA hanya membutuhkan trigger kecil, pemicu berkekuatan rendah di luar, untuk muncul kembali ke permukaan.

Jadi, selain mengeliminasi files dari masa lalu, kita pun mesti pintar-pintar menjalani, melewati masa kini tanpa meninggalkan residu. Kita mesti hidup tanpa menyisakan sampah-kesan. Kalau tidak, maka sepanjang usia kita akan tersibukkan oleh upaya penghapusan files masa lalu, sembari menambah files masa kini yang kelak akan menantang dan mengganggu kita lagi.

Untuk itulah adanya teknik-teknik dalam Yoga, yang akan kita dalami sepanjang perjalanan kita lewat sutra-sutra ini. Pun, di bagian akhir buku ini, ada beberapa saran yang sudah teruji dan terbukti manfaatnya, dan dapat membantu Anda.

Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2015). Yoga Sutra Patanjali Bagi Orang Modern, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

………………

Kalau files yang harus dieliminasi belum tereliminasi maka kita pun akan lahir kembali.

“Kendati sudah videha, tidak berbadan, dan (elemen-elemen yang menciptakan badan pun sudah terurai serta) menyatu kembali dengan prakrti atau alam-benda—kehendak kuat untuk tetap hidup di dunia-benda bisa tersisa, dan menyebabkan terjadinya kelahiran ulang.” Yoga Sutra Patanjali I.19

 

Kehendak itu muncul dari purva samskara, dari residu kesan-kesan sepanjang hidup yang masih ada dalam gugusan pikiran serta perasaan.

 

BERARTI, SAAT KEMATIAN, hanya elemen-elemen alami kebendaan murni, seperti air, api, tanah, udara, dan subtansi eter dalam ruang saja yang terurai. Elemen-elemen halus, seperti mind, manah atau gugusan pikiran serta perasaan; ego atau ahamkara, dan sebagainya belum terurai. Mereka masih mengkristal, masih utuh—dan mereka inilah yang kemudian mencari badan baru untuk mengalami kehidupan-ulang.

Keadaan tersebut adalah keadaian umum. Biasanya demikian. Tidak selalu. Jika semasa hidup seseorang sudah bebas dari residu kesan dan pesan masa lalu, pun tiada lagi sesuatu yang dapat mengikat dirinya dengan alam benda, maka saat kematian fisik, bukan saja elemen-elemen alami seperti tanah, air, dan sebagainya yang terurai—mind, ego, intelek, semua ikut terurai. Tiada lagi sesuatu yang mengkristal.

Tiada kesan dan pesan; tiada ingatan atau obsesi; tiada niat untuk “berada” kembali di alam benda ini—maka, Jiwa Individu atau Jivatma menyatu dengan Sang Jiwa Agung, Paramatma.

Bagaimana mencapai keadaan itu?

Selesaikan semua pekerjaan sekarang, saat ini, dalam kehidupan ini juga. Jangan menyisakan pekerjaan rumah. Jangan menyisakan sesuatu yang bisa menjadi benih, bisa menjadi citta yang rentan terhadap vrtti, gejolak, fluktuasi, modifikasi; dan dapat memulai serangkaian pengalaman-pengalaman baru.

Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2015). Yoga Sutra Patanjali Bagi Orang Modern, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Om, Sarve bhavantu sukhinaḥ; Sarve santu nirāmayāḥ; Sarve bhadrāṇi paśyantu; Mā kashchit duḥkha bhāgbhavet; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga semua makmur, bahagia dan bebas dari penyakit. Semoga semua mengalami peningkatan kesadaran, dan bebas dari penderitaan. Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/

 

Kesalahan Kolektif Masyarakat Bisa Saja Mengundang Bencana? #YogaSutraPatanjali

Fenomena Alam

Kadang kita merasa begitu putus asa dengan kenyataan yang terjadi. Kebenaran tenggelam dalam konspirasi yang berada di luar kemampuan kita. Kita semua tidak bisa lepas dari tanggung jawab. Kita telah ikut menentukan para pemimpin kita. Kita juga diam dan seakan-akan membiarkan kebiasaan tidak baik merajalela. Yang belum kita sadari adalah bahwa keputusan kolektif masyarakat bisa menimbulkan letupan emosi kolektif. Dan letupan emosi kolektif bisa saja mengundang bencana?

Tulisan ini hanya sekadar renungan, bertujuan agar kita melakukan tindakan yang baik. Segala sesuatu yang kita perbuat harus dirasakan bagaimana seandainya kita sendiri mengalaminya (tepa-slira, rasa empati). Kalau kita tidak mau dianiaya orang ya jangan menganiaya orang. Karena segala sesuatu akan kembali kepada kita dengan adanya hukum sebab-akibat. Kalau masyarakat menganiaya seseorang, bisakah masing-masing anggota masyarakat menyadari bagaimana kalau dirinya dibegitukan?

………………

Sejak beberapa dasawarsa terakhir ini, sains – setidaknya beberapa ahli fisika dan ahli saraf – telah memasuki tahap pembenahan diri. Mereka mulai merasakan bahwa alam ini bukanlah suatu kecelakaan belaka. Ada inteligensia di balik segalanya!

Terjadi gempa bumi, tsunami, dan seorang saintis “orde lama” mengatakan, “semua ini karena lempengan-lempengan, bla bla bla”. Seorang tokoh kepercayaan “orde lama”, sebaliknya menganggap fenomena alam tersebut sebagai “Azab dari Tuhan. Gusti Pangeran marah!”

Manusia “orde baru” – Manusia Baru – yang memahami spiritualitas dan sains, berupaya untuk memahami misteri ini, “Memang ada lempengan-lempengan yang sedang bergerak, dan fenomena alam itu pula yang mengundang tsunami. Namun, sesungguhnya gerakan lempengan-lempengan tersebut tidak mesti, tidak harus, tidak selalu berakibatkan tsunami.”

Dan, ia mulai bertanya, “Ada apa sehingga gerakan lempengan-lempengan itu menyebabkan tsunami dan gempa bumi di wilayah tertentu, padahal ada juga wilayah lain yang memiliki potensi yang sama, tapi tidak terjadi sesuatu di sana. Kenapa, kenapa, kenapa?”

Kemudian segelintir saintis berwawasan lebih luas mulai bisa melihat hubungan yang erat antara nafsu, emosi, pikiran, dan perbuatan manusia yang dapat memengaruhi gerakan lempengan-lempengan tersebut sehingga bertabrakan, dan terjadilah kehancuran di mana-mana!

Kesimpulannya, gerakan lempengan-lempengan adalah fenomena alam – Tapi, tidak mesti terjadi gempa bumi, tidak mesti tsunami, tidak mesti menelan korban. Bencara alam terjadi bukan karena alam mengamuk tanpa dasar, tapi karena ada intervensi dari perbuatan, pikiran, dan perasan manusia sendiri. Mind over matter. Penjelasan Bhagavad Gita 9:1 dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

 

Bencana dapat dihindari?

Sekali lagi, renungan ini sekadar bertujuan agar kita melakuka hal yang baik, yang selaras dengan alam.

………………….

Dapatkah kita mempertahankan air pada 100 derajat celcius? Mustahil. Begitu mencapai 100 derajat celcius, air langsung menguap, mulai menguap. Emosi memiliki korelasi dengan air. Emosi dikendalikan oleh elemen air di dalam diri kita. Pun demikian di luar diri kita, di alam sekitar kita. Air laut, air sungai – semuanya adalah pusat-pusat emosi di dunia ini. Jika terjadi tsunami, maka alasannya bukanlah sekadar “fenomena” alam; dalam pengertian, “itu adalah sesuatu yang lumrah.” Tidak, tidak lumrah. Dapat dihindari.

Pasang-surutnya air laut adalah lumrah, namun memasangnya sedemikian rupa hingga menyebabkan musibah, bencana – tidak lumrah. Saat itu laut, air sedang mengamuk. Tentunya kita telah mengundang amukannya karena ulah kita sendiri. Penjelasan Bhagavad Gita 9:14 dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

Silakan simak penjelasan Yoga Sutra Patanjali mengenai hal-hal tersebut di bawah ini:

Cover buku Yoga Sutra Patanjali

Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu: Saha vīryam karavāvahai;Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai.Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga Hyang Tunggal senantiasa melindungi kita; menjernihkan pikiran kita: semoga kita dapat berkarya bersama dengan penuh semangat; semoga apa yang kita pelajari mencerahkan dan tidak menyebabkan permusuhan; Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

“Berkat Samyama (dharana atau kontemplasi; dhyana atau meditasi; dan menyadari atau memusatkan kesadaran) pada Cahaya Bulan atau Rembulan, seseorang meraih pengetahuan tentang konstelasi perbintangan.” Yoga Sutra Patanjali III.28

 

Terlepas dari ada atau tidaknya kehidupan di planet lain, di galaksi lain, yang jelas planet-planet itu sendiri merupakan organisme yang hidup. Alam semesta adalah sesuatu yang hidup. Dengan adanya kesadaran seperti itu, seorang Yogi menjadi manusia yang bertanggung jawab. Ia akan selalu memperhatikan ucapan, dan tindakannya.

 

SUPAYA KJTA SELALU INGAT, bahwa kehidupan di dunia ini adalah bagian dari suatu Matriks Kehidupan yang sangat precise – presisinya sungguh luar biasa.

Dengan merusak lingkungan, mencemari sumber air, dan sebagainya, kita tidak hanya mencelakakan planet bumi dan penghuninya—termasuk kita sendiri – ,tetapi juga mengganggu Matriks Kehidupan tersebut.

Meletusnya gunung, terjadinya tsunami, dan sebagainya bukanlah fenomena alam semata. Amukan alam dapat dihindari, atau setidaknya dapat diminimalkan, jika kita bekerja sama dengan alam, jika kita merawat bumi ini dengan penuh kasih.

Apalagi mengingat posisi kita yang tinggal di wilayah ring of fire atau cincin api. Letupan-letupan emosi kita, awalnya hanya memengaruhi hidup kita, relasi kita, dan orang lain yang berurusan dengan kita. Tetapi lambat laun, ketika letupan-letupan emosi itu berubah menjadi letupan kolektif, terjadilah bencana alam!

Setiap tindakan dan perbuatan kita memengaruhi alam sekitar kita. Ketika suatu masyarakat bertindak salah secara kolektif, maka konsekuensinya mesti ditanggung secara kolektif pula.

Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2015). Yoga Sutra Patanjali Bagi Orang Modern, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Semoga renungan ini mengingatkan kita untuk berbuat baik selaras dengan alam……

Om, Sarve bhavantu sukhinaḥ; Sarve santu nirāmayāḥ; Sarve bhadrāṇi paśyantu; Mā kashchit duḥkha bhāgbhavet; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga semua makmur, bahagia dan bebas dari penyakit. Semoga semua mengalami peningkatan kesadaran, dan bebas dari penderitaan. Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/

 

Om: Selaras dengan Semesta Hilangkan Segala Rintangan #YogaSutraPatanjali

Entah kita menerimanya atau tidak; entah kita menyadarinya atau tidak; entah kita mengetahui tentang ini atau tidak — sesungguhnya, adalah Om ini yang, dalam alam meditasi, membawa kita ke alam lain dan juga membawa kita kembali ke alam ini. Dan, adalah Om ini pula yang bisa membebaskan kita dari kelahiran dan kematian berulang. Adalah Om ini yang bisa membebaskan kita!

 

“Omkara ini juga dikenal sebagai Agni, Api — api teragung yang bisa membakar habis identitas-jiwa rendah, mind, dan juga kesadaran-badan.

“Demikian setelah menggunakan Api untuk membakar semuanya, seseorang membakar benih kelahiran di masa depan.” Tattva Sang Hyang Mahajnana 65

BERARTI, DEMIKIANLAH SESEORANG MENCAPAI PEMBEBASAN dari samsara, dari penyebab kelahiran kembali.

Nah, ini tidak bisa dipahami secara filosofis. Om haruslah melampaui mind kita, bahkan inteligensia kita, untuk bisa menuntun kita melampaui mereka.

Jadi, mencoba untuk memahami Om adalah upaya yang sia-sia. Seseorang harus “melakoni”-nya untuk terangkat. Seseorang harus mengalarninya sendiri. Ini bukanlah bahan diskusi, walaupun ya, jika kita tertarik untuk mendiskusikannya maka bisa terus mendiskusikannya sampai bermasa-masa kehidupan tanpa beranjak ke mana-mana.

 

“Sesungguhnya Omkara adalah ucapan teragung, tersuci di antara yang suci. Sebagai yang terhalus, Omkara menuntun pada nirvana — padamnya api nafsu.” Tattva Sang Hyang Mahajnana 66

SEDEMIKIAN DAHSYATNYA KEPERKASAAN API OMKARA, sehingga semua api lain – api nafsu, keserakahan, keterikatan, kemarahan, ego, dan lain-lain —terpadamkan olehnya.

Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2015). Dvipantara Yoga Sastra, Jakarta: Centre for Vedic and Dharmic Studies)

Berikut manfaat pengulangan Om untuk mengatasi segala rintangan dalam buku Yoga Sutra Patanjali:

Buku Yoga Sutra Patanjali

Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu: Saha vīryam karavāvahai;Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai.Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga Hyang Tunggal senantiasa melindungi kita; menjernihkan pikiran kita: semoga kita dapat berkarya bersama dengan penuh semangat; semoga apa yang kita pelajari mencerahkan dan tidak menyebabkan permusuhan; Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

“Rintangan-rintangan yang mengacaukan citta atau benih-pikiran adalah Vyadhi atau Penyakit; Styana atau Ketumpulan (Mental); Samsaya atau Kebimbangan, Keragu-raguan; Pramada atau Sifat Tidak Peduli, Kecerobohan yang muncul dari ego, mementingkan diri sendiri saja; Alasya atau Kemalasan; Avirati atau Keterlibatan dengan segala Kenikmatan Indra; Bhranti-Dharsana atau Pandangan yang Terkondisi/Salah, Kebingungan, Ilusi; Alabdha-Bhumikatva atau Tidak Membumi, tidak Realistis; dan Anavasthitatvani atau Ketidakstabilan.” Yoga Sutra Patanjali I.30

Itulah daftar panjang rintangan yang dihadapi setiap sadhaka, setiap pelaku spiritual. Bahkan, sesungguhnya dalam keseharian hidup pun, rintangan-rintangan seperti itu selalu muncul. Dalam hal ini, adalah sangat penting bahwa kita memahami maksud PatanjaIi.

SETIAP RINTANGAN TERSEBUT ADALAH TERKAIT DENGAN DIRI KITA SENDlRl. Berarti, tiada satu pun rintangan berarti dari luar diri. Tiada satu pun rintangan yang disebabkan oleh keadaan di luar.

Ya, kadang keadaan menguntungkan. Jalan kita mulus. Kadang, keadaan tidak menguntungkan, dan kesadaran-diri pun mesti menghadapi “tantangan” of-road. Bagi Patanjali, tantangan-tantangan eksternal tersebut tidak bisa disebut tantangan. Tantangan eksternal relatif mudah dihadapi. Adalah rintangan-rintangan yang disebabkan oleh diri kita sendiri yang agak sulit diatasi. Unluk itu solusi yang ditawarkan oleh Patanjali, barangkali terdengar terlalu simplistic, sangat sederhana.

“MASA IYA, DENGAN PENGULANGAN OM SAJA SEMUA ITU BISA TERATASI?” Bisa, sangat bisa. Bahkan, tiada solusi lain.

Ingat, Patanjali adalah seorang Saintis Jiwa. Ia tidak Asbun—tidak Asal Bunyi, tidak Asal Bicara. Solusi yang ditawarkan pun sangat ilmiah.

Om atau Resonansi yang tercipta dengan mengulangi Om secara terus-menerus dapat menyelaraskan lapisan-lapisan kesadaran kita dengan semesta. Pun, elemen-elemen di dalam tubuh ikut terselaraskan dengan elemen-elernen alam. Bayangkan, renungkan apa yang terjadi saat itu? Kita mendapatkan tambahan kekuatan dari semesta. Energi kita, kemampuan kita berlipat ganda dalam sekejap!

Selain itu, segala sesuatu di dalam alam ini, bahkan alam semesta ini terungkap, terciptakan dari Suara Awal. Jadi, tak terbayangkan betapa dahsyat resonansi Suara Awal tersebut. Tak terbayangkan betapa Kreatif Suara Awal tersebut sehingga dampak dari resonansi awal itu masih tetap terasa, masih tetap menciptakan galaksi-galaksi baru!

Maka, tidaklah keliru jika Patanjali menganjurkan pemanfaatan resonansi dari Om. Cobalah, dan buktikan sendiri!

Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2015). Yoga Sutra Patanjali Bagi Orang Modern, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

Catatan:

Setiap getaran yang dikeluarkan oleh Om atau Aum dapat membantu kita dalam hal penyelarasan diri dengan semesta, bahkan dengan Ia Hyang berada di balik semesta, Hyang Mahakuasa. Kenapa bisa yakin sedemikian rupa? Silakan diuji, dicoba. Ucapkan dengan cara yang betul sebanyak 21 kali setiap pagi antara jam 04.00-07.00 selama 3 bulan saja. Anda pasti merasakan tidak hanya fisik Anda menjadi lebih sehat; pikiran pun Iebih tajam, lebih jernih; dan, perasaan lebih tenang.

Om, Sarve bhavantu sukhinaḥ; Sarve santu nirāmayāḥ; Sarve bhadrāṇi paśyantu; Mā kashchit duḥkha bhāgbhavet; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga semua makmur, bahagia dan bebas dari penyakit. Semoga semua mengalami peningkatan kesadaran, dan bebas dari penderitaan. Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/

 

Pengulangan Desis Matahari Om untuk Mencapai Tujuan #YogaSutraPatanjali

Jika kita menggunakan “Desis Matahari” sebagai tolok ukur, Suara Om atau Aum itulah yang “terdekat”. Dalam hal ini, konteks ini, penggunaan “desis matahari” sebagai tolok ukur adalah karena matahari adalah Sumber Energi Kehidupan paling penting bagi kita semua, bagi planet bumi yang kita huni.

Banyak varian om atau aum—Alm (alif lam mim?….. penulis kutipan), Aom, Ang, Aung, Ahung, dan sebagainya. Setiap di antaranya adalah valid. Semua kembali pada pendengaran kita.

Kembali pada Om atau Aum. Setiap getaran yang dikeluarkan oleh Om atau Aum dapat membantu kita dalam hal penyelarasan diri dengan semesta, bahkan dengan Ia Hyang berada di balik semesta, Hyang Mahakuasa.

Kenapa bisa yakin sedemikian rupa? Silakan diuji, dicoba. Ucapkan dengan cara yang betul sebanyak 21 kali setiap pagi antara jam 04.00-07.00 selama 3 bulan saja. Anda pasti merasakan tidak hanya fisik Anda menjadi lebih sehat; pikiran pun Iebih tajam, lebih jernih; dan, perasaan lebih tenang.

Sedikit tambahan, berikut adalah kutipan dari salah satu buku kita terdahulu, yaitu Gayatri Shadana – Cinta  yang Mencerahkan: “Untuk mengakses semesta Anda tidak perlu menggunakan kata atau password yang panjang lebar, sekian digit, dan mesti terdiri dari sekian kata dan sekian angka. Tidak, tidak perlu semua itu. Cukup dengan ‘suara’—sabda singkat. Dan, semesta terbuka lebar dan luas bagi Anda.” Penjelasan Yoga Sutra Patanjali I.27 dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2015). Yoga Sutra Patanjali Bagi Orang Modern, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Berikut penjelasan Yoga Sutra Patanjali dengan mengulangi Om secara terus-menerus seseorang meraih tujuannya:

Buku Yoga Sutra Patanjali

Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu: Saha vīryam karavāvahai;Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai.Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga Hyang Tunggal senantiasa melindungi kita; menjernihkan pikiran kita: semoga kita dapat berkarya bersama dengan penuh semangat; semoga apa yang kita pelajari mencerahkan dan tidak menyebabkan permusuhan; Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

taj -japah tad-artha-bhavanam

“Dengan mengulangi-Nya (Om atau Aum) secara terus-menerus, seseorang meraih atau merealisasi makna atau tujuannya.” Yoga Sutra Patanjali I.28

Kiranya apa yang menjadi tujuan Anda ketika Anda memanggil nama saya? Atau sebaliknya, apa yang menjadi tujuan saya, jika memanggil nama Anda? Sekarang, bagaimana jika kita menggunakan rumusan yang sama pada penyebutan, atau

PENGULANGAN OM ATAU AUM SECARA TERUS-MENERUS? Dan kita tahu bahwa Om atau Aum adalah Ekspresi atau Ungkapan Verbal-Nya. Dalam pengertian, Inilah Nama-Nya!

Patanjali ingin mengingatkan kita bahwa dengan mengulangi Nama-Nya secara terus-menerus, kita tidak hanya menyapa dan menyadari hakikat-Nya, tetapi juga menyapa dan menyadari hakikat diri kita sendiri—hakikat kita sebagai Jiwa, yang sesungguhnya tak terpisahkan dari Sang Jiwa Agung.

Sutra ini bisa dimaknai dengan berbagai cara: Taj Japah berarti “Mengulangi-Nya”. Tad Artha berarti “Makna, Arti, atau Tujuan-Nya”. Terakhir, Bhavanam berarti “Menjadi, Mewujud, atau Merealisasi”.

Secara esoteris, makna yang lebih dalam lagi: Dengan mengulangi-nya (mengulangi Om atau Aum) secara terus-menerus, seseorang tidak sekadar merealisasikan makna-Nya, tetapi “menjadi-Nya”. Bagi mereka yang telah mengenal prinsip kemanunggalan, bagi mereka yang percaya pada prinsip tersebut, tentu tidak menjadi masalah. Namun, bagi mereka yang berprinsip dualitas, di mana matahari, cahaya, dan/atau sinarnya dianggap terpisah, maka makna terakhir ini agak sulit untuk dicerna. Tidak menjadi soal.

 

JIKA KITA MASIH BERPIHAK PADA PAHAM DUALITAS, maka kita dapat pula memaknai sutra ini sebagai berikut.

“Dengan mengulangi Om secara terus-menerus kita meraih tujuan dari pengulangan tersebut.” Nah, sekarang kembali pada diri kita sendiri, apa yang menjadi tujuan kita?

Jika kita tetap bertujuan untuk berpisah dari-Nya, tujuan itu yang tercapai. Jika tujuan kita adalah kemanunggalan, kemanunggalanlah yang kita realisasi.

 

tatah pratyak-cetanadhigamo’pyantaraya bhavas-ca

“Demikian, seseorang meraih Pratyak Cetana atau Kesadaran Jiwa, dan segala rintangan (untuk mencapainya) teratasi.” Yoga Sutra Patanjali I.29

Dengan mencapai Kesadaran Jiwa, maka tiada lagi kebingungan tentang jati diri, tentang kesejatian diri kita sebagai Jiwa yang Tak Terpisahkan dari Jiwa Agung.

Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2015). Yoga Sutra Patanjali Bagi Orang Modern, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Om, Sarve bhavantu sukhinaḥ; Sarve santu nirāmayāḥ; Sarve bhadrāṇi paśyantu; Mā kashchit duḥkha bhāgbhavet; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga semua makmur, bahagia dan bebas dari penyakit. Semoga semua mengalami peningkatan kesadaran, dan bebas dari penderitaan. Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/

 

Mutiara #Bhagavatam: Menunggu Giliran Kedatangan Utusan Dewa Yama

buku-bhagavatam-menghadap-yama

 

Pandangan jernih seorang Yogi

Seorang pemain film sebaik apa pun, jika persepsi kita tentang dia adalah “jelek”, maka kita hanya melihat kejelekannya. Sebaliknya, jika persepsi kita “baik”, maka seorang penari sejelek apa pun kita anggap baik.

Adalah seorang Yogi saja yang dapat melihat things as they are. Intuisi yang telah bekerja, tidak membuatnya memiliki indra keenam, ketujuh, atau keberapa—istilah-istilah seperti itu sungguh sangat tidak tepat, tiada satu pun yang memiliki indra keenam. Maket tubuh kita sudah ditentukan oleh keberadaan—pancaindra. Titik.

Seorang non-yogi tidak mampu melihat sesuatu tanpa intervensi persepsi yang sudah terbentuk. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2015). Yoga Sutra Patanjali Bagi Orang Modern, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Setiap orang lahir dengan genetik tertentu yang merupakan warisan dari orang tuanya. Kemudian dia memperoleh pelajaran dari orangtua, pendidikan dan lingkungan secara repetitif dan intensif.  Sehingga kebenaran yang dipunyainya adalah kebenaran dengan kerangka pengalaman dia. Apabila dia lahir di negeri berbeda, diasuh orang tua berbeda, pendidikan dan lingkungan yang berbeda, maka pandangan kebenaran yang dimilikinya juga berbeda. Persoalannya adalah bagaimana caranya meningkatkan kesadaran agar bisa melihat sesuatu dengan jernih tanpa dibebani persepsi yang telah terpola akibat conditioning masa lalu kita?

 

Belajar dari kisah-kisah Srimad Bhagavatam

Para pelaku kisah di Srimad Bhagavatam adalah para bhakta, panembah Gusti. Sehingga setelah paruh baya (bhaya pada kisah Puranjana dalam Srimad Bhagavatam berarti Cemas, Kecemasan) mereka melakukan vanaprastha, meninggalkan kerajaan dan pergi ke hutan, fokus pada Gusti menjelang datangnya kematian. Awam mulai cemas, setelah usia paruh baya, takut kematian mendekat, sedangkan para bhakta justru mulai fokus pada Gusti Pangeran.

Dalam kisah Ajamila, seorang brahmana yang taat, sebelum meninggal, hidupnya keluar dari rel dharma. Ajamila masih mempunyai anak kecil di usia 80-an. Pada saat para bhakta fokus pada Gusti Pangeran, Ajamila terfokus pada anak kecilnya. Akan tetapi, pada akhirnya Ajamila dengan dramatis kembali menjadi bhakta, panembah Gusti sampai maut datang menjemput.

Kami menulis Note, Catatan ini untuk mengingatkan diri kami sendiri, dan juga para pembaca murni yang tanpa melakoni sadhana, laku olah batin, yang merasa dengan memahami kisah-kisah Ilahi kita sudah lebih paham dan lebih cerah. Kisah Ilahi ini memang penuh hikmah, akan tetapi kadang otak kita bekerja terlalu cepat dan memudahkan permasalahan.

Misalkan kita tahu Korawa pasti kalah melawan Pandawa yang dibantu Krishna. Akan tetapi bila kita mengalami sendiri di zaman itu, belum tentu kita berpihak kepada Pandawa. Pandawa diasingkan selama 13 tahun. Bagaimana rasanya 13 tahun dikuasai Pemerintahan Korawa? Masihkah kita bertahan dalam kebaikan ketika adharma merajalela?

Kita membaca di Srimad Bhagavatam, saat dunia dikuasai Raja Vena keadaan kacau balau dan akhirnya Vena mati dan diganti Maharaja Prithu. Mungkin hanya 2 halaman tulisan dan sekali baca paham. Akan tetapi bagaimana kalau kita menjadi rakyat Vena dan mengalami kondisi adharma selama puluhan tahun? Sejak kita nikah sampai anak besar, mungkin sampai punya cucu, negara dalam keadaan kacau. Mungkinkah kita masih bertahan dalam kebaikan?

Sehingga adanya syarat untuk melakukan spiritual, kita harus hidup mandiri, mempunyai penghasilan tetap baru memperdalam spiritual, masuk logika. Mereka yang belum bekerja, masih menggantungkan kehidupan kita pada orangtua, mungkin merasa sudah bisa spiritual dengan mengabaikan dunia. Padahal kerja dan hidup mandiri, memperoleh penghasilan tetap itu sendiri sudah merupakan perjuangan tersendiri, tidak bisa disederhanakan.

Berikut ini catatan untuk introspeksi diri, sudahkah kita spiritual? Sampai tingkat kesadaran yang mana? Agar tidak menyederhanakan permasalahan……

 

Karakter spiritual sejak dini

Karakteristik para pemandu rohani sudah bisa dideteksi sejak usia dini. Baru-baru ini kami melakukan penelitian kecil-kecilan dengan melibatkan lebih dari 300 responden di Jakarta, Yogyakarta, Solo, Semarang, dan Bali.

Walau penelitian itu dilakukan di kota-kota tersebut, mereka yang terlibat sebagai responden mewakili Indonesia selengkapnya. Ada orang Bugis, ada Betawi, ada Batak, ada yang berasal dari Flores, Aceh, Minang, KaIimantan…. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak ada satu pun orang yang pada usia 5 hingga 10 tahun memikirkan spiritualitas. Tidak seorang pun.

Keadaan itu sudah cukup untuk membuktikan bahwa para Sadguru atau Pemandu Sejati memang bukan run of the millproduct, bukan produk pabrikan.

Seorang Pemandu Sejati, seorang Sadguru sudah menunjukkan sifat-sifat rohani sejak usia dini. Ia sudah memiliki visi yang jelas tentang apa yang hendak dilakukannya selama perlawatannya di dunia ini. Ia sudah mengantongi blueprint yang jelas tentang dunia yang akan dibangunnya. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2016). Soul Awareness, Menyingkap Rahasia Roh dan Reinkarnasi, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Sesuai penjelasan di atas, jelas kita belum memikirkan hal spiritual pada waktu kecil. Penjelasan di bawah memperjelas kondisi kita saat ini.

cover-buku-soul-awareness

Introspeksi Diri

Saya masih ingat pengalaman seorang yogi, seorang Samnyasi, yaitu Svami Ranganathananda dari Ordo Sri Ramakrishna yang berkunjung ke Indonesia sekitar akhir tahun 1950-an—awal 1960-an.

Sebagaimana kita tahu, Bung Karno, Bapak Bangsa kita, Bapak Republik Indonesia Modern, amat sangat mengagumi pandangan-pandangan Svami Vivekananda, murid Sri Ramakrishna. Maka beliau mengundang sang Svami ke istana. Menurut catatan-catatan dan jurnal sang Svami yang masih tersimpan rapi di pusat dokumentasi Ordo Ramakrishna, pertemuan dengan Bung Karno bukanlah sekali saja, tapi beberapa kali.

Saat itu, Bung Kamo menawarkan segala fasilitas dan bantuan supaya Ordo Ramakrishna membuka cabang di Indonesia. Sang Svami tidak langsung menerima tawaran itu dengan alasan beliau masih ingin mengunjungi Surabaya, pulau Bali, dan beberapa kota lain untuk memahami tabiat dan kebutuhan Manusia Indonesia, sebelum memutuskan membuka cabang.

Setelah berkeliling Indonesia selama beberapa bulan, ia memutuskan untuk menangguhkan pembukaan cabang hingga suatu waktu yang tepat. Pandangannya itu pun disampaikannya kepada Bung Karno.

Setelah pulang ke India, para svami lain dari Ordo Ramakrishna  mengkritisi keputusannya, “Seorang kepala negara bersedia memfasilitasi dan membantu, dan Svami, kamu menolak!?! Nggak salah?”

Sang Svami menjawab dengan tenang. By the way, cerita ini saya dengar dari seorang Svami Senior, Svami Tapasyananda sebelum beliau wafat. Kernbali pada jawaban Sang Svami, “Saya sudah berkeliling Indonesia, dan saya belum juga menemukan benih, bibit seorang samnyasi. Jika saya menemukan satu bibit saja, saya akan menerima tawaran Bapak Presiden. Tanpa bibit asli Indonesia, benih yang berasal dari Bumi Indonenesia, sekadar membuka cabang saja tidak berguna.” Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2015). Yoga Sutra Patanjali Bagi Orang Modern, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Dari kutipan buku di atas, maka kami pribadi memang jelas masuk dalam kriteria belum mengenal spiritual sejak dini. Walau menurut pandangan umum, karakter kami tidak jelek-jelek amat, tetapi kami sadar bahwa kami belum spiritual.

Kesadaran mulai muncul saat kami dan istri bergabung dengan Anand Ashram di usia setengah baya di tahun 2004. Selanjutnya, di tahun 2008, saat mempelajari buku Sanyas Dharma, kami baru lebih memahami tujuan hidup. Kami mulai intensif melakukan sadhana, baru sekitar tahun 2015 setelah mengikuti program Yoga sadhana. Tentu saja energi di usia 60-an tahun sudah tinggal sisa. Ditambah berbagai penyakit mulai berdatangan.

cover-buku-yoga-patanjali

Belajarlah Melakoni Spiritual Sebelum Usia 35 tahun

Hingga usia 35-40 tahun, mungkin mereka tidak mengerti arti kebahagiaan, dan menerjemahkan “kenyamanan” sebagai “kebahagiaan”. Setelah usia 35-40 tahun, umumnya mereka  baru tersadarkan bahwa Kenyamanan tidak sama dengan Kebahagiaan. Namun, saat itu pun mereka masih belum tahu cara untuk meraih kebahagiaan sejati. Adalah suatu berkah jika seorang yang sudah berusia 35-40 tahun masih sempat tersadarkan akan kesalahannya, dan mulai mencari kebahagiaan sejati. Biasanya, mereka hidup sebagai layangan yang putus – tanpa arah – bergantung pada arus angin. Demikian satu masa kehidupan tersia-siakan.

Dibutuhkan energi yang luar biasa untuk menarik diri dari pengaruh maya. Dan, energi sedahsyat itu adalah energi seorang pemuda, seorang pemudi di bawah usia 30-35 tahun. Energi semasa itu, energi hingga usia itu adalah energi keberanian, kepahlawanan. Energi yang membuat seorang berani mengambil resiko itu, tidak bertahan lama. Gunakan energi itu sekarang, dan saat ini juga, sebelum ia meredup! Dikutip dari buku: (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

Seorang sahabat yang ingin teman-teman aktif hadir di kelas Selasa Ananda’s Neo Self Empowerment di Jogja, sampai bilang takut kalau yang datang hari Jumat kalah dengan yang hari Selasa karena pada hari Selasa diputarkan video tentang penjelasan Bapak Anand Krishna yang tidak keluar di youtube.

Kami berdua berupaya, tetapi jujur memang kami mepunyai keterbatasan. Kami berdua yang berusia sekitar 60-an memang harus fit kedua-duanya. Salah satu nggak fit kami nggak bisa pergi. Juga kenyataan bahwa setiap pergi ke Jogja esoknya perlu recovery 1 hari karena pulang sudah malam dan menyetir kendaraan sendiri.

Yang kami syukuri adalah dengan adanya video youtube dan buku-buku Bapak Anand Krishna yang masih banyak yang perlu dipelajari dan dipraktekkan. Itu saja persiapan kami menunggu giliran kedatangan utusan Giam Lo Ong, Dewa Yama.

Istri kami setiap membersihkan rumput/tanaman di sela-sela paving atau menggosok paving dari lumut ataupun pekerjaan rumah lainnya, selalu melakukannya sambil merenung. Dan, kadang kami menghentikan pekerjaan cuci baju atau lainnya untuk mendalami perenungan yang kita peroleh.

Misalnya perenungan tentang seseorang yang menjadi dambaan setiap orang. Menjadi Pemimpin selama 2 periode. Punya 2 anak yang mestinya sukses. Kekayaan materinya sudah berlimpah. Mengapa dari berita di dunia maya masih belum juga tampak bahagia?

Tidak semua perenungan kami tulis. Belum tentu juga disampaikan pada waktu study circle seminggu sekali di Solo yang terbuka bagi para pembaca buku. Akan tetapi study circle tersebut bagi kami pribadi terasa sangat bermanfaat. Membahas Soul Awareness sekitar 2 bab sekali pertemuan memberikan tambahan pencerahan yang tadinya belum diperoleh. Ada hal-hal yang hanya kami berdua pahami yang juga belum tentu benar sebelum mendapat pengetahuan dari Guru.

16507904_607845372736503_4157403851028120712_n

Tat Tvam Asi: Masih Dualitas tapi Sudah Berlandaskan Kesadaran Sejati #YogaSutraPatanjali

 

cover-buku-yoga-sastra

Kita hidup, selama keberadaan ini ada — Dualitas tetap ada. Prinsip Dualitas adalah Prinsip yang Mengatur seluruh keberadaan. Tanpa dualitas Yang Mengalami dan Yang Dialami — tidak ada keberadaan. Keberadaan memberi “kesan keberadaan” karena persepsi kita. Jadi, dualitas tetap ada.

Namun, para bijak, para insan yang sadar “tidak terpengaruh” olehnya. Mereka senantiasa berada dalam keadaan Samadhi — keseimbangan sempurna. Ini adalah ideal Yoga untuk dicapai, untuk diupayakan. Inilah apa yang menjadi tujuan Yoga. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2015). Dvipantara Yoga Sastra, Jakarta: Centre for Vedic and Dharmic Studies)

Samprajnatah atau Kesadaran (yang masih belum sepenuhnya melampaui dualitas) adalah yang berlandaskan pada Vitarka utau Pertimbangan, Penilaian, dan Penyimpulan yang Tepat; Vicara atau Perenungan yang Tepat; Ananda atau Kebahagiaan Sejati yang bersumber dari diri sendiri, tidak tergantung pada sesuatu apa pun di luar diri; Asmita atau Kesadaran Aku yang Sejati (sebagai Jivatma atau Jiwa Individu atau Percikan Sinar Purusa atau Gugusan Jiwa, Hyang adalah bagian tidak terpisahkan dari Paramatma atau Jiwa Agung).” Yoga Sutra Patanjali I.17

Untuk itu, dualitas yang, sebut saja menjadi keharusan, mesti berlandaskan pada faktor-faktor di atas—setidaknya salah satu dari keempat faktor tersebut. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2015). Yoga Sutra Patanjali Bagi Orang Modern, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Berikut penjelasan Dualitas berlandaskan ananda dan asmita…….

 

Buku Yoga Sutra Patanjali

cover-buku-yoga-patanjali

Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu: Saha vīryam karavāvahai;Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai.Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga Hyang Tunggal senantiasa melindungi kita; menjernihkan pikiran kita: semoga kita dapat berkarya bersama dengan penuh semangat; semoga apa yang kita pelajari mencerahkan dan tidak menyebabkan permusuhan; Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

KETIGA, ANANDA ATAU KEBAHAGIAAN SEJATI. Kembali pada analogi “kerja sama” dengan seseorang—apakah kerja sama itu membahagiakan semata karena kebersamaan yang terjadi, atau karena hal lain, kepentingan lain, tujuan lain.

Misalnya dalam perkawinan, apakah kita saling membahagiakan tanpa ada ernbel-embel seks, mahar, dan sebagainya?

Hola yang sudah berusia di atas 60 tahun kawin dengan seorang gadis berusia 26 tahun. Begini ceritanya.

Hola menyaksikan gadis itu bergoyang dalam salah satu acara televisi, dan langsung jatuh hati.

Tapi, ia tahu diri, “Usiaku kan sudah 60-an. Dia masih 26.”

Bola, sang sahabat setia memanasi dia, “Usia bukan faktor penentu, Sohib. Yang penting cinta, suka sama suka. Kalau dia mau, why not?”

“Tapi, bagaimana pula dengan istri dan anak-anakku, yang usianya lebih tua daripada gadis itu?”

“Oh, Hola, Hola, mereka kan di Medan. Kau di Jakarta, tentu kau bisa atur. Berterus terang saja kepada gadis itu, aku yakin dia tetap mau.” Bola tetap menyemangati Hola, bahkan menawarkan diri menjadi mak comblang.

 

PENDEK CERITA, akhirnya Hola kawin juga dengan gadis berusia 26 tahun itu, namanya seseksi senyumannya, Stella!

“Jeng Stella, kau benar mencintai aku? Jangan sampai memaksakan diri lho. Kalau Jeng tidak setuju, tidak apa.” Hola tetap memastikan.

“Mas, aku sudah terlanjur jatuh hati, sudah cinta mati.”

Stella terdengar sangat yakin dan meyakinkan. Maka, perkawinan pun diadakan di ruang khusus salah satu hotel mewah, dihadiri puluhan relasi Hola dan teman-teman seprofesi Stella.

Celakanya, baru menikah tiga bulan, Hola yang waktu itu memiliki jabatan cukup tinggi, tertangkap basah menerima suap. Ia langsung ditahan.

Uang miliaran pun ludes dalam perkara suap-menyuap para pejabat korup yang berjanji “bisa bantu”—padahal semua janji kosong saja.

lstri di Medan yang sudah mendengar kisah asmara Hola dengan Stella, merasa perlu menyelamatkan diri dan anak-anaknya, dan minta cerai!

Singkat cerita, Hola dibui.

Rekening bank nol, tunggakan kartu kredit pun mencapai ratusan juta. Yang lebih sial lagi, lebih menyedihkan lagi, Stella tidak lagi datang menjenguk.

 

TERPAKSA, HOLA MINTA BANTUAN BOLA, yang pernah memakcomblanginya. “Kawanku, tinggal engkau saja yang kumiliki di dunia yang kejam ini. Tolong, sekali saja, bawalah Stella ke sini. Aku ingin mendengar dari dia langsung, apakah dia masih mencintai aku?”

Bola berhasil membujuk Stella. Datanglah Stella ke Bui Cipinang untuk menjenguk Hola.

“Stella, Stella-ku sayang, Stella-ku manis…katakan, kenapa kau pun meninggalkanku? Bukankah kau cinta aku?”

“Ya itu Mas, karena cinta terpaksa aku meninggalkan Mas,” jawab Stella dingin.

“Cinta, Jeng? Cinta macam apa pula ini?”

“Ya cinta, Mas. Sungguh mati cinta sama duitmu, jabatanmu, rumahmu yang seperti istana itu, mobil-mobilmu yang berjejer. Aku betul-betul cinta sama semua itu. Karena itu Mas, demi cintaku itu, aku mesti meninggalkan Mas.”

Stella masih berlanjut dengan kisah cintanya, sementara Hola kena serangan jantung, dan mampus! Kisah tamat.

 

SUKA SAMA SUKA berlanclaskan fulus bukanlah suka-ananda, bukanlah suka-kesadaran. Suka sama suka seperti itu berlandaskan materi belaka. Jadi, tidak masuk dalam kategori kesadaran dualitas berlandaskan ananda, apalagi samadhi!

Kesan ananda yang diperoleh Hola yang sudah tua renta, yang berusia 60-an—by the way, Hola hampir seusia dengan saya, beda tipis—adalah ananda tipuan, kebahagiaan palsu.

 

KEEMPAT, ASMITA atau Dualitas berlandaskan Kesadaran Sejati, kesadaran akan kesejatian diri.

Berarti Tat Tvam Asi—Dualitas berlandaskan kesadaran bila Aku adalah Kamu, dan Kamu adalah Aku. Dualitas berdasarkan kesadaran bila sesungguhnya Jiwa yang menerangimu dan yang menerangiku bersumber dari Hyang Tunggal, Tat atau Hyang Satu Itu! “Itu”-lah hakikat diriku, dan “Itu” pula hakikat dirimu.

Dalam kesadaran Tat—Itu—kita semua satu dan sama adanya.  Jika aku menyakitimu, sesungguhnya aku menyakiti diriku sendiri.

Kerja sama yang dijalin atas kesadaran seperti ini—walau masih dualitas—bisa disebut sustainable, bisa bertahan. Tidak bisa disebut “langgeng nan abadi” karena semua relasi juga adalah berlandaskan fisik, materi, kebendaan, dan terjadi di alam benda. Namun setidaknya, relasi seperti itu dapat menunjang evolusi jiwa. Misalnya, relasi sepertii itu dengan seorang Pemandu Rohani dan mereka yang sama-sama sedang melakoni Yoga sangat membantu. Jadi, janganlah mengejar cinta ala Hola-Stella.

Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2015). Yoga Sutra Patanjali Bagi Orang Modern, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Catatan:

Seseorang yang pikirannya terkendali lewat pola hidup berlandaskan Yoga; meditasi yang teratur; dan kesadarannya senantiasa terpusatkan pada Tuhan, pada Jiwa Agung – maka niscaya ia mencapai kemuliaan-Nya yang tak terhingga.” Bhagavad Gita 8:8

Sudahkah kita latihan meditasi dengan teratur?

Artikel terkait:

https://gitakehidupansepasangpejalan.wordpress.com/2017/02/05/4-macam-dualitas-yang-menunjang-kesadaran-yogasutrapatanjali/

 

Om, Sarve bhavantu sukhinaḥ; Sarve santu nirāmayāḥ; Sarve bhadrāṇi paśyantu; Mā kashchit duḥkha bhāgbhavet; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga semua makmur, bahagia dan bebas dari penyakit. Semoga semua mengalami peningkatan kesadaran, dan bebas dari penderitaan. Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/

 

banner-utk-di-web

oec1elearning-banner

4 Macam Dualitas Yang Menunjang Kesadaran #YogaSutraPatanjali

yoga-sutra-patanjali-4-kumaras

“4 orang Maharesi, yakni: Sanaka, Sananda, Sanatana, dan SanatKumara. Keempat “orang” yang disebut Maharesi itu adalah mewakili jenis pikiran manusia, empat cara pandang yang saling terkait, namun beda.

Sanaka mewakili cara pandang Dvaita atau Dualitas, bahwasanya ciptaan dan penciptaan adalah berbeda.

Sananda adalah cara pandang Visistadvaita, bahwasanya walaupun beda, ada hubungan antara Ciptaan dengan Hyang Maha Mencipta.

Sanatana adalah cara pandang Advaita atau Non-Dualitas bahwasanya Ciptaan dan Hyang Maha Mencipta tiada perbedaan apa-apa. Sementara itu yang terakhir,

Sanat-Kumara adalah cara pandang yang membenarkan ketiga-tiga cara pandang sebelumnya. Ya, tiga-tiganya benar – Tergantung pada tingkat kesadaran manusia dan juga waktu, tempat, dan situasi, dimana cara pandang yang satu bisa lebih applicable, lebih relevan daripada cara pandang lainnya.

Misalnya, saat kita ingin menasehati anak, dibutuhkan cara pandang kedua. Orangtua dan anak adalah beda, sehingga ada yang menerima nasehat dan ada yang memberinya. Namun, ketika anak itu sudah dewasa, sudah mengambil seluruh tanggung jawab dan menjadi kepala keluarga, maka cara pandang ketiga yang berlaku. Sementara itu, cara pandang pertama dibutuhkan ketika kita menghadapi seorang pekerja atau pembantu. Ini bukan diskriminasi, tetapi justru meletakkan peran masing-masing pada tempatnya dan secara proporsional. Penjelasan Bhagavad Gita 10:6 dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

Berikut pandangan Yoga Sutra Patanjali bahwa ada 4 macam dualitas yang masih menunjang kesadaran:

cover-buku-yoga-patanjali

Buku Yoga Sutra Patanjali

Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu: Saha vīryam karavāvahai;Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai.Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga Hyang Tunggal senantiasa melindungi kita; menjernihkan pikiran kita: semoga kita dapat berkarya bersama dengan penuh semangat; semoga apa yang kita pelajari mencerahkan dan tidak menyebabkan permusuhan; Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

Samprajnatah atau Kesadaran (yang masih belum sepenuhnya melampaui dualitas) adalah yang berlandaskan pada Vitarka utau Pertimbangan, Penilaian, dan Penyimpulan yang Tepat; Vicara atau Perenungan yang Tepat; Ananda atau Kebahagiaan Sejati yang bersumber dari diri sendiri, tidak tergantung pada sesuatu apa pun di luar diri; Asmita atau Kesadaran Aku yang Sejati (sebagai Jivatma atau Jiwa Individu atau Percikan Sinar Purusa atau Gugusan Jiwa, Hyang adalah bagian tidak terpisahkan dari Paramatma atau Jiwa Agung).” Yoga Sutra Patanjali I.17

 

Jika diperhatikan, dalam keadaan ini pun, dalam Kesadaran Sejati seperti ini pun, masih ada dualitas. Ada Dualitas antara “kita yang sadar dan “apa yang disadari”.

 

DUALITAS INI TIDAK BISA LANGSUNG TERLAMPAUI. Bahkan, setelah terlampaui pun-—ketika kita “turun lagi dari Keheningan atau Kasunyatan meditasi, dan berpijak lagi pada bumi”—maka dualitas murni atau visistadvaita tetaplah dibutuhkan untuk menjalani hidup ini. Menjalani hidup dengan penuh kesadaran.

Untuk itu, dualitas yang, sebut saja menjadi keharusan, mesti berlandaskan pada faktor-faktor di atas—setidaknya salah satu dari keempat faktor tersebut.

 

PERTAMA, DUALITAS BERLANDASKAN VITARKA atau Pertimbangan yang matang, penilaian yang cakap, dan penyimpulan yang tepat. Jadi, bukan sembarang dualitas.

Hendak bekerja sama dengan seseorang, jelas ada faktor dualitas yang bekerja, maka itu gunakan vitarka. Jangan asal bekerja sama. Memaksa diri untuk bekerja sama demi kepentingan pendek di depan mata; tanpa perhitungan, bukanlah keputusan yang sadar; bukanlah kerja sama yang baik.

Kerja sama mesti dijalin dengan mempertimbangkan segala aspek, termasuk kemungkinan-kemungkinan terburuk. Kerja sama mesti dijalin atas landasan kebersamaan, jangan sampai going London, looking Tokyo. Kerja sama “jereng” seperti itu bukan saja membahayakan pihak-pihak yang bekerja sama tapl juga mereka semua yang berhubungan dengannya.

 

KEDUA KESADARAN DUALITAS BERDASARKAN VICARA atau Perenungan yang dalam, perenungan yang tepat. Perenungan bukanlah berkhayal. Perenungan tidak sama dengan melamun. Perenungan adalah “berpikir dengan hati dengan nurani dengan sanubari”. Itulah vicara.

Dalam keadaan bimbang, saya menghadapi Guru saya, dan beliau mengatakan, “Vicara nahi(n) karne ka.” Saat itu, saya mengartikannya, “Jangan khawatir semua akan beres.”

Padahal, maksud beliau jauh leblh dalam daripada sekadar “Jangan khawatir” dan “Jangan berpikir banyak”. Beliau menghendaki supaya saya membebaskan Jiwa, membersihkan hati sanubari dari beban kekhawatiran, kegellsahan, pikiran yang bukan-bukan, dan sebagainya.

Kata Vicara memang memiliki makna yang sangat dalam. Vicara adalah kegiatan batin. Perenungan bukanlah kegiatan gugusan pikiran atau perasaan.

Lagi-lagi, jika kita mau “bekerja sama” atau katakanlah, mau “kawin”, mau “menjalin hubungan apa pun dengan orang lain”—mau menciptakan dualitas jenis apa saja—semestinya berlandaskan vicara, perenungan yang dalam.

Silakan ikuti 2 macam dualitas yang menunjang kesadaran berikutnya pada catatan selanjutnya………

Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2015). Yoga Sutra Patanjali Bagi Orang Modern, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Catatan:

Kami sudah melakukan penelitian dalam bidang ini. Dibantu oleh beberapa Dokter ahli di bidang mereka masing-masing, kami memang menemukan bahwa dalam keadaan meditatif, ada kelenjar-kelenjar yang menjadi aktif dan mengeluarkan hormon-hormon tertentu. Salah satu hormon, misalnya “Melatonin”, dapat membuat manusia sangat tenang dan tenteram. Dari buku Paramhansa Yogananda.

Sudahkah kita mulai latihan meditasi untuk memperoleh ketenangan dan ketenteraman?

 

Om, Sarve bhavantu sukhinaḥ; Sarve santu nirāmayāḥ; Sarve bhadrāṇi paśyantu; Mā kashchit duḥkha bhāgbhavet; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga semua makmur, bahagia dan bebas dari penyakit. Semoga semua mengalami peningkatan kesadaran, dan bebas dari penderitaan. Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/

 

banner-utk-di-web

oec1elearning-banner