Tidak Ingin Berulang Kali Lahir Kembali? Berkaryalah Tanpa Pamrih! #YogaSutraPatanjali

buku-yoga-sutra-patanjali-sepi-ing-pamrih

Sepi ing Pamrih Rame ing Gawe, Giat Berkarya tanpa Menanam Benih Kelahiran Kembali

Patanjali menekankan bahwa dhyana atau meditasi bukanlah duduk diam dan menjauhkan diri dari keramaian. Meditasi adalah “gaya kerja”—working style. Bekerja secara meditatif, hidup secara meditatif, itulah yang dimaksud. Bekerja dengan cara itulah yang tidak menyisakan residu, tidak ada ampas—tidak ada sesuatu tersisa yang bisa menjadi citta, bisa menjadi benih pikiran dan perasaan.

Bekerja secara meditatif, berarti bekerja tanpa ke-“aku”-an, bekerja tanpa pamrih, tanpa kepentingan diri. Penjelasan Yoga Sutra Patanjali IV.6

…………..

Sebaik-baik perbuatan kita, karma kita, jika masih ada setitik pun pamrih di baliknya, maka memunculkan vasana, obsesi, atau setidaknya keinginan untuk menikmati hasil dari perbuatan baik. Inilah yang kemudian—pada masa kehidupan berikutnya—-menjadi modal bawaan. Inilah modal kebiasaan dan kecenderungan; atau sifat bawaan.

Demikianlah, setiap karma—baik, buruk, atau di antaranya menghasilkan vasana, residu. Kecuali karma tanpa pamrih, Niskama Karma. Penjelasan Yoga Sutra Patanjali IV.8

……………..

Hidup cara Yogi berarti berkarya tanpa pamrih, berbagi berkah dengan mereka yang kurang beruntung. Hidup cara nonYogi berarti memikirkan diri sendiri saja, kepentingan diri, dan mengharapkan imbalan dari setiap perbuatan—mengharapkan kenikmatan atau kaveling di surga pun termasuk pamrih.

Pilihan ada di tangan kita.

Hidup sebagai Yogi berarti hidup tanpa ampas, tanpa residu, tanpa vasana, tanpa benih yang bisa menyebabkan kelahiran ulang. Atau hidup sebagai Non-Yogi, dan mengulangi pengalaman masa lalu. Meninggalkan residu, vasana, yang mempertahankan ke-aku-an diri sebagai manah, mind, gugusan pikiran serta perasaan, yang kemudian memunculkan citta sebagai benih untuk kelahiran ulang. Penjelasan Yoga Sutra Patanjali IV.8

 

Berikut penjelasan Yoga Sutra Patanjali I.19 tentang berkarya tanpa pamrih agar tidak terjadi kelahiran ulang:

Buku Yoga Sutra Patanjali

Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu: Saha vīryam karavāvahai;Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai.Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga Hyang Tunggal senantiasa melindungi kita; menjernihkan pikiran kita: semoga kita dapat berkarya bersama dengan penuh semangat; semoga apa yang kita pelajari mencerahkan dan tidak menyebabkan permusuhan; Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

“Kendati sudah videha, tidak berbadan, dan (elemen-elemen yang menciptakan badan pun sudah terurai serta) menyatu kembali dengan prakrti atau alam-benda—kehendak kuat untuk tetap hidup di dunia-benda bisa tersisa, dan menyebabkan terjadinya kelahiran ulang.” Yoga Sutra Patanjali I.19

 

Kehendak itu muncul dari purva samskara, dari residu kesan-kesan sepanjang hidup yang masih ada dalam gugusan pikiran serta perasaan.

 

BERARTI, SAAT KEMATIAN, hanya elemen-elemen alami kebendaan murni, sepeni air, api, tanah, udara, dan subtansi eter dalam ruang saja yang terurai. Elemen-elemen halus, seperti mind, manah atau gugusan pikiran serta perasaan; ego atau ahamkara, dan sebagainya belum terurai. Mereka masih mengkristal, masih utuh—dan mereka inilah yang kemudian mencari badan baru untuk mengalami kehidupan-ulang.

Keadaan tersebut adalah keadaian umum. Biasanya demikian. Tidak selalu. Jika semasa hidup seseorang sudah bebas dari residu kesan dan pesan masa lalu, pun tiada lagi sesuatu yang dapat mengikat dirinya dengan alam benda, maka saat kematian fisik, bukan saja elemen-elemen alami seperti tanah, air, dan sebagainya yang terurai—mind, ego, intelek, semua ikut terurai. Tiada lagi sesuatu yang mengkristal.

Tiada kesan dan pesan; tiada ingatan atau obsesi; tiada niat untuk “berada” kembali di alam benda ini—maka, Jiwa Individu atau Jivatma menyatu dengan Sang Jiwa Agung, Paramatma.

Bagaimana mencapai keadaan itu?

Selesaikan semua pekerjaan sekarang, saat ini, dalam kehidupan ini juga. Jangan menyisakan pekerjaan rumah. Jangan menyisakan sesuatu yang bisa menjadi benih, bisa menjadi citta yang rentan terhadap vrtti, gejolak, fluktuasi, modifikasi; dan dapat memulai serangkaian pengalaman-pengalaman baru.

Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2015). Yoga Sutra Patanjali Bagi Orang Modern, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Catatan:

“Melaksanakan setiap tugas kita, setiap pekerjaan kita dengan semangat panembahan” – itulah Karma-Yoga. Berarti tidak ada perpisahan antara tugas, kewajiban, pekerjaan, usaha, karir, dan latihan-latihan olah-batin. Tidak perlu meninggalkan keluarga untuk bermeditasi di dalam gua. Tidak perlu meinggalkan pekerjaan untuk bertapa-brata di tengah hutan. Kita dapat berkarya secara meditatif – dengan penuh perhatian dan kewaspadaan. Kita dapat mengabdi kepada Gusti Pangeran sambil berkarya, sambil menjalankan tugas kewajiban kita. Dari buku Karma Yoga

Sudahkah kita melakukan setiap pekerjaan dengan semangat panembahan?

 

Om, Sarve bhavantu sukhinaḥ; Sarve santu nirāmayāḥ; Sarve bhadrāṇi paśyantu; Mā kashchit duḥkha bhāgbhavet; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga semua makmur, bahagia dan bebas dari penyakit. Semoga semua mengalami peningkatan kesadaran, dan bebas dari penderitaan. Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/

 

 

Advertisements

Pelaku Yoga Tidak Terkena Karma? Pelaku yang Bagaimana?

buku-yoga-sutra-patanjali-pelaku-yoga

“Seseorang yang berkarya tanpa keinginan duniawi dan harapan akan imbalan, telah tersucikan seluruh karma, seluruh perbuatannya, oleh api kebijaksanaan sejati. Para pandit, mereka yang berpengetahuan pun menyebutnya seorang bijak.” Bhagavad Gita 4:19

Kuncinya adalah berkarya tanpa pamrih.Ketika seseorang berkarya dengan semangat demikian,maka sesungguhnya ia ‘tidak berkarya’, karena ia tidak tersentuh oleh konsekuensi dari perbuatannya. Itulah Akarma-karma………..

…………..

Bagaimana menetralisir dampak negatif dari karma kita?

Krsna menjawab: DENGAN KESADARAN SEJATI. .. Berkarya dengan penuh kesadaran, bahwa sesungguhnya Jiwa tidak tersentuh oleh akibat atau konsekuensi dari perbuatan apa pun. Ini sisi lain dari filsafat spiritual.  Sisi yang lebih umum adalah berkaryalah dengan penuh kesadaran bahwa sesungguhnya Tuhan Hyang Berkarya, kita hanyalah alat-Nya.

Kembali pada niat di balik pekerjaan — kedua-dua konsep ini mampu membebaskan kita dari dampak negatif perbuatan baik kita.” Dikutip dari penjelasan Bhagavad Gita 4:19 buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

Berikut penjelasan Yoga Sutra Patanjali tentang perbuatan yang bebas dari segala konsekuensi perbuatannya:

buku-yoga-sutra-patanjali

Cover buku Yoga Sutra Patanjali

Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu: Saha vīryam karavāvahai;Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai.Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga Hyang Tunggal senantiasa melindungi kita; menjernihkan pikiran kita: semoga kita dapat berkarya bersama dengan penuh semangat; semoga apa yang kita pelajari mencerahkan dan tidak menyebabkan permusuhan; Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

“Demikian, karma atau perbuatan seorang Yogi (yang dilakukannya secara meditatif) tidak putih, tidak pula hitam; sementara itu karma mereka yang tidak meditatif adalah tiga macam (hitam, putih, dan abu—berarti baik, buruk, dan di antaranya. Sehingga mereka mesti menanggung akibat dari setiap perbuatan mereka; tidak seperti seorang Yogi, yang bebas dari segala konsekuensi perbuatannya).” Yoga Sutra Patanjali IV.7

 

Adalah niat di balik suatu tindakan—tindakan apa saja—yang membedakan karma seorang Yogi dengan karma kita yang masih belum menjadi Yogi.

 

SEORANG YOGI BERKARYA TANPA PAMRIH, tanpa ke-aku-an, maka ia tidak menanggung konsekuensi dari perbuatannya. Dengan demikian, ia tidak menciptakan benih-benih baru yang bisa menjadi citta, bisa mengkristal menjadi manah, mind, atau gugusan pikiran dan perasaan.

Hukum Konsekuensi, Sebab-Akibat, Aksi-Reaksi, Karma, apa pun sebutannya menyangkut dunia-benda, alam-benda, kebendaan, prakrti. Jiwa tidak tersentuh olehnya. Sebagai Saksi atau Penonton, Jiwa tidak mesti tunduk pada disiplin panggung yang berlaku bagi para pemain. Hukum panggung berlaku bagi mind, manah, gugusan pikiran dan perasaan—tidak bagi Jiwa.

Seorang Yogi tidak menanggung akibat karma, sebab ia berada dalam Kesadaran Jiwa. Jadi bukan dengan sekadar melakukan berbagai latihan kemudian seseorang menjadi Yogi, kemudian terbebaskan dari Hukum Karma—tidak demikian. Seorang Yogi layak disebut Yogi, jika ia berkesadaran Jiwa. Jika belum, ia tidak layak disebut Yogi.

Sebagian di antara kita menganggap bahwa dengan melakukan beberapa asana setiap hari, dirinya sudah menjadi Yogi. Ada lagi yang beranggapan dengan membaca buku sepanjang hari, ia menjadi Yogi Itu pandangan-pandangan yang keliru. Seorang Yogi tidak bisa berada di antara tumpukan buku, tidak bisa juga dalam keadaan kaki di atas kepala di bawah sepanjang hari. Seorang Yogi berkarya, membanting tulang, berkeringatan, melakukan asana juga, baca buku juga—ia supersibuk dengan beragam kegiatan sepanjang hari. Ia menikmati semua itu. Ia melakukannya sebagai persembahan kepada Hyang Mahakuasa. Ia tidak mengharapkan imbalan apa pun. Kemudian, sesuai dengan jaminan Sri Krsna dalam Bhagavad Gita, segala kebutuhannya terpenuhi berkat anugerah, grace Hyang Mahakuasa.

Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2015). Yoga Sutra Patanjali Bagi Orang Modern, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Om, Sarve bhavantu sukhinaḥ; Sarve santu nirāmayāḥ; Sarve bhadrāṇi paśyantu; Mā kashchit duḥkha bhāgbhavet; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga semua makmur, bahagia dan bebas dari penyakit. Semoga semua mengalami peningkatan kesadaran, dan bebas dari penderitaan. Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/

 

banner-utk-di-web

oec4elearning-banner