Mengendalikan Mind untuk Mengendalikan Nafsu! Berikut Latihannya #Meditasi

Sebelum mengendalikan hawa nafsu kendalikan dulu pikiran dan perasaan

Krsna menjelaskan tahapan-tahapan dalam meditasi. Sebelum mengendalikan hawa nafsu – keinginan-keinginan duniawi dan kenikmatan indra — gugusan pikiran serta perasaan mesti terkendali terlebih dahulu.

Banyak kisah, banyak cerita tentang kegagalan mereka yang sudah berusaha mati-matian, tapi tetap gagal mengendalikan hawa nafsu, mengatasi godaan indra, dan sebagainya. Sebabnya adalah, gugusan pikiran serta perasaan mereka (mind) belum terkendali.

Para rahib yang menjadi pedofil; para pemimpin yang tidak mampu mengendalikan hawa-nafsu; para pendeta dan tokoh masyarakat yang terlibat dalam tindakan-tindakan asosial; para politisi, pejabat, dan wakil rakyat korup yang tergiur oleh gratifikasi seks – banyak cerita, banyak kisah. Karena belum meditatif, mereka tidak bisa melaksanakan tugas mereka dengan baik.

Mind dulu — gugusan pikiran dan perasaan dulu — setelah itu terkendali, barulah mengurusi badan, indra, keinginan-keinginan, hawa-nafsu, dan lain-lain.

Mereka yang tidak memahami hal ini, dan tidak bisa mengendalikan hawa-nafsunya, nafsu-birahinya — memproyeksikan ketidakmampuannya di atas Kanvas Kehidupan. Ia berpikir setiap orang adalah sama seperti dirinya. Bahwasanya, tidak seorang pun mampu mengendalikan syahwatnya.

Ini adalah cara berpikir yang keliru.

Karena saya lemah, tidak berarti setiap orang lemah. Nafsu bisa dikendalikan, tapi mesti mengikuti tahapannya — secara urut, teratur. Mind dulu, baru passion — gugusan pikiran dan perasaan dulu, baru nafsu. Penjelasan Bhagavad Gita 6:24 dikutip dari buku: (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

Persoalannya adalah bagaimana cara mengendalikan mind?

 

Mengendalikan Mind yang Cenderung Liar

Gugusan Pikiran serta Perasaan atau Mind Ibarat Seekor Kera. Ia memang tidak bisa duduk diam. Mustahil Anda bisa mendisiplinkan seekor kera untuk duduk diam selama 10 menit saja. Ya, jika Anda melatihnya untuk menari dan meniru gerak-gerik Anda—seperti yang dilakukan oleh para pelatih topeng monyet—ia akan melakukannya dengan senang hati asal ada imbalannyal

Jadi, istilah-istilah atau frasa-rasa seperti “mengosongkan pikiran”, “jangan memikirkan sesuatu”, dan sebagainya, muncul dari mereka yang sesungguhnya tidak mengetahui cara kerja mind.

Mustahil mengosongkan pikiran, lebih mudah menyibukkannya. Menyibukkannya sedemikian rupa hingga ia kewalahan. Ia capek, lelah,dan “menjadi” diam secara alami.

Itulah sebab kita memberikan tugas memperhatikan napas kepada mind. Hingga, pada suatu saat ia kelelahan sendiri. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2016). Soul Awareness, Menyingkap Rahasia Roh dan Reinkarnasi, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Membudayakan Pikiran & Peningkatan Kesadaran (Mind Culturing & Self Awareness Meditation)

MIND DAN NAPAS ibarat dua ujung batang bambu. Pegang yang satu, dan yang kedua terpegang dengan sendirinya. Setiap orang yang hendak memasuki alam meditasi dengan mengosongkan pikiran, ibarat memegang bambu dari sisi mind atau gugusan pikiran dan perasaan. Hal ini sangat sulit, karena sebagaimana kita lihat sebelumnya, mind tidak segampang itu terpegang, apalagi dikosongkan.

 

LEBIH MUDAH BEKERJA DENGAN NAPAS. Semakin perlahan napas, semakin jernih kita dapat rnelihat apa saja yang ada di dalam mind atau gugusan pikiran dan perasaan.

Setiap pikiran, setiap perasaan—setiap thought dan emotion—mulai terdeteksi sebagai satuan. Demikian pula dengan unit-unit Iain berupa obsesi, khayalan, impian, imajinasi, dan sebagainya.

Demikian, terciptalah jurang-jurang keciI—spasi-spasi kecil—antara satu pikiran, satu perasaan, dengan pikiran yang lain, pcrasaan yang lain.

 

DAN MIND MULAI MELEMAH. Tidak terjadi kristalisasi pikiran dan perasaan—itulah saat meditasi terjadi, dan mind mulai bertransformasi menjadi buddhi, inteligensi, kesadaran.

Selanjutnya, seperti seorang petani yang sudah menanam benih, sudah memupuki dan mengairi sawahnya dengan baik, musim pun sudah berpihak padanya, maka tinggal menunggu panen saja.

Tinggal rnenunggu quantum leap yang dapat terjadi setiap saat. Kita memasuki alam kesadaran murni, dan clapat merasakan rasa terdalam, rasa di atas segala rasa, rasa yang bukanlah sama seperti perasaan atau emosi—yakni ananda, bliss, kebahagiaan sejati, langgeng, abadi.

 

DALAM LATIHAN BERIKUT, walaupun berfokus pada transformasi mind (Lapisan Ketiga dan Keempat), kita tetap mengolah lapisan pertama terkait dengan fisik, dan lapisan kedua terkait dengan prana atau aliran kehidupan.

Sekali lagi, kesehatan bagi kita adalah kesehatan total, sempurna, holistis, sehingga setiap lapisan kesadaran harus diolah. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2016). Ananda’s Neo Self Empowerment, Seni Memberdaya Diri bagi Orang Modern, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Mereka yang sudah terbiasa latihan Ananda’s Neo Self Empowerment di Anand Ashram sudah memahami bagaimana cara melakukan latihan ini. Tinggal melakukan latihan secara rutin agar mind bisa terkendalikan  dan hasilnya sungguh dahsyat. Demikian menurut pengalaman kami……

Advertisements

#Reinkarnasi: Hidup untuk Melakoni Rehabilitasi dan Pengembangan Diri

buku-soul-awareness-sekolah-kehidupan

Hidup bukan sekadar menjalani hukuman akibat karma kehidupan masa lalu

“Dunia ini ibarat pusat rehabilitasi, dimana setiap jiwa sedang mengalami program pembersihan, pelurusan, atau apa saja sebutannya. Keberadaan kita di dunia ini semata untuk menjalani program yang paling cocok bagi pembersihan dan pengembangan jiwa.

“Kecocokan program pun sudah dipastikan oleh Keberadaan dengan melahirkan kita dalam keluarga tertentu, di negara tertentu, ditambah dengan berbagai kemudahan lainnya, termasuk lingkungan kita, para sahabat, anggota keluarga dan kerabat kita, maupun lawan atau musuh kita.

“Berbagai rintangan, tantangan, kesulitan, dan persoalan yang kita hadapi dimaksudkan demi pembersihan jiwa dan pengembangan jiwa kita sendiri, karena itu, mencari kesalahan dan menyalahkan orang lain atas kejadian-kejadian yang menimpa diri kita adalah dosa. Silahkan berupaya untuk keluar dari masalah, untuk menyelesaikan perkara, tetapi bukan dengan mencari kambing hitam, bukan dengan cara menyalahkan orang lain.” Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2006). Five Steps To Awareness, 40 Kebiasaan Orang Yang Tercerahkan, karya terakhir Mahaguru Shankara “Saadhanaa Panchakam”, Saduran & Ulasan dalam Bahasa Indonesia. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Bapak Anand Krishna juga memberikan perumpamaan bahwa hidup ini adalah tempat belajar untuk mengembangkan diri sebagaimana tersebut di bawah ini:

buku-soul-awareness

Cover Buku Soul Awareness

Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu: Saha vīryam karavāvahai;Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai.Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga Hyang Tunggal senantiasa melindungi kita; menjernihkan pikiran kita: semoga kita dapat berkarya bersama dengan penuh semangat; semoga apa yang kita pelajari mencerahkan dan tidak menyebabkan permusuhan; Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

Kehidupan Anda membuktikan bahwa masih ada sesuatu yang harus Anda pelajari. Masih ada keinginan-keinginan yang harus dipenuhi. Masih ada obsesi-obsesi yang harus dilampaui. Jujurlah dengan diri Anda sendiri. Jangan membohongi diri. Anda berada di sini untuk mengurus diri sendiri. Perkawinan Anda, putra-putri Anda, hubungan kerja Anda, segala sesuatu yang sedang Anda lakukan, sedang Anda alami, semua demi perkembangan diri sendiri. Jangan lupa hal itu.

 

Yang Penting adalah Kebebasan Anda. Jangan terikat pada siapa atau apa pun. Begitu sadar bahwa dalam hidup ini kita harus belajar sesuatu, kita akan mempelajarinya dengan baik, namun kita tidak akan terikat pada sesuatu apa pun. Kita tidak akan terikat pada bangku yang kita duduki, kita tidak terikat pada bangunan sekolah. Kita tidak terikat pada guru yang mengajar kita. Kita pergi ke sekolah untuk belajar. Selesai belajar, kita pulang. Demikian pula dengan kehidupan ini: Selesai belajar kita pulang.

Tetapi apa yang terjadi selama ini? Kita melupakan pelajaran, kita malah terikat pada sarana-sarana penunjang yang disediakan oleh alam. Kita terikat pada rumah kita, pekerjaan kita, istri kita, suami kita, keluarga kita, kepercayaan kita, ideologi-ideologi kita. Semua itu hanya sarana penunjang, sarana-sarana pendidikan. Gunakan, tetapi jangan terikat pada mereka.

 

Keterikatan Kita Membuat Kita Gagal mempelajari mata pelajaran yang harus kita pelajari. Itu menyebabkan kelahiran kita kembali. Kira lahir dan mati, dan lahir, dan mati berulang kali, kadang kala hanya untuk mempelajari satu mata pelajaran. Kita sedang lari di tempat.

Hampir setiap kali kita mengalami kelahiran dalam lingkungan yang sama dan itu-itu juga. Kita lahir dalam keluarga yang sama. Yang dulu jadi istri, sekarang jadi ibu. Yang dulu jadi anak, sekarang jadi istri. Yang dulu jadi sahabat, sekarang jadi ayah. Yang sekarang jadi suami, dulunya kakak. Kita tidak pernah bebas dari lingkungan yang sempit ini. Bahkan, mereka yang memusuhi kita pun, umumnya, orang-orang yang sama pula. Dari dulu demikian, sekarang pun masih seperti itu. Peran kita berubah-ubah, tetapi tema sentralnya masih sama. Sesungguhnya, kita mengulang cerita yang sama, dengan sedikit variasi di sana-sini.

Manfaatkan kelahiran ini untuk menyadarkan diri bahwa ada mata pelajaran yang harus Anda pelajari. Jangan buang waktu untuk mengagung-agungkan sarana-sarana yang Anda miliki, termasuk kepercayaan-kepercayaan Anda, ideologi-ideologi yang Anda percayai.

Semua itu hanyalah sarana pendidikan. Gunakan semua itu tapi jangan lupa bahwa yang harus bekerja adalah Anda sendiri. Perjalanan ini harus dimulai dan langkah pertama harus diambil. Jangan lari di tempat. Lébih baik berjalan—walaupun perlahan—daripada lari di tempat.

Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2016). Soul Awareness, Menyingkap Rahasia Roh dan Reinkarnasi, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

Om, Sarve bhavantu sukhinaḥ; Sarve santu nirāmayāḥ; Sarve bhadrāṇi paśyantu; Mā kashchit duḥkha bhāgbhavet; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga semua makmur, bahagia dan bebas dari penyakit. Semoga semua mengalami peningkatan kesadaran, dan bebas dari penderitaan. Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/

 

banner-utk-di-web

oec4elearning-banner

Mengikuti Pikiran atau #SuaraHati?

buku-soul-awareness-ngefans-artist-atau-ngefans-jiwa

“Ketika pikiran kita tergoda untuk berbuat sesuatu yang ‘tidak tepat’; hati pun terbawa oleh nafsu; tapi, kita tetap ‘tidak’ melakukan hal itu; karena ada kekuatan lain yang mengatakan ‘tidak, itu tidak tepat’ — maka, ketahuilah bila kekuatan itulah kekuatan ‘diri’ kita yang sejati. Itulah nurani, itulah jiwa! Jiwa tahu persis ‘pengalaman’ apa yang hendak di ‘lewati’ nya, maka ia memandu kita — badan, indra, pikiran serta perasaan — untuk melewati pengalaman yang spesifik itu. Kita sudah sering mendengarkan dan mengikuti panduan Jiwa, lagi-lagi, hanya saja, belum selalu, belum sepenuhnya, belum 24/7.

“Bagaimana menyelaraskan lapisan fisik, mental/emosional, dan inteligensia kita dengan kehendak Jiwa? Dengan berlatih diri, dengan menumbuh-kembangkan keyakinan pada tuntunan Jiwa, dengan secara terus-menerus ngefans pada Jiwa, dan tidak ngefans pada tuntutan badan dan indra.

“Bhakti, devosi, panembahan – terjemahkan, artikan semua kata itu sebagai ‘ngefans’. Ketika kita ‘ngefans’ pada seorang penyanyi atau pemain sinetron, sesungguhnya kita sudah berbhakti padanya. Sekarang, mari ngefanslah pada diri sendiri, pada Jiwa. Mari meyakini kebijakan Jiwa. Dan, kita .menjadi’ Krsna — Oops, salah – tidak menjadi, tapi ‘menemukan’ Krsna di dalam diri, yang sesungguhnya sudah lama menantikan perhatian kita. Saat itu, kesadaran jasmani dan indrawi serta gugusan pikiran dan perasaan (mind) — semuanya menjadi alat untuk digunakan sewaktu kita membutuhkannya. Kita tidak lagi diperalat olehnya.” Demikian penjelasan Bhagavad Gita 7:26 dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

Demikian penjelasan suara nurani dalam Bhagavad Gita. Berikut penjelasan antara nurani/suara hati, suara mind dan suara insting manusia dalam buku Soul Awareness:

buku-soul-awareness

Cover Buku Soul Awareness

Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu: Saha vīryam karavāvahai;Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai.Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga Hyang Tunggal senantiasa melindungi kita; menjernihkan pikiran kita: semoga kita dapat berkarya bersama dengan penuh semangat; semoga apa yang kita pelajari mencerahkan dan tidak menyebabkan permusuhan; Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

Sahabat: Pak, dalam situasi tertentu, apakah bisa mind mengatakan begini, dan suara nurani mengatakan begitu? Maksudnya, apa yang dikatakan oleh mind bertolak belakang dengan apa yang dikalakan oleh hati nurani.

 

AK: Bisa saja, dan itulah yang sering terjadi. Itulah penyebab konflik yang terjadi dalam diri kita.

Suara mind tidak jauh Iebih baik daripada suara insting, dan insting kita sama dengan insting hewani. Urusannya makan, minum, tidur, kenyamanan, seks, dan survival—pertahanan diri. BoIak-balik itu saja.

Orang miskin maupun kaya raya; seorang pengusaha, pejabat, profesional, atau bahkan seorang pelacur, urusannya itu-itu saja. Ada yang melacurkan diri—dalam pengertian, melacurkan badannya—ada yang melacurkan batinnya.

Insting hewani berkepentingan dengan dirinya sendiri. Itu yang terutama. Sepenuhnya berada di bawah insting hewani, seseorang bisa saja tampak peduli terhadap keluarga, kerabat, atau siapa saja yang dekat dengannya—termasuk institusi, ideologi tertentu, dan sebagainya.

Ruang geraknya sebatas: aku, punyaku, milikku, itu saja. Ia tidak bisa keluar dari lingkaran tersebut.

Sementara itu, jiwa berada dalam ruang tanpa batas. Semesta adalah miliknya, dan ia adalah milik semesta. Berada dalam ruang inilah, kemanusiaan kita bisa berkembang dan berbuah menjadi keilahian dan kemuliaan.

Saya pernah membaca: “Seseorang yang tidak lagi terpengaruh oleh insting hewani tidak bisa membenci. Bahkan, ia tetap mencintai orang yang memusuhi dan telah menyerangnya berulang kali.”

Tidak berarti “sleeping with the enemy”.

Tidak perlu sleeping with the enemy. Tidak perlu membuka usaha atau rekening baru dengan mereka yang jelas-jelas memiliki sifat raksasa. Namanya juga raksasa, kalau tidak bersifat seperti raksasa, bersifat seperti apa pula? Tidak perlu berurusan dengan mereka, tetapi tidak perlu membenci mereka pula.

Seperti itulah sifat seseorang yang telah mendengarkan suara hatinya, seseorang yang sudah tercerahkan, tersadarkan!

 

Sahabat: Pak, bagaimana tentang prosesnya? Ketika suara hati sudah mulai terdengar, apakah suara mind sudah tidak terdengar lagi?

 

AK: Idealnya demikian, pada suatu ketika pasti demikian. Namun, butuh waktu untuk mencapai kondisi ideal itu. Tidak secepat membalikkan tangan. Awalnya, mind memberikan parlawanan sengit, dahsyat. Ia ingin tetap berkuasa.

Saat itu, dibutuhkan kekuatan diri yang luar biasa untuk tidak mendengarkan suara mind, tetapi mengikuti kata hati, suara hati. Dengan demikian, sedikit demi sedikit, suara mind akan mengalami regresi, suara mind mulai mengendap… dan, suara nurani, kata hati mulai berkuasa.

Suara mind penuh keraguan, tiada kepastian, selalu bimbang namun memberikan kesan seolah mengetahui segalanya. Keras kepala “bodoh” adalah ciri khas seseorang yang sepenuhnya di bawah pengaruh mind.

Sementara itu, hati nurani selalu pasti, tidak pernah ragu. Ia tahu, maka ia tidak perlu bersikeras untuk mempertahankan sesuatu. Ia tidak perlu berkeras kepala. Bahkan, ia bisa mengalah walau tidak perlu. Mengalah untuk memberi kita waktu untuk memahami maksudnya.

Suara nurani selalu menggunakan kata-kata yang penuh dengan semangat, dengan encouragement. Dalam keadaan segenting apa pun, ia selalu teguh, bersemangat dan memberi, menyebar semangat. Tidak demikian dengan mind.

Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2005). Fengshui Awareness Rahasia Ilmu Kuno bagi  Manusia Modern. One Earth Media)

Om, Sarve bhavantu sukhinaḥ; Sarve santu nirāmayāḥ; Sarve bhadrāṇi paśyantu; Mā kashchit duḥkha bhāgbhavet; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga semua makmur, bahagia dan bebas dari penyakit. Semoga semua mengalami peningkatan kesadaran, dan bebas dari penderitaan. Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/

 

banner-utk-di-web

oec4elearning-banner

Seperti Nabi Ibrahim Kita Juga Diberi Pilihan, Jalan Tuhan atau Keterikatan Anak?

buku-soul-awareness-nabi-ibrahim

“Api keinginan, api keterikatan, api keserakahan, api ketidaktahuan, api ketidaksadaran entah berapa ‘jenis’ api yang tersimpan di dalam diri manusia. Atau mungkin semuanya itu hanyalah ekspresi dari satu jenis api yaitu api ke-‘aku’-an. Ego manusia.

“Nabi Ibrahim membiarkan ke-‘aku’-annya terbakar habis oleh api itu sendiri. Dia berhasil menaklukkan egonya, sehingga atas perintah Allah dia bersedia mengorbankan anaknya. Dalam kisah ini, anak mewakili ‘keterikatan’. Dan ketika Ibrahim berhasil membebaskan diri dari keterikatan itu, dia menjadi manusia api. Siapa pun yang mendekatinya akan terbakar.

“Demikianlah para nabi, para wali, para pir, para mursyid, para avatar, para buddha, para mesias, para guru, para master. Bersahabatlah dengan mereka, sehingga anda pun terbebaskan dari keterikatan.” Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2001). Masnawi Buku Keempat, Bersama Jalaluddin Rumi Mabuk Kasih Allah. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Bahasa sederhananya, kita disuruh memilih: Jalan Tuhan atau keterikatan anak? Dan itu tergantung seberapa tinggi kesadaran kita. Silakan simak penjelasan buku Soul Awareness tentang keterikatan pada anak yang dapat menjatuhkan kesadaran kita:

buku-soul-awareness

Cover Buku Soul Awareness

Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu: Saha vīryam karavāvahai;Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai.Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga Hyang Tunggal senantiasa melindungi kita; menjernihkan pikiran kita: semoga kita dapat berkarya bersama dengan penuh semangat; semoga apa yang kita pelajari mencerahkan dan tidak menyebabkan permusuhan; Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

Disampaikan sebelumnya, bahwa beberapa orang sesungguhnya sudah berada pada suatu level, suatu tingkat yang cukup tinggi—ini urusannya dengan kehidupan masa lalu–, kemudian dalam kehidupan ini, ia tinggal melanjutkan perjalanannya. Sudah melanjutkan, tetapi tertarik ke bawah lagi. Persis seperti dalam permainan ular tangga. Sudah berada di kotak 99, dipatok ular, jatuh lagi ke kotak pertama.

 

Sahabat: Alasan utama kejatuhan kita itu apa, Pak? Apa tidak bisa dihindari?

AK: Alasannya bisa apa saja.

Banyak alasan, tetapi pemicunya ada beberapa, dan pemicu utama adalah bad company, pergaulan yang tidak menunjang. Kita butuh support group, butuh satsang, butuh good company supaya tidak terpengaruh oleh bad company.

Segala kelemahan, kekurangajaran, kebajingan, kejahatan, bahkan kehewanian dari masa lalu itu masih tetap ada dalam diri kita. Persis seperti file yang sudah di-delete, tidak mudah dibuka. Namun bagi seorang ahli komputer, apalagi seorang hacker, mudah untuk me-retrieve-nya kembali.

Bad company adalah company para hackers. Mereka yang masih berada di bawah pengaruh kehewanian diri mereka sendiri. Berada di tengah mereka saja sudah cukup untuk memancing files lama kehewanian diri kita untuk muncul lagi ke permukaan. Sangat berbahaya.

 

Sahabat: Susah juga ya, Pak. Apalagi kalau bad company itu datang dari keluarga sendiri, kalau justru keluarga terdekat yang tidak menunjang peningkatan kesadaran kita.

AK: Memang itu yang menjadi tantangan terberat. Kalau ditelusuri lagi, dibedah lagi, dikerucutkan lagi—di antara kawan, kerabat, dan keluarga—, pengaruh yang paling berbahaya adalah dari anak kita sendiri.

Coba dipikirkan, saat anak kita lahir, kesadaran kita seperti apa? Maunya enak, dapatnya anak? Kecelakaan? Atau memang mengharapkan anak dengan karakter tertentu?

Banyak di antara kita bahkan tidak tahu jika kita bisa mengundang jiwa untuk lahir lewat kita.Tentu mengundang jiwa yang kurang lebih berada pada frekuensi yang sama dengan kita. Jadi, bisa diprogram.

Oke, sekarang kita tahu.

Tetapi, sudah terlanjur punya anak yang lahir tanpa programming. Jiwa yang menempati raga anak kita adalah atas undangan sengaja atau tidak sengaja dari kita sendiri, yang kita lontarkan beberapa tahun lalu, ketika kesadaran kita masih rendah. Ketika urusan kita masih sebatas makan, minum, tidur, dan seks. Jelas, jiwa yang kita undang pun urusannya kurang lebih sama, frekuensinya kurang lebih sama seperti frekuensi kita saat mengundangnya.

Apa jadinya?

Kita gelisah, jiwa yang menempati badan anak kita pun gelisah, “Nyokap dan bokapku kok tiba-tiba jadi begini? Pakai meditasi segala! Dulu masih normal, masih oke, sekarang…….”

Nah, terjadilah tarik-menarik antara Anda dan sang anak. Biasanya orangtualah yang mengalah, “Mau bagaimana, anak sendiri!” Padahal, sikap mengalah seperti itu bisa membahayakan anaknya sendiri. Setidaknya tidak rnengedukasi anak.

Semestinya para orangtua yang sudah berada pada jalur meditatif lebih agresif mendorong anak-anaknya—yang lahir ketika mereka masih berada pada jalur nonmeditatif—supaya ikut berpindah jalur juga…….. Tetapi tidak, kita tidak selalu melakukan hal itu, banyak pertirnbangan kita, “Anak kan tidak bisa dipaksa, mereka pun punya pilihan sendiri. Mereka kan lahir lewat kita, bukan dari kita, seperti kata Kahlil Gibran!”

Ya, betul. Tidak bisa dipaksa, dan sesungguhnya tidak perlu dipaksa. Namun, kita mesti menunaikan kewajiban kita sebagai orangtua. Setidaknya memberitahu tentang pilihan meditatif yang terbuka bagi dirinya, pilihan yang bisa membahagiakan dirinya.

 

Sahabat: Pak, beberapa waktu yang lalu kita baru bicara soal anak, sekarang soal yang sama lagi. Wah, berabe juga ya, Pak.

AK: Itulah yang rnenjadi tantangan terbesar.

Bukan kesalahan anak, bukan pula kesalahan orangtua. Just a case af mismatch, sudah tidak matching lagi, maka pilihannya: Orangtua menjatuhkan diri, atau membantu anaknya ikut naik. Itu saja.

Tentu anak-anak kita, walau masih remaja, dan belum mandiri, sudah merasa hebat, sudah merasa dewasa. Diberitahu apa saja, reaksinya, “What is your problem, Pa, Ma?

Mereka tidak mau dicampuri urusannya.

Padahal,urusannya masih sebatas cinta monyet dan sebagainya.

Sebagai orangtua, kita mesti berusaha supaya mereka meraih kesadaran yang lebih tinggi. Tidak memikirkan perut atau selangkang saja. Setelah itu, biarlah mereka sendiri yang menentukan garis hidup mereka.Tidak bisa dipaksa.

Di saat yang sama, sebagai orangtua, kita pun tidak perlu menjatuhkan diri hanya untuk mengakomodasi mereka yang memilih kebejatan.

Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2005). Fengshui Awareness Rahasia Ilmu Kuno bagi  Manusia Modern. One Earth Media)

Om, Sarve bhavantu sukhinaḥ; Sarve santu nirāmayāḥ; Sarve bhadrāṇi paśyantu; Mā kashchit duḥkha bhāgbhavet; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga semua makmur, bahagia dan bebas dari penyakit. Semoga semua mengalami peningkatan kesadaran, dan bebas dari penderitaan. Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/

 

banner-utk-di-web

oec4elearning-banner

Puasa Rutin Mengurangi Keterikatan Terhadap Dunia?

buku-soul-awareness-puasa-mikir-makan

“Di media sosial FB, kita sering melihat status yang menunjukkan bahwa seseorang yang seakan-akan sudah bisa melepaskan diri dari keterikatan. Tidak terpengaruh dunia! Imaginasi boleh-boleh saja demikian. Tetapi coba dia puasa beberapa hari tanpa makan hanya dengan minum air putih saja. Apakah dia masih bisa berpikir sudah tidak terpengaruh dunia? Apakah setelah puasa beberapa hari tersebut setiap saat yang dipikir hanya makanan saja?

Setiap pemahaman harus dipraktekkan sehari-hari dengan tubuh dan mental/emosional kita. Bukan hanya di olah pikir saja, bukan masturbasi saja.Bila kita paham tentang kebebasan dari pengaruh dunia, maka setiap hari harus kita praktekkan dengan tubuh kita bahwa setiap tindakan kita sudah lepas dari keterikatan, sudah tidak terpengaruh dunia.

Berikut ini penjelasan di buku Soul Awareness bahwa puasa rutin dapat mengurangi pengaruh luar terhadap diri kita:

buku-soul-awareness

Cover Buku Soul Awareness

Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu: Saha vīryam karavāvahai;Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai.Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga Hyang Tunggal senantiasa melindungi kita; menjernihkan pikiran kita: semoga kita dapat berkarya bersama dengan penuh semangat; semoga apa yang kita pelajari mencerahkan dan tidak menyebabkan permusuhan; Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

PENGARUH LUAR

Sahabat: Sepertinya Pak, pengaruh dari luar ini yang menjadi masalah utama saya. Saya merasa sudah cukup bermeditasi, namun masih terus melakoni. Merasa sudah cukup berkesadaran, eling segala, namun tetap saja terpengaruh oleh keadaan dan orang di luar.

AK: Itu memang menjadi salah satu persoalan utama, sebab itu Bhagawad Gita pun berbicara banyak soal pengaruh cuaca, keadaan, pergaulan, dan sebagainya.

Kita semua bisa dibagi dalam lima kelompok utama. Kelompok Pertarna, tidak terpengaruh sama sekali. Mereka adalah yang jam terbangnya sudah cukup tinggi.

Kelompok Kedua, sedikit terpengaruh, tetapi tidak cukup terstimulasi untuk bertindak sesuai dengan apa yang didengarnya. Bahkan kendati dilihatnya,ia masih akan menggunakan viveka-nya untuk menimbang.

Nah, dua kelompok pertama ini menunjukkan bahwa viveka mereka, sense of discrimination mereka, inteligensi mereka sudah cukup berkembang. Kendati demikian, jangan pikir mereka sudah berada dalam wilayah aman, sudah tidak akan pernah terpengaruh lagi. Setiap orang mesti senantiasa waspada. Seperti dalam permainan ular tangga, sudah berada di kotak nomor 98 atau 99 pun masih bisa dipatok ular dan jatuh ke kotak paling bawah.

Kelompok Ketiga adalah mereka yang tidak hanya terpengaruh, tetapi wajah mereka pun menunjukkan tanda-tanda pengaruh itu. Sangat senang mendengarkan sesuatu yang memang menyenangkan. Sangat sedih mendengarkan sesuatu yang memang menyedihkan. Sangat gusar mendengarkan sesuatu yang memang menggusarkan.

Kelompok Ketiga belum menunjukkan progress apa pun. Mereka belum meditatif. Setidaknya, viveka mereka belum berkembang. Mereka masih harus berlatih dengan tekun.

Tips penting bagi mereka yang termasuk dalam kelompok ini—dan kelompok-kelompok selanjutnya—adalah melakoni puasa. Entah Senin-Kamis seperti leluhur kita, atau dengan cara lain sesuai kepercayaan kita.

Puasa yang dimaksud—dan yang akan membantu kita dalam bermeditasi—adalah puasa yang dilakukan secara teratur, minimal satu kali setiap minggu. Jadi, bukan sesekali saja.

Keberhasilan dalam berpuasa secara regular akan meningkatkan kepercayaan diri kita sehingga kita tidak mudah terpengaruh oleh apa kata orang, apa yang terjadi di luar, dan sebagainya. Tentu, ada sederet manfaat lain dari puasa, dari lapisan fisik hingga lapisan gugusan pikiran clan perasaan.

Kadang kita rnelakoni laku puasa hanya sekali atau dua kali setiap tahun. Oke,jika kepercayaan kita mewajibkan hal itu, silakan. Itu pun baik. Namun, melakukan puasa setahun sekali atau dua kali saja tidak membantu meditasi kita, dalam hal hidup berkesadaran.

Kita sering melakoni puasa, yang dalam bahasa leluhur kita disebut Ngrowot—hanya makan umbi-umbian atau apa saja yang tumbuh di bawah tanah. Ada yang menambah buah-buahan dan susu, ada pula yang tidak. Yang jelas, selama satu hari, beberapa hari, atau beberapa minggu sesuai dengan kemampuan fisik— kita menghindari sayuran, lauk, nasi, roti, dan sebagainya. Jadi, makanan kita sangat terbatas.

Sebagian di antara kita mengikuti tradisi tersebut hanya supaya dapat membanggakan diri: “Saya sudah sampai hari terakhir… ini sudah tahun kesekian tanpa putus. “Tidak perlu show-off, tidak perlu pamer, tidak perlu membanggakan diri. Sebab, tidak ada yang terbantu oleh laku kita itu, kecuali diri kita sendiri.

Sementara itu, selama berpuasa wajah kita Ioyo, sakit di sini, sakit di sana, pekarjaan rutin pun telantar.Fisik kita, mental kita, emosi kita,lebih cepat tersinggung dan tersungging. Semua menunjukkan bahwa kita sedang berpuasa. Kasihan, deh! Ya, secara tidak langsung kita ingin dikasihani, ingin dipahami, dihormati: “Kalau pekerjaan tidak selesai, ya bisa dipahami karena ia lagi puasa. Lagi makan umbi-umbian saja. Dari mana dapat tenaga?”

Kalau orang lain sudah mulai mengasihani kita karena wajah kita, tindakan kita, emosi kita—semua menunjukkan bahwa kita sedang berpuasa—puasa kita pun batal.

Tidak perlu berpuasa, kalau puasa membuat kita loyo. Saat berpacaran saja kita bisa menghabiskan waktu berjam-jam saling memandang. Masa puasa membuat kita loyo?

Kembali pada pengelompokan yang sedang kita bahas.

Kelompok Keempat adalah mereka yang tidak hanya terpengaruh, bukan lagi wajah saja yang menunjukkan pengaruh itu, tetapi tangannya, kakinya, ucapan, serta segala perbuatannya juga.

Mereka reaktif. Tanpa berpikir, mereka mengonfrontasi orang yang disebut-sebut menjelekkan dirinya. Padahal, barangkali, ia baru mendengarnya dari orang lain, dari pihak ketiga.

Lebih parah lagi adalah mereka yang termasuk Kelompok Kelima: Sudah reaktif, mereka malah melakukan hal yang sama. Mulai menjelek-jelekkan yang bersangkutan tanpa rekonfirmasi.

Mereka yang melakukan konfrontasi, masih punya harapan. Orang yang dikonfrontasi masih diberinya kesempatan untuk menjelaskan duduk perkaranya. Apakah tuduhan yang dilontarkan padanya benar, ada benarnya, atau sama sekali tidak benar.

Kelompok Kelima merasa tidak perlu memberikan kesempatan itu kepada yang sudah dianggap dan dicapnya sebagai “lawan”. Itu yang terjadi dalam banyak kasus, yang menunjukkan betapa tidak meditatifnya kita secara kolektif.

(Bahkan dalam banyak kams yang dibawa ke pengadilan, sekelompok orang yang “merasa” sudah cukup meditatif padahal belum, terpengaruh oleh “kata orang”, pengakuan orang, testimoni orang—padahal tidak menyaksikan sesuatu. Dalam banyak kasus, seseorang bisa dibukum atas dasar “kata orang”, bahkan tanpa jumlah saksi yang diwajibkan oleh undang-undang.)

Kembali pada solusi: makan, minum, tidur, bergaul dengan orang lain, semua mesti secara moderat. Dalam hal makanan, biasakan untuk berpuasa satu sampai dua kali seminggu secara konsisten, bukan sekali atau dua kali setahun saja. Juga tentu laku meditasi secara intensif dan repetitif, yang berarti laku meditasi mesti menjadi bagian dari hidup kita sebagaimana makan, minum, dan tidur.

Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2005). Fengshui Awareness Rahasia Ilmu Kuno bagi  Manusia Modern. One Earth Media)

Om, Sarve bhavantu sukhinaḥ; Sarve santu nirāmayāḥ; Sarve bhadrāṇi paśyantu; Mā kashchit duḥkha bhāgbhavet; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga semua makmur, bahagia dan bebas dari penyakit. Semoga semua mengalami peningkatan kesadaran, dan bebas dari penderitaan. Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/

 

Banner utk di web

oec3Elearning-Banner-2 (1)

Mengapa dari orangtua yang sama sifat anak anak berbeda? Tanya Jawab Talk Show Soul Awareness

Intisari pertanyaan dan tanggapan pada Talk show Soul Awareness Gramedia Matraman 18 September 2016

14292534_10209532271655165_6206164625911010070_n

Foto Talk Show Soul Awareness oleh Selamet Jr

 

Pertanyaan 1:

Bila seseorang sudah berobsesi menemukan diri sejati, mestinya lahir lagi dengan sifat yang lebih baik. Bagaimana cara menemukan jatidiri?

 

Tanggapan:

Bapak Anand Krishna: berobsesi atau sekadar berkeinginan? Ada kisah tentang Shirdi Baba yang  tinggi dan kuat ingin membuktikan muridnya yang sudah merasa terobsesi untuk mencari Kebenaran. Sang murid dibawa ke sumur, kakinya dipegang dan kepalanya dimasukkan dalam air sumur sehingga sulit bernapas. Sang murid berupaya untuk mengangkat kepalanya dari air sambil megap-megap. Sang Guru kemudian bertanya, “Apakah sebelum kau mati kehabisan napas kau masih berobsesi menemukan Kebenaran?

Sang murid menjawab, “Tidak Guru, saya bingung, mengapa Guru bertindak demikian, sehingga saya kesulitan bernapas!”

Sang Guru berkata, “Ya artinya sebelum kau mati kau tidak berobsesi mencari Kebenaran, kau bingung dan ingin hidup, mengapa saya dibegitukan?!?!”

Itu adalah contoh seseorang yang belum obsesi, baru sekadar berkeinginan.

Kemudian, sebenarnya bukan mencari jati diri tapi menemukan. Ada seorang ibu yang sudah memakai kalung  untuk berpesta dan kemudian mencari-cari di kotak perhiasan, mengapa kalungnya tidak ditemukan? Kadang seorang pelupa sudah memakai kacamata masih mencari kacamata dengan mengobrak-abrik tempat tidurnya atau mencarinya di depan tivi. Demikian pula jatidiri sudah ada hanya kita belum discover, belum menemukan kembali. Jatidiri bukan dicari tetapi ditemukan kembali dengan cara meniti ke dalam diri.

Ini juga sekaligus menjawab pertanyaan lain tentang manfaat Guru. Bila saja ibu yang sedang mencari kalung atau orang yang mencari kacamata mau bercermin, maka dia akan tahu bahwa kalungnya sudah digantungkan di lehernya ataupun kacamatanya sudah dipakai. Guru dapat diibaratkan seperti cermin.

 

Pertanyaan 2:

Bila seseorang lahir kembali, semestinya dia akan lahir dengan sifat yang lebih baik dari sebelumnya. Akan tetapi mengapa justru nampaknya masyarakat sekarang justru lebih parah dari generasi sebelumnya?

 

Tanggapan:

Bapak Anand Krishna: Para scientist sudah mulai berkesimpulan bahwa berat bumi ini konstan. Beda sedikit akan mengacaukan kesetimbangan dan bumi akan hancur. Walau pun ada bangunan gedung-gedung baru pencakar langit, akan tetapi bahan bangunannya diambil dari perut bumi juga. Sehingga berat tetap sama. Katakanlah ada binatang dinosaurus musnah, akan tetapi ada juga batu meteorit yang menambah beban bumi. Hanya recycling. Berat bumi tetap. Bukan hanya berat akan tetapi penduduk bumi pun diperkirakan tetap. Dengan adanya hewan-hewan yang mati, bila tidak berevolusi menjadi hewan yang lain, mereka berevolusi menjadi manusia-manusia. Sehingga manusia-manusia yang masih baru tersebut relatif masih membawa sifat kehewanian yang sangat besar.

Silakan baca ulang: https://gitakehidupansepasangpejalan.wordpress.com/2016/08/14/yang-sadar-jumlahnya-bertambah-yang-tidak-sadar-meningkat-lebih-banyak-terkait-evolusi/

 

 

Pertanyaan 3:

Tentang genetik. Mengapa anak-anak yang lahir dari orangtua yang sama, sifatnya bisa berbeda?

 

Tanggapan:

Bapak Anand Krishna: banyak “mind” yang ingin lahir kembali untuk meneruskan evolusi atau menyelesaikan obsesinya. Genetik dari ayah termasuk dari leluhurya digabung dengan genetik dari ibu termasuk genetik dari leluhurnya dicampur aduk, kemudian diambil (katakan segenggam) dan kombinasi genetika yang akan menjadi bayi itu sesuai dengan “mind” yang akan lahir. Sehingga setiap anak yang lahir berbeda kombinasi genetik, berbeda “mind” yang akan lahir.

Itulah mengapa memilih menantu memperhatikan bibit (genetik), bobot dan bebet. Bibit (genetik) dari keluarga akan berpengaruh.

Ibu Maya: Pada waktu konsepsi, pembuahan, kondisi ayah dan ibunya akan berpengaruh pada sang anak. Dosha, atau perbandingan sifat air, api dan angin pada kedua orangtua berbeda. Bila terjadi ketidakseimbangan unsur tersebut maka akan berpengaruh pada anak yang akan lahir. Mungkin saja pas anak pertama semua unsur seimbang dan anak kedua unsur apinya tidak seimbang dan seterusnya. Sehingga anak yang lahir akan beda sifatnya.

 

Pertanyaan 4:

Ada orang yang percaya nabi, ada yang percaya avatar, sebenarnya yang benar itu bagaimana?

 

Tanggapan:

Scientist sudah sampai pada kesimpulan bahwa apa yang kita yakini sebagai asumsi itulah yang akan menjadi hasil dari penelitian kita. Ada beberapa maket/model/mandala untuk mencapai Kebenaran seperti ada beberapa maket/model para scientist untuk membuktikan kebenaran asumsi mereka. Silakan pilih model yang sesuai dengan diri kita.

 

Pertanyaan 5 dan yang lain-lain-nya:

Bagaimana bila “mind” kita terkena virus? Apakah kita lahir bisa menghapus virus tersebut? Dan lain-lain………

 

Tanggapan:

Pada waktu lahir maka sifat genetik yang alam akan terbawa. Berita baiknya sifat genetik hanya sebesar kira-kira 30% yang berpengaruh. Ada faktor lingkungan dan yang lain sekitar 70%. Jadi dengan pendidikan (itulah makna pendidikan yang benar) kita dapat mengubah sifat tidak baik dalaam diri. Anak lahir tidak tabula rasa, bersih, kosong, dia membawa sifat genetik bawaan. Jadi pendidikan mestinya orang per orang. Guru harus tahu sifat 16-17 muridnya. Home schooling akan membantu.

Misalkan anak yang selalu merusak mainan, diminta memperbaiki mainan yang dirusaknya. Bisa jadi dia setelah besar akan menjadi insinyur yang baik….. hahaha……

 

Masalah kerasukan:

Kebanyakan oleh halusinasi. Kalau setiap anak selalu melihat film Harry Porter setiap hari. Pada saat stress bisa berhalusinasi. Bapak Anand Krishna menceritakan dalam salah satu bukunya seluruh pekerja pabrik yang berlokasi di tanjung Priok pada hari tertentu salah satu kerasukan dan semuanya kerasukan. Pada saat hari akan kerasukan, sang penjaga diberitahu agar sepatunya diberi kotoran yang bau dan setiap orang yang masuk pabrik diminta mencium baunya. Ternyata hari itu tak ada yang kerasukan. Pada saat seseorang merasa depresi, halusinasi dapat mempengaruhi orang tersebut.

Seseorang yang katanya digendam oleh orang ganteng, sebetulnya terpengaruh oleh kegantengan dan dapat dipengaruhi untuk mengambil atamnya. Seseorang yang serakah ingin cepat kaya dengan instan dapat diminta menukar uang asli dengan uang amerika latin.

Silakan simak kutipan Bapak Anand Krishna berikut:

“Ketika seseorang ‘terhipnosis’ oleh seorang asing yang mengajaknya ke ATM atau bank dimana dia menyimpan perhiasannya dan kemudian ‘tertipu dalam keadaan tidak sadar’ atau ‘dalam keadaan antara sadar dan tidak sadar’, hendaknya kita tidak menerima cerita itu mentah-mentah. Keadaan ini hypnosis tidak dapat dipaksakan dalam tahap apa pun (saat dihypnosis) tanpa sepengetahuan dan seizin yang bersangkutan. Sesungguhnya, dalam hal ini hypnosis malah lebih menguntungkan dari pada ilmu medis karena banyak sekali obat keras yang dapat digunakan untuk tujuan kriminal tanpa sepengetahuan dan seizin dari yang bersangkutan. Terlebih lagi, saya juga sudah membuktikan bahwa tidak seorang pun dapat dipengaruhi kecuali hal itu diinginkannya sendiri secara sukarela, maka hypnosis tidak dapat digunakan sebagai sarana untuk sesuatu yang bersifat asusila, sebagaimana banyak orang menganggapnya. Orang itu tertipu oleh keserakahannya sendiri. Dia boleh mengaku, boleh tidak. Dia boleh membohongi orang lain, tapi tidak bisa membohongi diri sendiri. Ia tertipu oleh benih-benih keserakahan yang sudah ada di dalam dirinya.” (Krishna, Anand. (2012). Neo Spiritual HYPNOTHERAPY, Seni Pemusatan Diri Untuk Bebas Dari Pengaruh Hipnosis Massal. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

Ibu Archana: Pastlife Regression penting saat orang ingin mengetahui mengapa dia selalu bertindak sesuatu yang sebenarnya bisa kita perbaiki. Ada komunitas pastlife yang setiap bertemu memanggil temannya sesuai dengan hasil pastlifenya. Sehingga, Hai Wilhelmina apa kabar? Ya, selamat malam Kaisar Wu. Pastlife bukan untuk hal seperti demikian.

Ada jokes. Istri betul-betul jenuh dengan suaminya yang selalu berselingkuh. Akan tetapi suaminya sangat baik, kemana pun dia minta pergi, malam-malam saat capek pun sang suami dengan senang hati akan mengantarnya ke mana pun. Setelah di pastlife ternyata suaminya adalah sopirnya di masa lalu yang ingin membalas kebaikannya. Pantas siap mengantarnya ke mana saja dalam keadaan apa pun…… wkwkwkwk……..

Setiap Orang Ingin Bahagia, sebagaimana Aku Ingin Bahagia

buku soul awareness happiness

Adakah yang terlupakan dalam pencarian kita menuju hidup bahagia? Kenapa si petani yang sudah berhasil pun masih tidak bahagia? Kenapa para dokter—pun pengacara, ahli hukum, jaksa, hakim, pendidik, dan pengajar—yang menjalankan profesi-profesi mulia bertindak secara tidak mulia? Kenapa prajurit yang tidak bersedih hati ketika salah satu kakinya diamputasi, sekarang malah stres berat? Kenapa ada ketidakadilan, korupsi, kejahatan, dan berbagai penyakit, yang tidak alami, yang seolah diundang? Penyakit yang penyebabnya adalah diri kita sendiri? Penderitaan yang disebabkan oleh ulah kita sendiri?

buku soul-awareness

Silakan simak pandangan dari buku Soul Awareness di bawah ini:

Cover Buku Soul Awareness

Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu: Saha vīryam karavāvahai;Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai.Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga Hyang Tunggal senantiasa melindungi kita; menjernihkan pikiran kita: semoga kita dapat berkarya bersama dengan penuh semangat; semoga apa yang kita pelajari mencerahkan dan tidak menyebabkan permusuhan; Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

Adakah seorang pun di antara kita yang tidak mendambakan kebahagiaan? Jelas tidak ada. Setiap orang ingin bahagia, ingin hidup bahagia. Hanya saja, definisi kita tentang kebahagiaan bisa jadi sangat berbeda antara yang satu dengan yang lain.

 

Seorang Petani di Suatu Desa Terpencil memiliki sawah seluas satu hektar. Ia bekerja keras siang dan malam, dan mengharapkan panen yang baik, bagus. Semua itu ia lakukan demi menutupi segala keperluan keluarganya. Syukur-syukur keluarganya bisa dikategorikan sebagai keluarga sejahtera.

Ia ingin memastikan tidak seorang pun dalam keluarganya kekurangan pangan dan sandang. Mungkin anak-anaknya dapat diberikan pendidikan sampai sekolah menengah. Mungkin ada yang dapat duduk di bangku perguruan tinggi.

Ia membayangkan semua itu, “Oh, betapa bahagia hidupku jika aku berhasil. Sudah pasti tenang, tenteram, sentosa.”

Going against all odds, sang petani berhasil!

Impiannya menjadi kenyataan.Tetapi, bahagiakah ia? Pernahkah terlintas dalam benaknya jika keberhasilan materi itu datang bersama kembaran-kembarannya berupa stres, “Masih harus bayar cicilan mobil, si bungsu belum selesai kuliah, kali ini panen tidak boleh gagal….”

God forbid, jangan pula ada yang jatuh sakit.

Jangan sampai ada yang harus diopname. Pernahkah terpikir olehnya biaya rumah sakit yang sudah menjadi usaha dagang itu seperti apa? Pernahkah ia berhadapan dengan seorang dokter “profesional” yang saraf empatinya sudah terjepit, bahkan, tersumbat oleh uang?

 

Seorang Prajurit dengan Patriotisme yang sangat tinggi berbakti bagi nusa dan bangsa. Sejak kecil, memang itulah cita-citanya.

Ia meninggalkan keluarga, rumah, segala-galanya demi mengabdi pada Ibu Pertiwi. Pengabdian seperti itu membuatnya bahagia. Ia merasa puas dan memperoleh ketenangan dan ketenteraman batin dari apa yang dilakukannya.

Sehingga ketika ia kehilangan salah satu kakinya dalam suatu perternpuran, ia tetap ceria. Bahkan ia tidak menganggapnya sebagai pengorbanan. Ia menganggapnya sebagai persembahan yang diterima oleh Ibu Pertiwi.

Namun, setelah kembali dari medan perang, setelah pensiun dini, setelah kembali menjadi warga sipil, apa yang dilihatnya, apa yang ditemukannya? Musuh di medan perang adalah nyata. Jumlah mereka bisa diperkirakan. Kekuatan mereka juga bisa diperkirakan.Namun, tidak demikian dengan sesama anak bangsa, para pejabat penjahat setanah air dan sebangsa yang tengah menggerogoti Bunda Pertiwi. Mereka tidak hanya merampok dan menjarahnya, tetapi juga melecehkan dan memerkosanya. Apa yang mesti ia lakukan?

Ia merasa tidak berdaya.

Ia pernah bertugas untuk membunuh setiap orang yang memusuhi negara dan bangsanya. Ia pernah mendapatkan penghargaan atas jasa-jasanya. Namun, bagaimana dengan musuh-musuh negara dan bangsa yang ada di tengah masyarakat?

Bagaimana ia mesti bersikap terhadap mereka? Melaporkan mereka kepada yang berwajib? Sudah, sudah pernah, ternyata pihak yang disebut ber-“wajib” itu mengartikan Perlindungan buat Sesama Penjahat sebagai ke-“wajib”-an mereka. Mau bilang apa?

Apakah sekarang ia bahagia?

Tidak. Sekarang, semangatnya yang membara untuk mengabdi pada nusa dan bangsa malah menyebabkan stres yang tak berkesudahan. Setiap hari ia mesti mati berulang kali karena merasa tidak berdaya menghadapi rnusuh-musuh yang tidak hanya berkeliaran bebas, tetapi sering kali justru mendapatkan perlakuan khusus dari……

 

Kita Semua—Tanpa Kecuali—Menginginkan Kebahagiaan. Tujuan semua sama: Kebahagiaan Sejati. Namun, masing-masing merasa bisa bahagia dengan menempuh jalan tertentu.

Jalan yang kita tempuh, cara kita untuk memperoleh kebahagiaan berbeda-beda. Namun, tujuannya tetap satu dan sama. Sesungguhnya, “Satu Tujuan Hidup” inilah yang mempersatukan seluruh umat manusia sebagai satu umat, satu keluarga.

Karena ada tujuan hidup yang tunggal, satu, dan sama itu, maka ada kemungkinan bagi kita semua untuk bekerja sama. Untuk tidak sikut-menyikut, untuk tidak berlomba, tetapi bekerja sama. Untuk bergotong-royong, dan bersama-sama membangun ulang dunia ini. Untuk mewujudkan surga di muka bumi.

Para pujangga dari Peradaban Sindhu, Shintu, Shin, Hindu, Hindia, Indo, Indies—tempat Nusantara adalah bagiannya—telah menyimpulkan sejak dahulu kala: Vasudhaiva Kutumbakam—Seluruh Umat Manusia, Seluruh Penduduk, Penghuni Planet Bumi adalah Satu Keluarga Besar.

 

Lalu, Adakah yang Terlupakan oleh Kita Selama Ini? Maksudnya: Adakah yang terlupakan dalam pencarian kita menuju hidup bahagia?

Kenapa si petani yang sudah berhasil pun masih tidak bahagia? Kenapa para dokter—pun pengacara, ahli hukum, jaksa, hakim, pendidik, dan pengajar—yang menjalankan profesi-profesi mulia bertindak secara tidak mulia? Kenapa prajurit yang tidak bersedih hati ketika salah satu kakinya diamputasi, sekarang malah stres berat?

Kenapa ada ketidakadilan, korupsi, kejahatan, dan berbagai penyakit, yang tidak alami, yang seolah diundang? Penyakit yang penyebabnya adalah diri kita sendiri? Penderitaan yang disebabkan oleh ulah kita sendiri?

Kenapa kita masih sibuk berlomba? Kenapa belum bisa bekerja sama dengan segala ketulusan hati dan niat?

 

Sebabnya: Kita Belum Menyadari Kesatuan di antara kita. Kita masih sepenuhnya terjebak dalam lapisan kesadaran fisik murni. Belum menyadari adanya wilayan roh tempat kita dipersatukan. Ada wilayah energi murni, wilayah kesadaran murni, tempat tidak ada lagi perbedaan.

Kita masih terjebak dalam ilusi “ini punyaku, itu punyamu”. Ini umat-“ku”, itu umat-“mu”. Kita masih belum sadar akan makna, esensi, dan implikasi petuah Vasudhaiva Kutumbakam.

Petuah itu bukanlah untuk diucapkan atau diulangi saja, tetapi untuk dihayati, dilakoni, dipraktikkan dalam keseharian hidup. Jika kita betul-betul memahami arti petuah tersebut, dengan sendirinya kita pun menjadi sadar bahwa:

 

Setiap Orang Ingin Bahagia, sebagaimana Aku Ingin Bahagia. Nah, kesadaran itulah yang mesti diupayakan. Kesadaran itulah yang mengantar kita pada wilayah rohani, spiritual. Atau, sebaliknya, dengan berada dalam wilayah rohani atau spiritual, dengan adanya soul awareness, kita menjadi sadar akan saling keterkaitan kita; akan kesatuan dan persatuan kita dengan makhluk-makhluk seantero alam.

Untuk itulah dibutuhkan meditasi.

Meditasi sebagai Latihan, sebagai Laku, sekaligus sebagai Gaya Hidupi Gaya Hidup penuh empati, penuh kepedulian, penuh kasih.

 

Sesungguhnya, dalam Laku Meditasi—dalam kesadaran meditatif, rohani, atau spiritual—kita semua dipersatukan.

Warna kulit, bahasa, ras, suku, dan kepercayaan kita boleh beda; penampilan kita, fisik kita, bahkan cara pikir kita boleh beda; tetapi dalam kesadaran rohani, kita semua dipersatukan oleh Kebutuhan kita akan Kebahagiaan Sejati, yang mana adalah satu dan sama pula.

Berarti, kebutuhan akan kebahagiaan sejati bukan sekadar kebutuhan biasa. Ia adalah kebutuhan Jiwa, kebutuhan Roh. Atau lebih tepatnya, kebahagiaan sejati adalah sifat yang melekat pada Jiwa, pada Roh. Mewujudkannya adalah takdir kita.

Untuk itulah kita dilengkapi dengan badan, dengan gugusan pikiran dan perasaan, dengan inteligensi. Semua “peralatan” itu semata untuk membantu kita meraih kebahagiaan sejati, yang menjadi tujuan hidup kita.

(Krishna, Anand. (2016). Soul Awareness, Menyingkap Rahasia Roh dan Reinkarnasi, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Om, Sarve bhavantu sukhinaḥ; Sarve santu nirāmayāḥ; Sarve bhadrāṇi paśyantu; Mā kashchit duḥkha bhāgbhavet; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga semua makmur, bahagia dan bebas dari penyakit. Semoga semua mengalami peningkatan kesadaran, dan bebas dari penderitaan. Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/

 

Banner utk di web

oec3Elearning-Banner-2 (1)