Kita adalah Penonton bukan Pemeran Film #BhagavadGita

Saat kita sedang menonton film atau membaca novel – ada adegan-adegan yang  bisa menghanyutkan kesadaran kita. Jika kita mengidentifikasikan diri dengan adegan-adegan  itu, dengan para pemeran, maka, bisa tertawa sendiri, menangis, mengalami suka dan duka oleh karenanya. Padahal, semua itu “tidak terjadi” pada diri kita. Penjelasan Bhagavad Gita 9:3 dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

 

Kita terhanyut oleh ide-ide sang sutradara film atau sang penulis novel, dan kita bisa merasa suka dan duka karenanya. Padahal identitas sebenarnya kita bukan pemeran dalam film atau novel. Itu hanyalah “maya” yang dibuat sang sutradara film atau sang penulis novel.

Kita adalah penonton film atau pembaca novel, itulah jati diri kita.

Jangan-jangan sekarang pun kita terjebak dalam “maya” buatan Sang Sutradara Agung. Jangan-jangan diri sejati kita bukan pemeran atau pelaku dalam sandiwara “dunia” ini????

Silakan simak penjelasan Bhagavad Gita 9:4 berikut ini:

Cover Buku Bhagavad Gita

Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu; Saha vīryam karavāvahai; Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga Hyang Tunggal senantiasa melindungi kita; menjernihkan pikiran kita: semoga kita dapat berkarya bersama dengan penuh semangat; semoga apa yang kita pelajari mencerahkan dan tidak menyebabkan permusuhan; Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

“Kuliputi alam semesta dalam keilahian serta kemuliaan-Ku yang tak-nyata. Semua makhluk bagaikan ide-ide yang berada di dalam diri-Ku. Sebab itu, sesungguhnya Aku tidak berada di dalam diri mereka.” Bhagavad Gita 9:4

Isa mengatakan bahwa kerajaan Gusti Pangeran ada di dalam diri kita. Atau, lebih tepatnya, diri kita adalah kerajaan-Nya. Alam semesta adalah kerajaan-Nya. Ada pula yang rnengatakan bahwa bukti-bukti kehadiran-Nya bertebaran, ada di mana-mana!

 

INI PULA MAKSUD KRSNA – Aku ada di mana-mana, Aku meliputi segalanya, semuanya berada di dalam diri-Ku yang Tak Terlihat, Tak Nyata. Namun, Aku tidak berada di dalam diri mereka.

Ia Hyang Tak-Nyata, Tak-Terlihat pula…..

Sementara itu, makhluk-makhluk — semuanya, tanpa kecuali — merupakan “ide-ide” yang menjadi nyata. Untuk memahami hal ini, kita kaitkan dengan ide-ide yang ada di dalam otak kita….

Jika kita membedah otak, apakah ide-ide itu dapat ditemukan? Tidak. Tapi, ide-ide itu ada, mereka “berbentuk ide” — ada sebagai ide. Sesungguhnya ide-ide itu bcrada di dalam gugusan pikiran dan perasaan, yang disebut “mind”. Lagi-lagi “mind” pun tidak bisa ditemukan saat otak dibedah. Tapi sekarang, hampir semua ilmuwan berpandangan progresif setuju bahwa mind itu ada. Mind bukan otak. Otak adalah alat yang digunakan oleh mind. Otak bukan mind. Mind adalah pengendali otak. Tak terlihat, tapi ada. Keberadaannya diketahui karena kinerja otak.

 

JANGAN, JANGAN MENYERAH! Jangan cepat-cepat menyimpulkan, “ini terlalu tinggi”. Kesimpulan demikian pun adalah sebuah ide, “ide yang keliru”. Tukarlah ide yang keliru itu dengan ide lain, “aku sedang berupaya untuk memahami hal ini.”

Otak rnanusia dikendalikan oleh mind, oleh gugusan pikiran dan perasaan. Otak terlihat, mind tidak. Tapi otak bekerja karena adanya mind.

Dari otak dan mind manusia — sekarang beralih ke otak dan mind Gusti Pangeran.

Kita semua, jagad raya ini adalah gugusan ide-ide yang ada di dalam mind Gusti Pangeran, Mind Supra.

 

ANDA, SAYA, KITA SEMUA HANYALAH IDE – Bukan saja badan kita, tapi Jiwa pun sebuah ide. Jiwa Individu bergerak karena digerakkan oleh Mind Supra Gusti Pangeran Sang Jiwa Agung. Ketika kita—makhluk-makhluk sejagad ini — diproyeksikan di atas layar alam semesta atau Prakrti, maka muncullah berbagai macam gambar yang seolah-olah bergerak sendiri. Padahal semuanya adalah proyeksi.

 

Kita adalah penonton film atau pembaca novel, itulah jati diri kita

 

“Dalam keadaan ‘diri’ atau batin terkendali seperti itu, Jiwa menyadari dirinya sebagai Jiwa; Demikian, ia mengalami kebahagiaan, kepuasan tak terhingga.” Bhagavad Gita 6:20

Dalam keadaan citta atau batin tenang — Jiwa menyadari dirinya sebagai Jiwa. Ia bukan badan; ia bukan energi; ia bukan gugusan pikiran serta perasaan; ia bukan inteligensia; ia bukan ini, dan bukan juga itu. Ia adalah Jiwa, percikan Sang Jiwa Agung. Maka saat itu ia mengalami kebahagiaan tak terhingga. Sebelum menggapai ………

………………..

JIWA ADALAH PENONTON – Mereka yang sedang beraksi di atas panggung adalah badan, gugusan pikiran serta perasaan, indra, inteligensia.

Dirinya sedang menonton!

Maka adegan apa saja dapat menghibur dirinya. Terjadinya kematian di atas panggung, mengikuti skenario Sang Sutradara atau Penulis Naskah, tidak mencelakakan dirinya.

Terjadinya banjir, badai, topan — tidak mengganggu kenikmatan yang diperolehnya sebagai penonton. Jiwa yang demikian itu — Jiwa yang menyadari perannya, sifat aslinya sebagai Jiwa —terbebaskan dari segala duka. Bahkan dari segala dualitas suka dan duka. Ia meraih kebahagiaan tertinggi!

Ia seperti seseorang yang sedang bermain game. Gambar-gambar yang muncul di monitor atau layar teve adalah proyeksi dari console yang pengendalinya ada di tangan dia sendiri. Penjelasan Bhagavad Gita 6:20 dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

Dikutip dari buku: (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

Setelah memahami hal demikian apakah kita biarkan saja adharma merajalela? Tidak juga, kita mencontoh Arjuna, memahami Bhagavad Gita dan tetap menegakkan dharma……

Om, Sarve bhavantu sukhinaḥ; Sarve santu nirāmayāḥ; Sarve bhadrāṇi paśyantu; Mā kashchit duḥkha bhāgbhavet; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga semua makmur, bahagia dan bebas dari penyakit. Semoga semua mengalami peningkatan kesadaran, dan bebas dari penderitaan. Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/

 

Advertisements

Renungan #Gita: Pilihan Peran, Menjadi “Saksi” atau Sebagai “Anak yang Terlibat Permainan” Dunia

buku bhagavad gita

Cover Buku Bhagavad Gita

Bhagavad Gita 9:18

“Akulah Tujuan Tertinggi; Hyang Maha memelihara, Menguasai, dan Menyaksikan; Keadaan atau Tempat Abadi (yang dapat digapai), Pelindung Tunggal, Sahabat Setia, Awal-Mula dan Akhir dari segala-galanya; Kepada-Ku semuanya berpulang saat kiamat atau pralaya, dan Aku pula Benih Kehidupan yang tak pernah punah.”  Bhagavad Gita 9:18

 

“Hidup ini bukan tanpa tujuan. Ketika kita bertamasya ke Disney Land, Wonder Land, Dunia Fantasi atau tempat lain serupa – apa yang menjadi tujuan kita? Bukankah tujuan utama kita adalah ‘hiburan’? barangkali kita berdalih, ‘Oha, saya Cuma mengantar anak saya.’ Baik, perhatikan anak-anak kita. Mereka sepenuhnya terlibat dalam permainan di sana dan sedang menikmati seluruh atraksi yang disajikan.

Sekarang, mari kita menentukan sendiri peran kita dalam Dunia Fantasi ini – Mau menikmati permainan seperti anak-anak yang sedang bermain bebas; kemudian, pulang tanpa beraduh-aduh, karena sadar bila Dunia Fantasi bukanlah rumah kita. Atau, menjadi seorang dewasa yang sedang menyaksikan anak-anaknya menikmati segala permainan.

Sebagai saksi pun, saat menyaksikan anak-anak kita bermain girang, jelas kita ikut bersuka-cita. Kita ikut menikmati dan terhibur juga.

Mau menjadi seorang anak yang sepenuhnya terlibat dalam permainan; atau, menjadi seorang dewasa yang sedang menyaksikan dan menikmati apa yang disaksikannya. Terserah kita masing-masing. Yang penting adalah, tidak murung! Dunia Fantasi ini tidak digelar untuk bermurung-murungan. Dunia Fantasi ini digelar sebagai kawasan untuk hiburan, arena hiburan. Nikmati dan saat mesti pulang – tinggalkan tempat ini tanpa bermurung muka pula.

Menjadi anak dan menikmati permainan dunia adalah jalan seorang Ramakrishna Paramhansa, para avadhuta – mereka yang tidak lagi memikirkan baik-buruk segala. Bagi mereka, semuanya adalah permainan. Dan mereka tahu orangtua mereka sedang mengawasi mereka. lari ke mana pun, mau mencoba atraksi apa pun, mereka yakin tak akan pernah terpisahkan dari orangtua yang sedang mengawasi.”  (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

 

Sebab itu, bagi para avadhuta seperti Ramakrishna Parahamsa, Tuhan _Gusti Pangeran – Sang Pengawas adalah Ibu. Bunda Ilahi tak mungkin meninggalkan mereka – demikian  keyakinan para anak-anak yang berjiwa Ramakrishna, para avadhuta.

Kesadaran Saksi adalah kesadaran para Vivekananda, Shankaracharya. Kendati demikian, setelah sepanjang hidup berkesadaran sebagai saksi, menjelang akhir hidup, mereka menyerah juga. Vivekananda dan Shankaracharya – dua-duanya kembali ke pangkuan Bunda Ilahi, ‘Cukup sudah pekerjaan yang membosankan sebagai saksi segala. Sekarang biarlah aku bermain-main dan istirahat di pangkuan-Mu, wahai Kali, Bhavani, Bunda Ilahi!’ ”  (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

 

Menurut pandangan saya sampai dengan saat ini, kutipan ini akan menjelaskan kutipan-kutipan sebelumnya dan kutipan kemudian, menjelaskan peran sebagai “saksi” atau sebagai “anak yang terlibat” permainan dunia. Oleh karena itu kutipan Bhagavad Gita ini saya jadikan referensi bagi kutipan yang lain. Terima kasih.