Sibuk Meraih Kenikmatan Duniawi Sampai Maut Menjemput #BhagavadGita

Dunia ini penuh dengan orang-orang bodoh. Mereka hidup tanpa mengetahui arah. Mereka tidak tahu tujuan hidup itu apa. Mereka pikir makan, minum, tidur, seks, kekuasaan, harta-benda, itulah kehidupan. Mereka “tampak”bahagia, tapi sesungguhnya hampa. Mereka kosong.

Hingga usia 35-40 tahun, mungkin mereka tidak mengerti arti kebahagiaan, dan menerjemahkan “kenyamanan” sebagai “kebahagiaan”. Setelah usia 35-40 tahun, umumnya mereka  baru tersadarkan bahwa kenyamanan tidak sama dengan kebahagiaan. Namun, saat itu pun mereka masih belum tahu cara untuk meraih kebahagiaan sejati.

Adalah suatu berkah jika seorang yang sudah berusia 35-40 tahun masih sempat tersadarkan akan kesalahannya, dan mulai mencari kebahagiaan sejati. Biasanya, mereka hidup sebagai layangan yang putus – tanpa arah – bergantung pada arus angin. Demikian satu masa kehidupan tersia-siakan.

Dibutuhkan energi yang luar biasa untuk menarik diri dari pengaruh maya. Dan, energi sedahsyat itu adalah energi seorang pemuda, seorang pemudi di bawah usia 30-35 tahun. Energi semasa itu, energi hingga usia itu adalah energi keberanian, kepahlawanan. Energi yang membuat seorang berani mengambil resiko itu, tidak bertahan lama. Gunakan energi itu sekarang, dan saat ini juga, sebelum ia meredup! Penjelasan Bhagavad Gita 7:15 dikutip dari buku: (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

 

Apakah yang demikian itu terjadi karena pada umumnya kita semua dibawah pengaruh rajas yang dinamis dan agresif? Silakan simak penjelasan Bhagavad Gita 14:22 di bawah ini:

Cover Buku Bhagavad Gita

Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu; Saha vīryam karavāvahai; Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga Hyang Tunggal senantiasa melindungi kita; menjernihkan pikiran kita: semoga kita dapat berkarya bersama dengan penuh semangat; semoga apa yang kita pelajari mencerahkan dan tidak menyebabkan permusuhan; Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

“Wahai Bharatarsabha (Arjuna, Banteng Dinasti Bharat), ketika sifat Rajas berkuasa, seseorang menjadi serakah; dan, segala aktivitasnya hanyalah bertujuan untuk meraih kenikmatan duniawi. Sebab itu, ia pun gelisah ketika keinginan-keinginannya tidak terpenuhi.” Bhagavad Gita 14:12

 

Kekuasaan Rajas adalah yang paling umum. Rata-rata, kita semua, hampir sepanjang hari, berada di bawah pengaruhnya.

SEPANJANG HARI KITA AKTIF BEKERJA – Namun, tujuan kita hampir selalu untuk menghasilkan materi “saja”. Jarang sekali kita memikirkan apakah pekerjaan itu mulia atau tidak? Apakah pekerjaan itu hanya menguntungkan kita semata atau juga adalah baik bagi orang-orang di sekitar kita? Apakah kita mencari keuntungan di atas penderitaan orang lain?

Kemudian, ketika keinginan dan harapan kita untuk meraih keuntungan sebesar dan sebanyak mungkin tidak tercapai, kita rnenjadi gelisah. Kegelisahan semacam itu memang wajar, lazim, dan alami — karena kesenangan sesaat yang kita kejar selalu bergandengan dengannya.

SELAMA KITA MENGEJAR “SUKA”, maka “duka” yang adalah kembarannya, menanti di luar pintu kehidupan kita. Begitu “suka” keluar, masuklah “duka”. Demikian mereka bergantian mengunjungi kita. Para pengunjung setia!

Inilah keadaan orang yang berada di bawah pengaruh rajas. Ketika berhasil, ia bersuka-cita. Ketika gagal, ia berduka. Kadang senang, kadang susah. Ia selalu terombang-ambing dalam lautan samsara — pengulangan yang tidak pernah berhenti.

Samsara “pengulangan” adalah sebab kesengsaraan. Awalnya barangkali menyenangkan, tapi akhirnya selalu membosankan, mengecewakan dan menggelisahkan.

 

HAL INI BISA DIRASAKAN OLEH PARA JET-SETTERS – Awalnya, mereka menikmati perjalanan ke mana-mana. Hidup mereka hampir sepenuhnya di pesawat terbang. Baru pulang, besok berangkat lagi. Sayangnya, saya tidak pernah bertemu dengan seorang jet-setter “sejati” yang “akhirnya” tidak mengeluh, “Untuk apa semuanya ini? saya punya segala-galanya. Rumah di Jakarta, apartemen di Inggris, kantor di New York, kastil di Perancis. Tapi kapan saya menikmatinya?”

Adalah para pegawai mereka yang menikmati semuanya itu. Mereka sendiri tidak punya waktu lagi untuk menikmatinya.

Di usia uzur, ketika Dewa Yama, Malaikat Maut sudah menunggu di luar pintu, mereka masih sibuk memikirkan, “Bagaimana dengan kerajaan yang telah kubangun? Apakah anakku dapat mempertahankannya? Apakah para direktur dan CEO akan tetap setia? Apa yang akan terjadi dengan perusahaan-perusahaan yang kubangun dengan jerih payah, cucuran keringat dan darah?”

 

JIWA YANG TERGANGGU oleh pikiran-pikiran seperti itu, lupa akan jati dirinya sebagai Jiwa Merdeka — Ia “mengalami kematian” dalam keadaan terguncang. Kemudian, setelah pengalaman kematian itu, ia mengejar lagi pengalaman kelahiran ulang. Dan dalam pengalaman hidup berikutnya pun, ia masih tetap mengejar hal yang sama. Inilah Samsara.

Lagi-lagi ia mencari pengalaman suka dari timbunan harta. Awalnya ia bahagia, namun akhirnya, ia kembali gelisah. Demikian seterusnya dari satu masa kehidupan ke masa kehidupan berikutnya. Apa tidak membosankan? Badan dan perangkat indra yang baru tidak memiliki memori dari masa lalu. Gugusan pikiran dan perasaan memilikinya, tapi lupa. Namun, Jiwa tidak lupa. Ia mengalami kegelisahan yang luar biasa, tapi karena keterikatannya dengan pengalaman-pengalaman tertentu, ia “merasa” tidak berdaya untuk berulangkali lahir dan mati. Demikianlah keadaan kita saat ini.

Dikutip dari buku: (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

 

Om, Sarve bhavantu sukhinaḥ; Sarve santu nirāmayāḥ; Sarve bhadrāṇi paśyantu; Mā kashchit duḥkha bhāgbhavet; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga semua makmur, bahagia dan bebas dari penyakit. Semoga semua mengalami peningkatan kesadaran, dan bebas dari penderitaan. Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/

 

Berada di Tengah Masyarakat Rajasika yang Suka Gemerlapan #YogaSutraPatanjali

buku-yoga-sutra-patanjali-anak-kecil-pakaian-dewasa

Wahai Kaunteya (Arjuna, Putra Kunti), ketahuilah bahwa sifat Rajas, agresif dan penuh nafsu, muncul dari keinginan serta keterikatan. Ia membelenggu Jiwa dengan mengikatnya pada perbuatan dan hasil perbuatan.

Hukum Karma bekerja rapi ketika seseorang memiliki sifat rajas. Roda Karma berputar lancar dan mengikat Jiwa dengan badan serta alam benda lewat setiap tindakan serta hasilnya.

Perbuatan tercela berakibatkan kesengsaraan; sifat terpuji menghasilkan kepuasan dan kebahagiaan – inilah Hukum Karma. Seseorang bersifat rajas selalu mengejar pujian. Ia tidak sadar bila pujian dunia juga merupakan sangkar yang memenjarakan Jiwa. Penjelasan Bhagavad Gita 14:7 dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

Masyarakat kita termasuk kelompok Rajasika? Mengapa? Silakan simak penjelasan Yoga Sutra Patanjali di bawah ini:

 

Buku Yoga Sutra Patanjali

cover-buku-yoga-patanjali

Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu: Saha vīryam karavāvahai;Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai.Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga Hyang Tunggal senantiasa melindungi kita; menjernihkan pikiran kita: semoga kita dapat berkarya bersama dengan penuh semangat; semoga apa yang kita pelajari mencerahkan dan tidak menyebabkan permusuhan; Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

“(Pengetahuan Sejati adalah tentang) Purusa, Gugusan Jiwa yang tidak terpengaruh oleh guna atau sifat-sifat kebendaan; tidak terikat padanya; dan tidak merindukannya (ini pula yang disebut pelepasan diri atau Vairagya yang sesungguhnya).” Yoga Sutra Patanjali I.16

 

Kita sudah sering membahas tentang 3 Guna, Tiga Sifat Kebendaan. Lagi-lagi, Gita memberikan penjelasan yang sangat terperinci. Di sini kita akan menyinggung sedikit untuk menyegarkan memori kita.

 

SATTVA, RAJAS, DAN TAMAS, itulah tiga Guna atau Sifat Kebendaan. Segala sesuatu dalam dunia benda ini—mulai dari manusia, hingga makanan, cara hidup, bahkan cara kita berpakaian—semua berlandaskan ketiga sifat itu dalam proporsi tertentu; dan berbeda dari orang ke orang, dari satu keadaan dengan keadaan yang lain.

Beberapa Waktu yang lalu saya menonton acara Lomba Lagu anak-anak di televisi. Rata-rata mereka berusia di bawah 10 tahun. Suara mereka indah, tetapi busana yang mereka pakai hampir tidak memberikan kesan jika mereka masih kanak-kanak. Penuh dengan pernak-pernik dan aksesori yang lazim dipakai orang dewasa.

Saya berusaha menempatkan acara tersebut ke dalam salah satu kelompok, dan ternyata susah sekali. Kepolosan dan keluguan anak-anak itu, yang semestinya berada dalam kelompok Sattva yang menyejukkan, dinamis tapi tenang, hampir hilang dalam kegemerlapan Rajas yang membuat mereka tidak lagi selaras dengan usia maupun lagu-lagu yang mereka nyanyikan.

Kemudian, saya perhatlkan pula mereka yang “mengadakan“ acara tersebut, ternyata walau tampak dinamis, sesungguhnya malas sehingga masuk dalam kelompok Tamas. Pasalnya mereka tidak kreatif.

Barangkali mereka terlalu sering mengadakan acara lomba orang dewasa sehingga ketika mendapatkan proyek untuk acara lomba anak-anak, mereka enggan memutar otak. Segala properti, busana, perhiasan, dan lain-lain yang mereka gunakan untuk acara lomba bagi dewasa juga digunakan untuk anak-anak.

 

BUKAN, BUKAN LUCU! Menonton acara itu, Hola berkomentar, “Nah ini yang mesti disikapi para psikolog dan pengamat. Mana mereka? Di manakah mereka?

“Lihat gerak-gerik anak-anak yang masih di bawah umur itu! Apakah tampak lugu? Tampak polos? Siapa yang melatih mereka? Di manakah para pendidik? Apa ini pendidikan yang kita harapkan untuk anak-anak kita?

“Kalau ada orang yang ‘lemah syahwat’, dalam pengertian tidak mampu mengendalikan syahwatnya—orang bersifat tamas, bejat—menonton acara itu, apa yang akan dilakukannya? Jika ia menjadi pedofil, melecehkan anak-anak di bawah umur, maka ‘doanya’ mesti ditanggung bersama oleh setiap orang yang terlibat dalam acara seperti itu, dan mereka yang duduk manis di depan layar televisi dan menyaksikannya. Termasuk orangtua dan para guru anak-anak ini.”

Akhirnya, Hola pun menantang, “Aku sudah bersuara, bagaimana dengan kamu?”

Bagaimana dengan Anda, dengan saya, dengan kita?

 

PENGALAMAN HOLA INI PERLU DISIMAK SAKSAMA dalam kaitannya dengan Sutra atau Rumusan yang satu ini.

“Tidak terpengaruh oleh guna atau sifar-sifat kebendaan; tidak terikat; dan tidak merindukarmya” tidak berarti kita membisu ketika melihat kejadian-kejadian yang tidak harmonis, tidak selaras dengan nilai-nilai kemanusiaan.

Sama seperti cara menyikapi acara televisi tersebut. Vairagya, Ketakterikatan atau Pelepasan Diri bukanlah tidak mengambil sikap terhadap tontonan seperti itu. Dengan tidak mengarnbil sikap, kita masuk dalam kelompok Tamas. Kita ikut menjadi bejat.

Dengan bertepuk tangan dan ikut menjadi penggembira, kita masuk dalam kelompok Rajas. Dinamis tapi berotak lumpur, alias tidak cerdas.

Dan jika kita menganggap diri sebagai orang yang bersifat Sattva, sudah menjadi Yogi, sudah cerah, dan berkomentar, “Ya, memang begitulah adanya dunia ini,” maka kita pun masih terjebak dalam permainan kebendaan yang multisifat itu.

 

SEORANG VAIRAGI, seorang yang telah bebas dari segala keterikatan, melampaui ketiga “model” orang tersebut.

Ia akan bersuara—bahkan bukan bersuara saja, tetapi ia pun akan bertindak sebatas kemampuannya. Tapi ini penting, ini yang membuatnya seorang vairagi, yaitu ia akan melakukan semua itu tanpa kepentingan pribadi. Bahkan, bukan untuk mencari nama atau pengakuan dari siapa-siapa.

Ia pun tidak gelisah jika segala daya upayanya tidak berbuah; jika tontonan di televisi tetap sama seperti itu. Ia sudah puas karena telah melakukan dharma-nya, kewajibannya sebagai seorang vairagi yang berbuat luhur, seluhur-luhurnya, tanpa mengharapkan hasil.

Inilah “kesadaran”, inilah contoh hidup tentang “hidup berkesadaran”. Patanjali melanjutkan…..

Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2015). Yoga Sutra Patanjali Bagi Orang Modern, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Catatan:

Meditasi membuat kendaraan kita layak untuk dibawa ke jalan raya. Meditasi membuat kita sadar akan keadaan kendaraan kita – yaitu kendaraan badan, indra, pikiran, perasaan, dan sebagainya. Penjelasan Bhagavad Gita 10:10

Sudahkah kita memulai langkah pertama latihan meditasi?

 

Om, Sarve bhavantu sukhinaḥ; Sarve santu nirāmayāḥ; Sarve bhadrāṇi paśyantu; Mā kashchit duḥkha bhāgbhavet; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga semua makmur, bahagia dan bebas dari penyakit. Semoga semua mengalami peningkatan kesadaran, dan bebas dari penderitaan. Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/

 

banner-utk-di-web

oec1elearning-banner

 

Selalu Mengejar Pujian? Sadarlah Pujian Dunia Adalah Sangkar Pemenjara Jiwa!

buku-yoga-sutra-patanjali-mengejar-pujian

Ada tiga hal yang berbisa, yang juga bisa menjadi landasan bagi kebijakan. Kita harus melakukan perenungan sedikit. Apa maksud Atisha ? perhatikan pikiran anda; perhatikan pola kerja mind anda. Mind yang selama ini terasa begitu liar, sesungguhnya memiliki pola kerja yang sangat sederhana. Ibarat perseneling mobil. Mind hanya memiliki tiga gigi. Tidak lebih dari itu. Suka, tidak suka dan cuwek, itulah gigi-gigi mind. Tidak ada gigi keempat, kelima dan seterusnya. Hanya tiga gigi. Selama ini yang dilakukan oleh mind hanyalah tiga pekerjaan itu; Yang ia sukai, ia kejar, yang tidak disukai, ia tinggalkan, dan antara mengejar dan meninggalkan, kadang-kadang ia juga bisa bersikap cuwek terhadap sesuatu.” Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2003). Atisha, Melampaui Meditasi untuk Hidup Meditatif. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Mari kita merenung……. Apakah kita penuh dengan nafsu keinginan agar dipuji, agar menjadi tenar?

Bhagavad Gita 14:7 menyampaikan bahwa mereka yang bersifat rajas penuh nafsu keinginan. Dan, nafsu keinginan tersebut malah membelenggu jiwa:

buku-bhagavad-gita

Cover Buku Bhagavad Gita

Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu; Saha vīryam karavāvahai; Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga Hyang Tunggal senantiasa melindungi kita; menjernihkan pikiran kita: semoga kita dapat berkarya bersama dengan penuh semangat; semoga apa yang kita pelajari mencerahkan dan tidak menyebabkan permusuhan; Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

“Wahai Kaunteya (Arjuna, Putra Kunti), ketahuilah bahwa sifat Rajas, agresif dan penuh nafsu, muncul dari keinginan serta keterikatan. Ia membelenggu Jiwa dengan mengikatnya pada perbuatan dan hasil perbuatan.” Bhagavad Gita 14:7

 

Hukum Karma bekerja rapi ketika seseorang memiliki sifat rajas. Roda Karma berputar lancar dan mengikat Jiwa dengan badan serta alam benda lewat setiap tindakan serta hasilnya.

 

PERBUATAN TERCELA BERAKIBATKAN KESENGSARAAN; sifat terpuji menghasilkan kepuasan dan kebahagiaan – inilah Hukum Karma. Seseorang bersifat rajas selalu mengejar pujian. Ia tidak sadar bila pujian dunia juga merupakan sangkar yang memenjarakan Jiwa.

Keterikatan kita dengan dunia benda memenjarakan kita dalam sangkar ini. Padahal Jiwa bebas adanya. Ia tidak perlu “menyangkarkan” diri dalam dunia benda ini. Sayang, karena keterikataannya dengan kebendaan ilusif, ia memenjarakan dirinya dalam sangkar dunia benda ciptaannya sendiri.

 

APA YANG SESUNGGUHNYA ADALAH MEDAN LAGA diubahnya menjadi sangkar. Ia membuat sangkar ini dengan bahan-bahan campuran, seperti keakuan, kepemilikan, harta-kekayaan, ketenaran, kedudukan, hubungan keluarga, dan sebagainya.

Ada pula yang menciptakan sangkar kemiskinan dan kemelaratan – karena terikat dengannya. Sungguh aneh, tapi demikianlah kenyataannya. Banyak di antara kita merasa dirinya tetap miskin, walau sudah memiliki banyak. Keserakahan mereka membuat mereka tidak pernah puas.

 

MEMANG BANYAK “KEJADIAN” DI ALAM BENDA INI – ada kemiskinan dan ada kekayaan; ada pujian, dan ada cacian; ada duka, dan ada suka – semuanya adalah bagian dari Prakrti atau Alam Benda.

Jiwa yang berbadan dan memiliki pancaindra, sudah pasti melewati dan mengalami kejadian-kejadian dan keadaan-keadaan tersebut.

Tidak ada cara untuk menghindarinya.

Namun, Jiwa pun bisa memutuskan untuk tidak menciptakan sangkar bagi dirinya. tidak terperangkap dalam pengalaman-pengalaman dan kejadian-kejadian tersebut. Jiwa dapat……

 

MELEWATI SETIAP PENGALAMAAN SEBAGAI SAKSI – Berarti, dalam keadaan suka tidak menjadi angkuh, dan dalam keadaan duka, tidak berkecil hati. Semuanya hanyalah keadaan-keadaan sesaat yang mesti dilewati.

Kesalahan kita selama ini adalah kita menciptakan sangkar suka, sangkar keberhasilan, sangkar ketenaran, dan sebagainya. Kemudian kita menempatkan diri kita – Jiwa yang sesungguhnya bebas – di dalam sangkar tersebut.

Kita tidak sadar bila sangkar “serba suka” tersebut tidak bisa dibuat tanpa jeruji-jeruji menyilang dan kebalikan “serba suka”. Jeruji-jeruji ini adalah jeruji-jeruji “serba duka” yang membatasi gerak-gerik Jiwa. Bahkan merampas kebebasannya.

Setiap membuat sangkar suka, kita mengundang pengalaman duka. Tiada sangkar keterikatan yang tidak menghasilkan pengalaman kecewa, sakit-hati, dan sebagainya.

Janganlah menciptakan sangkar.

Pengalaman-pengalaman dan kejadian-kejadian di dunia ini bukanlah untuk dijadikan bahan baku untuk membuat sangkar dan memenjarakan diri. cukuplah bila kita melewatinya saja.

Dikutip dari buku: (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

Om, Sarve bhavantu sukhinaḥ; Sarve santu nirāmayāḥ; Sarve bhadrāṇi paśyantu; Mā kashchit duḥkha bhāgbhavet; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga semua makmur, bahagia dan bebas dari penyakit. Semoga semua mengalami peningkatan kesadaran, dan bebas dari penderitaan. Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/

 

banner-utk-di-web

oec4elearning-banner

Kita Menikmati Hidup Layaknya Serangga di Tengah Sampah? Jauhi Sampah atau Cari Solusi?

buku yoga sutra patanjali sampah

Setiap hari kita selalu memproduksi sampah, sadarkah kita, pedulikah kita????

Mereka yang bersifat tamas, malas, hidup bersama tumpukan sampah, tidak peduli dan tetap hidup tenang tak terganggu. Mereka yang bersifat rajas, dinamis akan menghindari tumpukan sampah, tapi tidak peduli orang lain hidup bersama sampah. Mereka yang buddhi atau intelegensianya mulai tumbuh tidak hanya memikirkan diri pribadi, akan tetapi memikirkan kepentingan umum, mereka mulai mencari solusi bagi tumpukan sampah. Mind atau Gugusan Pikiran dan Perasaan hanya memikirkan diri. Buddhi memikirkan kepentingan umum.

Mereka yang bersikap cuek terhadap penderitaan sesama makhluk; mereka yang duduk manis berpangku tangan ketika sesama manusia, sesama makhluk dianiaya, dizalimi, diinjak-injak harkat dan martabatnya sebagai manusia, adalah manusia-palsu, pseudo. Hanya berbaju manusia. Semangatnya masih semangat serangga yang suka sama sampah. Semangatnya masih sama seperti semangat kecoa-kecoa, tikus-tikus, lalat-lalat, nyamuk-nyamuk yang sedang menikmati makan pagi, makan siang, makan malam, dan kudapan mereka di tempat pembuangan sampah.

 

Silakan simak penjelasan Yoga Sutra Patanjali II.20 berikut:

buku yoga sutra patanjali

Cover buku Yoga Sutra Patanjali

Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu: Saha vīryam karavāvahai;Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai.Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga Hyang Tunggal senantiasa melindungi kita; menjernihkan pikiran kita: semoga kita dapat berkarya bersama dengan penuh semangat; semoga apa yang kita pelajari mencerahkan dan tidak menyebabkan permusuhan; Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

drasta drsimatrah suddho’ pi pratyaya-anupasyah

“Kendati melihat, Drasta atau Ia yang Melihat tak terpengaruh, tak tercemar oleh apa yang dilihatnya. Ia tetap suci, tetap murni.” Yoga Sutra Patanjali II.20

 

Dalam sutra ini, Patanjali sedang berbicara tentang Jiwa, tentang Jiwa Individu atau Jivatma; tentang Purusa atau Gugusan Jiwa.

“MELIHAT TAPI TIDAK TERPENGARUH oleh Apa pun yang Terlihat Olehnya.”

Jika Jiwa tidak terpengaruh, lalu siapakah yang terpengaruh? Ketika kita melihat, atau bahkan mengalami sesuatu yang menyenangkan atau sebaliknya, siapakah yang terpengaruh?

Jangankan sesuatu yang bersifat personal atau pribadi, jika empati sudah berkembang dan kita melihat orang lain dizalimi, kita tentu tidak bisa duduk diam atau membisu, Lalu, siapakah yang terpengaruh, dan kemudian bertindak untuk melawan kezaliman?

Jawabannya:

Ketika diri kita, dalam pengertian badan kita, fisik kita dizalimi; pikiran dan perasaan kita diteror, maka gugusan pikiran dan perasaan atau mind pula yang merasakannya, kemudian memerintah indra dan badan untuk bertindak.

Ketika rasa empati sudah berkembang sehingga saat melihat orang lain dizalimi kita merasa iba, merasa perlu bersuara, maka saat itu buddhi atau inteligensi kita yang bekerja.

Gugusan Pikiran dan Perasaan atau Mind yang belum bertransformasi menjadi Buddhi, menjadi Inteligensi, adalah bersifat personal. Sebelum berkembangnya inteligensi, kita tidak akan bertindak untuk orang lain. Kita tidak merasakan penderitaan orang lain. Sebelum inteligensi berkembang, kita hanya memikirkan diri saja.

 

BERKEMBANGNYA BUDDHI ATAU INTELIGENSIA berarti kita sudah bisa merasakan kesatuan dan persatuan dengan semesta, dengan makhluk-makhluk lain. Saat itu kita menjadi transpersonal.

“Lalu,” barangkali Anda bertanya, “apa kaitannya dengan sutra ini bahwa ia yang melihat sesungguhnya tidak terpengaruh oleh apa yang dilihatnya?”

Untuk memahami Patanjali pun kita butuh inteligensi, butuh buddhi. Penyelaman kita bersama saat ini pun dalam rangka itu, dalam rangka pengembangan buddhi.

Sebab itu, mulailah agak go slow, dalam pengertian tidak sekadar membaca—dan jangan sekali-kali melewatkan beberapa kalimat atau paragraf; jangan menggunakan keahlian Anda dalam hal membaca cepat. Sutra-sutra ini bukan sekadar bacaan. Sutra-sutra ini adalah bagian dari laku, dari sadhana, dari pelatihan, dari soul work-out sehingga setiap tahap mesti dialami, tidak bisa dilewatkan begitu saja.

Renungkan setiap kata dalam sutra ini.

 

“KENDATI MELIHAT, sesungguhnya la yang Melihat tidak tercemar, tidak terpengaruh oleh apa yang dilihatnya, Ia tetap murni, suci.”

Ia “yang tampak” melihat—“yang umumnya dianggap melihat”—adalah Gugusan Pikiran dan Perasaan, Mind.

Sementara itu, “tidak tercemar, tidak terpengaruh” adalah sifat yang melekat pada Jiwa sebagai Saksi. Berarti, yang tidak tercemar, tidak terpengaruh, dan tetap suci, murni itu adalah Jiwa, Jivatma. Sinar matahari yang menerangi tumpukan sampah yang mengeluarkan bau tidak sedap dan sangat “tidak enak dipandang” itu “tidak terpengaruh” oleh bau tidak sedap. Sinar Matahari atau  Cahaya Matahari hanya bertugas sebagai penyinar, sebagai saksi Sinar atau Cahaya Matahari tidak berbuat apa-apa.

Tapi—dan ini amat sangat penting untuk disimak.

 

TIDAK BERARTI GUGUSAN PIKIRAN DAN PERASAAN ATAU MIND TIDAK BERTINDAK—dengan menggunakan sarana sinar matahari, cahaya matahari, ia menjauhi tumpukan sampah itu. la memerintah badan dan indra untuk melindungi dirinya.

Sementara itu, jika Buddhi atau Inteligensi sudah mulai bekerja, maka ada pekerjaan tambahan. Bukan sekadar melindungi diri, buddhi atau inteligensi akan memerintah badan dan indra untuk mencari solusi, untuk berupaya supaya sampah itu bisa dijadikan pupuk, atau diapakan, supaya tidak mengganggu kesehatan umum.

Mind atau Gugusan Pikiran dan Perasaan hanya memikirkan diri. Buddhi memikirkan kepentingan umum. Jelas ya.

Sementara itu, Sinar, Cahaya, Jiwa sama sekali tidak terpengaruh oleh apa pun. Ia hanya menjadi saksi. Ketika mind belum bekerja. secara sempurna, dan melihat sampah pun kita tidak berbuat apa-apa –persis seperti serangga, kecoa, nyamuk, lalat yang malah berkumpul di sekitar tumpukan sampah—, Jiwa menyaksikan kebodohan dan kemalasannya. Pertunjukan Tamas, Bodoh, Malas.

Ketika Mind mulai bekerja dan kita menjauhi tumpukan sampah, maka Jiwa menyaksikan Pertunjukkan Rajas, Aktif, Dinamis.

Ketika Buddhi atau Inteligensi mulai berperan, kita mencari solusi supaya timbunan sampah tidak terjadi lagi. Saat itu Jiwa menjadi Saksi bagi Pertunjukkan Sattva, Dinamis tapi tetap tenang, Kreatif, siap Berkarya Tanpa Pamrih.

Pertunjukkan apa pun, Jiwa tetap saksi.

Pertunjukkan jelek Tami tidak membuatnya menjadi jelek. Pertunjukkan Dinamis Agresif Raji tidak membuatnya ikut menjadi agresif. Pertunjukkan Dinamis Kreatif tapi Tetap Tenang oleh Sati pun tidak memengaruhi Jiwa.

Apa pun yang terjadi, Jiwa tetap Suci, Murni. Kesuciannya, kemurniannya tidak terganggu oleh gangguan luar apa pun.

 

PARA PEMALAS, MEREKA YANG BERSIFAT TAMASI, tidak peduli terhadap apa pun yang terjadi. Mereka—yang jangankan Buddhi atau Inteligensinya, Mind atau Gugusan Pikiran serta Perasaan saja belum bekerja, belum berkembang—boleh saja berpikir positif, boleh saja berpositif-ria seolah sudah mencapai tingkat Kesadaran Jiwa, Kesadaran-Saksi. Siapa yang bisa melarang seseorang yang pekerjaannya hanyalah berkhayal?

Tidak, mereka yang bersikap cuek terhadap penderitaan sesama makhluk; mereka yang duduk manis berpangku tangan ketika sesama manusia, sesama makhluk dianiaya, dizalimi, diinjak-injak harkat dan martabatnya sebagai manusia, adalah manusia-palsu, pseudo. Hanya berbaju manusia. Semangatnya masih semangat serangga yang suka sama sampah. Semangatnya masih sama seperti semangat kecoa-kecoa, tikus-tikus, lalat-lalat, nyamuk-nyamuk yang sedang menikmati makan pagi, makan siang, makan malam, dan kudapan mereka di tempat pembuangan sampah.

 

MANFAATKAN KESAKSIAN JIWA, manfaatkan sinarnya, cahayanya untuk melihat sampah sebagai sampah. Tidak perlu terpengaruh dan beraduh-aduh, “Aduh sampah, aduh kotor, aduh bau.” Gunakan buddhi, biarlah ia menuntun indra dan badan kita untuk mengupayakan solusi, supaya tidak ada sampah, tidak ada bau tidak sedap, tidak ada penyakit yang disebabkan oleh lingkungan yang tidak higienis.

Kesaksian Jiwa sangat penting.

Sinar Jiwa, Cahayanya penting supaya buddhi atau inteligensi bisa melihat, dan bertindak sesuai dengan, tidak hanya apa yang dilihatnya, tapi juga sesuai dengan kesadarannya.

Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2015). Yoga Sutra Patanjali Bagi Orang Modern, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Om, Sarve bhavantu sukhinaḥ; Sarve santu nirāmayāḥ; Sarve bhadrāṇi paśyantu; Mā kashchit duḥkha bhāgbhavet; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga semua makmur, bahagia dan bebas dari penyakit. Semoga semua mengalami peningkatan kesadaran, dan bebas dari penderitaan. Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/

 

Banner utk di web

oec3Elearning-Banner-2 (1)

Meditasi dan Yoga Bukan Pelarian dari Kemalasan Menghadapi Kenyataan Hidup

 

buku yoga sutra patanjali meditasi yoga

Pencerahan adalah hasil Apavarga, keluar dari gerombolan warga edan. Selama kita masih menjadi bagian dari gerombolan edan, dari keluarga yang terkondisi oleh kebiasaan-kebiasaan yang membelenggu, pencerahan hanyalah sebuah khayalan, tidak pernah terjadi.

buku yoga sutra patanjali

Cover buku Yoga Sutra Patanjali

Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu: Saha vīryam karavāvahai;Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai.Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga Hyang Tunggal senantiasa melindungi kita; menjernihkan pikiran kita: semoga kita dapat berkarya bersama dengan penuh semangat; semoga apa yang kita pelajari mencerahkan dan tidak menyebabkan permusuhan; Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

Drsyam atau yang Terlihat, Dilihat—Objek yang menjadi sasaran penglihatan dan yang melihat—terdiri atas bhuta atau elemen-elemen alami (— tanah, air, api, angin, dan eter sebagai substansi ruang) serta indriya atau indra; dan, ber-sila, bersila, bersifat, atau berpedoman pada tiga sifat, yaitu prakasa, cahaya, sehingga mencerahkan (— sattva); kriya, aktif, dinamis (- rajas); dan sthiti atau statis, tanpa aktivitas (— tamas). Tujuannya adalah membuat diri—Atma atau Jiwa— mengalami berbagai bhoga atau kenikmatan, sekaligus apavarga atau berpaling dari segala kenikmatan tersebut (untuk meraih moksa atau kebebasan mutlak).” Yoga Sutra Patanjali II.18

 

Di antara para pemikir dan filsuf Barat, kiranya hanya Shakespeare—seorang pujangga, penyair, dan penulis drama asal Inggris—yang betul-betul memahami hal ini. Persis seperti yang dikatakannya, dunia benda ini ibarat panggung sandiwara. Hidup ini adalah sebuah sandiwara, drama. Kita semua adalah pemain dalam sandiwara tersebut.

Dalam bahasa Patanjali….

ALAM BENDA DAN INDRA MANUSIA, termasuk fisik kita seutuhnya bersama dengan gugusan pikiran serta perasaan segala – singkatnya, segala sesuatu yang terlihat, yang dapat dilihat, berpedoman pada dan diatur oleh 3 sila, 3 sila:

Pertama, Prakasa atau Cahaya Terang.

Maksudnya adalah “mencerahkan”. Berarti, segala pengalaman yang kita peroleh sebagai hasil interaksi indra kita, badan kita dengan alam benda, dapat atau bisa mencerahkan!

Segala sakit hati, segala penderitaan, segala kejatuhan, kemalangan—pengalaman terburuk apa pun—semua justru dapat mencerahkan kita.

Kemudian, setelah tercerahkan, barulah untuk pertama kali kita tertawa. Itulah Tawa Pertama kita………..

Silakan baca Yoga Sutra Patanjali hal 188 tentang tertawa. Osho mengajak kita mempersembahkan cengengesan kita ke dalam api persembahan dst……sampai hal 190.

 

PRAKASA ATAU SIFAT SATTVA yang mencerahkan membuat kita “beIok”—membuat kita melakukan apavarga.

“Apavarga”—renungkan.

Apakah kata ini mengingatkan Anda pada suatu kata lain? Suatu kata dalam bahasa kita? Coba renungkan dulu, jangan cepat-cepat membaca jawaban saya, penjelasan saya. Putar otak sedikit!

Varga? Does it ring bell to you?

Varga atau warga; keluarga atau kula-varga. Apa berarti “meninggalkan”—keluar dari, membelok. Apavarga adalah sebuah kata revolusioner. Apavarga menuntut kita agar melakukan pemberontakan terhadap keadaan kita saat ini. Apavarga menuntut kita agar meninggalkan kebiasaan-kebiasaan lama dan memulai hidup baru “on our own terms”—di mana own terms berarti terms-nya Atma? atau Jiwa; Atmaka, Jiwani—sesuai dengan kodrat Jiwa, Sila Jiwa, bukan Sila-Dunia dan Masyarakat yang sudah korup, sudah edan. Sila Jiwani, Sila itmaka, Sila Jiwa, Sila Diri-Sejati adalah Sila Kesadaran-Diri, Sila Pencerahan, Sila Hidup Bebas, Sila Kemerdekaan.

Pencerahan adalah hasil Apavarga, keluar dari gerombolan warga edan. Selama kita masih menjadi bagian dari gerombolan edan, dari keluarga yang terkondisi oleh kebiasaan-kebiasaan yang membelenggu, pencerahan hanyalah sebuah khayalan, tidak pernah terjadi.

 

PENCERAHAN ADALAH HASIL APAVARGA—berpaling dari kebendaan, dari keduniawian dengan penuh kesadaran bahwa segala sesuatu di alam benda ini diperuntukkan bagi badan, indra, gugusan pikiran dan perasaan, bukan bagi Jiwa. Sementara itu, jika ingin bahagia, tldaklah mungkin meraih kebahagiaan dari alam benda.

Lagi-lagi sebagaimana telah kita ulangi hampir dalam setiap buku, tidak berarti kita berhenti menggunakan segala peralatan dan fasilitas yang ditawarkan oleh alam benda. Gunakan semua itu, tanpa melupakan tujuan, sebagaimana dikatakan dalam sutra ini, yaitu pencerahan.

Artinya, tidak menjadi budak alam benda, tidak menjadi budak indra. Tidak memberhalakan keterikatan dan kenyamanan badaniah dan indrawi. Semua itu penting untuk memfasilitasi pencerahan diri. Namun semua itu hanyalah tools, sarana—bukan tujuan.

Melanjutkan Sutra ini.

Sila, Pedoman, atau Sifat Kedua alam benda dan kebendaan adalah

 

KRIYA—AKTIVITAS, KEGIATAN, DINAMIKA—termasuk juga gairah, agresivitas, nafsu, dan sebagainya. Inilah yang disebut guna atau sifat rajas.

Sifat kedua dan ketiga adalah sifat-sifat yang dominan secara umum. Berada dalam kedua sifat ini, atau, ketika salah satu antara kedua sifat ini dominan, maka proses apavarga—membelokkan kesadaran—menjadi sedikit lebih susah daripada saat sifat Prakasa atau Sattva sedang dominan.

Kita bisa sedemikian disibukkan dengan segala macam kegiatan, segala macam urusan, segala macam kriya kebendaan sehingga urusan Jiwa yang terpenting terlupakan.

Masih “agak” bisa dipahami jika seseorang belum pernah merasakan dominasi sifat pertama—walau hal itu tidak mungkin juga karena sesungguhnya tidak ada seorang pun yang belum pernah mengalami dominasi sifat pertama, pasti pernah; soal lain kalau terlewatkan begitu saja karena kurangnya kepekaan dan kesadaran—yang amat disayangkan adalah ketika seseorang yang sudah lebih sering berada dalam alam prakasa terseret ke sifat-sifat, alam-alam rendahan.

DENGAN BERLATIH DIRI, DENGAN MELAKONI YOGA SEBAGAI GAYA HIDUP, kita menjadi lebih kreatif, lebih efisien dalam penggunaan waktu, energi dan segala sumber yang kita miliki.

Saat itu jika klta berprofesi sebagal pengusaha, usaha kita makin maju, makin berkembang. Jika berprofesi sebagai politisi, kita adalah politisi negarawan, bukan politisi kutu loncat. Jika berprofesi sebagai karyawan, kita pasti menjadi seorang karyawan kesayangan bos!

Nah, ketika kita menikmati sukses—keberhasilan materi—, jika kita tidak berhati-hati, kita bisa menjadi serakah, sombong, angkuh. Lagi-lagi perkara apavarga terlupakan, dan malah terseret ke bawah karena sifat-sifat yang tidak mulia tersebut.

Intinya, berhati-hatilah!

Apalagi jika sifat ketiga, sifat sthiti atau statis sedang dominan, maka

 

TAMAS ATAU KEGELAPAN MENDOMINASI setiap pikiran, perasaan, ucapan, dan tindakan kita. Sthiti mernbuat kita enggan bergerak maju. Didorong pun tetap ada resistensi.

Banyak orang bersifat Tamas atau Sthiti tertarik dengan meditasi, Yoga dan latihan-latihan spiritual lalnnya karena mereka malas menghadapi kenyataan hidup. Latihan dljadikan pelarian.

Apalagi jika di tempat latihan ada Godfather, seorang Bapak Angkat yang merasa kasihan terhadap diri mereka, dan berperan sebagai Sinterklas. “Masih muda sudah mau meditasi, hebat. Sini, kubayarkan kosmu.” Dari membayarkan kos, kemudian makan, bahkan makan bersama pacar. Demikian Sang Sinterklas Godfather alih-alih membantu mereka yang bersifat tamas, malah mendorong merekajatuh ke dalam jurang ketidaksadaran.

Sementara itu, mereka yang terdorong dan jatuh ke dalam jurang malah menerjemahkan kejatuhan mereka, keberadaan mereka dalam jurang sebagai berkah. “Sekarang aku sudah tercerahkan, tidak ada yang dapat mengganggu kesadaranku.”

Mau diganggu bagaimana?

Siapa yang mau menjatuhkan diri ke dalam jurang untuk untuk menggangu mereka? Tapi hati-hati, waspada, memang tidak ada manusia waras yang bisa mengganggu; seorang waras tak akan menjatuhkan diri untuk mengganggu. Tapi lagi-lagi, jangan lupa, ada juga rekan-rekan sesama pemalas, yang sedang didorong untuk masuk ke dalam jurang.

Di dalam jurang ketidaksadaran pun bisa terbentuk komunitas para pemalas, manusia-manusia bersifat tamas yang lebih suka berada dalam keadaan statis, sthiti.

 

PAHAM, SESUNGGUHNYA DUNIA TEMPAT KITA SEMUA TINGGAL SAAT INI, masyarakat kita ini, kula dan varga kita saat ini semuanya adalah bagian dari Jurang Ketidaksadaran.

Kita semua, tanpa kecuali, adalah manusia-manusia penghuni jurang. Apavarga berarti meninggalkan kula dan varga jurang, meninggalkan masyarakat, keluarga jurang. Berarti, keluar dari jurang ketidaksadaran dan hidup di daratan kesadaran.

Segala kenyamanan, pembangunan, teknologi—apa saja yang terlihat saat ini—adalah bagian dari Alam Jurang Ketidaksadaran. “Berpalinglah, beloklah, keluarlah dari jurang ini,” demikianlah kiranya seruan Patanjali.

Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2015). Yoga Sutra Patanjali Bagi Orang Modern, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Om, Sarve bhavantu sukhinaḥ; Sarve santu nirāmayāḥ; Sarve bhadrāṇi paśyantu; Mā kashchit duḥkha bhāgbhavet; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga semua makmur, bahagia dan bebas dari penyakit. Semoga semua mengalami peningkatan kesadaran, dan bebas dari penderitaan. Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/

 

Banner utk di web

oec2elearning-banner

Agresivitas dan Bermalas-Malasan Membuat Kita Ngetem di Dunia Tak Berkesudahan

buku yoga sutra patanjali samsara 3 meditasi

Syarat utama adalah viveka—kemampuan untuk memilah, untuk menentukan mana yang mulia dan baik bagi diri kita, bagi evolusi kita, bagi Jiwa—dan mana yang sekadar menyenangkan dan terasa nikmat bagi tubuh dan indra. Viveka membuat kita sadar akan kebutuhan Jiwa, yaitu Kebahagiaan Sejati yang bersumber pada Kesadaran Jiwa itu sendiri. Patanjali tidak menolak kenyamanan tubuh, kenikmatan indra dalam takaran moderat, tidak berlebihan, tidak kekurangan. Silakan mengurusi badan dan indra, tetapi dalam kerangka besar kebutuhan Jiwa; dalam rangka mewujudkan misi Jiwa. Kenyamanan tubuh dan kenikmatan indra tidak boleh berdiri sendiri. Semua itu mesti demi terwujudnya Kesadaran Jiwa dan tercapainya Kebahagiaan Sejati. Yoga Sutra Patanjali II.15

Dibawah ini adalah cerita Hola tanpa viveka yang membuat dia mengalami lingkaran kelahiran dan kematian yang tidak berkesudahan.

buku yoga sutra patanjali

Cover buku Yoga Sutra Patanjali

Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu: Saha vīryam karavāvahai;Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai.Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga Hyang Tunggal senantiasa melindungi kita; menjernihkan pikiran kita: semoga kita dapat berkarya bersama dengan penuh semangat; semoga apa yang kita pelajari mencerahkan dan tidak menyebabkan permusuhan; Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

heyam duhkham-anagatam

“Duka-derita pada masa mendatang dapat, dan mesti dihindari” Yoga Sutra Patanjali II.16

 

Di sini Patanjali membuktikan sekali lagi bahwa Yoga bukanlah filsafat fatalistik. Jika klesa atau duka-derita pada masa lalu telah menjadi “sebab” kelahiran kita kali ini, kita bisa berupaya untuk memastikan bahwa tidak ada lagi benih-benih duka-derita atau klesa yang mengakibatkan kelahiran ulang pada masa mendatang.

 

SIMPLY PUT, SEDERHANANYA, penderitaan masa kini yang disebabkan oleh benih-benih duka-derita dari masa lalu memang unavoidable. Tidak bisa dihindari. Tapi kita bisa memastikan bahwa, sekarang, pada masa kini. tidak ada lagi benih-benih duka-derita yang dapat bertunas pada masa yang akan datang.

Saat ini, kaki sudah terpeleset, kejatuhan tidak dapat dihindari. Tapi tidak berarti sekali terpeleset, tetap terpeleset, terpeleset hingga akhir zaman. Tidak. Terpeleset sekali “pada masa kini” sudah cukup. Tidak perlu mengulangi pengalaman yang sama. Sekali terpeleset, sekali jatuh sudah cukup.

Kita bisa belajar, mengambil hikmah dari pengalaman pahit masa kini, dan memastikan untuk tidak mengulangi tindakan yang sama – tidak mengulangi suatu perbuatan yang bisa menyebabkan duka-derita pada masa mendatang.

 

JANGAN MENYEDERHANAKAN ARTI SUTRA INI! Sutra ini “membuat” kita bertanggung jawab sepenuhnya atas kehidupan kita. Yoga tidak mengajarkan kita untuk mencari pembenaran, alasan, apalagi kambing hitam—atas penderitaan kita.

Duka-derita yang sedang kita alami saat ini disebabkan oleh benih-benih apunya atau tidak mulia pada masa lalu. Benih-benih itu sedang bertunas, berbuah. Kita tidak bisa menolak buah atau hasil perbuatan pada masa lalu.

Kita juga tidak perlu menyalahkan siapa-siapa, tennasuk keadaan, atas penderitaan kita saat ini. Kita sendiri bertanggung jawab atas segala penderitaan kita saat ini. Tapi, tidak berarti kita tidak bisa mengubah keadaan.

 

KESADARAN BAHWA “SAYA BERTANGGUNG JAWAB” atas penderitaan saat ini, sesungguhnya justru “memberdayakan” diri kita untuk: Pertama, menjalani, “melewatinya tanpa beraduh-aduh. Kedua memastikan bahwa sambil melewatinya, kita tidak lagi mengumpulkan benih klesa atau duka-derita yang bisa menyebabkan penderitaan pada masa yang akan datang.

Rasanya kita mesti kembali menyapa Hola untuk memahami hal ini. Saya dengar Hola pernah menjadi konglomerat. Ia bekerja keras dan berhasil. Bingo! Awalnya dla berpikir. Kalau kebutuhan sudah cukup, aku akan berhenti bekerja keras seperti sekarang ini, dan menikmati hasil jerih payahku.

Sayang, pikiran tinggal pikiran.

Setelah kebutuhannya mencapai puluhan kali Iipat dari apa yang pemah dibayangkan, dipikirkan olehnya, tetaplah ia bekerja seperti kerbau. Sekarang ia memiliki banyak perusahaan, banyak bisnis, “Staf, direktur, manajer, semua kurang asem. Mereka tidak memiliki semangat yang kumiliki.”

Gola berusaha mengingatkan dia, “Hola, bukankah kau pernah berjanji akan take it easy setelah mencapai tujuanmu? Sekarang tujuan yang terpikir olehmu sudah tertinggal di belakang. Kenapa mesti tetap membanting tulang seperti ini?

“Taruhlah Staf tidak perfect…penghasilan berkurang 20-30, atau bahkan hingga 50%. What do you care? Tabungan sudah sekian. Relaks, Hola! Nikmati hasil jerih payahmu.”

 

HOLA MALAH BERANG, “KERAJAAN BISNIS ini telah kubangun di atas coran darahku. Nggak pakai air, pasir, semen, dan batu – pakai darah dan keringat. Darah dan keringatku tahu!”

Ya, sudah.

Tapi, teguran Gola membuat dia agak rewind ke belakang. Tidak mau mengaku sama Gola, tetapi dalam hati, Gola benar juga. Aku ini sudah bukan kerbau lagi. Cara aku bekerja sudah seperti kerbau dan kuda jadi satu. Kapan kunikmati hasil jerih payahku?

Baru mau ambil keputusan drastis, datanglah Bola. Seperti biasa, ia punya proyek baru, proposal baru. Melihat angka-angka di atas kertas, Hola rela menjadi kerbau plus kuda Iagi.

Kembali urusan kejar-mengejar, urusan kerbau dan kuda dilakoni lagi. Suatu hari, di tengah segala urusan lari-melari itu, tiba-tiba keberadaan memutuskan untuk tidak memperpanjang kontrak usinya. Jantung terasa mau copot.

Hola masih sempat berpikir, Wah, ini jantungku mampus deh aku. Terpikirkan pula segala harta kekayaannya, tabungannya, kerajaan bisnisnya, dan lebih-lebih lagi, kata-kata Gola. Sialan, aku tidak sempat menikmati segala hasil jerih payahku. Kalau ‘Lahir Lagi’, aku tidak mau bekerja keras seperti ini, aku mau hidup santai saja. Plak, mampus si Hola!

 

PIKIRAN TERAKHlR HOLA, TIDAK MAU BEKERJA KERAS, MAU SANTAI, menjadi benih bagi kehidupan berikutnya. Maka, “terjadi”-lah kelahiran ulang di Siberia!

Contoh yang diberikan oleh I.K. Taimni dalam ulasannya dalam ulasannya tentang Yoga Sutra ini saya improvisasi sedikit. Contoh ini sangat tepat untuk menjelaskan bagaimana kita menjadi sebab kelahiran ulang, sekaligus memicu konflik antara guna dan kekacauan pikiran serta perasaan.

Pikiran terakhir Hola, atau lebih tepatnya penyesalan Hola terlambat. Seandainya ia mendengarkan nasihat Gola dan tidak terbawa rayuan Bola, ceritanya sudah pasti beda.

Sialnya Hola, ia tidak segera menindaklanjuti nasihat Gola, malah hanyut bersama Bola.

Kemudian penyesalan yang terlambat itu pun tidak tepat. “Tidak mau bekerja keras” adalah sifat Tamas, bodoh dan malas, lahirlah dia di Siberia, di Kutub Utara.

Demikian, tercapailah keinginan Hola. Terwujudlah, pikiran dia untuk “tidak bekerja keras”. Tinggal di Siberia, di Kutub Utara, mau bekerja keras pun untuk apa? Apa yang mau dikerjakan? Apa yang bisa dikerjakan?

Hola bisa hidup bermalas-malasan.

Selama puluhan tahun hidupnya, Hola, yang sekarang berwujud Eskimo, santai-santai saja. Tak terpikir oleh Eskimo Hola bahwa ada kemungkinan-kemungkinan lain dalam hidup ini. Hidup ya hidup sebagai Eskimo, dan Siberia adalah Keseluruhan dari planet bumi. Kutub Utara adalah dunianya.

Namun, semua itu berubah ketika datang Si Bola berwujudkan keturunan Warga Paman Sam Sekarang, namanya Bola Samputra. Ia ikut bersama tim eksplorasi. Pertama kali ke Siberia, ia pun melengkapi dirinya dengan segala gadget mutakhir, tidak tahu bahwa Wi-Fi pun sebatas sekitar bandara terdekat . Di tempat eksplorasi tidak ada kemudahan akan apa pun.

 

SINGKAT CERITA, BERTEMULAH BOLA SAMPUTRA dengan Hola Eskimo. Law of Attraction bekerja, ada ketertarikan alami antara mereka. Langsung click, cesss!

Seperti dulu masa kehidupan sebelumnya—Bola masih tetap teguh pada dharma-nya sebagai perayu. Hola terkejut-kejut saja mendengar berbagai cerita dari Bola tentang betapa indahnya, majunya, berkembangnya negeri Paman Sam. Belum lagi segala macam gadget yang diperlihatkan oleh Bola padanya. Hebat!

Hola menjadi sedih, sambil menarik napas panjang, ia berujar, “Aku tidak tahu dosa apa sehingga aku lahir di tempat terpencil ini, jauh dari negerimu. Bagiku Sohib, negerimu itu seperti negeri impian. Dongeng-dongeng di sini berbicara tentang tempat-tempat indah seperti itu. Tak kusangka memang ada. Bukan dongeng saja.”

Ia mulai bermimpi tentang negeri Paman Sam, tentang Cash, Bill, Job, macam-macam. Coba lahir lagi, aku bisa menikmati hidup di negeri Bola Samputra. Aku akan bekerja keras, mengumpulkan uang, membeli semua peralatan seperti yang dimiliki Bola.

Itulah pikiran dia, pikiran Hola Eskimo yang terakhir – sebelum plak, mampus. Jelas, sesuai dengan keinginan dan pikirannya yang terakhir,

 

DIA LAHIR KEMBALI DI NEGERI PAMAN SAM, bekerja keras seumur hidup, seperti kuda, seperti kerbau, mengumpulkan segala macam peralatan mewah. Tapi, ya itu, lagi-lagi lupa menikmati hidup. Sampai kena serangan jantung, dan sebelum mati ia pun berpikir kembali, Lahir lagi mau hidup santai ahh.… Mampus.

 

Lahir lagi di Siberia, jadi Eskimo. Hidup santai, sampai bertemu lagi dengan Bola Samputra, lalu tergiur oleh cerita-ceritanya. Wah, betapa senang kalau bisa lahir di negeri Paman Sam. Kerja keras, beli barang-barang mewah. Pikiran terakhir, mampus, mati, lahir lagi di negeri Paman Sam.

 

JADI KUDA LAGI, KERBAU LAGI, MENYESAL LAGI, MAMPUS LAGI, dan lahir lagi di Siberia. Begitu terus sampai ribuan tahun. Ngetem antara Siberia dan negeri Paman Sam.

Inilah Lingkaran Samsara.

Inilah lingkaran kelahiran dan kematian yang tidak berkesudahan. lnilah Permainan Keberadaan—inilah Maya, ilusi.

Hidup di negeri Paman Sam ibarat hidup bersama pasangan bernama Raji—Rajas. Hidup di Siberia ibarat hidup bersama Tami—Tamas.

Antara agresivitas dan bermalas-malasan di antara duaekstrem inilah bandul kehidupan manusia bergoyang terus.

Seandainya kita menikmati “goyangan” seperti itu dari satu masa  kehidupan ke masa kehidupan berikutnya, ya sudah. Sekarang pun sudah demikian. Goyangan inilah yang disebut vrtti.

Yoga mengajak kita untuk berhenti bergoyang dangdut seperti itu. Sekarang, mau kita apa? Mau goyang terus? Mau berhenti? Patanjali menjelaskan bahwa goyangan-goyangan seperti itu tidak menghasilkan apa-apa. “Lampauilah goyangan Samsara” demikian kiranya seruan Patanjali.

Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2015). Yoga Sutra Patanjali Bagi Orang Modern, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Om, Sarve bhavantu sukhinaḥ; Sarve santu nirāmayāḥ; Sarve bhadrāṇi paśyantu; Mā kashchit duḥkha bhāgbhavet; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga semua makmur, bahagia dan bebas dari penyakit. Semoga semua mengalami peningkatan kesadaran, dan bebas dari penderitaan. Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/

 

Banner utk di web

oec2elearning-banner

Renungan #Gita: Kematian Menjemput Saat Kita Dikuasai Rajas, Tamas atau Sattva?

buku bhagavad gita

Cover Buku Bhagavad Gita

Bhagavad Gita 14:15

“Meninggal saat Rajas berkuasa, Jiwa mengalami kelahiran ulang di dalam keluarga yang (sama-sama) terikat dengan aktivitas dan agresivitas. Demikian juga, seseorang yang meninggal saat Tamas berkuasa, mengalami kelahiran ulang lewat rahim (seorang ibu yang sama-sama) bodoh (dan didominasi oleh tamas).”

“Mereka yangterikat dengan tindakan dan dengan agresivitas selalu mengejar kebendaan tanpa kesadaran bila yang dikejarnya adalah fatamorgana.

“Tidak ada yang langgeng di Alam Benda ini – baik di dunia ini, di planet-planet lain, maupun di alam halus yang disebut surga. Sesungguhnya, urusan kejar-mengejar ini sudah kita lakukan sejak dulu, dan tiada memuaskan Jiwa. Pengulangan pengalaman-pengalaman ini membuat Jiwa menjadi capek. Namun, karena belum mencapai titik jenuh – ia tetap menikmati kenikmatan semu dari pengulangan pengalaman-pengalaman tersebut. Seperti itulah keadaan mereka yang mati, saat Rajas adalah dominan.

“Terakhir, Krsna menjelaskan keadaan mereka yang mati saat Tamas berkuasa – Dalam pengalaman kelahiran berikutnya, Jiwa mengulangi lagi pengalaman malas bahkan, dalam keadaan tertentu, bisa mengalami kelahiran sebagai hewan dan serangga.

“Urusannya hanyalah makan, minum, tidur, dan seks. Semua itu hanyalah urusan survival – sekadar bertahan hidup seperti halnya dengan hewan-hewan yang lain. Mereka belum hidup sepenuhnya sebagai manusia. Sesungguhnya banyak di antara kita yang menjalani kehidupan seperti itu. Berjubah, berbadan manusia, banyak yang masih menjalani hidup sebagai hewan dan serangga.” (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

 

Bhagavad Gita 14:14

“Jika seseorang meninggal saat Sattva berkuasa, maka ia memasuki alam surga atau alam lain yang serupa, yang hanya dicapai oleh mereka yang bertindak mulia (sepanjang hidupnya).”

“Sekadar bersifat sattva saja tidak menjamin surga dan alam-alam surgawi lainnya. Kita hanya dapat mencapainya, jika sifat sattva kita telah diterjemahkan dalam bahasa tindakan nyata, perbuatan yang mulia.

“Meninggal dunia saat sifat Sattva berkuasa… Gampang-gampang susah dan susah-susah gampang. Gampang bagi mereka yang sepanjang hidupnya memang sudah melatih diri untuk berbuat yang mulia. Dan susah bagi mereka yang menunda perbuatan baik. Apalagi mereka yang berpikir, ‘Ah, nanti saja kalau sudah memasuki usia pensiun. Sekarang biarlah aku menikmati hasil korupsi. Nanti pada waktunya, kalau sudah tidak memiliki lahan basah ini, aku akan pindah ke kampung dan membangun kampung halaman.’

“Perbuatan baik yang ditunda menunjukkan bila si penundanya sedang dikuasai oleh sifat tamas. Sattva dalam pikiran dan perencanaan ‘saja’ adalah sattva khayalan. Tidak membantu kita.”  (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

 

“Jika Surga adalah Tujuan Hidup – Jika memang alam itu yang menjadi impian kita selama ini, maka upayakan agar sattva selalu berkuasa karena kita tidak tahu kapan ajal tiba. Kapan Dewa atau Malaikat Maut datang menjemput kita. Saat itu, jika kita kebetulan tamas atau rajas berkuasa yang berkuasa – maka surga pun tinggal menjadi mimpi saja – impian saja. Kita tidak bisa memasukinya.

“Sesungguhnya surga dan alam-alam lain sejenis yang tak terhitung jumlahnya, masih menjadi bagian dari kebendaan. Persis seperti alam dunia ini. Walau, disebut etheric – kebendaan yang halus, lebih cair – benda tetaplah benda.

“Bagi seorang yang ingin bebas dari samsara, dari kelahiran dan kematian yang tak berkesudahan, surga bukanlah sesuatu yang diminatinya. Surga bukanlah tujuan hidupnya. Ia tidak mengejar surga. Ia tidak tertarik dengan kenikmatan-kenikmatan di sana yang semuanya masih bersifat sementara.” (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)