Om: Selaras dengan Semesta Hilangkan Segala Rintangan #YogaSutraPatanjali

Entah kita menerimanya atau tidak; entah kita menyadarinya atau tidak; entah kita mengetahui tentang ini atau tidak — sesungguhnya, adalah Om ini yang, dalam alam meditasi, membawa kita ke alam lain dan juga membawa kita kembali ke alam ini. Dan, adalah Om ini pula yang bisa membebaskan kita dari kelahiran dan kematian berulang. Adalah Om ini yang bisa membebaskan kita!

 

“Omkara ini juga dikenal sebagai Agni, Api — api teragung yang bisa membakar habis identitas-jiwa rendah, mind, dan juga kesadaran-badan.

“Demikian setelah menggunakan Api untuk membakar semuanya, seseorang membakar benih kelahiran di masa depan.” Tattva Sang Hyang Mahajnana 65

BERARTI, DEMIKIANLAH SESEORANG MENCAPAI PEMBEBASAN dari samsara, dari penyebab kelahiran kembali.

Nah, ini tidak bisa dipahami secara filosofis. Om haruslah melampaui mind kita, bahkan inteligensia kita, untuk bisa menuntun kita melampaui mereka.

Jadi, mencoba untuk memahami Om adalah upaya yang sia-sia. Seseorang harus “melakoni”-nya untuk terangkat. Seseorang harus mengalarninya sendiri. Ini bukanlah bahan diskusi, walaupun ya, jika kita tertarik untuk mendiskusikannya maka bisa terus mendiskusikannya sampai bermasa-masa kehidupan tanpa beranjak ke mana-mana.

 

“Sesungguhnya Omkara adalah ucapan teragung, tersuci di antara yang suci. Sebagai yang terhalus, Omkara menuntun pada nirvana — padamnya api nafsu.” Tattva Sang Hyang Mahajnana 66

SEDEMIKIAN DAHSYATNYA KEPERKASAAN API OMKARA, sehingga semua api lain – api nafsu, keserakahan, keterikatan, kemarahan, ego, dan lain-lain —terpadamkan olehnya.

Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2015). Dvipantara Yoga Sastra, Jakarta: Centre for Vedic and Dharmic Studies)

Berikut manfaat pengulangan Om untuk mengatasi segala rintangan dalam buku Yoga Sutra Patanjali:

Buku Yoga Sutra Patanjali

Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu: Saha vīryam karavāvahai;Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai.Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga Hyang Tunggal senantiasa melindungi kita; menjernihkan pikiran kita: semoga kita dapat berkarya bersama dengan penuh semangat; semoga apa yang kita pelajari mencerahkan dan tidak menyebabkan permusuhan; Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

“Rintangan-rintangan yang mengacaukan citta atau benih-pikiran adalah Vyadhi atau Penyakit; Styana atau Ketumpulan (Mental); Samsaya atau Kebimbangan, Keragu-raguan; Pramada atau Sifat Tidak Peduli, Kecerobohan yang muncul dari ego, mementingkan diri sendiri saja; Alasya atau Kemalasan; Avirati atau Keterlibatan dengan segala Kenikmatan Indra; Bhranti-Dharsana atau Pandangan yang Terkondisi/Salah, Kebingungan, Ilusi; Alabdha-Bhumikatva atau Tidak Membumi, tidak Realistis; dan Anavasthitatvani atau Ketidakstabilan.” Yoga Sutra Patanjali I.30

Itulah daftar panjang rintangan yang dihadapi setiap sadhaka, setiap pelaku spiritual. Bahkan, sesungguhnya dalam keseharian hidup pun, rintangan-rintangan seperti itu selalu muncul. Dalam hal ini, adalah sangat penting bahwa kita memahami maksud PatanjaIi.

SETIAP RINTANGAN TERSEBUT ADALAH TERKAIT DENGAN DIRI KITA SENDlRl. Berarti, tiada satu pun rintangan berarti dari luar diri. Tiada satu pun rintangan yang disebabkan oleh keadaan di luar.

Ya, kadang keadaan menguntungkan. Jalan kita mulus. Kadang, keadaan tidak menguntungkan, dan kesadaran-diri pun mesti menghadapi “tantangan” of-road. Bagi Patanjali, tantangan-tantangan eksternal tersebut tidak bisa disebut tantangan. Tantangan eksternal relatif mudah dihadapi. Adalah rintangan-rintangan yang disebabkan oleh diri kita sendiri yang agak sulit diatasi. Unluk itu solusi yang ditawarkan oleh Patanjali, barangkali terdengar terlalu simplistic, sangat sederhana.

“MASA IYA, DENGAN PENGULANGAN OM SAJA SEMUA ITU BISA TERATASI?” Bisa, sangat bisa. Bahkan, tiada solusi lain.

Ingat, Patanjali adalah seorang Saintis Jiwa. Ia tidak Asbun—tidak Asal Bunyi, tidak Asal Bicara. Solusi yang ditawarkan pun sangat ilmiah.

Om atau Resonansi yang tercipta dengan mengulangi Om secara terus-menerus dapat menyelaraskan lapisan-lapisan kesadaran kita dengan semesta. Pun, elemen-elemen di dalam tubuh ikut terselaraskan dengan elemen-elernen alam. Bayangkan, renungkan apa yang terjadi saat itu? Kita mendapatkan tambahan kekuatan dari semesta. Energi kita, kemampuan kita berlipat ganda dalam sekejap!

Selain itu, segala sesuatu di dalam alam ini, bahkan alam semesta ini terungkap, terciptakan dari Suara Awal. Jadi, tak terbayangkan betapa dahsyat resonansi Suara Awal tersebut. Tak terbayangkan betapa Kreatif Suara Awal tersebut sehingga dampak dari resonansi awal itu masih tetap terasa, masih tetap menciptakan galaksi-galaksi baru!

Maka, tidaklah keliru jika Patanjali menganjurkan pemanfaatan resonansi dari Om. Cobalah, dan buktikan sendiri!

Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2015). Yoga Sutra Patanjali Bagi Orang Modern, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

Catatan:

Setiap getaran yang dikeluarkan oleh Om atau Aum dapat membantu kita dalam hal penyelarasan diri dengan semesta, bahkan dengan Ia Hyang berada di balik semesta, Hyang Mahakuasa. Kenapa bisa yakin sedemikian rupa? Silakan diuji, dicoba. Ucapkan dengan cara yang betul sebanyak 21 kali setiap pagi antara jam 04.00-07.00 selama 3 bulan saja. Anda pasti merasakan tidak hanya fisik Anda menjadi lebih sehat; pikiran pun Iebih tajam, lebih jernih; dan, perasaan lebih tenang.

Om, Sarve bhavantu sukhinaḥ; Sarve santu nirāmayāḥ; Sarve bhadrāṇi paśyantu; Mā kashchit duḥkha bhāgbhavet; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga semua makmur, bahagia dan bebas dari penyakit. Semoga semua mengalami peningkatan kesadaran, dan bebas dari penderitaan. Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/

 

Advertisements

Pengulangan Desis Matahari Om untuk Mencapai Tujuan #YogaSutraPatanjali

Jika kita menggunakan “Desis Matahari” sebagai tolok ukur, Suara Om atau Aum itulah yang “terdekat”. Dalam hal ini, konteks ini, penggunaan “desis matahari” sebagai tolok ukur adalah karena matahari adalah Sumber Energi Kehidupan paling penting bagi kita semua, bagi planet bumi yang kita huni.

Banyak varian om atau aum—Alm (alif lam mim?….. penulis kutipan), Aom, Ang, Aung, Ahung, dan sebagainya. Setiap di antaranya adalah valid. Semua kembali pada pendengaran kita.

Kembali pada Om atau Aum. Setiap getaran yang dikeluarkan oleh Om atau Aum dapat membantu kita dalam hal penyelarasan diri dengan semesta, bahkan dengan Ia Hyang berada di balik semesta, Hyang Mahakuasa.

Kenapa bisa yakin sedemikian rupa? Silakan diuji, dicoba. Ucapkan dengan cara yang betul sebanyak 21 kali setiap pagi antara jam 04.00-07.00 selama 3 bulan saja. Anda pasti merasakan tidak hanya fisik Anda menjadi lebih sehat; pikiran pun Iebih tajam, lebih jernih; dan, perasaan lebih tenang.

Sedikit tambahan, berikut adalah kutipan dari salah satu buku kita terdahulu, yaitu Gayatri Shadana – Cinta  yang Mencerahkan: “Untuk mengakses semesta Anda tidak perlu menggunakan kata atau password yang panjang lebar, sekian digit, dan mesti terdiri dari sekian kata dan sekian angka. Tidak, tidak perlu semua itu. Cukup dengan ‘suara’—sabda singkat. Dan, semesta terbuka lebar dan luas bagi Anda.” Penjelasan Yoga Sutra Patanjali I.27 dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2015). Yoga Sutra Patanjali Bagi Orang Modern, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Berikut penjelasan Yoga Sutra Patanjali dengan mengulangi Om secara terus-menerus seseorang meraih tujuannya:

Buku Yoga Sutra Patanjali

Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu: Saha vīryam karavāvahai;Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai.Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga Hyang Tunggal senantiasa melindungi kita; menjernihkan pikiran kita: semoga kita dapat berkarya bersama dengan penuh semangat; semoga apa yang kita pelajari mencerahkan dan tidak menyebabkan permusuhan; Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

taj -japah tad-artha-bhavanam

“Dengan mengulangi-Nya (Om atau Aum) secara terus-menerus, seseorang meraih atau merealisasi makna atau tujuannya.” Yoga Sutra Patanjali I.28

Kiranya apa yang menjadi tujuan Anda ketika Anda memanggil nama saya? Atau sebaliknya, apa yang menjadi tujuan saya, jika memanggil nama Anda? Sekarang, bagaimana jika kita menggunakan rumusan yang sama pada penyebutan, atau

PENGULANGAN OM ATAU AUM SECARA TERUS-MENERUS? Dan kita tahu bahwa Om atau Aum adalah Ekspresi atau Ungkapan Verbal-Nya. Dalam pengertian, Inilah Nama-Nya!

Patanjali ingin mengingatkan kita bahwa dengan mengulangi Nama-Nya secara terus-menerus, kita tidak hanya menyapa dan menyadari hakikat-Nya, tetapi juga menyapa dan menyadari hakikat diri kita sendiri—hakikat kita sebagai Jiwa, yang sesungguhnya tak terpisahkan dari Sang Jiwa Agung.

Sutra ini bisa dimaknai dengan berbagai cara: Taj Japah berarti “Mengulangi-Nya”. Tad Artha berarti “Makna, Arti, atau Tujuan-Nya”. Terakhir, Bhavanam berarti “Menjadi, Mewujud, atau Merealisasi”.

Secara esoteris, makna yang lebih dalam lagi: Dengan mengulangi-nya (mengulangi Om atau Aum) secara terus-menerus, seseorang tidak sekadar merealisasikan makna-Nya, tetapi “menjadi-Nya”. Bagi mereka yang telah mengenal prinsip kemanunggalan, bagi mereka yang percaya pada prinsip tersebut, tentu tidak menjadi masalah. Namun, bagi mereka yang berprinsip dualitas, di mana matahari, cahaya, dan/atau sinarnya dianggap terpisah, maka makna terakhir ini agak sulit untuk dicerna. Tidak menjadi soal.

 

JIKA KITA MASIH BERPIHAK PADA PAHAM DUALITAS, maka kita dapat pula memaknai sutra ini sebagai berikut.

“Dengan mengulangi Om secara terus-menerus kita meraih tujuan dari pengulangan tersebut.” Nah, sekarang kembali pada diri kita sendiri, apa yang menjadi tujuan kita?

Jika kita tetap bertujuan untuk berpisah dari-Nya, tujuan itu yang tercapai. Jika tujuan kita adalah kemanunggalan, kemanunggalanlah yang kita realisasi.

 

tatah pratyak-cetanadhigamo’pyantaraya bhavas-ca

“Demikian, seseorang meraih Pratyak Cetana atau Kesadaran Jiwa, dan segala rintangan (untuk mencapainya) teratasi.” Yoga Sutra Patanjali I.29

Dengan mencapai Kesadaran Jiwa, maka tiada lagi kebingungan tentang jati diri, tentang kesejatian diri kita sebagai Jiwa yang Tak Terpisahkan dari Jiwa Agung.

Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2015). Yoga Sutra Patanjali Bagi Orang Modern, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Om, Sarve bhavantu sukhinaḥ; Sarve santu nirāmayāḥ; Sarve bhadrāṇi paśyantu; Mā kashchit duḥkha bhāgbhavet; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga semua makmur, bahagia dan bebas dari penyakit. Semoga semua mengalami peningkatan kesadaran, dan bebas dari penderitaan. Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/

 

Pengulangan Om Secara Terus-Menerus Mengatasi Segala Rintangan

buku yoga sutra patanjali om suara matahari

“Om adalah password tunggal; baik untuk memasuki alam benda, maupun keluar dari alam benda. Bahwasanya password ini dibuka bagi setiap orang – adalah merupakan kemurahan hati Gusti Pangeran. Ini adalah berkah-Nya. Ada password, tapi password ini tidak dirahasiakan – silakan memakainya! Siapa pun kita, dengan latar belakang tradisi apa pun – password ini tidak berkurang manfaatnya. Luar biasa!

“Sekarang, tinggal keyakinan kita yang dibutuhkan. Karena, password ini mesti disertai keyakinan. Keyakinan adalah energi yang mengaktifkan password ini. Komputer-komputer pribadi sudah makin canggih, menggunakan cara-cara identifikasi dengan jari, wajah, suara, retina – tapi belum menggunakan pikiran, perasaan, apalagi niat!

“OM + NIAT YANG KUAT. Nah, untuk memunculkan niat yang kuat itu, kita mesti memiliki keyakinan yang luar biasa. Tanpa keyakinan tiada sesuatu yang dapat terjadi.” Penjelasan Bhagavad Gita 8:13

Demikian penjelasan Bhagavad Gita dan berikut penjelasan Om untuk meraih tujuan seperti dijelaskan dalam Yoga Sutra Patanjali I.28-29-30 berikut:

buku yoga sutra patanjali

Cover buku Yoga Sutra Patanjali

Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu: Saha vīryam karavāvahai;Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai.Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga Hyang Tunggal senantiasa melindungi kita; menjernihkan pikiran kita: semoga kita dapat berkarya bersama dengan penuh semangat; semoga apa yang kita pelajari mencerahkan dan tidak menyebabkan permusuhan; Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

“Dengan mengulangi-Nya (Om atau Aum) secara terus-menerus, seseorang meraih atau merealisasi makna utau tujuannya.” Yoga Sutra Patanjali I.28

Kiranya apa yang menjadi tujuan Anda ketika Anda memanggil nama saya? Atau sebaliknya, apa yang menjadi tujuan saya, jika memanggil nama Anda? Sekarang, bagaimana jika kita menggunakan rumusan yang sama pada penyebutan, atau

PENGULANGAN OM ATAU AUM SECARA TERUS-MENERUS? Dan kita tahu bahwa Om atau Aum adalah Ekspresi atau Ungkapan Verbal-Nya. Dalam pengertian, Inilah Nama-Nya!

Patanjali ingin mengingatkan kita bahwa dengan mengulangi Nama-Nya secara terus-menerus, kita tidak hanya menyapa dan menyadari hakikat-Nya, tetapi juga menyapa dan menyadari hakikat diri kita sendiri—hakikat kita sebagai Jiwa, yang sesungguhnya tak terpisahkan dari Sang Jiwa Agung.

Sutra ini bisa dimaknai dengan berbagai cara: Taj Japah berarti “Mengulangi-Nya”. Tad Artha berarti “Makna, Arti, atau Tujuan-Nya”. Terakhir, Bhavanam berarti “Menjadi, Mewujud, atau Merealisasi”.

Secara esoteris, makna yang lebih dalam lagi: Dengan mengulangi-nya (mengulangi Om atau Aum) secara terus-menerus, seseorang tidak sekadar merealisasikan makna-Nya, tetapi “menjadi-Nya”. Bagi mereka yang telah mengenal prinsip kemanunggalan, bagi mereka yang percaya pada prinsip tersebut, tentu tidak menjadi masalah. Namun, bagi mereka yang berprinsip dualitas, di mana matahari, cahaya, dan/atau sinarnya dianggap terpisah, maka makna terakhir ini agak sulit untuk dicerna. Tidak menjadi soal.

JIKA KITA MASIH BERPIHAK PADA PAHAM DUALITAS, maka kita dapat pula memaknai sutra ini sebagai berikut.

“Dengan mengulangi Om secara terus-menerus kita meraih tujuan dari pengulangan tersebut.” Nah, sekarang kembali pada diri kita sendiri, apa yang menjadi tujuan kita?

Jika kita tetap bertujuan untuk berpisah dari-Nya, tujuan itu yang tercapai. Jika tujuan kita adalah kemanunggalan, kemanunggalanlah yang kita realisasi.

 

“Demikian, seseorang meraih Pratyak Cetana atau Kesadaran Jiwa, dan segala rintangan (untuk mencapainya) teratasi.” Yoga Sutra Patanjali I.29

Dengan mencapai Kesadaran Jiwa, maka tiada lagi kebingungan tentang jati diri, tentang kesejatian diri kita sebagai Jiwa yang Tak Terpisahkan dari Jiwa Agung.

 

 

“Rintangan-rintangan yang mengacaukan citta atau benih-pikiran adalah Vyadhi atau Penyakit; Styana atau Ketumpulan (Mental); Samsaya atau Kebimbangan, Keragu-raguan; Pramada atau Sifat Tidak Peduli, Kecerobohan yang muncul dari ego, mementingkan diri sendiri saja; Alasya atau Kemalasan; Avirati atau Keterlibatan dengan segala Kenikmatan Indra; Bhranti-Dharsana atau Pandangan yang Terkondisi/Salah, Kebingungan, Ilusi; Alabdha-Bhumikatva atau Tidak Membumi, tidak Realistis; dan Anavasthitatvani atau Ketidakstabilan.” Yoga Sutra Patanjali I.30

Itulah daftar panjang rintangan yang dihadapi setiap sadhaka, setiap pelaku spiritual. Bahkan, sesungguhnya dalam keseharian hidup pun, rintangan-rintangan seperti itu selalu muncul. Dalam hal ini, adalah sangat penting bahwa kita memahami maksud PatanjaIi.

SETIAP RINTANGAN TERSEBUT ADALAH TERKAIT DENGAN DIRI KITA SENDlRl. Berarti, tiada satu pun rintangan berarti dari luar diri. Tiada satu pun rintangan yang disebabkan oleh keadaan di luar.

Ya, kadang keadaan menguntungkan. Jalan kita mulus. Kadang, keadaan tidak menguntungkan, dan kesadaran-diri pun mesti menghadapi “tantangan” off-road. Bagi Patanjali, tantangan-tantangan eksternal tersebut tidak bisa disebut tantangan. Tantangan eksternal relatif mudah dihadapi. Adalah rintangan-rintangan yang disebabkan oleh diri kita sendiri yang agak sulit diatasi. Unluk itu solusi yang ditawarkan oleh Patanjali, barangkali terdengar terlalu simplistic, sangat sederhana.

“MASA IYA, DENGAN PENGULANGAN OM SAJA SEMUA ITU BISA TERATASI?” Bisa, sangat bisa. Bahkan, tiada solusi lain.

Ingat, Patanjali adalah seorang Saintis Jiwa. Ia tidak Asbun—tidak Asal Bunyi, tidak Asal Bicara. Solusi yang ditawarkan pun sangat ilmiah.

Om atau Resonansi yang tercipta dengan mengulangi Om secara terus-menerus dapat menyelaraskan lapisan-lapisan kesadaran kita dengan semesta. Pun, elemen-elemen di dalam tubuh ikut terselaraskan dengan elemen-elernen alam. Bayangkan, renungkan apa yang terjadi saat itu? Kita mendapatkan tambahan kekuatan dari semesta. Energi kita, kemampuan kita berlipat ganda dalam sekejap!

Selain itu, segala sesuatu di dalam alam ini, bahkan alam semesta ini terungkap, terciptakan dari Suara Awal. Jadi, tak terbayangkan betapa dahsyat resonansi Suara Awal tersebut. Tak terbayangkan betapa Kreatif Suara Awal tersebut sehingga dampak dari resonansi awal itu masih tetap terasa, masih tetap menciptakan galaksi-galaksi baru!

Maka, tidaklah keliru jika Patanjali menganjurkan pemanfaatan resonansi dari Om. Cobalah, dan buktikan sendiri!

Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2015). Yoga Sutra Patanjali Bagi Orang Modern, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Om, Sarve bhavantu sukhinaḥ; Sarve santu nirāmayāḥ; Sarve bhadrāṇi paśyantu; Mā kashchit duḥkha bhāgbhavet; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga semua makmur, bahagia dan bebas dari penyakit. Semoga semua mengalami peningkatan kesadaran, dan bebas dari penderitaan. Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/

 

Banner utk di web

oec3Elearning-Banner-2 (1)

Renungan #Yoga Patanjali: Pranava atau Sabda Alam Om adalah Ungkapan Verbal-Nya

buku yoga sutra patanjali

Cover Buku Yoga Sutra Patanjali

Semoga para pembaca kutipan buku ini diberkati dengan kelembaban jiwa, kebahagiaan, kesejahteraan dan keceriaan.

“Pranava atau Sabda Alam Om adalah Ungkapan Verbal-Nya (Ungkapan Verbal Tuhan, Paramatma, Sang Jiwa Agung).” Yoga Sutra Patanjali I.27

Om atau Aum—A, U, dan M—adalah Sabda Awal. Bukan Suara Awal, kita tidak tahu suara awal itu seperti apa. Kita. Bahkan tidak pernah mendengar Suara Awal itu. Sebab dengan Suara Awal itulah terjadinya Ciptaan. Barangkali hingga saat ini pun masih beresonansi pada frekuensi yang sangat tinggi atau sangat rendah. Bisa merusak gendang telinga kita, atau tidak terdengar sama sekali. Jadi, bukan Suara Awal, tapi Sabda Awal.

PEMAHAMAN INI SEKALIGUS MENGOREKSI pemahaman saya sebelumnya, saat saya masih menyamakan suara dengan sabda. Suara, kita tidak tahu. Namun, Sabda sebagai ungkapan Suara Awal itu, dapat diketahui. Dapat didengar dan dapat diucapkan.

Sabda Awal atau tepatnya Ungkapan Awal dari Suara Awal itulah Om atau Aum.

Lalu kenapa “atau”?

Kenapa tidak ada kepastian? Ada, ada kepastian. Dari sudut semesta, ada kepastian. Namun, dari sudut pendengaran kita tak ada kepastian.

Sering sekali saya mendengar orang-orang yang selalu mengucapkan Se sebagai She, dan sebaliknya She sebagai Se. Misalnya, “misal”-nya disebut “mishal”-nya. Bukan, bukan karena tidak bisa rnengucapkan se; karena Show dibalikin pula sehingga terdengar Sow. Ini contoh yang nyata, cukup jelas. Ada juga  perbedaan-perbedaan yang tidak cukup nyata, tidak cukup jelas. Satu kata yang sama terucap oleh saya bisa sedikit beda ketika terucap oleh Anda.

SABDA AWAL, OM ATAU AUM awalnya “terdengar”—tidak tertulis, belum tertulis. Adalah menakjubkan bahwa hingga sekarang pun, para saintis mengatakan bila suara desis yang terdengar dari matahari “mirip” sekali dengan sabda Aum atau Om.

Ketika suara yang terdengar hendak ditulis, disabdakan, maka tidak bisa persis seperti apa yang terdengar karenanketerbatasan. Kosa-Sabda kita. Ditambah lagi, terbatasnya kemampuan kita untuk mendengar suara-suara “antara gelombang sekian hingga gelombang sekian saja”—antara 20 Hz sampai 20.000 Hz.

Jika kita bisa mendengar semua suara dari gelombang terpendek hingga tertinggi atau terlebar, sudah pastilah kita menjadi gila karena tidak bisa tahan terhadap bisingnya semua suara-suara itu.

Kemampuan kita untuk mendengarkan suara dalam setiap range, akan membuat kita mendengar suara yang dikeluarkan oleh setiap semut, setiap lalat, setiap nyamuk, bahkan setiap bakteri, dan setiap virus. Bisa jadi gila!

Keterbatasan kita, dalam hal ini, adalah berkah—sehingga kita masih tetap waras, tetap mampu mempertahankan kewarasan kita.

MASIH BANYAK VARIAN OM ATAU AUM—Alm, Aom, Ang, Aung, Ahung, dan sebagainya. Setiap di antaranya adalah valid. Semua kembali pada pendengaran kita. Namun, jika kita menggunakan “Desis Matahari” sebagai tolok ukur, Suara Om atau Aum itulah yang “terdekat”. Dalam hal ini, konteks ini, penggunaan “desis matahari” sebagai tolok ukur adalah karena matahari adalah Sumber Energi Kehidupan paling penting bagi kita semua, bagi planet bumi yang kita huni.

Kembali pada Om atau Aum. Setiap getaran yang dikeluarkan oleh Om atau Aum dapat membantu kita dalam hal penyelarasan diri dengan semesta, bahkan dengan Ia Hyang berada di balik semesta, Hyang Mahakuasa.

Kenapa bisa yakin sedemikian rupa?

Silakan diuji, dicoba. Ucapkan dengan cara yang betul sebanyak 21 kali setiap pagi antara jam 04.00—O7.00 selama 3 bulan saja. Anda pasti merasakan tidak hanya fisik Anda menjadi lebih sehat; pikiran pun Iebih tajam, lebih jernih; dan, perasaan lebih tenang.

Sedikit tambahan, berikut adalah kutipan dari salah satu buku kita terdahulu, yaitu Gayatri Shadana – Cinta  yang Mencerahkan: “Untuk mengakses semesla Anda tiduk perlu menggunakan kata atau password yang panjang lebar, sekian digit, dan mesti terdiri dari sekian kata dan sekian angka. Tidak, tidak perlu semua itu. Cukup dengan ‘suara’—sabda singkat. Dan, semesta terbuka lebar dan luas bagi Anda.”

Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2015). Yoga Sutra Patanjali Bagi Orang Modern, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Semoga semua makhluk dalam keadaan sejahtera dan bahagia, bebas dari penyakit, mengalami peningkatan kesadaran, serta tidak ada penderitaan. Damai, damai, damai.

 

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/

 

Banner utk di web

oec3Elearning-Banner-2 (1)

Renungan #Gita: Password Tunggal Om, untuk Masuk maupun Keluar dari Alam Benda

buku bhagavad gita

Cover Buku Bhagavad Gita

Bhagavad Gita 8:13

“Arjuna, meninggalkan badan dengan cara itu (sebagaimana dijelaskan dalam ayat sebelumnya), sambil mengulangi aksara Tunggal Om, Sabda Ilahi Hyang Tak-Terpunahkan, dengan segenap kesadarannya terpusatkan pada-Ku, niscayalah Hyang Teringgi tercapai dengan mudah.” Bhagavad Gita 8:13

 

Om adalah password tunggal; baik untuk memasuki alam benda, maupun keluar dari alam benda. Bahwasanya password ini dibuka bagi setiap orang – adalah merupakan kemurahan hati Gusti Pangeran. Ini adalah berkah-Nya. Ada password, tapi password ini tidak dirahasiakan – silakan memakainya! Siapa pun kita, dengan latar belakang tradisi apa pun – password ini tidak berkurang manfaatnya. Luar biasa!

Sekarang, tinggal keyakinan kita yang dibutuhkan. Karena, password ini mesti disertai keyakinan. Keyakinan adalah energi yang mengaktifkan password ini. Komputer-komputer pribadi sudah makin canggih, menggunakan cara-cara identifikasi dengan jari, wajah, suara, retina – tapi belum menggunakan pikiran, perasaan, apalagi niat!

Mungkin, pada suatu waktu nanti – komputer pun bisa diaktifkan dengan niat, dengan pikiran atau perasaan. ‘Aku mau pakai komputer’ – dan komputer pun mulai reload, start sendiri. Tanpa ucapan apa pun, hanya dengan niat saja. Mungkin di kemudian hari nanti, ini pun menjadi kenyataan.

Semesta sudah menggunakan teknologi ini sejak adanya planet kita. Bahkan, sebelum planet kita mulai mendingin dan menjadi layak untuk berbagai jenis kehidupan – passsword ini sudah berlaku.

OM… Kehidupan mayani atau supravirtual realita ini, adalah pengungkapan Om. Dari suara atau Sabda Ilahi inilah segalanya terjadi! Komputer Kolosal Keberadaan yang sudah terbuka oleh Om memiliki jumlah windows yang tak terhingga. Anda, saya – kita memiliki Window masing-masing. Setiap window memproses kehidupan kita sejak awal mulanya planet ini – bahkan ada yang sejak awal mula semesta. Banyak file masih terbuka, masih di-“kerja”-kan. Banyak yang sudah tertutup, tersimpan rapi.

Jika masih tetap mau berada di window, maka tidak perlu tergesa-gesa. Nanti, ketika Komputer Kolosal ini crash, atau ada bagian kecilnya yang sudah mesti istirahat — window kita akan tertutup sendiri dengan segala pekerjaan yang belum terselesaikan di-zip menjadi benih baru untuk masa-keberadaan berikutnya.

Tapi, jika kita berniat untuk segera menyelesaikan pekerjaan kita — maka,

JANGAN MENAMBAH FILE – Bukalah file lama, bersihkan, dan delete. Tidak perlu menambah beban pada jatah yang telah dialokasikan kepada kita. Demikian setelah jumlah file karma berkurang terus, pada suatu ketika kita sadar, “Wah selesai sudah!” Saat itu, Om plus niat, kehendak yang kuat, dan, bingo! Kita menyatu dengan-Nya. Window kita tertutup untuk selamanya. Sisa-sisa file terhapus dengan sendirinya. Tidak ada lagi hutang-piutang yang mesti diselesaikan. Beres semua.

Jadi, Om juga merupakan password untuk keluar dari window Keberadaan. Masuk-keluar dengan Om!

OM + NIAT YANG KUAT. Nah, untuk memunculkan niat yang kuat itu, kita mesti memiliki keyakinan yang luar biasa. Tanpa keyakinan tiada sesuatu yang dapat terjadi.

Saya pemah membaca bahwa saintis terkenal Newton pun memasang ikon Tapal Kuda (Horse Shoe) di atas pintu masuk rumahnya. Maka, seorang sahabat bertanya, “Kawan, kau seorang ilmuwan, sekaligus taat pada agama. Bukankah kau tidak percaya pada takhayul-takhayul seperti ini?”

Newton menjawab, “Memang saya tidak percaya — tapi seorang sahabat yang memberikan itu mengatakan bahwa tanpa kepercayaan pun tetap mujarab!”

Ha ha ha ha !!!

Barangkali saat Newton menjawab demikian, ia pun tidak sadar, tidak sepenuhnya sadar, bahwa apa yang dikatakannya itu sudah menunjukkan kepercayaannya, keyakinannya. Ia tidak percaya takhayul; tapi percaya pada apa yang dikatakan oleh temannya tentang sebuah takhayul! Luar biasa…

SEORANG ILMUWAN YANG MERASA DIRINYA SUDAH HEBAT, sudah bebas dari segala macam konsep; hanya percaya pada apa yang terbukti olehnya — masih tetap mesti berkarya di atas landasan keyakinan.

Keyakinan adalah energi.

Keyakinan memberi energi bagi kita untuk berkarya. Energi Newton datang dari keyakinannya pada landasan imannya yang kuat.

Pemikir modern Sartre tidak mau terjebak dalam sebuah konsep – setidaknya demikian yang dikatakannya. Ia mau bebas dari segala macam konsep tentang kemuliaan atau kebejatan manusia — lahir suci atau lahir dalam dosa. Lalu, ia berpandangan bahwa manusia adalah entitas yang mesti berkembang, mesti dibentuk, diimprovisasi. Ia belum final. Hidup ini adalah untuk membentuk diri sendiri.

Apakah Sartre — yang pendapatnya kita setujui itu – bebas dari landasan keyakinan? Tidak juga. Landasannya, boleh jadi beda dari landasan Socrates — mungkin – tapi tetap saja ia pun berlandasan.

PARA PEMIKIR LAlN BERKEYAKINAN bila manusia lahir dari dan dalam dosa. Maka, seumur hidup ia mesti berkarya, berupaya untuk membersihkan, menyucikan diri.

Ada pula kelompok pemikir yang menganggap rnanusia lahir sebagai makhluk yang mulia. Sepanjang usia, ia mesti menjaga, merawat, dan memelihara kemuliaannya. ‘

Sartre meyakini manusia lahir dengan membawa papan tulis yang masih kosong, tidak tertulis apa-apa. Maka, sepanjang usia ia mesti belajar untuk mengisi papan tulis itu dengan coretan-coretan indah sesuai dengan kesadarannya.

Lahir dalam dosa, lahir mulia, lahir polos — tiga-tiganya adalah konsep. Masing-rnasing pemikir memilih salah satu sebagai landasannya. Dan berpijak pada landasan itu, mereka membangun pemikiran mereka masing-masing.

Tapi, coba perhatikan —

INTINYA APA? Ketiga kelompok tersebut yakin bahwa “manusia mesti berkarya”. Hidup ini bukan untuk disia-siakan, atau duduk diam.

Berkaryalah! Entah untuk mencuci dosa, untuk mempertahankan kemuliaan, atau untuk mengembangkan kemuliaan, hasilnya sama saja.

Pandangan Krsna, sebab itu, adalah pandangan yang sangat holistik. Dari Socrates hingga Sartre – ia meliputi semuanya, dan merangkum seluruh karya mereka dalam beberapa ratus ayat, itu pun ribuan tahun sebelum mereka. Kita akan banyak mempelajari tentang hal ini dalam ayat-ayat berikutnya.

Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/

 

Banner utk di web

oec3elearning-banner