Berkarya Tanpa Pamrih untuk Melayani Sesama #BhagavadGita

Gita bukanlah buku yang bisa tamat. Gita adalah Panduan Hidup yang memandu kita selama kita masih hidup, atau lebih tepatnya, selama kehidupan sendiri masih ada.

Percakapan Kedelapanbelas ini adalah tentang Kebebasan Mutlak. Sesungguhnya, kebahagiaan sejati adalah hasil dari kebebasan. Jiwa-Jiwa yang masih diperbudak oleh hawa nafsu, indra, dan sebagainya – masih belum bebas, sehingga tidak pernah menikmati Kebahagiaan Sejati.

Lewat percakapan ini, pesan Krsna menjadi makin jelas. Jadilah bebas, jadilah bahagia….. itulah Kebenaran Perjalanan Hidup, itulah Kesadaran Tertinggi yang mesti digapai: Sat-Cit-Ananda. Dikutip dari Kata pengantar Percakapan Kedelapanbelas buku Bhagavad Gita.

 

Berikut penjelasan Bhagavad Gita 18:1 dan 18:2 tentang samyas memisahkan diri dari urusan duniawi dan tyaga, melepaskan hasil:

Buku Bhagavad Gita

Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu; Saha vīryam karavāvahai; Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga Hyang Tunggal senantiasa melindungi kita; menjernihkan pikiran kita: semoga kita dapat berkarya bersama dengan penuh semangat; semoga apa yang kita pelajari mencerahkan dan tidak menyebabkan permusuhan; Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

PERTAMA TENTANG SAMNYAS – Dalam tradisi yang sudah berjalan selama ribuan tahun di wilayah peradaban Sindhu, Shin-tuh, Hindu, Hindia, Indies, Indo — samnyas adalah salah satu tahap dalam kehidupan manusia. Sesuai dengan pedoman kemasyarakatan di wilayah peradaban ini, usia di atas 60an tahun adalah untuk memasuki samnyas, untuk memisahkan diri dari segala urusan duniawi, menarik diri dari keramaian, tinggal di tempat yang jauh dari kota untuk melakukan praktek-praktek spiritual. Nah, saat perang Bharata- Yuddha, usia Arjuna maupun Krsna sudah sekitar 70an tahun.

Adakah Arjuna ingin mendapatkan konfirmasi dari Krsna, “Bukankah dalam usia kita ini, lebih cocok bila kita memasuki samnyas — tahap kehidupan terakhir di mana urusan dunia sudah terlewatkan?”

Krsna memahami maksud Arjuna. Untuk terakhir kalinya dalam bab ini, Krsna berupaya untuk menegaskan peran Arjuna sebagai seorang kesatria. Sekaligus, Ia pun menjelaskan arti lain tentang tyaga dan samnyas. Sebuah terobosan baru oleh Krsna, sebuah definisi baru yang masih relevan hingga hari ini — 5.000an tahun setelah perang Bharata-Yuddha. Penjelasan Bhagavad Gita 18:1 dikutip dari buku: (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

 

 

Sri Bhagavan (Krsna Hyang Maha Berkah) bersabda:

“Para Resi menjelaskan samnyas sebagai pelepasan diri dari segala perbuatan yang termotivasi oleh keinginan untuk meraih imbalan, memperoleh sesuatu; dan, tyaga, sebagaimana dijelaskan oleh para bijak, adalah menyerahkan, melepaskan segala pahala, seluruh hasil dari setiap perbuatan.” Bhagavad Gita 18:2

Ini adalah terobosan baru…..

 

KRSNA TIDAK MENJELASKAN SAMNYAS sebagai penarikan diri dari keramaian dunia. Jika kita berperan sebagai Arjuna, di mana urusannya adalah membela kebajikan dan keadilan — maka tidak ada masa pensiun. Sebab itu, samnyas dijelaskan bukan sebagai penarikan diri dari keramaian dunia; segala urusan dunia; maupun dari segala perbuatan. Tapi, sebagai pelepasan atau penarikan diri dari segala perbuatan yang termotivasi oleh keinginan untuk meraih imbalan.

Di usia uzur pun, jika memang peran kita menuntutnya, maka kita mesti tetap berkarya, berjuang. Arjuna belum menyelesaikan perannya. Ia mesti berjuang. Pun demikian dengan mayoritas kita hingga saat ini.

Tidak semua orang mesti menjadi petapa dan tinggal di tengah hutan. Tidak semua orang mesti menyepi. Tidak semua orang mesti menarik diri dari keramaian.

Arjuna termasuk mereka yang mesti menjalani samnyas dengan pemahaman baru ini. Dan sesungguhnya kita pun demikian. “Kemungkinan besar” demikian!

 

BERKARYALAH TANPA MEMIKIRKAN HASIL, tanpa motivasi yang berlandaskan pada keinginan untuk menjadi super kaya, super tenar, dan super apa saja!

Berkaryalah dengan semangat melayani sesama.

Dengan berkarya seperti itu, sesungguhnya kita pun sudah memasuki samnyas. Kita sudah tidak lagi memikirkan kepentingan diri. Kita sudah tidak berdagang sapi, tidak terlibat dalam transaksi, “lu jual, gue beli.”

Kendati demikian, setiap laku, setiap perbuatan, setiap karma tidak bisa dilepaskan dari konsekuensinya, tiada sebab tanpa akibat, tiada aksi tanpa reaksi.

Karya baik menghasilkan kebaikan, dan karya buruk menghasilkan keburukan. Nah, “Hasil Baik” pun dapat menjadi kepala ular dalam perrnainan ular tangga dan mematuk kita. Kita bisa menjadi “besar kepala” karena kebesaran hasil dari pekerjaan-“ku”, dari jerih payah-“ku”.

 

SEBAB ITU, RENOUNCE THE FRUIT – Lepaskan buah karyamu. Semua itu karena Gusti, semua karena anugerah Gusti. Apa yang dapat kuperbuat tanpa kehendak dan restu Gusti?

Kita berkarya demi kebaikan itu sendiri.

Ya sudah, janganlah merasa tersanjung ketika seorang memuji kita. Menerima pujian orang pun sudah cukup untuk membesarkan ego kita, ingat kepala ular. Serahkan seluruh hasil dari perbuatan kita kepada Gusti Hyang Maha Kuasa!

Nah, renouncing the fruit inilah tyaga.

Berbuat baik, dan segala hasil dari perbuatan itu dipersembahkan kepada Gusti Pangeran. Ini adalah sikap mental, supaya kita tidak menjadi sombong. Ini adalah sikap hidup, attitude: “Engkaulah Hyang Menggerakkan tanganku untuk berbuat, maka hasil perbuatan pun kuserahkan kepada-Mu.”

Dikutip dari buku: (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

 

Om, Sarve bhavantu sukhinaḥ; Sarve santu nirāmayāḥ; Sarve bhadrāṇi paśyantu; Mā kashchit duḥkha bhāgbhavet; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga semua makmur, bahagia dan bebas dari penyakit. Semoga semua mengalami peningkatan kesadaran, dan bebas dari penderitaan. Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/

 

Advertisements

Ingin Bahagia, Rupa Menawan, Panjang Usia, Sehat, Bijaksana, Berani? Praktekkan Svastika!

buku dvipantara dharma sastra svastika

Simbol Svastika di berbagai negara

buku dvipantara dharma sastra savstika mohenjodaro

Simbol Svastika yang ditemukan di Mohenjodaro dan Harappa, peninggalan Peradaban Lembah Sungai Sindhu sekitar 8.000 tahun Sebelum Masehi.

Ada empat hal utama yang membahagiakan manusia:

  1. Bertindak melakukan kebajikan. Bila kita melakukan kebatilan, maka kita akan merasa cemas dan tidak merasa bahagia.
  2. Apa pun yang membuat hidup berati, bermakna, maka itulah Artha. Kalau uang belaka itu dan kegunaannya tidak bermakna bagi banyak orang, maka itu bukan Artha, itu sekadar fulus.
  3. Seseorang bahagia bila keinginannya terpenuhi, dia memperoleh kepuasan, contentment, psychological factor.
  4. Moksa, kebebasan. Selama kita terbelenggu maka kita belum bebas, dan kita belum bahagia.

Keempat hal yang membahagiakan tersebut disimbolkan dengan gambar Svastika. Silakan baca ulang https://gitakehidupansepasangpejalan.wordpress.com/2015/06/22/dari-purusa-artha-menuju-svastika-kebahagiaan-dan-kemakmuran-lahir-batin/

Bagaimana kaitan Dharma, Artha, Kama dan Moksa dengan tindakan welas asih terhadap semua makhluk, silakan simak penjelasan Kitab Leluhur Sara Samuccaya di bawah ini:

buku Dvipantara Dharma Sastra cover_ED

Cover Buku Dvipantara Dharma Sastra

Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu: Saha vīryam karavāvahai;Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai.Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga Hyang Tunggal senantiasa melindungi kita; menjernihkan pikiran kita: semoga kita dapat berkarya bersama dengan penuh semangat; semoga apa yang kita pelajari mencerahkan dan tidak menyebabkan permusuhan; Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

Sara Samuccaya 141

Hidup ini adalah landasan bagi Dharma, Kebajikan; Artha, Harta Benda maupun nilai-nilai luhur yang Memberi Makna pada Kehidupan; Kama, Keinginan-Keinginan yang Mulia, serta Gairah Hldup untuk Berbuat Baik dan Moksa, Kebebasan dalam berpikir, berucap, dan bertindak selagi hidup; serta kebebasan mutlak dari kelahiran dan kematian yang berulang-ulang. Sebab itu, barangsiapa yang merusak kehidupan, mencelakai satu pun makhluk hidup — sesungguhnya merusak seluruh nilai-nilai luhur tersebut. Dan, barangsiapa menyelamatkan satu pun wujud kehidupan, telah menyelamatkan keseluruhan nilai-nilai tersebut.

 

Sara Samuccaya 142

Seseorang yang ingin (menikmati) hidup, tidak akan mencelakakan atau merusak kehidupan orang lain, makhluk lain. Hendaknya ia menginginkan bagi orang lain, apa saja yang diinginkan bagi diri sendiri.

 

Sara Samuccaya 143

Apa gunanya mempertahankan badan ini atas penderitaan orang lain; akhirnya toh, seekor anjing saja, bisa seenaknya mencakar kepala jasad, yang sudah tidak bernyawa.

 

Sara Samuccaya 144

Badan berakhir sebagai ulat, abu, atau pun sampah, kotoran. Lalu, untuk apa menyakiti orang lain, menyebabkan penderitaan bagi orang lain semata-mata untuk mengenyangkan diri dengan makanan ataupun kenikmatan lain secara berlebihan?

 

Sara Samuccaya 145

Selagi berjalan, berdiri; dalam keadaan jaga maupun tidur — jika perbuatan serta pikiran seseorang tidak berguna, tidak bermanfaat bagi sesama makhluk hidup – maka, sesungguhnya hidup seperti itu tidaklah lebih baik dari kehidupan seekor binatang.

 

Sara Samuccaya 146

Singa betina melahirkan satu anak saja dalam satu kesempatan; sementara itu serigala (Mrgarini sebagai gender feminin dari kata Mrgari) melahirkan banyak anak sekaligus. Adalah pertama — anak singa yang diberi makan dan bertahan hidup. Sebaliknya, yang lain — anak-anak serigala — justru menjadi makanan, tidak hanya dirnangsa hewan-hewan buas lainnya, kadang menjadi mangsa induknya sendiri. Demikian si pemangsa mesti mempertanggungjawabkan perbuatannya, walaupun yang dimakan adalah anak-anaknya sendiri. Pengertiannya: Seorang manusia yang mencelakakan sesama manusia,sesama makhluk hidup — sebenarnya adalah mencelakakan dirinya sendiri.

 

Sara Samuccaya 147

Seseorang yang tidak membunuh/menjagal — termasuk menyebabkan pembunuhan dan penjagalan; mengikat, menahan atau menyangkarkan, dan menyiksa sesama makhluk — tetapi justru menginginkan dan mengupayakan kebaikan bagi semua, meraih kebahagiaan sejati.

 

Sara Samuccaya 148

Dengan tidak menyakiti makhluk-makhluk lain, dengan mudah seseorang menghasilkan apa saja yang diinginkan dari hati terdalam/sanubarinya.

 

Sara Samuccaya 149

Seseorang yang menginginkan rupa yang menawan; kesempurnaan dalam segala hal; usia panjang dan kesehatan; kebijaksanaan serta keberanian — hendaknya menghindari himsa atau kekerasan dalam segala hal, dalam segala bentuk (termasuk, tentunya, menyakiti dan menyembelih sesama makhluk hidup sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya)

 

Sara Samuccaya 150

Seseorang yang penuh welas asih, melindungi sesama makhluk dan tidak menyakitinya, terbebaskan dari rasa takut. Ia pun tidak ditakut-takuti oleh makhluk-makhluk lain. Tiada keraguan dalarn hal ini.

 

Sara Samuccaya 151

Dana-punia (amal-saleh) dan hadiah yang diberikan kepada semua orang, jika dibandingkan dengan hadiah kehidupan kepada satu pun makhluk – maka yang terakhir itulah yang lebih utama. Berarti, menyelamatkan nyawa satu makhluk itu jauh lebih mulia dan berharga daripada berbagai bentuk dana-punia.

 

Sara Samuccaya 152

Tiada sesuatu yang lebih berharga dari kehidupan itu sendiri, maka hendaknya seseorang bertindak dengan penuh welas-asih terhadap orang lain, sebagaimana ia bertindak terhadap dirinya sendiri.

 

Sara Samuccaya 153

Tidak terbawa oleh amarah, jujur, tidak menyakiti sesama makhluk, tidak pula menghina/menyepelekan siapa pun, serta bertindak sesuai dengan nilai kebajikan – emikian seseorang meraih hidup panjang dan berguna.

Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2015). Dvipantara Dharma Sastra, Jakarta: Centre for Vedic and Dharmic Studies)

Om, Sarve bhavantu sukhinaḥ; Sarve santu nirāmayāḥ; Sarve bhadrāṇi paśyantu; Mā kashchit duḥkha bhāgbhavet; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga semua makmur, bahagia dan bebas dari penyakit. Semoga semua mengalami peningkatan kesadaran, dan bebas dari penderitaan. Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/

 

Banner utk di web

oec2elearning-banner

Bagi para pembaca buku-buku Anand Krishna yang ingin bertemu muka dengan Sang Penulis Buku, Bapak Anand Krishna, silakan ikuti Program Retret:

Acara Retret direncanakan di Anand Krishna Information Centre Solo pada hari Jumat Sore, Saptu dan Minggu. Tanggal Retret belum ditetapkan. Retret merupakan kegiatan yang sangat penting untuk mempersiapkan diri dengan cara setiap hari melakukan kegiatan spiritual mulai dari chanting, agnihotra dan yoga dan mengkonsumsi makanan vegetarian.

Buku pertama yang akan dibahas mengenai kaitan antara Bahasa Jawa Kuno, Sunda dan Kebudayaan Sindhi. Mengapa orang Nusantara suka ngambek? Mengalah di luarnya, tetapi setiap beberapa dasawarsa meledak dan berdarah-darah? Direncanakan ada tour bersama ke Sangiran melihat perkembangan manusia dari zaman dahulu sampai sekarang.

Kontak sementara Triwidodo: 081326127289

Renungan #Gita: Moksa Bukan Harapan, Tapi Tujuan! Harapan bisa Mengecewakan, Tujuan Tidak!

buku bhagavad gita

Cover Buku Bhagavad Gita

Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu; Saha vīryam karavāvahai; Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

Let us Learn Together, Study Together, Nurture Eachother, Fill Eachother, and Work Together with Great Enthusiasm, Great Spirit. Om, Peace, Peace, Peace

Kita sering berharap agar kita menjadi orang bijak yang tidak pernah salah melangkah, dan pada suatu saat harapan tersebut meleset dan kita kecewa. Jangan terpaku pada harapan, tetaplah menjadi manusia yang bertujuan mencapai kebebasan sempurna. Apa pun yang kita hadapi, sesuai harapan atau tidak, kita biasa saja, kita tetap punya tujuan jelas mencapai kebebasan mutlak. Silakan simak penjelasan Bhagavad Gita di bawah ini:

 

tad ity anabhisandhaya phalam yajna-tapah-kriyah

dina-kriyas ca vividhah kriyante moksa-kanksibhih

“Dengan pemahaman bila semua ini adalah milik-Nya, milik Dia — Tad — para panembah yang bijak menghaturkan persembahan, berderma, dan bertapa-brata tanpa mengharapkan imbalan materi, dan semata untuk kebebasan mutlak (Moksa).” Bhagavad Gita 17:25

 

Barangkali kita bertanya apakah moksa atau kebebasan mutlak bukanlah suatu harapan? Bukan.

 

MOKSA BUKANLAH HARAPAN, TAPI TUJUAN. Sebagai contoh; Seandainya kita sedang bepergian ke suatu tempat, katakan Amerika—maka “tujuan kita adalah Amerika”. Amerika bukanlah harapan kita, tapi tujuan. Bacalah ulang paragraf ini, “Jika kita sedang bepergian” — berarti kita sudah menentukan tujuan kita, bahkan sudah dalam perjalanan.

Saat ini, Anda, saya, kita semua sudah berada dalam hidup ini, sudah dan sedang menjalani hidup ini—kita tidak mengharapkan kehidupan, wong sudah hidup!

Harapan adalah ketika saya mengharapkan Amerika sebagai Negara Impian saya. Nah, urusan apa Amerika mesti memenuhi impian saya? Arnerika tidak berjanji untuk memenuhinya. Mimpi saya, impian saya adalah murni harapan saya. Saya berharap rnenjadi bintang Hollywood, sampai di sana menjadi pencuci piring di restoran. Kita kecewa—kenapa? Karena kita berharap dan harapan itu tidak terwujud.

buku bhagavad Journey-to-the-West

Ilustrasi tetap berjalan menuju tujuan walau menghadapi segala rintangan

 

Moksa, kebebasan mutlak, adalah tujuan hidup—maksud kehidupan. Bukan kebebasan mutlak bagi Jiwa setelah kematian raga; tetapi, kebebasan untuk berkarya, untuk bersuara, untuk berpikir selagi masih hidup. Ini adalah maksud kehidupan.

Jika kita memahami maksud dan tujuan hidup ini,

 

MAKA KITA TIDAK AKAN BERHARAP YANG BUKAN-BUKAN, sehingga terhindar dari kekecewaan, keputusasaan, kegelisahan, dan sebagainya.

Menghaturkan persembahan, berderma, bertapa-brata—semuanya semata karena setiap kegiatan tersebut membebaskan diri kita dari kesadaran rendah dan mengantar kita pada kesadaran tinggi — mendekatkan kita dengan tujuan hidup. Jika ini yang menjadi semangat kita, maka hidup menjadi indah.

Sebaliknya, jika kita mengharapkan imbalan; apalagi imbalan-imbalan jangka pendek—termasuk kapling di surga pun adalah tujuan jangka pendek — maka bersiap-siaplah untuk kecewa, putus asa, dan menderita sakit hati. Tidak setiap harapan terpenuhi. Sekalipun semua harapan terpenuhi, tidak ada jaminan kita pasti bahagia.

 

KEBEBASAN ADALAH KEBAHAGIAAN UTAMA – Jiwa bebas adanya, ketika dalam ketidaksadarannya, ia membelenggu dirinya, ia sendiri menjadi gelisah. Sebab itu, berfokuslah selalu pada maksud tujuan hidup — Kebebasan Mutlak.

Janganlah membiarkan harapan-harapan picisan yang tidak berarti, membuat kita keluar dari rel kehidupan. Do not detract! Beradalah pada rel kehidupan, tujuan sudah di depan mata!

Dikutip dari buku: (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

Om, Sarve bhavantu sukhinaḥ; Sarve santu nirāmayāḥ; Sarve bhadrāṇi paśyantu; Mā kashchit duḥkha bhāgbhavet; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

May all be prosperous and happy. May all be free from illness. May all see what is spiritually uplifting. May no one suffer. Om peace, peace, peace

 

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/

 

Banner utk di web

oec2elearning-banner