4 Kondisi Duka Derita dalam Kehidupan Kita #YogaSutraPatanjali

Klesa atau duka-derita bukanlah benda, bukan pula keadaan di luar diri, tapi pengalaman-diri. Klesa atau Duka-Derita adalah “sesuatu yang kita alami”. Jadi, amat sangat subjektif, personal.

Kadang kita “merasa” panas, kegerahan—pengalaman kegerahan ini adalah sangat riil bagi kita. Tapi sebaliknya, di dalam ruangan yang sama, ada juga seseorang yang memakai baju hangat. Ia tidak kegerahan, malah kedinginan. Suhu di luar (suhu di ruang) sama, keadaan sama. Ia kedinginan, kita—Anda dan saya—kepanasan,kegerahan.

Berarti apa? Klesa atau Duka-Derita disebabkan oleh “keadaan-diri kita masing-masing, “pengalaman-diri” kita masing-masing. Bukan karena keadaan di luar diri…………..

Dengan berkembangnya samadhi, berakhirlah klesa secara berangsur, bertahap—mengikuti laju perkembangan samadhi. Jika laju perkembangan samadhi amat sangat pelan, berakhirnya klesa atau duka-derita pun pelan, slow. Jika perkembangan samadhi pesat, berakhirnya duka-derita pun pesat. Yoga Sutra Patanjali II.2 Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2015). Yoga Sutra Patanjali Bagi Orang Modern, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

Berikut penjelasan Yoga Sutra Patanjali mengenai 4 kondisi klesa atau duka-derita:

Buku Yoga Sutra Patanjali

Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu: Saha vīryam karavāvahai;Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai.Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga Hyang Tunggal senantiasa melindungi kita; menjernihkan pikiran kita: semoga kita dapat berkarya bersama dengan penuh semangat; semoga apa yang kita pelajari mencerahkan dan tidak menyebabkan permusuhan; Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

Avidya, kebodohan atau ketidaktahuan adalah dasar, landasan, atau sebab utama segala sebab lainnya yang menyebabkan klesa atau duka-derita (Sebab-sebab lain yang dimaksud adalah asmita atau ke-‘aku’-an; raga dan dvesa atau ketertarikan dan ketaktertarikan, suka dan tak suka; dan, abhinivesa atau keinginan untuk mempertahankan sesuatu), terlepas dari apakah duka-derita itu dalam keadaan dormant atau tidak aktif; dalam proses sedang berkurang, Iewat; sudah teratasi tapi bisa datang kembali, bisa terasa Iagi sewaktu-waktu; atau sepenuhnya aktif dan sedang meluas, berkembang, bertambah.” Yoga Sutra Patanjali II.4

Tentang Avidya, Kebodohan atau Ketidaktahuan sebagai Sebab Utama di balik sebab-sebab lain sudah kita bahas sebelumnya. Adalah penggalan kedua, paruh kedua sutra ini yang sangat penting, di mana Patanjali menjelaskan “sifat” klesa, sifat duka-derita.

 

PERTAMA: PRASUPTA ATAU DORMAN. Jika diterjemahkan secara letterlijk, Prasupta berarti “Tertidur”—dalam keadaan tidur. Ini adalah keadaan yang dicapai, dapat dicapai oleh seorang Yogi. Segala duka-derita di dalam dirinya sudah tertidur.

Dalam hal ini, keadaan seorang Yogi adalah sama seperti keadaan seorang Ibu dengan anaknya yang sudah kenyang, sudah Ielah bermain, dan tertidur. Sekarang, sang Ibu boleh melakukan aktivitas yang lain. Ia tidak lagi terganggu oleh urusan anak.

Atau, keadaan seorang raja yang telah berhasil menaklukkan musuh-musuhnya. Sekarang, ia boleh santai. Para musuh sudah dilucuti senjatanya. Mereka dalam keadaan lemah. Mereka tidak dalam posisi untuk menyerang lagi atau menyebabkan gangguan lain.

Kendati demikian, tidak berarti seorang Yogi boleh hidup tanpa kepedulian. Tidak. Sama sekali tidak. Anak yang sedang tidur bisa terjaga sewaktu-waktu. Musuh yang tertaklukkan pun bisa menyusun strategi dan menyerang balik.

Seorang Yogi yang sudah berhasil keluar, berhasil bebas dari lingkaran klesa atau duka-derita masih harus selalu eling selalu waspada.

Seorang Yogi boleh merasa tidak terpengaruh ketika kehilangan suatu benda yang sangat disayanginya. Ia tidak tenggelam—tidak larut dalam klesa atau duka-derita. Tapi, bagaimanajika ia kehilangan mata pencariannya? Bagaimana jika kehilangan seseorang yang sangat disayanginya? Bagaimana jika kehilangan salah satu anggota badannya? Salah satu indranya? Saat itu, klesa atau duka-derita yang sudah tertidur, sudah prasupta, bisa terjaga kembali!

Intinya: Selalu Eling, Selalu Waspada!

 

KEDUA: TANU ATAU DALAM PROSES SEDANG TERATASI. Dengan kata lain, sedang berkurang. Pengaruhnya mulai melemah.

Saat “baru” terjadi sesuatu yang tidak sesuai dengan harapan atau kemauan kita, rasa sakitnya luar biasa. Tetapi setelah beberapa lama, rasa sakit pun mulai berkurang. Kemudian, bisa saja berakhir tanpa meninggalkan bekas.

Keadaan ini adalah keadaan umum. Seperti inilah keadaan kita semua. Suka-cita maupun duka-derita, keduanya tidak permanen.

 

KETIGA: VICCHINNA ATAU SUDAH TERATASI SEPENUHNYA. Jika keadaan kedua sebelumnya masih dalam proses, dalam keadaan ketiga ini proses sudah berhasil. Duka-derita sudah teratasi—sudah teratasi untuk “saat tertentu”. Implikasinya adalah sewaktu-waktu ia masih bisa muncul kembali.

Berikut contoh untuk memudahkan pemahaman kita. Ada kala kita disakiti seseorang. Kemudian—setelah menderita selama berhari-hari, berminggu-minggu, atau berbulan-bulan—duka itu mulai melemah, hingga suatu ketika tidak terasa lagi. Tidak mengganggu lagi. Terlupakan.

Tapi, beberapa lama kemudian, tiba-tiba tanpa sengaja kita berpapasan dengan orang yang menyakiti kita. Apa yang terjadi? Pengalaman klesa dan duka—yang sebelumnya terasa sudah lewat, sudah terlupakan—muncul kembali, terasa kembali. Bahkan, bisa jadi perasaan yang “baru” muncul itu memiliki kekuatan yang lebih dahsyat dibandingkan dengan yang lalu.

Keadaan ini pun umum. Kita semua mengalaminya dari waktu ke waktu.

 

KEEMPAT: UDARANAM ATAU MASIH AKTIF, masih terasa, bahkan sedang bertambah. Ini pun keadaan umum. Sesuatu yang baru terjadi atau pengalaman duka yang amat sangat dahsyat, yang mampu menghanyutkan segala pengalaman lainnya.

Demikianlah sifat klesa atau duka-derita. Sangat penting bagi setiap praktisi Yoga untuk memahami sifat-sifat ini supaya dapat rnenjaga diri, mengawasi diri. Saat baru mengalami salah satu keadaan di antaranya, jangan sampai kita berpikir sudah bisa melampaui segala duka-derita. Jangan cepat-cepat menyimpulkan, “Aku sudah cerah, sudah mencapai samadhi.”

Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2015). Yoga Sutra Patanjali Bagi Orang Modern, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Om, Sarve bhavantu sukhinaḥ; Sarve santu nirāmayāḥ; Sarve bhadrāṇi paśyantu; Mā kashchit duḥkha bhāgbhavet; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga semua makmur, bahagia dan bebas dari penyakit. Semoga semua mengalami peningkatan kesadaran, dan bebas dari penderitaan. Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/

 

Hidup dengan Sukacita, Tanpa Menanam Benih Kelahiran Baru! Mungkinkah? #YogaSutraPatanjali

buku-yoga-sutra-patanjali-bolywood-dancing

Yoga Sutra Patanjali II.13 kita lahir karena benih klesa atau duka derita

Benih bagi kelahiran kita adalah klesa atau duka derita, misalnya kekecewaan terhadap keluarga, jabatan, kekayaan, usaha dan lain-lainnya. Bila pada saat menjelang ajal kita merasa kecewa, atau masih terobsesi dengan keduniaan, maka kita akan lahir lagi. Walaupun demikian, walau lahir dari benih duka-derita, buah dari pohon yang berasal dari benih tersebut bisa juga menghasilkan suka cita. Bagaimana caranya? Penjelasan Yoga Sutra Patanjali II.13

buku-yoga-sutra-patanjali

Cover buku Yoga Sutra Patanjali

Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu: Saha vīryam karavāvahai;Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai.Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga Hyang Tunggal senantiasa melindungi kita; menjernihkan pikiran kita: semoga kita dapat berkarya bersama dengan penuh semangat; semoga apa yang kita pelajari mencerahkan dan tidak menyebabkan permusuhan; Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

Yoga Sutra Patanjali II.14 walau berakar pada klesa atau duka derita, kita bisa melewati hidup dengan sukacita

Cara kita melewati hidup ini bisa dengan bernyanyi dan menari. Anda pernah nonton film Bollywood? Ada saja lagu untuk mengiringi setiap adegan. Dalam adegan sedih pun, tetap ada lagu pengiring. Bahkan, tak jarang ada tarian pula! Jangan lupa, Bollywood adalah generasi ke sekian Patanjali. Hahaha! Silakan menonton dan menjadi penggemar film-film Bollywood. Tetapi untuk menjalani hidup, kiranya gaya Bollywood lebih tepat untuk ditiru, untuk dijadikan panutan.

Kenapa ada orang yang bisa melewati hidup penuh duka dengan ringan, seolah ia tidak terbebani? Kenapa pula ada yang sebaliknya?

 

Lahir karena tindakan mulia (punya karma) bisa membuat tetap ceria, bersuka cita menghadapi apa pun

ADA YANG DAPAT MELEWATI HIDUPNYA SAMBIL MENARI DAN MENYANYI, kenapa pula ada yang tidak bisa? Patanjali memperhatikan fenomena ini, ia meneliti, dan menemukan alasannya. Alasannya adalah “sebab” penderitaan, “sebab” klesa yang “menyebabkan” kelahiran kita. Tergantung pada apakah sebab penderitaan kita di masa lalu, yang menjadi alasan bagi kelahiran kita sekarang, adalah punya atau apunya—mulia atau tidak mulia.

………………..

JIKA SEBAB KELAHIRAN KITA ADALAH KLESA atau Penderitaan yang kita alami karena suatu perbuatan yang mulia—punya karma—maka sambil melewati hidup ini, kita bisa menari, menyanyi, bersukacita, tetap ceria dan berbagi keceriaan………

Pelajari kembali riwayat para suci, mereka yang hidup dalam kemuliaan dengan berbagi kemuliaan. Dan tokoh-tokoh historis yang sudah menjadi bagian dari legenda, seperti Rama, Krsna, Siddhartha, Isa, Muhammad, hingga tokoh-tokoh kontemporer seperti Gandhi, Soekarno, dan yang lain. Hidup mereka semua penuh tantangan, penuh gejolak, penuh duka-derita. Namun duka-derita mereka “berkualitas”. Penderitaan mereka bukan disebabkan oleh urusan-urusan pribadi. Penderitaan mereka disebabkan oleh komitmen mereka pada manusia dan kemanusiaan.

Mereka rela berkorban, rela menderita demi kebaikan kita semua. Ditembak pun, Gandhi masih menyebut asma-Nya. Disiksa di atas salib pun, Isa masih bisa memaafkan mereka yang menzaliminya. Demikian pula dengan Siddhartha, Sang Buddha. Muhammad memberikan amnesti kepada mereka semua yang pernah menciptakan keadaan sehingga ia mesti meninggalkan kota kelahirannya, dan berhijrah ke Madinah.

Menderita, memikul salib penderitaan demi kebaikan umum; mengorbankan segala kenyamanan hidup supaya dapat melayani sesama, inilah Punya Karma—Perbuatan yang Mulia. Kemudian dalam upaya itu, segala penderitaan, segala macam klesa menjadi benih bagi kelahiran ulang penuh perayaan, penuh keceriaan.

……………….

Hidup penuh keceriaan, perayaan, nyanyian, dan tarian bukanlah hidup tanpa tantangan. Hidup penuh keceriaan, perayaan, nyanyian, dan tarian adalah hidup penuh tantangan—bahkan, penuh dengan tantangan-tantangan berat, dahsyat. Ketika seseorang dapat menghadapi semua tantangan itu dengan hati yang ceria, sanubari penuh lagu dan tari, maka ia disebut Yogi. Ialah yang hidupnya sekarang merupakan hasil dari Punya Karma—Perbuatan Mulia—sebelumnya. Ialah yang hidupnya menjadi berkah bagi semesta.

Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2015). Yoga Sutra Patanjali Bagi Orang Modern, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

Berikut dalam Yoga Sutra Patanjali III.24 disampaikan bahwa berkat kontemplasi, meditasi dan fokus pada maitri, kemitraan dengan semua makhluk, mereka meraih kenikmatan, dan tidak menanam benih baru sehingga tidak lahir lagi……………..

 

Tidak menanam benih baru kelahiran kembali

“Berkat Samyama (dharana atau kontemplasi; dhyana atau meditasi; dan menyadari atau memusatkan kesadaran) pada maitri, kemitraan, persahabatan, atau kebersamaan, dan sebagainya, seseorang meraih kenikmatan yang terkait dengannya.” Yoga Sutra Patanjali III.24

Samyama pada kemitraan, pada kebersamaan berarti, niat kita, hati sanubari kita sudah bebas dari permusuhan, dari perpecahan, dari pertikaian. Maka tentu niat seperti itu sendiri menjadi kekuatan kita.

ADA YANG MENYALAHARTIKAN SUTRA INI, seolah jika niat kita sudah untuk bersahabat, maka tiada seorang pun yang akan memusuhi kita. Bukan, pengertiannya bukanlah seperti itu.

Jika pengertiannya demikian, lalu bagaimana menjelaskan penyaliban Yesus, penembakan Gandhi, pengasingan Pandava, dan sebagainya? Apakah niat mereka tidak benar?

Sebenarnya apa pun niat Anda, jika berhadapan dengan orang-orang yang memang bersifat asuri atau syaitani, maka apa yang terjadi pada Gandhi bisa juga terjadi pada Anda.

ARTI SUTRA INI ADALAH KESUNGGUHAN NIAT ANDA menjadi kekuatan Anda. Sehingga digantung di atas salib pun, Isa masih tetap bisa memaafkan mereka yang menggantungnya. Sehingga saat mengembuskan napas terakhir, Gandhi masih bisa mengucapkan nama la Hyang Bersemayam dalam diri setiap makhluk. Kekuatan inilah yang dimaksud.

Kemudian, kekuatan ini pula yang membebaskan kita dari rasa dendam sehingga tidak ada keinginan untuk membalas dendam yang dapat menjadi benih baru.

Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2015). Yoga Sutra Patanjali Bagi Orang Modern, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Om, Sarve bhavantu sukhinaḥ; Sarve santu nirāmayāḥ; Sarve bhadrāṇi paśyantu; Mā kashchit duḥkha bhāgbhavet; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga semua makmur, bahagia dan bebas dari penyakit. Semoga semua mengalami peningkatan kesadaran, dan bebas dari penderitaan. Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/

 

banner-utk-di-web

oec4elearning-banner

Kelahiran Ulang Disebabkan Klesa, Benih Duka Derita Kehidupan Sebelumnya. Darimana Asal Klesa?

buku yoga sutra patanjali jesus memanggil salib

Ilustrasi: Karma para Suci adalah Punya Karma, Karma yang mulia, karma kita adalah Apunya Karma, karma disebabkan kebingungan, kebodohan, ketidaksadaran kita. Gunakan batu uji berupa respons kita terhadap duka-derita. Jika kita tenggelam dalam duka hingga tidak bisa berkarya lagi, jelas kita bukan Isa, bukan Gandhi, bukan Ramakrishna, bukan kelompok para Suci. Seorang Punya Atma—Diri, Pribadi yang Mulia—tidak hanya tidak terbawa oleh pengalaman duka, tidak hanya tetap berkarya, tapi tetap menjadi berkah bagi semesta.

buku yoga sutra patanjali

Cover buku Yoga Sutra Patanjali

Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu: Saha vīryam karavāvahai;Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai.Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga Hyang Tunggal senantiasa melindungi kita; menjernihkan pikiran kita: semoga kita dapat berkarya bersama dengan penuh semangat; semoga apa yang kita pelajari mencerahkan dan tidak menyebabkan permusuhan; Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

“Sebab (daripenderitaan) yang bisa, dan mesti dihindari adalah kebingungan yang muncul dari samyoga atau pertemuan, hubungan antara drsya atau yang terlihat dengan drastr, yang melihat.” Yoga Sutra Patanjali II.17

 

Bagi Patanjali, menemukan alasan kelahiran saja tidak cukup. Ia mesti menemukan alasan di balik alasan itu. Dan, “alasan di balik alasan” itulah yang diberikannya lewat sutra ini.

 

BENIH KLESA ATAU DUKA-DERITA ADALAH ALASAN BAGI KELAHIRAN ULANG. Benih klesa dari masa lalu, dari kelahiran yang lalu itulah yang bertunas dan menyebabkan adanya kelahiran baru. Patanjali tidak berhenti meneliti.

Ia adalah seorang saintis tulen, saintis Jiwa yang tak tertandingi oleh siapa pun dalam sejarah umat manusia. Ia meneliti terus hingga menemukan “alasan di balik alasan”—apa yang menyebabkan benih-benih klesa atau duka-derita pada masa lalu. Tanpa menemukan “alasan awal”—alasan di balik alasan itu—bagaimana pula memastikan bila hidup sekarang, dalam masa kehidupan yang sedang kita lewati saat ini, kesalahan yang sama tak akan terulangi lagi?

Patanjali menemukan apa yang dicarinya, dan ia berbagi dengan kita.

KEBINGUNGAN YANG MUNCUL DARI SAMYOGA atau pertemuan, atau hubungan antara drsya, yang terlihat; dan drastr, yang melihat.

Dalam keadaan remang-remang, ranting-ranting dan dedaunan pohon yang terkena angin membuat kita takut. Dalam keadaan takut, akal sehat pun mengambil cuti, dan pikiran menyimpulkan, “Ada roh gentayangan di sana.” Kemudian karena kesimpulan salah yang dibuat dalam keadaan itu, kita mengalami klesa, kita menderita.

Lain kesimpulan di atas, lain pula kesimpulan Hola. Keadaan sama, remang-remang—bahkan nyaris gelap. Tempat bukan pekarangan atau kebun, tapi Diskotek Maha Bencana. Sudah bingung, Hola masih juga memperkaya kebingungannya dengan menelan sebutir pil yang membuatnya makin bingung. Lucunya, saat itu ia rnalah menikmati kebingungannya.

Gadis yang menawarkan pil kepada dia, “tampak” cantik bukan main, dan ia pun berjanji, “Sebentar keluar dari sini, aku kawin sama kamu.”

“Resmi?” Gadis itu tidak mau mengambil risiko.

“Ya, resmilah. Aku ini pejabat tinggi tahu! Nggak mau main tidak resmi. Coba lihat saja track-record-ku. Rekan-rekanku semua ditahan oleh KPK, aku tidak pernah tersandung. Permainanku safe, resmi!”

Si Gadis girang, “Begini Om, supaya aku tenang, kita bikin kontrak di sini saja. Om tanda tangan, keluar nanti tinggal ketok palu saja!”

“Mana kontraknya?” Hola menantang.

Rupanya gadis itu memang seperti baterai ever ready, selalu dalam keadaan siap alias siaga satu. Langsung saja ia mengeluarkan kontrak lengkap dengan materai dari kantong gaib di saku bajunya

Setelah menandatangani kontrak, beberapa saat kemudian, Hola mengajak “kontrakan baru”-nya keluar untuk ketok palu. Sementara itu, pengaruh pil yang berkualitas rendah pun mulai berkurang. Di luar, di bawah cahaya neon, astaga, Hola pingsan. Ternyata, yang dianggapnya gadis itu waria!

Seperti inilah “kebingungan” yang dimaksud Patanjali. Bingung yang menghasilkan benih-benih klesa, duka-derita, yang kemudian bertunas, dan menyebabkan penderitaan.

Perhatikan apa yang terjadi pada Hola, supaya kita tidak mengulangi kesalahannya.

 

SAMYOGA ATAU PERTEMUAN ANTARA HOLA YANG MELIHAT, dengan Gadis Palsu alias Bencong yang dilihatnya. Pertemuan itulah yang menyebabkan kebingungan, dan derita. Pasalnya, sesuai dengan kontrak, bencong itu sudah menjadi istri Hola, istri yang sah. Esoknya, ia mesti mengurus surat cerai dan membayar 1 triliun sebagai ganti rugi. Ya, 1T. Sudah bukan zamannya miliaran.

Untuk memahami maksud Patanjali, kita mesti membedakan Hola, Si Penglihat. “Apa”-nya Hola, ada apa di dalam diri Hola yang melihat seorang bencong sebagai gadis?

Mudah bagi Hola untuk rnenemukan beberapa alasan. Misalnya, pertama, keadaan saat itu yang remang-remang, tanpa pencahayaan yang cukup; kedua, pengaruh pil yang sekarang disumpahinya sebagai pil haram.

Patanjali tidak akan terbingungkan oleh alasan-alasan yang diajukan oleh Hola. Kedua alasan itu sekadar, bahkan hanya merupakan dampak dari alasan sesungguhnya.

Dan, alasan sesungguhnya adalah

 

NAFSU HOLA, NAFSU YANG TAK TERKENDALI sehingga mau kontrak segala supaya bisa ketok palu! Ini kan edan. Hola boleh membela diri, “Ya tapi, lagi-lagi teken kontrak dalam keadaan remang-remang. Aku pun lagi fly.”

Remang-remang, fly—dalil-dalil lemah. Persoalannya bukan itu. Persoalannya adalah, “Hola, kau sudah punya istri, si Holi di rumah. Belum lagi pacar dan selir sederet. Masih saja kau pergi ke Diskotek Maha Bencana, masih juga mau dilayani seseorang yang kau anggap gadis. Saat itu, niatmu jelas tidak beres.”

Hola terbawa oleh nafsu, as simple as that. Tidak ada alasan lain. Nafsu mengendalikan pikiran, indra, semua. Itulah yang membuatnya harus membayar denda I triliun keesokan harinya.

Saat itu, Hola adalah Wujud Nafsu.

Saat itu yang bercumbuan dengan gadis bencong adalah Diri-Nafsu Hola. Bukan Diri-Inteligensi, bukan Diri-Viveka yang bisa menimbang memilah. Bukan Diri Akal-Sehat. Saat itu, Diri Hola adalah Diri Gugusan Pikiran dan Perasaan atau Manah, Mind penuh nafsu.

 

YA, DIRI GUGUSAN PIKIRAN DAN PERASAAN-lah, yang merupakan alasan munculnya benih-benih klesa, alasan duka-derita, alasan penderitaan, alasan kelahiran-ulang.

Saal itu, jika Viveka atau Akal-Sehat Hola bekerja; jika Buddhi atau Inteligensi berkuasa, ia tidak akan terbawa oleh nafsu. Dan, tiada pula benih klesa yang muncul dan memiskinkan dia keesokan harinya.

Hikmah apa yang dapat kita petik dari pengalaman Hola?

 

GUNAKAN VIVEKA, AKAL SEHAT untuk melihat, memandang, dan berinteraksi dengan dunia benda. Kembangkanlah buddhi atau intelegensi supaya hubungan kita dengan dunia benda, interaksi kita tidak menyisakan residu, tidak menyebabkan by-product berupa benih-benih klesa atau duka-derita.

Segala penderitaan yang sedang kita alami saat ini, disebabkan oleh kurangnya viveka, kurangnya akal sehat; dan perkembangan buddhi atau inteligensia yang belum optimal, belum sempurna pada masa lalu. Hasilnya, penderitaan, duka-derita dalam hidup ini.

Nah, jika kita tidak mau menderita lagi pada masa mendatang, gunakan viveka, akal sehat. Kembangkan buddhi, intelegensi.

Dalam hal ini, kita juga mesti ingat tentang,

 

PUNYA KARMA ATAU PENDERITAAN yang disebabkan oleh perbuatan yang mulia. Para pemandu rohani seperti Ramakrishna, Hazrat Isa, Gandhi, dan lainnya menderita karena urusan Punya Karma. Mereka adalah genre yang beda. Mereka tidak berada dalam kelompok yang sama seperti kita.

Jangan cepat-cepat menghakimi mereka.

Jangan pula menganggap diri kita berada dalam kelompok mereka dan membenarkan penderitaan kita sebagai hasil dari punya karma, perbuatan yang mulia.

Sebelum melakukan hal itu, gunakan batu uji berupa respons kita terhadap duka-derita. Jika kita tenggelam dalam duka hingga tidak bisa berkarya lagi, jelas kita bukan Isa, bukan Gandhi, bukan Ramakrishna.

Seorang Punya Atma—Diri, Pribadi yang Mulia—tidak hanya tidak terbawa oleh pengalaman duka, tidak hanya tetap berkarya, tapi tetap menjadi berkah bagi semesta.

Di tengah badai topan sedahsyat apa pun, kita akan tetap menemukan mereka—para Maitreya, para Mitra Jagad Raya itu—melayani sesama makhluk.

Semoga kita semua bisa menjadi seperti mereka.

Kemudian, tidak ada lagi benih-benih baru yang muncul dan terkumpul. Para Maitreya, Mitra Jagad Raya, bagaikan awan pembawa berkah di tengah musim kemarau, di tengah gurun Sahara. Mereka adalah siraman berkah, hujan berkah. Mereka tidak terbawa oleh gugusan pikiran dan perasaan. Mereka tidak lagi terbawa oleh nafsu. Mereka menggunakan buddhi, inteligensi untuk menjalani hidup, sekaligus berbagi kehidupan.

 

DAN, SELAGI BERBAGI ITU, mereka mengambil sikap sebagai Saksi—inilah Kesadaran-Jiwa. Sebagai Saksi, mereka melihat “Diri”-nya, melihat Pribadi Agung, melihat Sang Jiwa Agung di mana-mana.

Yang melayani adalah Dia.

Yang dilayani adalah Dia, dan aksi pelayanan itu sendiri adalah Dia. Dengan kesadaran seperti  ini, mereka senantiasa hidup dalam kebebasan mutlak, hidup dalam moksa, dalam nirvana. Selagi masih berbadan—masih tampak sama seperti kita—, sesungguhnya mereka sudah bebas dari segala kesadaran rendah, dari segala kerikatan. Mereka adalah……

Manusia Sampurna, Jivan Mukta, sudah bebas dari kesadaran jasmani, pikiran, perasaan, apalagi nafsu rendahan dan tuntutan indra. Patanjali mengajak kita, mengundang kita untuk hidup seperti itu. Ia tidak hanya berfilsafat. Ia memberikan solusi, ia menawarkan cara yang sudah teruji, supaya kita dapat menggapai takdir kita dengan mudah. Ya, kesempurnaan adalah takdir kita, kebahagiaan sejati adalah takdir kita, kesadaran murni adalah takdir kita, kebebasan mutlak adalah takdir kita.

Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2015). Yoga Sutra Patanjali Bagi Orang Modern, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Om, Sarve bhavantu sukhinaḥ; Sarve santu nirāmayāḥ; Sarve bhadrāṇi paśyantu; Mā kashchit duḥkha bhāgbhavet; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga semua makmur, bahagia dan bebas dari penyakit. Semoga semua mengalami peningkatan kesadaran, dan bebas dari penderitaan. Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/

 

Banner utk di web

oec2elearning-banner