Tempat yang Kondusif untuk Hunian dan Laku Spiritual #BhagavadGita

Pengaruh lingkungan jauh lebih kuat daripada kehendak manusia. Demikian kata Parahansa Yogananda. Dan demikianlah adanya. Tidak perlu sombong, tidak perlu arogan. Pernyataan-pernyataan seperti “Aku sudah mencapai titik di mana tidak ada lagi yang menggoyahkan imanku” hanya akan menjatuhkan Anda.

Berjaga-jagalah terhadap lingkungan Anda, terhadap persahabatan Anda. Apakah mereka menunjang kehendakmu? Itulah sebabnya mereka yang telah berkehendak untuk berfokus pada Kasih Allah saja sebaiknya tinggal di dalam suatu komunitas di mana setiap orang memiliki kehendak yang sama. Di mana setiap orang berfokus pada Kasih Allah. Sehingga tidak lagi terjadi tarik-menarik energi antara kekuatan kehendak dan pengaruh lingkungan. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2012). Sanyas Dharma Mastering the Art of Science of Discipleship Sebuah Panduan bagi Penggiat Dan Perkumpulan Spiritual. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

Defisiensi energi karena tinggal di kota besar. Defisiensi atau kekurangan energi juga membuat kita takut dengan tempat-tempat yang sempit. Kita tidak bisa tinggal dalam apartemen yang sempit dan kecil. Dinding-dinding apartemen terasa mencekik. Banyak orang-orang yang tinggal di kota-kota besar mengalami defisiensi energi, dan defisiensi itu sedemikian parahnya sehingga tidak terdeteksi sama sekali. Kemudian mereka mencari penyelesaian lewat tarik-menarik energi…….

Tembok-tembok, dinding-dinding dalam apartemen itu tidak memenjarakan mereka. Adalah emosi mereka sendiri yang memenjarakan mereka – emosi yang mengakibatkan depresi, stres dan merampas keberanian mereka, semangat mereka, rasa percaya diri mereka. Praanayaama atau latihan-latihan pernapasan dari tradisi Yoga adalah solusi yang paling efektif dan cepat. Namun latihan-latihan tersebut perlu dilakukan secara terartur setiap hari, walau untuk 10 menit saja. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2007). Fear Management, Mengelola Ketakutan, Memacu Evolusi Diri. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Berikut penjelasan Bhagavad Gita 18:52 mengapa kita lebih menyukai tempat-tempat yang lebih tenang dan damai………..

Buku Bhagavad Gita

Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu; Saha vīryam karavāvahai; Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga Hyang Tunggal senantiasa melindungi kita; menjernihkan pikiran kita: semoga kita dapat berkarya bersama dengan penuh semangat; semoga apa yang kita pelajari mencerahkan dan tidak menyebabkan permusuhan; Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

“Ia senantiasa menarik diri ke tempat yang sepi; makan secukupnya; mengupayakan pengendalian badan, indra, ucapan serta pikiran; memusatkan seluruh kesadarannya pada diri yang sejati (melakoni Dhyana Yoga); dan berlindung pada Vairagya, melepaskan segala keterikatan duniawi.” Bhagavad Gita 18:52

Sifat-sifat ini pun “datang dengan sendirinya”. Jika kita sudah berkesadaran Jiwa, kita tidak akan pernah menikmati pergaulan dengan mereka yang masih berkesadaran Jasmani murni, mereka yang hanya memikirkan materi.

 

BUKAN KARENA SOMBONG – Tapi karena urusannya sudah beda. Seorang pilot yang sedang membawa pesawat super canggih tidak berurusan lagi dengan rambu-rambu lalu lintas di darat. Ia mesti menaati rambu-rambu lain.

Seorang mahasiswa tidak lagi berurusan dengan ujian nasional SD. Ia sudah melewatinya. Dalam hal ini, tidak ada rasa sombong atau angkuh, “Aku sudah mahasiswa, kau masih SD? Kasihan!”

Ucapan seperti itu tidak masuk akal. Seorang mahasiswa sudah melewati masa SD. Tidak ada yang perlu disombongkan.

Mencari tempat yang sepi, baik untuk hunian maupun untuk laku spiritual, meditasi dan sebagainya — ini pun bukan karena sombong dan untuk membuktikan, “aku lebih hebat!” Tidak. Ini adalah murni soal pilihan, dan kesukaan – preferensi.

 

JIKA KITA MASIH BEKERJA di sekitar Bundaran HI di Jakarta, maka lebih baik mencari apartemen di sekitar HI. Tidak perlu buang waktu dalam perjalanan.

Sebaliknya, jika kita sudah pensiun — maka tinggal di apartemen yang sumpek dan di tengah keramaian Jakarta adalah pilihan yang tidak tepat. Lebih baik menjual apartemen yang sumpek itu, dan dengan uang yang kita peroleh, mencari tempat di pinggiran kota. Bisa lebih luas, lebih tenang, lebih sehat; dan di atas segalanya, lebih kondusif untuk Sadhana? atau Laku S iritual.

Kemudian, tentang pengendalian diri, makan secukupnya dan lain sebagainya — semua ini adalah urusan self-awareness, kesadaran diri.

 

SEORANG DEWASA TANPA KESADARAN DIRI merusak badannya dengan berbagai jenis makanan yang tidak sehat. Enak di mulut, tidak baik bagi kesehatan. Mau bilang apa? Lagi-lagi ini pun merupakan pilihan — kembali pada kesadaran diri masing-masing.

Tidak mau mengendalikan ucapan, tindakan, dan pikiran – apa bisa? Mau marah-marah, meledak-ledak di tempat kerja? Apakah kita akan tetap dipekerjakan?

Pengendalian diri adalah penting. Tingkat pengendalian beda dari orang ke orang. Itu pun pilihan. Ada yang memilih untuk makan sayur-mayur saja. Ada yang menambah telur dan susu dalam dietnya. Ada yang bangun jam 3 pagi, ada yang bangun jam 5 pagi. Silakan mempraktekkan pengendalian diri sesuai dengan kebutuhan Jiwa, sesuai dengan apa yang dibutuhkan demi pengembangan diri.

Dikutip dari buku: (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

 

Om, Sarve bhavantu sukhinaḥ; Sarve santu nirāmayāḥ; Sarve bhadrāṇi paśyantu; Mā kashchit duḥkha bhāgbhavet; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga semua makmur, bahagia dan bebas dari penyakit. Semoga semua mengalami peningkatan kesadaran, dan bebas dari penderitaan. Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/

 

Tidak Terpengaruh Keadaan di Luar? Mungkinkah? #BhagavadGita

buku-bhagavad-gita-gandhi-jesus-martin-luther-john-lennon

Kita perhatikan Gandhi dan Jesus, Martin Luther King, Jr. dan, bahkan, John Lennon dari kelompok Beatles, mereka semua adalah pelaku meditasi. Mereka tidak berhasil membuat setiap orang senang, tetapi cukup berhasil membahagiakan banyak orang. Mereka tidak pernah memikirkan kepentingan diri saja.

Itulah ciri khas seorang meditator, seseorang yang telah meraih kesadaran diri, kesadaran rohani, kesadaran jiwa—yang amat sangat mudah terdeteksi.

Ciri lain yang mudah terdeteksi adalah bahwa seorang meditator tidak mudah terpengaruh oleh keadaan-keadaan di luar, dan tidak mudah pula terpengaruh oleh perkataan orang lain. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2016). Soul Awareness, Menyingkap Rahasia Roh dan Reinkarnasi, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

cover-buku-soul-awareness

Silakan simak penjelasan Bhagavad Gita 9:14 tentang Kesadaran Jiwa:

 

Buku Bhagavad Gita

Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu; Saha vīryam karavāvahai; Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga Hyang Tunggal senantiasa melindungi kita; menjernihkan pikiran kita: semoga kita dapat berkarya bersama dengan penuh semangat; semoga apa yang kita pelajari mencerahkan dan tidak menyebabkan permusuhan; Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

“Demikian mereka senantiasa memuliakan Aku; berupaya untuk menyadari kehadiran-Ku di mana-mana; dan selalu berlindung pada-Ku dengan keyakinan yang teguh. Sesungguhnya, mereka telah bersatu dengan-Ku dalam meditasi, puja-bakti, dan panembahan mereka, yang sepenuhnya terpusatkan pada-Ku.” Bhagavad Gita 9:14

 

“Apa yang kita inginkan dari dan dalam hidup ini? Jika kita menginginkan Ananda atau Kebahagiaan Sejati – maka tidak ada jalan lain, metode lain kecuali satu – yaitu, berkesadaran Jiwa. Jiwa adalah kekal, karena ia tidak pernah berpisah dari Jiwa Agung. Perpisahan adalah ilusif, khayalan, imaginer, yang kemudian merosotkan kesadaran kita dan mengalihkannya ke badan dan indra.

cover-buku-bhagavad-gita

SEBAGIAN DIANTARA KITA MENGAGUNG-AGUNGKAN EMOSI – bahwasanya, jika emosi kita ditingkatkan maka, apa pun yang kita kehendaki akan terjadi. Bisa, tapi jangan lupa, sifat emosi adalah naik-turun, pasang-surut, kadang panas, kadang dingin. Mustahil kita bisa mempertahankan emosi di suatu level, suatu tingkat tertentu untuk selamanya.

Dapatkah kita mempertahankan air pada 100 derajat celcius? Mustahil. Begitu mencapai 100 derajat celcius, air langsung menguap, mulai menguap. Emosi memiliki korelasi dengan air. Emosi dikendalikan oleh elemen air di dalam diri kita. Pun demikian di luar diri kita, di alam sekitar kita. Air laut, air sungai – semuanya adalah pusat-pusat emosi di dunia ini. Jika terjadi tsunami, maka alasannya bukanlah sekadar “fenomena” alam; dalam pengertian, “itu adalah sesuatu yang lumrah.” Tidak, tidak lumrah. Dapat dihindari.

Pasang-surutnya air laut adalah lumrah, namun memasangnya sedemikian rupa hingga menyebabkan musibah, bencana – tidak lumrah. Saat itu laut, air sedang mengamuk. Tentunya kita telah mengundang amukannya karena ulah kita sendiri.

 

DEMIKIAN PULA DENGAN EMOSI MANUSIA – Makin tinggi, jatuhnya pun makin hebat, makin dahsyat – makin menyakitkan!

Level emosi yang tinggi, yang dikaitkan dengan kebahagiaan atau keceriaan, sesungguhnya hanyalah kesenangan sesaat. Emosi tidak pernah dan tidak bisa menghasilkan kebahagiaan sejati. Emosi tidak dapat, tidak mampu menggapainya. Adalah kesadaran Jiwa, yang berasal dari sanubari terdalam atau bhava ‘saja’ yang dapat membahagiakan Jiwa.

“Memuliakan-Nya” berarti senantiasa memuliakan Kesadaran Jiwa, Jiwa Agung; serta menempatkan-Nya di atas kebutuhan-kebutuhan raga, indra dan sebagainya. Kebutuhan-kebutuhan tersebut perlu dipenuhi. Kebutuhan indra, badan – semuanya mesti diladeni dengan moderasi. Tidak berlebihan, tidak kekurangan – berkecukupan. Namun jangan lupa, terpenuhinya kebutuhan-kebutuhan itu, Jiwa tidak ikut bahagia. Kebahagiaan Jiwa datang dari kesadaran akan hakikat dirinya.

 

JIKA KITA MEMILIKI TABUNGAN, atau, jika penghasilan kita memadai, maka ketika kendaraan kita rusak, kita akan menukarnya dengan kendaraan baru. Tukar-tambah, atau bahkan kendaraan yang sudah lama dan rusak itu dibiarkan di garasi untuk menjadi rongsokan. Tidak menjadi soal.

Tetapi jika penghasilan kita tidak cukup, tabungan kita tidak cukup—maka rusaknya kendaraan bisa membuat senewen. Kita stres berat. Tabungan dan penghasilan yang dimaksud di sini adalah “Kesadaran Jiwa.”

Tanpa Kesadaran Jiwa – badan yang satu ini; indra yang berjumlah lima ditambah indra-indra persepsi yang berjumlah lima pula; gugusan pikiran dan perasaan, keberhasilan akademis dan profesional – semuanya menjadi “segala-gala”nya. Jika ada yang hilang, maka kita kehilangan segala-galanya.

Kesadaran Jiwa membuat kita tidak merasa kehilangan sesuatu apa pun, walau kita menyaksikan tubuh menjadi debu, menjadi abu! Saat itu pun kita masih bisa menyanyi girang dan bersuka cita, “Aku abadi, aku abadi. Sivoham, So ham!” Saat itu, kita baru menyanyikan Bhajan, baru mengagungkan kemuliaan-Nya dalam pengertian yang sesungguhnya.

Dikutip dari buku: (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

 

Catatan:

Apa yang dapat membahagiakan? Bila harta benda, sanak-saudara, tak dapat memberi kebahagiaan, apa yang harus kulakukan? Hanya dua pilihan. Masuk ke dalam alam depresi berat atau memasuki alam meditasi dan menemukan sumber segala kebahagiaan dalam diri. Bhaja Govindam

Sudahkah kita mulai latihan meditasi?

Om, Sarve bhavantu sukhinaḥ; Sarve santu nirāmayāḥ; Sarve bhadrāṇi paśyantu; Mā kashchit duḥkha bhāgbhavet; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga semua makmur, bahagia dan bebas dari penyakit. Semoga semua mengalami peningkatan kesadaran, dan bebas dari penderitaan. Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/

 

oec1elearning-banner

16711992_612132385641135_3392780409612035997_n

Renungan #Gita: Kita Pernah di Frekuensi Krsna, Frekuensi Kesadaran Jiwa, Tapi Belum Stabil?!?

buku bhagavad gita

Cover Buku Bhagavad Gita

Bhagavad Gita 7:26

“Arjuna, Aku mengetahui segala sesuatu tentang semua makhluk – mereka yang lahir di masa lalu, masa kini, bahkan yang akan lahir di masa mendatang. Namun, tiada seorang pun yang mengenal-Ku (tanpa keyakinan dan devosi).” Bhagavad Gita 7:26

 

“Apakah Krsna seorang tukang ramal? Tidak. Seorang peramal menggunakan ilmu, intuisi, dan tebakan. Jika hampir 70% jalan kehidupan manusia dapat ditebak dengan baik oleh seorang peramal atau penebak yang pintar – maka itu hanya menunjukkan bahwa hidup kita masih mediocre –lumayanan – dapat ditebak. Hidup kita masih mengikuti jalur-jalur lama. Tiada jalur baru, tiada pengalaman baru yang kita tempuh!

“KRSNA BUKANLAH PERAMAL SEPERTI ITU – Ia adalah Ahli Fisika dan Matematika Ilahi. Ia mengetahui segala kemungkinan yang dapat terjadi. Seorang ahli fisika kontemporer baru tahu tentang adanya Law ofProbability, Hukum Kemungkinan. Ia belum tahu tentang kemungkinan apa saja yang dapat terjadi. Ia masih meraba-raba.

“Para ahli matematika pun baru sadar bahwa ada beberapa ‘model’ yang dapat dipakainya sesuai dengan kebutuhan riset dan rumusannya. Tidak perlu bergantung pada satu hukum saja.

“Contoh: Hukum 9 dan angka 0 adaiah matematika biasa, umum. Seorang ahli fisika seperti Einstein bisa bekerja dengan dua digit saja, karena memang awal dari segalanya, awal dari alam benda ini adalah dualitas. Kita tidak akan memasuki wilayah itu, namun perlu kita pahami bahwa masa lampau, masa kini, dan masa mendatang adalah suatu kontinuitas. Di dalam kontinuitas ini kita bisa menemukan sekian banyak variabel – kemungkinan-kemungkinan yang dapat terjadi. Jika Anda bertindak seperti ini, maka kemungkinannya demikian. Jika Anda bertindak seperti itu, maka kemungkinannya demikian. Dan, jika Anda ‘sudah’ benindak, maka kepastian hasilnya pun sudah bisa diketahui.

“PERTANYAANNYA; SIAPA YANG DAPAT MENGETAHUI? Aku, kamu, kita — asal kita berada di frekuensi Krsna — frekuensi Kesadaran  Jiwa. Susahkah hal itu? Tidak. Sesungguhnya kita sudah sering mengetahui dan bertindak ‘tepat’ sesuai dengan pengetahuan itu. Hanya saja belum 24/7 — belum 24 jam setiap hari dan 7 hari setiap minggu. Kesadaran kita belum konsisten, masih naik-turun. (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

 

“Ketika pikiran kita tergoda untuk berbuat sesuatu yang ‘tidak tepat’; hati pun terbawa oleh nafsu; tapi, kita tetap ‘tidak’ melakukan hal itu; karena ada kekuatan lain yang mengatakan ‘tidak, itu tidak tepat’ — maka, ketahuilah bila kekuatan itulah kekuatan ‘diri’ kita yang sejati.

“ITULAH NURANI, ITULAH JIWA! Jiwa tahu persis ‘pengalaman’ apa yang hendak di ‘lewati’ nya, maka ia memandu kita — badan, indra, pikiran serta perasaan — untuk melewati pengalaman yang spesifik itu. Kita sudah sering mendengarkan dan mengikuti panduan Jiwa, lagi-lagi, hanya saja, belum selalu, belum sepenuhnya, belum 24/7.

“Bagaimana menyelaraskan lapisan fisik, mental/emosional, dan inteligensia kita dengan kehendak Jiwa? Dengan berlatih diri, dengan menumbuh-kembangkan keyakinan pada tuntunan Jiwa, dengan secara terus-menerus ngefans pada Jiwa, dan tidak ngefans pada tuntutan badan dan indra.

“BHAKTI, DEVOSI, PANEMBAHAN – terjemahkan, artikan semua kata itu sebagai ‘ngefans’. Ketika kita ‘ngefans’ pada seorang penyanyi atau pemain sinetron, sesungguhnya kita sudah berbhakti padanya.

“Sekarang, mari ngefanslah pada diri sendiri, pada Jiwa. Mari meyakini kebijakan Jiwa. Dan, kita .menjadi’ Krsna — Oops, salah – tidak menjadi, tapi ‘menemukan’ Krsna di dalam diri, yang sesungguhnya sudah lama menantikan perhatian kita. Saat itu, kesadaran jasmani dan indrawi serta gugusan pikiran dan perasaan (mind) — semuanya menjadi alat untuk digunakan sewaktu kita membutuhkannya. Kita tidak lagi diperalat olehnya. (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/

 

oec2Elearning-Banner-2

Renungan #Gita: Tidak Ada Dogma yang Bisa Mempersatukan Umat Manusia Kecuali Kesadaran Jiwa

buku bhagavad gita

Cover Buku Bhagavad Gita

Bhagavad Gita 9:13

“Di pihak lain, Partha (Putra Prthu – sebutan lain bagi Kunti, Ibu Arjuna) para mahatma – mereka yang berjiwa mulia – yang selalu menyadari kemuliaan dirinya dan mengenali-Ku sebagai Sumber semua makhluk, dan segala-galanya; Tak Termusnahkan, dan Kekal Abadi; senantiasa memuja-Ku dengan seluruh kesadarannya berpusat pada-Ku.” Bhagavad Gita 9:13

“Selama Jiwa Individu atau Jivatma tidak mengenal hakikat dirinya – ia beranggapan bila dirinya adalah badan, indra, pikiran, perasaan dan sebagainya. Kadang seseorang yang menyatakan, ‘Aku Jiwa, bukan badan’, dan sebagainya pun, masih tetap tidak menyadari hal itu. Ia baru berwacana saja.

“Meditator adalah seorang yang menyadari hakikat dirinya. Ia telah menemukan kemuliaan dirinya. Ia melihat dirinya di mana-mana. Tat Tvam Asi – Itulah kau. Kau juga Aku. Aku juga Kau. Dalam kesadaran Jiwa, dan hanyalah dalam kesadaran Jiwa, kita baru bisa bersatu.

“Tidak ada satu pun ideologi, kepercayaan, doktrin, atau dogma yang bisa mempersatukan umat manusia, apalagi mempertahankan persatuan dan kesatauan itu – kecuali Kesadaran Jiwa.

“Lihat saja nasib lembaga kepercayaan. Kitab sucinya satu dan sama; anutannya satu dan sama; berawal dari satu akar; filsafat dasarnya sama; tapi, tetap saja terpecah-belah. Terbagi dalam sekian banyak mazhab dan sekte. Dan, hal itu memang lumrah, wajar, karena setiap orang bisa menginterpretasikan ajaran yang sama sesuai dengan cara berpikirnya, persepsinya, penghayatan, dan pemahamannya.

“Membangun Persatuan dan Kesatuan lewat ideologi apa pun, dan dalam bidang apa pun – entah politik, agama, sosial – sudah pasti tidak berhasil. Tidak pernah berhasil. Persatuan hanya dapat diwujudkan lewat ‘Kesadaran Jiwa’. Bukan lewat ideologi, kepercayaan dan sebagainya.

“Kesatuan dan persatuan hanyalah dapat dibangun di atas landasan kesadaran bahwa pada esensinya kita semua memang satu. Untuk itu, peran Mahatma menjadi penting. Para Mahatma bisa menjadi anutan, karena mereka sudah merasakan kesatuan dan persatuan dengan semesta.

“Seperti apakah sifat para Mahatma? Apa yang mereka lakukan? Adakah yang dapat kita contohi? Krsna memberi rumusan: ‘bhajanty ananya-manasa’ – mereka, senantiasa, memuja-Ku, mengenang-Ku, menyadari kehadiran-Ku, menghayati hakikat-Ku – dengan pikiran yang tak bercabang, dengan seluruh kesadarannya terpusatkan pada-Ku.

“Ini tidak sama dengan disiplin doa beberapa kali sehari pada waktu-waktu tertentu. Yang dimaksud bukanlah memuja-Nya dengan ritual-ritual tertentu, gerak badan tertentu, sesajen tertentu, ataupun cara-cara, metode-metode tertentu. Bukan, bukan semua itu. Adalah pemujaan purnawaktu yang dibutuhkan. Hal ini, jelas tidak bisa dilakukan secara fisik. Fisik punya dharmanya sendiri, banyak hal yang mesti dilakukannya – dari gosok gigi hingga mencari rezeki. Fisik tidak bisa berdoa atau meditasi saja. Yang dimaksud adalah kesadaran diri.

“Bhajanty bukan sekadar bhajan – Dalam pengertian memuji-Nya dengan bernyanyi, bertepuk tangan dengan diiringi musik. Inilah definisi bhajan yang kita temukan di internet. Bukan. Itu merupakan ekspresi bhajan yang paling mudah, paling populer dan paling umum. ‘Bhajanty’ adalah ‘senantiasa memuji-Nya, mengagungkan-Nya; senantiasa bersyukur atas segala berkah  dan anugerah-Nya; senantiasa menyadari kehadiran-Nya. (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

 

“Dan, ‘ananya manaso’ berarti, ‘dengan pikiran yang tidak bercabang’. Nah, pikiran yang tidak bercabang adalah kesadaran. Pikiran kita saat ini bercabang. Dan selama berinteraksi dengan dunia, pikiran yang bercabang tetap dibutuhkan.

“Bagaimana kita bisa memutuskan, tindakan mana yang tepat dan mana yang tidak tepat? Sifat dualitas pikiran kita membantu. Ia memilah antara yang sekadar nikmat, menyenangkan – dari sesuatu yang mulia. Sifat dualitas dibutuhkan pula untuk merawat badan sehingga kita dapat memilih makanan yang bergizi baginya. Sifat dualitas pikiran manusia di balik segala macam konflik, sekaligus di balik segala macam kemajuan dan perkembangan, pertumbuhan. Sifat dualitas inilah yang membuat pikiran bercabang. Jadi, pikiran yang bercabang pun tetap dibutuhkan.

“Sifat pikiran yang tidak bercabang adalah kesadaran yang dibutuhkan pada tingkat Jiwa. Nyamuk yang mengganggu, menyebarkan berbagai penyakit; pun demikian dengan kecoa dan serangga-serangga lain – bahkan virus yang menyerang tubuh kita – mesti dibasmi. Saat itu, pikiran yang bercabang berguna untuk menentukan sikap.

“Namun, pada saat yang sama pikiran tidak bercabang atau kesadaran juga dibutuhkan untuk menyadari bila dalam Kesadaran Jiwa kita semua bersatu. Tidak perlu membenci nyamuk dan kecoa saat membasmi mereka. Ada juga orang yang bahagia betul setelah berhasil ‘membunuh’ nyamuk dan kecoa. Tidak, tidak perlu bahagia, dan tidak perlu sedih. Pun tidak perlu bimbang, ‘saya kan spiritual, masak membunuh nyamuk?’ Kebimbangan seperti itu muncul dari ego-spiritual, bukan dari Jiwa-spiritual.

“Nyamuk-nyamuk yang mengganggu manusia serta kemanusiaan tidak melulu berwujud sebagai nyamuk. Bisa juga berwujud sebagai manusia, sebagai Kaurava, sebagai apa dan siapa saja. Mereka mesti dibasmi tanpa rasa benci. Sembari membasmi ‘nyamuk-nyamuk’ itu, berdoalah dalam hati, semoga dalam perjalanan selanjutnya, kau mendapatkan tuntunan yang dibutuhkan demi kemajuan dan perkembangan Jiwa. Kau tidak lagi mengganggu sesama makhluk.  (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

Renungan Gita: Bukan Ideologi, Doktrin, Dogma; hanya Kesadaran Jiwa Pemersatu Umat Manusia #Gita

buku bhagavad gita

Cover Buku Bhagavad Gita

“Bhagavad Gita 9:13

“Di pihak lain, Partha (Putra Prthu – sebutan lain bagi Kunti, Ibu Arjuna) para mahatma – mereka yang berjiwa mulia – yang selalu menyadari kemuliaan dirinya dan mengenali-Ku sebagai Sumber semua makhluk, dan segala-galanya; Tak Termusnahkan, dan Kekal Abadi; senantiasa memuja-Ku dengan seluruh kesadarannya berpusat pada-Ku.”

“Selama Jiwa Individu atau Jivatma tidak mengenal hakikat dirinya – ia beranggapan bila dirinya adalah badan, indra, pikiran, perasaan dan sebagainya. Kadang seseorang yang menyatakan, ‘Aku Jiwa, bukan badan’, dan sebagaainya pun, masih tetap tidak menyadari hal itu. Ia baru berwacana saja.

“Meditator adalah seorang yang menyadari hakikat dirinya. ia telah menemukan kemuliaan dirinya. ia melihat dirinya di mana-mana. Tat Tvam Asi – Itulah kau. Kau juga Aku. Aku juga Kau. Dalam kesadaran Jiwa, dan hanyalah dalaam kesadaran Jiwa, kita baru bisa bersatu.

‘Tidak ada satu pun ideologi, kepercayaan, doktrin, atau dogma yang bisa mempersatukan umat manusia, apalagi mempertahankan persatuan dan kesatauan itu – kecuali Kesadaran Jiwa.

“Lihat saja nasib lembaga kepercayaan. Kitab sucinya satu dan sama; anutannya satu dan sama; berawal dari satu akar; filsafaat dasarnya sama; tapi, tetap saja terpecah-belah. Terbagi dalam sekian banyak mazhab dan sekte. Dan, hal itu memang lumrah, wajar, karena setiap orang bisa menginterpretasikan ajaran yang sama sesuai dengan cara berpikirnya, persepsinya, penghayatan, dan pemahamannya.

“Membangun Persatuan dan Kesatuan lewat ideologi apa pun, dan dalam bidang apa pun – entah politik, agama, sosial – sudah pasti tidak berhasil. Tidak pernah berhasil. Persatuan hanya dapat diwujudkan lewat ‘Kesadaran Jiwa’. Bukan lewat ideologi, kepercayaan dan sebagainya.

“Kesatuan dan persatuan hanyalah dapat dibangun di atas landasan kesadaran bahwa pada esensinya kita semua memang satu. Untuk itu, peran Mahatma menjadi penting. Para Mahatma bisa menjadi anutan, karena mereka sudah merasakan kesatuan dan persatuan dengan semesta.”  (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

 

“Seperti apakah sifat para Mahatma? Apa yang mereka lakukan? Adakah yang dapat kita contohi? Krsna memberi rumusan: ‘bhajanty ananya-manasa’ – mereka, senantiasa, memuja-Ku, mengenang-Ku, menyadari kehadiran-Ku, menghayati hakikat-Ku – dengan pikiran yang tak bercabang, dengan seluruh kesadarannya terpusatkan pada-Ku.

“Ini tidak sama dengan disiplin doa beberapa kali sehari pada waktu-waktu tertentu. Yang dimaksud bukanlah memuja-Nya dengan ritual-ritual tertentu, gerak badan tertentu, sesajen tertentu, ataupun cara-cara, metode-metode tertentu. Bukan, bukan semua itu. Adalah pemujaan purnawaktu yang dibutuhkan. Hal ini, jelas tidak bisa dilakukan secara fisik. Fisik punya dharmanya sendiri, banyak hal yang mesti dilakukannya – dari gosok gigi hingga mencari rezeki. Fisik tidak bisa berdoa atau meditasi saja. Yang dimaksud adalah kesadaraan diri.

“Bhajanty bukan sekadar bhajan – Dalam pengertian memuji-Nya dengan bernyanyi, bertepuk tangan dengan diiringi musik. Inilah definisi bhajan yang kita temukan di internet. Bukan. Itu merupakan ekspresi bhajan yang paling mudah, paling populer dan paling umum. ‘Bhajanty’ adalah ‘senantiasa memuji-Nya, mengagungkan-Nya; senantiasa bersyukur atas segala berkah  dan anugerah-Nya; senantiasa menyadari kehadiran-Nya.’

“Dan, ‘ananya manaso’ berarti, ‘dengan pikiran yang tidak bercabang’. Nah, pikiran yang tidak bercabang adalah kesadaran. Pikiran kita saat ini bercabang. Dan selama berinteraksi dengan dunia, pikiran yang bercabang tetap dibutuhkan.”  (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

 

“Bagaimana kita bisa memutuskan, tindakan mana yang tepat dan mana yang tidak tepat? Sifat dualitas pikiran kita membantu. Ia memilah antara yang sekadar nikmat, menyenangkan – dari sesuatu yang mulia. Sifat dualitas dibutuhkan pula untuk merawat badan sehingga kita dapat memilih makanan yang bergizi baginya. Sifat dualitas pikiran manusia di balik segala macam konflik, sekaligus di balik segala macam kemajuan dan perkembangan, pertumbuhan. Sifat dualitas inilah yang membuat pikiran bercabang. Jadi, pikiran yang bercabang pun tetap dibutuhkan.

“Sifat pikiran yang tidak bercabang adalah kesadaran yang dibutuhkan pada tingkat Jiwa. Nyamuk yang mengganggu, menyebarkan berbagai npenyakit; pun demikian dengan kecoa dan serangga-serangga lain – bahkan virus yang menyerang tubuh kita – mesti dibasmi. Saat itu, pikiran yang bercabang berguna untuk menentukan sikap.

“Namun, pada saat yang sama pikiran tidak bercabang atau kesadaraan juga dibutuhkan untuk menyadari bila dalam Kesadaran Jiwa kita semua bersatu. Tidak perlu membenci nyamuk dan kecoa saat membasmi mereka. ada juga orang yang bahagia betul setelah berhasil ‘membunuh’ nyamuk dan kecoa. Tidak, tidak perlu bahagia, dan tidak perlu sedih. Pun tidak perlu bimbang, ‘saya kan spiritual, masak membunuh nyamuk?’ Kebimbangan seperti itu muncul dari ego-spiritual, bukan dari Jiwa-spiritual.

“Nyamuk-nyamuk yang mengganggu manusia serta kemanusiaan tidak melulu berwujud sebagai nyamuk. Bisa juga berwujud sebagai manusia, sebagai Kaurava, sebagai apa dan siapa saja. Mereka mesti dibasmi tanpa rasa benci. Sembari membasmi ‘nyamuk-nyamuk’ itu, berdoalah dalam hati, semoga dalam perjalanan selanjutnya, kau mendapatkan tuntunan yang dibutuhkan demi kemajuan dan perkembangan Jiwa. Kau tidak lagi mengganggu sesama makhluk.”  (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)