Kepergian Seorang Sahabat dan Misteri Kematian

Hal Yang Paling Menakjubkan tentang Kematian

Pada suatu ketika Brahma bertanya Kepada Resi Narada, hal apa yang paling menakjubkan yang ia lihat di bumi. Narada menjawab, hal yang paling menakjubkan yang aku lihat adalah: orang yang sekarat sedang menangisi yang sudah mati. Mereka yang setiap saat sedang mendekati kematian, sedang menangisi mereka yang sudah mati. Seakan-akan tangisan mereka akan menghidupkan kembali yang sudah mati ataupun mencegah kematian mereka sendiri. Dikutip dari buku (Das, Sai. (2012). Sai Anand Gita Kidung Mulia Kebahagiaan Sejati. Koperasi Global Anand Krishna Indonesia)

Kita sering melihat sahabat kita sedang sakit, bahkan ada yang meninggal dan kita merasa bersedih, akan tetapi, anehnya kita merasa bersyukur bahwa kita tetap sehat dan tidak meninggal, bukankah hal ini terasa sangat aneh, karena sakit dan meninggal adalah proses kehidupan yang harus kita lalui.

Mengapa kita tidak seperti Pangeran Siddharta, yang setelah melihat orang sakit, sekarat, dan meninggal, menjadi sadar bahwa itu adalah sebuah proses yang harus dilalui dan Sang Pangeran meninggalkan istana mencari rahasia bagaimana agar kita bisa meninggal dengan tersenyum tanpa rasa duka.

Kepergian Seorang Sahabat

Siang kemarin, kami melihat seekor kupu-kupu masuk kamar belakang terbang berputar dalam kamar sebentar dan kemudian ke luar, entah ke mana. Kami membangunkan istri menyampaikan hal itu. Agak aneh, walau banyak pohon di pekarangan kami akan tetapi sudah lama kami tidak melihat kupu-kupu. Kami ingat penjelasan tentang kupu-kupu dari Video Youtube Mengungkap Rahasia Candi Cetho dan Sukuh, Seks, Siklus Kelahiran dan Kematian oleh Bapak Anand Krishna.

Adalah sahabat kami di Anand Ashram, Manggala Devi (Lina Pandiangan) istri sahabat David Purba, baru saja pergi melanjutkan perjalanan. Sadgati, semoga Beliau akan memperoleh peningkatan kesadaran di kehidupan mendatang ataupun mencapai moksha.

Perahu badan menjadi penting karena penumpang jiwa yang bersemayam di dalamnya. Perahu adalah sarana, perahu dibuat bagi penumpang, bukan sebaliknya. Ketika badan menjadi hambatan bagi perkembangan jiwa, maka kita mesti me- “let go”nya. Bye-bye badan…itulah kematian. Badan yang sudah rusak, badan yang sudah tidak sesuai dengan kebutuhan adalah badan yang tidak berguna. Sebab itu, keterikatan dengan badan adalah tindakan yang bodoh. Dikutip dari buku (Das, Sai. (2012). Swami Sri Sathya Sai Baba Sebuah Tafsir. Koperasi Global Anand Krishna)

Diantara sekian banyak ketidakpastian dalam hidup ini, mungkin hanya “kematian” yang merupakan satu-satunya kepastian. Aneh, selama ini kita sibuk mengejar ketidakpastian. Dan tidak pernah mempersiapkan diri untuk sesuatu yang sudah “pasti”.

Sesungguhnya, mempersiapkan masyarakat untuk “menerima” kematian adalah tugas agama dan para praktisi keagamaan. Tugas ini sudah lama terlupakan, karena para praktisi keagamaan pun tidak sepenuhnya memahami proses kematian. Lalu, penjelasan apa yang dapat mereka berikan?

Yang dapat mereka lakukan hanyalah menteror manusia, mengintimidasi dan menakut-nakutinya dengan ancaman api neraka atau alam kubur yang sunyi sepi. Ada pula yang memberi harapan akan surga yang serba wah. Kendati, harapan itu pun tidak “gratis”. Ada embel-embelnya: kamu harus berbuat ini dan itu. Dan “berbuat ini itu” biasanya selalu dikaitkan dengan kemajuan masing-masing kelompok agama.

Kebaikan hati dinilai dari berapa seringnya anda mengunjungi tempat ibadah, berapa besar sumbangan yang anda berikan, dan isi berapa banyak buku yang telah anda telan. Tidak ada yang memperhatian “perkembangan diri” manusia. Perkembangan “rasa” dalam diri manusia tidak diperhatikan sama sekali. Itu sebabnya, hidup kita masih kering, keras, dan kaku. Tidak ada kelembutan. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2002). Kematian, Panduan Untuk Menghadapinya Dengan Senyuman. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama)

Mengungkap Rahasia Candi Cetho dan Sukuh, Seks, Siklus Kelahiran dan Kematian

Video Youtube oleh Bapak Anand Krishna

Fungsi Candi Sukuh ini sebenarnya apa?

Melihat dari artefak-artefak yang ada, yang tadinya tidak diketahui posisinya di mana dan kemudian di pajang seperti sekarang, dari bentuk candinya seperti sekarang, ini adalah semacam laboratorium. Jadi bukan suatu candi yang digunakan untuk ritual saja. Mereka mempelajari sesuatu, yang barangkali sekarang ini disebut tabu atau apa, karena seks kematian dan kelahiran ini sangat erat kaitannya. Untuk memahami apa yang terjadi dengan soul. Apa yang terjadi pada roh, setelah dia meninggalkan badan.

Karena kita, leluhur kita bahkan sampai sekarang pun. Lebih dari 1.5 milyar orang di seluruh dunia percaya bahwa hidup ini bukan linier, tapi cyclic. Kalau kita bicara recycle, apa yang terjadi dengan roh? Apa dia akan digantung dimana saja. Roh kita ini meninggalkan badan dan kemudian roh ini mencari badan baru. Mencari badan yang baru yang masih berada dalam kandungan. Jadi setelah kematian badan ini dan masuk ke badan baru yang masih dalam kandungan. Dalam proses entering a new body, seks memainkan peranan yang penting. Leluhur kita berupaya memahami what happen? Kalau kita percaya pada Tuhan dan Tuhan menciptakan manusia. Kenapa Dia haruis menciptakan seks untuk kelahiran. Kenapa nggak tiba-tiba dari atas turun hujan. Sekali setahun turun 100 ribu orang. Kenapa diciptakan seks. Hal-hal seperti ini yang mereka berupaya untuk memahami.

Dan artefak-artefak ini mengingatkan tentang Garuda Purana. Garuda purana bicara tentang orang yang mati dan setelah mati ke mana? Garuda purana bicara tentang kondisi mental kita, saat kita mau mati badan hampir terlepaskan. Seluruh energi kita, prana kita terpusat pada mind kita. Dan mind ini masih berfungsi. Dan mind ini menjalankan semacam film. Untuk memperlihatkan seluruh hidup kita. Di situ akan terjadi penyesalan. Karena itu orang bicara Garuda Purana seakan membaca surga neraka. Sebetulnya tidak, dia bicara tentang the state of mind.

“Oh saya tidak melakukan ini, seandainya melakukan ini betapa bagusnya. Nanti kalau saya lahir kembali saya akan melakukan ini, ini, ini. Jadi di situ ada orang yang mengalami neraka, ada orang mengalami surga. Dalam bahasa Tibet disebut Bardo, transisi. Dalam masa transisi yang berjalan hanya selama beberapa menit. Soul ini mengalami surga dan neraka.

Dan soul setelah keluar dari badan, ada 2 kemungkinan. Akan tertarik pada suatu kondisi dia akan lahir kembali, atau goes to next level. Di sini kalau kita melihat dari bentuk. Ini menunjukkan seperti piramid, tapi piramid tanpa kerucutnya. Seperti suatu stasiun, suatu keadaan. Soul ini akan menuju ke tempat lain. Leluhur kita tahu bahwa mind itu dikendalikan oleh moon (bulan). Jadi ketika soul itu keluar dari badan, dengan sendirinya dia akan menuju bulan.

Jadi sebelum orang mati, dia sudah diberitahu tentang kondisi kondisi apa yang akan dialami. Dan di sini seperti komik di atas batu. Jadi dia diberitahu inilah yang akan kau alami. Dan di atas sana tadinya ada lingga.

Candi Sukuh dan Candi Cetho saling terkait dan mewakili perjalanan soul dari kematian hingga lahir kembali atau moksha, bebas dari siklus kelahiran dan kematian.

Candi Cetho akan membuat soul naik kelas, mohsha. Soul akan ke bulan oke, tapi kalau dia dibawa ke Candi Cetho, dengan upacara-upacara tertentu. Dari sana soul tidak kembali. Dan moksha itu bebas dari satu sistem, pergi ke next system. Apa yang yang terjadi? Tidak ada seorang pun yang mengetahuinya. Oleh karena itu di Jawa ada kepercayaan bahwa salah satu raja terakhir hilang di Lawu. Raja ini menghilang dan tidak kembali. Tidak secara fisik hilang tapi prinsip-prinsipnya, rasa takut harus diatasi.

Rasa takut ini harus di atasi. Ada 2 kemungkinan, bila kau akan kembali ke bulan terus jalan-jalan sebentar (yang pergi mind kita bukan badan kita) ke Sukuh, Kalau ke Sukuh akan kembali. Kalau sampai ke Cetho nggak kembali. Pengetahuan nenek moyang kita tentang soul sudah begitu advance.

Soul ini dalam tradisi yang kita lihat, Candi Cetho dan Sukuh ini, ada satu hal yang menarik. Bahwa ini adalah salah satu kearifan lokal. Dan setelah meninggalkan badan pun, soul ini masih punya option. Apakah dia akan ke bulan dan kembali. Atau dia tidak kembali, moksha.

Menurut teks-teks kuno, pilihan ini terjadi sebelum soul melepaskan badan. Tapi di sini setelah melepaskan badan. Kita mesti memelajari.

Gunung lawu dikaitkan dengan Sabdapalon, ada yang mengatakan agama asli akan kembali. Tapi kalau kita baca jelas sekali bahwa buddhi yang akan kembali, Inteligensia yang akan kembali, bukan agama tertentu.

Tadi saya melihat begitu banyak kupu-kupu. Kupu-kupu adalah soul yang baru lepas, beberapa jam dari badan dapat menjadi kupu-kupu. Setelah beberapa jam kemudian mereka akan tinggalkan badan sebagai kupu-kupu. Dan melanjutkan perjalanan. Jangan sekali-kali membunuh kupu-kupu. Jangan dipajang, kalau punya pajangan kupu-kupu tolong diperabukan. Dibacakan doa. Kupu-kupu yang dataang ke rumah kita adalah keluarga kita.

Sumber Video Youtube Mengungkap Rahasia Candi Cetho dan Sukuh, Seks, Siklus Kelahiran dan Kematian oleh Bapak Anand Krishna.

Advertisements

Refleksi: Lahir, Tumbuh, Tua dan Mati Bag 1 Evolusi dan Hukum Karma

Memperhatikan semut-semut yang bergerak di pohon mangga, terbersit sebuah pemikiran. Semut-semut itu pada suatu saat akan mati. Demikian pohon mangga “Manalagi” di depan rumah, dia sudah hidup selama 3 generasi dari kakek anak kemudian cucu, akan tetapi pada suatu saat akan tua dan mati. Bahkan sebuah peradaban pun akan mengalami kelahiran, pertumbuhan, penuaan dan kematian, hanya hitungan waktunya dalam abad. Yang lahir akhirnya akan mati, itu sebuah keniscayaan.

Arnold Toynbee, sejarawan Inggris (1889-1975) mengemukakan teori siklus bahwa peradaban selalu mengikuti alur mulai dari kemunculan sampai kehancuran. Pandangan tersebut sesuai dengan teori yang berkembang di Yunani  pada masa Socrates (yang meninggal tahun 399 Sebelum Masehi) tentang: kelahiran, pertumbuhan, kematian dan disusul dengan kelahiran lagi.

Gusti yang Tunggal memiliki 3 fungsi: Sebagai Brahma, Sang Pencipta yang bertugas mencipta dan mengembang-biakkan makhluk. Vishnu, Sang Pemelihara yang bertugas mengurusi pertumbuhan dan pemeliharaan makhluk. Serta Shiva yang bertugas mendaur-ulang makhluk. Dari debu, gunung, sungai, makhluk hidup, bangsa, negara dan bahkan peradaban tidak lepas dari pekerjaan Brahma, Vishnu dan Shiva. Dan semua benda tersebut bergetar.

Hukum Alam tentang Lahir, Tumbuh, Tua, dan Mati

“Kendati Tunggal dan Tak-Terbagi ada-Nya, Ia tampak terbagi dalam diri makhluk-makhluk hidup dan wujud-wujud yang tak bergerak; Ialah satu-satu-Nya yang patut diketahui, Hyang senantiasa Memelihara, Memusnahkan, dan Mendaur-Ulang, Mencipta kembali.” Bhagavad Gita 13:16

Bukan saja makhluk-makhluk hidup yang mesti menjalani tiga tahap kehidupan, yaitu kelahiran, pertumbuhan dan kematian — sesungguhnya benda-benda yang kita anggap tanpa kehidupan pun mesti menjalani ketiga tahap tersebut.

………………

APAKAH SEMUA INI TERJADI SECARA KEBETULAN? Just by accident? Mereka yang “percaya” pada paham ateisme; mereka yang berkeyakinan, berkepercayaan seperti itu, mengatakan, “demikian adanya semua ini berjalan sesuai dengan hukum alam.”

Krsna mengajak kita untuk melihat di balik hukum alam tersebut; untuk menjajaki kemungkinan adanya Super Intelligence, Sang Perancang Alam, Sang Penentu Hukum tersebut, yang barangkali belum terjangkau oleh pikiran kita.

Sekaligus, Krsna pun mengantar kita untuk berhadapan, berkenalan dengan Sang Perancang, Sang Sutradara Agung tersebut. Ia-lah satu-satunya, yang jika diketahui, tak ada lagi sesuatu yang perlu kita ketahui. Dalam bahasa ilmiah, ini disebut The Theory of Everything. Para ilmuwan masih berdebat dan mencari satu rumusan, rumusan tunggal, yang bisa menjelaskan seluruh hukum alam. Dikutip dari buku: (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia via #BhagavadGitaIndonesia

Hukum Alam yang Mengikat Manusia

Manusia dijerat oleh Hukum Evolusi dan Hukum Sebab-Akibat. Makhluk-makhluk lain tidak dijerat oleh Hukum Sebab-Akibat. Bagi mereka hanya ada satu hukum – Hukum Evolusi. Seperti halnya anak-anak kecil di bawah umur. Hukum yang berlaku bagi orang dewasa tidak berlaku bagi mereka.

Hukum Sebab-Akibat (Hukum Karma) merupakan hukum dua arah. Dasarnya adalah “dualitas” – perbedaan antara baik dan buruk, antara panas dan dingin. Sebaliknya Hukum Evolusi merupakan hukum satu arah. Maju terus, meningkat terus – tidak pernah mundur, tidak pernah merosot. Hukum Sebab-Akibat hanya berlaku bagi jenis kehidupan yang memiliki mind. Karena sesungguhnya mind-lah yang menciptakan dualitas antara baik dan buruk, antara panas dan dingin.

Mineral, tumbuh-tumbuhan dan binatang hanya memiliki thought – satuan pikiran. Sekian banyak thoughts dan bahkan feelings, pikiran dan rasa. Tetapi semuanya masih dalam bentuk recehan, satuan-satuan kecil. Belum mengkristal untuk menciptakan mind. Kendati binatang-binatang berkaki empat sudah mulai menunjukkan adanya “simptom” mind, tetapi masih belum cukup berkembang, belum cukup mengkristal. Dalam diri manusialah, mind baru mengkristal sepenuhnya. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2000). Shambala, Fajar Pencerahan di Lembah Kesadaran. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Hukum Evolusi dan Hukum Karma bagi Pengembangan Jiwa

Dunia ini ibarat pusat rehabilitasi, dimana setiap jiwa sedang mengalami program pembersihan, pelurusan, atau apa saja sebutannya. Keberadaan kita di dunia ini semata untuk menjalani program yang paling cocok bagi pembersihan dan pengembangan jiwa.

Kecocokan program pun sudah dipastikan oleh Keberadaan dengan melahirkan kita dalam keluarga tertentu, di negara tertentu, ditambah dengan berbagai kemudahan lainnya, termasuk lingkungan kita, para sahabat, anggota keluarga dan kerabat kita, maupun lawan atau musuh kita. Berbagai rintangan, tantangan, kesulitan, dan persoalan yang kita hadapi dimaksudkan demi pembersihan jiwa dan pengembangan jiwa kita sendiri, karena itu, mencari kesalahan dan menyalahkan orang lain atas kejadian-kejadian yang menimpa diri kita adalah dosa.

Silahkan berupaya untuk keluar dari masalah, untuk menyelesaikan perkara, tetapi bukan dengan mencari kambing hitam, bukan dengan cara menyalahkan orang lain. Membersihkan diri dari segala macam dosa berarti membebaskan diri dari segala yang membebani jiwa; beban pahala, maupun beban dosa itu sendiri. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2006). Five Steps To Awareness, 40 Kebiasaan Orang Yang Tercerahkan, karya terakhir Mahaguru Shankara “Saadhanaa Panchakam”, Saduran & Ulasan dalam Bahasa Indonesia. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Refleksi: Memanfaatkan Waktu Sebelum Kematian Menjemput

Bapak Anand Krishna pernah bercerita: Tentang seseorang yang mempunyai talenta dan semangat yang luar biasa. Sejak kecil dia ingin mengubah dunia, akan tetapi sampai mendekati puncak karirnya, dunia tidak dapat berubah seperti yang dikehendakinya.

Oleh karena itu sampai masa purna tugasnya, dia hanya  ingin mengubah masyarakat di tempat dia tinggal. Akan tetapi banyak faktor yang mempengaruhi, dan pengaruh dia kalah besar dengan pengaruh banyak hal sehingga dia tidak mampu mengubah masyarakat sekelilingnya.

Akhirnya dia hanya ingin mengubah keluarga, bahwa yang penting baginya adalah bisa mengubah keluarganya sesuai dengan apa yang dikehendakinya.

Akan tetapi ternyata masing-masing anggota keluarga adalah individu yang mempunyai pandangan pribadi yang tidak sepenuhnya dapat dipengaruhi olehnya. Sehingga mendekati akhir hayatnya dia baru sadar bahwa  yang dapat diubah olehnya hanyalah dirinya sendiri. Itupun memerlukankan perjuangan yang tidak kalah serunya.

Sebagai refleksi, kami jujur bahwa kami bukan seseorang yang mempunyai talenta dan semangat luar biasa. Adalah suatu berkah Gusti pada usia 50 tahun kami mulai mengenal Anand Ashram. Sudah terlambat? Iya . Tapi lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali. Sekarang usia mendekati 8 Windu, Fisik sudah tidak prima lagi, apa yang harus kami kerjakan sebelum menghembuskan napas yang terakhir?

Menghadapi Kematian Tanpa Rasa Cemas

Yang paling menakjubkan adalah kita semua menyaksikan kematian, tapi kita tidak percaya itu akan terjadi pada diri kita? Selama kita masih berusia 30-40 tahun. Bahkan kadang-kadang sampai 50 tahun, kita hampir tidak percaya bahwa kita akan mati. Kita masih mengejar ini dan itu?

Waktu adalah Kala. Kala juga berarti kematian. Kematian dan waktu adalah suatu keniscayaan. Kematian terjadi dalam waktu. Dia bukan faktor yang konsisten. Kematian juga berakhir. Kematian adalah berakhirnya satu episode dan akan berlanjut kemudian. Dalam pemahaman yoga, hidup adalah siklus. Kematian adalah bagian dari siklus. Sampai detik terakhir apa pun yang kita lakukan akan menjadi benih bagi kehidupan selanjutnya.

Dengan menyadari kematian adalah keniscayaan, kita mempunyai kesadaran baru. Bagaimana kita dapat memanfaatkan sisa hidup yang kita miliki. Apa yang ingin kita lakukan besok lakukan hari ini. Apa yang kita rencana lakukan hari ini lakukan sekarang juga. Kita seharusnya bekerja dengan semangat itu? Sampai detik terakhir apa pun yang kita lakukan akan menjadi benih bagi kehidupan selanjutnya?

Memahami kematian harus dilakukan sebelum usia 36-38 pada waktu energi masih puncak. Setelah energi mulai menurun kita sulit mengubah keyakinan kita tentang kematian?

Silakan simak video Youtube: Kematian menghadapi tanpa rasa cemas oleh Anand Krishna

 

Mulai Menulis di Blog dengan Promosi Tulisan di Face Book

Menulis di Face Book seperti halnya tulisan di koran, apa yang tertulis dibaca pembaca dan kemudian hilang tak ada bekasnya. Lain menulis di Blog, kita dapat membuat arsip dan mereka yang tertarik dapat membaca Catatan-Catatan lainnya di Blog. Kami mulai menulis di Blog pada Tahun 2008 dan yang mengajari membuat Blog adalah anak sulung kami yang pada waktu itu masih kuliah di ITB.

Pada mulanya istri kami minta kami membuat catatan berharga yang kita peroleh dari Anand Ashram sebagai warisan bagi anak-anak kami saat kita berdua meninggalkan dunia nanti. Akan tetapi dalam perkembangannya, Catatan-Catatan yang kami tulis di blog tersebut kami peruntukkan bagi para pembaca. Sambil menulis kami mengingat kembali pelajaran-pelajaran yang berharga yang kami peroleh di Anand Ashram.

Kami sengaja tidak membuat blog khusus dengan membayar domain nama blog. Sebagai orang yang sudah tua kami sering lupa membayar, dan begitu lupa domain situs akan hilang. Oleh karena itu, kami menggunakan triwidodo.wordpress.com bukan triwidodo.com. Blog tersebut tidak tergantung pembayaran, ada yang mau pasang iklan, tidak masalah yang penting blog tersebut masih eksis selama wordpress.com masih ada.

Berikut adalah 3 Blog dan statistik pembaca pada Bulan Mei 2018.

Renungan Triwidodo Satu Bumi Satu Langit Satu Umat manusia di https://triwidodo.wordpress.com/ berisi 1.132 post dimulai Desember 2007, pada bulan Mei 2018, rata-rata pembaca blog di atas 400 pembaca per hari. Jumlah Follower 66. Jumlah Viewer 1.439.921.

Kisah Spiritual Tak Lekang Zaman di https://kisahspiritualtaklekangzaman.wordpress.com/ ada 477 post dimulai Juli 2013, pada bulan Mei 2018, rata-rata pembaca blog di atas 200 pembaca per hari. Jumlah Follower 30. Jumlah Viewer 400.212.

Gita Kehidupan Sepasang Pejalan di https://gitakehidupansepasangpejalan.wordpress.com/ ada 832 post dimulai september 2014, pada bulan Mei 2018, rata-rata pembaca blog di atas  120 pembaca per hari. Jumlah Follower 44. Jumlah Viewer 122.222.

 

Mengapa Mengutip dari Buku-Buku Bapak Anand Krishna?

Dalam perkembangan diri kita saat belajar di Anand Ashram, kita paham bahwa apa yang kita hadapi saat ini adalah akumulasi dari konsekuensi pilihan hidup di masa lalu. Ternyata menggunakan akal-pikiran, mind kita, kita mengalami pasang-surut, suka-duka yang tidak ada habisnya.

Bahkan setelah mulai memahami tentang Hukum Sebab-Akibat, Reinkarnasi dan sebagainya, sisa hidup yang harus kita jalani masih membuat kita babak-belur. Berarti memang di masa lalu kita hidup tidak dalam kesadaran.

Alinea-alinea yang penting dalam buku-buku Bapak Anand Krishna kami catat dan kami kumpulkan menjadi semacam ensiklopedia quote Bapak Anand Krishna yang mencapai 1.320 halaman, kemudian karena sudah tidak efisien, kami mempunyai kutipan pemahaman-pemahaman penting pada setiap buku Bapak Anand Krishna. Kutipan yang pokok adalah Bhagavad Gita dan Yoga Sutra Patanjali.

Bapak Anand Krishna pernah memberi nasihat, yang membuat kita salah adalah karena kita masih menggunakan pikiran kita, yang terbukti dalam banyak kehidupan telah membuat kita babak-belur.

Karena Trust pada Bapak Anand Krishna, selama 14 tahun di Anand Ashram, kita mencoba membuang mind kami dan menggunakan mind Bapak Anand Krishna.

Buku-buku dan Video Youtube adalah mind tertulis Bapak Anand Krishna yang dapat kita pelajari.

Sadguru adalah Wujud Kesadaran Kita, karena Kesadaran Kita Baru Berupa Benih

Perbincangan ini, dialog antara Krsna dan Arjuna ini, terjadi pada dua strata, dua level, dua alam. Di alam benda, Krsna adalah sais kereta perang dan Arjuna adalah seorang ksatria yang duduk di belakang sais.

Dalam alam batin, Krsna adalah kesadaran Arjuna sendiri yang sedang berdialog dengan pikirannya. Dialog ini merupakan dialog transformatif. Tidak ada yang kalah atau menang dalam dialog ini. Pikiran tidak terkalahkan oleh kesadaran. Pikiran, sepenuhnya berubah menjadi kesadaran.

Kesadaran bukanlah sesuatu di luar pikiran. Kesadaran adalah benih-benih yang belum bertunas.

Sementara itu, pikiran adalah alang-alang yang seolah mencegah penunasan benih-benih itu. Sulit memang menjalankan proses ini – bagaimana pikiran kemudian bertransformasi menjadi kesadaran. Namun, jika kita memperhatikan tanda-tanda-Nya, tanda-tanda kehadiran-Nya di alam sekitar kita, maka kita dapat memahami proses metamorfosa ini lewat pengalaman seekor kepompong yang menjijikkan, yang mengalami ‘transformasi total’, dan ‘menjadi’ kupu-kupu yang indah! Penjelasan Bhagavad Gita 9:19 dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia lewat #BhagavadGitaIndonesia

Dengan tertatih-tatih, kita mencoba mengurangi mind diri kita. Adalah Berkah Guru yang membuat kita  masih berada di Anand Ashram…….

Menghadapi Kematian dengan Tersenyum #SpiritualIndonesia

Hidup yang diawali dengan sebuah tangisan, harus diakhiri dengan sebuah senyuman. Ketika engkau masih bayi, orang-orang disekitarmu tetap tersenyum walaupun engkau terus menangis. Ketika engkau mati, orang-orang disekitarmu akan meratapi kehilangan ini, namun engkau semestinya tersenyum dalam damai dan mengundurkan diri dengan tenang. Dikutip dari buku (Das, Sai. (2012). Sai Anand Gita Kidung Mulia Kebahagiaan Sejati. Koperasi Global Anand Krishna Indonesia)

Krsna meyakinkan kita bahwa jika kesadaran kita terpusatkan pada Sang Aku Sejati, pada Sang Jiwa Agung, maka kita tidak perlu mati dengan cara yang mengenaskan itu. Kita bisa mati sambil tersenyum, “Terima kasih peranku sudah selesai!” Penjelasan Bhagavad Gita 7:14 dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia lewat #BhagavadGitaIndonesia

Kematian adalah Keniscayaan

Takut mati bukanlah bagian dari Fear of Unknown. Kematian, sebagaimana kelahiran jua, adalah bagian dari hidup ini, bagian dari kehidupan di dunia. kita semua tahu persis bahwa setiap yang lahir sudah pasti mati. Dalam hal ini ada “pengetahuan”, dan ada “kepastian”. Kematian bukanlah sesuatu yang bisa disebut unknown – tidak diketahui. Kematian adalah sesuatu yang sudah jelas-jelas known – diketahui, dan dapat dipastikan kejadiannya. Sebab itu, “takut mati” adalah bagian dari lapisan kesadaran pertama, lapisan fisik. Ya, takut menghadapi apa yang terjadi “setelah” kematian itu baru Fear of Unknown. Ini yang disebut The Ultimate Fear – The Ultimate Fear tentang The Ultimate Unknown, The Ultimate Mystery. Dikutip dari (Krishna, Anand. (2007). Fear Management, Mengelola Ketakutan, Memacu Evolusi Diri. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama) #SpiritualIndonesia lewat FearManagementIndonesia

Keyakinan kita bisa membuat kita cemas akan kematian

Siklus Kehidupan. Siklus atau cycle bersifat circle, bulatan. Jika Anda memahami kehidupan sebagai garis datar, entah horizontal atau vertikal, maka Anda tidak bisa tidak bersedih hati atas kematian orang yang Anda sayangi, karena kehidupan sudah berlalu. Tidak ada kemungkinan bagi Anda untuk bertemu dengannya lagi.

Pertanyaannya: Apa iya demikian?

Jika kita memperhatikan alam, lingkungan sekitar kita, atau jika kita memahami hukum-hukum kebendaan, antara lain sebagaimana terungkap dalam Ilmu Fisika, maka kita sudah pasti memahami pula bila sesungguhnya kematian adalah mitos. Perubahan adalah abadi. Materi berubah bentuk terus.

Jika kita memahami rumusan Einstein tentang relativitas, maka sesungguhnya materi adalah energi dalam bentuk lain. Dan, energi itu sendiri tidak pernah hilang, selalu ada, hanya berubah bentuk. Inilah sebab para bijak yang memahami kehidupan sebagai siklus, tidak akan berduka atau bersedih hati bagi mereka, yang sesungguhnya sedang menjalani proses perubahan wujud. Penjelasan Bhagavad Gita 2:12 dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)  #SpiritualIndonesia lewat #BhagavadGitaIndonesia

 

Yang mengaktifkan komputer manusia ini adalah juga tiga unsur utama. Saya mengatakan tiga unsur utama, karena sebenarnya masih banyak unsur lain, tetapi yang utama adalah tiga.

Pertama, badan kasat kita. Ini bagaikan hardware.

Kedua, Ego kita. Ini bagaikan software dan tentu saja,

Ketiga, kesadaran yang merupakan aliran listriknya. Badan kita sewaktu-waktu bisa rusak, bisa berhenti bekerja. Namun software-nya tidak ikut rusak. Ego kita masih utuh, masih dapat berfungsi. Software yang sama dapat digunakan, dengan menggunakan hardware baru. Tidak ada memori yang hilang, tidak ada program yang terhapus. Ego kita, yang merupakan software masih dapat digunakan.

……………..

Yang lahir kembali itu siapa? Bukan badan kita, karena badan kita sudah menjadi bangkai, sudah dikubur atau dibakar. Badan sudah musnah. Badan tidak mengalami kelahiran kembali. Badan mengalami proses daur ulang dalam bentuk lain. Dari tanah datangnya, ia kembali ke tanah, untuk selanjutnya datang lagi dan kembali lagi, demikian seterusnya………. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (1998). Reinkarnasi, Hidup Tak Pernah Berakhir. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Saat ajal tiba akhir satu episode kehidupan

Saat ajal tiba – ini adalah closing scene atau adegan akhir dalam salah satu episode kehidupan kita. Tentunya, adegan akhir ini menjadi awal dari episode baru. Akhir adegan dalam episode ini, mengantar kita pada adegan pembukaan dalam episode berikutnya.

……………

Jika sepanjang hidup yang terpikir adalah dunia benda saja, maka saat ajal tiba, sesaat sebelumnya, kita tidak bisa, tidak mungkin, mengalihkan kesadaran pada-Nya. Saat itu yang terpikir adalah rumah, kerabat, keluarga; istana, yang telah kita bangun dan ‘belum cukup’ menikmatinya; perusahaan, yang kita tidak yakin akan dikelola dengan baik oleh ahli waris kita — dan sebagainya, dan seterusnya.

Pikiran terakhir, kesadaran terakhir saat mengembuskan napas terakhir — sama sekali tidak ada kaitannya dengan segala ritus yang kita lakukan sepanjang hidup, segala amal-saleh atau dana-punia. Jika semuanya itu kita lakukan untuk pamer, dan bukan sebagai persembahan kepada-Nya_

Pemusatan kesadaran pada-Nya mesti dilakukan mulai sekarang dan saat ini juga – sehingga saat ajal tiba kesadaran kita tidak ke mana-mana; tetap terpusatkan pada-Nya. Penjelasan Bhagavad Gita 8:5 dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)  #SpiritualIndonesia lewat #BhagavadGitaIndonesia

 

Menghadapi kematian tanpa rasa cemas

Yang paling menakjubkan adalah kita semua menyaksikan kematian, tapi kita tidak percaya itu akan terjadi pada diri kita?

Selama kita masih berusia 30-40 tahun. Bahkan kadang-kadang sampai 50 tahun, kita hampir tidak percaya bahwa kita akan mati. Kita masih mengejar ini, itu?

Dengan menyadari kematian adalah keniscayaan, kita mempunyai kesadaran baru. Bagaimana kita dapat memanfaatkan sisa hidup yang kita miliki. Apa yang ingin kita lakukan besok lakukan hari ini. Apa yang kita rencana lakukan hari ini lakukan sekarang juga. Kita seharusnya bekerja dengan semangat itu?

Sampai detik terakhir apa pun yang kita lakukan akan menjadi benih bagi kehidupan selanjutnya?

Memahami kematian harus dilakukan sebelum usia 36-38 pada waktu energi masih puncak. Setelah energi mulai menurun kita sulit mengubah keyakinan kita tentang kematian?

Silakan simak video Youtube: Kematian menghadapi tanpa rasa cemas oleh Swami Anand Krishna

Tidak Bersedih Hati terhadap Keluarga yang Mati #BhagavadGita

Jika kita memperhatikan alam, lingkungan sekitar kita, atau jika kita memahami hukum-hukum kebendaan, antara lain sebagaimana terungkap dalam Ilmu Fisika, maka kita sudah pasti memahami pula bila sesungguhnya kematian adalah mitos. Perubahan adalah abadi. Materi berubah bentuk saja….

Jika kita memahami rumusan Einstein tentang relativitas, maka sesungguhnya materi adalah energi dalam bentuk lain. Dan, energi itu sendiri tidak pernah hilang, selalu ada, hanya berubah bentuk.

Inilah sebab para bijak yang memahami kehidupan sebagai siklus, tidak akan berduka atau bersedih hati karena mereka. Sesungguhnya mereka sedang menjalani proses perubahan wujud. Penjelasan Bhagavad Gita 2:12 dikutip dari buku: (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

Berikut penjelasan Bhagavad Gita 2:11-13 agar kita tidak bersedih hati terhadap orang mati

Buku Bhagavad Gita

Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu; Saha vīryam karavāvahai; Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga Hyang Tunggal senantiasa melindungi kita; menjernihkan pikiran kita: semoga kita dapat berkarya bersama dengan penuh semangat; semoga apa yang kita pelajari mencerahkan dan tidak menyebabkan permusuhan; Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

“Kau bergelisah hati dan menangisi mereka yang tidak perlu ditangisi. Kata-katamu seolah penuh kebijaksanaan, padahal para bijak tidak pernah bersedih hati bagi mereka yang masih hidup, maupun yang sudah mati.” Bhagavad Gita 2:11

 

Mereka yang tidak memahami siklus kelahiran dan kematian akan selalu menangisi orang yang mati, apalagi jika orang itu berhubungan keluarga dengannya, orang yang dicintainya.

DALAM BEBERAPA TRADISI……… Dialog tentang kematian pun dianggap tabu. Kematian dikaitkan dengan kemalangan. Dan, kehldupan dengan keberuntungan.

Banyak tradisi yang menganggap kematian sebagai titik akhir dari kehidupan. Ini yang menyebabkan duka.

Tidak demlkian dengan para bijak yang memahami kematian sebagai bagian dari proses, dari siklus kehidupan. Mati, lahir, mati, lahir – demikian siklus, roda kehidupan berputar terus.

 

“T idak pernah ada masa di mana Aku, engkau, atau para pemimpin yang sedang kau hadapi saat ini — tidak ada, tidak eksis. Dan tak akan pula ada masa di mana kita semua tidak akan ada, tidak eksis lagi.” Bhagavad Gita 2:12

Demikian roda-kehidupan berputar terus. Keberadaan nyaris abadi, hanya berubah bentuk saja.

 

DALAM KEADAAN PRALAYA atau apa yang disebut Kiamat Total pun, ada sesuatu Hyang Tak Terjelaskan – yang tetap ada. Krsna akan menjelaskan hal ini dalam percakapan-percakapan selanjutnya.

sementara, tentang……

 

SIKLUS KEHIDUPAN – Siklus atau cycle bersifat circle, bulatan. Jika kita memahami kehidupan sebagai garis datar, entah horizontal atau vertikal, maka kita tidak bisa tidak bersedih hati atas kematian orang yang kita sayangi, karena kehidupan sudah berlalu. Tidak ada kemungkinan bagi kita untuk  bertemu dengannya lagi.

Pertanyaannya: Apa iya demikian?

Jika kita memperhatikan alam, lingkungan sekitar kita, atau jika kita memahami hukum-hukum kebendaan, antara lain sebagaimana terungkap dalam Ilmu Fisika, maka kita sudah pasti memahami pula bila sesungguhnya kematian adalah mitos. Perubahan adalah abadi.

Materi berubah bentuk saja….

Jika kita memahami rumusan Einstein tentang relativitas, maka sesungguhnya materi adalah energi dalam bentuk lain. Dan, energi itu sendiri tidak pernah hilang, selalu ada, hanya berubah bentuk.

Inilah sebab para bijak yang memahami kehidupan sebagai siklus, tidak akan berduka atau bersedih hati karena mereka. Sesungguhnya mereka sedang menjalani proses perubahan wujud.

 

“Masa kecil, dewasa, pun masa tua adalah ‘kejadian-kejadian’ yang terjadi pada badan yang dihuni Jiwa. Kemudian, setelah meninggalkan badan lama, Jiwa memperoleh badan baru. Para bijak tidak pernah meragukan hal ini atau terbingungkan olehnya.” Bhagavad Gita 2:13

Lagi-lagi Krsna berbicara tentang perubahan, tentang Hukum Fisika. Di manakah “badan seorang bayi” yang sekarang telah “menjadi” kita?

 

PENAMBAHAN USIA TERJADI PADA BADAN – Dan, setiap penambahan membawa perubahan pada badan kita. Badan kita waktu kecil lain dari badan kita sekarang. Sel-sel dalam tubuh kita ketika masih kecil, sudah mutasi semuanya. Sudah mati. Setiap 5 hingga 7 tahun, sel-sel tubuh berubah total.

Berarti, sejak kelahiran hingga ketika usia 40 tahun saja, kita sudah mengalami kematian 5 hingga 8 kali. Apakah kita menangisi setiap kematian?

Apakah kita menangisi kematian seorang anak kecil, yang sekarang sudah berubah total “menjadi” diri kita?

Jelas tidak.

PAHAMILAH SETIAP KEMATIAN SEPERTI ITU hanya untuk membawa perubahan. Hanya untuk mengantar Jiwa ke next level. Next level of the Game, permainan berikutnya.

Badan kecil kita mati untuk menjadi remaja. Badan remaja mati setiap hari untuk menjadi dewasa. Dan, badan dewasa pun menjalani kematian dari detik ke detik untuk menjadi tua; kemudian terjadilah proses pendaur-ulangan, dan Jiwa, penghuni badan saat ini, meraih badan baru.

Jelas karena itu, para bijak yang memahami proses ini, tidak pernah berduka.

Dikutip dari buku: (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

 

Om, Sarve bhavantu sukhinaḥ; Sarve santu nirāmayāḥ; Sarve bhadrāṇi paśyantu; Mā kashchit duḥkha bhāgbhavet; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga semua makmur, bahagia dan bebas dari penyakit. Semoga semua mengalami peningkatan kesadaran, dan bebas dari penderitaan. Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/

 

Sangat Terikat dengan Kerabat Setelah Mati Mind Gentayangan Dulu? #Reinkarnasi

buku-soul-awareness-etheric-body

Pada saat kita dinyatakan mati, sebenarnya yang terjadi adalah bahwa badan halus kita berada di Iuar badan kasar dan sudah tidak dapat masuk kembali. Sebagaimana saya jelaskan tadi, badan halus ini sudah sering keluar-masuk badan kasar, tetapi dalam alam tidur, sehingga pada saat kematian, ia bingung, karena ia sudah tidak dapat masuk kembali.

Mereka yang mendalami meditasi—saya garis bawahi “mendalami”—dapat merasakan perpisahan antara badan halus dan badan kasar dalam alam meditasi. Karena itu, para meditator tidak akan pernah takut mati. Mereka sudah sadar betul akan proses alami yang pernah terjadi terhadapnya dan akan terjadi lagi.

Mereka yang belum mencapai kesadaran seperti itu tentu merasa bingung. Dalam keadaan bingung itu, Ego akan berupaya keras untuk memasuki kembali badan kasatnya. Tentu saja hasilnya nihil, namun karena begitu terikatnya dia dengan badan kasat, ia akan tetap berada di sekitarnya, sampai musnahnya badan kasat. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (1998). Reinkarnasi, Hidup Tak Pernah Berakhir. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Silakan baca apa yang terjadi saat kematian seperti diuraikan dalam buku Soul Awareness:

buku-soul-awareness

Cover Buku Soul Awareness

Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu: Saha vīryam karavāvahai;Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai.Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga Hyang Tunggal senantiasa melindungi kita; menjernihkan pikiran kita: semoga kita dapat berkarya bersama dengan penuh semangat; semoga apa yang kita pelajari mencerahkan dan tidak menyebabkan permusuhan; Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

Selama organ-organ tertentu dalam tubuh kita masih berfungsi, kita dianggap masih hidup secara klinis. Dalam keadaan koma separah apa pun, walau sudah vegetatif, kita masih bisa dinyatakan hidup—karena adanya jantung yang masih berdebar dan/atau organ-organ lain yang juga masih berfungsi.

 

Apa yang Sebenarnya Terjadi pada Saat Kematian? Gugusan Pikiran serta Perasaan atau Mind bersama anak-pinaknya—berupa obsesi, impian, harapan, khayalan, pengalaman-pengalaman, dan keinginan-keinginan yang belum terpenuhi—meninggalkan badan kasat.

Badan kasat tidak dapat berungsi tanpa mind, dan ia dinyatakan mati. Itu sebabnya, saat ini para saintis pun menerima bahwa sesungguhnya ketika sudah terjadi brain death, otak sudah tidak berfungsi lagi, maka itulah saat kematian secara klinis.

Dulu, tidak demikian.

Dulu, seseorang yang baru masuk koma saja—tidak terjaga lagi—bisa dianggap mati dan dikuburkan. Padahal setelah kematian otak,barulah organ-organ lain mulai “tutup toko”, mulai shut off, mulai mati, tidak berfiungsi.

 

Dari Sudut Pandang Jiwani—tergantung pada tingkat kesadaran kita pada saat kita mati—ada beberapa kemungkinan yang dapat terjadi.

Dalam kasus mereka yang mati tanpa kesadaran, kematian memang membingungkan. Dan berhubung dalam alam itu jarak antara ruang dan waktu, sebagaimana kita ketahui, tidak ada lagi, maka mind bersama anak-pinaknya bisa gentayangan selama beberapa jam, beberapa hari, beberapa bulan, beberapa tahun, atau bhkan beberapa abad.

Mind yang bergentayangan ini memiliki ego, keakuan—tentu keakuan sebagai mind tanpa badan sebagaimana kita mengenal badan kita, fisik kita saat ini.

Badan mind yang sudah “tidak berbadan fisik” seperti kita saat ini, bentuknya mirip dengan bentuk badan kasat terakhir. Badan halusnya itu disebut Etheric Body.

 

Jika Mind Masih Sangat Terikat dengan keluarga,usaha, rumah, pekerjaan, serta kawan dan kerabat yang baru saja ditinggalnya, ia bisa tidak terbebaskan dari Etheric Body hingga waktu yang cukup panjang. Ia akan selalu berusaha mengadakan kontak, bahkan berdialog dengan mereka yang ia cintai semasa hidup.

Yang paling menderita adalah mereka yang mati tanpa kesadaran dan jasadnya diawetkan, atau dikubur setelah dimasukkan dalam peti yang kokoh. Selama badan kasatnya tidak musnah sama sekali, la pun akan gentayangan dan berada di sekitar jasadnya, rumah yang pernah dihuninya, para sahabat yang dicintainya. Keterikatan-keterikatannya semasa hidup masih membelenggunya. Ia akan selalu berada di lingkungan yang sama. Roh-roh seperti itu yang biasa menampakkan diri. Yang selama ini kita anggap hantu adalah roh-roh manusia yang sedang gentayangan itu.

Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2016). Soul Awareness, Menyingkap Rahasia Roh dan Reinkarnasi, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Om, Sarve bhavantu sukhinaḥ; Sarve santu nirāmayāḥ; Sarve bhadrāṇi paśyantu; Mā kashchit duḥkha bhāgbhavet; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga semua makmur, bahagia dan bebas dari penyakit. Semoga semua mengalami peningkatan kesadaran, dan bebas dari penderitaan. Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

https://gitakehidupansepasangpejalan.wordpress.com/2016/11/20/reinkarnasi-hidup-untuk-melakoni-rehabilitasi-dan-pengembangan-diri/

 

https://gitakehidupansepasangpejalan.wordpress.com/2016/11/23/reinkarnasi-kematian-tak-bisa-dihindari-harus-dialami-mengapa-takut/

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/

 

banner-utk-di-web

oec4elearning-banner

Renungan Diri: Mati dengan Membawa Banyak Keinginan Akan Lahir Lagi Tanpa Kesadaran

buku rahasia-alam-500x500

Cover Buku Alam Rahasia

Alkisah, karena tidak memahami hal itu, Shukra terjebak dalam lapisan Svarga. Dan dia menikmatinya. Ia membutuhkan “waktu dunia” bertahun-tahun untuk menyadari ketidaksadarannya. Ternyata Svarga dengan segala isi serta kenikmatannya hanyalah proyeksi dari pikirannya. Obsesi-obsesinya selama sekian banyak inkarnasi rnewujudkan Svarga sesuai dengan keinginannya. Svarga dan Narka memperoleh tenaga dan bisa bertahan dalam wuju mereka masing-masing, karena energi kita sendiri.

Kepercayaan bahwa setiap perbuatan baik menghasilkan pahala + keinginan untuk menikmatinya = Svarga.

Rasa bersalah atas tindakan kurang baik + kepercayaan bahwa anda harus dihukum untuk itu = Narka.

Svarga dan Narka muncul dari kepercayaan manusia pada sistem Reward and Punishment— Ganjaran dan Hukuman.

Selama anda “tidak sadar” dan masih membutuhkan motivasi untuk bertindak tepat, sistem ini memang diperlukan. Bila anda “sudah sadar”, dewasa dan bertanggung jawab, tidak lagi membutuhkan motivasi untuk bertindak tepat. Anda akan selalu bertindak tepat walau tidak diancam hukuman atau diberi iming-iming ganjaran.

Ketidaksadaran adalah energi yang anda butuhkan untuk menciptakan Svarga dan Narka sesuai selera anda. Kesadaran adalah energi yang akan mengantar anda pada Dia, Yang Berada Di Atas Segalanya. Svarga dan Narka sangat kecil dibanding dengan Kebesaran-Nya. Sebesar apa pun, Svarga tak akan mampu menampung-Nya.

Janganlah anda memaksa orang yang belum sadar untuk cepat-cepat menolak Svarga dan Narka. Dengan cara itu anda akan merusak tatanan dunia dan kemasyarakatan. Mereka akan semakin liar dan membabi-buta. Dengan adanya kepercayaan pada Svarga dan Narka saja, para pejabat kita bisa menyeleweng, menerima suap dan bersikap begitu tenang seakan tidak bersalah sama sekali. Mereka pikir dengan berderma dan beramal saleh dapat mencuci  dosa. Mereka tidak menyadari adanya Hukum Aksi Reaksi, Hukum Sebab Akibat.

Bila ingin membantu, tularkan kesadaran anda. Tanpa banyak bicara, datangi mereka, dekati mereka, say hello and leave them. Anda sudah akan berbuat apa yang dapat anda buat. Selanjutnya biarlah virus kesadaran bekerja sendiri. Prosesnya memang pelan, tidak cepat. Apalagi bila anda berhadapan dengan orang yang memiliki kekebalan syaitan. Ya, mind itulah syaitan. Makin kuatnya mind, makin kuat pula Raksasa bin Gendrowo yang bersarang di dalam dirinya.

Walau sudah cukup meditatif dan pernah mencicipi manisnya pengalaman senggama-spiritual bersama Kesadaran Murni, Shukra masih harus lahir, mati, dan lahir, dan mati lagi….

Makin sadar seorang, pengulangan semacam itu terasa makin menjenuhkan. Shukra pun mulai merasa jenuh. Kali terakhir ia lahir, ia masih ingat betul proses kematian dan kelahiran sebelumnya….

Saat kematian fisik, mind yang masih utuh karena banyak keinginan, memori dan sebagainya akan tetap berada dalam lingkup gravitasi bumi. Kemudian lahir kembali tanpa kesadaran. Bila keinginan dan memori mulai berkurang, mind yang telah musnah fisiknya itu “dapat” meninggalkan gravitasi bumi. Biasanya beristirahat sejenak di planet bulan, bulan kita, bulan yang anda lihat setiap malam. Kadang bisa juga di salah satu planet lain, tapi masih dalam galaksi kita. Mind penuh obsesi dan memori terbebani oleh obsesi dan memori itu sendiri dan tidak bisa bepcrgian jauh. Ia tidak cukup ringan untuk menembus galaksi Bima Sakti, apalagi menggapai Yang Tertinggi “Itu”.

Untuk bereinkarnasi di dunia ini, mind “turun” bersama air hujan, petir atau rembulan. Mereka yang mati secara alami dan harus mengalami jatuh-bangun berulang kali, biasanya jatuh bersarna air hujan. Inilah kelahiran yang paling sering, paling umum.

Mereka yang mati karena kecelakaan, dan perang, terbunuh, atau karena dihukum mati, turun bersama petir. Mereka tidak rela mati, karena itu ingin cepat-cepat turun. Dalam kehidupan berikutnya, mereka mcenjadi sangat restless. Ingin cepat-cepat jadi kaya, terkenal, memiliki kedudukan, dan dapat menghalalkan segala cara untuk itu. Ada rasa takut dalam diri yang tidak mereka sadari: “Jangan-jangan tali hidupku terputus di tengah jalan lagi.” Mereka pun dibutuhkan dunia. Perkembangan teknologi dan kemajuan yang terjadi dalam lima puluh tahun terakhir disebabkan oleh sekian banyak manusia yang mati semasa Perang Dunia Pertama dan Kedua. Makin banyak orang terbunuh dalam perang, semakin berkembang teknologi kita, termasuk teknologi destruktif yang dapat menghancurkan dunia ini.

Perkembangan dan kemajuan di segala bidang biasanya disebabkan oleh mereka yang mati tak ikhlas, kemudian lahir kembali. Mereka memiliki sense of urgency yang luar biasa, seolah sedang berpacu dengan waktu. Oleh karena itu, menolak perang juga berarti menolak kemajuan teknologi liar seperti yang terjadi saat ini.

Tanpa dua kali perang dunia, hari ini kita sudah pasti belum memiliki peralatan perang yang super canggih. Pada saat yang sama, teknologi seluler untuk telepon genggam pun pasti belum ada. Kita baru akan mengenal teknologi secanggih itu sekitar akhir abad ini. Perkembangan di bidang sains, kemajuan teknologi dan sebagainya akan berjalan pelan, tapi dunia kita jauh lebih tenteram.

Kembali pada proses kelahiran dan kematian…..

Terakhir: Jiwa-jiwa yang turun bersama rembulan. Mereka datang untuk berbagi pengalaman, berbagi ketenteraman. Mereka sadar akan peran mereka. Itulah terakhir kalinya mereka turun untuk rnemberkati dunia kita. Setelah itu mereka tidak perlu turun lagi, kecuali atas kehendak mereka sendiri… lagi-lagi untuk tugas-tugas tertentu. Tugas yang sebenarnya bukan tugas. Mereka datang karena kasih mereka terhadap kita. Mereka datang untuk menyadarkan kita.

Lewat air hujan, petir, maupun rembulan —Jiwa-jiwa yang turun kemudian berinteraksi dengan elemen-elemen alami dan berevolusi cepat dari satu wujud ke wujud yang lain. Dari tumbuh-tumbuhan, rempah-rempah dan buah-buahan hingga sperma dan ovum. Penemuan antara dua terakhir itu akhirnya menciptakan kehidupan baru.

Kehidupan ada di mana-mana, semua ini hidup. Bila anda kaitkan Kehidupan dengan Tuhan, Ia pun berada di mana-mana. Namun manusia selalu mengaitkan Tuhan dengan “atas” —“Yang Di Atas”, “Father in Heaven”…. Kenapa? Karena jiwa manusia memang “turun dari atas”. Turun dari atas untuk kembali naik ke atas… “Atas” itulah yang dianggap sebagai “asalnya”. Kemudian, asal-usul itu dikaitkannya dengan Tuhan.

Manusia naik-turun, lahir-mati sekian kali hingga pada suatu ketika tidak perlu naik-turun lagi, tidak perlu lahir dan mati lagi. Pada saat itu ia menyatu dengan semesta…. Atas-bawah, kanan-kiri, utara-selatan memiliki makna karena kaitannya dengan ruang dan waktu. Bila ruang dan waktu terlampaui sudah, arah dan jarak pun akan kehilangan makna.

Anda dan saya sudah pernah lahir dan mati ratusan, ribuan, atau barangkali ratusan ribu kali. Kita tidak ingat, tetapi scorang Shukra ingat.

Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2003). Rahasia Alam Alam Rahasia. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Semoga semua makhluk dalam keadaan sejahtera dan bahagia, bebas dari penyakit, mengalami peningkatan kesadaran, serta bebas dari penderitaan. Damai, damai, damai.

 

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/

 

Banner utk di web

oec3Elearning-Banner-2 (1)