Ngerti Sakdurunge Winarah, Mengerti Apa Yang Akan Terjadi

Mengerti Apa yang Akan Terjadi

Seorang Petani Mangga menanam benih unggul Pohon Mangga Madu, dia mengerti 6 tahun lagi pohon mangga itu akan berbuah banyak yang lezat dengan ketinggian berapa meter dan lebar kerindangan daunnya sekitar berapa meter. Sang Petani tahu apa yang akan terjadi, kita orang awam tidak. Demikian pula kita telah menanam benih karma dan bila kita tenang, hening, atau lewat mimpi kita bisa mengetahui apa yang akan terjadi pada diri kita. Hanya kalau dibumbui misteri ramalan yang akan terjadi akan menarik perhatian masyarakat. Magic adalah bila kita dapat mengubah hasil karma buruk menjadi hasil yang baik.

Penglihatan Bapak Anand Krishna

Indonesia Baru yang kulihat ialah Indonesia buatan Putera-Puterinya sendiri. Indonesia yang dibuat oleh Orang-Orang Indonesia sendiri, dengan kesadaran “keindonesiaannya”. Bangunan Indonesia Baru tidak menggunakan bahan baku asing. Bahan baku impor. Bila ada pernak-pernik dari luar negeri, itu hanyalah sebagai pemanis. Tidak lebih dari itu. Kekuatan Indonesia Baru datang dari dalam tubuhnya sendiri. Jiwa Indonesia Baru tidak membutuhkan dorongan dari luar untuk menumbuhkembangkan semangat yang dibutuhkan untuk membangun, mencipta, dan bertahan menghadapi segala tantangan. Semangat Gotong Royong – itulah yang menjadi modal dasar bagi Indonesia Baru. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2005). Indonesia  Baru. Jakarta: One Earth Media)

 

Hukum Karma

Hukum Karma adalah Hukum Perbuatan, Hukum Tindakan. Dalam bahasa fisika, hukum ini disebut “Hukum Aksi Reaksi”. Setiap aksi sudah pasti menyebabkan reaksi yang setimpal. Inilah Hukum Sebab Akibat.

Dan, Hukum ini bersifat Universal. Berlaku sama bagi setiap orang, bahkan setiap makhluk hidup. Hukum ini tidak tergantung pada akidah agama tertentu. Ia tidak bersandar pada dogma maupun doktrin tertentu. Mau percaya atau tidak, hukum ini tetap berlaku bagi semua. Dan, berlaku sama.

Setiap orang, lelaki maupun perempuan mesti tunduk pada Hukum Universal ini. Hukum ini berlaku bagi individu, maupun bagi kelompok. Dikutip dari Karma Negara (Artikel Bapak Anand Krishna di Radar Bali, Senin 24 September 2007)

Mengapa Ramalan Bisa Jadi Kenyataan? Apakah Kita Seperti Robot yang Terprogram?

Kepastian itu sangat mekanis. Kepastian membuat manusia menjadi mesin, persis seperti robot. Kepastian membuat anda menjadi komputer. Program yang diberikan dapat menentukan setiap tindakan, setiap ucapan, bahkan setiap pikiran dan setiap perasaan dalam diri anda. Komputerisasi umat manusia sudah terjadi sejak ribuan tahun yang lalu.

Mereka yang berkuasa, mereka yang menjadi pemimpin, mereka yang berada pada pucuk pemerintahan telah melakukan programming. Tentu saja, programming ini harus menguntungkan mereka, anda hidup dalam ketidaksadaran. Sepertinya dibawah pengaruh hipnotis massa. Tindakan, ucapan, pikiran bahkan perasaan anda pun sesuai dengan programming yang telah diberikan kepada anda.

Anda tidak bebas! Mungkin sudah merdeka, tetapi hanya memproklamasikan kemerdekaan tidak membebaskan diri anda! Anda telah diperbudak selama ribuan tahun dan saat ini pun anda masih diperbudak. Anda diperbudak oleh berbagai tradisi, peraturan dan konsep yang sudah kadaluwarsa, sudah usang. Mereka yang memprogram anda tidak menginginkan kebebasan anda. Kenapa? Karena begitu anda bebas, anda tidak dapat dikuasai. Untuk menguasai anda, kepatuhan anda sangat dibutuhkan; kepastian anda sangat dibutuhkan. Anda harus statis. Dan dengan menggunakan dalil stabilitas, anda telah dilatih dan dipaksa untuk jalan atau lari ditempat. Itu sebabnya, manusia dapat diramalkan. Manusia yang sudah diperbudak oleh masyarakat, dapat diramalkan. Suatu masyarakat yang terbelenggu oleh berbagai tradisi dan peraturan yang sudah dapat diramalkan. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (1998). Tetap Waras di Jaman Edan, Visi Ronggowarsito Bagi Orang Modern. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Kita Bisa Tahu Apa yang Akan Terjadi 10 Tahun yang akan datang

Apa yang akan terjadi pada diri saya atau suatu keadaan sekitar saya, itu pun sudah merupakan rencana yang sudah ada dalam bawah sadar kita (Kalau kita mengatakan itu bawah sadar). Saya tidak mengatakan itu bagian dari bawah sadar tapi dari chit, seed of thought, benih-benih pikiran kita.

Itupun sudah kita rencanakan, jadi tidak ada yang beda sebetulnya. Cuma ada yang tependam tidak cepat keluar dan ada yang cepat keluar. Jadi apa yang akan terjadi 10 tahun yang akan datang, sudah ada blue print-nya. Misal kita mau tanam pohon buah mangga maka setelah beberapa tahun berbuah. Seorang petani tahu bahwa pohon ini berbuahnya kapan, pohon yang satu lagi berbuah kapan? Tapi kalau kita bukan petani maka kita nggak tahu. Kita pikir kok lama sekali, apakah akan berbuah atau tidak? Begitu juga apa yang akan terjadi 10-15 tahun dari sekarang, bijinya sudah ditanam entah sepuluh tahun sebelumnya.

Tapi bagaimana bisa terlihat dalam mimpi? Kita berada dalam masyarakat yang kalau sesuatu dibungkus mistis akan menarik. Seperti melihat awan, wah itu seperti ada gambar Shiva, bagi orang lain itu gambar Kwan Im, bagi orang ketiga itu Buddha. Tergantung pada proyeksi dari pikiran kita. Kita bisa melihat apa pun dan kemudian berita itu dimunculkan dan kita menjadi heboh. Kita melihat bulan seperti melihat kelinci. Tapi, bagi Orang China itu bukan kelinci, itu adalah wanita cantik. Dewi Bulan. Bagi orang India itu adalah laki-laki, Chandra. Jadi tergantung persepsi kita. Tapi kita punya kebiasaan dibungkus dengan mistisisme, padahal semuanya sudah diatur.

Justru the real magic, menurut Aleister Crowley, magic itu suatu kemampuan untuk mengubah sesuatu atau kondisi hati kita. Itulah real magic. Begitu juga kalau kita sudah tanam sesuatu sebelumnya, dan kita sudah tahu akan berbuah mangga. Karma yang hasilnya kita sudah tahu pasti jelek atau bagus, kalau kita mampu mengubah itu. Dari buruk menjadi bagus, itu real magic, kekuatan pikiran yang benar.

Kita mimpi sesuatu, bisa merupakan bagian dari sampah-sampah dalam diri kita yang keluar, atau bisa suatu berita bahwa ini bisa terjadi. Kita bisa melihat rambu-rambu ini bila bisa terjadi padamu. Misalkan mulai sekarang saya mesti membawa mobil dengan lebih berhati-hati, agar mimpi yang saya lihat tidak terjadi.

Bagaimana bila kita sudah melihat tanda buruk yang akan terjadi bagaimana cara mengatasinya? Apabila mind kita terpengaruh mimpi kecelakaan peswat, ganti flight. Apa yang kita perhatikan dengan pikiran kita, itu terjadi. Itulah kekuatan pikiran. Apa yang kita bahas ini kekuatan pikiran bukan spiritual. New Age itu apa? kekuatan pikiran. Mereka belum bicara sesuatu yang lain. Mimpi juga bagian dari kekuatan pikiran. Lucid dreaming, kita bisa merencanakan sesuatu lewat pikiran. Saya pernah menulis, sebelum tidur pikirkan saya akan pergi ke suatu tempat, lakukan beberapa kali sampai mungkin hari ke 7 roh ini bisa jalan-jalan ke suatu tempat tertentu. Bisa diatur.

Kalau ditarik ke karma pembahasan akan panjang. Karma terjadi pada dasarnya dalam kenyataan dan mental/emosional. Istilah karma adalah perbuatan. Mungkin saya berpikir jelek akan dirimu, mungkin vibrasi itu akan diterima, oleh mind mu, brainmu. Kamu akan berpikir tentang saya yang jelek juga. Itu bisa terjadi itu tapi sebatas pikiran. Kalau saya menonjok kamu itu adalah physical. Dan kamu meresponnya dengan physical. Hukum karma adalah physical law.

Begitu ada pikiran yang jelek, Patanjali mengatakan pikirlah yang berlawanan untuk menghindari akibat buruk. Oleh karena itu dimunculkan simbol-simbol. Kebanyakan, apa yang tepikir oleh kita adalah jangan=jangan akan terjadi begini. Jangan-jangan ada rintangan, jangan-jangan ada problem. Sehingga dimunculkan simbol Ganesha untuk mengenyahkan segala macam rintangan. Sangat mudah kalau tiba-tiba kita punya pikiran kalau begini jangan-jangan akan begini. Kemudan untuk mengimbangi pikiran itu yang sudah diulangi dalam pikiran berkali-kali kita harus mengimbangi dengan pikiran yang berlawanan.

Daripada susah-susah, kau punya Ganesha, lihat patung Ganesha. Dan itu lebih powerful daripada pikiran yang harus diulang-ulang. Positif thinking kita tidak bisa sekuat negatif thinking. Negatif thinking naturally muncul, positif thinking harus kita upayakan. Banjir dari negatif thinking ini tidak cukup diatasi dengan positif thinking. Solusinya lihat gambar Ganesha.

Jadi Ganesha dibawa ke mana-mana. Itulah yang dikerjakan mereka. Obama membawa gambar Hanuman di kantong dia. Setiap ada masalah dia keluarkan gambar Hanuman. Dia share.

Mau dengan Kwan Im, Ganesha, Narasimha mau apa. Begitu ada pikiran jelek langsung visual. Di kantor-kantor di mana-mana jangan kasih pajangan macam-macam. Taruh visual yang bisa memberi semangat. Di China, Kwankung, Macan, Kura-Kura karena perisainya. Mahisasura Mardini, Durga di tempat kita.

Kalau kita mimpi hal yang tidak sesuai dengan keinginan kita kita dapat mengatasi dengan cara demikian. Dream yang visual harus diatasi dengan visual. Visual mimpi dilawan dengan suara tidak berhasil.

Bagaimana kalau mimpi yang mengarahkan kita? Kembali ke Hanuman atau Ganesha, tolong saya dibantu. Tapi harus visual karena kita harus main dengan kecepatan cahaya. Hati-hati dengan televisi, dengan youtube, dengan apa yang kita lihat. Karena kecepatannya adalah kecepatan cahaya. Bisa menciptakan situasi yang baik atau kalau tidak kita bisa menjadi peragu-ragu, pemalas.

Sumber: Video Youtube, Membaca Mimpi & Cara Mengatasi Pikiran Negatif oleh Bapak Anand Krishna

Advertisements

Refleksi: Lahir, Tumbuh, Tua dan Mati Bag 1 Evolusi dan Hukum Karma

Memperhatikan semut-semut yang bergerak di pohon mangga, terbersit sebuah pemikiran. Semut-semut itu pada suatu saat akan mati. Demikian pohon mangga “Manalagi” di depan rumah, dia sudah hidup selama 3 generasi dari kakek anak kemudian cucu, akan tetapi pada suatu saat akan tua dan mati. Bahkan sebuah peradaban pun akan mengalami kelahiran, pertumbuhan, penuaan dan kematian, hanya hitungan waktunya dalam abad. Yang lahir akhirnya akan mati, itu sebuah keniscayaan.

Arnold Toynbee, sejarawan Inggris (1889-1975) mengemukakan teori siklus bahwa peradaban selalu mengikuti alur mulai dari kemunculan sampai kehancuran. Pandangan tersebut sesuai dengan teori yang berkembang di Yunani  pada masa Socrates (yang meninggal tahun 399 Sebelum Masehi) tentang: kelahiran, pertumbuhan, kematian dan disusul dengan kelahiran lagi.

Gusti yang Tunggal memiliki 3 fungsi: Sebagai Brahma, Sang Pencipta yang bertugas mencipta dan mengembang-biakkan makhluk. Vishnu, Sang Pemelihara yang bertugas mengurusi pertumbuhan dan pemeliharaan makhluk. Serta Shiva yang bertugas mendaur-ulang makhluk. Dari debu, gunung, sungai, makhluk hidup, bangsa, negara dan bahkan peradaban tidak lepas dari pekerjaan Brahma, Vishnu dan Shiva. Dan semua benda tersebut bergetar.

Hukum Alam tentang Lahir, Tumbuh, Tua, dan Mati

“Kendati Tunggal dan Tak-Terbagi ada-Nya, Ia tampak terbagi dalam diri makhluk-makhluk hidup dan wujud-wujud yang tak bergerak; Ialah satu-satu-Nya yang patut diketahui, Hyang senantiasa Memelihara, Memusnahkan, dan Mendaur-Ulang, Mencipta kembali.” Bhagavad Gita 13:16

Bukan saja makhluk-makhluk hidup yang mesti menjalani tiga tahap kehidupan, yaitu kelahiran, pertumbuhan dan kematian — sesungguhnya benda-benda yang kita anggap tanpa kehidupan pun mesti menjalani ketiga tahap tersebut.

………………

APAKAH SEMUA INI TERJADI SECARA KEBETULAN? Just by accident? Mereka yang “percaya” pada paham ateisme; mereka yang berkeyakinan, berkepercayaan seperti itu, mengatakan, “demikian adanya semua ini berjalan sesuai dengan hukum alam.”

Krsna mengajak kita untuk melihat di balik hukum alam tersebut; untuk menjajaki kemungkinan adanya Super Intelligence, Sang Perancang Alam, Sang Penentu Hukum tersebut, yang barangkali belum terjangkau oleh pikiran kita.

Sekaligus, Krsna pun mengantar kita untuk berhadapan, berkenalan dengan Sang Perancang, Sang Sutradara Agung tersebut. Ia-lah satu-satunya, yang jika diketahui, tak ada lagi sesuatu yang perlu kita ketahui. Dalam bahasa ilmiah, ini disebut The Theory of Everything. Para ilmuwan masih berdebat dan mencari satu rumusan, rumusan tunggal, yang bisa menjelaskan seluruh hukum alam. Dikutip dari buku: (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia via #BhagavadGitaIndonesia

Hukum Alam yang Mengikat Manusia

Manusia dijerat oleh Hukum Evolusi dan Hukum Sebab-Akibat. Makhluk-makhluk lain tidak dijerat oleh Hukum Sebab-Akibat. Bagi mereka hanya ada satu hukum – Hukum Evolusi. Seperti halnya anak-anak kecil di bawah umur. Hukum yang berlaku bagi orang dewasa tidak berlaku bagi mereka.

Hukum Sebab-Akibat (Hukum Karma) merupakan hukum dua arah. Dasarnya adalah “dualitas” – perbedaan antara baik dan buruk, antara panas dan dingin. Sebaliknya Hukum Evolusi merupakan hukum satu arah. Maju terus, meningkat terus – tidak pernah mundur, tidak pernah merosot. Hukum Sebab-Akibat hanya berlaku bagi jenis kehidupan yang memiliki mind. Karena sesungguhnya mind-lah yang menciptakan dualitas antara baik dan buruk, antara panas dan dingin.

Mineral, tumbuh-tumbuhan dan binatang hanya memiliki thought – satuan pikiran. Sekian banyak thoughts dan bahkan feelings, pikiran dan rasa. Tetapi semuanya masih dalam bentuk recehan, satuan-satuan kecil. Belum mengkristal untuk menciptakan mind. Kendati binatang-binatang berkaki empat sudah mulai menunjukkan adanya “simptom” mind, tetapi masih belum cukup berkembang, belum cukup mengkristal. Dalam diri manusialah, mind baru mengkristal sepenuhnya. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2000). Shambala, Fajar Pencerahan di Lembah Kesadaran. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Hukum Evolusi dan Hukum Karma bagi Pengembangan Jiwa

Dunia ini ibarat pusat rehabilitasi, dimana setiap jiwa sedang mengalami program pembersihan, pelurusan, atau apa saja sebutannya. Keberadaan kita di dunia ini semata untuk menjalani program yang paling cocok bagi pembersihan dan pengembangan jiwa.

Kecocokan program pun sudah dipastikan oleh Keberadaan dengan melahirkan kita dalam keluarga tertentu, di negara tertentu, ditambah dengan berbagai kemudahan lainnya, termasuk lingkungan kita, para sahabat, anggota keluarga dan kerabat kita, maupun lawan atau musuh kita. Berbagai rintangan, tantangan, kesulitan, dan persoalan yang kita hadapi dimaksudkan demi pembersihan jiwa dan pengembangan jiwa kita sendiri, karena itu, mencari kesalahan dan menyalahkan orang lain atas kejadian-kejadian yang menimpa diri kita adalah dosa.

Silahkan berupaya untuk keluar dari masalah, untuk menyelesaikan perkara, tetapi bukan dengan mencari kambing hitam, bukan dengan cara menyalahkan orang lain. Membersihkan diri dari segala macam dosa berarti membebaskan diri dari segala yang membebani jiwa; beban pahala, maupun beban dosa itu sendiri. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2006). Five Steps To Awareness, 40 Kebiasaan Orang Yang Tercerahkan, karya terakhir Mahaguru Shankara “Saadhanaa Panchakam”, Saduran & Ulasan dalam Bahasa Indonesia. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Refleksi: Kehidupan Kita adalah Akumulasi dari Pilihan Kita Sendiri

Salah Identifikasi Diri Mengakibatkan Hukum Karma

Badan ini ibarat kereta. Kesadaran Diri, “Aku Sejati”, “Self”, “Atma” adalah pemilik kereta. Intelejensia adalah sais kereta. Mind atau pikiran adalah tali pengendali. Kelima indera adalah kuda yang menarik kereta. Pemicu di luar adalah jalan yang dilewati kereta ini.

Pikiran yang lemah, atau kacau membuat kelima indera lepas kendali, dan kecelakaan pun tak terhindari lagi. Bagaimana bisa mencapai tujuan? Karena kecelakaan-kecelakaan yang terjadi inilah, maka ‘aku’ atau atma mesti berulangkali mengalami kelahiran dan kematian. Dan, tidak mencapai tujuannya.

Tapi, jika intelejensia mengendalikan pikiran, dan pikiran mengendalikan kelima indera, maka badan ini akan mengantar kita kepada tujuan, yaitu penemuan jatidiri. Itulah Kesadaran Ilahi, itulah Brahma Gyaan. Dikutip dari buku (Das, Sai. (2010). Shri Sai Satcharita. Anand Krishna Global Co-Operation Indonesia)

Salah Identifikasi tentang Diri Mengkibatkan Kita Terkena Hukum Sebab-Akibat, Hukum Karma. Menganggap tubuh, badan, body (kereta) sebagai diri membuat kita ingin memuaskan panca indra. Menganggap pikiran (tali pengendali) sebagai diri membuat kita ingin mengulangi hal yang menyenangkan dan menambah porsinya, menghindari hal yang tidak menyenangkan dan cuek dengan sesuatu yang tidak ada kaitan dengan diri kita. Itu adalah sifat pikiran (mind) yang hanya benar bagi diri kita sendiri. Menganggap Pemilik Tubuh dan Pikiran (pemilik kereta) sebagai diri, maka sebelum bertindak kita akan memiliki pandangan jernih: Kalau aku tidak senang dibegitukan orang lain maka saya tidak akan membegitukan orang lain.

Tindakan Yang Berakibat Karma dan Yang Tidak

Apa yang terjadi ketika kita melihat bunga-bunga yang indah di taman. Mata telah menikmati keindahan itu – luar biasa, indah! Puji Tuhan Hyang Maha Indah, karena keindahan-Nya lah maka alam menjadi indah. Jika kita berhenti di situ, maka tidak ada tindakan apa-apa. Indra mata telah berfungsi sesuai dengan sifatnya – melihat. Gugusan pikiran serta perasaan telah melaksanakan tugasnya pula dengan mengapresiasi keindahan. Perkara selesai. Ini adalah skenario pertama, sesuai dengan apa yang Krsna katakan, “Mata yang telah melihat keindahan itu sekarang akan mengejar keindahan di mana-mana. Gugusan pikiran serta perasaan yang telah menikmati dan mengapresiasi keindahan pun demikian. Dan, selama urusan mengejar adalah untuk menikmati dan mengapresiasi – maka tidak terjadi apa yang disebut karma atau tindakan.”

Tapi, ada skenario Kedua – Setelah mengapresiasi keindahan bunga itu, kita bertindak untuk memetiknya, membawa pulang, dan menaruhnya di dalam vas bunga. Nah, di sini sudah terjadi tindakan. Sudah ada karma. Dan setiap karma, setiap tindakan ada konsekuensinya. Vas bunga yang Anda letakkan di ruang tidur pribadi Anda, di ruang keluarga, atau ruang tamu berdampak beda. Konsekuensinya lain, beda.

Di ruang tidur pribadi, keindahan bunga akan diapresiasi oleh Anda, dan barangkali pasangan Anda. Di ruang keluarga, seluruh keluarga akan menikmatinya. Dan, di ruang tamu, bukan saja Anda, pasangan Anda, dan keluarga Anda – tapi para tamu pun ikut menikmatinya.

Masih ada Skenario Ketiga – bunga yang Anda petik itu dipersembahkan di kuil, di vihara, ditempat-tempat ibadah yang memiliki tradisi mempersembahkan bunga. Konsekuensinya beda lagi. Bunga yang Anda petik bukanlah untuk kepentingan diri, keluarga, dan para tamu Anda, tapi untuk dipersembahkan. Dalam hal ini, tindakan Anda menjadi sebuah yajna, offering, persembahan. Sekarang jika kita simpulkan…

Dalam skenario pertama tidak terjadi tindakan – tidak ada karma. Mata menikmati, meneruskan informasi kepada gugusan pikiran dan perasaan lewat otak – perkara selesai.tidak ada konsekuensi lain, selain kenikmatan, rasa senang. Karma terjadi dalam skenario kedua dan ketiga. Penjelasan Bhagavad Gita 3:28 dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia via #BhagavadGitaIndonesia

 

Antara Shreya (yang memuliakan) dan Preya (yang menyenangkan)

Dalam hidup ini kita memang selalu berhadapan dengan dua pilihan tersebut, shreya atau preya yang memuliakan, atau yang menyenangkan.

Seorang pencari jatidiri hendaknya memilih shreya, atau yang memuliakan. Dan, tidak memilih preya, yang menyenangkan. Preya, yang menyenangkan, adalah pilihan mereka yang masih sepenuhnya berada dalam alam kebendaan. Para bijak selalu memilih “yang memuliakan”. Mereka yang tidak bijak memilih “yang menyenangkan” karena keserakahan dan keterikatan mereka dengan dunia benda. Dikutip dari buku (Das, Sai. (2010). Shri Sai Satcharita. Anand Krishna Global Co-Operation Indonesia)

Video Youtube Being Human 2/3 Pleasant vs Good oleh Bapak Anand Krishna

Program dasar dari neo-cortex adalah untuk mencerna semua informasi yang kita peroleh sepanjang hari atau hidup dan memprosesnya yang kemudian dapat dibagi menjadi 2 kategori: Shreya dan Preya.

Preya adalah segala sesuatu yang menyenangkan panca indra. Apa pun juga asal menyenangkan panca indra itu adalah preya. Mungkin tidak baik, mungkin tidak benar. Asal panca indra saya puas itu adalah preya. Salah? Tidak juga. Preya juga dibutuhkan.

Tapi shreya selangkah lebih lanjut. Bukan sesuatu yang menyenangkan tapi sesuatu yang tepat. Apa yang tepat bagi saya dan rasanya apa yang saya akan lakukan. Apabila hanya ingin merasa baik tidak perlu shreya. Shreya adalah pilihan untuk apa neo-cortex diletakkan pada diri kita. Untuk mendapatkan shreya ini tindakan tepat apa yang saya lakukan? Silakan ikuti Penjelasan lengkap pada: Video Youtube Being Human 2/3 Pleasant vs Good oleh Bapak Anand Krishna

Manusia memiliki bagian otak yang disebut Neo Cortex. Neo berarti “baru”, dan bagian ini memang “baru” dimiliki oleh hewan “jenis manusia”. Setidaknya dalam bentuk yang jauh lebih sempurna dari hewan. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2005). Otak Para Pemimpin Kita, Dialog Carut-Marutnya Keadaan Bangsa. One Earth Media)

Tanpa perkembangan Neo-Cortex, manusia tidak sadar tentang hal-hal yang tepat dan tidak tepat, yang baik dan tidak baik bagi dirinya. Dalam keadaan seperti itu, ia tak akan mampu memahami kebutuhan insting yang diterimanya dari Bagian Limbic lewat Jaringan Saraf Otonom. Bila insting mengirimkan pesan “lapar”, maka ia bisa saja makan berlebihan, sehingga merusak kesehatannya sendiri.

Begitu pula dengan hal-hal lain yang sesungguhnya merupakan kebutuhan dasar dan harus dipenuhinya secara cerdas dan berimbang dengan penuh kesadaran, misalnya memilih makanan yang baik bagi kesehatannya sehingga tidak makan apa saja secara sembarangan. Dengan kata lain, mesti ada kerja sama yang baik antara Bagian Limbic dan Neo-Cortex. Tanpa kerja sama seperti itu, manusia akan mencelakakan dirinya.

Hal ini tidak terkait dengan tubuh atau kesehatan raganya saja, tetapi juga dengan pikiran dan lapisan-lapisan kesadarannya yang lain. Jadi Limbic memberitahu kebutuhan, sedangkan Neo-Cortex menentukan bagaimana dan dengan cara apa memenuhi kebutuhan itu supaya menunjang kesehatan dan kehidupan, bukan merusak atau mematikannya. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2010). Neospirituality & Neuroscience, Puncak Evolusi Kemanusiaan. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Mengapa Kita Memilih Preya (yang menyenangkan)?

Bila disuruh memilih antara “yang baik” dan “yang nikmat” biasanya manusia akan memilih “yang nikmat”. Itu sebabnya, seorang anak harus diberi iming-iming kenikmatan permen, “nasinya dihabiskan dulu”, kalau sudah habis, mama berikan permen”. Permen kenikmatan sesungguhnya hanyalah iming-iming. Tidak penting. Yang penting adalah nasi. Bila masih kecil, pemberian iming-iming masih bisa dipahami. Celakanya, kita semua sudah kebablasan. Sudah dewasa, sudah bukan anak-anak lagi, tetapi masih membutuhkan iming-iming “permen kenikmatan”. Kemudian, demi “permen kenikmatan” kita akan melakukan apa saja. Jangankan nasi, batu pun kita makan. Asal mendapatkan permen. Demi “permen kenikmatan”, kita tega mengorbankan kepentingan orang lain. Kitabersedia memanipulasi apa saja. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2002). Masnawi Buku Kelima, Bersama Jalaluddin Rumi Menemukan Kebenaran Sejati. Jakarta:Gramedia Pustaka Utama)

Setiap orang selalu dihadapkan pada pilihan sebelum melakukan sesuatu: 1. melakukannya, 2. tidak melakukannya, 3. atau mengambil pilihan lainnya. Oleh karena itu seseorang harus bertanggungjawab dengan apa pun yang telah dipilihnya. Bahkan jalan kehidupannya ditentukan oleh dirinya sendiri dari akumulasi pilihan-pilihan yang telah dilakukannya.

Memahami Rahasia Alam Benda dan Gugusan Jiwa Membuat Diri Terbebaskan Dari Karma?

buku-bhagavad-gita-cahaya-dan-sinar-matahari-teks-panjang

Ketika Jiwa Agung atau Paramatma berkehendak untuk “Mengalami diri-Nya” – maka, “terjadilah Purusa atau Gugusan Jiwa untuk “mengalami”; dan Prakrti atau Alam Benda untuk “dialami”. Berarti sesungguhnya, Purusa dan Prakrti, dua-duanya ada atas kehendak Sang Jiwa Agung, Paramatma.

Purusa atau Gugusan Jiwa adalah wujud Paramatma atau Jiwa Agung yang Aktif – Ialah Ksetrajna. Sang Jiwa yang Mengetahui dan Menguasai Medan Alam, Medan Kesadaran, Ksetra, Prakrti, atau Alam Benda.

Untuk mempermudah lagi; sebagai Gugusan Jiwa atau Purusa. Ia (Paramatma, Sang Jiwa Agung) berpasangan dengan Alam Benda atau Prakrti. Sebagai Jiwa Individu, Jivatma, atau Ksetrajna, Ia berpasangan dengan Ksetra, yang merupakan badan, indra, pikiran, perasaan, intelek, dan lain-lain yang “kita” miliki. Kutipan dari Bhagavad Gita 13:26

Dianalogikan, misalnya Matahari sebagai Paramatma, Sang Jiwa Agung; Purusa, Gugusan Jiwa sebagai cahaya matahari dan Jivatma, Jiwa Individu sebagai sinarnya.

Pemahaman itu penting dan perlu dilakoni dalam tindakan sehari-hari agar kita tidak lahir kembali seperti penjelasan Bhagavad Gita 13:23 berikut:

buku-bhagavad-gita

Cover Buku Bhagavad Gita

Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu; Saha vīryam karavāvahai; Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga Hyang Tunggal senantiasa melindungi kita; menjernihkan pikiran kita: semoga kita dapat berkarya bersama dengan penuh semangat; semoga apa yang kita pelajari mencerahkan dan tidak menyebabkan permusuhan; Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

Bhagavad Gita 13:23

“Ia yang memahami Purusa, Gugusan Jiwa, dan Prakrti, Alam Kebendaan bersama sifat-sifatnya, tidak akan lahir kembali, walau saat ini ia masih terlihat dalam penyelesaian tugasnya.” Bhagavad Gita 13:23

 

Setiap karma, setiap perbuatan adalah sebab, dan memiliki konsekuensi, berakibat. Hukum sebab-akibat inilah yang menyebabkan kelahiran dan kematian berulang-ulang.

Namun, tidaklah demikian dengan seorang yang memahami,

RAHASIA ALAM BENDA DAN GUGUSAN JIWA – Prakrti dan Purusa. Ia terbebaskan dari segala konsekuensi perbuatannya. Kenapa demikian? Karena ia telah mengidentifikasikan dirinya dengan Sang Jiwa Agung — Sang Aku Sejati. Perbuatan adalah urusan badan, urusan pancaindra, gugusan pikiran dan perasaan (mind), sehingga bagaimanapun juga badan mesti rnenanggung konsekuensi atau akibat dari segala perbuatannya. Tapi, Jiwa yang sudah menyadari jati dirinya sebagai Jiwa Agung, tidak lagi terpengaruh oleh semua itu.

Seperti ketika bohlam lampu rusak, listrik tidak terpengaruh — tidak ikut menjadi rusak. Bahkan, ketika pembangkit listrik mengalami gangguan — listrik tetap tidak terganggu. Hanya alirannya ke rumah kita terhenti. Hal itu sesungguhnya tidak berpengaruh terhadap listrik yang adalah energi murni.

KETIKA BOHLAM MATI, dan tidak diganti dengan bohlam baru, maka listrik yang tadinya mengalir dan menyalakan bohlam – menyatu kembali dengan sumbernya.

Demikian pula ketika seseorang terbebaskan dari kelahiran kembali — maka, yang terjadi ialah, Jiwa menyatu kembali dengan Sang Jiwa Agung, Sang Aku Sejati, dengan Paramatma…

Dalam hal ini, perlu kita pahami, bahwa setiap ada Jiwa Individu atau Jivatma, yang menyadari kemanunggalannya dengan Paramatma atau Jiwa Agung, Purusa atau Gugusan Jiwa-Jiwa yang belum menyadari hal tersebut, ikut mengalami sedikit pencerahan. Jiwa-Jiwa yang tersisa dalam Gugusan Purusa ikut tercerahkan sedikit.

Jivatma atau Jiwa Individu mesti lepas dari Gugusan Jiwa atau Purusa, dan menyatu dengan Paramatma atau Jiwa Agung. Cara untuk itu adalah ..

PENGALIHAN KESADARAN: Awalnya, identifikasi diri dengan badan, indra, ego, pikiran, perasaan pribadi di-‘tukar’ dengan identitas diri sebagai Jiwa Individu. Kemudian, mesti ditingkatkan lagi, dan dialihkan kepada Sang Jiwa Agung, Sang Aku Sejati, Paramatma.

Janganlah mengidentifikasikan diri dengan bohlam. Ketahuilah bila kita adalah Listrik yang membuat bohlam itu menyala. Ketika bohlam mati, tidak perlu beraduh-aduh. Bohlam memang memiliki eksistensi sesaat. Tidak perlu disesali. Itulah sifat bohlam. Sekali lagi, kita bukan bohlam. Kita adalah percikan Sang Jiwa Agung, Sang Aku Sejati, Paramatma!

Dikutip dari buku: (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

Om, Sarve bhavantu sukhinaḥ; Sarve santu nirāmayāḥ; Sarve bhadrāṇi paśyantu; Mā kashchit duḥkha bhāgbhavet; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga semua makmur, bahagia dan bebas dari penyakit. Semoga semua mengalami peningkatan kesadaran, dan bebas dari penderitaan. Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/

 

Banner utk di web

oec3Elearning-Banner-2 (1)

Belajar dari Kisah Dramatis Beberapa Selebrities yang Diunggah Alam Semesta

buku-bhagavad-gita-shakuni-di-masa-jaya-plus-tulisan

Kisah Kehidupan Selebrities yang diunggah Alam Semesta

Seorang motivator publik terkenal terbuka lembaran kisah kehidupannya setelah sekian lama sukses dan menjadi panutan masyarakat. Seorang yang dikenal media sebagai Guru Spiritual yang hidup gemerlap di tengah para artis cantik tertangkap saat sedang pesta narkoba.

Kadang-kadang alam seakan-akan sengaja memberikan pembelajaran kepada masyarakat lewat kisah nyata para selebrities. Sebetulnya bukan hanya para selebrities, kita semua pun juga mengalami hal yang sama walau tidak dipermalukan alam di depan publik. Maukah kita belajar dan memperbaiki kehidupan kita?

 

Belajar dari Dhammapada

Dhammapada 22:306 menjelaskan apa yang dapat mencelakakan diri, yaitu kebohongan. Mengingkari perbuatan keji, dan berbohong untuk menutupinya – inilah pertanda orang yang sedang mencelakakan dirinya.  Kita tidak dapat membohongi Keberadaan Yang Maha Mencatat setiap kegiatan. Perbuatan keji untuk mencelakakan orang lain adalah serangan terhadap Keberadaan. Dan, begitu kita menyerang Keberadaan yang adalah Kasunyatan Abadi, maka perbuatan keji dan kebohongan akan bergaung kembali. Tidak ada yang menghukum kita kecuali perbuatan kita sendiri. Ada kalanya benih perbuatan keji itu belum tumbuh menjadi pohon, maka sepertinya lama sekali baru berbuah. Ada kalanya Keberadaan membiarkannya tumbuh malah diberi air hujan dan difasilitasi pertumbuhannya, supaya pada saatnya dapat ditebang karena ilalang memang tidak berguna dan malah mencelakakan pertumbuhan tanaman lainnya. Catatan Bapak Anand Krishna tentang Dhammapada yang terasa “klop” dengan kehidupan dunia.

 

Buah Karma yang belum matang

Dalam Dhammapada 9:125 Buddha jelas sekali bahwa jika seorang pelaku kejahatan berupaya mencelakakan orang yang tidak bersalah, maka ia sendiri yang akan celaka. Lalu apa yang kita lihat selama ini dan di sekitar kita? Seolah pelaku kejahatan bisa merajalela, dan mereka yang tidak bersalah bisa seenaknya dianiaya. Untuk itu Buddha menjelaskan dalam ayat 119 bahwa ada juga perbuatan-perbuatan jahat yang “belum matang”. Ketika buah kejahatan itu matang, maka ia jatuh sendiri. Tinggal tunggu waktu. Catatan Bapak Anand Krishna tentang Dhammapada.

 

Hukuman Bagi Tindakan Adharma

Banyak di antara kita yang punya pengalaman menghadapi oknum penyidik di kepolisian atau kejaksaan yang korup dan dengan sombong bisa mengatakan, “Ini wewenang kami”. Pun demikian dengan para hakim dan pejabat lain yang sama-sama korup. Mereka telah dibutakan oleh kekuasaan yang tidak langgeng, tidak untuk selamanya. AKHIRNYA, MEREKA BINASA karena dan oleh kebutaan mereka sendiri. Kadang mereka tidak sadar bahwa ketika dharma bertindak, ia bisa menggunakan senjata apa saja. Banyak senjata di tangan dharma.

Para pejabat korup yang memiliki anak yang autis, penderita penyakit lain, pencandu, pemabuk, penderita HIV, dan sebagainya – telah dijatuhi hukuman seumur hidup oleh dharma! Penyakit anak-anak mereka adalah disebabkan oleh uang haram hasil korupsi, hasil jarahan, yang mereka gunakan untuk membiayai kehidupan mereka. Dan tentunya disebabkan oleh karma anak-anak itu pula yang memilih mereka sebagai orang-tua.

Dharma tidak selalu memenjarakan para penguasa zalim. Penjara adalah urusan peradilan dunia. Hukuman penjara adalah hukuman ringan jika dibanding dengan hukuman dharma yang tidak hanya membuat seseorang menderita hingga akhir hayatnya, tetapi juga setelah meninggalkan dunia ini. Hukuman dharma bukanlah hukum korup yang bisa dikompromikan. Tidak ada sin laundering, pencucian dosa lewat ziarah, amal-saleh, dan sebagainya. Setiap penderitaan yang disebabkan oleh seorang penguasa zalim mesti dipertanggung jawabkan olehnya sendiri……. dikutip dari penjelasan Bhagavad Gita 11:34 dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

 

Mari kita merenungkan sejarah kehidupan kita sendiri, bukan hanya para selebrities, bukan hanya oknum Penyidik dan Hakim yang tidak jujur, kita pun juga mungkin pernah angkuh, arogan saat kita sedang berkuasa. Bentuk hukuman adharma bukan hanya anak cacat, tetapi penderitaan yang dirasakan perih sampai maut datang menjemput. Dan, itu bisa berupa apa saja……

Mari kita cari jalan keluar, bagaimana sebaiknya……..

 

Apakah kepada mereka yang berbuat salah sudah diberi kesempatan untuk bertobat?

Pasti! Alam akan memperingatkan dalam beberapa tahap sebelum memberikan pukulan telak.

Alam memperingatkan manusia seperti simbol 4 tangan Vishnu. Pertama kali, tangan memberi “blessing”, memaafkan kesalahan awal yang telah diperbuatnya. Kedua kali, tangan memegang terompet kulit kerang, setelah kita terus melakukan kesalahan, alam memberi peringatan dengan teguran keras. Ketiga kali, tangan memegang chakra, Alam memberi semacam tenggat waktu untuk memperbaiki perbuatan yang salah. Keempat kali, tangan membawa gada, begitu semua peringatan sudah dilaksanakan, masih “ndhendheng”, bebal, maka gada yang berbicara.

Silakan renungkan kisah berikut:

https://kisahspiritualtaklekangzaman.wordpress.com/2016/09/08/cara-vishnu-sang-pemelihara-alam-memperingatkan-kita/

 

Masihkah ada jalan keluar bagi kita yang telah bertindak jahat di masa lalu?

Kesalahan bisa diperbaiki, hukuman bisa diperingan.

Sebagaimana seorang presiden, seorang kepala negara, seorang raja memiliki hak prerogatif untuk memberi pengampunan total — demikian pula Tuhan. Ia memiliki hak prerogatif untuk menghapus segala macam dosa-dosa kita. Asal — lagi-lagi ini menurut pendapat saya, dan berdasarkan pengalaman saya pribadi – kita insaf, kita bertobat. Dan, tidak lagi mengulangi kesalaha-kesalahan yang sama. Bukan hanya keringanan, walaupun tidak sering terjadi – tetapi Tuhan bisa mengampuni kita secara total. Dalam hal ini, peranan Tuhan bisa dibandingkan dengan peranan Presiden suatu negara. Presiden mempunyai wewenang penuh untuk mengampuni seseorang, walau ia telah mengalami kekalahan dalam sidang-sidang pengadilan sebelumnya. Namun, harus ingat, Presiden hanya mengambil keputusan jika ia yakin orang yang bersalah itu benar-benar insaf, telah menyadari akan kesalahannya, tidak akan berbuat lagi. Sebelum mengambil keputusan, Bapak Presiden memperhatikan pula latar belakang dan hal lain-lain yang bersangkutan dengan orang itu. Kita bisa tersesat, begitu sadar akan kesalahan kita dan kita mohon kepada-Nya agar diampuni, Ia pasti mengarahkan kita kembali ke jalan yang benar. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

Silakan renungkan kisah berikut:

https://kisahspiritualtaklekangzaman.wordpress.com/2016/09/10/sri-krishna-sais-agung-kereta-kehidupan-kita-pembawa-chakra-dan-bunga-wijaya-kusuma/

Renungan Diri: Pengaruh Konstelasi Bintang Saat Kelahiran Selaras dengan Karma Masa Lalu?

buku spiritual-astrology

Cover Buku Spiritual Astrology

Kelahiran seorang anak terjadi ‘saat’ pengaruh konstelasi perbintangan selaras dengan hasil perbuatan (karma) anak itu di masa lalu. -SRI YUKTESHWAR, 1855-1936 Mistikus/Yogi, Guru Yogananda.

Seorang guru mengaitkan “karma” dengan agama tertentu. Patut disayangkan. Apa yang akan diajarkannya kepada anak didiknya? Bahwasanya Hukum Gravitasi adalah Kristiani karena penemunya adalah seorang penganut agama Kristen? Atau, Hukum Relativitas adalah Yahudi karena penemunya adalah seorang penganut agama Yahudi? Atau, Ilmu Kimia adalah Arab karena istilah itu berasal dari bahasa Arab? Atau, Matematika itu India karena angka “0” (Nol) berasal dari India?

Hukum Karma, Sebab-Akibat, atau Aksi-Reaksi adalah Hukum Alam yang bersifat universal. Tidak bisa dikaitkan dengan agama, peradaban, atau budaya tertentu. Jika kita alergi terhadap bahasa Sanskerta, atau Kawi, boleh saja kita menggunakan bahasa Indonesia, Inggris, Prancis, Cina, atau Arab. Tidak menjadi soal.

 

Hukum Karma dan Kelahiran Kita

Hukum Sebab-Akibat tidak bisa tidak dikaitkan dengan Reinkarnasi, atau Tumimbal-Lahir. Hukum inilah yang menjelaskan kenapa sebagian di antara kita lahir dalam keluarga baik, sebagian dalam keluarga kurang baik, dan sebagian dalam keluarga di mana sulit mengembangkan potensi diri. Hukum Karma dan Reinkarnasi menjelaskan kenapa seorang anak lahir cacat dan dalam keluarga miskin pula, sementara anak lain lahir dalam keluarga kaya-raya di mana segala kebutuhan bahkan kenyamanan hidup tersedia.

Kelahiran kita “kini” adalah hasil dari perbuatan kita di masa lalu. Namun, tidak berarti kita tidak berdaya, dan mesti menerima “nasib” untuk selamanya. Tidak demikian. Di sinilah, kadang Hukum Karma tidak dipahami atau malah disalahpahami. Kelahiran kita dalam keluarga miskin tidak berarti kita mesti hidup sebagai orang miskin hingga akhir hayat. Atau, jika kita lahir dalam keluarga yang tidak berpendidikan berarti kita tidak bisa atau tidak boleh menimba ilmu. Tidak seperti itu.

Kita lahir dalam keluarga miskin dan/atau tidak berpendidikan, itu adalah hasil ulah kita di masa lalu. Tapi, hidup kita selanjutnya sepenuhnya tergantung pada kemauan kita sendiri. Kita bisa memastikan hari esok yang lebih baik dengan berbuat baik hari ini. Demikian, sesungguhnya Hukum Karma adalah Hukum Penuh Harapan. Hukum Karma bukanlah Hukum Fatalistis – Hukum Tanpa Harapan – sebagaimana sering digambarkan oleh mereka yang tidak memahaminya. Hukum Karma justru adalah Hukum Penuh Harapan.

Hukum Karma membuat kita bertanggung jawab atas perbuatan kita sendiri. Tuhan Maha Bijaksana dan Maha Menyaksikan. la tidak menghakimi dan menghukum kita. Kita mengalami suka dan duka karena perbuatan kita sendiri. Kita dapat mengubah nasib dengan cara:

 

Memperbaiki Diri

Buku ini merayu kita untuk memberdayakan diri. Bhakti Seva merayu setiap orang, setiap pembaca, apa pun rasinya, untuk memberdayakan dirinya: “Kamu bisa!”

Baik penulis buku ini, maupun saya sebagai pengulasnya, tidak tertarik untuk membahas hasil masa lalu secara detail. Hasil masa lalu ini sudah menjadi kenyataan, berupa kelebihan dan kekurangan-kekurangan kita; kekuatan, dan kelemahan-kelemahan kita.

Kita tidak perlu membedah kekurangan dan kelemahan kita, “Oh, saya begini karena begitu…. Saya menjadi begini karena pengalaman masa kecil seperti itu…” Untuk apa membedah dan mencari pembenaran? Untuk apa mencari tahu siapa yang bersalah dan bertanggung jawab atas keadaanku saat ini?

Ya, kita mesti mengidentifikasi kelemahan dan kekurangan kita, tidak hanya kekuatan dan kelebihan kita. Selanjutnya, kita mengatasi kelemahan-kelemahan dan kekurangan-kekurangan diri. Sekaligus mengasah dan memperkuat kelebihan dan kekuatan diri. Itu saja.

Buku ini mengajak kita untuk melakukan hal itu, untuk:

 

Memberdayakan Diri

Sehingga kita tidak tergantung pada welas asih, apa lagi belas kasihan orang lain. Jadilah penyebar kasih…. Dan, terimalah apa yang kau dapatkan, tanpa ketergantungan. Janganlah tergantung pada apa yang kau peroleh, sekalipun adalah kasih murni 100% yang kauperoleh.

Bersyukurlah atas perolehanmu. Tetapi, sekali lagi, janganlah tergantung padanya. Jika kau tergantung pada suatu pemberian – semurni dan sebaik apa pun – berakhirlah kemandirianmu. Dan, jika kau tidak mandiri, kau tidak bebas. Kau tidak merdeka. Kemudian, keadaanmu itu bisa dimanfaatkan oleh siapa saja. Berakhirnya kemandirian adalah awal dari perbudakan.

Seorang budak menjadi demikian bukan karena keadaan, tetapi karena tidak merasa mandiri. la tidak percaya diri. la berpikir bila dirinya belum mampu bertanggung jawab atas hidupnya sendiri. Perasaan seperti ini, pikiran seperti ini, mesti dibuang jauh-jauh.

Buku ini mengajak kita untuk memberdayakan diri dan menentukan sendiri masa depan kita. Untuk itu, dijelaskan bahwa alam semesta telah menyediakan berbagai macam alat-bantu yang bisa dimanfaatkan….

Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2010). Spiritual Astrology, The Ancient Art of Self Empowerment, Bhakti Seva(The Blissful Prophet), Terjemahan Bebas, Re-editing, dan Catatan Oleh  Anand Krishna. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/

 

oec3Elearning-Banner-2

Renungan Diri: Lahir Kaya/Miskin? Lahir Sehat/Cacat? Akibat Karma? Apa pula Moksha dan Yoga?

buku paramhansa

Cover Buku Otobiografi Paramhansa

“Penjelasan yang diberikan oleh Paramhansa Yogananda terasa tidak cukup. Khususnya bagi masyarakat Indonesia di mana yoga sering sekali disalahartikan sebagai ‘senam’ atau ‘akrobat’. Meditasi sering disalahartikan sebagai ‘halusinasi’ dan ‘dialog imajiner’ dengan jin. Spiritualitas atau kebatinan sering dikaitkan dengan ‘praktek-praktek klenik’, ‘perdukunan’ dan lain sebagainya.

“Apabila Anda ingin belajar ilmu medis, Anda tidak keberatan mempelajari istilah-istilah Latin. Apabila Anda ingin menguasai ilmu ekonomi dan manajemen, Anda tidak keberatan mempelajari buku-buku dalam bahasa Inggris. Begitu pula, apabila Anda ingin mendalami Ilmu Yoga, ada beberapa konsep dasar yang harus dipahami terlebih dahulu.

 

“Pertama, tentang hukum karma; ada yang lahir dalam keluarga kaya. Ada yang lahir dalam keluarga miskin. Ada yang lahir sehat, ada yang cacat. Apa sebabnya? Apabila kita percaya bahwa Tuhan Adalah Maha Adil, bahwa Tuhan adalah Maha Pengasih dan Penyayang, lantas kenapa ada yang berbuat baik, tapi menderita terus? Lantas ada pula yang berbuat jahat, tapi berjaya terus? Ada yang mengatakan, ‘Tuhan sedang menguji mereka.’ Ujian macam apa? Apabila betul ujian, maka sangat tidak adil. Ada yang diuji, ada yang tidak diuji. Anda harus meninggalkan konsep-konsep semu, dan berani menerima sesuatu yang baru. Apabila Anda belum berani menerima sesuatu yang baru, dan masih nyaman dengan dogma-dogma lama yang sudah tidak relevan, ilmu yoga tidak cocok untuk Anda. Anda tidak akan memperoleh sesuatu apa pun. Anda akan berada di tepi sungai, tetapi tetap haus. Kehidupan ini akan melewati Anda begitu saja.

Hukum Karma berarti hukum sebab-akibat. Setiap sebab akan berakibat. Kehidupan kita sekarang ini merupakan akibat dari kehidupan yang lalu. Perilaku kita dalam hidup ini akan menentukan kehidupan berikutnya. Sudah banyak yang saya jelaskan tentang konsep ini dalam buku ‘Reinkarnasi – Hidup Tak Pernah Berakhir’ yang juga diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama.

“Alam semesta juga mengenal proses daur ulang. Setelah apa yang disebut ‘kematian’, roh kita akan memasuki janin yangbaru, lahir kembali untuk melanjutkan perjalanannya. Perjalanan roh adalah perjalanan menuju Kesempurnaan, menuju Yang Ilahi, menuju Allah. Dari-Nya kita berasal, kepada-Nya kita akan kembali.

 

“Konsep kedua yang harus dipahami adalah konsep Moksha, Nirvana atau Pembebasan dari siklus kelahiran dan kematian. Kalaupun Anda tidak berupaya, mekanisme alam akan bekerja sendiri, akan mendorong Anda ke depan, sehingga proses penyempurnaan roh, pemurnian diri berjalan terus.

“Di antara dua ratus juta penduduk Indonesia, kenapa Anda harus membaca buku ini? Renungkan sejenak, mungkin buku ini merupakan buku pertama tentang yoga, yang sedang Anda baca. Kenapa Anda tertarik untuk membeli buku ini? Atau mungkin seorang sahabat menghadiahkan buku ini kepada Anda, kenapa? Kenapa harus buku ini, bukan buku yang lain?”  (Krishna, Anand. (2002). Otobiografi Paramhansa Yogananda, Meniti Kehidupan bersama para Yogi, Fakir dan Mistik. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

“Tanpa Anda ketahui, mekanisme alam sedang bekerja. Mungkin Anda dilahirkan dalam keluarga yang sangat ortodoks terhadap salah satu kepercayaan, di mana baru membicarakan konsep-konsep lain saja sudah dianggap tahu. Lantas, kenapa Anda tertarik dengan buku ini?

“Alam yang menentukan segala-galanya dan Tuhan, Allah Yang Menggerakkan Alam Semesta. Tiba sudah waktunya bagi Anda untuk mempelajari sesutau yang baru. Selesai sudah pendidikan dasar. Lanjutkan pelajaran Anda, masih banyak yang harus diraih, perjalanan masih panjang, jangan berhenti!”  (Krishna, Anand. (2002). Otobiografi Paramhansa Yogananda, Meniti Kehidupan bersama para Yogi, Fakir dan Mistik. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)