Renungan Diri: Bhakti, Pengabdian Belajar dari Hanuman #TheHanumanFactor

Bhakti, yang biasa diterjemahkan sebagai berbakti, mengabdi, atau memuja – sesungguhnya, memiliki makna yang jauh lebih dalam. Bhakti adalah semua itu plus dengan penuh kasih. Landasannya adalah kasih, kasih yang tak bersyarat dan tak terbatas.

Seorang anak bisa saja berbakti pada orangtuanya dengan harapan terselubung untuk mendapatkan warisan. Atau, rnendapatkan lebih banyak dari saudara-saudaranya. Karena, toh saudara-saudaranya tidak mengunjungi orangtua sesering dirinya, walau ia tidak mengungkapkan hal itu. Niat saja sudah cukup untuk menodai baktinya. Ia belum berbhakti.

Seorang hamba, seorang pengabdi pun sama. Ia bisa berhamba, mau mengabdi karena digaji, atau seperti para abdi-dalem di keraton-keraton kita. Gaji mereka tidak seberapa, tapi mereka puas dengan kedudukan mereka sebagai abdi-dalem. Mereka pun mengabdi demi posisi itu, demi gelar itu, demi penghargaan itu, demi identitas itu. Bagi kita, identitas “abdi-dalem” mungkin tidak berarti apa-apa. Tapi bagi mereka sangat berarti. Bagi mereka, identitas itu adalah jauh lebih berharga daripada uang jutaan per bulan. Jadi, di balik pengabdian dan penghambaan, mereka pun masih ada pamrih.

Pengabdian dan penghambaan kita pada Gusti Pangeran pun sama. Ada yang mengharapkan rezeki dari Gusti, ada yang mengharapkan kehorrnatan dari masyarakat, “Dia seorang saleh, dia begini, dia begitu………

BHAKTI MESTI BERLANDASKAN CINTA-KASIH tanpa batas dan tanpa syarat. Ditambah lagi dengan kata ananya – berarti, dengan segenap jiwa, raga, perasaan, pikiran, intelegensia, semuanya terpusatkan. Dengan kesadaran tunggal. Termasuk, ia tidak lagi memisahkan profesi, pekerjaan, kewajiban terhadap keluarga, masyarakat, lingkungan, dan lainnya – dari bhaktinya, dari pemujaannya.

Hidup dia telah berubah menjadi aksi-bhakti. Ia menginterpretasikan bhakti lewat hidupnya. Ia menerjemahkan bhakti dalam bahasa tindakan nyata. Dan, ia melakukan semua ini karena ia melihat Wajah Gusti Pangeran di mana-mana. Baginya melayani sesama makhluk adalah ungkapan cintanya bagi Gusti Pangeran. Penjelasan Bhagavad Gita 9:30 dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

Berikut adalah wujud Bhakti, Pengabdian dalam diri Hanuman:

Buku The Hanuman Factor

Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu; Saha vīryam karavāvahai; Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga Hyang Tunggal senantiasa melindungi kita; menjernihkan pikiran kita: semoga kita dapat berkarya bersama dengan penuh semangat; semoga apa yang kita pelajari mencerahkan dan tidak menyebabkan permusuhan; Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

Hridaya Basahu Sura Bhoopa—Bersemayamlah di Hati ini Selamanya, Wahai Yang Teragung di antara semuanya!

Ini adalah permintaan yang ditujukan kepada Hanuman, yang adalah perwujuan dari pengabdian. Karena perannya di dalam Ramayana, kisah tentang Rama, sangatlah penting. Berikut ini adalah signifikansi spiritual dari kisah Ramayana:

 

“Sita melambangkan jiwa manusia. Rahwana, Dunia, menawannya karena keterikatannya yang salah terhadap keduniawian, yang dilambangkan oleh sang kijang emas. Maka, ia pun terpisah dari Rama, Sang Jiwa Tertinggi. Dan ia pun ditawan di Lanka, kota keterikatan mental dan emosional. Hanya melalui pengabdian Hanuman dan cincin kedisiplinan yang dikirimkan oleh Rama untuk memeriksa gejolak dari pikiran, maka Sita mampu mendapatkan kembali apa yang telah hilang.

Namun, sebelum pertemuan agung, Sita mesti menjalani ritual penyucian untuk membersihkan jiwanya. Setelah terbersihkan, maka jiwa pun bersatu kembali dengan Tuhan!”

 

Ada banyak karakter dalam kisah Ramayana, setiap karakter sama-sama penting. Namun tiga karakter, Rama, Sita dan Hanuman menjadi karakter yang paling berpengaruh. Semua karakter yang lain sesungguhnya menjadi bagian dari ketiga tokoh ini. Mereka datang dan pergi di sekitar ketiga karakter ini.

Kita dapat menempatkan diri kita dalam peran apa saja dari peran-peran yang ada dalam kisah ini. Kita bisa memilih salah satu dari trio karakter ini, atau salah satu dari yang datang dan pergi di sekitar trio karakter tersebut.

Pilihlah Rama, jika Anda bersedia untuk mengambil semua jenis resiko dan tanggung jawab. Pilihlah Sita jika Anda membutuhkan bahu Rama untuk bersandar. Pilihlah Hanuman jika Anda ingin bermain aman. Anda tidak mungkin salah. Anda tidak mungkin gagal. Karena Hanuman adalah CEO yang paling sukses di ranah spiritualitas, di alam kebatinan.

Penyatuan Terakhir dengan Yang Maha Tinggi adalah tujuan dari semua bentuk kehidupan. Inilah misi hidup kita. Hanuman telah menyelesaikan misi tersebut. Dan ia menunjukkan jalannya kepada kita. Sesungguhnya Hanuman adalah jalan itu sendiri. Karena ia mewakili pengabdian; yang adalah jalan yang paling pasti dan yang paling aman menuju Tuhan.

Ia adalah pembimbing yang paling agung.

Ia terlahir untuk membimbing kita kembali kepada Tuhan, sebuah tugas yang dipercayakan oleh sang Bunda kepadanya. Rama dapat terpisah dari Sita, tetapi tidak dari Hanuman. Setelah bertemu untuk pertama kalinya, sesungguhnya Rama dan Hanuman telah menyatu. Pertemuan mereka adalah penyatuan paripurna, penyatuan ilahi; yoga.

Janganlah memberi atribut apa pun pada Yoga Ram-Hanuman ini. Yoga mereka adalah yoga sejati, yoga sebenarnya—Penyatuan. Titik.

Anda akan menemukan bhakti atau pengabdian dalam yoga mereka. Anda akan menemukan raja atau meditasi di dalam penyatuan mereka. Anda akan menemukan gyaana atau kebijaksanaan di dalam pertemuan mereka. Dan Anda akan menemukan karma atau karya tanpa pamrih di dalam hubungan mereka. Keempat cabang yoga menemukan pemenuhannya di dalam penyatuan Rama dan Hanuman.

Maka dari itu, jadilah seorang Hanuman, seorang yogi sejati.

Bermeditasilah dan temukan Rama di dalam diri Anda, dan mengabdilah kepadanya. Kembangkan kebijaksanaan untuk menemukan Rama yang ada di luar diri, di segala penjuru. Berkaryalah tanpa pamrih untuk mewujudkan pertemuan diri sejati di dalam diri dengan diri sejati di luar diri. Karena ketika dan di mana “yang di dalam” bertemu dengan “yang di luar”, maka saat itulah dan di sanalah TUHAN berada.

Dikutip dari Terjemahan (Krishna, Anand. (2010). The Hanuman Factor, Life Lessons from the Most Successful Spiritual CEO. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Om, Sarve bhavantu sukhinaḥ; Sarve santu nirāmayāḥ; Sarve bhadrāṇi paśyantu; Mā kashchit duḥkha bhāgbhavet; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga semua makmur, bahagia dan bebas dari penyakit. Semoga semua mengalami peningkatan kesadaran, dan bebas dari penderitaan. Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/

 

Advertisements

Siapakah Saya? Rama, Sang Penghuni Sejati? Hikmah Kisah Hanuman dalam Ramayana

buku-the-hanuman-factor-rama-sita-laksmana-hanuman

 

Ada beberapa teladan manusia dalam Kisah Ramayana yang dapat kita pilih sebagai idola kita.

Pilihlah Rama, jika Anda bersedia untuk mengambil semua jenis resiko dan tanggung jawab.

Pilihlah Laksmana, jika ingin “perhatian yang tidak bercabang”, hanya mengikuti Rama, tidak tertarik dengan kemegahan dunia.

Pilihlah Sita jika Anda membutuhkan bahu Rama untuk bersandar.

Pilihlah Hanuman jika Anda ingin bermain aman. Anda tidak mungkin salah. Anda tidak mungkin gagal. Karena Hanuman adalah CEO yang paling sukses di ranah spiritualitas, di alam kebatinan.

Demikian diantaranya yang dipetik dari Kisah Hanuman. Dalam 3 Note (Catatan) bersambung ini akan disampaikan kutipan dari terjemahan buku (Krishna, Anand. (2010). The Hanuman Factor, Life Lessons from the Most Successful Spiritual CEO. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

buku-the-hanuman-factor

Cover Buku The Hanuman Factor

Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu; Saha vīryam karavāvahai; Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga Hyang Tunggal senantiasa melindungi kita; menjernihkan pikiran kita: semoga kita dapat berkarya bersama dengan penuh semangat; semoga apa yang kita pelajari mencerahkan dan tidak menyebabkan permusuhan; Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

……………..

Wahai Putra Angin, pengenyah segala halangan, perwujudan dari keberkatan, bersemayamlah di hati ini bersama dengan Rama, Laksmana dan Sita.

Demikian Penulis Bijak Tulsidas berdoa meminta Karakter Hanuman bersemayam dalam hati bersama Karakter Rama, Laksmana dan Sita.

“Pavana Tanaya Sankata Harana, Mangala Murati Roopa. Raama Lakhan Sitaa Sahita, Hridaya Basahu Sura Bhoopa.

Pavana Tanaya—Putra angin; Sankata Harana—Pengenyah halangan-halangan; Mangala—Terberkati; Murati—Perwujudan;  Roopa—Wujud; Raama Lakhana Sitaa Sakita—Bersama dengan Rama, Laksmana Dan Sita; Hridaya—Hati; Basahu—Tinggal/Bersemayam; Sura Bhoopa—Yang terbesar di antara semuanya.

Ini adalah sebuah afirmasi tentang sifat alami yang kita miliki:

  1. Pavan Tanaya: Putra Angin

Pergerakan adalah kehidupan. Kecepatan adalah kehidupan. Kebalikan dari itu adalah kematian. Jika Anda bergerak dengan kematian, dan tidak hanya duduk diam menunggunya, maka Anda akan dapat mengalahkan kematian. Anda akan dapat mengatasi kematian dan memasuki alam kehidupan abadi.

 

  1. Sankata Harana: Pengenyah halangan-halangan

Halangan hanya eksis di dalam pikiran kita. Tidak ada halangan di dalam hidup ini, tidak ada hambatan di dunia ini.

Hidup kita merupakan sesuatu yang berkelanjutan. Kelahiran kita terhubung dengan kematian kita. Masa kecil kita terhubung dengan masa remaja kita, dan masa remaja terhubung dengan usia tua kita. Tidak ada kompartemen kedap air antar usia yang diciptakan oleh alam ini. Pemisahan-pemisahan tersebut adalah buatan kita sendiri.

Seiring bertambah tua diri saya, saya takjub melihat betapa seorang bocah lima tahun masih bermain-main di dalam diri saya, dan keremajaan masih memberontak di dalam hati saya. Saya adalah seorang tua, seorang anak sekaligus seorang pemuda—ketiganya ada di saat yang bersamaan.

Hidup ini luar biasa, demikian juga dunia ini. Kita hidup di dunia yang tidak memiliki batasan-batasan. Batasan-batasan adalah ciptaan kita sendiri. Alam semesta ini tidak memiliki batasan, tidak bernama, tak terukur, dan satu adanya. Nama-nama dibuat oleh kita, yang kemudian menciptakan pemisahan-pemisahan khayali dan ilusif.

Sebuah bintang, sebuah planet, dikenal dengan nama seseorang yang menemukannya—betul-betul lucu! Sebuah hukum alam dinamai dengan nama orang yang menemukannya. Betul-betul menggelikan!

Nama, pembagian, pemisahan serta batasan-batasan adalah penyebab dari semua halangan, hambatan, kesalah-pahaman, konflik dan perang.

Siapa yang dapat mengenyahkan ini semua? Tuhan? Tidak mungkin. Kenapa Tuhan mesti melakukan pekerjaan kotor ini? Kekacauan ini adalah ulah kita sendiri, dan kitalah yang harus membereskannya.

 

  1. Mangala Murati Roopa: Perwujudan Kemuliaan

Dalam ketidak-sadaran kita, kita berupaya mendistorsi bayangan kita. Seperti seorang wanita yang memakai lipstick tanpa menggunakan cermin dan di dalam kegelapan pula. Maka ia pun malah mengacaukan wajahnya sendiri. Dan distorsi tersebut, kekacauan tersebut adalah sesuatu yang sangat luaran, superficial, semu. Segera setelah ada cahaya dan cermin, maka kekacauan tersebut akan langsung bisa dibereskan.

Demikian juga kekacauan yang diakibatkan oleh ketidak-muliaan dalam hidup Anda adalah sesuatu yang superficial, semu semata. Ia tidak berpengaruh pada semangat kemuliaan yang bersinar melalui diri Anda. Anda adalah Perwujudan Kemuliaan; inilah jatidiri Anda. Percayalah, yakinlah, bahwa tidak ada yang dapat membuat Anda tidak mulia. Ketidak-muliaan adalah tidak nyata, khayali, dan ilusif; sedangkan kemuliaan adalah nyata adanya.

 

  1. Raama: Rama, Sang Penghuni Sejati

Selama Anda mengidentikkan diri Anda dengan badan kasat Anda, maka Anda tak akan dapat menghindari siklus kelahiran dan kematian. Anda tidak dapat menghindari sakit penyakit. Anda tak akan dapat membebaskan diri dari belenggu dualitas, suka dan duka, panas dan dingin, dan seterusnya.

Bagaimana kita mengumumkan kematian orang yang kita cintai? Dia telah pergi. Dia telah meninggalkan kita. Kemana dia pergi? Bagaimana dia meninggalkan kita? Badan kasatnya masih ada tepat di depan kita. Kita masih bisa menyentuh dan merasakannya.

“Tapi sudah tidak ada kehidupan lagi padanya,” apakah kita memahami pernyataan ini?

Ya, badan kasat tersebut sudah tidak memuat kehidupan lagi, sudah tidak bernyawa lagi. Namun, kehidupan terus berlangsung. Kehidupan meliputi kita semua. Jasad yang tak bernyawa tersebut pun juga terliputi di dalam dan oleh kehidupan, sebagaimana kita, “yang masih hidup ini”.

Saya menganggap tubuh ini sebagai sebuah kamar hotel. Saya tinggal di dalam kamar hotel ini selama kurun waktu tertentu. Ketika waktu saya habis, maka saya meninggalkan kamar hotel ini. Pertanyaannya adalah: siapakah saya ini sebenarnya?

Saya adalah Rama, Sang Penghuni Sejati.

Saya menghuni tubuh ini dalam waktu yang sudah ditentukan bagi saya. Saya membawa voucher hotel yang membatasi waktu tinggal saya di kamar hotel ini. Saya tidak bisa tinggal di hotel ini melewati masa tertera dalam voucher tersebut.

Ketika saya meninggalkan kamar ini, kamar ini mungkin menganggap saya mati. Ia mungkin tidak bertemu dengan saya lagi. Saya mungkin tidak akan tinggal di kamar hotel yang sama lagi. Tetapi, apakah saya mati?

Manajemen hotel dan para staff bisa saja menyampaikan ucapan selamat tinggal kepada saya, tetapi kemanakah sebenarnya saya pergi? Saya hanya check out saja dari hotel tersebut. Saya masih ada di sekitar hotel tersebut. Saya mungkin akan mendapatkan voucher untuk menginap di hotel lain. Atau saya mungkin mencoba untuk memesan kamar di hotel yang sama. Saya mungkin datang kembali untuk menyapa Anda lagi. Kemana saya dapat pergi?

Jika tidak di kota ini, maka di kota lain—jika tidak di planet ini, maka di planet lain—saya tetap ada. Saya telah ada dalam keabadian. Dan saya tidak melihat kemungkinan bagi saya untuk berhenti ada.

Proses evolusi terus berlanjut; saya telah mengupgrade diri saya dari sebuah hotel tak berbintang menjadi hotel berbintang dan mewah. Ya, kamar hotel tetaplah kamar hotel. Waktu tinggal saya di sini, dalam kehidupan kali ini, mungkin singkat—sesingkat waktu tinggal saya yang sebelum-sebelumnya. Hotel ini bukan milik saya. Saya hanya seorang tamu di sini.

Dikutip dari Terjemahan (Krishna, Anand. (2010). The Hanuman Factor, Life Lessons from the Most Successful Spiritual CEO. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Om, Sarve bhavantu sukhinaḥ; Sarve santu nirāmayāḥ; Sarve bhadrāṇi paśyantu; Mā kashchit duḥkha bhāgbhavet; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga semua makmur, bahagia dan bebas dari penyakit. Semoga semua mengalami peningkatan kesadaran, dan bebas dari penderitaan. Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/

 

Banner utk di web

oec3Elearning-Banner-2 (1)

Renungan Diri: Tuhan Tidak Memiliki Lawan, Iblis dan Setan pun Eksis di Dalam Tuhan

buku the hanuman factor

Cover Buku the Hanuman Factor

Sekali-sekali kita kutip terjemahan bebas dari buku yang penuh semangat bhakti dalam bahasa Inggris karya Bapak Anand Krishna.

“Shree Guru Charana Saroja, Nija Manu Mukuru Sudhaari; Baranaun Raghubara Bimala Jasu, jo daayaku Phala Chaari.”

“Shree Guru Charana—Kaki Sang Guru; Saroja—Teratai; Raja—Debu; Nija—Milik sendiri; Manu—Pikiran/Mind; Mukuru—Cermin; Sudhaari—Memberishkan; Baranaun—Membacakan kisah; Raghubara—Pahlawan dari Dinasti Raghu (Rama); Bimala—Murni/suci; Jasu—Kemenangan; jo—Yang; Daayaku—Memberi/Pemberi; Phala—Buah; Chaari—Empat

“Dengan debu dari Kaki Teratai Sang Guru, aku bersihkan cermin pikiranku; dan kemudian bacakan kisah kemenangan Raghuvar, Sang Pemberi empat pencapaian hidup.”  Terjemahan bebas dari (Krishna, Anand. (2010). The Hanuman Factor, Life Lessons from the Most Successful Spiritual CEO. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

“Shree terkait dengan kemuliaan, keilahian. Doa ini, lagu yang indah yang dipersembahkan kepada Hanuman ini, dimulai dengan kata yang sangat bermakna ini. Bagaimana kita memahami kata ini? Tidak secara filosofis, tidak nanti di satu waktu di masa yang akan datang, tidak juga di masa lampau yang telah berlalu—tetapi sekarang, di sini. Bagaimana kita memahami kata ini di sini dan sekarang juga?

“Waktu ini, saat ini adalah mulia adanya. Mari kita awali perjalanan kita ini dengan kemuliaan, dengan keilahian. Dan, untuk melakukan hal tersebut, Anda tidak harus mempersiapkan persembahan khusus, memiliki sebuah gambar atau patung Hanuman, dan menyalakan lilin atau membakar dupa. Silakan melakukannya, jika Anda mau. Tapi itu tidak harus.

“Kemuliaan adalah tentang keadaan mental kita. Janganlah kita mengartikan mulia sebagai ‘baik’ dan tidak mulia sebagai ‘buruk’. Sesungguhnya, ‘mulia’ adalah terjemahan yang tidak memadai untuk kata Sanskrit Shree. Tidak seperti kata ‘mulia’, kata Shree tidak memiliki lawan kata. Ia berdiri sendiri tanpa sandaran.

“Kata Shree adalah seperti kata ‘Tuhan’. Tuhan juga tidak memiliki lawan. Dalam ketidaksadaran kita, kita tidak hanya telah menciptakan kata, tetapi juga konsep tentang iblis dan setan. Dan kita mengangkat mereka sejajar dengan Tuhan. Kita telah membuat mereka berdiri sejajar dengan Tuhan, seolah-olah mereka selalu bersaing dengan Tuhan dalam keabadian.

“Tuhan tidak memiliki lawan, karena semua lawan pun berada di dalam Tuhan. Semua daya yang saling berlawanan atau lebih tepatnya saling melengkapi, berada di dalam Tuhan. Mereka, iblis dan setan pun eksis di dalam Tuhan. Kecuali kalau Tuhan yang kita percaya adalah Tuhan bonsai yang kekuatannya terbatas.

“Jika Tuhan Maha Perkasa, maka iblis atau setan tak akan bisa berdiri di hadapan atau di samping Tuhan. Mereka tidak bisa berada di bawah atau di atas Tuhan. Mereka tak bisa ada tanpa Tuhan. Mereka pastilah berada di dalam Tuhan.”  Terjemahan bebas dari (Krishna, Anand. (2010). The Hanuman Factor, Life Lessons from the Most Successful Spiritual CEO. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

“Tuhan adalah Total dari segala yang ada. Tuhan adalah Shree, Yang Maha Mulia. Baik/buruk, panas/dingin, siang/malam, dan seterusnya—semua daya yang saling berlawanan atau saling melengkapi lebih tepatnya, semuanya berada di dalam Tuhan. Mereka tidak memiliki eksistensi di luar Tuhan.”

“Jadi, marilah kita mulai perjalanan kita ini dengan Tuhan, dengan Shree, dengan kemuliaan, dengan keilahian. Kita bisa melakukannya, karena memang perjalanan ini sesungguhnya dimulai di dalam Tuhan, dapat dimulai karena Tuhan, dan akan berakhir di dalam Tuhan juga. Jadi, apa yang sedang kita bicarakan? Kita sedang membicarakan tentang kesadaran ini; bahwa semua perjalanan dimulai dan berakhir di dalam dan dengan Tuhan. Kesadaran ini mulia adanya. Marilah kita menyadari hal ini.”  Terjemahan bebas dari (Krishna, Anand. (2010). The Hanuman Factor, Life Lessons from the Most Successful Spiritual CEO. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)