Hanuman Penjaga Gerbang Batas Pikiran, Gerbang Tanpa Pintu, Gateless Gate

Gerbang Batas Alam Pikiran

Identifikasi apa yang dapat membahagiakan kita, dengan alam atau dengan Jiwa? Dan jawabannya jelas adalah identifikasi dengan Jiwa. Karena Jiwa tidak hanya bersifat abadi, tetapi juga tidak pernah berubah. Sehingga dapat menghasilkan kebahagiaan yang langgeng.

Sementara, Alam Benda berubah terus. Jika kita fokus pada perubahan-perubahan yang terjadi, maka emosi kita, pikiran kita — semuanya ikut mengalami perubahan-perubahan yang kadang membuat kita bahagia, kadang larut dalam lautan kesedihan dan kepedihan. Penjelasan Bhagavad Gita 14:3 dikutip dari buku: (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

Mengapa takut melompat? Keterikatan pada keluarga, pada dunia dan sebagainya? Pikiran, ego menahan kita agar takut melompat? Berikut penjelasan Hanuman Chalisa 21 tentang gateless gate, gerbang tanpa pintu…..

Buku The Hanuman Factor

Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu; Saha vīryam karavāvahai; Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga Hyang Tunggal senantiasa melindungi kita; menjernihkan pikiran kita: semoga kita dapat berkarya bersama dengan penuh semangat; semoga apa yang kita pelajari mencerahkan dan tidak menyebabkan permusuhan; Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

Rama Dwaare Tuma Rakhawaare, Hota na Aaagyaa binu Paisaare. Hanuman Chalisa 21

Sri Rama adalah Gerbang, dan engkau adalah Penjaga Gerbang; tak ada seorang pun yang dapat melaluinya tanpa ijin darimu

Sri Rama adalah Gerbang, dan engkau (Hanuman) adalah Penjaga Gerbang;

 

Tradisi Shinto

Dalam tradisi Shinto dari Jepang, sebuah gerbang yang terbuat dari kayu melambangkan spiritualitas. Itu memang hanya sebuah gerbang, tanpa pintu. Gapura ini disebut gerbang tanpa pintu. Tidak ada pagar, tidak ada batas, tidak ada apa-apa. Namun, setiap pejalan spiritual harus melewatinya. Apa yang dilambangkan dari hal ini?

Di satu sisi dari gerbang tersebut, ada langit luas membentang. Di sisi lain, di seberang gerbang tersebut, juga ada langit luas yang sama. Ada keluasan di sisi sebelah sini, dan ada keluasan pula di sisi yang satunya. Apa yang ada di sini, juga ada di sana. Dan, apa yang ada di sana, juga ada di sini. Lantas apa gunanya pintu?

Gerbang tanpa pintu ini, melambangkan batasan-batasan ciptaan pikiran kita sendiri. Sesungguhnya, gerbang tanpa pintu ini adalah pikiran kita, atau ciptaan pikiran kita sendiri, apa pun itu wujudnya.

 

Ketika kita memahami hal ini, maka kita memahami Tuhan.

Saat di mana kita berhasil dalam memecahkan teka-teki kehidupan ini, maka kita akan berhadap-hadapan langsung dengan Tuhan.

Hanuman berdiri di sana sebagai penjaga gerbang, penjaga dari gerbang tanpa pintu. Penampakan Hanuman—seekor kera yang sangat besar mirip monster—membuat kita takut. Kita gentar untuk mendekati gerbang tanpa pintu tersebut dan berpikir, “saya tidak akan diijinkan masuk.”

Pemikiran semacam itu, rasa takut yang tak berdasar seperti itu adalah refleksi dari pikiran kita yang penuh rasa takut.

 

Pikiran manusia selalu takut akan kekosongan.

Ketika ia menganggur, ia merasa sangat tidak nyaman. Ia akan berusaha mencari sesuatu untuk dilakukan. Berapa lama kita bisa duduk diam tanpa melakukan apa pun? Semua gadget, pertunjukkan dan hiburan, sejatinya diciptakan oleh rasa takut, dalam rasa takut. Kita selalu berupaya mengisi kekosongan kita dengan sesuatu, dengan apa saja.

Semakin penakut mind (pikiran), maka semakin licik, dan semakin intelektual pikiran tersebut. Ia akan selalu mencari alasan untuk menghindari berjalan memasuki gergang tak berpintu menuju  yang tak dikenal, “Untuk apa? Mengapa saya mesti memasuki gerbang itu, toh Tuhan ada di mana-mana? Tuhan ada di sini, di sana, di mana-mana—gerbang itu membatasi gerak-gerik Tuhan. Mengapa Tuhan mesti dibatasi dengan gerbang atau di balik gerbang itu? Mengapa tidak di sini saja, di luar gerbang?”

 

Gerbang tanpa pintu

Gerbang tanpa pintu sejatinya merupakan sebuah sarana untuk membebaskan kita dari rasa takut yang kita rasakan dan untuk mempersiapkan kita untuk terjun ke dalam yang tak dikenal.

Identifikasi yang saya lakukan terhadap tempat tertentu—kitab suci tertentu, agama tertentu, atau Nabi tertentu, Buddha tertentu, Mesias tertentu, Avatar tertentu, dengan Tuhan—lahir dari perasaan takut. Saya mencoba menjelaskan yang tak terjelaskan sebelum melompat. Saya harus melompat ke dalam sesuatu. Saya tidak bisa melompat ke dalam yang tak dikenal.

Jadi, semua penjelasan kita, semua upaya kita, semua percobaan yang kita lakukan untuk mengungkap misteri tentang Tuhan, untuk melakukan demistifikasi terhadap Tuhan, sejatinya lahir dari rasa takut.

Bagaimana jika saya mengidentikkan semua tempat, semua kitab suci, semua agama, semua Nabi, semua Buddha, semua Mesias, semua Avatar dengan Tuhan? Sama saja, saya tetap berupaya menjelaskan yang tak terjelaskan. Saya masih memikir-mikir dan membutuhkan waktu sebelum memutuskan untu melompat. Hal tersebut sama saja seperti upaya untuk menyelamatkan diri. Kita “berpikir” bahwa akan lebih mudah bagi kita jika kita melompat dengan memahami konsep ini. Jika memang Tuhan ada di mana-mana, maka pastilah saya melompat kedalam Tuhan. Saya tidak perlu takut.

 

Kehilangan Tuhan karena rasa takut

Inilah penyebab kita telah kehilangan dan melewatkan Tuhan selama ini dan dalam semua masa kehidupan yang telah kita lalui. Karena bahkan pun setelah menciptakan semua konsep, kita tetap takut untuk “Melompat ke dalam Yang tak dikenal”. Kita hanya berani melompat ke dalam konsep ciptaan kita sendiri.

Kita mungkin menggambarkan surga yang terang benderang ada di balik gerbang tanpa pintu tersebut atau kita menggambar neraka yang penuh penderitaan—intinya kita ingin punya sesuatu untuk dipegang sebelum kita melompat. Di dalam ketidaksadaran kita, kita lupa bahwa gambar-gambar tersebut adalah ciptaan kita sendiri.

Tidak hanya gambaran indah tentang surga, tetapi juga gambaran menakutkan tentang neraka pun juga merupakan ciptaan pikiran kita sendiri untuk membuat yang tidak dikenal menjadi dikenal.

Mereka yang menggambar neraka dengan api serta siksaan abadinya dan mereka yang menggambarnya dengan lebih wajar dengan warna-warna penyucian dan purgatory, sejatinya sama-sama takut. Perbedaannya terletak pada tingkat rasa takut yang mereka rasakan. Kelompok yang kedua mungkin tahu akan hal ini dan merasa lega akan “fakta bahwa semua itu adalah ciptaan mereka sendiri”, dan rasa takut mereka tidaklah seburuk kelompok yang pertama. Ini tidak lain adalah upaya menghibur diri. Ini juga tidak akan membantu.

 

Hanuman berdiri di samping gerbang tanpa pintu tersebut,

yang kiranya akan mengarahkan kita ke tempat tinggal Sri Rama. Ia tidak sedang menghentikan kita juga tidak sedang mengundang kita. Namun, ia tampak sedang mengamati gerak-gerik kita, tidak hanya gerak-gerik fisik, tetapi juga gerak mental dan emosional.

Ketika melihatnya, maka awan hitam keraguan pun terbentuk di langit pikiran kita, “Hanuman? Ah, tidak mungkin. Kalau dia Hanuman, maka pastilah pintu tersebut menuju kediaman Sri Rama. Bagaimana bisa? Rama adalah Sang Penghuni Sejati, tidakkah Ia menghuni dan bersemayam di setiap hati? Mengapa lantas Ia memiliki tempat tinggal seperti ini? Tidak, tidak. Ini pasti ilusi. Rama adalah Tuhan, energi murni, abstrak, tak terjelaskan, dan tak berwujud. Perwujudan-perwujudan ini tidaklah nyata. Mereka semua palsu. Biarkan aku lari dari sini sebelum aku tertipu oleh perwujudan-perwujudan tersebut.

 

Maka, kita pun lari.

Dan sejak itu pun kita terus melarikan diri, tanpa menyadari bahwa apa yang kita lihat di luar sejatinya adalah proyeksi dari apa yang ada di dalam diri kita.

Gerbang tanapa pintu di luar diri adalah proyeksi dari keberadaan kita sendiri. Hanuman yang berdiri di samping gerbang tersebut adalah kesadaran diri kita, yang selalu waspada, senantiasa mengawasi. Rama adalah jati diri kita.

Pikiran, ego adalah yang selalu ragu-ragu, “Masuk, Jangan, Masuk, Jangan.. Lompat, jangan, lompat, jangan, lompat, jangan…”

Jika pikiran memutuskan untuk melarikan diri, maka selesailah sudah. Tetapi jika pikiran tidak lari, tetapi justru memfokuskan diri pada Hanuman, maka keajaiban pun terjadi. Pikiran pun akan lenyap, dan “Kesadaran Hanuman” lah yang tersisa. Tiba-tiba kita mendapati diri kita berperan sebagai Hanuman. Kita menjadi penjaga pintu. Terjadi lompatan kuantum dari mind (pikiran) menjadi kesadaran. Bagaimana itu bisa terjadi?

Dikutip dari terjemahan buku (Krishna, Anand. (2010). The Hanuman Factor, Life Lessons from the Most Successful Spiritual CEO. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Om, Sarve bhavantu sukhinaḥ; Sarve santu nirāmayāḥ; Sarve bhadrāṇi paśyantu; Mā kashchit duḥkha bhāgbhavet; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga semua makmur, bahagia dan bebas dari penyakit. Semoga semua mengalami peningkatan kesadaran, dan bebas dari penderitaan. Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/

 

 

Cara Mengarungi Samudera Kehidupan Belajar dari #HanumanFactor

buku-hanuman-terbang-samudera

Hanuman, dengan memiliki Prabhu Mudrikaa atau “cincin Tuhan”, mewakili sosok manusia yang ideal yang memiliki kemanusiaan, pikiran manusia, hati manusia, serta perasaan-perasaan manusiawi.

Dengan harta yang tak ternilai harganya ini, Hanuman, sang manusia ideal, sudah siap untuk mengarungi samudera samsara, samudera kehidupan. Sesaat kemudian, sebuah pikiran pun muncul, “Bagaimana jika aku kehilangan cincin ini?” Maka, ia pun menyimpan cincin tersebut di dalam mulutnya.

buku-the-hanuman-factor

Cover Buku The Hanuman Factor

Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu; Saha vīryam karavāvahai; Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga Hyang Tunggal senantiasa melindungi kita; menjernihkan pikiran kita: semoga kita dapat berkarya bersama dengan penuh semangat; semoga apa yang kita pelajari mencerahkan dan tidak menyebabkan permusuhan; Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

“Dengan cincin Sri Rama terkunci dengan aman di dalam mulutmu; Tidak heran jika engkau dapat menyeberangi samudera dalam sekejap.” Hanuman Chalisa 19

 

Dengan cincin Sri Rama terkunci dengan aman di dalam mulutmu…

Sebelum berangkat untuk menjalankan misi menemukan Sita, Hanuman memohon kepada Rama untuk memberikan “surat mandat”. “Gusti, bagaimana Bunda Suci dapat mengenali hamba? Dia belum pernah melihat saya sebelumnya. Hamba mesti memiliki sesuatu dari Gusti yang dapat hamba tunjukkan kepada Bunda, sesuatu yang sangat pribadi. Setelah melihat itu, beliau tidak akan ragu lagi bahwa hamba ini adalah utusan Gusti.”

Pemikiran yang sangat cerdas.

Seorang utusan meminta surat mandat yang membuktikan bahwa dia benar-benar seorang utusan. Apakah Hanuman meminta sesuatu yang berlebihan? Tidak, karena ini seperti seorang pegawai yang meminta surat kepegawaiannya.

 

Mari kita merenungkan hal ini:

Surat mandat apa yang kita miliki sebagai manusia? Jenis surat kepegawaian apa yang kita bawa?

Surat mandat yang paling penting adalah kemanusiaan kita. Dan surat kepegawaian kita tertulis pada lapisan kesadaran mental emosional kita. Surat mandat kita adalah kemampuan kita untuk mengekspresikan kemanusian kita, perasaan-perasaan manusiawi kita.

Ketika kita melupakan hal ini, maka kita pun tersesat dalam keramaian dunia yang menggila ini. Kita tidak bisa menunaikan tugas kita, betapa pun sederhananya tugas kita.

Lapisan kesadaran mental/emosional yang kehilangan sisi kemanusiaannya serta perasaan-perasaan manusiawinya akan menjadi tidak manusiawi. Dan manusia yang bertingkah-laku tidak manusiawi telah kehilangan surat mandat kemanusiaanya.

Mudrikaa, yang diterjemahkan sebagai “cincin” di sini, juga bisa bermakna “tanda”, “stempel”, “isyarat” atau “tingkah laku”. Inilah surat mandat yang diberikan oleh Sri Rama kepada Hanuman. Bible mengatakan bahwa kita diciptakan berdasarkan citra Tuhan. Ramayana menguatkan keterangan ini. Hanuman, dengan memiliki Prabhu Mudrikaa atau “cincin Tuhan”, mewakili sosok manusia yang ideal yang memiliki kemanusiaan, pikiran manusia, hati manusia, serta perasaan-perasaan manusiawi.

Dengan harta yang tak ternilai harganya ini, Hanuman, sang manusia ideal, sudah siap untuk mengarungi samudera samsara, samudera kehidupan. Sesaat kemudian, sebuah pikiran pun muncul, “Bagaimana jika aku kehilangan cincin ini?” Maka, ia pun menyimpan cincin tersebut di dalam mulutnya.

 

Waktunya untuk merenung kembali

Apa pesan yang disampaikan dari kisah di atas?

Kisah di atas adalah tentang sebuah pesan yang sangat jelas untuk bertindak, dan untuk tidak membuang-buang energi membicarakan tindakan. Dengan menyimpan cincin tersebut di dalam mulutnya, Hanuman menutup rapat mulutnya. Ia tidak membuka mulut sampai ia tiba di Lanka dan bertemu Sita.

Hal ini penting sekali untuk diingat, yakni pelajaran untuk menyimpan rahasia. Ketika Anda menjalani sebuah misi penting, janganlah membicarakan mengenai pro dan kontra serta tetek bengek mengenai misi yang Anda emban dengan siapa pun.  Pembicaraan semacam itu hanya membuktikan ketidak-siapan dan ketidak-percayaan diri Anda. Dan kegagalan Anda sudah hampir bisa dipastikan. Apa gunanya menjalankan misi Anda kalau demikian?

Dengan menutup rapat mulutnya, Hanuman membuktikan kesiap-sediaan, kepercayaan diri, serta kebulatan tekadnya untuk menjalankan misinya. Hanuman, oh Manusia Ideal, kemenanganmu adalah sesuatu yang pasti!

Secara spiritual, dengan menyimpan cincin Tuhan di dalam mulut sama dengan “mengingat Tuhan” atau “merapalkan nama Tuhan”. Namun kita harus ingat bahwa Hanuman tidak “hanya” melakukan itu saja. Ia juga bekerja, bertindak dan terbang secepat angin.

 

Ia tidak meninggalkan kewajiban-kewajibannya

Ia tidak menyepi di hutan untuk merapalkan nama Tuhan. Ia tidak mengurung diri di dalam kamar untuk melakukan hal tersebut. Ia tidak memasuki rumah ibadah buatan manusia untuk berdoa. Ia merapalkan nama Tuhan, ia berdoa sembari menjalankan kewajibannya. Ia tidak menyisihkan waktu khusus untuk berdoa, meditasi, atau membaca mantra. Ia hidup secara meditatif dan menjadikan hidupnya sebagai ibadah.

 

Tidak heran jika engkau dapat menyeberangi samudera dalam sekejap.

Samudera di sini bukanlah Samudera Hindia, Pasifik atau Atlantik, tetapi Samudera Kehidupan. Ini adalah pengingat kita untuk melakukan yang terbaik, dan menyerahkan hasilnya kepada Keberadaan, kepada Tuhan, kepada Allah, kepada Bapa di Surga, kepada Adhi Buddha, atau Tao, kepada Brahman…

Kita semua tengah berupaya untuk mencapai pantai seberang, yang dengan sekejap dapat diarungi oleh Hanuman. Rahasia yang dimiliki Hanuman adalah “Cincin Tuhan”.

 

Hiduplah sedemikian rupa sehingga menjadi berkah bagi sesama manusia.

Hiduplah secara manusiawi maka Anda pun akan menjadi seorang manusia yang sukses, yang berhasil. Hal ini sudah dijamin, Anda tidak akan bisa salah.

Menyeberangi samudera samsara—yang secara harfiah bermakna “pengulangan” yang pada kata ini sering ditambah dengan kata “penderitaan”—artinya melampaui konflik-konflik internal, kekhawatiran, dan di atas semua itu, keraguan. Hal-hal inilah yang merupakan penghalang yang ada di jalan kita menuju sukses, menuju keberhasilan.

Kita mengalami permasalahan, gejolak serta naik turun kehidupan yang sama secara berulang-ulang. Apa yang disampaikan oleh para motivator zaman sekarang untuk menghadapi tantangan sejatinya hanyalah pengulangan dari permasalahan-permasalahan yang sama. Kita tidak menghadapi tantangan-tantangan yang baru. Kita menghadapi permasalahan lama yang sama dalam wujud yang berbeda. Inilah mengapa kita frustrasi. Inilah mengapa mereka yang tidak mampu mengatasi frustrasi semacam itu akhirnya memutuskan untuk bunuh diri.

 

Kita terus menerus melakukan kesalahan yang sama

Dan, kita terus terjerembab di lubang yang sama. Inilah samsara, pengulangan yang penuh penderitaan, dan membuat kita sangat frustrasi. Jika hal ini tidak berakhir, maka kita tidak akan bisa berkembang, kita tidak bisa maju. Berbuat kesalahan adalah sesuatu yang tidak diinginkan, tetapi membuat kesalahan yang sama adalah sesuatu yang sangat disesalkan. Kita tidak maju selangkah pun selama bertahun-tahun. Kita hanya berjalan, bahkan lari di tempat. Kita melakukan banyak aktifitas dan dinamis, namun kita tidak kemana-mana.

 

Terbanglah, kawan…

Mari kita terbang bersama Hanuman dan mari kita lampaui kemandegan ini. Mari kita tinggalkan tanah gersang yang lama untuk menemukan tanah-tanah baru, padang-padang rumput yang baru. Tidak ada jaminan bahwa kita tidak akan jatuh atau bahwa kita tidak akan membuat kesalahan. Tetapi kita tidak akan terjerembab di lubang kesalahan yang sama, kita akan jatuh di lubang kesalahan yang baru. Kesalahan-kesalahan baru tersebut justru akan memperkaya jiwa kita. Kita akan memperoleh pengalaman-pengalaman baru. Hal ini sangat penting bagi pertumbuhan kita, kemajuan kita dan evolusi kita.

Dikutip dari Terjemahan (Krishna, Anand. (2010). The Hanuman Factor, Life Lessons from the Most Successful Spiritual CEO. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Om, Sarve bhavantu sukhinaḥ; Sarve santu nirāmayāḥ; Sarve bhadrāṇi paśyantu; Mā kashchit duḥkha bhāgbhavet; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga semua makmur, bahagia dan bebas dari penyakit. Semoga semua mengalami peningkatan kesadaran, dan bebas dari penderitaan. Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/

 

banner-utk-di-web

oec4elearning-banner

5 Penjahat Akibat Indera Tak Terkendali dan 5 Musuh Akibat Kebiasaan Buruk, Hikmah Ramayana

buku-the-hanuman-factor-dasarata

The Hanuman Factor memberikan jawaban, mengapa ke-5 indera kita harus dikendalikan dan mengapa kebiasaan buruk menghambat perjalanan diri kita?

Berikut adalah Note (Catatan) ke-2 lanjutan hikmah dari kisah Hanuman “Siapakah Saya? Rama, Sang Penghuni Sejati? Hikmah Kisah Hanuman dalam Ramayana”.

buku-the-hanuman-factor

Cover Buku The Hanuman Factor

Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu; Saha vīryam karavāvahai; Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga Hyang Tunggal senantiasa melindungi kita; menjernihkan pikiran kita: semoga kita dapat berkarya bersama dengan penuh semangat; semoga apa yang kita pelajari mencerahkan dan tidak menyebabkan permusuhan; Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

……………..

  1. Ayodhyaa, adalah Rumahmu!

“Tak terkalahkan oleh para musuh”—inilah makna kata Ayodhyaa. Namun musuh-musuh Anda tidaklah berada di luar diri Anda. Mereka Ada di dalam diri Anda.

Mereka adalah lima penjahat yang disebabkan oleh indera-indera yang tak terkendali:

  • Mata, ketika tak terkendali, maka tidak hanya membuat Anda melihat sesuatu yang salah, tetapi membuat Anda melihat segala sesuatu dengan penglihatan yang tidak jernih, dengan cara yang salah. Ia membuat Anda mempercayai secara salah sesuatu yang fana sebagai yang kekal, dan sesuatu yang kekal sebagai yang fana.
  • Demikian juga telinga yang tak terkendali, tidak hanya membuat Anda mendengar hal-hal yang salah, tetapi juga membuat Anda mendengar secara tidak jelas. Nasehat yang baik akan tersalah-pahami sebagai nasehat yang buruk, dan sebaliknya nasehat yang buruk akan tersalah-pahami sebagai nasehat yang baik. Anda tidak mendengarkan berita-berita yang baik, tetapi justru menyimak berita-berita buruk dan sensasional semata.
  • Hidung yang tak terkendali menciptakan bau yang salah, dimana Anda mencium bau ikan padahal tidak ada ikan. Ia memberi Anda persepsi yang salah terhadap hal-hal serta kejadian-kejadian di sekitar Anda
  • Mulut yang tak terkendali akan membawa Anda kepada kehancuran. Anda berbicara ketika Anda seharusnya diam, dan Anda terdiam ketika Anda semestinya berbicara. Dengan memakan segala jenis junk food, maka mulut yang tak terkendali ini pun dapat menyebabkan kerusakan pada tubuh Anda.
  • Kulit yang terlalu sensitive, terutama di sekitar perut Dan bawah perut, dapat sangat berbahaya. Anda akan mengorbankan apa saja untuk mendapatkan kesenangan sementara yang tidak berarti.

 

Namun, janganlah menyalahkan keburukan-keburukan yang dilakukan oleh organ-organ indera Anda ini! Mereka hanyalah kurir. Mereka meneruskan kepada pengalaman Anda apa-adanya tanpa mengubahnya sedikit pun. Apa yang dapat Anda lakukan dan hasilkan dari pengalaman-pengalaman tersebut sepenuhnya adalah terserah Anda.

Jika panca-indera Anda berada dalam kendali, maka Anda dapat mengarahkan mereka, “Hei, itu bukan pengalaman-pengalaman yang baik. Hindari mereka lain kali,” dan begitulah. Mereka tidak akan mencari pengalaman-pengalaman itu lagi.

Tetapi ketika mereka tidak dalam kendali Anda, maka Anda pun akan terombang-ambing. Kemudian mereka yang ganti mengendalikan Anda. Kemudian mereka akan mendebat Anda: “Hei, kamu ini kenapa? Kamu pikir kami ini apa? Kami di sini untuk melayanimu. Nikmatilah hidupmu melalui pelayanan kami. Gunakan kami sebaik-baiknya.”

Mereka berpura-pura menjadi pelayan Anda, budak Anda—padahal sesungguhnya mereka tengah memperbudak Anda.

Lima musuh Anda selanjutnya adalah kebiasaan-kebiasaan buruk Anda:

 

  • Kama atau Keinginan, ketika Anda tidak bisa membedakan antara yang baik Dan yang sekedar menyenangkan.
  • Krodha atau Amarah, ketika amarah mengaburkan pandangan Anda, maka Anda pun kehilangan diri Anda.
  • Lobha, atau Keserakahan, ketika Anda membenarkan segala jenis tindakan serta perilaku tak bermoral untuk mendapatkan apa yang Anda inginkan dan untuk mengumpulkan sesuatu yang tidak Anda butuhkan.
  • Moha, atau Keterikatan, ketika Anda terobsesi oleh dunia dan dengan benda-benda serta hubungan-hubungan duniawi. Anda mengira bahwa hal-hal tersebut nyata, permanen dan tidak akan pernah mengalami perubahan. Anda salah. Karena ketika itu semua berubah, Anda pun menderita.
  • Ahamkar, atau Ego, ketika Anda mengira bahwa Anda saja yang benar dan semua yang lain salah. Ego bisa menciptakan superiority complex dan inferiority complex. Pada kedua kasus tersebut, sesungguhnya Anda ingin tampil beda. Kecenderungan yang sangat konyol, karena sesungguhnya tiap kita unik adanya. Kita tidak harus tampil beda, karena kita memang sudah berbeda satu sama lain. Membesar-besarkan diri dan mengasihani diri sendiri keduanya merupakan produk ego.

 

Waspadalah terhadap kesepuluh musuh yang ada di dalam diri Anda ini. Taklukkan mereka sebelum mereka menaklukkan Anda. Kendalikan mereka, dan buatlah mereka bekerja untuk Anda. Jangan biarkan “diri” Anda dikendalikan oleh mereka.

 

  1. Dasharatha adalah Ayahmu!

Ia memiliki dasha atau “sepuluh” ratha, atau kereta perang di bawah perintahnya. Yang dimaksud di sini adalah kereta-kereta dari indera serta organ-organ indera Anda sebagaimana telah dibahas sebelumnya. Inilah potensi Anda. Anda bisa memerintah mereka. Anda bisa mengendalikan mereka.

Dengan membiarkan diri Anda terkendalikan oleh mereka, maka sesungguhnya Anda tidak menggunakan potensi Anda sama sekali.

Ingatlah, wahai Rama…

 

  1. Kaushalyaa adalah Ibumu!

Dengan melatih kemampuan dan dengan disiplin, sesungguhnya Anda dapat mengendalikan mereka. Itulah makna dari kata Kaushalyaa, melatih diri dan disiplin.

 

  1. Sumitra adalah Ibu Tirimu!

Inilah yang disebut menjadi seorang mitra, seorang “teman” bagi semuanya, dan tidak menjadi musuh bagi siapa pun juga. Namun ketika sudah memasuki wilayah “persahabatan”, hendaknya kita bijaksana! Kita sebaiknya menjaga jarak dengan beberapa orang teman. Jangan membenci mereka, namun jangan juga berintim-intim dengan mereka. Frekuensi Anda tidak cocok dengan frekuensi mereka. Dan Anda semestinya tidak merasa sudah kuat sehingga tidak terpengaruh dan tertarik oleh frekuensi yang lebih rendah.

 

  1. Kaikeyi adalah Ibu Tirimu yang lain!

Kaikeyi ini manis dan lembut, namun “tidak bijak”. Itulah mengapa pembantunya, Manthara, yang bermakna “pikiran yang bergejolak”, dapat mempengaruhinya. Dan mereka berdua membuat sang komandan 10 kereta perang, Dasharata, kehilangan kendali atas kereta-kereta tersebut dan mematuhi apa yang mereka berdua perintahkan.

Demikianlah, ketidak-bijaksanaan dan pikiran yang bergejolak menjadi alasan pengusiranmu ke hutan. Rama, berhati-hatilah tarhadap setiap langkah yang kamu ambil.

Dikutip dari Terjemahan (Krishna, Anand. (2010). The Hanuman Factor, Life Lessons from the Most Successful Spiritual CEO. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Tautan terkait: https://gitakehidupansepasangpejalan.wordpress.com/2016/10/01/siapakah-saya-rama-sang-penghuni-sejati-hikmah-kisah-hanuman-dalam-ramayana/

Om, Sarve bhavantu sukhinaḥ; Sarve santu nirāmayāḥ; Sarve bhadrāṇi paśyantu; Mā kashchit duḥkha bhāgbhavet; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga semua makmur, bahagia dan bebas dari penyakit. Semoga semua mengalami peningkatan kesadaran, dan bebas dari penderitaan. Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/

 

Banner utk di web

oec3Elearning-Banner-2 (1)

Renungan Diri: Para Asura, Mereka yang Jahat Tidak Seirama dengan Alam

buku the hanuman factor

Cover Buku the Hanuman Factor

Saadhu Santa ke Tuma Rakhavaale, Asura Nikhandana Raama Dulaare. Hanuman Chalisa 30

Saadhu—Makhluk-makhluk berperangai lembut; Santa—Para Santo; ke—dari; Tuma—Engkau; Rakhavaale—Pelindung; Asura—Para Raksasa; Nikhandana—Penghancur; Raama Dulare—Kekasih/yang dikasihi Rama

Engkau adalah pelindung para makhluk berperangai lembut dan para santo; Sang penghancur bagi mereka yang jahat; dan engkau dikasihi oleh Rama. Hanuman Chalisa 30

 

“Kata Saadhu juga sering diterjemahkan menjadi ‘santo’. Secara harfiah, kata tersebut bermakna, ‘ia yang emosinya telah tenang’—ia yang berperangai lembut. Mereka ini ibarat benih, yang mesti dirawat dengan penuh kehati-hatian. Mereka membutuhkan perlindungan.

“Dan para Asura, para raksasa, mereka yang jahat, mereka disebut demikian karena mereka ‘tidak seirama/tidak berirama’. A-sura: a artinya ‘tanpa’, dan sura artinya ‘irama’. Mereka tidak seirama dengan alam, dengan kehidupan. Mereka tidak ramah dengan kehidupan, mereka tidak peduli dengan lingkungan. Pandangan mereka terhadap hidup Dan kehidupan bukanlah pandangan yang holistik, yang menyeluruh. Mereka melihat hidup secara parsial, secara sepotong-sepotong.

 

Seorang politisi yang menempatkan politik di atas segalanya adalah seorang asura.

“Politik tidaklah berdiri sendiri. Politik hanyalah sebuah sarana atau alat untuk mencapai kestabilan ekonomi yang pada gilirannya dapat memastikan keamanan finansial, keadilan sosial, serta kesejahteraan umum bagi semua warga negara.

“Demikian juga seorang wirausahawan atau industrialis yang menempatkan pencarian uang di atas segalanya, adalah serapah bagi masyarakat. Orang-orang yang demikian itu disebut asura. Para praktisi kesehatan, pengacara dan guru yang menganggap profesi mereka sebagai bisnis juga adalah asura. Mereka lupa bahwa mereka mewakili pekerjaan serta kewajiban mereka yang mulia terhadap masyarakat. Mereka lupa akan kode etik profesional dari pekerjaan yang mereka jalani. Ketiga profesi tersebut bukanlah profesi untuk mencari kekayaan, tetapi untuk melayani. Ketiga profesi tersebut adalah profesi-profesi yang berorientasi pada pelayanan.

 

Jika Anda ingin mengumpulkan kekayaan sebanyak-banyaknya dan ingin menjadi filthy rich, maka, janganlah menjadi praktisi kesehatan, pengacara, atau guru.”  Terjemahan bebas dari (Krishna, Anand. (2010). The Hanuman Factor, Life Lessons from the Most Successful Spiritual CEO. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

“Saya memimpikan suatu hari, ketika profesi-profesi tersebut tidak lagi berorientasi mencari materi atau kekayaan, terutama profesi di bidang kesehatan dan hukum. Saya memimpikan satu hari di mana para praktisi di bidang tersebut digaji oleh Negara. Negara harus menjamin semua kebutuhan mereka, termasuk kesejahteraan keluarga mereka.

 

Pendidikan, Kesehatan serta Pelayanan Hukum harus bisa diperoleh secara gratis oleh semua orang.

“Karena hal tersebut merupakan kebutuhan sosial dasar bagi semua manusia, sama seperti pangan, sandang dan papan yang adalah kebutuhan dasar bagi fisik manusia.

“Di dalam ayat ini, Hanuman melambangkan ‘pemerintahan yang baik’. Yang melindungi yang lemah dan yang membutuhkan pertolongan, yang baik dan yang benar. Dan meluruskan yang sombong dan yang serakah, yang buruk dan yang salah.

“Yang menarik di sini adalah definisi yang diberikan terhadap kata baik dan buruk, benar dan salah. Bagaimana kita dapat membedakan kriteria-kriteria tersebut? Gunakan alam sebagai tolok-ukurnya. Orang yang selaras, seirama, dengan alam, adalah orang baik, orang yang benar. Dan orang yang tidak selaras, tidak seirama dengan alam, adalah orang yang buruk, yang tidak benar.

“Hal ini mengisyaratkan bahwa yang baik maupun yang buruk keduanya bisa berubah haluan. Seorang yang baik bisa berubah menjadi buruk, seorang yang buruk bisa berubah menjadi baik. Seorang santo bisa jatuh, seorang pendosa bisa terangkat derajatnya. Keduanya mendapatkan kesempatan yang sama.

 

Sekarang, marilah kita melihat kedalam diri.

“Dengan menggunakan alam sebagai tolok ukur, marilah kita lihat diri kita sendiri, apakah kita baik atau buruk. Apakah kita selaras dengan alam, atau tidak selaras? Marilah kita jujur terhadap diri kita sendiri…

“Tidak satu pun dari kita, saya ulangi, ‘tidak satu pun’ yang seratus persen selaras, atau seratus persen tidak selaras dengan alam. Kadang kita selaras dengan alam, terkadang kita tidak selaras dengan alam. Terkadang kita baik; terkadang kita tidak baik; kadang kita penuh kasih sayang, kadang kita arogan; kadang kita dermawan, terkadang kita pelit.

“Hanuman adalah kesadaran di dalam diri kita, suara yang ada di kedalaman diri kita, hati nurani kita, sang juru bicara bagi alam. Dengarkanlah ia, berusahalah untuk memahami dilema yang ia hadapi: ‘Zaman dahulu, yang baik dan yang buruk adalah dua kelompok yang terpisah. Mereka dapat dengan mudah dikenali. Aku tidak perlu berpikir dua kali sebelum memberi ganjaran pada yang baik, dan memberi hukuman pada mereka yang buruk. Sekarang, sudah lain ceritanya. Yang baik dan yang buruk eksis di dalam diri orang yang sama. Bagaimana aku dapat memberi ganjaran sekaligus menghukum seseorang di saat yang sama?’

 

Karena hal inilah ‘sistem pemberian ganjaran dan hukuman’ tidak bisa lagi diterapkan.

“Kita mesti mengembangkan sebuah sistem baru yang lebih sesuai dengan tuntutan zaman. Ketimbang memberi ganjaran atau hukuman pada seseorang, marilah kita tingkatkan kesadarannya. Orang yang sadar tidak akan berbuat kesalahan. Orang yang sadar menjadi baik bukan karena takut atau karena iming-iming ganjaran, tetapi karena pemahaman, karena kesadaran yang mendalam bahwa menjadi baik adalah hal yang baik. Insan yang sadar seperti itu adalah kekasih Sri Rama. Jiwa yang sadar seperi itu, seperti sang Legenda Hanuman, hidup selamanya bersama Rama.

“Hanuman dan Rama tak terpisahkan adanya. Hubungan mereka adalah hubungan antara murid dengan master, antara panembah dengan Tuhan, antara sinar matahari dengan sang matahari, antara ombak dengan samudera. Mereka terikat dalam ikatan kasih.” Terjemahan bebas dari (Krishna, Anand. (2010). The Hanuman Factor, Life Lessons from the Most Successful Spiritual CEO. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Ilusi Kenyamanan dalam Penjara Dunia, Koreksi Obsesi Dalam Perjalanan Kehidupan

Gita Kehidupan Sepasang Pejalan Bagian 17

buku bhagavad gita

Cover Buku Bhagavad Gita

Antara Kenyamanan dan Kebahagiaan

“Dunia ini penuh dengan orang-orang bodoh. Mereka hidup tanpa mengetahui arah. Mereka tidak tahu tujuan hidup itu apa. Mereka pikir makan, minum, tidur, seks, kekuasaan, harta-benda, itulah kehidupan. Mereka ‘tampak’bahagia, tapi sesungguhnya hampa. Mereka kosong. Hingga usia 35-40 tahun, mungkin mereka tidak mengerti arti kebahagiaan, dan menerjemahkan ‘kenyamanan’ sebagai ‘kebahagiaan’. Setelah usia 35-40 tahun, umumnya mereka  baru tersadarkan bahwa kenyamanan tidak sama dengan kebahagiaan. Namun, saat itu pun mereka masih belum tahu cara untuk meraih kebahagiaan sejati. Adalah suatu berkah jika seorang yang sudah berusia 35-40 tahun masih sempat tersadarkan akan kesalahannya., dan mulai mencari kebahagiaan sejati. Biasanya, mereka hidup sebagai layangan yang putus – tanpa arah – bergantung pada arus angin. Demikian satu masa kehidupan tersia-siakan.” Penjelasan Bhagavad Gita 7:15 dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

Kutipan Penjelasan Bhagavad gita tersebut membuat saya merenungkan kembali pengalaman hidup saya. Benar sekali, bukan hanya sampai usia 40 tahun bahkan sampai usia 50 tahun nampaknya saya belum bisa membedakan antara kenyamanan dan kebahagiaan. Seekor kambing berbahagia selama masih bisa makan rumput dan hidup dalam kandang. Seekor binatang belum bisa membedakan antara kebahagiaan dan kenyamanan. Sandang, pangan, papan, seks, dan sebagainya, sekadar untuk menyamankan kita, dan tidak bisa membahagiakan kita.

Baru setelah latihan meditasi secara rutin dan banyak membaca buku, saya baru sadar bahwa kenyamanan pun penting, sehingga kita tidak perlu meninggalkan semua itu. Akan tetapi kita harus sadar bahwa apa yang bisa menyamankan belum tentu bisa membahagiakan. Kenyamanan pun perlu ada plafond sehingga kita tidak mengejar tingkat kenyamanan yang tak ada habisnya. Pikiran dan panca indera memang perlu dikendalikan agar kita bisa melangkah maju menuju tujuan kebahagiaan sejati.

 

Pemahaman tentang Identitas Sejati dan Identitas Palsu

buku the hanuman factor

Cover Buku The Hanuman Factor

“Jiwa membiarkan dirinya sendiri terjebak di dalam ilusi, seperti binatang-binatang di dalam sangkar; Walaupun diberi kesempatan untuk melepaskan diri, mereka tetap berada di sana, karena telah merasa nyaman.” (Santo Tulasidas, 1532-1623) terjemahan bebas dari (Krishna, Anand. (2010). The Hanuman Factor, Life Lessons from the Most Successful Spiritual CEO. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

“Identitas palsu dan status sosial kita, demikian juga dengan afiliasi profesional, politik maupun religius yang kita miliki, secara bersama-sama membentuk zona aman yang kita tinggali. Inilah sangkar di mana kita terjebak. Dan, kita sudah terjebak dalam waktu yang begitu lama yang membuat kita jadi terbiasa.

“Burung yang ada di dalam sangkar tidak perlu bersusah-payah mencari makan dan minum setiap hari. Awalnya ia akan berusaha membebaskan diri, kemudian ia mulai menerima takdirnya dan malah menikmatinya. Sang burung tidak menyadari bahwa kenyamanan superficial tersebut dibayar dengan kebebasannya.

“Situasi yang kita hadapi kurang lebih sama. Meskipun sangkar yang mengurung kita jauh lebih besar ukurannya, dengan bergerak kesana-kemari memberi kesan seolah-olah kita bebas. Kita ini seperti hewan yang ditawan di taman safari buatan manusia, dengan secara salah menganggap taman tersebut sebagai hutan alami. Delusi semacam ini bisa sangat fatal. Ketika sangkar yang mengurung kita kecil, maka kita akan segera merasa sesak dan berusaha membebaskan diri. Namun, ketika sangkarnya sangat besar dan luas, maka sangat kecil kemungkinan bagi kita untuk merasa perlu membebaskan diri. Kita menjadi terbiasa hidup dan mati di dalamnya.” Terjemahan bebas dari (Krishna, Anand. (2010). The Hanuman Factor, Life Lessons from the Most Successful Spiritual CEO. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Semakin nyaman dan obsesi kita hanya menginginkan peningkatan kenyamanan, maka sangkar yang mengurung kita semakin luas dan meninabobokkan diri kita.

Saya dimasukkan oleh teman-teman saya di beberapa grup WA (Whats App) di antaranya: teman-teman alumni kuliah, teman sekelas SMA, teman-teman alumni kerja setelah pensiun, dan tentu saja grup WA keluarga (saya, istri dan anak-anak). Selain grup WA keluarga, boleh dikata saya hanya anggota pemerhati, jarang memberikan comment kecuali bila ada yang ulang tahun dan akan mantu. Ya, itulah kebahagiaan teman-teman saya dapat berbagi dengan teman-teman lainnya. Apa saja dibicarakan, apakah itu cerita dan video lucu, penanganan penyakit maupun kutipan-kutipan ayat-ayat dan cerita motivasi. Saya tidak sampai hati mempertanyakan apakah pengetahuan tersebut sudah dipraktekkan dalam kehidupan nyata? Kalau tidak, maka kita hanya akan pandai berdiskusi dan diri kita tetap tidak berubah. Dari mana saja datangnya bila itu dipraktekkan dan dapat mengubah diri menjadi lebih baik, maka itu termasuk sesuatu yang berharga.

Saya hanya berbagi lewat FB dan Blog tentang perolehan yang saya terima dari komunitas Anand Ashram dan pendalaman buku-buku Bapak Anand Krishna. Itu pun hanya menulis di status dan hanya men-tag istri saja. Bagi yang tertarik, saya berterima kasih kepada mereka sehingga saya merasa masih punya teman-teman seperjalanan.

Meditasi pagi dan sore, membaca buku, mempersiapkan Catatan untuk di-share, dan mengerjakan pekerjaan rumah sudah menyita sebagian besar alokasi waktu. Ke Jogja paling tidak seminggu sekali berdua dengan istri, menyetir sendiri sudah rutin sebagai bagian dari kehidupan. Sekali-sekali ke Semarang nengok rumah yang ditinggali anak bungsu yang masih kuliah sudah merupakan kebahagiaan tersendiri di usia menjelang 61 tahun ini.

Bepergian ke Anand Ashram Ubud merupakan kegiatan yang kami harapkan, syukur kalau pas ada kegiatan Anand Ashram. Ke Jakarta atau Ciawi kalau tidak urgent sekali sudah dikurangi mengingat usia saya. Anak-anak saya paham bahwa orangtuanya juga sedang sekolah, belajar kehidupan yang benar.

Adalah Buku Bhagavad Gita yang menjadi favorit saya dan selalu saya baca dan catat setiap hari. Buku-buku yang lain saya sudah punya kumpulan kutipan-kutipannya dan perlu di check dan recheck dengan buku asli sebelum di-share. Kutipan Bhagavad Gita 14:1 ini sebagai referensi Catatan ini, agar saya dan istri tetap sadar posisi kami di dunia ini.

 

Ilusi Kenyamanan dalam Penjara Dunia

“Bhagavad Gita 14:1

“Sekali lagi akan Ku-jelaskan pengetahuan ini, pengetahuan utama, yang dengan meraihnya para bijak terbebaskan dari alam kebendaan, dan mencapai kesempurnaan sejati.” Bhagavad Gita 14:1

 

“Inilah Raja Pengetahuan. Pengetahuan-pengetahuan lain, ilmu-ilmu lain hanyalah memperbaiki keadaan di dalam penjara alam benda. Sementara, pengetahuan ini membebaskan diri kita dari penjara alam kebendaan.

“Sungguh luar biasa Penjara Alam Benda ini – Alam ilusi ini persis seperti penjara dunia yang kerap disebut Lembaga Pemasyarakatan, LAPAS atau Correction Department – Departemen Koreksi.

“Pemasyarakatan dan koreksi yang terjadi di dalam penjara-penjara dunia – acap kali, seringkali membuat para narapidana justru menjadi ahli di bidangnya.

“Ada yang sedang mempelajari kitab undang-undang, supaya ‘lain kali’ bisa bermain lebih canggih dan terhindar dari hukuman.

“Ada yang membanggakan diri: ‘Aku di sini karena pembunuhan, kamu belum apa-apa! Korupsi, kecil. Penipuan, kecil. Narkoba, ah nggak ada apa-apanya!’

“Business as usual – di dalam atau di luar penjara, mereka semua adalah tahanan dan tidak menyadari hal ini.

“Para tahanan yang dipekerjakan sebagai ‘pembantu petugas yang resmi’ memiliki ego tersendiri. Salah seorang ‘pembantu’ seperti itu mengatakan, ‘Yang paling membahagiakan bagi saya adalah ketika bos-bos di balik jeruji itu mesti menunggu saya untuk membukakan pintu. Saya bisa berlama-lamaan di W.C. – mereka tunggu. Di luar kan tidak bisa seperti itu. Mau ketemu mereka saja tidak bisa. Di sini – mereka bisa saya permainkan!’

“Seperti inilah kebanggaan kita akan keberadaan kita di alam benda. Kepemilikan kendaraan baru, rumah baru, teman atau pendamping baru membuat kita ‘merasa’ bahagia – padahal semuanya itu hanyalah kebahagiaan semu. Sesaat saja.

“Tahanan di penjara yang diberi ‘tugas sebagai pemegang kunci’ merasa bahagia seolah dia bisa mempermainkan para ‘bos’ yang menjadi tahanan. Dia lupa bila dirinya sendiri adalah tahanan. Lucu!

“Krsna menjelaskan bahwa tahanan adalah tahanan, upayakan kemerdekaan, kebebasan dari penjara alam benda ini! Dan, sesungguhnya kebebasan itu dapat langsung diraih ketika kita sadar bahwa kita bukan badan, bukan panca indra – tapi Jiwa!” (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

 

Kebebasan Jiwa dan Memberdayakan Diri

“Kebahagiaan yang dimaksud datang dari kebebasan. Jiwa yang masih belum bebas masih terkurung, bahkan tidak dapat membayangkan kebahagiaan apa yang dimaksud. Bagaikan narapidana seumur hidup atau mereka yang sedang menunggu hukuman mati, kita pun sudah lupa arti kebebasan. Yang kita kejar saat ini hanyalah kesenangan-kesenangan tak berarti dalam bui. Kita sudah terbiasa hidup dalam penjara. Meski terbelenggu konsep-konsep keliru, dan terpenjara oleh tradisi-tradisi yang memperbudak jiwa—kita tetap tidak sadar. Perbudakan pun kita anggap pengabdian.”  (Krishna, Anand. (2004). Bhaja Govindam Nyanyian Kebijaksanaan Sang Mahaguru Shankara. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

“Yang dibutuhkan hanyalah peralihan kesadaran. Dari luar ke dalam diri, itu saja. Bila kita memperoleh sesuatu dari ‘luar’, kita akan tergantung pada ‘suatu di luar diri’. Dan, ketergantungan dalam bentuk apapun memperbudak jiwa kita. Seorang sufi, seorang yogi, seorang bikku, seorang santo, santa, sudah bebas dari perbudakan semacam itu. Ia sudah tidak tergantung pada sesuatu di luar diri. Dalam bahasa kami di ashram, ia telah ‘memberdayakan diri’-nya.”  (Krishna, Anand. (2003). Nirtan Tarian Jiwa Hazrat Inayat Khan. Jakarta: Gramedia Pustaka)

Sebagai penutup saya ingin mengutip kalimat Bapak Anand Krishna dalam Buku Otobiografi Seorang Yogi:

buku paramhansa

Cover Buku Otobiografi Seorang Yogi

“Setiap orang yang sedang meniti jalan ke dalam diri pada suatu ketika akan menemukan bahwa ‘Kebenaran’ Itu Satu Adanya. Dan bahwa jalan menuju Kebenaran, Jati-Diri, Kesadaran – apa pun nama yang Anda berikan kepada Yang Satu Itu – merupakan jalan pribadi. Sempit – begitu sempit, sehingga Anda harus melewatinya seorang diri. Anda tidak bisa bergandengan tangan dengan siapa pun.”  (Krishna, Anand. (2002). Otobiografi Paramhansa Yogananda, Meniti Kehidupan bersama para Yogi, Fakir dan Mistik. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

“Saya adalah seorang pengembara, dan tidak akan pernah berhenti mengembara. Saya bukan seorang pencari, karena tidak perlu ada yang dicari. Berhenti sudah pencarian saya. Tetapi berjalan terus pengembaraan saya. Ceramah-ceramah yang saya berikan, buku-buku yang saya tulis, tidak dimaksudkan untuk menambah wawasan Anda. Jika hanya itu yang terjadi, saya akan sangat sedih! Saya sedang menggoda Anda, supaya Anda terangsang untuk menjadi pengembara seperti saya. Cukup sudah pencarian Anda. Apalagi yang Anda cari? Sekarang tiba saatnya untuk merayakan kehidupan. Untuk mengembara dan meyebarluaskan ‘Berita Baru’ – bahwa ‘yang perlu ditemukan’ sudah Anda temukan.

“Lewat karya klasik yang saya sadur ini, saya ingin menggelisahkan Anda! Saya ingin membuat Anda sadar akan hidup yang lebih berarti, lebih bermakna. Kehidupan Anda selama ini tidak berarti, sangat tidak bermakna. Terombang-ambing antara suka dan duka, antara panas dan dingin, antara benar dan tidak benar – puaskah Anda dengan kehidupan seperti itu?”  (Krishna, Anand. (2002). Otobiografi Paramhansa Yogananda, Meniti Kehidupan bersama para Yogi, Fakir dan Mistik. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)