Sapi yang Menangis di Tempat Pemotongan Hewan

Emosi pada Binatang

Para ilmuwan semakin percaya bahwa hewan pun merasakan emosi seperti manusia. Sukacita, kesedihan, kemarahan, kecemburuan dan cinta memainkan peran penting dalam kehidupan mereka.

Ada 3 komponen emosi yang dipelajari: fisiologis (respon tubuh/fisik), perilaku (apa yang ditunjukkan kepada makhluk lain), dan respon psikologis (apa yang dirasakan). Emosi berbeda dari sensasi, yang hanya merupakan konsekuensi fisik (misalnya panas), dan dari perasaan, yang hanya mengacu pada keadaan internal tanpa referensi untuk reaksi eksternal.

Hal tersebut diperkuat bahwa mamalia memiliki struktur otak yang mirip dengan manusia, dan cara kerja otak mereka mirip dengan cara kerja otak manusia.

Sumber: onekindplanet.org/animal-behaviour

 

Jadi Vegetarian Jadi Sehat Inpirasi dari Danau Toba, video youtube oleh Bapak Anand Krishna

Leluhur kita ketika akan memberikan sesuatu sebagai persembahan kepada kekuatan-kekuatan alam, mereka mencari sesuatu yang paling berharga. Bila mereka punya hewan ternak, misalkan kerbau, maka mereka mmempersembahkan kerbau. Kemudian terjadi pemahaman baru, revolusi dalam cara pandang, bahwa binatang itu juga ada nyawanya, punya kehidupan. Kita tidak boleh mengambil kehidupan dan mempersembahkannya. Sejak 3.000 tahun Sebelum Masehi, Krishna menyampaikan bunga, buah-buahan, dedaunan, rempah-rempah bahkan air pun dapat dijadikan persembahan. Tidak perlu menyembelih binatang.

Juga ada pemahaman bahwa pemahaman bahwa penyembelihan hewan itu simbolik. Yang kita sembelih adalah sifat hewani kita. Akan tetapi hewan itu juga punya kebaikan.

Dari Jurnal Psychology Today disampaikan bahwa sapi itu mempunyai inteligen tinggi, punya emotion, bisa merasakan duka, derita seperti manusia. Silakan lihat di tempat penjagalan sapi. Mereka, sapi atau kerbau menangis. Sapi-sapi yang dibawa dari Bali, selama 28-30 jam, sepanjang perjalanan berdiri bercampur kotoran dan air kencing.  Saat diturunkan sapi-sapi seperti gila, stress.

Di Kebun-Kebun Binatang banyak temuan tentang monyet yang bunuh diri. Padahal kalau monyet ditempatkan di tempat terbuka tidak akan bunuh diri. Ada juga ikan dimasukkan toples kecil nampak stress bolak-balik berenang dan kemudian melompat ke luar toples. Ikan Arwana pun bila di dekatnya ada orang yang stress berat dia pun ikut stress. Tentang inteligensia banyak kisah anjing yang setia menunggui makam majikannya.

Binatang mempunyai raa cinta, seperti para gembala di India yang betul-betul menyayangi sapi, memelihara dengan baik untuk diperah susunya. Anak-anak para gembala sejak kecil sudah kenal sapi dan sering mengelus-elusnya. Begitu anak dari gembala mendekati sapi, putting sapi itumengeluarkan air susu. Rasa cinta terhadap anak kecil.

Apakah hewan dapat merasakan stress seperti yang dihadapi manusia? Sekarang banyak anjing menderita sakit leukimia. Padahal dulu di tahun 70-an tidak pernah terjadi. Dan, itu terjadi pada anjing piaraan. Anjing tidur di sofa, pakai AC, diberi jaket akan stress, tidak akan menerima hal itu, protes tapi dia tidak bisa bicara. Untuk mengubah genetika dengan lingkungan kebiasaan manusia perlu waktu. Orang yang tidak biasa kena AC saja begitu dalam ruang ber AC langsung batuk-batuk, pusing, panas-dingin.

Mungkin 10 tahun yang akan datang, akan ditemukan berbagai penyakit karena konsumsi daging hewan.

Sumber: Jadi Vegetarian Jadi Sehat Inpirasi dari Danau Toba, video youtube oleh Bapak Anand Krishna

Pengaruh Konsumsi Daging terhadap Kesadaran

Bila ingin merasakan Kehadiran Yang Maha Hadir, Maha Hidup dan Maha Ada – maka belajarlah untuk menghormati segala sesuatu di sekitarmu. Benda-benda yang selama ini, karena cara pandang yang keliru, kau anggap mati, sesungguhnya tidak mati. Semuanya hidup.

Pedoman Pertama bagi pembangkitan energi di dalam diri adalah: Makanlah untuk bertahan hidup. Janganlah hidup untuk menikmati makanan saja. Hindari makan daging supaya hewan di dalam dirimu mati kelaparan. Sifat kehidupan yang memasuki tubuh kita lewat mulut, mempengaruhi sifat diri kita. Sesuai dengan istilah yang kita gunakan baginya, tumbuh-tumbuhan memiliki sifat utama, yaitu growth, bertumbuh. Bila tumbuh-tumbuhan yang kita konsumsi, maka kemanusiaan di dalam diri kita pun ikut bertumbuh. Sebaliknya, sifat utama hewan adalah kehewaniannya. Dengan mengkonsumsi dagingnya, kita tidak sekadar mengalami pertumbuhan, tetapi pertumbuhan kehewanian di dalam diri.

Pedoman Kedua: Jangan lupa berdoa sebelum, sambil dan sesudah makan. Doa sebagai ucapan terima kasih, doa untuk mensyukuri apa yang telah diberikan kepada kita. Awam melahirkan anak. Anak yang bisa hidup selama lima puluh tahun, seratus tahun, akhirnya mati juga. Para nabi, avatar, buddha, mesias melahirkan “kesadaran” yang menuntun umat manusia selama berabad-abad dan tidak pernah mati. Kesadaran yang mereka lahirkan berada dalam diri manusia melekat untuk selamanya. Menjadi bagian kesadaran kolektif manusia untuk selamanya. Bedanya awam menggunakan energi itu as it is, begitu saja. Para maestro mengolahnya terlebih dahulu. Energi yang kita gunakan mirip susu. Energi yang mereka gunakan sudah berupa mentega.

Pedoman Ketiga: Pengendalian diri. Kepadatan mempengaruhi getaran. Makin padat makin kurang bergetar. Kepadatan “ruang” sungguh minim sekali sehinga getarannya sungguh dahsyat, hampir tak terdeteksi oleh otak kita yang relatif padat. Bila kita ingin berkesadaran luas, tidak sempit, maka getaran tubuh kita, pikiran serta perasaan kita harus diperdahsyat. Sementara ini, umumnya kita masih bergetar dengan kecepatan tanah. Badan kita terbuat dari tanah. Sperma dari ayah dan ovum dari ibu, dua-duanya berasal dari makanan yang mereka dapatkan dari bumi. Ketergantungan kita sendiri pada bumi dan hasil bumi pun masih sangat kuat. Itulah sebabnya kita masih berpikiran picik, masih berkesadaran rendah, pandangan kita belum jernih. Bagaimana mempercepat getaran kita? Bagaimana memperluas kesadaran kita? Dengan menari, menyanyi, merayakan hidup ini. Keceriaanmu membebaskan dirimu dari belenggu-belenggu yang mengikat jiwamu. Jiwa ceria adalah jiwa yang bebas. Sebaliknya kemurunganmu membebani jiwamu. Keceriaan meringankan jiwamu.

Pedoman Keempat: Keceriaan, rayakan hidupmu! Latihan-latihan yang diberikan sangat membantu. Kebiasaan-kebiasaan kita menciptakan pola-pola energi tertentu. Dan, itu hanya dapat diubah dengan latihan. Tidak bisa dengan pengetahuan atau pemahaman belaka. Air seni dan air besar yang kita keluarkan memiliki substansi, dua-duanya mewakili elemen tanah – tidak heran bila kita sangat peka terhadapnya. Sementara itu, energi yang kotor sudah mewakili elemen-elemen yang lebih ringan, api dan angin, makanya kita belum cukup peka terhadapnya. Jangan khawatir, dengan bertambahnya kepekaan diri, pembuangan energi, pikiran serta perasaan “kotor” akan menjadi sangat alami, sealami pembuangan air seni dan air besar……… dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2006). Sexual Quotient, Melampaui Kamasutra Memasuki Tantra. One Earth Media)

Advertisements