Semangat Manembah: dari Dualitas Menuju Kemanunggalan #BhagavadGita

Brahma Produk Dualitas demikian juga kita, tapi Brahma mencipta dengan semangat panembahan.

 

“Manusia terikat oleh dan karena perbuatannya sendiri, kecuali jika ia berbuat dengan semangat manembah. Sebab itu, Kaunteya (Arjuna, Putra Kunti), laksanakanlah tugasmu dengan baik, tanpa keterikatan, dan dengan semangat manembah.” Bhagavad Gita 3:9

Buku Bhagavad Gita

Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu; Saha vīryam karavāvahai; Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga Hyang Tunggal senantiasa melindungi kita; menjernihkan pikiran kita: semoga kita dapat berkarya bersama dengan penuh semangat; semoga apa yang kita pelajari mencerahkan dan tidak menyebabkan permusuhan; Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

Setiap pekerjaan sudah pasti memiliki konsekuensi. Ada yang berkonsekuensi baik, ada yang kurang baik, dan ada yang tidak baik. Sehlngga, klta semua tldak bisa bebas dan konsekuensi perbuatan kita rnasing-masing, kecuali…. Dan “kecuali” ini adalah “kecuali yang membebaskan kita dari segala konsekuensi”, yakni………

 

BERBUAT DENGAN SEMANGAT MANEMBAH – Haturkan segala pekerjaanmu sebagai persembahan pada Gusti Pangeran. Bertindaklah karena cintamu, kasihmu pada-Nya.

Dengan cara itu;

Pertama, perbuatan kita menjadi baik dan tepat dengan sendirinya. Apakah kita mau menghaturkan sesuatu yang tidak baik kepada Hyang kita cintai? Mustahil.

Kedua, kita menjadi efisien. Tidak membuang waktu. Ingat saat kita berpacaran, bagaimana menjadi tepat waktu. Pertemuan dengan si doi menjadi urusan utama, prioritas utama.

Berpacaranlah dengan Gusti Pangeran. Pacar-pacar Iain akan meninggalkan kita, cinta kita hanyalah berlanjut selama satu atau beberapa musim saja. Sementara itu, cinta Gusti Pangeran ibarat arak yang tambah lama, tambah memabukkan.

Ketiga, ketika kita betul-betul mencintai seseorang, kita tidak mengharapkan sesuatu. Keinginan kita adalah untuk memberi saja. Barangkali kaum Adam sulit rnemahami hal ini. Kaum Hawa lebih memahaminya. Sebab itu, dalam hal menjalin hubungan dengan Gusti, jadilah seperti seorang perempuan, memberi, memberi, dan memberi.

Inilah cinta sejati. Inilah berkarya tanpa keterikatan pada hasil, tanpa pamrih. Inilah Karma Yoga. Dan, ini pula bhakti — panembahan yang sesungguhnya.

 

“Prajapati Brahma – Sang Pencipta dan Penguasa makhluk-makhluk ciptaannya – menciptakan umat manusia dengan semangat persembahan dan pesannya ialah, “Berkembanglah dengan cara yang sama (berkarya dengan semangat persembahan) dan raihlah segala kenikmatan yang kau dambakan.” Bhagavad Gita 3:10

 

Penciptaan terjadi ketika Hyang Tunggal berkehendak untuk “menjadi banyak”. Selama masih tunggal, tanpa dualitas, penciptaan tidak mungkin. Berarti,

 

BRAHMA, SANG PENCIPTA ADALAH PRODUK DUALITAS – Anda dan saya, kita semua adalah produk dualitas pula. Kita lahir, hidup berkarya, dan mati dalam kesadaran dualitas. Kemanunggalan adalah hakikat kita, ya, tapi, saat ini kita tidak manunggal lagi. Saat ini kita terpisah, atau setidaknya “merasa” berpisah dari Hyang Tunggal. Maka kita mesti mengupayakannya kembali.

 

BAGAIMANA CARANYA? Sang Pencipta telah memberikan clue, isyarat. Yaitu, dengan berkarya dengan semangat pesembahan. Ia mengatakan kepada makhluk-makhluk ciptaannya, kepada manusia, “Aku pun demikian. Aku pun menciptakan semua dengan semangat persembahan, dengan semangat melayani.”

 

Dengan cara itulah, kita baru bisa mengikis ego kita, tidak membiarkannya meraja. Idam na mama – bukan aku, bukan ego-ku, bukan indra, bukan gugusan pikiran dan perasaan, bukan intelegensia – aku adalah Jiwa, percikan Sang Jiwa Agung. Segala apa yang terjadi lewat badan, indra, dan lainnya adalah persembahan pada-Nya.

Selain membebaskan kita dari ego, keangkuhan, semangat manembah juga memastikan bahwa apa pun yang kita perbuat adalah yang terbaik. Persembahan yang dihaturkan kepada Sang Kekasih Agung, Gusti Pangeran, mestilah yang terbaik.

Dikutip dari buku: (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

 

Om, Sarve bhavantu sukhinaḥ; Sarve santu nirāmayāḥ; Sarve bhadrāṇi paśyantu; Mā kashchit duḥkha bhāgbhavet; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga semua makmur, bahagia dan bebas dari penyakit. Semoga semua mengalami peningkatan kesadaran, dan bebas dari penderitaan. Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/

 

Kita Produk Dualitas! Bagaimana Mencapai Kemanunggalan, Tauhid? #BhagavadGita

Brahma, Sang Pencipta adalah Produk Dualitas – Anda dan saya, kita semua adalah produk dualitas pula. Kita lahir, hidup berkarya, dan mati dalam kesadaran dualitas. Kemanunggalan adalah hakikat kita, ya, tapi, saat ini kita tidak manunggal lagi. Saat ini kita terpisah, atau setidaknya “merasa” berpisah dari Hyang Tunggal. Maka kita mesti mengupayakannya kembali.

Bagaimana caranya? Sang Pencipta telah memberikan clue, isyarat. Yaitu, dengan berkarya dengan semangat pesembahan. Ia mengatakan kepada makhluk-makhluk ciptaannya, kepada manusia, “Aku pun demikian. Aku pun menciptakan semua dengan semangat persembahan, dengan semangat melayani.”

Dengan cara itulah, kita baru bisa mengikis ego kita, tidak membiarkannya meraja. Idam na mama – bukan aku, bukan ego-ku, bukan indra, bukan gugusan pikiran dan perasaan, bukan intelegensia – aku adalah Jiwa, percikan Sang Jiwa Agung. Segala apa yang terjadi lewat badan, indra, dan lainnya adalah persembahan pada-Nya. Penjelasan Bhagavad Gita 3:10 dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

Berkarya bagi-Nya, berkarya untuk-Nya – berarti berkarya demi kepentingan semua makhluk yang adalah percikan-Nya. Tidak berkarya demi kepentingan diri saja.

Berarti, sebagai pengusaha, politisi, atau profesional dalam bidang apa pun – kita tidak mencari keuntungan dengan merugikan orang lai. Kejujuran dalam hal berusaha, kebijaksanaan dalam hal memimpin organisasi apa saja, termasuk pemerintahan, berempati dalam hal menjalankan profesi kita masing-masing – dengan bekerja seperti ini pun, kita dapat mencapai kesempurnaan diri – demikian janji Krsna. Penjelasan Bhagavad Gita 12:10 dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

Berikut penjelasan Bhagavad Gita 12:3-4 tentang melayani semua makhluk:

Buku Bhagavad Gita

Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu; Saha vīryam karavāvahai; Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga Hyang Tunggal senantiasa melindungi kita; menjernihkan pikiran kita: semoga kita dapat berkarya bersama dengan penuh semangat; semoga apa yang kita pelajari mencerahkan dan tidak menyebabkan permusuhan; Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

“Mereka yang telah mengendalikan diri, bersikap sama dengan setiap makhluk; dan senantiasa mengupayakan kesejahteraan bagi mereka semua dengan penuh kesadaran bahwa semuanya adalah percikan-percikan nyata dari Hyang Melampaui Segala Wujud dan Gugusan Pikiran serta Perasaan, Hyang Maha Ada, Tak Pernah Punah, Tak-Terjelaskan, Abadi, Tak-Tergoyahkan, dan Tak-Berubah – akhirnya menyatu dengan-Ku.”

 

“Dua ayat ini mesti digabung, dan ayat keempat diterjemahkan terlebih dahulu, supaya esensi, makna yang tersirat, inti dari kedua ayat ini tidak hilang.

“Intinya: Mereka yang senantiasa berkarya demi kesejahteraan sesama makhluk pun menyatu dengan-Nya. Mereka pun mengalami kemanunggalan yang sama, asal….

“Ya, di sini Krsna memberikan syarat.

“Seorang aktivis sosial bisa mengalami kemanunggalan yang sama, persis seperti yang dialami oleh oleh seorang panembah, asal ia melayani dengan semangat manembah.

“Guru saya selalu mengingatkan, ‘Yang membedakan seorang panembah dengan aktivis sosial adalah semangatnya. Seorang panembah melayani dengan semangat mengabdi kepada Ia Hyang Bersemayam sekaligus meliputi Jagad Raya. Seorang aktivis sosial melayani dengan semangat membantu sesama. Kegiatan mereka sama tapi niat dibaliknya beda. Sebab itu hasilnya pun beda.’

“Seorang Aktivis Sosial meraih penghargaan dari dunia, dari masyarakat, dari pemerintah, dari lembaga-lembaga sosial, institusi-institusi kepercayaan, perusahaan-perusahaan besar, dan lain sebagainya.

“Seorang panembah mendapatkan penghargaan dari Gusti Pangeran, berupa ‘kemanunggalan’ dengan-Nya.

“Krsna juga menjelaskan beberapa sifat Tuhan yang mesti melandasi semangat pelayanan, pengabdian, dan panembahan kita:

“Sesama Makhluk adalah ‘Wujud Nyata’ dari Ia Hyang:

  1. Melampaui Gugusan Pikiran dan Perasaan. Kita tidak dapat menjelaskan-Nya lewat pikiran, lewat logika, intelek dan rasio.
  2. Maha Ada. Ada di mana-mana. Tidak ada satu pun tempat di mana Ia tidak ada. Apa mungkin? Ya, mungkin. Perhatikan space, ruang alam semesta. Ia adalah ‘ibarat’ Ruang Abadi itu, Hyang Ada di mana-mana’
  3. Tidak Pernah Punah. Keluarkan segala isi alam dari Ruang Semesta, seperti mengeluarkan perabot dari ruangan. Tanpa perabot pun, ruang tetap ada.
  4. Tak Terjelaskan. Kita dapat menjelaskan ‘isi’ alam semesta, galaksi, multiverse, apa saja – tapi sebatas itu saja, sebatas isi yang berwujud saja. Hyang Tak Berwujud dan menopang semuanya tidak dapat dijelaskan, karena Ia…
  5. Abadi. Isi atau wujud berubah-ubah – Ruang yang menopangnya tidak berubah. Yang berubah – datang dan pergi adalah awan. Perubahan itu memberi kesan seolah langit sedang berubah, padahal tidak. Langit tidak pernah berubah. Dan Ia adalah Maha Langit di atas langit ada langit… Langit abadi yang Melampaui segala langit.
  6. Tak Tergoyahkan. Pola awan yang berubah-ubah tidak mempengaruhi langit. Ia tak tergoyahkan oleh segala macam guncangan dan perubahan.
  7. Melampaui segala wujud. Sebab, semua wujud terkesan sebagai wujud karena Dia. Awan tidak bisa bereksistensi tanpa langit. Ada langit maka wan pun ada. Awan berubah, tapi langit tetap sama.
  8. Tak Berubah.

Sifat-sifat ini mesti dikembangkan di dalam diri seorang panembah, barulah ia manunggal dengan-Nya. Atau manunggal dulu dan sifat-sifat ini akan mewarnai hidupnya.

Jadilah Panembah dan Anda menjadi Aktivis Spiritual, bukan sekadar Aktivis. Atau jadilah seorang Aktivis Spiritual dan Anda akan manunggal. Demikian kiranya nasihat Krsna.

Dalam satu kalimat: mengembangkan sifat-sifat tersebut di atas berarti: Menghadapi segala keadaan dan tantangan dengan penuh kesadaran bila semuanya ibarat awan yang sedang berlalu.”

 

Dikutip dari buku: (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

 

Catatan:

Perhatikan bagaimana Anda menghadapi tantangan-tantangan di luar. Apakah Anda masih beraduh-aduh? Jika ya, apakah sebatas beraduh—aduh saja? Apakah Anda selalu berupaya menghindari persoalan, menghindari masalah dengan bersembunyi di balik dalih positive thinking “Oh semua oke, tidak ada persoalan, yang ada hanya tantangan.”

Menemukan Sumber Kasih di dalam diri adalah maksud dan tujuan meditasi, the purpose. Ya, the purpose, maksud dan tujuan tunggal. Penemuan itulah yang kemudian memunculkan rasa bahagia yang langgeng, abadi, tidak terpengaruh oleh pasang-surut, panas-dingin, dan pengalaman-pengalaman lain yang saling bertentangan. Dari buku Soul Awareness

 

 

Om, Sarve bhavantu sukhinaḥ; Sarve santu nirāmayāḥ; Sarve bhadrāṇi paśyantu; Mā kashchit duḥkha bhāgbhavet; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga semua makmur, bahagia dan bebas dari penyakit. Semoga semua mengalami peningkatan kesadaran, dan bebas dari penderitaan. Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/

 

4 Macam Dualitas Yang Menunjang Kesadaran #YogaSutraPatanjali

yoga-sutra-patanjali-4-kumaras

“4 orang Maharesi, yakni: Sanaka, Sananda, Sanatana, dan SanatKumara. Keempat “orang” yang disebut Maharesi itu adalah mewakili jenis pikiran manusia, empat cara pandang yang saling terkait, namun beda.

Sanaka mewakili cara pandang Dvaita atau Dualitas, bahwasanya ciptaan dan penciptaan adalah berbeda.

Sananda adalah cara pandang Visistadvaita, bahwasanya walaupun beda, ada hubungan antara Ciptaan dengan Hyang Maha Mencipta.

Sanatana adalah cara pandang Advaita atau Non-Dualitas bahwasanya Ciptaan dan Hyang Maha Mencipta tiada perbedaan apa-apa. Sementara itu yang terakhir,

Sanat-Kumara adalah cara pandang yang membenarkan ketiga-tiga cara pandang sebelumnya. Ya, tiga-tiganya benar – Tergantung pada tingkat kesadaran manusia dan juga waktu, tempat, dan situasi, dimana cara pandang yang satu bisa lebih applicable, lebih relevan daripada cara pandang lainnya.

Misalnya, saat kita ingin menasehati anak, dibutuhkan cara pandang kedua. Orangtua dan anak adalah beda, sehingga ada yang menerima nasehat dan ada yang memberinya. Namun, ketika anak itu sudah dewasa, sudah mengambil seluruh tanggung jawab dan menjadi kepala keluarga, maka cara pandang ketiga yang berlaku. Sementara itu, cara pandang pertama dibutuhkan ketika kita menghadapi seorang pekerja atau pembantu. Ini bukan diskriminasi, tetapi justru meletakkan peran masing-masing pada tempatnya dan secara proporsional. Penjelasan Bhagavad Gita 10:6 dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

Berikut pandangan Yoga Sutra Patanjali bahwa ada 4 macam dualitas yang masih menunjang kesadaran:

cover-buku-yoga-patanjali

Buku Yoga Sutra Patanjali

Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu: Saha vīryam karavāvahai;Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai.Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga Hyang Tunggal senantiasa melindungi kita; menjernihkan pikiran kita: semoga kita dapat berkarya bersama dengan penuh semangat; semoga apa yang kita pelajari mencerahkan dan tidak menyebabkan permusuhan; Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

Samprajnatah atau Kesadaran (yang masih belum sepenuhnya melampaui dualitas) adalah yang berlandaskan pada Vitarka utau Pertimbangan, Penilaian, dan Penyimpulan yang Tepat; Vicara atau Perenungan yang Tepat; Ananda atau Kebahagiaan Sejati yang bersumber dari diri sendiri, tidak tergantung pada sesuatu apa pun di luar diri; Asmita atau Kesadaran Aku yang Sejati (sebagai Jivatma atau Jiwa Individu atau Percikan Sinar Purusa atau Gugusan Jiwa, Hyang adalah bagian tidak terpisahkan dari Paramatma atau Jiwa Agung).” Yoga Sutra Patanjali I.17

 

Jika diperhatikan, dalam keadaan ini pun, dalam Kesadaran Sejati seperti ini pun, masih ada dualitas. Ada Dualitas antara “kita yang sadar dan “apa yang disadari”.

 

DUALITAS INI TIDAK BISA LANGSUNG TERLAMPAUI. Bahkan, setelah terlampaui pun-—ketika kita “turun lagi dari Keheningan atau Kasunyatan meditasi, dan berpijak lagi pada bumi”—maka dualitas murni atau visistadvaita tetaplah dibutuhkan untuk menjalani hidup ini. Menjalani hidup dengan penuh kesadaran.

Untuk itu, dualitas yang, sebut saja menjadi keharusan, mesti berlandaskan pada faktor-faktor di atas—setidaknya salah satu dari keempat faktor tersebut.

 

PERTAMA, DUALITAS BERLANDASKAN VITARKA atau Pertimbangan yang matang, penilaian yang cakap, dan penyimpulan yang tepat. Jadi, bukan sembarang dualitas.

Hendak bekerja sama dengan seseorang, jelas ada faktor dualitas yang bekerja, maka itu gunakan vitarka. Jangan asal bekerja sama. Memaksa diri untuk bekerja sama demi kepentingan pendek di depan mata; tanpa perhitungan, bukanlah keputusan yang sadar; bukanlah kerja sama yang baik.

Kerja sama mesti dijalin dengan mempertimbangkan segala aspek, termasuk kemungkinan-kemungkinan terburuk. Kerja sama mesti dijalin atas landasan kebersamaan, jangan sampai going London, looking Tokyo. Kerja sama “jereng” seperti itu bukan saja membahayakan pihak-pihak yang bekerja sama tapl juga mereka semua yang berhubungan dengannya.

 

KEDUA KESADARAN DUALITAS BERDASARKAN VICARA atau Perenungan yang dalam, perenungan yang tepat. Perenungan bukanlah berkhayal. Perenungan tidak sama dengan melamun. Perenungan adalah “berpikir dengan hati dengan nurani dengan sanubari”. Itulah vicara.

Dalam keadaan bimbang, saya menghadapi Guru saya, dan beliau mengatakan, “Vicara nahi(n) karne ka.” Saat itu, saya mengartikannya, “Jangan khawatir semua akan beres.”

Padahal, maksud beliau jauh leblh dalam daripada sekadar “Jangan khawatir” dan “Jangan berpikir banyak”. Beliau menghendaki supaya saya membebaskan Jiwa, membersihkan hati sanubari dari beban kekhawatiran, kegellsahan, pikiran yang bukan-bukan, dan sebagainya.

Kata Vicara memang memiliki makna yang sangat dalam. Vicara adalah kegiatan batin. Perenungan bukanlah kegiatan gugusan pikiran atau perasaan.

Lagi-lagi, jika kita mau “bekerja sama” atau katakanlah, mau “kawin”, mau “menjalin hubungan apa pun dengan orang lain”—mau menciptakan dualitas jenis apa saja—semestinya berlandaskan vicara, perenungan yang dalam.

Silakan ikuti 2 macam dualitas yang menunjang kesadaran berikutnya pada catatan selanjutnya………

Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2015). Yoga Sutra Patanjali Bagi Orang Modern, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Catatan:

Kami sudah melakukan penelitian dalam bidang ini. Dibantu oleh beberapa Dokter ahli di bidang mereka masing-masing, kami memang menemukan bahwa dalam keadaan meditatif, ada kelenjar-kelenjar yang menjadi aktif dan mengeluarkan hormon-hormon tertentu. Salah satu hormon, misalnya “Melatonin”, dapat membuat manusia sangat tenang dan tenteram. Dari buku Paramhansa Yogananda.

Sudahkah kita mulai latihan meditasi untuk memperoleh ketenangan dan ketenteraman?

 

Om, Sarve bhavantu sukhinaḥ; Sarve santu nirāmayāḥ; Sarve bhadrāṇi paśyantu; Mā kashchit duḥkha bhāgbhavet; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga semua makmur, bahagia dan bebas dari penyakit. Semoga semua mengalami peningkatan kesadaran, dan bebas dari penderitaan. Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/

 

banner-utk-di-web

oec1elearning-banner

Renungan# Gita: Hubungan Manusia, Dualitas (aku dan kamu) atau Advaita (aku dan kamu itu hakikatnya satu)?

buku bhagavad gita

Cover Buku Bhagavad Gita

Sapta atau 7 Resi di bawah para Maharesi adalah mewakili 7 jenis genetika awal. Kita sudah membaca perbedaan perangai 3 resi Agastya, Vasishtha dan Bardwaja yang rupanya juga mewakili 3 jenis genetika awal. Silakan baca ulang:

https://gitakehidupansepasangpejalan.wordpress.com/2015/11/19/renungan-diri-tafsir-berbeda-dari-satu-kitab-sama-berdasar-tabiat-penafsir-perbedaan-agastya-bhardwaja-dan-vasishta/

Bagaimanakah cara kita menghadapi manusia? Secara profesional kita berbicara dengan rekan sekerja dengan pandangan Dualitas, Dvaita dari Resi Sanaka Putra Brahma? Dengan anak kita yang masih kecil kita berhubungan dengan pandangan Visistadvaita dari Resi Sananda Putra Brahma, jadi ada yang menerima nasehat dan ada yang memberinya. Bila anak kita sudah berkeluarga, ataupun berbicara dengan sesama pejalan spiritual, kita berhubungan dengan pandangan Advaita dari Resi Sanatana Putra Brahma, berbicara dengan diri kita sendiri. Demikiankah? Silakan simak penjelasan Bhagavad Gita 10:6 berikut:

 

Ketujuh Resi Agung; empat (maharesi) sebelumnya; dan empat belas Manu atau Leluhur Umat Manusia, semuanya lahir atas kehendak-Ku – dari merekalah umat manusia berkembang-biak di bumi ini.” Bhagavad Gita 10:6

 

Para peneliti modern sudah mulai menemukan bukti-bukti bila asal-usul manusia belum tentu dari sepasang gen yang sejenis atau mirip-mirip di benua Afrika. Pemetaan DNA di wilayah Peradaban Hindia membuktikan bila pengaruh gen asal Afrika terhadap gen mereka yang amat sangat minimal dan hampir tidak berarti. Demikian antara lain hasil penelitian Dr. Luigi Luca Cavalli-Sforza, seorang ahli genetikapopulasi yang boleh dikatakan adalah nama terbesar di bidangnya.

Para Resi zaman dahulu sudah mengatakan demikian. Para Resi yang berjumlah tujuh tersebut adalah Vasistha, Visvamitra, Bharadvaja, Agastya, Vamadeva, Atri, dan Kanva.

Sebelum mereka, ada 4 orang Maharesi, yakni: Sanaka, Sananda, Sanatana, dan SanatKumara. Keempat “orang” yang disebut Maharesi itu adalah mewakili jenis pikiran manusia, empat cara pandang yang saling terkait, namun beda.

Sanaka mewakili cara pandang Dvaita atau Dualitas, bahwasanya ciptaan dan penciptaan adalah berbeda. Sananda adalah caraa pandang Visistadvaita, bahwasanya walaupun beda, ada hubungan antara Ciptaan dengan Hyang Maha Mencipta. Sanatana adalah cara pandang Advaita atau Non-Dualitas bahwasanya Ciptaan dan Hyang Maha Mencipta tiada perbedaan apa-apa. Sementara itu yang terakhir, Sanat-Kumara adalah cara pandang yang membenarkan ketiga-tiga cara pandang sebelumnya.

Ya, tiga-tiganya benar – Tergantung pada tingkat kesadaran manusia dan juga waktu, tempat, dan situasi, dimana cara pandang yang satu bisa lebih applicable, lebih relevan daripada cara pandang lainnya.

Misalnya, saat kita ingin menasehati anak, dibutuhkan cara pandang kedua. Orangtua dan anak adalah beda, sehingga ada yang menerima nasehat dan ada yang memberinya. Namun, ketika anak itu sudah dewasa, sudah mengambil seluruh tanggung jawab dan menjadi kepala keluarga, maka cara pandang ketiga yang berlaku. Sementara itu, cara pandang pertama dibutuhkan ketika kita menghadapi seorang pekerja atau pembantu. Ini bukan diskriminasi, tetapi justru meletakkan peran masing-masing pada tempatnya dan secara proporsional.

Tidak ada larangan untuk mengangkat seorang pembantu menjadi anak atau ahli waris, jika ia memang layak untuk itu. Jadi, tidak diskriminatif.

Sapta atau 7 Resi di bawah para Maharesi adalah mewakili 7 jenis genetika awal. Di antaranya, kita baru menemukan 2 jenis sebagaimana diisyaratkan oleh Dr. Luigi dan rekan-rekannya. Barangkali lima lainnya sudah punah. Atau, barangkali sisa-sisanya ada di pedalaman mana, sehingga kita belum bisa menemukannya. Kemungkinan terakhir ini tetap ada.

KEEMPAT BELAS MANU adalah 14 ketua suku dan sub-suku awal di seluruh dunia. Kiranya jumlah ini masih bisa diidentifikasi;

  1. Suku yang melahirkan bangsa-bangsa Hindia;
  2. Suku yang melahirkan bangsa-bangsa Cina;
  3. Suku yang melahirkan bangsa-bangsa Mesir;
  4. Suku yang melahirkan bangsa-bangsa Arab pedalaman;
  5. Suku yang melahirkan bangsa-bangsa Yahudi;
  6. Suku yang melahirkan bangsa-bangsa Afrika;
  7. Suku yang melahirkan bangsa-bangsa Maya dan Native Indians lainnya di benua Amerika;
  8. Suku yang melahirkan bangsa-bangsa Yunani, Romawi, dan Eropa.

Lagi-lagi, masih ada 6 suku lainnya, yang barangkali sudah berasimilasi dengan 8 suku serta sub-suku yang tersisa — misalnya suku-suku asli aborigin di Australia, dan lain sebagainya.

Di antara kedelapan suku dan sub-suku yang terdeteksi ini pun, ada yang merupakan hasil asimilasi antara beberapa suku. Misalnya Yunani (Yavani, Jawa) dan Yahudi (Yadava) – dua-duanya berasal dari wilayah Hindia yang kemudian berasimilasi dengan penduduk pribumi/suku aborigin setempat.

Jika ditarik ke belakang, maka sumber dari semuanya adalah kehendak-Nya. Atas kehendak-Nya lah semua terjadi. Suku-suku dan bangsa-bangsa adalah bak bunga-bunga yang beragam dipertemukan di dalam Taman Sari Bumi ini atas kehendak Gusti Pangeran. Ia-lah asal-usul segalanya.

Dikutip dari buku: (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/

 

Banner utk di web

oec3Elearning-Banner-2 (1)

Renungan #Yoga Patanjali: Dualitas, Benih Perpecahan adanya Aku dan Kamu, Sumber Penderitaan

buku yoga sutra patanjali

Cover Buku Patanjali

“Maitri, Menumbuhkembangkan Persahabatan; Karuna, Kasih; Mudita, Keceriaan; serta Upeksa atau Tidak Membedakan dan tidak terpengaruh oleh pengalaman-pengalaman yang saling bertentangan, seperti suka-duka, kebaikan-kebatilan, dan sebagainya. Dengan cara inilah citta atau benih-benih pikiran serta perasaan menjadi jernih, dan tidak terganggu lagi aleh segala pemicu di luar maupun di dalam diri.” Yoga Sutra patanjali I.33

Semua itu: Persahabatan, Kasih, Keceriaan, dan Pelepasan segala konflik yang tercipta oleh pengalaman-pengalaman yang saling bertentangan adalah laku, sesuatu yang mesti dilakoni, di-“kerja”-kan, dipraktikkan.

TIDAK CUKUP BILA KITA SEKADAR MEMAHAMINVA. Tidak mernbantu sama sekali. Malah, pemahaman seperti itu dapat menirnbulkan ego atau arogansi pengetahuan, “Aku sudah tahu semua.” Ego semacam itu sangat membahayakan sadhana, laku spiritual. Ego seperti itulah yang rnengikat Jiwa dengan badan dan alam benda.

Ya, mengikat.

Sesungguhnya, segala laku itu bertujuan satu saja, yaitu Kebebasan Diri, kebebasan dari identitas palsu, identitas jasmani, dan meraih kembali identitas diri yang sejati. Yaitu, identitas diri sebagai Jiwa, percikan Jiwa Agung. Itulah goal dari permainan kehidupan, dari game, permainan yang melibatkan Alam Semesta.

SEDIKIT TENTANG UPEKSA, TIDAK MEMBEDAKAN, atau tidak terpengaruh oleh segala sesuatu, segala benda, segala pengalaman yang saling bertentangan.

Urusannya tidaklah sebatas suka-duka, dan baik-buruk atau bajik dan batil saja. Urusannya adalah dengan seluruh range pengalaman-hidup.

lni punyaku, itu bukan; ini milikku, itu bukan; seperti inilah aku, aku lain dari kamu, inilah pikiranku, seperti inilah perasaanku—kamu lain; ini putraku, takhtaku, mahkotaku, hartaku—sedang yang itu, adalah punyamu, milikmu.

Segala pengalaman saling bertentangan tercipta oleh dualitas aku dan kamu. Itulah benihnya, benih pertentangan. Benih perpecahan. Selama benih perpecahan dualitas masih ada; selama citta atau benih-benih pikiran dan perasaan masih memiliki muatan atau potensi perpecahan, kita akan selalu terombang-ambing di tengah lautan samsara, kita akan selalu mengulangi pengalaman kelahiran dan kematian secara berulang-ulang.

MAITRJ, PERSAHABATAN; KARUNA, KASIH; DAN MUDITA, KECERIAAN adalah penawar segala konflik. Memang itulah solusinya. Tetapi, menerjemahkan solusi itu dalam keseharian hidup tidaklah mudah.

Selama belasan, bahkan puluhan tahun, kita ber-“slogan” One Earth, One Sky, One Humankind—Satu Bumi, Sam Langit, Satu Umat Manusia. Syarat pertama Maitri atau Persahabatan sudah terpenuhi, setidaknya demikian anggapan kita. Tetapi saat menghadapi kenyataan di sekitar kita, di mana si sipit dan si belo dan si bule lebih berhasil dibandingkan dengan kita, maka terlupakanlah slogan yang telah kita ulangi selama bertahun-tahun ini. Muncul rasa iri, cemburu. Kenapa mereka lebih berhasil dibanding kita?

“Love is the Only Solution”—Cinta-Kasih adalah satu-satunya solusi. Syarat kedua Karuna pun rasanya terpenuhi. Tetapi, saat mempraktikkannya? Bagaimana menyikapi seseorang yang tidak memahami bahasa kasih? Apakah mesti mengasihi nyamuk demam berdarah atau anjing gila?

Dengan bekal slogan “Be Joyful and Share Your Joy with Others”—Jadilah Ceria dan Bagilah Keceriaanmu dengan Siapa Saja—rasanya syarat ketiga tentang Mudita terpenuhi. Ya, terpenuhi sebatas slogan. Praktiknya? Apa bisa mum ceria dan berbagi keceriaan ketika orang yang dibagi keceriaan malah menyerang balik?

SANGAT SULIT MEMPRAKTIKKAN KETIGA LAKU TERSEBUT tanpa terlebih dahulu membebaskan diri dari “pengaruh dualitas”—Upeksa. Untuk itu, kita mesti menembus kesadaran jasmani.

Selama masih berkesadaran jasmani murni, dualitas tidak bisa dilampaui. Dualitas baru bisa dilampaui, baru bisa “mulai” dilampaui pada tataran energi. Energi yang ada di dalam diri saya, yang menghidupi, menggerakkan diri saya adalah sama dengan energi yang ada di dalam dan menggerakkan Anda. Sebatas ini dulu. Landasan energi ini penting. Tidak perlu membahas filsafat yang tinggi. Sederhana dulu.

Dengan memahami hal ini, kita baru bisa mengapresiasi ungkapan Tat Tvam Asi, Itulah Kau; That Thou Art, That You Are! Dan itu pula Aku. That I am.

Kemudian, kedua tangan kita, dengan sendirinya, akan mengambil sikap.

NAMASTE ATAU NAMASKARA MUDRA—Patanjali selalu digambarkan dalam sikap, dalam mudra seperti ini. Kedua tangan tercakup dalam Namaskara.

Ketika kita sedang bersalaman dengan cara itu, boleh mengatakan Namaste, Namaskara, Salam, atau apa saja. Ungkapan di luar boleh apa saja, dalam bahasa mana saja. Tetapi dalam hati, kesadaran kita mestilah berbahasa satu dan sama, berbahasa kesadaran itu sendiri—Kesadaran Tat Tvam Asi.

Namaste, Namaskara, Salam; Tat Tvam Asi, Itulah Engkau—dan pada-Mu Hyang bersemayam di dalam setiap makhluk, kuucapkan salam-hormatku, salam-kasihku.

Jadi, jangan sekadar mencakup kedua tangan dan menunjukkan sikap Namaskara Mudra. Sikap ekstemal atau luaran seperti itu tidak cukup, belum cukup. Sambil mengambil sikap demikian, Kesadaran Tat Tvam Asi mesti timbul, mesti ditimbulkan. Juga dipupuki terus-menerus, ditumbuhkembangkan.

PATANJALI SELALU MENITIKBERATKAN ABHYASA atau Laku, bahkan Praktik secara Intensif dan Repetitif. Laku Namaskara, atau Namaskara Sadhana ini adalah Laku Pertama sekaligus Utama yang mesti dilakoni setiap setiap sadhaka, setiap pelaku spiritual, setiap pejalan.

Lepaskan kebiasan berjabat tangan; kebiasaan pipi kanan dan pipi kiri; kebiasaan-kebiasaan bersalaman yang hanya menitikberatkan interaksi fisik.

Mulai sekarang, abhyasa—lakoni Namaskara Sadhana, Bersalaman dengan Cara Patanjali, sebagaimana telah dijelaskan di depan. Kemudian, sebagai hasil dari Namaskara Sadhana ini, praktik Upeksa menjadi mudah. Melakoni Maitri, Karuna, dan Mudita pun menjadi gampang.

Setelah itu, barulah kita memahami secara bijak implikasi maitri, karuna, dan mudita. Anjing-anjing yang sedang menggonggongi kita mungkin lapar. Tidak perlu digonggongi kembali. Pun, tidak perlu ditakuti atau dibenci. Tidak perlu ditendang, dipukul, atau ditembak. Tapi, juga tidak perlu dibawa ke dalam rumah dan diperlakukan sebagai anak. Tidak, sikap-sikap yang demikian bukanlah sikap bijak. Anjing adalah anjing. Menggonggong adalah kodratnya. Adalah kodratnya pula untuk hidup sebagai anjing. Hormatilah keinginan dan kebutuhan Jiwa yang sedang menjalani kehidupan sebagai anjing. Berilah kepadanya doggie biscuit—itulah kebutuhannya. Tidak perlu dikeloni.

KITA SERING MENYALAHPAHAMI KARUNA ATAU KASIH, menyalahartikannya, dan malah menjadi penghalang bagi evolusi makhluk-makhluk lain dengan memperlakukan mereka secara tidak bijak. Kita pikir sudah berbuat hebat jika mengasihi hewan dengan memperlakukan mereka “sebagai manusia”. Kita tidak sadar bila Jiwa yang sedang mengalami kehidupan anjing itu memang membutuhkan pengalaman tersebut. Dengan mengubah pola hidup anjing, kita justru menjerumuskan Jiwa yang bersemayam di dalam dirinya. Dia mesti lahir kembali sebagai anjing untuk mengalami pengalaman-pengalaman yang telah kita rampas dalam kebodohan dan ketidaksadaran kita.

Arti sesungguhnya dari Maitri, Karuna, dan Mudita hanya dapat dipahami setelah melakoni Namaskara Sadhana, setelah menyadari makna Tat Tvam Asi. Sebelumnya, kita hanya meraba-raba. Kita tidak memahami makna sebenarnya sehingga mencelakakan diri sendiri, dan mencelakakan makhluk-makhluk yang berinteraksi dengan kita.

Kata-kata ini adalah kata-kata hidup, dinamis. Bukan konsep yang sudah dibakukan, bukan dogma atau doktrin yang sudah ditentukan. Kata-kata ini bukanlah kata-kata mati. Setelah menjalani Namaskara Sadhana, setiap saat kita akan menemukan makna  baru dari kata-kata ini. Setiap situasi adalah unik, dan membutuhkan pemahaman yang unik pula.

Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2015). Yoga Sutra Patanjali Bagi Orang Modern, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/

Tautan terkait:

https://gitakehidupansepasangpejalan.wordpress.com/2015/07/19/merangkapkan-telapak-tangan-menghormati-tuhan-dalam-diri-orang-yang-kita-temui/

 

oec3elearning-banner

Renungan Masnawi: Kisah Tukang Kebun Mengusir Tamu Ketidaksadaran dari Kebun Kehidupan

buku masnawi 2 diperbesar

Cover Buku Masnawi Dua

Seorang tukang kebun melihat tiga orang asing memasuki kebunnya. Pertama, seorang hakim yang korup; kedua, seorang pejabat yang tidak jujur; dan ketiga, seorang penipu berjubah sufi. Tiga-tiganya jahat, tetapi bagaimana mengusir mereka? Mereka bertiga dan Si Tukang Kebun hanya seorang diri.

Si Tukang Kebun berpikir, “Aku harus memisahkan mereka. Selama masih bersaru, sulit mengusir mereka.”

Maka dia menghampiri mereka, “Silakan duduk, tetapi sebaiknya di atas alas. Bila tidak keberatan, wahai Darvish, ambilkan alas duduk dari pondok saya di sana.”

Setelah darvish palsu itu meninggalkan mereka, Si Tukang Kebun bicara dengan Si Hakim, “Wahai Hakim Agung, Bapak adalah seorang ahli hukum. Apa pun yang kita lakukan harus berdasarkan hukum yang Bapak tetapkan. Dan, teman Bapak, Pejabat Tinggi, adalah seorang Sayyid, masih memiliki hubungan darah dengan Nabi Muhammad. Masa Bapak-Bapak ini bersahabat dengan seorang Darvish berpakaian compang-camping? Untuk apa? Silakan tinggal di kebun ini selama satu minggu, tetapi saya tidak rela kaiau Si Darvish itu tinggal bersama Bapak-Bapak sekalian.”

Demikian, tukang kebun yang pintar itu berhasii meracuni mereka. Sekembalinya, Si Darvish itu mereka usir. Tinggal berdua—Si Hakim dan Si Pejabat.

Selanjutnya, tukang kebun mempersilakan Sang Pejabat memasuki pondoknya untuk mengambil roti, sehingga tinggal dia berdua dengan Hakim, “Wahai Hakim Agung yang berpikir jernih, percayakah Bapak bahwa Pejabat itu seorang Sayyid? Percayakah bahwa dia masih punya hubungan darah dengan Nabi Muhammad? Apa buktinya? Usirlah dia dari kebun ini. Dan tinggallah di dalam kebun ini bersama saya.”

Seperti Si Darvish Palsu, Si Pejabat Tinggi yang tidak jujur itu pun kena gusur. Tinggal Sang Hakim seorang diri. Mudah sekali bagi Si Tukang Kebun untuk mengusirnya, “Keluarlah dari kebun ini. Adakah hukum yang memperbolehkan seseorang memasuki kebun orang lain, tanpa izin, tanpa diundang?”

Si Hakim baru sadar bahwa dirinya dan teman-temannya telah menjadi korban siasat Si Tukang Kebun, “Baiklah, usir aku. Memang sepantasnya demikian, karena aku telah mengusir kedua sahabatku. Aku telah mengkhianati mereka.”

 

Kisah ini memiliki beberapa sisi. Dilihat dari sisi tukang kebun yang mewakili “kesadaran diri”, tiga orang “asing” yang memasuki “kebun kehidupannya” adalah:

Pertama—Ahli Hukum. Apa kerjaan seorang ahli hukum? Dia memilah, membedakan, memisahkan yang satu dari yang lain, yang menurut  hukum dan yang bertentangan dengan hukum.

Kedua—Pejabat Negara. Tanpa kecuali, setiap orang yang memperoleh kedudukan tinggi mulai mempercayai kedudukannya. Dia menjadi arogan, sombong, angkuh.

Ketiga—Penipu berjubah sufi, Si Darvish. Hati masih hitam, wajah dibedaki. Jiwa masih kotor, badan tampak bersih.

Untuk lebih jelasnya: Sang Ahli Hukum mewakili “dualitas”. Pejabat Negara mewakili “arogansi”, kesombongan, keangkuhan. Sufi Palsu mewakili “kemunafikan”, ketidakjujuran, kepalsuan. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2000). Masnawi Buku Kedua Bersama Jalaluddin Rumi Memasuki Pintu Gerbang Kebenaran. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

Bila ingin “kebun hidup” anda bebas dari dualitas, arogansi dan kemunafikan, anda harus bersiasat seperti Si Tukang Kebun dalam kisah ini. Yang harus diberantas pertama-tama adalah “kemunafikan”. Jujur dulu, be yourself. Jangan meniru orang. Jadilah diri sendiri. Pada tahap awal itu, dualitas masih akan tetap ada. Baik-buruk, surga-neraka, panas-dingin, Adam-Iblis—semuanya masih ada. Begitu pula dengan keangkuhan, kesombongan, arogansi masih tetap ada.

Karena itu, setelah berhasil mengusir “darvish palsu kemunafikan” dari dalam diri, jangan terlena. jangan duduk diam. Langkah berikutnya adalah mengusir  “arogansi”, Bung Kesombongan, Saudara Keangkuhan.

Terakhir, baru mengatasi dualitas baru mengusir “Si Ahli Hukum”. Mansur Al Hallaj sudah berhasil mengusir ahli hukum dari kebun hidupnya, maka berani mengatakan Ana all Haqq—Akulah Kebenaran. Begitu pula Siti Jenar dan Sarmad.

Tetapi ada juga yang hanya ingin meniru mereka. Belum mengusir kemunafikan, belum mengusir keangkuhan, sudah cepat-cepat  ingin melampaui dualitas. Jelas tidak bisa. Kemudian, kalau dia mengatakan Ana al Haqq — pernyataannya tidak berarti sama sekali, tidak berbobot, hampa.

Dilihat dari sisi mereka yang berhasil diusir oleh tukang kebun: United We stand, divided we fall! Bersatu, mereka kokoh,tidak ada yang bisa mengalahkan mereka. Terpecah-pecah mereka jatuh, hancur. Tiupan angin dengan sangat mudah bisa meruntuhkan mereka.

Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2000). Masnawi Buku Kedua Bersama Jalaluddin Rumi Memasuki Pintu Gerbang Kebenaran. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama) Link: http://www.booksindonesia.com

Renungan Gita: Akulah penulis, akulah pembaca, akulah proses diantaranya. Aku adalah kau. Lampaui dualitas!

buku bhagavad gita

Cover Buku Bhagavad Gita

Bhagavad Gita 9:28

“Demikian, dengan pikiranmu kukuh dalam kesadaran samnyasa, lepas dari segala dualitas dan keterikatan; niscayalah kau terbebaskan dari belenggu karma baik dan buruk, dan mencapai-Ku.”

“Samnyas Yoga – melepaskan diri dari segala macam keterikatan adalah Samnyas. Dan, pelepasan itulah yang mengantar kita ke alam kemanunggalan, bebas, dari segala dualitas. Itulah Yoga.

“Apa yang menyebabkan keterikatan? Dualitas, halusinasi-perbedaan. Ini anakku, itu anakmu. Ini hartaku, itu milikmu. Bahkan, tidak jarang para anggota ISTI – Ikatan Suami Takut Istri – setakut apa pun, masih tetap bisa membuat perjanjian ‘pisah harta’. Sehingga, suatu saat kalau cerai, nggak repot. Untung ada ‘lembaga’ pisah-harta! Ha ha ha…. Intinya, semua itu adalah hasil dari dualitas. Kepercayaanku, kepercayaanmu; Tuhanku, Tuhanmu. Daftar dualitas tidak pernah bisa diperpendek, selalu bertambah panjang.

“Lampauilah dualitas!

“Melampaui dualitas tidak berarti kita meninggalkan suami atau istri. Tidak. Kita tetap melayani pasangan kita, tapi dengan semangat yang beda. Kita sedang melayani diri kita sendiri dalam wujud yang beda. Jika susah, maka layanilah dia dengan mempersembahkan yang terbaik kepada Gusti Pangeran.

“Mulailah dari saat ini – ya mari kita mulai dari saat ini. Karya ini bukanlah karyaku, tapi karya kita. Tulisan ini, coretan-coretan ini, pemikiran ini adalah persembahan kita bersama kepada Gusti Pangeran.

“Dalam wujud ini – yang sedang menulis dengan menggunakan bolpen dan saat ini berada di balik jeruji – aku sedang menulis. Dalam wujudmu, aku sendiri sedang membaca tulisanku. Antara menulis dan membaca – adalah proses panjang mentranskrip, mengedit, melakukan setting, menentukan layout, merancang sampul, mencetak, membungkus, menyalurkan, menjual – dan masih entah berapa langkah lagi – semuanya adalah langkah yang kuambil, kita ambil. Semuanya adalah persembahaan kita kepada Hyang Maha Tunggal.

“Akulah penulis, aku pula pembaca, akulah seluruh proses editing, penyaluran, penjualan – akulah semuanya. Akulah yang mempersembahkan karya ini kepada Gusti Pangeran yang adalah hakikat diriku. Akulah kau.

“Aku-Ego dan Aku-Kesadaran beda – ‘aku-ego’ bunyinya nyaring. Aku-Kesadaraan Besar, Maha Besar, senantiasa bergetar dan Getaran-Nya menghidupi seantero alam dengan segala isinya, tetapi tidak berbunyi nyaring seperti kaleng kosong. Aku-Kesadaran berkarya tanpa gembar-gembor, seperti terbitnya matahari setiap pagi dan terbenamnya setiap sore. Raihlah Kesadaran Jiwa itu – demikian kita akan terbebaskan dari ikatan karma.”  (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

 

 

“Ya, bebas dari ‘ikatan’ karma. Karma baik maupun buruk – dua-duanya menciptakan belenggu. Dua-duanya mengikat. Karma buruk mengikat kita, taruhlah dengan belenggu yang terbuat dari besi. Jelek. Kelihatan jelas.

“Karma baik mengikat kita, merantai kita dengan belenggu yang terbuat dari emas. Indah dan kita menganggapnya sebagaai perhiasan, bukan belenggu lagi. Sehingga kita, enggan untuk melepaskannya.

“Ya belenggu karma baik lebih susah dilepaskan. Kita sedang menikmati segala kenyamanan dan kenikmatan surga – bagaimana meninggalkan surga? Belenggu karma baik membuat kita lebih parah. Ada keengganan untuk melepaskannya. Atau malah seperti yang dianalogikan di atas, tidak tahu bila kita terbelenggu. Belenggu emas tidak seperti belenggu – seperti perhiasan.

“Seorang Samnyas tidak berurusan dengan belenggu macam apa pun, jenis apa pun, sekalipun bertatahkan permata dan intan berharga. Harga adalah ilusi yang diciptakan oleh dualitas juga. Arang, batu bara, kristal, pernata, intan, berlian, wujud Anda dan wujud saya – semuanya adalah carbon-based. Kalau dihargai – semestinya sama harganya. Semestinya dihargai dengan satuan kiloan. Tapi tidak, kita menghargai tubuh dengan satuan lain, batu bara dengan satuan lain, dan berlian dengan satuan yang beda lagi.”  (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)