Betapa Siapkah Kita?

Oleh Bapak Anand Krishna

 

Limane Aneh Ngisiang Tampul, Ane Anehan Ngisi Pedang. Satu tangan memegang tiang, satu lagi memegang pedang (Kearifan Lokal Bali)

Tangan yang memegang tiang adalah untuk menjaga stabilitas diri. Dan tiang yang dimaksud bukanlah tiang dari beton atau baja.

Tiang yang dimaksud adalah Tiang Dharma. Kebajikan Luhur, Hukum yang Bersifat Sanatana, atau Wiwitan – Langgeng, Abadi, tak pernah usang karena waktu.

Kemudian, Pedang yang dimaksud adalah Pedang Virya, Keberanian, Semangat, dan di atas segalanya Integritas Diri, sekaligus percaya pada Integritas tersebut – Percaya Diri.

Demikian nasihat para leluhur kita: supaya perilaku kita berlandaskan Dharma, dan kita selalu siap untuk menghadapi segala macam tantangan dengan penuh semangat, antusiasme, keberanian, percaya diri.

Gabungan dari Dharma dan Virya inilah keunikan kita. Banyak orang kuat, berotot, bersemangat dan berani pula – tapi tidak mempunyai integritas diri. Sebab, landaan Dharmanya tidak ada. Banyak tangan berpedang sekitar kita, tapi tanpa landasan Dharma, tangan-tangan itu tidak membawa kedamaian, malah menyebabkan kekacauan.

Mereka yang memahami Mahabharata tahu persis bila kehadiran Krishna di tengah medan Kurukshtra bukanlah untuk memenangkan Pendawa, tapi untuk mmenegakkan Dharma. Kebetulan saja di antara pihak-pihak yang berseteru saat itu Pendawa masih agak lumayan berpegang pada Dharma. Ya, agak lumayan, tidak sepenuhnya. Tapi jika dibandingkan dengan pihak lawan, para Kurawa, Pendawa masih lebih memihak Dharma.

Bagaimana menyikapi peribahasa ini dalam keseharian hidup kita? Kita hanya berpedang saja, atau juga berdiri landasan, panggung Dharma? Pedang bukanlah yang terbuat dari baja saja, seperti yang digunakan oleh para satria dan samurai masa lalu.

Lidah kita bisa berperan sebagai pedang. Kata-kata keras yang keluar dari mulut kita bisa lebih ampuh dari pedang tertajam.

Tulian kita bisa membakar, bisa juga melumpuhkan semangat orang. Pertanyaannya: Apakah suara keras itu, apakah tulisan-tulisan itu berlandaskan Dharma atau tidak? Apakah bertujuan menegakkan, mengukuhkan dharma, atau sekedar kepentingan diri saja.

………………..

Bhagavad Gita menjelaskan bahwa dalam hal berdoa, beryajna – menghaturkan persembahan – dan  berupacara apa pun, jika landasannya bukan Dharma, maka hasilanya tidak akan sesuai dengan Dharma.

Dan tanpa Dharma, pedang kata-kata, pedang kepercayaan, pedang upacara semuanya sia-sia.

Silakan baca lampiran terlampir:

Sumber: Majalah Craddha Edisi ke 85 Nopember Desember 2018

Advertisements

Ingin Bahagia, Rupa Menawan, Panjang Usia, Sehat, Bijaksana, Berani? Praktekkan Svastika!

buku dvipantara dharma sastra svastika

Simbol Svastika di berbagai negara

buku dvipantara dharma sastra savstika mohenjodaro

Simbol Svastika yang ditemukan di Mohenjodaro dan Harappa, peninggalan Peradaban Lembah Sungai Sindhu sekitar 8.000 tahun Sebelum Masehi.

Ada empat hal utama yang membahagiakan manusia:

  1. Bertindak melakukan kebajikan. Bila kita melakukan kebatilan, maka kita akan merasa cemas dan tidak merasa bahagia.
  2. Apa pun yang membuat hidup berati, bermakna, maka itulah Artha. Kalau uang belaka itu dan kegunaannya tidak bermakna bagi banyak orang, maka itu bukan Artha, itu sekadar fulus.
  3. Seseorang bahagia bila keinginannya terpenuhi, dia memperoleh kepuasan, contentment, psychological factor.
  4. Moksa, kebebasan. Selama kita terbelenggu maka kita belum bebas, dan kita belum bahagia.

Keempat hal yang membahagiakan tersebut disimbolkan dengan gambar Svastika. Silakan baca ulang https://gitakehidupansepasangpejalan.wordpress.com/2015/06/22/dari-purusa-artha-menuju-svastika-kebahagiaan-dan-kemakmuran-lahir-batin/

Bagaimana kaitan Dharma, Artha, Kama dan Moksa dengan tindakan welas asih terhadap semua makhluk, silakan simak penjelasan Kitab Leluhur Sara Samuccaya di bawah ini:

buku Dvipantara Dharma Sastra cover_ED

Cover Buku Dvipantara Dharma Sastra

Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu: Saha vīryam karavāvahai;Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai.Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga Hyang Tunggal senantiasa melindungi kita; menjernihkan pikiran kita: semoga kita dapat berkarya bersama dengan penuh semangat; semoga apa yang kita pelajari mencerahkan dan tidak menyebabkan permusuhan; Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

Sara Samuccaya 141

Hidup ini adalah landasan bagi Dharma, Kebajikan; Artha, Harta Benda maupun nilai-nilai luhur yang Memberi Makna pada Kehidupan; Kama, Keinginan-Keinginan yang Mulia, serta Gairah Hldup untuk Berbuat Baik dan Moksa, Kebebasan dalam berpikir, berucap, dan bertindak selagi hidup; serta kebebasan mutlak dari kelahiran dan kematian yang berulang-ulang. Sebab itu, barangsiapa yang merusak kehidupan, mencelakai satu pun makhluk hidup — sesungguhnya merusak seluruh nilai-nilai luhur tersebut. Dan, barangsiapa menyelamatkan satu pun wujud kehidupan, telah menyelamatkan keseluruhan nilai-nilai tersebut.

 

Sara Samuccaya 142

Seseorang yang ingin (menikmati) hidup, tidak akan mencelakakan atau merusak kehidupan orang lain, makhluk lain. Hendaknya ia menginginkan bagi orang lain, apa saja yang diinginkan bagi diri sendiri.

 

Sara Samuccaya 143

Apa gunanya mempertahankan badan ini atas penderitaan orang lain; akhirnya toh, seekor anjing saja, bisa seenaknya mencakar kepala jasad, yang sudah tidak bernyawa.

 

Sara Samuccaya 144

Badan berakhir sebagai ulat, abu, atau pun sampah, kotoran. Lalu, untuk apa menyakiti orang lain, menyebabkan penderitaan bagi orang lain semata-mata untuk mengenyangkan diri dengan makanan ataupun kenikmatan lain secara berlebihan?

 

Sara Samuccaya 145

Selagi berjalan, berdiri; dalam keadaan jaga maupun tidur — jika perbuatan serta pikiran seseorang tidak berguna, tidak bermanfaat bagi sesama makhluk hidup – maka, sesungguhnya hidup seperti itu tidaklah lebih baik dari kehidupan seekor binatang.

 

Sara Samuccaya 146

Singa betina melahirkan satu anak saja dalam satu kesempatan; sementara itu serigala (Mrgarini sebagai gender feminin dari kata Mrgari) melahirkan banyak anak sekaligus. Adalah pertama — anak singa yang diberi makan dan bertahan hidup. Sebaliknya, yang lain — anak-anak serigala — justru menjadi makanan, tidak hanya dirnangsa hewan-hewan buas lainnya, kadang menjadi mangsa induknya sendiri. Demikian si pemangsa mesti mempertanggungjawabkan perbuatannya, walaupun yang dimakan adalah anak-anaknya sendiri. Pengertiannya: Seorang manusia yang mencelakakan sesama manusia,sesama makhluk hidup — sebenarnya adalah mencelakakan dirinya sendiri.

 

Sara Samuccaya 147

Seseorang yang tidak membunuh/menjagal — termasuk menyebabkan pembunuhan dan penjagalan; mengikat, menahan atau menyangkarkan, dan menyiksa sesama makhluk — tetapi justru menginginkan dan mengupayakan kebaikan bagi semua, meraih kebahagiaan sejati.

 

Sara Samuccaya 148

Dengan tidak menyakiti makhluk-makhluk lain, dengan mudah seseorang menghasilkan apa saja yang diinginkan dari hati terdalam/sanubarinya.

 

Sara Samuccaya 149

Seseorang yang menginginkan rupa yang menawan; kesempurnaan dalam segala hal; usia panjang dan kesehatan; kebijaksanaan serta keberanian — hendaknya menghindari himsa atau kekerasan dalam segala hal, dalam segala bentuk (termasuk, tentunya, menyakiti dan menyembelih sesama makhluk hidup sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya)

 

Sara Samuccaya 150

Seseorang yang penuh welas asih, melindungi sesama makhluk dan tidak menyakitinya, terbebaskan dari rasa takut. Ia pun tidak ditakut-takuti oleh makhluk-makhluk lain. Tiada keraguan dalarn hal ini.

 

Sara Samuccaya 151

Dana-punia (amal-saleh) dan hadiah yang diberikan kepada semua orang, jika dibandingkan dengan hadiah kehidupan kepada satu pun makhluk – maka yang terakhir itulah yang lebih utama. Berarti, menyelamatkan nyawa satu makhluk itu jauh lebih mulia dan berharga daripada berbagai bentuk dana-punia.

 

Sara Samuccaya 152

Tiada sesuatu yang lebih berharga dari kehidupan itu sendiri, maka hendaknya seseorang bertindak dengan penuh welas-asih terhadap orang lain, sebagaimana ia bertindak terhadap dirinya sendiri.

 

Sara Samuccaya 153

Tidak terbawa oleh amarah, jujur, tidak menyakiti sesama makhluk, tidak pula menghina/menyepelekan siapa pun, serta bertindak sesuai dengan nilai kebajikan – emikian seseorang meraih hidup panjang dan berguna.

Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2015). Dvipantara Dharma Sastra, Jakarta: Centre for Vedic and Dharmic Studies)

Om, Sarve bhavantu sukhinaḥ; Sarve santu nirāmayāḥ; Sarve bhadrāṇi paśyantu; Mā kashchit duḥkha bhāgbhavet; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga semua makmur, bahagia dan bebas dari penyakit. Semoga semua mengalami peningkatan kesadaran, dan bebas dari penderitaan. Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/

 

Banner utk di web

oec2elearning-banner

Bagi para pembaca buku-buku Anand Krishna yang ingin bertemu muka dengan Sang Penulis Buku, Bapak Anand Krishna, silakan ikuti Program Retret:

Acara Retret direncanakan di Anand Krishna Information Centre Solo pada hari Jumat Sore, Saptu dan Minggu. Tanggal Retret belum ditetapkan. Retret merupakan kegiatan yang sangat penting untuk mempersiapkan diri dengan cara setiap hari melakukan kegiatan spiritual mulai dari chanting, agnihotra dan yoga dan mengkonsumsi makanan vegetarian.

Buku pertama yang akan dibahas mengenai kaitan antara Bahasa Jawa Kuno, Sunda dan Kebudayaan Sindhi. Mengapa orang Nusantara suka ngambek? Mengalah di luarnya, tetapi setiap beberapa dasawarsa meledak dan berdarah-darah? Direncanakan ada tour bersama ke Sangiran melihat perkembangan manusia dari zaman dahulu sampai sekarang.

Kontak sementara Triwidodo: 081326127289

Renungan Gita: Selalu Terjadi Perubahan Saat Kebatilan dan Ketidakadilan Merajalela

buku bhagavad gita saat adharma merajalela

Ketika adharma merajalela, maka setelah mencapai tingkat jenuh, terjadilah gejolak sosial. Berkuasanya adharma menciptakan ketidakseimbangan Dalam keadaan seperti itu, sudah pastilah muncul seorang penggerak revolusi untuk melawan kebatilan dan ketidakadilan. Ini hukum alam. Tidak bisa tidak. Silakan mempelajari sejarah dunia. Ketika para penguasa zalim bertindak semena-mena dan menindas rakyat, maka terjadilah perubahan kekuasaan.

Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu; Saha vīryam karavāvahai; Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga Hyang Tunggal senantiasa melindungi kita; menjernihkan pikiran kita: semoga kita dapat berkarya bersama dengan penuh semangat; semoga apa yang kita pelajari mencerahkan dan tidak menyebabkan permusuhan; Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

“Wahai Bharata (Arjuna, keturunan Raja Bharat), Ketika dharma, kebajikan dan keadilan, mengalami kemerosotan; dan adharma, kebatilan dan ketidakadilan merajalela – maka Aku menjelma.” Bhagavad Gita 4:7

 

“Ini adalah sebuah janji yang bukan asal-bunyi. Janji ini memiliki dasar ilmiah yang dapat dipahami.

“KETIKA ADHARMA MERAJALELA — Ketika kebatilan dan ketidakadilan berkuasa, maka di manakah dharma, di manakah kebajikan dan keadilan?

Apakah dharma, kebajikan dan keadilan, lenyap sama sekali? Apakah sirna? Apakah punah tanpa bekas?

Dharma adalah energi, adharma pun sama, energi. Dan, energi tidak pernah punah. Energi hanya berubah wujud saja.

Ketika adharma merajalela, maka setelah mencapai tingkat jenuh, terjadilah gejolak sosial. Berkuasanya adharma menciptakan ketidakseimbangan Dalam keadaan seperti itu, sudah pastilah muncul seorang penggerak revolusi untuk melawan kebatilan dan ketidakadilan. Ini hukum alam. Tidak bisa tidak.

Silakan mempelajari sejarah dunia. Ketika para penguasa zalim bertindak semena-mena dan menindas rakyat, maka terjadilah perubahan kekuasaan.

Mungkin Anda bertanya, lalu bagaimana ketika Dharma berkuasa?

APAKAH DHARMA BISA MENCAPAI TITIK JENUH dan berakibatkan gejolak sosial untuk membawa perubahan? Apakah kekuasaan dharma pun, kemudian, diganti oleh kekuasaan adharma?

Dharma tidak pernah mencapai titik jenuh. Tidak pernah ada keadaan di mana setiap orang bertindak sesuai dengan dharma. Di bawah kekuasaan dharma, adharma tetap eksis. Bedanya, ia tidak merajalela. Ia tidak berkuasa.

Maling, perampok, penjahat, koruptor — semuanya masih tetap ada, walau pemerintahannya sebersih Pemerintahan Singapura. Hanya saj, mereka tidak mayoritas, tidak berkuasa.

Lain halnya dalam suatu negeri di mana mayoritas adalah pelaku adharma, maka seluruh tatanan sosial menjadi kacau. Maling meneriaki maling. Koruptor menjebloskan koruptor lain, dengan menggunakan jasa koruptor yang lain lagi – Edan!

MAYORITAS DHARMA ADALAH SELARAS DENGAN SEMESTA – Maka tidak menimbulkan gejolak.

Mayoritas dharma adalah seperti keadaan badan yang sehat. Inilah keadaan ideal yang semestinya tercapai. Saat itu, semuanya berjalan lancar.

Mayoritas adharma menimbulkan penyakit. Semuanya menjadi kacau. Dan, saat itulah masyarakat membutuhkan seorang dokter, seorang Krsna untuk membawa kesembuhan.

MENJELMANYA KRSNA adalah fenomena yang terjadi setiap kali ada kebutuhan untuk itu. Kadang ia berupa Gandhi, kadang Soekarno, kadang Martin Luther King Jr., kadang Mandela, kadang siapa saja. Kadang barangkali sebagai Anda!

KRSNA ADALAH BERITA PERUBAHAN ZAMAN – Di luar itu, masih banyak perwujudan-perwujudan minor yang membawa perubahan-perubahan kecil tapi signifikan. Misalnya, dalam hal memerdekakan negara, dalam hal membangrm masyarakat, dalam hal mengubah tatanan sosial. Sungguh tak terhitung manifestasi Sang Jiwa Agung.

Setiap percikan Jiwa Agung, termasuk Anda dan saya memiliki kesempatan yang sama untuk menjadi Perwujudan-Nya Hyang sama Nyata seperti Krsna. Ya, kita semua memiliki potensi itu.

 

buku bhagavad gita

“Guna melindungi para bijak; membinasakan mereka yang berbuat batil; dan, meneguhkan kembali dharma, kebajikan – Aku datang menjelma dari masa ke masa.” Bhagavad Gita 4:8

 

Mahatma Gandhi memilih untuk mengartikan Perang Bharata-Yuddha sebagai metafor bagi perang atau konflik di dalam diri manusia, di mana kekuatan kebajikan dan kebatilan senantiasa saling berhadapan. Berangkat dari pengertian demikian, maka ‘membinasakan para pelaku kejahatan’ pun diterjemahkannya sebagai ‘pembinasaan sifat-sifat jahat’ dalam diri manusia. Boleh-boleh saja, dan memang ada benarnya juga.

TAPI, KITA TIDAK BISA MELUPAKAN KONTEKS SEJARAH BHARATA-YUDDHA – Perang dahsyat yang betul terjadi. Bukan perang khayalan. Mahabharata adalah sejarah, bukan dongeng. Jika kemudian sejarah itu disajikan dalam berbagai bentuk, antara lain dalam bentuk wayang, maka sah-sah saja.

Banyak film berlatar-belakang sejarah. Banyak juga yang menyajikan sejarah sebagaimana adanya. Wayang orang maupun wayang kulit, teater, drama, dan lain sebagainya adalah bentuk-bentuk kuno, atau, lebih tepatnya cikal bakal Industri Perfilman.

Kembali pada konteks sejarah Mahabharata, maka apa yang dimaksud Krsna mesti diartikan secara harfiah juga.

Sebagaimana telah kita bahas dalam ayat sebelumnya, penjelmaan Jiwa Agung untuk menegakkan kembali dharma, kebajikan, keadilan – memang terjadi dari masa ke masa, dan bisa di mana saja.

Walau, “kadar” penjelmaan bisa beda dari masa ke masa, dari tempat ke tempat – berdasarkan tuntutan masa dan kebutuhannya.

DUNIA TIDAK SELALU MEMBUTUHKAN para Avatara atau Penjelmaan Purna seperti Krsna. Saat itu, peradaban manusia sedangmenghadapi perang nuklir. Maka dibutuhkan Penjelmaan Purna.

Lebih sering, kita membutuhkan Amsa Avatara – Penjelmaan Bagian. Sebagian dari Kekuatan Agung pun sudah cukup untuk mengatasi rezim yang zalim dan menindas rakyatnya, apalagi jika terkait dengan satu negara saja, tidak melibatkan seluruh peradaban.

Maka, jumlah Amsa Avatara tak terhitung. Mereka ada di mana-mana. Bisa di mana-mana, tentunya, lagi-lagi sesuai kebutuhan.

Bahkan, jika Anda seorang aktivis yang sedang berkarya untuk mengubah tatanan sosial yang sudah usang – maka ketahuilah bila Jiwa Agung, “sebagian” dari Kekuatan Jiwa Agung telah mewujud lewat diri Anda. Tentunya, jika Anda seorang Aktivis Pembawa Perubahan Sejati sekaliber Gandhi, Soekarno, Mandela, dan sebagainya. Anda bukan aktivis bayaran yang bekerja karena adanya funding dari pihak-pihak tertentu, dengan slogan  “Membela saipa yang Membayar.”

Dikutip dari buku: (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

Om, Sarve bhavantu sukhinaḥ; Sarve santu nirāmayāḥ; Sarve bhadrāṇi paśyantu; Mā kashchit duḥkha bhāgbhavet; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga semua makmur, bahagia dan bebas dari penyakit. Semoga semua mengalami peningkatan kesadaran, dan bebas dari penderitaan. Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/

 

Banner 4

Kama-Keinginan, Artha-Kekayaan, Moksa-Kebebasan Mutlak Bisa Gagal, Tapi Dharma Pasti Bisa Dilakoni

Ingat! Setelah banyak tumpukan Dharma, keinginan, kekayaan akan tercapai bahkan kita dipandu ke arah Moksa

buku dvipantara dharma sastra Dewi Dharma

Dharma (Ibu Ashoka)

Aku selalu berseru dan mengingatkan bila artha atau harta-kekayaan, dan kama segala kenikmatan duniawi, diperoleh dengan cara hidup berlandaskan dharma, kebajikan. Lalu mengapa tidak melakoni dharma terlebih dahulu? (Sayang tiada yang mendengarkanku).

Upaya, jerih payah seseorang dalam hal kama (memenuhi keinginan dan/atau kenikmatan indrawi), artha (mengumpulkan harta), dan moksa (kebebasan mutlak dari segala keterikatan) boleh jadi gagal—tidak membawa hasil. Namun, upaya seseorang untuk melakoni dharma atau kebajikan walaupun baru berupa niat saja—tidak pernah sia-sia. Pasti membawa hasil.

Berikut ini lanjutan penjelasan Sara Samuccaya bahwa melakoni dharma akan membawa kebahagiaan.

buku Dvipantara Dharma Sastra cover_ED

Cover Buku Dvipantara Dharma Sastra

Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu: Saha vīryam karavāvahai;Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai.Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga Hyang Tunggal senantiasa melindungi kita; menjernihkan pikiran kita: semoga kita dapat berkarya bersama dengan penuh semangat; semoga apa yang kita pelajari mencerahkan dan tidak menyebabkan permusuhan; Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

Sara Samuccaya 24

Dharma atau kebajikan selalu membawa hasil yang baik, selalu bermanfaat. Ia (dharma) adalah penopang hidup, kemuliaan rnereka yang mulia. Seantero alam — tiga alam (Bhur atau alam bawah tanah; Bhuvah atau alam dunia; Svah atau alam luar angkasa) dengan segala isinya; tiga masa (masa lalu, masa kini dan mendatang); makhluk-makhluk hidup dan bergerak, maupun benda-benda yang tidak bergerak—seluruhnya bersumber dari, dan bertopang pada dharma atau kebajikan.

 

Sara Samuccaya 25

Seseorang yang kesadarannya senantiasa terpusatkan pada dharma atau kebajikan, dan senantiasa tidak pernah ragu (dalam melakoni dharma) adalah disebut berperilaku mulia. Demikian, kawan dan kerabatnya pun tidak perlu meragukan, atau mengkhawatirkan dirinya.

 

Sara Samuccaya 26

Sebagaimana air yang menggenangi tebu ikut pula menggenangi rumput, pun demikian seseorang yang melakoni dharma atau kebajikan, ikut meraih harta kekayaan, ketenaran, dan terpenuhi pula segala keinginannya yang mulia.

 

Sara Samuccaya 27

Seseorang hanyalah memperoleh hasil dari apa yang dilakukannya. Perbuatan baik menghasilkan rupa yang menawan, penampilan yang baik, daya tarik; kelahiran dalam keluarga yang mulia; harta kekayaan yang berlimpah dalam pengertian ia meraih kesejahteraan yang sejati.

 

Sara Samuccaya 28

Mereka yang berpegang teguh pada dharma atau kebajikan bebas dari rasa takut dalam hal menghadapi semua tantangan, keadaan yang tidak menyenangkan; pun serangan-serangan dari mereka yang tidak bersahabat.

 

Sara Samuccaya 29

Mereka yang berbuat baik, berperilaku mulia, mendapatkan pasangan sesuai dengan keinginan dan kemuliaan dirinya. Mereka menikmati kehidupan yang layak, bak tinggal di istana, dengan segala kebutuhannya terpenuhi.

 

Sara Samuccaya 30

Sebagaimana katak dan burung selalu menghampiri kolam yang penuh dengan air; pun demikian dengan para sahabat yang tulus, dan kesejahteraan menghampiri mereka yang berperilaku baik, mulia.

 

Sara Samuccaya 31

Saat menimba ilmu dan rnencari uang, para bijak selalu bertindak tenang serta penuh kesadaran. Seolah mereka memiliki waktu yang cukup lama untuk semua itu. Namun, saat melakoni dharma atau kebajikan, mereka tidak pernah menyia-nyiakan waktu sedetik pun, seolah sedang dikejar maut

 

Sara Samuccaya 32

Dengan mengingat kematian, seseorang tak lagi menyia-nyiakan waktu untuk memenuhi keinginan duniawi seperti mencari makanan yang lezat dan sebagainya — apa lagi mengejar hal-hal yang hanyalah dapat mencelakakan dirinya, yang tidak menguntungkan Jiwa.

 

Sara Samuccaya 33

Selagi masih muda, hendaknya seseorang berupaya sekuat tenaga untuk melakoni dharma atau kebajikan; menuntut ilmu untuk menjadi bijak sekaligus berpenghasilan yang layak. Dengan bertambahnya usia, tenaga seseorang berkurang, seperti halnya dengan rumput darbha (sejenis alang-alang) tua yang ujungnya telah merunduk dan tidak tajam lagi.

Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2015). Dvipantara Dharma Sastra, Jakarta: Centre for Vedic and Dharmic Studies)

Om, Sarve bhavantu sukhinaḥ; Sarve santu nirāmayāḥ; Sarve bhadrāṇi paśyantu; Mā kashchit duḥkha bhāgbhavet; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga semua makmur, bahagia dan bebas dari penyakit. Semoga semua mengalami peningkatan kesadaran, dan bebas dari penderitaan. Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/

 

Banner utk di web

oec2elearning-banner

Renungan Diri: Terjadinya Bencana, Musibah Disebabkan oleh Kebajikan Abadi, Dharma?

buku Sai_Anand_Gita

Cover Buku Sai Anand Gita

HUKUM ALAM INILAH RTA ATAU DHARMA

“Rta atau Dharma berarti Kebajikan Abadi. Peraturan yang tepat dan baik, tidak membebani siapa-siapa. Ada kalanya peraturan ini juga membiarkan terjadinya bencana, musibah dan lain sebagainya. Kenapa? Untuk melindungi Kebajikan itu sendiri. Sayang, kita tidak memahami maksudnya — dan selalu mengeluh.

“Dharma berarti Hukum yang Tepat, Tindakan yang Tepat. Ketepatan itulah Dharma! Keberadaan tidak hanya mencipta, tetapi juga memelihara, dan mendaur ulang. Hukum di balik proses ini adalah Dharma.

“Dharma sering diterjemahkan sebagai tugas, kewajiban, karenanya cenderung terjadi salah pengertian dan salah tafsir. Bisa saja diterjemahkan sebagai kewajiban, asal kita memahami bahwa ‘kewajiban’ yang dimaksud adalah ‘Kewajiban terhadap sang Keberadaan, Hyang Maha Ada’ — Kewajiban terhadap Ia yang Bersemayam di dalam diri setiap makhluk. Kewajiban terhadap dunia, terhadap alam semesta. Ketika kita menunaikan kewajiban itu — maka kewajiban terhadap keluarga terdekat, kawan dan kerabat, terhadap desa dan kota, terhadap flora dan fauna, terhadap lingkungan, laut, angin, dan bumi, semuanya ikut terpenuhi.

“Ketika kita hanya menyadari kewajiban terhadap sekelompok manusia tertentu, kita menjadi fanatik, fasis. Kesadaran semacam itu mengerdilkan jiwa kita. Tidak aneh bila para resi di masa Ialu tidak pernah berdoa bagi sekelompok umat. Mereka berdoa bagi seluruhjagat, bagi semua makhluk:

 

SARVE BHAVANTU SUKHINAH, Semoga semua makhluk bersukacita!

“Dharma bukanlah tugas biasa dalam pengertian tugas/kewajiban seorang pekerja pada pemberi kerja. Tugas seperti itu murni berdasar pada pertukaran materi — pada perolehan keuntungan. Baik pekerja maupun pemberi kerja harus sama-sama mendapatkan keuntungan dari satu sama lain; bila tidak, pekerjaan tidak akan ada.

“Dharma adalah ‘tugas yang tepat’ untuk ‘tujuan yang benar’ dan dilakukan dengan ‘cara yang tepat’. Dharma bukanlah tugas/kewajiban demi tugas itu sendiri, pemberian upah, ataupun pembayaran. Dharma bukanlah tugas/kewajiban demi keluarga, atau sekelompok orang saja. Dharma adalah tugas/kewajiban terhadap kebajikan dan demi kebajikan. Dharma adalah tindakan tepat pada waktu yang tepat pula.

“Dharma selalu mempersatukan. Sesuatu yang menjadi alasan bagi perpecahan, sesuatu yang memisahkan manusia dari sesama manusia — bukanlah Dharma.

 

ANDA TIDAK BISA MENYENANGKAN SEMUA ORANG!

“Bertindak atas nama Dharma tidak selalu menyenangkan. Tetapi selalu tepat dan benar. Tindakan ini tidak ada hubungannya dengan masalah mayoritas-minoritas. Tindakan ini melampaui sistem demokrasi yang berdasar ada suara mayoritas. Tindakan Dharma selalu berfokus pada ‘kesejahteraan sebanyak mungkin orang dengan sebaik mungkin’.

‘Demokrasi berdasarkan pada suara terbanyak’ dan ‘kesejahteraan sebanyak mungkin orang dengan cara sebaik mungkin’ merupakan dua hal yang berbeda. Demokrasi dengan suara terbanyak hanya menjadikan kesejahteraan untuk semua sebagai slogan semata. Tak lebih dari itu. Ketika berbicara tentang ‘berdasarkan mayoritas’ Anda telah membuang minoritas.

“Kata ‘mayoritas’ itu sendiri adalah kata yang kotor dalam pengertian bahwa kata tersebut tidak bisa ada tanpa ‘menciptakan’ kelompok minoritas. Diskriminasi mayoritas-minoritas sangat, sangat jauh dari prinsip Jaya-Jaya, Win-Win, sebagaimana kita telah diskusikan sebelumnya.

“Lebih jauh lagi, kelompok mayoritas mungkin tidak punya pemikiran sama sekali di mana letak kesejahteraan mereka itu. Sesuatu yang menyenangkan tidak selalu baik. Sesuatu yang baik tidak selalu menyenangkan. Obat yang pahit sudah pasti tidak menyenangkan, namun baik untuk kesehatan.” (Das, Sai. (2012). Sai Anand Gita Kidung Mulia Kebahagiaan Sejati. Koperasi Global Anand Krishna Indonesia)

 

Satu pertanyaan yang selalu terlontar…

APAKAH DHARMA SELALU MENYENANGKAN?

“Jawabannya adalah: Dbarma selalu benar. Dharma, sekali lagi, bukanlah scsuatu yang ‘baik’ dalam pengertian sederhana kita. Ia tidak selalu ‘menyenangkan’ sebagaimana kita mengartikan kata ‘kesenangan’. Ia adalah ketepatan.

“Kita masih ingat tutur Sri Krishna dalam Bhagavad Gita, ‘Ada yang menyenangkan atau Preya, dan ada yang memuliakan, Shreya. Sesuatu yang menyenangkan tidak selalu memuliakan. Tetapi, sesuatu yang memuliakan sudah pasti menyenangkan pula, walau di awalnya tidak terasa demikian.

“Wahai Arjuna,” Krishna menjelaskan kepada muridnya, “sesuatu yang menyenangkan pada awalnya memang terasa manis, tetapi akhirnya terasa pahit. Sebaliknya, sesuatu yang memuliakan, awalnya barangkali terasa pahit — akhirnya manis.”

 

DHARMA ADALAH SESUATU YANG MEMULIAKAN

“Seorang anak bcrusia 6 tahun mengeluh karena tidak dibagi es krim oleh ibunya. Padahal kakaknya Dibagi. Hanya sang Ibu yang mengetahui alasannya. Ia tahu bahwa anaknya yang bungsu itu sedang batuk-batuk, flu, masuk angin, jika diberi es krim akan membuat sakitnya lebih parah. Sang Ibu telah menjalankan Dharma-nya. Ia telah bertindak sesuai dengan Dharma seorang ibu.

“Tetapi, anak yang belum memahami hal itu, mengeluh, menangis. Ia menuduh ibunya berbuat tidak adil. Anak itu sedang mencari kesenangan, keniknmran sesaat. Ia tidak sadar bahwa yang dibutuhkannya adalah obat yang pahit, bukan es krim yang manis.

“Tuhan adalah Bunda Alam Semesta. Ia adalah Hyang Maha Ada, Hyang Maha Hadir — Keberadaan sekaligus Kasunyatan. ‘Kasihnya,’ sebagaimana yang selalu dikatakan oleh Guru kita, Swami, ‘melebihi kasih seribu orang ibu’. Apa yang kadang kita keluhkan sebagai ketidakadilan pun sesungguhnya demi kemuliaan, demi Dharma, demi kebaikan kita sendiri.” (Das, Sai. (2012). Sai Anand Gita Kidung Mulia Kebahagiaan Sejati. Koperasi Global Anand Krishna Indonesia) Link: http://www.booksindonesia.com

Renungan #Gita: Audisi Pemeran Utama atau Pihak Lawan dalam Skenario Panggung Kehidupan

buku bhagavad gita

Cover Buku Bhagavad Gita

Dalam benak kita Pooja Sharma tentu mengalami seleksi yang ketat untuk memperoleh Peran Utama sebagai Draupadi dalam Serial Mahabharata yang pernah ditayangkan di ANTV. Mungkin ada berkah, grace dari Sang Sutradara, akan tetapi, artis cantik ini pasti memiliki kriteria tertentu sehingga bisa terpilih melakoni peran tersebut.

Di Jawa, diyakini bahwa untuk menjadi Raja atau Presiden, seseorang pasti telah memperoleh wahyu, grace dari Gusti Pangeran. Akan tetapi, bagaimana pun juga, dia pasti memiliki kriteria (dalam hal ini pengalaman jiwa) untuk menjalankan peran tersebut.

Diri kita masing-masing adalah juga pemeran utama dalam panggung sinetron kehidupan yang sedang kita jalani dan kita tulis sesuai pilihan kita sendiri. Kita punya rekan pemeran pendamping, dan pemeran lawan. Mungkin kita juga telah memperoleh grace, berkah, tetapi semestinya Jiwa kita telah mempunyai pengalaman untuk melakoni peran tersebut.

Bagaimana penjelasan Bhagavad Gita tentang cara mendapatkan peran Pandava atau Krsna, atau sekadar Kaurava dalam panggung kehiduan ini? Silakan ikuti penjelasan berikut:

Bhagavad Gita 11:29

“Sebagaimana laron terburu-buru memasuki nyala api untuk menemukan ajalnya; pun demikian seantero dunia dengan seluruh isinya sedang memasuki mulut-Mu dengan cepat, untuk berhancur-lebur tanpa bekas.” Bhagavad Gita 11:29

 

Penglihatan Arjuna bukanlah eksklusif ‘penglihatan’ saat perang saja. Sesungguhnya, keadaan kita yang tidak terlibat dalam perang pun kurang lebih sama. Perjuangan hidup ini sama dengan perang. Kita pun sedang menuju mulut-Nya untuk hancur, musnah dan tercipta ulang. Lalu,

APA BEDANYA? Apa beda antara mereka yang berpihak pada dharma — kebajikan – dan mereka yang berpihak pada adharma — kebatilan? Bukankah dua-duanya hancur juga? Bukankah dua-duanya akhirnya mati juga?

Ya, jika kita memperhatikan raga, maka dua-duanya hancur, punah. Dan, dua-duanya juga barangkali tercipta kembali untuk rnemasuki panggung dunia yang sama. Pertanyaannya, sebagai apa?

Setiap pengalaman kehidupan rnemperkaya Jiwa. Berdasarkan kekayaannya itu, ia mengambil peran berikut yang sesuai dengan wataknya, keahliannya.

Perhatikan para bintang layar lebar. Banyak di antara mereka yang memulai karier mereka sebagai peran pembantu. Bahkan, hingga akhir kariernya tetap sebagai peran pembantu. Kariernya seolah  berhenti di tempat, berhenti dalam kurun waktu dan peran tertentu.

Ada yang bermain hebat sebagai pemeran antagonis, villain; maka, sepanjang kariernya, ia selalu mendapatkan peran antagonis.

KITA MAU JADI APA? Puaskah kita sebagai Kaurava? Atau, kita ingin menjadi Pandava dan bersahabat dengan Krsna? Atau, malah ingin memainkan peran Krsna?

Jika mau menjadi Kaurava, maka silakan tetap berada dalam kubu adharma. Saat ini, mayoritas di antara kita berada dalam kubu tersebut.

Tapi, jika ingin mendapatkan peran Pandava atau Krsna, maka kita mesti pindah kubu. Kita mesti memperkaya diri dengan dharma, kebajikan.” (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

Link: http://www.booksindonesia.com

KITA SEMUA IBARAT LARON yang sedang memasuki nyala api. Sepintas, kita sama, seolah sama. Tidak ada bedanya. Sepintas, rnemang demikian. Tapi, bertanyalah pada laron itu….

Memang, banyak di antara mereka yang rnemasuki api karena kebodohan mereka sendiri. Mau cari mati! Tapi, di antara laron-laron itu, ada juga beberapa yang akan rnenjawab pertanyaan kita dengan pertanyaan lain, ‘Apa? Cari mati? Apa maksudmu?’

Apa yang kita lihat sebagai api, apa yang kita sebut kematian — bagi mereka memiliki definisi lain.

API ITU ADALAH API CINTA – Mereka sedang memasuki Kolam Cinta. Mereka mabuk kepayang dalam Cinta. Cinta dengan nyala api, yang adalah pencerahan yang terjadi di dalam diri mereka sendiri. Mereka tidak mati. Mereka sedang menuju kehidupan abadi. Api pencerahan memurnikan Jiwa mereka dan mengantar mereka pada keabadian. –

Jadi, walau tampak sama — lain laron yang menuju kematian, dan lain pula laron yang menuju keabadian.

Kita semua lahir, hidup sebentar, dan mati. Itu pada level raga. Tidak ada seorang pun yang hidup untuk selamanya. Setidaknya, saya tidak pemah bertemu dengan seorang anak manusia yang tidak pernah mati. Atau, tidak akan mati.

Namun, lain dimensi raga, dan lain dimensi Jiwa. Ketika lsa bersabda, ‘Siapa pun yang mengenal-Ku, mendapatkan kehidupan abadi, maksud-Nya jelas bukan kehidupan abadi pada level raga. Tapi, pada level Jiwa. Dan, mengenal-‘Ku’ pun bukanlah rnengenal-Nya di level badan, tapi di level Jiwa – di  mana, Ku-Dia dan Ku-Anda, Ku-kita adalah satu dan sama.” (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

Renungan Menemukan Jati Diri: Kama-Moksha, Artha –Dharma, bukan Kama- Artha

buku think on these things 1

Cover Buku Think on These Things

“Banyak cara, banyak jalan untuk menemukan Pusat di dalam Diri, untuk menemukan Jati Diri – namun, ada 4 Upaya Utama. Dan, setiap Upaya mewakili satu sudut, satu sisi kehidupan yang barangkali berseberangan namun dapat dipertemukan.

“Pertama adalah Kama atau Keinginan – Keinginan Kuat, Tunggal, untuk menemukan Jati Diri. Sementara ini, keinginan kita masih bercabang. Terdorong oleh hawa napsu, kita dapat menginginkan apa saja. Pelan-pelan, tanpa memaksa, kita harus mengarahkan Keinginan ini kepada diri sendiri. Dari sekian banyak keinginan-keinginan, kita menjadikannya satu keinginan – Keinginan untuk Menemukan Jati Diri.

“Kedua adalah Artha, biasa diterjemahkan sebagai Harta. Sesungguhnya Artha juga berarti ‘Makna’ atau ‘Arti’. Temukan Makna Hidupmu! Adakah uang itu, harta itu yang memberi makna pada hidupmu? Bila ya, maka berhati-hatilah. Karena apa yang kau miliki saat ini tak mungkin kau miliki untuk selamanya. Jangankan uang, anggota keluarga pun pada suatu ketika akan meninggalkanmu, atau kau meninggalkan mereka. Bila kau terlalu percaya pada ‘kepemilikan’-mu, maka hidupmu bisa menjadi sangat tidak berarti ketika apa yang saat ini masih kau miliki, tidak lagi menjadi milikmu. Berusahalah untuk menemukan makna lain bagi hidupmu. Barangkali ‘Kebahagiaan’, rasa bahagia yang kau peroleh saat kau berbagi kebahagiaan. Tidak berarti kau tidak boleh mencari uang…. Silakan mencari uang, silakan menabung, silakan menjadi kaya-raya, tetapi janganlah kau mempercayai harta kekayaanmu. Kau pasti kecewa. Apa yang kau miliki hari ini, belum tentu masih kau miliki besok pagi.

“Ketiga adalah Dharma, Kebajikan. Dalam bahasa sufi disebut Syariat – Pedoman Perilaku. Pedoman Perilaku berdasarkan Kesadaran, itulah Dharma. Jangan berbuat baik hanya karena kau dijanjikan sebuah kapling di surga. Itu bukanlah kebajikan, itu perdagangan belaka – jual beli. Berbuatlah baik karena Kebaikan itu Baik. Berbuatlah baik karena dirimu baik. Berbuatlah baik karena kau sadar. Seseorang yang berada pada Jalur Dharma tidak perlu dipaksa, tidak perlu iming-imingi, juga tidak perlu di-intimidasi, di-teror atau dipaksa untuk berbuat baik. la akan selalu berusaha untuk berbuat baik karena sadar!

“Keempat adalah Moksha, Kebebasan Mutlak. Dan, Kebebasan Mutlak berarti ‘Kebebasan dari’ sekaligus ‘Kebebasan untuk’. Kita bebas dari penjajahan, tetapi tidak bebas untuk berpendapat. Ada rambu-rambu yang perlu ditaati, diperhatikan dan tidak langgar. Kenapa ada rambu-rambu? Karena kita belum sadar. Kita belum cukup sadar untuk menggunakan ‘Kebebasan untuk’ dengan penuh tanggungjawab. Barangkali memang karena itu, atau barangkali ada pihak-pihak yang merasa akan dirugikan bila kita meraih ‘kebebasan untuk’.

 

“Kama, Artha, Dharma dan Moksha harus bertemu….. dan titik temunya itulah Tujuan Hidup, itulah Jati Dirimu! Titik temu antara keempat upaya itu. Titik temu antara pasangan yang berseberangan.  

“Janganlah kau mempertemukan Kama dengan Artha kerena kedua titik itu masih segaris. Pertemuan antara Kama dan Artha itulah yang selama itu terjadi. Kita hanya berkeinginan untuk mengumpulkan uang, mencari keuntungan dan menambah kepemilikan, entah itu berupa benda-benda yang tak bergerak, atau yang bergerak.

“Kama harus bertemu Moksha, itulah titik di seberangnya. Berkeinginanlah untuk meraih Kebebasan Mutlak. “  (Krishna, Anand. (2008). Think on These Things, Hal Hal Yang Mesti Dipikirkan Seorang Anak Bangsa. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

 

“Kemudian Artha dan Dharma – carilah harta sehingga kau dapat berbuat baik, dapat berbagi dengan mereka yang kekurangan. Berikan makna kepada hidupmu degan berbagi kebahagiaan, keceriaan, kedamaian, kasih.

“Selama ini kita menggabungkan Dharma dan Moksha. Berbuat baik, beramal-saleh untuk meraih kebebasan. Kemudian, kebebasan pun kita terjemahkan sebagai keselamatan bagi diri, jiwa, atau sebuah kapling di surga….. Bebas dari api neraka, itulah definisi kita tentang kebebasan. Bebas dari penderitaan, entah fisik, mental, emosional atau apa yang kita anggap ruhani, batin – itu saja. Padahal Ruh atau Batin melampaui suka dan duka. Ruh atau batin adalah Napas-Nya yang ditiupkan-Nya ke dalam “apa yang kita sebut sebagai diri kita”. Dan, penderitaan fisik, mental, maupun emosional semata-mata karena kita tidak mau menerima perubahan. Setelah digunakan selama puluhan tahun, Kendaraan Badan sudah pasti mengalami kerusakan – wajar, normal. Terimalah kewajaran itu.”  (Krishna, Anand. (2008). Think on These Things, Hal Hal Yang Mesti Dipikirkan Seorang Anak Bangsa. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)