Sabda Sang Guru 2 Shraddha Bhakti Ekagrataa

Oleh Bapak Anand Krishna: Sumber Media Hindu Edisi 169 Maret 2018

Advertisements

Bhakti Para Gopi, Pelayan dari Pelayan Tuhan

Udhava, salah seorang sahabat Krishna, menganggap diri seorang Gyaani, seseorang yang sudah berkesadaran. Berpengetahuan tinggi, sejati dan berpengalaman pribadi. Udhava sudah bisa melihat Kebenaran di balik wujud Krishna. Dia tidak terikat dengan wujud dan sifat, dengan rupa dan nama. Yang penting baginya adalah zat ilahi.

Melihat para Gopi di Brindavan menangisi Krishna, karena rindu terpisah dari wujud Sang Avatar, dia merasa kasihan. Dia menegur mereka, “Sadarkah kalian bahwa Krishna adalah Avatar? Penjelmaan Ilahi? Lalu apa yang kalian tangisi? Berusahalah untuk melihat yang ada di balik wujud dia dan wujud setiap makhluk. Berusahalah untuk melihat Kebenaran Sejati itu. Kebenaran yang ada di mana-mana. Di sini, di sana. , …”

Para Gopi seolah tidak memahami maksud Udhava. Mereka malah mengerumuni dia, “Katakan Udhava, apa kabar Sri Krishna? Apakah dia pun merindukan kami? Merindukan lorong-lorong sempit Vrindavan, tepi sungai Yamuna dan sapi-sapi yang ditinggalkannya?”

Udhava belum sempat jawab, dan datanglah kelompok lain yang langsung mengeluh, “Udhava, Sri Krishna sungguh seorang penipu. Berjanji akan kembali dalam dua hari, tapi sudah bertahun-tahun, dia tidak pernah kcmbali.”

Keluhan mereka memang pada tempatnya. Ketika meninggalkan Vrindavan, Krishna betul berjanji, “Pagi ini saya berangkat. Siang nanti juga sampai di Mathura. Besok seharian di sana. Lusa, kembali ke sini lagi.”

Saat itu, Krishna baru berusia belasan tahun. Dia diundang oleh Paman Kamsa untuk menghadiri pesta raya di Mathura. Sang paman sesungguhnya ingin membunuhnya. Firasat para gopi sangat kuat, “Tidak Krishna, kamu hanya membohongi kami. Kamu tidak akan kembali. Setelah membunuh Kamsa dan membebaskan kedua orangtuamu, kamu pasti ikut mereka.”

Krishna berjanji, “Ikut siapa? Betul, mereka orangtuaku. But, I belong to this place. Ayah dan Ibu Yashoda yang memeliharaku selama ini juga orangtuaku. Kalian semua pun di sini. Aku mau ke mana? Tidak, aku tidak akan ke mana-mana.

“Pagi ini aku berangkat. Siang nanti juga sampai di Mathura. Besok seharian di sana. Lusa, kembali ke sini lagi.” Sebuah janji yang tidak pernah ditepati. Dan percaya atau tidak, sampai hari ini warga Vrindavan tidak pernah menggunakan istilah “lusa”. Lima ribu tahun berlalu sudah, warga Vrindavan masih menagih janji Sang Avatar. Mereka masih menunggu “lusa”. Masih rnenunggu kedatangan Sri Krishna. Matematika mereka sederhana sekali. Krishna belum datang. Berarti lusa belum datang.

Bagaimana menyadarkan orang-orang seperti itu? Udhava bingung. Dan makin yakin bahwa para Gopi masih berkesadaran rendah sekali. Masih berkesadaran lahiriah. Belum bisa melampaui wujud dan sosok Sri Krishna. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2001). Narada Bhakti Sutra, Menggapai Cinta Tak Bersyarat dan Tak Terbatas. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

A course in spirituality part 2 laughter yoga and ananda video Youtube by Swami Anand Krishna

Saya akan cerita tentang laki-laki sikh yang pergi ke ashram Osho, dan dia diberikan pekerjaan sebagai penjaga gerbang. Dengan turban sikh, dan jenggot, orang mau masuk gerbang agak takut sedikit padanya. Osho berkata kamu sebagai penjaga gerbang. Kalau kamu tidak senang pada seseorang tendang saja keluar. Tahun demi tahun berlalu dan dia tetap menjadi penjaga gerbang.

Kemudian Osho berkata pada waktu satsang, semua harus menghentikan pekerjaan dan menghadiri satsang. Osho sedang bercanda, dan tawa penjaga gerbang adalah tawa yang paling menular. Ketika dia tertawa setiap orang mulai ketawa. Bisa bayangkan 10.000 orang tertawa bareng.

Kita pernah tertawa bersama 5.000 orang di Monas dan kita dapat masalah. Dan orang-orang pada takut, apa yang mereka kerjakan. Orang dapat takut karena tertawa karena tidak natural, tidak alami. Orang biasanya punya wajah yang panjang. Ini 5.000 orang tertawa. Mereka merasa diserang. Mengapa orang-orang ini tertawa.

Orang sikh ini tertawa yang sangat menular. Tapi setelah beberapa waktu, saat Osho datang dia mulai tertawa. Orang bertanya mengapa tertawa? Master datang, jawabnya. Apakah Master bercanda, kalaupun bercanda, tapi candaan itu belum disampaikan. Dan orang lapor pada Osho bahwa penjaga gerbang sudah tertawa sebelum Master menyampaikan canda.

Osho menjawab, mengapa kamu tanya saya? Tanyalah pada dia. Mengapa dia tertawa keras sebelum saya menyampaikan canda. Apakah dia ingin meditasi atau mengerjakan yang lain? Agar mokhsa? Orang-orang kemudian bertanya pada dia. Apakah kamu tidak ingin meditasi, latihan atau yang lain? Yoga, terapi, atau yang lain? Kamu hanya menjaga gerbang, Osho sudah datang dan kau sudah diberitahu, bahwa kau tidak harus di gerbang selamanya. Kau punya kesempatan ikut kursus-kursus karena kau telah menghabiskan waktu banyak tahun melayani gerbang, mengapa kau tidak melakukan meditasi.?

Dia menjawab, untuk apa? Kerja untuk moksha, untuk nirvana, itu dapat menunggu. Sekarang Master di sini biarlah saya ketawa untuk dia. Kalau dia tidak ada biarlah saya kerja untuk moksha untuk nirvana. Moksha dan nirvana dapat menunggu, saya dapat menundanya………. INILAH BHAKTI.

 

A course in spirituality part 3 this is love video youtube by Swami Anand Krishna

Gopi adalah orang yang sederhana. Mereka mendengarkan Uddhava. Dan kemudian menjawab, Udhava teman saya, cendikiawan, apa yang kau ketahui tentang bhakti? Apa yang kaunketahui tentang cinta? Ini bukan untuk kamu. Kamu tidak dapat membudakkan diri. Dan bhakti adalah membudakkan diri dengan sukarela. Dasanudas, saya adalah pelayan dari pelayan. Saya melayani pelayan Tuhan.

Bagaimana kau dapat melakoninya? Semakin cendekia kau, semakin kau meditasi dan yoga, berupaya berdiri dengan kepala di bawah. Kau merasa dapat mencapai moksha. Kau tidak mengerti bahasa ini. Bahasa ini bukan untukmu. Kamu tidak dapat memahami. Cinta adalah terlalu berharga, terlalu mahal.

Apabila kamu ingin belajar cinta. Apabila kamu ingin bisnis di sini. Kamu tidak dapat menggunakan euro, tidak dapat menggunakan dollars. Kamu tidak dapat menggunakan swiss frank. Mereka tidak dapat menggunakan british pounds. Mata uang yang diakui adalah kepalamu. Kamu harus memenggal kepalamu. Dan menyerahkannya kepada kekasihmu. Hanya dengan demikian kau dapat memperoleh cinta sebagai kembalian. Apa yang kau ketahui tentang cinta?………………… INI ADALAH BHAKTI.

Uddhava kau bilang kau mempunyai keluarga dan kau berupaya seimbang. Berdoa saat kamu berdoa. Hadir di tengah keluarga. Kau dapat berdoa sekian kali sehari. Setiap waktu 15 menit. Kau bersujud selama 15 menit dan kemudian hidup seperti biasanya (masih ada ego). Di sini setiap saat, setiap detik, kita bersujud (egoless, tanpa ego). Kita tidak punya waktu untuk berdiri.

Sangat-sangat dalam artinya. Tidak berarti kau berhenti makan berhenti bicara. Apa pun yang kau kerjakan dalam hidup ini. Dengan spirit, bukan saya bukan saya bukan saya (tidak ada ego), idam na mama semua persembahan…….

 

Kembali ke buku Narada Bhakti Sutra

Bagi seorang Udhava, patung dan wujud seorang Avatar – kedua-duanya – adalah berhala yang harus, dilampaui, dilewati. Dia mendesak para Gopi untuk melihat Kebenaran dari sisi yang satu itu, “Kalian tidak bisa melihat Kebenaran di balik wujud? Tidak bisa merasakan Kebenaran Yang Satu itu?”

“Kebenaran apa yang kau bicarakan, Udhava?” para Gopi bertanya kembali. “Kebenaran apa yang harus kami rasakan? Krishna adalah kebenaran hidup kami. Apa pula maksudmu dengan Kebenaran di balik wujud? Udhava, kami sudah tidak dapat berpikir lagi. Tidak dapat merasakan sesuatu lagi. Yang terpikir dan terasa hanyalah Krishna, Krishna, Krishna……..”

Udhava baru menyadari kesalahannya. Dia salah menilai kesadaran para Gopi. Untuk mencapai kesadaran kasih, memang segala sesuatu di luar kasih harus “dilepaskan”. Dan Udhava masih berada pada tingkat “pelepasan” itu.

Sebaliknya, para Gopi telah mencapai kesadaran kasih. Sudah tidak perlu melepaskan apa-apa lagi.karena memang tidak ada yang bisa dilepaskan. Tidak ada yang bisa melepaskan. Bagi para Gopi, yang ada hanyalah kasih, kasih dan kasih. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2001). Narada Bhakti Sutra, Menggapai Cinta Tak Bersyarat dan Tak Terbatas. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Renungan Diri: Bhakti, Pengabdian Belajar dari Hanuman #TheHanumanFactor

Bhakti, yang biasa diterjemahkan sebagai berbakti, mengabdi, atau memuja – sesungguhnya, memiliki makna yang jauh lebih dalam. Bhakti adalah semua itu plus dengan penuh kasih. Landasannya adalah kasih, kasih yang tak bersyarat dan tak terbatas.

Seorang anak bisa saja berbakti pada orangtuanya dengan harapan terselubung untuk mendapatkan warisan. Atau, rnendapatkan lebih banyak dari saudara-saudaranya. Karena, toh saudara-saudaranya tidak mengunjungi orangtua sesering dirinya, walau ia tidak mengungkapkan hal itu. Niat saja sudah cukup untuk menodai baktinya. Ia belum berbhakti.

Seorang hamba, seorang pengabdi pun sama. Ia bisa berhamba, mau mengabdi karena digaji, atau seperti para abdi-dalem di keraton-keraton kita. Gaji mereka tidak seberapa, tapi mereka puas dengan kedudukan mereka sebagai abdi-dalem. Mereka pun mengabdi demi posisi itu, demi gelar itu, demi penghargaan itu, demi identitas itu. Bagi kita, identitas “abdi-dalem” mungkin tidak berarti apa-apa. Tapi bagi mereka sangat berarti. Bagi mereka, identitas itu adalah jauh lebih berharga daripada uang jutaan per bulan. Jadi, di balik pengabdian dan penghambaan, mereka pun masih ada pamrih.

Pengabdian dan penghambaan kita pada Gusti Pangeran pun sama. Ada yang mengharapkan rezeki dari Gusti, ada yang mengharapkan kehorrnatan dari masyarakat, “Dia seorang saleh, dia begini, dia begitu………

BHAKTI MESTI BERLANDASKAN CINTA-KASIH tanpa batas dan tanpa syarat. Ditambah lagi dengan kata ananya – berarti, dengan segenap jiwa, raga, perasaan, pikiran, intelegensia, semuanya terpusatkan. Dengan kesadaran tunggal. Termasuk, ia tidak lagi memisahkan profesi, pekerjaan, kewajiban terhadap keluarga, masyarakat, lingkungan, dan lainnya – dari bhaktinya, dari pemujaannya.

Hidup dia telah berubah menjadi aksi-bhakti. Ia menginterpretasikan bhakti lewat hidupnya. Ia menerjemahkan bhakti dalam bahasa tindakan nyata. Dan, ia melakukan semua ini karena ia melihat Wajah Gusti Pangeran di mana-mana. Baginya melayani sesama makhluk adalah ungkapan cintanya bagi Gusti Pangeran. Penjelasan Bhagavad Gita 9:30 dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

Berikut adalah wujud Bhakti, Pengabdian dalam diri Hanuman:

Buku The Hanuman Factor

Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu; Saha vīryam karavāvahai; Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga Hyang Tunggal senantiasa melindungi kita; menjernihkan pikiran kita: semoga kita dapat berkarya bersama dengan penuh semangat; semoga apa yang kita pelajari mencerahkan dan tidak menyebabkan permusuhan; Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

Hridaya Basahu Sura Bhoopa—Bersemayamlah di Hati ini Selamanya, Wahai Yang Teragung di antara semuanya!

Ini adalah permintaan yang ditujukan kepada Hanuman, yang adalah perwujuan dari pengabdian. Karena perannya di dalam Ramayana, kisah tentang Rama, sangatlah penting. Berikut ini adalah signifikansi spiritual dari kisah Ramayana:

 

“Sita melambangkan jiwa manusia. Rahwana, Dunia, menawannya karena keterikatannya yang salah terhadap keduniawian, yang dilambangkan oleh sang kijang emas. Maka, ia pun terpisah dari Rama, Sang Jiwa Tertinggi. Dan ia pun ditawan di Lanka, kota keterikatan mental dan emosional. Hanya melalui pengabdian Hanuman dan cincin kedisiplinan yang dikirimkan oleh Rama untuk memeriksa gejolak dari pikiran, maka Sita mampu mendapatkan kembali apa yang telah hilang.

Namun, sebelum pertemuan agung, Sita mesti menjalani ritual penyucian untuk membersihkan jiwanya. Setelah terbersihkan, maka jiwa pun bersatu kembali dengan Tuhan!”

 

Ada banyak karakter dalam kisah Ramayana, setiap karakter sama-sama penting. Namun tiga karakter, Rama, Sita dan Hanuman menjadi karakter yang paling berpengaruh. Semua karakter yang lain sesungguhnya menjadi bagian dari ketiga tokoh ini. Mereka datang dan pergi di sekitar ketiga karakter ini.

Kita dapat menempatkan diri kita dalam peran apa saja dari peran-peran yang ada dalam kisah ini. Kita bisa memilih salah satu dari trio karakter ini, atau salah satu dari yang datang dan pergi di sekitar trio karakter tersebut.

Pilihlah Rama, jika Anda bersedia untuk mengambil semua jenis resiko dan tanggung jawab. Pilihlah Sita jika Anda membutuhkan bahu Rama untuk bersandar. Pilihlah Hanuman jika Anda ingin bermain aman. Anda tidak mungkin salah. Anda tidak mungkin gagal. Karena Hanuman adalah CEO yang paling sukses di ranah spiritualitas, di alam kebatinan.

Penyatuan Terakhir dengan Yang Maha Tinggi adalah tujuan dari semua bentuk kehidupan. Inilah misi hidup kita. Hanuman telah menyelesaikan misi tersebut. Dan ia menunjukkan jalannya kepada kita. Sesungguhnya Hanuman adalah jalan itu sendiri. Karena ia mewakili pengabdian; yang adalah jalan yang paling pasti dan yang paling aman menuju Tuhan.

Ia adalah pembimbing yang paling agung.

Ia terlahir untuk membimbing kita kembali kepada Tuhan, sebuah tugas yang dipercayakan oleh sang Bunda kepadanya. Rama dapat terpisah dari Sita, tetapi tidak dari Hanuman. Setelah bertemu untuk pertama kalinya, sesungguhnya Rama dan Hanuman telah menyatu. Pertemuan mereka adalah penyatuan paripurna, penyatuan ilahi; yoga.

Janganlah memberi atribut apa pun pada Yoga Ram-Hanuman ini. Yoga mereka adalah yoga sejati, yoga sebenarnya—Penyatuan. Titik.

Anda akan menemukan bhakti atau pengabdian dalam yoga mereka. Anda akan menemukan raja atau meditasi di dalam penyatuan mereka. Anda akan menemukan gyaana atau kebijaksanaan di dalam pertemuan mereka. Dan Anda akan menemukan karma atau karya tanpa pamrih di dalam hubungan mereka. Keempat cabang yoga menemukan pemenuhannya di dalam penyatuan Rama dan Hanuman.

Maka dari itu, jadilah seorang Hanuman, seorang yogi sejati.

Bermeditasilah dan temukan Rama di dalam diri Anda, dan mengabdilah kepadanya. Kembangkan kebijaksanaan untuk menemukan Rama yang ada di luar diri, di segala penjuru. Berkaryalah tanpa pamrih untuk mewujudkan pertemuan diri sejati di dalam diri dengan diri sejati di luar diri. Karena ketika dan di mana “yang di dalam” bertemu dengan “yang di luar”, maka saat itulah dan di sanalah TUHAN berada.

Dikutip dari Terjemahan (Krishna, Anand. (2010). The Hanuman Factor, Life Lessons from the Most Successful Spiritual CEO. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Om, Sarve bhavantu sukhinaḥ; Sarve santu nirāmayāḥ; Sarve bhadrāṇi paśyantu; Mā kashchit duḥkha bhāgbhavet; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga semua makmur, bahagia dan bebas dari penyakit. Semoga semua mengalami peningkatan kesadaran, dan bebas dari penderitaan. Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/

 

Renungan #Gita: Materi Membuat Kita Bergelinding Antara Kutub Suka Dan Duka, Bhakti Cara Melampauinya?

buku bhagavad gita

Cover Buku Bhagavad Gita

Kitab Kuno Nusantara yang masih Relevan sebagai Panduan hingga masa kini Sara Samuccaya ayat 455 menyatakan bahwa materi hanyalah mengakibatkan kenikmatan sesaat yang tidak abadi: Sebagaimana seekor kambing bisa dituntun ke mana saja dengan cara diiming-imingi segenggam atau beberapa helai rumput yang sekadar diperlihatkannya saja — demikian pula diriku dipermainkan oleh Trsna. Diiming-imingi kebahagiaan, yang temyata hanyalah kenikmatan indra yang bersifat sesaat saja — aku dibuatnya pusing tujuh keliling.

Pengertiannya, keinginan sekuat apa pun yang berasal dari nafsu atau trsna hanyalah menghasilkan kenikmatan indra yang bersifat sesaat, dan tidak pemah memuaskan. Trsna tidak pernah menghasilkan kebahagiaan sejati dan kepuasan batin. Kita tertipu olehnya, dalam arti kata lahir-mati lahir-mati berulang-ulang — itu saja.

Silakan baca ulang: https://gitakehidupansepasangpejalan.wordpress.com/2015/11/22/renungan-diri-usia-muda-kesehatan-bahkan-kehidupan-takluk-pada-kematian-hanya-trsna-nafsu-tak-pernah-takluk/

 

Yoga Sutra Patanjali menyatakan bahwa membiarkan diri terkendali materi dan menuruti kepuasan indra, kenikmatan sesaat bisa mencelakakan diri dan orang lain: Jika Yoga berarti disiplin diri, pengendalian diri, Bhoga berarti sebaliknya, yakni hidup tanpa disiplin, membiarkan diri terkendali alam benda dan kebendaan; membiarkan indra lepas kendali dan mencari mangsa, mencari kenikmatan sesaat yang tidak berarti (malah bisa membahayakan, mencelakakan diri dan orang lain).

Silakan baca ulang: https://gitakehidupansepasangpejalan.wordpress.com/2015/10/21/renungan-yoga-patanjali-nakal-nakal-sedikit-bolehkah-tidak-boleh-yoga-adalah-disiplin/

 

Menurut Bhagavad Gita jalan keluar dari kejatuhan diri akibat terpikat dengan materi hanyalah dengan cara Bhakti:

Bhagavad Gita 9:31

“Demikian, Sang Dharmatma atau wujud Kebajikan itu meraih segala kemuliaan serta kedamaian sejati. Ketahuilah Kaunteya (Arjuna, Putra Kunti), seseorang yang berbhakti seperti itu tidak pernah jatuh dan punah. Dan, niscayalah kesadarannya tak pernah merosot lagi.” Bhagavad Gita 9:31

 

Ini adalah sebuah janji. Janji yang luar biasa. Kepunahan adalah sifat materi. Naik-turun, jatuh-bangun, meningkat dan merosot –semuanya adalah sifat materi, terkait dengan kesadaran jasmani.

Ketika Jiwa individu masih mengidentifikasikan dirinya dengan materi, dengan benda, dengan indra, dengan alam benda, dengan suka dan duka yang diperolehnya dari hubungan dengan semua itu – maka tidak-bisa-tidak ia berjungkat-jungkit sepanjang usia. Tidak-bisa-tidak ia bergelinding antara dua kutub senang-susah, bahagia-gelisah, dan sebagainya.

Mereka yang tidak memahami hal ini, tidak berjiwa bhakti, senantiasa berupaya untuk mengubah keadaan. Padahal, perubahan sudah merupakan sifat dasar alam benda. Menceraikan satu pasangan dan mengawini orang lain bukan solusi. Bukan solusi meditatif. Mengharapkan cinta dari sesama manusia – setidaknya, bagi seorang bhakta, sebagaimana dikatakan oleh Paramhansa Yogananda adalah penghinaan terhadap Gusti Pangeran. Seolah ia tidak mendapatkan kasih dari-Nya.

Seorang anak meninggalkan masakan ibunya yang sudah disajikan di atas meja. Sudah dibuat, dimasak dengan penuh cinta. Kemudian mencari makanan di luar. Dengan cara itu, ia menghina ibu yang melahirkannya. Ia menghina masakannya.

Implikasinya sama saja seperti meninggalkan pasangan di rumah, dan mencari pasangan lain di luar rumah. Hati seorang bhakta yang seluruh kesadarannya terpusatkan pada Gusti Pangeran, sudah tidak bercabang lagi. Ia telah menghaturkannya pada Gusti Pangeran. Alam benda hanyalah ibarat kantor tempat ia bekerja, bukan rumahnya. Rumahnya adalah istana Gusti Pangeran. Ia tidak pernah lupa akan hal itu.

Ia tidak mencari rumah lain. Ia tidak mencari cinta dari dunia benda. Ia sudah mendapatkan segala-galanya dari Gusti Pangeran, Hyang adalah Wujud Cinta Kasih.

Dikutip dari buku: (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/

 

Banner utk di web

oec2Elearning-Banner-2

Renungan Diri: Jalan Kasih, Lembut, Penuh Rasa Bhakti, Pengabdian Purna Waktu, Sepenuh Hati

buku ultimate learning

Cover Buku The Ultimate Learning

 

“Wahai Hyang Maha Menawan,

Engkau telah mengisi nama-Mu

dengan kekuatan-Mu yang berlimpah.”

Petikan dari Bait Ketiga Shiksha Shatakam diambil dari buku (Krishna, Anand. (2010). The Ultimate Learning Pembelajaran Untuk Berkesadaran. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

“Nama yang dimaksud di sini adalah nama yang spesifik. Tidak berarti nama yang dimaksud ini lebih tinggi atau lebih penting daripada nama-nama lain. Sama sekali tidak.

“Nama yang spesifik ini, Krishna atau Hyang Mahamenawan, hanya digunakan karena Chaitanya hendak mengajak kita untuk menuju rumah-Nya lewat jalan kasih.

“Banyak jalan untuk menuju rumah-Nya, dan kita dapat memilih jalan yang mana saja, seperti tertulis dalam Bhagavad Gita, “Jalan mana pun yang kau tempuh, kau akan bertemu dengan-Ku!”

“Semua jalan benar adanya, sama-sama benar. Tidak ada satu pun jalan yang salah. Kesalahan adalah ketika kita bermalas-malasan dan tidak berjalan.

“Bila Hyang Maha Menawan hendak dituju, maka jalan kasihlah yang mesti ditempuh. Ini adalah jalan lembut, jalan yang penuh rasa. Inilah Bhakti, pengabdian purna waktu yang sepenuh hati. Mencintai Gusti Pangeran sebagaimana Rabi’ah al Adawiyya mencintai Tuhan.

 

Jalan Kasih

“Bila Hyang Maha Menawan yang hendak dituju, maka jalan kasihlah yang mesti ditempuh. Ini adalah jalan lembut, jalan yang penuh rasa. Inilah bhakti, pengabdian purna waktu dan sepenuh hati.

“Mencintai Gusti Pangeran sebagaimana Rabi’ah al Adawiyya mencintai Tuhan.” (Krishna, Anand. (2010). The Ultimate Learning Pembelajaran Untuk Berkesadaran. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

 

“Harapan akan diri-Mu, itulah kekayaanku,

Nama-Mu di bibirku, itulah bahasaku,

Saat terpenting adalah ketika aku bersama-Mu,

Ya Allah, aku tak dapat hidup tanpa-Mu di dunia ini,

Bagaimana pula hidup di dunia lain tanpa melihat wajah-Mu?

Aku bagaikan orang asing di negeri-Mu,

Dan seorang diri di tengah kerumunan mereka yang menyembah-Mu,

Inilah yang selalu kukeluhkan.”

 

“Awam tak mampu memahami hubungan kasih seperti ini. Mereka yang tidak tahu arti cinta sejati akan menyalahpahami ini sebagai kasmaran yang tak berarti.

“Lalu apakah seorang Rabi’ah mesti berpindah jalur dan mengikuti para panembah lain? Tidak, ia tetap berada di jalurnya. Jalurmu bagimu, jalurku bagiku, dan biarlah Rabi’ah pun menentukan sendiri jalurnya.

“Santo Fransiskus melihat wajah Sang Kekasih dalam segala bentuk kehidupan. Pepohonan, bebatuan, dan hewan, semuanya adalah wujud Allah baginya. Apakah kita mesti memaksa San Fransiskus untuk berdoa dan menyembah dengan cara kita?

“Biarlah para pecinta menempuh jalan cinta  sejati. Adalah kemalangan kita jika kita tidak dapat memahami cinta mereka. Adalah kelemahan jiwa kita jika kita tidak dapat merasakan kekuatan kasih mereka.”  (Krishna, Anand. (2010). The Ultimate Learning Pembelajaran Untuk Berkesadaran. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Renungan Gita: Bhakti = Mengabdi plus Penuh Kasih plus dengan Segenap Jiwa Raga

buku bhagavad gita

Cover Buku Bhagavad Gita

Merasa sudah sebagai Abdi Tuhan? Hamba Allah? Pelayan bisa menjadi hamba, baby sitter bisa mengabdi, memelihara anak dengan profesional, apakah penuh kasih seperti anaknya sendiri? Apakah hatinya tidak bercabang ke anaknya di desa atau ke hal yang lain selain pekerjaannya?

“Krsna mengaitkan bhakti atau pemujaan, panembahan, devosi, dengan kasih. Bhakti, yang biasa diterjemahkan sebagai berbakti, mengabdi, atau memuja – sesungguhnya, memiliki makna yang jauh lebih dalam. Bhakti adalah semua itu plus dengan penuh kasih. Landasannya adalah kasih, kasih yang tak bersyarat dan tak terbatas.

…..

Bhakti mesti berlandaskan cinta-kasih tanpa batas dan tanpa syarat. Ditambah lagi dengan kata ananya – berarti, dengan segenap jiwa, raga, perasaan, pikiran, intelegensia, semuanya terpusatkan. Dengan kesadaran tunggal. Termasuk, ia tidak lagi memisahkan profesi, pekerjaan, kewajiban terhadap keluarga, masyarakat, lingkungan, dan lainnya – dari bhaktinya, dari pemujaannya.”  (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

 

Dunia hanyalah Kantor, Bukan Rumah Tempat ia Menetap

 

Bhagavad Gita 9:31: “Demikian, Sang Dharmatma atau wujud Kebajikan itu meraih segala kemuliaan serta kedamaian sejati. Ketahuilah Kaunteya (Arjuna, Putra Kunti), seseorang yang berbhakti seperti itu tidak pernah jatuh dan punah. Dan, niscayalah kesadarannya tak pernah merosot lagi.”

“Ini adalah sebuah janji. Janji yang luar biasa. Kepunahan adalah sifat materi. Naik-turun, jatuh-bangun, meningkat dan merosot –semuanya adalah sifat materi, terkait dengan kesadaran jasmani.

Ketika Jiwa individu masih mengidentifikasikan dirinya dengan materi, dengan benda, dengan indra, dengan alam benda, dengan suka dan duka yang diperolehnya dari hubungan dengan semua itu – maka tidak-bisa-tidak ia berjungkat-jungkit sepanjang usia. Tidak-bisa-tidak ia bergelinding antara dua kutub senang-susah, bahagia-gelisah, dan sebagainya.

Mereka yang tidak memahami hal ini, tidak berjiwa bhakti, senantiasa berupaya untuk mengubah keadaan. Padahal, perubahan sudah merupakan sifat dasar alam benda. Menceraikan satu pasangan dan mengawini orang lain bukan solusi. Bukan solusi meditatif. Mengharapkan cinta dari sesama manusia – setidaknya, bagi seorang bhakta, sebagaimana dikatakan oleh Paramhansa Yogananda adalah penghinaan terhadap Gusti Pangeran. Seolah ia tidak mendapatkan kasih dari-Nya.

Seorang anak meninggalkan masakan ibunya yang sudah disajikan di atas meja. Sudah dibuat, dimasak dengan penuh cinta. Kemudian mencari makanan di luar. Dengan cara itu, ia menghina ibu yang melahirkannya. Ia menghina masakannya.

Implikasinya sama saja seperti meninggalkan pasangan di rumah, dan mencari pasangan lain di luar rumah. Hati seorang bhakta yang seluruh kesadarannya terpusatkan pada Gusti Pangeran, sudah tidak bercabang lagi. Ia telah menghaturkannya pada Gusti Pangeran. Alam benda hanyalah ibarat kantor tempat ia bekerja, bukan rumahnya. Rumahnya adalah istana Gusti Pangeran. Ia tidak pernah lupa akan hal itu.

Ia tidak mencari rumah lain. Ia tidak mencari cinta dari dunia benda. Ia sudah mendapatkan segala-galanya dari Gusti Pangeran, Hyang adalah Wujud Cinta Kasih.”  (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

Renungan Gita: Bhakti jalan menembus Tirai Maya, Hijab Ilusif

(lanjutan Renungan Gita: Terbebaskan dari Sinetron Jagad Raya)

Kita hidup dalam Sinetron Jagad Raya. Adanya tiga sifat alam – Sattva yang menenangkan, Rajas yang penuh gairah, dan Tamas yang membuat malas dan membodohkan, membuat kita merasa benar-benar hidup nyata. Dan,  kita lupa bahwa kita ini sebenarnya sedang main di atas layar sinetron yang bersambung. Hanya melalui jalan bhakti kita bisa bisa memahami permainan sinetron yang terasa nyata dan selanjutnya kita dapat melepaskan diri dari permainan yang tak kunjung usai.

buku bhagavad gita

Cover Buku Bhagavad Gita

 

Bhagavad Gita 7:14

“Tirai Maya, hijab ilusif, yang terbuat dari tiga sifat alam – Sattva yang menenangkan, Rajas yang penuh gairah, dan Tamas yang membuat malas dan membodohkan – memang sungguh menakjubkan dan sulit dilampaui. Hanyalah mereka yang senantiasa berbakti pada-Ku, dan Jiwanya terpusatkan pada-Ku yang akan dapat melampauinya.”

 

“Maya – kekuatan ilusif ini adalah kekuatan-Nya, yang menimbulkan, memunculkan ‘kesan ciptaan’. Ya, ‘kesan ciptaan’ – seperti kesan suka-duka, banjir-kering, panas-dingin, kelahiran-kematian, dan sebagainya yang kita peroleh saat menyaksikan sebuah pertunjukan. Semuanya sekadar kesan.

“Kelahiran dan kematian; suka dan duka adalah tuntutan ‘peran’ yang dimainkan oleh para pemain di atas panggung. Ketika ‘peran’ itu berakhir, si pemain tidak ikut berakhir dengannya. Ia bisa muncul lagi dalam periode berikutnya, melanjutkan perannya. Atau, bahkan memainkan peran lain. Atau muncul dalam kisah lain.

“Memang membingungkan – Kita selalu dibingungkan oleh kisah-kisah yang seolah tidak berkesinambungan, sebagaimana seseorang yang tiba-tiba menonton satu episode sinetron yang sudah berjalan lama. Ia tidak mengetahui kisah awalnya. Ia tidak tahu alur ceritanya seperti apa.

“Mengetahui seluruh cerita, menyaksikan sinetron atau serial dari awal pun sesungguhnya hanyalah untuk menghibur diri. Janganlah percaya pada  peran yang dimainkan oleh setiap pemain. Itu bukan karakter mereka, bukan sifat mereka yang sesungguhnya.” (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

 

“Tertipu oleh peran – tertipu oleh karakter-karakter di atas panggung. Kita pun sedang menuju nasib yang sama. Mati secara alami dalam keadaan kecewa atau mati bunuh diri – sama saja. Unsur kekecewaan ada dalam keduanya.

“Tapi apakah setiap orang mesti mengalami nasib yang sama? Tidak, Krsna meyakinkan kita bahwa jika kesadaran kita terpusatkan pada Sang Aku Sejati, pada Sang Jiwa Agung, maka kita tidak perlu mati dengan cara yang mengenaskan itu. Kita bisa mati sambil tersenyum, “Terima kasih peranku sudah selesai!” (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)