Sibuk Meraih Kenikmatan Duniawi Sampai Maut Menjemput #BhagavadGita

Dunia ini penuh dengan orang-orang bodoh. Mereka hidup tanpa mengetahui arah. Mereka tidak tahu tujuan hidup itu apa. Mereka pikir makan, minum, tidur, seks, kekuasaan, harta-benda, itulah kehidupan. Mereka “tampak”bahagia, tapi sesungguhnya hampa. Mereka kosong.

Hingga usia 35-40 tahun, mungkin mereka tidak mengerti arti kebahagiaan, dan menerjemahkan “kenyamanan” sebagai “kebahagiaan”. Setelah usia 35-40 tahun, umumnya mereka  baru tersadarkan bahwa kenyamanan tidak sama dengan kebahagiaan. Namun, saat itu pun mereka masih belum tahu cara untuk meraih kebahagiaan sejati.

Adalah suatu berkah jika seorang yang sudah berusia 35-40 tahun masih sempat tersadarkan akan kesalahannya, dan mulai mencari kebahagiaan sejati. Biasanya, mereka hidup sebagai layangan yang putus – tanpa arah – bergantung pada arus angin. Demikian satu masa kehidupan tersia-siakan.

Dibutuhkan energi yang luar biasa untuk menarik diri dari pengaruh maya. Dan, energi sedahsyat itu adalah energi seorang pemuda, seorang pemudi di bawah usia 30-35 tahun. Energi semasa itu, energi hingga usia itu adalah energi keberanian, kepahlawanan. Energi yang membuat seorang berani mengambil resiko itu, tidak bertahan lama. Gunakan energi itu sekarang, dan saat ini juga, sebelum ia meredup! Penjelasan Bhagavad Gita 7:15 dikutip dari buku: (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

 

Apakah yang demikian itu terjadi karena pada umumnya kita semua dibawah pengaruh rajas yang dinamis dan agresif? Silakan simak penjelasan Bhagavad Gita 14:22 di bawah ini:

Cover Buku Bhagavad Gita

Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu; Saha vīryam karavāvahai; Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga Hyang Tunggal senantiasa melindungi kita; menjernihkan pikiran kita: semoga kita dapat berkarya bersama dengan penuh semangat; semoga apa yang kita pelajari mencerahkan dan tidak menyebabkan permusuhan; Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

“Wahai Bharatarsabha (Arjuna, Banteng Dinasti Bharat), ketika sifat Rajas berkuasa, seseorang menjadi serakah; dan, segala aktivitasnya hanyalah bertujuan untuk meraih kenikmatan duniawi. Sebab itu, ia pun gelisah ketika keinginan-keinginannya tidak terpenuhi.” Bhagavad Gita 14:12

 

Kekuasaan Rajas adalah yang paling umum. Rata-rata, kita semua, hampir sepanjang hari, berada di bawah pengaruhnya.

SEPANJANG HARI KITA AKTIF BEKERJA – Namun, tujuan kita hampir selalu untuk menghasilkan materi “saja”. Jarang sekali kita memikirkan apakah pekerjaan itu mulia atau tidak? Apakah pekerjaan itu hanya menguntungkan kita semata atau juga adalah baik bagi orang-orang di sekitar kita? Apakah kita mencari keuntungan di atas penderitaan orang lain?

Kemudian, ketika keinginan dan harapan kita untuk meraih keuntungan sebesar dan sebanyak mungkin tidak tercapai, kita rnenjadi gelisah. Kegelisahan semacam itu memang wajar, lazim, dan alami — karena kesenangan sesaat yang kita kejar selalu bergandengan dengannya.

SELAMA KITA MENGEJAR “SUKA”, maka “duka” yang adalah kembarannya, menanti di luar pintu kehidupan kita. Begitu “suka” keluar, masuklah “duka”. Demikian mereka bergantian mengunjungi kita. Para pengunjung setia!

Inilah keadaan orang yang berada di bawah pengaruh rajas. Ketika berhasil, ia bersuka-cita. Ketika gagal, ia berduka. Kadang senang, kadang susah. Ia selalu terombang-ambing dalam lautan samsara — pengulangan yang tidak pernah berhenti.

Samsara “pengulangan” adalah sebab kesengsaraan. Awalnya barangkali menyenangkan, tapi akhirnya selalu membosankan, mengecewakan dan menggelisahkan.

 

HAL INI BISA DIRASAKAN OLEH PARA JET-SETTERS – Awalnya, mereka menikmati perjalanan ke mana-mana. Hidup mereka hampir sepenuhnya di pesawat terbang. Baru pulang, besok berangkat lagi. Sayangnya, saya tidak pernah bertemu dengan seorang jet-setter “sejati” yang “akhirnya” tidak mengeluh, “Untuk apa semuanya ini? saya punya segala-galanya. Rumah di Jakarta, apartemen di Inggris, kantor di New York, kastil di Perancis. Tapi kapan saya menikmatinya?”

Adalah para pegawai mereka yang menikmati semuanya itu. Mereka sendiri tidak punya waktu lagi untuk menikmatinya.

Di usia uzur, ketika Dewa Yama, Malaikat Maut sudah menunggu di luar pintu, mereka masih sibuk memikirkan, “Bagaimana dengan kerajaan yang telah kubangun? Apakah anakku dapat mempertahankannya? Apakah para direktur dan CEO akan tetap setia? Apa yang akan terjadi dengan perusahaan-perusahaan yang kubangun dengan jerih payah, cucuran keringat dan darah?”

 

JIWA YANG TERGANGGU oleh pikiran-pikiran seperti itu, lupa akan jati dirinya sebagai Jiwa Merdeka — Ia “mengalami kematian” dalam keadaan terguncang. Kemudian, setelah pengalaman kematian itu, ia mengejar lagi pengalaman kelahiran ulang. Dan dalam pengalaman hidup berikutnya pun, ia masih tetap mengejar hal yang sama. Inilah Samsara.

Lagi-lagi ia mencari pengalaman suka dari timbunan harta. Awalnya ia bahagia, namun akhirnya, ia kembali gelisah. Demikian seterusnya dari satu masa kehidupan ke masa kehidupan berikutnya. Apa tidak membosankan? Badan dan perangkat indra yang baru tidak memiliki memori dari masa lalu. Gugusan pikiran dan perasaan memilikinya, tapi lupa. Namun, Jiwa tidak lupa. Ia mengalami kegelisahan yang luar biasa, tapi karena keterikatannya dengan pengalaman-pengalaman tertentu, ia “merasa” tidak berdaya untuk berulangkali lahir dan mati. Demikianlah keadaan kita saat ini.

Dikutip dari buku: (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

 

Om, Sarve bhavantu sukhinaḥ; Sarve santu nirāmayāḥ; Sarve bhadrāṇi paśyantu; Mā kashchit duḥkha bhāgbhavet; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga semua makmur, bahagia dan bebas dari penyakit. Semoga semua mengalami peningkatan kesadaran, dan bebas dari penderitaan. Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/

 

Berkarya Tanpa Pamrih untuk Melayani Sesama #BhagavadGita

Gita bukanlah buku yang bisa tamat. Gita adalah Panduan Hidup yang memandu kita selama kita masih hidup, atau lebih tepatnya, selama kehidupan sendiri masih ada.

Percakapan Kedelapanbelas ini adalah tentang Kebebasan Mutlak. Sesungguhnya, kebahagiaan sejati adalah hasil dari kebebasan. Jiwa-Jiwa yang masih diperbudak oleh hawa nafsu, indra, dan sebagainya – masih belum bebas, sehingga tidak pernah menikmati Kebahagiaan Sejati.

Lewat percakapan ini, pesan Krsna menjadi makin jelas. Jadilah bebas, jadilah bahagia….. itulah Kebenaran Perjalanan Hidup, itulah Kesadaran Tertinggi yang mesti digapai: Sat-Cit-Ananda. Dikutip dari Kata pengantar Percakapan Kedelapanbelas buku Bhagavad Gita.

 

Berikut penjelasan Bhagavad Gita 18:1 dan 18:2 tentang samyas memisahkan diri dari urusan duniawi dan tyaga, melepaskan hasil:

Buku Bhagavad Gita

Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu; Saha vīryam karavāvahai; Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga Hyang Tunggal senantiasa melindungi kita; menjernihkan pikiran kita: semoga kita dapat berkarya bersama dengan penuh semangat; semoga apa yang kita pelajari mencerahkan dan tidak menyebabkan permusuhan; Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

PERTAMA TENTANG SAMNYAS – Dalam tradisi yang sudah berjalan selama ribuan tahun di wilayah peradaban Sindhu, Shin-tuh, Hindu, Hindia, Indies, Indo — samnyas adalah salah satu tahap dalam kehidupan manusia. Sesuai dengan pedoman kemasyarakatan di wilayah peradaban ini, usia di atas 60an tahun adalah untuk memasuki samnyas, untuk memisahkan diri dari segala urusan duniawi, menarik diri dari keramaian, tinggal di tempat yang jauh dari kota untuk melakukan praktek-praktek spiritual. Nah, saat perang Bharata- Yuddha, usia Arjuna maupun Krsna sudah sekitar 70an tahun.

Adakah Arjuna ingin mendapatkan konfirmasi dari Krsna, “Bukankah dalam usia kita ini, lebih cocok bila kita memasuki samnyas — tahap kehidupan terakhir di mana urusan dunia sudah terlewatkan?”

Krsna memahami maksud Arjuna. Untuk terakhir kalinya dalam bab ini, Krsna berupaya untuk menegaskan peran Arjuna sebagai seorang kesatria. Sekaligus, Ia pun menjelaskan arti lain tentang tyaga dan samnyas. Sebuah terobosan baru oleh Krsna, sebuah definisi baru yang masih relevan hingga hari ini — 5.000an tahun setelah perang Bharata-Yuddha. Penjelasan Bhagavad Gita 18:1 dikutip dari buku: (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

 

 

Sri Bhagavan (Krsna Hyang Maha Berkah) bersabda:

“Para Resi menjelaskan samnyas sebagai pelepasan diri dari segala perbuatan yang termotivasi oleh keinginan untuk meraih imbalan, memperoleh sesuatu; dan, tyaga, sebagaimana dijelaskan oleh para bijak, adalah menyerahkan, melepaskan segala pahala, seluruh hasil dari setiap perbuatan.” Bhagavad Gita 18:2

Ini adalah terobosan baru…..

 

KRSNA TIDAK MENJELASKAN SAMNYAS sebagai penarikan diri dari keramaian dunia. Jika kita berperan sebagai Arjuna, di mana urusannya adalah membela kebajikan dan keadilan — maka tidak ada masa pensiun. Sebab itu, samnyas dijelaskan bukan sebagai penarikan diri dari keramaian dunia; segala urusan dunia; maupun dari segala perbuatan. Tapi, sebagai pelepasan atau penarikan diri dari segala perbuatan yang termotivasi oleh keinginan untuk meraih imbalan.

Di usia uzur pun, jika memang peran kita menuntutnya, maka kita mesti tetap berkarya, berjuang. Arjuna belum menyelesaikan perannya. Ia mesti berjuang. Pun demikian dengan mayoritas kita hingga saat ini.

Tidak semua orang mesti menjadi petapa dan tinggal di tengah hutan. Tidak semua orang mesti menyepi. Tidak semua orang mesti menarik diri dari keramaian.

Arjuna termasuk mereka yang mesti menjalani samnyas dengan pemahaman baru ini. Dan sesungguhnya kita pun demikian. “Kemungkinan besar” demikian!

 

BERKARYALAH TANPA MEMIKIRKAN HASIL, tanpa motivasi yang berlandaskan pada keinginan untuk menjadi super kaya, super tenar, dan super apa saja!

Berkaryalah dengan semangat melayani sesama.

Dengan berkarya seperti itu, sesungguhnya kita pun sudah memasuki samnyas. Kita sudah tidak lagi memikirkan kepentingan diri. Kita sudah tidak berdagang sapi, tidak terlibat dalam transaksi, “lu jual, gue beli.”

Kendati demikian, setiap laku, setiap perbuatan, setiap karma tidak bisa dilepaskan dari konsekuensinya, tiada sebab tanpa akibat, tiada aksi tanpa reaksi.

Karya baik menghasilkan kebaikan, dan karya buruk menghasilkan keburukan. Nah, “Hasil Baik” pun dapat menjadi kepala ular dalam perrnainan ular tangga dan mematuk kita. Kita bisa menjadi “besar kepala” karena kebesaran hasil dari pekerjaan-“ku”, dari jerih payah-“ku”.

 

SEBAB ITU, RENOUNCE THE FRUIT – Lepaskan buah karyamu. Semua itu karena Gusti, semua karena anugerah Gusti. Apa yang dapat kuperbuat tanpa kehendak dan restu Gusti?

Kita berkarya demi kebaikan itu sendiri.

Ya sudah, janganlah merasa tersanjung ketika seorang memuji kita. Menerima pujian orang pun sudah cukup untuk membesarkan ego kita, ingat kepala ular. Serahkan seluruh hasil dari perbuatan kita kepada Gusti Hyang Maha Kuasa!

Nah, renouncing the fruit inilah tyaga.

Berbuat baik, dan segala hasil dari perbuatan itu dipersembahkan kepada Gusti Pangeran. Ini adalah sikap mental, supaya kita tidak menjadi sombong. Ini adalah sikap hidup, attitude: “Engkaulah Hyang Menggerakkan tanganku untuk berbuat, maka hasil perbuatan pun kuserahkan kepada-Mu.”

Dikutip dari buku: (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

 

Om, Sarve bhavantu sukhinaḥ; Sarve santu nirāmayāḥ; Sarve bhadrāṇi paśyantu; Mā kashchit duḥkha bhāgbhavet; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga semua makmur, bahagia dan bebas dari penyakit. Semoga semua mengalami peningkatan kesadaran, dan bebas dari penderitaan. Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/

 

Semangat Manembah: dari Dualitas Menuju Kemanunggalan #BhagavadGita

Brahma Produk Dualitas demikian juga kita, tapi Brahma mencipta dengan semangat panembahan.

 

“Manusia terikat oleh dan karena perbuatannya sendiri, kecuali jika ia berbuat dengan semangat manembah. Sebab itu, Kaunteya (Arjuna, Putra Kunti), laksanakanlah tugasmu dengan baik, tanpa keterikatan, dan dengan semangat manembah.” Bhagavad Gita 3:9

Buku Bhagavad Gita

Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu; Saha vīryam karavāvahai; Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga Hyang Tunggal senantiasa melindungi kita; menjernihkan pikiran kita: semoga kita dapat berkarya bersama dengan penuh semangat; semoga apa yang kita pelajari mencerahkan dan tidak menyebabkan permusuhan; Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

Setiap pekerjaan sudah pasti memiliki konsekuensi. Ada yang berkonsekuensi baik, ada yang kurang baik, dan ada yang tidak baik. Sehlngga, klta semua tldak bisa bebas dan konsekuensi perbuatan kita rnasing-masing, kecuali…. Dan “kecuali” ini adalah “kecuali yang membebaskan kita dari segala konsekuensi”, yakni………

 

BERBUAT DENGAN SEMANGAT MANEMBAH – Haturkan segala pekerjaanmu sebagai persembahan pada Gusti Pangeran. Bertindaklah karena cintamu, kasihmu pada-Nya.

Dengan cara itu;

Pertama, perbuatan kita menjadi baik dan tepat dengan sendirinya. Apakah kita mau menghaturkan sesuatu yang tidak baik kepada Hyang kita cintai? Mustahil.

Kedua, kita menjadi efisien. Tidak membuang waktu. Ingat saat kita berpacaran, bagaimana menjadi tepat waktu. Pertemuan dengan si doi menjadi urusan utama, prioritas utama.

Berpacaranlah dengan Gusti Pangeran. Pacar-pacar Iain akan meninggalkan kita, cinta kita hanyalah berlanjut selama satu atau beberapa musim saja. Sementara itu, cinta Gusti Pangeran ibarat arak yang tambah lama, tambah memabukkan.

Ketiga, ketika kita betul-betul mencintai seseorang, kita tidak mengharapkan sesuatu. Keinginan kita adalah untuk memberi saja. Barangkali kaum Adam sulit rnemahami hal ini. Kaum Hawa lebih memahaminya. Sebab itu, dalam hal menjalin hubungan dengan Gusti, jadilah seperti seorang perempuan, memberi, memberi, dan memberi.

Inilah cinta sejati. Inilah berkarya tanpa keterikatan pada hasil, tanpa pamrih. Inilah Karma Yoga. Dan, ini pula bhakti — panembahan yang sesungguhnya.

 

“Prajapati Brahma – Sang Pencipta dan Penguasa makhluk-makhluk ciptaannya – menciptakan umat manusia dengan semangat persembahan dan pesannya ialah, “Berkembanglah dengan cara yang sama (berkarya dengan semangat persembahan) dan raihlah segala kenikmatan yang kau dambakan.” Bhagavad Gita 3:10

 

Penciptaan terjadi ketika Hyang Tunggal berkehendak untuk “menjadi banyak”. Selama masih tunggal, tanpa dualitas, penciptaan tidak mungkin. Berarti,

 

BRAHMA, SANG PENCIPTA ADALAH PRODUK DUALITAS – Anda dan saya, kita semua adalah produk dualitas pula. Kita lahir, hidup berkarya, dan mati dalam kesadaran dualitas. Kemanunggalan adalah hakikat kita, ya, tapi, saat ini kita tidak manunggal lagi. Saat ini kita terpisah, atau setidaknya “merasa” berpisah dari Hyang Tunggal. Maka kita mesti mengupayakannya kembali.

 

BAGAIMANA CARANYA? Sang Pencipta telah memberikan clue, isyarat. Yaitu, dengan berkarya dengan semangat pesembahan. Ia mengatakan kepada makhluk-makhluk ciptaannya, kepada manusia, “Aku pun demikian. Aku pun menciptakan semua dengan semangat persembahan, dengan semangat melayani.”

 

Dengan cara itulah, kita baru bisa mengikis ego kita, tidak membiarkannya meraja. Idam na mama – bukan aku, bukan ego-ku, bukan indra, bukan gugusan pikiran dan perasaan, bukan intelegensia – aku adalah Jiwa, percikan Sang Jiwa Agung. Segala apa yang terjadi lewat badan, indra, dan lainnya adalah persembahan pada-Nya.

Selain membebaskan kita dari ego, keangkuhan, semangat manembah juga memastikan bahwa apa pun yang kita perbuat adalah yang terbaik. Persembahan yang dihaturkan kepada Sang Kekasih Agung, Gusti Pangeran, mestilah yang terbaik.

Dikutip dari buku: (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

 

Om, Sarve bhavantu sukhinaḥ; Sarve santu nirāmayāḥ; Sarve bhadrāṇi paśyantu; Mā kashchit duḥkha bhāgbhavet; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga semua makmur, bahagia dan bebas dari penyakit. Semoga semua mengalami peningkatan kesadaran, dan bebas dari penderitaan. Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/

 

Aku Bukan Doership, Pelaku: Apa pun Hasil lewat Badan ini Bukan Milikku #BhagavadGita

Hubungan Tuhan dengan alam bukan seperti pabrik dengan produk tetapi antara penari dan tarian

Tarian apa pun tidak dapat dipisahkan dari sang penari. Tarian ada karena ada penari. Tidak ada tarian tanpa sang penari, karena hal itu sangatlah mustahil. Tarian berhubungan  dengan sang penari seperti sinar mentari dan sang matahari. Tak akan ada sinar mentari tanpa sang matahari. Tak ada cahaya rembulan tanpa sang bulan. Poin ini sangatlah penting. Sungguh, jauh lebih penting daripada sepintas kedengarannya.

Tuhan bukanlah “pabrik” yang terpisah dari barang-barang “buatan pabrik”. Seorang pembangun gedung itu terpisah dari gedung hasil buatannya. Produksi barang dan produsennya merupakan elemen yang terpisah.  Penari tidak pernah dapat dipisahkan dari tariannya. Barang manufaktur dan produk memiliki identitas terpisah dari pabriknya. Perpisahan “terjadi” saat proses manufaktur atau produksi telah selesai. Namun, seorang penari tidak pernah dapat dipisahkan dari tariannya.” Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2009). “The Gospel Of Michael Jackson”. Anand Krishna Global Co-operation)

Konsep Michael (Jackson, pencatat) tentang penciptaan ini persis sama dengan konsep para bijak pada masa lalu. Tuhan sering disebut sebagai Nataraja – Raja para Penari, Sang Penari Teragung, Sang Penari. Tuhan juga adalah Leeladhari, Sang Pemain Teragung. Dan seluruh dunia ciptaannya adalah Leela, “permainan” Tuhan.

Karena seluruh penciptaan sejatinya adalah tarian dari  Sang Penari Teragung, berarti kita bagian dari tarian tersebut. Kita semua sesungguhnya sedang berdansa, menari bersama dengan sang pencipta. Kita bernyanyi dan bergerak bersama Tuhan. Kita berpaduan suara dengan Tuhan. Peran kita sesungguhnya dalam permainan keberadaan ini adalah sebagai tim sorak-sorai.

 

Kita bukan pelaku, yang melakukan adalah Dia, kita sekadar alat-Nya

Berikut Penjelasan Bhagavad Gita 12:16 tentang berkarya tanpa ke-aku-an dan Penjelasan Bhagavad Gita 5:8 tentang tiadanya doership, rasa melakukan dan possesiveness, rasa memiliki, karena kita bukan pelaku.

Cover Buku Bhagavad Gita

Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu; Saha vīryam karavāvahai; Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga Hyang Tunggal senantiasa melindungi kita; menjernihkan pikiran kita: semoga kita dapat berkarya bersama dengan penuh semangat; semoga apa yang kita pelajari mencerahkan dan tidak menyebabkan permusuhan; Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

“Ia yang tidak menginginkan sesuatu, berhati suci tanpa kemunafikan; cerdas, cermat—penuh kebijaksanaan, bebas dari keberpihakan dan kegelisahan – seorang panembah yang berkarya tanpa ke- ‘aku’ an seperti itulah yang sangat Ku-sayangi.” Bhagavad Gita 12:16

……………

Yang terakhir dalam ayat ini adalah tentang ke-“aku”-an terkait dengan doership — aku telah berbuat ini, aku telah berbuat itu. Aku telah melakukan ini, aku telah melakukan itu.

Seorang panembah sadar bila badan dan indra yang melakukan sesuatu hanyalah alat. Alat badan tak akan pernah bergerak jika tidak digerakkan oleh otak. Otak adalah komandan badan. Sebab itu, ketika otak mengalami gangguan, apalagi stroke, badan sulit digerakkan, atau sulit diatur gerakannya.

Otak sendiri bukanlah segala-galanya. la digerakkan oleh mind. Dan mind yang memberi kesan “aku” pun, sebenarnya hanyalah salah satu gelombang di dalam lautan Sang Aku Sejati, Sang Jiwa Agung.

 

REAS0NING SEPERTI INI, analisis seperti ini, pembedahan seperti ini, mesti dilakukannya purna-waktu oleh seorang panembah. Ia mesti selalu mengingat-ingatkan dirinya, bila Sang Jiwa Agung yang sesungguhnya Maha Menggerakkan, Maha Berbuat. Aku kecil ini, aku-“ku”, dan aku- “mu” hanyalah ikan-ikan kecil, gelombang-gelombang di dalam lautan Sang Aku Agung.

Kesadaran seperti ini mengantar kita pada penyerahan diri di mana kita sadar sesadar-sadarnya bila Hyang Maha Ada hanyalah Dia. Dialah segala-galanya. Dialah semua!

Seorang panembah berkesadaran seperti itulah yang disayangi Krsna. Seorang panembah seperti itulah yang bertindak sesuai dengan kodratnya. Dikutip dari buku: (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

 

“Ia yang tekun menjalani Yoga, berkarya tanpa pamrih, hendaknya memahami kebenaran-diri dan dalam keadaan apa pun – selagi melihat, mendengar, menyentuh atau mencium sesuatu; bahkan saat makan, berjalan, tidur dan bernapas – selalu mengingat, ‘Aku tidak berbuat sesuatu.’” Bhagavad Gita 5:8

 

Rasa kepemilikan atau possesiveness, dan keterikatan muncul dari doership, rasa “melakukan.”

Doership, berarti “Aku” melakukan – Kemudian, karena “aku” melakukan, maka muncullah keterikatan dengan hasil dari pekerjaan-“ku”. Muncul rasa kepemilikan terhadap benda-benda, harta-kekayaan yang semuanya  “ku” –peroleh karena kerja-keras“ku”, jerih-payah“ku”.

Ketika badan, indra gugusan pikiran serta perasaan, inteligensia, dan sebagainya berkomplot, bersama-sama mengaku sebagai doer, yang berbuat, pelaku – maka, bersama-sama pula mereka  mengikat diri dengan dunia benda, dengan hasil dari pekerjaan mereka.

Padahal, materi sebagai hasil perbuatan-“ku” senantiasa berubah, senantiasa berpindah tangan. Tidak langgeng, tidak abadi. Maka, segala kenikmatan yang kita peroleh darinya tidak abadi pula. Apa yang masih ada di dalam genggaman kita saat ini, sesaat lagi akan berada di genggaman orang lain, inilah yang menyebabkan suka-duka.

Untuk membebaskan diri dari dualitas suka-duka; saat ini senang, sesaat lagi gelisah; untuk meraih kebahagiaan sejati – kita mesti mencabut rasa doership dari akar-akarnya. Aku bukan pelaku. Sebab itu apa pun hasil dari laku yang “terjadi” lewat badan ini, bukan pula milikku.

Aku adalah Jiwa, percikan Jiwa Agung. Alam benda adalah penjabaran dari kekuasaan-Nya. Semuanya milik Dia, Dia, Dia, dan hanya Dia.

Dikutip dari buku: (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

Om, Sarve bhavantu sukhinaḥ; Sarve santu nirāmayāḥ; Sarve bhadrāṇi paśyantu; Mā kashchit duḥkha bhāgbhavet; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga semua makmur, bahagia dan bebas dari penyakit. Semoga semua mengalami peningkatan kesadaran, dan bebas dari penderitaan. Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/

 

 

 

Hukuman bagi Pelaku Adharma Penderitaan sampai Akhir Hayatnya #BhagavadGita

Dalam Dhammapada 9:125 Buddha jelas sekali bahwa jika seorang pelaku kejahatan berupaya mencelakakan orang yang tidak bersalah, maka ia sendiri yang akan celaka. Lalu apa yang kita lihat selama ini dan di sekitar kita? Seolah pelaku kejahatan bisa merajalela, dan mereka yang tidak bersalah bisa seenaknya dianiaya.

Untuk itu Buddha menjelaskan dalam ayat 119 bahwa ada juga perbuatan-perbuatan jahat yang “belum matang”. Ketika buah kejahatan itu matang, maka ia jatuh sendiri. Tinggal tunggu waktu. Dikutip dari cuplikan materi neo interfaith studies oleh Bapak Anand Krishna pada program online One Earth College of Higher Learning (http://www.oneearthcollege.com/id/).

Dalam Bhagavad Gita pun dijelaskan bahwa mungkin saja pelaku adharma yang berbuat zalim terhadap orang-orang atau rakyat yang tidak bersalah bisa lolos dari penjara, karena kekuasaan dan kelicinan geng-nya. Akan tetapi hukuman oleh Dharma terhadap dirinya atau keluarganya tidak hanya membuat dia menderita hingga akhir hayatnya, tetapi juga setelah meninggalkan dunia ini.

Silakan simak penjelasan Bhagavad Gita 11:34 di bawah ini:

Cover Buku Bhagavad Gita

Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu; Saha vīryam karavāvahai; Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga Hyang Tunggal senantiasa melindungi kita; menjernihkan pikiran kita: semoga kita dapat berkarya bersama dengan penuh semangat; semoga apa yang kita pelajari mencerahkan dan tidak menyebabkan permusuhan; Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

“Bunuhlah Drona, Bhisma, Jayadratha, Karna, dan para kesatria lainnya, yang mana sesungguhnya telah binasa semuanya oleh-Ku. Jangan takut! Berperanglah, lawanlah mereka, kau pasti berhasil menaklukkan lawan-lawanmu semua.” Bhagavad Gita 11:34

 

Krsna Sangat Spesifik. Dia tahu bahwa Arjuna bukan saja enggan, tapi juga menaruh rasa takut terhadap nama-nama yang disebutnya. Drona adalah gurunya, guru yang mengajarkan seni perang kepadanya, “Bagaimana jika ia memiliki beberapa jurus yang dirahasiakannya, yang tidak diajarkan kepadaku?”

 

BISMA ADALAH EYANG – Seorang Kesatria Agung, selama itu tidak tertaklukkan oleh siapa pun. Record-nya berkualitas sterling — cemerlang.

Arjuna pun sesungguhnya gentar sejak awal percakapan ini, “Apa iya aku mampu menaklukkannya?”

Pun demikian dengan Karna dan Jayadratha, dua-duanya kesatria par excellence. Dua-duanya memiliki track record yang hampir sama dengan Bhisma.

Maka, Krsna mesti berulangkali mengingatkan Arjuna, bahwa mereka yang berada di pihak Kaurava telah menunjukkan posisi mereka dengan jelas. Sebaik-baiknya para kesatria tersebut, mereka semua, tanpa kecuali telah menentukan posisi mereka di pihak adharma. Sebab itu:

 

“JANGAN TAKUT! Siapa pun yang melawan dharma akan binasa oleh kekuatan dharma itu sendiri.”

Para penguasa zalim selalu lupa bahwa kekuasaan dan kewenangan yang mereka salahgunakan akan berbalik menghantam, menghancurkan, dan memusnahkan mereka sendiri.

Mabuk akan kekuasaan, mereka pikir bahwa lawan mereka bukan apa-apa, “Siapa dia? Kekuatannya seberapa sih? Siapa pendukungnya? Massanya seberapa? Ah, mereka adalah bangsat-bangsat yang dapat kubinasakan tanpa senjata sekalipun.”

Kekuasaan membuat mereka menjadi buta. Mereka tidak mampu melihat bila yang mereka lawan bukanlah “bangsat” — tapi dharma.

Seekor bangsat atau semut yang berpihak pada dharma mampu menaklukkan seekor gajah yang berpihak pada adharma. Para penguasa zalim tidak memahami urusan dharma-adharma.

Banyak di antara kita yang punya pengalaman menghadapi oknum penyidik di kepolisian atau kejaksaan yang korup dan dengan sombong bisa mengatakan, “Ini wewenang kami”. Pun demikian dengan para hakim dan pejabat lain yang sama-sama korup. Mereka telah dibutakan oleh kekuasaan yang tidak langgeng, tidak untuk selamanya.

 

AKHIRNYA, MEREKA BINASA karena dan oleh kebutaan mereka sendiri. Kadang mereka tidak sadar bahwa ketika dharma bertindak, ia bisa menggunakan senjata apa saja. Banyak senjata di tangan dharma.

Para pejabat korup yang memiliki anak yang autis, penderita penyakit lain, pencandu, pemabuk, penderita HIV, dan sebagainya – telah dijatuhi hukuman seumur hidup oleh dharma! Penyakit anak-anak mereka adalah disebabkan oleh uang haram hasil korupsi, hasil jarahan, yang mereka gunakan untuk membiayai kehidupan mereka. Dan tentunya disebabkan oleh karma anak-anak itu pula yang memilih mereka sebagai orang-tua.

Dharma tidak selalu memenjarakan para penguasa zalim. Penjara adalah urusan peradilan dunia. Hukuman penjara adalah hukuman ringan jika dibanding dengan hukuman dharma yang tidak hanya membuat seseorang menderita hingga akhir hayatnya, tetapi juga setelah meninggalkan dunia ini. .

Hukuman dharma bukanlah hukum korup yang bisa dikompromikan. Tidak ada sin laundering, pencucian dosa lewat ziarah, amal-saleh, dan sebagainya. Setiap penderitaan yang disebabkan oleh seorang penguasa zalim mesti dipertanggung jawabkan olehnya sendiri. Dengan membangun tempat-tempat ibadah sekalipun, ia tidak bisa terhindar dari akibat perbuatannya, akibat kezalimannya.

Dikutip dari buku: (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

Om, Sarve bhavantu sukhinaḥ; Sarve santu nirāmayāḥ; Sarve bhadrāṇi paśyantu; Mā kashchit duḥkha bhāgbhavet; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga semua makmur, bahagia dan bebas dari penyakit. Semoga semua mengalami peningkatan kesadaran, dan bebas dari penderitaan. Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/

 

Kesalahan Kolektif Masyarakat Bisa Saja Mengundang Bencana? #YogaSutraPatanjali

Fenomena Alam

Kadang kita merasa begitu putus asa dengan kenyataan yang terjadi. Kebenaran tenggelam dalam konspirasi yang berada di luar kemampuan kita. Kita semua tidak bisa lepas dari tanggung jawab. Kita telah ikut menentukan para pemimpin kita. Kita juga diam dan seakan-akan membiarkan kebiasaan tidak baik merajalela. Yang belum kita sadari adalah bahwa keputusan kolektif masyarakat bisa menimbulkan letupan emosi kolektif. Dan letupan emosi kolektif bisa saja mengundang bencana?

Tulisan ini hanya sekadar renungan, bertujuan agar kita melakukan tindakan yang baik. Segala sesuatu yang kita perbuat harus dirasakan bagaimana seandainya kita sendiri mengalaminya (tepa-slira, rasa empati). Kalau kita tidak mau dianiaya orang ya jangan menganiaya orang. Karena segala sesuatu akan kembali kepada kita dengan adanya hukum sebab-akibat. Kalau masyarakat menganiaya seseorang, bisakah masing-masing anggota masyarakat menyadari bagaimana kalau dirinya dibegitukan?

………………

Sejak beberapa dasawarsa terakhir ini, sains – setidaknya beberapa ahli fisika dan ahli saraf – telah memasuki tahap pembenahan diri. Mereka mulai merasakan bahwa alam ini bukanlah suatu kecelakaan belaka. Ada inteligensia di balik segalanya!

Terjadi gempa bumi, tsunami, dan seorang saintis “orde lama” mengatakan, “semua ini karena lempengan-lempengan, bla bla bla”. Seorang tokoh kepercayaan “orde lama”, sebaliknya menganggap fenomena alam tersebut sebagai “Azab dari Tuhan. Gusti Pangeran marah!”

Manusia “orde baru” – Manusia Baru – yang memahami spiritualitas dan sains, berupaya untuk memahami misteri ini, “Memang ada lempengan-lempengan yang sedang bergerak, dan fenomena alam itu pula yang mengundang tsunami. Namun, sesungguhnya gerakan lempengan-lempengan tersebut tidak mesti, tidak harus, tidak selalu berakibatkan tsunami.”

Dan, ia mulai bertanya, “Ada apa sehingga gerakan lempengan-lempengan itu menyebabkan tsunami dan gempa bumi di wilayah tertentu, padahal ada juga wilayah lain yang memiliki potensi yang sama, tapi tidak terjadi sesuatu di sana. Kenapa, kenapa, kenapa?”

Kemudian segelintir saintis berwawasan lebih luas mulai bisa melihat hubungan yang erat antara nafsu, emosi, pikiran, dan perbuatan manusia yang dapat memengaruhi gerakan lempengan-lempengan tersebut sehingga bertabrakan, dan terjadilah kehancuran di mana-mana!

Kesimpulannya, gerakan lempengan-lempengan adalah fenomena alam – Tapi, tidak mesti terjadi gempa bumi, tidak mesti tsunami, tidak mesti menelan korban. Bencara alam terjadi bukan karena alam mengamuk tanpa dasar, tapi karena ada intervensi dari perbuatan, pikiran, dan perasan manusia sendiri. Mind over matter. Penjelasan Bhagavad Gita 9:1 dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

 

Bencana dapat dihindari?

Sekali lagi, renungan ini sekadar bertujuan agar kita melakuka hal yang baik, yang selaras dengan alam.

………………….

Dapatkah kita mempertahankan air pada 100 derajat celcius? Mustahil. Begitu mencapai 100 derajat celcius, air langsung menguap, mulai menguap. Emosi memiliki korelasi dengan air. Emosi dikendalikan oleh elemen air di dalam diri kita. Pun demikian di luar diri kita, di alam sekitar kita. Air laut, air sungai – semuanya adalah pusat-pusat emosi di dunia ini. Jika terjadi tsunami, maka alasannya bukanlah sekadar “fenomena” alam; dalam pengertian, “itu adalah sesuatu yang lumrah.” Tidak, tidak lumrah. Dapat dihindari.

Pasang-surutnya air laut adalah lumrah, namun memasangnya sedemikian rupa hingga menyebabkan musibah, bencana – tidak lumrah. Saat itu laut, air sedang mengamuk. Tentunya kita telah mengundang amukannya karena ulah kita sendiri. Penjelasan Bhagavad Gita 9:14 dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

Silakan simak penjelasan Yoga Sutra Patanjali mengenai hal-hal tersebut di bawah ini:

Cover buku Yoga Sutra Patanjali

Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu: Saha vīryam karavāvahai;Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai.Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga Hyang Tunggal senantiasa melindungi kita; menjernihkan pikiran kita: semoga kita dapat berkarya bersama dengan penuh semangat; semoga apa yang kita pelajari mencerahkan dan tidak menyebabkan permusuhan; Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

“Berkat Samyama (dharana atau kontemplasi; dhyana atau meditasi; dan menyadari atau memusatkan kesadaran) pada Cahaya Bulan atau Rembulan, seseorang meraih pengetahuan tentang konstelasi perbintangan.” Yoga Sutra Patanjali III.28

 

Terlepas dari ada atau tidaknya kehidupan di planet lain, di galaksi lain, yang jelas planet-planet itu sendiri merupakan organisme yang hidup. Alam semesta adalah sesuatu yang hidup. Dengan adanya kesadaran seperti itu, seorang Yogi menjadi manusia yang bertanggung jawab. Ia akan selalu memperhatikan ucapan, dan tindakannya.

 

SUPAYA KJTA SELALU INGAT, bahwa kehidupan di dunia ini adalah bagian dari suatu Matriks Kehidupan yang sangat precise – presisinya sungguh luar biasa.

Dengan merusak lingkungan, mencemari sumber air, dan sebagainya, kita tidak hanya mencelakakan planet bumi dan penghuninya—termasuk kita sendiri – ,tetapi juga mengganggu Matriks Kehidupan tersebut.

Meletusnya gunung, terjadinya tsunami, dan sebagainya bukanlah fenomena alam semata. Amukan alam dapat dihindari, atau setidaknya dapat diminimalkan, jika kita bekerja sama dengan alam, jika kita merawat bumi ini dengan penuh kasih.

Apalagi mengingat posisi kita yang tinggal di wilayah ring of fire atau cincin api. Letupan-letupan emosi kita, awalnya hanya memengaruhi hidup kita, relasi kita, dan orang lain yang berurusan dengan kita. Tetapi lambat laun, ketika letupan-letupan emosi itu berubah menjadi letupan kolektif, terjadilah bencana alam!

Setiap tindakan dan perbuatan kita memengaruhi alam sekitar kita. Ketika suatu masyarakat bertindak salah secara kolektif, maka konsekuensinya mesti ditanggung secara kolektif pula.

Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2015). Yoga Sutra Patanjali Bagi Orang Modern, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Semoga renungan ini mengingatkan kita untuk berbuat baik selaras dengan alam……

Om, Sarve bhavantu sukhinaḥ; Sarve santu nirāmayāḥ; Sarve bhadrāṇi paśyantu; Mā kashchit duḥkha bhāgbhavet; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga semua makmur, bahagia dan bebas dari penyakit. Semoga semua mengalami peningkatan kesadaran, dan bebas dari penderitaan. Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/

 

Berkarya Sesuai Potensi Diri #BhagavadGita

“Berkarya sepenuh hati, sesuai dengan kewajiban, dan sifat alami atau potensi dirinya, seseorang mencapai kesempurnaan. Sekarang, dengarlah tentang cara penunaian kewajiban untuk meraih kesempurnaan tertinggi tersebut.” Bhagavad Gita 18:45

Krsna tidak memisahkan spiritualitas dari keseharian hidup. Tidak semua orang mesti menjadi petapa, menggunduli kepala, atau memelihara jenggot. Tidak semua orang mesti berjubah dan menjadi penyiar kepercayaan.

Buku Bhagavad Gita

Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu; Saha vīryam karavāvahai; Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga Hyang Tunggal senantiasa melindungi kita; menjernihkan pikiran kita: semoga kita dapat berkarya bersama dengan penuh semangat; semoga apa yang kita pelajari mencerahkan dan tidak menyebabkan permusuhan; Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

Berikut penjelasan berkarya sesuai potensi diri dalam Bhagavad Gita 18:45 dan bagaimana membagi waktu untuk istirahat, usaha, keluarga dan spiritual dalam Bhagavad Gita 18:46:

 

SETIAP ORANG MEMILIKI KEWAJIBAN terhadap dirinya, terhadap keluarga — jika dia berkeluarga — dan terhadap masyarakat.

Jika Anda seorang artis, maka tetaplah berkarya di dunia hiburan. Tidak ada yang salah. Menjadi seorang artis adalah sama terhormatnya seperti menjadi pengusaha atau politisi. Tidak perlu berpindah profesi. Jika seni adalah panggilan diri Anda, maka tetaplah berkarya sebagai seniman.

Pun demikian dengan pengusaha, dengan pendidik. Kita semua masih tetap bisa berkontribusi terhadap kemajuan masyarakat. Tidak perlu menjadi politisi atau pejabat tinggi untuk mengabdi.

Sesungguhnya, ketika kita tetap berkarya sesuai dengan sifat alami dan potensi diri —kontribusi kita akan makin besar, makin berarti.

 

DENGAN BERPINDAH PROFESI, kita butuh waktu untuk penyesuaian – kadang kita malah kehilangan momentum, kehilangan waktu dan energi.

Bintang Bollywood, Amitabh Bachchan pernah masuk dunia politik. Tak lama kemudian, ia sadar bahwa dunia itu bukanlah dunianya. He did not belong there. Maka, ia pun mengakui kesalahannya, dan kembali ke dunianya sebagai artis. Hingga saat ini ia masih jaya — masih bertahan sebagai superstar.

Superstar lain, yang pernah lebih hebat dari Bachchan, yakni Rajesh Khanna — melakukan hal yang sama. Barangkali ia pun menyadari bila dirinya tidak memiliki potensi sebagai politisi. Namun, ia tetap bertahan sebagai politisi. Ia meninggal dengan menyimpan banyak kekecewaan. Sayang sekali, dunia politik tidak memperoleh tambahan yang berarti, sementara dunia perfilman Bollywood kehilangan seorang artis kawakan.

Kedua contoh ini hendaknya menjadi pembuka mata bagi kita, yang sering tergoda untuk mengikuti pemilihan sebagai calon legislatif dan sebagainya. Apakah kita memiliki potensi untuk itu? Jangan-jangan kita menjadi badut di sana, akhirnya lebih banyak absen, merugikan diri, merugikan negara dan terutama merugikan rakyat yang memilih kita.

Sebab itu, “Jadilah dirimu sendiri!” adalah nasihat yang tepat dalam hal ini. Jadilah sesuai dengan sifat alami dan potensi dirimu sendiri.

 

“Kesempurnaan Tertinggi tercapai oleh seseorang yang menunaikan kewajibannya sesuai dengan sifat alami atau potensi dirinya, dengan semangat berbakti pada Dia Hyang adalah Asal-Usul semua makhluk, dan Meliputi alam semesta.” Bhagavad Gita 18:46

 

Krsna tidak memisahkan waktu ibadah dari waktu untuk berkarya. Ibadah dan pekerjaan berjalan bersama. Namun, janganlah menjadikan hal ini sebagai pembenaran atas kemalasan diri………

 

JIKA MASIH BELUM BISA bertindak demikian — belum bisa berkarya dengan semangat manembah — maka berbagi waktu untuk ibadah, kegiatan spiritual lainnya, bakti-sosial, keluarga, dan bisnis mesti dilakukan secara cermat.

Janganlah terlarut dalam urusan bisnis atau keluarga sedemikian rupa hingga tidak punya waktu lagi untuk sesuatu yang lain, kemudian beragumentasi bahwa kita sudah berkarya dengan semangat manembah. Kita tidak bisa menipu diri sendiri.

Berkarya dengan semangat manembah seperti yang dianjurkan oleh Krsna hanyalah memungkinkan ketika bisnis, urusan keluarga, dan urusan pribadi kita sama sekali tidak bertentangan dengan kepentingan masyarakat umum. Tidak ada lagi kepentingan diri dan keluarga yang beda dari kepentingan umum.

Berkarya dengan semangat manembah berarti setiap karya kita selaras dengan kepentingan masyarakat umum. Jika belum bisa demikian, maka seperti yang Guru saya anjurkan…….

BAGILAH WAKTU 24 JAM dalam 4 bagian utama. Enam Jam Pertama adalah untuk istirahat, mandi, makan, dan lain sebagainya. Barangkali Anda bertanya, “Apakah 6 jam untuk semuanya itu cukup?”

Jawabannya adalah “Ya, jika Anda seorang meditator.” Kita tidak butuh waktu lebih dari 4-5 jam untuk tidur. Selebihnya untuk mandi, dan lain-lain.”

Enam Jam Kedua adalah untuk Usaha.

Sekali lagi, cukup, jika kita meditator, karena kita sudah pasti efisien dan tidak membuang waktu. Produktivitas dan Kreativitas — meditasi menjamin kedua-duanya.

Enam Jam Ketiga adalah untuk Keluarga.

Untuk segala urusan keluarga, termasuk setidaknya, makan malarn bersama, dan lain sebagainya. Nah, Bagian Kedua dan Ketiga bisa tumpang tindih, dan saling menunjang jika seorang memiliki usaha keluarga, atau ada aktivitas-aktivitas lain dimana keluarga terlibat.

Keempat adalah untuk Laku Spiritual, Sadhana atau Pengembangan Diri, Yoga, Meditasi, Membaca, Bakti Sosial, dan sebagainya.

Inilah jalan alternatif yang aman untuk menuju Kesempurnaan Diri, jika kita belum bisa mendedikasikan 24 jam dengan semangat panembahan.

Dikutip dari buku: (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

 

Om, Sarve bhavantu sukhinaḥ; Sarve santu nirāmayāḥ; Sarve bhadrāṇi paśyantu; Mā kashchit duḥkha bhāgbhavet; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga semua makmur, bahagia dan bebas dari penyakit. Semoga semua mengalami peningkatan kesadaran, dan bebas dari penderitaan. Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/