Refleksi: Memahami Karakter Bawaan Kita Modal Menuju Kebahagiaan

Ada tiga unsur utama yang mengaktifkan komputer manusia………  Pertama, badan kasat kita. Ini bagaikan hardware. Kedua, ego kita. Ini bagaikan software dan tentu saja, ketiga, kesadaran yang merupakan aliran listriknya.

Badan kita bisa rusak, berhenti bekerja. Namun software-nya tidak ikut rusak. Ego kita masih utuh, masih dapat berfungsi. Software yang sama dapat digunakan, dengan menggunakan hardware baru. Tidak ada memori yang hilang, tidak ada program yang terhapus. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (1998). Reinkarnasi, Hidup Tak Pernah Berakhir. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Silakan baca Catatan: Refleksi: Lahir, Tumbuh, Tua, dan Mati Bag 2 Reinkarnasi dan Memori Evolusi 

https://gitakehidupansepasangpejalan.wordpress.com/2018/06/05/refleksi-lahir-tumbuh-tua-dan-mati-bag-2-reinkarnasi-dan-memori-evolusi/

 

Karakter yang Kita Miliki Saat Lahir Adalah Balance-Carried Forward (Hasil Neraca) dari Masa Kehidupan Sebelumnya

Hasil Karakter pada Kehidupan Sebelumnya disimpan dalam Flash Disk Kehidupan kita menjadi Karakter Bawaan pada Saat Kelahiran Kita

Krsna sedang menjelaskan karakter atau kecenderungan mereka yang lahir dengan dan dalam kesadaran. Sejak lahir, mereka sudah memiliki kecenderungan-kecenderungan ini sebagai balance-carried forward dari masa kehidupan sebelumnya. Mereka sedang melanjutkan perjalanan. Mereka tidak perlu lagi mengembangkan karakter, kecenderungan, atau “sifat-sifat bawaan” tersebut—mereka hanya mesti memelihara dan mempertahankannya. Sebuah pekerjaan berat juga, tidak mudah. Tapi, setidaknya mereka tidak lagi membuang waktu untuk mengembangkan sernua itu.

Tidak demikian dengan kita, yang kemungkinan besar, tidak memilikj saldo seperti ini dari masa kehidupan sebelumnya. Berarti kita mesti bekerja keras untuk mengembangkannya. Penjelasan Bhagavad Gita 16:1 dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia via #BhagavadGitaIndonesia

Karakter Bawan Mulia

“Cekatan (penuh energi, penuh semangat), tabah dan pemaaf, teguh dalam keyakinannya, bersih badan dan pikiran; tidak bermusuhan dengan siapa pun juga; dan tanpa keangkuhan — demikian, semuanya ini adalah kecenderungan-kecenderungan lahiriah mereka, yang lahir dengan sifat bawaan atau karakter dasar Daivi, Ilahi, Mulia, Wahai Bharata (Arjuna, Keturunan Raja Bharat).” Bhagavad Gita 16:3

Mereka yang lahir dengan kecenderungan, karakter, atau sifat bawaan, sifat dasar Daivi atau Mulia adalah, yang telah menjalani masa kehidupan sebelumnya dalam Kesadaran Ilahi. Atau, setidaknya sudah berada dalam “proses” untuk mencapai Kesadaran Ilahi. Mungkin, saat itu mereka hampir mencapainya — sementara kendaraan badan sudah tidak menunjang perjalanan selanjutnya. Jiwa meninggalkan kendaraan tersebut dan menggunakan kendaraan badan yang baru. Kelahiran demikian adalah sebuah “berkah”, dalam pengertian ada balance-carried forward berupa hikmah sebagai hasil pencapaian dari masa kehidupan sebelumnya — sekarang tinggal dilanjutkan. Penjelasan Bhagavad Gita 16:3 dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia via #BhagavadGitaIndonesia

 

Pertemuan Orang dengan Karakter Mulia dengan Guru Pemandu Rohani

Lalu, apakah mereka yang tidak lahir dengan Sifat Daivi atau Ilahi perlu khawatir? Tidak juga, mereka bisa mengupayakan sejak saat ini juga. Jika mereka berhasil mengubah kebiasaan-kebiasaan syaitani, maka tidak ada lagi kelahiran kembali — mereka pun menjadi Jiwa yang bebas sekarang dan saat ini juga…………..

Ada kalanya, seorang yang lahir dengan Sifat Bawaan Daivi atau Ilahi pun “lupa” akan sifat bawaannya. Ini bisa disebabkan oleh pendidikan, pengaruh lingkungan, atau berbagai faktor lain. Termasuk, pengalaman-pengalaman dahsyat dalam kehidupan ini, yang membuatnya lupa-ingatan sementara. Arjuna adalah korban lupa ingatan atau amnesia sementara. Pengalaman tinggal dalam pengasingan selama belasan tahun dan saat ini menghadapi perang dahsyat — semuanya membingungkan Arjuna, sehingga ia lupa, lupa akan hakikat jati dirinya. Namun, amnesia macam ini tidak pemah bertahan lama.

Alam kebendaan tidak mampu memperbudak seseorang yang lahir dengan Sifat Bawaan Daivi atau Ilahi. Seseorang yang lahir dengan Sifat Bawaan Daivi atau Ilahi, tidak selamanya menderita amnesia, atau lupa-ingatan tentang hakikat dirinya.

Sebab itu, pertemuan dengan seorang Krsna, seorang Sadguru atau Pemandu Rohani, adalah berkah Ilahi. Hujan berkah ini turun bagi mereka semua yang siap untuk menerimanya. Dan Jiwa terguyur oleh siraman rohani yang dapat membantunya bangkit dari tidur panjang. Apa yang sebelumnya terlupakan, teringat kembali. Apa yang sebelumnya tertutup, terbuka kembali. Apa yang sebelumnya gelap, menjadi terang-benderang. Penjelasan Bhagavad Gita 16:5 dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia via #BhagavadGitaIndonesia

 

Karakter Bawan Syaitani

Mereka yang dalam kehidupan sebelumnya penuh kejahatan akan lahir dengan sifat bawan jahat.

Mereka, yang dalam masa kehidupan sebelumnya, bersifat syaitani; dan saldo atau balance-carried forward-nya adalah sifat-dasar tersebut ; maka kelahiran berikutnya hampir dapat dipastikan di tengah masyarakat yang bersifat sama, syaitani.

Masih adakah harapan bagi mereka? Ada, masyarakat dengan sifat-sifat syaitani memang mesti punah. Mereka mesti didaur-ulang secara kolektif pula. Sementara itu, individu-individu yang mendapatkan berkah berupa bimbingan dari seorang Pemandu Rohani, bisa saja memperbaiki dirinya, tanpa menunggu proses daur-ulang kolektif bagi masyarakatnya, yang kadang membutuhkan waktu beribu-ribu tahun. Penjelasan Bhagavad Gita 16:6 dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia via #BhagavadGitaIndonesia

Meraih Berkah atau Anugerah Gusti

“Untuk memberkahi mereka, ‘Aku’ yang bersemayam di dalam sanubari mereka, melenyapkan gelap-ketidaktahuan, dengan menyalakan Pelita Pengetahuan Sejati.” Bhagavad Gita 10:11

Ayat ini mengandung makna yang luar biasa. Makna anugerah, arti berkah yang sesungguhnya. Rezeki, jodoh, kekuasaan, pangkat, pujian, makian dan lain-lain – semuanya adalah hasil perbuatan kita sendiri. Semuanya materi. Dari rezeki yang berlimpah hingga relasi dengan suami, istri, anak, orang tua – semuanya adalah konsekuensi dari karma kita sendiri, perbuatan kita sendiri. Entah karma sekarang di masa kehidupan ini, atau hasil akumulasi dari beberapa masa kehidupan sebelumnya.

Semua terjadi karena perbuatan kita, ulah kita. Semuanya terjadi atas kehendak-Nya pula, dalam pengertian Hukum Sebab Akibat atau Karma pun ada kehendak-Nya.

Berkah atau Anugerah Gusti Pangeran adalah ketika gelap-kebodohan, ketidaktahuan, ketidaksadaraan kita sirna; dan sanubari kita, nurani kita menjadi terang-benderang. Berkah adalah ketika kita mampu memilah mana tindakan yang tepat, mana yang tidak tepat. Berkah adalah ketika cahaya kesadaran yang telah menerangi hidup – mulai memancarkan sinarnya dan menerangi setiap orang yang berinteraksi dengan kita.

Tentunya, tidak setiap orang akan ikut tercerahkan bersama. Tapi setidaknya pencerahan-diri kita akan membuat mereka gerah dengan kegelapan-diri mereka. setidaknya mereka akan terhantui oleh cahaya kesadaran yang terpancar dari diri kita. Dan pada suatu ketika, mereka mulai berupaya untuk menerangi dirinya. Inilah berkah, inilah Siklus atau Lingkaran Anugerah.

Bersyukurlah pada Gusti Pangeran atas segala rezeki dan materi lainnya, termasuk pasangan, anak, segala yang kita miliki. Tetapi jangan berhenti. Raih pula berkah-Nya.

Baca ulang beberapa ayat sebelumnya – Krsna sudah menjelaskan secara panjang lebar,bagaimana kita dapat meraihnya. Penjelasan Bhagavad Gita 10:11 dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia via #BhagavadGitaIndonesia

Advertisements

Melakoni Nasehat Guru Pemandu

Dalam buku (Krishna, Anand. (2000). Masnawi Buku Kesatu, Bersama Jalaludin Rumi Menggapai Langit Biru Tak Berbingkai. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama) disampaikan perumpamaan:

Seperti seekor keledai yang tergiur oleh rerumputan dan berhenti di pinggir jalan, begitu pula kenikmatan duniawi bisa menyibukkanmu, sampai lupa menempuh perjalanan yang harus kau tempuh. Pada saat-saat seperti itu, hanya seorang pemandu yang bisa menyadarkan dirimu”.

Banyak orang berupaya untuk mendekatkan diri dengan Tuhan lewat ritus-ritus keagamaan.” kata Nabi Muhammad kepada Ali, sambil menasihatinya, “Dekatkan dirimu dengan para pengabdi Allah yang terpilih dan bijak, maka kau akan lebih awal sampai di tujuan.”

Nabi Muhammad melanjutkan, “Ali, engkau adalah seorang Pemberani yang bernyali. Kendati demikian, jangan terlalu percaya pada ‘nyali’. Turutilah nasihat seorang Pemandu yang bisa menemanimu dalam perjalanan ini. Turuti nasihat seorang Pemandu, sebagaimana Musa menuruti nasihat Khidir.”

………………

Anggur tua dinilai lebih tinggi. Begitu pula dengan para Pir. Carilah seorang Pir yang sangat tua. Tua karena kebenaran, karena kesadaran, bukan karena waktu. Jika kamu sudah menemukannya, jadikan dia Pemandumu. Dengan adanya seorang Pemandu, perjalananmu akan menjadi lebih nyaman dan terarah. Ingat, perjalanan ini baru pertama kali kamu tempuh. jangan sok berani. Indahkan panduan Sang Pemandu!

Tangan seorang Pir bagaikan Tangan Tuhan. Jangan meragukan hal ini. Jangan kira ada yang pernah sampai di tujuan tanpa bantuan para Pir. Kalaupun ada yang berjalan sendiri dan sampai di tujuan, hal itu disebabkan oleh doa para Pir yang senantiasa melindungi dirinya.”Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2000). Masnawi Buku Kesatu, Bersama Jalaludin Rumi Menggapai Langit Biru Tak Berbingkai. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama)

Bantuan Para Pemandu menurut Bhagavad Gita

“Partha (Putra Prtha – sebutan lain bagi Kunti, Ibu Arjuna), seseorang yang pikirannya terkendali lewat pola hidup berlandaskan Yoga; meditasi yang teratur; dan kesadarannya senantiasa terpusatkan pada Tuhan, pada Jiwa Agung – maka niscaya ia mencapai kemuliaan-Nya yang tak terhingga.” Bhagavad Gita 8:8

Bagi Krsna – dan memang demikian adanya – Yoga, meditasi, dan laku spiritual atau sadhana lainnya bukanlah sekadar pelajaran, tetapi sesuatu yang mesti dihayati dan dilakoni sepanjang masa. Bukan seperti buku pelajaran, sudah selesai ya sudah — dibuang saja. Dulu, saya mengoleksi novel-novel misteri oleh beberapa penulis asing terkenal di masa 1970-an. Sekarang, belasan buku yang dulu saya anggap sangat baik itu, sudah tidak memiliki daya tarik lagi.

YOGA, MEDITASI, LAKU SPIRITUAL BUKAN SEPERTI ITU – Bukan sekali dibaca, sekali dipelajari — selesai. Tapi, mesti diulang-ulang — dihayati, dan dilakoni dalam keseharian hidup. Seperti yang telah kita baca sebelumnya, Krsna menyebutnya Abhyasa — dilakoni secara terus-menerus, secara intensif dan repetitif. Dengan cara itulah kita baru memperoleh manfaatnya.

Hal lain yang penting adalah…..

Kehadiran seorang Sadguru – Walau semuanya dapat dipelajari secara otodidak – istilah yang sedang trend dan trendy, padahal seringkali memberi angin pada ego – sesungguhnya tidak ada, saya ulangi, tidak ada pengganti bagi belajar di bawah bimbingan seorang Pemandu Rohani. Bukan sekadar guru, tetapi Sadguru – Guru Sejati yang tidak berfungsi sebagai guru di sekolah atau ahli kitab – tapi sebagai guide, pemandu.

Selain itu, juga dibutuhkan suasana asram (ashram), padepokan tempat kita bisa berinteraksi dengan support group yang terdiri dari orang-orang sehati, para pencari kebenaran.

Ashram adalah transit point antara alam ini, dunia ini dan alam roh, spirit, dunia sana. Namun, ada dunia lain di luar ashram, yang sisa-sianya ada juga di ashram, sebagai residu; kotoran, debu dan pasir di bawah sandal kita sendiri yang terbawa ke ashram. Ego kita, kepicikan kita, iri hati dan kecemburuan kita, pun cinta monyet, ketertarikan semu, keterikatan, dan sebagainya – inilah debu dan kotoran yang dimaksud. Sebab itu, idealnya ketika memasuki ashram, kita melepaskan als kaki ego, mind, dan meninggalkan sampah-sampah itu diluar.

Masukilah ashram tanpa beban lama – Tinggalkan segala beban dan kotoran di pintu luar, pintu masuk. Kendati demikian, ada saja daki badan yang tetap terbawa. Untuk mengurusi itu pun mesti abhyasa! Membersihkan diri dari hari ke hari. Kita tidak bisa bersikap, “Kemarin baru mandi, harin ini tidak perlu!”

Abhyasa berarti bukan sekadar mandi setiap hari, tapi setiap kali kita merasakan kebutuhamya, barangkali 2 atau 3 kali sehari. Tidak perlu tinggal di kamar mandi juga. Kamar mandi adalah kamar untuk mandi, bukan untuk tidur dan tinggal.

Mandi 2 — 3 kali sehari dalam konteks ini adalah melakukan….

MEDITASI, PERENUNGAN BATIN, Membaca buku-buku yang dapat membantu dalam hal perkembangan Jiwa; berdoa dengan cara yang paling tulus, berdoa dengan dan dari hati terdalam, dan dalam bahasa kasih sejati, bukan karena takut. Biarlah airmata yang keluar adalah karena cinta, karena rindu Sang Kekasih, bukan untuk merengek-rengek supaya dapat jatah kapling di surga.

Surga Gusti Pangeran tidak di atas sana, tidak setelah kematian saja. Surga Pangeran ada di sini, dunia ini! Hiduplah dalam surga-Nya sekarang dan saat ini juga. Kenapa mesti menunggu kematian dulu?

Wejangan Krsna jelas sekali — seseorang yang melakoni hidupnya seperti itu, sesungguhnya sudah tinggal di dalam istana-Nya, surga-Nya! Ia sudah melakoni Yoga. Dan, sekali sudah berada di dalam istana-Nya, maka pertemuan pun bisa terjadi setiap saat, tinggal tunggu Waktu, sabar sedikit!

 

Para Pir para Wali, para Nabi—apa pun sebutannya—adalah wakil Keberadaan di atas bumi, seperti para Duta Besar yang mewakili negerinya. Dia berperan sebagai penghubung antara negeri yang mengut us dan negeri di mana dia ditempatkan.

Setelah menyelesaikan masa baktinya, seorang Duta Besar akan pulang ke negerinya, dan digantikan oleh Duta Besar yang baru. Demikian, berjalan terus. Kecuali, terjadi konflik dan pemutusan hubungan  diplomatik.

Untungnya, Tuhan tidak pemah memutuskan “hubungan” dengan dunia kita.  Itu sebabnya, dari jaman ke jaman, ada saja utusan yang Dia kirimkan. Jika anda alergi terhadap istilah “nabi” dan hanya ingin menggunakan untuk pribadi-pribadi tertentu, tidak apa. Gunakan istilah “wali”, “pir”, “pemandu”, “pelayan”, “petugas”—apa saja! Tidak menjadi soal.

Negara-Negara Persemakmuran (The Commonwealth Countries), bekas jajahan Inggris tidak mengenal istilah “Duta Besar” di antara mereka. Mereka menggunakan istilah “High Commissioner”. Tidak menjadi soal. High Commissioner atau Ambassa dor  atau Duta Besar atau apa saja, ketahuilah bahwa yang mereka wakili, satu dan sama.

Sering kali, seorang Duta Besar tidak akan turun tangan sendiri untuk memberi informasi tentang negerinya. Dia akan menggunakan media cetak dan media elektronik untuk menyampaikan berbagai informasi. Lalu berkat informasi yang dia sampaikan itu, anda tertarik untuk mengunjungi negerinya. Langsung membeli tiket dan jalan sendiri.

Tampaknya, anda tidak menggunakan jasa kedutaan. Apalagi kalau negeri itu tidak mengharuskan anda memiliki visa. Tetapi, sesungguhnya ketertarikan anda terhadap negeri itu sudah membuktikan adanya “tangan” Sang Duta Besar yang sedang bekerja di balik layar. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia via #BhagavadGitaIndonesia

 

Latihan meditasi dan yoga adalah penyiapan lahan, nasehat Guru Pemandu adalah benih-benih Pohon Kebenaran

Demikian yang kami catat dalam salah satu nasehat berharga.

Kalau kita hanya latihan meditasi dan yoga tetapi tidak menanam benih yang baik, maka bisa jadi benih tidak baik yang terbawa angin yang akan tumbuh subur. Rahwana adalaah seorang meditator. Tapi benih yang ditanam bukan benih kebaikan.

Hanya menanam benih setiap hari lewat nasihat para bijak tanpa penyiapan lahan juga tidak akan berkembang menjadi pohon yang subur.

Ooh Ternyata Kita Masih Dipertimbangkan Hewan, Persepsi Kita Masih Hewani

Selama melihat dengan persepsi (pashyati) kita masih dipertimbangkan hewan (pashu)

Kita melihat, mempersepsikan (pashyati) segala sesuatu punah karena kita masih berada dalam taraf pashu, hewan. Bhagavad Gita mengajak kita melampaui persepsi. Mengapa demikian? Silakan memperhatikan youtube video oleh Swami Anand Krishna terkait di bawah:

Berikut salah satu contoh melampaui persepsi (pashyati) dalam Bhagavad Gita:

“Ia yang melihat Hyang Maha Kuasa dan Tak Pernah Punah, di balik segala sesuatu yang mengalami kepunahan, baik hidup dan bergerak, maupun yang (tampak) tidak hidup dan tidak bergerak, sesungguhnya telah mengetahui kebenaran sebagaimana adanya.” Bhagavad Gita 13:27

Apa yang biasa terlihat oleh kita adalah sekadar “dampak” dari perubahan. Kelahiran, kematian, kelahiran kembali, dan kematian lagi – semuanya sekadar “dampak” dari perubahan. Kita tidak mampu melihat Ia yang berada di balik perubahan-perubahan itu…..

IA HYANG TAK BERUBAH, TAK PUNAH – Banyak pujangga yang berhenti pada tahap melihat perubahan saja. Bagi mereka perubahan itulah kebenaran mutlak. Mereka melihat perubahan sebagai satu-satunya hukum yang tak pernah berubah.

Pun demikian dengan kepunahan. Banyak pujangga yang hanya melihat sebatas kebendaan, dimana tidak ada satupun benda yang langgeng, semuanya punah.

Adapun kepercayaan dan filsafat yang berkembang di atas landasan tersebut, menolak adanya sesuatu “yang tidak pernah berubah dan tidak pernah punah”. Mereka hanya menerima “hukum perubahan” sebagai hukum yang tidak terelakkan, tidak pernah punah. DEMIKIAN, PEMAHAMAN MEREKA MENJADI PINCANG – Di satu pihak, mereka menolak adanya sesuatu yang tidak pernah berubah dan punah; di pihak lain, mereka pun percaya pada hukum perubahan yang mereka yakini tidak pernah berubah.

Ada pula kepercayaan-kepercayaan yang berlandaskan paham ateisme, dan menolak adanya Tuhan, tetapi menerima “hukum kecelakaan” sebagai cikal-bakal semesta.

Krsna menafikan “hukum kecelakaan yang tidak inteligen” tersebut. Ia menjelaskan bahwa di balik segalanya adalah Super Intelligence. Perhatikan Mini Super Computer yang kita miliki — badan kita. Perhatikan kinerja setiap organ. Mungkinkah semuanya itu hasil dari hukum kecelakaan, ataupun kebetulan semata?

Kebetulan saja manusia tercipta dengan badan dan otak yang mampu menciptakan komputer super termodern. Apa mungkin??? Krsna mengatakan bahwa….

PENCIPTAAN BUKANLAH KECELAKAAN, bukan kebetulan. Ada rencana inteligen, sangat inteligen, di baliknya. Dan jika ada rencana yang inteligen, maka mesti ada pula Super Inteligensia yang merencanakan. Super Inteligensia inilah Hyang Maha Kuasa. Mau disebut Tuhan, atau apa saja – silakan!

Bagi Krsna, seseorang yang memahami hal ini adalah orang yang betul memahami. Seseorang yang dapat melihat hal ini adalah yang betul melihat. Mereka yang tidak memahami dan melihat hal ini, belum cukup paham, belum cukup pula penglihatannya. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia via #BhagavadGitaIndonesia

Video Youtube by Swami Anand Krishna: God and humanbeing go beyond perception

Dalam bahasa Sanskrit setiap kata interconnected, berhubungan. Animal (bahasa Inggris) datang dari bahasa Latin animus. Animus berarti hidup. Bukan hanya animal, kita juga hidup. Tanaman, pohon pun hidup. Gunung, laut, sungai mereka hidup juga. Sehingga bila kamu memilih menggunakan kata animus dari Latin, semuanya adalah animal, hewan, semua benda adalah animal, hewan. Apa pun juga di dunia adalah animal.

Dalam Sanskrit segalanya mempunyai kata. Kata untuk animal, sapi, kucing, anjing, kuda, semuanya dipertimbangkan sebagai pashu. Dan pashu adalah akar kata dari pashyati, dalam bahasa Inggris, perception, persepsi. Jadi seorang yang percaya kepada persepsi, adalah pashu.

Saya melihat hal yang sama dan kalian melihat hal yang sama. Saya melihat statue, kau melihat statue, patung sebagai sapi. Saya mempersepsikan sebagai kendaraan Lord Shiva. Persepsi kalian adalah sapi, persepsi saya adalah Nandi.

Sehingga apabila kita percaya pada superficial things, apa yang dilihat oleh mata kita, apabila kita hanya percaya itu, maka kalian pashu, animal. Apabila kalian ingin menjadi human being, kalian harus penetrasi lebih dalam, apa itu. Kamu harus melihat inti dari segala sesuatu. Jangan percaya kepada sesuatu yang di luar. Yang di luar mungkin tampak jelek, bisa tampak sangat baik. Pergi ke dalam.

Gunakan viveka kalian, bukan mind lagi. Mind berdasar pada data  bank. Kalian mendapat data bank dari banyak inkarnasi, sehingga kalian menetapkan dari data bank untuk menentukan sesuatu itu apa. Tapi apabila kalian tidak menggunakan data bank, kalian tidak menggunakan mind. Kalian mengubah, transform, kepada buddhi. Dan kalian mulai menggunakan viveka, faculty of discretion. Dan kemudian satu tambah satu tidak selalu dua. Satu tambah satu bisa sebelas atau yang lain.

Kalian tahu teknologi digital kita. Mereka hanya berlaku pada 2 digit. Mereka tak dapat bekerja pada 3, 4, 5 digit. Setiap pagi bila kamu di sini, kau tinggal di sini, kita berdoa, chanting di atas, om karam bindhu sanyuktam. Kita tetap harus menemukan teknologi, bukan internet, tapi inner net. Bekerja bukan pada 2 digit tapi dalam single, digit tunggal. Om karam bindu sanyuktam hanya satu digit, saat kalian menemukan teknologi,  fisika, spirituality, kimia,  seni, semua dikombinasikan. Dan inilah tujuan semuanya dari yoga. Menemukan inner net ini. Akses inner net ini. Mulai bekerja dalam 1 digit.

Kalau kalian bekerja dalam satu digit, apa artinya? Otak kalian tidak bekerja lagi. Karena mind selalu bekerja dalam 2 digit. Paling tidak 2 digit. Harus ada ide yang berkonflik. Dan kemudian mind berjalan. Apabila kamu hanya punya satu digit, mind akan istirahat, mind tidak bekerja. Dan inteligen, viveka yang bekerja. Fakultas untuk memilah bekerja.

Sekali lagi, pashu, pashyati, kalian hanya percaya pada persepsi. Dan kita tidak lebih baik dari pada animal. Kita harus menggunakan inteligen kita, kita pergi melampaui mind. Transform the mind. Dan solusi bagaimana men-transform adalah meditasi, tidak ada solusi yang lain.

Silakan simak secara lengkap Video Youtube by Swami Anand Krishna: God and humanbeing go beyond perception

 

Beberapa contoh kata persepsi, pashyati dalam Bhagavad Gita

Menganggap aku sebagai badan, kita merasa berdosa, menganggap aku sebagai  jiwa, itu hanya kesalahan yang bisa diperbaiki. Mobilku yang penyok, tapi aku tidak penyok.

“Mereka yang tidak memahami hal ini (tentang lima unsur penyebab karma); menganggap Jiwa sebagai pelaku. Pandangan mereka tidak tepat, karena pemahaman yang tidak tepat pula.” Bhagavad Gita 18:16

Nah, di sini Krsna jelas sekali. “Jiwa” bukanlah pelaku. Jiwa adalah “aku” yang sejati. Dan Aku adalah saksi bukan pelaku. Kendaraan badan, indra, gugusan pikiran serta perasaan — semuanya bukanlah diriku yang sejati. Diriku yang sejati adalah Jiwa. Aku tidak ikut rusak ketika kendaraan mengalami kerusakan. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia via #BhagavadGitaIndonesia

………………

“Ia yang melihat setiap tindakan di manapun adalah disebabkan oleh alam atau Prakrti; sementara Sang Jiwa sesungguhnya tidak berbuat apa-apa – adalah yang telah melihat sebenarnya.” Bhagavad Gita 13:29

KETIKA KITA MENGIDENTIFIKASIKAN DIRI dengan alam benda, atau dengan peralatan elektronik dalam analogi sebelumnya — kita mengalami suka dan duka, kita mengalami kelahiran dan kematian.

Ketika kita mengidentifikasikan diri dengan “tindakan” dan “ kejadian” yang terjadi — maka kita mengalami pasang surut. Emosi kita bergejolak, pikiran menjadi kacau. Ada awal, ada akhir. Perubahan menjadi satu-satunya hukum yang masuk akal. Kita tidak mampu melihat Sang Jiwa —Listrik — Hyang Abadi. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia via #BhagavadGitaIndonesia

Menyelami Bhagavad Gita Menuju Sukses Sejati

Pandangan para Pemikir dan Pemimpin Dunia tentang Bhagavad Gita

Saya sering, bahkan sudah lima kali membaca kitab Bhagavad-Gita dari A sarnpai Z. Saya kagum di situ Saudara-Saudara, Bhagavad-Gitia ternyata bukan kitab klenik.Ternyata bukan kitab untuk duduk di dalam kamar bersemadi hanutupi babahan howo songo hamandeng pucuk ing grono (menutupi lubang yang sembilan, melihat ujung hidung). Tidak Saudara-saudara. Tetapi Bhagavad-Gita adalah dalam bahasa asing “Evangelie van De Daad” (Kitab yang dijabarkan dalam kegiatan sehari-hari) – Gita adalah nyanyian perbuatan, nyanyian amal, nyanyian fi’il. Soekarno – Bapak Bangsa Indonesia/Presidan Ri Pertama

 

Ketika saya membaca Bhagavad-Gita dan merenungkan bagaimana Tuhan menciptakan alam semesta, segala sesuatu yang lain menjadi sangat tidak berarti. Albert Einstein – Saintis

 

Setiap kali keraguan menghantui diriku, setiap kali kekecewaan menatap wajahku, dan aku tidak melihat setitik pun terang harapan, aku berpaling pada Bhagavad-Gita dan menemukan ayat yang dapat menghiburku, dan langsung saja di tengah duka sepedih apa pun, aku tersenyum kembali. Mereka yang melakukan perenungan terhadap Gita akan selalu menemukan makna baru dan keceriaan baru setiap hari. Mahatma Gandhi – Tokoh Perjuangan Tanpa Kekerasan/Ahimsa

Bhagavad-Gita adalah kitab suci bagi seluruh umat manusia. Bahkan bukan sekadar kitab, ia adalah sesuatu yang hidup, dengan pesan baru bagi setiap zaman, dan arti baru bagi setiap peradaban. Sri Aurobindo Filsuf/Rohaniwan India

 

Bahwasanya manusia ibarat pohon yang terbalik (akarnya di atas dan ranting-rantingnya di bawah) merupakan pendapat umum di masa lalu. Terkait dengan konsep yang ada dalam Veda ini, Plato menjelaskannya dalam Timaeus di mana ia mengatakan…. ”Lihat, kita bukanlah tanaman duniawi, tetapi tumbuhan surgawi.” Hal ini menjadi sangat jelas dengan apa yang dikatakan oleh Krsna dalam Bab Kelimabelas Bhagavad-Gita. Carl Jung – Bapak Psikologi Modern

 

Bhagavad-Gita memberi landasan spiritual bagi keberadaan umat manusia. Ia adalah panggilan (bagi seluruh umat manusia) untuk berkarya dan memurnikan kewajibannya di dunia dengan tetap memperhatikan tujuan spiritual semesta yang jauh lebih penting dan mulia. Jawaharlal Nehru — Perdana Menteri India

Saya berhutang pada Bhagavad-Gita…. Membaca buku awal peradaban manusia itu, saya seolah mendengar sebuah pesan dari kerajaan di masa lalu — kerajaan yang besar tapi tenang dan damai Pesan yang disampaikan di masa lalu itu masih mampu menjawab perlanyaan-pertanyaan masa kini. Ralph Waldo Emerson – Salah Seorang Bapak Bangsa Amerika Serikat

 

Kehebatan Bhagavad-Gita terletak pada kemampuanya untuk menjelaskan kebijakan hidup dengan sangat indah, sehingga filsafat pun berbunga menjadi kepercayaan (yang hidup). Herman Hesse – Penulis/Filsuf Jerman

 

Untuk memahami pesan Bhagavad-Gitia yang begitu mulia dan halus, jiwa kita harus berada pada gelombang yang sama dengannya. Rudolph Steiner – Filsuf Barat

 

Bhagavad-Gita menjelaskan evolusi batin manusia dengan sangat jelas dan sistematis, evolusi batin yang dapat mengangkat derajat manusia. Ia adalah intisari dari filsafat perenial yang paling jelas dan Iengkap; karena itu, ia penting bagi seluruh umat manusia, bukan bagi India saja. Adolf Huxley – Filsuf Barat

 

Cara untuk menggapai kesempurnaan hidup dengan bekerja tanpa pamrih — itulah yang dijelaskan oleh Krishna dalam Bhagavad-Gita. Vivekananda – Pujangga besar India yang banyak mengilhami para Founding Fathers Republik Indonesia

 

Kitab Bhagavad-Gita ini boleh dipandang sebagai riwayat kehidupan Korawa dan Pandawa, atau perjalanan manusia menuju ke arah Sempurna. Sebagai ilmu, kitab Bhagavad-Gita menguraikan perjalanan kalbu manusia menuju ke arah Kesempurnaan. Di situlah terjadi pertempuran antar Jiwa dengan Keangkaramurkaannva. dr. Radjimmwedyoningrat — Salah satu Pendiri Boedi Oetomo dan salah satu Founding Fathers Republik Indonesia

Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia via #BhagavadGitaIndonesia

Menyelami Bhagavad Gita Menuju Sukses Sejati

Seperti yang dikatakan oleh Bung Karno, Bhagavad-Gita adalah suatu buku, dimana apa pun yang tertulis disana adalah “applicable” dalam kehidupan sehari-hari.

Coba kita bayangkan mungkin kamu belum lahir, tapi kalau saya melihat ke belakang, 50 tahun yang lalu apa yang applicable pada waktu itu, sekarang tidak applicable. 30 tahun yang lalu, kita masih pakai komputer dengan dos dll, sekarang sudah tidak applicable. Bhagavad-Gita ini menurut Bung Karno applicable dalam segala zaman.

Dalam kurun waktu 20-30 tahun terakhir saya mulai menulis, barangkali sebelum tahun 75-76 tetapi mulai dipublikasikan tahun 97-98. Bhagavad Gita Bagi Orang Modern terbitan Gramedia. Kalau kita melihat tahun 98 berarti sudah berapa tahun. 30 tahun yang lalu, kondisi komputer kita seperti apa? Sekarang seperti apa? Bukan Cuma hardware komputer tetapi bagaimana cara berpikir manusia dengan teknologi. Cara berpikir manusia berubah. Sehingga saya merasa dari waktu ke waktu harus ada pemahaman baru dari Bhagavad Gita.

Ma Archana sebagai pewawancara menanyakan makna Bhagavad Gita 2:40. Tiada upaya yang tersia-sia ; pun tiada tantangan yang tidak teratasi. Dengan menjalankan dharma, berkarya dengan tujuan luhur; niscayalah seseorang terbebaskan dari rasa takut, khawatir dan cemas.

Swami Anand Krishna menjawab dengan mempersilakan membaca ayat sebelumnya Bhagavad Gita 2:39. Demikian apa yang kau dengarkan, adalah kebijaksanaan. Ajaran luhur dari sudut pandang samkhya, yaitu buddhi yoga.

Di sini persoalannya adalah buddhi. Intelegensia ini yang menjadi keyword-nya. Jadi berkarya itu tidak asal berkarya tapi work smart. Berkarya dengan penuh kebijakan dengan mengetahui goal saya apa. Jadi tidak asal bekerja saja. Menggunakan faculty of discrimination, saya melakukan satu pekerjaan itu what is my end goal. Dan dalam Bhagavad Gita yang menjadi menarik sekali, bahwa 3.000 tahun sebelum masehi, dia sudah berbicara tentang transpersonal psychology. Yang sekarang baru dibicarakan. Jadi kalau kita bekerja untuk diri sendiri, saya mau memperkaya diri, memiliki mobil mewah mau memiliki perusahaan yang bagus, atau memiliki istri yang cantik, suami yang tampan, atau apa. Semuanya adalah personal goal. Untuk personal goal kita tidak butuh banyak energi. Bhagavad Gita mengatakan bahwa manusia itu tidak bisa hidup sendiri. Apabila kamu hanya bekerja dengan tujuan personal saja. Kita tidak akan pernah bisa bahagia. Ini adalah konsep yang tidak bisa dipahami selama berabad-abad.

Kalau kita bekerja karena personal goal, biasanya kita membenarkan segala bentuk, segala macam cara bagaimana mencapainya. Bagaimana untuk mencapai personal goal itu kita bisa membenarkan berbagai tipu muslihat. Begitu kita bicara kolektif goal, kita bicara kolektif goal tentang kebersamaan. Jadi kalau Bung Karno mengatakan gotong royong misalnya. Itu nggak bisa personal. Dan begitu kita bicara kolektif goal, kita bicara tentang kebahagiaan bersama. Kesejahteraan bersama. Keadilan untuk semua. Begitu kita bicara tentang kolektiviti, bekerjanya juga harus secara kolektif. Dan ketika kita bekerja secara kolektif, satu plus satu sudah bukan dua lagi. Bisa seberapa pun juga. Tergantung pada kolektivitas ini, niat, dari kolektivitas ini. Bisa relatif sekai dan bisa tak terbatas. Disitu dalam kebahagiaan semua, ada kebahagiaan saya. Dalam kedamaian semua ada kedamian saya. Inklusif.

Kita melihat dari kegagalan pemahaman yang terdahulu. Ego based psychology. Dengan mempertahankan ego kita, lihat apa yang kita lakukan terhadap dunia ini. Dunia ini menjadi sangat individualistik, tidak apa saya mencemari lingkungan, asal saya dapat meningkatkan growth rate, angka pertumbuhan yang bagus. Lingkungan tercemarkan no problem, karena, nanti 50 tahun kemudian saya baru merasakan dampaknya.

Dan itu yang menyebabakan soal global warming, climate change. Saya pernah, percaya bahwa climete change, global warming itu keniscayaan tidak bisa di hindari. Dari dulu juga perah terjadi. Tetapi at what rate? Dulu untuk mencapai kehancuran seperti sekarang, membutuhkan waktu ribuan tahun. Puluhan ribu tahun, dari zaman es ke zaman es yang berikutnya. Sekarang pesat sekali karena industrialisasi, yang tidak inteligen. Tidak menggunakan kata budhi tadi.

Swami Anand Krishna memberikan contoh beberapa orang yang berbuat baik terhadap masyarakat selamat dari penjarahan (silakan simak video dalam bahasa Indonesia tersebut).

Pertanyaan Ma Archana berikutnya, Bhagavad Gita 2:69 Malam bagi makhluk makhluk yang belum menyadari jati dirinya adalah saat para bijak yang sadar akan jati-dirinya, berada dalam keadaan jaga. Dan siang bagi makhluk-makhluk yang belum menyadari diri, adalah malam bagi para bijak.

Malam adalah waktu yang paling tenang. Untuk orang melakukan praktek-praktek spiritual. Meditasi. Semua sudah tidur. Itu bisa jam 10, 11, 12. Dalam tradisi yang kita pelajari ada tradisi di Timur agar berdoa pada malam hari. Atau meditasi pada malam hari. Zikir atau japa pada malam hari. Karena itu adalah waktu yang paling tenang. Malam bagi orang-orang biasa untuk tidur. Orang yang pada mencari jati-dirinya, spiritual, malam adalah waktu yang paling tepat.

Tetapi ada makna yang lain, malam bagi kita semua yang masih duniawi, kita semua menikmati malam itu dengan cara lain, para spiritualis menikmati dengan cara lain. Kita menikmati siang dengan cara lain, para spiritualis menikmati siang dengan cara lain. Kita mengejar harta. Seorang spiritualis tidak mengejar harta. Dia berkarya untuk mengumpulkan cukup, seperti Kabir mengatakan supaya keluargaku juga tidak kelaparan. Dan setiap orang yang datang ke rumahku. Tanpa janji juga tidak akan kelaparan.

Ini adalah konsep. Kita sedang mengejar harta mati-matian, dia mengunmpulkan cukup untuk kebaikan semua. Apa yang kita spend dalam ignorance dia spend dalam light. Kita pikir kita sedang hidup dalam keadaan cerah. Tidak kita tertidur. Kita mencari uang dalam keadaan tidur. Kita menikmati segala sesuatu dalam keadaan tidur. Kita tidak ingat bahwa akhir dari segalanya adalah kematian. Ujung-ujungnya kematian. Adakah sesuatu yang bermakna yang kita lakukan?

Bhagavad Gita jelas sekali, kriterianya apa? Kamu tidak mengharapkan imbalan dari bekerja. Bahkan kamu tidak mengharapkan balasan ucapan terima kasih. Kalau kita masih mengharapkan, jangankan mengharapkan imbalan, uang atau sebagainya, mengharapkan ucapa terima kasih pun itu harapan. Tanpa pamrih. Terus, apakah kita harus menolak, misalnya apakah kita kerja nggak mau digaji. Itu sangat berbeda. Ketika kita bekerja, konsep Bhagavad Gita ini tidak laku di sana. Jadi kalau saya mengabdi di perusahaan itu, bagaimana mengabdi, kamu digaji. Jika kita menganggap persahaan itu adalah milik bersama, sipemilik pun mempunyai pemahaman yang sama. Perusahaan ini milik setiap orang. Dan biarkan saya bekerja sebaik sesuai kemampuan saya. Saya bekerja keras demi kesejaheraan bersama, maka menjadi Bhagavad Gita.

Silakan simak video youtube dalam bahasa Indonesia: Menyelami Bhagavad Gita Menuju Sukses Sejati by Swami Anand Krishna

Meninggal dengan Irama Beraduh-Aduh atau Puji Syukur?

Pertanyaan apakah “Tujuan Hidup?” muncul dari pikiran orang-orang yang telah mencoba segalanya tetapi tidak puas. Bila orang masih berjuang untuk hidup, mencari makanan dan minuman. Berkeinginan rumah baik, kendaraan bagus dan seterusnya, mereka tidak akan mempunyai pikiran demikian?

Saat mengeluarkan kendaraan dari Garasi Rahim Ibu, kita sudah tahu tujuan kita, yaitu Pertemuan Agung dengan Sang Kekasih. Tapi setelah itu kita lupa. Nah, penyakit lupa inilah yang perlu diobati. Gita adalah obat itu. Gita mengingatkan kita akan tujuan hidup kita. Itu saja. Dikutip dari Penjelasan Bhagavad Gita 10:10

Berikut adalah kutipan-kutipan penjelasan Tujuan Hidup dari Bhagavad Gita dan garis besar penjelasan Swami Anand Krishna dalam video youtube: Do You Know Life Purpose?

 

Madhu mewakili kenikmatan yang kita peroleh dari dunia benda, dari indra

Madhusūdana, Penakluk Raksasa Madhu. Memahami setiap peran Kṛṣṇa adalah penting. Sebab, Kṛṣṇa mewakili solusi, jawaban atas segala persoalan dan tantangan hidup yang dihadapi Arjuna. Dan, Arjuna mewakili diri kita – diri Anda dan diri saya.

Madhu berarti “Madu”. Bayangkan seorang raksasa bernama Madhu. Madhu, madu adalah sesuatu yang menyenangkan, nikmat, manis – sulit bagi manusia untuk menaklukkan sesuatu yang nikmat. Mudah membebaskan diri dari keadaan yang tidak menyenangkan. Tapi, membebaskan diri dari keadaan yang menyenangkan! Coba Anda pikirkan.

Madhu mewakili kenikmatan yang kita peroleh dari dunia benda, dari indra. Terbawa oleh suatu kenikmatan yang mereka tawarkan – kita sering kali lupa akan tujuan hidup kita. Menaklukkan Madhu berarti melampaui kenikmatan sesaat demi tujuan yang lebih tinggi. Madhusudana adalah seruan bagi Arjuna untuk mengingat tujuan hidup yang jauh lebih tinggi dari kenikmatan-kenikmatan sesaat yang bersifat rendahan. Penjelasan Bhagavad Gita 2:1 dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia via #BhagavadGitaIndonesia

Anak dan pekerjaan duniawi hanyalah sarana bukan tujuan

Anak, pekerjaan-pekerjaan duniawi, yang sesungguhnya hanyalah sarana untuk meraih kesadaran diri, kita jadikan tujuan. Sementara itu, tujuan hidup sendiri terlupakan – sedemikian bingungnya diri kita saat ini. Jangan lupa tujuan – penemuan jati diri, hidup berkesadaran 24/7 dalam kasih, saling sayang-menyayangi, saling menghormati, saling peduli – tanpa keterikatan. Penjelasan Bhagavad Gita 2:72 dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia via #BhagavadGitaIndonesia

 

Biasakan Berbagi Berkah

Nikmati segala kenyamanan, namun dengan penuh kesadaran bahwa kenyamanan yang Anda peroleh dari harta benda dan keuasaan tidak sama dengan kebahagiaan. Maka, berjuanglah pula untuk meraih kebahagiaan sejati dengan cara “mengenal diri”—mengenal Hakikat Diri, Hakikat Jiwa, hubungan Jiwa dengan Jiwa-Jiwa lain, hubungan Jiwa-Jiwa dengan sang Jiwa Agung.

Kembangkan sifat panembahan, belajarlah, biasakanlah diri untuk berbagi berkah. Inilah jalan menuju kebahagiaan sejati. Jangan menjadi bodoh, jangan terbawa oleh Maya! Lewati Maya, gunakan Maya untuk menembusnya, gunakan harta-benda dan kekuasaan untuk berbagi berkah! Di balik tirai Maya adalah Mayapati—the Lord of Maya—Sang Jiwa Agung. Penjelasan Bhagavad Gita 7:15 dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia via #BhagavadGitaIndonesia

 

Hidup Berkesadaran

Perjalanan batin adalah hidup berkesadaran, yang tidak mementingkan kepentingan diri, keluarga maupun kelompok tertentu. Tapi, memperhatikan kepentingan tetangga, masyarakat, sesama warga dunia, yang dengan sendirinya kepentingan diri ikut terurusi. Itu saja. Jadi, tidak ada alasan bagi kita untuk menunda peralihan kesadaran seperti itu, tentunya jika kita ingin meraih kebahagiaan sejati, yang disebut tujuan hidup tertinggi oleh Krsna.

Jika sekadar mau senang-senang, hepi-hepi saja, ya, silakan mengejar kenikmatan indra saja. Buatlah indra-indra makin gemuk, hingga berjalan dan bernapas pun menj adi susah. Dan, saat ajal tiba, ‘aduh-aduh’ — bahkan sebelumnya, saat mulai menua pun, aduh-aduh sudah menjadi satu-satunya irama hidup kita, mantra kita.

Irama Aduh atau Irama Puji Syukur – pilihan di tangan kita. Untuk Irama Aduh, kita tidak perlu berbuat apa pun. Di tengah segala harta-benda yang kita miliki, di tengah segala kenikmatan dan kenyamanan yang kita miliki – saat ini pun sudah terdengar. Sesungguhnya satu-satunya irama yang mengiringi hidup kita saat ini adalah Irama Aduh. So, kencangkan tali pinggang, rileks, biarlah pesawat hidup menuju Segi Tiga Bermuda untuk diisap dan dilempar kembali – mati-lahir, mati-Iahir!

Tapi, jika kita ingin mengubah Irama Hidup kita menjadi lrama Puji-Syukur, maka kita mesti menerima undangan Krsna. Pesawat jet-Nya siap mengantar kita ke Alam Ilahi nan indah yang tak pernah terbayangkan sebelumnya. Penjelasan Bhagavad Gita 9:33 dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia via #BhagavadGitaIndonesia

 

 

Do You Know Your Life Purpose? – by Swami Anand Krishna

Pertanyaan apakah “Tujuan Hidup?” muncul dari pikiran orang-orang yang telah mencoba segalanya tetapi tidak puas. Bila orang masih berjuang untuk hidup, makanan dan minuman. Berkeinginan rumah baik, kendaraan bagus dan seterusnya, mereka tidak akan mempunyai pikiran demikian?

Seharusnya orang kaya yang banyak mengalami pasang dan surut akan berpikir tentang “Tujuan Hidup” tersebut? Tapi, jika orang kaya sejak lahir, hanya punya satu pengalaman hidup semacam. Tidak akan memiliki pikiran demikian juga, karena semuanya berjalan lancar. Pikiran seperti ini muncul saat terjadi hambatan, masalah, keruwetan?

Orang yang memiliki masalah besar dalam kehidupan memiliki kesempatan untuk memunculkan pertanyaan tersebut? Ya, kemungkinan muncul pasti lebih besar.

Tapi mind research, penilitian mind, bisa membuat kita kembali kepada pola kebiasaan yang lama.

Saya tidak puas dengan pasangan saya, ini kenyataan, apakah saya harus mengulanginya? Hanya kalau dia mengejar pertanyaan mengapa saya harus mengulanginya? Maka pertanyaan tersebut muncul. Pada waktu kamu mengejar pertanyaan tersebut dia naik ke next level, tingkat yang lebih tinggi.

Tetapi apabila kamu tidak mengejar pertanyaan dan mengikuti mind mari kita coba kesempatan kedua. Siapa tahu kesempatan kedua lebih baik, maka kamu akan mencari partner kedua siapa tahu lebih baik. Maka kita mengulangi lagi hal yang hampir sama. Ritualistik……

Kita itu ritualistik. Terbiasa mengulangi. Kita menyukai ritual. Kita menyukai pola lama yang sama. Karena sudah familiar kita tidak mau mencoba sesutu baru yang tidak diketahui. Itulah sebabnya orang mereka tak mau berpikir apa tujuan hidupnya. Mereka bahkan tak tahu bahwa hal demikian ada.

Tidakkah lucu? Kita berbuat salah tapi karena kita senang ritual lama, kita mengulangi dan tidak mau mencoba hal yang baru? Karena mind kita di-hacked, otak kita di-hacked. Seperti kita diberi peringatan pada bungkus rokok. Mereka membacanya tetapi mereka tetap merokok.

Kita adiktif terhadap pola tertentu. Apakah itu rokok, obat-obatan atau suatu pengalaman. Apabila kamu adiktif terhadap sesuatu, maka kamu tidak dapat meningkat ke next level, level berikutnya. Krishna selalu mengulangi dalam Bhagavad Gita, suka dan tidak suka. Kedua-duanya dapat menghentikan evolusimu. Apabila kamu menyenangi pengalamanmu. Kamu ingin mengulanginya. Kalau kamu tidak myukainya, kamu akan berupaya menghindarinya. Artinya kamu mengikuti pola yang sama. Kelihatannya melakukan hal berbeda tetap sebetulnya sama?

Menurut pengalaman saya bukan menemukan apa tujuan hidupmu? Tapi apa yang membuat hidupmu bertujuan atau terarah?

Silakan simak video Youtube: Do You Know Life Purpose by Swami Anand Krishna

Sibuk Meraih Kenikmatan Duniawi Sampai Maut Menjemput #BhagavadGita

Dunia ini penuh dengan orang-orang bodoh. Mereka hidup tanpa mengetahui arah. Mereka tidak tahu tujuan hidup itu apa. Mereka pikir makan, minum, tidur, seks, kekuasaan, harta-benda, itulah kehidupan. Mereka “tampak”bahagia, tapi sesungguhnya hampa. Mereka kosong.

Hingga usia 35-40 tahun, mungkin mereka tidak mengerti arti kebahagiaan, dan menerjemahkan “kenyamanan” sebagai “kebahagiaan”. Setelah usia 35-40 tahun, umumnya mereka  baru tersadarkan bahwa kenyamanan tidak sama dengan kebahagiaan. Namun, saat itu pun mereka masih belum tahu cara untuk meraih kebahagiaan sejati.

Adalah suatu berkah jika seorang yang sudah berusia 35-40 tahun masih sempat tersadarkan akan kesalahannya, dan mulai mencari kebahagiaan sejati. Biasanya, mereka hidup sebagai layangan yang putus – tanpa arah – bergantung pada arus angin. Demikian satu masa kehidupan tersia-siakan.

Dibutuhkan energi yang luar biasa untuk menarik diri dari pengaruh maya. Dan, energi sedahsyat itu adalah energi seorang pemuda, seorang pemudi di bawah usia 30-35 tahun. Energi semasa itu, energi hingga usia itu adalah energi keberanian, kepahlawanan. Energi yang membuat seorang berani mengambil resiko itu, tidak bertahan lama. Gunakan energi itu sekarang, dan saat ini juga, sebelum ia meredup! Penjelasan Bhagavad Gita 7:15 dikutip dari buku: (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

 

Apakah yang demikian itu terjadi karena pada umumnya kita semua dibawah pengaruh rajas yang dinamis dan agresif? Silakan simak penjelasan Bhagavad Gita 14:22 di bawah ini:

Cover Buku Bhagavad Gita

Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu; Saha vīryam karavāvahai; Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga Hyang Tunggal senantiasa melindungi kita; menjernihkan pikiran kita: semoga kita dapat berkarya bersama dengan penuh semangat; semoga apa yang kita pelajari mencerahkan dan tidak menyebabkan permusuhan; Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

“Wahai Bharatarsabha (Arjuna, Banteng Dinasti Bharat), ketika sifat Rajas berkuasa, seseorang menjadi serakah; dan, segala aktivitasnya hanyalah bertujuan untuk meraih kenikmatan duniawi. Sebab itu, ia pun gelisah ketika keinginan-keinginannya tidak terpenuhi.” Bhagavad Gita 14:12

 

Kekuasaan Rajas adalah yang paling umum. Rata-rata, kita semua, hampir sepanjang hari, berada di bawah pengaruhnya.

SEPANJANG HARI KITA AKTIF BEKERJA – Namun, tujuan kita hampir selalu untuk menghasilkan materi “saja”. Jarang sekali kita memikirkan apakah pekerjaan itu mulia atau tidak? Apakah pekerjaan itu hanya menguntungkan kita semata atau juga adalah baik bagi orang-orang di sekitar kita? Apakah kita mencari keuntungan di atas penderitaan orang lain?

Kemudian, ketika keinginan dan harapan kita untuk meraih keuntungan sebesar dan sebanyak mungkin tidak tercapai, kita rnenjadi gelisah. Kegelisahan semacam itu memang wajar, lazim, dan alami — karena kesenangan sesaat yang kita kejar selalu bergandengan dengannya.

SELAMA KITA MENGEJAR “SUKA”, maka “duka” yang adalah kembarannya, menanti di luar pintu kehidupan kita. Begitu “suka” keluar, masuklah “duka”. Demikian mereka bergantian mengunjungi kita. Para pengunjung setia!

Inilah keadaan orang yang berada di bawah pengaruh rajas. Ketika berhasil, ia bersuka-cita. Ketika gagal, ia berduka. Kadang senang, kadang susah. Ia selalu terombang-ambing dalam lautan samsara — pengulangan yang tidak pernah berhenti.

Samsara “pengulangan” adalah sebab kesengsaraan. Awalnya barangkali menyenangkan, tapi akhirnya selalu membosankan, mengecewakan dan menggelisahkan.

 

HAL INI BISA DIRASAKAN OLEH PARA JET-SETTERS – Awalnya, mereka menikmati perjalanan ke mana-mana. Hidup mereka hampir sepenuhnya di pesawat terbang. Baru pulang, besok berangkat lagi. Sayangnya, saya tidak pernah bertemu dengan seorang jet-setter “sejati” yang “akhirnya” tidak mengeluh, “Untuk apa semuanya ini? saya punya segala-galanya. Rumah di Jakarta, apartemen di Inggris, kantor di New York, kastil di Perancis. Tapi kapan saya menikmatinya?”

Adalah para pegawai mereka yang menikmati semuanya itu. Mereka sendiri tidak punya waktu lagi untuk menikmatinya.

Di usia uzur, ketika Dewa Yama, Malaikat Maut sudah menunggu di luar pintu, mereka masih sibuk memikirkan, “Bagaimana dengan kerajaan yang telah kubangun? Apakah anakku dapat mempertahankannya? Apakah para direktur dan CEO akan tetap setia? Apa yang akan terjadi dengan perusahaan-perusahaan yang kubangun dengan jerih payah, cucuran keringat dan darah?”

 

JIWA YANG TERGANGGU oleh pikiran-pikiran seperti itu, lupa akan jati dirinya sebagai Jiwa Merdeka — Ia “mengalami kematian” dalam keadaan terguncang. Kemudian, setelah pengalaman kematian itu, ia mengejar lagi pengalaman kelahiran ulang. Dan dalam pengalaman hidup berikutnya pun, ia masih tetap mengejar hal yang sama. Inilah Samsara.

Lagi-lagi ia mencari pengalaman suka dari timbunan harta. Awalnya ia bahagia, namun akhirnya, ia kembali gelisah. Demikian seterusnya dari satu masa kehidupan ke masa kehidupan berikutnya. Apa tidak membosankan? Badan dan perangkat indra yang baru tidak memiliki memori dari masa lalu. Gugusan pikiran dan perasaan memilikinya, tapi lupa. Namun, Jiwa tidak lupa. Ia mengalami kegelisahan yang luar biasa, tapi karena keterikatannya dengan pengalaman-pengalaman tertentu, ia “merasa” tidak berdaya untuk berulangkali lahir dan mati. Demikianlah keadaan kita saat ini.

Dikutip dari buku: (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

 

Om, Sarve bhavantu sukhinaḥ; Sarve santu nirāmayāḥ; Sarve bhadrāṇi paśyantu; Mā kashchit duḥkha bhāgbhavet; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga semua makmur, bahagia dan bebas dari penyakit. Semoga semua mengalami peningkatan kesadaran, dan bebas dari penderitaan. Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/

 

Berkarya Tanpa Pamrih untuk Melayani Sesama #BhagavadGita

Gita bukanlah buku yang bisa tamat. Gita adalah Panduan Hidup yang memandu kita selama kita masih hidup, atau lebih tepatnya, selama kehidupan sendiri masih ada.

Percakapan Kedelapanbelas ini adalah tentang Kebebasan Mutlak. Sesungguhnya, kebahagiaan sejati adalah hasil dari kebebasan. Jiwa-Jiwa yang masih diperbudak oleh hawa nafsu, indra, dan sebagainya – masih belum bebas, sehingga tidak pernah menikmati Kebahagiaan Sejati.

Lewat percakapan ini, pesan Krsna menjadi makin jelas. Jadilah bebas, jadilah bahagia….. itulah Kebenaran Perjalanan Hidup, itulah Kesadaran Tertinggi yang mesti digapai: Sat-Cit-Ananda. Dikutip dari Kata pengantar Percakapan Kedelapanbelas buku Bhagavad Gita.

 

Berikut penjelasan Bhagavad Gita 18:1 dan 18:2 tentang samyas memisahkan diri dari urusan duniawi dan tyaga, melepaskan hasil:

Buku Bhagavad Gita

Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu; Saha vīryam karavāvahai; Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga Hyang Tunggal senantiasa melindungi kita; menjernihkan pikiran kita: semoga kita dapat berkarya bersama dengan penuh semangat; semoga apa yang kita pelajari mencerahkan dan tidak menyebabkan permusuhan; Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

PERTAMA TENTANG SAMNYAS – Dalam tradisi yang sudah berjalan selama ribuan tahun di wilayah peradaban Sindhu, Shin-tuh, Hindu, Hindia, Indies, Indo — samnyas adalah salah satu tahap dalam kehidupan manusia. Sesuai dengan pedoman kemasyarakatan di wilayah peradaban ini, usia di atas 60an tahun adalah untuk memasuki samnyas, untuk memisahkan diri dari segala urusan duniawi, menarik diri dari keramaian, tinggal di tempat yang jauh dari kota untuk melakukan praktek-praktek spiritual. Nah, saat perang Bharata- Yuddha, usia Arjuna maupun Krsna sudah sekitar 70an tahun.

Adakah Arjuna ingin mendapatkan konfirmasi dari Krsna, “Bukankah dalam usia kita ini, lebih cocok bila kita memasuki samnyas — tahap kehidupan terakhir di mana urusan dunia sudah terlewatkan?”

Krsna memahami maksud Arjuna. Untuk terakhir kalinya dalam bab ini, Krsna berupaya untuk menegaskan peran Arjuna sebagai seorang kesatria. Sekaligus, Ia pun menjelaskan arti lain tentang tyaga dan samnyas. Sebuah terobosan baru oleh Krsna, sebuah definisi baru yang masih relevan hingga hari ini — 5.000an tahun setelah perang Bharata-Yuddha. Penjelasan Bhagavad Gita 18:1 dikutip dari buku: (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

 

 

Sri Bhagavan (Krsna Hyang Maha Berkah) bersabda:

“Para Resi menjelaskan samnyas sebagai pelepasan diri dari segala perbuatan yang termotivasi oleh keinginan untuk meraih imbalan, memperoleh sesuatu; dan, tyaga, sebagaimana dijelaskan oleh para bijak, adalah menyerahkan, melepaskan segala pahala, seluruh hasil dari setiap perbuatan.” Bhagavad Gita 18:2

Ini adalah terobosan baru…..

 

KRSNA TIDAK MENJELASKAN SAMNYAS sebagai penarikan diri dari keramaian dunia. Jika kita berperan sebagai Arjuna, di mana urusannya adalah membela kebajikan dan keadilan — maka tidak ada masa pensiun. Sebab itu, samnyas dijelaskan bukan sebagai penarikan diri dari keramaian dunia; segala urusan dunia; maupun dari segala perbuatan. Tapi, sebagai pelepasan atau penarikan diri dari segala perbuatan yang termotivasi oleh keinginan untuk meraih imbalan.

Di usia uzur pun, jika memang peran kita menuntutnya, maka kita mesti tetap berkarya, berjuang. Arjuna belum menyelesaikan perannya. Ia mesti berjuang. Pun demikian dengan mayoritas kita hingga saat ini.

Tidak semua orang mesti menjadi petapa dan tinggal di tengah hutan. Tidak semua orang mesti menyepi. Tidak semua orang mesti menarik diri dari keramaian.

Arjuna termasuk mereka yang mesti menjalani samnyas dengan pemahaman baru ini. Dan sesungguhnya kita pun demikian. “Kemungkinan besar” demikian!

 

BERKARYALAH TANPA MEMIKIRKAN HASIL, tanpa motivasi yang berlandaskan pada keinginan untuk menjadi super kaya, super tenar, dan super apa saja!

Berkaryalah dengan semangat melayani sesama.

Dengan berkarya seperti itu, sesungguhnya kita pun sudah memasuki samnyas. Kita sudah tidak lagi memikirkan kepentingan diri. Kita sudah tidak berdagang sapi, tidak terlibat dalam transaksi, “lu jual, gue beli.”

Kendati demikian, setiap laku, setiap perbuatan, setiap karma tidak bisa dilepaskan dari konsekuensinya, tiada sebab tanpa akibat, tiada aksi tanpa reaksi.

Karya baik menghasilkan kebaikan, dan karya buruk menghasilkan keburukan. Nah, “Hasil Baik” pun dapat menjadi kepala ular dalam perrnainan ular tangga dan mematuk kita. Kita bisa menjadi “besar kepala” karena kebesaran hasil dari pekerjaan-“ku”, dari jerih payah-“ku”.

 

SEBAB ITU, RENOUNCE THE FRUIT – Lepaskan buah karyamu. Semua itu karena Gusti, semua karena anugerah Gusti. Apa yang dapat kuperbuat tanpa kehendak dan restu Gusti?

Kita berkarya demi kebaikan itu sendiri.

Ya sudah, janganlah merasa tersanjung ketika seorang memuji kita. Menerima pujian orang pun sudah cukup untuk membesarkan ego kita, ingat kepala ular. Serahkan seluruh hasil dari perbuatan kita kepada Gusti Hyang Maha Kuasa!

Nah, renouncing the fruit inilah tyaga.

Berbuat baik, dan segala hasil dari perbuatan itu dipersembahkan kepada Gusti Pangeran. Ini adalah sikap mental, supaya kita tidak menjadi sombong. Ini adalah sikap hidup, attitude: “Engkaulah Hyang Menggerakkan tanganku untuk berbuat, maka hasil perbuatan pun kuserahkan kepada-Mu.”

Dikutip dari buku: (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

 

Om, Sarve bhavantu sukhinaḥ; Sarve santu nirāmayāḥ; Sarve bhadrāṇi paśyantu; Mā kashchit duḥkha bhāgbhavet; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga semua makmur, bahagia dan bebas dari penyakit. Semoga semua mengalami peningkatan kesadaran, dan bebas dari penderitaan. Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/