Wejangan Anand Krishna: Jangan Ladeni Orang Yang Memunculkan Amarah

Sanjaya menjawab:

“Setelah memeriksa pasukan Pandava, Duryodhana menghampiri Gurunya; dan, berkata: Lihatlah pasukan Pandava yang dipimpin oleh Putra Drupada salah seorang siswamu yang lincah.” Bhagavad Gita 1:2-3

https://bhagavadgita.or.id/

 

(Dalam Penjelasan buku Bhagavad Gita 1:2-3 disampaikan oleh Guruji Anand Krishna, dalam ilmu komunikasi modern yang banyak dipengaruhi oleh Hypnosis atai NLP, cara-cara seperti ini sering digunakan untuk membakar emosi seseorang. Dengan menyebut Drupada, ia mengingatkan Guru Drona akan penghinaan yang pernah dialami Drona oleh Drupada).

Guruji Anand Krishna menyampaikan:

Duryodana memainkan siasat, dia memunculkan amarah seorang Guru.

Dalam hidup kita, juga terjadi semacam itu. Banyak orang yang kerjaannya senang melihat kita susah dan susah melihat kita senang.

Hei kamu tahu nggak kemarin suami kamu, nggak usah-nggak usah. Makin bilang nggak usah semakin penasaran kita. Kemarin suami kamu lagi jalan-jalan di mall. Sama siapa? Nggak usahlah. Banyak orang-orang yang memunculkan amarah kita dengan cara seperti itu.

Duryodana juga seperti itu. Dia memunculkan amarah Dronacharya agar dia bisa melawan dengan penuh semangat. Bisa membunuh para Pandava.

Jadi jangan sampai terjebak kalau ada yang ingin memunculkan amarah. Kalaupun suami berjalan-jalan di mall jangan membuat orang ini penasaran. Makin penasaran makin dia menjadi-jadi. Mau urusan berantem sama suami itu urusan nanti.

O ya dia sedang berjalan-jalan dengan saudara sepupunya.

Diamkan dulu orang yang memunculkan amarah. Jangan diladeni. Dalam pelajaran hidup kita ini adalah hal yang penting sekali. Jangan meladeni orang yang memunculkan amarah.

Sumber: Video Youtube oleh Guruji Anand Krishna, Bhagavad Gita Dalam Kehidupan Sehari-hari Percakapan 01.

Link: https://bhagavadgita.or.id/

https://www.anandkrishna.org/

 

 

Advertisements

Renungan di Akhir Tahun 2018, Menghayati Kepergian Para Sahabat

Ucapkan Nama-Nya Ketika Maut Datang Menjemput

Ketika musibah menimpa dirimu, sebut nama-Nya dan katakan, “O Tuhan, kasihku, sayangku!” Ketika maut datang menjemputmu, ucapkan asma-Nya, dan katakan, “O Tuhan, kasihku, sayangku aku merasakan kehadiran-Mu! Aku melihat wujud-Mu. Kau berada di sampingku. Aku milikmu, bukan milik dunia ini….”

Cukup, jangan menambah sesuatu apa pun. Hanya mengucapkan “O Tuhan, kasihku, sayangku” – sudah cukup. Ia Maha Tahu. Ia tahu persis, apa yang kita butuhkan. Renungan Harian untuk 22 Desember, Bersama Vivekananda Sang Swami.

Sumber: (Krishna, Anand. (2002). Renungan Harian Penunjang Meditasi. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama)

 

“Kauteya (Arjuna, Putra Kunti), di bawah pengawasan-Ku, roda Samsara semesta berputar terus, menyebabkan munculnya makhluk-makhluk bernyawa, bergerak; maupun benda-benda yang tidak bergerak.”Bhagavad Gita 9:10

Alam ini sepenuhnya berada di bawah pengawasan-Nya. Nah, implikasi dari pemahaman ini jauh melebihi bayangan kita. Jika semuanya berada di bawah pengawasan-Nya, Roda Samsara, Alam Semesta pun berputar karena dan atas kehendak-Nya – maka, tidak ada lagi sesuatu yang bisa disebut kecelakaan…

Tidak ada pula kebetulan – Kebetulan saya berada di tempat yang salah, maka saya terlibat dalam buku tembak antara dua geng – dan ikut kena tembakan. Saya luka. ‘Tidak ada kebetulan seperti itu. Ingat, Dia adaalah Hyang Maha Mengawasi – sang Pengawas Agung.

Pengalaman suka dan duka terjadi karena perbuataan kita sendiri. Karena keterikataan kita sendiri. Ya, kita bertanggung jawab sepenuhnya atas apa yang menimpa diri kita. Dia- Gusti Pangeran – senantiasa mengawasi supaya semuanya berjalan lancar sesuai dengan hukum-hukum alam yang ada atas kehendak-Nya pula!

Sumber: (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

 

 

Meninggalnya 2 Sahabat dan 1 Saudara di Bulan Desember

Pertama,

Pada tanggal 10 Desember 2018, setelah menderita kanker usus selama 1.5 tahun seorang sahabat meninggalkan dunia. Apakah mengirimkan energi divya usada jarak jauh membantunya? Siapakah kita yang merasa dapat membantunya? Keberhasilan hanyalah tindakan yang selaras dengan Kehendak-Nya. Yang penting adalah Kehendak-Nya.

Dalam Bhagavad Gita disampaikan Karma Yoga, berkarma tanpa pamrih pribadi, yang penting bukan hasilnya. Bukan pula kita acuh, karena berpikir itu kan buah karma dia? Bukan begitu, tapi tindakan dharma apakah yang dapat kita lakukan? Perhatikan sewaktu Guruji menengok, itulah yang perlu diteladani.

Karma itu seperti kartu-kartu dari kayu tipis yang diberdirikan melingkar. Karena kita menjatuhkan satu kartu di sebelah kita, kartu yang kita jatuhkan akan menjatuhkan kartu sebelahnya juga sampai akhirnya kartu terakhir akan menjatuhkan kita. Kalau kami sepasang orang tua harus pergi ke Semarang atau Temanggung atau Pati, seseorang di kehidupan masa lalu pernah bertindak yang serupa kepada kami. Lakoni saja.

 

Pada tanggal 11 Desember, saya dan istri datang ke rumah duka di Temanggung, berangkat setelah mengadakan Terapi Divya Usadha bersama beberapa teman di Alun-Alun Kidul Jogja. Pertimbangan efisiensi dan waktu tidak mungkin menunggu teman-teman Jogja yang masih melakukan pelayanan di Taman Pintar, sehingga kami berdua langsung berangkat ke rumah duka. Siang hari selesai memberikan penghormatan terakhir, pulang ke Solo lewat jalan pintas Kopeng Salatiga yang berkelok-kelok melintasi lereng perbukitan dengan naik turun yang membuat kita perlu waspada.

Usia sudah 64 tahun istri 61 tahun, kami berdua berangkat dari Solo pk. 04.30, mengemudi Solo-Jogja yang di Aplikasi Waze tertulis 1.5 jam kami tempuh lebih dari 2 jam, karena di Klaten Jalan Utama ditutup persiapan Car Frre Day. Perjalanan dari Jogja ke Temanggung yang diperkirakan 2.5 jam kita tempuh dalam 3.5 jam karena berhenti di Rumah Makan, sarapan dan ganti baju. Perjalanan dari pulang dari Temanggung ke Solo diperkirakan 3 jam kita tempuh dalam waktu 4 jam.

Sampai Solo istirahat dan rencana esok tidak ke mana-mana. Apakah rencana kita dapat dilaksanakan, bisa asal sesuai dengan Kehendak Gusti. Dan Gusti berkehendak lain.

 

Kedua,

Pagi hari 12 Desember, sehabis keluar rumah sebentar kita mau istirahat, keponakan perempuan menelpon bahwa ayahnya, kakak kandung saya meninggal di Jogja. Dia dan ibunya dalam perjalanan ke Jogja dan tidak tahu nanti cara membawa Jenazah dari Jogja. Kita berdua langsung dalam hujan lebat ke Jogja.

Di Jogja itulah saya mengenal kebaikan kakak dari cerita-cerita para tetangganya. Sebagai gambaran yang tidak bisa dipahami orang awam seperti kami. Kakak kami yang pernah menjabat di imigrasi, bisa menghidupi istrinya dengan layak, deposito keluarga, uang kontrakan rumah di Jakarta, dan sebagian pensiun untuk keluarganya. Dia hidup sederhana di Jogja di kost sederhana bersama para mahasiswa di tempat biasa jauh dari elit. Tetapi semua tetangganya mengatakan dia orang baik. Saya baru sadar itu mungkin caranya dia melepaskan diri dari keterikatan yang telah dlakoninya selama 7 tahun.

Pk. 05.00 pagi kakak masih subuhan bersama, pk. 09.00 merasa pusing dan diantar temannya ke Puskesmas. Pk. 11.00 ditawari makan teman-temannya, menolak dengan kedua tangan ditangkupkan di depan dada, mengucakan terima kasih-terima kasih. Pk 13.00 meninggal dengan tersenyum. Saya masih menyimpan foto kakak saya sedang tersenyum di akhir hayatnya yang dikirim anak ibu kost-nya.

Bisakah kita meninggal dengan tersenyum? Harus dibuktikan lebih dahulu.

Haruskah kita meninggal dengan tersenyum? Tidak juga, bagi para Master yang penting adalah apa yang kita lakukan setiap saat. Cara kematian kita skenario Dia, nggak usah dipikirkan. Banyak Master dan Orang Suci meninggal denga cara mengenaskan.

Guruji juga menyampaikan:

Hidup yang diawali dengan sebuah tangisan, harus diakhiri dengan sebuah senyuman. Ketika engkau masih bayi, orang-orang disekitarmu tetap tersenyum walaupun engkau terus menangis. Ketika engkau mati, orang-orang disekitarmu akan meratapi kehilangan ini, namun engkau semestinya tersenyum dalam damai dan mengundurkan diri dengan tenang.

Sumber: (Das, Sai. (2012). Sai Anand Gita Kidung Mulia Kebahagiaan Sejati. Koperasi Global Anand Krishna Indonesia)

Silakan juga lihat Video Guruji: Bhagavad Gita and Yoga in Modern Times by Anand Krishna, beliau di akhir video bertanya, bisakah kita tersenyum di akhir episode kehidupan ini?

 

Ketiga,

Flash back ke tanggal 2 Desember 2018, teman-teman Joglosemar diundang salah seorang teman yang tinggal di Karanggede Boyolali. Di tempat tersebut kita latihan Emotion Culturing Bersama dan sahabat tersesebut menyampaikan bahwa penyumbatan jantung yang sudah dialaminya sudah berat tinggal 37 %. Pasang Ring sudah tidak membantu, harus Bypass. Rencana tanggal 17 Desember masuk Rumah Sakit dan 19 Desember operasi.

Pada tanggal 19 Desember 2018 pagi karena salah makan, perut rasanya sakit tak tertahankan. Kami ke dokter 24 jam memperoleh obat dan pulang ke rumah dengan masih sakit. Seorang keponakan mengerti pijat syaraf bekerja dan akhirnya saya bisa tidur pulas. Pada waktu dipijat itulah kami mendengar kabar duka sahabat yang selesai dioperasi dibawa ke ICU dalam keadaan tidak stabil dan akhirnya meninggal.

Masih ada kisah satu lagi, kakak istri saya sakit, punggung dan tengkuknya seperti menerima beban puluhan kilo. Kami dan istri ke rumahnya pada tinggal 3 Desember sekitar jam 4 pagi dan kemudian mengantar ke Rumah Sakit, ternyata darah tinggi 184/114. Setelah diberi obat kami antar pulang dan selesai?

Belum, esoknya masih pagi-pagi kami diminta mengantar ke rumah sakit dadanya sesak napas. Kami masih berpikir, bahwa obat yang diberikan terlampau keras, akan tetapi keluarganya minta diantar ke dokter kalau perlu rawat inap yang nggak apa-apa.

Dokter jaga mengatakan langsung masuk ICU, jantung. Setahu saya kakak istri tidak pernah sakit jantung, ke rumah sakit juga masih bisa jalan dan kedua tangan juga masih bisa diangkat ke atas. Tapi baca di internet kan tidak sah. Dokter lebih paham.

7 hari di ICU dan pada waktu itu kondisinya justru naik-turun, teman-temannya begitu banyak dan emosinya terpengaruh. Pada waktu Sahabat dan kakak saya meninggal, dia tidak diberi tahu. Pada hal setiap hari kami dan istri menyempatkan menengok. Sekarang kakak kami sudah keluar dari rumah sakit dan recovery, pemulihan di tempat kami.

Pada tanggal 20 Desember saya bangun merasa sehat dan bertanya pada istri apakah mau menemani ke Pati. Pukul 04.00 kami berangkat bersama istri. Selesai pemakaman sahabat pada pk 12.30 kami pulang ke Solo bersama satu sahabat kami yang tinggal di Jogja.

Karena pulang setelah sampai Purwodadi, Aplikasi Waze dimatikan dan ternyata kita salah jalan telah mencapai Masaran jurusan Sragen, Solo sudah lewat. Kembali kita balik masuk tol dan akhirnya sampai rumah pk 17.00. bagi kami seusia 64 tahun terasa sekali capeknya.

Malamnya perut di sebelah kanan terasa sakit. Keponakan datang memijat syaraf dan sakit berkurang. Keesokan harinya kami berpikir haruskah ke rumah sakit bagaimana bila dokter jaga bilang langsung masuk ICU. 3 tahun yang lalu, kami pernah diminta operasi batu ginjal, padahal saya tidak pernah merasa sakit. Bahkan sampai sekarang juga tidak apa-apa tidak dioperasi. Apalagi di tempat sakit itu posisi adalah posisi empedu, jangan-jangan seperti kakak istri datang ke rumah sakit, begitu diperiksa diminta masuk ICU.sepula

Kami melihat sendiri sepulang dari Pati, ketika kakak istri control ke rumah sakit, pulangnya bawa obat banyak sekali, sehari mungkin ada belasan macam? Seperti anak SMP mempunyai banyak Guru yang ahli di masing-masing mata pelajaran dan semuanya  memberikan PR yang banyak yang membuat kita bertanya apakah si murid mampu mencernanya.

Pada waktu sakit tersebut, kami baru menyadari pesan Guruji untuk rajin melakukan sadhana, apakah latihan napas, membaca afirmasi atau mantra. Ternyata pada waktu sakit sulit sekali melakukan hal tersebut dengan penuh penghayatan.

Obat maag dokter 24 jam tetap diminum dan seharian menggeletak di tempat tidur, makan pun tidak enak. Karena makan sangat sedikit, datanglah rasa sakit dari jari-jari tangan kram. Kami ingat pada waktu puasa sering otot-otot kram. Sudah digosok counterpain, tetap kram juga. Sakit sekali. Kami ingat google di hp. Kami cari kejang otot. Salah satu penyebab kejang otot adalah kurang ion, semacam dehidrasi. Jadilah saya minum pocari sweat 350 ml. Malam itu saya tidur nyenyak dan bangun pagi telah hilang rasa kram. Sewaktu muda makan banyak dan banyak mineral atau ion di tubuh. Setelah tua makan lebih sedikit dan sering kurang ion. Tidak baik juga kebanyakan minuman penambah ion karena kandungan gula dalam minuman.

 

Aku Menerima Setiap Keadaan

Merenungkan apa yang terjadi yang begitu banyak di akhir bulan Desember, masih banyak yang tidak bisa ditulis. Tapi saya teringat afirmasi dalam AIM Yoga.

Sekarang afirmasi tersebut bukan hanya diafirmasi tapi harus dilakoni dalam keadaan kehidupan sehari-hari.

  1. Aku tidak memikirkan masa lalu, tidak pula mengkhawatirkan masa depan – aku hidup dalam mmasa kini.
  2. Aku membuka diri terhadap segala kemungkinan.
  3. Aku menerima setiap keadaan.
  4. Dalam keadaan suka dan duka, panas dan dingin, aku tetap seimbang.
  5. Berada di atas atau di bawah aku tetap seimbang.
  6. Seberapa pun tinggi sepak terjangku, kakiku berpijak di atas bumi.

Terima kasih Guruji Anand Krishna.

Besi Setumpul Apapun, Jika Diasah Akan Menjadi Tajam

Seorang rascal yang dalam bahasa Indonesia disebut kurang ajar berarti masih ada harapan. Masih bisa diajari. Asal, syaratnya adalah kalau diasah.  Tanpa proses itu, seorang bodoh tetap bodoh, si tumpul tetap tumpul, dan yang kurang ajar tetap kurang ajar.

Persoalannya, si tumpul mau tidak diasah? Si bodoh mau nggak diproses, diolah sehingga menjadi pintar, dan si kurang ajar mau nggak diajari sesuatu?

Intinya ketumpulan kita, kebodohan kita, kekurangajaran kita, sesungguhnya, tidak menjadi soal, tidak menjadi problem yang berat-berat banget. Semuanya bisa dibalikkan, asal ada kemauan dalam diri kita sendiri. Kemauan untuk menjadi pintar, tidak tumpul lagi, tidak bodoh lagi. Dan, ada kerelaan untuk diri kita diolah, diproses, diolah.

……………..

Kami orang Bali, kita – Anda saya – sudah Hindu, maka sudah mengetahui segala sesuatu. Tidak heran kalau ada yang merasa tidak perlu membaca Bhagavad Gita, karena doeloe sudah pernah baca. Doeloe kapan? Waktu masih kuliah, baca sekali sudah cukup.

Kalau Bapak Bangsa kita perlu membacanya beberapa kali, Gandhi, Sang Mahatma membacanya setiap kali menghadapi persoalan, untuk mendapatkan inspirasi. Tokoh-tokoh Barat seperti Ralph Waldo Emersondan Henry David Thoreau pun mengaku membaca Gita berulang kali untuk mendapatkan pencerahan dari hari ke hari.

Tapi mereka adalah Orang Barat yang tidak mengerti, kita orang Timur, orang Bali, Hindu pula – kita lebih mengerti. Jadi tidak heranlah mereka membaca Bhagavad Gita berulang kali, kita mah sekali saja, sudah mengerti, sudah paham.

Lalu bagaimana dengan Gandhi?

……………..

Inilah tantangan yang dihadapi oleh tokoh-tokoh kita di Bali, di Indonsia: Bagaimanamengasah diri saya dan Anda, diri kita yang masih bodohmasih tumpul – supaya jadi tajam.

Silakan ikuti Artikel Bapak Anand Krishna berikut:

 

Sumber, artikel: Puntul-puntulan Besi yen Sanghi Dadi Mangan oleh Bapak Anand Krishna

Media Hindu Edisi 175 September 2018

Refleksi: Memahami Karakter Bawaan Kita Modal Menuju Kebahagiaan

Ada tiga unsur utama yang mengaktifkan komputer manusia………  Pertama, badan kasat kita. Ini bagaikan hardware. Kedua, ego kita. Ini bagaikan software dan tentu saja, ketiga, kesadaran yang merupakan aliran listriknya.

Badan kita bisa rusak, berhenti bekerja. Namun software-nya tidak ikut rusak. Ego kita masih utuh, masih dapat berfungsi. Software yang sama dapat digunakan, dengan menggunakan hardware baru. Tidak ada memori yang hilang, tidak ada program yang terhapus. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (1998). Reinkarnasi, Hidup Tak Pernah Berakhir. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Silakan baca Catatan: Refleksi: Lahir, Tumbuh, Tua, dan Mati Bag 2 Reinkarnasi dan Memori Evolusi 

https://gitakehidupansepasangpejalan.wordpress.com/2018/06/05/refleksi-lahir-tumbuh-tua-dan-mati-bag-2-reinkarnasi-dan-memori-evolusi/

 

Karakter yang Kita Miliki Saat Lahir Adalah Balance-Carried Forward (Hasil Neraca) dari Masa Kehidupan Sebelumnya

Hasil Karakter pada Kehidupan Sebelumnya disimpan dalam Flash Disk Kehidupan kita menjadi Karakter Bawaan pada Saat Kelahiran Kita

Krsna sedang menjelaskan karakter atau kecenderungan mereka yang lahir dengan dan dalam kesadaran. Sejak lahir, mereka sudah memiliki kecenderungan-kecenderungan ini sebagai balance-carried forward dari masa kehidupan sebelumnya. Mereka sedang melanjutkan perjalanan. Mereka tidak perlu lagi mengembangkan karakter, kecenderungan, atau “sifat-sifat bawaan” tersebut—mereka hanya mesti memelihara dan mempertahankannya. Sebuah pekerjaan berat juga, tidak mudah. Tapi, setidaknya mereka tidak lagi membuang waktu untuk mengembangkan sernua itu.

Tidak demikian dengan kita, yang kemungkinan besar, tidak memilikj saldo seperti ini dari masa kehidupan sebelumnya. Berarti kita mesti bekerja keras untuk mengembangkannya. Penjelasan Bhagavad Gita 16:1 dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia via #BhagavadGitaIndonesia

Karakter Bawan Mulia

“Cekatan (penuh energi, penuh semangat), tabah dan pemaaf, teguh dalam keyakinannya, bersih badan dan pikiran; tidak bermusuhan dengan siapa pun juga; dan tanpa keangkuhan — demikian, semuanya ini adalah kecenderungan-kecenderungan lahiriah mereka, yang lahir dengan sifat bawaan atau karakter dasar Daivi, Ilahi, Mulia, Wahai Bharata (Arjuna, Keturunan Raja Bharat).” Bhagavad Gita 16:3

Mereka yang lahir dengan kecenderungan, karakter, atau sifat bawaan, sifat dasar Daivi atau Mulia adalah, yang telah menjalani masa kehidupan sebelumnya dalam Kesadaran Ilahi. Atau, setidaknya sudah berada dalam “proses” untuk mencapai Kesadaran Ilahi. Mungkin, saat itu mereka hampir mencapainya — sementara kendaraan badan sudah tidak menunjang perjalanan selanjutnya. Jiwa meninggalkan kendaraan tersebut dan menggunakan kendaraan badan yang baru. Kelahiran demikian adalah sebuah “berkah”, dalam pengertian ada balance-carried forward berupa hikmah sebagai hasil pencapaian dari masa kehidupan sebelumnya — sekarang tinggal dilanjutkan. Penjelasan Bhagavad Gita 16:3 dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia via #BhagavadGitaIndonesia

 

Pertemuan Orang dengan Karakter Mulia dengan Guru Pemandu Rohani

Lalu, apakah mereka yang tidak lahir dengan Sifat Daivi atau Ilahi perlu khawatir? Tidak juga, mereka bisa mengupayakan sejak saat ini juga. Jika mereka berhasil mengubah kebiasaan-kebiasaan syaitani, maka tidak ada lagi kelahiran kembali — mereka pun menjadi Jiwa yang bebas sekarang dan saat ini juga…………..

Ada kalanya, seorang yang lahir dengan Sifat Bawaan Daivi atau Ilahi pun “lupa” akan sifat bawaannya. Ini bisa disebabkan oleh pendidikan, pengaruh lingkungan, atau berbagai faktor lain. Termasuk, pengalaman-pengalaman dahsyat dalam kehidupan ini, yang membuatnya lupa-ingatan sementara. Arjuna adalah korban lupa ingatan atau amnesia sementara. Pengalaman tinggal dalam pengasingan selama belasan tahun dan saat ini menghadapi perang dahsyat — semuanya membingungkan Arjuna, sehingga ia lupa, lupa akan hakikat jati dirinya. Namun, amnesia macam ini tidak pemah bertahan lama.

Alam kebendaan tidak mampu memperbudak seseorang yang lahir dengan Sifat Bawaan Daivi atau Ilahi. Seseorang yang lahir dengan Sifat Bawaan Daivi atau Ilahi, tidak selamanya menderita amnesia, atau lupa-ingatan tentang hakikat dirinya.

Sebab itu, pertemuan dengan seorang Krsna, seorang Sadguru atau Pemandu Rohani, adalah berkah Ilahi. Hujan berkah ini turun bagi mereka semua yang siap untuk menerimanya. Dan Jiwa terguyur oleh siraman rohani yang dapat membantunya bangkit dari tidur panjang. Apa yang sebelumnya terlupakan, teringat kembali. Apa yang sebelumnya tertutup, terbuka kembali. Apa yang sebelumnya gelap, menjadi terang-benderang. Penjelasan Bhagavad Gita 16:5 dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia via #BhagavadGitaIndonesia

 

Karakter Bawan Syaitani

Mereka yang dalam kehidupan sebelumnya penuh kejahatan akan lahir dengan sifat bawan jahat.

Mereka, yang dalam masa kehidupan sebelumnya, bersifat syaitani; dan saldo atau balance-carried forward-nya adalah sifat-dasar tersebut ; maka kelahiran berikutnya hampir dapat dipastikan di tengah masyarakat yang bersifat sama, syaitani.

Masih adakah harapan bagi mereka? Ada, masyarakat dengan sifat-sifat syaitani memang mesti punah. Mereka mesti didaur-ulang secara kolektif pula. Sementara itu, individu-individu yang mendapatkan berkah berupa bimbingan dari seorang Pemandu Rohani, bisa saja memperbaiki dirinya, tanpa menunggu proses daur-ulang kolektif bagi masyarakatnya, yang kadang membutuhkan waktu beribu-ribu tahun. Penjelasan Bhagavad Gita 16:6 dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia via #BhagavadGitaIndonesia

Meraih Berkah atau Anugerah Gusti

“Untuk memberkahi mereka, ‘Aku’ yang bersemayam di dalam sanubari mereka, melenyapkan gelap-ketidaktahuan, dengan menyalakan Pelita Pengetahuan Sejati.” Bhagavad Gita 10:11

Ayat ini mengandung makna yang luar biasa. Makna anugerah, arti berkah yang sesungguhnya. Rezeki, jodoh, kekuasaan, pangkat, pujian, makian dan lain-lain – semuanya adalah hasil perbuatan kita sendiri. Semuanya materi. Dari rezeki yang berlimpah hingga relasi dengan suami, istri, anak, orang tua – semuanya adalah konsekuensi dari karma kita sendiri, perbuatan kita sendiri. Entah karma sekarang di masa kehidupan ini, atau hasil akumulasi dari beberapa masa kehidupan sebelumnya.

Semua terjadi karena perbuatan kita, ulah kita. Semuanya terjadi atas kehendak-Nya pula, dalam pengertian Hukum Sebab Akibat atau Karma pun ada kehendak-Nya.

Berkah atau Anugerah Gusti Pangeran adalah ketika gelap-kebodohan, ketidaktahuan, ketidaksadaraan kita sirna; dan sanubari kita, nurani kita menjadi terang-benderang. Berkah adalah ketika kita mampu memilah mana tindakan yang tepat, mana yang tidak tepat. Berkah adalah ketika cahaya kesadaran yang telah menerangi hidup – mulai memancarkan sinarnya dan menerangi setiap orang yang berinteraksi dengan kita.

Tentunya, tidak setiap orang akan ikut tercerahkan bersama. Tapi setidaknya pencerahan-diri kita akan membuat mereka gerah dengan kegelapan-diri mereka. setidaknya mereka akan terhantui oleh cahaya kesadaran yang terpancar dari diri kita. Dan pada suatu ketika, mereka mulai berupaya untuk menerangi dirinya. Inilah berkah, inilah Siklus atau Lingkaran Anugerah.

Bersyukurlah pada Gusti Pangeran atas segala rezeki dan materi lainnya, termasuk pasangan, anak, segala yang kita miliki. Tetapi jangan berhenti. Raih pula berkah-Nya.

Baca ulang beberapa ayat sebelumnya – Krsna sudah menjelaskan secara panjang lebar,bagaimana kita dapat meraihnya. Penjelasan Bhagavad Gita 10:11 dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia via #BhagavadGitaIndonesia

Melakoni Nasehat Guru Pemandu

Dalam buku (Krishna, Anand. (2000). Masnawi Buku Kesatu, Bersama Jalaludin Rumi Menggapai Langit Biru Tak Berbingkai. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama) disampaikan perumpamaan:

Seperti seekor keledai yang tergiur oleh rerumputan dan berhenti di pinggir jalan, begitu pula kenikmatan duniawi bisa menyibukkanmu, sampai lupa menempuh perjalanan yang harus kau tempuh. Pada saat-saat seperti itu, hanya seorang pemandu yang bisa menyadarkan dirimu”.

Banyak orang berupaya untuk mendekatkan diri dengan Tuhan lewat ritus-ritus keagamaan.” kata Nabi Muhammad kepada Ali, sambil menasihatinya, “Dekatkan dirimu dengan para pengabdi Allah yang terpilih dan bijak, maka kau akan lebih awal sampai di tujuan.”

Nabi Muhammad melanjutkan, “Ali, engkau adalah seorang Pemberani yang bernyali. Kendati demikian, jangan terlalu percaya pada ‘nyali’. Turutilah nasihat seorang Pemandu yang bisa menemanimu dalam perjalanan ini. Turuti nasihat seorang Pemandu, sebagaimana Musa menuruti nasihat Khidir.”

………………

Anggur tua dinilai lebih tinggi. Begitu pula dengan para Pir. Carilah seorang Pir yang sangat tua. Tua karena kebenaran, karena kesadaran, bukan karena waktu. Jika kamu sudah menemukannya, jadikan dia Pemandumu. Dengan adanya seorang Pemandu, perjalananmu akan menjadi lebih nyaman dan terarah. Ingat, perjalanan ini baru pertama kali kamu tempuh. jangan sok berani. Indahkan panduan Sang Pemandu!

Tangan seorang Pir bagaikan Tangan Tuhan. Jangan meragukan hal ini. Jangan kira ada yang pernah sampai di tujuan tanpa bantuan para Pir. Kalaupun ada yang berjalan sendiri dan sampai di tujuan, hal itu disebabkan oleh doa para Pir yang senantiasa melindungi dirinya.”Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2000). Masnawi Buku Kesatu, Bersama Jalaludin Rumi Menggapai Langit Biru Tak Berbingkai. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama)

Bantuan Para Pemandu menurut Bhagavad Gita

“Partha (Putra Prtha – sebutan lain bagi Kunti, Ibu Arjuna), seseorang yang pikirannya terkendali lewat pola hidup berlandaskan Yoga; meditasi yang teratur; dan kesadarannya senantiasa terpusatkan pada Tuhan, pada Jiwa Agung – maka niscaya ia mencapai kemuliaan-Nya yang tak terhingga.” Bhagavad Gita 8:8

Bagi Krsna – dan memang demikian adanya – Yoga, meditasi, dan laku spiritual atau sadhana lainnya bukanlah sekadar pelajaran, tetapi sesuatu yang mesti dihayati dan dilakoni sepanjang masa. Bukan seperti buku pelajaran, sudah selesai ya sudah — dibuang saja. Dulu, saya mengoleksi novel-novel misteri oleh beberapa penulis asing terkenal di masa 1970-an. Sekarang, belasan buku yang dulu saya anggap sangat baik itu, sudah tidak memiliki daya tarik lagi.

YOGA, MEDITASI, LAKU SPIRITUAL BUKAN SEPERTI ITU – Bukan sekali dibaca, sekali dipelajari — selesai. Tapi, mesti diulang-ulang — dihayati, dan dilakoni dalam keseharian hidup. Seperti yang telah kita baca sebelumnya, Krsna menyebutnya Abhyasa — dilakoni secara terus-menerus, secara intensif dan repetitif. Dengan cara itulah kita baru memperoleh manfaatnya.

Hal lain yang penting adalah…..

Kehadiran seorang Sadguru – Walau semuanya dapat dipelajari secara otodidak – istilah yang sedang trend dan trendy, padahal seringkali memberi angin pada ego – sesungguhnya tidak ada, saya ulangi, tidak ada pengganti bagi belajar di bawah bimbingan seorang Pemandu Rohani. Bukan sekadar guru, tetapi Sadguru – Guru Sejati yang tidak berfungsi sebagai guru di sekolah atau ahli kitab – tapi sebagai guide, pemandu.

Selain itu, juga dibutuhkan suasana asram (ashram), padepokan tempat kita bisa berinteraksi dengan support group yang terdiri dari orang-orang sehati, para pencari kebenaran.

Ashram adalah transit point antara alam ini, dunia ini dan alam roh, spirit, dunia sana. Namun, ada dunia lain di luar ashram, yang sisa-sianya ada juga di ashram, sebagai residu; kotoran, debu dan pasir di bawah sandal kita sendiri yang terbawa ke ashram. Ego kita, kepicikan kita, iri hati dan kecemburuan kita, pun cinta monyet, ketertarikan semu, keterikatan, dan sebagainya – inilah debu dan kotoran yang dimaksud. Sebab itu, idealnya ketika memasuki ashram, kita melepaskan als kaki ego, mind, dan meninggalkan sampah-sampah itu diluar.

Masukilah ashram tanpa beban lama – Tinggalkan segala beban dan kotoran di pintu luar, pintu masuk. Kendati demikian, ada saja daki badan yang tetap terbawa. Untuk mengurusi itu pun mesti abhyasa! Membersihkan diri dari hari ke hari. Kita tidak bisa bersikap, “Kemarin baru mandi, harin ini tidak perlu!”

Abhyasa berarti bukan sekadar mandi setiap hari, tapi setiap kali kita merasakan kebutuhamya, barangkali 2 atau 3 kali sehari. Tidak perlu tinggal di kamar mandi juga. Kamar mandi adalah kamar untuk mandi, bukan untuk tidur dan tinggal.

Mandi 2 — 3 kali sehari dalam konteks ini adalah melakukan….

MEDITASI, PERENUNGAN BATIN, Membaca buku-buku yang dapat membantu dalam hal perkembangan Jiwa; berdoa dengan cara yang paling tulus, berdoa dengan dan dari hati terdalam, dan dalam bahasa kasih sejati, bukan karena takut. Biarlah airmata yang keluar adalah karena cinta, karena rindu Sang Kekasih, bukan untuk merengek-rengek supaya dapat jatah kapling di surga.

Surga Gusti Pangeran tidak di atas sana, tidak setelah kematian saja. Surga Pangeran ada di sini, dunia ini! Hiduplah dalam surga-Nya sekarang dan saat ini juga. Kenapa mesti menunggu kematian dulu?

Wejangan Krsna jelas sekali — seseorang yang melakoni hidupnya seperti itu, sesungguhnya sudah tinggal di dalam istana-Nya, surga-Nya! Ia sudah melakoni Yoga. Dan, sekali sudah berada di dalam istana-Nya, maka pertemuan pun bisa terjadi setiap saat, tinggal tunggu Waktu, sabar sedikit!

 

Para Pir para Wali, para Nabi—apa pun sebutannya—adalah wakil Keberadaan di atas bumi, seperti para Duta Besar yang mewakili negerinya. Dia berperan sebagai penghubung antara negeri yang mengut us dan negeri di mana dia ditempatkan.

Setelah menyelesaikan masa baktinya, seorang Duta Besar akan pulang ke negerinya, dan digantikan oleh Duta Besar yang baru. Demikian, berjalan terus. Kecuali, terjadi konflik dan pemutusan hubungan  diplomatik.

Untungnya, Tuhan tidak pemah memutuskan “hubungan” dengan dunia kita.  Itu sebabnya, dari jaman ke jaman, ada saja utusan yang Dia kirimkan. Jika anda alergi terhadap istilah “nabi” dan hanya ingin menggunakan untuk pribadi-pribadi tertentu, tidak apa. Gunakan istilah “wali”, “pir”, “pemandu”, “pelayan”, “petugas”—apa saja! Tidak menjadi soal.

Negara-Negara Persemakmuran (The Commonwealth Countries), bekas jajahan Inggris tidak mengenal istilah “Duta Besar” di antara mereka. Mereka menggunakan istilah “High Commissioner”. Tidak menjadi soal. High Commissioner atau Ambassa dor  atau Duta Besar atau apa saja, ketahuilah bahwa yang mereka wakili, satu dan sama.

Sering kali, seorang Duta Besar tidak akan turun tangan sendiri untuk memberi informasi tentang negerinya. Dia akan menggunakan media cetak dan media elektronik untuk menyampaikan berbagai informasi. Lalu berkat informasi yang dia sampaikan itu, anda tertarik untuk mengunjungi negerinya. Langsung membeli tiket dan jalan sendiri.

Tampaknya, anda tidak menggunakan jasa kedutaan. Apalagi kalau negeri itu tidak mengharuskan anda memiliki visa. Tetapi, sesungguhnya ketertarikan anda terhadap negeri itu sudah membuktikan adanya “tangan” Sang Duta Besar yang sedang bekerja di balik layar. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia via #BhagavadGitaIndonesia

 

Latihan meditasi dan yoga adalah penyiapan lahan, nasehat Guru Pemandu adalah benih-benih Pohon Kebenaran

Demikian yang kami catat dalam salah satu nasehat berharga.

Kalau kita hanya latihan meditasi dan yoga tetapi tidak menanam benih yang baik, maka bisa jadi benih tidak baik yang terbawa angin yang akan tumbuh subur. Rahwana adalaah seorang meditator. Tapi benih yang ditanam bukan benih kebaikan.

Hanya menanam benih setiap hari lewat nasihat para bijak tanpa penyiapan lahan juga tidak akan berkembang menjadi pohon yang subur.

Ooh Ternyata Kita Masih Dipertimbangkan Hewan, Persepsi Kita Masih Hewani

Selama melihat dengan persepsi (pashyati) kita masih dipertimbangkan hewan (pashu)

Kita melihat, mempersepsikan (pashyati) segala sesuatu punah karena kita masih berada dalam taraf pashu, hewan. Bhagavad Gita mengajak kita melampaui persepsi. Mengapa demikian? Silakan memperhatikan youtube video oleh Swami Anand Krishna terkait di bawah:

Berikut salah satu contoh melampaui persepsi (pashyati) dalam Bhagavad Gita:

“Ia yang melihat Hyang Maha Kuasa dan Tak Pernah Punah, di balik segala sesuatu yang mengalami kepunahan, baik hidup dan bergerak, maupun yang (tampak) tidak hidup dan tidak bergerak, sesungguhnya telah mengetahui kebenaran sebagaimana adanya.” Bhagavad Gita 13:27

Apa yang biasa terlihat oleh kita adalah sekadar “dampak” dari perubahan. Kelahiran, kematian, kelahiran kembali, dan kematian lagi – semuanya sekadar “dampak” dari perubahan. Kita tidak mampu melihat Ia yang berada di balik perubahan-perubahan itu…..

IA HYANG TAK BERUBAH, TAK PUNAH – Banyak pujangga yang berhenti pada tahap melihat perubahan saja. Bagi mereka perubahan itulah kebenaran mutlak. Mereka melihat perubahan sebagai satu-satunya hukum yang tak pernah berubah.

Pun demikian dengan kepunahan. Banyak pujangga yang hanya melihat sebatas kebendaan, dimana tidak ada satupun benda yang langgeng, semuanya punah.

Adapun kepercayaan dan filsafat yang berkembang di atas landasan tersebut, menolak adanya sesuatu “yang tidak pernah berubah dan tidak pernah punah”. Mereka hanya menerima “hukum perubahan” sebagai hukum yang tidak terelakkan, tidak pernah punah. DEMIKIAN, PEMAHAMAN MEREKA MENJADI PINCANG – Di satu pihak, mereka menolak adanya sesuatu yang tidak pernah berubah dan punah; di pihak lain, mereka pun percaya pada hukum perubahan yang mereka yakini tidak pernah berubah.

Ada pula kepercayaan-kepercayaan yang berlandaskan paham ateisme, dan menolak adanya Tuhan, tetapi menerima “hukum kecelakaan” sebagai cikal-bakal semesta.

Krsna menafikan “hukum kecelakaan yang tidak inteligen” tersebut. Ia menjelaskan bahwa di balik segalanya adalah Super Intelligence. Perhatikan Mini Super Computer yang kita miliki — badan kita. Perhatikan kinerja setiap organ. Mungkinkah semuanya itu hasil dari hukum kecelakaan, ataupun kebetulan semata?

Kebetulan saja manusia tercipta dengan badan dan otak yang mampu menciptakan komputer super termodern. Apa mungkin??? Krsna mengatakan bahwa….

PENCIPTAAN BUKANLAH KECELAKAAN, bukan kebetulan. Ada rencana inteligen, sangat inteligen, di baliknya. Dan jika ada rencana yang inteligen, maka mesti ada pula Super Inteligensia yang merencanakan. Super Inteligensia inilah Hyang Maha Kuasa. Mau disebut Tuhan, atau apa saja – silakan!

Bagi Krsna, seseorang yang memahami hal ini adalah orang yang betul memahami. Seseorang yang dapat melihat hal ini adalah yang betul melihat. Mereka yang tidak memahami dan melihat hal ini, belum cukup paham, belum cukup pula penglihatannya. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia via #BhagavadGitaIndonesia

Video Youtube by Swami Anand Krishna: God and humanbeing go beyond perception

Dalam bahasa Sanskrit setiap kata interconnected, berhubungan. Animal (bahasa Inggris) datang dari bahasa Latin animus. Animus berarti hidup. Bukan hanya animal, kita juga hidup. Tanaman, pohon pun hidup. Gunung, laut, sungai mereka hidup juga. Sehingga bila kamu memilih menggunakan kata animus dari Latin, semuanya adalah animal, hewan, semua benda adalah animal, hewan. Apa pun juga di dunia adalah animal.

Dalam Sanskrit segalanya mempunyai kata. Kata untuk animal, sapi, kucing, anjing, kuda, semuanya dipertimbangkan sebagai pashu. Dan pashu adalah akar kata dari pashyati, dalam bahasa Inggris, perception, persepsi. Jadi seorang yang percaya kepada persepsi, adalah pashu.

Saya melihat hal yang sama dan kalian melihat hal yang sama. Saya melihat statue, kau melihat statue, patung sebagai sapi. Saya mempersepsikan sebagai kendaraan Lord Shiva. Persepsi kalian adalah sapi, persepsi saya adalah Nandi.

Sehingga apabila kita percaya pada superficial things, apa yang dilihat oleh mata kita, apabila kita hanya percaya itu, maka kalian pashu, animal. Apabila kalian ingin menjadi human being, kalian harus penetrasi lebih dalam, apa itu. Kamu harus melihat inti dari segala sesuatu. Jangan percaya kepada sesuatu yang di luar. Yang di luar mungkin tampak jelek, bisa tampak sangat baik. Pergi ke dalam.

Gunakan viveka kalian, bukan mind lagi. Mind berdasar pada data  bank. Kalian mendapat data bank dari banyak inkarnasi, sehingga kalian menetapkan dari data bank untuk menentukan sesuatu itu apa. Tapi apabila kalian tidak menggunakan data bank, kalian tidak menggunakan mind. Kalian mengubah, transform, kepada buddhi. Dan kalian mulai menggunakan viveka, faculty of discretion. Dan kemudian satu tambah satu tidak selalu dua. Satu tambah satu bisa sebelas atau yang lain.

Kalian tahu teknologi digital kita. Mereka hanya berlaku pada 2 digit. Mereka tak dapat bekerja pada 3, 4, 5 digit. Setiap pagi bila kamu di sini, kau tinggal di sini, kita berdoa, chanting di atas, om karam bindhu sanyuktam. Kita tetap harus menemukan teknologi, bukan internet, tapi inner net. Bekerja bukan pada 2 digit tapi dalam single, digit tunggal. Om karam bindu sanyuktam hanya satu digit, saat kalian menemukan teknologi,  fisika, spirituality, kimia,  seni, semua dikombinasikan. Dan inilah tujuan semuanya dari yoga. Menemukan inner net ini. Akses inner net ini. Mulai bekerja dalam 1 digit.

Kalau kalian bekerja dalam satu digit, apa artinya? Otak kalian tidak bekerja lagi. Karena mind selalu bekerja dalam 2 digit. Paling tidak 2 digit. Harus ada ide yang berkonflik. Dan kemudian mind berjalan. Apabila kamu hanya punya satu digit, mind akan istirahat, mind tidak bekerja. Dan inteligen, viveka yang bekerja. Fakultas untuk memilah bekerja.

Sekali lagi, pashu, pashyati, kalian hanya percaya pada persepsi. Dan kita tidak lebih baik dari pada animal. Kita harus menggunakan inteligen kita, kita pergi melampaui mind. Transform the mind. Dan solusi bagaimana men-transform adalah meditasi, tidak ada solusi yang lain.

Silakan simak secara lengkap Video Youtube by Swami Anand Krishna: God and humanbeing go beyond perception

 

Beberapa contoh kata persepsi, pashyati dalam Bhagavad Gita

Menganggap aku sebagai badan, kita merasa berdosa, menganggap aku sebagai  jiwa, itu hanya kesalahan yang bisa diperbaiki. Mobilku yang penyok, tapi aku tidak penyok.

“Mereka yang tidak memahami hal ini (tentang lima unsur penyebab karma); menganggap Jiwa sebagai pelaku. Pandangan mereka tidak tepat, karena pemahaman yang tidak tepat pula.” Bhagavad Gita 18:16

Nah, di sini Krsna jelas sekali. “Jiwa” bukanlah pelaku. Jiwa adalah “aku” yang sejati. Dan Aku adalah saksi bukan pelaku. Kendaraan badan, indra, gugusan pikiran serta perasaan — semuanya bukanlah diriku yang sejati. Diriku yang sejati adalah Jiwa. Aku tidak ikut rusak ketika kendaraan mengalami kerusakan. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia via #BhagavadGitaIndonesia

………………

“Ia yang melihat setiap tindakan di manapun adalah disebabkan oleh alam atau Prakrti; sementara Sang Jiwa sesungguhnya tidak berbuat apa-apa – adalah yang telah melihat sebenarnya.” Bhagavad Gita 13:29

KETIKA KITA MENGIDENTIFIKASIKAN DIRI dengan alam benda, atau dengan peralatan elektronik dalam analogi sebelumnya — kita mengalami suka dan duka, kita mengalami kelahiran dan kematian.

Ketika kita mengidentifikasikan diri dengan “tindakan” dan “ kejadian” yang terjadi — maka kita mengalami pasang surut. Emosi kita bergejolak, pikiran menjadi kacau. Ada awal, ada akhir. Perubahan menjadi satu-satunya hukum yang masuk akal. Kita tidak mampu melihat Sang Jiwa —Listrik — Hyang Abadi. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia via #BhagavadGitaIndonesia

Menyelami Bhagavad Gita Menuju Sukses Sejati

Pandangan para Pemikir dan Pemimpin Dunia tentang Bhagavad Gita

Saya sering, bahkan sudah lima kali membaca kitab Bhagavad-Gita dari A sarnpai Z. Saya kagum di situ Saudara-Saudara, Bhagavad-Gitia ternyata bukan kitab klenik.Ternyata bukan kitab untuk duduk di dalam kamar bersemadi hanutupi babahan howo songo hamandeng pucuk ing grono (menutupi lubang yang sembilan, melihat ujung hidung). Tidak Saudara-saudara. Tetapi Bhagavad-Gita adalah dalam bahasa asing “Evangelie van De Daad” (Kitab yang dijabarkan dalam kegiatan sehari-hari) – Gita adalah nyanyian perbuatan, nyanyian amal, nyanyian fi’il. Soekarno – Bapak Bangsa Indonesia/Presidan Ri Pertama

 

Ketika saya membaca Bhagavad-Gita dan merenungkan bagaimana Tuhan menciptakan alam semesta, segala sesuatu yang lain menjadi sangat tidak berarti. Albert Einstein – Saintis

 

Setiap kali keraguan menghantui diriku, setiap kali kekecewaan menatap wajahku, dan aku tidak melihat setitik pun terang harapan, aku berpaling pada Bhagavad-Gita dan menemukan ayat yang dapat menghiburku, dan langsung saja di tengah duka sepedih apa pun, aku tersenyum kembali. Mereka yang melakukan perenungan terhadap Gita akan selalu menemukan makna baru dan keceriaan baru setiap hari. Mahatma Gandhi – Tokoh Perjuangan Tanpa Kekerasan/Ahimsa

Bhagavad-Gita adalah kitab suci bagi seluruh umat manusia. Bahkan bukan sekadar kitab, ia adalah sesuatu yang hidup, dengan pesan baru bagi setiap zaman, dan arti baru bagi setiap peradaban. Sri Aurobindo Filsuf/Rohaniwan India

 

Bahwasanya manusia ibarat pohon yang terbalik (akarnya di atas dan ranting-rantingnya di bawah) merupakan pendapat umum di masa lalu. Terkait dengan konsep yang ada dalam Veda ini, Plato menjelaskannya dalam Timaeus di mana ia mengatakan…. ”Lihat, kita bukanlah tanaman duniawi, tetapi tumbuhan surgawi.” Hal ini menjadi sangat jelas dengan apa yang dikatakan oleh Krsna dalam Bab Kelimabelas Bhagavad-Gita. Carl Jung – Bapak Psikologi Modern

 

Bhagavad-Gita memberi landasan spiritual bagi keberadaan umat manusia. Ia adalah panggilan (bagi seluruh umat manusia) untuk berkarya dan memurnikan kewajibannya di dunia dengan tetap memperhatikan tujuan spiritual semesta yang jauh lebih penting dan mulia. Jawaharlal Nehru — Perdana Menteri India

Saya berhutang pada Bhagavad-Gita…. Membaca buku awal peradaban manusia itu, saya seolah mendengar sebuah pesan dari kerajaan di masa lalu — kerajaan yang besar tapi tenang dan damai Pesan yang disampaikan di masa lalu itu masih mampu menjawab perlanyaan-pertanyaan masa kini. Ralph Waldo Emerson – Salah Seorang Bapak Bangsa Amerika Serikat

 

Kehebatan Bhagavad-Gita terletak pada kemampuanya untuk menjelaskan kebijakan hidup dengan sangat indah, sehingga filsafat pun berbunga menjadi kepercayaan (yang hidup). Herman Hesse – Penulis/Filsuf Jerman

 

Untuk memahami pesan Bhagavad-Gitia yang begitu mulia dan halus, jiwa kita harus berada pada gelombang yang sama dengannya. Rudolph Steiner – Filsuf Barat

 

Bhagavad-Gita menjelaskan evolusi batin manusia dengan sangat jelas dan sistematis, evolusi batin yang dapat mengangkat derajat manusia. Ia adalah intisari dari filsafat perenial yang paling jelas dan Iengkap; karena itu, ia penting bagi seluruh umat manusia, bukan bagi India saja. Adolf Huxley – Filsuf Barat

 

Cara untuk menggapai kesempurnaan hidup dengan bekerja tanpa pamrih — itulah yang dijelaskan oleh Krishna dalam Bhagavad-Gita. Vivekananda – Pujangga besar India yang banyak mengilhami para Founding Fathers Republik Indonesia

 

Kitab Bhagavad-Gita ini boleh dipandang sebagai riwayat kehidupan Korawa dan Pandawa, atau perjalanan manusia menuju ke arah Sempurna. Sebagai ilmu, kitab Bhagavad-Gita menguraikan perjalanan kalbu manusia menuju ke arah Kesempurnaan. Di situlah terjadi pertempuran antar Jiwa dengan Keangkaramurkaannva. dr. Radjimmwedyoningrat — Salah satu Pendiri Boedi Oetomo dan salah satu Founding Fathers Republik Indonesia

Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia via #BhagavadGitaIndonesia

Menyelami Bhagavad Gita Menuju Sukses Sejati

Seperti yang dikatakan oleh Bung Karno, Bhagavad-Gita adalah suatu buku, dimana apa pun yang tertulis disana adalah “applicable” dalam kehidupan sehari-hari.

Coba kita bayangkan mungkin kamu belum lahir, tapi kalau saya melihat ke belakang, 50 tahun yang lalu apa yang applicable pada waktu itu, sekarang tidak applicable. 30 tahun yang lalu, kita masih pakai komputer dengan dos dll, sekarang sudah tidak applicable. Bhagavad-Gita ini menurut Bung Karno applicable dalam segala zaman.

Dalam kurun waktu 20-30 tahun terakhir saya mulai menulis, barangkali sebelum tahun 75-76 tetapi mulai dipublikasikan tahun 97-98. Bhagavad Gita Bagi Orang Modern terbitan Gramedia. Kalau kita melihat tahun 98 berarti sudah berapa tahun. 30 tahun yang lalu, kondisi komputer kita seperti apa? Sekarang seperti apa? Bukan Cuma hardware komputer tetapi bagaimana cara berpikir manusia dengan teknologi. Cara berpikir manusia berubah. Sehingga saya merasa dari waktu ke waktu harus ada pemahaman baru dari Bhagavad Gita.

Ma Archana sebagai pewawancara menanyakan makna Bhagavad Gita 2:40. Tiada upaya yang tersia-sia ; pun tiada tantangan yang tidak teratasi. Dengan menjalankan dharma, berkarya dengan tujuan luhur; niscayalah seseorang terbebaskan dari rasa takut, khawatir dan cemas.

Swami Anand Krishna menjawab dengan mempersilakan membaca ayat sebelumnya Bhagavad Gita 2:39. Demikian apa yang kau dengarkan, adalah kebijaksanaan. Ajaran luhur dari sudut pandang samkhya, yaitu buddhi yoga.

Di sini persoalannya adalah buddhi. Intelegensia ini yang menjadi keyword-nya. Jadi berkarya itu tidak asal berkarya tapi work smart. Berkarya dengan penuh kebijakan dengan mengetahui goal saya apa. Jadi tidak asal bekerja saja. Menggunakan faculty of discrimination, saya melakukan satu pekerjaan itu what is my end goal. Dan dalam Bhagavad Gita yang menjadi menarik sekali, bahwa 3.000 tahun sebelum masehi, dia sudah berbicara tentang transpersonal psychology. Yang sekarang baru dibicarakan. Jadi kalau kita bekerja untuk diri sendiri, saya mau memperkaya diri, memiliki mobil mewah mau memiliki perusahaan yang bagus, atau memiliki istri yang cantik, suami yang tampan, atau apa. Semuanya adalah personal goal. Untuk personal goal kita tidak butuh banyak energi. Bhagavad Gita mengatakan bahwa manusia itu tidak bisa hidup sendiri. Apabila kamu hanya bekerja dengan tujuan personal saja. Kita tidak akan pernah bisa bahagia. Ini adalah konsep yang tidak bisa dipahami selama berabad-abad.

Kalau kita bekerja karena personal goal, biasanya kita membenarkan segala bentuk, segala macam cara bagaimana mencapainya. Bagaimana untuk mencapai personal goal itu kita bisa membenarkan berbagai tipu muslihat. Begitu kita bicara kolektif goal, kita bicara kolektif goal tentang kebersamaan. Jadi kalau Bung Karno mengatakan gotong royong misalnya. Itu nggak bisa personal. Dan begitu kita bicara kolektif goal, kita bicara tentang kebahagiaan bersama. Kesejahteraan bersama. Keadilan untuk semua. Begitu kita bicara tentang kolektiviti, bekerjanya juga harus secara kolektif. Dan ketika kita bekerja secara kolektif, satu plus satu sudah bukan dua lagi. Bisa seberapa pun juga. Tergantung pada kolektivitas ini, niat, dari kolektivitas ini. Bisa relatif sekai dan bisa tak terbatas. Disitu dalam kebahagiaan semua, ada kebahagiaan saya. Dalam kedamaian semua ada kedamian saya. Inklusif.

Kita melihat dari kegagalan pemahaman yang terdahulu. Ego based psychology. Dengan mempertahankan ego kita, lihat apa yang kita lakukan terhadap dunia ini. Dunia ini menjadi sangat individualistik, tidak apa saya mencemari lingkungan, asal saya dapat meningkatkan growth rate, angka pertumbuhan yang bagus. Lingkungan tercemarkan no problem, karena, nanti 50 tahun kemudian saya baru merasakan dampaknya.

Dan itu yang menyebabakan soal global warming, climate change. Saya pernah, percaya bahwa climete change, global warming itu keniscayaan tidak bisa di hindari. Dari dulu juga perah terjadi. Tetapi at what rate? Dulu untuk mencapai kehancuran seperti sekarang, membutuhkan waktu ribuan tahun. Puluhan ribu tahun, dari zaman es ke zaman es yang berikutnya. Sekarang pesat sekali karena industrialisasi, yang tidak inteligen. Tidak menggunakan kata budhi tadi.

Swami Anand Krishna memberikan contoh beberapa orang yang berbuat baik terhadap masyarakat selamat dari penjarahan (silakan simak video dalam bahasa Indonesia tersebut).

Pertanyaan Ma Archana berikutnya, Bhagavad Gita 2:69 Malam bagi makhluk makhluk yang belum menyadari jati dirinya adalah saat para bijak yang sadar akan jati-dirinya, berada dalam keadaan jaga. Dan siang bagi makhluk-makhluk yang belum menyadari diri, adalah malam bagi para bijak.

Malam adalah waktu yang paling tenang. Untuk orang melakukan praktek-praktek spiritual. Meditasi. Semua sudah tidur. Itu bisa jam 10, 11, 12. Dalam tradisi yang kita pelajari ada tradisi di Timur agar berdoa pada malam hari. Atau meditasi pada malam hari. Zikir atau japa pada malam hari. Karena itu adalah waktu yang paling tenang. Malam bagi orang-orang biasa untuk tidur. Orang yang pada mencari jati-dirinya, spiritual, malam adalah waktu yang paling tepat.

Tetapi ada makna yang lain, malam bagi kita semua yang masih duniawi, kita semua menikmati malam itu dengan cara lain, para spiritualis menikmati dengan cara lain. Kita menikmati siang dengan cara lain, para spiritualis menikmati siang dengan cara lain. Kita mengejar harta. Seorang spiritualis tidak mengejar harta. Dia berkarya untuk mengumpulkan cukup, seperti Kabir mengatakan supaya keluargaku juga tidak kelaparan. Dan setiap orang yang datang ke rumahku. Tanpa janji juga tidak akan kelaparan.

Ini adalah konsep. Kita sedang mengejar harta mati-matian, dia mengunmpulkan cukup untuk kebaikan semua. Apa yang kita spend dalam ignorance dia spend dalam light. Kita pikir kita sedang hidup dalam keadaan cerah. Tidak kita tertidur. Kita mencari uang dalam keadaan tidur. Kita menikmati segala sesuatu dalam keadaan tidur. Kita tidak ingat bahwa akhir dari segalanya adalah kematian. Ujung-ujungnya kematian. Adakah sesuatu yang bermakna yang kita lakukan?

Bhagavad Gita jelas sekali, kriterianya apa? Kamu tidak mengharapkan imbalan dari bekerja. Bahkan kamu tidak mengharapkan balasan ucapan terima kasih. Kalau kita masih mengharapkan, jangankan mengharapkan imbalan, uang atau sebagainya, mengharapkan ucapa terima kasih pun itu harapan. Tanpa pamrih. Terus, apakah kita harus menolak, misalnya apakah kita kerja nggak mau digaji. Itu sangat berbeda. Ketika kita bekerja, konsep Bhagavad Gita ini tidak laku di sana. Jadi kalau saya mengabdi di perusahaan itu, bagaimana mengabdi, kamu digaji. Jika kita menganggap persahaan itu adalah milik bersama, sipemilik pun mempunyai pemahaman yang sama. Perusahaan ini milik setiap orang. Dan biarkan saya bekerja sebaik sesuai kemampuan saya. Saya bekerja keras demi kesejaheraan bersama, maka menjadi Bhagavad Gita.

Silakan simak video youtube dalam bahasa Indonesia: Menyelami Bhagavad Gita Menuju Sukses Sejati by Swami Anand Krishna