Surrender of the Ego, Serahkan Ego! Bukankah Yang Mengatakan Saya Serahkan Ego Juga Ego?

Catatan: Silakan lihat video terkait, berikut upaya terjemahan sesuai pemahaman kami saat ini terhadap Video Who am I? Self Discovery and Surrender ofthe Ego oleh Guruji Anand Krishna

……………….

Apabila semuanya adalah ego, apakah mungkin menyerahkan ego dengan total? Siapakah yang harus menyerahkan ego? Katakan saya mau menyerahkan ego. Siapakah “I” (saya)? Apakah kesadaran? Soul? Dalam kenyataannya kala saya menyerahkan ego saya artinya saya memiliki sesuatu yang lebih powerful, lebih tinggi daripada ego? Sehingga saya bisa “let go” surrender the ego? Siapa yang menyerahkan ego? Ego itu apa?

Pertama-tama apabila kau ingin mempelajari hukum, kamu harus mempelajari sedikit tentang bahasa Yunani. Ketika kamu ingin mempelajari medicine kamu harus mempelajari sedikit bahasa Latin. Demikian juga jika kau ingin mempelajari tentang spiritualitas, tidak ada jalan lain ada istilah-istilah bahasa Sanskrit. Ada beberapa kata Sanskrit yang tidak dapat dijelaskan dalam bahasa lain, bukan hanya bahasa Inggris.

Saat ini ada kecenderungan saya dapat belajar sendiri. Apa-apa oleh saya sendiri. Baik, kita tidak belajar ke toilet dari diri kita sendiri. Kamu butuh bantuan ibumu. Dalam spiritualitas kita adalah bayi. Kita butuh bantuan orang lain. Dalam hal ini kita membutuhkan bahasa yang paham spiritualitas. Dalam bahasa Sanskrit tidak ada seperti saya menyerahkan ego saya. Kata dalam sanskrit adalah Saranagati. Saranagati adalah keadaan penyerahan diri.

Saya tidak mengatakan saya menyerahkan ego saya. Ketika “I” (saya) ada ego di sana. Bukan tentang penyerahan ego tapi mengembangkan keadaan keberadaan kita yang disebut Saranagati. Keadaan penyerahan diri. Yang berarti apapun yang kaulakukan saya tetap mengingatkan pada diri saya, diri kamu, diri kita ada satu kekuasaan yang lebih tinggi, ada Supreme Power yang lebih tinggi, yang bekerja lewat setiap diri kita.

Untuk mengingat hal ini Buddha menggunakan lagi kata-kata Smirti. Smirti adalah ingatan. Tapi kita menerjemahkan Samasati ingatan yang benar. Kata yang digunakan Buddha, kita menerjemahkan sebagai mindfulness. Bukan tentang mindful tentang ingatan. Adalah sesuatu yang sudah ada di sana. Inheren dalam dirimu. Mengapa saya mengatakan inheren dalam dirimu. Pergi kembali ketika kita kecil. Kita percaya, yakin ibu kita tanpa syarat tanpa reservasi. Kemana keyakinan itu hilang? Kita tidak bertanya pada ibu kita, apakah yang dia katakan salah atau benar, berapa dari kita yang ngecheck DNA ayah kita. Kita take it for granted. Ibu mengatakan ini adalah ayahmu dan kau mulai memanggil ayah. Keyakinan total. Ini adalah Saranagati. Itulah sebabnya Jesus juga mengatakan Izinkan anak-anak kecil  datang kepada-Ku karena pintu kerajaan Surga dibuka untuk mereka. Seperti itu apa yang Dia coba katakan, dia tidak bicara tentang anak-anak, dalam literal sense. Dia bicara tentang mentalitas anak-anak. Di mana kepasrahan total adalah alami kamu tidak harus mengembangkannya. Kamu tidak membuatnya menjadi alami. Ketika menjadi anak-anak.

Ketika kita mulai berkembang kita tidak lagi menjadi alami. Sehingga kita harus mengembangkannya. Bagaimana cara kamu mengembangkannya? Pertanyaan itu ditanyakan karena kita punya kesulitan mengembangkan Saranagati. Keadaan itu. Pertanyaan itu ditanyakan karena kita berpikir spiritualitas adalah sesuatu yang sangat tinggi.

Master saya biasa memberikan contoh, ketika kamu pergi ke barbir. Kamu pergi ke penata rambut, ke salon, penata rambut bukan barbir, mereka punya gunting tajam. Khususnya bila kau pergi ke barbir, mereka punya pisau tajam, kamu tidak banyak tanya-tanya. Kamu hanya duduk di atas kursi. tutup mata dan biarkan barbir melakukan pekerjaannya. Master saya biasa berkata, kita percaya, trust barbir kita. Tapi ketika sampai spiritualitas, kamu tidak dapat percaya seseorang yang kau sebut Guru. Tidak ada trust ada pertanyaan, semua ditanyakan sampai kamu mengembangkan semacam penyerahan diri. Surrendership. Kamu tidak dapat memperoleh manfaat dari spiritual setting karena spiritual setting dimulai dari surrendership.

Apabila seseorang pergi ke Buddha dia diminta mengulangi 3 kali Buddham sharanam gatchami, saya berlindung (Sharanam adalah Saranagati) mereka menerjemahkan sebagai berlindung. Salah terjemahan tetapi tidak ada kata lain. Buddham sharanam gatchami. Saya mencari penyerahan diri dalam Buddha dalam cahaya kesadaran kepada  saya,tetapi cahaya kesadaran dalam diri saya. Bagaimana melihatnya? Meskipun kau mau melihat make up, tidak peduli berapa tipisnya kamu tetap membutuhkan cermin. Sehingga datang Guru, cermin. Ketika melihat seorang Guru kita melihat diri kita. Guru memprovokasi kita menantang kita menyadari siapakah saya. Kamu pun demikian. Sehingga saya harus mohon perlindungan kepada Buddha. Buddha sebagai sense cahaya kesadaran.

Saya berlindung pada Dharma, apa yang diampaikan-Nya. Apa yang diajarkan-Nya. Karena saya memahami saya tahu apa yang dikatakan Dia pada saya untuk manfaat saya. Dia tidak mendapatkan sesuatu dari pengajaran-Nya. Apakah dia bicara atau tidak, tak ada perbedaan. Sehingga saya berlindung pada Buddha, saya berlindung pada Dharma dan saya berlindung pada sangha, dalam support group. Saya tidak pernah bertemu seorang sendirian yang dapat menyadari dirinya tanpa sebuah support group. Meskipun Guru dia tidak lahir seperti itu. Selalu ada support group.

……………………

Men support, membantu dalam pengembangan kesadaran itu. Apabila kamu tidak punya semacam support group, maka kamu membentuk support group sendiri. Dan support group kecil, mungkin tidak ada manfaat sama sekali. Kadang-kadang dalam group kita ada klik, saya menyukai orang itu. Kita membuat support group kecil. Saya menyukai orang itu, saya menyukai orang ini. 2, 3 orang kamu membentuk support group. Kamu mulai saling kontak, kalian mulai saling kirim pesan. Saya tidak bisa bersama lainnya, saya hanya bisa bersama 1, 2 orang saja. Itu adalah ego.

Point seluruhnya adalah bersama semuanya. Tidak hanya bersama 1, 2, 3 orang saja. Sangha adalah tentang kebersamaan. Support group ini adalah test. Kamu datang dari berbagai back ground. Hari ini kita tidak bersama orang-orang Barat, hampir semuanya adalah orang Idonesia. Kita punya tamu satu sekarang, tapi misalkan kita punya   malam ini. Mungkin mereka datang dari banyak negara. Meskipun kau dari Indonesia, kamu datang dari berbagai pulau. Apa yang mengikat kita? Tidak ada ikatan, tidak ada hubungan darah bahwa awalnya juga bukan teman.sehingga ini adalah faktor test. Bagaimanan kita bisa bersama, dengan semua perbedaan kita.

Support group ini adalah bukan hanya bersama. Dimana kita punya ashram, kita membuat kamar-kamar sangat sederhana, tidak diperbolehkan makanan di dalam kamar, mengapa? Karena kita ingin kebersamaan,makan bersama, meditasi bersama. Ini adalah bagian dari meditasi. Bagian dari Yoga. Dan ini adalah bagaimana kamu dapat mengembangkan saranagati. Keadaan pasrah. Ini adalah bagaimana kamu dapat belajar surrendership. Kata surrender dalam bahasa Inggris adalah bahasa “kotor”. Apabila seorang superior terhadapmu kamu tunduk kepada seseorang. Oleh karena itu kata surrender terhadap Saranagati tidak benar.

Saranagati tidak bukan submission karena kau dipaksa berbuat demikian. Saya sedang menyampaikan kamu harus berbuat sesuatu. Saranagati adalah sesuatu yang datang dari cinta. Bukan cinta pada saya bahkanTuhan. Tapi cinta pada dirimu sendiri. Saya telah melewati semua kehidupan dalam banyak waktu. Dan sekarang saya mau menyadari siapa sebetulnya saya. Kamu ingin menyadari ini. Sehingga kau tidak pilih kasih sebagai bagian dari grup meditasi, atau sesuatu. Kamu mulai mencintai dirimu. Kamu mulai mengetahui ada lebih besar kemungkinan lebih banyak untuk hidup, daripada makan minum seks tidur, menikmati kenyamanan dunia. Lebih banyak untuk hidup.

Kita merampas kita sendiri, dari hal demikian. Kita merampas diri kita sendiri dari hal yang paling penting dalam kehidupan. Kita telah membuang waktu kehidupan kita untu hal-hal yang kecil, remeh temeh. Sehingga tentang mencintai dirimu sendiri. Cinta sungguh diri kita sendiri. Tentang mengetahui siapa dirimu sesungguhnya, apa makna hidup ini. Coba pikirkan tentang hal ini.

Apa makna hidup ini? Kamu hanya lahir, apa pun yang kaukerjakan akhirnya kau mati dan kau meninggalkan semuanya. Jarang sekali saya melihat seseorang yang meninggal memuaskan. Yan dapat mengatakan ini adalah permainan saya berakhir dan saya meninggalkan.

Saya melihatnya pada ayah saya. Ia bicara pada pembantu, sekarang I am dying. Tidak ada seorang pun di rumah. Kakak saya tinggal beberapa meter darinya. Saya sedang tidak di rumah. Ia bicara dengan pembantu, pergi dan panggil anak perempuan saya. Ia pasti di rumah. I am dying. Dan dia  datang dalambeberapa menit, sudah meninggal.

Ini adalah kepuasan. Adalah seperti kamu akan pergi ke suatu tempat atau lainnya. Kebanyakan dari kita, kita meninggal di tempat tidur, meskipun sakit sehingga kita tidak dapat bicara kita tidak dapat mengatakan sesuatu, mind kita sangat aktif. Kita berpikir banyak hal yang kita tinggalkan, dari relasi kita, hal-hal materi. Itu yang terjadi selalu pada tiap kehidupan. Ini yang selalu terjadi. Dan itulah sebabnya kita datang kembali. Berkali-kali. Mencoba mengalami memiliki kesempatan lain tidak begitu bahagia di kehidupan saya sebelumnya, mungkin kali ini saya bahagia. Kita lahir lagi dan lagi.

Tapi tidak bahagia, pengulangan samsara. Setiap waktu kita memiliki kekecewaan yang sama, masalah yang sama. Kondisi sama, kondisi kehidupan yang sama, orang menjalankan peran yang berganti, suatu kali kau kecewa pada seseorang, pada hari lain seseorang kecewa dengan kamu. Berjalan terus demikian.

Sehingga ya tentang pengembangan Saranagati, keadaan surrendership, sekarang saya menyampaikan pada kalian bagaimana kita memulainya?

Pertimbangkan Guru atau suatu istha pratima sebagai cermin. Dan mulai mengingat samasati. Apabila seorang Siddharta bisa menjadiBuddha, dan saya bisa menjadi Buddha. Kembangkan suatu sikap attitude positif. Bukan positif thinking, positive attitude bahwa potensi yang sama ada dalam diri saya. Sekali kau telah mengembangkannya. Kemudian Saranagati menjadi alami. Dan semua yang lain yang bukan mendukung kebuddhaan dirimu jatuh dengan sendirinya. Kamu tidak akan melakukan sesuatu khusus, tanpa upaya apa pun yang tidak mendukung kebuddhaanmu akan jatuh dengan sendirinya.

Advertisements

Wejangan Anand Krishna: Kaum Penyamak Kulit Menghormati Bahkan Mencintai Karena Kulit

“Ketika kesadaran rendah (yang disebabkan karena identifikasi dengan badan, indra, dan gugusan pikiran serta perasaan) telah tertaklukkan oleh Jiwa, maka ia menjadi sahabat bagi dirinya sendiri. Sebaliknya, jika kesadaran rendah tidak tertaklukkan, maka ia menjadi musuh bagi diri sendiri.” Bhagavad Gita 6:6

https://bhagavadgita.or.id/

 

Seseorang yang disuguhi makanan apa saja dan ia makan, hewan seperti itu. Seekor anjing dikasih makan setiap saat mau saja dia. Nggak ada menolak. Kecuali di sini anjing dikasih makanan vegetarian nggak mau. Banyak anjing nggak mau. Tapi di tempat  lain,di India dikasih makanan vegetarian mau dia. Sapi dikasih makanan setiap saat dia makan. Hewan-hewan ini kalau kita perhatikan, hidup mereka ini untuk mencari makanan. Kenapa? Karena usus mereka nggak sepanjang seperti usus kita. Usus mereka 2 meter 2.5 meter. Jadi makan apa langsung jadi ampas, keluar.

Kita, diberikan usus yang 20-an meter, untuk mencerna makanan sehingga energi yang tercipta itu cukup dan kita bisa berpikir secara jernih. Kita butuh energi,.otak kita itu menghabiskan energi yang luar biasa. Mata kita menghabiskan energi yang luar biasa. Anda tahu anjing itu tidak bisa melihat warna, anjing cuma bisa melihat hitam putih. Dan karena dia tidak bisa melihat warna, dia bisa melihat roh yang gentayangan. Dimensi dia itu, dalam dimensi dia itu dia bisa melihat roh gentayangan. Maka tiba-tiba nggak ada apa-apa, nggak ada alasan anjing pada nangis. Srigala lebih parah lagi. Srigala lebih jelas melihat. Satu jenis ini, srigala, anjing. Jadi mereka tidak butuh lebih banyak energi.

Kita butuh energi yang cukup banyak, untuk mengolah semuanya ini. Dan, setelah diolah pun luar biasanya sekarang misalnya Zembry ini pakai baju yang bagi saya, bagi pemahaman saya itu adalah ayuri yang gadap. Tapi bagi pemahaman Anda barangkali warna itu lain lho. Barangkali itu kuning. Barangkali itu cokla tmuda. Jadi setiap orang punya table warna sendiri-sendiri. Nggak ada warna yang seragam untuk semua orang, itu nggak ada.

Secara garis besar merah. Tapi merah yang dilihat oleh Anda, oleh setiap orang di sini, dan merah yang saya lihat itu, nggak persis sama. Oleh karena itu ada juga yang mengalami colour blind, buta warna. Dia betul-betul melihatnya bisa terbalik. Yang kita lihat sebagai abu-abu dia bisa melihat sebagai merah,pink.

Jadi kita butuh energi yang luar biasa untuk mengolah ini warna apa, coba bayangkan, gambar sekarang saya melihat Anda. Gambar yang diterima di otak saya itu terbalik sebetulnya. Terbalik, bagaimana otak itu, bisa mengolah bisa direposisikan bisa dibalikin kembali. Kalau pernah lihat, gambar retina kan? Dia melihat sesuatu gambar yang diproyeksikan di otak kita itu terbalik. Jadi sekarang saya melihat, sebetulnya yang terekam di situ terbalik. Tapi kok saya tidak melihat terbalik? Ada satu inteligensia sendiri dan semuanya butuh energi. Karena butuh energi yang begitu banyak, maka kita dikasih sistem, untuk menciptakan energi.

Sekarang sudah lebih bagus sedikit, tapi dulu parah sekali. Sampai tahun 80-an penelitian mengatakan, bahwa kalau membuat suatu mesin yang mengerjakan semua pekerjaan yang dilakukan oleh seorang manusia, bikin mesin, di situ ada pekerjaan kidney, pekerjaan liver, semuanya,  kalau kita bikin mesin seperti itu, mengerjakan semuanya tahun 80-an, diperkirakan, penelitian bahwa suara dari mesin itu akan  kedengaran dari 100 m atau berapa radiusnya.

Bayangkan kalau kita30-40 orang, suaranya seperti apa? Kita nggak bisa dengar apa-apa. Bagaimana badan ini dibuat silencer-nya. Seperti orang pakai pistol kan, ada pistol yang nggak bersuara, pakai silencer. Badan kita ini ada silencer-nya. Luar biasa. Dan semua itu membutuhkan energi. Oleh karena itu kita harus hati-hati jangan seperti binatang, disuguhi apa pun juga di mana pun dan kapan pun jangan pakai slogan seperti itu.

Penelitian-penelitian sekarang, merujuk membenarkan apa yang dikatakan dalam teks-tekskuno, ayurveda dan lain-lain, kalau betul-betul sudah lapar baru makan. Jangan membiasakan diri makan pagi harus jam sekian, harus. Makan siang jam ini. Makan malam harus jam ini. Ya kalau masih anak-anak kita butuh disiplin itu. Tapi kalau sudah dewasa, sudah 25-30 tahun, jangan membebani perut. Sampai usia20-an tahun 25 tahun kita butuh energi yang banyak. Setelah itu energi yang kita butuhkan itu berkurang, kecuali Anda kerja di TNI atau di mana harus lari-lari setiap hari. Kebanyakan kerja di perkantoran, energi yang kita butuh itu berkurang sementara makanan yang kita makan nggak berkurang malah bertambah. Kita harus berhati-hati tidak terpicu oleh hal-hal di luar sehingga kita bisa menjadi kawan bagi diri kita sendiri.

 

“Seseorang yang telah berhasil mengendalikan dirinya, meraih Pengetahuan Sejati tentang Sang Jiwa Agung, Paramatma atau Brahman – selalu tenang menghadapi dualitas panas-dingin; suka-duka; pujian-cacian; dan sebagainya.” Bhagavad Gita 6:7

https://bhagavadgita.or.id/


Ini adalah hasilnya, Krishna menjelaskan hasilnya. Hasil dari orang yang tidak terbawa oleh nafsu. Bisa mengendalikan diri. Krishna mengatakan, hasilnya adalah dia mengetahui keberadaan ini apa sebetulnya. Tuhan itu seperti apa? Kehendak-Nya apa? Dan hasil yang lebih konkrit lagi, selalu tenang menghadapi dualitas panas-dingin, suka-duka, pujian-cacian dan sebagainya.

Krishna tidak mengatakan orang yang sudah menjadi meditator nggak akan ada masalah dalamhidupnya. Panas-dingin akan tetap ada. Kondisi di luar akan tetap kadang seperti apa kadang seperti apa. Tapi diri kita sendiri dengan meditasi dengan yoga dengan pemahaman yang betul, kita seperti diberikan filter. Kondisi di luar boleh tercemar, seperti apa pun juga. Terkontaminasi seperti apa pun juga. Kita diberi semacam filter sehingga kita tidak terkena dampaknya.

 

“Dengan Pengetahuan Sejati (Jnana) tentang Diri (Jiwa) dan pengetahuan tentang alam benda (Vijnana) yang dimilikinya, seorang Yogi tidak tergoyahkan oleh keadaan-keadaan di luar diri. Dengan segenap indranya terkendali – bagi dia, tanah, batu, dan logam mulia adalah sama. Demikian, ia mencapai kesempurnaan diri.” Bhagavad Gita 6:8

https://bhagavadgita.or.id/

 

Kalau kita memahami sifat-sifat Pengetahuan Sejati (Gyaan) tentang Diri (Jiwa). Jiwa ini adalah energi yang paling halus. Dan yang disebut tadi, tanah batu logam mulia, ini adalah energi yang lebih padat. Tanah sedikit kurang padat. Batu lebih padat. Logam apalagi logam mulia paling padat. Di antara logam, kalau kita melihat semuanya ini logam materi maupun energi.

Jauh sebelum Albert Einstein mengatakan, Krishna mengatakan sebetulnya, sesungguhnya semuanya permainan energi. Dan karena semunya permainan energi, kita menikmati, kita memanfaatkan, tapi karena kita tahu kita nggak akan terjebak.

Melihat seseorang memakai emas yang banyak sekali waduh, sering kali begitu. Begitu melihat orang yang emasnya banyak, cepat-cepat kita dekati. Kalau orang kelihatannya kere…….. Orang datang mobilnya bagus, kita dekati. Mobilnya kurang bagus kita sudah terbiasa.

Saya pernah cerita tentang Astavakra. Dia badannya itu ada bengkok delapan. Dia hidup, dia lahir dengan kondisi cacat. Jadi dia nggak bisa berdiri tegak. Tapi dia bisa berpikir secara jernih. Dia menguasai banyak macam ilmu. Suatu ketika, ketika seorang raja mengadakan perlombaan bacaan sastra, maka Astavakra datang, semua orang menertawakan dia. Pertama nggak boleh masuk. Tapi seteah dia mengatakan bahwa dia adalah anak siapa siapa. Oke boleh masuk tapi mereka menertawakan.

Ketika mereka sedang bahas satra, Astavakra mau bicara sesuatu jadi bahan tertawaan. Mau bicara apa orang seperti ini. Maka Astavakr amengatakan kepada rajanya, saya juga sebetulnya nggak tertarik, karena di sini kamu telah mengumpulkan wahai raja baginda, kamu cuma mengumpulkan tukang penyamak kulit. Di sinibu kan sastrawan yang kaukumpulkan yang hanya penyamak kulit. Mereka terheran-heran.

Ya, karena yang kalian lihat hanya badan saya. Cuma melihat kulit saya saja. Begitu juga kita melihat kulit orang bisa jatuh cinta. Belum tahu, belum tentu dalamnya seperti apa? Kita semua juga begitu, penyamak kulit. Makanya Krishna mengatakan kita harus memahami sifat kebendaan yang sedang berubah terus dan sifat Jiwa yang halus sekali. Kita haru smemahami betul. Tidak berarti kita melepaskan benda. Tidak. Tapi paham bahwa benda ini ada batasnya. Tidak akan selama-lamanya seperti itu. Oleh karena itu tidak terikat dengan benda. Sekian dulu. TerimaKasih.

Sumber: Video Youtube Bersama Anand Krishna Bhagavad Gita Sehari-Hari Ayat 06:6-8 Hasil Pengendalian Diri

https://www.youtube.com/watch?v=N3PVbemVxvI

https://www.akcjoglosemar.org/wp/

https://www.anandkrishna.org/

Wejangan Anand Krishna: Kematian, Panjang Pendek Hidup Kita Ditentukan Oleh Gaya Hidup Kita?

Panjang atau pendek usia itu takdir? Takdir adalah hasil sebab-akibat dari tindakan kita sendiri sebelumnya? Silakan baca lebih lanjut……..

……….

“Ketika seseorang tidak lagi terikat dengan pemicu-pemicu bagi indra, tidak bertindak oleh karenanya, dan telah bebas dari segala macam keinginan duniawi, bahkan dari segala pikiran tentang keduniawian – saat itulah ia disebut telah mencapai kesempurnaan dalam Yoga.” Bhagavad Gita 6:4

https://bhagavadgita.or.id/

 

Bolak-balik yang Krishna sedang menyampaikan di sini adalah tidak terikat dengan pemicu-pemicu bagi indra. Simple sekali. Beberapa waktu yang lalu saya ketemu dengan orang. Gula dia bisa mencapai 500 dan dia kadang-kadang saya juga terkejut, saya juga punya pengalaman Gula,sering naik juga tapi sampai 500 dan orang ini tidak merasakan, tiba-tiba collapses, tiba-tiba kolaps dan kalau sudah mencapai 500 obatnya Cuma satu. Insulin. Dan dia sekarang harus 3 kali insulin, makan itu harus diiringi dengan insulin. Padahal sekarang sudah ada penelitian, yang banyak sekali kalau tidak sampai parah, 2 sampai 300 itu bisa bebas dari obat, bisa bebas dari insulin. Asal kita tidak terbawa oleh pemicu-pemicu di luar. Lihat coklat ah sedikit saja. Terus pikiran lain muncul kan sudah pakai insulin sekarang, dan memang sulit juga. Pemahaman saya lain, pemahaman banyak orang bahwa kalau sudah pakai insulin itu sudah selesai perkaranya. Tidak selesai perkaranya. Kekebalan tubuh kita akan berkurang.

Banyak sekali hal-hal yang sekarang mulai terungkap. Amandel, menurut ilmu-ilmu yang populer sekarang amandel itu ada gunanya. Kena amandel ya dipotong saja langsung. Atau usus buntu, appendix, langsung dioperasi. Memang kalau sudah mencapai tingkat itu nggak bisa diapa-apakan. Tetapi sekarang sudah mulai ada penelitian-penelitian, segala sesuatu yang ada dalam tubuh kita itu ada fungsinya. Banyak sekali gland, kelenjar-kelenjar yang sampai sekarang belum diketahui.  Saya baru baca ada kelenjar-kelenjar yang begitu kecil, dikira nggakada gunanya kelenjar itu, ya begitu saja bonus tapi setiap kelenjar itu ada gunanya.

Orang yang sudah mulai tuas edikit, karena air di dalam tubuh kita berkurang, kalau kita nggak minum air banyak, air mata bisa kering sama sekali. Dan begitu air mata itu kering mata kita akan rusak. Mata itu perlu lembab sedikit. Jadi kalau sudah berusia di atas 50-an tahun begitu, konsumsi air harus sedikit demi sedikit ditambah. Biasanya kalau kita sudah tua, konsumsi air kita menurun. Kalau dulu masih bisa minum 2 liter atau berapa, kenapa menurun? Karena kegiatan fisik kita menurun. Kegiatan fisik menurun kita tidak merasa haus. Dan karena tidak merasa haus kurang minum air. Padahal setelah usia 50-60 tahun air yang kita minum harus melebihi air yang kita minum waktu usia kita 40-an tahun. Kalau nggak mata tidak punya air. Dan mata yang kering akan menimbulkan berbagai komplikasi.

Kembali kepada pemicu-pemicu di luar, cabe misalnya, chili menarik sekali, kita pernah bahas di sini kan waktu ada klas kundalini awareness. Chili selama beribu-ribu tahun, bangsa Indonesia itu tidak mengenal chili. Pepper yang dikenal. Pepper itu lada. Dan lada itu paling bagus untuk bumbu, lada itu bagus. Chili kemarin-kemarin kita baru bahas juga bahwa chili itu nggak diserap oleh tubuh kita. Dia langsung keluar. Makan chili, makancabe, langsung keluar dia. Nah dia waktu keluar itu dia membuat kacau perut kita. Karena dia nggak diserap. Kalau diserap  akan berkurang dia ketajamannya. Ini nggak. Dia langsung masuk ke perut jatuh langsung begitu, disitu perut baru merasa bebannya. It take time usus, baru merasakan bebannya. Dia harus menghadapi musuh yang dia nggak terbiasa. Karena biasanya sudah mulai dicerna, diapa, ini nggak, ini langsung diserang. Kalau lada tidak demikian, lada diserap. Bumbu-bumbu yang kita miliki, herbs spices itu bagus untuk kesehatan. Asal juga jangan terlalu banyak. Saya kadang-kadang bilang herbs ini bagus, kunyit bagus, sayurnya sudah bukan sayurlagi, kunyit pakais ayur. Jadi saya juga harus hati-hati sekali mau bilang ap bagus. Serai bagus, tapi kalau sayurnya sayur serai dikasih. Jadi sekarang saya harus hati-hati sekali kalau bilang sesuatu bagus.

Minum kunyit mau minum kunyit pakai air panas silakan pagi-pagi. Tapi jangan bikin sayur kunyit. Sayur ya sayurpakai bumbu kunyit. Pakai sedikit, jangan terlalu banyak juga. Pemicu-pemicu dari luar ini kita harus hati-hati. Kita harus tahu badan kita seperti apa. Kalau sudah berusia 36 tahun ke atas, 40 tahun ke atas. Bayangkan beli mobil Jepang sekrang bisa berapa tahun, 10 tahun biasanya sudah jual kan? Ini badannya untung bukan made in…..Itu yang bagus lho, mobil Eropa mobil Jepang. Kalau made in yang lain lagi…….

Pemicu-pemicu di luar, kita harus hati-hati. Kita harus tahu diri.

 

“Hendaknya seseorang berusaha untuk membangkitkan, menyelamatkan diri dengan upayanya sendiri; dan, tidak membiarkannya terjerumuskan oleh ulahnya sendiri. Sesungguhnya, ‘diri’-mu adalah kawan atau lawanmu sendiri.” Bhagavad Gita 6:5

Ini di sini, seluruh program-program kita, semua program-program kita dalam ashram ini berdasarkan self empowerment. Tidak ada orang bisa mencelakakan dirimu kecuali kau membiarkan dirimu dicelakakan oleh orang lain. Dirimu adalah kawanmu yang terbaik. Lawanmu yang paling jelek juga paling hebat juga. Sekali lagi kita baca  “Hendaknya seseorang berusaha untuk membangkitkan, menyelamatkan diri dengan upayanya sendiri; dan, tidak membiarkannya terjerumuskan  oleh ulahnya sendiri. Sesungguhnya, ‘diri’-mu adalah kawan atau lawanmu sendiri.”

Di sini Krishna jelas sekali, saya kira kejujuran seperti Krishna ini luar biasa. Dia tidak mengatakan Aku akan menyelamatkan dirimu, aku bisa mengapakan kamu, tidak. You have to help yourself. Membangkitkan, yang harus membangkitkan diri itu adalah dirimu sendiri. Banyak orang dalam kondisi jatuh entah jatuh secara fisik, jatuh secara fisik berarti sakit parah. Jatuh mental emosional ada orang mau bantu dia, tapi kalau dari dalam dirinya tidak ada semangat, mau dibantu seperti apa pun juga nggak bisa. Jadi orang lain, uluran tangan orang lain itu cuma sekedar support yang seperti spark plug seperti busi. Dia cuma dibutuhkan diawal saja. Setelah itu kita harus menghadapi sendiri tantangan hidup dan sebagainya.

Kita ini support group. Memberikan latihan memberikan penjelasan, tetapi tujuannya apa? Memberdayakan diri. Makanya bolak-balik sayadi sini mengatakan mengingatkan yang menyembuhkan diri kalian, semoga tidak ada yang sakit, tapi kalau ada yang sakit, percayalah yang bisa menyembuhkan diri kalian adalah kalian sendiri. Di sini cuma support group. Cuma menunjukkan jalan.

Banyak orang membuat program-program penyembuhan dengan apa dengan ini dengan itu. Semuanya membohongi kalian. Tuhan telah menciptakan segala macam zat, segala macam substansi, alam semesta, keberadaan apa puns ebutan kita semuanya sudah ada dalam diri kita. Sekarang kita mau apa, setelah mengatakan hal itu, saya juga harus mengingatkan bahwa kematian adalah suatu keniscayaan. Cuma jatah hidup kita sesungguhnya adalah 126 tahun. Sudah diprogram untuk 126 tahun. Cuma karena sudah dari kecil kita nggak dikasih tahu. Apa yang baik untuk dimakan, cara hidup gaya hidup mana yang baik maka hidup kita makin berkurang makin berkurang.

Pernah mencapai 50 tahun 45 tahun sekarang meningkat lagi. Sudah 60-an kalau nggak salah 70-an. Kalau gaya hidup kita bisa diperbaiki, udara nggak begitu tercemar, kita semua bisa hidup sampai 126 tahun. Dan matinya tidak dengan aduh aduh. Tidak dengan sakit-sakit. Matinya seperti pohon buah labu yang sdah matang berat kan jatuh sendiri dari dahannya. Jadi kematian yang sebetulnya diciptakan untuk kita itu kematian yang normal. Sangat mulus. Seperti orang akan melanjutkan perjalanan nggak ada aduh aduh nggak ada apa. Asal life style kita diperbaiki. Kalau tidak diperbaiki Krishna katakan dirimu adalah kawanmu sendiri, dirimu adalah lawanmu sendiri. Apa yang telah kita lakukan dengan badan kita sekarang, badan kita agak kena dampaknya, tetapi jangan berkecil hati kalau mulai sekarang kita bersahabat dengan diri kita, akan memperbaiki situasi itu tidak perlu berkescil hati.

Sumber: Video Youtube Bersama Anand Krishna Bhagavad Gita Sehari-Hari Ayat 06:1-5 Mencapai Keselarasan dengan Semesta Melalui Yoga dan Meditasi

https://www.youtube.com/watch?v=daVqnQ5S-HE

https://www.akcjoglosemar.org/wp/

https://www.anandkrishna.org/

 

 

Wejangan Anand Krishna: Hidup ini Naik Turun, Terikat dengan Satu Kondisi Membuat Kecewa!

Krsna tidak mengatakan tidak boleh menikmati dunia, berulang kali Dia mengulangi ini. Tidak melepaskan kenikmatan yang kita sudah peroleh, tapi Jangan terikat!

https://bhagavadgita.or.id/

Hari ini kita sampai pada Percakapan ke VI Bhagavad Gita, Gyaan Yoga. Gyaan berarti meditasi. Dan sesungguhnya pemahaman meditasi di sini adalah meditasi dalam keseharian hidup. Bagaimana hidup secara meditatif. Bagaimana mencapai keselarasan dengan semesta. Yoga berarti mencapai keselarasan dengan semesta. Bagaimana mencapai itu lewat hidup berkesadaran.

 

Sri Bhagavan (Krsna Yang Maha Berkah) bersabda:

“Ia yang berkarya menunaikan kewajibannya tanpa mengharapkan hasil, tanpa pamrih – adalah Samnyasi sekaligus Yogi. Samnyasi bukanlah seorang yang melepaskan segala kewajibannya – termasuk persembahan; dan Yogi bukanlah seseorang yang meninggalkan segala aktivitas.” Bhagavad Gita 6:1

https://bhagavadgita.or.id/

 

Di sloka pertama Krsna sudah menjelaskan bahwa menjadi seorang petapa, meninggalkan keramaian dunia, menyendiri, menyepi, itu bukanlah kegiatan atau pekerjaan seorang Yogi maupun seorang Samyasi. Seorang petapa yang sesungguhnya itu apa seperti apa Krsna menjelaskan,

 

“Ketahuilah bila yang disebut Samnyas atau pelepasan itu sama dengan Yoga – laku untuk mencapai kesempurnaan diri. Wahai Pandava (Arjuna, Putra Pandu), sesungguhnya tak seorang pun bisa menjadi Yogi tanpa melepaskan diri dari keinginan-keinginan duniawi.” Bhagavad Gita 6:2

https://bhagavadgita.or.id/

 

Krsna tidak mengatakan tidak boleh menikmati dunia, berulang kali Dia mengulangi ini. Tidak melepaskan kenikmatan yang kita sudah peroleh, Oh tidak saya tidak mau tidak seperti itu juga. Tapi tidak terikat, persoalan yang sedang kita hadapi itu keterikatan. Persoalannya bukan dunia ini, persoalannya bukan keluarga. Tapi begitu kita terikat dengan keluarga pun, anak sudah besar tetap juga kalau kita terikat secara berlebihan kita tidak bisa membiarkan dia menghidupi kehidupannya sendiri. Dia sudah besar dia sudah berkeluarga, biarkan dia hidup sendiri. Tidak perlu over protected. Tidak perlu diproteksi secara berlebihan. Semuanya ini karena keterikatan yang berlebihan.

Kalau kita terikat secara berlebihan Krishna sudah mengulangi, berulang kali, maka apa yang akan terjadi kita tidak bisa menciptakan generasi penerus yang mandiri. Dia akan sangat bergantung, tergantung pada beberapa faktor, tergantung pada orang tua, tergantung pada kondisi tertentu tergantung pada apa pun juga. Jadi tidak terikat, melakukan tugas kewajiban kita membesarkan anak.

Bekerja di kantor pun demikian. Kadang-kadang kita terikat sekali dengan satu status. Terikat dengan status, terikat dengan satu kondisi di kantor. Sekarang banyak orang yang kena PHK. Semoga tidak, ada di sini yang kena PHK, tapi kondisi ekonomi kan berubah terus. Berubah terus, kalau ada orang yang bekerja katakan sebagai direktur, manager atau apa pun. Besok-besok dia tidak punya pekerjaan, kalau dia terikat pada statusnya, ditempat lain, ditawari suatu pekerjaan, nggak saya dulu pernah menjadi direktur, dulu pernah saya menjadi manajer, masa saya menjadi sesuatu yang di bawahnya.

Ini yang dikatakan oleh Krishna, kalau kita terikat pada sesuatu, kita tidak bisa hidup karena hidup ini selalu naik turun. Tidak ada hidup yang stabil terus. Nggak ada. Jadi tidak terikat dengan sesuatu, melepaskan diri dari keinginan-keinginan duniawi. Ketika kita punya uang sedikit saja. Ini kelemahan kita secara universal, kolektif. Kita yang tinggal di sini kebanyakan begitu punya uang sedikit saja, langsung kita akan menghabiskan uang itubeli ini, beli itu. Beli macam-macam. Bahkan sesuatu yang tidak pernah terpikir begitu punya uang kita menghabiskan semuanya. Kita menimbulkan memunculkan keinginan-keinginan baru, yang tidak berguna sebetulnya. Keinginan-keinginan itu yang membuat kita membuat kondisi kita terpuruk.

 

“Seseorang yang berkecenderungan sebagai muni atau petapa, lebih banyak berdiam diri – dapat mencapai kesempurnaan dalam Yoga dengan cara berkarya tanpa pamrih. Demikian pula dengan mereka yang sudah mendalami Yoga, kesempurnaan atau kemuliaan dapat dicapai lewat pembebasan diri dari keinginan-keinginan duniawi.” Bhagavad Gita 6:3

https://bhagavadgita.or.id/

 

Berkarya tanpa pamrih dan membebaskan diri dari keinginan duniawi. Tidak perlu menjadi petapa, tidak perlu meninggalkan semua-semuanya masuk ke hutan, tidak perlu. Karena setelah masuk ke hutan pun berada di hutan pun kita masih bisa tetap berkeinginan macam-macam, jadi itu bukan solusi. Kadang-kadang saya mendengar, mendengar sendiri, orang menjadi pendeta atau menjadi apa, sebetulnya bukan karena dia ingin menjadi pendeta. Tapi karena ada tantangan-tantangan dalam hidup yang ia tidak bisa atasi, tidak bisa hadapi, maka dia melarikan diri jadi pendeta atau jadi petapa atau jadi apa. Ini bukan solusi, Krishna mengatakan solusinya adalah bekerja tanpa pamrih dan tanpa keterikatan. Tanpa adanya keinginan yang bertubi-tubi, berlebihan. Itulah kunci bagi hidup bahagia.

Sumber: Video Youtube Bersama Anand Krishna Bhagavad Gita Sehari-Hari Ayat 06:1-5 Mencapai Keselarasan dengan Semesta Melalui Yoga dan Meditasi

https://www.youtube.com/watch?v=daVqnQ5S-HE

https://www.akcjoglosemar.org/wp/

https://www.anandkrishna.org/

 

Wejangan Anand Krishna: Gambar Orang Tua Untuk Mengenang Values Mereka, Patung pun Demikian Juga

“Memisahkan diri dari segala perkara di luar, yang terjadi karena interaksi indra dan badan dengan objek-objek kebendaan; memusatkan pandangan, perhatian di antara kedua alis mata; mengatur napas yang masuk dan keluar lewat lubang hidung…” Bhagavad Gita 5:27

https://bhagavadgita.or.id/

 

“Demikian, dengan mengendalikan indra, gugusan pikiran serta perasaan, dan inteligensianya; Seorang Muni, ‘yang telah meraih ketenangan’, senantiasa mengingat tujuan hidupnya, yaitu moksa, kebebasan mutlak. Ia pun terbebaskan dari keinginan, rasa takut, dan amarah. Maka, ia meraih Kebebasan Mutlak untuk selamanya.” Bhagavad Gita 5:28

https://bhagavadgita.or.id/

 

Krishna menjelaskan bagaimana kita bisa meditasi. Memusatkan pikiran di tengah kedua alis mata. Ini akan terjadi. Kita juga punya latihan-latihan lain, nanti kapan-kapan juga akan diberikan dalam bahasa Indonesia, dalam bahasa Inggris sudah ada. Yang bisa datang hari Kamis silakan. Bagaimana kita bisa mengembangkan visi itu, bagaimana kita bisa mengembangkan apa yang biasa disebut mata ketiga.

Sebetulnya bukan mata ketiga. Shiva kita gambarkan punya mata ketiga. Tidak ada mata ketiga, di sini semua bisa punya mata ketiga, dalam pengertian kita bisa melihat lebih lengkap. Kalau sudah bisa melihat lebih lengkap, bisa melihat lebih jauh. Maka di situ Krishna mengatakan ia pun bebas selamanya dari keinginan, rasa takut dan amarah. Ini tiga-tiganya, keinginan, rasa takut dan amarah ini terkait. Pertama-tama muncul keinginan, kalau keinginan tidak terpenuhi kita marah, dan takut. Takut kehilangan sesuatu, kita marah. Tidak mendapatkan sesuatu kita marah.

Saya selalu menganjurkan kalau punya anak atau cucu di rumah dibawa ke supermarket atau mana dan dia minta sesuatu, kalau dia sampai nangis minta sesuatu, jangan dibelikan. Kita kadang-kadang malah kasihan, sudah nangis dia. Kita memanjakan anak dan memberikan pelajaran dia yang negatif. Bahwa kalau cengeng akan dibelikan. Nanti jadi besar pun begitu. Sedikit-sedikit dia cengeng beli. Mungkin motor dia cengeng beliin, apalagi. Tidak boleh tunda dulu.

Kita punya uang oke, kalau nggak punya uang jangan dibelikan. Tapi kalau punya uang tunda besok akan beli, tapi kamu harus melakukan sesuatu dulu. Harus melakukan sesuatu dulu, jadi dihadiahi. Sehingga ini dari kecil dari usia 3, 4 tahun dia tahu bahwa saya tidak akan mendapatkan sesuatu gratis dalam hidup ini. Saya harus kerja. Oke besok papa beliin, mama beliin tapi hari ini kamu nggak boleh nakal hari ini kamu harus gimana. Mungkin anak bisa ditaruh di mobil, beli barangnya disimpan dirumah dulu. Lihat gelagat anaknya dulu bagaimana. Setelah itu baru diberikan. Jadi anak ini punya tanggung jawab. Ada rasa tanggung jawab, bahwa saya tidak akan mendapatkan sesuatu gratis. Anak ini kalau sudah jadi dewasa, dia baru akan tahu pendidikan yang dia peroleh dari orang tuanya. Begitu berharga. Dia akan bekerjakeras, dia tidak akan malas-malasan.

 

“Ia yang mengenal-Ku sebagai Penerima Tunggal segala persembahan dan tapa brata; Tujuan Akhir segala persembahan dan laku spiritual; Tuhan seantero alam, sekaligus Pencinta Semua Makhluk – niscaya meraih kedamaian sejati.” Bhagavad Gita 5:29 

https://bhagavadgita.or.id/

 

Di sini Krishna mengatakan bagaimana mengenal Tuhan. Dan nanti-nanti Dia akan mengatakan bahwa mengenal Tuhan berarti mengenal dirimu. Ini adalah sifat-sifat Tuhan. Pertama-tama Dia mengatakan bahwaTuhan itu adalah Penerima Tunggal segala persembahan dan tapa brata. Jelas sekali. Semua persembahan itu untuk Tuhan. Tidak ada untuk setan, tidak ada. Jadi jangan pikir, oh ini kalau babi untuk setan, penyu untuk setan. Untuk Tuhan kue-kue yang sudah basi saja. Jangan begitu. Segala  persembahan PenerimaTunggal adalah Dia.

Dan kita mengatakan nanti setiap kali di sini melakukan bhajan, mau makan kita berdoa, ambil sloka dari Bhagavad Gita, Brahma Panam Brahma gnau, Saya mempersembahkan makanan yang berupaTuhan ini kepada Agni, kepada api yang mencerna makanan itu yang juga adalahTuhan. Brahmana hutam, saya mempersembahkan ini seperti ahuti seperti agnihotra, saya mempersembahkan itu seperti makanan di dalam diri saya. Bukan cuma persembahan banten dan sebagainya, tapi juga persembahan makanan juga. Kita sebetulnya mempersembahakan kepada Tuhan, maka di sini Krishna mengatakan Penerima Tunggal segala persembahan dan tapa brata. Bertapa meditasi tujuan akhirnya adalah TuhanYang Satu. Sang Hyang Widhi.

Tujuan akhir segala persembahan spiritual Dia adalah PenerimaTunggal Tuhan seantero alam. Seantero alam, Hindu tidak membedakan Tuhan dari kepercayaan A, Tuhan dari kepercayaan B tidak. Tuhan itu satu. Dan kita tidak membedakan mau disebut nama apa pun boleh. Pada saat yang sama kalau kita tidak memberikan penjelasan kepada anak-anak kita, mereka juga akan bingung ketika mereka diserang kadang-kadang oleh teman-temannya.

Kalian punya banyak dewa ada patung pratima ada ini ada ini, anak-anak kita harus bisa menjelaskan apa maksud Hindu. Dalam semua kepercayaan ada simbol-simbol, ada simbol berupa patung pratima ada simbol berupa tulisan, ada simbol berupa bangunan suci. Ada tulisan suci.

Pada suatu ketika Swami Vivekananda, dia diundang ke satu tempat, dan orang yang mengundang ini host-nya yang mengundang dia, dia tidak percaya pada gambar patung. Dia bicara sama Vivekananda, semua yang kamu bilang ini, Guru kamu percaya pada Dewi Kali. Nggak masuk otak saya. Tuhan itu tak terlihat abstrak. Sambil makan, setelah makan, di situ ada gambar orang tuanya Raja. Yang mengundang Vivekananda seorang raja. Raja dari suatu daerah. Ada gambar orang tua si raja ini. Coba bisa lihat gambar itu, turunkan gambar itu.

Nggak mau diturunkan. Turunkan saya mau lihat sebentar. Diturunkan karena Vivekananda minta. Dia bilang kepada raja ini, coba ludahi gambar ini. Gambar ayah saya, bagaimana saya meludahi. Oh ayah you kan sudah tidak ada, ini hanya kertas saja. Cuma gambar kertas apa salahnya kamu meludahi, kan ayah sudah nggak ada. Dia bilang gambar ini membuat saya mengenang ayah saya, mengenang value-value dia, mengenang nilai-nilai yang dia junjung tinggi.

Begitu juga Krishna mengatakan apalagi semuanya ini. Apa yang kau sebut patung dan sebagainya juga membuat kita mengenang values-values itu. Mengenang dan kemudian raja itu tersadarkan.

Kita kadang-kadang melihat begitu banyak pratima para dewi dengan telanjang dada, banyak orang mengkritik kita. Kok ini porno, bagi kita bukan porno, ketika kita melihat dewi dengan telanjang dada, dada itu, payudara itu mengingatkan kita padaibu. Kita tidak melihat dewi-dewi itu sebagai gadis-gadis porno. Bagaimana kita melihat, bagaimana cara pandang kita anak-anak kita diserang begitu mereka bingung. Kita harus memberitahukan. Menjelaskan. Bagaimana menjawab orang bagi kita itu bukan porno. Jangan ditutup-tutupi, nggak perlu ditutup-tutupi. Biar saja leluhur kita membuat itu, membuat pratima seperti itu untuk mengingatkan kita nilai seorang ibu. Alam semesta ini adalah ibu kita.

Jadi banyak hal yang kita harus jelaskan pada anak kita, sehingga mereka tidak bingung. Sekali lagi tujuan akhir segala persembahan dan laku spiritual Tuhan seantero alam, untuk Tuhan yang Satu tidak bisa dipisah-pisahkan. Bukan Tuhan lu dan Tuhan ku. Bagi Hindu Tuhan adalah satu. Tidak ada Tuhanmu Tuhanku. Oleh karena itu kita juga tidak perlu pindah agama tidak perlu pindah kepercayaan, kita bisa memahami kita bisa mengapresiasi kita bisa menghormati semua agama. Kita bisa menghormati semua kepercayaan. Kita tidak pernah meyerang orang agamamu jelek agamamu begini. Tidak pernah ada kata-kata dari seorang Guru Hindu seperti itu. Orang lain akan mengatakan agamamu najis. Kemarin juga saya dengar. Ada yang bicara agamamu Hindu najis. Kita tidak akan menyerang balik agamamu najis, tidak.

Bagi kita agama adalah jalan menuju Tuhan. Dan Tuhan adalah Satu. Kalau anak-anak kita bisa paham hal ini dan dia akan bangga dengan kepercayaan dari leluhurnya, dharma dari leluhurnya, dia akan menyebarkan kedamaian, dia akan menyebarkan kasih. Dia akan menyebarkan kebenaran kepada semua orang. Dan dia juga tidak akan langsung ciut ketika diserang kamu pemuja berhala. Kamu pemuja ini. Semua kepercayaan ada simbol-simbol, kita pun ada simbol-simbol. Nggak ada masalah.

Dan Tuhan adalah Pencinta semua makhluk, luarbiasa. Pencinta semua makhluk. Dia tidak membedakan, oh karena kamu seorang Hindu kamu membaca Bhagavad Gita Tuhan mencintai kamu. Kalau ada orang membaca kitab suci lain nggak dicintai. Bayangkan Krishna mengatakan Tuhan itu mencintai alam semesta, mencintai semua makhluk. Tidak ada pilih kasih. Tidak ada kepercayaan bahwa kalau kamu tidak percaya pada kepercayaan tertentu agama tertentu akan masuk neraka. Tidak ada. Tuhan mencintai semua makhluk. Ajaran-ajaran seperti ini yang kita wajib sebagai orang tua kita wajib menjelaskan kepada anak-anak kita. Supaya mereka tidak terkena pengaruh dan bisa berdiri di atas keyakinannya dan juga bisa menjelaskan dan menyebarkan kedamaian dan cinta kasih. Demikian kita mengakhiri Percakapan Kelima.

Sumber: Video Youtube Bersama Anand Krishna Bhagavad Gita Sehari-Hari Ayat 05:27-29 Bagaimana Mengembangkan Mata Ketiga & Bebas dari Rasa Takut

https://www.youtube.com/watch?v=bu3Um-20sro

https://www.akcjoglosemar.org/wp/

https://www.anandkrishna.org/

 

 

Wejangan Anand Krishna: Menikmati Dunia Tapi Tidak Terikat

“Demikian, para resi berpandangan jernih, yang telah sirna segala keinginannya oleh Pengetahuan Sejati tentang hakikat diri; pun, dirinya telah terkendali — senantiasa bersuka-cita dalam perbuatan yang membahagiakan semua makhluk. Mereka telah mencapai Brahmanirvana — Keheningan Sejati, Kasunyatan Agung dalam Brahma (Hyang Maha Kreatif). Bhagavad Gita 5:25

https://bhagavadgita.or.id/

 

Di sini Krishna menjelaskan, memberikan satu kata Brahmanirvana. Brahmanirvana ini kondisi moksha tapi Krishna memberikan nama baru. Jadi bukan moksha terus menghilang tapi nirvana sudah moksha tapi tetap kreatif, tetap seperti Brahma. Brahma adalah pencipta jadi walaupun sudah mencapai moksha, sudah tidak terikat dengan duniawi, tapi dia tetap berkarya, sebagai Brahma dia kreatif bukan cuma bekerja tapi dia kreatif. Dia senantiasa menciptakan sesuatu yang baru. Senantiasa melakukan sesuatu yang membawa kebahagiaan bagi banyak orang. Bukan cuma dirinya saja. Orang yang sudah mencapai kondisi itu yang tidak terikat dengan dunia benda, menikmati tapi tidak terikat, dia sebetulnya sudah mencapai Brahmanirvana.

 

“Seorang Yati, Pelaku Spiritual, yang telah mengatasi kama dan krodha – keinginan dan emosi-marah; telah mengendalikan pikiran serta mengenal hakikat dirinya – senantiasa berada dalam Brahmanirvanam dalam Kasunyatan Agung, Kebahagiaan Sejati, Kesadaran Jiwa yang kreatif.” Bhagavad Gita 5:26

https://bhagavadgita.or.id/

 

Di sini ditambahkan lagi, seseorang yang telah mengatasi kama dan krodha, keinginan dan emosi marah dan mengendalikan pikiran. Kalau sudah mencapai itu, kita sudah mencapai kondisi Yoga. Jadi asana yang kita lakukan setiap Senin ada kelas semuanya itu tujuannya apa, tujuannya mencapai pengendalian diri. Jadi tujuan asana itu bukan cuma jungkir balik itu, bukan. Banyak orang datang ke Ubud belajarYoga cuma untuk jungkirbalik. Dan kitapun terbawa, wah kalau ada orang yang mengajar Yoga apalagi kalau bule, kita menjadi sangat-sangat terapa begitu. Padahal mereka sebetulnya tidak memahami Yoga, mereka  cuma paham Yoga sebagai latihan fisik.

Padahal Yoga itu bukan cuma untuk fisik. Fisik cuma bagian kecil saja. Bagaimana mengendalikan diri, bagaimana kita bisa hidup tanpa keterikatan. Menikmati dunia tapi tidak terikat. Sehingga program yang kita berikan di sini misalnya hariSenin dan Selasa itusaling melengkapi. Senin lebih banyak fokusnya pada badan. Selasa lebih banyak fokusnya pada pikiran. Dua-duanya harus dikendalikan. Dua-duanya harus diolah dengan baik, di-manage dengan baik. Kalau tidak tetap kita akan mengalami ketidakseimbangan dalam badan kita.

Seperti kalau pergi ke rumah sakit. Pertama-tama dibawa ke unit gawat darurat, UGD emergency dulu. Di Emergency  diberikan obatdulu. Orang lagi sakit tiba-tiba diberi obat dulu. Tapi setelah itu baru diperiksa semuanya. Kenapa sakit ini menjadi muncul. Alasannya ada apa sehingga bisa sakit. Baru ditest begitu juga asana yang kita lakukan pad ahari Senin itu. Itu semacam gawat darurat dulu. Tetapi di sini kita sudah memberikan afirmasi. Dalam asana itu juga kita sudah mulai mengadakan pengobatan untuk mental. Jadi bukan asana thok, jungkir balik, tidak. Jadi sudah ada afirmasi di situ. Sudah menyentuh mental-emosional. Begitu juga hariSelasa, lebih lagi kita masuk ke dalam gugusan pikiran dan perasaan karena segala macam penyakit itu awal mulanya daripikiran. Jadi kalau pikiran kita nggak kacau terkendali fisik akan baik juga.

Tadi seorang resi pelaku spiritual, jadi Krishna mengatakan seorang yang sudah seperti itu adalah resi. Pemahaman Krishna tentang Resi itu bukan cuma para Sulinggih, kita menghormati Sulinggih. Tapi pemahaman Krishna bahwa kita semuasetiap orang bisa menjadi resi. Istilah Rishi dalam bahasa Sanskrit berarti seorang visioner, seorang yang punya visi. Seorang yang bisa melihat ke depan. Dalam bisnis, dalam usaha, dalam menjalankan rumah, keluarga, membina keluarga. Dalam membesarkan anak-anak. Kita harus punya visi. Kita harus bisa melihat jauh.bukan cuma memanjakan anak, bukan cuma memarah-marahi anak, bukan cuma menyayangi tapi semuanya, komplit ada sayang di mana perlu manja, di mana perlu didisiplinkan, didisiplinkan, ini adalah visi, melihat secara lengkap. Jadi seorang resi itu adalah orang yang bisa melihat secara lengkap. Dia tidak hanya separo-separo penglihatannya. Oh ini anak harus kita sayang. Kemudian sayangnya sampai spoil dia, sampai rusak. Seorang resi berarti melihat seluruhnya.

Dan kitab suci yang terakhir ditulis di Sunda dalam bahasa Sunda Klasik Sang Hyang Resi Kandang. Saya masih menerjemahkan kitab suci yang terakhir di tulis, di Indonesia, di Nusantara di situ pun pemahamannya sama bagaimana menjadi seorang resi. Dan buku itu bukan hanya untuk Sulinggih, bukan. Buku itu untuk kita semua. Bagaimana setiap orang bisa menjadi resi. Bagaimana setiap orang bisa punya visi. Melihat lebih jauh. Melihat secara holistik. Tidak hanya melihat separo-separo. Kita semua sering sekali terbawa oleh hoaks ada berita apa kita percaya. Karena visi kita belum visi rishi. Ada orang bilang apa kita percaya. Kita belum bisa melihat sepenuhnya. Kalau kita sudah bisa melihat sepenuhnya maka kita sudah manunggal dengan Sang Hyang Widhi.

Sumber: Video Youtube Bersama Anand Krishna Bhagavad Gita Sehari-Hari Ayat 05:21-26 Mengatasi Amarah dan Mengakses Sumber Kebahagiaan Sejati

https://www.youtube.com/watch?v=IBna8q27l7g

https://www.akcjoglosemar.org/wp/

https://www.anandkrishna.org/

Wejangan Anand Krishna: Kenikmatan Sesaat Hubungan Indra dengan Alam Benda Sumber Duka

“Ia yang tidak terikat dengan sensasi-sensasi indrawi karena interaksinya dengan objek-objek di alam benda; ia yang menemukan sumber kenikmatan di dalam dirinya sendiri; ia yang senantiasa berada dalam Kesadaran Brahman, dan manunggal dengan-Nya lewat Yoga (berkarya tanpa pamrih) —meraih Kebahagiaan Sejati nan kekal abadi.” Bhagavad Gita 5:21

https://bhagavadgita.or.id/

 

Kadang-kadang kita pikir bahwa Bhagavad Gita ini sulit sekali kita pahami. Coba kita renungkan sejenak, yang tidak terikat dengan sensasi-sensasi indrawi karena interaksinya dengan objek-objek di alam benda. Krishna tidak mengatakan harus menarik diri tidak boleh berhubungan dengan alam benda. Tidak. Krishna tidak mengatakan berhenti makan, berhenti jalan-jalan tidak. Dia mengatakan tidak terikat. Berarti hubungan kita dengan alam benda tetap ada. Makan tetap makan, kerja tetap kerja. Tapi tidak terikat. Keterikatan ini yang menurut Krishna membuat kita berduka bersuka secara berlebihan.

Misalnya kembali pada suatu hal yang setiap hari kita lakukan, kalau kita terikat dengan makanan tertentu, kita terikat dengan baju tertentu. Kita terikat dengan suatu pekerjaan tertentu. Besok-besok tidak mendapat makanan yang sama, tidak mendapatkan baju yang sama kita merasa gelisah. Kita terbiasa dengan disanjung-sanjung diangkat-angkat tidak mendapatkan, gelisah. Banyak orang menjadi pejabat, jabat berapa tahun? 4 tahun, 5 tahun, 10 tahun, 12 tahun naik terus jabatannya suatu kali kan dia harus pensiun.

Tapi kalau terikat dengan jabatan, sudah terbiasa apalagi kalau jabatannya tinggi anak buahnya sudah terbiasa mengangkat-angkat dia dan dia sudah terbiasa diangkat-angkat. Dalam kondisi seperti itu pada suatu ketika dia tidak bekerja lagi. Pensiun. Maka dia mengalami post power syndrome, penyakit. Dulu berada dalam posisi berkuasa, sekarang tidak berkuasa stressnya berat sekali. Dan banyak orang, banyak pejabat, kemarin-kemarin saya juga ketemu dengan seorang mantan pejabat pejabat tinggi. Sekarang dia di rumah dan sebetulnya dia tidak sakit, dia sakit orang tua. Setiap orang tua di usia saya, di usia lebih tua dari saya apalagi, pasti badannya sudah mulai melemah, normal. Tapi karena dia dulu menjadi pejabat tinggi, dan sekarang tiba-tiba di rumah dia istri anak bekerja di tempatlain dia mengalamis tress. Dan karena stress itu penyakit-penyakit biasa pun menjadi lebih besar. Sehingga dia juga gelisah keluarga di rumah pun gelisah ini karena keterikatan. Karena keterikatan dengan sesuatu kita tahu menjadi pejabat itu berapa tahun akhirnya toh harus pensiun. Sudah tahu semuanya tapi tetap juga begitu terika tdengan jabatan dengan status ujung-ujungnya kita sendiri yang menderita.

 

“Kenikmatan sesaat karena hubungan indra dengan alam benda adalah sumber duka. Wahai Kaunteya (Arjuna, Putra Kunti), kenikmatan indrawi berawal dan berakhir, tidak langgeng. Sebab itu, seorang bijak tidaklah tertarik padanya.” Bhagavad Gita 5:22

https://bhagavadgita.or.id/

 

Tetap menikmati tetapi tidak terikat, tidak tertarik. Punya jabatan silakan, layani orang sesuai dengan tuntutan jabatan. Tapi tidak terikat pada jabatan. Tidak terikat pada suatu kondisi. Kalau kita terikat dengan suatu kondisi, besok kondisinya nggak ada susah. Dengan makanan saja terikat, dengan satu jenis makanan dengan satu macam makanan terikat, dengan makanan Indonesia. Ke luar negeri, nggak dapat masakan Indonesia.

Saya dengar dari seorang teman tempe di sini kan sesuatu yang murah meriah, tapi di luar negeri mau beli tempe sedikit saja sudah 10 Euro. Yang di sini cuma 10.000 di sana bisa10 Euro 150.000. kalau terikat dengan tempe, tinggal di luar negeri setengah mati juga. Terikat dengan kangkung, kangkung di luar negeri di Eropa kangkung itu makanan mewah. Tidak bisa setiap hari masak kangkung. Di sini anak dikasih makan kangkung setiap hari. Nah ini keterikatan, kita menikmati apa adanya tapi tidak terikat pada sesuatu. Kalau terikat menjadi sumber duka.

 

“Seseorang yang selagi masih hidup di dunia benda ini, sudah bisa menahan keinginan serta emosi-marah adalah seseorang yang telah meraih kesempurnaan dalam Yoga. Ia bahagia, dalam arti kata sebenarnya.” Bhagavad Gita 5:23

https://bhagavadgita.or.id/

 

Di sini kita harus memahami, ketika Krishna mengatakan emosi marah, emosi itu banyak macam, cinta juga emosi. Benci juga emosi. Kalau kita bisa bebas dari emosi marah berarti tidak dikendalikan oleh amarah, ada beda. Krishna juga pernah marah, suka marah. Tidak berarti Krishna senyum terus seperti di dalam pratima ini. Tidak. Kalau dalam satu keadaan dia harus mendisiplinkan orang, dia juga marah, dia juga pernah mengambil roda kereta untuk menyerang Bhisma, ketika Arjuna masih memikir-mikir terus. Sudah didepan mata harus diserang dia masih melemah. Maka Krishna mengangkat roda mau dijadikan senjata.

Jadi marah yang mengendalikan kita ini yang persoalan. Saya melihat ada seorang anak kecil, dan anak kecil ini harus kita sayangi. Boleh dimanja sedikit sampai usia 3 tahun. Setelah itu harus didisiplinkan. Kalau tidak didisiplinkan, kita terikat dengan anak, anak itu akan tumbuh menjadi bergantung pada orang tuanya. Dia nggak bisa berbuat sesuatu. Di sini kita memanjakan anak-anak kita khususnya anak laki. Karena dianggap suputra padahal belum suputra. Dia belum membuktikan dirinya sebagai suputra. Dia baru putra belum suputra. Suputra berarti putra yang baik. Putra yang saleh. Karena kita memanjakan, anak-anak ini tidak didisiplinkan, tidak dibuat bisa bekerja sehingga menjadi pemalas.

 

“Setelah menemukan Sumber Kebahagiaan Sejati di dalam diri, seseorang senantiasa bersuka-cita karena dan oleh dirinya sendiri; karena dan oleh Cahaya Pencerahan, Pengetahuan Sejati yang menerangi dirinya. Seorang Yogi seperti itu meraih Nirvana – Kasunyatan Sejati dalam Brahman. Ia menjadi Brahman.” Bhagavad Gita 5:24

https://bhagavadgita.or.id/

 

Seseorang yang menemukan kebahagiaan dalam dirinya, makanan enak enak tapi makanan yang enak itu yang merasakan bahagia bukan indra kita, makan sesuatu dirasakan oleh mulut, seberapa lama? 2 menit, 3 menit, 5 menit.

Kita punya kebiasaan hampir semua orang punyakebiasaan kalau ada makanan ada 4-5 macam sayur, sayur yang paling kita suka kita sisihkan dulu dimakan terakhir. Ada yang punya kebiasaan begitu. Kita makan dulu yang kita kurang suka, yang kita suka dieman-eman kata orang Jawa. Sayang, nanti terakhir kita makannya. Oke di makan terakhir. Sampai berapa lama kita menikmati. Indra pencecapan kita menikmatinya berapa lama. Nggak seberapa lama. Setelah berapa menit juga sudah masuk dalam perut. Sudah mula dicerna. Jadi kebahagiaan yang kita peroleh dari mana? Dari diri kita sendiri. Tadi siang makan makanan enak, rasanya sudah nggak ada. Makanan sudah mulai dicerna.

Kalau dilihat masakan makanan yang ada di perut, kalau ada seorang dokterbedah, saya pernah bicara kalau bedah perut itu sepertis ampah. Dalam perut itu makanan seenak apa pun seperti sampah. Nah yang merasakan kenikmatan cuma sebentar mulut, tapi sampai siang makan pagi sampai siang masih ingat tadi makanannya enak. Kebahagiaan itu dari mana? Bukan dari makanan, makanan sudah menjadi sampah di dalam perut. Tapi karena ingatan kita kemudian kalau ingatan kita, kita ingat terus, ingat terus, ingat terus besok tidak mendapatkan masakan yang sama, gelisah.

Saya punya seorang teman, dulu dia tidak bisa makan apa pun kecuali kentang. 16 tahun cuma makan kentang. Akhirnya tersadarkan, dia mulai coba makan makanan lain, pagi siang sore Cuma kentang. Sampai Guru mengatakan kepada dia, kamu ini akan defisiensi vitamin. Dipaksa makan sayur dia ambil sedikit dan betul dia mengalami defisiensi vitamin. Kondisi tubuhnya walau imune system sekarang sudah mulai makan sayur dan segalanya tapi system imune-nya kurang bagus. Jadi banyak orang yang terikat pada sesuatu, pada suatu macam entah makanan, kondisi keadaan kemudian menciptakan duka bagi dirinya sendiri.

Nah seseorang yang sudah bebas dari semua itu dan dia memahami kebahagiaan berasal dari dalam diri saya sendiri. Dia sebetulnya sudah mencapai Brahman. Dia sudah memahami, sudah menyadari kehadiran Tuhan di dalam diri. Kehadiran Sang Hyang Widhi di dalam dirinya.

Sumber: Video Youtube Bersama Anand Krishna Bhagavad Gita Sehari-Hari Ayat 05:21-26 Mengatasi Amarah dan Mengakses Sumber Kebahagiaan Sejati

https://www.youtube.com/watch?v=IBna8q27l7g

https://www.akcjoglosemar.org/wp/

https://www.anandkrishna.org/