Jangan Menggadaikan Kemuliaan Jiwa demi Kenikmatan Indra #BhagavadGita

AMBISI, HARAPAN, EKSPEKTASI – sebutan apa pun yang kita benkan kepada ‘cara berpikir’ seperti ini, sekalipun dibungkus rapi dengan kertas sampul positive thinking — landasannya adalah lobha, keserakahan. Dan keserakahan membawa bencana. Keserakahan membuat kita menjadi keras, kaku, alot, dan berdarah-dingin. Kita akan menghalalkan segala cara untuk memperkaya diri, untuk mendapatkan kedudukan, pujian, penghargaan, apa saja.

LALU, APAKAH AMBISI ITU TIDAK BOLEH? Perkaranya bukanlah boleh atau tidak. Perkaranya adalah bahwa ambisi adalah cocok bagi mereka yang bersifat syaitani; mereka yang belum mengenal nilai-nilai hidup dan kehidupan yang lcbih tinggi, mereka yang masih bodoh.

Ambisi tidak bisa tidak membuat diri kita menjadi serakah. Kenapa? Karena ambisi adalah opsi bagi mereka yang belum cukup percaya diri. Ambisi adalah “pikiran dan khayalan seorang anak kecil”: Aku mau jadi gede, mau jadi besar, mau jadi tinggi seperti papi. Aku mau jadi cantik seperti mami. Aku mau jadi guru, aku mau jadi perawat, aku mau jadi presiden, pilot, preman, pengusaha, pemabuk, penjudi, atau salah satu dari sekian banyak pe-pe- yang lain. Ini adalah ambisi.

Silakan menoleh ke belakang, apakah kita menjadi presiden? Berapa banyak anak di antara jutaan atau ratusan juta anak yang berambisi untuk menjadi presiden, dan akhirnya rnenjadi presiden? Penjelasan Bhagavad Gita 16:13 dari buku: (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

Berikut tanggapan Bhagavad Gita 16:14 tentang afirmasi para motivator masa kini:

Buku Bhagavad Gita

Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu; Saha vīryam karavāvahai; Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga Hyang Tunggal senantiasa melindungi kita; menjernihkan pikiran kita: semoga kita dapat berkarya bersama dengan penuh semangat; semoga apa yang kita pelajari mencerahkan dan tidak menyebabkan permusuhan; Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

“Lawan yang satu telah kutaklukkan, yang lain pun akan kutaklukkan. Aku menguasai segala-galanya. Aku memiliki kekuasaan tertinggi. Segala-galanya tersedia untuk kunikmati. Aku memiliki segala kekuatan. Aku sakti, aku berhasil, aku bahagia.” Bhagavad Gita 16:14

 

Kurang lebih afirmasi-afirmasi seperti inilah yang diajarkan para motivator sejak awal abad ke-20, dengan sedikit improvisasi dalam tata-bahasa dan gaya penyampaian.

 

BAGI KRSNA, PERNYATAAN-PERNYATAAN SEPERTI INI adalah bersifat syaitani. Semuanya memengaruhi niat kita, sehingga kita menjadi sombong; “Aku sudah mencapai ketinggian langit kesekian, kau baru langit kesekian.” Siapa yang dapat membuktikan klaim-klaim sepertl itu?

Khayalan syaitani adalah imajinasi, khayalan yang tidak dltindaklanjuti dengan karya nyata. Seseorang yang melamun terus bahwa dirinya adalah kaya, kaya, kaya raya — tidak menjadi kaya. Ia hanya menipu dirinya sendiri.

Kesadaran Jiwa adalah kekayaan sejati.

Berada di jalan raya kehidupan, hanyalah seorang pengemudi yang fully alert, jaga, sadar — yang akan mencapai mjuannya dengan selamat. Jagalah kesadaran diri!

Dalam keseharian hidup, dalam pekerjaaan dan usaha kita, kesadaran diri berarti percaya diri. Berkarya dengan penuh percaya diri. Bekerja keras sesuai dengan potensi dan keahlian diri. Itulah yang membawa keberhasilan. Bukan ambisi, bukan afirmasi-afirmasi belaka. Selanjutnya…

 

MENAKLUKKAN ORANG LAIN MUDAH – taklukkan diri sendiri! Memamerkan kesaktian adalah mudah. Jika kita memang sakti, maka gunakanlah kesaktian kita, kekayaan kita, kecerdasan dan kepintaran kita untuk memperbaiki hidup kita sendiri, dan hidup mereka yang berada di sekitar kita. Tidak perlu membual, just do it!

Hola terpengaruh oleh Si Angong, sehingga tidak meditasi lagi. Bahkan ia pun mencak-mencak di Facebook; “Untuk apa meditasi segala? Dulu, gara-gara meditasi dan kegiatan di padepokan, saya tidak bisa keija sepefti sekarang. Penghasilan minim. Setiap sore aku ke padepokan untuk meditasi. Sekarang, lihat aku bekerja siang malam. Dalam waktu kurang dari 1 tahun sudah bisa ganti mobil.”

Tahun depannya, ia diserang berbagai macam penyakit. Ia memang memiliki kecenderungan untuk “jatuh sakit” seperti itu. Penyakitnya – semua — tanpa kecuali adalah terkait dengan stres. Sebab itu, meditasi justru memoderasi kegiatan dan pola hidupnya yang tidak disadari Hola.

Sekarang, ia sudah tidak bisa bekerja lagi. Jangankan mobil baru yang dibanggakamiya, tabungannya pun sudah hampir habis untuk mengobati diri. Sebelumnya, selama meditasi rutin, ia tidak pernah mengalami guncangan kesehatan seperti yang sedang dialaminya saat ini. Dulu, barangkali penghasilan tidak seberapa; tetapi sehat, masih bisa bekeija; masih punya mobil, dan masih juga punya tabungan. Sekarang? Ludes semua.

 

JANGAN IKUT MENJADI ANGONG, BODOH, BERSAMA SI ANGONG – Jangan menggadaikan kemuliaan Jiwa demi kenikmatan indra!

Mereka yang sedang berjualan kekayaan dan kebahagiaan bualan – para Angong — merayu Anda, “He, inilah cara instan untuk menjadi kaya, menjadi bahagia!” Instan? Mereka sendiri sedang banting tulang untuk menjual “komoditas” mereka. Instan? Tidak.

Berhentilah berkhayal — berkaryalah!

Kerja nyata dengan penuh kesadaran — itulah pengalaman yang dibutuhkan oleh Jiwa. Jika hanya berkhayal saja, maka sesungguhnya Jiwa tidak mernbutuhkan kendaraan badan dan indra.

Dikutip dari buku: (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

 

Om, Sarve bhavantu sukhinaḥ; Sarve santu nirāmayāḥ; Sarve bhadrāṇi paśyantu; Mā kashchit duḥkha bhāgbhavet; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga semua makmur, bahagia dan bebas dari penyakit. Semoga semua mengalami peningkatan kesadaran, dan bebas dari penderitaan. Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/

 

Advertisements

Renungan #Gita: Ambisi, Dibungkus Sampul Positive Thinking pun Landasannya Keserakahan?

 

buku bhagavad gita ambisi

Bhagavad Gita 16:13

“Mereka selalu berikhtiar: ‘Hari ini aku sudah berhasil, besok lebih berhasil lagi. Hari ini sekian banyak hartaku, besok bertambah lagi.’” Bhagavad Gita 16:13

 

“Inilah pelajaran para motivator ‘beken’ dunia sejak awal abad 20 hingga hari ini. Inilah yang menyebabkan terjadinya industrialisasi ‘berlebihan’. lnilah yang berada di balik kisah kegagalan ekonomi. Inilah yang menyebabkan berbagai macam krisis — dari krisis lingkungan hidup, ekonomi, politik, keamanan, hukum, dan sebagainya – hingga krisis yang paling gawat, krisis yang disebabkan oleh hilangnya atau terlupakannya jati-diri, krisis kesadaran!

“AMBISI, HARAPAN, EKSPEKTASI – sebutan apa pun yang kita benkan kepada ‘cara berpikir’ seperti ini, sekalipun dibungkus rapi dengan kertas sampul positive thinking — landasannya adalah lobha, keserakahan.

“Dan keserakahan membawa bencana.

“Keserakahan membuat kita menjadi keras, kaku, alot, dan berdarah-dingin. Kita akan menghalalkan segala cara untuk memperkaya diri, untuk mendapatkan kedudukan, pujian, penghargaan, apa saja.

“LALU, APAKAH ‘AMBISI ITU TIDAK BOLEH? Perkaranya bukanlah boleh atau tidak. Perkaranya adalah bahwa ambisi adalah cocok bagi mereka yang bersifat syaitani; mereka yang belum mengenal nilai-nilai hidup dan kehidupan yang lcbih tinggi, mereka yang masih bodoh.

“Ambisi tidak bisa tidak membuat diri kita menjadi serakah. Kenapa? Karena ambisi adalah opsi bagi mereka yang belum cukup percaya diri. Ambisi adalah ‘pikiran dan khayalan seorang anak kecil’:Aku mau jadi gede, mau jadi besar, mau jadi tinggi seperti papi. Aku mau jadi cantik seperti mami. Aku mau jadi guru, aku mau jadi perawat, aku mau jadi presiden, pilot, preman, pengusaha, pemabuk, penjudi, atau salah satu dari sekian banyak pe-pe- yang lain. Ini adalah ambisi.

“Silakan menoleh ke belakang, apakah kita menjadi presiden? Berapa banyak anak di antara jutaan atau ratusan juta anak yang berambisi untuk menjadi presiden, dan akhirnya menjadi presiden?

“Selama ini, saya hanya mendengar satu, ya…

“HANYA SATU KISAH SUKSES SAJA – Maksudnya, yang terkait dengan ambisi untuk ‘menjadi presiden’. Yaitu, kisah sukses Presiden Clinton. Ketika masih menjadi pelajar, ia pernah bertemu dengan Presiden Kennedy, dan berkhayal bila kelak dia pun akan menjadi presiden.

“Setidaknya demikian menurut kisah yang pernah saya baca. Dan ia berhasil! Bingo! Tidak semua orang semujur Bill Clinton. Dan sesungguhnya keberhasilan Clinton pun bukanlah semata karena kemujuran atau ambisinya, tapi karena kerja kerasnya untuk mencapai kedudukan tersebut. Jadi bukan sekadar ambisi, ekspektasi, dan sukses; bukan sekadar berkhayal, meminta, berkhayal lagi seolah sudah meraih apa yang diinginkan, berhenti melamun — sim salabim — dan kita menerima kunjungan dari seorang Genie, “Master: your wish is my command — silakan rneminta apa saja. Keinginan, kehendakrnu adalah perintah bagiku.’ Tiba-tiba kita sudah berada di Gedung Putih!” (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

buku bhagavad gita

Cover Buku Bhagavad Gita

“TIDAK, HIDUP INI BUKANLAH KISAH HARRY POTTER – Silakan menikmati dan menghibur diri dengan kisah-kisah 1001 malam – tetapi hidup ini bukanlah urusan malam saja.

“Ambisi kerap menjadi pengganti-konyol percaya diri.

“Seorang petani tidak berambisi, ia menyangkul savvahnya, menanam benih, memupukinya, dan menikmati hasilnya. la pun sadar sesadar-sadarnya bila cuaca dan masih banyak faktor lain berada di luar kendalinya.

“Ia berdoa, dalam pengertian ia memberkati sawahnya — dan sawah itu menjadi berkah baginya. Jika tidak ada petani yang rnenyangkul sawahnya setiap pagi, Anda dan saya mesti mengonsumsi makanan sintetis buatan pabrik, dalam bentuk pil berwarna-warni. Pil kuning untuk jagung; hijau untuk kangkung; putih untuk nasi, dan sebagainya, dan seterusnya.

“Sementara itu, lihatlah keadaan mereka yang selama ini percaya pada kekuatan ambisi. Kendati sudah menjadi kaya-raya, apakah mereka bahagia? Sudah menduduki posisi tinggi, apakah mereka tenang? Sudah berhasil meraih penghargaan, apakah mereka tentram? Sudah memiliki tabungan di Swiss, apakah mereka damai?

“Sehatkah orang nomor satu di belahan dunia mana saja? Seberapa besar tingkat stres yang dideritanya? Ambisi melahirkan para ekonom dengan berbagai macam gelar, hasilnya harga bawang, dan buncis pun tetap saja melejit tanpa kendali!

“DULU KITA MENGENAL SEORANG PEMIMPlN yang adalah anak seorang petani. Ia sendiri selalu bangga menyebut dirinya petani. Saat itu kita swasembada pangan. Tidak banyak buah-buahan dan sayuran impor. Toh, kita bisa survive, kan!

“Kesimpulannya?” ada yang bertanya, “Anda anti-ambisi?” Sekali lagi, si penanya tidak memahami maksud saya. Saya tidak anti-ambisi. Saya tidak membenci nyamuk, saya tidak anti-nyamuk. Hanya saja, saya tidak akan menjamunya di dalam rumah. Jika saya menjadi anti-nyamuk, maka bepergian ke mana pun, semprotan anti nyamuk akan menjadi perlengkapan utama saya.

“AMBISI BERGUNA BAGI ANAK-ANAK KECIL yang belum bisa membedakan antara peran pilot, presiden, pengusaha, pengacara, pendidik, dan pelacur!

“Jika kita sudah bisa membedakan, memilah, dan memilih apa yang cocok bagi kita, apa yang sudah sesuai dengan potensi diri kita, maka berkaryalah untuk mewujudkannya. Tidak perlu berambisi-ria lagi.

“Ambisi ibarat mainan mobil-mobilan. Silakan bermain jika kita masih menganggap diri sebagai seorang anak, belum mau mencoba boom-boom car, permainan simulasi yang lebih canggih; atau belum berani, belum cukup dewasa untuk mengemudikan kendaraan yang sebenarnya.

“ Saat bennain dengan mobil-mobilan, silakan berambisi, ‘Nanti kalau sudah gede, aku beli mobil benaran’.

“Tapi, kalau sudah gede, sudah memiliki mobil ‘benaran’ — maka tidak perlu berambisi lagi.Gunakan, kendarailah kendaraan kita sesuai dengan kebutuhan kita.

“Mau tukar-tambah, mau beli model baru, mau beli pesawat? Silakan kerja keras, kumpulkan uang. Hanya sekadar berarnbisi saja tak akan membantu — Get real! Bekerja dan berkaryalah tanpa keserakahan. Tanpa merugikan atau mengabaikan kepentingan orang lain.” (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) Link: http://www.booksindonesia.com