Hukuman bagi Pelaku Adharma Penderitaan sampai Akhir Hayatnya #BhagavadGita

Dalam Dhammapada 9:125 Buddha jelas sekali bahwa jika seorang pelaku kejahatan berupaya mencelakakan orang yang tidak bersalah, maka ia sendiri yang akan celaka. Lalu apa yang kita lihat selama ini dan di sekitar kita? Seolah pelaku kejahatan bisa merajalela, dan mereka yang tidak bersalah bisa seenaknya dianiaya.

Untuk itu Buddha menjelaskan dalam ayat 119 bahwa ada juga perbuatan-perbuatan jahat yang “belum matang”. Ketika buah kejahatan itu matang, maka ia jatuh sendiri. Tinggal tunggu waktu. Dikutip dari cuplikan materi neo interfaith studies oleh Bapak Anand Krishna pada program online One Earth College of Higher Learning (http://www.oneearthcollege.com/id/).

Dalam Bhagavad Gita pun dijelaskan bahwa mungkin saja pelaku adharma yang berbuat zalim terhadap orang-orang atau rakyat yang tidak bersalah bisa lolos dari penjara, karena kekuasaan dan kelicinan geng-nya. Akan tetapi hukuman oleh Dharma terhadap dirinya atau keluarganya tidak hanya membuat dia menderita hingga akhir hayatnya, tetapi juga setelah meninggalkan dunia ini.

Silakan simak penjelasan Bhagavad Gita 11:34 di bawah ini:

Cover Buku Bhagavad Gita

Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu; Saha vīryam karavāvahai; Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga Hyang Tunggal senantiasa melindungi kita; menjernihkan pikiran kita: semoga kita dapat berkarya bersama dengan penuh semangat; semoga apa yang kita pelajari mencerahkan dan tidak menyebabkan permusuhan; Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

“Bunuhlah Drona, Bhisma, Jayadratha, Karna, dan para kesatria lainnya, yang mana sesungguhnya telah binasa semuanya oleh-Ku. Jangan takut! Berperanglah, lawanlah mereka, kau pasti berhasil menaklukkan lawan-lawanmu semua.” Bhagavad Gita 11:34

 

Krsna Sangat Spesifik. Dia tahu bahwa Arjuna bukan saja enggan, tapi juga menaruh rasa takut terhadap nama-nama yang disebutnya. Drona adalah gurunya, guru yang mengajarkan seni perang kepadanya, “Bagaimana jika ia memiliki beberapa jurus yang dirahasiakannya, yang tidak diajarkan kepadaku?”

 

BISMA ADALAH EYANG – Seorang Kesatria Agung, selama itu tidak tertaklukkan oleh siapa pun. Record-nya berkualitas sterling — cemerlang.

Arjuna pun sesungguhnya gentar sejak awal percakapan ini, “Apa iya aku mampu menaklukkannya?”

Pun demikian dengan Karna dan Jayadratha, dua-duanya kesatria par excellence. Dua-duanya memiliki track record yang hampir sama dengan Bhisma.

Maka, Krsna mesti berulangkali mengingatkan Arjuna, bahwa mereka yang berada di pihak Kaurava telah menunjukkan posisi mereka dengan jelas. Sebaik-baiknya para kesatria tersebut, mereka semua, tanpa kecuali telah menentukan posisi mereka di pihak adharma. Sebab itu:

 

“JANGAN TAKUT! Siapa pun yang melawan dharma akan binasa oleh kekuatan dharma itu sendiri.”

Para penguasa zalim selalu lupa bahwa kekuasaan dan kewenangan yang mereka salahgunakan akan berbalik menghantam, menghancurkan, dan memusnahkan mereka sendiri.

Mabuk akan kekuasaan, mereka pikir bahwa lawan mereka bukan apa-apa, “Siapa dia? Kekuatannya seberapa sih? Siapa pendukungnya? Massanya seberapa? Ah, mereka adalah bangsat-bangsat yang dapat kubinasakan tanpa senjata sekalipun.”

Kekuasaan membuat mereka menjadi buta. Mereka tidak mampu melihat bila yang mereka lawan bukanlah “bangsat” — tapi dharma.

Seekor bangsat atau semut yang berpihak pada dharma mampu menaklukkan seekor gajah yang berpihak pada adharma. Para penguasa zalim tidak memahami urusan dharma-adharma.

Banyak di antara kita yang punya pengalaman menghadapi oknum penyidik di kepolisian atau kejaksaan yang korup dan dengan sombong bisa mengatakan, “Ini wewenang kami”. Pun demikian dengan para hakim dan pejabat lain yang sama-sama korup. Mereka telah dibutakan oleh kekuasaan yang tidak langgeng, tidak untuk selamanya.

 

AKHIRNYA, MEREKA BINASA karena dan oleh kebutaan mereka sendiri. Kadang mereka tidak sadar bahwa ketika dharma bertindak, ia bisa menggunakan senjata apa saja. Banyak senjata di tangan dharma.

Para pejabat korup yang memiliki anak yang autis, penderita penyakit lain, pencandu, pemabuk, penderita HIV, dan sebagainya – telah dijatuhi hukuman seumur hidup oleh dharma! Penyakit anak-anak mereka adalah disebabkan oleh uang haram hasil korupsi, hasil jarahan, yang mereka gunakan untuk membiayai kehidupan mereka. Dan tentunya disebabkan oleh karma anak-anak itu pula yang memilih mereka sebagai orang-tua.

Dharma tidak selalu memenjarakan para penguasa zalim. Penjara adalah urusan peradilan dunia. Hukuman penjara adalah hukuman ringan jika dibanding dengan hukuman dharma yang tidak hanya membuat seseorang menderita hingga akhir hayatnya, tetapi juga setelah meninggalkan dunia ini. .

Hukuman dharma bukanlah hukum korup yang bisa dikompromikan. Tidak ada sin laundering, pencucian dosa lewat ziarah, amal-saleh, dan sebagainya. Setiap penderitaan yang disebabkan oleh seorang penguasa zalim mesti dipertanggung jawabkan olehnya sendiri. Dengan membangun tempat-tempat ibadah sekalipun, ia tidak bisa terhindar dari akibat perbuatannya, akibat kezalimannya.

Dikutip dari buku: (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

Om, Sarve bhavantu sukhinaḥ; Sarve santu nirāmayāḥ; Sarve bhadrāṇi paśyantu; Mā kashchit duḥkha bhāgbhavet; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga semua makmur, bahagia dan bebas dari penyakit. Semoga semua mengalami peningkatan kesadaran, dan bebas dari penderitaan. Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/

 

Advertisements

Renungan Gita: Selalu Terjadi Perubahan Saat Kebatilan dan Ketidakadilan Merajalela

buku bhagavad gita saat adharma merajalela

Ketika adharma merajalela, maka setelah mencapai tingkat jenuh, terjadilah gejolak sosial. Berkuasanya adharma menciptakan ketidakseimbangan Dalam keadaan seperti itu, sudah pastilah muncul seorang penggerak revolusi untuk melawan kebatilan dan ketidakadilan. Ini hukum alam. Tidak bisa tidak. Silakan mempelajari sejarah dunia. Ketika para penguasa zalim bertindak semena-mena dan menindas rakyat, maka terjadilah perubahan kekuasaan.

Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu; Saha vīryam karavāvahai; Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga Hyang Tunggal senantiasa melindungi kita; menjernihkan pikiran kita: semoga kita dapat berkarya bersama dengan penuh semangat; semoga apa yang kita pelajari mencerahkan dan tidak menyebabkan permusuhan; Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

“Wahai Bharata (Arjuna, keturunan Raja Bharat), Ketika dharma, kebajikan dan keadilan, mengalami kemerosotan; dan adharma, kebatilan dan ketidakadilan merajalela – maka Aku menjelma.” Bhagavad Gita 4:7

 

“Ini adalah sebuah janji yang bukan asal-bunyi. Janji ini memiliki dasar ilmiah yang dapat dipahami.

“KETIKA ADHARMA MERAJALELA — Ketika kebatilan dan ketidakadilan berkuasa, maka di manakah dharma, di manakah kebajikan dan keadilan?

Apakah dharma, kebajikan dan keadilan, lenyap sama sekali? Apakah sirna? Apakah punah tanpa bekas?

Dharma adalah energi, adharma pun sama, energi. Dan, energi tidak pernah punah. Energi hanya berubah wujud saja.

Ketika adharma merajalela, maka setelah mencapai tingkat jenuh, terjadilah gejolak sosial. Berkuasanya adharma menciptakan ketidakseimbangan Dalam keadaan seperti itu, sudah pastilah muncul seorang penggerak revolusi untuk melawan kebatilan dan ketidakadilan. Ini hukum alam. Tidak bisa tidak.

Silakan mempelajari sejarah dunia. Ketika para penguasa zalim bertindak semena-mena dan menindas rakyat, maka terjadilah perubahan kekuasaan.

Mungkin Anda bertanya, lalu bagaimana ketika Dharma berkuasa?

APAKAH DHARMA BISA MENCAPAI TITIK JENUH dan berakibatkan gejolak sosial untuk membawa perubahan? Apakah kekuasaan dharma pun, kemudian, diganti oleh kekuasaan adharma?

Dharma tidak pernah mencapai titik jenuh. Tidak pernah ada keadaan di mana setiap orang bertindak sesuai dengan dharma. Di bawah kekuasaan dharma, adharma tetap eksis. Bedanya, ia tidak merajalela. Ia tidak berkuasa.

Maling, perampok, penjahat, koruptor — semuanya masih tetap ada, walau pemerintahannya sebersih Pemerintahan Singapura. Hanya saj, mereka tidak mayoritas, tidak berkuasa.

Lain halnya dalam suatu negeri di mana mayoritas adalah pelaku adharma, maka seluruh tatanan sosial menjadi kacau. Maling meneriaki maling. Koruptor menjebloskan koruptor lain, dengan menggunakan jasa koruptor yang lain lagi – Edan!

MAYORITAS DHARMA ADALAH SELARAS DENGAN SEMESTA – Maka tidak menimbulkan gejolak.

Mayoritas dharma adalah seperti keadaan badan yang sehat. Inilah keadaan ideal yang semestinya tercapai. Saat itu, semuanya berjalan lancar.

Mayoritas adharma menimbulkan penyakit. Semuanya menjadi kacau. Dan, saat itulah masyarakat membutuhkan seorang dokter, seorang Krsna untuk membawa kesembuhan.

MENJELMANYA KRSNA adalah fenomena yang terjadi setiap kali ada kebutuhan untuk itu. Kadang ia berupa Gandhi, kadang Soekarno, kadang Martin Luther King Jr., kadang Mandela, kadang siapa saja. Kadang barangkali sebagai Anda!

KRSNA ADALAH BERITA PERUBAHAN ZAMAN – Di luar itu, masih banyak perwujudan-perwujudan minor yang membawa perubahan-perubahan kecil tapi signifikan. Misalnya, dalam hal memerdekakan negara, dalam hal membangrm masyarakat, dalam hal mengubah tatanan sosial. Sungguh tak terhitung manifestasi Sang Jiwa Agung.

Setiap percikan Jiwa Agung, termasuk Anda dan saya memiliki kesempatan yang sama untuk menjadi Perwujudan-Nya Hyang sama Nyata seperti Krsna. Ya, kita semua memiliki potensi itu.

 

buku bhagavad gita

“Guna melindungi para bijak; membinasakan mereka yang berbuat batil; dan, meneguhkan kembali dharma, kebajikan – Aku datang menjelma dari masa ke masa.” Bhagavad Gita 4:8

 

Mahatma Gandhi memilih untuk mengartikan Perang Bharata-Yuddha sebagai metafor bagi perang atau konflik di dalam diri manusia, di mana kekuatan kebajikan dan kebatilan senantiasa saling berhadapan. Berangkat dari pengertian demikian, maka ‘membinasakan para pelaku kejahatan’ pun diterjemahkannya sebagai ‘pembinasaan sifat-sifat jahat’ dalam diri manusia. Boleh-boleh saja, dan memang ada benarnya juga.

TAPI, KITA TIDAK BISA MELUPAKAN KONTEKS SEJARAH BHARATA-YUDDHA – Perang dahsyat yang betul terjadi. Bukan perang khayalan. Mahabharata adalah sejarah, bukan dongeng. Jika kemudian sejarah itu disajikan dalam berbagai bentuk, antara lain dalam bentuk wayang, maka sah-sah saja.

Banyak film berlatar-belakang sejarah. Banyak juga yang menyajikan sejarah sebagaimana adanya. Wayang orang maupun wayang kulit, teater, drama, dan lain sebagainya adalah bentuk-bentuk kuno, atau, lebih tepatnya cikal bakal Industri Perfilman.

Kembali pada konteks sejarah Mahabharata, maka apa yang dimaksud Krsna mesti diartikan secara harfiah juga.

Sebagaimana telah kita bahas dalam ayat sebelumnya, penjelmaan Jiwa Agung untuk menegakkan kembali dharma, kebajikan, keadilan – memang terjadi dari masa ke masa, dan bisa di mana saja.

Walau, “kadar” penjelmaan bisa beda dari masa ke masa, dari tempat ke tempat – berdasarkan tuntutan masa dan kebutuhannya.

DUNIA TIDAK SELALU MEMBUTUHKAN para Avatara atau Penjelmaan Purna seperti Krsna. Saat itu, peradaban manusia sedangmenghadapi perang nuklir. Maka dibutuhkan Penjelmaan Purna.

Lebih sering, kita membutuhkan Amsa Avatara – Penjelmaan Bagian. Sebagian dari Kekuatan Agung pun sudah cukup untuk mengatasi rezim yang zalim dan menindas rakyatnya, apalagi jika terkait dengan satu negara saja, tidak melibatkan seluruh peradaban.

Maka, jumlah Amsa Avatara tak terhitung. Mereka ada di mana-mana. Bisa di mana-mana, tentunya, lagi-lagi sesuai kebutuhan.

Bahkan, jika Anda seorang aktivis yang sedang berkarya untuk mengubah tatanan sosial yang sudah usang – maka ketahuilah bila Jiwa Agung, “sebagian” dari Kekuatan Jiwa Agung telah mewujud lewat diri Anda. Tentunya, jika Anda seorang Aktivis Pembawa Perubahan Sejati sekaliber Gandhi, Soekarno, Mandela, dan sebagainya. Anda bukan aktivis bayaran yang bekerja karena adanya funding dari pihak-pihak tertentu, dengan slogan  “Membela saipa yang Membayar.”

Dikutip dari buku: (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

Om, Sarve bhavantu sukhinaḥ; Sarve santu nirāmayāḥ; Sarve bhadrāṇi paśyantu; Mā kashchit duḥkha bhāgbhavet; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga semua makmur, bahagia dan bebas dari penyakit. Semoga semua mengalami peningkatan kesadaran, dan bebas dari penderitaan. Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/

 

Banner 4

Renungan #Gita: Audisi Pemeran Utama atau Pihak Lawan dalam Skenario Panggung Kehidupan

buku bhagavad gita

Cover Buku Bhagavad Gita

Dalam benak kita Pooja Sharma tentu mengalami seleksi yang ketat untuk memperoleh Peran Utama sebagai Draupadi dalam Serial Mahabharata yang pernah ditayangkan di ANTV. Mungkin ada berkah, grace dari Sang Sutradara, akan tetapi, artis cantik ini pasti memiliki kriteria tertentu sehingga bisa terpilih melakoni peran tersebut.

Di Jawa, diyakini bahwa untuk menjadi Raja atau Presiden, seseorang pasti telah memperoleh wahyu, grace dari Gusti Pangeran. Akan tetapi, bagaimana pun juga, dia pasti memiliki kriteria (dalam hal ini pengalaman jiwa) untuk menjalankan peran tersebut.

Diri kita masing-masing adalah juga pemeran utama dalam panggung sinetron kehidupan yang sedang kita jalani dan kita tulis sesuai pilihan kita sendiri. Kita punya rekan pemeran pendamping, dan pemeran lawan. Mungkin kita juga telah memperoleh grace, berkah, tetapi semestinya Jiwa kita telah mempunyai pengalaman untuk melakoni peran tersebut.

Bagaimana penjelasan Bhagavad Gita tentang cara mendapatkan peran Pandava atau Krsna, atau sekadar Kaurava dalam panggung kehiduan ini? Silakan ikuti penjelasan berikut:

Bhagavad Gita 11:29

“Sebagaimana laron terburu-buru memasuki nyala api untuk menemukan ajalnya; pun demikian seantero dunia dengan seluruh isinya sedang memasuki mulut-Mu dengan cepat, untuk berhancur-lebur tanpa bekas.” Bhagavad Gita 11:29

 

Penglihatan Arjuna bukanlah eksklusif ‘penglihatan’ saat perang saja. Sesungguhnya, keadaan kita yang tidak terlibat dalam perang pun kurang lebih sama. Perjuangan hidup ini sama dengan perang. Kita pun sedang menuju mulut-Nya untuk hancur, musnah dan tercipta ulang. Lalu,

APA BEDANYA? Apa beda antara mereka yang berpihak pada dharma — kebajikan – dan mereka yang berpihak pada adharma — kebatilan? Bukankah dua-duanya hancur juga? Bukankah dua-duanya akhirnya mati juga?

Ya, jika kita memperhatikan raga, maka dua-duanya hancur, punah. Dan, dua-duanya juga barangkali tercipta kembali untuk rnemasuki panggung dunia yang sama. Pertanyaannya, sebagai apa?

Setiap pengalaman kehidupan rnemperkaya Jiwa. Berdasarkan kekayaannya itu, ia mengambil peran berikut yang sesuai dengan wataknya, keahliannya.

Perhatikan para bintang layar lebar. Banyak di antara mereka yang memulai karier mereka sebagai peran pembantu. Bahkan, hingga akhir kariernya tetap sebagai peran pembantu. Kariernya seolah  berhenti di tempat, berhenti dalam kurun waktu dan peran tertentu.

Ada yang bermain hebat sebagai pemeran antagonis, villain; maka, sepanjang kariernya, ia selalu mendapatkan peran antagonis.

KITA MAU JADI APA? Puaskah kita sebagai Kaurava? Atau, kita ingin menjadi Pandava dan bersahabat dengan Krsna? Atau, malah ingin memainkan peran Krsna?

Jika mau menjadi Kaurava, maka silakan tetap berada dalam kubu adharma. Saat ini, mayoritas di antara kita berada dalam kubu tersebut.

Tapi, jika ingin mendapatkan peran Pandava atau Krsna, maka kita mesti pindah kubu. Kita mesti memperkaya diri dengan dharma, kebajikan.” (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

Link: http://www.booksindonesia.com

KITA SEMUA IBARAT LARON yang sedang memasuki nyala api. Sepintas, kita sama, seolah sama. Tidak ada bedanya. Sepintas, rnemang demikian. Tapi, bertanyalah pada laron itu….

Memang, banyak di antara mereka yang rnemasuki api karena kebodohan mereka sendiri. Mau cari mati! Tapi, di antara laron-laron itu, ada juga beberapa yang akan rnenjawab pertanyaan kita dengan pertanyaan lain, ‘Apa? Cari mati? Apa maksudmu?’

Apa yang kita lihat sebagai api, apa yang kita sebut kematian — bagi mereka memiliki definisi lain.

API ITU ADALAH API CINTA – Mereka sedang memasuki Kolam Cinta. Mereka mabuk kepayang dalam Cinta. Cinta dengan nyala api, yang adalah pencerahan yang terjadi di dalam diri mereka sendiri. Mereka tidak mati. Mereka sedang menuju kehidupan abadi. Api pencerahan memurnikan Jiwa mereka dan mengantar mereka pada keabadian. –

Jadi, walau tampak sama — lain laron yang menuju kematian, dan lain pula laron yang menuju keabadian.

Kita semua lahir, hidup sebentar, dan mati. Itu pada level raga. Tidak ada seorang pun yang hidup untuk selamanya. Setidaknya, saya tidak pemah bertemu dengan seorang anak manusia yang tidak pernah mati. Atau, tidak akan mati.

Namun, lain dimensi raga, dan lain dimensi Jiwa. Ketika lsa bersabda, ‘Siapa pun yang mengenal-Ku, mendapatkan kehidupan abadi, maksud-Nya jelas bukan kehidupan abadi pada level raga. Tapi, pada level Jiwa. Dan, mengenal-‘Ku’ pun bukanlah rnengenal-Nya di level badan, tapi di level Jiwa – di  mana, Ku-Dia dan Ku-Anda, Ku-kita adalah satu dan sama.” (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)