Wejangan Anand Krishna: Bahagia Karena Jatuh dan Mampu Bangkit Kembali

Pada saat acara Temu Hati Sehat Jiwa Sehat Raga dengan Bhagavad Gita di Jogja pada tanggal 15 Februari 2018, Guruji Anand Krishna mengingatkan tentang 4 circuit kebahagiaan yang tidak tergantung adanya keluarga dan sebagainya.

Beliau menyampaikan penelitian Neuro Science oleh Scientist Richard Davidson yang intinya ada Jaringan Utama di otak kita. Kalau dulu hanya berupa foto, sekarang kita bisa melihat real time kegiatan otak seperti apa yang berdenyut 200 kali per menit. Ada sebuah Research and Development tentang adanya 4 circuits for wellbeings. 4 hal yang membuat bahagia:

 

  1. Pertama adalah Pandangan Positif.

Pandangan Positif lain dengan Berpikir (maunya) Positif saja, seperti agar positif debu disembunyikan dibawah karpet. Pandangan Positif adalah memandang positif terhadap segala hal. Bahkan orang yang sedang depresi pun memiliki circuit ini. Sifat dasar bawaan ini muncul kalau kita sering latihan meditasi.

 

  1. Bangkit lagi setelah jatuh

Anak-anak kecil yang berlatih berjalan selalu jatuh dan kemudian bangkit lagi. Ada sifat dasar bawaan kita setelah jatuh kita bisa bangkit lagi dan darinya muncul kebahagiaan. Pada dasarnya kita adalah tangguh. Sirkuit tersebut sudah ada dan dengan meditasi bisa aktif lagi.

 

  1. Fokus

Ternyata orang yang bahagia itu fokus pada kehidupannya. Fokus lain dengan konsentrasi. Pada waktu kita belajar nyetir mobil kita konsentrasi bahkan nggak mau diajak bicara. Pada waktu kita sudah mahir mengendarai mobil kita bisa fokus menyetir dan bisa memperhatikan sekitar bahkan ngobrol dengan teman yang berada di mobil. Menurut penelitian hampir 50% orang tidak fokus pada kehidupannya.

 

  1. Generous, murah hati, dermawan

Kita bahagia setelah bisa membantu seseorang. Seorang dermawan mengaktifkan circuit otak yang merupakan kunci kebahagiaan.

Manusia datang ke dunia dengan kebaikan dasar bawaan tersebut. Guruji Anand Krishna menyarankan mungkin dimulai dengan dermawan, murah hati. Dan seorang yang bahagia tubuh dan pikirannya menjadi lebih sehat.

 

Pengalaman Pribadi Bangkit Kembali di Usia Senja

Pada hari Jumat diakhir bulan Februari 2019, saya dan istri menghadiri klas di Jogja. Kebetulan pas makan setelah menyetir dari Solo di Prambanan saya salah makan sambal pedas. Perut rasa ngggak enak. Setelah selesai kelas langsung pulang dan meyetir sambil menahan sakit. Sudah beberapa kali berhenti di perjalanan. Pertama di apotik, istri beli obat maag. Kemudian di pompa bensin muntah-muntah.

Mau nginap di perjalanan pun percuma, jalan terus sampai ke rumah dan istirahat. Esoknya belum bisa ke dokter. Tubuh gemetar. Benar juga pada waktu sakit yang repot sekitar,istri anak jadi repot.

Hari Minggu diantar anak kedokter 24 jam dan memperoleh obat. Saya hati-hati sekali minum obat, ada obat yang tidak baik bagi ginjal saya. Selama ini dengan diet dan hati-hati makan obat sudah 3 tahun kreatinin kami tidak naik dari 2.4. bagi saya itu sudah bagus mengingat gaya hidup di waktu muda yang kurang memperhatikan kesehatan.

Dokter mengatakan bahwa tubuh gemetaritu karena saya tidak makan. Sakit maag itu memang demikian, yang penting diingat-ingat apa yang menyebabkan sakit dan tidak diulangi.

4 hari harus berbaring di tempat tidur, tetapi saya tidak mau diopname di rumah sakit, nanti istri dan anak semakin repot demikian pula handai taulan dan sahabat. Di Rumah Sakit akan dicheck banyak hal dan keluar dari rumah sakit akan butuh waktu lama, ditunda-tunda akan membosankan. Demikian pengalaman famili kami. Berat badan kami turun 6 kg.

Saya dan istri ingat Video Guruji tentang The Years of Shiva 2019-2024 dalam bahasa Inggris dan subtitle Indonesia. Tahun-tahun Shiva dimulai September 2018. Mereka yang tidak mau berubah akan ditelan Shiva. Apakah saya termasuk yang akan didaur-ulang oleh Shiva? Oleh karena itu selain mantra sadguru saya lebih banyak membaca Maha Mrityunjaya, kalau mau sembuh agar cepat sembuh, kalau sudah waktunya daur-ulang agar tidak berlama-lama.

Silakan lihat:

Tiba-tiba saya ingat waktu saya berusia 35-an waktu kena tembak pecahan M-16 sewaktu menjadi Pemimpin Proyek Irigasi AcehUtara. Limpa diangkat dan paru-paru dijahit. Bapak Direktur Irigasi menyarankan berobat keSingapura dan akan diselesaikan beliau. Saya nggak tahu pada waktu itu saya menjawab,”Pak dari dulu saya itu percaya diri saya. Saya yakin saya akan sembuh. Saya berobat di Jakarta saja.” Dalam hati saya teguh, saya tidak akan mengkhianati kepercayaan dalam hati saya hanya demi berobat ke luar negeri.

Di usia senja, menjelang 65 tahun, ini adalah sakit kami yang cukup parah sampai 4 hari berbaring di tempat tidur. Terima kasih istri dan anak yang telah merawat dan menjaga semangat.

Hari Minggu berikutnya teman-teman Solo mengadakan acara free healing di Solo Car Free Day dan bisa berjalan lancar.

Jumat berikutnya sudah berani mengajak istri datang hari Jumat ke Jogja walau naik Kereta api dan pulang naik bis. Belajar Bangkit!

 

Mencatat transkrip video Bhagavad Gita Sehari-hari oleh Guruji Anand Krishna

Setiap video dari Guruji Anand Krishna selalu kami download disimpan di laptop dan flash disk untuk diputar lewat pesawat televisi agar saya dan istri bisa memahami dengan lebih jelas penjelasan Guruji.

Kami hampir selalu bertiga nonton video Guruji, apakah saya istri dan anak saya, atau dengan saudara istri saya.

Selanjutnya saya mulai mencatat transkrip untuk pendalaman pribadi. Banyak hal yang terlewatkan kalau saya tidak catat di laptop catatan tersebut.

Kami mencoba upload di blog dan FB dan memperoleh petunjuk berharga dari Pak Joehanes Ashram.

Walau orang sudah melihat youtube tapi mengulangi ingatan dengan melihat transkrip terasa bermanfaat. Ada juga yang setelah melihat transkrip kemudian ingin melihat sendiri youtube yang lebih mantap.

Demikianah sehari-hari kami mencatat dan mempelajari Bhagavad Gita oleh Guruji Anand Krishna.

Pada waktu sakit, saya tidak melakukan sadhana pagi, kemudian agnihotra saja, sampai akhirnya kembali melakukan sadhana pagi lengkap dengan agnihotra.

Beras bekas araati kita sebar untuk makanan burung-burung yang setiap pagi datang. Sekali seminggu kami bersama istri dan anakmelepaskan ikan lele 8 ekor di sungai kecil sekitar 2 km dari rumah dimana sungai tersebut bermuara di Bengawan Solo. Ikan lele yang seharusnya mati kita lepaskan ke sungai.

Mungkin sebagai orang yang sudah tua, kami sudah tidak dapat aktif lagi di ashram, akan tetapi 4 circuit tetap kami sekeluarga jadikan panduan.

Menghormati leluhur setahun 2 kali dengan doa dan berbagi sembako juga masih rutin kita laksanakan. Pada hari-hari tertentu berbagi nasi kotak seperti yang pernah diajarkan oleh Guruji.

Anak-anak kami semua berbhakti pada orang tua dan membuat kami hanya memikirkan kebaikan, anak-anak mencukupi kebutuhan kami.

Demikianlah, kami dan istri menjalani sisa hidup yang diamanahkan kepada kami.

Masih ada Pekerjaan Rumah Purna-Waktu yang harus dilakukan seperti dalam Catatan: Wejangan Anand Krishna: Setiap Orang Mendapat Peran di Dunia, Saat Kembali Ke Tuhan, Peran Jangan Dibawa

Silakan baca: https://gitakehidupansepasangpejalan.wordpress.com/2019/03/10/wejangan-anand-krishna-setiap-orang-mendapat-peran-di-dunia-saat-kembali-ke-tuhan-peran-jangan-dibawa/

 

Terimakasih.

Advertisements

Wejangan Anand Krishna: Kecewa dengan Keluarga atau Teman Dekat, Mengapa?

“Ia yang bebas dari keterikatan, keakuan serta rasa kepemilikan (punya-‘ku’, keluarga-‘ku’,dan sebagainya); kesadarannya terpusatkan pada Pengetahuan Sejati tentang Hakikat Diri sebagai Jiwa; dan berkarya dengan semangat persembahan – sesungguhnya telah terbebaskan dari segala konsekuensi perbuatannya.” Bhagavad Gita 4:23

https://bhagavadgita.or.id/

 

Kebanyakan kekecewaan kita itu karena keluarga kita sendiri. Kita berantem, juga kebanyakan dengan keluarga, atau dengan teman baik. Pernah nggak, berantem dengan orang asing ayang nggak ada hubungan sama sekali? Tidak bisa berantem. Mau berantem bagaimana, jadi kita berantem juga dengan orang-orang yang dekat sama kita. Kecewa juga bukan tentang orang lain, kecewa pun karena, anak kita sendiri. Kita pikir anak nanti kalau besar, akan begini, begini. Belum tentu. Mau dikasih pendidikan sebaik-baiknya, mau diapakan juga, dia juga punya karma sendiri. Ya kita tetap berbuat, tetap memberikan saran yang baik, advis yang baik, kalau kapan-kapan perlu dijewer kupingnya, kita jewer juga. Nggak ada salahnya. Mau ditegor? Ditegor.

Tetapi jangan mengharapkan, kita melakukan tugas kita. Sebagai orang tua, tugas kita adalah memberikan advis yang baik kepada anak-anak kita. Tapi kalau mengharapkan dia pasti akan mendengarkan saya, belum tentu. Dan itu sebabnya kita kecewa.

Saya lagi baca pengalaman orang, ya kakek dan nenek tinggal dikampung. Cerita Bali di kampung, anaknya kerja di Denpasar. Denpasar kampungnya dekat Negara, cukup jauh 3 jam, 2.5-3 jam, kan? Jadi anak ini datang seminggu sekali, lumayan banyak anak yang  nggak mau peduli lagi. Ini sekali seminggu pulang. Banya kanak yang Cuma pulang kalau Cuma ada odalan. Kalau nggak ada odalan nggak datang.

Ini nggak seminggu sekali datang. Kebetulan sekali waktu dia nggak bisa datang 2 minggu 3 minggu, karena dia punya pekerjaan tidak memungkinkan. Dia kerja di hotel. Ibu dan bapak, nenek dan kakek yang tinggal di kampung selama ini oke-oke. 2 minggu nggak datang anaknya telpon, dibilang ibu, saya nggak bisa datang dan ibu juga oke, bapak oke.

Datanglah tetangga kok anakmu nggak datang 2-3 minggu ada apa? Digosok-gosok anak zaman sekarang nggak benar, nggak peduli ibu nggak peduli bapak sudah tua, ditinggal begitu. Jadi stress orang tua ini. Tadinya oke-oke. Tetapi karena tetangga, nggak begini nggak begitu, kebanyakan kita begitu lho. Hati-hati sama tetangga dan pembantu. Pembantu juga begitu.

Mau mencari hati majikan pria dia gosok-gosok wanita. Mau cari hati wanita dia gosok-gosok pria. Dari zaman Ramayana begitu. Manthara, dia nggak suka sama Rama dia gosok-gosok Keikayi, sampai Rama diasingkan. Ingat kan ceritanya. Gara-gara siapa? Pembantu. Jadi Ramayana mengatakan hati-hati dengan pembantu. Hati-hati dengan tetangga. Jangan terbawa, dan kalau kitasendiri menjadi pembantu, pembantu kan luas sekali kan? Setiap orang yang bekerja disuatu perusahaan besar, ada boss berarti kita pembantu kan?

Kita juga jangan bertindak sebagai Manthara. Jangan menjadi pencipta konflik, provokator. Jadi  sekarang kalau ada orang provokasi,katakan dengan baik-baik jangan jadi Manthara dong? Tapi kalau dia tanya mungkin dia tidak ngerti mungkin dia lupa siapa Manthara, kita baca Ramayana itu kan kita ingat siapa? Rama, Sita, Lakshmana. Mungkin Manthara sudah lupa. Kalau ada provokator yang datang ke tempat, Anda bilang sama dia, jangan jadi Manthara. Anaknya tanya kepada saya ini ibu dan bapak saya harus saya apakan? Stress berat mereka sekarang, dulu nggak pernahstress. Saya bilang pergilah kekampung. Sampaikan cerita Manthara ini dan bilangkan kepada ibumu, itu tetangga yang gosok-gosok ibu itu adalah reinkarnasinya Manthara. Jadi jangan digubrisin, di ambil dalam hati. Dengar buang. Begitu.

Kalau ada orang yang memprovokasi Anda, jangan jadi Manthara. Atau lebih bagus lagi, pegang kaki dia, sujud sama dia bilang wahai ibuku bapakku, saya berbahagia sekali, bila didatangi oleh rekan Manthara tapi tolong saya nggak butuh kamu. Manthara-manthara ini ada di dekat kita. Dia menciptakan rasa iri, rasa sombong, coba lihat tetangga itu punya mobil baru. Kamu belum punya apa-apa. Perempuan saya nggak tahu di sini, saya pernah cerita kan? Banyak sekali perempuan kalau lagi jalan, tangannya begini (kepalan tangan diperlihatkan), ada nggak disini yang begini. Banyak, mungkin disini nggak. Tapi kalau di kota-kota besar begitu. Jalan itu begini tujuanny aapa? Mau kasih lihat saya pakai cincin baru.

Pria juga begitu, dia  punya masalah lain lagi. Tapi begitulahrasa iri, sombong, irinya lain kalau pria. Kalau perempuan irinya lain. Di kota-kota besar perempuan kalau mau fashion mau modis bajunya tambah pendek. Belahannya tambah rendah, kalau cowok mau jadi ganteng, bajunya tetap lebih rapat lagi. Pakai dasi pakai jas, pakai ini, kan gila. Yang suka masuk angin itu kan perempuan. Kok mau jadi modis baju belahannya makin rendah. Pria yang sudah kegerahan, mau modis malah tutup-tutup. Nggak masuk akal kan? Tapi itulah dunia kita.

 

“Persembahan adalah Brahman – Gusti Pangeran, Sang Jiwa Agung, Tuhan Hyang Maha Esa; tindakan mempersembahkan pun Dia; dan Dia pula yang mempersembahkan kepada Api Hyang Menyucikan, yang adalah Dia juga. Demikian, seseorang yang melihat-Nya dalam setiap perbuatan, niscaya mencapai-Nya.” Bhagavad Gita 4:24

https://bhagavadgita.or.id/

 

Brahmapanam brahma havir brhamagnau brahmana hutam, brahmaiva tena gantavyam brahma-karma-samadhina

Ini sloka yang sudah kita baca sebelum makan, persembahan adalah Brahman, Gusti Pangeran, Sang Jiwa Agung. Tuhan Yang Maha Esa. Tindakan mempersembahkan pun Dia dan Dia pula yang mempersembahkan kepada api yang menyucikan. Yang adalah Dia juga. Demikian seseorang yang melihat-Nya, dalam setiap perbuatan, niscaya mencapai-Nya.

Semua kegiatan dalam hidup kita, brahmapanam brahmahavir kita melaukan bukan karena membaca ini, setiap kali mau makan, sudah makan. Makanan juga sudah bagus. Makanan sudah bergizi, proses makannya sudah bagus, piringnya hygienis bersih semua, tapi kalau pencernaan kita nggak bagus. Tetap juga makanan sebagus apa pun selezat apa pun nggak bisa dicerna.

Jadi sloka ini mengatakan, segala sesuatu itu butuh grace anugrah Sang Hyang mau disebut apa pun Tuhan, Gusti, Sang Hyang Widi, terima kasih untuk makanan, terimakasih untuk bahwa saya sudah bisa makan, terimakasih ada berkah, ada uang sehingga bisa beli makanan, terimakasih juga kepada api pencernaan, dalam diri kita, bahwa kita sudah bisa makan, sudah bisa mencerna, sehingga apa yang kita makan itu, bisa menjadi vitamin, bisa menjadi darah sumsum menjadi apapun. Setiap saat kita ingat bahwa apa pun yang kita lakukan, adalah suatu persembahan. Offering,  yajna.

Bukan Cuma yajna kita melakukan pekerjaan bukan Cuma itu. Itu juga boleh tapi bukan Cuma itu sedang makan pun, anggap itu sebagai persembahan, kepada Dia, yang bersemayam dalam diri kita. Kalau kita bisa berpikir seperti itu,hidup kita akan menjadi lebih bahagia.

 

“Sebagian Yogi menghaturkan persembahan kepada para dewa, atau kekuatan-kekuatan alam. Sebagian lagi menghaturkan ‘diri’-nya sebagai persembahan kepada Brahman.”Bhagavad Gita 4:25

https://bhagavadgita.or.id/

 

Banyak di antara kita yang memuja para dewa. Memuja banten kita, mecaru kadang-kadang, untuk buta kala, untuk dewa, tetapi ada juga persembahan lain, berbuat sesuatu untuk masyarakat, itu adalah persembahan kepada Brahman. Persembahan kepada Yang Maha Tinggi. Dalam bahasa Sanskerta ada istilah manava seva, melayani sesama manusia, itu sama dengan madava seva, melayani Tuhan. Nara Seva Narayana Seva. Melayani Nara manusia, adalah melayani Narayana. Tuhan Yang Maha Kuasa.

Persembahan yang berbentuk banten dan sebagainya silakan. Tetapi jangan lupa, mempersembahkan waktu kita, untuk melayani sesama. Itu yang penting sekali. Kadang perlu uang, kadang tidak ada uang juga tidak apa-apa. Banyak orang-orang tua yang kesepian, bukan Cuma orang tua kita saja. Orang tua kita juga jangan ditinggalkan, tapi banyak sekali orang-orang tua yang kesepian. Coba pergi kepada mereka. Seminggu sekali berikan, waktu setengah jam, satu jam. Bicara-bicara, bacakan Bhagavad Gita, bacakan sesuatu jelaskan sedikit maknanya. Itu adalah persembahan kepada Brahman. Bukan Cuma persembahan berupa ini, tapi persembahan yang sesungguhnya dengan melayani sesama. Terima kasih.

Sumber: Video Youtube Bersama Anand Krishna Bhagavad Gita Sehari-Hari Ayat 04:18-25 Bekerja Sepenuh Hati Tanpa Beban dan Rasa Khawatir

https://www.youtube.com/watch?v=0UpZAyo5Q04

https://www.akcjoglosemar.org/wp/

https://www.anandkrishna.org/

 

Wejangan Anand Krishna: Berkarya Tanpa Beban dan Bebas dari Konsekuensi

“Ia yang melihat akarma dalam karma, tidak berbuat saat berbuat; dan karma dalam akarma, berbuat saat tidak berbuat; adalah searang bijak, seorang Yogi, yang telah mencapai kesempurnaan dalam Yoga. Ia telah ber-karma, berkarya secara sempurna.” Bhagavad Gita 4:18

https://bhagavadgita.or.id/

 

“Seseorang yang berkarya tanpa keinginan duniawi dan harapan akan imbalan, telah tersucikan seluruh karma, seluruh perbuatannya, oleh api kebijaksanaan sejati. Para pandit, mereka yang berpengetahuan pun menyebutnya seorang bijak.” Bhagavad Gita 4:19

https://bhagavadgita.or.id/

 

Berbuat seperti tidak berbuat. Kalau seseorang memahami hal ini. Kalau kita ada yang suka melakukan sesuatu, misalnya seorang seniman. Dia suka memahat, dan kemudian profesinya pun sebagai seniman. Hasil seni itu dia jual, dan dia mendapatkan keuntungan, yang wajar dia bisa menjalankan kehidupannya dengan profesi itu.

Seorang seniman yang juga suka seni, terus bisnisnya juga sebagai penjual benda-benda seni, dia ketika sedang melakukan pahatan atau apa, dia menikmati. Tidak ada beban, dia berbuat tapi tanpa beban.

Kalau seorang ibu di rumah, dia suka masak dia masak untuk anaknya untuk suaminya tidak ada beban, karena dia suka masak. Tapi kalau tidak suka masak, atau punya pekerjaan yang tidak suka, hanya karena uang kita bekerja, bebannya luar biasa. Tetapi di pihak lain juga, apakah mungkin setiap kali, kita mendapatkan pekerjaan sesuai dengan kesukaan kita. Tidak juga,

Kadang-kadang kita harus bekerja melakukan pekerjaan sesuatu yang kita tidak suka. Krishna menjelaskan bagaimana kita berbuat, seperti tidak berbuat. Tanpa beban. Sukailah pekerjaan itu walaupun pekerjaan itu tidak suka. Kita bisa mengubah pikiran kita. Anggap itu adalah pemberian, tugas dari Sang Hyang Widhi, dari Gusti dari Tuhan apa pun sebutannya. Adalah berkah yang saya peroleh inilah peran yang saya peroleh, dan saya harus melaksanakan tugas saya, peran saya. Kalau kita bisa seperti itu, pekerjaan apa pun tidak akan membebani kita. Kita bisa melakukan dengan sangat mudah bahkan menikmati. Tidak ada beban sama sekali. Ini yang dimaksudkan oleh Krishna. Berbuat seperti tidak berbuat. Kalau tidak begitu kita sendiri akan gelisah. Dan Krishna juga mengatakan dalam sloka berikutnya:

Berkarya tanpa keinginan duniawi dan harapan akan imbalan, karena imbalan akan dapat. Jadi kalau kita mikir terus, saya lagi membuat ini, buka warung, warung makanan. Saya lagi masak, nanti ada yang beli nggak, ada yang beli nggak. Pikiran kita yang kacau, akan membuat makanan kita tidak laku.

Dalam pekerjaan apa pun juga. Kalau pikiran kita kacau, jangan-jangan begini, jangan-jangan begitu pekerjaan kita pasti tidak akan bagus hasilnya. Jadi Krishna mengatakan, sepenuhnya fokus pada pekerjaan dan nikmati. Penting sekali adalah nikmati pekerjaan. Sehingga tidak ada beban. Kalau tidak menikmati, akan terasa membebani.

 

“Seseorang yang tidak terikat dengan hasil perbuatannya, tidak perlu bergantung pada dunia benda. Ia senantiasa dalam keadaan puas batiniah. Kendati tetap berkarya, sesungguhnya ia tidak berbuat apa-apa.” Bhagavad Gita 4:20

https://bhagavadgita.or.id/

 

Kalau kita menikmati, dan kita tidak selalu memikirkan hasil melulu, karena hasil akan datang nggak bisa nggak datang. Pasti datang. Kalau kita berbuat tanpa mengharapkan tanpa memikirkan hasil melulu. Maka apa yang terjadi, sesungguhnya ia bekerja, berkarya tapi seperti tidak berkarya. Bayangkan dalam keseharian hidup, kita juga begitu. Kalau sedang melakukan sesuatu yang suka nggak ada beban, kita seperti menjalani dengan mudah sekali.

 

“Seseorang yang telah menguasai dirinya, pikirannya; dan, tidak lagi memiliki rasa kepemilikan terhadap benda-benda duniawi, walau berbuat sesuatu yang bersifat fisik murni, tetaplah bebas dari konsekuensi segala perbuatannya.” Bhagavad Gita 4: 21

https://bhagavadgita.or.id/

 

Ada orang, bekerja dan selalu yang diapikirkan saya mau belimobil. Beberapa hari yang lalu saya mendengar, cerita ini saya mau membeli mobil, jadi bekerja itu dia hanya tujuannya bukan apa-apa lagi, mau membeli mobil, mau membeli mobil. Dan dia bilang saya kuatir sekali, kalau saya sudah tahu beli mobil, mau bayar uang muka, kalau ada seseorang yang sakit dalam keluarga saya bagaimana? Uang muka itu kalau kepakai bagaimana? Saya kuatir sekali. Dan kekuatiran dia bilang memuncak sampai saya itu nggak bisa kerja nggak bisa apa cuma mikirkan uang, di bank 20-an juta mau beli mobil yang harganya berapa, mikirkan terus 20 juta jangan sampai habis, jangan sampai habis. Dia bilang kemarin apa yang terjadi, anak saya kecelakaan dan sekarang dia di rumah sakit, kita nggak tahu berapa habisnya. Mungkin saya harus pinjam uang lagi.

Ini pemikiran kita, pikiran yang kacau. Jangan-jangan begini, jangan-jangan begitu. Jadi nggak ada fokus pada pekerjaan, malah yang dipikirkan, yang bukan-bukan, dan yang terpikir yang bukan-bukan itu malah terjadi. Jadi berbuatlah tanpa banyak pikiran berbuatlah yang terbaik hasilnya pasti ada.

 

“Ia yang puas dengan apa yang diperolehnya; bebas dari segala pertentangan, yang tercipta oleh dualitas; bebas dari rasa iri; dan, seimbang dalam keberhasilan maupun kegagalan – sesungguhnya telah bebas dari segala keterikatan walau ia tetap berkarya.”Bhagavad Gita 4:22

https://bhagavadgita.or.id/

 

Ada orang lain, punya  toko di satu tempat di Jakarta di mall, di mall kan satu jenis dagangan, semua buka itu. Saya nggak tahu, di sini saya nggak begitu memperhatikan, tapi di Jakarta ada satu mall, dekat Sunter, di sana ada satu lantai semuanya jual handphone. Handphone, gadget semua toko jual itu. Ada nggak di sini? Ada ya. Satu lantai jual itu. Dan dia lagi jualan, dan dia lagi perhatikan, wah ditoko sebelah ada tamu, ada client, ada langganan, dan mungkin beli handphone yang lebih mahal, saya disini lagi melayani orang yang kere, tidak punya uang dia mau beli handphone yang murah. Malah handphone yang murah itu pun dia nggak bisa jual. Karena dia mau jualan barang tapi pikirannya di sebelah.

Bayangkan lagi bawa mobil, bukan memperhatikan jalan, bukan memperhatikan mobil, memperhatikan orang lain di sana ada satu tabrakan.kita memperhatikan tabrakan. Kita sendiri bisa ditabrak orang. Banyak orang begitu kan, nggak ada urusan kalau mau bantu silakan, ada yang tabrakan mau bantu silakan, parkirkan mobil, bantu orang ini. Ini mau nonton, mau nonton di belakang ada yang suka nonton, diantem. Diantem bukan salah saya. Kenapa bukan salah kamu, bagaimana bukan salah kamu, dia tanya karma buruk apaini, kalau semuanya dikaitkan dengan karma periksa juga dirimu. Tiba-tiba di toll, dimana setiap orang lagi jalan dengan kecepatan 80 kamu mengerem, dan menjadikan jalan 40 km/jam, di belakang belum tentu orang bisa rem secepat itu. Ya dihantam. Kalau mau bantu ya silakan, menyamping.Jadi begitulah kita kebanyakan, kitamemperhatikan hal-hal yang tidak penting,

Sumber: Video Youtube Bersama Anand Krishna Bhagavad Gita Sehari-Hari Ayat 04:18-25 Bekerja Sepenuh Hati Tanpa Beban dan Rasa Khawatir

https://www.youtube.com/watch?v=0UpZAyo5Q04

https://www.akcjoglosemar.org/wp/

https://www.anandkrishna.org/

 

 

Wejangan Anand Krishna: Setiap Orang Mendapat Peran di Dunia, Saat Kembali Ke Tuhan, Peran Jangan Dibawa

“Karma atau tindakan apapun tidak memengaruhi-Ku, mengngikat-Ku, karena Aku tidak terikat pada hasil karma.Seseorang yang memahami hakikat-Ku ini terbebaskan pula dari segala keterikatan pada karma dan hasilnya.” Bhagavad Gita 4:14

https://bhagavadgita.or.id/

 

Ini penting sekali. Kalau kita sadar, saya sebagai pengusaha, tapi yang menjadi pengusaha itu siapa? Badan,otak, Jiwa tidak menjadi pengusaha. Atma tetap adalah bagian percikan dari Sang Hyang Widhi. Begitu seleai pekerjaan kita, dalam dunia ini, apa yang terjadi? Semestinya apa yangterjadi? Saat saya mati semestinya saya itu sadar sekarang pertunjukan sudah selesai. Saya pulang. Tidak terikat dengan pertunjukan itu.

Kita sekarang ini terikat dengan pertunjukan. M kanya bolak-balik lahir lagi. Lahir lagi, lahir lagi. Sudah mau mati seharusnya semuanya bebas, tapi kita terikat. Wah saya jadi pengusaha ini, kalau saya mati,usaha siapa yang jalankan. Keterikatan, keterikatan dengan keluarga, keterikatan dengan siapa, itu membuat kita lahir kembali lahir kembali.

Selama kita berada di atas panggung. Kita semua sedang di atas panggung. Ada yang pak Nyoman panggungnya di galery dia, ibunya juga di sana. Ada pak Suartika yang panggungnya di rumah sakit. Ada Dharma panggungnya jadi PNS. Setiap orang,ini panggungnya tourism industries, Wiranatha. Ada yang panggungnya sebagai mahasiswa. Ini panggung.

Selama kita di panggung, kita menjalankan tugas. Kalau sudah mau pulang, panggung jangan dibawa pulang. Misalnya di sini mau main pentas, jadi Sutasoma di situ, jadi Gatotkaca. Atau jadi Rahwana. Makai topeng segala jadi Rahwana. Terus karena sudah main sebagai Rahwana, pulang-pulang topengnya dibawa pulang juga. Di rumah pun jadi Rahwana. Bisa nggak, boleh nggak? Nggak kan. Nah kita ini membawa pulang topeng, sudah mau mati topengnya dibawa lagi, lahir lagi. Pakai topeng yang sama.

Kalau kita sadar waktu itu, waktu kematian, pertunjukan saya sudah selesai sekarang. Coba saya cari pertunjukan baru. Kita sekarang ini lahir di situ- situ juga. Saya sering mengatakan kan, dulu jadi kakek sekarang jadi cucu. Kita pikir itu hebat. Nggak, itu berarti kita bodoh. Nggak maju-maju kita.

Di situ-situ saja. Makanya di sinetron kalian suka lihat kan, sinetron-sinetron India yang nggak masuk akal. Setiap saat berantem terus. Dan mau berantem harus pelan-pelan ngomong. Orang berantem ya berantem ini masak,3 kali diulangi, masak, masak. Mana ada orang omong begitu, sinetron itu 20 menitan, dia kehabisan cerita, jadi dipanjang-panjangi dan kita seperti orang bodoh dibodohin terus. 3 kali masak. Orang mau berantem, berantem nggak ada 3 kali ngomong dulu. Nggak ada.

Nah ini kita terpengaruh oleh pertunjukan, dan kita mengulangi lagi pertunjukan. Itu dari masa ke masa. Kalau kita sadar pertunjukan itu telah selesai. Saya jadi Rahwana, saya jadi Krishna, jadi Rama, di atas panggung, sekarang saya pulang ke rumah, kembali jadi Wayan, kembali jadi Ketut, kembali jadi Made kembali jadi Nyoman. Jangan jadi Nyoman Rahwana. Jangan jadi Putu Rahwana. Rahwana tinggalkan di panggung. Ini maksudnya Krishna.

 

“Kendati demikian, setelah mengetahui Hakikat Jiwa, yang sesungguhnya tidak terlibat dalam suatu karya; para bijak sejak dulu, tetaplah berkarya semata untuk meraih kebebasan sejati atau moksa. Sebab itu, hendaknya engkau pun mencontohi mereka dan berkarya sebagaimana mereka berkarya.” Bhagavad Gita 4:15

https://bhagavadgita.or.id/

 

Saya tahu, saya Anand Krishna, tapi kalau saya diberikan peran di atas panggung, jadi Rama atau jadi Krishna, jadi Rahwana. Saya harus tetap memainkan peran saya. Jangan ngotot di sana. Seperti anak kecil, ditanya dia nggakbaca, crita sudah dikasih pekerjaan, harus baca Ramayana. Nggak baca, guru bertanya siapa menculik Sita, semuanya tahu kan, anak itu angat tangan. Bu, bukan saya culik. Nggak tahu cerita dia. Nah kita harus pintar-pintar, kalau diatas panggung harus tahu cerita juga. Nggak bisa di sana ngotot. Bukan saya yang culik. Nggak bisa. Dikasih cerita dikasih peran,nah ini kita  semua mendapatkan peran nih. Peran saya duduk di sini. Peran kalian duduk di sana. Tapi ini semua peran. Jangan sampai saya pikir wah saya karena peran saya duduk di kursi ini saya orang hebat. Nah ini akan mencelakakansaya.

Karena mendapatkan peran sebagai Sutasoma, saya pikir saya sudah menjadi satria yang hebat. Bisa menaklukkan naga bisa menaklukkan gajah, bisa menaklukkan singa. Pergi ke kebun binatang, dia masukin tangan ke dalam kandang singa. Kita terpengaruh oleh peran, perannya begitu tidak berarti kamu sudah jadi hebat. Karena kebetulan perannya seperti itu. Mainkan peran dengan baik. Mainkan dengan sempurna, tapi jangan sampai menjadi egois bahwa saya hebat, saya apa, selalu ingat bahwa semuanya ini adalah peran. Jadi tetap kita mainkan peran, tidak meninggalkan pekerjaan, dan kita belajar orang-orang yang sedang melakukan peran itu orang bijak selalu berkarya, sesuai dengan perannya. Dan kita contohi. Kita harus mencontohi bagaimana mereka menjalankan peran dengan baik, kita juga harus menjalankan peran kita dengan baik. Peran sebagai bapak, peran sebagai ibu, peran sebagai istri, peran sebagai adik sebagai kakak, peran sebagai anggota banjar. Peran sebagai pedanda. Peran sebagai apapun. Harus dijalankan baik, sesuai dengan peran itu.

 

“Apa hakikat karma atau perbuatan, dan apa pula hakikat akarma atau tidak berbuat. Hal ini telah membingungkan banyak orang, sekalipun sudah berpengetahuan. Sebab itu, akan Ku-jelaskan padamu tentang hakikat karma. Pengetahuan hakiki ini dapat membebaskan dirimu dari segala akibat tidak baik, tidak mulia, dari perbuatanmu.” Bhagavad Gita 4:16

https://bhagavadgita.or.id/

 

“Hendaknya searang mengetahui kebenaran tentang karma, perbuatan; tentang akarma, tidak berbuat, dan, tentang vikarma, perbuatan jahat yang menyengsarakan, dan mesti dihindari. Memang sungguh sulit memahami kinerja karma, rahasia karma.” Bhagavad Gita 4:17

https://bhagavadgita.or.id/

 

Jadi kita harus tahu, kita akan lanjutkan lagi minggu depan, apa itu karma, kapan kita harus berbuat karma. Kapan kita tidak berbuat, akarma. Dan apa pula vikarma, karma yang jelek itu apa? Kalau diberi kata vi itu menjadi jelek. Jadi kalau punya anak lain kali jangan dikasih pakai nama vi. Saya dengar ada orang kasih nama anaknya vijayanti. Jaya itu jaya wijayanti itu semoga tidak berjaya. Wiranatha masih lain. Wira. Kadang-kadang kita terjebak, Vijaya sendiri masih masuk akal, tapi kadang-kadang kita memberikan nama, merta-amerta. Merta ituadalah mati. Amarta itu abadi. Kadang-kadang kita maunya dipersingkat, malah kacau namanya. Jadi Krishna mengatakan kita harus tahu apa maksud karma itu apa, yang harus kita lakukan apa, apa yang menjadi karma yang buruk yang harus kita hindari yang akan kita lanjutkan minggu depan. Terima kasih.

Sumber: Video Youtube Bersama Anand Krishna Bhagavad Gita Sehari-Hari Ayat 04:11-17 Mermahami Kasta Memahami Kebenaran Varna

https://www.youtube.com/watch?v=5kcpd7x6vxg

https://www.akcjoglosemar.org/wp/

https://www.anandkrishna.org/

Wejangan Anand Krishna: Jangan Salah, Bukan Kasta Tapi Kelompok Profesi

“Partha (Putra Prtha —sebutan lain bagi Kunti, Ibu Arjuna), dengan cara apa pun seseorang mendekati—Ku, Aku menerima-Nya; karena, sesungguhnya setiap cara, setiap jalan yang ditempuh manusia adalah jalan-Ku, adalah jalan yang menuju-Ku.” Bhagavad Gita 4:11

https://bhagavadgita.or.id/

 

Inilah intisari dari ajaran Hindu. Kita tidak membedakan antara jalan. Kepercayaan-kepercayaan lain selalu mementingkan jalan. Jalan saya paling benar.

Jalan saya paling ini, paling itu. Tapi cara berpikirnya Hindu berbeda. Semua jalan menujuTuhan yang sama. Tetapi kita hidup ditengah masyarakat, di mana pemahaman umum tidak seperti ini, jadi kita serba sulit.

Bagi seorang Hindu seperti Vivekananda mengatakan, dia tidak punya masalah sama sekali, mau duduk bersama siapa pun juga. Dia tidak membeda-bedakan.

Tetapi ketika seorang anak kita, memeluk kepercayaan lain, tiba-tiba dia mengatakan orang tua saya kepercayaannya lain, maka dia lain dari saya, ini yang menjadi masalah. Hindu tidak melihatnya seperti itu. Tetapi Hindu juga tidak mengatakankarena semua jalan benar, maka kita jalan-jalan saja nggak usah menuju tujuan. Tidak demikian juga.

Semuajalan menuju ke ashram ini katakan, ada jalan dari utara dari selatan dari barat dari timur, dari mana pun juga. Tapi kalau memang ada orang yang jalan dari arah utara, apakah harus dipaksa jalan dari selatan. Kalau adaorang berangkat dari timur, apakah dipaksa datang dari barat?

Tidak. Kita mengatakan semua jalan betul, tapi tidak berarti kita meninggalkan jalan kita, dan mengadopsi jalan lain. Semua jalan baik, betul tapi kalau rumahnya di arah barat, apakah dia harus ke timur dulu baru datang kesini. Tidak kan? Kita menghormati semua jalan tapi, kita punya jalan sendiri. Setiap orang punya jalan sendiri. Dan Krishna mengatakan, ikutilah jalanmu masing-masing. Tidak perlu gonta-ganti jalan. Kitasemua akan menuju  tujuan yang sama.

 

“Makhluk-makhluk sedunia, yang menginginkan hasil cepat dari perbuatan mereka, umumnya memuja para dewa – kekuatan-kekuatan alam; dengan cara itu, mereka segera memperoleh apa yang mereka inginkan.” Bhagavad Gita 4:12

https://bhagavadgita.or.id/

 

Ada yang memuja roh-roh, ada yang memuja para dewa, ada yang memuja siapa saja,ada yang memuja pejabat untuk mendapatkan jabatan untuk mendapatkan apa, ada yang memuja partai politik, ada yang memuja bossnya. Kita memuja siapa saja untuk mendapatkan suatu hasil. Krishna mengatakan,ya ada juga orang-orang seperti itu.

Tapi dengan cara itu kita cuma  mendapatkan hasil di dunia ini. Tidak ada hasil lain. Apakah dengan mendapatkan satu jabatan kita mendewa-dewakan Boss, mendewa-dewakan orang penting. Kita mendapatkan jabatan. Apakah jabatan, itu bisa membahagiakan kita selamanya. Tidak. Kita bisa mendapatkan jabatan, fine oke. Tetapi untuk mendapatkan kebahagiaan sejati, kedamaian sejati kita tidak bisa mendapatkan dari dewa=dewaini. Di dunia juga banyak dewa seperti saya katakan tadi, boss adalah dewa. Petinggi adalah dewa, kita bisa mengagung-agungkan seseorang untuk mendapatkan sesuatu tetapi belum tentu semua itu membahagiakankita. Ujung-ujungnya kita harus kembali pada diri kita sendiri.

Untuk mendapatkan sesuatu yang bisa membahagiakan, menentramkan kita untuk selamanya.

 

“Pembagian tatanan masyarakat dalam empat bagian (cendekiawan, kesatria, pengusaha, dan pekerja) berdasarkan sifat dan peran mereka masing-musing adalah atas kehendak-Ku pula. Kendati demikian Aku Tak Terbagi, Aku Tetap Kekal Abadi, dan tidak pula terlibat dalam suatu tindakan.” Bhagavad Gita 4:13

https://bhagavadgita.or.id/

 

Ini yang kita salah pahami, sampai sekarang pun kita salah pahami. Pembagian yang sekarang kita sebut kasta, sebetulnya dalam bahasa Sanskerta adalah Varna. Varna itu berarti pembagian berdasarkan pekerjaan. Kalaupun seorang gembel mau menjadi pendeta dari kasta rendah mau jadi pendeta, dia mau ambil porsi sebagai pendeta, dia meninggalkan segala bentuk hal lain, dia menarik diri dari duniawi, boleh saja itu pekerjaan.

Krishna mengatakan bahwa pembagian itu bukan karena kelahiran. Coba bayangkan, Abhyasa, Vyaas yang mengumpulkan Veda, bapaknya konon seorang brahmana, ibunya adalah seorang biasa, penjual ikan. Dan lahir di luar pernikahan. Tapi karena pekerjaannya yang begitu mulia, kita menghormati beliau sebagai Jagad Guru. Beliau yang mengumpulkan Veda beliau yang menulis Mahabharata,

Jadi kita tidak melihat seseorang dari kelahirannya. Dari pekerjaannya. Mungkin seorang lahir dalam keluarga brahmana, bapaknya brahmana, ibunya dari keluarga brahmana, kalau dia jadi penjahat, tetap juga hukum undang-undang berlaku. Ada seseorang disini, mungkin lahir di keluarga apapun juga. Bapaknya seorang pengusaha, Vaisya. Tapi dia mau jadi tentara, apa tidak boleh? Boleh.

Dan 5.000 tahun yang lalu Krishna sudah mengatakan, bahwa soal Varna ini adalah profesi pekerjaan. Dan orang bisa menentukan berdasarkan sesuai dengan keahlian. Anaknya seorang brahmana boleh menjadi brahmana. Boleh juga menjadi tentara. Boleh juga menjadi pengusaha. Asal dia punya kemampuan. Kalau tidak punya kemampuan belajar. Tidak ada larangan dan tidak ada satu pemikiran pun, bahwa yang sudra itu kelompok pekerja paling rendah. Tidak.

Hampir semua di antara kita sekarang ini adalah kelompok pekerja. Yang punya usaha sendiri siapa? Beberapa orang di sini barangkali, yang lain adalah sudra. Sudra adalah pekerja, bukan suatu penghinaan. Sudra berarti kelompok orang-orang yang tidak punya usaha sendiri. Dan bekerja. Kalau seseorang menjad iguru, dia itu brahmana. Walaupun dia tidak lahir dalam keluarga brahmana. Kalau dia menjadi guru, dan dia mendidikanak-anak. Dia membangun bangsa negara, lewat pendidikan, dia seorang brahmana. Seorang pemikir adalah seorang brahmana. Ada orang yang lahir bapaknya sudra, ibunya sudra kalau dia jadi pengusaha besar, pengusaha kecil, buka warung, dia sudah mengambil porsi Vaisya. Porsi pengusaha.

Jadi bukan soal rendah dan tinggi. Soal pekerjaan. Ada kelompok, ada asosiasi kedokteran. Ada ikatan dokter Indonesia. Yang bisa menjadi anggota IDI adalah dokter berdasarkan keahlian.

Maaf saya berikan contoh misal disini, dr Suartika dia seorang dokter dia anggota IDI, besok-besok, semoga beliau hidupnya panjang, tapi coba kalau beliau tidak ada apakah keanggotaan itu bisa diwariskan kepada anaknya. Tidak bisa. Kecuali anak juga menjadi dokter. Kalau anaknya menjadi dokter, dia juga wajib menjadi  anggota IDI.

Pengusaha menjadi anggota KADIN. Kalau anaknya bukan pengusaha, dia mau jadi tentara, dia jadi anggotaTNI, nggak bisa jadi anggota KADIN. Begitu sederhana. Tapi kita membuat diri kita bingung karena kita dipecah-belah. Oleh kelompok-kelompok yang mau menjajah kita. Kita dipecah-belah seolah-olah, seorang pendeta, seorang brahmana, itu sekali brahmana, selanjutnya selalu brahmana. Ya kalau dia bertindak, sesuai dengan yang demikian.

Semestinya demikian anak seorang brahmana harus belajar pada orang tuanya bertindak sebagai brahmana. Anak seorang pengusaha, bisa belajar usaha dari orang tuanya, dan melanjutkan usaha orang tua. Seorang yang menjadi anggota TNI, kalau anaknya mau jadi anggota TNI, boleh juga. Dokter anaknya mau jadi dokter boleh juga. Tapi kalau tidak menjadi dokter, tidak menjadi anggota TNI, tidak menjadi pengusaha tentu dia tidak bisa beranggota memiliki keanggotaan, dalam asosiasi itu. Dokter asosiasinya IDI, pengusaha asosiasinya KADIN, Union Buruh asosiasinya lain lagi.

Setiap orang mengikuti asosiasinya. Jadi Varna ini yang diebut kasta, itu asosiasi berdasarkan pekerjaan. Demikian dikatakan oleh Bhagavad Gita. Tetapi Krishna juga mengatakan, walaupun pekerjaan itu beda-beda asosiasinya beda, tapi Aku, Aku yang dimaksud oleh Krishna adalah Atma, Jiwa kita satu. Adanya walaupun ada yang badannya keahliannya, otaknya, membawa dia ke dalam kelompok dokter, kelompok pengusaha, kelompok TNI, tapi perbedaan-perbedaan ini berdasarkan profesi. Jiwanya, Atmanya sama. Tidak pernah berpisah atau terbagikan.

Sumber: Video Youtube Bersama Anand Krishna Bhagavad Gita Sehari-Hari Ayat 04:11-17 Mermahami Kasta Memahami Kebenaran Varna

https://www.youtube.com/watch?v=5kcpd7x6vxg

https://www.akcjoglosemar.org/wp/

https://www.anandkrishna.org/

 

Wejangan Anand Krishna: Ia Yang Menyadari Hakikat Dirinya Tidak Lahir Kembali

“Guna melindungi para bijak; membinasakan mereka yang berbuat batil; dan, meneguhkan kembali dharma, kebajikan – Aku datang menjelma dari masa ke masa.” Bhagavad Gita 4:8

https://bhagavadgita.or.id/

 

Dari masa ke masa. Setiap Yuga setiap masa, Ia akan datang kembali. Ia akan mewujud lewat diri kita, masing-masing. Oleh karena itu, ketika berbuat sesuatu, berbuat kebaikan, sekecil apa pun……

Kakek saya sebelum meninggal dia menulis dalam catatannya, dia sedang bekerja di kota lain. Dan keluarganya, nenek saya, dan bapak saya, adik yang baru lahir, dia juga baru lahir, bedanya sedikit sekali. Kakaknya yang baru berusia 3 tahun, nenek saya menjadi janda itu dalam usia 20 an tahun.

Kakek saya berusia 30 tahun ketika meninggal. Dia berada ditempat lain dan dia jatuh sakit kena pes. Dulu pes itu mematikan. Pes itu wabah dari tikus, pes dulu mematikan. Belum ada obat0obatan yang canggih. Dan dia kebetulan menderita gangguan napas. Jadi dia sudah tahu, berada di kota lain dia tidak mungkin lagi mengharapkan keluarga bisa datang, dan dia tidak bisa pulang.

Ke kotanya. Jarak ratusan km, 200 sekian, tapi waktu itu cukup jauh 200 km. Maka dia mencatat dalam diary-nya. Ini yang saya tinggalkan uang ini, property ini untuk siapa, untuk siapa dan dia tidak perlu memberikan properti ini pada siapa-siapa. Ada adiknya, yang sebetulnya dia sudah pisah, sudah punya pekerjaan sendiri tetap dia menulis, untuk adik saya ini untuk keluarga saya ini.

Dan setelah menulis semuanya itu, dia bilang sebetulnya aku bukan ap-apa. Sri Krishna Arpanam. Aku mempersembahkan ini kepada Sri Krishna. Aku cuma menjadi alat, kebetulan sekarang ada harta semua ini, dan sebagai alat aku menyampaikan bahwa ini dibagikan. Dan dia menulis dua tiga kali catan pendek itu. Aku persembahkan semuanya kepada Sri Krishna.

Begitu juga ketika berbuat baik, Sri Krishna Arpanam. Kita selalu sebelum makan, Brahma pannam, mempersembahkan semua ini kepada Brahman. Kepada siapa pun. Asal kita selalu ingat Idan Na Mama, ini bukan aku, ini bukan aku. Aku cuma alat, aku mempersembahkan.

 

“Guna melindungi para bijak; membinasakan mereka yang berbuat batil; dan, meneguhkan kembali dharma, kebajikan – Aku datang menjelma dari masa ke masa.” Bhagavad Gita 4:8

https://bhagavadgita.or.id/

 

Setiap kali berbuat baik mengatakan Idan Na Mama, bukan aku, Om Sri Krishna Arpanam, Brahma pannam, maka ketahuilah pada saat ini Krishna kerja lewat kita. Dia sudah bekerja. Dia sudah mewujud lewat kita.

Api ini kita kembangkan terus. Diberi angin terus, angin ini apa, udara. Bukan cuma berbuat baik untuk satu keluarga, untuk tetangga, berbuat baik untuk masyarakat. Lihat kondisi masyarakat.

Kondisi di India lain. Di sana kebutuhannya lain. Di sini kebutuhannya lain. Di tempat lain kebutuhannya lain. Guru saya selalu menganjurkan, seva setiap minggu setidaknya 4 jam. Gunakan 5 jam untuk seva. Untuk bhakti soaial. Untuk berbuat baik tanpa pamrih.

Kemudian banyak orang kita masih baru. Apa pun yang beliau lakukan di sini, di sana kita meniru. Kasih makan kepada fakir miskin. Kasih apa, ya di sini juga masih banyak orang yang butuh makanan. Tapi kemudian beliau menegur kita, di negerimu kebutuhannya apa?

Di Bali, mau cari fakir miskin, sulit didapatkan, di Ubud atau apa, fakir miskin justru imported. Kita banyak menemukan fakir miskin, yang diimport dari luar, orang Bali sendiri, saya tidak bertemu  jadi pengemis di jalan. Pengemis pun kita import. Ini bukan cuma buah-buahan.

Danjangan pikir orang bule itu semua nya juga hebat. Kemarin-kemarin ada orang bule, datang ke sini. Selalu memaksa untuk betemu dengan saya. Ternyata dia ambil motor dan dari rental, dan dia ambil motor itu, dibawa ke Jakarta, Jogja mencari saya di Jogja, cari saya di Jakarta. Kita nggak tahu bahwa dia mengambil motor, dari Denpasar. Setelah itu baru tahu. Untung saya nggak ketemu, kalau saya ketemu sama dia, bisa dikira saya juga terlibat. Saya nggak tahu motornya sudah dikembalikan belum. Jadi orang bule juga demikian. Jangan pikir semua orang bule baik-baik saja.

Aku menjelma dari waktu ke waktu untuk berbuat baik. Untuk melayani. Dan pelayanan itu, berbeda-beda. Pelayanan yang kita butuhkan, di Bali, apa kira kira. Pikirkan, kita sudah membahas, berulang kali. Pelayanan yang dibutuhkan di Bali, kita memberikan pelayanan itu. Di tempat lain baragkali lain.

 

“Arjuna, kelahiran serta segala kegiatan-Ku adalah bersifat ilahi, mulia. Ia yang menyadari hakikat ini tidak lahir kembali setelah meninggalkan jasadnya. Ia datang kepada-Ku, menyatu dengan-Ku.” Bhagavad Gita 4:9

https://bhagavadgita.or.id/

 

Kalau kita sadar bahwa apa pun yang kita berbuat, bukan karena aku, tapi karena Dia yang bersemayam di dalam di dalam diriku, dan Dia yang menggerakkan tanganku untuk berbuat, maka kita bebas dari segala macam keterikatan. Kita beas dari segala macam konsekuaensi. Bebas dari karma.

Begitu kita mati, Jiwa yang ada ini menyatu dengan Sang Paramatma. Atma menyatu kembali dengan Paramatma. Tidak ada lagi keterikatan. Dan itulah yang menjadi tujuan hidup. Tetapi untuk mencapai tujuan hidup itu tidak cukup bermeditasi 18 jam sehari. Atau melakukan pemujaan, walaupun semahal apa pun. Seberapa pun biaya yang kita keluarkan tidak akan membantu. Yang membantu adalah itu tadi. Menegakkan dharma. Melindungi mereka, yang sedang dizalimi, sedang ditindas dengan berbagai cara.

Penindasan zaman sekarang adalah membuat orang miskin. Supaya dia mengeluarkan biaya yang tinggi sekali untuk berbagai keperluam. Biarkan mereka menjadi miskin. Itu penindasan, bebaskan orang dari penindasan, layani mereka, itulah dharma itulah yang kemudian bisa membebaskan kita dari segala macam keterikatan. Terima kasih.

 

Sumber: Video Youtube Bersama Anand Krishna Bhagavad Gita Sehari-Hari Ayat 04:1-10 Dharma dan Reinkarnasi

https://www.youtube.com/watch?v=oqd6j5aQ3_0

https://www.akcjoglosemar.org/wp/

https://www.anandkrishna.org/

Wejangan Anand Krishna: Shraddha, Memandu Roh Leluhur Yang Belum dan Yang Sudah Lahir Kembali

Sri Bhagavan (Krsna Hyang Maha Berkah) bersabda:

“Arjuna, kau dan Aku telah melewati banyak  masa kehidupan. Aku mengingat semuanya – sementara kau tidak mengingatnya, wahai Parantapa (Arjuna Penakluk Musuh).” Bhagavad Gita 4:5

https://bhagavadgita.or.id/

 

 

“Aku adalah Jiwa yang kekal, Isvara, Penguasa Tunggal makhluk-makhluk seantero alam. Sesungguhnya Aku Tak (perlu) Terlahirkan, namun atas kehendak-Ku dan dengan kekuatan Maya-Ku sendiri, kekuatan yang menyebabkan Hyang Tunggal tampak Banyak, Aku mewujud.” Bhagavad Gita 4:6

https://bhagavadgita.or.id/

 

Kita sudah pernah lahir berulang-ulang. Orang-orang yang sudah mencapai kesadaran seperti Krishna, mengingat semuanya ini. Buddha pernah mengatakan, dalam salah satu ajarannya, kalau seseorang sudah mengingat masa lalunya, ini adalah kelahirannya yang terakhir. Dia tidak perlu lahir lagi. Dia akan menyatu dengan alam semesta. Dia akan mencapai nirvana.

Tetapi konsep dalam Bhagavad Gita adalah orang seperti itu pun, walaupun sudah sampai ke moksha, sudah mencapai nirvana, orang yang sudah mengingat masa lalu, sudah tidak perlu lahir lagi, diapun bisa memilih untuk lahir lagi. Jadi bukan kerena karma.

Kalau kita lahir lagi karena karma. Ada hutang-piutang lahir di keluarga ini. Dan lucu sekali, apa yang sering sekali terjadi di Bali, dan kita mencari tahu, anak yang baru lahir ini siapa dulunya, memang kurang lebih sepert iitu.

Kita berputar-putar dalam satu keluarga yang sama. Nenek jadi cucu, cucu jadi apa, pembantu jadi suami, suami jadi pembantu. Kurang lebih sekitar situ. Kalau Anda mulai mencatat, bikin catatan, orang yang paling dekat sama kalian, tapi coba kriterianya orang yang kalau mati, Anda akan sakit sekali, Anda akan sedih sekali, coba tulis nomor satu siapa, menyedihkan. Nomor dua siapa, kalau mati saya sedih. Nomor tiga siapa kalau mati saya sedih.

Di zaman sekarang ini Anda nggak bisa mendapatkan lebih dari 20 nama, paling top. Keterikatan kita yang paling top itu, kurang lebih dengan 20 orang. Itu maksimal. Ada yang bahkan Cuma 10 orang. Ada yang bahkan 6 orang, tujuh orang. Maksimal 20 dan kita ber putarputar antara 20 orang ini. Jadi apa lagi, jadi apa lagi.

Shraddha, saya tidak tahu dalam bahasa Bali. Tapi setelah orang meninggal, ada upacara nggak per tahun, ada nggak di Bali. Kalau sudah diabenkan, ada tidak ya. Di dalam Hindu sebetulnya ada upacara shraddha yang sampai sekarang di Jawa masih ada. Di Jawa masih menggunakan upacara itu. Jadi 40 hari setelah mati, itu upacara Hindu sebetulnya, awalnya. Sanatana.

Mau disebut Kejawen, Wiwitan no problem. Itu adalah upacara Sanatana. Sebelum istilah Hindu ada, sudah ada. Upacara shraddha itu, 40 hari kemudian beberapa hari, kemudian setahun, kemudian pertahun.

Seperti Galungan Kuningan. Ini kan juga untuk leluhur kan, nah di dalam Hindu yang dipraktekkan di luar Bali, setahun sekali. Di sini setahun dua kali Galungan, dan Kuningan. Tapi di Hindu yang di luar Bali, umumnya setahun sekali.kita mengadakan sembahyang per tahun itu, shraddha untuk leluhur.

Supaya apa? Supaya kalau eluhur kita masih belum lahir lagi, masih terikat dengan keluarga. Masih berada sekitar keluarga. Maka biar dia tahu, bahwa sekarang dia sudah selesai tugasnya, dia harus melanjutkan perjalanan.

Itu tujuan dari shraddha. Kenapa karena kita pernah bahas seorang putra, putr, seorang suputra, dia yang membebaskan leluhurnya dari keterikatan. Jadi bukan memanggil leluhur, bukan. Justru membebaskan, leluhur dari keterikatan, supaya mereka tenang dan melanjutkan perjalanan.

Ini awalnya, ini asal-usul dari shraddha. Yang sekarang di sini juga ada dalam bentuk Galungan dan Kuningan ini. Jadi bukan panggil supaya hidup bersama kita. Tidak. Supaya mereka sadar, sekarang melanjutkan perjalanan. Dan kalau mereka sudah melanjutkan perjalanan, mereka sudah lahir kembali, misalnya, maka dengan shraddha itu, kita mengingatkan, bahwa dia sudah lahir kembali. Kita mengingatkan soul yang sudah lahir kembali ini supaya dia tahu. Di masa lalu, dia apa bagaimana, apa yang harius dia lakukan dalam masa kelahiran dia yang sekarang.

Jadi ini scientific sekali. Ilmiah sekali. Seperti mengingatkan seorang anak tentang pelajarannya. Jadi bukan semata-mata panggil leluhur, terus pulangkan. Tidak. Leluhur mungkin sudah lahir lagi. Kalau belum lair agar dia melanjutkan perjalanan. Kalau sudah lahir, supaya dia ingat, dulu sampai berapa mata pelajarannya sampai apa dan sekarang boleh melanjutkan, bisa melanjutkan.

Oleh karena itu coba, selama masa ini, antara Galungan dan Kuningan,kenang hal-hal yang baik dari leluhur. Kalau orang tuanya sudah meninggal, atau kakek yang sudah meninggal, kalau orang tua masih ada. Kenang hal-hal yang baik sifat-sifat yang baik. Dan cukup sesuai dengan kemampuan kalian melakukan dana punya atas nama mereka. Mau pergi ke yatim piatu, silakan. Mau pergi ke rumah sakit, cari tahu orang-orang yang tidak mampu.

Sekarang kita sedang melakukan seva, bhakti sosial di Jakarta di rumah singgah di RSCM. Di Rumah Sakit Umum di sana. Rumah Singgah itu dibuat oleh pihak Rumah Sakit untuk orang-orang yang berobat, tapi tidak punya uang untuk tinggl di kost atau di hotel. Ada biayanya tapi rendah sekali.

Jadi kalau ada orang sakit, khususnya orang yang kena kanker. Karena mereka harus radiasi chemoterapi setiap minggau dan sebagainya. Nggak bisa pulang balik pulang balik, kalau mereka datang dari luar kota, maka mereka bisa tinggal di sana atau, keluarga yang mengikuti mereka, mereka mungkin di rumah sakit bisa tinggal di sana, nah kita melayani mereka.

Mungkin di sini juga ada. Saya nggak tahu. Apakah di Sanglah apa di Tabana, di manapun. Kalau ada orang-orang miskin yangsedang dirawat, di rumah sakit pergi ke mereka, layani mereka. Mau kasih makanan sedikit, mau kasih apa, kita setiap minggu di Jakarta. Sudah berjalan cukup lama. Dan 2 minggu lalu saya ada di sana, saya juga ikut ke sana. Begitu bahagia mereka.

Berikan mereka meditasi, berikan mereka Yoga. Nggak usah bicara agama, nggak usah bicara apa. Siapa pun mereka, kita melayani orang. Tanpa memandang kulit sapii. Kita tidak peduli dengan kulit sapi. Apa pun kulitnya apapun agamanya apapun kepercayaannya, dan kita juga tidak mengharapkan konversi mau cari umat, tidak. Itu bukan tujuan Hindu. Itu bukan tujuan Dharma. Biarlah orang yang berkepercayaan, A mengikuti kepercayaannya dengan baik. Yang B ikuti kepercayaannya dengan baik. Yang C ikuti kepercayaannya dengan baik. Mka mereka akan menghasilkan susu yang baik. Itu saja. Jadi lakukan sesuatu seperti, itu untuk mengingatkan, kembali peran mereka dengan hidup ini.

Krishna mengatakan, aku dan kau sudah lahir berulang kali, kau tidak ingat Aku mengingat semuanya dan Krishna di sini juga mengatakan kalau Aku lahir kembali bukan karena karma, aku mewujud dengan kekuatanku sendiri untuk apa. Dalam sloka ke 7

 

“Wahai Bharata (Arjuna, keturunan Raja Bharat), Ketika dharma, kebajikan dan keadilan, mengalami kemerosotan; dan adharma, kebatilan dan ketidakadilan merajalela – maka Aku menjelma.” Bhagavad Gita 4:7

https://bhagavadgita.or.id/

 

Akunya Krishna ini adalah Aku yang sudah bebas, dari segala macam karma dan keterikatan. Dan Akunya Krishna ini adalah Aku nya semesta. Dan jangan pikir jangan tunggu pula, untuk Krishna lahir kembali. Krishna bisa lahir kembali, lewat diri Anda. Kekuatan Krishna, akan bekerja lewat setiap orang di dalam ruangan ini. Asal ada niat, melihat ketidakadilan. Melihat kebatilan. Melihat adharma,melihat orang yang menjadi miskin, karena pengeluaran yang tidak masuk akal. Melihat kejadian kejadiab yang membuat manusia, menderita. Menderita dan menjadi susah, jika Anda berbuat sesuatu, kita berbuat sesuatu, maka ketahuilah, kekuatan Krishna, telah mewujud lewat diri, kita. Nggak perlu menunggu kelahiran kembali. Kekuatan itu akan menjadi, bagian dari kita, asal kita yakin niat kita jelas. Maka Dia akan mewujud lewat diri kita.

 

Sumber: Video Youtube Bersama Anand Krishna Bhagavad Gita Sehari-Hari Ayat 04:1-10 Dharma dan Reinkarnasi

https://www.youtube.com/watch?v=oqd6j5aQ3_0

https://www.akcjoglosemar.org/wp/

https://www.anandkrishna.org/