Hukuman bagi Pelaku Adharma Penderitaan sampai Akhir Hayatnya #BhagavadGita

Dalam Dhammapada 9:125 Buddha jelas sekali bahwa jika seorang pelaku kejahatan berupaya mencelakakan orang yang tidak bersalah, maka ia sendiri yang akan celaka. Lalu apa yang kita lihat selama ini dan di sekitar kita? Seolah pelaku kejahatan bisa merajalela, dan mereka yang tidak bersalah bisa seenaknya dianiaya.

Untuk itu Buddha menjelaskan dalam ayat 119 bahwa ada juga perbuatan-perbuatan jahat yang “belum matang”. Ketika buah kejahatan itu matang, maka ia jatuh sendiri. Tinggal tunggu waktu. Dikutip dari cuplikan materi neo interfaith studies oleh Bapak Anand Krishna pada program online One Earth College of Higher Learning (http://www.oneearthcollege.com/id/).

Dalam Bhagavad Gita pun dijelaskan bahwa mungkin saja pelaku adharma yang berbuat zalim terhadap orang-orang atau rakyat yang tidak bersalah bisa lolos dari penjara, karena kekuasaan dan kelicinan geng-nya. Akan tetapi hukuman oleh Dharma terhadap dirinya atau keluarganya tidak hanya membuat dia menderita hingga akhir hayatnya, tetapi juga setelah meninggalkan dunia ini.

Silakan simak penjelasan Bhagavad Gita 11:34 di bawah ini:

Cover Buku Bhagavad Gita

Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu; Saha vīryam karavāvahai; Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga Hyang Tunggal senantiasa melindungi kita; menjernihkan pikiran kita: semoga kita dapat berkarya bersama dengan penuh semangat; semoga apa yang kita pelajari mencerahkan dan tidak menyebabkan permusuhan; Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

“Bunuhlah Drona, Bhisma, Jayadratha, Karna, dan para kesatria lainnya, yang mana sesungguhnya telah binasa semuanya oleh-Ku. Jangan takut! Berperanglah, lawanlah mereka, kau pasti berhasil menaklukkan lawan-lawanmu semua.” Bhagavad Gita 11:34

 

Krsna Sangat Spesifik. Dia tahu bahwa Arjuna bukan saja enggan, tapi juga menaruh rasa takut terhadap nama-nama yang disebutnya. Drona adalah gurunya, guru yang mengajarkan seni perang kepadanya, “Bagaimana jika ia memiliki beberapa jurus yang dirahasiakannya, yang tidak diajarkan kepadaku?”

 

BISMA ADALAH EYANG – Seorang Kesatria Agung, selama itu tidak tertaklukkan oleh siapa pun. Record-nya berkualitas sterling — cemerlang.

Arjuna pun sesungguhnya gentar sejak awal percakapan ini, “Apa iya aku mampu menaklukkannya?”

Pun demikian dengan Karna dan Jayadratha, dua-duanya kesatria par excellence. Dua-duanya memiliki track record yang hampir sama dengan Bhisma.

Maka, Krsna mesti berulangkali mengingatkan Arjuna, bahwa mereka yang berada di pihak Kaurava telah menunjukkan posisi mereka dengan jelas. Sebaik-baiknya para kesatria tersebut, mereka semua, tanpa kecuali telah menentukan posisi mereka di pihak adharma. Sebab itu:

 

“JANGAN TAKUT! Siapa pun yang melawan dharma akan binasa oleh kekuatan dharma itu sendiri.”

Para penguasa zalim selalu lupa bahwa kekuasaan dan kewenangan yang mereka salahgunakan akan berbalik menghantam, menghancurkan, dan memusnahkan mereka sendiri.

Mabuk akan kekuasaan, mereka pikir bahwa lawan mereka bukan apa-apa, “Siapa dia? Kekuatannya seberapa sih? Siapa pendukungnya? Massanya seberapa? Ah, mereka adalah bangsat-bangsat yang dapat kubinasakan tanpa senjata sekalipun.”

Kekuasaan membuat mereka menjadi buta. Mereka tidak mampu melihat bila yang mereka lawan bukanlah “bangsat” — tapi dharma.

Seekor bangsat atau semut yang berpihak pada dharma mampu menaklukkan seekor gajah yang berpihak pada adharma. Para penguasa zalim tidak memahami urusan dharma-adharma.

Banyak di antara kita yang punya pengalaman menghadapi oknum penyidik di kepolisian atau kejaksaan yang korup dan dengan sombong bisa mengatakan, “Ini wewenang kami”. Pun demikian dengan para hakim dan pejabat lain yang sama-sama korup. Mereka telah dibutakan oleh kekuasaan yang tidak langgeng, tidak untuk selamanya.

 

AKHIRNYA, MEREKA BINASA karena dan oleh kebutaan mereka sendiri. Kadang mereka tidak sadar bahwa ketika dharma bertindak, ia bisa menggunakan senjata apa saja. Banyak senjata di tangan dharma.

Para pejabat korup yang memiliki anak yang autis, penderita penyakit lain, pencandu, pemabuk, penderita HIV, dan sebagainya – telah dijatuhi hukuman seumur hidup oleh dharma! Penyakit anak-anak mereka adalah disebabkan oleh uang haram hasil korupsi, hasil jarahan, yang mereka gunakan untuk membiayai kehidupan mereka. Dan tentunya disebabkan oleh karma anak-anak itu pula yang memilih mereka sebagai orang-tua.

Dharma tidak selalu memenjarakan para penguasa zalim. Penjara adalah urusan peradilan dunia. Hukuman penjara adalah hukuman ringan jika dibanding dengan hukuman dharma yang tidak hanya membuat seseorang menderita hingga akhir hayatnya, tetapi juga setelah meninggalkan dunia ini. .

Hukuman dharma bukanlah hukum korup yang bisa dikompromikan. Tidak ada sin laundering, pencucian dosa lewat ziarah, amal-saleh, dan sebagainya. Setiap penderitaan yang disebabkan oleh seorang penguasa zalim mesti dipertanggung jawabkan olehnya sendiri. Dengan membangun tempat-tempat ibadah sekalipun, ia tidak bisa terhindar dari akibat perbuatannya, akibat kezalimannya.

Dikutip dari buku: (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

Om, Sarve bhavantu sukhinaḥ; Sarve santu nirāmayāḥ; Sarve bhadrāṇi paśyantu; Mā kashchit duḥkha bhāgbhavet; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga semua makmur, bahagia dan bebas dari penyakit. Semoga semua mengalami peningkatan kesadaran, dan bebas dari penderitaan. Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/

 

Kesalahan Kolektif Masyarakat Bisa Saja Mengundang Bencana? #YogaSutraPatanjali

Fenomena Alam

Kadang kita merasa begitu putus asa dengan kenyataan yang terjadi. Kebenaran tenggelam dalam konspirasi yang berada di luar kemampuan kita. Kita semua tidak bisa lepas dari tanggung jawab. Kita telah ikut menentukan para pemimpin kita. Kita juga diam dan seakan-akan membiarkan kebiasaan tidak baik merajalela. Yang belum kita sadari adalah bahwa keputusan kolektif masyarakat bisa menimbulkan letupan emosi kolektif. Dan letupan emosi kolektif bisa saja mengundang bencana?

Tulisan ini hanya sekadar renungan, bertujuan agar kita melakukan tindakan yang baik. Segala sesuatu yang kita perbuat harus dirasakan bagaimana seandainya kita sendiri mengalaminya (tepa-slira, rasa empati). Kalau kita tidak mau dianiaya orang ya jangan menganiaya orang. Karena segala sesuatu akan kembali kepada kita dengan adanya hukum sebab-akibat. Kalau masyarakat menganiaya seseorang, bisakah masing-masing anggota masyarakat menyadari bagaimana kalau dirinya dibegitukan?

………………

Sejak beberapa dasawarsa terakhir ini, sains – setidaknya beberapa ahli fisika dan ahli saraf – telah memasuki tahap pembenahan diri. Mereka mulai merasakan bahwa alam ini bukanlah suatu kecelakaan belaka. Ada inteligensia di balik segalanya!

Terjadi gempa bumi, tsunami, dan seorang saintis “orde lama” mengatakan, “semua ini karena lempengan-lempengan, bla bla bla”. Seorang tokoh kepercayaan “orde lama”, sebaliknya menganggap fenomena alam tersebut sebagai “Azab dari Tuhan. Gusti Pangeran marah!”

Manusia “orde baru” – Manusia Baru – yang memahami spiritualitas dan sains, berupaya untuk memahami misteri ini, “Memang ada lempengan-lempengan yang sedang bergerak, dan fenomena alam itu pula yang mengundang tsunami. Namun, sesungguhnya gerakan lempengan-lempengan tersebut tidak mesti, tidak harus, tidak selalu berakibatkan tsunami.”

Dan, ia mulai bertanya, “Ada apa sehingga gerakan lempengan-lempengan itu menyebabkan tsunami dan gempa bumi di wilayah tertentu, padahal ada juga wilayah lain yang memiliki potensi yang sama, tapi tidak terjadi sesuatu di sana. Kenapa, kenapa, kenapa?”

Kemudian segelintir saintis berwawasan lebih luas mulai bisa melihat hubungan yang erat antara nafsu, emosi, pikiran, dan perbuatan manusia yang dapat memengaruhi gerakan lempengan-lempengan tersebut sehingga bertabrakan, dan terjadilah kehancuran di mana-mana!

Kesimpulannya, gerakan lempengan-lempengan adalah fenomena alam – Tapi, tidak mesti terjadi gempa bumi, tidak mesti tsunami, tidak mesti menelan korban. Bencara alam terjadi bukan karena alam mengamuk tanpa dasar, tapi karena ada intervensi dari perbuatan, pikiran, dan perasan manusia sendiri. Mind over matter. Penjelasan Bhagavad Gita 9:1 dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

 

Bencana dapat dihindari?

Sekali lagi, renungan ini sekadar bertujuan agar kita melakuka hal yang baik, yang selaras dengan alam.

………………….

Dapatkah kita mempertahankan air pada 100 derajat celcius? Mustahil. Begitu mencapai 100 derajat celcius, air langsung menguap, mulai menguap. Emosi memiliki korelasi dengan air. Emosi dikendalikan oleh elemen air di dalam diri kita. Pun demikian di luar diri kita, di alam sekitar kita. Air laut, air sungai – semuanya adalah pusat-pusat emosi di dunia ini. Jika terjadi tsunami, maka alasannya bukanlah sekadar “fenomena” alam; dalam pengertian, “itu adalah sesuatu yang lumrah.” Tidak, tidak lumrah. Dapat dihindari.

Pasang-surutnya air laut adalah lumrah, namun memasangnya sedemikian rupa hingga menyebabkan musibah, bencana – tidak lumrah. Saat itu laut, air sedang mengamuk. Tentunya kita telah mengundang amukannya karena ulah kita sendiri. Penjelasan Bhagavad Gita 9:14 dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

Silakan simak penjelasan Yoga Sutra Patanjali mengenai hal-hal tersebut di bawah ini:

Cover buku Yoga Sutra Patanjali

Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu: Saha vīryam karavāvahai;Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai.Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga Hyang Tunggal senantiasa melindungi kita; menjernihkan pikiran kita: semoga kita dapat berkarya bersama dengan penuh semangat; semoga apa yang kita pelajari mencerahkan dan tidak menyebabkan permusuhan; Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

“Berkat Samyama (dharana atau kontemplasi; dhyana atau meditasi; dan menyadari atau memusatkan kesadaran) pada Cahaya Bulan atau Rembulan, seseorang meraih pengetahuan tentang konstelasi perbintangan.” Yoga Sutra Patanjali III.28

 

Terlepas dari ada atau tidaknya kehidupan di planet lain, di galaksi lain, yang jelas planet-planet itu sendiri merupakan organisme yang hidup. Alam semesta adalah sesuatu yang hidup. Dengan adanya kesadaran seperti itu, seorang Yogi menjadi manusia yang bertanggung jawab. Ia akan selalu memperhatikan ucapan, dan tindakannya.

 

SUPAYA KJTA SELALU INGAT, bahwa kehidupan di dunia ini adalah bagian dari suatu Matriks Kehidupan yang sangat precise – presisinya sungguh luar biasa.

Dengan merusak lingkungan, mencemari sumber air, dan sebagainya, kita tidak hanya mencelakakan planet bumi dan penghuninya—termasuk kita sendiri – ,tetapi juga mengganggu Matriks Kehidupan tersebut.

Meletusnya gunung, terjadinya tsunami, dan sebagainya bukanlah fenomena alam semata. Amukan alam dapat dihindari, atau setidaknya dapat diminimalkan, jika kita bekerja sama dengan alam, jika kita merawat bumi ini dengan penuh kasih.

Apalagi mengingat posisi kita yang tinggal di wilayah ring of fire atau cincin api. Letupan-letupan emosi kita, awalnya hanya memengaruhi hidup kita, relasi kita, dan orang lain yang berurusan dengan kita. Tetapi lambat laun, ketika letupan-letupan emosi itu berubah menjadi letupan kolektif, terjadilah bencana alam!

Setiap tindakan dan perbuatan kita memengaruhi alam sekitar kita. Ketika suatu masyarakat bertindak salah secara kolektif, maka konsekuensinya mesti ditanggung secara kolektif pula.

Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2015). Yoga Sutra Patanjali Bagi Orang Modern, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Semoga renungan ini mengingatkan kita untuk berbuat baik selaras dengan alam……

Om, Sarve bhavantu sukhinaḥ; Sarve santu nirāmayāḥ; Sarve bhadrāṇi paśyantu; Mā kashchit duḥkha bhāgbhavet; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga semua makmur, bahagia dan bebas dari penyakit. Semoga semua mengalami peningkatan kesadaran, dan bebas dari penderitaan. Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/

 

Berkarya Sesuai Potensi Diri #BhagavadGita

“Berkarya sepenuh hati, sesuai dengan kewajiban, dan sifat alami atau potensi dirinya, seseorang mencapai kesempurnaan. Sekarang, dengarlah tentang cara penunaian kewajiban untuk meraih kesempurnaan tertinggi tersebut.” Bhagavad Gita 18:45

Krsna tidak memisahkan spiritualitas dari keseharian hidup. Tidak semua orang mesti menjadi petapa, menggunduli kepala, atau memelihara jenggot. Tidak semua orang mesti berjubah dan menjadi penyiar kepercayaan.

Buku Bhagavad Gita

Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu; Saha vīryam karavāvahai; Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga Hyang Tunggal senantiasa melindungi kita; menjernihkan pikiran kita: semoga kita dapat berkarya bersama dengan penuh semangat; semoga apa yang kita pelajari mencerahkan dan tidak menyebabkan permusuhan; Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

Berikut penjelasan berkarya sesuai potensi diri dalam Bhagavad Gita 18:45 dan bagaimana membagi waktu untuk istirahat, usaha, keluarga dan spiritual dalam Bhagavad Gita 18:46:

 

SETIAP ORANG MEMILIKI KEWAJIBAN terhadap dirinya, terhadap keluarga — jika dia berkeluarga — dan terhadap masyarakat.

Jika Anda seorang artis, maka tetaplah berkarya di dunia hiburan. Tidak ada yang salah. Menjadi seorang artis adalah sama terhormatnya seperti menjadi pengusaha atau politisi. Tidak perlu berpindah profesi. Jika seni adalah panggilan diri Anda, maka tetaplah berkarya sebagai seniman.

Pun demikian dengan pengusaha, dengan pendidik. Kita semua masih tetap bisa berkontribusi terhadap kemajuan masyarakat. Tidak perlu menjadi politisi atau pejabat tinggi untuk mengabdi.

Sesungguhnya, ketika kita tetap berkarya sesuai dengan sifat alami dan potensi diri —kontribusi kita akan makin besar, makin berarti.

 

DENGAN BERPINDAH PROFESI, kita butuh waktu untuk penyesuaian – kadang kita malah kehilangan momentum, kehilangan waktu dan energi.

Bintang Bollywood, Amitabh Bachchan pernah masuk dunia politik. Tak lama kemudian, ia sadar bahwa dunia itu bukanlah dunianya. He did not belong there. Maka, ia pun mengakui kesalahannya, dan kembali ke dunianya sebagai artis. Hingga saat ini ia masih jaya — masih bertahan sebagai superstar.

Superstar lain, yang pernah lebih hebat dari Bachchan, yakni Rajesh Khanna — melakukan hal yang sama. Barangkali ia pun menyadari bila dirinya tidak memiliki potensi sebagai politisi. Namun, ia tetap bertahan sebagai politisi. Ia meninggal dengan menyimpan banyak kekecewaan. Sayang sekali, dunia politik tidak memperoleh tambahan yang berarti, sementara dunia perfilman Bollywood kehilangan seorang artis kawakan.

Kedua contoh ini hendaknya menjadi pembuka mata bagi kita, yang sering tergoda untuk mengikuti pemilihan sebagai calon legislatif dan sebagainya. Apakah kita memiliki potensi untuk itu? Jangan-jangan kita menjadi badut di sana, akhirnya lebih banyak absen, merugikan diri, merugikan negara dan terutama merugikan rakyat yang memilih kita.

Sebab itu, “Jadilah dirimu sendiri!” adalah nasihat yang tepat dalam hal ini. Jadilah sesuai dengan sifat alami dan potensi dirimu sendiri.

 

“Kesempurnaan Tertinggi tercapai oleh seseorang yang menunaikan kewajibannya sesuai dengan sifat alami atau potensi dirinya, dengan semangat berbakti pada Dia Hyang adalah Asal-Usul semua makhluk, dan Meliputi alam semesta.” Bhagavad Gita 18:46

 

Krsna tidak memisahkan waktu ibadah dari waktu untuk berkarya. Ibadah dan pekerjaan berjalan bersama. Namun, janganlah menjadikan hal ini sebagai pembenaran atas kemalasan diri………

 

JIKA MASIH BELUM BISA bertindak demikian — belum bisa berkarya dengan semangat manembah — maka berbagi waktu untuk ibadah, kegiatan spiritual lainnya, bakti-sosial, keluarga, dan bisnis mesti dilakukan secara cermat.

Janganlah terlarut dalam urusan bisnis atau keluarga sedemikian rupa hingga tidak punya waktu lagi untuk sesuatu yang lain, kemudian beragumentasi bahwa kita sudah berkarya dengan semangat manembah. Kita tidak bisa menipu diri sendiri.

Berkarya dengan semangat manembah seperti yang dianjurkan oleh Krsna hanyalah memungkinkan ketika bisnis, urusan keluarga, dan urusan pribadi kita sama sekali tidak bertentangan dengan kepentingan masyarakat umum. Tidak ada lagi kepentingan diri dan keluarga yang beda dari kepentingan umum.

Berkarya dengan semangat manembah berarti setiap karya kita selaras dengan kepentingan masyarakat umum. Jika belum bisa demikian, maka seperti yang Guru saya anjurkan…….

BAGILAH WAKTU 24 JAM dalam 4 bagian utama. Enam Jam Pertama adalah untuk istirahat, mandi, makan, dan lain sebagainya. Barangkali Anda bertanya, “Apakah 6 jam untuk semuanya itu cukup?”

Jawabannya adalah “Ya, jika Anda seorang meditator.” Kita tidak butuh waktu lebih dari 4-5 jam untuk tidur. Selebihnya untuk mandi, dan lain-lain.”

Enam Jam Kedua adalah untuk Usaha.

Sekali lagi, cukup, jika kita meditator, karena kita sudah pasti efisien dan tidak membuang waktu. Produktivitas dan Kreativitas — meditasi menjamin kedua-duanya.

Enam Jam Ketiga adalah untuk Keluarga.

Untuk segala urusan keluarga, termasuk setidaknya, makan malarn bersama, dan lain sebagainya. Nah, Bagian Kedua dan Ketiga bisa tumpang tindih, dan saling menunjang jika seorang memiliki usaha keluarga, atau ada aktivitas-aktivitas lain dimana keluarga terlibat.

Keempat adalah untuk Laku Spiritual, Sadhana atau Pengembangan Diri, Yoga, Meditasi, Membaca, Bakti Sosial, dan sebagainya.

Inilah jalan alternatif yang aman untuk menuju Kesempurnaan Diri, jika kita belum bisa mendedikasikan 24 jam dengan semangat panembahan.

Dikutip dari buku: (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

 

Om, Sarve bhavantu sukhinaḥ; Sarve santu nirāmayāḥ; Sarve bhadrāṇi paśyantu; Mā kashchit duḥkha bhāgbhavet; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga semua makmur, bahagia dan bebas dari penyakit. Semoga semua mengalami peningkatan kesadaran, dan bebas dari penderitaan. Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/

 

Belajar dan Berbagi Pengetahuan tentang Hakikat Diri #BhagavadGita

Persembahan lewat Studi

“Barang siapa mempelajari percakapan kita ini, sesungguuhnya telah memuja-Ku Iewatpanembahan dalam bentuk Pengetahuan Sejati (Jnana Yajna) — demikian keniscayaan-Ku.” Bhagavad Gita 18:70

 

Bagi Krsna, menghaturkan sesajen tidaklah mesti dalam bentuk bunga, air, dupa, dan sebagainya. Sembahyang tidak harus dalain bentuk ritus tertentu. Persembahan juga bisa dalam bentuk studi. Mempelajari sesuatu yang mernbantu Kesadaran Jiwa, adalah persembahan yang sudah pasti paling “digemari” oleh Jiwa.

Ritus-ritus lain tidak ditolak-Nya — inilah keunikan Krsna. Ia tidak menolak sesuatu – Ia memberi pilihan. Selanjutnya terserah kita.

 

JNANA YAJNA – Persembahan, Devosi, Panembahan dalam bentuk Berbagi Pengetahuan Sejati. Berbagi Pengetahuan tentang Hakikat-Diri.

Inilah “Bentuk” panembahan yang masih mesti dikembangkan di Indonesia. Di setiap wilayah Nusantara. Silakan melakoni ritus-ritus lain, memang penting bagi kita yang masih belum tenang pikirannya; kita yang emosinya masih bergejolak. Ritus-ritus penting untuk itu.

Tapi, jangan lupa kebutuhan inteligensia, buddhi. Jangan lupa pula kebutuhan Jiwa, Jivatma — yang senantiasa rnenginginkan kemanunggalan dengan Sumber-Nya, Sang Jiwa Agung, Paramatma. Untuk itu, Jnana Yajna adalah satu-satunya solusi.

Buku Bhagavad Gita

Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu; Saha vīryam karavāvahai; Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga Hyang Tunggal senantiasa melindungi kita; menjernihkan pikiran kita: semoga kita dapat berkarya bersama dengan penuh semangat; semoga apa yang kita pelajari mencerahkan dan tidak menyebabkan permusuhan; Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

JNANA YAJNA BERARTI, menjadi sadar dan berbagi kesadaran. Menjadi ceria karena peraihan pengetahuan sejati tentang hakikat diri dan berbagi keceriaan.

Caranya adalah dengan membentuk kelompok-kelompok studi. Jumlah peserta yang ideal adalah antara 7-9 hingga 21 orang. Janganlah menyakralkan angka. Kebetulan saja angka-angka itu signifikan bagi saya. Adalah “sekitar” jumlah itu yang saya maksudkan.

Kelompok-kelompok studi seperti itu bisa bertemu seminggu sekali, atau minimum 2 minggu sekali. Lebih jarang dari itu tidak akan membantu. Jarak yang terlampau jauh antar pertemuan tidak efektif.

Namun, sesuatu yang lebih penting lagi ialah: Self-Study — Swa Studi. Biasakan diri untuk membaca 1 ayat, 1 bab, atau seberapa saja — setiap hari. Ini akan memberi kita energi untuk berbagi. Tanpa adanya energi di dalam diri kita sendiri, apa yang akan kita bagikan?

Sisihkan waktu setiap hari, lebih baik setiap pagi — entah 5 menit atau 15 menit, tergantung pada alokasi waktu yang kita berikan bagi Self-Study. Lagi-lagi anjuran saya adalah, minimal 5 menit; tentu tidak ada maksimal.

Tapi, ya, ada saran untuk waktu yang ideal, yaitu di atas 20 menit, 2l menit pun boleh. Sebab, penelitian-penelitian di bidang neuroscience menunjukkan bahwa otak manusia baru me-register, merekam sesuatu secara permanen, setelah mendalaminya selama lebih dari 20 menit.

Jadilah Pelaku Jnana Yajna mulai saat ini juga dan raihlah Kasih-Nya. Kita semua bisa!

 

“Barang siapa mendengarkan ajaran ini dengan penuh keyakinan dan tanpa celaan; niscaya meraih kebebasan mutlak dan kebahagiaan sejati yang diraih para bijak yang berbuat mulia.” Bhagavad Gita 18:71

 

Barangkali kita tidak menghayati ajaran ini, kita belum sepenuhnya memahami — tapi kita tetap mendengarkan dengan penuh perhatian dan keyakinan. “Aku belum paham, tapi aku tahu bila ajaran ini adalah baik untukku” – maka, dengan keyakinan seperti itu saja, kita sudah bisa terbebaskan dari kebodohan ilusif yang menyebabkan kesalahan, kekhilafan, dan sebagainya.

 

KITA AKAN DIPERTEMUKAN DENGAN MEREKA yang dapat membantu dalam hal penemuan jati diri. Bisa dalam kehidupan ini, bisa dalam kehidupan berikutnya — cepat atau lambat, tergantung pada daya-upaya kita, keseriusan kita, kesungguhan kita.

Gita adalah ajaran universal untuk semua.

Gita adalah Pustaka Terbuka bagi siapa saja. Syaratnya hanya satu, yaitu kesiapsediaan kita untuk mempelajarinya. Itu saja. Tidak ada syarat lain. Tidak ada kondisi lain.

Apa pun kepercayaan kita — Gita tetaplah menerima kita dengan kasih yang sama. Tidak ada urusan ganti-kepercayaan; meninggalkan kepercayaan A dan memeluk kepercayaan B. Tetaplah pada kepercayaan Anda. Tetaplah pada ritus-ritus yang selama ini sudah Anda lakukan. Gita hanyalah membuka wawasan Anda untuk menjadi Manusia yang Lebih Baik.

Dikutip dari buku: (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

 

Om, Sarve bhavantu sukhinaḥ; Sarve santu nirāmayāḥ; Sarve bhadrāṇi paśyantu; Mā kashchit duḥkha bhāgbhavet; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga semua makmur, bahagia dan bebas dari penyakit. Semoga semua mengalami peningkatan kesadaran, dan bebas dari penderitaan. Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/

 

Aku Penguasa yang Paling Saleh dan Paling Kaya #BhagavadGita

Seorang petani tidak berambisi, ia menyangkul sawahnya, menanam benih, memupukinya, dan menikmati hasilnya. la pun sadar sesadar-sadarnya bila cuaca dan masih banyak faktor lain berada di luar kendalinya.

Ia berdoa, dalam pengertian ia memberkati sawahnya — dan sawah itu menjadi berkah baginya. Jika tidak ada petani yang rnenyangkul sawahnya setiap pagi, Anda dan saya mesti mengonsumsi makanan sintetis buatan pabrik, dalam bentuk pil berwarna-warni. Pil kuning untuk jagung; hijau untuk kangkung; putih untuk nasi, dan sebagainya, dan seterusnya.

Sementara itu, lihatlah keadaan mereka yang selama ini percaya pada kekuatan ambisi. Kendati sudah menjadi kaya-raya, apakah mereka bahagia? Sudah menduduki posisi tinggi, apakah mereka tenang? Sudah berhasil meraih penghargaan, apakah mereka tentram? Sudah memiliki tabungan di Swiss, apakah mereka damai?

Sehatkah orang nomor satu di belahan dunia mana saja? Seberapa besar tingkat stres yang dideritanya? Penjelasan Bhagavad Gita 16:13 dari buku: (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

Berikut penjelasan Bhagavad Gita 16:15-16 tentang mereka yang membanggakan diri tentang kesalehan mereka:

Buku Bhagavad Gita

Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu; Saha vīryam karavāvahai; Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga Hyang Tunggal senantiasa melindungi kita; menjernihkan pikiran kita: semoga kita dapat berkarya bersama dengan penuh semangat; semoga apa yang kita pelajari mencerahkan dan tidak menyebabkan permusuhan; Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

“Aku kaya, aku berasal dari keluarga besar. Siapa yang dapat menandingi diriku? Aku rajin sembahyang dan berderma. Aku selalu senang.”

“Terbutakan oleh ketololan-diri; terbawa oleh delusi; teradiksi oleh kenikmatan indrawi; pikiran serta perasaan mereka tidak stabil, berkabut; demikian mereka yang bersifat syaitani akhirnya jatuh ke dalam neraka yang paling menjljikkan.” Bhagavad Gita 16:15-16

 

Memamerkan harta-kekayaan, nama keluarga, bahkan betapa rajinnya kita berdoa — semua itu adalah sifat-sifat syaitani.

 

HOLA MERASA DIRINYA MENDAPATKAN BISIKAN dari Gusti Pangeran untuk mengonversi seantero jagad, “Kalau saya tidak berbuat demikian, kelak Gusti akan menegurku, kenapa aku tidak mengonversimu, padahal kau adalah teman terdekatku!” Upaya untuk rnerayu orang lain supaya ia mengikuti paham kita — ini pun sifat syaitani.

Urusi diri sendiri, biarlah orang lain mengurusi dirinya. Berbagilah kesadaran, bukan berbagi pemahaman kita yang belum tentu benar juga.

 

JIWA SEDANG MENERANGI “BADAN INI”, seperangkat indra ini, gugusan pikiran serta perasaan ini. Mari memperhatikan, dan mengurusi dulu apa saja yang diteranginya, baru mengurusi yang lain. Itu pun jika mereka mau diurusi.

Klaim bahwa kendaraan kita adalah yang terbaik, keluarga tempat kita dilahirkan adalah terbaik, kepercayaan kita adalah terbaik, dan sebagainya dan seterusnya — membuktikan satu hal saja yaitu, Jiwa kita telah menyalahidentifikasikan diri dengan alam benda.

Alam benda adalah jalan raya, Jiwa hanya melewatinya saja.

Alam benda menawarkan berbagai pengalaman. Pengalaman makan di warteg dan di restoran mewah. Kadang Jiwa yang sudah bosan dengan pengalaman makan mewah di restoran, ingin mencicipi masakan sederhana di warteg. Seorang pemilik mobil mewah pun kadang ingin mendapatkan pengalarnan di kereta, di bis, di kendaraan umum. Semuanya ini disediakan oleh alam benda. Jiwa menjalaninya, dan melanjutkan perjalanannya.

Kepercayaan “kita” yang sedang “kita” agung-agungkan itu pun hanyalah salah satu dari sekian banyak pengalaman. Pun demikian dengan suka, duka, dan pengalaman-pengalaman lainnya.

 

TENTANG “ANCAMAN” NERAKA – Pemahaman tentang “Svarga” dan “Naraka” dalam peradaban kita tidaklah sama seperti dalarn peradaban-peradaban lain.

Svarga adalah Keadaan Sejati atau Alami bagi Jiwa. Svarga bukanlah suatu tempat, tetapi State of Being, kesadaran diri, dimana Jiwa sadar akan hakikat dirinya.

Sebaliknya Naraka adalah kebalikan Svarga. Keadaan Jiwa yang tidak mengenali kesejatian dirinya. Keadaan Jiwa yang terikat dengan dunia benda. Menjijikkan, dalam pengertian, keadaan tersebut tidaklah alami bagi Jiwa, dan mesti segera dilampauinya.

 

“Termabukkan aleh harta-kekayaan, mereka selalu menganggap diri mereka saja yang benar; keras kepala dan munafik, ritus-ritus kepercayaan yang mereka lakukan pun, demi kepentingan diri dan ketenaran saja, tanpa mengindahkan kemuliaan (niat) dan nilai-nilai kesucian.” Bhagavad Gita 16:17

 

Kilauan materi bukanlah sekadar kepingan perak dan emas, tetapi juga ketenaran, kedudukan, dan sebagainya. Jika mata kita tersilaukan olehnya, maka kita adalah pewaris sifat syaitani, sifat yang tidak mulia.

 

TERSILAUKAN OLEH KILAUAN PALSU ITU, kita hidup sebagai orang buta. Kita menjalani hidup ini tanpa penglihatan. Bahkan, seorang buta hanyalah tidak memiliki mata-fisik. Barangkali mata-batin dia justru sudah terbuka. Sementara itu, mereka yang termabukkan oleh harta-kekayaan, ketenaran, dan sebagainya adalah buta-batin.

Kemudian, dalam keadaan buta-batin seperti itu, ritus-ritus kepercayaan, doa, derma, apa pun yang kita lakukan, sia-sia saja. Sebab, kita melakukan semua itu demi “sesuatu”. Kita tidak melakukannya sebagai ungkapan panembahan atau devosi.

Seringkali, kita bahkan dapat memutar-balikkan makna ayat-ayat suci untuk membenarkan segala kekurangajaran kita.

 

SEBAGAI CONTOHI Bisa saja kita berjubah putih bersih, tanpa noda — namun, pikiran dan petasaan justru dibiarkan tetap bemoda. Jubah putih yang dipakai hanyalah untuk menutupi noda-noda diri, dan mengelabui orang lain.

Pun demikian dengan puasa, perjalanan suci dan berderma. Semuanya bisa dilakoni hanya untuk mernamerkan kesalehan diri. Panembahan bukan pameran, bukan untuk dipamerkan!

Dikutip dari buku: (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

 

Om, Sarve bhavantu sukhinaḥ; Sarve santu nirāmayāḥ; Sarve bhadrāṇi paśyantu; Mā kashchit duḥkha bhāgbhavet; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga semua makmur, bahagia dan bebas dari penyakit. Semoga semua mengalami peningkatan kesadaran, dan bebas dari penderitaan. Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/

 

Bila Masih Terikat Dunia, Ingatan Past Life Bisa Membingungkan #BhagavadGita

Yang Penting Hikmah dari Past Life

“Kurunandana (Arjuna, Kebanggaan wangsa Kuru), seorang Yogi yang demikian itu diberkati dengan pandangan spiritual yang jernih tentang masa lalunya; sehingga ia dapat melanjutkan perjalanannya menuju kesempurnaan dengan segenap kekuatannya.” Bhagavad Gita 6:43

Tidak semua orang bisa mengenang masa lalu mereka. Jika kita masih sangat terikat dengan dunia benda, maka ingatan tentang masa lalu tidaklah membantu, malah membingungkan!

 

BAYANGKAN, JIKA KITA MENGINGAT KEMBALI bahwa anak kita sekarang, dulu adalah pasangan kita. Pembantu kita dulu meminjam uang dan tidak mengembalikannya, sekarang menjadi bos kita.

Ingatan-ingatan, memori-memori dari satu masa kehidupan saja sudah cukup membebani, apalagi ingatan-ingatan dari beberapa masa kehidupan! Kita bisa bingung sendiri! Sulit bagi kita untuk bertindak. Maka, seluruh memori itu “diperas” — hikmahnya diambil dan dijadikan “potensi diri”. Ampasnya dibuang. Ceritanya dibuang, moralnya diambil.

Lain halnya dengan mereka yang sudah tidak terikat lagi dengan kebendaan. Bagi mereka, ingatan tentang masa lalu bisa menjadi “koleksi cerita” untuk berbagi dengan rnereka yang hendak dilayaninya.

Seorang Buddha bercerita, berkisah tentang masa lalunya sebagai manusia, binatang, apa saja. Ia tidak melakukan hal itu untuk memberi angin pada egonya. Ia melakukan hal itu supaya kita “mengerti”. Supaya kita pun bisa belajar dari pengalaman-pengalamannya. Buddha pernah berkata bahwa seseorang yang mengenang, mengingat masa lalunya dengan jelas — tidak perlu mengalami reinkarnasi lagi. Ia telah mencapai akhir perjalanannya. Ia telah terjaga. Ia adalah Buddha.

Keadaan yang sama disebut sebagai “Kesempurnaan dalam Yoga” oleh Krsna. Inilah yang disebut sebagai Purnama Siddhi — Pencapaian Pencerahan — ibarat bulan purnama dengan sinarnya, rembulannya menyejukkan.

Berikut penjelasan Bhagavad Gita 6:44 bahwa upaya menempuh Yoga, menuju kesempurnaan di kehidupan masa lalu, past life,  lebih dahsyat daripada tindakan para saleh mengikuti petunjuk kitab suci di kehidupan masa kini. Oleh karena itu tempuhlah Yoga saat ini agar di kehidupan mendatang kita memperoleh berkah:

Buku Bhagavad Gita

Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu; Saha vīryam karavāvahai; Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga Hyang Tunggal senantiasa melindungi kita; menjernihkan pikiran kita: semoga kita dapat berkarya bersama dengan penuh semangat; semoga apa yang kita pelajari mencerahkan dan tidak menyebabkan permusuhan; Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

“Ada pula yang lahir dalam keluarga kaya dan sejahtera; masih terbawa oleh nafsu indranya, namun juga tertarik dengan hal-hal yang bersifat rohani karena pengaruh dari masa lalunya – jika mereka berupaya untuk mencapai kesempurnaan dalam Yoga, maka upaya mereka itu melebihi tindakan para saleh yang senantiasa sibuk melaksanakan ritus-ritus sesuai petunjuk kitab-kitab suci.” Bhagavad Gita 6:44

 

Sabda Brahman” berarti “Suara Tuhan” atau Sruti; atau dalam bahasa kita, “wahyu”. Para saleh mengikuti wahyu sebagaimana dikumpulkan dalam kitab-kitab suci kita, menjalani hidup mereka sesuai dengan apa yang diajarkan—namun, jangan lupa, “wahyu” adalah suara-Nya yang didengarkan oleh “seseorang” – oleh seorang resi. Sruti, berarti, “yang terdengar”; dan pendengarnya disebut Rsi.

 

PARA RSI ATAU RESI TELAH MELIHAT KEBENARAN – Mereka telah mendengarkan suara-Nya, telah merasakan keberadaan-Nya. Namun semua itu adalah pengalaman mereka, pengalamanpribadi mereka.

Krsna mengajakArjuna untuk “menjadi” resi — untuk mencapai “kesempurnaan dalam Yoga”—yang kemudian, ia dapat mendengar sendiri suara-Nya. Ia dapat melihat-Nya, dan merasakan sendiri kehadiran-Nya.

Mendengar suara-Nya, dalam pengertian Yoga, adalah menyatu dengan-Nya — dan, inilah pencapaian tertinggi.

Walau, dalam kehidupan ini kita belum mencapai kesempurnaan dalam Yoga, belum menyatu dengan-Nya dan keburu “mati”, tiada yang perlu dikhawatirkan. Upaya kita sepanjang hidup tidak sia-sia.

 

DALAM MASA KELAHIRAN BERIKUTNYA… Walau lahir dalam keluarga kaya, sejahtera, serba berkecukupan, atau bahkan berlimpah, walau masih sering terbawa oleh hawa nafsu, dan masih pula terkendali oleh indra — kita akan tetap berupaya untuk meraih kesempurnaan dalam Yoga.

Kita tidak bisa mengabaikan dorongan Jiwa, suara hati, untuk melanjutkan perjalanan rohani kita. Kiranya, keadaan ini yang dialami oleh seorang pangeran seperti Siddhartha. Maka, dengan adanya pemicu sedikit saja — dengan melihat kenyataan hidup berupa kelahiran, kematian, penyakit, usia tua, dan sebagainya — ia langsung mengingat kembali “tujuannya” dan meninggalkan istana untuk melanjutkan perjalanannya.

 

ARJUNA BERADA DALAM P0SISI YANG MIRIP, tapi tidak sama. Dalam diri Arjuna, potensi sebagai seorang kesatria masih tetap melengket. Tidak demikian dengan Siddharta. Sebab itu, Arjuna mesti berada di tengah keramaian dunia dan mengupayakan kesempurnaan dalam Yoga sambil tetap menjalankan profesinya.

Sementara itu, Siddhartha tidak memiliki identitas-kesatria yang melengket pada dirinya. Walau lahir sebagai pangeran, Jiwa Siddhartha sudah rnerasa cukup menjalani peran sebagai kesatria dalam beberapa masa kehidupan sebelumnya. Maka, ia ingin memiliki pengalaman yang beda – pengalaman sebagai petapa.

Potensi seorang Siddharta adalah sebagai bhiksu, sebagai petapa. Potensi Arjuna sebagai kesatriia.Namun kedua-duanya sedang menuju pengalaman akhir yang satu dan sama—kesempurnaan!

 

BANYAK ORANG LAHIR DALAM KELUARGA KAYA-RAYA. Namun, mereka tidak tertarik dengan apa saja yang menyangkut pengembangan diri. Berarti, mereka memang belum memiliki keinginan untuk mengalami hal itu. Di masa lalu, mereka tidak pernah berupaya untuk mengalami kesempurnaan dalam Yoga. Maka sekarang, dalam masa kehidupan ini pun, mereka tidak merasakan dorongan batin ke arah tersebut.

Jadi, tidak berarti setiap orang yang lahir dalam keluarga kaya adalah Yogi yang hendak melanjutkan perjalanarmya. Bisa saja, ia sekadar menikmati hasil dari segala amal-saleh yang dibuatnya di masa lalu, dan belum ada keinginan untuk mencapai kesempurnaan diri.

Dikutip dari buku: (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

 

Om, Sarve bhavantu sukhinaḥ; Sarve santu nirāmayāḥ; Sarve bhadrāṇi paśyantu; Mā kashchit duḥkha bhāgbhavet; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga semua makmur, bahagia dan bebas dari penyakit. Semoga semua mengalami peningkatan kesadaran, dan bebas dari penderitaan. Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/

Bagi teman-teman yang ingin merasakan past life silakan kontak L’Ayurveda Jakarta atau Bali.

Membangkitkan Kembali Budaya Spiritual #Temu Hati 2 Master

Makna Salam Om Svastyastu

Pada tanggal 25 dan 26 April 2017 di Anand Ashram Ubud, semua peserta yang hadir mendengarkan dharma talk oleh Yang Mulia Bhikku Sanghasena dari Mahabodhi International Meditation Center India dan Guruji Anand Krishna dari Anand Ashram Indonesia.

Pada saat dhamma talk, Bapak Anand Krishna juga menjelaskan tentang salam Om Svastyastu, ucapan selamat di Bali.

Svastika adalah kebijakan kuno masyarakat di masa lalu yang simbolnya ditemukan pada peninggalan kebudayaan kuno Mohenjodaro dan Harappa di Sindh sekarang wilayah Pakistan, sekitar 4.000 tahun yang lalu (dan dengan penemuan terbaru ternyata sekitar 12.000 tahun yang lalu). Simbol tersebut menjelaskan adanya 4 hal utama yang membahagiakan manusia:

  1. Melakukan Dharma, kebajikan. Bila kita melakukan kebajikan kita akan merasa bahagia. Sebaliknya bila melakukan kebatilan, maka kita akan merasa cemas dan tidak merasa bahagia.
  2. Mempunyai Artha, apa pun yang membuat hidup berati, bermakna, maka itulah Artha, termasuk money, uang. Kalau sekadar uang belaka itu dan kegunaannya tidak bermakna bagi banyak orang, maka itu bukan Artha, itu sekadar fulus.
  3. Terpenuhi Kama, keinginannya. Seseorang bahagia bila keinginannya terpenuhi, dia memperoleh kepuasan, contentment, psychological factor. Sampai suatu saat dia sadar bahwa keinginan duniawi tidak membahagiakan karena segala sesuatu yang bersifat duniawi bersifat sementara, temporer.
  4. Mencapai Moksa, kebebasan. Selama kita terbelenggu maka kita belum bebas, dan kita belum bahagia.

 

Jadi pada saat kita mengucapkan salam Om Svatyastu, kita mendokan orang yang kita temui: “Semoga Bapak, Ibu, Saudara, Saudari makmur dengan memperoleh 4 hal utama: dharma, artha, kama dan moksa.

Demikian disampaikan Bapak Anand Krishna saat menjelaskan tentang simbol svastika yang dipasang di dinding hall Anand Ashram Ubud.

 

Guru membangkitkan sifat keilahian dalam diri

Bhikku Sanghasena dalam salah satu butir dhamma talk menyampaikan tentang potensi kebuddhaan (kita menyebutnya potensi keilahian) dalam diri kita semua. Menurut Bhante, kita semua adalah Buddha hanya buddha yang masih tidur. Wake up! Bangun! Agar kebuddhaan dalam diri bangkit, terjaga dari tidur lelap diperlukan Guru, Master untuk mengetok kepala kita agar bangun, bangkit. Bila tidur kita terlalu lelap, dibutuhkan seorang Master seperti Bodhidharma yang kuat dan perkasa untuk mengetok kepala kita agar bangun, bangkit.

Usia seorang guru terbatas, akan tetapi organisasi spiritual yang telah dibangunnya harus tetap jalan. Dibutuhkan orang-orang yang penuh dedikasi untuk melanjutkan perjalanan organisasi.

 

Kelestarian Lembaga Spiritual untuk melayani masyarakat

Di India banyak organisasi spiritual seperti ashram yang masih berjalan setelah berdiri ratusan tahun lalu.

Bhikku Sanghasena mengakui ada perbedaan kondisi di lingkungan di India dan Indonesia. Akan tetapi telah hubungan cultural dan spiritual antara India dan Indonesia sejak zaman dahulu. Contohnya, saat ini Beliau datang darii Himalaya, Mountains of God datang ke Bali Island of Gods…….. Semua hadirin tertawa keras……..

Nampaknya Bapak Anand Krishna mengharapkan kita semua belajar dari Bhante, terutama dalam hal bagaimana mengelola organisasi Mahabodhi agar tetap lestari.

Bapak Anand Krishna bertemu Bhikku Sanghasena pada tahun 1991 di Ladakh, Leh. Pada tahun 1992, Bhante mengumpulkan anak-anak kecil dari tempat-tempat terpencil di Gurun Ladakh untuk dikumpulkan dan dididik di Ladakh.  Dimulai dengan 25 anak-anak yang  belajar, bermain, dan hidup bersama di satu kamar yang besar. Sambil berjalannya waktu tanah tandus yang kalau musim dingin tertutup salju itu dilakukan penghijauan, dan sekarang sudah menjadi kompleks Mahabodhi yang asri, lengkap dengan sekolahan, rumah sakit, panti jompo dan bangunan kelengkapan spiritual lainnya. Bahkan sudah ada cabangnya di beberapa tempat di India.

Salah seorang pendamping Bhante adalah Sister Tsewang Dolma, salah satu dari 25 murid awal tersebut. Selesai sekolah di Ladakh, dia melanjutkan ke Universitas di Bangalore dan setelah lulus kembali ke Ladakh mengabdikan diri di Mahabodhi. Sekarang dia menjadi principal, kepala sekolah di Mahabodhi, Ladakh. Demikian juga di antara 25 anak murid awal tersebut adalah Sister Kunzang Dechen yang juga mendampingi Bhante ke Bali. Dia sekarang mengabdikan diri di Mahabhodi sebagai seorang Instruktur Yoga.

Pada saat ini ada 500 murid dan 350 di antaranya tinggal di asrama di Ladakh. Bhante mengatakan bahwa mereka mempelajari tradisi mana pun yang menunjang peningkatan kesadaran.

 

Bagaimanakah dengan kita?

Apakah tujuan hidup kita? Kebanyakan tujuan kita adalah keberhasilan duniawi yang bersifat pribadi. Kemudian pengalaman kita membuktikan bahwa kebahagiaan duniawi hanya bersifat sementara, temporer.

Di India, seperti halnya contoh dua orang pendamping Bhante yang datang ke Bali, setiap ashram selalu ada orang-orang yang tahu tujuan hidupnya. Tujuan hidupnya adalah untuk menuju Tuhan dan untuk itulah mereka memerlukan seorang Master, seorang Guru. Setelah bertemu Guru, mereka berhenti memimpikan dunia yang bersifat sementara. Mereka menjadi tangan-tangan Guru dalam melayani masyarakat dan lingkungan.

Bila kita baca Srimad Bhagavatam yang ditulis Bhagavan Vyaasa, kita akan membaca contoh perjalanan hidup para panembah Gusti. Ada tokoh-tokoh seperti Rishi Kapila yang sejak kecil sudah langsung fokus pada Gusti. Ada yang sejak kecil sudah sadar, terjaga seperti Dhruva atau Prahlada, yang kemudian menjadi raja dan berkeluarga dan setelah itu menlakukan Vanaprastha, meninggalkan istana sampai menjadi Sanyasin yang berfokus penuh pada Gusti.

Banyak pula brahmana seperti Rishi Kardama yang menjadi Grihasthya, perumah-tangga untuk mengikuti perintah Brahma berkembang-biak di dunia dan setelah putra-putrinya mandiri, mereka fokus pada Gusti menjalani Vanaprastha untuk kemudian menjadi Sanyasin.

Ada pula seperti Rishi Narada yang tidak berkeluarga dan berbagi pengetahuan ilahi serta selalu memuja Gusti Narayana.

Di India contoh-contoh kehidupan para panembah Gusti masih diteladani. Sejak kecil sudah belajar di ashram, dan setelah mereka menjadi dewasa banyak yang menjadi pemimpin yang bijaksana. Ada budaya untuk melakukan karma yoga, melayani sesama, bukan hanya kepetingan pribadi dan kelompok. Tujuan akhir adalah Gusti Pangeran.

Mencari artha, uang, kedudukan dan apa saja yang kita perbuat di dunia ini adalah untuk dharma, menggunakan kama, semua keinginan, obsesi dan harapan apa pun diarahkan menuju moksa. Mungkin tradisi demikian sudah hilang dari negeri kita. Kenapa tidak mulai dari sekarang?

Para Master usianya terbatas akan tetapi organisasi yang dibentuknya tetap melayani masyarakat sampai ratusan tahun…….. Semoga….