Risiko Krsna dalam Perang Melebihi Arjuna? Apa Rahasia Ketenangan Krsna? #BhagavadGita

Krsna adalah sosok yang berada dalam keadaan ini. Ia berada di tengah medan perang. Bukan angin biasa lagi. Sesungguhnya ia sedang berada di tengah angin ribut. Arjuna pun sama. Tapi Krsna tidak terganggu, sedangkan Arjuna terganggu.

Risiko Arjuna adalah “kalah” dan/atau mati, gugur di medan perang. Risiko Krsna melebihi risiko Arjuna. Bukan saja risiko mati, gugur di medan perang. Jika pun ia selamat, maka ia akan menghadapi kubu Kaurava yang tetap berkuasa di anak-benua Hindia, tempat kerajaannya — Dvaraka atau Dvaravati — adalah salah satu negara-bagian. Bayangkan, Krsna yang berpihak pada Pandava itu akan diperlakukan seperti apa? Yang jelas, ia akan dianggap tidak setia, pembangkang, pengkhianat……..

Dari sudut pandang manusia, risiko Krsna tidak kurang dari risiko Arjuna. Tapi keadaan batin mereka berbeda! Krsna adalah seorang Yogi, Yogiraja — Raja para Yogi. Arjuna masih belum. Penjelasan Bhagavad Gita 6:21 dikutip dari buku: (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

Silakan ikuti penjelasan Bhagavad Gita 6:20 tentang keadaan batin Krsna berikut:

Buku Bhagavad Gita

Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu; Saha vīryam karavāvahai; Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga Hyang Tunggal senantiasa melindungi kita; menjernihkan pikiran kita: semoga kita dapat berkarya bersama dengan penuh semangat; semoga apa yang kita pelajari mencerahkan dan tidak menyebabkan permusuhan; Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

“Dalam keadaan ‘diri’ atau batin terkendali seperti itu, Jiwa menyadari dirinya sebagai Jiwa; Demikian, ia mengalami kebahagiaan, kepuasan tak terhingga.” Bhagavad Gita 6:20

Dalam keadaan citta atau batin tenang — Jiwa menyadari dirinya sebagai Jiwa. Ia bukan badan; ia bukan energi; ia bukan gugusan pikiran serta perasaan; ia bukan inteligensia; ia bukan ini, dan bukan juga itu. Ia adalah Jiwa, percikan Sang Jiwa Agung. Maka saat itu ia mengalami kebahagiaan tak terhingga. Sebelum menggapai ………

 

KESADARAN JIWA, keadaannya persis seperti seorang putra raja yang diculik oleh gerombolan perampok. Ia dibesarkan oleh mereka. Maka, ia memiliki identitas palsu. Identitas palsu sebagai putra perampok, sebagai perampok. Indentitas palsu ini karena “pergaulannya” dengan gerombolan perampok. Karena keberadaannya di tengah mereka. Karena terlupakannya identitas asli yang sebenamya.

Menjalani peran palsu ini — peran yang sesungguhnya bukanlah peran dia — terjadi konflik batin dalam diri sang pangeran. Dia tidak puas dengan perannya sebagai perampok.

Ketika ia diculik, usianya baru 3 — 4 tahun. Ia masih balita. Sebab itu, ia pun tidak mengingat persis “masa lalunya” — identitas aslinya. Tapi, bagaimanapun juga — rekaman tentang kehidupan di istana sebagai pangeran, tidak pernah hilang juga. Rekaman itu masih ada. Walau buyar dan tidak jelas, ia masih melihat gambar-gambar, bayang-bayang dari masa lalunya — baik dalam keadaan jaga, maupun tidur — dalam mimpi.

 

IA TIDAK MENYADARI SEBAB KEGELISAHANNYA — Tapi ia tetap gelisah. Kehidupan perampok bukanlah kehidupannya. Ia tidak puas dengan pola-hidup yang sedang dijalaninya.

Kemudian, suatu ketika seorang menteri yang bijak menemukan si pangeran yang hilang itu. Ia mengenal tanda-tanda yang ada di badannya. Sekarang, Anda boleh menambahkan faktor DNA Test. Jelas dia bukan putra perampok. Dia seorang pangeran.

Maka, kesadaran baru yang sesungguhnya adalah kesadaran awalnya, kesejatian dirinya, seketika membahagiakan sang pangeran. Ia tidak perlu merampok lagi. Ia seorang pangeran. Mereka, yang selama ini dirampoknya, adalah warganya, rakyatnya.

Kebahagiaan sejati, kedamaian batin, keceriaan Jiwa yang dialami oleh pangeran dalam kisah ini – seperti itulah pengalaman kita ketika sadar akan diri kita sebagai Jiwa.

 

JIWA ADALAH PENONTON – Mereka yang sedang beraksi di atas panggung adalah badan, gugusan pikiran serta perasaan, indra, inteligensia.

Dirinya sedang menonton!

Maka adegan apa saja dapat menghibur dirinya. Terjadinya kematian di atas panggung, mengikuti skenario Sang Sutradara atau Penulis Naskah, tidak mencelakakan dirinya.

Terjadinya banjir, badai, topan — tidak mengganggu kenikmatan yang diperolehnya sebagai penonton. Jiwa yang demikian itu — Jiwa yang menyadari perannya, sifat aslinya sebagai Jiwa —terbebaskan dari segala duka. Bahkan dari segala dualitas suka dan duka. Ia meraih kebahagiaan tertinggi!

Ia seperti seseorang yang sedang bermain game. Gambar-gambar yang muncul di monitor atau layar teve adalah proyeksi dari console yang pengendalinya ada di tangan dia sendiri.

 

“Ketika Jiwa mengalami kebahagiaan tertinggi yang (berasal dari dirinya sendiri, dan) melampaui segala kenikmatan indra, bahkan segala kenikmatan yang dapat diperolehnya lewat intelek, maka ia akan berpegang teguh pada kebenaran, dan tak tergoyahkan lagi oleh tantangan seberat apa pun!” Bhagavad Gita 6:21

Ketika sang pangeran dalam kisah sebelumnya telah menemukan jati dirinya, maka ia tidak akan pernah membiarkan kesadaran itu “terlupakan lagi”.

Ia tidak akan pernah meninggalkan atau melepaskan “kebenaran” dirinya sebagai pangeran. Ia bukanlah seorang perampok.

 

SEORANG YOGi YANG SUDAH MENYADARI dirinya sebagai Jiwa, tak akan terperangkap oleh identitas-identitas palsu rekaan badan, indra, gugusan pikiran serta perasaan, maupun inteligensia.

Jiwa yang sudah merasakan kebahagiaan tertinggi ibarat pangeran yang “sudah kembali ke istananya”. Ia tidak tertarik lagi dengan kenikmatan-kenikmatan indra yang diperolehnya dalam “kesadaran palsu” sebagai perampok.

Ia tidak merampok lagi, karena menyadari dirinya sebagai pangeran. Jika kita sadar bahwa panggung sandiwara adalah untuk menghibur, maka kita akan menikmati segala pertunjukan di atas panggung — tapi tidak mengidentifikasikan diri dengan cerita di atas panggung.

Kita penonton! Tidak perlu membawa pulang panggung atau peran di atas panggung. Nikmati — dan kembalilah ke istana — ke tempat asal kita!

Dikutip dari buku: (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

Om, Sarve bhavantu sukhinaḥ; Sarve santu nirāmayāḥ; Sarve bhadrāṇi paśyantu; Mā kashchit duḥkha bhāgbhavet; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga semua makmur, bahagia dan bebas dari penyakit. Semoga semua mengalami peningkatan kesadaran, dan bebas dari penderitaan. Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/

 

Pengulangan Desis Matahari Om untuk Mencapai Tujuan #YogaSutraPatanjali

Jika kita menggunakan “Desis Matahari” sebagai tolok ukur, Suara Om atau Aum itulah yang “terdekat”. Dalam hal ini, konteks ini, penggunaan “desis matahari” sebagai tolok ukur adalah karena matahari adalah Sumber Energi Kehidupan paling penting bagi kita semua, bagi planet bumi yang kita huni.

Banyak varian om atau aum—Alm (alif lam mim?….. penulis kutipan), Aom, Ang, Aung, Ahung, dan sebagainya. Setiap di antaranya adalah valid. Semua kembali pada pendengaran kita.

Kembali pada Om atau Aum. Setiap getaran yang dikeluarkan oleh Om atau Aum dapat membantu kita dalam hal penyelarasan diri dengan semesta, bahkan dengan Ia Hyang berada di balik semesta, Hyang Mahakuasa.

Kenapa bisa yakin sedemikian rupa? Silakan diuji, dicoba. Ucapkan dengan cara yang betul sebanyak 21 kali setiap pagi antara jam 04.00-07.00 selama 3 bulan saja. Anda pasti merasakan tidak hanya fisik Anda menjadi lebih sehat; pikiran pun Iebih tajam, lebih jernih; dan, perasaan lebih tenang.

Sedikit tambahan, berikut adalah kutipan dari salah satu buku kita terdahulu, yaitu Gayatri Shadana – Cinta  yang Mencerahkan: “Untuk mengakses semesta Anda tidak perlu menggunakan kata atau password yang panjang lebar, sekian digit, dan mesti terdiri dari sekian kata dan sekian angka. Tidak, tidak perlu semua itu. Cukup dengan ‘suara’—sabda singkat. Dan, semesta terbuka lebar dan luas bagi Anda.” Penjelasan Yoga Sutra Patanjali I.27 dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2015). Yoga Sutra Patanjali Bagi Orang Modern, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Berikut penjelasan Yoga Sutra Patanjali dengan mengulangi Om secara terus-menerus seseorang meraih tujuannya:

Buku Yoga Sutra Patanjali

Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu: Saha vīryam karavāvahai;Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai.Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga Hyang Tunggal senantiasa melindungi kita; menjernihkan pikiran kita: semoga kita dapat berkarya bersama dengan penuh semangat; semoga apa yang kita pelajari mencerahkan dan tidak menyebabkan permusuhan; Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

taj -japah tad-artha-bhavanam

“Dengan mengulangi-Nya (Om atau Aum) secara terus-menerus, seseorang meraih atau merealisasi makna atau tujuannya.” Yoga Sutra Patanjali I.28

Kiranya apa yang menjadi tujuan Anda ketika Anda memanggil nama saya? Atau sebaliknya, apa yang menjadi tujuan saya, jika memanggil nama Anda? Sekarang, bagaimana jika kita menggunakan rumusan yang sama pada penyebutan, atau

PENGULANGAN OM ATAU AUM SECARA TERUS-MENERUS? Dan kita tahu bahwa Om atau Aum adalah Ekspresi atau Ungkapan Verbal-Nya. Dalam pengertian, Inilah Nama-Nya!

Patanjali ingin mengingatkan kita bahwa dengan mengulangi Nama-Nya secara terus-menerus, kita tidak hanya menyapa dan menyadari hakikat-Nya, tetapi juga menyapa dan menyadari hakikat diri kita sendiri—hakikat kita sebagai Jiwa, yang sesungguhnya tak terpisahkan dari Sang Jiwa Agung.

Sutra ini bisa dimaknai dengan berbagai cara: Taj Japah berarti “Mengulangi-Nya”. Tad Artha berarti “Makna, Arti, atau Tujuan-Nya”. Terakhir, Bhavanam berarti “Menjadi, Mewujud, atau Merealisasi”.

Secara esoteris, makna yang lebih dalam lagi: Dengan mengulangi-nya (mengulangi Om atau Aum) secara terus-menerus, seseorang tidak sekadar merealisasikan makna-Nya, tetapi “menjadi-Nya”. Bagi mereka yang telah mengenal prinsip kemanunggalan, bagi mereka yang percaya pada prinsip tersebut, tentu tidak menjadi masalah. Namun, bagi mereka yang berprinsip dualitas, di mana matahari, cahaya, dan/atau sinarnya dianggap terpisah, maka makna terakhir ini agak sulit untuk dicerna. Tidak menjadi soal.

 

JIKA KITA MASIH BERPIHAK PADA PAHAM DUALITAS, maka kita dapat pula memaknai sutra ini sebagai berikut.

“Dengan mengulangi Om secara terus-menerus kita meraih tujuan dari pengulangan tersebut.” Nah, sekarang kembali pada diri kita sendiri, apa yang menjadi tujuan kita?

Jika kita tetap bertujuan untuk berpisah dari-Nya, tujuan itu yang tercapai. Jika tujuan kita adalah kemanunggalan, kemanunggalanlah yang kita realisasi.

 

tatah pratyak-cetanadhigamo’pyantaraya bhavas-ca

“Demikian, seseorang meraih Pratyak Cetana atau Kesadaran Jiwa, dan segala rintangan (untuk mencapainya) teratasi.” Yoga Sutra Patanjali I.29

Dengan mencapai Kesadaran Jiwa, maka tiada lagi kebingungan tentang jati diri, tentang kesejatian diri kita sebagai Jiwa yang Tak Terpisahkan dari Jiwa Agung.

Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2015). Yoga Sutra Patanjali Bagi Orang Modern, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Om, Sarve bhavantu sukhinaḥ; Sarve santu nirāmayāḥ; Sarve bhadrāṇi paśyantu; Mā kashchit duḥkha bhāgbhavet; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga semua makmur, bahagia dan bebas dari penyakit. Semoga semua mengalami peningkatan kesadaran, dan bebas dari penderitaan. Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/

 

Tidak Ingin Berulang Kali Lahir Kembali? Berkaryalah Tanpa Pamrih! #YogaSutraPatanjali

buku-yoga-sutra-patanjali-sepi-ing-pamrih

Sepi ing Pamrih Rame ing Gawe, Giat Berkarya tanpa Menanam Benih Kelahiran Kembali

Patanjali menekankan bahwa dhyana atau meditasi bukanlah duduk diam dan menjauhkan diri dari keramaian. Meditasi adalah “gaya kerja”—working style. Bekerja secara meditatif, hidup secara meditatif, itulah yang dimaksud. Bekerja dengan cara itulah yang tidak menyisakan residu, tidak ada ampas—tidak ada sesuatu tersisa yang bisa menjadi citta, bisa menjadi benih pikiran dan perasaan.

Bekerja secara meditatif, berarti bekerja tanpa ke-“aku”-an, bekerja tanpa pamrih, tanpa kepentingan diri. Penjelasan Yoga Sutra Patanjali IV.6

…………..

Sebaik-baik perbuatan kita, karma kita, jika masih ada setitik pun pamrih di baliknya, maka memunculkan vasana, obsesi, atau setidaknya keinginan untuk menikmati hasil dari perbuatan baik. Inilah yang kemudian—pada masa kehidupan berikutnya—-menjadi modal bawaan. Inilah modal kebiasaan dan kecenderungan; atau sifat bawaan.

Demikianlah, setiap karma—baik, buruk, atau di antaranya menghasilkan vasana, residu. Kecuali karma tanpa pamrih, Niskama Karma. Penjelasan Yoga Sutra Patanjali IV.8

……………..

Hidup cara Yogi berarti berkarya tanpa pamrih, berbagi berkah dengan mereka yang kurang beruntung. Hidup cara nonYogi berarti memikirkan diri sendiri saja, kepentingan diri, dan mengharapkan imbalan dari setiap perbuatan—mengharapkan kenikmatan atau kaveling di surga pun termasuk pamrih.

Pilihan ada di tangan kita.

Hidup sebagai Yogi berarti hidup tanpa ampas, tanpa residu, tanpa vasana, tanpa benih yang bisa menyebabkan kelahiran ulang. Atau hidup sebagai Non-Yogi, dan mengulangi pengalaman masa lalu. Meninggalkan residu, vasana, yang mempertahankan ke-aku-an diri sebagai manah, mind, gugusan pikiran serta perasaan, yang kemudian memunculkan citta sebagai benih untuk kelahiran ulang. Penjelasan Yoga Sutra Patanjali IV.8

 

Berikut penjelasan Yoga Sutra Patanjali I.19 tentang berkarya tanpa pamrih agar tidak terjadi kelahiran ulang:

Buku Yoga Sutra Patanjali

Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu: Saha vīryam karavāvahai;Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai.Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga Hyang Tunggal senantiasa melindungi kita; menjernihkan pikiran kita: semoga kita dapat berkarya bersama dengan penuh semangat; semoga apa yang kita pelajari mencerahkan dan tidak menyebabkan permusuhan; Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

“Kendati sudah videha, tidak berbadan, dan (elemen-elemen yang menciptakan badan pun sudah terurai serta) menyatu kembali dengan prakrti atau alam-benda—kehendak kuat untuk tetap hidup di dunia-benda bisa tersisa, dan menyebabkan terjadinya kelahiran ulang.” Yoga Sutra Patanjali I.19

 

Kehendak itu muncul dari purva samskara, dari residu kesan-kesan sepanjang hidup yang masih ada dalam gugusan pikiran serta perasaan.

 

BERARTI, SAAT KEMATIAN, hanya elemen-elemen alami kebendaan murni, sepeni air, api, tanah, udara, dan subtansi eter dalam ruang saja yang terurai. Elemen-elemen halus, seperti mind, manah atau gugusan pikiran serta perasaan; ego atau ahamkara, dan sebagainya belum terurai. Mereka masih mengkristal, masih utuh—dan mereka inilah yang kemudian mencari badan baru untuk mengalami kehidupan-ulang.

Keadaan tersebut adalah keadaian umum. Biasanya demikian. Tidak selalu. Jika semasa hidup seseorang sudah bebas dari residu kesan dan pesan masa lalu, pun tiada lagi sesuatu yang dapat mengikat dirinya dengan alam benda, maka saat kematian fisik, bukan saja elemen-elemen alami seperti tanah, air, dan sebagainya yang terurai—mind, ego, intelek, semua ikut terurai. Tiada lagi sesuatu yang mengkristal.

Tiada kesan dan pesan; tiada ingatan atau obsesi; tiada niat untuk “berada” kembali di alam benda ini—maka, Jiwa Individu atau Jivatma menyatu dengan Sang Jiwa Agung, Paramatma.

Bagaimana mencapai keadaan itu?

Selesaikan semua pekerjaan sekarang, saat ini, dalam kehidupan ini juga. Jangan menyisakan pekerjaan rumah. Jangan menyisakan sesuatu yang bisa menjadi benih, bisa menjadi citta yang rentan terhadap vrtti, gejolak, fluktuasi, modifikasi; dan dapat memulai serangkaian pengalaman-pengalaman baru.

Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2015). Yoga Sutra Patanjali Bagi Orang Modern, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Catatan:

“Melaksanakan setiap tugas kita, setiap pekerjaan kita dengan semangat panembahan” – itulah Karma-Yoga. Berarti tidak ada perpisahan antara tugas, kewajiban, pekerjaan, usaha, karir, dan latihan-latihan olah-batin. Tidak perlu meninggalkan keluarga untuk bermeditasi di dalam gua. Tidak perlu meinggalkan pekerjaan untuk bertapa-brata di tengah hutan. Kita dapat berkarya secara meditatif – dengan penuh perhatian dan kewaspadaan. Kita dapat mengabdi kepada Gusti Pangeran sambil berkarya, sambil menjalankan tugas kewajiban kita. Dari buku Karma Yoga

Sudahkah kita melakukan setiap pekerjaan dengan semangat panembahan?

 

Om, Sarve bhavantu sukhinaḥ; Sarve santu nirāmayāḥ; Sarve bhadrāṇi paśyantu; Mā kashchit duḥkha bhāgbhavet; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga semua makmur, bahagia dan bebas dari penyakit. Semoga semua mengalami peningkatan kesadaran, dan bebas dari penderitaan. Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/

 

 

Mutiara Bhagavatam: Anak Sebagai Persembahan Mulia Bagi Umat Manusia

Dalam kisah-kisah Srimad Bhagavatam, kita telah memperoleh pelajaran bahwa kala berhubungan suami istri semata-mata berdasar nafsu dan melanggar etika suci bisa melahirkan asura, raksasa, seperti dalam kisah kelahiran Hiranyaksha dan Hiranyakashipu.

Kemudian kita sudah belajar untuk berdoa sebelum melakukan hubungan suami istri, supaya ruh yang masuk ke dalam benih di rahim istri adalah calon anak saleh. Jangan sampai ruh yang masuk menjadi calon anak, adalah musuh yang menuntut hutang karma karena tindakan masa lalu kita. Orang yang akan membalas kebaikan maupun keburukan akibat tindakan masa lalu kita selalu dekat dengan kita, selalu berinteraksi dengan kita. Tetapi semoga orang yang lahir untuk menuntut balas kepada kita tidak menjadi putra kita.

Kali ini kita memperoleh mutiara Bhagavatam bagaimana memohon kepada Gusti agar anak kita menjadi persembahan mulia bagi umat manusia. Sebenarnya bukan hanya tindakan membuat anak, akan tetapi semua tindakan yang kita lakukan seharusnya bermuara sebagai persembahan kepada umat manusia.

 

Menulis karena profesi

Ada yang menulis karena profesinya. Dia mencari nafkah lewat tulisannya. Kelompok penulis yang satu ini akan selalu mencari sensasi. Ia harus menciptakan sesuatu yang dapat diterima atau ditolak oleh massa. Baik penerimaan, maupun penolakan oleh massa, akan membawakan penghasilan bagi dirinya….. Sama sekali tidak berarti bahwa mereka ini adalah penulis kelas rendah. Tidak. Mereka adalah penulis profesional. Mereka adalah kuli tinta. Dan hampir seluruh masyarakat penulis kita berada dalam kelompok ini. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (1999). Wedhatama Bagi Orang Modern. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

Menulis karena senang menulis

Kelompok kedua adalah kelompok para sastrawan. Mereka menulis karena mereka senang menulis. Mereka tidak selalu mementingkan penghasilan yang dapat diraih dari tulisan-tulisan mereka. Mereka lebih mementingkan kepuasan batin. Alhasil, kadang-kadang mereka sangat provokatif. Kadang-kadang bahsa mereka sangat pedas, sangat pahit. Mereka tidak peduli. Anda menolak mereka atau mereka atau menerima mereka, itu urusan Anda. Mereka sudah puas dengan menyampaikan apa yang ingin disampaikan. Selanjutnya, terserah Anda. Mereka bisa dibilang sebagai kelompok pemberani. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (1999). Wedhatama Bagi Orang Modern. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

Menulis karena ingin berbagi rasa

Kelompok terakhir adalah kelompok mereka yang menulis karena ingin berbagi rasa. Mereka ingin menyampaikan sesuatu. Tulisan mereka ditujukan kepada sekelompok orang yang cukup reseptif. Tulisan mereka bukan tulisan populer. Tulisan mereka untuk kalangan tertentu. Menurut Sri Mangkunagoro sendiri, tulisannya ini diperuntukkan bagi para siwi – para siswa atau shishya. Kata ini sangat penting. Shishya berarti “ia yang telah menundukkan kepala atau shish-nya.” Menundukkan kepala berarti melepaskan keangkuhan, mengakui ketidaktahuannya dan berkeinginan untuk belajar. Kelompok terakhir ini persis sama seperti  kelompok sebelumnya, kelompok sastrawan. Mereka tidak menulis karena ingin meraih penghasilan ataupun pengakuan, tetapi karena memperoleh kebahagiaan atau kepuasan batin dari upayanya. Bedanya hanya satu: kelompok ketiga ini juga tidak semata-mata menulis semata-mata untuk memperoleh kepuasan batin , tetapi untuk berbagi rasa dengan orang lain. Mereka ingin menyampaikan sesuatu yang berguna bagi masyarakat. Mereka ingin membagi apa yang mereka peroleh dari kehidupan ini. Sri Mangkunagoro berada dalam kelompok ini. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (1999). Wedhatama Bagi Orang Modern. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Buah Karya, Anak

Buah karya bukan hanya berupa tulisan atau lembaga yang berkembang. Bhagavan Vyaasa penulis Mahabharata dan Srimad Bhagavatam bukan hanya tulisannya saja yang bermanfaat bagi umat manusia. Akan tetapi Sang Bhagavan juga menghasilkan buah karya yang lain, yang berwujud putranya. Rishi Suka, Guru Parikshit dan para brahmana adalah buah karya, putra dari Rishi Vyassa yang meningkatkan kesadaran umat manusia. Buah pikiran para bijak adalah anak hasil pikiran dan kesadaran mereka. Demikian juga seorang putra yang bijak adalah hasil buah karya orang tua juga. Demikian juga para murid adalah “anak” para Guru yang membimbingnya.

Dikisahkan dalam Srimad Bhagavatam Raja Nabhi adalah seorang raja bijaksana. Dia belum berputra dan dia memohon kepada Gusti Pangeran untuk memberinya putra. Dalam acara ritual yang diadakan para brahmana, Gusti Pangeran, Narayana berkenan hadir dan Raja Nabhi mohon agar Narayana sudi berkenan lahir sebagai putranya.

Para brahmana yang menyelenggarakan upacara merasa sangat malu. Bertemu Gusti Pangeran mestinya yang diminta adalah moksa. Mengapa sang raja minta Gusti Pangeran lahir sebagai putranya?

Para brahmana tidak sadar, bahwa memohon dirinya agar moksa adalah benar, akan tetapi masih banyak sekali umat manusia yang belum moksa yang membutuhkan pembimbing dan pemandu agar mencapai moksa. Raja Nabhi bukan raja yang berpikiran sempit agar dia mempunyai putra yang hebat.

Jauh dari hal demikian, sang raja memikirkan umat manusia. Setelah nantinya, dia menobatkan pengganti dia akan melakoni vanaprastha fokus pada Gusti Pangeran. Tetapi bagaimana umat manusia yang ditinggalkannya? Oleh karena itulah dia mohon Narayana lahir sebagai putranya. Agar ada generasi penerus yang bermanfaat bagi umat manusia. Agar Gusti Narayana mewujud untuk membimbing umat manusia yang ditinggalkannya. Para Guru meninggalkan buku karyanya, lembaga ashram, dan para muridnya demi kasihnya kepada umat manusia…..

 

Berkarya dengan semangat persembahan

Penciptaan terjadi ketika Hyang Tunggal berkehendak untuk ‘menjadi banyak’. Selama masih tunggal, tanpa dualitas, penciptaan tidak mungkin.

Berarti, Brahma, Sang Pencipta adalah Produk Dualitas – Anda dan saya, kita semua adalah produk dualitas pula. Kita lahir, hidup berkarya, dan mati dalam kesadaran dualitas.kemanunggalan adalah hakikat kita, ya, tapi, saat ini kita tidak manunggal lagi. Saat ini kita terpisah, atau setidaknya ‘merasa’ berpisah dari Hyang Tunggal. Maka kita mesti mengupayakannya kembali.

Bagaimana caranya? Sang Pencipta telah memberikan clue, isyarat. Yaitu, dengan berkarya dengan semangat pesembahan. Ia mengatakan kepada makhluk-makhluk ciptaannya, kepada manusia, ‘Aku pun demikian. Aku pun menciptakan semua dengan semangat persembahan, dengan semangat melayani.

Dengan cara itulah, kita baru bisa mengikis ego kita, tidak membiarkannya meraja. Idam na mama – bukan aku, bukan ego-ku, bukan indra, bukan gugusan pikiran dan perasaan, bukan intelegensia – aku adalah Jiwa, percikan Sang Jiwa Agung. Segala apa yang terjadi lewat badan, indra, dan lainnya adalah persembahan pada-Nya.

Selain membebaskan kita dari ego, keangkuhan, semangat manembah juga memastikan bahwa apa pun yang kita perbuat adalah yang terbaik. Persembahan yang dihaturkan kepada Sang Kekasih Agung, Gusti Pangeran, mestilah yang terbaik. Penjelasan Bhagavad Gita 3:10 dikutip buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma).

 

Rishi Kardama bersama Devahuti melahirkan putra Rishi Kapila yang membawa ilmu samkhya yang bermanfaat bagi umat manusia. Para Rishi menciptakan Maharaja Prithu untuk memperbaiki dunia yang rusak akibat kelaliman Raja Vena.

Semoga  para orangtua membuat generasi penerus dengan semangat persembahan. Dan semoga melakukan tindakan apa saja dengan semangat persembahan.

Bagaimana dengan kita? Sudahkah kita semua bertindak mulia sehingga pantas menjadi persembahan orangtua dan leluhur kita kepada alam semesta? Dan, warisan genetik dari mereka tidak sia-sia. Sudahkah kita  bertindak mulia sehingga pantas menjadi persembahan Guru kepada alam semesta? Dan, bimbingan Guru tidak sia-sia…….

 

Catatan:

“Melaksanakan setiap tugas kita, setiap pekerjaan kita dengan semangat panembahan” – itulah Karma-Yoga. Berarti tidak ada perpisahan antara tugas, kewajiban, pekerjaan, usaha, karir, dan latihan-latihan olah-batin. Tidak perlu meninggalkan keluarga untuk bermeditasi di dalam gua. Tidak perlu meinggalkan pekerjaan untuk bertapa-brata di tengah hutan. Kita dapat berkarya secara meditatif – dengan penuh perhatian dan kewaspadaan. Kita dapat mengabdi kepada Gusti Pangeran sambil berkarya, sambil menjalankan tugas kewajiban kita. Dari buku Karma Yoga

Sudahkah kita melakukan setiap pekerjaan dengan semangat panembahan?

Bersihkan Kerak Jiwa agar Bertemu Maitreya Mitra Alam Semesta #Zen

 

 

buku-zen-maitreya

Manusia hidup di tengah hutan lebat simbol. Di mana-mana ada simbol. Dari logo perusahaan hingga merek kendaraan dan nomor penerbangan, semuanya menggunakan simbol. Kadang, simbol juga bisa berupa angka atau warna. Sesungguhnya hidup kita pun bisa “menjadi” simbol.

Seorang pemersatu seperti Gajah Mada menjadi simbol persatuan. Para pelaku aksi terorisme menjadi simbol kejahatan. Gandhi menjadi simbol Ahimsa, tanpa kekerasan. Mother Theresa menjadi simbol pengabdian. Muhammad menjadi simbol iman dan keberanian. Buddha menjadi simbol kedamaian. Masih banyak simbol-simbol lain. Kehidupan manusia tidak dapat dipisahkan dari simbol. Begitu pula dengan rumah kita, tempat di mana kita tinggal. Dan, kantor kita, tempat di mana kita bekerja.

Intinya: Simbol bersifat sangat pribadi. Satu simbol yang sama bisa memiliki makna yang berbeda bagi Anda dan bagi saya. Maka, kita harus menggunakan simbol sesuai dengan mindset kita, dengan persepsi kita tentang makna di balik simbol itu. Kecuali, kita berhasil mengubah mindset dan menerima sebuah simbol lengkap dengan makna universal yang telah melekat dengannya. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2005). Fengshui Awareness Rahasia Ilmu Kuno bagi  Manusia Modern. One Earth Media)

Berikut adalah simbol, mindset dalam Zen tentang Maitreya. Setelah pikiran terkendalikan, setelah kasunyatan tercapai, setelah keheningan diperoleh, lantas apa? Dia kembali lagi ke dunia, ke pasar dunia ini. Sekarang dia bahagia, dia menikmati perjalanan hidup………..

Buku Zen Bagi Orang Modern

Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu: Saha vīryam karavāvahai;Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai.Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga Hyang Tunggal senantiasa melindungi kita; menjernihkan pikiran kita: semoga kita dapat berkarya bersama dengan penuh semangat; semoga apa yang kita pelajari mencerahkan dan tidak menyebabkan permusuhan; Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

Mengunjungi Pasar Dunia

Setelah pikiran terkendalikan, setelah kasunyatan tercapai, setelah keheningan diperoleh, lantas apa? Haruskah Anda duduk diam atau menyendiri? Tidak, Anda kembali lagi ke dunia, ke pasar dunia ini. Sekarang Anda bahagia, Anda menikmati perjalanan hidup. Dan siapa pun yang bertemu dengan Anda, ikut merasa bahagia, ikut menikmati kehidupan.

Ia yang telah mencapai ke-Buddha-an, ia yang sudah mencapai kesadaran murni, tidak digambarkan sebagai seorang pendeta atau pastor atau ulama yang berparas muka serius. Justru sebaliknya, seorang Buddha, seorang Kristus, seorang Nabi adalah pribadi-pribadi yang murah senyum. Apabila sedang ketawa, ia akan ketawa sepenuhnya, terbahak-bahak.

Cina memiliki latar belakang budaya yang sangat tinggi, sangat indah. Seorang Buddha yang menunda masuk ke alam Nirvana digambarkan sebagai Mi-Le, atau Maitreya—Mitra Dunia, Sahabat, Teman Alam Semesta. Ia berbadan besar. Perutnya buncit, keluar. Perut buncit ini sangat bermakna—yang berarti bahwa apabila sedang ketawa, ia ketawa sepenuhnya, dari perut. Kita tidak selalu demikian. Ketawa kita pun sering kali palsu. Tawa kita tidak keluar dari perut, tidak sepenuhnya.

Dengan tangannya yang satu, ia memegang botol arak. Mabuknya lain dari mabuk kita. Arak pengalaman hidup yang ia miliki memang memabukkan—mabuk kesadaran. Tangan yang satu lagi memegang tongkat dan segala sesuatu yang ia rniliki dibungkus dan diikat pada tongkat itu. Kepemilikan dia sangat minim. Ia tidak perlu lemari, tidak perlu brankas untuk menyirnpannya. Untuk mempertahankan kehidupan ini, tentu ada beberapa hal pokok yang masih harus kita miliki. Seorang Buddha Maitreya pun masih harus memiliki beberapa bahan pokok, demi kelangsungan’ hidup. Apalagi Ia telah memilih untuk berada kembali di Pasar Dunia. Ia tahu persis apa yang dibutuhkan selama dalam pelawatannya. Ia siap untuk itu. Ia telah membekali clirinya.

Anda akan berjumpa dengan dia ,di tengah-tengah keramaian dunia. Mungkin Ia sedang makan hamburger di McDonald’s atau sedang nonton film Titanic. Ia tidak akan menjauhkan diri dari keramaian. Keberadaan—Nya di tengah keramaian dunia merupakan anugerah, kurnia, blessing.

Siapa pun yang bertemu dengannya akan ikut memperoleh pencerahan. Ia menyebarkan virus kesadaran. Kehadiran Dia dalam hidup Anda akan membantu terjadinya peningkatan kesadaran dalarn diri Anda. Ia tidak melakukan sesuatu. Ia tidak perlu menunjukkan mukjizat. Keberadaan Dia merupakan mukjizat. Hanya melihat Dia saja sudah cukup, Anda akan tersentuh oleh Kasih-Nya.

Seorang Maitreya adalah seorang Avalokiteshvara—Ia yang mendengar jeritan kita. Ia menunda Nirvana demi kita, demi saya dan demi Anda. Keberadaan Dia di tengah Anda merupakan suatu kejadian yang langka, amat sangat langka. Bukan sesuatu yang dapat terulang lagi setiap saat. Apabila Anda bertemu dengan seorang Maitreya, dengan seorang Avalokiteshvara, dengan seorang Mitra Alam Semesta, dengan seseorang Yang Mendengarkan Jeritan Makhluk-Makhluk Hidup, berbahagialah, bergembira-rialah! Sentuhan kasih Dia, senyuman Dia dapat mengantar Anda ke Puncak Bukit Kesadaran Murni.

Ada yang menanyakan, bagaimana kita bisa mengenali seorang Maitreya, seorang Buddha, seorang Avalokiteshvara, seorang Kristus, seorang Nabi? Ia mengutip saya, “Menurut Pak Krishna sendiri, Dia mungkin sedang makan burger di McDonald’s, mungkin sedang nonton film Titanic. Ia begitu sederhana. Kalau begitu, kan sulit sekali mengenalinya?!”

Ada satu cara—cara yang paling gampang—atau mungkin satu-satunya cara: Bersihkan kerak dan karat jiwamu—apabila jiwamu tidak berkarat, apabila hatimu bersih, kau tidak perlu mencari-Nya. Ia akan menarik kamu. Ia bagaikan magnet. Ia bisa menarik kamu. Syaratnya hanya satu: bersihkan kotoran yang menutupi jiwamu, hatimu.

Dan untuk membersihkan jiwa itu, tidak terlalu banyak yang harus kau kerjakan. Membersihkan jiwa dalam konteks ini hanya berarti menjadi reseptif. Membersihkan hati berarti membuka diri. Lepaskan prasangka, praduga dan kebimbanganmu. Ia akan menarik kamu. Nuranimu akan mengenali-Nya. Jangan meragukan hal ini. Yakinilah suara hati nurani sendiri.

Seorang Maitreya tidak takut dengan hiruk-piruknya dunia. Ia telah memilih untuk kembali mengunjungi pasar dunia. Ia tidak akan melarikan diri. Keedanan dunia ini tidak bisa mempengaruhi kewarasan-Nya. Dunia akan menganggap—Nya edan, tetapi Ia tidak peduli.

Bukalah dirimu, jiwamu—jadilah reseptif, terbuka—mungkin saat ini kau sedang berhadapan dengan seorang Maitreya, seorang Mitra Dunia!

Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (1998). Zen Bagi Orang Modern. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Catatan:

Mungkin kita pernah baca beberapa buku tentang Zen, tentang Samadhi, tentang rasa bahagia yang merupakan hasil akhir meditasi yang tidak dapat dijelaskan lewat kata-kata. Lantas kita anggap sudah cukup dan kita menganggap sudah menguasai Zen. Anda boleh baca tentang “madu tawon Rengreng”, tetapi sebelum mencicipinya, Anda tidak akan pernah tahu rasa manisnya seperti apa. Memperoleh pengetahuan tentang “madu tawon Rengreng” tidak berguna sama sekali, apabila Anda belum pernah mencicipinya. Dari buku Zen Bagi Orang Modern

Sudahkah kita mulai Latihan Meditasi?

Om, Sarve bhavantu sukhinaḥ; Sarve santu nirāmayāḥ; Sarve bhadrāṇi paśyantu; Mā kashchit duḥkha bhāgbhavet; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga semua makmur, bahagia dan bebas dari penyakit. Semoga semua mengalami peningkatan kesadaran, dan bebas dari penderitaan. Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/

 

 

Tanpa Percikan Keinginan, Tidak Mendambakan Yang Bukan Miliknya #BhagavadGita

buku-bhagavad-gita-rumah-mewah-dan-mobil

Engkau Hyang Maha Membebaskan, bebaskanlah diriku dari rasa kepemilikan, keangkuhan, keserakahan, kebodohan, ketaksadaran, kebencian. Bebaskan diriku dari perbudakan pada panca indera. Bebaskan diriku dari keinginan akan kenyamanan dan kenikmatan jasmani. Bebaskan diriku dari segala macam belenggu yang telah menjatuhkan derajatku, menjadi hamba dunia. Dikutip dari buku (Krishna, Anand.  (2007). Panca Aksara Membangkitkan Keagamaan dalam Diri Manusia. Pustaka Bali Post)

……………………

Yesus benar-benar mengatakan bahwa kedatangan Dia adalah untuk sesuatu yang jauh lebih berarti. la datang untuk memisahkan kita dari segala sesuatu yang membelenggu diri kita selama ini. Yang harus kita tinggalkan bukan isteri, bukan keluarga, tetapi rasa kepemilikan kita, keterikatan kita terhadap mereka.

Nikmatilah dunia ini. Berkeluargalah, jika Anda inginkan. Tetapi jangan terikat pada sesuatu. Sadarlah bahwa semuanya itu hanya temporer. Jangan mengembangkan rasa kepemilikan terhadap benda-benda duniawi, karena semua itu tidak kekal. Nikmati semuanya, tanpa keterikatan, tanpa rasa kepemilikan. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2004). Sabda Pencerahan, Ulasan Khotbah Yesus Di Atas Bukit Bagi Orang Modern. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

………………

Di bawah ini penjelasan Bhagavad Gita 6:10 agar kita tidak mendambakan kepemilikan materi:

cover-buku-bhagavad-gita

Buku Bhagavad Gita

Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu; Saha vīryam karavāvahai; Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga Hyang Tunggal senantiasa melindungi kita; menjernihkan pikiran kita: semoga kita dapat berkarya bersama dengan penuh semangat; semoga apa yang kita pelajari mencerahkan dan tidak menyebabkan permusuhan; Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

Yogi yunjita satatam atmanam rahasi sthitah, ekaki yata-cittatma nirasir aparigrahah

“Hendaknya seorang Yogi senantiasa memusatkan kesadarannya pada ‘diri’ sendiri; menguasai pikiran serta perasaannya; bebas dari segala keinginan, tidak mengharapkan sesuatu apa pun; bebas pula dari (rasa) kepemilikan.” Bhagavad Gita 6:10

 

Ayat ini termasuk salah satu yang sering disalahterjemahkan, “hidup menyendiri di tempat yang sunyi, sepi.”

Arti sesungguhnya adalah:

 

BERFOKUS PADA….. Satatam = Selalu; Atmanam = Sang Diri (jiwa Individu atau Jivatma); Rahasi = Rahasia; Sthitah = Berada; Ekaki = Sendiri.

Tidak ada anjuran untuk meninggalkan keramaian dunia dan masuk hutan, menyepi di sana. Walau pun itu merupakan suatu pilihan, dan tidak ada yang salah pula dengan pilihan itu.

Tempat rahasia itu adalah Hati-Psikis – Pusat Kesadaran di antara kedua puting – tempat Sang Jiwa bersemayam. Itulah Pusat Jiwa, Hati-Nurani, Sanubari.

 

Ayat ini mengajak kita untuk:

“KEMBALI KE PUSAT DIRI” – Mengalihkan fokus dari luar ke dalam diri. Ayat ini menjelaskan cara untuk melakoni meditasi 24/7 – 24 jam sehari dan 7 hari setiap minggu – berarti setiap hari, setiap jam, setiap detik.

Kemudian, nirasir dan aparigrahah – biasa diterjemahkan “tanpa keinginan” dan “bebas dari keserakahan” atau “tanpa kepemilikan”. Nirasir, memang sulit diterjemahkan. Ini menyangkut sikap mental. Memang terjemahan terdekatnya adalah “tanpa keinginan dan/atau harapan”, walau hal itu tidak sepenuhnya menjelaskan makna dari kata nirasir.

 

NIRASIR BERARTI, “TANPA ADANYA PERCIKAN-PERCIKAN YANG DAPAT MENIMBULKAN KEINGINAN”. Ketika Anda bertemu dengan seorang pria tampan atau wanita cantik – maka “keinginan”, gairah, atau nafsu tidak serta-merta muncul begitu saja. Awalnya adalah percikan-percikan perasaan nano-nano yang muncul. Ada “dag-dig-dug” yang bahkan tidak dapat dibahasakan, apa makna “dag-dig-dug”?

Sementara itu,

APARIGRAHAH BERARTI “TIDAK MENDAMBAKAN SESUATU YANG BUKAN MENJADI MILIKNYA”. Lalu, apa yang menjadi milik “Diri” kita yang sejati?

Ego, yang ingin memiliki – sesungguhnya tidak bisa memiliki sesuatu apa pun. Apa saja yang dianggap sebagai miliknya, akan tertinggal semua di sini.

Sementara itu “Diri” yang sejati sadar akan kesejatian dirinya, dan kesejatian setiap diri, termasuk kesejatian setiap benda. Semuanya adalah percikan Ilahi yang sama, maka apa yang mesti dimiliki?

 

SEMUANYA TERSEDIA BAGI JIWA untuk dimanfaatkan sebagaimana mestinya, tidak perlu dimiliki. Jadi dalam konteks ayat ini, terjemahan yang lebih cocok ialah “bebas dari rasa kepemilikan”.

Rasa kepemilikan membuat kita kecewa dan berduka. Saat mesti meninggalkan semuanya, kita merasa kehilangan apa yang sebelumnya kita anggap sebagai milik kita. Supaya tidak kecewa, kita mesti membebaskan diri dari rasa kepemilikan. Manfaatkan dunia, dunia benda, kebendaan – manfaatkan semua tanpa rasa kepemilikan.

Lagi-lagi – jika ayat ini diterjemahkan sebagai anjuran untuk mencari tempat yang sunyi dan sepi, jauh dari keramaian – silakan. Namun, tempat rahasia yang dimaksud bisa juga salah satu kamar di rumah kita – yang dijadikan  sebagai tempat meditasi, pemujaan, sembahyang, berdia diri untuk berbagai sadhana atau laku spiritual lainnya.

Dikutip dari buku: (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

Catatan:

Mempertahankan keseimbangan diri, kedamaian diri di tengah masyarakat yang bergejolak itulah meditasi. Dan bila anda sudah bisa mempertahankan keseimbangan diri, kota atau hutan tidak menjadi soal. Dari buku Tantra Yoga

Sudahkah kita memulai latihan meditasi?

 

Om, Sarve bhavantu sukhinaḥ; Sarve santu nirāmayāḥ; Sarve bhadrāṇi paśyantu; Mā kashchit duḥkha bhāgbhavet; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga semua makmur, bahagia dan bebas dari penyakit. Semoga semua mengalami peningkatan kesadaran, dan bebas dari penderitaan. Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/

 

oec1elearning-banner

16711992_612132385641135_3392780409612035997_n

Kekalahan Ego adalah Kemenangan Kesadaran Jiwa #BhagavadGita

buku-bhagavad-gita-sujud-shashankasana-pjlsan

 

“Seorang bijak yang tidak lagi terpengaruh, tidak lagi tergoda oleh berbagai keinginan; bebas dari hawa-nafsu dan tidak mengejar, mendambakan, mengharap-harapkan sesuatu; tidak pula terjebak dalam rasa kepemilikan dan permainan ego, ke-‘aku’-an yang ilusif – meraih kedamaian sejati.” Bhagavad Gita 2:71

Tidak lagi mengharap-harapkan, tidak lagi mengejar-ngejar, tidak lagi memburu sesuatu – berarti tidak ada lagi obsesi dalam dirinya. Ia sudah melewati semuanya. Ia sudah mencoba semuanya. Ia sudah merasakan semuanya dan menyadari bahwa kebahagiaan yang diperoleh dari dunia tidak abadi, tidak langgeng. Kesadaran itu sendiri sudah cukup untuk membuatnya menjadi tenang. Penjelasan Bhagavad Gita 2:71 dikutip dari buku Dikutip dari buku: (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

Berikut penjelasan Bhagavad Gita 18:65 tentang teknik membebaskan diri dari ego…..

Buku Bhagavad Gita

Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu; Saha vīryam karavāvahai; Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga Hyang Tunggal senantiasa melindungi kita; menjernihkan pikiran kita: semoga kita dapat berkarya bersama dengan penuh semangat; semoga apa yang kita pelajari mencerahkan dan tidak menyebabkan permusuhan; Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

“Pusatkanlah segenap pikiran serta perasaan pada-Ku; Berbaktilah pada-Ku dengan menundukkan kepala-egomu. Demikian, niscayalah engkau mencapai-Ku. Aku berjanji padamu, karena kau sangat Ku-sayangi.” Bhagavad Gita 18:65

cover-buku-bhagavad-gita

“Aku, Aku, Aku,…..” Permainannya memang adalah antara aku-ego dan Sang Aku Sejati, Sang Jiwa Agung.  Nasihat Krsna untuk berserah diri bukanlah berserah diri pada sosok Krsna—tetapi berserah diri pada Aku-Sejati yang kebetulan saat itu sedang mewujud sepenuhnya dalam diri Krsna.

 

BERSERAH DIRI DENGAN MELEPASKAN EGO adalah latihan, upaya, teknik, untuk merealisir Sang Aku Sejati.  Krsna adalah Cermin—dengan berserah diri kepada-Nya, Arjuna menemukan dirinya yang sejati. Arjuna melihat dirinya.

Berserah diri memang merupakan kekalahan ego—namun kekalahan yang memenangkan Kesadaran Jiwa yang Hakiki. Ibarat kali yang kotor, ego penuh daki menyatu dan lenyap dalam laut Kesadaran Jiwa yang luas. Ia kalah dalam pengertian identitasnya sebagai kali, hilang, lenyap. Ia menang karena telah menyatu dengan laut.

Bersujud adalah tehnik, latihan untuk membebaskan diri dari kekuasaan ego, melepaskan diri dari jeratan setan, dari iblis pikiran dan perasaan-perasaan yang liar.

 

“Serahkan segala kewajibanmu pada-Ku (Hyang Bersemayam dalam diri setiap makhluk), berlindunglah pada-Ku; dan akan Ku-bebaskan dirimu dari segala dosa-cela dan rasa takut yang muncul dari kekhawatiran akan perbuutan tercela. Jangan khawatir, janganlah bersusah-hati!” Bhagavad Gita 18:66

 

“Menyerahkan segala kewajiban” dalam pengertian “melepaskan segala dharma” …. .. Ayat ini sering membingungkan. Seorang berjiwa lemah yang melarikan diri dari tantangan hidup untuk menjadi petapa pun menggunakan ayat ini untuk membenarkan tindakannya.

 

“LEPASKAN SEGALA KEWAJIBANMU” – Alasan yang “terasa” kuat sekali bagi mereka yang tidak berani menghadapi kenyataan-kenyataan hidup, dan melarikan diri untuk menyepi di tengah hutan.

Apakah itu maksud Krsna?

Sama sekali tidak. Krsna justru mengajak Arjuna untuk berperang, untuk menghadapi kenyataan hidup. Bukan untuk melarikan diri, dan menjadi petapa.

“Menyerahkan segala kewajiban pada-Ku” berarti “membiarkan Sang Aku Sejati untuk memegang kendali”. Berarti, menyerahkan ego yang membingungkan, melemahkan, dan menyesatkan. Berarti bertindak sesuai dengan tuntutan Jiwa yang hendak mengalami berbagai pengalaman hidup.

Biarlah Jiwa yang adalah percikan dari Sang Jiwa Agung itu, berkuasa. Biarlah Ia menjadi sandaranmu, karena sesungguhnya tiada kekuasaan lain di luar kekuasaan-Nya. Tiada penopang lain kecuali Dia.

TAK SEORANG PUN DAPAT MEMBANTU KITA – hanyalah Dia, Dia, dan Dia saja. Ketika kita “merasa” terbantu, dibantu oleh seseorang — sesungguhnya adalah kekuasaan Dia yang bekerja lewat orang itu. Ketika keadaan “terasa” menguntungkan dan membela – maka keuntungan dan pembelaan itu pun dari Dia.

Sebaliknya, ketika hidup “terasa” penuh tantangan maka tantangan-tantangan itu pun berasal dari Dia. Itulah pengalaman yang sedang dicari oleh Jiwa. Kita tidak dapat menghindarinya.

 

ADA KALANYA DHARMA MEMBINGUNGKAN. .. Apa kewajibanku, apa yang mesti kulakukan, tindakan mana yang tepat — sangat membingungkan. Ada dharma, ada adharma — ada tindakan yang tepat, ada yang tidak tepat.

Jika kita tetap saja menggunakan gugusan pikiran dan perasaan untuk memilah dan menentukan mana yang tepat dan mana yang tidak tepat — maka kita akan selalu was-was, cemas, khawatir, takut, bimbang, ragu. Sebab itu, serahkanlah ego kita, mind kita kepada-Nya — kepada Jiwa yang adalah percikan Jiwa Agung — dan biarlah Ia menentukan mana yang tepat dan mana yang tidak. Biarlah Ia menerangi inteligensia kita dan memandu setiap gerak kita.

Hiduplah sesuai dengan kehendak-Nya. Jadilah selaras dengan kehendak-Nya. Demikian kita terbebaskan dari segala kekhawatiran!

Dikutip dari buku: (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

Catatan:

Apa yang dapat membahagiakan? Bila harta benda, sanak-saudara, tak dapat memberi kebahagiaan, apa yang harus kulakukan? Hanya dua pilihan. Masuk ke dalam alam depresi berat atau memasuki alam meditasi dan menemukan sumber segala kebahagiaan dalam diri. Bhaja Govindam

Sudahkah kita mulai latihan meditasi?

 

Om, Sarve bhavantu sukhinaḥ; Sarve santu nirāmayāḥ; Sarve bhadrāṇi paśyantu; Mā kashchit duḥkha bhāgbhavet; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga semua makmur, bahagia dan bebas dari penyakit. Semoga semua mengalami peningkatan kesadaran, dan bebas dari penderitaan. Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/

 

oec1elearning-banner

16711992_612132385641135_3392780409612035997_n