Hanuman Penjaga Gerbang Batas Pikiran, Gerbang Tanpa Pintu, Gateless Gate

Gerbang Batas Alam Pikiran

Identifikasi apa yang dapat membahagiakan kita, dengan alam atau dengan Jiwa? Dan jawabannya jelas adalah identifikasi dengan Jiwa. Karena Jiwa tidak hanya bersifat abadi, tetapi juga tidak pernah berubah. Sehingga dapat menghasilkan kebahagiaan yang langgeng.

Sementara, Alam Benda berubah terus. Jika kita fokus pada perubahan-perubahan yang terjadi, maka emosi kita, pikiran kita — semuanya ikut mengalami perubahan-perubahan yang kadang membuat kita bahagia, kadang larut dalam lautan kesedihan dan kepedihan. Penjelasan Bhagavad Gita 14:3 dikutip dari buku: (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

Mengapa takut melompat? Keterikatan pada keluarga, pada dunia dan sebagainya? Pikiran, ego menahan kita agar takut melompat? Berikut penjelasan Hanuman Chalisa 21 tentang gateless gate, gerbang tanpa pintu…..

Buku The Hanuman Factor

Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu; Saha vīryam karavāvahai; Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga Hyang Tunggal senantiasa melindungi kita; menjernihkan pikiran kita: semoga kita dapat berkarya bersama dengan penuh semangat; semoga apa yang kita pelajari mencerahkan dan tidak menyebabkan permusuhan; Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

Rama Dwaare Tuma Rakhawaare, Hota na Aaagyaa binu Paisaare. Hanuman Chalisa 21

Sri Rama adalah Gerbang, dan engkau adalah Penjaga Gerbang; tak ada seorang pun yang dapat melaluinya tanpa ijin darimu

Sri Rama adalah Gerbang, dan engkau (Hanuman) adalah Penjaga Gerbang;

 

Tradisi Shinto

Dalam tradisi Shinto dari Jepang, sebuah gerbang yang terbuat dari kayu melambangkan spiritualitas. Itu memang hanya sebuah gerbang, tanpa pintu. Gapura ini disebut gerbang tanpa pintu. Tidak ada pagar, tidak ada batas, tidak ada apa-apa. Namun, setiap pejalan spiritual harus melewatinya. Apa yang dilambangkan dari hal ini?

Di satu sisi dari gerbang tersebut, ada langit luas membentang. Di sisi lain, di seberang gerbang tersebut, juga ada langit luas yang sama. Ada keluasan di sisi sebelah sini, dan ada keluasan pula di sisi yang satunya. Apa yang ada di sini, juga ada di sana. Dan, apa yang ada di sana, juga ada di sini. Lantas apa gunanya pintu?

Gerbang tanpa pintu ini, melambangkan batasan-batasan ciptaan pikiran kita sendiri. Sesungguhnya, gerbang tanpa pintu ini adalah pikiran kita, atau ciptaan pikiran kita sendiri, apa pun itu wujudnya.

 

Ketika kita memahami hal ini, maka kita memahami Tuhan.

Saat di mana kita berhasil dalam memecahkan teka-teki kehidupan ini, maka kita akan berhadap-hadapan langsung dengan Tuhan.

Hanuman berdiri di sana sebagai penjaga gerbang, penjaga dari gerbang tanpa pintu. Penampakan Hanuman—seekor kera yang sangat besar mirip monster—membuat kita takut. Kita gentar untuk mendekati gerbang tanpa pintu tersebut dan berpikir, “saya tidak akan diijinkan masuk.”

Pemikiran semacam itu, rasa takut yang tak berdasar seperti itu adalah refleksi dari pikiran kita yang penuh rasa takut.

 

Pikiran manusia selalu takut akan kekosongan.

Ketika ia menganggur, ia merasa sangat tidak nyaman. Ia akan berusaha mencari sesuatu untuk dilakukan. Berapa lama kita bisa duduk diam tanpa melakukan apa pun? Semua gadget, pertunjukkan dan hiburan, sejatinya diciptakan oleh rasa takut, dalam rasa takut. Kita selalu berupaya mengisi kekosongan kita dengan sesuatu, dengan apa saja.

Semakin penakut mind (pikiran), maka semakin licik, dan semakin intelektual pikiran tersebut. Ia akan selalu mencari alasan untuk menghindari berjalan memasuki gergang tak berpintu menuju  yang tak dikenal, “Untuk apa? Mengapa saya mesti memasuki gerbang itu, toh Tuhan ada di mana-mana? Tuhan ada di sini, di sana, di mana-mana—gerbang itu membatasi gerak-gerik Tuhan. Mengapa Tuhan mesti dibatasi dengan gerbang atau di balik gerbang itu? Mengapa tidak di sini saja, di luar gerbang?”

 

Gerbang tanpa pintu

Gerbang tanpa pintu sejatinya merupakan sebuah sarana untuk membebaskan kita dari rasa takut yang kita rasakan dan untuk mempersiapkan kita untuk terjun ke dalam yang tak dikenal.

Identifikasi yang saya lakukan terhadap tempat tertentu—kitab suci tertentu, agama tertentu, atau Nabi tertentu, Buddha tertentu, Mesias tertentu, Avatar tertentu, dengan Tuhan—lahir dari perasaan takut. Saya mencoba menjelaskan yang tak terjelaskan sebelum melompat. Saya harus melompat ke dalam sesuatu. Saya tidak bisa melompat ke dalam yang tak dikenal.

Jadi, semua penjelasan kita, semua upaya kita, semua percobaan yang kita lakukan untuk mengungkap misteri tentang Tuhan, untuk melakukan demistifikasi terhadap Tuhan, sejatinya lahir dari rasa takut.

Bagaimana jika saya mengidentikkan semua tempat, semua kitab suci, semua agama, semua Nabi, semua Buddha, semua Mesias, semua Avatar dengan Tuhan? Sama saja, saya tetap berupaya menjelaskan yang tak terjelaskan. Saya masih memikir-mikir dan membutuhkan waktu sebelum memutuskan untu melompat. Hal tersebut sama saja seperti upaya untuk menyelamatkan diri. Kita “berpikir” bahwa akan lebih mudah bagi kita jika kita melompat dengan memahami konsep ini. Jika memang Tuhan ada di mana-mana, maka pastilah saya melompat kedalam Tuhan. Saya tidak perlu takut.

 

Kehilangan Tuhan karena rasa takut

Inilah penyebab kita telah kehilangan dan melewatkan Tuhan selama ini dan dalam semua masa kehidupan yang telah kita lalui. Karena bahkan pun setelah menciptakan semua konsep, kita tetap takut untuk “Melompat ke dalam Yang tak dikenal”. Kita hanya berani melompat ke dalam konsep ciptaan kita sendiri.

Kita mungkin menggambarkan surga yang terang benderang ada di balik gerbang tanpa pintu tersebut atau kita menggambar neraka yang penuh penderitaan—intinya kita ingin punya sesuatu untuk dipegang sebelum kita melompat. Di dalam ketidaksadaran kita, kita lupa bahwa gambar-gambar tersebut adalah ciptaan kita sendiri.

Tidak hanya gambaran indah tentang surga, tetapi juga gambaran menakutkan tentang neraka pun juga merupakan ciptaan pikiran kita sendiri untuk membuat yang tidak dikenal menjadi dikenal.

Mereka yang menggambar neraka dengan api serta siksaan abadinya dan mereka yang menggambarnya dengan lebih wajar dengan warna-warna penyucian dan purgatory, sejatinya sama-sama takut. Perbedaannya terletak pada tingkat rasa takut yang mereka rasakan. Kelompok yang kedua mungkin tahu akan hal ini dan merasa lega akan “fakta bahwa semua itu adalah ciptaan mereka sendiri”, dan rasa takut mereka tidaklah seburuk kelompok yang pertama. Ini tidak lain adalah upaya menghibur diri. Ini juga tidak akan membantu.

 

Hanuman berdiri di samping gerbang tanpa pintu tersebut,

yang kiranya akan mengarahkan kita ke tempat tinggal Sri Rama. Ia tidak sedang menghentikan kita juga tidak sedang mengundang kita. Namun, ia tampak sedang mengamati gerak-gerik kita, tidak hanya gerak-gerik fisik, tetapi juga gerak mental dan emosional.

Ketika melihatnya, maka awan hitam keraguan pun terbentuk di langit pikiran kita, “Hanuman? Ah, tidak mungkin. Kalau dia Hanuman, maka pastilah pintu tersebut menuju kediaman Sri Rama. Bagaimana bisa? Rama adalah Sang Penghuni Sejati, tidakkah Ia menghuni dan bersemayam di setiap hati? Mengapa lantas Ia memiliki tempat tinggal seperti ini? Tidak, tidak. Ini pasti ilusi. Rama adalah Tuhan, energi murni, abstrak, tak terjelaskan, dan tak berwujud. Perwujudan-perwujudan ini tidaklah nyata. Mereka semua palsu. Biarkan aku lari dari sini sebelum aku tertipu oleh perwujudan-perwujudan tersebut.

 

Maka, kita pun lari.

Dan sejak itu pun kita terus melarikan diri, tanpa menyadari bahwa apa yang kita lihat di luar sejatinya adalah proyeksi dari apa yang ada di dalam diri kita.

Gerbang tanapa pintu di luar diri adalah proyeksi dari keberadaan kita sendiri. Hanuman yang berdiri di samping gerbang tersebut adalah kesadaran diri kita, yang selalu waspada, senantiasa mengawasi. Rama adalah jati diri kita.

Pikiran, ego adalah yang selalu ragu-ragu, “Masuk, Jangan, Masuk, Jangan.. Lompat, jangan, lompat, jangan, lompat, jangan…”

Jika pikiran memutuskan untuk melarikan diri, maka selesailah sudah. Tetapi jika pikiran tidak lari, tetapi justru memfokuskan diri pada Hanuman, maka keajaiban pun terjadi. Pikiran pun akan lenyap, dan “Kesadaran Hanuman” lah yang tersisa. Tiba-tiba kita mendapati diri kita berperan sebagai Hanuman. Kita menjadi penjaga pintu. Terjadi lompatan kuantum dari mind (pikiran) menjadi kesadaran. Bagaimana itu bisa terjadi?

Dikutip dari terjemahan buku (Krishna, Anand. (2010). The Hanuman Factor, Life Lessons from the Most Successful Spiritual CEO. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Om, Sarve bhavantu sukhinaḥ; Sarve santu nirāmayāḥ; Sarve bhadrāṇi paśyantu; Mā kashchit duḥkha bhāgbhavet; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga semua makmur, bahagia dan bebas dari penyakit. Semoga semua mengalami peningkatan kesadaran, dan bebas dari penderitaan. Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/

 

 

Advertisements

Aku Bukan Doership, Pelaku: Apa pun Hasil lewat Badan ini Bukan Milikku #BhagavadGita

Hubungan Tuhan dengan alam bukan seperti pabrik dengan produk tetapi antara penari dan tarian

Tarian apa pun tidak dapat dipisahkan dari sang penari. Tarian ada karena ada penari. Tidak ada tarian tanpa sang penari, karena hal itu sangatlah mustahil. Tarian berhubungan  dengan sang penari seperti sinar mentari dan sang matahari. Tak akan ada sinar mentari tanpa sang matahari. Tak ada cahaya rembulan tanpa sang bulan. Poin ini sangatlah penting. Sungguh, jauh lebih penting daripada sepintas kedengarannya.

Tuhan bukanlah “pabrik” yang terpisah dari barang-barang “buatan pabrik”. Seorang pembangun gedung itu terpisah dari gedung hasil buatannya. Produksi barang dan produsennya merupakan elemen yang terpisah.  Penari tidak pernah dapat dipisahkan dari tariannya. Barang manufaktur dan produk memiliki identitas terpisah dari pabriknya. Perpisahan “terjadi” saat proses manufaktur atau produksi telah selesai. Namun, seorang penari tidak pernah dapat dipisahkan dari tariannya.” Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2009). “The Gospel Of Michael Jackson”. Anand Krishna Global Co-operation)

Konsep Michael (Jackson, pencatat) tentang penciptaan ini persis sama dengan konsep para bijak pada masa lalu. Tuhan sering disebut sebagai Nataraja – Raja para Penari, Sang Penari Teragung, Sang Penari. Tuhan juga adalah Leeladhari, Sang Pemain Teragung. Dan seluruh dunia ciptaannya adalah Leela, “permainan” Tuhan.

Karena seluruh penciptaan sejatinya adalah tarian dari  Sang Penari Teragung, berarti kita bagian dari tarian tersebut. Kita semua sesungguhnya sedang berdansa, menari bersama dengan sang pencipta. Kita bernyanyi dan bergerak bersama Tuhan. Kita berpaduan suara dengan Tuhan. Peran kita sesungguhnya dalam permainan keberadaan ini adalah sebagai tim sorak-sorai.

 

Kita bukan pelaku, yang melakukan adalah Dia, kita sekadar alat-Nya

Berikut Penjelasan Bhagavad Gita 12:16 tentang berkarya tanpa ke-aku-an dan Penjelasan Bhagavad Gita 5:8 tentang tiadanya doership, rasa melakukan dan possesiveness, rasa memiliki, karena kita bukan pelaku.

Cover Buku Bhagavad Gita

Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu; Saha vīryam karavāvahai; Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga Hyang Tunggal senantiasa melindungi kita; menjernihkan pikiran kita: semoga kita dapat berkarya bersama dengan penuh semangat; semoga apa yang kita pelajari mencerahkan dan tidak menyebabkan permusuhan; Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

“Ia yang tidak menginginkan sesuatu, berhati suci tanpa kemunafikan; cerdas, cermat—penuh kebijaksanaan, bebas dari keberpihakan dan kegelisahan – seorang panembah yang berkarya tanpa ke- ‘aku’ an seperti itulah yang sangat Ku-sayangi.” Bhagavad Gita 12:16

……………

Yang terakhir dalam ayat ini adalah tentang ke-“aku”-an terkait dengan doership — aku telah berbuat ini, aku telah berbuat itu. Aku telah melakukan ini, aku telah melakukan itu.

Seorang panembah sadar bila badan dan indra yang melakukan sesuatu hanyalah alat. Alat badan tak akan pernah bergerak jika tidak digerakkan oleh otak. Otak adalah komandan badan. Sebab itu, ketika otak mengalami gangguan, apalagi stroke, badan sulit digerakkan, atau sulit diatur gerakannya.

Otak sendiri bukanlah segala-galanya. la digerakkan oleh mind. Dan mind yang memberi kesan “aku” pun, sebenarnya hanyalah salah satu gelombang di dalam lautan Sang Aku Sejati, Sang Jiwa Agung.

 

REAS0NING SEPERTI INI, analisis seperti ini, pembedahan seperti ini, mesti dilakukannya purna-waktu oleh seorang panembah. Ia mesti selalu mengingat-ingatkan dirinya, bila Sang Jiwa Agung yang sesungguhnya Maha Menggerakkan, Maha Berbuat. Aku kecil ini, aku-“ku”, dan aku- “mu” hanyalah ikan-ikan kecil, gelombang-gelombang di dalam lautan Sang Aku Agung.

Kesadaran seperti ini mengantar kita pada penyerahan diri di mana kita sadar sesadar-sadarnya bila Hyang Maha Ada hanyalah Dia. Dialah segala-galanya. Dialah semua!

Seorang panembah berkesadaran seperti itulah yang disayangi Krsna. Seorang panembah seperti itulah yang bertindak sesuai dengan kodratnya. Dikutip dari buku: (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

 

“Ia yang tekun menjalani Yoga, berkarya tanpa pamrih, hendaknya memahami kebenaran-diri dan dalam keadaan apa pun – selagi melihat, mendengar, menyentuh atau mencium sesuatu; bahkan saat makan, berjalan, tidur dan bernapas – selalu mengingat, ‘Aku tidak berbuat sesuatu.’” Bhagavad Gita 5:8

 

Rasa kepemilikan atau possesiveness, dan keterikatan muncul dari doership, rasa “melakukan.”

Doership, berarti “Aku” melakukan – Kemudian, karena “aku” melakukan, maka muncullah keterikatan dengan hasil dari pekerjaan-“ku”. Muncul rasa kepemilikan terhadap benda-benda, harta-kekayaan yang semuanya  “ku” –peroleh karena kerja-keras“ku”, jerih-payah“ku”.

Ketika badan, indra gugusan pikiran serta perasaan, inteligensia, dan sebagainya berkomplot, bersama-sama mengaku sebagai doer, yang berbuat, pelaku – maka, bersama-sama pula mereka  mengikat diri dengan dunia benda, dengan hasil dari pekerjaan mereka.

Padahal, materi sebagai hasil perbuatan-“ku” senantiasa berubah, senantiasa berpindah tangan. Tidak langgeng, tidak abadi. Maka, segala kenikmatan yang kita peroleh darinya tidak abadi pula. Apa yang masih ada di dalam genggaman kita saat ini, sesaat lagi akan berada di genggaman orang lain, inilah yang menyebabkan suka-duka.

Untuk membebaskan diri dari dualitas suka-duka; saat ini senang, sesaat lagi gelisah; untuk meraih kebahagiaan sejati – kita mesti mencabut rasa doership dari akar-akarnya. Aku bukan pelaku. Sebab itu apa pun hasil dari laku yang “terjadi” lewat badan ini, bukan pula milikku.

Aku adalah Jiwa, percikan Jiwa Agung. Alam benda adalah penjabaran dari kekuasaan-Nya. Semuanya milik Dia, Dia, Dia, dan hanya Dia.

Dikutip dari buku: (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

Om, Sarve bhavantu sukhinaḥ; Sarve santu nirāmayāḥ; Sarve bhadrāṇi paśyantu; Mā kashchit duḥkha bhāgbhavet; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga semua makmur, bahagia dan bebas dari penyakit. Semoga semua mengalami peningkatan kesadaran, dan bebas dari penderitaan. Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/

 

 

 

Penuh Kebencian, Jahat, Kejam akan Lahir Kembali lewat Rahim Syaitani #BhagavadGita

Bisa saja pelaku adharma yang penuh rasa benci, jahat dan kejam berbuat zalim terhadap orang-orang atau rakyat yang tidak bersalah bisa lolos dari penjara, karena kekuasaan dan kelicinan geng-nya. Akan tetapi hukuman oleh Dharma terhadap dirinya atau keluarganya akan membuat dia menderita hingga akhir hayatnya seperti penjelasan Bhagavad Gita 11:34. Dan, bukan hanya hukuman oleh Dharma dalam kehidupan ini, akan tetapi dia juga akan lahir berulang-ulang lewat rahim yang tidak mulia seperti penjelasan Bhagavad Gita 19:20.

……………

Badan dan indra selalu menagih pengulangan atas rangsangan-rangsangan yang dinikmatinya, sehingga Jiwa Individu pun terjebak dalam kejar-mengejar. Ia menjadi budak badan dan indra. Ia menjadi pelayan mereka. Sebab, saat badan dan indra menikmati suatu rangsangan atau sensasi, sesungguhnya rasa nikmat itu sendiri terasa oleh Jiwa. Jiwa me-“rasa”-kan berbagai pengalaman hasil interaksi tersebut.

Demikian, jika tuntutan-tuntutan indra tidak terpenuhi, masih terasa — umumnya selalu demikian — maka setelah meninggalkan badan yang sudah tidak berguna, rusak, mati, Jiwa mencari badan Iain, seperangkat indra lain untuk memenuhi hasratnya untuk mengalami pengalaman-pengalaman yang sama.

Sesuai dengan pengalaman yang dikehendakinya, Jiwa memilih rahim seorang perempuan yang bersifat tenang, agresif, atau malas.

Adakalanya, seorang perempuan yang tampak tenang dan sabar— sesungguhnya tidaklah tenang maupun sabar. Ia terpaksa menenang-nenangkan dan menyabar-nyabarkan diri karena ‘takut’ — maka rahimnya bukanlah lahan tenang dan sabar — rahimnya adalah lahan yang tercemar berat oleh rasa takut.

Sering juga rahim seperti itu tercemar oleh virus-virus dendam, benci dan sebagainya berdasarkan “pengalaman pemilik rahim” yang membuatnya berada dalam keadaan yang mencekam. Inilah rahim-rahim yang disebut tidak mulia.

 

JIWA YANG “LAHIR” lewat rahim seperti itu adalah Jiwa yang memang sudah berada dalam jangkauan frekuensinya. Ia memang sedang mengejar pengalaman-pengalaman seperti itu, maka ia tertarik dengan rahim tersebut.

Jiwa yang tenang ingin meningkatkan ketenangannya akan mencari rahim seorang wanita yang sungguh-sungguh tenang, walau, dalam keseharian hidupnya, wanita tersebut tampak sangat aktif. Pun demikian dengan Jiwa yang sedang mencari, mengejar pengalaman-pengalaman yang dinamis, ia akan mencari rahim seorang ibu yang bersifat dinamis pula. Penjelasan Bhagavad Gita 13:21 dikutip dari buku: (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

Berikut penjelasan tentang mereka yang penuh rasa benci; berkecenderungan pada perbuatan yang tidak mulia; kejam, dan telah merendahkan martabatnya sebagai manusia, yang akan lahir berulang-ulang di dunia ini lewat rahim-rahim yang tidak mulia seperti penjelasan Bhagavad Gita 16:19 di bawah ini:

Cover Buku Bhagavad Gita

Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu; Saha vīryam karavāvahai; Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga Hyang Tunggal senantiasa melindungi kita; menjernihkan pikiran kita: semoga kita dapat berkarya bersama dengan penuh semangat; semoga apa yang kita pelajari mencerahkan dan tidak menyebabkan permusuhan; Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

“Mereka yang penuh rasa benci; berkecenderungan pada perbuatan yang tidak mulia; kejam, dan telah merendahkan martabatnya sebagai manusia, lahir berulang-ulang di dunia ini lewat rahim-rahim yang tidak mulia pula.” Bhagavad Gita 16:19

 

Setiap orang mesti menanggung konsekuensi dari perbuatannya sendiri. Jika kita terlibat dalam perbuatan-perbuatan yang merendahkan martabat kita sebagai manusia, maka dalam kelahiran berikutnya kita Iahir dalam keluarga yang kurang-lebih sama dengan cara pandang kita.

 

SEPANJANG USIA KITA MEMBENCI; kita menyia-nyiakan hidup untuk memperkarakan orang; setiap  orang kita anggap berdosa kecuali diri sendiri dan mereka yang sepaham dengan kita; bergaul dengan mereka yang hanya berjubah manusia; bersahabat dengan mereka yang tidak sadar akan nilai-nilai kemanusiaan – alhasil, dalam kelahiran berikutnya, kita memperoleh lingkungan, keluarga, dan persahabatan yang sama.

Krsna menyebut………

 

“RAHIM-RAHIM” SYAITANI ATAU ASURI YONI – Barangkali kita belum terbiasa mendengar istilah ini. Rahim syaitani adalah rahim milik mereka yang mengandung akibat urusan nafsu belaka. Atau karena “kecelakaan”. Mereka tidak menginginkan keturunan tetapi telanjur hamil. Dorongan “nafsu birahi” saat bersanggama menyebabkan lahan rahim “menarik” roh-roh — gugusan pikiran dan perasaan — yang sejenis, yang sepenuhnya terkendali oleh hawa nafsu.

Saat sepasang anak manusia bersanggama, urusannya mestilah cinta, ya cinta. Bukan nafsu. Dan janganlah menyalahtafsirkan nafsu sebagai cinta untuk membela-diri.

 

CINTA ADALAH SABAR, CINTA BISA MENUNGGU – Cinta tidak “terbawa” oleh nafsu. Ia tidak pernah hanyut dalam nafsu. Terjadinya “kecelakaan” hanyalah membuktikan bila saat itu adalah nafsu birahi yang berkuasa sepenuhnya.

Saat sanggama, pikiran dan perasaan sepasang anak manusia yang saling mencintai —mengundang roh yang selaras dengan mereka. Sebab itu, mereka yang bersifat syaitani mengundang syaitan. Mereka yang bersifat mulia — mengundang kemuliaan.

Ungkapan umum “anak yang baru lahir, kan tidak bersalah” adalah ungkapan keliru yang menunjukkan bila kita belum memahami seluk-beluk kehidupan. Anak yang baru lahir adalah lahir untuk melanjutkan perjalanannya. Jika ia berada di jalur mulia, maka jalur itu pula yang ditempuhnya. Jika ia berada di jalur yang tidak mulia, maka ketidakmuliaan yang akan dikejarnya.

Tentang hubungan intim pra-nikah ataupun kelahiran di luar nikah, aborsi, dan lain sebagainya – persoalannya bukanlah salah atau tidak salah, bukanlah dosa dan pahala. Persoalannya adalah tanggung-jawab. Kita tidak bisa melepaskan diri dari tanggung-jawab, dari konsekuensi perbuatan kita sendiri.

Dikutip dari buku: (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

Om, Sarve bhavantu sukhinaḥ; Sarve santu nirāmayāḥ; Sarve bhadrāṇi paśyantu; Mā kashchit duḥkha bhāgbhavet; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga semua makmur, bahagia dan bebas dari penyakit. Semoga semua mengalami peningkatan kesadaran, dan bebas dari penderitaan. Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/

 

Hukuman bagi Pelaku Adharma Penderitaan sampai Akhir Hayatnya #BhagavadGita

Dalam Dhammapada 9:125 Buddha jelas sekali bahwa jika seorang pelaku kejahatan berupaya mencelakakan orang yang tidak bersalah, maka ia sendiri yang akan celaka. Lalu apa yang kita lihat selama ini dan di sekitar kita? Seolah pelaku kejahatan bisa merajalela, dan mereka yang tidak bersalah bisa seenaknya dianiaya.

Untuk itu Buddha menjelaskan dalam ayat 119 bahwa ada juga perbuatan-perbuatan jahat yang “belum matang”. Ketika buah kejahatan itu matang, maka ia jatuh sendiri. Tinggal tunggu waktu. Dikutip dari cuplikan materi neo interfaith studies oleh Bapak Anand Krishna pada program online One Earth College of Higher Learning (http://www.oneearthcollege.com/id/).

Dalam Bhagavad Gita pun dijelaskan bahwa mungkin saja pelaku adharma yang berbuat zalim terhadap orang-orang atau rakyat yang tidak bersalah bisa lolos dari penjara, karena kekuasaan dan kelicinan geng-nya. Akan tetapi hukuman oleh Dharma terhadap dirinya atau keluarganya tidak hanya membuat dia menderita hingga akhir hayatnya, tetapi juga setelah meninggalkan dunia ini.

Silakan simak penjelasan Bhagavad Gita 11:34 di bawah ini:

Cover Buku Bhagavad Gita

Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu; Saha vīryam karavāvahai; Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga Hyang Tunggal senantiasa melindungi kita; menjernihkan pikiran kita: semoga kita dapat berkarya bersama dengan penuh semangat; semoga apa yang kita pelajari mencerahkan dan tidak menyebabkan permusuhan; Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

“Bunuhlah Drona, Bhisma, Jayadratha, Karna, dan para kesatria lainnya, yang mana sesungguhnya telah binasa semuanya oleh-Ku. Jangan takut! Berperanglah, lawanlah mereka, kau pasti berhasil menaklukkan lawan-lawanmu semua.” Bhagavad Gita 11:34

 

Krsna Sangat Spesifik. Dia tahu bahwa Arjuna bukan saja enggan, tapi juga menaruh rasa takut terhadap nama-nama yang disebutnya. Drona adalah gurunya, guru yang mengajarkan seni perang kepadanya, “Bagaimana jika ia memiliki beberapa jurus yang dirahasiakannya, yang tidak diajarkan kepadaku?”

 

BISMA ADALAH EYANG – Seorang Kesatria Agung, selama itu tidak tertaklukkan oleh siapa pun. Record-nya berkualitas sterling — cemerlang.

Arjuna pun sesungguhnya gentar sejak awal percakapan ini, “Apa iya aku mampu menaklukkannya?”

Pun demikian dengan Karna dan Jayadratha, dua-duanya kesatria par excellence. Dua-duanya memiliki track record yang hampir sama dengan Bhisma.

Maka, Krsna mesti berulangkali mengingatkan Arjuna, bahwa mereka yang berada di pihak Kaurava telah menunjukkan posisi mereka dengan jelas. Sebaik-baiknya para kesatria tersebut, mereka semua, tanpa kecuali telah menentukan posisi mereka di pihak adharma. Sebab itu:

 

“JANGAN TAKUT! Siapa pun yang melawan dharma akan binasa oleh kekuatan dharma itu sendiri.”

Para penguasa zalim selalu lupa bahwa kekuasaan dan kewenangan yang mereka salahgunakan akan berbalik menghantam, menghancurkan, dan memusnahkan mereka sendiri.

Mabuk akan kekuasaan, mereka pikir bahwa lawan mereka bukan apa-apa, “Siapa dia? Kekuatannya seberapa sih? Siapa pendukungnya? Massanya seberapa? Ah, mereka adalah bangsat-bangsat yang dapat kubinasakan tanpa senjata sekalipun.”

Kekuasaan membuat mereka menjadi buta. Mereka tidak mampu melihat bila yang mereka lawan bukanlah “bangsat” — tapi dharma.

Seekor bangsat atau semut yang berpihak pada dharma mampu menaklukkan seekor gajah yang berpihak pada adharma. Para penguasa zalim tidak memahami urusan dharma-adharma.

Banyak di antara kita yang punya pengalaman menghadapi oknum penyidik di kepolisian atau kejaksaan yang korup dan dengan sombong bisa mengatakan, “Ini wewenang kami”. Pun demikian dengan para hakim dan pejabat lain yang sama-sama korup. Mereka telah dibutakan oleh kekuasaan yang tidak langgeng, tidak untuk selamanya.

 

AKHIRNYA, MEREKA BINASA karena dan oleh kebutaan mereka sendiri. Kadang mereka tidak sadar bahwa ketika dharma bertindak, ia bisa menggunakan senjata apa saja. Banyak senjata di tangan dharma.

Para pejabat korup yang memiliki anak yang autis, penderita penyakit lain, pencandu, pemabuk, penderita HIV, dan sebagainya – telah dijatuhi hukuman seumur hidup oleh dharma! Penyakit anak-anak mereka adalah disebabkan oleh uang haram hasil korupsi, hasil jarahan, yang mereka gunakan untuk membiayai kehidupan mereka. Dan tentunya disebabkan oleh karma anak-anak itu pula yang memilih mereka sebagai orang-tua.

Dharma tidak selalu memenjarakan para penguasa zalim. Penjara adalah urusan peradilan dunia. Hukuman penjara adalah hukuman ringan jika dibanding dengan hukuman dharma yang tidak hanya membuat seseorang menderita hingga akhir hayatnya, tetapi juga setelah meninggalkan dunia ini. .

Hukuman dharma bukanlah hukum korup yang bisa dikompromikan. Tidak ada sin laundering, pencucian dosa lewat ziarah, amal-saleh, dan sebagainya. Setiap penderitaan yang disebabkan oleh seorang penguasa zalim mesti dipertanggung jawabkan olehnya sendiri. Dengan membangun tempat-tempat ibadah sekalipun, ia tidak bisa terhindar dari akibat perbuatannya, akibat kezalimannya.

Dikutip dari buku: (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

Om, Sarve bhavantu sukhinaḥ; Sarve santu nirāmayāḥ; Sarve bhadrāṇi paśyantu; Mā kashchit duḥkha bhāgbhavet; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga semua makmur, bahagia dan bebas dari penyakit. Semoga semua mengalami peningkatan kesadaran, dan bebas dari penderitaan. Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/

 

Kesalahan Kolektif Masyarakat Bisa Saja Mengundang Bencana? #YogaSutraPatanjali

Fenomena Alam

Kadang kita merasa begitu putus asa dengan kenyataan yang terjadi. Kebenaran tenggelam dalam konspirasi yang berada di luar kemampuan kita. Kita semua tidak bisa lepas dari tanggung jawab. Kita telah ikut menentukan para pemimpin kita. Kita juga diam dan seakan-akan membiarkan kebiasaan tidak baik merajalela. Yang belum kita sadari adalah bahwa keputusan kolektif masyarakat bisa menimbulkan letupan emosi kolektif. Dan letupan emosi kolektif bisa saja mengundang bencana?

Tulisan ini hanya sekadar renungan, bertujuan agar kita melakukan tindakan yang baik. Segala sesuatu yang kita perbuat harus dirasakan bagaimana seandainya kita sendiri mengalaminya (tepa-slira, rasa empati). Kalau kita tidak mau dianiaya orang ya jangan menganiaya orang. Karena segala sesuatu akan kembali kepada kita dengan adanya hukum sebab-akibat. Kalau masyarakat menganiaya seseorang, bisakah masing-masing anggota masyarakat menyadari bagaimana kalau dirinya dibegitukan?

………………

Sejak beberapa dasawarsa terakhir ini, sains – setidaknya beberapa ahli fisika dan ahli saraf – telah memasuki tahap pembenahan diri. Mereka mulai merasakan bahwa alam ini bukanlah suatu kecelakaan belaka. Ada inteligensia di balik segalanya!

Terjadi gempa bumi, tsunami, dan seorang saintis “orde lama” mengatakan, “semua ini karena lempengan-lempengan, bla bla bla”. Seorang tokoh kepercayaan “orde lama”, sebaliknya menganggap fenomena alam tersebut sebagai “Azab dari Tuhan. Gusti Pangeran marah!”

Manusia “orde baru” – Manusia Baru – yang memahami spiritualitas dan sains, berupaya untuk memahami misteri ini, “Memang ada lempengan-lempengan yang sedang bergerak, dan fenomena alam itu pula yang mengundang tsunami. Namun, sesungguhnya gerakan lempengan-lempengan tersebut tidak mesti, tidak harus, tidak selalu berakibatkan tsunami.”

Dan, ia mulai bertanya, “Ada apa sehingga gerakan lempengan-lempengan itu menyebabkan tsunami dan gempa bumi di wilayah tertentu, padahal ada juga wilayah lain yang memiliki potensi yang sama, tapi tidak terjadi sesuatu di sana. Kenapa, kenapa, kenapa?”

Kemudian segelintir saintis berwawasan lebih luas mulai bisa melihat hubungan yang erat antara nafsu, emosi, pikiran, dan perbuatan manusia yang dapat memengaruhi gerakan lempengan-lempengan tersebut sehingga bertabrakan, dan terjadilah kehancuran di mana-mana!

Kesimpulannya, gerakan lempengan-lempengan adalah fenomena alam – Tapi, tidak mesti terjadi gempa bumi, tidak mesti tsunami, tidak mesti menelan korban. Bencara alam terjadi bukan karena alam mengamuk tanpa dasar, tapi karena ada intervensi dari perbuatan, pikiran, dan perasan manusia sendiri. Mind over matter. Penjelasan Bhagavad Gita 9:1 dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

 

Bencana dapat dihindari?

Sekali lagi, renungan ini sekadar bertujuan agar kita melakuka hal yang baik, yang selaras dengan alam.

………………….

Dapatkah kita mempertahankan air pada 100 derajat celcius? Mustahil. Begitu mencapai 100 derajat celcius, air langsung menguap, mulai menguap. Emosi memiliki korelasi dengan air. Emosi dikendalikan oleh elemen air di dalam diri kita. Pun demikian di luar diri kita, di alam sekitar kita. Air laut, air sungai – semuanya adalah pusat-pusat emosi di dunia ini. Jika terjadi tsunami, maka alasannya bukanlah sekadar “fenomena” alam; dalam pengertian, “itu adalah sesuatu yang lumrah.” Tidak, tidak lumrah. Dapat dihindari.

Pasang-surutnya air laut adalah lumrah, namun memasangnya sedemikian rupa hingga menyebabkan musibah, bencana – tidak lumrah. Saat itu laut, air sedang mengamuk. Tentunya kita telah mengundang amukannya karena ulah kita sendiri. Penjelasan Bhagavad Gita 9:14 dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

Silakan simak penjelasan Yoga Sutra Patanjali mengenai hal-hal tersebut di bawah ini:

Cover buku Yoga Sutra Patanjali

Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu: Saha vīryam karavāvahai;Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai.Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga Hyang Tunggal senantiasa melindungi kita; menjernihkan pikiran kita: semoga kita dapat berkarya bersama dengan penuh semangat; semoga apa yang kita pelajari mencerahkan dan tidak menyebabkan permusuhan; Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

“Berkat Samyama (dharana atau kontemplasi; dhyana atau meditasi; dan menyadari atau memusatkan kesadaran) pada Cahaya Bulan atau Rembulan, seseorang meraih pengetahuan tentang konstelasi perbintangan.” Yoga Sutra Patanjali III.28

 

Terlepas dari ada atau tidaknya kehidupan di planet lain, di galaksi lain, yang jelas planet-planet itu sendiri merupakan organisme yang hidup. Alam semesta adalah sesuatu yang hidup. Dengan adanya kesadaran seperti itu, seorang Yogi menjadi manusia yang bertanggung jawab. Ia akan selalu memperhatikan ucapan, dan tindakannya.

 

SUPAYA KJTA SELALU INGAT, bahwa kehidupan di dunia ini adalah bagian dari suatu Matriks Kehidupan yang sangat precise – presisinya sungguh luar biasa.

Dengan merusak lingkungan, mencemari sumber air, dan sebagainya, kita tidak hanya mencelakakan planet bumi dan penghuninya—termasuk kita sendiri – ,tetapi juga mengganggu Matriks Kehidupan tersebut.

Meletusnya gunung, terjadinya tsunami, dan sebagainya bukanlah fenomena alam semata. Amukan alam dapat dihindari, atau setidaknya dapat diminimalkan, jika kita bekerja sama dengan alam, jika kita merawat bumi ini dengan penuh kasih.

Apalagi mengingat posisi kita yang tinggal di wilayah ring of fire atau cincin api. Letupan-letupan emosi kita, awalnya hanya memengaruhi hidup kita, relasi kita, dan orang lain yang berurusan dengan kita. Tetapi lambat laun, ketika letupan-letupan emosi itu berubah menjadi letupan kolektif, terjadilah bencana alam!

Setiap tindakan dan perbuatan kita memengaruhi alam sekitar kita. Ketika suatu masyarakat bertindak salah secara kolektif, maka konsekuensinya mesti ditanggung secara kolektif pula.

Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2015). Yoga Sutra Patanjali Bagi Orang Modern, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Semoga renungan ini mengingatkan kita untuk berbuat baik selaras dengan alam……

Om, Sarve bhavantu sukhinaḥ; Sarve santu nirāmayāḥ; Sarve bhadrāṇi paśyantu; Mā kashchit duḥkha bhāgbhavet; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga semua makmur, bahagia dan bebas dari penyakit. Semoga semua mengalami peningkatan kesadaran, dan bebas dari penderitaan. Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/

 

Berkarya Sesuai Potensi Diri #BhagavadGita

“Berkarya sepenuh hati, sesuai dengan kewajiban, dan sifat alami atau potensi dirinya, seseorang mencapai kesempurnaan. Sekarang, dengarlah tentang cara penunaian kewajiban untuk meraih kesempurnaan tertinggi tersebut.” Bhagavad Gita 18:45

Krsna tidak memisahkan spiritualitas dari keseharian hidup. Tidak semua orang mesti menjadi petapa, menggunduli kepala, atau memelihara jenggot. Tidak semua orang mesti berjubah dan menjadi penyiar kepercayaan.

Buku Bhagavad Gita

Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu; Saha vīryam karavāvahai; Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga Hyang Tunggal senantiasa melindungi kita; menjernihkan pikiran kita: semoga kita dapat berkarya bersama dengan penuh semangat; semoga apa yang kita pelajari mencerahkan dan tidak menyebabkan permusuhan; Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

Berikut penjelasan berkarya sesuai potensi diri dalam Bhagavad Gita 18:45 dan bagaimana membagi waktu untuk istirahat, usaha, keluarga dan spiritual dalam Bhagavad Gita 18:46:

 

SETIAP ORANG MEMILIKI KEWAJIBAN terhadap dirinya, terhadap keluarga — jika dia berkeluarga — dan terhadap masyarakat.

Jika Anda seorang artis, maka tetaplah berkarya di dunia hiburan. Tidak ada yang salah. Menjadi seorang artis adalah sama terhormatnya seperti menjadi pengusaha atau politisi. Tidak perlu berpindah profesi. Jika seni adalah panggilan diri Anda, maka tetaplah berkarya sebagai seniman.

Pun demikian dengan pengusaha, dengan pendidik. Kita semua masih tetap bisa berkontribusi terhadap kemajuan masyarakat. Tidak perlu menjadi politisi atau pejabat tinggi untuk mengabdi.

Sesungguhnya, ketika kita tetap berkarya sesuai dengan sifat alami dan potensi diri —kontribusi kita akan makin besar, makin berarti.

 

DENGAN BERPINDAH PROFESI, kita butuh waktu untuk penyesuaian – kadang kita malah kehilangan momentum, kehilangan waktu dan energi.

Bintang Bollywood, Amitabh Bachchan pernah masuk dunia politik. Tak lama kemudian, ia sadar bahwa dunia itu bukanlah dunianya. He did not belong there. Maka, ia pun mengakui kesalahannya, dan kembali ke dunianya sebagai artis. Hingga saat ini ia masih jaya — masih bertahan sebagai superstar.

Superstar lain, yang pernah lebih hebat dari Bachchan, yakni Rajesh Khanna — melakukan hal yang sama. Barangkali ia pun menyadari bila dirinya tidak memiliki potensi sebagai politisi. Namun, ia tetap bertahan sebagai politisi. Ia meninggal dengan menyimpan banyak kekecewaan. Sayang sekali, dunia politik tidak memperoleh tambahan yang berarti, sementara dunia perfilman Bollywood kehilangan seorang artis kawakan.

Kedua contoh ini hendaknya menjadi pembuka mata bagi kita, yang sering tergoda untuk mengikuti pemilihan sebagai calon legislatif dan sebagainya. Apakah kita memiliki potensi untuk itu? Jangan-jangan kita menjadi badut di sana, akhirnya lebih banyak absen, merugikan diri, merugikan negara dan terutama merugikan rakyat yang memilih kita.

Sebab itu, “Jadilah dirimu sendiri!” adalah nasihat yang tepat dalam hal ini. Jadilah sesuai dengan sifat alami dan potensi dirimu sendiri.

 

“Kesempurnaan Tertinggi tercapai oleh seseorang yang menunaikan kewajibannya sesuai dengan sifat alami atau potensi dirinya, dengan semangat berbakti pada Dia Hyang adalah Asal-Usul semua makhluk, dan Meliputi alam semesta.” Bhagavad Gita 18:46

 

Krsna tidak memisahkan waktu ibadah dari waktu untuk berkarya. Ibadah dan pekerjaan berjalan bersama. Namun, janganlah menjadikan hal ini sebagai pembenaran atas kemalasan diri………

 

JIKA MASIH BELUM BISA bertindak demikian — belum bisa berkarya dengan semangat manembah — maka berbagi waktu untuk ibadah, kegiatan spiritual lainnya, bakti-sosial, keluarga, dan bisnis mesti dilakukan secara cermat.

Janganlah terlarut dalam urusan bisnis atau keluarga sedemikian rupa hingga tidak punya waktu lagi untuk sesuatu yang lain, kemudian beragumentasi bahwa kita sudah berkarya dengan semangat manembah. Kita tidak bisa menipu diri sendiri.

Berkarya dengan semangat manembah seperti yang dianjurkan oleh Krsna hanyalah memungkinkan ketika bisnis, urusan keluarga, dan urusan pribadi kita sama sekali tidak bertentangan dengan kepentingan masyarakat umum. Tidak ada lagi kepentingan diri dan keluarga yang beda dari kepentingan umum.

Berkarya dengan semangat manembah berarti setiap karya kita selaras dengan kepentingan masyarakat umum. Jika belum bisa demikian, maka seperti yang Guru saya anjurkan…….

BAGILAH WAKTU 24 JAM dalam 4 bagian utama. Enam Jam Pertama adalah untuk istirahat, mandi, makan, dan lain sebagainya. Barangkali Anda bertanya, “Apakah 6 jam untuk semuanya itu cukup?”

Jawabannya adalah “Ya, jika Anda seorang meditator.” Kita tidak butuh waktu lebih dari 4-5 jam untuk tidur. Selebihnya untuk mandi, dan lain-lain.”

Enam Jam Kedua adalah untuk Usaha.

Sekali lagi, cukup, jika kita meditator, karena kita sudah pasti efisien dan tidak membuang waktu. Produktivitas dan Kreativitas — meditasi menjamin kedua-duanya.

Enam Jam Ketiga adalah untuk Keluarga.

Untuk segala urusan keluarga, termasuk setidaknya, makan malarn bersama, dan lain sebagainya. Nah, Bagian Kedua dan Ketiga bisa tumpang tindih, dan saling menunjang jika seorang memiliki usaha keluarga, atau ada aktivitas-aktivitas lain dimana keluarga terlibat.

Keempat adalah untuk Laku Spiritual, Sadhana atau Pengembangan Diri, Yoga, Meditasi, Membaca, Bakti Sosial, dan sebagainya.

Inilah jalan alternatif yang aman untuk menuju Kesempurnaan Diri, jika kita belum bisa mendedikasikan 24 jam dengan semangat panembahan.

Dikutip dari buku: (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

 

Om, Sarve bhavantu sukhinaḥ; Sarve santu nirāmayāḥ; Sarve bhadrāṇi paśyantu; Mā kashchit duḥkha bhāgbhavet; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga semua makmur, bahagia dan bebas dari penyakit. Semoga semua mengalami peningkatan kesadaran, dan bebas dari penderitaan. Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/

 

Belajar dan Berbagi Pengetahuan tentang Hakikat Diri #BhagavadGita

Persembahan lewat Studi

“Barang siapa mempelajari percakapan kita ini, sesungguuhnya telah memuja-Ku Iewatpanembahan dalam bentuk Pengetahuan Sejati (Jnana Yajna) — demikian keniscayaan-Ku.” Bhagavad Gita 18:70

 

Bagi Krsna, menghaturkan sesajen tidaklah mesti dalam bentuk bunga, air, dupa, dan sebagainya. Sembahyang tidak harus dalain bentuk ritus tertentu. Persembahan juga bisa dalam bentuk studi. Mempelajari sesuatu yang mernbantu Kesadaran Jiwa, adalah persembahan yang sudah pasti paling “digemari” oleh Jiwa.

Ritus-ritus lain tidak ditolak-Nya — inilah keunikan Krsna. Ia tidak menolak sesuatu – Ia memberi pilihan. Selanjutnya terserah kita.

 

JNANA YAJNA – Persembahan, Devosi, Panembahan dalam bentuk Berbagi Pengetahuan Sejati. Berbagi Pengetahuan tentang Hakikat-Diri.

Inilah “Bentuk” panembahan yang masih mesti dikembangkan di Indonesia. Di setiap wilayah Nusantara. Silakan melakoni ritus-ritus lain, memang penting bagi kita yang masih belum tenang pikirannya; kita yang emosinya masih bergejolak. Ritus-ritus penting untuk itu.

Tapi, jangan lupa kebutuhan inteligensia, buddhi. Jangan lupa pula kebutuhan Jiwa, Jivatma — yang senantiasa rnenginginkan kemanunggalan dengan Sumber-Nya, Sang Jiwa Agung, Paramatma. Untuk itu, Jnana Yajna adalah satu-satunya solusi.

Buku Bhagavad Gita

Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu; Saha vīryam karavāvahai; Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga Hyang Tunggal senantiasa melindungi kita; menjernihkan pikiran kita: semoga kita dapat berkarya bersama dengan penuh semangat; semoga apa yang kita pelajari mencerahkan dan tidak menyebabkan permusuhan; Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

JNANA YAJNA BERARTI, menjadi sadar dan berbagi kesadaran. Menjadi ceria karena peraihan pengetahuan sejati tentang hakikat diri dan berbagi keceriaan.

Caranya adalah dengan membentuk kelompok-kelompok studi. Jumlah peserta yang ideal adalah antara 7-9 hingga 21 orang. Janganlah menyakralkan angka. Kebetulan saja angka-angka itu signifikan bagi saya. Adalah “sekitar” jumlah itu yang saya maksudkan.

Kelompok-kelompok studi seperti itu bisa bertemu seminggu sekali, atau minimum 2 minggu sekali. Lebih jarang dari itu tidak akan membantu. Jarak yang terlampau jauh antar pertemuan tidak efektif.

Namun, sesuatu yang lebih penting lagi ialah: Self-Study — Swa Studi. Biasakan diri untuk membaca 1 ayat, 1 bab, atau seberapa saja — setiap hari. Ini akan memberi kita energi untuk berbagi. Tanpa adanya energi di dalam diri kita sendiri, apa yang akan kita bagikan?

Sisihkan waktu setiap hari, lebih baik setiap pagi — entah 5 menit atau 15 menit, tergantung pada alokasi waktu yang kita berikan bagi Self-Study. Lagi-lagi anjuran saya adalah, minimal 5 menit; tentu tidak ada maksimal.

Tapi, ya, ada saran untuk waktu yang ideal, yaitu di atas 20 menit, 2l menit pun boleh. Sebab, penelitian-penelitian di bidang neuroscience menunjukkan bahwa otak manusia baru me-register, merekam sesuatu secara permanen, setelah mendalaminya selama lebih dari 20 menit.

Jadilah Pelaku Jnana Yajna mulai saat ini juga dan raihlah Kasih-Nya. Kita semua bisa!

 

“Barang siapa mendengarkan ajaran ini dengan penuh keyakinan dan tanpa celaan; niscaya meraih kebebasan mutlak dan kebahagiaan sejati yang diraih para bijak yang berbuat mulia.” Bhagavad Gita 18:71

 

Barangkali kita tidak menghayati ajaran ini, kita belum sepenuhnya memahami — tapi kita tetap mendengarkan dengan penuh perhatian dan keyakinan. “Aku belum paham, tapi aku tahu bila ajaran ini adalah baik untukku” – maka, dengan keyakinan seperti itu saja, kita sudah bisa terbebaskan dari kebodohan ilusif yang menyebabkan kesalahan, kekhilafan, dan sebagainya.

 

KITA AKAN DIPERTEMUKAN DENGAN MEREKA yang dapat membantu dalam hal penemuan jati diri. Bisa dalam kehidupan ini, bisa dalam kehidupan berikutnya — cepat atau lambat, tergantung pada daya-upaya kita, keseriusan kita, kesungguhan kita.

Gita adalah ajaran universal untuk semua.

Gita adalah Pustaka Terbuka bagi siapa saja. Syaratnya hanya satu, yaitu kesiapsediaan kita untuk mempelajarinya. Itu saja. Tidak ada syarat lain. Tidak ada kondisi lain.

Apa pun kepercayaan kita — Gita tetaplah menerima kita dengan kasih yang sama. Tidak ada urusan ganti-kepercayaan; meninggalkan kepercayaan A dan memeluk kepercayaan B. Tetaplah pada kepercayaan Anda. Tetaplah pada ritus-ritus yang selama ini sudah Anda lakukan. Gita hanyalah membuka wawasan Anda untuk menjadi Manusia yang Lebih Baik.

Dikutip dari buku: (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

 

Om, Sarve bhavantu sukhinaḥ; Sarve santu nirāmayāḥ; Sarve bhadrāṇi paśyantu; Mā kashchit duḥkha bhāgbhavet; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga semua makmur, bahagia dan bebas dari penyakit. Semoga semua mengalami peningkatan kesadaran, dan bebas dari penderitaan. Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/