Bhajan Penghubung Jiwa Kita dengan Gusti Hyang Maha Tinggi #SpiritualIndonesia

 

Bhajan! — bernyanyilah

Wahai manusia, wahai pikiran, bernyanyilah! Jalani kehidupan dengan penuh lagu, penuh irama. Bernyanyilah sepanjang hidupmu!

Cara Swami menjinakkan pikiran yang seperti monyet ini sangat musikal. Bhajan, sebagaimana yang disarankan dan diajarkan oleh Swami bukanlah sekedar lagu pujian, namun adalah meditasi dalam musik. Adalah memasuki keadaan pikiran yang meditatif melalui musik.

Sekarang, untuk memasuki keadaan pikiran yang meditatif ini, penting sekali kita untuk BERHENTI MENJALANI HIDUP SEPERTI PROSA!

Kehidupan ini penuh dengan lika-liku, tikungan, tinggi, rendah, naik Dan turun. Kehidupan bukan garis lurus. Kehidupan itu seperti puisi. Tidak seperti prosa. Musik Dan lagu cocok untuk kehidupan. Prosa hanyalah bagian kecil kehidupan manusia. Prosa tidak dapat mewarnai keseluruhan hidup manusia.

Secara alamiah pikiran kita yang seperti monyet ini juga tertarik akan lagu, musik, dan tarian. Pada dasarnya, jauh lebih mudah menjinakkan pikiran dengan musik daripada melalui visualiasi mental dan perenungan intelektual. Begitu pikiran yang seperti monyet ini terjinakkan, visualisasi mental dan perenungan intelektual menjadi mudah.

Pikiran yang jinak adalah pikiran yang bisa berpikir, berefleksi dan bisa membuat keputusan yang cerdas. Pikiran yang jinak adalah pikiran yang mengalami transformasi total. Dikutip dari buku (Das, Sai. (2012). Sai Anand Gita Kidung Mulia Kebahagiaan Sejati. Koperasi Global Anand Krishna Indonesia) #Spiritual Indonesia lewat #SaiAnandGitaIndonesia

Menjinakkan pikiran melalui Bhajan

Pesan kedua Baba “bhajare” mengajak kita untuk menjinakkan, mentransformasi pikiran melalui bhajan lagu, musik dan tarian.Jadi, bukan hanya lirik, melodi, dan koordinasi antara berbagai alat musik dan penyanyi. Lagi dan lagi Swami mengingatkan kita bahwa bhajan harus mampu memberi semangat, harus mengangkat kita. Letupan emosi tidak akan mengangkat hakikat kita yang terdalam; bahkan tidak akan bisa menyentuhnya. Letupan emosi hanya akan menjauhkan kita dari perasaan yang terdalam dari cinta. Letupan emosi tidaklah spiritual. Cinta dan devosi bukanlah emosi. Cinta adalah rasa terdalam, jauh lebih dalam dari emosi yang terdalam. Dan devosi, bhakti, adalah buah dari cinta yang sudah matang.

Bhajan adalah jalan yang menghubungkan jiwa kita dengan Dia Hyang Mahatinggi. Pada ujung jalan satunya adalah sang jiwa, diujung lain adalah Dia Hyang Mahatinggi, Entah kita mau menapaki jalan tersebut atau tidak, tetap saja kita semua sama-sama terhubung.

Bhajan harus bisa mengangkat dan memberi semangat. Jadi, bukan hanya lirik, melodi, dan koordinasi antara berbagai alat musik dan penyanyi. Lagi dan lagi Swami rnengingatkan kita bahwa bbajan harus mampu memberi semangat, harus mengangkat kita.

Nyanyikan lagu kepasrahan, penyerahan diri, bhakti dan cinta. Keluhan tidaklah untuk dinyanyikan. Jangan jadikan keluh-kesah rnenjadi puisi. Tidak akan membantu. Ubahlah keluh-kesah menjadi lagu Pujian dan rasa syukur, “O Tuhan, Engkau telah memilihku untuk melalui pengalaman ini demi peningkatan jiwaku, aku bersyukur padaMu, Ya Tuhan.”

Bhajan yang menyemangati dan mengangkat, akan membawa kita ke dalam alam pikiran meditatif. Maka kemudian musik menjadi meditasi. Dikutip dari buku (Das, Sai. (2012). Sai Anand Gita Kidung Mulia Kebahagiaan Sejati. Koperasi Global Anand Krishna Indonesia) #Spiritual Indonesia lewat #SaiAnandGitaIndonesia

Aku adalah Saama Veda

Sri Krishna dalam Bhagavad Gita berkata bahwa diantara sains, seni dan berbagai cabang ilmu pengetahuan — Dia adalah Saamaveda, yaitu: MUSIK 3-IN-1 YANG MENCAKUP SAINS – SENI – PENGETAHUAN

Banyak cara dapat dilakukan untuk mengalami Tuhan, namun cara yang paling mudah adalah melalui musik, melalui lagu — melalui musik yang menyemangati dan mengangkat; melalui lagu yang penuh rasa.

Swami sering berkata bahwa Tuhan berada di tempat di mana para penyembah menyanyikan Kemuliaan-Nya. Tidak berarti juga bahwa Tuhan tidak berada di tempat di mana kemuliaan-Nya tidak dinyanyikan, atau tempat di mana para panembah menampakkan raut wajah yang kuyu dan menyanyikan lagu-lagu melankolis.

Dia Hyang Maha Ada sudah pasti ada di mana-mana dan setiap saat. Adalah karena keterbatasan kita sendiri yang membuat kita tidak bisa merasakan kehadiran-Nya di mana-mana dan setiap saat. Dan bhajan yang mengangkat semangat adalah cara yang paling gampang untuk melampaui keterbatasan tersebut.

Bhajan yang memberikan semangat dan mengangkat membuat kita merasa hidup, karena hidup ini sesungguhnya musical. Kita tinggal di alam semesta yang bergetar secara harmonis. Dengarkanlah kicauan burung. Dengarkan suara angin sepoi-sepoi. Dengarkan irama musik dari air sungai yang mengalir dan menari-nari. Semuanya adalah musik dan semuanya harmonis…

 

Bhajan adalah jalan yang menghubungkan jiwa kita dengan Dia Hyang Mahatinggi. Pada ujung jalan satunya adalah sang jiwa, di ujung lain adalah Dia Hyang Mahatinggi. Entah kita mau menapaki jalan tersebut atau tidak, tetap saja kita semua sama-sama terhubung.

Jika kita tidak menapaki jalan tersebut, maka hubungan ini hanya menjadi sebuah potensi saja, tidak terealisasi. Bila kita menjalaninya, maka potensi tersebut akan terealisasi. Pilihan ada di tangan kita — Tuhan memberikan kita kebebasan penuh untuk menentukan keinginan kita.

Bhajan Swami dimaksudkan untuk dinyanyikan sebagai sankeertan — nyanyian para panembah, nyanyian yang dilakukan secara bersama-sama. Dalam kata-kata beliau sendiri: “Samyak—keertanam Sankeertanam – Bhajan yang dinyanyikan secara bersama-sama oleh para panembah adalab bhajan yang terbaik.”

Ada perbedaan yang sangat besar antara Keertanam dengan Sankeertanam. Keertanam adalah urusan pribadi, dinyanyikan sendiri agar doa dan harapan pribadinya terkabul. Sankeertanam bertujuan untuk kesejahteraan selurub jagat raya. Sankeertanam dijelaskan pula sebagai bhajan Saamaajika (nyanyian berkelompok). Metode menyanyikan bhajan seperti ini pertama kali dipelopori oleh Guru Nanak, pendiri agama Sikh. Sankeertanam bertujuan untuk memperlihatkan kesatuan dalam keberagaman. Ketika seluruh peserta bergabung bernyunyi serempak dalam satu suara, inilah Sankeertana.

Dari sudut pandang dunia usaha, korporasi, teamwork yang baik, sehat dan saling mengisi adalah sankeertan. Ketidakharmonisan sebagai hasil teamwork yang jelek, bukan sankeertan. Dikutip dari buku (Das, Sai. (2012). Sai Anand Gita Kidung Mulia Kebahagiaan Sejati. Koperasi Global Anand Krishna Indonesia) #Spiritual Indonesia lewat #SaiAnandGitaIndonesia

 

Significance of bhajan 1 what is there in the name

Bhajan dapat solo, sendirian? Sepanjang membawa keluar devosi dari dalam diri kita? Saat kita bicara kirtan, kirtan adalah grup devosional singing? Apa yang kita lakukan di sini (ashram) adalah kirtan? Semua yang datang terlibat? Diperlengkapi dengan booklet sehingga bisa dikuti kata-katanya? Penting untuk memahami arti dari setiap kata?

kebanyakan adalah nama-nama, nama dari Tuhan, bunda ilahi? Kalian bisa menyebutnya bapa di surga atau bunda ilahi? Semua adalah nama dan nama tergantung pada atribut, sifat, lambang?

Sri Krishna dalam Bhagavad Gita menyampaikan, dari semua pengetahuan, dari semua veda, Aku adalah Sama Veda, pengetahuan tentang musik?

Ketika kamu menyanyi di tempat umum, kamu harus menghormati orang? Kamu harus yakin bahwa nyanyianmu dapat membangkitkan rasa devosi? Sehingga dalam konteks tersebut penyanyi harus artis? Tidak harus Michael Jackson Madonna, tetapi kamu harus menguasai, master atas alat musik, atas nyanyian?

Bagian-bagian dari otak terpengaruh oleh macam-macam musik? Apabila kamu bermin drum, apabila kamu bermain dengan tepat dapat mempengaruhi heart region , chakra hati? Ketika kamu main musik tali senar, kebanyakan sitar, gitar, harpa akan mempengaruhi otak? Setiap instrument musik berpengaruh pada tiap bagian dari otak? Dari otak kemudian didistribusikan ke seluruh tubuh?

Ketika kamu menyanyikannya dengan penuh devosi dan memahami artinya, apabila kamu menyebut Vasudev maka ia adalah  nama yang diberikan kepada Krishna?

Kita harus tahu inner significance, makna batin saat menyebut Vasudev? Vasu adalah caretaker, penjaga dari seluruh universe, earth ataupun caretaker dari rumahmu, dari dirimu juga, keluargamu juga, teman, komunitas, negara, dunia? Ia adalah caretaker dari situasi apa pun? Ia adalah penjaga soul, jiwa?

Silakan simak video Youtube: Significance of bhajan 1 what is there in the name

Advertisements

Law of Attraction Berlaku pada Domain Mind, Bukan Domain Spiritual #SpiritualIndonesia

Kita itu unik atau tidak unik yang pada hakikatnya satu? Apakah keberhasilan law of attraction menyalahi kepasrahan terhadap alam semesta? Beda domain?

 

Hukum Law of Attraction bukan segala-galanya

Para penyokong modern Law of Attraction seperti Rhonda Byrne, yang menjadi terkenal lewat karyanya The Secret pada tahun 2006; dan, pasangan Esther dan Jerry Hicks yang meraih kesuksesan fenomenal setelah buku mereka berjudul Money and the Law of Attraction, masuk ke dalam daftar bestseller New York Times pada bulan Agustus 2008 (buku pertama mereka A New Beginning terbit sekitar tahun 1988), kiranya menempatkan joy atau keceriaan sebagai emosi tertinggi.

Oleh sebab itu, setiap orang yang hendak “memanfaatkan” Hukum Ketertarikan untuk meraih keberhasilan mesti berada pada tingkat emosi yang tertinggi itu. Berada pada tingkat itulah “keinginan” berubah menjadi “kenyataan”. Berada pada tingkat itulah keceriaan menarik keceriaan. Kebahagiaan mengundang kebahagiaan.

……………….

Napoleon Hill (1883-1970), menurut saya motivator terbesar dan paling berpengaruh dalam 73 tahun terakhir sejak bukunya berjudul Think and Grow Rich terbitpada tahun 1937, awalnya sangat terpengaruh oleh pemikiran New Thought. Buku pertama dia berjudul The Law of Success in 16 Lessons (1928) antara lain menjelaskan Law of Attraction dan memuat banyak referensi tentang hal itu.

Namun, setelah Crash of 1929 dan depresi berkepanjangan, Napoleon Hill baru sadar bila pikiran, perasaan, dan hukum alam Law of Attraction bukanlah segalanya. Masih banyak hukum alam lain yang memengaruhi kehidupan manusia. Oleh sebab itu, pada tahun 1937 terbitlah bukunya yang kedua, Think and Grow Rich, yang mana sekaligus merupakan perbaikan atas buku pertama. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2010). A New Christ, Jesus: The Man and His Works, Wallace D Wattles. Re-editing, Terjemahan Bebas, dan Catatan Anand Krishna oleh Anand Krishna. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

Tiap orang adalah unik tapi kita sebenarnya satu?

Kemanusiaan itu bukan hitam atau putih, atau keduanya. Kemanusiaan adalah satu. Anak adalah anugrah alam, keajaiban dan misteri. “Goresan” DNA berbeda, namun jika kita menilik cukup jauh ke belakang, kita akan temukan kita semua berasal dari satu sumber yang sama.

Atom itu satu. Energi juga satu. Sumber segala kehidupan adalah satu. Perbedaan kita adalah geografis. Perbedaan biologis. Tetapi bukan perbedaan yang prinsipil. Pada dasarnya, kita semua satu. Jadi, kembali lagi pada kita. Bagaimana cara pandang kita? Apakah kita menyadari esensi yang satu dan sama, atau kita hanya melihat perbedaan-perbedaan di permukaan?

Tiap orang dari kita adalah unik. Ya benar. Tetapi jangan biarkan keunikan ini memisahkan kita. Marilah kita selalu ingat bahwa pada intinya kita semua satu. Marilah kita rayakan keunikan individual kita. Namun janganlah lupa bahwa lantai dansa adalah satu juga. Kita tidak bisa berdansa tanpa lantai dansa  kesatuan ini. Keunikan tarian kita dapat terlihat hanya karena lantai dansa kesatuan. Tanpa lantai dansa ini, tidak mungkin ada tarian. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2009). “The Gospel Of Michael Jackson”. Anand Krishna Global Co-operation)

Jiwa yang sama dalam setiap wujud

“Para bijak berkesadaran tinggi, namun rendah hati, melihat Jiwa yang sama dalam diri seorang Brahmana berpengetahuan; seekor sapi, gajah, bahkan anjing sekalipan, dan dalam diri para dina, hina, dan papa yang terbuang oleh masyarakat.” Bhagavad Gita 5:18

Berarti, melihat Wajah Gusti Pangeran di mana-mana. Bukan saja di balik wujud-wujud yang indah, tapi di balik wujud-wujud yang tidak indah.

BAHKAN, DALAM “DIRI” HEWAN…… Ya, hewan pun memiliki “diri”. Mereka pun berkepribadian. Setiap hewan adalah unik. Bukan saja unik-jenis, tapi unik-rupa antar hewan yang sejenis. Persis seperti manusia, tidak ada dua ekor kucing atau dua ekor anjing yang serupa. Sifat mereka pun bisa beda. Ada anjing yang tenang, sementara kembarannya galak.

Rasa empati kita mesti meluas dari detik ke detik. Meluas terus, hingga mencakup seluruh alam yang “terjadi” atas kehendak-Nya.

LIHATLAH GUSTI PANGERAN DALAM DIRI MEREKA YANG TELANTAR… Dalam diri orang-orang yang “dibuang”, ditinggalkan, dilupakan. Sesekali waktu, kunjungilah penjara-penjara, Anda akan menemukan mayoritas tahanan adalah orang-orang yang terlupakan, bahkan oleh keluarga terdekat. Layani mereka.

Layani mereka yang dianggap sampah oleh masyarakat — mereka yang disebut pecandu, pekerja seks. Layani mereka, karena hanyalah pelayanan tulus Anda yang dapat memunculkan harapan baru di dalam diri mereka, harapan untuk berubah, harapan untuk mencari jati diri, harapan untuk berkesadaran Jiwa. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

 

Law of Attraction : A FRESH INSIGHT (by Swami Anand Krishna)

Law of attraction berlaku pada tingkat kesadaran mental emosional dan tidak berlaku pada tingkat kesadaran spiritual?

Kita bicara tentang 2 lapisan kesadaran yang berbeda, 2 domain kesadaran yangberbeda?

Dalam filosofi yoga paling tidak ada 5 tingkat kesadaran yang dapat dideteksi yang kita panggil domain?

Pertama adalah tubuh kita, yang dibuat oleh apa yang kita makan, Annamaya Kosha?

Kedua Pranamaya Kosha, lapisan energi?

Ketiga Manomaya Kosha mental, emosional. Pikiran dan perasaan? Apa saja yang membutuhkan otak kita untuk berekspresi adalah Manomaya Kosha? Pikiran, rasa, halusinasi, imaginasi dan sebagainya termasuk dalam lapisan mental emosional?

Keempat Vijnanamaya Kosha atau Inteligensi? Inteligensi merupakan yang melekat pada diri kita, program yang datang dengan diri kita? Contohnya, anak yang baru lahir, diletakkan pada dada ibunya, maka paling lama 20 menit dia akan menemukan putting susu ibunya dan mulai menyusu.

Kelima Anandmaya Kosha atau Kebahagiaan Sejati, Langgeng, dan Abadi.

Law of attraction dan menjadi unik vs pasrah pada alam semesta dan kebersatuan berada dalam 2 domain yang berbeda?

Oke wajah saya unik, kita berbeda wajah oke. Itu adalah tentang fisik apakah lapisan fisik unik? Tidak juga? Darah kita tidak unik ada beberapa macam? Kalau kita punya kamera dengan sinar X, maka kita semua seperti tengkorak, tengkorak tidak unik? Ini tengkorak orang asia, amerika? Kalau kita punya kamera dengan sinar gama, maka kita semua berwujud vibrasi, vibrasi tidak unik? Sulit membedakan ini vibrasi siapa? Napas kita juga tidak unik?

Apa yang membuat kita unik?

Cara berpikir kita, cara saya berpikir, merasakan, cara saya mempersepsikan? Sehingga law of attraction bekerja pada domain tersebut? Dalam lapisan mind, mental? Dan apa yang dapat kau tarik? Apa yang saya anggap benar dapat saya tarik?

Tapi keyakinan anda adalah anak dari pikiran anda? Dan percaya pada saya sangat sulit sekali untuk dapat konsisten dalam kepercayaan anda? Sulit karena banyak sekali faktor? Kalau ada yang salah di luar kamu dapat mempengaruhi keyakinan anda? Mempengaruhi persepsi anda, mempengaruhi law of attraction? Law of attraction berdasar pada mind?

Keunikan anda juga adalah suatu mental? Sehingga dalam tingkat tersebut, ya, kita unik dan kita memelihara keunikan kita? Apabila kita berbuat excessive, berlebihan, ingin unik berlebihan, anda menjadi sangat individualistik, sangat egoistik?

Sulit sekali memelihara mind kita konsisten? Mind dalam filosofi yoga disebut mind monyet? Selalu meloncat dari satu pohon ke pohon lain?

Tidak ada sesuatu yang bisa mengosongkan mind? Anda tidak dapat mengisi mind seperti gelas dan mengosongkannya. Apa yang dapat anda lakukan adalah transcend the mind. Melampaui mind? Dan ketika anda melampaui mind anda akan mencapai inteligen. Vigyanamaya Kosha? Melampaui lagi mencapai Ananda Mayakosha?

Dan setelah melampaui lapisan mental-emosional, maka hukum pada lapisan yang baru sudah berbeda? Hukum gravitasi dan fisika tidak dapat diaplikasikan lagi? Di lapisan ini law of attraction, bahkan hukum karma, hukum konsekuensi sudah tidak berlaku? Kita bicara Soul? Dan soul itu tidak unik?

Dapatkah anda memisahkan matahari dengan sinar-sinarnya? Kita semua sinar-sinar matahari dan Supreme Soul, Dia adalah matahari?

Keunikan, Law of Attraction, Law of Karma, keterikatan semua dalam lapisan mental emosional?

Dalam spiritual level tidak unik? Soul berada disini untuk mengalami pengalaman? Untuk menikmati? Dalam filosofi yoga disebut leela,  bermain game?

Pada saat berhubungan dengan dunia gunakan mind? Gunakan tubuh untuk menarik orang? Di sini anda unik? Di sini law of attraction berjalan? Law of attraction adalah sub law dari law of konsekuensi, law of karma?

Ketika kita sampai spiritual level? dalam keadaan meditatif kita semua satu?

 

Silakan simak video youtube: Law of Attraction : A FRESH INSIGHT (by Swami Anand Krishna)

Kedamaian Diri: EnergiSpiritual Mengatasi Terorisme #SpiritualIndonesia

Menurut para rishi tujuan hidup manusia adalah mencapai kebahagiaan. Bukan memiliki sesuatu tapi menjadi bahagia. Ananda. Apabila kita semua bisa berjuang untuk kebahagiaan, dan jalan untuk bahagia adalah lewat damai.

Apabila ini dapat direncanakan dan dilakoni dengan benar: Apabila 300 orang di Bali dapat berpikir tentang ananda, sebagai tujuan hidup, seluruh Bali bisa damai. Dan ketika seluruh Bali damai, seluruh wilayah indonesia akan damai……………

 

Berubah mulai dari diri sendiri

Kami ingat sebuah cerita dari Swami Anand Krishna: Ada seseorang yang mempunyai talenta dan semangat yang luar biasa. Sejak kecil dia ingin mengubah dunia, akan tetapi sampai mendekati puncak karirnya, dunia tidak dapat berubah seperti yang dikehendakinya.

Oleh karena itu sampai masa purna tugasnya, dia hanya  ingin mengubah masyarakat di tempat dia tinggal. Akan tetapi banyak faktor yang mempengaruhi, dan pengaruh dia kalah besar dengan pengaruh banyak hal sehingga dia tidak mampu mengubah masyarakat sekelilingnya.

Akhirnya dia hanya ingin mengubah keluarga, bahwa yang penting baginya adalah bisa mengubah keluarganya sesuai dengan apa yang dikehendakinya.

Akan tetapi ternyata masing-masing anggota keluarga adalah individu yang mempunyai pandangan pribadi yang tidak sepenuhnya dapat dipengaruhi olehnya. Sehingga mendekati akhir hayatnya dia baru sadar bahwa  yang dapat diubah olehnya hanyalah dirinya sendiri. Itupun memerlukankan perjuangan yang tidak kalah serunya.

 

Dimulai dari Kedamaian Diri

Untuk mencapai Visi Anand Ashram: “Satu Bumi, Satu Langit, Satu Manusia” perlu 3 tahap pelaksanaan: “Inner Peace, Communal Love, Global Harmony”. Semuanya dimulai dengan “inner peace”. Selanjutnya kita menghadapi masyarakat dengan penuh kasih, dan berkontribusi agar tercipta dunia yang penuh harmoni.

Jika kita memberdaya diri ke dalam diri, semakin dalam, semakin dalam, maka akan diperoleh keadaan yang semakin damai. Saat itu orang yang berada di sekitar kita akan terpengaruh rasa damai kita.

Sebaliknya jika kita dekat dengan seorang yang penuh kemarahan, diri kita pun akan mulai terganggu, terpengaruh.

Energi kedamaian diri ini seharusnya dapat menyejukkan dunia.

 

Meditasi bukan duduk diam 18 jam sehari

Seluruh kezaliman, ketidakadilan dan kekejaman di sekitar kita harus dihentikan. Kita tidak bisa berharap seorang nabi diutus untuk membersihkan masalah yang kita buat sendiri. Kita harus berdiri dan bergerak! Berdiri saja dengan cukup. Kita harus bertindak, dan menjadi aktivis.

Seorang kritikus kerjanya mengkritik, dan dia berhenti di situ. Seorang penulis ya menulis, dan juga berhenti di situ. Analis juga begitu. Banyak orang yang memiliki kemampuan seperti itu, namun tetap saja dengan terjadi perubahan yang berarti. Mengapa? Karena dengan berhenti. Dengan tidak berdiri, tidak bergerak; tidak bertindak dan menjadi aktivis.

Kita tidak kekurangan humanis yang merasakan dan menangisi penderitaan umat manusia. Namun itu saja tidaklah cukup. Kita harus menghapus air mata itu. Michael Jackson membujuk kita untuk menjadi aktivis, “berdiri, bergerak” untuk menyembuhkan dunia ini… Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2009). “The Gospel Of Michael Jackson”. Anand Krishna Global Co-operation)

Spiritual Solution to Terrorism (by Swami Anand Krishna)

Berapakah jumlah teroris di dunia? 1, 2 ,3 juta, atau berapa?

Tetapi meskipun satu teroris membawa bom bunuh diri dapat membuat begitu banyak masalah?

Menjadi pengebom bunuh diri dan membuat problem bagi semua orang itu jumlahnya tidak banyak?

Mungkin tidak mencapai 100.000 teroris?

Tapi mereka dapat menyandera semua manusia. Ini masalahnya?

Tidak masuk akal sama sekali?

Mereka memperoleh energi dari mana?

Bukan hanya uang. Apabila hanya uang masalah sudah akan terselesaikan lebih awal?

Diagnosa dari problem teroris sudah salah sejak pertama kali?

Mereka memperoleh banyak energi dan energi itu datang dari kita, dari kita semua?

Matematik sederhana?

Apabila ada 100.000 teroris dari seluruh dunia dan ada 200.000 orang yang betul-betel betul damai di dalam dirinya, maka 100.000 orang ini tidak memperoleh energi?

Ini matematik serius?

Dari 6 milyar manusia kita tidak punya 200.00 orang yang benar-benar benar penuh kedamaian.

Termasuk semua guru, semua master semua orang yang cerah di sekeliling kita?

Mereka semua bahkan tidak dapat menghentikan 100.000 orang?

Katakan 1 juta, 10 juta, katakan 1 milyar teroris?

Apa yang dilakukan 5 milyar manusia lainnya? Itu tidak masuk akal?

Vibrasi dari 5 milyar manusia yang bukan teroris, orang-orang yang cinta damai dapat menarik vibrasi dari 1 milyar manusia teroris?

Problem tidak di luar sana, problem ada di sini, problem ada di kita?

Kita tidak damai dalam diri kita sendiri?

Damai pada diri kita sendiri bukan berarti kita duduk terikat dan berdoa kepada Tuhan, O Tuhan lepaskan aku dari masalah teroris?

Pergi dan proklamasikan kedamaian dalam dirimu?

Kerjakan sesuatu dengan adanya kedamaian dalam dirimu?

Dan jalan yang ada adalah jalan ke dalam bukan jalan keluar?

Kita harus memberdaya diri kita, sedemikian rupa sehingga vibrasi kedamaian kita dapat mempengaruhi dan langsung mempengaruhi orang-orang sekeliling kita komunitas sekeliling kita?

 

Toleransi yang tepat

Toleransi? Kadang kita tidak menemukan toleransi? Atau kita menemjukan toleransi yang salah?

Kita telah menjadi insensitif? Dimana kita harus toleran kita malah tidak toleran? Dimana kita tidak harus toleran kita malah toleran?

Kita tidak harus toleran terhadap penyebaran nyamuk yang menyerang kita? Kita tidak dapat toleran terhadap virus yang menyerang tubuh kita?

Kita tidak harus memanggul senjata kita bukan tentara, kita punya mulut untuk bicara.

Apabila 5 milyar manusia menolak mendukung seluruh aksi terorisme, energi dari para teroris akan drop? Tapi kita harus memberdaya diri kita?

Apa yang harus kita kerjakan? Kita punya senjata kuat? Gunakan sosial media? Bicara dengan lembut, dengan baik tapi tegas saya tidak suka ini?

Kita mengatakan tidak pada terorisme dan bila kita mencurigai seseorang dalam komunitas, laporkan dia? Jangan pakai senjata? Kita dapat mengakhirinya? Dengan kebulatan tekad?

Menurut para rishi tujuan hidup manusia adalah mencapai kebahagiaan. Bukan memiliki sesuatu tapi menjadi bahagia? Ananda? Apabila kita semua bisa berjuang untuk kebahagiaan? Dan jalan untuk bahagia adalah lewat damai?

Apabila ini dapat di rencanakan dan lakoni dengan benar: Apabila 300 orang di Bali dapat berpikir tentang ananda, sebagai tujuan hidup, seluruh Bali bisa damai? Dan ketika seluruh Bali damai. Seluruh wilayah indonesia akan damai?

 

Critical mass

Beberapa peneliti di Jepang melakukan penelitian terhadap sekelompok monyet. Ada dua buah pulau yang tidak dihubungkan jembatan berjarak ratusan km. kedua pulau ini dihuni monyet masing-masing 300 ekor.

Di Pulau A, para monyet diajari membersihkan, mencuci ketela sebelum memakannnya. Perlu waktu satu minggu sampai ada monyet yang bisa mencuci ketela baru dimakan. Kemudian setiap hari yang bisa melakukan bertambah 10, 40, 100 ekor monyet. Dari 100 ekor monyet menjadi 300 ekor monyat hanya membutuhkan 1 hari.

Yang menarik ketika 300 ekor monyet di Pulau A membersihkan ketela sebelum memakannya, maka dalam hari yang sama 300 ekor kera yang berada di Pulau B yang tidak pernah diajari membersihkan ketela semuanya langsung membersihkan ketela sebelum memakannya.

Jadi untuk mencapai critical mass, kita harus berupaya memberdaya diri kita masing-masing, setelah mencapai critical mass maka semakin mudah orang melakukan hal yang sama?

 

Fanatisme radikal

Fanastisme bukan hanya masalah kepercayaan? Ada yang fanatik terhadap makanan mentah? Fanatik terhadap sesuatu? Banyak orang fanatik terhadap tradisi?

Energi fanatisme tersebut tidak sama dengan energi kedamaian dalam diri?

Misalkan tahu bahwa merokok itu tidak baik, tetapi tetap merokok, itu wujud fanatisme?

Energi fanatisme tidak bisa mengurangi energi terorisme?

Silakan simak video youtube: Spiritual Solution to Terrorism (by Swami Anand Krishna)

Kenyamanan Raga, Kenikmatan Materi atau Kebahagiaan Abadi? SpiritualIndonesia

Kenyamanan raga dan kenikmatan materi lain dengan kebahagiaan

Teknologi Telah Berhasil Membuat Hidup Kita Lebih Nyaman. Tetapi, apakah kenyamanan raga dan kenikmatan materi saja mampu membuat kita lebih bahagia? Lebih senang, mungkin.  Namun, kesenangan sesaat bukanlah definisi kebahagiaan. Kebahagiaan yang dimaksud dalam hal ini adalah ananda, kebahagiaan diri yang tidak terganggu oleh apa pun yang terjadi di luar.

Sejak awal 1980-an, saya sudah mempelajari dan melakukan riset kecil-kecilan tentang dampak kemajuan teknologi, kenyamanan hidup, kenikmatan materi, dan kebahagiaan sejati, keceriaan yang berasal dari dalam diri. Saat itu, saya banyak mempelajari keadaan di negara-negara yang secara kolektif disebut Scandinavian countries, di antaranya adalah Swedia.

Swedia, Negara dengan Penghasilan per Kapita Tertinggi saat itu, mempunyai tingkat kematian dengan cara bunuh diri yang sama tingginya. Jauh Iebih tinggi daripada tingkat kematian karena salah atau kebanyakan makan di Amerika Serikat, dan yang mati kelaparan di Bangladesh dan beberapa negara Afrika.

Penelitian yang dilakukan oleh belasan universitas di Eropa dan Amerika itu, kemudian ditindaklanjuti oleh salah satu media di Singapura. Kesimpulannya: Di Singapura dan beberapa kota besar di Thailand, satu dari setiap sepuluh orang yang Anda temui di jalan adalah penderita sakit jiwa—dari ringan hingga berat, yang semestinya sudah dirawat di rumah sakit.

Keadaan itu bertambah buruk. Saya pernah berdiskusi dengan seorang psikiater yang amat sangat terkenal, berdasarkan pengalamannya sendiri, ia menjelaskan: “Di kota-kota besar kita, seperti Jakarta, Surabaya, Medan, dan sebagainya, jumlah penderita sakit jiwa sudah mencapai empat orang di antara sepuluh. Itu pun hitungan yang sangat konservatif. Banyak di antara mereka, bahkan tidak tahu jika sudah termasuk golongan penderita kejiwaan tingkat ringan yang, sewaktu-waktu, bisa berubah tingkat. Dengan Sedikit Pemicu dari Luar—misaInya, suatu pengalaman yang terjadi secara tiba-tiba dan di luar dugaan—seseorang bisa kehilangan keseimbangan diri dalam sekejap. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2016). Soul Awareness, Menyingkap Rahasia Roh dan Reinkarnasi, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama) #SpiritualIndonesia lewat #SoulAwarenessIndonesia

 

Jangan percaya, jangan meyakini keberhasilan materi. Nikmati keberhasilan Anda, namun jangan menganggapnya sebagai satu-satunya nilai kehidupan. Masih banyak nilai-niIai lain. Di atas segala kenyamanan, segala kenikmatan, kesenangan, dan ketenangan—bahkan kedamaian hati dan kepuasan diri—adalah kebahagiaan sejati, ananda! Jika Anda menggadaikan kebahagiaan sejati itu demi kesenangan sesaat, sungguh merugilah Anda. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2016). Soul Awareness, Menyingkap Rahasia Roh dan Reinkarnasi, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama) #SpiritualIndonesia lewat #SoulAwarenessIndonesia

Kebahagian sejati

Seorang Petani di Suatu Desa Terpencil memiliki sawah seluas satu hektar. Ia bekerja keras siang dan malam, dan mengharapkan panen yang baik, bagus. Semua itu ia lakukan demi menutupi segala keperluan keluarganya. Syukur-syukur keluarganya bisa dikategorikan sebagai keluarga sejahtera.

Ia ingin memastikan tidak seorang pun dalam keluarganya kekurangan pangan dan sandang. Mungkin anak-anaknya dapat diberikan pendidikan sampai sekolah menengah. Mungkin ada yang dapat duduk di bangku perguruan tinggi. Ia membayangkan semua itu, “Oh, betapa bahagia hidupku jika aku berhasil. Sudah pasti tenang, tenteram, sentosa.” Going against all odds, sang petani berhasil!

Impiannya menjadi kenyataan.Tetapi, bahagiakah ia? Pernahkah terlintas dalam benaknya jika keberhasilan materi itu datang bersama kembaran-kembarannya berupa stres, “Masih harus bayar cicilan mobil, si bungsu belum selesai kuliah, kali ini panen tidak boleh gagal….” God forbid, jangan pula ada yang jatuh sakit.

……………..

Seorang Prajurit dengan Patriotisme yang sangat tinggi berbakti bagi nusa dan bangsa. Sejak kecil, memang itulah cita-citanya. Ia meninggalkan keluarga, rumah, segala-galanya demi mengabdi pada Ibu Pertiwi. Pengabdian seperti itu membuatnya bahagia. Ia merasa puas dan memperoleh ketenangan dan ketenteraman batin dari apa yang dilakukannya. Sehingga ketika ia kehilangan salah satu kakinya dalam suatu perternpuran, ia tetap ceria. Bahkan ia tidak menganggapnya sebagai pengorbanan. Ia menganggapnya sebagai persembahan yang diterima oleh Ibu Pertiwi.

Namun, setelah kembali dari medan perang, setelah pensiun dini, setelah kembali menjadi warga sipil, apa yang dilihatnya, apa yang ditemukannya? Musuh di medan perang adalah nyata. Jumlah mereka bisa diperkirakan. Kekuatan mereka juga bisa diperkirakan.Namun, tidak demikian dengan sesama anak bangsa, para pejabat penjahat setanah air dan sebangsa yang tengah menggerogoti Bunda Pertiwi. Mereka tidak hanya merampok dan menjarahnya, tetapi juga melecehkan dan memerkosanya. Apa yang mesti ia lakukan?

Ia merasa tidak berdaya. Ia pernah bertugas untuk membunuh setiap orang yang memusuhi negara dan bangsanya. Ia pernah mendapatkan penghargaan atas jasa-jasanya. Namun, bagaimana dengan musuh-musuh negara dan bangsa yang ada di tengah masyarakat? Bagaimana ia mesti bersikap terhadap mereka? Melaporkan mereka kepada yang berwajib? Sudah, sudah pernah, ternyata pihak yang disebut ber-“wajib” itu mengartikan Perlindungan buat Sesama Penjahat sebagai ke-“wajib”-an mereka. Mau bilang apa? Apakah sekarang ia bahagia?

                ……………………

Lalu, Adakah yang Terlupakan oleh Kita Selama Ini? Maksudnya: Adakah yang terlupakan dalam pencarian kita menuju hidup bahagia? Kenapa si petani yang sudah berhasil pun masih tidak bahagia? Kenapa para dokter—pun pengacara, ahli hukum, jaksa, hakim, pendidik, dan pengajar—yang menjalankan profesi-profesi mulia bertindak secara tidak mulia? Kenapa prajurit yang tidak bersedih hati ketika salah satu kakinya diamputasi, sekarang malah stres berat? Kenapa ada ketidakadilan, korupsi, kejahatan, dan berbagai penyakit, yang tidak alami, yang seolah diundang? Penyakit yang penyebabnya adalah diri kita sendiri? Penderitaan yang disebabkan oleh ulah kita sendiri? Kenapa kita masih sibuk berlomba? Kenapa belum bisa bekerja sama dengan segala ketulusan hati dan niat?

Sebabnya: Kita Belum Menyadari Kesatuan di antara kita. Kita masih sepenuhnya terjebak dalam lapisan kesadaran fisik murni. Belum menyadari adanya wilayan roh tempat kita dipersatukan. Ada wilayah energi murni, wilayah kesadaran murni, tempat tidak ada lagi perbedaan.

Kita masih terjebak dalam ilusi “ini punyaku, itu punyamu”. Ini umat-“ku”, itu umat-“mu”. Kita masih belum sadar akan makna, esensi, dan implikasi petuah Vasudhaiva Kutumbakam (seluruh dunia adalah satu keluarga). Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2016). Soul Awareness, Menyingkap Rahasia Roh dan Reinkarnasi, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama) #SpiritualIndonesia lewat #SoulAwarenessIndonesia

 

Warna kulit, bahasa, ras, suku, dan kepercayaan kita boleh beda; penampilan kita, fisik kita, bahkan cara pikir kita boleh beda; tetapi dalam kesadaran rohani, kita semua dipersatukan oleh Kebutuhan kita akan Kebahagiaan Sejati, yang mana adalah satu dan sama pula.

Berarti, kebutuhan akan kebahagiaan sejati bukan sekadar kebutuhan biasa. Ia adalah kebutuhan Jiwa, kebutuhan Roh. Atau lebih tepatnya, kebahagiaan sejati adalah sifat yang melekat pada Jiwa, pada Roh. Mewujudkannya adalah takdir kita.

Untuk itulah kita dilengkapi dengan badan, dengan gugusan pikiran dan perasaan, dengan inteligensi. Semua “peralatan” itu semata untuk membantu kita meraih kebahagiaan sejati, yang menjadi tujuan hidup kita. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2016). Soul Awareness, Menyingkap Rahasia Roh dan Reinkarnasi, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama) #SpiritualIndonesia lewat #SoulAwarenessIndonesia

 

How to acquire ananda

Apa yang membuat kita bahagia? Kita berpikir dengan membeli mobil kita akan bahagia? Beberapa orang berpikir setelah mengawini gadis itu saya akan bahagia? Setelah kawin dengan pria ini aku akan bahagia?

Kita pikir setelah memperoleh sesuatu kita akan bahagia? Tapi pada akhirnya hari kita berpikir yang kita cari adalah kebahagiaan bukan perolehan atas sesuatu?

Dan apa yang kita cari bukan hanya kebahagiaan? Tapi kebahagiaan tanpa akhir. Kebahagiaan yang lestari tidak musnah?

Dan apa pun yang kita pikir dapat memberikan kebahagiaan akan selalu punya akhir, akan selalu berubah. Adakah sesuatu yang tidak berubah?

Kita hanya dapat memperoleh kebahagiaan permanen dari sesuatu yang permanen?

Semua teori berasal dari asumsi. Bila kita tanya Stephen Hawking, bigbang adalah asumsi, quantum mechanics dan semuanya adalah asumsi? Siapakah yang dapat melihat atom, semuanya asumsi?

Para yogi kemudian mengasumsikan ada sesuatu yang tetap ada meskipun kita mati. Kemudian dengan asumsi tersebut mereka melakukan riset. Dan riset tersebut menegasikan segala sesuatu. Saya berkata saya punya tubuh berarti tubuh bukan saya. Saya punya hidung, hidung bukan saya. Dan mereka melakukan penegasian seperti itu. Saya punya otak, otak bukan saya. Saya punya pikiran, pikiran bukan saya?

Akhirnya ketemu yang bahkan tidak diberi nama. Suatu energi, suatu atma yang tetap ada. Itulah diri yang sejati. Itulah yang tetap ada. Itu adalah atma bukan jiwa. Atma adalah diri. Dan dalam diri itu kita semua satu?

Bagaimana menjelaskan itu?

Murid bertanya kepada guru bagaimana menjelaskan atma? Guru minta murid bawa ember air. Ambil garam dengan tangan dan aduk  garam tersebut. Dimana garam itu? sudah tidak ada. Rasakan dari yang di atas. Asin. Yang ditengah yang di bawah semuanya asin. Garam di mana? Garam di mana-mana.

Dia ada di mana-mana, tat twam asi itulah dia?

Garam yang ada di air yang ada dalam tubuh kita dalam berbagai bentuk. Bagaimana Anda mengetahui. Karena Anda asin seperti saya. Anda ilahi seperti saya dan kamu syaitani seperti saya. Apa yang ada pada kamu ada pada saya juga?

Anda punya hidung saya juga. Tapi kita melampaui wujud fisik. Ada esensi nya, esensi nya adalah life force. Apakah life force itu?

Dan Menyadari hal itu semua adalah penuh keceriaan. Penuh dengan ananda. Itulah tujuan hidup  Semuanya menuju ke arah  itu…………….

Silakan simak video youtube: How to acquire Ananda, True Everlasting Happiness? (by Swami Anand Krishna)

Makes Love Not War, Motto Kaum Muda tahun 60-an, Visi Benar! Misi? #SpiritualIndonesia

Mendambakan Kebebasan dan Keselamatan

“Hati manusia menjerit, meminta bantuan. Jiwa manusia mendambakan kebebasan, keselamatan. Tetapi kita tidak mendengar jeritannya. Kita tidak memahami dambaannya. Lalu apabila ada yang mendengar dan memahaminya, kita malah menganggapnya gila. Kita menjauhi dia.” Yang menjerit dan meminta bantuan bukanlah hati orang lain. Yang mendambakan kebebasan dan keselamatan bukanlah jiwa orang lain. Yang menjerit adalah hati kita sendiri. Yang mendambakan kebebasan adalah jiwa kita sendiri. Sangat ironis, tetapi memang begitulah adanya. Kita tidak mendengarkan suara hati kita sendiri. Kita tidak memahami kebutuhan jiwa kita sendiri. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (1999). Bersama Kahlil Gibran Menyelami ABC Kehidupan. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama) #SpiritualIndonesia

Makes Love Not War

Menyimak video youtube: Freedom : Living Responsibly (by Swami Anand Krishna) memori kami kembali teringat saat pertengahan tahun enampuluhan, waktu itu generasi Hippies merebak, dengan lagu-lagunya seperti #San Fransisco dari #Scott Mc Kenzie.

If you’re going to San Francisco……. Be sure to wear

Some flowers in your hair…….. If you’re going to San Francisco

You’re gonna meet……… Some gentle people there!

Lagu-lagu mereka sangat indah lirik mereka pun mengena di hati.

Tanggapan dari Swami Anand Krishna dalam video terkait, Visi-nya benar, Misi-nya tidak! Hidup bebas tidak seperti hidup para Hippies, meskipun para Hippies sebetulnya mereka benar.

Berbeda dengan generasi pertama Hippies seperti #The Beatles, yang lagu-lagunya tetap indah dan mempengaruhi banyak kaum muda.

 

Kebebasan yang Kebablasan

Cara berpikir bebas namun kacau dan mengacaukan – itulah kebebasan yang kebablasan. Kebebasan yang bertanggungjawab tidak akan menimbulkan kekacauan. Kekacauan, anarki, chaos – timbul dari kebebasan tanpa arah, kebebasan yang tidak bertanggungjawab, kebebasan yang kebablasan. Kebebasan di negara kita saat ini sudah kebablasan. Setiap orang seolah bebas untuk melakukan apa saja. Para penjahat, perusak, pembunuh berdarah dingin berkeliaran bebas. Para pembela mereka mendapatkan liputan bebas dari media massa. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2005). Indonesia  Baru. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama) #SpiritualIndonesia

 

Kebebasan merupakan kebutuhan dasar manusia

Setiap manusia, setiap mahluk hidup mendambakan kebebasan. “Mendambakan”-karena sesungguhnya ia tidak bebas. Kebebasan anda sangat tidak bermakna. Kebebasan anda sangat terbatas. Anda belum bebas sepenuhnya. Begitu banyak ranjau yang dipasang oleh masyarakat. Begitu banyak rambu-rambu yang harus anda perhatikan-ini tidak boleh, itu tidak boleh-sehingga anda tidak pernah hidup sepenuhnya.

…………………

                Anda harus membebaskan diri dari ketidakwarasan yang tengah merajalela dan menguasai pikiran manusia. Proklamasikan kemerdekaan dari keterikatan-keterikatan yang mengerdilkan jiwa anda! Tanpa kebebasan, hidup anda akan kehilangan makna. Kebebasan harus disertai oleh Kesadaran. Kebebasan macam itulah yang dimaksudkan oleh Kahlil Gibran.

Sadar, bebas dan hidup. Perhatikan urutan ini. Anda harus mulai dari kesadaran. Sadar dulu, baru memproklamasikan kemerdekaan. Kemerdekaan, kebebasan tanpa kesadaran tidak akan tahan lama. Kesadaran adalah bekal awal. Tanpa bekal itu, kemerdekaan yang anda proklamasikan tidak bermakna sama sekali. Sewaktu-waktu, jiwa anda bisa dijajah kembali. Dulu penjajahnya lain, sekarang penjajahnya lain. Budak tetap budak. Sekali lagi, sadarilah kemampuan diri, potensi diri-keilahian dan kemuliaan diri. Setelah menyadarinya, baru memproklamasikan kemerdekaan. Baru membebaskan diri dari segala sesuatu yang mengikat diri anda, yang merantai jiwa anda. Kemudian anda baru hidup. Anda baru bisa menikmati hidup ini. Anda baru bisa merayakan kehidupan anda! Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (1999). Bersama Kahlil Gibran Menyelami ABC Kehidupan. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama) #SpiritualIndonesia

 

Freedom : Living Responsibly (by Swami Anand Krishna)

Kaidah emas: Jangan lakukan kepada mereka hal yang tidak kau sukai dilakukan mereka kepadamu?

Kau tidak dapat bebas mengemudi seenaknya sendiri di jalan! Mengemudi dengan tidak berhati-hati akan menurunkan kebebasan pengemudi lain?

Hidup bebas tidak seperti hidup para Hippies. Meskipun para Hippies sebetulnya mereka benar. Visinya benar, misinya tidak. Missi yang salah?

Dalam tradisi yoga ada kata dharma. Dharma sangat sulit dipahami dalam bahasa lain?

Walau kadang dharma diterjemahkan dengan kebenaran akan tetapi kebenaran terhadap siapa?

Dharma bukan kebenaran terhadap kitab, bukan terhadap saya, tapi apakah yang benar terhadap dunia seutuhnya?

Dharma adalah hidup sangat bertanggungjawab?

Pada saat anda hidup bertanggung jawab, anda tidak akan melukai sebuah pohon?

Anda tidak dapat melukai sebuah jiwa?

Anda tidak dapat membuat masalah dengan seseorang?

Pada saat yang sama anda tidak membuat masalah dengan anda sendiri?

Adalah saat hidup bertanggung jawab dimana meditasi datang?

Siapa yang akan menjadi polisi? Apakah ada kitab, institusi yang memandu anda? Tidak?

Meditasi itu sendiri yang akan memandu anda?

Anda akan hidup sangat sadar? Bahwa hidup anda adalah berkah?

Silakan simak video Youtube: Living Responsibly (by Swami Anand Krishna)

Dementia, Alzheimer dan Pengaruh Melihat Layar Monitor 7 Jam Sehari #SpiritualIndonesia

Lebih dari 90% otak dipakai untuk menyimpan informasi

Sesungguhnya, saat ini pun otak kita sudah bekerja, sudah berfungi 100%. Memang, baru sebagian kecil dari kapasitasnya yang digunakan sehari-hari. Sisanya cuma untuk menyimpan data-data lama. Makin besar persentase yang digunakan dalam keseharian, walau hampir tak pernah melebihi 10%, membuat manusia makin cerdas, inteligen, makin sharp, makin tajam. Manusia seperti itulah yang menolak perbudakan. Manusia seperti itulah yang berkeinginan untuk hidup bebas merdeka. Manusia seperti itulah yang tidak mau lagi dikuasai oleh tradisi lama yang sudah usang, oleh doktrin dan dogma yang sudah tidak sesuai dengan martabat dan kesadaran manusia masa kini.  Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2005). Neo Psychic Awareness. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

Menciptakan space dalam otak agar lebih cerdas

Mungkinkah kita menggunakan lebih besar persentase otak untuk keseharian? Mungkin, sangat mungkin, tetapi untuk itu kita harus menciptakan space. Persis seperti komputer, memori harus dibersihkan dulu. Program-program yang tidak terpakai harus di-delete, dihapus….. Ciptakan “ruang”! Saat ini jiwa kita penuh; pikiran kita penuh; otak kita penuh; hati kita penuh. Ya, penuh dengan memori lama, data yang sudah tidak dibutuhkan lagi. Beban pada jiwa kita sudah melampaui batas. Dalam keadaan seperti itu, bagaimana mengisinya dengan sesuatu yang baru?  Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2005). Neo Psychic Awareness. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Kita tidak menciptakan space tapi malah menjejali otak dengan informasi berlebihan…..

Masyarakat Indonesia Nonton TV Lima Jam Sehari

Sumber: metrotvnews.com 22 Mei 2014

Metrotvnews.com, Jakarta: Televisi (TV)masih menjadi media paling banyak dikonsumsi masyakarat Indonesia. Inilah fakta terbaru yang diungkapkan lembaga penelitian Nielsen. Televisi memimpin raihan konsumen dengan penetrasi sebesar 95% di Jawa, dan 97% di luar Jawa.

Fakta menarik lainnya yang ditemukan Nielsen adalah rata-rata masyarakat Indonesia menonton TV lima jam per hari. Tepatnya, 5 jam 1 menit untuk masyarakat di pulau Jawa, dan 5 jam 12 menit untuk masyarakat di luar Jawa.

Otak masyarakat Indonesia dipenuhi dengan berbagai informasi dari televisi.

Pada tahun 2014 rata-rata masyarakat Indonesia melihat sumber cahaya dari televisi selama 5 jam sehari.

 

Berapa Lama Orang Indonesia Akses Internet dalam Sehari?

Sumber: tekno.liputan6.com 11 Januari 2017

Liputan6.com, Jakarta – Tak dimungkiri, internet sudah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Indonesia saat ini. Kehadiran 4G dan penetrasi smartphone yang kian cepat secara tak langsung ikut memengaruhi aktivitas internet di Indonesia.

Lantas, berapa lama waktu yang dihabiskan oleh seseorang untuk mengakses internet setiap hari? Berdasarkan data yang dirilis Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII), sebagian besar responden mengaku mengakses internet lebih dari enam jam setiap hari.

Ada sekitar 55,39 persen dari total responden yang setiap hari mengakses internet lebih dari enam jam. Sementara responden lain lebih bervariasi, mulai dari 2 sampai 6 jam sehari.

Otak masyarakat Indonesia dipenuhi dengan berbagai informasi dari internet.

Pada tahun 2017 rata-rata orang Indonesia melihat sumber cahaya dari hp android dan komputer selama 6 jam sehari.

 

Pemicu utama penyakit syaraf dalam abad ini: melihat sumber cahaya.

Dementia adalah suatu penyakit yang mulai ngepop?

Tahap berikutnya adalah alzheimer?

Semua sakit-sakit tersebut berkaitan dengan syaraf-syaraf kita?

Kita tahu kita semua punya potensi menderita dari kanker tetapi kita tidak semua orang meninggal dari kanker?

Tidak semua orang menderita sakit kanker, hanya sekian persen orang menderita kanker?

Demikian juga, potensi sakit syaraf ada tetapi ada pemicu-pemicu yang membuat keadaan semakin jelek.

Dan pemicu utama dalam abad ini adalah melihat sumber cahaya?

Belum pernah ada dalam sejarah manusia, kita lama sekali melihat sumber dari cahaya?

Berjam-jam melihat monitor hp, ipad, komputer, televisi?

Apabila kamu sebaya saya 60, 50 oke 40-an, ketika kamu anak-anak, berapa kali kamu ke teater melihat bioskop?

Apabila Anda 40-an anda melihat televisi tapi ketika saya lahir saya belum melihat televisi. Televisi dimulai tahun 1965? Hanya di Jakarta dan kota besar dan dari jam 6 sampai jam 9? Televisi hitam-putih, dan sudah wowww?

Sampai tahun 1971, televisi mulai dari jam 4 sampai 9 atau 10 malam. Terakhir adalah dunia dalam berita dan hanya ada satu channel. Tidak membutuhkan remote control?

Pada waktu itu walau kita pergi ke teater yang disebut bioskop, cinema kita pergi sekali seminggu?

Kadang kita tidak melihat sekali seminggu tapi sekali setiap bulan?

Sekarang kita bisa melihat 3, 4, 5 movie dalam sehari lewat youtube?

Apa yang terjadi?

Apa yang terjadi ketika kamu melihat sesuatu?

Gambar-gambar dari monitor ini direkam dan diprint di atas otak kita?

Kita kehilangan kesempatan mentransformasi mind menjadi buddhi?

Transformasi mind tidak mungkin terjadi sampai Anda membebaskan diri dari file yang tidak diinginkan ini?

Apabila tidak, seperti saat ini akan lebih buruk lagi?

Semakin banyak orang yang menderita dementia, alzheimer dan banyak penyakit yang berkaitan dengan otak?

Karena stress? ya!

Kalau pun tidak stress silakan menonton tivi selama 7-8 jam sehari?

Bekerja dengan monitor 7-8 jam sehari tanpa interval yang memadai?

Akan menderita sakit yang sama?

Meditasi hanya dapat menolong Anda asal Anda membuat kebiasaan tidak baik ini?

Apabila Anda tidak membuang kebiasaan ini, meditasi, yoga tidak akan bermanfaat?

 

Silakan simak video youtube dari Swami Anand Krisna: Dementia, Alzheimer & Parkinson: Shun Bad Habits, Meditate Your Way to Health

Hidup Tanpa Rasa Kecewa? Mungkinkah? #SpiritualIndonesia

Kita dapat mengharapkan sesuatu pada anak kita, pasangan kita, tapi mereka mungkin mempunyai harapan yang berbeda dengan kita

Mind kita dan mind mereka tidak sama.

Mind kita dibentuk oleh informasi yang kita peroleh dari luar. Pendidikan di sekolah, pelajaran dari orangtua, pengetahuan tentang agama – semuanya itu telah membentuk mind kita. Kemudian, konflik antara mind yang satu dan mind yang lain tidak bisa dihindari, karena memang bahan baku setiap mind itu lain. Sumber dari buku (Krishna, Anand. (2002). Menemukan Jati Diri I Ching Bagi Orang Moderen. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama) #SpiritualIndonesia

Seorang anak manusia lahir dengan genetik bawaan dari orang tuanya dan kemudian mind-nya dipengaruhi oleh orang tua, pendidikan di sekolah, dan lingkungan. Beda orang tua, beda pendidikan dan beda lingkungan akan menyebabkan mind yang berbeda atau pandangan tentang kebenaran yang tidak sama.

Mengharapkan orang lain sesuai dengan keinginan kita membuat kecewa.

 

Memahami perbedaan mind, meningkatkan kesadaran ke tingkat inteligensia

Mind bersifat “khas”, pribadi. Cara berpikir Anda dan cara berpikir saya berbeda. Tidak bisa 100% sama. Sebaliknya intelegensia bersifat universal.misalnya: apa yang Anda anggap indah dan apa yang saya anggap indah mungkin berbeda.

Definisi kita tentang keindahan mungkin bertolak belakang, karena definisi adalah produk mind, produk pikiran. Tetapi, ketertarikan kita pada keindahan bersifat universal. Anda suka yang indah-indah. saya pun menyukai keindahan. Nah, menyukai keindahan ini berasal dari intelegensia. Anda ingin bahagia, saya ingin bahagia, kita semua ingin bahagia.

Proporsi mind dan intelegensia dalam diri setiap manusia bisa berubah-ubah. Bisa turun-naik. Bila proporsi mind naik, intelegensia akan turun. Bila intelegensia bertambah, mind berkurang. Bila proporsi mind mengalami kenaikan, manusia menjadi ego-sentris. Dia akan mengutamakan kebahagiaan diri, kesenangan diri, kenyamanan diri, kepentingan diri. Mind hidup dalam dualitas. Bagi mind, Anda adalah Anda, saya adalah saya. Sebaliknya, intelegensia bersifat universal. Seorang ber-“intelegensia” akan memikirkan kebahagiaan umum, kesenangan dan kenyamanan umum, kepentingan umum. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2001). Atma Bodha Menggapai Kebenaran Sejati Kesadaran Murni dan Kebahagiaan Kekal. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Bukan hanya konflik dengan orang lain, mind kita sendiri bergejolak penuh konflik

Keberadaan mind tergantung pada paham dualisme. Dualitas adalah Iandasan mind. Tidak ada mind tanpa dualitas. Mind selalu membedakan antara kepentingan diri dan kepentingan orang lain. Ia akan menugaskan pancaindera dan badan untuk berbuat apa saja yang menguntungkan bagi dirinya.

Mind menciptakan konfiik. Mind tidak pernah tenang, tidak bisa tenang. Ia selalu bergejolak. Gejolak mind berkurang ketika ia mulai terserap oleh inteligen. Demikian, secara pelahan tetapi pasti mind seolah mengalami kematian dan inteligen makin berkembang.

Ketika mind mengalami kematian sempurna, maka terjadilah keadaan yang disebut the state of no-mind – keadaan di mana mind sudah tidak eksis lagi. Saat itu, manusia seolah lahir kembali sebagai Buddha atau The Awakened One!

Inilah keadaan yang secara metaforis disebut Kerajaan Allah oleh Yesus: “… jika seorang tidak dilahirkan kembali, ia tidak daat  melihat Kerajaan Allah.” Perjanjian Baru, Yohanes 3:3

Buddha bukanlah nama orang, tetapi nama keadaan. Buddha adalah pencapaian jiwa tertinggi, yang dapat dicapai ketika ia masih berbadan. Hendaknya istilah “Buddha” tidak selalu dikaitkan dengan agama tertentu. Istilah ini bersifat sangat generik, segenerik istilah “manusia”, “air”, atau “dunia”.

Seorang disebut Buddha karena ia telah terjaga dari tidur panjang yang disebabkan oleh hypnosis massal. Ia sudah tidak lagi terpengaruh oleh pendapat-pendapat orang tentang dirinya, karena ia telah mengenal dirinya. Ia telah menemukan potensi dirinya, jadi ia tidak bingung. Ia tidak ragu. Ia menjalani hidupnya tanpa kebimbangan. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2012). Neo Spiritual HYPNOTHERAPY, Seni Pemusatan Diri Untuk Bebas Dari Pengaruh Hipnosis Massal. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

How to deal with life disappointment?

Kita dapat mengharapkan sesuatu pada anak kita, pasangan kita tapi mereka mungkin mempunyai harapan yang berbeda dengan kita?

Saya ingin dia memperhatikan saya itu keinginan saya. Bagaimana dengan keinginan dia?

Akan selalu ada konflik, tak ada dua mind, pikiran yang sama. Sekalipun dalam satu pikiran kita saja, banyak konflik yang terjadi?

Walaupun orang yang satu ranjang dengan kita, selalu saja berbeda sehingga timbullah kekecewaan?

Bisa kecewa pada pekerjaan, pada pasangan, pada anak?

Walaupun pasangan yang terbaik selalu ada kekecewaan dan tidak ada akhirnya?

Konsekuensi hidup kita demikian. Semua terjadi bila kita konsentrasi pada aku dan pikiranku. Selalu ada stress, ketegangan?

Cara mengatasinya bisa  satu per satu selesaikan setiap hari. Percayalah banyak orang melakukan hal demikian. Selesaikan stress satu hari dengan minum, nonton film atau lari dari masalah atau kadang menghadapi masalah?

 

Cara Kedua adalah hidup secara spiritual?

Semua masalah tetap ada tidak perlu menjadi pengembara? Kita bisa hidup spiritual di rumah dengan memperluas visi kita?

Memperluas visi kita bahwa kita adalah human being, kita adalah manusia. Planet ini lebih dari 6 milyar mendekati 7 milyar manusia. Kita tidak unik?

Itukah hidup secara spiritual?

Tubuh kita tidak unik? Masalah kita tidak unik,itulah cara hidup? Cara melihat hidup secara spiritual?

 

“Saya gundah tidak dapat memakai sepatu sampai saya melihat orang tanpa kaki.”

Kita melihat sesuatu lebih jernih?

Kita naik melampaui masalah kita. Masalah tetap ada. Saya bukan satu-satunya orang yang menghadapi masalah ini?

Kemudian, pada waktu kita melihat masalah kita kita bisa membantu masalah orang yang mengalami hal sama. Kita melihat orang lain lebih susah, dan kita berubah. Sangat damai, very peaceful?

Kita menghadapi masalah. Kita melihat dengan pandangan lebih baik. Tidak pergi ke hutan. Tidak duduk 4 jam. Spiritual tidak berarti melakukan yoga 18 jam sehari atau jadi pengembara?

Tapi mempunyai perspektif spiritual. Ini merupakan usaha yang panjang. Saya harus melihat dengan pandangan yang lebuh besar. Perspekif yang lebih luas?

Silakan simak video youtube: How to Deal with Life Disappointments (by Swami Anand Krishna)