Layani Tuhan dengan Melayani Sesama dan Kemanusiaan

Mencintai Tuhan atau Dicintai Tuhan

Seorang Master bercerita tentang Abou Ben Adhem, yang pulang ke rumah dan melihat sinar menyilaukan di kamarnya. Dia menemukan seorang malaikat duduk di meja mencatat sesuatu. Abou memberanikan diri bertanya dengan sopan, apa yang sedang dicatat Malaikat dengan tekun.

Malaikat tersebut berkata bahwa dia mencatat nama-nama orang yang mengasihi Tuhan.

Abou adalah orang yang baik hati, selalu membantu orang miskin, berbagi makanan dan tempat tinggal dengan mereka yang lapar dan tunawisma. Tetapi Abou sendiri tidak memiliki kesetiaan khusus pada Tuhan. Abou mencintai semua orang dari berbagai agama, asal mereka baik hati. Apa pun masalah yang dihadapi orang yang datang kepadanya dibantu jalan keluarnya.

Malaikat berkata kepada Abou: “Tidak, namamu tidak ada di catatan ini.”

Keesokan harinya ketika Abou pulang ke rumah, kembali dia melihat malaikat kemilau duduk di mejanya lagi. Abou melihat buku catatan lain yang dipegang malaikat. Untuk memenuhi keinginan tahunya, Abou bertanya sekarang Malaikat sedang mencatat apa?

Malaikat berkata: “Saya sedang mencatat nama-nama mereka yang dicintai Tuhan.”

Dengan ragu-ragu Abou bertanya apakah namanya ada dalam buku catatan tersebut?

Malaikat menunjuk dengan jari telunjuknya pada halaman pertama buku catatan tersebut dan berkata: “Lihat! Namamu tertulis yang pertama.

Cintailah sesama, itu adalah metode terbaik untuk memperoleh Rahmat Tuhan.

Entah dicatat oleh malaikat atau direkam oleh mesin perekam secanggih apa pun, alam mencatat apa yang kita kerjakan. Kadang kita bertanya mana yang lebih baik mencintai Tuhan tetapi tidak peduli sesama atau mencintai sesama dengan penuh ketulusan, tetapi tidak memperhatikan Tuhan senang atau tidak dengan tindakan kita.

Itu semua hanya masalah pemahaman Tuhan yang terpisah dengan sesama atau Tuhan meliputi semuanya termasuk meliputi sesama.

 

Tuhan Meliputi Segalanya

Guruji Anand Krishna menyampaikan:

Hita ialah “Kemakmuran”, dan Karana berarti “Sebab”. Tiga Sebab Kemakmuran, atau lebih tepatnya Sejahtera lahir-batin – itulah arti Tri Hita Karana. Atau, kalau Anda mau, bisa juga diartikan sebagai tiga panduan untuk hidup seimbang dengan keberadaan.

………….

Para pakar sering menjelaskan hubungan kita dengan Tuhan secara vertikal. Sedangkan hubungan kita dengan sesama umat manusia dan lingkungan alam dikatakan sebagai hubungan horisontal. Bagaimana kita bisa membuat garis semacam itu? Saya juga ingin bertanya: Apakah ini mungkin?

Kesalahpahaman yang lebih parah ialah anggapan bahwa ada tingkatan dalam hubungan-hubungan tersebut; bahwa hubungan dengan Tuhan memiliki tingkatan lebih tinggi di atas hubungan dengan alam dan umat manusia.

Sebab utama menjadi ”Sejahtera”, Karana pertama dari Hita – ialah bukan menjaga keseimbangan dan harmoni antara kita dan Tuhan, tapi ”menyadari Tuhan dalam satu dan segalanya”. Ini berarti mengalami kemahahadiran Tuhan – yang merupakan sebab utama keberadaan manusia.

Sebab utama ialah dasarnya, di mana kedua sebab lainnya berdiri. Atau, lebih tepatnya, ketiga sebab tersebut pada hakikatnya Tri Tunggal. Tiga tapi Satu. Trinitas Suci abadi yang tak terpisahkan.

Kepercayaan kepada Tuhan tak berarti banyak kecuali diterjemahkan sebagai pelayanan penuh kasih terhadap kemanusiaan. Kasih Tuhan mesti membawa keceriaan di antara anggota masyarakat manusia. Apa gunanya kepercayaan kita pada Tuhan, jika kita tidak dapat hidup secara damai dan harmonis dengan tetangga di sebelah kita?

Ini sebab kedua, Pawongan. Pawongan bukanlah keseimbangan antara sesama umat manusia, tapi prinsip dari ”satu untuk semua, dan semua untuk satu” – di mana ”satu” bukanlah ego kecil kita, suka atau tidak suka, syak-wasangka dan kepentingan diri – tapi ”kebaikan bagi sebanyak mungkin orang”.

Sebab ketiga; Palemahan, mencurahkan perhatian bagi lingkungan: alam – tumbuhan dan binatang.  Palemahan menuntut kesadaran untuk melihat energi yang sama berada di mana-mana, di dalam semua mahkluk hidup, termasuk tumbuh-tumbuhan, sungai, pohon, dan sebagainya.

Sumber: Artikel Tri Hita Karana, oleh Bapak Anand Krishna (Radar Bali, Kamis 12 November 2009)

Layani Tuhan dengan Melayani Sesama dan Kemanusiaan

Serve The Almighty by Serving Society and Humanity. Ini adalah Motto Anand ashram yang diungkapkan pada Press Release Peringatan Hari Jadi ke-29 Yayasan Anand Ashram.

 

Guruji Anand Krishna berharap agar Anand Ashram menjadi lebih dekat dengan masyarakat, dan bertrnasformasi menjadi Pusat Pelayanan Masyarakat dalam arti secara utuh dan keseluruhan. Bukan saja diperuntukkan untuk warga yang kurang mampu dan beruntung, tetapi juga juga semua warga bumi, termasuk yang mampu dan beruntung pun, tetapi membutuhkan perhatian kita seperti yang menderita berbagai penyekit yang disebabkan oleh stress.

……………

Maa Archana selaku Ketua Dewan Pembina menjelaskan, “Mulai tahun ini, Guru kami telah memberikan slogan baru bagi transformasi ini yaitu, “Serve the Almighty by Serving Society and Humanity – Melayani Tuhan dengan melayani sesama dan kemanusiaan.”

“Karena itu, tahun ini dalam rangka memperingati Hari Jadi Anand Ashram ke-29, Masing-masing centre di Ubud-Bali, Jogjakarta dan Jakarta sepakat untuk menyelenggarakan rangkaian kegiatan yang bersifat sosial dan edukatif, “ Ir M. Yudanegara dari Dewan Pembina Anand Ashram menambahkan.

Koordinator Centre Jakarta, Joehanes Budiman meinformasikan bahwa kegiatan derma darah berlangsung di Centre Sunter – Jakarta pada Minggu, 13 Januari 2019 Pkl. 09.00 -12.00 WIB, mengawali rangkaian kegiatan peringatan Hari Jadi Anand Ashram ke-29.

“Minggu Sore, di Desa Guwosari, Bantul – Jogjakarta, kami melayani para lansia agar sehat dan bahagia dengan pelayanan medis, meditasi dan yoga sebagai kegiatan sosial kami bagi masyarakat sekitar,” ujar Wayan Suriastini, Dewan Pengawas Yayasan sekaligus Koordinator Centre daerah Jogjakarta, Solo dan Semarang

Sementara Ibu Harumini Waras selaku Ketua Yayasan Pendidikan Anand Krishna menuturkan, “Para murid One Earth School, Kuta – Bali sejak 12 Januari 2019 lalu telah berkomitmen untuk melakukan kegiatan bersih-bersih sampah plastik di Pantai Legian sampai beberapa minggu ke depan, dan sekarang tengah mempersiapkan diri turut serta dalam Perayaan Budaya Warga Bumi – World Culture Celebration di Ashram Ubud pada Sore Hari, 14 Januari 2019, sebagai penutup rangkaian kegiatan sosial dan edukatif peringatan Hari Jadi Anand Ashram ke-29.”

Advertisements

Renungan di Akhir Tahun 2018, Menghayati Kepergian Para Sahabat

Ucapkan Nama-Nya Ketika Maut Datang Menjemput

Ketika musibah menimpa dirimu, sebut nama-Nya dan katakan, “O Tuhan, kasihku, sayangku!” Ketika maut datang menjemputmu, ucapkan asma-Nya, dan katakan, “O Tuhan, kasihku, sayangku aku merasakan kehadiran-Mu! Aku melihat wujud-Mu. Kau berada di sampingku. Aku milikmu, bukan milik dunia ini….”

Cukup, jangan menambah sesuatu apa pun. Hanya mengucapkan “O Tuhan, kasihku, sayangku” – sudah cukup. Ia Maha Tahu. Ia tahu persis, apa yang kita butuhkan. Renungan Harian untuk 22 Desember, Bersama Vivekananda Sang Swami.

Sumber: (Krishna, Anand. (2002). Renungan Harian Penunjang Meditasi. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama)

 

“Kauteya (Arjuna, Putra Kunti), di bawah pengawasan-Ku, roda Samsara semesta berputar terus, menyebabkan munculnya makhluk-makhluk bernyawa, bergerak; maupun benda-benda yang tidak bergerak.”Bhagavad Gita 9:10

Alam ini sepenuhnya berada di bawah pengawasan-Nya. Nah, implikasi dari pemahaman ini jauh melebihi bayangan kita. Jika semuanya berada di bawah pengawasan-Nya, Roda Samsara, Alam Semesta pun berputar karena dan atas kehendak-Nya – maka, tidak ada lagi sesuatu yang bisa disebut kecelakaan…

Tidak ada pula kebetulan – Kebetulan saya berada di tempat yang salah, maka saya terlibat dalam buku tembak antara dua geng – dan ikut kena tembakan. Saya luka. ‘Tidak ada kebetulan seperti itu. Ingat, Dia adaalah Hyang Maha Mengawasi – sang Pengawas Agung.

Pengalaman suka dan duka terjadi karena perbuataan kita sendiri. Karena keterikataan kita sendiri. Ya, kita bertanggung jawab sepenuhnya atas apa yang menimpa diri kita. Dia- Gusti Pangeran – senantiasa mengawasi supaya semuanya berjalan lancar sesuai dengan hukum-hukum alam yang ada atas kehendak-Nya pula!

Sumber: (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

 

 

Meninggalnya 2 Sahabat dan 1 Saudara di Bulan Desember

Pertama,

Pada tanggal 10 Desember 2018, setelah menderita kanker usus selama 1.5 tahun seorang sahabat meninggalkan dunia. Apakah mengirimkan energi divya usada jarak jauh membantunya? Siapakah kita yang merasa dapat membantunya? Keberhasilan hanyalah tindakan yang selaras dengan Kehendak-Nya. Yang penting adalah Kehendak-Nya.

Dalam Bhagavad Gita disampaikan Karma Yoga, berkarma tanpa pamrih pribadi, yang penting bukan hasilnya. Bukan pula kita acuh, karena berpikir itu kan buah karma dia? Bukan begitu, tapi tindakan dharma apakah yang dapat kita lakukan? Perhatikan sewaktu Guruji menengok, itulah yang perlu diteladani.

Karma itu seperti kartu-kartu dari kayu tipis yang diberdirikan melingkar. Karena kita menjatuhkan satu kartu di sebelah kita, kartu yang kita jatuhkan akan menjatuhkan kartu sebelahnya juga sampai akhirnya kartu terakhir akan menjatuhkan kita. Kalau kami sepasang orang tua harus pergi ke Semarang atau Temanggung atau Pati, seseorang di kehidupan masa lalu pernah bertindak yang serupa kepada kami. Lakoni saja.

 

Pada tanggal 11 Desember, saya dan istri datang ke rumah duka di Temanggung, berangkat setelah mengadakan Terapi Divya Usadha bersama beberapa teman di Alun-Alun Kidul Jogja. Pertimbangan efisiensi dan waktu tidak mungkin menunggu teman-teman Jogja yang masih melakukan pelayanan di Taman Pintar, sehingga kami berdua langsung berangkat ke rumah duka. Siang hari selesai memberikan penghormatan terakhir, pulang ke Solo lewat jalan pintas Kopeng Salatiga yang berkelok-kelok melintasi lereng perbukitan dengan naik turun yang membuat kita perlu waspada.

Usia sudah 64 tahun istri 61 tahun, kami berdua berangkat dari Solo pk. 04.30, mengemudi Solo-Jogja yang di Aplikasi Waze tertulis 1.5 jam kami tempuh lebih dari 2 jam, karena di Klaten Jalan Utama ditutup persiapan Car Frre Day. Perjalanan dari Jogja ke Temanggung yang diperkirakan 2.5 jam kita tempuh dalam 3.5 jam karena berhenti di Rumah Makan, sarapan dan ganti baju. Perjalanan dari pulang dari Temanggung ke Solo diperkirakan 3 jam kita tempuh dalam waktu 4 jam.

Sampai Solo istirahat dan rencana esok tidak ke mana-mana. Apakah rencana kita dapat dilaksanakan, bisa asal sesuai dengan Kehendak Gusti. Dan Gusti berkehendak lain.

 

Kedua,

Pagi hari 12 Desember, sehabis keluar rumah sebentar kita mau istirahat, keponakan perempuan menelpon bahwa ayahnya, kakak kandung saya meninggal di Jogja. Dia dan ibunya dalam perjalanan ke Jogja dan tidak tahu nanti cara membawa Jenazah dari Jogja. Kita berdua langsung dalam hujan lebat ke Jogja.

Di Jogja itulah saya mengenal kebaikan kakak dari cerita-cerita para tetangganya. Sebagai gambaran yang tidak bisa dipahami orang awam seperti kami. Kakak kami yang pernah menjabat di imigrasi, bisa menghidupi istrinya dengan layak, deposito keluarga, uang kontrakan rumah di Jakarta, dan sebagian pensiun untuk keluarganya. Dia hidup sederhana di Jogja di kost sederhana bersama para mahasiswa di tempat biasa jauh dari elit. Tetapi semua tetangganya mengatakan dia orang baik. Saya baru sadar itu mungkin caranya dia melepaskan diri dari keterikatan yang telah dlakoninya selama 7 tahun.

Pk. 05.00 pagi kakak masih subuhan bersama, pk. 09.00 merasa pusing dan diantar temannya ke Puskesmas. Pk. 11.00 ditawari makan teman-temannya, menolak dengan kedua tangan ditangkupkan di depan dada, mengucakan terima kasih-terima kasih. Pk 13.00 meninggal dengan tersenyum. Saya masih menyimpan foto kakak saya sedang tersenyum di akhir hayatnya yang dikirim anak ibu kost-nya.

Bisakah kita meninggal dengan tersenyum? Harus dibuktikan lebih dahulu.

Haruskah kita meninggal dengan tersenyum? Tidak juga, bagi para Master yang penting adalah apa yang kita lakukan setiap saat. Cara kematian kita skenario Dia, nggak usah dipikirkan. Banyak Master dan Orang Suci meninggal denga cara mengenaskan.

Guruji juga menyampaikan:

Hidup yang diawali dengan sebuah tangisan, harus diakhiri dengan sebuah senyuman. Ketika engkau masih bayi, orang-orang disekitarmu tetap tersenyum walaupun engkau terus menangis. Ketika engkau mati, orang-orang disekitarmu akan meratapi kehilangan ini, namun engkau semestinya tersenyum dalam damai dan mengundurkan diri dengan tenang.

Sumber: (Das, Sai. (2012). Sai Anand Gita Kidung Mulia Kebahagiaan Sejati. Koperasi Global Anand Krishna Indonesia)

Silakan juga lihat Video Guruji: Bhagavad Gita and Yoga in Modern Times by Anand Krishna, beliau di akhir video bertanya, bisakah kita tersenyum di akhir episode kehidupan ini?

 

Ketiga,

Flash back ke tanggal 2 Desember 2018, teman-teman Joglosemar diundang salah seorang teman yang tinggal di Karanggede Boyolali. Di tempat tersebut kita latihan Emotion Culturing Bersama dan sahabat tersesebut menyampaikan bahwa penyumbatan jantung yang sudah dialaminya sudah berat tinggal 37 %. Pasang Ring sudah tidak membantu, harus Bypass. Rencana tanggal 17 Desember masuk Rumah Sakit dan 19 Desember operasi.

Pada tanggal 19 Desember 2018 pagi karena salah makan, perut rasanya sakit tak tertahankan. Kami ke dokter 24 jam memperoleh obat dan pulang ke rumah dengan masih sakit. Seorang keponakan mengerti pijat syaraf bekerja dan akhirnya saya bisa tidur pulas. Pada waktu dipijat itulah kami mendengar kabar duka sahabat yang selesai dioperasi dibawa ke ICU dalam keadaan tidak stabil dan akhirnya meninggal.

Masih ada kisah satu lagi, kakak istri saya sakit, punggung dan tengkuknya seperti menerima beban puluhan kilo. Kami dan istri ke rumahnya pada tinggal 3 Desember sekitar jam 4 pagi dan kemudian mengantar ke Rumah Sakit, ternyata darah tinggi 184/114. Setelah diberi obat kami antar pulang dan selesai?

Belum, esoknya masih pagi-pagi kami diminta mengantar ke rumah sakit dadanya sesak napas. Kami masih berpikir, bahwa obat yang diberikan terlampau keras, akan tetapi keluarganya minta diantar ke dokter kalau perlu rawat inap yang nggak apa-apa.

Dokter jaga mengatakan langsung masuk ICU, jantung. Setahu saya kakak istri tidak pernah sakit jantung, ke rumah sakit juga masih bisa jalan dan kedua tangan juga masih bisa diangkat ke atas. Tapi baca di internet kan tidak sah. Dokter lebih paham.

7 hari di ICU dan pada waktu itu kondisinya justru naik-turun, teman-temannya begitu banyak dan emosinya terpengaruh. Pada waktu Sahabat dan kakak saya meninggal, dia tidak diberi tahu. Pada hal setiap hari kami dan istri menyempatkan menengok. Sekarang kakak kami sudah keluar dari rumah sakit dan recovery, pemulihan di tempat kami.

Pada tanggal 20 Desember saya bangun merasa sehat dan bertanya pada istri apakah mau menemani ke Pati. Pukul 04.00 kami berangkat bersama istri. Selesai pemakaman sahabat pada pk 12.30 kami pulang ke Solo bersama satu sahabat kami yang tinggal di Jogja.

Karena pulang setelah sampai Purwodadi, Aplikasi Waze dimatikan dan ternyata kita salah jalan telah mencapai Masaran jurusan Sragen, Solo sudah lewat. Kembali kita balik masuk tol dan akhirnya sampai rumah pk 17.00. bagi kami seusia 64 tahun terasa sekali capeknya.

Malamnya perut di sebelah kanan terasa sakit. Keponakan datang memijat syaraf dan sakit berkurang. Keesokan harinya kami berpikir haruskah ke rumah sakit bagaimana bila dokter jaga bilang langsung masuk ICU. 3 tahun yang lalu, kami pernah diminta operasi batu ginjal, padahal saya tidak pernah merasa sakit. Bahkan sampai sekarang juga tidak apa-apa tidak dioperasi. Apalagi di tempat sakit itu posisi adalah posisi empedu, jangan-jangan seperti kakak istri datang ke rumah sakit, begitu diperiksa diminta masuk ICU.sepula

Kami melihat sendiri sepulang dari Pati, ketika kakak istri control ke rumah sakit, pulangnya bawa obat banyak sekali, sehari mungkin ada belasan macam? Seperti anak SMP mempunyai banyak Guru yang ahli di masing-masing mata pelajaran dan semuanya  memberikan PR yang banyak yang membuat kita bertanya apakah si murid mampu mencernanya.

Pada waktu sakit tersebut, kami baru menyadari pesan Guruji untuk rajin melakukan sadhana, apakah latihan napas, membaca afirmasi atau mantra. Ternyata pada waktu sakit sulit sekali melakukan hal tersebut dengan penuh penghayatan.

Obat maag dokter 24 jam tetap diminum dan seharian menggeletak di tempat tidur, makan pun tidak enak. Karena makan sangat sedikit, datanglah rasa sakit dari jari-jari tangan kram. Kami ingat pada waktu puasa sering otot-otot kram. Sudah digosok counterpain, tetap kram juga. Sakit sekali. Kami ingat google di hp. Kami cari kejang otot. Salah satu penyebab kejang otot adalah kurang ion, semacam dehidrasi. Jadilah saya minum pocari sweat 350 ml. Malam itu saya tidur nyenyak dan bangun pagi telah hilang rasa kram. Sewaktu muda makan banyak dan banyak mineral atau ion di tubuh. Setelah tua makan lebih sedikit dan sering kurang ion. Tidak baik juga kebanyakan minuman penambah ion karena kandungan gula dalam minuman.

 

Aku Menerima Setiap Keadaan

Merenungkan apa yang terjadi yang begitu banyak di akhir bulan Desember, masih banyak yang tidak bisa ditulis. Tapi saya teringat afirmasi dalam AIM Yoga.

Sekarang afirmasi tersebut bukan hanya diafirmasi tapi harus dilakoni dalam keadaan kehidupan sehari-hari.

  1. Aku tidak memikirkan masa lalu, tidak pula mengkhawatirkan masa depan – aku hidup dalam mmasa kini.
  2. Aku membuka diri terhadap segala kemungkinan.
  3. Aku menerima setiap keadaan.
  4. Dalam keadaan suka dan duka, panas dan dingin, aku tetap seimbang.
  5. Berada di atas atau di bawah aku tetap seimbang.
  6. Seberapa pun tinggi sepak terjangku, kakiku berpijak di atas bumi.

Terima kasih Guruji Anand Krishna.

Belajar Untuk Mengalah oleh Guruji Anand Krishna

Apakah yang Perlu Dipersiapkan Saat Anak-Anak Kita Sudah Lulus dan Mulai Bekerja?

Kita akan mengalami hal tersebut, dan inilah Nasihat Guruji Anand Krishna,

 

Eda Nagih Ngungkulin Timpal Dogen.

Apang Bisa Masih Ngalap Kasor

Kearifan Lokal Bali

 

Berarti, “Jangan mengejar kemenangan melulu, belajarlah juga untuk mengalah.“ Tetapi petuah tinggal petuah, kebijakan luhur tinggal kebijakan. Nasihal leluhur tinggal nasihat – siapa yang mau mengalah? Tiada scoraug pun, kecuali ia yang mengenal Dharma, ia yang memahami Dharma. Baginya tiada lagi kekalahan. Urusannya bukan kemenangan atau kekalahan.Urusannya adalah turun dari ketinggian secara sukarela, melengserkan diri secara anggun. Meninggalkan pesta  yang masih ramai, tidak menjadi tamu terakhir.

Guru saya selalu mengingalkan bahwa ketika sudah berusia 48 tahun, dan anak-anak sudah selesai kulih, sudah mulai bekerja – tentunya kalau punya anak – maka sepasang suami isteri yang mengerti Dharma akan mulai mempersiapkan diri untuk vanaprastha ashram.

Setelah melewati masa Brahmacharya, dimana seorang sanatani, seorang yang melakoni Sanatana Hindu Dharma, bukan Hindu Bali atau Hindu India, atau Hindu varian lainnya, tapi Sanatana Hindu Dharma, Hindu yang sesuai dengan nilai-nilai luhur atau Dharma yang bersiaft sanatana, universal, langgeng, dan abadi – memasuki Grihastha Ashram.

Bekerja, kawin dan membina keluarga dengan urutan yang tepat – untuk Grihastha Ashram. Tidak menjalin hubungan yang tidak pantas dijalin sebelum memeliki pekerjaan dan kawin. Tidak hamil atau menghamili sebeum ada ikatan sakral vivaha, dan memiliki pekerjaan. Intinya tidak menyusahkan orang, tidak merepotkan orangtua, pun tidak membebani diri.

Tentunya Grihastha adalah sebuah pilihan, tidak ada yang bisa memaksa seorang Vivekananda untuk kawin. Seorang yang mau mengabdi kepada masyarakat, kepada manusia dan dan kemanusiaan dan tidak memiliki keinginan Iain, bisa saja lompat memasuki sanyas ashram – mengabdi purna waktu – tanpa melewati tahapan-tahapan lainnya.

Bagi mereka yang memilih unluk melewali grihastha ashram pun. anjurannya seperti di atas. Setelah anak-anak sudah bekerja, mempcrsiapkan diri untuk sanyas ashram dengan memasuki vanapratha ashram.

Vanaprastha tidak mesti diartikan scbagai “masuk hutan.“ Berkarya di tengah hutan beton dan baja – di tengah keramaian dunia – tanpa kelerikatan dan pamrih, kepentingan diri – demikianlah semestinya vanaprastha diartikan dalam masa kini.

Untuk itu, seorang tidak lagi membutuhkan kcdudukan,  status, dan sebagainya. Unluk melayani sesama, tiadalah dibutuhkan jabatan.

Jadi, ada saatnya kita naik gunung, ada saatnya kita turun gunung. Ada saatnya kita bekerja untuk keluarga, dan ada saatnya kita bekerja untuk masyarakat. Ada saatnya kita menjadipejabat, dan  digaji. Ada saatnya kita pensiun dan mengabdi tanpa pamerih.

Jika kita mengindahkan anjuran dharma ini – tiadalah kekalahan bagi kila. Bagi seorang dharmika – pelaku dhama – yang sadar akan dharma-nya, tiada yang menyusahkan.

Kesusahan disebabkan oleh kebiasaan kita yang maunya selalu dijunjung, dipuji, dan dikelilingi oleh mereka yang berprofesi sebagai penjilat. Kesusahan disebabkan oleh keengganan kita untuk melepaskan kedudukan, status, dan segalanya yang sedang kita nikmati – dan mengahdi dengan semangat pelayan, betul-betul pelayan.

………………….

Silakan baca pada Tautan berikut

Beranilah Menyampaikan Kebenaran oleh Bapak Anand Krishna

Sumber Majalah Raditya 256, November 2018

 

Tan joari ipun ngaturang sane sampun ring tuktuk layah ipun. Ini adalah petuah, peringatan nasihat bagi mereka yang ingin menyampaikan sesuatu, tapi tidak berani. Sesuatu sudah berada di ujung lidahnya, tapi dia menahan diri untuk menyampaikannya.

Tentunya, tidak segala sesuatu yang sudah ada di ujung lidah mesti disampaikan. Banyak hal yang tidak perlu disampaikan, karena memang bukan urusan kita. Kita tidak selalu harus kepo, seperti kata pepatah orang Chinastana.

Namun kebenaran, apalagi jika kebenaran itu adalah demi kebaikan, maka tidak ada alasan untuk tidak menyampaikannya. Barangkali ada yang menganggap pepatah ini bertentangan dengan petuah lain dalam Manusmriti (4:138):

Satyam bruyat priyam bruyat na bruyat satyam apriyam priyam ca nanrutan bruyat esha dharmah sanatanah.

“Sampaikan apa yang benar, sampaikanlah dengan cara yang menyenangkan; janganlah menyampaikan suatu kebenaran dengan cara yang tidak meyenangkan. Jangan pula menyampaikan hal yang menyenangkan, padahal tidak benar. Demikianlah ajaran yang luhur yang langgeng dan abadi – Sanatana Dharma.

Jika kita membaca ulang kedua petuah tersebut, sesungguhnya tidak ada pertentangan. Petuah pertama adalah nasihat untuk tidak menjadi pengecut. Untuk selalu menyampaikan kebenaran. Petuah kedua menjelaskan cara penyampaian.

Pertanyaan yang muncul: Bagaimana jika suatu kebenaran, tidak bisa disampaikan dengan cara yang menyenangkan. Sebab kata “menyenangkan” sungguh relatif. Kita sudah berusaha sekuat tenaga untuk menyampaikan kebenaran dengan cara yang menyenangkan, tapi jika lawan atau kawan bicara tetap saja tersinggung – apa yang mesti kita lakukan?

Kebenaran tetap juga disampaikan. Guru saya Sang Pemandu Jiwa pernah menyampaikan: “Sepahit apa pun kebenaran itu, kendati semua orang menentangmu, tiada seorang pun yang mendukung kebenaran, tetaplah kau berdiri bersama kebenaran. Sampaikan apa adanya, dengan cara apa yang bisa kaulakukan. Jangan bungkam.”

……………..

……………..

Tulisan kali ini adalah demi kebenaran itu. Kebenaran yang amat sangat pahit. Kita tidak mau mendengarnya. Kita tidak mau menerimanya. Tapi, kebenaran tetaplah kebenaran. Mau diterima atau tidak, kita tidak bisa mengubah kebenaran.

…………….

Silakan ikuti tulisan tentang kejadian di Tanah Karo dan Batak bahwa mereka yang masih melakoni kepercayaan leluhur Pamena dan Permalin tinggal diikuti oleh beberapa orang saja.

Ini bisa terjadi di mana saja………

…………….

Saya berusaha untuk memahami apa yang menyebabkan hal itu? Bagaimana suatu masyarakat bisa  meninggalkan tradisi dan kepercayaan leluhurnya secara kolektif, ramai-ramai? Awalnya memang satu, dua, tapi begitu mencapai puluhan keluarga, selanjutnya terjadi konversi secara masal. Alasannya para tetua tidak bisa lagi mengaitkan ajaran-ajaran luhur dengan perubahan zaman. Para tetua enggan melakukan reformasi, maka para muda mencari sesuatu yang “dianggapnya” lebih relevan, padahal tidak demikian, ya hanya packagingnya- yang berbeda, lebih modern.

……………

Silakan ikuti Tulisan lengkap pada Tautan berikut:

Betapa Siapkah Kita?

Oleh Bapak Anand Krishna

 

Limane Aneh Ngisiang Tampul, Ane Anehan Ngisi Pedang. Satu tangan memegang tiang, satu lagi memegang pedang (Kearifan Lokal Bali)

Tangan yang memegang tiang adalah untuk menjaga stabilitas diri. Dan tiang yang dimaksud bukanlah tiang dari beton atau baja.

Tiang yang dimaksud adalah Tiang Dharma. Kebajikan Luhur, Hukum yang Bersifat Sanatana, atau Wiwitan – Langgeng, Abadi, tak pernah usang karena waktu.

Kemudian, Pedang yang dimaksud adalah Pedang Virya, Keberanian, Semangat, dan di atas segalanya Integritas Diri, sekaligus percaya pada Integritas tersebut – Percaya Diri.

Demikian nasihat para leluhur kita: supaya perilaku kita berlandaskan Dharma, dan kita selalu siap untuk menghadapi segala macam tantangan dengan penuh semangat, antusiasme, keberanian, percaya diri.

Gabungan dari Dharma dan Virya inilah keunikan kita. Banyak orang kuat, berotot, bersemangat dan berani pula – tapi tidak mempunyai integritas diri. Sebab, landaan Dharmanya tidak ada. Banyak tangan berpedang sekitar kita, tapi tanpa landasan Dharma, tangan-tangan itu tidak membawa kedamaian, malah menyebabkan kekacauan.

Mereka yang memahami Mahabharata tahu persis bila kehadiran Krishna di tengah medan Kurukshtra bukanlah untuk memenangkan Pendawa, tapi untuk mmenegakkan Dharma. Kebetulan saja di antara pihak-pihak yang berseteru saat itu Pendawa masih agak lumayan berpegang pada Dharma. Ya, agak lumayan, tidak sepenuhnya. Tapi jika dibandingkan dengan pihak lawan, para Kurawa, Pendawa masih lebih memihak Dharma.

Bagaimana menyikapi peribahasa ini dalam keseharian hidup kita? Kita hanya berpedang saja, atau juga berdiri landasan, panggung Dharma? Pedang bukanlah yang terbuat dari baja saja, seperti yang digunakan oleh para satria dan samurai masa lalu.

Lidah kita bisa berperan sebagai pedang. Kata-kata keras yang keluar dari mulut kita bisa lebih ampuh dari pedang tertajam.

Tulian kita bisa membakar, bisa juga melumpuhkan semangat orang. Pertanyaannya: Apakah suara keras itu, apakah tulisan-tulisan itu berlandaskan Dharma atau tidak? Apakah bertujuan menegakkan, mengukuhkan dharma, atau sekedar kepentingan diri saja.

………………..

Bhagavad Gita menjelaskan bahwa dalam hal berdoa, beryajna – menghaturkan persembahan – dan  berupacara apa pun, jika landasannya bukan Dharma, maka hasilanya tidak akan sesuai dengan Dharma.

Dan tanpa Dharma, pedang kata-kata, pedang kepercayaan, pedang upacara semuanya sia-sia.

Silakan baca lampiran terlampir:

Sumber: Majalah Craddha Edisi ke 85 Nopember Desember 2018

Ngerti Sakdurunge Winarah, Mengerti Apa Yang Akan Terjadi

Mengerti Apa yang Akan Terjadi

Seorang Petani Mangga menanam benih unggul Pohon Mangga Madu, dia mengerti 6 tahun lagi pohon mangga itu akan berbuah banyak yang lezat dengan ketinggian berapa meter dan lebar kerindangan daunnya sekitar berapa meter. Sang Petani tahu apa yang akan terjadi, kita orang awam tidak. Demikian pula kita telah menanam benih karma dan bila kita tenang, hening, atau lewat mimpi kita bisa mengetahui apa yang akan terjadi pada diri kita. Hanya kalau dibumbui misteri ramalan yang akan terjadi akan menarik perhatian masyarakat. Magic adalah bila kita dapat mengubah hasil karma buruk menjadi hasil yang baik.

Penglihatan Bapak Anand Krishna

Indonesia Baru yang kulihat ialah Indonesia buatan Putera-Puterinya sendiri. Indonesia yang dibuat oleh Orang-Orang Indonesia sendiri, dengan kesadaran “keindonesiaannya”. Bangunan Indonesia Baru tidak menggunakan bahan baku asing. Bahan baku impor. Bila ada pernak-pernik dari luar negeri, itu hanyalah sebagai pemanis. Tidak lebih dari itu. Kekuatan Indonesia Baru datang dari dalam tubuhnya sendiri. Jiwa Indonesia Baru tidak membutuhkan dorongan dari luar untuk menumbuhkembangkan semangat yang dibutuhkan untuk membangun, mencipta, dan bertahan menghadapi segala tantangan. Semangat Gotong Royong – itulah yang menjadi modal dasar bagi Indonesia Baru. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2005). Indonesia  Baru. Jakarta: One Earth Media)

 

Hukum Karma

Hukum Karma adalah Hukum Perbuatan, Hukum Tindakan. Dalam bahasa fisika, hukum ini disebut “Hukum Aksi Reaksi”. Setiap aksi sudah pasti menyebabkan reaksi yang setimpal. Inilah Hukum Sebab Akibat.

Dan, Hukum ini bersifat Universal. Berlaku sama bagi setiap orang, bahkan setiap makhluk hidup. Hukum ini tidak tergantung pada akidah agama tertentu. Ia tidak bersandar pada dogma maupun doktrin tertentu. Mau percaya atau tidak, hukum ini tetap berlaku bagi semua. Dan, berlaku sama.

Setiap orang, lelaki maupun perempuan mesti tunduk pada Hukum Universal ini. Hukum ini berlaku bagi individu, maupun bagi kelompok. Dikutip dari Karma Negara (Artikel Bapak Anand Krishna di Radar Bali, Senin 24 September 2007)

Mengapa Ramalan Bisa Jadi Kenyataan? Apakah Kita Seperti Robot yang Terprogram?

Kepastian itu sangat mekanis. Kepastian membuat manusia menjadi mesin, persis seperti robot. Kepastian membuat anda menjadi komputer. Program yang diberikan dapat menentukan setiap tindakan, setiap ucapan, bahkan setiap pikiran dan setiap perasaan dalam diri anda. Komputerisasi umat manusia sudah terjadi sejak ribuan tahun yang lalu.

Mereka yang berkuasa, mereka yang menjadi pemimpin, mereka yang berada pada pucuk pemerintahan telah melakukan programming. Tentu saja, programming ini harus menguntungkan mereka, anda hidup dalam ketidaksadaran. Sepertinya dibawah pengaruh hipnotis massa. Tindakan, ucapan, pikiran bahkan perasaan anda pun sesuai dengan programming yang telah diberikan kepada anda.

Anda tidak bebas! Mungkin sudah merdeka, tetapi hanya memproklamasikan kemerdekaan tidak membebaskan diri anda! Anda telah diperbudak selama ribuan tahun dan saat ini pun anda masih diperbudak. Anda diperbudak oleh berbagai tradisi, peraturan dan konsep yang sudah kadaluwarsa, sudah usang. Mereka yang memprogram anda tidak menginginkan kebebasan anda. Kenapa? Karena begitu anda bebas, anda tidak dapat dikuasai. Untuk menguasai anda, kepatuhan anda sangat dibutuhkan; kepastian anda sangat dibutuhkan. Anda harus statis. Dan dengan menggunakan dalil stabilitas, anda telah dilatih dan dipaksa untuk jalan atau lari ditempat. Itu sebabnya, manusia dapat diramalkan. Manusia yang sudah diperbudak oleh masyarakat, dapat diramalkan. Suatu masyarakat yang terbelenggu oleh berbagai tradisi dan peraturan yang sudah dapat diramalkan. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (1998). Tetap Waras di Jaman Edan, Visi Ronggowarsito Bagi Orang Modern. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Kita Bisa Tahu Apa yang Akan Terjadi 10 Tahun yang akan datang

Apa yang akan terjadi pada diri saya atau suatu keadaan sekitar saya, itu pun sudah merupakan rencana yang sudah ada dalam bawah sadar kita (Kalau kita mengatakan itu bawah sadar). Saya tidak mengatakan itu bagian dari bawah sadar tapi dari chit, seed of thought, benih-benih pikiran kita.

Itupun sudah kita rencanakan, jadi tidak ada yang beda sebetulnya. Cuma ada yang tependam tidak cepat keluar dan ada yang cepat keluar. Jadi apa yang akan terjadi 10 tahun yang akan datang, sudah ada blue print-nya. Misal kita mau tanam pohon buah mangga maka setelah beberapa tahun berbuah. Seorang petani tahu bahwa pohon ini berbuahnya kapan, pohon yang satu lagi berbuah kapan? Tapi kalau kita bukan petani maka kita nggak tahu. Kita pikir kok lama sekali, apakah akan berbuah atau tidak? Begitu juga apa yang akan terjadi 10-15 tahun dari sekarang, bijinya sudah ditanam entah sepuluh tahun sebelumnya.

Tapi bagaimana bisa terlihat dalam mimpi? Kita berada dalam masyarakat yang kalau sesuatu dibungkus mistis akan menarik. Seperti melihat awan, wah itu seperti ada gambar Shiva, bagi orang lain itu gambar Kwan Im, bagi orang ketiga itu Buddha. Tergantung pada proyeksi dari pikiran kita. Kita bisa melihat apa pun dan kemudian berita itu dimunculkan dan kita menjadi heboh. Kita melihat bulan seperti melihat kelinci. Tapi, bagi Orang China itu bukan kelinci, itu adalah wanita cantik. Dewi Bulan. Bagi orang India itu adalah laki-laki, Chandra. Jadi tergantung persepsi kita. Tapi kita punya kebiasaan dibungkus dengan mistisisme, padahal semuanya sudah diatur.

Justru the real magic, menurut Aleister Crowley, magic itu suatu kemampuan untuk mengubah sesuatu atau kondisi hati kita. Itulah real magic. Begitu juga kalau kita sudah tanam sesuatu sebelumnya, dan kita sudah tahu akan berbuah mangga. Karma yang hasilnya kita sudah tahu pasti jelek atau bagus, kalau kita mampu mengubah itu. Dari buruk menjadi bagus, itu real magic, kekuatan pikiran yang benar.

Kita mimpi sesuatu, bisa merupakan bagian dari sampah-sampah dalam diri kita yang keluar, atau bisa suatu berita bahwa ini bisa terjadi. Kita bisa melihat rambu-rambu ini bila bisa terjadi padamu. Misalkan mulai sekarang saya mesti membawa mobil dengan lebih berhati-hati, agar mimpi yang saya lihat tidak terjadi.

Bagaimana bila kita sudah melihat tanda buruk yang akan terjadi bagaimana cara mengatasinya? Apabila mind kita terpengaruh mimpi kecelakaan peswat, ganti flight. Apa yang kita perhatikan dengan pikiran kita, itu terjadi. Itulah kekuatan pikiran. Apa yang kita bahas ini kekuatan pikiran bukan spiritual. New Age itu apa? kekuatan pikiran. Mereka belum bicara sesuatu yang lain. Mimpi juga bagian dari kekuatan pikiran. Lucid dreaming, kita bisa merencanakan sesuatu lewat pikiran. Saya pernah menulis, sebelum tidur pikirkan saya akan pergi ke suatu tempat, lakukan beberapa kali sampai mungkin hari ke 7 roh ini bisa jalan-jalan ke suatu tempat tertentu. Bisa diatur.

Kalau ditarik ke karma pembahasan akan panjang. Karma terjadi pada dasarnya dalam kenyataan dan mental/emosional. Istilah karma adalah perbuatan. Mungkin saya berpikir jelek akan dirimu, mungkin vibrasi itu akan diterima, oleh mind mu, brainmu. Kamu akan berpikir tentang saya yang jelek juga. Itu bisa terjadi itu tapi sebatas pikiran. Kalau saya menonjok kamu itu adalah physical. Dan kamu meresponnya dengan physical. Hukum karma adalah physical law.

Begitu ada pikiran yang jelek, Patanjali mengatakan pikirlah yang berlawanan untuk menghindari akibat buruk. Oleh karena itu dimunculkan simbol-simbol. Kebanyakan, apa yang tepikir oleh kita adalah jangan=jangan akan terjadi begini. Jangan-jangan ada rintangan, jangan-jangan ada problem. Sehingga dimunculkan simbol Ganesha untuk mengenyahkan segala macam rintangan. Sangat mudah kalau tiba-tiba kita punya pikiran kalau begini jangan-jangan akan begini. Kemudan untuk mengimbangi pikiran itu yang sudah diulangi dalam pikiran berkali-kali kita harus mengimbangi dengan pikiran yang berlawanan.

Daripada susah-susah, kau punya Ganesha, lihat patung Ganesha. Dan itu lebih powerful daripada pikiran yang harus diulang-ulang. Positif thinking kita tidak bisa sekuat negatif thinking. Negatif thinking naturally muncul, positif thinking harus kita upayakan. Banjir dari negatif thinking ini tidak cukup diatasi dengan positif thinking. Solusinya lihat gambar Ganesha.

Jadi Ganesha dibawa ke mana-mana. Itulah yang dikerjakan mereka. Obama membawa gambar Hanuman di kantong dia. Setiap ada masalah dia keluarkan gambar Hanuman. Dia share.

Mau dengan Kwan Im, Ganesha, Narasimha mau apa. Begitu ada pikiran jelek langsung visual. Di kantor-kantor di mana-mana jangan kasih pajangan macam-macam. Taruh visual yang bisa memberi semangat. Di China, Kwankung, Macan, Kura-Kura karena perisainya. Mahisasura Mardini, Durga di tempat kita.

Kalau kita mimpi hal yang tidak sesuai dengan keinginan kita kita dapat mengatasi dengan cara demikian. Dream yang visual harus diatasi dengan visual. Visual mimpi dilawan dengan suara tidak berhasil.

Bagaimana kalau mimpi yang mengarahkan kita? Kembali ke Hanuman atau Ganesha, tolong saya dibantu. Tapi harus visual karena kita harus main dengan kecepatan cahaya. Hati-hati dengan televisi, dengan youtube, dengan apa yang kita lihat. Karena kecepatannya adalah kecepatan cahaya. Bisa menciptakan situasi yang baik atau kalau tidak kita bisa menjadi peragu-ragu, pemalas.

Sumber: Video Youtube, Membaca Mimpi & Cara Mengatasi Pikiran Negatif oleh Bapak Anand Krishna

Sapi yang Menangis di Tempat Pemotongan Hewan

Emosi pada Binatang

Para ilmuwan semakin percaya bahwa hewan pun merasakan emosi seperti manusia. Sukacita, kesedihan, kemarahan, kecemburuan dan cinta memainkan peran penting dalam kehidupan mereka.

Ada 3 komponen emosi yang dipelajari: fisiologis (respon tubuh/fisik), perilaku (apa yang ditunjukkan kepada makhluk lain), dan respon psikologis (apa yang dirasakan). Emosi berbeda dari sensasi, yang hanya merupakan konsekuensi fisik (misalnya panas), dan dari perasaan, yang hanya mengacu pada keadaan internal tanpa referensi untuk reaksi eksternal.

Hal tersebut diperkuat bahwa mamalia memiliki struktur otak yang mirip dengan manusia, dan cara kerja otak mereka mirip dengan cara kerja otak manusia.

Sumber: onekindplanet.org/animal-behaviour

 

Jadi Vegetarian Jadi Sehat Inpirasi dari Danau Toba, video youtube oleh Bapak Anand Krishna

Leluhur kita ketika akan memberikan sesuatu sebagai persembahan kepada kekuatan-kekuatan alam, mereka mencari sesuatu yang paling berharga. Bila mereka punya hewan ternak, misalkan kerbau, maka mereka mmempersembahkan kerbau. Kemudian terjadi pemahaman baru, revolusi dalam cara pandang, bahwa binatang itu juga ada nyawanya, punya kehidupan. Kita tidak boleh mengambil kehidupan dan mempersembahkannya. Sejak 3.000 tahun Sebelum Masehi, Krishna menyampaikan bunga, buah-buahan, dedaunan, rempah-rempah bahkan air pun dapat dijadikan persembahan. Tidak perlu menyembelih binatang.

Juga ada pemahaman bahwa pemahaman bahwa penyembelihan hewan itu simbolik. Yang kita sembelih adalah sifat hewani kita. Akan tetapi hewan itu juga punya kebaikan.

Dari Jurnal Psychology Today disampaikan bahwa sapi itu mempunyai inteligen tinggi, punya emotion, bisa merasakan duka, derita seperti manusia. Silakan lihat di tempat penjagalan sapi. Mereka, sapi atau kerbau menangis. Sapi-sapi yang dibawa dari Bali, selama 28-30 jam, sepanjang perjalanan berdiri bercampur kotoran dan air kencing.  Saat diturunkan sapi-sapi seperti gila, stress.

Di Kebun-Kebun Binatang banyak temuan tentang monyet yang bunuh diri. Padahal kalau monyet ditempatkan di tempat terbuka tidak akan bunuh diri. Ada juga ikan dimasukkan toples kecil nampak stress bolak-balik berenang dan kemudian melompat ke luar toples. Ikan Arwana pun bila di dekatnya ada orang yang stress berat dia pun ikut stress. Tentang inteligensia banyak kisah anjing yang setia menunggui makam majikannya.

Binatang mempunyai raa cinta, seperti para gembala di India yang betul-betul menyayangi sapi, memelihara dengan baik untuk diperah susunya. Anak-anak para gembala sejak kecil sudah kenal sapi dan sering mengelus-elusnya. Begitu anak dari gembala mendekati sapi, putting sapi itumengeluarkan air susu. Rasa cinta terhadap anak kecil.

Apakah hewan dapat merasakan stress seperti yang dihadapi manusia? Sekarang banyak anjing menderita sakit leukimia. Padahal dulu di tahun 70-an tidak pernah terjadi. Dan, itu terjadi pada anjing piaraan. Anjing tidur di sofa, pakai AC, diberi jaket akan stress, tidak akan menerima hal itu, protes tapi dia tidak bisa bicara. Untuk mengubah genetika dengan lingkungan kebiasaan manusia perlu waktu. Orang yang tidak biasa kena AC saja begitu dalam ruang ber AC langsung batuk-batuk, pusing, panas-dingin.

Mungkin 10 tahun yang akan datang, akan ditemukan berbagai penyakit karena konsumsi daging hewan.

Sumber: Jadi Vegetarian Jadi Sehat Inpirasi dari Danau Toba, video youtube oleh Bapak Anand Krishna

Pengaruh Konsumsi Daging terhadap Kesadaran

Bila ingin merasakan Kehadiran Yang Maha Hadir, Maha Hidup dan Maha Ada – maka belajarlah untuk menghormati segala sesuatu di sekitarmu. Benda-benda yang selama ini, karena cara pandang yang keliru, kau anggap mati, sesungguhnya tidak mati. Semuanya hidup.

Pedoman Pertama bagi pembangkitan energi di dalam diri adalah: Makanlah untuk bertahan hidup. Janganlah hidup untuk menikmati makanan saja. Hindari makan daging supaya hewan di dalam dirimu mati kelaparan. Sifat kehidupan yang memasuki tubuh kita lewat mulut, mempengaruhi sifat diri kita. Sesuai dengan istilah yang kita gunakan baginya, tumbuh-tumbuhan memiliki sifat utama, yaitu growth, bertumbuh. Bila tumbuh-tumbuhan yang kita konsumsi, maka kemanusiaan di dalam diri kita pun ikut bertumbuh. Sebaliknya, sifat utama hewan adalah kehewaniannya. Dengan mengkonsumsi dagingnya, kita tidak sekadar mengalami pertumbuhan, tetapi pertumbuhan kehewanian di dalam diri.

Pedoman Kedua: Jangan lupa berdoa sebelum, sambil dan sesudah makan. Doa sebagai ucapan terima kasih, doa untuk mensyukuri apa yang telah diberikan kepada kita. Awam melahirkan anak. Anak yang bisa hidup selama lima puluh tahun, seratus tahun, akhirnya mati juga. Para nabi, avatar, buddha, mesias melahirkan “kesadaran” yang menuntun umat manusia selama berabad-abad dan tidak pernah mati. Kesadaran yang mereka lahirkan berada dalam diri manusia melekat untuk selamanya. Menjadi bagian kesadaran kolektif manusia untuk selamanya. Bedanya awam menggunakan energi itu as it is, begitu saja. Para maestro mengolahnya terlebih dahulu. Energi yang kita gunakan mirip susu. Energi yang mereka gunakan sudah berupa mentega.

Pedoman Ketiga: Pengendalian diri. Kepadatan mempengaruhi getaran. Makin padat makin kurang bergetar. Kepadatan “ruang” sungguh minim sekali sehinga getarannya sungguh dahsyat, hampir tak terdeteksi oleh otak kita yang relatif padat. Bila kita ingin berkesadaran luas, tidak sempit, maka getaran tubuh kita, pikiran serta perasaan kita harus diperdahsyat. Sementara ini, umumnya kita masih bergetar dengan kecepatan tanah. Badan kita terbuat dari tanah. Sperma dari ayah dan ovum dari ibu, dua-duanya berasal dari makanan yang mereka dapatkan dari bumi. Ketergantungan kita sendiri pada bumi dan hasil bumi pun masih sangat kuat. Itulah sebabnya kita masih berpikiran picik, masih berkesadaran rendah, pandangan kita belum jernih. Bagaimana mempercepat getaran kita? Bagaimana memperluas kesadaran kita? Dengan menari, menyanyi, merayakan hidup ini. Keceriaanmu membebaskan dirimu dari belenggu-belenggu yang mengikat jiwamu. Jiwa ceria adalah jiwa yang bebas. Sebaliknya kemurunganmu membebani jiwamu. Keceriaan meringankan jiwamu.

Pedoman Keempat: Keceriaan, rayakan hidupmu! Latihan-latihan yang diberikan sangat membantu. Kebiasaan-kebiasaan kita menciptakan pola-pola energi tertentu. Dan, itu hanya dapat diubah dengan latihan. Tidak bisa dengan pengetahuan atau pemahaman belaka. Air seni dan air besar yang kita keluarkan memiliki substansi, dua-duanya mewakili elemen tanah – tidak heran bila kita sangat peka terhadapnya. Sementara itu, energi yang kotor sudah mewakili elemen-elemen yang lebih ringan, api dan angin, makanya kita belum cukup peka terhadapnya. Jangan khawatir, dengan bertambahnya kepekaan diri, pembuangan energi, pikiran serta perasaan “kotor” akan menjadi sangat alami, sealami pembuangan air seni dan air besar……… dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2006). Sexual Quotient, Melampaui Kamasutra Memasuki Tantra. One Earth Media)