Wejangan Anand Krishna: Melayani Keluarga Berkaitan Hutang Piutang Masa Lalu

“Para bijak berkesadaran tinggi, namun rendah hati, melihat Jiwa yang sama dalam diri seorang Brahmana berpengetahuan; seekor sapi, gajah, bahkan anjing sekalipan, dan dalam diri para dina, hina, dan papa yang terbuang oleh masyarakat.” Bhagavad Gita 5:18

https://bhagavadgita.or.id/

 

Penting sekali seorang brahmana seorang yang berpengetahuan, seorang cendekiawan, seorang kaya raya, seorang yang miskin apakah kita memperlakukan mereka dengan cara yang sama. Karena kalau kita sudah berkesadaran bahwa Krishna mengatakan kita melihat sama bahkan seekor sapi gajah bahkan anjing sekalipun binatang-binatang pun kita anggap sama. Kita tidak menganggap wah binatang ini sapi adalah suc ibagi orang-orang Hindu terus anjing boleh kita apapun juga.

Tadi saya lagi dengar suatu ceramah dari seseorang berpendidikan tinggi sekali. Dengan bangga ia mengatakan sapi itu sama binatang seperti lainnya seperti kambing seperti apa sehingga makan daging sapi saya juga makan daging kambing dan dia menyebut daging anjing juga. Saya mau tanya apakah kau makan daging anjing betul. Karena di India tak ada seorang pun makan daging anjing. Jadi kesamaan yang dia artikan itu kesamaan dalam artian  saya bisa makan apa saja dan dia saya tidak akan sebut kedudukannya. Sangat tinggi di masyarakat ini. Jadi bagaimana orang bisa berpikiran seperti itu karena dia belum berkesadaran. Bagi dia soal makanan dipersatukan semua binatang hanya untuk soal makanan. Bukan untuk melindungi binatang itu.

 

“Brahman, Jiwa Agung adalah Tanpa Cela,Tanpa Noda dan Tanpa Preferensi (Tidak Pilih Kasih): sehingga mereka yang menunjukkan sifat-sifat yang sama, dan tidak pilih kasih, sesungguhnya telah mencapai Brahman.” Bhagavad Gita 5:19 daribukuBhagavad Gita

“Mereka yang tidak pilih kasih (karena telah bebas dari ilusi dualitas, dan dapatmelihat Jiwa Agung di mana-mana, di balik setiap wujud) telah terbebaskan dari kebendaan, kendati masih di alam benda. Brahman, Jiwa Agung adalah Tanpa Cela,Tanpa Noda dan Tanpa Preferensi (Tidak Pilih Kasih); sehingga mereka yang menunjukkan sifat-sifat yang sama, dan tidak pilih kasih, sesungguhnya telah mencapai Brahman.” Bhagavad Gita 5:19

https://bhagavadgita.or.id/

 

Jadi untuk mencapai Brahma,n untuk moksha tidak perlu tunggu mati baru nirvana, baru moksha. Sekarang sambil hidup pun kita bisa mencapai moksha, bisa mencapai Nirvana kalau Krishna mengatakan kau menunjukkan kualitas-kualitas ini, sifat-sifat ini. Yaitu bebas dari kebendaan kendati masih di alam benda. Masih di alam benda masih hidup di tengah masyarakat tapi tidak terikat pada kebendaan.

Melayani keluarga, melayani anak, melayani cucu, melayani suami, melayani istri, melayani semua-semuanya tapi tidak terikat pada sesuatu apapun. Saya selalu mengingatkan guru-guru kita di rumah ada anak, itu juga kita harus melayani. Tapi melayani anak itu adalah hutang-piutang,  melayani keluarga, itu adalah hutang-piutang dan hutang piutang itu harus selesai sampai anak itu bisa bekerja. Dia sudah diberi pendidikan sudah kerja hutang piutang selesai. Setelah itu biar dia membina lagi keluarganya sendiri.

Tetapi di sekolah ini adalah kesempatan untuk melayani 150 anak. Yang tidak akan pernah bisa kita lakukan kalau tidak ada kesempatan seperti ini. Melayani 150 anak setiap hari kita nggak pikir karma baik dan menumpuknya karma, tapi bayangkan saya pun tidak pernah kesempatan melayani 150 orang setiap hari selama bertahun-tahun seperti ini. Hanya seorang guru yang punya kesempatan seperti ini. Bayangkan tapi sekarang guru-guru semuanya pada cari pns mau jadi pns kalau nggak mau jadi pns ada satu lagi kesempatan kontrakan. Semacam pns tapi kontrakan. Mau jadi itu. Saya tanya kepada guru-guru kita sekarang kita mau buka SMA nggak ada guru. Tapi saya tetap mengatakan kita harus lanjutkan pada untuk SMU, kita harus cari jalan keluarnya.

Lucu sekali saya ngggak pernah terbayangkan lebih susah mencari guru IPS kebanding IPA. Lebih gampang cari guru science, kenapa begitu? Karena orang=orang yang science ini masih punya idealisme. Kalau orang-orang yang nonscience ini sama sekali nggak punya idealisme. Semuanya mencari jabatan. Bayangkan yang mengajarkan nonsciences tidak punya hati untuk melayani. Kalau cerita ini benar, betapa menyedihkan. Krishna mengatakan Jika kau melihat kasih orang yang tidak berpreferensi, tidak pilih kasih, jika kau melihat sifat-sifat seperti itu maka ketahuilah bahwa dia sudah bebas dari kebendaan. Tidak pilih kasih.

 

“Hendaknya seseorang tidak kegirangan ketika mendapatkan sesuatu yang nikmat; pun tidak bersedih-hati ketika menghadapi keadaan yang tidak menyenangkan. Seseorang yang telah mengetahui hakikat Brahman, hendaknya menggunakan inteligensianya yang telah bebas dari ilusi dualitas, untuk senantiasa berada dalum Kesadaran Brahman.” Bhagavad Gita 5:20

https://bhagavadgita.or.id/

 

Kalaupun sudah tidak pilih kasih  sudah mencapai tingkat yang dikatakan oleh Krishna tetap juga Dia mengatakan hendaknya menggunakan inteligensianya yang telah bebas dari ilusi dualitas untuk senantiasa berada dalam keadaan Brahman. Setiap saat kita harus menjaga supaya kesadaran yang telah kita raih ini, sudah saya peroleh ini tidak merosot. Jadi jangan puas kalau sudah mencapai kesadaran itu.

Bagaimana kita bisa melestarikan, bisa mempertahankan, dan satu-satunya cara untuk mempertahankan tidak ada jalan lain, seva. Layani mereka yang tidak ada hubungan keluarga dengan kita. Tidak ada hubungan keluarga, tidak ada hubungan satu umat, tidak ada hubungan satu bangsa, tidak ada hubungan apapun. Tanpa pilih kasih. Melayani bukan membantu. Bukan memberikan sedekah, bukan. Tapi melayani, bukan memberikan dana punya, bukan memberikan sumbangan terus selesai acaranya. Saya sudah menyelesaikan tugas saya. Bagaimana kita bisa melayani, saya mengingatkan semua orang yang terlibat dalam sekolah. Setelah saya mati pun saya mengharap bahwa setiap guru di sana akan tetap melayani. Yang punya profesi sebagai guru di sana jangan menganggap sebagai profesi. Tapi suatu wujud, suatu kesempatan untuk melayani. Saya memberikan contoh begitu banyak ashram di India. Yang bisa bertahan karena orang-orang yang sudah agak tua dan keluarganya sudah oke tapi masih tua masih barangkali lebih muda dari saya. 55-60 tahun karena zaman dulu banyak orang kawin agak awal. 55-60 tahun dia sudah bebas dar isegala macam tanggung jawab di keluarga sudah menikmati segalanya seperti sekarang kita lihat di Puta Parthi, Prasanthi Nilayam saya sering ke toko buku atau kekantin. Yang melayani semuanya orang-orang tua. Dan mereka merasa itu sebagai satu cara yang terbaik bagi mereka untuk mengakhiri hidupnya.

Disini makin kita tua makin terikat. Dengan ini dengan itu dengan seribu satu macam persoalan. Coba pikirkan coba kita renungkan bagaimana kita bisa melayani tanpa beban. Kita tidak mau mencari umat tidak mau menarik mereka masuk ke agama kita. Tidak, kita melayani tanpa segala macam pertimbangan seperti itu. Terimakasih.

Sumber: Video Youtube Bersama Anand Krishna Bhagavad Gita Sehari-Hari Ayat 05:16-20 Penemuan Jati Diri Nirvana dan Ekonomi Kehidupan

https://www.youtube.com/watch?v=g3kacBkyxzA

https://www.akcjoglosemar.org/wp/

https://www.anandkrishna.org/

 

 

Advertisements

Wejangan Anand Krishna: Mengalami Pengulangan Kehidupan Karena Lupa Jati Diri

“Ketika gelap ketidaktahuan tentang Hakikat Diri terlenyapkanoleh cahaya Pengetahuan Sejati; maka, Matahari Pengetahuan Sejati itu pula mengungkapkan kembali kemuliaan Jiwa Agung.” Bhagavad Gita 5:16

https://bhagavadgita.or.id/

 

Mengungkapkan kembali kemuliaan Jiwa Agung berarti Jiwa Agung itu tidak terpengaruh oleh kegelapan, ketidaktahuan tetapi kemuliaannya tertutup sedikit. Apa yang sedang terjadi sekarang ini begitu. Kita lupa akan jati diri kita. Kita selalu mengaitkan diri kita hanya dengan fisik atau hanya dengan pikiran. Di balik semuanya itu ada kebenaran lain ada hakikat diri. Dan ini tertutup oleh ketidaktahuan.

Seperti analogi yang diberikan adalah seseorang di rumahnya ada treasure ada khazanah ada harta karun, bukan harta karun tapi simpenan emas di zaman dulu. Para orang tua kakek meninggal terus mereka meninggalkan emas di bawah di tanam di bawa hlantai. Dan dia tidak tahu dan dia hidup sebagai seorang miskin sampai pada suatu ketika secara tidak sengaja, dia sedang membangun rumah. Dan dia menemukan emas itu. Emas itu selalu ada tetapi tertutupoleh lantai. Dan karena itu dia tidak tahu. Inilah yang dikatakan oleh Krishna bahwa Pengetahuan Sejati tentang kemuliaan diri tertutup oleh ketidaktahuan, makanya kita tidak paham dan terombang-ambing antara identitas fisik dan pikiran serta perasaan.

 

“Mereka yang telah sepenuhnya berserah diri pada-Nya; seluruh kesadarannya pun terpusatkan pada-Nya; dan, memuji-Nya sebagai Penopang Tunggal seantero alam Hyang Maha Tinggi – terbebaskan dari segala macam kejahatan, kemalangan, dan kebatilan berkat Pengetahuan Sejati yang telah diraihnya. Mereka sedang menuju kebebasan mutlak dari kelahiran ulang.” Bhagavad Gita 5:17

https://bhagavadgita.or.id/

 

Seluruh perjalanan hidup ini, berulang-ulang karena kita tidak paham diri kita siapa sebenarnya. Oleh karena itu kita mengulangi pengalaman yang sama. Sebab itu Buddha mengatakan menyebutnya samsara. Samsara berarti pengulangan. Seperti anak yang tidak naik kelas dan dia harus mengulangi pelajarannya yang sama. Begitu juga dengan diri kita. Kita mengulangi pelajaran yang sama terus-menerus.

Krishna mengatakan siapapun yang telah sepenuhnya berserah diri pada-Nya, pada Gusti, Tuhan, Sang Hyang Widhi apapun sebutannya kita bagi Dia. Berserah diri berarti apa? Fokus kita dialihkan dari dunia benda kepada Dia. Fokus kita sekarang pada dunia benda. Saya ketika bertemud engan Guru saya selalu Beliau mengingatkan adhyat per pucho tanyalah tentang spiritual. Dan di situ saya baru sadar sering sekali kita bertemu dengan seorang Guru seorang suci dan kita membawa persoalan-persoalan yang sangat kecil.

Saya memberikan contoh. Kadang kita bertemu dengan seorang Guru yang kita bicarakan apa, soal keluarga, soal anak, soal makanan bahkan si Guru melayani apapun kita tanya apa pun kita bicarakan dia melayani. Tapi apakah cocok bagi kita bertanya sesuatu yang sebetulnya bisa ditanyakan kepada orang lain.

Guru tidak akan menolak ada orang datang kepada Guru bilang kaki saya sakit. Dia mengeluarkan vibhuti. Kaki kita atau badan sakit untuk itu kita memberikan meditasi. Meditasi untuk apa, untuk memberdayakan diri kita. Tetapi ketika bertemu dengan seorang Guru tanyalah sesuatu yang lebih tinggi. Yang tidak bisaditanyakan kepada fasilitator kita. Kalau sudah adahal-hal yang bisa ditanyakan pada fsilitator ya kepada mereka. Tidak perlu tanya kepada seorang Guru. Jadi kita harus membagi juga pertanyaan-pertanyaan kita apa yang valid bagi eorang Guru apa yang tidak.

Saya pernah memberikan contoh walaupun kita kenal baik dengan seorang Presiden kalau mau bikin e-ktp apakah perlu ke istana. Cukup ke kelurahan kan? Tapi kita kadang-kadang begitu, sudah kenal sama Presiden kenapa nggak ktp juga diurusi oleh Presiden. Kenapa harus susah-susah ke lurah. This is what happening. Yang terjadi sering kali. Sehingga kita tidak mendapatkan manfaat yang dikatakan Krishna di sini penting sekali.

Kalau sudah mengenal jati diri kita kita akan bebas dari kejahatan kemalangan dan kebatilan. Tiga-tiga ini saling terkait. Orang berbuat jahat berbuat batil dia akan akan mengalami kemalangan. Entah kemalangan itu berupa penyakit, berupa kegagalan, banyak orang tidak paham betul tentang peran seorang Guru. Saya memberikan contoh beberapahari lalu saya sedang bahas dengan siapa lupa, kita berguru dan kita berpikir bagaimana saya berhasil dalam hidup ini. Bagaimana saya bisa mencari uang lebih seperti Kabir mengatakan bisa punya uang sehingga keluarga juga terjamin tetapi masih ada lebih untuk melayani siapa pun yang datang ke rumah saya. Ini permintaan Kabir.

Jadi ada orang, para devoti seperti itu cari uang bukan untuk memperkaya diri saja tapi bagaimana membuat uang itu lebih berguna ada added valuenya. Ada nilai tambahnya. Bagaimana menggunakan uang itu untuk kepentingan yang lebih luas.

Saya ketemu dengan sekian banyak orang dan dari awal sampai akhir yang dibicarakan hanya anak saja. Atau cuma keluarga saja. Atau makanan saja ada restauran mana yang baru. Makanannya apa. Banyak orang seperti itu. Ini yang Krishna katakan belum memahami, belum tahu belum paham bahwa adah akikat diri. Jadi ada orang cari uang supaya bermanfaat bagi banyak orang bagaimana melayan ivisi dan misi Guru. Membangun rumah sakit. Membangun macam-macam. Ada orang yang mencari uang untuk dirisendiri.

Tapi lebih parah lagi. Begitu ketemu dengan Guru dia mengambil salah satu sloka dari Bhagavad Gita. Bagi seorang praktisi Yoga seorang Yogi, ketahuilah dia tidak akan pernah menderita semua penderitaannya akan kutanggung. Akan kubereskan semuanya. Seorang praktisi Yoga, seorang bhakta. Ada juga orang-orang mengaku bhakta ketemu dengan Guru sekarang saya boleh berbuat apa saja. Mau bisnis apa saja pasti sukes. Karena saya sudah percaya pada Guru. Ini pemalas.

Untuk sukses dalam bisnis, dibutuhkan keahlian bukan Guru. Untuk adhyatma bagaimana kita bisa mengubah cara pandang kita, untuk itu perlu seorang Guru. Bukan untuk sukses dalam bisnis. Krishna pun mengatakan kepada Arjuna carilah pasopati. Carilah senjata untuk melawan musuhmu. Kita menerjemahkan senjata itu secara letterlijk. Oh itu zamannya Arjuna sekarang nggak ada. Senjata sekarang pa? Skill. Kalau mau sukses carilah skill.

Saya berulang kali mengatakan. Persoalan kita di Indonesia apa? Kita tidak pernah memeriksa costing kita. Dan sekarang kita menderita karena itu. Costing kita melebihi costing Vietnam. Orang-orang Vietnam sekarang sudah cukup makmur sejahtera, tapi costing mereka, membuat sesuatu cost di sana lebih murah daripada cost disini. Kenapa orang harus beli barang di sini? Kecuali kita membuat barang untuk diri sendiri. Untuk menjual di dalam negeri saja. Para manufaktur kalau ada pabrik yang punya pabrik di sini. Tetapi bagaimana memastikan tidak akan ada barang dari Vietnam, tidak akan ada barang dari China yang masuk ke sini. Tidak bisa kita pastikan. Jadi tidak bisa kita lepaskan, oh karena saya sudah ketemu dengan Guru. Krishna mengatakan seorang praktisi Yoga seorang yang sudah berpaling pada-Ku berarti dia sedang menggali dirinya, mencari jati dirinya. Bagi mereka Ya kujamin. Dan yang dijamin apa? Dia tidak akan kekurangan. Krishna tidak mengatakan saya akan memberikan segala-galanya. Adanya meditasi adanya untuk memberdayakan diri kita supaya persoalan duniawi kita teratasi sehingga kita bisa mencari sesuatu yang lain.

Jangan berhenti di sini. Banyak orang meditasi sebentar, sehat sedikit berhenti. Seperti orang beli asuransi, empat tahun mobilnya nggak kecelakaan berhenti asuransi tahun kelima kecelakaan. Meditasi ini seperti asuransi untuk menjamin kesehatan, seperti kita minum air, kita butuh matahari kita butuh jalan kita butuh kerja begitu juga kita butuh meditasi setiap hari. Untuk memberdayakan diri kita. Untuk melihat secara lebih jernih bahwa kalau saya sedang gagal dalam usaha saya, dalam keluarga saya apapun kegagalan yang saya derita semata-mata karena saya kurang keahlian untuk itu.

Tidak adaTuhan yang menentukan oh kamu gagal terus, nggak ada. Kalau kita kurang ahli kurang ekonomis dalam membuat sesuatu. Ilmu ekonomi, saya pernah bicara dengan anak-anak di sekolah basic dari ekonomi itu apa? Basic dari ekonomi yang kita lupakan adalah dalam kata ekonomi itu sendiri. Kadang-kadang kita beli odol ada tulisan paket ekonomis.

Kelas ekonomi apa? Berarti dengan biaya yang rendah kita mendapatkan sesuatu yang kurang lebih sama dengan kelas di atasnya. Orang yang naik kelas 1 di pesawat dan kelas ekonomi bedanya apa? Makanannya seat nya tapi sampainya pada waktu yang sama. Nggak ada kelas 1 yang sampai duluan 10 menit gitu. Jadi kelas ekonomi berarti apa? Saya memberikan pelayanan akhir yang sama sampai di tujuan dua-duanya sama, pelayanan dalam perjalanan dikurangi sedikit. Kita lupa tujuan ekonomi itu. dalam rumah tangga kita harus ekonomis.

Dalam menggunakan apapun kita harus ekonomis. Jangan karena punya uang sedikit terus beli ini beli itu yang nggak dibutuhkan. Uang itu bisa digunakan untuk hal-hal yang lain. Kemarin kita mengadopsi satu anak lagi. Tadi saya lagi berpikir tolong dibicarakan dengan yayasan. Sekarang 3 anak sudah kita adopsi, 3 anak ini oke. Nenek mereka bagaimana? Who is taking care of her. Nenek itu tidak mampu membesarkan anak-anak ini.

Anak ketiga ini saya tanya bagaimana kamu, dia tidak bisa bahasa Indonesia. Berusia 5-6tahun. Terus saya dibisikin oleh teman, tanya saja dia apa kau demen di sini, demen berarti bahagia. Apa dia demen dan dia ketawa, hari pertama dia sudah bahagia. Dan ketika ditanya dalam bahasa Bali kenapa kamu bahagia? Kita nggak pernah berpiki rlho. Dia bahagia karena bisa tidur di atas ranjang. Ditanya terus di rumah tidurnya gimana? Di atas karton. Jadi ada karton bekas dikumpulkan diatas karton. Coba melihat kondisi begini dan lihat kondisi kita, kita jauh lebih baik dan ini harus kita lakukan reach out. Keluarga ini tidak mendatangi kita untuk mencari sumbangan. We found them. Teman-teman kita di Singaraja, mereka mencari keluarga ini. Yang anak-anaknya tidur di atas karton. Tapi sekarang saya pikir bagaimana dengan neneknya. Who is taking care? He is find out what can we do. Apa yang bisa kita lakukan. Dia sudah berusia 80 tahun, bapak ibu sudah nggak ada, you should try to find out.

Pemahaman-pemahaman ini bisa muncul ketika menemukan jati diri. Apa yang mulia dalam diriku juga dalam dirimu. Kita semua satu.

Sumber: Video Youtube Bersama Anand Krishna Bhagavad Gita Sehari-Hari Ayat 05:16-20 Penemuan Jati Diri Nirvana dan Ekonomi Kehidupan

https://www.youtube.com/watch?v=g3kacBkyxzA

https://www.akcjoglosemar.org/wp/

https://www.anandkrishna.org/

 

Wejangan Anand Krishna: Petunjuk Diperoleh Bukan Saat Berdoa Tapi Saat Hadapi Perang Hadapi Masalah

“Gusti Pangeran tidak menentukan, mengadakan, menyebabkan pelaku, pun tidak menentukan laku para pelaku. Tidak pula Ia mengaitkan laku atau perbuatan dengan hasilnya. Sesungguhnya, semua itu terjadi secara alami, karena sifat alam kebendaan itu sendiri.” Bhagavad Gita 5:14

https://bhagavadgita.or.id/

 

Banyak hal yang terjadi itu sebetulnya karena harus terjadi seperti itu. Kalau sedikit-sedikit kita merasakan sebagai pelaku maka kita akansedih sendiri berlebihan duka juga berlebihan. Banyak hal yang terjadi, kalau ada bencana misalnya mau bikin apa? What can you do?

Ya kita harus hati-hati, misalnya berulang kali saya mengatakan kita pun sudah melakukan kesalahan. Sebetulnya di Bali ini pulau kita begitu kecil. Kita semestinya membangun itu mengikuti, di situ kita mengikuti adat para leluhur kita. Di rumah-rumah Bali Kuno saya nggak ingat kalau tahun70-an saya pertama kali ke Bali itu saya nggak ingat saya pernah lihat rumah seorang teman orang Bali yang punya lantai dua. Ada nggak tahun70-an yang lantai dua? Jarang sekali saya kira. Karena memang di Bali yang pulaunya kecil begini, dua lantai itu tidak cocok, karena kita juga sering mengalami gempa. Dan kalau terjadi gempa, orang mati bukan karena gempanya, karena reruntuhan. Kalau lantai kita cuma satu terjadi gempa, terjadi apa pun ya rumah akan hancur, tetapi orang tidak akan mati. Dia bisa cepat keluar dari rumahnya. Jadi ada banyak hal yang kita harus mengikuti, mengikuti tradisi yang sudah baik. Tradisi yang kurang baik direformasi, tradisi yang tidak baik dilepaskan.

Di dalam tradsisi kuno ada satu kata dalam bahasa Sanskrit yang sedikit terdistorsi, saya lagi pelajari Prakram. Prakram itu berarti keberanian. Keberanian, keteguhan untuk berkarma dalam pengertian berkarma yang baik. Berbuat yang baik. Jadi di sini ada istilah desa prakraman kan? Pakraman itu ternyata dari prakram dan prakram berarti keteguhan, keberanian untuk berkarya yang baik. Jadi bukan sekedar adat, kalau adat itu kebiasaan ini istilah yang digunakan oleh leluhur kita dari zaman Majapahit, desa Prakraman dimana orang-orang punya pendirian, punya keteguhan hati, orang-orang punya keberanian untuk berbuat yang baik. Luar biasa lho kata Prakraman. Prakram atau prakraman ini adalah kata yang sangat-sangat penuh dengan arti. Kalau kita memahami itu selamatlah Bali. Boleh dihajar diapa pun juga, kita akan dengan teguh menghadapi segalanya dengan mengingat apa yang menjadi dharma kita.  Dan dalam tradisi Hindu prakram, keberanian itu nggak berdiri sendiri. Tidak ada orang menjadi berani terus berdiri sendiri terus dia menjadi hero.

Rahwana, dia adalah seorang prakrami, adalah orang yang berani tapi karena landaannya bukan dharma kita menolak Rahwana. Ada nggak satu pun anak yang dinamakan Rahwana. Dia seorang pandit yang luar biasa. Dia seorang pemuja Shiva. Tapi nggak ada anak kita yang nama Rahwana kan? Karena landasannya bukan dharma. Boleh berani kalau landasannya bukan dharma bukan prakraman. Bukan prakram.

Keberanian tanpa landasan dharma bukan keberanian. Jadi leluhur kita mencari istilah-istilah itu luar biasa penuh dengan makna. Kalau kita memahami makna itu kita bisa menjaga integritas Bali, nggak usah lagi kita menghadapi situasi di mana anak-anak kita yang tidak memahami dharma meloncat pagar keluar. Nggak akan meloncat pagar kalau dia memahami apa maksudnya dharma. Landasan dharma, di atas landasan dharmaitu seluruh bangunan masyarakat kita, desa prakraman, prakram dengan penuh keberanian dibangun. Ini juga maksudnya Krishna tadi bahwa Guati Pangeran tidak menentukan, mengadakan, menyebabkan pelaku, pun tidak menentukan laku para pelaku. Tidak pula Ia mengaitkan laku atau perbuatan dengan hasilnya. Sesungguhnya, semua itu terjadi secara alami, karena sifat alam kebendaan itu sendiri.

Kita menghadapi segala macam kondisi itu jangan melulu menyalahkan Tuhan. Jangan melulu sedikit-sedikit sakit, kalau sakit pergilah ke dokter. Sakit pergilah ke tabib. Jangan sedikit-sedikit wah ini karena ini karena itu, karena begini karena begitu. Kita menjadi bertakhayul. Tidak demikian para leluhur kita. Leluhur kita menciptakan ilmu science pengobatan yang paling utama, dan paling utama ayurveda. Ayurveda itu ilmu science untuk menua secara sehat. Bayangkan kalau kita menjadi tua masih sakit-sakitan, bagaimana kita bisa menua secara sehat, secara anggun itulah ilmu ayurveda. Dan jamu-jamuan kita semuanya dari ayurveda. Jadi kita punya tradisi yang luar biasa ini adalah ilmu kebendaan. Jangan sedikit-sedikit sakit perut kemudian karena ada energi negatif di rumah saya ada leak ada apa. Ada macam-macam. Nggak ada coba cari deh orang-orang yang suka leak mereka juga jatuh sakit.

Kemarin dapat berita ada orang luar biasa bisa leak bisa macam-macam lagi di Sanglah. Dia kirim message kepada saya jadi ini normal. Kita mengatakan ini normal orang sakit ya sakit.

Saya pernah ajak seorang teman, orang Bali tahun 95, 96 ke India ke Daramsala Pegunungan Himalaya. Masih belum tinggi banget. Tapi sudah 3000-an meter di atas permukaan laut. 2500-3000 m begitu. Lagi dingin, waktu itu tahun 95 itu masih tidak banyak hotel yang central heating. Jadi kita harus sewa. Kita dapat kamar kita harus sewa heater. Alat pemanasnya kecil-kecil. Seperti toaster. Jadi cukup untuk 1 orang. Nah di kamar itu berdua. Saya bilang Pak kita sewa dua. No, nggak chakra saya sudah terbuka saya mengajar kanuragan, nggak apa-apa saya. Saya bilang bener? Kita sewa nggak apa-apa. Paling bayar 100 rupee setiap hari. Nggak sampai Rp 20.000 waktu itu. Sekarang 20.000 rupiah. Cuma segitu. Dia bilang nggak, saya cukup kuat.

Bayangkan orang dari Bali yang di sini panas mau kanuragan, mau seperti apa pun juga nggak tahan dingin pasti. Di sana sudah kedinginan besoknyas udah sakit satu malam, kondisinya kanuragannya sudah nggak bekerja. Besoknya saya bilang Pak sekarang kita. Nggak ini karena ada betara apa ceritanya kok sampai jauh banget. Saya bilang nggak pak ini kita di pegunungan Himalaya bukan, betara dari Bali nggak ada di sini. Kita di sini butuh betara alat ini. Hari ketiga dia baru mau pakai karena dia  nggak tahan lagi. Malam ketiga baru mau pakai malam kelima kita sudah berangkat pulang. Selama perjalanan dia sakit. Pasti sakit.

Jangan sedikit-sedikit ke leak. Betara nggak punya kerjaan lain cuma marah. Betara banyak pekerjaan lain. Kalau pun Betara marah pada kita? Pernah terpikir nggak kalau nggak bikin upacara ini Betara akan marah. Bukan Betara di dalam tradisi Hindu yang suka marah-marah itu, cuma satu orang Resi Durvasa. Pernah dengar nama Durvasa? Dia suka marah-marah. Dan dia sudah lahir kembali dia juga harus lahir kembali karena marah-marahnya itu. Jadi sembahyang kepada Tuhan, kepada Sang Hyang Widhi dan hormatilah dewa-dewa ini, karena dewa-dewa ini mengurusi rumah tangga kita. Pepohonan, tumbuh-tumbuhan semuanya diurusi oleh dewa-dewa kitaharus menghormati semuanya. Dalam tradisi Hindu ada Kuldeva, setiap rumah itu ada dewanya. Dan semuanya ini adalah dewa-dewa yang baik-baik. Yang marah-marah nggak ada. Coba lihat dalam tradisi Hindu nggak ada dewa pemarah. Nggak ada, adakah dewa pemarah? Pemangku-pemangku harus tahu dong. Setahu saya nggak ada dewa pemarah kan? Dewi Lakshmi uang, Kubera uang, Chaisen uang, dewa-dewa yang ngurus uang banyak. Dewa kesehatan Dhanvantri banyak dewa sepertinya nggak ada dewa pemarah. Jadi Betara pemarah nggak ada. Betara semuanya baik-baik. Dan semuanya sedang melindungi kita semua. Kita menghormati mereka, kita menyayangi mereka, kita memberikan offering kepada mereka dan offering pun Krishna mengatakan offering-offering seperti ini baik jangan buang terlalu banyak uang, berikan offering kepada orang yang butuh. Layanilah Tuhan yang bersemayam dalam setiap orang. Seorang fakir miskin anak-anak yatim piatu.

 

“Hyang Maha Hadir tidak terpengaruh oleh perbuatan baik maupun buruk. Kesadaran, Pengetahuan Sejati tertutup oleh ketidaksadaran, ketidaktahuan, yang membingungkan  makhluk-makhluk hidup seantero alam.” Bhagavad Gita 5:15

https://bhagavadgita.or.id/

 

Hyang Maha Hadir hadir di mana-mana bukan karena dipanggil Tuhan, tidak.

Ketidaktahuan, gelapnya ketidaktahuan ini membuat kita tidak memiliki Pengetahuan Sejati. Ini yang membuat kita sengsara. Kenapa kita sengsara? Karena kita tidak memiliki Pengetahuan Sejati. Seperti tadi saya memberikan contoh. Orang tidak akan membodohi kita dengan mengatakan Betara lagi marah kalau kita tahu bahwa yang namanya Batara, Avatar itu nggak pernah marah. Nggak pernah marah dia akan mengoreksi kita dan kalau lagi mengoreksi kita, itu jangan dianggap marah.

Kalau kita keracunan makanan apa yang kita lakukan? Kita makan norit. Norit itu apa kalau keracunan makanan jangan makan diatablet. Kalau sedang mencret dihentikan mencretnya malah keracunannya bertambah. Anda bisa sakit beneran. Kalau lagi keracunan lagi mencret justru makan norit dibuatkan keluar semuanya. Jadi kalau ada sesuatu yang tidak benar dalam hidup Anda jangan cepat-cepat oh dewanya lagi marah, kasih obat diatab. Biar nggak marah-marah biar dihentikan, malah lebih sakit. Kalau dewa lagi marah berarti norit lagi bekerja paham kan? Norit lagi bekerja biarkan keluar. Kadang-kadang kita perlu sedikit penderitaan, perlu sedikit kesengsaraan untuk mengapresiasi kebahagiaan itu seperti apa. Dan supaya kita tidak mengundang kesengsaraan lagi.

Sekarang misalnya ada gunung meletus, ada bencana alam, begitu banyak hal yang sedang terjadi. Mari kita belajar ini tanda-tanda apa? Kenapa bisa terjadi seperti itu kita perbaiki diri. Kita perbaiki diri dengan mengadopsi dengan cara hidup yang benar. Kalau kita sakit-sakitan pertama-tama yang harus kita jaga itu adalah makanan. Hampir semua penyakit itu dimulai dari makanan yang tidak benar. Kalau kita bisa paham mulai memperhatikan makanan apa yang bisa membuat saya kacau, makanan apa yang membuat saya kebanyakan gas. Hal-hal yang kecil karena kalau tidak sadar tentang makanan kita tidak bisa sadar tentang hal-hal yang lebih tinggi.

Makanan ini adalah kesadaran paling awal. Kalau kita bisa sadar makanan apa yang baik makanan apa yang tidak baik, hal-hal lain akan lebih gampang. Jadi Krishna selalu mengingatkan bolak-balik ada hal-hal yang terjadi karena kebendaan itu. Penyakit sekali-kali kena flu, kena apa jangan cepat-cepat ada energi negatif. Tidak.

Kita harus mempraktekkan Bhagavad Gita ini dalam kehidupan sehari-hari. Dulu zaman itu Krishna memberikan kepada Arjuna yang sedang menghadapi perang. Sekarang kita menghadapi perang setiap hari. Dulu seumur hidup dapat perang yang lebih besar. Sekarang perang kita setiap hari menghadapi situasi kondisi menghadapi begitu banyak tantangan dalam hidup kita. Kita sedang menghadapi perang setiap hari Krishna mempersiapkan kita untuk menghadapi semua tantangan itu. Bukan melarikan diri. Jadi kalau selama ini kita diberitahu kalau baca Bhagavad Gita, baca Veda orang bisa gila karena dia sendiri mungkin malas baca. Belum baca. Jadi nggak ngerti maksudnya pada hal di mana-mana ada patung Krishna dan Arjuna lagi di atas kereta kuda. Bukan lagi sembahyang terus turun Bhagavad Gita. Nggak sedang  menghadapi tantangan hidup dan turun Bhagavad Gita. Terimakasih

Sumber: Video Youtube Bersama Anand Krishna Bhagavad Gita Sehari-Hari Ayat 05:11-16 Bebas dari Belenggu Indra dan Menjadi Raja bagi Diri Sendiri

 

https://www.akcjoglosemar.org/wp/

https://www.anandkrishna.org/

Wejangan Anand Krishna: Segala Kegiatan Arahkan Untuk Pembersihan dan Pemurnian Diri

“Para Yogi, pelaku Yoga yang berkarya tanpa pamrih dan keterikatan, menggunakan badan; gugusan pikiran serta perasaan atau mind; inteligensia; dan indra mereka untuk segala kegiatan yang menjurus pada pembersihan, penyucian, pemurnian diri.” Bhagavad Gita 5:11

https://bhagavadgita.or.id/

 

Ketika Krishna bicara tentang Yoga dalam Bhagavad Gita, maksudnya adalah Karma Yoga. Bagaimana mempraktekkan Yoga, dalam hidup sehari-hari. Jadi bukan cuma Yoga melakukan asana, kepala dibawah kaki di atas, itu adalah asana tapi pemahaman Krishna, kita melihat seluruh Bhagavad Gita ini, dia mengartikan Yoga sebagai suatu sikap dalam hidup kita. Dan sikap itu apa? Berkarya tanpa pamrih dan keterikatan, menggunakan badan pikiran perasaan inteligensia dan indra mereka untuk segala kegiatan yang menjurus pada pembersihan, penyucian pemurnian diri.

Apa pun yang kita lakukan, cari uang, untuk apa? Untuk memurnikan diri kita. Supaya kita punya penghasilan yang cukup. Kalau orang penghasilannya sudah cukup dan dia punya pemahaman yang benar dia tidak akan jadi korup, dia tidak akan melakukan hal yang tidak baik.

Kalau kita membaca buku tujuannya apa? Tujuannya adalah membersihkan diri kita dari ketidaktahuan, dari kebodohan. Maka tujuan itu akan tercapai dan baca bukunya berguna. Kalau nggak, baca buku pun nggak berguna. Kalau buku itu tidak membantu.

Banyak orang sekarang seharian gadget ya, coba perhatikan berapa jam kita pakai gadget dan pengetahuan yang kita peroleh apa? Kebanyakan kita pakai gadget itu untuk gossip. Ada orang lagi begini, ada bintang film lagi apa? Nggak ada urusan dengan kita. Tidak ada urusan dengan kita tapi kita seperti orang gila baca terus, mendengar terus. Diulangi terus berita yang sama. Nggak bosan-bosan kita. Nah ini tujuannya tidak tercapai. Tujuannya adalah pembersihan diri.

Oke dengar berita untuk membuat kita sadar. Ada kecelakaan yang terjadi supaya kita tidak mengulangi. Supaya kita tidak menderita seperti itu. Baca tentang penyakit tentu supaya kita tidak jatuh sakit. Jadi bukan hanya untuk sekedar membaca sekedar mendengar.

 

“Seorang Yogi yang berkarya tanpa pamrih meraih kedamaian sejati; sementara itu mereka yang berkarya dengan pamrih terbelenggu oleh perbuatan dan berbagai keinginannya sendiri.” Bhagavad Gita 5:12

https://bhagavadgita.or.id/

 

Kita bekerja, setiap pekerjaan, Krishna itu ingin meyakinkan kita apa pun kau lakukan kau pasti mendapatkan hasilnya. Nggak mungkin nggak dapat hasil. Pasti ada. Jadi konsentrasi, fokus. Fokus pada pekerjaan itu sendiri.

Kalau kita fokus pada hasilnya seperti apa, hasilnya seperti apa, seorang petani dia menanam setelah tanam apa yang dia lakukan? Sudah bertunas sedikit dia cabut dia lihat akarnya sudah besar nggak? Tapi itu yang kita lakukan. Baru kerja sebentar pikir hasilnya, pikir hasilnya. Jadi energi kita bercabang, energi kita tidak fokus pada perbuatan, pekerjaan. Energi kita bercabang, sedikit untuk bekerja, sedikit memikirkan hasil. Sehingga hasilnya malah nggak optimal. Kalau kita menggunakan seluruh energi pada pekerjaan, pasti hasilnya optimal. Nggak mungkin nggak optimal.

 

“Dengan memisahkan diri, dan secara mental melepaskan diri dari segala perbuatan jasmani, Jiwa yang bersemayam di dalam badan barulah meraja, menjadi penguasa diri, menikmati kekuasaannya atas Kota yang Bergerbang Sembilan ini (badan dengan 2 mata, 2 telinga, 2 lubang hidung, I mulut, I lubang anus, dan organ kelamin). Saat itu, Jiwa tidak melakukan sesuatu, dan tidak menyebabkan terjadinya sesuatu.” Bhagavad Gita 5:13

https://bhagavadgita.or.id/

 

Lewat 9 lobang ini kita mendapatkan informasi dan pengalaman dalam hidup kita. Lewat mata melihat, lewat hidung mencium, lewat mulut merasakan, alat kelamin, anus. Semuanya ini lewat lobang-lobang itu kita mendapatkan informasi dari luar, kita merasakan sesuatu.

Saat itu Jiwa tidak melakukan sesuatu dan tidak menyebabkan terjadinya sesuatu. Dengan memisahkan diri secara mental melepaskan diri dari segala perbuatan jasmani, Jiwa yang bersemayam di dalam badan, barulah meraja.

Krishna tidak mengatakan, jangan berhenti bekerja. Tidak. Banyak orang menyalahartikan ini seolah-olah Krishna mengatakan berhenti bekerja, oleh karenaitu banyak juga teman-teman kita di sini mereka berpesan kepada anak-anaknya jangan baca Bhagavad Gita nanti kamu jadi gila.

Bagaimana bisa jadi gila? Krishna mengajarkan Bhagavad Gita itu di medan perang Kurukshetra. Dan dia minta kepada Arjuna kau harus melawan musuh-musuhmu. Bukan menjad ipertapa. Bukan kemudian ganti baju terus menjadi seorang pendeta, bukan. Krishna justru mengingatkan Arjuna, kau harus berkarya, kau harus berkarma. Nggak ada seorang pun bisa berhenti bekerja. Cuma Krishna juga mengingatkan sekarang ini kita dikuasai oleh indra kita. Mata melihat sesuatu kita suka dengan apa yang kita lihat, perlu nggak perlu kita beli. Sering terjadi begitu.

Pergike supermarket, dulu saya punya kebiasaan punya list. Cara lama dan begitu masuk supermarket jangan lihat kanan-kiri. Begitu lihat kanan-kiri kita terbawa oleh indra kita. Bikin list ambil ini coret. Ambil coret, ambil coret. Kalau nggak biasanya kita nggak pakai list berapa banyak di sini kalau ke pasar atau ke mana kita pakai list. Bikin daftar mau beli apa. Coba biasakan diri. Dengan cara itu pengeluaran juga tidak boros, bikin list mau belanja mau ke mana bikin list. Butuhnya apa? Karena kalau nggak tanpa list kita lihat apa, jadi pengin beli walaupun tidak butuh. Itu yang Krishna katakan Kau belum menjadi raja dalam dirimu sendiri.

Jiwa yang ada dalam diri kita ini masih terkendali oleh indra. Indra mengatakan belilah itu, kita beli. Mata mengatakan beli ini, telinga mendengar sesuatu beli itu. Padahal kita nggak butuh. Berarti kita dikendalikan oleh indra kita. Kita dikendalikan oleh telinga oleh mata. Ya sering sekali terjadi, kalau lagi lapar pergi ke restoran dan lagi punya uang tergantung juga. Lagi punya uang ke restoran lagi lapar, itu bisa pesennya segerebek. Padahal nggak butuh makanan sebegitu banyak. Terus kita maksa makan sampai habis, karena sayang kalau ditinggalkan. Ini yang dikatakan oleh Krishna, Kau harus menjadi raja bagi dirimu sendiri. Bukan dikendalikan oleh indra tapi bisa mengendalikan dirimu.

Sumber: Video Youtube Bersama Anand Krishna Bhagavad Gita Sehari-Hari Ayat 05:11-16 Bebas dari Belenggu Indra dan Menjadi Raja bagi Diri Sendiri

 

https://www.akcjoglosemar.org/wp/

https://www.anandkrishna.org/

Wejangan Anand Krishna: Selalu Ingat Hyang Widhi, Selalu Mempersembahkan Yang Baik

“Ia yang tekun menjalani Yoga, berkarya tanpa pamrih, hendaknya memahami kebenaran-diri dan dalam keadaan apa pun – selagi melihat, mendengar, menyentuh atau mencium sesuatu; bahkan saat makan, berjalan, tidur dan bernapas – selalu mengingat, ‘Aku tidak berbuat sesuatu.’” Bhagavad Gita 5:8

https://bhagavadgita.or.id/

 

“Saat berbicara; (bahkan)saat membuang air, saat menggenggam sesuatu, saat membuka dan memejamkan mata – hendaknya seorang Yogi senantiasa mengingat dan meyakini bahwa semuanya adalah urusan indra dan objek-objek yang terkait dengannya.” Bhagavad Gita 5:9

https://bhagavadgita.or.id/

 

Indra, badan, mulut, perlu makan. Tapi kita harus lihat juga, makanan itu bukan sekedar untuk pencecapan, bukan untuk menyenangkan mulut saja, makanan juga harus menyehatkan kita, tidak makan sembarangan. Ini maksudnya Krishna. Indra-indra ini karena sudah kita kendalikan kita bisa tahu apa yang baik bagi kita. Selalu mengingat Tuhan, selalu mengingat Gusti, berarti apa pun yang saya makan, ini adalah persembahan kepada Sang Hyang Widhi, kepada Tuhan, kepada Gusti. Apakah kita akan memberikan persembahan yang kurang baik?

Beberapa waktu yang lalu, kita ada acara metatah di sini, ini ada orang besar, ada tamu besar, dia memberikan komentar yang luar biasa. Dia bilang wah ini sederhana tetapi, bantennya begitu fresh. Banyak orang sekarang cari banten, ada juga, saya baru tahu dari orang besar ini, banten nya pun nggak fresh karena kita cari yang murah. Lebihbagusfresh, sedikit tapi fresh. Dan saya mendengar cerita yang sangat membuat saya sangat-sangat sedih sebetulnya, banyak sekali buah-buahan apa ditaruh di Setra di mana, itu dipungut oleh orang-orang tertentu, dimasak dijual di pasar. Saya baru dengar ini dari seorang pejabat, yang mengetahui persis apa yang terjadi. Ini menunjukkan bahwa persembahan kita juga asal-asalan. Lebih baik sedikit kita persembahkan, tapi dengan sepenuh hati. Kita masak untuk anak kita, kita masak untuk keluarga kita, fresh kan? Tapi untuk persembahan kadang-kadang agak lama pun nggakapa-apa.

Saya dulu memberikan contoh, karena dalam tradisi di tempat lain, semua persembahan yang dipersembahkan di atas altar itu, terus dijadikan lungsuran, dimakan semuanya. Jadi nggak ada persembahan yang dibuang. Semuanya dimakan. Termasuk bunga. Ada persembahan bunga, itu dikeringkan dijadikan obat untuk sakit perut. Khususnya bunga mawar. Bunga mawar itu dikeringkan, ada caranya, tanya kepada teman-teman kita di Kuta. Mereka tahu. Ada caranya dikeringkan, dan dijadikan semacam jam, selai, itu enak sekali. Bisa dioles di atas roti. Atau dimakan satu sendok begitu saja. Kalau lagik eracunan atau kena sakit perut apag itu. Bagus sekali. Jadi tidak ada persembahan yang dibuang. Kebanyakan dimakan. Sekali waktu ada persembahan di Kuta, dan saya makan saya ambil, orang melihatsaya kenapa diambil. Saya makan basinya bukan main. Sudah bau tengik. Padahal baru beli dari pasar. Tapi yang jual juga tahu ini untuk persembahan ya udah. Kasih aja yang basi. Toh nggak ada yang akan makan. Jadi tidak ada barang yang tersisa. Ini tradisi lain, mungkin di sini saya cuma memberitahu saja tradisinya itu banyak. Silakan mengikuti tradisi yang Anda suka.

Tetapi intinya apa? melihatTuhan di mana-mana. Kalau mempersembahkan juga persembahkan suatu yang fresh. Persembahakan sesuatu yang masih segar.

 

“Seorang yang mempersembahkan segala perbuatannya kepada Brahman — Sang Jiwa Agung; dan bebas dari segala keterikatan — tidak lagi tersentuh oleh dosa-kekhilafan, sebagaimana daun bunga teratai tidak terbasahkan oleh air di kolam.” Bhagavad Gita 5:10

https://bhagavadgita.or.id/

 

Kita selalu menggunakan bunga teratai, bunga padma sebagai simbol. Dalam tradisi Hindu kita banyak sekali kita melihat simbol, di mana ada bunga teratai. Entah Dewi Lakshmi, Vishnu, kadang-kadang Dia di atas bunga teratai. Apa arti teratai. Teratai ini hidup dari lumpur. Mungkin saya juga sudah pernah jelaskan sebelumnya. Dunia ini penuh dengan lumpur. Kita mau seperti apa pun hidup di dunia ini, dunia penuh dengan lumpur. Nggak bisa kita lepas dari lumpur.

Tapi kenapa bunga teratai itu tidak kena lumpur. Kenapa bunga teratai itu tidak kotor. Walaupun di sekitarnya lumpur. Karena kalau kita lihat bunga teratai. Dia selalu menghadap matahari. Taruh di suatu tempat, di mana mataharinya di sini. Pot teratainya di sini, di atasnya ada semacam tutup begitu. Makabunga teratai ini akan miring sedikit, dan kemudian akan muncul lagi menghadap matahari, selalu bunga teratai itu begitu. Bunga teratai tidak pernah menghadap tanah. Selalu tumbuhnya menghadap matahari.

Begitu juga dengan kita. Kita hidup di tengah lumpur, usaha kita juga penuh lumpur, keluarga juga penuh lumpur, yang mahasiswa juga penuh lumpur, kita nggak bisa bersihkan lumpur di mana-mana.

Ada orang lagi sakit, seorang raja, lagi sakit mata, dan dia mendapatkan petunjuk, kamu pagi-pagi harus melihat yang hijau-hijau. Maka matamu akan baik. Karena dia seorang raja maka dia membuat perintah, semuanya harus mengikuti perintah itu. Semua rumah harus dicat hijau. Orang mau ketemu saya, bajunya harus hijau. Jadi satu negara itu menjadi hijau hijau hijau nggak ada warna lain. Semuanya jadi berwarna hijau.

Anda bisa membayangkan, jangankan satu negara, kalau satu banjar se Tegallalalang ini semua pakai hijau bagaimana? Nggak ada kehidupan. Atau semuanya pakai hitam putih, nggak ada warna-warni. Sekarang begini, indah kan, warna-warni. Coba kalau semuanya disuruh hijau. Nggak bisa kan? Maka datanglah seorang bijak dia bilang wahai raja, kamu kok begitu sinting, disuruh hijau-hijau ya kamu sendiri melihat dedaunan pohon, atau kalau kamu mau melihat hiju sepanjang hari pakailah kacamata dengan lensa berwarna hijau. Untuk apa mencat semuanya hijau. Pakailah kacamata dengan lensa berwarna hijau

Maksudnya apa? Perubahan dari dalam diri kita sendiri. Kita kalau tidak mau kena lumpur, kita harus selalu mengingat Tuhan. Harus selalu menghadap matahari. Matahari ini bukan matahari di luar. Matahari di dalam diri kita sendiri. Matahari kesadaran. Matahari cinta kasih. Sinar suci cinta kasih. Itulah matahari yang harus kita hadapi. Kalau kita menghadapi itu, melakukan semua hal dengan penuh kesadaran, penuh kasih, maka hidup di tengah lumpur pun, akan tetap cantik. Jadi semuanya tergantung pada diri kita sendiri, kita tidak bisa membersihkan lumpur karenalumpur itu memberikan kekuatan, memberikan energi kepada kita. Tapi kita bisa tetap bersih, tetap oke, tetap cantik, kalau kita selalu mengingat Sang Hyang Widhi, Tuhan, Gusti atau apa pun sebutan kita.

 

Sumber: Video Youtube Bersama Anand Krishna Bhagavad Gita Sehari-Hari Ayat 05:05-10 Dharma Manusia, Melihat Tuhan di Mana Mana

https://www.youtube.com/watch?v=pPFm550CuxU

https://www.akcjoglosemar.org/wp/

https://www.anandkrishna.org/

Wejangan Anand Krishna: Menghormati Sapi dan Kupu-Kupu, Mengapa?

“Apa yang dicapai oleh pengikut Samkhya dengan memahami sifat kebendaan dan bertindak sesuai dengan pemahaman itu; dicapai pula oleh pengikut Karma Yoga – berkarya tanpa pamrih. Sesungguhnya Samkhya dan KarmaYoga adalah satu dan sama. Barang siapa melihat kesatuan tersebut, sudah betul penglihatannya.”Bhagavad Gita 5:5

https://bhagavadgita.or.id/

 

“Samkhya atau pelepasan diri pun sulit dicapai tanpa Yoga, wahai Mahabaho (Arjuna Berlengan Perkasa). Sebaliknya, seorang bijak yang melakoni (Karma) Yoga, berkarya tanpa pamrih dengan penuh keyakinan, dengan mudah mencapai Brahman, Sang Jiwa Agung.” Bhagavad Gita 5:6

https://bhagavadgita.or.id/

Samkhya berarti kita memahami dunia ini tidak ada manfaatnya, tiada gunanya, meninggalkan dunia benda, rumah tangga masuk ke hutan, menjadi seorang petapa. Itu banyak dilakukan oleh mereka yang mengikuti jalur Samkhya. Mereka juga mencapai moksha. Krishna mengatakan, tetapi orang yang tetap berumah tangga seperti kita semua di sini, tetap berkarya tanpa pamrih, mereka juga mencapai hasil yang sama.

Jadi jangan pikir kalau sudah meninggalkan rumah masuk hutan hasilnya lebih baik, lebih tinggi, tidak. Sama hasilnya. Mau jadi seorang petapa, mau berkarma dalam rumah tangga di tengah masyarakat, tanpa pamrih, tanpa memikirkan diri sendiri saja, hasilnya sama. Dan tidak ada perbedaan.

 

“Ia yang sepenuhnya berada dalam kesadaran Yoga,berkarya tanpa pamrih; tersucikan sudah dari identitas fisik yang palsu; ke-‘aku’-an serta indranya tertaklukkan – melihat ‘diri’ sejatinya dalam setiap diri, melihat Jiwa yang sama menghidupi setiap makhluk; ia tidak lagi tercemar oleh perbuatan, oleh pekerjaan apa pun yang dilakukannya.”Bhagavad Gita 5:7

https://bhagavadgita.or.id/

 

Dalam tradisi Hindu, dipraktekkan di banyak negara, saya nggak tahu kalau di Bali dipraktekkan juga. Ketika seseorang meninggal dunia maka selama beberapa hari, rumah yang sedang berduka itu, harus memberikan makanan kepada binatang, fakir-miskin setiap hari. Kadang-kadang ada tradisi satu hari, sebelas hari, dan itu nggak pakai mengundang pedanda atau apa. Ibu-ibu dirumah masak sendiri. Dan pagi-pagi sebelum mulai makan, cari binatang.

Dan ada 3 binatang yang penting, pertama adalah anjing. Karena anjing di zaman dulu, tinggalnya di mana? Anjing kebanyakan tinggalnya di Setra, anjing bukan menjadi binatang piaraan. Karena banyak sekali di sana, ketika badan diperabukan, tradisi India dan Nepal, perabuan badan itu di atas tumpukan kayu. Dan kadang-kadang ada bagiantubuh yang jatuh dimakan oleh anjing. Jadi anjing itu dianggap membersihkan Setra. Setra yang kadang-kadang kotor, oleh daging atau apa dibersihkan oleh anjing. Jadi kita mengucapkan terima kasih kepada anjing karena dengan cara memberikan makanan kepada anjing.

Kemudian memberikan makanan kepada burung gagak, karena burung gagak, juga begitu. Burung gagak juga makan bangkai-bangkai tersebut. Sisa dia makan. Dan bangkai-bangkai tersisa ini ketika dimakan berarti dia membersihkan lingkungan. Coba cara berpikirnya, kita nggak usah ikuti karena itu tradisi di tempat lain, tapi cara berpikirnya. Bahwa binatang-binatang yang membersihkan, setra membersihkan sansanga tempat di mana badan jasad diperabukan, itu juga kita harus berterimakasih.

Dan ketiga adalah sapi. Kenapa sapi? Karena ada keyakinan, kita semua sudah melewati perjalanan yang panjang. Evolusi panjang jadi binatang jadi apa, tetapi sebelum pertama kali jadi manusia, kita ini sudah berulangkali menjadi manusia. Nggak naik kelas melulu. Belum jadi dewa kita. Tetapi sebelum pertama kali menjadi manusia kita menjadi sapi. Ketika berada dalam tubuh sapi ini, soul ini, Jiwa ini dia mengalami penyucian diri, kenapa? Sapi itutidak berbuat banyak hal, duduk di suatu tempat, berdiri makan dan makanannya vegetarian, binatang-binatang yang kita sembelih kita makan itu semuanya vegetarian. Keculi anjing. Ada yang makan nggak kucing, nggak juga kan?

Dia makan domba makan kambing, makan sapi, dalam Hindu tidak diperkenankan makan sapi kenapa? Karena itu.sebelum kita menjadi manusia terakhir kali kita menjadi sapi. Dan sapi ini selama hidupnya selama10 tahun, 12 tahun, dia tidak berbuat banyak, dia membantu di sawah dulu, menyangkul dan makan. Tidak banyak karma yang dialakukan. Jadi selama hidup sebagai sapi, kita menjalani pembersihan diri. Oleh karena itu sapi dilarang untuk disembelih sebelum waktunya dia harus meninggal, sesuai dengan waktunya.

Tergantung pada karma kita. Kita butuh 11 tahun, 10 tahun, 12 tahun. Sesuai dengan pembersihan yang harus kita jalani. Kita menjadi sapi. Oleh karena itu sapi ini usianya tidak boleh dipotong. Dia harus selesaikan sehingga setelah itu menjadi manusia, manusia sudah tidak memiliki sifat-sifat kehewanian, kebinatangan. Sekarang karena banyak sapi dimakan, disembelih, kita jadi manusia masih ada sifat kehewanian.

Beberapa waktu yang lalu, adayang mengatakan, ya kalian tidakmakan sapi, tapi makan bebek bengil. Tidak, kita juga tidak makan bebek bengil. Kita juga tidak makan seafood. Kita juga tidak makan kodok, tidak makan ikan. Semua hewan memiliki kodratnya, dia harus menjalani hidupnya, untuk membersihkan  mindnya, pikirannya sebelum menjadi manusia. Sehingga kita harus memberikan waktu yang secukupnya kepada mereka semua di salahs atu klip di youtube kalau ada waktu buka, saya bicara tentang kupu-kupu.

Penting sekali, kupu-kupu itu waktu hidupnya hanya beberapa jam, dia nggak bisa hidup lama, dan tidak boleh kupu-kupuitu ditangkap, kemudian dikeringkan, di-frame,di bingkai, jangan. Karena kupu-kupu ini adalah soul yang sedang melewati transisi. Jadi kadang-kadang kupu-kupu ini adalah setelah kita mati, terpikir wah saya belum mengucapkan selamat tinggal kepada salah seorang anggota keluarga. Maka dia memasuki ulat yang sedang menjadi kupu-kupu ini, caterpillar dia masuk, untuk menyapa anggota keluarga atau siapa yang dia mau sapa. Kupu-kupu harus diberikan waktu yang cukup untuk hidup. Jangan ditangkap kemudian di-apa. Kita punya kebiasaan waktu kecil kan, berapa banyak yang punya kebiasaan seperti itu, tapi setelah saya tahu, saya dari awal mengatakan kupu-kupu ini jangan ditangkap dikeringkan dibingkai jangan.

 

“Ia yang sepenuhnya berada dalam kesadaran Yoga,berkarya tanpa pamrih; tersucikan sudah dari identitas fisik yang palsu; ke-‘aku’-an serta indranya tertaklukkan – melihat ‘diri’ sejatinya dalam setiap diri, melihat Jiwa yang sama menghidupi setiap makhluk; ia tidak lagi tercemar oleh perbuatan, oleh pekerjaan apa pun yang dilakukannya.”Bhagavad Gita 5:7

https://bhagavadgita.or.id/

 

Melihat diri sejatinya dalam setiap diri dalam setiap makhluk. Selama kita belum bisa melihat Jiwa, atma dalam tingkat rendah tapi dia berhasil, ini menunjukkan apa bukan karena aku, ada yang menentukan semuanya. Ada hubungan karma dari masa lalu, ada begitu banyak hal, tapi jangan lupa satu hal, dari binatang menjadi manusia, itu bukan semata-mata karena evolusi, ada anugerah dari Tuhan, dari Gusti dari Keberadaan. Dari Sang Hyang Widhi. Tanpa anugerah, tidak ada satu pun binatang yang menjadi manusia.

Jadi kita semua yang sekarang sebagai manusia ini entah pernah berbuat suatu apa, di masa lalu kita sebagai binatang. Berbuat karma yang begitu bagusnya, sehingga kita mendapatkan anugerah menjadi manusia. Dalam Sanskrit, ada suatu pepatah, sungguh sangat sulit mendapatkan kelahiran sebagai manusia, dan kalau sudahlahir sebagai manusia, sungguh sangat sulit mendapatkan kelahiran di suatu rumah, yang menunjang evolusikita.

Saya mendengar beberapa waktu yang lalu, seorang anak mahasiswa, dia mengatakan kepada saya, orag tuanya tidak senang kalau saya meditasi. Coba lihat, ada juga orang tua seperti itu. Jadi sungguh sulit jadi manusia, sungguh sulit lagi dapat orang tua yang mendukung kita untuk mendalami meditasi, mendalami yoga. Ada anak megeluh pada saya saya begitu baru membuka bhagavad gita, bapak saya marahin saya. Kamu masih muda sudah baca ginian mau jadi gila. Ini berarti tidak beruntung. Sudah lahir sebagai manusia, tapi tidak ada keberuntungan kedua.

Keberuntungan ketiga adalah mendapatkan sahabat, mendapatkan guru, mendapatkan lingkungan diluar yang bisa menunjang kita. Kita semua sangat-sangat beruntung. Kita nggak usah pergi jauh-jauh, ini ada teman kita dari Tabanan ke sini. Ada orang dari Singaraja ke sini. Kita ada dari Kuta ke sini. Kita sangat beruntung bahwa kita berada di sini, di Junjungan,Tegallantang, Tegalalang, dekat-dekat sini, dan kita bisa kumpul seperti ini, satsang. Perkumpulan yang baik, persahabatan yangbaik, ini keberuntungan ketiga.

Jadi ada 3 keberuntungan,

  1. Kelahiran sebagai manusia.
  2. Mendapatkan orang tua yang menunjang.
  3. Mendapatkan perkumpulan, persahabatan, sangha yang menunjang.

Kalau sudah mendapatkan ketiga-tiganya, pepatah dalam bahasa Sanskerta mengatakan kau adalah orang yang sangat bahagia. Tinggal bagaimana kita menerapkan memanfaatkan semuanya itu.

 

Sumber: Video Youtube Bersama Anand Krishna Bhagavad Gita Sehari-Hari Ayat 05:05-10 Dharma Manusia, Melihat Tuhan di Mana Mana

https://www.youtube.com/watch?v=pPFm550CuxU

https://www.akcjoglosemar.org/wp/

https://www.anandkrishna.org/