Wejangan Anand Krishna: Sadarlah Sekarang! Jangan Sadar Setelah Babak Belur

“Samkhya atau memahami sifat alam benda dan bertindak sesuai dengan pemahaman tersebut; dan Karma Yoga atau berkarya tanpa pamrih, adalah dua hal yang beda – hanyalah mereka yang kekanak-kanakan berkata demikian. Para bijak tidak berpendapat seperti itu. Sesungguhnya dengan mengikuti salah satu di antaranya, seseorang mendapatkan hasil dari dua-duanya.” Bhagavad Gita 5:4

https://bhagavadgita.or.id/

 

Di sini kita membawa hal ini ke tataran yang rendah biar kita paham. Samkhya itu apa? Samkhya itu science, ilmu memahami kebendaan. Karma yoga bekerja dengan pandangan spiritual. Samkhya adalah mengejar ilmu. Kita selalu mengatakan ada ilmu, sciene, dan ada spiritualitas. Seolah-olah dua hal yang berbeda. Krishna mengatakan tidak demikian. Orang yang mengejar ilmu, ilmu kebendaan, bahkan mengejar kebendaan, orang yang mati-matian mengejar kebendaan. Mencari uang mati-matian, kerja keras mati-matian, ujung-ujungnya Krishna mengatakan dia pun akan tersadarkan. Tercerahkan,

Dan kau yang berkarya tanpa pamrih. Kau yang berkarya dengan penuh perhatian, dengan spiritual outlook, dengan pandangan spiritual kau juga akan mencapai hasil yang sama.

Tapi ada bedanya. Orang yang mengejar benda, mengejar kebendaan, mengejar harta kekayaan, terus-menerus. Dia juga ujung-ujungnya akan sadar, kok semuanya ini tidak bisa membawakan kebahagiaan.

Bagi saya. Coba Anda lihat sendiri. Berapa banyak orang-orang asing yang datang ke Bali setiap tahun. Dan orang-orang ini, khususnya yang datang ke Ubud, mereka sedang mencari kedamaian. Kalau cuma mau jalan-jalan tinggal ke Kuta ke Sanur, atau datang ke Ubud pagi-pagi datang sore pulang, banyak kan begitu. Lihat Puri lihat apa di Ubud, pulang dia. Tapi orang-orang asing yang tinggal di Ubud, mereka sedang mencari sesuatu. Mereka sedang mencari kedamaian. Belajar yoga belajar meditasi.

Kenapa mereka meninggalkan pekerjaan, buang uang, menghabiskan uang ribuan dollar. Tiket saja sudah berapa, datang ke sini. Coba, kita belajar dari mereka. Berarti mereka tidak mendapatkan kebahagiaan dari yang materi, apa yang mereka miliki di sana. Coba kita belajar dari mereka. Dan kita mengharapkan anak-anak kita, kalau bisa kerja di Eropa, di Amerika.

Saya tadi dikirimi satu clip yang membuat saya sangat sedih. Barangkali terjadi di sini juga. Tapi ini terjadi di India, di New Delhi, di ibukota India, kira-kira 20-25 km dari pusat kota. Kalau dari sini di Ketewel atau bypass 20-an km. Nggak begitu jauh juga dari ibukota. Jadi di pinggiran kota.

New Delhi itu kotanya besar sekali. Penduduknya bisa 18 juta lebih. Kota yang begitu besar jadi pinggiran kota itu sebetulnya sudah lengket dengan kota sebenarnya. Di sana ada suatu wredha ashram, panti jompo. Di mana orang-orang tua dilayani. Ratusan yang tinggal di sana, dan hampir 95% dari orang-orang jompo ini yang usianya dari 50-an, 60-an sampai 90 tahun. Orang-orang jompo  ini khususnya menderita demensia dan alzheimer. Nah orang yang menderita dementia dan alzheimner, sampai suatu tingkat, dia itu nggak bisa tahu dia mau buang air kecil, buang air besar, dia sudah makan atau belum makan dia nggak bisa tahu. Dia bisa lupa. Dia nggak tahu makan apa. Kalau sudah dibawai makan juga nggak tahu.

Orang-orang tua ini ternyata ketika dibuat clip berasal dari keluarga yang kaya. Ada yang anaknya bekerja di London. Di Amerika. Kerja di luar negeri, berarti apa? Disekolahkan oleh orangtua, entah orang tuanya mampu, atau tidak mampu tapi pinjam uang atau jual perhiasan, untuk menyekolahkan anaknya ke luar negeri.

Anak sudah mapan disana, dia lupa orang tua. Dan banyak anak-anak datang dari sana, all the way, karena keluarganya, mengatakan ibumu bapakmu sudah nggak bisa apa-apa, dia buang air besar di celan. Bagaimana? Dia datang, dia jual rumah orang tua, orang tua dia bawa ke New Delhi dari kampungnya, dia lepaskan begitu saja, dipinggir jalan. Dan dia pulang ke luar negerinya. Kemudian orang tuanya dipungut oleh ashram dilayani.

Ada yang masih hidup sampai 20-an tahun, ada yang masuk baru berapa hari sudah meninggal. Tapi kebanyakan ada ratusan orang 200 lebih orang dilayani. Orang-orang ini seperti patung saja. Dijejerkan satu ruangan bisa 50-60 bed seperti bangsal begitu. Coba bayangkan kondisi seperti ini yang terjadi. Kita terikat dengan anak, anak merasa tidak mampu terbebani oleh orang tua, dia lepaskan orang tua seperti begitu saja.

Karena Yoga atau berkarya tanpa pamrih, adalah dua hal yang beda, hanyalah mereka yang kekanak-kanakan yang berkata demikian, para bijak tidak berpendapat seperti itu karena ujung-ujungnya sama.

Kenapa saya cerita ini? Ini ada orang tua yang dimensianya justru agak mulai membaik setelah dipungut oleh ashram. Mulai membaik dan sekarang pekerjaan orang ini yang dalam bahasa Hindi sehingga kalian tidak bisa paham. Tadinya saya mau kasih lihat, documentary yang panjang 30-an menit.

Orang ini lagi baca Bhagavad Gita sepanjang hari. Dan ketika ditanya sama orang yang membuat dokumenter, kamu baca Bhagavad Gita dari dulu begitu.

Tidak sayang, dulu saya pikir saya bisabahagia dengan uang yang saya miliki. (Sekarang dia sudah mulai membaik, dia sudah mulai bicara). Terus sekarang dalam kondisi begini, saya baru sadar, saya menyia-nyiakan hidup saya. Sekarang saya baru baca ini.

Terus ditanya, sekarang kamu ingat anakmu di mana? Dia bilang saya nggak ingat tapi dia jauh sekali, ngomongnya masih kacau begitu. Tapi si ashram ini sudah cari tahu si anak ini ada di London, di Inggris.

Terus kamu mau kembali ke anakmu? Tidak, dia bilang saya mau sembuh sekarang. Saya mau layani orang-orang sakit di sini. Coba, orang ngejar kebendaan akhirnya dia sadar, tapi dalam kondisi apa?

Kita semua juga begitu, kalau kita mengutamakan harta, cuma kumpulkan harta, saya tidak mengatakan jangan cari uang lho. Cari uang, gunakan manfaatkan dengan baik. Lakukan sesuatu atas nama orang tua, manusia yajna, pitra yajna. Pitra yajna setiap kali  mengenang orang tua yang sudah meninggal. Bukan cuma leluhur di atas sekali, leluhur barangkali sudah lahir kembali. Orang tua yang baru meninggal, mungkin Atmanya belum mendapatkan badan baru. Mengenang mereka lakukan sesuatu kebaikan, membantu seseorang, lakukan sesuatu.

Saya berandai-andai di setiap kabupaten, ini harus ada center-center yang bukan hanya center seperti ini, kita meditasi atau apa tapi dimana kita bisa memberikan pelayanan barangkali diTabanan sekarang di Singaraja tanggal 10 nanti, 10 Februari ya, akan kita buka center. Kecil tanahnya cuma satu setengah are dan masih ada satusetengah are lagi. Nah saya bilang di satu setengah are itu kita harus bikin klinik dan sekolah untuk anak PAUD, anak-anak kecil. Kenapa saya bilang begitu. Saya cari tahu dari dokter Sudi di sini, dari Singaraja, banyak sekali orang-orang tua di sana yang sakit rematik, tulang-tulangnya ngilu dan sebagainya mereka sebetulnya tidak butuh obat, mereka butuh fisioterapi, dikasih sinar sedikit. Coba Anda bayangkan biaya fisioterapi di Singarajaitu cuma 70.000 rupiah. Saya kalau nggak salah di Denpasar dulu 200.000-an. Di Jakarta ada yang sampai 400.000, 300.000.

Coba bayangkan ada saudara-saudara kita di sana yang membayar 75.000 pun nggak mampu. Makanya aya bilang kepada teman-teman di Singaraja, tidak cukup membuatcenter hanya untuk meditasi dan yoga saja, atau seminggu sekali kita berikan free healing. Tidak cukup. Coba kita bikin center untuk fisioterapi. Dengan ketentuan yang bisa bayar silakan. Yang tidak bisa bayar silakan tidak bayar, tidak dipungut satu sen pun. Sehingga kita bisa melayani mereka. Di sini pun saya menghendaki sekali, kalau bisa kerjasama dengan pihak banjar atau apa, buka PAUD untuk anak kecil. Karena waktu usia kecil ini 4 tahun, 5 tahun kita kalau bisa membentuk landasannya berdasarkan dharma, mereka menjadi besar, landasan itu tetap ada.

Jadi kita mengejar uang uang uang seperti perempuan dalam cerita tadi, kisah nyata tadi. Dan ini baru disiarkan beberapa hariyang lalu, masih hidup orangnya. Sudah mengejar ngejar ngejar akhirnya dia sadar juga.

Atau kalau kita mau aman, tidak perlu susah baru sadar, dari sekarang kita sadar. Dari sekarang, coba sisakan uang sedikit, dari belanja dari apa untuk melayani sesama yang kurang mampu. Saya sudah minta kepada Jro Gede kita, dan sudah mulai iklankan mulai promosikan, sudah beliau cari devas nya bahasa sanskritnya, devas yang baik tanggal 7 April, hari Minggu. Metatah berikutnya 7 April hari Minggu. Jadi kalau ada saudara, ada anak, mau metatah disini, silakan cari Jro Gede daftarkan.

Kalau punya uang tolong bayar, kalau tidak punya atau ada keluarga, ada oarng dekat rumah di kampung yang kira-kira tidak mampu ajak, bisikin kepada Pak Wisma. Bahwa ini tidak mampu, kita tidak akan memungut satu sen pun. Yang mampu silakan, bisa mau bayar lebih silakan, sehingga kita bisa melayani, ini cuma sebagai perantara. Kita tidak mencari uang, jro Gede juga tidak mencari uang, pemangku lain juga tidak mencari uang. Beliau akan mencari bantennya yang sangat sederhana. Semuanya disiapkan, jadi nggak usah bawa apa-apa. Cuma bawa anak saja. Nah hal-hal seperti ini coba pikirkan bagaimana kita bisa melayani. Itu yang dimaksudkan oleh Krishna sebagai sanyas, melayani tanpa mengharapkan imbalan apa=apa. Terima kasih

Sumber: Video Youtube Bersama Anand Krishna Bhagavad Gita Sehari-Hari Ayat 05:01-04 Belajar Bersyukur dengan Berbagi Berkah

https://www.youtube.com/watch?v=BQdzSf5JabA

https://www.akcjoglosemar.org/wp/

https://www.anandkrishna.org/