Wejangan Anand Krishna: Karma Yoga, Berkarya Tanpa Pamrih Bukan Untuk Kepentingan Pribadi

Percakapan ke 5 Sanyas Yoga. Sanyas berarti membebaskan diri dari keterikatan. Banyak orang mengartikan Sanyas berarti keluar dari rumah masuk ke hutan. Iya, ada juga para Sanyas seperti itu. Tapi Krishna memiliki definisi yang berbeda dari Sanyas. Kita mendengar

 

Arjuna bertanya:

“Krishna, di satu pihak, Engkau mengagungkan pelepasan atau ketidakterikatan pada Karma, perbuatan. Di pihak lain, Engkau memuji Yoga – bertindak tanpa pamrih. Sesungguhnya, mana di antaranya secara pasti lebih unggul?” Bhagavad Gita 5:1

https://bhagavadgita.or.id/

 

Di satu pihak Krishna, Engkau harus bebas dari keterikatan, di pihak lain Engkau berkata harus berkarya, harus bekerja. Apakah bekerja itu sudah tidak punya keterikatan lagi? Padahal Krishna sudah menjelaskan Arjuna masih bimbang.

 

Sri Bhagavan (KrsnaYang Maha Berkah) bersabda:

“Samnyas atau Pelepasan Diri dari segala keterikatan, dan Karma Yoga atau meraih kesempurnaan dengan berkarya tanpa pamrih – dua-duanya dapat menghasilkan kebahagiaan sejati. Namun, di antaranya, adalah Karma Yoga yang lebih unggul.” Bhagavad Gita 5:2

https://bhagavadgita.or.id/

 

Bebas dari segala keterikatan, ada orang mau pilih masuk hutan, oke kalau memang pilihan dia. Tapi Krishna mengatakan, yang lebih unggul adalah tetap bekerja, tetap berkeluarga, tetap berada di tengah masyarakat, tetapi melakukan semua pekerjaan tanpa keterikatan. Seperti tadi sudah dijelaskan oleh Krishna. Kau berada di medan perang, kamu harus melawan musuh-musuhmu tanpa keterikatan, tanpa benci. Lawan! Karena itulah peranmu saat ini. Melayani keluarga layani tapi tanpa keterikatan. Krishna mengatakan, hidup seperti itu lebih unggul.

Itu yang disebut Karma Yoga.

 

“Sesungguhnya, ia (seorang KarmaYogi yang berkarya tanpa pamrih) adalah seorang Samnyasi Sejati seorang Samnyasi dalam setiap tindakannya. Ia tidak membenci, tidak pula mendambakan sesuatu. Mahabaho (Arjuna Berlengan Perkasa); ia pun bebas dari segala pertentangan, konflik yang disebabkan oleh dualitas. Demikian, dengan sangat mudah ia lepas dari segala keterikatan.” Bhagavad Gita 5:3

https://bhagavadgita.or.id/

 

Pernah mendengar suatu cerita:

Menarik sekali. Seorang raja, dia dizalimi oleh raja lain. Dizalimi oleh seseorang, dan sepanjang beberapa tahun, mereka selalu bertentangan, bertengkar. Pada suatu ketika raja ini raja yang baik, dia berhasil menciduk raja yang tidak baik. Ini dari kepercayaan lain tapi menarik sekali. Dia berhasil menciduk raja dari negara lain, kubu lain.

Ketika dia mau mengambil pedangnya mau bunuh orang yang sudah dia taklukkan, maka orang yang sedang tergeletak di medan perang itu, dia meludahi raja itu.  Raja yang sudah mau membunuh, dia berhasil sudah menangkap musuhnya, diludahi. Maka dia cepat-cepat menyarungkan kembali pedangnya. Dia kembalikan pedangnya, ke sarung. Raja yang tertaklukkan ini, si musuh ini yang sudah melihat maut di depan matanya, tiba-tiba heran juga. Saya sudah mau dibunuh, dan saya pikir sudah mau mati ya sekalian saya ludahin wajahnya. Kenapa dia sekarang tiba-tiba tidak jadi bunuh saya? Maka dia tanya kenapa kau tidak membunuh saya? Sudah sekian tahun kau ingin membunuh saya, sekarang saya tertangkap, saya meludahi kamu, kamu pasti marah, semestinya langsung dibunuh kok nggak dibunuh?

Dia bilang, saya tidak bunuh kamu karena, jika saya membunuh kamu sekarang, saya akan membunuh kamu karena amarah saya. Karena saya sedang marah pada dirimu. Kamu meludahi saya. Saya lagi marah saya bunuh kamu. Padahal tujuan saya menaklukkan kamu bukan itu,bukan karena amarah. Karena kau melakukan kezaliman, kau berbuat hal-hal yang tidak baik, kau menyengarakan banya korang, tujuan saya membunuh kamu adalah karena itu. Tetapi sekarang kalau saya bunuh saya terdorong oleh amarah saya. Jadilah pergi kamusekarang. Bebas kamu. Sampai musuh ini juga,menurut cerita dia akhirnya sadar, mereka bersahabat.

Ini juga Krishna mengatakan, kita melakukan banyak hal, yang sebetulnya betul banyak hal, tapi kita melakukan dengan penuh kebencian. Jangan dengan penuh kebencian. Berarti apa? Jangan melakukan sesuatu karena personal thing.

Saya sekarang lagi mengikuti satu pemberitaan, di negara lain. Ada orang yang baik sekali jadi pemimpin. Dia baik bagi negaranya, baik bagi rakyatnya. Dia menjadi pemimpin juga baik-baik. Tetapi sekarang, orang ini begitu gencar-gencarnya yang dia bicarakan cuma propaganda anti orang-orang yang berlawanan dengan dia yang berada di kubu sebelah. Oke kalau kamu melawan, lawanlah.

Di sini juga kan, kita ada pemilu ada macam-macam, mau ikut pemilu. Negara lain juga begitu. Mau ikut pemilu, oke fine, tapi jangan menjelek-jelekkan, untuk apa? Membuka-buka aib orang? Atau mengeluarkan gossip. Menyebarkan kebencian. Lawan, ya lawan aja. Di medan politik, sah kok.

Setiap orang bisa mencalonkan diri. Kamu mencalonkan diri. Lawanmu juga boleh mencalonkan diri. Tapi jangan penuh dengan kebencian, melawan dia dengan terus menerus. Sampai-sampai banyak orang yang dulu berpihak pada si pemimpin, yang sebetulnya orang baik. Tapi sekarang melihat gelagatnya, yang terucap oleh dia cuma kebencian, maka banyak orang meninggalkan dia. Malah simpati terhadap lawannya. Secara fair, kita boleh bertanding, kita boleh berkompetisi, tapi jangan karena kebencian, jangan karena suka tidak suka.

Sumber: Video Youtube Bersama Anand Krishna Bhagavad Gita Sehari-Hari Ayat 05:01-04 Belajar Bersyukur dengan Berbagi Berkah

https://www.youtube.com/watch?v=BQdzSf5JabA

https://www.akcjoglosemar.org/wp/

https://www.anandkrishna.org/

Advertisements