Wejangan Anand Krishna: Menghormati Wujud Gusti yang Bersemayam dalam Diri

“Wahai Dhananjaya (Arjuna, Penakluk Kebendaan), (ketahuilah) tiada karma, tiada perbuatan yang dapat membelenggu seseorang yang senantiasa berkarya dalam yoga, tanpa pamrih, dan dengan semangat melayani; keraguannya teratasi sudah oleh Pengetahuan Sejati; dan dirinya terkendali.” Bhagavad Gita 4:41

https://bhagavadgita.or.id/

 

Penjelasan lanjutan:

Sebetulnya, awal mula dari penyakit, itu dari mana? Dari makanan, asupan. Dan makanan bukan yang cuma lewat mulut. Lewat kuping, lewat mata. Kita mendengar gossip melulu kita mencari persoalan. Ada orang sedang menjelek-jelekkan kita, kita tidak mendengar, tidak ada yang memberitahu, oke-oke kan? Tapi begitu diberitahu, si anu lagi bicarain kamu, langsung kita……..jadi apa yang kita terima lewat pancaindra kita, lewat mata melihat sesuatu yang tidak beres. Mendengar sesuatu, memakan sesuatu tapi kesehatan fisik sangat terganggu. Pikiran juga makanan memperparah situasi………..

 

Saya pernah cerita dulu, paman saya seorang dokter. Kalau orang lagi sakit pertama-tama disuruh puasa,  minum air banyak, dikasih obat supaya dia bisa buang air besar, leksitif ya, maka toksin-toksin racun-racun dalam tubuh kita akan keluar, dan kita bisa sehat kembali. Di situ persoalannya.

Di dalam tubuh kita, di dalam pikiran kita otak kita, banyak racun. Harus dikeluarkan. Kita punya tradisi setahun sekali Nyepi. Setahun sekali Nyepi itu cuma memperingatkan kita, bahwa dari waktu ke waktu, kita harus bisa menyepi sendiri. Entah seminggu sekali, di dalam tradisi kita, ada upacara, ritual, ada bulan purnama dan tilem. Awal mulanya purnama, tilem itu semestinya kita berpuasa. Berpuasa dari pagi sampai sore. Sore begitu matahari sebelum terbenam, mau sedang terbenam, makan. Kira-kira jam 6sore. Dan cuma makan sekali. Nggak makan terus sampai malamnya. Oh setelah buka puasa kita makan terus sampai jam 12 malam. Tidak. Jam 6 makan, dari pagi bangun tidur sudah tidak puasa. Jadi malamnya misalnya besok purnama, hari ini terakhir makan malam jam berapa, besok bangun tidur cuma minum air. Kalau tidak kuat, bisa minum juice atau susu, tapi jangan makan sayur-sayuran, jangan makan nasi, jangan makan terigu. Coba kita lihat, dengan cara begitu, dari waktu ke waktu, sebulan dua kali, purnama tilem, kita akan mengistirahatkan badan kita. Kita akan mengistirahatkan pikiran kita.

Dalam tradisiHindu, bulan purnama, dikaitkan dengan Sathya Narayana. Narayana tahu siapa? Vishnu ya. Vishnu disebut Narayana, pratima nya disana. Nah Vishnu ini, salah satu namanya disebut Sathya Narayana. Sathya berarti satya, kebenaran. Narayana berarti bersemayam di dalam diri Nara. Dalam diri manusia. Tuhan bukan berada diluar diri, tapi Dia Narayana, Ia bersemayam dalam diri Nara, dalam diri manusia. Dan dia bersemayam dalam bentuk apa, wujudnya adalah sathya, wujudnya adalah kebenaran.

Bisa nggak satu hari, dalam sebulan, pada bulan purnama, dan kalau bisa juga tilem, hari itu dari bangun tidur, sampai tidurlagi, jangan bohong sekalipun. Coba, perhatikan, kita sudah terbiasa bohong, jadi kadang-kadang kita nggak sadar bahwa kit alagi bohong.

Ada orang telpon bilang ibu nggak ada di rumah. Bilang saya lagi sibuk. Oleh karena itu, dari pada bohong pun nggak bisa dikendalikan. Nggak bisa benar, nggak bisa bicara jujur satu hari, ya sudah diam saja sehari. Puasa ngomong. Tidak usah bicara sepanjang hari.

Tapi ada juga orang, saya bilang begitu sama dia, karena dia itu pembohong kelas apa itu luar biasa dia. Apa pun dia bisa bohong. Nggak ada urusan bohong pun dia bohong. Saya bilang kamu puasalah sebulan sekali. Jangan bohong sebulan sekali. Dia bilang nggak bisa pak. Dia ngerti juga, nggak bisa saya pak. Saya bilang, Ya sudah puasa bicara. Sepanjang hari kamu nggak usah bicara.

Dia bilang oh itu mungkin bisa. Zaman itu waktu saya berikan advis kepada dia, belum ada handphone belum ada seperti sekarang. Masih mahal, pulsanya masih mahal. Belum begitu banyak gadget, belum ada apa. Cerita tahun 80-an. Dia bilang oke itu mungkin masih bisa saya. Saya nggak akan bicara, saya puasa bicara.

Dari pagi sampai malam. Jam 12 malam boleh bicara? Tawar-menawar, jam 12 malam dia mau bangun untuk bicara. Luar biasa kan? Saya bilang oke boleh. Bukan urusan saya sebetulnya. Mau bicara, nggak bicara bukan nggak punya drone. Bisa melihat dia lagi puasa atau nggak, tapi apa yang terjadi?

Besoknya dia datang, ya saya sudah nggak bicara, saya merasa tapi sama saja saya merasa nggak enak sekali saya. Stress dia. Saya tanya apa yang kamu lakukan, saya nggak bicara. Terus apa yang kamu lakukan, mau bicara sama siapa saja dia tulis. Sama saja. Mau marahin pembantu dia tulis. Terus pembantu nggak bisa baca tulisannya. Dia tulis kepada anaknya, tolong marahi pembantumu. Seperti itu, kita nggak bicara pun sehari nggak bisa. Sulit sekali.

Oleh karena itu Krishna mengatakan, Pengetahuan Sejati, mencari tahu siapa aku sebenarnya. Aku adalah Atma, badan ini mungkin besok tidak akan ada. Tapi aku tetap ada. Dan aku yang tetap ada ini sama dengan aku setiap orang di sini. Kita semua sinar dari matahari yang sama. Begitu kita paham hal itu, hidup menjadi lebih mudah.

 

“Sebab itu wahai Bharata (Arjuna, Keturunan Raja Bharat), gunakanlah pedang Pengetahuan Sejati untuk menghabisi keraguan yang berasal dari dalam dirimu sendiri, dari ketidaktahuan tentang hakikat dirimu. Bangkitlah dalam Yoga, wahai Arjuna!” Bhagavad Gita 4:42

https://bhagavadgita.or.id/

 

Gunakan pedang Pengetahuan Sejati untuk menghabisi keraguan, yang berasal dari dalam dirimu sendiri. Apa yang harus saya lakukan. Ini atau itu, cari pekerjaan juga begitu. Pekerjaani ni atau pekerjaan itu. Yang masih muda cari jodoh pun demikian, yang ini atau itu. Selalu begitu.

Kita selalu ragu-ragu. Dan keraguan ini yang menciptakan kegaduhan. Saya pernah cerita, saya kenal orang mau ke restoran juga begitu. Dalam beberapa hari terakhir saya cerita, karena konteksnya masih sama. Mau pesan makanan pun ragu-ragu.

Zaman dulu kita nggak ada gadget, nggak ada apa, baca koran kan, ada orang bisa baca koran dari pagi sampai sore. Koran taruh di mobil ke mana baca lagi. Sampai iklan pun dia baca 10 kali. Ini menunjukkan apa, ragu-ragu. Kita begitu ragu-ragunya, sudah kunci mobil, baru jalan sedikit, kembali lagi. Sudah kunci belum?

Awalnya dari hal-hal kecil, dari hal-hal sangat kecil. Tapi terbiasa kita. Meragukan segala sesuatu, meragukan hidup ini, meragukan pekerjaan kita meragukan segala-galanya. Pengetahuan Sejati, pengetahuan tentang Atma, membuat kita bebas dari keraguan.

Sumber: Video Youtube Bersama Anand Krishna Bhagavad Gita Sehari-Hari Ayat 04:41-42 Cara Membebaskan Diri dari Kekacauan dalam Hubungan Rumah Tangga

https://www.youtube.com/watch?v=9Kxkoqb4vdY

 

https://www.akcjoglosemar.org/wp/

https://www.anandkrishna.org/

Advertisements