Wejangan Anand Krishna: Mengendalikan Indra dan Mencapai Kedamaian Abadi dengan Pengetahuan Sejati

“Di alam benda, di dunia ini, tiada penyuci lain yang dapat menandingi (api) Pengetahuan Sejati. Seorang yang mencapai kesempurnaan dalam (Karma) Yoga, menemukan Sumber Pengetahuan Sejati itu di dalam dirinya sendiri.” Bhagavad Gita 4:38

https://bhagavadgita.or.id/

 

 

“Ia yang teguh dalam keyakinannya, meraih Pengetahuan Sejati; dengan Pengetahuan Sejati, ia mengendalikan indranya. Dan dengan Pengetahuan Sejati pula ia mencapai kedamaian abadi.” Bhagavad Gita 4:39

https://bhagavadgita.or.id/

 

Tidak ada sesuatu yang bisa membersihkan diri kita.  Api itu adalah yang membersihkan. Apa pun yang kita masukkan ke dalam api, dia membakar habis, akhirnya yan gtersisa adalah abu. Apa pun dia mendaur ulang. Pengetahuan Sejati juga begitu. Begitu kita tahu, hidup di dunia ini sementara, kita tidak akan merasa berlebihan sedih. Berlebihan senang kalau mendapatkan rejeki.

Saya waktu itu pernah cerita, baru jual tanah, dapat berapa ratus juta, langsung bagi-bagi beli motor, bag isini bagi sana. Menjual tanah karena butuh uang, begitu jual tanah dia sudah bagi-bagi, habis. Inilah kondisi kita. Kita tidak sadar bahwa hidup di dunia ini sementara.

Punya uang nikmati, bantu orang lain, punya uang lakukan sesuatu yang berguna. Dan kalau tidak punya uang kerja keras lagi. Tidak perlu beraduh-aduh. Ini Pengetahuan Sejati. Kalau tidak punya uang berarti harus kerja lebih keras. Harus kerjacerdas. Dimana kesalahan saya. Kenapa saya tidak mendapatkan keuntungan, padahal orang lain kerja yang sama,dia punya keuntungan. Pasti ada kesalahan saya. Kesalahan saya, dimana, mencari tahu. Dalam hidup kita juga begitu. Kalau setiap hari istri cekcok cari tahu. Kalau suami main serong cari tahu. Persoalan saya di mana?

Bukan Pengetahuan Sejati baca Veda sepanjang hari, Veda mengajak kita, untuk menghadapi kenyataan hidupini. Dengan penuh kesadaran, jadi tidak ada penyuci yang sesuatu yang membakar habis, dosa-dosa kita, kebodohan kita dan dengan Pengetahuan Sejati itu, setelah kita meraih Pengetahuan Sejati, kita bisa mengendalikan indra.

Kalau ada orang lagi marah-marah, coba pikirkan. Jangan marah-marah dulu, kondisi ini seperti apa, kalau saya marah kembali akan membuat cerita ini lebih baik, atau lebih jelek. Kadang-kadang marah dibutuhkan, kebanyakan tidak dibutuhkan. Jadi kita harus berpikir kembali. Dan kalau kita dimarahi, kita juga harus berpikir kembali.

Saya sering mengatakan, di Jawa ada satu kata. Nesu. Kalau orang dimarahin itu dia tidak marah kembali, tapi dia tersinggung begitu. Dan dia memendam rasa tersinggung itu. Nggak tahu di Bali ada istilah itu nggak, tapi di Bali orangnya ad abegitu. Orang yang nesu itu di Bali banya kjuga. Gen nya sama, genetiknya sama, dan orang nesu itu dari mukanya dapat kelihatan, mukanya itu sudah cemberut, kesel bukan main. Tapi nggak bicara apa-apa dia. Ngambul. Nah ini kita belum berpengetahuan.

Kita harus mencari tahu di diri sendiri. Saya sih ngambul nesu, tapi orang yang memarahi saya, dia juga ngambul dan nesu. Ini kok nggak ngerti-ngerti. Setiap kali kesalahannya sama saja. Kadang-kadang saya suruh Upasana tolong deh, sampaikan kepada orang ini, dia bilang nggak males deh saya sekarang, saya suda hsampaikan berulang kali, nggak ada perubahan. Sudah males. Terpaksa sayaharus menyampaikan, dan saya cari tahu,kenapa kamu begitu. Karena orang wajahnya kelihatan orang nesu. Ngambul. Dari wajahnya kelihatan, jadi kalau lagi dimarahi kita harus introspeksi diri kenapa saya kena marahterus. Orang yang memarahi juga harus introspeksi diri, jangan-jangan apa yang saya sampaikan, nggak jelas. Sehingga orang itu berbuat salah. Ini PengetahuanSejati. Dua-duanya harus introspeksidiri. Dan setelah itu kita bisa mengendalikan indra kita, mengendalikan mulut, mengendalikan aksi, mengendalikan perbuatan, kalau kita sudah bisa mengendalikan diri maka terciptalah kedamaian dalam diri kita.

 

“(Sebaliknya) mereka yang bodoh, tidak berpengetahuan; tidak pula berkeyakinan; dan senantiasa ragu – niscaya akan binasa. Baginya tiada kebahagiaan di dunia ini, maupun di alam setelah kematian.” Bhagavad Gita 4:40

https://bhagavadgita.or.id/

 

Ini orang-orang yang bodoh,orang-orang yang ragu-ragu terus, ada orang pergi ke restoran, dia membaca menunya seperti membaca Bagavad Gita. Terus dia membaca, ada teman di sebelahnya, mau makan apa ya makan apa ya. Seperti mau terjadi sesuatu apa ya, luar biasa. Nah ini ragu-ragu. Ragu-ragu terus. Saya pernah ketemu, dan saya pernah juga cerita berulang kali, ada keluarga di dalam keluarga besar saya, mau beli barang apa pun juga, selalu janji kalau saya nggak suka, akan saya ganti, tukar.

Pulang ke rumah, begitu dia beli tas pulang ke rumah, yang terjadi seperti arisan. Dia panggil keluarganya, panggil tetangganya. Ini saya baru beli tas bagus nggak, bagus nggak? Ada 20 orang, 20 otak kan ya, yang satu bilang kurangnya ini, ini warnanya kurang, talinya kurang bagus, lebih ragu-ragu lagi. Dia pergi ke toko besoknya, mau tukar, di toko 2 jam. Hanya tukar.

Istri telpon, lama sekali bicara, suami sedang menunggu. Shakila, suaminya Hola, shakila siapa tadi ditelpo nku. Tahu siapa? Apa jawabannya, salah sambung. Salah sambung bisa ngobrol sejam. Kalau nggak salah sambung, ini orang-orang yang bodoh.

 

Sumber: Video Youtube Bersama Anand Krishna Bhagavad Gita Sehari-Hari Ayat 04:32-40 Raihlah Pengetahuan Sejati Tentang Diri Dan Akhiri Segala Keraguan

https://www.youtube.com/watch?v=yc6A892e-34

https://www.akcjoglosemar.org/wp/

https://www.anandkrishna.org/

 

Advertisements

Wejangan Anand Krishna: Segala Karma Dibakar Habis Api Pengetahuan Sejati? Apa itu Pengetahuan Sejati?

Pengetahuan Sejati berarti apa? Pengetahuan tentang diri sendiri. Kita berada di dunia ini untuk apa, urusannya apa. Apa cuma lahir makan minum beristri punya anak, kemudian ujung-ujungnya mati. Apakah itu saja yang menjadi tujuan dari hidup ini.

Silakan baca: https://gitakehidupansepasangpejalan.wordpress.com/2019/03/17/wejangan-anand-krishna-lahir-dewasa-berkeluarga-tua-dan-mati-hidup-demikian-saja/

 

“Ketahuilah hal ini dengan mendatangi mereka yang mengetahui kebenaran; bertanyalah dengan penuh ketulusan hati; layani mereka dengan penuh keikhlasan; dan mereka akan mengajarkan, mengungkapkan kebenaran itu padamu.” Bhagavad Gita 4:34

https://bhagavadgita.or.id/

 

Bagaimana kita tahu kebenaran, dulu kita punya beberapa Pedande, yang saya pribadi kenal. Mungkin sekarang, juga banyak Pedande seperti itu. Tapi saya masih ingat, ketika pertama kali, Pedande Made Gunung, beliau mulai muncul di tivi. Masih ingat kan, waktu itu banyak orang tidak setuju, masa sulinggih mau muncul di tivi,ceramah. Tapi beliau berani mengungkapkan, dan ini akhirnya membawa hasil. Banyak sekali orang tercerahkan oleh beliau.

Banyak sekali orang tercerahkan oleh Pedande Sebali. Setiap kali ada acara apa dimana, harus membela kebenaran, beliau akan muncul kegaris terdepan. Banyak orang mengkritik dia. Kok seorang sulinggih, ada acara membela apa, membela hak-hak orang kecil, membela hak-hak umat lain. Beliau tetap berada di barist erdepan. Inilah orang-orang yang mengenal kebenaran, megetahui kebenaran, bergurulah kepada orang-orang seperti itu.

Saya tidak pernah ketemu tapi saya dengar Pedande Sidemen jugaseperti itu. Jad idi sini,sudah perhatikan, kita memberikan nama jalan, tempat yang begitu kecil. Jalan ini adalah jalan Pedande Sidemen. Jalan kesini adalah jalan Pedande Made Gunung. Jalan ke situ adalah jalan Pedande Sebali. Untuk mengenang jasamereka, bahwa mereka pernah, mengajarkan Pengetahuan Sejati. Lewat buku Pedande Sidemen banyak menulis buku, lewat Pengetahuan Sejati. Mereka-mereka mengenal, mereka-mereka bukan cuma paham, mereka-mereka menjalankan, apa yang dikatakan oleh Krishna di sini. Itu juga yang dilakukan oleh Abhyasa, Vyaas, mengumpulkan Veda, menulis mahabharata, menulis begitu banyak, pustaka suci lainnya. Untuk menyebarkan Pengetahuan Sejati. Dan nanti dijelaskan kenapa, PengetahuanSejati itu penting dalam hidup kita.

 

“Wahai Pandava (Arjuna, Putra Pandu), setelah meraih Pengetahuan Sejati dan tercerahkan, kau tak akan bingung lagi. Kau akan merasakan kesatuan, kemanunggalan dengan semua makhluk, dan selanjutnya melihat semua di dalam diri-Ku.” Bhagavad Gita 4:35

https://bhagavadgita.or.id/

 

“Walau kau seorang yang paling berdosa, paling khilaf di antara semua yang berdosa dan khilaf; kau dapat melampaui (lautan) segala dosa-kekhilafan dengan menggunakan perahu Pengetahuan Sejati.”  Bhagavad Gita 4:36

https://bhagavadgita.or.id/

 

Pengetahuan Sejati ini bagaikan perahu. Kita sedang menjalani hidup ini, hidup ini disebut samsara, lautan samsara. Dengan Pengetahuan Sejati, kita bisa melewatinya, tanpa kebingungan tanpa rasa bingung. Kita tidak akan bingung lagi. Terjadi sesuatu, kita bingung, kita bingung bahwa kenapa saya sudah berdoa, sudah sembahyang, sudah ke Pura, sudah ketempat ibadah, kok saya masih menderita.

Tapi kalau kita tahu, bahwa penderitaan itu disebabkan oleh karma kita sendiri, bukan Sang Hyang Widhi, yang menyebabkan kita menderita. Kalau kita tahu kita tidak akan bingung. Kita tidak akan mengaduh-aduh.

Saya barusan baca tentang pengalaman, seseorang yang luar biasa, dia adalah seseorang yang betul-betul menjalankan semua apapun yang ditulis, apapun yang disarankan oleh Gurunya. Dia mengikuti semua petunjuk itu. Punya anak, anaknya autis, dan anak autis ini kadang-kadang dengan usia anak-anak itu bisa menjadi lebih baik sedikit. Tapi ini dengan usia tambah parah. Tambah menjadi tak terkendali anak itu. Ada orang datang ke rumahnya, dan dia mengatakan saya betul-betul merasa sangat sedih, melihat kondisimu, kau melakukan meditasi, kau mempraktekkan yoga, kau membantu orang secara tulus. Membantu orang secara tulus.

Dia bilang jangan, don’t be sorry about me, jangan merasa kasihan terhadap saya. Karena dari dulu saya minta kepada Guru saya, saya minta kepada istha saya, tolong ajarkan saya, bagaimana mencintai orang tanpa kepentingan diri. Tanpa embel-embel apapun. Tanpa mengharapkan sesuatu. Sekarang Tuhan, Ishta saya, Guru saya, telah memberikan kesempatan kepada saya lewat anak ini, untuk melayani seseorang tanpa mengharapkan sesuatu. Saya tahus aya tidak bisa harapkan apa-apa dari anak ini. Dan ini adalah kesempatan yang diberikan kepada saya.

Lihat cara pandang, betapa luar biasanya cara pandang seperti itu. Apa pun yang terjadi, demi kebaikan kita sendiri. Kalau saya sedang menderita, karena karma saya. Kalau saya kena flu, karena kemarin-kemarin saya tidak menjaga kesehatan dan selanjutnya, saya harus menjaga kesehatan. Jadi semua pengalaman itu memberikan pelajaran.

Jadi walaupun kau seorang yang berdosa, sudah mengalami penderitaan, karena karma kita sendiri. Kita bisa melampaui semua, penderitaan itu, dengan Pengetahuan Sejati. Dengan kesadaran, apa yang sedang terjadi, memang harus terjadi dan saya harus belajar dari pengalaman ini.

 

“Sebagaimana api membara membakar habis kayu menjadi abu; pun demikian Arjuna, api Pengetahuan Sejati, membakar habis (akibat dari) segala karma, segala perbuatan.” Bhagavad Gita 4:37

https://bhagavadgita.or.id/

 

Dengan memiliki pengetahuan tentang karma, apapun yang terjadi karena karma. Ini adalah kesempatan saya untuk belajar, maka segala macam karma-karma yang jelek itu, akan terbakar habis.

Tapi kalau kita mengeluh terus, saya membaca ceritera yang menarik sekali. Cerita dari China, cerita rakyat. Saya nggak tahu, Upasana pernah dengar atau tidak. Tapi semacam role play, ini bagus sekali ceritanya. Seorang ratu, dia ingin mencari jodoh mencari istri untuk anaknya. Pangeran yang sudah berusia cukup.untuk kawin, maka ada perlombaan.

Perlombaannya apa? Sekian banyak perempuan-perempuan itu ditaruh dalam suatu palace, istana. Semua punya kamar yang bagus sekali, indah. Dan zaman dulu, matras itu tidak tebal seperti sekarang. Masih ingat matras zaman dulu yang terbuat dari kapas, tipis-tipis. Zaman dulu di istana pun matrasnya tipis seperti itu. Tapi kalau di istana, matrasnya bisa berlapis-lapis. Kalau orang miskin cuma satu lapis. Kalau di istana, di tiap ranjang bisa punya matras sampai 20 matras.

Maka dia menaruh sebutir kacang, kacang sebesar apa pun bayangkan, ia taruh di bawah matras. Matras yang paling atas. Dan di atasnya dia taruh 20 matras. Dan setiap perempuan ini, harus tidur di atas matras itu dan esoknya ditanya kamu tidurnya seperti apa. Yang lain bilang saya tidur nyenyak. Nggak terasalah mau terasa bagaimana? Semuanya gagal, yang satu mengeluh, saya nggak bisa tidur, ternyata ada sesuatu di bawah matras. Ada sesuatu di bawah matrasi itu saya tidak bisa tidur. Dia terpilih.

Nah ini coba bayangkan, orang terpilih karena dia komplain. Tetapi dari segi ratu. Perempuan ini yang bisa merasakan ada kacang sedikit di bawahnya. Dan dia tidak bisa tidur. Berarti badan dia mulus sekali. Badan dia begitu halus, lembut ada kacang di bawah matras, 20 lapis, dia tetap bisa merasakan. Dia patut menjadi istri dari anak saya.

Kita juga begitu, kadang-kadang kita melihat hal-hal dikaitkan dengan sini, kita sendiri memiliki banyak kekhilafan, dan kita melihat kekhilafan dalam diri orang lain. Kita menikmati itu. Kita menikmati melihat keburukan dalam diri orang lain. Si Ratu ini juga tukang komplain, dia juga mencari menantu yang tukang komplain juga. Kebanyakan kita begitu. Harus hati-hati.

Krishna mengatakan dengan cara itu kita nggak bisa melanjutkan perjalanan, dan kebanyakan orang seperti itu. Tubuh kita mulus sekali, satu kacang pun bisa kita rasakan, dan kita menikmati. Kita tidak melihat ke dalam diri kita sendiri. Krishna mengatakan dengan Pengetahuan Sejati, semua dosa kekhilafanmu akan terbakar habis, karena tidak akan ada dosa lagi. Kalau sudah punya Pengetahuan Sejati, dosa nggak ada lagi, mau diapakan lagi kita nggak akan berbuat salah lagi. Kalau sudah ada Pengetahuan Sejati kita tidak akan komplain tentang kacang dibawah matras itu.

Sumber: Video Youtube Bersama Anand Krishna Bhagavad Gita Sehari-Hari Ayat 04:32-40 Raihlah Pengetahuan Sejati Tentang Diri Dan Akhiri Segala Keraguan

https://www.youtube.com/watch?v=yc6A892e-34

https://www.akcjoglosemar.org/wp/

https://www.anandkrishna.org/