Wejangan Anand Krishna: Mengikuti Kemauan Panca Indra atau Mengendalikan Diri?

“Sebagian mempersembahkan indra pendengaran dan sebagainya ke dalam Api Suci Pengendalian Diri; sebagian lagi mempersembahkan suara dan pemicu-pemicu lainnya ke dalam Api Indra yang membara.” Bhagavad Gita 4:26

https://bhagavadgita.or.id/

 

Ada orang yang mengikuti kemauan panca indra , ikuti saja tidak peduli dengan konsekuensinya. Mulut mencari makanan yang lezat, yang enak dia mengikuti kemauan mulut. Tapi apa yang dimaukan, yang dianggap enak oleh mulut belum tentu sehat. Tetapi kita tidak peduli. Banyak orang seperti itu. Tidak peduli apa yang saya makan. Itu bisa merusak kesehatan kita. Kita mengikuti kemauan.

Ada juga yang mengendalikan diri. Mau makan sesuatu, tapi dia juga tahu makanan itu tidak baik bagi kesehatan saya, makanya menghindari. Ada orang begini, ada orang begitu.

Pendengaran juga begitu, mendengar suara-suara, mendengar gosip, mendengar hal-hal yang tidak ada kaitannya dengan kita, menyebarkan stress.

Pagi-pagi bangun tidur banyak orang sekarang…. bangun tidur apa yang kita lakukan, buka hp melihat whatsup. Banyak seperti itu. Itu adalah penyebab utama stress. Di zaman sekarang begitu bangun tidur, melihat whatsup. Kalau ada orang yang mati atau apa, pasti ditelpon. Berarti nggak ada sesuatu yang amat sangat serius. Yang tidak bisa menunggu sejam dua jam.

Lakukan sesuatu yang lain dulu, tapi nggak ini berarti kita tidak bisa mengendalikan diri. Pendengaran begitu, penglihatan begitu. Kita melihat memperhatikan begitu banyak hal, yang sebetulnya tidak perlu diperhatikan. Sebetulnya tidak perlu dilihat, tapi tetap melihat menonton misalnya.

Menonton youtube menonton apa. Ada orang yang seharian bisa di youtube terus. Bicara apa pun di film ini begini di film itu begitu, kapan waktunya lihat film. Tidak pernah tidur malamnya. Kemudian kalau sakit, kita mencari-cari alasan kita sakit karena ini karena itu, padahal kita merusak kesehatan kita sendiri. Jadi ada orang tidak mengendalikan diri ada orang yang mengendalikan diri. Beragam kebiasaannya.

 

“Sebagian lagi mempersembahkan seluruh kegiatan indra; dan bahkan seluruh tindakan Prana, atau hidupnya ke dalam api Yoga Pengendalian Diri, yang dinyalakan oleh Pengetahuan Sejati.” Bhagavad Gita 4:27

https://bhagavadgita.or.id/

 

Ada juga orang-orang yang melakukan persembahan, yajna dalam bahasa Sanskrit. Yajna itu bukan hanya ritual kepercayaan. Persembahan adalah offering. Apa yang kita serahkan, apa yang kita berikan kepada masyarakat, apa yang kita berikan kepada orang-orang sekitar kita.

Kalau kita tahu, kalau kita sadar, kesehatan yang kita miliki. Di sini kita melakukan kegiatan agar menjadi sehat. Kesehatan yang kita miliki apakah untuk kita sendiri saja, atau kita harus berbagi kesehatan itu dengan orang lain.

Kitaharus berbagi apa yang bisa kita bagikan. Ini adalah Pengetahuan Sejati. Bahwa apapun yang kita miliki bukan untuk saya pribadi saja. Bukan untuk keluarga saja. Tapi saya juga harus berbagi dengan masyarakat. Ini adalah persembahan, yajna yang sesungguhnya. Dan itu akan terjadi kalau kita mengetahui, kita meraih, memperoleh Pengetahuan Sejati. Bahwa sebetulnya kita semua interconnected. Saling terkait.

Zaman dulu saya masihingat, di Bali juga khususnya sampai tahun70-an gitu, kapan-kapan saya ketemu dengan orang, ada orang Bali saya lagi bertemu, terus saya bertemu, didaerah Sanur begitu, ada ibu Upasana waktu itu, sampai zaman itu sampai tahun 90-an ya, ketemu dengan orang-orang berusia 40 tahun, 35, 40-45 tahun begitu. Saya baru bertemu dengan orang Tabanan terus tiba-tiba orang datang dari Singaraja, Negara, saya saling memperkenalkan. Lagi bicara 3-4orang begitu. Nggak sampai 15 menit, bisa tercipta hubungan keluarga. Yang tinggal di Negara tanya kamu gimana kenal sama ini kenal sama itu. O ya kenal, ternyata orang itu kawin sama orang di kampungnya. Datang sebagai orang asing, saling tidak kenal. Satu dari Negara, satu dari Tabanan, dalam15 menit tercipta hubungan, luar biasa kan. Ada bagusnya.

Ada jeleknya. Apa yang tercipta itu kalaukita menarik keatas lagi, bukan antara Tabanan dan Singaraja. Tapi kita semua adalah percikan-percikan dari kemuliaan yang sama. Dari Gusti yang sama.Tuhan yang sama. Sang Hyang Widhi atau apapun sebutan-Nya. Seperti matahari sinarnya banyak sekali. Tapi sumbernya matahari, kita semua juga begitu.

Kalau kita menarik ke situ kita akan menjadi peduli terhadap masyarakat. Tapi kalau kita berhenti pada hubungan fisik, hubungan mental-emosional, kita malah akan menciptakan konflik-konflik baru. Tiba-tiba habis15menit, saya melihat menonton, menyaksikan sendiri. 15 menit pertama, ada hubungan enak sekali. Ditambah lagi 15 menit. Extension 15 menit. Musuhan! Dari tidak kenal sampai kenal sampai musuhan. Kenapa? Karena besan dia terus ininya dia apa, diapain oleh siapa, ternyata yang dariTabanan, berpihak pada kelompok ini, yang dari Negara berpihak pada kelompok itu. Luar biasa lho. Tadinya orang asing, sekarang orang kenalan, relasi 15 menit lagi musuhan.

Karena kenapa, karena tidak memiliki Pengetahuan Sejati. Guru sya selalu mengatakan banyak sekali pergaulan kita itu, sebetulnya cuma butuh dua kata. Hi dan Bye. Ada orang-orang yang kita harus kenal baik. Tapi kalau cuma mau cari sensasi aja, banyak orang yang hubungan itu cuma cari sensasi. Perlu teman gosip.

Beberapa waktu yang lalu saya melihat sekarang di Jepang. Robot-robot ini yang sudah nggak dipakai banyak robot dan karena banyak orang Jepang juga memelihara robot sebagai binatang piaraan. Jadi nggak lagi ada kucing atau apa, tapi kucing robot. Sudah ada programmingnya. Kalau majikannya datang terus tiba-tiba bisa mencium, terus ada sensornya dia akan gonggong, terus setiap beberapa menit gonggong. Terus kalau dia lapar ada bunyi juga. Harus dicharge baterainya. Luar biasa.

Jadi sekarang apa yang terjadi, generasi pertama, robot-robot ini yang mati. Disebut mati karena sudah rusak. Terus dia mendonasikan organnya. Jadi robot-robot yang mati ini, kalau ada parts ada sparepartsnya masih bagus, diambil dan istilahnya donasi organ. Terus robot-robot yang rusak ini diambil oleh manufakturnya. Yang menciptakan robot itu. Dikumpulkan semua organ yang bisa didonasikan, diambil. Yang sisa dikasih kain, dengan cara Jepang, ada labelnya, namanya dan nama orang tuanya, majikannya. Dan ada cerita semasa hidupnya, ada anjing untuk menjaga rumah. Semasa hidup saya telah mengabdi menjaga rumah. Dibawa keTemple, ke Pura, dan disembahyangi. Terus kalau mau ambil foto silakan ambil foto. Seperti kita kalau taruh foto keluarga, ada foto bapak dan ibu saya di situ. Nah ini robot yang sudah mati, sudah dimakamkan, dingabenkan, ditaruh fotonya. Saya pernah punya robot.

Bagus tapi tidak bagus. Kalau bagusnya adalah kita semasa hidup kita, peduli terhadap semua. Bukan cuma terhadap robot saja. Tidak bagusnya itu, kita menciptakan hubungan-hubungan baru yang tidak berguna sebetulnya. Oke sampai dono rmasih oke kan, ada spreparts yang mau dipakai. Tapi sampai taruh foto, kita menciptakan suatu ketergantungan, baru. Nah Krishna mengatakan sekian banyak orang, yang menyembah, yang melakukan yajna, melakukan persembahan, offering dengan berbagai cara.

Sumber: Video Youtube Bersama Anand Krishna Bhagavad Gita Sehari-Hari Ayat 04:26-31 Layani Tuhan dengan Melayani Kemanusiaan dan Masyarakat

https://www.youtube.com/watch?v=NVTsF18fB1M&t=4s

https://www.akcjoglosemar.org/wp/

https://www.anandkrishna.org/

Advertisements