Wejangan Anand Krishna: Kecewa dengan Keluarga atau Teman Dekat, Mengapa?

“Ia yang bebas dari keterikatan, keakuan serta rasa kepemilikan (punya-‘ku’, keluarga-‘ku’,dan sebagainya); kesadarannya terpusatkan pada Pengetahuan Sejati tentang Hakikat Diri sebagai Jiwa; dan berkarya dengan semangat persembahan – sesungguhnya telah terbebaskan dari segala konsekuensi perbuatannya.” Bhagavad Gita 4:23

https://bhagavadgita.or.id/

 

Kebanyakan kekecewaan kita itu karena keluarga kita sendiri. Kita berantem, juga kebanyakan dengan keluarga, atau dengan teman baik. Pernah nggak, berantem dengan orang asing ayang nggak ada hubungan sama sekali? Tidak bisa berantem. Mau berantem bagaimana, jadi kita berantem juga dengan orang-orang yang dekat sama kita. Kecewa juga bukan tentang orang lain, kecewa pun karena, anak kita sendiri. Kita pikir anak nanti kalau besar, akan begini, begini. Belum tentu. Mau dikasih pendidikan sebaik-baiknya, mau diapakan juga, dia juga punya karma sendiri. Ya kita tetap berbuat, tetap memberikan saran yang baik, advis yang baik, kalau kapan-kapan perlu dijewer kupingnya, kita jewer juga. Nggak ada salahnya. Mau ditegor? Ditegor.

Tetapi jangan mengharapkan, kita melakukan tugas kita. Sebagai orang tua, tugas kita adalah memberikan advis yang baik kepada anak-anak kita. Tapi kalau mengharapkan dia pasti akan mendengarkan saya, belum tentu. Dan itu sebabnya kita kecewa.

Saya lagi baca pengalaman orang, ya kakek dan nenek tinggal dikampung. Cerita Bali di kampung, anaknya kerja di Denpasar. Denpasar kampungnya dekat Negara, cukup jauh 3 jam, 2.5-3 jam, kan? Jadi anak ini datang seminggu sekali, lumayan banyak anak yang  nggak mau peduli lagi. Ini sekali seminggu pulang. Banya kanak yang Cuma pulang kalau Cuma ada odalan. Kalau nggak ada odalan nggak datang.

Ini nggak seminggu sekali datang. Kebetulan sekali waktu dia nggak bisa datang 2 minggu 3 minggu, karena dia punya pekerjaan tidak memungkinkan. Dia kerja di hotel. Ibu dan bapak, nenek dan kakek yang tinggal di kampung selama ini oke-oke. 2 minggu nggak datang anaknya telpon, dibilang ibu, saya nggak bisa datang dan ibu juga oke, bapak oke.

Datanglah tetangga kok anakmu nggak datang 2-3 minggu ada apa? Digosok-gosok anak zaman sekarang nggak benar, nggak peduli ibu nggak peduli bapak sudah tua, ditinggal begitu. Jadi stress orang tua ini. Tadinya oke-oke. Tetapi karena tetangga, nggak begini nggak begitu, kebanyakan kita begitu lho. Hati-hati sama tetangga dan pembantu. Pembantu juga begitu.

Mau mencari hati majikan pria dia gosok-gosok wanita. Mau cari hati wanita dia gosok-gosok pria. Dari zaman Ramayana begitu. Manthara, dia nggak suka sama Rama dia gosok-gosok Keikayi, sampai Rama diasingkan. Ingat kan ceritanya. Gara-gara siapa? Pembantu. Jadi Ramayana mengatakan hati-hati dengan pembantu. Hati-hati dengan tetangga. Jangan terbawa, dan kalau kitasendiri menjadi pembantu, pembantu kan luas sekali kan? Setiap orang yang bekerja disuatu perusahaan besar, ada boss berarti kita pembantu kan?

Kita juga jangan bertindak sebagai Manthara. Jangan menjadi pencipta konflik, provokator. Jadi  sekarang kalau ada orang provokasi,katakan dengan baik-baik jangan jadi Manthara dong? Tapi kalau dia tanya mungkin dia tidak ngerti mungkin dia lupa siapa Manthara, kita baca Ramayana itu kan kita ingat siapa? Rama, Sita, Lakshmana. Mungkin Manthara sudah lupa. Kalau ada provokator yang datang ke tempat, Anda bilang sama dia, jangan jadi Manthara. Anaknya tanya kepada saya ini ibu dan bapak saya harus saya apakan? Stress berat mereka sekarang, dulu nggak pernahstress. Saya bilang pergilah kekampung. Sampaikan cerita Manthara ini dan bilangkan kepada ibumu, itu tetangga yang gosok-gosok ibu itu adalah reinkarnasinya Manthara. Jadi jangan digubrisin, di ambil dalam hati. Dengar buang. Begitu.

Kalau ada orang yang memprovokasi Anda, jangan jadi Manthara. Atau lebih bagus lagi, pegang kaki dia, sujud sama dia bilang wahai ibuku bapakku, saya berbahagia sekali, bila didatangi oleh rekan Manthara tapi tolong saya nggak butuh kamu. Manthara-manthara ini ada di dekat kita. Dia menciptakan rasa iri, rasa sombong, coba lihat tetangga itu punya mobil baru. Kamu belum punya apa-apa. Perempuan saya nggak tahu di sini, saya pernah cerita kan? Banyak sekali perempuan kalau lagi jalan, tangannya begini (kepalan tangan diperlihatkan), ada nggak disini yang begini. Banyak, mungkin disini nggak. Tapi kalau di kota-kota besar begitu. Jalan itu begini tujuanny aapa? Mau kasih lihat saya pakai cincin baru.

Pria juga begitu, dia  punya masalah lain lagi. Tapi begitulahrasa iri, sombong, irinya lain kalau pria. Kalau perempuan irinya lain. Di kota-kota besar perempuan kalau mau fashion mau modis bajunya tambah pendek. Belahannya tambah rendah, kalau cowok mau jadi ganteng, bajunya tetap lebih rapat lagi. Pakai dasi pakai jas, pakai ini, kan gila. Yang suka masuk angin itu kan perempuan. Kok mau jadi modis baju belahannya makin rendah. Pria yang sudah kegerahan, mau modis malah tutup-tutup. Nggak masuk akal kan? Tapi itulah dunia kita.

 

“Persembahan adalah Brahman – Gusti Pangeran, Sang Jiwa Agung, Tuhan Hyang Maha Esa; tindakan mempersembahkan pun Dia; dan Dia pula yang mempersembahkan kepada Api Hyang Menyucikan, yang adalah Dia juga. Demikian, seseorang yang melihat-Nya dalam setiap perbuatan, niscaya mencapai-Nya.” Bhagavad Gita 4:24

https://bhagavadgita.or.id/

 

Brahmapanam brahma havir brhamagnau brahmana hutam, brahmaiva tena gantavyam brahma-karma-samadhina

Ini sloka yang sudah kita baca sebelum makan, persembahan adalah Brahman, Gusti Pangeran, Sang Jiwa Agung. Tuhan Yang Maha Esa. Tindakan mempersembahkan pun Dia dan Dia pula yang mempersembahkan kepada api yang menyucikan. Yang adalah Dia juga. Demikian seseorang yang melihat-Nya, dalam setiap perbuatan, niscaya mencapai-Nya.

Semua kegiatan dalam hidup kita, brahmapanam brahmahavir kita melaukan bukan karena membaca ini, setiap kali mau makan, sudah makan. Makanan juga sudah bagus. Makanan sudah bergizi, proses makannya sudah bagus, piringnya hygienis bersih semua, tapi kalau pencernaan kita nggak bagus. Tetap juga makanan sebagus apa pun selezat apa pun nggak bisa dicerna.

Jadi sloka ini mengatakan, segala sesuatu itu butuh grace anugrah Sang Hyang mau disebut apa pun Tuhan, Gusti, Sang Hyang Widi, terima kasih untuk makanan, terimakasih untuk bahwa saya sudah bisa makan, terimakasih ada berkah, ada uang sehingga bisa beli makanan, terimakasih juga kepada api pencernaan, dalam diri kita, bahwa kita sudah bisa makan, sudah bisa mencerna, sehingga apa yang kita makan itu, bisa menjadi vitamin, bisa menjadi darah sumsum menjadi apapun. Setiap saat kita ingat bahwa apa pun yang kita lakukan, adalah suatu persembahan. Offering,  yajna.

Bukan Cuma yajna kita melakukan pekerjaan bukan Cuma itu. Itu juga boleh tapi bukan Cuma itu sedang makan pun, anggap itu sebagai persembahan, kepada Dia, yang bersemayam dalam diri kita. Kalau kita bisa berpikir seperti itu,hidup kita akan menjadi lebih bahagia.

 

“Sebagian Yogi menghaturkan persembahan kepada para dewa, atau kekuatan-kekuatan alam. Sebagian lagi menghaturkan ‘diri’-nya sebagai persembahan kepada Brahman.”Bhagavad Gita 4:25

https://bhagavadgita.or.id/

 

Banyak di antara kita yang memuja para dewa. Memuja banten kita, mecaru kadang-kadang, untuk buta kala, untuk dewa, tetapi ada juga persembahan lain, berbuat sesuatu untuk masyarakat, itu adalah persembahan kepada Brahman. Persembahan kepada Yang Maha Tinggi. Dalam bahasa Sanskerta ada istilah manava seva, melayani sesama manusia, itu sama dengan madava seva, melayani Tuhan. Nara Seva Narayana Seva. Melayani Nara manusia, adalah melayani Narayana. Tuhan Yang Maha Kuasa.

Persembahan yang berbentuk banten dan sebagainya silakan. Tetapi jangan lupa, mempersembahkan waktu kita, untuk melayani sesama. Itu yang penting sekali. Kadang perlu uang, kadang tidak ada uang juga tidak apa-apa. Banyak orang-orang tua yang kesepian, bukan Cuma orang tua kita saja. Orang tua kita juga jangan ditinggalkan, tapi banyak sekali orang-orang tua yang kesepian. Coba pergi kepada mereka. Seminggu sekali berikan, waktu setengah jam, satu jam. Bicara-bicara, bacakan Bhagavad Gita, bacakan sesuatu jelaskan sedikit maknanya. Itu adalah persembahan kepada Brahman. Bukan Cuma persembahan berupa ini, tapi persembahan yang sesungguhnya dengan melayani sesama. Terima kasih.

Sumber: Video Youtube Bersama Anand Krishna Bhagavad Gita Sehari-Hari Ayat 04:18-25 Bekerja Sepenuh Hati Tanpa Beban dan Rasa Khawatir

https://www.youtube.com/watch?v=0UpZAyo5Q04

https://www.akcjoglosemar.org/wp/

https://www.anandkrishna.org/

 

Advertisements