Wejangan Anand Krishna: Berkarya Tanpa Beban dan Bebas dari Konsekuensi

“Ia yang melihat akarma dalam karma, tidak berbuat saat berbuat; dan karma dalam akarma, berbuat saat tidak berbuat; adalah searang bijak, seorang Yogi, yang telah mencapai kesempurnaan dalam Yoga. Ia telah ber-karma, berkarya secara sempurna.” Bhagavad Gita 4:18

https://bhagavadgita.or.id/

 

“Seseorang yang berkarya tanpa keinginan duniawi dan harapan akan imbalan, telah tersucikan seluruh karma, seluruh perbuatannya, oleh api kebijaksanaan sejati. Para pandit, mereka yang berpengetahuan pun menyebutnya seorang bijak.” Bhagavad Gita 4:19

https://bhagavadgita.or.id/

 

Berbuat seperti tidak berbuat. Kalau seseorang memahami hal ini. Kalau kita ada yang suka melakukan sesuatu, misalnya seorang seniman. Dia suka memahat, dan kemudian profesinya pun sebagai seniman. Hasil seni itu dia jual, dan dia mendapatkan keuntungan, yang wajar dia bisa menjalankan kehidupannya dengan profesi itu.

Seorang seniman yang juga suka seni, terus bisnisnya juga sebagai penjual benda-benda seni, dia ketika sedang melakukan pahatan atau apa, dia menikmati. Tidak ada beban, dia berbuat tapi tanpa beban.

Kalau seorang ibu di rumah, dia suka masak dia masak untuk anaknya untuk suaminya tidak ada beban, karena dia suka masak. Tapi kalau tidak suka masak, atau punya pekerjaan yang tidak suka, hanya karena uang kita bekerja, bebannya luar biasa. Tetapi di pihak lain juga, apakah mungkin setiap kali, kita mendapatkan pekerjaan sesuai dengan kesukaan kita. Tidak juga,

Kadang-kadang kita harus bekerja melakukan pekerjaan sesuatu yang kita tidak suka. Krishna menjelaskan bagaimana kita berbuat, seperti tidak berbuat. Tanpa beban. Sukailah pekerjaan itu walaupun pekerjaan itu tidak suka. Kita bisa mengubah pikiran kita. Anggap itu adalah pemberian, tugas dari Sang Hyang Widhi, dari Gusti dari Tuhan apa pun sebutannya. Adalah berkah yang saya peroleh inilah peran yang saya peroleh, dan saya harus melaksanakan tugas saya, peran saya. Kalau kita bisa seperti itu, pekerjaan apa pun tidak akan membebani kita. Kita bisa melakukan dengan sangat mudah bahkan menikmati. Tidak ada beban sama sekali. Ini yang dimaksudkan oleh Krishna. Berbuat seperti tidak berbuat. Kalau tidak begitu kita sendiri akan gelisah. Dan Krishna juga mengatakan dalam sloka berikutnya:

Berkarya tanpa keinginan duniawi dan harapan akan imbalan, karena imbalan akan dapat. Jadi kalau kita mikir terus, saya lagi membuat ini, buka warung, warung makanan. Saya lagi masak, nanti ada yang beli nggak, ada yang beli nggak. Pikiran kita yang kacau, akan membuat makanan kita tidak laku.

Dalam pekerjaan apa pun juga. Kalau pikiran kita kacau, jangan-jangan begini, jangan-jangan begitu pekerjaan kita pasti tidak akan bagus hasilnya. Jadi Krishna mengatakan, sepenuhnya fokus pada pekerjaan dan nikmati. Penting sekali adalah nikmati pekerjaan. Sehingga tidak ada beban. Kalau tidak menikmati, akan terasa membebani.

 

“Seseorang yang tidak terikat dengan hasil perbuatannya, tidak perlu bergantung pada dunia benda. Ia senantiasa dalam keadaan puas batiniah. Kendati tetap berkarya, sesungguhnya ia tidak berbuat apa-apa.” Bhagavad Gita 4:20

https://bhagavadgita.or.id/

 

Kalau kita menikmati, dan kita tidak selalu memikirkan hasil melulu, karena hasil akan datang nggak bisa nggak datang. Pasti datang. Kalau kita berbuat tanpa mengharapkan tanpa memikirkan hasil melulu. Maka apa yang terjadi, sesungguhnya ia bekerja, berkarya tapi seperti tidak berkarya. Bayangkan dalam keseharian hidup, kita juga begitu. Kalau sedang melakukan sesuatu yang suka nggak ada beban, kita seperti menjalani dengan mudah sekali.

 

“Seseorang yang telah menguasai dirinya, pikirannya; dan, tidak lagi memiliki rasa kepemilikan terhadap benda-benda duniawi, walau berbuat sesuatu yang bersifat fisik murni, tetaplah bebas dari konsekuensi segala perbuatannya.” Bhagavad Gita 4: 21

https://bhagavadgita.or.id/

 

Ada orang, bekerja dan selalu yang diapikirkan saya mau belimobil. Beberapa hari yang lalu saya mendengar, cerita ini saya mau membeli mobil, jadi bekerja itu dia hanya tujuannya bukan apa-apa lagi, mau membeli mobil, mau membeli mobil. Dan dia bilang saya kuatir sekali, kalau saya sudah tahu beli mobil, mau bayar uang muka, kalau ada seseorang yang sakit dalam keluarga saya bagaimana? Uang muka itu kalau kepakai bagaimana? Saya kuatir sekali. Dan kekuatiran dia bilang memuncak sampai saya itu nggak bisa kerja nggak bisa apa cuma mikirkan uang, di bank 20-an juta mau beli mobil yang harganya berapa, mikirkan terus 20 juta jangan sampai habis, jangan sampai habis. Dia bilang kemarin apa yang terjadi, anak saya kecelakaan dan sekarang dia di rumah sakit, kita nggak tahu berapa habisnya. Mungkin saya harus pinjam uang lagi.

Ini pemikiran kita, pikiran yang kacau. Jangan-jangan begini, jangan-jangan begitu. Jadi nggak ada fokus pada pekerjaan, malah yang dipikirkan, yang bukan-bukan, dan yang terpikir yang bukan-bukan itu malah terjadi. Jadi berbuatlah tanpa banyak pikiran berbuatlah yang terbaik hasilnya pasti ada.

 

“Ia yang puas dengan apa yang diperolehnya; bebas dari segala pertentangan, yang tercipta oleh dualitas; bebas dari rasa iri; dan, seimbang dalam keberhasilan maupun kegagalan – sesungguhnya telah bebas dari segala keterikatan walau ia tetap berkarya.”Bhagavad Gita 4:22

https://bhagavadgita.or.id/

 

Ada orang lain, punya  toko di satu tempat di Jakarta di mall, di mall kan satu jenis dagangan, semua buka itu. Saya nggak tahu, di sini saya nggak begitu memperhatikan, tapi di Jakarta ada satu mall, dekat Sunter, di sana ada satu lantai semuanya jual handphone. Handphone, gadget semua toko jual itu. Ada nggak di sini? Ada ya. Satu lantai jual itu. Dan dia lagi jualan, dan dia lagi perhatikan, wah ditoko sebelah ada tamu, ada client, ada langganan, dan mungkin beli handphone yang lebih mahal, saya disini lagi melayani orang yang kere, tidak punya uang dia mau beli handphone yang murah. Malah handphone yang murah itu pun dia nggak bisa jual. Karena dia mau jualan barang tapi pikirannya di sebelah.

Bayangkan lagi bawa mobil, bukan memperhatikan jalan, bukan memperhatikan mobil, memperhatikan orang lain di sana ada satu tabrakan.kita memperhatikan tabrakan. Kita sendiri bisa ditabrak orang. Banyak orang begitu kan, nggak ada urusan kalau mau bantu silakan, ada yang tabrakan mau bantu silakan, parkirkan mobil, bantu orang ini. Ini mau nonton, mau nonton di belakang ada yang suka nonton, diantem. Diantem bukan salah saya. Kenapa bukan salah kamu, bagaimana bukan salah kamu, dia tanya karma buruk apaini, kalau semuanya dikaitkan dengan karma periksa juga dirimu. Tiba-tiba di toll, dimana setiap orang lagi jalan dengan kecepatan 80 kamu mengerem, dan menjadikan jalan 40 km/jam, di belakang belum tentu orang bisa rem secepat itu. Ya dihantam. Kalau mau bantu ya silakan, menyamping.Jadi begitulah kita kebanyakan, kitamemperhatikan hal-hal yang tidak penting,

Sumber: Video Youtube Bersama Anand Krishna Bhagavad Gita Sehari-Hari Ayat 04:18-25 Bekerja Sepenuh Hati Tanpa Beban dan Rasa Khawatir

https://www.youtube.com/watch?v=0UpZAyo5Q04

https://www.akcjoglosemar.org/wp/

https://www.anandkrishna.org/

 

 

Advertisements

Wejangan Anand Krishna: Setiap Orang Mendapat Peran di Dunia, Saat Kembali Ke Tuhan, Peran Jangan Dibawa

“Karma atau tindakan apapun tidak memengaruhi-Ku, mengngikat-Ku, karena Aku tidak terikat pada hasil karma.Seseorang yang memahami hakikat-Ku ini terbebaskan pula dari segala keterikatan pada karma dan hasilnya.” Bhagavad Gita 4:14

https://bhagavadgita.or.id/

 

Ini penting sekali. Kalau kita sadar, saya sebagai pengusaha, tapi yang menjadi pengusaha itu siapa? Badan,otak, Jiwa tidak menjadi pengusaha. Atma tetap adalah bagian percikan dari Sang Hyang Widhi. Begitu seleai pekerjaan kita, dalam dunia ini, apa yang terjadi? Semestinya apa yangterjadi? Saat saya mati semestinya saya itu sadar sekarang pertunjukan sudah selesai. Saya pulang. Tidak terikat dengan pertunjukan itu.

Kita sekarang ini terikat dengan pertunjukan. M kanya bolak-balik lahir lagi. Lahir lagi, lahir lagi. Sudah mau mati seharusnya semuanya bebas, tapi kita terikat. Wah saya jadi pengusaha ini, kalau saya mati,usaha siapa yang jalankan. Keterikatan, keterikatan dengan keluarga, keterikatan dengan siapa, itu membuat kita lahir kembali lahir kembali.

Selama kita berada di atas panggung. Kita semua sedang di atas panggung. Ada yang pak Nyoman panggungnya di galery dia, ibunya juga di sana. Ada pak Suartika yang panggungnya di rumah sakit. Ada Dharma panggungnya jadi PNS. Setiap orang,ini panggungnya tourism industries, Wiranatha. Ada yang panggungnya sebagai mahasiswa. Ini panggung.

Selama kita di panggung, kita menjalankan tugas. Kalau sudah mau pulang, panggung jangan dibawa pulang. Misalnya di sini mau main pentas, jadi Sutasoma di situ, jadi Gatotkaca. Atau jadi Rahwana. Makai topeng segala jadi Rahwana. Terus karena sudah main sebagai Rahwana, pulang-pulang topengnya dibawa pulang juga. Di rumah pun jadi Rahwana. Bisa nggak, boleh nggak? Nggak kan. Nah kita ini membawa pulang topeng, sudah mau mati topengnya dibawa lagi, lahir lagi. Pakai topeng yang sama.

Kalau kita sadar waktu itu, waktu kematian, pertunjukan saya sudah selesai sekarang. Coba saya cari pertunjukan baru. Kita sekarang ini lahir di situ- situ juga. Saya sering mengatakan kan, dulu jadi kakek sekarang jadi cucu. Kita pikir itu hebat. Nggak, itu berarti kita bodoh. Nggak maju-maju kita.

Di situ-situ saja. Makanya di sinetron kalian suka lihat kan, sinetron-sinetron India yang nggak masuk akal. Setiap saat berantem terus. Dan mau berantem harus pelan-pelan ngomong. Orang berantem ya berantem ini masak,3 kali diulangi, masak, masak. Mana ada orang omong begitu, sinetron itu 20 menitan, dia kehabisan cerita, jadi dipanjang-panjangi dan kita seperti orang bodoh dibodohin terus. 3 kali masak. Orang mau berantem, berantem nggak ada 3 kali ngomong dulu. Nggak ada.

Nah ini kita terpengaruh oleh pertunjukan, dan kita mengulangi lagi pertunjukan. Itu dari masa ke masa. Kalau kita sadar pertunjukan itu telah selesai. Saya jadi Rahwana, saya jadi Krishna, jadi Rama, di atas panggung, sekarang saya pulang ke rumah, kembali jadi Wayan, kembali jadi Ketut, kembali jadi Made kembali jadi Nyoman. Jangan jadi Nyoman Rahwana. Jangan jadi Putu Rahwana. Rahwana tinggalkan di panggung. Ini maksudnya Krishna.

 

“Kendati demikian, setelah mengetahui Hakikat Jiwa, yang sesungguhnya tidak terlibat dalam suatu karya; para bijak sejak dulu, tetaplah berkarya semata untuk meraih kebebasan sejati atau moksa. Sebab itu, hendaknya engkau pun mencontohi mereka dan berkarya sebagaimana mereka berkarya.” Bhagavad Gita 4:15

https://bhagavadgita.or.id/

 

Saya tahu, saya Anand Krishna, tapi kalau saya diberikan peran di atas panggung, jadi Rama atau jadi Krishna, jadi Rahwana. Saya harus tetap memainkan peran saya. Jangan ngotot di sana. Seperti anak kecil, ditanya dia nggakbaca, crita sudah dikasih pekerjaan, harus baca Ramayana. Nggak baca, guru bertanya siapa menculik Sita, semuanya tahu kan, anak itu angat tangan. Bu, bukan saya culik. Nggak tahu cerita dia. Nah kita harus pintar-pintar, kalau diatas panggung harus tahu cerita juga. Nggak bisa di sana ngotot. Bukan saya yang culik. Nggak bisa. Dikasih cerita dikasih peran,nah ini kita  semua mendapatkan peran nih. Peran saya duduk di sini. Peran kalian duduk di sana. Tapi ini semua peran. Jangan sampai saya pikir wah saya karena peran saya duduk di kursi ini saya orang hebat. Nah ini akan mencelakakansaya.

Karena mendapatkan peran sebagai Sutasoma, saya pikir saya sudah menjadi satria yang hebat. Bisa menaklukkan naga bisa menaklukkan gajah, bisa menaklukkan singa. Pergi ke kebun binatang, dia masukin tangan ke dalam kandang singa. Kita terpengaruh oleh peran, perannya begitu tidak berarti kamu sudah jadi hebat. Karena kebetulan perannya seperti itu. Mainkan peran dengan baik. Mainkan dengan sempurna, tapi jangan sampai menjadi egois bahwa saya hebat, saya apa, selalu ingat bahwa semuanya ini adalah peran. Jadi tetap kita mainkan peran, tidak meninggalkan pekerjaan, dan kita belajar orang-orang yang sedang melakukan peran itu orang bijak selalu berkarya, sesuai dengan perannya. Dan kita contohi. Kita harus mencontohi bagaimana mereka menjalankan peran dengan baik, kita juga harus menjalankan peran kita dengan baik. Peran sebagai bapak, peran sebagai ibu, peran sebagai istri, peran sebagai adik sebagai kakak, peran sebagai anggota banjar. Peran sebagai pedanda. Peran sebagai apapun. Harus dijalankan baik, sesuai dengan peran itu.

 

“Apa hakikat karma atau perbuatan, dan apa pula hakikat akarma atau tidak berbuat. Hal ini telah membingungkan banyak orang, sekalipun sudah berpengetahuan. Sebab itu, akan Ku-jelaskan padamu tentang hakikat karma. Pengetahuan hakiki ini dapat membebaskan dirimu dari segala akibat tidak baik, tidak mulia, dari perbuatanmu.” Bhagavad Gita 4:16

https://bhagavadgita.or.id/

 

“Hendaknya searang mengetahui kebenaran tentang karma, perbuatan; tentang akarma, tidak berbuat, dan, tentang vikarma, perbuatan jahat yang menyengsarakan, dan mesti dihindari. Memang sungguh sulit memahami kinerja karma, rahasia karma.” Bhagavad Gita 4:17

https://bhagavadgita.or.id/

 

Jadi kita harus tahu, kita akan lanjutkan lagi minggu depan, apa itu karma, kapan kita harus berbuat karma. Kapan kita tidak berbuat, akarma. Dan apa pula vikarma, karma yang jelek itu apa? Kalau diberi kata vi itu menjadi jelek. Jadi kalau punya anak lain kali jangan dikasih pakai nama vi. Saya dengar ada orang kasih nama anaknya vijayanti. Jaya itu jaya wijayanti itu semoga tidak berjaya. Wiranatha masih lain. Wira. Kadang-kadang kita terjebak, Vijaya sendiri masih masuk akal, tapi kadang-kadang kita memberikan nama, merta-amerta. Merta ituadalah mati. Amarta itu abadi. Kadang-kadang kita maunya dipersingkat, malah kacau namanya. Jadi Krishna mengatakan kita harus tahu apa maksud karma itu apa, yang harus kita lakukan apa, apa yang menjadi karma yang buruk yang harus kita hindari yang akan kita lanjutkan minggu depan. Terima kasih.

Sumber: Video Youtube Bersama Anand Krishna Bhagavad Gita Sehari-Hari Ayat 04:11-17 Mermahami Kasta Memahami Kebenaran Varna

https://www.youtube.com/watch?v=5kcpd7x6vxg

https://www.akcjoglosemar.org/wp/

https://www.anandkrishna.org/