Wejangan Anand Krishna: Sadarlah Sekarang! Jangan Sadar Setelah Babak Belur

“Samkhya atau memahami sifat alam benda dan bertindak sesuai dengan pemahaman tersebut; dan Karma Yoga atau berkarya tanpa pamrih, adalah dua hal yang beda – hanyalah mereka yang kekanak-kanakan berkata demikian. Para bijak tidak berpendapat seperti itu. Sesungguhnya dengan mengikuti salah satu di antaranya, seseorang mendapatkan hasil dari dua-duanya.” Bhagavad Gita 5:4

https://bhagavadgita.or.id/

 

Di sini kita membawa hal ini ke tataran yang rendah biar kita paham. Samkhya itu apa? Samkhya itu science, ilmu memahami kebendaan. Karma yoga bekerja dengan pandangan spiritual. Samkhya adalah mengejar ilmu. Kita selalu mengatakan ada ilmu, sciene, dan ada spiritualitas. Seolah-olah dua hal yang berbeda. Krishna mengatakan tidak demikian. Orang yang mengejar ilmu, ilmu kebendaan, bahkan mengejar kebendaan, orang yang mati-matian mengejar kebendaan. Mencari uang mati-matian, kerja keras mati-matian, ujung-ujungnya Krishna mengatakan dia pun akan tersadarkan. Tercerahkan,

Dan kau yang berkarya tanpa pamrih. Kau yang berkarya dengan penuh perhatian, dengan spiritual outlook, dengan pandangan spiritual kau juga akan mencapai hasil yang sama.

Tapi ada bedanya. Orang yang mengejar benda, mengejar kebendaan, mengejar harta kekayaan, terus-menerus. Dia juga ujung-ujungnya akan sadar, kok semuanya ini tidak bisa membawakan kebahagiaan.

Bagi saya. Coba Anda lihat sendiri. Berapa banyak orang-orang asing yang datang ke Bali setiap tahun. Dan orang-orang ini, khususnya yang datang ke Ubud, mereka sedang mencari kedamaian. Kalau cuma mau jalan-jalan tinggal ke Kuta ke Sanur, atau datang ke Ubud pagi-pagi datang sore pulang, banyak kan begitu. Lihat Puri lihat apa di Ubud, pulang dia. Tapi orang-orang asing yang tinggal di Ubud, mereka sedang mencari sesuatu. Mereka sedang mencari kedamaian. Belajar yoga belajar meditasi.

Kenapa mereka meninggalkan pekerjaan, buang uang, menghabiskan uang ribuan dollar. Tiket saja sudah berapa, datang ke sini. Coba, kita belajar dari mereka. Berarti mereka tidak mendapatkan kebahagiaan dari yang materi, apa yang mereka miliki di sana. Coba kita belajar dari mereka. Dan kita mengharapkan anak-anak kita, kalau bisa kerja di Eropa, di Amerika.

Saya tadi dikirimi satu clip yang membuat saya sangat sedih. Barangkali terjadi di sini juga. Tapi ini terjadi di India, di New Delhi, di ibukota India, kira-kira 20-25 km dari pusat kota. Kalau dari sini di Ketewel atau bypass 20-an km. Nggak begitu jauh juga dari ibukota. Jadi di pinggiran kota.

New Delhi itu kotanya besar sekali. Penduduknya bisa 18 juta lebih. Kota yang begitu besar jadi pinggiran kota itu sebetulnya sudah lengket dengan kota sebenarnya. Di sana ada suatu wredha ashram, panti jompo. Di mana orang-orang tua dilayani. Ratusan yang tinggal di sana, dan hampir 95% dari orang-orang jompo ini yang usianya dari 50-an, 60-an sampai 90 tahun. Orang-orang jompo  ini khususnya menderita demensia dan alzheimer. Nah orang yang menderita dementia dan alzheimner, sampai suatu tingkat, dia itu nggak bisa tahu dia mau buang air kecil, buang air besar, dia sudah makan atau belum makan dia nggak bisa tahu. Dia bisa lupa. Dia nggak tahu makan apa. Kalau sudah dibawai makan juga nggak tahu.

Orang-orang tua ini ternyata ketika dibuat clip berasal dari keluarga yang kaya. Ada yang anaknya bekerja di London. Di Amerika. Kerja di luar negeri, berarti apa? Disekolahkan oleh orangtua, entah orang tuanya mampu, atau tidak mampu tapi pinjam uang atau jual perhiasan, untuk menyekolahkan anaknya ke luar negeri.

Anak sudah mapan disana, dia lupa orang tua. Dan banyak anak-anak datang dari sana, all the way, karena keluarganya, mengatakan ibumu bapakmu sudah nggak bisa apa-apa, dia buang air besar di celan. Bagaimana? Dia datang, dia jual rumah orang tua, orang tua dia bawa ke New Delhi dari kampungnya, dia lepaskan begitu saja, dipinggir jalan. Dan dia pulang ke luar negerinya. Kemudian orang tuanya dipungut oleh ashram dilayani.

Ada yang masih hidup sampai 20-an tahun, ada yang masuk baru berapa hari sudah meninggal. Tapi kebanyakan ada ratusan orang 200 lebih orang dilayani. Orang-orang ini seperti patung saja. Dijejerkan satu ruangan bisa 50-60 bed seperti bangsal begitu. Coba bayangkan kondisi seperti ini yang terjadi. Kita terikat dengan anak, anak merasa tidak mampu terbebani oleh orang tua, dia lepaskan orang tua seperti begitu saja.

Karena Yoga atau berkarya tanpa pamrih, adalah dua hal yang beda, hanyalah mereka yang kekanak-kanakan yang berkata demikian, para bijak tidak berpendapat seperti itu karena ujung-ujungnya sama.

Kenapa saya cerita ini? Ini ada orang tua yang dimensianya justru agak mulai membaik setelah dipungut oleh ashram. Mulai membaik dan sekarang pekerjaan orang ini yang dalam bahasa Hindi sehingga kalian tidak bisa paham. Tadinya saya mau kasih lihat, documentary yang panjang 30-an menit.

Orang ini lagi baca Bhagavad Gita sepanjang hari. Dan ketika ditanya sama orang yang membuat dokumenter, kamu baca Bhagavad Gita dari dulu begitu.

Tidak sayang, dulu saya pikir saya bisabahagia dengan uang yang saya miliki. (Sekarang dia sudah mulai membaik, dia sudah mulai bicara). Terus sekarang dalam kondisi begini, saya baru sadar, saya menyia-nyiakan hidup saya. Sekarang saya baru baca ini.

Terus ditanya, sekarang kamu ingat anakmu di mana? Dia bilang saya nggak ingat tapi dia jauh sekali, ngomongnya masih kacau begitu. Tapi si ashram ini sudah cari tahu si anak ini ada di London, di Inggris.

Terus kamu mau kembali ke anakmu? Tidak, dia bilang saya mau sembuh sekarang. Saya mau layani orang-orang sakit di sini. Coba, orang ngejar kebendaan akhirnya dia sadar, tapi dalam kondisi apa?

Kita semua juga begitu, kalau kita mengutamakan harta, cuma kumpulkan harta, saya tidak mengatakan jangan cari uang lho. Cari uang, gunakan manfaatkan dengan baik. Lakukan sesuatu atas nama orang tua, manusia yajna, pitra yajna. Pitra yajna setiap kali  mengenang orang tua yang sudah meninggal. Bukan cuma leluhur di atas sekali, leluhur barangkali sudah lahir kembali. Orang tua yang baru meninggal, mungkin Atmanya belum mendapatkan badan baru. Mengenang mereka lakukan sesuatu kebaikan, membantu seseorang, lakukan sesuatu.

Saya berandai-andai di setiap kabupaten, ini harus ada center-center yang bukan hanya center seperti ini, kita meditasi atau apa tapi dimana kita bisa memberikan pelayanan barangkali diTabanan sekarang di Singaraja tanggal 10 nanti, 10 Februari ya, akan kita buka center. Kecil tanahnya cuma satu setengah are dan masih ada satusetengah are lagi. Nah saya bilang di satu setengah are itu kita harus bikin klinik dan sekolah untuk anak PAUD, anak-anak kecil. Kenapa saya bilang begitu. Saya cari tahu dari dokter Sudi di sini, dari Singaraja, banyak sekali orang-orang tua di sana yang sakit rematik, tulang-tulangnya ngilu dan sebagainya mereka sebetulnya tidak butuh obat, mereka butuh fisioterapi, dikasih sinar sedikit. Coba Anda bayangkan biaya fisioterapi di Singarajaitu cuma 70.000 rupiah. Saya kalau nggak salah di Denpasar dulu 200.000-an. Di Jakarta ada yang sampai 400.000, 300.000.

Coba bayangkan ada saudara-saudara kita di sana yang membayar 75.000 pun nggak mampu. Makanya aya bilang kepada teman-teman di Singaraja, tidak cukup membuatcenter hanya untuk meditasi dan yoga saja, atau seminggu sekali kita berikan free healing. Tidak cukup. Coba kita bikin center untuk fisioterapi. Dengan ketentuan yang bisa bayar silakan. Yang tidak bisa bayar silakan tidak bayar, tidak dipungut satu sen pun. Sehingga kita bisa melayani mereka. Di sini pun saya menghendaki sekali, kalau bisa kerjasama dengan pihak banjar atau apa, buka PAUD untuk anak kecil. Karena waktu usia kecil ini 4 tahun, 5 tahun kita kalau bisa membentuk landasannya berdasarkan dharma, mereka menjadi besar, landasan itu tetap ada.

Jadi kita mengejar uang uang uang seperti perempuan dalam cerita tadi, kisah nyata tadi. Dan ini baru disiarkan beberapa hariyang lalu, masih hidup orangnya. Sudah mengejar ngejar ngejar akhirnya dia sadar juga.

Atau kalau kita mau aman, tidak perlu susah baru sadar, dari sekarang kita sadar. Dari sekarang, coba sisakan uang sedikit, dari belanja dari apa untuk melayani sesama yang kurang mampu. Saya sudah minta kepada Jro Gede kita, dan sudah mulai iklankan mulai promosikan, sudah beliau cari devas nya bahasa sanskritnya, devas yang baik tanggal 7 April, hari Minggu. Metatah berikutnya 7 April hari Minggu. Jadi kalau ada saudara, ada anak, mau metatah disini, silakan cari Jro Gede daftarkan.

Kalau punya uang tolong bayar, kalau tidak punya atau ada keluarga, ada oarng dekat rumah di kampung yang kira-kira tidak mampu ajak, bisikin kepada Pak Wisma. Bahwa ini tidak mampu, kita tidak akan memungut satu sen pun. Yang mampu silakan, bisa mau bayar lebih silakan, sehingga kita bisa melayani, ini cuma sebagai perantara. Kita tidak mencari uang, jro Gede juga tidak mencari uang, pemangku lain juga tidak mencari uang. Beliau akan mencari bantennya yang sangat sederhana. Semuanya disiapkan, jadi nggak usah bawa apa-apa. Cuma bawa anak saja. Nah hal-hal seperti ini coba pikirkan bagaimana kita bisa melayani. Itu yang dimaksudkan oleh Krishna sebagai sanyas, melayani tanpa mengharapkan imbalan apa=apa. Terima kasih

Sumber: Video Youtube Bersama Anand Krishna Bhagavad Gita Sehari-Hari Ayat 05:01-04 Belajar Bersyukur dengan Berbagi Berkah

https://www.youtube.com/watch?v=BQdzSf5JabA

https://www.akcjoglosemar.org/wp/

https://www.anandkrishna.org/

Advertisements

Wejangan Anand Krishna: Karma Yoga, Berkarya Tanpa Pamrih Bukan Untuk Kepentingan Pribadi

Percakapan ke 5 Sanyas Yoga. Sanyas berarti membebaskan diri dari keterikatan. Banyak orang mengartikan Sanyas berarti keluar dari rumah masuk ke hutan. Iya, ada juga para Sanyas seperti itu. Tapi Krishna memiliki definisi yang berbeda dari Sanyas. Kita mendengar

 

Arjuna bertanya:

“Krishna, di satu pihak, Engkau mengagungkan pelepasan atau ketidakterikatan pada Karma, perbuatan. Di pihak lain, Engkau memuji Yoga – bertindak tanpa pamrih. Sesungguhnya, mana di antaranya secara pasti lebih unggul?” Bhagavad Gita 5:1

https://bhagavadgita.or.id/

 

Di satu pihak Krishna, Engkau harus bebas dari keterikatan, di pihak lain Engkau berkata harus berkarya, harus bekerja. Apakah bekerja itu sudah tidak punya keterikatan lagi? Padahal Krishna sudah menjelaskan Arjuna masih bimbang.

 

Sri Bhagavan (KrsnaYang Maha Berkah) bersabda:

“Samnyas atau Pelepasan Diri dari segala keterikatan, dan Karma Yoga atau meraih kesempurnaan dengan berkarya tanpa pamrih – dua-duanya dapat menghasilkan kebahagiaan sejati. Namun, di antaranya, adalah Karma Yoga yang lebih unggul.” Bhagavad Gita 5:2

https://bhagavadgita.or.id/

 

Bebas dari segala keterikatan, ada orang mau pilih masuk hutan, oke kalau memang pilihan dia. Tapi Krishna mengatakan, yang lebih unggul adalah tetap bekerja, tetap berkeluarga, tetap berada di tengah masyarakat, tetapi melakukan semua pekerjaan tanpa keterikatan. Seperti tadi sudah dijelaskan oleh Krishna. Kau berada di medan perang, kamu harus melawan musuh-musuhmu tanpa keterikatan, tanpa benci. Lawan! Karena itulah peranmu saat ini. Melayani keluarga layani tapi tanpa keterikatan. Krishna mengatakan, hidup seperti itu lebih unggul.

Itu yang disebut Karma Yoga.

 

“Sesungguhnya, ia (seorang KarmaYogi yang berkarya tanpa pamrih) adalah seorang Samnyasi Sejati seorang Samnyasi dalam setiap tindakannya. Ia tidak membenci, tidak pula mendambakan sesuatu. Mahabaho (Arjuna Berlengan Perkasa); ia pun bebas dari segala pertentangan, konflik yang disebabkan oleh dualitas. Demikian, dengan sangat mudah ia lepas dari segala keterikatan.” Bhagavad Gita 5:3

https://bhagavadgita.or.id/

 

Pernah mendengar suatu cerita:

Menarik sekali. Seorang raja, dia dizalimi oleh raja lain. Dizalimi oleh seseorang, dan sepanjang beberapa tahun, mereka selalu bertentangan, bertengkar. Pada suatu ketika raja ini raja yang baik, dia berhasil menciduk raja yang tidak baik. Ini dari kepercayaan lain tapi menarik sekali. Dia berhasil menciduk raja dari negara lain, kubu lain.

Ketika dia mau mengambil pedangnya mau bunuh orang yang sudah dia taklukkan, maka orang yang sedang tergeletak di medan perang itu, dia meludahi raja itu.  Raja yang sudah mau membunuh, dia berhasil sudah menangkap musuhnya, diludahi. Maka dia cepat-cepat menyarungkan kembali pedangnya. Dia kembalikan pedangnya, ke sarung. Raja yang tertaklukkan ini, si musuh ini yang sudah melihat maut di depan matanya, tiba-tiba heran juga. Saya sudah mau dibunuh, dan saya pikir sudah mau mati ya sekalian saya ludahin wajahnya. Kenapa dia sekarang tiba-tiba tidak jadi bunuh saya? Maka dia tanya kenapa kau tidak membunuh saya? Sudah sekian tahun kau ingin membunuh saya, sekarang saya tertangkap, saya meludahi kamu, kamu pasti marah, semestinya langsung dibunuh kok nggak dibunuh?

Dia bilang, saya tidak bunuh kamu karena, jika saya membunuh kamu sekarang, saya akan membunuh kamu karena amarah saya. Karena saya sedang marah pada dirimu. Kamu meludahi saya. Saya lagi marah saya bunuh kamu. Padahal tujuan saya menaklukkan kamu bukan itu,bukan karena amarah. Karena kau melakukan kezaliman, kau berbuat hal-hal yang tidak baik, kau menyengarakan banya korang, tujuan saya membunuh kamu adalah karena itu. Tetapi sekarang kalau saya bunuh saya terdorong oleh amarah saya. Jadilah pergi kamusekarang. Bebas kamu. Sampai musuh ini juga,menurut cerita dia akhirnya sadar, mereka bersahabat.

Ini juga Krishna mengatakan, kita melakukan banyak hal, yang sebetulnya betul banyak hal, tapi kita melakukan dengan penuh kebencian. Jangan dengan penuh kebencian. Berarti apa? Jangan melakukan sesuatu karena personal thing.

Saya sekarang lagi mengikuti satu pemberitaan, di negara lain. Ada orang yang baik sekali jadi pemimpin. Dia baik bagi negaranya, baik bagi rakyatnya. Dia menjadi pemimpin juga baik-baik. Tetapi sekarang, orang ini begitu gencar-gencarnya yang dia bicarakan cuma propaganda anti orang-orang yang berlawanan dengan dia yang berada di kubu sebelah. Oke kalau kamu melawan, lawanlah.

Di sini juga kan, kita ada pemilu ada macam-macam, mau ikut pemilu. Negara lain juga begitu. Mau ikut pemilu, oke fine, tapi jangan menjelek-jelekkan, untuk apa? Membuka-buka aib orang? Atau mengeluarkan gossip. Menyebarkan kebencian. Lawan, ya lawan aja. Di medan politik, sah kok.

Setiap orang bisa mencalonkan diri. Kamu mencalonkan diri. Lawanmu juga boleh mencalonkan diri. Tapi jangan penuh dengan kebencian, melawan dia dengan terus menerus. Sampai-sampai banyak orang yang dulu berpihak pada si pemimpin, yang sebetulnya orang baik. Tapi sekarang melihat gelagatnya, yang terucap oleh dia cuma kebencian, maka banyak orang meninggalkan dia. Malah simpati terhadap lawannya. Secara fair, kita boleh bertanding, kita boleh berkompetisi, tapi jangan karena kebencian, jangan karena suka tidak suka.

Sumber: Video Youtube Bersama Anand Krishna Bhagavad Gita Sehari-Hari Ayat 05:01-04 Belajar Bersyukur dengan Berbagi Berkah

https://www.youtube.com/watch?v=BQdzSf5JabA

https://www.akcjoglosemar.org/wp/

https://www.anandkrishna.org/

Wejangan Anand Krishna: Menghormati Wujud Gusti yang Bersemayam dalam Diri

“Wahai Dhananjaya (Arjuna, Penakluk Kebendaan), (ketahuilah) tiada karma, tiada perbuatan yang dapat membelenggu seseorang yang senantiasa berkarya dalam yoga, tanpa pamrih, dan dengan semangat melayani; keraguannya teratasi sudah oleh Pengetahuan Sejati; dan dirinya terkendali.” Bhagavad Gita 4:41

https://bhagavadgita.or.id/

 

Penjelasan lanjutan:

Sebetulnya, awal mula dari penyakit, itu dari mana? Dari makanan, asupan. Dan makanan bukan yang cuma lewat mulut. Lewat kuping, lewat mata. Kita mendengar gossip melulu kita mencari persoalan. Ada orang sedang menjelek-jelekkan kita, kita tidak mendengar, tidak ada yang memberitahu, oke-oke kan? Tapi begitu diberitahu, si anu lagi bicarain kamu, langsung kita……..jadi apa yang kita terima lewat pancaindra kita, lewat mata melihat sesuatu yang tidak beres. Mendengar sesuatu, memakan sesuatu tapi kesehatan fisik sangat terganggu. Pikiran juga makanan memperparah situasi………..

 

Saya pernah cerita dulu, paman saya seorang dokter. Kalau orang lagi sakit pertama-tama disuruh puasa,  minum air banyak, dikasih obat supaya dia bisa buang air besar, leksitif ya, maka toksin-toksin racun-racun dalam tubuh kita akan keluar, dan kita bisa sehat kembali. Di situ persoalannya.

Di dalam tubuh kita, di dalam pikiran kita otak kita, banyak racun. Harus dikeluarkan. Kita punya tradisi setahun sekali Nyepi. Setahun sekali Nyepi itu cuma memperingatkan kita, bahwa dari waktu ke waktu, kita harus bisa menyepi sendiri. Entah seminggu sekali, di dalam tradisi kita, ada upacara, ritual, ada bulan purnama dan tilem. Awal mulanya purnama, tilem itu semestinya kita berpuasa. Berpuasa dari pagi sampai sore. Sore begitu matahari sebelum terbenam, mau sedang terbenam, makan. Kira-kira jam 6sore. Dan cuma makan sekali. Nggak makan terus sampai malamnya. Oh setelah buka puasa kita makan terus sampai jam 12 malam. Tidak. Jam 6 makan, dari pagi bangun tidur sudah tidak puasa. Jadi malamnya misalnya besok purnama, hari ini terakhir makan malam jam berapa, besok bangun tidur cuma minum air. Kalau tidak kuat, bisa minum juice atau susu, tapi jangan makan sayur-sayuran, jangan makan nasi, jangan makan terigu. Coba kita lihat, dengan cara begitu, dari waktu ke waktu, sebulan dua kali, purnama tilem, kita akan mengistirahatkan badan kita. Kita akan mengistirahatkan pikiran kita.

Dalam tradisiHindu, bulan purnama, dikaitkan dengan Sathya Narayana. Narayana tahu siapa? Vishnu ya. Vishnu disebut Narayana, pratima nya disana. Nah Vishnu ini, salah satu namanya disebut Sathya Narayana. Sathya berarti satya, kebenaran. Narayana berarti bersemayam di dalam diri Nara. Dalam diri manusia. Tuhan bukan berada diluar diri, tapi Dia Narayana, Ia bersemayam dalam diri Nara, dalam diri manusia. Dan dia bersemayam dalam bentuk apa, wujudnya adalah sathya, wujudnya adalah kebenaran.

Bisa nggak satu hari, dalam sebulan, pada bulan purnama, dan kalau bisa juga tilem, hari itu dari bangun tidur, sampai tidurlagi, jangan bohong sekalipun. Coba, perhatikan, kita sudah terbiasa bohong, jadi kadang-kadang kita nggak sadar bahwa kit alagi bohong.

Ada orang telpon bilang ibu nggak ada di rumah. Bilang saya lagi sibuk. Oleh karena itu, dari pada bohong pun nggak bisa dikendalikan. Nggak bisa benar, nggak bisa bicara jujur satu hari, ya sudah diam saja sehari. Puasa ngomong. Tidak usah bicara sepanjang hari.

Tapi ada juga orang, saya bilang begitu sama dia, karena dia itu pembohong kelas apa itu luar biasa dia. Apa pun dia bisa bohong. Nggak ada urusan bohong pun dia bohong. Saya bilang kamu puasalah sebulan sekali. Jangan bohong sebulan sekali. Dia bilang nggak bisa pak. Dia ngerti juga, nggak bisa saya pak. Saya bilang, Ya sudah puasa bicara. Sepanjang hari kamu nggak usah bicara.

Dia bilang oh itu mungkin bisa. Zaman itu waktu saya berikan advis kepada dia, belum ada handphone belum ada seperti sekarang. Masih mahal, pulsanya masih mahal. Belum begitu banyak gadget, belum ada apa. Cerita tahun 80-an. Dia bilang oke itu mungkin masih bisa saya. Saya nggak akan bicara, saya puasa bicara.

Dari pagi sampai malam. Jam 12 malam boleh bicara? Tawar-menawar, jam 12 malam dia mau bangun untuk bicara. Luar biasa kan? Saya bilang oke boleh. Bukan urusan saya sebetulnya. Mau bicara, nggak bicara bukan nggak punya drone. Bisa melihat dia lagi puasa atau nggak, tapi apa yang terjadi?

Besoknya dia datang, ya saya sudah nggak bicara, saya merasa tapi sama saja saya merasa nggak enak sekali saya. Stress dia. Saya tanya apa yang kamu lakukan, saya nggak bicara. Terus apa yang kamu lakukan, mau bicara sama siapa saja dia tulis. Sama saja. Mau marahin pembantu dia tulis. Terus pembantu nggak bisa baca tulisannya. Dia tulis kepada anaknya, tolong marahi pembantumu. Seperti itu, kita nggak bicara pun sehari nggak bisa. Sulit sekali.

Oleh karena itu Krishna mengatakan, Pengetahuan Sejati, mencari tahu siapa aku sebenarnya. Aku adalah Atma, badan ini mungkin besok tidak akan ada. Tapi aku tetap ada. Dan aku yang tetap ada ini sama dengan aku setiap orang di sini. Kita semua sinar dari matahari yang sama. Begitu kita paham hal itu, hidup menjadi lebih mudah.

 

“Sebab itu wahai Bharata (Arjuna, Keturunan Raja Bharat), gunakanlah pedang Pengetahuan Sejati untuk menghabisi keraguan yang berasal dari dalam dirimu sendiri, dari ketidaktahuan tentang hakikat dirimu. Bangkitlah dalam Yoga, wahai Arjuna!” Bhagavad Gita 4:42

https://bhagavadgita.or.id/

 

Gunakan pedang Pengetahuan Sejati untuk menghabisi keraguan, yang berasal dari dalam dirimu sendiri. Apa yang harus saya lakukan. Ini atau itu, cari pekerjaan juga begitu. Pekerjaani ni atau pekerjaan itu. Yang masih muda cari jodoh pun demikian, yang ini atau itu. Selalu begitu.

Kita selalu ragu-ragu. Dan keraguan ini yang menciptakan kegaduhan. Saya pernah cerita, saya kenal orang mau ke restoran juga begitu. Dalam beberapa hari terakhir saya cerita, karena konteksnya masih sama. Mau pesan makanan pun ragu-ragu.

Zaman dulu kita nggak ada gadget, nggak ada apa, baca koran kan, ada orang bisa baca koran dari pagi sampai sore. Koran taruh di mobil ke mana baca lagi. Sampai iklan pun dia baca 10 kali. Ini menunjukkan apa, ragu-ragu. Kita begitu ragu-ragunya, sudah kunci mobil, baru jalan sedikit, kembali lagi. Sudah kunci belum?

Awalnya dari hal-hal kecil, dari hal-hal sangat kecil. Tapi terbiasa kita. Meragukan segala sesuatu, meragukan hidup ini, meragukan pekerjaan kita meragukan segala-galanya. Pengetahuan Sejati, pengetahuan tentang Atma, membuat kita bebas dari keraguan.

Sumber: Video Youtube Bersama Anand Krishna Bhagavad Gita Sehari-Hari Ayat 04:41-42 Cara Membebaskan Diri dari Kekacauan dalam Hubungan Rumah Tangga

https://www.youtube.com/watch?v=9Kxkoqb4vdY

 

https://www.akcjoglosemar.org/wp/

https://www.anandkrishna.org/

Wejangan Anand Krishna: Melayani Gusti dalam Wujud Anak, Suami, Istri

“Wahai Dhananjaya (Arjuna, Penakluk Kebendaan), (ketahuilah) tiada karma, tiada perbuatan yang dapat membelenggu seseorang yang senantiasa berkarya dalam yoga, tanpa pamrih, dan dengan semangat melayani; keraguannya teratasi sudah oleh Pengetahuan Sejati; dan dirinya terkendali.” Bhagavad Gita 4:41

https://bhagavadgita.or.id/

 

Tercipta belenggu, tercipta keterikatan, ketika saya melayani suami saya karena dia adalah suami saya. Saya melayani istri saya karena dia adalah istri saya. Saya,,aku. Saya memberikan uang, memberikan pendidikan kepada anak-anak saya karena mereka adalah anak-anakku. Aku ini yang menciptakan keterikatan.

Sehingga nomer satu adalah bukan keluarga sebetulnya, tapi aku. Karena dia adalah suamiku, dia adalah istriku, dia adalah anakku, maka aku memperhatikan. Kalau belum jadi istri, nggak diperhatikan. Belum jadi suami, nggak diperhatikan. Anak kita sekarang, kalau lahir di rumah orang lain, tidak diperhatikan juga. Ini yang menciptakan keterikatan.

Apa yang sedang Krishna katakan, apakah kita tidak melayani orang tua tidak melayani suami, istri, anak. Tidak. Tetapi layani mereka semua karena mereka adalah makhluk-makhluk Gusti, Sang Hyang Widhi, Tuhan yang sama.

Jadi cuma mengubah cara melihat kondisi. Tetap melayani orangtua, tetap melayani anak, tetap melayani keluarga, tetap melakukan semuanya. Tapi bukan karena mereka adalah milikku. Begitu kita bebas dari aku, aku, aku ini, kita akan bahagia, anak kita akan bahagia, bapak kita, ibu kita di rumah akan bahagia.

Dari kecil anak-anak kita diajarkan mathru devo bhava, anggaplah ibumu sebagai Tuhan. Pithru devo bhava, anggaplah ayahmu sebagai Tuhan. Acharya devo bhava anggaplah para guru yang mengajarkan ilmu dan sebagainya sebagai Tuhan. Sebagai wujud dari Gusti. Wujud dari Hyang Widhi, Yang Nyata, Yang Mulia.

Maksudnya apa? Jauh melebihi hubungan keluarga kita sekarang. Jauh melebihi, Krishna mengatakan hubungan keluarga kalau berdasarkan aku, aku, aku kita menciptakan keterikatan dan kita juga melayani tanpa mengharapkan sesuatu. Anak-anak sedang besar, menjadi besar. Waktu masih kecil, dimarahi diapa masih oke kan, begitu sudah jadi dewasa, tentu tidak oke lagi. cara kita berhadapan dengan seorang anak yang masih kecil dan anak yang besar, bagaimana kita memperlakukan, dua halyang berbeda.

Tapi kalau dari awal, sebelum anak itu dewasa, kita sudah menganggap bahwa semua, segala sesuatu dalam hidup saya ada suami, ada istri, ada anak, ada pembantu, ada supir, ada mertua, ada orang tua, ada adik, ada kakak, semuanya adalah wujud dari sinar suci yang sama. Hyang Widhi yang sama. Tuhan yang sama. Hubungan kita akan menjadi lebih baik.

Jauh melebihi hubungan kita yang sekarang ini yang selalu panas dingin. Hubungan suami istri kan selalu panas dingin kan? Nggak selalu panas, nggak selalu dingin, jadi mati tidak, hidup tidak. Setengah-setengah. Kadang berantem kadang ini, kadang begitu. Anak kalau sudah besar kita mengharapkan sesuatu kalau anak tidak patuh juga sedih. Nggak bisa ngomong. Sama suami masih bisa berantem. Zaman sekarang sama istri masih bisa berantem. Sama anak, nggak bisa ya. Anak akan berontak.

Sama suami istri masih cekcok, masih kadang-kadang masih bisa. Tapi sama anak, sudah tutup mulut kita. Kenapa bisa demikian? Karena aku, aku, aku ini. Ini adalah anakku, suamiku, kalau dari awal kita mengubah sikap kita. Aku sedang melayani Tuhan Sang Hyang Widhi, dalam wujud anak, dalam wujud suami, dalam wujud istri, dalam wujud saudara. Dalam wujud orang tua. Dalam wujud mertua. Dalam wujud teman, kerabat, kawan, maka cara pandang kita dengan diubah begitu, hubungan kita akan menjadi jauh lebih mesra.

Krishna mengatakan tidak akan membelenggu, seperti itu ketika kita melayani anak dengan pemikiran dia adalah anakku kita menciptakan keterikatan. Tapi melayani anak, melayani suami, melayani istri karena semuanya ini adalah wujud dari Hyang Widhi yang sama, tidak ada keterikatan lagi. Kita bebas dari keterikatan.

Tetap di rumah,tetap bersuami, tetap beristri. Di Bali ada tradisi yang indah sekali tradisi Sulinggih di Bali. Seorang Sulinggih itu bebas dari keterikatan, demikian secara budaya Bali begitu. Walaupun seorang Sulinggih tetap hidup bersama istri. Apa sebutannya Pedande istri, tetap hidup sama istri. Tapi tanpa keterikatan, seorang Sulinggih sedang mempraktekkan, apa yang dikatakan oleh Krishna.

Tetapi Krishna mengatakan, bukan cuma Sulinggih, tapi kita semua semestinya mempraktekkan, seperti itu. Sepertinya dengan cara begitu, dan hanya dengan cara begitu, kita bisa bebas dari segala macam kekacauan dalam hubungan kita. Di rumah tangga, di masyarakat. Dengan semangat melayani keraguanmu juga akan bebas, oleh Pengetahuan sejati. Apapun yang sedang terjadi, dalam hidup kita.

Ada pelajaran dan kita tidak memahami dan kita beraduh-aduh. Saya juga pun demikian, kalau sedang menjalani suatu masa yang penuh dengan gejolak. Kita juga kadang-kadang beraduh-aduh. Semua orang demikian, tapi setelah berlalu pengalaman itu, kita baru tahu, kita baru sadar, pengalaman itu pun memiliki suatu pelajaran.

Sebetulnya, alam semesta sudah mengajarkan kepada kita. Kalau kena flu, masuk angin, parah, menunjukkan apa? Bahwa badan kita ini butuh istirahat. Kalau kita memberikan istirahatyang cukup, dia sembuh dengan sendirinya. Lagi sakit perut, lagi sakit apa pun juga.

Sebetulnya, awal mula dari penyakit, itu darimana? Dari makanan, asupan. Dan makanan bukan yang cuma lewat mulut. Lewat kuping, lewat mata. Kita mendengar gossip melulu kita mencari persoalan. Ada orang sedang menjelek-jelekkan, kita. Kita tidak mendengar, tidak ada yang memberitahu, oke-oke kan? Tapi begitu diberitahu, si anu lagi bicarain kamu, langsung kita…… jadi apa yang kita terima lewat, pancaindra kita, lewat mata melihat, sesuatu yang tidak beres. Mendengar sesuatu, memakan sesuatu tapi kesehatan fisik sangat terganggu. Pikiran juga makanan memperparah situasi.

Sumber: Video Youtube Bersama Anand Krishna Bhagavad Gita Sehari-Hari Ayat 04:41-42 Cara Membebaskan Diri dari Kekacauan dalam Hubungan Rumah Tangga

https://www.youtube.com/watch?v=9Kxkoqb4vdY

 

https://www.akcjoglosemar.org/wp/

https://www.anandkrishna.org/

 

Wejangan Anand Krishna: Mengendalikan Indra dan Mencapai Kedamaian Abadi dengan Pengetahuan Sejati

“Di alam benda, di dunia ini, tiada penyuci lain yang dapat menandingi (api) Pengetahuan Sejati. Seorang yang mencapai kesempurnaan dalam (Karma) Yoga, menemukan Sumber Pengetahuan Sejati itu di dalam dirinya sendiri.” Bhagavad Gita 4:38

https://bhagavadgita.or.id/

 

 

“Ia yang teguh dalam keyakinannya, meraih Pengetahuan Sejati; dengan Pengetahuan Sejati, ia mengendalikan indranya. Dan dengan Pengetahuan Sejati pula ia mencapai kedamaian abadi.” Bhagavad Gita 4:39

https://bhagavadgita.or.id/

 

Tidak ada sesuatu yang bisa membersihkan diri kita.  Api itu adalah yang membersihkan. Apa pun yang kita masukkan ke dalam api, dia membakar habis, akhirnya yan gtersisa adalah abu. Apa pun dia mendaur ulang. Pengetahuan Sejati juga begitu. Begitu kita tahu, hidup di dunia ini sementara, kita tidak akan merasa berlebihan sedih. Berlebihan senang kalau mendapatkan rejeki.

Saya waktu itu pernah cerita, baru jual tanah, dapat berapa ratus juta, langsung bagi-bagi beli motor, bag isini bagi sana. Menjual tanah karena butuh uang, begitu jual tanah dia sudah bagi-bagi, habis. Inilah kondisi kita. Kita tidak sadar bahwa hidup di dunia ini sementara.

Punya uang nikmati, bantu orang lain, punya uang lakukan sesuatu yang berguna. Dan kalau tidak punya uang kerja keras lagi. Tidak perlu beraduh-aduh. Ini Pengetahuan Sejati. Kalau tidak punya uang berarti harus kerja lebih keras. Harus kerjacerdas. Dimana kesalahan saya. Kenapa saya tidak mendapatkan keuntungan, padahal orang lain kerja yang sama,dia punya keuntungan. Pasti ada kesalahan saya. Kesalahan saya, dimana, mencari tahu. Dalam hidup kita juga begitu. Kalau setiap hari istri cekcok cari tahu. Kalau suami main serong cari tahu. Persoalan saya di mana?

Bukan Pengetahuan Sejati baca Veda sepanjang hari, Veda mengajak kita, untuk menghadapi kenyataan hidupini. Dengan penuh kesadaran, jadi tidak ada penyuci yang sesuatu yang membakar habis, dosa-dosa kita, kebodohan kita dan dengan Pengetahuan Sejati itu, setelah kita meraih Pengetahuan Sejati, kita bisa mengendalikan indra.

Kalau ada orang lagi marah-marah, coba pikirkan. Jangan marah-marah dulu, kondisi ini seperti apa, kalau saya marah kembali akan membuat cerita ini lebih baik, atau lebih jelek. Kadang-kadang marah dibutuhkan, kebanyakan tidak dibutuhkan. Jadi kita harus berpikir kembali. Dan kalau kita dimarahi, kita juga harus berpikir kembali.

Saya sering mengatakan, di Jawa ada satu kata. Nesu. Kalau orang dimarahin itu dia tidak marah kembali, tapi dia tersinggung begitu. Dan dia memendam rasa tersinggung itu. Nggak tahu di Bali ada istilah itu nggak, tapi di Bali orangnya ad abegitu. Orang yang nesu itu di Bali banya kjuga. Gen nya sama, genetiknya sama, dan orang nesu itu dari mukanya dapat kelihatan, mukanya itu sudah cemberut, kesel bukan main. Tapi nggak bicara apa-apa dia. Ngambul. Nah ini kita belum berpengetahuan.

Kita harus mencari tahu di diri sendiri. Saya sih ngambul nesu, tapi orang yang memarahi saya, dia juga ngambul dan nesu. Ini kok nggak ngerti-ngerti. Setiap kali kesalahannya sama saja. Kadang-kadang saya suruh Upasana tolong deh, sampaikan kepada orang ini, dia bilang nggak males deh saya sekarang, saya suda hsampaikan berulang kali, nggak ada perubahan. Sudah males. Terpaksa sayaharus menyampaikan, dan saya cari tahu,kenapa kamu begitu. Karena orang wajahnya kelihatan orang nesu. Ngambul. Dari wajahnya kelihatan, jadi kalau lagi dimarahi kita harus introspeksi diri kenapa saya kena marahterus. Orang yang memarahi juga harus introspeksi diri, jangan-jangan apa yang saya sampaikan, nggak jelas. Sehingga orang itu berbuat salah. Ini PengetahuanSejati. Dua-duanya harus introspeksidiri. Dan setelah itu kita bisa mengendalikan indra kita, mengendalikan mulut, mengendalikan aksi, mengendalikan perbuatan, kalau kita sudah bisa mengendalikan diri maka terciptalah kedamaian dalam diri kita.

 

“(Sebaliknya) mereka yang bodoh, tidak berpengetahuan; tidak pula berkeyakinan; dan senantiasa ragu – niscaya akan binasa. Baginya tiada kebahagiaan di dunia ini, maupun di alam setelah kematian.” Bhagavad Gita 4:40

https://bhagavadgita.or.id/

 

Ini orang-orang yang bodoh,orang-orang yang ragu-ragu terus, ada orang pergi ke restoran, dia membaca menunya seperti membaca Bagavad Gita. Terus dia membaca, ada teman di sebelahnya, mau makan apa ya makan apa ya. Seperti mau terjadi sesuatu apa ya, luar biasa. Nah ini ragu-ragu. Ragu-ragu terus. Saya pernah ketemu, dan saya pernah juga cerita berulang kali, ada keluarga di dalam keluarga besar saya, mau beli barang apa pun juga, selalu janji kalau saya nggak suka, akan saya ganti, tukar.

Pulang ke rumah, begitu dia beli tas pulang ke rumah, yang terjadi seperti arisan. Dia panggil keluarganya, panggil tetangganya. Ini saya baru beli tas bagus nggak, bagus nggak? Ada 20 orang, 20 otak kan ya, yang satu bilang kurangnya ini, ini warnanya kurang, talinya kurang bagus, lebih ragu-ragu lagi. Dia pergi ke toko besoknya, mau tukar, di toko 2 jam. Hanya tukar.

Istri telpon, lama sekali bicara, suami sedang menunggu. Shakila, suaminya Hola, shakila siapa tadi ditelpo nku. Tahu siapa? Apa jawabannya, salah sambung. Salah sambung bisa ngobrol sejam. Kalau nggak salah sambung, ini orang-orang yang bodoh.

 

Sumber: Video Youtube Bersama Anand Krishna Bhagavad Gita Sehari-Hari Ayat 04:32-40 Raihlah Pengetahuan Sejati Tentang Diri Dan Akhiri Segala Keraguan

https://www.youtube.com/watch?v=yc6A892e-34

https://www.akcjoglosemar.org/wp/

https://www.anandkrishna.org/

 

Wejangan Anand Krishna: Segala Karma Dibakar Habis Api Pengetahuan Sejati? Apa itu Pengetahuan Sejati?

Pengetahuan Sejati berarti apa? Pengetahuan tentang diri sendiri. Kita berada di dunia ini untuk apa, urusannya apa. Apa cuma lahir makan minum beristri punya anak, kemudian ujung-ujungnya mati. Apakah itu saja yang menjadi tujuan dari hidup ini.

Silakan baca: https://gitakehidupansepasangpejalan.wordpress.com/2019/03/17/wejangan-anand-krishna-lahir-dewasa-berkeluarga-tua-dan-mati-hidup-demikian-saja/

 

“Ketahuilah hal ini dengan mendatangi mereka yang mengetahui kebenaran; bertanyalah dengan penuh ketulusan hati; layani mereka dengan penuh keikhlasan; dan mereka akan mengajarkan, mengungkapkan kebenaran itu padamu.” Bhagavad Gita 4:34

https://bhagavadgita.or.id/

 

Bagaimana kita tahu kebenaran, dulu kita punya beberapa Pedande, yang saya pribadi kenal. Mungkin sekarang, juga banyak Pedande seperti itu. Tapi saya masih ingat, ketika pertama kali, Pedande Made Gunung, beliau mulai muncul di tivi. Masih ingat kan, waktu itu banyak orang tidak setuju, masa sulinggih mau muncul di tivi,ceramah. Tapi beliau berani mengungkapkan, dan ini akhirnya membawa hasil. Banyak sekali orang tercerahkan oleh beliau.

Banyak sekali orang tercerahkan oleh Pedande Sebali. Setiap kali ada acara apa dimana, harus membela kebenaran, beliau akan muncul kegaris terdepan. Banyak orang mengkritik dia. Kok seorang sulinggih, ada acara membela apa, membela hak-hak orang kecil, membela hak-hak umat lain. Beliau tetap berada di barist erdepan. Inilah orang-orang yang mengenal kebenaran, megetahui kebenaran, bergurulah kepada orang-orang seperti itu.

Saya tidak pernah ketemu tapi saya dengar Pedande Sidemen jugaseperti itu. Jad idi sini,sudah perhatikan, kita memberikan nama jalan, tempat yang begitu kecil. Jalan ini adalah jalan Pedande Sidemen. Jalan kesini adalah jalan Pedande Made Gunung. Jalan ke situ adalah jalan Pedande Sebali. Untuk mengenang jasamereka, bahwa mereka pernah, mengajarkan Pengetahuan Sejati. Lewat buku Pedande Sidemen banyak menulis buku, lewat Pengetahuan Sejati. Mereka-mereka mengenal, mereka-mereka bukan cuma paham, mereka-mereka menjalankan, apa yang dikatakan oleh Krishna di sini. Itu juga yang dilakukan oleh Abhyasa, Vyaas, mengumpulkan Veda, menulis mahabharata, menulis begitu banyak, pustaka suci lainnya. Untuk menyebarkan Pengetahuan Sejati. Dan nanti dijelaskan kenapa, PengetahuanSejati itu penting dalam hidup kita.

 

“Wahai Pandava (Arjuna, Putra Pandu), setelah meraih Pengetahuan Sejati dan tercerahkan, kau tak akan bingung lagi. Kau akan merasakan kesatuan, kemanunggalan dengan semua makhluk, dan selanjutnya melihat semua di dalam diri-Ku.” Bhagavad Gita 4:35

https://bhagavadgita.or.id/

 

“Walau kau seorang yang paling berdosa, paling khilaf di antara semua yang berdosa dan khilaf; kau dapat melampaui (lautan) segala dosa-kekhilafan dengan menggunakan perahu Pengetahuan Sejati.”  Bhagavad Gita 4:36

https://bhagavadgita.or.id/

 

Pengetahuan Sejati ini bagaikan perahu. Kita sedang menjalani hidup ini, hidup ini disebut samsara, lautan samsara. Dengan Pengetahuan Sejati, kita bisa melewatinya, tanpa kebingungan tanpa rasa bingung. Kita tidak akan bingung lagi. Terjadi sesuatu, kita bingung, kita bingung bahwa kenapa saya sudah berdoa, sudah sembahyang, sudah ke Pura, sudah ketempat ibadah, kok saya masih menderita.

Tapi kalau kita tahu, bahwa penderitaan itu disebabkan oleh karma kita sendiri, bukan Sang Hyang Widhi, yang menyebabkan kita menderita. Kalau kita tahu kita tidak akan bingung. Kita tidak akan mengaduh-aduh.

Saya barusan baca tentang pengalaman, seseorang yang luar biasa, dia adalah seseorang yang betul-betul menjalankan semua apapun yang ditulis, apapun yang disarankan oleh Gurunya. Dia mengikuti semua petunjuk itu. Punya anak, anaknya autis, dan anak autis ini kadang-kadang dengan usia anak-anak itu bisa menjadi lebih baik sedikit. Tapi ini dengan usia tambah parah. Tambah menjadi tak terkendali anak itu. Ada orang datang ke rumahnya, dan dia mengatakan saya betul-betul merasa sangat sedih, melihat kondisimu, kau melakukan meditasi, kau mempraktekkan yoga, kau membantu orang secara tulus. Membantu orang secara tulus.

Dia bilang jangan, don’t be sorry about me, jangan merasa kasihan terhadap saya. Karena dari dulu saya minta kepada Guru saya, saya minta kepada istha saya, tolong ajarkan saya, bagaimana mencintai orang tanpa kepentingan diri. Tanpa embel-embel apapun. Tanpa mengharapkan sesuatu. Sekarang Tuhan, Ishta saya, Guru saya, telah memberikan kesempatan kepada saya lewat anak ini, untuk melayani seseorang tanpa mengharapkan sesuatu. Saya tahus aya tidak bisa harapkan apa-apa dari anak ini. Dan ini adalah kesempatan yang diberikan kepada saya.

Lihat cara pandang, betapa luar biasanya cara pandang seperti itu. Apa pun yang terjadi, demi kebaikan kita sendiri. Kalau saya sedang menderita, karena karma saya. Kalau saya kena flu, karena kemarin-kemarin saya tidak menjaga kesehatan dan selanjutnya, saya harus menjaga kesehatan. Jadi semua pengalaman itu memberikan pelajaran.

Jadi walaupun kau seorang yang berdosa, sudah mengalami penderitaan, karena karma kita sendiri. Kita bisa melampaui semua, penderitaan itu, dengan Pengetahuan Sejati. Dengan kesadaran, apa yang sedang terjadi, memang harus terjadi dan saya harus belajar dari pengalaman ini.

 

“Sebagaimana api membara membakar habis kayu menjadi abu; pun demikian Arjuna, api Pengetahuan Sejati, membakar habis (akibat dari) segala karma, segala perbuatan.” Bhagavad Gita 4:37

https://bhagavadgita.or.id/

 

Dengan memiliki pengetahuan tentang karma, apapun yang terjadi karena karma. Ini adalah kesempatan saya untuk belajar, maka segala macam karma-karma yang jelek itu, akan terbakar habis.

Tapi kalau kita mengeluh terus, saya membaca ceritera yang menarik sekali. Cerita dari China, cerita rakyat. Saya nggak tahu, Upasana pernah dengar atau tidak. Tapi semacam role play, ini bagus sekali ceritanya. Seorang ratu, dia ingin mencari jodoh mencari istri untuk anaknya. Pangeran yang sudah berusia cukup.untuk kawin, maka ada perlombaan.

Perlombaannya apa? Sekian banyak perempuan-perempuan itu ditaruh dalam suatu palace, istana. Semua punya kamar yang bagus sekali, indah. Dan zaman dulu, matras itu tidak tebal seperti sekarang. Masih ingat matras zaman dulu yang terbuat dari kapas, tipis-tipis. Zaman dulu di istana pun matrasnya tipis seperti itu. Tapi kalau di istana, matrasnya bisa berlapis-lapis. Kalau orang miskin cuma satu lapis. Kalau di istana, di tiap ranjang bisa punya matras sampai 20 matras.

Maka dia menaruh sebutir kacang, kacang sebesar apa pun bayangkan, ia taruh di bawah matras. Matras yang paling atas. Dan di atasnya dia taruh 20 matras. Dan setiap perempuan ini, harus tidur di atas matras itu dan esoknya ditanya kamu tidurnya seperti apa. Yang lain bilang saya tidur nyenyak. Nggak terasalah mau terasa bagaimana? Semuanya gagal, yang satu mengeluh, saya nggak bisa tidur, ternyata ada sesuatu di bawah matras. Ada sesuatu di bawah matrasi itu saya tidak bisa tidur. Dia terpilih.

Nah ini coba bayangkan, orang terpilih karena dia komplain. Tetapi dari segi ratu. Perempuan ini yang bisa merasakan ada kacang sedikit di bawahnya. Dan dia tidak bisa tidur. Berarti badan dia mulus sekali. Badan dia begitu halus, lembut ada kacang di bawah matras, 20 lapis, dia tetap bisa merasakan. Dia patut menjadi istri dari anak saya.

Kita juga begitu, kadang-kadang kita melihat hal-hal dikaitkan dengan sini, kita sendiri memiliki banyak kekhilafan, dan kita melihat kekhilafan dalam diri orang lain. Kita menikmati itu. Kita menikmati melihat keburukan dalam diri orang lain. Si Ratu ini juga tukang komplain, dia juga mencari menantu yang tukang komplain juga. Kebanyakan kita begitu. Harus hati-hati.

Krishna mengatakan dengan cara itu kita nggak bisa melanjutkan perjalanan, dan kebanyakan orang seperti itu. Tubuh kita mulus sekali, satu kacang pun bisa kita rasakan, dan kita menikmati. Kita tidak melihat ke dalam diri kita sendiri. Krishna mengatakan dengan Pengetahuan Sejati, semua dosa kekhilafanmu akan terbakar habis, karena tidak akan ada dosa lagi. Kalau sudah punya Pengetahuan Sejati, dosa nggak ada lagi, mau diapakan lagi kita nggak akan berbuat salah lagi. Kalau sudah ada Pengetahuan Sejati kita tidak akan komplain tentang kacang dibawah matras itu.

Sumber: Video Youtube Bersama Anand Krishna Bhagavad Gita Sehari-Hari Ayat 04:32-40 Raihlah Pengetahuan Sejati Tentang Diri Dan Akhiri Segala Keraguan

https://www.youtube.com/watch?v=yc6A892e-34

https://www.akcjoglosemar.org/wp/

https://www.anandkrishna.org/

 

Wejangan Anand Krishna: Lahir, Dewasa, Berkeluarga, Tua Dan Mati? Hidup Demikian Saja?

“Demikian, banyak sekali cara panembahan yang dijelaskan oleh Brahma, Sang Pencipta (lewat Veda). Ketahuilah bila semuanya itu menyangkut  perbuatan nyata (dengan semangat panembahan). Dengan pemahaman dan penghayatan akan hal ini, niscaya kau terbebaskan  (dari segala duka dan dosa-kekhilafan).” Bhagavad Gita 4:32

https://bhagavadgita.or.id/

 

Di sini Krishna menjelaskan, apa sebetulnya upacara itu, yajna itu, persembahan itu. Persembahan itu bukan cuma menghaturkan persembahan dalam bentuk bunga atau apa. Tidak. Ini adalah simbolik sekali di sini Krishna jelas-jelas mengatakan cara panembahan itu dengan kerja nyata.

Ini simbolik untuk mengingatkan kita, tapi setelah itu kerja nyatanya yang penting. Jadi banyak cara, untuk melakukan, menghaturkan persembahan, tapi ujung-ujungnya semua cara itu menyangkut kerja nyata.

Tidak bisa kita cukup menghaturkan persembahan dalam bentuk bunga, atau upacara lainnya, kemudian kita menutup mata terhadap orang yang sengsara, orang yang sedang berduka, keluarga yang sakit, tetangga yang sedang kena musibah. Kalau kita menutup mata terhadap semua itu, dan cuma melakukan persembahan dengan cara begini, ini salah. Ini keliru. Dan di sini Krishna menjelaskan lebih lanjut, persembahan yang paling penting itu menjelaskan apa sebetulnya.

 

“Wahai Parantapa (Arjuna, Penakluk Musuh), sesungguhnya persembahan berupa Pengetahuan Sejati – manembah dengan cara berbagi Pengetahuan Sejati adalah lebih mulia daripada persembahan berupa harta-benda,materi. Akhir dari segala perbuatan adalah Pengetahuan Sejati.” Bhagavad Gita 4:33

https://bhagavadgita.or.id/

 

Bagaimana kita memberikan pengetahuan kepada orang-orang lain, tapi bukan hanya pengetahuan, biasa. Pengetahuan Sejati berarti apa? Pengetahuan tentang diri sendiri. Kita berada di dunia ini untuk apa, urusannya apa. Apa cuma lahir makan minum beristri punya anak, kemudian ujung-ujungnya mati. Apakah itu saja yang menjadi tujuan dari hidup ini.

Orang punya uang juga mati, orang tidak punya uang juga mati. Orang punya uang banyak juga kadang-kadang mati di rumah sakit, tidak ada seorang pun yang menjenguk. Keluarga pun melupakan.

Ada orang baru-baru ini saya dengar, saya pernah kenal dia dulu. Sudah hampir tiga setengah tahun dia dalam kondisi koma. Tiga setengah tahun, dan ketika ditanya, saya tanya sama keluarganya, saya tanya bagaimana kondisinya, dia pertama agak nggak mau jawab, dia agak mengelak. Tapi saya tahu anaknya sendiri, sudah tiga setengah bulan tidak menjenguk dia. Banyak alasan, lagi sibuk, lagi ini, lagi travelling keluar negeri. Tentu kan tidak tiga bulan travelling terus kan, pasti pulang ke negerinya dua tiga hari. Tidak ada dorongan untuk menjenguk orang tua yang sudah membesarkan dia, dan selama 3 bulan dia tidak menjenguk orang tuanya. Saya tidak mau sebut nama, tapi salah satu pejabat tinggi di negeri ini. Kita semua tahu namanya. Saya ketemu dengan asprinya, setelah beliau meninggal. Dia bilang enam bulan terakhir, tidak seorang pun anaknya menjenguk, anak-anak yang dia besarkan.

Dia punya banyak persoalan karena anak-anak itu, dia menghadapi banyak persoalan, anak-anak yang berbuat, yang menghadapinya orang tua. Tapi dalam jelang masa kehidupannya yang sudah senja, satu dari sekian banyak anak pun, tidak ada yang menjenguk.

Inilah kondisi kita. Dan ini bisa terjadi pada siapapun. Krishna mengatakan, Pengetahuan Sejati dan dalam Sara Samuccaya juga Vyaas mengatakan, Vararuci yang kemudian mengumpulkan ajaran-ajaran dari Vyaas itu, Abhyasa, dalam pustaka suci Sara Samuccaya, dan berdana punya yang paling tinggi itu berupa Pengetahuan Sejati.

Entah lewat buku, entah lewat bicara, menyampaikan kepada orang, memberikan sedikit pencerahan. Sekarang kita banyak sekali, video di youtube dan sebagainya, berbagi video ini juga berdana punya. Jangan bagi, forward message-message pesan yang nggak berguna. Berbagi sesuatu yang berguna. Dia mau dengar, tidak mau dengar bukan urusan kita.

Kita juga tidak usah menegur dia, atau apa tapi kita tetap berbagi. Berbagi lewat buku, berbagi lewat apa pun. Kemarin kita adakan upacara Metatah, dan upayanam. Bukan cuma upacara, tapi kita berusaha menjelaskan, makna dari upacara itu. Nanti mungkin ada orang tua yang anaknya ikut. Saya lihat ada dr Suartika ada Dian, ada Kadek Yasa, atau anaknya sendiri ikut, nanti bisa direkam sedikit pengalamannya. Apa yang mereka peroleh dari acara kemarin itu. Ini juga merupakan penyebaran pengetahuan. Bukan cuma acara selesai, selesai. Kemarin juga saya jelaskan, kita memberikan sertifikat itu untuk apa, bukan untuk show-show-an. Bukan untuk pamer bukan. Tapi untuk mengingatkan diri. Dibingkai, taruh di kamar anak. Biar anak sendiri yang memilih bingkainya. Sehingga mengingatkan, bahwa saya pernah mengikuti upacara ini, dan makna dari upacara ini apa.

Semuanya ini dalam rangka berdana punya lewat pengetahuan. Dan berdana punya lewat pengetahuan itu, derajatnya sama dan lebih tinggi malah. Dari persembahan dalam bentuk apapun juga. Ini bukan kata-kata kita. Kata-kata Krishna.

 

Sumber: Video Youtube Bersama Anand Krishna Bhagavad Gita Sehari-Hari Ayat 04:32-40 Raihlah Pengetahuan Sejati Tentang Diri Dan Akhiri Segala Keraguan

https://www.youtube.com/watch?v=yc6A892e-34

https://www.akcjoglosemar.org/wp/

https://www.anandkrishna.org/