Wejangan Anand Krishna: Jangan Melakukan Sesuatu yang Tidak Sesuai Dengan Potensi Diri

“Lebih baik melaksanakan svadharma – tugas-kewajiban sesuai dengan potensi diri, walau tidak sempurna, daripada mengerjakan paradharma – sesuatu yang tidak tepat, tidak sesuai dengan potensi diri.” Bhagavad Gita 3:35

https://bhagavadgita.or.id/

 

Kita melihat seseorang, dia buka warung apa, dia jualan apa, dan dia bisa mendapatkan uang penghasilannya bagus. Dan kita pikir, “Wah, kalau dia hasilnya bagus, saya pun harus memiliki usaha yang sama, dan penghasilan kita pasti bagus.” Tidak bisa.

Kita punya skill nggak? Apakah di skill kita mampu berbuat seperti apa yang dibuat oleh orang lain? Ini penting sekali. Kalau tidak punya skill, apakah kita bersedia untuk meningkatkan kemampuan kita, atau cuma berharap saja, “Karena orang lain bisa sukses buka usaha ini, saya juga harus sukses. Orang lain juga pasti sukses.” Tidak bisa. Banyak orang yang gulung tikar karena begini. Ikut-ikutan. Ikutan trend padahal dia nggak ngerti tentang trend.

Saya nggak tahu di Jakarta, kadang-kadang saya ke Bali pergi ke suatu mall atau apa, kebetulan ada urusan, mau beli sesuatu. Setelah 6 bulan, 7 bulan saya pergi lagi, sekian banyak toko sudah tutup. Toko baru. Dan a war di mall itu luar biasa. Karena orang ikut-ikutan. Dia jual apa saja, jualan, kita cuma melihat keuntungan di atas kertas. Saya beli ini harganya di Mangga Dua sekian, kalau saya beli di grosir, harganya 2 juta per lusin dan saya bisa jual satu piece 500 ribu. Satu lusin 6 juta, tiga kali lipat. Buka toko dan beli 100 lusin, bisa jual nggak?

Saya baru-baru ini baca satu artikel, menarik sekali. Bagaimana seorang pedagang Sindhi. Kebetulan, penulis bukan orang Sindhi. Dia terkagum-kagum oleh cara jualan orang Sindhi. Dan di sini pun juga demikian. Dulu, saya nggak tahu sekarang.

Pergi ke toko yang dimiliki oleh orang Sindhi. Di Pasar Baru dulu banyak sekarang sudah kurang. Belum apa-apa sudah diberikan minuman dulu. Dia nggak tanya kamu mau beli apa. Diberikan minuman dulu. Di situ kita sudah luluh sedikit. Langsung saya belum mau apa, belum ditanya diberi minuman. Dan kemudia ada bilang sama dia, Pak, saya cuma mau lihat. “Nggak apa-apa, silakan minum dulu.

Kalau di India mau beli Sari dan perempuan kalau beli Sari, mau beli 1 sari harus pergi ke 10 toko. Tapi kalau kebetulan dia masuk ke toko orang Sindhi. Mau beli sari, dia langsung bukakan 50 Sari. Ini nggak suka itu nggak suka, “oh nggak apa-apa saya masih punya 1 stok lagi di dalam.” Dia keluarkan barangkali sdah stok lama sekali. Di dalam taruhnya, sudah stok lama sekali barangkali. Dia kasih lihat, akhirnya beli.

Kalau pun nggak beli dia ngak akan cemberut, “oh ya sayang sekali stok kita memang kurang cocok bagi ibu, tapi coba minggu depan kalau punya waktu mampir. Lagi jalan-jalan mampir ke sini, saya akan ada stok baru minggu depan.” Dan minggu depan, kalau dia pergi ke toko itu, mungkin dia nggak punya stok baru, tapi dia akan buka lagi stok-stok lama, dikasih lihat lagi.

Dan seorang Sindhi, di show-case nya, ini orang lain yang bilang. Setiap beberapa hari saya lewat, show-case itu selalu barang nya baru ganti. Manekin selalu diganti bajunya. Seolah-olah dia istrinya. Harus pakai baju baru. Jewellery nya juga baru. Semuanya baru. Harus.

Dulu saya suka bantu di Ayur, bilang teman-teman di sana harus diganti. Suasana harus diganti. Harus ganti suasana. Dan apa pun yang Anda jual, jangan anggap itu sebagai benda mati.  Berikan kehormatan, kepada setiap barang yang Anda jual. Itu benda hidup dan ketika mau dijual itu seperti kita pamitan begitu juga harus pamit dengan itu. Saya sekarang pamit. Selama ini kamu berada di rumah saya, di toko saya. Sekarang kamu akan pergi ke tempat lain.

Di dalam tradisi kuno, ketika seorang perempuan kawin, dia biasanya dibawa boyong ke rumah suaminya. Biasanya, ada juga yang terbalik. Tapi biasanya suami membawa istrinya ke rumahnya. Dan seorang ibu dari perempuan ini, bapak dari perempuan ini ada upacara perpisahan. Ada uoacara perpisahan, jadi anak ini diberi petunjuk. “Kamu di sini sudah tinggal selama 20 tahun, sekarang bawalah nama baik keluargamu ke rumah mertuamu.”

Begitu juga sama barang dagangan, “kau telah menemani saya selama beberapa tahun, berapa bulan, berapa hari. Dan sebagaimana di sini, kau menemani saya sekarang temanilah orang yang membeli ini. Jadilah berkah bagi dia.”

This, orang yang menulis ini artikel, dia bilang saya tidak pernah melihat orang dari suku lain yang men-treat, memperlakukan barang dagangannya seperti benda hidup. Kalau mau jadi pedagang, mau jadi pengusaha mau buka toko, toko retail khususnya, harus begitu.

Toko whole sale barangkali tidak berhubungan langsung dengan konsumen, tetap juga kita punya potensi nggak sebagai pengusaha atau pedagang. Saya berikan contoh perusahaan Sindhi pertama di zaman modern ini di buka di Surabaya tahun 1875. Tahun 1975 mereka merayakan 100 tahun.

Di situ anak dari Boss, tidak langsung serta merta menjadi boss. Tidak boleh. Minimum dia harus kerja 6 tahun dari bawah. Dia boleh berpendidikan S1, boleh punya bachelor degree dari Sindh. Dia datang dari Sindh anak orang kaya punya bachelor degree. Dia harus bekerja di bawah seorang manager, yang tidak punya degree. Zaman itu kan nggak punya fax. Nggak ada foto-fotoan macam-macam. Kadang-kadang si Boss in mengirimkan anaknya tanpa menjelaskan kepada managernya bahwa ini anak saya.

“Ini ada anak muda dari Sindh baru lulus sekolah kepalanya agak gendeng banyak angin di kepalanya”, begitu dia kirim surat, surat itu masih tersimpan. Dalam archieve keluarga. “Saya kirim anak Sindh baru lulus dan dia pikir dia sudah hebat, tolong anginnya dikeluarkan sedikit.”

Digemblengin sama manajer. Digemblengin, akhirnya dia merasa ini anak juga bagus. Akhirnya ketahuan ini adalah anak Boss. Dia takut sekali. Dan anak Boss yang sudah digembleng ini, ini kisah nyata. Anak Boss yang sudah digembleng ini panggil managernya. Manager sudah stress berat. Saya dipanggil. Si Boss, si Manager sudah ketakutan, sekarang saya mau diapakan, dan si Manager tulis dalam catatannya, saya begitu dipanggail sudah stress. Da begitu saya dipersilakan duduk, duduk ujuga saya mau dudk gimana. Dan si anak muda ini Boss saya sekarang, dulu saya boss dia. Anak muda ini mengatakan, “Dada, big brother, Dada mulai sekarang sorry but usiamu sudah cukup tua”, dia lebih stress lagi.

Dia bilang, “saya pikir kamu nggak bisa jadi manager di sini.” Wah saya sudah pasti, saya tidak punya harapan. “Kamu sekarang nggak usah jadi manager di sini, karena usiamu juga sudah tua.”

“Ya sudah”, dia bilang, “Apa pun yang kau tentukan pada saya saya terima.”

“Mulai sekarang kamu pulang ke Sindh.” Lebih-lebih lagi. “Dulu kamu jadi manager itu mendapatkan working partnership, patnership berapa?” Dapat 10 %.

“10% juga gimana ya, begini deh karena kamu akan ke Sindh saya akan kasih 2.5 %.” Lebih-lebih lagi dari 10% ke 2.5 %.

“Sekarang pekerjaanmu Dada, mengawasi seluruh perusahaan dari seluruh dunia. Di Hong Kong di Singapura di sana, setiap sebulan dua bulan kamu keliling dunia, dan kamu medapatkan 2.5 % dari semua perusahaan.”

Dulu Cuma 10% di Surabaya, sekarang mendapatkan 2.5 % dari seluruh dunia dia punya kantor di Jepang ada 3-4 kantor di Indonesia ada Surabaya. Di Hong Kong ada kantor. Singapura belum masuk perhitungan waktu itu. Singapura masih Glodok waktu itu. Malaya masih malaya. Dapat 2.5 % dari seluruh dunia.

Kalau mau dagang belajar dulu, dan harus belajar dari bawah. Walaupun anak Boss, harus belajar dari bawah. Jangan karena anak Boss tiba-tiba…..

Ini juga pesan saya. Boss-boss, kalau besok punya anak Zeembry, Dian sudah punya anak, kalaupun punya perusahaan, sebesar apa pun anak, jangan langsung diberikan kekuasaan. Tidak boleh. Biar digemblengin dulu. Biar kerja dulu. Di situ dia baru bia menilai, nilai uang itu seberapa, dia bisa menilai. Jangan ikut-ikutan. Orang lain kerja ini saya juga ikut. Kamu kalau tidak punya potensi jangan ikut.

 

Sumber: Video Youtube Bersama Anand Krishna Bhagavad Gita Sehari-Hari Ayat 03:31-35 Kerja Keras Kerja Cerdas Sesuai Potensi Diri

https://www.youtube.com/watch?v=KNSvZos9nHk&feature=youtu.be

https://www.akcjoglosemar.org/wp/

https://www.anandkrishna.org/

Advertisements