Wejangan Anand Krishna: Maunya Kita, Tuhan Mendengar dan Memenuhi Segala Permintaan Kita

“Mereka yang senantiasa bertindak sesuai dengan pendapat yang Ku-sampaikan ini, dengan penuh keyakinan dan tanpa sedikit pun keraguan, niscayalah terbebaskan dari belenggu-belenggu karma – dari segala konsekuensi dari perbuatannya.” Bhagavad Gita 3:31

https://bhagavadgita.or.id/

 

Apa yang telah disampaikan selama ini adalah berkarya tanpa pamrih, tanpa keterikatan. Pamrih juga masih kedua, yang pertama itu adalah keterikatan. Ini penting sekali. Kita berkarya karena terikat dengan keluarga, terikat dengan siapa, sehingga kita tidak bisa berkarya untuk apa yang Krishna akan mengatakan, demi kolektivitas, demi kebaikan semua.

Kalau ada timbangan, di satu sebelah adalah keluarga, di sebelah yang lain adalah kepentingan orang lain, kepentingan masyarakat umum, maka kita akan lebih mementingkan kepentingan keluarga.  Inilah persoalan yang kita hadapi, dan inilah yang menyebabkan berbagai penyakit sosial. Dari korupsi segala macam. Kalau timbangannya lebih berat ke keluargaku, temanku, sahabatku, maka kita bisa lupa semuanya. Yang lain menjadi tidak penting. Dan ini yang menyebabkan kekacauan. Ini yang menyebabkan berbagai penyakit sosial.

Jadi kalau kau bekerja, sesuai dengan pendapat-Ku. Di sini kita lihat, Krishna pun hanya mengatakan, pendapat. Kalau tidak mau mengikuti ya no problem. Konsekuensinya ada. Seorang dokter tidak akan, menakut-nakuti kita, dia memberikan obat, obat itu harus kita minum. Kalau kita tidak minum obat itu, that ‘s it. Kita akan menanggung juga konsekuensinya. Tidak akan sembuh. Kalau kita minum obatnya kita sembuh. Tapi dia tidak menakut-nakuti, kalau kamu tidak minum begini-begitu, dia akan menjelaskan beginilah kondisinya, inilah kondisimu dan sekarang saya berikan obat ini sesuai dengan pendapat saya, sesuai dengan apa yang saya pikir akan berguna bagi, dirimu, tidak ada paksaan. Tidak ada paksaan kalau kamu tidak mengikuti akan terjadi begini begitu dan sebagainya. No. Tidak.

 

“Namun, mereka yang hanya mencari kesalahan dari apa yang telah Ku-sampaikan ini dan tidak mengikuti karena keangkuhannya, maka ketahuilah mereka telah kehilangan akal sehat; mereka bingung, dan tersesat oleh karenanya.” Bhagavad Gita 3:32

https://bhagavadgita.or.id/

 

Sudah sakit, sudah diberi obat tetap juga dia tidak mau minum dan dia mencari-cari. Banyak di antara kita begitu. Kita sudah diberitahu, ini konsekuensinya seperti ini, hindarilah, tapi tetap kita ngotot.

Kita berguru pun begitu, kadang-kadang kita tetap ngotot, maunya si Guru ini maunya mendengarkan dan memenuhi segala permintaan saya. Dan, dia harus mengikuti saya. Kita mengikuti Guru, tapi kita sudah punya pandangan kita, cuma ingin mendengarkan konfirmasi dari Guru. Kita tidak ingin mendengarkan pendapat dari Guru.

Oleh karena itu nama-nama yang kita berikan, pada Tuhan pun Yang Senantiasa Maha Mendengar, tidak ada nama Yang Senantiasa Maha Berbicara. Karena kita tidak mau Tuhan berbicara, kita maunya Tuhan mendengarkan kita. Saya minta apa dipenuhi. Kalau Tuhan mulai berbicara, kita repot, dan oleh karena itu kita tidak mau menyebut Dia, sebagai Maha Berbicara. Maha Menyampaikan Sesuatu. Gampang sekali kita mengatakan, Krishna sudah menyampaikan lewat Bhagavad Gita, tutup sekarang bukunya. Tutup sekarang apa yang telah Dia bicarakan, sudah cukup bagi saya.

Tapi Krishna tidak berhenti di situ. Dia pun mengatakan. Kau pun adalah Aku wahai Arjuna. Keraguan yang ada dalam dirimu, itu pun disebabkan oleh-Ku. Dan, jawaban yang kau terima dari dalam dirimu, itu pun Aku. Sekarang kita harus memilih, harus memilah, dan ini menjadi sulit bagi kita.

Kita maunya diberi daftar, lakukan begini, jangan lakukan begitu. Kemudian kalau saya bisa melakukan 5 hal, tidak bisa melakukan 3 hal, saya sudah bisa menepuk pundak saya sendiri, toh dari sekian banyak hal, saya sudah melakukan sekian. Saya sudah melakukan sekian, it is OK. Masih oke saya.

Kita tidak mau ditegor, dan kalau kita tidak mau ditegor, kita belum siap untuk Krishna. Kita baru siap dengan buku. Karena Krishna senantiasa menegur. Katakan, Wahai Arjuna, Aku berada dalam dirimu, Aku sedang memberikan petunjuk kepadamu. Sekarang tergantung kepada dirimu. Kalau kamu tidak mau ikuti, akal sehatmu sudah hilang. Sudah tahu ada penyakit tidak boleh makan ini tidak boleh makan itu tapi tetap ngotot. Ya sudah nggak apaapalah sedikit saja,

 

“Sesungguhnya setiap makhluk bertindak sesuai dengan sifat alaminya sendiri. Seorang bijak bertindak sesuai dengan kebijaksanaannya. Apa yang dapat diperoleh dengan memaka diri?” Bhagavad Gita 3:33

https://bhagavadgita.or.id/

 

Luar biasa ini. Tidak ada paksaan. Setiap orang bertindak sesuai dengan sifat alaminya. Seorang yang kurang ajar, bertindak sesuai dengan kekurangajarannya. Seorang yang bijak sesuai dengan kebijakannya. Setiap orang bertindak sesuai dengan kodratnya. Sulit sekali.

Di dalam rumah ada dua anak, lahir dari satu ibu yang sama, bapak yang sama, yang satu punya sifat yang lain, satu lagi punya sifat yang lain lagi. Sifat alaminya demikian. Setiap orang memiliki potensi, memiliki kodratnya sifatnya sesuai dengan (kalau kita percaya pada reinkarnasi), sesuai dengan karma-karmanya dia di masa lalu. Sekarang dia sedang menikmati hasilnya atau sedang membayar hutangnya. Dia bertindak sesuai dengan itu.

Kita tidak bisa memaksa seseorang kamu harus begini. Tidak bisa. Tidak bisa kita paksakan kehendak kita. Sebaik-baiknya petunjuk kita, kalau orang tidak mau dengarkan mau diapakan? Tidak bisa dipaksa.

 

“Raga dan Dvesa — ketertarikan dan ketidaktertarikan, kesukaan dan ketidaksukaan, muncul dari interaksi antara indra dan pemicu-pemicu di luar diri. Seorang (bijak) hendaknya tidak terombang-ambing, karena dualitas suka dan tak-suka itu adalah penghalang utama dalam perjalanan menuju kesadaran diri atau pencerahan.” Bhagavad Gita 3:34

https://bhagavadgita.or.id/

 

Suka dengan satu keadaan, satu kondisi, tidak suka dengan kondisi lain. Kemudian kita terikat pada suatu, kondisi tertentu. Kalau tidak dapat itu kita berduka.

Kita tidak suka dengan sesuatu, kalau dapat yang tidak kita sukai itu kita berduka juga. Guru saya mengatakan, mengingatkan bahwa duka adalah interval antara dua kejadian, dua hal dimana kau bersuka, dan suka adalah interval intermezzo diantara dua hal dimana kau berduka.

Silih berganti. Kita terikat dengan suatu keadaan, terikat dengan sesuatu, kalau tidak dapat sedih. Tidak suka sesuatu dapat, sedih juga. Dan oleh karena itu kalau kita menghitung-hitung yang terhitung selalu dukanya. Banyak sekali pengalaman-pengalaman sukacita yang tidak pernah kita hitung. Yang terhitung adalah apa yang saya tidak suka dan dapat, dan apa yang saya suka dan tidak dapat. Begitu banyak pengalaman lain yang bisa terlupakan sama sekali. Fokus kita adalah pada raga dvesa. Apa yang saya tidak suka ternyata saya dapat, apa yang saya suka dan tidak dapat.

 

Sumber: Video Youtube Bersama Anand Krishna Bhagavad Gita Sehari-Hari Ayat 03:31-35 Kerja Keras Kerja Cerdas Sesuai Potensi Diri

https://www.youtube.com/watch?v=KNSvZos9nHk&feature=youtu.be

https://www.akcjoglosemar.org/wp/

https://www.anandkrishna.org/

Advertisements