Wejangan Anand Krishna: Menjadi Manusia Tapi Belum Berperilaku Sebagai Manusia?

“Mahabaho (Arjuna Berlengan Perkasa), seseorang yang mengetahui tentang sifat-sifat alami kebendaan dan perbuatan atau karma yang terjadi karena dorongannya, terbebaskan dari keterikatan dan akibat segala karma. Sebab, ia sadar bahwa, sesungguhnya sifat-sifat alami kebendaan itulah yang mengejar segala kenikmatan di alam benda sesuai dengan sifat kebendaannya.” Bhagavad Gita 3:28

https://bhagavadgita.or.id/

 

Sifat kebendaan apa? Mulut kita, lidah kita ingin makan masakan yang enak, ini adalah sifat dari mulut. Sifat dari mata ingin lihat yang bagus. Sifat dari tangan, perabaan, kita ingin memegang sesuatu yang bagus. Semua sifat itu, setiap indra punya sifat maunya apa. Mata tidak mau makan, mata mau melihat. Mata makan, mulut melihat, tidak bisa. Mata mau makan tidak bisa. Mata cuma melihat. Mulut makan, tangan bekerja. Semua sifat kebendaan ini, sudah sesuai dengan tugasnya. Tangan tidak bisa disuruh makan. Dia bisa menjadi sendok tapi tetap mulut yang bekerja. Semuanya, mengikuti apa yang sudah ditakdirkan. Sudah ditugaskan. Tetapi kita, semestinya kita bisa menjadi bijaksana. Mulut mau makan sesuatu yang enak, tapi enak itu sehat bagi saya atau tidak.

Mata mau melihat film, setiap saat mau buka youtube terus. Saya lihat ada orang-orang yang sehari bisa 18 jam, jadi kapan dia tidurnya, bangun tidur tengah malam juga lihat hp dulu. Ada urusan apa. Banyak orang seperti itu. Dan begitu bangun tidur lihat hp, mata kita sudah tertutup. Mata sudah tertutup selama sejam atau satu setengah jam atau setengah jam. Begitu melihat hp kena radiasi, kita merusak retina kita. Kita merusak mata kita. Jadi keinginan yang membara, mau periksa hp tengah malam juga. Kita tidak peduli itu berbahaya untuk mata. Makan makanan yang salah, berbahaya.

Sekarang di Amerika. Kemarin-kemarin, kita punya tamu. Dia seorang ahli kesehatan. Jadi di sana ada jurusan-jurusan dalam bidang kesehatan. Bukan dokter, tapi dia ngerti semua tentang kedokteran. Dia ahli kesehatan. Dan dia mengurusi satu rumah sakit. Dia tahu apa itu kesehatan apa, dia tahu segala-galanya.

Tapi dia sendiri mengaku, dia menderita bipolar. Bipolar itu apa? Kita kadang-kadang di sini menganggap itu sesuatu yang natural. Tibat-iba bisa marah atau depresif berat. Atau tiba-tiba dia bisa tenang, ini adalah penyakit. Dan dia tahu kalau penykit itu kalau minum obat, obatnya akan kena ke thyroid. Menimbulkan penyakit baru. Tapi dia nggak bisa menghindari obat itu. Kalau dia hindari obat itu, dia bilang kumat lagi dan dia bilang saya seperti orang gila. Sedikit-sedikit bisa marah. Sedikit-sedikit bisa depresi. Jadi saya minum obat terus.

Saya tanya kepada dia karena dia juga melakukan yoga segala. Saya tanya bagaimana makananmu? Masih makan daging. Di sini kita juga belum dikasih tahu bahwa daging itu nggak dibutuhkan oleh badan kita. Kalau di Bali apalagi, leluhur kita memberikan satu upacara kepada kita. Upacara potong gigi.

Apa bahasa Balinya. Tatah. Potong gigi itu apa, nilainya signifikasinya apa? Binatang-binatang yang makan daging, semuanya bertaring. Ada giginya tajam. Seperti segitiga. Kita coba lihat, kita periksa. Gigi yang tajam tinggal berapa biji. Depan sudah rata sebetulnya. Walaupun demikian leluhur kita, memberikan suatu upacara untuk mengingatkan, bahwa sekarang sifat keraksasaanmu, sudah selesai. Kamu sekarang jadi manusia. Kamu bukan binatang lagi. Maka sisa taring pun ditatah. Sekarang cuma dikerok sedikit. Di tok-tok-tok sedikit. Dulu kan zaman kalian melakukan itu, betul-betul dikikis kan.

Sekarang nggak dikikis seperti itu. Karena orang kesakitan. Tetapi maknanya apa? Jadilah manusia. Berperilakulah sebagai manusia. Sekarang kau tidak punya taring. Sekarang kamu harus makan sayur-sayuran.

Coba baca teks-teks kuno yang didapatkan di Bali. Vrihaspati tattva, Ganapati tattva. Itu didapatkan di Bali bukan teks dibawa dari India. Bukan. Semua teks itu lokal. Saya menerjemahkan ulang jadi 3 buku besar. Itu kitab-kitab suci lokal. Dan di situ baca, nggak boleh makan daging ini, nggak boleh ini, nggak boleh ini. Hampir semua daging nggak boleh. Tapi kita nggak pernah diajarkan. Kita nggak pernah diberitahu di sekolah. Kita nggak pernah diberitahu setelah selesai sekolah. Daging membuat kesehatan kita menurun. Apalagi kalau sedang sakit. Lebih turun lagi.

Dan seperti beberapa hari yang lalu saya bicarakan, saya harus mengingatkan lagi, segala seuatu yang di-refine. Sudah diproses, kadar gulanya akan meningkat. Tepung yang sudah diproses, gula yang putih sekali sudah diproses, garam yang putih sekali sudah diproses. Semuanya membebani tubuh kita. Karena dia langsung masuk ke perut kita. Dan membutuhkan waktu yang tidak lama lagi untuk mencerna. Sudah diproses. Jadi gulanya langsung masuk ke darah. Garamnya langsung masuk ke darah. Berbagai macam penyakit dimulai dari tekanan darah tinggi dan dari diabetes. Lain-lainnya kemudian ikutan, penyakit jantung penyakit apa.

Makan harus dicerna dan harus punya waktu untuk gulanya terurai, masuk ke darah masuk jadi energi. Kalau cepat sekali masuknya, akan meningkatkan kadar gula. Kembali saya mengingatlan kembali, kembalilah ke gula yang masih kotor. Gula dari pasar gula aren itu. Jangan pakai gula putih yang dibeli dari supermarket. Berbahaya sekali. Gunakan garam yang masih bisa beli di pasar, garam yang biasa. Garam Bali yang biasa digunakan, gunakan garam yang masih belum diproses.

Dan di sini kebanyakan tidak makan gandum. Tidak ada gandum di sini. Kalau ada gandum kalau bikin roti bikin dari gandum. Bikin dari casava, dari singkong. Tepung singkong bisa bikin sendiri, maka banjar-banjar diaktifkan, menyebarluaskan nilai kesehatan. Kalau kita tidak sehat tidak bisa melakukan apa-apa. Jadi kalau sudah sakit pun tetap makan yang seperti itu, kita tidak bisa menjadi sehat.

Kebendaan, mulut memang maunya manis. Tapi kalau sudah tahu kalau manis itu akan merusak kesehatan saya, saya harus bisa menjaga. Makan sebatas apa yang dibutuhkan, nggak usah masak apa pun dikasih gula. Saya nggak tahu di Bali tapi di Jawa, di mana ada kebiasaan masak apa pun dikasih gula, untuk rasa. Nggak butuh rasa seperti itu. Pedas ya pedas, asem ya asem. Nggak usah ditambah gula. Ini akanmerusak seluruh makanan Anda. Makanan harus dimakan begitu saja. Itu ada gulanya, buah-buahan sudah ada gula, sayuran sudah ada gula natural. Jadi nggak perlu lagi ditambah gula dari luar. Masukin bumbu-bumbu yang dibutuhkan tidak perlu gula sebagai penyedap.

 

“Mereka yang bodoh terpengaruh dan tertipu oleh sifat-sifat alami indra dan alam benda; mereka mengikat diri dengan pemicu-pemicu di luar diri; dan bertindak dalam kebodohannya. Memahami hal ini, hendaknya seorang bijak tidak menambah kebingungannya.” Bhagavad Gita 3:29

https://bhagavadgita.or.id/

 

Jangan bikin orang bingung, tapi kasih tahu sama mereka. Kasih tahu bahwa dalam kebodohan kita kita melakukan hal yang bodoh. Seberapa sih uang yang kita butuhkan, ya kita butuh uang, kita butuh hidup. Tapi sampai menimbun harta, sampai trilyunan, dan akhirnya kena dampak, masuk penjara, apakah enak. Sudah tua ingin menikmati hidup sekarang di penjara. Apakah kita butuh uang. Punya uang nikmati hidup, lakukan sesuatu yang berguna, dari uang itu. Tapi jangan sampai mengejar mati-matian. Jangan sampai mengejar.

Ada orang, kadang-kadang mau cari makan, dia bisa dari Ubud ke Denpasar cuma mau makan satu macam makanan. Makan terus dia pulang ke Ubud lagi. Hanya mau untuk satu macam makanan. Ini nggak benar. Berati kita begiti mementingkan perut kita, tidak mementingkan hal-hal lain. Waktu yang dibuang sampai ke Denpasar, hanya untuk makan dan kembali lagi. Berikan penjelasan seperti itu, kita tentu tidak bisa paksa.

 

“Dengan mempersembahkan segala tindakanmu pada-Ku; seluruh kesadaran terpusatkan pada Jiwa Agung Hyang meliputi semua makhluk; bebas dari ‘penyakit’ keterikatan, ke-‘aku’-an, dan kegelisahan – bertempurlah!” Bhagavad Gita 3:30

https://bhagavadgita.or.id/

 

Bertempurlah menghadapi hidup ini. Jalani hidup ini dengan mempersembahkan segala tindakanmu pada-Ku. Apa pun yang sedang kita lakukan, anggaplah sebagai persembahan. Kepada-Ku Yang Maha Kuasa. Kepada Sang Hyang Widhi, kepada Tuhan, kepada Gusti. Apa pun sebutan kita tentang Yang Maha Kuasa. Lakukan sebagai persembahan. Sedang memasak untuk suami, untuk istri, laki-laki juga boleh masak. Nggak ada suatu larangan kalau laki-laki nggak boleh masuk dapur, nggak ada kan larangan. Boleh, ada laki-laki yang suka masak, nggak ada larangan.

Ketika memasak, ketika melayani anak-anak, ke sekolah memakaikan baju. Kepada mereka, anggaplah semuanya sebagai persembahan. Membiasakan diri, membiasakan diri melihat Tuhan, Sang Hyang Widhi, Gusti, apa pun sebutan kita untuk Tuhan, melihat Dia berada dalam diri setiap orang. Dalam diri setiap hewan. Dalam diri segala sesuatu dimana Tuhan ada. Tuhan meliputi segala-galanya kata Veda.

Segala-galanya diliputi Tuhan, ada kekuatan-Nya di mana-mana. Dengan pemahaman seperti itu, apa pun yang kita lakukan, lakukan sebagai persembahan. Masak, saya lagi masak untuk Tuhan. Yang saya makan ini adalah lungsuran-Nya, prasadam. Kita setiap kali mau makan kita membacakan dua sloka dari Bhagavad Gita, Brahmapanam brahma havir brhamagnau brahmana hutam, brahmaiva tena gantavyam brahma-karma-samadhina

Apa pun yang saya makan ini adalah persembahan bagi-Nya. Makan ini sendiri pun adalah wujud dari Dia. Dan pencernaan dalam diri saya, diri kita, api yang mencerna, zat asam yang mencerna, dalam diri kita, dia pun adalah wujud dari Tuhan. Segala-galanya adalah Tuhan. Setiap hari kita mengingatkan diri kita seperti itu, hidup akan menjadi lebih enak. Lebih bahagia, lebih tenang lebih damai. Terima kasih.

Sumber: Video Youtube Bersama Anand Krishna Bhagavad Gita Sehari-Hari Ayat 03:25-30 Bekerja Tanpa Keterikatan dengan Semangat Persembahan

https://www.youtube.com/watch?v=Jza5Jn-wHVU&feature=youtu.be

https://www.akcjoglosemar.org/wp/

https://www.anandkrishna.org/

 

Advertisements