Wejangan Anand Krishna: Melayani Keluarga Tanpa Keterikatan, Mungkinkah?

“Wahai Bharata (Arjuna, keturunan Raja Bharat), sebagaimana mereka yang tidak bijak bertindak atas dasar keterikatan, pun demikian, hendaknya para bijak bertindak tanpa keterikatan, dan semata untuk  menjaga keteraturan tatanan dunia.” Bhagavad Gita 3:25

https://bhagavadgita.or.id/

 

Mereka yang tidak bijak, mereka yang bekerja untuk keluarga, untuk anak, untuk cucu, dan mereka pikir itu sudah cukup, inilah yang disebut keterikatan. Seluruh waktu kita habis hanya untuk urusan keluarga. Kita tidak melihat kanan, tidak melihat kiri, tidak melihat depan,- tidak melihat belakang, seluruh waktu kita hanya tersita untuk urusan-urusan, yang mengikat diri kita.

Tidak berarti kita tidak boleh mengurusi keluarga. Boleh, harus. Tapi karena keterikatan itu, kita telah meyebabkan banyak sekali orang tua yang menyebabkan anak-anaknya menjadi pemalas. Dari kecil sampai dewasa, sampai punya anak, masih kakek dan nenek yang menggung biayanya. Ini tidak benar. Ini akan membuat anak-anak kita tidak memiliki energi untuk berbuat sesuatu, dan bergantung sepenuhnya pada orang tua. Jadi kalau terjadi sesuatu pada orang tua, anak-anak seperti ini akan tercerai-berai. Mereka tidak tahu bagaimana hidup.

Layani anak, layani keluarga tapi sebatas dimana dia juga harus memiliki kemampuan, digenjot kemampuannya untuk bekerja. Tapi kalau kita terikat terus, ini anak saya, ini cucu saya, saya harus menangung semuanya, kita akan membuat mereka jadi malas. Mereka tidak bisa bekerja tanpa kita.

Ini yang dimaksudkan oleh Krishna, dan lihatlah di kanan, di kiri, masih juga banyak orang yang juga butuh bantuan kita. Kalau kita punya uang lebih, kita punya makanan lebih, bantu orang yang tidak punya makanan, bantu orang yang tidak punya uang. Tetapi juga membantu dalam pengertian, kita juga memberikan semangat mereka untuk bekerja. Inilah yang dikatakan oleh Krishna bekerja tanpa keterikatan dengan semangat melayani.

 

“Seorang bijak berkesadaran Jiwa, hendaknya tidak membingungkan gugusan pikiran serta perasaan (mind) mereka yang masih belum menyadari hakikat dirinya; mereka yang masih terikat pada karya (dan hasilnya). Hendaknya mereka malah didukung untuk bertindak sesuai dengan tugas kewajibannya, dan ia (sang bijak) sendiri pun berkarya sesuai dengan kesadarannya.” Bhagavad Gita 3:26

https://bhagavadgita.or.id/

 

Kalau ada orang lain yang tidak bisa memahami hal ini, kita juga tidak bisa memaksa, kamu harus paham hal ini, kamu harus berkarya tanpa keterikatan. Kita yang paham kita melakukan. Tapi kalau ada orang lain yang masih terikat sekali dengan keluarga mereka, juga harus diberikan penjelasan, sebagai orang tua tujuanmu membesarkan anak, itu apa? Membesarkan anak supaya dia mandiri. Bukan membesarkan anak supaya dia bergantung pada kamu terus-menerus. Berikan penjelasan tapi tidak boleh dipaksa. Kalau nggak mau apa boleh buat.

Kita yang mengerti harus melakukan. Yang tidak mengerti diberikan penjelasan. Tidak bisa dipaksa. Tetap mereka akan melakukan apa yang akan mereka lakukan, cuma diberikan penjelasan apa yang mesti dilakukan. Tidak membuat anak cucu bergantung pada kita tapi bisa mandiri.

 

“Sesungguhnya setiap tindakan terjadi karena sifat-sifat alami dari kebendaan atau Prakrti, namun mereka yang bodoh menganggap dirinya sebagai pelaku. Dalam keangkuhannya, mereka beranggapan, ‘Akulah yang berbuat!’” Bhagavad Gita 3:27

https://bhagavadgita.or.id/

 

Inilah kesombongan kita. Kita melakukan sesuatu, ini aku yang buat, ini aku yang bikin. Kalau berhasil kita langsung cepat-cepat mengatakan tanpa saya, tanpa saya melakukan tidak akan terjadi. Tapi kalau gagal, kita cepat-cepat mengekerut, wah ini kan Kehendak Tuhan, ada di atas yang menetapkan segala-galanya. Lihat ini adalah kemunafikan kita.

Kalau gagal Tuhan yang salah, kalau gagal karma yang salah. Tapi kalau berhasil aku yang berbuat. Inilah yang dikatakan oleh Krishna, ini adalah sifat orang yang tidak sadar. Karena segala sesuatu itu mengikuti hukum alam. Bukan saya yang berbuat, cuma alat aja. Tiba-tiba ada orang sepintar apa pun juga, dia mengalami dimentia, dia mengalami alzheimer. Lupa segala-galanya. Jadi bertahun-tahun dia bekerja, dia belajar jadi profesor, kena penyakit segala-galanya lupa.

Siapa yang menentukan, bukan aku yang berbuat. Aku bisa berbuat, tapi segala-galanya terjadi berdasarkan karma kita juga. Mau belajar seperti apa pun juga, mau jadi orang suci, mau jadi apa, kalau perbuatannya tidak baik, tetap dia harus menderita, tetap memikul segala akibat dari perbuatannya. Tidak bisa bebas karena dia orang suci, dia sembahyang tiga kali setiap hari, dia sembahyang berapa kali setiap hari, dia dimaafkan kesalahan kesalahannya. Nggak bisa juga,

Semuanya terjadi berdasarkan hukum karma. Ada hukum alam. Kita cuma melakukan sebatas apa yang menjadi kewajiban kita. Kewajiban kita apa? Kita mengambil sayur-sayuran dari pohon, apa yang kita lakukan, apakah kita mengembalikan kehidupan itu? Tanam pohon setiap tahun bikin resolusi mau tanam berapa pohon. Nggak punya pekarangan di rumah, jangan kuatir cari jalan raya, banyak jalan raya yang gundul sekarang. Nggak punya pohon minta izin kepada banjar, kepada kepala desa, saya mau tanam pohon di sini. Masa dilarang. Nggak bakal dilarang.

Punya pekarangan di rumah, tanam pohon. Bikin resolusi, mau satu pohon setahun mau dua tahun, dua pohon setahun, tiga pohon setahun, setiap bulan satu pohon. Kasih kembali, berikan kembali, kita cuma bicara Trihita Karana. Trihita Karana, hubungan dengan Tuhan, hubungan dengan alam hubungan engan manusia. Pintar sekali kita bicara, tapi apakah kita betul-betul melakukan hubungan dengan alam. Hubungan dengan pohon, hubungan dengan sungai, kali. Di luar apakah bersih kalinya, begitu banyak sampah di jalan-jalan. Kadang-kadang apakah kita peduli tentang itu?

Alam bukan cuma dibicarakan, tapi harus dilayani. Dan hubungan dengan alam, juga hubungan dengan bentuk-bentuk lain kehidupan, dengan binatang, dengan hewan melayani mereka. Menyayangi mereka, melindungi mereka.

 

Sumber: Video Youtube Bersama Anand Krishna Bhagavad Gita Sehari-Hari Ayat 03:25-30 Bekerja Tanpa Keterikatan dengan Semangat Persembahan

https://www.youtube.com/watch?v=Jza5Jn-wHVU&feature=youtu.be

https://www.akcjoglosemar.org/wp/

https://www.anandkrishna.org/

 

Advertisements