Wejangan Anand Krishna: Dulu Pandita Telah Meninggalkan Segalanya, Kini Banyak Pandita Cari Harta?

“(Namun), seseorang yang bahagia karena “Diri”-nya; puas dengan “diri”-Nya sendiri; dan, seluruh kesadarannya terpusatkan pada Diri-Hakiki (yang adalah percikan Jiwa Agung), sesungguhnya tidak berkewajiban untuk berbuat apa pun.” Bhagavad Gita 3:17

“Bagi orang seperti itu, tiada sesuatu yang dikejarnya di dunia ini. Tiada untung dari suatu pekerjaan; tiada pula kerugian jika ia tidak bekerja. Ia tidak bergantung pada siapa pun juga, karena tidak memiliki kepentingan pribadi.” Bhagavad Gita 3:18

“Sebab, (karena kau belum mencapai tingkat kesadaran tersebut), jalankanlah tugasmu, kewajibanmu dengan baik dan tanpa keterikatan (pada hasilnya). Demikian, seorang yang berkarya tanpa keterikatan mencapai kesempurnaan, kesadaran tertinggi.” Bhagavad Gita 3:19

https://bhagavadgita.or.id/

 

Ada orang-orang yang memang sudah tidak perlu melakukan sesuatu. Zaman dulu para kesatria, sudah dengar nama Vishvamitra? Ia yang mendapatkan shruti yang kita sebut wahyu, dimana dia dapat mendapatkan Gayatri Mantra yang sering setiap hari kita ucapkan. Dia seorang kesatria. Para resi zaman dulu itu, mereka kebanyakan adalah kesatria. Mereka tidak lahir di keluarga pendeta. Tidak. Mereka sudah menikmati dunia, dan setelah itu mereka mencari sesuatu yang lebih tinggi nilainya.

Kita, sekarang apa yang terjadi, banyak orang, tidak semua tentunya, banyak orang jadi pendeta untuk cari uang, untuk cari nafkah. Zaman dulu mereka meninggalkan segala-galanya, untuk menjadi sanyasi atau pendeta. Jadi ada perbedaan. Tidak terbayangkan zaman dulu kalau seorang yang sudah mencapai tingkat sanyasi, seperti Vishvamitra, atau Vashishtha, begitu banyak resi zaman dulu, semuanya sudah menikmati segala-galanya, akhirnya mereka melihat tidak ada kebahagiaan di dalam segala sesuatu. Mereka meningalkan segala- galanya, untuk menjadi sanyasi,menjadi petapa atau pandit.

Pandit bukan cuma yang melakukan upacara. Dalam bahasa Sanskrit orang yang melakukan uacara itu Purohit, dia melakukan upacara. Pujari yang melakukan pemujaan. Pandit adalah seorang yang bijaksana, pendeta itu bukan hanya melakukan upacara, dia harus bijaksana dia harus bisa memberikan guidance, pemandu. Anda punya masalah, Anda bisa bertemu dengan Pandit. Dia bisa memberikan suatu panduan,

Zaman dulu mereka meninggalkan segala-galanya, untuk menjadi pandit, menjadi sanyasi. Sekarang justru kita menjadi sanyasi, menjadi pandit untuk mencari uang. Berbeda sekali. Sebab itu, upacara-upacara kalau singkat, dari mana uangnya. Padahal dalam Bhagavad Gita sudah jelas sekali, kalau tidak punya bunga pun, taruh segelas air sudah cukup. Tapi kalau upacara singkat, pendeta-pendeta ini nggak punya nafkah. Harus besar upacaranya.

Coba pikirkan zaman sekarang dan zaman dulu, perbedaannya zaman dulu seorang pandit seorang sanyasi bukan cuma mengayah memberikan waktu, dia mengayahkan seluruh hidupnya, dia mengabdikan seluruh hidup dia. Dia tidak menbutuhkan suatu apa lagi. Ada seorang raja yang menanggung hidupnya, sekarang ngak ada juga raja seperti itu. Jadi kondisinya berbeda, ada raja yang menanggung biaya seluruh hidupnya dan setiap pandit ini bukan hanya melakukan upacara. Vasishtha punya gurukula, punya pasraman, punya padepokan. Dimana seorang pangeran seperti Rama, Lakshmana mereka belajar bersama dengan orang-orang yang tidak punya uang. Duduk bersama. Jadi para resi zaman dulu, para pandit zaman dulu, para sanyasi zaman dulu, juga adalah para Guru. Mereka punya pasraman, padepokan dimana seperti sekarang sekolah, dan mereka juga tidak mendapatkan uang dari apa yang mereka berikan, sehingga keluarga masing-masing berkepentingan supaya tidak kekurangan segala sesuatu di Pasraman itu.

Memang sudah berbeda. Zaman sudah berbeda. Krishna mengatakan karena kamu belum bisa mencapai tingkat seperti itu, kau seorang kesatria, dan kau belum mencapai tingkat seperti itu, maka berkaryalah tanpa pamrih. Kerja tetap pada profesi kita, masing-masing. Bekerja dengan sepenuh hati dan hasil dari pada pekerjaan itu juga kita berbagi dengan sesama. Bukan cuma mengisi perut sendiri, mengurusi keluarga saja. Tapi juga berbagi dengan orang-orang yang membutuhkan. Pada orang yang tidak bisa mendapatkan nafkah yang baik. Tidak berbagi uang saja, berbagi pengetahuan. Kalau kita punya keahlian, kita membagikan keahlian itu kepada orang yang butuh. Sehingga orang itu bisa mencari nafkah sendiri.

Memberikan uang kadang-kadang membuat orang malas. Ada keluarga saja, dia tidak punya pekerjaan kita kasihan, kita berikan uang tidak membantu sebenarnya. Membuat dia bergantung pada kita. Setiap kali dia butuh dia menoleh ke arah kita. Berikan pengetahuan, berikan pelajaran, berikan sesuatu yang berguna, sehingga dia bisa mencari nafkah sendiri, inilah bekerja tanpa pamrih. Ketika kita memberikan pengetahuan kepada orang kita tidak mengharapkan sesuatu lagi, kita mengharapkan dengan pengetahian itu, hidup dia bisa tenang. Bisa bahagia, bisa berkecukupan. Ini yang dimaksud oleh Krishna, kalau belum bisa menjadi seorang pandit, belum bisa menjadi seorang sanyasi, belum bisa menjadi seorang resi. Karena kalu sudah menjadi itu, tidak mengharapkan apa-apa lagi. Tidak menerima apa-apa lagi. Sekedar untuk hidup, karena belum sampai kondisi seperti itu, maka wahai Arjuna bekerjalah.

 

“Dengan berkarya tanpa keterikatan dan tanpa pamrih seperti itulah Raja Janaka dan para bijak lainnya mencapai kesempurnaan diri. Demikian, hendaknya engkau pun bertindak tanpa kepentingan pribadi dan, semata untuk mempertahankan tatanan dunia.” Bhagavad Gita 3:20

https://bhagavadgita.or.id/

 

Raja Janaka adalah ayahnya Sita, mertuanya Rama. Dalam cerita-cerita kuno dia disebut sebagai raja yang bijak sekali. Dia menjalankan tugasnya, dia hidup dengan segala kesahajaannya  dia tidak membangun istana-istana yang mewah. Jadi kalau melihat di sinetron Ramayana istananya mewah begitu, Raja Janaka tidak tidur di istana-istana mewah seperti itu. Dia simple sekali. Sederhana sekali dia tetap bekerja, menjalankan tugasnya di kerajaan, tapi dia tidak terikat pada sesuatu. Maka Krishna mengatakan, wahai Arjuna, jadilah seperti Raja Janaka. Berkarya tapi tidak terikat pada sesuatu.

 

“Apa pun yang dilakukan oleh para petinggi, dan mereka yang berpengaruh, menjadi contoh bagi rakyat jelata. Keteladanan yang mereka berikan, menjadi anutan, dan diikuti oleh masyarakat umum.” Bhagavad Gita 3:21

https://bhagavadgita.or.id/

 

Mereka yang berada di satu posisi. Menjadi kepala desa, Pemangku, Pecalang,  menjadi apa pun, menjadi petinggi, menjadi Gubernur, menjadi seorang tokoh masyarakat, menjadi petinggi Presiden, menjadi apa pun, jadi makin tinggi kita, makin kita harus hati-hati. Karena apa pun yang kita buat, sedang disaksikan oleh banyak orang. Jangan sampai kita berbuat salah, dan orang lain mengikuti itu. Kita juga punya kebiasaan seperti itu.

Ini kebiasaan dari kecil. Anak kecil dimarahi kamu nakal, kamu lakukan ini, dia langsung bertindak. Responnya apa? Ibu, adik juga melakukan hal yang sama. Pernah mengalami seperti itu. Anak, atau cucu begitu kita marahin dia, dia selalu menunjuk orang lain, teman saya juga begitu, adik juga begitu, kakak juga begitu. Ini kebiasaan kita. Kebiasaan manusia. Selalu kalau kita melihat orang lain melakukan, kita juga tergiur, kita terpancing. Kalau kita melihat orangorang yang berkuasa melakukan kesalahan, kita juga tergiur.

Kita juga melakukan kesalahan. Zaman dulu di film-film hollywood, film-film dari Barat, kalau orang merokok itu dianggap macho. Melihat di film orang merokok, jadi banyak sekali perusahaan rokok membayar untuk adegan. Padahal adegan itu orang nggak perlu ngrokok. Tapi sengaja dibuat merokok, sehingga penonton akan meniru, “wah kalau merokok itu seperti macho.” Padahal tidak demikian. Kita terpengaruh.

Banyak sekali orang terpengaruh oleh bintang sinetron, bintang film. Pernah mengalami seperti itu. Zaman dulu kalau pakai baju harus, ke taylor, tukang jahit kan? Sekarang tukang jahit lebih mahal lebih baik beli jadi. Tapi dari dulu kebiasaan kita kan dari tukang jahit. Dan tukang jahit itu kita jarang sekali pindah-pindah tukang jahit. Tukang jahit, tukang potong rambut, salon, dan dokter. Kita jarang sekali pindah.

Sudah percaya pada satu orang, jadi tempat tukang jahit itu, juga di salon ada buku. Di buku itu ada style-style rambut. Bintang film ini, bintang film itu. Bisa milih seperti bintang film mana. Padahal untuk menjadi seperti bintang film dibayar, mereka dibayar. Kita bayar malah. Mereka dibayar dan kadang-kadang bintang film ini nggak mau, rambutnya rusak. Sekarang kalau kalian menonton film-film India. Di sinetron juga. Itu kebanyakan mereka pakai wig. Karena mereka tahu kalau ganti-ganti terus, rambutnya harus dibakar, di apa.

Sekarang makin canggih alatnya. Ada banyak istilah bonding, rebonding, itu semuanya menggunakan cat, kimia atau menggunakan listrik. Panas, itu merusak rambut kita. Membakar rambut kita. Jadi sekarang saya lagi baca, pemain di sinetron-sinetron itu lihat rambut, begini rambutnya begitu. Bukan asli. Semuanya pakai wig. Tapi kita nggak kita pergi ke salon, saya mau rambut seperti itu.

Dulu masih ingat yang semuanya masih muda ya. Saya yang paling tua. Zaman dulu kalau rambutnya nggak keriting, kita kan rambutnya nggak keritng, lurus kan? Pergi ke salon supaya rambutnya dikeritingin. Sekarang ada orang yang rambutnya sudah keriting, pergi ke salon diluruskan. Kita terpengaruh. Terpenganruhnya cepat sekali. Lihat apa kita terpengaruh. Lihat sesuatu orang Barat, bule, rambutnya pirang dia maunya hitam. Kita hitam maunya dipirangin. Terus kacau setelah beberapa hari rambutnya kan sudah dicat, kita setiap hari lihat di cermin kan. Jadi perbedaan yang terjadi setiap hari itu sedikit-sedikit. Kita pikir masih okelah. Tapi orang lain yang lihat tidak oke. Rambut yang sudah dimacam-macam itu selalu nggak oke. Kita pikir kita oke. Jadi kita melihat sesuatu kita terpengaruh. Apalagi yang berbuat itu adalah seorang selebriti. Bintang sinetron yang kita sukai, pemain bola yang kita sukai, kita mau mengakui.

Jadi Krishna mengatakan, kau sebagai seorang kesatria, kalau kamu tidak bekerja, kalau orang lain melihat, mereka juga tidak akan bekerja lagi. Mereka juga akan malas-malasan. Sudah diberikan tugas untuk melindungi dharma melindungi kerajaan. Kau tidak melakukan apalagi di bawahmu para prajurit. Semuanya akan begitu. Jadi bertindaklah.

Sumber: Video Youtube Bersama Anand Krishna Bhagavad Gita Sehari-Hari Ayat 03:17-24 Berkaryalah dengan Penuh Semangat dan Raih Kesempurnaan Hidup

https://www.youtube.com/watch?v=Yc6hm17pAlA

https://www.akcjoglosemar.org/wp/

https://www.anandkrishna.org/

 

Advertisements